Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur

)

PENYUSUNAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) STUDI KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL BAGI UKM*) Daniel Asnur**) Abstract DSS is a system based model which consisted of procedures in data processing, addressed to assist managers in taking decision. This system has to be: 1. Simple, 2. Robust, 3. Easy to be controlled, 4. Adaptable, 5. Has various important features, 6. Communicative. Implicitly it’s also means that this system must base on computer (computerized) and applied/use to support SME to solve their problems. DSS SME software is a computerized information system which can support its users in plan and making decision for SME business finance and economic. DSS can give amenities in doing calculation, correctness in calculation and inspection. This software application is expected to be able to give effectiveness and efficiency for government, stakeholders and intermediary institute in doing decision making to develop SME business. This application system run/compatible with Microsoft Windows, it has attractive display appearance and can yield SME financial and economic eligibility output in .doc format (Microsoft office word) for further editing and printing.

Sistem informasi, aplikasi software, UKM I. PENDAHULUAN Eksistensi UKM dalam perekonomian Indonesia cukup dominan dan signifikan. Sedikitnya, terdapat 3 (tiga) indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan UKM di Indonesia memiliki posisi dominan dan signifikan. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Jumlah populasi UKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99% terhadap total unit usaha di Indonesia, dengan jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga
Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. Artikel diterima 16 April 200�, peer review 22 April s.d. 8 �uni 200�, review akhir �� �uli 200� **) Kepala Bidang Kerjasama dan �aringan pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian)
*)



JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

kerja. Setiap unit investasi pada sektor UKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UKM menyerap 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yakni jumlah PDB mencapai Rp 3.957,4 triliun, dimana UKM memberikan kontribusi sebesar Rp 2.121,3 triliun atau 53,6% dari total PDB Indonesia. Pertumbuhan PDB UKM tahun 2007 terjadi di semua sektor ekonomi. Ekspor hasil produksi UKM selama tahun 2007 mencapai Rp 142,8 triliun atau 20% terhadap total ekspor nonmigas nasional sebesar Rp 713,4 triliun. Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang belum kondusif ini, pengembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Argumentasi ekonomi ini karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang dimiliki bangsa ini. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak memerlukan kapital yang besar dan dalam periode krisis selama ini UKM relatif tahan banting”, terutama UKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UKM dalam sektor pertanian dapat memperoleh keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UKM yang tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak depresiasi rupiah ini. Di sisi lain, permasalahan UKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources), managemen, funding access, informasi teknologi dan market acces membuat para pengusaha UKM (umumnya) memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 31% pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan. Di lain pihak perbankan merasa bahwa sebagian pelaku UKM yang mengajukan kredit juga belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh perbankan. Salah satu upaya yang dapat diusung dan dikembangkan adalah dengan menyusun Pedoman Pengambilan Keputusan Pengembangan Investasi UKM Berbasis Teknologi dan Sistem Informasi (Decision Support System/ DSS) yang menjembatani permasalahan dasar UKM dan kebutuhan pihak intermediary swasta untuk meningkatkan portofolio investasinya. DSS adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung keputusan. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan, ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Mengintegrasikan konsep DSS dan konsep kelayakan ekonomi dan finansial untuk pengembangan usaha UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas, efesiensi dan ketelitian bagi pihak pemerintah, pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.

2

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dirancang sebuah sistem informasi dalam pengambilan keputusan untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial bisnis UKM yang dapat direplikasikan untuk usaha yang sejenis pada wilayah-wilayah di Indonesia, sehingga keputusan pengembangan dan pemberdayaan usaha ini dapat dijalankan secara akurat dan teliti. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mengukur kinerja usaha ini dalam menjalankan bisnisnya dan memberikan informasi tentang kondisi yang dihadapi. II. TINJAUAN PENELITIAN SEBELUMNYA Sebagai bahan perbandingan dalam penelitian Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM, diantaranya penelitian yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2003) dengan judul Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam hal: (a) Kecepatan di dalam mencari informasi pangan sampai level kecamatan, sehingga dapat membantu mempercepat perhitungan kebutuhan, pengadaan, dan distribusi pangan; (b) Reliabilitas estimasi luas dan produksi pangan (khususnya padi), sehingga dapat digunakan sebagai opsi kedua setelah BPS dalam perhitungan pengadaan pangan; dan (c) Ketepatan luas dan penggunaan lahan dan trend perubahannya, sehingga kebijakan untuk mengantisipasi laju perubahan lahan pertanian ke non pertanian dapat dilakukan sedini mungkin. Penelitian lanjutan yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2005) dalam dengan judul Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan alat bantu pengambil keputusan untuk pendayagunaan sumberdaya iklim dan air untuk perencanaan pertanian Berdasarkan kedua sumber penelitian tersebut di atas, tampak bahwa manfaat yang diberikan oleh aplikasi Decision Support System sangatlah luas. Sehingga penulis tertarik untuk mengintegrasikan aplikasi DSS ini di dalam dunia koperasi dan UKM yang antara lain untuk keperluan analisa marketing, operasi logistik dan distribusi, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi (taxation, budgeting, dsb.). III. KERANGKA PEMIKIRAN Dalam penelitian ini akan menyusun Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM. Hasil analisis tersebut ut menunjukkan apakah usaha yang dijalankan UMKM layak atau tidak untuk dilaksanakan.

3

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

Langkah pertama adalah menyusun variabel ekonomi dan finansial UMKM. Variabel ekonomi terdiri dari aspek produksi, aspek pemasaran, aspek managemen dan SDM, aspek lingkungan. Aspek finansial meliputi initial invesment, working capital, perhitungan cash flow dan biaya produksi dan operasi. Selanjutnya menganalisis data kuantitatif dengan menghitung kelayakan investasi yang mempunyai beberapa kriteria yaitu Break Event Point (BEP), B/C Ratio, Payback Periods (PP), NPV, PI, IRR, dan Rentabilitas Ekonomi. Kemudian mencari perhitungan analisis sensitivitas untuk melihat sampai berapa persen peningkatan atau penurunan faktor-faktor pemasukan atau biaya tersebut dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi pada aspek keuangan yaitu dari layak atau menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Kemudian dari hasil perubahan biaya atau pendapatan dimasukkan kedalam analisis kelayakan investasi UKM yang diterapkan. Langkah terakhir adalah interpretasi hasil analisis kelayakan, apakah layak atau tidak. Bila hasilnya menyatakan layak maka diteruskan dengan pelaksanaan. Bila hasilnya menyatakan tidak layak maka perlu dilakukan evaluasi. Pada gambar 1 disajikan skema kerangka berpikir sebagaimana penjelasan di atas.

Gambar

1.

Skema Kerangka Pemikiran Penyusunan Decision Support System (DSS) Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM

4

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

III.

METODOLOGI 1. Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan finasial ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisa kajian literatur yang berkenaan dengan indikator yang ditentukan sebagai variabel ekonomi dan finansial. Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk model perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan dari hasil penyebaran kuisioner kepada responden. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan ini memperoleh hasil yang valid dan komprehensif. 2. Populasi dan Sampel Dari populasi yang menjadi subjek dalam kajian ini, kemudian diambil sampel. Responden yang menjadi sampel penelitian untuk masingmasing kegiatan penyusunan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM dilakukan dengan purposive sampling berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu. Sampel diambil dari Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Irian Jaya. Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut: • • • • Pelaku UKM yang usahanya merupakan produk unggulan di masing-masing propinsi Telah menjalankan usaha yang sejenis selama lima tahun Penghasilan usaha positif Data yang diambil merupakan data yang wajar.

3. Jenis dan Sumber Data: Jenis dan sumber data yang menjadi bahan dalam kajian ini terdiri dari : • Data Primer, yaitu data dan informasi yang diperoleh secara langsung dari narasumber/responden baik yang berupa hasil wawancara dan kuesioner yang disebarkan kepada responden. Data primer diperoleh dari pelaku UKM pada masing-masing lokasi kajian. Data Sekunder, yaitu data dan informasi yang diperoleh dari dokumen/publikasi/laporan penelitian dari dinas/instansi maupun sumber data lainnya yang menunjang.

5

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

4. Teknik Pengumpulan Data: Untuk menganalisis kegiatan pengembangan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM yang efektif serta merekomendasi best practice yang dapat digunakan dan dikembangkan, maka akan digunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: • • Studi Kepustakaan dan Literatur, digunakan untuk mendapatkan data-data awal tentang kelayakan ekonomi dan finansial. Wawancara mendalam (indepth interview), yakni teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada key informan. Penyebaran kuisioner, yakni teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner kepada pelaku bisnis dan instansi terkaitdan kuesioner ini bertujuan untuk mandapatkan data faktual tentang kajian.

5. Teknik Analisis Data: Setelah data diperoleh dari berbagai kelompok responden serta setelah dilakukan entri dan tabulasi data, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil survei. Hasil dari survei dan analisa ini akan menjadi dasar informasi untuk mendesain kebutuhan seperti apa yang harus dipenuhi dari sisi operasional. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tahapan selanjutnya, yaitu melakukan desain terhadap software DSS yang akan dibangun. 6. Tahapan Perancangan Aplikasi: Tahapan-tahapan perancangan aplikasi dengan metode Rapid Application Development (RAD) adalah sebagai yang terilustrasi pada Gambar 2. a) Pemodelan Cara Kerja Data-data masukan mengalir dari satu fungsi kerja ke fungsi kerja berikutnya. Aliran data masukan kedalam beberapa fungsi kerja tersebut dimodelkan untuk mendapatkan model cara kerja. Pemodelan cara kerja ini akan menjawab berapa pertanyan mendasar sebagai berikut: 1). Informasi apa sajakah yang dapat mempengaruhi aplikasi; 2). Informasi apa sajakah yang akan dihasilkan; 3). Bagian-bagian mana yang menghasilkan informasi; 4). Kemana informasi/data itu akan dikirimkan; 5). Siapa dan bagaimana data/informasi itu diproses.

6

C# atau Delphi. Transformasi yang dimaksud antara lain. VB.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) ����������������� ����������������� ������������� ���������������� ���������������������� �������������������� Gambar 2. menambah. Proses/ transformasi data tersebut harus disesuaikan dengan aliran informasi yang telah dirancang pada pemodelan cara kerja. d) Pengembangan Aplikasi Pengembangan aplikasi dengan menggunakan model RAD ini akan sebanyak-banyaknya memanfaatkan alat bantu yang telah ada dan sering digunakan. Karakteristik masing-masing objek (biasanya disebut sebagai attribute) kemudian diidentifikasikan. RAD 7 . menyunting. Didalam pemodelan data juga dilakukan pendefinisian hubungan/relasi antara objek satu dengan yang lain. menghapus. dan antara atribut satu dengan yang lain. c) Pemodelan Pemrosesan Data Disini konsultan akan mendefinisikan proses/transformasi di semua objek data yang telah didefinisikan pada tahap pemodelan data. Semua proses itu dimodelkan dalam pemodelan pemrosesan data ini. mengambil dan menyimpan data. Tahapan Perancangan Aplikasi b) Pemodelan Data Aliran informasi yang telah didefinsikan didalam pemodelan cara kerja kemudian dianalisa kembali lebih detail untuk mendapatkan daftar objek/data yang dibutuhkan untuk mendukung cara kerja yang telah dimodelkan. misalnya Java.

integrasi antara satu komponen dengan komponen yang lain. titik tolak dalam alur pikir tersebut adalah penyusunan aspek pemasaran dapat dilakukan setelah pengusaha mempunyai rencana pengembangan bisnis. 4) Pemilihan Pola usaha. penawaran dan persaingan pasar. Disain Input dan Output DSS UMKM Disain input dan output yang dikembangkan untuk pembuatan software kelayakan ekonomi dan keuangan selain Profil Perusahaan adalah sebagai berikut: a) Aspek Produksi Analisis teknis berkenaan dengan kegiatan produksi dan operasi yang dijalankan. 6) Segmentasi. Secara umum. penggabungan satu atau dua aplikasi lain yang telah ada untuk pengembangan aplikasi. 2) Harga. Penilaian kelayakan diukur secara kuantitatif dengan menggunakan kuisioner untuk melihat apakah menurut pelaku usaha kegiatan teknis produksi dan operasi yang dijalankan telah layak secara ekonomi. 4) Tenaga kerja. 8) Targeting. Didalam pengembangan aplikasi kali ini. 5) Teknologi. 7) Positioning. Berikut ini faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melihat aspek pasar adalah sebagai berikut: 1) Permintaan. Jenis dan mutu. IV. 3) Jalur Pemasaran. konsultan akan menggunakan excel sebagai prosesor untuk melakukan kalkulasi yang akurat. 3) Bahan Baku. 8) Produksi Optimum. Fungsi tambahan yang sering dilakukan dalam model RAD ini antara lain melakukan otomatisasi. 10) Critical Path Method. 9) Kendala produksi. 7) Jumlah. 8 . 6) Proses produksi. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. b) Aspek Pemasaran Analisis usaha dapat dilakukan secara kualitatif atau deskriptif kuantitatif untuk mengetahui aspek pasar dan pemasaran. Kemudian untuk kebutuhan kalkulasi. 5) Market size dan market share. 2) Fasilitas produksi. konsultan akan menggunakan lingkungan kerja (framework) Java sebagai pengelola UI (user interface) atau antar muka.AGUSTUS 2009 : 1-17 menekankan pada penggunaan kembali komponen-komponen yang telah tersedia. Faktor-faktor yang yang menjadi pertimbangan dalam aspek produksi seperti sebagai berikut: 1) Lokasi Usaha.JURNAL VOLUME 4 . Pilihan ini diambil karena Java cukup banyak digunakan dan berukuran cukup kecil.

yaitu : Bentuk Organisasi Perusahaan. Selain itu. yang dalam hal ini menggunakan. Aplikasi ini dijalankan diatas windows. d) Aspek Lingkungan Pembahasan mengenai aspek lingkungan ini terkait dengan. net present value. tetapi dapat bertahap yang pada akhirnya menghasilkan sebuah perencanaan bisnis yang lengkap dan akurat. internal rate of return dan rentabilitas ekonomi. penghalang memasuki industri (Entry Barier). jumlah pesaing industri sejenis. benefit/cost ratio. Kelayakan investasi dapat diukur dari berbagai kriteria. e) Aspek Keuangan Dalam variabel keuangan ini akan disajikan informasi tentang biaya investasi. profitability index. analisis break even point. cash flow dan biaya operasional yang terdiri dari fixed cost dan variable cost. Aplikasi juga memiliki beberapa fitur yang salah satu diantaranya adalah fasilitas untuk me-review perencanaan bisnis yang dibuat. 2. profil usaha dan kompensasi. Fitur Aplikasi DSS UMKM Software DSS UKM adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung para penggunanya dalam perencanaan dan pengembalin keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. sedang kompensasi terkait dengan tingkat kompensasi yang diberikan. pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM. Untuk bentuk organisasi terkait dengan badan hukum perusahaan dan perizinan. modal kerja. dengan tampilan yang menarik dan mampu menghasilkan output kelayakan ekonomi dan finansial dalam format pdf yang siap di cetak maupun dalam format doc untuk proses pengeditan lebih lanjut. Aplikasi software DSS UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas dan efesiensi bagi pihak pemerintah. proses pengisian langkah-langkah studi kelayakan tidak harus sekaligus dimasukkan dalam satu saat. sumber bahan baku. yaitu : tingkat ketersediaan bahan baku. dan jarak antar usaha sejenis. payback periods. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) c) Aspek Managemen dan SDM Pembahasan mengenai aspek managemen dan SDM ini terkait dengan. 9 . Fasilitas yang disedikan mengarahkan para pengguna yang awam akan perencanaan usaha untuk mampu membuat perencaaan ataupun pengambilan keputusan kelayakan usaha dengan mudah dan sederhana. Kemudian untuk profil usaha terkait dengan skala usaha dan sistim pengelolaan usaha. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan.

pemasaran. toolbar ini disedikan untuk memberikan pilihan kepada user untuk memprint hasil studi kelayakan dalam format dokumen Ms Word (doc). Pada saat shortcut DSS UMKM di klik dua kali akan muncul menu pilihan bidang usaha yang akan 10 . merupakan toolbar yang terdiri dari profil perusahaan dan profil usaha. managemen dan SDM. manufaktur. user terlebih dahulu diminta untuk menyesuaikan sektor usaha yang dijalankannya atau sektor usaha yang akan dibuat studi kelayakannya dengan memilih tampilan toolbar aplikasi. terkait dengan aspek produksi.JURNAL VOLUME 4 . b) Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. pertanian. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsikan aspek ekonomi dan keuangan perusahaan dan usaha yang dijalankan. jasa. lingkungan dan keuangan. pemasaran. pada toolbar ini. c) Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file pdf siap cetak maupun file doc (ms word). b) Aspek. berikut penjelasan dari masing-masing tombol toolbar yang terdapat dalam aplikasi. Untuk mempermudah penggunaan. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsi perusahaan dan usaha yang dijalankan.AGUSTUS 2009 : 1-17 Aplikasi Software DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan bagi setiap user sebagai berikut: a) Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek produksi. Lingkungan dan Keuangan. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor. d) Print. Langkah-langkah memulai aplikasi DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial bagi UMKM adalah sebagai berikut: a) Pilih Bidang Usaha: untuk mulai menjalankannya. toolbar dari kiri ke kanan mengilustrasikan proses pembuatan studi kelayakan dan sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3. managemen & SDM. c) Analisis Bisnis. grafik warna dan deskripsi hasil analisis. d) Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. a) Profil.

Manufaktur. Setelah terisi. Setelah terisi. Bidang usaha yang dapat dipilih pada software versi ini adalah Perdagangan. Isian form terletak pada layar paling kanan. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. d) Tahap pengisian Aspek Produksi. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek produksi. c) Tahap pengisian profil usaha. Isian form terletak pada layar paling kanan. Layer Aplikasi DSS  . b) Untuk membuat studi kelayakan dari usaha. Jasa dan Restoran. user dapat langsung meng-klik icon aspek produksi.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) dibuat perencaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. user dapat langsung meng-klik icon profil usaha. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form identitas perusahaan. dimulai dengan Tahap Pengisian Profil Perusahaan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian identitas perusahaan dan konsep awal. Lalu isilah setiap pertanyaan Gambar 3. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kondisi perusahaan. User dapat langsung meng-klik icon profil perusahaan. kembali di-klik form konsep awal untuk melakukan pengisian selanjutnya. Pertanian. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kondisi perusahaan dan form pola pembiayaan bank.

e) Tahap pengisian Aspek Pemasaran. Gambar 4. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja Pemasaran. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja Pemasaran. user dapat langsung meng-klik icon aspek lingkungan. f) Tahap pengisian Aspek Managemen dan SDM. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja managemen dan SDM. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek lingkungan. Setelah terisi. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form aspek lingkungan. user dapat langsung meng-klik icon aspek pemasaran. g) Tahap pengisian Aspek Lingkungan. Isian form terletak pada layar paling kanan. Isian form terletak pada layar paling kanan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian managemen dan SDM. Layer Pilihan Bidang Usaha 12 .AGUSTUS 2009 : 1-17 yang tersedia pada tampilan form aspek produksi. user dapat langsung meng-klik icon aspek managemen dan SDM.JURNAL VOLUME 4 . kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. Isian form terletak pada layar paling kanan. Isian form terletak pada layar paling kanan.

Layer Hasil Analisis Bisnis Aspek Produksi i) Analisis bisnis. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form kinerja keuangan. mulai dari form satu sampai tujuh. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja keuangan yang terdiri dari tujuh form. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) h) Tahap pengisian Aspek Keuangan. pada toolbar ini. Isian form terletak pada layar paling kanan. User dapat langsung meng-klik icon aspek keuangan. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor (indeks). Klik icon toolbar Analisis bisnis Tab hasil analisis berdasarkan aspek Hasil analisis perindikator Hasil analisis komulatif seluruh indikator Gambar 5. angka kelayakan 13 .

pemasaran. 3. Out put print dapat langsung menjadi bagian dari perencanaan bisnis dari UKM. maka fitur-fitur sistem DSS dirancang secara sederhana. managemen. atau dapat menjadi alat ukur pihak-pihak yang berkepentingan (intermediary. Pada layar ditunjukkan hasil analisis perindikator dan analisis secara komulatif keseluruhan indikator. output sudah langsung terprint berikut cover. terdiri dari prosedur-prosedur dalam pemrosesan data dan pertimbangannya yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. 14 . lingkungan dan keuangan dalam mengukur tingkat kelayakan sekaligus melihat peluang dan hambatan UKM dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. hasil isian dan analisis dapat langsung di export kedalam bentuk dokumen MS word dan siap di print.AGUSTUS 2009 : 1-18 keuangan (Cash Flow. Agar berhasil mencapai tujuannya.JURNAL VOLUME 4 . PP. pemasaran. Aplikasi DSS UKM dikembangkan sebagai sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi. lingkungan serta analisis bisnisnya. V. daftar isi dan ilustrasi variabel (aspek produksi. robust. mudah beradaptasi. Untuk melihat hasil analisis dari masingmasing aspek dapat langsung di klik tab hasil analisis pada bagian tengah aplikasi. BEP. managemen dan SDM. Kesimpulan Sebagai kesimpulan dari kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan keuangan UKM adalah sebagai berikut : 1). Untuk hasil analisis dengan kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. j) Tahap printing ke MS Word. dan mudah berkomunikasi dengannya. Dengan begitu. Aplikasi DSS dirancang untuk membantu UKM dalam hal pengambilan keputusan dari aspek produksi. Output Aplikasi DSS UMKM Aplikasi Output dari software aplikasi DSS UMKM dirancang untuk dapat langsung menjadi semacam proposal bisnis yang dapat digunakan oleh stakeholder lain seperti dunia perbankan. IRR. Pada gambar disamping diberikan contoh hasil analisis produksi. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. funding) untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial UKM tersebut. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. mudah untuk dikontrol. BCR. SDM. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah. lengkap pada halhal penting. NPV-PI). grafik warna dan deskripsi hasil analisis.

AdoBe Reader dan Dot Net Framework 2. RAM minimum 512MB. Software aplikasi DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan oleh setiap user UKM sebagai berikut: • Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. Monitor dengan resolusi minimum 800x600. Profitability Index. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. Hasil analisis kelayakan ekonomi ditampilkan dalam image angka skor kelayakan. laporan laba rugi. perkembangan cash flow serta analisis Break Event Point. jasa. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah ) dan deskripsi hasil analisis. Saran Untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan aplikasi software.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) 2). Aplikasi DSS UMKM ini akan berjalan baik pada komputer dengan konfigurasi hardware sebagai berikut: Komputer dengan prosesor Intel Pentium IV ataupun yang setara. Net Present Value. Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. grafik warna (kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. konsultan merekomendasikan kepada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk merancang kegiatan sosialisasi software bagi para UKM. Payback Periods. Internal Rate of Return dan deskripsi hasil analisis. Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file doc (ms word) yang siap diprint. • • • • 3). manufaktur. Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. OPEN Office. Benefit/Cost Rasio. Dan dukungan software. pertanian. 15 . Sistem operasi Microsoft Windows XP. seperti: pelaksaaan sejumlah workshop untuk para UKM terkait dengan perencanaan bisnis. Sedang kelayakan keuangan ditampilkan tabulasi neraca.

(2006). Jeffrey. Human Resources Management. Robert M. Jakarta. Richter. Jakarta. Rivai Veithzal. Yogyakarta. Elex Media Komputindo. Internet Up Load. Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penerbit PT. (2003). Tri. (1992). (2004). USA. (1993). Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. (2003). Aplikasi Inventori Control dengan Microsoft Visual FoxPro ��. Gregorius. Elex Media Komputindo. R. Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan �awa Tengah. Prosise. Selain itu. Advanced Software Project Management. Mondy. Jeff. Microsoft Press. Talib. Programming Microsoft® . 16 . (2002). (2002). West Virginia University-USA. pengembangan sistim (DSS UMKM versi 2) ataupun kegiatan lainnya yang dapat menindaklanjutkan keberadaan software ini pada kementerian Koperasi dan UMKM. Raja Grafindo Persada Edisi 1. HM. Penerbit PT. Applied Microsoft®. (2005). Melihat Keamanan Windows Vista. Elex Media Komputindo. Jakarta. Program Aplikasi Foxpro Pada Sistem Akuntansi. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Meginson. Fifh Edition. Elex Media Komputindo. Mc Graw Hill. Jakarta. Microsoft Press. Edisi 1. Penerbit PT. NET Framework Programming (ProDeveloper). (2004). PT. Busthami. 11 Script Spektakuler Active Server Pages. Agung. Andi Offset. Amperiyanto. Bakrie.JURNAL VOLUME 4 AGUSTUS 2009 : 1-17 pelatihan pemanfaatn software. (2005). Managemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari Teori Ke Praktik. penggandaan CD program dan manual.. DAFTAR PUSTAKA Jogiyanto. cet 1. Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Haer. Penerbit PT. Byrd. Jacowitz. Wayne and Noe. Analisis & Disain Sistem Informasi. (1990). software aplikasi DSS UMKM kiranya dapat dimiliki oleh para pelaku usaha UMKM secara gratis (tanpa dipungut bayaran). Jakarta. an entrepreneur’s Guidebook. Allyn & Bacon. (2006).NET (Core reference). uji reability penggunaan software. Lawrence. Small Business Management.

(1980). E Michael. and Gruber. John Wiley and Sons. 17 .Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) Porter. William. Mc. Fifth Edition. M.. Elton. (1980). Modern Portfolio Theory and Invesment Analysis.J. Keith & Frederick. Business and Society. Competitive Strategy : Techniques for Analyzing Industries and Competitors.. Davis. (1991). A Division of Macmillan Publishing Co. E. Inc. The Free Press.J.Graw-Hill.

Several/crucial problems to be handled are: a) so many types of license which have to be fulfilled by MSMEs to be able to conduct a business activity.14%.12% which have got license. Total of MSMEs which have got new license are only ��. as example there are 1��. 2) form of licensing institution. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 18 . Namun demikian perkembangannya masih terkendala oleh berbagai masalah klasik. it is expected immediately that there will be an issuance of local government regulation on licensing which is in line with the law number 20 of 2008 concerning MSME and the characteristic of MSME. Program Pelayanan Satu Pintu (P2SP).JURNAL VOLUME 4 . less socialization and there is no clear consequence from the government by having legal status. This matter is due to there are many types of licensing which is required by one type of business and complicated licensing process including its big cost. Legalitas. cost of licensing. Small and Medium Enterprises (MSMEs) is granting license for certain business activities and legal status for Micro. Licensing programmes which have been implemented by Local Government have not reached to granting legal status. b) requirements do not comply with the characteristic of MSME (especially micro enterprise). To speed up formalization of MSME. Perda Perizinan sejalan UU Nomor 20 Tahun 2008. Some variables which influence on the total of MSMEs: which got business license are: 1) approach. Yang dimaksud dengan formalisasi UMKM adalah pemberian izin kegiatan usaha tertentu dan status badan hukum bagi UMKM sesuai dengan ketentuan perundang Kajian Asdep Urusan Penelitian Sumberdaya tahun 2008 Artikel diterima 2�� April 200�. 4) procedure of licensing.��34 units of MSME in 6 districts/ municipalities.583. 5) socialization of licensing. 6) consequences of licensing. Of 1. Small and Medium which have complied with the requirements stipulated in the valid legislation.AGUSTUS 2009 : 18-36 KAJIAN PENGEMBANGAN FORMALISASI UMKM *) Teuku Syarif **) Abstract Formalization of Micro. 3) license requirements. There are still a few MSMEs (4.12%) which have got license. peer review 2�� April s. 8 �uni 200�. Latar Belakang UMKM banyak memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya nasional. Salah satunya adalah kesulitan dalam mendapatkan legalitas atau formalitas usahanya.d. Karakteristik UMKM I.

Pengesahan badan hukum perusahaan menjadi kewenangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilimpahkan kepada Notaris. Kelompok usaha mikro memiliki karakteristik antara lain: a) Merupakan usaha perorangan dengan modal relatif kecil dan dikelola dengan manajemen keluarga. d) Konsumen dan segmen pasar yang sudah tertentu. Menghadapi era globalisasi UMKM dituntut dapat meningkatkan efisiensi untuk menghadapi persaingan. serta e) Jenis dan kegiatan usaha yang sangat mudah berganti (dinamis). c) Ruang lingkup dan jaringan usaha yang terbatas. b) Sebagai formalitas usaha yang menjamin jaminan bagi calon mitra dan atau stakeholder.12%) usaha mikro dan usaha kecil yang telah mendapatkan izin kegiatan usaha. Sebagai contoh Surat Izin Usaha Pendirian (SIUP). Tetapi sampai sekarang belum ketahui seberapa jauh efektifitas dari program tersebut. Sampai sekarang sangat sedikit (4. kesulitan dalam proses mendapatkan izin dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM ditetapkan bahwa untuk kelompok usaha mikro tidak diperlukan badan hukum. c) Menghindari pungutan liar. Hal tersebut disebabkan banyaknya jenis perizinan. Oleh sebab itu biayanya relatif cukup besar untuk ukuran usaha mikro dan usaha kecil. pengawasan yang lebih intensif. b) Kualitas sumberdaya manusia yang relatif rendah. Pelayanan Perizinan Satu Pintu (P2SP) berpeluang besar untuk mempermudah dan mempercepat proses prizinan UMKM. serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan program dari berbagai pola pelaksanaan proses perizinan/formalisasi UMKM 19 .Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) undangan yang berlaku. Tetapi sebagai perusahaan perorangan cukup mendaftarkan diri pada dinasdinas yang membidangi koperasi dan UKM di kabupaten atau kota madya setempat. izin trayek dan lainlain. Perusahaan perorangan (CV) perusahan kongsi (Firma). Perseroan Terbatas (PT). Perusahaan Persero dan lain-lain. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan jika UMKM yang sudah mendapat status formal. Perizinan kegiatan usaha lebih diperlukan untuk: a) Melaksanakan kegiatan usaha. Kebijakan tersebut antara lain dalam hal penurunan biaya perizinan. sosialisasi perizinan dan melaksanaan program pelayanan satu pintu. Formalisasi UMKM dibedakan dalam dua bentuk yaitu: a) Formalisasi perusahaan adalah pengesahan bentuk badan hukum dari perusahaan yang bersangkutan. Sehubungan dengan hal tersebut kajian dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan. izin penambangan. Untuk mengatasi masalah perizinan maka sebagian pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. izin lingkungan. Sebagai contoh Usaha Dagang (UD). memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM. Salah satu unsur pendukung efisiensi adalah adanya jaringan usaha dan kemitraan. b) Perizinan kegiatan usaha yang dikeluarkan oleh instansi/lembaga sektoral. Untuk itu idealnya usaha mikro dan kecil bergabung dalam koperasi.

mengidentifikasi tingkat keberhasilan dan faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian perizinan untuk UMKM. maka kelompok ini hanya memerlukan izin kegiatan usaha. Berbagai hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2006 lebih dari 95% unit usaha UMKM terutama pengusaha mikro yang merupakan perusahaan perorangan belum memiliki badan hukum dan 91. Tujuan Manfat dan Output Tujuan Kajian Pengembangan Formalisasi UKM adalah sebagai berikut: 1). persebaran serta permasalahan yang dihadapi UMKM dalam proses formalisasi usaha.JURNAL VOLUME 4 .8% diantaranya tidak memiliki izin kegiatan usaha. Menginventarisir. Ouput yang diharapkan dari kajian ini adalah mendapatkan alternatif model dan prosedur pemberian perizinan bagi UMKM III. Sebagai misal dilaksanakan dalam bentuk program penyederhanaan perizinan. dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian perizinan untuk UMKM. Anwar (1995) berpendapat bahwa mitra usaha dan berbagai unsur pendukung pembangunan suatu unit usaha ekonomi (perbankan. Ketidakpastian formalitas unit usaha UMKM menurut Haryadi (2001) merupakan faktor penyebab kesulitan UMKM untuk memasuki suatu jaringan usaha. Mendapatkan alternatif model kelembagaan dan lternatif prosedur formalisasi UMKM. kewirausahaan dari pengusaha dan formalitas unit usaha. Kerangka Pemikiran 3. Salah satu faktor yang dilihat adalah formalitas perusahaan. kelembagaan model dan prosedur pemberian perizinan yang sesuai dengan karakter UMKM. 1). lembaga pemasaran. 20 . UMKM merupakan usaha perorangan dan tidak diharuskan untuk mempunyai badan usaha.AGUSTUS 2009 : 18-36 II. 2) Menentukan pendekatan. dan lembaga asuransi) untuk melakukan kerjasama sangat memperhatikan karakteristik suatu perusahaan.1 Kerangka Konsepsional Pembentukan atau keikutsertaan suatu unit usaha dalam suatu jaringan yang komprehensif ditentukan oleh banyak faktor antara lain adanya informasi. Salah satu program pemerintah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan daya saing UMKM adalah perbaikan iklim usaha. Sedangkan ketidakpastian itu sendiri menurut Sirait (2003) di Indonesia banyak disebabkan oleh faktor kebijakan makro ekonomi dan faktor birokrasi. 2). Manfaat kajian adalah untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang. Jumlah.

Kesulitan timbul sebagai akibat dari ketidak-sesuaian kelembagaan pende-katan dan model prosedur pemberian perizinan dengan karakteristik UMKM. Dua faktor penting yang diduga mempengaruhi keberhasilan proses formalisasi adalah: a) Kelembagan dan pendekatan. Dalam karakteristik UMKM terdapat faktor internal UMKM meliputi modal yang dimiliki. 3. 2) Kelembagaan perizinan. c) Mendorong pembentukan dan atau pengembangan jaringan usaha. Kelembagaan terdiri dari bentuk lembaga atau organisasi pemberian perizinan. 3. sosialisasi penyuluhan dan pendampingan. Untuk penyesuaian diperlukan perubahan kelembagaan pendekatan dan prosedur perizinan dengan memperhatikan UUD 1945. b) Karakteristik UMKM. peraturan mendapatkan perizinan (persyaratan yang diperlukan). model dan prosedur perizinan yang sesuai dengan karakteristik UMKM. 21 . UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2008 tidak dimasukan sebagai variabel bebas karena bersifat given untuk semua tempat di wilayah NKRI dan semua waktu. 2. Ouput akhir yang ingin didapatkan dari kajian ini adalah kelembagaan. UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM serta karakteristik UMKM.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) Izin kegiatan usaha merupakan suatu bentuk pengaturan (regulasi) pengendalian pemerintah terhadap aktivitas usaha individual yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan lingkungan fisik ekonomi dan sosial. letak lokasi UMKM dari instansi perizinan serta bidang usaha yang dilaksanakan. jenis kelamin. umur. Selain itu juga diperlukan dalam rangka pembinaan. konsekuensi dari keharusan UMKM mendapatkan perizinan. Dengan demikian unsur kemudahan UMKM untuk medapatkan perizinan adalah variabel terikat merupakan resultante dari beberapa variabel bebas yaitu: 1) Pendekatan dalam pemberian perizinan. 3) Model pemberian perizinan. b) Melindungi para pengusaha dari berbagai pungutan liar serta. Izin usaha diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif (eksternalitas dis economics) yang mengeksploitasi lingkungan. yaitu untuk: a) Mempermudah pengusaha dalam mengakses sumbersumberdaya produktif. pendidikan dan pengalaman. biaya yang harus dibayar dan prosedur mendapatkan perizinan.2 Kerangka Operasional Pengkajian Kerangka operasional Pengkajian diilustrasikan pada gambar 1: 1. Untuk dapat membangun suatu sistem pemberian perizinan yang efektif dalam mendukung pemberdayaan UMKM perlu dilakukan kajian terhadap tingkat keberhasilan dari kedua faktor di atas. 4) prosedur pemberian perizinan dan 5) karakteristi UMKM.

biaya. persyaratan. ekonomi. c. Pendekatan dalam pemberian perizinan idealnya adalah ditujukan untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia. Variabel Bebas terdiri dari: a. Prosedur formalisasi idealnya disusun sesuai kemampuan UMKM khususnya pengusaha mikro dengan segala keterbatasannya.AGUSTUS 2009 : 18-36 Kesulitan UMKM Untuk Mendapatkan Perinzinan Analisis Masalah Pendekatan MODEL PEMBERIAN PERIZINAN UMKM KARAKTER/ KONDISI INTERNAL UMKM Restrukturisasi Kelembagaan Model Dan Prosedur Pemberian Perizinan Untuk UMKM Kelembagaan. Kelembagaan terdiri dari peraturan perundang-undangan. 22 . Kerangka Operasional Pengkajian 3. dan tempat kedudukan instansi tersebut. b. Model Dan Prosedur Perizinan Yang sesuai Dengan Karakteristik UMKM UUD 1945 Dan Undang Undang UMKM Gambar 1. Hal tersebut yaitu bentuk dan kedudukan lembaga pelayanan perizinan dalam struktur organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan kontribusi APBD terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengurusan perizinan. sosial dan politik. personil pelaksana. instansi organisasi. waktu pelayanan.JURNAL VOLUME 4 .3 Faktor Analisis 1. Faktor ini diindikasikan dari komitmen pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM. Tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan secara adil dan merata dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan fisik.

b.2 Ruang Lingkup Lokasi Kajian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah dengan dua kabupaten/ kodya contoh yaitu kodya Surakarta dan kabupaten Sragen. kelembagaan untuk perizinan. IV. Ruang Lingkup Kajian 4. Konsekuensi dari didapatkannya perizinan ideal oleh UMKM akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan. V. kondisi internal. e. pengetahuan UMKM dalam berurusan birokrasi dan kewirausahaan UMKM. pendekatan prosedur pemberian perizinan. provinsi Sulawesi Selatan dengan dua kodya contoh yaitu kodya Makasar dan kodya Pare-pare. Sosialisasi dalam rangka penyebarluasan pemahaman tentang kepentingan mendapatkan perizinan serta persyaratan dan prosedur mendapatkannya. Perancangan model formalisasi sesuai dengan karakter UMKM dalam bentuk best practice. 2. 4. Variabel Terikat adalah jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Pengumpulkan data dan informasi perkembangan jumlah UMKM yang memperoleh perizinan. Kodya Makasar merupakan contoh pembanding yang belum melaksanakan P2SP.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) d. Analisis data dan permasalahan dalam rangka mendapatkan model pemberian perizinan sesuai dengan karakteristik UMKM. Kondisi internal UMKM terdiri dari pendidikan formal.1 Ruang Lingkup Substansi a. f. Metoda Penelitian dan Analisis Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan metoda stratified random sampling. 23 . c. provinsi Bali dengan dua kabupaten/kodya contoh yaitu kabupaten Jembrana dan kodya Denpasar. dan masalah yang dihadapi Pemda dan UMKM berkaitan dengan pemberian perizinan.

2 Model Analisa Data Sesuai dengan tujuan penelitian dan variabel-variabel analisis. 2). Model analisis regresi berganda untuk mengetahui besar pengaruh tiap variabel bebas terhadap variabel terikat. Sedangkan untuk kabupaten/kodya contoh yang belum melaksanakan program P2SP baru 7. Kelengkapan keberadaan/lembaga formalisasi UMKM. Kalangan pemerintahan (Dinas Koperasi dan UKM. Hasil Pengamatan dan Analisis 6. 5. maka data yang ada akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan .JURNAL VOLUME 4 .14% yang telah memiliki izin usaha. Model analisis rataan dan kecenderungan (mean dan mode). Ada tidaknya UMKM yang sudah mendapat formalitas usaha. Stratifikasi lokasi contoh UMKM didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu: 1). Model analisis perbandingan (comparatif analisys).12% yang memiliki izin usaha.734 unit usaha dan yang telah melaksanakan program P2SP. VI. diprediksikan mencapai 1. 24 .AGUSTUS 2009 : 18-36 5.1 Kinerja UMKM Jumlah UMKM di enam kabupaten/kodya contoh. Biro Perekonomian pemerintah daerah dan beberapa instansi terkait). Model analisis deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh langsung dari UMKM dan stakeholder yang terdiri dari: a). 2. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur sesuai dengan tujuan dan metoda pengkajian.583. 3). c. Teknik pengumpulan data menggunakan metoda purposif sampling yang terstratifikasi. rata-rata baru 17. Model analisis evaluatif dengan menggunakan beberapa model matematis yaitu a. b. 1.1 Data dan Teknik Penarikan Contoh Data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat sosial dan kebijakan. Ada tidaknya programprogram formalisasi UMKM.

Sebagian lainnya terutama yang bergerak di sektor angkutan belum memiliki badan hukum dan masih merupakan usaha perseorangan. Namun mereka masih sulit membangun kemitraan dengan stakeholder lainnya dalam rangka memperluas jaringan usahanya. Walaupun kelompok UMKM tersebut sudah menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial.8% nya telah memiliki izin kegiatan berupa SIUP. b) Kecilnya skala usaha yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan badan hukum. Sebanyak 82. terkait dengan pungutan pajak retribusi. dan pemasaran serta. serta perhotelan merupakan kelompok UMKM. Di daerah yang sudah melaksanakan program P2SP sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro menyatakan masih banyak menghadapi kesulitan. Sebagian kecil (28. 61. angkutan pedesaan dan angkutan besar (bis dan truk). Pengusaha mikro yang bergerak pada kegiatan penggalian sebagian semua sudah memiliki izin usaha tetapi hanya 3 dari 15 pengusaha yang menjadi sampel pada penelitian ini yang memiliki badan hukum. Para pengusaha di sektor pedagangan terutama pedagang antar kecamatan. Kelompok ini juga tidak dapat mengandalkan koperasi untuk berhadapan dengan stakeholder karena bargaining koperasi sendiri masih belum diperhitungkan oleh kalangan stakeholder.87% nya juga sudah mempunyai badan hukum.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. Bagi kedua kelompok diatas.42% memiliki izin kegiatan usaha. sarana produksi. tetapi komitment pemberdayaan mereka oleh pemerintah daerah masih belum optimal. tetapi belum memiliki izin usaha tidak mendapatkan masalah dalam berhubungan dengan perbankan. Besarnya jumlah pengusaha dari kelompok ini yang memiliki badan hukum dan izin usaha nampaknya lebih dikarenakan ketatnya pengawasan pemerintah daerah terhadap mereka.2 Jenis Kegiatan Usaha dan Perizinan Pengusaha yang bergerak di sektor pengolahan hasil perkebunan.8 juta sampai Rp 246 juta. Kesulitan memiliki badan hukum disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Karakter usaha mereka yang sudah memiliki jaringan tradisional yang menjamin penyediaan modal.27%) sudah memiliki status badan hukum terutama Usaha Dagang (UD). termasuk untuk mendapatkan kegiatan usaha dari pemerintah. nampaknya perizinan bukan lagi menjadi hal yang sulit. 25 . Dari jumlah tersebut 41. Kesulitan tersebut dalam memenuhi persyaratan dan banyaknya jenis perizinan yang harus dimiliki. Hal tersebut disebabkan mereka memiliki modal yang relatif besar yaitu antara Rp 21. Bagi mereka yang sudah memiliki izin kegiatan. Dari jumlah tersebut. Hal ini diindikasikan dari sedikitnya bantuan pemerintah untuk memberdayakan mereka seperti dalam mengembangkan modal dan jaringan usaha serta adanya pungutan-pungutan liar yang idealnya dapat diatasi melalui Perda.

c) Meningkatnya sumbangan UMKM terhadap pembangunan daerah diindikasikan dari peningkatan GDP serta meningkatnya sumbangan UMKM terhadap Pendatan Asli Daerah (PAD). Dari sisi kelestarian lingkungan dan kesinambungan pembangunan akan menyebabkan terjadinya eksploitasi sumberdaya secara berlebihan. a) Memberikan subsidi kepada UMKM untuk mendapatkan badan hukum. Oleh sebab itu restrukturisasi prosedur dan persyaratan mendapatkan badan hukum merupakan salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan. c) Reformasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan badan hukum untuk UMKM. Dua dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan P2SP menempatkan lembaga perizinan setingkat eselon III.AGUSTUS 2009 : 18-36 Pengusaha mikro hanya mungkin dapat memiliki badan hukum jika pemerintah mengeluarkan kebijakan terobosan misalnya. Program pelayanan satu pintu idealnya memiliki berbagai konsekuensi logis antara lain. Hal tersebut dapat dianalisis antara lain melalui pendekatan yang digunakan dalam membangun kelembagaan pelayanan. kedudukan lembaga tersebut dalam struktur pemerintahan daerah. Satu dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP masih menetapkan biaya perizinan hanya 26 . Usaha kecil yang usahanya sebagian sudah meluas antar daerah maka pemilikan badan hukum sangat penting.JURNAL VOLUME 4 . b) Menunjuk notaris yang secara khusus dapat memberikan badan hukum kepada UMKM dengan biaya yang relatif lebih murah dan.3 Pendekatan dan Kelembagaan Perizinan P2SP belum dapat dijadikan indikator komitmen Pemda yang bersangkutan untuk memberdayakan UMKM melalui reformasi dibidang perizinan. Hal tersebut menyebabkan lembaga tersebut belum memiliki bargaining yang cukup dalam berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempermudah proses pemberian perizinan. Pengembangan sistem pelayanan satu pintu belum menjadi solusi pemecahan masalah secara tuntas. b) Meningkatnya kemampuan penyerapan tenaga kerja dikalangan UMKM diindikasikan dari meningkatnya jumlah tenaga kerja per unit usaha UMKM. a) Keberhasilan dalam meningkatkan pendapatan UMKM. 6. Tidak diimilikinya status badan hukum dan atau izin kegiatan usaha akan berdampak pada kesulitan pengusaha yang bersangkutan untuk berhubungan dengan pihak-pihak luar. dan kompetensi personil yang ditempatkan dalam lembaga perizinan. Hal tersebut secara langsung berdampak pada kelestarian lingkungan. Hal tersebut dikarenan program tersebut perannya masih terbatas pada peningkatan jumlah pengusaha kecil yang mendapatkan izin usaha atau izin kegiatan.

83 (termasuk dalam katagori sulit). Rp. Hal ini memang perlu mendapatkan perhatian.8 juta biaya tersebut 27 . Hal tersebut dilakukan karena latar belakang pekerjaan kurang kompeten. Sedangkan bagi yang belum melaksanakan program tersebut rata-rata nilai skoring hanya mencapai angka 1. Nilai rata-rata skors persyaratan perizinan di kabupaten/ kodya contoh yang sudah melaksanakan P2SP baru mencapai nilai 1. 20. Prosedur Perizinan Nilai skoring kemudahan prosedur pemberian izin usaha bagi daerah yang sudah melaksanakan program P2SP mencapai angka 2. 2. Penetapan persyaratan perizinan idealnya perlu tidak hanya dari kepentingan pemerintah untuk mengatur lokasi sumberdaya tersedia. maka total biaya yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan status formal tersebut mencapai Rp. tetapi juga dari sisi pengusaha (UMKM). ratarata biaya perizinan yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan satu jenis surat izin berkisar antara Rp. 6. Tiga dari lima kabupaten/kodya contoh.400. Kelima kabupaten/kodya contoh dalam menyusun persyaratan masih berorientasi pada paradigma lama yaitu tidak mempertimbangkan kesulitan UMKM dalam memenuhi persyaratan yang ada. 246. Biaya Perizinan Di daerah yang sudah melaksanakan Program P2SP. sehingga rata-rata biaya yang diperlukan mencapai Rp. Harus diingat bahwa tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mempermudah UMKM dalam mendapatkan izin usaha dari berbagai aspek pemberian perizinan tersebut. Sedangkan untuk satu jenis kegiatan yang akan dilaksanakan UMKM memerlukan antara 4 sampai dengan 8 jenis perizinan.000 s.d. Belum ada kabupaten/kodya contoh yang berani melakukan perubahan dalam hal pola perizinan.000.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) berdasarkan target pemasukan retribusi untuk mendukung PAD. sehingga jumlah perizinan untuk satu kegiatan usaha UMKM bisa mencapai 8 jenis. masih menempatkan personil kunci dalam instasi perizinan.34 (termasuk katagori sulit). Jika ditambahkan dengan biaya transportasi dan akomodasi untuk mengurus perizinan yang rata-rata sebesar Rp.400.4 Pola pelaksanaan pemberian izin 1.72 (termasuk dalam katagori mudah). sehingga terpaksa ditempatkan di dalam instansi perizinan. 112. Bagi usaha kecil yang memiliki rata-rata modal mencapai Rp. 84. 370.000. Idealnya ditempatkan pada lokasi umum dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. 124.

000. Biaya pengurusan perizinan ini idealnya hanya merupakan bentuk pajak. c) Biaya survey. maka nilai skors 1. Kelompok pengusaha marginal tersebut masih menjadi sasaran pungutan liar. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. biaya yang harus dibayar juga masih cukup besar. Biaya perizinan berkisar antara Rp. Sosialisasi pemberian izin usaha seharusnya mendapat perhatian. Demikian juga ada indikasi setiap instansi yang berwenang menetapkan biaya perizinan yang beragam. maka jumlah tersebut mencapai 5. 200.000. atau bea meterai. Pada umumnya mereka mengidentifikasikan izin usaha dengan pajak.JURNAL VOLUME 4 . Pemberdayaan UMKM merupakan amanat konstitusi (UUD 1945). Sosialisasi masih dilaksanakan terbatas dalam bentuk pamflet dan baliho di jalan-jalan ataupun melalui media elektronika terutama radio-radio pemerintah daerah dan siaran lokal. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar UMKM masih beranggapan bahwa pengurusan perizinan merupakan hal yang sulit dan belum diperlukan.21 atau sangat rendah. 28 . 6.213.234. pengumpulan dan penggunaannya tidak transparan. maka idealnya sebagian dari biaya tersebut dapat ditanggung pemerintah. b) Biaya-biaya administratif dan. 6.987 atau tergolong kurang. 1.96% dari modal yang dimiliki. Tetapi di daerah daerah yang telah melaksanakan program P2SP. Biaya tersebut menjadi dana taktis yang penarikan. Hal ini disebabkan penetapan biaya perizinan didasarkan pada jumlah biaya riil yang dikeluarkan ditambah dengan pajak/retribusi pemda. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemda antara lain adalah: a) Gaji pegawai.AGUSTUS 2009 : 18-36 relatif tidak besar. karena hanya 0. Hal ini menyebabkan sebagian besar pengusaha terutama para pengusaha mikro sama sekali tidak memahami arti penting dari adanya izin usaha. retribusi. basis perekonomian rakyat di daerah yang secara langsung berkontribusi terhadap pembangunan nasional.000 sampai dengan puluhan juta rupiah. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk dapat melaksanakan satu kegiatan usaha mencapai Rp. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP.5 Sosialisasi Perizinan Nilai skors rata-rata sosialisi yang dicapai dari 5 kabupaten/ kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP adalah 1. Tetapi bagi usaha mikro yang rata rata-rata modalnya sebesar Rp. Akibatnya sebagian besar dari mereka tidak ingin mendapatkan izin usaha. Biaya yang besar ini tidak akan mungkin dapat ditanggung oleh para pengusaha mikro.03% dari modal. biaya yang harus di bayar lebih besar lagi.

e). a) Rata-rata omset meningkat dari Rp 102. 6. b) Laba meningkat Rp 16. Surat Izin Penggunaan 29 . d). Kartu Tanda Penduduk. Konsekuensi pemerintah bagi UMKM yang telah mendapatkan izin usaha juga belum jelas. Kinerja UMKM yang telah memiliki perizinan bernilai positif dalam menjalin hubungan bisnis terhadap kinerja. dan.32 juta atau bertambah 63. Dari aspek internal dikalangan pengusaha mikro.01%.89 menjadi 1.17 kali per UKM. Untuk mendapatkan satu izin kegiatan usaha seperti industri kerajinan diperlukan persyaratan: a). Surat Keterangan Pembuangan atau Pengolahan Limbah. Hal tersebut dikarenakan kalangan pengusaha masih tetap sulit untuk berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama perbankan.6 Konsekwensi dari Perizinan Pengaruh langsung dari didapatkannya izin usaha belum banyak dirasakan oleh UMKM. c). Pajak Bumi dan Bangunan.89 juta pertahun atau bertambah sebesar 12. b). Total jumlah perizinan yang diperlukan mencapai 77 jenis di mana 49 jenis diantaranya sudah dapat dilayani melalui program P2SP. Karena dalam segala bentuk kebijakan pemda tidak membedakan atau memberlakukan diskriminasi antara UMKM yang telah mendapatkan izin dengan yang belum mendapatkan izin.57 juta menjadi Rp 114.12 kali menjadi 1. Diperolehnya perizinan ternyata membawa konsekuensi yang cukup besar dari kalangan masyarakat. Sedangkan Kemampuan akses UMKM terhadap permodalan hampir tidak ada pengaruhnya. f). g). pada harga tetap perubahan yang terjadi adalah.7 Jenis-Jenis Perizinan Yang Diperlukan Jumlah perizinan yang secara umum diperlukan untuk suatu jenis kegiatan usaha berkisar antara 0 (tidak memerlukan izin) sampai dengan 7 jenis. Hasil pengamatan lapang mengindikasikan yang sebagian besar (74. Kartu Keluarga.47 kali per UMKM. Terbuka pula peluang UMKM untuk ikut serta dalam pameran maupun temu bisnis yang dilakukan oleh pemerintah dari rata-rata 0. Keterangan Domisili Usaha. UMKM yang telah mendapatkan izin usaha diberikan dari rata-rata 1.47%. Sisanya 28 jenis masih dikelurkan oleh instansi sektoral dan lembaga lainnya seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan.87 juta dari Rp 10. Majelis Ulama Indonesia dan lain-lain.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. Surat Izin Lingkungan.6%) responden contoh menyatakan lebih senang melakukan kerjasama dengan UMKM yang telah memiliki izin usaha. Kelebihan yang diterima oleh UMKM yang telah mendapatkan izin hanya terlihat di kabupaten Jembrana dan kodya Pare-Pare yang melaksanakan pelatihan managemen teknik produksi kepada UMKM di bidang angkutan dan industri kecil.

baik disebabkan karena tidak memiliki tempat usaha atau yang memang karakter usahanya berpindah-pindah (menggunakan gerobak. pertambangan dan lain-lain). izin usaha restoran dan rumah makan serta izin penggalian Sedangkan perizinan yang kurang mendapat perhatian adalah izin usaha keuangan dan izin usaha minuman keras. izin industri rumah tangga. Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena jumlah pengusaha yang seperti itu sangat banyak dan diperkirakan mencapai 41. Yang terlama adalah untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan rata-rata 8. Oleh karena diperlukannya persyaratan pokok tersebut. Persyaratan surat-surat keterangan dasar ini berbeda antara tiap daerah. pikulan. Hal ini mungkin disebabkan sebagian besar responden adalah laki-laki dengan rata-rata umur 33. izin usaha pendidikan dan pelatihan serta izin pengoprerasian dan trayek angkutan. Tetapi mengingat jumlah jenis perizinan yang diperlukan cukup banyak (minimal 4 jenis) maka jumlah waktu yang tersita untuk mengurus perizinan ini juga masih relatif panjang. Ketentuan tersebut di atas menyebabkan pengusaha yang berpindah-pindah. antara lain izin usaha perdagangan. Berbagai jenis perizinan. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan sebelum adanya program P2SP yang mencapai rata-rata 23.8 Waktu yang Diperlukan untuk Mengurus Perizinan Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan adalah 4. izin usaha perbengkelan.4 30 . 6.JURNAL VOLUME 4 . VII.41 hari. belum menjadi target program P2SP.67% dari jumlah usaha mikro dan kecil yang ada di Indonesia (Ramelan 1999). Analisis Faktor Perizinan UMKM Kondisi dan Tingkat Pengaruh dari faktor-faktor Penentu 7. lapak dan lain-lain).AGUSTUS 2009 : 18-36 Bangunan. Untuk lebih meningkatkan efisien waktu pengurusan.1 Kondisi UMKM Umur dan kelamin tidak nyata pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. maka sebagian besar pengusaha mikro terutama mereka yang usahanya berpindah-pindah tidak mungkin untuk mendapatkan perizinan. jasa. kiranya masih diperlukan pemikiran prosedur pemberian perizinan yang lebih singkat misalnya dengan pola paket pemberian perizinan lengkap dari membuat IMB sampai dengan penerbitan izin usaha sektoral (perdagangan.39 hari.76 hari dan yang paling cepat adalah untuk mendapat surat izin lingkungan yang hanya memerlukan waktu 2 hari.

7.264 orang. Jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata.2 Faktor Eksternal 1) Pendekatan Model formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% pendekatan dalam konsepsi pemberian perizinan untuk UMKM berpengaruh positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) tahun atau dalam kondisi produktif.67% adalah yang bergerak di sektor tersier dan hanya 4. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lincoln (1982) yang mengatakan bahwa “Tercapai tujuan dari suatu sistem sangat dipengaruhi oleh pendekatan sistem tersebuit dalam mencapai tujuannya dan adanya kelembagaan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut”. rata-rata waktu yang diperlukan untuk pengurusan memang berkurang. Rata-rata pendidikan UMKM yang telah mendapatkan izin usaha hanya mencapai nilai bobot 7.67 (relatif rendah). 38. Pemilikan modal UMKM berpengaruh nyata positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Oleh sebab itu masih sangat diperlukan penyederhanaan prosedur atau adanya pendampingan. Hal tersebut disebabkan prosedur untuk mendapatkan perizinan memerlukan pengetahuan yang relatif luas (terutama yang berhubungan dengan pola kerja birokrasi). yang rata-rata hanya memiliki tenaga kerja 2.60% UMKM yang telah mendapatkan izin usaha adalah yang bergerak di sektor sekunder. Tingkat pendidikan berpengaruh nyata. Hal ini mungkin dikarenakan untuk pengurusan masih diperlukan waktu dan tenaga. Rata-rata 43. Oleh sebab itu kelembagaan yang dibangun idealnya adalah yang dapat memberikan peluang seluas-luasnya bagi UMKM untuk dapat eksis dalam sistem perekonomian. Sektor usaha berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Dengan demikian UMKM tidak mengalami kesulitan untuk mengurus proses perizinan atau formalisasi kegiatan usahanya. Dalam hal ini tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia guna mendukung pemberdayaan UMKM. Implementasi dari tujuan tersebut adalah lembaga pelayanan yang dibangun harus mampu mengatasi masalah-masalah struktural yang selama ini menghambat 31 . tetapi masih tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ada di lingkungan UMKM. Pengaruh ini diduga berkaitan dengan biaya perizinan yang relatif cukup besar untuk kelompok usaha mikro (sedangkan usaha mikro bagian terbesar dari UMKM). Dengan adanya P2SP.93% yang bergerak di sektor primer terutama kegiatan pertambangan dan penggalian.

4) Prosedur formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% varibel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 3) Kedudukan lembaga perizinan Variabel ini sampai dengan tingkat kepercayaan 80% belum menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Hal tersebut dikarenakan latar belakang pendidikan mereka memang cukup tinggi dan mereka sudah biasa berhubungan dengan dengan birokrasi. Peraturan yang mengharuskan mengikutsertakan semua instansi terkait agar tidak ada lagi perbedaan persepsi pemberian perizinan.AGUSTUS 2009 : 18-36 proses formalisasi UMKM. c) Membuka transparansi persyaratan dan biaya. Sebaliknya sebagian besar pengusaha kecil menyatakan tidak kesulitan. 2) Bentuk Lembaga Perizinan Bentuk lembaga perizinan sampai pada tingkat kepercayaan 95% sudah menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin kegiatan usaha. b) Instansi pemberian perizinan berada di bawah instansi induk yang kompeten dengan kepentingan pemberdayaan UMKM. Hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: a) Adanya satu lembaga perizinan telah menghilangkan perbedaan peresepsi tentang tujuan pemberian perizinan bagi UMKM. b) Mempermudah UMKM dalam pengurusan karena hanya harus pergi ke satu tempat serta. Hal ini cukup beralasan karena sebagian besar dari pengusaha mikro tersebut berpendidikan rendah dan belum berpengalaman dalam berurusan dengan birokrasi. Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya: a). c) Kedudukan lembaga pemberian perizinan masih cukup tinggi yaitu minimal setara dengan eselon III. Misalnya di bawah Dinas Koperasi dan UKM.JURNAL VOLUME 4 . Masalah tersebut antara lain banyak jenis perizinan yang harus dimiliki oleh UMKM. Kondisi tersebut dapat diterangkan sebagai berikut bahwa ”Sebagian besar pengusaha mikro menyatakan bahwa prosedur pelayanan yang ditetapkan ternyata masih sulit dimengerti. Dapat disimpulkan bahwa ada kaitan (korelasi) antara prosedur pelayanan dengan tingkat pendidikan dan pengalaman UMKM dalam berhubungan dengan “birokrasi”. persayaratan yang tidak sesuai dengan karakter UMKM dan biaya yang memberatkan UMKM. 32 .

waktu dan tenaga). a) Pemberian perizinan bukan merupakan pekerjaan sederhana yang hanya mengikuti prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. 9) Konsekuensi adanya perizinan Pada tingkat kepercayaan 90% variabel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Ada dan tidaknya nilai tambah yang akan diperoleh UMKM sebagai konsekuensi dari didapatkannya perizinan akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan 33 . 8) Sosialisasi Perizinan Variabel ini sampai pada tingkat kepercayaan 85% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 6) Persyaratan Perizinan Variabel ini pada tingkat kepercayaan 95% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 7) Biaya Perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 90% variabel ini belum berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Pengaruh tersebut nampaknya berhubungan langsung dengan karakter UMKM yang diwarnai oleh berbagai keterbatasan (uang. Pengaruh ini jelas berhubungan dengan pemahaman UMKM terhadap kepentingan. pengetahuan. Hal tersebut diduga dikarenakan. variabel ini belum menunjukkan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. c) Pengambilan berada pada level atas yang rata-rata memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pemberian perizinan bagi UMKM.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 5) Kompetensi personil lembaga perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 80%. akibat pendekatan dalam penetapan biaya perizinan yang tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha mikro. Masih relatif besarnya biaya perizinan yang harus dibayar oleh pengusaha. konsekuensi prosedur dan persyaratan perizinan. diduga menyebab variabel biaya ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. b) Personil sebelum bekerja sudah dilatih dan dibekali dengan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

12%.1 Kesimpulan 1. c) Kurangnya sosialisasi dan belum adanya konsekuensi yang jelas dari pemerintah dengan dimilikinya badan hukum. Dalam penyusunan konsep pemberian perizinan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara pendekatan. 3. 3) Persyaratan perizinan. Hal tersebut disebabkan karena usaha mikro sebagian besar merupakan perusahaan perorangan yang ruang lingkup usahanya yang relatif sempit. 4. b) Persyaratan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM khususnya pengusaha mikro. Hal ini dikarenakan pemberian badan hukum merupakan kewenangan dari Departemen Hukum dan Ham yang dalam UU otonomi daerah juga tidak dilimpahkan kewenangannya kepada pemerintah daerah. 2) Bentuk lembaga perizinan. Berbagai usaha untuk mempermudah pemberian perizinan yang dilakukan sekarang (program P2SP) belum sepenuhnya dapat menyelesaikan masalah formalisasi UMKM. 2. Ketidakmampuan ini berkaitan dengan implementasi kelembagaan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM. kelembagaan dan karakteristik UMKM. Beberapa variabel yang berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha adalah: 1) pendekatan. Program-program perizinan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah belum menjangkau masalah pemberian badan hukum. 6. 6) Konsekuensi dari adanya perizinan. 5. Dari hasil temuan di atas dapat disusun best practice penyusunan konsep Lembaga perizinan UMKM 8. Beberapa masalah yang sangat mendesak untuk diperbaiki adalah: a) Banyaknya jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan usaha. 7.AGUSTUS 2009 : 18-36 VIII. Jumlah UMKM yang telah mendapat formalitas usaha dalam bentuk perizinan relatif sedikit tidak terkecuali pada daerah-daerah yang telah melaksanakan P2SP yang baru mencapai 17. 2. Program formalisasi usaha harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya 34 . 4) Prosedur perizinan. izin perusahaan atau badan hukum secara yuridis formal memang untuk waktu sekarang belum diperlukan. Bagi pengusaha mikro.JURNAL VOLUME 4 .2 Saran-saran 1. 5) Sosialisasi perizinan . Kesimpulan Dan Saran 8.

Kusnadi dan R. (2004). Supported by The Asia Foundation. The Asia Foundation. Anonim. Heriawan. Vol 7 nomor 1. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. Manggara Tambunan. Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya. (1999). Pedoman Pengembangan Kewirausahaan. Saleh. Basic Penumbuhan Wirausaha Baru. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. (2003). Anonim. Small and Medium Entreprise Development. Jakarta. 35 . (2006). Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru. Departemen Koperasi. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Indonesia Small Business Statistics. Jakarta. Anonim. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. 3. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004. Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. Anonim. Study Report. (2002). 1���. (2008). Anonim. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK. Anonim. Kementerian Koperasi dan UKM. Jurnal Ekonomi UNTAR. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Jointly orgized by LPEM-UI and PEG-USAID. (2001). Anonim. Perlu dilakukan sosialisasi best pratice formalisasi UMKM yang telah disusun dengan memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi efektifitas sistem pelayanan. Jakarta. Jakarta.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM dan kemampuan UMKM untuk memenuhi persyaratan tersebut. Melangkah ke Depan Bersama UKM. Conference on “The Economic Issues Facing The New Government”. Support by The Asia Foundation and PEG-USAID. (2005). (1999). Study Report. Jakarta. (1992).

Singapore: John Willey & Son. January 2005. “Building The Policy of ICT Development. 2.AGUSTUS 2009 : 18-36 Yudhoyono S. Bisnis Indonesia. Zsehong Tsai.” 16th International Conference.” November 2004. Allan A.. Gibb.B.. 36 .“ National Information & Communications Initiative Committee & Science and Technology Advisory Group (STAG).JURNAL VOLUME 4 . Kamis 21 Oktober 2004. “The Bucharest Declaration: Preparing SME’s for the Knowledge Based Economy. Terapkan Ekonomi Terbuka. “Symphony Solution for Strategic Network: Project Overview. “The Entreprise Culture and Education” dalam International Small Business Journal Vol. The Symphony Consortium. Taiwan. USA. (1993). 2nd ed. World SME Convention. Bucharest May 15-18. Jakarta. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. 2005. (2004).

d) CC has a clear promotional operational standard. Artikel diterima � April 200�. b) Education is a facility to increase the capability and cooperative motivation.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) ANALISA KOMPARATIF ANTARA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) DAN KOPERASI KREDIT (KOPDIT)*) Riana Panggabean**) Abstract Objective of the activity is to compare Savings and Loan Cooperative (SLC) and Credit Cooperative (CC) in implementing cooperative basic principle. c) Cooperation among CC is an instrument of helping each other among CC and resource of business increase in rendering service to the members. pendidikan. kerjasama horisontal dan vertikal I. 3) SLC is necessary to conduct horizontal and vertical cooperation and implements financial interlending. 4) SLC is necessary to establish secondary level of SLC in the district level or for some primary SLC’s which the function to coordinate the interests of SLC’s in the area of business and finance. c) Obligation of to pay tax on the sevent cooperative principle. PENDAHULUAN 1. Peer review 22 April s.d. b) Cooperation horizontal and vertical and interlending implementation on the sixth cooperative principle. syarat anggota. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 37 . The difference lays on determining member requirements on the first cooperative principle: a) The implementation of education on the fifth cooperative principle. 2) Education to members and management of SLC should be conducted regularly and consistence. khususnya koperasi simpan Kajian Kelompok Peneliti tahun 2008. KSP dan Kopdit berbeda dalam implementasi prinsip koperasi. 5) SLC is necessary to prepare implementation of operational standard for SLC like CC. koperasi dapat bertahan dan bahkan berkembang. Suggestion which is proposed in line with the conclusion above mentioned: 1) LSC should make members requirement which are more operational so that member of LSC will be more selective on its quality. The result of the assessment showed that: 1) There is a difference between SLC and CC in implementing cooperative principles.1 Latar Belakang Ketika krisis ekonomi melanda di Indonesia. 8 �uni 200�. 2) What’s really at the bottom of that (CC) is better in implementing cooperation principles: a) Members are the owner of cooperative should be serviced well.

kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan. Tujuan produktif dan kesejahteraan berarti bahwa pinjaman hanya diberikan pada anggota untuk dimanfaatkan modal usaha yang bisa meningkatkan penghasilan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. Koperasi kredit dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu.AGUSTUS 2009 : 37-61 pinjam. (6) Kerjasama antar koperasi dan (7) Kepedulian terhadap komunitas (Internasional Co-operative Alliance/ICA). (2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis. Ini merupakan bukti bahwa koperasi perlu diperkuat dan dipertahankan sebagai lembaga keuangan mikro agar selalu mampu melayani anggota dan masyarakat disekitarnya. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka untuk tujuan produktif dan kesejahteraan anggotanya. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelakanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam.koperasi lain dan atau anggotanya. (4) Otonomi dan kebebasan. Koperasi simpan pinjam yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM ada dua bentuk yaitu (1) Koperasi Simpan Pinjam disebut KSP melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan pinjam dan (2) Unit Usaha Simpan Pinjam disebut USP adalah unit usaha yang dibentuk dalam suatu koperasi sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi melakukan kegiatan usaha simpan pinjam (PP No 9 Thn 1995). Koperasi ini berhasil karena melaksanakan prinsip-prinsip koperasi secara tepat dalam menjalankan organisasi dan usahanya. Selain koperasi tersebut koperasi kredit (credit union) mulai timbul di Indonesia pada tahun 1950 adalah koperasi yang mempunyai kegiatan simpan pinjam sama dengan KSP/USP yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM tersebut. (3) Partisipasi ekonomi anggota. calon anggota koperasi yang bersangkutan. Usaha simpan pinjam juga menjadi cikal bakal pertumbuhan dan pengembangan koperasi simpan pinjam di Indonesia dan usaha ini merupakan usaha dominan koperasi hingga saat ini. 38 . (5) Pendidikan dan pelatihan serta informasi. Prinsip koperasi merupakan esensi dari dasar kerja koperasi sebagai badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari usaha lain. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip koperasi adalah (1) Keanggotaan sukarela dan terbuka. Artinya pinjaman tidak bisa diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif.JURNAL VOLUME 4 .

326 orang.865. Sedangkan kopdit berhasil karena melaksanakan/menjalankan koperasinya sesuai dengan prinsip dasar koperasi secara konsisten.165.495. (3) Jumlah saham sebanyak Rp 1.858.815.288. Kopdit dalam melaksanakan usahanya 39 .600.03 juta.640. (2) Jumlah anggota sebanyak 4. (9) Total aset Rp 1.987.873. (8) SHU yg belum dibagi Rp 1.063.877. Demikian juga perkembangan USP pada tahun yang sama cukup menonjol yaitu: (1) Jumlah USP koperasi sebanyak 36. Namun dalam prakteknya disinyalir: (1) Ada terjadi penyimpangan-penyimpangan managemen organisasi dan usaha yang kurang sesuai dengan peraturan perundangan terutama yang menyangkut dengan prinsip dasar koperasi. (6) Modal penyertaan Rp 200.154. (3) Jumlah nasabah 10. (2) Jumlah anggota sebanyak 480. terdiri dari jumlah anggota laki-laki 399. (7) Simpanan yang diterima Rp 325.Z.73 juta.000 juta. (4) Modal pinjaman Rp 1. Lawang 2007).91. (8) SHU yg belum dibagi Rp 107.374. (3) Jumlah nasabah 878.485 unit.633.054.502 orang dan jumlah anggota perempuan 268. (6) Modal penyertaan Rp 6.693. (5) Jumlah pinjaman beredar sebanyak Rp 1.438 (Robert M.114 dan.270.011 unit.598 unit.783 orang.524. (4) Modal pinjaman Rp 195.18 juta. (9) Total aset Rp 7. Koperasi ini dikembangkan dan berkembang sesuai dengan jatidiri koperasi (Sumisjokartono.545.864.83 juta.460.88 juta.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Kerjasama dan Jaringan Informasi pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK. perkembangan KSP sampai Tahun 2005 sangat pesat dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah KSP 1. (5) Modal sendiri Rp 776.908 orang.524.557. (3) Banyak KSP yang telah berubah menjadi lembaga keuangan yang hanya mencari keuntungan semata sehingga mengabaikan pelayanan kepada anggota. (2) Jumlah anggota keseluruhan 668.578. (4) Simpanan non saham Rp 791.95 juta.346 orang.94 juta.662 juta. (7) Simpanan yang diterima Rp 1.393. Selanjutnya perkembangan koperasi kredit (kopdit) secara kuantitatif pada tahun 2006 dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah koperasi kredit di Indonesia sebanyak 1.844 orang.932.36 juta. 2002) KSP dan USP cukup pesat perkembangannya seperti yang disebut di atas. Secara kualitatif menurut hasil penelitian dijelaskan bahwa kopdit cukup pesat perkembangannya dilihat dari pertumbuhan dan usahanya karena kopdit dapat bertahan dan berkembang terus bahkan dianggap berprestasi walaupun pada masa krisis. (5) Modal sendiri Rp 4.379 orang.55 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 1.216.834.364.118. (2) KSP saat ini menjadi alat untuk mencari rente ekonomi terutama fasilitasi perkuatan dari pemerintah.62 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 13.67 juta.

1 Prinsip-prinsip Koperasi Menurut Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian disampaikan bahwa prinsip koperasi merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berkoperasi.2 Tujuan dan Manfaat Kajian Tujuan kegiatan ini adalah membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. Ada 4 prinsip yang berkaitan dengan keanggotaan yaitu (1) prinsip sukarela. 1. koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial. II. Keanggotaan yang Bersifat Terbuka dan Sukarela Keterbukaan dalam organisasi koperasi hanya bisa terlaksana jika ada kesukarelaan.AGUSTUS 2009 : 37-61 tidak menggantungkan diri kepada fasilitas dan bantuan pemerintah dan kopdit dalam melaksanakan usahanya hanya melayani anggota. sesuai Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi dan Manajemen Operasional Koperasi Kredit. masalah yang akan diamati dalam kajian ini adalah belum diketahui apa perbedaan antara KSP dengan kopdit dalam mengimplementasikan jati diri koperasi. Perincian prinsip-prinsip koperasi yang menjadi landasan operasional KSP dan kopdit dijelaskan sebagai berikut: 1). Dengan melaksanakan keseluruhan prinsip tersebut. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Perlu ditelusuri konsep prinsip-prinsip dasar koperasi. 40 . (2) keterbukaan. TINJAUAN KONSEP Sesuai dengan tujuan kegiatan ini yaitu membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi.3 Manfaat Kajian Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan/keputusan untuk pengembangan KSP dan kopdit lebih lanjut. 1.JURNAL VOLUME 4 . Selanjutnya menurut Internasional Co-operative Alliance (2001) prinsip-prinsip ini tidak independen satu dengan lainnya sehingga tidak boleh dinilai secara parsial berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip tersebut tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu kesatuan.

Para anggota memegang dan melaksanakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. menanggung kontrol organisasi secara demokratis dan bila perlu meminta pertanggungjawaban pemimpin yang dipilih anggotanya. Operasional prinsip ini dalam banyak koperasi diwujudkan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) dimana anggota aktif dalam membahas masalah dan kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan. Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan koperasi artinya bahwa: (1) Menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksa oleh siapapun. Tanggung jawab meliputi: kontribusi dalam modal. partisipasi dalam bisnis. Pengelolaan Dilakukan Secara Demokratis Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota. Karena koperasi adalah organisasi demokratis dikendalikan oleh anggotanya maka setiap anggota memiliki hak suara. tanpa membedakan jenis kalamin (gender). 41 . Prinsip nondiskriminasi adalah bahwa anggota tanpa diskriminasi sosial. Prinsip keterbukaan adalah tanpa pembatasan yang dibuat-buat seperti simpanan pokok atau pendaftaran. politik dan agama. 2). Sukarela artinya orang-orang yang secara sukarela memilih untuk membuat komitmen terhadap koperasi mereka bahwa bergabungnya seseorang menjadi anggota koperasi tidak karena paksaan dalam bentuk apapun. (2) Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam anggaran dasar. hak pilih dan hak untuk menentukan sikap yang sama. Prinsip tanggung jawab adalah keanggotaan koperasi harus terbuka terhadap semua orang yang mau menerima tanggung jawab sebagai anggota. untuk menemukan sikap yang sama.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) (3) non diskriminasi dan (4) tanggung jawab. ras. politik dan agama apapun. Sifat terbuka memberi arti dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi apapun. sosial. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah organisasi yang bersifat sukarela dan terbuka bagi semua orang yang bersedia memanfaatkan pelayanannya dan bersedia pula untuk menerima tanggung jawab keanggotaan. latar belakang. Prinsip yang utama adalah sekali anggota diterima menjadi anggota koperasi mempunyai hak-hak yang sama dengan anggota sebelumnya termasuk dalam hak suara tanpa melihat besarnya total simpanan.

membentuk dana cadangan. atau memupuk modal dari sumber luar. memberikan penerangan kepada masyarakat umum. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka dengan bunga yang layak serta untuk tujuan produktif dan kesejahteraan. Pelatihan dan Penerangan Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota. Kerjasama Antara Koperasi Koperasi melayani para anggotanya secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi dengan kerjasama melalui struktur lokal.AGUSTUS 2009 : 37-61 3). Memiliki Kepedulian Terhadap Masyarakat Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. Adanya Otonomi dan Kemandirian Koperasi adalah organisasi otonom. Sisa Hasil Usaha dialokasikan untuk pengembangan koperasi. menolong diri sendiri serta diawasi oleh para anggota. 2. Pengertian konsep ini dijelaskan sebagai berikut: 42 . 6). nasional. Anggota Berpartisipasi Dalam Kegiatan Ekonomi Para anggota memberikan kontribusi modal secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis terhadap modal. Pendidikan. koperasi melakukannya berdasarkan persyaratan yang menjamin pengawasan demokratis oleh para anggotanya dan mempertahankan otonomi mereka. 7).2 Koperasi Kredit Menurut Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (1996:7) pengertian kopdit adalah badan usaha yang dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. melalui kebijakan kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota. Apabila ada modal lain hanya akan diberikan imbalan yang terbatas. Sebagian dari modal menjadi milik bersama koperasi. termasuk pemerintah. 4).JURNAL VOLUME 4 . Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain. 5). khususnya kepada pemuda dan pembentuk opini dimasyarakat tentang hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi. dibagikan kepada anggota seimbang dengan transaksi yang mereka lakukan mendukung kegiatan lainnya yang disahkan rapat anggota. regional dan internasional.

Jika potensi keanggotaannya tidak besar maka koperasi di tempat kerja saat tertentu dianjurkan membuka diri bagi bagi masyarakat sekitarnya. olahraga. Bila sudah berkembang diharapkan membuka diri bagi masyarakat sekitarnya. pemuda dsb. Oleh karena itu koperasi harus dikelola dengan memperhatikan kaidah-kaidah ekonomi tanpa melupakan tujuan dibentuknya usaha ini oleh kelompok pemiliknya. Lingkungan Perkumpulan (Asosieson Commond Bond) Dimana sekumpulan orang diikat oleh karena sama-sama menjadi anggota dari suatu perkumpulan. Misalnya karyawan sebuah pabrik. b). petani. Dimiliki Oleh Sekumpulan Orang Dimiliki oleh sekompulan orang pria dan wanita yang berjumlah sekurang-kurangnya 20 orang. Badan Usaha Pengertian badan usaha (UU Nomor 25 Tahun 1992) pada kopdit adalah badan usaha dengan ciri khas pemiliknya adalah anggota-anggotanya. Dalam Suatu Ikatan Pemersatu Dalam suatu ikatan pemersatu artinya sekumpulan orang diikat dipersatukan oleh adanya kepentingan bersama dan kebutuhan yang dirasakan bersama di dalam salah satu lingkungan masyarakat seperti: a). dan guru. buruh. rumah sakit.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Kopdit akan berkembang baik bila potensi keanggotaannya cukup besar. wanita. 2). d). 3). Lingkungan Kerja (Accupational Common Bond) Dimana sekelompok orang/anggota dipersatukan karena melakukan pekerjaan yang sama. Misalnya mahasisiwa. c). Lingkungan tempat tinggal (Teritorial Commond Bond) Dimana sekumpulan orang yang diikat oleh karena bertempat tinggal pada suatu tempat atau menjadi warga dari suatu daerah yang sama Misalnya satu lingkungan RT. pramuka. Anggota dalam kopdit adalah pemilik pelaksana. Bersepakat Untuk Menabung Uang Mereka yang Disisihkan Dari Penghasilan Bahwa sekumpulan orang setuju tanpa paksaan untuk menabungkan uang yang mereka hematkan dari 43 . Anggota wajib mendukung kemajuan kopdit sebagai badan usaha. RW dan RK. dan pengawas.

Artinya pinjaman tidak boleh diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Kopdit tidak sekedar 44 . Tujuan Produktif dan Kesejahteraan Pinjaman hanya diberikan untuk kebutuhan anggota bagi usaha-usaha yang bisa meningkatkan penghasilan dan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. Bunga yang Layak Bahwa bunga pinjaman pada kopdit harus layak. i). saling melayani dan mempercayai serta memanfaatkan tabungan untuk kemajuan bersama.AGUSTUS 2009 : 37-61 penghasilannya bersepakat untuk menabung. Dipinjamkan Diantara Sesama Mereka Artinya bahwa pinjaman diberikan kepada anggotaanggotanya dan pinjaman dijamin oleh watak baik si anggota peminjam serta kelayakan usaha. dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol dengan pendidikan. (b) Modal-modal lain yang berupa modal hutang. Tujuan kopdit diimplementasikan dalam membimbing dan mengembangkan sikap menghemat diantara para anggotanya. cepat. tepat. dan terarah. e). Menghemat itu penting. dan (3) Mendidik anggota dalam hal menggunakan uang secara bijaksana. (2) Setia kawan/Solidaritas.JURNAL VOLUME 4 . cara menyimpan uang secara praktis. menarik dan berhasil bagi anggota. Kopdit mengajarkan cara menghemat dengan memberikan bimbingan perencanaan keuangan keluarga anggota dengan baik. modal penyertaan dan hibah. Layak artinya dapat memberi balas jasa simpanan sesuai pasar dan dapat membiayai operasional kantor kopdit. Dengan menghemat seseorang bisa: (1) Menabung. g). karena dengan menghemat orang bisa menabung. sebagai (a) Modal sendiri berupa simpanan wajib dan pokok. Menciptakan Modal Bersama Bahwa modal diperoleh dari tabungan bersamasama para anggotanya. Ini berarti bahwa masing-masing bertanggung jawab. h). f). kopdit dimulai dengan pendidikan. (2) Memberikan Pinjaman layak. Tiga Pilar Koperasi Kredit Sebagai alat Pembangunan Tiga pilar ini disebut Trilogi pembangunan yaitu: (1) Pendidikan.

Agar dapat memahami sifat kopdit dan mengerti aspekaspek unik gerakan ini terlebih dahulu perlu dipelajari prinsipprinsip visi yang selama ini mengarahkan perkembangan gerakan tersebut. Secara teoritis kopdit ditujukan untuk beroperasi secara non profit (tidak mengambil keuntungan). Namun kopdit tidak didirikan hanya sekedar untuk memberi keuntungan modal para anggota. sebagai acuan bertindak untuk melaksanakan usaha simpan pinjam. 2. Kopdit juga memberikan manfaat dan layanan bagi para anggota sesuai dengan besarnya jasa yang diberikan kepada kopdit tersebut. Kopdit selalu berusaha untuk sedapat mungkin membiayai dirinya dalam pengertian bahwa anggota kopdit selalu berusaha agar koperasi kreditnya semakin besar dan sehat. Inilah ciri khas yang membedakan kopdit dari lembaga keuangan lain seperti bank dan perusahaan-perusahaan pengawasan harta benda lainnya (trust companies). (3) Swadaya. Sebuah kopdit adalah usaha koperasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh para anggotanya. Pada kenyataannya keuntungan dan laba dari modal para anggota adalah sasaran yang justru harus diraih oleh semua kopdit. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). 45 .3 Implementasi Konsep Kredit Prinsip Koperasi Menurut Koperasi Implementasi konsep prinsip koperasi pada kopdit (credit union) dituangkan dalam Manajemen Profesional Koperasi Kredit yang diterbitkan oleh Induk Koperasi Kredit pada Pebruari 2003. Koperasi Kredit Dikendalikan oleh Anggota Perkembangan serta kegiatan pergerakan kopdit Indonesia selama ini dikendalikan oleh prinsip-prinsip kopdit (Mission Statement) yang diakui secara internasional dan pernyataan misi yang dikembangkan oleh Gerakan Koperasi Kredit Indonesia.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) menghimpun dan menyalurkan kredit dari dan untuk anggota namun yang paling penting adalah bagaimana setiap anggota memperhatikan kepentingan kelompok daripada kepentingan sendiri. Keuntungan yang diraih kopdit digunakan untuk tujuan-tujuan demokratis kesadaran sosial dan pengembangan manusianya.

Kopdit juga memiliki otonomi sendiri kaitannya dengan hukum dan peraturan negara dimana negara mengakui kopdit sebagai suatu koperasi yang melayani dan dijalankan sepenuhnya oleh anggota. Pengurus yang duduk dalam suatu kopdit sifatnya sukarela dan para pengurus yang terpilih seharusnya tidak digaji. Kopdit boleh mengganti biayabiaya sah yang dikeluarkan oleh para pengurus terpilih tersebut. 4). simpanan atau volume bisnis masingmasing anggota. Non Diskriminasi Kopdit tidak membedakan ras.JURNAL VOLUME 4 . jenis kelamin agama maupun politik. yang ingin mengambil manfaat dari layanan yang disediakan kopdit dan bersedia menerima tanggung jawab yang diakibatkannya. Para anggota memiliki hak yang sama dalam pemberian suara dan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kopdit tersebut.AGUSTUS 2009 : 37-61 2). 6). Pengendalian (control) Demokratis Para anggota kopdit memiliki hak suara yang sama dan hak yang sama pula untuk berpartisipasi dalam menentukan keputusan yang berpengaruh terhadap kopdit dimana hak ini tidak tergantung pada jumlah tabungan. 7). 5). kebangsaan. Struktur yang Demokratis Kopdit beroperasi berdasarkan prinsip demokrasi dimana keanggotaan terbuka untuk siapa saja. 3). Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dilakukan secara proporsional ataupun representatif sesuai dengan prinsip koperasi. Distribusi kepada Anggota Dalam rangka mendorong penghematan melalui menabung dan juga agar dapat menyediakan pinjaman serta layanan lainnya maka setiap tabungan dan simpanan diberikan bunga dengan tingkat yang wajar berada dalam batas kemampuan kopdit bersangkutan. Keanggotaan yang Terbuka dan Suka Rela Keanggotaan kopdit bersifat sukarela dan terbuka bagi siapa saja dalam batas ikatan pemersatu sebuah kopdit tersebut. Layanan kepada Anggota Layanan kopdit ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan baik ekonomis maupun sosial para anggotanya. 46 .

8). Membangun Stabilitas Keuangan Salah satu aspek utama dari kopdit adalah membangun kekuatan finansial termasuk pengadaan cadangan keuangan dan pengendalian internal yang memadai agar layanan anggota bisa terjamin keanggotaannya. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode survey. Sisa tersebut adalah hak semua anggota. Kelebihan itu bisa dibagikan kepada anggota dalam bentuk bunga atau laba sesuai jumlah transaksi yang mereka lakukan dengan kopdit bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan tambahan yang dibutuhkan anggota. Tujuan Sosial Kopdit harus secara aktif mempromosikan pendidikan kepada anggotanya dan kerjasama dengan organisasi lain demi kepentingan bersama.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Jika ada laba yang tersisa dari hasil kegiatan kopdit setelah dikurangi dana cadangan dan membayar deviden terbatas atas modal sendiri sesuai ketentuan. Pendidikan yang berkelanjutan Kopdit harus secara aktif menyelanggarakan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ekonomi. demokrasi. Data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dan data primer. III. 47 . kemandirian dari koperasi tersebut dalam melayani kebutuhan anggota. METODE KAJIAN 3. managemen keuangan.1. sosial. perkoperasian. 2. 10). managemen koperasi. Dimana tidak boleh ada anggota yang mendapat keuntungan lebih sementara anggota lain ada yang rugi. 9).4 Peubah dan Indikator Kajian Untuk mencapai tujuan umum pada kajian ini diidentifikasi indikator yang diasumsikan mampu menjelaskan inplementasi pelaksanaan prinsip-prinsip koperasi pada kedua sasaran kajian yang akan dibedakan dalam kajian ini. Ketujuh prinsip tersebut dijadikan variabel dan dari variabel diidentifikasi indikatornya seperti pada Tabel 1.

Teknik penarikan sampel KSP dan kopdit dilakukan secara purposive dengan ciri ciri KSP dan kopdit aktif melakukan usaha simpan pinjam 4).JURNAL VOLUME 4 . Responden masing koperasi 3 orang (1 orang pengurus/ managemen dan dua orang anggota).AGUSTUS 2009 : 37-61 ������������ ������������� ����� ������������������ � ������������������ ���������� � �������������������� � ������������������������ ������������� � ����������������� � ������������������ ����������� � ����������������� � �������������������� ����������������� ����������������������� �������������� � �������������� � ���������� � ����������� � ���������� � ��������� � ���������� � ������ � �������������� � ������������������� � � � � � � � � ��������������������� ��������������� ���������������������������� ����������������������� ���������������������� ��������� ���������������������� ������������ ����������������� �������������������� ��������������������� ��������� �������������� ���������������� ��������������������������� ������� Gambar 1. Teknik penarik lokasi sampel dalam kajian ini dilakukan dengan metode purposive dengan ciri di kab/kodya yang bersangkutan terdapat KSP/USP dan kopdit yang sudah berjalan selama 5 tahun dan koperasi tersebut aktif 3). Skema Identifikasi Prinsip & Peubah Kajian 3. Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantatif . 48 . Lokasi kajian ini dilakukan di 4 (empat) provinsi: Sumatera Utara. Teknik Penetapan Sampel 1). Populasi dalam kajian ini adalah semua KSP dan kopdit yang ada di kabupaten lokasi kajian 2). Jumlah sampel koperasi masing-masing kabupaten 2 KSP dan 2 kopdit. 3.3. Jawa Barat. Teknik Analisis Data 1).2. Jawa Timur. dan Bali 5).

-. Total modal ini 10 kali lipat lebih besar dari total modal KSP. Jika dilihat dari jumlah anggota maka perbandingan jumlah anggota kopdit 4 kali lipat lebih besar dari jumlah anggota KSP.795. (2) Jumlah nasabah. 34.805.750.757. Jumlah skoring masing-masing KSP/kopdit itulah yang menjadi pembeda antara KSP dengan kopdit.761 dan jumlah modal terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 222. Jumlah ini jika dibagi dengan banyaknya anggota maka rata-rata anggota memiliki modal sebanyak Rp.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). IV.386 dan jumlah anggota terkecil terdapat di Jawa Barat.1 Profil Responden KSP dan Kopdit Profil KSP dan kopdit dilihat dari (1) Jumlah anggota. (4) Total asset dan (5) SHU.323. (3) Total Modal yang terdiri dari Modal sendiri dan modal luar. dijelaskan pada tabel 1 (lampiran 1). 7. HASIL KAJIAN 4.261.695..039 atau empat kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Jumlah anggota kopdit terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak 16. Sedangkan jumlah anggota 8 unit kopdit responden jauh lebih besar dibanding dengan jumlah anggota KSP yaitu sebanyak 7. Hasil kajian menjelaskan bahwa jumlah rata-rata anggota pada 8 unit KSP responden sebanyak 1684 orang.013.612. Jumlah nasabah yang dilayani pada KSP kurang jelas sedangkan jumlah nasabah di kopdit otomatis sama dengan jumlah anggotanya karena prinsip kopdit adalah melayani anggota. Total modal ini berasal dari anggota dan disalurkan untuk anggota. Mengapa jumlah anggota kopdit jauh lebih besar dari jumlah anggota KSP. Jumlah anggota terendah terdapat di Bali dan Jumlah anggota tertinggi terdapat di Jawa Barat. Total modal rata-rata kopdit sebanyak Rp. Kondisi ini menjelaskan bahwa modal kopdit berasal dari anggota dan dikembangkan untuk anggota. Total modal rata-rata terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak Rp. 49 .-.993. Temuan di lapang menunjukkan bahwa kopdit berusaha melayani anggota sebaik mungkin karena kopdit menumbuhkan dan mengembangkan modal dari anggota sedangkan KSP disinyalir melayani non anggota. Total modal rata-rata 8 orang responden KSP sebanyak Rp. Analisis kualitatif dilakukan melalui teknik pembobotan dan skoring. 2. 166.25.679. 3). 2008). Data sekunder profil KSP dan kopdit di tingkat kab/kota diolah dengan analisis pengujian varian satu jalur (one way anova) Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan (DuwiPryanto. Skor masing-masing koperasi dijumlah dan dibagi 100.071.017.

. 2. orang . 4...871. Variabel Kajian (Prinsip) Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Indikator/Kegiatan yang harus dilakukan KSP/kopdit KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota Anggota bebas masuk dan keluar..... 3.679. 3.Calon anggota:. 10 6... 25 4....Anggota tetap: . 3... 1... 358.337 dan modal luar Rp 358. KSP& kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kpd anggota KSP/kopdit diaudit auditor independen KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas.458.. Anggota melaksanakan pengawasan Anggota aktif dalam memecahkan masalah. 2. 2. Otonomi dan Kemandirian 1. 2. Anggota berperan aktif dalam RAT.. 1. 50 2 .. 1... Skor (0-100) Nilai (BxS)i 2.JURNAL VOLUME 4 ...670.... Pengendalian oleh Anggota Secara demokratis Partisipasi Ekonomi Anggota 20 3. Penyerapan tenaga kerja. orang KSP/kopdit melaksanakan Rencana Kerja dan RAPB. 2. 3.... dan karyawan Kerjasama usaha secara horizontal. 1... Pendidikan dan Pelatihan 1. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan Diklat bagi anggota. 407. 2...AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 1.. dari lingkungan Kerjasama Koperasi dengan organisasi kemasyarakatan.....078. dan jumlah modal yang berasal dari pemerintah sebesar Rp. Kerjasama diantara koperasi Kepedulian terhadap komunitas 1... Anggota melunasi simpanan pokok Anggota aktif menyetor s wajib & s rela Anggota ikut dalam pengambilan keputusan Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. 3. 5.. 2.... 2..458..... 7. Jumlah Bobot (0-100) 10 Koperasi 1. 4.. dan solvabilitas KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan..sedangkan modal kopdit hanya modal sendiri dan modal ini semuanya berasal dari anggota...koperas Jumlah anggota yang dilayanai: : .25 dan modal luar Rp. 4. No. Interlending keuangan Ketaatan Koperasi membayar pajak. 10 10 100 Nilai Akhir = ( BXS ) 100 Struktur modal sendiri KSP rata-rata Rp..447..625. 15 5.. Kerjasama usaha secara vertikal.25.. Variabel dan Indikator Analisis Komparatif Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit Koperasi :. 3.

7 kali lipat jauh lebih besar.346. hasil analisis one way anova pada Tabel 2.5 904.573.104.781.253.87 Rata-rataa 566.127).169.670 c 0.977.752.8 Sig.433.959.395.474.59 KSP SDb 920.369.728.terbesar terdapat pada KSP di provinsi Bali sebesar Rp 5.023. 1.50.001c 0.142.980.259.408.625.970. bahwa kopdit dan KSP berbeda secara signifikan dalam kriteria Jumlah Anggota.25 15.06 1.8 500.814.06 2.381.9 31.38 730.0 Sig.627.09 2.119.034.105.388.3 105.282.027 c Sum Uta-ra Tabel Keterangan: 3.787.345.865.471.249.000.241. 0. berbeda secara Variabel a b a SD Rata-rata SDb Rata-rata signifikan jika 5.007 c 0.930.734.5 2.294.544.327.986.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Total asset rata-rata KSP Rp.768. Total rata-rata SHU sebesar Rp.012.386.044.245.024.40 23. = 0.0 58.503.016 c 0.8 Jumlah Anggota 905.75.865.549.704.457.953.976.5 30.020. < 0.711.82 260.13 45.392.7 30.30 1.127 c 0. menjelaskan.460.983.00 Sig.001c 0.323c 0.2 293.3 2.005.000.5 857.022.990.717.154.7 1.0 99.941.335.055c 0.625.000 c 0.340. Rata-rata dari data yang ada b.169. Standar Deviasi (Simpangan Baku) Kopdit KSP Prop c.89 SDb 2.121. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).2 9.887.000c 0.456. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi a.3 269.9 6.4 81.237.338. 145.297.2 1.67 11.50 atau 10.877.6 524.8 175.3 892. Dimana kopdit memiliki nilai lebih besar dalam kriteria-kriteria tersebut dibandingkan dengan KSP sedangkan dalam kriteria Total Aset tidak berbeda secara signifikan antara kopdit dengan KSP (Sig.461. < 0.2 40.670.054.5 205.236.807.112.009.5 3.174.532.05).397.340.666.562.63 919.3 201.819593.3 229.73 407.124c 0.330.416.05 (Taraf nyata 5%) Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota 19. Dari indikator-indikator profil koperasi dan kopdit di atas ternyata nilai indikator kopdit jauh lebih baik dibanding dengan KSP.124.723.36 410.005 c 0.307.5 276.841c 0.366.664.3 361. 0.1 .3 635.090.254.29 1.5 4. Modal Sendiri. 4.518.272. Modal Luar.842.75 68.996.148.003 c Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri 51 110.859.471.691.179.6 800. Deskripsi Data Kopdit dan KSP 5 Provinsi Variabel Jumlah Anggota M Sendiri M Luar M Pemtah Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 2.875.566..0 993.596.5 560.8 274.085 c 0.95 3.7 258.880.7 1.880.0 74.679.00 1.656.016 c 0.2 Profil KSP dan Kopdit Tingkat Kabupaten/Kota Memperkuat hasil diskriftip diatas.524.144.075.153.938.683.404..234.43 23. Modal Pemerintah dan SHU (Sig.151.898.0 13.950 dibanding dengan total asset kopdit ternyata total asset kopdit jauh lebih besar yaitu sebesar Rp 25.829.904.705.412.jauh lebih kecil dibanding dengan SHU kopdit sebesar Rp.64 776.857.943.sedangkan total asset terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 370.516.496.50 220. Tabel 2.-.228.118. 2.0 350.876.871.186.

472.188.2 2.032.198.001 c 0.8 19. Standar Deviasi (Simpangan Baku) C.7 22.169.259.736.841c 0.404.JURNAL VOLUME 4 .7 33.000.387.0 29.323.1 58.8 379.7 SDb Rata-rataa 350.3 201.034.457.169.392.432.000.044.327.0 183.044.496.562.7 1.904.5 560.588.8 4.986.959.2 1.5 904.338.930.383.859.898.148.679.846.340.3 229.055c 0.2 40.1 31. total aset.245.183. Namun untuk kriteria total aset.003 c 0.5 205.573.282.2 38.442.179.2 3.0 293.346.133.625.8 50.880.537. kopdit memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP. modal sendiri dan SHU.3 892.772.4 1.048 c 0. Dimana untuk kriteria jumlah anggota.8 274.366.3 269.381.237.053.711.8 175.561.2 639.7 258.656.625.234.983. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).0 51.568.728.001c 0.911.722.723.814.3 635. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi Prop Variabel Jumlah Anggota SumUtara Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota Jawa Barat Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota KalBarat Modal Sendiri Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 5.265 c 0.005 c 0.104.139 c 0.005.151.5 3.950.000 c 0.254.054.095. dimana SHU kopdit lebih rendah dibandingkan dengan SHU KSP (Tabel 2).941.694. dan SHU.5 276. berbeda secara signifikan jika Sig.461.9 31.0 13.119.6 800.829.5 268.729.419.0 1.3 2.920.691.253.5 205.000c 0.912.011 c Keterangan: a. KSP lebih tinggi dibandingkan dengan kopdit (Tabel 2).664.2 9.118. Rata-rata dari data yang ada b.241.416.000.807.8 905.495.2 163.876.704.5 575.670 c 0.124c 0.503.003.900.007 c 0.448.4 33.516.7 54.904. Diantara 5 kriteria antara kopdit dan KSP yang dianalisis pada provinsi Jawa Barat tampak berbeda secara signifikan hanya SHU. 0.0 187. Tabel 3.076.0 110.186. Terdapat 4 kriteria antara kopdit dan KSP yang berbeda secara signifikan di provinsi Bali yaitu jumlah anggota.154.4 2.3 361.3 105.0 74.050.5 500.0 99.4 81.579.7 1.762.218.086.710. < 0.085 c 0.0 30.787.5 6.144.6 KSP SDb Sig.345.2 370. modal sendiri.971.272.970.865.7 197.05 (Taraf nyata 5%) 52 .136.887.000. dimana untuk kedua kriteria tersebut kopdit memperlihatkan nilai yang lebih besar.236.1 128.313.294.5 857.105.637.323c 0.121.518.532.627.5 12.0 279.AGUSTUS 2009 : 37-61 Pada tabel 3 menjelaskan bahwa kriteria antara kopdit dan KSP berbeda secara signifikan di provinsi Sumatera Utara adalah Jumlah Anggota dan SHU.0 2.0 993.9 30.013.6 524.388.880.286.004 c 0.

7 1.920.505 (Constant) Modal Luar 0.472.591 Sig. 0.011 c Tabel 5 menunjukan analisis regresi parsial dengan peubah bebas modal sendiri yang berpengaruh secara signifikan terhadap SHU (Sig.859.000 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.387.0 197.121.7 175.000). Tabel 5.404.876 0.986. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Tabel 4.000.625.2 memperlihatkan bahwa jumlah anggota berpengaruh secara signifikan Total Aset 29.46 2.432.2 229. Analisis Regresi denganterhadap Bebas(Sig.448.169.876 0. Modal Sendiri 0.5 904.900.537.814.723.241.722.346.3 58.332 4.561. modal sendiri.736.941.2 1.2 40.59 Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.388.345.1 Jumlah Anggota Modal Sendiri 635.904.034.401 0.4 74.003).085 c 0.841c 0.625.392. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Total Aset 0.000.588.784 3.442.0 SHU 163.000).503.245.7 2.327.5 370.011 0.340.118.566 0.323.637.532. =Aset Adjustedyang terjadi bersifat positif.2 31.218.286.151.003 c 0.8 269.2 524.0 Total Aset 361. Modal Luar 0.4 terhadap SHU (Sig.911.5 0.6 maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.007 c 0.0 110.133.3 201.865. 38.144.104.535 0.7 258.9 Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Kopdit dan KSP di provinsi Kalimantan Barat berbeda secara 1.253.535 0. semakin besar modal maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.0 signifikan dalam 3 kriteria.134 2.772.011 Tabel 6.001 c 0.383. yaitu jumlah anggota.198.234.670 c 0.573.73 53 Tabel 8.004 c 0.254. (Constant) 2.179.313.623 0. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Beta t Sig.8 268.971.136.366.5 105.8 274. = 0. Pengaruh Tabel 6.656.3 31.003 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.053.876.0 12.259.743 0.728. Beta t Tabel 7.294.3 9.691.784 0.076.086.419.013.186.3 892.8 2. dan Modal Luar 575.495.007 Analisis 0.003.762. hasil analisis regresi 205.001 0.7 parsial 33.188.315 t 2.7 51.338.315 (Constant) Total Aset 0.710.3 560.0 54.75 T -0. Analisis Dependent Variable: SHU Regresi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah .332 Tabel 7.1 Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) SHU 13.7 279.912.704.5 857.185 (Constant) Modal Sendiri t Sig.000 T -0. (Constant) Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar 0.0 22.0 993.000 3.003 SHU yang diperoleh akan semakin tinggi (Tabel 6).148.032.185 Sig.2 379.007 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0. R Square = 0. dimana semakin besar jumlah anggota SHU 639. Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar Beta T Sig.095.5 276.930.236.169.048 c 0. Tabel 4.46 regresi parsial memperlihatkan bahwa modal sendiri 3 Dependent Variable: SHU berpengaruh secara signifikan Peubah SHU Total 0.SHU Jumlah Anggota Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar 3. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Beta (Constant) Jumlah Anggota Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0. Dimana untuk kesemua kriteria tersebut kopdit memiliki nilai Aset 1. 0.0 81.5 yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.183.044.59 3. 0.134 Tabel 5.1 183.568.0 33.787.6 800.807.457.679. dimana pengaruh yang terjadi bersifat positif.579.3 99.401 Sig. dimana semakin besar modal sendiri.73 4.7 1.580 6. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Tabel 6.139 c 0.044.743 -0.2 50.265 c 0.000 c 0.898.6 30.664.983. (Constant) Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri 1.829.562.050. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Tabel 5.950.4 TotalSHU.8 Kal BarAt Lebih lanjut pada Tabel 4.0 128.694.005.055c 0.904.729.846.623 Sig.005 c 0. = 0.518.5 205.548 0.4 187. 1.

Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri t Sig. Analisis Regresi dengan peubah3.356 89.623 0. dimana jika terjadi kenaikan satu rupiah Adjusted R Square =SHU 0.401 Modal luar0. AnalisisProvinsi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Regresi No KSP Implementasi Prinsip-Prinsip Koperasi Tabel 9.356 Kopdit pada Variable: SHU skor 73. bebas (Constant)Analisis Regresi dengan peubah 0.73 4.332 0.784 0.623 Modal luar 0.401 Total Aset Sig.94 4 4 54 4 .000 (Constant) 0. Bali dan 0.3 0.007 t Sig.505 Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.332 0.94 Rupiah (Tabel 8).46 2.000 0.784 0. = 0. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Rata-Rata 73.080 0.55 90 45 82.743 Modal pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan Tabel 8. Bebas t juga berpengaruhBeta secara signifikan terhadap SHU (Sig.94 dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Beta T Sig.94. Jawa Barat. = 0.94 Rata-Rata adalah nilai KSP KSP sebesar 89. Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.6 prinsip koperasi lebih lemah dibanding dengan kopdit.464 0. Modalperolehan SHU sebesar 0.73 Tabel 5.011 T Sig.55 90 masing nilai per provinsi dijelaskan sebagai berikut: 4 Kalimantan Barat 45 82.59 Tabel 6.854 Nilai Skor Prinsip Koperasi Tabel 8.007 (Constant) 2. Analisis Regresi dengan Peubah3.46 Tabel 6. Modal Luar 0.6 79.854 bahwa KSP80 dalam mengimplementasi prinsip Adjusted R 2 Jawa Barat 84 93.73 terhadap perolehan SHU seperti yang parsial diatas (Sig.080 Modal luar 0.AGUSTUS 2009 : 37-61 Adjusted R Square = 0. 4. Tabel 7. Analisis Total Aset 0. 4 Provinsi Sumut Jawa Barat Bali Kalimantan Barat Rata-Rata Nilai Skor Prinsip Koperasi KSP Kopdit 80 90 84 93. 0.59 Tabel 7. Rincian masing3.94 73. Analisis Regresi 0.94 6.73 Rupiah (Tabel 7).003 (Constant) -0.001 Tabel 9. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian No 1 2 3.743 -0.94 Barat No Kalimantan menjelaskan bahwa nilai Nilai Skor Prinsip Koperasi 0. Bali 79.003 bebas Adjusted R Square = 0.011 Dependent Variable: SHU Regresi dengan peubah bebas Modal luar Tabel 7.6 pada 3.464 82.001 Tabel 8.505 R Square = pemerintah akan meningkatkan perolehan SHU sebesar Beta t Sig.003 luar modal 0. 2.535 0.464 0.000 Dependent Variable: SHU 0.Adjusted R Square = 0.94 Kopdit 1 Sumut 80 90 Tabel 9. Analisis Regresi dengan Peubahdiperlihatkan Analisis regresi Bebas Modal Pemerintah Modal Luar 4. Adjusted R Square = 0.134 0. Nilai Skor Adjusted R Square = 0.784 0.080 dan kopdit Bali Kalimantan 4 45 6. adalah Sumut 90 89.356 89.134 dimana Adjusted R Square = 0.59 3. Square = 0.535 2. Total Aset 0.001 Modal Pemerintah Provinsi Barat skor penerapan prinsip-prinsip koperasi 0.505Beta (Constant) 2.55 90 (Constant) di provinsi Sumatera Utara. Sendiri 0.315 Dependent Variable: Adjustedmodal dari0.623 0. Dependent Variable: SHU (Constant) -0.939 Tabel 8.332 Tabel 6.94 Tabel 9. bebas Modal Luar Analisis Regresi dengan peubah4.939 Dependent Variable: Modal Pemerintah SHU 0.939 0. 2 Hasil kajian implementasi prinsip-prinsip koperasiSig.94 dan kopdit 73. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Dependent Variable: SHU JURNAL VOLUME 4 .854 Beta t Sig.185 Dependent Variable: SHU T Sig.876 Sig.356 DependentKSP dan kopdit 1Artinya. Tabel 7. Analisis Regresi dengan Peubah BebasModal Pemerintah Modal Pemerintah 6. Dependent Variable: SHU (Constant) jika terjadi kenaikan satu rupiah modal luar akan meningkatkan 1. 79.876 0.743 Adjusted R Square = 0.001).315Beta t Sig.185Beta (Constant) Modal Sendiri 0.000). KSP Nilai SkorBarat Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Beta Jawa 84 t 93.011 Analisis regresi parsial memperlihatkan bahwa 0.185 (Constant) Total Aset Beta t 1.315 Beta (Constant) Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset 0.401 0.

(2) Anggota berperan aktif dalam RAT. (d) Dijamin dan didukung oleh anggota kelompok yang aktif dalam satu lingkungan. Namun dalam implementasinya antara KSP dan kopdit terdapat perbedaan. (b) Umur calon anggota pada saat mendaftar tidak lebih dari 45 tahun. RAPB ini biasanya di jelaskan pada Rapat anggota untuk mendapat pengesahan dari anggota. dan setelah menjadi anggota. (b) Berdomisili di wilyah kerja KSP. (c) Mampu membayar pinjaman. Dilihat dari perkembangan jumlah anggota ternyata perkembangan jumlah anggota KSP jauh lebih sedikit dibanding dengan jumlah anggota kopdit. SMA. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara KSP dan kopdit. (c) Tidak dalam status pelajar (SD. (c) Membayar simpanan pokok dan wajib. 55 . Pendidikan menjadi alat atau metode bagi kopdit untuk membangun motivasi dan mememlihara partisipasi anggota. Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Pada umumnya KSP dan kopdit menentukan persyaratan terhadap anggota. Hasil kajian menunjukkan bahwa semua responden (8 unit KSP dan 8 unit kopdit) membuat RAPB setiap tahun. Kegiatan seperti ini tentunya sangat baik dilakukan oleh KSP agar anggota dapat mengetahui apa yang akan dan dilakukan oleh koperasi. atau sederajat). (e) Mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan tidak mempunyai usaha yang bersaing dengan kopdit. 2). Pengendalian oleh Anggota Secara Demokratis Dalam variabel ini indikator yang dikaji adalah (1) KSP/ kopdit melaksanakan rencana RAPB. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) KSP mensyaratkan keanggotaan bersifat umum seperti: (a) Warga negara Indonesia. (3) Anggota aktif dalam memecahkan masalah. Sedangkan (2) Kopdit mensyaratkan keanggotaan sebagai berikut: (a) Mengikuti pendidikan calon anggota yang dilaksanakan dalam waktu lima kali pertemuan.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jumlah anggota kopdit 4 kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kopdit berusaha mencari dan menerima anggota dengan ciri atau kualitas serta membangun anggotanya melalui pendidikan. Dalam rencana tersebut dijelaskan apa saja yang akan dilaksanakan selama setahun berjalan. Yang berbeda adalah materi karena masing-masing responden (koperasi mempunya rencana masing-masing). Suatu kelebihan kopdit adalah mengadakan pendidikan terhadap anggotanya dari awal masuk. SMP.

Bali... KSP/kopdit diaudit auditor independen 4... Ketaatan koperasi membayar pajak 2.. KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota 3.5 4994 5 2250 3000 6 7 330 3660 3000 29343 293. Anggota aktif menyetor wajib dan sukarela Otonomi dan 1..... diantara 1. Nilai Skor KSPKSP dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Tabel 10. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan 2.. penyebabnya adalah karena pada kopdit kegiatan pendidikan itu dilaksanakan secara rutin sehingga informasi mengenai kegiatan 56 5 ...Anggota tetap : ..... KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota dan terbuka 2....14 Pada indikator kedua variabel ini ukuran keaktifan anggota dalam RAT dilihat dari seberapa banyak anggota hadir dalam RAT....... Jumlah anggota yang dilayani . Bali. Kerjasama usaha secara horizontal 2.. KSP/kopdit melaksanakan rencana kerja dan anggota secara RAPB demokratis 2.. org Pengendalian oleh 1. Hasil kajian menunjukkan bawa jumlah anggota yang hadir setiap RAT pada KSP antra 51 sampai dengan 80% sedangkan pada kopdit antara 51 sampai dengan 90%.. KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas Pendidikan pelatihan Kerjasama koperasi Kepedulian komunitas dan 1.5 89... Interlending keuangan terhadap 1. Jabar. Penyerapan tenaga kerja dari lingkungan 3. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan diklat bagi anggota karyawan.43 73.. Kalbar) (Sumut.. Anggota berperan aktif dalam RAT 3. Anggota melaksanakan pengawasan 4. org . Jabar... KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri 5......356 4000 35654 356. Mengapa kehadiran anggota pada RAT di KSP lebih sedikit dari anggota yang hadir pada kopdit.. Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan Jumlah Total Nilai Skor Nilai Rata-rata 6750 7000 8625 9000 7387...AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 10. KSP & kopdit membuat perencanaan dan kemandirian melaksanakan 2...Calon anggota : . Anggota melunasi simpanan pokok anggota 2. Anggota aktif dalam memecahkan masalah Partisipasi ekonomi 1.... Kerjasama usaha secara vertikal 3....... Kalbar) No  Variabel Kajian (Prinsip) Indikator/kegiatan yang harus dilakukan KSP/Kopdit Skor KSP 4000 Nilai Skor Kopdit 4000 2 3 4 Keanggotaan sukarela 1...JURNAL VOLUME 4 . Anggota bebas masuk dan keluar koperasi 3. Nilai Skor dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi (Sumut.

Dalam pengambilan keputusan pada KSP peran anggota terakomoder hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pengambilan 57 . Hal seperti itu jarang ditemui pada KSP. Pada kopdit anggota disadarkan pemahamannya bahwa kalau modal itu hanya bersumber dari anggota dan dikembangkan/dipakai untuk anggota sehingga jika anggota tidak aktif membayar simpanan wajib koperasi tidak berkembang. Hasil kajian menjelaskan bahwa pada KSP pembayaran simpanan wajib dilakukan pada saat membayar pinjaman yang langsung ditarik beserta pinjaman ditambah bunga sedangkan pada kopdit simpanan wajib diantar oleh anggota dengan kesadran sendiri karena kopdit memupuk modal dari anggota dan untuk anggota disinilah kelebihan kopdit dibanding dengan KSP. Indikator kedua menunjukkan bahwa anggota aktif menyetor simpanan wajib dan sukarela. Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu dilaksanakan oleh pengurus terhadap anggotanya agar mereka mau dan mampu mengembangkan modal dari anggota. (2) Anggota aktif melunasi simpanan wajib dan sukarela. (3) Anggota ikut dalam pengambilan keputusan dan (4) Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP anggota memberikan saran untuk memecahkan masalah terjadi hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pemberian saran lebih dari sekali setahun karena pada kopdit rapat-rapat atau pertemuan sering dilakukan melalui rapat-rapat kelompok.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) apa saja yang ada di kopdit langsung dikomunikasikan dalam forum pendidikan itu sehingga semua informasi sampai kepada anggota melalui forum pendidikan tersebut. Indikator ketiga yaitu anggota aktif dalam memecahkan masalah dalam koperasi diukur dari seberapa banyak anggota memberi masukan dalam setiap rapat yang diadakan oleh KSP/ kopdit. Dan hasil kajian menunjukkan bahwa pada indikator pertama semua responden baik kopdit maupun KSP anggota KSP dan kopdit wajib melakukan atau membayar simpanan pokok karena simpanan pokok hanya sekali dilakukan pada saat dia menjadi calon anggota sehingga pada indikator ini antara KSP dan kopdit tidak ada perbedaan. 3). Partisipasi Ekonomi Anggota Partisipasi ekonomi anggota diamati melalui: (1) Anggota melunasi simpanan pokok.

Sedangkan kopdit diaudit oleh auditor internal kopdit bersangkutan. KSP responden menyelenggarakan pendidikan terhadap 58 . Pendidikan dan Pelatihan Indikator pendidikan dan pelatihan diamati dari: (1) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap karyawan dan (2) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap anggota. 4). Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata hasil pelaksanaan program pada KSP tercapai diatas 80% sedangkan pada kopdit tercapai hampir 100%. Pada kopdit tidak ada calon anggota dan anggota dididik pada saat masuk dan diikuti perkembangannya selama anggota menjadi anggota koperasi. Pada indikator kedua KSP selain melayani anggota KSP juga melayani calon anggota rata-rata calon anggota pada KSP diatas 14% dari jumlah anggota sedangkan kopdit hanya melayani anggota saja. Otonomi dan Kemandirian Otonomi dan kemandirian pada KSP dan kopdit dilihat dari (1) KSP/kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan. dan ada kopdit yang melebihi pelaksanaan diatas 100%. Semua responden membuat perencanaan dan melaksanakan rencana serta evaluasi sejauhmana hasil antara perencanaan dan pelaksanaan. (4) KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas. menunjukkan bahwa semua responden KSP maupun kopdit melakukan evaluasi kinerja keuangan tentang likuiditas dan solvabilitas. Indikator kelima. Disinilah perbedaan yang terlihat menonjol antara keanggotaan KSP dengan kopdit.AGUSTUS 2009 : 37-61 keputusan itu selain pada RAT juga terjadi pada rapat-rapat kelompok. seperti pada kopdit Satolop di Tapanuli Utara. (3) KSP dan kopdit diaudit auditor independen. Selanjutnya pada indikator keempat hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP dan kopdit transaksi anggota terjadi pada saat meminjam dan mengembalikan pinjaman. Pada indikator ketiga menunjukan bahwa sebagian atau 50% KSP diaudit oleh Lembaga Audit Koperasi dan 50% lainnya diaudit oleh auditor independen. 5).JURNAL VOLUME 4 . (2) KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota.

Kerjasama Diantara Koperasi Indikator penilaian untuk variabel ini: (1) Kerjasama usaha secara horizontal. Pada kopdit pendidikan baik terhadap karyawan maupun anggota wajib dilakukan. Puskopdit tidak mengadakan operasional menandingi kopdit-kopditnya. sedangkan KSP hanya memiliki Petunjuk Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam yang umum. Karena kopdit membangun koperasi dan mengembangkan nya melalui pendidikan. Mengapa kopdit berhasil dan mampu mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. Puskopdit berfungsi dan bertugas untuk melakukan pengaturan pembiayaan bagi kopdit-kopdit yang ada di bawahnya. Artinya bahwa kerjasama horizontal maupun vertikal dan interlending belum dilakukan oleh KSP sedangkan kopdit sudah melakukan kerjasama ini dengan baik. Atas kesadaran ini untuk memudahkan kerjasama kopdit medirikan Pusat Koperasi Kredit yang berada di Tingkat Kabupaten/Kota. Pendidikan pada kopdit diadakan pada saat anggota mendaftar. Demikian juga dengan kopdit. Mengapa kopdit memiliki nilai lebih tinggi dari KSP. Satu pusat kopdit membawahi antara 5-10 kopdit dimasing-masing wilayah kerjanya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kopdit dalam mengelola usaha simpan pinjam mempunyai Standart Operasional Pelaksanaan (SOP). karena jika kopdit mengalami kekurangan dana maka kopdit dapat memenuhi pembiayaan melalui interlending ini. Mempelajari keberhasilan kopdit di kota Denpasar provinsi Bali ada beberapa KSP. (2) Kerjasama usaha secara vertikal dan (3) Interlending keuangan antar koperasi.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) karyawan melalui pendidikan yang diadakan oleh Dinas KUKM yang ada di daerah masing-masing. 59 . Kekuatan kopdit sangat tergantung pada kerjasama ini. KSP telah membentuk Pusat Koperasi KSP untuk melaksanakan interlending keuangan bagi KSP. penyebabnya adalah kopdit menyadari tanpa kerjasama antar sesama kopdit tidak akan kuat untuk melayani anggotanya. 6). Hasil kajian memperlihatkan bahwa kerjasama diantara koperasi menunjukan nilai KSP sebesar 330 sedangkan kopdit sebesar 3360.

14. (b) Berdomisili di wilayah KSP. KSP membayar pajak karena melayani non anggota sedangkan kopdit tidak membayar pajak karena hanya melayani anggota. KSP belum melakukan kerjasama vertikal. Artinya bahwa kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. (4) Prinsip ke tujuh kepedulian terhadap lingkungan dalam hal membayar pajak. KSP belum melakukan pendidikan kepada anggotanya. (b) Mempunyai penghasilan tetap setiap bulan. (c) Kerjasama horizontal. vertikal dan mengadakan interlending keuangan. 60 . Ada perbedaan antara KSP dan kopdit dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip koperasi. (b) Usia maksimal saat pendaftaran 45 tahun.AGUSTUS 2009 : 37-61 7). horizontal dan belum melakukan interlending keuangan. V.1 Kesimpulan Dari penjelasan diatas kesimpulan kajian ini adalah: 1).356 sedangkan kopdit 89. Sedangkan kopdit melakukan pendidikan secara reguler rata-rata 5 kali dalam setahun kepada pengurus. (d) Kewajiban membayar pajak pada prinsip koperasi ke-7. Sedangkan kopdit melakukannya melalui Koordinasi Pusat Kopdit (Puskopdit). Sedangkan kopdit membuat persyaratan anggota untuk mencari anggota yang berkualitas seperti: (a) Dijamin oleh lima orang anggota lama. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kepedulian Terhadap Komunitas Indikator variabel ini adalah: (1) Ketaatan koperasi membayar pajak. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) Prinsip pertama dalam menentukan persyaratan anggota. manajer dan anggota. (b) Pelaksanaan pendidikan pada prinsip koperasi kelima. (2) Penyerapan tenaga kerja dan (3) Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan. (3) Prinsip ke enam dalam melakukan kerja sama secara horizontal. (c) Bersedia mengikuti pendidikan dalam 5 kali pertemuan. Perbedaannya terletak pada: (a) KSP melakukan persayaratan anggota secara umum seperti KTP.JURNAL VOLUME 4 . (2) Prinsip ke lima dalam melaksanakan pendidikan. Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa nilai skor implementasi prinsip koperasi KSP sebanyak 73. vertikal dan pelaksanaan interlending pada prinsip ke-6 dan. Perbedaannya terletak pada: (a) Penetapan persyaratan anggota pada prinsip koperasi pertama.

------------------. PT. Bank Kaum Miskin. DAFTAR PUSTAKA -------------------. (2007). Batu Merah. dan Menengah Republik Indonesia. (1992). LSP2I. KSP perlu melakukan kerja sama secara horizontal. Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan). KSP perlu membangun Pusat KSP ditingkat Kabupaten atau untuk beberapa KSP primer yang berfungsi untuk mengkoordinasikan kepentingan KSP-KSP baik dalam usaha dan keuangan. (2008). 5. �atidiri Koperasi. vertikal dan mengadakan interlending keuangan 4). 61 .Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). Muhammad Yunus. Mandiri Belajar SPSS. (c) Kerjasama antar kopdit merupakan wahana saling membantu antar kopdit dan sumber peningkatan usaha dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota. Jakarta. (d) Kopdit memiliki standar operasional pembinaan yang jelas. KSP perlu membuat Standar Operasinal Pelaksanaan KSP seperti kopdit. Pendidikan pada anggota dan pengelola KSP perlu dilakukan secara teratur dan konsisten 3). International Co-operative Alliance. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil. KSP perlu membuat persyaratan anggota yang lebih teknis operasional sehingga anggota KSP lebih terseleksi pada kualitas. Media Kom. 2). Duwi Pryanto. Penyebab kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi: (a) Anggota adalah pemilik koperasi yang perlu dilayani dengan sebaik-baiknya. Yogyakarta. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Koperasi. Peraturan Pemerintah Nomor � Tahun 1��5 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. 5). (2001). (b) Pendidikan adalah suatu sarana meningkatkan kemampuan dan motivasi berkoperasi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. (2004). ICA Co-operative Identity Statement Prinsip-prinsip Koperasi Untuk Abad Ke-21 Terjemahan Pengantar Ibnoe Soedjono.2 Saran-Saran Dari kesimpulan di atas ada beberapa saran yang diusulkan dalam kajian ini yaitu: 1). Jakarta.

seperti misalnya hasilhasil perkebunan. review akhir �� �uli 200� Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM (tim peneliti) Kasubid. said that enforcement support programme which were done since 2000 it was only 4. Yang dikhawatirkan adalah krisis yang terjadi sekarang berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1997 yang imbasnya tidak mempengaruhi kelangsungan usaha UMKM. peer review 2�� April s.6% from government’s loan.��5% were from own/internal capital. Asdep Urusan.��5% were from among family and neighbour. From the result of this assessment. 11.20% from bank and non-bank loan. program. Sebaliknya masalah besar yang dikhawatirkan timbul dan berdampak luas adalah bertambahnya jumlah penganggur yang secara langsung akan meningkatnya angka kemiskinan.��0% from capital owner/private money lender and the rest 6. This condition still shows the dominant role of private money lenders and capital owner in supporting business survival of micro enterprises. karakteristik UMKM. sumber perkreditan I. Pendahuluan Kondisi perekonomian dunia pada akhir tahun 2007 yang diwarnai oleh gejolak akibat krisi ekonomoni di AS dan Eropa secara langsung berimbas pada perekonomian nasional. Walaupun demikian eksistensi UMKM masih cukup besar karena dampak krisis masih terbatas hanya pada beberapa produk usaha kecil yang berorientasi ekspor. To overcome the problem. Kontribusi kredit.JURNAL VOLUME 4 . the government has done several credit programmes during the last four decades but the effectiveness of those programmes were still asked after up to the end of 200��. 56.63% accessible by micro and small enterprises. Artikel diterima 2�� April 200�. Bisnis dan UKM. Small and Medium Enterprises (MSMEs) (80. tujuan penggunaan. �. Penelitian UKM (tim peneliti) 62 . cautioned that most of Micro. Kejadian tersebut masih *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008.d. 8 �uni 200�. The result of the assessment by The State Ministry of Cooperatives and SMEs in 2006. it was found that capital structure of micro enterprises 15. This condition as a consequence of unparticipated formal credit institutions. Birowo and Lukman Sutrisno (1994).��5%) depended upon nonformal financial resources and private in implementing their business activities.AGUSTUS 2009 : 62-87 KAJIAN KONTRIBUSI KREDIT BANTUAN PERKUATAN DALAM MENDUKUNG PERMODALAN UMKM*) Teuku Syarif**) dan Etty Budhiningsih***) Abstract Sondakh dan Hafiz (1987).

63 .440 Dolar AS per keluarga per tahun. Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 saja pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar Rp 39.54 triliun untuk 214 jenis program yang disalurkan melalui 12 instansi. Berbagai kenyataan di lapang menunjukan bahwa baru sedikit yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan program program nyata. Dari jumlah tersebut 46. Namun demikian kelompok usaha ini menyererap lebih kurang 89 juta tenaga kerja atau identik dengan 96.7% tenaga kerja yang ada dalam dunia usaha. Kementerian Negara Koperasi dan UKM (2008) menginformasikan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah unit usaha UMKM telah mencapai 49. mensinyalir bahwa sebagian besar atau sebanyak 80. Salah satu masalah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah kesulitan UMKM dalam mengembangkan permodalannya. Berbagai isue dan sinyalemen yang berkembang banyak meragukan keseriusan pemerintah untuk memberdayakan UMKM dibidang permodalan.795 juta atau 95. Berbagai hasil penelitian antara lain yang dilakukan oleh Sondakh dan Hafiz (1987).4 triliun disalurkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Karena itu pemberdayaan UMKM sudah menjadi komitmen nasional. Dengan pendapatan sekecil itu mereka masih tergolong kelompok miskin yang berpendapatan kurang dari 1 Dolar AS per orang per hari. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari belum berperannya lembaga-lembaga perkreditan formal Untuk mengatasi masalah permodalan bagi UMKM pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan perkreditan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi sektoral. Dari dana tersebut lebih kurang Rp 3. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sampai sekarang masalah pengembangan modal dikalangan UMKM masih terus mengemuka dan seberapa besar kontribusi program-program pemerintah tersebut dalam mendukung permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil. Sampai sekarang sangat banyak masalah di lingkungan UMKM yang belum terselesaikan terutama yang berhubungan dengan iklim usaha. Keraguan tersebut juga dialamatkan kepada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai oleh banyak pihak lebih terlihat sebagai isue politis ketimbang perhatian pemerintah terhadap nasib UMKM khususnya pengusaha mikro dan kecil. 2% adalah pengusaha mikro.99% dari pelaku bisnis yang ada di Indonesia. atau 99.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) dapat diantisipasi oleh UMKM karena masih cukup banyak kesempatan kerja yang terbuka dilingkungan UMKM.258 juta.75% UMKM dalam melaksanakan kegiatan usahanya masih terikat pada sumber-sumber keuangan non formal. Birowo dan Lukman Sutrisno (1994). Menurut Sutanto (2007) sebagian besar pengusaha mikro terutama yang bergerak di sektor pertanian dan sektor informal memiliki pendapatan bersih kurang dari 1. Dari adanya permasalahan diatas perlu diketahui seberapa besar peranan kredit program-program pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok UMKM khususnya pengusaha mikro yang menjadi bagian terbesar dari UMKM.

TUJUAN DAN MANFAAT Kajian bertujuan untuk ini adalah: 1) Menginventarisir dan mengidentifikasi sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro.AGUSTUS 2009 : 62-87 II. sehingga penyebarannya dikalangan UMKM juga berbeda. Manfaat kajian adalah mendapatkan gambaran kongkrit tentang struktur permodalan usaha mikro dan kontribusi kredit program pemerintah dalam mendukung permodalan usaha mikro. Nasution (1999) mengemukakan adanya indikasi bahwa tujuan. yaitu ketidaksesuaian pendekatan pola dan prosedur lembaga perkrediatn formal dengan karakteristik dari sebagaian besar UMKM. Jika di satu pihak UMKM menghadapi kesulitan mengakses permodalan padahal di pihak yang lain banyak indikasi dan sinyalemen antara lain yang dikemukakan oleh Hutagalung (2007) bahwa dana dari perbankan yang tersimpan pada Bank Indonesia sampai Agustus 2007 mencapai Rp 218 triliun. Kesulitan UMKM untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal menurut Muna (1989) merupakan simptom dari permasalahan yang ada dibelakangnya. Kredit Candak Kulak (KCK).1 Kerangka Konsepsional Belum membaiknya kondisi usaha UMKM karena adanya berbagai kendala yang sejak lama belum terpecahkan.JURNAL VOLUME 4 . 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan usaha mikro. antara lain kesulitan akses terhadap permodalan dan iklim usaha yang belum kondusif. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Kredit Usaha Tani (KUT) dan yang terkhir adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). Kesemua program tersebut pada hakekatnya dilaksanakan secara sektoral melalui berbagai instansi yang terkait. dan pendekatan serta pola pelaksanaan program-program tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Di sini dinyatakan bahwa permasalahannya terletak pada ketidaksinkronan antara aturan pasar uang dengan karakter UMKM. khususnya pengusaha mikro dan pengusaha 64 . Dalam pelaksanaan program-program. Untuk mengatasi masalah kelangkaan modal di kalangan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil pemerintah telah melaksanakan berbagai program perkreditan sejak dari program Bimas. serta ada beberapa diantaranya memang ditujukan untuk mendukung keberhasilan program sektoral. Paradoks masalah antara demand dan suplay uang ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana peranan Bank Indonesia sebagai regulator pasar uang mampu mengalokasikan sumberdaya potensial tersebut secara optimal. III.

Soemardjan. d) Unsur-unsur lain yang tidak terkait dengan kepentingan pemberdayaan UMKM.700. Memang program perkreditan dari pemerintah tidak ditujukan untuk dapat memenuhi semua kebutuhan UMKM. Tetapi dalam pola inipun ada satu faktor penting yang perlu dikaji yaitu mengenai pola perguliran termasuk sistem kelembagaannya. b) Distribusi secara sektoral dan regional. per unit usaha mikro diperlukan tambahan modal sebesar Rp 3. Akar permasalahan yang masih menjadi kendala bagi UMKM adalah kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal terutama perbankan. 65 . bahwa modal yang diperlukan oleh usaha mikro untuk melaksanakan kegiatan usahanya berkisar antara Rp 326.004 triliun. Muna. Oleh sebab itu ada sebagian program yang menggunakan pola perguliran seperti program Kementerian Negara Koperasi dan UKM. lembaga non formal. Dari jumlah modal tersebut diketahui bahwa 12.” Sebagian dari mereka mendapatkan pinjaman dari program pemerintah dalam jumlah terbatas dengan tujuan penggunaan yang umumnya dikaitkan dengan kepentingan pembangunan terutama di sektor pertanian. c) Ketepatan sasaran penyaluran dan. Dengan demikian untuk mengembangkan usahanya..dengan rata-rata sebesar Rp 4.197.81% merupakan modal sendiri dan sisanya berasal dari modal pinjaman. Terkait dengan peranan perbankan dalam mendukung permodalan UMKM. Dengan demikian sangat banyak faktor yang menentukan besar kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan UMKM..913.450.755. Sondakh dan Hafiz (1987) dari hasil penelitian tentang lembaga perkreditan pedesaan mengemukakan bahwa “sebagian besar pengusaha kecil jarang sekali berhubungan dengan bank.sampai dengan Rp 9. jumlah dana yang telah disalurkan pemerintah dari berbagai program pemberdayaan UMKM relatif kecil atau baru lebih kurang 21. Sumber utama permodalan mereka adalah dari perorangan.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) kecil. Dalam hal efektifitas penggunaan dana oleh peminjam disini juga harus diperhatikan apakah pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan produktif atau konsumtif. Total keperluan dana untuk memberdayakan pengusaha mikro yang jumlahnya mencapai 49 juta unit usaha adalah sebesar Rp 184..118. Dengan kata lain mereka yang bermata pencaharian sebagai pengusaha mikro di luar sektor pertanian sangat jarang mendapatkan pinjaman dari bank Hasil kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi dan UKM tahun 2006 menginformasikan. Disamping kecilnya dana yang disalurkan banyak faktor lain yang menjadi kendala bagi UMKM untuk mendapatkan kredit program antara lain untuk: a) Tujuan pendekatan dan pola penyaluran. atau kalangan keluarga dan tetangga.2% dari kebutuhan.-. Dibandingkan dengan besarnya kebutuhan dana untuk UMKM tersebut.306. khususnya pengusaha mikro.

Metoda Penelitian dan Teknik pengambilan Contoh Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan model pengambilan data stratified random sampling. maka yang dimaksud dengan UMKM dalam kajian ini adalah usaha mikro. 9) Prioritas Kegiatan usaha.1.1. Ruang lingkup substansi penelitian adalah sebagai berikut: 1) Inventarisasi dan identifikasi permodalan UKM dan sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha serta kemudahan modal dari kalangan pengusaha mikro.AGUSTUS 2009 : 62-87 3. Metoda Penelitian dan Analisis 4.1. 13) Model Perguliran. 2) Pendekatan program 3) Pola Penyaluran. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di tiga kabupaten contoh yaitu Kalimantan Barat. 6) Pendistribusian Regional. 11)Prioritas Kepentingan.1. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro. Ruang Lingkup Substansi Oleh karena pengusaha mikro merupakan bagian terbesar UMKM.JURNAL VOLUME 4 . Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. 10) Prioritas Daerah. dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. 12) Kelembagaan Perguliran.2. 4) Alokasi dana. Sedangkan analisis untuk penarikan kesimpulan dilakukan dengan model analisis deskriptif dan penggunaan model-model statistik sederhana 66 . 7) Ketepatan Sasaran.2. Stratifikasi didasarkan pada keragaman jumlah dan jenis program perkreditan yang dilaksanakan di daerah contoh.1. 8) Ketepatan Waktu Penyaluran. Ruang lingkup Penelitian 4.2 Kerangka Analisis Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kontribusi kredit program terhadap permodalan UMKM yaitu: 1) Tujuan program.2. 4. RUANG LINGKUP DAN METODA PENELITIAN 4. Kinerja usaha UMKM IV. 4. 14) Kinerja SDM UMKM. 5) Pendistribusian Sektoral.

dengan rata-rata pinjaman Rata-rata sebesar Rp 409.899 6.62 3.297 2.37%.782jumlah UMKM.11 8.93 8. sehingga para pengusaha mikro tidak akan mampu 2.815 37.527.58 9. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS 5.atau 19.94 5.51 4.13 85.74 33.128 16.17 26.143 48.934 Nusa Tenggara Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%) 14. (%) (%) Rp (Rp rb) (%) (Rp rb) Sedangkan rata-rata jumlah modal yang diperlukan oleh pengusaha mikro adalah sebesar Rp 3.128 30. Jumlah Usaha Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman yang diperlukan oleh mereka yaitu sebesar Rp 3.028 14.41 19.002 21.7 754.527 Persen (%) 19.26 100.6% 73.378 Tabel 2 . Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Sumber Modal Sumatera Barat Nilai Persen Rp rb % 34.00 568 245 520 2.3 811.297 100 11.000.11 4. Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Sumatera Barat No Sumber Modal Dari tabel 1 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : Kalimantan Nusa Tenggara 1) Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.848 24.51 12.927 tersebut5.08% dari modal yang dibutuhkan. 2.60 9.96 5.89 0.68 26.62 35.28 13.Data 27.01 7.46 8.1 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Mikro Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan sumber-sumber pinjaman usaha mikro dan serta besar kontribusi kredit program terhadap permodalan kelompok usaha mikro.45 19.600 1.14 26.00 Tda 5.947 5.20 53.00 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 426 358 310 1.739 100 69.30 73.927 8..978 8.49 5.20 10.834 23.64 4.26 65.17 100.00 7.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) V.8 10.34 100.000 atau 53.48 83. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Rata-rata Nilai (Rp rb) 833 409 325 1.312 Per sen (%) Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Barat Rata-rata usaha mikro yangBarat menggunakan modal sendiri Nilai di ketiga propinsi contoh relatif rendah yaitu Persen sebesar Persen Nilai Persen Nilai Persen (Rp rb) (%) 833.24 awal.31 program pemerintah masih sangat kurang yaitu rata-rata baru Jumlah 61.07 4.80 67 .68 106.238 127.527.47  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah 823.08 11.00 No  2 3 4 5 1. Kemeneg KUKM Instansi Sektoral No Propinsi Jumlah UMKM (ribu) UMKM (rb unit) 36.per orang.545 Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari 31.1 Sumber-sumber Permodalan UMKM 5.49 16.882.229 3.92 234.. Jumlah ini juga sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan tambahan modal Tabel 3.807 20.928 4.261 32.83 10.44 6. Tabel 1.28 22.114 586 Lainnya Jumlah 3.697 301 2...200 2.365 Persen (%) 4.11 19.64 11.166 2)  2 3 4 5 6 24.8 2.1.00 Tabel 1.141 Modal Sdri 461 Kred Prog 396 Perbankan Pelepas Uang 1.69 4.805 27.984 42.389.75 100.56 57.392 4.000.33 UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46. dari Kredit Program Kontribusi kredit program relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata pinjaman dari para pelepas uang yang Kredit Program Dari Kredit dari Jumlah Prediksi mencapai rata-rata Rp 1.884 753 3.59 5.00 11.000.538 7.95 berusaha tanpa adanya pinjaman modal.290 100 dari 100 69.853 mengindikasikan rendahnya pemilikan modal 7.27 2.99 37.05 4.000.882 2388 3.46 16.15 18.63 10.37 6.

atau hanya 27. Sumber-sumber permodalan lainnya bagi kelompok pengusaha mikro adalah dari kalangan keluarga dan tetangga sebesar 6. sedangkan dari perorangan dan lembaga perkreditan non formal termasuk rentenir adalah sebesar 53.37%.1. Pinjaman kepada UMKM yang bagian terbesar dari dunia usaha yang ada di Indonesia sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kredit perbankan untuk usaha besar yang pada tahun 2008 mencapai Rp 986 triliun.AGUSTUS 2009 : 62-87 3) Hal tersebut diatas sangat wajar. Meningkatkan proporsi Meningkatkan proporsi pinjaman dari kalangan perbankan karena kelompok usaha ini tidak memiliki kemampuan memenuhi persyaratan lembaga keungan yang menerapkan ketentuan The five C of credit.000.15% dari total modal kerja yang digunakan.542 milyar belum sebanding dengan apa yang seharusnya diberikan oleh pemerintah.47%. mengingat jenis program yang dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintah relatif sangat banyak (mencapai 56 jenis). 4) 5) 5. Sharing pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok usaha mikro sebesar Rp 39. Pinjaman modal dari kalangan perbankan pada kelompok ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha mikro yaitu mencapai 31. Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari bantuan perkuatan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2) 3) 68 .2 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Dari tabel 2 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : 1) Rata-rata modal sendiri usaha kecil di ketiga propinsi contoh relatif masih rendah yaitu hanya sebesar Rp 18. dan alokasi dana yang disediakan relatif kecil-kecil dibandingkan dengan kebutuhan usaha para pengusaha mikro yang jumlahnya sangat banyak (lebih kurang 49 juta unit usaha).75%..61%.JURNAL VOLUME 4 . tetapi proporsi modal sendiri ini sudah lebih baik dibandingkan dengan usaha mikro yang hanya sebesar 23.815.

No

Sumber Modal

Barat Nilai Persen Rp rb %

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb)

Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%)

833 8,46 568 14,51 426 34,28 1.141 Modal Sdri  Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM 409 8,96 245 12,20 358 13,64 461 Kred Prog 2 (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 325 5,30 520 10,56 310 11,74 396 Perbankan 3 4 5

19,08 11,60 9,20 53,37 1.882 73,45 57,83 2.884 1.697 33,00 Pelepas Uang 1.114 6,75 2388 19,17 753 10,26 301 7,34 586 Lainnya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang Jumlah 3.378 100,00 kepada usaha mikro. Hal 100,00 2.934 100,00 3.927 3.527 100,00 diberikan tersebut nampaknya

terkait dengan kecil pagu kredit per peminjam.

Tabel . Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Tabel 2 .2Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil
Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 1.807 20.028 14.166 61.290 Persen (%) 30,00 8,01 3,24 2,95 32,68 23,11 100 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 11.927 5.853 6.229 4.200 26.128 19.545 73.782 Persen (%) 16,17 7,93 8,44 5,69 35,41 26,49 100 Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) 26.128 4.538 2.978 Tda 19.261 16.834 69.739 Persen (%) 37,46 6,51 4,27 0,00 27,62 24,14 100 Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.815 4.899 4.928 2.002 21.805 16.848 69.297 Persen (%) 27,15 7,07 7,11 2,89 31,47 24,31 100 

2 3 4 5 6

Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Jumlah Rata-rata

4) Mikro dan pinjaman Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Usaha Kontribusi Usaha Kecildari perseorangan dan lembagadari Kredit Program lembaga kredit non formal. Kondisi ini mungkin dapat

No 

2 Kalbar 3 5.2 NTB Jumlah Jumlah 5.2.1 Rata-rata

dihubungkan dengan semakin baiknya kemampuan SDM Kredit Program Dari Kredit dari dilingkungan pengusaha kecil dalam membangun dan Jumlah Prediksi Kemeneg KUKM bisnis. Instansi Sektoral menjalankan strategi Jumlah Propinsi Per UMKM UMKM Persen UMKM Persen UMKM 5) Rendahnya peran pemerintah daerah dalam membangun sen (ribu) (rb unit) (%) (rb unit) (%) (rb usaha kemampuan permodalan usaha mikro dan unit) kecil, (%) terlihat sedikitnya kontribusi pinjaman modal dari pemerintah daerah untuk kelompok usaha ini. 5,62 83,26 10,11 823,7 36.984 4,49 46,28 Sumbar
4,64 85,92 10,58 811,8 48.238 5,94 37,68 UMKM yang mendapatkan Pinjaman Kredit Program 2.389,8 127.365 5,33 106.947 4,48 234.312 9,80 Jumlah Pengusaha Mikro Yang Mendapat Kredit Program 796,6 42.455 5,33 35.649 4,48 78.104 9,80 754,3 42.143 5,59 22,99 3,05 65,13 8,63

Jumlah usaha mikro dan usaha kecil di ketiga propinsi contoh yang mendapatkan kredit sebanyak 127.365 unit usaha, hanya 5,32% dari jumlah pengusaha mikro yang ada diketiga propinsi contoh sebanyak 2.389.800 unit. Disini terlihat bahwa bahwa kredit program belum banyak memberikan kesempatan bagi usaha mikro untuk mengembangkan permodalannya. Hal tersebut berdampak besar pada kondisi pasar uang ditingkat bawah yang semakin didominansi oleh lembaga kredit non formal dan perorangan, disebabkan oleh: 1). Jumlah dana untuk ketiga daerah contoh relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah usaha mikro yang mencapai 2.389.000 unit usaha

69

Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 2). 1.807 20.028 14.166 61.290 3). Persen (%)

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%) 

2 3 4 5 6

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 62-87
Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya

27,15 18.815 37,46 16,17 26.128 30,00 11.927 7,07 4.899 6,51 4.538 7,93 5.853 8,01 7,11 4.928 4,27 2.978 8,44 6.229 3,24 Distribusi kredit program Tda belum merata dan banyaknya 2,89 2.002 0,00 5,69 4.200 2,95 jenis kredit program menyebabkan adanya21.805 31,47 tumpang tindih 27,62 35,41 19.261 32,68 26.128 diantara 19.545 26,49tersebut 24,31 16.848 24,14 16.834 23,11 kredit-kredit 100 73.782 100 69.297 100 Penyaluran kredit 100 69.739 sektoral membuka peluang terjadinya kesalahan sasaran

Jumlah Rata-rata

Tabel 3. Jumlah Usaha Usaha dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Mikro Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan dari Kredit Kredit Pinjaman dariProgramProgram
Prediksi Jumlah UMKM (ribu) 823,7 754,3 811,8 2.389,8 796,6 Kredit Program Dari Kredit dari Kemeneg KUKM Instansi Sektoral UMKM (rb unit) 36.984 42.143 48.238 127.365 42.455 Persen (%) 4,49 5,59 5,94 5,33 5,33 Jumlah Per sen (%) 10,11 8,63 10,58 9,80 9,80

No

Propinsi

UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46,28 22,99 37,68 106.947 35.649 5,62 3,05 4,64 4,48 4,48 83,26 65,13 85,92 234.312 78.104 

2 3

Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata

Dari ketiga hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk memperbesar jumlah kredit program tidak saja diperlukan penambahan alokasi kredit tetapi yang lebih penting  adalah memperbaiki sistem distribusi dan mengkoordinasikan pemberian bantuan melalui satu lembaga yang secara khusus disesuaikan dengan karakter UMKM 5.2.2 Sumber-sumber Permodalan Pengusaha Mikro Tabel 4 memperlihatkan pinjaman usaha mikro dari perbankan, dan Lembaga Kredit Formal (LKF) dan sumbersumber perkreditan non formal, termasuk perseorangan baik, tetangga kerabat maupun pemilik modal atau pelepas uang. Hal-hal yang dapat dikemukakan dari tabel 4 yaitu: 1) Pelepas uang masih mendominasi sumber pinjaman bagi pengusaha mikro dengan pangsa kredit terhadap permodalan pengusaha mikro mencapai 34,45%. Dapat dikatakan bahwa para money leander ini masih menjadi andalan utama bagi pengusaha mikro dalam mendapatkan modal bagi kelanjutan usahanya. 2) Sebagian pengusaha mikro sudah mampu berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama BPR (10%)

70

Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih)

Pemerintah Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program Pemerintah
Sumatera Barat No Sumber Modal UKM (unit ) 4 5 6 3 18 9 9 6 60 Persen % 6,67 18,33 5,00 10,00 10,00 8,33 20,00 25,00 100,00 Kalimantan Barat UKM Persen (Unit % 2 7 8 9 22 2 6 4 60 3,33 11,67 13,33 23,33 23,33 1,66 15,00 11,66 100,00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 5 6 13 4 22 4 4 2 60 Persen (%) 8,33 15,00 10,00 13,33 31,67 10,00 11,67 8,33 100,00 Rata-rata UKM (unit ) 3,67 6,00 9,00 5,33 20,67 5,00 6,33 4,33 60 Persen (%) 6,11 10,00 15,00 8,88 34,45 8,33 11,67 7,22 100,00

Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program 

2 3 4 5 6 7 8

Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tdk meminjam Jumlah

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

dan bank umum sebanyak 6,11%, tetapi mereka lebih banyak bersandar pada kalangan kerabat (11,67%) 3) Sumber-sumber hanya memiliki kontribusi Tabel 5.Koperasi ternyataPermodalan Usaha Kecil sebesar 8,33% hal ini Kredit Program Pemerintah Diluar mungkin sedikitnya dukungan dari program-program kredit pemerintah yang diperuntukan bagi koperasi
Kalimantan Nusa Tenggara Rata-rata 4) Sumatera7,22% usahaBarat Hanya Barat mikro yang tidak memiliki pinjaman, Barat hal ini UKM mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan Sumber Modal Persen UKM Persen UKM Persen UKM Persen (unit ) mikro masih sangat besar. usaha % (Unit) % (unit ) (%) (unit) (%) Bank umum 1) BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata 11,65 2,33 10,00 2 10,00 2 15,00 3 Dikalangan pengusaha kecil dominansi pinjaman6,00 modal 30,00 dari 30,00 6 35,00 7 25,00 5 6,65 1,33 5,00  5,00  2 pelepas 10,00 mulai berkurang (tinggal 10%), dibandingkan uang 3,33 0.66 5,00  5,00  0,00 0 dengan pengusaha mikro yang mencapai 34,45%. Sumber 10,00 2,00 5,00  15,00 3 pinjaman bagi pengusaha kecil 2 adalah1,00 Bank Perkreditan 13,30 2,66 20,00 4 10,00 2 Rakyat 10,00 dengan pangsa kredit terhadap permodalan (BPR) 2 20,00 4,00 10,00 2 30,00 6 20,00 4 pengusaha kecil mencapai 30%, 2diikuti dengan pinjaman 5,00 1,00 10,00 0,00 0 5,00  dari kalangan kerabat yang mencapai 20%. 100,00 100,00 20 100,00 20 100,00 20 20

No  2 3 4 5 6 7 8

Dari tabel 5 terlihat bahwa:

2) Sample di tiga propinsi contoh Keterangan : Diolah dari data 60Pengusaha kecil sudah lebih

mampu berhubungan dengan bank komersial yang pangsa kreditnya terhadap permodalan usaha kecil mencapai 11,65%. Hal ini diduga karena kalangan usaha kecil lebih mampu dalam hal penyediaan agunan dan mengikuti prosedur bank umum atau bank komersial

71
2

00 Rata-rata UKM (unit) 2.00 1.30% dari jumlah sample.00 5.00 100.00 30.00 25. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Diluar Kredit Program Pemerintah Diluar Kredit Program Pemerintah Kalimantan Barat UKM (Unit) 2 7    2 6 0 20 Persen % 10. Hal ini mungkin disebabkan dana yang diperlukan oleh pengusaha kecil relatif lebih besar dibandingkan dengan pengusaha mikro sehingga koperasi tidak mampu menyediakan pinjaman untuk kelompok 2 ini.00 5.00 0.30 20.00 100.00 20 Persen (%) 11.00 100.00 13.00 4.00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 2 6   2 4 2 2 20 Persen (%) 10.00 10.00 10.00 5.3 UMKM Yang Mendapatkan Pinjaman Program dan Pinjaman Pihak Lain Dari tabel 6 terlihat bahwa jumlah UMKM yang disamping mendapatkan pinjaman dari kredit program juga masih mengambil pinjaman dari tempat lain relatif banyak yaitu untuk usaha mikro 17 unit usaha atau 43.65 30.00 20.33 10.00 Sumatera Barat No  2 3 4 5 6 7 8 Sumber Modal UKM (unit ) 3 5 2 0 3 2 4  20 Persen % 15.00 15.00 10.00 10. 72 .33 60 7. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Tabel 5.00 5.00 6.2.00 0.33 100. hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan usaha kecil juga masih sangat besar.00 100.00 Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh 3) Peran koperasi dalam mendukung permodalan kelompok pengusaha kecil ternyata sangat sedikt (3.00 Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh JURNAL VOLUME 4 .00 1.33 0.00 1.66 2. Oleh sebab itu perlu perhatian yang lebih besar dari para stakeholder terutama pemerintah agar lebih banyak lagi melaksanakan programprogam pemberdayaan permodalan untuk kalangan pengusaha kecil.33 6. 5. 4) Hanya 5% usaha kecil yang tidak memiliki pinjaman.00 100.17% dari jumlah sampel.33%) dibandingkan dengan peran koperasi terhadap permodalan pengusaha mikro yang mencapai 8.65 3.67 unit atau 14.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 5.00 4 60 11.8 Tdk meminjam Jumlah 6 60 25.66 100.66 4.00 35.00 10.00 2 60 8.00 5.33%.00 20.00 5.22 100. Sedangkan untuk usaha kecil lebih sedikit yaitu ratarata 5.00 30.00 2.00 5.

574 1.378.253 28.070 1.57 1. Kontribusi Kredit Program dan Kecukupan 3.59 64. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Tabel 7.62 3.678 31.273 68.09 digunakan 27.168 719 86.772 mencukupi bagi kalangan tersebut untuk mampu memenuhi Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan kebutuhan modalnya Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Kurangnya pembinaan dalam penggunaan dana.50 40 7 17.50 129.85 26.739 69.739 68.18 Modal Kecukupan Modal usaha mikro Tabel 8. 3.18%) (3) (4) (5) (6) (6) 49.401 19.1 Struktur Permodalan.13 1.57 965 1. 3) 3.54 73 3 3 .54 10.015dan usaha 38.068 29.54 pengusaha oleh 60.02 32.865 32.182 42.09 yang 42.620 108.45 86.345 juta relatif(6) hampir sama (93.70 1.620 108.40 40 2 5.3 Struktur Permodalan.205 88.205 88.62 3.39 46.445 24. hanya rata-rata 36.54 68.268 93.96 3.00 42.408 46.782 73.33 Mikro 60 Sample Usaha Tabel 7.168 719 kebutuhan965 pinjaman bagi 1.298 61.59 80.897 mereka hampir mencapai titik optimal.13% yang bersumber dari modal 68.50 129.00 60.39 42.00 40 8 20.021 52.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Tabel 6.90 120 17 42.50 40 7 17.54 dengan kebutuhan modal usaha mikro sehingga skala usaha mikro. serta tidak 98.50 27.51 60.13 1.39 3.268 kecil.487 1.223 31.48 21. 3. 49.70 632 44.93 3.467 3.574 1.85 10.30 40 5.068 29.69 1.015 1.021 52.00 27.451 45.207 36.207 36.48 21. Kontribusi kredit Program dan Dari hasil temuan lapang seperti diperlihatkan pada Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman Modal sendiri Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman tabel 7 dapat dikemukakan lain Pihak beberapa hal sebagai berikut: modal Dari program Modal sendiri Pihak lain modal Dari program Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen tase Nilai Persen Nilai digunakan Nilai tersedia oleh % Persen 1) rb) atau usaha (Rp Rata-rata modal yang % (Rp rb) % Rp rb Persen tase % (7) = 6/2 x 100 (Rp rb) % (Rp rb) % Rp rb (3) (4) (5) (6) (7) = 6/2 x 100 mikro sebesar Rp 3.39 3.30 Sample40 5.00 60.45 sejumlah modal 45.298 73.035 279.45 1.600 35.210 3.487 1.96 3.3.33 40 17. UMKMYang Mendapat Kredit Program Tabel 6.035 279.678 93.69 1.23 11. UMKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain Pinjaman Dari Tempat Lain dan Pinjaman Dari Tempat Lain UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Mikro Usaha Kecil Mikro Usaha Kecil Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase (Unit) (%) sample unit usaha (%) (Unit) (%) sample unit usaha (%) 42.408 80. UMKM Yang Mendapat Kredit Program Tabel 6.90 120 17 42.23 11. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro 1) Jumlah pinjaman yang diterima dari kredit program belum Untuk Usaha Mikro Hal ini mengindikasikan bahwa: Propinsi Propinsi Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal per 2) Modal sebagian pinjaman yang tidak digunakan untukPersentase Ada tujuan sendiri Modal Modal per Persentase UKM (Rp rb) Nilai Persen Kecukupan sendiri Modal rb) tujuan Nilai Persen usaha UKM (Rp rb) (Rpproduktif atau Persen pengembangan tersedianmelainkan Nilai Nilai Persen Kecukupan (Rp rb) % (Rp rb) % (Rp rb) tersedian modal (%) (Rp modal (%) (Rp untuk tujuan lain rb) konsumtif rb) % (Rp atau % digunakanrb) (Rp rb) 3.287 28.782 69.50 43.378.445 31.927 3.65 3.210 3.67 mendapat pinjaman 14.40 32.223 98.02 1.467 3.85 26.342 18.451 27.18 3.54 5. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi Propinsi (1) (1) Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Modal Modal (Rp rb) (Rp rb) (2) (2) 61.287 28.927 10.00 40 8 20.223 adanya perencanaan yang 632 dalam memperhitungkan baik 38.85 10.401 19.70 mikro kalangan usaha 3.17 43.516 2) Dari 39.67 14.273 5.40 32.600 35.223 39.02 1.40 40 2 5.516 21.128 33.772 3.865 21.93 3.070 1.345 93.02 28. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Tabel 8.65 24.345 93.253 42.128 33.182 47.51 64.897 47.70 44.17 dan 30 usaha kecil yang No No Propinsi Propinsi Jumlah Jumlah Sample Sample Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata dari Keterangan : Diolah   2 2 3 3 Keterangan : Diolah dari Program Usaha Mikro dan 30 Sample usaha kecil yang mendapat pinjaman dari Kredit 60 Sample dari Kredit Program 40 17 40 17 40 24 40 24 40  40  120 52 120 52 40 17.45 31.342 18.

927 10.54 93.168 965 3.70 88.207 Persen % 44.445 3. Hal ini seharusnya mendapat perhatian karena biaya hidup sebelum produksi di kalangan UMKM dapat dikelompokan sebagai biaya produksi karena UMKM sebagian besar (79.068 juta (29.015 3.487 1. b) Belum adanya pemikiran untuk menjadikan biaya hidup sebelum produksi sebagai salah satu unsur dalam mengkalkulasi kebutuhan kredit para pengusaha mikro. 68.45 31. 4) Rendahnya kontribusi pinjaman program pemerintah dalam struktur permodalan pengusaha mikro diduga disebabkan oleh: a) Perencanaan yang bersifat sektoral dan terpusat.39 36.AGUSTUS 2009 : 62-87 pinjaman kredit program sedangkan sisanya berasal dari modal sendiri (rata-rata 29.268 3.070 3) Besarnya pinjaman dari pihak-pihak lain dikhawatirkan akan berdampak pada: a) Mengganggu kelancaran pengembalian kredit program.128 1.205 1.035 3.620 1.467 3. c) Menyebabkan penggunaaan pinjaman sulit diawasi.65 279.57 108. b) Mempertahankan eksistensi para pelepas uang dalam usaha dan kehidupan para pengusaha mikro serta.678 10.13 Pinjaman dari Pihak lain Nilai (Rp jt) 632 1. Tabel 7.2 Struktur permodalan dan Kecukupan Permodalan Usaha Kecil Dari tabel 8 dapat dikemukakan bahwa: 1) Rata-rata modal yang digunakan oleh usaha mikro sebesar Rp.96 93.3.210 1.342 3.JURNAL VOLUME 4 .62%).02 33. 3. 21.93 86.273 juta sedangkan rata-rata modal sendiri yang dimilikinya sebesar Rp.62 Modal tersedia dan Kecukupan modal Persentase Modal Kecukupan tersedian modal (%) (Rp jt) 3. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro Kebutuhaan Modal per UKM (Rp jt) Modal sendiri (Rp jt) Pinjaman kredit Program Nilai (Rp jt) 1.865 juta sehingga untuk 74 .345 98.18 Propinsi Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata 3.378.772 3.068 Persen % 18.223 719 1.84%) menggunakan tenaga kerja keluarga.93%) dan pinjaman dari sumbersumber lain rata-rata-rata sebesar Rp 1.574 1.70 38.85 29.69 24. 5.

273 Modal sendiri Nilai (Rp jt) (3) 11. 2) Skala usaha usaha kecil pada umumnya belum mencapai titik break event point (titik impas) sehingga untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi kalangan usaha ini perlu dibantu dengan memberikan pinjaman agar tercapai break event point yaitu rata-rata sebesar Rp.92%) menjadi rata-rata Rp.408 juta rupiah.408 juta.298 73.51 60. 13. 75 .39 Kebutuhan pinjaman modal Dari program Nilai Persen tase % Rp jt (7) = 6/2 x 100 (6) 49.408 80.85 45.40 35.59 64.4.29 juta. 17.1 Dampak Kredit Program terhadap kondisi dan Kinerja Bisnis UMKM Dari data pada tabel 9 dapat dikemukakan: 1) Rata-rata UMKM contoh tergolong dalam kelompok usaha mikro.253 juta).54 68.865 Persen % (4) 19.021 21. Peningkatan ini merupakan pengaruh langsung dari adanya pinjaman dari program perkuatan.451 28.223 46.4 Dampak Kredit Program 5. dapat ditutupi dengan meminjam dari berbagai pihak terutama para pelepas uang.76 juta.02 Pinjaman dari Pihak lain Persen Nilai (Rp jt) % (6) (5) 32.23 28. dengan rata-rata pemilikan aset sebelum menerima bantuan perkuatan sebesar Rp.600 42. Keperluan ini sebagian (rata-rata Rp. Tabel 8. rata-rata aset UMKM meningkat sebesar Rp.54 3) Dengan meningkatnya skala usaha diharapkan efisiensi produksi akan terjadi dan para pengusaha mikro mendapatkan laba yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan PDB.253 52.48 39. 3.086 juta (25.45 32. 46. 5.401 47. 28.897 26.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) mencapai break event point usahanya diperkirakan masih memerlukan tambahan modal sebesar Rp. 46. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi (1) Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata Modal (Rp juta) (2) 61.09 42.782 69.287 31.516 21.182 27.739 68. 2) Dengan adanya bantuan program perkuatan.

58tahun9.83 3) bertambah 29.50 2.53 14. 47.20 9.72 58.53 Hari 14.29Dari Aspek Volume Usaha dan Laba 51.12 15.48 14.19 bantuan )3.30 12.92 6.41Dari adanya bantuan perkuatan modal UMKM 69.54 dari yaitu 10.05 Rata-rata Jam Kerja Per Hari 13.65 34.49 Selisih 141.81 11.61 4.05 75.68 Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp ) (%) Tabel 11.33 untuk Omset Usaha UMKM yang tahun Rata-rata menutup kebutuhan modal Rata-rata Laba per selama ini sebagian berasal dari pinjaman pihak ketiga.73 175.28 8.05 12.17 jt) 25.76 17.55 13.80 (Jam) 26.71 juta menjadi rata-rata sebesar Rp.82 18.5307.18 36.05 51.03 9.56 2.47 39.09 Selisih 31.68 25.61 Persen 10.80 3.17 25. Dengan perkataan lain peminjam belum mampu menginvestasikan sebagian laba yang diperoleh untuk menambah aset dalam bentuk investasi.45 36.00 8.24  2 3 13.14 30.41 14.35 33.18 5.88 77.27 (Rp Jt) (%) 76 2 Sumbar Kalbar NTB 3 No Propinsi Jumlah Rataan  .38 Persen 47.48 14.54 8.90 (Rp Jt) (%) 12.78 70.45 (Jam) 11.55 9.05 (Jam) (%) 146.66 5.71 10.30 Selisih 19.00 1.24 26.72 (%) 141.21 5.10 11.28 207.25 32.54 8.71 10.61 25.80 7.74 18.28 47.98 11.18 per 9.82 atau11.53 23. 41.73 Sesudah 6.82 8.61 69.66 14.92(%) (Rp 13.18 2.32 0.79 1.79 1.05 Per tahun Sebelum 51.33(%)  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Tabel 9.53 15.18 2.97 58.18 11.60 1.19 32.03 Rata-rata Jam Kerja6.58 9.41 45. Tabel 9.05rata-rata sebesar Rp.80 7.47 39.14 31.17 11.10 Rp Jt (%) Tabel 10.29 25. Hal ini dapat diterangkan dari dua sebab yaitu: a) Para penerima pinjaman sebagian besar sudah mendapatkan pinjaman dari dari pihak ketiga sehingga sebagian laba dipergunakan untuk menutupi pinjaman tersebut.083 55.29 Jt) 25.00 57.41 14.12 Asset Total 18.80 11. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan 20.00 58.82 Sebelum Sesudah Nilai 9.31 25.09 45.14 Sebelum 167.49 13.58 6. Tambahan modal ini relatif belum mencukupi Tabel 11.33%.04 45.41 45. b) Sebagian peminjam lainnya mempersiapkan kelebihan laba yang diperoleh untuk digunakan membayar pinjaman dari program perkuatan walaupun mungkin belum jatuh tempo.83 29.78 Pertambahan 41.84 (%)1.49 Per Rata-rata Peningkatan Produksi18. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuanJt) 9.14 Sebelum 30.04 10.94 59. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima 16.54 7.61 25. Aset.78 70.17 5.JURNAL VOLUME 4 .24 11.81 11.02 18.30 Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Pertambahan 175.94 tahun 16.8 Sebelum Sesudah Nilai Persen 7.78 20.30 Sebelum Sesudah Nilai Persen 10.05 51.88 Sesudah 77.55 11.31 25.05 75.083 55.90 10.98 11.45 12.82 11. Aset.99 8.50 1.10 47. Kinerja UKM Nilai Berbantuan menerima Sesudah Nilai Persen menerima bantuan) dan (Rp Jt) Rp Jt (%) DariVolume UsahaUsahaLaba Aspek Volume (%) dan Laba  Sumbar 2 Kalbar 3 NTB No Propinsi Jumlah Rataan  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Jumlah Propinsi Rataan 59.70 Selisih 31.56 (Rp jt) 2. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) rata-rata sebesar Rp.38 Selisih 25.24 167.61 11.58 9.30 juta 58.15 28. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan Tabel 9.97 Sesudah Nilai 19. 3.24 11.76 Rata-rata Peningkatan Produksi 16.80 18.09 69. Aset.62 15. 6.24 58.AGUSTUS 2009 : 62-87 yang terutama digunakan untuk modal kerja. Kinerja UKM Berbantuan (yang(yangSebelum bantuan) Dari Aspek Sesudah Persen Tabel 10.74 Rata-rata Pertambahan23.55 Selisih 21.25 8.24 juta. jt) Per tahun (Rp jt) (Rp No Propinsi Selisih Selisih Sebelum Tabel 10.04 10. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan No Propinsi Rata-rata Pertambahan Total Asset Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Per tahun Sebelum Sesudah Pertambahan Pertambahan Sebelum Sesudah (Rp jt) (Rp Jt) (%) (%) 18.90 6.02 Rata-rata Omset Usaha18.20 Per (Rp 45.49 13.25 Rata-rata Laba3.99 8.76 57.29 (Rp jt) 17.07 6.

yaitu dari 10.90 juta (19. baik di pasar input (pengadaan bahan baku) maupun di pasar output-nya (pemasaran produknya). 3) Dengan memperhatikan pertambahan omset dan laba. 2) Selain mempengaruhi pertambahan omset usaha.18 juta per tahun. Disamping itu pertambahan modal juga belum mampu meningkatkan bargaining UKM dalam pasar. merupakan derivasi 77 .60 jam.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Dari tabel 10 dapat dikemukakan: 1) Sejalan dengan adanya pertambahan modal. yang memungkinkan terjadinya peningkatan efisiensi produksi. sehingga meningkatnya laba tidak lebih besar dari peningkatan modal.23%. Persentase pertambahan laba ini juga masih lebih kecil dibandingkan dengan persentase pertambahan modal yang mencapai 51.55 jam menjadi 11. Pertambahan ini nampaknya masih lebih kecil dari tambahan modal yang diterima UMKM yang rata-rata mencapai 51.083 juta.99 juta. meningkatnya modal UMKM juga mempengaruhi pertambahan laba yang diterima UMKM. dari aspek peningkatan etos kerja dan peningkatan produksi UMKM. menjadi Rp 13.68 juta (25. tabel 11 memperlihatkan dampak pemberian bantuan perkuatan modal terhadap perubahan kinerja UMKM. omset UMKM juga meningkat dari rata-rata Rp 47. Dari tabel 11 dapat dikemukakan bahwa: 1) Peningkatan etos kerja yang diindikasikan dari pertambahan jam kerja UMKM memperlihatkan adanya tambahan sebesar 1.05 jam per hari. Dalam hal ini etos kerja. sehingga belum mencukupi bagi UMKM untuk dapat mencapai skala ekonomi (ecomic of scale).38%). Selain dampak perkuatan terhadap tiga aspek bisnis UMMK di atas. 4) Dari kondisi pada butir 1 sampai dengan butir 3 di atas dapat dikemukakan bahwa pinjaman yang diberikan jumlahnya relatif kecil.23%.10%). atau rata-rata bertambah sebesar Rp 8.49 juta. menjadi Rp 55. Laba UMKM meningkat dari rata-rata Rp 10. atau bertambah Rp 2. belum terlihat adanya indikasi bahwa pertambahan modal telah dapat menekan biaya produksi misalnya bahan baku.

68 25.30 45.07 15.55 12.45 9.28 5. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Rata-rata Jam Kerja Per Hari Rata-rata Peningkatan Produksi (Jam) (%) Selisih Selisih Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp Jt) (%) 11.046 orang.80 11.09 dan sebatas mana 14.76 11.05 75.49 13.00 6.20 9.31 51.05 11.80 18.2 Dampak Kredit Program Terhadap Perekonomian Daerah 1.90 8.06%).09 146.4.79 1. diantaranya adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha (bekerja) dalam kelompok UMKM.17 12.38 10.083 Hasil pengamatan lapang memperlihatkan adanya indikasi 70.10 Tabel 11.32 28.55 3.49 kerja dapat dikembangkan sangat etos 167.82 9.99 8.90 19.05 1.84 6. (Rp Jt) (%) Rp Jt (%) No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 2) 59.00 16. Dari jumlah tersebut sebanyak 52.97%.50 207. dimana sebanyak 325. seberapa25.60 1.25 16.61 5.55 21.58 kondisi peningkatan etos kerja.30 55.47 39.61 33. yang akan mendorong semangat kewirausahaan.19 3.62 11.54 tergantung pada pola pelaksanaan program.18 2.80 2.53 9. Pengembangan etos kerja juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. 8. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Tabel 11.97 26.94 32.70 31.03 arah 9.15 1.65 10.17 jauh 25.58 6.81 11. 78 . UMKM harus diarahkan agar mampu pengembangan etos kerja. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) JURNAL VOLUME 4 .21 8.35 7.55 0.25 34. adalah para pencari kerja yang diharapkan dapat terserap dengan meningkatnya aktifitas usaha dari kelompok UMKM.45 12.14 31. 4 5.05 141.352 orang (78.8 69.AGUSTUS 2009 : 62-87 Dari Aspek Volume Usaha dan Laba Rata-rata Omset Usaha Rata-rata Laba per tahun Per tahun (Rp jt) (Rp jt) dari keberhasilan usaha seseorang dan kepentingan orang Selisih Selisih Sebelum tersebut untuk mendapatkan prestasi yang secara langsung Sesudah Sebelum Sesudah Nilai Persen Nilai Persen maupun tidak langsung mempengaruhi kesejahteraannya. Dampak program perkuatan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja 1) Rata-rata jumlah tenaga kerja poduktif (umur antara 17 sampai dengan 60 tahun) yang ada di 3 (tiga) Propinsi contoh cukup besar yaitu mencapai 412.50 13.Tabel 10.72 58.10 13.78 36.895 orang atau 10.56 2.98 11.17 14.41 1.24 47.18 ke45.27 No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3) Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menyebabkan timbulnya permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan program ini.05 9.41 45.02 18.04 4.24 11.

1 103.99 Sesudah 1.7 Rataan 92. Sebelum Sesudah 374.88 6.870 1.85 147.56 6.33 2.43 2.82 Sebelum 7.65 6.64 2.2 7.613 (unit) (unit) (Org) (Org) *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.20 0.44 4.93 1.866 434.5 26 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan178.236.31 5.659 di Kabupaten Contoh ( Orang) 6.58 10.186 9.473 224. Jumlah Tenagakerja dan Kinerja UMKM Berbantuan 12.455 1.05 5.895 7.00 (%) (Org) Propinsi *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.742 32.528 NTB dalam Menyumbang PDB Jumlah 1.05 3.41 Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di kabupaten Contoh (Orang) 44.52 1.64 Penyalur UMKM 65. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan patan Daerah Kotor Kop UMKM (%) Rp Juta Rp jt serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur (Product Regional Domestic Bruto) serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan 172.56 9.904 202.652 326.7 patan 103.54 1.35 20.61 (Org) (org) Kerja 49.01 9.8 Kop luran Rp juta 327.20 4.72 3.1 SHU 76Jlh 31.700 263.3 374. termasuk penganggur Total Pendapatan Kotor Daerah (Product Regional Domestic Bruto) (miliar) tambah tase Kop luran Rp juta Tabel 13.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 2) Rata-rata pertambahan tenaga kerja UMKM setelah mendapat bantuan pinjaman modal dari program perkuatan adalah sebesar 0.9 Perkuatan 35. 2.91 3.700 263.968 7.50 tambah tase 92.97 3.41 3.74 1.644 orang atau 8.224 NTB Tabel 14. DampakDari tabel 13 dapat dikemukakanKoperasi Program Perkuatan terhadap Kinerja beberapa 1.14 4.873 611.510 472.61 orang per UKM.057 Tenaga 158. Dampak Kredit Jumlah dan Kinerja 2.97 Rata-rata Peningkatan Anggota /tahun (%) 1.33 10.30 1.08 kontribusi 44.870 1.7 310.74 1.85 Tenaga 147.71 0.613 1.02 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang 49.47 4.420 674.455 1.48 8.38 berikut: 3.90 1.8 13. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Jumlah Tenaga Kerja dan 10.72 Sesudah 3.88 4.67 3. Sebelum Peningk.45 3.38 7.046 Perkiraan Sumbangan UMKM 52.61 Terhadaptersedia.839 3.659 202.01 UMKM 197.93 1.877 Sumbar 429.00 Rata-rata 412.18 Peningk.81 Sebelum 3.97 3.686 Jumlah 1.677 176.046 52.45 Rata-rata Peningtan5. 3.21 23.411 94. termasuk penganggurmenyalurkan bantuan Perkuatan PDB (Rp miliar) *) Tenaga kerja usia produktif yang Tabel 13.14 Modal 9.78% dari jumlah penganggur yang ada di ke tiga propinsi contoh.32 8.93 2.15 11.180 14 Penya Biaya 983.43 11.81 4.87 0.35 3.78 4.89 8.93 1.76 Koperasi Per tahun(%) 11.9 Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) Sesudah *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Peningk.18 2.4 10.54 2.49 76 31.89 Peningk.33 10.352 7.41 3.3 35.69 Tambahan 1.904 31.47 3.15 7.02 Persen 1.90 5.742 32.90 4.90 64.873 611.07 79  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan . Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Jumlah 27.45 9.3 161.48 3.140 berbantuan UMKM 22.20 3.769 Kalbar 5.30 1.71 0.98 0.91 7. Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan (yang menerima bantuan) ) di Lima Propinsi Contoh (yang menerima bantuan di Lima Propinsi Contoh Jumlah Tenaga Kerja dan Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di UMKM di Kabupaten Contoh ( Orang) kabupaten Contoh (Orang) UMKM Tambahan Pencari Tenaga Sesudah UMKM berbantuan Sebelum Tenaga Persen Kerja Kerja Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan Tabel 12.07 Peningk.32 11.33 2.7 143.32 3.411 94.92 0.473 224.88 144.8 983.44 0.510 472.  2 3 Sumbar Kalbar NTB No Jumlah Propinsi Rataan 3.609 4.968 7.88 Sesudah 3.21 3.67 3.057 22.32 20.90 miliar) 64.420 674.528 NTB UMKM Propinsi Pencari 976.90 Sebelum 5.56 8.99 1. (unit) (Org) (org) (unit) Kerja (%) (Org) (Org)(yang menerima bantuan ) di Lima Propinsi Contoh (Org) 36.540 268.140 158.877 Perkiraan Sumbangan2.69 1.75 Sesudah 1.1 36 161.44 Kalbar Program terhadap (Product Regional Domestic Bruto) serta 6.89 11. maka dapat diprediksikan jumlah pengangguran yang mampu diserap oleh UMKM baru sebanyak 4.97 3.12 Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) 4.1 36 172.765 Terhadap PDB (Rp 0.12 3.352 Kerja Rata-rata 412. Dengan memperhitungkan jumlah UMKM yang mendapatkan bantuan per propinsi sebanyak 7613 orang.895 325.41 10.609 4.769 2.154 421. termasuk penganggur 36.98 1.44 65.45 3.88 1.50 25.48Simpanan4.08 1.154 421.677 Koperasi 0.224 PDRB 434.48 23. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan Kotor Daerah 1. Tabel Tabel 12.89 11.843 Sumbar UMKM31.839 Kerja 325.87 0.92 0.31 4.3 Kop 25.44 7.843 Sumbar Tabel 13.52 1.652 326.65 9.89 11.9 Rp Juta Rp jt 111.3 No Propinsi PDRB Nilai Persen Jlh Penya Biaya Penda SHU *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006  2 3 No Propinsi Rata-rata Peningkatan Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) Simpanan Anggota /tahun (%) *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Sebelum Sesudah Peningk.4 10.1 327.49 Nilai Persen 27.686 976.89 Tabel 14.1 Penda 310.78 Sebelum 6.82 7.540 268.5 26 197.236.2 7.8 13.20 3.180 14 0.18 2.866 (miliar) 144.56 4.76 11.75 1.765 Kalbar 178.88 UMKM (%) 111.44 176. 3.186 2.58 10.3 429.18 hal sebagai 1.9 143.

juga relatif masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang berada dimasing masing lokasi tersebut. maupun di depannya (fore Word efect). 5. 144.870 juta (1. Seandainya semua (308. 2) Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh UMKM merupakan kegiatan spesifik daerah yang tidak lagi memberikan imbasan yang signifikan terhadap kegiatan usaha yang ada dibelakangnya (back word efect).3 Dampak Kredit Koperasi Perkuatan Terhadap Pembangunan Dari tabel 14 terlihat bahwa terlihat bahwa: 1) Rata-rata jumlah anggota koperasi mengalami kenaikan dari rata-rata 3. maka sumbangan usaha mikro terhadap PDRB tidak berubah banyak. Dengan perkataan lain masyarakat ingin menjadi anggota koperasi karena adanya 80 .46%).82% pada lima tahun sebelumnya menjadi 7. 928.83 dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 yang diperkirakan 48%.72% pada tahun 2007. Kondisi ini dikarenakan usaha-usaha tersebut sudah ada sebelumnya dan pertambahan jumlah kebutuhan maupun produk yang dihasilkan oleh UKM yang mendapat bantuan perkuatan relatif masih kecil. atau tidak mengalami tambahan yang signifikan.JURNAL VOLUME 4 .4.89%.342 orang) UMKM sudah mendapat bantuan perkuatan maka diprediksikan sumbangan UMKM akan mencapai 71. Kenaikan jumlah anggota yang cukup signifikan ini mengindikasikasikan adanya ketertarikan masyarakat untuk menjadi anggota koperasi. dibandingkan dengan rata-rata PDRB daerah yang mencapai Rp. dan tidak dengan memperhitungkan dampak kegiatan yang dilaksanakannya. Hal ini dapat dijelaskan dengan memperhatikan bahwa pertambahan jumlah PDRB yang berasal dari adanya UMKM yang mendapat bantuan perkuatan per kabupaten relatif kecil yaitu sebesar Rp.83% atau meningkat 23.8 miliar per kabupaten. Unsur ini jelas didorong oleh adanya program perkreditan yang memang angat dibutuhkan oleh masyarakat.AGUSTUS 2009 : 62-87 1) Dengan asumsi sebagian (50%) UMKM yang mendapat bantuan perkuatan bekerja pada kegiatan usaha produktif. Kondisi yang demikian nampaknya cukup wajar karena jumlah UMKM yang menerima bantuan. Dari sini terlihat adanya dampak positif dari pelaksanaan program perkuatan dalam mendorong pertumbuhan jumlah anggota sebanyak 3.

Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) No Propinsi Sebelum  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3.45 3.72 Peningk.870memang 25.01 9.877 Sumbar  2 3 Kalbar NTB Jumlah Rataan Perkiraan Sumbangan UMKM Terhadap PDB (Rp miliar) PDRB Nilai Persen (miliar) tambah tase UMKM (%) Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan Perkuatan Jlh Penya Biaya Penda SHU Kop luran Rp juta patan Kop Rp Juta Rp jt 161.88 327.540 268.18 Sebelum 3.866 76 310.89 Sebelum 2.18%.1perkuatan.765 35.12 3.76 11. atau meningkat sebesar 1.1 Motivasi144.48 3.7 178.97 3. bantuan kredit 27.90 64. Lebih lanjut pada tabel 15 diperlihatkan dampak pelaksanaan program perkuatan terhadap volume usaha dan SHU koperasi.50 bukan motivasi 103.54 1.99 Peningk.41 3.473 224. Peningkatan jumlahnya 5 simpanan ini terlihat belum sejalan dengan pengingkatan rata-rata jumlah anggota yang mendapat bantuan perkuatan.180 14 0. Hal ini 1.700 263.38 7.31 5.07 Rata-rata Peningkatan Simpanan Anggota /tahun (%) Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) 2) Sejalan dengan peningkatan jumlah anggota juga terjadi kenaikan simpanan anggota dari rata-rata 2.88 6.3 92.48 8.33 10.1 36 10.4 10.88%.15 7.3 429.81% selama 4 tahun sebelum program perkuatan dilaksanakan. 81 . sehingga adanya bantuan perkuatan tidak lagi mempengaruhi besar simpanan yang dapat dikumpulkan. atau naik sebanyak 1.224 harapan 434.44 4.18 2.43 2. Tabel 14.78% pertahun menjadi rata-rata 4. menjadi 3.47 4.67 3.89 11.88 Peningk.45 9.No Propinsi Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 172.9 143.7 *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat pada bantuan permodalan cukup besar.186 2.21 23.32 11.89 11.90 4.8 13.968 7. Sedangkan pengaruh dari pelaksanaan program terhadap kenaikan modal sendiri relatif sangat sedikit dibandingkan dengan total modal koperasi dalam yang dimiliki koperasi. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Tabel 14. 3.8 983.98 1. Kejadian ini mungkin disebabkan sebelumnya memang partisipasi anggota dalam membayar simpanan sudah tinggi.20 3.99% sesudah dilaksanakannya program perkuatan. Hal tersebut disebabkan adanya tambahan modal luar yang melonjak dari pinjaman modal program perkuatan.81 Sesudah 4.49 untuk mendapatkan 31.56 9.58 111. Dibandingkan dengan tambahan modal luar yang bersumber dari program perkuatan nampaknya tambahan modal koperasi yang bersumber dari SHU pelaksanaan program perkuatan pengaruhnya belum signifikan.5 26 197.3 374. 1.82 Sesudah 7.91 3.20 0.9 yang ideal.93 1. yang mencapai 23%.35 3.32 20. 1. 3) Modal koperasi meningkat dari rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 3.420 674.33 2.56 8.10%.65 6.78 Sesudah 4.455 1.97 3.2 7.609 4.14 4.

JURNAL VOLUME 4 .81  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Dari tabel 15 terlihat bahwa: 1) Rata-rata volume usaha koperasi mengalami peningkatan dari rata-rata 3.21 3.14 6. Sama seperti peningkatan volume usaha. Hal ini menunjukan bahwa koperasi belum mampu mengembangkan kegiatan yang diperlukan anggotanya. bila dibandingkan dengan peningkatan SHU pada lima tahun sebelumnya yaitu dari rata-rata 2.81 3.33% menjadi 3.03 2. yang berkaitan dengan adanya program perkuatan tersebut. Dengan kata lain program perkuatan belum memberikan dampak ikutan bagi kegiatan koperasi diluar kegiatan program itu sendiri.43 2.59 17. seperti penyediaan bahan baku produksi.76 3. Peningkatan ini nampaknya merupakan pengaruh langsung dari pelaksanaan kegiatan penyaluran program bantuan perkuatan saja.40 pertahun pada lima tahun sebelumnya.92 1. 3) Dari kegiatan melaksanakan penyaluran kredit perkuatan.42 3.34 Rata-rata Peningkatan Sisa Hasil Usaha per tahun (%) Sebelu Sesudah Peningk.14 0. rata-rata koperasi memperoleh SHU sebesar Rp 8. Dengan biaya operasional riil yang ternyata masih lebih kecil dari yang didapatkannya tersebut.40 6.14%.74% sesudah menyalurkan program perkuatan.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 15. 4.76 3. Dengan demikian terlihat bahwa koperasi 82 .78 4.43 0.33 3.18 9.47 0. atau meningkat sebesar 2.99 2.34 10.81%.04 2. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Tabel 15. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi No Propinsi Rata-rata Peningkatan Volume Usaha per tahun (%) Sebelum Sesudah Peningk.25 7.96 1.87 5. peningkatan SHU ini juga murni sebagai sumbangan dari pelaksanaan program perkuatan dan tidak terlihat dampak dari adanya kegiatan pengembangandari pelaksanaan kegiatan penyaluran program.02 1.11 2.89 2. 2.34%.74 2. koperasi memperoleh bagian biaya operasional sebesar 4% dari dana yang disalurkan.24 5.45 juta. 2) Rata-rata Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi meningkat sebesar 0. transportasi dan pemasaran hasil produksi anggotanya. menjadi 5.

171. 2) Ada kesalahan sasaran dalam penyaluran kredit.55 triliun. Hal tersebut terjadi karena belum ada ketentuan tentang pola pergulirannya dan belum ada institusi yang secara formal mengatur perguliran dana tersebut. atau sudah menjangkau 23.75% bersumber dari kalangan keluarga dan tetangga. Adanya perbedaan antara persentase kebutuhan pinjaman UMKM dan dana yang telah dialokasikan oleh pemerintah (23. VI.574.20% pinjaman dari lembaga perkreditan formal (Bank dan non bank). 2.-. Kondisi ini masih menunjukkan peranan yang dominan dari para pelepas uang dan pemilik modal dalam mendukung kelangsungan usaha para pengusaha mikro. sehingga idealnya program-program perkreditan dari pemerintah selama 7 tahun terakhir sudah menjangkau 23.000.60% dari pinjaman program pemerintah..000. 22. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh: 1) Sebagian dana program pemerintah memang diberikan dalam bentuk pinjaman (kredit sesuai dengan pengertian kredit dan ensiklopedia Indonesia) sebagian lagi dalam bentuk subsidi atau hibah.876. Tetapi karena jumlah dana yang disalurkan masih relatif kecil.. 4) Hal lain yang juga dapat dicatat bahwa jumlah dana yang telah dikembalikan dari peminjam ada yang belum dapat digulirkan lagi oleh koperasi. 11.783. dan 3) Deviasi sampel.000. 3. Struktur permodalan usaha mikro dibangun 15.05% dari jumlah UMKM khususnya pengusaha mikro.05% dari kebutuhan modal UMKM. sehingga tidak dinyatakan sebagai kredit.70% pinjaman dari pemilik modal/pelepas uang dan sisanya 6. maka bagian koperasi yang menjadi SHU belum signifikan dengan total SHU koperasi. 3. Rata-rata tambahan modal yang diperlukan oleh kalangan pengusaha mikro dan pengusaha kecil adalah sebesar Rp.75% oleh modal sendiri.dan yang tertinggi adalah untuk mereka yang berusaha di sektor pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp.05%) dengan hasil pengamatan kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro dan usaha kecil yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu 11. PENUTUP 1.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) juga memperoleh dampak positif dari kegiatan ini. 83 . 9. diperkirakan mencapai Rp.yang terendah adalah untuk mereka yang berusaha di sektor informal dan perdagangan eceran sebesar Rp 1.60%. Dengan demikian dana yang diperlukan untuk memberdayakan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil. 56.

tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pengusaha mikro serta. Banyaknya dana yang disalurkan di Pulau Jawa dilakukan berdasarkan pertimbangan jumlah orang yang berhak menerima. seperti Kredit Keluarga Miskin (KKM) dan Kredit Pemilikan RSS. Kredit-kredit yang bersumber dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM yang kesemuanya bertujuan memberdayakan KUMKM.35% pengembangan kelembagaan.45% menggunakan pendekatan pengembangan potensi daerah.95% menggunakan pendekatan pengembangan kelembagaan. Dari 214 jenis program perkreditan yang dapat diinventarisir diketahui bahwa 47. dan hanya 17. sehingga sering tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakter pengusaha mikro. pengembangan potensi daerah dan pengembangan kelompok (Community development) merupakan pendekatan yang efektif untuk memberdayakan UMKM. 5.83% dari usaha mikro tersebut menyatakan jumlah pinjaman yang diperoleh belum menutupi kebutuhan modal. 44. 6. atau tidak sesuai dengan peruntukannya.85% menggunakan pendekatan pengembangan kelompok seperti seperti dalam program Lembaga Usaha Ekonomi Bersama (LUEB). seperti Program pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal 26. 28. menyebabkan terjadinya tumpang tidih penggunaan dan sasaran kredit di tingkat peminjam.18% disalurkan di Pulau Jawa dan sisanya 58. Dari aspek pendistribusian dana diketahui 41. dan sisanya 16.25% pengembangan potensi kelompok. 8.65% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas.92% disalurkan untuk daerah-daerah lainnya. b) Bunga bersubsidi membuka peluang terjadinya manipulasi penggunaan kredit baik ditingkat penyalur maupun oleh peminjam.75% menggunakan pendekatan pengembangan daerah. 7. 84 .25% bertujuan mengurangi kemiskinan.75% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas. Dalam hal pola pelaksanaan perkreditan terlihat bahwa: a) Prosedur dan persyaratan cenderung didasarkan pada kepentingan sektoral dan keamanan kredit. 11. Hanya 11. dan sisanya 19. akibatnya yang bersangkutan masih meminjam dari sumber-sumber lain terutama para pelepas uang dan pemilik modal. d) Banyaknya jenis kredit yang disalurkan.60% pengusaha mikro yang pernah mendapatkan pijaman dari kredit program pemerintah dan 21. Sedangkan dari aspek pendekatan program 41. c) Bentuk dan besar pinjaman yang cenderung menggunakan sistem paket.JURNAL VOLUME 4 . sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk.25% yang bertujuan untuk memberdayakan UMKM seperti P3KUM dan KUR. Hasil analisis dari aspek kemanfaatan kredit dalam meningkatkan pendapatan UMKM menunjukkan bahwa.AGUSTUS 2009 : 62-87 4.5% bertujuan untuk mendukung pembangunan sektoral seperti untuk program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) 35. 10.

2 juta dengan laba rata-rata sebesar Rp 11. Dalam hal ketepatan sasaran. Kondisi internal pengusaha mikro didominasi oleh meraka yang memiliki aset terbatas yaitu rata-rata Rp. Dalam hal keperluan kelembagaan perguliran. 13.52% responden menilai kredit program tepat sasaran dan hanya 54. sedangkan yang menilai ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit ada sebanyak 28.23 juta dan yang terbesar Rp. Sebagian dari yang tidak menggunakan perguliran adalah yang berupa hibah untuk masyarakat. ternyata tidak sesuai dengan karakteristik UMKM. sebagian besar (63.11 tahun atau setingkat dengan SLP. 6. Kesimpulan 1) Dari temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa: a) Kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro relatif masih sangat sedikit (11. Dari aspek pengalaman.1 juta.77%) kredit program dilaksanakan dengan tidak meng-gunakan model perguliran dan hanya 9.65% kredit tersebut tepat waktu penyalurannya. dan pola pelaksanaan yang ada. b) Rendahnya kontribusi kredit program tersebut disebabkan karena tidak semua program diberikan dalam bentuk kredit (pinjaman yang harus dikembalikan). 12. dan pestisida serta untuk pedagang kecil.60%). 11. ratarata responden berpendidikan formal 8. 32.51 juta. maupun untuk lembaga penyelenggaranya. d) Kondisi internal pengusaha mikro yang sangat lemah serta belum siapnya lembaga perguliran dana. 79.75%) adalah mereka yang berpengalaman lebih dari 5 tahun. yang paling sedikit Rp. Sedangkan dari aspek omset yang diperoleh per tahun rata-rata Rp 37. Selain itu tujuan penggunaannya yang sebagian besar bersifat sektoral.85 % dari mereka tidak mengetahui adanya Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Sebagian besar (56. Sebagian besar (90. 0.25%) peminjam adalah mereka yang berpengalaman dibidang usahanya kurang dari lima tahun dan sisanya (36. tetapi 96.92% dan sisanya sebanyak 14.23% yang menggunakan model perguliran. 85 . c) Adanya unsur-unsur yang tidak berkaitan dengan tujuan pemberdayan UMKM serta.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 9.87%) responden menilai tidak ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit.21% menyatakan tidak tahu. Sedangkan yang tidak tepat waktu penyalurannya adalah kredit yang diberikan dalam bentuk natural seperti pupuk benih.40%) responden menyatakan perlu adanya kelembagaan tersebut (organisasi dan ketentuan-ketentuannya). Dalam hal tingkat pendidikan. sebagian besar (87.81 juta per tahun. 10. Sebagian kredit yang tidak tepat sasaran adalah yang diberikan kepada kelompok orang miskin sebagai bantuan sosial.

Anonim. Study Report. 86 . Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Jakarta. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. c) Kondisi lingkungan sosial budaya memungkinkan para pemilik modal dan pelepas uang membangun sistem hubungan Patron –Client. Kementerian Negara KUKM. Saran 1) Perlu dilakukan perubahan orientasi kredit program yang semula untuk kepentingan pembangunan sektoral diarahkan kepada pemberdayaan UMKM. Departemen Koperasi. 1���. pengembangan kelembagaan dan kelompok. (2003). DAFTAR PUSTAKA Anonim. Jakarta. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Besarnya permintaan kredit dari kalangan pengusaha mikro karena tidak tercover oleh lembaga-lembaga perkreditan formal. b) Para pemilik modal dan pelepas uang mampu memberikan pinjaman lepada pengusaha mikro dalam waktu singkat. (1992). (1999). Jakarta. (1995). Jakarta. Supported by The Asia Foundation. Vol 7 nomor 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Menengah. 14. The Asia Foundation. (2002). 2) Perlu adanya pola pelaksanaan program dengan karakter UMKM khususnya pengusaha mikro. Anonim. Petunjuk Teknis Tentang Modal Awal dan Padanan. Anonim. Jakarta. Anonim. Anonim. Jurnal Ekonomi UNTAR. Small and Medium Entreprise Development.JURNAL VOLUME 4 . (2003). Ditjen Bina Lembaga Koperasi. 3) Membangun sistem kelembagaan yang komprehensif memperkecil dalam hal jumlah instansi yang terlibat dan jenis kredit program yang disalurkan sehingga koordinasi menjadi mudah dan dana pemerintah tidak berserakan di mana-mana. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. Jakarta.AGUSTUS 2009 : 62-87 2) Peranan sumber-sumber perkreditan non formal masih cukup besar. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah.

Tambunan Mangara. Bank Indonesia Jakarta. Mid Term Action Plan for SME Development : Strategy and Recommendations. (2006). Kajian pemanfaatan Bantuan Perkuatan. Allan A. Center for Economic and Social Studies (CESS). F. The Entreprise Culture and Education. Informasi Tentang Kredit Usaha Mikro dan Kecil dari Dana SUP005. (2002).. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 87 . Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) UKM. (2002). Jakarta. Lembaga Perkreditan Pedesaan. 2nd ed. ----------. Asian Development Bank. Badan Litbang Koperasi dan PK. Jakarta. Anonim. Anonim. Apakah Usaha Menengah Mengalami Stagnasi. Deputi Bidang Pembiayaan. Nasution Muslimin. (2006). Annual Report Bank Indonesia 2006. Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Anonim. Singapore. Indonesia. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian IPB. Jakarta. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. Departemen Koperasi dan PPK. 19 Oktober (tidak dipublikasi). Deputi Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi. John Willey & Son. (2007). (2002). 2002. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Sondagh. (1991). BPS-2006. (2006). Lucky. Gibb. Tambunan Mangara. ADB MSE Development Technical Assistant. Project Report. (1993). Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah: Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pasca Krisis Ekonomi. Paper Staff. Jakarta. Penelitian Lembaga Kredit Pedesaan di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Anonim.

mall. Koperasi. dana bergulir. *) 88 . pasar tradisional I. Revolving fund for traditional market development through cooperative is government fund derives for state budget of The State Ministry of Cooperatives and SMEs which was distributed to cooperative to develop traditional market by cooperative and from then on lend it to the members unders revolving fund scheme among cooperatives. 8 �uni 200�. The other characteristic is c) Representation regulation which can make sure who is entitle towards something in every process of decision making. custom/tradition and / or consensus. peer review 22 April s. Clarification of intellectual property right in the institution is as strength resource of development participant in developing access and control on the traffic and allocation of resources. Institutional has characteristic among others are: a) Yurisdiction border which determine who and what is encompassed in the system and related to authority limit and power. berdampak pada koperasi yang bergerak dibidang perdagangan khususnya koperasi pengelola pasar tradisional harus menyesuaikan diri agar selalu bisa eksis untuk memberikan pelayanan kepada anggotanya para pedagang. swalayan dan bentuk-bentuk perkulakan lainnya yang sudah merambah ke daerah pemukiman dan pedesaan. b) Intellectual property rights. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK.JURNAL VOLUME 4 . Artikel diterima 5 April 200�. Apabila hal ini tidak dilakukan. This feature refers to the definite of right and obligation regulated by the law.AGUSTUS 2009 : 88-115 KAJIAN PENATAAN KELEMBAGAAN KOPERASI PENERIMA BANTUAN DANA BERGULIR PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL*) Saudin Sijabat**) Abstract Institution is ”an organizational system which can control on resources”. juga diikuti dengan perkembangan usaha ritel dan pedagang eceran dalam bentuk Indomart atau Alfamart dan sejenisnya. sudah barang tentu koperasi pasar akan semakin jauh dari akses-akses usaha yang diperlukan anggota karena tidak dapat memberikan pelayanan yang efektif kepada anggota sehingga koperasi tidak mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis.d. kelembagaan. Kajian yang dilaksanakan oleh penulis tahun 200��. managemen. Pendahuluan Pesatnya perkembangan pembangunan sarana pemasaran yang dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha perdagangan lainnya seperti supermaket.

Sekalipun demikian. harus tercermin dalam bentuk konstribusi dalam menetapkan tujuan dan sasaran usaha. Sesuai karakteristik pokok organisasi koperasi aktivitasnya mempadukan dua kepentingan secara bersama-sama. Berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah melalui program Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Bercermin atas keadaan sebagaimana diuraikan di atas. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap maju mundurnya suatu koperasi. Dari beberapa uraian di atas. sepanjang tidak merugikan kepentingan anggota dan lembaga koperasi. tanpa keterlibatan para pengguna pasar itu sendiri. Dalam penjelasan disebutkan bahwa sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. diharapkan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional oleh koperasi pasar. Pengaruh dari dalam yang paling dominan mempengaruhi maju mundurnya koperasi adalah dukungan partisipasi aktif dari anggotanya. baik secara finansial. Dukungan partisipasi anggota koperasi pasar (sebagai pedagang). anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi. diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan dalam meletakkan fondasi bagi bangun struktur organisasi koperasi sebagai milik bersama. organisasi maupun usaha. maknanya sesuai dengan penjelasan pasal 17 (ayat 1) Undang-Undang Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992. akan merugikan para pedagang. memelihara organisasi serta menggunakan kegiatan usaha koperasi. Dengan tercapainya kedua kepentingan tersebut yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan harus selalu dipelihara. yaitu kepentingan bisnis (bisnis entity) dan kepentingan sosial (social entity). akan sesuai dengan perubahan lingkungan untuk mewujudkan perilaku yang responsif dan inovatif dari para anggotanya.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Disadari bahwa swadana pembangunan dan pengelolaan pasar oleh pemerintah setempat atau lembaga lainnya melalui fasilitas-fasilitas tertentu. Dengan demikian koperasi pasar yang memperoleh bantuan dana bergulir untuk membangun pasar tradisional akan melakukan kegiatan usaha dan organisasinya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan para anggotanya. menunjukkan bahwa kebanyakan kegagalan suatu organisasi koperasi disebabkan oleh masalahmasalah yang bersumber dari dalam koperasi (internal). melalui penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir untuk pembangunan pasar 89 . Hal ini dimaksudkan selain untuk menarik yang bukan anggota menjadi anggota koperasi juga untuk memperluas skala usaha koperasi dan memperluas pangsa pasar yang dimiliki. Partisipasi anggota. dan hanya sebagian kecil penyebab kemunduran koperasi yang bersumber dari pengaruh luar (eksternal). maka koperasi dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bukan anggota sesuai dengan sifat kegiatan usahanya. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui program pemasaran dan jaringan usaha melaksanakan program penyaluran bantuan dana bergulir untuk meningkatkan kelayakan sarana dan prasarana usaha pasar tradisional melalui koperasi pasar yang sudah ada.

untuk mengelola pasar tradisional. Merumuskan indikator kajian penetaan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. usaha yang sehat dan pengurus yang memiliki dedikasi yang tinggi. dan pengurus koperasi.AGUSTUS 2009 : 88-115 tradisional. Melakukan pembahasan konsep kajian untuk penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. Menyiapkan panduan dan kuesioner pengumpulan data dari pengurus koperasi. Oleh karenanya selain pemanfaatan fasilitas tersebut. 3). Penyempurnaan konsep final hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. Melakukan pengumpulan data dan informasi lapang. 6). Untuk mendukung program yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. juga agar koperasi memiliki daya tahan dan daya saing untuk melakukan aktivitas. 1. Terwujudnya peningkatan nilai manfaat dan nilai tambah bagi anggota koperasi dan UKM melalui peningkatan aktivitas usaha dan organisasi koperasi secara terbuka dan demokratif. kabupaten/kota. 1.1 Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. lembaga koperasi harus memiliki kelembagaan yang baik. sehingga partisipasi anggota koperasi tidak hanya pada aktivitas usaha saja. 4).2 Sasaran Sasaran kajian adalah: 1). tetapi juga dalam aktivitas managemen koperasi. 3). terutama menjalankan usahanya dalam memberikan pelayanan terhadap anggota. belum menjamin kelangsungan koperasi untuk memenuhi harapan di atas.3 Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan adalah penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1). 90 . Terwujudnya Lembaga Koperasi Pasar yang baik. Terwujudnya peningkatan peran serta anggota koperasi dan UKM secara aktif dalam membangun kemandirian koperasi yang tangguh secara berkelanjutan. 2). Memilih lokasi pelaksanaan survey terhadap pembina koperasi propinsi. maka penulis melakukan Kajian pada tahun 2007 mengenai Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan dana bergulir pengembangan Pasar Tradisional. sehingga koperasi pasar tradisional selain mampu melakukan program dengan baik. 2). 4). 5). 1. Terwujudnya peningkatan kinerja koperasi pasar sehingga pengelola pasar tradisional semakin baik dalam memberikan pelayanan kepada anggota dan UKM yang berusaha dalam pasar tradisional dimaksud.JURNAL VOLUME 4 .

Tinjauan Teoritis 2. d). Definisi Koperasi. di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupatan/kota. seperti tertuang dalam UU Republik Indonesia. b). antara lain mencakup: a). Data dan informasi dari pengurus koperasi. Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan usaha berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju. terdiri dari: 1. 91 . pendekatan partisipatif. dari sejumlah responden yang memungkinkan dapat mewakili pembina koperasi pengelola pasar tradisional. Data dan informasi dari pembina koperasi propinsi dan kabupaten/kota. II. Tentang Perkoperasian. Koperasi adalah perkumpulan otonomi dari orangorang yang berhimpun secara sukarela untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi. maka kegiatan ini menghimpun beberapa macam data dan informasi. Jenis dan Sumber Data Sesuai dengan lingkup kajian dan tujuan yang ingin dicapai. meliputi: 1.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 1. dalam melakukan kegiatannya berdasarkan pada prinsip koperasi. Undang-undang dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan koperasi. 2. Nomor 25 Tahun 1��2.1 Pemahaman Koperasi Koperasi sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang ha atau badan hukum koperasi. Informasi pengawasan anggota dalam RAT. pembahasan hasil analisa dapat dilakukan secara komprehensif dan selanjutnya menyusun ruang lingkup wilayah dan pendataan. Data Data dan informasi yang dihimpun digali dari berbagai sumber. Wilayah Kajian Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar analisis dilakukan diskusi dengan pembina koperasi. Data dan informasi kelengkapan organisasi dan tatalaksana koperasi. Diskusi ini dilakukan untuk memperoleh data yang representatif. Dengan model analisis ini. Informasi dari instansi terkait dan litetatur yang relevan. c). sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Perumusan jatidiri koperasi menurut ICA di Manchaster (ICA Cooperative Identity Statement/ICS) tahun 1995. e).4 Metodologi Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah penelitian lapang dengan metode Analisis Deskriptif. f). adil dan makmur dalam tata perekonomian nasional.

tanggung jawab sendiri. Undang-undang ndangan (UU) yang berlaku saat ini adalah UU RI Nomor 25 Tahun 1992. bila dibandingkan dengan prinsip koperasi yang berlaku secara internasional berdasarkan rumusan kongres ICA di Manchaster 1995. Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa masing-masing anggota. 2). Adanya orang yang menjalin 92 . b). Partisipasi ekonomi anggota. Keberhasilan perusahaan kapitalistik diukur dari kemampuan meraih laba. Pendidikan perkoperasian. e). c). Muenker menyatakan adanya ciri-ciri khusus koperasi sebagai organisasi usaha. 2. yaitu: 1). tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. persamaan. 3. Kemandrian. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. yaitu: 1). prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a). 2.2 Ciri-ciri Koperasi Indonesia Indonesia termasuk salah satu negara yang menerbitkan perundang-undangan yang khusus mengatur koperasi. Kepedulian terhadap komunitas. yang terdiri dari 7 (tujuh) butir yang dituangkan dalam 2 ayat. Prinsip-prinsip (sebagai penjabaran nilai-nilai). Pengendalian oleh anggota secara demokratis. perusahaan koperasi diukur dari kemampuannya memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangga para anggotanya. Ciri-ciri koperasi Indonesia secara umum dituangkan dalam pasal 2. Kerjasama diantara koperasi. pada dasarnya hampir sama (identik) walaupun dalam penerapannya terdapat perbedaan tetapi tidak signifikan. Ketujuh butir prinsip koperasi Indonesia di atas. Koperasi memiliki nilai-nilai menolong diri sendiri. Tentang perkoperasian. dan 5 menetapkan prinsip koperasi Indonesia. merupakan bentuk perusahaan yang unik berbeda dengan bentuk perusahaan kapitalistik pada umumnya. pelatihan dan informasi. Otonomi dan kebebasan. 5). g). Nilai-nilai. f). Kerjasama antar koperasi. Hans H. Perbedaan itu antara lain: a. Koperasi dibentuk bukan untuk mengejar keuntungan bagi perusahaan koperasi sendiri. Pengelolaan dilakukan secara demokratis.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 88-115 2. Keanggotaan sukarela dan Keanggotaan sukarela dan terbuka. d). 3). agar anggotanya meraih keuntungan yang lebih baik. demokratis. keterbukaan. Pendidikan. kejujuran. 7). 4.3 Ciri-ciri Organisasi Koperasi Koperasi. melainkan diberi tugas melayani anggotanya. 6). 3. 4). b.

3). Untuk menjalankan fungsifungsi dari perangkat organisasi koperasi (rapat anggota. dalam koperasi berlaku prinsip-prinsip: 1). sedangkan managemen sebagai fungsi berarti keseluruhan tugas/fungsi yang harus dijalankan dalam rangka menjamin keberhasilan organisasi dalam jangka panjang. Sebagai perbandingan. Apabila identitas ganda dari anggota koperasi tersebut hilang. yaitu menunjuk kepada orang/ kelompok orang dan yang kedua pendekatan proses. berarti managemen koperasi merupakan serangkaian kegiatan yang teratur. yaitu untuk menghasilkan manfaat yang dapat digunakan oleh anggotanya dalam upaya meningkatkan kegiatan ekonominya. material dan keuangan koperasi untuk mencapai tujuan koperasi yang ditetapkan. dibiayai. maka pemilik perusahaan kapitalistik tidak identik dengan pelanggannya.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) hubungan antara sesamanya atas dasar sekurang-kurangnya satu kepentingan ekonomi yang sama. Managemen koperasi dapat diartikan dalam dua pendekatan yaitu. melalui tahap perencanaan. pengorganisasian pelaksanaan dan pengendalian.4 Konsep Managemen Koperasi Managemen koperasi adalah proses mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia. 3). melalui usaha-usaha bersama atas dasar swadaya dan saling tolong menolong. Oleh sebab itu. pertama pendekatan kebudayaaan. 2). 2). pengurus dan 93 . Optimal mengandung maksud bahwa sumber daya koperasi dikelola secara efisien dan efektif. The term management refers to the institution and to the function (Helmut Wagner 1994. Ketiganya dalam organisasi koperasi memiliki tugas mengembangkan kerjasama sehingga membentuk suatu kelompok pengelola. maka hilang pula ciri perusahaannya sebagai anggota koperasi. Proses. Adanya dorongan (motivasi) untuk mengorganisasikan diri di dalam kelompok dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. (b) Pengurus. (c) Pengawas. Status khusus tersebut merupakan identitas koperasi dimana anggota memiliki identitas ganda atau prinsip ganda anggota (dual identity). dan diawasi secara bersama sama sebagai sarana untuk mencapai sasaran bersama bagi para anggota. Managemen koperasi bersifat terbuka (tentunya terhadap anggotanya) serta dilengkapi dengan prinsip-prinsip koperasi. yaitu pelaksanaan proses managemen itu sendiri (Caska 2003. 2. Managemen sebagai institusi menggambarkan orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas organisasi. Adanya suatu perusahaan yang didirikan. Menurut UU Nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 21 menyatakan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari (a) Rapat Anggota. Satu anggota satu hak suara tanpa melihat besar kecilnya kontribusi modal masing-masing. 579). Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi pada koperasi. 51).

tidak seperti halnya modal dan teknologi (Soetrisno. Misalnya menurut Griffin (1990. Kelembagaan merupakan unsur esensial yang tidak bisa dijiplak mentah-mentah atau dipinjam dari luar. and decisison making. Dengan demikian. Buku Daftar Anggota memuat nomor urut anggota. dan sekaligus mampu menyerap berbagai masukan yang diperlukan bagi pertumbuhan lembaga yang bersangkutan. 94 . mampu mengantisipasi berbagai perubahan sosial. 1989). menengah. leading. dan koperasi untuk mengikuti gerak pembangunan ekonomi terutama disebabkan adanya kelemahan akses mereka di bidang permodalan. Dalam penyelenggaraan administrasi usaha dan keuangan. organizing. masih kurang memperhatikan unsur kelembagaan sebagai faktor penting untuk menjamin keberhasilan dan kelangsungan pembangunan. koperasi melaksanakan pembukuan/akuntansi koperasi secara tertib lengkap dan akurat sesuai norma pembukuan/akuntasi yang ditentukan. Selain itu juga harus ada buku-buku antara lain: Keputusan Rapat Anggota. Dalam penyelenggaraan administrasi organisasi koperasi.AGUSTUS 2009 : 88-115 pengawas). ada 16 (enam belas) buku yang dianjurkan untuk dimiliki oleh koperasi yaitu: Buku Daftar: Anggota. Ketidakmampuan usaha kecil. bahwa kelembagaan adalah faktor strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi terutama di sektor pertanian. 8) menyebutkan bahwa fungsi managemen meliputi planning. teknologi. Notulen Rapat Pengurus dan Rapat Pengawas. Pengawas. umur. Buku Saran Anggota dan Saran Pengawas. 2. bisnis ritel karena sifatnya yang padat karya dan lingkup usahanya yang relatif luas. Pertumbuhan kelembagaan harus diarahkan agar dapat mengimbangi gejolak. nama lengkap. jenis kelamin. Hal ini karena kita masih kurang menyadari. Banyak pakar berpendapat bahwa fungsi managemen sangat bervariasi. industri kerajinan. Buku Simpanan Anggota dan Buku Inventaris. pengembangan kelembagaan pada hakikatnya ditujukan agar dapat mendukung kemampuan pengusaha kecil dan koperasi melalui: 1). Manajer dan Karyawan. penataan kelembagaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mengembangkan usaha. dalam bidang ekonomi.JURNAL VOLUME 4 . informasi. tanggal masuk menjadi anggota. alamat. mata pencaharian. Buku Agenda.5 Konsepsi Penataan Kelembagaan Program bantuan perkuatan yang disalurkan Kementerian Negara Koperasi dan UKM selama ini. Buku Tamu. cap ibu jari anggota dan atau tanda tangan anggota. Saran/Anjuran Pejabat. Instansi Terkait. secara bertahap dan harmonis harus dilakukan berdasarkan koordinasi fungsi managemen. Buku Catatan Kejadian Penting. Oleh sebab itu. yang relatif belum berkembang. dan pasar. khususnya pemberdayaan UMKM. controling. Pengurus.

Pembenahan kondisi struktural agar lebih kondusif bagi pengembangan para pengusaha kecil dan koperasi. adat. Untuk itu perlu disepakati terlebih dahulu bahwa karakteristik yang tercakup dalam kelembagaan adalah mengacu pada optimalitas pengalokasian sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Namun bagaimana pendefinisian kelembagaan itu secara tegas masih sukar dan kompleks karena sangat ditentukan oleh asumsi dan pendekatan yang digunakan. Akibatnya pembangunan kelembagaan jadi tertinggal. sehingga fungsi institusi sebagai pengatur alokasi sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan mengalami kegagalan dan dapat menimbulkan kesenjangan. dan atau konsensus. modal serta institusi dari para pengusaha kecil dan koperasi. tidak selalu sinkron dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. Kecenderungan penerapan model indikatif pada umumnya akan lebih diwarnai oleh peningkatan produksi dan rata-rata pendapatan. Seperti telah diuraikan dimuka. a) Batas juridiksi yang menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam sistem serta menyangkut batas otoritas dan kekuasaan. peran kelembagaan harus diperhitungkan sebagai faktor endogen. supaya peluang koperasi menjadi lembaga penyangga pemberdayaan usaha para pengusaha kecil. Tertinggalnya faktor kelembagaan dibandingkan dengan laju perubahan teknologi sedikit banyak ditentukan oleh model perencanaan. secara positif dan normatif menjadi sangat besar. b) Hak-hak properti. Pentingnya kelembagaan dianggap sebagai faktor endogen dalam pembangunan tidak diragukan lagi. 4). material. 2). Pernantapan peran koperasi untuk mampu menjadi lembaga alternatif bagi pengembangan kemampuan para pengusaha kecil. kelembagaan mempunyai karakteristik antara lain. dalam jangka waktu pendek untuk mencapai sasaran antara. Pengembangan potensi SDM. Kejelasan hak properti dalam kelembagaan 95 . 3). Ciri ini mengacu pada kepastian masalah hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum. mungkin perlu diperhatikan pendapat Pakpahan (1990) yang memberikan batasan bahwa kelembagaan adalah ”suatu sistem organisasi yang dapat mengontrol sumber daya”. Banyak masalah pembangunan ekonorni muncul karena terkait dengan batas jurisdiksi. Demikian juga dalam perencanaan indikatif kelembagaan sering dilihat sebagai faktor eksogen. karenanya tidak dimasukan sebagai faktor strategis dalam kalkulus perencanaan. Dalam hal ini.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Penciptaan iklim usaha berpihak kepada mereka yang merupakan bagian terbesar dari ekonomi rakyat. 5). Model perencanaan indikatif yang mengandalkan prestasi sektoral sebagai performa pembangunan ekonomi. Dalam kondisi ekonomi yang diwarnai kesenjangan. Pembenahan masalah sindikasi perdagangan nasional dan internasional yang memungkinkan para pengusaha kecil dan koperasi dapat eksis di dalamnya.

Karakteristik lainnya adalah. Hal ini dapat dikategorikan pada perangkat lunak dan keras. mencakup nilai (baik buruknya dan benar salahnya). pranata sosial (sosial budaya). organisasi yang terbentuk bukan merupakan suatu sistem yang utuh sehingga tidak memiliki kriteria sebagai kelembagaan yang tangguh. III. Selarna ketiga karakterisitik di atas belum menjiwai lembaga yang dibentuk maka kelembagaan dimaksud tidak akan efektif terutama dalam fungsinya sebagai unsur pengatur alokasi sumber daya dan pemerataan hasil pembangunan. Kebijakan Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Melalui Koperasi 3. tetapi bukan berarti dibangunnya berbagai organisasi/lembaga di perdesaan dapat menjawab masalah kelembagaan. c) Aturan reprensentasi yang dapat memastikan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam setiap proses pengambilan keputusan. Refleksi kelembagaan dengan sendirinya sangat luas dan beragam. Akibatnya mereka banyak menemui kesulitan untuk melibatkan diri ke dalam sistem kelembagaan ekonomi masyarakat sehingga mereka terlepas dari jangkauan atau jaringan fasilitas dan kebijaksanaan pemerintah yang sebenarnya tertuju kepada mereka. Dalam struktur dunia usaha yang sangat dinamis tidak memungkinkan kelompok pengusaha kecil untuk secara sendiri-sendiri mampu tumbuh dan berkembang.1 Persyaratan Pasar Tradisional. Termasuk di dalam analisis kelembagaan adalah bentuk-bentuk organisasi (badan hukum). Pasar tradisional yang sedang atau akan dikembangkan diprakarsai oleh koperasi atau prakarsa Pemda dengan 96 .AGUSTUS 2009 : 88-115 adalah sebagai sumber kekuatan partisipan pembangunan dalam mengembangkan akses dan pengontrolan lalu lintas dan alokasi sumber daya. Pasar Sebagai calon penerima perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Umumnya mereka tidak terorganisir dan kalaupun mereka membentuk sindikasi.JURNAL VOLUME 4 . Dari uraian di atas dapatlah kita nyatakan bahwa kelembagaan itu sangat berdimensi normatif di samping dimensi positif. Koperasi dan Pedagang Calon Penerima Bantuan Dana Bergulir 1. peraturan perundang-undangan. dan kebijakan pembangunan serta lainya yang dianggap penting.

penentuan harga. Bersedia dan mampu berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan. f. c. sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Pedoman Teknis. penempatan pedagang maupun pengelolaan. Belum pernah mendapat bantuan dana bergulir serupa. Organisasi. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memliki pola kepemilikan atau pemanfaatan kios dan los yang memberikan kepastian tempat berusaha bagi pedagang dalam jangka panjang.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) melibatkan koperasi. Bersedia memenuhi kewajiban pelaporan secara berkala sesuai format yang ditentukan . Pasar tradisional yang akan dikembangkan harus didukung oleh Pemda setempat. Mempunyai anggota sebagai pedagang minimal 30 orang. d. b. Telah berbadan hukum paling sedikit 1 (satu) tahun dan berkedudukan serta berusaha di wilayah pasar tradisional yang akan dikembangkan. c. dan pedagang yang siap menempati kios atau los segera setelah selesai dikembangkan. Mendapat persetujuan dari anggota/pedagang untuk melaksanakan program pengembangan yang dibuktikan dengan berita acara Rapat Anggota atau surat pernyataan. Bersedia dan mampu mengelola dana bergulir pengembangan pasar tradisional sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan dibuktikan dengan surat pernyataan serta rekomendasi dari dinas. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memiliki jumlah pedagang anggota koperasi paling sedikit 30 (tiga puluh) orang. baik dalam perencanaan. managemen dan usaha koperasi dalam kondisi sehat yang dibuktikan dengan pernyataan hasil penilaian dari Dinas. Koperasi Persyaratan koperasi penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. g. 2. d. 97 . b. e. pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional serta pengembalian dana bergulir secara tepat jumlah dan waktu. h.

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

3.

Anggota Koperasi/Pedagang Kriteria anggota koperasi/pedagang penerima bantuan perkuatan dana bergulir adalah: a. b. c. d. Terdaftar sebagai kewajiban. anggota koperasi, telah memenuhi

Berdomisili dan bertempat tinggal di wilayah kerja koperasi Sanggup dan bersedia mentaati peraturan dan memnuhi persyaratan yang ditetapkan oleh koperasi. Tidak memiliki tunggakan pinjaman pada bank atau lembaga lain.

3.2

Penetapan, pencairan, pemanfaatan dan pengembalian bantuan dana bergulir 1. Penetapan Koperasi Penetapan koperasi calon penerima dana bergulir dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Keuangan kabupaten/kota melalui tahapan sebagai berikut: a. Menerima permohonan dari koperasi calon penerima dana bergulir yang dilampiri dengan identitas diri Pengurus berupa KTP, bukti keanggotaan pada Koperasi dan Berita Acara Pemilihan Pengurus yang diketahui lurah setempat. b. Mengadakan penelitan dan peniliain terhadap pemenuhan persyaratan Koperasi penerima. c. Mengumumkan hasil penelitian dan penilain koperasi calon penerima pada papan Pengumuman di kantor kecamatan tempat kedudukan Koperasi dan pada dinas/instansi kabupaten/kota setempat. d. Menetapkan calon koperasi yang akan disusulkan kepada Menteri paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal pengumuman dengan Surat Keputusan Kepala Dinas yang membidangi pengembangan koperasi dilampiri berita acara hasil penilaian yang ditandatangani paling sedikti oleh 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah anggota Pokja. e. Menyampaikan hasil seleksi calon koperasi penerima dana bergulir Pokja Keuangan Propinsi untuk diteruskan kepada Pokja Keauangan Pusat dan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha.

98

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat)

2.

Tatacara pencairan bantuan Tata cara pencairan bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Menteri menetapkan koperasi penerima bantuan perkuatan dengan memperhatikan usulan koperasi yang disampaikan oleh bupati/walikota setempat. b. Melalui Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Menteri menyampaikan pemberitahuan penetapan sebagaimana dimaksud huruf a kepada koperasi yang bersangkutan melalui Pokja Keuangan kabupaten/kota. c. Koperasi penerima bantuan perkuatan yang telah ditetapkan Menteri, mengajukan permohonan pencairan dan rencana penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir kepada Menteri atau Pokja Keuangan kabupaten/kota atau dinas secara bertingkat. d. Ketua dan bendahara koperasi penerima dana bergulir membuka nomor rekening tabungan di kantor cabang bank terdekat atas nama koperasi yang berfungsi sebagai rekening penampungan koperasi. e. Menteri meneliti kelengkapan permohonan koperasi penerima bantuan perkuatan dan selanjutnya diajukan ke KPKN-I untuk mentransfer dana bantuan perkuatan tersebut ke rekening penampungan masing-masing koperasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam Bidang Keuangan Negara.

3.

Penggunaan Tata cara penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir untuk pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Dana bergulir digunakan oleh koperasi penerima untuk kegiatan sebagai berikut: 1). Pembangunan kios atau los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional; 2). Renovasi kios dan los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional. b. Penggunaan dana dari rekening penampungan koperasi dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dituangkan dalam proposal yang diajukan. c. Jasa yang timbul pada rekening penampungan koperasi sebelum digunakan wajib terlebih dahulu dipindahbukukan oleh koperasi ke rekening perguliran koperasi.

99

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

4.

Penyaluran Tata cara penyaluran dana bergulir dari koperasi kepada anggotanya adalah sebagai berikut: a. Pedagang anggota koperasi mengajukan permohonan pinjaman untuk pembangunan atau renovasi kios atau los kepada koperasi. Pedagang anggota yang memenuhi syarat ketentuan koperasi membuat perjanjian kredit dengan koperasi untuk menentukan jumlah pinjaman, jangka waktu pengembalian dan besarnya jasa pinjaman. Atas dasar permohonan anggotanya, koperasi melaksanakan kegiatan pembangunan atau renovasi pasar tradisional baik dilaksankan sendiri oleh koperasi meupun kerjasama dengan pihak ketiga. Setelah pembangunan atau renovasi pasar selesai, koperasi melaksanakan serah terima kios atau los dengan anggota sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara anggota dan koperasi sebagimana dimaksud butir b).

b.

c.

d.

5.

Pengembalian. Tata cara pengambilan dana bergulir adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Jangka waktu pengembalian dana bergulir koperasi adalah 8 (delapan) tahun. Terhadap dana bergulir sebagaiman huruf a diberlakukan grace period selam 1 (satu) tahun. Koperasi melakukan penagihan pada menyetorkannya kepada Bank setiap bulan. anggota dan

Koperasi mebukukan secara terpisah antara pengembalian dana bergulir dan jasa operasional dari anggota Pengembalian dana bergulir dari anggota disetorkan pada rekening perguliran koperasi, sedangkan jasa/bunga dari anggota disetorkan pada rekening jasa koperasi. Bunga yang timbul pada rekening perguliran koperasi sebelum digulirkan kembali diakumulasikan pada rekening perguliran koperasi. Dana pada rekening perguliran koperasi hanya dapat dicairkan untuk keperluan perguliran kepada koperasi lain dengan ketetapan Menteri.

f.

g.

100

d. Koperasi penerima dana bergulir dikenakan jasa atau bunga menurun sebesar 12% per tahun efektif dari sisa pokok. Jangka waktu pengembalian pinjaman dari anggota selamalamanya 8 (delapan) tahun. c. Pemanfaatan jasa untuk biaya monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud huruf b).Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 6. Perguliran Dana. Dana bergulir pada program ini khusus untuk keperluan pengembangan pasar tradisional oleh koperasi. Besarnya jasa yang harus dibayarkan anggota setiap bulan adalah 1% dikali sisa pokok pinjaman. Tata cara Perguliran Dana adalah sebagai berikut: a. Anggota menyetor angsuran pokok dan jasa kepada koperasi melalui unit simpan pinjam koperasi. Besarnya pokok angsuran per bulan setiap anggota adalah: jumlah total dibagi jumlah bulan angsuran. Dalam hal anggota membayar uang muka atau DP (down payment) maka besarnya total pokok pinjaman berkurang sebesar uang muka yang dibayarkan. 8. 7. g. Pengembalian pokok pinjaman dimulai setelah berakhir masa grace period yaitu bulan ke-13 setelah serah terima kios atau los. Penetapan dan pemanfaatan jasa. c. f. Tata cara Penetapan dan Pemanfaatan Jasa atas pinjaman diatur sebagai berikut: a. Alokasi pemanfaatan jasa/bunga sebagaimana dimaksud huruf a) diatur sesuai dengan ketentuan di Juknis. 101 . Pengembalian Dana Bergulir dari Anggota Tata cara pengembalian dana bergulir dari anggota kepada koperasi penerima dana bergulir adalah sebagai berikut: a. Jasa dibayar anggota sejak serah terima kios atau los. e. b. b. ditetapkan berdasarkan persetujuan Menteri.

sementara Pemda mengharapkan adanya dua (2) jalan tembus menuju pasar. dan kios dan los yang dibangun sudah terbengkalai selama 2 tahun lebih.125 miliar. Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah melakukan pengembangan pasar tradisional di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupaten/kota serta jumlah koperasi sebanyak 9 (sembilan) koperasi pasar. Perguliran antar koperasi dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu seluruh dana dikembalikan. Kabupaten Gayo Lues di Koperasi Pasar Pelita Karya Koperasi Pasar Pelita Karya ini. Data hasil kunjungan kepada koperasi pasar penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. d.AGUSTUS 2009 : 88-115 b. berada di Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu koperasi pasar yang berkesempatan untuk mengelola bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.2 Keragaan Kelembagaan Koperasi Pasar 1. Dana pada rekening perguliran koperasi penerima dana hanya dapat dicairkan khusus untuk keperluan perguliran kepada koperasi penerima dana berikutnya dengan ketetapan menteri. c. namun demikian pasar yang sudah dibangun dengan anggaran APBN tahun 2003 sebesar 1. IV. dan belum ada kepastian kapan akan dibuka pasar tersebut.1 Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Dari data sekunder yang diperoleh dari Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha. dengan jumlah dana yang telah direalisasikan sebesar Rp 34. Evaluasi Terhadap Kelembagaan Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional 4. Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa jalan masuk ke pasar hanya satu jalan. dapat disampaikan seperti pada tabel 1. e. Proses perguliran dari satu koperasi kepada koperasi lainnya ditetapkan oleh menteri atas usulan dari bupati/walikota. 4. Propinsi Nangro Aceh Darussalam. 102 .5 milyar belum disalurkan kepada anggota.JURNAL VOLUME 4 . Proses pemindahbukuan dari rekening perguliran koperasi penerima dana kepada rekening penampungan koperasi penerima berikutnya dilakukan oleh koperasi dengan persetujuan atau contra sign dari bupati/walikota.

000.000.000.10. Adapun kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional adalah pasar belum beroperasi. Pagar Dewa Ps. Kota Palembang 3.000.7. Tumenggung Ps.PKL Bangun Wijaya. Walaupun memiliki pengurus yang lengkap dan mempunyai 103  .500. Kabupaten OKU 2.000. Kabupaten Kebumen Lokasi Pasar Ps.500.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tabel 1. hal ini terlihat dari pelaksanaan RAT dua tahun terakhir tidak dilakukan. Gw. Jatisari Ps.7.KUD Tenri Sangkae.000. dan simpanan wajib anggota tidak lancar penagihannya.Alang-Alang Lebar Ps. Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional dari Tahun 2003.000. Kabupaten Bone 4. Anyar Ps. 000) 982. Jakabaring Ps.Koppas Saka Selabung. sarana mushola dan MCK.- Ket 2 Sumatera Selatan 3 4 5 NAD Bengkulu Jawa Tengah Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) kepada koperasi dalam pengembangan pasar tradisional berupa bantuan los dan kios.2.750. Tanete Ps. Kuwarasan Ps. Kabupasten Bone 1. karena operasional koperasi belum optimal.3.Kop. sehingga usaha koperasi belum berjalan terutama usaha pertokoan. Kr.000.750. BMT Tarbiyah. Muaradua Ps. Pompanua Ps.000. Kutowinarya Ps.652.000. Performance kelembagaan koperasi pasar sangat kurang baik.KUD Mandiri Puncak. demikian pula usaha yang jalan hanya simpan pinjam yang tidak ditunjang dengan sistem administrasi dan pembukuan yang baik. Songging Ps. Retno Ps. Kabupaten Bone 3.500. Kota Palembang Koperasi Pelita Karya.000.1.2005 Tradisional dari Tahun 2003.1. Palatte Ps.2005 No  Propinsi Sulawesi Selatan Nama Koperasi Dan Alamat 1. Kota Bengkulu Koppas Melati.KUD Telumpoccoe. Kabupaten Sinjai 2. Gayo Lues Kop.000. Centong Blangkerejen Ps. serta pembelian tanah untuk jalan ke lokasi pasar dan tanah pembangunan gedung pasar telah diupayakan oleh Pemda.000. Prembun Thn Bantuan 2003 2005 2005 2005 2003 2004 2004 2003 2003 2003 Jlh Dana (Rp.KUD Waempubbue. Kab.KSU Tunas Baru.

Penyaluran kios sudah dilakukan kepada anggota.023. selama dua tahun tidak ada perubahan jumlah anggota yaitu sebanyak 87 Orang. dikerjakan dengan baik dan tertib.JURNAL VOLUME 4 .000. pengawas dan karyawan sudah lengkap dan menjalankan tugas dengan baik. 22.000. berkedudukan di Kota Bengkulu. kinerjanya cukup baik dilihat dari organisasi dan usaha yang dilaklukan. 2.menjadi Rp. dengan dana sebesar 3 (tiga) miliar rupiah.28.000. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi koperasi sebagai berikut.000. Koperasi ini. Propinsi Bengkulu. 119. demikian pula pengerjaan buku-buku adminstrasi usaha baik dan tertib. Kondisi koperasi Pasar Pelita Karya lebih rinci dapat terlihat pada tabel 2. Adapun keragaan koperasi Pasar Pagar Dewa seperti terlihat pada tabel 3. tetapi telah melaksanakan RAT tepat waktu pada 2 tahun terakhir.menjadi Rp.AGUSTUS 2009 : 88-115 karyawan sebanyak 3 orang..688. 104 . Kota Bengkulu di Koperasi Pasar Pagar Dewa Koperasi Pasar Pagar Dewa ini. karena penjualan kios dilakukan oleh Dinas Pasar Kota Bengkulu dan hasil penjualan juga belum diserahkan kepada koperasi sebagai pengelola dana bergulir. Buku-buku administrasi usaha lengkap. karena minimnya sarana penunjang pasar seperti sarana transportasi dan lain sebagainya. Usaha koperasi yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perdagangan. Dilain pihak modal luar jangka pendek menurun dari Rp.. adalah kebijakan Pemda kota Bengkulu memfungsikan pasar belum menyentuh apa yang diharapkan oleh koperasi selaku pengelola pasar dan pedagang. demikian pula pemanfaatan kios dan los yang dibangun belum maksimal. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional ini. tetapi tidak mendukung jalannya usaha koperasi. tetapi simpanan pokok dan simpanan sukarela meningkat. Buku-buku organisasi lengkap. Propinsi Bengkulu yang mengelola program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisonal pada tahun 2003. pengurus. karena tidak memiliki buku-buku organisasi sebagaimana layaknya koperasi yang ditentukan dalam penetapan koperasi yang boleh dapat bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. namun terjadi penurunan simpanan wajib anggota. namur angsuran pengembalian belum berjalan sebagaimana mestinya. 56.. dan modal sendiri dua tahun terakhir juga meningkat yaitu dari Rp.135.dan modal luar jangka panjang tetap yaitu sebesar 3 (tiga) miliar rupiah.-.086.

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 2. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Tabel 2.Gayo Lues Thn.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pelita Karya Kec. melaks. thn 2005 = 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V. 2005 =216 ORG Thn 2004 dan thn 2005 tdk ada 3 Org. tugas dgn baik 3 Org. jt Thn 2004= 18.Buku-buku besar .5 jt.Buku-buku Bantu . jt Thn 2004= 2. tugas dgn baik 3 Org.Bendel bukti KM-KK .Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . tidak jalan Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Thn 2004= 12. jt. jt Thn 2004= 0 jt. Administrasi Organisasi. tugas dgn baik Ada Ada tidak Ada Tidak Ada Tidak lengkap Kurang Baik Tabelaris Betul Ada. kurang lancar Ada. thn 2005 = 21. Administrasi Organisasi. 2004 = 120 Org. Administrasi Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan/Perdagangan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . melaks.Buku kas tabelaris . thn 2005 = 5. Keragaan Organisasi. melaks. thn 2005 = 40. thn 2005 = 0 jt Thn 2004= 0 jt.Buku kas harian . Blangkejeren.Kab. VI VII 105 2 . Keragaan Organisasi. jt.

Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. Propinsi Sumatera Selatan.AGUSTUS 2009 : 88-115 3. dan tertib dilakukan. Koperasi Serba Usaha Tunas Baru. Sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir walaupun waktunya kurang tepat. Koperasi BMT Tarbiyah. dengan dana sebesar Rp 10 milyar. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar dikelola dan disalurkan lepada anggota dengan tertib. Keragaan organisasi dan Usaha koperasi adalah sebagai berikut. serta belum melaksanakan RAT dua tahun berturut-turut. 2) 3) 106 .6 milyar. dan penambahan anggota dari tahun 2004–2005 meningkat kurang lebih 500 Orang.7.JURNAL VOLUME 4 . Kabupaten OKU dan Kota Palembang sebanyak tiga ( 3) Koperasi 1) Koperasi Pasar Saka Selabung di Kabupaten OKU. sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir tepat waktu sesuai ketentuan. namun pengelolaan pasar tradisional belum berjalan seperti yang diharapkan. Bukubuku administrasi ada. usahanya pun tidak berjalan dan tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi bagaimana seharusnya. koperasi memiliki anggota sebanyak 50 orang dan tidak ada penambahan anggota selama dua tahun terahir. Buku-buku administrasi lengkap. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional pada tahun 2003 dengan anggaran sebesar Rp. namun perkembangan anggota tidak ada yaitu 99 Orang. modal dan perolehan SHU meningkat. di Kota Palembang. di Kota Palembang menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2004. dengan dana sebesar Rp. 7 milyar. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional pada tahun 2004. dan dikerjakan cukup tertib. Keragaan organisasi dan usaha sebagai berikut. perkembangan modal dan perolehan SHU cukup baik. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik.

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 3. thn 2005 = 52. Keragaan Organisasi.Buku kas tabelaris .453 jt.086 jt Thn 2004= 28. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Administrasi Manajerial Tertib ada ada II 1 2 3 4 III 1 2 3 IV 1 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Thn 2004= 1.688 jt. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi. melaks. Keragaan Organisasi. thn 2005 = 3 m 2 V VI VII 107 . thn 2005 = 1. tugas dgn baik 8 Org. Administrasi Tabel 3.Buku kas harian . 2004 =87 Org danThn. thn 2005 = 22. AdministrasiI Organisasi. 2005 = 87 Org 14-02-2005 dan 13-03-2006 3 Org. melaks.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . jt Thn 2004= 56.981 jt Thn 2004= 53.Buku-buku Bantu . tugas dgn baik 3 Org. melaks.Bendel bukti KM-KK .Buku-buku besar . AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 NO I 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .5 jt. thn 2005 = 40. Jln Raden Patah Thn. thn 2005 = 119.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pagar Dewa.135 jt Thn 2004= 3 m.698 jt Thn 2004= 18.9 31jt.023 jt.

tgs dgn baik 3 Org. tgs dgn baik 24Org. melaks. Keragaan Organisasi. yaitu belum berfungsinya operasional pasar secara maksimal.123 m 108 ./3./=7./ 0 jt 2004/5= 2./110.505 jt 2004/5=1. dan Penyediaan lahan pembangunan pasar.Bendel bukti KM-KK .750 jt 2004/5= 0 jt.AGUSTUS 2009 : 88-115 Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan usaha koperasi pasar tradisional. melaks.Buku-buku besar . Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . tgs dgn baik 3 Org.Buku kas tabelaris -Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . Plg Kop.350 jt 2004/5=0.837 m 2004/5=10. / 3.dan kantor serta fasilitas umum. melaks./ 4.Maraduo 2004/5 = 50 Org/ 50 Org tidak ada data 5 Org. Administrasi Organisasi. Pr SakaSelabung Kec. memberikan akses dan dukungan terhadap sumber pembiayaan melalui perbankan dan non bank.740 jt/ 1. melaks. Administrasi Usaha Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 Tahun 2006 Di Propinsi Sumatera Selatan NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tg jawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Usaha Pengolahan Pasar . dan Jumlah transportasi belum memadai. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 4.256 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=2.680jt.melaks.396 jt.406 M 2004/5= 7. Keragaan Organisasi.825jt.Buku-buku Bantu . tgs dgn baik 81Org.207 jt. antara lain./91.340./10.249 jt.607 jt.029 jt Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=8./ = 0 m V 2004/5= 0 jt. Dilain pihak kendala yang dihadapi pengurus untuk pengembangan koperasi pasar./=29. melaks.509 jt 2004/5=72. tgs dgn baik 3 Org. melaks. Plg KSU Tunas Baru Jln HM Ryakudu./=2.750 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 m. Administrasi Organisasi.312 jt 2004/5= 3.310m. tgs dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Manual Betul/Tertib Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Tabelaris Tertib 692.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi BMT Tarbiah Tlg.850 jt 2004/5=4.235 jt/19. tgs dgn baik 3 Org.835jt 2004/5=16.500 jt./ 0 jt 2004/5=0.Laba Usaha Peng.902 m.000 3. Penentuan lokasi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) dan pendirian bangunan tidak dikenakan biaya. Tabel 4. dan rencana proposal bantuan dana bergulir.185 jt II  2 3 4 III  IV  2 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=2.637./0.500jt. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tabel 4.JURNAL VOLUME 4 .Buku kas harian .Betutu. tgs dgn baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap 2004/5 = 99 Org/= 99 Org 2004/5=1541 Org/2052 Org 30-04-2005/29-04-2006 24-08-2005/31-01-2006 5 Org./ 0 jt 2004/5= 0 jt.823 jt. / 2. melaks.

Sinjai dan Kab. maka KUD ini digolongkan sebagai Koperasi Pasar. 2). namun demikian sampai pada saat dilakukan kunjungan kelokasi. namun demikian. dan tidak ada penambahan anggota tetap sebanyak 158 Orang. Usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perkembangan simpanan anggota tidak ada. Kabupaten Sinjai. Walaupun perolehan sisa hasil usaha meningkat. Kab.750. Pedagang sebagai penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang disalurkan oleh KUD tidak seluruhnya anggota koperasi. dengan dana sebesar Rp. KUD Waepubbue. Kab. Unit usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan pertokoan.Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Bone ada 3 Koperasi Pengelola dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional di propinsi Sulawesi Selatan ada 3 Koperasi Unit Desa (KUD). Propinsi Sulawesi Selatan. Bone menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. 982.5 juta.Telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. Buku-buku administrasi dan keuangan lengkap dan dikerjakan dengan tertib. Koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi secara tertib. KUD Puncak.Juta. namun demikian volume usahanya sangat kecil. namun yang melakukan pengelolaan dengan baik baru satu koperasi yaitu KUD Puncak. pelayanan usaha simpan pinjam yang dilakukan lebih banyak kepada non anggota. Tidak jelas penyebabnya. Sudah melakukan RAT pada tahun buku 2 tahun terakhir dengan tepat waktu. KUD Tenrisangkae Kab. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. 1). pasar dimaksud belum dibangun. 3).Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. tetapi perkembangan anggota tidak ada tetap sebanyak 518 Orang. Bone. Tidak tersedia 109 . Usaha yang dilakukan adalah unit usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan. Kabupaten Sinjai menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003. KUD ini belum melaksanakan RAT pada 2 tahun terakhir. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. dengan dana sebesar Rp. dengan dana sebesar Rp. namun tidak demikian dengan perkembangan simpanan anggota.750 juta.

antara lain: status anggota masih lebih banyak calon anggota. 529.JURNAL VOLUME 4 . sehingga penagihan cicilan masih belum dilaksanakan terhadap anggota. Dilain pihak perkembangan modal luar meningkat khususnya modal jangka pendek.AGUSTUS 2009 : 88-115 data-data organisasi dan usaha. dan status tanah pengembangan pasar masih mempunyai masalah. Permasalahan yang dihadapi pengurus koperasi pasar adalah karena belum dikeluarkan petunjuk dari Menteri Negara Koperasi 110 .298. administrasi usaha dilakukan dengan sistim buku kas tabelaris dan sistim akuntansi dan memiliki buku-buku lengkap serta dikerjakan dengan baik. adanya pertumbuhan anggota. pengawas dan karyawan ada.500. demikian pula rencana kerja. 2. memiliki pengurus. masyarakat ada yang menuntut hak miliknya.000. Unit usaha yang dilaksanakan koperasi adalah simpan pinjam dengan volumen usaha sebesar Rp. Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional.000. 5. Pemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi organisasi lengkap dan tertib dilaksanakan.2.dan usaha pasar dengan volumen usahasebesar Rp. pengawas. dan pengelolaan program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional telah dilakukan dengan baik. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi seprti berikut. sehingga belum mengetahui mengenai hak dan kewajibannya. sedangkan modal jangka panjang tidak ada. telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. dengan dana sebesar Rp. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 5. dengan demikian disimpulkan koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan administrasi pembukuan sebagaimana seharusnya. Propinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen di Koperasi Pasar Melati Koperasi Pasar Melati. Perkembangan modal sendiri meningkat melalui pemupukan modal yang bersumber dari anggota.. bahkan simpanan sukarela tidak ada. walaupun simpanan pokok dan simpanan wajib peningkatan dalam dua tahun terakhir sangat kecil.625.500 juta. Kabupaten Kebumen menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003. Pembagian tugas dan wewenang pengurus. dan karyawan lengkap serta melaksanakan tugs dengan baik.

900jt/0.Non Anggota . Kab.800 6.Buku kas harian .900 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5=557.024jt / 50.426 jt 2004/5=41. melaks.426 jt/5.812.383. tgs dgn baik 3 Org. 980 jt/557.000 599.750. tgs dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tidak Tertib 11. pola RAT yang sudah ada kurang tepat untuk dilaksanakan.968.075 jt/1.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang KUD Puncak. jt 2004/5=61.Non Anggota .980jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 10 0 jt / 100 jt KUD Tentri Sangkae.Laba Usaha Pertokoan . maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. tgs dgn baik Tidak ada data 4 Org.515. melaks.000 11. Kab. perihal pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.Buku-buku besar . tgs dgn baik Tidak Lengkap Tidak Baik Stndar Akuntansi Tidak Tertib 599.800 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=5.Bendel bukti KM-KK . tugas dgn baik 9 Org.000 17.075 jt 2004/5=0. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14.366 363.000 Ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=1. Administrasi Organisasi. tgs dgn baik 5 Org. dan pembayaran cicilan kios tidak rutin dilakukan anggota. melaks. melaks.798 jt 2004/5=14.000 1. melaks. jt KUD Waempubbue.163. melaks.Buku-buku Bantu .500. Bone 2004/5 = 158 Org/158 Org 05-01-2005/18-02-2006 3 Org. Administrasi Organisasi. Tabel. 5 Keragaan Organisasi.366 36.500. tugas dgn baik 3 Org.Laba Usaha Administrasi Usaha Sistem buku tabelaris . tugas dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tertib 933. Kab.607.383jt/ =14. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota.727 jt 2004/5= 61.052.000 570. melaks.607jt /61. melaks.Buku kas tabelaris -Buku pendukung Sistem akuntansi .300.Untuk Anggota . jt 2004/5=114.300. Sinjai 2004/5 = 518 Org/518 Org 21-03-2005/20-01-2006 3 Org.529.607jt/64.Dana Bergulir dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Administrasi Usaha dan Pasar Tradisional Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 II  2 3 4 III  2 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Adminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistim Pembukuan SP Volume Usaha : .000 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt IV  2 V VI VII  .Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) dan UKM. 5 Keragaan Organisasi. Bone 2004/5= tidak ada data tidak ada data 3 Org.052.798 jt/41.439.000 1.Untuk Anggota . Administrasi Usaha Tabel.000 14.

Laba Usaha Peng. melaks. AdministrasiI Organisasi.950 2.227.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .Buku kas tabelaris .Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Melati Jl.dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.944 2. melaks.297 jt/15.873 jt 2004/5= 0 jt / = 0 jt 2004/5=61.Dwi Karsa – Kebumen 2004 = 1002 Org dan 2005 = 1033 Org 16-02-2005 dan 16-02-2006 5 Org.Buku-buku besar . Administrasi Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Volume Usaha : .260 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V VI VII 112 .Laba Usaha Usaha Pertokoan/Perdagangan .035 jt /195.AGUSTUS 2009 : 88-115 Tabel 6.Buku-buku Bantu . melaks.000 15.Laba Usaha Usaha Pengolahan Pasar .625.Buku kas harian . tugas dgn baik 3 Org.110jt/ 5.500.646.505 10.538 jt 2004/5= 183.552. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Betul/Tertib 529. Administrasi Usaha Keragaan Organisasi. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Tabel 6. Keragaan Organisasi.678 jt/70.Bendel bukti KM-KK .JURNAL VOLUME 4 .298.153 jt 2004/5=13.116 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5= 5. tugas dgn baik 7 Org.

7. Mengecek kelengkapan buku-buku administrasi koperasi sebagaimana ditetapkan (16 buku) dan menguji ketertiban pelaksanaannya. Melakukan sosialisasi penataan kelembagaan koperasi kepada calon penerima bantuan perkuatan dana bergulir pasar tradisional terhadap pengurus. 2. pengelola dan anggota/kader koperasi. Memberikan saran. sesuai kebutuhan. untuk memperoleh data yang baik. pengawas. dan penyelesaian untuk perbaikan pengelolaan koperasi yang baik dan disertai contoh-contoh konkrit.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. 8. untuk mengetahui kelengkapan organisasi. pengelola supaya menyelenggarakan pembukuan sesuai standar akuntasi keuangan koperasi yang berlaku. 3. 113 . Memberikan saran-saran pembenahan tata usaha organisasi dan managemen kepada pengurus/pengelola baik kelembagaan maupun usaha koperasi. 4. terutama menyangkut adminiatrasi keuangan dan usaha koperasi. maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mempersiapkan formulir angket isian. Dalam mengelola administrasi usaha koperasi.3 Langkah-Langkah Penataan Tradisional. Melakukan kunjungan ke koperasi yang terdaftar sebagai calon penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional untuk melakukan evaluasi. apakah sesuai dengan laporan yang disampaikan kepada Tim. Kelembagaan Koperasi Pasar Untuk perbaikan pelaksanakan penataan kelembagaan koperasi penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang akan datang. 6. tatalaksana dan administrasi usaha koperasi pasar yang mengajukan permohonan bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. penjelasan. 5. Mengkroscek keterangan yang disampaikan pengurus. Mengecek kebenaran laporan pengurus/pengelola koperasi tentang pengelolaan organisasi dan usaha yang dilaksanakan. pengelola dan pengawas dengan keterangan dari anggota tentang kebenaran tertib administrasi dan tertib usaha koperasi.

dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. Badan Pengawas dan Karyawan Koperasi) untuk membangun komitmen. Pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Pengelolaan dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional masih kurang tertib sesuai dengan ketentuan. 7. 6. Dalam penunjukan/penetapan koperasi pelaksana program. Kegiatan pembinaan ini difokuskan pada 2. mengingat dari sampel yang ditinjau diberbagai propinsi. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. khususnya pengelola bantuan perkuatan atau sejenisnya. Koperasi Pengelola bantuan dana bergulir perlu memiliki sistem administrasi yang lengkap sebagai dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengelola dana publik. diskusi temu usaha. maka dianjurkan koperasi pengelola bantuan dana bergulir pembangunan pasar tradisional agar memiliki buku-buku tersebut di atas. Kelembagaan koperasi pasar tradisional sangat perlu didata. pendidikan dan latihan. Kesimpulan dan Saran Hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pasar penerima program bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang telah dilaksanakan. pengurus. kondisi kepemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi sangat kurang baik.JURNAL VOLUME 4 . juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. kapasitas dan tanggung jawabnya terhadap kegiatan koperasi pengelola pasar tradisional sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing dalam managemen koperasi. 4.AGUSTUS 2009 : 88-115 V. Pelaksanaan RAT pada beberapa koperasi belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. 5. agar terlebih dahulu dilakukan penataan kelembagaan terhadap koperasi calon pengelola bantuan perkuatan. 114 . 3. monitoring dan evaluasi secara reguler oleh pejabat pembina koperasi. pada hal RAT adalah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. 8. Untuk itu perlu diintensifkan pelaksanaan bimbingan konsultasi. Hal ini terkait dengan kurang tertibnya administrasi organisasi dan usaha serta lemahnya kemampuan SDM koperasi dalam pemahaman administrasi managemen. Meningkatkan kemampuan managerial dan kompetensi SDM koperasi (anggota. pengendalian. Laporan pertanggungjawaban pengurus belum memenuhi standar pelaporan sebagaimana layaknya.

Soediyono Reksoprayitno. Kamus Istilah Pemberdayaan Koperasi dan UKM. Saudin Sijabat. (2007). (2008). Tentang Pedoman Pemeringkatan Koperasi. Pegadaian Versus Bank Umum (Menilai Profil Yang Potensial Untuk Menjadi Lembaga Perkreditan Rakyat). --------------. (2007). Saudin Sijabat. Jakarta. Jakarta. -------------. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. R. (2008). Infokop Volume 15 No. Jakarta. (2007).I. Tentang Perkoperasian.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) peningkatan kemampuan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Jakarta. Pembinaan Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Kelembagaan Koperasi. (2006). Kementerian Negara Koperasi dan UKM.September 2008. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK.I. Halomoan Tamba. 2 Tahun 2007. Jakarta. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM R.I. Nomor : 9 Tahun 1995. Saudin Sijabat. (2007). Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Kecil dan Menengah. Infokop Volume 16 . (2004. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Saudin Sijabat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Peraturan Pemerintah R. Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Oleh Koperasi. Jakarta. Kajian Pengendalian Anggota pada Koperasi Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Koperasi. Nomor : 22/PER/M. (2000). Jakarta -------------.I. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2. Pedagang kaki Lima : Entrepreneur Yang Terabaikan. Ekonomi Makro. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. ---------------. 115 . 29 Tahun XXII 2006. Jakarta.I. R. Jakarta. Yokyakarta. Infokop No. (2007). --------------. Jakarta. Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM. BPFE. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Mengah R. Kementerian Kementerian Negara Koperasi dan UKM R. Tentang Usaha Mikro. Potret Iklim Usaha Pemberdayaan UKMK. Analis IS-LM dan PermintaanPenawaran Agregatif. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Volume 3 – September 2008.I. KUKM/IV/200��. (2008).

8 �uni 200�. Promotion affect positively to 1) Improvement of profit and omset of MSMEs. Penyelenggaraan.1 Latar Belakang Salah satu kendala yang dihadapi oleh UMKM adalah akses pasar. PENDAHULUAN 1. pemasaran. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian) Eks Pegawai Asdep Urusan Penelitian UKM sebagai Pemerhati KUKM 116 . 3) Exhibition and 4) Mission Trade. d) time management with product demand fluctuation. peer review 8 Mei s. untuk itu perlu dibangun sistem pemasaran bagi UMKM yang lebih baik. Artikel diterima 18 Mei 200�. b) partial planning. kuantitas. 3) Improvement of production technology. and also c) to know most efficient and effective promotion program to support development of MSMEs. promosi pemasaran I. Untuk memenuhi permintaan pasar dan selera pasar serta menghadapi persaingan global menuntut inovasi dan kreatifitas para pelaku usaha termasuk dalam aspek teknologi. Result of four activities (as ranked) 1) Trading Board 2) Meeting Business. maupun spesifikasi suatu barang yang diminati masyarakat. pasar. 4). *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Penelitian UKM tahun 200��. Informasi pasar disatu sisi berupa informasi tentang barang-barang hasil produksi UMKM dan kebutuhan atau kecenderungan pasar.d. posed at from the increasing of profit mean.. Some problems which often arise and lessen effective promotion is: a) the minim of socialization. review terakhir �� �uli 200� Kabid. System management improvement.AGUSTUS 2009 : 116-139 KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)*) Indra Idris**) dan Sri Lestari***) Abstract Study aim to: a) to measure the impact of MSMEs. product marketing promotion. c) the lack of location information with the product especially related to product demand and goods to be promoted and also. Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan informasi pasar. b) to know problems faced and dominant factors which are influencing the effective product marketing promotion of MSMEs.JURNAL VOLUME 4 . yaitu jenis barang. having the character of quadratic to improvement of omset. 2) The labor absorption improvement. kualitas. informasi pasar.

penyebaran brosur dan leaflet. Frekuensi keikutsertaan UMKM tersebut relatif besar. tetapi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah jenis UMKM dan jumlah jenis barang yang diproduksi oleh UMKM. Kegiatan promosi pemasaran diharapkan dapat mendorong UMKM meningkatkan efesiensi dan produktifitas. Pengembangan sistem informasi untuk UMKM selama satu dekade terakhir ini memang sudah dilaksanakan baik oleh UMKM sendiri. maupun para stakeholder lainnya. dan pihak-pihak pihak lainnya sebanyak 127 kali. dengan perincian 76 kali di dalam negeri dan 51 kali di luar negeri. serta meningkatkan kemampuan dalam memperbaiki kualitas teknologi dan managemen usahanya. Bentuk promosi invidual ini cenderung memiliki jangkauan pasar yang relatif sempit (tingkat daerah dan nasional saja). telah dilakukan promosi pemasaran oleh Instansi pemerintah. Jumlah UMKM yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut mencapai 2.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Persaingan pasar yang semakin terbuka menuntut semua pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku bisnis yang terjadi.478 orang dari 1. Disamping promosi secara individual UMKM juga melaksanakan kegiatan promosi pemasaran lainnya seperti iklan di media masa. bila tidak ingin tergilas atau lenyap sama sekali dalam pertarungan pasar. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh UMKM sendiri ruang lingkupnya sangat terbatas. tetapi frekuensinya belum mencukupi. terutama dalam berbagai bentuk promosi produk UMKM. Dari data Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). pemasangan spanduk.864 unit usaha. 117 . sedangkan program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah jumlahnya relatif masih sedikit. Program promosi pemasaran produk UMKM pada intinya adalah ditujukan untuk memperkenalkan produk UMKM kepasaran nasional dan internasional. Perlu komitmen berbagai pihak untuk memberdayakannya terutama meningkatkan akses pasar melalui peningkatan akses informasi dan teknologi bagi UMKM. Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) diketahui bahwa antara tahun 2001 sampai dengan bulan Agustus tahun 2007. UMKM sendiri. iklan reklame dan lain-lain yang bersifat parsial. Adanya permasalahan internal UMKM serta perkembangan lingkungan dan teknologi yang demikian cepat menyebabkan UMKM belum mampu mengakses informasi pasar. Pelaksanaan kegiatan promosi pemasaran produk UMKM memang telah dilaksanakan baik oleh pemerintah. Dampak lebih lanjut yang diharapkan adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran. pemerintah dan pihak-pihak lainnya. dibandingkan dengan jumlah dan jenis produk UMKM.

penyerapan tenaga.3 Sasaran Kajian Sasaran Kajian ini adalah: 1) Mengetahui tingkat pengaruh promosi pemasaran UMKM terhadap perluasan pangsa produk UMKM. 2) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran produk UMKM. Apa saja faktor kunci yang menentukan tingkat keberhasilan program promosi pemasaran UMKM ? 1. maka diperlukan kajian eksploratif evaluatif untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut 1. baik yang dilaksanakan di dalam maupun di luar negeri.2 Tujuan Kajian Kajian ini bertujuan untuk: 1) Mengukur dampak kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dalam berbagai bentuk. 3) Mendapatkan solusi pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi serta menetapkan dan mengembangkan bentuk promosi pemasaran yang efektif.JURNAL VOLUME 4 . Apa permasalahan yang dihadapi dalam upaya meninglkatan efektifitas berbagai kegiatan promosi yang telah dan yang bisa dilakukan? 4. Apakah program promosi dalam berbagai bentuk ditingkat nasional maupun internasional tersebut telah memberikan dampak nyata (signifikan) terhadap peningkatan produksi dan pangsa pasar UMKM? 2. laba. UMKM sendiri maupun pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya? 3. Jika terjadi kenaikan produksi dan omset UMKM. 118 . apakah itu karena adanya promosi yang diprakarsai dan dilakukan baik oleh pemerintah. 3) Mengetahui bentuk program promosi yang paling efektif dan efisien dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang diindikasi dari peningkatan omset dan laba UMKM. 1. perbaikan teknologi serta pengembangan sistem managemen usaha UMKM. serta. terhadap peningkatan omset. 2) Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas kegiatan promosi pemasaran produk UMKM.AGUSTUS 2009 : 116-139 Sejalan dengan uraian di atas.

selera konsumen atas barang tersebut. peluang pasar. dan belum berorientasi sistem bisnis modern. Beberapa faktor yang harus diperhitungkan oleh UMKM sebagai produsen menurut Harry (1968) adalah kelayakan penggunaan dana. Dengan dikenalnya produk UMKM diharapkan dapat meningkatkan volume usaha sehingga pada akhirnya meningkatkan laba.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) II. Dari keempat unsur tersebut promosi merupakan unsur terakhir yang dianggap memiliki posisi strategis sebagai faktor kunci yang menghubungkan atau memperkenalkan produk yang dihasilkan UMKM kepada konsumen atau pasar. trading board.1 Kerangka Dasar Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Penjualan langsung ini umumnya kurang menguntungkan karena laba yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Keempat aspek ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran. Hal tersebut berdampak meningkatnya tabungan (saving) guna mendukung upaya perluasan skala usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. jenis barang yang akan dipasarkan. Beberapa kegiatan promosi yang paling banyak dilakukan oleh UMKM dan para stakeholder adalah berupa pameran. Kebiasaan ini menandakan bahwa UMKM masih terobsesi pada kesempatan pameran lokal yang menjadi ajang penjualan langsung. pesaing. tempat atau lokasi dan promosi produk. Pengertian promosi adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk memperkenalkan UMKM dan produknya kepada konsumen. dengan tujuan utama untuk memperoleh pembeli (buyers). Untuk tujuan tersebut produsen harus mengalokasikan sejumlah sumberdaya yang jumlahnya cukup besar. misi dagang dan temu bisnis. trent atau mode serta faktor-faktor eksternal lainnya. Teori ekonomi menjelaskan bahwa konsep pemasaran meliputi 4 unsur pendukung yaitu produk. Menurut Ramlan (2001) dalam pameran/festival terbuka peluang bagi UMKM untuk menjual produknya secara langsung juga terbuka. barang substitusi dan komplementer. KERANGKA PEMIKIRAN 2. 119 . harga. Beberapa hasil pengamatan empiris seperti yang dilakukan poleh Wachidin (2002) dan Sujito (2001) menunjukkan bahwa pada kesempatan pameran UMKM lebih cenderung menjual produknya secara retail. yang mengutamakan relasi dan kesinambungan pasar. maka promosi harus dilakukan secara profesional. UMKM harus dapat memilih bentuk promosi yang memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi.

pameran/exhibition dan lainnya. dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada gambar 1. Temu bisnis juga merupakan kegiatan yang cukup luas. Sebagai misal yang telah dilakukan oleh pemerintah China dan pemerintah Vietnam di Afrika Barat dan beberapa negara Arab. Dampaknya sangat besar karena pembelian biasanya dilakukan dalam bentuk partai besar dan jangka waktu yang relatif panjang. Keikutsertaan mereka dalam kegiatan promosi pemasaran yang bersifat terkoordinir tersebut juga dikarenakan apabila mereka melakukan promosi secara mandiri tidak memiliki pengetahuan dan biaya yang cukup besar. Kementerian Negara Koperasi dan UMKM merencanakan dan telah melaksanakan berbagai program promosi bagi UMKM berupa misi dagang. memerlukan biaya besar. Djauhari (2006) mengatakan bahwa disamping bentuk promosi di atas yang telah pernah dilakukan oleh UMKM. yang diproduksi oleh UMKM. trading house. 120 . menyangkut semua aspek perdagangan dan kebijakan pemerintah yang mendukung kelancaran perdagangan. Pembangunan dan penyelenggaraan promosi ini hanya mungkin dilaksanakan oleh pemerintah. Promosi tersebut memang diperlukan UMKM untuk menarik konsumen dari daerah yang sudah menggunakan produk sejenis. atau para pengusaha kelas menengah dan besar. ada wacana untuk membangun trading house dan bussines center di beberapa negara konsumen.JURNAL VOLUME 4 . UMKM skala usaha kecil menuju menengah di sektor industri kerajinan yang sering mengikuti kegiatan promosi. Atas pertimbangan tersebut di atas maka untuk mendukung pertumbuhan bisnis UMKM. Ruang lingkup promosi hanya terbatas diantara produsen dengan beberapa buyer saja. dan menuntut pengetahuan luas dari produsen dan buyer tentang barang dan managemen pemasarannya. temu bisnis.2 Kerangka Operasional Kajian ini difokuskan untuk melihat seberapa besar dampak dari pelaksanaan promosi terhadap perluasan pasar yang berdampak pada peningkatan omset UMKM. 2. Biasanya dalam misi dagang dilaksanakan dalam ruang lingkup yang sangat luas. Secara skematis hubungan antar keterkaitan faktor penentu.AGUSTUS 2009 : 116-139 Temu bisnis atau misi dagang pada dasarnya juga merupakan media yang bertujuan untuk mempromosikan produk kepada buyer/ pasar. Sujito (2001) mengemukakan bahwa berdasarkan pengamatannya. Misi dagang Misi dagang umumnya hanya melibatkan para pengusaha menengah dan besar. sehingga sulit dilakukan.

27 Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM No 1. lama waktu penyelenggaran.8 14.9 39.30 28.5 43. Propinsi Jateng D. kualitas produk.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Dari gambar 1 dapat dikemukakan bahwa keberhasilan kegiatan promosi pemasaran ditentukan oleh banyak faktor antara lain kondisi internal UMKM. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan (%) Faktor Penentukan Keberhasilan Beberapa unsur yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program promosi pemasaran dalam kajian Pameran Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board ini diasumsikan menjadi faktor kunci (keyKnaikan Knaikan analisis factor).88 50. Omset. Tabel 1. Jatim Rata-rata /Propinsi 48. 2.Y.85 10. Dalam Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah faktor akan unsur-unsur tersebut akan menjadi variabel bebas yang Omset Omset Omset Omset Pembeli Pembeli Pembeli ( %) %) ( %) ( %) dapat ditentukanPembeli signifikansi pengaruhnya (dengan (menggunakan %) ( %) ( %) ( %) 40. frekuensi keikutsertaan dalam promosi.98 54.5 63.5 62. PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO KEGIATAN PROMOSI Peningkatas Kualitas Produk Dan SDM Perluasan Pasar Produk UMKMK Inovasi Teknologi Peningkatan Omset Peningkatan Pendapatan /Laba Pertambahan Investasi Perbaikan Produktifitas Gambar 1. Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset. 3. KaitanKaitan Dampak Pameran terhadap peningkatanpeningkatan Gambar 1. prosedur dan keikutsertaan dalam promosi.05 59.68 14.4 41. jenis produk yang ingin dipromosikan. penyelenggara promosi.85 121 53.7 10.16 28. ProduktifitasProduktifitas dan Pendapatan UKM peningkatan dan Pendapatan UKM 2.39 30.15 65.26 11.3 Variabel Analisis A.92 17.4  .5 64. jumlah pesaing dan kondisi persaingan.41 13.00 42. biaya promosi lokasi atau tempat promosi.2 7.46 61.1 8.15 70.18 35.81 53.55 37.I.70 47.

yaitu terdiri dari: 1) Kondisi internal UMKM. 5). Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari responden sample. METODA KAJIAN DAN ANALISIS 3.3 Metoda Analisis Kajian ini menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. 2) Jenis produk yang ingin di pamerkan/pasarkan. Analisis kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi ideal dan kondisi riil di lapang. 3. 3.1 Ruang Lingkup Substansi Kajian Ruang lingkup kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM b).AGUSTUS 2009 : 116-139 model-model kualitatif maupun kuantitatif (matematis). 6). 8) Lama waktu penyelenggaran. Analisis kuantitatif menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan matematik antara lain: 122 . Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas modelmodel promosi pemasaran produk UMKM. 9) Prosedur dan keikutsertaan. 10) Kualitas barang produk. 2) Peningkatan laba. Adapun data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait dan berbagai referensi. baik dari penjualan langsung (untuk promosi dalam bentuk pameran) dan barang yang terjual sesudah dilaksanakannya kegiatan promosi (pemesanan). B. dan Jawa Timur. III. 3) Peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja. Frekuensi keikutsertaan dalam kegiatan promosi pemasaran. 3) Menetapkan faktorfaktor dominan yang mempengaruhi efektifitas program promosi pemasaran produk UMKM. Biaya promosi. Selain itu kajian dilaksanakan di tiga propinsi contoh yaitu Jawa Tengah. 7) Lokasi atau tempat. 11) Jumlah pesaing dan kondisi persaingan. Penyelenggara pameran. 5) Peningkatan kualitas managemen usaha. 4) Peningkatan teknologi produksi.Yogyakarta. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan acak terbatas (purposive random sampling). 3). Dampak keberhasilan pelaksanaan promosi Dampak yang dikaji dengan keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran yaitu: 1) Peningkatan omset.JURNAL VOLUME 4 . D I.2 Metoda Pengumpulan Data Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda survey terbatas. 4). Bentuk promosi.

Jumlah pesaing dan kondisi persaingan=X11. bila K > 1 dinilai layak. dan X= Peubah bebas (independent variable). Adapun model dasar yang digunakan adalah: Y = a + Bx + e Y = Peubah tetap yaitu kinerja/indikator keberhasilan pameran dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang terdiri dari. 123 . Kualitas barang=X10. Peningkatan teknologi produksi. sedangkan bila K < 1. Y1 = Y2 = Yang mana A=Intersep (constanta). Perluasan Pasar Produk UMKM. Biaya promosi= X6. E=Galat (error). baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan program promosi UKMK yaitu: Kondisi internal UMKM=X1. Adapun model dasar yang digunakan adalah K = M/B. B=Koefisien regresi. Lama waktu penyelenggaran=X8. Frekuensi Keikutsertaan=X3. Lokasi atau tempat=X7. Prosedur Prosedur keikutsertaan dalam promosi=X9. Jenis produk yang ingin di pamerkan/ pasarkan=X2. yang ditujukan untuk menentukan kelayakan keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan promosi.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 1) Analisa ekonomi sederhana berupa model analisa biaya manfaat (benefid cost ratio). Adapun peubah bebas terdiri dari beberapa faktor-faktor yang diduga berpengaruh. 3) Oleh karena adanya dugaan bahwa ada pengaruh silang antar tiap peubah bebas (independet variable) terhadap kinerja peubah tetap (dependent variable) maka akan digunakan model analisis regresi berjenjang (step wise analisys). Penyelenggara promosi= X4. UMKM dinilai tidak layak untuk ikut promosi Manfaat yang diperoleh berupa kenaikan laba UMKM dari keikutsertaannya dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) Biaya yang dikeluarkan oleh UMKM untuk ikut serta dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) M = B = 2) Regresi linier berganda (multy variety analisys) untuk menentukan ada tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent terhadap dependent variable. Tema promosi= X5. dimana: K = Kelayakan keikutsertaan UMKM.

6 orang per tahun.JURNAL VOLUME 4 . Hasil pengamatan menyimpulkan bahwa rendahnya jumlah penyelenggaraan promosi dan keikutsertaan UMKM dalam 124 . dengan frekuensi kegiatan selama lima tahun terakhir sebanyak 29 kali dan peserta 1. Frekuensi keikutsertaan.082 orang. atau 104.94 juta unit usaha. D. Yogyakarta dan Jawa Timar. Sedangkan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta adalah temu bisnis. misi dagang dan kontak dagang. dengan tingkat kepercayaan 90 %. Nampaknya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada di ketiga propinsi contoh. dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73 orang. tiap propinsi contoh rata-rata telah mengirim UMKM ikut dalam program promosi sebanyak 14. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS 4. 4) Model analisis komparatif. diikuti dengan trading board.1 Penyelenggaraan Promosi Pemasaran 4.1. Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan program Statistical Analisys System (SAS) dengan uji t dan Uji a sampai dengan tingkat kepercayaan (level of significant) 90%. Jumlah ini menurut mereka sudah cukup memadai.yang diperkirakan mencapai 8. IV.dan Jumlah Peserta Hasil kajian di propinsi Jawa Tengah. digunakan untuk menjawab indikator dampak kegiatan promosi pemasaran terhadap peningkatan Kualitas SDM yang diindikasikan dari perubahan pola pikir produsen baik dalam hal managemen. menunjukkan bahwa bentuk promosi pemasaran yang paling banyak diikuti UMKM adalah pameran. Bentuk promosi yang relatif banyak menyerap peserta adalah pameran. Temu bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang.2 per propinsi per tahun.AGUSTUS 2009 : 116-139 Untuk menguji ada tidaknya pengaruh. serta seberapa besar pengaruh dari independent variable terhadap dependent variable akan digunakan Uji t (t test). Jenis. Jumlah peserta yang diikutkan sebanyak 312.I. Berikutnya adalah trading board sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta.1. Pelaksanaan. penggunaan teknologi.6 kali per tahun. kualitas produk dan orientasi pasar. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh berjenjang antar dependent variable akan digunakan step wise analisys dengan Uji a (alpha test). Frekwensi .

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari)

kegiatan tersebut adalah disebabkan adanya berbagai kendala antara lain: a) Keterbatasan dana dan SDM, baik dikalangan stakeholder (terutama pemerintah), maupun dikalangan UMKM sendiri; b) Terbatasnya kepedulian dan komitmen dari kalangan yang berkepentingan langsung dengan kegiatan tersebut dan; c) Kurangnya inisiatif UMKM sendiri untuk melakukan promosi pemasaran. 4.1.2. Keikutsertaan UMKM dalam Kegiatan Promosi Menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 yaitu sebagian besar UMKM bergerak di sektor industri kerajinan, dengan peserta sebanyak 833 orang (53,23%), pertambangan/penggalian sebanyak 353 orang (22,56%), dan pariwisata 302 orang (19,29%). Sedangkan UMKM yang bergerak di sektor lainnya sangat sedikit, yaitu hanya 84 orang (5,47%), Dari aspek skala usaha, dari 1.565 orang yang ikut dalam kegiatan promosi pemasaran pertanian terdiri dari 171 orang (10,93%) tergolong usaha mikro, 922 orang (58,91%) tergolong usaha kecil dan 472 orang (30,16%) tergolong kelompok usaha menengah. Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi juga dipengaruhi oleh: a) Faktor penyelenggara (pusat, internasional, lokal); b) Tempat, lama/waktu penyelenggaraan promosi, jarak tempat promosi dengan produsen; c) Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang; d) Besar biaya dan atau ketersedian dan sumberdana dari penyelenggara serta; e) Inisiatif dan atau kepedulian dari stakeholder. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas penyelenggaraan promosi antara lain; a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. 4.1.3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Dilihat dari tempat dan waktu penyelenggaraan promosi pemasaran ditunjukkan bahwa: (a) Dari 73 kali keikutsertaan UMKM di ketiga propinsi contoh dalam kegiatan promosi

125

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 116-139

selama lima tahun tahun terakhir, 14 kali di laksanakan di luar negeri (pameran, misi dagang dan temu bisnis), 59 kali ditingkat nasional dan tingkat propinsi, (b) Rata-rata waktu penyelenggaraan promosi berbeda-beda sesuai bentuk promosi dan tempat promosi pemasaran, dengan rincian sebagai berikut: misi dagang waktu efektif 3,43 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, temu bisnis waktu efektif 4 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, Pameran di luar negeri waktu efektif 11,33 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan dan pulang, pameran di tingkat nasional waktu efektif 11 hari termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang Dibandingkan dengan temuan Sujito (1997), waktu yang disediakan untuk berbagai bentuk kegiatan promosi ini relatif cukup dan kendalanya adalah waktu untuk mempersiapkan pameran. Dari hasil kajian menyatakan bahwa 36,6% responden memerlukan waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan keikutsertaaan mereka dalam kegiatan promosi, 63,4% responden memerlukan waktu sekitar satu sampai tiga bulan untuk mempersiapkan pameran, namun waktu yang diberikan oleh penyelenggara biasanya hanya sekitar dua minggu sampai dengan satu bulan. Dengan sempitnya waktu tersebut biasanya calon peserta menghadapi masalah dalam mempersiapkan modal, bahan baku, dan sebagainya. 4.1.4. Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kajian mengenai penyelenggara dan biaya promosi kegiatan promosi pemasaran yang diikuti UMKM selama 5 tahun terakhir di 3 Propinsi contoh adalah sebagai berikut: a. Penyelenggara atau pemrakarsa kegiatan promosi, terbanyak (43 kali atau 58,90%) adalah pemerintah, pusat maupun daerah, kelompok swasta/asossiasi perdagangan/komoditi sebanyak 7 kali atau 9,58%, dan dari negara-negara lain baik swasta maupun pemerintahnya sebanya 13 kali atau 30,23% . b. Besarnya biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan. Komponen biaya promosi di luar modal kerja yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dipamerkan adalah: a) Sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) Biaya pengepakan; d) Biaya pengangkutan dan biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran).

126

PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA

FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI

LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) KEGIATAN (Indra Idris dan Sri Lestari) PROMOSI

Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di luar negeri biaya yang dikeluarkan untuk ikut dalam kegiatan tersebut rataPeningkatas rata Rp 21,67 juta (misi dagang), Rp 23,33Inovasi juta (temu bisnis), Perluasan Pasar Kualitas Produk yang mana Produk UMKMK Teknologi 75,4% dibebankan pada pelaku usaha dan sisanya Dan SDM 24,6% ditanggung oleh penyelenggara atau stakeholder. Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di dalam negeri, (umumnya pameran), biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp 3,6 juta Peningkatan Omset sampai dengan Rp 4,2 juta, dengan rata-rata sebesar Rp 3,9 juta, yang mana rata-rata biaya yang dikeluarkan (sharing) UMKM Peningkatan Pendapatan untuk promosi di dalam negeri (pameran) adalah 70,2% dari /Laba total biaya promosi, kekurangannya yang 39,8% ditanggung oleh penyelenggara.
Pertambahan Investasi Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa biaya promosi yang harus ditanggung oleh UMKM relatif mahal. Hal tersebut menyebabkan UMKM terutama kelompok pengusaha Perbaikan mikro dan pengusaha kecil, tidak mampu ikut promosi. Produktifitas Gambar

4.2

Dampak Promosi Terhadap Peningkatan Jumlah Pembeli UMKM
1.

diikuti UMKM contoh di 3 Propinsi terhadap peningkatan jumlah pembeli dan omset UMKM seperti ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaranterhadap peningkatan (%) (%) Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM
Pameran Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 48,5 40,9 62,5 39,5 64,5 43,4 63,4 41,26 Misi Dagang Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 11,92 30,88 17,85 50,46 10,41 61,70 13,39 47,68 Temu Bisnis Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 14,1 14,16 8,2 28,00 7,7 42,30 10,8 28,15 Trading Board Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 65,05 35,15 59,55 70,81 37,98 53,85 54,18 53,27

Kaitan Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset, peningkatan Produktifitas dan Pendapatanpemasaran yang pernah Dampak berbagai bentuk promosi UKM

No 1. 2. 3.

Propinsi Jateng D.I.Y. Jatim Rata-rata /Propinsi

4.2.1

Dampak Promosi dalam Bentuk Pameran 

Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan pameran, yaitu terjadi peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 63,4% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 41,26% pada UMKM setelah mengikuti kegiatan promosi pemasaran dalam bentuk pameran, yang mana UMKM Jawa Timur mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 64,5% dan 43,4% .

127

4. nilai jual (omset) dan bermuara peningkatan laba UMKM.6 juta per tahun (28.8% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 28.2.85% dan 50.2 juta. 2) Pembelian melalui pemesanan produk yang dipromosikan. UMKM D.AGUSTUS 2009 : 116-139 Kenaikan jumlah pembeli dapat dihitung dari peningkatan: 1) Pembelian langsung.26% dan temu bisnis (28. Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 17.JURNAL VOLUME 4 . Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119. yaitu sewaktu dilaksanakannya pameran yang mana jumlah pembeli mencapai ratarata 103 orang per propinsi.1 juta per UKM.1%.15%) Besarnya dampak misi dagang terhadap peningkatan omset terutama dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk yang dipromosikan dalam jumlah tertentu.39% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 47.68% pada UMKM setelah mengikuti misi dagang/kontak dagang.4%) tapi memberikan dampak peningkatan omset lebih tinggi 47.8 juta menjadi Rp 158.2 Dampak Misi Dagang /Kontak Dagang Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan misi dagang/kontak dagang.2. terlihat bahwa tambahan omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran mencapai Rp 46.68% dibanding pameran 41.39% lebih rendah dari peningkatan jumlah pembeli dampak pameran (63. Misi dagang/kontak dagang memberikan dampak peningkatan jumlah pembeli 13.I. Sedangkan keberhasilan pameran ditunjukkan dari keberhasilan peningkatan permintaan dalam jangka panjang.15% pada UMKM setelah mengikuti temu bisnis. 4. atau meningkat sebesar Rp 33. untuk jangka waktu tertentu.04%).46%.3 Dampak Temu Bisnis Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan temu bisnis. Dari aspek peningkatan omset. peningkatan omset-nya 128 . yang berdampak pada peningkatan produksi. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 10. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 14. yaitu: terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 13.

Yogyakarta dari pertambahan jumlah pembeli membuat peningkatan omset tertinggi.I.7%. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar.3 Dampak Promosi Pemasaran Terhadap Laba UMKM.2. peningkatan omset-nya paling tinggi mencapai 70. UMKM Jawa Timur jumlah pembelinya hanya meningkat 7.15%. UMKM D.18% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 53. peningkatan omset-nya hanya 35. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 65. a) Harga penjualan menjadi lebih rendah. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar.4 Dampak Trading Board Dari tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan trading board.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) hanya 14. Persentase pertambahan omset ternyata 2. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual. Persentase pertambahan omset UMKM Jawa Tengah hanya meningkatkan omset separuhnya. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.27% pada UMKM setelah mengikuti trading board. Yogyakarta jumlah pembelinya meningkat 59. Terlihat bahwa pertambahan rata-rata jumlah pembeli linier dengan pertambahan omset. Peningkatan tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. Di sini terlihat bahwa pertambahan jumlah pembeli tidak linier dengan pertambahan omset. yaitu 129 .16%. peningkatan omset-nya paling tinggi yaitu mencapai 42. Dan Penyerapan Tenaga Kerja Dampak promosi pemasaran pada tabel 2 menunjukan rata-rata meningkatkan laba 44. UMKM D. a) Harga pembelian menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan.I.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 29.81%. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 54. 4. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu.8 kali lebih besar dari pertambahan jumlah pembeli. Kenaikan jumlah pembeli ini relatif cukup signifikan.14% dari sebelum mengikuti kegiatan promosi pemasaran.30%.05%. hal ini dimungkinkan karena trading board umumnya memiliki jangkauan daerah yang cukup luas. 4.77%.

53% dari sebelum mengikuti temu bisnis.17 mengikuti misi dagang. Peningkatan penyerapan tenaga kerja Managemen Usaha ter tinggi dicapai oleh UMKM D.89 0.I.11 53.29 2.52 28.60 1.04 2.73 % dari laba UMKM Managemen Usaha sebelumTeknologi mengikuti pameran.88 1.50 PROPINSI 1) Dampak pameran yang pernah diikuti UMKM di 3 propinsi Tabel 3.90% dan 2.37 20. 2.39 39. Peningkatan Peningkatan 2) Dampak misi dagang/kontak dagang yang telah diikuti UMKM Skor Persen Skor Persen di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 58.55 1.74 42.63% dan meningkatkan contoh rata-rata meningkatkan terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen 30.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 20.72 60.63 Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board Rataan Tenaga Kerja 28. Peningkatan laba dan0. Dampak Promosi Pemasaran laba 43. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.15% dibanding sebelum mengikuti 1.96 2. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Dampak Terhadap Jawa Timur.68 sebesar6.06 29.88 meningkatkan 1.11 5.46% dan penyerapan tenaga kerja 29.24 62.88 30.87 kerja tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Tengah.47 0.31 62.14 Propinsi Tenaga Laba Kerja 25.98 meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 35.52 51.08 41. Adapun peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM Yogyakarta.77 1.19 0.73 2. yaitu meningkatkanTeknologi dan sebesar 60.44 21.73 2.15 43.11% dari sebelum 2.13 7.21 11.70 18.30 17.JURNAL VOLUME 4 .53 32.66 33.23 51. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.27 10.05 2.22 penyerapan tenaga 1. Adapun dampak dari masing-masing jenis promosi pemasaran dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 2. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan dan Tabel 2.35 31.80 40.67 35.10 3) Dampak temu bisnis yang diikuti UMKM di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 43.01 61. yaitu meningkatkan Awal Sesudah Awal Sesudah Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 130 2 .70 44.99% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.16 30.94 20.29 61.21 kegiatan misi dagang/kontak dagang.63 meningkatkan dan 5. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan Tenaga Kerja Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Pameran Laba Jawa Tengah D.I. Yogyakarta meningkat 35.48 28.08 16.99 35.98 0.29 42.29% (Nilai skor) (Nilai skor) dibanding sebelum mengikuti pameran.76 34.90 Tenaga Laba Kerja 46.72 31.54 58.76 1.18 35.54% penyerapan tenaga kerja sebesar Usaha dari sebelum mengikuti pameran.73 43.12 Tenaga Laba Kerja 31.50 Tenaga Laba Kerja 11.17 30. yaitu laba UMKM 5.14% dari sebelum mengikuti promosi pemasaran.18% 0.35 0.AGUSTUS 2009 : 116-139 meningkatkan laba UMKM sebesar 51.54 35.46 31.65 penyerapan tenaga kerja 46.33 0.11 43.06 0. Yogya Jawa Timur Rata-rata 39.18 8.21 10.

Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Tabel 3.21 Persen 17.99 18.54 28. Adapun Tabel 2.35 16.33).74 1.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) penyerapan tenaga kerja 31.94 Jawa Timur dengan menggunakan metoda 43.35 2.I Yogyakarta.15 43.73 5.98 2.88 1.17 42.18 0.13 0.72 31.70 hasil kajian 43. Yogya variabel tetap yang bersifat kualitatif ini. Tabel 3.88 33. dalam 28.17 1.37 Persen 10.08 41.73 5.72 61.11 Rata-rata lapang yang sudah diubah dalam bentuk kuantitatif tersebut.4 Dampak Non Finansial Pameran Dampak non finansial dari keikutsertaan UMKM dalam kegiatan Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Laba Laba Laba Laba Laba Kerja Kerja Kerja Kerja Kerja promosi pemasaran adalah terdiri dari: a) Peningkatan teknologi 25.24 62.96 2.29 42.23 51.76 2.88 b) Kedua 30.19 2.66 20.48 Jawa Tengah 39. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba dan peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM D.12 31.50 29. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen Usaha Teknologi Dan Managemen Usaha Dampak Terhadap Teknologi dan Managemen Usaha Teknologi Managemen Usaha (Nilai skor) (Nilai skor) Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.11 0.22 0.46 30. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.63 30.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan promosi trading board.18 46.05 1.87 5.90 35.70% dari sebelum mengikuti trading board.10 Dari tabel 3 terlihat bahwa keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran berdampak pada: 1) Pengembangan teknologi yang digunakan.04 10.39 39.52 D. ditunjukkan pada tabel 3.47 7.53 (skoring).55 Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.08 11. 28.90% dibanding sebelum mengikuti kegiatan trading board.70 35.29 31. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.16 produksi.80 40.01 2.63 0. yaitu terjadi peningkatan nilai skor rata-rata sebesar 0.76 34. 4) Dampak trading board yang telah diikuti UMKM di 3 propinsi contoh meningkatkan laba rata-rata 32. Penyerapan Tenaga Kerja yaitu meningkatkan penyerapan tenaga kerja 31.54 58.21 0.12% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 31.67 35.60 8. Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board 4.73 31.50 20. nilai skor dampak promosi terhadap pengembangan teknologi produksi termasuk dalam kategori sedang (2. Data44.44 21.06 kajian dikuantifkan 60.31 2.52 51.98 6.77 61. 35.14 penilaian 32. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.I.37 poin dibandingkan dengan waktu sebelum dilaksanakan program promosi yang hanya mencapai 2 131 .27 1.11 53.29 Peningkatan kemampuan managemen usaha.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.89 2.30 0.65 11.33 1.06 2.68 1.21 Propinsi Rataan PROPINSI Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 1.

8 119. Peningk.10 PROPINSI Omset Laba Jateng D.26 biaya terhadap peningkatan omset-nya10.06 2.24 34.26 Peningk. Tabel 4 Tabel 4 .11 24.85 184.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen .96 (kategori kurang).21 39.70 6.10 ( kategori sedang). laba/biaya 1.48 182.28 2.5 73.JURNAL VOLUME 4 .36 178.51 19.53 35.30 121.68 Misi Dagang 28.32 30.15 Trading Board 53.452 2. bagi UMKM yang memiliki ratio tambahan laba perbandingan cost dan benefid ratio (B/C rasio) kurang dari satu kegiatan promosi dinilai kurang layak. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran .55 9.322 5.49 11.27 37.2 113.69 26.852 5. 2) Pengembangan sistem managemen usaha.36 30.52 58.89 (kategori kurang) menjadi 2. terjadi perbaikan sistem managemen usaha diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem managemen usaha dikalangan UMKM yang telah mengikuti kegiatan promosi pemasaran.39 10.027 5.I.27 43.5 Kelayakan Penyelenggaraan Promosi Hasil analisas kelayakan kegiatan promosi pemasaran dilihat dari aspek finansial dan non finansial (tabel 4) memperlihatkan: ) Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek finansial UMKM. Nilai skor sistem managemen usaha meningkat rata-rata 0.01 2.55 Rata-rata 42.52 31.14 157.54 34. Promosi Peningk. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan oleh kondisi usaha UMKM sendiri.28 29. Peningk.73 21. Laba 24.92 117. 4.23 29.4 357.15 Manfaat Non Finansial Perbaikan Teknologi 2.AGUSTUS 2009 : 116-139 nilai skors 1.90 13.342 Rasio peningk.21 12.37 12.04 77.47 17.31 2.8 juta. bagi kelompok UMKM yang ikut Produk UMKM Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi dalam promosi ditentukan oleh angka perbandingan antara pertambahan Dampak Promosi omset usaha dengan biaya promosi.8 61.17 25. terutama laba dan omset.21 poin atau 11. maka baik secara parsial.19 30.33 Perbaikan managemen 2.63 43. atau per tahun lima tahun Tenaga Managemen Tekno Jumlah rata Kerja logi mencapai Rp 36. Ratakatan omsetOmset selama Laba Pembeli sebesar Rp 183.97 2.88 41. Oleh*) karena UMKM yang turut Bentuk dalam kegiatan promosi pemasaran mengalami kenaikan rata-rata Pening Tambahan Peningk.17 136. maupun kumulatif 180.88 26.28 41.47 7.9 49.46 Ratio Pening kata omset/biaya 4.19 2.21 Pameran rasio41.853 16.54 20.12 58.4 118.32 28. Hasil pengamatan memperlihatkan rata-rata UMKM yang mengikuti kegiatan promosi pemasaran diketiga propinsi contoh secara agregat semua layak untuk mengikuti kegiatan tersebut karena B/C rationya rata-rata mencapai 2.15.35 2.87 132 Jumlah 170.30 13.06 32.7 juta. Karena besarnya ratarata biaya promosi maka secara parsial.18 30.42 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Tabel 5.2 43.20 6. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 2) Dari aspek omset usaha.83 54.93 729.59 44.4 183.16 75.19 124.61 227.05 Biaya Promosi 12.27 1.1% yaitu dari 1.58 26.98 6. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kelayakan Finansial Pening katan Omset 60.88 70.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.55 rata-rata mencapai Temu Bisnis 47.

Managemen 6.93 729.63 43.88 Peningk.88 70. ranking ke empat adalah misi 183.88 21.4 118.06%.8 119.9 43. 133 .14 atau rata-rata 30.58 26.27%.I.30 5.16 13.54 34.97 bisnis.31 61.852 2.26 41. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari bentuk promosi ini adalah: a) Peningkatan rata-rata dengan nilai bobot 227.36 178. Omset 41. Tekno logi 10.87 Pameran Temu Bisnis Misi Dagang Trading Board Jumlah 170. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 5.05 11.69%.21 12.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121. 2.92 117.68 28.2 113.01 6.90% dan.61 227.342.39 10.54 20.15 2.37 12. Biaya Pening Perbaikan Perbaikan katan peningk.51 19.55 Rata-rata 42.19 dengan nilai bobot 49.53 35.30 121.28 75. Keberhasilan bentuk promosi ini dalam mendukung 3 kemampuan UMKM disebabkan oleh antara lain: a) Waktu promosi yang cukup panjang (lama).19 atau nilai rata-rata 37.46 5.61 atau rata-rata 26.27 73.27 Peningk.85 Jumlah 180.59 44. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi Tabel pemasaran Produk UMKM Produk UMKM Dampak Promosi *) Bentuk Promosi Peningk.33 2.12 43. ranking kedua adalah temu1.49 rata-rata16.52 58.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 5. 4.11%.21 24.11 Peningk.47 17.342 2.27% dari jumlah omset sebelumnya.48 182.36 184.6 Tingkat Keberhasilan Dari Tiap Bentuk Promosi Tabel 4 . b) Peningkatan laba dengan mencapai 58.87%.17 136. b) Peningkatan omset setelah dilakukannya promosi dalam bentuk trading board mencapai 53. c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja 35. Peningk.98 184.4 41.32 28. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran PROPINSI Omset Jateng D.10 dagang dengan nilai bobot 157. b) Biaya promosi yang relatif rendah.853 2. Laba 32.17 6.06 rata 37. Dengan nilai sebesar ini kegiatan promosi pemasaran dinilai sangat layak untuk dilakukan oleh UMKM. Nilai bobot Kelayakan Finansial Manfaat Non Finansial mengindikasikan bahwa sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran Ratio Pening memiliki nilai tambah dari berbagai aspek Rasio pengamatan sebesar 30.5 39.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti Keterangan: kegiatan promosi dalam satuan persen *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen 1) Trading Board Trading board memiliki dampak yang signifikan kesemua aspek penilaian.20 adalah pameran dengan tiga nilai bobot 180.322 2.23 29.69 26.14 157.452 7.04 77. Tabel5.39%.26 47.83 54.28 9. Laba Laba Promosi Teknologi managemen kata Adapun urutan (ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut: ranking Omset laba/biaya omset/biaya pertama adalah trading board dengan nilai bobot 227.39%.55 4.15 53.52 13.35 2.06 30.2 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Dari tabel 5 dapat dikemukakan bahwa berdasarkan metoda Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan pembobotan di atas diketahui bahwa rata-rata nilai bobot dari keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran tersebut sebesar 30.8 124.87%.90 Pening katan Pembeli 58.19 29.19 atau rata60.18 Tambahan Tenaga Kerja 31.70 30.027 30.19 Ratarata 30.24 5.36 atau 34.4 357.42 25.55 26. serta c) Jenis produksi yang dipromosikan bisa sangat beragam.21 24.32 30. ranking ke 2.73 12.27 37.47 1.28 2.

AGUSTUS 2009 : 116-139 2) Temu Bisnis Keberhasil bentuk promosi ini sangat merata dari segala aspek penilaian. c) Adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-pihak lainnya untuk menjual produk teknologi yang diproduksi. jumlah barang serta pola kerjasama atau kemitraan). tanpa memperhatikan peningkatan jumlah pembelinya. c) Mempromosikan produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (fore ward efect). Dari beberapa indikator keberhasilan temu bisnis yang dianalis dalam kajian ini. 134 .JURNAL VOLUME 4 . Kehandalan pameran dari aspek penyerapan tenaga kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk yang dipromosikan adalah barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya. temu bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. laba dan perbaikan managemen usaha. Dalam temu bisnis maka calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi produk yang akan ditawarkan (jenis barang. Dari aspek peningkatan omset. Besarnya peningkatan teknologi pada temu bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan dan selera konsumen. Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. karena tidak banyak meningkatkan penyerapan tenaga kerja. kualitas barang. Hal ini dimungkinkan karena: a) Produsen dapat berhubungan langsung dengan konsumen. Dari aspek penyerapan tenaga kerja kurang ideal. karena temu bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan omset penjualan. Rendahnya kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan dari bentuk promosi ini. b) Peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat meningkatkan investasi serta. 3) Pameran Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. b) Memberikan inspirasi kepada pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar serta. hanya ada satu faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. b) Akan terbentuk adanya kerjasama dalam pemasaran produk. Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak signifikan.

Penyelenggara promosi. Penyerapan tenaga kerja. c) Bentuk promosi. 6) Tema Promosi. Terdapat 12 Peubah bebas (independent variable) yang dianalisis yaitu: 1).9254.9213 dan nilai keeratan hubungan 0. ANALISIS FAKTOR BERPENGARUH KEBERHASILAN PROMOSI PEMASARAN Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran digunakan uji statistik Analisis Regresi Simultan pada tingkat kepercayaan 90% dan Principle Componen Analisis dengan tingkat kepercayaan 85%. 9) Waktu Promosi. d). Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Hasil analisis menunjukan. Perbaikan sistem managemen didorong oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya. c) Laba. Frekuensi Keikutsertaan 4). dengan nilai kondisi hubungan 2) 135 . dengan nilai kondisi hubungan 0. Promosi. 11) Kualitas Barang. f) Managemen Usaha.9616 dan nilai keeratan hubungan 0. b).8989 dan nilai keeratan hubungan 8016. 5) Promosi. Biaya promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0.13%. B) Jumlah pembeli. 7) Biaya Promosi 8) Lokasi Promosi. adapun kinerja yang dihasilkan adalah peningkatan: a) Nilai penjualan (omset). c). 10) Prosedur keikutsertaan.8917. g) Jaringan Usaha.9061 b).Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 4) Misi Dagang Keunggulan misi dagang ditunjukan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. d). Pengembangan teknologi produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki adanya peningkatan kualitas dan kuantitas barang yang ingin dibeli. Kedua aspek penilaian tersebut masing-masing 26. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.7928. Kualitas barang. dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap nilai penjualan (omset) UMKM yaitu: a). V. Jenis produk yang dipromosikan. Kondisi internal UMKM.8763 dan nilai keeratan hubungan 0.8766. Hasil analisis menunjukan.8830 dan nilai keeratan hubungan 0.9341 dan nilai keeratan hubungan 0. e) Teknologi produksi. Jenis Produk 3).7076.9113 dan nilai keeratan hubungan 0. Bentuk promosi. Dampak misi dagang diindikasikan dari kenaikan nilai bobot. terdapat 6 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap jumlah pembeli UMKM yaitu: a). dengan nilai kondisi hubungan 0. dan 12) Jumlah Pesaing. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan.37% dan 28. d). Kondisi Internal 2).

dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Besarnya pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut dalam kegiatan promosi. 0.9109 dan nilai keeratan hubungan 0. Kualitas barang. c) Frekwensi keikutsertaan. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Hasil analisis menunjukan.97139 dan nilai keeratan hubungan 0. e). untuk itu perusahaan yang bersangkutan akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien. 7 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a).9178. dengan nilai kondisi hubungan 0. 3) Hasil analisis menunjukan terdapat. Hasil analisis menunjukkan. Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM peningkatan managemen usaha UMKM yaitu kondisi internal UMKM. g) Jumlah pesaing. Kondisi internal UMKM.9308 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. f) Waktu promosi. maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang tentang teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efesien produksi. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu perusahaan untuk berproduksi lebih efisien.8955.8709 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. 4) 5) 6) 136 .8613 dan nilai keeratan hubungan 0. f) Jumlah pesaing.AGUSTUS 2009 : 116-139 0. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a).8651.7945.9639 dan nilai keeratan hubungan 0.97139 dan nilai keeratan hubungan 0.7665. yang diperoleh dari berbagai pihak.8392. g) Jumlah pesaing. d) Biaya promosi. e) Lokasi promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Lokasi promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0.JURNAL VOLUME 4 .8637 dan nilai keeratan hubungan 0.8907 dan nilai keeratan hubungan 0.7986. d ). b).8788 dan nilai keeratan hubungan 0. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kemampuan UMKM dalam penyerapan tenaga yaitu jenis produk yang dipromosikan.8731 dan nilai keeratan hubungan 0.78798.8709. dengan nilai kondisi hubungan 0.9391 dan nilai keeratan hubungan 0.8769. Jenis produk yang dipromosikan.9720 dan nilai keeratan hubungan 0. b).7619.7619.7798. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8871 dan nilai keeratan hubungan 0. c) Penyelenggara promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0.9178.8748. Jenis produk yang dipromosikan.8967 dan nilai keeratan hubungan.8732 dan nilai keeratan hubungan 0. Kondisi internal UMKM.8698.

d) Bentuk promosi. b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta. e) Penyelenggara Promosi. misi/kontak dagang dan temu bisnis. 8243.8854 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (73 kali) diikuti UMKM.9140. terdapat 8 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan jaringan pasar yaitu: a).9805 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.9352.8987 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0.9378 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.9265. g) Lokasi promosi.9207 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. Terdapat empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh UMKM yaitu pameran.9078. 7) Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 0. Keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha menengah. VI. Promosi pemasaran mampu meningkatkan laba UMKM. KESIMPULAN DAN SARAN 6. c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut.8769.1 Kesimpulan 1. Secara agregat semua usaha kecil dan menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi. 2. 9480 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8650 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. trading board. Sifat peningkatan laba yang tidak linier dengan peningkatan omset dikarenakan peningkatan laba ternyata bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM tetapi karena berkurangnya marjin yang terserap dalam serta pasar. Kondisi internal UMKM. dengan nilai kondisi hubungan 0.9176 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. h) Kualitas barang.8759.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dengan nilai kondisi hubungan 0. b). dengan nilai kondisi hubungan 0. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas promosi adalah: a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi). c) Frekuensi keikutsertaan UMKM. 137 . 3. dengan nilai kondisi hubungan 0.9184 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0.8798. serta menurunkan biaya produksi. f) Biaya promosi.8609.

Temu bisnis merupakan bentuk promosi yang dapat diandalkan. c). Kemampuan Kemampuan penyerapan tenaga kerja. Untuk meringankan beban biaya usaha mikro mengikuti kegiatan promosi pemasaran maka diperlukan subsidi penuh dari pemerintah. b). b) Memfasilitasi kegiatan promosi. Peningkatan kualitas tekonologi. Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebehasilan promosi pemasaran diperoleh hasil: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata terhadap perluasan pangsa pasar. 5. b) Jenis dan Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba UMKM serta penigkatan kualitas teknologi. yang diindikasikan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. Peningkatan jumlah pembeli juga jauh lebih besar dibandingkan bentuk promosi lainnya. 8. 6. d) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam meningkatkan perolehan laba. laba dan perbaikan managemen usaha. 6. sehingga berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (foreword efect). c) Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan Laba UMKM. Trading board dapat dikembangkan di tingkat propinsi. 2.2 Saran 1. Peningkatan teknologi produksi. 7.JURNAL VOLUME 4 . pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari kabupaten sampai dengan di tingkat internasional. Misi dagang memang memiliki total nilai bobot terendah. Promosi pemasaran berdampak nyata pada: a). e) Berpengaruh nyata terhadap pangsa pasar. nasional dan internasional. misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh pemerintah. c) Memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta 138 .AGUSTUS 2009 : 116-139 4. Usaha yang memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program promosi adalah: a) Memperbanyak program promosi melalui kerjasama dengan para stakeholder. Peningkatan kualitas managemen. Pameran menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. sedangkan temu bisnis perlu lebih didorong sehingga tidak hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi juga dapat dilakukan oleh UKM dan koperasi. dan d). Temu bisnis berdampak merata pada aspek peningkatan omset. omset dan laba perusahaan. tetapi bentuk promosi ini memiliki keungulan spesifik. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli.

Introduction to Sales Management. Buletin Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional. (1980). (2005). Sujito. Jakarta. Ramlan. Wahidin.R. Kasali Reinal. (2001). Business Review Havard University London. (1967). (1984). Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran Melalui Program Promosi (Studi kasus kebijakan Perdagangan Internasional). 3. Mac Graw HillBook Company. Marketing (Suatu Pengantar). Harry R. Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan Dalam Menghadapi Pasar Global. Some Problem of Market Distribution. 139 . Program Magister Managemen Universitas Indonesia. Managemen Promosi dan Pemasaran Produk.A. Marketing. (1969).Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dalam kegiatan promosi. PT. (1997). Bina Aksara. PT. (2002). (2001). DAFTAR PUSTAKA Affandi. Jakarta.T. Panglaikim. Kajian Manfaat Pameran Dalam Meningkatkan Omset Industri Kecil (Thesis). Nurachmat. b) Evaluasi kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan. e) Membangun kaitan (lingkage) yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara dengan semua stakeholder lainnya serta. Bina Antar Nusa Jakarta. New York. P. Macam-Macam Bentuk Promosi Yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk Industri Kecil. Jakarta. Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. serta. Bharata Jakarta. Program Pasca Sarjana Universitas Gajahmada. Pembangunan Jakarta. Shaw. Tosdal. Untuk mengatasi berbagai masalah dalam rangka meningkatkan efektifitas kegiatan promosi pemasaran diperlukan: a) Perencanaan yang terkoordinasi. Manulang. Program Pasca Sarjana Universitas Pajajaran Bandung. (1984). c) Perhitungan waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. Jakarta. Program Doktor Bidang Ekonomi Perusahaan.

This interrelationship is significant and real. review akhir �� �uli 200� **) Kabid. This assessment suggests so that the level of interrelationship between secondary cooperative with the primary cooperative ot their member could become stronger then capacity building. Kehutanan. capacity building I.AGUSTUS 2009 : 140-160 KAJIAN TENTANG KETERKAITAN KOPERASI SEKUNDER DENGAN KOPERASI PRIMER ANGGOTANYA*) Togap Tambunan**) dan Jannes Situmorang***) Abstract Assessment on interrelation of secondary cooperative with primary cooperative of their member is aimed at: a).1 Latar Belakang Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992 menyebutkan bahwa koperasi sekunder adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. peer review 24 April 200�. To identify the interrelationship among provincial level secondary cooperative with the primary cooperative of their member. Koperasi sekunder dapat Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200��. This interrelationship is also significant or real. but it has a weak level of interrelationship. b). The result of the data analysis shows that: a). koperasi sekunder. socialization. empowerment of cooperative principles. but the level of interrelationship is still weak. From the aspect of the implementation of vertical integration functions group of each institusional functions. This assessment were done in 8 with the objects of secondary and primary cooperative of their member. the secondary cooperative is interrelated with primary cooperatives of their members. Artikel diterima 24 April 200�. Koperasi primer. business functions and supporting functions. through training. From the point of view of the implementation of all the vertical integration function of secondary cooperatives interrelated with the primary cooperatives of their member. Sample was determined by using purposive sampling. b). keterkaitan lemah. extension. To identify the interrelationship based on functional group implemented by secondary cooperative to primary cooperative of their member. and techniques should be increased.JURNAL VOLUME 4 . Deputi Bidang Produksi (koordinator kajian) ***) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK *) 140 . PENDAHULUAN 1.

dan (2) Berfungsi sebagai ”subsidiaritas” dimana bisnis yang dilaksanakan anggota (koperasi primer) tidak dijalankan oleh koperasi sekunder sehingga tidak saling mematikan. Beberapa contoh Koperasi Sekunder yang dikenal antara lain INKOPOL. dan 86 koperasi lainnya berbentuk Pusat (Kementerian Koperasi dan UKM. dalam menjalankan fungsinya.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. 1. PUSKOPTI. INKOPKAR. IKPRI. Hingga saat ini tercatat terdapat 156 koperasi sekunder tingkat nasional yang terdiri dari 63 Induk Koperasi. 7 koperasi berbentuk Gabungan. koperasi sekunder didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan 141 .2 Permasalahan Fungsi koperasi sekunder secara spesifik menurut UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 adalah (1) Berfungsi sebagai jaringan dengan sekurang-kurangnya 3 anggota untuk menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar. PUSKOPKAR. Sesuai pasal 4 Undang-undang Nomor 25 tahun 1992. Fungsi dan peran ini kemudian akan menciptakan berbagai manfaat koperasi di dalam perekonomian. Koperasikoperasi sekunder diharapkan mampu membentuk jaringan usaha dengan koperasi-koperasi primer dan mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan. Juga menurut undang-undang tersebut. Pendirian koperasi sekunder dalam berbagai tingkatan selama ini dikenal dengan sebutan (1) Pusat. Sesuai Undang-Undang Perkoperasian. (2) Gabungan. INKOPDIT. dan lain-lain. INKUD. GKBI. koperasi sekunder harus mampu membangun dan mengembangkan potensi ekonomi koperasi anggotanya. IKPI. PUSKOPDIT. Jumlah ini belum termasuk koperasi sekunder yang tersebar disetiap provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia. GKSI. koperasi sekunder memiliki beberapa fungsi dan peran umum. dan (2) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. Bagaimana sesungguhnya jaringan usaha yang terbentuk dan kerjasama yang dibangun? Informasi dan data-data mengenai hal ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan suatu kajian untuk menelaahnya secara khusus. Sebagai sebuah lembaga. fungsi dan peran tersebut adalah: (1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. PUSKSP. PUSKUD. dan (3) Induk. 2005).

1.AGUSTUS 2009 : 140-160 kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. Koperasi sekunder dapat didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. Identifikasi hubungan fungsional dan capacity building koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Berdasarkan basis pembentukannya. Koperasi sekunder tidak berbasis kepada orang (member based) melainkan dibentuk berdasarkan kesamaan kebutuhan organisasi. yakni koperasi sekunder yang dibentuk oleh badan hukum koperasi primer. 3). Namun eksistensi dan keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya hingga sekarang belum diketahui pasti. 1.3 Tujuan Kajian Tujuan kajian ini adalah untuk: 1). diperlukan kajian untuk mengetahui sejauhmana keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. 2). KERANGKA PEMIKIRAN Koperasi sekunder memiliki bentuk koperasi yang khas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian. Identifikasi keterkaitan usaha antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya.JURNAL VOLUME 4 . 2). II. Mengetahui keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Efisiensi usaha dan bargaining position di dalam koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggotanya. Mengetahui keterkaitan berdasarkan kelompok fungsi yang dilaksanakan koperasi sekunder kepada koperasi primer anggotanya. Selama ini koperasi-koperasi sekunder terus terbentuk dan bertumbuh dengan berbagai aktivitas. Hal ini kemudian menyebabkan terbentuknya banyak koperasi primer dan koperasi sekunder. Koperasi sekunder memiliki dua fungsi 142 . Juga belum diketahui peran koperasi sekunder menjalankan fungsi-fungsinya kepada koperasi primer anggotanya dan sebaliknya koperasi primer menjalankan kewajibannya kepada koperasi sekunder. Undang-undang tersebut memberikan peluang kepada gerakan koperasi untuk mendirikan koperasi pada berbagai tingkatan sesuai kebutuhannya. Karena itu.4 Ruang Lingkup g Ruang lingkup kajian meliputi beberapa aspek antara lain: 1). (2) Mutual (saling melengkapi). dan (3) Kebersamaan. Koperasi sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) koperasi primer. maka koperasi sekunder memiliki tiga azas yaitu: (1) Efisiensi.

dan berpeluangF1 mengembangkan bisnis ? yang lebih tinggi tingkatannya sehingga dapat bersaing dengan bisnis non-koperasi. koperasi sekunder diharapkan mampu menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar bagi dirinya sendiri dan bagi koperasi primer anggotanya. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. gambar 1 menyajikan sebuah contoh jaringan dan subsidiaritas koperasi sekunder – koperasi primer pada bidang usaha UNDANG-UNDANG NOMOR 25 perikanan. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer 1. masing-masing pihak menerima manfaat yang dapat mendorong peningkatan dan pengembangan usaha secara lebih baik. Selain itu manfaat umum baik bagi koperasi ? sekunder maupun KOPERASI koperasi primer adalahSEKUNDER tercipta efisiensi usaha dan jaringan usaha yang kuat diantara mereka. teknologi dan manajemen yang akses PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER lebih modern. INDUK PUSAT IKPI Aktivitas : Pabrik es Pemasaran antar daerah Pengadaan BBM Kebutuhan penolong. OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. sehingga tidak saling mematikan. Dari keterkaitan sesuai jaringan yang ada. adanya KOPERASI KOPERASI KOPERASI jaminan pasar bagi produknya. Aktivitas : Penangkapan Pengolahan Pelelangan Simpan pinjam KOPERASI PRIMER Pabrik es Produksi garam Pengadaan BBM Gambar Gambar 1. Koperasi-koperasi sekunder mendapat manfaat sebagai pasar F2 dan menerima input dari koperasi primer. Aktivitas : Pabrik jaring Pabrik pengalengan Ekspor. tidak dijalankan di tingkat koperasi sekunder. PRIMERmodal.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) yaitu sebagai suatu jaringan dan sebagai subsidiaritas. Para anggota (koperasi primer) mendapat manfaat peningkatan keuntungan secara finansial. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Usaha Perikanan Usaha Perikanan Secara garis besar. peningkatan produksi KOPERASI KOPERASIdari usaha-usaha yang dijalankan. TAHUN 1992 Gambar 1 memperlihatkan keterkaitan antara kelembagaan koperasi sekunder – primer dan SEBAGAI PILAR dalam usaha-usaha yang saling KOPERASI keterkaitan di mendukung (backward and INDONESIA PEREKONOMIAN forward linkages). Sedangkan fungsi subsidiaritas memiliki arti bisnis yang dilakukan anggotanya (koperasi primer). Sebagai jaringan. 143  .

Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. KerangkaPemikiranKeterkaitan Usaha dandan Kelembagaan Gambar Kerangka Pemikiran Keterkaitan Usaha Kelembagaan Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. Gambar 2. III.AGUSTUS 2009 : 140-160 Sedangkan gambar 2 menyajikan skema kerangka berpikir yang digunakan dalam kajian ini. Primer kepada Kop. 2. METODE KAJIAN 3. Sekunder kepada Kop.JURNAL VOLUME 4 .1 Obyek Kajian Obyek kajian ini mencakup: (1) Koperasi sekunder tingkat provinsi (pusat dan gabungan). 144 . Sekunder. Primer F2 = Pelaksanaan kewajiban oleh Kop. Keterangan : = Arah pembentukan koperasi = Arah pelaksanaan fungsi dan kewajiban F1 = Pelaksanaan fungsi oleh Kop. UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 1992 KOPERASI SEBAGAI PILAR PEREKONOMIAN INDONESIA KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER F2 F1 KOPERASI SEKUNDER ? ? OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. dan (2) Koperasi primer anggota. Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya.

Kelembagaan FA1 : memberikan bimbingan dan advokasi keanggotaan FA2 : memberikan masukan mengenai RAT (menghadiri. (2) Fungsi usaha. Diperoleh 25 fungsi yang layak dijadikan faktor yang menentukan keterkaitan dimaksud.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) 3. dan Kalimantan Barat. mengarahkan) FA3 : ikut menyusun rencana kerja dan RAPB Koperasi Sekunder FA4 : memberikan pelatihan manajerial koperasi FA5 : menegakkan implementasi nilai-nilai koperasi 145 . Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. Fungsi-fungsi tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian masing-masing: (1) Fungsi kelembagaan.2 Seleksi Fungsi-fungsi Keterkaitan Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi-fungsi diantara mereka. 3. Sumatera Barat. 3. Seleksi fungsi-fungsi tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Petunjuk Pemeringkatan Koperasi Berkualitas dan Koperasi Berprestasi. Data primer diperoleh dari para responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun secara terstruktur. Koperasi sekunder dimaksud adalah yang masih aktif dan memiliki keterkaitan dengan koperasi anggotanya.1 Jenis Data Data yang dikumpulkan sebagai bahan analisis terdiri dari data primer dan data sekunder. Nusa Tenggara Timur. Fungsifungsi yang harus dilaksanakan oleh masing-masing tentu sangat banyak. Responden penelitian ini adalah pengurus koperasi sekunder dan pengurus koperasi primer anggotanya. dan dari masing-masing koperasi. BPS tingkat provinsi. Sumatera Utara.2 Lokasi dan Waktu Kajian Kajian ini telah dilaksanakan pada 8 provinsi yang memiliki koperasi sekunder masing-masing: Jawa Timur. Sulawesi Selatan. kemudian dipilih koperasi sekunder dan primer anggota sebagai sampel. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari laporan-laporan Kementerian Koperasi dan UKM. dan (3) Fungsi penunjang. Dari lokasi kajian yang telah ditentukan. 3. dinas koperasi tingkat provinsi dan kabupaten. Definisi fungsi-fungsi tersebut adalah: A. Sampel koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggota dipilih berdasarkan informasi dari dinas koperasi provinsi setempat.3 Metode Penarikan Sampel (Sampling Methode) Penarikan sampel pada objek kajian dilakukan dengan metode Purposive Sampling.

..... dll) FC2 : membantu manajemen FC3 : membantu sistem informasi FC4 : membantu penyebaran informasi FC5 : membantu image (citra) koperasi...JURNAL VOLUME 4 ... akuntansi... dan FA13........ FA4 sampai FA11. 3......... FA2.. ilmiah (seminar....... C. Usaha FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 : memberikan pelatihan organisasi koperasi han : memberikan pelatihan keanggotaan koperasi : mengadakan pertemuan khusus. sedangkan fungsi F3. lokakarya) : membangun kerjasama antara koperasi anggota : mengupayakan kemitraan dengan pihak ketiga : mengadakan pertemuan secara periodik : menghadiri RAT Koperasi Sekunder : membagikan SHU kepada anggota : memenuhi kewajiban.3 Metode Analisis Data a)........... : : : : : : membantu penyusunan business plan (rencana kerja) membantu dan membangun jaringan pemasaran membantu pengolahan/proses produksi membantu permodalan/pembiayaan produksi membantu promosi mengadakan temu usaha. Uji Chi Square (Uji χ 2 ) Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya dapat dianalisis dengan metode Chi-Square (uji χ 2 ) dengan rumus: (1) χ2 = ∑ ∑ ( f0 − fh )2 fh ........ Keterangan : Fungsi FA1..AGUSTUS 2009 : 140-160 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 B...... 146 ...... F12 dan F13 dilaksanakan oleh koperasi primer anggota kepada koperasi sekunder. Penunjang FC1 : membantu administrasi bisnis (pembukuan.. FB1 sampai FB6 dan FC1 sampai FC5 dilaksanakan oleh koperasi sekunder kepada koperasi primer anggota....

Terima H0 memiliki arti tidak ada keterkaitan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya.. b). Untuk menghitung nilai dari frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis)... Sebaliknya H0 ditolak atau terima H berarti ada keterkaitan yang signifikan antara kedua variabel.. Data frekuensi ditabulasi. 2)... Nilai χ2 diperoleh dari hasil perhitungan sesuai rumus chi square di atas... Setelah perhitungan dengan metode Chi-Square. Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis nol/nihil (H0) dan hipotesis tandingan/alternatif (H)........... digunakan rumus pada persamaan (2).. analisis kemudian dilanjutkan dengan uji signifikansi. dengan derajad bebas tertentu..Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Keterangan : χ 2 = Chi – Square fo = Frekuensi yang diperoleh dari sampel (hasil observasi) fh = Frekuensi yang diharapkan atau disebut juga frekuensi teoritis. Menghitung nilai Uji Chi-Square berdasarkan rumus (1)..... Uji Signifikansi Uji siginifkansi digunakan untuk menunjukkan bahwa apakah ada hubungan yang signifikan antara satu variabel dengan variabel lainnya. uji signifikansi digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya melalui fungsi-fungsi yang mereka lakukan. dan 3). (2) fe = (∑ f kolom) Total (∑ f baris ) .. Sedangkan nilai χ2 2 α dengan derajad bebas tertentu adalah nilai chi square statistik 147 . Dalam penelitian ini........ Untuk mendapatkan nilai Chi-Square... ditempuh beberapa langkah yakni: 1).... dengan derajad bebas tertentu H0 ditolak atau terima H bila : χ2 > χ2 α.. dimana : fe = Frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis) Σ f kolom = Jumlah frekuensi kolom Σ f baris = Jumlah frekuensi baris Total = Jumlah baris dan kolom (keduanya harus sama). Dihitung frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis)..... Secara statistik dinyatakan bahwa : H0 diterima bila : χ2 ≤ χ2 α...

Derajat bebas (d..... Jateng.JURNAL VOLUME 4 .......01 yang memiliki arti kita percaya bahwa 99% hasil uji yang kita peroleh adalah sangat akurat. Sumut......... Koefisien Kontingensi (C) Koefisien kontingensi digunakan untuk mengukur derajat hubungan...... asosiasi. dan apakah hubungan tersebut kuat atau tidak kuat..1 Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi Dari hasil survei lapangan pada 8 provinsi. Lotim dan Lobar).. dan jika C > 0......b) diperoleh dengan rumus: (Jumlah baris – 1) dikalikan (jumlah kolom – 1) Taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah α = 0....5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya dan keterkaitan tersebut dikatakan cukup kuat.. (2) GKSI Jateng... c).. (6) PUSKOPPAS (Puskoppas Sulsel)... diperoleh 33 koperasi sekunder... Sedangan jika C < 0.AGUSTUS 2009 : 140-160 yang dapat dilihat pada tabel chi square standar.. Sumbar. Jika C = 0 maka tidak terdapat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya.. NTT... Sumut... (7) PUSKOPPONTREN (Puskoppontren Sulsel)... Sulsel. (4) PUSKUD MINA (Puskud Mina Jatim). Rumus koefisien kontingensi adalah : C= χ2 χ +n 2 .. NTT.. Nilai koefisien kontingensi (C) berkisar antara nol hingga satu. dan Kalbar)...5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya namun keterkaitan tersebut lemah.... Derajat hubungan di sini menunjukkan ada korelasi atau tidak antara kolom dan baris tabel kontingensi..... Jika C = 1 maka terdapat keterkaitan yang sangat kuat diantara keduanya. (5) PKP-RI (PKP Sumbar...... NTT. (3) dimana : C = Koefisien kontingensi χ 2 = Nilai chi.square n = Besar sampel.. 148 .. Jumlah tersebut dibagi dalam 12 jenis koperasi masing-masing: (1) PUSKUD (Puskud Jatim..... (3) PUSKOPDIT (Puskopdit Jateng.. IV. atau dependensi dari klasifikasi-klasifikasi dalam tabel kontingensi. Sumut)... Sulsel. GAMBARAN UMUM KOPERASI SAMPEL 4.

149 . sebanyak 33. Ini menunjukkan mereka cukup aktif dan tetap menjalankan ketentuan administrasi secara baik. Sementara itu PUSKUD MINA mengalami kerugian dimana SHU-nya bernilai ratarata negatif dalam 5 tahun terakhir.36% berusia 3 sampai 9 tahun. Dari sisi jumlah anggota.15%. Puskopad A’DAM VII/WRB. NTB). dan sisanya 36. PUSKOPPOLDA.06% atau 2 koperasi masih menempati gadung kantor dengan status kontrak. jumlah modal dan volume usaha PUSKUD. dan sebanyak 6. Sedangkan koperasi-koprerasi lainnya memiliki jumlah anggota lebih sedikit (kurang dari 100 unit).06%. sebagian koperasi-koperasi sekunder tingkat provinsi mengalami perkembangan yang makin maju.55% koperasi sekunder tingkat provinsi melakukan RAT setiap tahun dalam 5 tahun terakhir.24% atau 8 koperasi menempati gedung kantor berstatus pinjaman.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) (8) PUSKSP (Puskospin Jatim.33% koperasi berusia lebih dari 20 tahun. disusul PKP–RI. GKSI Jateng dan PUSKOPWAN mencapai nilai terbesar. Sumut). Sulsel. dan yang tidak melakukan RAT sama sekali sebanyak 6. Sesuai data yang terkumpul.06%. PUSKUD memiliki anggota (KUD) yang paling banyak. satu kali sebanyak 6.12%.30% berusia 10 sampai 20 tahun.70% koperasi sekunder tingkat provinsi sampel (atau 23 koperasi) sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri. Keragaan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi secara rata-rata selama 5 tahun terakhir menurut urutan nilai-nilai yang paling tinggi hingga terendah dapat dilihat pada Gambar 3. Namun pada nilai SHU. dan (12) PKSU (PKSU NTB dan Kalbar). Sebanyak 54. Sumbar. (11) PUSAT KOPERASI VETERAN (Puskop Purnawirawan & Warakawuri TNI & Polri NTT). tiga koperasi yang mencapai nilai yang paling besar adalah PUSKOPPAS. PUSKUD. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah mengalami perkembangan yang makin menurun. Dari segi usia. Data ini menunjukkan masih cukup banyak koperasi sekunder yang menyeleggarakan RAT setiap tahun.06%. Dari sisi usaha. dua kali sebanyak 6. PUSKOPPOLDA dan PUSKUD MINA memiliki jumlah yang lebih banyak. Sedangkan yang melakukan RAT empat kali sebanyak 15. dan PUSKUD. sebanyak 30. (9) PUSKOPWAN (Puskowan Jatim. Sebanyak 24. NTT. Sulsel). sebanyak 69. (10) PUSKOPPOLDA (Puskoppolda Sumbar. Pada jumlah unit usaha. tiga kali sebanyak 12. Sesuai data yang terhimpun. Meskipun dari modal PUSKUD memiliki modal yang paling besar namun nilai SHU-nya lebih rendah dibanding rata-rata yang dicapai oleh PUSKOPPAS dan PUSKOPPOLDA.

KOPWAN PUSKUD GKSI PKP .37 54.KOPPAS N a m a K o p e ra s i Jumlah Volume Usaha Koperasi Sekunder 2680 2169 1656 3513 P.VETERAN P. VETERAN 1349 1225 974 965 410 259 138 - 5891 17553 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah 926 553 472 381 321 99 90 36 Jt Rupiah Jumlah SHU Koperasi Sekunder Rata-rata Tingkat Solvabilitas Koperasi Sekunder -27.PONTREN PKSU P.KOPDIT P.00 19.67 53.PONTREN P.PONTREN P.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Unit Us aha Kope ras i Se k unde r 7 7 P.19 10. VETERAN PKP .RI PUSKUD P.40 75. POLDA PUS.74 5.JURNAL VOLUME 4 .MINA PUSKSP P.MINA PUSKUD P.24 253.25 30.KOPW AN PUSKSP GKSI PKP .01 123.51 Persen Gambar 3.KOPDIT PUS.65 152.43 -8.08 9.KOPW AN P.52 8.74 5.20 156. POLDA PUSKUD PUS. Keragaan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi 150 .57 P. POLDA PKSU P.52 119.34 Jt Rupiah 169.33 21.KOPWAN PKP .33 21.RI P.RI P.89 6.KOPDIT P.KOPW AN P.KOPPAS P.54 Nama Koperasi - Rata-rata Tingkat Rentabilitas Koperasi Sekunder 19.69 83.KOPPAS Jumlah Anggota Koperasi Sekunder N ama Koperas i 1 1 - 2 2 2 2 3 4 6 Jumlah Unit 86 60 47 31 27 24 22 16 12 8 143 405 Jumlah Unit PUSKUD PKP .KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.KOPDIT PUS.RI P.KOPDIT PKSU P.02 - 86.PONTREN P.44 349.KOPPAS P.KOPDIT P.MINA 411.KOPPAS Jumlah Modal Koperasi Sekunder 23633 PUSKUD GKSI P. POLDA P.KOPDIT GKSI PKP .PONTREN P. POLDA PUSKUD P.87 Persen 547.17 291.55 11. VETERAN PUS.RI PUS.PONTREN P.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.89 10.23 P.60 P.PONTREN PUSKSP P. VETERAN P.MINA 179.KOPDIT PUSKUD P. VETERAN PKSU P.POLDA GKSI PUSKSP P.RI P.PONTREN PUSKSP PKSU P.88 63.KOPWAN P.KOPPAS Nama Koperasi Nama Koperasi - 0.MINA PKP .74 152.KOPPAS N am a K operasi Rata-rata Tingkat Likuiditas Koperasi Sekunder 386.RI P.64 51.RI P. VETERAN PUSKSP P.MINA P. POLDA PUS.36 178. VETERAN PKP .MINA PKSU GKSI P.41 331.52 Persen P.63 165.50 27.65 8.MINA P. POLDA P.KOPPAS PUS.

7 koperasi. Keragaan masing-masing golongan koperasi secara rata-rata selama 5 tahun (tahun 2001 – 2005) menurut urutan nilai terbesar dapat dilihat pada Gambar 4. hampir semua koperasi sekunder tingkat provinsi mengeluhkan kekurangan modal untuk pembiayaan usahanya. Namun dengan segenap keterbatasan yang ada mereka tetap berusaha untuk tetap eksis menjalankan usaha yang ada. KSI memiliki jumlah yang lebih banyak (9 unit) diikuti masing-masing oleh KUD MINA dan KUD. (4) KUD MINA. (7) KOPPONTREN.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi provinsi. 6 koperasi. KUD MINA. 9 koperasi. 5 koperasi. (2) KUD Susu. 11 koperasi. jarang dilakukan. Dari sisi jumlah anggota. 151 . 24 koperasi. (9) KOPWAN. Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat hanya menjalankan RAT satu kali selama 5 tahun terakhir. 4 koperasi. Ada beberapa koperasi primer sampel menyatakan tidak memperoleh informasi memadai dari koperasi sekunder dalam kegiatan pengembangan usaha dan informasi pasar. KSP. KOPDIT. dan KOPPONTREN memiliki jumlah pengurus lebih banyak dibanding koperasi-koperasi lainnya. (3) KOPDIT. 12 koperasi. (10) KOPPOLDA. KOPWAN. 26 koperasi. hampir 90% Koperasi Sekundernya aktif menyelenggarakan RAT setiap tahun selama 5 tahun terakhir. dan seterusnya.2 Koperasi Primer Anggota Koperasi primer anggota dari koperasi sekunder yang terpilih dalam penelitian ini berjumlah 107 koperasi. Ratarata Koperasi sekunder menghadiri RAT yang diselenggarakan koperasi primer anggotanya. Sedangkan provinsi NTB 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahunnya. 4 provinsi masing-masing Jawa Timur. Jumlah ini dikategorikan menurut 12 jenis koperasi sekunder tingkat provinsi dengan perincian sebagai berikut: (1) KUD. 4. 2 koperasi. Pada umumnya sebagian koperasi primer mengalami perkembangan yang makin maju. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah makin menurun. (8) KSP. Dari sisi permodalan. Kalimantan Barat dan Sumatera Barat. Tiga provinsi masing-masing NTT. (5) KPRI. KUD. KUD Susu memiliki anggota jauh lebih banyak diikuti. Jawa Tengah. 1 koperasi. Namun dalam hal kerjasama membangun jaringan usaha yang saling terkait dengan usaha anggotanya. (6) KOPPAS. Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara kurang dari 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahun. Pada sisi pengurus. Bahkan masing-masing satu koperasi sekunder dari NTT. Untuk jumlah unit usaha. dan (11) KSU.

94 149.68 168. POLDA KSU KP .RI 20.02 KP .RI KSP K. POLDA KSP KOPPAS KOPWAN 2618 1154 1030 913 871 688 670 450 273 Jt Rupiah Jum lah V olum e Us aha Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 2757 2301 1018 1002 730 607 463 153 24 11 Jt Rupiah 8911 KUD SUSU KOPWA N KOPPA S KP . POLDA KP .60 91.24 Persen Rata-rata Rentabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 25.PONTREN Jumlah SHU Koperasi Primer Anggota Sampel 1110 KOPPAS KUD KSP KOPW AN KP .RI K.87 KUD MINA KUD SUSU Persen K.PONTREN 231 154 142 116 83 63 63 28 - 481 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah Rata-rata Solvabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 417.48 297.84 404.PONTREN KSU KUD MINA Nam a K operasi 2 2 2 2 3 3 3 Unit Nama Koperasi 4 4 5 9 KUD SUSU KUD MINA KUD KOPDIT K.24 KOPW AN 14.PONTREN 353.RI KUD KUD SUSU KOPW AN KSP KOPPAS KOPDIT KUD MINA K. POLDA K.31 104.83 109.78 KOPPAS 20. POLDA KUD SUSU KP .PONTREN K.PONTREN KOPDIT K.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Anggota Kope ras i Prim e r Anggota Sam pe l 3364 2434 1299 530 512 481 469 246 51 50 Orang 6421 KUD SUSU KUD MINA KOPDIT KUD KSU K.98 KOPDIT 1.50 368.30 KSU 5.RI K. POLDA KP . POLDA KSU KUD SUSU KOPDIT KUD MINA K. POLDA KOPDIT KSP KUD KSU KUD MINA K.JURNAL VOLUME 4 .RI K.RI KUD KOPW AN KUD SUSU KSP KOPDIT KUD MINA KOPPAS K.11 130.67 21.58 285.RI KUD MINA KUD KOPPA S KSU Nama Koperasi 7 7 7 8 8 8 8 9 Orang Jumlah Unit Usaha Koperasi Primer Anggota Sampel Jumlah Modal Koperasi Primer Anggota Sampel 4848 11399 KUD KUD SUSU KOPDIT KOPWAN KOPPAS KP .80 KSU K.34 K.03 KUD 4. Keragaan Koperasi Primer Anggota Sampel 152 N aK am operasi N a Koperasi am .21 207.01 Persen Gambar 4.PONTREN KOPPA S Nama Koperasi Jum lah Pe ngur us Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 11 10 14 KSP KOPWA N K.94 KSP 9.PONTREN Nama Koperasi Rata-rata Likuiditas Koperasi Primer Anggota Sampel 821.46 152.PONTREN KSU KP .86 159.RI KOPWA N KSP K. POLDA 19.83 760.78 145.42 144.61 122.

Sedangkan nilai SHU terbesar dicapai oleh KOPPAS disusul KUD dan KSP.56% atau 22 koperasi masih menempati gedung kantor dengan status pinjaman. Ini menunjukkan pada umumnya semua koperasi primer anggota masih beroperasi secara aktif dan konsisten menjalankan RAT setiap tahunnya. sebanyak 39. 59. Modal terbanyak kedua dicapai oleh KUD Susu disusul KOPDIT dan KOPWAN. Kesulitan utama yang dihadapi koperasi primer adalah permodalan yang terbatas. Dari 107 koperasi primer anggota. mampu menghasilkan nilai SHU sebesar nilai persentase masing-masing. Sedangkan KUD MINA mencapai nilai SHU yang paling rendah. Secara umum. KPRI.38% atau 40 koperasi menyelanggarakan RAT 2-4 kali. Dari data ini. Juga sebanyak 39. Kesulitan lainnya adalah mengenai kemampuan sumber daya manusia pengurus koperasi yang belum baik. 153 . Dari sisi rasio keuangan.80% atau 3 koperasi yang hanya melaksanakan RAT satu kali selama 5 tahun. dan sisanya 21. Perkembangan koperasi primer anggota koperasi sekunder tingkat provinsi dominan lebih baik. dan KSP. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa sebanyak 69. KUD memiliki modal terbesar mencapai Rp. Hanya 2. dan sebanyak 20. Pada nilai volume usaha.50% koperasi primer sampel sudah berusia lebih dari 10 tahun. KOPPOLDA. 11. KOPWAN. Beberapa koperasi primer sampel yang bergerak pada bidang perdagangan mengeluhkan persaingan harga yang makin ketat dengan swalayan dan pasar modern yang ada.25% atau 42 koperasi berusia 10 sampai 20 tahun.28% atau 11 koperasi menempati gedung kantor berstatus sewa.4 milyar jauh di atas koperasi-koperasi lainnya.25% atau 42 koperasi berusia lebih dari 20 tahun. Nilai ini memiliki arti dari setiap seratus rupiah harta masing-masing koperasi. Dari segi usia.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi modal. Ini adalah hambatan utama yang sering menyebabkan para anggota keluar dari keanggotannya. Sebanyak 10.49% atau 23 koperasi berusia 3 sampai 9 tahun. dan KUD mencapai nilai solvabilitas dan likuiditas yang lebih besar. koperasi primer sampel tetap memenuhi kewajiban mereka yakni membayar simpanan pokok dan wajib kepada koperasi sekunder. Sisanya 37. KSU. 78. KSI mencapai volume usaha terbesar disusul KOPWAN dan KOPPAS. KOPPOLDA. 5 koperasi yang mencapai nilai paling besar adalah KPRI.81% atau 64 koperasi melaksanakan RAT setiap tahunnya selama 5 tahun terakhir. Sedangkan untuk rasio rentabilitas.16% koperasi primer sampel atau 74 koperasi sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri. Nilai solvabilitas dan likuiditas yang besar ini memiliki arti keempat koperasi tersebut memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembalikan hutang. KOPPAS.

JURNAL VOLUME 4 . Hasil analisis pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai chi square sangat besar yaitu sebesar 304.01 sesuai kurva normal adalah sebesar 99. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui sejauh mana koperasi sekunder berperan menunjang aktivitas dan usaha-usaha koperasi anggotanya maka perlu dibahas sejauh mana keterkaitan di antara mereka. dan pada tabel 3 disajikan nilai chi square menurut analisis keseluruhan fungsi integrasi.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. pembinaan dan pelatihan managemen serta kerjasama dengan berbagai pihak. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = 0. Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi. Ini berarti kita tolak hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif (H). Pada tabel 2 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota secara keseluruhan. Angka ini lebih kecil dari 0. Rata-rata koperasi primer membutuhkan campur tangan pemerintah menangani permasalahan yang mereka hadapi mengenai bantuan permodalan. Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa nilai chi square hasil perhitungan lebih besar dari nilai kritis chi square.497. diperoleh nilai koefisien kontingensi koperasi sekunder sesuai tabel 3 hanya sebesar 0.04. Tolak hipotesis nol (H0) memiliki arti bahwa secara keseluruhan koperasi sekunder memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan dengan koperasi primer anggotanya. 2). Keterkaitan di antara koperasi sekunder dan koperasi anggotanya dapat terwujud di dalam fungsi-fungsi yang dijalankan di antara mereka. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0.497 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer 154 .44. V.1 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi sekunder secara nyata dapat terkait dengan koperasi primer anggotanya jika dilihat dari sisi pelaksanaan fungsinya secara menyeluruh. 5. fungsi-fungsi usaha dan fungsi-fungsi penunjang. 1). keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota dipisahkan menurut golongan fungsi yakni fungsi-fungsi kelembagaan.AGUSTUS 2009 : 140-160 Rata-rata koperasi primer terjalin usahanya dengan koperasi sekunder hanya sebatas organisasi dan belum kepada pelaksanaan fungsi-fungsi secara nyata. Keterkaitan diantara koperasi dibedakan atas dua kategori.

71 7.05 100 4 155 PKP .93 5.34 6.46 53 65 38 49 32 40 33 31 33 31 56 83 51 80 27 18 8 27 8 17 56 28 25 21 19 929 100 5.55 3.497 artinya tingkat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya tidak kuat (lemah).61 2.01 2.34 3.10 PUSKOPPOLDA 2 7 5 4 3 3 1 1 4 1 4 9 4 9 3 1 0 1 0 0 30 2 2 2 3 101 10.00 4. 2.31 3. Uji Signifikansi dan KoefisienKoefisien Kontingensi Tabel 3.44 4.38 GKSI 3 4 2 3 0 2 0 2 2 3 4 4 4 4 1 3 0 3 0 1 1 0 0 0 0 46 4.09 5.10 13.87 PKSU JUMLAH BARIS (%) 2 4 2 4 4 3 3 2 2 2 4 4 3 4 3 1 1 3 1 1 3 3 3 3 4 69 7.86 2. Nilai Chi Square.26 2. Nilai Chi Square.91 1.27 3.95 PUSKOPDIT 5 7 2 7 5 6 6 6 4 5 6 8 6 8 6 4 1 4 2 3 6 6 6 2 4 125 13. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah PUSKUD 13 17 8 8 7 7 5 6 9 6 15 22 10 22 2 2 0 3 0 1 3 4 3 4 3 180 19.44 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya (menurut analisis keseluruhan fungsi keterkaitan).03 3.86 1.01 sebesar 99.83 6.51 10.31 21.69 2.38 PUSKSP 1 2 2 2 1 1 2 1 0 3 3 4 1 4 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 40 4.46 13.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel 2.87 PKP-RI 14 16 9 12 5 11 9 7 4 4 10 17 13 16 6 2 0 8 0 6 8 8 6 5 0 196 21.PONTREN 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 13 1.40 19.91 0.03 8.Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Koperasi Sekunder dengan Anggotanya PUSKO WAN FUNGSI INTEGRASI FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 FC1 FC2 FC3 FC4 FC5 J Kolom (%) kunder Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Tabel 3.46 PUSKUD MINA 2 2 1 1 1 0 0 0 1 0 1 2 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 1.04 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 240 dan pada 0.RI PUSKUD . Uji Signifikansi dan Kontingensi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Nilai Chi Square ( 2) = 304.46 PUSKOPPAS 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 6 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 2.15 P.49 8. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.43 9 4 6 6 5 5 5 5 5 6 8 6 8 4 4 4 5 2 4 4 4 4 4 4 4 125 13.94 0.55 3.

Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa secara frekuensi PKP–RI melaksanakan 21.95 4. PUSKUD MINA (1.40 Persen PKP . Hasil ini menunjukkan bahwa keempat koperasi diatas secara frekuensi paling banyak melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitan dengan anggotanya.38% dan PKSU dan PUSKOPDIT masing-masing melaksanakan 13.PONTREN Sumber data: Primer diolah Gambar 5. Tiga koperasi yang sangat rendah presentase frekuensi pelaksanaan fungsinya adalah PUSKOPPAS (2. Ini berarti mereka mengabaikan tanggung jawabnya kepada koperasi anggotanya.51 1.7%. Berikutnya. dan PUSKOPPONTREN (1.46 13. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Semua Fungsi Keterkaitan oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Gambar 6 menunjukkan bahwa fungsi FA12 yaitu koperasi primer anggota menghadiri rat koperasi sekunder tingkat provinsi secara frekuensi paling banyak dilaksanakan oleh semua koperasi.40%).KOPWAN GKSI PUSKSP P. 21.31 2.KOPDIT P.10 19.POLDA P.87 7.JURNAL VOLUME 4 .15%). yaitu 156 . yakni hanya sebesar 49.38 Koperasi Sekunder 13.AGUSTUS 2009 : 140-160 anggotanya.MINA P. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan lemah. kita telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. PUSKUD melaksanakan sebanyak 19.KOPPAS PUS.10% fungsi-fungsi keterkaitan dari total pelaksanaan semua fungsi oleh semua koperasi. Secara statistik. Dengan persentase yang rendah seperti ini berarti koperasi-koperasi tersebut relatif kurang dapat melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitannya.43 4.RI PUSKUD PKSU P.46 10.51%).15 1.46%. Berikut itu ditunjukkan pelaksanaan fungsi-fungsi yang memperlihatkan keterkaitan tersebut pada Gambar 5 dan 6.

27 7. dan fungsi penunjang.86 4.94%.34 3.86%.01 2.09 3. dan FA2 (koperasi sekunder memberikan masukan yaitu menghadiri dan mengarahkan rat koperasi primer anggotanya) dilaksanakan sebanyak 7. Nama Fungsi 157 .93 8.00 Persen FA12 FA14 FA2 FC1 FA11 FA1 FA13 FA4 FA6 FA3 FA9 FA7 FA5 FA10 FA8 FC2 FB4 FB1 FC3 FC4 FC5 FB2 FB6 FB5 FB3 Gambar 6.05 1.71 5. Distribusi Frekuensi Pelaksanan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Empat fungsi paling rendah frekuensi pelaksanaannya adalah masing-masing FB2 (KS membangun jaringan pemasaran bagi anggota) sebesar 1.61 0.91 2.44 3.82%.03 6. Gambar 6. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya 8.83 6.49 5.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) sebanyak 8.00%.61%.55 3. Fungsi FA14 (koperasi primer anggota memenuhi kewajibannya kepada koperasi sekunder) dilaksanakan sebanyak 8. FB3 (KS membantu pengolahan/proses produksi dari koperasi primer anggota) dan FB5 (KS membantu promosi produksi kepada koperasi primer anggota) masing-masing dilaksanakan hanya sebanyak 0.31 4.93%. FB6 (KS mengadakan temu usaha dengan koperasi anggotanya) sebesar 1.03 5.94 1.34 3.91 2. masing-masing fungsi kelambagaan.55 3.26 2. 5. Pada tabel 4 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya menurut katagori fungsi. fungsi usaha. padahal fungsi-fungsi tersebut adalah penting untuk menunjang kemandirian koperasi anggotanya.86 0. Ini berarti keempat fungsi ini sangat jarang dilaksanakan oleh koperasi sekunder.69 2. dan pada tabel 5 disajikan nilai chi square menurut analisis kelompok fungsi integrasi.2 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Kelompok Fungsi Analisis menurut kelompok fungsi dimaksudkan untuk melihat apakah ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya dilihat dari 3 kelompok fungsi.

4.566.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Tabel 5.PONTREN PUSKSP 27 8 40 PUSKSP PUSKOPPOLDA 57 5 101 PUSKOPPOLDA PKSU JUMLAH BARIS 43 10 82 23 675 107 152 934 JUMLAH BARIS Tabel 4.01 dengan derajad bebas 20 diperoleh 27 Koefisien Kontingensi 675 Square.566 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya (menurut analisis kelompok fungsi keterkaitan).01 sebesar 37.761 hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif ini17berarti = 24 tolak 27 Penun-jang 1 1 5 16 39 20 152 Nilai Kritis(H). diperoleh hasil Koperasi diolah Keputusan dariTolak H0 atau terima H : Sekunder memiliki keterkaitan yang signifikan dengan Koperasi Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya Primer anggotanya.JURNAL VOLUME 4 . Nilai Square. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.Square hipotesis nol (H0) atau 20 dan pada 0.PONTREN 12 1 14 P. 158 6 . Uji Signifikansi dan Koefisien Anggotanya Sekunder dengan Koperasi Primer Kontingensi Koperasi Sekundertidak kuat (lemah).566 Chi Tolak dengan derajad bebas = terima H memiliki arti bahwa secara Jlh Kolom 180 2 46 125 14 196 22 69 101 125 934 kelompok fungsi2 yaitu dilihat dari14 40 pelaksanaan fungsi-fungsi integrasi hitung > tabel Hasil : Sumber data: Primer sisi kelembagaan. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = Kelembagaan 5. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.76 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 20 dan pada 0. Koperasi SekunderDianalisis menurut Kelompok Fungsi Dianalisis menurut Kelompok Fungsi Sumber data: Primer diolah Nilai Chi Square ( 2) = 87. usaha dan penunjang. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Penun-jang 17 1 1 27 1 1 5 16 39 20 Koperasi Sekunder 24 dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. analisis kelompok fungsi keterkaitan). Uji Signifikansi dan Koefisien Kontingensi Tabel 5.293 (tabel 5). Nilai Chi Square. Nilai Chi81 155 37 14 147 20 12 43 57 82 Tabel 0.76.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Sekunder dengan Koperasi Primer Anggotanya tidak kuat (lemah). Uji Signifikansi dan nilai sebesar 37. (menurut Nilai Koefisien Kontingensi = 0. Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. 69 PUSKOPWAN 125 PKSU Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan nilai chi square cukup besar yaitu sebesar 87. PUSKOPWAN FUNGSI INTEGRASI Kelembagaan Usaha Jlh Kolom FUNGSI INTEGRASI PUSKUD 155 8 180 PUSKUD GKSI 37 8 46 GKSI PUSKOPDIT 81 20 125 PUSKOPDIT PUSKUD MINA 14 1 14 PUSKUD MINA PKP-RI 147 22 196 PKP-RI PUSKOPPAS 20 1 22 PUSKOPPAS P. Nilai Nilai Chi Square ( 12) kita87. diperoleh nilai koefisien kontingensi hanya sebesar 0.AGUSTUS 2009 : 140-160 Tabel 4. Jika nilai Koperasi hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai kritis chi8 squareSekunder1Dianalisis1menurut Kelompok Fungsi 23 chi square Usaha 8 20 22 1 8 10 5 107 maka diperoleh hasil nilai chi square hasil perhitungan lebih besar.01 sebesar 37.

Keterkaitan ini juga signifikan namun tingkat keterkaitannya lemah. VI. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan.293 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Sumatera Utara. 159 . dan fungsi-fungsi penunjang. (2004). A. Sumatera Barat. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0. -------------.1 Kesimpulan Berdasarkan data dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya mengenai keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya pada delapan daerah survei masing-masing provinsi Jawa Timur. koperasi sekunder terkait dengan koperasi Primer anggotanya. fungsi-fungsi usaha. keterkaitan ini signifikan atau nyata namun memiliki tingkat hubungan yang lemah. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta. 2. Dari sisi pelaksanaan kelompok fungsi integrasi vertikal masingmasing fungsi-fungsi kelembagaan. Prentice Hall.3%.1 Saran Sesuai hasil analisis yang menunjukkan bahwa keterkaitan koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota yang lemah maka disarankan agar koperasi sekunder harus meningkatkan capacity building melalui pelatihan. koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. F.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Angka ini lebih kecil dari 0. dirumuskan beberapa kesimpulan sesuai tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Jawa Tengah. Statistical Methods for the Social Sciences. Dilihat dari pelaksanaan keseluruhan fungsi integrasi vertikal. (1992). namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan cukup lemah. DAFTAR PUSTAKA Agresti. Pedoman Pengembangan Koperasi Khusus Koperasi Sekunder di DKI Jakarta Tahun 2004. penyuluhan. KESIMPULAN DAN SARAN 6. and Barbara. Jakarta. pemasyarakatan. yakni hanya sebesar 29. 6. Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. New Jersey. Anonim. pemberdayaan prinsip-prinsip koperasi dan teknis perkoperasian.

Anggota IKAPI. 160 . Suatu Kajian Cross-Section. Suwandi. (1987). (2002). Ghalia Indonesia. Sydney. Penerbit.JURNAL VOLUME 4 . Babie. Earl R. (//gopher. Jakarta. Jakarta. No. Donald Ary. Hott Rinehart and Winston. Statistik Nonparametrik. Wadsworth Publication Co. Yacobs and Razavich. Ekonomi Skala Kecil/Menengah & Koperasi.adp. (1973). ICA. Jakarta. S. (1987). Bogor. International Cooperative Aliance (ICA) Communication. Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di �awa Barat. Jakarta. (1999). BPFE Yogyakarta. (1995). (2006). Djarwanto. Maret 2006. L. California. Hadi. Introduction in Research Education 2nd Editon. No: 26 Tahun XX 2005. Farmer Organizations and Rural Cooperatives. (1988). Survey Research Methods. dan Abdul Rahman S. Suwandi. Bayu Krisnamurthi. Bharata. S. Yogyakarta. 164. Koperasi Organisasi Ekonomi yang Berwatak Sosial. Ch.AGUSTUS 2009 : 140-160 -------------. (2005). May 1995. Revitalisasi Koperasi Sekunder Nasional.wisc. Warta Koperasi. Media Pengkajian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. Belmont. Statistik II.T. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Solusi Koperasi & Usaha Kecil. (1979).edu:70) Partomo.

modal.d. pasar. yang dipengaruhi beberapa faktor seperti: faktor sumber daya manusia (SDM). teknologi. kebijakan moneter. dan dinamika kelompok I. koperasi juga dihadapkan pada dua lingkungan bisnis yakni lingkungan eksternal dan internal. Anggota koperasi mempunyai identitas ganda. 200� in implementing mutual liability system. baik sebagai pemilik dan pelanggan/pengguna jasa organisasinya. produksi. ***) Asdep Urusan Penelitian Koperasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti). In the frame of revealing a part of some factors that influenced the success of the system concerned. Selaku badan usaha. review terakhir �� �uli 200�. **) Peneliti Utama pada Deputi Pengkajian SDM KUKM (tim peneliti). because it was successful in uniting women and house wives into cooperative organization. Sistem tanggung renteng. aspek manusia sangat penting dalam kehidupan berkoperasi di Indonesia dan tidak hanya berdasarkan modal dan saham. dan kebijakan publik lainnya. peer review 25 Mei s. 1. kewirausahaan. Oleh karena itu. Peran aktif anggota koperasi menentukan target yang Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200�. this assessment was done by using psychological variables and especially psychosocial one. kohesivitas.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial*) Burhanuddin R**) dan Pariaman Sinaga***) Abstract At first assessment was dedicated to Puskowanjati on her 50th anniversary on March. Lembaga koperasi ini terdiri dari kelompok orang yang disebut anggota berdasar sifat individu dan tidak berdasarkan modal atau saham. Pengantar Definisi koperasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan kepada prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaaan. *) 161 . 8 �uni 200�. Mutual liability system is a phenomenal system. Peran anggota koperasi dengan berdasar identitas tersebut merupakan faktor strategis dalam pengembangan koperasi di Indonesia. penyesuaian diri. Artikel diterima 25 Mei 200�. The result was significantly interesting to be a thinking material in the process of cooperative promotion and development in the future time.

Koperasi tidak dapat berkembang apabila anggota koperasi tidak berperan aktif di lembaganya. disiplin dan tanggung jawab. Inilah prinsip tanggung renteng yang melibatkan tiga unsur utama yaitu kelompok. keberadaan kelompok merupakan wadah anggota dalam beraktivitas untuk pemenuhan hak dan kewajiban sebagai anggota koperasi. saling percaya. Di samping itu. kewajiban dan peraturan. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi koperasi apapun untuk bisa tumbuh dan berkembang baik dari sisi organisasi maupun usaha. kohesivitas anggota koperasi. 162 . Terkait dengan ketiga variabel ini. Beberapa variabel penting koperasi yang berkaitan dengan dua identitas ganda koperasi adalah. Sistem Tanggung Renteng Tanggung jawab bersama diantara anggota dalam satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi dengan dasar “keterbukaan dan saling mempercayai”. terdapat dua identitas yang melekat pada anggota koperasi termasuk sebagai diri pribadi manusia dengan ciri psikologis tertentu dan terpisahkan dari kesehatan koperasi. Dalam penerapan sistem ini.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 161-170 akan dicapai organisasi koperasi dapat tercapai atau tidak. Kewirausahaan merupakan sikap pribadi berkaitan dengan kepentingan ekonomi pribadi dan koperasi. II. maka akan terjadi perubahan sikap dan perilaku anggota. kelompok juga sebagai wahana dan sarana komunikasi antar anggota maupun dengan koperasinya. keterbukaan. naskah ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada koperasi primer anggota Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) dalam rangka meneliti aspek psikologis dalam pengembangan sistem tanggung renteng. Implementasi dalam mewujudkan target koperasi dapat diraih dengan bantuan manajemen dan pengurus yang mengarahkan kegiatan bisnis koperasi. Penyesuaian diri berkaitan dengan peran individu untuk menyesuaikan diri terhadap kepentingan diri dan kepentingan koperasi. Untuk itu kelompok diwajibkan untuk mengadakan pertemuan rutin secara berkala. musyawarah. aspek psikologi dan khususnya psikososial di koperasi juga merupakan faktor penting untuk keberlangsungan hidup koperasi. Bila proses sistem tanggung renteng diterapkan secara benar. Dengan demikian. penyesuaian diri dan kewirausahaan. dan ketiganya ditengarai berpeluang untuk direplikasi ke koperasi lain. Artinya. Kohesivitas anggota koperasi sesuai dengan ciri khas koperasi yaitu individu yang saling berinteraksi dalam berkelompok untuk mencapai tujuan koperasi. Sebuah sikap dan perilaku yang dilandisi kesadaran terhadap tata nilai tanggung renteng yaitu kebersamaan. Dengan demikian dalam kelompok juga akan terjadi proses pembelajaran bagi anggota.

Provinsi Jawa Timur.9179 (Mardiyati. dan variabel kewirausahaan 0.Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah (Org) 83 57 22 Persentase (%) 51 35 14 163 . 9646 (Pariaman dan Hidayat. Semua data variabel diukur dengan 22 memakai skala Likert. dan setiap variabel telah memiliki koefisien reliabilitas yaitu : untuk variabel kohesivitas.1 Penetapan Kerangka Pengambilan Contoh (Sampling Frame) Subyek atau responden penelitian ditetapkan secara sengaja (purposive sampling method) sebanyak 160 orang dan dalam pelaksanaannya meningkat menjadi 170 orang. namun kemudian yang layak diukur ditemukan hanya sebanyak 162 orang. 3. Lawang. kohesivitas. 2004). Pandaan.8496 (Martono. 57 1996). dan Kabupaten Pasuruan. Analisis data menggunakan teknik analisis persamaan regresi sederhana dan persamaan regresi berganda yang dalam penyajian hasil kajian dilengkapi dengan analisis statistik deskriptif berupa grafik histogram rerata dan matriks kategori. KSU Kartika Chandra. Tabel 1.1 Pengumpulan data ditetapkan di tiga lokasi yang juga ditetapkan Variabel Kohesivitas secara sengaja. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu. penyesuaian dan kewirausahaan. 3. 0. Kota Surabaya.2 Penetapan Koperasi Contoh 2 3 Jumlah koperasi primer wanita yang menjadi anggota Puskowanjati sampai tahun 2008 tercatat sebanyak 46 koperasi primer 83 dan yang ditetapkan sebagai sampel kajian sebanyak delapan anggota koperasi primer wanita yaitu: 1. Lokasi Koperasi Kelompok 4 3 1 8 2 2 2 6 Anggota (orang) 10 10 10 ------Responden (orang) 80 60 20 160 1. Kabupaten Pasuruan Jumlah 4. yaitu di Kabupaten Malang. 1 3. KSP Kartini Mandiri. Malang. sebesar 0. Metode Kajian Kajian ini dilaksanakan dengan metode survei yang dilengkapi dengan observasi langsung kepada objek kajian tanpa memberikan perlakuan apapun sehingga terjadi aktivitas yang saling mempengaruhi (expost facto model).Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) III. pada bulan Februari 2009. Kabupaten Malang 2. 2004).4. 2. Kota Surabaya 3. KSU Setia Budi Wanita. Batu. KSP Citra Lestari. vairabel penyesuaian.

7. optimis. IV. Surabaya. berani mengambil risiko. Grafik Kohesivitas Anggota Koperasi Wanita Sampel 164 .1 Variabel Kohesivitas 22 57 1 2 3 83 Gambar 1.JURNAL VOLUME 4 . 6. KSU Setia Kartini Wanita. Kewirausahaan adalah kecenderungan individu yang percaya diri untuk bekerja mandiri. kreatifitas. status dan peringkat koperasi. Penyesuaian diri adalah perilaku belajar mengatasi dorongan dari tuntutan diri dan lingkungan dengan mengendalikan tindakan langsung dan hubungan interpersonal. dan memiliki sifat kepemimpinan. Malang. Hasil Penelitian 4. dan peka terhadap kritik dan komentar/pendapat pihak lain. 3. inisiatif. KSU Mawar Putih. 8. toleransi terhadap kelompok dan pemenuhan harapan untuk bekerjasama mencapai tujuan bersama. keterlibatan. kekuatan kelompok. dan KSU Waspada. mampu melihat peluang bisnis. Kohesivitas adalah keterikatan anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan berkelompok. Pemilihan dan penetapan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan keragaman lokasi kajian dan anggota koperasi.AGUSTUS 2009 : 161-170 5. Sidoarjo. bekerja keras.3 Definisi Operasional Variabel Berdasarkan penulusuran terhadap beberapa literatur dan jurnal kajian yang sejenis khususnya yang berkaitan langsung dengan variabel kajian. telah berhasil dirumuskan tiga definisi operasional variabel untuk digunakan dalam kajian. Surabaya. KSU Setia Bhakti Wanita.

dalam Hadipranata. Rasa keterkaitan e. TabelTabel 2. Keterikatan 83 anggota akan keberlangsungan hidup koperasi akan membuat anggota koperasi terlibat dalam kelompok di koperasi. Tabel 1. Pengaruh masih ketat c. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (Org) 83 57 22 162 Persentase (%) 51 35 14 100 Dinamika Kelompok Individu dalam kelompok mempunyai keterikatan dengan kelompok sesuai dengan bagaimana penyesuaian diri individu dan interaksi individu di dalam kelompok. 1. Kelompok kelompok koperasi yang menerapkan tanggung renteng akan merasa saling terikat. Diskripsi Kohesivitas Dinamika Kohesivitas a. Kohesivitas kelompok menunjukkan keterikatan individu dengan individu lain dalam kelompok. Tabel 1 kategorisasi menunjukkan kohesivitas anggota koperasi wanita tinggi. d.22 57 Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) 1 2 3 Kohesivitas koperasi sebagai bukti interaksi antar anggota ditemukan cukup tinggi di koperasi wanita sampel. Ada mitra tanding f. g. c. 1987) 4. Dampak Kohesivitas Kepuasan Rasa tanggung jawab Optimalisasi prestasi Komunikatif Rasa kami kuat Menolak perombakan kelompok Penampilan kerja baik 165 . Individu belajar menyesuaikan diri dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Diskripsi Kohesivitas 2. f. 1987) (Alderfer. e. Ada sistem imbalan (Alderfer. Ukuran terbatas (kecil) b. Saling melengkapi h. Keterikatan akan aturan dan kepentingan ekonomi membuat anggota koperasi secara sadar menerapkan sistem tanggung renteng.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian  a. Kesempatan partisipasi g. Rasa sepenanggungan d. b. dalam Hadipranata. Kewirausaha individu dalam koperasi karena ada contoh dalam kelompok untuk mengelola bisnis dalam rumah tangga dan koperasi.

Keberhasilan pengaruh kohesivitas kelompok terhadap produktifitas koperasi dapat dikatakan tergantung pada pengaturan koperasi terhadap kelompok dalam pencapaian tujuan bersama.AGUSTUS 2009 : 161-170 Kelompok yang berkohesivitas dengan memiliki jati diri sosial (social identity) dan memiliki kekuatan kerjasama yang tangguh. yaitu: a) Kiprah interaksi personalnya. Karenanya diperlukan beberapa syarat (Katz. sehingga menimbulkan pengembangan kepribadian yang unik. f) Aktivitas berperan serta dalam keputusan. sedangkan yang tidak berkohesivitas cenderung lemah terhadap kerjasama. Sebagai bentuk partisipasi koperasi akan membuat saling pengertian yang lebih baik dan kemudian lebih memiliki keikatan dalam penyelesaian tugas secara positif dan efektif. Kelompok yang beriklim kohesif ini dalam membuat keputusan lebih efektif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kohesivitas suatu kelompok (Jannis. efektifitas kelompok kohesif itu: 1) Derajat keterikatan anggota kelompok. Kelompok bhinneka adalah kelompok yang anggotanya memiliki perbedaan nilai. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah kelompok kohesif jauh lebih 166 . 1989). 3) Kepuasan kerja anggota kelompok. pekerjaan dan aturan kerja yang mapan. b) Jumlah anggota yang ideal kurang dari enam orang.JURNAL VOLUME 4 . Setiap anggota memberikan kelebihannya dan menerima kekurangannya. terbuka dan memperoleh peluang untuk bermitra tanding atau berkompetisi yang sehat. lebih kreatif dan dalam penyelesaian masalah pun lebih koordinatif serta lebih produktif dari pada sejumlah orang yang sama dalam kelompok biasa yang biasanya kerja kurang terkoordinasi. 2) Produktifitas kerja kelompok. e) pertaruhan nama kelompok atau jiwa korps. 1982). Kohesivitas juga menciptakan “motivasi sosial” karena kohesivitas kelompok di koperasi wanita identik dengan keragaman atau disebut juga kelompok bhinneka. pendapat. kemampuan maupun perspektifnya memiliki karakter yang dibutuhkan bagi efisiensi kinerja kelompok. yaitu antara lain: a) Tatanan tugas. c) Mekanisme kerja kelompok demokratis. Jati diri kelompok kohesif membuat kerjasama pada setiap peringkat organisasi termasuk internal pengurus koperasi. dan g) Hadiah lebih besar dari hukuman. Penelitian tersebut juga dikenakan berbagai macam jenis pekerjaan. Langkah-langkah untuk menguatkan kohesivitas dalam kelompok dapat dilakukan. Anggota koperasi dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama. d) Kesediaan bermitra tanding. c) Keterbukaan isolasi dari luar. artinya ada job requirement. dan. Setiap anggota memperoleh tanggungjawab terhadap beberapa tugas-tugas yang sudah rutin. Menurut Steiner (1972). b) Sumber daya kelompok yang tepat penempatannya. Hal ini membuat keberhasilan kelompok lebih utuh. baik sifat-sifat individu maupun watak kelompoknya.

Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) baik daripada kinerja individual. Ternyata dari hasil pengukuran ditemukan bahwa koperasi cukup tinggi. 4.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian 43 51 1 2 3 68 Gambar 2. Hanya saja kadangkala untuk jenis pekerjaan seni. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bandura bahwa keyakinan individu akan dirinya yang dapat melakukan tindakan yang dikehendaki oleh situasi tertentu dengan berhasil. 167 . Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Penyesuaian diri wanita anggota koperasi dapat diamati pada Grafik 2 dan Tabel 2. Figur dalam kelompok akan mendorong individu dalam koperasi untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik terutama berkaitan dengan peraturan sebagai turunan dari model.3 Variabel Kewirausahaan Grafik 3 dan Tabel 3 menunjukkan bahwa kategori anggota koperasi tinggi pada aspek kewirausahaan. Munculnya keyakinan diri seseorang mengenai kemampuannya dalam menampilkan suatu bentuk perilaku menggambarkan hubungan dengan situasi yang dihadapi seseorang tersebut dan menempatkannya sebagai elemen kognitif dalam pembelajaran sosial. Model tanggung renteng menerapkan perilaku belajar peraturan. Hal tersebut disebabkan sistem tanggung renteng itu sendiri memberikan kesempatan anggota koperasi untuk berinteraksi sehingga timbul perilaku mencontoh. Penjelasan perilaku wanita wirausaha yang tinggi berkaitan dengan tanggung renteng. Wanita melakukan penyesuaian diri terutama berkaitan dengan lingkungan dimana kelompok berkumpul sebagai wujud tanggung renteng koperasi. Wanita anggota koperasi akan merasa senasib sepenanggungan dengan mengedepankan penyesuaian diri sehingga kepentingan ekonomi dapat terwujud secara bersama-sama. maka kerajinan tangan yang bersifat pribadi dan kinerja perorangan lebih baik daripada dikerjakan bersama 4.

AGUSTUS 2009 : 161-170 Grafik 2.JURNAL VOLUME 4 . Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan 71 Tabel 4. penyesuaian diri (68 persen). Jumlah (org) 71 61 30 162 Persentase (%) 44 38 18 100 168 . Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Tabel 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan Anggota Koperasi Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total VI. secara berturut-turut adalah: kewirausahaan (71 persen). 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Kategori Jumlah Persentase (org) (%) Tinggi Kewirausahaan 68 42 Sedang 51 32 Rendah 43 26 Total 162 100 30 Kewirausahaan 61 1 2 3 2 30 61 71 1 2 3 Grafik 3. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan ditemukan bahwa ketiga variabel menempati kategori tertinggi. dan kohesivitas (51 persen). Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Gambar 3. Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel 4.

& Rasyid. Mikeo. Hasil kajian juga mengindikasikan bahwa pengembangan koperasi tidak bisa terlepas sepenuhnya dari aspekaspek psikologis dan sosiologis anggotanya. Laporan Hasil Lokakarya. Yogyakarta: Studio Yogyayasa Laboratorium Sumberdaya Manusia.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Penemuan ini mencerminkan bahwa jiwa kewirausahaan anggota koperasi primer ternyata mempengaruhi dan turut menentukan kelangsungan usaha koperasi-koperasi primer wanita yang bernaung dalam Puskowanjati. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. H. Keberhasilan tanggung renteng sebagai suatu sistem dapat dicermati dari unsur rasa keterikatan anggota kepada kelompoknya dan koperasinya. 27. 169 . DAFTAR PUSTAKA Hadipranata. (1990). (1993).F.F... Hal tersebut disebabkan karena dasar pendirian koperasi adalah merupakan kumpulan orang-orang (human capital) dan bukan semata-mata kepada unsur permodalan. Yogyakarta: Badan Pelaksana Pendidikan dan Latihan Ketenagakerjaan Yogyakarta. 81-104. (1987). R. Hadipranata. maka generalisasi kajian dalam bentuk replikasi sistem tanggung renteng masih memerlukan kajian lebih mendalam dengan lingkup lebih luas.F.Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Aspek-aspek psikososial yang berhasil diukur ini nampaknya perlu dipertimbangkan dengan lebih cermat di masa akan datang sebagai bagian dari pola pembinaan koperasi dan anggotanya.. Administrative Science Quarterly. Himam. (1982).F. (1987). Hasil kajian juga menggambarkan adanya kemampuan adaptasi para wanita anggota koperasi dalam mengadopsi suatu sistem yang diyakini bersama dapat membantu pemenuhan ekonomi rumah tangga mereka.. Katz. F. Hadipranata. The Effects of Group Longerity on Project Communication and Performance. A. A. Hal ini mendukung upaya penyelamatan asset dan ketersediaan likuiditas koperasi sehingga semua anggota koperasi memiliki kesempatan yang relatif sama untuk mendapatkan pelayanan dari koperasi masing-masing. Para wanita anggota koperasi primer yang mempraktekkan sistem tanggung renteng ditengarai turut menopang kehidupan organisasi koperasi masingmasing. Laporan Penelitian. Mikeo... Perbedaan Semangat Kerja Karyawan Dalam Kelompok Yang Kohesif dan Yang Tidak Kohesif Pada Perusahaan Tenun ATBM Kodya Yogyakarta. A. Identifikasi dan Analisis Alat Ukur Penelitian di Bidang Psikologi Industri dan Organisasi.

417-452. Mardiyati. Zander. I. Kebahagiaan Perkawinan Ditinjau Penyesuaian Diri dan Sikap Terhadap Konsep Wanita Ideal �awa. Crucial Decissions.JURNAL VOLUME 4 . Zander. New York: The Free Press. Making Group Effective. San Fransisco: Jossey Bass. (1989). (1979). (1972)... 170 . Steiner. A..AGUSTUS 2009 : 161-170 Jannis..L. Annual Review of Psychology. (1982). (2004).A. 30. A. New York: Academic Press. The Psychology of Group Processes. Group Process and Productivity. I.

2). Kepentingan untuk mengembangkan koperasi sebagai alat untuk ingan meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin. The impact get through the services i. *) 171 .1 Latar Belakang Tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya penelitian untuk menilai dampak koperasi pada tingkat anggotanya: 1). North Sumatra. The rules of conduct in cooperatives have not been developed systematically. kelompok sasaran. Gopar**) Abstract This research has been conducted in order to asses the impacts of cooperatives for its members. management and members – are weak.d. review akhir �� �uli 200�. Market information from cooperatives is also useful for members in selling their products. especially in rural areas. the tasks and the responsibilities for directors.I. indikator. Assessment is implemented in three provinces. experiences and composition of directors and management. Data are analyzed using simple descripted statistics. intermediasi. The research indicates some important results. covered 15 cooperatives and about 150 members of cooperatives. **) Peneliti pada Deputi bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (peneliti kajian). Pengukuran yang dilakukan selama ini dirasakan belum memadai untuk menerangkan manfaat keberadaan koperasi bagi anggota dan masyarakat sekitarnya. the quality of product. Gopar) KAJIAN DAMPAK KOPERASI TERHADAP ANGGOTANYA1*) Achmad H. 8 �uni 200�.. Financially. and the timing of services. and North Sulawesi. Kepentingan untuk mengukur kemajuan koperasi menurut dimensi pertumbuhan secara agregat dan sumbangannya terhadap pendapatan regional maupun nasional. Members are also benefited through saving and loan activities. Human resources of cooperatives – board of directors. cooperative pricing policy. Cooperatives has not built financial intermediary system among themselves so that the capital can be used more productive and efficiently. dan 3).Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. peer review 12 Mei s. management. Yogyakarta.e. auditors and members are not explicitly written. The weaknesses have been occurred in some areas such as education. Pendahuluan 1. Dampak. Artikel diterima 12 Mei 200�. cooperatives fail to mobilize capital and to use it more productive. D. kemanfaatan I. partisipasi. Pemikiran bahwa dalam melihat Kajian Suplementasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK tahun 2006. Cooperatives have given good impacts for its members.

tahun anggaran 2006.2 Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. 1. Sedangkan bagi Pemerintah kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1 Memberikan masukan informasi yang berguna dalam penyusunan kebijaksanaan pembangunan koperasi. 2 Memberikan masukan kebijaksanaan dalam penyusunan sistem dan mekanisme monitoring dan evaluasi pembangunan perkoperasian. 2 Memberikan masukan kepada koperasi itu sendiri dalam rangka merumuskan kebijakan organisasi dan usahanya.3 Manfaat Penelitian Kegiatan penelitian ini pada dasarnya akan dapat memberikan manfaat ganda. Indikator-indikator tersebut diujicobakan dalam penelitian agar bisa disempurnakan dan secara berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengukur dampak koperasi terhadap anggota. 1. dalam hal-hal sebagai berikut : Manfaat yang dapat diambil oleh gerakan koperasi adalah sebagai berikut:  Meningkatkan kemampuan analisis secara kritis para pengelola koperasi. Bertitik tolak dari ke tiga alasan di atas maka lahirlah gagasan dan pemikiran untuk mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi dampak koperasi di tingkat anggota. yang dilaksanakan tim dari Universitas Indonesia dengan judul ”Kajian Dampak Pemberdayaan KUKM terhadap Kesejahteraan Rakyat”.JURNAL VOLUME 4 . b.AGUSTUS 2009 : 171-185 kemajuan yang dicapai koperasi atau manfaat kehadiran koperasi di tengah-tengah masyarakat perlu pemantauan dan evaluasi sejauhmana dampak koperasi terhadap anggotanya. 172 . Melakukan pengukuran dampak koperasi terhadap anggota pada beberapa lokasi terpilih. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengembangkan indikator-indikator monitoring dan evaluasi dampak koperasi terhadap anggotanya. Melakukan uji coba dan pengembangan indikator-indikator pengukuran dampak koperasi terhadap anggota. Penelitian ini merupakan suplementasi dari penelitian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. baik kepada gerakan koperasi maupun kepada pemerintah. Kementerian Negara KUKM.

maka secara umum dapat dikelompokkan dalam dua kategori data.4 Ruang Lingkup Mengingat penelitian ini lebih merupakan proyek perintisan yang bersifat eksperimental study yang pelaksanaannya dilakukan juga oleh koperasi. Aspek Pengamatan Informasi atau data yang dikumpulkan pada dasarnya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai oleh penelitian itu sendiri. seperti misalnya jumlah anggota. Dalam monitoring perkembangan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah secara rutin dan terus menerus selama ini adalah menggunakan data atau indikator kuantitas yang bisa dimonitor. seperti persepsi anggota terhadap kualitas pelayanan koperasi dan seterusnya. Namun kelemahannya adalah kemungkinan datanya kurang reliable dan belum memadai untuk menggambarkan apakah kehadiran koperasi 173 .Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. dan 2) Data yang tidak yang tidak bisa dimonitor (unmonitorable). Dari mereka digali informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan. jumlah simpanan. 3. mudah diperoleh dan dapat dilakukan secara nasional. Sebagai responden untuk mewakili koperasi adalah pengurus atau pengelola koperasi. dari tingkat yang paling bawah (kabupaten/kota) sampai dengan tingkat nasional. Keuntungan cara ini adalah datanya tersedia. Aspek Penelitian Para pengelola yang melaksanakan penelitian tersebut dibekali dengan pengetahuan teknis penelitian maka selanjutnya mereka langsung dilibatkan dalam praktek atau proses penelitian. 2. volume usaha dan sebagainya. Dalam kerangka monitoring dan evaluasi dampak koperasi. Tenaga-tenaga dari koperasi tersebut diikutsertakan dalam proses pelaksanaan penelitian sehingga diharapkan akan terjadi proses alih pengetahuan (learning by doing) mengenai penelitian perkoperasian. sedangkan untuk anggota koperasi diwawancarai sebanyak sepuluh orang anggota koperasi yang ada di wilayah kerjanya. yaitu: 1) Data yang bisa dimonitor setiap saat dan secara terus menerus (monitorable). Obyek pengamatan adalah koperasi dan anggotanya. Alih Pengetahuan Uji coba dan pengambilan data pada penelitian melibatkan langsung tenaga pengelola koperasi sebagai pelaksana pengumpulan data penelitian. maka cakupan kegiatannya meliputi sebagai berikut: 1. Mekanisme monitoring semacam ini sudah berjalan dengan baik. setiap saat. Gopar) 1.

Pemikiran ini selanjutnya akan sampai pada suatu justifikasi bahwa mengukur keberhasilan koperasi menurut dimensi pertumbuhan dan sumbangannya terhadap GDP dianggap kurang memadai. Dimensi pertama dapat dijelaskan sebagaimana berikut. peranan koperasi terlihat belum memadai dan belum menggambarkan dampak penggandanya terhadap seluruh aspek kehidupan anggota koperasi maupun masyarakat. maka dengan semakin besarnya pertumbuhan koperasi memberikan indikasi semakin banyak jumlah anggota yang memperoleh manfaat dari kehadiran koperasi. memerlukan suatu studi secara khusus dan komprehensif mengenai dampak koperasi pada tingkat (level) anggotanya. Berdasarkan asumsi ini maka pengukuran keberhasilan pembangunan koperasi dapat dilakukan melalui pengukuran pertumbuhannya. namun akan lebih ditekankan pada tingkat anggota. Berdasarkan suatu asumsi bahwa semua koperasi akan berusaha secara maksimal untuk melayani anggotanya atau berorientasi pada kepetingan anggota.JURNAL VOLUME 4 . yaitu dilihat dari dimensi pertumbuhan (cooperative growth). Mengingat basis kekuatan koperasi adalah pada anggota. dan dampak koperasi (cooperative impact) terhadap anggota dan lingkungan yang dipengaruhinya. II. dalam penelitian ini pengukuran dampak koperasi terhadap anggota tidak hanya diambil dari data kuantitatif yang diperoleh dari koperasi.AGUSTUS 2009 : 171-185 itu memberikan manfaat bagi sebagian besar anggota dan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu. Di lain pihak jika kita mengukur dari segi cooperative share terhadap GDP. maka partisipasi anggota merupakan kata kunci yang melambangkan dampak keberhasilan koperasi dalam memperbaiki kesejahteraan para anggotanya. sumbangannya terhadap GDP maupun GNP (cooperative share). Selain itu partisipasi merupakan dasar kekuatan koperasi. Dengan lain perkataan di samping data yang bisa dimonitor dari koperasi juga akan diambil data berdasarkan persepsi atau opini anggota. Dengan menggunakan cara yang pertama. Banyaknya anggota belum menggambarkan besarnya manfaat keberadaan koperasi karena hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki akses terhadap pelayanan koperasi. Pengukuran dampak koperasi dalam bentuk kemanfaatan koperasi dan partisipasi sebagai komplemen bahkan mungkin subtitusif dari dua tolok ukur dan atau cara pengukuran di atas. 174 . Kerangka Pemikiran Setidaknya ada tiga cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan koperasi. yaitu dilihat dari perspektif pertumbuhan koperasi ternyata hasilnya belum memuaskan.

(berupa tenaga pelaksana dan pembiayaan) tidak memungkinkan koperasi secara nasional untuk melakukan kegiatan ini. Pada umumnya hasil evaluasi pemerintah tidak segera dikomunikasikan dengan koperasi yang diamati. pupuk dan kredit yang akan disalurkan kepada petani anggota. Kegiatan ini disebut evaluasi (impact monitoring). volume bibit. pengolahan. (d). Kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana komunikasi dua arah dan member education. Atas dasar itu. Dengan cara ini membantu menemukan sebab keberhasilan maupun kegagalan dari berbagai program. pengumpulan. (b). Secara dini koperasi dapat menemukenali kesalahan dan penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program. Gopar) Monitoring dapat dirumuskan sebagai proses pengukuran. Disamping itu koperasi menjadi semakin kritis dan realistis dalam perumusan kebijaksanaan dan perencanaannya. Selanjutnya dilakukan penyesuaian terhadap kebijaksanaan dan tujuan yang hendak dicapai. Dalam rangka operasionalisasinya akan lebih efektif. (c). Karena secara cepat dapat mengkoreksi berbagai kesalahan ataupun penyimpangan yang terjadi pada koperasi. Keterbatasan sumberdaya yang ada pada pemerintah. Ada beberapa pertimbangan pentingnya koperasi untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri. ditetapkan rencana dan program yang hendak dicapai oleh koperasi dalam kurun waktu tertentu. efisien serta manageable jika dilakukan oleh koperasi itu sendiri. dan penyajian informasi untuk membantu pengelola dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerjanya dalam mengelola suatu organisasi atau perusahaan. 175 . Dalam pelaksanaan perlu dipantau terus menerus. antara lain yaitu: (a). volume hasil produksi yang akan dipasarkan atau diserap dan sebagainya. Selain itu terjamin tingkat akurasi dan reliabilitas data dan informasi yang disajikan. pencatatan. Kegiatan monitoring dan evaluasi sangat penting bagi individual koperasi yang bersangkutan.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Kinerja dapat diartikan sebagai suatu tingkat pencapaian target selama periode tertentu. Lebih mudah dan cepat untuk melakukan penyempurnaan. Tujuannya adalah mendapatkan informasi jumlah atau volume komoditi atau kebutuhan anggota yang sudah tersalur maupun jumlah anggota yang sudah menerimanya dan seterusnya. Misalnya dalam sebuah koperasi pertanian telah dilakukan inventarisasi atau pencatatan terhadap luas area yang ditanami. Selain itu dilakukan evaluasi membandingkan pelaksanaan program yang telah dicapai secara aktual dan dampaknya dengan rencana yang hendak dicapai. Hubungan koperasi dengan para anggotanya menjadi semakin dekat dan tidak terjadi kesenjangan antara koperasi dan anggotanya.

Berdasarkan pertimbangan kemampuan pelaksanaan. sebagaimana pada pemilihan lokasi penelitian. Pemilihan tiga propinsi dimaksud diharapkan dapat mewakili keragaman situasi dan kondisi lingkungan koperasi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. III. Operasionalisasi kegiatan secara mekanistis diarahkan untuk memasok data agregat pengambilan keputusan di tingkat pemerintah melalui jaringan kerja (network): Anggota – Koperasi – Kantor koperasi di kabupaten/ kota – Provinsi – Pemerintah pusat. Lokasi untuk penelitian ini adalah provinsi Sumatera Utara. ditetapkanlah sebanyak 15 KUD sebagai objek penelitian. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ditetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan kebutuhan akan representasi dari keadaan yang ada di lapang dan ketersediaan dana. Pemilihan Koperasi Contoh Pemilihan koperasi contoh didasarkan kepada berbagai pertimbangan pula. maka pelaksanaannya dilakukan berdasarkan anaannya metodologi dan prosedur yang disusun sebagai berikut: 1. dan propinsi Sulawesi Utara.JURNAL VOLUME 4 . 2. Kantor dinas membuat laporan kumulatif perkembangan koperasi. Selanjutnya dilaporkan kepada kantor dinas koperasi tingkat provinsi. Metode Penelitian Untuk mencapai tujuan proyek penelitian ini dan berdasarkan ruang lingkup kegiatan yang dicakup. dan berbagai pertimbangan non teknis lainnya.I. Kantor dinas tingkat provinsi akan menyusun laporan sedemikian rupa kepada pemerintah pusat. dukungan pembiayaan dan representasi data yang dapat diambil. Secara simultan koperasi yang bersangkutan sudah dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk penyesuaian dan penyempurnaan kebijakan. Di samping data/informasi perkembangan organisasi dan usaha. Merangkum hasil monitoring dan evaluasi masing-masing koperasi yang ada di daerahnya.AGUSTUS 2009 : 171-185 Anggota sebagai kelompok sasaran (target group) merupakan objek pelaksanaan monitoring dan evaluasi. D. Sifat dan keadaan serta karakteristik yang khas dari ketiga daerah tersebut menjadi pembanding untuk masing-masing situasi dan kondisi lingkungan lainnya yang mungkin berbeda. Pada penelitian ini koperasi sampel ditentukan secara acak (random) dari sejumlah koperasi pedesaan yang masih aktif di provinsi lokasi penelitian. Jumlah KUD untuk masing- 176 . dilaporkan hasil monitoring dan evaluasi dampak koperasi pada tingkat anggota kepada dinas koperasi kabupaten/kota. Yogyakarta.

koperasi yang terpilih sebagai sampel hanyalah diambil dari beberapa kabupaten Propinsi RataIdentitas Satuan saja. Namun juga sebagai salah satu upaya untuk melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasi sampel (dalam hal ini diwakili oleh pengurus). tidaklah menyebar di semua kabupaten. Responden anggota ini diperlukan 2. informal untuk menggali data dan informasi yang lebih 1.4 2. maka ditetapkanlah sebanyak 6 (enam) KUD di Sumatera Utara. Gopar) masing provinsi ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah KUD dan KUD mandiri yang ada di setiap propinsi tersebut.7 45 70 40 Pendidikananggota sebagai% orang (>SMP) responden.1 kali Pend. 177 . 4 (empat) Tabel 2.8 3.7 78 70 % Pekerjaan (tani) Selanjutnya untuk setiap koperasi sampel diambil76 sebanyak 10 51.3 82 92 76 % Umur (>35 thn) 74. 83.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Koperasi Contoh dan Lokasinya Tabel 1. Tabel 1. Dengan pertimbangan efektivitas pelaksanaan survai. dan 5 (lima) Umum Sulawesi Utara sebagai koperasi sampel.3 banyak mengenai dampak koperasi terhadap anggotanya.  2 3 4 5 6 7 8 9 10  12 13 14 15 Nama Koperasi Harta Sidomukti Sritani Tani Makmur Rata Harapan Ringin IX Ngaglik Makmur Turi Wenang Lestario Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kecamatan Selesai Hinai Gebang Babelan Besitang Pagar Merbau Cangkringan Ngaglik Kalasan Turi Sario Molas Kombi Kombi kombi idem idem idem idem idem Yogyakarta idem idem idem idem Sulawesi utara idem idem idem Propinsi Sumatera Utara No  2 3 4 Sesuai dengan jumlah KUD yang ada di masing-masing provinsi.DIY KoperasiSULUT tersebut sampel rata SUMUT adalah sebagaimana tertera pada tabel 1. Koperasi Contoh dan Lokasinya No. Identitas KUD di Anggota KUD di Yogyakarta.

IV. 1988). Hasil Pengamatan dan Analisis Dari sudut pandang koperasi (diwakili oleh pengurus dan/atau pengelola) bahwa koperasi telah memberikan dampaknya kepada anggota secara maksimal. Secara umum dapat dikatakan bahwa para responden anggota koperasi adalah para anggota yang pekerjaaannya sebagai petani (74. ketersediaan perangkat keras dan lunaknya. Karena mereka umumnya hidup di pedesaan.AGUSTUS 2009 : 171-185 3. Persepsi tersebut belum tentu sama dengan persepsi anggota. Keterangan secara menyeluruh untuk semua lokasi penelitian dapat dikaji lebih lanjut pada tabel 2. Perlakuan dan pengolahan akan dilakukan terhadap distribusi frekuensi. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya.1%). Jikalau kita tinjau ciri keanggotaan lainnya (tabel 3) terlihat bahwa para responden umumnya telah menjadi anggota koperasi selama lebih dari lima tahun (73. Mereka umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang belum memadai. Penelitian ini menggunakan model-model analisis statistik deskriptip sederhana (simple descriptive statistics) sebagaimana dikemukakan oleh Welch & Comer (1988). Terlebih dahulu akan memaparkan kondisi keanggotaan koperasi pedesaan yang diteliti. Teknik ini digunakan karena secara sederhana akan dapat menggambarkan kecenderungan yang terdapat pada suatu populasi. Organisasi koperasi di pedesaaan pada umumnya KUD adalah berbasis kewilayahan.4 kali. Dengan melihat kecenderungan dari data yang terolah. ketersediaan data dan informasi yang didapat dan pertimbangan seperti kemampuan para peneliti.3% dari keseluruhan responden. et al. 178 .JURNAL VOLUME 4 . Selebihnya mereka mengaku paling tinggi hanya tamat SLP.7%). Hal tersebut dapat dimaklumi. ketersediaan waktu dan dana. tendensi pemusatan dan penyebaran (Neter. Namun demikian dari keseluruhan responden anggota tersebut umumnya mereka telah mendapatkan pendidikan non-formal dan keterampilan rata-rata sebanyak 2. Untuk itu akan dibahas persepsi anggota tentang dampak dan manfaat koperasi dari sudut pandang anggota koperasi. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi anggota di koperasi lainnya (32%). Hanya sekitar 51. Metoda Analisis Analisis yang dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan penelitian. penggalian dan pendalaman data/informasi dari dan tentang anggota untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang anggota. serta upaya melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasinya. Usia mereka Usia mereka yang berada diatas 35 tahun ada sebanyak 83. maka kita akan dapat memprediksikan kemungkinan maupun alternatip yang ada dari data.7% dari mereka yang mempunyai pendidikan diatas sekolah lanjutan pertama (SLP).

Hanya sekitar 55.96 1 4 Ciri lainnya yang penting untuk dikaji adalah kenyataan bahwa Tabel 4.3% lainnya menjadi anggota koperasi karena atas anjuran kepala desa.7 32. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa menjadi anggota koperasi tidaklah hanya berdasarkan motivasi dan keinginan sendiri.3 4.4 Hal menarik lainnya adalah motivasi menjadi anggota koperasi.3 3. anjuran kepala desa b. Ternyata pengaruh anjuran para pembina dan pengurus ternyata masih cukup kecil.7 2. Tabel 3.3 dan ketepatanlainnya 5 Pelayanan waktunya dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 3 (Persentase) Ratarata SULUT 62 24. Identitas Umum Anggota Tabel Identitas Umum Anggota No  2 3 4 Identitas Umur (>35 thn) Pekerjaan (tani) Pendidikan (>SMP) Pend.0 31.7 55. anjuran pembina d.3 ha. Pengaruh anjuran pembina dan pengurus terhadap calon anggota untuk menjadi anggota koperasi yang hanya sekitar 8% tentunya belumlah bisa menggambarkan bahwa anjuran dan penyuluhan belum memadai.3% saja yang menjadi anggota koperasi atas keinginan sendiri. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya para anggota koperasi umumnya merupakan petani kecil.3 SULUT 82 76 45 2. lebih tinggi .8 Ratarata 83.2 DIY 81 30 10 10 70 0.3 0. Tentunya kepemilikan (Persentase) lahan ini sangatlah bervariasi antar lokasi penelitian.2 ha). Ciri-ciri Keanggotaan Tabel 3.0 64 70 58 Tabel 5. Berlahan sempit kepemilikan lahan rata-rata hanya sekitar 0. keinginan sendiri Pemilikan lahan Satuan % % % % % % (ha/angg) Propinsi SUMUT 72 40 52 6 40 1. anjuran pengurus c. Ini menarik untuk dikemukakan.0 179 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a. Di Sumatera Utara para Propinsi RataNo Komoditi anggotanya menjadi pemilik kebun kelapa DIY ternyata memiliki lahan sawit SULUT rata SUMUT yang jauh lebih luas dari rata-rata kepemilikan lahan tersebut diatas (sekitar  Pupuk 70 76 77. Sedangkan sebanyak 31. informal Satuan % % % kali SUMUT 76 70 40 3.96 ha.7 51. 2. 64.3 para Kredit anggota koperasinya rata-rata 56 sekitar 1. Ciri-ciri Keanggotaan No  2 3 Ciri keanggotaan Lama keanggotaan (>5 thn) Anggota koperasi lain Motivasi a. Begitu juga halnya dengan di Sulawesi86 Utara yang kepemilikan lahan 2 Obat-obatan dan bibit 68 60 62 63.3 Ratarata 73.1 Propinsi DIY 92 78 70 1.13 14 15 Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kombi Kombi kombi idem idem idem Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.3 1. Gopar) Tabel 2.3 dampak koperasi bagi anggotanya dalam hal ketersediaan beberapa komoditi 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 76 75. Bagaimana manfaat dan 3 74 42 57. Efektivitasnya perlu untuk dikaji lebih lanjut.3 74.4 SULUT 68 26 32 8 56 1.

0 3 a.3 55.0 26 (Persentase) Rata32 rata 31. ini berarti sebagian Tabel 5. Sebanyak 62% dari para respondennya menyatakan bahwa harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi.96 Ratarata Tabel Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Tabel 4. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat latar belakang para anggota koperasi di Sulawesi 2 180 .3 4 2 28 c.3%.3 57.7 68 32. harga pembelian komoditi milik anggota oleh koperasi jika dibandingkan dengan pasaran umum adalah normal ataupun relatip sama. Tanggapan atas Harga Komoditi Tabel 5.3 2 3 2 Mengenai harga komoditi. 24. 4. Ciri-ciri Keanggotaan 0.3 3. anjuran pembina 70 40 % d.0 72 66 78 2 Harga koperasi sbg patokan cara pembayaranharga diberikan oleh koperasi. ternyata belumlah cukup memuaskan Propinsi 76 Pupuk 70 86 77.3 42 1.AGUSTUS 2009 : 171-185 1.7 55.3 0. ternyata mendapatkan tanggapan yang cukup berbeda antar daerah.7 56 70 86 58 22 64. anjuran kepala desa 10 % b.7 11. Sebagaimana terlihat pada tabel 5.3 72. lainnya transaksi antara 64 Pelayanan normal/sama Dalam hal anggota dan koperasinya. Hanya sebagian kecil saja dari mereka (3%) yang menyatakan harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi. lebih tinggi Kemudahan Cara pembayaran 70 80 3 76 62 75. lebih rendah para responden (75.3 ketersediaan  Kredit Harga di 74 beberapa komoditi tersebut adalah cukup dan pada waktu yang tepat. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi komoditi pupuk cukup Ratabesar dari responden (77. keinginan sendiri Tabel 3.3 76 8 77. Yogyakarta (86%).4 (ha/angg) 4 Pemilikan lahan JURNAL VOLUME 4 .I. anjuran pembina Pupuk 70 6 86 % d. bahwa sebagian anggota koperasi sarnpel di Sumatera Utara (56%) dan D.3 4.3 4.3RataNo Jenis Tanggapan ketersediaan dan ketepatan waktunya.3 58 64.4 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 5 Pelayanan lainnya 64 70 32 8 56 1.3%) menyatakan bahwa Komoditi rata tersedia dan waktunya tepat saat dibutuhkan.2 Pemilikan lahan 3 Kredit 740.3 SULUT 3.3%) menyatakan mereka mendapatkan kemudahan dari 72. lebih tinggi b.3%.0 b. lebih rendah Harga koperasi sbg patokan Kepastian harga (Persentase) Ratarata SULUT 62 22 4 72 88 24.3 0. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya 4 No  2 3 4 5 Tabel 4.rata 57.2 Propinsi No Ciri keanggotaan Satuan SUMUT DIY  2 3 81 72 % Lama keanggotaan (>5 thn) 30 40 % Anggota koperasi lain Motivasi Propinsi No 10 52 % a. 83.0 54. anjuran pengurus % c.10 52 % a. dan lainnya.0 54. keinginan sendiri bibit 2 Obat-obatan dan 68 40 6070 (ha/angg) 561.96 76 75. Ini sangat berbeda dengan pendapat para anggota koperasi sampel di Sulawesi Utara. anjuran pengurus 6 % c. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Dari tabel 4 terlihat bahwa komoditi pupuk ketersediaan dan ketepatan (Persentase) waktunya merupakan yang tertinggi angka persentasenya. normal/sama c.3 88 70 92 3 Kepastian yang Tabel 5.3 SULUT 31. DIY komoditi lainnya seperti Untuk SULUT (Persentase) SUMUT obat-obatan dan bibit.3 dan 64% saja koperasi vs di umum 56 yang menyatakan 42 dari para responden bahwa 57.7 62 56 63. SUMUT Masing-masing hanya 63. Obat-obatan dan bibit 68 60 DIY 62SULUT 63.3 73. sebagian besar 11. kredit. anjuran kepalaKomoditi desa SUMUT DIY 10 % b. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 56 28 78 92 3 86 2 66 70 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a.0 83.

Hal ini menarik untuk disimak dan dikaji jika dibandingkan jawaban responden dari Sumatera Utara adalah sebanyak 28% dari mereka menyatakan harga koperasi adalah lebih rendah.6 7. Pada umumnya para responden menyatakan harga koperasi dapat dijadikan patokan harga bagi komoditi yang mereka kelola. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman No I  2 3 II 4 5 6 Kemanfaatan Pemasaran Kemudahan informasi pasar Informasi tersebut membantu Pelayanan koperasi a. Umumnya 92% responden menyatakan bahwa bunga yang dikenakan oleh koperasi cukup rendah. sebanyak 83. baik b. sangat baik Pinjaman Pernah meminjam Mudahnya peminjaman Bunga rendah Propinsi SUMUT 88 94 86 6 32 82 92 DIY 96 100 60 12 46 70 90 (Persentase) Ratarata 92. Berarti koperasi sedikit banyak telah dapat mengendalikan harga komoditi yang dikelola anggota.7 92. Ada sebanyak 72% responden menyatakan bahwa harga koperasi merupakan barometer transaksi jual beli. Demikian juga dengan kepastian harga.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan kepastian harga bagi komoditi yang mereka kelola. Tabel 6. Kiranya perlu pendalaman lebih lanjut.3 72. Hal tersebut menyebabkan terhindarnya fluktuasi harga yang merugikan anggota. Gopar) Utara.0 SULUT 92 92 72 3 24 90 94 Tabel 7.6% responden menyatakan bahwa pelayanan koperasi dalam hal informasi pasar ini adalah baik. Dalam hal pinjaman.0 95. Selain itu sebanyak 72. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman Tabel 6. sebanyak 34% responden menyatakan pernah meminjam uang kepada koperasi. sebanyak 92% responden menyatakan mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan informasi pasar.3% responden) menyatakan bahwa informasi pasar yang mereka dapatkan tersebut adalah membantu memahami pasar. Sebanyak 7% dari mereka menyatakan pelayanan tersebut sangat baik. Dalam hal kemudahan informasi pasar. Hal ini dapat dilihat pada tabel 6.7%) menyatakan bahwa proses peminjaman tersebut cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Mengenai kemanfaatan informasi tersebut.0 80. Pada umumnya adalah para petani cengkeh yang sistem jual belinya sudah diatur dengan sistem tataniaga cengkeh. Sebagian besar (80. umumnya sepakat (sekitar 95.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Apakah hal tersebut berkaitan dengan komoditi kelapa sawit yang kelola. Dampak Koperasi Menurut Anggota Propinsi Rata- 181 (Persentase) . Kemanfaatan lain yang dirasakan para responden adalah dalam hal pemasaran komoditi dan peminjaman modal ke koperasi.0 34.

Sebagai alat pertumbuhan dalam12 perekonomian anggota. Sebanyak 51.0 94 90 92 Bunga rendah 6 menyatakan bahwa koperasi merupakan alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi. responden menyatakan bahwa koperasi cukup dan Peminjamansedangkan sebanyak 45% lainnya menyatakan sangat mempengaruhi terhadap peningkatan perekonomian pedesaan.0 24 46 32 Pernah 4 anggota. Angka persentase rata SUMUT DIY SULUT tersebut hampir sama dengan yang menyatakan bahwa koperasi dapat Pemasaran I merupakan alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota.7% Tabel 6.3 92 100 94 Informasi tersebut membantu 2 dalam perekonomian anggota.3 98.0 71. (Persentase) No RataPropinsi Ada sebanyak 85% responden menyatakan bahwa koperasi dapat Kemanfaatan merupakan alat perubahan dalam pembangunan ekonomi.3 72.7 70 82 5 Mudahnya peminjaman tersebut di atas. meminjam 80.7 45. cukup mempengaruhi b. Tabel 7.0 92 88 Kemudahan informasi pasar  responden menyatakan bahwa koperasi dapat 96 merupakan alat pertumbuhan 95. Dampak Koperasi Menurut Anggota (Persentase) No  2 3 4 5 6 7 Dampak koperasi Kemajuan anggota Peningkatan lapangan kerja Peningkatan perekonomian desa a. Kemanfaatan dalam Pemasaran mempengaruhi.3% 92. sangat mempengaruhi Alat perubahan dalam pembangunan ekonomi Alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota Alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi Fasilitator dalam pembangunan ekonomi Propinsi SUMUT 80 100 50 48 82 84 76 78 DIY 78 100 60 32 85 95 80 70 SULUT 86 96 45 55 88 80 60 66 Ratarata 81.0 86. Sebanyak 86. Sebagai alat perubahan. mendapatkan tanggapan positif dari para responden.0 3 6 b. Di lain pihak ada sebanyak 71.6 72 60 86 a. Dampak Koperasi Menurut Anggota Tabel 7. baik pembangunan. Hal ini dapat dikaji pada tabel 7. Pengaruh koperasi terhadap peningkatan perekonomian desa ternyata. ada sebanyak 72%90 Selain hal-hal responden yang 92.0 85. sangat baik Pinjaman II koperasi diharapkan dapat mengembangkan dan meningkatkan perekonomian 34. Umumnya sebanyak 98.3 182 .AGUSTUS 2009 : 171-185 Bagaimana dampak koperasi dirasakan oleh anggota. koperasi dimaksudkan 3 Pelayanan koperasi dapat menjadi wahana atau agen untuk setiap perubahan (change agent) dalam 72.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan anggota.JURNAL VOLUME 4 . maka 7.7 51. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 81.3% lainnya menyatakan bahwa koperasi dapat merupakan fasilitator dalam pembangunan ekonomi.7% responden sepakat menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja di daerah kerjanya.

Dalam hal pencarian sumber dana eksternal serta memobilisasikannya guna memperkuat permodalan. Peningkatan efisiensi permodalan dilakukan melalui perbaikan sistem managemen koperasi dan sistem operasional yang digunakan oleh anggota dalam mengelola aktivitas ekonominya. 183 . Pengembangan dan pengaturan organisasi dan managemen yang dimulai dengan mewujudkan ”aturan main” tersebut perlu terus dikembangkan sehingga terwujud suatu sistem managemen koperasi yang khas dan tepat guna. Peningkatan produktivitas permodalan dilakukan dengan meningkatkan perputaran modal yang ada. Dari segi permodalan koperasi pedesaan masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi. Selain itu pula ”aturan main” bagi pelaksana haruslah dibuat berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. Gopar) Dari uraian di atas diungkapkan dampak koperasi sebagaimana yang dirasakan oleh anggota. Hasil kajian dimaksud diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi kehidupan perkoperasian. Karena hal tersebut menyebabkan frekuensi dan arus penciptaan marjin keuntungannya semakin meningkat. Walaupun pada kenyataannya di beberapa koperasi banyak dari pengurus/pengawas dan pengelolanya telah mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. akan turut mempengaruhi tingkat kemanfaatan sumberdaya manusia untuk pengembangan usaha koperasi. Komposisi dalam suatu perangkat organisasi usaha belumlah cukup seimbang. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif dalam hal-hal sebagaimana diterangkan di atas. kadar keterlibatan pekerjaan yang masih belum memuaskan.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. dan sistem serta prosedur yang berlaku secara lazim dalam bisnis. Terutama dalam hal pemanfaatan modal yang tersedia agar menghasilkan produktivitas dan efisiensi yang semaksimal mungkin. sehingga sebenarnya masih diperlukan lagi pengukuran yang bersifat objektif-kuantitatif. Selain itu tingkat pengalaman yang umumnya masih belum lama. maka diperlukan upaya dari suprastruktur (terutama dari pemerintah) untuk mengembangkan sistem keuangan koperasi. Kesimpulan Dan Saran Dari penelitian ini ternyata kualitas sumberdaya manusia yang menjalankan kegiatan koperasi pedesaan ini belumlah memuaskan. Dengan demikian tercipta suatu sistem keuangan koperasi yang mandiri. Mengingat adanya beberapa peraturan/perundangan yang menata sistem keuangan. maka perlu dilakukan pengkajian yang lebih spesifik dan terfokus. Untuk itu semangat yang dikandung oleh UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang sistem keuangan koperasi perlu dikaji lebih mendalam lagi. Namun demikian perlu diingat bahwa ukuran yang digunakan dimaksud adalah ukuran subjektif-kualitatif. VI. Untuk itu pendidikan perkoperasian maupun pendidikan keahlian bisnis bagi pengelola koperasi perlu lebih ditingkatkan lagi.

Dampak kepada anggota akan sesuai Dampak kepada anggota akan sesuai dengan peluang yang ada dalam peraturan/perundangan.JURNAL VOLUME 4 . Terutama dalam hal kemudahan yang diperoleh anggota dalam kecepatan proses dan tingkat bunga. Pada akhirnya kemanfaatannya akan jatuh kepada anggota. (7) Rapat Anggota Tahunan. and Tasks. Dampak berupa kemanfaatan umumnya dirasakan melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh koperasi. and H. N. (3) Peningkatan volume usaha. terutama kemitraan. dikembangkan dan dilaksanakan dengan baik. antara lain adalah: (1) Meningkatkan jumlah anggota. Issues.R. kualitas yang memadai dan tersedia pada waktu yang diperlukan. Planning for Social Welfare. Semakin aktif partisipasi anggota semakin besar manfaat yang dirasakan oleh anggota tersebut. DAFTAR PUSTAKA Draper. (5) Penyertaan anggota dalam proses perencanaan. N . dan (8) Pengawasan oleh anggota. Smith. (4) Penciptaan penanggulangan tunggakan kredit. (2) Pemupukan modal sendiri.. 184 .AGUSTUS 2009 : 171-185 Adanya berbagai peluang untuk pengembangan usaha sebagai konsekuensi dari berlakunya berbagai peraturan pemerintah yang sangat mendukung berkembangnya koperasi pedesaan (terutama UU Nomor 25 Tahun 1992) perlu diantisipasi oleh koperasi untuk lebih mengembangkan organisasi dan usahanya. Model. Specht. Dari penelitian ini setidaknya ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh koperasi. Kiat-kiat yang dapat dilaksanakan koperasi untuk meningkatkan dampak koperasi perlu ditemukenali. Dalam hal keperluan modal dan pinjaman ternyata juga telah dirasakan manfaatnya bagi para anggota. Sebagai misalnya adalah penjualan komoditi dengan harga yang wajar. Secara umum dapat dikatakan bahwa kehadiran koperasi di pedesaan telah dirasakan dampaknya oleh anggota. Untuk itu diperlukan kreativitas dan model kegiatan yang menggali potensi anggota maupun non anggota. New York: John Wiley & Sons. Inc. Gilbert. Applied Regresion Analysis. Pelayanan koperasi dalam memberikan informasi pasar dan kepastian harga ternyata cukup bermanfaat bagi anggota. Pelayanan tersebut ternyata akan semakin dirasakan dengan meningkatnya partisipasi. Sehubungan dengan hal tersebut koperasi sebagai badan usaha perlu lebih mengembangkan kegiatannya. dinilai responden sebagai cukup baik. Kemanfaatan koperasi bagi anggota selain kemanfaatan langsung usaha dan kegiatan ekonomi di tingkat anggotanya. juga perlu dikembangkan lebih lanjut pengembangan kemanfaatan koperasi dari sistem patron yang ada dalam koperasi. Pengembangan organisasi dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi internal dan aspek eksternal. (1977). (6) Penciptaan keterkaitan usaha anggota. New Jersey: Pretice-Hall. and H. (1981).

and J. (1988). (1992).Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Comer. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. Quantitative Methods for Public Administration. Gopar) -------------. Chicago: The Dorsey Press. Techniques and Applications. Welch. 185 . S. Jakarta: Pemerintah Koperasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful