Pandangan Islam terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 2, 2007 Oleh: Asri Supatmiati baitijannati – Isu penindasan terhadap wanita terus menerus menjadi perbincangan hangat. Salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Perjuangan penghapusan KDRT nyaring disuarakan organisasi, kelompok atau bahkan negara yang meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the Elimination of All Form of Discrimination/CEDAW) melalui Undangundang No 7 tahun 1984. Juga berdasar Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilahirkan PBB tanggal 20 Desember 1993 dan telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Bahkan di Indonesia telah disahkan Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang ‘Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’. ‘Perjuangan’ penghapusan KDRT berangkat dari fakta banyaknya kasus KDRT yang terjadi dengan korban mayoritas perempuan dan anak-anak. Hal ini berdasar sejumlah temuan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dari berbagai organisasi penyedia layanan korban kekerasan. Di Provinsi Banten misalnya, hingga pertengahan tahun 2004 terdapat 5.426 perempuan yang dilaporkan menjadi korban tindak kekerasan (KTK). 90 persen diantaranya menjadi korban kekerasan karena berkerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri (Tempo Interaktif, 3/5/04). Sedangkan data yang terdapat di Ruang Pelayanan Khusus (RPK) Kepolisian Kota Bandung menunjukkan bahwa selama 2003-2004 terdapat 60 kasus kekerasan fisik terhadap perempuan. Sementara data yang dihimpun oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2) Kota Bandung memperlihatkan bahwa periode Mei– Desember 2004 sudah terdapat 36 kasus kekerasan terhadap perempuan. Dengan perincian, 3 kasus perkosaan, 7 kasus kekerasan fisik, 26 kasus kekerasan psikis dan penelantaran ekonomi. Mengingat korban kekerasan yang kebanyakan berjenis kelamin wanita itulah, para propagandis anti-KDRT beranggapan bahwa KDRT adalah masalah gender, yakni disebabkan adanya ketidak-adilan gender. Adanya subordinasi perempuan telah menempatkan mereka sebagai korban kekerasan oleh pria. Dan, ajaran agama (baca: Islam) dituduh melanggengkan budaya ini. Beberapa syariat Islam dicap sebagai upaya mensubordinasikan posisi wanita, sehingga menjadi pemicu bagi kaum pria untuk memperlakukan wanita semena-mena, yang berujung pada tindak kekerasan. Menurut para propagandis ini, poligami dianggap sebagai bentuk penindasan terhadap wanita karena wanita ditempatkan pada posisi ‘nomor dua’. Menurut mereka jilbab juga merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan wanita. Perintah istri untuk taat kepada suami pun dianggap sebagai pendorong suami untuk berbuat sewenang-wenang

untuk menghapuskan KDRT maka perempuan harus disejajarkan dengan pria. Gagasan anti-KDRT dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap hak-hak wanita pada akhirnya justru bias gender. Pertama. bukan pada hukum syara’. baik laki-laki maupun perempuan. kekerasan atau kejahatan sendiri dipicu oleh dua hal. Kebolehan memukul istri atau anak dalam rangka mendidik mereka. bukan yang lain.dan memenjarakan wanita dalam rumah tangga. Para propagandis beranggapan. Mereka membela pelacur. Ajaran sunat bagi anak perempuan juga dianggap bentuk kekerasan fisik terhadap perempuan. Dari sinilah maka arah perjuangan penghapusan KDRT adalah untuk memperjuangkan hak-hak wanita menuju gender equality. kejahatan bukanlah perkara gender (jenis kelamin). Tidak adanya ketakwaan pada individu-individu. karena laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang yang sama sebagai korban. Sementara kejahatan dalam Islam adalah perbuatan tercela (al-qobih) yang ditetapkan oleh hukum syara’. bagi kaum feminis. kejahatan bisa menimpa siapa saja. Dengan demikian Islam pun menjatuhkan sanksi tanpa melihat apakah korbannya laki-laki atau perempuan. pelacur dibela karena dianggap sebagai korban eksploitasi seksual. Kekerasan juga bukan disebabkan sistem patriarki atau karena adanya subordinasi kaum perempuan. Padahal. dan karakteristik individu yang temperamental . Kalaupun data yang tersedia lebih banyak menyebutkan wanita sebagai korban. yang menganggap kejahatan diukur berdasarkan kepada gender (jenis kelamin) korban atau pelakunya. Tidak pula melihat apakah pelakunya laki-laki atau perempuan. Relasi suami-istri dalam kehidupan rumah tangga haruslah seimbang. lemahnya pemahaman terhadap relasi suami-istri dalam rumah tangga. dengan anggapan wanita telah menjadi korbannya. Kekerasan = Kriminalitas Kekerasan terhadap wanita adalah bentuk kriminalitas (jarimah). Dengan begitu kekerasan tidak ada kaitannya dengan penyetaraan hak laki-laki atau perempuan. Sebaliknya mereka menuduh poligami sebagai bentuk kekerasan terhadap wanita. wanita tidak boleh dikekang untuk keluar rumah. Disinilah kekeliruan mendasar dari kelompok Feminis. Sehingga apa yang dianggap sebagai tindakan kejahatan terhadap wanita harus distandarkan pada hukum syara’. faktor individu. Pelakunya juga bisa laki-laki dan bisa pula perempuan. dituduh sebagai penganiayaan. Lebih dari itu. itu semata-mata karena data laki-laki sebagai korban kekerasan tidak tersedia. Pengertian kriminalitas (jarimah) dalam Islam adalah tindakan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam dan termasuk kategori kejahatan. karena dianggap sebagai korban. seorang perempuan tidak wajib untuk taat kepada suaminya. tapi yang dilihat apakah dia melanggar hukum Allah SWT atau tidak. di mana istri memiliki kewenangan yang tidak harus bersandar kepada suami. suami harus membebaskan istrinya bekerja. Sebaliknya. Pasalnya. dll.

dipicu ketidakpuasan dalam hal ekonomi. pastilah timpang. Sebab. Seperti pelaku pemerkosaan yang dihukum ringan. Dari sisi sosial-budaya. Pembangunan negara yang diongkosi utang luar negeri. sistem kapitalisme mengabaikan kesejahteraan seluruh umat manusia. dibutuhkan penerapan hukum yang menyeluruh oleh negara. dll. Disinilah letak penting tegaknya hukum yang tegas dan menyeluruh. baik di lingkungan domestik maupun publik. sehingga perilakupun berada pada derajat sangat rendah. Mereka tidak mampu menghidupi diri secara layak karena negara mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Kekerasan yang terjadi saat ini sudah menggejala menjadi penyakit sosial di masyarakat. menggejalanya kebodohan telah memicu ketidak-pahaman sebagian masyarakat mengenai dampak-dampak kekerasan dan bagaimana seharusnya mereka berperilaku santun. suami diwajibkan berbuat baik kepada istri. Dari sisi pendidikan. Kekerasaan yang dilakukan oleh suami seperti menyakiti fisiknya bisa diberikan sanksi diyat. telah meremukkan sendi-sendi perekonomian bangsa. Kalau tidak akan terjadi ketimpangan. faktor sistemik. lesbianisme dan hubungan seks disertai kekerasan. Lahirlah kebodohan secara sistematis pada masyarakat. gaya hidup hedonistik yang melahirkan perilaku permisif. Penerapan sistem itu telah meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan asasi manusia. Sebagai contoh sulit untuk menghilangkan pelacuran. kebebasan berperilaku dan seks bebas. kalau faktor ekonomi tidak diperbaiki. tidak sedikit orang melacur karena persoalan ekonomi. Tak lain dan tak bukan ialah sistem kapitalisme-sekular yang memisahkan agama dan kehidupan. Himpitan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu orang berbuat nekat melakukan kejahatan. Kekerasan yang terjadi bersifat struktural yang disebabkan oleh berlakunya sistem yang tidak menjamin kesejahteraan masyarakat. pelaku perzinaan yang malah dibiarkan. telah menumbuh-suburkan perilaku penyimpangan seksual seperti homoseksual. Banyak kasus KDRT menimpa keluarga miskin. dan merajalelanya perilaku kolusi dan korupsi pada semua lini pemerintahan. Padahal dalam Islam. Kekerasaan dalam rumah tangga. Kedua. dan kemerosotan pemikiran masyarakat. kalau hanya dilihat dari istri harus mengabdi kepada suami.adalah pemicu bagi seseorang untuk melanggar hukum syara’. mengabaikan nilai-nilai ruhiyah dan menafikkan perlindungan atas eksistensi manusia. . Dari sisi ekonomi misalnya. sehingga kapitalisasai pendidikan hanya berpihak pada orang-orang berduit saja. Dari sisi hukum. termasuk melakukan tindakan KDRT. ketiadaan sanksi yang tegas dan membuat jera pelaku telah melanggengkan kekerasan atau kejahatan di masyarakat. Ini akibat rendahnya kesadaran pemerintah dalam penanganan pendidikan. Untuk persoalan sistemik ini. termasuk munculnya KDRT. Tak kurang 70% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Sistem ekonomi kapitalistik menitikberatkan pertumbuhan dan bukan pemerataan.

juga bukan penyakit yang menimpa manusia. Berdasarkan syariat Islam ada beberapa bentuk kekerasan atau kejahatan yang menimpa wanita dimana pelakunya harus diberikan sanksi yang tegas. an-Nûr [24]: 4-5). kejahatan bukan sesuatu yang fitri (ada dengan sendirinya) pada diri manusia. Kejahatan bukan pula profesi yang diusahakan oleh manusia. demikian juga lelakinya yang pezina. Pelacuran merupakan tindakan kriminalitas. Dan semua bentuk kriminalitas. 3.” (Qs. yakni menggauli wanita pada duburnya. Tapi menyakiti wanita dengan memukulnya sampai terluka. Mensodomi.” (Qs. Sanksi hukumnya adalah 80 kali cambukan. Tapi kejahatan adalah setiap hal yang melanggar peraturan Allah SWT. dimana pelakunya bisa dihukum 80 kali cambukan (Qs. baik laki-laki maupun wanita. Perkara ini termasuk dalam hukum qodzaf. baik pelakunya laki-laki maupun perempuan. tidak perduli laki-laki atau perempuan. Qadzaf.Perlu pula diingat. Firman Allah SWT: “Diwajibkan atas kamu qishos berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. pelakunya dihukum oleh Islam. Sanski Pelaku Jarimah Kekerasan terjadi baik di lingkungan keluarga maupun di luar rumah tangga. Namun sekali lagi perlu ditegaskan kejahatan ini bisa saja menimpa laki-laki. 2. Membunuh. baik di lingkup domestik maupun publik akan mendapatkan sanksi sesuai jenis kriminalitasnya. pelakunya juga bisa laki-laki atau perempuan. bagaimanapun tetap perbuatan tercela. Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang mendatangi laki-laki (homoseksual) dan mendatangi istrinya pada duburnya. berupa hukuman yang diserahkan bentuknya kepada pengadilan yang berfungsi untuk mencegah hal yang sama terjadi. Hal ini berdasarkan firman Alah SWT: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat saksi. an-Nûr [24]: 4). yakni melempar tuduhan. Sebaliknya.” Sanksi hukumnya adalah ta’zir. Karena memukul wanita sampai dirinya terluka adalah perbuatan melanggar aturan Allah SWT. Semisal bagi orang yang menuduh wanita berzina tanpa bukti. baik dia monogami atau poligami. poligami bukanlah bentuk kekerasan terhadap wanita karena tidak dilarang oleh syariat Islam. Pelacuran. yakni ‘menghilangkan’ nyawa seseorang. Dalam hal ini sanksi bagi pelakunya adalah qishos (hukuman mati). . al-Baqarah [2]: 179). Haram hukumnya sehingga pelaku wajib dikenai sanksi. Misalnya menuduh wanita baik-baik berzina tanpa bisa memberikan bukti yang bisa diterima oleh syariat Islam. siapapun pelakunya. Dari Ibnu Abbas berkata. dimana wanita yang melakukannya akan diberikan sanksi hukum. adalah merupakan kekerasan terhadap wanita. Berikut ini beberapa perilaku jarimah dan sanksinya menurut Islam terhadap pelaku: 1. maka deralah 80 kali. Islam tidak memandang apakah korban atau pelakunya laki-laki atau perempuan.

pembantu rumah tangga. Toh sekali lagi. luka sampai ke tulang dan mematahkannya 15 ekor unta. pukulan hanya diberikan jika tidak ada cara lain (atau semua cara sudah ditempuh) untuk memberi hukuman/pengertian. Perbuatan-perbuatan cabul seperti berusaha melakukan zina dengan perempuan (namun belum sampai melakukannya) dikenakan sanksi penjara 3 tahun. Hal ini sesuai firman Allah Swt yang artinya: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Qs.4. Syaikh Dr. suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya agar taat kepada Allah Swt. setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta. Dalam mendidik istri dan anak-anak ini. atau pembantu rumah tangga yang dianiaya majikan karena tidak beres menyelesaikan tugasnya. Kalau wanita itu adalah orang yang berada dalam kendalinya. satu kaki 1/2 diyat. apalagi sampai mematikan. maka diberi kesempatan bertobat dan minta maaf atas perbuatannya. luka yang sampai selaput batok kepala 1/3 diyat. tidak boleh memukul lebih dari tiga kali pukulan (kecuali sangat terpaksa dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan). . kerabat ataupun suami. bentuk-bentuk kekerasan memang seringkali terjadi. anak-anak. ibu yang memukul anaknya karena tidak menuruti perintah orang tua. Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki). Nah. maka diberikan sanksi yang maksimal 6. Abdurrahman al-Maliki). seperti pembantu rumah tangga. kepala dan dada. tergantung organ tubuh yang disakiti. Misal ada suami yang memukuli istri dengan berbagai sebab. at-Tahrim [66]: 6). Perlu digarisbawahi bahwa dalam konteks rumah tangga. ditambah jilid dan pengusiran. luka dalam 1/3 diyat. tidak bisa dikatakan ayah tersebut telah menganiaya anaknya. Dengan demikian jika ada seorang ayah yang memukul anaknya (dengan tidak menyakitkan) karena si anak sudah berusia 10 tahun lebih namun belum mengerjakan shalat. dll. 1 biji mata 1/2 diyat (50 ekor unta). Jarimah vs Ta’dib Dalam konteks rumah tangga. tidak boleh memukul anak di bawah usia 10 tahun. baik yang menimpa istri. Semua bentuk kekerasan dalam rumah tangga itu pada dasarnya harus dikenai sanksi karena merupakan bentuk kriminalitas (jarimah). luka sampai ke tulang hingga kelihatan 5 ekor unta (lihat Nidzam al-’Uqubat. Penyerang terhadap lidah dikenakan sanksi 100 ekor unta. maka keduanya akan dikenakan sanksi penjara sampai 4 tahun (lihat Nidzam al-’Uqubat. Sanksi hukumnya adalah kewajiban membayar diyat (100 ekor unta). bisa jadi terpaksa dilakukan dengan “pukulan”. tidak memukul pada bagian-bagian tubuh vital semisal wajah. “pukulan” dalam konteks pendidikan atau ta’dib ini dibolehkan dengan batasan-batasan dan kaidah tertentu yang jelas. pada gigi 5 ekor unta. tidak baleh memukul ketika dalam keadaan marah sekali (karena dikhawatirkan akan membahayakan). Penghinaan. Penyerangan terhadap anggota tubuh. Kaidah itu antara lain: pukulan yang diberikan bukan pukulan yang menyakitkan. Jika ada dua orang saling menghina sementara keduanya tidak memiliki bukti tentang faktanya. 5. jika kesalahan baru pertama kali dilakukan.

Allah SWT berfirman dalam Qs. maka tidak bisa disalahkan jika suami memperingatkannya dengan “pukulan” yang tidak menyakitkan. Atau istri yang melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga karena disibukkan berbagai urusan di luar rumah. Semua itu dikarenakan istri wajib taat kepada suami selama suami tidak melanggar syara’. di-shahih-kan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami' No 660. maka bila suami melarangnya ke luar rumah bukan berarti bentuk kekerasan terhadap perempuan. wanita boleh menuntut hak-haknya seperti nafkah. an-Nisâ’ [4]: 19: “Hai orang-orang yang beriman. Suami dan istri harus saling melengkapi dan bekerja sama dalam membangun rumah tangga yang harmonis menuju derajat takwa. Sejalan dengan itu dibutuhkan relasi yang jelas antara suami dan istri." (Qs.” [HR. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Rasulullah Saw menyatakan: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu. perlakuan yang baik dan sebagainya. mendirikan shalat. suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya. tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menghalangi mereka kawin dan menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya. Suami berhak menuntut hak-haknya. puasa sebulan (Ramadhan). Namun di sisi lain. Sebaliknya. dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai. Allah SWT berfirman: “Dan orangorang beriman. misal tidak mau melayani suami padahal tidak ada uzur (sakit atau haid). menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya. dan tidak bisa disamaratakan tugas dan wewenangnya.” (Qs. kasih sayang. Seperti firman Allah SWT: "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai . namun dalam rangka mendidik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka. selain kewajiban taat pada suami.pukulan yang dilakukan bukanlah pukulan yang menyakitkan. Relasi Suami-Istri dalam Rumah Tangga Kehidupan rumah tangga adalah dalam konteks menegakkan syariat Islam. sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Dalam hal ini bukan berarti suami telah menganiaya istri melainkan justru untuk mendidik istri agar taat pada syariat. menuju ridho Allah Swt. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. menunaikan zakat. Ahmad 1/191. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Demikian pula istri yang tidak taat kepada suami atau nusyuz. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf. memberikan nafkah yang layak dan memperlakukan mereka dengan cara yang makruf. terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. mencegah dari yang mungkar. at-Taubah [9]: 71). seperti dilayani istri dengan baik. 661). lelaki dan perempuan. al-Baqarah [2]: 228).

tiada dihalalkan bagimu mempusakai perempuan dengan paksaan dan janganlah bertindak kejam terhadap . Pemukulan Istri dalam Perspektif Islam Pemukulan terhadap istri dalam masyarakat patriarkhis selalu dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan lumrah. Dalam Surat An-nisa:19 yang menyatakan "Wahai orang yang beriman. keadilan. selain zina dan nusyuz. ma’ruf adalah menunaikan hak-hak mereka. penyayang dan lemah lembut kepada istrinya : a. Karena Islam adalah agama yang mempunyai nilai-nilai prinsipil seperti nilai egalitarian. Ayat ini juga memerintahkan menjaga keutuhan keluarga. Jika masing-masing. Nash ini merupakan seruan kepada para suami agar mereka mempergauli isteri-isteri mereka secara ma’ruf. Dan yang lebih parahnya lagi masyarakat sering melegitimasikan kekerasan tersebut dengan dalih agama (baca:Islam). niscaya tidak dibutuhkan kekerasan dalam menyelaraskan perjalanan biduk rumah tangga. padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (Qs. Berikut ini ayat-ayat Alqur-an dan hadist nabi yang mengharuskan suami untuk berlaku sopan. terdapat sisi-sisi kebaikan. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terhindarkan karena biduk rumah tangga dibangun dengan pondasi syariat Islam. Wallahu’alam bi shawab. dikemudikan dengan kasih sayang dan diarahkan oleh peta iman. dan kemanusiaan. baik suami maupun istri menyadari perannya dan melaksanakan hak dan kewajiban sesuai syariat Islam.sesuatu. Jika ada sesuatu yang tidak disukai pada diri isterinya. Bahkan oleh sebagian masyarakat pemukulan terhadap istri hampir selalu diterjemahkan sebagai bentuk pengajaran suami terhadap istri dalam rangka pembinaan rumah tangga. memperbagus ucapan dan perbuatan. Beberapa mufassir menyatakan bahwa ma’ruf adalah bersikap adil dalam giliran dan nafkah. Sebab. suami diminta bersabar dan tidak terburu-buru menceraikannya. an-Nisâ’ [4]: 19). Menurut ath-Thabari. bisa jadi pada perkara yang tidak disukai. 1. Persoalannya apakah memang agama melegitimasi hal tersebut? Berikut ini beberapa informasi penting tentang bagaimana sebenarnya Islam memandang kekerasan atau pemukulan terhadap istri. Benarkah Islam membolehkan seorang suami memukul atau melakukan kekerasan terhadap istrinya? Islam tidak pernah membenarkan seorang suami bertindak kejam terhadap istrinya baik secara lahir maupun secara batin.

adalah menjadikan teks tersebut bersifat final dan normatif dengan melegitimasikan pada Keabadian Kalam Allah. Tarmizi) d. sebagaimana Allah menjaganya. Kedua: Jika dia tidak taat kepada suaminya. Abu Daud dengan isnad yang shahih ) 2. Kemudian jika mereka mentaatimu. dan satu kesalahan fatal yang dilakukan umat dalam memahami teks-teks yang berkaitan dengan perempuan selama ini. karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Nasa’i dan Ibnu Majah). sebab itu perempuan yang shaleh adalah yang taat kepada Allah (qanitat) dan menjaga diri dibalik pembelakangan suaminya (hafizah lil ghaib). Dalam hadistnya Rasulullah SAW "…para suami yang memukul istrinya bukanlah termasuk orang-orang baik diantara kamu"(HR. Dalam hadistnya Rasulullah SAW "Janganlah kamu memukul hamba-hamba perempuan Allah swt"(HR. maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka dan pukullah (wadharibuhunna) mereka. Hampir semua ulama baik konvensional maupun kotemporer mengartikan nusyuz sebagai durhaka istri terhadap suami atau tidak patuh terhadap suami. Masyarakat umum bahkan para mubaligh seringkali mengutip ayat ini dalam versi terjemahan yang lazim. Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda "Yang paling baik dikalangan kamu adalah mereka paling sopan terhadap istrinya" (HR.sebaliknya bergaullah dengan mereka secara baik-baik lagi adil. misalnya mendidik. Nabi Muhammad SAW sendiri setelah turunnya ayat tersebut banyak mengeluarkan sabda yang melarang pemukulan terhadap perempuan. mencangkul. dan kekerasan terhadap istri justru bertentangan dengan konsep mu’asyarah bi al-ma’ruf. c. Padahal kata tersebut mempunyai lebih dari satu arti. maka si suami boleh memukulnya.mereka…. Asgar Ali Engineer mengatakan bahwa hukuman fisik yang dimaksud dari ayat tersebut hanya bersifat kontekstual dan bukan ajaran normatif yang berlaku pada setiap jaman. Benarkah surat An-nisa ayat 34 melegitimasi suami boleh memukul atau melakukan kekerasan terhadap istri ? Al-quran tidak pernah membenarkan suami melakukan kekerasan terhadap istri atau keluarganya. Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya. banyak menjelaskan betapa Allah menganjurkan sikap ma’aruf dalam perkawinan. Dan bila melihat konteks turunnya ayat ini. Sehingga Ayat ini sering disalah tafsirkan sebagai : Pertama: Bahwa seorang istri haruslah taat kepada suaminya. Persoalannya terletak pada cara memahami pesan Al-quran. dharaba selalu diartikan pukullah. Dalam ayat ini ada dua kata kunci yang selalu ditafsirkan secara tekstual yaitu kata Nusyuz dan kata Dharaba. Seperti pada Surat An-nisa ayat 34 yang artinya: "Laki-laki adalah qawwam (pemimpin) atas perempuan. Sesungguhnya Allah maha Tinggi lagi Maha Besar". dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka (untuk perempuan). e. Dalam surat Ar-rum:21 yang pada intinya menyuruh kepada suami istri untuk hidup saling sayang menyayangi dan cinta mencintai. maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. karena bila dilihat kembali dari teks ayat tersebut. yang dalam ayat tersebut ditandai dengan dua ciri yaitu : taat kepada Allah dan menjaga dirinya dibalik pembelakangan suami (Ketika suami tidak ada). memelihara bahkan menurut ar-ragib secara metaforis berarti melakukan hubungan seksual. b. Karena Al-quran diyakini membawa nilai-nilai keadilan dan kesetaraan yang universal. pengertian nusyuz sebenarnya sudah ditafsirkan dalam ayat tersebut.Abu Daud. yaitu : Tindakan yang tidak mencerminkan kesalehan. Hiduplah bersama mereka dalam kebajikan". Penafsiran ini tentunya sangat bias laki-laki. . Selain itu alasan pengabsahan pemukulan istri ini seringkali dikukuhkan melalui kegiatan penerjemahan kata kunci Wadhribuuhunna yang berasal dari kata dharaba. Demikian juga dengan ayat-ayat al-quran.

menguasakan kesaksian. maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahuinya". Dengan demikian jelaslah bahwa nusyuz itu tidak hanya ditujukan kepada istri saja. maka istri bisa mengadukan suaminya kepada Hakim (pengadilan). Namun turunlah ayat ini yang sekaligus mengingatkan Nabi. Hal ini dipertegas dalam surat An-nisa ayat 128 yang artinya: "Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuznya atau sikap tidak acuh dari suaminya. tetapi suami juga bisa melakukan nusyuz. memberikan hak waris. Hanya saja hampir sebagian besar ulama tidak pernah mengangkat nusyuz yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya. begitupula dalam prilaku hubungan suami istri. Dan Beliau memerintahkan kepada Habibah untuk membalas perlakuan suaminya. Padahal arti nusyuz itu sendiri pada dasarnya adalah Menentang atau membangkang.3. Pernahkan Nabi Muhammad SAW melakukan kekerasan terhadap istri-istrinya? . memberikan mahar. Ayat ini menerangkan tentang sikap yang harus diambil oleh seorang istri bila ia melihat sikap nusyuz dari suaminya seperti tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami adalah dengan melakukan musyawarah atau perdamaian. Dan jika kamu menggauli istrimu dengan baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh). Kemudian pemukulan ini mendapat tentangan yang cukup keras dari Nabi Muhammad SAW. bahkan tidak kembali kerumah suaminya. bila cara musyawarah tidak bisa dilakukan. tetapi suami tetap wajib memberi nafkah. Apa yang melatar belakangi turunnya surat An-nisa ayat 34 atau ayat nusyuz tersebut ? Yang melatar belakangi diturunkannya ayat nusyuz ini adalah : Ayat ini turun berkenaan dengan kasus pemukulan Habibah binti Zaid oleh suaminya Sa’ad bin rabi. maka hakim dapat menjatuhkan hukuman kepada suami. maka hakim boleh memutuskan perceraian jika sang istri menginginkannya. 5. kemudian menghapus sistem pewarisan perempuan. maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. Setelah pelaksanaan hukuman tersebut sang suami belum juga memperbaiki diri. Dan yang terjadi justru sebaliknya dan hampir sebagian besar ulama mengartikan nusyuz sebagai ketidak patuhan atau pembangkangan istri terhadap suami. Pertama-tama al-quran mengecam budaya penguburan hidup-hidup bayi perempuan. hakim dapat melarang sang istri untuk taat pada suaminya. Dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka. Jika dengan cara demikianpun sang suami belum sadar. dan saat itu ayah Habibah mengadukannya kepada Rasulullah. Ayat ini juga sebenarnya menjadi bagian dari rangkaian proses tranformasi sosial berkenaan dengan perempuan yang dilakukan oleh islam di Jazirah Arab. Pesan utamanya adalah persamaan diantara laki-laki dan perempuan. Dan suami juga bisa melakukan pembangkangan atau penentangan itu. Apakah Nusyuz itu hanya berlaku untuk istri? Tidak. Hakimlah yang akan memberikan nasihat kepada suaminya. apabila tidak dapat dinasihati. 4. Menurut Imam Malik. bahwa anjuran Beliau kurang tepat (terlalu radikal) diterapkan pada saat itu dimana konteksnya istri sangat tergantung dan subordinat pada suami dan secara keseluruhan budaya kekerasan terhadap perempuan begitu dahsyat di Jazirah Arab. Dan hakim juga membolehkan istri untuk pisah ranjang. menurunkan pola poligami. tetapi suami juga bisa melakukan nusyuz kepada istri. membatasi jumlah talaq. Pembalasan istri kepada suami akan memancing bentuk-bentuk kekerasan yang lebih tidak diharapkan. Dalam alquran dikatakan bahwa nusyuz tidak hanya dilakukan oleh istri.

bahkan ada yang beranggapan bahwa rumah tangga itu adalah kawasan yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain. 3. tetapi memilih meninggalkan rumah dan hampir sebulan tidur disalah satu ruangan mesjid. Hal ini sekaligus menolak pandangan bahwa islam melegitimasi budaya kekerasan yang terjadi didalam rumah tangga. meskipun pada saat itu Rasul merasa kurang senang terhadap sesuatu.laki dengan cara yang harus kuat dan berani. tabu. Sebab terjadinya KDRT antara lain : 1. Masyarakat masih membesarkan anak laki. ayah/ibu kepada anaknya. Tindakan kekerasan yang sedemikian inilah yang disebut dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dengan demikian jelaslah bahwa pesan moral yang ingin disampaikan al-quran dalam surat An-nisa ayat 43 tersebut justru ingin mencegah praktek pemukulan (kekerasan) terhadap istri atau perempuan yang kerap terjadi pada masa diturunkannya ayat tersebut hingga saat ini. seorang istri kepada suaminya. seringkali dijumpai di tempat ini tindak kekerasan yang dilakukan seorang suami kepada istrinya.Baik didalam al-quran maupun dalam hadist-hadist yang sahih tidak pernah ada dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW pernah berlaku kejam terhadap seorang istrinya.laki terlalu berkuasa terhadap perempuan dalam rumah tangga. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa baik dari pernyataan Rasul maupun dari perlakuannya pada dasarnya Rasul melarang praktek kekerasan terhadap istri.laki dan perempuan tidak setara. Pendapatan suami lebih kecil dari pendapatan istri. dan anakanak sebagai belahan jiwa kedua orang tuanya. Masyarakat memposisikan laki. Bahkan ketika terjadi konfrontasi antara rasulullah dengan beberapa istrinya beliau tidak hanya tidak memukul. dan sakral untuk membicarakan urusan rumah tangga sendiri keluar. . Di dalamnya terdapat pasangan suami istri yang saling mencintai. Kebudayaan kita mendorong perempuan/ istri untuk tergantung kepada suami terutama segi ekonomi. KDRT biasanya tidak pernah tersiar keluar sehingga menjadi bentuk kekerasan terselubung yang selalu menjadi problem. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DALAM PERSPEKTIF ISLAM KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Pendahuluan Rumah adalah tempat yang aman. 4. dimana laki. tempat dimana kehangatan selalu bersemi. 2. Namun yang terjadi bukanlah demikian. Hal ini terjadi karena adanya anggapan sebagian besar masyarakat bahwa permasalahan rumah tangga adalah masalah internal. dan secara bertahap menghapuskannya. Rasul terkenal sebagai lelaki yang berbudi mulia dan selalu membantu istri-istrinya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga.

luka dalam 1/3 diyat. luka sampai ke tulang dan mematahkannya 15 ekor unta.Nur.5. Penyerangan terhadap lidah dikenakan sanksi 100 ekor unta. yakni melempar tuduhan . Masyarakat tidak menganggap KDRT sebagai persoalan sosial tetapi persoalan internal rumah tangga.bentuk kekerasan memang seringkali . Qadzaf. amka diberikan sanksi yang maksimal.S.laki terlalu berkuasa dan boleh mengambil tindakan tertentu terhapad istrinya. 1 biji mata 1/2 diyat (50 ekor unta). maka deralah 80 kali" (Q. seperti berusaha melakukan zina dengan perempuan (namun belum sampai melakukannya) dikenakan sanksi penjara 3 tahun.laki pelakunya juga bisa perempuan pelakunya.perbuatan cabul. Dari Ibnu Abbas berkata.baik berzina tanpa bisa memberikan bukti yang bisa diterima oleh syariat Islam. Misalnya menuduh wanita baik. yaitu : 1. al-Baqarah. satu kaki 1/2 diyat. maka keduanya akan dikenakan sanksi penjara sampai 4 tahun. 4. yakni 'menghilangkan' nyawa seseorang. luka yang sampai selaput batik kepala 1/3 diyat. pada gigi 5 ekor unta.S. Sanksi hukumnya adalah ta'zir. Pandangan Islam Dalam Kekerasan Rumah Tangga Berdasarkan syariat Islam ada beberapa bentuk kekerasan atau kejahatan yang menimpa wanita dimana pelakunya harus diberi sanksi yang tegas. seperti pembantu rumah tangga. Jika ada dua orang yang saling menghina sementara keduanya tidak memiliki bukti tentang faktanya. Penghinaan. Perbuatan. luka sampai ke tulang hingga kelihatan 5 ekor unta 5. Firman Allah SWT: "Diwajibkan atas kamu qishos berkenan dengan orang .2:179) 3. 24:4-5) 2. Sanksi hukunya adalah kewajiban membayar diyat (100 ekor unta). 6. Namun perlu ditegaskan bahwa kejahatan itu bisa saja menimpa laki. yakni menggauli wanita pada duburnya. Kalau wanitu itu adalah orang yang berada dalam kendalinya. ditambah jilid dan pengusiran. Rasulullah SAW bersabda : " Allah tidak akan melihat seorang laki. Berbagai Upaya Islam Untuk Menghindarkan KDRT Dalam konteks rumah tangga. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT : " Dan orang.orang yang dibunuh" (Q.laki (homoseksual) dan mendatangi istrinya pada duburnya".laki yang mendatangi laki. Dalam hal ini sanksi bagi pelakunya adalah qishos (hukuman mati).orang yang menuduh perempuanperempuan yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat saksi. Mensodomi. bentuk. Membunuh. Haram hukumnya sehingga pelaku wajib dikenai sanksi. tergantung organ tubuh yang disakiti.Berikut ini beberapa perilaku kriminal dan sanksinya menurut terhadap pelakunya. setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta. Sanksi hukumnya adalah 80 cambukan. Penyerangan terhadap anggota tubuh. Pemahaman sempit terhadap anjuran agama yang sering membenarkan laki. 6. berupa hukuman yang diserahkan bentuknya kepada pengadilan yang berfungsi untuk mencegah hal yang sama terjadi. an.

atau pembantu rumah tangga yang dianiaya majikan karena tidak beres menyelesaikan tugasnya. Rasulullah SAW menyatakan : " Apabila seorang wanita shalat lima waktu. Demikian pula istri yang tidak taat kepada suami atau nusyuz. (Q. pembantu rumah tangga. pukulan yang dilakukan bukanlah pukulan yang menyakitkan. menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya. selain kewajiban taat kepada suami. perlakuan yang baik dan . namun dalam rangka mendidik. maka diberi kesempatan bertobat dan minta maaf atas perbuatannya. apalagi sampai mematikan. kasih sayang. Semua itu dikarenakan istri wajib taat kepada suami selama suami tidak melanggar syara'. maka dikatakan kepadanya : Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai" (HR. tidak memukul pada bagian. anak.bagian tubuh vital semisal wajah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: "Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu ari api neraka". Misal ada suami yang memukuli istri dengan berbagai sebab. Kaidah itu antara lain: pukulan yang diberikan bukan pukulan yang menyakitkan.haknya seperti nafkah. Dengan demikian jika ada seorang ayah yang memukul anaknya (dengan tidak menyakitkan) karena si anak sudah berusia 10 tahun lebih namun belum mengerjakan sholat. Ahmad).S. jika kesalahan baru pertama kali dilakukan. dan lainlain. Atau istri yang melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga karena disibukkan berbagai urusan di luar rumah. "pukulan" dalam konteks pendidikan atau ta'dib ini dibolehkan dengan batasanbatasan dan kaidah tertentu yang jelas. maka bila suami melarangnya keluar rumah bukan berarti bentuk kekerasan terhadap perempuan. Toh sekali lagi. tidak boleh memukul anak di bawah usia 10 tahun. Namun disisi lain. tidak boleh memukul lebih dari tiga klai pukulan (kecuali sangat terpaksa sekali dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan). tidak boleh memukul ketika dalam keadaan marah sekali (karena dikhawatirkan akan membahayakan). ibu yang memukul anaknya karena tidak menuruti perintah orang tua. wanita boleh menuntut hak. Semua bentuk kekerasan dalam rumah tangga itu pada dasarnya harus dikenai sanksi akrena merupakan bentuk kriminalitas (jarimah) Perlu digarisbawahi bahwa dalam konteks rumah tangga. kerabat ataupun suami. at.anaknya agar taat kepada Allah SWT. puasa sebulan (Ramadhan).terjadi. kepala dan dada. Dalam hal ini berarti suami bukan menganiaya istri melainkan justru untuk mendidik istri agar taat kepada syariat Islam. Nah. maka tidak bisa disalahkan jika suami memperingatkan dengan 'pukulan' yang tidak menyakitkan. 66:6).anak. tidak bisa dikatakan ayah tersebut telah menganiaya anaknya. Dalam mendidik istri dan anak.Tahrim. bisa jadi terpaksa dilakukan dengan "pukulan". misal tidak mau melayani suami padahal tidak ada uzur (sakit atau haid). pukulan hanya diberikan jika tidak ada cara lain (atau semua cara sudah ditempuh) untuk memberi hukuman/ pengertian. suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan ank. baik yang menimpa istri.anak ini.

Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf mencegah dari yang munkar. seperti dilayani istri dengan baik. AtTaubat. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q. menuju ridho Allah SWT.S. menunaikan zakat. lelaki dan perempuan.S. suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan ank. 9:71) Sejalan dengan itu dibutuhkan relsi yang jelas antara suami dan istri. Suami dan istri harus saling melengkapi dan bekerja sama dalam membangun rumah tangga yang harmonis menuju derajat takwa. Wallahu'alam bi shawab. Seperti firman Allah SWT: " Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf (Q.anaknya. dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. dan tidak bisa disamaratakan tugas dan wewenangnya.sebagainya.orang yang beriman. mendirikan sembahyang. Sebaliknya.masing. memberikan nafkah yang layak dan memperlakukan mereka dengan cara yang ma'ruf. . niscaya tidak dibutuhkan kekerasan dalam menyelesaikan perjalanan biduk rumah tangga (KDRT) dapat terhindarkankarena biduk rumah tangga dibangun dengan pondasi syariat Islam. memberikan kasih sayang. baik suami maupun istri menyadari perannya dan melaksanakan kewajibannya sesuai syariat Islam. Al Baqarah. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. 2 : 228) Kehidupan rumah tangga adalah dalam konteks menegakkan syariat Islam. sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Allah SWT berfirman : " Dan orang. Suami berhak menuntut hakhaknya. dikemudikan dengan kasih sayang dan diarahkan oleh peta iman. Jika masing.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful