P. 1
Pengertian Qadha Dan Qadar Menurut Bahasa

Pengertian Qadha Dan Qadar Menurut Bahasa

|Views: 2,817|Likes:
Published by Awie Toq

More info:

Published by: Awie Toq on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2013

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. IMAN KEPADA QADA DAN QADAR
Pengertian qadha dan qadar menurut bahasa qadha memiliki beberapa
pengertian yaitu: hukum, ketetapan,pemerintah, kehendak, pemberitahuan,
penciptaan.
Menurut istilah islam, yang dimaksud dengan qadha adalah ketetapan allah
sejak zaman azali sesuai dengan iradah-nya tentang segala sesuatu yang berkenan
dengan makhluk.
Sedangkan qadar arti qadar menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan,
ukuran. Adapun menurut islam qadar perwujudan atau kenyataan ketetapan allah
terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-
nya.

1. Hubungan antara qadha dan qadar
Pada uraian tentang pengertian qadha dan qadar dijelaskan bahwa antara
qadha dan qadar selalu berhubungan erat . Qadha adalah ketentuan, hukum atau
rencana allah sejak zaman azali. Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum
allah. Jadi hubungan antara qadha qadar ibarat rencana dan perbuatan.
Perbuatan allah berupa qadar-nya selalu sesuai dengan ketentuan-nya. Di dalam surat
al-hijr ayat 21 allah berfirman, yang artinya sebagai berikut:

“Dan tidak sesuatupun melainkan disisi kami-lah khazanahnya; dan kami tidak
menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.”

Orang kadang-kadang menggunakan istilah qadha dan qadar dengan satu
istilah, yaitu Qadar atau takdir. Jika ada orang terkena musibah, lalu orang tersebut
mengatakan, ”sudah takdir”, maksudnya qadha dan qadar.
2

2. Kewajiban beriman kepada dan qadar
Diriwayatkan bahwa suatu hari rasulullah saw didatangi oleh seorang laki-laki
yang berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya tentang
islam, iman dan ihsan. Tentang keimanan rasulullah menjawab yang artinya:
hendaklah engkau beriman kepada allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman pula kepada qadar (takdir) yang baik
ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata” tuan benar”. (h.r. Muslim)

Lelaki itu adalah malaikat Jibril yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran
agama kepada umat nabi muhammad saw. Jawaban Rasulullah yang dibenarkan oleh
malaekat jibril itu berisi rukun iman. Salah satunya dari rukun iman itu adalah iman
kepada qadha dan qadar. Dengan demikian , bahwa mempercayai qadha dan qadar itu
merupakan hati kita. Kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang
terjadi pada diri kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan
adalah atas kehendak allah.
Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan allah atas
diri kita. Di dalam sebuah hadits qudsi allah berfirman yang artinya: ” siapa yang
tidak ridha dengan qadha-ku dan qadar-ku dan tidak sabar terhadap bencana-ku
yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari tuhan selain aku.
(H.R.tabrani).
Takdir allah merupakan iradah (kehendak) allah. Oleh sebab itu takdir tidak
selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan
keinginan kita, hendaklah kita beresyukur karena hal itu merupakan nikmat yang
diberikan allah kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau
merupakan musibah, maka hendaklah kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus
yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang terkadang kita belum
mengetahuinya. Allah maha mengetahui atas apa yang diperbuatnya.


3

BAB II
PEMBAHASAN

A. DALIL-DALIL IMAN KEPADA QADHA' DAN QADHAR

Dalil yang menunjukkan rukun yang agung dari rukun-rukun iman ini ialah
al-Qur-an, as-Sunnah, ijma‟, fitrah, akal, dan panca indera.


1. Dalil-Dalil Dari Al-Qur-an

Firman Allah:
^^)³ E7 ·7¯/E* +OE4^³ÞUE=
¯OE³·³) ^j_÷

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." Al-Qamar:
49


ayat lain:
p)³4Ò }g)` ·7¯/E* ·º)³ 4^E³4gN
+ON4j*.-4OE= 4`4Ò
¼N¡¬.j)O46+^ ·º)³ ¯OE³·³)
±¬O¬Uu¬E` ^g¯÷

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kha-zanahnya, dan
Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." [Al-Hijr: 21]


Ayat Lain:
_OÞ¯)³ ¯OE³·~ ±¬O¬Uu¬E` ^gg÷
4^¯OE³·³·· =ªu¬g4··
4pÒ+Og³·³^¯- ^g@÷

"Sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah
4

sebaik-baik yang menentukan." [Al-Mursalaat: 22-23]






Ayat lain:
Og~-.- +O·¯ ¬l·UN`
gª4OE©OO¯- ^·¯O·-4Ò
¯¦·¯4Ò 'OgC+-4C -4³·¯4Ò ¯ª·¯4Ò }7¯4C
N¡-. [lC)Oº= O)× ´l·U÷©^¯-
4-ÞUE=4Ò E¬± ¡7¯/E* +Þ4OO³·³··
-6OCg³^³·> ^g÷

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai
anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan dia Telah
menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan
serapi-rapinya” [Al-Furqaan: 2]


Ayat lain:
Og~-.-4Ò 4OO³·~ ¯OE³E_·· ^@÷
Og~-.-4Ò 4OO³·~ ¯OE³E_·· ^@÷

"Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk." [Al-
A‟laa: 3]


Ayat lain:
^O)³ ª+^Ò¡ jE4Ò;³N¬^¯)
4Ou^O³¯- ª¬-4Ò
jE4Ò;³N¬^¯) ¯O4O¯¬³^¯-
CU-±·O¯-4Ò ºE¼¯cÒ¡ ¯ª¬:Lg` _
¯O·¯4Ò ¯¦<>³4N-4O·> ¯¦+-^¼ÞU4-u=+º
O)× g³E¬1g©^¯- · }´¯·¯4Ò
=/´/^³4Og¢¯ +.- -+O¯·Ò¡ ¬]~º±
5

LºON¬^¼4` ¬C)U;_41g¢¯ ;}4` ¬CÞUE-
}4N lOE4j´O4 _/=O¯·4C4Ò ;}4`
·©EÒ }4N lOE4j´O4 ¯ ·])³4Ò -.-
77Og©=O·¯ v¦1)U4× ^jg÷
“yaitu di hari ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka
berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah
kamu[617]. sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari
pertempuran), Pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari
pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar dia
melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan[618], yaitu agar orang yang
binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu
hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)[619]. Sesungguhnya Allah Maha
mendengar lagi Maha mengetahui”. [Al-Anfaal: 42]


Ayat lain :
.E4^Oº_·~4Ò _OÞ¯)³ ×/j_4
ºCg74O¯·)³ O)× ´U4-´¯^¯-
Ep÷³´O^¼+-·¯ O)× ^·¯O·-
÷×u-·>·O4` O}¬Uu¬4-·¯4Ò -+O¬UN×
-LOO):º± ^j÷

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, „Sesungguhnya
kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali...” [Al-Israa‟: 4]


2. Dalil-Dalil Dari As-Sunnah
Sementara dari sunnah ialah seperti sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam
sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril Alaihissalam
6


“…Dan engkau beriman kepada qadar, yang baik maupun yang buruk… .” [1]

Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahiih dari Thawus, dia mengatakan, “Saya
mengetahui sejumlah orang dari para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam mengatakan, „Segala sesuatu dengan ketentuan takdir.‟ Ia melanjutkan,
“Dan aku mendengar „Abdullah bin „Umar mengatakan, „Segala sesuatu itu
dengan ketentuan takdir hingga kelemahan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan
kelemahan.‟”[2]

Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, „Se-andainya aku
melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.‟ Tetapi ucapkanlah, „Sudah
menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… .‟” [3]

Demikianlah (dalil-dalil tersebut), dan akan kita temukan dalam kitab ini dalil-
dalil yang banyak dari al-Qur-an dan as-Sunnah, sebagai tambahan atas apa yang
telah disebutkan.

3. Dalil-Dalil Dari Ijma’
Sedangkan menurut Ijma‟, maka kaum muslimin telah bersepakat tentang
kewajiban beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk, yang berasal dari
Allah. An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Sudah jelas dalil-dalil yang qath‟i dari
al-Qur-an, as-Sunnah, ijma‟ Sahabat, dan Ahlul Hil wal „Aqd dari kalangan salaf
dan khalaf tentang ketetapan qadar Allah Azza wa Jalla.” [4]

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Sudah menjadi pendapat salaf seluruhnya
bahwa seluruh perkara semuanya dengan takdir Allah Ta‟ala.” [5]

7

4. Dalil-Dalil Dari Fitrah
Adapun berdasarkan fitrah, bahwa iman kepada qadar adalah sesuatu yang telah
dimaklumi secara fitrah, baik dahulu maupun sekarang, dan tidak ada yang
mengingkarinya kecuali sejumlah kaum musyrikin. Kesalahannya tidak terletak
dalam menafikan dan mengingkari qadar, tetapi terletak dalam memahaminya
menurut cara yang benar. Karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman tentang
kaum musyrikin:

"Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, „Jika Allah
menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-
Nya... .‟" [Al-An‟aam: 148]

Mereka menetapkan kehendak (masyii-ah) bagi Allah, tetapi mereka berargumen
dengannya atas perbuatan syirik. Kemudian Dia menjelaskan bahwa ini
merupakan keadaan umat sebelum mereka, dengan firman-Nya:

"… Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para
Rasul)… ." [Al-An‟aam: 148]

Bangsa „Arab di masa Jahiliyyah mengenal takdir dan tidak mengingkarinya,
serta di sana tidak ada orang yang berpendapat bahwa suatu perkara itu memang
telah ada sebelumnya (terjadi dengan sendirinya, tanpa ada Yang
menghendakinya).

Al-Mutsaqqib al-„Abdi berkata:
Aku yakin, jika Rabb menghendaki,
bahwasanya kekuatan dan tujuan-Nya akan sampai kepadaku [9]

Zuhair berkata:
8

Jangan menyembunyikan kepada Allah apa yang ada dalam jiwa kalian
agar tersembunyi, dan meskipun disembunyikan Allah tetap mengetahuinya
Dia menunda lalu diletakkan dalam kitab untuk disimpan
bagi hari Penghisaban, atau disegerakan untuk diberi balasan [10]

Sebagaimana kita dapati juga dalam khutbah-khutbah mereka, seperti dalam
pernyataan Hani‟ bin Mas‟ud asy-Syaibani dalam khutbahnya yang masyhur pada
hari Dzi Qar, “Sesungguhnya sikap waspada (hati-hati) tidak dapat
menyelamatkan dari takdir.” [11]

Tidak seorang pun dari mereka yang menafikan qadar secara mutlak,
sebagaimana yang ditegaskan oleh salah seorang pakar bahasa „Arab, Abul
„Abbas Ahmad bin Yahya Tsa‟lab Rahimahullah, dengan ucapannya, “Saya tidak
mengetahui ada orang „Arab yang mengingkari takdir.” Ditanyakan kepadanya,
“Apakah di hati orang-orang „Arab terlintas pernyataan menafikan takdir?” Ia
menjawab, “Berlindunglah kepada Allah, tidak ada pada bangsa „Arab kecuali
menetapkan takdir, yang baik maupun yang buruk, baik semasa Jahiliyyah
maupun semasa Islam. Pernyataan mereka sangat banyak dan jelas.” Kemudian
dia mengucapkan sya‟ir:

Takdir-takdir berlaku atas jarum yang menancap
dan tidaklah jarum berjalan melainkan dengan takdir
Lalu dia mengucapkan sya‟ir milik Umru-ul Qais:
Kesengsaraan pada dua kesengsaraan telah tertuliskan [12]

5. Dalil-Dalil Dari Akal
Sedangkan dalil akal, maka akal yang sehat memastikan bahwa Allah-lah
Pencipta alam semesta ini, Yang Mengaturnya dan Yang Menguasainya. Tidak
mungkin alam ini diadakan dengan sistim yang menakjubkan, saling menjalin,
9

dan berkaitan erat antara sebab dan akibat sedemikian rupa ini adalah secara
kebetulan. Sebab, wujud itu sebenarnya tidak memiliki sistem pada asal wujud-
nya, lalu bagaimana menjadi tersistem pada saat adanya dan perkembangannya?

Jika ini terbukti secara akal bahwa Allah adalah Pencipta, maka sudah pasti
sesuatu tidak terjadi dalam kekuasaan-Nya melainkan apa yang dikehendaki dan
ditakdirkan-Nya.
Di antara yang menunjukkan pernyataan ini ialah firman Allah Azza wa Jalla:

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah
Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas
segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala
sesuatu." [Ath-Thalaaq: 12]

Kemudian perincian tentang qadar tidak diingkari akal, tetapi merupakan hal yang
benar-benar disepakati, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.

6. Dalil-Dalil Dari Panca Indera
Adapun bukti secara inderawi, maka kita menyaksikan, mendengar, dan membaca
bahwa manusia akan lurus berbagai urusan mereka dengan beriman kepada qadha'
dan qadar -dan telah lewat penjelasan tentang hal ini pada pembahasan “Buah
Keimanan kepada Qada' dan Qadar”-. Orang-orang yang benar-benar beriman
kepadanya adalah manusia yang paling berbahagia, paling bersabar, paling berani,
paling dermawan, paling sempurna, dan paling berakal.

Seandainya keimanan kepada takdir tersebut tidaklah nyata, niscaya mereka tidak
mendapatkan semua itu.

Kemudian, qadar adalah “sistem tauhid,” [15] sebagaimana dikatakan oleh Ibnu
10

„Abbas Radhiyallahu „anhu, dan tauhid itu sendiri adalah sebagai sistem
kehidupan. Maka kehidupan manusia tidak akan benar-benar istiqamah (lurus),
kecuali dengan tauhid, dan tauhid tidak akan lurus kecuali dengan beriman
kepada qadha' dan qadar.



B. AF’ALULLAH DAN AF’ALUL IBAD
1. (Af’alullah)
Perbuatan-perbuatan Allah adalah sesuatu yang unik, yang hanya itu saja,
dan tidak ada yang lain dapat menyamai apa yang dilakukan Allah. Artinya,
perbuatan Allah adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan Allah tanpa ada
sesuatu lain yang dapat menyamai ataupun menirukan apa yang dilakukan Allah
Swt. Perbuatan-perbuatan Allah ini ditujukan semuanya dalam rangka sifat Maha
Rahman dan Maha Rahim yang tujuannya untuk kebaikan makhluk-Nya,
terutama untuk makhluk-Nya yang paling unggul, yaitu manusia.
Sehingga dengan demikian sebenarnya, apa yang dilakukan Allah Swt itu
sesungguhnya ditujukan untuk kebaikan manusia sendiri. Karena itulah, Allah
Swt mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan untuk manusia itu merupakan
sesuatu yang pasti tujuannya untuk kebaikan.
Pertama kali Allah menciptakan alam dan isinya, “fi khalqissamawaati wal
ardh” (dalam penciptaan langit-langit dan bumi), untuk apa itu? Yaitu untuk
kebaikan kita. Allah menciptakan bahwa di langit-langit itu atau di antara langit
dan bumi terdapat ruang yang berisi udara. Untuk apa itu? Semuanya untuk
manusia pula. Dan karena itu pula, Allah kemudian mengungkapkan, bahwa
dalam rangka kebaikan itu, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
terbaik pula. Sehingga diungkapkan dalam satu ayat yang terdapat dalam Surat
At-Tiin,
11

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya. (Q.S. At-Tiin: 4)

Sehingga segala sesuatu yang diperbuat oleh Allah itu adalah mempunyai
tujuan-tujuan khusus. Ketika menciptakan kebaikan, Allah mempunyai tujuan.
Demikian juga ketika ada hal-hal yang ternyata itu merupakan sesuatu yang
dinilai merugikan bagi manusia, tetapi dalam hal-hal yang merugikan itu ada
nilai-nilai positif yang dapat dijadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi
manusia.
Setiap Rasul mendapat anugerah mu‟jizat yang dapat memberikan kenikmatan
bagi kaumnya. Nabi Isa mendapat mu‟jizat pengobatan, sehingga dapat menolong
sebagian umatnya yang menderita penyakit yang ketika itu belum ada obatnya,
dan nabi-nabi yang lain pun juga mendapat mu‟jizat yang kemudian dapat
memberikan kenikmatan bagi kaumnya (umatnya) ketika itu.
Lantas apakah anugerah Allah kepada Nabi Muhammad yang dapat
memberikan nilai-nilai positif atau kenikmatan-kenikmatan kepada umatnya
seperti para nabi dan rasul yang terdahulu yang mendapat anugerah mu‟jizat
sehingga dapat memberikan nilai-nilai positif dan kenikmatan kepada umat-
umatnya ketika itu?
Di dalam Surat Ali Imran ayat 190-191 disebutkan:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Q.S. Ali
„Imraan: 190)

2. (Af’alul Ibad)
Perbuatan Hamba (ibadah)
Abu al-Firoj al-Muqoddasi al-Hambali berkata: Setiap manusia diciptakan
oleh Allah mempunyai kewajiban yang pertama yang harus ia lakukan, yaitu: “
wajib seorang hamba itu mengenal Tuhan dengan teori dan dalil agama”. karena
12

mengenal Tuhan adalah lebih utama terhadap setiap manusia. Dan ada sebagian
kaum yang mengatakan bahwa yang diwajibkan bagi manusia itu adalah
“bersuci, shalat, puasa dan lain sebagainya”

Sesuai kaidah universal yang berlaku dalam sistem penciptaan semesta
bahwa tiada seorang pun yang memiliki kepelakuan mutlak dan mandiri selain
Tuhan. Apabila sebagian fenomena memiliki pengaruh dan perbuatan maka hal itu
sesuai dengan kehendak dan izin Tuhan. “Wa maa tasya‟una illa an yasyaa‟
Alllah,” dan tidak hanya sumber perbuatan yang mengikuti kehendak Tuhan,
perbuatan itu sendiri berada dalam domain kehendak Tuhan. Dalam islam,
perbedaan pandangan manusia akan perbuatannya sendiri, apakah merupakan
kehendak pribadinya ataukah telah ditentukan jauh sebelum perbuatan itu terlahir?
Saya meyakini, setiap perbuatan manusia telah ditentukan sebelumnya.
bahkan benak, rasa, situasi, kondisi yang melahirkan suatu perbuatan, tidak luput
dari skenario sebelumnya sampai bagian yang terkecil sekalipun. Dikatakan, tak
ada kesalahan sebesar zarrah yang luput dari pandangan Allah. Allah telah
membebani manusia dengan ukuran yang sudah ditentukan untuk dapat dilakukan,
dengan artian manusia tidak bisa berbuat lebih dikarekan batasan tersebut.
Sekarang, manusia mengetahui, bahwa zarrah bukanlah atom. Karena atom
bukanlah partikel terkecil. Atom sendiri masih tersusun dari beberapa partikel, dan
partikel itu masih tersusun atas partikel-partikel lain yang lebih kecil.
Dalam masalah perbuatan manusia (af‟alul ibad), yang menjadi pokok
permasalahan adalah: Kehendak (iradah), Kesanggupan (kudrah), dan kasab
(kemampuan manusia itu sendiri). Manusia mempunyai kebebasan berkehendak,
akan tetapi kebebasan tersebut tidak akan bisa dicapai dengan tanpa Iradah dan
Kudrah Allah. Allah telah menciptakan manusia dengan memiliki kebebasan untuk
memilih apa yang mereka inginkan.
13

Allah SWT tidak menciptakan kecuali hanya kebaikan. Sedangkan
keburukan yang diturunkan Allah menurut manusia adalah merupakan seuatu
kebaikan dengan bentuk hikmah dibalik keburukan menurut manusia




C. QADARIAH DAN JABARIAH

1. Sejarah Jabariyah dan faham yang dikembangkan

Kata jabariyah secara etimologi berasal dari kata jabara yang artinya
memaksa. Di dalam al-munjid dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata
jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu.
Selanjutnya, kata jabara diberi ya nisbah untuk memberi arti golongan atau aliran
(isme).
As-syahratsan memberi arti bahwa paham al-jabr berarti menghilangkan
perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada allah
swt. Dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa.
Dalam bahasa inggris, jabariyah disebut fatalism atau predestination, yaitu faham
yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha
dan qadar tuhan.
Faham jabariyah pertama kali diperkenalkan oleh ja‟d bin dirham dan
disebarkan oleh jahm bin shafwan dari khurasan. Faham ini juga dikembangkan oleh
al-husain bin muhammad an-najjar dan ja‟d bin dirrar.
Sementara harun nasution menjelaskan bahwa situasi demikian seperti yang
telah digambarkan oleh ahmad amin, masyarakat arab tidak melihat jalan untuk
mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka
merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Akhirnya mereka
14

banyak bergantung pada kehendak alam. Hal ini membawa mereka kepada faham
fatalism.
Pada dasarnya pemikiran ini telah muncul sejak periode awal perkembangan islam.
Beberapa peristiwa sejarah memberikan gambaran tentang lahirnya pemikiran ini:
a. Suatu ketika, nabi menengahi pertengkaran dua orang sahabatnya yang sedang
memperdebatkan masalah takdir allah swt. Beliau melarang mereka untuk
memperdebatkan masalah tersebut demi menghindari kesalahan dalam
menafsirkan ayat-ayat allah swt.
b. Khalifah umar bin khaththab pada suatu ketika marah kepada seorang pencuri
yang tertangkap kemudian pencuri itu mengatakan,”tuhan telah menentukan
aku mencuri”. Kemudian umar menghukum pencuri itu dengan dua hukuman,
yaitu potong tangan karena mencuri dan dera karena berbohong menggunakan
ayat allah swt.
c. Khalifah ali bin abi thalib seusai perang shiffin pernah ditanya oleh seorang
tua mengenai qadar tuhan berkaitan dengan pahala dan siksa. Orang tua itu
bertanya,”bila perjalanan (perang shiffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar
tuhan, maka tak ada pahala sebagai balasannya.” Ali menjelasan bahwa qadha
dan qadar bukanlah paksaan tuhan karena jika hal itu merupakan paksaan
maka batallah pahala dan siksa, janji dan ancaman tuhan.

Beberapa peristiwa di atas telah membuktikan bahwa pemikiran jabariyah ini
telah muncul sejak awal periode islam. Tetapi jabariyah yang dianut sebagai pola
pikir dan aliran- baru dipelajari dan berkembang pada masa daulah bani umayah oleh
kedua tokoh yang telah disebutkan di atas.
Adapun dalil al-qur‟an yang menjadi barometer pemikiran jabariyah ini
diantaranya adalah:
Kalau sekiranya kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah
mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan
15

mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika allah menghendaki,
tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-an‟am:111)
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. (ash-
shaffat 96)
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi
allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu
melempar, tetapi allah-lah yang melempar. (allah berbuat demikian untuk
membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang
mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya allah maha mendengar lagi
maha mengetahui. (al-anfal 17)

Beberapa faham yang dikembangkan para ulama jabariyah diantaranya:
a. Manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Bahwa segala perbuatan manusia
merupakan paksaan dari tuhan dan merupakan kehendak-nya yang tidak bisa
ditolak oleh manusia. Manusia tidak punya kehendak dan pilihan. Ajaran ini
dikemukakan oleh jahm bin shofwan.
b. Surga dan neraka tidak kekal, begitu pun dengan yang lainnya, hanya tuhan
yang kekal.
c. Iman adalah ma‟rifat dalam hati dengan hanya membenarkan dalam hati.
Artinya bahwa manusia tetap dikatakan beriman meskipun ia meninggalkan
fardhu dan melakukan dosa besar. Tetap dikatakan beriman walaupun tanpa
amal.
d. Kalam tuhan adalah makhluk. Allah swt mahasuci dari segala sifat keserupaan
dengan makhluk-nya, maka allah tidak dapat dilihat meskipun di akhirat
kelak, oleh karena itu al-qur‟an sebagai makhluk adalah baru dan terpisah dari
allah, tidak dapat disifatkan kepada allah swt.
e. Allah tidak mempunyai sifat serupa makhluk seperti berbicara, melihat, dan
mendengar.
16

f. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia berperan dalam
mewujudkan perbuatan itu. Teori ini dikemukakan oleh al-asy‟ari yang
disebut teori kasab, sementara an-najjar mengaplikasikannya dengan ide
bahwa manusia tidak lagi seperti wayang yang digerakkan, sebab tenaga yang
diciptakan tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan
perbuatannya.


2. Sejarah qadariyah dan faham yang dikembangkannya

Qadariyah diambil dari bahasa arab, dasarkatanya adalah qadara yang
memiliki arti kemampuan atau kekuasaan. Adapun pengertian qadariyah berdasarkan
terminology adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak
diintervensi oleh tuhan, artinya tanpa campur tangan tuhan.
Dalam bahasa inggris qadariyah ini diartikan sebagai free will and free act,
bahwa manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatan dengan kemauan dan
tenaganya.
Aliran qadariyah ini dirkirakan muncul pada tahun 70 h dengan berbagai versi
yang memperdebatkan mengenai tokoh pemulanya.
Versi pertama dikemukakan oleh ahmad amin berdasarkan pendapat beberapa
ahli teologi bahwa faham qadariyah ini pertama kali diperkenalkan oleh ma‟bad al-
jauhani dan ghailan ad-dimasyqy.
Versi kedua, masih dikemukakan oleh ahmad amin berdasarkan pendapat
ibnu nabatah dalam kitabnya syarh al-uyun bahwa faham qadariyah ini pertama kali
dimunculkan oleh seorang kristen irak yang masuk islam kemudian kembali kepada
kristen yang bernama susan.
Versi ketiga dikemukakan oleh w. Montgomery watt berdasarkan tulisan
hellmut ritter yang ditulis dalam bahasa jerman, menyebutkan bahwa faham
qadariyah ditemukan dalam kitab ar-risalah karya hasan al-basri. Namun versi ini
17

menjadi perdebatan panjang bahwa hasan al-basri seorang qadariyah. Dalam kitab ini,
dia menulis bahwa manusia berhak memilih mana yang baik dan buruk bagi dirinya.

Beberapa ayat al-qur‟an yang digunakan sebagai dasar pemikiran mereka
adalah:
Dan katakanlah: "kebenaran itu datangnya dari tuhanmu; maka barangsiapa yang
ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia
kafir." sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang
gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka
akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan
muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (al-
kahfi: 29)
Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan uhud), padahal kamu
telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada
peperangan badar), kamu berkata: "darimana datangnya (kekalahan) ini?" katakanlah:
"itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." sesungguhnya allah maha kuasa atas segala
sesuatu. (ali imran: 165).

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah allah. Sesungguhnya
allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain dia. (ar-ra‟d:11).
Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk
(kemudharatan) dirinya sendiri. Dan allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. (an-
nisa: 111).
Adapun doktrin yang dikembangkan oleh kaum qadariyah ini diantaranya:
18

a. Manusia mempunyai daya dan kekuatan untuk menentukan nasibnya,
melakukan segala sesuatu yang diinginkan baik dan buruknya. Jadi surga atau
neraka yang didapatnya bukan merupakan takdir tuhan melainkan karena
kehendak dan perbuatannya sendiri.
b. Takdir merupakan ketentuan allah swt terhadap alam semesta sejak zaman
azali, yaitu hukum yang dalam al-qur‟an disebut sunnatullah.
c. Secara alamiah manusia mempunyai takdir yang tak dapat diubah mengikuti
hukum alam seperti tidak memiliki sayap untuk terbang, tetapi manusia
memiliki daya untuk mengembangkan pemikiran dan daya kreatifitasnya
sehingga manusia dapat menghasilkan karya untuk mengimbangi atau
mengikuti hukum alam tersebut dengan menciptakan pesawat terbang.

3. Perbandingan aliran jabariyah dan qadariyah

Beberapa perbedaan mendasar terhadap berbagai permasalahan teologi yang
berkembang diantara kedua aliran ini diantaranya adalah:
a. Jabariyah meyakini bahwa segala perbuatan manusia telah diatur dan dipaksa
oleh allah sehingga manusia tidak memiliki kemampuan dan kehendak dalam
hidup, sementara qadariyah meyakini bahwa allah tidak ikut campur dalam
kehidupan manusia sehingga manusia memiliki wewenang penuh dalam
menentukan hidupnya dan dalam menentukan sikap.
b. Jabariyah menyatakan bahwa surga dan neraka tidak kekal, setiap manusia
pasti merasakan surga dan neraka, setelah itu keduanya akan lenyap.
Qadariyah menyatakan bahwa manusia yang berbuat baik akan mendapat
surga, sementara yang berbuat jahat akan mendapat ganjaran di neraka, kedua
keputusan itu merupakan konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan manusia
berdasarkan kehendak dan pilihannya sendiri.
c. Takdir dalam pandangan kaum jabariyah memiliki makna bahwa segala
perbuatan manusia telah ditentukan dan digariskan allah swt, sehingga tidak
19

ada pilihan bagi manusia. Sementara takdir menurut kaum qadariyah
merupakan ketentuan allah terhadap alam semesta sejak zaman azali, manusia
menyesuaikan terhadap alam semesta melalui upaya dan pemikirannya yang
tercermin dalam kreatifitasnya.





BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Iman adalah keyakinan yang diyakini didalam hati, diucapkan dengan
lisan, dan dilaksanakan dengan amal perbuatan. Kalau kita melihat qada‟menurut
bahasa artinya Ketetapan.Qada‟artinya ketatapan Allah swt kepada setiap
mahluk-Nya yang bersifat Azali.Azali Artinya ketetapan itu sudah ada
sebelumnya keberadaan atau kelahiran mahluk. Sedangkan Qadar artinya
menurut bahasa berarti ukuran.Qadar artinya terjadi penciptaan sesuai dengan
ukuran atau timbangan yang telah ditentuan sebelumnya. Qaqda‟ Qadar dalam
keseharian sering kita sebut dengan takdir.
Manusia mempunyai kebebasan berkehendak, akan tetapi kebebasan
tersebut tidak akan bisa dicapai dengan tanpa Iradah dan Kudrah Allah. Allah
telah menciptakan manusia dengan memiliki kebebasan untuk memilih apa yang
mereka inginkan.
Allah SWT tidak menciptakan kecuali hanya kebaikan. Sedangkan
keburukan yang diturunkan Allah menurut manusia adalah merupakan seuatu
20

kebaikan dengan bentuk hikmah dibalik keburukan menurut manusia.
Wallahu‟alam.

2. Kewajiban beriman kepada dan qadar Diriwayatkan bahwa suatu hari rasulullah saw didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya tentang islam, iman dan ihsan. Tentang keimanan rasulullah menjawab yang artinya: hendaklah engkau beriman kepada allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman pula kepada qadar (takdir) yang baik ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata” tuan benar”. (h.r. Muslim)

Lelaki itu adalah malaikat Jibril yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran agama kepada umat nabi muhammad saw. Jawaban Rasulullah yang dibenarkan oleh malaekat jibril itu berisi rukun iman. Salah satunya dari rukun iman itu adalah iman kepada qadha dan qadar. Dengan demikian , bahwa mempercayai qadha dan qadar itu merupakan hati kita. Kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan adalah atas kehendak allah. Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan allah atas diri kita. Di dalam sebuah hadits qudsi allah berfirman yang artinya: ” siapa yang tidak ridha dengan qadha-ku dan qadar-ku dan tidak sabar terhadap bencana-ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari tuhan selain aku. (H.R.tabrani). Takdir allah merupakan iradah (kehendak) allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan kita, hendaklah kita beresyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan allah kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah maha mengetahui atas apa yang diperbuatnya.

2

lalu Kami tentukan (bentuknya). maka Kami-lah 3 . Dalil-Dalil Dari Al-Qur-an Firman Allah:       "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." [Al-Hijr: 21] Ayat Lain:         "Sampai waktu yang ditentukan." Al-Qamar: 49 ayat lain:             "Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kha-zanahnya. as-Sunnah. 1. DALIL-DALIL IMAN KEPADA QADHA' DAN QADHAR Dalil yang menunjukkan rukun yang agung dari rukun-rukun iman ini ialah al-Qur-an. ijma‟. fitrah. dan panca indera.BAB II PEMBAHASAN A. akal. dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.

sebaik-baik yang menentukan." [AlA‟laa: 3] Ayat lain:                       4 ." [Al-Mursalaat: 22-23] Ayat lain:                     “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. dan dia Telah menciptakan segala sesuatu. dan dia tidak mempunyai anak. dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” [Al-Furqaan: 2] Ayat lain:         "Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya).

Pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu.” [Al-Israa‟: 4] 2. [Al-Anfaal: 42] Ayat lain :               “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu.. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran).. Dalil-Dalil Dari As-Sunnah Sementara dari sunnah ialah seperti sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril Alaihissalam 5 . akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan[618]. „Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali.                 “yaitu di hari ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu[617]. yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)[619].

“Dan aku mendengar „Abdullah bin „Umar mengatakan. yang berasal dari Allah. „Se-andainya aku melakukannya.‟ Tetapi ucapkanlah. dia mengatakan. “Saya mengetahui sejumlah orang dari para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan. yang baik dan yang buruk. as-Sunnah. dan akan kita temukan dalam kitab ini dalildalil yang banyak dari al-Qur-an dan as-Sunnah. An-Nawawi Rahimahullah berkata.” [4] Ibnu Hajar Rahimahullah berkata.‟” [3] Demikianlah (dalil-dalil tersebut). yang baik maupun yang buruk… .‟ Ia melanjutkan. sebagai tambahan atas apa yang telah disebutkan. niscaya akan demikian dan demikian. 3.” [5] 6 .” [1] Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahiih dari Thawus. ijma‟ Sahabat. „Sudah menjadi ketentuan Allah. „Segala sesuatu itu dengan ketentuan takdir hingga kelemahan dan kecerdasan. atau kecerdasan dan kelemahan. “Sudah menjadi pendapat salaf seluruhnya bahwa seluruh perkara semuanya dengan takdir Allah Ta‟ala.“…Dan engkau beriman kepada qadar. “Sudah jelas dalil-dalil yang qath‟i dari al-Qur-an. dan Ahlul Hil wal „Aqd dari kalangan salaf dan khalaf tentang ketetapan qadar Allah Azza wa Jalla. dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… . maka janganlah mengatakan. „Segala sesuatu dengan ketentuan takdir.‟”[2] Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “…Jika sesuatu menimpamu. Dalil-Dalil Dari Ijma’ Sedangkan menurut Ijma‟. maka kaum muslimin telah bersepakat tentang kewajiban beriman kepada qadar.

jika Rabb menghendaki.4. tetapi terletak dalam memahaminya menurut cara yang benar. Al-Mutsaqqib al-„Abdi berkata: Aku yakin.. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang kaum musyrikin: "Orang-orang yang mempersekutukan Allah. tetapi mereka berargumen dengannya atas perbuatan syirik." [Al-An‟aam: 148] Bangsa „Arab di masa Jahiliyyah mengenal takdir dan tidak mengingkarinya. dengan firman-Nya: "… Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul)… . baik dahulu maupun sekarang. Kemudian Dia menjelaskan bahwa ini merupakan keadaan umat sebelum mereka. .. Dalil-Dalil Dari Fitrah Adapun berdasarkan fitrah. bahwa iman kepada qadar adalah sesuatu yang telah dimaklumi secara fitrah. dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali sejumlah kaum musyrikin. tanpa ada Yang menghendakinya). „Jika Allah menghendaki. serta di sana tidak ada orang yang berpendapat bahwa suatu perkara itu memang telah ada sebelumnya (terjadi dengan sendirinya. bahwasanya kekuatan dan tujuan-Nya akan sampai kepadaku [9] Zuhair berkata: 7 . Kesalahannya tidak terletak dalam menafikan dan mengingkari qadar. niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukanNya.‟" [Al-An‟aam: 148] Mereka menetapkan kehendak (masyii-ah) bagi Allah. akan mengatakan. Karena itu.

“Apakah di hati orang-orang „Arab terlintas pernyataan menafikan takdir?” Ia menjawab. yang baik maupun yang buruk. Dalil-Dalil Dari Akal Sedangkan dalil akal. Tidak mungkin alam ini diadakan dengan sistim yang menakjubkan. tidak ada pada bangsa „Arab kecuali menetapkan takdir.” Kemudian dia mengucapkan sya‟ir: Takdir-takdir berlaku atas jarum yang menancap dan tidaklah jarum berjalan melainkan dengan takdir Lalu dia mengucapkan sya‟ir milik Umru-ul Qais: Kesengsaraan pada dua kesengsaraan telah tertuliskan [12] 5.Jangan menyembunyikan kepada Allah apa yang ada dalam jiwa kalian agar tersembunyi. dan meskipun disembunyikan Allah tetap mengetahuinya Dia menunda lalu diletakkan dalam kitab untuk disimpan bagi hari Penghisaban.” [11] Tidak seorang pun dari mereka yang menafikan qadar secara mutlak. maka akal yang sehat memastikan bahwa Allah-lah Pencipta alam semesta ini. dengan ucapannya. saling menjalin. seperti dalam pernyataan Hani‟ bin Mas‟ud asy-Syaibani dalam khutbahnya yang masyhur pada hari Dzi Qar. sebagaimana yang ditegaskan oleh salah seorang pakar bahasa „Arab. “Berlindunglah kepada Allah. “Saya tidak mengetahui ada orang „Arab yang mengingkari takdir. atau disegerakan untuk diberi balasan [10] Sebagaimana kita dapati juga dalam khutbah-khutbah mereka. 8 .” Ditanyakan kepadanya. Abul „Abbas Ahmad bin Yahya Tsa‟lab Rahimahullah. baik semasa Jahiliyyah maupun semasa Islam. “Sesungguhnya sikap waspada (hati-hati) tidak dapat menyelamatkan dari takdir. Yang Mengaturnya dan Yang Menguasainya. Pernyataan mereka sangat banyak dan jelas.

paling berani." [Ath-Thalaaq: 12] Kemudian perincian tentang qadar tidak diingkari akal. Kemudian. Di antara yang menunjukkan pernyataan ini ialah firman Allah Azza wa Jalla: "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. qadar adalah “sistem tauhid. 6.” [15] sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 9 . paling dermawan. Sebab. ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. tetapi merupakan hal yang benar-benar disepakati. sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. maka kita menyaksikan. paling bersabar. mendengar. Orang-orang yang benar-benar beriman kepadanya adalah manusia yang paling berbahagia. lalu bagaimana menjadi tersistem pada saat adanya dan perkembangannya? Jika ini terbukti secara akal bahwa Allah adalah Pencipta. maka sudah pasti sesuatu tidak terjadi dalam kekuasaan-Nya melainkan apa yang dikehendaki dan ditakdirkan-Nya. Dalil-Dalil Dari Panca Indera Adapun bukti secara inderawi.dan berkaitan erat antara sebab dan akibat sedemikian rupa ini adalah secara kebetulan. dan paling berakal. agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. dan membaca bahwa manusia akan lurus berbagai urusan mereka dengan beriman kepada qadha' dan qadar -dan telah lewat penjelasan tentang hal ini pada pembahasan “Buah Keimanan kepada Qada' dan Qadar”-. niscaya mereka tidak mendapatkan semua itu. Perintah Allah berlaku padanya. wujud itu sebenarnya tidak memiliki sistem pada asal wujudnya. Seandainya keimanan kepada takdir tersebut tidaklah nyata. paling sempurna. dan sesungguhnya Allah.

dan tauhid itu sendiri adalah sebagai sistem kehidupan. Maka kehidupan manusia tidak akan benar-benar istiqamah (lurus). Artinya. bahwa dalam rangka kebaikan itu. Allah kemudian mengungkapkan. apa yang dilakukan Allah Swt itu sesungguhnya ditujukan untuk kebaikan manusia sendiri. Dan karena itu pula. Perbuatan-perbuatan Allah ini ditujukan semuanya dalam rangka sifat Maha Rahman dan Maha Rahim yang tujuannya untuk kebaikan makhluk-Nya. Allah menciptakan bahwa di langit-langit itu atau di antara langit dan bumi terdapat ruang yang berisi udara. Allah Swt mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan untuk manusia itu merupakan sesuatu yang pasti tujuannya untuk kebaikan. Sehingga dengan demikian sebenarnya. “fi khalqissamawaati wal ardh” (dalam penciptaan langit-langit dan bumi). perbuatan Allah adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan Allah tanpa ada sesuatu lain yang dapat menyamai ataupun menirukan apa yang dilakukan Allah Swt. yaitu manusia. terutama untuk makhluk-Nya yang paling unggul. AF’ALULLAH DAN AF’ALUL IBAD 1. Karena itulah. dan tauhid tidak akan lurus kecuali dengan beriman kepada qadha' dan qadar. kecuali dengan tauhid. Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik pula. (Af’alullah) Perbuatan-perbuatan Allah adalah sesuatu yang unik. B. 10 . Untuk apa itu? Semuanya untuk manusia pula. untuk apa itu? Yaitu untuk kebaikan kita. Sehingga diungkapkan dalam satu ayat yang terdapat dalam Surat At-Tiin. yang hanya itu saja. dan tidak ada yang lain dapat menyamai apa yang dilakukan Allah.„Abbas Radhiyallahu „anhu. Pertama kali Allah menciptakan alam dan isinya.

yaitu: “ wajib seorang hamba itu mengenal Tuhan dengan teori dan dalil agama”. dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Allah mempunyai tujuan. Setiap Rasul mendapat anugerah mu‟jizat yang dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya. dan nabi-nabi yang lain pun juga mendapat mu‟jizat yang kemudian dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya (umatnya) ketika itu. Lantas apakah anugerah Allah kepada Nabi Muhammad yang dapat memberikan nilai-nilai positif atau kenikmatan-kenikmatan kepada umatnya seperti para nabi dan rasul yang terdahulu yang mendapat anugerah mu‟jizat sehingga dapat memberikan nilai-nilai positif dan kenikmatan kepada umatumatnya ketika itu? Di dalam Surat Ali Imran ayat 190-191 disebutkan: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. (Q. Nabi Isa mendapat mu‟jizat pengobatan. Ketika menciptakan kebaikan. (Q. karena 11 . Demikian juga ketika ada hal-hal yang ternyata itu merupakan sesuatu yang dinilai merugikan bagi manusia. (Af’alul Ibad) Perbuatan Hamba (ibadah) Abu al-Firoj al-Muqoddasi al-Hambali berkata: Setiap manusia diciptakan oleh Allah mempunyai kewajiban yang pertama yang harus ia lakukan.S.Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya.S. sehingga dapat menolong sebagian umatnya yang menderita penyakit yang ketika itu belum ada obatnya. Ali „Imraan: 190) 2. tetapi dalam hal-hal yang merugikan itu ada nilai-nilai positif yang dapat dijadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. At-Tiin: 4) Sehingga segala sesuatu yang diperbuat oleh Allah itu adalah mempunyai tujuan-tujuan khusus.

manusia mengetahui. akan tetapi kebebasan tersebut tidak akan bisa dicapai dengan tanpa Iradah dan Kudrah Allah. Dan ada sebagian kaum yang mengatakan bahwa yang diwajibkan bagi manusia itu adalah “bersuci. shalat. 12 . puasa dan lain sebagainya” Sesuai kaidah universal yang berlaku dalam sistem penciptaan semesta bahwa tiada seorang pun yang memiliki kepelakuan mutlak dan mandiri selain Tuhan. tak ada kesalahan sebesar zarrah yang luput dari pandangan Allah. Kesanggupan (kudrah). tidak luput dari skenario sebelumnya sampai bagian yang terkecil sekalipun. situasi. perbedaan pandangan manusia akan perbuatannya sendiri. “Wa maa tasya‟una illa an yasyaa‟ Alllah. dengan artian manusia tidak bisa berbuat lebih dikarekan batasan tersebut. kondisi yang melahirkan suatu perbuatan. Atom sendiri masih tersusun dari beberapa partikel. apakah merupakan kehendak pribadinya ataukah telah ditentukan jauh sebelum perbuatan itu terlahir? Saya meyakini. bahkan benak. Manusia mempunyai kebebasan berkehendak. Karena atom bukanlah partikel terkecil. setiap perbuatan manusia telah ditentukan sebelumnya. Dalam masalah perbuatan manusia (af‟alul ibad). rasa. Sekarang.” dan tidak hanya sumber perbuatan yang mengikuti kehendak Tuhan. Allah telah menciptakan manusia dengan memiliki kebebasan untuk memilih apa yang mereka inginkan. Dikatakan. dan kasab (kemampuan manusia itu sendiri). Dalam islam. Apabila sebagian fenomena memiliki pengaruh dan perbuatan maka hal itu sesuai dengan kehendak dan izin Tuhan. Allah telah membebani manusia dengan ukuran yang sudah ditentukan untuk dapat dilakukan. perbuatan itu sendiri berada dalam domain kehendak Tuhan. dan partikel itu masih tersusun atas partikel-partikel lain yang lebih kecil. yang menjadi pokok permasalahan adalah: Kehendak (iradah).mengenal Tuhan adalah lebih utama terhadap setiap manusia. bahwa zarrah bukanlah atom.

Allah SWT tidak menciptakan kecuali hanya kebaikan. QADARIAH DAN JABARIAH 1. Sedangkan keburukan yang diturunkan Allah menurut manusia adalah merupakan seuatu kebaikan dengan bentuk hikmah dibalik keburukan menurut manusia C. Faham ini juga dikembangkan oleh al-husain bin muhammad an-najjar dan ja‟d bin dirrar. manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Sementara harun nasution menjelaskan bahwa situasi demikian seperti yang telah digambarkan oleh ahmad amin. masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. As-syahratsan memberi arti bahwa paham al-jabr berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada allah swt. Di dalam al-munjid dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. yaitu faham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar tuhan. Dengan kata lain. Sejarah Jabariyah dan faham yang dikembangkan Kata jabariyah secara etimologi berasal dari kata jabara yang artinya memaksa. Dalam bahasa inggris. Selanjutnya. Akhirnya mereka 13 . Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. kata jabara diberi ya nisbah untuk memberi arti golongan atau aliran (isme). jabariyah disebut fatalism atau predestination. Faham jabariyah pertama kali diperkenalkan oleh ja‟d bin dirham dan disebarkan oleh jahm bin shafwan dari khurasan.

nabi menengahi pertengkaran dua orang sahabatnya yang sedang memperdebatkan masalah takdir allah swt. janji dan ancaman tuhan. Beliau melarang mereka untuk memperdebatkan masalah tersebut demi menghindari kesalahan dalam menafsirkan ayat-ayat allah swt. maka tak ada pahala sebagai balasannya. Khalifah umar bin khaththab pada suatu ketika marah kepada seorang pencuri yang tertangkap kemudian pencuri itu mengatakan.” Ali menjelasan bahwa qadha dan qadar bukanlah paksaan tuhan karena jika hal itu merupakan paksaan maka batallah pahala dan siksa. Hal ini membawa mereka kepada faham fatalism. Orang tua itu bertanya. Tetapi jabariyah yang dianut sebagai pola pikir dan aliran.baru dipelajari dan berkembang pada masa daulah bani umayah oleh kedua tokoh yang telah disebutkan di atas. Suatu ketika. dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan 14 . Beberapa peristiwa di atas telah membuktikan bahwa pemikiran jabariyah ini telah muncul sejak awal periode islam. Adapun dalil al-qur‟an yang menjadi barometer pemikiran jabariyah ini diantaranya adalah: Kalau sekiranya kami turunkan malaikat kepada mereka. Pada dasarnya pemikiran ini telah muncul sejak periode awal perkembangan islam. Khalifah ali bin abi thalib seusai perang shiffin pernah ditanya oleh seorang tua mengenai qadar tuhan berkaitan dengan pahala dan siksa. Kemudian umar menghukum pencuri itu dengan dua hukuman. b.”tuhan telah menentukan aku mencuri”. c. yaitu potong tangan karena mencuri dan dera karena berbohong menggunakan ayat allah swt.”bila perjalanan (perang shiffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar tuhan. Beberapa peristiwa sejarah memberikan gambaran tentang lahirnya pemikiran ini: a.banyak bergantung pada kehendak alam.

(al-anfal 17) Beberapa faham yang dikembangkan para ulama jabariyah diantaranya: a. hanya tuhan yang kekal. akan tetapi allahlah yang membunuh mereka. Bahwa segala perbuatan manusia merupakan paksaan dari tuhan dan merupakan kehendak-nya yang tidak bisa ditolak oleh manusia. b. (ashshaffat 96) Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka. e. Allah swt mahasuci dari segala sifat keserupaan dengan makhluk-nya. c. Tetap dikatakan beriman walaupun tanpa amal. Manusia tidak punya kehendak dan pilihan. Sesungguhnya allah maha mendengar lagi maha mengetahui.mereka. d. (allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin. (al-an‟am:111) Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar. Iman adalah ma‟rifat dalam hati dengan hanya membenarkan dalam hati. tidak dapat disifatkan kepada allah swt. dan mendengar. kecuali jika allah menghendaki. maka allah tidak dapat dilihat meskipun di akhirat kelak. Ajaran ini dikemukakan oleh jahm bin shofwan. Manusia tidak mampu berbuat apa-apa. oleh karena itu al-qur‟an sebagai makhluk adalah baru dan terpisah dari allah. melihat. begitu pun dengan yang lainnya. Kalam tuhan adalah makhluk. dengan kemenangan yang baik. Allah tidak mempunyai sifat serupa makhluk seperti berbicara. niscaya mereka tidak (juga) akan beriman. Artinya bahwa manusia tetap dikatakan beriman meskipun ia meninggalkan fardhu dan melakukan dosa besar. tetapi allah-lah yang melempar. Surga dan neraka tidak kekal. 15 . tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

masih dikemukakan oleh ahmad amin berdasarkan pendapat ibnu nabatah dalam kitabnya syarh al-uyun bahwa faham qadariyah ini pertama kali dimunculkan oleh seorang kristen irak yang masuk islam kemudian kembali kepada kristen yang bernama susan. Aliran qadariyah ini dirkirakan muncul pada tahun 70 h dengan berbagai versi yang memperdebatkan mengenai tokoh pemulanya. dasarkatanya adalah qadara yang memiliki arti kemampuan atau kekuasaan. Teori ini dikemukakan oleh al-asy‟ari yang disebut teori kasab. Dalam bahasa inggris qadariyah ini diartikan sebagai free will and free act. Namun versi ini 16 . Versi kedua. Sejarah qadariyah dan faham yang dikembangkannya Qadariyah diambil dari bahasa arab. tetapi manusia berperan dalam mewujudkan perbuatan itu. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia. Montgomery watt berdasarkan tulisan hellmut ritter yang ditulis dalam bahasa jerman.f. 2. menyebutkan bahwa faham qadariyah ditemukan dalam kitab ar-risalah karya hasan al-basri. Versi pertama dikemukakan oleh ahmad amin berdasarkan pendapat beberapa ahli teologi bahwa faham qadariyah ini pertama kali diperkenalkan oleh ma‟bad aljauhani dan ghailan ad-dimasyqy. bahwa manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatan dengan kemauan dan tenaganya. sebab tenaga yang diciptakan tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Adapun pengertian qadariyah berdasarkan terminology adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan. artinya tanpa campur tangan tuhan. sementara an-najjar mengaplikasikannya dengan ide bahwa manusia tidak lagi seperti wayang yang digerakkan. Versi ketiga dikemukakan oleh w.

Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. Dan jika mereka meminta minum. dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (ar-ra‟d:11). mereka menjaganya atas perintah allah. di muka dan di belakangnya. Sesungguhnya allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum. yang gejolaknya mengepung mereka. (ali imran: 165). Dan allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.menjadi perdebatan panjang bahwa hasan al-basri seorang qadariyah. dia menulis bahwa manusia berhak memilih mana yang baik dan buruk bagi dirinya. dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain dia." sesungguhnya allah maha kuasa atas segala sesuatu. (alkahfi: 29) Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan uhud). niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Dalam kitab ini. Barangsiapa yang mengerjakan dosa. Adapun doktrin yang dikembangkan oleh kaum qadariyah ini diantaranya: 17 . padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan badar)." sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka. kamu berkata: "darimana datangnya (kekalahan) ini?" katakanlah: "itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. maka tak ada yang dapat menolaknya. (annisa: 111). Beberapa ayat al-qur‟an yang digunakan sebagai dasar pemikiran mereka adalah: Dan katakanlah: "kebenaran itu datangnya dari tuhanmu. maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran.

tetapi manusia memiliki daya untuk mengembangkan pemikiran dan daya kreatifitasnya sehingga manusia dapat menghasilkan karya untuk mengimbangi atau mengikuti hukum alam tersebut dengan menciptakan pesawat terbang. 3. setiap manusia pasti merasakan surga dan neraka. Perbandingan aliran jabariyah dan qadariyah Beberapa perbedaan mendasar terhadap berbagai permasalahan teologi yang berkembang diantara kedua aliran ini diantaranya adalah: a. Takdir merupakan ketentuan allah swt terhadap alam semesta sejak zaman azali. b. Manusia mempunyai daya dan kekuatan untuk menentukan nasibnya. setelah itu keduanya akan lenyap. yaitu hukum yang dalam al-qur‟an disebut sunnatullah. melakukan segala sesuatu yang diinginkan baik dan buruknya. Takdir dalam pandangan kaum jabariyah memiliki makna bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan dan digariskan allah swt. sementara qadariyah meyakini bahwa allah tidak ikut campur dalam kehidupan manusia sehingga manusia memiliki wewenang penuh dalam menentukan hidupnya dan dalam menentukan sikap.a. Qadariyah menyatakan bahwa manusia yang berbuat baik akan mendapat surga. b. Jabariyah meyakini bahwa segala perbuatan manusia telah diatur dan dipaksa oleh allah sehingga manusia tidak memiliki kemampuan dan kehendak dalam hidup. Jabariyah menyatakan bahwa surga dan neraka tidak kekal. c. sehingga tidak 18 . c. Secara alamiah manusia mempunyai takdir yang tak dapat diubah mengikuti hukum alam seperti tidak memiliki sayap untuk terbang. kedua keputusan itu merupakan konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan manusia berdasarkan kehendak dan pilihannya sendiri. sementara yang berbuat jahat akan mendapat ganjaran di neraka. Jadi surga atau neraka yang didapatnya bukan merupakan takdir tuhan melainkan karena kehendak dan perbuatannya sendiri.

Qaqda‟ Qadar dalam keseharian sering kita sebut dengan takdir.Qadar artinya terjadi penciptaan sesuai dengan ukuran atau timbangan yang telah ditentuan sebelumnya.Azali Artinya ketetapan itu sudah ada sebelumnya keberadaan atau kelahiran mahluk. Sementara takdir menurut kaum qadariyah merupakan ketentuan allah terhadap alam semesta sejak zaman azali. Allah telah menciptakan manusia dengan memiliki kebebasan untuk memilih apa yang mereka inginkan.Qada‟artinya ketatapan Allah swt kepada setiap mahluk-Nya yang bersifat Azali. dan dilaksanakan dengan amal perbuatan. Kalau kita melihat qada‟menurut bahasa artinya Ketetapan. akan tetapi kebebasan tersebut tidak akan bisa dicapai dengan tanpa Iradah dan Kudrah Allah. KESIMPULAN Iman adalah keyakinan yang diyakini didalam hati. BAB III PENUTUP A. Allah SWT tidak menciptakan kecuali hanya kebaikan. Sedangkan keburukan yang diturunkan Allah menurut manusia adalah merupakan seuatu 19 . manusia menyesuaikan terhadap alam semesta melalui upaya dan pemikirannya yang tercermin dalam kreatifitasnya. Sedangkan Qadar artinya menurut bahasa berarti ukuran.ada pilihan bagi manusia. Manusia mempunyai kebebasan berkehendak. diucapkan dengan lisan.

kebaikan dengan bentuk hikmah dibalik keburukan menurut manusia. Wallahu‟alam. 20 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->