P. 1
Ekonomi Lingkungan Metode Analitis Hijau

Ekonomi Lingkungan Metode Analitis Hijau

|Views: 788|Likes:

More info:

Published by: Andistya Oktaning Listra on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2013

pdf

text

original

MAKALAH EKONOMI LINGKUNGAN KELAS AA

“Metode Analitis Ekonomi Hijau”
(Dikutip dari buku “The Green Architecture Economy”)

Kelompok 3: ANDISTYA OKTANING .L NIM. 0910210022

MATELDA FABRIANA NIM. 0910213096

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS JURUSAN ILMU EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

DAFTAR ISI I. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 1.3 Tujuan ........................................................................................ II. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Analitis Kelembagaan ................................................................ 2.1.1 Adaptasi dan Efisiensi Alokatif ........................................ 5 13 15 17 22 24 25 26 29 30 32 3 4 4

2.2 Produk Nasional Bersih dan Akuntansi Lingkungan ................... 2.3 Eksternalitas Ekonomi dan Lingkungan ..................................... 2.4 Metode Analisis Manfaat – Biaya ............................................... 2.5 Penilaian Ekonomi dan Diskon Waktu ........................................ 2.6 The Stern Review ...................................................................... 2.6.1 2.6.2 Revisi Analisis Manfaat – Biaya ...................................... Perubahan Iklim Mitigasi ................................................

III. KESIMPULAN .................................................................................. IV. DAFTAR PUSTAKA .........................................................................

2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya alam (SDA) selain dapat dikategorikan dalam bentuk modal alam (natural resources stock), seperti daerah aliran sungai (watershed) danau, kawasan lindung, pesisir dll. Juga dalam bentuk faktor produksi (komoditas) seperti kayu, rotan, air, mineral, ikan dll. Upaya untuk melestarikan dan menjaga keberlanjutan dari kedua kategori SDA tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan daya dukungnya, karena keterbatasan yang dimilikinya untuk menghasilkan komoditas secara berkelanjutan. Selain itu, SDA dapat

dikategorisasi menjadi SDA yang terbarukan (renewable) dan tidak terbarukan (non renewable), sehingga pemanfaatan dan pengelolaan SDA perlu dibedakan perlakuannya sesuai dengan karakteristik, potensi dan kapasitas daya dukungnya. Fenomena kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan hidup yang terus berlangsung di Indonesia sejak tiga dekade terakhir ini tidak saja telah menjadi bencana nasional, tetapi juga diakui menjadi masalah internasional karena kerusakan salah satu komponen SDA khususnya hutan tropis Indonesia sangat mempengaruhi perubahan iklim karena pemanasan global. Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi oleh upaya konservasi yang mengatasnamakan kesejahteraan hidup manusia tampaknya mulai menampilkan dampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.1 Meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan ini mendorong negaranegara di dunia untuk memikirkan upaya pengimbangan laju ekonomi dengan upaya konservasi lingkungan alam dan melahirkan paradigma ekonomi yang memasukkan aspek lingkungan ke dalamnya, atau yang lebih dikenal sebagai ekonomi hijau. Kebanyakan negara dan pemangku kepentingan meyakini bahwa ekonomi hijau adalah solusi bagi permasalahan ini serta dapat membawa kehidupan dan peradaban global menjadi lebih baik, berkeadilan, sejahtera, dan berkesinambungan.2

1

2

Melia Famiola, Surna T. Djajadiningrat, dan Yeni Hendriani. “Ekonomi Hijau: Green Economy”. 23 Maret 2012. biobses.com

3

Dalam hal ini, metode analitis hijau berkaitan dengan perbaikan lingkungan dan sumberdaya alam namun diperhitungkan melalui segi ekonomi - politik yaitu biaya transaksi dan kelembagaan baru. Konstituen berbeda dari analisis ekonomi, dengan perbaikan yang sesuai dimanapun cenderung diperlukan, sebagai strategi yang bisa diterapkan dalam desain dan pelaksanaan kebijakan ekonomi hijau. Adapun metode analitis hijau berfokus pada yayasan, dan juga mengarah ke metode yang berguna dan teknik analisis dimana keterbatasan pendekatan konvensional juga dijelaskan di sini.3

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa peran kelembagaan dalam metode analitis ekonomi hijau? 2. Bagaimanakah kaitannya Produk Nasional Bersih dan Akuntansi Lingkungan dalam pengelolaan sumberdaya alam? 3. Apa saja eksternalitas ekonomi dan lingkungan dari penerapan metode analitis ekonomi hijau? 4. Bagaimana penerapan metode analisis biaya manfaat pada metode analitis ekonomi hijau? 5. Bagaimana penilaian ekonomi dan diskon waktu pada metode analitis hijau? 6. Apa peran The Stern review dalam metode analitis ekonomi hijau 1.3 Tujuan 1. Mengetahui peran kelembagaan dalam metode analitis ekonomi hijau 2. Mengetahui kaitan antara Produk Nasional Bersih dan Akuntansi Lingkungan dalam pengelolaan sumberdaya alam 3. Mengetahui eksternalitas ekonomi dan lingkungan dari penerapan metode analitis ekonomi hijau 4. Mengetahui penerapan metode analisis biaya dan manfaat pada metode analitis ekonomi hijau 5. Mengetahui penilaian ekonomi dan diskon waktu pada metode analitis hijau 6. Mengetahui peran The Stern Review dalam metode analitis ekonomi hijau

3

Rao, P.K. 2010. The Architecture Of Green Economic Policies. New York: Springer Heidelberg Dordrecht

4

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Analitis Kelembagaan Kebijakan yang muncul biasanya terkait dengan kelembagaan, beberapa yang menyebabkan perubahan biasanya memiliki fitur evolusi endogen. Pengaruh eksogen mempengaruhi lembaga atau instansi di berbagai tingkat dalam kaitannya dengan latar belakang sejarah, budaya dan fitur administratif (termasuk aturan peran hukum dan penegakan hukum), dan faktor lainnya. Merancang kebijakan ekonomi hijau (PMP) pada dasarnya didirikan untuk mengatasi masalah kelembagaan, pembangunan berkelanjutan (SD) yang inklusif, dan pemerintahan yang efisien. Ekonomi neoklasik atau arus utama biasanya tidak memperhitungkan peran lembaga dan biaya transaksi ekonomi (TCE). Kelemahan ini membuatnya tidak lengkap sebagai metodologi untuk mengatasi kebijakan pembangunan ekonomi. Adapun rencana serta keputusan yang berhubungan dengan kualitas lingkungan dan sistem alami di negara yang sedang berkembang dibuat di dalam hubungan kelembagaan yang kompleks yang sama sekali tidak sesuai dengan model proses perencanaan seperti didambakan orang dengan struktur organisasi pemerintahan formal. Suasana kelembagaan suatu negara berkembang tertentu merupakan hasil hubungan berbagai unsur yang penting. Unsur tersebut meliputi:4 1. Berbagai faktor historis yang mencakup munculnya perhatian pada system alami dan kualitas lingkungan 2. Kombinasi serta timbangan relative yang menyangkut tujuan nasional seperti pembangunan ekonomi, pembagian penghasilan yang merata, pembangunan daerah dan pedesaan, swasembada nasional kualitas lingkungan, serta pelestarian produktivitas sistem alami. 3. Taraf pembangunan ekonomi dan sosial negara 4. Sifat tradisi budaya dan nilai masyarakat

4

Maynard M Hufschmidt, David E. James, dkk. 1983. Lingkungan, Sistem Alam, dan Pembangunan (Pedoman Penilaian Ekonomis). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press (hal 18 – 19)

5

5. Sifat sistem social ekonomi, mulai dari ekonomi berdasar komando dengan dominasi pemilikan oleh umum alat – alat produksi, adanya berbagai kombinasi pemilikan serta pengawasan umum – swasta sampai adanya ekonomi yang ditandai banyaknya bada usaha swasta. 6. Sifat system politik dan pemerintah, termasuk di dalamnya pengawasan terpusatkan oleh pemerintah, pengawasan terbagi antar pemerintah dan wakil rakyat melalui parlemen dan system perwakilan rakyat model Amerika Serikat, atau sistem federal dengan kekuasaan terbagi anatar pusat dan tingkat provinsi. 7. Sifat dan pentingnya secara relative hubungan ekonomi internasional seperti adanya kegiatan perusahaan multinasional dan lembaga bantuan dua pihak atau bahupihak, seperti Perwakilan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (US Agency for International development US AID), Bank Dunia, serta bank – bank pembangunan lain, serta lembaga – lembaga khusus PBB. Indonesia adalah bagian dari komunitas global yang memiliki kewajiban untuk mengkonservasi dan mengelola sumber daya alam dan lingkungan hidupnya, selain untuk menjaga keberlanjutan fungsi sumber daya alam bagi generasi sekarang maupun mendatang dan menjaga kelangsungan hidup bangsa, juga untuk menjaga kestabilan iklim dan keberlanjutan lingkungan global, seiring dengan tuntuttan perkembangan manajemen pengelolaan sumber daya alam yang mengedepankan aspek-aspek keadilan, demokrasi, dan berkelanjutan. Dengan demikian kebijakan pengelolaan sumber daya alam perlu memperhatikan dan mengintegrasikan prinsip-prinsip seperti berikut:5 1. Sumber daya alam harus dimanfaatkan dan dikelola untuk tujuan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan 2. Sumber daya alam harus dimanfaatkan dan dialokasikan secara adil dan demokratis di kalangan inter maupun antar generasi dalam kesetaraan gender 3. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam harus mampu menciptakan kohesivitas masyarakat di berbagai lapisan dan kelompok serta mampu melindungi dan mempertahankan eksistensi budaya lokal,
5

6

termasuk system hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat adat/lokal. 4. Pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan dengan pendekatan system untuk mencegah terjadinya praktik-praktik pengelolaan yang bersifat parsial, ego-sektoral atau ego-daerah dan tidak terkoordinasi 5. Kebijakan dan praktik-praktik pengelolaan suber daya alam harus bersifat spesifik lokal dan disesuiakan dengan kondisi ekosistem dan masyarakat setempat. Terkait analisis kelembagaan, karakteristik perundang-undangan yang berkaitan dengan sumberdaya alam dan lingkungan sangatlah diperlukan dalam perbaikan pengelolaan sumberdaya alam. Undang –undang tersebut berorientasi pada eksploitasi (use-oriented) sehingga mengabaikan kepentingan konservasi dan keberlanjutan fungsi sumberdaya alam, karena semata-mata digunakan sebagai perangkat hukum (legal instrument) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (law as a tool for economic growth development) melalui peningkatan pendapatan dan devisa negara. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria; (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Pertambangan; (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan; (4) Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan; dan (5) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; pada dasarnya memiliki karakteristik dan kelemahan substansial berikut ini :6 1. Orientasi pengelolaan sumber daya alam lebih berpihak pada pemodal besar (capital oriented), sehingga mengabaikan kepentingan dan akses atas sumber daya alam serta mematikan potensi-potensi perekonomian masyarakat local disebabkan oleh 2. Ideologi penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam berpusat pada Negara (state-based resource control and management) sehingga pengelolaan sumber daya alam bercorak sentralistik. 3. Implementasi pengelolaan yang dilakukan pemerintah bersifat sektoral, sehingga sumber daya alam tidak dilihat sebagai system ekologi yang terintegrasi (ecosystem). Implikasinya, bangunan kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya alam menjadi tidak terintegrasi dan tidak
6

7

berkoordinasi antara sektor yang satu dengan sektor yang lain, sehingga setiap sektor cenderung berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan visi sektornya masing-masing. 4. Undang-undang tersebut tidak mengatur secara proporsional mengenai perlindungan hak-hak asasi manusia (HAM) dalam penguasaan, pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam. Dalam perkembangan selanjutnya, setelah pemerintah menyadari adanya kelemahan-kelemahan substansial tersebut, maka dilakukan upaya-upaya untuk membuat undang-undang dan atau meratifikasi konvensi PBB yang berkaitan dengan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lebih bercorak responsif. Hal ini dapat diindikasikan dari diberlakukannya undang-undang seperti berikut:7 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya alam Hayati dan Ekosistemnya; 2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang 3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati, dan 4. Undang-undang Lingkungan Hidup Walaupun demikian, jika dicermati dari substansi perundang-undangan tersebut diatas, maka masih ditemukan adanya kelemahan-kelemahan substansial terutama dalam pengaturan mengenai hal-hal berikut:8 1. Pemerintah masih mendominasi penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam (state-dominated resource management). 2. Keterpaduan dan koordinasi antar sektor dalam pengelolaan sumber daya alam (integrated resource management) masih lemah. 3. Hak-hak masyarakat adat atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam (indigenous property rights) belum diakui secara utuh. 4. Partisipasi masyarakat (public participation) dalam pengelolaan sumber daya alam masih terbatas. 5. Transparansi dan Demokratisasi dalam proses pengambilan keputusan (transparency and democralization in the process of decision making) belum diatur secara utuh
7

Nomor

23

Tahun

1997

tentang

Pengelolaan

8

8

6. Akuntabilitas Pemerintah kepada public dalam pengelolaan sumber daya alam (public accountability) belum diatur secara tegas. Dari perspektif hukum dan kebijakan, uraian pada bagian-bagian terdahulu secara nyata memperlihatkan bahwa karakteristik dari perundangundangan yang berkaitan dengan pengelolaan SDA yang berlaku sampai saat ini cenderung bernuansa sentralistik, sektoral, eksploitatif, represif dan

mengedepankan pendekatan sekuriti. Dengan demikian, dalam rangka mengakhiri praktik-praktik pemanfaatan dan pengelolaan SDA yang bercorak eksploitatis, sentralistik, sektoral, dan represif serta dalam rangka mewujudkan tata pengaturan pengelolaan lingkungan hidup yang baik (good environment governance), maka pemerintah perlu segera membentuk undang-undang pengelolaan SDA yang adil, demokratis dan berkelanjutan dengan memuat prinsip-prinsip: 1. Berorientasi pada konservasi SDA (natural resources-oriented) untuk menjamin kelestarian dan keberlanjutan SDA. 2. Menggunakan pendekatan yang bercorak komprehensif dan terintegrasi (komprehensif-integral) dalam pengelolaan SDA. 3. Mengatur mekanisme koodinasi dan keterpadu antar sektor dalam pengelolaan SDA. 4. Menggunakan paradigm pengelolaan SDA yang berbasis masyarakat (community-based resourced management). 5. Menyediakan ruang bagi transparansi dan partisipasi publik yang sejati (genuine public participation) sebagi wujud demokratisasi dalam pengelolaan SDA. 6. Memberi ruang bagi pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia (HAM), terutama akses dan hak-hak masyarakat adat/lokal atas penguasaan dan pemanfaatan SDA. 7. Menyerahkan wewenang pengelolaan SDA kepada daerah

berlandaskan prinsip desentralisasi yang demokratis. 8. Mengatur mekanisme pengawasan publik dan akuntabilitas public (public accountability) dalam pengelolaan SDA. 9. Mengakui dan mengakomodasi kemajemukan hukum (legal pluralism) yang tumbuh dan berkembang dalam komunitas-komunitas masyarakat adat/lokal dalam penguasaan dan pemanfaatan SDA. 9

Penerapan praktis teknik untuk analisis dan penilaian sistem alami dan kualitas lingkungan tentu saja harus dilakukan di dalam situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi. Terkait hal ini, persoalan kualitas lingkungan dan sistem alami timbul dalam berbagai masalah perencanaan dan pengambilan keputusan di negara yang sedang berkembang baik pada sector umum maupun swasta. Walaupun tidak ada hal yang khusus, tetapi masalah yang dihadapi dapat dikelompok kedalam dua matra: (1) aras perencanaan dan pengambilan keputusan serta (2) sifat proses pengambilan keputusan. Secara teoritis, analisis dan penilaian sistem alami serta kualitas lingkungan haruslah menjadi bagian terpadu proses perencanaan dan pengambilan keputusan di segala aras perencanaan. Dalam praktek, kedua – duanya sering tidak ada atau hanya muncul sebagai gagasan saja setelah dirumuskannya rencana dan proyek serta diambilnya keputusan – keputusan.9 Aras Perencanaan Di dalam negara berkembang terdapat paling sedikit empat aras perencanaan dan pengambilan keputusan yang berbeda. Perlu disadari bahwa ada hubungan timbale balik antara berbagai aras yang ada. Aras Proyek. Aras yang paling bawah adalah proyek. Suatu proyek adalah kombinasi kegiatan yang relative berdiri sendiri terdiri dari sejumlah fasilitas fisik, usaha pengelolaan, serta perangsang pelaksanaan tugas yang diciptakan untuk mencapai satu atau lebih tujuan. Misalnya saja (1) pembangunan dan operasi waduk untuk irigasi, energi listrik, serta pengurangan kerusakan akibat banjir; (2) rancangan pengelolaan hutan untuk lahan tertentu agar diperoleh hasil hutan; (3) pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil; dan (4) pusat pengelolaan limbah buangan air untuk meningkatkan kualitas air daerah perkotaan dan daerah yang berdekatan dengan kota. Aras Kawasan. Pada aras kawasan, perencanaan meliputi analisis yang mengarah pada keputusan atas sejumlah proyek yang saling berhubungan yang kemudian menjadi suatu rencana serta berdasar pada program yang digabung untuk melaksanakan proyek – proyek selama beberapa tahun. Contohnya (1) acara pengelolaan hutan untuk kawasan tertentu meliputi sejumlah proyek yang saling
9

Ibid₃ (hal 20 – 25)

10

berhubungan seperti penghutanan kembali, pemungutan hasil hutan, pencegahan kebakaran hutan, serta pengelolaan jalan masuk ke hutan, dikaitkan dengan waktun serta tata ruang agar dapat mengasilkan barang dan jas untuk waktu tertentu; (2) program pembangunan daerah aliran sungai terdiri dari sejumlah proyek pengelolaan air, seperti bendungan, saluran air, pembangkit tenaga listrik, pengairan, pengelolaan satwa liar, serta usaha pengurangan kikisan untuk berbagai maksud seperti pengembangan pertanian, produksi energy, pengurangan kerusakan akibat banjir, serta pengelolaan ikan serta satwa liar; dan (3) program pembangunan serta pembangunan kembali kawasan dalam arti luas yang mungkin meliputi pembangunan kota, industrialisasi, dan pariwisata. Aras Sektoral. Aras sektoral secara khas meliputi rencna dan program pengelolaan sasaran departemen pada aras nasional atau provinsi. Rencana sektoral dan acara yang berkaitan dengannya biasanya terdiri dari serangkaian proyek yang terpisah dan disebar secara geografik di seluruh negeri atau provinsi serta dijadwal untuk dilaksanakan selama beberapa tahun. Misalnya saja (1) sector angkutan jalan nasional bebas hambatan dimana bagian – bagian tertentu jalan bebas hambatan diikutsertakan dalam proyek terpisah; (2) sector pengelolaan hutan nasional atau provinsi dengan kebijaksanaan, rencana serta program tentang kehutanan menyeluruh yang terdiri dari proyek pengelolaan hutan umum yang terpisah tetapi bersama dengan adanya peraturan umum, perangsang serta kebijaksanaan lain yang mempengaruhi hutan swasta; serta (3) sector energy nasional yang meliputi rencana, program, dan kebijaksanaan produksi serta pemanfaatan energy yang meliputi sejumlah proyek terpisah menyangkut sumberdaya energi dari minyak, gas alam, batu bara, nuklir, bahan bakar hayati, dan surya. Aras Rencana dan Program Keseluruhan. Aras rencana dan program keseluruhan yang biasanya wewenang organisasi Pemerintah Pusat merupakan tempat dimana tujuan - tujuan nasional dirumuskan dan disampaikan pada aras kawasan, sektoral dan proyek. Kegiatan pada aras pusata ini mencakup usaha merangkum dan menyesuaikan rencana serta pengelolaan pada aras sektoral dan kawasan ke dalam rencana seta acara keseluruhan, besrta serangkaian kebijaksanaan yang berhubungan dengan itu. Contoh aras ini adalah (1) rencana pembangunan nasional jangka panjang, beserta serangkaian tujuan yang biasanya disiapkan 11

untuk jangka waktu lima tahun sekaligus dengan pendanaan serta kebijaksanaan yang bertalian dengannya (2) anggaran belanja nasional tahunan, yang bisanya terdiri dari sub – anggaran operasional untuk investasi dan rutin. Sektor Swasta Sektor swasta sering mempunyai peranan yang cukup penting dalam salah satu sil untuk melaksanakana proyek tertentu pembangunan pabrik, rencana penebangan, atau pembalakan penting hasil hutan yang mempunyai dampak cukup besar pada sistem alami dan kualitas lingkungan. Proyek – proyek ini mungkin saja tidak masuk atau bukan merupakan rencana pemerintah untuk membangun sector atau kawasan tertentu dan tidak pula menjadi rencana nasional pemerintah. Proses Perencanaan dan Pengambilan Keputusan Douglass North menyatakan pada tahun 1993 dalam Nobel Prize Lecture (detail pada nobelprize.org):10 Teori Neo-klasik hanyalah alat yang tepat untuk menganalisis dan menentukan kebijakan yang akan mendorong pembangunan. Hal ini berkaitan dengan operasi pasar, tidak dengan cara memusnahkan pasar pada perekonomian berkembang. Bagaimana seseorang bisa meresepkan kebijakan ketika seseorang tidak memahami bagaimana perekonomian berkembang? Metode yang sangat digunakan oleh ekonom neo-klasik dalam bentuk murni yang memberikannya presisi matematis dan keanggunan dimodelkan dengan sebuah dunia tanpa gesekan yang menganalisis kinerja ekonomi statis melalui waktu dimana berisi dua asumsi yang salah: Pertama, bahwa lembaga tidak berperan penting dalam perubahan kebijakan. Kedua, waktu bukanlah kendala utama. Model sederhana proses perencanaan dan pengambilan keputusan yang dicita – citakan orang dapat dilihat dalam gambar 2.1 (Meskipun proses perencanaan yang sebenarnya mungkin tidak akan sama dengan model ini).11

10

Ibid₂ (hal 57 – 58)
11

Ibid₃ (hal 25 – 26)

12

2.1.1 Adaptasi dan Efisiensi Alokatif Adaptasi tetap menjadi faktor kunci dalam ekonomi, lingkungan, dan organisasi pengaturan untuk mencari fitur ketahanan, efisiensi, dan stabilitas. Sempurna fungsi- berfungsinya pasar, misalnya, memiliki fitur penyesuaian simultan, atau adaptasi sebagai respon terhadap sinyal pasar. Demikian pula, organisasi berfungsi secara efisien yang didirikan pada penerapan norma efisiensi adaptif, seperti menanggapi muncul informasi dan perubahan lainnya. 13

Efisiensi alokasi dan efisiensi adaptif adalah dua hal yang berbeda dan tidak kongruen terhadap suatu sistem ekonomi. Sebagian besar pengambilan keputusan dalam kebijakan ekonomi berkaitan dengan "optimalitas" alokasi sumber daya untuk memaksimalkan tujuan yang diinginkan. Peran efisiensi adaptif tetap sangat penting bagi sistem untuk mengatasi perubahan rancangan dari waktu ke waktu dan seluruh faktor yang berbeda dalam interval waktu tertentu. Hal ini berlaku dalam sistem ekonomi dan sistem lingkungan, selain perubahan lembaga internasional. Peran fleksibilitas dari waktu ke waktu perlu diakui untuk memungkinkan perbaikan efisiensi adaptif sebagai informasi baru atau dinamika lain yang muncul. Efisiensi alokasi dan efisiensi adaptif mungkin tidak selalu kompatibel. Hal ini dikarenakan keduanya merujuk pada optimalisasi model formal dari bentuk ekonomi neoklasik, untuk proses memaksimalkan fungsi obyektif seperti utilitas atau laba, dikenai berbagai kendala, dan mencari kombinasi alokasi sumberdaya untuk mencapai tujuan selama jangka waktu tertentu. North (1990, hal 80) tepat menyatakan: "Efisiensi Adaptive berkaitan dengan jenis aturan yang membentuk cara ekonomi berkembang melalui waktu. Hal ini berkaitan dengan kemauan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan belajar, untuk mendorong inovasi, untuk melakukan risiko dan aktivitas kreatif dari segala macam, serta untuk menyelesaikan masalah dan kemacetan masyarakat melalui waktu ". Pada tahun 1993 Nobel Kuliah, North menyimpulkan: Efisiensi adaptif merupakan kunci untuk pertumbuhan jangka panjang daripada efisiensi alokatif. Suksesnya sistem politik/ ekonomi telah berevolusi pada struktur kelembagaan yang fleksibel yang dapat bertahan guncangan dan perubahan yang merupakan bagian dari evolusi yang sukses. Namun, jika berfokus hanya pada efisiensi adaptif, beberapa kompromi untuk pertumbuhan jangka pendek tidak dapat dihindari dari efisiensi alokatif. Sebuah keseimbangan dari kedua jenis efisiensi berdasarkan kebutuhan untuk metodologi formal dalam mengatasi beberapa aspek dimana lingkungan dan kelembagaan harus dirancang agar berorientasi ke arah fleksibilitas untuk menerapkan implikasi dari efisiensi adaptif, tanpa 14

mengabaikan efisiensi alokatif. Hal ini dilakukan untuk melacak faktor efisiensi ekonomi, lingkungan, dan perbaikan mekanisme akuntansi sosial yang diperlukan yang beberapa di antaranya memerlukan modifikasi dari akuntansi konvensional pada pendapatan nasional serta penilaian produk domestik bruto (PDB).12 2.2 Produk Nasional Bersih dan Akuntansi Lingkungan Laporan terbaru oleh Komisi tentang Pengukuran Ekonomi Kinerja dan Kemajuan Sosial (Komisi Stiglitz, 2009) berpendapat: PDB ekonomi hijau menyesuaikan PDB konvensional untuk penipisan atau kerusakan lingkungan dan sumberdaya. Hal ini merupakan salah satu aspek keberlanjutan, dimana membutuhkan penilaian seberapa jauh target keberlanjutan yang telah terealisasi. Indikator yang relevan untuk tujuan ini meliputi:13 a) Penghematan bersih disesuaikan (ANS), yang didefinisikan sebagai perubahan total kekayaan (sumber daya alam,fisik dan modal sumber daya produktif, dan modal manusia), meskipun hal ini juga bisa menyebabkan hilang keberlanjutan sifat global; b) Ekologi Footprints, yaitu aturan yang membatasi penggunaan sumberdaya dalam pemenuhan kebutuhan umum dimana menyangkut keberlangsungan ekologi, adapun ini menjadi indikator keberlanjutan non-instan di tingkat global; c) Footprints Karbon (PT) aturan mengenai tindakan fisik dan informasi dalam hal penggunaan kapasitas bahan bakar yang berlebihan dimana

bermaksud untuk mengurangi emisi di muka bumi; d) Kebutuhan untuk memprediksi interaksi antara ekonomi dan lingkungan dengan cara yang dapat diandalkan.

Menurut Komite Ahli PBB mengenai Akuntansi Ekonomi Lingkungan (UNCEEA) telah memeriksa masalah yang berkaitan dengan pengaruh utama akuntansi lingkungan dan menerapkan Sistem Akuntansi Ekonomi Lingkungan (SEEA) di negara. Produk Nasional Neto (NNP) yang dihasilkan setiap tahun pada
12

Ibid₂ (hal 58 – 59)
13

Ibid₂ (hal 59)

15

suatu negara, telah membentuk standar ekonomi terhadap kesejahteraan ekonomi dengan mengenali perubahan lingkungan yang terjadi di negara tersebut. Peran penilaian berbasis perdagangan sumberdaya alam di suatu negara merupakan fitur penting untuk menjaga kualitas lingkungan di suatu negara. Berikut adalah perkiraan yang wajar dari NNP (lihat juga Dasgupta & Maler, 1994):

Secara umum, bentuk di atas mengakui generalisasi seperti variasi di setiap komponen lingkungan, dan jika ini adalah non-sepadan, NNP menjadi representasi vektor daripada perkiraan skalar. Produk yang ramah lingkungan yang disesuaikan produk nasional bruto menyediakan langkah keberlanjutan perkembangan ekonomi dan lingkungan jika penerapannya dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun. Unsur-unsur utama penyesuaian adalah dalam hal penyusutan aset dan pemanfaatan jasa ekosistem yang tidak dapat diperbaharui. Penggunaan sumberdaya pemanenan biasanya merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Namun, fitur ini tidak dapat menjamin keberlangsungan sumberdaya alam. Oleh karena itu, criteria dalam hal perbaikan harus dipenuh. Metode akuntansi hijau seperti NNP menggabungkan nilai-nilai lingkungan dari sumberdaya. NNP ekonomi hijau belum tentu indikator yang sempurna dari sebuah kesejahteraan masyarakat, tetapi bisa menjadi statistik berguna jika fiturfiturnya dengan benar ditafsirkan. Dalam hal ini, sistem ekonomi-lingkungan kurang dikelola dapat menyebabkan tingkat kesalahpahaman penilaian sumber daya, baik untuk menilai akuntansi hijau atau tujuan lain. Nilai sumberdaya dapat menjadi rendah jika tidak dikelola (Cairns, 2002). Ketika proyek memiliki efek jangka panjang maka NNP (penilaian saat ini) tidak menawarkan informasi yang cukup untuk mengevaluasi proyek; dalam kasus tersebut, informasi lebih lanjut tentang

16

pembangunan ekonomi masa depan secara "optimal" sangat diperlukan (Vellinga & Withagen, 1996). Dengan bahwa: 14 a) NNP tidak dapat membentuk indikator keberlanjutan ketika peran teknis kemajuan, waktu yang berhubungan dengan ketidakpastian dan tidak diketahui ada (seperti yang nyata yang normal dunia kasus), b) Pengurangan polusi harus ditingkatkan selama utilitas marjinal menurun melampaui polusi disutility marjinal konsumsi terdahulu, dimana diprediksi untuk masa depan. 2.3 Eksternalitas Ekonomi dan Lingkungan Permasalahan tentang lingkungan menurut sebagaian ahli berawal dari adanya permintaan penduduk terhadap barang dan jasa. Untuk memenuhi permintaan penduduk terhadap barang dan jasa tersebut, dilakukanlah kegiatan ekonomi atau proses produksi melalui kegiatan produksi itulah sumberdaya alam dieksploitasi untuk digunakan sebagai salah satu faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.15 Untuk selama 2 dekade yang lalu hubungan antara lingkungan dan produksi barang dan jasa yang terus menerus dan yang diambil dari lingkungan fisik sekitar makin dapat diterima dan dimengerti secara lebih baik.16 Pendekatan ini secara tersurat mengakui adanya alih tukar (trade offs) antara pembangunan dan barang – barang dan jasa – jasa yang disediakan oleh lingkungan. Dalam hal ini keberhasilan kegiatan ekonomi suatu negara biasanya diaplikasikan pada realisasi pembangunan. Harapan akan pembangunan yang berkelanjutan mengantar kita pada pencarian cara yang dapat menilai proyek pembangunan agar hasil proyek langsung maupun dampak lingkungan dapat
14

demikian,

NNP

tidak

dapat

digunakan

sebagai

indikator

keberlanjutan. Selain itu, berdasarkan model optimasi, Rao (2000) membuktikan

Ibid₂ (hal 60 – 61)
15

Sutikno dan Maryunani. 2006. Ekonomi Sumberdaya Alam. Malang: Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang (hal 118)
16

17

dimasukkan

dalam

proses

penilaian.Adapun

pembangunan

suatu negara

terkadang berubah konteks dari positif hingga menjadi negatif arena dampak primer dari pembangunan tersebut terus berkembang dari sekunder hingga dampak tersier yang masing – masing bersifat biofisik atau sosial – ekonomi – budaya. Dampak pembangunan terhadap lingkungan ialah perbedaan antara kondisi lingkungan sebelum ada pembangunan dan yang diprakirakan akan setelah ada pembangunan (misalnya Clark, 1978). Dampak lingkungan terhadap pembangunan mempunyai batasan yang serupa. Kedua batasan diatas adalah sama, apabila kondisi lingkungan di tempat pembangunan adalah statis, yaitu tidak berubah dengan waktu. Akan tetapi lingkungan tidak statis, melainkan selalu berubah dengan waktu. Perubahan itu dapat bersifat daur acak ataupun perubahan dengan suatu kecenderungan tertentu. Perubahan yang bersifat daur dapat berjangka pendek, misalnya daur diurnal, yaitu siang dan malam; daur musiaman dari tahun ke tahun, misalnya musim hujan dan musim kering; dan daur musiman berjangka panjang.17

17

Soemarwoto, Otto. 1990. Analisa Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press (hal 44 – 45)

18

Gambar 2.2. Pembangunan mempunyai sasaran untuk menaikkan tingkat kesejahteraan rakyat. Aktivitas pembangunan itu menimbulkan efek yang direncanakan diluar sasaran yaitu dampak yang bersifat biofisik dan social – ekonomi – budaya. Sedikit para ahli ekonomi yang memiliki latar belakang atau pengalaman yang cukup untuk melaksanakan analisis kegiatan dengan baik dan meneliti semua dampak kegiatan pada lingkungan dan penerima oleh karena itu para ahli ekonomi harus percaya pada pengetahuan khusus ahli lainnya, yang biasanya adalah ilmuwan alami dan insinyur untuk informasi ini. Para ekonom (atau perencana) memanfaatkan latihan dan kecakapan yang diperolehnya untuk memformulasikan model yang memungkinkan mewadai berbagai matra dan mengemukakannya dalam suatu rangka dasar yang berguna bagi putusan pendanaan atau kebijaksanaan.18 Uraian dampak tersebut terkait dengan konsep eksternalitas ekonomi dan lingkungan, maka dapat ditarik suatu pemikiran bahwa masalah lingkungan terjadi karena adanya eksternalitas negative dari kegiatan ekonomi. Eksternalitas negative dari kegiatan ekonomi terhadap lingkungan merupakan masalah yang cukup kompleks, karena menyangkut dimensi ruang dan waktu. Eksternalitas tersebut bisa berdampak lokal, wilayah tertentu, daerah, negara, internasional atau bahkan global. Kompleksnya masalah eksternalitas yang berkenaan dengan lingkungan ditambah lagi dengan karakteristik masalah – masalah lingkungan yang spesifik, misalnya adanya masalah lingkungan yang tidak bisa dideteksi dengan jelas sumber dan kontribusinya seperti polusi yang tak jelas tuannya. Oleh karena itu, keberadaan eksternalitas yang menyebabkan keberadaan masalah lingkungan yang kompleks menjadi penting untuk dikaji dengan pendekatan yang integrative dan komprehensif atau holistic antar disiplin ilmu maupun pihak – pihak terkait khususnya pemerintah dan pelaku ekonomi serta partisipasi masyarakat luas.19 Adapun eksternalitas lingkungan terkait peningkatan emisi GRK yang dapat menimbulkan efek rumah kaca dan CC dimana telah banyak

didokumentasikan. Namun sinergi antara isu-isu seperti perubahan iklim dan udara
18

19

Ibid₁₀ (hal 118 – 119)

19

lokal polusi (PAP) kebijakan belum sepenuhnya diselidiki. Misalnya, pengurangan salah satu gas rumah kaca, metana (yang timbul terutama dari sektor pertanian), bisa mengakibatkan penurunan konsentrasi ozon troposfer (yang memiliki peran tersendiri dalampemanasan global) dan efek samping terhadap kesehatan manusia dan hasil panen pertanian. Pengurangan GRK cenderung melebihlebihkan biaya karena Salah satu perkiraan (Bollen, Guay,Jamet, & Corfee-Morlot, 2009) menunjukkan bahwa jika emisi gas rumah kaca dikurangi 50% pada 2050 (dibandingkan dengan tingkat 2005), jumlah kematian prematur yang disebabkan oleh polusi udara dapat dikurangi dengan 20-40% (tergantung daerah) pada tahun 2050 (Bollen dkk., 2009).20 Guna memberikan penanganan yang tepat terhadap eksternalitas dari kegiatan ekonomi terhadap masalah lingkungan, maka lebih baik mengetahui terlebih dahulu bagaimana eksternalitas terjadi terhadap pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen. Dampak lingkungan atau eksternalitas dapat terjadi dari empat interaksi pelaku ekonomi, yaitu terjadi antara (Pearce dan wash, 1991): produsen dengan produsen, produsen dengan konsumen, konsumen dan konsumen, dan konsumen dengan produsen. Pembahasan lebih lanjut mengenai empat interaksi dari pelaku ekonomi di ata adalah sebagai berikut (Yakin, 1991):21 A. Eksternalitas Produsen terhadap Produsen Lain (Effects Producers on Other Producers) Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dmpak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau pergeseran fungsi produksi dari produsen lain. Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian air atau pembersihan air yang dipakai oleh produsen hilir yang menghadapi pencemaran air yang diakibatkan oleh produsen hulu. Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. Dampak kategori di atas bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain sebagi berikut. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp)

menghasilkan limbah residu produksi sisa yang beracun dan masuk ke aliran

20

Ibid₃ (hal 61 – 62)
21

Ibid₁₀ (hal 119 – 121)

20

sungai, danau, atau semacamnya sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para nelayan. Dalam hal ini, kegiatan produksi pulp tersebut berdampak negative terhadap produksi ikan nelayan, dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain. B. Eksternalitas Produsen terhadap Konsumen (Effects Producers on Consumers) Suatu efek dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen, jika aktivitasnya mengubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Dampaknya efek samping yang sangat popular adalah

pencemaran dan polusi. Kategori ini meliputi polusi udara, berkurangnya kapasitas daya tarik karena pertambangan, bahaya radiasi dari stasiun pembangkit, serta polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen atau masyarakat luas. Dalam hal ini, suatu pelaku ekonomi yang menghasilkan limbah ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak lain yang memanfaatkan sumberdaya alam tersebut dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah – daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara. C. Eksternalitas Konsumen terhadap Konsumen Lain (Effects Consumers on Consumers) Dampak konsumen terhadap konsumen yang lainnya terjadi jika aktivitas sesorang atau kelompok konsumen tertentu mempengaruhi atau mengganggu fungsi utilitas konsumen yang lain. Konsumsi seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi dari individu lain. Dampak atau efek dari kegiatan seorang konsumen terhadap konsumen lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga, kebisingan suara radio atau music tetangga, asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya.

21

D. Eksternalitas Konsumen terhadap Produsen (Effects Consumers on Producers) Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi suatu produk si produsen atau kelompok produsen tertentu. Dampak jenis ini, misalnya, terjadi ketika limbah rumah tangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga mengganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air, baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfatkan air bersih. 2.4 Metode Analisis Manfaat – Biaya Analisis manfaat – biaya merupakan penerapan ekonomi kesejahteraan modern yang ditujukan untuk memperbaiki efisiensi ekonomi alokasi sumberdaya. Menurut (Pearce 1978) analisis manfaat – biaya didasarkan pada nilai yang diukur dengan harga yang diinginkan masyarakat. Pertimbangan nilai oleh para penganalisis manfaat – biaya haruslah ditekan seminimum mungkin dan bila memang diperlukan haruslah dikemukakan secata tegas kepada para pengambil keputusan di dalam masyarakat. Setiap proyek, program, atau kebijaksanaan baru yang diusulkan oleh masyarakat akan selalu mengarah pada aspek manfaat dan biaya. Harga pasar berfungsi sebagai indikator nilai dan menjadi pedoman pemanfaatan sumberdaya. Harga pasar optimal serta harga bayangan akan sama.22 Metode konvensional pada analisis manfaat – biaya terbentuk untuk memperbaiki basis awal pada metode tradisional yang tidak mempertimbangkan beberapa kemungkinan yang mengganggu struktur sistem ekonomi dan keseimbangannya. Analisis manfaat – biaya sering dilakukan pada marjin, karena umumnya membutuhkan sistem yang mampu merefleksikan stabilitas dan keseimbangan. Teori ini berusaha untuk memaksimalkan "surplus ekonomi" (potensi manfaat kegiatan usaha jika harus dilakukan) dengan memilih satu set pilihan pada kebijakan (jika ada), dan sering pula dilakukan pemeringkatan proyek alternatif untuk mengetahui kemungkinan surplus ekonomi yang mungkin dapat dihasilkan.

22

Ibid₄ (hal 35 – 36)

22

Menilai

biaya

dan

manfaat

di

margin

dapat

membantu

dalam

membandingkan alternatif proyek fitur yang sebanding (sosial, ekonomi dan lingkungan) tapi besar pertanyaan apakah untuk terlibat dalam proyek ini sama sekali - menentukan apakah bersih benefits mungkin bahkan menjadi positif adalah contoh dari pilihan diskrit (Goodwin, Nelson, Ackerman, & Weisskopf, 2005). Analisis manfaat – biaya memiliki peran penting dalam berbagai aspek pengambilan keputusan. Dalam konteks masalah lingkungan, terutama

manajemen global commons dan terkait kebijakan yang muncul sebagian besar di arena publik, metode memerlukan cukup semakin memperkuat karena faktorfaktor berikut:23 a) Cakrawala waktu. Pilihan cakrawala waktu memegang peranan penting di dalam perhitungan manfaat neto suatu proyek. Cakrawala yang lebih dekat akan dipilih untuk rencana – rencana pengembangan modal dengan lama waktu hidup yang lebih pendek. b) Patokan nilai sekarang neto. Patokan nilai sekarang neto sangat diandalkan sebagai pedoman penentuan efisiensi ekonomi dan dapat dipakai dalam perumusan serta penilaian proyek serta program pengembangan baru serta kebijaksanaan perbaikan lingkungan. c) Tingkat hasil dalam. Tingkat bunga diskonto yang menyamakan nilai sekarang neto setiap alternative dengan nol tersebut dengan tingkat hasil dalam investasi. d) Investasi optimal dengan kendala pendanaan. Dalam situasi tertentu, seperti pendanaan capital merupakan kendala proyek pembangunan sehingga investasi dapat berjalan sampaia pada titik dimana manfaat neto maksimum. Batasan fisik pada produktivitas investasi mennetukan skala proyek optimal serta kebutuhan akan dana

23

Ibid₃ (hal 57 – 62)

23

Tabel 2.1 Klasifikasi Teknik Penilaian Biaya dan Manfaat Untuk Mengukur Dampak terhadap Kualitas Lingkungan
Teknik Penilaian Orientasi Pasar 1. Penilaian manfaat menggunakan harga pasar senyatanya barang dan jasa a) Perubahan dalam nilai hasil produksi b) Hilangnya penghasilan a) Hilangnya nilai hasil produksi karena merembesnya bahan kimia b) Nilai jasa produktif yang hilang karena meningkatnya penyakit dan kematian karena pencemaran udara Contoh Penerapan Barang dan Jasa Produsen Barang dan Jasa Konsumen

2. Penilaian biaya dengan menggunakan harga pasara senyatanya terhadap masukan berupa perlindungan lingkungan: a) Pengeluaran pencegahan b) Biaya penggantian c) Proyek bayangan d) Analisis keefektifan biaya a) Biaya pengamanan lingkungan dalam rancang bangun proyek b) Biaya mengganti bangunan yang rusak karena hujan asam c) Biaya memulihkan ikan yang rusak akibat limbah d) Biaya sarana alternative membuang limbah air dari proyek energi panas bumi a) Biaya meredam kebisingan b) Biaya pengelolaan air masuk c) Biaya tambahan mencat rumah yang rusak akibat pencemaran udara d) Biaya menyediakan fasilitas memancing ikan dan rekreasi yang rusak karena pembangunan proyek

2.5 Penilaian Ekonomi dan Diskon Waktu Waktu yang berhubungan diskon biaya dan manfaat merupakan aspek penting dari analisis manfaat-biaya, karena perbedaan kecil dalam tingkat diskonto dapat membuat dampak penilaian yang signifikan terhadap negosiasi jangka panjang, karena sifat dari diskon yang ditambah. Berdasarkan pemikiran ekonomi 24

dan etika, Goodin (1982) berpendapat bahwa mempertimbangkan kepentingan masa depan jauh lebih berat daripada melalui prosedur diskon biasa. Kesimpulan Goodin pada barang perdagangan adalah: "Fungsi diskon diterapkan pada barang yang diperdagangkan harus bervariasi dengan yang lain dimana kenikmatan masa depan yang diperoleh dari perdagangan harus didiskontokan sesuai dengan berapa banyak barang yang dimiliki”. Adapun perhitungan tingkat dan struktur yang diterapkan pada barang harus sesuai dengan tingkat dan struktur pengembalian investasi pada barang tersebut. 2.6 The Stern Review Nicholas Stern (Stern review, 2006) menyatakan teorinya terhadap perubahan iklim, yaitu:24 1. Manfaat yang kuat, tindakan dini tentang perubahan iklim lebih besar daripada bantuan biaya. 2. Bukti-bukti ilmiah untuk meningkatkan resiko dampak yang serius dan ireversibel dari perubahan iklim yang terkait peningkatan emisi karena adanya peningkatan aktivitas bisnis pada umumnya. 3. Perubahan iklim mengancam elemen dasar hidup orang di seluruh dunia – terutama dalam akses terhadap air, produksi pangan, kesehatan, dan penggunaan lahan dan lingkungan. 4. Dampak perubahan iklim yang tidak merata menyebabkan negaranegara miskin akan menderita paling awal. Saat kerusakan muncul, akan terlambat memperbaiki keadaan maka terpakas aharus dilakukan antisipasi tindakan untuk menjamin kelangsungan ekosistem di masa mendatang. 5. Perubahan iklim awalnya dapat memberikan dampak positif kecil bagi beberapa negara maju, tetapi ke depannya akan berpengaruh negative pada perubahan suhu yang cukup ekstrem. 6. Pemodelan penilaian yang terintegrasi menyediakan alat untuk memperkirakan dampak total pada ekonomi.

24

Wikipedia. “The Stern Review”. 25 Maret 2012. en.wikipedia.org

25

7. Pertumbuhan ekonomi terkait dengan peningkatan jumlah emisi di suatu negara, hal ini juga mempengaruhi stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. 8. Dampak pemanasan global akan menelan biaya sekitar 1 persen dari GDP dunia untuk memangkas peningkatan gas-gas rumah kaca dan mengerem kecenderungan pemanasan global. Tanpa aksi yang sungguh-sungguh sejak sekarang, perubahan iklim akan

mengakibatkan: kekeringan yang meluas, banjir, badai dan kelaparan. Tanpa aksi apa-apa, biaya ini akan meningkat 20 kali dari angka ini pada akhr abad 21. 9. Transisi menuju ekonomi rendah karbon akan membawa tantangan bagi daya saing tetapi juga kesempatan untuk pertumbuhan. Kebijakan untuk mendukung pengembangan berbagai teknologi rendah karbon dan berefisiensi tinggi diperlukan mendesak. 10. Kebijakan adaptasi sangatlah penting untuk menangani dampak perubahan iklim tidak dapat dihindari, tetapi telah dinomor duakan di banyak negara. 11. Sebuah respon pada yang efektif terhadap kondisi perubahan untuk iklim akan kolektif

bergantung internasional.

pembuatan

tindakan

12. Masih ada waktu untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim jika tindakan kolektif yang kuat dimulai sekarang. 2.6.1 Revisi Analisis Manfaat – Biaya Manfaat terjadi telah menjadi landasan analisis manfaat – biaya selama lebih setengah abad, ketika semua manfaat proyek yang disatukan dalam penilaian mereka. Ketidakpedulian dalam menilai potensi manfaat program tertentu/ proyek adalah tidak membantu ketika distribusi yang efektif manfaat bertambah sering untuk memilih kelompok atau individu. Biasanya, kriteria manfaat yang diperoleh oleh siapapun akhirnya hanya memperkaya mereka yang telah memiliki sumber kekayaan, kekuasaan dan lainnya dan mengabaikan dimensi ekuitas dimana sebagian besar ekonom sedikit

26

mengabaikan peran keadilan sosial, kesetaraan, dan aspek distribusi pendapatan dari penilaian proyek dan analisis manfaat – biaya. Nyatanya, konsep biaya kesempatan atau alih-tukar merupakan kunci pendekatan secara menyeluruh. Andaikan uang, tenaga kerja terampil atau sumber daya alam tidak langka (suatu kendala), maka orang dapat melaksanakan semua proyek yang layak dan bila masalah dapat diselesaikan, maka orang dapat memperbaiki, menanggulagi atau melakukan pembayaran kemudian untuk memperbaiki kesalahan atau dampak

sampingan yang tak dikehendaki. Oleh karena kita melakukan kegiatan di dunia yang penuh kendala – dengan sumber daya yang langka – alokasi sumberdaya ini haruslah seefisien mungkin. Percaya bahwa lingkungan harus menjadi pemasok barang dan jasa secara terus-menerus pada masyarakat, pembangunan harus berlangsung sedemikian rupa, walau ada kendala-kendala, sehingga lingkungan tetap baik. Butir terakhir ini sangat penting. Kita tidak menganjurkan “tidak membangun”
25

atau

“hanya

pembangunan yang 100% menjamin lingkungan yang aman”.

Metode yang relevan telah dirancang sekitar 30 tahun yang lalu tetapi jarang diterapkan. Ini metode cenderung menjadi pelengkap dan bukan bagian integral dari analisis seperti ini, hanya sebagai pertimbangan lingkungan telah diperlakukan baik sepintas atau diabaikan alto-gether. Tidak masuk akal untuk mencari kesalahan dengan ekonomi utama untuk penyimpangan dalam hal ini. Ini adalah lembaga-lembaga besar seperti Bank Dunia yang merancang praktek pedoman berdasarkan riset ekonomi secara selektif, dan itu adalah praktek standar profesional dari berbagai pilihan daripada pendekatan obyektif sehat. Dalam kasus tersebut organisasi bermotif internasional (termasuk indikator bisnis seperti jumlah target pinjaman kredit di daerah atau negara) menjadi mempengaruhi faktor, dan belum tentu validitas fakta atau analisis ilmiah. Ada gelar yang baik dari perbedaan antara horizon waktu para aktor politik, manajemen senior dan pengambil keputusan dan kepekaan saat masalah diagnosis dan pemecahan masalah. Tingkat diskonto waktu politik atau administratif mengatur biasanya lebih tinggi bahwa masyarakat secara
25

27

keseluruhan. Faktor ini memberikan kontribusi untuk kesenjangan dalam kepentingan sosial dan keputusan kebijakan yang sedang berjalan. Adapun cara untuk mengidentifikasi manfaat – biaya suatu proyek pembangunan dan eksternalitas lingkungannya dengan memanfaatkan persamaan sederhana:26 NPV = Bd + Be – Cd – Cp - Ce Dimana : NPV: nilai sekarang netto Bd : manfaat proyek langsung Be : manfaat eksternal (dan/atau lingkungan) Cd : biaya proyek langsung Cp : biaya perlindungan lingkungan Ce : biaya eksternal (dan/atau lingkungan) Analisis finansial dimulai dari perspektif individu atau badan usaha/swasta dan lebih banyak bertalian dengan batasan sempit laba atau rugi. Analisis tersebut terutama bertalian erat dengan Bd dan Cd pada persamaan yang dikemukakan di depan. Analisis ekonomi dimulai dari sudut pandang kesejahteraan masyarakat dan mencerminkan biaya dan manfaat social ganti dari berbagai kegiatan. Analisis itu meliputi Be, Cp, dan Ce, serta komponen proyek langsung Bd dan Cd. Perbedaan teknis utama antara analisis ekonomi dengan analisis finansial dapat didekati dengan 2 cara: (1) apakah yang seharusnya dimasukkan kedalam harga ekonomi bila dibandingkan dengan harga finansial, dan (2) jenis-jenis manfaat - biaya apa saja yang harus dimasukkan dalam masing-masing analisis adalah sama. Analisis finansial tradisional hanyalah mencakup manfaat dan biaya yang dihadapi oleh unit produksi dan pengambil keputusan (misalnya, usaha tani, industry). Manfaat dan biaya dinilai berdasarkan nilai-nilai moneter dengan berdasar pada harga pasar dan memperhatikan pajak, subsidi, dan pembayaran alih lainnya.

26

28

2.6.2 Perubahan Iklim Mitigasi Kebijakan mitigasi perubahan iklim perlu dirancang dalam hal aplikasi dari instrumen kebijakan/ intervensi yang peran mereka dalam

mempromosikan realisasi keadan-tives dan tujuan dalam arti statis atau temporal, dinamis atau multi-periode diatur, dan dalam mereka relatif fleksibilitas dalam menanggapi negara berkembang pemahaman tentang lingkungan sistem dinamika, ketidakpastian, dan efektivitas intervensi strategi pencegahan dari waktu ke waktu (umpan balik evaluasi dan informasi terkait untuk kemungkinan keputusan adaptif keputusan). Hijau pajak, kebijakan perdagangan emisi dan teknologi pilihan, selain pola perilaku individu yang endogen dan ekonomis dimana menginginkan kebijakan mitigasi tetap efisien dan relevan. Kriteria berikut dapat digunakan dalam merancang strategi mitigasi (untuk berhubungan aspek lihat juga Duval, 2008):27 1. Menyamakan biaya peredaan marjinal di semua sumber emisi untuk pengurangan emisi gas rumah kaca (mengasumsikan ketersediaan informasi untuk tujuan tersebut dan juga

membutuhkan penilaian biaya dalam hal penilaian biaya sumber daya penuh yang menghargai segala bentuk penggunaan sumber daya, selain biaya langsung dan TC); 2. Mempromosikan tingkat efisiensi inovasi dan sosialisasi teknologi emisi mengurangi untuk menurunkan biaya masa depan melalui peredaan marjinal; 3. Mempertahankan fleksibilitas dalam strategi dan kebijakan mitigasi iklim sehingga mampu mengukur informasi tambahan mengenai ketidakpastian iklim dan ekonomi yang tercermin oleh biaya yang relatif rendah; 4. Meminimalkan biaya total per satuan manfaat harus menjadi norma utama, dimana biaya mitigasi langsung serta TC mampu dirancang, diterapkan, dipantau dan dievaluasi sesuai dengan kebijakan yang berlaku pada penyebaran sumberdaya alam yang berbeda.

27

Ibid₃

29

BAB III KESIMPULAN Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi oleh upaya konservasi yang mengatasnamakan kesejahteraan hidup manusia tampaknya mulai menampilkan dampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup. Hal ini tidak hanya mengancam keberlangsungan lingkungan alam, tetapi juga

keberlangsungan hidup manusia sendiri. Isu pemanasan global dan perubahan iklim hanyalah sebagian dari sekian banyak isu lingkungan yang demikian pelik untuk diperhatikan yang tidak hanya bersifat lokal tetapi global. Dalam hal ini, metode analitis hijau berkaitan dengan perbaikan lingkungan dan sumberdaya alam namun diperhitungkan melalui segi ekonomi - politik yaitu biaya transaksi dan kelembagaan baru. Ekonomi neoklasik atau arus utama biasanya tidak memperhitungkan peran lembaga dan biaya transaksi ekonomi (TCE). Kelemahan ini membuatnya tidak lengkap sebagai metodologi untuk mengatasi kebijakan

pembangunan ekonomi. Konstituen berbeda dari analisis ekonomi, dengan perbaikan yang sesuai dimanapun cenderung diperlukan, sebagai strategi yang bisa diterapkan dalam desain dan pelaksanaan kebijakan ekonomi hijau. Adapun pentingnya peran metode akuntansi hijau seperti NNP

menggabungkan nilai-nilai lingkungan dari sumberdaya. NNP ekonomi hijau belum tentu indikator yang sempurna dari sebuah kesejahteraan masyarakat, tetapi bisa menjadi statistik berguna jika fitur-fiturnya dengan benar ditafsirkan. Dalam hal ini, sistem ekonomi-lingkungan kurang dikelola dapat menyebabkan tingkat

kesalahpahaman penilaian sumber daya, baik untuk menilai akuntansi hijau atau tujuan lain. Produk Nasional Neto (NNP) yang dihasilkan setiap tahun pada suatu negara, telah membentuk standar ekonomi terhadap kesejahteraan ekonomi dengan mengenali perubahan lingkungan yang terjadi di negara tersebut. Terkait konsep eksternalitas ekonomi dan lingkungan, maka dapat ditarik suatu pemikiran bahwa masalah lingkungan terjadi karena adanya eksternalitas negative dari kegiatan ekonomi. Eksternalitas negative dari kegiatan ekonomi terhadap lingkungan merupakan masalah yang cukup kompleks, karena menyangkut dimensi ruang dan waktu. Eksternalitas tersebut bisa berdampak lokal, wilayah tertentu, daerah, negara, 30

internasional atau bahkan global. Kompleksnya masalah eksternalitas yang berkenaan dengan lingkungan ditambah lagi dengan karakteristik masalah – masalah lingkungan yang spesifik. Oleh karena itu, keberadaan eksternalitas yang menyebabkan keberadaan masalah lingkungan yang kompleks menjadi penting untuk dikaji dengan pendekatan yang integrative dan komprehensif atau holistic antar disiplin ilmu maupun pihak – pihak terkait khususnya pemerintah dan pelaku ekonomi serta partisipasi masyarakat luas. Analisis manfaat – biaya merupakan penerapan ekonomi kesejahteraan modern yang ditujukan untuk memperbaiki efisiensi ekonomi alokasi sumberdaya. Menurut (Pearce 1978) analisis manfaat – biaya didasarkan pada nilai yang diukur dengan harga yang diinginkan masyarakat. Pertimbangan nilai oleh para penganalisis manfaat – biaya haruslah ditekan seminimum mungkin dan bila memang diperlukan haruslah dikemukakan secata tegas kepada para pengambil keputusan di dalam masyarakat. Dalam hal ini, waktu yang berhubungan diskon biaya dan manfaat merupakan aspek penting dari analisis manfaat-biaya, karena perbedaan kecil dalam tingkat diskonto dapat membuat dampak penilaian yang signifikan terhadap negosiasi jangka panjang, karena sifat dari diskon yang ditambah. Adapun kaitan The Stern Review terhadap metode analitis hijau dimana membahas tentang perubahan iklim akibat kegiatan ekonomi dan pembangunan yang terus dilakukan. Perubahan iklim adalah tantangan lingkungan hidup terbesar yang akan dihadapi dunia abad ini. Stabilisasi jangka panjang temperatur dunia dan konsentrasi gas rumah kaca merupakan sebuah target yang ambisius, tetapi hal tersebut merupakan bagian yang mendasar dari kerangka kerja apa pun. Nicholas Stern dalam The Stern Review telah memberikan kesadaran pada komunitas global akan keinginan politik global dalam menghadapi tantangan ini, guna mendorong inovasi teknologi, memberi kepastian kepada bisnis dan rakyat seraya mereka berinvestasi di masa mendatang, dan guna memberi fokus kepada pemerintah individu untuk melakukan tindakan di dalam negeri.

31

DAFTAR PUSTAKA Melia Famiola, Surna T. Djajadiningrat, dan Yeni Hendriani. “Ekonomi Hijau: Green Economy”. 23 Maret 2012. biobses.com

Rao, P.K. 2010. The Architecture Of Green Economic Policies. New York: Springer Heidelberg Dordrecht

Maynard M Hufschmidt, David E. James, dkk. 1983. Lingkungan, Sistem Alam, dan Pembangunan (Pedoman Penilaian Ekonomis). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Sutikno dan Maryunani. 2006. Ekonomi Sumberdaya Alam. Malang: Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang Soemarwoto, Otto. 1990. Analisa Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Wikipedia. “The Stern Review”. 25 Maret 2012. en.wikipedia.org

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->