Sifat Antropologi Hukum : 1.

INTERDISIPLINER adalah sifat antropologi hukum yang saling mendukung dan membantu dalam menyelesaikan sesuatu 2. INTERDEPEDENSI adalah sifat Antropologi hukum yang memiliki keterkaitan atau ketergantungan antara satu dengan yang lain Pendekatan yang digunakan Antropologi Hukum dalam mengkaji hukum adalah menggunakan pendekatan Holistic (menyeluruh) terhadap seluruh aspek kehidupan manusia antara lain : a. Hukum b. Ekonomi c. Politik d. Budaya Intervise (diantara kita bertatatp langsung tanpa danya disintegrasi). Ketaatan seseorang terhadap hukum tergantung pada situasi, kondisi dan tempat. Dalam tindakan dikenal 2 istilah, yaitu: 1. Behavior of Action (Perilaku terhadap tindakan) 2. Behavior of Law (Perilaku terhadap Hukum) - Cara Mendefinisikan Hukum dari Segi Antropologi Definisi yang dapat diterima Antropologi Hukum adalah rumusan dari Hoebel yakni suatu norma sosial adalah hukum. Bila terjadi pelanggaran atau tindakan tidak mengindahkan norma sosial maka yang melanggar akan diberikan sanksi, baik dalam bentuk sanksi tindakan fisik, diberikan sanksi sosial dan sanksi yang lainnya oleh yang mempunyai wewenang bertindak. Definisi berbentuk atribut-atributhukum seperti yang telah dilakukan oleh Pospisil, setelah mengujinya dalam berbagai konteks budaya adalah contoh lain dari perumusan hukum yang juga biasa digunakan secara oprasional atribut-atribut yang diidentifikasinya adalah otoritas diperlakuakan secara Universal, Obligation, dan sanksi (“the Kapauku of Papuan”) 4 (Empat) syarat Menjadi Hukum atau Norma : 1. Attribute of Authority / Kewenangan 2. Attribute Infention of Universal Application 3. Attribute of Obligation (adanya hak dan kewajiban) 4. Attribute of Sanksion Beberapa ilustrasi mengenai pokok-pokok yang diteliti oleh antropologi hukum mengenai penelitian strijbosch kewajiban berdasarkan pela (tidak boleh menikah dalam satu keturunan) yang masih ditaati oleh orang-orang asal maluku di Negeri Belanda (dilaksanakan beratus-ratus tahun) Kajian Antropologi adalah menggali norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat. Antropologi Hukum tugasnya adalah memberikan telaah atau memberikan pemahaman tentang hukum-hukum yang non state law (Non Undang-Undang). Jadi tugas ilmu antropologi hukum adalah memberikan kajian, memberi telaah secara mendalam yang kelak akan menjadi sistem kajian refrensi pembuat Undang-Undang. Law Making Proces yaitu antropologi hukum memberikan refrensi dalam pembuatan Undang-Undang. Pasal 134 KUHPidana dan pasal 136 b dihapus pada tahu 2006,2007 karena tidak sesuai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara

Ilmu Antropologi Hukum ini akan terlihat pada persidangan-persidangan atau penyelesaian sengketa yang berlangsung di Pengadilan-pengadilan hakim yang memiliki wawasan, yang memiliki pengetahuan yang memadai untuk memutuskan perkara sengketa, akan menggali sumber-sumber h ukum yang hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat atau di dalam masyarakat. Hakim disamping menjalankan peraturan Perundang-undangan, hakim juga diwajibkan untuk menggali sumber-sumber hukum yang hidup dan berkembang didalam masyarakat. Hakim Agung di Amerika Serikat berkata : “OMNITPRESENT IN THE SKY TO MEED THE SOCIAL NEED” yang artinya “Hukum itu letaknya bukan di dalam langit tetapi hukum itu ada dalam masyarakat” Pada zaman Belanda didirikanlah Rech Hobes School oleh Belanda dengan tujuan menakuti rakyat. Di dalam Antropologi Hukum dikenal istilah UNWRITTEN yang artinya segala sesuatu yang tidak tertulis. Di daerah NTB sendiri terdapat Power of Society yang terhambat karena lembaga-lembaga pengadilan Ratsasak atau huku yang ada dilombok . Perbedaan Antropologi Hukum Dengan Sosiologi Hukum ANTROPOLOGI HUKUM SOSIOLOGI HUKUM 1. Antropologi hukum kajian utamanya Sosiologi Hukum kajiannya adalah adalah masyarakat pra modern, pada masyarakat yang modern dan bersahaja, primitif. yang sudah komplek 2. Perbedaan lahir dari ilmu : lahir untuk menyelesaikan pemecahan lahir dari sebuah proses ketertarikan persoalan,lahir dari revolusi di prancis. oran Eropa Barat menjelajah duniakhususnya mempelajari orang Asia, Afrika, kegiatan ini dimulai oleh Colombus.(menemukan Pengalamanpengalaman{fase-fase}) 3. Konsekuensi Metologi: Yang bersifat evaluatif (yang bersifat Pendekatan Metologinya adalah kuantitatif) deskriptif analitik (yang menjelaskan yang Kualitatif) 1. Dalam Menganalisis data-data Analisis Deduksi (Umum-Khusus) yang sudah terungkap: Menggunakan Analisis Induksi (Khusus-umum).induksi adalah persepsi sikap dan pandangan masyarakat terhadap hukum Antropologi Hukum akan memberikan telaah dan menyeluruh tentang pemahaman dan sifat dari aktor (orang-perorangan), yang paling pneting pengetahuan yang sudah dicari adalah mengapa dia bertindak seperti itu. Ciri-ciri dari pendekatan Antropologi Hukum terhadap Undang-Undang adalah apakah Undang-Undang bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang ada di masyarakat. Jikalau tidak dapat melindungi secara Antropologis masyarakat tersebut dapat membuat aturan sendiri (self regulation).(tekstil di New York dan Pela di Maluku). Contoh:

T. dan Sutandyo Wignyosubroto dari UNAIR dapat dicatat sebagai para perintis pengenalan mata kuliah sosiologi hukum di fakultas-fakultas hukum di Jawa.5 Tahun 1950 tentang Undang-Undang Pokok Agraria (tidak Unifikasi) Undang-Undang ini dihajatkan untuk menghapus Kitab Buku II KUHPerdata.L. legal anthropology. metodologi antropologi hukum. bagaimana hukum berfungsi dalam kehidupan masyarakat. pengembangan konsep hukum dalam studi antropologi hukum. sejak warsa 1980-an dunia pendidikan ilmu hukum di Indonesia semakin diperkaya dengan pengenalan studi-studi hukum empiris dengan menggunakan pendekatan antropologis. antropologi hukum pada dasarnya adalah sub disiplin ilmu hukum empiris yang memusatkan perhatiannya pada studi-studi hukum dengan menggunakan pendekatan antropologis. Satjipto Rahardjo dari UNDIP. II.O.Undang-Undang No. dengan berfokus pada awal pemikiran studi-studi antropologis tentang hukum. Tidak berlaku secara penuh pasal 19 tentang pendaftaran tanah. Seluruh wilayah Indonesia (sertifikat Tanah). Kriekhoff dari UI bekerjasama dengan F. 1989:8). perkembangan tematema kajian antropologi hukum.[3] Antropologi hukum pada dasarnya mempelajari hubungan timbalbalik antara hukum dengan fenomena-fenomena sosial secara empiris dalam kehidupan masyarakat. dari sudut pandang antropologi. Kendati demikian. Makalah bersahaja ini mencoba untuk memberi pemahaman mengenai antropologi hukum sebagai bidang studi ilmu hukum empiris. yang dikenal kemudian sebagai disiplin sosiologi hukum (sociology of law). Antropologi Hukum: Awal dan Perkembangan Tema Kajian Dari optik ilmu hukum.) dari UI. studi-studi antropologis mengenai hukum memberi perhatian pada segi-segi kebudayaan manusia yang berkaitan dengan fenomena hukum dalam fungsinya sebagai sarana menjaga keteraturan sosial atau alat pengendalian sosial (Pospisil. dan diskusi tema kemajemukan hukum dalam studi antropologi hukum. Untuk ini. Ihromi. anthropological study of law). atau bagaimana hukum bekerja sebagai alat pengendalian sosial (social control) atau sarana untuk menjaga keteraturan sosial (social order) dalam masyarakat. . sub disiplin antropologi budaya yang memfokuskan kajiannya pada fenomena empiris kehidupan hukum dalam masyarakat secara luas dikenal sebagai antropologi hukum. Kemudian. 1971:x. Pendahuluan Warsa 1970-an dapat dicatat sebagai awal dari perkembangan pendidikan ilmu hukum empiris dengan menggunakan pendekatan sosiologis untuk mengkaji fenomenafenomena hukum dalam masyarakat sedang berkembang di Indonesia. I. Dengan kata lain. von Benda-Beckmann dari Wageningen Agriculture University the Netherlands dapat dinobatkan sebagai peletak dasar studi-studi antropologis tentang hukum yang kemudian dikenal sebagai antropologi hukum (anthropology of law. Nama-nama akademisi hukum seperti Soerjono Soekanto (alm. Ihromi dan Valerine J. 1973:538.

muncul karya Malinowski berjudul Crime and Custom in Savage Society yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1926 adalah hasil studi lapangan yang komprehensif dalam masyarakat suku Trobrian di kawasan Lautan Pasific. diinterpretasi. 1981). von Benda-Beckmann. von Benda-Beckmann. dan seterusnya sampai sekarang metode fieldwork menjadi metode khas dalam studi-studi antropologi hukum. 1986). studi antropologis mengenai hukum secara khusus mempelajari prosesproses sosial di mana pengaturan mengenai hak dan kewajiban warga masyarakat diciptakan. dan hukum yang inherent dengan masyarakat semula menekankan pada status kemudian wujudnya berkembang ke bentuk kontrak (Nader. Sedangkan. 1979. dan kesukuan (tribal) ke masyarakat yang kompleks dan modern. dengan membaca dan menganalisis sebanyak mungkin documentary data yang bersumber dari catatan-catatan perjalanan para petualang atau pelancong. dimanipulasi. Snyder. misalnya. sambil duduk di kursi empuk. dirobah. pegawai sipil maupun para serdadu pemerintah kolonial dari daerah-daerah jajahannya (F. dan mulai memasuki perkembangan metode studi lapangan (fieldwork methodology) dalam studi-studi antropologis tentang hukum. yaitu metodologi untuk memahami hukum dalam perkembangan masyarakat melalui kajian-kajian yang dilakukan di belakang meja. Awal kelahiran antropologi hukum biasanya dikaitkan dengan karya klasik Sir Henry Maine yang bertajuk The Ancient Law yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1861. yang secara ringkas menyatakan: hukum berkembang seiring dan sejalan dengan perkembangan masyarakat. tradisional. Pada awal abad ke-20 metode kajian hukum dari belakang meja mulai ditinggalkan. Tema-tema kajian yang dominan pada fase awal perkembangan antropologi hukum berkisar pada pertanyaan-pertanyaan : apakah hukum itu ? apakah ada hukum dalam masyarakat yang bersahaja.Karena itu. 1980. Ia dipandang sebagai peletak dasar studi antropologis tentang hukum melalui introduksi teori evolusionistik (the evolusionistic theory) mengenai masyarakat dan hukum. Tema kajian pada fase awal studi-studi teoritis mengenai hukum dengan pendekatan antropologis lebih difokuskan pada fenomena hukum dalam masyarakat bersahaja (primitive). dari masyarakat yang sederhana (primitive). metode kajian yang digunakan untuk memahami fenomena hukum dalam masyarakat adalah apa yang dikenal sebagai armchair methodology. Kemudian. 1965. 1979. yang berjudul Ifugao Law yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1919 merupakan hasil dari fieldwork yang intensif dalam masyarakat suku Ifugao di Pulau Luzon Philipina. dan diimplementasikan oleh warga masyarakat (F. dari laporan-laporan berkala dan dokumen resmi para missionaris. Roberts. dan kesukuan (tribal) dalam skala evolusi bentukbentuk organisasi sosial dan hukum yang mengiringi perkembangan masyarakat manusia. dalam ruangan yang nyaman. Karya Barton. Krygier. Awal pemikiran antropologis tentang hukum dimulai dengan studi-studi yang dilakukan oleh kalangan ahli antropologi dan bukan dari kalangan sarjana hukum. bagaimanakah hukum berujud dan beroperasi dalam kehidupan masyarakat ? Pada dekade tahun 1940-an sampai 1950-an tema-tema kajian antropologi hukum mulai bergeser ke mekanisme- . tradisional (traditional). tradisional. 1989). dan kesukuan ?.

Fase selanjutnya studi pluralisme mekanisme penyelesaian sengketa mulai ditinggalkan. studi-studi pluralisme hukum mulai difokuskan pada mekanisme jaminan sosial (social security). dan mulai diarahkan kepada studi-studi pluralisme hukum di luar penyelesaian sengketa. dan institusi-institusi penyelesaian sengketa di komunitas masyarakat tradisional dan modern di beberapa negara di dunia. Karya Fallers mengenai hukum dalam masyarakat suku Soga. tetapi kemudian diarahkan kepada mekanisme dan institusi penyelesaian sengketa menurut hukum pemerintah kolonial dan pemerintah negara-negara yang sudah merdeka. Hoebel mempublikasikan The Law of Primitive Man (1954). Studi-studi ini dikembangkan oleh AgrarianLawDepartmentWageningenAgricultureUniversity. Moore (1978) misalnya. Karya Bohannan. disusul dengan karya Gluckman mengenai hukum orang Barotse dan Lozi di Afrika. Kemudian. dan karya Pospisil tentang hukum orang Kapauku di Papua. mekanisme irigasi pertanian. dan Gulliver misalnya. kemudian karya F. Fase perkembangan tema studi antropologi hukum ke arah mekanisme-mekanisme peneyelesaian sengketa seperti disebutkan di atas disebut oleh F. mekanisme. memfokuskan kajiannya pada proses. von Benda-Beckmann (1989) sebagai fase the anthropology of dispute settlements. Gluckman. dan mekanisme dalam proses produksi pabrik garment terkenal di Amerika dapat dicatat sebagai perkembangan baru studi pluralisme hukum. Sejak tahun 1970-an tema studi-studi antropologi hukum secara sistematis difokuskan pada hubungan antar institusi-institusi penyelesaian sengketa secara tradisional. tidak secara sistematis memberi perhatian pada eksistensi mekanisme dan institusi penyelesaian sengketa menurut hukum kolonial dan hukum negara-negara sedang berkembang. melalui Berkeley Village Law Projects. pasar dan perdagangan. institusi koperasi dan perkreditan di daerah pedesaan di negara-negara sedang berkembang. neotradisional. mengenai kemajemukan hukum agraris dalam kehidupan suku Kilimanjaro di Afrika. Karya klasik dari Llewellyn dan Hoebel bertajuk The Cheyenne Way (1941) merupakan hasil studi lapangan kolaborasi dari seorang sarjana hukum dengan ahli antropologi dalam masyarakat suku Cheyenne (suku Indian) di Amerika Serikat. Tema pluralisme hukum pertama-tama difokuskan pada kemajemukan cara-cara penyelesaian melalui mekanisme tradisional. dan menurut institusi hukum negara. karya Gulliver mengenai hukum orang Arusha dan Ndendeuli. karya Bohannan mengenai hukum orang Tiv. von Benda-Beckmann (1984) yang memberi pemahaman tentang penyelesaian sengketa harta warisan di kalangan orang Minangkabau menurut pengadilan adat dan di pengadilan negeri di Sumatera Barat. Fase perkembangan tema pluralisme hukum yang menyoroti topik-topik penyelesaian sengketa maupun non . Karya Sally F. Publikasi lain yang perlu dicatat adalah mekanisme penyelesaian sengketa di kalangan orang Togo di Afrika karya van Rouveroy van Nieuwaal. menjadi karya yang memperlihatkan kecenderungan baru dari topik-topik studi antropologi hukum. Kemudian. Pada dekade tahun 1960-an tema studi-studi antropologi lebih memberi perhatian pada fenomena kemajemukan hukum atau pluralisme hukum. Karya Nader dan Todd (1978) misalnya. von BendaBeckmann (1979) dan K.mekanisme penyelesaian sengketa dalam masyarakat sederhana.

dll. 1995). Kecenderungan yang berkembang sejak tahun 1970-an adalah penggunaan pendekatan sejarah dalam studi-studi antropologi hukum. atau dengan hukum agama disebut oleh F. they have made the universal fact of legal pluralism a central element in the understanding of the working of law in society. Hukum dalam perspektif antropologi dipelajari sebagai bagian yang integral dari kebudayaan secara keseluruhan. von Benda-Beckmann (1979). Moore. interaksi antara hukum negara. dan karena itu hukum dipelajari sebagai produk dari interaksi sosial yang dipengaruhi oleh aspek-aspek kebudayaan yang lain. Hal ini karena para ahli antropologi mempelajari hukum bukan semata-semata sebagai produksi dari hasil abstraksi logika sekelompok orang yang diformulasikan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. hukum rakyat. 1967:187. termasuk pula di dalamnya mekanismemekansime pengaturan dalam masyarakat (self regulation) yang juga berfungsi sebagai sarana pengendalian sosial (legal order). 1954. Hoebel. tetapi lebih mempelajari hukum sebagai perilaku sosial (Llewellyn dan Hoebel. Studi-studi antropologis mengenai hukum diawali dengan munculnya pertanyaanpertanyaan mendasar: apakah hukum itu ?. Roberts. 1978). Studi yang dilakukan Moore (1986). atau hukum dipelajari sebagai proses sosial yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat (Moore. von Benda-Beckmann (1984) misalnya. K. 1986:2). (Pospisil. Black & Mileski.. Hukum Dalam Perspektif Antropologi Melalui studi-studi antropologis mengenai sistem pengendalian sosial (social control) di berbagai komunitas masyarakat di dunia. 1971). ekonomi. 1978. ideologi. Cotterrel. Anthropologist have focussed upon micro processes of legal action and interaction. yang memberikan pandangannya masing-masing mengenai . Snyder (1981). Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski. Untuk menjawab pertanyaan di atas menjadi menarik untuk mengungkapkan diskusi dari dua ahli antropologi ternama. hukum dalam perspektif antropologi bukan semata-mata berwujud peraturan perundang-undangan yang diciptakan oleh Negara (state law).penyelesaian sengketa. 1965:4. 1941. dan apakah hukum itu terdapat dalam setiap bentuk masyarakat ? (Nader. Hoebel. F. Bohannan. tetapi juga hukum dalam wujudnya sebagai peraturan-peraturan lokal yang bersumber dari suatu kebiasaan masyarakat (customary law/folk law). seperti politik. 1967:4. 1973. von Benda-Beckmann (1989) sebagai fase the anthropology of legal pluralism.R. religi. III. secara eksplisit menggunakan kombinasi dimensi sejarah untuk menjelaskan interaksi institusi hukum negara (state law) dengan hukum rakyat (folk law) dalam kajian pluralisme hukum penyelesaian sengketa. and they have self-consciously adopted a comparative and historical approach and drawn the necessary conceptual and theoritical conclusion from this choice (Griffiths. Karena itu. 1979:17). kalangan ahli antropologi memberi kontribusi yang sangat penting dan bermakna dalam pengembangan konsep hukum yang secara nyata berlaku dan dioperasikan dalam kehidupan masyarakat. yaitu A.

sebagaimana diuraikan dalam Nader (1965:4-5). Radfield. ketertiban sosial dalam masyarakat tersebut diatur dan dijaga oleh tradisi-tradisi yang ditaati oleh warga masyarakat secara otomatis-spontan (automatic-spontaneous submission to tradition). Dari pandangan 2 ahli antropologi di atas dapat dikatakan. kalau hukum diberi pengertian yang lebih luas. Malinowski berpendapat. menggerakkan hubungan-hubungan ekonomi. Moore (1978:218-223) seperti berikut : 1. yang pada pokoknya menyatakan seperti berikut : . Tetapi. Koentjaraningrat (1989:28-9).hukum. sebagai alat-alat Negara yang mutlak harus ada untuk menjaga keteraturan sosial dalam masyarakat. 1965:4. Di satu sisi. maka semua bentuk masyarakat betapapun sederhananya memiliki hukum dalam bentuk mekanisme-mekanisme yang diciptakan untuk menjaga keteraturan sosial atau sebagai sarana pengendalian sosial (Nader. bahwa apabila hukum diberi pengertian yang sempit. Konsep hukum yang dikemukakan Malinowski memperoleh komentar dan kritik dari Bohannan (1967:45-9). menggerakkan kehidupan kekerabatan. penjara dll. yaitu sebagai proses-proses pengendalian sosial yang didasarkan pada prinsip resiprositas dan publisitas yang secara empiris berlangsung dalam kehidupan masyarakat. tetapi karena adanya prinsip timbal-balik (principle of reciprocity) dan prinsip publisitas (principle of publicity). atau penjara dalam kehidupan organisasi negara. Walaupun tidak mempunyai hukum. jaksa. pengadilan. dalam masyarakat-masyarakat bersahaja yang tidak terorganisasi secara politis sebagai suatu Negara tidak mempunyai hukum. Sistem pertukaran sosial yang berkembang dalam masyarakat Trobriand menjadi pengikat sosial dan daya dinamis yang menggerakkan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat melalui prinsip resiprositas atau timbal-balik dalam bentuk pertukaran benda dan tenaga. Hukum dalam kehidupan masyarakat bukan ditaati karena adanya tradisi ketaatan yang bersifat otomatis-spontan. pengadilan. maka hukum diartikan bahwa masyarakat-masyarakat sederhana yang tidak terorganisasi sebagai suatu Negara tidak memiliki hukum. dan juga menggerakkan hubungan antar kelompok dalam bentuk upacara-upacara yang berlangsung dalam kehidupan bersama. hukum dalam pandangan Radcliffe-Brown adalah suatu sistem pengendalian sosial yang hanya muncul dalam kehidupan masyarakat yang berada dalam suatu bangunan Negara. karena hanya dalam suatu organisasi sosial seperti Negara terdapat pranata-pranata hukum seperti polisi. hanya sebagai sistem pengendalian sosial yang diciptakan oleh lembaga legislatif dan diterapkan oleh aparat penegakan hukum seperti polisi. pertukaran jasa antar kerabat. 1967:3. Pospisil. bahwa hukum tidak semata-mata terdapat dalam masyarakat yang terorganisasi suatu Negara. sistem pertukaran mas kawin. Wacana antropologis mengenai hukum dalam perkembangan selanjutnya memperoleh elaborasi dari kalangan antropolog yang lain. 1967:26. 2. seperti dikatakan RadcliffeBrown. Karena itu. Di sisi lain. Bohannan. tetapi hukum sebagai sarana pengendalian sosial (legal order) terdapat dalam setiap bentuk masyarakat. 1967:48).

kebiasaan merupakan seperangkat norma yang diwujudkan dalam tingkah laku dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Pengertian hukum yang dikemukakan Malinowski dipandang terlalu luas. Lebih lanjut. Ini berarti. apabila dihubungkan dengan pengertian hukum yang dikemukakan Malinowski. untuk suatu tujuan agar kehidupan masyarakat secara terus menerus dapat berlangsung dan berfungsi dengan keteraturan yang dikendalikan oleh institusi hukum. 3. Karena itu. dan bahkan semua bentuk kewajiban-kewajiban yang . konsep mengenai hukum yang dikemukakan Malinowski juga memperoleh komentar dan kritik dari Pospisil (1967: 25-41. Kendatipun kebiasaan dan peraturan hukum saling berbeda satu sama lain. Peraturan-peraturan hukum juga mengembangkan kebiasaan-kebiasaan sebagai institusi hukum melalui proses pelembagaan ulang (reinstitutionalized) dan dinyatakan ulang (restated). dan juga sama-sama berfungsi sebagai sarana pengendalian sosial dalam kehidupan masyarakat.1. 4. karena kebiasaan terwujud sebagai institusi non hukum dan peraturan merupakan institusi hukum. 2. maka peraturan hukum diartikan sebagai seperangkat kewajiban yang dipandang sebagai hak warga masyarakat dan kewajiban bagi warga masyarakat yang lain. tetapi kebiasaan bisa juga bertentangan dengan norma-norma hukum. yang telah dilembagakan ulang menjadi institusi hukum. peraturan hukum dan kebiasaan adalah dua institusi yang sama-sama terwujud dalam bentuk norma-norma yang mengatur perilaku masyarakat dalam hubungan antar individu. Dengan demikian. tetapi dalam masyarakat selalu ditemukan kedua bentuk institusi tersebut (institusi hukum dan institusi non hukum). yang pada pokoknya menyatakan seperti berikut : 1. Norma-norma hukum dalam masyarakat cenderung mengabaikan atau menggusur atau bahkan sebaliknya memfungsikan keberadaan kebiasaan-kebiasaan sebagai institusi non hukum dalam penyelesaian kasus-kasus sengketa yang terjadi dalam masyarakat. atau lebih spesifik norma hukum mempunyai pengertian yang berbeda dengan kebiasaan. Pengertian hukum harus dibedakan dengan tradisi (tradition) atau kebiasaan (custom). Mekanisme resiprositas (reciprocity) dan publisitas (publicity) sebagai kriteria untuk mengatur hak dan kewajiban dalam kehidupan masyarakat pada dasarnya bukanlah merupakan hukum seperti dimaksudkan Malinowski. 1967:48). tetapi hanya merupakan suatu kebiasaan (custom) yang digunakan masyarakat untuk menjaga keteraturan sosial. sehingga peraturan hukum juga dikatakan sebagai suatu kebiasaan yang telah dilembagakan kembali untuk tujuan-tujuan yang ingin dicapai hukum tersebut. Norma hukum adalah peraturan hukum yang mencerminkan tingkah laku yang seharusnya (ought) dilakukan dalam hubungan antar individu. dikatakan bahwa resiprositas berada pada basis kebiasaan. Kadangkala kebiasaan bisa sama dan sesuai dengan peraturan-peraturan hukum. Sedangkan. sehingga hukum yang dimaksudkan juga mencakup pengertian kebiasaankebiasaan (customs). tetapi kebiasaan yang telah dilembagakan sebagai norma hukum melalui tahapan yang disebut double institutionalization of norms (Bohannan. 1971:39-95).

maka peraturan hukum dicirikan mempunyai 4 atribut hukum (attributes of law). dan norma-norma sosial akan berubah menjadi norma hukum apabila setiap pelanggaran atas norma sosial tersebut secara reguler dijatuhi sanksi fisik berdasarkan keputusan pemegang otoritas yang secara sosial diberi wewenang khusus untuk menjatuhkan sanksi tersebut. untuk membedakan peraturan hukum dengan norma-norma lain. yaitu keputusan-keputusan dari pihak pemegang otoritas tersebut juga disertai dengan penjatuhan sanksi-sanksi. von Benda Beckmann. Hukum pada dasarnya adalah suatu aktivitas kebudayaan yang mempunyai fungsi sebagai alat untuk menjaga keteraturan sosial atau sebagai sarana pengendalian sosial (social control) dalam masyarakat. Basis peraturan hukum adalah norma-norma sosial. karena adanya ancaman terhadap keselamatan warga masyarakat. 1979:31. atau sanksi non fisik seperti dipermalukan di depan orang banyak. diasingkan dari pergaulan sosial. yaitu peraturan hukum adalah keputusankeputusan dari pemegang atoritas untuk menyelesaikan sengketa atau ketegangan sosial dalam masyarakat. Slaats & Portier. atau ancaman terhadap kepentingan umum.2. 1992: 14-5). F. Dalam konteks hukum adat di Indonesia. yaitu keputusan-keputusan dari pemegang otoritas tersebut mengandung suatu pernyataan bahwa pihak pertama memiliki hak untuk menagih sesuatu dari pihak kedua. 1954:28). yaitu keputusan-keputusan dari pemegang otoritas tersebut dimaksudkan sebagai keputusan-keputusan yang juga akan diaplikasikan terhadap peristiwa-peristiwa yang sama secara universal. by the application of phisical force by an individual or group possesing the socially recognized previlege of so acting (Hoebel. dibuat menjadi ketakutan. 1979:33-4. yang sama-sama mempunyai fungsi sebagai sarana pengendalian sosial dalam masyarakat. (2) Atribut dengan Maksud untuk Diaplikasikan secara Universal (Attribut of Intention of Universal Aplication). dan pihak kedua mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak pihak pertama tersebut sepanjang mereka masih hidup. keselamatan pemegang otioritas. (4) Atribut Sanksi (Attribute of Sanction). (3) Atribut Obligasio (Attribute of Obligatio). dll. dikenal sebagai teori Keputusan (Beslissingenleer/Decision Theory). in threat or in fact. yaitu : (1) Atribut Otoritas (Attribute of Authority). yang pada pokoknya menyatakan bahwa hukum didefinisikan sebagai keputusan-keputusan kepala adat terhadap kasus-kasus sengketa dan peristiwa-peristiwa yang tidak berkaitan dengan sengketa (Hoebel. . Karena itu. A social norm is legal if its neglect or infraction is regularly met. Konsep hukum yang menekankan atribut otoritas dan atribut sanksi juga dikemukakan oleh Hoebel (1954) untuk membedakan antara norma hukum dengan norma-norma lain yang juga mempunyai fungsi sebagai alat pengedalian masyarakat (social control). konsep hukum yang semata-mata berdasarkan pada atribut otoritas seperti dimaksud di atas diperkenalkan oleh Ter Haar. berhubungan dengan aspek religi dan juga kewajiban-kewajiban yang bersifat moral dalam kehidupan masyarakat. baik berupa sanksi yang bersifat fisik seperti hukuman badan dan penyitaan harta benda.

IV. Metode kasus sengketa yang diperkenal Llewellyn dan Hoebel (!941) dan Hoebel (1954) di atas merupakan sumbangan yang berharga untuk memperkaya metodologi antropologi dalam mengkaji fenomena-fenomena hukum yang berlaku dalam masyarakat. ternak. dan sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada pihak yang dipersalahkan. sought out and examined with care. The troublecases. pohon-pohonan. Data yang diperoleh dari pengkajian terhadap kasus-kasus sengketa sangat meyakinkan dan kaya. 1941:29. dare to regard Hoebel as the partriarch of the anthropology of law (Pospisil. (descriptive method). pada waktu mereka berinteraksi dengan warga yang lain. karena dari kasus-kasus tersebut dapat diungkapkan banyak keterangan mengenai norma-norma hukum yang sedang berlaku dalam masyarakat. are thus the safest main road into the discovery of law. dan nilai-nilai budaya yang mendukung proses . Melakukan investigasi terhadap norma-norma abstrak yang dapat direkam dari ingatan-ingatan para tokoh masyarakat atau para pemegang otoritas yang diberi wewenang membuat keputusan-keputusan hukum (ideological method). I go even further and. 2. Karena itu. cara-cara yang ditempuh untuk menyelesaikan sengketa. Hoebel. Kasus-kasus sengketa yang dipilih dan dikaji secara seksama adalah cara yang utama untuk dapat memahami hukum yang sedang berlaku dalam suatu masyarakat. Kajian mengenai kasus-kasus sengketa pada dasarnya dimaksudkan untuk mengungkapkan latar belakang dari munculnya kasus-kasus tersebut. Metode Investigasi Hukum Dalam Masyarakat Uraian pada bagian terdahulu memperlihatkan bahwa norma-norma hukum yang berlaku dalam masyarakat secara metodologis dapat dipahami dari keberadaan keputusan-keputusan seseorang atau kelompok orang yang secara sosial diberi otoritas untuk menjatuhkan sanksi-sanksi kepada setiap orang yang melanggarnya. dll. 3. 1954:36). Karena itu. seperti hubungan warga masyarakat dengan tanah. Their yield is reachest. warga masyarakat dengan kelompok. Mengkaji kasus-kasus sengketa yang pernah atau sedang terjadi dalam masyarakat (trouble-cases method). They are the most revealing (Llewellyn & Hoebel. mekanisme-mekanisme penyelesaian sengketa yang digunakan. secara khusus Pospisil (1973) mengatakan :Hoebel is regarded by Nader as one of the three leading legal anthropologycal pioneers of this century. atau perilaku konkrit warga masyarakat dalam berhubungan dengan lingkungan hidupnya. 1973:539). Melakukan pengamatan terhadap setiap tindakan nyata atau perilaku aktual dari warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. untuk menginvestigasi hukum yang sedang berlaku dalam suatu masyarakat. Their data are most certain. Llewellyn dan Hoebel (1941:20-1) dan Hoebel (1954:29) memperkenalkan metode penelusuran norma-norma hukum yang berlaku dalam masyarakat melalui 3 cara. yaitu dengan : 1. prosedur-prosedur yang ditempuh. tanaman pertanian. sehingga dapat diungkapkan prinsip-prinsip hukum yang berlaku. without diminishing the accomplishments of the two scholars.

maka dapat dikaji interaksi-interaksi antar individu atau kelompok dalam masyarakat yang tanpa diwarnai dengan sengketa. atau perilaku sosial masyarakat.penyelesaian sengketa tersebut. Cara melakukan investigasi terhadap prinsip-prinsip dan norma-norma pengaturan sosial seperti dimaksud di atas disebut Holleman (1986:116-7) sebagai metode kajian kasus tanpa sengketa (trouble-less case method). dalam kondisi-kondisi tertentu di mana sangat sulit ditemukan kasus sengketa yang dapat dianalisa dan digeneralisasi sebagai ekspresi dari hukum dalam suatu masyarakat. kasus-kasus sengketa yang dapat direkam dari ingatan-ingatan para tokoh masyarakat atau para pemegang otoritas. Namun demikian. 1941. materi kasus sengketa yang dapat dikaji untuk memahami hukum yang berlaku dalam masyarakat meliputi : kasus-kasus sengketa yang dapat dicermati mulai dari awal sampai sengketa diselesaikan. dan penyelesaian kasus sengketa merupakan ekspresi dari hukum yang secara nyata berlaku dalam masyarakat (Llewellyn dan Hoebel. tetapi hukum merupakan produk dari suatu relasi sosial dalam suatu sistem kehidupan masyarakat. Karena itu. Hal ini karena hukum bukanlah semata-mata sebagai suatu produk dari individu atau sekelompok orang dalam bentuk peraturan perundang-undangan. dan kasus-kasus sengketa yang masih bersifat hipotetis (Nader dan Todd. kasuskasus sengketa yang dapat dikaji melalui dokumen keputusan-keputusan pemegang otoritas yang diberi wewenang menyelesaikan sengketa. Perilaku-perilaku warga masyarakat yang memperlihatkan ketaatan terhadap pengaturan-pengaturan sosial. Hoebel. atau bukanlah sebagai suatu institusi yang terisolasi dari aspek-aspek kebudayaan yang lain. hukum muncul sebagai fakta khas yang lebih menekankan empiris. 1978:8). apabila diobservasi dan dicermati secara seksama merupakan unit-unit analisa yang dapat digunakan untuk menjelaskan prinsip-prinsip dan norma-norma hukum yang mengatur perilaku warga masyarakat. Praktik-praktik kehidupan warga masyarakat dalam peristiwa-peristiwa khusus yang memperlihatkan ketaatan secara sukarela terhadap norma-norma sosial sesungguhnya merupakan kasus-kasus konkrit yang tidak diwarnai dengan sengketa. Kasus-kasus sengketa sangat umum digunakan sebagai metode untuk menelusuri hukum masyarakat dalam studi antropologis mengenai hukum. . Sedangkan. Sampai sekarang pengkajian kasus-kasus sengketa menjadi metode khas dalam studi-studi antropologis tentang hukum dalam masyarakat. Perilaku-perilaku warga masyarakat yang tanpa diwarnai dengan sengketa juga menjadi wahana sosial untuk menginvestigasi norma-norma hukum yang sedang berlaku dalam suatu masyarakat. Perilaku warga masyarakat dalam kehidupan seharihari yang berlangsung secara normal tanpa ada sengketa juga dapat menjelaskan prinsip-prinsip hukum yang terkandung di balik perilaku-perilaku warga masyarakat tersebut. ekspresi. 1954).

1999. 1986. seperti hukum agama.von Benda-Beckmann. Jadi. the voluntary association and the economic organization exist. Dalam konteks ini. Ideologi sentralisme hukum diartikan sebagai suatu ideologi yang menghendaki pemberlakuan hukum negara (state law) sebagai satu-satunya hukum bagi semua warga masyarakat. with the primary legal institutions of the centralized state. Hooker. dan hukum kebiasaan (customary law). they ought to be and in fact are hierarchically subordinate to the law and institutions of the state.V. atau menerangkan suatu situasi di mana dua atau lebih sistem hukum berinteraksi dalam satu kehidupan sosial (Hooker. von Benda-Beckmann & Strijbosch. atau suatu kondisi di mana lebih dari satu sistem hukum atau institusi bekerja secara berdampingan dalam aktivitas-aktivitas hukum hubungan-hubungan dalam satu kelompok masyarakat (F. 1986. secara jelas ideologi sentralisme hukum cenderung mengabaikan kemajemukan sosial dan budaya dalam masyarakat. some of the quite tenuous. such as the church. 1995:306). exclusive of all other law. 1986:1). juga berujud sebagai hukum agama (religious law). and administered by a single set of state institutions. dengan mengabaikan keberadaan sistem-sistem hukum yang lain. studi-studi antropologis mengenai hukum juga memberi perhatian pada fenomena kemajemukan hukum (legal pluralism) dalam kehidupan masyarakat. Moore. bahwa hukum yang berlaku dalam masyarakat selain terwujud dalam bentuk hukum negara (state law). Dalam kaitan ini. dan juga semua bentuk mekanisme-mekanisme pengaturan lokal yang secara empiris berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Griffiths. Legal anthropology has almost always worked with pluralist conceptions of law (Cotterrell. atau untuk menjelaskan keberadaan dua atau lebih sistem pengendalian sosial dalam satu bidang kehidupan sosial (Griffiths. Pluralisme hukum secara umum didefinisikan sebagai suatu situasi di mana dua atau lebih sistem hukum bekerja secara berdampingan dalam suatu bidang kehidupan sosial yang sama . as regulation of many kinds existing in a variety of relationships. Ini berarti secara empiris dapat dijelaskan. the family. von Benda-Beckmann. Spiertz & Wiber. 1975:3). lesser normative orderings. To the extent that other. 1986. 1989. Tetapi. 1981. uniform for all persons. Cotterrel (1995) menegaskan : We should think of law as a social phenomenon pluralistically. Pluralisme Hukum: Tema Kajian Antropologi Hukum Selain mengkaji kasus-kasus sengketa dalam masyarakat. Griffiths (1986:12) menegaskan : The ideology of legal centralism. Snyder. Ajaran mengenai pluralisme hukum (legal pluralism) secara umum dipertentangkan dengan ideologi sentralisme hukum (legal centralism). law is and should be the law of the state. termasuk di dalamnya norma-norma hukum lokal . K. hukum kebiasaan. 1998). 1987. 1999:6). secara antropologis bentuk mekanisme-mekanisme pengaturan sendiri (inner order mechanism atau self-regulation ) dalam komunitas-komunitas masyarakat adalah juga merupakan hukum yang secara lokal berfungsi sebagai sarana untuk menjaga keteraturan sosial (F.

yang dimasukkan kategori pluralisme hukum yang kuat adalah teori Semi-Autonomous Social Field yang diintroduksi Moore (1978) mengenai kapasitas kelompok-kelompok sosial (social field) dalam menciptakan mekanisme-mekanisme pengaturan sendiri (self-regulation) dengan disertai kekuatan-kekuatan pemaksa pentaatannya. 2. an illusion.yang secara nyata dianut dan dipatuhi warga dalam kehidupan bermasyarakat. dan bahkan sering lebih ditaati dari pada hukum yang diciptakan dan diberlakukan oleh negara (state law). antara hukum negara (state law) dengan sistem hukum rakyat (folk law) dan sistem hukum agama (religious law) dalam suatu kelompok masyarakat. 1995:306). Konsep pluralisme hukum dari Griffiths pada dasarnya dibedakan menjadi dua macam. yaitu pluralisme yang kuat (strong legal pluralism) dan pluralisme yang lemah (weak legal pluralism). Pluralisme yang lemah merupakan bentuk lain dari sentralisme hukum (legal centralism). dan sementara itu sistem-sistem hukum yang lain bersifat inferior dalam hierarkhi sistem hukum negara. Cotterrell. Sedangkan. Karena itu. Dengan meminjam kata-kata dari Griffiths (1986:4) dinyatakan: Legal pluralism is the fact. Sementara itu. karena walaupun dalam kenyataannya hukum negara (state law) mengakui adanya sistem-sistem hukum yang lain. hukum yang dimaksud dalam konsep pluralisme hukum . seperti berikut : 1. yang biasanya dikontraskan atau dipertentangkan dengan sistem hukum negara termasuk dalam kategori pluralisme hukum yang kuat (strong legal pluralism). Dalam kaitan ini. Legal centralism is a myth. teroti Living Law dari Eugene Ehrlich yang menyatakan dalam setiap masyarakat terdapat aturan-aturan hukum yang hidup (living law) dari tatanan normatif (Sinha. Konsep pluralisme hukum yang dikemukakan Griffiths di atas pada dasarnya dimaksudkan untuk menonjolkan keberadaan dan interaksi sistem-sistem hukum dalam suatu masyarakat. Karena itu. pemberlakuan sentralisme hukum dalam suatu komunitas masyarakat yang memiliki kemajemukan sosial dan budaya hanya merupakan sebuah kemustahilan. Contoh yang memperlihatkan pluralisme hukum yang lemah (weak legal pluralism) adalah konsep pluralisme hukum dalam konteks interaksi sistem hukum pemerintah kolonial dengan sistem hukum rakyat (folk law) dan hukum agama (religious law) yang berlangsung di negara-negara jajahan seperti dideskripsikan oleh Hooker (1975). an ideal. Untuk ini. sehingga tidak terdapat hirarkhi yang menunjukkan sistem hukum yang satu lebih dominan dari sistem hukum yang lain. 1993:227. Tamanaha (1992:25-6) memberi komentar kritis terhadap konsep pluralisme dari Griffiths yang cenderung terfokus pada penekanan dikotomi keberadaan hukum negara dengan sistem-sistem hukum yang lain. overlapping “semi-autonomous social field”. 3. pluralism hukum yang kuat mengacu pada fakta adanya kemajemukan tatanan hukum dalam semua kelompok masyarakat yang dipandang sama kedudukannya. Griffiths kemudian mengadopsi pengertian pluralisme hukum dari Moore (1978) : Legal pluralism refers to the normative heterogenity attendant upon the fact that social action always take place in a context of multiple. a claim. Legal pluralism is the name of a social state of affairs and it is a characteristic which can be predicted of a social group. Selain itu. tetapi hukum negara tetap dipandang sebagai superior.

yang berfungsi sebagai aparat penegak hukum. competing normative orders-each mutually influencing the emergence and operation of each other‟s rules. maka harus dipahami terlebih dahulu kehidupan sosial dan budaya masyarakat tersebut secara keseluruhan. We must have some idea of how society works before we can have a full conception of what law is and how it works (Hoebel. 1971:x). Yang menentukan apakah substansi dan struktur hukum tersebut ditaati atau . institusi pengadilan dengan strukturnya. 1997:31). konsep pluralisme hukum tidak lagi mengedepankan dikotomi antara sistem hukum negara (state law) di satu sisi dengan sistem hukum rakyat (folk law) dan hukum agama (religious law) di sisi yang lain. ideologi. bukan sebagai suatu institusi otonom yang terpisah dari segi-segi kebudayaan yang lain (Pospisil. Setiap masyarakat memiliki struktur dan substansi hukum sendiri. 1992:25). 1984:2). harapan-harapan dan kepercayaan-kepercayaan yang terwujud dalam perilaku masyarakat dalam mempersepsikan hukum 2. We must have a look at society and culture at large in order to find the place of law within the total structure. tetapi kemudian diperluas termasuk juga sistem normatif yang berupa mekanisme-makanisme pengaturan sendiri seperti yang diintroduksi Moore (1978). Black. hukum kebiasaan. maka menarik untuk mengungkapkan teori hukum sebagai suatu sistem (the legal system) yang diintroduksi Friedman (1975:14-5. Catatan Penutup: Model Penggunaan Antropologi Hukum di Indonesia Hukum dalam perspektif antropologis merupakan aktifitas kebudayaan yang berfungsi sebagai sarana pengendalian sosial (social control). struktur dan organisasi sosial. Hukum sebagai suatu sistem pada pokoknya mempunyai 3 elemen. 1973:6. yaitu (a) struktur sistem hukum (structure of legal system) yang terdiri dari lembaga pembuat undang-undang (legislatif). Dalam perkembangan selanjutnya. 1984:5-7) seperti berikut : 1. Pada tahap perkembangan ini. Jadi. (b) substansi sistem hukum (substance of legal system) yang berupa norma-norma hukum. bahwa hukum menjadi salah satu produk kebudayaan yang tak terpisahkan dengan segi-segi kebudayaan yang lain. konsep pluralisme hukum lebih menekankan pada interaksi dan ko-eksistensi berbagai sistem hukum yang mempengaruhi bekerjanya norma. Untuk memperlihatkan keterpautan hukum dengan aspek-aspek kebudayaan yang lain.Griffiths kemudian menjadi tidak terbatas pada sistem hukum negara. lembaga kejaksaan dengan strukturnya. 1954:5). Kenyatan ini memperlihatkan. yaitu: Law is the self-regulation of a „semiautonomous social field‟ (Tamanaha. atau sebagai alat untuk menjaga keteraturan sosial (social order) dalam masyarakat (Black & Mileski. badan kepolisian negara. Karena itu. atau hukum agama saja. religi. seperti politik. processes and institutions (Kleinhans & MacDonald. proses.1976:6. peraturanperaturan hukum. untuk memahami tempat hukum dalam struktur masyarakat. VI. termasuk pola-pola perilaku masyarakat yang berada di balik sistem hukum. dan institusi hukum dalam masyarakat : A variety of interacting. dan (c) budaya hukum masyarakat (legal culture) seperti nilainilai. ide-ide. dll. ekonomi. hukum dipelajari sebagai bagian yang integral dari kebudayaan secara keseluruhan.

dalam investigasi dan analisis bekerjanya hukum dalam masyarakat. dengan melakukan studi perbandingan antara sistem-sistem hukum dalam masyarakat yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Selain itu. metode perbandingan hukum (comparative method) juga menjadi ciri khas antropologi hukum. hukum adat (adat law) adalah sistem hukum khas Indonesia yang dapat dijadikan obyek kajian untuk memahami sistem hukum rakyat yang secara empiris hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat sebagai cerminan pluralisme hukum dalam masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. Ciri khas yang lain dari antropologi hukum adalah penggunaan pendekatan holistik (holistic approach) dengan selalu mengkaitkan fenomena hukum dengan aspek-aspek kebudayaan yang lain. memperbaharui. sehingga dengan mengkaji komponen substansi. Australia. hukum adat di Indonesia tidak sama dengan antropologi hukum. atau memilih lebih menampilkan segi-segi tertentu. organisasi sosial. maka dapat dipahami suatu situasi bagaimana hukum bekerja sebagai suatu sistem dalam kehidupan masyarakat (Friedman. Jadi. atau bagaimana sistem-sistem hukum dalam konteks pluralisme hukum saling berinteraksi dalam suatu bidang kehidupan sosial (social field) tertentu. dengan menggunakan metode studi perbandingan (comparative study). ideologi. Philipina. seperti ekonomi.sebaliknya juga dilanggar adalah sikap dan perilaku sosial masyarakatnya. memperkuat. India. seperti juga sistem-sistem hukum rakyat asli (indigenous law) yang dapat ditemukan di Malaysia. . dan kultur hukum sebagai suatu sistem hukum. Dalam kaitan dengan yang disebut terakhir. kultur hukum menjadi motor penggerak dan memberi masukan-masukan kepada struktur dan substansi hukum dalam memperkuat sistem hukum. substansi hukum. 1984:12). Kultur hukum menjadi bagian dari kekuatan sosial yang menentukan efektif atau tidaknya hukum dalam kehidupan masyarakat. dan budaya hukum berpengaruh terhadap kinerja penegakan hukum. dan karena itu untuk memahami apakah hukum itu menjadi efektif atau tidak sangat tergantung pada kebiasaan-kebiasaan (customs). karena hukum adat hanya salah satu dari sistem hukum rakyat (folk law atau customary law) yang menarik untuk dikaji melalui studi antropologi hukum. struktur. yang kadangkala dapat merusak. religi. Nepal. salah satu metode khas dalam antropologi hukum adalah kerja lapangan (fieldwork methodology) untuk memahami eksistensi dan bekerjanya hukum dalam situasi normal maupun suasana sengketa. Thailand. Dengan mengkaji komponen struktur hukum. politik. tradisi-tradisi (traditions). kultur (culture). Afrika. Karena itu. maka dapat dicermati bagaimana suatu sistem hukum bekerja dalam masyarakat. dll. dll. Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa hukum pada dasarnya berbasis pada masyarakat. Kekuatan sosial secara terus menerus mempengaruhi kinerja sistem hukum. Amerika Latin. dan norma-norma informal (informal norms) yang diciptakan dan dioperasionalkan dalam masyarakat yang bersangkutan.

Proses Pembuatan Hukum (Law Making Process). ekonomi. Selain itu. juga dengan meniti kembali proses pembuatannya ketika berlangsung di tingkat ekskutif dan legislatif. Penegakan Hukum (Law Enforcement). politik. seperti : informedconsent principle. dll. ideologi. Norma Hukum / Peraturan Perundang-undangan (Legal Norms). religi. prinsip pengakuan dan perlindungan atas hak-hak masyarakat lokal (indigenous tenurial rights). Dengan demikian. naskah akademik. yaitu mulai dari kajian : 1. sosial. seperti dimulai dengan membuat background paper. produk peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan Hukum (Law Implementation/Application). apakah kemudian dalam proses tersebut dilakukan konsultasi publik (puclic consultation) oleh ekskutif dan dengar pendapat (hearing) sebagai cerminan dari prinsip transparansi dan partisipasi publik dengan melibatkan semua komponen stakeholders sebelum persetujuan oleh legislatif dan pensahan oleh eksekutif dilakukan ?. dan institusi-institusi hukum dan bekerjanya hukum serta keterkaitannya dengan aspek politik. Implikasi dari karakteristik metodologi antropologi hukum seperti disebutkan di atas adalah : jika studi-studi mengenai fenomena hukum dalam masyarakat dilakukan untuk memperoleh pemahaman secara utuh-menyeluruh dan holistik. Hal-hal krusial di atas akan dapat terjawab selain dengan mencermati dan mengkritisi norma-norma hukumnya. prosedur. akan diamati dan dicermati apakah proses pembuatan hukumnya sudah melalui mekanisme yang benar. baru kemudian menyusun rancangan undang-undangnya ?. akan memberi pemahaman mengenai jiwa dan semangat serta prinsip-prinsip yang dianut dari suatu produk hukum /peraturan perundang-undangan. Kaitan dengan studi antropologi hukum yang berfokus pada pluralisme hukum. metode holistik dalam mengkaji kemajemukan hukum dalam masyarakat sangat membantu menjelaskan mekanisme. maka studi antropologi hukum harus difokuskan paling tidak pada 4 (empat) aspek kajian pokok sekaligus (sebagai satu kesatuan). . Karena itu. organisasi sosial. Kajian pada tingkatan proses pembuatan hukum akan memberi pemahaman bagaimana petarungan berbagai kepentingan ekonomi. 3. 2. termasuk ideologi partai dan tekanan dunia internasional (negara-negara/lembaga-lembaga internasional) mempengaruhi masa-masa perdebatan dan pengambilan keputusan untuk menyetujui (dari lembaga legislatif) dan mensahkan (dari lembaga ekskutif) suatu produk hukum negara (state law). proses-proses tersebut dan pertarungan kepentingan yang mendominasi proses tersebut dapat diketahui secara eksplisit memberi warna dan nuansa. akan dicermati apakah prinsip-prinsip penting. jiwa dan semangat dari produk hukum yang dihasilkan seperti tercermin pada asas dan norma-norma hukumnya. dan prinsip pengakuan atas kamajemukan hukum (legal pluralism) sudah diatur secara eksplisit dalam norma-norma hukumnya. religi.Karakter khas lain dari antropologi hukum adalah berbagai sistem hukum dalam masyarakat di berbagai belahan dunia dipelajari dengan memfokuskan pada prosesproses mikro (micro processes) yang secara empiris berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Kajian pada tingkatan norma-norma hukumnya. dan 4.

Foris Publication. The University of Chicago. People’s Law and State Law. West Sumatera. sosial. New York. dalam Antropologi Indonesia. Jakarta. sehingga dapat dicermati apakah hukum berlaku secara efektif atau mungkin berlangsung sebaliknya menjadi tidak efektif. 1989. “From The Law of Primitive Man to Social-Legal Study of Complex Societies”. Justice and Judgememt Among The Tiv. A Study in Comparative Legal Dynamics. 1968. Bohanan. Woodman Gordon (Eds). Hoebel. Adamson. sosial. . bahkan ideologi partai atau tekanan negara/lembaga internasional mempengaruhi kinerja pelaksanan hukum maupun penegakan hukum berlangsung dalam masyarakat. 67-75. The Cultural Logic of Disputes in An African Context. Selain itu. dan tugas-tugasnya. pp. The Law of Primitive Man. 1981. A and R. atau memarjinalisasi eksistensi hak-hak masyarakat lokal dan sistem hukum rakyat (adat) dalam proses implementasi dan penegakan hukum negara melalui politik pengabaian kemajemukan hukum (the political of legal pluralism ignorance). politik. London. F. F. 1-56. Antheum.Kajian pada tingkatan implementasi hukum (law implementation) dan tingkatan penegakan hukum (law enforcement) dapat memberi pemahaman mengenai apakah di satu segi aparat pelaksana hukum dan penegak hukum secara konsisten dan konsekuen sudah melaksanakan norma-norma hukum sebagai bagian dari kewenangan. Law and Warfare. 47 Tahun XIII. hal. John. The Natural History Press. 1967. FISIP UI. Pada tingkatan ini akan dapat dipahami bagaimana aspek-aspek ekonomi. New York. 1957. Studies in the Anthropology of Conflict. 1979. von Benda-Beckmann. E. religi. menggusur. Majalah Antropologi Sosial dan Budaya No. Continuity and Change in the Maintenance of Property Relations Through Time in Minangkabau. The Hague. 1986. Paul (Ed). Griffiths. 1975. Rules and Processes. Property in Social Continuity. Holland. dapat dikritisi dengan pendekatan antropologi hukum apakah hukum negara cenderung mendominasi. OxfordUniversity Press. mengabaikan. “What is Legal Pluralism”. dan di segi lain apakah masyarakat secara konsisten mematuhi dan mentaati hukum yang mengatur perilaku mereka. Martinus Nijhoff. kewajiban. atau mungkin berlangsung dan diberlakukan secara berdampingan (co-existance) dalam suasana yang harmoni? DAFTAR PUSTAKA         Allot. Dordrecht. Chicago-London. Comaroff and Simon Roberts. von Benda-Beckmann. The Foundation for Journal of Legal Pluralism. dalam Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law Number 24/1986. Bohanan. Paul.

Martin.O (Ed). 1969). Strijbosch. Nader. Jakarta. The Cheyenne Way. 1979. Essays on Legal Pluralism. atau the Anthropological Study of Law (Nader. 1969. 1989). Jakarta. Collier. 3. Krygier.. History and Power in The Study of Law. B. K. Gulliver.N. Koentjaraningrat.. 1989. yang diselenggarakan Perkumpulan untuk Pembaruan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa). oleh: Fokky Fuad. Hoebel. The Disputeing Process-Law in Ten Societies. London. Anthropology of Law in The Netherlands. Order and Disputes. Jakarta. Laura (Ed). 1989.. M. pp. von Benda-Beckmann and F. England.H. Pospisil L. 2. Routledge & Kegan Paul Ltd. T. Edward Arnold Ltd. dalam Eugene Kamanke and Alice Erh-Soon-Tay (Eds). 1971. Yayasan Obor Indonesia.Ihromi. Malinowski. Volume 67 No. 1989. Cisarua. 26-34. London. 2 American Anthropological Association. 1989. Law and Social Control. London. Ideas and Ideologies. 1979. 1980. Anthropology of Law. Todd Jr. Foris Publications. Bogor. Sebuah Bunga Rampai. K.            Ihromi. Law As Process. dalam Antropologi Indonesia. London. A Comparative Theory. Starr.. 1993. Nader. 1984. Antropologi Hukum. Columbia University Press. Moore. istilah antropologi Hukum dalam berbagai referensi berbahasa Inggris merupakan terjemahan dari Anthropology of Law ( Pospisil. “Antropologi Hukum”. 1978. Llewellyn. F. Dordrecht-Holland. 1965. 1. The Ethnography of Law. Starr & Collier. New York. Kegal Paul. Simon. pada tanggal 28-30 Agustus 2003 di Hotel Rudian. Penguin Books Ltd. Snyder. Laura and Harry F. Makalah dipresentasikan dalam Seminar dan Pelatihan Pluralisme Hukum. 1941. O. 27-59. von Benda-Beckmann & F. 47 Tahun XII 1989. 1981). Majalah Antropologi Sosial dan Budaya No. Ithaca and London. S. Antropologi dan Hukum. Harmondworth. University of Oklahoma Press. Krygier. K. hal. atau Legal Anthropology (Bohanan. 1986. An Intriduction to Lagal Anthropology. An Anthropological Approach. 1979. and E. Dosen Fakultas Hukum dan Ketua Program Studi Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Brawijaya.Hum . CornelUniversity Press. Sally F. 1978. FISIP UI. Strijbosch (Eds). 6 Bag. von Benda-Beckmann. “Anthropological Approaches”. Harper & Row Publisher. 1965. 1926.. 1980. New Direction in Legal Anthropology. 1971. Trench and Trubner. June and Jane F. Conflict and Case Law in Primitive Jurisprudence..A.. Roberts. Crime and Custom in Savage Society. Roberts. T. Yayasan Obor Indonesia.

atau bahkan hukum yang berlaku pada masyarakat Eskimo berbeda dengan hukum yang berlaku bagi masyarakat Indian di Amerika. Hukum secara kodrati mengatur perilaku manusia. Untuk negara sebesar dan seluas Indonesia tentunya memberlakukan hukum secara seragam terhadap masyarakat yang memiliki berbagai ragam kebudayaan di Indonesia akan menjadi tidak adil. Mempelajari Antropologi Hukum berarti kita melihat sebuah realitas. Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. kenyataan atas kehidupan hukum yang sesungguhnya berjalan di masyarakat. kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa. sebagaimana Firman Allah: “Wahai manusia! Sungguh. Maha Teliti” (Qs. maka tentu saja logis dikatakan bahwa selain hukum negara hanya sekedar etika belaka. tetapi patut dianggap sebagai khazanah kekayaan hukum yang akan mampu memperkuat serta memperbaharui hukum nasional. Hukum selalu diartikan sebagai sebuah rule. Beragamnya hukum tersebut jangan dimaknakan sebagai pertentangan hukum (conflict of laws). Jika hal tersebut dikaitkan dengan hukum negara dan di luar hukum negara bukanlah hukum (Legisme). dan tentunya juga beragam hukum. perintah dari kehendak penguasa negara. Satu hal yang dapat kita ambil dari antropologi hukum. adalah diharapkan dapat memunculkan kesadaran atas kenyataan adanya keberagaman hukum karena beragamnya budaya. sehingga logis bahwa hanya ada satu hukum dalam sebuah negara untuk mengatur rakyatnya. Hukum yang berlaku bagi masyarakat Batak tentu saja akan berbeda dengan hukum yang berlaku pada masyarakat Minang. . karena tidak ada kebudayaan yang bersifat seragam. dan tentu saja akan berbeda dengan hukum yang berlaku pada masyarakat Jawa dan Sunda. Al Hujurat: 12) ANTROPOLOGI HUKUM Posted on 05/11/2011 by dewa Antropologi Hukum merupakan kekhususan dari Antropologi Budaya Antropologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Antropos yang artinya Manusia dan Logos artinya Ilmu. bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh Allah Maha Mengetahui. seburuk apapun hukum adalah jauh lebih baik daripada tidak ada hukum. Keberagaman adalah sebuah keniscayaan. Dalam perspektif antropologi hukum. pemahaman. Melihat hal tersebut di atas tentunya menyadarkan kepada kita akan peran Antropologi Hukum sebagai sebuah perspektif untuk melihat berbagai macam corak hukum yang lahir dan berkembang pula dari berbagai corak dan ragam kebudayaan.Hukum telah diajarkan berabad lamanya dalam berbagai peruguran tinggi mulai perguruan tinggi hukum di Genoa pada abad pertengahan lampau hingga kini. karakter. Di sisi lain akibatnya adalah memunculkan sikap toleransi untuk menghargai umat manusia yang beragam pola fikir. hukum lahir dari kebudayaan. sehingga akan menjadi logis bahwa tidak ada hukum yang seragam. Harus disadari bahwa hukum lahir dan berkembang dari sebuah kebudayaan.

Antropologi Hukum Antropologi Hukum Adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan budayanya khusus dibidang hukum. dll). kita harus mempelajari Ilmu Prasejarah ( Pre History ).hati.hidung. Bagian bagian yang dipelajari adalah bagian dalam seperti : golongan darah. Antropologi Ekonomi 2. Antropologi Fisik Mempelajari bentuk-bentuk manusia baik bagian dalam maupun bagain luar tubuh manusia seperti : Bentuk muka. dan metode yang digunakan adalah penggalian mengenai fosil-fosil.( Kodifikasi Hukum diadakan dan mengakui bahwa hanya ada hukum tertulis ). Paleo Antropologi Mempelajari tentang asal usul manusia dan perkembangannya. Kebudayaan hukum yang dimaksud adalah kekuasaan yang digunakan oleh penguasa untuk mengatur masyarakat agar tidak melanggar kaedah-kaedah sosial yang telah ada didalamj masyarakat. Ilmu tentang hayati terdiri dari 2 macam yaitu : 1. Antropologi Pendidikan 4. dan untuk mengetahui bagaimana manusia berbahasa.Antropologi artinya Ilmu tentang manusia atau Ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi hayati maupun budayanya. Semua cabang ilmu ini disebut Antropologi. kita harus mempelajari Etnilinguistik. dan banyaknya hal-hal yang dipelajari dalam Antropologi. Antropologi Politik 3. maka diperlukan hukum tertulis disamping norma-norma yang telah ada tersebut untuk mengatur kehidupan manusia.telinga. . Untuk mengetahui bagaimana manusia berbangsa dan berbudaya kita harus mempelajari Etnologi. 2. dll. Tujuan mempelajari antropologi fisik adalah untuk mengetahui corak ragam manusia. Pertanyaan : Mengapa masih diperlukan hukum untuk mengatur padahal sudah ada norma-norma atau kaedah-kaedah didalam masyarakat ? Jawaban : Manusia kurang yakin tentang dunia akhirat dan menganggap bahwa sangsi dari norma-norma yang ada dalam masyarakat adalah sangsi akhirat. maka Antropologi terbagi dalam Antropologi Khusus yaitu : 1. Karena Antropologi mempelajari perkembangan kehidupan manusia dan budayanya. maka untuk mengetahui kehidupan manusia.jantung.

Norma / kaidah menurut antropologi hukum adalah pola ulangan perilaku dalam masyarakat. 2. tapi melihat perilaku manusia barulah mengetahui hukum yang akan diterapkan. Cara memperlajari Antropologi Hukum adalah dengan pendekatan kepada manusia melalui beberapa metode. 5. Apakah Tipologi hukum itu dapat berguna untuk mengetahui hubungan antara hukum dan aspek kebudayaan dan orang-orang sosial. 2.RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI HUKUM LAURA NEDER mengemukakan masalah pokok yang merupakan ruang lingkup Antropologi Hukum sebagai berikut : 1. 3. . Karena Antropolgi Hukum mempelajari manusia dan budaya hukum. Metode Historis yaitu mempelajari perilaku manusia melalui sejarah Kebiasaan yang ada dalam masyarakat menjadi adat. budaya dan postulat adalah nilai yang ada dalam masyarakat modern dan masyarakat sederhana yang dinilai baik dan dipertahankan.kemudian menjadi hukum adat.Ketika aparat menjatuhkan sangsi karena ada perbuatan yang menyimpang atau melanggar hukum. Apakah dalam setiap masyarakat terdapat hukum dan bagaimanakah terhukum yang Universal. Nilai. Pertanyaan : Kapan norma / kaidah mempunyai aspek hukum ? . yaitu : 1. maka kaidah sosial yang tidak bersifat hukum tidak merupakan sasaran pokok penelitian antropologi hukum. Apakah mungkin diadakan Tipologi hukum tertentu sedangkan variasi karakteristik hukum terbatas. Metode Normatif Eksploratif Yaitu mempelajari perilaku manusia dan budaya hukumnya melalui norma hukum yang sudah ada / yang dikehendaki. Hukum itu muncul dari peradaban manusia. Norma / kaidah adalah nilai dasar yang ada dalam masyarakat yang dapat mengukur perilaku manusia agar dapat menilai mana perbuatan yang benar dan mana yang tidak benar. Mengapa hukum itu selalu berubah. Budaya Hukum adalah tanggapan masyarakat terhadap suatu perbuatan yang dianggap baik. dimana ada 2 orang atau lebih disitu ada hukum. Bagaimana hubungan hukum antara hukum dan aspek kebudayaan. hukum adat dipertahankan oleh penguasa dan kemudian menjadi hukum negara. Budaya adalah milik bersama yang perlu dipertahankan atau dilestarikan. Sangsi terhadap pelanggaran norma / kaidah dapat bersifat positif yaitu dengan membayar denda dan sangsi yang bersifat negatif yaitu dikenakan hukuman badan atau dikucilkan. bukan semata mempelajari norma hukum yang berlaku. hal tersebut juga bergantung kepada para penegak hukum. 4.

Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Antropologi Hukum. Empiris (empirical). antropologi sosial. memiliki beberapa sifat yang utama diantaranya yakni: 1. penyebaran dan terjadinya aneka warna kebudayaan di seluruh dunia. bahwasannya antropologi hukum selalu menyusun abstraksi yakni suatu kesatuan yang dihasilkan dari unsur-unsur yang tersusun logis .Penggunaan akal sehat yakni dikenal dengan istilah true logic. 2. . hukum. dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia di seluruh dunia.3. Sedagkan antropologi budaya merupakan salah satu cabang dari studi antropologi yang mengambil kebudayaan sebagai objek studinya. dan Antropologi Budaya! 2. Aspek-aspeknya antara lain meliputi masalah sejarah asal. 1. Didalam Antropologi Hukum. Apakah Antropologi Hukum itu sudah merupakan sebuah disiplin ilmu? Mengapa? Kemukakan argummen anda! 3. Antropologi social merupakan salah satu cabang dari studi antropologi yang mengambil interaksi kehidupan manusia sebagai objek studinya. dan masalah azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi. Antropologi hukum merupakan bagian dari antropologi yang mempelajari suatu prilaku hukum masyarakat.Segala sesuatu yang dihasilkannya tidak spekulatif dan dikenal dengan istilah data based. Kesamaan dari antropologi hukum. dan cara pandangnya terhadap hukum dan produk-produk turunannya. 2. Berikan uraian dilengkapi contoh model-model penggunaan Antropologi Hukum! 5. Kemukakan wawasan anda tentang sifat Antropologi Hukum! 4. Metode Studi Kasus Adalah pendekatan Antropologi Hukum dengan mempelajari kasus-kasus yang terjadi terutama kasus perselisihan. . Teoritis (theoretical). bahwasannya antropologi hukum merupakan sebuah disiplin ilmu yang didalamnya berdasarkan atas: . 4. Antropologi Sosial. perkembangan. Bagaimana pendapat anda tentang hubungan anatara budaya. Metode Deskriftif Perilaku Mempelajari perilaku manusia dan budaya hukumnya melalui hukum yang nyata tanpa melihat aturan hukum ideal. Pada dasarnya antropologi hukum merupakan suatu bagian dari Ilmu Sosial dan antropologi pun merupakan suatu disiplin ilmu yang mana berdiri sendiri. masalah perkembangan. Metode ini dikatakan sempurna apabila disertai dengan metode kasus.Hasil observasi terhadap suatu kenyataan yakni segala sesuatu yang telah terjadi dan dikenal dengan istilah sosial fact. budaya hukum masyarakat. dan antropologi budaya adalah sama-sama merupakan cabang ilmu sosial dan sama-sama suatu ilmu yang mempelajari tentang manusia. dan perubahan sosial? JAWABAN 1.

melainkan antropologi hukum merupakan sesuatu yang dimaksudkan untuk menjelaskan sesuatu secara analitis. Membuat hipotesis. Antropologi hukum selalu bertujuan memperoleh pengertian-pengertian dan pola-pola yang bersifat umum dari berbagai aktivitas manusia dalam dunia hukum. Unsur-unsur utama dari sebuah disiplin ilmu tersebut adalah: 1. Ontologi selalu membahas pertanyaan-pertanyaan yang mendalam atas sesuatu pengetahuan yang dibahas sampai pengetahuan tersebut memiliki keterangan yang jelas. Hal ini yang dijadikan sebagai alasan utama bahwasannya antropologi hukum merupakan sebuah disiplin ilmu. metode ilmiah disusun menurut urutan sebagai berikut: a. e. 3. bahwasannya teori-teori Antropologi Hukum yang terlahir atau baru dibentuk dengan mengacu terhadap sesuatu yang sudah ada yakni bertujuan untuk memperkuat. c. Setelah melihat dan menyimak empat sifat utama yang dimiliki oleh antropologi hukum. c. Menguji hipotesis dengan percobaan (observasi. Menarik kesimpulan.dengan tujuan untuk menjelaskan hubungan kausalitas diantara fenomena dari hasil-hasil sebuah penelitian. Antropologi hukum memiliki tiga unsur utama dari sebuah disiplin ilmu yang membedakan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. eksperimen. Adapun macam pertanyaan yang ada dalam ontologi tersebut diantaranya adalah: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud . maka dapat disimpulkan bahwasannya: a. memperbaiki. Menyusun kerangka teoritis. f. d. Secara ringkas. Non-Etis. e. seberapa jauh kita ingin tahu. b. 3. dsb). 4. d. bahwasannya antropologi hukum bertujuan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang sedang dan telah terjadi bukan untuk menjelaskan akan apa yang seharusnya terjadi. Komulatif. Antropologi hukum merupakan bagian dari Ilmu sosial (social sciences). Menemukan dan merumuskan masalah. Antropologi hukum merupakan disiplin ilmu murni (pure science) bukan ilmu terapan (applied science). b. Ontologi Ontologi adalah suatu pembahasan tentang hakekat pengetahuan. memperluas dan bahkan membantah teori-teori sebelumnya yang tidak sesuai atau bisa dikatakan sebagai revisi atau evaluasi dari sesuatu hal yang sudah ada. Antropologi hukum merupakan disiplin ilmu kategoris. sesuatu pengkajian mengenai teori tentang "ada". atau dengan perkataan lain. bahwasannya antropologi hukum bukanlah sesuatu untuk menilai baik atau tidaknya suatu data. logis dan sistematis. Antropologi hukum merupakan disiplin ilmu yang abstrak (abstract science). apa yang ingin ingin kita ketahui. Antropologi hukum bersifat empiris dan logis yakni teori-teori dari antropologi hukum selalu berdasarkan atas fakta-fakta yang diperoleh dan metode yang dipakai untuk menganalisisnya adalah metode ilmiah.

Pada bagian hukum dan budaya pada hakekatnya bagian ini difokuskan untuk melihat keterkaitan antara Pancasila sebagai produk budaya bangsa Indonesia yang sangat dipengaruhi karakteristik antropologisnya. yakni memfokuskan pada proses-proses mikro (micro processes) yang secara empiris dan berlangsung dalam kehidupan masyarakat dengan mempelajari berbagai sistem hukum dalam masyarakat di berbagai belahan dunia. karena bagaimanapun juga persatuan .hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia dan bagaimanakah caranya? 2. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan yakni: Untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang di telaah berdasarkan pilihanpilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengan normanorma moral/profesional? Dari penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwasannya Antropologi Hukum itu sudah merupakan sebuah disiplin ilmu. 3) Model atau metode perbandingan hukum (comparative method). Pancasila berfungsi sebagai falsafah Negara Republik Indonesia sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia. dan dengan demikian realisasi persatuan Indonesia harus bersifat dinamis dengan memelihara dan mengembangkannya. dan sebagainya dalam investigasi dan analisis bekerjanya hukum dalam masyarakat. ideologi. model ini beroperasi dengan melakukan studi perbandingan antara sistem-sistem hukum dalam masyarakat yang berbeda diberbagai belahan dunia. politik. Pada hakekatnya realisasi persatuan Indonesia adalah tidak sekedar suatu hasil yang bersifat statis yaitu berupa persatuan bangsa. Epistemologi Epistemologi adalah suatu pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan suatu pengetahuan. sosial. Aksiologi Aksiologi adalah pembahasan mengenai nilai moral suatu pengetahuan. Seluruh kedudukan dan fungsi Pancasila tidaklah berdiri sendiri-sendiri. dan wilayah Indonesia namun lebih penting lagi yaitu dalam upaya merealisasikan suatu tujuan bersama. Karena di Negara Indonesia. 6. Model-model yang populer dalam study antropologi hukum adalah: 1) Kerja lapangan (fieldwork methodology) . Negara. Namun apabila dikelompokkan akan kembali pada kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai dasar filsafat Negara dan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. 2) Penggunaan pendekatan holistik (holistic approach). organisasi. 4) Model yang memfokuskan pada proses-proses mikro. model atau metode study ini ditujukan untuk memahami eksistensi dan bekerjanya hukum dalam situasi normal maupun suasana sengketa. religi. 4. Adapun macam pertanyaan yang ada pada epistemologi diantaranya adalah: Bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja? 3. model ini selalu mengaitkan fenomena hukum dengan aspek-aspek kebudayaan yang lain seperti ekonomi.

pengertian antropologi secara harafiah adalah ilmu tentang manusia. Ada beberapa pengertian yang diberikan oleh para ahli mengenai definisi antropologi. Perubahan sosial akan dengan sendirinya mengikuti suatu budaya hukum. Hukum pada dasarnya bisa mempengaruhi segala hal termasuk budaya yang akan mengakibatkan perubahan sosial. Antropologi menurut David Hunter adalah “Bidang ilmu yang lahir dari keingintahuan manusia yangtidak terbatas pada manusia”. dan gerakan sosial. antara lain: Antropologi menurut William A. Sesuai dengan pernyataan dari Arnold M. Sebelum kita masuk dalam pembahasan mengenai antropologi hukum. Antropologi menurut Koentjaraningrat adalah . kontak atau konflik antara kebudayaan.Indonesia adalah merupakan suatu faktor yang mutlak untuk terwujudnya suatu tujuan bersama. Ketika suatu hukum budaya telah dijalankan. Rosebahwasannya ada tiga hal penyebab terjadinya perubahan sosial jika dihubungkan dengan hukum yakni: Kumulasi yang progresif dari pada penemuan-penemuan dibidang teknologi. Antropos dalam bahasa yunani berarti manusia sedangkan logos dalam bahasa yunani berarti ilmu. bidang ilmu yang sangat luas dan mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia. ada baiknya kita menilik terlebih dahulu pengertian antropologi hukum itu sendiri. Antropologi merukan bidang ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk biologis dan manusia sebagai makhluk sosial. Havilland adalah “kajian mengenai umat manusia yang berupaya menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia”. Orang lebih mengenal antropologi sebagai bidang ilmu yang dekat dengan peristiwa sejarah dan budaya dan karena itu tidak mungkin memiliki kaitan dengan ilmu hukum. yakni berasal dari kata “antropos” dan kata “logos”. maka sesuatu yang masuk kedalamnya pun harus mengikuti atas budaya hukum tersebut yang berdampak terhadap perubahan sosial. Namun inilah hukum. Dengan demikian. ANTROPOLOGI HUKUM Pengertian Antropologi Hukum Antropologi hukum merupakan salah bidang ilmu hukum yang masih sangat jarang diketahui oleh masyarakat luas. Antropologi merupakan istilah yang berasal dari bahasa yunani.

Sehingga ilmu mengenai antropologi hukum itu sendiri lahir bukan dari para ahli hukum melainkan dari ahli antropologi yang melakukan studi mengenai hukum dan masyarakat. masyarakat tradisional dan kesukuan atau tribal hingga masyarakat yang modern dan serba kompleks. Karya klasik yang berjudul “the ancient law” tersebut mengulas mengenai “the evolutionistic theory” dan menyatakan bahwa “hukum berkembang seiring dan sejalan dengan perkembangan masyarakat. Berdasarkan pengertian antropologi yang disebutkan diatas. maka dapat diuraikan pengertian antropologi hukum sebagai berikut: “Antropologi hukum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia dan kebudayaannya di bidang hukum”. Dari sudut pandang antropologi. Kemudian pada tahun 1940an dampai dengan sekitar tahun 1950an kajian antropologi hukum mulai bergeser ke arah kajian mengenai bentuk-bentuk penyelesaian sengketa dalam masyarakat. Antropologi hukum sebagai salah satu sub bidang ilmu hukum lahir setelah para ahli antropologi melakukan penelitian mengenai hukum sebagai sarana pengendalian sosial. sedangkan dari sudut pandang ilmu hukum itu sendiri. antropologi hukum mengkaji mengenai hukum dan eksistensinya serta implementasi hukum dalam masyarakat yang primitif dan kesukuan atau tradisional. Selanjutnya. Lahirnya Antropologi Hukum Antropologi hukum merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang tergolong masih sangat baru bila dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya. yang dimaksud dengan kebudayaan hukum dalam antropologi hukum adalah segala kebudayaan yang terkait dengan aspek hukum yang digunakan oleh kekuasaan dalam masyarakat untuk mengatur anggota masyarakatnya agar tidak melanggar aturan dan norma sosial yang telah diatur dan ditetapkan dalam masyarakat itu sendiri. Perkembangan Antropologi Hukum Pada awal perkembangannya. antropologi hukum merupakan sub disiplin antropologi budaya yang memfokuskan kajiannya pada berbagai fenomena empiris terkait dengan aspek hukum dalam kehidupan masyarakat secara luas. Terdapat pengertian mengenai antropologi hukum dari sudut pandang antropologi dan sudut pandang ilmu hukum itu sendiri. Sebuah karya klasik dari Sir Henry Maine yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1862 menjadi cikal bakal lahirnya antropologi hukum. Tema kajian antropologi hukum terus . mulai dari masyarakat yang sederhana atau primitif. antropologi hukum merupakan sub disiplin atas bidang hukum empiris yang konsentrasi kajiannya pada studi mengenai hukum dengan menggunakan pendekatan antropologi.“Bidang ilmu yang mempelajari manusia pada umumnya melalui aneka warna dan bentuk fisik serta kebudayaan yang dihasilkan oleh manusia”.

Antropologi-HukumTema kajian antropologi hukum terus berkembang hingga pada tahun 1970an mulai secara sistematis diarahkan untuk mengkaji hubungan antar institusi atau lembaga-lembaga penyelesaian sengketa secara tradisional dan neo tradisional serta menurut institusi hukum modern yang ada dalam sebuah negara .berkembang hingga pada tahun 1960an tema studi antropologi hukum lebih berkonsentrasi pada adanya fenomena kemajemukan hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful