MAKALAH SISTEM PEMERINTAHAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengertian "otonom" secara bahasa adalah "berdiri sendiri" atau "dengan pemerintahan sendiri". Sedangkan "daerah" adalah suatu "wilayah" atau "lingkungan pemerintah". Dengan demikian pengertian secara istilah "otonomi daerah" adalah wewenang atau kekuasaan pada suatu wilayah atau daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah atau daerah masyarakat itu sendiri. Pengertian yang lebih luas lagi adalah wewenang atau kekuasaan pada suatu wilayah atau daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah atau daerah masyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi, politik, dan pengaturan perimbangan keuangan termasuk pengaturan sosial, budaya, dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadat daerah lingkungannya. Pelaksanaan otonomi daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang meliputi kemampuan pelaksana, kemampuan dalam keuangan, ketersediaan alat dan bahan, dan kemampuan dalam berorganisasi. Otonomi daerah tidak mencakup bidang-bidang tertentu, seperti politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, fiskal, dan agama. Bidang-bidang tersebut tetap menjadi urusan pemerintah pusat. Pelaksanaan otonomi daerah berdasar pada prinsip demokrasi, keadilan, pemerataan, dan keanekaragaman. Otonomi daerah tidak hanya pelaksanaan demokrasi pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Rakyat tidak saja menentukan nasibnya melainkan juga memperbaiki nasibnya sendiri. Di dalam UUD 1945 antara lain tersurat bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Namun dalam praktiknya hal tersebut belum dilaksanakan secara proporsional sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan pemerataan bahkan dalam kenyataannya, terlihat sangat kuatnya kekuasaan yang terpusat dan lemahnya kekuasaan daerah. Dalam perkembangannya, pemerintah pusat yang semula dalam posisi kuat, kenyataannya justru mengandung kelemahan. Hal ini antara lain disebabkan oleh berbagai permasalahan yang muncul. Salah satunya yang paling rawan adalah ancaman beberapa daerah untuk melepaskan diri dari pemerintah pusat. Merespon perkembangan tuntutan reformasi yang berkaitan dengan pemerintahan daerah ini, pertimbangan yang sangat strategis adalah perlu adanya Undang-undang yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan di daerah yang sesuai dengan perkembangan baru dan mengantisipasi perkembangan masa depan dengan tetap memperhatikan faktor eksistensi, efektifitas, dan keserasian dengan tujuan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Sistem pemerintahan daerah di Indonesia menurut konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, berdasarkan penjelasan dinyatakan bahwa daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah provinsi dan daerah provinsi akan dibagi pula dalam daerah yang lebih kecil. Di daerah yang bersifat otonom atau bersifat administrasi belaka, semuanya menurut aturan yang ada akan ditetapkan dengan undang-undang. Di daerah yang bersifat otonom akan diadakan badan perwakilan daerah. Oleh karena itu walaupun di daerah, pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai amanat UUD Negara RI tahun 1945 maka kebijakan politik hukum yang ditempuh oleh pemerintah terhadap pemerintahan daerah yang dapat mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan, menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah, dengan mempertimbangkan prinsip demokrasi,

2.3. adalah sebagai berikut: 1. Seiring dengan dilaksanakannya program otonomi daerah. badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak. keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI. kami mengkaji mengenai peran Otonomi daerah yang dinilai mampu mewujudkan tujuan pemerintahan NKRI yaitu peningkatan kesejahteraan. 1. Rumusan Masalah Dalam penelitian ini ada 4 masalah utama yang perlu dibahas yaitu: 1. Dengan berkembangnya globalisasi. 3. Namun kenyataannya sejak diterapkannya Undang-Undang No. belum menunjukkan perkembangan yang signifikan bagi pemenuhan harapan masyarakat tersebut. keadilan. partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam pengambilan kebijakan publik.pemerataan. antara lain perlindungan konsitusional. Dalam penulisan makalah ini. selain menjamin hak-hak individu. Mengetahui karakter hubungan Pemerintah NKRI dengan Daerah. Mengetahui penerapan kebijakan otonomi daerah di wilayah NKRI. Manfaat . konstitusi harus pula menentukan cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin. diperlukan peningkatan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah. Artinya.4. Apa landasan hukum sistem otonomi Daerah? 2.2. Prinsip keistimewaan atau kekhususan sehingga pemerintah memberikan otonomi khusus kepada daerah tertentu dalam ikatan NKRI. terkait pelaksanaan sistem pemerintahan dalam wilayah NKRI. Mengetahui realisasi otonomi daerah dalam pemerintahan NKRI. potensi dan keanekaragaman daerah. Tujuan Tujuan penulisan mengenai sistem otonomi daerah di dalam Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara RI. peluang dann tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan NKRI. Bagaimana realisasi otonomi daerah dalam pemerintahan NKRI? 4. kebebasan menyatakan pendapat. Apa hasil penerapan kebijakan otonomi daerah di wilayah NKRI? 1. Prinsip demokrasi. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah sejak Januari 2001. serta pendidikan kewarganegaraan. pada umumnya masyarakat mengharapkan adanya peningkatan kesejahteraan dalam bentuk peningkatan mutu pelayanan masyarakat. 4. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. pemerataan dan keadilan menuntut adanya pemberian peran serta kepada warga negara dalam sistem pemerintahan. yang sejauh ini hal tersebut kurang mendapat perhatian dari pemerintahan pusat. Bagaimana karakter hubungan Pemerintah NKRI dengan Daerah? 3. Kebijakan politik hukum pemerintahan guna efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah. demokratisasi dan transparansi penyelenggaraan pemerintahan tidak akan terlepas dari pengaruh global tersebut. pemilihan umum yang bebas. 1. kebebasan berserikat atau berorganisasi dan beroposisi. Mengetahui landasan hukum sistem otonomi Daerah.

“Otonomi daerah adalah hak. dan Pasal 18B. Pasal 18 ayat (2) menyebutkan.Tulisan dalam makalah ini dapat digunakan sebagai bahan yang mendukung proses perenungan serta diskusi untuk mengkaji sistem yang dinilai tepat digunakan dalam sistem pemerintahan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 terkait dengan pewujudan peningkatan kesejahteraan rakyat melalui otonomi daerah. dikenal istilah desentralisasi. “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.” UU Nomor 32 Tahun 2004 juga mendefinisikan daerah otonom sebagai berikut. wewenang. dekonsentrasi. pada ayat (5) tertulis.” Dalam sistem otonomi daerah. dan tugas pembantuan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 18A.” Selanjutnya. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Nomor 32 Tahun 2004) memberikan definisi otonomi daerah sebagai berikut. daerah kabupaten. pemerintahan daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. maka aturan baru pun dibentuk untuk menggantikannya. UUD 1945 pasca-amandemen itu mencantumkan permasalahan pemerintahan daerah dalam Bab VI. Sistem otonomi daerah sendiri tertulis secara umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut oleh undangundang. selanjutnya disebut daerah. Presiden Megawati Soekarnoputri mengesahkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pada 15 Oktober 2004.” Dan ayat (6) pasal yang sama menyatakan. dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah. ketatanegaraan. Sedangkan dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. “Daerah otonom. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu. yaitu Pasal 18. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.1 Dasar Hukum Otonomi Daerah Pemberlakuan sistem otonomi daerah merupakan amanat yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) Amandemen Kedua tahun 2000 untuk dilaksanakan berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus untuk mengatur pemerintahan daerah. “Pemerintahan daerah provinsi. karena dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan. tugas pembantuan merupakan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota atau desa serta dari pemerintah . adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Secara khusus. Namun.

32 Tahun 2004. Sebagai konsekuensi pemberlakuan sistem otonomi daerah. 125 tahun 2004. Selain itu. kabupaten. Otonomi daerah. yaitu banyaknya lembaga sosial masyarakat baru yang bertujuan untuk mengatasi konflik. juga mendorong bangkitnya partisipasi warga. yaitu perda tentang retribusi dan pajak. Pembuatan perda semuanya berasal dari eksekutif. sejak pelaksanaan otonomi daerah. Pengangkatan. Dampak positif otonomi daerah adalah memunculkan kesempatan identitas lokal yang ada di masyarakat. Undang-Undang Tentang Pemerintahan Daerah. Walaupun pelaksanaan otonomi daerah lebih memikirkan peningkatan pendapatan daerah. dan setelah reformasi. Berkurangnya wewenang dan kendali pemerintah pusat mendapatkan respon tinggi . Dari 43 perda itu. LN No. dibentuk pula perangkat peraturan perundang-undangan yang 5 Indonesia (b). Salah satunya adalah menguatnya peran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). kenyataan yang terjadi masih jauh dari harapan. dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. Keterlibatan publik dalam pembuatan kebijakan itu tercermin dari pembuatan peraturan daerah (perda). dan masalah sosial-ekonomi dengan bantuan minimal dari pemerintah lokal. Pemerintah lokal juga mencoba mengadopsikan peran aktif mengasimilasi kepentingan golongan minoritas. implementasi otonomi daerah selain telah mendekatkan pemerintah setempat dengan masyarakat. ps. “Gubernur. amanat UUD 1945 yang menyebutkan bahwa. sebagian berkaitan dengan peningkatan pendapatan daerah. Pengambilan keputusan belum melibatkan publik dan masih berada di lingkaran elite lokal provinsi dan kabupaten/kota. Untuk mengatasi masalah asimilasi. setelah otonomi daerah. seperti yang ditunjukkan dari ringkasan penelitian tentang desentralisasi di 13 kabupaten/kota di Indonesia. Sebagai contoh dari gambaran tersebut. Badan ini memberikan dana kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bertujuan untuk menjalankan program asimilasi dan membangkitkan sensitif suku. telah membuat 43 perda. Namun. Pengesahan. 4437. publik seharusnya dilibatkan dalam pembuatan kebijakan. Bupati. Meskipun Pemkab Deli Serdang cukup produktif dalam mengeluarkan peraturan.kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.2 Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia Menurut amanat UU Nomor 32 Tahun 2004. Sumatera Utara. mengatur mengenai perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 1. agama. mengubah namanya menjadi Badan Kesatuan Bangsa (BKB). No. TLN No. dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (PP Nomor 6 Tahun 2005). Otonomi daerah yang dicanangkan sejak Januari 2001 telah membawa perubahan politik di tingkat lokal (daerah). pada awal 1970-an. bahkan dapat memberhentikan kepala daerah. yaitu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (UU Nomor 25 Tahun 1999) yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (UU Nomor 33 Tahun 2004). ras. memperkenalkan kecenderungan baru. di lain pihak. perda-perda itu baru disosialisasikan ke publik. Presiden Soeharto membentuk Badan Kesatuan Bangsa dan Pembaruan Masyarakat (BKBPM). Setelah dilakukan pengesahan. Jika di masa sebelumnya DPRD hanya sebagai simbol dan kedudukannya di bawah legislatif. 2. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang. peran legislatif menjadi lebih besar. kemudian dibawa untuk dibahas di DPRD. dan antargolongan (SARA) dan saling pengertian antarkelompok minoritas. Program BKB juga menggunakan LSM dan aparat pemerintah dalam membangun program asimilasi kebudayaan dan kelompok etnis plural. dan kota dipilih secara demokratis” direalisasikan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan. perbedaan etnis. tidak demikian dengan pelayanan publik yang mereka berikan. di beberapa daerah yang sudah mengadopsi sistem otonomi daerah.

3. penyediaan fasilitas pendidikan yang terjangkau oleh mereka yang berpendapatan rendah. dan hutan. Menerapkan kebijakan untuk pemeliharaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. jompo dan anak-anak terlantar. Dana tersebut memungkinkan pemerintah lokal mendorong pembangunan daerah serta membangun program promosi kebudayaan dan juga pariwisata. secara umum. tugas-tugas pokok pemerintahan mencakup tujuh bidang pelayanan. Oleh karena itu. dengan kata lain. fungsi pemerintahan umum. bahkan sampai seseorang meninggal dunia (harus mengurus akte kematian). 7. tanah. 4. serta kebijakan lain secara langsung menjamin peningkatan ketahanan ekonomi negara dan masyarakat. Ini antara lain mencakup pembangunan jalan. tetapi untuk melayani masyarakat. Fungsi ini bukan monopoli pemerintah. Jaminan keadilan ini terutama harus tercermin melalui keputusan-keputusan pengadilan. dan menjaga agar tidak terjadi pemberontakan dari dalam yang dapat menggulingkan pemerintah yang sah melalui cara-cara kekerasan. eksistensi pemerintahan tidak dapat dipungkiri lagi. dimana kebenaran diupayakan pembuktiannya secara maksimal. menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya demi mencapai kemajuan bersama. Selain dua fungsi tersebut. Pemerintah juga berkewajiban mendorong kegiatan penelitian dan pengembangan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang mengutamakan keseimbangan antara eksploitasi dan reservasi. menjamin agar perubahan apapun yang terjadi di dalam masyarakat dapat berlangsung secara damai. Menjamin keamanan negara dari segala kemungkinan serangan dari luar. Memelihara ketertiban dengan mencegah terjadinya perselisihan di antara warga masyarakat. Pemerintahan modern. nikah (harus pakai akte nikah). 5. dan sebagainya. ketertiban. mendorong penciptaan lapangan kerja baru. antara lain. 6. telekomunikasi. termasuk kependudukan. Dalam kehidupan modern yang kita jalani dewasa ini. Pemerintahan tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri. memajukan perdagangan domestik dan antar bangsa. Bahkan dana yang diperoleh lebih banyak daripada yang didapatkan melalui jalur birokrasi dari pemerintah pusat. pertahanan keamanan. Pada umumnya pemerintah menjalankan dua fungsi pokok. pos. Kehadiran pemerintah menjangkau hampir semua segi kehidupan. dan semacamnya. kesehatan. yaitu : 1. Melakukan pekerjaan umum dan memberikan pelayanan dalam bidang-bidang yang tidak mungkin dikerjakan oleh lembaga non-pemerintah. pendidikan. seperti mengendalikan laju inflasi. dan dimana konstitusi dan hukum yang berlaku dapat ditafsirkan dan diterapkan secara adil dan tidak memihak. Melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial : membantu orang miskin dan memelihara orang-orang cacat.dari pemerintah daerah dalam menghadapi masalah yang berada di daerahnya sendiri. sosial. pemerintah mempunyai beberapa fungsi. Menjamin diterapkannya perlakuan yang adil kepada setiap warga masyarakat tanpa membedakan status apapun yang melatarbelakangi keberadaan mereka. untuk melaksanakan tugas-tugas pokok tersebut. Sementara itu. terbuka untuk fihak swasta yang melakukannya. serta dimana perselisihan bisa didamaikan. dalam negara berkembang pemerintah juga dibebani . Fungsi ini merupakan monopoli pemerintah. Yaitu mengatur kehidupan politik. mulai dari kelahiran anak (akte kelahiran). Fungsi penyediaan pelayanan masyarakat dalam arti luas. seperti air. pelayanan pos dan pencegahan penyakit menular. dalam arti pihak lain tidak mempunyai kewenangan untuk melaksanakannya. Tujuan utama dibentuknya pemerintahan adalah untuk menjaga suatu sistem ketertiban di dalam mana masyarakat bisa menjalani kehidupannya secara wajar. Menerapkan kebijakan ekonomi yang menguntungkan masyarakat luas. pada hakekatnya adalah pelayanan kepada masyarakat. 2. menampung serta menyalurkan para gelandangan ke sektor kegiatan yang produktif.

5. Hal-hal yang dilakukan itu merupakan penyerahan hak untuk mengelola tugas-tugas di dalam batas-batas yang telah ditentukan. serta struktur wewenang yang terjadi dari hal tersebut. “centrum” pusat) dapat diartikan melepaskan dari pusat. Tugas pokok dan fungsi pemerintahan yang tertera di atas menggambarkan adanya jangkauan yang luas dan kompleks. untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokrasi. Walaupun demikian. dengan tanggung jawab yang sangat berat. dan desentralisasi politik atau devolusi. namun wewenang akhir . Hak dan wewenang untuk mengurus rumah tangga sendiri (local self government) ini dikenal dengan otonomi daerah. Pengertian ini dapat dikonotasikan sebagai pencerminan adanya pelepasan dalam konteks penyerahan kekuasaan atau kewenangan dari pusat ke daerah. yang pada akhirnya dapat menimbulkan tirani. untuk secara mandiri dapat mengembangkan kreatifitas dan prakarsa dalam penyelenggaraan pemerintahan. kegiatan ekonomi. Desentralisasi dalam tinjauan etimologis (Latin . terpikul di atas pundak setiap pemerintahan. wewenang harus didelegasikan atau dibagi dari seorang manajer atau kelompok kerja organisasi pada pihakpihak lain untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban khusus. Format desentralisasi terdapat dalam dua bentuk. Dari sudut kultural. Terry (2000 : 101) berpendapat bahwa pada organisasi-organisasi resmi yang berjalan. “de” lepas. keadaan penduduk. yang berarti delegasi wewenang pelaksanaan kepada tingkat lokal. alasan mengadakan pemerintahan daerah (desentralisasi) adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan yang efisien. sendiri mengambil keputusan pengaturan dan pemerintahan. yakni : desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. tugas pokok dan fungsi tersebut harus diserahkan atau didelegasikan sebagian dalam bentuk kewenangan melalui asas desentralisasi kepada daerah (otonom) untuk diselenggarakan. desentralisasi diperlukan karena pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara langsung membantu pembangunan tersebut. Apa yang dianggap lebih utama diurus oleh pemerintah setempat pengurusannya diserahkan kepada daerah. watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. Pendelegasian wewenang adalah untuk memutuskan perkara yang cenderung menjadi kewajibannya. seperti geografi. desentralisasi perlu diadakan supaya perhatian dapat sepenuhnya ditumpahkan kepada kekhususan suatu daerah. Untuk itu. 3. 4. yang menyangkut bidang legislatif atau administratif. 2. manajer yang mendelegasikan wewenang tidak menyerahkan secara permanen baik wewenang maupun tanggung jawabnya. Wewenang dalam konsep organisasi dan manajemen diartikan sebagai hak suatu unit kerja atau seseorang pejabat untuk melakukan sesuatu tugas dengan penuh tanggung jawab. Senada dengan hal tersebut. Hal-hal yang lebih tepat di tangan pusat tetap diurus oleh Pemerintah Pusat. adalah hal yang sangat sulit jika dilaksanakan secara terpusat (concentrated) oleh Pemerintah Pusat. Dari sudut organisatoris pemerintahan. Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. Untuk melakukan tugas pokok dan fungsi tersebut. Desentralisasi adalah merupakan penyerahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Daerah Otonom. Pilihan terhadap orientasi pemerintahan yang desentralistis didasarkan pada beberapa alasan yang ditinjau dari beberapa dimensi. selanjutnya Ruiter meneruskan bahwa kewenangan tersebut untuk secara mandiri dan berdasarkan kepentingan.fungsi ke tiga yaitu fungsi pembangunan. Dalam bidang politik penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian. desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada salah satu pihak saja. yaitu : 1. Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi. Scligman mengemukakan bahwa desentralisasi merupakan suatu proses penyerahan wewenang (authority) dari pemerintah yang lebih tinggi yang mempunyai kekuasaan (power) kepada pemerintah yang lebih rendah derajatnya. yang berarti bahwa wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber daya diberikan kepada pejabat-pejabat regional dan lokal.

rasa tanggung jawab. untuk itu dibutuhkan kepercayaan dari pemberi wewenang. untuk melaksanakan fungsi tersebut wewenangnya dapat diserahkan pada Pemerintah Daerah. kewenangan ini lebih sesuai dikelola oleh Pemerintah Pusat mengingat lebih ekonomis bila diusahakan dalam skala besar (economic of scale). bahwa tidak boleh menggunakan kewenangan untuk lain tujuan selain daripada tujuan yang telah ditetapkan oleh kewenangan tersebut. Sistem Formal. Dalam pendelegasian wewenang diperlukan tanggapan. 3. yaitu antara lain : 1. Dalam sistem ini tugas Pemerintah Daerah ditetapkan satu per satu secara limitative atau terinci. 4. atau dengan perkataan lain. Penyerahan atau pembagian kewenangan daerah dari Pemerintah Pusat kepada daerah. Dalam pendelegasian wewenang tidak setengah dan dalam batas kemampuan. Wewenang dan tanggung jawab harus dikemukakan dengan jelas. 2. yaitu : 1. Beberapa sistem dalam pembagian kewenangan. terdapat kesempatan yang lebih besar berkembang. antara lain sebagai berikut : asas jangan mencampuradukkan kewenangan. Dalam melaksanakan pendelegasian wewenang. penyerahan urusan atau tugas dan kewenangan kepada daerah didasarkan pada faktor yang nyata atau riil.tetap berada pada manajer yang memegang wewenang untuk mengelola seluruh kegiatan dan memikul tanggung jawab terakhir. untuk mewujudkan pemerintahan yang dikehendaki “good governance” adalah melalui asas-asas umum pemerintahan yang baik. Faktor yang menjadi dasar pembagian wewenang antara pusat dan daerah adalah : Fungsi yang sifatnya berskala nasional dan berkaitan dengan eksistensi negara sebagai kesatuan politik. fungsi yang menyangkut pelayanan masyarakat yang perlu disediakan secara seragam atau standard untuk seluruh daerah. Nitisemito (1996 : 136-137) berpendapat bahwa hal-hal yang harus diperhatikan. . wewenangnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat. Dalam sistem ini. Dalam sistem ini urusan yang termasuk dalam urusan rumah tangga Daerah tidak secara apriori ditetapkan atau dengan Undang-Undang. Lebih lanjut Terry (2000 : 101) mengemukakan bahwa pendelegasian wewenang merupakan suatu faktor yang vital di dalam organisasi dan manajemen. Dalam sistem ini. menurut Purbopranoto dalam Nihin (1999 : 47). Apabila rambu-rambu tersebut diikuti dengan baik. 3. secara umum telah ditentukan lebih dahulu tugas-tugas yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat. 3. membawa konsekuensi pada terbaginya urusan dan tugas pemerintahan. Selain dari tugas yang telah ditentukan. Kemampuan mengkategorikan antara tugas yang penting dan yang kurang penting. maka akan memberi manfaat yang signifikan. asal tidak mencakup urusan yang telah diatur oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah yang lebih tinggi tingkatnya. Mengembangkan bawahan dengan cara memberi izin kepada mereka untuk mengambil keputusan. Menetapkan hubungan oraganisatoris format di antara anggota-anggota. Terry (2000 : 105) mengemukakan bahwa manfaat yang diperoleh dari desentralisasi wewenang. 2. Fungsi ini melibatkan masyarakat luas tetapi tidak memerlukan tingkat pelayanan yang seragam. bahwa keputusan badan-badan pemerintah yang dikeluarkan harus sesuai dengan tujuan dan kewenangan yang diberikan kepada badan-badan pemerintah itu. 2. karena : 1. Melengkapi pendapat di atas. Sistem Material. Sistem Riil. inisiatif dan kreatifitas yang diberi wewenang. 4. merupakan urusan Pemerintah Pusat. yaitu antara lain : mendorong efektifitas hubungan. fungsi pelayanan yang bersifat lokal. Memberikan kekuasaan manajerial. Sistem Residu. Daerah boleh mengatur dan mengurus segala sesuatu yang dianggap penting bagi daerahnya. sedangkan sisanya menjadi urusan rumah tangga Daerah. sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan riil dari Daerah maupun Pemerintah Pusat serta pertumbuhan kehidupan masyarakat yang terjadi.

sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung-jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang dipikul oleh daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. 3. peradilan. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antara Daerah. pemerataan. 4. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup. Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administratis untuk melaksanakan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Prinsip otonomi daerah yang digunakan adalah otonomi daerah yang luas.3 Pelaksanaan Otonomi Daerah Otonomi Daerah yang dilaksanakan saat ini adalah Otonomi Daerah yang berdasarkan kepada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa yang disertai dengan pembiayaan sarana dan prasarana. baik sebagai fungsi legislatif. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. dan berkembang di daerah. pemerataan. 2. 6. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. agama serta kewenangan bidang lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sehingga merekapun mengupayakan dilakukannya revisi terhadap UU 22/1999 tersebut. moneter dan fiskal. keadilan. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semkain baik. nyata dan bertangung jawab. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 8. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. Menurut UU ini.2. Pelaksanaan azas tugas pembantuan dimungkinkan. Prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah dalam UU 22/1999 adalah : 1. Penyelengaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. pertahanan keamanan. Dalam implementasi kebijakan Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999 yang dilaksanakan mulai 1 Januari 2001 terdapat beberapa permasalahan yang perlu segera dicarikan pemecahannya. keadilan. 7. nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan daerah serta antara daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. berbagai permasalahan yang timbul tersebut seharusnya dapat dimaklumi karena masih dalam proses . Jika kita mengamati secara obyektif terhadap implementasi kebijakan Otonomi Daerah berdasarkan UU 22/1999 yang baru berjalan memasuki bulan kesepuluh bulan ini. Kewenangan otonomi yang luas adalah keleluasaan daerah untuk menyelengarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. pengembangan kehidupan demokrasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. Namun sebagian kalangan beranggapan timbulnya berbagai permasalahan tersebut merupakan akibat dari kesalahan dan kelemahan yang dimiliki oleh UU 22/1999. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. dan karenanya dalam daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi wilayah administratif. otonomi daerah dipahami sebagai kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 5. serta potensi dan keanekaragaman daerah.

Melalui kewenangan yang dimilikinya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat. baik lokal. falsafah hidup dan sekaligus dasar negara. Kebijakan Otonomi Daerah yang pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan dan pendemokrasian kehidupan masyarakat diharapkan dapat mememnuhi aspirasi berbagai pihak dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan negara serta hubungan Pusat dan Daerah. Dengan pengakuan tersebut Daerah akan merasa setara dan sejajar dengan suku bangsa lainnya. Peningkatan dan pertumbuhan perekonomian daerah akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di Daerah.4 Otonomi Daerah dan Masa Depannya Perhatian dalam prinsip-prinsip pemberian dan penyelenggaraan otonomi Daerah dapat diperkirakan prospek ke depan dari Otonomi Daerah tersebut. agama. Dari aspek politik. Kebijakan Otonomi Daerah sebagai upaya pendidikan politik rakyat akan membawa dampak terhadap peningkatan kehidupan politik di Daerah. Jika kita memahami dan menghayati nilai-nilai tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan Otonomi Daerah dapat diterima dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari aspek ekonomi. pemberian otonomi dan kewenangan kepada Daerah merupakan suatu wujud dari pengakuan dan kepercayaan Pusat kepada Daerah. Dari aspek sosial budaya. semangat persatuan dan kesatuan nasional. kebijakan Otonomi Daerah memberikan kewenangan kepada masing-msing daerah untuk memantapkan kondisi Ketahanan daerah dalam kerangka Ketahanan Nasional. regional maupun global. 2. Dari aspek ideologi. kebutuhan dan kemampuan. dan pertahanan keamanan. hal ini akan sangat berpengaruh terhadap upaya mempersatukan bangsa dan negara. Timbulnya berbagai permasalahan tersebut lebih banyak disebabkan karena terbatasnya peraturan pelaksanaan yang bisa dijadikan pedoman dan rambu-rambu bagi implementasi kebijakan Otonomi Daerah tersebut. kebijakan Otonomi Daerah yang bertujuan untuk pemberdayaan kapasitas daerah akan memberikan kesempatan bagi Daerah untuk mengembangkan dan meningkatkan perekonomiannya. Salah satu pendekatan yang kita gunakan disini adalah aspek ideologi. Melalui Otonomi Daerah nilai-nilai luhur Pancasila tersebut akan dapat diwujudkan dan dilestarikan dalam setiap aspek kehidupan bangsa Indonesia. Untuk mengetahui prospek tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan. nasional. demokrasi. Selanjutnya dari aspek pertahanan dan keamanan. politik. Pengakuan Pusat terhadap eksistensi Daerah serta kepercayaan dengan memberikan kewenangan yang luas kepada Daerah akan menciptakan hubungan yang harmonis antara Pusat dan Daerah. pengakuan hak azasi manusia. Selanjutnya kondisi akan mendorong tumbuhnya dukungan Derah terhadap Pusat dimana akhirnya akan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. sudah jelas dinyatakan bahwa Pancasila merupakan pandangan. Prinsip-prinsip dan dasar pemikiran yang digunakan dianggap sudah cukup memadai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat dan daerah. Pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal akan dapat ditingkatkan dimana pada akhirnya kekayaan budaya lokal akan memperkaya khasanah budaya nasional. sosial budaya. Kewenangan daerah melalui Otonomi Daerah diharapkan dapat memberikan pelayanan maksimal kepada para pelaku ekonomi di daerah. nilai-nilai sosial dan budaya serta potensi lainnya yang terkandung di daerah. Pemberian kewenangan kepada Daerah akan . Nilai-nilai Pancasila mengajarkan antara lain pengakuan Ketuhanan. Pengakuan Pusat terhadap keberagaman daerah merupakan suatu nilai penting bgi eksistensi daerah. dan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat. kebijakan Otonomi Daerah merupakan pengakuan terhadap keanekaragaman Daerah.transisi. baik itu suku bangsa. daerah akan berupaya untuk meningkatkan perekonomian sesuai dengan kondisi.

Hal ini berarti bahwa kebijakan Otonomi Daerah mempunyai prospek yang bagus di masa mendatang dalam menghadapi segala tantangan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasya-rakat. politik. Dua undang-undang ini lahir untuk merespon dua kondisi sosial-politik yaitu . negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat berserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yan diatur dalam undang-undang (pasal 18B ayat2).1 Landasan Hukum Di dalam pokok-pokok perubahan UUD 1945 pada bab IV pasal 18 ayat 1 tentang pengaturan pemerintahan daerah. Setiap provinsi. Pembagian daerah adalah sekedar suatu desentralisasi dengan otonomi yang luas untuk melancarkan jalannya pemerintahan. kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan.22/1999 dan UU 25/1999. kabupaten dan kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. Memperhatikan pemikiran dengan menggunakan pendekatan aspek ideologi. Kebebasan dan keterbukaan politik yang terjadi pasca Orde Baru membawa konsekuensi logis pada pemerintahan untuk segera mengubah diri. dijelaskan bahwa negara Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. • Adanya konsistensi kebijakan penyelenggara negara terhadap implementasi kebijakan Otonomi Daerah. karena memang bukan negara federal (serikat). III PEMBAHASAN 3. Kebijakan desentralisasi diperkenalkan pada tahun 1999 melalui UU No. budaya. Dalam pasal 18B ayat 1. kabupaten dan kota diatur dalam suatu undang-undang dengan memperhatikan keistimewaan daerah masing-masing.menumbuhkan kepercayaan Daerah terhadap Pusat. berbangsa dan bernegara. Segala macam kebijakan dan regulasi yang berbau orde baru yang sentralistis diubah sedemikian besarnya menjadi sangat terdesentralisasi. Selain itu. Untuk dapat mewujudkan prospek Otonomi Daerah di masa mendatang tersebut diperlukan suatu kondisi yang kondusif diantaranya yaitu: • Adanya komitmen politik dari seluruh komponen bangsa terutama pemerintah dan lembaga perwakilan untuk mendukung dan memperjuangkan implementasi kebijakan Otonomi Daerah. Selain mengatur tentang otonomi daerah. Kita berharap melalui dukungan dan kerjasama seluruh komponen bangsa kebijakan Otonomi Daerah dapat diimplementasikan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Selanjutnya dalam ayat 2 diatur tentang otonomi pemerintahan daerah. Sebagai negara kesatuan. UUD 1945 hasil amandemen juga mengakui keistimewaan pemerintahan daerah. Namun demikian prospek yang bagus tersebut tidak akan dapat terlaksana jika berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi tidak dapat diatasi dengan baik. Hal ini merupakan perwujudan kebinekaan masyarakat dan wilayah Negara Indonesia dengan segala kekayaan etnis. • Kepercayaan dan dukungan masyarakat serta pelaku ekonomi dalam pemerintah dalam mewujudkan cita-cita Otonomi Daerah. hubungan pemerintah pusat dan daerah provinsi. sosal budaya dan pertahanan keamanan. kita tidak mengenal adanya negara dalam negara. secara ideal kebijakan Otonomi Daerah merupakan kebijakan yang sangat tepat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Dijelaskan dalam pasal tersebut bahwa pemerintahan daerah provinsi. Dengan kondisi tersebut bukan merupakan suatu hal yang mustahil Otonomi Daerah mempunyai prospek yang sangat cerah di masa mendatang. adat istiadat dan karakter masing-masing. Tumbuhnya hubungan dan kepercayaan Daerah terhadap Pusat akan dapat mengeliminir gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia .

peradilan. Bupati/Walikota harus bertanggung jawab kepada dan bisa diberhentikan oleh DPRD sebelum masa jabatannya usai. Dengan kata lain.1/1957. Kabupaten dan Kota. moneter dan fiskal. agama. Sementara itu jabatan Kepala Wilayah pada kabupaten dan Kota (dulu Kotamadya) sudah tidak dikenal lagi. Semangat otonomi daerah yang lebih besar ini dimulai dengan perubahan simbolisasi pada nama daerah otonom. serta semangat demokrasi yang menuntut ruang partisipasi yang luas. Pemerintahan Kabupaten dan Kota telah terbebas dari intervensi pusat yang sangat kuat melalui perangkapan jabatan Kepala Daerah Otonom (Local Self-government) dan Kepala Wilayah Administratif (Field Administration). serta beberapa kewenangan bidang lain.22/1999 yang kemudian dilanjutkan dengan UU No. pemerintahan kecamatan menempati posisi sebagai kepanjangan tangan pemerintahan daerah otonom (desentralisasi). Dengan setting sosial politik ini maka UU No. Integrated Prefectoral System yang sentralistis yang digunakan UU No. Oleh karena itu. Regulasi yang baru ini memberikan kewenangan yang luas kepada daerah otonom yang meliputi seluruh bidang pemerintahan kecuali politik luar negeri. Dalam UU No. juga pembentukan Badan Perwakilan Desa sebagai perkembangan baru bagi kehidupan demokrasi di tingkat desa. UU No. dan diganti dengan istilah yang lebih netral.5/1974 diubah menjadi Functional System. Secara lebih detail. Kepala Daerah dipilih oleh DPRD. UU No. telah melakukan perubahan signifikan dibandingkan dengan sistem yang digunakan di masa Orde Baru. Hal ini didasari semangat untuk menghindari citra bahwa tingkatan lebih tinggi (Dati I) secara hierarkhis lebih berkuasa daripada tingkatan lebih rendah (Dati II). pemerintah pusat (Presiden) hanya diberi kekuasaan untuk ‘memberhentikan sementara’ seorang Bupati/Walikota jika dianggap membahayakan integrasi nasional. Untuk memuaskan semua daerah dengan memberikan ruang partisipasi politik yang tinggi melalui ‘desentralisasi politik’ dari pusat kepada daerah. 22/1999 dan UU 25/1999 hadir dengan dua misi utama. dan bukan sekedar Unintegrated Prefectoral System yang dikenal pada UU No. dan memberikan kesempatan dan kepuasan politik kepada masyarakat dengan memberikan kesempatan untuk menikmati simbol-simbol utama demokrasi lokal (misal pemilihan Kepala Daerah).32/2004 menghapuskan posisi wilayah administratif (field administration) pada level Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pada tahun 2004.32/2004 ini kemudian direvisi di tahun 2008 dengan memberikan kesempatan kepada calon perseorangan untuk berkompetisi dalam Pilkada Langsung. diperkenalkanlah Pilkada Langsung di mana Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat dari para pasangan calon yang diajukan oleh partai politik. Sementara itu. Disamping memperoleh kewenangan politik yang luas. Padahal dua-duanya merupakan badan hukum yang terpisah dan sejajar yang mempunyai kewenangan berbeda. UU No. UU tersebut menempatkan pemerintahan kecamatan dan kelurahan sebagai perangkat Daerah otonom. hankam. yaitu Propinsi. Kewenangan yang lebih luas kepada daerah otonom yang meliputi seluruh bidang pemerintahan kecuali politik luar negeri.22/1999. yaitu Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Bupati dan Walikota dipilih secara mandiri di daerah tanpa melibatkan pemerintah Propinsi maupun pemerintah Pusat. moneter dan fiskal. peradilan.22/1999 yang kemudian dilanjutkan oleh UU No.32/2004 dengan beberapa revisi. dan bukan sebagai aparat dekonsentrasi. Istilah tingkatan daerah otonom (Dati I dan Dati II) dihapuskan. Untuk memuaskan daerah-daerah kaya sumberdaya alam yang ‘memberontak’ dengan memberikan akses yang lebih besar untuk menikmati sumberdaya alam yang ada di daerah mereka masing-masing. Perubahan ke arah pendalaman demokrasi ini terus berkembang. bahkan tuntutan federasi dan merdeka. serta .22/1999 memperpendek jangkauan asas dekonsentrasi yang dibatasi hanya sampai pemerintahan Propinsi. agama. UU No. Bupati dan Walikota adalah Kepada Daerah Otonom saja. Hal ini dapat dilihat dari kesempatan untuk memilih Kepala Daerah secara langsung. hankam. daerah juga memperoleh peluang partisipasi politik yang tinggi.merebaknya tuntutan daerah untuk memperoleh otonomi yang lebih luas.

serta meningkatkan sinergi perencanaan pembangunan pusat dan daerah. Mekanisme kontrol politik secara nasional tersebut bahu-membahu dengan sentralisasi pengelolaan sumber daya ekonomi secara nasional yang sangat bias pusat (Jakarta.25/1999 dan UU No. pembinaan dan pemberdayaan SDM. Hanya saja. keuangan daerah juga mengalami beberapa perubahan. pemerintah melakukan pengelolaan sumber daya ekonomi daerah secara nasional. yaitu Papua dan Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam) melalui dana Otsus dan penyesuaian.‘kewenangan bidang lain’. untuk pengusaha telah disediakan KADIN. Dengan wacana pembangunan nasional. Para buruh di seluruh nusantara hanya diakui eksistensinya apabila bernaung di bawah SPSI.2 Karakter Hubungan Pusat dan Daerah Sentralisasi sumberdaya politik dan ekonomi di tangan sekelompok kecil elit di pemerintah pusat adalah konsekuensi yang melekat dari sistem politik otoritarian tersebut. Bahkan. secara makro sumber-sumber keuangan daerah diperbesar. sebab mencakup perencanaan dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. 3. pemerataan pembangunan antar daerah dan integrasi nasional. terutama Irian Jaya dan Aceh. dana perimbangan keuangan. Pertambangan. elit politik pembuat keputusan tidak mempunyai basis politik lokal sama sekali. Pada tingkat daerah.dan infrastruktur politik. Pada tingkat nasional. pendaya gunaan SDA serta teknologi tinggi strategis. salah satu bentuk tuntutan itu adalah tuntutan separatis untuk membentuk negara sendiri. hutan. untuk petani telah disediakan HKTI. dan lain-lain. untuk para wartawan telah disediakan PWI. masyarakat politik lokal teralienasi dari mekanisme politik yang telah sepenuhnya ternasionalisasi. Jumlah ini juga semakin terasa untuk dua provinsi yang memperoleh otonomi khusus. meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah. Orde Baru mengatur pemerintahan lokal secara detail dan diseragamkan secara nasional (Devas 1989). Fakta-fakta tentang adanya tuntutan separatis yang akhirnya diwujudkan melalui lepasnya Timor Timur dari wilayah Indonesia merupakan bukti bahwa ‘ketaatan’ komunitas politik lokal . Semua ini dilakukan untuk mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah. pemerintah Orde Baru melakukan penunggalan kelompok kepentingan yang dikontrol secara terpusat. dan bahkan tidak membutuhkan dukungan politik dari masyarakat untuk kelangsungan kekuasaan politik mereka. Bahkan juga. Kekuatan eksekutif nasional yang menjadi aktor tunggal dalam pentas politik nasional tidak berakar dari bawah. sentralisasi ini masih diperparah lagi dengan dikembangkannya uniformitas supra. dan kemudian Jawa). Sinyal-sinyal kegagalan pengaturan politik lokal Orde baru semakin mencolok ke permukaan tatkala beberapa masyarakat daerah. arena politik lokal telah dimonopoli oleh orang pusat yang ada di daerah. Sementara itu. Jumlah alokasi transfer keuangan ke daerah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. Demikian pula halnya untuk pegawai negeri yang telah disediakan Korpri. beberapa hasil laut dan beberapa jenis perkebunan dikelola secara nasional yang hasilnya dibawa secara penuh ke Jakarta. Mekanisme sentralistis semacam ini terus berkepanjangan karena dua hal utama. 33/2004. menuntut perubahan mendasar dalam pengaturan politik lokal dan dalam hubungan pusatdaerah di tahun 1997an. koservasi dan standarisasi nasional. Bahkan. Organ-organ supra-struktur politik lokal diatur secara terpusat dan seragam tanpa mengindahkan heterogenitas ‘sistem politik’ lokal yang telah eksis jauh sebelum terbentuknya konsep kebangsaan Indonesia. Melalui strategi korporatisme negara. Tuntutan pembentukan negara sendiri atau melepaskan diri dari bagian wilayah NKRI benar-benar terwujud yakni dengan lepasnya Propinsi Timor Timur dari bagian wilayah NKRI melalui referendum pada era Presiden Habibie. Melalui UU No. Cara kerja politik yang sentralistis dan monolitis ini hanya mampu memperbaiki keadaan sesaat dan bersifat semu belaka. untuk guru telah disediakan PGRI. definisi ‘kewenangan bidang lain’ ini ternyata masih sangat luas. sejalan dengan dikembangkannya prinsip perimbangan.

cara menyampaikan pendapat dan pikiran yang menunjang pembangunan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pelayanan pemerintahan. dapat dinyatakan bahwa suatu daerah harus mempunyai wilayah dengan batas-batas yang jelas sehingga dapat dibedakan antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Masyarakat sebagai suatu elemen pemerintahan daerah merupakan kesatuan masyarakat hukum. sedangkan di Papua kekhususan adalah dengan mempertimbangkan tentang peran kepala adat masyarakat Papua yang mendapat wewenang dalam keikutsertaannya menetapkan kebijakan pemerintahan dan pembangunan masyarakat Papua. Bentuk-bentuk partisipasi budaya masyarakat antara lain gotongroyong. pengusaha jasa. dispensasi. Dengan perkataan lain. Berdasarkan rumusan tersebut. bahwa peran serta masyarakat lebih menonjol yang dituntut kreativitas masyarakat baik pengusaha. berbangsa dan bernegara memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat khususnya partai politik untuk memberikan pendidikan . Unsur batas wilayah. berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem NKRI. pengembang dalam menyusun konsep strategi pembangunan daerah. adat dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam ikut serta menetapkan kebijakan daerah. 2. 3. permusyawaratan. Kebijakan pemerintah memberikan pengakuan keistimewaan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam berupa pelaksanaan kehidupan beragama. perencana. Sebagai kesatuan masyarakat hukum. Peningkatan pelayanan. Pelayanan di bidang pemerintahan. Unsur pemerintahan. Di sisi lain. Adapun keistimewaan Provinsi Istimewa Yogyakarta adalah pengangkatan gubernur dan wakil gubernur. yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri. perizinan. Tentu saja konsep negara-bangsa semacam ini sangat rentan terhadap gejolak.3 Realisasi dalam Pemerintahan NKRI Daerah otonom sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah. hak berusaha. batas wilayah ini sangat penting apabila ada sengketa hukum yang menyangkut wilayah perbatasan antar daerah. dalam perimbangan keuangan pusat dan daerah. Eksistensi pemerintahan di daerah didasarkan atas legitimasi undangundang yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menjalankan urusan pemerintahan yang berwenang mengatur kreativitasnya sendiri. Berdasarkan kebijakan politik hukum pemerintah di atas. Konsep pembangunan dalam rangka otonomi daerah ini. Pemberdayaan dan peran serta masyarakat. surat keterangan kependudukan dan sebagainya. dalam otonom terdapat unsur-unsur sebagai berikut : 1. misalnya dalam penetapan kewajiban tertentu sebagai warga masyarakat serta pemenuhan hak-hak masyarakat terhadap fungsi pelayanan umum pemerintahan dan peningkatan kesejahteraan secara luas kepada masyarakat setempat. dimana peran pemerintah hanya terbatas pada memfasilitasi dan mediasi. kebiasaan dan adat istiadat yang turut mewarnai sistem pemerintahan daerah. penyelenggaraan pemerintahan wilayah NKRI dilakukan dengan penetapan strategi sebagai berikut: 1. batas suatu wilayah adalah sangat menentukan untuk kepastian hukum bagi pemerintah dan masyarakat dalam melakukan interaksi hukum. Bentuk pelayanan pemerintahan tersebut antara lain meliputi rekomendasi. dirasakan kurang menampung aspirasi masyarakat dan ulama berdasarkan hak keistimewaan Aceh di atas. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 2. kemasyarakatan dan pembangunan adalah suatu hal yang bersifat esensial guna mendorong atau menunjang dinamikan interaksi kehidupan masyarakat baik sebagai sarana untuk memperoleh hak-haknya. maupun sebagai sarana kewajiban masyarakat sebagai warga negara yang baik. mulai dari bentuk cara berpikir.terhadap pusat yang terjadi selama ini adalah sebuah ketaatan yang semu dan penuh keterpaksaan. Elemen pemerintahan daerah adalah meliputi pemerintahan daerah dan lembaga DPRD sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Unsur masyarakat. Disamping itu dalam kehidupan berpolitik. bertindak dan kebiasaan tertentu dalam kehidupan masyarakat. 3.

ketatanegaraan dan tuntutan otonomi daerah sehingga perlu diganti dengan Undang-Undang nomor 32 tahun 2004. Purbalingga. Gambaran di atas telah memperluas arena dan memperbesar sumberdaya yang tersedia di daerah. masyarakat lokal belum sepenuhnya menikmati desentralisasi fungsi dan fiskal yang diberikan ke daerah. Hanya dalam waktu setengah dekade. Banyak bagian-bagian dari daerah yang kecewa terhadap kebijakan daerah otonom maupun pemerintah pusat yang pada gilirannya kemudian menuntut mandiri menjadi daerah otonom sendiri. Hubungan antar pemerintahan yakni hubungan antara pemerintah pusat. 3. Barlingmascakeb (Banjarnegara. Banyumas. di era pemberlakuan otonomi daerah.4 Hasil Penerapan Kebijakan Berbagai daerah juga telah semakin maju mengembangkan lembaga-lembaga kerjasama antar daerah untuk memfasilitasi manajemen konflik. dengan pemerintah kabupaten/kota. Cilacap dan Kebumen). 3. Subosuko Wonosraten (mencakup daerah Surakarta. Berbagai kemajuan tersebut menunjukkan bahwa daerah-daerah semakin memiliki kebebasan untuk mengembangkan wilayahnya sesuai kebutuhan masyarakat lokal dengan bekal kebijakan otonomi yang diberikan oleh pusat. Sragen. dan Kab Bantul). Gerbangkertosusilo (Gresik. Surabaya. jumlah daerah otonom di Indonesia bertambah menjadi . Sukoharjo. Peningkatan daya saing daerah. Kab Sleman. pengembangan ekonomi lintas daerah. Adapun hubungan antar pemerintah daerah. Beberapa lembaga kerjasama antar daerah yang sudah mulai dikenal antara lain Javapromo (kerjasama 13 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah dan D. yang paling esensi dalam penyelenggaraan peemerintahan daerah yang bersifat otonomi ialah pemberian kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban tertentu. Wonogiri. Dalam realita di lapangan. efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. Sidoardjo dan Lamongan). Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD). Yogyakarta di bidang Pariwisata). Disamping itu daya saing nasional akan menunjang sistem ekonomi nasional yang bertumpu pada strategi kebijakan perekonomian rakyat. Mojokerto. Karanganyar. Wonogiri. Pawonsari (Pacitan. pemerintah daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk memperbaiki kondisi pelayanan publik. dan Klaten). pemerintah provinsi. ternyata kebijakan ini hanya tinggal kebijakan belaka. Melalui desentralisasi dan otonomi. khususnya hubungan antara pemerintah daerah dengan Badan Legislatif Daerah sering terjadi disharmonisasi sehingga mengganggu sistem kemitraan antara pemerintah daerah dan legislatif daerah. dalam beberapa kewenangan tertentu yang berpotensial sering ditarik ulur sehingga berpengaruh terhadap efektivitas dan efisien penyelenggaraan pemerintahan daerah. Atas dasar itulah. perkembangan perekonomian daerah. Sustainable Capacity Building for Decentralization Project (SCBD). Namun di sisi lain. kebiasaan-kebiasaan penyelenggaraan pemerintahan daerah sering terjadi salah tafsir yang berimplikasi pada hubungan masing-masing kepala daerah. Bangkalan. Wonosari). Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan. Lembaga-lembaga pemantau pelaksanaan otonomi daerah seperti Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Peningkatan daya saing daerah ini guna tercapainya keunggulan lokal dan apabila dipupuk kekuatan ini secara nasional akan terwujud resultan daya saing nasional. dan berbagai lembaga lain telah berhasil mendokumentasikan sejumlah inovasi baru daerah yang dikembangkan pada masa implementasi otonomi daerah. dan lain-lain. dan sebagainya. Fenomena inilah yang disebut dengan pemekaran daerah. Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP). Kartamantul (kerjasama Kota Yogyakarta. serta dalam mengembangkan berbagai terobosan baru dalam pengelolaan pemerintahan daerah. Dalam politik hukum. SMERU Research Institute.politik rakyat guna meningkatkan kesadaran bernegara dan berbangsa guna tercapainya tujuan nasional dalam wadah NKRI.I. Boyolali.

Sengketa antara pemerintah daerah induk dengan pemerintah daerah pemekaran dalam hal pengalihan aset dan batas wilayah. LIPI dan beberapa lembaga lainnya. sosio-kultural. Kebijakan pemekaran daerah yang berjumlah lebih dari 160 kasus tersebut tidak membawa dampak yang sama. Jika pada era Orde Lama daerah menyuarakan tuntutannya melalui pemberontakan. Belum lagi apabila dampak tersebut diletakkan dalam skala yang berbeda dalam skala daerah ataukah dalam skala nasional. 2. seringkali berimplikasi pada ketegangan antar kubu masyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah daerah. serta pelayanan publik dan pembangunan ekonomi. dampak pemekaran selalu bermata ganda: bisa positif.hampir dua kali lipat. sehingga meningkatkan dukungan daerah terhadap pemerintah nasional. Fenomena pemekaran daerah pada dasarnya merupakan bentuk lain dari upaya daerah dalam menarik perhatian pusat. Dampak Pada Pelayanan Publik Kebijakan pemekaran daerah mampu memperpendek jarak geografis antara pemukiman penduduk dengan sentra pelayanan. Melalui kebijakan pemekaran. Setiap dimensi. maka pada era reformasi pusat merespon tuntutan dari daerah dengan lebih terlembaga melalui pemberian rekognisi politik dan kultural serta alokasi sumberdaya ekonomi yang tidak merata ke seluruh bagian daerah. dampak sosial dan politik kebijakan pemekaran tidak bisa digambarkan secara generik. tetapi juga dampak sosial. pada era Orde Baru pemberontakan daerah diredam melalui mekanisme penyuapan loyalitas yang elitis dari pusat. pemekaran juga memungkinkan untuk menghadirkan jenis-jenis pelayanan baru. Namun demikian. perlu dilakukan identifikasi dampak pemekaran secara umum. juga mempersempit rentang kendali antara pemerintah daerah dengan unit pemerintahan di bawahnya. tercatat telah terbentuk 164 daerah baru terdiri dari 7 provinsi baru. memperoleh pengakuan sebagai daerah otonom baru. dan upaya memperbaiki kondisi pelayanan publik dengan menghadirkan negara di tengah-tengah masyarakat. entitas masyarakat yang mempunyai sejarah kohesivitas dan kebesaran yang panjang. politik dan pemerintahan. gambaran tentang dampak pemekaran dalam tulisan ini diletakkan dalam pandangan ganda. Pengakuan ini pada gilirannya memberikan kontribusi positif terhadap kepuasan masyarakat. Menghindari ataupun meminimalisasi dampak negatif pada dasarnya adalah mengelola proses kebijakan pemekaran dan proses pasca pemekaran. politik dan ekonominya di tingkat daerah. Pemekaran di masing-masing daerah mempunyai kekhasannya sendiri yang tidak mudah untuk digeneralisasikan. politik dan kultural masyarakat daerah. Untuk kepentingan perumusan kebijakan di tingkat nasional. seperti pelayanan listrik. 1. Hal ini disebabkan adanya kebutuhan belanja aparat dan infrastruktur pemerintahan lainnya yang . terutama di wilayah ibukota daerah pemekaran. Dampak Sosio Kultural Pemekaran daerah membawa implikasi positif dalam bentuk pengakuan sosial. dan 134 kabupaten baru. 23 kota baru. Disamping itu. Disamping itu. seperti Percik. Tetapi. pelayanan publik dan pembangunan di tingkat nasional. Berdasarkan pertimbangan tersebut. tetapi pada saat yang sama juga bersifat negatif. adanya insentif pemekaran dalam bentuk alokasi DAU dan DAK juga menjadi daya tarik tersendiri bagi daerah-daerah untuk mengajukan usul pemekaran. Sejak Oktober 1999 sampai Januari 2008. Mengambil pelajaran dari studi-studi yang dilakukan oleh beberapa lembaga riset. Sangat tidak mudah untuk disimpulkan apakah pemekaran daerah berdampak positif ataukah negatif. terkait dengan alokasi anggaran untuk pelayanan publik yang berkurang. terutama pada skala nasional. telepon. serta fasilitas urban lainnya. Sebagian besar kajian akademis tentang pemekaran daerah menunjukkan bahwa inisiasi pemekaran daerah dipicu oleh kebutuhan untuk pemerataan ekonomi. pemekaran juga menimbulkan implikasi negatif bagi pelayanan publik. Dampak ini tidak hanya terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan. kebijakan pemekaran juga bisa memicu konflik yang pada gilirannya juga menimbulkan masalah horisontal dan vertikal dalam masyarakat.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN a. bisa memperbaiki kenangan politik nasional di daerah melalui peningkatan dukungan terhadap pemerintah nasional dan menghadirkan pemerintah pada level yang lebih bawah. Bangsa Indonesia menaruh harapan yang besar terhadap keberhasilan format kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dalam memperkuat integrasi nasional dan semangat kebangsaan. UUD 1945 pasca-amandemen itu mencantumkan permasalahan pemerintahan daerah dalam Bab VI. sehingga akselerasi pembangunan ekonomi tetap dimungkinkan dengan harga yang murah. kemungkinan akselerasi pembangunan ini harus dibayar dengan besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk membiayai belanja pegawai dan belanja operasional pemerintahan daerah. Namun. dan Pasal 18B. selama ini tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa pemerintah nasional akan melakukannya tanpa kehadiran pemerintah daerah otonom. baik dalam bentuk simbol pemerintahan.bertambah dalam jumlah yang signifikan sejalan dengan pembentukan DPRD dan birokrasi di daerah hasil pemekaran. politisi. kebijakan pemekaran juga sangat penting ditempuh dalam kaitannya untuk mendorong munculnya aktivitas perekonomian dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di daerah perbatasan dan tertinggal. Semua infrastruktur ini membuka peluang yang lebih besar bagi wilayah hasil pemekaran untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi. Dari sisi teoritik. belanja ini bisa diminimalisir melalui kebijakan pembangunan ekonomi yang menjangkau seluruh wilayah. birokrasi dan bahkan kantor pemerintah. oleh karenanya. Dampak Bagi Pertahanan. 4. apabila pengelolaan politik selama proses dan pasca pemekaran tidak bisa dilakukan dengan baik. Namun. bagi beberapa masyarakat pedalaman dan masyarakat di wilayah perbatasan merupakan isu politik nasional yang penting. Kesimpulan Untuk melaksanakan amanat memang tidak mudah. Dalam sudut pandang pemerintah pusat. Namun. penguatan identitas kenegaraan dengan mendekatkan pelayanan pada masyarakat sehingga negara akan dirasakan kehadirannya sangat riil oleh masyarakat. Amandemen kedua tahun 2000 mengatur pelaksanaan sistem pemerintahan khususnya pemerintahan daerah. 3. terdapat peluang yang besar bagi akselerasi pembangunan ekonomi di wilayah yang baru. Pasal 18A. biaya politik untuk menghadirkan pemerintahan daerah otonom baru ini seringkali juga bisa sangat mahal. Pemekaran daerah otonom. bisa jadi mereka tidak pernah melihat dan merasakan kehadiran 'Indonesia'. Berdasarkan pengamatan pada beberapa daerah hasil pemekaran. Kekecewaan masyarakat lokal di tahun 1950an dan 1960an ternyata hanya bisa . Bukan hanya infrastruktur pemerintahan yang terbangun. Bagi masyarakat tersebut. ketidakmampuan untuk membangun ornamen politik antar kelompok dalam masyarakat mengakibatkan munculnya tuntutan untuk memekarkan lagi daerah yang baru saja mekar. dan sebagai upaya untuk penjagaan wilayah aktif dalam rangka membangun pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan. Sistem otonomi daerah sendiri tertulis secara umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut oleh undang-undang. yaitu Pasal 18. apalagi amanat yang di dalam Undangundang dasar 1945. Dampak Bagi Pembangunan Ekonomi Pasca terbentuknya daerah otonom baru. dalam perspektif masyarakat daerah. Keamanan dan Integrasi Nasional Pembentukan daerah otonom baru. tetapi juga infrastruktur fisik dan infrastruktur kebijakan pembangunan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah otonom baru.

Bambang PS Brodjonegoro. Masih banyak ekspresi kekecewaan daerah terhadap pemerintah daerah atasan ataupun terhadap pemerintah pusat di era desentralisasi sekarang ini. Jakarta: Yayasan Harkat Bangsa bekerja sama dengan Partnership for Governance Reform in Indonesia (PGRI) dan European Union (EU). dan otonomi pengelolaan sumberdaya semakin terbuka. Saran Dalam penulisan makalah ini. (eds). dan bahkan pula memperbaiki kinerja pemerintahan. A. Hamid. Kekecewaan masyarakat daerah yang muncul dalam bentuk semangat ingin merdeka dari Aceh. pembangunan dan pelayanan publik. namun sebenarnya hanya sekedar tidak bisa mencuat ke permukaan belaka. Mubarak M. Hal ini terbukti dari semakin maraknya tuntutan untuk membentuk daerah-daerah otonom baru. DAFTAR PUSTAKA Attamimi. Papua. Pemerintah pusat yang terfragmentasi dan tanpa koordinasi. kebijakan pemekaran tersebut juga bisa membawa menguatnya regionalisasi berbasis primordial jika tidak disertai dengan kebijakan untuk merangkai sinergi lintas daerah. 2006. Di satu sisi pemekaran daerah ini menjadi obat 'penurun panas' yang efektif untuk meredam kekecewaan masyarakat lokal. ekspresi politik semakin mungkin dilakukan. Indonesia pasca 1999 mencoba untuk merumuskan kebijakan baru. desentralisasi fungsi maupun desentralisasi fiskal. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Ekonomi. Jakarta. dengan menggunakan instrumen penelitian yang lebih fokus pada usaha mendapatkan deskripsi keadaan yang terjadi. Justru yang dilakukan oleh pemerintah pusat adalah melalui kebijakan desentralisasi. Blue Print Otonomi Daerah Indonesia. Financing Local Government in Indonesia. Kebijakan inilah yang membuat mobilitas vertikal masyarakat daerah menjadi terbuka. dkk. pembangunan ekonomi yang diskriminatif. sehingga dapat menjadi masukan bagi penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan yang merupakan amanah dari rakyat NKRI dengan keanekaragaman karakteristik. jika tidak dikelola dengan baik. Nick. Kebijakan tersebut ternyata tidak serta merta membuat kekecewaan daerah usai. Jika hal ini terjadi. Kaho. baik itu desentralisasi politik. Devas. Gejolak politik daerah memang tidak ada. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia.diselesaikan secara semu oleh pemerintah Orde Baru. b. 1988. . Ohio University Press. representasi politik yang tidak adil. Ohio. Pemberontakan daerah diselesaikan dan represi politik dan militer. Zaki. dan tuntutan alokasi sumberdaya ekonomi diselesaikan dengan pola pembangunan yang sentralistis dan otoriter. Namun. Rajawali Press. Identifikasi Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Penyelenggaraannya. Berangkat dari fenomena pambangunan daerah yang tidak merata. Negara Kesatuan Republik Indonesia akan mendapatkan dampaknya. dan praktek korupsi yang merajalela. Peranan keputusan Presiden RI dalam penyelanggarakan Pemerintahan Negara. Desertasi Jakarta : UII. Josef Riwu. Kesalahan pengelolaan yang parah dan kinerja pemerintah pusat yang buruk yang terjadi secara berkesinambungan akan memperpuruk legitimasi politik dan moral pemerintah pusat di hadapan masyarakat daerah. diperlukan pengkajian yang lebih mendalam mengenai pengukuran dampak terkait penerapan otonomi daerah terhadap kehidupan rakyat NKRI. Jakarta:FEUI. serta pusat yang tidak konsisten dengan kebijakan desentralisasi merupakan contoh ekspresi yang bisa ditemukan di kalangan pelaku pemerintahan daerah. 2008. 1990. Kalimantan Timur dan Riau di akhir dekade 1990an tidak direspon semata-mata dengan kekuatan represif. kekecewaan masyarakat lokal tetap berlanjut. 1989.

Made Suwandi. Manajemen Personalia. 2002. “Masalah-masalah Hukum dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah” Denpasar Terry. Jakarta Siswanto Sunarno. Rizky Argama. Salamat Simanjuntak. GR. Jakarta. Ghalia Indonesia. 2003. 2003. Otonomi Daerah Dan Permasalahannya. Jakarta. Bumi Aksara. AD. Diposkan oleh Corat-coret. AS. Konsepsi Dasar Otonomi Daerah Indonesia. Jakarta Solly Lobis. 2000. Pemberlakuan Otonomi Daerah dan Fenomena Fenomena Pemekaran Wilayah dan Penelitian. di 06:12 . Nepotisme.. Paradigma Baru Pemerintahan Daerah menyongsong Milenium ketiga. 2005. Hubungan Natara Pemerintah Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Manan Bagir. Jakarta. Sinar Grafika Offset. Pustaka Sinar Harapan. Nihin. Hubungan Ideal Pemerintah Pusat dan Daerah. 1999. Kolusi. 1996. “Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia”. Nitisemito. Jakarta. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Forum Peneliti Daerah pada tanggal 10 Agustus 2002 di Yogyakarta. Arus Balik Keuasaan Pusat ke Daerah”. 2008. 2002. UI. 1994. Bandung. Sinar Harapan. “Prinsip-Prinsip Manajemen”. Yogyakarta : UNESA Santoso. Palangka Raya. Eksistensi Kebijakan Daerah yang Demokratis dalam Sistem Pemerintahan yang bersih Bebas dari Korupsi. 1999. Langgeng Press Sarundajang. 2001. Jakarta. Prasetyo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful