P. 1
[PPD, 10] PERKEMBANGAN IDENTITAS, KONSEP DIRI DAN HARGA DIRI PADA MASA FORMAL-OPERASIONAL

[PPD, 10] PERKEMBANGAN IDENTITAS, KONSEP DIRI DAN HARGA DIRI PADA MASA FORMAL-OPERASIONAL

|Views: 2,071|Likes:
Published by Pg Asnawa Dikta

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Pg Asnawa Dikta on Apr 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

Oleh: Purna.

Baeby, dan Heri

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam psikologi, konsep identitas pada umumnya mengacu kepada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relative stabil sepanjang rentang kehidupan, sekalipun terjadi berbagai perubahan. Bila identitas itu telah diperoleh, maka seseorang akan menyadari ciri-ciri khas kepribadiaanya, seperti kesukaan dan ketidaksukaannya, aspirasi, tujuan masa depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya (Suma, 2006:43). Masa remaja merupakan periode perkembangan dibentuk baik oleh terungkapnya biologi dan oleh norma-norma sosial dan budaya dan harapan. Menurut Erikson, masa remaja ditandai dengan adanya „krisis‟, mereka menghadapi beberapa titik penting dalam mengembangkan „identitas‟. Menurut Erikson remaja akhir menghadapi tugas perkembangan utama yakni pembentukan identitas. Dalam masa pencarian identitas remaja menghadapi berbagai konflik. Konflik ini harus diatasi untuk menghindari identity confusion. Krisis identitas atau kebingungan peran yang paling sering ditandai oleh ketidakmampuan untuk memilih karir atau mengejar pendidikan lebih lanjut. Salah satu aspek kepribadian yang akan dialami seorang individu adalah konsep diri. Konsep diri merupakan bagian terpenting dalam kehidupan individu. Konsep diri merupakan sesuatu yang dipandang, dirasakan, dan dialami individu dalam mengenal dirinya sendiri. Interaksi menimbulkan pengertian tentang kesadaran diri, identitas, dan pemahaman tentang diri. Hal ini akan membentuk penilaian individu terhadap dirinya sebagai orang yang berarti, berharga, dan menerima keadaan diri apa adanya sehingga individu mempunyai perasaan harga diri. Berdasarkan uraian di atas, penulis akan mengkaji lebih lanjut tentang perkembangan identitas, empat status Erikson serta konsep diri dan harga diri dalam makalah yang berjudul “Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional”.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

1

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini antara lain: 1. Bagaimanakah operasional? 2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan identitas anak masa formal-operasional? 3. Apakah yang dimaksud dengan empat status identitas Erikson dan apa hubungannya dengan perkembangan anak masa formal-operasional? 4. Bagaimanakah perkembangan konsep diri dan harga diri pada anak masa formal-operasional? 5. Faktor apa saja yang mempengaruhi konsep diri dan harga diri? perkembangan identitas pada anak masa formal-

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan dalam makalah ini anatara lain: 1. Memahami perkembangan identitas pada anak masa formal-operasional. 2. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan identitas

anak masa formal-operasional. 3. Memahami empat status Erikson dan hubungannya dengan perkembangan anak masa formal-operasional. 4. Memahami perkembangan konsep diri dan harga diri pada anak masa formal-operasional. 5. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri dan harga diri.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah yang berjudul “Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa FormalOperasional” adalah sebagai berikut:

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

2

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

1. Bagi penulis Pembuatan makalah yang berjudul “Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional” bermanfaat bagi penulis dalam memperoleh berbagai pengalaman diantaranya pengalaman dalam

mencari dan menemukan sumber-sumber yang relevan dan terpercaya dengan makalah ini. Selain itu penulis juga memperoleh ilmu dan pengalaman mengenai teknik penulisan makalah, teknik pengutipan, teknik pengutipan, teknik penggabungan materi dari berbagai sumber. 2. Bagi pembaca Pembuatan makalah yang berjudul “Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional”, diharapkan para pembaca makalah ini dapat memahami perkembangan identitas, empat status Erikson serta konsep diri dan harga diri pada anak selama masa formal operasional.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

3

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan Identitas Pada Anak Masa Formal – Operasional

Dalam psikologi, konsep identitas pada umumnya mengacu kepada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relative stabil sepanjang rentang kehidupan, sekalipun terjadi berbagai perubahan. Seseorang yang sedang mencari identitas akan berusaha menjadi seseorang yang berarti berusaha mengalami sendiri sebagai “AKU” yang bersifat netral, mandiri, unik, yang mempunyai suatu kesadaran akan kesatuan batinnya sekaligus juga berarti menjadi seseorang yang diterima dan diakui oleh banyak orang. Orang yang sedang mencari identitas adalah orang yang ingin menentukan “ siapakah” atau “ apakah” diinginkannya pada masa mendatang. Bila identitas itu telah diperoleh, maka ia akan menyadari cirri-ciri khas kepribadiaanya, seperti kesukaan dan ketidaksukaannya, aspirasi,tujuan masa depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya (Suma,2006:43). Dalam konteks psikologi perkembangan, pembentukan identitas

merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja. Meskipun tugas pembentukan identitas ini telah mempunyai akar-akarnya pada masa anak-anak, namun pada masa remaja ia menerima dimensi-dimensi baru karena berhadapan dengan perubabhanperubahan fisik,kognitif, dan relasional. 2.1.1 Teori Erikson Menurut Ericson dalam teori psikososialnya, perkembangan individu dapat dibedakan menjadi delapan tahap yaitu: 1. Tahap kepercayaan vs ketidakpercayaan (trust versus mistrust) yang terjadi sejak dari lahir -1,5 tahun ( masa bayi).

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

4

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

2. Otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu (outonomy vs shame and doubt) yang terjadi pada usia 1,5-3 tahun ( masa kanak-kanak). 3. Tahap inisiatif vs rasa bersalah (initiative vs guilt) yang terjadi pada usia 3-6 tahun (masa prasekolah). 4. Ketekunan vs rasa rendah diri (industry vs inferiorty) yang terjadi pada usia 6-12 tahun (masa sekolah dasar). 5. Identitas vs kebingungan peran (ego identity vs role confusion) yang terjadi pada usia 12-20 tahun ( masa remaja). 6. Keintiman vs isolasi (intimacy vs isolation) yang terjadi pada usia 2024(masa awal dewasa). 7. Generativitas vs stagnasi (generativity vs stagnation) yang yterjadi pada usia 25-65 tahun(masa pertengahan dewasa). 8. Integritas ego vs keputusasaan (ego integrity vs despair) yang terjadi pada usia 65 tahun sampai mati(Suma,2006:43-44). Dari delapan tahap di atas yang dialami oleh remaja adalah tahap kelima yaitu identitas vs kebingungan. Menurut Ericson pada masa remaja mengalami pertentangan antara identitas vs kebingungan identitas dimana pada tahap ini individu ingin menemukan apa yang dapat dilakukannya selama hidupnya? Selama periode identias vs kebingungan identitas, remaja mulai memiliki suatu perasaan tentang identitasnya sendiri,suatu perasaan bahwa ia adalah manusia yang unik.Ia mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya sepeti kesukaan dan ketidaksukaan,tujuan yang ingin mereka capai dimasa mendatang. Menurut Ericson salah satu tugas perkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, untuk membentuk identitas yang stabil pada akhir masa remaja. Remaja yang berhasil menemukan identitas diri yang stabil akan memperoleh pandangan yang jelas tentang dirinya,memahami persamaan dan perbedaan dengan orang lain, menyadari kekurangan dan kelebihan dirinya, penuh percaya diri, tanggap terhadap berbagai situasi, mampu mengambil keputusan penting, mampu mengantisipasi tantangan masa depan, serta mengenal perannya dalam masyarakat. Kegagalan dalam mengatasi krisis identitas dan mencapai suatu identias yang relative stabil akan

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

5

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

sangat membahayakan bagi masa depan remaja.Sebab masa depan remaja sangat ditentukan oleh penyelesain krisis identitas. Tahapan Perkembangan Identitas Tahap Diferentiation Usia 12-14 Karakteristik Remaja menyadari bahwa ia berbeda secara sikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini sering membuatnya mempertanyakan dan menolak nilai-nilai dan nasihat-nasihat orang tuanya, sekalipun nilai-nilai dan nasihat tersebut masuk akal. Practice 14-15 Remaja percaya bahwa ia mengetahui segala-galanya dan dapat melakukan sesuatu tanpa salah. Ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasihat dan menantang orang tuanya Rapprochment 15-18 pada setiap kesempatan.

Komitmennya terhadap teman-teman juga bertambah. Karena kesedihan dan kekhawatiran yang dialaminya, telah mendorong remaja untuk menerima kembali sebagian otoritas orang tuanya, tetapi dengan bersyarat. Tingkah lakunya sering silih berganti antara

eksperimentasi dan penyesuaian, kadang mereka menantang dan kadang berdamai dan bekerjasama dengan orang tua mereka. Di satu sisi ia menerima tanggung jawab di 18-21 sekitar rumah, namun di sisi lain ia akan mendongkol ketika orang tuanya selalu mengontrol membatasi gerak-gerik dan

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

6

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

akitvitasnya diluar rumah. Consolidation Remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan diri orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, independen dan individualitas. Perkembangan identitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :  Iklim keluarga Keluarga merupakan awal pembentukan identitas seorang individu, terutama orangtua. Artinya gaya pengasuhan dari orangtua merupakan dasar pembentukan identitas individu. Beberapa dibawah ini contoh gaya pengasuhan orangtua, seperti :  Pengasuhan demokratis Gaya pengasuhan ini mendorong remaja untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan keluarga akan mempercepat “pencapaian identitas”.  Pengasuhan otokratis Mengendalikan perilaku remaja tanpa memberi remaja suatu peluang unutk mengemukakan pendapat akan “menghambat pencapaian identitas”.  Pengasuhan permisif Memberi bimbingan terbatas kepada remaja dan mengizinkan mereka mengambil keputusan-keputusan sendiri akan meningkatkan “kebingungan identitas”.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

7

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

 Tokoh idola Seorang idola sesungguhnya adalah sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan. Idola berarti identik dengan kepemimpinan. Maxwell menyimpulkan kepemimpinan adalah sebagai suatu pengaruh. Burn membagi kepemimpinan menjadi dua aspek, yaitu pertama, Idealized Influence yaitu: suatu proses yang padanya seorang pemimpin mempengaruhi para pengikut dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat dan identifikasi dengan para pemimpin tersebut. Pemimpin menjadi model bagi pengikutnya dan kedua, Individual Consideration yaitu: memberi dukungan, membesarkan hati dan memberi

pengalaman-pengalaman tentang pengembangan kepada para pengikut. Jika kita perhatikan pola pengaruh seorang idola terhadap remaja sebagaimana disebutkan sebelumnya, maka seorang idola

menunjukkan ciri-ciri kedua aspek kepemimpinan tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya seseorang yang berhasil mempengaruhi orang lain dan mengikuti visinya oleh karena jiwa kepemimpinannya telah menjadi seorang idola bagi orang lain. Pengaruh seorang idola terhadap remaja tidak dipengaruhi oleh batasbatas kedudukan, agama, ras, pendidikan, status ekonomi dan sebagainya. Seorang guru yang memiliki wewenang atau kedudukan untuk mempengaruhi siswa di sekolah belum tentu menjadi seorang idola bagi siswanya. Orang tua yang memberikan kepedulian terhadap anaknya yang remaja setiap hari dengan cara memberi makan, menyekolahkan, membelikan baju bahkan sampai menghantarkan anaknya menjadi seorang juara, juga belum tentu menjadi seorang idola bagi anaknya. Namun seseorang yang mampu memberikan kekuatan kepada remaja, yaitu: mengembangkan seorang remaja maka orang tersebut akan berhasil menjadi seorang idola bagi remaja. Mengembangkan remaja berarti menolong remaja untuk mengatasi krisis identitas yang dialaminya.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

8

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

 Peluang pengembangan diri Dalam upaya membantu orang menemukan identitas dirinya, Woolfolk menyarankan sebagai berikut:  berilah informasi tentang pilihan-pilihan karier dan peran-peran orang dewasa.  membantu untuk menemukan sumber-sumber untuk memecahkan masalah pribadinya.  bersikap toleran terhadap tingkah laku remaja yang dipandang aneh, seperti dalam berpakaian.

2.2 Empat Status Identitas Erikson Pada masa remaja untuk pertama kalinya, akumulasi perubahan fisik yang signifikan, perubahan kognitif, dan perubahan sosial berinteraksi bersama-sama pada suatu titik dimana remaja memilah-milah dan mensintesiskan identifikasi masa anak-anak menuju kematangan peran orang dewasa. Masa remaja merupakan periode perkembangan dibentuk baik oleh terungkapnya biologi dan oleh norma-norma sosial dan budaya maupun harapan. Menurut Erikson, masa remaja ditandai dengan berbeda „krisis‟, mereka menghadapi beberapa titik penting dalam mengembangkan identitas. Mereka menjawab atau setidaknya menghadapi pertanyaan identitas tentang pandangan dunia, arah karir, kepentingan, orientasi jenis kelamin, nilai-nilai, filsafat hidup, dan aspirasi untuk masa depan. Seperti proses pembentukan remaja „menjadi orang‟ atau proses remaja mencapai kedewasaannya hingga menjadi seseorang yang sukses. Biasanya mereka menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kelas dan sekolah dalam interaksi konstan dengan guru, teman sebaya, ide dan kegiatan. Tugas perkembangan remaja dipusatkan pada upaya penanggulangan sikap yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa remaja. Secara lebih khusus, Erikson menyebutkan bahwa tugas terpenting bagi remaja adalah mencapai identitas diri yang lebih mantap melalui pencarian dan eksplorasi terhadap diri dan lingkungan sosialnya (Hurlock, 1997: 209 dalam

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

9

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

Ninin Kholida, 2007: 6). Masa remaja adalah masa perlalihan yang disertai perubahan dalam berbagai aspek seperti fisik, biologis, intelektual, emosional, peran sosial, dan perubahan lainnya. Berkaitan dengan segala perubahan guna memenuhi tantangan yang harus dihadapi di masa peralihan ini, individu harus mengembangkan pemahaman mengenai keadaan diri sendiri/sense of identity yang jelas. Remaja akhir menghadapi tugas perkembangan utama yakni pembentukan identitas. Dalam masa pencarian identitas remaja menghadapi berbagai konflik. Konflik ini harus diatasi untuk menghindari identity confusion. Erikson menyimpulkan bahwa semua manusia memiliki kebutuhan dasar yang sama dan bahwa setiap masyarakat harus menyediakan beberapa cara bagi kebutuhan tersebut. Dia melihat pembangunan sebagai suatu bagian melalui serangkaian tahap, masing-masing dengan tujuan tertentunya, kekhawatiran, prestasi, dan bahaya. Pada setiap tahap, individu akan menghadapi krisis perkembangan (konflik antara alternatif yang positif dan alternatif yang berpotensi tidak sehat). Resolusi tidak sehat masalah pada tahap awal dapat memiliki dampak negatif potensial melalui hidup, meskipun kadang-kadang kerusakan dapat diperbaiki di tahap-tahap selanjutnya. Menurut Erikson, perkembangan pada remaja ditandai oleh tahap identitas ego vs kebingungan peran. Perkembangan remaja, yang terfokus terhadap tahap kelima di grafik Erikson tentang siklus hidup, dianggap sangat signifikan dalam perkembangan psikososial remaja tersebut. Pada tahap itu, individu tidak lagi seorang anak tapi belum dewasa (berusia antara 12 dan 20 tahun), melainkan seorang remaja yang dihadapkan dengan berbagai tuntutan sosial dan perubahan peran yang penting untuk memenuhi tantangan yang dihadapi individu yang telah dewasa. Tugas mereka adalah untuk mengkonsolidasikan semua pengetahuan mereka yang telah mereka dapatkan tentang diri mereka sendiri dan mengintegrasikan diri. Terdapat dua unsur yang terlibat dalam pembentukan identitas. Pertama, remaja harus memahami diri mereka agar memiliki „kesamaan dalam dan kesinambungan‟ dari waktu ke waktu. Kedua, orang lain yang berada disekitar mereka juga harus melihat suatu „kesamaan dan kesinambungan‟ dalam pribadi mereka, agar mereka memiliki

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

10

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

keyakinan dalam korespondensi antara garis internal dan eksternal kontinuitas. Dasar bagi remaja sukses dalam pencapaian identitas terintegrasi berasal dari anak usia dini, dan kegagalan remaja untuk mengembangkan hasil identitas pribadi disebut „krisis identitas‟. Krisis identitas atau kebingungan peran yang paling sering ditandai oleh ketidakmampuan untuk memilih karir atau mengejar pendidikan lebih lanjut. Menurut Erikson, identitas adalah konsep yang koheren tentang diri sendiri terdiri dari tujuan, nilai-nilai dan keyakinan pada seseorang yang komitmennya sudah solid. Dalam teori ini disebutkan bahwa ada empat status identitas yang dapat dialami oleh remaja yang ada hubungannya dengan aspek kepribadiannya, yaitu: 1) confusion/diffusion (tidak melakukan eksplorasi dan tidak membuat komitmen) 2) foreclosure (tidak melakukan eksplorasi, tetapi membuat komitmen, biasanya hal ini dipengaruhi oleh orang tua) 3) moratorium (melakukan eksplorasi, tetapi tidak membuat komitmen) 4) achievement (melakukan eksplorasi dan membuat komitmen). Keempat kategori ini dibedakan atas ada atau tidaknya krisis dan komitmen pada remaja tersebut. Yang dimaksud krisis adalah periode ketika seseorang mengalami kebingungan saat harus mengambil keputusan. Sedangkan komitmen adalah penetapan modalitas diri tentang pekerjaan atau sistem keyakinan (ideology) seseorang. Erikson menemukan hubungan antara status identitas dengan beberapa karakteristik seperti kecemasan, self esteem, moral reasoning dan pola tingkah laku. Disusun berdasarkan teori Marcia, peneliti lain yang telah mengidentifikasi kepribadian yang lain dan variabel-variabel keluarga yang berhubungan dengan status identitas (dalam Heli, tanpa tahun: 2). Berikut ini adalah penjelasan mengenai keempat status identitas yang telah disebutkan di atas: 2.2.1 Identity Difussion

Istilah difusi identitas ini digunakan untuk menggambarkan remaja yang belum pernah mengalami krisis, sehingga mereka belum pernah

mengeksplorasi dan mengevaluasi adanya alternatif yang berarti dalam

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

11

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

hidupnya dan belum membuat suatu komitmen. Difusi identitas ini merupakankan keadaan yang bisa berubah dan masih terbuka untuk berbagai kemungkinan dan pengaruh, karena belum terbentuk struktur kepribadian yang kuat. Karakteristik individu yang mengalami difusi identitas: pertama kurang memiliki konsep diri yang kokoh. Kedua individu menunjukkan tingkat kecemasan dan tegangan internal yang tinggi. Ketiga, tidak memiliki definisi yang jelas tentang siapa dirinya dan tidak dapat memperkirakan ciri dan sifat kepribadian yang dimiliki. Dalam teori epigenetic Erikson, masa remaja berada pada tahap kelima yaitu identity versus identity diffusion, yang menurut Erikson (Miller, 1993 dalam Baihaqi, Tanpa Tahun: 155) dijelaskan bahwa masa remaja merupakan masa terjadinya perubahan fisiologis yang cepat pada dirinya. Perubahan ini disertai dorongan sosial untuk memenuhi keputusan dalam masalah pendidikan dan kerja yang memaksa mereka untuk mempertimbangkan berbagai peran. “The over all task of the individual is to acquire a positive ego identity as her or he moves from one stage to the next”. Tugas dasar remaja adalah mengintegrasikan berbagai identifikasi yang dibawanya dari masa kanak-kanak kedalam situasi identitas yang lebih utuh (Rice, 1996 dalam Baihaqi, Tanpa Tahun:155). Bila remaja tidak dapat mengintegrasikan identifikasi dan peranperannya, ia akan menghadapi „kekaburan identitas‟ (identity diffusion), memiliki kepribadian yang labil, tidak memiliki sikap bagi masa depannya, dan bahkan menunjukkan ketidaktertarikan dalam berbagai hal. Erikson memandang identitas sebagai suatu konsep integratif antara individu dengan lingkungannya. Menurut Marcia (Acher, 1989 dalam Baihaqi:155), disebutkan bahwa identitas adalah proses dimana individu menempatkan dirinya dalam dunia sosial. Individu yang berada pada status identitas diffusion tidak bertanggung jawab, terlihat kurang memiliki tujuan dan merasa kebingungan. Mereka merasakan kesulitan untuk merencanakan suatu keputusan. Bagi remaja dengan status identity diffusion, krisis identitas pada umumnya muncul karena masyarakat bahwa remaja remaja merasakan adanya tuntutan

harus mengolah goals, values dan beliefs

selama belajar di SMA atau di perguruan tinggi. Sesuai dengan prinsip

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

12

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

epigenetik, hasil resolusi krisis dipengaruhi oleh pembentukan struktur kepribadian dalam tahap-tahap sebelumnya. Bila tahap pertama dilewati dengan baik maka remaja akan memiliki keyakinan diri dalam menghadapi masalah sehubungan dengan pencarian identitas. Bila tahap kedua dilewati dengan baik maka remaja dapat menemukan identitasnya atas usahanya sendiri dan bukan sekedar menerima identitas yang diberikan oleh figur otoritas. Bila tahap ketiga dilewati dengan baik maka remaja akan menunjukkan kegiatan yang lebih utuh dan bervariasi dalam proses pembentukan identitas. Bila tahap keempat dilewati dengan baik, remaja akan menunjukkan kemampuan untuk melaksanakan commitment yang dibuat. Keberhasilan melewati tahap-tahap perkembangan tersebut di atas berhubungan dengan keberhasilan orang dewasa yang menjadi model dalam keluarga dan masyarakat serta dukungan yang didapat remaja dari lingkungannya,

khususnya orang-orang yang berarti bagi remaja tersebut. Status identity diffusion berdasar pada kenyataan bahwa orang tua tidak puas dengan pekerjaannya, tidak menjalankan kegiataan keagamaan dan apatis terhadap isu-isu politik. 2.2.2 Foreclosure Foreclosure menggambarkan remaja yang telah membuat suatu komitmen namun belum pernah mengalami krisis yang memungkinkan mereka mengubah atau mempertimbangkan kembali komitmen yang telah dibuat. Status ini sering terjadi pada remaja yang mengidentifikasikan diri secara berlebihan terhadap nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang dewasa di sekelilingnya (overidentifiying). Individu menganggap standar ideal perilaku, harapan dan keinginan berdasarkan apa yang dianggap benar dan tepat oleh orang-orang di sekelilingnya--baik itu orang tua, guru, maupun teman, tanpa mencari tahu lebih lanjut. Hal ini menyebabkan individu sebagai proyeksi dari keinginan orang-orang di sekitarnya atau „alter egos‟. Jika keadaan ini terus berlangsung hingga usia dewasa maka individu akan mengalami kesulitan dalam mencapai indentitas, karena stuktur kepribadiannya menjadi kaku dan kurang terbuka terhadap tantangan dan keadaan yang baru.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

13

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

Individu yang memiliki status identitas forecl osure digambarkan sebagai seseorang yang mengadopsi tujuan, nilai-nilai dan kepercayaan dari orang tua atau figur otoritas lainnya tanpa memikirkannya secara kritis. Misalnya seseorang yang memilih pasangan tanpa mengenali dengan baik pasangannya. Tetapi karena penilaian orang tua atau teman-teman maka individu tersebut mengikuti pilihan mereka tanpa melakukan penilaian secara kritis. Individu dalam status pengalihan identitas tidak pernah mengalami krisis identitas. Mereka telah membentuk suatu identitas premature lebih berdasarkan pilihan orang tua mereka daripada identitas mereka sendiri. Mereka telah membuat komitmen pekerjaan dan ideologi, tetapi komitmen ini lebih mencerminkan suatu penilaian tentang apa yang dapat dilakukan figur orang tua atau otoritas anak itu daripada suatu proses otonom anak dalam penilaian diri. Ini merupakan suatu jenis “identitas-semu” yang pada umumnya terlalu dipaksakan dan kaku untuk difungsikan sebagai dasar menghadapi krisis hidup di masa depan. Foreclosure berdasar pada identifikasi yang kuat kepada orang tua, karena adanya tuntutan untuk mengikuti tradisi keluarga, agama, politik dan lain-lain. Identitas atau aspirasi orang tua diinternalisasikan sebagai identitas diri remaja. Foreclosure juga terjadi pada remaja yang diasuh dengan pola asuh otoriter, sementara identity diffusion dijumpai pada keluarga dengan pola asuh permisif, mengabaikan atau menolak anak. Remaja yang belajar di sekolah dengan siswa yang homogen cenderung menunjukkan status foreclosure dibandingkan dengan remaja yang belajar di sekolah dengan siswa yang heterogen. Bila commitment yang sudah terbentuk mengalami tantangan, maka remaja akan mengalami identity crisis, yang dipengaruhi juga oleh reaksi lingkungan sosial sekelilingnya. Walaupun commitment yang sudah terbentuk merupakan suatu keadaan yang menyenangkan bagi remaja, tetapi informasi yang diterima remaja mengenai goals atau beliefs alternatif yang sebelumnya tidak pernah terpikir oleh remaja dapat menimbulkan identity crisis bagi remaja. Keadaan ini mempunyai peluang lebih besar untuk terjadi bagi remaja yang hidup di dalam masyarakat kosmopolitan yang heterogen, remaja yang

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

14

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

melanjutkan ke perguruan tinggi atau remaja yang mempunyai rasa ingin tahu yang kuat dan minat yang luas. Remaja dengan status foreclosure dapat menjadi moratorium jika melihat teman atau kenalannya mengalami krisis, dan memandang bahwa krisis itu merupakan proses yang dialami oleh setiap orang yang termasuk generasi muda. Hal lain juga yang berpengaruh adalah cara orang tua mengambil keputusan. Jika orang tua melakukan perenungan mengenai nilai-nilai pribadi dan mempertimbangkan akibat keputusan yang dibuatnya dalam mengambil keputusan, maka anak-anaknya akan menunjukkan status moratorium karena remaja tersebut cenderung berusaha untuk berpikir sendiri dan mencari berbagai alternatif dalam membuat keputusan. Remaja yang memberontak terhadap orang tua juga menunjukkan status moratorium.

2.2.3 Moratorium Moratorium adalah status orang yang secara aktif terlibat dalam mengeksplorasi identitas yang berbeda, tapi belum membuat komitmen. Identitas ini ditandai dengan adanya krisis, tetapi ia tidak memiliki kemauan kuat (tekad) untuk menyelesaikan masalah krisis tersebut. Ada dua kemungkinan tipe individu ini, yaitu : a. Individu yang menyadari adanya suatu krisis yang harus diselesaikan, tetapi ia tidak mau menyelesaikannya, menunjukkan bahwa individu ini cenderung dikuasai oleh prinsip kesenangan dan egoisme pribadi. Apa yang dilakukan seringkali menyimpang dan tidak pernah sesuai dengan masalahnya. Akibatnya, ia mengalami stagnasi perkembangan, artinya seharusnya ia telah mencapai tahap perkembangan yang lebih maju, namun karena ia terus-menerus tidak mau menghadapi atau menyelesaikan masalahnya, maka ia hanya dalam tahap itu. b. Orang yang memang tidak menyadari tugasnya, namun juga tidak memiliki komitmen. Ada kemungkinan, faktor sosial, terutama dari orang tua kurang memberikan rangsangan yang mengarahkan individu untuk menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya. Ciri seseorang yang memiliki identitas moratorium adalah : dalam keadaan krisis, ragu-ragu dalam membuat keputusan, banyak bicara, percaya

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

15

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

diri, tetapi juga mudah cemas dan takut, pada akhirnya mungkin akan keluar dari krisis dengan kemampuannya membuat komitmen. Istilah ini digunakan untuk para remaja yang berada dalam krisis namun tidak memiliki komitmen sama sekali atau tidak memiliki komitmen yang terlalu jelas. Individu berada dalam keadaan berhadapan dengan krisis dan berbagai pertanyaan yang belum terjawab, sehigga individu terus mencari, berjuang dan mengeksplorasi berbagai peran, cara dan aturan untuk menemukan jawaban yang dianggap memuaskan. Pada fase ini individu masih bisa mengubah, mengevaluasi dan mempertimbangkan kembali berbagai komitmen yang telah dibuat hingga mencapai keadaan yang lebih sesuai. Moratorium terdiri dari individu yang sedang mengalami krisis tetapi belum memiliki komitmen. Status identitas achivement ditandai oleh adanya komitmen, yang terbentuk melalui krisis yang dilalui. Individu yang berada pada status identitas moratorium mengalami keraguan terhadap dirinya, kebingungan dan mengalami konflik dengan orangtua atau figur otoritas lainnya. Karena tahap moratorium merupakan tahap dimana individu yang telah mulai melakukan eksperimen dengan pilihan-pilihan pekerjaan dan ideology namun belum membuat komitmen pasti terhadap salah satu pilihan. Individu ini langsung berada di tengah-tengah suatu krisis identitas dan sedang mencari pilihan-pilihan hidup pengganti. Mereka sering terlihat menyendiri, memikirkan dan mempertimbangkan pilihan yang telah diambilnya.

2.2.4 Identity Achievement Digunakan bagi remaja yang telah melewati krisis dan telah membuat komitmen. Individu yang telah berhasil mencapai identitas memiliki ciri-ciri antara lain: aktif, toleran terhadap perbedaan, mandiri secara emosional, tidak membenci diri sendiri, mampu bersikap empati dan memiliki hubungan yang harmonis dengan orang-orang sekitarnya. Prestasi Identitas mengacu untuk memiliki dan menemukan arti sebenarnya dari seseorang diri. Ini adalah elemen kunci dari pengembangan kepribadian. Individu yang memiliki status identitas achievement mencapai kedewasaan dengan perasaan yang jelas

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

16

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

mengenai siapa dirinya, kepercayaan - kepercayaan yang penting dan arah hidup yang jelas tujuannya, lebih mandiri, dapat memberikan respon yang baik terhadap kondisi stress, mempunyai cita-cita yang lebih realistik dan harga diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga status identitas lainnya. Individu pada status identitas ini bertanggung jawab, memiliki kesadaran diri dan komitmen yang jelas terhadap sejumlah pilihan yang telah diambilnya. Individu pada status ini dapat meyakini pilihan yang diambilnya. Dalam hal memilih pasangan, mereka bertanggung jawab terhadap pasangan yang dipilih sehingga hubungan yang dijalani dapat bertahan lebih lama. Dalam kata lain, remaja pada tahap ini suah bisa lebih dewasa baik pemikiran, tingkah laku dan keputusan yang akan diambilnya. Para psikolog percaya bahwa pencapaian identitas hanya bisa terjadi setelah seseorang telah secara aktif mengeksplorasi berbagai pilihan yang tersedia baginya. Dengan kata lain, seseorang harus menjalani krisis identitas (atau moratorium identitas) untuk mencapai prestasi identitas. Misalnya, seseorang yang dalam pencapaian identitas berkaitan dengan pendudukan akan dicoba pertama kali melalui rute berbagai karir magang, riset online, dan wawancara informasi sebelum mengidentifikasi yang paling cocok. Anak-anak yang telah mencapai keremajaan mungkin telah mencapai status pencapaian identitas. Mereka juga lebih cenderung menjadi tidak pasti tentang identitas mereka (difusi identitas), untuk memiliki prematur mengadopsi identitas (penyitaan identitas) atau untuk secara aktif mencari rasa diri (identitas moratorium). Masa remaja menurut para ahli psikologi perkembangan adalah usia yang tidak memiliki identitas yang tepat. Erik Erikson seorang ahli psikologi juga menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa krisis identitas. Oleh karena itu masa remaja adalah masa pencarian identitas pribadi dan rentan terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Konsep identitas pada pengertian ilmu psikologi, adalah suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi pada keyakinan yang pada dasarnya tetap sama selama seluruh jalan perkembangan hidup kendatipun terjadi segala macam perubahan. Pencapaian identitas adalah salah satu dari empat status identitas yang diidentifikasi oleh psikolog James Marcia. Teori Erik Erikson juga menulis

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

17

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

secara ekstensif tentang krisis identitas. Menurut Erikson bahwa pembentukan identitas adalah suatu proses yang terjadi dalam dalam diri pribadi individu, dan juga perkembangannya di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan identitas dalam pengertian ilmu sosial adalah satu unsur kunci dari kenyataan subyektif dan sebagaimana semua kenyataan yang ia lihat akan bersifat subyektif, dan berhubungan secara dialektis dengan masyarakat. Identitas dibentuk oleh proses-proses sosial. Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dan masyarakat. Krisis identitas adalah ketika seseorang kehilangan rasa kesamaan pribadi dan kesinambungan historis. Menurut Erikson krisis identitas ini dapat diperkuat oleh keraguan mendalam terdahulu tentang identitas seksualnya dan tentang tempatnya serta nilainya dalam relasi-relasi primer keluarga.

2.3 Konsep Diri dan Harga Diri

2.3.1 Pengertian Konsep Diri Salah satu aspek kepribadian yang akan dialami seorang individu adalah konsep diri. Konsep diri merupakan bagian terpenting dalam kehidupan individu. Konsep diri merupakan sesuatu yang dipandang, dirasakan, dan dialami individu dalam mengenal dirinya sendiri. Bagaimanapun seseorang memandang dirinya begitu pula ia menjalani hidupnya. Pengertian konsep diri menurut pandangan para ahli:

1. Hurlock Hurlock menyebutkan konsep diri merupakan kesan individu mengenai karakteristik dirinya yang mencakup karakteristik fisik, sosial, emosi, dan aspirasi. Konsep diri juga merupakan suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan mengenai diri kita, seperti apa yang kita inginkan dan bagaimana orang lain berpandangan terhadap diri kita.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

18

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

2. Burns Menurut Burns konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan, orang-orang lain berpendapat mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh melalui informasi yang diberikan orang lain pada diri individu. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaluasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya (Utama, 2010:1).

3. Stuart dan Sudeen Menurut Stuart dan Sudeen konsep diri adalah semua ide pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain

4. Jhon Robert Power Menurut Jhon Robert Power mengartikan konsep diri sebagai kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliput siapa aku, apa kemampuanku, apa kekuranganku, apa kelebihanku, apa perasaanku, dan apa keinginanku.

5. J.P Chaplin Menurut J.P Chaplin konsep diri merupakan evaluasi individu mengenai diri sendiri: penilaian atau penafsiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan.

Dari berbegai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan individu secara menyeluruh tentang dirinya sendiri yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, dan kondisi fisik yang diperoleh dalam berinteraksi dengan orang lain. Pada

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

19

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

dasarnya konsep diri adalah bagaimana individu menilai dirinya sendirinya, dan konsep diri ini akan mempengaruhi pola gerak individu tersebut, jika konsep dirinya positif maka perilaku yang muncul pun cenderung positif, dan sebaliknya jika konsep dirinya negatif dalam arti individu menilai dirinya negatif, maka kecenderungan perilakunya akan negatif.

2.3.2 Komponen Konsep Diri

Pudjijogyanti (Anonim, Tanpa tahun: 15) berpendapat bahwa konsep diri terbentuk dari dua komponen yaitu komponen kognitif serta komponen afektif.  Komponen kognitif Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu mengenai dirinya, misalnya “saya ini anak bodoh”, atau saya ini anak pemberani”, serta sebagainya. Komponen kognitif merupakan penjelasan dari “siapa saya”? Hal ini akan membuat gambaran mengenai diri saya (the picture about my self), serta melahirkan citra diri (self image).  Komponen afektif Komponen afektif merupakan penilaian individu terhadap dirinya. Penilaian tersebut akan membentuk penerimaan diri (self-acceptance), serta harga diri (self-esteem) pada individu. Contoh pernyataan dari komponen afektif adalah “saya kecewa sebagai anak yatim” atau “meskipun saya orang miskin, tapi saya bahagia”, serta sebagainya. Jadi komponen afektif merupakan gambaran subjektif seseorang mengenai dirinya sendiri.

Hurlock (Anonim, tanpa tahun: 34) mengatakan bahwa konsep diri memiliki tiga komponen utama, yaitu: 1. Komponen perseptual, yaitu citra seseorang mengenai penampilan fisiknya dan kesan yang ditampilkan pada orang lain. Komponen ini sering disebut sebagai physical self concept. 2. Komponen konseptual, yaitu konsepsi seseorang mengenai karaktristik khusus yang dimiliki, baik kemampuan dan ketidakmampuannya, latar

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

20

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

belakang serta masa depannya. Komponen ini sering disebut psychological concept, yang tersusun dari beberapa kualitas penyesuaian diri, seperti kejujuran, percaya diri, kemandirian, pendirian yang teguh dan kebalikan dari sifat-sifat tersebut. 3. Komponen sikap, yaitu perasaan seseorang tentang diri sendiri, sikap terhadap statusnya sekarang dan prospeknya di masa depan, sikap terhadap harga diri dan pandangan diri yang dimilikinya.

2.3.3

Proses Pembentukan serta Perkembangan Konsepsi Diri pada Remaja

Erikson mengatakan bahwa masa remaja sebagai masa yang penuh gejolak. Keremajaan adalah merupakan suatu “penangguhan psikososial‟ pada saat harus membuat pilihan-pilihan seperti pilihan karir, nilai-nilai, gaya hidup, serta hubungan personal. Dalam rangka mencapai identitas diri, mereka sering kali menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat (Anonim, Tanpa tahun: 18). Mereka sering terlibat dalam kelompok-kelompok kecil yang kompak, saling membantu dalam percakapan sebagai akibat dari krisis identitas yang mereka alami. Menurut Erikson, bahaya dari masa remaja ini adalah terjadinya difusi diri atau diri mengambang. Misalnya munculnya perasaan tidak mampu menarik perhatian orang tertentu. Hal ini akan mengakibatkan remaja melakukan hal-hal yang mengarah pada tindakan negatif seperti tindakan kejahatan. Apabila perkembangan konsepsi diri sebelumnya positif, harga dirinya juga berkembang dari pengalaman kesuksesan, maka remaja yang bersangkutan akan melihat kembali visi hidupnya untuk masa depannya. Gejala-gejala ini wajar sebagai proses transisional dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Dalam kondisi seperti itu, penting sekali bagi remaja memerlukan figur orang dewasa yang bisa dijadika panutan. Paling tidak dalam bentuk tindakan – tindakan yang dapat merugikan diri sendiri. Seperti melalaikan tugas sebagai

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

21

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

seorang anak, sebagai siswa, atau sebagai individu yang masih dalam proses perkembangan. Konsep diri pada individu tidak hanya ditentukan oleh satu faktor, melainkan oleh beberapa faktor yang berkaitan dengan individu maupun halhal yang berada di luar dirinya. Terbentuknya konsep diri pada individu tergantung pada keyakinan terhadap penilaian orang lain terhadap dirinya. Oleh karena itu, hubungan individu dengan orang lain merupakan faktor terpenting dalam proses terbentuknya konsep diri. Menurut Burns (Anonim, Tanpa tahun: 20) terdapat lima sumber yang sangat penting dalam pembentukan konsep diri, yaitu: 1. Citra tubuh, evaluasi terhadap diri (fisik) sebagai suatu objek yang jelas berbeda. 2. Bahasa, kemampuan untuk mengkonseptualisasikan serta

memverbalisasikan diri serta orang lain. 3. Umpan balik yang ditafsirkan dari lingkungan mengenai bagaimana orang lain yang dihormatinya serta mengenai bagaimana pribadi tadi secara relatif ada dibandingakan dengan norma serta nilai yang ada dalam masyarakat. 4. Pola membesarkan anak.

2.3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri pada remaja, selain faktor lingkungan yaitu keluarga, guru, serta teman sebaya. Faktor internal yang terdapat dalam diri remaja juga sangat berpengaruh. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri remaja adalah sebagai berikut (Anonim, Tanpa tahun: 23-27). 1. Kondisi fisik Kondisi fisik merupakan hal yang paling kelihatan serta yang paling dapat dirasakan, sehingga kondisi fisik merupakan hal yang paling penting dalam mempengaruhi konsep diri. Burns mengungkapkan bahwa tubuh merupakan ciri sentral di dalam banyak persepsi diri. Perasaan harga diri

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

22

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

tinggi berkorelasi dengan sikap penerimaan terhadap keadaan fisik seseorang. 2. Cita-cita atau harapan Cita-cita merupakan sesuatu yang diinginkan oleh seseorang atau pengharapan bagi diri. Cita-cita/harapan sangat penting dalam

pembentukan konsep diri. Bila remaja mempunyai cita-cita yang tidak realistis, ia akan mengalami kegagalan. Hal ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu serta reaksi dimana ia menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Hal ini akan menimbulkan konsep diri yang negatif. Tetapi apabila individu memiliki harapan yang sesuai denga keadaan dirinya, maka individu tersebut akan memiliki konsep diri yang positif. 3. Kondisi keluarga Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pendidikan bagi individu, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua akan sangat berdampak pada konsepsi diri anak. Selain itu keharmonisan hubungan antara anggota keluarga juga mempengaruhi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Stott, didapatkan anak-anak yang berasal dari keluarga di mana penerimaan, rasa saling percaya, serta kecocokan diantara orang tua serta anak, lebih baik penyesuaian dirinya, lebih mandiri, serta memiliki konsep diri yang positif. Berdasarkan hasil penelitian itu, jelas sekali bahwa kondisi pola asuh orang tua serta hubungan antar anggota keluarga memberikan pegaruh pada pembentukan konsep diri individu. 4. Teman sebaya Ketika memasuki usia remaja, individu memiliki hubungan yang lebih luas daripada hubungan dalam lingkungan keluarga. Ia mempunyai lebih banyak teman, lebih banyak kenalan serta sebagai akibatnya, ia mempunyai lebih banyak pengalaman. Semakin banyak interaksi remaja dengan teman sebayanya, maka konsepsi diri pun berkembang. Akhirnya anak akan memperoleh konsep diri yang baru serta berbeda dari apa yang sudah terbentuk dalam lingkungan rumahnya.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

23

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

Kondisi kondisi yang menyebabkan remaja diterima atau ditolak Tabel 3.1 Sistem penerimaaan 1. Kesan pertama yang Sistem penolakan 1. Kesan pertama yang kurang baik karena penampilan diri yang kurang menarik, atau sikap menjauhkan diri yang

menyenangkan sebagai akibat dari penampilan yang menarik perhatian, sikap yang tenang serta gembira. 2. Reputasi sebagai seorang yang sportif serta menyenangkan. 3. Penampilan yang sesuai dengan penampilan sebayanya. 4. Perilaku sosial yang ditandai oleh jawab, kerja sama, panjang tanggung akal, teman-teman

mementingkan diri sendiri. 2. Terkenal sebagai seorang yang tidak sportif. 3. Penampilan yang tidak sesuai dengan standar kelompok. 4. Perilaku sosial yang ditandai oleh perilaku menonjolkan diri sendiri, mengganggu serta

menggertak orang lain, serta kurang bijaksana. 5. Kurangnya terutama terlihat kematangan, dalam hal

kesenangan bersama orang lain, bijaksana serta sopan. 5. Matang, terutama dalam hal pengendalian kemauan emosi serta

pengendalian

emosi,

untuk

mengikuti

ketenangan, kepercayaan diri serta kebijaksanaan.

peraturan-peraturan. 6. Sifat kepribadian yang

6. Sifat-sifat

kepribadian yang

menimbulkan sosial yang baik.

penyesuaian

mengganggu orang lain. 7. Status sosioekonomis berada di bawah kelompok serta

7. Status ekonomi yang sama atau sedikit di atas anggota-anggota lain serta hubungan yang baik dengan anggota keluarga. 8. Tempat dengan tinggal yang dekat

hubungan yang buruk dengan anggota keluarga. 8. Tempat tinggal yang terpencil dari kelompok atau untuk

kelompok

sehingga

ketidakmampuan

mempermudah hubungan serta

berpartisipasi dalam kegiatan

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

24

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

partisipasi

dalam

berbagai

kelompok.

kegiatan kelompok. Sumber: http//repository.upi.edu 5. Sekolah Remaja yang bersekolah, umumnya menghabiskan setengah dari waktu sehari-harinya di sekolah. Faktor sekolah memberikan pengaruh terhadap pembentukan konsep diri. Menurut Burns konsep diri serta prestasi memiliki keterkaitan, karena pada kenyataannya institusi pendidikan merupakan arena di mana individu dipaksa berkompetisi. Anak-anak akan menjadikan prestasi akademik sebagai suatu patokan harga diri yang penting. Sehingga siswa yang memiliki prestasi yang bagus akan merasa berarti. Sedangkan siswa yang gagal akan merasa tidak kompeten. Siswa yang memiliki prestasi rendah, cenderung mempunyai konsep yang negatif daripada siswa yang berprestasi bagus. Siswa yang berprestasi rendah cenderung mengekspresikan lebih banyak perasaan diri yang negatif. Kepribadian guru serta cara mengajarnya memberikan pengaruh terhadap konsep diri siswa. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Edeburn serta Landry bahwa guru yang memiliki konsep diri positif cenderung menghasilkan konsep-konsep diri yang positif pada muridmuridnya.

2.3.5 Jenis-Jenis Konsep Diri Remaja

Menurut William D.Brooks (Rahkmat, 2005:105 dalam Utama, 2010: 4) bahwa dalam menilai dirinya, individu ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif. Maksudnya individu tersebut ada yang mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif. Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif yaitu: 1. Memiliki keyakinan yang besar terhadap kemampuannya, sehingga menunjukkan sikap serta tindakan yang tegas serta memiliki inisiatif. 2. Aktif serta mampu menunjukan partisipasinya dalam suatu kelompok diskusi atau kelompok teman-teman sebaya.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

25

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

3. Mudah mencari teman serta berbaur dalam lingkungan sosial di sekitarnya. Berhasil dalam berbagai bidang akademis serta dapat menampilkan potensi secara optimal. 4. Dapat berperan sebagai “pemimpin” diantara teman-teman sebayanya tanpa rasa khawatir.

Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang negatif yaitu: 1. Ragu-ragu serta takut menyatakan gagasan dalam suatu kelompok atau situasi yang dihadapi. 2. Takut menerima kritikan. 3. Bersifat pendiam serta kurang menunjukan partisipasinya dalam kelompok teman-teman sebayanya, tampil sebagai anak yang pasif serta penakut. 4. Lambat dalam penyesuaikan diri dalam lingkungan baru, sulit bergaul serta menjalin persahabatan dengan teman-teman sebayanya. 5. Terpaku pada diri sendiri serta masalahnya sendiri, sehingga kurang ada minat serta perhatian serta waktu untuk melakukan kegiatan bersama orang lain.

2.3.6 Pengertian Harga Diri

Pengertian harga diri dapat dikaji dari pandanga beberapa ahli, diantaranya: 1. Menurut Coopersmith harga diri merupakan suatu proses penilaian yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri. Karena berkaitan dengan dirinya sendiri, penilaian tersebut biasanya mencerminkan penerimaan atau penolakan terhadap dirinya, menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil serta berharga. 2. Sheaford & Horejski menyatakan bahwa harga diri berhubungan dengan kepercayaan seseorang tentang yang bernilai dalam dirinya. Seseorang yang tidak menghargai atau menghormati dirinya sendiri akan merasa kurang percaya diri dan banyak berjuang dengan segala keterbatasan dirinya, sehingga sering mereka terlibat dalam tingkah laku yang salah

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

26

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

atau rentan untuk dieksploitasi dan disalahgunakan oleh orang lain (Anonim, 2008: 1). 3. Stuart dan Sundeen mengatakan bahwa harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa harga diri adalah penilaian individu terhadap dirinya sendiri sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten.

2.3.7 Pembentukan Harga Diri

Harga diri mulai terbentuk yaitu, ketika anak berhadapan dengan dunia luar dan berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Interaksi individu dengan lingkungannya minimal memerlukan pengakuan, penerimaan peran yang saling tergantung pada orang yang bicara dan orang yang diajak bicara. Interaksi menimbulkan pengertian tentang kesadaran diri, identitas, dan pemahaman tentang diri. Hal ini akan membentuk penilaian individu terhadap dirinya sebagai orang yang berarti, berharga, dan menerima keadaan diri apa adanya sehingga individu mempunyai perasaan harga diri. Berikut macam hambatan dan aspek-aspek harga diri:  Hambatan dalam Perkembangan Harga Diri Menurut Dariuszky (Sriati, 2008: 7) yang menghambat perkembangan harga diri adalah perasaan takut, yaitu kekhawatiran atau ketakutan (fear). Jika individu menanggapi lingkungannya dengan tanggapan negatif. Hal ini akan menjadikan individu selalu hidup dalam ketakutan yang akan mengakibatkan individu tidak dapat berpikir secara wajar, dan segala sesuatu yang diluar dirinya dipersepsikan secara salah. Keadaan ini lama-kelamaan akan menimbulkan kecemasan, sehingga akan berpengaruh pada perkembangan harga dirinya. Kecemasan merupakan unsur penghambat bagi perkembangan kepercayaan akan diri sendiri.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

27

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

 Aspek-aspek harga diri Menurut Flemming & Courtney (Sriati, 2008: 11) mengemukakan bahwa harga diri pada remaja dibagi menjadi lima aspek, yaitu: 1. Perasaan ingin dihormati Perasaan ingin diterima oleh orang lain, perasaan ingin dihargai, didukung, diperhatikan, dan merasa diri berguna. 2. Percaya diri dalam bersosialisasi Merasa percaya diri, mudah bergaul dengan orang lain, baik dengan orang yang baru dikenal maupun dengan orang yang sudah dikenal. 3. Kemampuan akademik Sukses memenuhi tuntutan prestasi ditandai oleh keberhasilan individu dalam mengerjakan bermacam-macam tugas dengan baik dan benar. 4. Penampilan fisik Kemampuan merasa diri punya kelebihan, merasa diri menarik, dan merasa percaya diri. 5. Kemampuan fisik Mampu melakukan sesuatu dalam bentuk aktivitas, dapat berprestasi dalam hal kemampuan fisik. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan harga diri pada remaja, seperti yang dikemukakan oleh Dariuszky (Sriati, 2008: 12), yaitu : 1. Berikan perhatian secara pribadi di saat mereka membutuhkan. Mendengarkan perkataannya dengan seksama, tetap menatapnya dan memperlihatkan bahwa kita memahami apa yang dirasakannya. Dengarkan tanpa memberikan penilaian dan tidak perlu mengkomentarinya. 2. Perlihatkan kasih sayang dalam bentuk ucapan maupun tindakan dengan tersenyum hangat dan berikan sentuhan. 3. Berikan pujian secara spesifik dengan memberitahukan bahwa kita menyukai apa yang dilakukannya. 4. Jelaskan apa yang baik dan tidak baik dari ucapannya maupun tindakannya. 5. Jelaskan dan tegaskan bakat istimewa yang dimilikinya. 6. Hargai prestasi baiknya mulai dari yang sederhana dengan senyum dan pujian.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

28

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Perkembangan identitas merupakan perubahan pikiran individu akan dirinya sendiri, ia mengenal dirinya, memahami bakat serta minat yang dimilikinya, mempunyai keyakinan akan sesuatu, menjadi individu dewasa yang unik dan memiliki peran dalam masyarakat.Tahap-tahap perkembangan identitas yaitu:differentiation, practice, rapprochement,dan consolidation. Perkembangan identitas dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu:iklim keluarga,tokoh idola,dan peluang pengembangan diri. Menurut Erikson ada 4 status identitas remaja yaitu: 1. Identitas achievement ; seorang individu dikatakan telah memiliki identitas, jika dirinya telah mengalami krisis dan ia dengan penuh tekad mampu menghadapinya dengan baik. 2. Identitas foreclosure; identitas ini ditandai dengan tidak adanya suatu krisis, tetapi ia memiliki komitmen atau tekad. 3. Identitas moratorium ; identitas ini ditandai dengan adanya krisis, tetapi ia tidak memiliki kemauan kuat (tekad) untuk menyelesaikan masalah krisis tersebut. 4. Identitas diffusion. Orang tipe ini, yaitu orang yang mengalami kebingungan dalam mencapai identitas. Ia tidak memiliki krisis dan juga tidak memiliki tekad untuk menyelesaikannya. Konsep diri merupakan bagian terpenting dalam kehidupan individu. Konsep diri merupakan sesuatu yang dipandang, dirasakan, dan dialami individu dalam mengenal dirinya sendiri. Bagaimanapun seseorang memandang dirinya begitu pula ia menjalani hidupnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri remaja yaitu:kondisi fisik,cia-cita,kondisi keluarga,teman sebaya,dan sekolah.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

29

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

Harga diri adalah penilaian individu terhadap dirinya sendiri sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten.

3.2 Saran Berdasarkan makalah yang berjudul “Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional” maka saran yang dapat diajukan yaitu: 1. Orang tua harus memberikan pengasuhan secara demokratis artinya anak diberikan berpartisipasi dalam memcahkan suatu masalah keluarga 2. Mahasiswa sebagai calon guru hendaknya menguasai dan memahami perkembanagan idetitas anak sehingga dapat mengarahkan peserta didiknya mencapai kestabilan Idetitas sheingga dapat mencapai suatu kesuksesan di masa mendatang.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

30

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

DISKUSI

1. Bagaimana cara menentukan jati diri saat menginjak usia remaja? 2. Individu yang memiliki kemampuan fisik yang lebih,tetapi dijauhi temantemannya.Mengapa? 3. Apakah seseorang dapat kehilangan harga diri? 4. Sesuai 4 status Erikson,bagaimana cara mengatasi komitmen anak yang gagal?

JAWAB 1. Jati diri berhubungan dengan akan menjadi apa anak tersebut di masa depan. Salah satu cara yaitu pada saat SMP diadakan suatu program pengembangan potensi diri baik akademik maupun nonakademik. Anak bisa mengikuti kegiatan tersebut sehingga anak bisa menemukan apa potensi dan kesukaannya. Misalnya suka pada pelajaran matematika dan untuk masa depannya bisa menjadi guru atau dosen matematika. Dalam hal ini orang tua harus membiarkan anak mencari jati dirinya dan menemukannya sendiri, sehingga dalam menjalani masa depan anak akan merasa senang. 2. Anak yang memiliki kemampuan fisik yang lebih, misalnya karate dijauhi temannya, hal itu terjadi karena faktor sikap dari anak itu sendiri. Jika dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya anak ini tidak menggunakan kekerasan (keahlian berkarate), apalagi memukul temannya tanpa sebab ia akan dijauhi. Sebaliknya jika anak ini menggunakan keahliannya untuk menolong orang maka akan banyak mempunyai teman. 3. Seseorang dapat kehilangan harga dirinya jika prilakunya tidak sesuai dengan norma dan nilai yang ada pada masyarakat. Misalnya dalam masyarakat ada seseorang yang berprilaku tidak baik seperti melakukan pembunuhan maupun tindakan yang tidak terpuji maka oarng tersebut akan dinilai buruk oleh orang lain dan harga dirinya akan hilang. 4. Dalam 4 status identitas erikson, dikenal tahap ketiga yaitu tahap moratorium. Dan komitmen anak yang gagal ini sesuai dengan tahap

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

31

Oleh: Purna. Baeby, dan Heri

moratorium, dimana anak telah mempunyai krisis identitas atau masalahmasalah dalam hidupnya, namun belum bisa mengambil keputusan yang tepat terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi. Nah, cara mengatasi komitmen anak yang gagal ini, ialah dengan cara memberikan dukungan lebih dari orang tua pada anak tersebut, supaya anak itu tidak merasa putus asa untuk kembali bereksplorasi dan mencoba mengambil keputusan dan berkomitmen lagi. Disini, orang tua harus pintar dalam mendukung anak agar anak tidak merasa tidak bisa mengambil keputusan dan berkomitmen dan harus bisa mengetahui dan memberikan solusi kepada anak terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi.

Perkembangan Identitas, Konsep Diri dan Harga Diri pada Masa Formal-Operasional

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->