P. 1
Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern

Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern

|Views: 193|Likes:
Published by viiy_11o1

More info:

Published by: viiy_11o1 on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2015

pdf

text

original

Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP): Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik

Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP): Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik

. lingkungan pengendalian (8 sub unsur). yaitu meliputi 5 unsur: 1.PENDAHULUAN Sudah hampir dua tahun Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terbit. SPIP bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Anwar Nasution. Salah satu alasan mengapa BPK berkalikali memberikan opini disclaimer atau tidak memberikan opini terhadap laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) antara lain karena belum memadainya SPIP serta belum adanya SPIP yangmelembaga. keandalan pelaporan keuangan. bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dengan berpedoman pada SPIP sebagaimana disebutkan dalam pasal 2 ayat (1). Setelah dua tahun terbit. gubernur. 4. pengamanan aset negara. Ketua BPK ketika itu. 2. Perancangan PP tersebut diprakarsai oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai pelaksanaan dari pasal 58 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Dengan adanya PP-SPIP maka setiap menteri/pimpinan lembaga. Unsur Sistem Pengendalian Intern (SPI) dalam PPSPIP mengacu pada unsur SPI yang telah dipraktikkan di lingkungan pemerintahan di berbagai negara. Sistem pengendalian intern (SPI) dalam PP-SPIP diartikan sebagai proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan mamadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui empat pilar yaitu: 1. Sedangkan SPIP adalah sistem pengendalian intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan daerah. bagaimanakah progress implementasi dari PP-SPIP tersebut?. 3. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. keandalan pelaporan keuangan. UNSUR-UNSUR SPIP Keberadaan SPIP merupakan suatu langkah maju mengingat selama ini belum ada panduan minimal bagi instansi pemerintah pada saat akan merancang pengendalian intern. dan sekaligus bertanggung jawab atas efektivitas penyelenggaraan sistem pengendalian intern di lingkungan masing-masing. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. menanggapi positif terbitnya PP-SPIP dengan mengatakan bahwa PP tersebut telah lama ditunggu-tunggu BPK. pengamanan aset negara. efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan.

komitmen terhadap kompetensi. pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan. dan melakukan pemantauan terhadap penerapan SPI (pasal 43). kompleksitas. mencatat. 5. sampai pada unsur pemantauan pengendalian intern (3 sub unsur). Penerapan secara terintegrasi dimaksudkan agar seluruh unsur tersebut diterapkan. kegiatan pengendalian (11 sub unsur).2. dan pemantauan pengendalian intern (3 sub unsur). mengidenditifikasi. Lingkungan pengendalian yang baik dapat diciptakan oleh adanya kepemimpinan yang kondusif. melakukan penilaian resiko (pasal 13). 3. 4. penegakan integritas dan nilai etika. informasi dan komunikasi (2 sub unsur). . 3. Menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian merupakan unsur yang paling penting dalam penerapan SPIP dan menjadi dasar untuk terselenggaranya unsur-unsur SPI lainnya. menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran. dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat (pasal 41). 7. dimulai dari pengembangan unsur lingkungan pengendalian (8 sub unsur). pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat. maka kelima unsur SPIP tersebut harus diterapkan secara terintegrasi dan menjadi bagian integral dari kegiatan instansi pemerintah. 4. hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. 2. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan SDM. dan sifat dari tugas dan fungsi instansi pemerintah yang bersangkutan (pasal 18). kepemimpinan yang kondusif. dan 8. 5. 6. penilaian risiko (2 sub unsur). yaitu pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan pada data hasil penilaian resiko. Untuk terwujudnya SPIP yang kuat dan efektif. Lingkungan pengendalian ini terdiri dari 8 sub unsur meliputi: 1. perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif. PP-SPIP menegaskan bahwa pimpinan instansi pemerintah wajib menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan SPI dalam lingkungan kerjanya (pasal 4).

Dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki BPKP. 2. evaluasi. melainkan milik seluruh K/L yang bertekad untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik. pemantauan. pendidikan dan pelatihan SPIP. 4. penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. Pasal 59 ayat (2) PP-SPIP menyebutkan bahwa instansi pemerintah dapat melaksanakan sosialisasi. serta pembimbingan dan konsultasi SPIP dengan inisiatif sendiri setelah berkoordinasi dengan BPKP. Saat ini BPKP sedang menyelesaikan petunjuk teknis (juknis) dan pedoman-pedoman yang diperlukan untuk menindaklanjuti PP-SPIP. terdapat kendala anggaran karena selama tahun 2009 belum terdapat alokasi anggaran khusus untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP maupun anggaran bagi penyelenggaraan SPIP di masing-masing instansi pemerintah. BPKP menekankan bahwa PP-SPIP bukan hanya milik BPKP. dan bupati/walikota. dilakukan pengawasan intern dan pembinaan penyelenggaraan SPIP. Beberapa Peraturan Gubernur tentang SPIP dibuat dengan bantuan BPKP. Amanat dan tugas yang dibebankan kepada BPKP dalam PP-SPIP telah mendorong jajaran pimpinan BPKP untuk segera bertindak merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan PP-SPIP. Namun semangat dan keinginan pemda untuk mendapatkan sosialisasi dan pembimbingan penerapan SPIP terkendala oleh ketersediaan SDM BPKP untuk segera menindaklanjuti. pembimbingan dan konsultasi SPIP. Sosialisasi SPIP yang dilakukan oleh BPKP di lingkungan pemerintah daerah mendapat sambutan yang baik. Kantor BPKP Perwakilan juga turut aktif menyongsong tugas baru BPKP. Tupoksi BPKP sudah mulai bergeser dari mengaudit ke pemberian asistensi dan konsultantif. gubernur. reviu. dan kegiatan pengawasan lainnya.Penjelasan terinci dari 26 sub unsur SPI dapat dilihat selengkapnya pada PP-SPIP. Penetapan sebagai target pembinaan didasarkan pada instansi pemerintah yang memiliki resiko kegagalan penyelenggaraan SPIP terbesar dan dalam kondisi pengendalian intern yang tidak baik sesuai opini tahun terakhir yang dikeluarkan oleh BPK. khususnya untuk pembinaan penyelenggaraan SPIP pada pemerintahan daerah. 3. Pengawasan intern dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah (BPKP/Inspektorat K/L/pemda) melalui kegiatan audit. peningkatan kompetensi auditor aparat pengawasan intern pemerintah. Pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP bukan berarti BPKP mengambil alih tanggung jawab untuk menyelenggarakan SPI yang dilaksanakan oleh menteri/pimpinan lembaga. . pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP meliputi: 1. namun BPKP membantu agar SPI yang dilakukan oleh instansi pemerintah dapat menjadi kuat dan efektif. PEMBINAAN PENYELENGGARAAN SPIP Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas penyelenggaraan SPIP. Sosialisasi serta pembimbingan dan konsultasi penerapan SPIP merupakan kegiatan berdasarkan permintaan oleh instansi pemerintah terhadap BPKP maupun berdasarkan penetapan sebagai target pembinaan. Mengacu pada PP 60 Tahun 2008 pasal 59 ayat (2). pembinaan penyelenggaraan SPIP kepada instansi pemerintah diselenggarakan atas dasar permintaan secara terseleksi. Di samping itu. dan 5. sosialisasi SPIP. Sedangkan pembinaan penyelenggaraan SPIP dilakukan oleh BPKP. pendidikan dan pelatihan.

. Sosialisasi SPIP dengan tujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai substansi PP 60. Pedoman Umum SPIP telah ditetapkan dengan Peraturan Kepala BPKP No. Setkab. Pendidikan dan Pelatihan SPIP bagi 1547 pegawai BPKP dan 60 pegawai instansi pemerintah di luar BPKP. SPIP DALAM RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL Dukungan pemerintah dalam penerapan SPIP adalah dengan mengalokasikan anggaran dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2010 untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP pada instansi pemerintah (IP) pusat dan pemda yang merupakan kegiatan prioritas nasional yang dilaksanakan oleh BPKP. Selain itu. namun BPKP sudah melakukan beberapa kegiatan persiapan untuk menyongsong penerapan SPIP yaitu:   Pembentukan Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP dengan Keputusan Menteri Keuangan No. KemenPan. termasuk di dalamnya mengenai adanya kewajiban bagi setiap instansi pemerintah pusat dan daerah untuk menyelenggarakan SPIP. dengan target keluaran tahun 2010-2014 adalah sebagi berikut: a. yang harus dilaksanakan oleh setiap instansi dan menjadi landasan operasional bagi seluruh pelaksanaan pembangunan. dan BPKP). dengan target pada tahun 2014 telah terlaksana 100% sistem pengendalian internal yang efektif pada setiap instansi pemerintah.Meskipun selama tahun 2009 belum terdapat alokasi anggaran khusus untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP. b. Sampai dengan September 2009 telah dilaksanakan sosialisasi pada 22 K/L dan 9 pemda. 175/KMK. pada tahun 2010 juga akan diselenggarakan pendidikan dan pelatihan SPIP untuk 9000 orang (termasuk diklat untuk aparatur pengawasan). Tersusunnya SOP pembinaan SPIP dan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. Tersusunnya 46 keputusan kepala BPKP tentang pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. Terselenggaranya sosialisasi SPIP pada 690 entitas/IP pusat dan pemda.01/2009 tanggal 8 Mei 2009 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP (anggota tim dari Kemenkeu. Kemendagri. kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP dijadikan sebagai salah satu kegiatan prioritas bidang aparatur negara (dalam RPJMN 2010-2014) yang dilaksanakan oleh BPKP. b. Terselenggaranya diklat SPIP bagi 5700 pegawai IP pusat dan pemda. Per-1326/K/Lb/2009 tanggal 7 Desember 2009. Menyadari pentingnya penerapan pengendalian intern pada instansi pemerintah. Penyusunan Draft Pedoman Teknis Penyelenggaraan SPIP (26 buah sesuai dengan jumlah sub unsur) dan beberapa pedoman pendukung lainnya. Disamping itu. di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 disebutkan bahwa kebijakan penyelenggaraan SPIP dijadikan sebagai salah satu indikator pengarus-utamaan tata kelola pemerintahan yang baik. dengan keluaran: a. Bimbingan teknis pengimplementasian SPIP telah dimulai pada Komisi Yudisial (sebagai piloting project).

pejabat eselon I Kementerian Keuangan. Irjen/Irtama dan Inspektur kementerian/lembaga. b.c. Target lain RPJMN 2010-2014 adalah tercapainya opini WTP (wajar tanpa pengecualian) pada seluruh laporan keuangan kementerian dan lembaga (LKKL. d. tahap ini terdiri atas : a. serta melakukan pemetaan kebutuhan penerapan lebih lanjut. Membangun dan menyempurnakan infrastruktur (norming). Dalam tahap pelaksanaan. Terselenggaranya konsultasi dan bimbingan teknis penyelenggaraan SPIP bagi 655 IP pusat dan pemda. Sekprov. dimulai dengan melihat kondisi SPIP yang telah ada secara umum (survei) dan dilanjutkan dengan diagnostic assessment. Sudah saatnya setiap instansi pemerintah segera menerapkan PP-SPIP ke dalam manajemen pemerintahan. b. Pada tahap ini. yang dimaksudkan untuk menentukan area of improvement. yaitu proses implementasi infrastruktur yang sudah dibangun. Pemahaman (knowing) melalui sosialisasi dan diklat. Pada saat tulisan ini disusun. Saat ini telah ada sekitar 20 pemda yang telah memiliki peraturan untuk penerapan SPIP yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar (30 September 2009). Penerapan SPIP di lingkungan pemerintah daerah didukung pula oleh Surat edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900/918/SJ tanggal 8 Maret 2010 yang menyebutkan pentingnya penerapan SPIP pada pemerintahan daerah untuk peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan dan kinerja. Hal ini berlaku baik bagi instansi pemerintah pusat maupun daerah. REKOMENDASI PP 60 Tahun 2008 tentang SPIP secara tegas telah mewajibkan setiap instansi pemerintah untuk membangun SPIP guna mencegah timbulnya kegagalan dan ketidakefisienan dalam pencapaian tujuan organisasi. Ketentuan mengenai penerapan SPIP di lingkungan pemerintah daerah diatur lebih lanjut dengan peraturan gubernur atau peraturan bupati/walikota dengan berpedoman pada PP 60. serta meningkatnya indeks persepsi korupsi menjadi 5 pada tahun 2014. Tahap persiapan ini merupakan tahap awal penyelenggaraan yang ditujukan untuk memberikan pemahaman atau kesadaran yang lebih baik. dilangsungkan sosialisasi SPIP kepada para pejabat pemerintah yang terdiri dari para Sesjen/Sesmen/Sestama. Terselenggaranya sosialisasi SPIP bagi 1035 IP pusat dan pemda. Internalisasi (forming). Irprov. Pengembangan berkelanjutan (performing). Pemetaan dilakukan oleh BPKP. target 100%) dan pada laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD. pimpinan instansi pemerintah (pusat/daerah) perlu menetapkan ketentuan/keputusan untuk penerapan SPIP di lingkungannya masing-masing dengan mengacu pada PP-SPIP serta membentuk satgas penyelenggaraan SPIP yang bertugas untuk mengawal tahap-tahap penerapan SPIP serta melakukan pengujian terhadap efektivitas penyelenggaraan SPIP. pembangunan SPIP meliputi pembangunan infrastruktur dan internalisasi. c. TAHAPAN PENERAPAN SPIP PADA INSTANSI PEMERINTAH Sebagai langkah awal. Pemetaan/diagnostic assessment (mapping). Tahap pelaporan merupakan bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan SPIP. Lebih rinci. BPKP dapat memberikan pembimbingan dan konsultasi jika diperlukan. target 60%). pejabat . Tahap ini terdiri atas : a.

serta berperan juga sebagai quality assurance atas kegiatan pelaksanaan pembangunan sehingga pimpinan instansi pemerintah memperoleh keyakinan yang memadai terhadap tercapainya tujuan pembangunan secara efektif dan efisien. BPKP bersama-sama dengan aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) pada masing-masing instansi perlu secara objektif melakukan pengawasan terhadap penerapan SPIP di instansi pemerintah sekaligus menyusun instrumen untuk menilai kualitas penerapan SPIP secara terukur. UKP4. Oleh karena itu. Bagi aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) diharapkan perannya secara aktif dalam mengawal penyelenggaraan SPIP dan pencapaian target-target pembangunan nasional. di hadapan sekitar 300 pejabat tersebut. Wakil Presiden meminta kepada seluruh instansi pemerintah baik pusat dan daerah untuk segera menerapkan SPIP secara sungguh-sungguh sebagai pondasi dari pelaksanaan reformasi birokrasi nasional. Ke depan. Instansi pemerintah yang sudah memperoleh opini WTP pun berkewajiban untuk menerapkan SPIP agar dapat berkinerja lebih baik lagi dan sebagai upaya pencegahan terhadap praktik yang menyimpang. bimbingan teknis SPIP. serta pejabat BPKP. peran BPKP sebagai pembina penyelenggaraan SPIP hendaknya tidak terbatas pada pemberian sosialisasi SPIP. jangan sampai penerapan SPIP hanya sebatas kewajiban rutin yang tidak berdampak pada peningkatan kinerja pengelolaan keuangan negara maupun pada efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pemerintahan. BPK.Bappenas. Bagi instansi pemerintah yang belum mendapatkan sosialisasi dari pembina penyelenggaraan SPIP (BPKP). –o0o– . Pada kesempatan itu. Wakil Presiden juga meminta kepada BPKP untuk meningkatkan kerjasama dengan seluruh jajaran instansi pemerintah dalam menerapkan SPIP secara optimal sesuai dengan time frame yang ditetapkan. Seskab. Dengan penerapan SPIP secara konsisten dan berkesinambungan. juga dapat segera mulai melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan dengan berpedoman pada PP-SPIP dan berkoordinasi dengan BPKP. diharapkan hasil penilaian BPKP terhadap penerapan SPIP pada masing-masing instansi pemerintah dapat dipublikasikan dan dapat disejajarkan dengan opini yang diberikan oleh BPK terhadap LKKL dan LKPD. Namun. maka akan terwujud budaya internal control culture dalam instansi pemerintah untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Disadari bahwa penerapan SPIP bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan masih banyak tantangan yang harus dihadapi. dan penyelenggaraan diklat SPIP.

Road Map Pembinaan Penyelenggaraan SPIP . Bappenas.Ridha Hasmah adalah Perencana Madya Direktorat Aparatur Negara. DAFTAR PUSTAKA      Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2010 BPKP.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->