INFLAMASI INFEKSI (JAMUR, BAKTERI, VIRUS, DAN PARASIT LUKA MAHIR

Oleh Kelompok I: Ade Heryanto Afnur Riki Amrullah Al Azhar Anggit Lestari Ardiansyah Arifin Surya

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN REGULER SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH PONTIANAK TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kesehatan yang baik bergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau teknisi yang memantau atau mencegah peniularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan beresiko terkena infeksi karena daya tahan yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meninkatnya pejanan terhadap jumlah dan jemis penyakit yang disebakan oleh mikroorganisme dan prosedur invasive. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatory klien dapat terpajan mikroorganisme baru atau berbeda, yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat juga resisten terhadap banyak antibiotic. Dengan cara mempraktikan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien dalam semua lingkungan, kiien dan keluarganya harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien nharus termasuk informasi mengenai infeksi, caracara penularan dan pencegahan Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dan perlindungan barier yang tepat. B. RUMUSAN MASALAH Sesuai latar belakang diatas maka rumusan masalah pada makalah ini adalah tentang Apaapa saja Konsep Penyakit Infeksi C. TUJUAN • • • • Untuk mengetahui pengertian dari infeksi Untuk mengetahui tipe mikroorganisme penyebanya infeksi Untuk mengetahui rantai dari infeksi Untuk mengetahui penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme penyebab infeksi beserta penanganannya. D. METODE PENULISAN Metode penulisan yang dilakukan dalam pembuatan makalah ini adalah dengan mereview dari berbagai literatur, baik dari buku-buku keperawatan dan internet.

Penyakit terjadi jika bacteria atau reaksi imunologi yang ditimbulkannya menyebabkan suatu bahaya bagi seseorang. menginvasi sel inang dan jaringan. Beberapa gejala atau asimptomatik. replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. makanan. Infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam jaringan tubuh. Dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh. (Kozier. 1995).BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Bakteri Bakteri merupakan penyebab terbanyak dari infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi. Virus . 2005). Ratusan spesies bakteri dapat menyebabkan penyakit pada tubuh manusia dan dapat hidup didalamnya. Cirri-ciri bakteri pathogen yaitu kemampuan untuk menularkan. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. toksin. penyakit ini merupakan penyakit menular (contagius). Penyakit timbul jika pathogen berkembang biak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. tanah. bakteri bisa masuk melalui udara. Infeksi bakteri meliputi permulaan awal dari proses infeksi hingga mekanisme timbulnya tanda dan gejala penyakit. air. B. dan mampu untuk menghindar dari system kekebalan inang. et al. cairan dan jaringan tubuh dan benda mati lainnya. yaitu: a. melekat pada sel inang. Mikroorganisme yang bisa menimbulkan penyakit disebut pathogen (agen infeksi). DEFENISI INFEKSI Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi di dalam tubuh yang menyebabkan sakit (Potter & Perry. khususnya yang menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif. mampu untuk meracuni. TIPE MIKROORGANISME PENYEBAB INFEKSI Penyebab infeksi dibagi menjadi 4 kategori. b. Mikroorganisme mempunyai keragaman dalam virulensi/keganasan dan juga beragam dalam menyebabkan beratnya suatu penyakit yang disebabkan. sedangkan mikroorganisme yang tidak menimbulkan penyakit/kerusakan disebut asimtomatik. Jika penyakit bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain.

disertai gambaran seluruh detail klinis yang penting pada seluruh biopsy. Pengertian seperti itu penting untuk mendisain strategi anti virus yang benar – benar efektif dan spesifik c. Infeksi ini menimbulkan keadaan klinis yang disebut thrush yang sering ditemukan pada mulut bayi dan vagina. Biasanya jamur hidup di lapisan keratin bagian atas dan menyebar ke luar pada cincin dermatitis eritematosa bersisik yang sering disebut ringworm. Gambaran histologynya sering menunjukkan sebagai gambaran yang sangat tidak berbentuk pada pewarnaan rutin. . Ia menyebabkan gangguan jamur lainnya. Organism yang menyebabkan infeksi ini bermacam-macam tetapi yang paling sering adalah berbagai jenis spesies Trikofiton. Untuk menyebabkan penyakit virus harus memasuki inang. Fungi Berbagai jamur menyerang kulit. berupa ragi. Infeksi jamur jarang dibiopsi karena biasanya didiagnosis secara klinis. Sering ditemukan pada kondisi tropical tetapi sering juga terdapat terutama sebagai infeksi oportunistik pada individu dengan immunosupresi. bereplikasi. terutama pada daerah mukosa dan daerah sekitarnya. Jenis organisme lain yang berbeda yaitu. yang akan menimbulkan deformitas yang sangat sulit untuk disembuhkan. Kandida. Jamur hanya akan terlihat apabila dilakukan pewarnaan yang bereaksi dengan dinding sel. yang paling sering ialah tinea versikolor yang perubahan pigmen sangat khas. karenanya harus masuk dalam sel hidup untuk diproduksi. Dalam keadaan ini diagnosis ditegakkan hanya jika spesialis patologi diberi keterangan mengenai riwayat klinis. Banyak yang belum diketahui tentang proses ini pada beberapa infeksi virus. Pada bagian lainnya paparan lesi tampak berbeda: di antara jari kaki terlihat seperti kaki atlet dan di lipat paha seperti tinea kruris. mengadakan kontak dengan sel yang rentan. Apabila infeksi menyebar ke kulit sekitarnya akan timbul erupsi bula yang terasa nyeri dan tidak segera dapat diketahui sebagai rash akibat fungi. kandidia dapat mengenai kuku. Infeksi fungi yang dalam cenderung menimbulkan abses kronis. tetapi studistudi genetika dan biokimia mungkin sekali akan menuntun pada pengertian pathogenesis virus pada level molekuler. seperti pewarnaan perak atau pewarnaan untuk polisakarida netral. Walaupun jarang. Spesies Pitirosporum menyebabkan berbagai infeksi jamur superficial pada kulit. dan menyebabkan kerusakan sel. sering disertai destruksi berat.Virus terutama berisi asam nukleat (nucleic acid).

Organisme residen tidak dengan . cara penularan. Sebagian besar kelainan ini. skistosomiasis sering menentukan apakah manusia dan ternaknya dapat tetap bertahan hidup atau tidak di berbagai daerah tropis. yaitu agen infeksi. Infeksi protozoa jarang ditemukan di daerah beriklim sedang tetapi di seluruh dunia amoebiasis. sedangkan yang kedua sering sebagai predator. portal of exit. filariasis. Leismaniasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh Leishmania tropica yang ditularkan oleh lalat pasir.Blastomikosis. Sekali lagi. Organisme transient normalnya ada dan jumlahnya stabil. Organisme transien melekat pada kulit saat seseorang kontak dengan obyek atau orang lain dalam aktivitas normal. lesi yang terdapat pada kulit dapat menjadi hebat dan membentuk proporsi yang dominan pada praktik dermatologi tropis. aktinomikosis. virus. Parasit metazoan terutama cacing dan artropoda: jenis yang pertama cenderung menginvasi dan tumbuh parasitic. leismaniasis dan toksoplasmosis mengakibatkan penderitaan yang berat dan pada beberapa daerah di dunia mereka merupakan kelainan dermatoligi utama yang ditemukan oleh dokter. seperti pada kebanyakan penyakit tropis lainnya. Cacing merupakan masalah tropis yang primer dan onkoserkosis. Mikroorganisme di kulit bisa merupakan flora transient maupun resident. d. RANTAI INFEKSI Proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar berbagai faktor yang mempengaruhi. Organisme ini siap ditularkan. kecuali dihilangkan dengan cuci tangan. cacing dan arthropoda. dan nokardia sekarang dapat ditemukan diluar daerah endemic tradisional biasanya akibat dari perjalanan orang luar atau imunosupresi. tripanosomiasis. termasuk kelompok parasit adalah protozoa. organisme ini bisa hidup dan berbiak di kulit. Parasit Parasit hidup dalam organisme hidup lain. a. strongilodiosis ankilostomiasis. AGEN INFEKSI Mikroorganisme yang termasuk dalam agen infeksi antara lain bakteri. jamur dan protozoa. Organisme ini telah membuat suatu mekanisme untuk meruntuhkan pertahanan tubuh dan banyak sekali yang dapat ditemukan hidup dalam makrofag inang. larva migrant. disebarkan oleh parasit arthropoda dan pengendalian yang paling efektif adalah dengan mengeliminasi vector dibandingkan dengan mengobati penyakitnya. reservoir. portal of entry dan host/ pejamu yang rentan. C.

Kuman akan hidup dan berkembang biak dalam reservoar jika karakteristik reservoarnya cocok dengan kuman. air. mikroorganisme harus masuk dalam tubuh. pencernaan. pH. misalnya di kulit. c.kontak tidak langsung melalui jarum atau balutan bekas luka penderita. cairan maupun drainase. PORTAL MASUK Sebelum seseorang terinfeksi. Jika reservoarnya manusia. Sehingga reservoir yang di dalamnya terdapat mikroorganisme patogen bisa menyebabkan orang lain menjadi sakit (carier). Adanya microorganisme patogen dalam tubuh tidak selalu menyebabkan penyakit pada hostnya.mudah bisa dihilangkan melalui cuci tangan dengan sabun dan deterjen biasa kecuali bila gosokan dilakukan dengan seksama. fekal. suhu. virulensi (kemampuan menyebabkan penyakit). b. serangga dan benda lain. Yang bisa berperan sebagai reservoir adalah manusia. Faktor-faktor yang menurunkan daya tahan tubuh memperbesar kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh. melalui vektor nyamuk atau lalat. mikroorganisme harus keluar terlebih dahulu dari reservoarnya. mukosa. genitalia. Karakteristik tersebut yaitu oksigen. . makanan yang diolah tidak tepat. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi tergantung pada: jumlah microorganisme. binatang. RESERVOAR (sumber mikroorganisme) Adalah tempat dimana mikroorganisme patogen dapat hidup baik berkembang biak atau tidak. kulit dan membrane mukosa yang rusak serta darah. perkemihan. Sebelum menimbulkan infeksi. dan pencahayaan. kulit atau darahnya. Kebanyakan reservoir adalah tubuh manusia. kemampuan untuk masuk dan bertahan hidup dalam host serta kerentanan dari host/penjamu. CARA PENULARAN Kuman dapat menular atau berpindah ke orang lain dengan berbagai cara seperti kontak langsung dengan penderita melalui oral. kuman dapat keluar melalui saluran pernapasan. air. makanan. Mikroba dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute atau jalan yang sama dengan portal keluar. peralatan yang terkontaminasi. PORTAL OF EXIT (jalan keluar) Mikroorganisme yang hidup di dalam reservoir harus menemukan jalan keluar (portal of exit untuk masuk ke dalam host dan menyebabkan infeksi. e. d. Kulit merupakan barier pelindung tubuh terhadap masuknya kuman infeksius. Rusaknya kulit atau ketidakutuhan kulit dapat menjadi portal masuk.

stress (fisik dan emosional). Selama masa ini. pemberian obat dan penyakit penyerta. PROSES INFEKSI Infeksi terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada klien tergantung dari tingkat infeksi. Orang-orang yang mendapat infeksi yang disebabkan oleh defisiensi dalam pertahanan dari segi hospesnya disebut hospes yang melemah. c. Kerentanan bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen. Pada beberapa keadaan. kerusakan pertumbuhan dan meningkatnya kerentanan terhadap kanker tertentu. campak 2-3 minggu. keturunan. Sedangkan orang-orang dengan kerusakan mayor yang berhubungan dengan respon imun spesifik disebut hospes yang terimunosupres. ruam kulit. D. komponen-komponen baik respon spesifik maupun nonspesifik bisa gagal dan hal tersebut mengakibatkan kerusakan pertahanan hospes. Contoh: flu 1-3 hari. Meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar. Efek dan gejala nyata yang berhubungan dengan kelainan pertahanan hospes bervariasi berdasarkan pada sistem imun yang rusak. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap kuman yaitu usia. demam ringan.f. infeksi kronik. mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien lebih mampu menyebarkan penyakit ke orang lain. patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan penjamu. keletihan) sampai gejala yang spesifik. Dengan proses perawatan yang tepat. terapi medis. DAYA TAHAN HOSPES (MANUSIA) Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan. status nutrisi. diare. Secara umum proses infeksi adalah sebagai berikut: a. Periode inkubasi Interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya gejala pertama. mumps/gondongan 18 hari b. infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadap kekuatan dan jumlah mikroorganisme tersebut. Tahap prodromal Interval dari awitan tanda dan gejala nonspesifik (malaise. Ciri-ciri umum yang berkaitan dengan hospes yang melemah adalah: infeksi berulang. maka akan meminimalisir penyebaran dan meminimalkan penyakit. Tahap sakit .

5% sampai 1% diantara penyakit kulit. lipofilik yaitu Malassezia furfur. Pityrosporon orbiculare. Kelainan ini umumnya menyerang badan dan kadang-kadang terlihat di ketiak. muka dan kulit kepala. sela paha. . leher. Patofisiologi Pitiriasis Versikolor disebabkan oleh organisme dimorfik. sekitar 3% pasien mengunjungi dermatologis. insiden dilaporkan sekitar 0. Contoh: demam dimanifestasikan dengan sakit tenggorokan. Furfur merupakan flora normal kutaneus manusia. tungkai atas. dan ditemukan pada 18% bayi dan 90-100% dewasa. d.Klien memanifestasikan tanda dan gejala yang spesifik terhadap jenis infeksi. pembengkakan kelenjar parotid dan saliva. Epidemiologi Pitiriasis versikolor distibusi seluruh dunia. B. Definisi Pitiriasis versikolor adalah suatu penyakit jamur kulit yang kronik dan asimtomatik serta ditandai dengan bercak putih sampai coklat yang bersisik. yang dibiakkan hanya pada media kaya asam lemak rantai C12-C14. Didaerah tropis insiden dilaporkan sebanyak 40%. Grup umur yang terkena 25-30 tahun pada pria dan 20-25 pada wanita. Di Inggris. M. mumps dimanifestasikan dengan sakit telinga. Pemulihan Interval saat munculnya gejala akut infeksi E. dan Malassezia furfur merupakan sinonim dari M. PENYAKIT-PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH MIKRORGANISME I. sedangkan pada daerah yang lebih dingin angka insiden lebih rendah.. pityrosporon ovale. tetapi pada daerah tropis dan daerah subtropis. PITIRIASIS VERSIKOLOR (JAMUR) A. C. Pitiriasis versikolor kebanyakan menyerang orang muda. demam tinggi. Furfur.

Pada pasien dengan stadium klinis jamur tersebut dapat ditemukan dalam bentuk spora dan dalam bentuk filamen (hifa). imunodefisiensi. Proses depigmentasi kulit pada pitiriasis versikolor bersifat subyektif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. dilaporkan bahwa kasus pitiriasis versikolor meningkat pada iatrogenik Cushing’s syndrome yang diakibatkan perubahan-perubahan stratum kulit. juga pada kehamilan dan akne vulgaris. Faktor-faktor yang menyebabkan berkembang menjadi parasit sebagai berikut: 1. Studi histologi. sindrom Cushing. penghambatan transfer . Eksogen: kelembaban dan suhu tinggi. Pitiriasis versikolor jarang pada anak-anak dan orang tua karena kulit mereka rendah akan konsentrasi lemak. Ketergantungan terhadap lemak menjelaskan bahwa pitiriasis versikolor memiliki predileksi pada kulit secara fisiologik kaya akan kelenjar sebasea. paparan matahari. pityrosporum merupakan jamur yang lipofilik dan bergantung kepada lemak sehingga memiliki kaitan erat dengan dengan trigliserida dan asam lemak yang diproduksi oleh kelenjar sebasea. Endogen: kulit berminyak. dan tidak muncul pada tangan dan tapak kaki. Hal ini memberikan petunjuk terjadinya penurunan produksi melanin. Sekresi keringat. oklusi pakaian. inflamasi kulit dan efek langsung Pityrosporum pada melanocytes. menunjukkan kehadiran sejumlah melanocytes pada daerah noda lesi degeneratif dari pitiriasis versikolor. Faktor hormonal. suhu akan mengakibatkan peningkatan sekresi keringat yang mempengaruhi komposis lapisan lemak kulit dan berhubungan dengan inisiasi pitiriasis versikolor. malnutrisi 2. Lemak kulit memiliki pengaruh. higiene. pada daerah tropikal endemik pitiriasis versikolor. ras. berbeda dengan orang muda. genetika. hiperhidrosis. penggunaan emolien yang berminyak Beberapa faktor menyumbang peranan penting dalam perkembangan dan manifestasi klinik dari Pitiriasis versikolor.

batas jelas. yaitu faktor herediter. penderita yang sakit kronik atau yang mendapat pengobatan steroid dan nutrisi. Kadang-kadang penderita dapat merasakan gatal ringan. Manifestasi Klinis Kelainan kulit Pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama di badan. Pitiriasis versikolor muncul dengan 3 bentuk: 1.melanin pada keratinocytes. Menurut BURKE (1961) ada beberapa faktor yang mempengaruhi infeksi. Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walaupun jarang. akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh tokis jamur terhadap pembentukan pigmen. Pseudoakromia. sehingga lesi kulit menjadi lebih terang dibanding dengan kulit sekitar lesi yang lebih gelap. walaupun anak-anak dan orang dewasa tua tidak luput dari infeksi. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni. dada. Penyakit ini sering dilihat pada remaja. sering dikeluhkan penderita. yang merupakan alasan berobat. ekstrimitas dan kadang pada bagian bawah perut. D. makulabulat sampai oval yang tersebar pada batang tubuh. bentuk tidak teratur sampai teratur. Namun pendapat ini kurang tepat untuk menjelaskan hipopigmentasi pada pitiriasis versikolor karena beberapa kasus hipopigmentasi pada pitiriasis versikolor tanpa terpapar oleh sinar matahari. . Kelainan biasanya asimtomatik sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut . Bercak-bercak tersebut berfluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood. Pendapat lain bahwa lesi hipopigmentasi terjadi karena mekanisme penyaringan sinar matahari oleh jamur. leher. kedua hal tersebut menimbulkan kekurangan melanin pada kulit. banyak. batas jelas sampai difus. Papulosquamous  Paling sering bermanifestasi dalam gambaran bersisik.

membentuk area pigmentasi irreguler.  Faktor predisposis diantaranya diabetes. terapi steroid atau antibiotika dan terapi immunosupresan. Setelah diambil. Pemeriksaan mikologis kerokan kulit Pengambilan bahan dapat dengan kerokan biasa atau dengan menggunakan cellotape yang ditempel pada lesi. psoriasis. kelembapan tinggi. Bentuk ini lebih sering terlihat pada pasien yang mengalami gangguan imunodefisiensi. Infeksi akibat Pityrosporum folliculitis berupa papula kemerahan atau pustula. Kondisi ini biasanya terjadi pada area punggung. E. Pemeriksaan Penunjang 1. Folliculitis  Bentuk ketiga dari infeksi M. Inverse Pityriasis versicolor  Bentuk kebalikan dari Pitiriasis versikolor pada keadaan distribusi yang berbeda. . Makula cenderung untuk menyatu. kelainan pada regio flexural. furfur pada kulit melibatkan folikel rambut. dermatitis seborrhoik. dada dan ekstrimitas  Bentuk ini secara klinik sulit dibedakan dengan folikulitis bakterial. erythrasma dan infeksi dermatophyte. wajah atau area tertentu pada ekstrimitas. Area yang terinfeksi dapat menjadi gelap atau menjadi lebih terang dari kulit sekitar  Kondisi ini akan lebih terlihat pada musim panas dimana perbedaan warna akan lebih menonjol 2. furfur memiliki peran dalam dermatitis seborrhoik. Beberapa laporan menunjukkan bahwa M.  Bentuk ini dapat dibingungkan dengan kandidiasis. bahan diletakkan di atas gelas obyek lalu diteteskan larutan KOH 20% atau campuran 9 bagian KOH 20% dengan 1 bagian tinta parker blueback superchrome X akan lebih memperjelas pembacaan karena memberi tampilan warna biru yang cerah pada elemen-elemen jamur. 3.

bercak tersebut bertambah banyak dan meluas disekitar dada kanan atas dan muncul bercak-bercak putih yang baru di punggung kanan atas  Bercak-bercak putih terasa gatal kalau pasien berkeringat . v.  Awalnya bercak-bercak putih dirasakan di dada atas kanan sebesar biji jagung yang berjumlah sekitar 4 buah lalu sekitar 2 bulan yang lalu. lurus. Hasilnya positif apabila terlihat fluoresensi berwarna kuning emas pada lesi tersebut. Riwayat Penyakit Sekarang  Bercak-bercak putih yang tidak gatal di dada dan punggung kanan atas bertambah banyak sejak sejak 1 bulan yang lalu. Konsep Keperawatan A. Hasil positif: Hifa pendek.  Hasil negatif: Bila tidak ada lagi hifa. Pengkajian Keluhan utama : Bercak-bercak putih yang tidak gatal di dada dan punggung kanan atas bertambah banyak sejak sejak 1 bulan yang lalu. Lampu Wood Untuk membantu menegakkan diagnosis dan untuk menentukan luasnya lesi dapat dilakukan pemeriksaan dengan penyinaran lampu Wood pada seluruh tubuh penderita dalam kamar gelap. j) dan gerombolan spora budding yeast yang berbentuk bulat mirip seperti sphagetti with meatballs. 2. bengkok (seperti huruf i. maka berarti bukan pitiriasis versikolor walaupun ada spora.

dan hanya menggunakan kipas angin kecil. Pasien tinggal di rumah kontrakan dengan satu ruang tamu dan dua kamar tidur. dengan satu jendela dan dua ventilasi. setiap pakaian pasien terasa lembab karena keringat sering tidak diganti.  Pasien tidak ada mengeluhkan mati rasa atau kurang berasa pada bercak-bercak putih tersebut  Riwayat trauma tidak ada. bercak bercak merah yang berobah warna menjadi putih tidak ada. kulit . dan lebih sering terpapar sinar matahari.  Pasien suka berkeringat sejak menggunakan pakaian berlapis. kamar tidur pasien berukuran 3x2 m2. pasien berdagang jarang menggunakan tenda. Diagnosa Keperawatan 1. kamar di huni oleh pasien dan istrinya.  Bercak putih tersebut jika digaruk maka bercak semakin jelas Pasien suka menggunakan pakaian berlapis-lapis dan tidak menyerap keringat sejak 1 tahun  Pasien bekerja dari pagi sampai sore sebagai pedagang pakaian kaki lima.  Pasien suka makan makanan pedas yang mengakibatkan pasien sering berkeringat saat makan    Pasien mengganti baju 2 kali dalam sehari Pasien mandi 2 kali dalam sehari Kelembaban tempat tinggal tinggi. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier akibat pitiriasis vesikolor.   Riwayat mengkonsumsi obat-obatan yang lama tidak ada Pasien belum pernah mengobati penyakitnya B.

Kaji perubahan warna kulit. Menghentikan pengobatan dengan salep dapat menimbulkan kekambuhan. kulit . dan konsisten. Rasional : Membantu mempercepat proses penyembuhan. 3. meskipun lesinya telah hilang. 5. Kaji keadaan umum dan observasi TTV. setelah mandi atau sebelum tidur. 4. karena penyakit panu sering kambuh dan untuk mencegah serangan ulang. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pitiriasis vesikolor C. 2. Pengobatan harus dilakukan menyeluruh. tekun. dapat diberikan secara topikal dengan golongan imidazol.  Oleskan salep pada kulit yang telah bersih. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan. Rasional : Mengetahui perubahan status kesehatan pasien. Pertahankan agar daerah yang terinfeksi tetap bersih dan kering.  Bila lesinya minimal atau terbatas.2. Kaji keadaan kulit Rasional : Mengetahui dan mengidetifikasi kerusakan kulit untuk melakukan intervensi yang tepat. 3. Pasalnya jamur belum terbasmi dengan tuntas. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus. Rasional : Megetahui keefektifan sirkulasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi. Intervensi Keperawatan Dx 1 Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier akibat pitiriasis vesikolor Intervensi : 1. misalnya ketoconazole dalam bentuk krim.

ucapan merendahkan diri sendiri. Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien. Jelaskan gejala gatal berhubungan dengan penyebabnya (misal keringnya kulit) dan prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus gatal-garuk-gatal-garuk.Dx 2 Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus Intervensi : 1. Cuci semua pakaian sebelum digunakan untuk menghilangkan formaldehid dan bahan kimia lain serta hindari menggunakan pelembut pakaian buatan pabrik. malu berhadapan dengan orang lain. Dx 3 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit akibat pitiriasis vesikolor Intervensi : 1. Rasionalisasi: pruritus sering disebabkan oleh dampak iritan atau allergen dari bahan kimia atau komponen pelembut pakaian. 3. . 2. Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata. Rasionalisasi: bahan yang tertinggal (deterjen) pada pencucian pakaian dapat menyebabkan iritasi. Rasionalisasi: dengan mengetahui proses fisiologis dan psikologis dan prinsip gatal serta penangannya akan meningkatkan rasa kooperatif 2. Gunakan deterjen ringan dan bilas pakaian untuk memastikan sudah tidak ada sabun yang tertinggal. Kaji perubahan perilaku pasien seperti menutup diri. kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri.

Pengertian Selulitis adalah infeksi streptokokus. Gatal hilang/berkurang 3. Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar kedalam bidang jaringan (Brunner dan Suddarth. Berikan penguatan positif terhadap kemajuan. 82). 4. Gangguan integritas kulit teratasi 2. D. 2000. Dorong interaksi keluarga.Jadi selulitis adalah infeksi pada kulit yang disebabkan oleh bakteri stapilokokus aureus. Rasional : Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara perawatpasien. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan. meskipun demikian hal ini dapat terjadi tanpa bukti sisi entri dan ini biasanya terjadi pada ekstrimitas bawah (Tucker. Rasional : Mempertahankan garis komunikasi dan memberikan dukungan terusmenerus pada pasien. Selulitis adalah inflamasi supuratif yang juga melibatkan sebagian jaringan subkutan (mansjoer.Rasional : Mengetahui tingkat ketidakpercayaan diri pasien dalam menentukan intervensi selanjutnya. pada penyuluhan pasien. 5. 3. Rasional : Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif. 1998 : 633). Evaluasi Keperawatan 1. Selulitis (bakteri) a. . streptokokus grup Adan streptokokus piogenes. Komplikasi dan keparahan tidak terjadi 4. stapilokokus akut dari kulit dan jaringan subkutan biasanya disebabkan oleh invasi bakteri melalui suatu area yang robek pada kulit. . 2000 : 496). . pasien percaya diri II.

untuk absses lokalisata yang mempunyai gejala sebagai lesi kultur pus atau bahan yang diaspirasi diperlukan. dan infeksi derajat rendah. penyakit infeksi sering berjangkit pada orang gemuk. Pada pemeriksaan ditemukan kemerahan yang karakteristik hangat. sterptokokus lain atau staphilokokus aureus. nyeri tekan. Etiologi Penyebab dari selulitis menurut Isselbacher (1999. kejemuan atau orang tua pikun dan pada orang kencing manis yang pengobatannya tidak adekuat.b. Manifestasi Klinis Menurut Mansjoer (2000:82) manifestasi klinis selulitis adalah Kerusakan kronik pada kulit sistem vena dan limfatik pada kedua ekstrimitas. Bau busuk dan pewarnaan gram pus menunjukkan adanya organisme campuran. eritema local. Bengkak. tetapi mungkin merupakan hasil perubahan peradangan benda asing. etiologi microbial yang pasti sulit ditentukan. demam dan bakterimia. nyeri yang cepat menyebar dan infitratif ke jaringan dibawahnya. merah dan hangat nyeri tekan.  Pemeriksaan Penunjang . kelainan kulit berupa infiltrat difus subkutan. rendah gizi. A. abses ini kadang disebabkan oleh campuran bakteri aerob dan anaerob yang lebih kompleks. nekrosis.634) adalah bakteri streptokokus grup. Etiologinya tidak jelas. Selulitis yang tidak berkomplikasi paling sering disebabkan oleh streptokokus grup A. Lesi ini dangkal dan berindurasi dan dapat mengalami super infeksi. kecuali jika luka yang terkait berkembang bakterimia. Patofisiologi Patofisiologi menurut Isselbacher (1999. Gambaran klinis eritema lokal pada kulit dan system vena dan limfatik pada kedua ektrimitas atas dan bawah. d. 634) yaitu : Bakteri patogen yang menembus lapisan luar menimbulkan infeksi pada permukaan kulit atau menimbulkan peradangan. Meskipun etiologi abses ini biasanya adalah stapilokokus. streptokokus piogenes dan stapilokokus aureus. Supurasi dan lekositosis. Ulkus kulit yang tidak nyeri sering terjadi. c.

c. 1998). pertahankan garis tubuh untuk menccegah penekanan dan kelelahan. Kaji intensitas nyeri menggunakan skala / peringkat nyeri b. Penatalaksanaan Medis Rawat inap di rumah sakit. Bergantian kompres lembab hangat ( Long. 2. 1998 g. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan inflamasi jaringan (Tucker. Fokus Intervensi 1. infeksi ringan dapat diobati dengan obat oral pada pasien diluar rumah sakit. Pemberian antibiotik intravena seperti oksasilin atau nafsilin. Jelaskan kebutuhan akan imobilisasi 49 – 72 jam. 1996 : 670). menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. 3. 1998:633). f. e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan turgor sirkulasi dan edema (Tucker. antipretik. Gangguaan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi jaringan. Tujuan : nyeri berkurang atau hilang.a) Pemeriksaan darah. kaji keefektifan. ekspresi muka rileks ketidaknyamanan dalam batas yang dapat ditoleransi. 1998). eosinofil dan peningkatan laju sedimentasi eritrosit (Tucker. obat oral dapat atau tidak digunakan. menunjukkan adanya organisme campuran (Issebacher 1999:634) c) Rontgen Sinus-sinus para nasal (selulitis perioribital). b) Pewarnaan gram dan kultur pus atau bahan yang diaspirasi diperlukan. Pertahankan ekstrimitas yang dipengaruhi dalam posisi yang ditemukan. Insisi dan drainase pada keadaan terbentuk abses. Berikan anal gesik jika diperlukan. Diagnosa Medis 1. Posisi dan imobilisasi ekstrimitas. Ubah posisi sesering mungkin. Intervensi : a. analgesik. . e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi menyebabkan penatalaksanaan perawatan dirumah(Tucker. d. Kriteria hasil : pasien menampakkan ketenangan.

Demonstasikan perawatan luka dan balutan.1998). Gunakan kompres dan balutan e. Kerusakan ingritas kulit berhubungan dengan perubahan turgor. Intervensi: a. VARICELLA ZOSTER (VIRUS) A. b. penggunaan imajinasi. ukuran. Kriteria hasil : Lesi mulai pulih dan area bebas dari infeksi lanjut. kedalaman warna cairan b. laoran dokter jika ada peningkatan. 3. ubah prosedur.g. Intervensi: a. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi Mengenai : penatalaksanaan perawatan di rumah Tujuan : pasien mengerti tentang perawatan dirumah Criteria hasil : melaksanakan perawatan luka dengan benar menggunakan: tindakan kewaspadaan aseptic yang tepat. Mengekspresikan pemahaman perkembangan yang diharapkan tanpa infeksi dan jadwal obat. Diskusikan jadwal pengobatan f. Bantuan dan ajarkan penanganan terhadap nyeri. Pantau suhu laporan.f. III. Tujuan : menunjukkan regenerasi jaringan. Tekankan pentingnya diet nutrisi. (Tucker. kulit bersih. Pertahankan teknik aseptic d. kering dan area sekitar bebas dari edema. (tucker. Definisi Varisella Zoster (Cacar Air) . Dorong melakukan aktivitas untuk mentoleransi penggunaan alat penyokong. Diskusikan tentang mempertahankan peninggian dan imobilisasi ekstrimitas yang ditentukan c. 2. Pertahankan istirahat di tempat tidur dengan peningkatan ekstremitas dan mobilitasasi. Jelaskan tanda-tanda dan gejala untuk dilaporkan ke dokter e. c. 1998). (Tucher. suhu normal. d. Tingkatkan aktivitas distraksi. relaksasi dan lainnya. 1998). tekankan pentingnya teknik aseptic. Kaji kerusakan.

Patofisiologi Varicella primer disebabkan oleh virus varicella-zoster. ataupun kontak dengan kulit penderita langsung. Zoster (ruam kulit) bersifat sporadis. khususnya pada anak-anak. melamahkan pada orang dewasa atau individu dengan imunokompromis yang ditandai dengan ruam yang terbatas penyebarannya pada kulit yang dipersarafi oleh ganglion sensorik tunggal. sementara zoster adalah respon sebagian imunitas inang terhadap reaktivasi varisela yang terdapat dalam bentuk laten dalam ganglion sensorik. Epidemiologi Varicella terdapat diseluruh dunia dan tidak ada perbedaan ras maupun jenis kelamin. B. D. C. umumnya terjadi pada anak-anak dibawah usia 6 tahun sebanyak 81. yang merupakan herpes virus. Lesinya sama dengan yang ada pada varisela. dan organ lainnnya. Kedua penyakit disebabkan oleh virus yang sama. ditandai dengan erupsi vesikuler pada kulit yang merata juga pada membrane mukosa. Virus akan bereplikasi di hati. varicella sering terjadi pada anak-anak dibawah usia 10 tahun dan 5% kasus terjadi pada usia lebih dari 15 tahun dan di Jepang. Penyebaran virus kedua melalui darah akan berakhir di kulit . Infeksi paling awal terjadi pada konjungtiva atau mukosa saluran pernafasan bagian atas . Di Amerika. Pada apus Tzanck didapatkan sel Datia dengan 2-15 nuklei.4 %. Varisela merupakan penyakit akut yang mengikuti kontak primer dengan virus. limpa. Penyakit ini bisa berat pada orang dewasa dan anak-anak dengan imunokompromis.6 tahun dan hanya sekitar 2% terjadi pada orang dewasa. Virus ini termasuk dalam famili Herpesvirus.Varicella (cacar air) adalah penyakit yang ringan. Varicella terutama mengenai anak-anak yang berusia dibawah 20 tahun terutama usia 3 . Penyebaran dapat melalui sekresi lendir pernafasan ke saluran nafas. yang merupakan kelompok dari virus DNA untai ganda yang berukuran medium ( diameter 100-200 nm). sangat mudah menular. Virus bereplikasi di kelenjar getah bening selama 2–4 hari dan disertai dengan penyebaran virus melalui darah setelah 4–6 hari inokulasi. ETIOLOGI Varicella Zoster (Cacar Air) disebabkan oleh virus Varicella Zoster.

Walaupun imunitas akan terbentuk setelah infeksi ini. Masa inkubasi berlangsung 14-21 hari. Virus beredar dalam darah. Penyakit ini biasanya disertai rasa gatal. penderita dapat menularkan sejak 1–2 hari sebelum kelainan kulit timbul sampai lesi kulit mengering (5–6 hari dari awal lesi kulit pertama timbul ). menyebar secara sentrifugal ke wajah dan ekstremitas. disusul timbulnya erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel dengan bentuk khas berupa tetesan embun (tear drops). malaise. hati dan paru-paru. dan nyeri kepala. Masa inkubasi virus selama 10–21 hari.setelah 14–16 hari pemaparan virus. Terdapat gejala prodromal berupa demam yang tidak terlalu tinggi. Patogenesis Varisela dapat diidentifikasikan dari kumpulan vesikel-vesikel yang berkembang menjadi papul dan kemudian menjadi koreng (scab/crust). Mula-mula timbul di badan. dan menyebabkan kelainan kulit. Sementara proses ini berlangsung. Beberapa kondisi berat yang mungkin terjadi adalah infeksi di otak. Pada infeksi sekunder kelenjar getah bening regional membesar. Jalan infeksi Varicella adalah melalui mukosa saluran pernapasan atas atau konjungtiva. Virus Varicella Zoster  Pernafasan  Bereplikasi (di kelenjar getah bening. mulut. timbul vesikel baru sehingga timbul gambaran polimorfi. dan akhirnya . dan saluran nafas atas. dari beberapa laporan ditemukan adanya infeksi kembali dari virus yang sama. mengalami banyak siklus replikasi. serta dapat menyerang selaput lendir mata (konjungtiva). hati dll)  Aliran Darah  Kulit E. limpa.

Belum jelas apa yang menjadi pemicu reaktivasi infeksi virus varicella zoster laten pada ganglion. penderita akan merasa sedikit demam. Pembengkakan sel epitel. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal sehingga dapat tergaruk tak sengaja. cepat merasa lelah. Jika lenting ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap . Virus pindah dari saraf ke kulit dan menimbulkan bentuk vesikel. gejala awalnya berupa sakit kepala demam sedang dan rasa tidak enak badan. gejala tersebut biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih musa. dan terkumpulnya cairan jaringan menghasilkan bentuk vesikel. sakit kepala dan pusing. Replikasi dan penyebaran virus varicella zoster dibatasi oleh respon imun seluler dan humoral inang. pilek. dan menyebabkan peradangan dan rasa nyeri yang hebat. Reaktivasi bersifat sporadis dan jarang berulang. Diyakini bahwa imunitas yang menurun memungkinkan replikasi virus yang terjadi di ganglion. distribusi lesi kulit berkaitan erat dengan daerah persarafan dari radiks dorsal individu. degenerasi balon. Imunitas yang diperantarai sel bisa menjadi pertahanan inang yang terpenting dalam menahan virus varicella zoster. Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis. dan lemah. umum dijumpai adanya giant cell berinti banyak. Pada kasus yang lebih berat. Gejala Klinis Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi pada anak-anak yang berusia diatas 10 tahun. Pada permulaannya. lesu. Lesi fokal kulit dan mukosa dimulai oleh infeksi virus pada sel-sel epitel kapiler. Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Sebagai aturan. Lesi kulit zoster secara histopatologis identik dengan varicella. Badan inklusi eosinofilik ditemukan pada inti sel yang terinfeksi.terlokalosir di kulit. Seringkali hanya satu ganglion yang terkena. F. Juga ada inflamasi akut ganglion dan saraf sensorik. bisa didapatkan nyeri sendi. Lesi varisela yang bisa berkembang di organ lain pada penyakit neonatal dengan infeksi virus varicella zoster yang disertai komplikasi pada orang dewasa adalah sama. Paruparu biasanya terjangkit paling parah. Interferon bisa juga terlibat. Beberapa hari kemudian timbulah kemerahan pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di anggota gerak dan wajah.

Erupsi biasanya unilateral. gerombolan vesikel tampak diatas kulit yang disuplai oleh saraf yang terjangkit. kepala. Gejala dan Tanda a. penyakit ini biasanya dimulai dengan nyeri hebat pada daerah kulit atau mukosa yang disuplai oleh satu atau lebih kelompok saraf dan ganglion sensorik. saluran pernapasan bagian atas. kesemutan. Bercak ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi. Kondisi ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. yang sering menyebabkan gangguan menelan. Pada zoster. Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening dileher bagian samping. level interveron vesikel memuncak di awal selama infeksi (pada hari ke 6). Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsung terus-menerus atau sebagai serangan yang hilang timbul. Papula pada pita suara dan saluran pernapasan atas kadang menyebabkan gangguan pada pernapasan.(hiperpigmentasi). infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal. panas. Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Gejala Prodromal • Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodromal yang dapat berlangsung selama 14 hari berupa nyeri pada daerah dermatom yang akan timbul lesi. Ulkus juga dapat ditemukan di kelopak mata. Puncak level interveron diikuti oleh perbaikan klinis dalam 48 jam. dan leher adalah yang paling sering terjangkit. nyeri tekan. Lain halnya jika lenting cacar air tersebut dipecahkan. Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau dewasa muda. . Dalam beberapa hari setelah onset. rectum dan vagina. hiperestesi sampai rasa ditusuk-tusuk. Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut. badan. Pada pasien dengan zoster yang terlokalisir dan tidak ada penyakit yang mendasari. Tetapi pada orang dewasa maupun penderita gangguan sistem kekebalan. Keluhan bervariasi dari rasa gatal. Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh staphylococcus. setelah mengering bekas cacar air tadi akan menghilangkan bekas yang dalam. kalaupun ada hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata. pedih. Krusta akan segera terbentuk lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. bekas cacar air akan lebih sulit menghilang.

Bila mengenai anak cabang nasosiliaris (adanya vesikel pada puncak hidung yang dikenal sebagai tanda Hutchinson). yang tersering di daerah ganglion torakalis. kemudian terbentuk papul-papul dan dalam waktu 12-24 jam lesi berkembang menjadi vesikel. Erupsi dapat terjadi di seluruh bagian tubuh. • • Lesi baru dapat terus muncul sampai hari keempat dan kadang-kadang sampai hari ketujuh. . gangguan pengecap 2/3 bagian depan lidah. yang biasanya akan menghilang setelah erupsi kulit timbul. Krusta dapat bertahan sampai 2-3 minggu kemudian mengelupas. kemudian ini disebut zoster sine herpete Herpes zoster abortif . Erupsi kulit • Erupsi kulit hampir selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik. Pada saat ini biasanya nyeri segmental juga menghilang. sefalgia. • Sindrom Ramsay-Hunt : HZ di liang telinga luar atau membrana timpani. rangsang meningeal dan nausea. Erupsi kulit sebatas mata sampai verteks. Pada hari ketiga berubah menjadi pustul yang akan mengering menjadi krusta dalam 7. • Lesi dimulai dengan makula eritroskuamosa. disertai paresis. Kadang-kadang terjadi limfadenopati regional. bila perjalanan penyakit berlangsung singkat dan kelainan kulit hanya berupa vesikel dan eritema. • Herpes zoster aberans : HZ disertai vesikel < 10 buah yang melalui garis tengah.• Gejala konstitusi juga merupakan gejala prodromal berupa malaise. Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan makula hiperpigmentasi dan jaringan parut (pitted scar) Variasi Klinis • • • Pada beberapa kasus nyeri segmental tidak diikuti erupsi kulit. maka akan timbul kelainan mata. Herpes zoster oftalmikus : HZ yang menyerang cabang pertama nervus trigeminus. gangguan lakrimasi. Kelainan tersebut sebagai akibat virus menyerang nervus fasialis dan nervus auditorius. tinnitus. b. tetapi tidak melalui garis tengah dahi. vertigo dan tuli.10 hari.

Lihat dengan mikroskop Hasil pemeriksaan : Herpes zostersel datia dengan inti akantolisis Vesikubulosasel Tzank 2. Oleskan pada kaca objek lalu fiksasi c. Pemeriksaan Penunjang 1. IAHA. skraping kornea. 4. Warnai dengan giemsa d. sehingga terlihat antigen virus intrasel. Isolasi virus dapat dilakukan dengan menggunakan fibroblast pada embrio manusia. Tzank smear Tujuan : melihat multinucleated giant cell untuk virus dan vesikobulosa Cara pemeriksaan : a. Kultur virus dari apusan dasar vesikel. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel. FAMA. spesimen biopsi. Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan darah tidak memberikan gambaran yang spesifik. dan ELISA.G. Histopatologis Histopatologi lesi kulit varisela zoster sama sel epidermis (pada lapisan germinal dan bagian dalam stratum spinosum) menunjukkan ballooning degeneration dengan hilangnya intercellular bridges (akantholisis) yang nantinya akan dipisahkan oleh edema interselular. Antibodi terhadap varicella dapat dideteksi dengan pemeriksaan Complemen Fixation Test. kadang-kadang ada darah. Untuk pemeriksaan varicella bahan diambil dari dasar vesikel dengan cara kerokan atau apusan dan dicat dengan Giemsa dan Hematoksilin Eosin. maka akan terlihat sel-sel raksasa (giant cell) yang mempunyai inti banyak dan epitel sel berisi Acidophilic Inclusion Bodies atau dapat juga dilakukan pengecatan dengan pewarnaan imunofluoresen. Bahan pemeriksaan diambil dari dasar vesikel dengan cara dikerok b. Neurailization Test. Pemerikasaan antigen dan antibodi . H. 3.

. Pengobatan 1. 2. Khusus Topikal : kompres. Menjauhi anak-anak kecil dan dewasa yang belum pernah mendapat cacar air maupun orang-orang yang lagi sakit berat. Pengkajian Data subjektif : pasien merasa lemas.Famsiklovir peroral 3 x 500 mg selama 7 hari b. bedak salisil 2% Sistemik : a. Menerangkan kepada penderita mengenai komplikasi penyakit yang dapat terjadi dan penanganan yang dapat dilakukan d.I. selama 7 hari . amiriptilin. Umum a. Menganjurkan penderita untuk menjaga bruntus-bruntus berisi air cairan jernih tidak pecah c. Kortikosteroiduntuk penderita yang beresiko terjadinya post herpetic neuralgia (usia > 50-60 tahun) Dosis awal setara dengan prednison 60 mg/hari kemudian diturunkan selama 3-4 minggu. lotion. tidak nafsu makan dan sakit kepala. perfenazin Asuhan Keperawatan A. tidak enak badan. Postherpetic neuralgia: analgetik.Asiklovir peroral 5 x 800mg (selama 7-10 hari) (dewasa) 4-5 x 200mg anak-anak) Untuk penderita immunocompromised : 5 mg/kg IV setiap 8 jam selama 5-7 hari -Valasiklovir peroral 3 x 1000 mg/hari. Data Objektif : . Menjelaskan kepada penderita tentang penyakit dan pengobatannya b.

Integumen : kulit hangat. Psikologis : menarik diri. B. Intervensi Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dnegan pasien. menurunkan resiko infeksi. C. Tujuan : mencapai penyembuhan luka tepat waktu dan tidak demam. b. b. Diagnosa Keperawatan a. d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit. b.a. Bersihkan jaringan nekrotik / yang lepas (termasuk pecahnya lepuh) . c. pucat. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit. Intervensi 1) Diagnosa 1 a. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit. GI : anoreksia. c. d. selama perawatan kulit. masker dan teknik aseptic. e. Rasional : mencegah masuknya organisme infeksius. Rasional : rambut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan. adanya bintik-bintik kemerahan pda kulit yang berisi cairan jernih. sarung tangan. Cukur atau ikat rambut di sekitar daerah yang terdapat erupsi. Rasional : mencegah kontaminasi silang dari pengunjung. Metabolik : peningkatan suhu tubuh. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake makanan. Gunakan skort. Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela. e. Awasi atau batasi pengunjung bila perlu. Rasional : mencegah kontaminasi silang.

Rasional : meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan. Tujuan : adanya pemahaman kondisi dan kebutuhan pengobatan. b. Intervensi Berikan makanan sedikit tapi sering. Tujuan : mencapai penyembuhan tepat waktu dan adanya regenerasi jaringan. Awasi tanda vital Rasional : Indikator terjadinya infeksi.Rasional : meningkatkan penyembuhan. b. Rasional : mengetahui keadaan integritas kulit. Tujuan : terpenuhinya kebutuhan nitrisi sesuai dengan kebutuhan. Rasional : membantu mencegah distensi gaster/ ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan. b. Intervensi Bantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini. Rasional : memanfaatkan kemampuan dapat menutupi kekurangan. Pastikan makanan yang disukai/tidak disukai. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat. Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan. Intervensi . Intervensi Pertahankan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka. 4) Diagnosa 4 a. Rasional : memfasilitasi dengan memanfaatkan keletihan. Berikan perawatan kulit Rasional : menghindari gangguan integritas kulit. Tujuan : pasien dapat menerima keadaan tubuhnya. 3) Diagnosa 3 a. 2) Diagnosa 2 a. b. 5) Diagnosa 5 a.

IV. Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien. dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.- Diskusikan perawatan erupsi pada kulit. f. Menggunakan skort. 5) Diagnosa 5 a.masker. Memberikan makanan sedikit tapi sering. Memperhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka. Definisi .yang lepas (termasuk pecahnya lepuh). b. 4) Diagnosa 4 a. Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri dan menngkatkan kemandirian. e. b. Membantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini. 3) Diagnosa 3 a. Mengeksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan. Mendiskusikan perawatan erupsi pada kulit. b. Evaluasi Evaluasi disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam intervensi. Mengawasi tanda vital. Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai . Implementasi 1) Diagnosa 1 a. Membersihkan jaringan mefrotik. c. Pediculosis Kapitis (parasit) a. D. Memberikan perawatan kulit. Mencukur atau mengikat rambut disekitar daerah yang terdapat erupsi. sarung tangan dan teknik aseptik selama perawatan luka. Mengawasi atau membatasi pengunjung bila perlu. d. b. 2) Diagnosa 2 a. E.

nimfa harus memperoleh makanan berupa darah. ordo Phthiraptera.Infeksi kulit atau rambut pada manusia yang disebabkan parasit obligat pediculus humanis (Arif Mansjoer. Kutu betina dibedakan dengan kutu jantan berdasarkan ukuran tubuh yang lebih besar dan adanya penonjolan daerah posterior yang membentuk huruf V yang digunakan untuk menjepit sekeliling batang rambut ketika bertelur. b. Telur berbentuk oval dan umumnya berwarna putih atau kuning. yang berarti makin ke ujung makin terdapat telur yang lebih matang. Insidens tertinggi pada usia sekitar 3 – 12 tahun. di atas 23 cm/menit. Siklus hidup Pediculus humanus capitis melalui stadium telur. Penularan penyakit ini lebih sering melalui kontak kepala dengan kepala. Satu kutu kepala betina dapat hidup selama 16 hari dan menghasilkan 50 – 150 telur. Telur yang menetas akan menjadi nimfa. larva.13 Telur diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut. memipih di bagian dorsoventral dan memanjang. 2002). Kutu dapat mati dalam 1 – 2 hari setelah jatuh dari rambut. Etiologi Penyakit pedikulosis kapitis disebabkan oleh parasit subspecies Pediculus humanus var. Kutu dewasa dapat bertahan hidup sekitar 30 hari di kepala manusia. Pedikulosis kapitis lebih sering timbul pada wanita dibandingkan pria. Epidemiologi Penyakit pedikulosis kapitis dapat ditemukan di seluruh dunia pada semua usia terutama pada anak-anak dan dewasa muda. subordo Anoplura. namun . namun dalam ukuran kecil. Untuk hidup. Bentuknya menyerupai kutu dewasa. tidak bersayap. Telur kutu membutuhkan 8 – 9 hari untuk menetas. Kutu jantan memiliki pita berwarna coklat gelap yang terbentang di punggungnya. nimfa dan dewasa. Kutu kepala dapat merayap dengan cepat. c. Nimfa akan menjadi dewasa 9 – 12 hari sesudah menetas. capitis. Pediculus humanus capitis berbentuk seperti biji wijen dengan panjang sekitar 1 – 2 mm. Kutu kepala terdiri atas kutu jantan dan betina. Parasit ini termasuk dalam golongan filum Arthropoda. kelas Insecta. family Pediculidae dan species Pediculus humanus. Parasit ini memiliki 3 pasang kaki yang disesuaikan sebagai pengepit rambut dan mulut pengisap kecil di bagian anterior yang menjadi bagian untuk mendapatkan darah.

dan asesoris rambut yang dipakai secara bergantian. bantal. Kutu dan telur tersebut dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan mikroskop. abses.dapat juga melalui benda-benda seperti sisir. akibat garukan pada kulit kepala akan terjadi erosi dan ekskoriasi. Gejala klinis Gejala awal yang dominan adalah rasa gatal pada kulit kepala.  Pemeriksaan dengan lampu wood pada daerah yang terinfestasi memperlihatkan fluoresensi kuning-hijau dari kutu dan telur. Adanya infeksi sekunder yang berat menyebabkan terbentuknya pustul. yang tebalnya 1-4 mm. Rasa gatal dimulai dari yang ringan sampai rasa gatal yang tidak dapat ditoleransi. dengan menemukan kutu atau telur berwarna abu-abu berkilat. g. topi. Dengan pemeriksaan mikroskop dapat terlihat kutu dewasa dengan 6 kaki. berwarna abu-abu berkilat sampai merah jika menghisap darah. Lesi papul yang gatal biasanya terdapat pada daerah belakang telinga dan bagian tengkuk leher. Laboratorium Penunjang Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis :  Pemeriksaan mikroskop dapat mengkonfirmasi diagnosis. d. Pemeriksaan histology : Pemeriksaan histologi jarang dilakukan untuk menegakkan diagnosis. f. Diagnosis Keperawatan Diagnosis kep. misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang panjang pada wanita. Proses Keperawatan Proses keperawatan menurut teori terdiri dari : Pengkajian : . pada pedikulosis kapitis dapat ditegakkan melalui inspeksi pada kulit kepala dan rambut. e. tidak bersayap. Higienitas yang buruk juga dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit ini. Hasil dari biopsi memperlihatkan perdarahan intradermal dan infiltrat yang dalam berbentuk baji dengan banyak eosinofil dan limfosit.

 pengobatan. penyebab. pubis. Timbul nya rasa gatal terutama pada daerah oksiput dan temporal .  b. eksroasi dan infeksi dan infeksi sekunder (pus krusta)  Rambut kepala terlihat bergumpal karena banyaknya pus dan krusta  Terdapat titik perdarahan di kulit  Terdapat berkas garukan pada badan  Pada kasus yang menahun kulit menjadi tebal. Gangguan rasa nyaman (gatal) berhubungan dengan infeksi kutu.  Terdapat erosi. h. Gangguan body image berhubungan dengan adanya penyakit  (pedikulosis). kering dan bersisik dengan daerah yang berpigmen serta berwarna gelap. Diagnosa Keperawatan  a.  d. dan pencegahan.  c. . i. Diagnose 1  Tujuan : pasien dapat merasakan kenyamanan (rasa gatal berkurang). Kurang pengetahuan berhubungan dengan penyakit.  Intervensi :  · Kaji kondisi kulit kepala.  Adanya bercak-bercak macula serulae pada daerah pubis dan sekitarnya. badan. Intervensi keperawatan  a. Perubahan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan risiko  penularan. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terjadinya  infeksi berat pada kulit.  e.

badan.tempat  tidur dan sisir. Diagnose 2  Tujuan : pasien dapat menerima perubahan yang ada pada dirinya  Intervensi :  1. beri penjelasan bahwa penyakitnya dapat disembuhkan  3. kolaborasi medis untuk mencegah infeksi berlanjut . · Anjurkan agar kulit pasien tetap kering. anjurkan pasien untuk menggunakan sabun antiseptic  5.  · Anjurkan untuk membersihkan kepala atau rambut minimal  2xseminggu  · Anjurkan untuk tidak menggaruk daerah yang gatal tetapi diusap  · Kolaborasi medis untuk pemberian obat untuk mengatasi gatal. alat mandi. dan pubis  4. berikan motivasi tentang percaya diri dan mencegah isolasi social Diagnose 3  Tujuan : pasien terhindar dari kerusakan kulit  Intervensi :  1.  · Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan pakaian. anjurkan untuk menjaga kulit agar tetap bersih  3. anjurkan untuk tidak menggaruk daerah yang gatal untuk mencegah terjadinya luka  4. Beri motivasi untuk menerima keadaan dirinya  2. Lakukan pengkajian kondisi kulit secara rutin  2. jelaskan pentingnya perawatan kulit termasuk kepala.

V. permadani.. Ajarkan pada pasien. Beritahu pada semua anggota keluarga yang berhubungan dengan dengan pasien untuk diobati. Anjurkan pada keluarga untuk tidak menggunakan sisir pasien. Ajarkan pada pasien agar sisir dan sikat rambut harus di desinfeksi dengan shampo. 3. Ajarkan pada pasien semua barang. 4. handuk. Diagnose 4 dan 5 Tujuan : pasien dapat memelihara kesehatan dengan mencegah penularan Intervensi : 1. keluarga bahwa perabot. perangkat tempat tidur yang mengandung kutu atau telurnya harus dicuci dengan air panas sedikitnya suhu 54 C atau dicuci kering (dry cleaning) untuk mencegah infestasi ulang. 2. 5. dan karpet yang berbulu harus sering dibersihkan dengan vacuum cleaner. .

tergantung dari penyebab dari infeksi yang mengakibatkannya. maka dapat disimpulkan bahwa Infeksi dapat disebabkan oleh berbagai macam organisme: virus. fungi (jamur). Adapun tanda dan gejala yang diakibatkan infeksi tersebut berbeda-beda. B. dan parsit. fungi dan parasit.BAB III. . SARAN Disarankan bagi pembaca agar dapat lebih menjaga kesehatan diri diantaranya dengan menjaga personal hygiene agar dapat terhindar dari penyakit yang diakibatkan oleh virus. PENUTUP A. bakteri. bakteri. KESIMPULAN Dari pembahasan diatas.

blogspot.detik.com/read/2010/06/22/075552/1383337/763/parasit-yangberkembang-biak-di-kulit .htm http://health.DAFTAR PUSTAKA http://muel-muel.com/2012/02/selulitis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful