P. 1
BAHAN AJAR Keswan ReproSAPO Print

BAHAN AJAR Keswan ReproSAPO Print

|Views: 213|Likes:
Published by Stepia Broco

More info:

Published by: Stepia Broco on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2015

pdf

text

original

BAHAN AJAR

KESEHATAN HEWAN DAN REPRODUKSI
PELATIHAN BUDIDAYA SAPI POTONG BAGI PENYULUH PETERNAKAN ANGKATAN III TANGGAL 6 S.D 19 April 2011

Oleh : Drh. Iskandar Muda Widyaiswara Muda BBPP Batu

KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN BALAI BESAR PELATIHAN PETERNAKAN - BATU 2011

1

2. Menjelaskan anatomi reproduksi sapi betina dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit. rendahnya angka kematian. cara pencegahan dan pengendaliannya serta biosecurity. a. yang meliputi pemahaman terhadap. D. pencegahan dan pengendalian penyakit dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit. Kompetensi Dasar Setelah mengikuti pembelajaran peserta diharapkan mampu menjelaskan penyakit-penyakit penting pada sapi potong dan cara pengendaliannya serta mampu memahami reproduksi pada sapi betina dengan benar 2. faktor penyebab. anatomi dan fisiologi reproduksi sapi betina. Menjelaskan biosecurity pada sapi potong dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit. 4. c. Menjelaskan penyebab. Salah satu faktor sukses beternak sapi potong adalah berhasilnya mengelola kesehatan dan reproduksinya. Sebagai wujud keberhasilan penanganan kesehatan hewan dan reproduksi adalah rendahnya angka kesakitan. gejala Klinis. Hal ini juga terkait dengan program Kementerian Pertanian yaitu sukses swasembada daging tahun 2014.BAB I PENDAHULUAN A. tidak adanya penyakit menular zoonosis dan bertambahnya populasi ternak setiap tahun. 5. Swasembada daging artinya adalah ternak sehat dan produktif. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti pembelajaran peserta mampu: 1. Menyebutkan penyakit-penyakit penting pada sapi potong dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit. Latar Belakang Kesehatan hewan dan reproduksi sapi sangat menarik untuk dipelajari. 3. cara mendiagnosa. C. anatomi dan fisiologi reproduksi sapi yang harus dimiliki oleh Peserta Pelatihan Budidaya Sapi Potong Bagi Penyuluh Peternakan Angkatan III dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Menjelaskan fisiologi reproduksi sapi betina dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit E. gejala klinis. penyakit – penyakit penting yang menyerang sapi potong. Manfaat Bahan Ajar Bagi Peserta Bahan ajar ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peserta pelatihan teknis agribisnis peternakan sapi potong bagi penyuluh peternakan dalam memberikan penyuluhan guna mewujudkan ternak yang sehat dan produktif sebagai wujud kesejahteraan masyarakat peternakan pada khususnya. B. Tujuan Pembelajaran 1. b. Deskripsi Singkat Bahan Ajar ini berisikan unit-unit kompetensi yang berkaitan dengan kesehatan hewan. Materi Pokok Penyakit dan Penanggulangannya Biosecurity Anatomi dan fisiologi reproduksi sapi betina .

pemeriksaan Laboratorium. Penyakit dan Penanggulangannya 1. kolostrum yang cukup pada pedet. kadang ada darah segar dalam tinja. nafsu minum hilang. Sarung tangan. Pencegahan dan Pengendalian: Sanitasi dan desinfeksi kandang. Pengobatan : Tindakan pemberian obat pada ternak 5. dapat menyebabkan kematian. METODE 1. shock. tinja berbentuk pasta atau sangat cair berwarna putih atau kuning bau menyengat. 2. 1. pencegahan dan pengendalian penyakit. Menyebutkan penyakit-penyakit penting pada sapi potong. 3. 1. Praktek G. Air susu yang diberikan. Tanya jawab 3. Pinset. suhu tubuh sub normal. 6. Pencegahan : tindakan penolakan suatu penyakit atau mencegah terinfeksinya suatu ternak terhadap penyakit. A. Coli Gejala Klinis: Umumnya menyerang pedet sampai umur 3 minggu. 3. bentuk toksik :Ternak lemah. White Scour/Colibacillosis Penyebab : E. Curah pendapat 2. morbiditas (kesakitan) 30%. ALAT DAN BAHAN Alat . 3 . Organ Reproduksi Sapi 2. koma. mortalitas (kematian) sampai 50%. bentuk Klasik: Diare. 2. kematian. 2. Gunting. Sabun cair BAB II PENYAKIT DAN PENANGGULANGANNYA Indikator Keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu: 1. dehidrasi. Menjelaskan penyebab. mati dalam 2-6 jam. Istilah – istilah Hewan Sehat : kondisi hewan dimana semua fungsi tubuh berjalan secara normal Gejala Klinis : tanda-tanda suatu penyakit yang dapat ditentukan secara objektif Diagnosa : suatu tindakan untuk menentukan suatu jenis penyakit berdasarkan gejala klinis atau pemeriksaan laboratorium 4. tidak ada diare. untuk pedet yang sakit tidak diperkenankan memberi susu atau susu pengganti sampai pedet sembuh. Bahan. peralatan dan lingkungan. 1. hewan mati dikubur.F. Diagnosa : Berdasarkan gejala klinis. gejala klinis. pengendalian : Tindakan pencegahan dalam suatu populasi yang besar B.

malas bergerak. Pemeriksaan lab. pemeriksaan laboratorium Pencegahan dan Pengendalian: Sanitasi kandang. mortalitas 10%. menyerang sapi bali Gejala Klinis: Morbiditas 60%. Salmonellosis Penyebab: Salmonella sp. pengawasan ketat lalu lintas ternak. Diagnosa: Berdarkan gejala klinis. anus dan vulva. lakrimasi dan konjungtivitis. pada sapi bunting menyebabkan keguguran. diare. Pencegahan dan Pengendalian: Isolasi ternak sakit. Anthrax (Radang Limpa) Penyebab: Bacillus anthracis. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis. pada akhir musim panas/awal musim hujan. mortalitas sampai 100%. suhu tubuh di atas normal (40-42 C). Pencegahan dan Pengendalian: Vaksinasi. kematian 24-48 jam. parotidea). hewan mati dikubur. peralatan dan lingkungan. suhu tubuh diatas normal sampai 42 C. penyemprotan serangga. hipersalivasi. keringat berdarah. koma. nafsu minum masih ada. Jembrana Penyebab: Retrovirus. depresi. hewan sembuh dapat terjadi carrier / muncul karena stress. pemeriksaan lab. Bovine Ephemeral fever (Demam 3 hari) Penyebab: Rhabdovirus. Gejala Klinis: Morbiditas 80%. Pemeriksaan lab. Gejala Klinis: Depresi. Pencegahan dan Pengendalian: vaksinasi 4. malas bergerak. nafsu makan hilang. 6. Gejala Klinis: Morbiditas 60%. pengawasan ketat lalu lintas ternak. lesu.2. leleran encer dari hidung. bentuk enteritis akut: hewan lemah. suhu tubuh sampai 42 C. hepersalivasi. Dapat membentuk spora bila berhubungan dengan udara dan bertahun tahun dalam tanah. bersifat menular ditularkan melalui vekto lalat culicoides dan . 3. Dapat menyerang pedet umur 2 minggu dan sapi dewasa bersifat zoonosis. mati dalam 24-48 jam. bersifat zoonosis. kematian 2448 jam. 5. hewan mati memperlihatkan leleran darah berwarna kehitaman seperti tir dari mulut. Septichemia Epizootocae (SE)/Ngorok Penyebab: Pasteurella multocida. nafsu makan hilang. diare cair kematian dalam 2-5 hari. suhu tubuh diatas normal (40-41 C). depresi. rotasi padang penggembalaan. inkubasi 5-12 hari. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis. hewan mati dibakar dan dikubur. hidung. mortalitas sampai 20%. pembengkakan daerah leher sampai dada bagian bawah. menggigil. pembengkakan kelenjar limfe superficial (prescpularis.demam selama 5-7 hari diikuti diare kadang bercampur darah. prefemoralis. Kuman dalam air tergenang bisa sampai 9 bulan. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis. ngorok. inkubasi 10-14 hari. bentuk septicemia : hewan lemah. menyerang sapi umur 6 – 18 bulan.

