Kadar atau konsentrasi HCl (asam) dapat ditentukan melalui proses titrasi, yaitu dengan mereaksikan HCl (titrat

) yang ditambahkan 2 tetes indicator PP dengan NaOH (titran). Titrasi harus dihentikan bila larutan HCl yang dicampurkan dengan 2 tetes indikator berubah warna dari bening hingga menjadi pink. Volume NaOH yang digunakan akan mempengaruhi hasil konsentrasi dari HCl tersebut, sehingga harus sangat berhati-hati melakukan praktikum ini. Setelah volume NaOH (basa) diketahui, barulah Konsentrasi HCl (asam) bisa dihitung. http://akhitochan.wordpress.com/2010/02/06/praktikum-titrasi-asam-basa/

PRAKTIKUM KIMIA

I. Judul Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat.

II. Tujuan Mengetahui kemolaran larutan HCl dengan menggunakan larutan basa kuat.

III. Dasar Teori Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi asam-basa adalah titrasi yang yang melibatkan asam maupun basa sebagai titer (zat yang telah diketahui konsentrasinya) maupun titrant (zat yang akan ditentukan kadarnya) dan berdasarkan reaksi penetralan asam-basa. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya, dan sebaliknya, kadar larutan basa dapat diketahui dengan menggunakan larutan asam yang diketahui kadarnya. Titik ekivalen yaitu pH pada saat asam dan basa (titrant dan titer) tepat ekivalen atau secara stoikiometri tepat habis bereaksi. Ada dua cara umum untuk mengetahui titik ekivalen pada titrasi asam basa: 1. Memakai pH meter. 2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekivalen terjadi, dan pada saat itulah titrasi dihentikan. Titik akhir titrasi yaitu pH pada saat indikator berubah warna dan saat itu juga titrasi dihentikan. Pada titrasi asam kuat dengan basa kuat digunakan indikator Fenolftalein (trayek pH 8,3-10) karena

Gelas ukur 7. Pada saat titik ekivalen mol basa kuat akan sama dengan mol asam kuat. Pipet tetes 6. Tambahkan tiga tetes indikator Fenolftalein (PP) ke dalam larutan HCl tersebut.1 M 50 mL 3. Kapas 1. Erlenmeyer 3. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. Masukkan 20 mL larutan HCl ke dalam gelas ukur.kesalahannya paling kecil. 3. 2. Fenolftalein (PP) V. IV. 4. Biuret 4. Dalam titrasi ini titik akhir pH>7 dan perubahan warna pada titik akhit titrasi adalah merah. Langkah Kerja 1. Corong 5. Gelas kimia 8. HCl 20 mL 2. Untuk mengetahui kemolaran asam kuat (HCl) dapat diketahui setelah mengetahui volum basa kuat (KOH) yang berkurang sampai titik akhir titrasi (reaksi dihentikan).1 M 100 mL 4. KOH 0. Alat dan Bahan 1. Tuangkan 20 mL larutan HCl tersebut ke dalam erlenmeyer. Statif dan klem 2. . NaOH 0. sehingga kemolaran asam kuat dapat dicari.

dan pastikan bagian meniskus cekung yang bawah (NaOH 0.1 M pada biuret yang berkurang (bereksi dengan larutan HCl).1 M dengan menggunakan gelas kimia ke dalam biuret setelah memastikan biuret sudah terpasang dengan baik pada klem dan telah terpasang corong pada biuret untuk memudahkan penuangan NaOH 0. Masukkan 50 mL larutan NaOH 0. . 9.1 M ke dalam biuret. sehingga dalam menghitung rerata volum yang digunakan oleh larutan basa kuat. Penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap pada larutan HCl yaitu merah muda. 8. Jika dibandingkan dengan volum yang digunakan KOH 0. Ulangi prosedur di atas menggunakan larutan KOH 0.1 M. VI.1 M 50 mL 33 mL 17 mL VII. Data No Asam kuat Basa Kuat Nama Larutan Volum yang digunakan Nama Larutan Volum awal pada biuret Volum akhir pada biuret Volum yang digunakan 1 HCl 20 mL NaOH 0. 7. Penetesan dilakukan secara hati-hati dan pelan-pelan yaitu tetes demi tetes dan erlenmeyer terus menerus diguncangkan.5. Mencatat volum NaOH 0. percobaan pertama dianggap tidak ada (tidak dihitung).1 M) tepat pada angka nol biuret. 6.1 M pada percobaan kedua dan ketiga. Menetesi larutan HCl dengan NaOH 0.1 M yang digunakan sebanyak 35 mL.1 M sebanyak dua kali dengan indikator fenolftalein (PP) lima tetes.1 M 50 mL 15 mL 35 mL 2 HCl 20 mL KOH 0. volum NaOH memiliki selisih yang cukup jauh. Perguakan pipet tetes saat skala pada biuret hampir mencapai angka nol. Analisis Data Keterangan: Pada percobaan pertama volum NaOH 0.1 M 50 mL 29 mL 21 mL 3 HCl 20 mL KOH 0.1 M (disaring menggunakan kapas saat dituang ke dalam biuret) untuk menggantikan NaOH 0.

1 M dan seharusnya volum KOH yang berkurang pada biuret sebanyak 20 mL. dapat diketahui bahwa kemolaran larutan HCl adalah 0.blogspot.n KOH = M .1. http://iniakudewi.html .0019 mol 0.com/2009/11/laporan-praktikum-kimia-titrasi-asam. VIII.19 = 1.9 mmol = 0.1 M x M 19 mL 20 mL n KOH = 0. V = 0.0019 mol = = 0.095 M.095 M ang sebenarnya yaitu 0. Sedangkan dalam percobaan didapat bahwa perhitungan rerata volum KOH yang berkurang sebanyak 19 mL.0019 mol koefisien KOH = koefisien HCl. Kesimpulan Dari hasil percobaan yang dilakukan. maka n HCl = n KOH = 0. sehingga didapat kemolaran HCl adalah 0.095 M. Hal ini terjadi karena kurang telitinya mata dalam membedakan warna yang permanen (tetap) pada titik akhir titrasi.

com/doc/11383094/Lap-Titrasi-Asam-Basa http://www.com/doc/45836712/Laporan-Praktikum-Titrasi-Asam-Basa Titrasi Asam Basa Posted by indigoMorie on Apr 07. . Cara Mengetahui Titik Ekuivalen Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa. 2008 | 42 Comments Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. Prinsip Titrasi Asam basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan. titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi. kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi).scribd.com/doc/29391451/27148002-LAPORAN-PRAKTIKUM-TITRASI http://www. titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan. Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa) Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer. sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa. kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. 1.http://www. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Dengan menggunakan data volume titrant.scribd. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan. volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.scribd.

pada saat inilah titrasi kita hentikan.2. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”. sehingga rumus diatas menjadi: nxMxV asam = nxVxM basa keterangan : N = Normalitas V = Volume M = Molaritas n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa) http://belajarkimia. Memakai indicator asam basa. Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan. Rumus Umum Titrasi Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa.com/2008/04/titrasi-asam-basa/ . dan sangat praktis. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. tidak diperlukan alat tambahan. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut: mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai: NxV asam = NxV basa Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful