P. 1
46123440 Kasus Tembakau Bremen 1959 the Bremen Tobacco Case 1959

46123440 Kasus Tembakau Bremen 1959 the Bremen Tobacco Case 1959

|Views: 672|Likes:
Published by Martin Octavianus

More info:

Published by: Martin Octavianus on Apr 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2014

pdf

text

original

THE BREMEN TOBACCO CASE 1959 (KASUS TEMBAKAU BREMEN 1959

)
Tugas Makalah UKD 3 Hukum Internasional Kelas D Dosen Pengampu: Siti Muslimah, SH

Disusun Oleh: Dio Dera Darmawan E0009111

Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret 2010

1

dan pada akhirnya. karena Indonesia menganggap kedua negara tersebut adalah pendukung Malaisya. akan membahas mengenai kasus nasionalisasi pada 1958. B. Rumusan Masalah Untuk lebih memudahkan dalam pembahasan. Bagaimanakah awal mula Kasus Tembakau Bremen? 2 .BAB I PENDAHULUAN A. Pemerintah mengambil alih perusahaaan-perusahaan Belanda pada tahun 1958. dan pada tahun 1962. maka disusun beberapa rumusan masalah terkait dengan kasus ini. atau yang lebih dikenal dengan Kasus Tembakau Bremen ( The Bremen Tobacco Case). Namun pada makalah ini. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kekeuatan Belanda yang ada di Indonesia atau dengan kata lain. Dalam sejarah bangsa Indonesia merdeka. Karena itulah Indonesia berusaha keras untuk memenangkan kasus ini. berkaitan dengan perjuangan mengembalikan Irian Barat atau Papua. Hal ini dimaksudkan agar Indonesia semakin mendapat tempat di dunia internasional. terkait dengan pengambila alihan perusahaan-perusahaan Belanda. terkait konfrontasi dengan Malaisya. pada waktu itu Indonesia berusaha mengambil alih perusahaan milik Inggris dan Amerika. Indonesia berusaha untuk mengurangi eksistensi Belanda di dunia Internasional. pernah dua kali melakukan divestasi atau nasionalisasi yaitu ketika pada tahun 1958. keinginan bangsa Indonesia ini terwujud. Latar Belakang Masalah Masalah yang up to date karena menyangkut rasa nasionalisme bangsa indonesia adalah masalah divestasi. dari pendudukan Belanda. yaitu: a.

suatu pengadilan internasional tampaknya bisa memutuskannya dengan bergantung kepada prinsip kepatutan dan kelayakan (ex aequo et bono). Namun pandangan demikian sulit diterima. Sebetulnya tidak ada kriteria yang jelas dan diterima secara umum mengenai pengertian kedua istilah tersebut.. Seperti apakah masalah hukum yang timbul & Bagaimanakah penyelesaian Kasus Tembakau Bremen? c. 1 3 .. Yang kerapkali dipakai menjadi ukuran suatu sengketa sebagai sengketa hukum yakni manakala sengketa tersebut bisa atau dapat diserahkan dan diselesaikan oleh pengadilan internasional. Sesulit apapun suatu sengketa. adalah suatu situasi dimana dua negara mempunyai pandangan yang bertentangan mengenai dilaksanakan atau tidak dilaksanakan kewajiban-kewajiban yang ada pada suatu perjanjian. Tinjauan Pustaka Sengketa internasional.b. hlm. 511. dikenal ada dua macam sengketa internasional: sengketa hukum (legal or judicial disputes) dan sengketa politik (political or non-justiciable disputes). 1991. meskipun tidak ada pengaturannya sekalipun. menurut pengertian dari Mahkamah Internasional. the Court must conclude that intrnational dispute has arisen. Martin Dixon and Robert McCorquodale. London: Blackstone Press Ltd. Cases and Materials on International Law. secara teoritis pada pokoknya selalu dapat diselesaikan oleh pengadilan internasional. Confronted with such a situation... The mere denial of the existence of a dispute does not prove its non-existence . Penyelesaian Sengketa seperti apa yang dapat digunakan untuk menyelesaikan kasus tersebut? d. There has thus arisen a situation in which the two sides hold clearly opposive views concerning the questions of the performance or non performance of treaty obligations. Bagaimanakah paradigma hukum internasional yang timbul akibat kasuskasus sengketa internasional? C. Selengkapnya Mahkamah ini menyatakan: "..whether there exists an international dispute is matter for objective determination.”1 Dalam studi hukum internasional publik. Sengketa-sengketa internasional.

Pendapat Friedmann. seperti integritas wilayah dan kehormatan atau kepentingankepentingan penting lainnya dari suatu negara. namun pembedaannya dapat tampak pada konsepsi sengketanya. Pendapat kedua dikemukakan oleh para sarjana dan ahli hukum internasional dari Inggris yang membentuk suatu kelompok studi mengenai penyelesaian sengketa tahun 4 . meskipun sulit untuk membedakan kedua pengertian tersebut. pengadilan menjadi tidak berwenang mengadilinya. namun ada tiga golongan pendapat atau teori penting yang berkembang dalam hukum internasional. o sengketa hukum adalah sengketa dimana penerapan hukum internasional yang ada cukup untuk menghasilkan suatu putusan yang sesuai dengan keadilan antara negara dengan perkembangan progresif hubungan-hubungan internasional. ada banyak sengketa yang bisa diserahkan dan kemungkinan besar bisa diselesaikan oleh pengadilan internasional. Pendapat Waldock. Dalam hal ini yang menjadi dasar hukum bagi pengadilan untuk melaksanakan jurisdiksinya adalah kesepakatan para pihak yang bersengketa. Meskipun sulit untuk membuat perbedaan tegas antara istilah sengketa hukum dan sengketa politik. o sengketa hukum adalah sengketa-sengketa yang berkaitan dengan persengketaan hak-hak hukum yang dilakukan melalui tuntutantuntutan yang menghendaki suatu perubahan atas suatu hukum yang telah ada. Tetapi karena salah satu atau kedua negara enggan menyerahkannya kepada pengadilan. Menurut beliau.Pada pokoknya. o sengketa hukum adalah sengketa-sengketa yang sifatnya mempengaruhi kepentingan vital negara. Pendapat pertama adalah pendapat yang dikemukakan oleh golongan sarjana hukum internasional Amerika Serikat dengan pemukanya Professor Wolfgang Friedmann. Konsepsi sengketa hukum memuat hal-hal berikut: o sengketa hukum adalah perselisihan-perselisihan antara negara yang mampu diselesaikan oleh pengadilan dengan menerapkan aturan-aturan hukum yang ada atau yang sudah pasti.

Bagaimana kedua negara memandang sengketa tersebut adalah faktor penentu untuk menentukan apakah sengketa yang bersangkutan sengketa hukum hukum atau politik. Jika para pihak menentukan sengketanya sebagai sengketa hukum.' Tampaknya pendekatan yang diambil oleh kelompok studi ini "lebih tepat". misalnya tuduhan pelanggaran ketentuan kuota ekspor antara Amerika Serikat dengan Jepang atau antara Masyarakat Eropa dengan Jepang atau masalah tuduhan dumping perdagangan (internasional). Dalam hubungan internasional hal seperti itu acapkal terjadi. If both are demanding the application of standards or factors not rooted in the existing rules of international law .as. Kelompok studi ini yang diketuai oleh Sir Humprey Waldock menerbitkan laporannya yang sampai sekarang masih dipakai sebagai sumber penting untuk studi tentang penyelesaian sengketa internasional. sengketa hak-hak dan kewajiban dalam perdagangan. Sengketa-sengketa tersebut adalah sengketa hukum murni. jika sengketa tersebut menurut para pihak membutuhkan patokan-patokan tertentu yang tidak ada dalam hukum internasional. Pendapatnya ini dirumuskan sebagai berikut: • 'the legal or political character of a dispute is ultimately determined by the objective aimed at or the position adopted by each party in the dispute. misalnya soal perlucutan senjata. Contoh aktual adalah pertikaian perdagangan. Karena salah satu negara menuduh pihak lainnya melanggar ketentuan kuota ekspor atau ketentuan perdagangan internasional yang telah disepakati.1963. sengketa demikian sedikit banyak mempengaruhi hubungan (baik) kedua negara. dll. misalnya saja pelanggaran hak-hak istimewa diplomatik. Sebaliknya. Menurut kelompok studi ini penentuan suatu sengketa sebagai suatu sengketa hukum atau politik bergantung sepenuhnya kepada para pihak yang bersangkutan. yang pasti. Sengketa yang timbul antara dua neqara.. pelanggaran hak-hak istimewa diplomatik. Namun dalam menyelesaikan sengketa itu. for example. Suatu sengketa hukum. in a dispute regarding disarmament . bentuk atau jenis sengketa yang bersangkutan ditentukan sepenuhnya oleh para pihak.the dispute is evidently political. maka sengketa tersebut adalah sengketa hukum. khususnya sewaktu berlangsunanya perang dingin antara blok Barat (AS dan sekutunya) dan Timur (Uni Sovyet dan sekutunya). Sebaliknya para plhak tampaknya menganggap pertikaian itu 5 . misalnya penetapan garis batas wilayah. If both parties are demanding what they conceive to be their existing legal rights. para pihak jarang menyerahkannya ke badan-badan pengadilan. maka sengketa tersebut adalah sengketa politik.

Dalam membahas kasus ini. Cara ini baiasanya digunakan jika memang sudah tidak mungkin tercapai kesepakatan antara pihak yang bersengketa. 6 . Sengketa-sengketa tersebut biasanya terkait antar negara yang berdaulat. Menurut Oppenheim dan Kelsen. Mereka adalah sekelompok sarjana yang merupakan gabungan sarjana Eropa (seperti de Visscher. retorsi. ada pula istilah lain yang sama-sama tunduk pada penyelesaian sengketa secara damai. baru penyelesaian sengketa secara hukum ditempuh. Pendapat Jalan Tengah (Oppenheim-Kelsen) Pendapat ketiga adalah golongan yang penulis sebut sebagai pendapat jalan tengah.Oppenheim) dan Amerika Serikat (seperti Hans Kelsen). reprisal. Sengketa-sengketa yang dianggap sebagai sengketa hukum mungkin saja tersangkut di dalamnya kepentingan poliitis yang tinggi dari negara-negara yang bersangkutan. dan lain sebagainya. mungkin saja di dalamnya sebenarnya penerapan prinsipprinsip atau aturan-aturan hukum internasional dimungkinkan. embargo. Misalnya dengan perang. penulis berpedoman pada keputusan dari oberlandesgericht Bremen tanggal 21 Agustus 1959. Geamanu. pembedaan antara sengketa politis dan hukum tidak ada pembenaran ilmiah serta tidak ada dasar kriteria obyektif yang mendasarinya. terdapat cara penyelesaian sengketa internasional dengan jalan kekerasan. Menurut mereka setiap sengketa memiliki aspek-aspek politis dan hukumnya. Begitu pula sebaliknya. seperti negosiasi atau manakala saluran penyelesaian sengketa secara politik demikian buntu. Selain itu. Sengketa-sengketa yang dianggap memiliki sifat politis. Di samping istilah sengketa hukum dan Politik. Istilah tersebut adalah ‘situasi’ (situation). boikot damai. serta pada teori-teori penyelesaian sengketa internasional yang biasa digunakan dalam menyelesaikan kasus-kasus atau sengketa – sengketa internasional.sebagai suatu persoalan atau pertikaian politik dan penyelesaiannya pun acapkali dilakukan melalui saluran politik.

sehingga yang terjadi bukan nasionalisasi melainkan ekspropriasi3. 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda di Indonesia.BAB II PEMBAHASAN A.com 7 . Lembaran Negara No.wordpress.2 Pemerintah kemudian menetapkan Bremen sebagai kota untuk memperdagangkan tembakau. karena menurut mereka Indonesia tidak benar-benar akan memberikan ganti kerugian atau kompensasi. Sebagai gantinya Indonesia mendirikan Pusat Perkebunan Negara (PPN) Baru. Sebagai pelaksanaan dari UU tersebut. 162 Tahun 1958 3 Ekspropriasi (expropriation) adalah proses penggunaan kontrol untuk memaksimumkan kesejahteraan sendiri dengan distribusi kekayaan dari pihak lain . Perkebunan tembakau milik Perusahaan Belanda. yaitu NV Verenigde DeliMaatschappijen dan NV Senembah-Maatschappi. ikut dinasionalisasi dengan ganti kerugian yang akan ditetapkan kemudian. dan membentuk Deutsch-Indonesische Tabakhandels GmbH. Awal Mula Kasus Tembakau Bremen Kasus ini berawal dari terbitnya Undang-Undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda. dan effective? Apakah nasionalisasi tersebut 2 Undang-Undang No. Kasus ini kemudian disidangkan di Landgericht.Senembah ( Belanda) harus bersifat adequate. http://joernalakuntansi. prompt. Bremen. Pihak DeliSenembah (Belanda) menilai tindakan nasionalisasi tersebut sebagai suatu tindakan barbar dan merupakan suatu bentuk tekanan politik terkait dengan masalah Irian Barat. Oleh karena itu. suatu perusahaan patungan PPN Baru dengan sejumlah pedagang tembakau asal Bremen. mereka mengajukan klaim kepemilikan. Isu-isu hukum dalam sengketa ini menyita perhatian dunia internasional. ketika tembakau hendak diperdagangkan di Bremen. perusahaan-perusahaan milik Belanda yang ada di Indonesia dinasionalisasi dan dinyatakan sebagai milik penuh dan bebas Negara Republik Indonesia. Di bidang hukum internasional (publik) salah satu isu hukum krusial adalah apakah kompensasi bagi Deli.

Dr. Lemaire di UI. Mr. Prof. dan Prof. dan Prof. isu hukum krusial dari nasionalisasi tersebut adalah ketertiban umum (ordre public) dan doktrin tindakan negara (act of state doctrine). Kasus ini termasuk sengketa hukum. Soekanto dan Prof. Masalah Hukum yang Timbul & Penyelesaian Kasus Tembakau Bremen Pihak Indonesia dengan Maskapai Tembakau Jerman-Indonesia digugat oleh pihak Belanda di pengadilan negeri Bremen. Sudargo Gautama” oleh Yu Unn 8 . walaupun terdapat muatan politik didalamnya. Lemaire menggantikan Prof. Maka terjadilah pertarungan antara guru dan murid. B. Penyelesaian sengketa yang digunakan adalah melalui jalur litigasi atau pengadilan. Zweigert. Logemann. Pihak Belanda (Verenigde Deli Maatschapijen) mengajukan banding dan mendalilkan bahwa tindakan Indonesia dalam menasionalisasi bekas perusahaan Belanda tidak sah karena ganti rugi yang di tawarkan tidak memenuhi apa yang oleh pihak Belanda dianggap sebagai dalil hukum internasional yaitu bahwa ganti rugi itu harus Prompt. Ipsen dari Universitas Hamburg. Mr. Kollewijn untuk mata kuliah-mata kuliah yang sama4. Mereka bertiga pernah menjabat Guru Besar di Rechtshogeschool (yang kemudian menjelma menjadi FH UI). Dr. Kollewijn dari Universitas Leiden. Dölle dan Prof. yang secara tidak langsung membenarkan nasionalisasi perusahaan dan perkebunan milik Belanda oleh pemerintah Indonesia. dan Prof. Pihak Indonesia diperkuat oleh lima orang Guru Besar. yakni Prof. yang antara lain adalah Prof. Prof. Kollewijn untuk Pengantar Ilmu Hukum dan kemudian Hukum Intergentiel. effective dan adequate. Gautama dari Universitas Indonesia. Pihak perusahaan tembakau Jerman-Indonesia dan pemerintah Indonesia membantah dalil Belanda yang dikemukakan di atas dengan mengatakan bahwa nasionalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah usaha untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia dari ekonomi kolonial ke ekonomi yang 4 Opposungu Informasi ini dikutip dari “In Memoriam Prof. Lemaire. Dalam keputusan di pengadilan negeri Bremen. Pihak Deli-Senembah (Belanda) diperkuat dengan dukungan sebelas orang Guru Besar.bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh negara-negara (general principles of law as recognized by civilized nations)? Di bidang Hukum Internasional. Prof. Logemann untuk Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara. Prof. Gautama muda adalah murid Prof.

bersifat nasional secara radikal. 9 . Sebenarnya pasca pengambilalihan kebun tembakau dari tangan Belanda sempat menyisakan masalah besar. yang antara lain adalah bahwa kompensasi yang bersifat adequate. dan effective tidak bisa diterapkan secara kaku. Kemudian pada tahun 1967 setelah melalui perjuangan yang gigih akhirnya pihak Indonesia berada dalam pihak yang menang. Pengadilan Jerman menerima argumentasi Indonesia. yakni menolak gugatan pihak DeliSenembah. Pasca kemenangan tersebut berdampak timbulnya perasaan tidak enak bagi Belanda. sehingga mereka menutup pasar Rotterdam. kompensasi yang wajib dibayarkan harus memperhatikan kondisi perekonomian dan kemampuan Indonesia. maka cita-cita luhur kemerdekaan yang antara lain memperbaiki perekonomian yang terpuruk pasca-kolonialisme hanya akan sia-sia akibat terkurasnya kas negara untuk membayar kompensasi sekaligus kepada pihak Belanda. namun para pedagang tembakau dari Jerman didukung pemerintahan kota Bremen segera mengambilalih tempat pelelangan dengan memindahkan ke Bremen. tempat dimana sebelumnya tembakau dipasarkan. prompt. Dengan demikian nasionalisasi yang dilakukan Indonesia adalah sah! Mengenai ganti rugi. pada tanggal 21 Agustus 1959. Pasalnya Belanda sempat mempersoalkan serta mengklaim bahwa ribuan bal tembakau yang sedang dalam pelayaran dari Indonesia ke Rotterdam termasuk tembakau deli yang sedang dalam proses produksi di Indonesia adalah tetap menjadi miliknya. Klaim pihak Belanda tersebut direspon pihak Indonesia dengan mengajukan keberatan melalui jalur hukum internasional. yang menguatkan putusan Landgericht tanggal 21 April 1959 dan 16 Juni 1959. Oberlandesgericht. 9 tahun 1959 ditentukan bahwa dari hasil penjualan hasil perkebunan tembakau dan perkebunan lainnya akan disisihkan suatu presentasi tertentu untuk disediakan pembayaran ganti rugi. Jika diterapkan secara kaku. Sengketa ini akhirnya diselesaikan melalui keputusan pengadilan banding. Menurut pihak tergugat nasionalisasi tersebut perlu dilakukan dalam rangka perubahan struktur ekonomi tersebut. Indonesia sudah menyediakan ganti kerugian yang dengan Peraturan Pemerintah no. Bremen. Oleh karena itu.

mengingat pada saat itu. dalam UU no. Dalam masyarakat bisnis.com. Indonesia. berkaitan dengan hal tersebut.5 Keputusan Pengadilan Negeri Bremen yakni bahwa pengadilan tidak mencampuri sah tidaknya tindakan ambil alih dan nasionalisasi pemerintah Indonesia itu. yaitu perusahaanperusahaan tembakau milik Belanda yang dinasionalisasi tersebut. Banding dari Pihak Belanda akhirnya diputuskan oleh Pengadilan Tinggi Bremen (oberlandesgericht Bremen) yang menetapkan bahwa pengadilan tidak mempersoalkan keabsahan tindakan nasionalisasi pemerintah Indonesia yang secara tidak langsung menyatakan bahwa tindakan nasionalisasi pemerintah Indonesia atas perkebunan Belanda adalah sah (keputusan oberlandesgericht Bremen. Sebaliknya. namun juga terkait permasalahan yang menyangkut kepentingan ekonomi ( Bisnis) antar dua negara tersebut.wordpress. tentu tidak ingin kehilangan aset ekonomi yang berharga. Pendekatan pertama. 10 . Proses Penyelesaian Sengketa yang Dapat Digunakan Jika dikaji lebih mendalam. 11 tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing juga memberikan batasan terhadap bidang-bidang yang tertutup bagi penanaman modal asing yaitu pada bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak Terkait ketentuan mengenai penyelesaian sengketa yang sesungguhnya merupakan muatan yang menjadi pilihan-pilihan bagi para pihak untuk menentukan pilihan hukum apa yang akan digunakan jika terjadi sengketa dalam realisasi kontrak karya. Kasus Tembakau Bremen ( The Bremen Tobacco Case) tidak hanya terkait permasalahan politik antara Indonesia-Belanda saja. dikenal dua pendekatan umum yang digunakan dalam penyelesaian sengketa. 1 tahun 1967 yang dalam pelaksanaannya diperkuat oleh Undang-undang No. disebutkan bahwa Penanaman modal asing menurut UU No. Belanda pun tidak ingin kehilangan aset perekonomianya yang sangat penting. secara tidak langsung dapat diartikan sebagai membenarkan tindakan terhadap perusahaan dan perkebunan milik Belanda tersebut (keputusan Landsgericht Bremen tanggal 21 April 1959). yaitu dengan menggunakan paradigma penyelesaian sengketa litigasi. Sejak saat itulah hasil produksi tembakau tahun 1967 dilelang tahun 1968 di Bremen untuk pertama kalinya. dengan perekonomian yang belum stabil.walaupun awalnya dalam keadaan darurat. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan untuk mendapatkan keadilan melalui sistem perlawanan ( the adversary system) dan menggunakan paksaan ( coercion ) dalam mengelola sengketa serta menghasilkan suatu 5 http://kumpulanspasi.1 tahun 1967. sebagai negara yang baru merdeka. tembakau merupakan salah satu primadona dalam pasar eropa. Terlebih lagi tembakau asal Jawa dan Sumatra( Deli) sangat digemari oleh orang eropa. tanggal 21 Agustus 1959) C.

Arbitrase adalah penyelesaian sengketa perdata diluar pengadilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat oleh para pihak yang bersengketa7.abstrak UU No. Terkait kasus diatas. Sarana atau alternatif lain yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan Negoisasi atau Altrnatif sengketa ( ADR).Mengembangkan Paradigma non-litigasi di Indonesia. hal. Keputusan yang didapat adalah keputusan yang win-lose solution. pasal 1 ayat 1 11 .keputusan win-lose solution bagi pihak-pihak yang bersengketa. tidak win-lose solution. Penyelesaian sengketa dengan cara negoisasi atau ADR. dimana dihasilkan keputusan bahwa pengadilan tidak mencampuri sah tidaknya tindakan ambil alih dan nasionalisasi pemerintah Indonesia itu. Paradigma ini dalam mencapai keadilan lebih mengutamakan pendekatan ‘konsensus’ dan berusaha mempertemukan kepentingan pihak yang bersengketa untuk menghasilkan suatu keputusan win-win solution6. Sedangkan pendekatan kedua adalah dengan menggunakan paradigma penyelesaian sengketa non-litigasi. 30 tahun 1999. yang menghasilkan keputusan oberlandesgericht Bremen. yaitu melalu Arbitrase. tetapi win-win solution. Arbitrase internasional bertujuan untuk menyelesaikan sengketa antar negara oleh hakim-hakim pilihan mereka dan atas dasar ketentuan-ketentuan hukum. Yaitu dengan penyelesaian melalui Pengadilan Negeri Bremen. secara tidak langsung dapat diartikan sebagai membenarkan tindakan terhadap perusahaan dan perkebunan milik Belanda tersebut. 6 7 Adi Sulistiyono. Negoisasi atau ADR adalah penyelesaian sengketa yang paling banyak digunakan saat ini. Cara penyelesaian ini dapat memuaskan pihak-pihak yang bersengketa. Lebih dari 80% sengketa di bidang ekonomi ( Bisnis ) terselesaikan dengan menggunakan pendekatan ini. penyelesaian sengketa yang digunakan adalah dengan menggunakan paradigma penyelesaian sengketa litigasi. Penyelesainya atau keputusan yang dihasilkan. Pengadilan tidak mempersoalkan keabsahan tindakan nasionalisasi pemerintah Indonesia yang secara tidak langsung menyatakan bahwa tindakan nasionalisasi pemerintah Indonesia atas perkebunan Belanda adalah sah. dalam hal ini adalah Arbitrase Internasional. merupakan salah satu alternatif penyelesaian sengketa dalam paradigma atau pendekatan non-litigasi Ada lagi alternatif penyelesaian sengketa lain. tanggal 21 Agustus 1959.

Justisiabel maksudnya bahwa sengketa tersebut dapat diajukan ICJ ( International Court Of Justice ). Sedangkan dengan cara kekerasan misalnya dengan perang. arbitrase belum begitu populer sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa D. Penggunaan arbitrase pun tidak dilirik karena alasan yang sama. artinya mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan sengketa dengan pendekatan adversial. Indonesia tidak mau rugi lebih banyak lagi jika kasus tersebut selesai dengan cara negosiasi. Penyelesaian sengketa internasional ada dua cara. namun arbitrase masuk dalam penyelesaian sengketa dalam pendekatan atau paradigma litigasi. Alasanya. Tentunya . Melalu pengadilan misalnya adalah melalui Arbitrase Internasional dan Pengadilan Internasional ( Mahkamah Internasional & Mahkamah Pidana Internasional ). yaitu Justisiabel dan Non yustisiabel. Dengan cara damai dibedakan menjadi dua lagi. Selain itu. retorsi. karena melalui paradigma atau pendekatan tersebut. sangatlah mustahil jika pihak Indonesia mau bernegosiasi dengan Belanda untuk menyelesaikan kasus tersebut. lebih merupakan sengketa politik semata yang penyelesaianya menekankan pada proses dan kemahiran diplomasi tiap negara yang bersangkutan. reprisal. dengan hasil keputusan win-win solution. yaitu dengan cara damai dan cara kekerasan. embargo. walaupun menghasilkan suatu keputusan dengan hasil win-win. Faktor lain adalah melihat kondisi kejiwaan bangsa Indonesia. padda saat itu. 12 . Sedangkan non-yustisiabel maksudnya bahwa sengketa tersebut bukan merupakan sasaran dari Pengadilan Internasional. Paradigma Penyelesaian Sengketa Internasional Sengketa internasional terbagi menjadi dua. dan lain sebagainya. Setelah dijajah selama 350 tahun. Indonesia lebih memilih menggunakan pendekatan atau paradigma litigasi untuk menyelesaikan kasus diatas.Penyelesaian melalui arbitrase ini berarti bahwa negara-negara yang bersangkutan harus mempunyai itikad baik. yakni melalui Pengadila (litigasi) dan di luar pengadilan (non-litigasi). merupakan sengketa hukum yang timbul dari Hukum Internasional dan deselesaikan pula berdasar Hukum Internasional melalui pengadilan maupun nonpengadilan. blokade damai. Karenanya. dapat diperoleh kepastian hukum yang lebih jelas dan terjamin. Terkait dengan kasus diatas. Arbitrase sama dengan pengadilan.

Persamaan hak & menentukan nasib sendiri e. adequate. serta kepentingan nasional sehingga kita dapat selalu kritis atas semua konsep dalam hukum internasioal yang hadir dihadapan kita.Dewasa ini paradigma yang berkembang dalam penyelesaian sengketa internasional adalah dengan cara damai. Prinsip Exhaustion of local remedies Selain itu kesuksesan Indonesia dalam sengketa internasional.com 13 . Seperti yang tertuang dalam pasal 2 ayat 3 piagam PBB bahwa “ Semua negara menyelesaikan sengketa mereka dengan cara damai sedemikian rupa agar perdamaian . menunjukan bahwa sistem hukum nasional dapat memberikan konstribusi dalam pengembangan hukum internasional. keamanan internasional dan keadilan tidak sampai terganggu”. hukum internasional yang diajarkan di Indonesia sudah sepatutnya harus memiliki sebuah paradigma atau kerangka keyakinan yang bersumber dari lokalitas. Prinsip itikad baik (good faith) b. Akan tetapi. paradigma tersebut tidak akan membuat Indonesia menjadi negara yang menutup diri karena jika itu dilakukan sama saja dengan bunuh diri. Persamaan kedaulatan. praktik-praktik. BAB III PENUTUP 8 http://senandikahukum. Kebebasan memilih cara &hukum yang diterapkan h. Beliau menyatakan bahwa ganti rugi dibayarkan sesuai dengan kemampuan negara bekas jajahan sebab para kolonial telah merampas kekayaan negeri yang tidak sebanding. and effective (Hull Formula). Argumen itulah yang memenangkan Indonesia dalam kasus Tembakau Bremen tahun 19598. kemerdekaan & integritas Wilayah f. Dengan demikian. Non intervensi urusan dalam negeri suati negara d. Larangan penggunaan kekerasan dalam penyelesaian sengketa c.wordpress. Prinsipprinsip penyelesaian sengketa internasional adalah: a. Mochtar Kusumaatmadja misalnya yang berhasil membongkar konsep pembayaran ganti rugi dalam hukum internasional yang menganut prinsip prompt. Kesepakatan Para Pihak g.

dan segala sesuatunya yang berdasarkan kesepakatan semua pihak yang bersengketa menjadi daya tarik dalam menyelesaikan sengketa internasional. mediasi. sehingga kita dpat 14 . paradigma penyelesaian sengketa baik internasional maupun nasional. Misalnya dengan cara arbitrase internasional. lebih menekankan pada proses dan kemahiran diplomasi tiap negara yang bersangkutan. dua perusahaan Belanda. Keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan win-win solution. Ketiga. Kedua. yaitu secara damai. maupun ADR. terdapat cara penyelesaian sengketa internasional ada dua cara. Belanda tetap mengajukan klaim kepemilikan. Mekanisme yang menguntungkan semua pihak.berdasarkan paradigma yang berkembang dalam kajian Hukum Internasional. sengketa hukum maupun politik. Saran Dalam perkembangan hukum internasional dewasa ini.A. praktik-praktik. dan lain sebagainya. Dengan cara damai ada dua jalur. Arbitrase Internasional.litigasi ). yaitu cara litigasi (melalui pengadilan) maupun non-litigasi. yakni menolak gugatan pihak Belanda. Kasus ini kemudian disidangkan di Landgericht. pengembangan hukum internasional di Indonesia. B. ADR. Pertama. sepatutnya harus memiliki sebuah paradigma atau kerangka keyakinan yang bersumber dari lokalitas. misalnya dengan negoisasi. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan masalah diatas. dapat disimpulkan mengenai beberapa hal. misalnya dengan negoisasi. tepatnya perusahaan tembakau. reprisal. dan lain sebagainya. Selain itu. arbitrase internasional. Cara-cara tersebut biasanya dipakai dalam menyelesaikan sengketa hukum.dan cara kekerasan. selain jalur pengadilan atau secara litigasi. embargo. dengan keputusan yang memnguatkan keputusan Landgericht. Sedangkan sengketa politik. karena merasa Indonesia tidak akan memberikan kompensasi. kasus ini sebenarnya dapat diselesaikan dengan cara lain diluar pengadilan ( non. boikot damai. Kemudian Belanda mengajukan banding. Dengan cara kekerasan yaitu dengan perang. serta kepentingan nasional. yaitu NV Verenigde Deli-Maatschappijen dan NV Senembah-Maatschappij. retorsi. adalah melalui jalur non-litigasi. melalui pengadilan Oberlandesgericht. kasus ini berawal dari Undang-Undang nasionalisasi perusahaan Belanda. Bremen dengan kemenangan di pihak Indonesia (21 april 1959 dan 16 juni 1959). Kemudian. sehingga banyak dipakai dalam berbagai sengketa internasional. mediasi.

dan yang kemungkinan akan terjadi di masa depan.selalu kritis terhadap isu-isu internasional yang telah. sedang. 15 .

16 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->