baik cacing gelang (Ascaris sp. mula-mula encer berubah menjadi mukopurulen. mortalitas hampir 100%. nafsu makan turun. sanitasi kandang. Pencegahan dan Pengendalian: Isolasi ternak sakit. demam. erosi selaput lendir hidung. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis. gusi. hipersalivasi. Pada sapi terinfeksi abadi : pedet akan tetap terinfeksi dan akan mati dalam waktu 2 tahun. kadang terjadi diare. konjungtivitis dan keratitis. dan mukosanya mengalami erosi. bila hidup akan melahirkan pedet kelainan congenital otak (sempoyongan). mortalitas rendah. sedikit demam. bentuk intestinal : demam suhu 41 C. hindari pengandangan sapi dengan domba terutama sapi bali. cermin hidung kering berbentuk kerak. lesu. pemberantasan serangga. gusi dan langit-langit serta bantalan gigu mengalami erosi atau tukak. Bovine Viral Diarrhea (Diare Ganas) Penyebab: Pestivirus. Haemonchus Contortus). keluar leleran encer dari hidung yang berubah menjadi purulen dan berbau busuk. cacing pita (Taenia sp) maupun cacing hati (Fasciola Hepatic /Fasciola Gigantica). ada 4 bentuk: bentuk perakut: peradangan mukosa mulut dan hidung. lesu. nafsu makan turun. Helminthiasis Hasil penelitian dan survey di beberapa peternakan rakyat di Indonesia menunjukkan bahwa 90% sapi yang berasal dari peternakan rakyat mengidap Helmintheasis. nafsu makan turun. pincang karena pembengkakan persendian kaki. 9. bagian bawah lidah. Diagnosa: Gejala klinis. inkubasi 2-4 minggu atau sampai 10 bulan. kongesti mukosa hidung dan mata. Pada kebuntingan awal terjadi mummifikasi atau membusuk. keluar leleran dari hidung. pemeriksaan lab Pencegahan dan Pengendalian: isolasi ternak sakit. leleran mukopurulen dari mata dan hidung. Bentuk kepala dan mata: demam suhu 42 C. nafsu makan hilang. Pada sapi bunting: kebuntingan kurang dari 100 hari janin tidak dapat membentuk reaksi kebal. febendazole dll). pedet yang lahir akan membawa virus secara abadi. mukosa mulut berwarna merah. Gejala Klinis: Morbiditas 5%. bentuk ringan : gejala hampir tidak teramati. inkubasi 1-3 minggu. tukak mulut dan diare sementara. inkubasi 7-10 hari. 7. bibir. Gejala Klinis: Morbiditas rendah. bulu kusam. Gejala Klinis: Morbiditas 40%. cermin hidung kering. Pencegahan dan Pengendalian: isolasi ternak sakit. sapi umur lebih 2 tahun mortalitas hampir 100%. jatuh/berbaring. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis. depresi. Gejala Klinis: ternak terlihat kurus dan rendah tingkat pertumbuhannya walaupun mendapat pakan cukup karena sebagian makanan didalam tubuhnya juga dikonsumsi oleh cacing. depresi. depresi. pemeriksaan lab. 5 . demam (41 C) selama 3 hari yanhg diikuti sembelit dan dilanjutkan diare. pembengkakan kelenjar limfe superficial. pemeriksaan lab. Malignant Catarrhal fever (Ingusan) Penyebab: herpesvirus. hewan akan sembuh sendiri setelah 5-7 hari. Pada sapi tidak bunting : inkubasi 3-5 hari. Penyebab: antara lain konsumsi hijauan yang masih berembun dan yang tercemar siput sebagai vektor (pembawa) cacing hati. Infeksi pada kebuntingan 100-150 hari akan terjadi abnormalitas congenital. peralatan dan lingkungan.nyamuk culex spp. diare berlendir ada bercak darah dan berbau busuk. Pencegahan: pemberian obat cacing secara rutin setiap 3 bulan dengan obat cacing berspektrum luas (albendazole. lidah. Menyerang sapi umur lebih dari 2 tahun. 8.

Biji-bijian yang digiling terlalu halus 3. Pakan yang sudah berjamur. sepotong kayu dimasukkan melintang dan pada kedua ujungnya diikatkan tali yang dililitkan disamping kepala dan terus kebelakang tanduknya. A. napsu makan hilang. Gejala klinis: lesu. jumlah konsentrat yang sangat berlebihan 4. Pakan yang mengandung serat kasar terlalu tinggi serta tidak diimbangi pemberian air minum yang cukup. terutama pada hewan muda yang mulai mendapat pakan hewan dara. Bloat/Kembung Kembung rumen merupakan indigesti yang disertai dengan penimbunan gas didalam lambung-lambung muka ruminansia (rumen. frekuen dan bersifat torakal. Penyebab: Perubahan pakan yang mendadak. palpasi rumen terasa berisi makanan padat. Pemberian obat-obat antimicrobial yang berlebihan. Ternak yang terlalu letih. reticulum). lemahnya tonus kedua lambung tersebut sehingga makanan tertimbun didalamnya dan disertai dengan sembelit (konstipasi). penderita tidak tenang sebentar-sebentar berbaring lalu bangun. dan biosecurity di farm sapi. kepada pemilik dapat dianjurkan untuk memberikan pertolongan sementara sebagai berikut : kaki depan penderita ditempatkan pada tempat yang lebih tinggi. Pemberian obat atau bahan lainnya berupa minyak goreng sebanyak 100-200 ml atau lebih. BAB III BIOSECURITY Indikator Keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu: Menjelaskan pengertian biosecurity. dan gas yang tertimbun mungkin dapat terpisah dari isi lambung lainya disebut free gas bloat . Pemberian air minum secara ad libitum. Proses indigesti bisa terjadi mendadak dari beberapa jam sampai lebih kurang dua hari dan banyak lolos dari pengamatan pemilik ternak. terutama pada daerah yang kekurangan air sebelumnya Gejala Klinis : terjadi pembesaran rumen. 11. Indigesti Sederhana Indigesti merupakan gangguan pencernaan yang berasal dari rumen atau retikulum yang ditandai dengan penurunan atau hilangnya gerak rumen. hendaknya selalu diusahakan agar penderita selalu dalam posisi berdiri. bernapas dengan mulutnya dengan pernapasan yang bersifat dangkal. Imbangan pakan hijauan dan konsentrat yang tidak seimbang. atau gas terperangkap diantara makanan didalam rumen dan reticulum dalam gelembung-gelembung kecil yang sering disebut frothy bloat. Pengobatan: secara simtomatik paling banyak diberikan. pertolongan ini sering disebut ”broom stick therapy”. malas bergerak.10. Dengan mulut dibuka. Tanaman yang dipanen sebelum berbunga atau sesudah turunnya hujan. untuk membebaskan gas mungkin penderita akan menjulurkan lehernya kedepan. PENGERTIAN Biosecurity merupakan strategi dan tindakan secara terintegrasi meliputi kebijakan dan kerangka kerja yang menganalisa dan mengendalikan segala akibat yang merugikan pada sektor . Kembung dapat terjadi secara primer maupun sekunder. Pengobatan: sebelum pertolongan secara profesional diberikan oleh dokter hewan. Penyebab: 1. farm biosecurity. minyak kayu putih beberapa puluh ml dicampur air hangat. Tanaman muda lebih sering menyebabkan gangguan kembung 2. napsu minum mungkin masih ada.

Isolasi karantina sapi barfu masuk. hewan. peralatan yang masuk dan keluar.Mencegah kontak dengan hewan liar . pakan dan bahan lainnya dari supplier yang aman . unggas dll. siap partus. tempat pembuangan dan pembakaran sapi mati harus terpisah. BIOSECURITY PEMBIBITAN SAPI 1.uti proses berlatih. terhindar dari penyakit organic dan metabolik Komponen utama biosecurity: 1.Program direncanakan untuk meminimalisir kontak antar hewan. desinfeksi kendaraan dan peralatan untuk mengankut hewan sakit atau mati.Harus disertai dengan managemen yang baik serta komitmen yang kuat. Tindakan umum program biosecurity: .Vaksinasi secara teratur untuk penyakit tertentu . peserta diharapkan mampu memahami reproduksi pada sapi betina dengan tepat dan bena kemanan pangan. BAB IV REPRODUKSI SAPI BETINA A.Memberi tanda semua hewan untuk memudahkan pengawasan . sapi bibit dan penghasil bibit bebas dari penyakit hewan menular strategis dan penyakit infeksi 3. jamujr dan parasit. bakteri. sapi induk kosong).Secara rutin membersihkan dan mendesinfeksi sepatu. Pengaturan keluar masuknya hewan perhatikan keluar masuknya hewan dan perpindahan hewan sesuai umur. kesehatan hewan (sapi) sebagai syarat mutlak 2. hewan dengan manusia atau obyek lainnya yang bertindak sebagai carrier penyakit yang disebabkan oleh virus.Mengawasi keluar masuknya hewan . adanya hewan lain : kucing. FARM BIOSECURITY .Mencatat pengunjung. .Membeli hewan. pemisahan kelompok (dara. sanitasi dan desinfeksi secara rutin. bunting. kesehatan dan kehidupan hewan dan kesehatan dan kehidupan tumbuhan termasuk lingkungannya. sanitasi : Sanitasi kandang. evaluasi tindakan isolasi. 3. Tindakan: .Memberi tanda hewan yang sakit dan melaporkan setiap hewan yang sakit atau dicurigai sakit kepada petugas C. laktasi.Resiko timbulnya penyakit selalu ada . peralatan dan lingkungan. pakaian dan peralatan yang digunakan .Memisahkan hewan yang baru datang / karantina . ANATOMI DAN FISIOLOGI REPRODUKSI BETINA Fungsi alat reproduksi betina diantaranya adalah untuk mengontrol aktivitas organ 7 . B. isolasi sapi sakit. 2.

menyeleksi spermatozoa.saluran reproduksi betina terbagi menjadi 1) Oviduct atau tubafalopi. reproduksi betina dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu : a. Kemudian didalam saluran itu juga dipertemukan bibit dari pejantan dan betina. folikel tertier. menyediakan lingkungan yang baik bagi embrio dan fetus. 3) Cervix dan Vagina Cervix berfungsi sebagai tempat transportasi spermatozoa. menangkap oocyte yang diovulasikan ovarium. myometrium (tengah) dan endometrium (dalam). membantu kebuntingan serta mengecilkan corpus luteum. dipelihara. tempat transpor spermatozoa. memberikan lingkungan yang baik untuk embryo. c. indung telur atau ada juga yang memberi nama pengarang telur. melahirkan fetus dan menyediakan makanan untuk anak. membantu penghidupan dan pertumbuhan fetus. Struktur ovarium terdiri dari oocyte. Ovarium menghasilkan telur. menghambat masuknya bakteri saat bunting serta sebagai saluran kelahiran. B. serta tempat transpor & makanan untuk pengembangan embrio muda. memberikan lingkungan yang baik untuk oocyte. tempat transpor oocyte untuk fertilisasi. Bagian Uterus terdiri dari dinding uterus perimetrium (luar).(hormonal). Sedangkan vagina berfungsi sebagai organ kopulatori/ untuk perkawinan dan untuk saluran kelahiran. Saluran. Ovarium berfungsi untuk memproduksi estrogen. Secara anatomi. mengandung oocyte dan memproduksi progesterone. membantu melahirkan fetus. Gonad atau Ovarium Merupakan bagian reproduksi yang utama. menyerap kembali embrio muda yang mati. PUBERTAS Pubertas adalah umur tertentu dari hewan yang disertai mulai berfungsinya alat kelamin untuk memproduksi sperma atau ovum. produksi oocyte. Umur pubertas (bulan) Bangsa Betina Jantan . Fungsinya adalah sebagai tempat transpor spermatozoa untuk fertilisasi. oleh karena itu dalam bahasa Indonesia seringkali disebut induk telur. Sedangkan fungsinya yaitu untuk transportasi spermatozoa. folikel sekunder. meningkatkan daya gerak spermatozoa. Klitoris dan Vulva b. Pada alat saluran-saluran reproduksi betina selain bertugas menerima telurtelur yang direproduksi oleh ovarium juga menampung semen yang dipancarkan oleh alat kelamin jantan. tempat terjadinya pembuahan. folikel primer. corpus hemoragicum. mempersiapkan spermatozoa untuk fertilisasi. corpus luteum dan corpus albican. kontraksi otot uterus. Alat kelamin bagian luar terdiri atas . penyeleksi spermatozoa. 2) Uterus yang terbagi lagi menjadi kornua uteri dan korpus uteri. spermatozoa & proses fertilisasi. dibesarkan dan kalau sudah cukup umur dilahirkan untuk menjadi mahluk baru.

level estrogen naik. embryo terus berkembang di uterus Embryo memberi tanda ke uterus akan keberadaannya – tidak terjadi regresi CL. Diestrus Ukuran coprus luteum maksimum. folikel tertier dan oocyte mencapai tahap kematangan akhir. kadar progesterone yang tinggi menghambat perkembangan folikel tahap akhir. Variasi Siklus Estrus pada Berbagai Species Domba Lama Siklus Berahi 14-19 hari Lama Berahi Waktu Ovulasi 24-36 jam Babi 17-22 hari 48-72 jam Sapi 18-24 hari Kuda 16-24 hari 12-19 jam 2-11 jam 24-36 jam 35-45 jam 10-11 jam 1-2 hari (setelah awal (setelah (setelah akhir (sebelum akhir berahi) awal estrus) estrus) berahi) Waktu untuk 12-18 jam 16-24 jam Hari kedua dan 7-18 jam Inseminasi Buatan setelah awal setelah awal setelah awal hari-hari lain estrus estrus dan 9 . kadar progesterone di darah akan menurun dan folikel de Graf akan memulai perkembangan tahap akhirnya untuk ovulasi. kadar progesterone mulai naik. Siklus berahi (Estrus) Siklus berahi adalah jarak antara satu berahi dengan berahi berikutnya. betina menjadi receptive. % Berat badan pada saat pubertas Sapi perah Sapi potong 30-40% BB dewasa 45-55% BB dewasa C.Sapi 8-11 10-12 Sapi Brahman 15-18 Waktu pubertas lebih dipengaruhi oleh perkembangan tubuh dibandingkan dengan umur. embrio tumbuh perlahan-lahan di oviduk dan bergerak ke uterus. progesteron mulai mempersiapkan uterus untuk embrio. Fase siklus estrus terdiri dari fase follicular dan fase luteal. LH surge menyebabkan ovulasi dan LH surge mengindikasikan pembentukan corpus luteum. Metestrus Kadar estrogen sudah menurun. terjadi betina berahi. Jika tidak ada embrio. corpus luteum terbentuk. kadar estrogen yang tinggi menyebabkan LH surge. Estrus Pada masa estrus. estrogen mempersiapkan uterus dan oviduc untuk transportasi spermatozoa dan untuk proses fertilisasi dan estrogen mengindikasikan perubahan uterus untuk perkembangan embrio lebih lanjut. Siklus berahi dapat dibagi dalam 4 periode: Proestrus Pada masa proestrus. uterus akan melepaskan PFG2α yang akan mengakibatkan regresi CL. Jika CL regresi. ovulasi dan estrus.

B. maka inseminasi harus dilakukan pada hari itu juga. PETUNJUK WAKTU MELAKUKAN I. maka dibuat petunjuk umum yang dapat digunakan dengan mudah.B. Faktor yang terpenting dalam petunjuk tersebut adalah pengamatan terhadap berahi. jika sapi terlihat berahi pada pagi hari ini. Kontraksi Uterus menjadi terkoordinasi dan teratur (induksi estrogen & PGF2α). Sehingga petunjuk praktisnya sebagai berikut. Hari ini juga Ditangguhkan sampai besok Sore atau malam hari I. Proses kelahiran ditandai dengan ligamentum Pelvix melunak. sedangkan bila sapi terlihat berahi pada sore hari ini. Bila gejala berahi sudah terlihat maka saat inseminasi mudah ditentukan. baik inseminator maupun pemilik sapi sukar untuk dapat mengetahui saat dimulainya estrus. Allanto-chorion menjadi robek. d. PADA SAPI Saat yang baik melakukan I. ras dan individu hewan. Tahap kelahiran: Pada proses kelahiran normal: a. (2-6 jam) a. Waktu Kawin Yang Tepat Waktu yang tepat untuk IB adalah saat dimana sel telur (oocyte) yang diovulasikan siap untuk diinseminasikan dan sperma dalam saluran reproduksi betina telah berkapasitasi dan matang. fetus bergerak pindah ke arah kelahiran : kaki depan dan kepala menghadap cervix.B. lebih-lebih saat ovulasi.5-2 jam) . Stadia pendorongan fetus (ekspulsi) c. cervix melunak dan mulai mengsekresikan lendir. Kelahiran / partus Merupakan serentetan proses fisiologik yang berhubungan dengan pengeluaran fetus dan plasenta dari induk pada masa akhir kebuntingan. Untuk memudahkan pelaksanaan. Fetus mendorong cervix c. besok pagi sebelum jam 12. Ekspulsi / dorongan Fetus (0.00 siang.diulang kembali 8-24 jam kemudian berahi selama berahi C. Stadia ekspulsi plasenta Interval ketiga stadium berbeda tergantung tipe.00 esok harinya D. Dalam pelaksanaan di lapangan. Bila IB dilakukan terlalu awal atau terlambat sehingga sel telur dan sperma salah satunya sudah lemah dan tidak fertile lagi seringkali menjadi penyebab kematian embrio. pembesaran dan pembengkakan vulva. Dorongan fetus ke cervix menstimulasi pelepasan oxytocin dan refleks kontraksi otot abdominal. Dalam saluran reproduksi betina spermatozoa membutuhkan waktu 6 jam untuk akuisisi proses kapasitasi dan kapasitasi maksimal 12 – 18 jam setelah akuisisi.B. maka inseminasi harus dilakukan pada esok harinya sebelum jam 12. Dilatasi Cervix. Kapasitas terbaik untuk IB adalah 2 – 3 jam setelah ovulasi. b. aktivitas kelenjar mamae (membesar dan membengkak). Sel telur yang diovulasikan dan siap di IB setelah 10 -12 jam berada didalam saluran reproduksi (oviduct). Saat birahi akan tampak selama 18 jam dan ovulasi 12 jam setelah birahi berakhir Secara optimal waktu yang tepat untuk melakukan IB adalah 6-8 jam sebelum birahi berakhir sampai 6 jam setelah birahi berakhir.00 siang Sesudah jam 12. Stadia persiapan b. Sapi terlihat berahi Terlambat Pada pagi hari ini I.

b. Regenerasi Karunkula ~ 30 hari setelah melahirkan. Mempercepat penyapihan. Sapi mengeluarkan lochia . Kontraksi mendorong plasenta keluar. Memelihara hewan sebaik mungkin agar kondisi badannya baik. maka sebagai bahan tindak lanjut adalah memperdalam cognitive Anda dengan membaca bacaan yang mengacu pada daftar pustaka serta mengaplikasikan di tempat kerja Anda. BAB V PENUTUP Suksesnya pengelolaan peternakan sapi potong ditentukan oleh keberhasilan dalam pengelolaan kesehatan dan reproduksi ternak. Pada sapi. c. Pemberian makanan selama masa setelah anak disapih. b. Sehari sekali menyusui anaknya. d. (4-5 jam) a. f. temperatur dan keberadaan hewan jantan. Involusi Uterus sempurna 47-50 hari setelah melahirkan. Perubahan penting selama involusi uteri ditandai oleh kembalinya aktivitas ovari secara normal. Hindari penurunan berat badan. Pemisahan anak dari induk selama 48 jam pada 40-50 hari postpartum. Kontraksi uterus yang kuat disebabkan oleh kadar estrogen yang tinggi. b. Tindak Lanjut Setelah Anda mengikuti proses belajar mengajar reproduksi sapi. Fetus keluar melewati vagina. b. Postpartum Periode Postpartum adalah periode sejak melahirkan sampai timbul berahi kembali. Involusi Uterine: a. photoperiod. d.a. Ekspulsi Plasenta. Pengecilan kembali uterus akibat adanya kontraksi otot. pengecilan uterus kembali ke status normal dan adanya regenerasi endometrium. stimulus isapan anak sapi. Managemen pemeliharaan untuk memperpendek interval postpartum: a. Faktor yang mempengaruhi Periode Postpartum diantaranya adalah kondisi tubuh sebelum dan setelah partus. sisa-sisa jaringan plasenta dan uterus serta cairan fetus). Kontraksi Uterus berlanjut. PGF2α dan oxytocin. estrus pertama muncul 30-40 hari postpartum pada sapi perah dan 40-60 hari pada sapi pedaging. c.lendir yang dihasilkan vagina d. Disamping faktor-faktor lainnya seperti pakan dan pengelolaan lingkungan. darah. Kontraksi otot abdominal yang kuat. c. nutrisi. (Lendir. 11 . Amnion robek. stress laktasi. e.1 sd 2 minggu setelah melahirkan.

Lama birahi. (2003). E. (2010). 4th Ed. 1993. K.org/docrep/t0690e/t0690e05. Cambridge University Press. E. Austin and Shot. Kanisius. Reproduction in Ammals. Kesehatan Hewan. 6th Ed. 1982. I. 3:93-95. Cambridge. Lea and Febiger. Sutama. Ilmu Penyakit Ternak I. Reproduction in Farm Animals. (2010). Mutiara. Pelatihan Bioscurity. Cambridge. Ilmu dan Peternakan. Jakarta. E. . Philadelphia. 1982. S. waktu ovulasi dan kadar LH pada domba ekor pipih setelah perlakuan “progestagen-PMSG”. (2000). Second Edition Hormonal Control of Reproduction. S. Book 3. 1984. Philladelphia. Reproduction in Ammals.htm. Gajah Mada University Press.fao. 1988. http://www. Second Edition.E. Subronto. Book 1. In : Reproduction in farm Animals. 1980. E. Austin and Shot. E. Cambridge University Press. Germ Cell and Fertilizatio. Budi Tri Akoso. Lea and Febiger. Hafez. Hafez (Ed). Ilmu Reproduksi Hewan.DAFTAR PUSTAKA ___________. Prabowo PP. Partodihardjo. Artificial insemination.S. Hafez.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->