P. 1
Kelas XI SMA IPS Sosiologi 2 Suhardi

Kelas XI SMA IPS Sosiologi 2 Suhardi

1.0

|Views: 29,164|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis
Buku BSE kemdiknas untuk kelas 2 SMA/MA : Sosiologi 2-Suhardi
Buku BSE kemdiknas untuk kelas 2 SMA/MA : Sosiologi 2-Suhardi

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Apr 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2015

pdf

text

original

Banyak faktor yang dapat menentukan terjadinya mobilitas sosial yang di-

alami seseorang. .aktor-faktor itu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu faktor

struktur sosial, faktor kemampuan individu, dan faktor kemujuran. .aktor struktur

sosial meliputi ketersediaan lapangan kerja (kesempatan), sistem ekonomi dalam

suatu masyarakat (negara), dan tingkat kelahiran dan kematian penduduk. .aktor

individu meliputi faktor pendidikan, etos kerja, cara bersikap terhadap diri sendiri

dan terhadap orang lain, dan faktor yang perannya sangat kecil namun sulit

disangkal keberadaannya adalah kemujuran atau nasib baik. Semua faktor

1

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,

maka semakin banyak saluran mobilitas yang

dapat dilalui untuk mencapai cita-citanya.

2

Peran saluran mobilitas tidak terlalu penting

dibandingkan dengan faktor penentunya. Asal

faktor penentu sudah dicapai, mobilitas sosial

pasti akan terjadi walau tanpa ada saluran.

3

Saluran mobilitas yang paling penting adalah

lembaga pendidikan.

4

Pada saat terjadi krisis ekonomi banyak terjadi

mobilitas sosial vertikal menurun, karena pen-

dapatan masyarakat juga menurun.

5

Dalam masyarakat yang berstruktur sosial ter-

buka banyak terjadi mobilitas sosial. Hal ini ka-

rena dalam masyarakat terbuka tidak ada ham-

batan untuk terjadinya mobilitas.

No.

Pernyataan

S TSR

94

Sosiologi SMA/MA Kelas XI

tersebut dapat membuat orang memperoleh kesempatan untuk memiliki materi

(kekayaan) lebih banyak, kenaikan pangkat (jabatan), atau sebaliknya. Berikut

ini dijelaskan ketiga faktor tersebut.

a..aktor Struktur Sosial

Setiap masyarakat memiliki struktur

sosial berbeda. Masyarakat pertanian

tradisional, lebih banyak menyediakan pe-

kerjaan kasar mengolah sawah, dan hanya

sedikit menyediakan lapangan kerja yang

bergengsi seperti menjadi pengusaha peng-

gilingan padi atau pedagang besar hasil dan

sarana pertanian. Demikian pula masyara-

kat tradisional nelayan, yang lebih banyak

memberikan pekerjaan sebagai pencari

dan pengolah ikan, sebaliknya hanya

sedikit lapangan kerja tersedia untuk

menjadi pengusaha di bidang perikanan,

distributor, atau pemilik kapal besar.

Hal ini berbeda dengan masyarakat industri modern. Berbagai lapangan

pekerjaan banyak tersedia, mulai dari tenaga produksi, pengawas atau mandor,

pemasar produk, periklanan, manajer hingga pemimpin dan pemilik perusahaan.

Semakin banyak perusahaan berdiri maka semakin banyak lapangan pekerjaan

yang tersedia. Dengan demikian, semakin banyak pula peluang terjadinya

mobilitas sosial. Orang juga memiliki peluang lebih besar berganti pekerjaan

dibandingkan dengan masyarakat pertanian atau nelayan tradisional.

Dengan melihat faktor ini, kita menjadi paham mengapa di negara kita

selama ini selalu terjadi urbanisasi. Pemuda-pemuda desa berbondong-bondong

ke kota mencari pekerjaan. Maraknya pertumbuhan industri di kota menjanjikan

kesempatan bagi mereka untuk mengalami mobilitas sosial vertikal. Pekerjaan

tradisional sebagai petani dianggap tidak menarik dan kurang memberikan

hasil. Sementara itu banyak tersedia pekerjaan di kota, mulai dari pekerja pabrik

hingga menjadi tenaga eksekutif. Bahkan, apabila beruntung dapat menjadi

pemilik usaha yang cukup besar dengan jaringan yang luas. Di desa kemungkinan

seperti itu sangat sulit terjadi.

Sistem ekonomi yang diterapkan sebuah negara sering pula berpengaruh

terhadap pertumbuhan industri. Pembatasan pertumbuhan industri tertentu yang

disebabkan oleh regulasi pemerintah berdampak terhadap berkurangnya

pertambahan lapangan kerja. Akibatnya semakin sulit pula orang mencari pe-

kerjaan. Sebaliknya, apabila pemerintah membuka seluas-luasnya kesempatan

mendirikan industri, maka semakin banyak pula kesempatan kerja. Namun,

untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, kebebasan berusaha harus

tetap melindungi warga masyarakat lokal (pribumi) dari serbuan pengusaha

Sumber: Gatra, 9 Agustus 2006

Gambar 3.7Mobilitas sosial di masyarakat
pedesaan pada umumnya berjalan lambat.

Mobilitas Sosial

95

asing yang lebih berpengalaman. Jika para penanam modal asing dibebaskan

seluas-luasnya, maka para pengusaha pribumi akan tersingkir. Pekerjaan-

pekerjaan kelas atas hanya akan dinikmati orang-orang asing yang lebih terampil.

Akibatnya mobilitas sosial vertikal naik tidak dinikmati orang-orang lokal.

Ketersediaan lapangan pekerjaan yang berdampak langsung terhadap

kesempatan mobilitas sosial juga dipengaruhi oleh angka pertumbuhan pen-

duduk. Bila saat ini terjadi angka kelahiran tinggi, maka dapat diramalkan dua

puluh tahun lagi akan terjadi ledakan jumlah pencari kerja. Anak-anak yang

saat ini lahir, dua puluh tahun lagi sudah memasuki lapangan kerja. Seandainya

tingkat pertumbuhan lapangan kerja tetap, sedangkan jumlah penduduk ber-

tambah, tentu akan terjadi kelebihan tenaga kerja. Semakin banyak pencari

kerja berarti semakin kecil peluang terjadinya mobilitas sosial naik. Oleh karena

itu, angka kelahiran turut menentukan mobilitas sosial.

b..aktor Kemampuan Individu

Seluas apa pun kesempatan mobilitas terbuka

bagi semua orang, jika orang tersebut tidak memi-

liki kemampuan untuk mencapainya, maka tidak

mungkin terjadi mobilitas naik. Sebaliknya, ketidak-

mampuan seseorang dalam mempertahankan ke-

dudukan sosialnya justru dapat menyebabkan ter-

jadinya mobilitas menurun.

Kemampuan seseorang dipengaruhi oleh ting-

kat pendidikannya. Semakin terdidik seseorang

biasanya semakin cakap. Akan tetapi, kemampuan

tidak dapat disamakan dengan prestasi akademik

(nilai mata pelajaran) di sekolah. Angka yang tinggi

di bangku sekolah tidak menjamin keberhasilan

seseorang dalam hidup. Sebab, angka (nilai) tinggi

hanya menunjukkan salah satu aspek kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual.

Padahal untuk berhasil dalam hidup, seseorang tidak hanya dapat mengandalkan

kecerdasan intelektual semata. Aspek-aspek kecerdasan lainnya perlu dikem-

bangkan melalui pendidikan, antara lain kecerdasan emosional, kecerdasan

sosial, kecerdasan spiritual, kecerdasan estetika, kecerdasan berbahasa,

kecerdasan spasial, kecerdasan eksistensial, kecerdasan kinestik, dan kecerdasan

motorik. Semua aspek kecerdasan tersebut dapat memengaruhi keberhasilan

seseorang dalam hidup sehingga perlu dikembangkan di sekolah. Apakah Anda

di sekolah telah merasakan hal demikian?

Misalnya, orang yang memiliki kemampuan melukis atau bernyanyi ternyata

sukses dalam hidupnya. Orang-orang seperti itu mungkin saja tidak cerdas secara

intelektual, tetapi kemampuan dalam berolah seni (estetika) telah membuatnya

mencapai kedudukan sosial ekonomi bagus. Demikian juga para olahragawan

yang telah membuktikan kemampuannya dalam bidang olah tubuh (kinestik).

Sumber: Garuda, Juni 1987

Gambar 3.8Keterampilan dan
kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang merupakan salah satu
pendorong mobilitas sosial.

96

Sosiologi SMA/MA Kelas XI

Ia mempunyai kesempatan besar untuk merubah kehidupannya. Demikian juga

kecerdasan sosial, yang aktualisasinya berupa kemampuan bergaul dengan orang

lain. Orang yang mampu bergaul (dalam arti positif) mengetahui cara meng-

hadapi orang lain demi keuntungan dirinya. Orang seperti ini cerdas dalam

membaca situasi dan kondisi, sehingga tidak bertingkah yang merugikan dirinya.

Sebaliknya, dia mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan, sehingga

caranya berperilaku membuatnya memperoleh dukungan dari orang lain dalam

meraih keberhasilan. Orang seperti ini sering dijuluki dengan sebutan pintar

bermain atau pintar membaca situasi . Ini merupakan salah satu bentuk ke-

cerdasan tersendiri yang tidak diajarkan secara khusus di sekolah. Anda dapat

mempelajarinya dengan banyak bergaul.

Semua aspek kecerdasan dapat dikembangkan dalam proses pendidikan.

Sehingga, siswa memiliki kemampuan sesuai bakat masing-masing. Pendidikan

merupakan faktor yang sangat penting dalam mobilitas sosial vertikal naik.

Kecuali itu, dengan memiliki tingkat pendidikan yang cukup, seseorang dapat

meraih tiga faktor sekaligus untuk mendukung naiknya status sosial seseorang.

Tingginya pendidikan yang dimiliki membuat seseorang dihormati di masyarakat.

Kecuali itu, pendidikan seseorang dapat mengantarkannya memperoleh pe-

kerjaan yang bagus. Dengan pekerjaan yang bagus, maka pendapatannya

menjadi besar. Semakin mudahlah baginya memperoleh status sosial yang lebih

tinggi.

Prestasi cemerlang di bangku sekolah selain mencerminkan kemampuan

intelektualnya, juga menjadi petunjuk mengenai pibadi seseorang dalam

menghadapi tanggung jawab. Walaupun pendidikan bukan satu-satunya penentu

tingkat kemampuan seseorang, namun kenyataannya setiap pekerjaan men-

cantumkan syarat tingkat pendidikan tertentu. Paling tidak seseorang harus

bisa membaca dan menulis agar diterima di pasaran kerja.

Sisi lain dari faktor individu adalah etos kerja. Etos kerja dapat diartikan

sebagai kebiasaan yang telah menjadi ciri khas seseorang atau suatu masyarakat

dalam bekerja. Kebiasaan itu berkaitan dengan kebudayaan dan nilai-nilai sosial.

Kita umumnya mengagumi kebiasaan kerja orang Jepang, sehingga mengang-

gap mereka sebagai bangsa yang gila kerja. Sampai-sampai suatu ketika perdana

menterinya menganjurkan agar bangsa Jepang mengurangi semangat kerjanya

agar pertumbuhan ekonominya tidak terlalu tinggi. Hal ini sungguh berlawanan

dengan etos kerja bangsa kita. Seringkali presiden menganjurkan agar kita be-

kerja keras untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Inilah gambaran nyata

etos kerja masyarakat.

Individu pun dapat mengembangkan etos kerja pribadi. Sebuah penelitian

(Vaillant & Vaillant, 1981) telah menyimpulkan bahwa kebiasaan yang dilakukan

sejak masa kanak-kanak merupakan petunjuk penting untuk memperkirakan

berhasil atau tidaknya seseorang di masa dewasa nanti. Jadi, sejak sekarang

hendaknya Anda mulai membiasakan diri dengan tekun, rajin, ulet, pantang

menyerah, dan suka bekerja keras. Apabila kebiasaan itu telah menjadi etos

Mobilitas Sosial

97

kerja yang mendarah daging dalam diri Anda, maka besar kemungkinan Anda

akan mengalami mobilitas sosial naik dalam karir maupun pendapatan di masa

dewasa nanti.

Ketekunan dalam berusaha tercermin juga dalam peribahasa yang berbunyi

berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-

senang kemudian. Apabila seseorang ingin mencapai keberhasilan di masa

depan, harus mau berjuang dari sekarang. Misalnya Anda saat ini sedang dalam

masa sekolah. Bertahun-tahun Anda belajar sejak dari SD, SMP, SMA, hingga

nanti di perguruan tinggi pada dasarnya adalah perjuangan panjang. Anda rela

menghabiskan waktu lama untuk menekuni bangku sekolah, padahal di luar

sekolah banyak kesenangan ditawarkan. Anda meninggalkan kesenangan sesaat

yang ditawarkan itu demi mencapai cita-cita. .aktor seperti ini juga akan menen-

tukan kemampuan Anda dalam meraih keberhasilan di masa depan.

c..aktor Keberuntungan

Anda tentu pernah mendengar, ada orang yang tidak perlu bekerja keras

tiba-tiba mendapat hadiah berupa uang ratusan juta karena memenangkan

undian atau kuis. Sementara banyak orang yang bekerja membanting tulang

berpuluh-puluh tahun sulit mengumpulkan tabungan sebesar itu. Hal ini berarti

dari segi pendapatan orang tersebut mengalami mobilitas naik. Di sinilah peran

faktor keberuntungan memengaruhi mobilitas sosial.

.aktor keberuntungan sebenarnya mempunyai peranan yang kecil dalam

keberhasilan seseorang. Setiap orang yang berhasil dalam hidupnya mengakui

bahwa sebagian besar keberhasilannya adalah hasil dari usaha keras. Keber-

hasilan tidak datang dengan tiba-tiba tanpa diupayakan. Peran faktor keberun-

tungan hanyalah 1%, sedangkan 99% adalah kerja keras. Oleh karena itu,

agama mengajarkan kepada kita untuk bekerja dan berdoa. Usaha yang pertama

adalah bekerja dan berusaha, sedangkan doa ada pada urutan berikutnya.

Walaupun faktor keberuntungan turut menjadi penentu, namun kita hendaknya

jangan bersikap fatalistik atau menyerah kepada takdir. Sebab, Tuhan tidak

akan mem-berikan kesuksesan tanpa orang itu mengusahakannya sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->