P. 1
Makalah Keimigrasian 1

Makalah Keimigrasian 1

|Views: 2,311|Likes:
Published by Rendy Ivaniar, SH

More info:

Published by: Rendy Ivaniar, SH on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia,

karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Pada umumnya perkawinan dianggap sebagai sesuatu yang suci dan karenanya setiap agama selalu menghubungkan kaedah-kaedah perkawinan dengan kaedah-kaedah agama. Manusia dalam menempuh pergaulan hidup dalam masyarakat teryata tidak dapat terlepas dari adanya saling ketergantungan antara manusia dengan yang lainnya. Hal itu dikarenakan, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial, yang suka berkelompk atau berteman dengan manusia lainnya. Hidup bersama merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohani. Demikian pula bagi seorang laki-laki ataupun seorang perempuan yang telah mencapai usia tertentu, maka ia tidak akan lepas dari permasalahan tersebut. Ia ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan melaluinya bersama dengan orang lain yang bisa dijadikan curahan hati penyejuk jiwa, tempat berbagi suka dan duka. Hidup bersama antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami istri dan telah memenuhi ketentuan hukumnya, ini yang lazimnya disebut sebagai sebuah perkawinan. Perkawinan (pernikahan) pada hakekatnya, adalah merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membentuk suatu keluarga yang kekal dan bahagia.

1

Perkawinan campuran telah merambah seluruh pelosok Tanah Air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan, dan transportasi telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia1. Menurut survey yang dilakukan oleh Mixed Couple Club, jalur perkenalan yang membawa pasangan berbeda kewarganegaraan menikah antara lain adalah perkenalan melalui internet, kemudian bekas teman kerja/bisnis, berkenalan saat berlibur, bekas teman sekolah/kuliah, dan sahabat pena. Perkawinan campur juga terjadi pada tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja dari negara lain2. Dengan banyak terjadinya perkawinan campur di Indonesia sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diakomodir dengan baik dalam perundang-undangan di Indonesia. Berbagai masalah yang dihadapi Negara Indonesia teryata membawa imbas kepada perubahan dalam berbagai hal. Diantaranya adalah adanya perubahan UU No. 62 Tahun 1958 menjadi UU No.12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan. Perubahan tersebut juga mendasari adnay perubahan aturan dalam Keimigrasian Indonesia. Fenomena ini merupakan fenomena yang harus disikapi oleh banyak kalangan. Perubahan ini tentu akan membawa dampak positif atau negative terhadap setiap Warga Negara Indonesia yang melakukan perkawinan dengan Warga Negara Asing. Kedua sisi ini tentu selalu berdampingan. Untuk menghindari hal itu, agar semua komponen aktif mengamati bahkan menilai perubahan yang terjadi. Karena bagaimanapun baiknya, UU kalau memang belum diketahui dan dipahami seluruh warga Negara, maka akan membawa dampak tersendiri, terutama pada hubungan antara Indonesia umumnya Negara lain. Kalau ditinjau dari
1

Nuning Hallet, Mencermati Isi Rancangan UU Kewarganegaraan, http://www.mixedcouple.com, diakses 28 Maret 2012. 2 Ibid

2

Karan bagaimanapun juga. setiap wilayah akan memberikan tanggapan berbeda dengan pemberlakuan UU No. Dalam konsep sosialisasi. Selain itu proses penanganan keimigrasian pun akan semakin kurang efektif. di mana aturan yang terlaku ketat akan mempengaruhi system kependudukan di wilayah tersebut. Hal ini juga akan mengakibatkan semakin banyaknya warga negara Indonesia yang memegang kewarganegaraan ganda. Kedua. maka secara pribadi mereka tentu akan kembali melakukan koordinasi dengan Negara asalnya. adalah lebih cepat melakukan koordinasi dengan negara sahabat serta negara yang kebanyakan warga negaranya telah membaur menjadi warga negara Indonesia atau masih belum masuk menjadi WNI. Dengan terjadinya perubahan ini. tentu bervariatif. Pertama. terdapat beberapa komponen yang mengalami reaksi terhadap perubahan pemberlakuan UU tersebut. adalah masyarakat sendiri. Dan tidak tertutup kemungkinan mereka akan lebih mudah melakukan kejahatan dan melarikan diri ke negara milik salah satu pasangan. Dan ada kemungkinan. Langkah yang harus diambil. mengingat dengan diberlakukannya Undang-Undang No. penerimaan mereka pun akan semakin kurang bersahabat. Ini memang memerlukan pengkajian secara mendalam. dimana seoran anak sudah terlanjur dilahirkan dari 3 . 12 Tahun 2006 tentu saja membawa konsekuensi-konsekuensi yang berbeda dengan Undang-Undang yang terdahulu.hubungan antar wilayah. 12 Tahun 2006. berkaitan dengan status dan kedudukan hukum anak dari hasil perkawinan campuran. Ini merupakan suatu tantangan untuk melaksanakan misinya merubah aturan lama. Warganegara Indonesia yang sudah melakukan perkawinan campuran dengan Warga Negara Asing.

20 Februari 2008 (diakses pada tanggal 28 Maret 2012 4 . Persoalan yang rentan dan sering timbul dalam perkawinan campuran adalah masalah kewarganegaraan anak. Lahirnya undang-undang ini disambut gembira oleh sekelompok kaum ibu yang menikah dengan warga negara asing. Seiring berjalannya waktu UU ini dinilai tidak sanggup lagi mengakomodir kepentingan para pihak dalam perkawinan campuran.suatu perkawinan campuran3. sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya bisa memiliki satu kewarganegaraan. pasal 57 : ”Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.62 Tahun 1958.go.baliprov. perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-undang No. terutama perlindungan untuk istri dan anak. UU kewarganegaraan yang lama menganut prinsip kewarganegaraan tunggal. Barulah pada Juli 2006. namun secara garis besar Undang-undang baru yang memperbolehkan dwi kewarganegaraan terbatas ini sudah memberikan pencerahan baru dalam mengatasi persoalan-persoalan yang lahir dari perkawinan campuran. Kawin campur menyebabkan Berubahnya Undang-Undang Tentang Kewarganegaraan RI. mengacu pada UU Kewarganegaraan No. karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.” Selama hampir setengah abad pengaturan kewarganegaraan dalam perkawinan campuran antara warga negara indonesia dengan warga negara asing. walaupun pro dan kontra masih saja timbul. Dalam perundang-undangan di Indonesia.id. Pengaturan ini 3 Suwarningsih. DPR mengesahkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru. www. yang dalam UU tersebut ditentukan bahwa yang harus diikuti adalah kewarganegaraan ayahnya.

RUMUSAN MASALAH 1. Anak. Bagaimana hubungan orang tua dan anak dalam perkawinan campuran? 2. tentu ibu akan kesulitan mendapat pengasuhan anaknya yang warga negara asing. B. Bagaimana status kewarganegaraan anak sebelum dan sesudah UndangUndang No. karena Undang-Undang baru ini mengizinkan kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil perkawinan campuran. memberi perubahan positif. adalah subjek hukum yang belum cakap melakukan perbuatan hukum sendiri sehingga harus dibantu oleh orang tua atau walinya yang memiliki kecakapan. terutama dalam hubungan anak dengan ibunya.12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan? 5 .menimbulkan persoalan apabila di kemudian hari perkawinan orang tua pecah. Pengaturan status hukum anak hasil perkawinan campuran dalam UU Kewarganegaraan yang baru.

BAB II PEMBAHASAN • Pengertian Tentang Perkawinan Campuran Perkawinan campuran telah merambah seluruh pelosok tanah air dan lapisan masyarakat. Globalisasi informasi. No. 158 Tahun 1898). Bagi setiap golongan penduduk berlaku hukum perkawinan yang berbeda dengan golongan penduduk yang lainnya. Salah satunya adalah UU Nomor 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan telah menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus kehilangan kewarganegaraan akibat kawin campur (Pasal 8 ayat 1) dan kehilangan hak atas pemberian kewarganegaraan pada keturunannya. perkawinan campuran adalah perkawinan antara “orang-orang yang di Indonesia tunduk pada hokum yang berlainan”. tetapi hokum di Indonesia yang berkaitan dengan perkawinan campuran justru tidak memihak perempuan. Perempuan WNI adalah pelaku mayoritas kawin campur. Keadaan hukum perkawinan di Indonesia beragam coraknya. Keadaan ini telah menimbulkan permasalahan hokum antar golongan dibidang perkawinan. 6 . pendidikan. dan transportasi telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia. yaitu peraturan hokum manakah yang akan diberlakukan terhaap perkawinan antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan. ekonomi. Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan tentang perkawinan campuran yakni Regeling op de Gemengde Huwelijken (Stb. Untuk memecahkan masalah tersebut. Menurut Pasal 1 GHR.

karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Asing dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. Pasal 10 GHR mengatur tentang perkawinan campuran di luar negeri. penganut-penganut agama. tidak mungkin mengadakan hokum yang seragam. seorang istri tunduk kepada hokum yang berlaku bagi suaminya baik di lapangan hokum public maupun hokum sipil. yaitu selama pernikahan belum putus. berlaku hokum yang berlainan terutama di lapangan hokum perdata. 7 . terutama yang menyangkut hokum perkawinan. warisan stelsel hokum colonial mengakibatkan pluralism hokum yang berlaku di Indonesia. Adapun pengertian perkawinan campuran yang diatur dalam Pasal 57 Undang-Undang Perkawinan adalah: Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-Undang Ini untuk perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hokum yang berlainan. Seperti disebutkan di atas. yaitu yang takluk pada hokum berlainan. Sementara itu Undang-Undang Perkawinan No. antara lain suku bangsa.1 Tahun 1974 memberikan definisi yang sedikit berbeda dengan definisi di atas. Karena factor oerbedaan agama dan kepercayaan masing-masing pihak. golongan.Pasal 1 di atas memberikan penekanan pada verschillend rech onderwopen. diantaranta mengatur perkawinan campuran antar bangsa/ antar Negara. Pasal 2 GHR menyebutkan dengan tega mengenai status seorang perempuan dalam perkawinan campuran. antara lain yang memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Adapun yang menjadi pertimbangan pluralism tersebut bukan karena diskriminatif tetapi justru untuk data memenuhi kebutuhan hokum dari semua golongan yang bersangkutan.

Perkawinan Campuran Antar Golongan (intergentiel) 4 H. Jakarta. 2006. yaitu6: 1. Halaman 80. 8 . Dengan berlakunya Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 19744. 1 Tahun 1974 maka ketentuan-ketntuan yang diatur dalam GHR dimaksud telah diatur dalam UndangUndang Perkawinan dinyatakan tidak berlaku. Raja Grafindo Persada. sehingga padanya termasuk perkawinan antara sesame bukan warga Negara RI. Purnadi Purbacaraka dan Agus Brotosusilo memberikan pengertian perkawinan internasional sebagai berikut5: Perkawinan Internasional adalah suatu perkawinan yang mengandung unsure using. 5 Purnadi Purbacaraka. 1985. Oleh karena Pasal 57 UndangUndang Perkawinan No. 1997. Zain Badjeber. Pokok-Pokok HukumTata Negara. Tanya Jawab Masalah Hukum Perkawinan. Jakarta. Sendi-Sendi Hukum Perdata Internasional Suatu Orientasi. Halaman 36). atau kedua mempeai sama kewarganegaraannya tetapi perkawinannya dilangsungkan di Negara lain atau gabungan kedua-duanya. 6 Titik Triwulan Tutik. (Jakarta. Halaman 242. Perbedaan hokum yang ada telah menyebabkan beberapa macam perkawinan camputan. Unsur using tersebut bisa berupa seorang mempelai mempunyai kewarganegaraan yang berbeda dengan mempelai lainnya. 1 Tahun 1974 menekankan perbedaan kewarganegaraan dan atau tunduk pada hokum yang berlainan maka ketentuan GHR masih berlaku sepanjang yang melakukan perkawinan campuran itu adalah orang sebagaimana diatur dalam Pasal 57 Undang-Undang Perkawinan No. Sinar Harapan.Pasal 57 membatasi makna perkawinan campuran pada perkawinan antara seorang warganegara RI dengan seorang yang bukan warga Negara RI. Agus Brotosusilo. Prestasi Pustaka Publiser.

Suatu kemajuan dibuat dalam Konvensi tentang Kewarganegaraan Wanita Kawin yang ditandatangani pada tanggal 20 Februari 1957 di mana setiap Negara yang ikut menandatangani menyetujui bahwa baik penyelenggaraan maupun pembubaran perkawinan antara salah satu warga negaranya dan seorang asing. tidak akan mempunyai suatu efek otomatis kewarganegaraan istrinya dan ketentuan dibuat 7 Ibid.Menerangkan hokum mana atau hokum apa yang berlaku kalau timbul perkawinan antara 2 orang. Asas Mengikuti Sang istri mengikuti status suami baik pada waktu perkawinan dilangsungkan maupun kemudian setelah perkawinan berjalan. dalam arti mereka masing-masing (suami dan istri) bebas menentukan sikap dalam menentukan kewarganegaraan. yang masing-masing sama atau beebrapa kewarganegaraannya. Asas Persamarataan Perkawinan sama sekali tidak mempengaruhi kewarganegaraan seseorang. terdapat asas. yaitu7: 1. atau suatu perubahan kewarganegaraan oleh si suami selama perkawinan. 2. Berkaitan dengan status sang istri dalam perkawinan campuran. Perkawinan Campuran Antar Tempat (Interlocaal) Mengatur hubungan hokum (perkawinan) antara orang-orang Indonesia asli dari masing-masing lingkungan adat. hal.244 9 . Perkawinan Campuran Antar Agama (Interreligius) Mengatur hubungan hokum (perkawinan) antara 2 orang yang masingmasing tunduk kepada peraturan hokum agama yang berlainan. 3. yang tunduk kepada peraturan hokum yang berlainan. 2.

Anak yang lahir dari hasil perkawinan campuran dan terdaftar sebagai WNA. Apalagi hubungan antara orang tua dan anak sebagai hasil perkawinan campuran. Orang tua mempunyai kekuasaan tertentu atas anaknya. amak ahl ini akan menimbulkan masalah. Begitu pula sebaliknya. Hal yang perlu diperhatikan adalah masalah kewarganegaraan anaknya. Sepanjang tidak ada perbedaan kewarganegaraan dalam keluarga. Orang tua juga wajib member nafkah kepada anak-anaknya. Namun sebaliknya. • Hubungan Orang Tua dan Anak Hubungan antara orang tua dan anak sebagai hasil perkawinan harus mendapat perhatian khusus. anak harus menghormati dan menaati kehendak orang tuanya.untuk memudahkan (melalui naturalisasi) perolehan sukarela oleh seorang istri asing atas kewarganegaraan suaminya. Bila terdapat perbedaan kewarganegaraan antara orang tua dan anaknya maka harus dilakukan pemilihan mengenai hokum yang menentukan status kewarganegaraan anak akan mengikuti kewarganegaraan bapaknya. ketika terdapat perbedaan kewarganegaraan. Apakah anak tersebut akan mengikuti kewarganegaraan ayah atau ibunya. bila anak tersebut memiliki ayah yang WNA maka anak tersebut akan mengikuti status kewarganegaraan ayahnya. tidak akan menimbulkan banyak masalah. Kedua orang tua mempunyai kewajiban untuk memelihara dan mendidik anaknya sebaik mungkin sampai anak tersebut kawin atau dianggap dapat berdiri sendiri. umumnya akan mengalami kesulitan ketika ayahnya yang WNA bercerai dengan 10 . Namun. Seorang anak yang ayahnya adalah Warga Negara Indonesia maka anak tersebut akan menjadi Warga Negara Indonesia.

Ayah dan anak tersebut diperlakukan kurang lebih lama dengan orang asing lainnya. Begitu pula ketika ayahnya meninggal. Sepertinya da kontradiksi dengan apa yang dianut dalam Undang-Undang Kewarganegaraan No. 1898/158. Sementara itu. walaupu surat nikah ayah dan ibu mereka ada kekurangan syarat-syarat atau bahkan dalam hal tidak adanya surat nikah tersebut pun kedudukan anak itu tidak dapat dipertikaikan asalkan pada 11 . Keadaan demikian bahkan tidak adapat dipertikaikan. meninggalkan anak dan istri tanpa member nafkah. perangkat hokum keimigrasian secara substantive tidak mengatur orang asing dalam perkawinan campuran ini. Hal ini tentu saja akan membuat kondisi anak dan ibunya dalam keadaan yang sulit. Sering pula terjadi dalam banyak kasus bahwa perkawinan campuran ini dapat menimbulkan masalah di mana mereka (ayah) yang membawa anak-anaknya dengan semena-mena atau sebaliknya. status anak tetap saja mengikuti kewarganegaraan ayahnya sampai anak tersebut dewasa untuk menentukan kewarganegaraannya sendiri. setidaknya harus ada kemudahan khusus dalam perangkat hokum Keimigrasian. 62 Tahun 1958 yaitu asas kesatuan kewarganegaraan dalam perkawinan. Pasal 11 menyatakan bahwa kedudukan anak yang lahir dari perkawinan campuran adalah mengikuti kedudukan hokum bapaknya. Masalah kedudukan anak yang lahir dari perkawinan campuran diatur dalam Pasal 11 dan 12 Stb.ibunya yang WNI karena Pengadilan dari suami yang berkewarganegaraan lain akan menyerahkan tanggung jawab pengasuhan kepada ayahnya. Jika secara eksplisit diamanatkan dalam UU tersebut. jika mereka memilih bermukim di Indonesia.

12 . 12 Tahun 2006. 2. Anak tidak sah. 12 Tahun 2006 Sebelum adanya Undang-Undang No. Agus Brotosusilo. Indonesia berpedoman kepada Undang-Undang Kewarganegaraan No. Universitas Diponegoro. Hubungan orang tua dan anak ini termasuk dalam bidang onderlijke macht atau kekuasaan orang tua. Anak yang sah. Beberapa hal yang diatur dalam UndangUndang Kewarganegaraan No. dan siapa yang dinyatakan berstatus orang asing. • Status Kewarganegaraan Anak Sebelum Adanya Undang-Undang Kewarganegaraan No. Untuk mengetahui status anak yang lahir dalam perkawinan campuran. yaitu8: 1. Hukum Perkawinan Indonesia. pewarganegaraan istimewa. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan mengaturnya sebagai berikut9: 8 9 Purnadi Purbacaraka. Op. Semarang. yaitu anak yang lahir dalam perkawinan orang tua. Status anak sendiri dibagi dalam 2 bagian. Undang-Undang No. naturalisasi atau pewarganegaraan biasa. kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Halaman 78.lahirnya kedua orang tua mereka itu secara terang hidup sebagai suami istri (Pasal 12). 2000. hubungan kedua orang tua dan anak ditentukan oleh hokum sang ayah. dan anak yang lahir di luar nikah. akibat pewarganegaraan. anak yang lahir dari perzinahan. Di Indonesia.cit. 62 Tahun 1958 yang berlaku sejak diundangkan pada tanggal 1Agustus 1958. Mulyadi. yaitu anak yang lahir dari hubungan incest. Halaman 41. dapat dibagi menjadi 3 bagian. 62 Tahun 1958 adalah mengenai ketentuanketentuan siapa yang dinyatakan berstatus warga Negara Indonesia.

1 Tahun 1974. apabila waktu meninggal dunia ayahnya adalah Warga Negara Indonesia. 2. Bila ayahnya memperoleh kewarganegaraan RI karena naturalisasi. atau sebelum kawin dibawah 18 tahun. 3. Anak yang belum berumur 18 tahun pada waktu ayahnya memperoleh atau melepaskan kewarganegaraan RI dan antara ayah dan anak terdapat hubungan hokum keluarga. Seorang anak dianggap memiliki status kewarganegaraan seorang ayah. 13 . bahwa orang yang pada waktu lahirnya mempunyai hubungan hokum kekeluargaan dengan ayahnya seorang Warga Negara Indonesia dengan pengertian hubungan tersebut telah ada sebelum anak tersebut berumur 18 tahun.62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan). Jadi bila anak lahir dari perkawinan yang sah seperti disebut dalam Pasal 42 Undang-Undang Perkawinan No. amak anak tersebut memperoleh Warga Negara Indonesia. Pasal 1 huruf c Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan menganut asas ius sanguinis seperti yang terdapat dalam Pasal 1 huruf b. maka kewarganegaraan ayah dengan sendirinya menentukan status kewarganegeraan anaknya.1. bila ada hubungan keluarga. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan menyebutkan bahwa anak yang dilahirkan dalam 3000 hari setelah ayahnya wafat. Keturunan dan hubungan darah antara ayah dan anak dipergunakan sebagai dasar menentukan kedudukan kewarganegaraan anak yang dilahirkan dalam perkawinan. Pada dasarnya Undang-Undang No. maka anak yang belum berumur 18 tahun memperoleh kewarganegaraan RI dan anak tersebut harus bertempat tinggal di Indonesia (Pasak 14 ayat 1 Undang-Undang No.

• Dasar Munculnya Undang-Undang No.4. Di dalam Undang-Undang tersebut dikatakan bahwa perempuan WNA yang menikah dengan laki-laki WNI boleh segera menjadi WNI setelah ia mengajukan permohonan untuk itu dengan syarat melepas kewarganegaraan asal. Undang-Undang Kewarganegaraan No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan) Dalam hal terjadi perkawinan campuran. dan sosiologis sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat ketatanegaraan RI. 12 Tahun 2006 yang lebih memberikan Keadilan. tetapi bila lakilaki WNA menikah dengan perempuan WNA tidak memperboleh perlakuan hokum yang sama. Hal itu tentu saja sangat berpengaruh terhadap status kewarganegaraan ayahnya. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Dalam Penjelasan Undang-Undang No. yuridis. maka dibuatlah Undang-Undang No. Dengan demikian jelaslah bahwa Undang-Undang No. Dengan melihat kenyataan bahwa Undang-Undang No. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut: 14 . 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan ini sangat mendiskriminasikan wanita. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan disebutkan bahwa Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 secara filosofis. 62 Tahun 1958 memiliki perbedaan perlakuan anara perempuan dan laki-laki. Anak dapat kehilangan kewarganegaraan RI bila ayah atau ibunya kehilangan kewarganegaraan RI (Pasal 16 Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan masih belum memberikan keadilan dan memiliki banyak kelemahan.

landasan konstitusional pembentukan Undang-Undang tersebut adalah Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 yang sudah tidak berlaku sejak Dekrit Presiden 5 Juli Tahun 1959 yang menyatakan kembali ke Undang-Undang Dsara 1945. serta kurang memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak. di mana warga Negara merupakan unsur hakiki suatu Negara. Secara sosiologis Undang-Undang tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional dalam pergaulan global. kurang menjamin pemenuhan hak asasi manusia dan persamaan antar warga Negara. yang menghendaki adanya persamaan perlakuan dan kedudukan warga Negara di hadapan hokum serta adanya kesetaraan dan keadilan gender. antara lain karena bersifat diskriminatif. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan memiliki latar belakang spesifik. Undang-Undang tersebut masih mengandung ketentuanketentuan yang belum sejalan dengan falsafah Pancasila. Dalam perkembangannya. UndangUndang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengalami perubahan yang lebih menjamin perlindungan terhadap hak asasi manusia dan gak warga Negara. • Impelementasi Undang-Undang No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Implementasi UU No.1. Secara filosofis. 15 . 2. 3. Secara Yuridis. Artinya status kewarganegaraan seseorang menimbulkan hak dan kewajiban antara orang itu dengan negaranya.

lahirlah apayang disebut Hak Opsi. Anak yang memperoleh WNI juga dapat diberikan kepada mereka yang lahir di luar perkawinan sah. di mana ibunya WNA. Sementara menurut Ius Soli. Dan mereka lahir d luar wilayah Indonesia akan tetapi ayah dan Ibu WNI. WNI juga dapat diperoleh dari anak yang lahir tanpa perkawinan yang sah. Dimana posisi sang Ayah adalah WNI dan secara langsung sang anak tersebut menjadi WNI setelah 300 hari ayahnya meninggal dunia. 12 Tahun 2006 adalah: berdasarkan asas Sanguinis yaitu anak yang lahir dari perkawinan yang sah di mana ayah dan ibu adalah WNI. Di mana anak baru lahir tersebut ditemukan di wilayah Indonesia selama ayah dan ibunya tidak diketahui atau bias juga anak dilahirkan di wilayah Indonesia akan tetapi ayah dan ibunya stateless atau tidak diketahui keberadaannya. Ayah WNI dan Ibu WNA. meskipun mereka meninggal sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan diri. Ibu WNI dan Ayah Stateless atau hokum Negara di mana ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan pada anak tersebut. Akibat kewarganegaraan Ganda. Anak yang berhak mendapatkan kewarganegaraan RI apabila ayah atau ibunya telah dikabulakn permohonan pewarganegaraannya. Di mana mereka akan memperoleh WNI melalui opsi ini adalah anak yang lahir dari 16 . Kemudian Ibu WNI dan Ayah WNA. belum berusia 18tahun dan belum kawin akan tetap diakui secara sah oleh ayahnya WNA. Meskipun menurut hokum Negara tempat kelahiran anak memberikan kewarganegaraam. diakui oleh ayahnya WNI sebelum anak berumur 18 tahun/ belum kawin (Pasal 4 huruf h). yang masuk menjadi WNI adalh anak yang lahir di wilayah Indonesia dan status kewarganegaraan ayah dan ibunya tidak jelas.Warga Negara RI menurut UU No.

Mempunyai pekerjaan/ penghasila tetap dan membayar uang kewarganegaraan. Hanya saja setelah menyandang WNI. Di sisi lain. diakui oleh ayahnya WNI sebelum berusia 18 tahun/ belum kawin tetap diakui sebagai WNI. 17 . dapat berbahasa Indonesia. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam pidana 1 tahun/ lebih. emngakui pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945. Selain itu anak yang lahir di luar perkawinan yang sah diantaranya: Ibu WNA. Permohonan berikut dilampirkan disampaikan kepada pejabat (Kakanwil Departemen Hukum dan HAM RI). anak dari ayah dan ibu WNI lahir di luar negeri. Sehat jasmani dan rohani. bertempat tinggal di Indonesia lima tahun berturut-turut/ sepuluh tahun tidak berturut-turut. diakui oleh ayahnya WNA sebelum berusia 18 tahun/ belum kawin.perkawinan campuran (ayah atau ibunya WNI). Permohonan itu harus melampirkan dokumen yang dipersyaratkan. Jika persyaratan sudah lengkap. dan hokum Negara tempat lahir anak tersebut memberikan kewarganegaraan mereka juga adalah WNI. Langkah pertama memohon kewarganeraraan adalh dengan mengajukan permohonan tertulis dalam bahasa Indonsesi kepada Presiden melalui Menteri. Ada beberapa syarat yang dipakai untuk memperoleh WNI di antaranya: berusia 18 tahun atau sudah kawin. pejabat melakukan pemeriksaan subtantif dalam waktu paling lambat 14 hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. maka 3 bulan setelah anak tersebut berusia 18 tahun/ sudah kawin ia disarankan memilih kewarganegaraan. Mereka juga termasuk WNI. Yang kedua adalah Ibu WNI.

Berdasarkan ketentuan tersebut menyatakan bahwa anak dari hasil 18 . permohonan berikut lampirannya disampaikan kepada Menteri dalam waktu paling lambat 7 hari terhitung sejak tanggal pemeriksaan substantive selesai dilakukan.Jika memenuhi persyaratan substantive. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI memberika jaminan kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran. dalam waktu 45 hari terhitung sejak tanggal penemrima permohonan. Jika memandang perlu. BAB III PENUTUP • Kesimpulan Undang-Undang No. Jika memenuhi persyaratan meneruskan permohonan berikut pertimbangannya kepada Presiden. menteri juga dapat meminta pertimbangan instansi terkait.

Universitas Diponegoro. Titik Triwulan Tutik. Hak tersebut diberikan jika telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan setelah berusia 18 tahun. 2000.perkawinan campuran mendapat hak untuk menentukan atau memilih kewarganegaraan. Agus Brotosusilo. Saran yang dapat diberikan pada pasangan perkawinan campuran yaitu memahami dengan baik ketentuan-ketentuan hokum kewarganegaraan sehingga dapat mengetahui hak-hak dan kewajiban yang menjadi konsekuensi atas perkawinan yang dilakukan. 2. Anak hasil dari perkawinan campuran hendaknya memanfaatkan ketetuan tersebut melegalisasikan kewarganegaraan anak sesudah 18 tahun. Prestasi Pustaka Publiser. Saran Dengan berlakunya Undang-Undang No. 19 . DAFTAR PUSTAKA Mulyadi. Purnadi Purbacaraka. 2006. Hukum Perkawinan Indonesia. Raja Grafindo Persada. 1997). Sendi-Sendi Hukum Perdata International Suatu Orientasi. Semarang. (Jakarta. Jakarta. • 1. 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI memberikan peluang yang besar terhadap perlindungan hak-hak anak dari hasil perkawinan campuran. Pokok-Pokok Hukum tata Negara.

1985. Undang-Undang No. Jakarta. Sinar Harapan. 20 Februari 2008 diakses pada tanggal 28 Maret 2012.Zain Badjeber. 20 . www.baliprov. Mencermati Isi Rancangan UU Kewarganegaraan. Kawin campur menyebabkan Berubahnya Undang-Undang Tentang Kewarganegaraan RI.id. Tanya Jawab Masalah Hukum Perkawinan.com. diakses 28 Maret 2012. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.mixedcouple. http://www. Suwarningsih. Nuning Hallet. 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI.go.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->