P. 1
Kanjeng Raden Tumenggung Jogo Negoro

Kanjeng Raden Tumenggung Jogo Negoro

|Views: 25|Likes:
Published by Ian Kurniawan

More info:

Published by: Ian Kurniawan on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2012

pdf

text

original

Kanjeng Raden Tumenggung Jogo Negoro

Tumenggung Jogonegoro merupakan tokoh yang tak lepas dari sejarah Wonosobo. Beliau lahir pada hari Minggu Wage, 4 Agustus 1675 dan merupakan salah satu keturunan bangsawan dari Yogyakarta. Tumenggung Jogonegoro merupakan seorang Bupati Kerajaan Mataram, mula-mula sebagai kepala prajurit ia bernama Ng. Singowedono. Karena jasanya terhadap kerajaan beliau mendapat gelar Raden Tumenggung Jogonegoro. Peristiwa ini terjadi pada masa menjelang perang Diponegoro atau pada era pemerintahan Sultan Sepuh atau Sultan Hamengku Buwono II.Tumenggung Jogonegoro sendiri merupakan cucu dari pendiri Wonosobo yaitu Kyai Karim. Pada waktu perang Diponegoro meletus. Tumenggung Jogonegoro bergerak dan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dan melakukan siasat perang gerilya. Dalam perang ini sampailah Tumenggung Jogonegoro dan prajuritnya di daerah Plabongan. Plabongan menjadi ibu kota Kabupaten

Selomerto. Jika menggunakan kendaraan umum peziarah akrab berjalan beberapa waktu untuk mencapai makam. Untuk menuju ke sana dapat mempergunakan kendaraan pribadi maupun menggunakan angkutan umum jurusan Wonosobo-Sawangan yang banyak tersedia. Tempat ziarah di Pekuncen ini tidak terlalu jauh dari Kota Wonosobo kirakira 15 menit perjalanan ke arah Selatan atau ke arah Purwokerto. Konon ketika beliau wafat. Di tempat inilah Tumenggung Jogonegoro bertahan hingga mangkatnya. tiba-tiba terjadi banjir besar sehingga rombongan harus kembali. Senin Wage. Makam Tumenggung Jogonegoro terletak di desa Pekuncen. Dalam berbagai acara seperti mujadahan nama Tumenggung Jogonegoro sering disebut untuk melantarkan hajat bahkan tiap hari Kamis Wage. Sampai sekarang Tumenggung Jogonegoro dikenal sebagai tokoh yang sakti dan mempunyai daya linuwih. Beliu wafat pada hari Kamis Pon. Jumat Kliwon. 6 Februari 1755. hingga banyak masyarakat Wonosobo masih menkeramatkan beliau.Wonosobo pada waktu itu dan dikenal sebagai Wonosobo Plabongan. . Di kompleks makam Pekuncen tidak hanya makam Tumengung Jogonegoro saja yang berada di sana namun juga makam keluarga dan para pembantu setianya seperti Kyai Pulanggeni dan Kyai Sanggageni. Namun setelah jenazah dibawa menyebrang Sungai Serayu. Sebab orang-orang Belanda sering melecehkan makam-makam orang terkenal. rencana akan dimakamkan di sebelah barat sungai serayu demi keamanannya. dan hari Selasa Kliwon masih banyak orang berziarah dengan maksud tujuan masing-masing.

(Sumber dari Legenda Jawa Tengah diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah). Benar tidaknya Wallahu Alam. Juga dilarang melakukan tindakan-tindakan yang buruk maupun tidak sopan karena bisa mendapat “bebendu”.Konon menurut kepercayaan yang masih dipercaya sebagian masyarakat bahwa jika berada di lingkungan makam harus melepas alas kaki dan topi serta tidak boleh membelakangi makam. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->