P. 1
UKURAN GEJALA MEMUSAT

UKURAN GEJALA MEMUSAT

|Views: 461|Likes:

More info:

Published by: Burst'flame Kazuhiko Wira on Apr 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2012

pdf

text

original

x

=
n
x
i ¿

2.3 UKURAN KECENDERUNGAN GEJALA MEMUSAT (RERATA,
MEDIAN, DAN MODUS)

Setiap penelitian selalu berkenaan dengan sekelompok data. Dalam hal ini yang
dimaksud kelompok adalah, satu orang mempunyai sekelompok data, atau sekelompok
orang mempunyai satu macam data, misalnya, sekelompok mahasiswa di kelas dengan
satu nilai mata kuliah. Gabungan keduanya misalnya sekelompok mahasiswa di kelas
dengan berbagai nilai mata kuliah.
Dalam penelitian, peneliti akan memperoleh sekelompok data variabel tertentu dari
sekelompok responden, atau objek yang diteliti. Misalnya melakukan penelitian tentang
kemampuan kerja pegawai di fakultas MIPA Undiksha, maka penelitian akan
mendapatkan data tentang kemampuan pegawai di fakultas MIPA Undiksha tersebut.
Prinsip dasar dari penjelasan terhadap kelompok yang diteliti adalah bahwa penjelasan
yang diberikan harus betul-betul mewakili seluruh kelompok pegawai di fakultas MIPA
Undiksha.
Beberapa teknik penjelasan kelompok yang telah diobservasi dengan data kuantitatif,
selain dapat dijelaskan dengan tabel dan diagram. Dapat juga dijelaskan menggunakan
teknik statistik yang disebut: Mean, Median, Modus.
Mean, Median, Modus, merupakan teknik statistik yang digunakan untuk
menjelaskan kelompok, yang didasarkan atas gejala pusat (central tendency) dari
kelompok tersebut, namun dari tiga macam teknik tersebut, yang menjadi ukuran gejala
pusatnya berbeda-beda. Masing-masing gejala pusat tersebut mempunyai penggunaan
yang cocok untuk skala (data) tertentu; Mean cocok untuk data interval dan ratio, Median
untuk data ordinal dan Modus cocok untuk data nominal.

1. MEAN (Rata-rata hitung)
Rata-rata hitung, untuk data kuantitatif yang terdapat dalam sebuah
sampel dihitung dengan jalan membagi jumlah nilai data oleh banyak
data. Rumusnya:

……………………………………………………..(i)
Keterangan: x = rata-rata hitung
∑ = jumlah
X
i
= nila x ke-i sampai ke-n
n = jumlah data
Contoh1: Jika ada lima nilai ujian dari lima orang mahasiswa untuk mata kuliah
statistika yaitu: 70, 45, 69, 80, 56, maka nilai rata-ratanya:
x =
5
56 80 69 45 70 + + + +
= 64

Contoh2: jika ada dua mahasiswa mendapat nilai 70, empat mendapat nilai 69, tiga
mendapat nilai 45, dan masing-masing seorang mendapat nilai 80 dan 56,
maka untuk mencari rata-ratanya menggunakan rumus:

……………………………………………………(ii)


Untuk contoh soal ini sebaiknya menggunakan table seperti berikut,

x
i
f
i
f
i
x
i

70
69
45
80
56
2
4
3
1
1
140
276
135
80
56
Jumlah 10 687

Sehingga: x =
10
687
= 68,7
Jadi, nilai rata-rata ujian statistika untuk kesepuluh mahasiswa itu adalah
68,7

Selain terdapat rata-rata hitung, juga dikenal rata-rata ukur dan rata-rata
harmonik
1.1 Rata-rata ukur
Jika perbandingan tiap dua data berurutan tetap atau hampir tetap,
rata-rata ukur lebih baik dipakai daripada rata-rata hitung, apabila
dikehendaki rata-ratanya. Untuk data bernilai x
1
, x
2
, ….., x
n
maka rata-rata
ukur U dirumuskan sebagai berikut:
x =

……………………………… ………………………………(iii)

Yaitu akar pangkat n dari produk (x
1
.x
2
.x
3
.,,,,,,,,x
n
)
Contoh1: rata-rata ukur untuk data x
1
= 2, x
2
=4, x
3
=8 adalah
U =
3
8 4 2 x x = 4

Untuk bilangan-bilangan bernilai besar, lebih baik digunakan
logaritma, rumus (iii) menjadi,

……………………………………………(iv)

Untuk fenomena yang bersifat tumbuh dengan syarat-syarat tertentu,
seperti pertumbuhan penduduk, bakteri, dan lain-lain, sering digunakan
rumus yang mirip rata-rata ukur yaitu:


… ……………………………………………..(v)

Keterangan: P
0
= keadaan awal atau permulaan
P
t
= keadaan akhir
x = rata-rata pertumbuhan setiap satuan waktu
t = satuan waktu yang digunakan

Sedangkan data yang telah disusun dalam tabel distribusi frekuensi,
rata-rata ukurnya dihitung dengan rumus:

………………………………… (vi)

dengan x
i
menyatakan tanda kelas, f
i
= frekuensi yang sesuai dengan x
i

dan harga rata-rata ukur U dicari kembali dari log U.



U =
n
n x x x x
, , , , , ., . .
3 2 1

log U =
n
xi
¿
log

P
t
= P
0
(1 + )
100
x
t

log U =
¿
¿
f
x
f
i
i
i
) log (



1.2 Rata-rata harmonik
Rata-rata harmonic biasanya digunakan untuk merata-ratakan
kecepatan beberapa jarak tempuh atau mencari harga rata-rata suatu
komoditi tertentu. Untuk data x
1
, x
2
, x
3
, ……., x
n
dalam sebuah sampel
berukuran n, maka rata-rata harmonik ditentukan oleh rumus:

…………………………………………. (vii)


Penggunaan lain mengenai rata-rata harmonik adalah dalam kasus
berikut: si Boyke bepergian pulang pergi. Saat pergi kecepatannya 10
km/jam sedangkan saat pulang 20 km/jam. Berapakah rata-rata kecepatan
pulang pergi?
Jawab otomatis, dengan rata-rata hitung biasa, ialah
2
20 10+
= 15
jam
km
.
Ini salah, karena jika panjang jalan 100 km, maka untuk pergi diperlukan
waktu 10 jam dan kembali 5 jam. Pulang pergi perlu waktu 15 jam dan
menempuh 200 km. rata-rata kecepatan jadinya = jam km/
15
200

= 13 jam km/
3
1
. Hasil ini tiada lain daripada rata-rata harmonik,
H = jam km/
3
1
13
3
40
20
1
10
1
2
= =
+


Sedangkan untuk data dalam tabel distribusi frekuensi, maka rata-rata
harmonik dihitung dengan rumus:


……..………………………………(viii)




2. MEDIAN
H =
¿
|
|
.
|

\
|
xi
n
1

H =
¿
¿
|
|
.
|

\
|
x
f
f
i
i
i

Median (yang selanjutnya disingkat Me) ialah nilai tengah-tengah dari data yang
diobservasi, setelah data tersebut disusun mulai dari urutan yang terkecil sampai yang
terbesar atau sebaliknya. Jika jumlah datanya ganjil, maka Me terdapat tepat di tengah-
tengah.
Contoh1:
Terdapat data: 10,9,3,5,7,12,8 (ada tujuh data). Setelah diurutkan menjadi :
3,5,7,8,9,10,12 ; maka Me = 8 (data yang di tengah-tengah).
Jika jumlah datanya genap, maka Me didapat dengan dua data di tengah-tengah
kemudian dibagi dua.

Contoh2:
Terdapat data: 3,5,7,8,10,10,12,14,14,14 (10 data), sehingga Me =
( )
10
2
10 10
=
+

Data yang sudah disusun dalam daftar distribusi frekuensi, nilai mediannya dapat
dihitung dengan rumus:

…………………………………………(ix)

Di mana: b = batas bawah kelas Me yaitu di mana Me akan terletak
p = panjang kelas Me
n = ukuran sampel atau banyak data
F = jumlah semua frekuensi sebelum kelas Me
f = frekuensi kelas Me
dari contoh di atas didapat data sampel: 3,5,7,8,10,10,12,14,14,14 (n=10). Kita buat
dulu tabel distribusi frekuensinya.
Nilai data f
1
3-5
6-8
9-11
12-14
2
2
3
3
jumlah 10
Setengah dari seluruh data ada = 5 buah, jadi Me terletak di kelas interval ketiga,
karena sampai dengan ini jumlah frekuensi sudah lebih dari 5 buah. Dari kelas
Me ini didapat:
b = 8,5
p = 3
Me = b+p
( )
f
F n ÷ 2 1

F = 2+2 = 4
n = 10
sehingga: Me = 8,5 + 3 =
|
.
|

\
| ÷
3
4 5
8,5 + 1 = 9,5
Median merupakan alat deskripsi yang baik untuk data yang tidak normal. Me
sering digunakan untuk memperbaiki harga rata-rata yang terdapat dalam
sekelompok data yang ekstrem harganya, sehingga kurang mewakili
(representatif) sebagai ukuran gejala pusat.

3. MODUS
Modus atau mode ialah data yang paling sering muncul di dalam suatu
pengamatan. Jika nilai yang muncul itu hanya ada satu macam saja, maka modus
tersebut dinamakan unimodal. Dan jika nilai yang muncul ada dua macam, maka
modus tersebut dinamakan bimodal, demikian seterusnya. Modus juga sering
disingkat dengan Mo.
Contoh:
3, 5, 7, 8, 10, 10, 12, 14, 14, 14 14 = unimodal
3, 5, 7, 8, 10, 10, 10, 14, 14, 14 10 dan 14 = bimodal
Modus merupakan alat deskripsi yang tepat namun kasar dan hanya sesuai untuk
mendeskripsikan kasus-kasus tipikal atau alat untuk mencari kejadian-kejadian
yang sedang popular saja. Modus tidak terpengaruh pada kasus ekstrem.
Jika data kuantitatif telah disusun dalam tabel distribusi frekuensi, modusnya
dapat ditentukan dengan rumus:


…………………………………..(x)


Di mana: b = batas bawah kelas modus, ialah kelas interval dengan frekuensi
terbanyak,
p = panjang kelas modus
b
1
= selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas
sebelumnya
b
2
= selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudahnya.

Mo = b + p
|
|
.
|

\
|
+
b b
b
2 1
1





Contoh1: jika terdapat sekelompok data yang disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi berikut:

Nilai Ujian f
i
31-40
41-50
51-60
61-70
71-80
81-90
91-100
1
2
5
15
25
20
12
Jumlah 80

1. Kelas modus = kelas kelima
2. b = 70,5
3. b
1
= 25 – 15 = 10
4. b
2
= 25 – 20 = 5
5. p = 10
Mo = 70,5 + (10)
|
.
|

\
|
+ 5 10
10

Mo = 77,17


2.4 UKURAN LETAK (KUARTIL, DESIL, DAN PRESENTIL)
1. KUARTIL
Kuartil adalah bilangan yang membagi sekumpulan data menjadi empat bagian yang
sama dan disusun menurut urutan nilainya. Dengan kata lain, kuartil merupakan nilai yang
memisahkan tiap-tiap 25% frekuensi dalam distribusi data. Kuartil dapat dibagi menjadi 3
jenis, yaitu :
1. Kuartil pertama adalah nilai yang membatasi 25% frekuensi di bagian bawah
distribusi dan 75% frekuensi di bagian atas distribusi.
2. Kuartil kedua adalah nilai yang membatasi 50% frekuensi di bagian bawah
distribusi dan 50% frekuensi di bagian atas distribusi.
3. Kuartil ketiga adalah nilai yang membatasi 75% frekuensi di bagian bawah
distribusi dan 25% frekuensi di bagian atas distribusi.
Kedudukan kuartil dapat di gambar sebagai berikut :

Cara Menentukan Letak kuartil
Cara-cara menentukan nilai kuartil adalah sebagai berikut :
1. Susun data menurut urutan nilainya
2. Tentukan letak kuartil
3. Tentukan nilai kuartil
A. Data tunggal
Untuk mengitung letak kuartil dalam data tunggal, dapat dirumuskan sebagai berikut :
K
i
=

Keterangan : i = kuartil ke…
N = banyaknya data
Contoh : Tentukan kuartil dari data berikut, 34, 35, 40, 47, 45, 54, 50, 37, 64, 39, 60, 58
Jawab : Data disusun menjadi : 34, 35, 37, 39, 40, 45, 47, 50, 54, 58, 60, 64
Letak kuartil pertama
K
1
=

( 12+ 1 )
=

=

Itu berarti nilai kuartil pertama terletak diantara data ke-3 dan ke-4,
seperempat lewat dari data ke-3.
Jadi, nilai kuartil pertama adalah
Nilai K
1
= nilai data ke-3 +

( selisih data ke-3 dan ke-4 )
= 37 +

( 39-37 )
= 37 +

= 37

Letak kuartil kedua
K
2
=

( 12 + 1 )
=

( 13 )
=6

Itu artinya nilai kuartil kedua terletak diantara data ke-6 dan ke-7, setengah
lewat dari data ke-6.
Jadi, nilai kuartil kedua adalah
Nilai K
2
= nilai data ke-6 +

( Selisih data ke-6 dan ke-7 )
= 45 +

( 47-45 )
= 45 +

( 2 )
= 45 + 1
= 46
Letak kuartil ketiga
K
3
=

( 12 + 1 )
=

( 13 )
= 9

Itu artinya nilai kuartil ketiga terletak diantara data ke-9 dan ke-10,

lewat
dari data ke-9.
Jadi, nilai kuartil ketiga adalah
Nilai K
3
= nilai data ke-9 +

( selisih data ke-9 dan ke-10 )
= 54 +

( 58-54 )
= 54 +

( 4 )
= 54 + 3
= 57
B. Data berkelompok
Untuk mengitung letak kuartil dalam data tunggal, dapat dirumuskan sebagai berikut :
(

)
Keterangan : i = kuartil ke…
T
b
= tepi bawah kelas interval tempat kuartil
N = banyaknya frekuensi
Fk = jumlah frekuensi sebelum kelas kuartil
f
t
= frekuensi pada kuartil ke i
p = lebar interval
Contoh : Tentukan kuartil dari data berikut
NILAI UJIAN f
i

61-65
66-70
71-75
76-80
81-85
86-90
91-95
96-100
3
2
8
12
10
3
1
1
Jumlah 40

Untuk menentukan kuartil ketiga K3 kita perlu ¾ x 40 = 30 data, sehingga K3 terletak
dalam kelas interval ke-5 dan kelas ini merupakan kelas K3, dan didapat b = 80,5 ; p =
5 ; f = 10 dan F = 25. Jadi,
83
5 , 2 5 , 80
10
25
4
40 3
5 5 , 80
3
3
3
=
+ =
|
|
|
|
.
|

\
|
÷
+ =
K
K
x
K


2. DESIL
Bila suatu kumpulan data kita bagi menjadi 10 bagian yang sama, maka kita akan
mendapatkan 9 pembagi dan tiap pembagi ini kita namakan desil. Sehingga kita mendapatkan
desil pertama, desil kedua,.., sampai dengan desil ke Sembilan yang dapat disingkat dengan
D1, D2,…,D9.
Untuk menentukan desil ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan yaitu:
1. Menyusun data menurut urutan nilainya
2. Menentukan letak desil
3. Menentukan nilai desil
Letak desil ke I, diberi lambang Di yang ditentukan oleh rumus

Contoh :
Untuk data yang telah disusun dalam data yang terdahulu adalah 34, 35, 40, 47,45, 54,50,37,
64, 39,60, 58 apabila kita urutkan menjadi 34,35,37,39,40,45,47,50,54,58,60,64,

Nilai D3 = data ke-3 + (0,9) ( data ke-4 – data ke-3 ) atau
D3 = 37+ (0,9) ( 39-37 ) = 38,8
Untuk data dalam daftar distribusi frekuensi, nilai Di dapat ditentukan dengan rumus :

(

)

Keterangan :
b= batas bawah kelas Di, ialah kelas interval di mana Di akan terletak
p= panjang kelas Di
F= jumlah frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari tanda kelas Di
f= frekuensi kelas Di
contoh perhitungan menggunakan desil:
Daftar hasil ujian fisika dasar 3 kelas 2B
Nilai Ujian Fi
41-50 2
51-60 3
61-70 10
71-80 14
81-90 8
91-100 3
Jumlah 40

misalkan kita ingin menentukan desil ke tiga dari data hasil ujian 40 mahasiswa kelas 2B,
untuk mencari desil ke tiga kita memerlukan 30 % x 40 data = 12 data. Dapat dilihat bahwa
kelas D3 terletak pada kelas interval ke-3 sehingga b= 60,5; p = 10; f = 10 dan F = 2+3 = 5
dan n= 40. Sehingga kita dapatkan bahwa :

(

)

Ini berarti bahwa ada 70% dari mahasiswa paling sedikit mendapat nilai ujian 67,5 dan 30%
lagi mendapat nilai paling besar 67,5.

3.Percentil
Pembagian seperangkat data menjadi 100 bagian yang sama pada data yang telah
diurut merupakan konsep dasar dari percentil. Dalam percentil terdapat 99 percentil,
yang terdiri dari percentil pertama (P1), percentil kedua (P2),..............dan percentil
kesimbilan puluh sembilan (P99). Seperti halnya pada desil, pada percentil juga
terdpat percentil data tunggal dan percentil data kelompok.
a. Percentil data tunggal
Untuk data tunggal aturan yang berlaku dalam mencari percentil, sebagai berikut.




Sebagai contoh :
20 21 22 24 26 26 27 30 31 31
33 35 35 35 36 37 37 38 39 40
41 41 42 43 44 46 47 48 49 50
Sumber : diadaptasi dari Hasan, 1999 : 87
diberikan data seperti diatas, tentukanlah percentil ke-10(P10) dan percentil ke-76!
Penyelesaian :
Kita lakukan penghitungan bahwa banyaknya data (n) = 30
P10 = nilai ke

= nilai ke

= nilai ke 3,1..............>> X3 + 0,1 (24-22) = 22,2
P76 = nilai ke

= nilai ke

= nilai ke 23,56...........>> X23 + 0,56 (X24-X23)
= 42 + 0,56 (43-42) = 42,56
Pi = nilai ke

, dimana i = 1, 2...99


b. Percentil data kelompok
Dalam distribusi frekuensi, percentilnya dapat dicari dengan persamaan :




dimana ;
Pi = percentil ke-i
tbi = tepi bawah kelas percentil ke-i
n = jumlah semua frekuensi
i = 1, 2, 3, 4.......99
(∑fi)o = jumlah semua frekuensi sebelum kelas percentil
C = panjang interval kelas
fpi = frekuensi kelas percentil

Sebagai contoh :
Tabel 3.2.1
TINGGI 100 SMK ENGINERING PERANGASI MANDIRI TAHUN 2000










Untuk menentukan percentil ke-35 dan percentil ke-88, terlebih dahulu dicari kelas
percentil ke-35 dan ke-88. Dengan demikian dapat ditentukan sebagai berikut.
(1) Kelas percentil ke-35, jika (∑f
35
)
o
≥ 35/100 (n)
(2) Kelas percentil ke-88, jika (∑f
88
)o ≥ 88/100 (n)
Tinggi (cm) Frekuensi (f)
150-154
155-159
160-164
165-169
170-174
175-179
4
8
14
35
27
12
Jumlah 100
Pi = tbi +

- (∑fi)o . C
fpi
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa n = 100, sehingga 35/100 (100) = 35 ;
88/100 (100). Kelas P
35
adalah kelas ke-4 ; kelas ke P
88
adalah kelas ke-5
tb
35
= 164,5
tb
88
= 169,5
(∑f
35
)
o
= 26
(∑f
88
)
o
= 61
C = 5
fq
35
= 35
fq
88
= 27
P
35
= tb
35
+

-(∑f
35
)
o .
C


= 164,5 + 35 x 100/100-26 x 5

= 165,79



fp
35

35
P
88
= tb
88 +
88(n) – (∑f
88
)
o
.C


= 169,5 + 88X 100/100-61. 5

= 174,5
fq88q

27



You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->