Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP): Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik

Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP): Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik

Ketua BPK ketika itu. keandalan pelaporan keuangan. bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dengan berpedoman pada SPIP sebagaimana disebutkan dalam pasal 2 ayat (1). SPIP bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. 2. Unsur Sistem Pengendalian Intern (SPI) dalam PPSPIP mengacu pada unsur SPI yang telah dipraktikkan di lingkungan pemerintahan di berbagai negara. UNSUR-UNSUR SPIP Keberadaan SPIP merupakan suatu langkah maju mengingat selama ini belum ada panduan minimal bagi instansi pemerintah pada saat akan merancang pengendalian intern. Sistem pengendalian intern (SPI) dalam PP-SPIP diartikan sebagai proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan mamadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui empat pilar yaitu: 1. Perancangan PP tersebut diprakarsai oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai pelaksanaan dari pasal 58 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Anwar Nasution. lingkungan pengendalian (8 sub unsur). pengamanan aset negara. keandalan pelaporan keuangan. menanggapi positif terbitnya PP-SPIP dengan mengatakan bahwa PP tersebut telah lama ditunggu-tunggu BPK. Setelah dua tahun terbit. Dengan adanya PP-SPIP maka setiap menteri/pimpinan lembaga.PENDAHULUAN Sudah hampir dua tahun Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terbit. Sedangkan SPIP adalah sistem pengendalian intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan daerah. . dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan. 3. 4. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. dan sekaligus bertanggung jawab atas efektivitas penyelenggaraan sistem pengendalian intern di lingkungan masing-masing. bagaimanakah progress implementasi dari PP-SPIP tersebut?. pengamanan aset negara. Salah satu alasan mengapa BPK berkalikali memberikan opini disclaimer atau tidak memberikan opini terhadap laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) antara lain karena belum memadainya SPIP serta belum adanya SPIP yangmelembaga. gubernur. yaitu meliputi 5 unsur: 1.

pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan. Menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian merupakan unsur yang paling penting dalam penerapan SPIP dan menjadi dasar untuk terselenggaranya unsur-unsur SPI lainnya. . dan sifat dari tugas dan fungsi instansi pemerintah yang bersangkutan (pasal 18). hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. Lingkungan pengendalian yang baik dapat diciptakan oleh adanya kepemimpinan yang kondusif. 5. kegiatan pengendalian (11 sub unsur). dan 8. 7. dan pemantauan pengendalian intern (3 sub unsur). Penerapan secara terintegrasi dimaksudkan agar seluruh unsur tersebut diterapkan. melakukan penilaian resiko (pasal 13). kepemimpinan yang kondusif. mengidenditifikasi. yaitu pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan pada data hasil penilaian resiko. Untuk terwujudnya SPIP yang kuat dan efektif. perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif. 4. 4. 3. sampai pada unsur pemantauan pengendalian intern (3 sub unsur). dan melakukan pemantauan terhadap penerapan SPI (pasal 43). 5. komitmen terhadap kompetensi. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan SDM. mencatat. Lingkungan pengendalian ini terdiri dari 8 sub unsur meliputi: 1. 6. penilaian risiko (2 sub unsur). PP-SPIP menegaskan bahwa pimpinan instansi pemerintah wajib menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan SPI dalam lingkungan kerjanya (pasal 4).2. kompleksitas. informasi dan komunikasi (2 sub unsur). menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran. pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat. 3. penegakan integritas dan nilai etika. maka kelima unsur SPIP tersebut harus diterapkan secara terintegrasi dan menjadi bagian integral dari kegiatan instansi pemerintah. dimulai dari pengembangan unsur lingkungan pengendalian (8 sub unsur). dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat (pasal 41). 2.

dilakukan pengawasan intern dan pembinaan penyelenggaraan SPIP. Mengacu pada PP 60 Tahun 2008 pasal 59 ayat (2). PEMBINAAN PENYELENGGARAAN SPIP Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas penyelenggaraan SPIP. evaluasi. Sosialisasi serta pembimbingan dan konsultasi penerapan SPIP merupakan kegiatan berdasarkan permintaan oleh instansi pemerintah terhadap BPKP maupun berdasarkan penetapan sebagai target pembinaan. namun BPKP membantu agar SPI yang dilakukan oleh instansi pemerintah dapat menjadi kuat dan efektif. pendidikan dan pelatihan SPIP. BPKP menekankan bahwa PP-SPIP bukan hanya milik BPKP. 2. penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. gubernur. Dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki BPKP. pendidikan dan pelatihan.Penjelasan terinci dari 26 sub unsur SPI dapat dilihat selengkapnya pada PP-SPIP. Namun semangat dan keinginan pemda untuk mendapatkan sosialisasi dan pembimbingan penerapan SPIP terkendala oleh ketersediaan SDM BPKP untuk segera menindaklanjuti. Sedangkan pembinaan penyelenggaraan SPIP dilakukan oleh BPKP. 4. . pemantauan. pembinaan penyelenggaraan SPIP kepada instansi pemerintah diselenggarakan atas dasar permintaan secara terseleksi. reviu. Di samping itu. pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP meliputi: 1. Pasal 59 ayat (2) PP-SPIP menyebutkan bahwa instansi pemerintah dapat melaksanakan sosialisasi. Sosialisasi SPIP yang dilakukan oleh BPKP di lingkungan pemerintah daerah mendapat sambutan yang baik. Beberapa Peraturan Gubernur tentang SPIP dibuat dengan bantuan BPKP. Pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP bukan berarti BPKP mengambil alih tanggung jawab untuk menyelenggarakan SPI yang dilaksanakan oleh menteri/pimpinan lembaga. Penetapan sebagai target pembinaan didasarkan pada instansi pemerintah yang memiliki resiko kegagalan penyelenggaraan SPIP terbesar dan dalam kondisi pengendalian intern yang tidak baik sesuai opini tahun terakhir yang dikeluarkan oleh BPK. khususnya untuk pembinaan penyelenggaraan SPIP pada pemerintahan daerah. dan bupati/walikota. serta pembimbingan dan konsultasi SPIP dengan inisiatif sendiri setelah berkoordinasi dengan BPKP. terdapat kendala anggaran karena selama tahun 2009 belum terdapat alokasi anggaran khusus untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP maupun anggaran bagi penyelenggaraan SPIP di masing-masing instansi pemerintah. Saat ini BPKP sedang menyelesaikan petunjuk teknis (juknis) dan pedoman-pedoman yang diperlukan untuk menindaklanjuti PP-SPIP. melainkan milik seluruh K/L yang bertekad untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik. Kantor BPKP Perwakilan juga turut aktif menyongsong tugas baru BPKP. sosialisasi SPIP. dan 5. Tupoksi BPKP sudah mulai bergeser dari mengaudit ke pemberian asistensi dan konsultantif. 3. pembimbingan dan konsultasi SPIP. Pengawasan intern dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah (BPKP/Inspektorat K/L/pemda) melalui kegiatan audit. peningkatan kompetensi auditor aparat pengawasan intern pemerintah. dan kegiatan pengawasan lainnya. Amanat dan tugas yang dibebankan kepada BPKP dalam PP-SPIP telah mendorong jajaran pimpinan BPKP untuk segera bertindak merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan PP-SPIP.

pada tahun 2010 juga akan diselenggarakan pendidikan dan pelatihan SPIP untuk 9000 orang (termasuk diklat untuk aparatur pengawasan). Sampai dengan September 2009 telah dilaksanakan sosialisasi pada 22 K/L dan 9 pemda. Per-1326/K/Lb/2009 tanggal 7 Desember 2009. b. 175/KMK. Terselenggaranya diklat SPIP bagi 5700 pegawai IP pusat dan pemda.Meskipun selama tahun 2009 belum terdapat alokasi anggaran khusus untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP. namun BPKP sudah melakukan beberapa kegiatan persiapan untuk menyongsong penerapan SPIP yaitu:   Pembentukan Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP dengan Keputusan Menteri Keuangan No. Sosialisasi SPIP dengan tujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai substansi PP 60. dengan target keluaran tahun 2010-2014 adalah sebagi berikut: a. Bimbingan teknis pengimplementasian SPIP telah dimulai pada Komisi Yudisial (sebagai piloting project). dengan keluaran: a. Pendidikan dan Pelatihan SPIP bagi 1547 pegawai BPKP dan 60 pegawai instansi pemerintah di luar BPKP. Terselenggaranya sosialisasi SPIP pada 690 entitas/IP pusat dan pemda. KemenPan. SPIP DALAM RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL Dukungan pemerintah dalam penerapan SPIP adalah dengan mengalokasikan anggaran dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2010 untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP pada instansi pemerintah (IP) pusat dan pemda yang merupakan kegiatan prioritas nasional yang dilaksanakan oleh BPKP. Setkab. dengan target pada tahun 2014 telah terlaksana 100% sistem pengendalian internal yang efektif pada setiap instansi pemerintah. Penyusunan Draft Pedoman Teknis Penyelenggaraan SPIP (26 buah sesuai dengan jumlah sub unsur) dan beberapa pedoman pendukung lainnya. termasuk di dalamnya mengenai adanya kewajiban bagi setiap instansi pemerintah pusat dan daerah untuk menyelenggarakan SPIP. Tersusunnya 46 keputusan kepala BPKP tentang pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. b. Disamping itu. yang harus dilaksanakan oleh setiap instansi dan menjadi landasan operasional bagi seluruh pelaksanaan pembangunan. Pedoman Umum SPIP telah ditetapkan dengan Peraturan Kepala BPKP No.01/2009 tanggal 8 Mei 2009 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP (anggota tim dari Kemenkeu. Selain itu. . di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 disebutkan bahwa kebijakan penyelenggaraan SPIP dijadikan sebagai salah satu indikator pengarus-utamaan tata kelola pemerintahan yang baik. Tersusunnya SOP pembinaan SPIP dan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. Kemendagri. Menyadari pentingnya penerapan pengendalian intern pada instansi pemerintah. kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP dijadikan sebagai salah satu kegiatan prioritas bidang aparatur negara (dalam RPJMN 2010-2014) yang dilaksanakan oleh BPKP. dan BPKP).

Tahap persiapan ini merupakan tahap awal penyelenggaraan yang ditujukan untuk memberikan pemahaman atau kesadaran yang lebih baik. Irprov. Ketentuan mengenai penerapan SPIP di lingkungan pemerintah daerah diatur lebih lanjut dengan peraturan gubernur atau peraturan bupati/walikota dengan berpedoman pada PP 60. pembangunan SPIP meliputi pembangunan infrastruktur dan internalisasi. TAHAPAN PENERAPAN SPIP PADA INSTANSI PEMERINTAH Sebagai langkah awal. Target lain RPJMN 2010-2014 adalah tercapainya opini WTP (wajar tanpa pengecualian) pada seluruh laporan keuangan kementerian dan lembaga (LKKL. Saat ini telah ada sekitar 20 pemda yang telah memiliki peraturan untuk penerapan SPIP yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar (30 September 2009). Sudah saatnya setiap instansi pemerintah segera menerapkan PP-SPIP ke dalam manajemen pemerintahan. Hal ini berlaku baik bagi instansi pemerintah pusat maupun daerah. Pemahaman (knowing) melalui sosialisasi dan diklat. target 100%) dan pada laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD. b. d. Pemetaan dilakukan oleh BPKP. Irjen/Irtama dan Inspektur kementerian/lembaga. Pengembangan berkelanjutan (performing). Terselenggaranya sosialisasi SPIP bagi 1035 IP pusat dan pemda. Pada saat tulisan ini disusun. dimulai dengan melihat kondisi SPIP yang telah ada secara umum (survei) dan dilanjutkan dengan diagnostic assessment. Sekprov. c. Pada tahap ini. Terselenggaranya konsultasi dan bimbingan teknis penyelenggaraan SPIP bagi 655 IP pusat dan pemda. Internalisasi (forming). b. pejabat . Pemetaan/diagnostic assessment (mapping). Dalam tahap pelaksanaan. Membangun dan menyempurnakan infrastruktur (norming). pejabat eselon I Kementerian Keuangan. yang dimaksudkan untuk menentukan area of improvement. REKOMENDASI PP 60 Tahun 2008 tentang SPIP secara tegas telah mewajibkan setiap instansi pemerintah untuk membangun SPIP guna mencegah timbulnya kegagalan dan ketidakefisienan dalam pencapaian tujuan organisasi. yaitu proses implementasi infrastruktur yang sudah dibangun. Tahap pelaporan merupakan bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan SPIP. pimpinan instansi pemerintah (pusat/daerah) perlu menetapkan ketentuan/keputusan untuk penerapan SPIP di lingkungannya masing-masing dengan mengacu pada PP-SPIP serta membentuk satgas penyelenggaraan SPIP yang bertugas untuk mengawal tahap-tahap penerapan SPIP serta melakukan pengujian terhadap efektivitas penyelenggaraan SPIP. Penerapan SPIP di lingkungan pemerintah daerah didukung pula oleh Surat edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900/918/SJ tanggal 8 Maret 2010 yang menyebutkan pentingnya penerapan SPIP pada pemerintahan daerah untuk peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan dan kinerja. target 60%). dilangsungkan sosialisasi SPIP kepada para pejabat pemerintah yang terdiri dari para Sesjen/Sesmen/Sestama. BPKP dapat memberikan pembimbingan dan konsultasi jika diperlukan. Lebih rinci.c. serta melakukan pemetaan kebutuhan penerapan lebih lanjut. Tahap ini terdiri atas : a. tahap ini terdiri atas : a. serta meningkatnya indeks persepsi korupsi menjadi 5 pada tahun 2014.

Pada kesempatan itu. Oleh karena itu. di hadapan sekitar 300 pejabat tersebut. Ke depan.Bappenas. jangan sampai penerapan SPIP hanya sebatas kewajiban rutin yang tidak berdampak pada peningkatan kinerja pengelolaan keuangan negara maupun pada efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pemerintahan. dan penyelenggaraan diklat SPIP. peran BPKP sebagai pembina penyelenggaraan SPIP hendaknya tidak terbatas pada pemberian sosialisasi SPIP. bimbingan teknis SPIP. juga dapat segera mulai melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan dengan berpedoman pada PP-SPIP dan berkoordinasi dengan BPKP. BPKP bersama-sama dengan aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) pada masing-masing instansi perlu secara objektif melakukan pengawasan terhadap penerapan SPIP di instansi pemerintah sekaligus menyusun instrumen untuk menilai kualitas penerapan SPIP secara terukur. –o0o– . Instansi pemerintah yang sudah memperoleh opini WTP pun berkewajiban untuk menerapkan SPIP agar dapat berkinerja lebih baik lagi dan sebagai upaya pencegahan terhadap praktik yang menyimpang. Wakil Presiden meminta kepada seluruh instansi pemerintah baik pusat dan daerah untuk segera menerapkan SPIP secara sungguh-sungguh sebagai pondasi dari pelaksanaan reformasi birokrasi nasional. Bagi aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) diharapkan perannya secara aktif dalam mengawal penyelenggaraan SPIP dan pencapaian target-target pembangunan nasional. serta pejabat BPKP. Seskab. Dengan penerapan SPIP secara konsisten dan berkesinambungan. serta berperan juga sebagai quality assurance atas kegiatan pelaksanaan pembangunan sehingga pimpinan instansi pemerintah memperoleh keyakinan yang memadai terhadap tercapainya tujuan pembangunan secara efektif dan efisien. diharapkan hasil penilaian BPKP terhadap penerapan SPIP pada masing-masing instansi pemerintah dapat dipublikasikan dan dapat disejajarkan dengan opini yang diberikan oleh BPK terhadap LKKL dan LKPD. BPK. UKP4. Wakil Presiden juga meminta kepada BPKP untuk meningkatkan kerjasama dengan seluruh jajaran instansi pemerintah dalam menerapkan SPIP secara optimal sesuai dengan time frame yang ditetapkan. Disadari bahwa penerapan SPIP bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun. Bagi instansi pemerintah yang belum mendapatkan sosialisasi dari pembina penyelenggaraan SPIP (BPKP). maka akan terwujud budaya internal control culture dalam instansi pemerintah untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.

Ridha Hasmah adalah Perencana Madya Direktorat Aparatur Negara. Road Map Pembinaan Penyelenggaraan SPIP . Bappenas. DAFTAR PUSTAKA      Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2010 BPKP.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful