LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 72/Permentan/OT.

140/10/2011 TANGGAL : 31 Oktober 2011 PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYULUH PERTANIAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian mempunyai peranan yang sangat strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan, bahan baku industri; memperluas lapangan kerja dan lapangan berusaha; meningkatkan kesejahteraan petani; mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, khususnya di perdesaan; meningkatkan pendapatan nasional; serta menjaga kelestarian lingkungan. Dalam rangka meningkatkan kontribusi sektor pertanian dalam pembangunan nasional, diperlukan pelaku utama dan pelaku usaha yang berkualitas, andal, serta berkemampuan manajerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis. Untuk meningkatkan kemampuan tersebut dibutuhkan kegiatan penyuluhan pertanian sebagai upaya membangun usaha dari hulu sampai hilir yang berdaya saing tinggi, dan melestarikan fungsi lingkungan hidup sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Penyuluhan pertanian merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses teknologi, informasi pasar, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Keberhasilan penyuluhan tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan dan kompetensi Penyuluh Pertanian dalam melakukan kegiatan penyuluhannya. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan mengamanatkan bahwa kelembagaan penyuluhan pemerintah terdiri atas Badan yang menangani penyuluhan di pusat, Badan Koordinasi Penyuluhan di Provinsi, Badan Pelaksana Penyuluhan di Kabupaten/Kota, dan Balai Penyuluhan di Kecamatan. Berdasarkan Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan menyatakan bahwa pengangkatan dan penempatan penyuluh Pegawai Negeri Sipil disesuaikan dengan kebutuhan dan formasi yang tersedia berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b dan Pasal 27 Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/02/MENPAN/2/2008 mengamanatkan bahwa Kementerian Pertanian sebagai instansi pembina jabatan fungsional Penyuluh Pertanian mempunyai kewajiban menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian dan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan Penyuluh Pertanian dilaksanakan sesuai dengan formasi jabatan Penyuluh Pertanian.

476

617 Kecamatan.216 THL-TB Penyuluh Pertanian (non PNS). Maksud dan Tujuan Pedoman Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dimaksudkan sebagai acuan dalam penyusunan kebutuhan formasi Jabatan Penyuluh Pertanian secara ideal di Pusat. Pengertian Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan: 1. Untuk memenuhi kebutuhan penyuluh pada masing-masing tingkatan kelembagaan penyuluhan. menyusun rencana kebutuhan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian di Pusat. 497 kabupaten/kota dan 33 provinsi. b. Untuk meningkatkan pelayanan penyuluhan tersebut diperlukan pengangkatan dan penempatan tenaga Penyuluh Pertanian terutama yang mempunyai latar belakang pendidikan perkebunan dan peternakan. B. Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian adalah jumlah dan susunan jabatan/pangkat Penyuluh Pertanian yang diperlukan oleh suatu unit organisasi/kelembagaan penyuluhan pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dalam jangka waktu tertentu.551 orang. mengusulkan pengadaan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian). Sedangkan Pedoman Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian bertujuan untuk: a. yang terdiri 27. 477 . Provinsi dan Kabupaten/Kota.244 desa/kelurahan yang tersebar di 6.961 Penyuluh Pertanian PNS dan 23. Kebutuhan jumlah Penyuluh Pertanian pada masingmasing tingkatan kelembagaan penyuluhan tergantung pada jumlah administrasi pemerintahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyebaran dan kompetensi tenaga Penyuluh Pertanian saat ini masih berbias pada sub sektor tanaman pangan. dan/atau pengendalian Penyuluh Pertanian Pegawai Negeri Sipil di Pusat. Penyuluh Pertanian tersebut tersebar di tingkat pusat sebanyak 224 orang (28 orang di Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian dan 196 orang di 33 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Pada tahun 2011 jumlah Penyuluh Pertanian tercatat sebanyak 51. Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai dengan kebutuhan C.177 orang. Provinsi dan Kabupaten/Kota. penempatan. sehingga perlu disusun Pedoman Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian. pengusulan. di tingkat provinsi sebanyak 402 orang dan di tingkat kabupaten/kota 50. maka masih diperlukan pengangkatan dan penempatan Penyuluh Pertanian PNS.Sesuai data Kementerian Dalam Negeri tahun 2010 terdapat 75. dan potensi agribisnis di wilayah kerja penyuluhan. Untuk memenuhi kebutuhan formasi jabatan fungsional penyuluh pertanian dilakukan perencanaan. jumlah petani/kelompoktani binaan. dan penetapan formasi jabatan fungsional penyuluh pertanian. Kondisi ini menyebabkan kurang optimalnya pelayanan penyuluhan pertanian kepada pelaku utama dan pelaku usaha yang mengusahakan komoditas hortikultura. perkebunan dan peternakan. beban dan fasilitas kerja.

hortikultura. pasca panen dan pengolahan. 4. 3. dan kesejahteraannya. tanggung jawab. 10. dengan bantuan teknologi. metodologi dan teknik analisis tertentu. sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas. perkebunan dan peternakan yang selanjutnya disebut pertanian adalah seluruh kegiatan meliputi usaha hulu. Penyuluh Pertanian Ahli adalah pejabat fungsional Penyuluh Pertanian yang dalam pelaksanaan pekerjaannya didasarkan atas selain mempergunakan prosedur teknik kerja. teknologi. dengan memperhatikan jumlah administrasi pemerintahan. 9. Penyuluh Pertanian Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyuluh Pertanian adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas. 6. disusun untuk merencanakan kebutuhan. Keahlian Agribisnis adalah kompetensi dalam bidang sarana produksi. serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. efisiensi usaha. tanggung jawab. perkebunan dan peternakan. 478 . Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil adalah kedudukan yang menunjukan tugas. 7. dan potensi agribisnis di wilayah kerja penyuluhan. 8. usaha tani. Penyuluh Pertanian Terampil adalah pejabat fungsional Penyuluh Pertanian yang dalam pelaksanaan pekerjaannya mempergunakan prosedur dan teknik kerja tertentu. juga disiplin ilmu pengetahuan. beban dan fasilitas kerja. Provinsi dan Kabupaten/Kota. agroindustri. Pertanian yang mencakup tanaman pangan. serta mengusulkan pengadaan dan penempatan penyuluh pertanian. Penyuluhan Pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar. jumlah petani/kelompoktani binaan. pemasaran dan jasa penunjang pengelolaan sumber daya alam hayati dalam agroekosistem yang sesuai dan berkelanjutan. hortikultura. wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkup pertanian untuk melakukan kegiatan penyuluhan. dan sumberdaya lainnya. wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. BAB II TATA CARA PERHITUNGAN KEBUTUHAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYULUH PERTANIAN Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian di Pusat. serta pemasaran hasil pertanian dan pembiayaan pada masing-masing subsektor pertanian. tenaga kerja dan manajemen untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat. modal.2. pendapatan. Kelembagaan penyuluhan pemerintah adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi penyuluhan. 5. permodalan. Potensi agribisnis adalah kemampuan pengembangan agribisnis komoditas unggulan yang meliputi tanaman pangan. budidaya.

b. yaitu: sarana produksi. Penyuluh Pertanian yang berkedudukan di Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian merupakan Penyuluh Pertanian Ahli dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV di bidang pertanian. Penyuluh Pertanian Ahli dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV di bidang pertanian. serta pemasaran dan pembiayaan. c. dan peternakan. hortikultura. dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan ketentuan sebagai berikut : 1. perkebunan. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian a. b. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian a. keahlian agribisnis. budidaya. jumlah formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada angka 1) ditentukan paling banyak 2 (dua) orang untuk masing-masing subsektor. Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a. pasca panen dan pengolahan. B. 2. jumlah formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada angka 1) ditentukan paling kurang 2 (dua) orang untuk masing-masing subsektor. 479 . dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian di Provinsi Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian di Provinsi merupakan Penyuluh Pertanian yang ditempatkan pada kelembagaan penyuluhan Provinsi.A. ditetapkan berdasarkan: 1) 2) 3) subsektor yaitu: tanaman pangan. dan peternakan. sesuai dengan potensi agribisnis. ditetapkan berdasarkan: 1) 2) Subsektor yaitu: tanaman pangan. Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan penyuluh pertanian ahli paling kurang dengan jenjang jabatan penyuluh pertanian muda. Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a. Penyuluh Pertanian di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang ditempatkan di Balai Besar Pengkajian Teknologi Pertanian dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian merupakan Penyuluh Pertanian Ahli dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV di bidang pertanian. Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian di Pusat Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian di Pusat merupakan Penyuluh Pertanian yang berkedudukan di Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. perkebunan. hortikultura.

dengan pengalaman di bidang penyuluhan paling kurang 4 (empat) tahun. keahlian agribisnis. keahlian agribisnis. b. pasca panen dan pengolahan. serta pemasaran dan pembiayaan. untuk kabupaten/kota dengan jumlah kecamatan kurang dari 12 (dua belas). formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada angka 1 ditetapkan sebagai berikut: 1) Untuk provinsi dengan jumlah kabupaten/kota lebih besar dan sama dengan 16 (enam belas). dan peternakan. Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a ditetapkan berdasarkan: 1) 2) 3) subsektor yaitu: tanaman pangan. budidaya. sesuai dengan potensi agribisnis. hortikultura. serta pemasaran dan pembiayaan. sesuai dengan potensi agribisnis. Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian di Kabupaten/Kota Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian di Kabupaten/Kota merupakan Penyuluh Pertanian yang ditempatkan pada kelembagaan penyuluhan Kabupaten/Kota. perkebunan. Kelembagaan Penyuluhan Kabupaten/Kota a. maka ditetapkan paling kurang sama dengan jumlah kecamatan atau paling banyak 12 (dua belas) penyuluh pertanian. dan peternakan. perkebunan. yaitu: sarana produksi. Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian dimaksud pada angka 1 ditetapkan berdasarkan: a. Penyuluh Pertanian Ahli dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV di bidang pertanian. b) c. dengan ketentuan sebagai berikut : 1. budidaya. maka ditetapkan paling banyak 16 (enam belas) penyuluh pertanian. pasca panen dan pengolahan. jumlah Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian ditetapkan sebagai berikut: a) untuk kabupaten/kota dengan jumlah kecamatan lebih besar dan sama dengan 12 (dua belas). 480 . hortikultura.2. b. yaitu: sarana produksi. sesuai dengan potensi agribisnis. Untuk provinsi dengan jumlah kabupaten/kota kurang dari 16 (enam belas). sebagaimana subsektor yaitu: tanaman pangan. 2) C. maka ditetapkan paling kurang sama dengan jumlah kabupaten/kota atau paling banyak 16 (enam belas) penyuluh pertanian. maka ditetapkan paling banyak 12 (dua belas) penyuluh pertanian. Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan Penyuluh Pertanian karier jenjang jabatan Penyuluh Pertanian Muda. sesuai dengan potensi agribisnis. c. Kecamatan dan Desa/Kelurahan.

b) c) 481 . perkebunan. Kelembagaan Penyuluhan Kecamatan a. ditetapkan sebagai berikut: 1) 2) 3) Penyuluh Pertanian terampil dan/atau ahli yang kegiatannya bersifat polivalen di sektor pertanian. Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b. ditetapkan berdasarkan: 1) 2) subsektor. maka dapat ditempatkan 1 (satu) Penyuluh Pertanian untuk membina 2 (dua) desa. b. maka ditempatkan 1 (satu) Penyuluh Pertanian. yaitu: tanaman pangan. paling kurang 50 (limapuluh) persen dengan kualifikasi pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan/atau Diploma (DI.2. penempatan Penyuluh Pertanian ditetapkan sebagai berikut: a) di desa/kelurahan d. Kelembagaan Penyuluhan Desa/Kelurahan a. dan DIII) di bidang pertanian. Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b. wilayah kerja Penyuluh Pertanian merupakan satu kesatuan administrasi desa/kelurahan. Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b. Penyuluh Pertanian Ahli dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV di bidang pertanian. apabila dalam satu desa terdapat kurang dari 8 (delapan) kelompok tani. c. yaitu: 1) 2) Penyuluh Pertanian Terampil Penyuluh Pertanian Penyelia. c. Penyuluh Pertanian Ahli dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV di bidang pertanian. Penyuluh Pertanian Terampil dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bidang pertanian. dengan jenjang jabatan Penyuluh Pertanian Ahli dengan jenjang jabatan Penyuluh Pertanian Pertama dan pengalaman di bidang penyuluhan paling kurang 4 (empat) tahun. b. Formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b. hortikultura. apabila dalam satu desa tidak berpotensi agribisnis maka tidak ditempatkan Penyuluh Pertanian. dan peternakan. jumlah formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian sebagaimana dimaksud pada angka 1) ditetapkan paling banyak 1 (satu) orang untuk masing-masing subsektor. apabila dalam satu desa terdapat lebih besar atau sama dengan 8 (delapan) kelompok tani. Penyuluh Pertanian Terampil dengan kualifikasi pendidikan paling rendah Diploma III di bidang pertanian. 3. d. DII.

sub sektor. Berdasarkan jumlah jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Pegawai Negeri Sipil tahun 2011 sebanyak 27. Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara menetapkan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian pada Unit Organisasi/Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Pusat berdasarkan usulan dari Menteri Pertanian dan setelah mendapat pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara.Jumlah kebutuhan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian tingkat desa/kelurahan pada masing-masing provinsi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut. dengan tembusan: a. Jumlah kebutuhan ideal jabatan fungsional Penyuluh Pertanian seluruh Indonesia berdasarkan jumlah kelembagaan Penyuluhan di Pusat. dan formasi yang dibutuhkan serta keahlian seperti tercantum pada Format 2 sebagai bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan ini. 3. Berdasarkan tembusan usulan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian. berdasarkan potensi agribisnis di wilayah kerja penyuluhan seperti tercantum pada Format 1 sebagai bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan ini. 5. dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian di Pusat 1. dan Kabupaten/ Kota. Berdasarkan usulan dari Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Menteri Keuangan up. 2. Provinsi dan Kabupaten Kota. Asli Keputusan penetapan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian disampaikan kepada Menteri Pertanian. b. Provinsi. diperlukan jumlah kebutuhan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian berdasarkan tingkat kelembagaan seperti tercantum pada Format 3 sebagai bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan ini. sebagai bahan untuk penetapan formasi jabatan Penyuluh Pertanian. Direktorat Jenderal Anggaran. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. 482 . dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengusulkan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian kepada Menteri Pertanian. tidak sebanding dengan kebutuhan ideal di tingkat Pusat. Menteri Pertanian mengusulkan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dengan tembusan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara. BAB III PROSEDUR PENGUSULAN DAN PENETAPAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYULUH PERTANIAN A.961 orang. 4. Kepala Badan Kepegawaian Negara. Kepala Badan Kepegawaian Negara membuat surat pertimbangan penetapan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara.

Berdasarkan usulan dari Kepala Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Provinsi tersebut. dengan tembusan disampaikan kepada Menteri Pertanian dan Kepala Badan Kepegawaian Negara atau Kepala Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang bersangkutan. 3. 4. Berdasarkan tembusan usulan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Kabupaten/Kota tersebut. dengan tembusan disampaikan kepada Menteri Pertanian dan Kepala Badan Kepegawaian Negara atau Kepala Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang bersangkutan. Gubernur mengajukan usulan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Provinsi kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dengan tembusan Kepala Badan Kepegawaian Negara. Asli Keputusan penetapan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Kabupaten/Kota disampaikan kepada Bupati/Walikota yang bersangkutan. Kepala Badan Kepegawaian Negara membuat surat pertimbangan penetapan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Tingkat Kabupaten/Kota 1.B. Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Tingkat Provinsi 1. 5. 3. Asli Keputusan penetapan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Provinsi disampaikan kepada Gubernur yang bersangkutan. 4. Berdasarkan tembusan usulan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Provinsi tersebut. yang terdiri atas Penyuluh Pertanian di Kabupaten/Kota. Berdasarkan usulan dari Kepala Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Kabupaten/Kota tersebut. 2. C. 483 . 5. Bupati/Walikota mengajukan usulan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Kabupaten/Kota kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dengan tembusan Kepala Badan Kepegawaian Negara. Menteri yang bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara menetapkan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Kabupaten/Kota berdasarkan usulan Bupati/Walikota dan memperhatikan pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara. Kepala Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Kabupaten/Kota mengusulkan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Kabupaten/Kota. Kecamatan dan desa/kelurahan kepada Bupati/Walikota. 2. Kepala Badan Kepegawaian Negara membuat surat pertimbangan penetapan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. Menteri yang bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara menetapkan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Provinsi berdasarkan usulan Gubernur dan memperhatikan pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara. Kepala Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Provinsi mengusulkan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian Provinsi kepada Gubernur.

MENTERI PERTANIAN. SUSWONO 484 .BAB IV PENUTUP Pedoman ini merupakan acuan bagi penyelenggara penyuluhan pertanian di Pusat. Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam penyusunan dan penetapan formasi jabatan fungsional Penyuluh Pertanian untuk memenuhi kebutuhan. ttd. pengangkatan dan penempatan penyuluh pertanian pada berbagai tingkatan kelembagaan penyuluhan.

598 8.191 5.577 438 8.442 2.732 1.436 438 8.510 1.500 1.337 340 263 108 5.431 1.760 1.502 1.712 2.319 2.436 438 8.384 2.384 2.649 964 1.191 229 5.116 1.500 1.404 1.874 1.775 1.591 2.337 340 263 108 5.431 1.869 1.591 2.512 664 879 2.334 1.598 8.512 664 879 2.116 1.333 911 1.889 1.889 1.299 1.320 1.973 1.306 2. Jumlah Kebutuhan Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Tingkat Desa/Kelurahan pada masing-masing Provinsi.420 5.466 595 168 18 34 34 15 45 8 84 84 10 121 575 377 316 53 384 13 38 58 21 21 68 159 229 141 Kebutuhan Penyuluh Petanian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Provinsi Nangro Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan BangkaBelitung Kepulauan Riau DKI.831 1.530 698 913 2.500 1.Format 1.320 1.760 1.732 1.466 595 485 .827 8.358 361 331 267 5.306 2.777 1.333 911 1. Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo 6. Berdasarkan Potensi Agribisnis di Wilayah Kerja Penyuluhan Jumlah Kabupaten /Kota 23 33 19 12 11 15 10 14 7 7 6 26 35 5 38 8 9 10 21 14 14 13 14 15 11 24 12 6 Jumlah Kecamat an 278 414 176 153 128 219 138 206 44 59 44 624 573 78 662 154 57 116 287 175 120 151 136 153 154 302 201 66 Jumlah Desa / Kelurahan 6.334 1.299 1.843 595 Desa Potensi Non Pertanian Pertanian 6.831 1.439 1.

006 3.006 3.No 29 30 31 32 33 Provinsi Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat TOTAL Jumlah Kabupaten /Kota 5 11 9 29 11 497 Jumlah Kecamat an 68 76 110 351 144 6.617 Jumlah Desa / Kelurahan 564 898 1.479 33 35 394 3.189 1.583 1.244 Desa Potensi Non Pertanian Pertanian 564 865 1.189 1.041 3.291 71.291 71.765 Kebutuhan Penyuluh Petanian 564 865 1.479 486 .291 75.

244 3 3 1 1 1 4 5.959 70. Kecamatan c. BPPSDMP b.851 71.294 5.479 98. 3.961 Jumlah Kebutuhan Formasi 80 4 76 126 69. Jumlah Kebutuhan Ideal Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Menurut Tingkat Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Pusat: a.165 487 . 1.964 19. Kabupaten/Kota b.335 27.479 *) 98. Desa/Kelurahan Total Jumlah Kelembagaan Penyuluhan 1 34 33 Sub Sektor 4 4 4 Jumlah Formasi 2 2 1 Jumlah Kebutuhan Ideal 304 32 272 528 97. Kecamatan c. Jumlah Kebutuhan Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Berdasarkan Tingkat Kelembagaan Penyuluhan No 1.126 No.126 Jumlah Penyuluh Tersedia 224 28 196 402 27.964 19.Format 2. Kabupaten/Kota b. 4 4 Keterangan *): Jumlah kebutuhan penyuluh pertanian ideal tingkat desa/kelurahan dihitung berdasarkan potensi agribisnis di wilayah kerja penyuluhan Format 3. Jumlah Kebutuhan Ideal 304 32 272 528 97.294 497 6. 3. Tingkat Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Pusat: a.851 71. BPPSDMP b. Keahlian 2. Desa/Kelurahan Total 2. B2PTP/BPTP Tingkat Provinsi Tingkat Kabupaten/Kota a.617 75. B2PTP/BPTP Tingkat Provinsi Tingkat Kabupaten/Kota a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful