Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP): Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik

Menyongsong Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP): Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik

efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan. Sistem pengendalian intern (SPI) dalam PP-SPIP diartikan sebagai proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan mamadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui empat pilar yaitu: 1. Dengan adanya PP-SPIP maka setiap menteri/pimpinan lembaga. keandalan pelaporan keuangan. dan sekaligus bertanggung jawab atas efektivitas penyelenggaraan sistem pengendalian intern di lingkungan masing-masing. pengamanan aset negara. keandalan pelaporan keuangan. Sedangkan SPIP adalah sistem pengendalian intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan daerah. 3.PENDAHULUAN Sudah hampir dua tahun Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terbit. SPIP bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Ketua BPK ketika itu. bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dengan berpedoman pada SPIP sebagaimana disebutkan dalam pasal 2 ayat (1). bagaimanakah progress implementasi dari PP-SPIP tersebut?. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. UNSUR-UNSUR SPIP Keberadaan SPIP merupakan suatu langkah maju mengingat selama ini belum ada panduan minimal bagi instansi pemerintah pada saat akan merancang pengendalian intern. . Unsur Sistem Pengendalian Intern (SPI) dalam PPSPIP mengacu pada unsur SPI yang telah dipraktikkan di lingkungan pemerintahan di berbagai negara. gubernur. yaitu meliputi 5 unsur: 1. Salah satu alasan mengapa BPK berkalikali memberikan opini disclaimer atau tidak memberikan opini terhadap laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) antara lain karena belum memadainya SPIP serta belum adanya SPIP yangmelembaga. menanggapi positif terbitnya PP-SPIP dengan mengatakan bahwa PP tersebut telah lama ditunggu-tunggu BPK. 2. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. lingkungan pengendalian (8 sub unsur). pengamanan aset negara. Setelah dua tahun terbit. Perancangan PP tersebut diprakarsai oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai pelaksanaan dari pasal 58 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 4. Anwar Nasution.

menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran. informasi dan komunikasi (2 sub unsur).2. maka kelima unsur SPIP tersebut harus diterapkan secara terintegrasi dan menjadi bagian integral dari kegiatan instansi pemerintah. kegiatan pengendalian (11 sub unsur). dan 8. 7. 4. Untuk terwujudnya SPIP yang kuat dan efektif. yaitu pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan pada data hasil penilaian resiko. 5. hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. Lingkungan pengendalian ini terdiri dari 8 sub unsur meliputi: 1. pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan. 2. Lingkungan pengendalian yang baik dapat diciptakan oleh adanya kepemimpinan yang kondusif. kepemimpinan yang kondusif. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan SDM. dan sifat dari tugas dan fungsi instansi pemerintah yang bersangkutan (pasal 18). dimulai dari pengembangan unsur lingkungan pengendalian (8 sub unsur). pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat. kompleksitas. Menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian merupakan unsur yang paling penting dalam penerapan SPIP dan menjadi dasar untuk terselenggaranya unsur-unsur SPI lainnya. penegakan integritas dan nilai etika. komitmen terhadap kompetensi. dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat (pasal 41). dan pemantauan pengendalian intern (3 sub unsur). sampai pada unsur pemantauan pengendalian intern (3 sub unsur). 6. mengidenditifikasi. . mencatat. Penerapan secara terintegrasi dimaksudkan agar seluruh unsur tersebut diterapkan. penilaian risiko (2 sub unsur). PP-SPIP menegaskan bahwa pimpinan instansi pemerintah wajib menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan SPI dalam lingkungan kerjanya (pasal 4). 3. 5. melakukan penilaian resiko (pasal 13). perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif. dan melakukan pemantauan terhadap penerapan SPI (pasal 43). 3. 4.

Kantor BPKP Perwakilan juga turut aktif menyongsong tugas baru BPKP. terdapat kendala anggaran karena selama tahun 2009 belum terdapat alokasi anggaran khusus untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP maupun anggaran bagi penyelenggaraan SPIP di masing-masing instansi pemerintah. namun BPKP membantu agar SPI yang dilakukan oleh instansi pemerintah dapat menjadi kuat dan efektif. serta pembimbingan dan konsultasi SPIP dengan inisiatif sendiri setelah berkoordinasi dengan BPKP. Pasal 59 ayat (2) PP-SPIP menyebutkan bahwa instansi pemerintah dapat melaksanakan sosialisasi. Pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP bukan berarti BPKP mengambil alih tanggung jawab untuk menyelenggarakan SPI yang dilaksanakan oleh menteri/pimpinan lembaga. pendidikan dan pelatihan. Mengacu pada PP 60 Tahun 2008 pasal 59 ayat (2). khususnya untuk pembinaan penyelenggaraan SPIP pada pemerintahan daerah. Sedangkan pembinaan penyelenggaraan SPIP dilakukan oleh BPKP. reviu. dan kegiatan pengawasan lainnya. dan 5. penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. Di samping itu. pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP meliputi: 1. pemantauan. Sosialisasi SPIP yang dilakukan oleh BPKP di lingkungan pemerintah daerah mendapat sambutan yang baik. Dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki BPKP. evaluasi. Sosialisasi serta pembimbingan dan konsultasi penerapan SPIP merupakan kegiatan berdasarkan permintaan oleh instansi pemerintah terhadap BPKP maupun berdasarkan penetapan sebagai target pembinaan. peningkatan kompetensi auditor aparat pengawasan intern pemerintah. PEMBINAAN PENYELENGGARAAN SPIP Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas penyelenggaraan SPIP. dan bupati/walikota. sosialisasi SPIP. pendidikan dan pelatihan SPIP. Saat ini BPKP sedang menyelesaikan petunjuk teknis (juknis) dan pedoman-pedoman yang diperlukan untuk menindaklanjuti PP-SPIP. BPKP menekankan bahwa PP-SPIP bukan hanya milik BPKP. 2. 3. Penetapan sebagai target pembinaan didasarkan pada instansi pemerintah yang memiliki resiko kegagalan penyelenggaraan SPIP terbesar dan dalam kondisi pengendalian intern yang tidak baik sesuai opini tahun terakhir yang dikeluarkan oleh BPK. Amanat dan tugas yang dibebankan kepada BPKP dalam PP-SPIP telah mendorong jajaran pimpinan BPKP untuk segera bertindak merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan PP-SPIP. Namun semangat dan keinginan pemda untuk mendapatkan sosialisasi dan pembimbingan penerapan SPIP terkendala oleh ketersediaan SDM BPKP untuk segera menindaklanjuti. . melainkan milik seluruh K/L yang bertekad untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik.Penjelasan terinci dari 26 sub unsur SPI dapat dilihat selengkapnya pada PP-SPIP. pembimbingan dan konsultasi SPIP. 4. Pengawasan intern dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah (BPKP/Inspektorat K/L/pemda) melalui kegiatan audit. Tupoksi BPKP sudah mulai bergeser dari mengaudit ke pemberian asistensi dan konsultantif. gubernur. dilakukan pengawasan intern dan pembinaan penyelenggaraan SPIP. Beberapa Peraturan Gubernur tentang SPIP dibuat dengan bantuan BPKP. pembinaan penyelenggaraan SPIP kepada instansi pemerintah diselenggarakan atas dasar permintaan secara terseleksi.

yang harus dilaksanakan oleh setiap instansi dan menjadi landasan operasional bagi seluruh pelaksanaan pembangunan. Tersusunnya 46 keputusan kepala BPKP tentang pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. Tersusunnya SOP pembinaan SPIP dan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP. Per-1326/K/Lb/2009 tanggal 7 Desember 2009. Sosialisasi SPIP dengan tujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai substansi PP 60. Penyusunan Draft Pedoman Teknis Penyelenggaraan SPIP (26 buah sesuai dengan jumlah sub unsur) dan beberapa pedoman pendukung lainnya. Terselenggaranya diklat SPIP bagi 5700 pegawai IP pusat dan pemda. Setkab. dengan target keluaran tahun 2010-2014 adalah sebagi berikut: a. pada tahun 2010 juga akan diselenggarakan pendidikan dan pelatihan SPIP untuk 9000 orang (termasuk diklat untuk aparatur pengawasan). namun BPKP sudah melakukan beberapa kegiatan persiapan untuk menyongsong penerapan SPIP yaitu:   Pembentukan Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP dengan Keputusan Menteri Keuangan No. dan BPKP). kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP dijadikan sebagai salah satu kegiatan prioritas bidang aparatur negara (dalam RPJMN 2010-2014) yang dilaksanakan oleh BPKP. Pendidikan dan Pelatihan SPIP bagi 1547 pegawai BPKP dan 60 pegawai instansi pemerintah di luar BPKP. 175/KMK. . KemenPan. Disamping itu.01/2009 tanggal 8 Mei 2009 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP (anggota tim dari Kemenkeu. termasuk di dalamnya mengenai adanya kewajiban bagi setiap instansi pemerintah pusat dan daerah untuk menyelenggarakan SPIP. dengan keluaran: a. Sampai dengan September 2009 telah dilaksanakan sosialisasi pada 22 K/L dan 9 pemda. SPIP DALAM RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL Dukungan pemerintah dalam penerapan SPIP adalah dengan mengalokasikan anggaran dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2010 untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP pada instansi pemerintah (IP) pusat dan pemda yang merupakan kegiatan prioritas nasional yang dilaksanakan oleh BPKP. Selain itu. b. dengan target pada tahun 2014 telah terlaksana 100% sistem pengendalian internal yang efektif pada setiap instansi pemerintah.Meskipun selama tahun 2009 belum terdapat alokasi anggaran khusus untuk kegiatan pembinaan penyelenggaraan SPIP oleh BPKP. Bimbingan teknis pengimplementasian SPIP telah dimulai pada Komisi Yudisial (sebagai piloting project). di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 disebutkan bahwa kebijakan penyelenggaraan SPIP dijadikan sebagai salah satu indikator pengarus-utamaan tata kelola pemerintahan yang baik. b. Menyadari pentingnya penerapan pengendalian intern pada instansi pemerintah. Terselenggaranya sosialisasi SPIP pada 690 entitas/IP pusat dan pemda. Kemendagri. Pedoman Umum SPIP telah ditetapkan dengan Peraturan Kepala BPKP No.

b. Irprov. d. Pada saat tulisan ini disusun. Membangun dan menyempurnakan infrastruktur (norming). Dalam tahap pelaksanaan. Tahap persiapan ini merupakan tahap awal penyelenggaraan yang ditujukan untuk memberikan pemahaman atau kesadaran yang lebih baik. Tahap pelaporan merupakan bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan SPIP. yang dimaksudkan untuk menentukan area of improvement. target 60%). serta meningkatnya indeks persepsi korupsi menjadi 5 pada tahun 2014. b. TAHAPAN PENERAPAN SPIP PADA INSTANSI PEMERINTAH Sebagai langkah awal. Pada tahap ini. dimulai dengan melihat kondisi SPIP yang telah ada secara umum (survei) dan dilanjutkan dengan diagnostic assessment. Sekprov. pejabat . c. Irjen/Irtama dan Inspektur kementerian/lembaga. pembangunan SPIP meliputi pembangunan infrastruktur dan internalisasi. Penerapan SPIP di lingkungan pemerintah daerah didukung pula oleh Surat edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900/918/SJ tanggal 8 Maret 2010 yang menyebutkan pentingnya penerapan SPIP pada pemerintahan daerah untuk peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan dan kinerja. pejabat eselon I Kementerian Keuangan. Terselenggaranya sosialisasi SPIP bagi 1035 IP pusat dan pemda. tahap ini terdiri atas : a. serta melakukan pemetaan kebutuhan penerapan lebih lanjut. Pemetaan/diagnostic assessment (mapping). Pemetaan dilakukan oleh BPKP. REKOMENDASI PP 60 Tahun 2008 tentang SPIP secara tegas telah mewajibkan setiap instansi pemerintah untuk membangun SPIP guna mencegah timbulnya kegagalan dan ketidakefisienan dalam pencapaian tujuan organisasi. BPKP dapat memberikan pembimbingan dan konsultasi jika diperlukan. Target lain RPJMN 2010-2014 adalah tercapainya opini WTP (wajar tanpa pengecualian) pada seluruh laporan keuangan kementerian dan lembaga (LKKL. dilangsungkan sosialisasi SPIP kepada para pejabat pemerintah yang terdiri dari para Sesjen/Sesmen/Sestama. yaitu proses implementasi infrastruktur yang sudah dibangun.c. Ketentuan mengenai penerapan SPIP di lingkungan pemerintah daerah diatur lebih lanjut dengan peraturan gubernur atau peraturan bupati/walikota dengan berpedoman pada PP 60. Internalisasi (forming). Tahap ini terdiri atas : a. Terselenggaranya konsultasi dan bimbingan teknis penyelenggaraan SPIP bagi 655 IP pusat dan pemda. Saat ini telah ada sekitar 20 pemda yang telah memiliki peraturan untuk penerapan SPIP yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar (30 September 2009). pimpinan instansi pemerintah (pusat/daerah) perlu menetapkan ketentuan/keputusan untuk penerapan SPIP di lingkungannya masing-masing dengan mengacu pada PP-SPIP serta membentuk satgas penyelenggaraan SPIP yang bertugas untuk mengawal tahap-tahap penerapan SPIP serta melakukan pengujian terhadap efektivitas penyelenggaraan SPIP. Pemahaman (knowing) melalui sosialisasi dan diklat. Lebih rinci. target 100%) dan pada laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD. Hal ini berlaku baik bagi instansi pemerintah pusat maupun daerah. Sudah saatnya setiap instansi pemerintah segera menerapkan PP-SPIP ke dalam manajemen pemerintahan. Pengembangan berkelanjutan (performing).

di hadapan sekitar 300 pejabat tersebut. Wakil Presiden meminta kepada seluruh instansi pemerintah baik pusat dan daerah untuk segera menerapkan SPIP secara sungguh-sungguh sebagai pondasi dari pelaksanaan reformasi birokrasi nasional. jangan sampai penerapan SPIP hanya sebatas kewajiban rutin yang tidak berdampak pada peningkatan kinerja pengelolaan keuangan negara maupun pada efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pemerintahan. Pada kesempatan itu. BPKP bersama-sama dengan aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) pada masing-masing instansi perlu secara objektif melakukan pengawasan terhadap penerapan SPIP di instansi pemerintah sekaligus menyusun instrumen untuk menilai kualitas penerapan SPIP secara terukur. Instansi pemerintah yang sudah memperoleh opini WTP pun berkewajiban untuk menerapkan SPIP agar dapat berkinerja lebih baik lagi dan sebagai upaya pencegahan terhadap praktik yang menyimpang. serta pejabat BPKP. BPK. UKP4. Wakil Presiden juga meminta kepada BPKP untuk meningkatkan kerjasama dengan seluruh jajaran instansi pemerintah dalam menerapkan SPIP secara optimal sesuai dengan time frame yang ditetapkan.Bappenas. juga dapat segera mulai melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan dengan berpedoman pada PP-SPIP dan berkoordinasi dengan BPKP. Ke depan. Dengan penerapan SPIP secara konsisten dan berkesinambungan. Disadari bahwa penerapan SPIP bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan masih banyak tantangan yang harus dihadapi. peran BPKP sebagai pembina penyelenggaraan SPIP hendaknya tidak terbatas pada pemberian sosialisasi SPIP. Seskab. bimbingan teknis SPIP. Bagi instansi pemerintah yang belum mendapatkan sosialisasi dari pembina penyelenggaraan SPIP (BPKP). –o0o– . dan penyelenggaraan diklat SPIP. Namun. Oleh karena itu. serta berperan juga sebagai quality assurance atas kegiatan pelaksanaan pembangunan sehingga pimpinan instansi pemerintah memperoleh keyakinan yang memadai terhadap tercapainya tujuan pembangunan secara efektif dan efisien. Bagi aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) diharapkan perannya secara aktif dalam mengawal penyelenggaraan SPIP dan pencapaian target-target pembangunan nasional. diharapkan hasil penilaian BPKP terhadap penerapan SPIP pada masing-masing instansi pemerintah dapat dipublikasikan dan dapat disejajarkan dengan opini yang diberikan oleh BPK terhadap LKKL dan LKPD. maka akan terwujud budaya internal control culture dalam instansi pemerintah untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.

Road Map Pembinaan Penyelenggaraan SPIP . DAFTAR PUSTAKA      Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2010 BPKP.Ridha Hasmah adalah Perencana Madya Direktorat Aparatur Negara. Bappenas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful