Busuk daun kentang (late blight

)
Posted on April 1, 2011 by Nurafni Organisme Penganggu Tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu : hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska. Sedangkan penyakit menimbulkan gangguan fisiologis pada tanaman, disebabkan oleh cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Sehingga tidak heran kalau pada musim hujan dunia pertanian banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman seperti antraknosa cabai, busuk daun pada kentang dan penyakit kresek dan lain sebagainya. Sementara itu pada musim kemarau banyak masalah yang disebabkan oleh hama penggerek batang padi, hama belalang kembara, serta thrips pada cabai. Konsep Segitiga Penyakit : Konsep ini berawal dari Ilmu Penyakit Tumbuhan, namun juga dapat diterapkan pada bidang ilmu hama. Pada dasarnya penyakit hanya dapat terjadi jika ketiga faktor yaitu : • Inang dalam keadaan rentan, • Patogen bersifat virulen (daya infeksi tinggi) dan jumlah yang cukup, serta lingkungan yang mendukung. • Lingkungan berupa komponen lingkungan fisik (suhu, kelembaban, cahaya) maupun biotik (musuh alami, organisme kompetitor). Dari ketiga konsep tersebut jelas sekali bahwa perubahan salah satu komponen akan berpengaruh terhadap intensitas penyakit yang muncul. Salah satu komoditas tanaman hortikultura yang terserang penyakit pada suhu yang rendah adalah kentang. Kentang (Solanum tuberosum L ) berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Jika Negara-negara barat kentang adalah makanan pokok, di Indonesia pada umumnya umbi kentang dipakai sebagai sayur atau untuk membuat berbagai macam lauk dan makanan kecil. Seperti halnya dengan di daerah beriklim sedang, disni kentang mempunyai banyak penyakit. Meskipun di Indonesia belum banyak di lakukan penelitian penyakit ini. Salah satu faktor risiko dalam usaha tani kentang adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman salah satunya adalah penyakit busuk daun kentang. Busuk daun kentang (late blight) yang sering juga disebut sebagai ”hawar daun” adalah penyakit yang terpenting pada tanaman kentang. Penyakit busuk daun kentang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans L , yang semula disebut Botrytis infestansMont. Miselium interseluler tidak bersekat, mempunyai banyak houstorium. Konidiofor keluar dari mulut kulit, berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai bengkakan yang khas. Konidium berbentuk buah peer, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak 7-32. Konidium berkecambah secara tidak langsung dengan membentuk hifa (benang) baru, atau secara tidak langsung dengan membantuk spora kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau zoosporangium. Cendawan ini dapat membentuk oospora meskipun agak jarang.

Jika keadaan membantu perkembangan penyakit. tetapi dapat juga meliputi suatu bagian yang luas pada satu umbi. Batang Bercak berkembang pada tangkai daun (petiole) dan batang yang mengembang dengan bentuk memanjang. sehingga umbi busuk sama sekali sebelum digali. umbi menjadi busuk basah. Kelembaban relative.Gejala penyakit ini: Daun Gejala pada tingkat awal timbul bercak nekrotik pada bagian tepi dan ujung daun dan berupa bercak abu-abu berukuran besar dengan bagian tengahnya yang agak gelap dan sedikit basah. Akar Gejala pada leher akar dan akar berupa busuk berwarna hitam.tetapi sering tampak lebih jelas setelah umbi disimpan. Gejala pada tingkat lanjut muncul bercak-bercak nekrotik yang berkembang keseluruh daun tanaman yang menyebabkan tanaman mati. Gejala pada daun tanaman umumnya muncul setelah tanaman berumur lebih dari satu bulan. Gejala ini dapat tampak pada waktu umbi di gali. Bagian yang busuk kering tadi dapat terbatas sebagai bercak-bercak kecil. intensitas cahaya. berwarna cokelat atau hitam ungu. karena pengaruh phytopthora yang dibantu oleh jasad-jasad sekunder (bakteri atau jamur lain). yang masuk sampai 3-6 mm ke dalam umbi. Batang yang berkembang akan regas dan mati yang akhirnya bagian tanaman diatas bercak akan mati. Umbi Umbi terjadi bercak yang agak mengendap. Pembusukan ini berkembang dengan cepat. Di sisi bawah daun terdapat spora berwarna putih sepeti beludru. Hal ini terjadi pada varietas rentan dan kelembaban cukup tinggi pada suhu yang tidak terlalu rendah. dan pemeliharaan kentang itu sendiri akan mempengaruhi gejala yang timbul. Daun yang . Serangan Phytophthora Infestan pada daun kentang Pembentukan penyakit busuk daun ini bervariasi sesuai kondisi lingkungan. suhu. Gambar 1.

cendawan ini dapat naik ke tunas muda yang baru saja tumbuh dan membentuk banyak konidium atau sporangium. Di daerah dataran rendah. Selama musin hujan. Cendawan Phytophthora infestans dapat mempertahankan diri dari musim kemusim dalam umbi-umbi yang sakit. Bila udara kering jumlah daun yang terserang terbatas. P. Siklus penyakit busuk daun Patogen dapat tersebar sampai ke batang dengan sangat cepat dalam jaringan korteks yang menyebabkan kerusakan sel didalamnya. Miselium tumbuh menembus batang sampai ke permukaan tanah. Umbi dekat permukaan tanah dapat terserang zoospore yang bertunas dan berpenetrasi pada umbi menembus lenti sel atau melalui luka alami atau luka akibat serangga dan alat pertanian. sporangium akan mengeluarkan spora kembara (zoospora).sakit terlihat berbecak – bercak pada ujung dan tepi daunnya dan dapat meluas ke bawah serta mematikan seluruh daun dalam waktu 1 sampai 4 hari. Ketika keadaan lebih panas. bercak – bercak tetap kecil dan jadi kering dan tidak menular ke daun lainnya. dan konidium dapat dipencarkan oleh angin dari sumber infeksi ke tanaman lain. dalam keadaan yang cocok dapat bertunas dan menyebarkan konidium. maka cendawan dapat mempertahankan diri dalam bentuk ini juga. sporangiospor timbul dari stomata dan memproduksi banyak sporangia yang dapat menginfeksi tanaman baru. jika umbi yang sakit ditanam. tetapi jarang terdapat dalam jaringan vaskuler. Di lingkungan tropis. tanaman kentang akan terus berkembang. sehingga udara umumnya inokulum memulai awal terjadinya penyakit pada lahan baru. Spora ini akan berenang sampai menemukan tempat inangnya. Demikian pula umbi-umbi sakit yang dibuang. Daur hidup dimulai saat sporangium terbawa oleh angin. Ini terjadi ketika berada dalam kondisi basah dan dingin yang disebut dengan perkecambahan tidak langsung. sporangia terbawa sampai ke tanah. yaitu germ tube yang terbentuk dari sporangium akan menembus jaringan inang yang akan membiarkan parasit tersebut untuk memperoleh nutrient dari tubuh inangnya. yang seterusnya membentuk pembuluh kecambah yang mengadakan infeksi (Rumahlewang. Selanjutnya. Jamur juga akan bertahan hidup dalam umbi yang terinfeksi tetap di tanah dari musim sebelumnya. sel-sel dimana miselium berada dapat mati dan menjadi busuk. 2008). miselium menyebar luas sampai ke bagian yang sehat. jamur tersebut akan menginfeksi tunas baru tersebut. Ketika tunas baru dihasilkan dari benih atau umbi tua yang terinfeksi. tanah atau sisa-sisa tanaman diperkirakan menjadi tempat yang sesuai bagi pathogen antara musim. hal ini terjadi jika udara lembab. . Jika jatuh pada setetes air pada tanaman yang rentan. miselium tumbuh diantara isi sel batang. Ketika mesilium mencapai udara disekitar bagian tanaman miselium memproduksi sporangiospor yang dapat menembus stomata dan menetap serta menyebar melalui daun. kemudian sporulates dari pertumbuhan baru ini serta sporangia akan tersebar di udara atau di air. infestan akan menginfeksi tanaman dengan perkecambahan langsung. Beberapa hari setelah infeksi baru. Benih juga bisa terinfeksi dan menjadi tempat hidup pathogen. Sporangiospor akan terlepas dan menyebabkan infeksi baru. Karena cendawan ini dapat membentuk oospora.

Pada bulan-bulan kering.. Keragaman genetik Phytophthora infestans Status dan bentuk alat reproduksi dari Phytophthora infestans menjadi topik kontroversi setelah Worthington Smith (1875) menyatakan bahwa jaringan kentang yang terinfeksi oosporanya ditemukan di Inggris. pada tahun 1956 de Bary membandingkan (pairing) isolat-isolatnya dengan isolat Phytophthora infestans yang berasal dari lembah dataran tinggi Toluka di Meksiko Tengah dan diperoleh ba-nyak sekali oospora (Niederhauser. Desiree. hanya sedikit spora yang tertangkap oleh alat penangkap spora. telah dinyatakan bahwa selain isolat Phytophthora infestans dari Meksiko. sedangkan mating type A2 hanya membentuk agregat hifa saja. antara bulan Desember dan Februari. Afrika Selatan. sedang pada kelembapan 50-80% dalam waktu 3-6 jam. Kanada. Pada suhu 10-250 C. Sejak saat itu. tetapi 15 tahun kemudian ia menyatakan bahwa oospora dapat dijumpai pada jaringan kentang yang terinfeksi Phytophthora infestans. Cipanas. Selanjutnya. Keadaan lingkungan di Indonesia sangat membantu perkembangan penyakit busuk daun kentang. Mei-Agustus. Di Segunung. Menurut Suhardi (1983) terdapat korelasi yang positif anatara intesitas penyakit dan curah hujan. Eropa Barat. Infestans sangat dipengaruhi oleh kelembapan dan suhu terutama kelembapan. Pada tahun 1876. isolat dari USA. Daur Hidup Phytophthora Infestan Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit Pembentukan dan perkecambahan konidium Ph. 1980). konidium membentuk spora kembara dalam waktu ½-2 jam Perkembangann bercak pada daun paling cepat terjadi pada suhu 16-240 C (lihat Salzsmann. 1950).. Smoot et al. 1956. . kalau ada air. Biasanya mating type A1 membentuk banyak sporangia dan sporangiofora. Pada udara yang kering konidium sudah mati dalam waktu 1-2 jam. Di dataran tinggi di Jawa busuk daun terutama berkembang hebat pada musim hujan yang dingin. Infestans (race non-specific). ternyata di Indonesia menjadi rentan (Mooi et al. Infestans. de Bary mula-mula menyatakan bahwa oospora yang ada pada jaringan kentang yang sakit adalah kontaminan Pythium vexans. kentang yang ditanam bulan Oktober-Februari mendapat serangan berat dari Ph.Gambar 2. suatu varietas kentang yang di Eropa mempunyai ketahanan yang cukup terhadap beberapa ras Ph. 1958). sehingga sering fungisida tidak tampak pengaruhnya.

Pemilihan Bibit Umbi untuk bibit diambil dari tanaman yang sehat. Pada umumnya. kulitnya mulus. Berikut ini cara yang tepat untuk mengatasi serangan penyakit ini. Me) hasilnya menunjukkan nilai 90/90. banyak peneliti yang mempelajari ciri-ciri populasi Phytophthora infestans baik secara fenotipik maupun secara genotipik dengan menggunakan berbagai macam penanda. serta sidik jari DNA nukleus (nuclear DNA fingerprint) dan sidik jari mitokondrial (mitochondrial DNA fingerprint) menggunakan teknik Restriction Fragment Length Polymorphism/RFLP. fungisida yang berbahan aktif metalaxyl sangat efektif untuk mengendalikan penyakit busuk daun. yaitu penggabugan dari gamet betina besar dan pasif dengan gamet jantan kecil tapi aktif. patogen ini berkembangbiak secara aseksual. dengan enzim glukose fosfat isome-rase (glucose phosphate isomerase. Setelah itu. virulensi. Tetapi penggunaannya yang berkepanjangan telah mengakibatkan munculnya strain Phytophthora infestans yang resisten terhadap senyawa metalaxyl. Umbinya sendiri harus sehat dan tidak cacat. Gambar 3. . Sampai tahun 1984. peneliti pada umumnya percaya bahwa mating type A2 hanya terdapat di Meksiko. Penelitian untuk mengidentifi-kasi populasi Phytophthora infestans menggunakan teknik genetika molekuler berdasarkan olimorfisme isoenzim diawali oleh Tooley et al. tidak busuk. (1985). sensitifitas terhadap metalaxyl. Ciri umbi yang sehat tampak segar. Ukuran umbi untuk bibit lebih kurang yang beratnya 30gr. Resistensi terhadap Senyawa Metalaxyl Di masa lalu. jangan harap akan diperoleh tanaman yang sehat. Jika umbi yang digunakan sebagai bibit sudah sakit (tak normal). sedangkan dengan enzim peptidase (Pep) menunjukkan nilai 96/96. tetapi dapat juga berkembangbiak secara seksual dengan oospora.dan India Barat tidak mem-punyai alat reproduksi seksual. tetapi dengan pembentukan spora yaitu zoospora yang terdiri dari masa protoplasma yang mempunyai bulu – bulu halus yang bisa bergetar dan disebut cilia. allo-enzyme. Gpi) menunjukkan nilai 100/100. Cara ini dilakukan tanpa penggabungan sel kelamin betina dan sel kelamin jantan. atau bisa juga menekan serangan penyakit ini bila terlanjur menjarah pertanaman kentang. Phytophthora Infestan Setelah dianalisis genotipik alloenzymenya menggunakan enzim malat (Malic enzyme. 1. Mengatasi serangan penyakit busuk daun bisa berarti mencegah tanaman kentang agar tidak binasa oleh penyakit ini. seperti mating type. tidak ada bekas-bekas serangan hama penyakit. sehingga menimbulkan pertanyaan.

Namun penggunaan jarak tanam yang rapat perlu mempertimbangkan resiko serangan lodoh. Seperti yang sudah diuraikan di depan. Mooi et al.. 5. Donata. 6. dan Gloria kurang rentan ( Muller. Pada suspense fungisida sebaiknya ditambahkan pelekat. dan pemberaan untuk mematikan atau memutuskan siklus hidup cendawan ganas ini. setiap habis hujan lebat penyemprotan diulangi. . ternyata disini menjadi rentan ( vas Eek dan Thung. dan Rapan 106 ( Anon. penggaruan. Fungisida yang digunakan jangan hanya satu jenis. 1950. Bevelander.. Jarak tanam yang rapat akan menaikkan suhu dan kelembaban. van Hoof. Cara ini merupakan alternatif terakhir yang diterapkan untuk menekan serangan penyakit.. 4. 1984). Sering diperlukan 6-7 kali penyemprotan untuk tiap pertanaman. Pofijit.1999). Di antara varietas-varietas yang pernah ditanam di Indonesia. diharapkan hasil yang diperoleh semakin tinggi. Perlu diketahui bahwa spora cendawan ini mudah sekali disebarkan oleh angin maupun percikan air hujan. Kerapnya penyemprotan tergantunga dari keadaan cuaca.. Penanaman varietas kentang yang tahan. sedangkan untuk umbi ukuran besar jarak tanamnya 50 x 80 cm. Caranya adalah dengan melakukan pembajakan. sebab pemakaian fungisida satu jenis secara terus menerus akan menimbulkan sifat resisten pada cendawan. 1939. dengan kadar 0. 1980). 1950). dan kaptafol. Mencabut dan membakar tanaman sakit Bila pada suatu areal dijumpai tanaman kentang yang sakit. Pada usaha tani kentang kontribusi biaya pestisida berkisar antara 12-25% dari biaya produksi (Rauf. Bila menggunakan bibit dari umbi ukuran biasa. 3. propineb. Sejak tahun 1970-an di antara fungisida protektan (kontak) yang banyak dipakai adalah mankozeb. Tindakan pemusnahan ini perlu dilakukan agar spora cendawan tidak menyebar ke tanaman lain. Varietas-varietas yang dianjurkan karena tahan terhadap penyakit daun adalah Cipanas. Pengaturan Jarak Tanam Semakin rapat jarak tanam yang digunakan. varietas-varietas yang di daerah beriklim sedang mempunyai ketahanan tinggi. 2002). 1977).2. Populair. keadaan yang amat memungkinkan cendawan P investans berkembang. Sanitasi Lapangan Bibit yang sehat belum menjamin tanaman akan terbebas dari penyakit ini. bila kondisi lapangan tidak sehat. Penyemprotan dengan fungisida Penyemprotan fungisida dilakukan sebanyak 15 kali per musim tanam atau 4-5 hari sekali. Thung 151 C. Oleh karena tiu. jarak tanam yang ideal adalah 35 x 50 cm.2-0. meskipun di samping itudewasa ini terdapat banyak fungisida yang diizinkan untuk pengendalian Ph infestans pada kentang (Anon. perlu diusahakan agar areal tanaman terbebas dari sumber inokulan (penularan) cendawan P Infestans.3% atau 2-3 kg/ha ( Anon. maka tanaman yang sakit itu harus segera dibakar.

yang diikuti dengan tiga kali penyemprotan fungisida kontak yang sudah diuraikan diatas (Duriat et al 1994) Sumber: http://nurafni.tanaman akan mati. secara bergilir memberikan hasil yang baik ( Suryaningsih dan Suhardi. 1994). misalnya metalaksil. misalnya metalaksil. mineral dan protein. Di dalam pengendalian hama terpadu (PHT) dewasa ini dianjurkan agar penyemprotanya dilakukan jika terdapat satu bercak aktif per 10 tanaman sampel. Dalam budidaya kentang. kentang yang nama latinnya Solanum tuberosum dapat diolah menjadi bermacam-macam hasil olahan seperti kentang goreng. Dengan matinya tanaman tersebut tentunya umbi yang ditunggu-tunggu hasilnya akan mengecewakan. salah satunya adalah penyakit "Busuk daun" yang disebabkan oleh cendawan Phytopthora infestans. .com/2011/04/01/busuk-daun-kentang-late-blight/ Busuk Daun dapat Mematikan Tanaman Kentang Sumber Gambar: tanamanbudidaya. misalnya mankozeb yang diikuti dengan fungisida sistemik. Hal ini karena penyakit yang disebut juga dengan nama "Hawar daun (Late Bligt)" apabila serangannya sudah parah. kebutuhan kentang cenderung mengalami peningkatan. apalagi jika penyakit itu merupakan penyakit yang membahayakan bagi komoditi sayuran tersebut. bahan baku industri dan komoditas ekspor. Oleh karena itu.Pemakaian fungisida kontak.com Sebagai sumber karbohidrat. tepung kentang. Sebagai bahan pangan. kalori. pengembangan tanaman kentang memimiliki prospek yang cukup besar untuk menunjang program diversifikasi pangan. perkedel maupun bahan olahan lainnya. Penyemprotan dilakukan dengan fungisida sistemik. Yang dimaksud dengan bercak aktif adalah bercak Phytophthora segar yang membentuk banyak spora yang tampak seperti tepung putih. salah satu faktor yang dapat menyebabkan rendahnya produksi adalah adanya serangan penyakit. kentang mempunyai prospek yang cerah untuk dibudidayakan. Sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan. keripik kentang.

misalnya varietas Merbabu-17.24 0 C dan kelembabannya tinggi (musim hujan). Gejala penyakit akan nampak lebih jelas setelah penyimpanan dan dapat menutup seluruh permukaan umbi sehingga umbi akan membusuk karena perkembangan penyakit dan adanya organisme sekunder. Pada gejala serangan tingkat lanjut. Pencaran atau penyebaran penyakit busuk daun umumnya terjadi pada pertanaman kentang yang dibudidayakan di Jawa. Kondisi suhu dan kelembaban yang cocok untuk berkembangnya penyakit. Hal ini terjadi terutama apabila tidak ada upaya pengendalian terhadap penyakit tersebut. Cara Kultur Teknis Hindari penanaman kentang yang berdekatan dengan tanaman inang seperti tomat. Jika penyakit menyerang umbinya. Segunung dan varietas Cipanas atau pada cuaca kering. Konidium dapat dipencarkan/disebarkan oleh angin ke tanaman lain melalui tanaman kentang yang sakit atau pun tanaman lain yang merupakan inang penyakit tersebut. umumnya serangan penyakit tidak begitu berat karena di dataran rendah mempunyai suhu udara yang tinggi. Pada suhu udara yang tinggi. fisik/mekanis. . terutama yang lebih tua agar tidak terjadi penularan penyakit. cendawan Phytophthora infestans tidak berkembang dengan baik. Oleh karena itu. Lombok dan Sulawesi Selatan. pada umbi kentang yang diserang penyakit tersebut terdapat bercak berwarna coklat atau hitam ungu. penyakit akan berkembang hebat. Tananam inang (tanaman yang dapat membantu penyebaran penyakit) busuk daun diantaranya tanaman tomat. Cosima. biologi atau cara kimiawi. bagi petani yang sedang mengusahakan tanaman kentang perlu waspada terhadap kehadiran penyakit busuk daun tersebut. . cendawan akan naik ke tunas muda dan membentuk konidium. Upayakan lingkungan pertanaman kentang selalu bersih. pada tingkat awal serangan timbul bercak nekrotik pada bagian tepi dan ujung daun. Sedang pertanaman kentang yang di tanam di dataran rendah. Jika penyakit menyerang daun. Apabila kondisi pertanaman kentang itu mempunyai suhu udara antara 16 . akan muncul bercak-bercak nekrotik yang berkembang ke seluruh daun tanaman dan menyebabkan matinya bagian tanaman yang ada di atas tanah. masuk ke dalam umbi sedalam 3-6 mm . Hal ini terutama terjadi pada varietas rentan (varietas yang tidak tahan serangan penyakit) dan kelembaban cukup tinggi pada suhu yang tidak terlalu rendah. 1. Pengendalian Upaya untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara kultur teknis. Gejala Penyakit ini dapat menyerang daun maupun umbi kentang. Sumatera. Gejala ini akan nampak waktu umbi kentang itu digali atau pun waktu umbi kentang tersebut dalam penyimpanan.Bila umbi yang sakit ditanam. Gejala ini bertahan atau berkembang lambat pada varietas kentang yang tahan penyakit..misalnya dibakar agar tidak menyadi sumber penyebaran penyakit. misalnya membuang/mengumpulkan sisa-sisa tanaman yang terserang kemudian dimusnahkan. Bali. Gejala serangan pada daun umumnya muncul setelah tanaman berumur lebih dari satu bulan. Kelembaban dan suhu sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit.

deptan.Ir. terutama pada saat serangan awal dipetik.MS.Ir. Dr. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM pertanian Sumber : 1. Buku tahunan Hortikultura Seri Tanaman Sayuran. Direktorat Jenderal Hortikultura. Standar Operasional Prosedur Budidaya Kentang Varietas Granola (Solanum tuberosum) Kab. Direktorat Jenderal Hortikultura. Kementerian Pertanian.MM Penyuluh Madya. klorotalonil atau simoxanil. Jika belum paham bisa ditanyakan kepada Penyuluh Pertanian atau petugas pertanian setempat. Cara Fisik/Mekanis Bagian tanaman yang terserang penyakit. propinep. Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura.M. Direktorat Jenderal Hortikultura. 2.Bisa juga dengan menanam varietas yang tahan penyakit busuk daun maupun menggunakan benih kentang/umbi yang sehat.Muchjidin Rachmat. Ir.go.Si. Departemen Pertanian. tiak cacat dan benih tersebut bukan berasal dari pertanaman kentang yang diserang penyakit. Sumber: http://cybex. Dr.Muchdat Widodo.id/penyuluhan/busuk-daun-dapat-mematikan-tanaman-kentang . Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. 3. 3. Cara Biologi Cara pengendalian ini dapat menggunakan agens hayati misalnya dengan cendawan Trichoderna atau Gliocladium dengan dosis penyemprotan 10 gram/liter air ditambah dengan zat perekat.Soekirno.Jawa Barat. 2006 2. Direntorat Budidaya Tanaman Sayuran dxan Biofarmaka.MS. Cara penggunanaan fungsida tersebut dapat dilihat pada kemasannya. 4. 2010. Bandung Prov. Cara Kimiawi Cara ini baru dilakukan apabila cara-cara pengendalian sulit dilakukan atau serangannya sudah parah dengan fungisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleh pemerintah dengan bahan aktif mankozeb.Muchjidin Rachmat. Pengenalan dan Pengendalian Penyakit Hortikultura Prioritas. dimasukkan ke dalam kantong kemudian dimusnahkan/dibakart agar bagian tanaman yang sakit tersebut tidak menjadi sumber penyebaran penyakit. 2007. Pusat Penyuluhan Pertanian. Penulis : Ir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful