BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Visi Pembangunan Kesehatan Nasional dalam Indonesia Sehat 2010 merupakan gambaran masyarakat Indonesia pada masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan sehat dan perilaku sehat yang diharapkan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggitingginya. Perilaku sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Salah satu perilaku sehat yang harus diciptakan untuk menuju Indonesia Sehat 2010 adalah perilaku pencegahan dan penanggulangan (Tuberculosis Paru) TB paru (Depkes RI, 2000).

World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB paru dengan kematian sekitar 140.000 orang. Secara kasar diperkirakan dalam setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 orang penderita baru TB Paru BTA positif dan penyakit TB Paru ini menyerang sebagian kelompok usia yang merupakan sumber daya manusia yang penting dalam

pembangunan bangsa (Depkes RI, 2004). Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC Mycobacterium tuberculosis , sebagian besar kuman menyerang ke paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. Selain itu Tuberkulosis masih merupakan penyebab utama kematian di dunia. Berdasarkan estimasi terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2005, 7,4 juta di antaranya terdapat di Asia dan sub-Sahara Afrika. Akibat Tuberkulosis 1,6 juta manusia meninggal, termasuk 195.000 pasien yang terinfeksi HIV. Kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan South East Asia Region (SEARO) berkisar antara 4 sampai 98 per 100.000 penduduk. Seperti angka prevalensi tuberkulosis, angka kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 98 kematian per 100.000 penduduk. Begitu pula dengan angka terendah kematian akibat tuberkulosis terjadi di Maladewa (4 per 100.00 penduduk). Namun, bila membandingkan angka kematian dengan 131 prevalensi, maka Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan SEARO dan terendah adalah Myanmar. Di antara 18 negara di Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) dan SEARO, Indonesia termasuk negara dengan prevalensi tuberkulosis di bawah 300 per 100.000 penduduk bersama 13 negara lainnya, bahkan 4 negara di antaranya yaitu Singapura, Maladewa, Sri Lanka, dan Brunei Darussalam memiliki prevalensi di bawah 100. Empat negara

lainnya (Timor Leste, Kamboja, Filipina, dan Bangladesh) memiliki prevalensi di atas 300 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2008). Seorang penderita TB dinyatakaan mengidap TB BTA positif apabila diketahui bahwa hasil pemeriksaan berdasarkan uji laboratorium pemeriksaan dahak sejak awal mengalami TB hingga beberapa bulan kedepan positif menderita TB dengan hasil positif (+) (Dinkes Provinsi Lampung, 2006). Di Provinsi Lampung diketahui bahwa angka BTA positif pada tahun 2003-2007 cenderung berfluktuatif naik turun, sedangkan angka konversi dan kesembuhan nampak berfluktuatif naik turun. Untuk mencapai target perlu dilakukan berbagai upaya. Upaya yang dilakukan harus terus diperbaiki dan ditingkatkan karena angka kesembuhan TB Paru BTA + ini belum mencapai target ≥ 85%. Jumlah TB paru klinis dibandingkan antara kabupaten/kota maka Kota Bandar Lampung dengan kasus terbesar dan Kota Metro dengan kasus terkecil, sedangkan BTA positifnya terbesar adalah Kota Bandar Lampung dan terkecil adalah Kota Metro, menunjukan bahwa Case Date Rate (CDR) penemuan penderita baru TBC BTA positif Provinsi Lampung selama tiga tahun persentasenya meningkat tetapi pada tahun 2007 sedikit menurun menjadi 40,5%, persentase ini masih jauh dari yang ditargetkan yaitu sebesar 70% (Dinkes Provinsi Lampung, 2008). Penanggulangan TB Paru dilaksanakan dengan Strategi DOTS. Sesuai dengan rekomendasi WHO yang terdiri atas 5 komponen yaitu Komitmen politis, diagnosis TB dengan mikroskopis, PMO, kesinambungan ketersediaan AOT dan Pencatatan pelaporan yang baik dan benar. Dengan adanya program Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) dalam penanggulangan TB Paru maka

pengembangan Unit Pelayanan Kesehatan telah mulai ditingkatkan jumlahnya (Depkes RI, 2007). Sesuai dengan strategi DOTS tersebut di atas, penderita yang baru ditemukan dan mendapatkan pengobatan harus diawasi menelan obatnya setaip hari agar terjamin kesembuhannya, tercegah dari kekebalan obat atau resistensi. Untuk itu diperlukan seorang Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk setiap penderita TB. Dalam masa pengobatan pertama kali dilakukan harus ditunjuk seorang PMO. Pemilihan PMO harus disesuaikan dengan keadaan setempat, harus dikenal dan disegani penderita TB tenaga PMO bisa dari petugas kesehatan maupun masyarakat. Misalnya keluarga. Kader atau tokoh masyarakat (TOMA) sebaiknya satu rumah atau dalam satu wilayah (Depkes RI, 2007). Di Kabupaten Tanggamus pada umumnya, dan Puskesmas ZZZ khususnya, hingga saat ini melaksanakan strategi DOTS dalam kegiatan pemberantasan penyakit TB paru yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ. Hal ini dapat dilihat dari tingginya jumlah penderita TB paru yang datang ke Puskesmas ZZZ Kecamatan

Kota Agung Barat Tanggamus pada tahun 2006-2008, yaitu 35 orang penderita TB paru yang mendapatkan obat paket TB, berdasarkan Profil Puskesmas ZZZ tahun 2008 diketahui bahwa dari 35 orang pasien TB paru tersebut banyak yang mengalami kendala dalam menyelesaikan pengobatan baik dalam menelan obat maupun periksa dahak ulang. Diketahui pula bahwa alasan tingginya jumlah penderita TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ tersebut karena jumlah penderita di dua Wilayah Kerja Puskesmas lainnya yang ada di Kabupaten Tanggamus seperti Kota Agung Timur dan Wonosobo masing-masing hanya mencapai 13-15 penderita. Kemudian hasil perolehan data menyebutkan bahwa dari 35 penderita yang ada 23 diantaranya (65,71,%) dinyatakan sembuh, 7 orang (30,43%), 4 orang drop out (11,42%) dan meninggal 1 orang (2,85%). Diketahui bahwa pengetahuan yang dimiliki PMO masih relatif rendah mengenai pengawasan pasien dalam menelan obat. Rendahnya pengetahuan PMO dapat terlihat pada saat pelaksanaan tugas dan fungsi seperti saat menelan obat, penderita tidak didampingi oleh PMO melainkan hanya menelan sendiri kemudian PMO juga tidak mengingatkan penderita untuk memeriksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan dan PMO tidak memberikan penyuluhan tentang penyakit TB paru dan menyarankan anggota keluarga untuk memeriksakan diri kepada petugas kesehatan. Dari data yang diperoleh di Puskesmas, dari 35 PMO yang tidak mengingatkan PMO untuk memeriksan ulang dahak sebanyak 5 orang (14,28%), sebanyak 7 orang PMO (20%) tidak mendampingi penderita pada saat pengambilan obat paket ke Puskesmas. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan pengetahuan dengan Kinerja PMO penyakit TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah

1.2.1

Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, identifikasi masalahnya adalah sebagai berikut:

1.2.1.1 Masih tingginya jumlah penderita TB paru di Puskesmas ZZZ yaitu sebanyak 35 orang. Diketahui pula bahwa dari 35 penderita yang ada 23 diantaranya (65,71,%) dinyatakan sembuh, 7 orang (30,43%), 4 orang drop out (11,42%) dan 1 orang meninggal dunia (2,85%). 1.2.1.2 Dari data yang diperoleh di Puskesmas, dari 35 PMO yang tidak mengingatkan PMO untuk memeriksan ulang dahak sebanyak 5 orang (14,28%), sebanyak 7 orang PMO (20%) tidak mendampingi penderita pada saat pengambilan obat paket ke Puskesmas.

1.2.2

Perumusan Masalah Dari latar belakang tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu belum diketahuinya hubungan pengetahuan dengan Kinerja PMO penyakit TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1

Tujuan Penelitian

1.3.1.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan Kinerja PMO penyakit TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ. 1.3.1.2 Tujuan Khusus 1. 2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan PMO di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ. Untuk mengetahui gambaran Kinerja PMO penyakit TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ. 3. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan Kinerja PMO penyakit TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.3.2

Manfaat Penelitian

1.3.2.1 Bagi Institusi Pendidikan Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. 1.3.2.2 Bagi Petugas Kesehatan Untuk menambah wawasan bagi petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan bagi keluarga dan mendampingi penderita TB paru untuk menelan obat. 1.3.2.3 Bagi PMO Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan berupa pengetahuan mengenai kinerja dan pengawasan PMO dalam mendampingi dan membantu penderita TB menelan obat.

1.3.2.4 Bagi Penulis Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian.

1.3.2.5 Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan awal dalam melakukan penelitian selanjutnya tentang hubungan antara pengetahuan dengan Kinerja PMO penyakit TB paru. . sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama studi.

diperkirakan penurunan insiden TB Paru BTA positif secara nasional 3-4% setiap tahunnya.000 penduduk.000 per tahun. terutama Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang diintegrasikan dalam . Hasil survei prevalensi TB Paru di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB Paru BTA positif secara nasional 110 per 100. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB Paru terbesar nomor tiga di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Mengacu pada hasil survei prevalensi tahun 2004. diperkirakan ada 19 juta pasien TB Paru dan 13 juta kematian TB Paru diseluruh dunia. terjadi pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Untuk menanggulangi masalah TB Paru di Indonesia. Pada awal tahun 1990-an WHO dan International Union Agains Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB Paru yang dikenal sebagai strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (costefective).000 penduduk. sejak tahun 1995 WHO merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB Paru.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit infeksi kronis menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat diseluruh dunia secara global. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB Paru di dunia. menempatkan TB Paru sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Pada tahun 2013.BAB I PENDAHULUAN 1. Laporan TB Paru dunia oleh World Health Organization (WHO) yang terbaru pada tahun 2006. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. Secara regional. prevalensi TB Paru BTA positif di wilayah Sumatera adalah 160 per 100. Strategi ini harus diekspansi dan diakselerasikan pada seluruh unit pelayanan kesehatan.000 dan jumlah kematian sekitar 101.

Dari mereka yang menyatakan tahu cara penularan dan pencegahan TB Paru. Berdasarkan data demografi dari Desa. dan pengobatan penyakit TB Paru. (Depkes. sehingga ada relevansi terhadap kesenjangan pengetahuan terhadap berbagai hal termasuk penyakit TB Paru.pelayanan kesehatan dasar. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit TB Paru perlu dilakukan sistem edukasi yang komprehensif dan berkesinambungan.2008). dan 3 penderita berobat kedokter. menunjukkan bahwa mayoritas penduduk memiliki jenjang pendidikan yang masih rendah yaitu Sekolah Dasar. paham pencegahan. mengerti. Sampai tahun 2005. (Depkes. Untuk mencapai tujuan program tersebut dibutuhkan penerapan teknologi kesehatan dan petugas kesehatan sebagai pelaksana serta dukungan dan peran serta masyarakat.659 jiwa. 2007). Berdasarkan survei awal yang di lakukan pada tanggal 11 Februari 2009 di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ terhadap Penderita TB Paru yang sedang dalam masa pengobatan dan Penderita TB Paru yang telah sembuh. 14 Penderita TB Paru melakukan pengobatan awal di Bidan/Mantri. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan pula estimasi prevalensi angka kesakitan di Indonesia sebesar 8 per 1000 penduduk berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium. program penanggulangan TB Paru dengan strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas. Peran serta masyarakat dapat dicapai apabila masyarakat tahu. Hal tersebut menunjukkan masih . sementara Rumah Sakit dan BP4/RSP baru sekitar 30%. Puskesmas Bukoposo merupakan salah satu Puskesmas yang ada di Kabupaten Tulang Bawang dengan jumlah penduduk 36. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB Paru masih banyak ditemukan diberbagai wilayah termasuk di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ Kecamatan Way Serdang Kabupaten Tulang Bawang. Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai TB Paru di masyarakat masih rendah. Program penanggulangan penyakit TB Paru yang dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat Puskesmas bertujuan untuk menurunkan insiden dan memutuskan mata rantai penularan Penyakit TB Paru. Proporsi kecil dari masyarakat (19 persen) yang mengetahui pemberian obat anti TB Paru gratis. hanya 26 persen yang menjawab dengan betul. dan sebagian besar masyarakat disekitar wilayah kerja Puskesmas bekerja sebagai Petani karet dan kelapa sawit.

Proporsi kecil dari masyarakat (19 persen) yang mengetahui pemberian obat anti TB Paru gratis.2. Data hasil evaluasi pelaksanaan program penanggulangan TB Paru di Puskesmas Bukoposo tahun 2008. Penjaringan penderita TB Paru secara pasif yang dilakukan di Puskesmas disertai tingkat pengetahuan yang rendah dari masyarakat. Dari mereka yang menyatakan tahu cara penularan dan pencegahan TB Paru. hanya 26 persen yang menjawab dengan betul. dari pengertian masalah dan latar belakang di atas. menunjukkan bahwa angka penemuan kasus pasien baru BTA positif (Case Detection Rate = CDR) hanya sebesar 40% atau 28 penderita pertahun.1. menjadi faktorfaktor penyebab rendahnya CDR di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ. sehingga penyakit TB Paru yang di derita dapat di sembuhkan. 2) Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai TB Paru di masyarakat masih rendah.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah 1. Jumlah tersebut jauh dibawah target CDR program penanggulangan Tuberkulosis Nasional yaitu minimal 70%.rendahnya pengetahuan masyarakat akan penyakit TB Paru di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ. Hal tersebut yang membuat Penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Pencarian Pengobatan Penderita TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ” 1.000 kasus baru TB Paru dengan kematian sekitar 101. Uraian di atas menunjukkan bahwa masih rendahnya pengetahuan masyarakat dalam pencarian pengobatan penyakit yang diderita (TB Paru) dan perlu di telusuri kemana para penderita TB Paru tersebut mencari pengobatan sampai akhirnya berobat ke Puskesmas. 3) Data hasil evaluasi pelaksanaan program penanggulangan TB Paru di Puskesmas Bukoposo tahun 2008 Angka kasus TB Paru yang semakin meningkat pada tahun 2003 sampai 2009 sebagai mana data yang didapat dari Puskesmas ZZZ.000 orang pertahun. Jumlah tersebut jauh dibawah target CDR program penanggulangan Tuberkulosis Nasional yaitu minimal 70%. Identifikasi Masalah Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. . 4) Angka penemuan kasus pasien baru BTA positif pada tahun 2008 (Case Detection Rate = CDR) hanya sebesar 40%. maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1) WHO pada tahun 2006 memperkirakan setiap tahun terjadi 539.

Manfaat Penelitian 1.1. 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ tahun 2009.1 Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menjadi masukan bagi institusi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat zzz sebagai umpan balik dalam penelitian terhadap mutu pendidikan.5. b.4 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini menggunakan analisa data kuantitatif yang dilaksanakan di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ dengan menggunakan pedoman wawancara dan kuesioner untuk dapat mendeskrepsikan perilaku Penderita TB Paru dalam mencari pengobatan penyakit yang di derita. 1. 2. 1. Perumusan Masalah Dari identifikasi masalah diatas penulis merumuskan masalah “Seberapa besarkah hubungan pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan Penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ” 1. Tujuan Khusus Diketahuinya pengetahuan penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ. Sebagai aplikasi dari teori-teori yang telah diperoleh selama di bangku kuliah pada peminatan Promosi Kesehatan. dan perilaku dengan pencarian pengobatan penderita TB Paru didi Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ Kabupaten zzz. c.2.3. . Diketahuinya perilaku pencarian pengobatan TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.3 Tujuan Penelitian 1. 1. Untuk memenuhi syarat dalam rangka menyelesaikan pendidikan di STIKES zzzjurusan kesehatan masyarakat peminatan Promosi Kesehatan. 1.2.2 a.5.5.3. data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder dari hasil penelitian yang dilaksanakan di lapangan.1.2. Bagi Peneliti Dapat mengetahui secara luas dan mendalam hubungan pengetahuan.

5.1.3 Bagi Puskesmas Sebagai masukan untuk meningkatkan pelayanan dalam mensosialisasikan pengobatan penyakit TB Paru di wiayah kerja Puskesmas ZZZ .

angka kematian akibat TB mencapai 140. Sebelas dari 22 negara dengan angka kasus TB tertinggi berada di Asia. Asia termasuk kawasan dengan penyebaran tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Mengapa seseorang bisa sampai terkena penyakit TB Paru? 3. risiko juga meningkat pada janin. status imunitas. Jumlah penderita TB di Indonesia merupakan ketiga terbesar di dunia setelah India dan China.1 Latar Belakang Masalah Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis. empiema. Di Indonesia. suatu basil tahan asam yang ditularkan melalui udara (Asih. Bagaimana tanda dan gejala penyakit TB Paru? 4. India. Komplikasi. Setiap 30 detik. Setiap tahun. China. Penyakit ini ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Empat dari lima penderita TB di Asia termasuk kelompok usia produktif (Kompas. utamanya terhadap klien penderita TB paru. dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. dalam makalah ini juga akan dibahas peranan bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan prakonsepsi. Selain itu. Sejauh ini. terutama untuk mendeteksi dini. Mengingat akan bahaya TB paru dan pentingnya memberikan pelayanan pada ibu untuk mempersiapkan kehamilan. Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe. maka dalam makalah ini akan di bahas segala teori tentang TB paru dan hubungannya dengan masa prakonsepsi wanita untuk mempersiapkan kehamilan. Indonesia. Selain itu. seperti abortus. status nutrisi ibu hamil.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis. laryngitis dan TB usus. ada tidaknya penyakit penyerta. Apa Definisi TB Paru? 2.000 kasus baru TB. Penderita tuberkulosis di kawasan Asia terus bertambah.000 orang per tahun atau 8 persen dari korban meninggal di seluruh dunia. letak dan keparahan penyakit. Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Bagaimana hubungan antara TB Paru dengan kehamilan dan janin? .2 Rumusan Masalah a. usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis. ada satu pasien di Asia meninggal dunia akibat penyakit ini. terhambatnya pertumbuhan janin. 1. dan Pakistan. memberikan terapi yang tepat serta pencegahan dan penanganan TB pada masa prakonsepsi. di antaranya Banglades. TB Paru 1. kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB kongenital). dan 75 persen penderita termasuk kelompok usia produktif. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik dan mental ibu hamil. 2004). efusi pleura. 2007). terdapat lebih dari 500.

tetapi pernah terjadi adalah M. Avium. 2. 3. Untuk menjelaskan Definisi TB Paru 2.1. Bakteri yang jarang sebagai penyebab.2 Etiologi TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV.3 Tanda Dan Gejala 1. 2. Untuk mengetahui penyebab penyakit TB Paru. yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges. Untuk mengetahui peran bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan masa prakonsepsi utamanya terhadap penderita TB Paru. nodus limfe. tanda dan gejala serta patofisiologinya dalam tubuh. 2. 3. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Bovis dan M.4 Manfaat Penulisan 1. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Anoreksia . Untuk mengetahui hubungan antara TB Paru dengan kehamilan. Penurunan berat badan b.3 Tujuan Penulisan 1. 4. Untuk menjelasan hubungan antara TB Paru dengan kehamilan. Untuk menjelaskan peran bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan masa prakonsepsi utamanya terhadap penderita TB Paru. Tanda a. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi.1 Definisi Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis. 4. ginjal. tulang. tanda dan gejala serta patofisiologinya dalam tubuh. Untuk menjelaskan penyebab penyakit TB Paru. Untuk mengetahui definisi TB Paru. Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun. 1.

basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di dalam paru-paru meliputi: penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag. Pembacaan hasil tuberkulin dilakukan setelah 48 – 72 jam. keringat malam. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk.Sesak nafas.4 Patofisiologi Pada tuberculosis. tidak ada nafsu makan.c. d. 2. berat badan turun. pembentukan dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Batuk Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Dispneu d.5 Pemeriksaan Penunjang Pada anak. dengan hasil positif bila terdapat indurasi diameter lebih dari 10 mm. c.Malaise Dapat berupa anoreksia. 2. b. Gejala a. nyeri otot. meriang. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. sakit kepala. Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital. Uji . dan rasio ventilasi-perfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah. Demam Biasanya menyerupai demam influenza. Nyeri dada Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis) e. Sputum purulen/hijau. uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam “Screening TBC”. Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. meragukan bila 5-9 mm. Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru. berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif. 2. mukoid/kuning.

Menderita tuberkulosis yang masih aktif Menderita TBC yang sudah sembuh Pernah mendapatkan vaksinasi BCG Adanya reaksi silang (“cross reaction”) karena infeksi mikobakterium atipik. 4. Serodiagnosis. Alergi disebabkan oleh keadaan infeksi berat. Teknik bromolekuler.tuberkulin bisa diulang setelah 1-2 minggu. Reservour. sekret saluran pernafasan dari orang dengan lesi aktif terbuka memindahkan infeksi langsung melalui droplet. Uji serodiagnosis maupun biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak. Epidemiologi Dan Penularan TBC Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : 1. sumber dan penularan Manusia adalah reservoar paling umum. paratrakeal. beberapa diantaranya dengan cara ELISA (Enzyime Linked Immunoabserben Assay) untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase – anti – peroxidase (PAP) untuk menentukan IgG spesifik. merupakan pemeriksaan sensitif dengan mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Bakteriologis. dapat pula oleh gizi buruk. dan mediastinum. diameter indurasi ≥ 5 mm harus dinilai positif. Masa inkubasi Yaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya memerlukan waktu empat sampai enam minggu. pemberian immunosupreson. sedangkan pada anak kontrak erat dengan penderita TBC aktif. diameter indurasi 15 mm ke atas baru dinyatakan positif. bahan biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung. 2. efusipieura. atelektasis. 3. konsolidasi. varicella dan penyakit infeksi lain. morbili. interfal antara infeksi primer dengan reinfeksi bisa beberapa tahun. kavitas dan gambaran milier. namun memerlukan waktu cukup lama. 2.6. 3. penyakit keganasan (leukemia). Masa dapat menular . Tes tuberkulin positif. 5. 2. Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak berkembang menjadi penyakit. mempunyai arti : 1. Pada anak yang telah mendapat BCG. Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar nilus.

Kelas 2 Ada infeksi tuberkulosis. Status kemoterapi (pencegahan) :     Tidak ada Dalam pengobatan kemoterapi Komplit (seri pengobatan dalam memakai resep dokter) Tidak komplit 1. Status bakteriologis : a. pleura.    b. Kelas 0 Tidak ada jangkitan tuberkulosis. 4. Immunitas Anak dibawah tiga tahun paling rentan.7 Stadium TBC 1. tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit tuberkulin bermakna. peritoneal dan lain-lain. selain itu reaksi kulit tuberkulin bermakna dan atau bukti radiografik tentang adanya penyakit). pemeriksa bakteri negatif. reaksi tes tuberkulosis tidak bermakna) 1. reaksi terhadap tes kulit tuberkulin tidak bermakna). tidak ada bukti terinfeksi (riwayat pemaparan. diseminata (milier).  Positif dengan : Mikroskop saja Biakan saja Mikroskop dan biakan Negatif dengan : Tidak dikerjakan . Lokasi penyakit : paru. 1. tulang dan/atau sendi. Kelas 3 Tuberkuosis saat ini sedang sakit (Mycobacterium tuberkulosis ada dalam biakan. 2.Selama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel terutama yang dibatukkan atau dibersinkan. karena sejak lahir sampai satu bulan bayi diberi vaksinasi BCG yang meningkatkan tubuh terhadap TBC. kemih kelamin. Kelas 1 Terpapar tuberkulosis. menigeal. tidak terinfeksi (tidak ada riwayat terpapar. tidak bukti klinik maupun radiografik). limfatik.

empiema. 2. persendian. Tidak mendapat kemoterapi Dalam pengobatan kemoterapi Komplit Tidak komplit 1. Menurut Dep. tulang. b. 5) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. 6) Insufisiensi Kardio Pulmoner . 2) Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. b. Kelas 5 Orang dicurigai mendapatkan tuberkulosis (diagnosis ditunda) Kasus kemoterapi : a. Tidak ada bukti klinik tentang adanya penyakit pada saat ini). tidak lengkap reaksi tes kulit tuberkulin : a. 4) Pneumotorak spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan Paru. ginjal dan sebagainya. c. laringitis. Status kemoterapi : a. 3) Bronkiectasis dan fribosis pada Paru. bila dilakukan negatif.TB usus. pemeriksaan bakteriologis. Bermakna Tidak bermakna 1. efusi pleura. Kelas 4 Tuberkulosis saat ini tidak sedang menderita penyakit (ada riwayat mendapat pengobatan pencegahan tuberkulosis atau adanya temuan radiografik yang stabil pada orang yang reaksi tes kulit tuberkulinya bermakna. Tidak ada kemoterapi Sedang dalam pengobatan kemoterapi.Kes (2003) komplikasi yang sering terjadi pada penderita TB Paru stadium lanjut: 1) Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.Status kemoterapi : Dalam pengobatan kemoterapi sejak kemoterapi diakhiri. b. d.8 Komplikasi Komplikasi Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis.

Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC. . cara penularan. ditemukan pada 10-20% yang mendapat INH. kemudian 15 mg/kg. c. Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. seperti terbukti dengan peningkatan aktivitas serum aminotransferase. Dosis lazim INH untuk orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300 mg/hari. Disfungsi hati. 2. Obat-obat dapat juga digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang sudah terjangkit infeksi. Uji ketajaman penglihatan dianjurkan setiap bulan agar keadaan tersebut dapat diketahui. Promotif Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC 2. 4. Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS) mengeluarkan pernyataan mengenai rekomendasi kemoterapi jangka pendek bagi penderita tuberkulosis dengan riwayat tuberkulosis paru pengobatan 6 atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang terdiri dari INH dan RIF (tanpa atau dengan obat-obat lainnya). misalnya : pasien tanpa penyakit lain seperti diabetes. RIF 600 mg sekali sehari. Sesudah itu masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama satu tahun. faktor resiko 3. agar dapat diketahui secara dini. Efek samping etambutol adalah Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman penglihatan. 25 mg/kg selama 60 hari. 1. Resiko hepatitis sangat rendah pada penderita dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 60 tahun keatas. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS. Preventif Vaksinasi BCG Menggunakan isoniazid (INH) Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab. 3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.2. dan hanya diberikan pada pasien tuberkulosis paru tanpa komplikasi. Kuratif Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama. EMB. Waktu minimal terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi negatif. b. Penderita tuberkulosis dengan gejala klinis harus mendapat minuman dua obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten terhadap obat. silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah batuk darah. Efek samping INH yang berat jarang terjadi. padahal mengalami batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.9 Penanganan a. Kombinasi obat-obat pilihan adalah isoniazid (hidrazid asam isonikkotinat = INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF). 1. cara pencegahan.

Status nutrisi yang jelek. Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB. induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB. anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal. ada tidaknya penyakit penyerta. usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis.10. jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. selaput otak.php mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari.com/index. Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. status nutrisi ibu hamil. wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas.1 Pengaruh tuberculosis terhadap kehamilan Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan.10.2007 dalam http://www. Bahkan. status imunitas.com/) Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe. jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi.300 wanita hamil. kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang. 2007 dalam http://www. Pada awal abad 20. hypoproteinaemia. dan sendi. dijumpai hasil yang sama dengan pasien yang tidak hamil.10 Tuberkulosis pada kehamilan 2. Namun. Selain paru-paru. hipoproteinemia.2 Pengaruh tuberkulosis terhadap janin . Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali. Jika pengobatan tuberkulosis diberikan awal kehamilan. kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus. serta kulit. Lebih dari 50 persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4. khususnya wanita usia reproduksi. Harold Oster MD. anemia dihubungkan ke morbiditas ibu.mail-archive. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB. sebelum memutuskan untuk hamil.2. Namun. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi. Status sosio-ekonomi yang jelek. sedangkan diagnosa dan perewatan terlambat dikaitkan dengan meningkatnya resiko morbiditas obstetric sebanyak 4x lipat dan meningkatnya resiko preterm labor sebanyak 9x lipat. letak dan keparahan penyakit. dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB.150 diantaranya adalah pengidap TB paru (M Iqbal.okezone. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi. kemungkinan untuk hamil masih tetap ada. tulang. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Idealnya. 2.

Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa. 2007 jika kuman TB hanya menyerang paru. imunodefisiensi atau adanya penyakit penyerta. khususnya di hubungakann dengan status sosio-ekonomi jelek. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana. risiko juga meningkat pada janin. maka akan ada sedikit risiko terhadap janin. 2. Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.10. seperti abortus. berat badan rendah. persalinan dan hasil konsepsi. Awal abad ke-20.seperti prematur. didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan. gangguan napas.murah dan cukup reliable. 2. Dalam jaringan tubuh.umi. KalaVasistha. Akan tetapi. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara. aborsi merupakan pilihan terminasi pada wanita hamil dengan tuberculosis. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%).Menurut Oster. Untuk meminimalisasi risiko. demam. berat badan lahir rendah (<2500 gram). INH dan Etambutol.4 Tes Diagnosis TB pada Kehamilan Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. hati dan limpa membesar. seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). Subhas C Saha. 1999 dalam http://proquest. Karena itu disebut basil tahan asam (BTA). . kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun).tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap. Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. TB diduga semakin memburuk selama kehamilan. Kushagradhi Ghosh. Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk.10. Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung. kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Sekarang. terhambatnya pertumbuhan janin. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas.apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir. Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi. lebih banyak studi diperlukan untuk menyokong hipotesa.com/pqdweb tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis.biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin. Kehilangan antibodi pelindung ibu selama laktasi juga menguntungkan perkembangan TB. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%). dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Selain itu.3 Pengaruh kehamilan terhadap tuberkolosis Pengetahuan akan meningkatnya diafragma selama kehamilan yang mengakibatkan kolapsnya paru di daerah basal paru masih dipegang sampai abad 19.

Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi). Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif. atau terjadi anergi. pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasil negatif). Menurut WHO.1 Kesimpulan  Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis. sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak.Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc dahak. Untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Avium. yaitu tidak ada infeksi TB. terutama jika hasil BTA-nya negatif. yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi.10. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB. Bovis dan M. melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes. Bakteri yang jarang sebagai penyebab. serta uji tuberkulin. Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?). foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan. tetapi pernah terjadi adalah M. Jadi. TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. kecuali streptomisin. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Tanda dan Gejala:   . Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. maka ada tiga kemungkinan.5 Pengobatan TB pada kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. 2. Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB. BAB 3 PENUTUP 3. Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA negatif. Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit.

Batuk c. status nutrisi ibu hamil.Malaise  Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. bidan melakukan Asuhan Kebidanan yang tidak hanya pada ibu hamil dan bersalin. Penurunan berat badan b.   3. Demam b. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit/kelainan yang mungkin dialami calon orang tua. Tanda a. termasuk bidan. Dalam menjalankan tugasnya. mukoid/kuning. kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Peran bidan dalam menangani klien dengan TB paru adalah dengan memberikan konseling mengenai definisi. terhambatnya pertumbuhan janin. letak dan keparahan penyakit. Dispneu d. hendaknya berkonsultasi dulu mengenai kondisi kesehatan kepada tenaga kesehatan. tapi juga pada wanita yang menginginkan kehamilan. Gejala a. sehingga dapat melakukan tindakan yang lebih komprehensif dalam mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan dari penyakit yang diderita. Sputum purulen/hijau. d. penyebab. seperti abortus. Anoreksia c. maka risiko juga meningkat pada janin. Nyeri dada e.2 Saran  Setiap pasangan yang akan merencanakan kehamilan. ada tidaknya penyakit penyerta. Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa faktor antara lain tipe. Di samping itu juga menawarkan alternatif solusi dan melakukan asuhan kebidanan untuk wanita TB Paru masa prakonsepsi dalam mempersiapkan kehamilannya. 2. usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis. juga menjelaskan pada klien tentang dampak yang ditimbulkan terhadap kehamilan.  .Sesak nafas. Jika kuman TB menyerang paru.1. status imunitas. cara pencegahan dan penularan serta terapi TB Paru. dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. baik bagi ibu maupun janin yang dikandungnya.

1996.L. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Smeltzer and Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.SUMBER :     Barbara. M.. Rencana Asuhan Keperawatan. Perawatan Medikal Bedah (suatu pendekatan proses keperawatan) Bandung Doengoes. C. edisi 3. Tuberkulosis Paru ... 2009. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Adrian Taufik. 2002.

Bahkan bakteri ini pula dapat mengalami penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening sehingga menyebabkan terinfeksinya organ tubuh yang lain seperti otak. Di Indonesia khususnya. wanita. kaya dan miskin serta dimana saja. ginjal. Bakteri ini masuk kedalam paru-paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak (terutama pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah).000 menyebabkan kematian. . tua. Bahkan Indonesia menduduki negara terbesar ketiga didunia dalam masalah penyakit TBC ini. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Penyakit TBC dapat menyerang pada siapa saja tak terkecuali pria. Bahkan penyakit TBCpada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP). kelenjar getah bening dan lainnya meski yang paling banyak adalah organ paru. Untuk mengenang jasa beliau maka bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Jenis bakteri ini pertama kali ditemukan oleh seseorang yang bernama Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882. dimana pada anak-anak umumnya sumber infeksi adalah berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Cara Penularan Penyakit TBC Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar oleh Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si penderita TBC saat batuk. tulang. Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa.Penyakit Tuberkulosis (TBC) Penyakit TBC adalah merupakan suatu penyakit yang tergolong dalam infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Penyakit ini terus berkembang setiap tahunnya dan saat ini mencapai angka 250 juta kasus baru diantaranya 140. muda. saluran cerna.

Akibatnya bakteri TBC tersebut akan berdiam/istirahat (dormant) seperti yang tampak sebagai tuberkel pada pemeriksaan X-ray atau photo rontgen. terutama pada kasus-kasus baru. . virulensi dan jumlah kuman yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC. belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. sel-sel pada dinding paru berusaha menghambat bakteri TBC ini melalui mekanisme alamianya membentuk jaringan parut. bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar.Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah). maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya. . Sehingga tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga paru. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. dapat disertai dengan keluhan sakit dada. Maka orang yang rongga parunya memproduksi sputum dan didapati mikroba tuberkulosa disebut sedang mengalami pertumbuhan tuberkel dan positif terinfeksi TBC. Sulitnya mendeteksi dan menegakkan diagnosa TBC adalah disebabkan gambaran secara klinis dari si penderita yang tidak khas. bentuk tuberkel ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Gejala khusus (Khas) .Perasaan tidak enak (malaise). .Penurunan nafsu makan dan berat badan. suara nafas melemah yang disertai sesak. Gejala Penyakit TBC Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian. dimana segeralah terjadi pertumbuhan koloni bakteri yang berbentuk bulat (globular).Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama. biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam.Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Dengan reaksi imunologis. meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. pada muara ini akan . 1.Bila mengenai tulang. akan menimbulkan suara "mengi".Masuknya Mikobakterium tuberkulosa kedalam organ paru menyebabkan infeksi pada paru-paru. Gejala umum (Sistemik) . 2. yaitu gejala umum dan gejala khusus. lemah. Berkembangnya penyakit TBC di Indonesia ini tidak lain berkaitan dengan memburuknya kondisi sosial ekonomi. Lain hal pada orang yang memilki sistem kekebelan tubuh rendah atau kurang.Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru). Seseorang dengan kondisi daya tahan tubuh (Imun) yang baik. . . bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Hal ini juga tentunya mendapat pengaruh besar dari daya tahan tubuh yang lemah/menurun.

dan Uji tuberkulin. Maka ada beberapa hal pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk memeberikan diagnosa yang tepat antara lain : . Pada penderita usia anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala.Pemeriksaan patologi anatomi (PA). . sputum. . yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. dahak. adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang. Maka TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa.Pemeriksaan fisik secara langsung. cairan otak). . Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik. . namun karena adanya kemungkinan resistensi dengan kedua obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat seperti pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu kesatuan yang dikenal 'Triple Drug'. dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah. Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif.keluar cairan nanah. . . gejalanya adalah demam tinggi. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif. Penegakan Diagnosis pada TBC Apabila seseorang dicurigai menderita atau tertular penyakit TBC. untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka disarankan pada penderita untuk menjalani pemeriksaan baik darah. . Pengobatan Penyakit TBC Pengobatan bagi penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama.Rontgen dada (thorax photo).Pemeriksaan laboratorium (darah.Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya. urine dan X-ray atau rontgen setiap 3 bulannya. Selama proses pengobatan. Adapun obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan rifampin sebagai pengobatan dasar bagi penderita TBC.Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak).

1045). konsep dasar penyakit dan proses asuhan keperawatan pada klien dengan tuberkulosus paru. akut atau sub akut yang disebabkan oleh Basilus . (1998. A KONSEP DASAR MEDIS 1. et.KTI TB PARU BAB II LANDASAN TEORI Pada landasan teori ini penulis akan menjelaskan mengenai anaotmi fisiologi. 1997. h. Definisi Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan penularan melalui udara. Tucker Susan Martin. 257) mendefinisikan bahwa Tuberkulosa Paru adalah penyakit infeksi kronis.. 584). al. h. Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronik pada paru yang karakteristiknya melalui formasi tuberkel atau granulomas. yang terutama menyerang parenkim paru. (Black. 1140 ). Tuberkulosis adalah penyakit infeksius. h. h. 1993. (Luckman & Sorensens. 1997. (Smeltzer & Bare.

Anatomi Paru 1) Pleura . sfenoidalis. mempunyai 2 lubang (kavum nasi). 5) Laring Laring. Laring sering disebut sebagai kotak suara. atau konka nama yang ditunjukkan oleh penampilannya yang seperti siput. debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. dan maksilaris. Sinus-sinus disebut berdasarkan letaknya. 4) Faring. adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea. Rongga-rongga udara ini dihubungkan oleh serangkaian duktus yang mengalir ke dalam rongga hidung. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Tuberkulosa Paru (TBC) adalah penyakit infeksi yang menular. 2) Sinus Paranasal Sinus-sinus paranasal termasuk empat pasang rongga bertulang yang dilapisi oleh kumosa hidung dan epitel kolumnar bertingkat semua yang bersilia. Anatomi Sistem Pernapaan Atas 1) Hidung Merupakan saluran udara yang pertama. 3) Konka ( tulang turbinasi) Tulang turbinasi. yaitu: sinus frontalis. adalah struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. kebanyakan mengenai struktur alveolar paru. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. atau tenggorok. dan Adenoid Faring.Tuberkulosis. dan laring. etmoidalis. 2. akut atau sub akut dimana tempat predileksinya pada parenkim paru dan dapat meluas pada bagian tubuh yang lain yang disebabkan oleh kuman Mikobakterium Tuberkulosis berbentuk batang bersifat tahan terhadap asam (BTA). atau organ suara. Jalan nafas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna menyaring udara. bersifat kronis. mengambil bentuk dan posisi sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan permukaan membran mukosa saluran hidung dan untuk sedikit menghambat arus udara yang mengalir melaluinya. oral. b. Faring dibagi menjadi tiga region: nasal. Tonsil. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing yang memudahkan batuk. bersifat dorman dan dapat hidup lama tetapi virulen dalam lingkungannya. dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Anatomi Sistem Pernapasan a.

Basil TB di lapangan atas paru. 1997. tulang. dan otak lebih mudah berkembang biak terutama sebelum imunitas spesifik terbentuk. Patofisiologi Penularan biasanya melalui udara. Disis bsil tuberkulosis berkembang biak dan menyebar melalui saluran limfe dan aliran darah tanpa perlawanan yang berarti dari penjamu karena ada kekebalan awal. Hanya droplet nukleus ukuran 1-5 mikron yang dapat melewati atau menembus sistem mukosilier saluran nafas sehingga dapat mencapai dan bersarang di bronkus dan alveulus. Ada jaringan dan organ tubuh yang resisten terhadap basil TB. Pada sebagian kasus imunitas spesifik yang terbentk biasanya cukup kuat sehingga penyakit TB dalam 12 bulan setelah terifeksi dan pada sebagian penderita TB terjadi lebih dari 12 bulan setelah infeksi. dan saraf. Pleura parietalis melapisi toraks.Bagian terluar dari paru-paru dikelilingi oleh membran halus. yang tersusun dalam kluster antara 15 sampai 20 alveoli. yang disebut spasium pleura. 2) Mediastinum Mediastinum adalah dinding yang membagi rongga toraks menjadi dua bagian. dan pleura viseralis melapisi paru-paru. yang juga meluas untuk membungkus dinding interior toraks dan permukaan superior diafragma. adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet. . akan menutupi area 70 meter persegi (seukuran lapangan tenis). Semua struktur toraks kecuali paru-paru terletak antara kedua lapisan pleura. dan bawah. tengah. yaitu dengan inhalasi droplet nukleus yang mengandung basil TB. 5) Alveoli Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli. h. Paru kiri terdiri atas lobus bawah atas. limfarik. (Smeltzer dan Bare. Bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri. berkaitan dengan terjadinya infeksi tuberkulosi. yang merupakan struktur yang dicari ketika memiliki posisi drainase postural yang paling efektif untuk pasien tertentu. Basil TB hampir selalu terdapat bersarang di sumsum tulang. Mediastinum terbentuk dari dua lapisan pleura. Setiap lobus lebih jauh dibagi lagi manjadi dua segmen yang dipisahkan oleh fisura. Makrofag di dalam alveolus akan memfagositosis sebagaian basil tuberkulosis tersebut tetapi belum mampu membunuh sehingga basil TB yang menyebar melalui saluran limfe mencapai kelenjar limfe regional. Dengan demkina lesi TB akan sembuh dan tidak akan ada tanda gejala klinis. Di dalam organ tersebut akan terjadi proses dan transfer antigen ke limfosit. Begitu banyaknya alveoli ini sehingga jika mereka bersatu untuk membentuk satu lembar. ginjal. yang merupakan perluasan pleura. yang mengandung sejumlah kecil cairan yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser dengan bebas selama ventilasi. Didalam alveulus terjadi reaksi imflamasi nonspesifik. Imunitas spesifik yang tebentuk biasanya cukup kuat untuk mengahambat perkembang biakan basil TB lebih lanjut. Etiologi Penyebab utama penyakit tuberkulosis paru adalah mycobacterium tuberculosis. 3) Lobus Setiap paru dibagi menjadi lobus-lobus. hepar dan limfe tetapi tidak selalu berkembang biak secara luas. Sedangkan yang memalui aliran darah akanmencapai berbagai organ tubuh. 4) Bronkus dan Bronkiolus Terdapat beberapa divisi bronkus didalam setiap lobus paru.584) 4. Pertama adalah bronkus lobaris (tiga pada paru kanan dan dua pada paru kiri). Bronkus segmental kemudian dibagi lagi menjadi bronkus subsegmental. Bronkus lobaris dibagi menjadi bronkus segmental (10 pada paru kanan dan 8 pada paru kiri). Mycobacterium bovis dan Mycobacterium avium pernah tetapi kejadiannya jarang. licin yaitu pleura. Antara kedua pleura ini terdapat ruang. 3.

Immigran dengan insiden tinggi TB (Asia Tenggara. leukimia. Noenoeng. Tahanan) c. Batuk menetap lebih dari 3 minggu. 1994). dkk.Kurang lebih 10% individu yang terkena TB akan menderita penyakit TB dalam beberapa bulan atau beberapa tahun setelah infeksi. h. Tuna wisma. Pada individu normal respon immunologik terhadapa infeksi TB dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi berikutnya. Petugas kesehatan (Black.(Smeltzer & Bare. Patoflodiagram Tuberkulosis Paru Sumber: Mansjoer Arif dkk. seperti: 1) Lansia 2) Pasien dengan kanker 3) Pasien dengan HIV 4) Mereka yang mendapat terapi kortikosteroid d. Amerika Latin . Infeksi di kelenjar dapat berkebang menjadi TB aktif dalam beberapa tahun atau tidak aktif sama sekali. Berkeringat malam f. Afrika. malnutrisi. gastrektomy. Karibia) g. et-al.585) 6. Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala yang menyertai penyakit tuberkulosis paru adalah: a. penjara) h. Eskimo. Populasi yang kurang mendapatkan pelayanan kesehatan misalnya ras dan suku minoritas (Afrika. silikosis. Individu imunosupresif. Anoreksia d. Amerika Latin. demikian juga pada DM dan silikosis. 1140 ) . Setiap individu yang tinggal di institusi (misalnya: fasilitas perawatan jangka panjang. Keletihan c. f. Pengguna obat-obat intra vena dan alkoholis e. Nyeri dada g. Orang yang kontak dekat dengan seseorang yang mempunyai TB aktif b. Kemungkinan menjadi sakit TB diperbesar pada balita. batuk pada awalnya mungkin non produktif. antara lain misalnya: diabetes mellitus. Juga keadaan yang menyebabkan turunnya imunitas memperbesar kemungkinan sakit. tetapi dapat berkembang kearah pembentukan sputum mukopurulen dengan hemotipsis. Demam tingkat rendah b. institusi psikiatrik. misalnya karena infeksi HIV dan pemakaian kortikosteroid atau obat imunosubresif lainya yang lama. Orang yang tinggal diperumahan kumuh i. Faktor Resiko Individu yang beresiko tinggi untuk tertular tuberkulosis paru adalah: a. Resiko reinfeksi tergantung pada intensitas terpaparnya sistem imun individu yang bersangkutan (Rahayu. 1997. Setelah terjadi infeksi pertama basil TB menyebar keseluruh tubuh suatu saat akan berkembang biak dan akan menyebabkan sakit. Dalam waktu 2-10 minggu terjadi cell mediated immune response. puberitas dan akli balik. h. Penurunan berat badan e. (2001) 5. lympoma. 1997. gagal ginjal kronis.

adanya sel raksasa menunjukan nekrosis. ( Black. d. peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total. GDA : dapat normal tergantuing lokasi dan berat dan kerusakan sisa pada paru. Individu terinfeksi. menutup mulut bila batuk dan membuang sputum dengan benar. Mantoux. contoh hiponatreamia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luar. f. Menyanyi (Smeltzer & Bare. Foto toraks: Dapat menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas. 1140) 9.7. Pencegahan sekunder 1) Ajarkan klien dengan TB untuk kontrol mencegah organisme dengan memakai masker. Cara Penularan Penyakit tuberkulosis ditularkan dari orang ke orang oleh transmisi melalui udara (droplet).585) 8. Kultur sputum : Pada pemeriksaan ini hasilnya positif unutk mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit b. g. 2) Orang yang kontak dengan penderita TB atau diduga TBC aktif sebara klinis. h. Histologi atau kultur jaringan paru : Positif untuk granuloma TB. terjadi 48-72 jam setelah injeksi intra dermal antigen menunjukan penyakit aktif reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh micobacterium yang berbeda. h. potongan Voll mer): Reaksi positif carea indurasi 10 mm atau lebih besar. 2000. dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis. 3) Orang yang beresiko tinggi 4) Hasil rontgen abnormal b. mencegah dan menangani tingkah laku seseorang yang mengalami perwatan TB. Pencegahan tersier 1) Klien harus menjalankan terapi pengobatan dengan obat antituberkulosis secara tuntas dan lengkap. c. Perubahan menunjukan lebih luas TB dapat termasuk. e. peningkatan ruang mati. kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luar) . Bersin d. Ziehl . 2) Mengubah. 1997. et-al. Berbicara b. Tes kulit (PPD. Pemeriksaan Diagnostik a. Tertawa e. Elektrosit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi. h. Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital. Pencegahan primer Berikan tuberkulosis skin test kepada: 1) Orang yang mengalami tanda dan gejala atau pemeriksaan hasil laboratorium abnormalitas yang diduga secara klinis tuberkulosis aktif. area fibrosa. melalui: a.Nealsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah ): positif untuk basil asam cepat c. Pencegahan a. Batuk c. 2) Evaluasi seseorang yang skin test TB positif tetapi tidak aktif menderita untuk terapi pencegahan dengan obat isoniazid.

241-242) 10. 4) Laringitis. Untuk kasus tuberculosis paru menurut Doenges (2000. observasi dan pemeriksaan fisik. b. Streptomisin (SM) : 15 mg/Kg/Hr ( IM ) e. Kanamicin : 15 – 30 mg/Kg/Hr ( IM ) c. 3) Amiloidosis. Sikloserin : 15 mg/Kg ( PO ) ( Black. Natrium para amino salisilat : 150 mg/Kg/Hr ( PO ) e. Etionamid : 15 – 20 mg/Kg/Hr ( PO ) d. sesuai kenyataan dan kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa keperawatan. 2001. 829). et. et. 2) Kerusakan parenkim berat (SOPT/Fibrosis Paru. Pengkajian Pengkajian adalah merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data sebagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.. 1996 (Nursalam. pendidikan pekerjaan . agama. 4) Karsinoma paru.(Doenges.. umur. Komplikasi lanjut 1) Obstruksi jalan nafas (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis). al. h. al. 1. 241). suku. 1). Komplikasi terdiri atas: a. 17). sehingga pengkajian akurat. perencanaan keperawatan. 25). pengkajian yang dilakukan meliputi: a. Lima garis depan digunakan adalah: a. Kor Pulmonal). ginjal. h. Dikutip dari Iyer et. Dikutip dari Iyer. 5) Sindrom Gagal Nafas Dewasa (ARDS). h. kulit dan usus). 1140 ) B KONSEP DASAR KEPERAWATAN Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan tuberculosis paru dimana asuhan keperwatan ini menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari 5 tahap. h. 2001. 2001. jenis kelamin. Rifamfisin (RIF) : 10 mg/Kg/hr ( PO ) c. Dikutip dari Iyer. 5) Menjalar ke organ lain (otak. h. h. initial. pelaksanaan dan evaluasi. 2000. Komplikasi dini 1) Pleuritis. lengkap. Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan data yag terdiri dari tiga metode yaitu komunikasi efektif. Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan askep sesuai dengan kebutuhan individu. Etambutol (EMB) : 15-25 mg/Kg/hr ( PO ) d. Pirazinamid (PZA) : 15 – 30 mg/Kg/hr ( PO ) Obat-obat baris kedua adalah : a. Data yang dikumpulkan terdiri atas data dasar dan data focus. Identitas Kajian ini meliputi nama. 2) Efusi pleura. Isoniazid (INH) : 5 mg/Kg/hr ( IM/PO) b. 1996 (Nursalam. al. 3) Empiema. sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB. Kapreomisin : 15 – 30 mg/Kg/Hr ( IM ) b. tulang. 11. (FKUI. Penatalaksanaan Tuberkulosis paru diobati terutama dengan agens kemoterapi (agens antituberkulosis) periode 6-12 bulan. 1996 ( Nursalam. yaitu : Pengkajian. diagnosa keperawatan.. h. Komplikasi TBC paru bila tidak ditangani dengan benar dan baik akan menimbulkan komplikasi. 2000. 1997.

napas pendek. . 35). dan sesak (tahap lanjut). kering/kulit bersisik. h. hal ini penting untuk memaparkan masalah kesehatan klien yang mungkin dapat menyebabkan komplikasi lebih berat terhadap penyakit tuberculosis ini. Ditandai dengan peningkatan frekuensi. mudah terangsang. ansietas. penurunan berat badan. tubuler dan atau bisikan pectoral di atas lesi luas. napas pendek karena kerja. menurunkan. mencegah dan merubah. Ditandai perilaku distraksi dan gelisah. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan informasi secara pasti untuk menjaga status kesehatan. perubahan mental ( tahap lanjut). 7) Penyuluhan/pembelajaran Ditandai dengan adanya riwayat keluarga yang menderita TBC. ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk. 2) Pola Integritas ego Klien dapat mengalami stress. mukoid kuning. c. perasaan tak berdaya/ tak ada harapan ditandai menyangkal. Ditandai dengan turgor kulit buruk. produktif atau tak produktif. kesulitan tidur pada malam hari. Riwayat Penyakit Sekarang 1) Keluhan Utama Keluhan demam malam.dan tempat tinggal klien. masalah keuangan. demam malam hari. keletihan. 3) Pola Nutrisi Metabolik/ cairan Klien dapat mengeluh kurang nafsu makan. 3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan. b. perubahan pola biasa dalam tanggung jawab atau perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran. keringat malam. termasuk pengalaman operasi atau cedera akibat kecelakaan. bunyi napas: menurun. Ditandai dengan kelemahan otot. riwayat tuberkulosis atau terpajan pada individu terinfeksi. nyeri. h. Pola Kesehatan 1) Pola Aktivitas / Istirahat Klien dapat mengalami penurunan kelemahan. pengembangan pernapasan tak simetris (efusi pleura). Dikutip dari Carpenito. perkusi pekak dan penurunan fremitus. Riwayat Penyakit Dahulu Kaji riwayat penyakit yang pernah diderita dari masa kanak-kanak sampai dewasa. serta hubungannya dengan klien. 6) Pola interaksi sosial Klien merasa terisolasi/penolakan karena penyakit menular.241) 2. 2000 (Nursalam. Krekels tercatat di atas apek paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek Karakteristik sputum hijau/purulen. membatasi. 5) Pola Pernapasan Klien mengeluh batuk. napsu makan berkurang. 2) Riwayat Perjalanan Penyakit Berapa lama sakit dialami. hal-hal yang memperingan / memperberat penyakit. atau bercak darah. gagal untuk membaik/kambuhnya penyakit serta tidak mau berpartisipasi dalam terapi.(Doenges. penurunan berat badan. berkeringat malam. tak dapat mencerna. Selain itu perlu juga dikaji nama dan alamat penanggung jawab. d. batuk-batuk berdahak/berdarah. 2000. menggigil atau berkeringat. ketakutan. 2001.susah bernapas.kehilangan otot/hilang lemak subkutan 4) Pola Nyeri / Kenyamanan Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. 240 .

dispnea. Hirarki menurut Maslow Aktualisasi Diri Harga diri Mencintai dan dicintai Rasa aman dan nyaman Kebutuhan fisiologis. 2001. langkah berikutnya adalah menetapkan perencanaan keperawatan. c. O2. Dikutip dari Gordon. Hirarki “ Maslow “.d penurunan permukaan efektif paru. 2000 (Nursalam.aturan tindakanan. Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah. sering batuk/produksi sputum. makanan. kelemahan. Rencanaan Keperawatan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan. b. Menurut Doenges (2000. h. (Nursalam. CO2.d kurang sumber informasi. terpajan lingkungan dan kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen. Maslow (1967) menjelaskan kebutuhan dasar manusia dibagi menjadi dalam lima tahap: fisiologis. kerusakan jaringan/penambahan infeksi. h. h. Penetapan prioritas masalah keperawatan untuk memenuhi kebutuhan pasien didasarkan kepada hirarki kebutuhan dasar manusia. Terdapat 3 (tiga) tindakan dalam tahap rencana tindakan yaitu rencana tidakan perawat. edema trakeal/faringeal. h. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi. e.d pertahanan primer tak adekuat. 35). Beberapa komponen yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi rencana tindakan keperawatan meliputi menentukan prioritas. rencana tindakan pelimpahan (delegasi) dan program atau perintah medis yang ditujukan untuk klien yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh perawat. menentukan kriteria hasil. mencintai dan dicintai. harga diri dan aktualisasi diri. penurunan kerja silia/stasis sekret. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. d. 3. Dikutip dari Carpenito. Bersihan jalan napas tidak efektif b. yaitu : a. Ada dua contoh hirarki yang bisa digunakan. pencegahan b.d. diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan tuberkulosis paru adalah : a.Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai kewenangan memberikan tindakan keperawatan. seks . 2001. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan penyimpulan rencana dokumentasi. 242 – 248). menentukan rencana tindakan dan dokumentasi. mengurangi atau mengoreksi masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan . 58). 2001. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b. 52).d sekret kental. upaya batuk buruk. sekret kental. Resiko tinggi penyebaran infeksi/aktivasi ulang penyakit b. anoreksia. 1976 (Nursalam. kerusakan membrane alveolar-kapiler. atelektasis. kelemahan. edema bronkhial. rasa aman dan nyaman. elektrolit.

242-249)... diterima oleh kelompok. Bersihan jalan napas tak efektif efektif b. 4) Kebutuhan harga diri (Esteem Need) Contoh: Dihargai dan menghargai respek dari orang lain. dan menghindari nyeri. b. air. bunyi napas. upaya batuk buruk. Dikutip dari Iyer et. Rencana Tindakan: 1) Kaji fungsi pernapasan. 52). irama dan kedalaman dan penggunaan otot dan aksesori. air. mengi menunjukan akumulasi sekret/ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan 2) Kaji kemampuan untuk batuk efektif. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. cairan. elektrolit. istirahat. 4) Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam. Tujuan : Jalan napas klien bersih dan tidak ada sekret. mengeluarkan sekret tanpa bantuan. 5) Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari. al. Ronki. edema trakeal/faringeal. kecepatan. Adapun rencana tindakan dari diagnosa keperawatan yang muncul pada Tuberkulosis paru menurut Doenges (2000. menunjukkan prilaku mempertahankan bersihan jalan napas dan klien berpartisipasi dalam pengobatan. toleransi dalam hidup berdampingan. Rasional: Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan. 5) Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualitation Need) Contoh: Ingin diakui..d sekret kental. Hirarki “ Kalish” Kalish (1983) lebih jauh menjelaskan kebutuhan Maslow dengan membagi kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan untuk bertahan dan stimulasi.d pertahanan primer tak . Rasional : Penurunan bunyi napas dapat menunjukan atelektasis. makanan 2) Kebutuhan rasa aman : ( Safety Need) Contoh: Terhindar dari penyakit. eliminasi. Kriteria Hasil : Mempertahankan jalan napas.Gambar Hirarki Maslow Tentang Kebutuhaan Dasar Manusia Keterangan : 1) Kebutuhan fisiologis ( Physiological Need ) Contoh: Udara segar. karakter dan jumlah sputum. Kalish mengidentifikasikan kebutuhan untuk mempertahankan hidup: udara. Setelah penyusunan prioritas perencanaan diatas maka langkah selanjutnya adalah penyusunan rencana tindakan. 2001. Kolaborasi : 6) Pemberian obat kortikosteroid sesuai pesanan Rasional: Berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bila respon inflamasi mengancam hidup. Sputum berdarah kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kavitasi) paru atau luka bronkial dan dapat memerlukan evaluasi/intervensi lanjut 3) Berikan posisi semi fowler. temperatur. ingin mencintai dan dicintai. kelemahan. pencurian dan perlindungan hukum 3) Kebutuhan mencintai dan dicintai (Love Need ) Contoh: Mendambakan kasih sayang. h. membuatnya mudah dikeluarkan. Rasional: Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan. Resiko tinggi penyebaran infeksi/aktivasi ulang penyakit b. 1996 (Nursalam. b. Rasional: Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret. adanya hemoptisis. berhasil dan menonjol dari orang lain. adalah sebagai berikut: a. h.

Rencana Tindakan: 1) Kaji dyspnea.adekuat. bunyi pernapasan abnormal. untuk mencegah kolaps/penyempitan jalan napas. 2) Observasi tanda-tanda vital (TD. 7) Tekankan untuk tidak menhentikan terapi obat. keterbatasan ekspansi dada dan fatigue. terpajan lingkungan dan kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen. Efek pernapasan dapat ringan sampai dispnea berat sampai distres pernapasan. meludah. klien dan keluarga melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman. Rasional: pengetahuan tentang ini dapat menurunkan resiko infeksi dengan merubah pola hidup. 2) Evaluasi perubahan tingkat kesadaran. 4) Identifikasi orang yang berisiko terinfeksi. Rencana Tindakan : 1) Kaji patologi penyakit fase aktif/tidak aktif dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk. bersin. Rasional : Perubahan nilai tanda vital merupakan indikator adanya infeksi lanjut. kerusakan membrane alveolar-kapiler. Rasional: Membuat tahanan melawan udara luar. dan fibrosis luas. atelektasis. bicara. effusi pleural. tertawa. N). Rasional: Membantu pasien menyadari/menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang/komplikasi. menangis. 3) Anjurkan klien untuk batuk/bersin menggunakan tisu dan buang pada tempat yang tepat serta cuci tangan dengan desinfektan sebelum dan sesudah kontak dengan klien Rasional : mencegah terjadinya penularan nasokomial dari pasien ke perawat atau orang lain. penurunan kerja silia/stasis sekret.d penurunan permukaan efektif paru. Rasional: Karena penyebaran infeksi dapat berlanjut. meningkatnya respirasi. S. 5) Jelaskan cara penularan penyakit dan cara menguranginya. sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan . catat tanda-tanda sianosis dan perubahan kulit. Kriteria hasil : Dapat menentukan intervensi mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. Rasional: Akumulasi sekret/pengaruh jalan napas dapat mengganggu oksigenisasi organ vital dan jaringan. nekrosis. Rasional: orang yang terpajan ini perlu program pengobatan untuk cegah penularan dari klien pada orang lain. Kolaborasi: 6) Berikan agen anti infeksi sesuai dengan indikasi Rasional: Agen anti infeksi dapat digunakan sebagai pengobatan dan cegah komplikasi lanjut. selaput mukosa dan warna kuku. Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan klien tidak mengalami kerusakan pertukaran gas CO2 dan O2 Kriteria Hasil : Perbaikan ventilasidan oksigenisasi jaringan adekuat dengan gas darah analisa dalam rentang normal. sekret kental. edema bronkhial. Tujuan : Setelah diberikan intervensi tidak terjadi penyebaran infeksi dan penularan penyakit terhadap orang lain. DN. Rasional: TB paru menyebabkan efek luas pada paru dan bagian kecil bronkopneumonia sampai inflamasi difus luas. 3) Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. c. kerusakan jaringan/penambahan infeksi. takipnea. khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b.

Rasional: Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang perlu/kebutuhan energi dari makan makanan banyak dan menurunkan iritasi gaster. Tujuan : Meningkatkan perubahan/perilaku pola makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. nyeri dada. Kolaborasi 6) Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet. demam. Kriteria Hasil : Klien menyatakan pemahaman proses penyakit/ prognosis dan kebutuhan pengobatan. Rencana Tindakan: 1) Kaji status nutrisi. d. Rencana Tindakan: 1) Kaji kemampuan belajar pasien. Rasional: Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet. Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet. 2) Identifikasi gejala yang harus dilaporkan: hemoptisis. Rasional: Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu. 4) Dorong dan berikan periode istirahat sering. 3) Monitor intake dan output secara periodik. khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam. Rasional:: Alat dalam perbaikan hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan alveolar paru. Rasional: Membantu dalam mengidentifikasikan kebutuhan/ kekuatan khusus. Rasional: Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Kriteria Hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan dan bebas dari tanda-tanda malnutisi. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi. Kolaborasi : 5) Berikan oksigen tambahan . Rasional: Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala. riwayat mual dan muntah.menghilangkan/menurunkan napas pendek. 5) Dorong klien untuk makan sedikit tapi sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Rasional: Berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat. kesulitan . Rasional: Dapat membantu menurunkan insiden mual dan muntah sehubungan dengan obat atau efek pengobatan pernapasan pada perut yang penuh 8) Berikan terapi parenteral sesuai indikasi. 7) Berikan obat penetralisir asam lambung sesuai indikasi. 2) Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Rasional: Membantu terpenuhinya kebutuhan cairan dan pengobatan parenteral e. 4) Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktifitas. Rasional: Membantu menghemat energi. pengobatan dan pencegahan berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : Setelah diberikan intervensi klien dan keluarga menunjukkan perubahan prilaku untuk memperbaiki kesehatan.

batuk. 2) Tutup mulut dan hidung bila bersin. b. Rasional: Memenuhi kebutuhan metabolik membantu meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. Rasional: Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien . pada tahap perencanaan perlu direncanakan untuk pemulangan klien agar setiap apa yang didapatkan oleh klien di rumah sakit dapat diterapkan oleh pasien seperti hal-hal berikut ini: 1) Minum obat sesuai dengan resep dokter. Perencanaan Pulang a. pakai masker atau jaringan yang kotor. perhatikan ventilasi rumah dan perhatikan gizi yang baik. Rasional: Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang atau efek obat yang memerlukan evaluasi. Cairan dapat mengencerkan/ mengeluarkan sekret. 3) Tekanan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat serta pemasukan cairan adekuat.Perawatan Di Rumah Setelah klien dirawat di rumah sakit. lingkungan yang bersih selama perawatan di rumah. 5) Usahakan banyak istirahat. Tujuan Pemulangan 1) Fungsi pernapasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu 2) Komplikasi dicegah 3) Pola hidup atau perilaku berubah untuk mencegah penyebaran infaksi 4) Proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dipahami. dan tertawa. 3) Cuci tangan dan hati-hati setelah kontak dengan produk tubuh. Epidemiologi (TBC) | Page 11 of . vertigo. kehilangan pendengaran. dan terapi yang diberikan. 4. frekuensi pemberian dan kerja yang diharapkan. Rasional: Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi.napas. 6) Jangan menghentikan pengobatan sebelum waktu yang telah ditentukan agar tidak resistensi terhadap obat. 4) Gunakan masker pada situasi yang tepat dan gunakan dengan tepat. Batuk dengan tissue dan buang di tempat tertutup atau dibakar. 6) Kaji bagaimana Tuberkulosa ditularkan dan bahaya reaktivasi Rasional: Pengetahuan dapat menurunkan risiko penularan/ reaktivitas ulang. 4) Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan. Pengulangan menguatkan belajar 5) Jelaskan dosis obat. 8) Berikan penyuluhan secara tertulis terhadap penyakit. 7) Minta bantuan keluarga untuk pengawasan minum obat.

kesemutan dan rasa terbakar di hati.PENGOBATAN7 .3 bulan.supaya semua kuman dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan dalam dosis tunggal. Pagi hari ke 2 dan Sewaktu juga saat hari ke2) dibawah pemeriksaan mikroskopis. Is o n i as i d 2. Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat (minumobat) tiga kali seminggu selama 4 – 5 bulan. dan faktorhigiene lingkungan yang lain yang lebih baik.sebaiknya pada saat perut kosong. J E N I S O B A T 1. tidak ada nafsumakan. Epidemiologi (TBC) | Page 12 of 13 BAB II KASUS TBC Untuk menegakkan diagnosa TBC Paru adalah dengan memeriksa dahakseseorang yang di duga mengidap TBC. Pada tahap intensif penderita mendapat obat (minumobat) setiap hari selama 2 .Pengobatan penderita TBC terdiri atas 3 fase1. Perlakuan pada rumah penderita untuk lebihmemperhatikan factor kesehatan lingkungan denganmenambah ventilator sebagai pengganti udara.Rifampicin3. Apabila ada gejala-gejala suspek (Kecurigaan) TBC makaharus diperiksa dahaknya. Jika pasienmerasakan hal-hal tersebut.Pengobatan Penderita TBC adalah dengan kombinasi beberapa jenis obatdalam jumlah cukup dan dosis yang tepat selama 6 – 8 bulan. T a h a p i n t e n s i f 2. 7.Pengobatan pada penderita hingga sembuh 2.Efek samping ringan dapatberupa berubahnya warna urine menjadi kemerahan yang diakibatkan olehrifampisin. Dalambeberapa kasus pengobatan bisa berlangsung hingga delapan bulan. Obat diminum setiap hari selama 2 bulan . mual.13 virulenci penularan penyakit TBC supaya tidak terjadiprevalencipenyakit TB yang lebih besar.3 . 1 . Apabila paduan obat yangdigunakan tidak adekuat. Pengobatan TB diberikan dalan 2 Tahap yaitu:1 . Metode Penemuan Kasus TBC paru Dengan cara passive promotive case finding artinya penjaringantersangka penderita yang dating berkunjung ke unit pelayanan kesehatandengan meningkatkan penyuluhan TBC kepada masyarakat.Fase Intensif . Pemeriksan dahak di lakukansecara SPS (Sewaktu saat kontak pertama.1. kuman TB akan berkembangmenjadi kuman kebal.3 . T a h a p l a n j u t a n 4. 6. dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan. pasien harus segera berkonsultasi dengandokter untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.Bila ditemukan penderita tuberculosis paru dengan sputum dahat BTA +.EFEK SAMPING OBAT Beberapa efek samping yang mungkin muncul akibat mengkonsumsi obatTB bervariasi mulai dari ringan hingga berat.Streptomicin 7.maka semua orang yang kontak serumah dengan penderita harusdiperiksa.PEMBERANTASAN PENYAKIT TBC 1.2. 1.Pirasinamid4.1. Efek samping lainnya dapat berupa nyeri sendi. gentengkaca supaya sinar matahari dapat masuk. S t e r i l i s a s i R u m a h p a s c a P e n d e r i t a . gatal dan kemerahan dikulit gangguan keseimbangan hingga kekuningan (ikterus).PRINSIP OBAT Obat TB iberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis. fase lanjutan. Hasil pemeriksaanmikroskopis ini sangat dijaga kualitas dengan melakukan cros cek/ ujisilang lagi juga menjaga hasil pemeriksaan sedian dahak BTA.

.Epidemiologi (TBC) | Page 13 of 13 2 . B S . genting kaca dankebersihan rumah/lantai).Kemasan Obat FDC (Fixed Dose Combination) 1 tablet obat mengandung150 mg Rifamfisin. 75 mg INH. F a s e L a n j u t a n . O b a t d i m i n u m s e m i n g g u 3 k a l i . kurangnya ventilasi dan sinar matahari. Perbaikan lingkungan (Pembuatan jendela. Kesimpulan Faktor yang mempengaruhi terjadinya kasu TBC pada NY S adalahlingkungan yang lembab.(Dikutip dari : Buku Saku Petugas Program TBC. Paduan OAT (OBat Anti Tuberkulosa) FDCSaat ini di Provinsi Kalimantan Selatan sudah menggunakan OAT FDC. 400 mg Pyrazinamid dan 275 mgEthambutol. Kemudianperilaku adalah tidak ada tempat khusus untuk dahak dan kalau batuk tidakmenutup mulut. Depkes RIDiagram diagnosa TB BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A.a r n 1.

2. Menutup mulut waktu batuk dan tempat khusus untuk dahak danpembuangan dahak tidak sembarangan .

penyakit TB memang tidak diturunkan. angka kejadian penyakit ini tetap tinggi dan cenderung meningkat. Memang bapak tetangga sebelah itu Dok.” Dokter memeriksa dengan teliti. batuknya sudah 3 minggu lebih belum sembuh. Penderita sendiri terkadang malas berobat atau tidak tuntas menyelesaikan pengobatan. panas-batuk-pilek. banyak pula masyarakat yang belum mengetahui seluk beluk penyakit ini. Laporan World Health . “Dari mana.com/cetak/0304/28/hikmah/lainnya02. Katanya punya penyakit bronchitis. diperkirakan terdapat 8 juta kasus baru terjadi di seluruh dunia setiap tahun dan hampir 3 juta orang meninggal sebagai akibat langsung dari penyakit ini.pikiran-rakyat. Masih banyak orang yang tidak mengerti bahwa penyakit TB dapat menular. tapi menular . Penderita TB anak yang tidak terdeteksi. Bu. Padahal sudah saya beri vitamin dan obat cacing. Dalam „Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis‟ yang dikeluarkan Departemen kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2003. 28 Maret 2004 http://www. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak waspada ketika mengetahui ada penderita TB dewasa di sekitarnya.” Dokter pun menjawab. hampir setiap bulan saya ganti dokter. sudah bosan berobat tapi belum sembuh juga katanya. Ririwit pisan budak teh.” “Hah!?” Kontan si ibu terhenyak. sering batuk-batuk. Tubuh kecil dan kurus membuatnya terlihat ringkih. Tapi saya bosan. Selain karena sulitnya dokter mendiagnosa kasus TB pada anak. atau terlambat diketahui. Minggu. Kasus tuberculosis pada anak terjadi sekira 1. Padahal sumber penularan yang paling berbahaya adalah orang dewasa yang positif menderita TB. Dok (mudah sekali sakit anak ini. Anak lelaki itu berjalan lunglai. Batuk. Lagipula. memberi surat pengantar ke laboratorium.htm RAMBUTNYA tampak kusam kemerahan. Dulu malah pernah batuk darah.3 juta setiap tahun dan 450. tapi tetap saja kurus begini. dokter menyimpulkan. Mana makannya susah sekali. 2004 1:00 pm | Print Pikiran Rakyat. Sekarang. Kasus di atas sering terjadi di masyarakat. seperti yang saya ceritakan kemarin. Sesekali digunakannya lengan baju untuk mengusap ingus yang keluar.batuk kecil pun kerap terdengar dari mulutnya. Akhirnya. ibunya bercerita ” Anak saya sakit biasa Dok.” Setiap tahun dunia diingatkan tentang bahaya TB melalui “TB Day” yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. anak ibu kemungkinan menderita tuberculosis (TB) Paru.Waspadai Penyakit TB paru. Dok? Di keluarga saya mah tidak ada turunan yang begini. Seorang Penderita TB Dewasa Bisa Menulari Sepuluh Anak Agnes | March 28. ” Saya memang sering mendengar masyarakat awam menyebut penyakit ini bronchitis.000 di antaranya meninggal dunia.Masuk ke dalam ruang praktik dokter. “Ibu. Matanya yang cekung menatap tanpa gairah. bersama seorang ibu yang menggandengnya. Padahal sama sekali berbeda. Dok). dan berpesan agar mereka kembali kontrol. Walaupun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi penyakit TB.

dan strategi DOTS ( Directly Observed Therapy Short-course) yang belum berhasil. diagnosis dan pengobatan yang tidak tepat. baik di paru maupun di luar paru. TB dapat terjadi pada semua kelompok umur. Strategi DOTS adalah program yang direkomendasikan oleh WHO. Kuman tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru. menyebutkan Indonesia menempati urutan ketiga dunia dalam hal jumlah kasus TB setelah India dan Cina. makin besar pula kemungkinan terjadi penularan. tahun 1997. kuman yang berada dalam tubuh mereka bisa berada dalam keadaan dormant (tidur). dan tidak dari anak ke dewasa. terutama anak-anak. Bila terinfeksi.Organization (WHO). Anak yang rawan tertular TB adalah anak yang berusia dibawah 5 tahun. Sumber penularan yang paling berbahaya adalah penderita TB dewasa dan orang dewasa yang menderita TB paru dengan kavitas (caverne). atau mengalami infeksi laten beberapa lama kemudian (akan mengalami penyakit apabila terjadi penurunan daya tahan tubuh). Dalam makalah yang berjudul „Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak‟ (tahun 2002). Prof. saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. dari setiap 100. migrasi penduduk. Anak mungkin tidak pernah terkena infeksi. Namun bila angka kejadian TB dewasa tinggi dapat diperkirakan kejadian TB anak akan tinggi pula.000 penduduk Indonesia akan ditemukan 130 penderita baru TB paru dengan bakteri tahan asam (BTA) positif. Sehingga setiap anak yang mempunyai risiko tertular dapat dideteksi dini dan diberi pencegahan. Sumber penularan bagi bayi dan anak yang disebut kontak erat. system saluran limfa. Hal-hal berikut dapat terjadi pada bayi dan anak yang mempunyai kontak erat dengan penderita TB dewasa. Beberapa hal yang diduga berperan pada kenaikan angka kejadian TB antara lain adalah. mereka mudah terkena penyakit TB. Hal ini terjadi karena setiap orang dewasa dengan basil tahan asam (BTA) positif akan menularkan 10 orang di lingkungannya. Karenanya sangat penting untuk mendeteksi TB pada dewasa dan menelusuri rantai penularannya. tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. dokter spesialis konsultan penyakit paru anak. . dr. Kemudian kuman menyebar dari paru ke bagian tubuh lain melalui system peredaran darah. pengajar di Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Anak Universitas Padjajaran. bersin dan percakapan. kepatuhan yang kurang. adalah orangtuanya. dalam makalahnya. peningkatan kasus HIV/AIDS. „Pencegahan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak‟ ( tahun 2002) menyebutkan. dan cenderung menderita TB berat seperti TB meningitis. Sejak tahun 1995 program ini dilaksanakan untuk menanggulangi pemberantasan tuberculosis paru di Indonesia. angka kejadian TB anak belum diketahui secara pasti. TB milier atau penyakit paru berat. Oma Rosmayudi SpA. Semakin sering dan lama kontak. Pada tahun 1999 WHO memperkirakan. karena sulitnya mendiagnosa TB pada anak. Apakah tuberculosis itu? Dalam buku Depkes yang sama disebutkan. terkena infeksi tetapi tidak sampai menderita penyakit. Cissy B. mengalami infeksi yang kemudian menjadi penyakit. orang serumah atau orang yang sering berkunjung. menjelaskan bahwa penyakit TB ditularkan orang dewasa kepada anak-anak. Dr. Untuk sementara. Orang yang tidak menjadi sakit tetap mempunyai risiko untuk menderita tuberculosis sepanjang sisa hidupnya. Sedangkan mereka yang menjadi sakit disebut sebagai penderita tuberculosis. Kasus seperti ini sangat infeksius dan dapat menularkan penyakit melalui batuk. Sebagian besar orang yang terinfeksi (80-90%) belum tentu menjadi penderita tuberculosis. Kartasasmita SpA.

maka seorang anak dianggap menderita TB dan harus mendapatkan obat anti tuberculosis (OAT). Seorang anak dicurigai menderita TB bila. bagaimanakah cara pencegahan agar anak tidak tertular penyakit ini? Menurut Prof. Hanya sebagian kecil penderita yang memberikan gejala tidak spesifik seperti demam. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat. penurunan berat badan. Dengan segala keterbatasan yang ada. Cissy dalam makalah yang sama. Para dokter diharapkan selalu menambah pengetahuan dan ketrampilan agar dapat mendeteksi serta mendiagnosis penyakit TB pada stadium dini. berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan kurang yang tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi. dalam jumlah dan dosis yang tepat selama 6-9 bulan supaya kuman dapat dibunuh. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. sulit makan. konjungtivitis fliktenularis. Diagnosis pasti TB dibuat bila ditemukan basil TB dari bahan yang diambil dari dahak (sputum). Cara-cara pencegahan di atas telah dilakukan di Indonesia. TB pada bayi dan anak dapat dicegah dengan beberapa cara seperti imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin). penyakit. gambaran radiologis. uji tuberculin dan pemeriksaan lain yang cocok. Semua tahap OAT diberikan setiap hari dalam satu dosis sebelum makan pagi. Sedangkan tahap lanjutan dimaksudkan agar semua kuman yang dorman (tidur) terbunuh. Karenanya diagnosis TB pada anak didasarkan atas diagnosis kemungkinan (probability) dari hasil gambaran klinis. bilasan lambung atau jaringan yang terkena penyakit. Pemberian obat kombinasi lebih sedikit tetapi dalam jangka waktu lebih panjang yaitu 4 bulan. menghindari kontak dengan penderita TB. reaksi cepat BCG( timbul kemerahan di lokasi suntikan dalam 3-7 hari setelah imunisasi BCG). batuk dan mengi (sesak nafas). pembesaran kelenjar limfe superficial yang spesifik. Mengingat angka kejadian TB yang cenderung meningkat. anak yang menderita TB tidak banyak menunjukkan gejala dan tanda. Konsensus nasional TB anak IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 2002 membuat alur deteksi dini dan rujukan TB pada anak sebagai berikut. ada riwayat kontak dengan penderita TB sputum BTA positif. demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas. Namun semua itu belum memperlihatkan hasil yang nyata. Pengobatan TB pada bayi dan anak pada dasarnya sama dengan TB dewasa. Selanjutnya anak diobservasi selama 2 bulan. skrolfuloderma. Tahap ini harus dilaksanakan dengan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya kekebalan obat selama 2 bulan. batuk lebih dari 3 minggu.Muncul tidaknya infeksi penyakit TB tergantung beberapa faktor seperti daya tahan tubuh (umur. Selain itu. Tahap intensif dimaksudkan untuk menghentikan proses penyakit.status gizi. tes tuberculin yang positif (> 10 mm). yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. ada tidaknya kekebalan spesifik) serta jumlah dan virulensi kuman yang sampai ke saluran di paru-paru. Sedangkan masyarakat dituntut lebih proaktif dalam meningkatkan pengetahuan dan keingin-tahuan mengenai . pengobatan dan pencegahan Mengapa diagnosa pasti TB pada anak sulit ditegakkan?. pemerintah telah melakukan Program pemberantasan tuberculosis paru dan berbagai kebijakan lainnya. Bila ditemukan 3 gejala atau lebih. Karenanya peran aktif dokter dan masyarakat akan sangat membantu dalam pemberantasan penyakit ini. Diagnosis. Bila keadaannya membaik maka OAT diteruskan. serta dengan menerapkan strategi DOTS . pengobatan untuk pencegahan (kemoprofilaksis). mendiagnosis dan mengobati kasus TB dewasa secara tepat. dan gambaran foto rontgen sugestif TB. OAT diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. tapi bila tetap atau memburuk harus dirujuk ke rumah sakit.

3 juta setiap tahun dan 450. Bu. sudah bosan berobat tapi belum sembuh juga katanya. Padahal sama sekali berbeda.” Setiap tahun dunia diingatkan tentang bahaya TB melalui “TB Day” yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. hembusan nafas setiap penderita TB paru dewasa dapat menular pada sepuluh anak disekitarnya. tapi tetap saja kurus begini. diperkirakan terdapat 8 juta kasus baru terjadi di seluruh dunia setiap tahun dan hampir 3 juta orang meninggal sebagai akibat langsung dari penyakit ini. Walaupun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi penyakit TB. sehingga penyakit TB pada anak dapat terdeteksi dan terobati sejak awal. Sekarang.000 di antaranya meninggal dunia. Pada tahun 1999 WHO memperkirakan. Selain karena sulitnya dokter mendiagnosa kasus TB pada anak. Kasus di atas sering terjadi di masyarakat. sering batuk-batuk. Penderita sendiri terkadang malas berobat atau tidak tuntas menyelesaikan pengobatan. panas-batuk-pilek. Dulu malah pernah batuk darah. “Dari mana. dan berpesan agar mereka kembali kontrol. dari setiap 100. jangan biarkan! (Agnes Tri Harjaningrum. hampir setiap bulan saya ganti dokter. Masih banyak orang yang tidak mengerti bahwa penyakit TB dapat menular. Kasus tuberculosis pada anak terjadi sekira 1. Lagipula.” Dokter memeriksa dengan teliti. memberi surat pengantar ke laboratorium. seperti yang saya ceritakan kemarin. batuknya sudah 3 minggu lebih belum sembuh. Dalam „Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis‟ yang dikeluarkan Departemen kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2003. akan semakin banyak penderita dewasa yang sembuh dan tidak lagi menularkan penyakitnya pada anak-anak. tahun 1997. dokter menyimpulkan. menyebutkan Indonesia menempati urutan ketiga dunia dalam hal jumlah kasus TB setelah India dan Cina. “Ibu. banyak pula masyarakat yang belum mengetahui seluk beluk penyakit ini. Hasilnya. angka kejadian penyakit ini tetap tinggi dan cenderung meningkat. Padahal sumber penularan yang paling berbahaya adalah orang dewasa yang positif menderita TB. Katanya punya penyakit bronchitis.penyakit ini. dokter umum. Dok). Selain itu. Laporan World Health Organization (WHO). Penderita TB anak yang tidak terdeteksi. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak waspada ketika mengetahui ada penderita TB dewasa di sekitarnya. Dok? Di keluarga saya mah tidak ada turunan yang begini. atau terlambat diketahui. . Memang bapak tetangga sebelah itu Dok. Ingat.” Dokter pun menjawab. masyarakat akan lebih waspada. Ririwit pisan budak teh. Mana makannya susah sekali. ” Saya memang sering mendengar masyarakat awam menyebut penyakit ini bronchitis. anak ibu kemungkinan menderita tuberculosis (TB) Paru. ibunya bercerita ” Anak saya sakit biasa Dok.” “Hah!?” Kontan si ibu terhenyak. penyakit TB memang tidak diturunkan. Dok (mudah sekali sakit anak ini. tapi menular .000 penduduk Indonesia akan ditemukan 130 penderita baru TB paru dengan bakteri tahan asam (BTA) positif. Tapi saya bosan. dan peserta klub penulisan Hardim) Masuk ke dalam ruang praktik dokter. Padahal sudah saya beri vitamin dan obat cacing. Bila pengetahuan masyarakat bertambah. masyarakat dapat membantu melaporkan kasus baru TB dewasa dan memberikan motivasi pada penderita untuk berobat dan tidak bosan meminum obat. Akhirnya.

Semakin sering dan lama kontak. orang serumah atau orang yang sering berkunjung. Dr. dan strategi DOTS ( Directly Observed Therapy Short-course) yang belum berhasil. dan tidak dari anak ke dewasa. Karenanya sangat penting untuk mendeteksi TB pada dewasa dan menelusuri rantai penularannya. Hal ini terjadi karena setiap orang dewasa dengan basil tahan asam (BTA) positif akan menularkan 10 orang di lingkungannya. Kuman tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru. Kartasasmita SpA. adalah orangtuanya. system saluran limfa. Anak yang rawan tertular TB adalah anak yang berusia dibawah 5 tahun. Kasus seperti ini sangat infeksius dan dapat menularkan penyakit melalui batuk. terkena infeksi tetapi tidak sampai menderita penyakit. Sebagian besar orang yang terinfeksi (80-90%) belum tentu menjadi penderita tuberculosis. migrasi penduduk. bersin dan percakapan. mengalami infeksi yang kemudian menjadi penyakit. dan cenderung menderita TB berat seperti TB meningitis. saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Bila terinfeksi. TB dapat terjadi pada semua kelompok umur. pengajar di Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Anak Universitas Padjajaran. Sumber penularan yang paling berbahaya adalah penderita TB dewasa dan orang dewasa yang menderita TB paru dengan kavitas (caverne). Hal-hal berikut dapat terjadi pada bayi dan anak yang mempunyai kontak erat dengan penderita TB dewasa. dr.Prof. Oma Rosmayudi SpA.status gizi. Anak mungkin tidak pernah terkena infeksi. atau mengalami infeksi laten beberapa lama kemudian (akan mengalami penyakit apabila terjadi penurunan daya tahan tubuh). Muncul tidaknya infeksi penyakit TB tergantung beberapa faktor seperti daya tahan tubuh (umur. makin besar pula kemungkinan terjadi penularan. Namun bila angka kejadian TB dewasa tinggi dapat diperkirakan kejadian TB anak akan tinggi pula. Apakah tuberculosis itu? Dalam buku Depkes yang sama disebutkan. Beberapa hal yang diduga berperan pada kenaikan angka kejadian TB antara lain adalah. dokter spesialis konsultan penyakit paru anak. Diagnosis. Sedangkan mereka yang menjadi sakit disebut sebagai penderita tuberculosis. menjelaskan bahwa penyakit TB ditularkan orang dewasa kepada anak-anak. mereka mudah terkena penyakit TB. Cissy B. „Pencegahan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak‟ ( tahun 2002) menyebutkan. diagnosis dan pengobatan yang tidak tepat. Orang yang tidak menjadi sakit tetap mempunyai risiko untuk menderita tuberculosis sepanjang sisa hidupnya. karena sulitnya mendiagnosa TB pada anak. tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sejak tahun 1995 program ini dilaksanakan untuk menanggulangi pemberantasan tuberculosis paru di Indonesia. baik di paru maupun di luar paru. Untuk sementara. pengobatan dan pencegahan . Sehingga setiap anak yang mempunyai risiko tertular dapat dideteksi dini dan diberi pencegahan. dalam makalahnya. ada tidaknya kekebalan spesifik) serta jumlah dan virulensi kuman yang sampai ke saluran di paru-paru. penyakit. peningkatan kasus HIV/AIDS. Sumber penularan bagi bayi dan anak yang disebut kontak erat. Kemudian kuman menyebar dari paru ke bagian tubuh lain melalui system peredaran darah. Strategi DOTS adalah program yang direkomendasikan oleh WHO. Dalam makalah yang berjudul „Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis pada Bayi dan Anak‟ (tahun 2002). kepatuhan yang kurang. TB milier atau penyakit paru berat. kuman yang berada dalam tubuh mereka bisa berada dalam keadaan dormant (tidur). angka kejadian TB anak belum diketahui secara pasti. terutama anak-anak.

Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat. anak yang menderita TB tidak banyak menunjukkan gejala dan tanda. skrolfuloderma. Karenanya peran aktif dokter dan masyarakat akan sangat membantu dalam pemberantasan penyakit ini. Bila pengetahuan masyarakat bertambah. uji tuberculin dan pemeriksaan lain yang cocok. penurunan berat badan. mendiagnosis dan mengobati kasus TB dewasa secara tepat. Para dokter diharapkan selalu menambah pengetahuan dan ketrampilan agar dapat mendeteksi serta mendiagnosis penyakit TB pada stadium dini. masyarakat akan lebih waspada. Cissy dalam makalah yang sama. tes tuberculin yang positif (> 10 mm). ada riwayat kontak dengan penderita TB sputum BTA positif. gambaran radiologis. Pengobatan TB pada bayi dan anak pada dasarnya sama dengan TB dewasa. Selain itu. masyarakat dapat membantu melaporkan kasus baru TB dewasa dan memberikan motivasi pada penderita untuk berobat dan tidak bosan meminum obat. Hanya sebagian kecil penderita yang memberikan gejala tidak spesifik seperti demam. Konsensus nasional TB anak IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 2002 membuat alur deteksi dini dan rujukan TB pada anak sebagai berikut. Seorang anak dicurigai menderita TB bila. bilasan lambung atau jaringan yang terkena penyakit. batuk lebih dari 3 minggu. OAT diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Sedangkan masyarakat dituntut lebih proaktif dalam meningkatkan pengetahuan dan keingin-tahuan mengenai penyakit ini. pemerintah telah melakukan Program pemberantasan tuberculosis paru dan berbagai kebijakan lainnya. Sedangkan tahap lanjutan dimaksudkan agar semua kuman yang dorman (tidur) terbunuh. pengobatan untuk pencegahan (kemoprofilaksis). yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Tahap ini harus dilaksanakan dengan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya kekebalan obat selama 2 bulan. bagaimanakah cara pencegahan agar anak tidak tertular penyakit ini? Menurut Prof. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. sulit makan. Tahap intensif dimaksudkan untuk menghentikan proses penyakit. maka seorang anak dianggap menderita TB dan harus mendapatkan obat anti tuberculosis (OAT). sehingga penyakit TB pada anak dapat terdeteksi dan terobati sejak awal. Hasilnya. menghindari kontak dengan penderita TB. Bila ditemukan 3 gejala atau lebih. Dengan segala keterbatasan yang ada. dalam jumlah dan dosis yang tepat selama 6-9 bulan supaya kuman dapat dibunuh. Karenanya diagnosis TB pada anak didasarkan atas diagnosis kemungkinan (probability) dari hasil gambaran klinis. reaksi cepat BCG( timbul kemerahan di lokasi suntikan dalam 3-7 hari setelah imunisasi BCG). Selanjutnya anak diobservasi selama 2 bulan. Semua tahap OAT diberikan setiap hari dalam satu dosis sebelum makan pagi. pembesaran kelenjar limfe superficial yang spesifik. akan semakin banyak penderita dewasa yang sembuh dan tidak lagi . serta dengan menerapkan strategi DOTS .Mengapa diagnosa pasti TB pada anak sulit ditegakkan?. TB pada bayi dan anak dapat dicegah dengan beberapa cara seperti imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin). konjungtivitis fliktenularis. Bila keadaannya membaik maka OAT diteruskan. berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan kurang yang tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi. tapi bila tetap atau memburuk harus dirujuk ke rumah sakit. Mengingat angka kejadian TB yang cenderung meningkat. demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas. Diagnosis pasti TB dibuat bila ditemukan basil TB dari bahan yang diambil dari dahak (sputum). Selain itu. Namun semua itu belum memperlihatkan hasil yang nyata. Cara-cara pencegahan di atas telah dilakukan di Indonesia. batuk dan mengi (sesak nafas). Pemberian obat kombinasi lebih sedikit tetapi dalam jangka waktu lebih panjang yaitu 4 bulan. dan gambaran foto rontgen sugestif TB.

Ingat. dokter umum. hembusan nafas setiap penderita TB paru dewasa dapat menular pada sepuluh anak disekitarnya. dan peserta klub penulisan Hardim) .menularkan penyakitnya pada anak-anak. jangan biarkan! (Agnes Tri Harjaningrum.