Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur

)

PENYUSUNAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) STUDI KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL BAGI UKM*) Daniel Asnur**) Abstract DSS is a system based model which consisted of procedures in data processing, addressed to assist managers in taking decision. This system has to be: 1. Simple, 2. Robust, 3. Easy to be controlled, 4. Adaptable, 5. Has various important features, 6. Communicative. Implicitly it’s also means that this system must base on computer (computerized) and applied/use to support SME to solve their problems. DSS SME software is a computerized information system which can support its users in plan and making decision for SME business finance and economic. DSS can give amenities in doing calculation, correctness in calculation and inspection. This software application is expected to be able to give effectiveness and efficiency for government, stakeholders and intermediary institute in doing decision making to develop SME business. This application system run/compatible with Microsoft Windows, it has attractive display appearance and can yield SME financial and economic eligibility output in .doc format (Microsoft office word) for further editing and printing.

Sistem informasi, aplikasi software, UKM I. PENDAHULUAN Eksistensi UKM dalam perekonomian Indonesia cukup dominan dan signifikan. Sedikitnya, terdapat 3 (tiga) indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan UKM di Indonesia memiliki posisi dominan dan signifikan. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Jumlah populasi UKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99% terhadap total unit usaha di Indonesia, dengan jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga
Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. Artikel diterima 16 April 200�, peer review 22 April s.d. 8 �uni 200�, review akhir �� �uli 200� **) Kepala Bidang Kerjasama dan �aringan pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian)
*)



JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

kerja. Setiap unit investasi pada sektor UKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UKM menyerap 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yakni jumlah PDB mencapai Rp 3.957,4 triliun, dimana UKM memberikan kontribusi sebesar Rp 2.121,3 triliun atau 53,6% dari total PDB Indonesia. Pertumbuhan PDB UKM tahun 2007 terjadi di semua sektor ekonomi. Ekspor hasil produksi UKM selama tahun 2007 mencapai Rp 142,8 triliun atau 20% terhadap total ekspor nonmigas nasional sebesar Rp 713,4 triliun. Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang belum kondusif ini, pengembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Argumentasi ekonomi ini karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang dimiliki bangsa ini. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak memerlukan kapital yang besar dan dalam periode krisis selama ini UKM relatif tahan banting”, terutama UKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UKM dalam sektor pertanian dapat memperoleh keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UKM yang tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak depresiasi rupiah ini. Di sisi lain, permasalahan UKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources), managemen, funding access, informasi teknologi dan market acces membuat para pengusaha UKM (umumnya) memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 31% pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan. Di lain pihak perbankan merasa bahwa sebagian pelaku UKM yang mengajukan kredit juga belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh perbankan. Salah satu upaya yang dapat diusung dan dikembangkan adalah dengan menyusun Pedoman Pengambilan Keputusan Pengembangan Investasi UKM Berbasis Teknologi dan Sistem Informasi (Decision Support System/ DSS) yang menjembatani permasalahan dasar UKM dan kebutuhan pihak intermediary swasta untuk meningkatkan portofolio investasinya. DSS adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung keputusan. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan, ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Mengintegrasikan konsep DSS dan konsep kelayakan ekonomi dan finansial untuk pengembangan usaha UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas, efesiensi dan ketelitian bagi pihak pemerintah, pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.

2

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dirancang sebuah sistem informasi dalam pengambilan keputusan untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial bisnis UKM yang dapat direplikasikan untuk usaha yang sejenis pada wilayah-wilayah di Indonesia, sehingga keputusan pengembangan dan pemberdayaan usaha ini dapat dijalankan secara akurat dan teliti. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mengukur kinerja usaha ini dalam menjalankan bisnisnya dan memberikan informasi tentang kondisi yang dihadapi. II. TINJAUAN PENELITIAN SEBELUMNYA Sebagai bahan perbandingan dalam penelitian Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM, diantaranya penelitian yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2003) dengan judul Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam hal: (a) Kecepatan di dalam mencari informasi pangan sampai level kecamatan, sehingga dapat membantu mempercepat perhitungan kebutuhan, pengadaan, dan distribusi pangan; (b) Reliabilitas estimasi luas dan produksi pangan (khususnya padi), sehingga dapat digunakan sebagai opsi kedua setelah BPS dalam perhitungan pengadaan pangan; dan (c) Ketepatan luas dan penggunaan lahan dan trend perubahannya, sehingga kebijakan untuk mengantisipasi laju perubahan lahan pertanian ke non pertanian dapat dilakukan sedini mungkin. Penelitian lanjutan yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2005) dalam dengan judul Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan alat bantu pengambil keputusan untuk pendayagunaan sumberdaya iklim dan air untuk perencanaan pertanian Berdasarkan kedua sumber penelitian tersebut di atas, tampak bahwa manfaat yang diberikan oleh aplikasi Decision Support System sangatlah luas. Sehingga penulis tertarik untuk mengintegrasikan aplikasi DSS ini di dalam dunia koperasi dan UKM yang antara lain untuk keperluan analisa marketing, operasi logistik dan distribusi, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi (taxation, budgeting, dsb.). III. KERANGKA PEMIKIRAN Dalam penelitian ini akan menyusun Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM. Hasil analisis tersebut ut menunjukkan apakah usaha yang dijalankan UMKM layak atau tidak untuk dilaksanakan.

3

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

Langkah pertama adalah menyusun variabel ekonomi dan finansial UMKM. Variabel ekonomi terdiri dari aspek produksi, aspek pemasaran, aspek managemen dan SDM, aspek lingkungan. Aspek finansial meliputi initial invesment, working capital, perhitungan cash flow dan biaya produksi dan operasi. Selanjutnya menganalisis data kuantitatif dengan menghitung kelayakan investasi yang mempunyai beberapa kriteria yaitu Break Event Point (BEP), B/C Ratio, Payback Periods (PP), NPV, PI, IRR, dan Rentabilitas Ekonomi. Kemudian mencari perhitungan analisis sensitivitas untuk melihat sampai berapa persen peningkatan atau penurunan faktor-faktor pemasukan atau biaya tersebut dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi pada aspek keuangan yaitu dari layak atau menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Kemudian dari hasil perubahan biaya atau pendapatan dimasukkan kedalam analisis kelayakan investasi UKM yang diterapkan. Langkah terakhir adalah interpretasi hasil analisis kelayakan, apakah layak atau tidak. Bila hasilnya menyatakan layak maka diteruskan dengan pelaksanaan. Bila hasilnya menyatakan tidak layak maka perlu dilakukan evaluasi. Pada gambar 1 disajikan skema kerangka berpikir sebagaimana penjelasan di atas.

Gambar

1.

Skema Kerangka Pemikiran Penyusunan Decision Support System (DSS) Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM

4

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

III.

METODOLOGI 1. Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan finasial ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisa kajian literatur yang berkenaan dengan indikator yang ditentukan sebagai variabel ekonomi dan finansial. Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk model perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan dari hasil penyebaran kuisioner kepada responden. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan ini memperoleh hasil yang valid dan komprehensif. 2. Populasi dan Sampel Dari populasi yang menjadi subjek dalam kajian ini, kemudian diambil sampel. Responden yang menjadi sampel penelitian untuk masingmasing kegiatan penyusunan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM dilakukan dengan purposive sampling berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu. Sampel diambil dari Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Irian Jaya. Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut: • • • • Pelaku UKM yang usahanya merupakan produk unggulan di masing-masing propinsi Telah menjalankan usaha yang sejenis selama lima tahun Penghasilan usaha positif Data yang diambil merupakan data yang wajar.

3. Jenis dan Sumber Data: Jenis dan sumber data yang menjadi bahan dalam kajian ini terdiri dari : • Data Primer, yaitu data dan informasi yang diperoleh secara langsung dari narasumber/responden baik yang berupa hasil wawancara dan kuesioner yang disebarkan kepada responden. Data primer diperoleh dari pelaku UKM pada masing-masing lokasi kajian. Data Sekunder, yaitu data dan informasi yang diperoleh dari dokumen/publikasi/laporan penelitian dari dinas/instansi maupun sumber data lainnya yang menunjang.

5

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

4. Teknik Pengumpulan Data: Untuk menganalisis kegiatan pengembangan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM yang efektif serta merekomendasi best practice yang dapat digunakan dan dikembangkan, maka akan digunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: • • Studi Kepustakaan dan Literatur, digunakan untuk mendapatkan data-data awal tentang kelayakan ekonomi dan finansial. Wawancara mendalam (indepth interview), yakni teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada key informan. Penyebaran kuisioner, yakni teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner kepada pelaku bisnis dan instansi terkaitdan kuesioner ini bertujuan untuk mandapatkan data faktual tentang kajian.

5. Teknik Analisis Data: Setelah data diperoleh dari berbagai kelompok responden serta setelah dilakukan entri dan tabulasi data, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil survei. Hasil dari survei dan analisa ini akan menjadi dasar informasi untuk mendesain kebutuhan seperti apa yang harus dipenuhi dari sisi operasional. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tahapan selanjutnya, yaitu melakukan desain terhadap software DSS yang akan dibangun. 6. Tahapan Perancangan Aplikasi: Tahapan-tahapan perancangan aplikasi dengan metode Rapid Application Development (RAD) adalah sebagai yang terilustrasi pada Gambar 2. a) Pemodelan Cara Kerja Data-data masukan mengalir dari satu fungsi kerja ke fungsi kerja berikutnya. Aliran data masukan kedalam beberapa fungsi kerja tersebut dimodelkan untuk mendapatkan model cara kerja. Pemodelan cara kerja ini akan menjawab berapa pertanyan mendasar sebagai berikut: 1). Informasi apa sajakah yang dapat mempengaruhi aplikasi; 2). Informasi apa sajakah yang akan dihasilkan; 3). Bagian-bagian mana yang menghasilkan informasi; 4). Kemana informasi/data itu akan dikirimkan; 5). Siapa dan bagaimana data/informasi itu diproses.

6

menghapus. Transformasi yang dimaksud antara lain. VB. C# atau Delphi. Karakteristik masing-masing objek (biasanya disebut sebagai attribute) kemudian diidentifikasikan. menyunting. c) Pemodelan Pemrosesan Data Disini konsultan akan mendefinisikan proses/transformasi di semua objek data yang telah didefinisikan pada tahap pemodelan data. d) Pengembangan Aplikasi Pengembangan aplikasi dengan menggunakan model RAD ini akan sebanyak-banyaknya memanfaatkan alat bantu yang telah ada dan sering digunakan. Proses/ transformasi data tersebut harus disesuaikan dengan aliran informasi yang telah dirancang pada pemodelan cara kerja. menambah. mengambil dan menyimpan data. misalnya Java. Didalam pemodelan data juga dilakukan pendefinisian hubungan/relasi antara objek satu dengan yang lain. dan antara atribut satu dengan yang lain.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) ����������������� ����������������� ������������� ���������������� ���������������������� �������������������� Gambar 2. RAD 7 . Semua proses itu dimodelkan dalam pemodelan pemrosesan data ini. Tahapan Perancangan Aplikasi b) Pemodelan Data Aliran informasi yang telah didefinsikan didalam pemodelan cara kerja kemudian dianalisa kembali lebih detail untuk mendapatkan daftar objek/data yang dibutuhkan untuk mendukung cara kerja yang telah dimodelkan.

penawaran dan persaingan pasar. 7) Jumlah. 6) Segmentasi. Kemudian untuk kebutuhan kalkulasi. 9) Kendala produksi. Secara umum. b) Aspek Pemasaran Analisis usaha dapat dilakukan secara kualitatif atau deskriptif kuantitatif untuk mengetahui aspek pasar dan pemasaran. 7) Positioning. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. IV. 4) Pemilihan Pola usaha. konsultan akan menggunakan excel sebagai prosesor untuk melakukan kalkulasi yang akurat. Didalam pengembangan aplikasi kali ini.JURNAL VOLUME 4 . konsultan akan menggunakan lingkungan kerja (framework) Java sebagai pengelola UI (user interface) atau antar muka. 8) Produksi Optimum. 2) Harga. 6) Proses produksi. integrasi antara satu komponen dengan komponen yang lain. Fungsi tambahan yang sering dilakukan dalam model RAD ini antara lain melakukan otomatisasi. 10) Critical Path Method. Faktor-faktor yang yang menjadi pertimbangan dalam aspek produksi seperti sebagai berikut: 1) Lokasi Usaha. 5) Market size dan market share. Penilaian kelayakan diukur secara kuantitatif dengan menggunakan kuisioner untuk melihat apakah menurut pelaku usaha kegiatan teknis produksi dan operasi yang dijalankan telah layak secara ekonomi. 3) Jalur Pemasaran. Jenis dan mutu. Pilihan ini diambil karena Java cukup banyak digunakan dan berukuran cukup kecil. Disain Input dan Output DSS UMKM Disain input dan output yang dikembangkan untuk pembuatan software kelayakan ekonomi dan keuangan selain Profil Perusahaan adalah sebagai berikut: a) Aspek Produksi Analisis teknis berkenaan dengan kegiatan produksi dan operasi yang dijalankan. 8 . 4) Tenaga kerja. 8) Targeting. Berikut ini faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melihat aspek pasar adalah sebagai berikut: 1) Permintaan. 5) Teknologi.AGUSTUS 2009 : 1-17 menekankan pada penggunaan kembali komponen-komponen yang telah tersedia. penggabungan satu atau dua aplikasi lain yang telah ada untuk pengembangan aplikasi. titik tolak dalam alur pikir tersebut adalah penyusunan aspek pemasaran dapat dilakukan setelah pengusaha mempunyai rencana pengembangan bisnis. 3) Bahan Baku. 2) Fasilitas produksi.

Fasilitas yang disedikan mengarahkan para pengguna yang awam akan perencanaan usaha untuk mampu membuat perencaaan ataupun pengambilan keputusan kelayakan usaha dengan mudah dan sederhana. Aplikasi ini dijalankan diatas windows. net present value. pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM. dengan tampilan yang menarik dan mampu menghasilkan output kelayakan ekonomi dan finansial dalam format pdf yang siap di cetak maupun dalam format doc untuk proses pengeditan lebih lanjut. penghalang memasuki industri (Entry Barier). 2. e) Aspek Keuangan Dalam variabel keuangan ini akan disajikan informasi tentang biaya investasi. Fitur Aplikasi DSS UMKM Software DSS UKM adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung para penggunanya dalam perencanaan dan pengembalin keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. Kelayakan investasi dapat diukur dari berbagai kriteria. modal kerja. sumber bahan baku. yaitu : Bentuk Organisasi Perusahaan. 9 . benefit/cost ratio. sedang kompensasi terkait dengan tingkat kompensasi yang diberikan. cash flow dan biaya operasional yang terdiri dari fixed cost dan variable cost. dan jarak antar usaha sejenis. Untuk bentuk organisasi terkait dengan badan hukum perusahaan dan perizinan. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Aplikasi juga memiliki beberapa fitur yang salah satu diantaranya adalah fasilitas untuk me-review perencanaan bisnis yang dibuat. profitability index.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) c) Aspek Managemen dan SDM Pembahasan mengenai aspek managemen dan SDM ini terkait dengan. Selain itu. analisis break even point. Aplikasi software DSS UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas dan efesiensi bagi pihak pemerintah. profil usaha dan kompensasi. tetapi dapat bertahap yang pada akhirnya menghasilkan sebuah perencanaan bisnis yang lengkap dan akurat. yaitu : tingkat ketersediaan bahan baku. internal rate of return dan rentabilitas ekonomi. jumlah pesaing industri sejenis. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. Kemudian untuk profil usaha terkait dengan skala usaha dan sistim pengelolaan usaha. yang dalam hal ini menggunakan. payback periods. d) Aspek Lingkungan Pembahasan mengenai aspek lingkungan ini terkait dengan. proses pengisian langkah-langkah studi kelayakan tidak harus sekaligus dimasukkan dalam satu saat.

lingkungan dan keuangan. managemen dan SDM. a) Profil. b) Aspek. pada toolbar ini. toolbar dari kiri ke kanan mengilustrasikan proses pembuatan studi kelayakan dan sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3. terkait dengan aspek produksi. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. merupakan toolbar yang terdiri dari profil perusahaan dan profil usaha. d) Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. pertanian. managemen & SDM. toolbar ini disedikan untuk memberikan pilihan kepada user untuk memprint hasil studi kelayakan dalam format dokumen Ms Word (doc). d) Print. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsi perusahaan dan usaha yang dijalankan. berikut penjelasan dari masing-masing tombol toolbar yang terdapat dalam aplikasi. c) Analisis Bisnis. Lingkungan dan Keuangan. jasa. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek produksi. pemasaran. Pada saat shortcut DSS UMKM di klik dua kali akan muncul menu pilihan bidang usaha yang akan 10 . Langkah-langkah memulai aplikasi DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial bagi UMKM adalah sebagai berikut: a) Pilih Bidang Usaha: untuk mulai menjalankannya. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsikan aspek ekonomi dan keuangan perusahaan dan usaha yang dijalankan. user terlebih dahulu diminta untuk menyesuaikan sektor usaha yang dijalankannya atau sektor usaha yang akan dibuat studi kelayakannya dengan memilih tampilan toolbar aplikasi. Untuk mempermudah penggunaan. grafik warna dan deskripsi hasil analisis.JURNAL VOLUME 4 . manufaktur.AGUSTUS 2009 : 1-17 Aplikasi Software DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan bagi setiap user sebagai berikut: a) Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. pemasaran. b) Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. c) Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file pdf siap cetak maupun file doc (ms word).

c) Tahap pengisian profil usaha. b) Untuk membuat studi kelayakan dari usaha. user dapat langsung meng-klik icon profil usaha. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. Lalu isilah setiap pertanyaan Gambar 3. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kondisi perusahaan dan form pola pembiayaan bank. Manufaktur. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek produksi. Bidang usaha yang dapat dipilih pada software versi ini adalah Perdagangan. Setelah terisi. Jasa dan Restoran. kembali di-klik form konsep awal untuk melakukan pengisian selanjutnya. Pertanian. d) Tahap pengisian Aspek Produksi. dimulai dengan Tahap Pengisian Profil Perusahaan. Isian form terletak pada layar paling kanan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kondisi perusahaan. Isian form terletak pada layar paling kanan.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) dibuat perencaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. Layer Aplikasi DSS  . Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian identitas perusahaan dan konsep awal. user dapat langsung meng-klik icon aspek produksi. User dapat langsung meng-klik icon profil perusahaan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form identitas perusahaan. Setelah terisi.

Isian form terletak pada layar paling kanan. Isian form terletak pada layar paling kanan.JURNAL VOLUME 4 . Setelah terisi. Isian form terletak pada layar paling kanan. Isian form terletak pada layar paling kanan. f) Tahap pengisian Aspek Managemen dan SDM. user dapat langsung meng-klik icon aspek managemen dan SDM. Layer Pilihan Bidang Usaha 12 . e) Tahap pengisian Aspek Pemasaran. Gambar 4. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek lingkungan. user dapat langsung meng-klik icon aspek pemasaran. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form aspek lingkungan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian managemen dan SDM. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. g) Tahap pengisian Aspek Lingkungan. user dapat langsung meng-klik icon aspek lingkungan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja Pemasaran.AGUSTUS 2009 : 1-17 yang tersedia pada tampilan form aspek produksi. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja managemen dan SDM. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja Pemasaran.

Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja keuangan yang terdiri dari tujuh form. mulai dari form satu sampai tujuh. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form kinerja keuangan. Layer Hasil Analisis Bisnis Aspek Produksi i) Analisis bisnis.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) h) Tahap pengisian Aspek Keuangan. angka kelayakan 13 . pada toolbar ini. User dapat langsung meng-klik icon aspek keuangan. Isian form terletak pada layar paling kanan. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor (indeks). Klik icon toolbar Analisis bisnis Tab hasil analisis berdasarkan aspek Hasil analisis perindikator Hasil analisis komulatif seluruh indikator Gambar 5. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek.

V. dan mudah berkomunikasi dengannya. NPV-PI). managemen. lingkungan dan keuangan dalam mengukur tingkat kelayakan sekaligus melihat peluang dan hambatan UKM dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. IRR. managemen dan SDM. terdiri dari prosedur-prosedur dalam pemrosesan data dan pertimbangannya yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. Output Aplikasi DSS UMKM Aplikasi Output dari software aplikasi DSS UMKM dirancang untuk dapat langsung menjadi semacam proposal bisnis yang dapat digunakan oleh stakeholder lain seperti dunia perbankan. BEP. Out put print dapat langsung menjadi bagian dari perencanaan bisnis dari UKM. Aplikasi DSS dirancang untuk membantu UKM dalam hal pengambilan keputusan dari aspek produksi. mudah untuk dikontrol. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. atau dapat menjadi alat ukur pihak-pihak yang berkepentingan (intermediary. hasil isian dan analisis dapat langsung di export kedalam bentuk dokumen MS word dan siap di print. mudah beradaptasi. Agar berhasil mencapai tujuannya. output sudah langsung terprint berikut cover. funding) untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial UKM tersebut. PP. robust. Dengan begitu. Pada layar ditunjukkan hasil analisis perindikator dan analisis secara komulatif keseluruhan indikator. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. SDM. Kesimpulan Sebagai kesimpulan dari kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan keuangan UKM adalah sebagai berikut : 1). 3. 14 . j) Tahap printing ke MS Word. maka fitur-fitur sistem DSS dirancang secara sederhana.AGUSTUS 2009 : 1-18 keuangan (Cash Flow. lengkap pada halhal penting. grafik warna dan deskripsi hasil analisis.JURNAL VOLUME 4 . pemasaran. BCR. pemasaran. Untuk hasil analisis dengan kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. daftar isi dan ilustrasi variabel (aspek produksi. Pada gambar disamping diberikan contoh hasil analisis produksi. Aplikasi DSS UKM dikembangkan sebagai sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi. Untuk melihat hasil analisis dari masingmasing aspek dapat langsung di klik tab hasil analisis pada bagian tengah aplikasi. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah. lingkungan serta analisis bisnisnya.

pertanian. Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file doc (ms word) yang siap diprint. perkembangan cash flow serta analisis Break Event Point. Saran Untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan aplikasi software. konsultan merekomendasikan kepada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk merancang kegiatan sosialisasi software bagi para UKM. Payback Periods. Software aplikasi DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan oleh setiap user UKM sebagai berikut: • Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. • • • • 3). OPEN Office. manufaktur. Sedang kelayakan keuangan ditampilkan tabulasi neraca.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) 2). Profitability Index. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. 15 . Sistem operasi Microsoft Windows XP. Hasil analisis kelayakan ekonomi ditampilkan dalam image angka skor kelayakan. Net Present Value. Dan dukungan software. Benefit/Cost Rasio. Monitor dengan resolusi minimum 800x600. grafik warna (kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah ) dan deskripsi hasil analisis. Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. Aplikasi DSS UMKM ini akan berjalan baik pada komputer dengan konfigurasi hardware sebagai berikut: Komputer dengan prosesor Intel Pentium IV ataupun yang setara. AdoBe Reader dan Dot Net Framework 2. Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. laporan laba rugi. seperti: pelaksaaan sejumlah workshop untuk para UKM terkait dengan perencanaan bisnis. Internal Rate of Return dan deskripsi hasil analisis. RAM minimum 512MB. jasa.

(2002). Managemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari Teori Ke Praktik. Jeff. Elex Media Komputindo. (2005). Bakrie. Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan �awa Tengah. Wayne and Noe. (2006). Prosise. DAFTAR PUSTAKA Jogiyanto. Jeffrey. Mondy. (2004). (1993). Internet Up Load. Tri. Jakarta. Meginson. NET Framework Programming (ProDeveloper). (1990). Amperiyanto. (1992). (2005). Fifh Edition. (2004). Analisis & Disain Sistem Informasi. software aplikasi DSS UMKM kiranya dapat dimiliki oleh para pelaku usaha UMKM secara gratis (tanpa dipungut bayaran). Penerbit PT. Penerbit PT.. Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Byrd. Haer. Jakarta. (2003). Allyn & Bacon. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Edisi 1. Programming Microsoft® . Jakarta. Raja Grafindo Persada Edisi 1. Jakarta. 16 . Human Resources Management. (2003). Microsoft Press. penggandaan CD program dan manual. Yogyakarta. Jacowitz. an entrepreneur’s Guidebook. Robert M. uji reability penggunaan software. Small Business Management. Busthami. (2002). pengembangan sistim (DSS UMKM versi 2) ataupun kegiatan lainnya yang dapat menindaklanjutkan keberadaan software ini pada kementerian Koperasi dan UMKM. Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Mc Graw Hill. (2006). Lawrence. USA. HM. Applied Microsoft®. Melihat Keamanan Windows Vista. Aplikasi Inventori Control dengan Microsoft Visual FoxPro ��. Andi Offset. Advanced Software Project Management. Elex Media Komputindo. R. Program Aplikasi Foxpro Pada Sistem Akuntansi. Elex Media Komputindo. 11 Script Spektakuler Active Server Pages. Microsoft Press. Elex Media Komputindo.JURNAL VOLUME 4 AGUSTUS 2009 : 1-17 pelatihan pemanfaatn software.NET (Core reference). Penerbit PT. Richter. Talib. Jakarta. PT. cet 1. Rivai Veithzal. Penerbit PT. Gregorius. Selain itu. Agung. West Virginia University-USA. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.

A Division of Macmillan Publishing Co. Competitive Strategy : Techniques for Analyzing Industries and Competitors.J. (1980). The Free Press. M. Modern Portfolio Theory and Invesment Analysis. Elton. E Michael. Keith & Frederick. Inc. William. (1991). and Gruber. Mc. Business and Society. E. (1980). Fifth Edition. Davis..Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) Porter. 17 .Graw-Hill. John Wiley and Sons..J.

583. it is expected immediately that there will be an issuance of local government regulation on licensing which is in line with the law number 20 of 2008 concerning MSME and the characteristic of MSME. Yang dimaksud dengan formalisasi UMKM adalah pemberian izin kegiatan usaha tertentu dan status badan hukum bagi UMKM sesuai dengan ketentuan perundang Kajian Asdep Urusan Penelitian Sumberdaya tahun 2008 Artikel diterima 2�� April 200�.12%) which have got license. Several/crucial problems to be handled are: a) so many types of license which have to be fulfilled by MSMEs to be able to conduct a business activity. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 18 .��34 units of MSME in 6 districts/ municipalities. Karakteristik UMKM I. 8 �uni 200�.14%. To speed up formalization of MSME. Namun demikian perkembangannya masih terkendala oleh berbagai masalah klasik. Salah satunya adalah kesulitan dalam mendapatkan legalitas atau formalitas usahanya. Latar Belakang UMKM banyak memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya nasional. Program Pelayanan Satu Pintu (P2SP). Legalitas. 3) license requirements. Licensing programmes which have been implemented by Local Government have not reached to granting legal status.JURNAL VOLUME 4 . b) requirements do not comply with the characteristic of MSME (especially micro enterprise).12% which have got license. There are still a few MSMEs (4. Some variables which influence on the total of MSMEs: which got business license are: 1) approach. 2) form of licensing institution. Total of MSMEs which have got new license are only ��. 5) socialization of licensing.AGUSTUS 2009 : 18-36 KAJIAN PENGEMBANGAN FORMALISASI UMKM *) Teuku Syarif **) Abstract Formalization of Micro. Perda Perizinan sejalan UU Nomor 20 Tahun 2008. Of 1.d. as example there are 1��. cost of licensing. This matter is due to there are many types of licensing which is required by one type of business and complicated licensing process including its big cost. Small and Medium Enterprises (MSMEs) is granting license for certain business activities and legal status for Micro. 4) procedure of licensing. peer review 2�� April s. 6) consequences of licensing. Small and Medium which have complied with the requirements stipulated in the valid legislation. less socialization and there is no clear consequence from the government by having legal status.

serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan program dari berbagai pola pelaksanaan proses perizinan/formalisasi UMKM 19 . c) Menghindari pungutan liar. memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM. Tetapi sampai sekarang belum ketahui seberapa jauh efektifitas dari program tersebut. b) Perizinan kegiatan usaha yang dikeluarkan oleh instansi/lembaga sektoral. Hal tersebut disebabkan banyaknya jenis perizinan. Sebagai contoh Surat Izin Usaha Pendirian (SIUP). b) Sebagai formalitas usaha yang menjamin jaminan bagi calon mitra dan atau stakeholder. Sehubungan dengan hal tersebut kajian dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan. Sampai sekarang sangat sedikit (4. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM ditetapkan bahwa untuk kelompok usaha mikro tidak diperlukan badan hukum.12%) usaha mikro dan usaha kecil yang telah mendapatkan izin kegiatan usaha. izin lingkungan. Pengesahan badan hukum perusahaan menjadi kewenangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilimpahkan kepada Notaris. Formalisasi UMKM dibedakan dalam dua bentuk yaitu: a) Formalisasi perusahaan adalah pengesahan bentuk badan hukum dari perusahaan yang bersangkutan. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan jika UMKM yang sudah mendapat status formal. Perizinan kegiatan usaha lebih diperlukan untuk: a) Melaksanakan kegiatan usaha. c) Ruang lingkup dan jaringan usaha yang terbatas. izin trayek dan lainlain. Tetapi sebagai perusahaan perorangan cukup mendaftarkan diri pada dinasdinas yang membidangi koperasi dan UKM di kabupaten atau kota madya setempat. Kebijakan tersebut antara lain dalam hal penurunan biaya perizinan. Perusahaan perorangan (CV) perusahan kongsi (Firma). pengawasan yang lebih intensif. kesulitan dalam proses mendapatkan izin dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Oleh sebab itu biayanya relatif cukup besar untuk ukuran usaha mikro dan usaha kecil. izin penambangan. Salah satu unsur pendukung efisiensi adalah adanya jaringan usaha dan kemitraan. b) Kualitas sumberdaya manusia yang relatif rendah. serta e) Jenis dan kegiatan usaha yang sangat mudah berganti (dinamis). sosialisasi perizinan dan melaksanaan program pelayanan satu pintu. Untuk itu idealnya usaha mikro dan kecil bergabung dalam koperasi. Perseroan Terbatas (PT). Perusahaan Persero dan lain-lain. Pelayanan Perizinan Satu Pintu (P2SP) berpeluang besar untuk mempermudah dan mempercepat proses prizinan UMKM. Untuk mengatasi masalah perizinan maka sebagian pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Menghadapi era globalisasi UMKM dituntut dapat meningkatkan efisiensi untuk menghadapi persaingan. d) Konsumen dan segmen pasar yang sudah tertentu.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) undangan yang berlaku. Sebagai contoh Usaha Dagang (UD). Kelompok usaha mikro memiliki karakteristik antara lain: a) Merupakan usaha perorangan dengan modal relatif kecil dan dikelola dengan manajemen keluarga.

1). kelembagaan model dan prosedur pemberian perizinan yang sesuai dengan karakter UMKM.JURNAL VOLUME 4 . dan lembaga asuransi) untuk melakukan kerjasama sangat memperhatikan karakteristik suatu perusahaan. Anwar (1995) berpendapat bahwa mitra usaha dan berbagai unsur pendukung pembangunan suatu unit usaha ekonomi (perbankan. Jumlah. mengidentifikasi tingkat keberhasilan dan faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian perizinan untuk UMKM. Tujuan Manfat dan Output Tujuan Kajian Pengembangan Formalisasi UKM adalah sebagai berikut: 1). Salah satu faktor yang dilihat adalah formalitas perusahaan. persebaran serta permasalahan yang dihadapi UMKM dalam proses formalisasi usaha. Menginventarisir. Sedangkan ketidakpastian itu sendiri menurut Sirait (2003) di Indonesia banyak disebabkan oleh faktor kebijakan makro ekonomi dan faktor birokrasi.1 Kerangka Konsepsional Pembentukan atau keikutsertaan suatu unit usaha dalam suatu jaringan yang komprehensif ditentukan oleh banyak faktor antara lain adanya informasi. Sebagai misal dilaksanakan dalam bentuk program penyederhanaan perizinan.AGUSTUS 2009 : 18-36 II.8% diantaranya tidak memiliki izin kegiatan usaha. Kerangka Pemikiran 3. Salah satu program pemerintah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan daya saing UMKM adalah perbaikan iklim usaha. Ketidakpastian formalitas unit usaha UMKM menurut Haryadi (2001) merupakan faktor penyebab kesulitan UMKM untuk memasuki suatu jaringan usaha. Berbagai hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2006 lebih dari 95% unit usaha UMKM terutama pengusaha mikro yang merupakan perusahaan perorangan belum memiliki badan hukum dan 91. 2) Menentukan pendekatan. 20 . 2). dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian perizinan untuk UMKM. maka kelompok ini hanya memerlukan izin kegiatan usaha. lembaga pemasaran. Manfaat kajian adalah untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang. Ouput yang diharapkan dari kajian ini adalah mendapatkan alternatif model dan prosedur pemberian perizinan bagi UMKM III. kewirausahaan dari pengusaha dan formalitas unit usaha. Mendapatkan alternatif model kelembagaan dan lternatif prosedur formalisasi UMKM. UMKM merupakan usaha perorangan dan tidak diharuskan untuk mempunyai badan usaha.

sosialisasi penyuluhan dan pendampingan. Untuk penyesuaian diperlukan perubahan kelembagaan pendekatan dan prosedur perizinan dengan memperhatikan UUD 1945. yaitu untuk: a) Mempermudah pengusaha dalam mengakses sumbersumberdaya produktif. 2. pendidikan dan pengalaman. konsekuensi dari keharusan UMKM mendapatkan perizinan. UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2008 tidak dimasukan sebagai variabel bebas karena bersifat given untuk semua tempat di wilayah NKRI dan semua waktu. letak lokasi UMKM dari instansi perizinan serta bidang usaha yang dilaksanakan. jenis kelamin. 3.2 Kerangka Operasional Pengkajian Kerangka operasional Pengkajian diilustrasikan pada gambar 1: 1. c) Mendorong pembentukan dan atau pengembangan jaringan usaha. model dan prosedur perizinan yang sesuai dengan karakteristik UMKM. peraturan mendapatkan perizinan (persyaratan yang diperlukan). Dengan demikian unsur kemudahan UMKM untuk medapatkan perizinan adalah variabel terikat merupakan resultante dari beberapa variabel bebas yaitu: 1) Pendekatan dalam pemberian perizinan. b) Karakteristik UMKM. 2) Kelembagaan perizinan. biaya yang harus dibayar dan prosedur mendapatkan perizinan. Kelembagaan terdiri dari bentuk lembaga atau organisasi pemberian perizinan. 3) Model pemberian perizinan. 21 . Untuk dapat membangun suatu sistem pemberian perizinan yang efektif dalam mendukung pemberdayaan UMKM perlu dilakukan kajian terhadap tingkat keberhasilan dari kedua faktor di atas. Izin usaha diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif (eksternalitas dis economics) yang mengeksploitasi lingkungan. Selain itu juga diperlukan dalam rangka pembinaan. umur. Kesulitan timbul sebagai akibat dari ketidak-sesuaian kelembagaan pende-katan dan model prosedur pemberian perizinan dengan karakteristik UMKM. b) Melindungi para pengusaha dari berbagai pungutan liar serta. Ouput akhir yang ingin didapatkan dari kajian ini adalah kelembagaan. Dalam karakteristik UMKM terdapat faktor internal UMKM meliputi modal yang dimiliki.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) Izin kegiatan usaha merupakan suatu bentuk pengaturan (regulasi) pengendalian pemerintah terhadap aktivitas usaha individual yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan lingkungan fisik ekonomi dan sosial. 3. UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM serta karakteristik UMKM. 4) prosedur pemberian perizinan dan 5) karakteristi UMKM. Dua faktor penting yang diduga mempengaruhi keberhasilan proses formalisasi adalah: a) Kelembagan dan pendekatan.

22 . waktu pelayanan. personil pelaksana. Faktor ini diindikasikan dari komitmen pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM. dan tempat kedudukan instansi tersebut. persyaratan. sosial dan politik. Model Dan Prosedur Perizinan Yang sesuai Dengan Karakteristik UMKM UUD 1945 Dan Undang Undang UMKM Gambar 1.AGUSTUS 2009 : 18-36 Kesulitan UMKM Untuk Mendapatkan Perinzinan Analisis Masalah Pendekatan MODEL PEMBERIAN PERIZINAN UMKM KARAKTER/ KONDISI INTERNAL UMKM Restrukturisasi Kelembagaan Model Dan Prosedur Pemberian Perizinan Untuk UMKM Kelembagaan. Tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan secara adil dan merata dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan fisik. Pendekatan dalam pemberian perizinan idealnya adalah ditujukan untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia. b.JURNAL VOLUME 4 . Prosedur formalisasi idealnya disusun sesuai kemampuan UMKM khususnya pengusaha mikro dengan segala keterbatasannya. ekonomi. instansi organisasi. c. biaya. Kerangka Operasional Pengkajian 3.3 Faktor Analisis 1. Kelembagaan terdiri dari peraturan perundang-undangan. Hal tersebut yaitu bentuk dan kedudukan lembaga pelayanan perizinan dalam struktur organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan kontribusi APBD terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengurusan perizinan. Variabel Bebas terdiri dari: a.

23 . b. f. dan masalah yang dihadapi Pemda dan UMKM berkaitan dengan pemberian perizinan. pendekatan prosedur pemberian perizinan. Analisis data dan permasalahan dalam rangka mendapatkan model pemberian perizinan sesuai dengan karakteristik UMKM. V. Kondisi internal UMKM terdiri dari pendidikan formal. IV. Metoda Penelitian dan Analisis Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan metoda stratified random sampling. 4.2 Ruang Lingkup Lokasi Kajian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah dengan dua kabupaten/ kodya contoh yaitu kodya Surakarta dan kabupaten Sragen. Pengumpulkan data dan informasi perkembangan jumlah UMKM yang memperoleh perizinan.1 Ruang Lingkup Substansi a. Variabel Terikat adalah jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Ruang Lingkup Kajian 4. 2. kelembagaan untuk perizinan.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) d. kondisi internal. Sosialisasi dalam rangka penyebarluasan pemahaman tentang kepentingan mendapatkan perizinan serta persyaratan dan prosedur mendapatkannya. provinsi Sulawesi Selatan dengan dua kodya contoh yaitu kodya Makasar dan kodya Pare-pare. c. provinsi Bali dengan dua kabupaten/kodya contoh yaitu kabupaten Jembrana dan kodya Denpasar. e. Perancangan model formalisasi sesuai dengan karakter UMKM dalam bentuk best practice. pengetahuan UMKM dalam berurusan birokrasi dan kewirausahaan UMKM. Kodya Makasar merupakan contoh pembanding yang belum melaksanakan P2SP. Konsekuensi dari didapatkannya perizinan ideal oleh UMKM akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan.

24 . Data primer diperoleh langsung dari UMKM dan stakeholder yang terdiri dari: a). Biro Perekonomian pemerintah daerah dan beberapa instansi terkait). 1.12% yang memiliki izin usaha.1 Kinerja UMKM Jumlah UMKM di enam kabupaten/kodya contoh. Model analisis perbandingan (comparatif analisys). Model analisis regresi berganda untuk mengetahui besar pengaruh tiap variabel bebas terhadap variabel terikat. VI. c. Kelengkapan keberadaan/lembaga formalisasi UMKM. Sedangkan untuk kabupaten/kodya contoh yang belum melaksanakan program P2SP baru 7. Hasil Pengamatan dan Analisis 6.AGUSTUS 2009 : 18-36 5. rata-rata baru 17.583. Teknik pengumpulan data menggunakan metoda purposif sampling yang terstratifikasi. maka data yang ada akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan . Stratifikasi lokasi contoh UMKM didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu: 1). 5. diprediksikan mencapai 1.734 unit usaha dan yang telah melaksanakan program P2SP.2 Model Analisa Data Sesuai dengan tujuan penelitian dan variabel-variabel analisis. Ada tidaknya UMKM yang sudah mendapat formalitas usaha.14% yang telah memiliki izin usaha. Model analisis evaluatif dengan menggunakan beberapa model matematis yaitu a. Ada tidaknya programprogram formalisasi UMKM. Model analisis rataan dan kecenderungan (mean dan mode). Model analisis deskriptif kualitatif. Kalangan pemerintahan (Dinas Koperasi dan UKM. untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat sosial dan kebijakan. 2).1 Data dan Teknik Penarikan Contoh Data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur sesuai dengan tujuan dan metoda pengkajian.JURNAL VOLUME 4 . b. 2. 3).

Hal tersebut disebabkan mereka memiliki modal yang relatif besar yaitu antara Rp 21.27%) sudah memiliki status badan hukum terutama Usaha Dagang (UD).8% nya telah memiliki izin kegiatan berupa SIUP.42% memiliki izin kegiatan usaha. Kelompok ini juga tidak dapat mengandalkan koperasi untuk berhadapan dengan stakeholder karena bargaining koperasi sendiri masih belum diperhitungkan oleh kalangan stakeholder. tetapi belum memiliki izin usaha tidak mendapatkan masalah dalam berhubungan dengan perbankan. Bagi mereka yang sudah memiliki izin kegiatan.8 juta sampai Rp 246 juta. serta perhotelan merupakan kelompok UMKM. termasuk untuk mendapatkan kegiatan usaha dari pemerintah. Namun mereka masih sulit membangun kemitraan dengan stakeholder lainnya dalam rangka memperluas jaringan usahanya. Bagi kedua kelompok diatas.87% nya juga sudah mempunyai badan hukum. angkutan pedesaan dan angkutan besar (bis dan truk). 25 .Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. Dari jumlah tersebut 41. Para pengusaha di sektor pedagangan terutama pedagang antar kecamatan. Kesulitan memiliki badan hukum disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Karakter usaha mereka yang sudah memiliki jaringan tradisional yang menjamin penyediaan modal. Sebanyak 82. Sebagian lainnya terutama yang bergerak di sektor angkutan belum memiliki badan hukum dan masih merupakan usaha perseorangan. Pengusaha mikro yang bergerak pada kegiatan penggalian sebagian semua sudah memiliki izin usaha tetapi hanya 3 dari 15 pengusaha yang menjadi sampel pada penelitian ini yang memiliki badan hukum. nampaknya perizinan bukan lagi menjadi hal yang sulit. b) Kecilnya skala usaha yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan badan hukum. Besarnya jumlah pengusaha dari kelompok ini yang memiliki badan hukum dan izin usaha nampaknya lebih dikarenakan ketatnya pengawasan pemerintah daerah terhadap mereka. Kesulitan tersebut dalam memenuhi persyaratan dan banyaknya jenis perizinan yang harus dimiliki. Sebagian kecil (28. Di daerah yang sudah melaksanakan program P2SP sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro menyatakan masih banyak menghadapi kesulitan. dan pemasaran serta. terkait dengan pungutan pajak retribusi. Dari jumlah tersebut. Walaupun kelompok UMKM tersebut sudah menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial. sarana produksi.2 Jenis Kegiatan Usaha dan Perizinan Pengusaha yang bergerak di sektor pengolahan hasil perkebunan. tetapi komitment pemberdayaan mereka oleh pemerintah daerah masih belum optimal. Hal ini diindikasikan dari sedikitnya bantuan pemerintah untuk memberdayakan mereka seperti dalam mengembangkan modal dan jaringan usaha serta adanya pungutan-pungutan liar yang idealnya dapat diatasi melalui Perda. 61.

c) Reformasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan badan hukum untuk UMKM. Hal tersebut dikarenan program tersebut perannya masih terbatas pada peningkatan jumlah pengusaha kecil yang mendapatkan izin usaha atau izin kegiatan. Dari sisi kelestarian lingkungan dan kesinambungan pembangunan akan menyebabkan terjadinya eksploitasi sumberdaya secara berlebihan. a) Memberikan subsidi kepada UMKM untuk mendapatkan badan hukum. a) Keberhasilan dalam meningkatkan pendapatan UMKM. Tidak diimilikinya status badan hukum dan atau izin kegiatan usaha akan berdampak pada kesulitan pengusaha yang bersangkutan untuk berhubungan dengan pihak-pihak luar. Program pelayanan satu pintu idealnya memiliki berbagai konsekuensi logis antara lain. dan kompetensi personil yang ditempatkan dalam lembaga perizinan. Hal tersebut secara langsung berdampak pada kelestarian lingkungan.3 Pendekatan dan Kelembagaan Perizinan P2SP belum dapat dijadikan indikator komitmen Pemda yang bersangkutan untuk memberdayakan UMKM melalui reformasi dibidang perizinan. b) Meningkatnya kemampuan penyerapan tenaga kerja dikalangan UMKM diindikasikan dari meningkatnya jumlah tenaga kerja per unit usaha UMKM. Usaha kecil yang usahanya sebagian sudah meluas antar daerah maka pemilikan badan hukum sangat penting. Hal tersebut dapat dianalisis antara lain melalui pendekatan yang digunakan dalam membangun kelembagaan pelayanan.AGUSTUS 2009 : 18-36 Pengusaha mikro hanya mungkin dapat memiliki badan hukum jika pemerintah mengeluarkan kebijakan terobosan misalnya. Pengembangan sistem pelayanan satu pintu belum menjadi solusi pemecahan masalah secara tuntas. Dua dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan P2SP menempatkan lembaga perizinan setingkat eselon III. kedudukan lembaga tersebut dalam struktur pemerintahan daerah. Hal tersebut menyebabkan lembaga tersebut belum memiliki bargaining yang cukup dalam berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempermudah proses pemberian perizinan.JURNAL VOLUME 4 . Satu dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP masih menetapkan biaya perizinan hanya 26 . b) Menunjuk notaris yang secara khusus dapat memberikan badan hukum kepada UMKM dengan biaya yang relatif lebih murah dan. Oleh sebab itu restrukturisasi prosedur dan persyaratan mendapatkan badan hukum merupakan salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan. c) Meningkatnya sumbangan UMKM terhadap pembangunan daerah diindikasikan dari peningkatan GDP serta meningkatnya sumbangan UMKM terhadap Pendatan Asli Daerah (PAD). 6.

Prosedur Perizinan Nilai skoring kemudahan prosedur pemberian izin usaha bagi daerah yang sudah melaksanakan program P2SP mencapai angka 2.000.72 (termasuk dalam katagori mudah). 370. Jika ditambahkan dengan biaya transportasi dan akomodasi untuk mengurus perizinan yang rata-rata sebesar Rp. Harus diingat bahwa tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mempermudah UMKM dalam mendapatkan izin usaha dari berbagai aspek pemberian perizinan tersebut. 2. Tiga dari lima kabupaten/kodya contoh.000 s. Bagi usaha kecil yang memiliki rata-rata modal mencapai Rp. Rp. ratarata biaya perizinan yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan satu jenis surat izin berkisar antara Rp. Hal tersebut dilakukan karena latar belakang pekerjaan kurang kompeten.d.8 juta biaya tersebut 27 .Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) berdasarkan target pemasukan retribusi untuk mendukung PAD. Hal ini memang perlu mendapatkan perhatian.4 Pola pelaksanaan pemberian izin 1.34 (termasuk katagori sulit). sehingga terpaksa ditempatkan di dalam instansi perizinan. Penetapan persyaratan perizinan idealnya perlu tidak hanya dari kepentingan pemerintah untuk mengatur lokasi sumberdaya tersedia. 6. Nilai rata-rata skors persyaratan perizinan di kabupaten/ kodya contoh yang sudah melaksanakan P2SP baru mencapai nilai 1. 112. tetapi juga dari sisi pengusaha (UMKM).400. Idealnya ditempatkan pada lokasi umum dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. sehingga rata-rata biaya yang diperlukan mencapai Rp. Sedangkan bagi yang belum melaksanakan program tersebut rata-rata nilai skoring hanya mencapai angka 1. Kelima kabupaten/kodya contoh dalam menyusun persyaratan masih berorientasi pada paradigma lama yaitu tidak mempertimbangkan kesulitan UMKM dalam memenuhi persyaratan yang ada. 84. Sedangkan untuk satu jenis kegiatan yang akan dilaksanakan UMKM memerlukan antara 4 sampai dengan 8 jenis perizinan. maka total biaya yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan status formal tersebut mencapai Rp.000. Belum ada kabupaten/kodya contoh yang berani melakukan perubahan dalam hal pola perizinan. masih menempatkan personil kunci dalam instasi perizinan. Biaya Perizinan Di daerah yang sudah melaksanakan Program P2SP. 124. 20.83 (termasuk dalam katagori sulit). sehingga jumlah perizinan untuk satu kegiatan usaha UMKM bisa mencapai 8 jenis.400. 246.

atau bea meterai. 6. Biaya pengurusan perizinan ini idealnya hanya merupakan bentuk pajak.000.21 atau sangat rendah.213. Demikian juga ada indikasi setiap instansi yang berwenang menetapkan biaya perizinan yang beragam. Pemberdayaan UMKM merupakan amanat konstitusi (UUD 1945). Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemda antara lain adalah: a) Gaji pegawai. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk dapat melaksanakan satu kegiatan usaha mencapai Rp.000. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar UMKM masih beranggapan bahwa pengurusan perizinan merupakan hal yang sulit dan belum diperlukan.JURNAL VOLUME 4 . Pada umumnya mereka mengidentifikasikan izin usaha dengan pajak. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Biaya yang besar ini tidak akan mungkin dapat ditanggung oleh para pengusaha mikro. Biaya perizinan berkisar antara Rp. maka nilai skors 1. c) Biaya survey. 28 . biaya yang harus dibayar juga masih cukup besar. Hal ini menyebabkan sebagian besar pengusaha terutama para pengusaha mikro sama sekali tidak memahami arti penting dari adanya izin usaha. basis perekonomian rakyat di daerah yang secara langsung berkontribusi terhadap pembangunan nasional. 1. Tetapi di daerah daerah yang telah melaksanakan program P2SP. biaya yang harus di bayar lebih besar lagi. 6. maka jumlah tersebut mencapai 5. retribusi. Biaya tersebut menjadi dana taktis yang penarikan. Sosialisasi pemberian izin usaha seharusnya mendapat perhatian. Kelompok pengusaha marginal tersebut masih menjadi sasaran pungutan liar.5 Sosialisasi Perizinan Nilai skors rata-rata sosialisi yang dicapai dari 5 kabupaten/ kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP adalah 1. b) Biaya-biaya administratif dan. pengumpulan dan penggunaannya tidak transparan. karena hanya 0. Akibatnya sebagian besar dari mereka tidak ingin mendapatkan izin usaha.96% dari modal yang dimiliki.03% dari modal.000 sampai dengan puluhan juta rupiah.AGUSTUS 2009 : 18-36 relatif tidak besar. Hal ini disebabkan penetapan biaya perizinan didasarkan pada jumlah biaya riil yang dikeluarkan ditambah dengan pajak/retribusi pemda. Sosialisasi masih dilaksanakan terbatas dalam bentuk pamflet dan baliho di jalan-jalan ataupun melalui media elektronika terutama radio-radio pemerintah daerah dan siaran lokal. maka idealnya sebagian dari biaya tersebut dapat ditanggung pemerintah.987 atau tergolong kurang. 200. Tetapi bagi usaha mikro yang rata rata-rata modalnya sebesar Rp.234.

Hal tersebut dikarenakan kalangan pengusaha masih tetap sulit untuk berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama perbankan. Kinerja UMKM yang telah memiliki perizinan bernilai positif dalam menjalin hubungan bisnis terhadap kinerja.32 juta atau bertambah 63. b) Laba meningkat Rp 16. 6. Karena dalam segala bentuk kebijakan pemda tidak membedakan atau memberlakukan diskriminasi antara UMKM yang telah mendapatkan izin dengan yang belum mendapatkan izin. Sisanya 28 jenis masih dikelurkan oleh instansi sektoral dan lembaga lainnya seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan.17 kali per UKM. Surat Izin Lingkungan. UMKM yang telah mendapatkan izin usaha diberikan dari rata-rata 1.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. Kartu Tanda Penduduk. Hasil pengamatan lapang mengindikasikan yang sebagian besar (74. f).01%.47%. pada harga tetap perubahan yang terjadi adalah.7 Jenis-Jenis Perizinan Yang Diperlukan Jumlah perizinan yang secara umum diperlukan untuk suatu jenis kegiatan usaha berkisar antara 0 (tidak memerlukan izin) sampai dengan 7 jenis. Majelis Ulama Indonesia dan lain-lain.89 menjadi 1. Terbuka pula peluang UMKM untuk ikut serta dalam pameran maupun temu bisnis yang dilakukan oleh pemerintah dari rata-rata 0. Konsekuensi pemerintah bagi UMKM yang telah mendapatkan izin usaha juga belum jelas. Sedangkan Kemampuan akses UMKM terhadap permodalan hampir tidak ada pengaruhnya. c). Untuk mendapatkan satu izin kegiatan usaha seperti industri kerajinan diperlukan persyaratan: a). Surat Izin Penggunaan 29 .57 juta menjadi Rp 114.12 kali menjadi 1.87 juta dari Rp 10. Kartu Keluarga.47 kali per UMKM. d). Pajak Bumi dan Bangunan.6 Konsekwensi dari Perizinan Pengaruh langsung dari didapatkannya izin usaha belum banyak dirasakan oleh UMKM. dan.89 juta pertahun atau bertambah sebesar 12. Surat Keterangan Pembuangan atau Pengolahan Limbah. Kelebihan yang diterima oleh UMKM yang telah mendapatkan izin hanya terlihat di kabupaten Jembrana dan kodya Pare-Pare yang melaksanakan pelatihan managemen teknik produksi kepada UMKM di bidang angkutan dan industri kecil. e). Dari aspek internal dikalangan pengusaha mikro.6%) responden contoh menyatakan lebih senang melakukan kerjasama dengan UMKM yang telah memiliki izin usaha. g). a) Rata-rata omset meningkat dari Rp 102. Diperolehnya perizinan ternyata membawa konsekuensi yang cukup besar dari kalangan masyarakat. Keterangan Domisili Usaha. Total jumlah perizinan yang diperlukan mencapai 77 jenis di mana 49 jenis diantaranya sudah dapat dilayani melalui program P2SP. b).

izin usaha pendidikan dan pelatihan serta izin pengoprerasian dan trayek angkutan. Oleh karena diperlukannya persyaratan pokok tersebut.1 Kondisi UMKM Umur dan kelamin tidak nyata pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Ketentuan tersebut di atas menyebabkan pengusaha yang berpindah-pindah. lapak dan lain-lain). izin usaha restoran dan rumah makan serta izin penggalian Sedangkan perizinan yang kurang mendapat perhatian adalah izin usaha keuangan dan izin usaha minuman keras. jasa. Analisis Faktor Perizinan UMKM Kondisi dan Tingkat Pengaruh dari faktor-faktor Penentu 7. izin industri rumah tangga.39 hari. VII. pertambangan dan lain-lain).JURNAL VOLUME 4 . Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan sebelum adanya program P2SP yang mencapai rata-rata 23.67% dari jumlah usaha mikro dan kecil yang ada di Indonesia (Ramelan 1999). belum menjadi target program P2SP. Yang terlama adalah untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan rata-rata 8. izin usaha perbengkelan. Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena jumlah pengusaha yang seperti itu sangat banyak dan diperkirakan mencapai 41. antara lain izin usaha perdagangan.8 Waktu yang Diperlukan untuk Mengurus Perizinan Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan adalah 4. Untuk lebih meningkatkan efisien waktu pengurusan. maka sebagian besar pengusaha mikro terutama mereka yang usahanya berpindah-pindah tidak mungkin untuk mendapatkan perizinan. 6.41 hari. baik disebabkan karena tidak memiliki tempat usaha atau yang memang karakter usahanya berpindah-pindah (menggunakan gerobak. Persyaratan surat-surat keterangan dasar ini berbeda antara tiap daerah. Berbagai jenis perizinan. Hal ini mungkin disebabkan sebagian besar responden adalah laki-laki dengan rata-rata umur 33.76 hari dan yang paling cepat adalah untuk mendapat surat izin lingkungan yang hanya memerlukan waktu 2 hari. pikulan. kiranya masih diperlukan pemikiran prosedur pemberian perizinan yang lebih singkat misalnya dengan pola paket pemberian perizinan lengkap dari membuat IMB sampai dengan penerbitan izin usaha sektoral (perdagangan.4 30 . Tetapi mengingat jumlah jenis perizinan yang diperlukan cukup banyak (minimal 4 jenis) maka jumlah waktu yang tersita untuk mengurus perizinan ini juga masih relatif panjang.AGUSTUS 2009 : 18-36 Bangunan.

67 (relatif rendah).60% UMKM yang telah mendapatkan izin usaha adalah yang bergerak di sektor sekunder. Rata-rata pendidikan UMKM yang telah mendapatkan izin usaha hanya mencapai nilai bobot 7. Jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata. Implementasi dari tujuan tersebut adalah lembaga pelayanan yang dibangun harus mampu mengatasi masalah-masalah struktural yang selama ini menghambat 31 . Dengan demikian UMKM tidak mengalami kesulitan untuk mengurus proses perizinan atau formalisasi kegiatan usahanya. Pemilikan modal UMKM berpengaruh nyata positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Oleh sebab itu masih sangat diperlukan penyederhanaan prosedur atau adanya pendampingan. Pengaruh ini diduga berkaitan dengan biaya perizinan yang relatif cukup besar untuk kelompok usaha mikro (sedangkan usaha mikro bagian terbesar dari UMKM). 7.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) tahun atau dalam kondisi produktif. Oleh sebab itu kelembagaan yang dibangun idealnya adalah yang dapat memberikan peluang seluas-luasnya bagi UMKM untuk dapat eksis dalam sistem perekonomian.2 Faktor Eksternal 1) Pendekatan Model formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% pendekatan dalam konsepsi pemberian perizinan untuk UMKM berpengaruh positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lincoln (1982) yang mengatakan bahwa “Tercapai tujuan dari suatu sistem sangat dipengaruhi oleh pendekatan sistem tersebuit dalam mencapai tujuannya dan adanya kelembagaan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut”. Dalam hal ini tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia guna mendukung pemberdayaan UMKM. Rata-rata 43. Hal tersebut disebabkan prosedur untuk mendapatkan perizinan memerlukan pengetahuan yang relatif luas (terutama yang berhubungan dengan pola kerja birokrasi). Sektor usaha berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Tingkat pendidikan berpengaruh nyata. tetapi masih tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ada di lingkungan UMKM. yang rata-rata hanya memiliki tenaga kerja 2.264 orang. Hal ini mungkin dikarenakan untuk pengurusan masih diperlukan waktu dan tenaga.93% yang bergerak di sektor primer terutama kegiatan pertambangan dan penggalian. rata-rata waktu yang diperlukan untuk pengurusan memang berkurang. Dengan adanya P2SP.67% adalah yang bergerak di sektor tersier dan hanya 4. 38.

b) Mempermudah UMKM dalam pengurusan karena hanya harus pergi ke satu tempat serta. Hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: a) Adanya satu lembaga perizinan telah menghilangkan perbedaan peresepsi tentang tujuan pemberian perizinan bagi UMKM. 3) Kedudukan lembaga perizinan Variabel ini sampai dengan tingkat kepercayaan 80% belum menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. c) Membuka transparansi persyaratan dan biaya. c) Kedudukan lembaga pemberian perizinan masih cukup tinggi yaitu minimal setara dengan eselon III. Sebaliknya sebagian besar pengusaha kecil menyatakan tidak kesulitan. Misalnya di bawah Dinas Koperasi dan UKM. Hal ini cukup beralasan karena sebagian besar dari pengusaha mikro tersebut berpendidikan rendah dan belum berpengalaman dalam berurusan dengan birokrasi. Dapat disimpulkan bahwa ada kaitan (korelasi) antara prosedur pelayanan dengan tingkat pendidikan dan pengalaman UMKM dalam berhubungan dengan “birokrasi”.AGUSTUS 2009 : 18-36 proses formalisasi UMKM. 32 . Peraturan yang mengharuskan mengikutsertakan semua instansi terkait agar tidak ada lagi perbedaan persepsi pemberian perizinan. Kondisi tersebut dapat diterangkan sebagai berikut bahwa ”Sebagian besar pengusaha mikro menyatakan bahwa prosedur pelayanan yang ditetapkan ternyata masih sulit dimengerti. 4) Prosedur formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% varibel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.JURNAL VOLUME 4 . Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya: a). Hal tersebut dikarenakan latar belakang pendidikan mereka memang cukup tinggi dan mereka sudah biasa berhubungan dengan dengan birokrasi. b) Instansi pemberian perizinan berada di bawah instansi induk yang kompeten dengan kepentingan pemberdayaan UMKM. Masalah tersebut antara lain banyak jenis perizinan yang harus dimiliki oleh UMKM. 2) Bentuk Lembaga Perizinan Bentuk lembaga perizinan sampai pada tingkat kepercayaan 95% sudah menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin kegiatan usaha. persayaratan yang tidak sesuai dengan karakter UMKM dan biaya yang memberatkan UMKM.

waktu dan tenaga). b) Personil sebelum bekerja sudah dilatih dan dibekali dengan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. diduga menyebab variabel biaya ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. konsekuensi prosedur dan persyaratan perizinan. 6) Persyaratan Perizinan Variabel ini pada tingkat kepercayaan 95% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 5) Kompetensi personil lembaga perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 80%. Pengaruh tersebut nampaknya berhubungan langsung dengan karakter UMKM yang diwarnai oleh berbagai keterbatasan (uang. Hal tersebut diduga dikarenakan. Pengaruh ini jelas berhubungan dengan pemahaman UMKM terhadap kepentingan. 9) Konsekuensi adanya perizinan Pada tingkat kepercayaan 90% variabel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. a) Pemberian perizinan bukan merupakan pekerjaan sederhana yang hanya mengikuti prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. pengetahuan. akibat pendekatan dalam penetapan biaya perizinan yang tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha mikro. Masih relatif besarnya biaya perizinan yang harus dibayar oleh pengusaha. c) Pengambilan berada pada level atas yang rata-rata memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pemberian perizinan bagi UMKM. 8) Sosialisasi Perizinan Variabel ini sampai pada tingkat kepercayaan 85% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 7) Biaya Perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 90% variabel ini belum berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. variabel ini belum menunjukkan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Ada dan tidaknya nilai tambah yang akan diperoleh UMKM sebagai konsekuensi dari didapatkannya perizinan akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan 33 .

1 Kesimpulan 1. 2) Bentuk lembaga perizinan. 3. Kesimpulan Dan Saran 8. izin perusahaan atau badan hukum secara yuridis formal memang untuk waktu sekarang belum diperlukan. Beberapa masalah yang sangat mendesak untuk diperbaiki adalah: a) Banyaknya jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan usaha. Hal ini dikarenakan pemberian badan hukum merupakan kewenangan dari Departemen Hukum dan Ham yang dalam UU otonomi daerah juga tidak dilimpahkan kewenangannya kepada pemerintah daerah. Bagi pengusaha mikro.AGUSTUS 2009 : 18-36 VIII. 6) Konsekuensi dari adanya perizinan. 4. Berbagai usaha untuk mempermudah pemberian perizinan yang dilakukan sekarang (program P2SP) belum sepenuhnya dapat menyelesaikan masalah formalisasi UMKM. kelembagaan dan karakteristik UMKM. Dari hasil temuan di atas dapat disusun best practice penyusunan konsep Lembaga perizinan UMKM 8. 5) Sosialisasi perizinan . 3) Persyaratan perizinan. Beberapa variabel yang berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha adalah: 1) pendekatan. Ketidakmampuan ini berkaitan dengan implementasi kelembagaan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM. 2.2 Saran-saran 1. 6. 2. Program-program perizinan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah belum menjangkau masalah pemberian badan hukum. Program formalisasi usaha harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya 34 . 7. b) Persyaratan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM khususnya pengusaha mikro. Jumlah UMKM yang telah mendapat formalitas usaha dalam bentuk perizinan relatif sedikit tidak terkecuali pada daerah-daerah yang telah melaksanakan P2SP yang baru mencapai 17. Hal tersebut disebabkan karena usaha mikro sebagian besar merupakan perusahaan perorangan yang ruang lingkup usahanya yang relatif sempit. 4) Prosedur perizinan.12%.JURNAL VOLUME 4 . Dalam penyusunan konsep pemberian perizinan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara pendekatan. 5. c) Kurangnya sosialisasi dan belum adanya konsekuensi yang jelas dari pemerintah dengan dimilikinya badan hukum.

Departemen Koperasi. Anonim. Anonim. Indonesia Small Business Statistics. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru. Saleh. 3. (1999). Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Study Report. 1���. Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. (2006). Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. (2005). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. 35 . Anonim. Pedoman Pengembangan Kewirausahaan. Manggara Tambunan. Jakarta. (2001). Melangkah ke Depan Bersama UKM. Jakarta. Anonim. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. Jakarta. Study Report. Perlu dilakukan sosialisasi best pratice formalisasi UMKM yang telah disusun dengan memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi efektifitas sistem pelayanan. Anonim. Basic Penumbuhan Wirausaha Baru. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK. Supported by The Asia Foundation. Jakarta. Support by The Asia Foundation and PEG-USAID. Kementerian Koperasi dan UKM. Heriawan. Anonim. Small and Medium Entreprise Development. Conference on “The Economic Issues Facing The New Government”. Kusnadi dan R. Jointly orgized by LPEM-UI and PEG-USAID. Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004. The Asia Foundation. (2008). (2004). (2003). Jurnal Ekonomi UNTAR. (2002). (1992). (1999). Vol 7 nomor 1. Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya. Jakarta. Anonim.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM dan kemampuan UMKM untuk memenuhi persyaratan tersebut. DAFTAR PUSTAKA Anonim.

36 . Taiwan. 2. (1993)..” 16th International Conference. (2004). Kamis 21 Oktober 2004. Jakarta. 2005. The Symphony Consortium. Zsehong Tsai. Gibb.” November 2004. Terapkan Ekonomi Terbuka. “Building The Policy of ICT Development. “The Bucharest Declaration: Preparing SME’s for the Knowledge Based Economy. Allan A. “Symphony Solution for Strategic Network: Project Overview. Bucharest May 15-18.“ National Information & Communications Initiative Committee & Science and Technology Advisory Group (STAG). 2nd ed. World SME Convention. Singapore: John Willey & Son. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving.. USA.B. “The Entreprise Culture and Education” dalam International Small Business Journal Vol.JURNAL VOLUME 4 . Bisnis Indonesia.AGUSTUS 2009 : 18-36 Yudhoyono S. January 2005.

c) Cooperation among CC is an instrument of helping each other among CC and resource of business increase in rendering service to the members. d) CC has a clear promotional operational standard. Peer review 22 April s. The difference lays on determining member requirements on the first cooperative principle: a) The implementation of education on the fifth cooperative principle. 8 �uni 200�. kerjasama horisontal dan vertikal I. 2) Education to members and management of SLC should be conducted regularly and consistence. 3) SLC is necessary to conduct horizontal and vertical cooperation and implements financial interlending. khususnya koperasi simpan Kajian Kelompok Peneliti tahun 2008.d. syarat anggota. pendidikan. 5) SLC is necessary to prepare implementation of operational standard for SLC like CC.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) ANALISA KOMPARATIF ANTARA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) DAN KOPERASI KREDIT (KOPDIT)*) Riana Panggabean**) Abstract Objective of the activity is to compare Savings and Loan Cooperative (SLC) and Credit Cooperative (CC) in implementing cooperative basic principle. b) Cooperation horizontal and vertical and interlending implementation on the sixth cooperative principle.1 Latar Belakang Ketika krisis ekonomi melanda di Indonesia. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 37 . 2) What’s really at the bottom of that (CC) is better in implementing cooperation principles: a) Members are the owner of cooperative should be serviced well. c) Obligation of to pay tax on the sevent cooperative principle. koperasi dapat bertahan dan bahkan berkembang. Suggestion which is proposed in line with the conclusion above mentioned: 1) LSC should make members requirement which are more operational so that member of LSC will be more selective on its quality. PENDAHULUAN 1. 4) SLC is necessary to establish secondary level of SLC in the district level or for some primary SLC’s which the function to coordinate the interests of SLC’s in the area of business and finance. b) Education is a facility to increase the capability and cooperative motivation. KSP dan Kopdit berbeda dalam implementasi prinsip koperasi. The result of the assessment showed that: 1) There is a difference between SLC and CC in implementing cooperative principles. Artikel diterima � April 200�.

Usaha simpan pinjam juga menjadi cikal bakal pertumbuhan dan pengembangan koperasi simpan pinjam di Indonesia dan usaha ini merupakan usaha dominan koperasi hingga saat ini. Prinsip koperasi merupakan esensi dari dasar kerja koperasi sebagai badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari usaha lain. Koperasi kredit dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. Tujuan produktif dan kesejahteraan berarti bahwa pinjaman hanya diberikan pada anggota untuk dimanfaatkan modal usaha yang bisa meningkatkan penghasilan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. (2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis. 38 . (4) Otonomi dan kebebasan. Koperasi simpan pinjam yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM ada dua bentuk yaitu (1) Koperasi Simpan Pinjam disebut KSP melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan pinjam dan (2) Unit Usaha Simpan Pinjam disebut USP adalah unit usaha yang dibentuk dalam suatu koperasi sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi melakukan kegiatan usaha simpan pinjam (PP No 9 Thn 1995). Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelakanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam. (6) Kerjasama antar koperasi dan (7) Kepedulian terhadap komunitas (Internasional Co-operative Alliance/ICA). Koperasi ini berhasil karena melaksanakan prinsip-prinsip koperasi secara tepat dalam menjalankan organisasi dan usahanya. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip koperasi adalah (1) Keanggotaan sukarela dan terbuka.koperasi lain dan atau anggotanya.AGUSTUS 2009 : 37-61 pinjam. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka untuk tujuan produktif dan kesejahteraan anggotanya. calon anggota koperasi yang bersangkutan. Ini merupakan bukti bahwa koperasi perlu diperkuat dan dipertahankan sebagai lembaga keuangan mikro agar selalu mampu melayani anggota dan masyarakat disekitarnya. (3) Partisipasi ekonomi anggota. kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan. (5) Pendidikan dan pelatihan serta informasi. Artinya pinjaman tidak bisa diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Selain koperasi tersebut koperasi kredit (credit union) mulai timbul di Indonesia pada tahun 1950 adalah koperasi yang mempunyai kegiatan simpan pinjam sama dengan KSP/USP yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM tersebut.JURNAL VOLUME 4 .

600. Koperasi ini dikembangkan dan berkembang sesuai dengan jatidiri koperasi (Sumisjokartono.502 orang dan jumlah anggota perempuan 268.62 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 13.55 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 1. (6) Modal penyertaan Rp 6.578.633.864.73 juta. (9) Total aset Rp 1.36 juta.270. (4) Modal pinjaman Rp 195.67 juta.908 orang.815. (5) Modal sendiri Rp 4.598 unit.844 orang.834.91. Secara kualitatif menurut hasil penelitian dijelaskan bahwa kopdit cukup pesat perkembangannya dilihat dari pertumbuhan dan usahanya karena kopdit dapat bertahan dan berkembang terus bahkan dianggap berprestasi walaupun pada masa krisis. (6) Modal penyertaan Rp 200.865. Kopdit dalam melaksanakan usahanya 39 .987.545.364.640. (3) Jumlah saham sebanyak Rp 1.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Kerjasama dan Jaringan Informasi pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK.783 orang.118. Namun dalam prakteknya disinyalir: (1) Ada terjadi penyimpangan-penyimpangan managemen organisasi dan usaha yang kurang sesuai dengan peraturan perundangan terutama yang menyangkut dengan prinsip dasar koperasi.662 juta. (3) Jumlah nasabah 10. (4) Modal pinjaman Rp 1.000 juta. (2) Jumlah anggota sebanyak 480. (5) Jumlah pinjaman beredar sebanyak Rp 1.557. Lawang 2007). 2002) KSP dan USP cukup pesat perkembangannya seperti yang disebut di atas. (5) Modal sendiri Rp 776.693. (2) Jumlah anggota sebanyak 4.858.374. (9) Total aset Rp 7.114 dan. (4) Simpanan non saham Rp 791. (2) KSP saat ini menjadi alat untuk mencari rente ekonomi terutama fasilitasi perkuatan dari pemerintah.460.379 orang.877. (8) SHU yg belum dibagi Rp 1.95 juta.873. (3) Jumlah nasabah 878.054.18 juta. (2) Jumlah anggota keseluruhan 668.216.154. (8) SHU yg belum dibagi Rp 107. terdiri dari jumlah anggota laki-laki 399. (3) Banyak KSP yang telah berubah menjadi lembaga keuangan yang hanya mencari keuntungan semata sehingga mengabaikan pelayanan kepada anggota. perkembangan KSP sampai Tahun 2005 sangat pesat dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah KSP 1.03 juta.524.288.495.063.485 unit.438 (Robert M. (7) Simpanan yang diterima Rp 325.326 orang. Selanjutnya perkembangan koperasi kredit (kopdit) secara kuantitatif pada tahun 2006 dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah koperasi kredit di Indonesia sebanyak 1.165.83 juta.94 juta. Demikian juga perkembangan USP pada tahun yang sama cukup menonjol yaitu: (1) Jumlah USP koperasi sebanyak 36.932.346 orang.011 unit.Z.393.524.88 juta. (7) Simpanan yang diterima Rp 1. Sedangkan kopdit berhasil karena melaksanakan/menjalankan koperasinya sesuai dengan prinsip dasar koperasi secara konsisten.

Ada 4 prinsip yang berkaitan dengan keanggotaan yaitu (1) prinsip sukarela. masalah yang akan diamati dalam kajian ini adalah belum diketahui apa perbedaan antara KSP dengan kopdit dalam mengimplementasikan jati diri koperasi. sesuai Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi dan Manajemen Operasional Koperasi Kredit.JURNAL VOLUME 4 . Selanjutnya menurut Internasional Co-operative Alliance (2001) prinsip-prinsip ini tidak independen satu dengan lainnya sehingga tidak boleh dinilai secara parsial berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip tersebut tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu kesatuan. 1. (2) keterbukaan. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 2.2 Tujuan dan Manfaat Kajian Tujuan kegiatan ini adalah membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi.3 Manfaat Kajian Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan/keputusan untuk pengembangan KSP dan kopdit lebih lanjut.1 Prinsip-prinsip Koperasi Menurut Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian disampaikan bahwa prinsip koperasi merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berkoperasi. TINJAUAN KONSEP Sesuai dengan tujuan kegiatan ini yaitu membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. II. 40 . Perincian prinsip-prinsip koperasi yang menjadi landasan operasional KSP dan kopdit dijelaskan sebagai berikut: 1). Keanggotaan yang Bersifat Terbuka dan Sukarela Keterbukaan dalam organisasi koperasi hanya bisa terlaksana jika ada kesukarelaan. 1. koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial. Perlu ditelusuri konsep prinsip-prinsip dasar koperasi. Dengan melaksanakan keseluruhan prinsip tersebut.AGUSTUS 2009 : 37-61 tidak menggantungkan diri kepada fasilitas dan bantuan pemerintah dan kopdit dalam melaksanakan usahanya hanya melayani anggota.

Prinsip nondiskriminasi adalah bahwa anggota tanpa diskriminasi sosial. Para anggota memegang dan melaksanakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan koperasi artinya bahwa: (1) Menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksa oleh siapapun. politik dan agama apapun. ras. 41 . latar belakang. hak pilih dan hak untuk menentukan sikap yang sama. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah organisasi yang bersifat sukarela dan terbuka bagi semua orang yang bersedia memanfaatkan pelayanannya dan bersedia pula untuk menerima tanggung jawab keanggotaan. Karena koperasi adalah organisasi demokratis dikendalikan oleh anggotanya maka setiap anggota memiliki hak suara. Pengelolaan Dilakukan Secara Demokratis Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota. Sukarela artinya orang-orang yang secara sukarela memilih untuk membuat komitmen terhadap koperasi mereka bahwa bergabungnya seseorang menjadi anggota koperasi tidak karena paksaan dalam bentuk apapun. Prinsip keterbukaan adalah tanpa pembatasan yang dibuat-buat seperti simpanan pokok atau pendaftaran. Sifat terbuka memberi arti dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi apapun. 2). Tanggung jawab meliputi: kontribusi dalam modal.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) (3) non diskriminasi dan (4) tanggung jawab. Prinsip yang utama adalah sekali anggota diterima menjadi anggota koperasi mempunyai hak-hak yang sama dengan anggota sebelumnya termasuk dalam hak suara tanpa melihat besarnya total simpanan. sosial. Operasional prinsip ini dalam banyak koperasi diwujudkan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) dimana anggota aktif dalam membahas masalah dan kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan. menanggung kontrol organisasi secara demokratis dan bila perlu meminta pertanggungjawaban pemimpin yang dipilih anggotanya. (2) Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam anggaran dasar. politik dan agama. partisipasi dalam bisnis. Prinsip tanggung jawab adalah keanggotaan koperasi harus terbuka terhadap semua orang yang mau menerima tanggung jawab sebagai anggota. tanpa membedakan jenis kalamin (gender). untuk menemukan sikap yang sama.

regional dan internasional. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain. melalui kebijakan kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka dengan bunga yang layak serta untuk tujuan produktif dan kesejahteraan. Pelatihan dan Penerangan Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota. atau memupuk modal dari sumber luar. 4). koperasi melakukannya berdasarkan persyaratan yang menjamin pengawasan demokratis oleh para anggotanya dan mempertahankan otonomi mereka. dibagikan kepada anggota seimbang dengan transaksi yang mereka lakukan mendukung kegiatan lainnya yang disahkan rapat anggota. 5). Kerjasama Antara Koperasi Koperasi melayani para anggotanya secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi dengan kerjasama melalui struktur lokal.JURNAL VOLUME 4 . 7). Memiliki Kepedulian Terhadap Masyarakat Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. Apabila ada modal lain hanya akan diberikan imbalan yang terbatas. Pendidikan. nasional. menolong diri sendiri serta diawasi oleh para anggota. membentuk dana cadangan. 2. Pengertian konsep ini dijelaskan sebagai berikut: 42 . Sebagian dari modal menjadi milik bersama koperasi. Sisa Hasil Usaha dialokasikan untuk pengembangan koperasi. termasuk pemerintah. 6). Anggota Berpartisipasi Dalam Kegiatan Ekonomi Para anggota memberikan kontribusi modal secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis terhadap modal. Adanya Otonomi dan Kemandirian Koperasi adalah organisasi otonom. memberikan penerangan kepada masyarakat umum. khususnya kepada pemuda dan pembentuk opini dimasyarakat tentang hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi.AGUSTUS 2009 : 37-61 3).2 Koperasi Kredit Menurut Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (1996:7) pengertian kopdit adalah badan usaha yang dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu.

pemuda dsb. Badan Usaha Pengertian badan usaha (UU Nomor 25 Tahun 1992) pada kopdit adalah badan usaha dengan ciri khas pemiliknya adalah anggota-anggotanya. pramuka. Misalnya mahasisiwa. Bersepakat Untuk Menabung Uang Mereka yang Disisihkan Dari Penghasilan Bahwa sekumpulan orang setuju tanpa paksaan untuk menabungkan uang yang mereka hematkan dari 43 . RW dan RK. Lingkungan Kerja (Accupational Common Bond) Dimana sekelompok orang/anggota dipersatukan karena melakukan pekerjaan yang sama. petani. Lingkungan Perkumpulan (Asosieson Commond Bond) Dimana sekumpulan orang diikat oleh karena sama-sama menjadi anggota dari suatu perkumpulan. Misalnya karyawan sebuah pabrik.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Jika potensi keanggotaannya tidak besar maka koperasi di tempat kerja saat tertentu dianjurkan membuka diri bagi bagi masyarakat sekitarnya. dan guru. Kopdit akan berkembang baik bila potensi keanggotaannya cukup besar. dan pengawas. d). Bila sudah berkembang diharapkan membuka diri bagi masyarakat sekitarnya. b). wanita. Dalam Suatu Ikatan Pemersatu Dalam suatu ikatan pemersatu artinya sekumpulan orang diikat dipersatukan oleh adanya kepentingan bersama dan kebutuhan yang dirasakan bersama di dalam salah satu lingkungan masyarakat seperti: a). rumah sakit. c). Dimiliki Oleh Sekumpulan Orang Dimiliki oleh sekompulan orang pria dan wanita yang berjumlah sekurang-kurangnya 20 orang. Anggota wajib mendukung kemajuan kopdit sebagai badan usaha. olahraga. Oleh karena itu koperasi harus dikelola dengan memperhatikan kaidah-kaidah ekonomi tanpa melupakan tujuan dibentuknya usaha ini oleh kelompok pemiliknya. Anggota dalam kopdit adalah pemilik pelaksana. 3). buruh. Lingkungan tempat tinggal (Teritorial Commond Bond) Dimana sekumpulan orang yang diikat oleh karena bertempat tinggal pada suatu tempat atau menjadi warga dari suatu daerah yang sama Misalnya satu lingkungan RT. 2).

Artinya pinjaman tidak boleh diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Menciptakan Modal Bersama Bahwa modal diperoleh dari tabungan bersamasama para anggotanya. Dipinjamkan Diantara Sesama Mereka Artinya bahwa pinjaman diberikan kepada anggotaanggotanya dan pinjaman dijamin oleh watak baik si anggota peminjam serta kelayakan usaha. Kopdit tidak sekedar 44 . Ini berarti bahwa masing-masing bertanggung jawab. Menghemat itu penting. (2) Setia kawan/Solidaritas. Tujuan Produktif dan Kesejahteraan Pinjaman hanya diberikan untuk kebutuhan anggota bagi usaha-usaha yang bisa meningkatkan penghasilan dan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. (2) Memberikan Pinjaman layak. h). Dengan menghemat seseorang bisa: (1) Menabung. menarik dan berhasil bagi anggota. kopdit dimulai dengan pendidikan. Layak artinya dapat memberi balas jasa simpanan sesuai pasar dan dapat membiayai operasional kantor kopdit. sebagai (a) Modal sendiri berupa simpanan wajib dan pokok. Tujuan kopdit diimplementasikan dalam membimbing dan mengembangkan sikap menghemat diantara para anggotanya. i).JURNAL VOLUME 4 . dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol dengan pendidikan. Bunga yang Layak Bahwa bunga pinjaman pada kopdit harus layak. cara menyimpan uang secara praktis. f). Kopdit mengajarkan cara menghemat dengan memberikan bimbingan perencanaan keuangan keluarga anggota dengan baik.AGUSTUS 2009 : 37-61 penghasilannya bersepakat untuk menabung. tepat. modal penyertaan dan hibah. cepat. dan (3) Mendidik anggota dalam hal menggunakan uang secara bijaksana. g). dan terarah. saling melayani dan mempercayai serta memanfaatkan tabungan untuk kemajuan bersama. e). Tiga Pilar Koperasi Kredit Sebagai alat Pembangunan Tiga pilar ini disebut Trilogi pembangunan yaitu: (1) Pendidikan. karena dengan menghemat orang bisa menabung. (b) Modal-modal lain yang berupa modal hutang.

sebagai acuan bertindak untuk melaksanakan usaha simpan pinjam. 45 . Agar dapat memahami sifat kopdit dan mengerti aspekaspek unik gerakan ini terlebih dahulu perlu dipelajari prinsipprinsip visi yang selama ini mengarahkan perkembangan gerakan tersebut. Secara teoritis kopdit ditujukan untuk beroperasi secara non profit (tidak mengambil keuntungan). Inilah ciri khas yang membedakan kopdit dari lembaga keuangan lain seperti bank dan perusahaan-perusahaan pengawasan harta benda lainnya (trust companies).3 Implementasi Konsep Kredit Prinsip Koperasi Menurut Koperasi Implementasi konsep prinsip koperasi pada kopdit (credit union) dituangkan dalam Manajemen Profesional Koperasi Kredit yang diterbitkan oleh Induk Koperasi Kredit pada Pebruari 2003. Kopdit selalu berusaha untuk sedapat mungkin membiayai dirinya dalam pengertian bahwa anggota kopdit selalu berusaha agar koperasi kreditnya semakin besar dan sehat. Koperasi Kredit Dikendalikan oleh Anggota Perkembangan serta kegiatan pergerakan kopdit Indonesia selama ini dikendalikan oleh prinsip-prinsip kopdit (Mission Statement) yang diakui secara internasional dan pernyataan misi yang dikembangkan oleh Gerakan Koperasi Kredit Indonesia. Pada kenyataannya keuntungan dan laba dari modal para anggota adalah sasaran yang justru harus diraih oleh semua kopdit. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). Kopdit juga memberikan manfaat dan layanan bagi para anggota sesuai dengan besarnya jasa yang diberikan kepada kopdit tersebut. 2.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) menghimpun dan menyalurkan kredit dari dan untuk anggota namun yang paling penting adalah bagaimana setiap anggota memperhatikan kepentingan kelompok daripada kepentingan sendiri. (3) Swadaya. Sebuah kopdit adalah usaha koperasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh para anggotanya. Namun kopdit tidak didirikan hanya sekedar untuk memberi keuntungan modal para anggota. Keuntungan yang diraih kopdit digunakan untuk tujuan-tujuan demokratis kesadaran sosial dan pengembangan manusianya.

jenis kelamin agama maupun politik. Pengurus yang duduk dalam suatu kopdit sifatnya sukarela dan para pengurus yang terpilih seharusnya tidak digaji.JURNAL VOLUME 4 . Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dilakukan secara proporsional ataupun representatif sesuai dengan prinsip koperasi. 46 . 6). Non Diskriminasi Kopdit tidak membedakan ras. Pengendalian (control) Demokratis Para anggota kopdit memiliki hak suara yang sama dan hak yang sama pula untuk berpartisipasi dalam menentukan keputusan yang berpengaruh terhadap kopdit dimana hak ini tidak tergantung pada jumlah tabungan. yang ingin mengambil manfaat dari layanan yang disediakan kopdit dan bersedia menerima tanggung jawab yang diakibatkannya. Para anggota memiliki hak yang sama dalam pemberian suara dan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kopdit tersebut. simpanan atau volume bisnis masingmasing anggota. 4). Struktur yang Demokratis Kopdit beroperasi berdasarkan prinsip demokrasi dimana keanggotaan terbuka untuk siapa saja. 3).AGUSTUS 2009 : 37-61 2). Distribusi kepada Anggota Dalam rangka mendorong penghematan melalui menabung dan juga agar dapat menyediakan pinjaman serta layanan lainnya maka setiap tabungan dan simpanan diberikan bunga dengan tingkat yang wajar berada dalam batas kemampuan kopdit bersangkutan. 5). Kopdit boleh mengganti biayabiaya sah yang dikeluarkan oleh para pengurus terpilih tersebut. 7). Keanggotaan yang Terbuka dan Suka Rela Keanggotaan kopdit bersifat sukarela dan terbuka bagi siapa saja dalam batas ikatan pemersatu sebuah kopdit tersebut. Layanan kepada Anggota Layanan kopdit ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan baik ekonomis maupun sosial para anggotanya. kebangsaan. Kopdit juga memiliki otonomi sendiri kaitannya dengan hukum dan peraturan negara dimana negara mengakui kopdit sebagai suatu koperasi yang melayani dan dijalankan sepenuhnya oleh anggota.

Ketujuh prinsip tersebut dijadikan variabel dan dari variabel diidentifikasi indikatornya seperti pada Tabel 1. III. 2. Kelebihan itu bisa dibagikan kepada anggota dalam bentuk bunga atau laba sesuai jumlah transaksi yang mereka lakukan dengan kopdit bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan tambahan yang dibutuhkan anggota. 10). Membangun Stabilitas Keuangan Salah satu aspek utama dari kopdit adalah membangun kekuatan finansial termasuk pengadaan cadangan keuangan dan pengendalian internal yang memadai agar layanan anggota bisa terjamin keanggotaannya. Dimana tidak boleh ada anggota yang mendapat keuntungan lebih sementara anggota lain ada yang rugi. 8). Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode survey. perkoperasian. managemen koperasi. kemandirian dari koperasi tersebut dalam melayani kebutuhan anggota. managemen keuangan. Data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dan data primer. sosial.1. 47 . Tujuan Sosial Kopdit harus secara aktif mempromosikan pendidikan kepada anggotanya dan kerjasama dengan organisasi lain demi kepentingan bersama.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Jika ada laba yang tersisa dari hasil kegiatan kopdit setelah dikurangi dana cadangan dan membayar deviden terbatas atas modal sendiri sesuai ketentuan. Sisa tersebut adalah hak semua anggota. 9). METODE KAJIAN 3. Pendidikan yang berkelanjutan Kopdit harus secara aktif menyelanggarakan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ekonomi. demokrasi.4 Peubah dan Indikator Kajian Untuk mencapai tujuan umum pada kajian ini diidentifikasi indikator yang diasumsikan mampu menjelaskan inplementasi pelaksanaan prinsip-prinsip koperasi pada kedua sasaran kajian yang akan dibedakan dalam kajian ini.

Teknik penarik lokasi sampel dalam kajian ini dilakukan dengan metode purposive dengan ciri di kab/kodya yang bersangkutan terdapat KSP/USP dan kopdit yang sudah berjalan selama 5 tahun dan koperasi tersebut aktif 3).JURNAL VOLUME 4 . Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantatif . Populasi dalam kajian ini adalah semua KSP dan kopdit yang ada di kabupaten lokasi kajian 2). Jawa Timur. Responden masing koperasi 3 orang (1 orang pengurus/ managemen dan dua orang anggota). 3. Jawa Barat. Jumlah sampel koperasi masing-masing kabupaten 2 KSP dan 2 kopdit. 48 . dan Bali 5). Lokasi kajian ini dilakukan di 4 (empat) provinsi: Sumatera Utara. Teknik Analisis Data 1).AGUSTUS 2009 : 37-61 ������������ ������������� ����� ������������������ � ������������������ ���������� � �������������������� � ������������������������ ������������� � ����������������� � ������������������ ����������� � ����������������� � �������������������� ����������������� ����������������������� �������������� � �������������� � ���������� � ����������� � ���������� � ��������� � ���������� � ������ � �������������� � ������������������� � � � � � � � � ��������������������� ��������������� ���������������������������� ����������������������� ���������������������� ��������� ���������������������� ������������ ����������������� �������������������� ��������������������� ��������� �������������� ���������������� ��������������������������� ������� Gambar 1. Skema Identifikasi Prinsip & Peubah Kajian 3. Teknik Penetapan Sampel 1). Teknik penarikan sampel KSP dan kopdit dilakukan secara purposive dengan ciri ciri KSP dan kopdit aktif melakukan usaha simpan pinjam 4).2.3.

Mengapa jumlah anggota kopdit jauh lebih besar dari jumlah anggota KSP. Skor masing-masing koperasi dijumlah dan dibagi 100. dijelaskan pada tabel 1 (lampiran 1). Jumlah skoring masing-masing KSP/kopdit itulah yang menjadi pembeda antara KSP dengan kopdit.071. Temuan di lapang menunjukkan bahwa kopdit berusaha melayani anggota sebaik mungkin karena kopdit menumbuhkan dan mengembangkan modal dari anggota sedangkan KSP disinyalir melayani non anggota. Sedangkan jumlah anggota 8 unit kopdit responden jauh lebih besar dibanding dengan jumlah anggota KSP yaitu sebanyak 7. 7.695. Jumlah nasabah yang dilayani pada KSP kurang jelas sedangkan jumlah nasabah di kopdit otomatis sama dengan jumlah anggotanya karena prinsip kopdit adalah melayani anggota. Data sekunder profil KSP dan kopdit di tingkat kab/kota diolah dengan analisis pengujian varian satu jalur (one way anova) Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan (DuwiPryanto. Hasil kajian menjelaskan bahwa jumlah rata-rata anggota pada 8 unit KSP responden sebanyak 1684 orang.679. IV. Total modal rata-rata 8 orang responden KSP sebanyak Rp. Total modal rata-rata terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak Rp. 3).386 dan jumlah anggota terkecil terdapat di Jawa Barat.-. 2.761 dan jumlah modal terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 222.25.993. (2) Jumlah nasabah. Jumlah ini jika dibagi dengan banyaknya anggota maka rata-rata anggota memiliki modal sebanyak Rp. 2008). HASIL KAJIAN 4.013. Total modal ini 10 kali lipat lebih besar dari total modal KSP.. Kondisi ini menjelaskan bahwa modal kopdit berasal dari anggota dan dikembangkan untuk anggota.323. 166.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2).612. (4) Total asset dan (5) SHU.795.750. Total modal ini berasal dari anggota dan disalurkan untuk anggota.805. Jumlah anggota terendah terdapat di Bali dan Jumlah anggota tertinggi terdapat di Jawa Barat.-.1 Profil Responden KSP dan Kopdit Profil KSP dan kopdit dilihat dari (1) Jumlah anggota. (3) Total Modal yang terdiri dari Modal sendiri dan modal luar.757. 34. Total modal rata-rata kopdit sebanyak Rp. Analisis kualitatif dilakukan melalui teknik pembobotan dan skoring. 49 .039 atau empat kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Jumlah anggota kopdit terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak 16.017. Jika dilihat dari jumlah anggota maka perbandingan jumlah anggota kopdit 4 kali lipat lebih besar dari jumlah anggota KSP.261.

. 10 10 100 Nilai Akhir = ( BXS ) 100 Struktur modal sendiri KSP rata-rata Rp... Pengendalian oleh Anggota Secara demokratis Partisipasi Ekonomi Anggota 20 3... 4...679. 3. 10 6.337 dan modal luar Rp 358. Penyerapan tenaga kerja.. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan Diklat bagi anggota.. Anggota melunasi simpanan pokok Anggota aktif menyetor s wajib & s rela Anggota ikut dalam pengambilan keputusan Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi.. 3. Pendidikan dan Pelatihan 1. 3.. 2. 4..JURNAL VOLUME 4 ... dari lingkungan Kerjasama Koperasi dengan organisasi kemasyarakatan. 2. 3. Otonomi dan Kemandirian 1. No.. 1.... dan jumlah modal yang berasal dari pemerintah sebesar Rp.... Variabel Kajian (Prinsip) Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Indikator/Kegiatan yang harus dilakukan KSP/kopdit KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota Anggota bebas masuk dan keluar.Anggota tetap: .. 1. Anggota berperan aktif dalam RAT.871.AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 1. 2... 358.. Kerjasama diantara koperasi Kepedulian terhadap komunitas 1. 3. Variabel dan Indikator Analisis Komparatif Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit Koperasi :.... 4..... 5. 1.. Skor (0-100) Nilai (BxS)i 2.458. 2.447.458. dan solvabilitas KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan....koperas Jumlah anggota yang dilayanai: : . orang KSP/kopdit melaksanakan Rencana Kerja dan RAPB.625.. KSP& kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kpd anggota KSP/kopdit diaudit auditor independen KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas. dan karyawan Kerjasama usaha secara horizontal. 2.. Anggota melaksanakan pengawasan Anggota aktif dalam memecahkan masalah.. 7.. 50 2 ...... 3. Jumlah Bobot (0-100) 10 Koperasi 1.. 25 4.. 407...25 dan modal luar Rp. Kerjasama usaha secara vertikal... orang . 2.670. 15 5.25. Interlending keuangan Ketaatan Koperasi membayar pajak.... 2.Calon anggota:..sedangkan modal kopdit hanya modal sendiri dan modal ini semuanya berasal dari anggota.. 2. 1..078.

983.104.388.124.7 kali lipat jauh lebih besar.00 Sig.503. < 0.9 6.8 Jumlah Anggota 905.007 c 0.236.865.369.terbesar terdapat pada KSP di provinsi Bali sebesar Rp 5.3 229. Total rata-rata SHU sebesar Rp.055c 0.272.904.001c 0..0 350.887.112.404.sedangkan total asset terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 370.237.518.05).234.471.366.3 2. berbeda secara Variabel a b a SD Rata-rata SDb Rata-rata signifikan jika 5.386.127 c 0. 1.865.282..012.2 40.666.524.151.819593.5 3.186.656.36 410.471.30 1.573.711.016 c 0.95 3.75 68.3 361. Modal Luar.59 KSP SDb 920.627.787.381.297.000.877.024.169.679.5 205. menjelaskan.13 45.930.241.000 c 0.-.705.3 892.857.89 SDb 2.87 Rata-rataa 566.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Total asset rata-rata KSP Rp.704.1 .245.323c 0.169. 145.50 atau 10.781.340.842.959.179.2 9.433. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).670 c 0. 2.768.327.8 175.50. Dari indikator-indikator profil koperasi dan kopdit di atas ternyata nilai indikator kopdit jauh lebih baik dibanding dengan KSP.880.8 500. hasil analisis one way anova pada Tabel 2.0 Sig.0 99. bahwa kopdit dan KSP berbeda secara signifikan dalam kriteria Jumlah Anggota.3 201.0 993.154.4 81.7 1.82 260.005 c 0.174.977.2 1.25 15.3 269.027 c Sum Uta-ra Tabel Keterangan: 3. 0.970. Standar Deviasi (Simpangan Baku) Kopdit KSP Prop c.516. = 0.950 dibanding dengan total asset kopdit ternyata total asset kopdit jauh lebih besar yaitu sebesar Rp 25.0 74.259.142.054.5 276.7 1.148.397.38 730.003 c Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri 51 110. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi a.5 2.723.06 2.664. 0.683.153.460. Modal Sendiri.00 1.880.29 1.294.000.020.953.016 c 0.73 407.228.943.412.0 13.005. Tabel 2.118.346.549.562.728.2 Profil KSP dan Kopdit Tingkat Kabupaten/Kota Memperkuat hasil diskriftip diatas.2 293.119.009.8 274.395.67 11.841c 0.335.976.000c 0.734.022.05 (Taraf nyata 5%) Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota 19.6 524.5 857.330.001c 0.64 776. Deskripsi Data Kopdit dan KSP 5 Provinsi Variabel Jumlah Anggota M Sendiri M Luar M Pemtah Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 2.691.63 919.5 904.3 635.9 31.254.40 23.996.8 Sig.253.625.875.457.090.980.085 c 0.408. < 0.859.023.461. 4.jauh lebih kecil dibanding dengan SHU kopdit sebesar Rp.496.474.990.105.898.034.7 30.392.144.5 4.5 560.75.0 58.121.670.044.340.876.596.3 105.6 800.7 258. Modal Pemerintah dan SHU (Sig.938.544.06 1. Rata-rata dari data yang ada b.532.249.752.124c 0.345.127).338.43 23.717.871.986.307.5 30.625.814.829.456.566.807.941.09 2. Dimana kopdit memiliki nilai lebih besar dalam kriteria-kriteria tersebut dibandingkan dengan KSP sedangkan dalam kriteria Total Aset tidak berbeda secara signifikan antara kopdit dengan KSP (Sig.075.416.50 220.

3 105.388.495.762.7 1.1 128.904.241.003.0 2.3 269.000c 0.6 800.265 c 0.198. modal sendiri.691.5 12.286.1 58.0 51.3 361.2 163. Dimana untuk kriteria jumlah anggota.118.253. dimana untuk kedua kriteria tersebut kopdit memperlihatkan nilai yang lebih besar.237.034.005.323.986.000.859.736.327.8 379.001c 0. modal sendiri dan SHU.532. Diantara 5 kriteria antara kopdit dan KSP yang dianalisis pada provinsi Jawa Barat tampak berbeda secara signifikan hanya SHU.179.8 50.105.366.055c 0.294. KSP lebih tinggi dibandingkan dengan kopdit (Tabel 2).5 857.151. dan SHU.971.2 2.3 635.7 33.8 175.679.887.3 229.983. Tabel 3.5 575.728.044.259. berbeda secara signifikan jika Sig.2 370.136.1 31.920.0 279.121.503.338.254.579.9 30.722.625.7 54.139 c 0.085 c 0.000.970.282.346.7 22.001 c 0.133. 0.005 c 0.340.272.5 276.772.032.392.8 4.472.912.7 SDb Rata-rataa 350.000.6 KSP SDb Sig.4 81.442.656.8 905.841c 0.188.0 29.007 c 0.9 31.4 1.588.5 6.670 c 0.0 99.950.627.562.537.2 639.637.516.7 1.183.3 892.723.416. Terdapat 4 kriteria antara kopdit dan KSP yang berbeda secara signifikan di provinsi Bali yaitu jumlah anggota.387. total aset.419.900. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi Prop Variabel Jumlah Anggota SumUtara Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota Jawa Barat Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota KalBarat Modal Sendiri Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 5.048 c 0.236.323c 0.5 3.05 (Taraf nyata 5%) 52 .846.461.313.053.432.6 524.7 258.2 40.865.711.880.8 274.5 268.0 183.0 187.148.898.694.8 19.JURNAL VOLUME 4 .011 c Keterangan: a.000 c 0.086.186.119.000.5 500.2 38. Standar Deviasi (Simpangan Baku) C.218.496.0 1.710.245.5 904.625.076.4 33.0 293.154.144.573.787.003 c 0.104.404.876.880.AGUSTUS 2009 : 37-61 Pada tabel 3 menjelaskan bahwa kriteria antara kopdit dan KSP berbeda secara signifikan di provinsi Sumatera Utara adalah Jumlah Anggota dan SHU.169.5 205.448.518.044.911.013.095.383.5 560.234.959.124c 0.941. kopdit memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.5 205.169. Rata-rata dari data yang ada b.568.2 3.0 74. dimana SHU kopdit lebih rendah dibandingkan dengan SHU KSP (Tabel 2).0 993.2 9.3 201.004 c 0.2 1.729.054. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA). < 0.050.0 13.930.381.704.0 110.0 30.457.7 197.4 2.904. Namun untuk kriteria total aset.664.829.814.807.345.561.3 2.

971.457. Modal Sendiri 0. semakin besar modal maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.0 993. (Constant) 2.736.340.048 c 0.005 c 0.2 1.044.136. = 0. Dimana untuk kesemua kriteria tersebut kopdit memiliki nilai Aset 1.000).5 yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.7 279.637.3 560. dimana pengaruh yang terjadi bersifat positif.0 197.8 Kal BarAt Lebih lanjut pada Tabel 4. 38.472.762.9 Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Kopdit dan KSP di provinsi Kalimantan Barat berbeda secara 1.2 229.503.623 Sig.134 Tabel 5.0 Total Aset 361.253.495.0 SHU 163.75 T -0.920.000 c 0.898.518.591 Sig. modal sendiri.3 201. Pengaruh Tabel 6.003).327. dan Modal Luar 575.73 53 Tabel 8.4 terhadap SHU (Sig.904. 0.784 0.73 4.011 c Tabel 5 menunjukan analisis regresi parsial dengan peubah bebas modal sendiri yang berpengaruh secara signifikan terhadap SHU (Sig.59 Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.6 800. Modal Luar 0.0 33.8 268.535 0.722.679.401 0.003 SHU yang diperoleh akan semakin tinggi (Tabel 6).912.0 128.005.4 TotalSHU.000.007 c 0.001 c 0.SHU Jumlah Anggota Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar 3.095.294.185 (Constant) Modal Sendiri t Sig.000).034.346.148.983. dimana semakin besar jumlah anggota SHU 639.323.537.814.218.859.387.561.911.003 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.2 50. Tabel 5. hasil analisis regresi 205.139 c 0.003 c 0. Beta t Tabel 7.044.8 269.787. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Beta (Constant) Jumlah Anggota Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.401 Sig.900.694.183.013.050.313.392.5 276.728. 0.085 c 0.562.1 183.950.670 c 0.133.259.656.007 Analisis 0.865.3 58.59 3.053. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Tabel 5.5 0.315 t 2.144.383.2 memperlihatkan bahwa jumlah anggota berpengaruh secara signifikan Total Aset 29.236.1 Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) SHU 13.404.46 2.086.5 370. =Aset Adjustedyang terjadi bersifat positif.566 0.338.573.388. yaitu jumlah anggota.245.185 Sig. dimana semakin besar modal sendiri.011 0.0 81.829.315 (Constant) Total Aset 0.003.7 175.7 1.448.723.7 parsial 33.419.3 892. Tabel 4.743 0.5 105.0 signifikan dalam 3 kriteria.729.5 904. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Tabel 4.104.198.46 regresi parsial memperlihatkan bahwa modal sendiri 3 Dependent Variable: SHU berpengaruh secara signifikan Peubah SHU Total 0.505 (Constant) Modal Luar 0.7 51.807.3 9.876 0.841c 0.743 -0. R Square = 0.076.442.625.704.1 Jumlah Anggota Modal Sendiri 635.241.3 31.000 T -0.8 274.625.7 258.332 Tabel 7. (Constant) Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar 0.784 3.188. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Total Aset 0.000 3.930.332 4.032.000.986.0 22.286.3 99.254.000 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.179.7 2.568.2 379.0 110.8 2.265 c 0.2 40.055c 0.6 30.169.345.710.876.0 12.7 1.169.580 6.4 74.876 0.2 524. 0.941. (Constant) Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri 1.366.001 0. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Beta t Sig. 1.846.548 0.4 187.5 857.532. Analisis Regresi denganterhadap Bebas(Sig. Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar Beta T Sig.579.007 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.004 c 0.588.121.186.134 2.623 0.0 54.904.6 maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.432. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Tabel 6.011 Tabel 6.2 31.772. Analisis Dependent Variable: SHU Regresi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah .118.664.234. = 0.535 0.5 205.151.691.

003 (Constant) -0.505 R Square = pemerintah akan meningkatkan perolehan SHU sebesar Beta t Sig.623 0. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Rata-Rata 73. Total Aset 0.315 Beta (Constant) Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset 0.55 90 45 82.73 Rupiah (Tabel 7). dimana jika terjadi kenaikan satu rupiah Adjusted R Square =SHU 0. 2.011 T Sig.080 dan kopdit Bali Kalimantan 4 45 6. Analisis Regresi dengan Peubah3.080 0. 4.007 t Sig.000).59 3. Analisis Regresi dengan Peubahdiperlihatkan Analisis regresi Bebas Modal Pemerintah Modal Luar 4. 79.784 0.332 0.001 Tabel 8.134 0.535 2. bebas Modal Luar Analisis Regresi dengan peubah4.332 0. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Dependent Variable: SHU JURNAL VOLUME 4 .94 6.59 Tabel 6. = 0.743 Adjusted R Square = 0.505 Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0. Nilai Skor Adjusted R Square = 0.55 90 (Constant) di provinsi Sumatera Utara.73 terhadap perolehan SHU seperti yang parsial diatas (Sig.003 luar modal 0. 2 Hasil kajian implementasi prinsip-prinsip koperasiSig.007 (Constant) 2. Bebas t juga berpengaruhBeta secara signifikan terhadap SHU (Sig.000 (Constant) 0. Tabel 7. Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.000 Dependent Variable: SHU 0.000 0.94 dan kopdit 73.315 Dependent Variable: Adjustedmodal dari0. Modalperolehan SHU sebesar 0.185Beta (Constant) Modal Sendiri 0.854 Nilai Skor Prinsip Koperasi Tabel 8.94 73.94 Kopdit 1 Sumut 80 90 Tabel 9.6 pada 3.356 89.401 Total Aset Sig.185 Dependent Variable: SHU T Sig.356 89.001).185 (Constant) Total Aset Beta t 1.623 Modal luar 0.876 Sig. = 0.784 0.505Beta (Constant) 2. adalah Sumut 90 89. bebas (Constant)Analisis Regresi dengan peubah 0.46 Tabel 6.939 0.464 0.55 90 masing nilai per provinsi dijelaskan sebagai berikut: 4 Kalimantan Barat 45 82.001 Modal Pemerintah Provinsi Barat skor penerapan prinsip-prinsip koperasi 0. Bali dan 0.332 Tabel 6.6 79.939 Dependent Variable: Modal Pemerintah SHU 0.73 4.94.94 Tabel 9.011 Dependent Variable: SHU Regresi dengan peubah bebas Modal luar Tabel 7. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri t Sig.59 Tabel 7.134 dimana Adjusted R Square = 0. Bali 79. Tabel 7.876 0.080 Modal luar 0.94 4 4 54 4 .401 Modal luar0.623 0. AnalisisProvinsi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Regresi No KSP Implementasi Prinsip-Prinsip Koperasi Tabel 9.94 Rata-Rata adalah nilai KSP KSP sebesar 89.356 DependentKSP dan kopdit 1Artinya. Adjusted R Square = 0. Analisis Regresi dengan Peubah BebasModal Pemerintah Modal Pemerintah 6.94 Rupiah (Tabel 8).46 2.784 0.94 dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Beta T Sig. Jawa Barat.011 Analisis regresi parsial memperlihatkan bahwa 0.743 Modal pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan Tabel 8. Rincian masing3.003 bebas Adjusted R Square = 0. Analisis Regresi 0. Dependent Variable: SHU (Constant) jika terjadi kenaikan satu rupiah modal luar akan meningkatkan 1.854 Beta t Sig. Modal Luar 0.356 Kopdit pada Variable: SHU skor 73.854 bahwa KSP80 dalam mengimplementasi prinsip Adjusted R 2 Jawa Barat 84 93.464 0.AGUSTUS 2009 : 37-61 Adjusted R Square = 0.001 Tabel 9. Dependent Variable: SHU (Constant) -0. Sendiri 0.464 82.535 0.Adjusted R Square = 0. Analisis Total Aset 0.743 -0.94 Barat No Kalimantan menjelaskan bahwa nilai Nilai Skor Prinsip Koperasi 0.73 Tabel 5.3 0. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian No 1 2 3.401 0. 4 Provinsi Sumut Jawa Barat Bali Kalimantan Barat Rata-Rata Nilai Skor Prinsip Koperasi KSP Kopdit 80 90 84 93.6 prinsip koperasi lebih lemah dibanding dengan kopdit.939 Tabel 8.315Beta t Sig. Square = 0. KSP Nilai SkorBarat Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Beta Jawa 84 t 93. 0. Analisis Regresi dengan peubah3.

Suatu kelebihan kopdit adalah mengadakan pendidikan terhadap anggotanya dari awal masuk. 55 . Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara KSP dan kopdit. Dalam rencana tersebut dijelaskan apa saja yang akan dilaksanakan selama setahun berjalan. SMP. Sedangkan (2) Kopdit mensyaratkan keanggotaan sebagai berikut: (a) Mengikuti pendidikan calon anggota yang dilaksanakan dalam waktu lima kali pertemuan. dan setelah menjadi anggota. (e) Mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan tidak mempunyai usaha yang bersaing dengan kopdit. (c) Membayar simpanan pokok dan wajib. (b) Berdomisili di wilyah kerja KSP. SMA. (c) Tidak dalam status pelajar (SD. Pendidikan menjadi alat atau metode bagi kopdit untuk membangun motivasi dan mememlihara partisipasi anggota. Pengendalian oleh Anggota Secara Demokratis Dalam variabel ini indikator yang dikaji adalah (1) KSP/ kopdit melaksanakan rencana RAPB. 2).Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). (2) Anggota berperan aktif dalam RAT. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jumlah anggota kopdit 4 kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kopdit berusaha mencari dan menerima anggota dengan ciri atau kualitas serta membangun anggotanya melalui pendidikan. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) KSP mensyaratkan keanggotaan bersifat umum seperti: (a) Warga negara Indonesia. (d) Dijamin dan didukung oleh anggota kelompok yang aktif dalam satu lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa semua responden (8 unit KSP dan 8 unit kopdit) membuat RAPB setiap tahun. Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Pada umumnya KSP dan kopdit menentukan persyaratan terhadap anggota. atau sederajat). Dilihat dari perkembangan jumlah anggota ternyata perkembangan jumlah anggota KSP jauh lebih sedikit dibanding dengan jumlah anggota kopdit. RAPB ini biasanya di jelaskan pada Rapat anggota untuk mendapat pengesahan dari anggota. (c) Mampu membayar pinjaman. Namun dalam implementasinya antara KSP dan kopdit terdapat perbedaan. Kegiatan seperti ini tentunya sangat baik dilakukan oleh KSP agar anggota dapat mengetahui apa yang akan dan dilakukan oleh koperasi. (3) Anggota aktif dalam memecahkan masalah. (b) Umur calon anggota pada saat mendaftar tidak lebih dari 45 tahun. Yang berbeda adalah materi karena masing-masing responden (koperasi mempunya rencana masing-masing).

...... KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota dan terbuka 2... Bali.Anggota tetap : . Nilai Skor KSPKSP dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Tabel 10. Anggota bebas masuk dan keluar koperasi 3. KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri 5....5 89.. diantara 1..... KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas Pendidikan pelatihan Kerjasama koperasi Kepedulian komunitas dan 1. Kerjasama usaha secara horizontal 2. Nilai Skor dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi (Sumut..43 73. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan 2. penyebabnya adalah karena pada kopdit kegiatan pendidikan itu dilaksanakan secara rutin sehingga informasi mengenai kegiatan 56 5 . Interlending keuangan terhadap 1.5 4994 5 2250 3000 6 7 330 3660 3000 29343 293.. KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota 3... Jumlah anggota yang dilayani .. Kalbar) No  Variabel Kajian (Prinsip) Indikator/kegiatan yang harus dilakukan KSP/Kopdit Skor KSP 4000 Nilai Skor Kopdit 4000 2 3 4 Keanggotaan sukarela 1. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan diklat bagi anggota karyawan. Mengapa kehadiran anggota pada RAT di KSP lebih sedikit dari anggota yang hadir pada kopdit..JURNAL VOLUME 4 .. Jabar. KSP & kopdit membuat perencanaan dan kemandirian melaksanakan 2..356 4000 35654 356.... Hasil kajian menunjukkan bawa jumlah anggota yang hadir setiap RAT pada KSP antra 51 sampai dengan 80% sedangkan pada kopdit antara 51 sampai dengan 90%. Anggota aktif menyetor wajib dan sukarela Otonomi dan 1...AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 10. Penyerapan tenaga kerja dari lingkungan 3.....14 Pada indikator kedua variabel ini ukuran keaktifan anggota dalam RAT dilihat dari seberapa banyak anggota hadir dalam RAT.. Kerjasama usaha secara vertikal 3. org .. Kalbar) (Sumut... KSP/kopdit melaksanakan rencana kerja dan anggota secara RAPB demokratis 2... Anggota aktif dalam memecahkan masalah Partisipasi ekonomi 1. org Pengendalian oleh 1. Bali....... KSP/kopdit diaudit auditor independen 4. Anggota melaksanakan pengawasan 4.. Anggota melunasi simpanan pokok anggota 2...Calon anggota : ... Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan Jumlah Total Nilai Skor Nilai Rata-rata 6750 7000 8625 9000 7387... Anggota berperan aktif dalam RAT 3.. Ketaatan koperasi membayar pajak 2... Jabar.

(3) Anggota ikut dalam pengambilan keputusan dan (4) Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. Pada kopdit anggota disadarkan pemahamannya bahwa kalau modal itu hanya bersumber dari anggota dan dikembangkan/dipakai untuk anggota sehingga jika anggota tidak aktif membayar simpanan wajib koperasi tidak berkembang. Partisipasi Ekonomi Anggota Partisipasi ekonomi anggota diamati melalui: (1) Anggota melunasi simpanan pokok. Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu dilaksanakan oleh pengurus terhadap anggotanya agar mereka mau dan mampu mengembangkan modal dari anggota. Dan hasil kajian menunjukkan bahwa pada indikator pertama semua responden baik kopdit maupun KSP anggota KSP dan kopdit wajib melakukan atau membayar simpanan pokok karena simpanan pokok hanya sekali dilakukan pada saat dia menjadi calon anggota sehingga pada indikator ini antara KSP dan kopdit tidak ada perbedaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP anggota memberikan saran untuk memecahkan masalah terjadi hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pemberian saran lebih dari sekali setahun karena pada kopdit rapat-rapat atau pertemuan sering dilakukan melalui rapat-rapat kelompok. 3). Indikator kedua menunjukkan bahwa anggota aktif menyetor simpanan wajib dan sukarela. Indikator ketiga yaitu anggota aktif dalam memecahkan masalah dalam koperasi diukur dari seberapa banyak anggota memberi masukan dalam setiap rapat yang diadakan oleh KSP/ kopdit. Hasil kajian menjelaskan bahwa pada KSP pembayaran simpanan wajib dilakukan pada saat membayar pinjaman yang langsung ditarik beserta pinjaman ditambah bunga sedangkan pada kopdit simpanan wajib diantar oleh anggota dengan kesadran sendiri karena kopdit memupuk modal dari anggota dan untuk anggota disinilah kelebihan kopdit dibanding dengan KSP.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) apa saja yang ada di kopdit langsung dikomunikasikan dalam forum pendidikan itu sehingga semua informasi sampai kepada anggota melalui forum pendidikan tersebut. Dalam pengambilan keputusan pada KSP peran anggota terakomoder hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pengambilan 57 . Hal seperti itu jarang ditemui pada KSP. (2) Anggota aktif melunasi simpanan wajib dan sukarela.

KSP responden menyelenggarakan pendidikan terhadap 58 . 4). Disinilah perbedaan yang terlihat menonjol antara keanggotaan KSP dengan kopdit. Semua responden membuat perencanaan dan melaksanakan rencana serta evaluasi sejauhmana hasil antara perencanaan dan pelaksanaan. seperti pada kopdit Satolop di Tapanuli Utara.AGUSTUS 2009 : 37-61 keputusan itu selain pada RAT juga terjadi pada rapat-rapat kelompok. (4) KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas. Pada indikator kedua KSP selain melayani anggota KSP juga melayani calon anggota rata-rata calon anggota pada KSP diatas 14% dari jumlah anggota sedangkan kopdit hanya melayani anggota saja. Sedangkan kopdit diaudit oleh auditor internal kopdit bersangkutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata hasil pelaksanaan program pada KSP tercapai diatas 80% sedangkan pada kopdit tercapai hampir 100%. Otonomi dan Kemandirian Otonomi dan kemandirian pada KSP dan kopdit dilihat dari (1) KSP/kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan. Pada indikator ketiga menunjukan bahwa sebagian atau 50% KSP diaudit oleh Lembaga Audit Koperasi dan 50% lainnya diaudit oleh auditor independen. 5). (2) KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota. (3) KSP dan kopdit diaudit auditor independen. Indikator kelima.JURNAL VOLUME 4 . Pendidikan dan Pelatihan Indikator pendidikan dan pelatihan diamati dari: (1) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap karyawan dan (2) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap anggota. Selanjutnya pada indikator keempat hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP dan kopdit transaksi anggota terjadi pada saat meminjam dan mengembalikan pinjaman. menunjukkan bahwa semua responden KSP maupun kopdit melakukan evaluasi kinerja keuangan tentang likuiditas dan solvabilitas. Pada kopdit tidak ada calon anggota dan anggota dididik pada saat masuk dan diikuti perkembangannya selama anggota menjadi anggota koperasi. dan ada kopdit yang melebihi pelaksanaan diatas 100%.

59 . Kekuatan kopdit sangat tergantung pada kerjasama ini. 6). Pada kopdit pendidikan baik terhadap karyawan maupun anggota wajib dilakukan. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kerjasama diantara koperasi menunjukan nilai KSP sebesar 330 sedangkan kopdit sebesar 3360. Pendidikan pada kopdit diadakan pada saat anggota mendaftar. Hasil kajian menunjukkan bahwa kopdit dalam mengelola usaha simpan pinjam mempunyai Standart Operasional Pelaksanaan (SOP). sedangkan KSP hanya memiliki Petunjuk Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam yang umum. Mempelajari keberhasilan kopdit di kota Denpasar provinsi Bali ada beberapa KSP. Mengapa kopdit berhasil dan mampu mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. Karena kopdit membangun koperasi dan mengembangkan nya melalui pendidikan. Artinya bahwa kerjasama horizontal maupun vertikal dan interlending belum dilakukan oleh KSP sedangkan kopdit sudah melakukan kerjasama ini dengan baik. Puskopdit tidak mengadakan operasional menandingi kopdit-kopditnya. Demikian juga dengan kopdit. KSP telah membentuk Pusat Koperasi KSP untuk melaksanakan interlending keuangan bagi KSP. penyebabnya adalah kopdit menyadari tanpa kerjasama antar sesama kopdit tidak akan kuat untuk melayani anggotanya. Atas kesadaran ini untuk memudahkan kerjasama kopdit medirikan Pusat Koperasi Kredit yang berada di Tingkat Kabupaten/Kota. Puskopdit berfungsi dan bertugas untuk melakukan pengaturan pembiayaan bagi kopdit-kopdit yang ada di bawahnya. Mengapa kopdit memiliki nilai lebih tinggi dari KSP. karena jika kopdit mengalami kekurangan dana maka kopdit dapat memenuhi pembiayaan melalui interlending ini. Satu pusat kopdit membawahi antara 5-10 kopdit dimasing-masing wilayah kerjanya.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) karyawan melalui pendidikan yang diadakan oleh Dinas KUKM yang ada di daerah masing-masing. (2) Kerjasama usaha secara vertikal dan (3) Interlending keuangan antar koperasi. Kerjasama Diantara Koperasi Indikator penilaian untuk variabel ini: (1) Kerjasama usaha secara horizontal.

Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) Prinsip pertama dalam menentukan persyaratan anggota. (b) Pelaksanaan pendidikan pada prinsip koperasi kelima. (2) Penyerapan tenaga kerja dan (3) Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan. 60 . KSP belum melakukan pendidikan kepada anggotanya. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Perbedaannya terletak pada: (a) KSP melakukan persayaratan anggota secara umum seperti KTP. (c) Bersedia mengikuti pendidikan dalam 5 kali pertemuan. (b) Berdomisili di wilayah KSP. V. vertikal dan mengadakan interlending keuangan. manajer dan anggota. Kepedulian Terhadap Komunitas Indikator variabel ini adalah: (1) Ketaatan koperasi membayar pajak.JURNAL VOLUME 4 . Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa nilai skor implementasi prinsip koperasi KSP sebanyak 73. (b) Usia maksimal saat pendaftaran 45 tahun. (4) Prinsip ke tujuh kepedulian terhadap lingkungan dalam hal membayar pajak. horizontal dan belum melakukan interlending keuangan. KSP membayar pajak karena melayani non anggota sedangkan kopdit tidak membayar pajak karena hanya melayani anggota.AGUSTUS 2009 : 37-61 7). KSP belum melakukan kerjasama vertikal. (d) Kewajiban membayar pajak pada prinsip koperasi ke-7. Sedangkan kopdit melakukannya melalui Koordinasi Pusat Kopdit (Puskopdit). Ada perbedaan antara KSP dan kopdit dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip koperasi. (3) Prinsip ke enam dalam melakukan kerja sama secara horizontal.14. (b) Mempunyai penghasilan tetap setiap bulan. (2) Prinsip ke lima dalam melaksanakan pendidikan. Sedangkan kopdit membuat persyaratan anggota untuk mencari anggota yang berkualitas seperti: (a) Dijamin oleh lima orang anggota lama. (c) Kerjasama horizontal.356 sedangkan kopdit 89.1 Kesimpulan Dari penjelasan diatas kesimpulan kajian ini adalah: 1). Artinya bahwa kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. Perbedaannya terletak pada: (a) Penetapan persyaratan anggota pada prinsip koperasi pertama. Sedangkan kopdit melakukan pendidikan secara reguler rata-rata 5 kali dalam setahun kepada pengurus. vertikal dan pelaksanaan interlending pada prinsip ke-6 dan.

Penyebab kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi: (a) Anggota adalah pemilik koperasi yang perlu dilayani dengan sebaik-baiknya. Batu Merah. Jakarta. ------------------. vertikal dan mengadakan interlending keuangan 4). (2001). Yogyakarta. (1992).Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). KSP perlu membuat Standar Operasinal Pelaksanaan KSP seperti kopdit. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Koperasi. Bank Kaum Miskin. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. KSP perlu melakukan kerja sama secara horizontal. PT. Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan). Duwi Pryanto. 5. 61 . Jakarta. KSP perlu membuat persyaratan anggota yang lebih teknis operasional sehingga anggota KSP lebih terseleksi pada kualitas. Pendidikan pada anggota dan pengelola KSP perlu dilakukan secara teratur dan konsisten 3). dan Menengah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor � Tahun 1��5 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. (2007). (c) Kerjasama antar kopdit merupakan wahana saling membantu antar kopdit dan sumber peningkatan usaha dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota. International Co-operative Alliance. (d) Kopdit memiliki standar operasional pembinaan yang jelas. (b) Pendidikan adalah suatu sarana meningkatkan kemampuan dan motivasi berkoperasi. DAFTAR PUSTAKA -------------------. KSP perlu membangun Pusat KSP ditingkat Kabupaten atau untuk beberapa KSP primer yang berfungsi untuk mengkoordinasikan kepentingan KSP-KSP baik dalam usaha dan keuangan.2 Saran-Saran Dari kesimpulan di atas ada beberapa saran yang diusulkan dalam kajian ini yaitu: 1). Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil. Media Kom. (2008). 2). Mandiri Belajar SPSS. ICA Co-operative Identity Statement Prinsip-prinsip Koperasi Untuk Abad Ke-21 Terjemahan Pengantar Ibnoe Soedjono. 5). (2004). LSP2I. Muhammad Yunus. �atidiri Koperasi.

Walaupun demikian eksistensi UMKM masih cukup besar karena dampak krisis masih terbatas hanya pada beberapa produk usaha kecil yang berorientasi ekspor.��5%) depended upon nonformal financial resources and private in implementing their business activities. tujuan penggunaan. From the result of this assessment.AGUSTUS 2009 : 62-87 KAJIAN KONTRIBUSI KREDIT BANTUAN PERKUATAN DALAM MENDUKUNG PERMODALAN UMKM*) Teuku Syarif**) dan Etty Budhiningsih***) Abstract Sondakh dan Hafiz (1987).d. This condition still shows the dominant role of private money lenders and capital owner in supporting business survival of micro enterprises. To overcome the problem. The result of the assessment by The State Ministry of Cooperatives and SMEs in 2006.��5% were from own/internal capital. Bisnis dan UKM. Birowo and Lukman Sutrisno (1994). 11. seperti misalnya hasilhasil perkebunan. cautioned that most of Micro. peer review 2�� April s.��5% were from among family and neighbour. karakteristik UMKM. review akhir �� �uli 200� Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM (tim peneliti) Kasubid. Artikel diterima 2�� April 200�.6% from government’s loan. This condition as a consequence of unparticipated formal credit institutions. Kejadian tersebut masih *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. the government has done several credit programmes during the last four decades but the effectiveness of those programmes were still asked after up to the end of 200��. Penelitian UKM (tim peneliti) 62 .��0% from capital owner/private money lender and the rest 6. Pendahuluan Kondisi perekonomian dunia pada akhir tahun 2007 yang diwarnai oleh gejolak akibat krisi ekonomoni di AS dan Eropa secara langsung berimbas pada perekonomian nasional. it was found that capital structure of micro enterprises 15. Yang dikhawatirkan adalah krisis yang terjadi sekarang berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1997 yang imbasnya tidak mempengaruhi kelangsungan usaha UMKM. Small and Medium Enterprises (MSMEs) (80.20% from bank and non-bank loan. said that enforcement support programme which were done since 2000 it was only 4. 8 �uni 200�. Sebaliknya masalah besar yang dikhawatirkan timbul dan berdampak luas adalah bertambahnya jumlah penganggur yang secara langsung akan meningkatnya angka kemiskinan. �. sumber perkreditan I.JURNAL VOLUME 4 . Asdep Urusan. 56. program. Kontribusi kredit.63% accessible by micro and small enterprises.

Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari belum berperannya lembaga-lembaga perkreditan formal Untuk mengatasi masalah permodalan bagi UMKM pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan perkreditan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi sektoral. Dari adanya permasalahan diatas perlu diketahui seberapa besar peranan kredit program-program pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok UMKM khususnya pengusaha mikro yang menjadi bagian terbesar dari UMKM. Dari jumlah tersebut 46. mensinyalir bahwa sebagian besar atau sebanyak 80.4 triliun disalurkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Namun demikian kelompok usaha ini menyererap lebih kurang 89 juta tenaga kerja atau identik dengan 96. Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 saja pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar Rp 39. Berbagai hasil penelitian antara lain yang dilakukan oleh Sondakh dan Hafiz (1987). Berbagai isue dan sinyalemen yang berkembang banyak meragukan keseriusan pemerintah untuk memberdayakan UMKM dibidang permodalan.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) dapat diantisipasi oleh UMKM karena masih cukup banyak kesempatan kerja yang terbuka dilingkungan UMKM. atau 99. Keraguan tersebut juga dialamatkan kepada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai oleh banyak pihak lebih terlihat sebagai isue politis ketimbang perhatian pemerintah terhadap nasib UMKM khususnya pengusaha mikro dan kecil. Dengan pendapatan sekecil itu mereka masih tergolong kelompok miskin yang berpendapatan kurang dari 1 Dolar AS per orang per hari. Kementerian Negara Koperasi dan UKM (2008) menginformasikan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah unit usaha UMKM telah mencapai 49.440 Dolar AS per keluarga per tahun. Birowo dan Lukman Sutrisno (1994). Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sampai sekarang masalah pengembangan modal dikalangan UMKM masih terus mengemuka dan seberapa besar kontribusi program-program pemerintah tersebut dalam mendukung permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil.258 juta.54 triliun untuk 214 jenis program yang disalurkan melalui 12 instansi. Salah satu masalah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah kesulitan UMKM dalam mengembangkan permodalannya. Menurut Sutanto (2007) sebagian besar pengusaha mikro terutama yang bergerak di sektor pertanian dan sektor informal memiliki pendapatan bersih kurang dari 1. Sampai sekarang sangat banyak masalah di lingkungan UMKM yang belum terselesaikan terutama yang berhubungan dengan iklim usaha.99% dari pelaku bisnis yang ada di Indonesia. 2% adalah pengusaha mikro.7% tenaga kerja yang ada dalam dunia usaha. Karena itu pemberdayaan UMKM sudah menjadi komitmen nasional.795 juta atau 95. Berbagai kenyataan di lapang menunjukan bahwa baru sedikit yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan program program nyata.75% UMKM dalam melaksanakan kegiatan usahanya masih terikat pada sumber-sumber keuangan non formal. 63 . Dari dana tersebut lebih kurang Rp 3.

Kredit Usaha Tani (KUT) dan yang terkhir adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). Kesulitan UMKM untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal menurut Muna (1989) merupakan simptom dari permasalahan yang ada dibelakangnya. yaitu ketidaksesuaian pendekatan pola dan prosedur lembaga perkrediatn formal dengan karakteristik dari sebagaian besar UMKM. dan pendekatan serta pola pelaksanaan program-program tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. sehingga penyebarannya dikalangan UMKM juga berbeda. khususnya pengusaha mikro dan pengusaha 64 .AGUSTUS 2009 : 62-87 II. antara lain kesulitan akses terhadap permodalan dan iklim usaha yang belum kondusif. Manfaat kajian adalah mendapatkan gambaran kongkrit tentang struktur permodalan usaha mikro dan kontribusi kredit program pemerintah dalam mendukung permodalan usaha mikro. TUJUAN DAN MANFAAT Kajian bertujuan untuk ini adalah: 1) Menginventarisir dan mengidentifikasi sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro. Jika di satu pihak UMKM menghadapi kesulitan mengakses permodalan padahal di pihak yang lain banyak indikasi dan sinyalemen antara lain yang dikemukakan oleh Hutagalung (2007) bahwa dana dari perbankan yang tersimpan pada Bank Indonesia sampai Agustus 2007 mencapai Rp 218 triliun. Kesemua program tersebut pada hakekatnya dilaksanakan secara sektoral melalui berbagai instansi yang terkait.1 Kerangka Konsepsional Belum membaiknya kondisi usaha UMKM karena adanya berbagai kendala yang sejak lama belum terpecahkan. Untuk mengatasi masalah kelangkaan modal di kalangan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil pemerintah telah melaksanakan berbagai program perkreditan sejak dari program Bimas. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Nasution (1999) mengemukakan adanya indikasi bahwa tujuan. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan usaha mikro.JURNAL VOLUME 4 . serta ada beberapa diantaranya memang ditujukan untuk mendukung keberhasilan program sektoral. Kredit Candak Kulak (KCK). Paradoks masalah antara demand dan suplay uang ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana peranan Bank Indonesia sebagai regulator pasar uang mampu mengalokasikan sumberdaya potensial tersebut secara optimal. III. Di sini dinyatakan bahwa permasalahannya terletak pada ketidaksinkronan antara aturan pasar uang dengan karakter UMKM. Dalam pelaksanaan program-program.

.197.-. Dengan demikian sangat banyak faktor yang menentukan besar kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan UMKM.sampai dengan Rp 9. Disamping kecilnya dana yang disalurkan banyak faktor lain yang menjadi kendala bagi UMKM untuk mendapatkan kredit program antara lain untuk: a) Tujuan pendekatan dan pola penyaluran. Dengan demikian untuk mengembangkan usahanya. Oleh sebab itu ada sebagian program yang menggunakan pola perguliran seperti program Kementerian Negara Koperasi dan UKM. jumlah dana yang telah disalurkan pemerintah dari berbagai program pemberdayaan UMKM relatif kecil atau baru lebih kurang 21. Tetapi dalam pola inipun ada satu faktor penting yang perlu dikaji yaitu mengenai pola perguliran termasuk sistem kelembagaannya.450.. Total keperluan dana untuk memberdayakan pengusaha mikro yang jumlahnya mencapai 49 juta unit usaha adalah sebesar Rp 184. Terkait dengan peranan perbankan dalam mendukung permodalan UMKM.755.700. lembaga non formal. Dengan kata lain mereka yang bermata pencaharian sebagai pengusaha mikro di luar sektor pertanian sangat jarang mendapatkan pinjaman dari bank Hasil kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi dan UKM tahun 2006 menginformasikan. 65 . bahwa modal yang diperlukan oleh usaha mikro untuk melaksanakan kegiatan usahanya berkisar antara Rp 326.81% merupakan modal sendiri dan sisanya berasal dari modal pinjaman. c) Ketepatan sasaran penyaluran dan. Sumber utama permodalan mereka adalah dari perorangan. Dari jumlah modal tersebut diketahui bahwa 12.118. b) Distribusi secara sektoral dan regional. atau kalangan keluarga dan tetangga.dengan rata-rata sebesar Rp 4. Memang program perkreditan dari pemerintah tidak ditujukan untuk dapat memenuhi semua kebutuhan UMKM.004 triliun.” Sebagian dari mereka mendapatkan pinjaman dari program pemerintah dalam jumlah terbatas dengan tujuan penggunaan yang umumnya dikaitkan dengan kepentingan pembangunan terutama di sektor pertanian. Sondakh dan Hafiz (1987) dari hasil penelitian tentang lembaga perkreditan pedesaan mengemukakan bahwa “sebagian besar pengusaha kecil jarang sekali berhubungan dengan bank. Dalam hal efektifitas penggunaan dana oleh peminjam disini juga harus diperhatikan apakah pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan produktif atau konsumtif.913. Soemardjan. Dibandingkan dengan besarnya kebutuhan dana untuk UMKM tersebut. Muna.2% dari kebutuhan. Akar permasalahan yang masih menjadi kendala bagi UMKM adalah kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal terutama perbankan. khususnya pengusaha mikro.. per unit usaha mikro diperlukan tambahan modal sebesar Rp 3.306.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) kecil. d) Unsur-unsur lain yang tidak terkait dengan kepentingan pemberdayaan UMKM.

2. Kinerja usaha UMKM IV. 13) Model Perguliran. Ruang lingkup Penelitian 4.1. 11)Prioritas Kepentingan. dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM.1. 10) Prioritas Daerah. maka yang dimaksud dengan UMKM dalam kajian ini adalah usaha mikro. Metoda Penelitian dan Teknik pengambilan Contoh Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan model pengambilan data stratified random sampling.1. 5) Pendistribusian Sektoral. 9) Prioritas Kegiatan usaha.1. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di tiga kabupaten contoh yaitu Kalimantan Barat. 14) Kinerja SDM UMKM. Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. 7) Ketepatan Sasaran. RUANG LINGKUP DAN METODA PENELITIAN 4. 4) Alokasi dana.2.2. 6) Pendistribusian Regional. Ruang Lingkup Substansi Oleh karena pengusaha mikro merupakan bagian terbesar UMKM. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro. 4. 4. Sedangkan analisis untuk penarikan kesimpulan dilakukan dengan model analisis deskriptif dan penggunaan model-model statistik sederhana 66 .2 Kerangka Analisis Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kontribusi kredit program terhadap permodalan UMKM yaitu: 1) Tujuan program.AGUSTUS 2009 : 62-87 3. 12) Kelembagaan Perguliran.JURNAL VOLUME 4 . 2) Pendekatan program 3) Pola Penyaluran. 8) Ketepatan Waktu Penyaluran. Ruang lingkup substansi penelitian adalah sebagai berikut: 1) Inventarisasi dan identifikasi permodalan UKM dan sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha serta kemudahan modal dari kalangan pengusaha mikro.1. Metoda Penelitian dan Analisis 4. Stratifikasi didasarkan pada keragaman jumlah dan jenis program perkreditan yang dilaksanakan di daerah contoh.

(%) (%) Rp (Rp rb) (%) (Rp rb) Sedangkan rata-rata jumlah modal yang diperlukan oleh pengusaha mikro adalah sebesar Rp 3.47  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah 823.24 awal.128 16.166 2)  2 3 4 5 6 24.33 UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46.89 0.1 Sumber-sumber Permodalan UMKM 5.28 22.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) V.00 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 426 358 310 1.20 10.978 8.882 2388 3.60 9.11 19.94 5.96 5.261 32.11 8.365 Persen (%) 4.08 11. Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Sumatera Barat No Sumber Modal Dari tabel 1 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : Kalimantan Nusa Tenggara 1) Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.00 568 245 520 2.389.527 Persen (%) 19.927 8.697 301 2. sehingga para pengusaha mikro tidak akan mampu 2.000. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS 5.947 5.26 65.68 26.882.739 100 69.27 2..128 30.312 Per sen (%) Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Barat Rata-rata usaha mikro yangBarat menggunakan modal sendiri Nilai di ketiga propinsi contoh relatif rendah yaitu Persen sebesar Persen Nilai Persen Nilai Persen (Rp rb) (%) 833.13 85.984 42.545 Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari 31.92 234.6% 73.46 8. Jumlah ini juga sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan tambahan modal Tabel 3.68 106. dari Kredit Program Kontribusi kredit program relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata pinjaman dari para pelepas uang yang Kredit Program Dari Kredit dari Jumlah Prediksi mencapai rata-rata Rp 1.Data 27.75 100.15 18.08% dari modal yang dibutuhkan.8 10.46 16.64 4.238 127.899 6.31 program pemerintah masih sangat kurang yaitu rata-rata baru Jumlah 61.93 8.934 Nusa Tenggara Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%) 14.00 Tabel 1.00 11.99 37.200 2. dengan rata-rata pinjaman Rata-rata sebesar Rp 409.per orang.atau 19.80 67 .141 Modal Sdri 461 Kred Prog 396 Perbankan Pelepas Uang 1.782jumlah UMKM..30 73.49 5.600 1. 2.45 19.807 20.000 atau 53. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Rata-rata Nilai (Rp rb) 833 409 325 1.14 26.297 100 11. Jumlah Usaha Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman yang diperlukan oleh mereka yaitu sebesar Rp 3.26 100.928 4.41 19.34 100.44 6.74 33.37%.1 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Mikro Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan sumber-sumber pinjaman usaha mikro dan serta besar kontribusi kredit program terhadap permodalan kelompok usaha mikro.58 9.05 4.297 2.229 3.114 586 Lainnya Jumlah 3.00 7.7 754.28 13.62 35.51 12.83 10.69 4.000.538 7.8 2.51 4.853 mengindikasikan rendahnya pemilikan modal 7.1.927 tersebut5.290 100 dari 100 69.3 811.17 100.028 14.378 Tabel 2 .37 6.56 57.95 berusaha tanpa adanya pinjaman modal.63 10.527.62 3.17 26.392 4.59 5. Kemeneg KUKM Instansi Sektoral No Propinsi Jumlah UMKM (ribu) UMKM (rb unit) 36.01 7..848 24.11 4.000. Tabel 1.884 753 3.00 No  2 3 4 5 1.20 53.527.805 27.143 48.834 23.07 4.64 11.48 83.002 21.00 Tda 5. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Sumber Modal Sumatera Barat Nilai Persen Rp rb % 34..49 16.815 37.000.

AGUSTUS 2009 : 62-87 3) Hal tersebut diatas sangat wajar.15% dari total modal kerja yang digunakan.815.atau hanya 27. Meningkatkan proporsi Meningkatkan proporsi pinjaman dari kalangan perbankan karena kelompok usaha ini tidak memiliki kemampuan memenuhi persyaratan lembaga keungan yang menerapkan ketentuan The five C of credit.61%. Pinjaman kepada UMKM yang bagian terbesar dari dunia usaha yang ada di Indonesia sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kredit perbankan untuk usaha besar yang pada tahun 2008 mencapai Rp 986 triliun. Sumber-sumber permodalan lainnya bagi kelompok pengusaha mikro adalah dari kalangan keluarga dan tetangga sebesar 6.1. mengingat jenis program yang dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintah relatif sangat banyak (mencapai 56 jenis). dan alokasi dana yang disediakan relatif kecil-kecil dibandingkan dengan kebutuhan usaha para pengusaha mikro yang jumlahnya sangat banyak (lebih kurang 49 juta unit usaha). Pinjaman modal dari kalangan perbankan pada kelompok ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha mikro yaitu mencapai 31.. Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari bantuan perkuatan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2) 3) 68 .JURNAL VOLUME 4 . tetapi proporsi modal sendiri ini sudah lebih baik dibandingkan dengan usaha mikro yang hanya sebesar 23.542 milyar belum sebanding dengan apa yang seharusnya diberikan oleh pemerintah.2 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Dari tabel 2 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : 1) Rata-rata modal sendiri usaha kecil di ketiga propinsi contoh relatif masih rendah yaitu hanya sebesar Rp 18. Sharing pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok usaha mikro sebesar Rp 39. 4) 5) 5.37%.000. sedangkan dari perorangan dan lembaga perkreditan non formal termasuk rentenir adalah sebesar 53.47%.75%.

No

Sumber Modal

Barat Nilai Persen Rp rb %

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb)

Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%)

833 8,46 568 14,51 426 34,28 1.141 Modal Sdri  Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM 409 8,96 245 12,20 358 13,64 461 Kred Prog 2 (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 325 5,30 520 10,56 310 11,74 396 Perbankan 3 4 5

19,08 11,60 9,20 53,37 1.882 73,45 57,83 2.884 1.697 33,00 Pelepas Uang 1.114 6,75 2388 19,17 753 10,26 301 7,34 586 Lainnya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang Jumlah 3.378 100,00 kepada usaha mikro. Hal 100,00 2.934 100,00 3.927 3.527 100,00 diberikan tersebut nampaknya

terkait dengan kecil pagu kredit per peminjam.

Tabel . Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Tabel 2 .2Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil
Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 1.807 20.028 14.166 61.290 Persen (%) 30,00 8,01 3,24 2,95 32,68 23,11 100 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 11.927 5.853 6.229 4.200 26.128 19.545 73.782 Persen (%) 16,17 7,93 8,44 5,69 35,41 26,49 100 Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) 26.128 4.538 2.978 Tda 19.261 16.834 69.739 Persen (%) 37,46 6,51 4,27 0,00 27,62 24,14 100 Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.815 4.899 4.928 2.002 21.805 16.848 69.297 Persen (%) 27,15 7,07 7,11 2,89 31,47 24,31 100 

2 3 4 5 6

Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Jumlah Rata-rata

4) Mikro dan pinjaman Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Usaha Kontribusi Usaha Kecildari perseorangan dan lembagadari Kredit Program lembaga kredit non formal. Kondisi ini mungkin dapat

No 

2 Kalbar 3 5.2 NTB Jumlah Jumlah 5.2.1 Rata-rata

dihubungkan dengan semakin baiknya kemampuan SDM Kredit Program Dari Kredit dari dilingkungan pengusaha kecil dalam membangun dan Jumlah Prediksi Kemeneg KUKM bisnis. Instansi Sektoral menjalankan strategi Jumlah Propinsi Per UMKM UMKM Persen UMKM Persen UMKM 5) Rendahnya peran pemerintah daerah dalam membangun sen (ribu) (rb unit) (%) (rb unit) (%) (rb usaha kemampuan permodalan usaha mikro dan unit) kecil, (%) terlihat sedikitnya kontribusi pinjaman modal dari pemerintah daerah untuk kelompok usaha ini. 5,62 83,26 10,11 823,7 36.984 4,49 46,28 Sumbar
4,64 85,92 10,58 811,8 48.238 5,94 37,68 UMKM yang mendapatkan Pinjaman Kredit Program 2.389,8 127.365 5,33 106.947 4,48 234.312 9,80 Jumlah Pengusaha Mikro Yang Mendapat Kredit Program 796,6 42.455 5,33 35.649 4,48 78.104 9,80 754,3 42.143 5,59 22,99 3,05 65,13 8,63

Jumlah usaha mikro dan usaha kecil di ketiga propinsi contoh yang mendapatkan kredit sebanyak 127.365 unit usaha, hanya 5,32% dari jumlah pengusaha mikro yang ada diketiga propinsi contoh sebanyak 2.389.800 unit. Disini terlihat bahwa bahwa kredit program belum banyak memberikan kesempatan bagi usaha mikro untuk mengembangkan permodalannya. Hal tersebut berdampak besar pada kondisi pasar uang ditingkat bawah yang semakin didominansi oleh lembaga kredit non formal dan perorangan, disebabkan oleh: 1). Jumlah dana untuk ketiga daerah contoh relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah usaha mikro yang mencapai 2.389.000 unit usaha

69

Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 2). 1.807 20.028 14.166 61.290 3). Persen (%)

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%) 

2 3 4 5 6

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 62-87
Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya

27,15 18.815 37,46 16,17 26.128 30,00 11.927 7,07 4.899 6,51 4.538 7,93 5.853 8,01 7,11 4.928 4,27 2.978 8,44 6.229 3,24 Distribusi kredit program Tda belum merata dan banyaknya 2,89 2.002 0,00 5,69 4.200 2,95 jenis kredit program menyebabkan adanya21.805 31,47 tumpang tindih 27,62 35,41 19.261 32,68 26.128 diantara 19.545 26,49tersebut 24,31 16.848 24,14 16.834 23,11 kredit-kredit 100 73.782 100 69.297 100 Penyaluran kredit 100 69.739 sektoral membuka peluang terjadinya kesalahan sasaran

Jumlah Rata-rata

Tabel 3. Jumlah Usaha Usaha dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Mikro Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan dari Kredit Kredit Pinjaman dariProgramProgram
Prediksi Jumlah UMKM (ribu) 823,7 754,3 811,8 2.389,8 796,6 Kredit Program Dari Kredit dari Kemeneg KUKM Instansi Sektoral UMKM (rb unit) 36.984 42.143 48.238 127.365 42.455 Persen (%) 4,49 5,59 5,94 5,33 5,33 Jumlah Per sen (%) 10,11 8,63 10,58 9,80 9,80

No

Propinsi

UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46,28 22,99 37,68 106.947 35.649 5,62 3,05 4,64 4,48 4,48 83,26 65,13 85,92 234.312 78.104 

2 3

Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata

Dari ketiga hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk memperbesar jumlah kredit program tidak saja diperlukan penambahan alokasi kredit tetapi yang lebih penting  adalah memperbaiki sistem distribusi dan mengkoordinasikan pemberian bantuan melalui satu lembaga yang secara khusus disesuaikan dengan karakter UMKM 5.2.2 Sumber-sumber Permodalan Pengusaha Mikro Tabel 4 memperlihatkan pinjaman usaha mikro dari perbankan, dan Lembaga Kredit Formal (LKF) dan sumbersumber perkreditan non formal, termasuk perseorangan baik, tetangga kerabat maupun pemilik modal atau pelepas uang. Hal-hal yang dapat dikemukakan dari tabel 4 yaitu: 1) Pelepas uang masih mendominasi sumber pinjaman bagi pengusaha mikro dengan pangsa kredit terhadap permodalan pengusaha mikro mencapai 34,45%. Dapat dikatakan bahwa para money leander ini masih menjadi andalan utama bagi pengusaha mikro dalam mendapatkan modal bagi kelanjutan usahanya. 2) Sebagian pengusaha mikro sudah mampu berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama BPR (10%)

70

Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih)

Pemerintah Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program Pemerintah
Sumatera Barat No Sumber Modal UKM (unit ) 4 5 6 3 18 9 9 6 60 Persen % 6,67 18,33 5,00 10,00 10,00 8,33 20,00 25,00 100,00 Kalimantan Barat UKM Persen (Unit % 2 7 8 9 22 2 6 4 60 3,33 11,67 13,33 23,33 23,33 1,66 15,00 11,66 100,00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 5 6 13 4 22 4 4 2 60 Persen (%) 8,33 15,00 10,00 13,33 31,67 10,00 11,67 8,33 100,00 Rata-rata UKM (unit ) 3,67 6,00 9,00 5,33 20,67 5,00 6,33 4,33 60 Persen (%) 6,11 10,00 15,00 8,88 34,45 8,33 11,67 7,22 100,00

Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program 

2 3 4 5 6 7 8

Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tdk meminjam Jumlah

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

dan bank umum sebanyak 6,11%, tetapi mereka lebih banyak bersandar pada kalangan kerabat (11,67%) 3) Sumber-sumber hanya memiliki kontribusi Tabel 5.Koperasi ternyataPermodalan Usaha Kecil sebesar 8,33% hal ini Kredit Program Pemerintah Diluar mungkin sedikitnya dukungan dari program-program kredit pemerintah yang diperuntukan bagi koperasi
Kalimantan Nusa Tenggara Rata-rata 4) Sumatera7,22% usahaBarat Hanya Barat mikro yang tidak memiliki pinjaman, Barat hal ini UKM mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan Sumber Modal Persen UKM Persen UKM Persen UKM Persen (unit ) mikro masih sangat besar. usaha % (Unit) % (unit ) (%) (unit) (%) Bank umum 1) BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata 11,65 2,33 10,00 2 10,00 2 15,00 3 Dikalangan pengusaha kecil dominansi pinjaman6,00 modal 30,00 dari 30,00 6 35,00 7 25,00 5 6,65 1,33 5,00  5,00  2 pelepas 10,00 mulai berkurang (tinggal 10%), dibandingkan uang 3,33 0.66 5,00  5,00  0,00 0 dengan pengusaha mikro yang mencapai 34,45%. Sumber 10,00 2,00 5,00  15,00 3 pinjaman bagi pengusaha kecil 2 adalah1,00 Bank Perkreditan 13,30 2,66 20,00 4 10,00 2 Rakyat 10,00 dengan pangsa kredit terhadap permodalan (BPR) 2 20,00 4,00 10,00 2 30,00 6 20,00 4 pengusaha kecil mencapai 30%, 2diikuti dengan pinjaman 5,00 1,00 10,00 0,00 0 5,00  dari kalangan kerabat yang mencapai 20%. 100,00 100,00 20 100,00 20 100,00 20 20

No  2 3 4 5 6 7 8

Dari tabel 5 terlihat bahwa:

2) Sample di tiga propinsi contoh Keterangan : Diolah dari data 60Pengusaha kecil sudah lebih

mampu berhubungan dengan bank komersial yang pangsa kreditnya terhadap permodalan usaha kecil mencapai 11,65%. Hal ini diduga karena kalangan usaha kecil lebih mampu dalam hal penyediaan agunan dan mengikuti prosedur bank umum atau bank komersial

71
2

17% dari jumlah sampel.00 0.33%.00 100.00 5.00 100.00 100. Hal ini mungkin disebabkan dana yang diperlukan oleh pengusaha kecil relatif lebih besar dibandingkan dengan pengusaha mikro sehingga koperasi tidak mampu menyediakan pinjaman untuk kelompok 2 ini.00 10. Sedangkan untuk usaha kecil lebih sedikit yaitu ratarata 5.00 5.00 13.00 5.00 Rata-rata UKM (unit) 2.2.00 5.00 Sumatera Barat No  2 3 4 5 6 7 8 Sumber Modal UKM (unit ) 3 5 2 0 3 2 4  20 Persen % 15. 5.00 Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh 3) Peran koperasi dalam mendukung permodalan kelompok pengusaha kecil ternyata sangat sedikt (3.00 30.00 2 60 8.00 100.8 Tdk meminjam Jumlah 6 60 25.00 5. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Tabel 5. Oleh sebab itu perlu perhatian yang lebih besar dari para stakeholder terutama pemerintah agar lebih banyak lagi melaksanakan programprogam pemberdayaan permodalan untuk kalangan pengusaha kecil.00 4 60 11.33 60 7.66 2.33 0. hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan usaha kecil juga masih sangat besar. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Diluar Kredit Program Pemerintah Diluar Kredit Program Pemerintah Kalimantan Barat UKM (Unit) 2 7    2 6 0 20 Persen % 10.00 15. 4) Hanya 5% usaha kecil yang tidak memiliki pinjaman.00 1.00 10.00 5.22 100.00 4.00 20 Persen (%) 11.30% dari jumlah sample.00 100. 72 .00 35.00 1.3 UMKM Yang Mendapatkan Pinjaman Program dan Pinjaman Pihak Lain Dari tabel 6 terlihat bahwa jumlah UMKM yang disamping mendapatkan pinjaman dari kredit program juga masih mengambil pinjaman dari tempat lain relatif banyak yaitu untuk usaha mikro 17 unit usaha atau 43.00 1.00 2.66 4.00 10.00 Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh JURNAL VOLUME 4 .33 6.00 20.00 5.00 6.00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 2 6   2 4 2 2 20 Persen (%) 10.00 25.00 30.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 5.66 100.33 10.00 10.00 20.33 100.30 20.00 0.00 10.65 30.65 3.67 unit atau 14.33%) dibandingkan dengan peran koperasi terhadap permodalan pengusaha mikro yang mencapai 8.

287 28.574 1.168 719 kebutuhan965 pinjaman bagi 1.782 73.33 Mikro 60 Sample Usaha Tabel 7.223 adanya perencanaan yang 632 dalam memperhitungkan baik 38.17 43.128 33.210 3.93 3.45 86. 49.342 18.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Tabel 6.33 40 17.342 18.3.897 47.620 108.782 69.09 digunakan 27.96 3. 3) 3.070 1.015dan usaha 38.13 1.85 10.18%) (3) (4) (5) (6) (6) 49.93 3.678 93.451 27.378.401 19.128 33.210 3.00 60.54 5.345 juta relatif(6) hampir sama (93. 3.67 mendapat pinjaman 14.09 yang 42.445 31.40 40 2 5.00 42.54 73 3 3 .62 3.739 69.620 108.54 68.00 60.035 279.445 24.021 52.772 mencukupi bagi kalangan tersebut untuk mampu memenuhi Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan kebutuhan modalnya Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Kurangnya pembinaan dalam penggunaan dana. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro 1) Jumlah pinjaman yang diterima dari kredit program belum Untuk Usaha Mikro Hal ini mengindikasikan bahwa: Propinsi Propinsi Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal per 2) Modal sebagian pinjaman yang tidak digunakan untukPersentase Ada tujuan sendiri Modal Modal per Persentase UKM (Rp rb) Nilai Persen Kecukupan sendiri Modal rb) tujuan Nilai Persen usaha UKM (Rp rb) (Rpproduktif atau Persen pengembangan tersedianmelainkan Nilai Nilai Persen Kecukupan (Rp rb) % (Rp rb) % (Rp rb) tersedian modal (%) (Rp modal (%) (Rp untuk tujuan lain rb) konsumtif rb) % (Rp atau % digunakanrb) (Rp rb) 3.207 36.57 965 1.54 10.45 31.223 39.69 1.068 29.487 1.23 11.39 3.070 1.30 Sample40 5.02 28.168 719 86.378. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi Propinsi (1) (1) Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Modal Modal (Rp rb) (Rp rb) (2) (2) 61.50 43.268 93.50 40 7 17.45 1.182 47.516 21.40 32.408 80. UMKMYang Mendapat Kredit Program Tabel 6.273 68.897 mereka hampir mencapai titik optimal.268 kecil.223 98.02 32.48 21.772 3.223 31.13 1.1 Struktur Permodalan.59 64.70 1.021 52.51 60.40 40 2 5.345 93.00 27.00 40 8 20.035 279. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Tabel 8.253 42.298 73.39 42.70 44.50 27.02 1.18 Modal Kecukupan Modal usaha mikro Tabel 8.62 3.90 120 17 42.00 40 8 20. serta tidak 98.90 120 17 42.015 1.13% yang bersumber dari modal 68.50 129.467 3.345 93.205 88.70 mikro kalangan usaha 3.69 1.85 26. UMKM Yang Mendapat Kredit Program Tabel 6.57 1.51 64.516 2) Dari 39.182 42.865 32.068 29.678 31.205 88.45 sejumlah modal 45. hanya rata-rata 36.54 dengan kebutuhan modal usaha mikro sehingga skala usaha mikro.50 129. Kontribusi Kredit Program dan Kecukupan 3.40 32.865 21. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Tabel 7. UMKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain Pinjaman Dari Tempat Lain dan Pinjaman Dari Tempat Lain UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Mikro Usaha Kecil Mikro Usaha Kecil Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase (Unit) (%) sample unit usaha (%) (Unit) (%) sample unit usaha (%) 42.18 3. 3.298 61.17 dan 30 usaha kecil yang No No Propinsi Propinsi Jumlah Jumlah Sample Sample Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata dari Keterangan : Diolah   2 2 3 3 Keterangan : Diolah dari Program Usaha Mikro dan 30 Sample usaha kecil yang mendapat pinjaman dari Kredit 60 Sample dari Kredit Program 40 17 40 17 40 24 40 24 40  40  120 52 120 52 40 17.23 11.3 Struktur Permodalan.207 36.85 10.600 35.600 35.67 14.30 40 5.65 3.02 1.85 26.253 28. Kontribusi kredit Program dan Dari hasil temuan lapang seperti diperlihatkan pada Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman Modal sendiri Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman tabel 7 dapat dikemukakan lain Pihak beberapa hal sebagai berikut: modal Dari program Modal sendiri Pihak lain modal Dari program Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen tase Nilai Persen Nilai digunakan Nilai tersedia oleh % Persen 1) rb) atau usaha (Rp Rata-rata modal yang % (Rp rb) % Rp rb Persen tase % (7) = 6/2 x 100 (Rp rb) % (Rp rb) % Rp rb (3) (4) (5) (6) (7) = 6/2 x 100 mikro sebesar Rp 3.39 46.487 1.467 3.39 3.54 pengusaha oleh 60.401 19.408 46.70 632 44.451 45.927 3.59 80.739 68.96 3.927 10.50 40 7 17.65 24.574 1.48 21.273 5.287 28.

273 juta sedangkan rata-rata modal sendiri yang dimilikinya sebesar Rp.70 88.13 Pinjaman dari Pihak lain Nilai (Rp jt) 632 1.85 29.69 24.772 3.268 3. b) Mempertahankan eksistensi para pelepas uang dalam usaha dan kehidupan para pengusaha mikro serta.035 3. 68.068 juta (29.487 1.205 1.223 719 1.620 1.18 Propinsi Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata 3. Tabel 7.378.678 10.54 93. 3.JURNAL VOLUME 4 .210 1. Hal ini seharusnya mendapat perhatian karena biaya hidup sebelum produksi di kalangan UMKM dapat dikelompokan sebagai biaya produksi karena UMKM sebagian besar (79.574 1.AGUSTUS 2009 : 62-87 pinjaman kredit program sedangkan sisanya berasal dari modal sendiri (rata-rata 29.39 36. b) Belum adanya pemikiran untuk menjadikan biaya hidup sebelum produksi sebagai salah satu unsur dalam mengkalkulasi kebutuhan kredit para pengusaha mikro.62%).015 3. c) Menyebabkan penggunaaan pinjaman sulit diawasi.3.84%) menggunakan tenaga kerja keluarga.068 Persen % 18.70 38.02 33.93 86.62 Modal tersedia dan Kecukupan modal Persentase Modal Kecukupan tersedian modal (%) (Rp jt) 3.927 10.128 1.445 3.467 3. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro Kebutuhaan Modal per UKM (Rp jt) Modal sendiri (Rp jt) Pinjaman kredit Program Nilai (Rp jt) 1.65 279.96 93.070 3) Besarnya pinjaman dari pihak-pihak lain dikhawatirkan akan berdampak pada: a) Mengganggu kelancaran pengembalian kredit program.45 31.93%) dan pinjaman dari sumbersumber lain rata-rata-rata sebesar Rp 1. 4) Rendahnya kontribusi pinjaman program pemerintah dalam struktur permodalan pengusaha mikro diduga disebabkan oleh: a) Perencanaan yang bersifat sektoral dan terpusat.342 3. 21. 5.168 965 3.207 Persen % 44.345 98.865 juta sehingga untuk 74 .2 Struktur permodalan dan Kecukupan Permodalan Usaha Kecil Dari tabel 8 dapat dikemukakan bahwa: 1) Rata-rata modal yang digunakan oleh usaha mikro sebesar Rp.57 108.

287 31. 2) Dengan adanya bantuan program perkuatan.39 Kebutuhan pinjaman modal Dari program Nilai Persen tase % Rp jt (7) = 6/2 x 100 (6) 49.516 21.086 juta (25.298 73.739 68.182 27. rata-rata aset UMKM meningkat sebesar Rp.48 39. 17. 46.92%) menjadi rata-rata Rp.54 3) Dengan meningkatnya skala usaha diharapkan efisiensi produksi akan terjadi dan para pengusaha mikro mendapatkan laba yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan PDB.253 52. dapat ditutupi dengan meminjam dari berbagai pihak terutama para pelepas uang. dengan rata-rata pemilikan aset sebelum menerima bantuan perkuatan sebesar Rp. 13. 28. 46. Tabel 8.408 juta rupiah. Keperluan ini sebagian (rata-rata Rp. 3.600 42.865 Persen % (4) 19. 2) Skala usaha usaha kecil pada umumnya belum mencapai titik break event point (titik impas) sehingga untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi kalangan usaha ini perlu dibantu dengan memberikan pinjaman agar tercapai break event point yaitu rata-rata sebesar Rp.09 42.253 juta).51 60.4. 75 .29 juta.02 Pinjaman dari Pihak lain Persen Nilai (Rp jt) % (6) (5) 32. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi (1) Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata Modal (Rp juta) (2) 61.4 Dampak Kredit Program 5.782 69.45 32.40 35.85 45.408 juta.451 28.408 80.59 64. 5.76 juta.021 21.1 Dampak Kredit Program terhadap kondisi dan Kinerja Bisnis UMKM Dari data pada tabel 9 dapat dikemukakan: 1) Rata-rata UMKM contoh tergolong dalam kelompok usaha mikro.401 47.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) mencapai break event point usahanya diperkirakan masih memerlukan tambahan modal sebesar Rp.54 68.897 26. Peningkatan ini merupakan pengaruh langsung dari adanya pinjaman dari program perkuatan.23 28.223 46.273 Modal sendiri Nilai (Rp jt) (3) 11.

78 70.24 26. jt) Per tahun (Rp jt) (Rp No Propinsi Selisih Selisih Sebelum Tabel 10.53 15.72 58.18 2.AGUSTUS 2009 : 62-87 yang terutama digunakan untuk modal kerja.90 (Rp Jt) (%) 12.28 207.30 12.28 47.71 10.73 175.81 11. Kinerja UKM Berbantuan (yang(yangSebelum bantuan) Dari Aspek Sesudah Persen Tabel 10. Tabel 9.61 25.05 51.58 6. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) rata-rata sebesar Rp. b) Sebagian peminjam lainnya mempersiapkan kelebihan laba yang diperoleh untuk digunakan membayar pinjaman dari program perkuatan walaupun mungkin belum jatuh tempo.00 1.25 32.45 (Jam) 11.61 69.00 57.04 45.84 (%)1.47 39.10 Rp Jt (%) Tabel 10.54 7.33%.68 25.58 9.66 14.98 11.25 Rata-rata Laba3. Dengan perkataan lain peminjam belum mampu menginvestasikan sebagian laba yang diperoleh untuk menambah aset dalam bentuk investasi.88 Sesudah 77.41 14.45 12.61 Persen 10.14 Sebelum 30.083 55.78 Pertambahan 41.55 9.49 Per Rata-rata Peningkatan Produksi18.74 Rata-rata Pertambahan23.8 Sebelum Sesudah Nilai Persen 7.5307.48 14.76 17.80 11.04 10.17 11.76 Rata-rata Peningkatan Produksi 16.83 3) bertambah 29.30 juta 58.10 47.18 per 9.73 Sesudah 6.12 15.68 Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp ) (%) Tabel 11.19 32.94 59.58 9. Aset.99 8.35 33.083 55.10 11. 41.61 4.61 25.55 11.49 13.53 14.24 juta.82 18.05 12.58tahun9.29 25.02 18.53 23.17 25. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima 16. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuanJt) 9.80 3.55 Selisih 21.05 (Jam) (%) 146.80 (Jam) 26.33(%)  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Tabel 9.54 8.41Dari adanya bantuan perkuatan modal UMKM 69.79 1.82 11.JURNAL VOLUME 4 . Kinerja UKM Nilai Berbantuan menerima Sesudah Nilai Persen menerima bantuan) dan (Rp Jt) Rp Jt (%) DariVolume UsahaUsahaLaba Aspek Volume (%) dan Laba  Sumbar 2 Kalbar 3 NTB No Propinsi Jumlah Rataan  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Jumlah Propinsi Rataan 59.30 Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Pertambahan 175.66 5.20 Per (Rp 45.18 5.25 8. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan No Propinsi Rata-rata Pertambahan Total Asset Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Per tahun Sebelum Sesudah Pertambahan Pertambahan Sebelum Sesudah (Rp jt) (Rp Jt) (%) (%) 18.03 Rata-rata Jam Kerja6.14 30.82 Sebelum Sesudah Nilai 9.88 77.05 75.38 Persen 47.24 167.05rata-rata sebesar Rp.04 10. 47.09 45.31 25.92(%) (Rp 13.38 Selisih 25.47 39.19 bantuan )3.90 6.24 11.53 Hari 14.24  2 3 13.78 70.80 7.81 11.76 57. Tambahan modal ini relatif belum mencukupi Tabel 11. 6.03 9.82 8.94 tahun 16.24 11.14 Sebelum 167.29 Jt) 25.90 10.82 atau11.80 7.41 45.92 6.15 28.97 Sesudah Nilai 19.12 Asset Total 18.78 20.18 36.05 Per tahun Sebelum 51.49 13.02 Rata-rata Omset Usaha18.17 jt) 25.05 51. Hal ini dapat diterangkan dari dua sebab yaitu: a) Para penerima pinjaman sebagian besar sudah mendapatkan pinjaman dari dari pihak ketiga sehingga sebagian laba dipergunakan untuk menutupi pinjaman tersebut.97 58. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan 20.27 (Rp Jt) (%) 76 2 Sumbar Kalbar NTB 3 No Propinsi Jumlah Rataan  .05 Rata-rata Jam Kerja Per Hari 13.98 11.41 14. Aset.18 11.74 18.05 75.71 10. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan Tabel 9.83 29.49 Selisih 141.54 dari yaitu 10.32 0.99 8.07 6.50 2.24 58.56 (Rp jt) 2.30 Selisih 19.17 5.41 45.29 (Rp jt) 17.50 1.09 69.00 58.56 2.54 8. Aset.14 31.60 1.18 2.29Dari Aspek Volume Usaha dan Laba 51.70 Selisih 31.00 8.30 Sebelum Sesudah Nilai Persen 10.62 15.72 (%) 141.21 5.61 11.48 14.20 9.45 36.31 25.65 34.09 Selisih 31.33 untuk Omset Usaha UMKM yang tahun Rata-rata menutup kebutuhan modal Rata-rata Laba per selama ini sebagian berasal dari pinjaman pihak ketiga.71 juta menjadi rata-rata sebesar Rp.55 13.28 8. 3.80 18.79 1.

10%).99 juta. merupakan derivasi 77 . yaitu dari 10. meningkatnya modal UMKM juga mempengaruhi pertambahan laba yang diterima UMKM.49 juta. tabel 11 memperlihatkan dampak pemberian bantuan perkuatan modal terhadap perubahan kinerja UMKM. menjadi Rp 13. sehingga belum mencukupi bagi UMKM untuk dapat mencapai skala ekonomi (ecomic of scale).23%.55 jam menjadi 11. atau bertambah Rp 2.90 juta (19.23%. Dari tabel 11 dapat dikemukakan bahwa: 1) Peningkatan etos kerja yang diindikasikan dari pertambahan jam kerja UMKM memperlihatkan adanya tambahan sebesar 1. baik di pasar input (pengadaan bahan baku) maupun di pasar output-nya (pemasaran produknya). 3) Dengan memperhatikan pertambahan omset dan laba.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Dari tabel 10 dapat dikemukakan: 1) Sejalan dengan adanya pertambahan modal. Selain dampak perkuatan terhadap tiga aspek bisnis UMMK di atas.083 juta.18 juta per tahun. Persentase pertambahan laba ini juga masih lebih kecil dibandingkan dengan persentase pertambahan modal yang mencapai 51.05 jam per hari. 4) Dari kondisi pada butir 1 sampai dengan butir 3 di atas dapat dikemukakan bahwa pinjaman yang diberikan jumlahnya relatif kecil. dari aspek peningkatan etos kerja dan peningkatan produksi UMKM. Laba UMKM meningkat dari rata-rata Rp 10. 2) Selain mempengaruhi pertambahan omset usaha. menjadi Rp 55. Dalam hal ini etos kerja. Pertambahan ini nampaknya masih lebih kecil dari tambahan modal yang diterima UMKM yang rata-rata mencapai 51. sehingga meningkatnya laba tidak lebih besar dari peningkatan modal. atau rata-rata bertambah sebesar Rp 8.60 jam.68 juta (25. omset UMKM juga meningkat dari rata-rata Rp 47.38%). belum terlihat adanya indikasi bahwa pertambahan modal telah dapat menekan biaya produksi misalnya bahan baku. Disamping itu pertambahan modal juga belum mampu meningkatkan bargaining UKM dalam pasar. yang memungkinkan terjadinya peningkatan efisiensi produksi.

38 10.60 1. Dampak program perkuatan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja 1) Rata-rata jumlah tenaga kerja poduktif (umur antara 17 sampai dengan 60 tahun) yang ada di 3 (tiga) Propinsi contoh cukup besar yaitu mencapai 412.09 146.21 8.18 2.15 1.97 26.895 orang atau 10.41 45.35 7.07 15.81 11.046 orang.28 5.00 6.90 19. Pengembangan etos kerja juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.62 11. UMKM harus diarahkan agar mampu pengembangan etos kerja.03 arah 9.90 8.24 47. yang akan mendorong semangat kewirausahaan.10 13.79 1.58 kondisi peningkatan etos kerja. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Tabel 11.56 2.49 13.2 Dampak Kredit Program Terhadap Perekonomian Daerah 1.61 5.17 12.083 Hasil pengamatan lapang memperlihatkan adanya indikasi 70.98 11.00 16.AGUSTUS 2009 : 62-87 Dari Aspek Volume Usaha dan Laba Rata-rata Omset Usaha Rata-rata Laba per tahun Per tahun (Rp jt) (Rp jt) dari keberhasilan usaha seseorang dan kepentingan orang Selisih Selisih Sebelum tersebut untuk mendapatkan prestasi yang secara langsung Sesudah Sebelum Sesudah Nilai Persen Nilai Persen maupun tidak langsung mempengaruhi kesejahteraannya.78 36.24 11.20 9.50 207. seberapa25.58 6.31 51.32 28. 78 .02 18.30 45.47 39.55 21.19 3.05 11.25 16.68 25.80 18.76 11.82 9.14 31.41 1.05 141.99 8.27 No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3) Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menyebabkan timbulnya permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan program ini.30 55. dimana sebanyak 325.70 31.17 14. adalah para pencari kerja yang diharapkan dapat terserap dengan meningkatnya aktifitas usaha dari kelompok UMKM.04 4. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) JURNAL VOLUME 4 .8 69.53 9. 4 5.45 12.05 75. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Rata-rata Jam Kerja Per Hari Rata-rata Peningkatan Produksi (Jam) (%) Selisih Selisih Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp Jt) (%) 11. Dari jumlah tersebut sebanyak 52.18 ke45.65 10.80 2.55 12.Tabel 10.05 1.09 dan sebatas mana 14.80 11.25 34.55 0.10 Tabel 11.55 3. (Rp Jt) (%) Rp Jt (%) No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 2) 59.84 6. diantaranya adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha (bekerja) dalam kelompok UMKM.97%.45 9. 8.05 9.49 kerja dapat dikembangkan sangat etos 167.17 jauh 25.54 tergantung pada pola pelaksanaan program.352 orang (78.61 33.06%).94 32.50 13.4.72 58.

71 0.45 Rata-rata Peningtan5.64 Penyalur UMKM 65.873 611.33 10.97 3.411 94.08 kontribusi 44.968 7.58 10.00 Rata-rata 412. DampakDari tabel 13 dapat dikemukakanKoperasi Program Perkuatan terhadap Kinerja beberapa 1.352 Kerja Rata-rata 412.44 4.18 2.85 147.9 143.99 1. Jumlah Tenagakerja dan Kinerja UMKM Berbantuan 12.9 Perkuatan 35.44 176.05 5.4 10.07 79  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan .510 472.420 674.224 NTB Tabel 14.765 Terhadap PDB (Rp 0.61 Terhadaptersedia.72 3.72 Sesudah 3.41 3.2 7.31 5.411 94.82 Sebelum 7.154 421.47 3. 3.895 325.9 Rp Juta Rp jt 111.08 1.74 1.742 32.528 NTB dalam Menyumbang PDB Jumlah 1.186 2.057 22.93 2.88 4.186 9.236.54 1.895 7.87 0.32 20.30 1.35 3.7 310.613 1.00 (%) (Org) Propinsi *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.05 3.5 26 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan178.1 SHU 76Jlh 31.69 1.48 8.904 202.93 1.44 Kalbar Program terhadap (Product Regional Domestic Bruto) serta 6.1 36 161.49 76 31.677 176.9 Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) Sesudah *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Peningk.67 3.49 Nilai Persen 27.510 472.866 (miliar) 144.1 103.904 31.700 263.38 7.81 Sebelum 3.057 Tenaga 158.8 13.843 Sumbar UMKM31.82 7.88 144.98 0.3 374.90 miliar) 64.92 0.75 1.85 Tenaga 147.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 2) Rata-rata pertambahan tenaga kerja UMKM setelah mendapat bantuan pinjaman modal dari program perkuatan adalah sebesar 0.14 Modal 9.870 1.38 berikut: 3.659 202.455 1.652 326.65 6.35 20.97 3.43 11.07 Peningk.76 11.8 Kop luran Rp juta 327.45 3.45 3.455 1.18 2.93 1.78 Sebelum 6.90 1.652 326.420 674.32 11.686 976. Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan (yang menerima bantuan) ) di Lima Propinsi Contoh (yang menerima bantuan di Lima Propinsi Contoh Jumlah Tenaga Kerja dan Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di UMKM di Kabupaten Contoh ( Orang) kabupaten Contoh (Orang) UMKM Tambahan Pencari Tenaga Sesudah UMKM berbantuan Sebelum Tenaga Persen Kerja Kerja Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan Tabel 12.50 tambah tase 92.89 Peningk.1 327.67 3.15 7.21 23.89 11.61 (Org) (org) Kerja 49. Sebelum Peningk.3 161.20 3.659 di Kabupaten Contoh ( Orang) 6.180 14 0.839 3.56 4.61 orang per UKM.48 23.769 Kalbar 5.769 2.02 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang 49.866 434.89 Tabel 14.90 Sebelum 5.3 429.18 hal sebagai 1.98 1.02 Persen 1.473 224. maka dapat diprediksikan jumlah pengangguran yang mampu diserap oleh UMKM baru sebanyak 4.7 patan 103.609 4.52 1.046 52.89 11.47 4.968 7.74 1.89 8.4 10.89 11.41 3.88 1.97 3.046 Perkiraan Sumbangan UMKM 52.41 10.56 9.18 Peningk. Tabel Tabel 12. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Jumlah 27.877 Sumbar 429.93 1.8 983.30 1.31 4. Dengan memperhitungkan jumlah UMKM yang mendapatkan bantuan per propinsi sebanyak 7613 orang.3 No Propinsi PDRB Nilai Persen Jlh Penya Biaya Penda SHU *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006  2 3 No Propinsi Rata-rata Peningkatan Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) Simpanan Anggota /tahun (%) *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Sebelum Sesudah Peningk.540 268.81 4.12 3.3 35.43 2.54 2.88 Sesudah 3.32 8.64 2.877 Perkiraan Sumbangan2.528 NTB UMKM Propinsi Pencari 976.90 5.99 Sesudah 1.20 4.742 32.90 4.843 Sumbar Tabel 13.644 orang atau 8.613 (unit) (unit) (Org) (Org) *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.140 berbantuan UMKM 22. (unit) (Org) (org) (unit) Kerja (%) (Org) (Org)(yang menerima bantuan ) di Lima Propinsi Contoh (Org) 36.14 4.700 263.1 36 172.56 6.839 Kerja 325.224 PDRB 434. termasuk penganggur Total Pendapatan Kotor Daerah (Product Regional Domestic Bruto) (miliar) tambah tase Kop luran Rp juta Tabel 13.48 3.15 11.7 143. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Jumlah Tenaga Kerja dan 10.32 3.71 0.44 7. termasuk penganggur 36.8 13.45 9.97 Rata-rata Peningkatan Anggota /tahun (%) 1.33 2.01 UMKM 197.33 2.352 7.92 0.91 7.5 26 197.41 Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di kabupaten Contoh (Orang) 44.870 1.20 3.56 8.01 9. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan patan Daerah Kotor Kop UMKM (%) Rp Juta Rp jt serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur (Product Regional Domestic Bruto) serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan 172.473 224.7 Rataan 92.12 Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) 4.76 Koperasi Per tahun(%) 11.88 UMKM (%) 111.2 7.154 421.21 3.609 4.50 25.58 10. Sebelum Sesudah 374.88 6. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan Kotor Daerah 1.686 Jumlah 1.78% dari jumlah penganggur yang ada di ke tiga propinsi contoh.140 158.69 Tambahan 1.765 Kalbar 178.44 0.540 268.236.52 1.180 14 Penya Biaya 983.677 Koperasi 0. 3.  2 3 Sumbar Kalbar NTB No Jumlah Propinsi Rataan 3.873 611.90 64.48Simpanan4.44 65.33 10. Dampak Kredit Jumlah dan Kinerja 2.1 Penda 310. 2.87 0.3 Kop 25.91 3.75 Sesudah 1.20 0.78 4. termasuk penganggurmenyalurkan bantuan Perkuatan PDB (Rp miliar) *) Tenaga kerja usia produktif yang Tabel 13.65 9.

83% atau meningkat 23.83 dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 yang diperkirakan 48%.342 orang) UMKM sudah mendapat bantuan perkuatan maka diprediksikan sumbangan UMKM akan mencapai 71. 2) Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh UMKM merupakan kegiatan spesifik daerah yang tidak lagi memberikan imbasan yang signifikan terhadap kegiatan usaha yang ada dibelakangnya (back word efect). Unsur ini jelas didorong oleh adanya program perkreditan yang memang angat dibutuhkan oleh masyarakat.3 Dampak Kredit Koperasi Perkuatan Terhadap Pembangunan Dari tabel 14 terlihat bahwa terlihat bahwa: 1) Rata-rata jumlah anggota koperasi mengalami kenaikan dari rata-rata 3. 928.82% pada lima tahun sebelumnya menjadi 7. 5.89%.870 juta (1. Seandainya semua (308.46%). Kondisi yang demikian nampaknya cukup wajar karena jumlah UMKM yang menerima bantuan.72% pada tahun 2007.4. dibandingkan dengan rata-rata PDRB daerah yang mencapai Rp. dan tidak dengan memperhitungkan dampak kegiatan yang dilaksanakannya.AGUSTUS 2009 : 62-87 1) Dengan asumsi sebagian (50%) UMKM yang mendapat bantuan perkuatan bekerja pada kegiatan usaha produktif. 144.JURNAL VOLUME 4 . Dari sini terlihat adanya dampak positif dari pelaksanaan program perkuatan dalam mendorong pertumbuhan jumlah anggota sebanyak 3. atau tidak mengalami tambahan yang signifikan. maka sumbangan usaha mikro terhadap PDRB tidak berubah banyak.8 miliar per kabupaten. Dengan perkataan lain masyarakat ingin menjadi anggota koperasi karena adanya 80 . juga relatif masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang berada dimasing masing lokasi tersebut. maupun di depannya (fore Word efect). Hal ini dapat dijelaskan dengan memperhatikan bahwa pertambahan jumlah PDRB yang berasal dari adanya UMKM yang mendapat bantuan perkuatan per kabupaten relatif kecil yaitu sebesar Rp. Kenaikan jumlah anggota yang cukup signifikan ini mengindikasikasikan adanya ketertarikan masyarakat untuk menjadi anggota koperasi. Kondisi ini dikarenakan usaha-usaha tersebut sudah ada sebelumnya dan pertambahan jumlah kebutuhan maupun produk yang dihasilkan oleh UKM yang mendapat bantuan perkuatan relatif masih kecil.

89 Sebelum 2.56 8.44 4.12 3.540 268.186 2. atau meningkat sebesar 1. sehingga adanya bantuan perkuatan tidak lagi mempengaruhi besar simpanan yang dapat dikumpulkan.8 983.3 374. 81 .2 7.65 6.88 327.97 3.4 10. 1.54 1. Hal ini 1. Lebih lanjut pada tabel 15 diperlihatkan dampak pelaksanaan program perkuatan terhadap volume usaha dan SHU koperasi.88%.93 1.01 9.866 76 310. menjadi 3.455 1.89 11.15 7.1perkuatan.45 9.76 11.473 224.18 2. Sedangkan pengaruh dari pelaksanaan program terhadap kenaikan modal sendiri relatif sangat sedikit dibandingkan dengan total modal koperasi dalam yang dimiliki koperasi.98 1. Hal tersebut disebabkan adanya tambahan modal luar yang melonjak dari pinjaman modal program perkuatan.21 23.41 3.81 Sesudah 4.38 7.91 3.20 3.7 *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat pada bantuan permodalan cukup besar.968 7. 3) Modal koperasi meningkat dari rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 3.88 Peningk.56 9.43 2.99% sesudah dilaksanakannya program perkuatan.609 4. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) No Propinsi Sebelum  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3.67 3. Tabel 14.88 6.58 111. Kejadian ini mungkin disebabkan sebelumnya memang partisipasi anggota dalam membayar simpanan sudah tinggi. yang mencapai 23%.81% selama 4 tahun sebelum program perkuatan dilaksanakan.8 13.35 3.32 20.82 Sesudah 7.50 bukan motivasi 103.89 11.700 263.99 Peningk.18 Sebelum 3.14 4.765 35.420 674.90 4.3 429.180 14 0. 1.49 untuk mendapatkan 31.20 0. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Tabel 14.31 5.78 Sesudah 4.18%.33 10.877 Sumbar  2 3 Kalbar NTB Jumlah Rataan Perkiraan Sumbangan UMKM Terhadap PDB (Rp miliar) PDRB Nilai Persen (miliar) tambah tase UMKM (%) Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan Perkuatan Jlh Penya Biaya Penda SHU Kop luran Rp juta patan Kop Rp Juta Rp jt 161.07 Rata-rata Peningkatan Simpanan Anggota /tahun (%) Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) 2) Sejalan dengan peningkatan jumlah anggota juga terjadi kenaikan simpanan anggota dari rata-rata 2.9 yang ideal.3 92. atau naik sebanyak 1.97 3. Dibandingkan dengan tambahan modal luar yang bersumber dari program perkuatan nampaknya tambahan modal koperasi yang bersumber dari SHU pelaksanaan program perkuatan pengaruhnya belum signifikan.45 3.870memang 25. 3.78% pertahun menjadi rata-rata 4.48 3.10%.No Propinsi Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 172.9 143. Peningkatan jumlahnya 5 simpanan ini terlihat belum sejalan dengan pengingkatan rata-rata jumlah anggota yang mendapat bantuan perkuatan.48 8.32 11.7 178.5 26 197.1 36 10. bantuan kredit 27.224 harapan 434.90 64.1 Motivasi144.47 4.33 2.72 Peningk.

34 Rata-rata Peningkatan Sisa Hasil Usaha per tahun (%) Sebelu Sesudah Peningk.47 0. Dengan kata lain program perkuatan belum memberikan dampak ikutan bagi kegiatan koperasi diluar kegiatan program itu sendiri. 2) Rata-rata Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi meningkat sebesar 0.42 3.40 6.76 3. atau meningkat sebesar 2.24 5.04 2.74 2.40 pertahun pada lima tahun sebelumnya.59 17.74% sesudah menyalurkan program perkuatan.76 3.03 2.JURNAL VOLUME 4 . 2. 4.33% menjadi 3.14 6.11 2.99 2.81 3.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 15.14 0. Sama seperti peningkatan volume usaha.34 10.87 5. Hal ini menunjukan bahwa koperasi belum mampu mengembangkan kegiatan yang diperlukan anggotanya. Dengan demikian terlihat bahwa koperasi 82 .45 juta. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi No Propinsi Rata-rata Peningkatan Volume Usaha per tahun (%) Sebelum Sesudah Peningk. yang berkaitan dengan adanya program perkuatan tersebut. rata-rata koperasi memperoleh SHU sebesar Rp 8.89 2.34%.43 0. 3) Dari kegiatan melaksanakan penyaluran kredit perkuatan.02 1. seperti penyediaan bahan baku produksi.81%. menjadi 5. Dengan biaya operasional riil yang ternyata masih lebih kecil dari yang didapatkannya tersebut.21 3.18 9.78 4.25 7.92 1. Peningkatan ini nampaknya merupakan pengaruh langsung dari pelaksanaan kegiatan penyaluran program bantuan perkuatan saja.96 1.81  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Dari tabel 15 terlihat bahwa: 1) Rata-rata volume usaha koperasi mengalami peningkatan dari rata-rata 3. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Tabel 15. bila dibandingkan dengan peningkatan SHU pada lima tahun sebelumnya yaitu dari rata-rata 2.33 3.43 2. koperasi memperoleh bagian biaya operasional sebesar 4% dari dana yang disalurkan. transportasi dan pemasaran hasil produksi anggotanya. peningkatan SHU ini juga murni sebagai sumbangan dari pelaksanaan program perkuatan dan tidak terlihat dampak dari adanya kegiatan pengembangandari pelaksanaan kegiatan penyaluran program.14%.

.000. maka bagian koperasi yang menjadi SHU belum signifikan dengan total SHU koperasi. 83 .yang terendah adalah untuk mereka yang berusaha di sektor informal dan perdagangan eceran sebesar Rp 1.05% dari jumlah UMKM khususnya pengusaha mikro. sehingga idealnya program-program perkreditan dari pemerintah selama 7 tahun terakhir sudah menjangkau 23.60%. Rata-rata tambahan modal yang diperlukan oleh kalangan pengusaha mikro dan pengusaha kecil adalah sebesar Rp. VI.55 triliun.-. 2. 3. Kondisi ini masih menunjukkan peranan yang dominan dari para pelepas uang dan pemilik modal dalam mendukung kelangsungan usaha para pengusaha mikro.dan yang tertinggi adalah untuk mereka yang berusaha di sektor pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp.75% bersumber dari kalangan keluarga dan tetangga.05% dari kebutuhan modal UMKM. 4) Hal lain yang juga dapat dicatat bahwa jumlah dana yang telah dikembalikan dari peminjam ada yang belum dapat digulirkan lagi oleh koperasi. 171. PENUTUP 1. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh: 1) Sebagian dana program pemerintah memang diberikan dalam bentuk pinjaman (kredit sesuai dengan pengertian kredit dan ensiklopedia Indonesia) sebagian lagi dalam bentuk subsidi atau hibah. 56. dan 3) Deviasi sampel.60% dari pinjaman program pemerintah.75% oleh modal sendiri.. Tetapi karena jumlah dana yang disalurkan masih relatif kecil.876. Dengan demikian dana yang diperlukan untuk memberdayakan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil. Struktur permodalan usaha mikro dibangun 15. 22. 9. diperkirakan mencapai Rp.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) juga memperoleh dampak positif dari kegiatan ini. 2) Ada kesalahan sasaran dalam penyaluran kredit.783.574. Adanya perbedaan antara persentase kebutuhan pinjaman UMKM dan dana yang telah dialokasikan oleh pemerintah (23. atau sudah menjangkau 23. sehingga tidak dinyatakan sebagai kredit.20% pinjaman dari lembaga perkreditan formal (Bank dan non bank). 11.05%) dengan hasil pengamatan kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro dan usaha kecil yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu 11.70% pinjaman dari pemilik modal/pelepas uang dan sisanya 6. Hal tersebut terjadi karena belum ada ketentuan tentang pola pergulirannya dan belum ada institusi yang secara formal mengatur perguliran dana tersebut. 3.000.000.

b) Bunga bersubsidi membuka peluang terjadinya manipulasi penggunaan kredit baik ditingkat penyalur maupun oleh peminjam.5% bertujuan untuk mendukung pembangunan sektoral seperti untuk program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) 35. sehingga sering tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakter pengusaha mikro. dan sisanya 16. d) Banyaknya jenis kredit yang disalurkan. 5. Hanya 11.75% menggunakan pendekatan pengembangan daerah.60% pengusaha mikro yang pernah mendapatkan pijaman dari kredit program pemerintah dan 21. Dari 214 jenis program perkreditan yang dapat diinventarisir diketahui bahwa 47. 10.83% dari usaha mikro tersebut menyatakan jumlah pinjaman yang diperoleh belum menutupi kebutuhan modal.18% disalurkan di Pulau Jawa dan sisanya 58. Kredit-kredit yang bersumber dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM yang kesemuanya bertujuan memberdayakan KUMKM. 28.45% menggunakan pendekatan pengembangan potensi daerah. Banyaknya dana yang disalurkan di Pulau Jawa dilakukan berdasarkan pertimbangan jumlah orang yang berhak menerima.65% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas. seperti Kredit Keluarga Miskin (KKM) dan Kredit Pemilikan RSS. 6. sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk. akibatnya yang bersangkutan masih meminjam dari sumber-sumber lain terutama para pelepas uang dan pemilik modal. Dari aspek pendistribusian dana diketahui 41.35% pengembangan kelembagaan. Hasil analisis dari aspek kemanfaatan kredit dalam meningkatkan pendapatan UMKM menunjukkan bahwa. 8. 84 . 11. 44. menyebabkan terjadinya tumpang tidih penggunaan dan sasaran kredit di tingkat peminjam. Dalam hal pola pelaksanaan perkreditan terlihat bahwa: a) Prosedur dan persyaratan cenderung didasarkan pada kepentingan sektoral dan keamanan kredit. pengembangan potensi daerah dan pengembangan kelompok (Community development) merupakan pendekatan yang efektif untuk memberdayakan UMKM.25% pengembangan potensi kelompok.JURNAL VOLUME 4 . tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pengusaha mikro serta. dan sisanya 19.25% yang bertujuan untuk memberdayakan UMKM seperti P3KUM dan KUR. seperti Program pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal 26.95% menggunakan pendekatan pengembangan kelembagaan. 7. Sedangkan dari aspek pendekatan program 41.92% disalurkan untuk daerah-daerah lainnya. c) Bentuk dan besar pinjaman yang cenderung menggunakan sistem paket. atau tidak sesuai dengan peruntukannya.AGUSTUS 2009 : 62-87 4.25% bertujuan mengurangi kemiskinan. dan hanya 17.75% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas.85% menggunakan pendekatan pengembangan kelompok seperti seperti dalam program Lembaga Usaha Ekonomi Bersama (LUEB).

81 juta per tahun.25%) peminjam adalah mereka yang berpengalaman dibidang usahanya kurang dari lima tahun dan sisanya (36. Dalam hal ketepatan sasaran. Sebagian kredit yang tidak tepat sasaran adalah yang diberikan kepada kelompok orang miskin sebagai bantuan sosial.21% menyatakan tidak tahu. b) Rendahnya kontribusi kredit program tersebut disebabkan karena tidak semua program diberikan dalam bentuk kredit (pinjaman yang harus dikembalikan). Sebagian dari yang tidak menggunakan perguliran adalah yang berupa hibah untuk masyarakat.11 tahun atau setingkat dengan SLP.23 juta dan yang terbesar Rp. Selain itu tujuan penggunaannya yang sebagian besar bersifat sektoral. sedangkan yang menilai ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit ada sebanyak 28. 13.23% yang menggunakan model perguliran. 11. 12.77%) kredit program dilaksanakan dengan tidak meng-gunakan model perguliran dan hanya 9.51 juta. 79. Sebagian besar (56. Kondisi internal pengusaha mikro didominasi oleh meraka yang memiliki aset terbatas yaitu rata-rata Rp. Sedangkan yang tidak tepat waktu penyalurannya adalah kredit yang diberikan dalam bentuk natural seperti pupuk benih. ternyata tidak sesuai dengan karakteristik UMKM. 32. ratarata responden berpendidikan formal 8. Dalam hal keperluan kelembagaan perguliran.85 % dari mereka tidak mengetahui adanya Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).60%). dan pola pelaksanaan yang ada. dan pestisida serta untuk pedagang kecil. Dari aspek pengalaman.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 9. 10. 0. Dalam hal tingkat pendidikan.87%) responden menilai tidak ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit. d) Kondisi internal pengusaha mikro yang sangat lemah serta belum siapnya lembaga perguliran dana.2 juta dengan laba rata-rata sebesar Rp 11. 85 . sebagian besar (87. maupun untuk lembaga penyelenggaranya.92% dan sisanya sebanyak 14. 6. Sebagian besar (90.65% kredit tersebut tepat waktu penyalurannya.75%) adalah mereka yang berpengalaman lebih dari 5 tahun.52% responden menilai kredit program tepat sasaran dan hanya 54. yang paling sedikit Rp.1 juta.40%) responden menyatakan perlu adanya kelembagaan tersebut (organisasi dan ketentuan-ketentuannya). Sedangkan dari aspek omset yang diperoleh per tahun rata-rata Rp 37. sebagian besar (63. c) Adanya unsur-unsur yang tidak berkaitan dengan tujuan pemberdayan UMKM serta. Kesimpulan 1) Dari temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa: a) Kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro relatif masih sangat sedikit (11. tetapi 96.

Jakarta. Jakarta.JURNAL VOLUME 4 . Kementerian Negara KUKM. Anonim. b) Para pemilik modal dan pelepas uang mampu memberikan pinjaman lepada pengusaha mikro dalam waktu singkat. (2003). Jakarta. 3) Membangun sistem kelembagaan yang komprehensif memperkecil dalam hal jumlah instansi yang terlibat dan jenis kredit program yang disalurkan sehingga koordinasi menjadi mudah dan dana pemerintah tidak berserakan di mana-mana. DAFTAR PUSTAKA Anonim.AGUSTUS 2009 : 62-87 2) Peranan sumber-sumber perkreditan non formal masih cukup besar. (1995). Saran 1) Perlu dilakukan perubahan orientasi kredit program yang semula untuk kepentingan pembangunan sektoral diarahkan kepada pemberdayaan UMKM. Anonim. Anonim. Anonim. Jurnal Ekonomi UNTAR. (2003). Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Departemen Koperasi. 2) Perlu adanya pola pelaksanaan program dengan karakter UMKM khususnya pengusaha mikro. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. Jakarta. Vol 7 nomor 1. Supported by The Asia Foundation. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. 1���. Small and Medium Entreprise Development. (1999). Petunjuk Teknis Tentang Modal Awal dan Padanan. 86 . (1992). 14. c) Kondisi lingkungan sosial budaya memungkinkan para pemilik modal dan pelepas uang membangun sistem hubungan Patron –Client. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Anonim. pengembangan kelembagaan dan kelompok. Study Report. Jakarta. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. (2002). Hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Besarnya permintaan kredit dari kalangan pengusaha mikro karena tidak tercover oleh lembaga-lembaga perkreditan formal. The Asia Foundation. Jakarta.

Jakarta. Lucky. (1993). Informasi Tentang Kredit Usaha Mikro dan Kecil dari Dana SUP005. (1991). Deputi Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi. ----------. John Willey & Son. Jakarta. Lembaga Perkreditan Pedesaan. Tambunan Mangara.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Anonim. F. Anonim. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. (2002). Kajian pemanfaatan Bantuan Perkuatan. ADB MSE Development Technical Assistant. 2nd ed. The Entreprise Culture and Education. Anonim. Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) UKM. Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah: Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pasca Krisis Ekonomi. Tambunan Mangara. Annual Report Bank Indonesia 2006. 19 Oktober (tidak dipublikasi). Sondagh. Jakarta. (2006). Indonesia. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian IPB. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. (2007). Penelitian Lembaga Kredit Pedesaan di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Deputi Bidang Pembiayaan. 2002.. BPS-2006. Badan Litbang Koperasi dan PK. Singapore. Apakah Usaha Menengah Mengalami Stagnasi. Allan A. (2006). Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. (2002). Anonim. Mid Term Action Plan for SME Development : Strategy and Recommendations. Bank Indonesia Jakarta. 87 . Jakarta. (2006). Paper Staff. Gibb. (2002). Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta. Nasution Muslimin. Center for Economic and Social Studies (CESS). Departemen Koperasi dan PPK. Project Report. Asian Development Bank.

Institutional has characteristic among others are: a) Yurisdiction border which determine who and what is encompassed in the system and related to authority limit and power. Apabila hal ini tidak dilakukan. b) Intellectual property rights. Koperasi. pasar tradisional I. sudah barang tentu koperasi pasar akan semakin jauh dari akses-akses usaha yang diperlukan anggota karena tidak dapat memberikan pelayanan yang efektif kepada anggota sehingga koperasi tidak mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis. 8 �uni 200�. kelembagaan. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Clarification of intellectual property right in the institution is as strength resource of development participant in developing access and control on the traffic and allocation of resources. Pendahuluan Pesatnya perkembangan pembangunan sarana pemasaran yang dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha perdagangan lainnya seperti supermaket. peer review 22 April s. *) 88 . juga diikuti dengan perkembangan usaha ritel dan pedagang eceran dalam bentuk Indomart atau Alfamart dan sejenisnya. managemen.d. The other characteristic is c) Representation regulation which can make sure who is entitle towards something in every process of decision making. Artikel diterima 5 April 200�. custom/tradition and / or consensus. This feature refers to the definite of right and obligation regulated by the law. swalayan dan bentuk-bentuk perkulakan lainnya yang sudah merambah ke daerah pemukiman dan pedesaan. Revolving fund for traditional market development through cooperative is government fund derives for state budget of The State Ministry of Cooperatives and SMEs which was distributed to cooperative to develop traditional market by cooperative and from then on lend it to the members unders revolving fund scheme among cooperatives. Kajian yang dilaksanakan oleh penulis tahun 200��.JURNAL VOLUME 4 . mall.AGUSTUS 2009 : 88-115 KAJIAN PENATAAN KELEMBAGAAN KOPERASI PENERIMA BANTUAN DANA BERGULIR PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL*) Saudin Sijabat**) Abstract Institution is ”an organizational system which can control on resources”. dana bergulir. berdampak pada koperasi yang bergerak dibidang perdagangan khususnya koperasi pengelola pasar tradisional harus menyesuaikan diri agar selalu bisa eksis untuk memberikan pelayanan kepada anggotanya para pedagang.

dan hanya sebagian kecil penyebab kemunduran koperasi yang bersumber dari pengaruh luar (eksternal). Partisipasi anggota. Hal ini dimaksudkan selain untuk menarik yang bukan anggota menjadi anggota koperasi juga untuk memperluas skala usaha koperasi dan memperluas pangsa pasar yang dimiliki. sepanjang tidak merugikan kepentingan anggota dan lembaga koperasi. baik secara finansial. Sesuai karakteristik pokok organisasi koperasi aktivitasnya mempadukan dua kepentingan secara bersama-sama. Dengan demikian koperasi pasar yang memperoleh bantuan dana bergulir untuk membangun pasar tradisional akan melakukan kegiatan usaha dan organisasinya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan para anggotanya. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap maju mundurnya suatu koperasi. yaitu kepentingan bisnis (bisnis entity) dan kepentingan sosial (social entity). tanpa keterlibatan para pengguna pasar itu sendiri. maka koperasi dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bukan anggota sesuai dengan sifat kegiatan usahanya. harus tercermin dalam bentuk konstribusi dalam menetapkan tujuan dan sasaran usaha. Dukungan partisipasi anggota koperasi pasar (sebagai pedagang). Dalam penjelasan disebutkan bahwa sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. Dengan tercapainya kedua kepentingan tersebut yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan harus selalu dipelihara. melalui penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir untuk pembangunan pasar 89 . menunjukkan bahwa kebanyakan kegagalan suatu organisasi koperasi disebabkan oleh masalahmasalah yang bersumber dari dalam koperasi (internal). maknanya sesuai dengan penjelasan pasal 17 (ayat 1) Undang-Undang Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992. Berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah melalui program Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. memelihara organisasi serta menggunakan kegiatan usaha koperasi. diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan dalam meletakkan fondasi bagi bangun struktur organisasi koperasi sebagai milik bersama. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui program pemasaran dan jaringan usaha melaksanakan program penyaluran bantuan dana bergulir untuk meningkatkan kelayakan sarana dan prasarana usaha pasar tradisional melalui koperasi pasar yang sudah ada. organisasi maupun usaha. diharapkan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional oleh koperasi pasar. Bercermin atas keadaan sebagaimana diuraikan di atas. Pengaruh dari dalam yang paling dominan mempengaruhi maju mundurnya koperasi adalah dukungan partisipasi aktif dari anggotanya. Sekalipun demikian. akan sesuai dengan perubahan lingkungan untuk mewujudkan perilaku yang responsif dan inovatif dari para anggotanya. akan merugikan para pedagang. Dari beberapa uraian di atas. anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Disadari bahwa swadana pembangunan dan pengelolaan pasar oleh pemerintah setempat atau lembaga lainnya melalui fasilitas-fasilitas tertentu.

Terwujudnya peningkatan peran serta anggota koperasi dan UKM secara aktif dalam membangun kemandirian koperasi yang tangguh secara berkelanjutan. dan pengurus koperasi.JURNAL VOLUME 4 . Memilih lokasi pelaksanaan survey terhadap pembina koperasi propinsi.3 Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan adalah penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. usaha yang sehat dan pengurus yang memiliki dedikasi yang tinggi. 3). tetapi juga dalam aktivitas managemen koperasi. 1. Terwujudnya peningkatan nilai manfaat dan nilai tambah bagi anggota koperasi dan UKM melalui peningkatan aktivitas usaha dan organisasi koperasi secara terbuka dan demokratif. 1.1 Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Menyiapkan panduan dan kuesioner pengumpulan data dari pengurus koperasi. Untuk mendukung program yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. terutama menjalankan usahanya dalam memberikan pelayanan terhadap anggota. Terwujudnya Lembaga Koperasi Pasar yang baik. Terwujudnya peningkatan kinerja koperasi pasar sehingga pengelola pasar tradisional semakin baik dalam memberikan pelayanan kepada anggota dan UKM yang berusaha dalam pasar tradisional dimaksud. Merumuskan indikator kajian penetaan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. Melakukan pengumpulan data dan informasi lapang. 4). 2). 5).AGUSTUS 2009 : 88-115 tradisional. maka penulis melakukan Kajian pada tahun 2007 mengenai Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan dana bergulir pengembangan Pasar Tradisional. untuk mengelola pasar tradisional. 2). 6). 3). Melakukan pembahasan konsep kajian untuk penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. 4). sehingga partisipasi anggota koperasi tidak hanya pada aktivitas usaha saja. belum menjamin kelangsungan koperasi untuk memenuhi harapan di atas. Penyempurnaan konsep final hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. 1. Oleh karenanya selain pemanfaatan fasilitas tersebut. juga agar koperasi memiliki daya tahan dan daya saing untuk melakukan aktivitas.2 Sasaran Sasaran kajian adalah: 1). 90 . Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1). sehingga koperasi pasar tradisional selain mampu melakukan program dengan baik. kabupaten/kota. lembaga koperasi harus memiliki kelembagaan yang baik.

Diskusi ini dilakukan untuk memperoleh data yang representatif. Data dan informasi dari pembina koperasi propinsi dan kabupaten/kota. antara lain mencakup: a). f). II. Data Data dan informasi yang dihimpun digali dari berbagai sumber.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 1.1 Pemahaman Koperasi Koperasi sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang ha atau badan hukum koperasi. e). Tinjauan Teoritis 2. Perumusan jatidiri koperasi menurut ICA di Manchaster (ICA Cooperative Identity Statement/ICS) tahun 1995. pendekatan partisipatif. Data dan informasi kelengkapan organisasi dan tatalaksana koperasi. Undang-undang dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan koperasi. maka kegiatan ini menghimpun beberapa macam data dan informasi. Definisi Koperasi. Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan usaha berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju.4 Metodologi Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah penelitian lapang dengan metode Analisis Deskriptif. Koperasi adalah perkumpulan otonomi dari orangorang yang berhimpun secara sukarela untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi. meliputi: 1. dari sejumlah responden yang memungkinkan dapat mewakili pembina koperasi pengelola pasar tradisional. terdiri dari: 1. di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupatan/kota. adil dan makmur dalam tata perekonomian nasional. Nomor 25 Tahun 1��2. Informasi dari instansi terkait dan litetatur yang relevan. pembahasan hasil analisa dapat dilakukan secara komprehensif dan selanjutnya menyusun ruang lingkup wilayah dan pendataan. 91 . c). dalam melakukan kegiatannya berdasarkan pada prinsip koperasi. Tentang Perkoperasian. Wilayah Kajian Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar analisis dilakukan diskusi dengan pembina koperasi. Data dan informasi dari pengurus koperasi. 2. Informasi pengawasan anggota dalam RAT. d). sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. seperti tertuang dalam UU Republik Indonesia. Dengan model analisis ini. Jenis dan Sumber Data Sesuai dengan lingkup kajian dan tujuan yang ingin dicapai. b).

c). yang terdiri dari 7 (tujuh) butir yang dituangkan dalam 2 ayat. Kerjasama diantara koperasi. Hans H. Muenker menyatakan adanya ciri-ciri khusus koperasi sebagai organisasi usaha. Otonomi dan kebebasan. demokratis. bila dibandingkan dengan prinsip koperasi yang berlaku secara internasional berdasarkan rumusan kongres ICA di Manchaster 1995. perusahaan koperasi diukur dari kemampuannya memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangga para anggotanya. Pendidikan perkoperasian. Kepedulian terhadap komunitas. 2. agar anggotanya meraih keuntungan yang lebih baik. Perbedaan itu antara lain: a. Prinsip-prinsip (sebagai penjabaran nilai-nilai). d). tanggung jawab sendiri. yaitu: 1). kejujuran. Pendidikan. Koperasi memiliki nilai-nilai menolong diri sendiri. 6). Tentang perkoperasian. 5).JURNAL VOLUME 4 . 4).AGUSTUS 2009 : 88-115 2. e). 7). 3. melainkan diberi tugas melayani anggotanya. Pengelolaan dilakukan secara demokratis. Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa masing-masing anggota. pelatihan dan informasi. 2). Koperasi dibentuk bukan untuk mengejar keuntungan bagi perusahaan koperasi sendiri. b).2 Ciri-ciri Koperasi Indonesia Indonesia termasuk salah satu negara yang menerbitkan perundang-undangan yang khusus mengatur koperasi. dan 5 menetapkan prinsip koperasi Indonesia. b. tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain. persamaan. Adanya orang yang menjalin 92 . Ciri-ciri koperasi Indonesia secara umum dituangkan dalam pasal 2. 3). Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. Ketujuh butir prinsip koperasi Indonesia di atas. merupakan bentuk perusahaan yang unik berbeda dengan bentuk perusahaan kapitalistik pada umumnya. Keberhasilan perusahaan kapitalistik diukur dari kemampuan meraih laba. Nilai-nilai. Undang-undang ndangan (UU) yang berlaku saat ini adalah UU RI Nomor 25 Tahun 1992.3 Ciri-ciri Organisasi Koperasi Koperasi. g). 2. Kemandrian. 3. Kerjasama antar koperasi. Partisipasi ekonomi anggota. Keanggotaan sukarela dan Keanggotaan sukarela dan terbuka. yaitu: 1). pada dasarnya hampir sama (identik) walaupun dalam penerapannya terdapat perbedaan tetapi tidak signifikan. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. Pengendalian oleh anggota secara demokratis. 4. prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a). keterbukaan. f).

Satu anggota satu hak suara tanpa melihat besar kecilnya kontribusi modal masing-masing. yaitu pelaksanaan proses managemen itu sendiri (Caska 2003. 51). yaitu untuk menghasilkan manfaat yang dapat digunakan oleh anggotanya dalam upaya meningkatkan kegiatan ekonominya. maka pemilik perusahaan kapitalistik tidak identik dengan pelanggannya. (b) Pengurus.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) hubungan antara sesamanya atas dasar sekurang-kurangnya satu kepentingan ekonomi yang sama. 3). 3). melalui tahap perencanaan. berarti managemen koperasi merupakan serangkaian kegiatan yang teratur. sedangkan managemen sebagai fungsi berarti keseluruhan tugas/fungsi yang harus dijalankan dalam rangka menjamin keberhasilan organisasi dalam jangka panjang. Apabila identitas ganda dari anggota koperasi tersebut hilang. dibiayai. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi pada koperasi. dan diawasi secara bersama sama sebagai sarana untuk mencapai sasaran bersama bagi para anggota. maka hilang pula ciri perusahaannya sebagai anggota koperasi. Managemen koperasi bersifat terbuka (tentunya terhadap anggotanya) serta dilengkapi dengan prinsip-prinsip koperasi. yaitu menunjuk kepada orang/ kelompok orang dan yang kedua pendekatan proses. 2). Proses. Oleh sebab itu. pengurus dan 93 . Untuk menjalankan fungsifungsi dari perangkat organisasi koperasi (rapat anggota. Menurut UU Nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 21 menyatakan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari (a) Rapat Anggota. material dan keuangan koperasi untuk mencapai tujuan koperasi yang ditetapkan. Status khusus tersebut merupakan identitas koperasi dimana anggota memiliki identitas ganda atau prinsip ganda anggota (dual identity). Sebagai perbandingan.4 Konsep Managemen Koperasi Managemen koperasi adalah proses mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia. Adanya dorongan (motivasi) untuk mengorganisasikan diri di dalam kelompok dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. dalam koperasi berlaku prinsip-prinsip: 1). Adanya suatu perusahaan yang didirikan. The term management refers to the institution and to the function (Helmut Wagner 1994. (c) Pengawas. pengorganisasian pelaksanaan dan pengendalian. 2). pertama pendekatan kebudayaaan. Managemen koperasi dapat diartikan dalam dua pendekatan yaitu. melalui usaha-usaha bersama atas dasar swadaya dan saling tolong menolong. 579). Ketiganya dalam organisasi koperasi memiliki tugas mengembangkan kerjasama sehingga membentuk suatu kelompok pengelola. 2. Optimal mengandung maksud bahwa sumber daya koperasi dikelola secara efisien dan efektif. Managemen sebagai institusi menggambarkan orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas organisasi.

Manajer dan Karyawan. ada 16 (enam belas) buku yang dianjurkan untuk dimiliki oleh koperasi yaitu: Buku Daftar: Anggota. Dalam penyelenggaraan administrasi usaha dan keuangan. Instansi Terkait. koperasi melaksanakan pembukuan/akuntansi koperasi secara tertib lengkap dan akurat sesuai norma pembukuan/akuntasi yang ditentukan. Hal ini karena kita masih kurang menyadari. Ketidakmampuan usaha kecil. Notulen Rapat Pengurus dan Rapat Pengawas.JURNAL VOLUME 4 . penataan kelembagaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mengembangkan usaha. masih kurang memperhatikan unsur kelembagaan sebagai faktor penting untuk menjamin keberhasilan dan kelangsungan pembangunan. dan koperasi untuk mengikuti gerak pembangunan ekonomi terutama disebabkan adanya kelemahan akses mereka di bidang permodalan. 94 . jenis kelamin. cap ibu jari anggota dan atau tanda tangan anggota. Buku Tamu. bisnis ritel karena sifatnya yang padat karya dan lingkup usahanya yang relatif luas. menengah. Kelembagaan merupakan unsur esensial yang tidak bisa dijiplak mentah-mentah atau dipinjam dari luar. Dengan demikian. tidak seperti halnya modal dan teknologi (Soetrisno. teknologi. informasi. Misalnya menurut Griffin (1990. 1989). dan sekaligus mampu menyerap berbagai masukan yang diperlukan bagi pertumbuhan lembaga yang bersangkutan. industri kerajinan. Saran/Anjuran Pejabat. Buku Daftar Anggota memuat nomor urut anggota. khususnya pemberdayaan UMKM. Pengawas. Buku Saran Anggota dan Saran Pengawas.5 Konsepsi Penataan Kelembagaan Program bantuan perkuatan yang disalurkan Kementerian Negara Koperasi dan UKM selama ini. alamat. Oleh sebab itu. dan pasar. yang relatif belum berkembang. Buku Simpanan Anggota dan Buku Inventaris. Pengurus. Dalam penyelenggaraan administrasi organisasi koperasi. tanggal masuk menjadi anggota. nama lengkap. pengembangan kelembagaan pada hakikatnya ditujukan agar dapat mendukung kemampuan pengusaha kecil dan koperasi melalui: 1). Buku Catatan Kejadian Penting. Pertumbuhan kelembagaan harus diarahkan agar dapat mengimbangi gejolak. mata pencaharian.AGUSTUS 2009 : 88-115 pengawas). mampu mengantisipasi berbagai perubahan sosial. Selain itu juga harus ada buku-buku antara lain: Keputusan Rapat Anggota. and decisison making. bahwa kelembagaan adalah faktor strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi terutama di sektor pertanian. secara bertahap dan harmonis harus dilakukan berdasarkan koordinasi fungsi managemen. 8) menyebutkan bahwa fungsi managemen meliputi planning. dalam bidang ekonomi. Buku Agenda. leading. 2. organizing. Banyak pakar berpendapat bahwa fungsi managemen sangat bervariasi. controling. umur.

b) Hak-hak properti. kelembagaan mempunyai karakteristik antara lain. Pentingnya kelembagaan dianggap sebagai faktor endogen dalam pembangunan tidak diragukan lagi. Untuk itu perlu disepakati terlebih dahulu bahwa karakteristik yang tercakup dalam kelembagaan adalah mengacu pada optimalitas pengalokasian sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan. sehingga fungsi institusi sebagai pengatur alokasi sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan mengalami kegagalan dan dapat menimbulkan kesenjangan. Pembenahan kondisi struktural agar lebih kondusif bagi pengembangan para pengusaha kecil dan koperasi. Pembenahan masalah sindikasi perdagangan nasional dan internasional yang memungkinkan para pengusaha kecil dan koperasi dapat eksis di dalamnya. 5). supaya peluang koperasi menjadi lembaga penyangga pemberdayaan usaha para pengusaha kecil. karenanya tidak dimasukan sebagai faktor strategis dalam kalkulus perencanaan.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Penciptaan iklim usaha berpihak kepada mereka yang merupakan bagian terbesar dari ekonomi rakyat. Tertinggalnya faktor kelembagaan dibandingkan dengan laju perubahan teknologi sedikit banyak ditentukan oleh model perencanaan. modal serta institusi dari para pengusaha kecil dan koperasi. Kecenderungan penerapan model indikatif pada umumnya akan lebih diwarnai oleh peningkatan produksi dan rata-rata pendapatan. material. Model perencanaan indikatif yang mengandalkan prestasi sektoral sebagai performa pembangunan ekonomi. peran kelembagaan harus diperhitungkan sebagai faktor endogen. dalam jangka waktu pendek untuk mencapai sasaran antara. 4). Dalam hal ini. 3). 2). Akibatnya pembangunan kelembagaan jadi tertinggal. Pernantapan peran koperasi untuk mampu menjadi lembaga alternatif bagi pengembangan kemampuan para pengusaha kecil. Demikian juga dalam perencanaan indikatif kelembagaan sering dilihat sebagai faktor eksogen. Kejelasan hak properti dalam kelembagaan 95 . Ciri ini mengacu pada kepastian masalah hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum. tidak selalu sinkron dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. Dalam kondisi ekonomi yang diwarnai kesenjangan. Seperti telah diuraikan dimuka. a) Batas juridiksi yang menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam sistem serta menyangkut batas otoritas dan kekuasaan. secara positif dan normatif menjadi sangat besar. dan atau konsensus. Namun bagaimana pendefinisian kelembagaan itu secara tegas masih sukar dan kompleks karena sangat ditentukan oleh asumsi dan pendekatan yang digunakan. Pengembangan potensi SDM. adat. Banyak masalah pembangunan ekonorni muncul karena terkait dengan batas jurisdiksi. mungkin perlu diperhatikan pendapat Pakpahan (1990) yang memberikan batasan bahwa kelembagaan adalah ”suatu sistem organisasi yang dapat mengontrol sumber daya”.

III. Dalam struktur dunia usaha yang sangat dinamis tidak memungkinkan kelompok pengusaha kecil untuk secara sendiri-sendiri mampu tumbuh dan berkembang. Pasar tradisional yang sedang atau akan dikembangkan diprakarsai oleh koperasi atau prakarsa Pemda dengan 96 . Umumnya mereka tidak terorganisir dan kalaupun mereka membentuk sindikasi. Refleksi kelembagaan dengan sendirinya sangat luas dan beragam. Akibatnya mereka banyak menemui kesulitan untuk melibatkan diri ke dalam sistem kelembagaan ekonomi masyarakat sehingga mereka terlepas dari jangkauan atau jaringan fasilitas dan kebijaksanaan pemerintah yang sebenarnya tertuju kepada mereka. pranata sosial (sosial budaya). Dari uraian di atas dapatlah kita nyatakan bahwa kelembagaan itu sangat berdimensi normatif di samping dimensi positif. dan kebijakan pembangunan serta lainya yang dianggap penting.AGUSTUS 2009 : 88-115 adalah sebagai sumber kekuatan partisipan pembangunan dalam mengembangkan akses dan pengontrolan lalu lintas dan alokasi sumber daya. Pasar Sebagai calon penerima perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. organisasi yang terbentuk bukan merupakan suatu sistem yang utuh sehingga tidak memiliki kriteria sebagai kelembagaan yang tangguh. c) Aturan reprensentasi yang dapat memastikan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam setiap proses pengambilan keputusan. Koperasi dan Pedagang Calon Penerima Bantuan Dana Bergulir 1. Selarna ketiga karakterisitik di atas belum menjiwai lembaga yang dibentuk maka kelembagaan dimaksud tidak akan efektif terutama dalam fungsinya sebagai unsur pengatur alokasi sumber daya dan pemerataan hasil pembangunan. Karakteristik lainnya adalah. Kebijakan Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Melalui Koperasi 3. mencakup nilai (baik buruknya dan benar salahnya).JURNAL VOLUME 4 .1 Persyaratan Pasar Tradisional. Termasuk di dalam analisis kelembagaan adalah bentuk-bentuk organisasi (badan hukum). peraturan perundang-undangan. tetapi bukan berarti dibangunnya berbagai organisasi/lembaga di perdesaan dapat menjawab masalah kelembagaan. Hal ini dapat dikategorikan pada perangkat lunak dan keras.

2. h. Mempunyai anggota sebagai pedagang minimal 30 orang. Bersedia dan mampu mengelola dana bergulir pengembangan pasar tradisional sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan dibuktikan dengan surat pernyataan serta rekomendasi dari dinas. c. b. b. managemen dan usaha koperasi dalam kondisi sehat yang dibuktikan dengan pernyataan hasil penilaian dari Dinas. d. Belum pernah mendapat bantuan dana bergulir serupa. e. Koperasi Persyaratan koperasi penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Bersedia dan mampu berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan. g. d. penempatan pedagang maupun pengelolaan. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memliki pola kepemilikan atau pemanfaatan kios dan los yang memberikan kepastian tempat berusaha bagi pedagang dalam jangka panjang. penentuan harga. Mendapat persetujuan dari anggota/pedagang untuk melaksanakan program pengembangan yang dibuktikan dengan berita acara Rapat Anggota atau surat pernyataan. pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional serta pengembalian dana bergulir secara tepat jumlah dan waktu. Pasar tradisional yang akan dikembangkan harus didukung oleh Pemda setempat. Telah berbadan hukum paling sedikit 1 (satu) tahun dan berkedudukan serta berusaha di wilayah pasar tradisional yang akan dikembangkan. baik dalam perencanaan. c. dan pedagang yang siap menempati kios atau los segera setelah selesai dikembangkan. Bersedia memenuhi kewajiban pelaporan secara berkala sesuai format yang ditentukan . Organisasi. f. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memiliki jumlah pedagang anggota koperasi paling sedikit 30 (tiga puluh) orang. sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Pedoman Teknis.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) melibatkan koperasi. 97 .

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

3.

Anggota Koperasi/Pedagang Kriteria anggota koperasi/pedagang penerima bantuan perkuatan dana bergulir adalah: a. b. c. d. Terdaftar sebagai kewajiban. anggota koperasi, telah memenuhi

Berdomisili dan bertempat tinggal di wilayah kerja koperasi Sanggup dan bersedia mentaati peraturan dan memnuhi persyaratan yang ditetapkan oleh koperasi. Tidak memiliki tunggakan pinjaman pada bank atau lembaga lain.

3.2

Penetapan, pencairan, pemanfaatan dan pengembalian bantuan dana bergulir 1. Penetapan Koperasi Penetapan koperasi calon penerima dana bergulir dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Keuangan kabupaten/kota melalui tahapan sebagai berikut: a. Menerima permohonan dari koperasi calon penerima dana bergulir yang dilampiri dengan identitas diri Pengurus berupa KTP, bukti keanggotaan pada Koperasi dan Berita Acara Pemilihan Pengurus yang diketahui lurah setempat. b. Mengadakan penelitan dan peniliain terhadap pemenuhan persyaratan Koperasi penerima. c. Mengumumkan hasil penelitian dan penilain koperasi calon penerima pada papan Pengumuman di kantor kecamatan tempat kedudukan Koperasi dan pada dinas/instansi kabupaten/kota setempat. d. Menetapkan calon koperasi yang akan disusulkan kepada Menteri paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal pengumuman dengan Surat Keputusan Kepala Dinas yang membidangi pengembangan koperasi dilampiri berita acara hasil penilaian yang ditandatangani paling sedikti oleh 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah anggota Pokja. e. Menyampaikan hasil seleksi calon koperasi penerima dana bergulir Pokja Keuangan Propinsi untuk diteruskan kepada Pokja Keauangan Pusat dan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha.

98

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat)

2.

Tatacara pencairan bantuan Tata cara pencairan bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Menteri menetapkan koperasi penerima bantuan perkuatan dengan memperhatikan usulan koperasi yang disampaikan oleh bupati/walikota setempat. b. Melalui Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Menteri menyampaikan pemberitahuan penetapan sebagaimana dimaksud huruf a kepada koperasi yang bersangkutan melalui Pokja Keuangan kabupaten/kota. c. Koperasi penerima bantuan perkuatan yang telah ditetapkan Menteri, mengajukan permohonan pencairan dan rencana penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir kepada Menteri atau Pokja Keuangan kabupaten/kota atau dinas secara bertingkat. d. Ketua dan bendahara koperasi penerima dana bergulir membuka nomor rekening tabungan di kantor cabang bank terdekat atas nama koperasi yang berfungsi sebagai rekening penampungan koperasi. e. Menteri meneliti kelengkapan permohonan koperasi penerima bantuan perkuatan dan selanjutnya diajukan ke KPKN-I untuk mentransfer dana bantuan perkuatan tersebut ke rekening penampungan masing-masing koperasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam Bidang Keuangan Negara.

3.

Penggunaan Tata cara penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir untuk pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Dana bergulir digunakan oleh koperasi penerima untuk kegiatan sebagai berikut: 1). Pembangunan kios atau los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional; 2). Renovasi kios dan los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional. b. Penggunaan dana dari rekening penampungan koperasi dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dituangkan dalam proposal yang diajukan. c. Jasa yang timbul pada rekening penampungan koperasi sebelum digunakan wajib terlebih dahulu dipindahbukukan oleh koperasi ke rekening perguliran koperasi.

99

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

4.

Penyaluran Tata cara penyaluran dana bergulir dari koperasi kepada anggotanya adalah sebagai berikut: a. Pedagang anggota koperasi mengajukan permohonan pinjaman untuk pembangunan atau renovasi kios atau los kepada koperasi. Pedagang anggota yang memenuhi syarat ketentuan koperasi membuat perjanjian kredit dengan koperasi untuk menentukan jumlah pinjaman, jangka waktu pengembalian dan besarnya jasa pinjaman. Atas dasar permohonan anggotanya, koperasi melaksanakan kegiatan pembangunan atau renovasi pasar tradisional baik dilaksankan sendiri oleh koperasi meupun kerjasama dengan pihak ketiga. Setelah pembangunan atau renovasi pasar selesai, koperasi melaksanakan serah terima kios atau los dengan anggota sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara anggota dan koperasi sebagimana dimaksud butir b).

b.

c.

d.

5.

Pengembalian. Tata cara pengambilan dana bergulir adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Jangka waktu pengembalian dana bergulir koperasi adalah 8 (delapan) tahun. Terhadap dana bergulir sebagaiman huruf a diberlakukan grace period selam 1 (satu) tahun. Koperasi melakukan penagihan pada menyetorkannya kepada Bank setiap bulan. anggota dan

Koperasi mebukukan secara terpisah antara pengembalian dana bergulir dan jasa operasional dari anggota Pengembalian dana bergulir dari anggota disetorkan pada rekening perguliran koperasi, sedangkan jasa/bunga dari anggota disetorkan pada rekening jasa koperasi. Bunga yang timbul pada rekening perguliran koperasi sebelum digulirkan kembali diakumulasikan pada rekening perguliran koperasi. Dana pada rekening perguliran koperasi hanya dapat dicairkan untuk keperluan perguliran kepada koperasi lain dengan ketetapan Menteri.

f.

g.

100

g. Penetapan dan pemanfaatan jasa. c. 101 . Jangka waktu pengembalian pinjaman dari anggota selamalamanya 8 (delapan) tahun. 8. ditetapkan berdasarkan persetujuan Menteri. Besarnya pokok angsuran per bulan setiap anggota adalah: jumlah total dibagi jumlah bulan angsuran. b. 7. Koperasi penerima dana bergulir dikenakan jasa atau bunga menurun sebesar 12% per tahun efektif dari sisa pokok. Alokasi pemanfaatan jasa/bunga sebagaimana dimaksud huruf a) diatur sesuai dengan ketentuan di Juknis. Pengembalian pokok pinjaman dimulai setelah berakhir masa grace period yaitu bulan ke-13 setelah serah terima kios atau los. Tata cara Penetapan dan Pemanfaatan Jasa atas pinjaman diatur sebagai berikut: a. Perguliran Dana. Pengembalian Dana Bergulir dari Anggota Tata cara pengembalian dana bergulir dari anggota kepada koperasi penerima dana bergulir adalah sebagai berikut: a. Tata cara Perguliran Dana adalah sebagai berikut: a. f. Dalam hal anggota membayar uang muka atau DP (down payment) maka besarnya total pokok pinjaman berkurang sebesar uang muka yang dibayarkan. b. Anggota menyetor angsuran pokok dan jasa kepada koperasi melalui unit simpan pinjam koperasi. Pemanfaatan jasa untuk biaya monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud huruf b). Jasa dibayar anggota sejak serah terima kios atau los.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 6. e. c. Dana bergulir pada program ini khusus untuk keperluan pengembangan pasar tradisional oleh koperasi. Besarnya jasa yang harus dibayarkan anggota setiap bulan adalah 1% dikali sisa pokok pinjaman. d.

Proses perguliran dari satu koperasi kepada koperasi lainnya ditetapkan oleh menteri atas usulan dari bupati/walikota.2 Keragaan Kelembagaan Koperasi Pasar 1. berada di Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu koperasi pasar yang berkesempatan untuk mengelola bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. sementara Pemda mengharapkan adanya dua (2) jalan tembus menuju pasar.JURNAL VOLUME 4 . IV. Dana pada rekening perguliran koperasi penerima dana hanya dapat dicairkan khusus untuk keperluan perguliran kepada koperasi penerima dana berikutnya dengan ketetapan menteri. d. dapat disampaikan seperti pada tabel 1. namun demikian pasar yang sudah dibangun dengan anggaran APBN tahun 2003 sebesar 1. e.AGUSTUS 2009 : 88-115 b. Proses pemindahbukuan dari rekening perguliran koperasi penerima dana kepada rekening penampungan koperasi penerima berikutnya dilakukan oleh koperasi dengan persetujuan atau contra sign dari bupati/walikota. c. 4. Kabupaten Gayo Lues di Koperasi Pasar Pelita Karya Koperasi Pasar Pelita Karya ini. dan belum ada kepastian kapan akan dibuka pasar tersebut. Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa jalan masuk ke pasar hanya satu jalan. Data hasil kunjungan kepada koperasi pasar penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. 102 . dengan jumlah dana yang telah direalisasikan sebesar Rp 34.125 miliar. dan kios dan los yang dibangun sudah terbengkalai selama 2 tahun lebih.5 milyar belum disalurkan kepada anggota.1 Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Dari data sekunder yang diperoleh dari Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha. Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah melakukan pengembangan pasar tradisional di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupaten/kota serta jumlah koperasi sebanyak 9 (sembilan) koperasi pasar. Perguliran antar koperasi dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu seluruh dana dikembalikan. Propinsi Nangro Aceh Darussalam. Evaluasi Terhadap Kelembagaan Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional 4.

sarana mushola dan MCK. sehingga usaha koperasi belum berjalan terutama usaha pertokoan.000. Prembun Thn Bantuan 2003 2005 2005 2005 2003 2004 2004 2003 2003 2003 Jlh Dana (Rp.PKL Bangun Wijaya. Kota Palembang Koperasi Pelita Karya.000.2005 Tradisional dari Tahun 2003.652. Kota Bengkulu Koppas Melati.000.1.KUD Tenri Sangkae.- Ket 2 Sumatera Selatan 3 4 5 NAD Bengkulu Jawa Tengah Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) kepada koperasi dalam pengembangan pasar tradisional berupa bantuan los dan kios. Kabupaten Sinjai 2.000.500. Tanete Ps. Jatisari Ps. Adapun kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional adalah pasar belum beroperasi.000.000. Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional dari Tahun 2003. Jakabaring Ps.750. Songging Ps.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tabel 1.500.Koppas Saka Selabung. Gayo Lues Kop.7. Kutowinarya Ps.000.000.1.KUD Waempubbue. Kabupaten Bone 4.000. Retno Ps. Kabupaten Kebumen Lokasi Pasar Ps. Kota Palembang 3. Anyar Ps.KUD Telumpoccoe. Palatte Ps. Kabupaten OKU 2.KUD Mandiri Puncak. Kr.000. Kuwarasan Ps. karena operasional koperasi belum optimal.2. Pagar Dewa Ps. Performance kelembagaan koperasi pasar sangat kurang baik.000.000. BMT Tarbiyah. Kabupaten Bone 3.Kop. Gw.7. demikian pula usaha yang jalan hanya simpan pinjam yang tidak ditunjang dengan sistem administrasi dan pembukuan yang baik. Kab. Centong Blangkerejen Ps. Muaradua Ps. Tumenggung Ps.2005 No  Propinsi Sulawesi Selatan Nama Koperasi Dan Alamat 1.500.KSU Tunas Baru.3.10. Kabupasten Bone 1. hal ini terlihat dari pelaksanaan RAT dua tahun terakhir tidak dilakukan. Pompanua Ps. 000) 982.Alang-Alang Lebar Ps. Walaupun memiliki pengurus yang lengkap dan mempunyai 103  .750.000. dan simpanan wajib anggota tidak lancar penagihannya. serta pembelian tanah untuk jalan ke lokasi pasar dan tanah pembangunan gedung pasar telah diupayakan oleh Pemda.

karena minimnya sarana penunjang pasar seperti sarana transportasi dan lain sebagainya. Propinsi Bengkulu yang mengelola program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisonal pada tahun 2003.dan modal luar jangka panjang tetap yaitu sebesar 3 (tiga) miliar rupiah. Kota Bengkulu di Koperasi Pasar Pagar Dewa Koperasi Pasar Pagar Dewa ini. berkedudukan di Kota Bengkulu. karena tidak memiliki buku-buku organisasi sebagaimana layaknya koperasi yang ditentukan dalam penetapan koperasi yang boleh dapat bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. dan modal sendiri dua tahun terakhir juga meningkat yaitu dari Rp. selama dua tahun tidak ada perubahan jumlah anggota yaitu sebanyak 87 Orang... dengan dana sebesar 3 (tiga) miliar rupiah.688. Dilain pihak modal luar jangka pendek menurun dari Rp. adalah kebijakan Pemda kota Bengkulu memfungsikan pasar belum menyentuh apa yang diharapkan oleh koperasi selaku pengelola pasar dan pedagang. kinerjanya cukup baik dilihat dari organisasi dan usaha yang dilaklukan. pengurus.menjadi Rp. tetapi simpanan pokok dan simpanan sukarela meningkat. namur angsuran pengembalian belum berjalan sebagaimana mestinya. Adapun keragaan koperasi Pasar Pagar Dewa seperti terlihat pada tabel 3.JURNAL VOLUME 4 . karena penjualan kios dilakukan oleh Dinas Pasar Kota Bengkulu dan hasil penjualan juga belum diserahkan kepada koperasi sebagai pengelola dana bergulir.-. demikian pula pengerjaan buku-buku adminstrasi usaha baik dan tertib. 2. Usaha koperasi yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perdagangan. pengawas dan karyawan sudah lengkap dan menjalankan tugas dengan baik.. 22. 104 . Propinsi Bengkulu.000. namun terjadi penurunan simpanan wajib anggota.AGUSTUS 2009 : 88-115 karyawan sebanyak 3 orang. Koperasi ini. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional ini.023. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi koperasi sebagai berikut. tetapi tidak mendukung jalannya usaha koperasi.000. Buku-buku administrasi usaha lengkap.000. Buku-buku organisasi lengkap.086.28. dikerjakan dengan baik dan tertib.menjadi Rp. 119.000. 56. tetapi telah melaksanakan RAT tepat waktu pada 2 tahun terakhir. demikian pula pemanfaatan kios dan los yang dibangun belum maksimal. Penyaluran kios sudah dilakukan kepada anggota.135. Kondisi koperasi Pasar Pelita Karya lebih rinci dapat terlihat pada tabel 2.

jt Thn 2004= 18. Administrasi Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan/Perdagangan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . tugas dgn baik Ada Ada tidak Ada Tidak Ada Tidak lengkap Kurang Baik Tabelaris Betul Ada. jt Thn 2004= 0 jt. melaks. kurang lancar Ada. Administrasi Organisasi.Bendel bukti KM-KK .5 jt. Keragaan Organisasi.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pelita Karya Kec. tugas dgn baik 3 Org. jt Thn 2004= 2. thn 2005 = 5. Blangkejeren.Buku-buku besar .Buku-buku Bantu .Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 2. 2005 =216 ORG Thn 2004 dan thn 2005 tdk ada 3 Org.Buku kas harian . thn 2005 = 21. thn 2005 = 40.Kab. 2004 = 120 Org. jt. VI VII 105 2 . thn 2005 = 0 jt Thn 2004= 0 jt.Buku kas tabelaris . tugas dgn baik 3 Org. Administrasi Organisasi. melaks. thn 2005 = 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V.Gayo Lues Thn.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . jt. tidak jalan Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Thn 2004= 12. melaks. Keragaan Organisasi. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Tabel 2.

JURNAL VOLUME 4 . sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir tepat waktu sesuai ketentuan. perkembangan modal dan perolehan SHU cukup baik. di Kota Palembang menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2004. namun perkembangan anggota tidak ada yaitu 99 Orang. Sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir walaupun waktunya kurang tepat. dengan dana sebesar Rp. Koperasi BMT Tarbiyah. Keragaan organisasi dan usaha sebagai berikut. dan tertib dilakukan. dan dikerjakan cukup tertib. koperasi memiliki anggota sebanyak 50 orang dan tidak ada penambahan anggota selama dua tahun terahir. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional pada tahun 2004. Koperasi Serba Usaha Tunas Baru. Propinsi Sumatera Selatan.AGUSTUS 2009 : 88-115 3. di Kota Palembang. 7 milyar. dengan dana sebesar Rp 10 milyar. Bukubuku administrasi ada. Buku-buku administrasi lengkap. 2) 3) 106 . Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. usahanya pun tidak berjalan dan tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi bagaimana seharusnya. Keragaan organisasi dan Usaha koperasi adalah sebagai berikut. dan penambahan anggota dari tahun 2004–2005 meningkat kurang lebih 500 Orang. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional pada tahun 2003 dengan anggaran sebesar Rp. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar dikelola dan disalurkan lepada anggota dengan tertib.7.6 milyar. serta belum melaksanakan RAT dua tahun berturut-turut. Kabupaten OKU dan Kota Palembang sebanyak tiga ( 3) Koperasi 1) Koperasi Pasar Saka Selabung di Kabupaten OKU. modal dan perolehan SHU meningkat. namun pengelolaan pasar tradisional belum berjalan seperti yang diharapkan.

thn 2005 = 3 m 2 V VI VII 107 .981 jt Thn 2004= 53. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 NO I 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .9 31jt. melaks. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Administrasi Manajerial Tertib ada ada II 1 2 3 4 III 1 2 3 IV 1 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Thn 2004= 1.Buku kas harian . Jln Raden Patah Thn. AdministrasiI Organisasi.Buku kas tabelaris . melaks. Keragaan Organisasi. tugas dgn baik 3 Org. thn 2005 = 40. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.5 jt. thn 2005 = 52. Administrasi Tabel 3. tugas dgn baik 8 Org.453 jt. Keragaan Organisasi. melaks. 2005 = 87 Org 14-02-2005 dan 13-03-2006 3 Org.086 jt Thn 2004= 28.Buku-buku besar .Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .Bendel bukti KM-KK . thn 2005 = 22.Buku-buku Bantu . thn 2005 = 119.135 jt Thn 2004= 3 m.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 3.023 jt. thn 2005 = 1.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pagar Dewa.698 jt Thn 2004= 18.688 jt. jt Thn 2004= 56. 2004 =87 Org danThn.

/ = 0 m V 2004/5= 0 jt./ 4.249 jt.Buku kas tabelaris -Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . dan rencana proposal bantuan dana bergulir./3. tgs dgn baik 3 Org.637. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tabel 4. Keragaan Organisasi.Betutu. tgs dgn baik 3 Org.Maraduo 2004/5 = 50 Org/ 50 Org tidak ada data 5 Org.406 M 2004/5= 7. Plg KSU Tunas Baru Jln HM Ryakudu. dan Penyediaan lahan pembangunan pasar. antara lain. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 4.500 jt./=2.350 jt 2004/5=0.029 jt Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=8.dan kantor serta fasilitas umum.312 jt 2004/5= 3. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . tgs dgn baik 24Org.396 jt.310m.235 jt/19./=29. Administrasi Organisasi.340.000 3. yaitu belum berfungsinya operasional pasar secara maksimal.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi BMT Tarbiah Tlg./91. Administrasi Organisasi.JURNAL VOLUME 4 . Penentuan lokasi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) dan pendirian bangunan tidak dikenakan biaya./ 0 jt 2004/5= 2.823 jt.505 jt 2004/5=1.AGUSTUS 2009 : 88-115 Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan usaha koperasi pasar tradisional. melaks. / 3./110. tgs dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Manual Betul/Tertib Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Tabelaris Tertib 692.123 m 108 .850 jt 2004/5=4.607 jt. Dilain pihak kendala yang dihadapi pengurus untuk pengembangan koperasi pasar./ 0 jt 2004/5=0.Buku-buku Bantu . tgs dgn baik 81Org./10. Plg Kop.Bendel bukti KM-KK .melaks.680jt. tgs dgn baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap 2004/5 = 99 Org/= 99 Org 2004/5=1541 Org/2052 Org 30-04-2005/29-04-2006 24-08-2005/31-01-2006 5 Org. / 2.Buku kas harian . Tabel 4.750 jt 2004/5= 0 jt.207 jt. memberikan akses dan dukungan terhadap sumber pembiayaan melalui perbankan dan non bank. tgs dgn baik 3 Org.Buku-buku besar . dan Jumlah transportasi belum memadai.825jt. melaks.185 jt II  2 3 4 III  IV  2 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=2.740 jt/ 1.509 jt 2004/5=72.835jt 2004/5=16. melaks.256 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=2.500jt. Pr SakaSelabung Kec.902 m.750 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 m. Administrasi Usaha Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 Tahun 2006 Di Propinsi Sumatera Selatan NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tg jawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Usaha Pengolahan Pasar .Laba Usaha Peng. melaks./ 0 jt 2004/5= 0 jt./0. melaks. melaks. Keragaan Organisasi./=7.837 m 2004/5=10. melaks. tgs dgn baik 3 Org.

Kab. Bone.Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. namun demikian sampai pada saat dilakukan kunjungan kelokasi. Kab. Kabupaten Sinjai menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003. Walaupun perolehan sisa hasil usaha meningkat. namun demikian. dengan dana sebesar Rp.5 juta. dan tidak ada penambahan anggota tetap sebanyak 158 Orang. KUD Puncak. Bone ada 3 Koperasi Pengelola dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional di propinsi Sulawesi Selatan ada 3 Koperasi Unit Desa (KUD). pasar dimaksud belum dibangun. namun demikian volume usahanya sangat kecil. KUD Waepubbue. 1). maka KUD ini digolongkan sebagai Koperasi Pasar. Tidak jelas penyebabnya. Sudah melakukan RAT pada tahun buku 2 tahun terakhir dengan tepat waktu. Unit usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan pertokoan. namun tidak demikian dengan perkembangan simpanan anggota. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. Usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perkembangan simpanan anggota tidak ada. Sinjai dan Kab.750. Propinsi Sulawesi Selatan. 982. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. Koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi secara tertib. pelayanan usaha simpan pinjam yang dilakukan lebih banyak kepada non anggota.Juta. Buku-buku administrasi dan keuangan lengkap dan dikerjakan dengan tertib. namun yang melakukan pengelolaan dengan baik baru satu koperasi yaitu KUD Puncak.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. dengan dana sebesar Rp.Telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. Bone menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. 2). tetapi perkembangan anggota tidak ada tetap sebanyak 518 Orang. Pedagang sebagai penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang disalurkan oleh KUD tidak seluruhnya anggota koperasi. KUD ini belum melaksanakan RAT pada 2 tahun terakhir. Tidak tersedia 109 . Kabupaten Sinjai. KUD Tenrisangkae Kab.750 juta. Usaha yang dilakukan adalah unit usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan. dengan dana sebesar Rp. 3).

dengan dana sebesar Rp.298. 2.000. Unit usaha yang dilaksanakan koperasi adalah simpan pinjam dengan volumen usaha sebesar Rp.000. telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. memiliki pengurus. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi seprti berikut. sedangkan modal jangka panjang tidak ada. Propinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen di Koperasi Pasar Melati Koperasi Pasar Melati. masyarakat ada yang menuntut hak miliknya. antara lain: status anggota masih lebih banyak calon anggota.500 juta. Permasalahan yang dihadapi pengurus koperasi pasar adalah karena belum dikeluarkan petunjuk dari Menteri Negara Koperasi 110 . sehingga penagihan cicilan masih belum dilaksanakan terhadap anggota.625. Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir. Kabupaten Kebumen menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003.2. Pemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi organisasi lengkap dan tertib dilaksanakan. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional. demikian pula rencana kerja.dan usaha pasar dengan volumen usahasebesar Rp. pengawas dan karyawan ada. walaupun simpanan pokok dan simpanan wajib peningkatan dalam dua tahun terakhir sangat kecil. bahkan simpanan sukarela tidak ada.500. sehingga belum mengetahui mengenai hak dan kewajibannya.JURNAL VOLUME 4 . 529. adanya pertumbuhan anggota. administrasi usaha dilakukan dengan sistim buku kas tabelaris dan sistim akuntansi dan memiliki buku-buku lengkap serta dikerjakan dengan baik. dan status tanah pengembangan pasar masih mempunyai masalah. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 5. pengawas. Perkembangan modal sendiri meningkat melalui pemupukan modal yang bersumber dari anggota.AGUSTUS 2009 : 88-115 data-data organisasi dan usaha. 5. Pembagian tugas dan wewenang pengurus. dan pengelolaan program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional telah dilakukan dengan baik. dengan demikian disimpulkan koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan administrasi pembukuan sebagaimana seharusnya. dan karyawan lengkap serta melaksanakan tugs dengan baik.. Dilain pihak perkembangan modal luar meningkat khususnya modal jangka pendek.

Bone 2004/5 = 158 Org/158 Org 05-01-2005/18-02-2006 3 Org.024jt / 50. melaks. melaks.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang KUD Puncak. tgs dgn baik Tidak ada data 4 Org. jt 2004/5=114.529. tugas dgn baik 3 Org. Kab.Laba Usaha Pertokoan .Buku kas tabelaris -Buku pendukung Sistem akuntansi . dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14.Buku kas harian .426 jt 2004/5=41. tugas dgn baik 9 Org. melaks.000 599.000 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt IV  2 V VI VII  .Non Anggota .Untuk Anggota . Administrasi Organisasi. dan pembayaran cicilan kios tidak rutin dilakukan anggota. Administrasi Organisasi. Bone 2004/5= tidak ada data tidak ada data 3 Org.500.426 jt/5. Kab.750.500. 980 jt/557.000 17.000 1.Buku-buku besar . maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. tgs dgn baik 5 Org.812.052. tugas dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tertib 933.800 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=5.Laba Usaha Administrasi Usaha Sistem buku tabelaris . perihal pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.000 1.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) dan UKM.163. 5 Keragaan Organisasi.515. melaks.980jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 10 0 jt / 100 jt KUD Tentri Sangkae. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota.000 Ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=1. Administrasi Usaha Tabel. jt KUD Waempubbue.Bendel bukti KM-KK .900jt/0.075 jt/1.366 36.Buku-buku Bantu .607jt/64.000 570. Sinjai 2004/5 = 518 Org/518 Org 21-03-2005/20-01-2006 3 Org. Tabel.075 jt 2004/5=0. tgs dgn baik Tidak Lengkap Tidak Baik Stndar Akuntansi Tidak Tertib 599.727 jt 2004/5= 61.000 14.383. melaks.000 11.300.383jt/ =14.800 6.798 jt 2004/5=14.607jt /61.798 jt/41.607.439.300. melaks.968. melaks. tgs dgn baik 3 Org. pola RAT yang sudah ada kurang tepat untuk dilaksanakan.Non Anggota .900 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5=557.052.Dana Bergulir dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Administrasi Usaha dan Pasar Tradisional Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 II  2 3 4 III  2 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Adminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistim Pembukuan SP Volume Usaha : . Kab.366 363.Untuk Anggota . tgs dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tidak Tertib 11. 5 Keragaan Organisasi. jt 2004/5=61. melaks.

260 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V VI VII 112 . Administrasi Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Volume Usaha : .538 jt 2004/5= 183.Buku kas harian .500.646.873 jt 2004/5= 0 jt / = 0 jt 2004/5=61.AGUSTUS 2009 : 88-115 Tabel 6.153 jt 2004/5=13.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Melati Jl.Buku kas tabelaris .110jt/ 5.JURNAL VOLUME 4 . AdministrasiI Organisasi. tugas dgn baik 3 Org. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Betul/Tertib 529. tugas dgn baik 7 Org.Buku-buku besar .227. melaks.dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi. melaks. Administrasi Usaha Keragaan Organisasi.Dwi Karsa – Kebumen 2004 = 1002 Org dan 2005 = 1033 Org 16-02-2005 dan 16-02-2006 5 Org.Laba Usaha Peng.000 15.Bendel bukti KM-KK .678 jt/70.298.625. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Tabel 6. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .944 2.035 jt /195.Laba Usaha Usaha Pengolahan Pasar .Laba Usaha Usaha Pertokoan/Perdagangan . melaks.297 jt/15.Buku-buku Bantu .116 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5= 5.505 10.552. Keragaan Organisasi.950 2.

penjelasan. 2. Mengkroscek keterangan yang disampaikan pengurus. Memberikan saran-saran pembenahan tata usaha organisasi dan managemen kepada pengurus/pengelola baik kelembagaan maupun usaha koperasi. 113 . 8. dan penyelesaian untuk perbaikan pengelolaan koperasi yang baik dan disertai contoh-contoh konkrit. Mengecek kelengkapan buku-buku administrasi koperasi sebagaimana ditetapkan (16 buku) dan menguji ketertiban pelaksanaannya. pengelola supaya menyelenggarakan pembukuan sesuai standar akuntasi keuangan koperasi yang berlaku. 7. 4. apakah sesuai dengan laporan yang disampaikan kepada Tim. Melakukan sosialisasi penataan kelembagaan koperasi kepada calon penerima bantuan perkuatan dana bergulir pasar tradisional terhadap pengurus. Kelembagaan Koperasi Pasar Untuk perbaikan pelaksanakan penataan kelembagaan koperasi penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang akan datang. Mempersiapkan formulir angket isian. tatalaksana dan administrasi usaha koperasi pasar yang mengajukan permohonan bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. sesuai kebutuhan. untuk mengetahui kelengkapan organisasi. maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. 6. pengawas. untuk memperoleh data yang baik. Melakukan kunjungan ke koperasi yang terdaftar sebagai calon penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional untuk melakukan evaluasi. Memberikan saran. terutama menyangkut adminiatrasi keuangan dan usaha koperasi. Mengecek kebenaran laporan pengurus/pengelola koperasi tentang pengelolaan organisasi dan usaha yang dilaksanakan. 3. pengelola dan pengawas dengan keterangan dari anggota tentang kebenaran tertib administrasi dan tertib usaha koperasi. Dalam mengelola administrasi usaha koperasi.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. pengelola dan anggota/kader koperasi.3 Langkah-Langkah Penataan Tradisional. 5.

Kesimpulan dan Saran Hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pasar penerima program bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang telah dilaksanakan. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. 7. maka dianjurkan koperasi pengelola bantuan dana bergulir pembangunan pasar tradisional agar memiliki buku-buku tersebut di atas. Dalam penunjukan/penetapan koperasi pelaksana program. 6. 5. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. monitoring dan evaluasi secara reguler oleh pejabat pembina koperasi. diskusi temu usaha. Pelaksanaan RAT pada beberapa koperasi belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. 114 . Kegiatan pembinaan ini difokuskan pada 2. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. Kelembagaan koperasi pasar tradisional sangat perlu didata. Pengelolaan dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional masih kurang tertib sesuai dengan ketentuan. mengingat dari sampel yang ditinjau diberbagai propinsi. 3. kondisi kepemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi sangat kurang baik. kapasitas dan tanggung jawabnya terhadap kegiatan koperasi pengelola pasar tradisional sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing dalam managemen koperasi. khususnya pengelola bantuan perkuatan atau sejenisnya. 4. Koperasi Pengelola bantuan dana bergulir perlu memiliki sistem administrasi yang lengkap sebagai dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengelola dana publik. Badan Pengawas dan Karyawan Koperasi) untuk membangun komitmen. Untuk itu perlu diintensifkan pelaksanaan bimbingan konsultasi. pendidikan dan latihan.JURNAL VOLUME 4 . Pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. pengendalian. dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. pada hal RAT adalah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Laporan pertanggungjawaban pengurus belum memenuhi standar pelaporan sebagaimana layaknya. Hal ini terkait dengan kurang tertibnya administrasi organisasi dan usaha serta lemahnya kemampuan SDM koperasi dalam pemahaman administrasi managemen. agar terlebih dahulu dilakukan penataan kelembagaan terhadap koperasi calon pengelola bantuan perkuatan.AGUSTUS 2009 : 88-115 V. pengurus. Meningkatkan kemampuan managerial dan kompetensi SDM koperasi (anggota. 8.

Kajian Pengendalian Anggota pada Koperasi Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Koperasi. Kamus Istilah Pemberdayaan Koperasi dan UKM.I. Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Oleh Koperasi. Nomor : 9 Tahun 1995. (2004. Tentang Perkoperasian. DAFTAR PUSTAKA Anonim. (2006). Jakarta. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Infokop Volume 15 No. Jakarta. Ekonomi Makro. Analis IS-LM dan PermintaanPenawaran Agregatif. Pegadaian Versus Bank Umum (Menilai Profil Yang Potensial Untuk Menjadi Lembaga Perkreditan Rakyat). (2007).I. Infokop No.I. --------------. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Volume 3 – September 2008. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Saudin Sijabat. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM R. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) peningkatan kemampuan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Tentang Pedoman Pemeringkatan Koperasi. Yokyakarta. Soediyono Reksoprayitno. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. --------------. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Mengah R. (2007). (2008).I. (2000). Kementerian Negara Koperasi dan UKM. BPFE. Pedagang kaki Lima : Entrepreneur Yang Terabaikan. (2008). 2 Tahun 2007. Nomor : 22/PER/M. Potret Iklim Usaha Pemberdayaan UKMK. Jakarta. Pembinaan Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Kelembagaan Koperasi. ---------------. Jakarta. Kecil dan Menengah.I. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Jakarta -------------. Saudin Sijabat. Infokop Volume 16 . 29 Tahun XXII 2006. Peraturan Pemerintah R. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2. -------------.September 2008. Jakarta. Jakarta. Saudin Sijabat. 115 . Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Tentang Usaha Mikro. Jakarta. (2007). Jakarta. KUKM/IV/200��. Saudin Sijabat. (2007). R. Halomoan Tamba. R. (2008).I. Jakarta. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Kementerian Kementerian Negara Koperasi dan UKM R. (2007).

Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian) Eks Pegawai Asdep Urusan Penelitian UKM sebagai Pemerhati KUKM 116 . Penyelenggaraan. c) the lack of location information with the product especially related to product demand and goods to be promoted and also.. promosi pemasaran I.1 Latar Belakang Salah satu kendala yang dihadapi oleh UMKM adalah akses pasar. Informasi pasar disatu sisi berupa informasi tentang barang-barang hasil produksi UMKM dan kebutuhan atau kecenderungan pasar. *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Penelitian UKM tahun 200��. review terakhir �� �uli 200� Kabid. System management improvement. maupun spesifikasi suatu barang yang diminati masyarakat. 3) Improvement of production technology. Untuk memenuhi permintaan pasar dan selera pasar serta menghadapi persaingan global menuntut inovasi dan kreatifitas para pelaku usaha termasuk dalam aspek teknologi. 8 �uni 200�.AGUSTUS 2009 : 116-139 KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)*) Indra Idris**) dan Sri Lestari***) Abstract Study aim to: a) to measure the impact of MSMEs. product marketing promotion. and also c) to know most efficient and effective promotion program to support development of MSMEs. Artikel diterima 18 Mei 200�. kuantitas. Result of four activities (as ranked) 1) Trading Board 2) Meeting Business. having the character of quadratic to improvement of omset.JURNAL VOLUME 4 . kualitas.d. informasi pasar. 2) The labor absorption improvement. Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan informasi pasar. 3) Exhibition and 4) Mission Trade. untuk itu perlu dibangun sistem pemasaran bagi UMKM yang lebih baik. Some problems which often arise and lessen effective promotion is: a) the minim of socialization. Promotion affect positively to 1) Improvement of profit and omset of MSMEs. pasar. b) partial planning. pemasaran. 4). d) time management with product demand fluctuation. posed at from the increasing of profit mean. PENDAHULUAN 1. yaitu jenis barang. peer review 8 Mei s. b) to know problems faced and dominant factors which are influencing the effective product marketing promotion of MSMEs.

maupun para stakeholder lainnya. Adanya permasalahan internal UMKM serta perkembangan lingkungan dan teknologi yang demikian cepat menyebabkan UMKM belum mampu mengakses informasi pasar. Frekuensi keikutsertaan UMKM tersebut relatif besar. penyebaran brosur dan leaflet. UMKM sendiri. tetapi frekuensinya belum mencukupi. pemasangan spanduk. serta meningkatkan kemampuan dalam memperbaiki kualitas teknologi dan managemen usahanya. Dari data Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). Pelaksanaan kegiatan promosi pemasaran produk UMKM memang telah dilaksanakan baik oleh pemerintah. telah dilakukan promosi pemasaran oleh Instansi pemerintah. bila tidak ingin tergilas atau lenyap sama sekali dalam pertarungan pasar. Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) diketahui bahwa antara tahun 2001 sampai dengan bulan Agustus tahun 2007. terutama dalam berbagai bentuk promosi produk UMKM. Perlu komitmen berbagai pihak untuk memberdayakannya terutama meningkatkan akses pasar melalui peningkatan akses informasi dan teknologi bagi UMKM. Disamping promosi secara individual UMKM juga melaksanakan kegiatan promosi pemasaran lainnya seperti iklan di media masa.478 orang dari 1.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Persaingan pasar yang semakin terbuka menuntut semua pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku bisnis yang terjadi. Pengembangan sistem informasi untuk UMKM selama satu dekade terakhir ini memang sudah dilaksanakan baik oleh UMKM sendiri. dengan perincian 76 kali di dalam negeri dan 51 kali di luar negeri. tetapi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah jenis UMKM dan jumlah jenis barang yang diproduksi oleh UMKM. dan pihak-pihak pihak lainnya sebanyak 127 kali. Jumlah UMKM yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut mencapai 2. Program promosi pemasaran produk UMKM pada intinya adalah ditujukan untuk memperkenalkan produk UMKM kepasaran nasional dan internasional. dibandingkan dengan jumlah dan jenis produk UMKM. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh UMKM sendiri ruang lingkupnya sangat terbatas. 117 . sedangkan program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah jumlahnya relatif masih sedikit. Bentuk promosi invidual ini cenderung memiliki jangkauan pasar yang relatif sempit (tingkat daerah dan nasional saja). Dampak lebih lanjut yang diharapkan adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran. pemerintah dan pihak-pihak lainnya. iklan reklame dan lain-lain yang bersifat parsial. Kegiatan promosi pemasaran diharapkan dapat mendorong UMKM meningkatkan efesiensi dan produktifitas.864 unit usaha.

2 Tujuan Kajian Kajian ini bertujuan untuk: 1) Mengukur dampak kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dalam berbagai bentuk. apakah itu karena adanya promosi yang diprakarsai dan dilakukan baik oleh pemerintah. 2) Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. 3) Mengetahui bentuk program promosi yang paling efektif dan efisien dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang diindikasi dari peningkatan omset dan laba UMKM.AGUSTUS 2009 : 116-139 Sejalan dengan uraian di atas.3 Sasaran Kajian Sasaran Kajian ini adalah: 1) Mengetahui tingkat pengaruh promosi pemasaran UMKM terhadap perluasan pangsa produk UMKM. baik yang dilaksanakan di dalam maupun di luar negeri. laba. Jika terjadi kenaikan produksi dan omset UMKM. Apa saja faktor kunci yang menentukan tingkat keberhasilan program promosi pemasaran UMKM ? 1. serta.JURNAL VOLUME 4 . perbaikan teknologi serta pengembangan sistem managemen usaha UMKM. 1. penyerapan tenaga. maka diperlukan kajian eksploratif evaluatif untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut 1. terhadap peningkatan omset. 3) Mendapatkan solusi pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi serta menetapkan dan mengembangkan bentuk promosi pemasaran yang efektif. 118 . UMKM sendiri maupun pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya? 3. Apakah program promosi dalam berbagai bentuk ditingkat nasional maupun internasional tersebut telah memberikan dampak nyata (signifikan) terhadap peningkatan produksi dan pangsa pasar UMKM? 2. 2) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran produk UMKM. Apa permasalahan yang dihadapi dalam upaya meninglkatan efektifitas berbagai kegiatan promosi yang telah dan yang bisa dilakukan? 4.

Beberapa faktor yang harus diperhitungkan oleh UMKM sebagai produsen menurut Harry (1968) adalah kelayakan penggunaan dana. harga. pesaing. 119 . Beberapa kegiatan promosi yang paling banyak dilakukan oleh UMKM dan para stakeholder adalah berupa pameran. dan belum berorientasi sistem bisnis modern. trent atau mode serta faktor-faktor eksternal lainnya.1 Kerangka Dasar Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. Hal tersebut berdampak meningkatnya tabungan (saving) guna mendukung upaya perluasan skala usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. dengan tujuan utama untuk memperoleh pembeli (buyers). yang mengutamakan relasi dan kesinambungan pasar. trading board. maka promosi harus dilakukan secara profesional. Beberapa hasil pengamatan empiris seperti yang dilakukan poleh Wachidin (2002) dan Sujito (2001) menunjukkan bahwa pada kesempatan pameran UMKM lebih cenderung menjual produknya secara retail. Kebiasaan ini menandakan bahwa UMKM masih terobsesi pada kesempatan pameran lokal yang menjadi ajang penjualan langsung. Keempat aspek ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran. Menurut Ramlan (2001) dalam pameran/festival terbuka peluang bagi UMKM untuk menjual produknya secara langsung juga terbuka. Untuk tujuan tersebut produsen harus mengalokasikan sejumlah sumberdaya yang jumlahnya cukup besar. misi dagang dan temu bisnis. tempat atau lokasi dan promosi produk. KERANGKA PEMIKIRAN 2. Dengan dikenalnya produk UMKM diharapkan dapat meningkatkan volume usaha sehingga pada akhirnya meningkatkan laba.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) II. peluang pasar. selera konsumen atas barang tersebut. UMKM harus dapat memilih bentuk promosi yang memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. Teori ekonomi menjelaskan bahwa konsep pemasaran meliputi 4 unsur pendukung yaitu produk. Pengertian promosi adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk memperkenalkan UMKM dan produknya kepada konsumen. Penjualan langsung ini umumnya kurang menguntungkan karena laba yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. barang substitusi dan komplementer. Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Dari keempat unsur tersebut promosi merupakan unsur terakhir yang dianggap memiliki posisi strategis sebagai faktor kunci yang menghubungkan atau memperkenalkan produk yang dihasilkan UMKM kepada konsumen atau pasar. jenis barang yang akan dipasarkan.

UMKM skala usaha kecil menuju menengah di sektor industri kerajinan yang sering mengikuti kegiatan promosi. Keikutsertaan mereka dalam kegiatan promosi pemasaran yang bersifat terkoordinir tersebut juga dikarenakan apabila mereka melakukan promosi secara mandiri tidak memiliki pengetahuan dan biaya yang cukup besar.JURNAL VOLUME 4 . Temu bisnis juga merupakan kegiatan yang cukup luas. Biasanya dalam misi dagang dilaksanakan dalam ruang lingkup yang sangat luas.AGUSTUS 2009 : 116-139 Temu bisnis atau misi dagang pada dasarnya juga merupakan media yang bertujuan untuk mempromosikan produk kepada buyer/ pasar. dan menuntut pengetahuan luas dari produsen dan buyer tentang barang dan managemen pemasarannya. Promosi tersebut memang diperlukan UMKM untuk menarik konsumen dari daerah yang sudah menggunakan produk sejenis. Sujito (2001) mengemukakan bahwa berdasarkan pengamatannya. 120 . temu bisnis. ada wacana untuk membangun trading house dan bussines center di beberapa negara konsumen. memerlukan biaya besar. Ruang lingkup promosi hanya terbatas diantara produsen dengan beberapa buyer saja. Sebagai misal yang telah dilakukan oleh pemerintah China dan pemerintah Vietnam di Afrika Barat dan beberapa negara Arab. trading house. menyangkut semua aspek perdagangan dan kebijakan pemerintah yang mendukung kelancaran perdagangan. Pembangunan dan penyelenggaraan promosi ini hanya mungkin dilaksanakan oleh pemerintah. Secara skematis hubungan antar keterkaitan faktor penentu. pameran/exhibition dan lainnya. Misi dagang Misi dagang umumnya hanya melibatkan para pengusaha menengah dan besar. Dampaknya sangat besar karena pembelian biasanya dilakukan dalam bentuk partai besar dan jangka waktu yang relatif panjang. sehingga sulit dilakukan. Atas pertimbangan tersebut di atas maka untuk mendukung pertumbuhan bisnis UMKM. atau para pengusaha kelas menengah dan besar. yang diproduksi oleh UMKM. Djauhari (2006) mengatakan bahwa disamping bentuk promosi di atas yang telah pernah dilakukan oleh UMKM. Kementerian Negara Koperasi dan UMKM merencanakan dan telah melaksanakan berbagai program promosi bagi UMKM berupa misi dagang.2 Kerangka Operasional Kajian ini difokuskan untuk melihat seberapa besar dampak dari pelaksanaan promosi terhadap perluasan pasar yang berdampak pada peningkatan omset UMKM. 2. dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada gambar 1.

39 30.55 37.70 47. KaitanKaitan Dampak Pameran terhadap peningkatanpeningkatan Gambar 1.Y. jumlah pesaing dan kondisi persaingan.15 65.4  . Omset.1 8.15 70.98 54. lama waktu penyelenggaran.16 28.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Dari gambar 1 dapat dikemukakan bahwa keberhasilan kegiatan promosi pemasaran ditentukan oleh banyak faktor antara lain kondisi internal UMKM.46 61. Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset. frekuensi keikutsertaan dalam promosi.8 14.81 53.88 50. 3.27 Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM No 1. kualitas produk. 2.2 7.5 63.5 64. ProduktifitasProduktifitas dan Pendapatan UKM peningkatan dan Pendapatan UKM 2.85 121 53.7 10. jenis produk yang ingin dipromosikan.3 Variabel Analisis A.26 11. Jatim Rata-rata /Propinsi 48.5 43. Dalam Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah faktor akan unsur-unsur tersebut akan menjadi variabel bebas yang Omset Omset Omset Omset Pembeli Pembeli Pembeli ( %) %) ( %) ( %) dapat ditentukanPembeli signifikansi pengaruhnya (dengan (menggunakan %) ( %) ( %) ( %) 40. PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO KEGIATAN PROMOSI Peningkatas Kualitas Produk Dan SDM Perluasan Pasar Produk UMKMK Inovasi Teknologi Peningkatan Omset Peningkatan Pendapatan /Laba Pertambahan Investasi Perbaikan Produktifitas Gambar 1.00 42.41 13. Propinsi Jateng D.85 10. biaya promosi lokasi atau tempat promosi.4 41. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan (%) Faktor Penentukan Keberhasilan Beberapa unsur yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program promosi pemasaran dalam kajian Pameran Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board ini diasumsikan menjadi faktor kunci (keyKnaikan Knaikan analisis factor). Tabel 1.05 59.30 28.5 62.9 39.68 14.18 35. prosedur dan keikutsertaan dalam promosi.92 17. penyelenggara promosi.I.

Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas modelmodel promosi pemasaran produk UMKM. 2) Jenis produk yang ingin di pamerkan/pasarkan. 2) Peningkatan laba.Yogyakarta. 10) Kualitas barang produk.2 Metoda Pengumpulan Data Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda survey terbatas. Analisis kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi ideal dan kondisi riil di lapang. 9) Prosedur dan keikutsertaan. 3) Menetapkan faktorfaktor dominan yang mempengaruhi efektifitas program promosi pemasaran produk UMKM. 8) Lama waktu penyelenggaran. 3. Penyelenggara pameran. B. 3) Peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja. dan Jawa Timur. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan acak terbatas (purposive random sampling). III. Selain itu kajian dilaksanakan di tiga propinsi contoh yaitu Jawa Tengah. D I.1 Ruang Lingkup Substansi Kajian Ruang lingkup kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM b). 3). Bentuk promosi.AGUSTUS 2009 : 116-139 model-model kualitatif maupun kuantitatif (matematis). METODA KAJIAN DAN ANALISIS 3. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari responden sample.JURNAL VOLUME 4 . 11) Jumlah pesaing dan kondisi persaingan. Adapun data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait dan berbagai referensi. 5) Peningkatan kualitas managemen usaha. Analisis kuantitatif menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan matematik antara lain: 122 . Frekuensi keikutsertaan dalam kegiatan promosi pemasaran. 4) Peningkatan teknologi produksi. yaitu terdiri dari: 1) Kondisi internal UMKM. Dampak keberhasilan pelaksanaan promosi Dampak yang dikaji dengan keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran yaitu: 1) Peningkatan omset. 4). 7) Lokasi atau tempat. 5). 3. baik dari penjualan langsung (untuk promosi dalam bentuk pameran) dan barang yang terjual sesudah dilaksanakannya kegiatan promosi (pemesanan).3 Metoda Analisis Kajian ini menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. Biaya promosi. 6).

Kualitas barang=X10. Adapun model dasar yang digunakan adalah K = M/B. Perluasan Pasar Produk UMKM. bila K > 1 dinilai layak. Jumlah pesaing dan kondisi persaingan=X11. baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan program promosi UKMK yaitu: Kondisi internal UMKM=X1. Peningkatan teknologi produksi. Lama waktu penyelenggaran=X8. Adapun model dasar yang digunakan adalah: Y = a + Bx + e Y = Peubah tetap yaitu kinerja/indikator keberhasilan pameran dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang terdiri dari. sedangkan bila K < 1. UMKM dinilai tidak layak untuk ikut promosi Manfaat yang diperoleh berupa kenaikan laba UMKM dari keikutsertaannya dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) Biaya yang dikeluarkan oleh UMKM untuk ikut serta dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) M = B = 2) Regresi linier berganda (multy variety analisys) untuk menentukan ada tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent terhadap dependent variable. Adapun peubah bebas terdiri dari beberapa faktor-faktor yang diduga berpengaruh. Prosedur Prosedur keikutsertaan dalam promosi=X9. B=Koefisien regresi. 3) Oleh karena adanya dugaan bahwa ada pengaruh silang antar tiap peubah bebas (independet variable) terhadap kinerja peubah tetap (dependent variable) maka akan digunakan model analisis regresi berjenjang (step wise analisys). Lokasi atau tempat=X7. Biaya promosi= X6. Penyelenggara promosi= X4.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 1) Analisa ekonomi sederhana berupa model analisa biaya manfaat (benefid cost ratio). Jenis produk yang ingin di pamerkan/ pasarkan=X2. dimana: K = Kelayakan keikutsertaan UMKM. 123 . Tema promosi= X5. E=Galat (error). Frekuensi Keikutsertaan=X3. Y1 = Y2 = Yang mana A=Intersep (constanta). dan X= Peubah bebas (independent variable). yang ditujukan untuk menentukan kelayakan keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan promosi.

dan Jumlah Peserta Hasil kajian di propinsi Jawa Tengah. Nampaknya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada di ketiga propinsi contoh. 4) Model analisis komparatif. D. Temu bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh berjenjang antar dependent variable akan digunakan step wise analisys dengan Uji a (alpha test).082 orang. atau 104. dengan frekuensi kegiatan selama lima tahun terakhir sebanyak 29 kali dan peserta 1. kualitas produk dan orientasi pasar.6 orang per tahun. Hasil pengamatan menyimpulkan bahwa rendahnya jumlah penyelenggaraan promosi dan keikutsertaan UMKM dalam 124 . Pelaksanaan. Bentuk promosi yang relatif banyak menyerap peserta adalah pameran. Frekuensi keikutsertaan.2 per propinsi per tahun. IV. Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan program Statistical Analisys System (SAS) dengan uji t dan Uji a sampai dengan tingkat kepercayaan (level of significant) 90%. menunjukkan bahwa bentuk promosi pemasaran yang paling banyak diikuti UMKM adalah pameran. dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73 orang.1. Berikutnya adalah trading board sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta. Sedangkan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta adalah temu bisnis. Yogyakarta dan Jawa Timar.6 kali per tahun. serta seberapa besar pengaruh dari independent variable terhadap dependent variable akan digunakan Uji t (t test). Frekwensi .94 juta unit usaha. diikuti dengan trading board. Jumlah ini menurut mereka sudah cukup memadai.I.1 Penyelenggaraan Promosi Pemasaran 4. misi dagang dan kontak dagang. digunakan untuk menjawab indikator dampak kegiatan promosi pemasaran terhadap peningkatan Kualitas SDM yang diindikasikan dari perubahan pola pikir produsen baik dalam hal managemen.AGUSTUS 2009 : 116-139 Untuk menguji ada tidaknya pengaruh.1. penggunaan teknologi. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS 4. tiap propinsi contoh rata-rata telah mengirim UMKM ikut dalam program promosi sebanyak 14.yang diperkirakan mencapai 8. dengan tingkat kepercayaan 90 %.JURNAL VOLUME 4 . Jenis. Jumlah peserta yang diikutkan sebanyak 312.

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari)

kegiatan tersebut adalah disebabkan adanya berbagai kendala antara lain: a) Keterbatasan dana dan SDM, baik dikalangan stakeholder (terutama pemerintah), maupun dikalangan UMKM sendiri; b) Terbatasnya kepedulian dan komitmen dari kalangan yang berkepentingan langsung dengan kegiatan tersebut dan; c) Kurangnya inisiatif UMKM sendiri untuk melakukan promosi pemasaran. 4.1.2. Keikutsertaan UMKM dalam Kegiatan Promosi Menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 yaitu sebagian besar UMKM bergerak di sektor industri kerajinan, dengan peserta sebanyak 833 orang (53,23%), pertambangan/penggalian sebanyak 353 orang (22,56%), dan pariwisata 302 orang (19,29%). Sedangkan UMKM yang bergerak di sektor lainnya sangat sedikit, yaitu hanya 84 orang (5,47%), Dari aspek skala usaha, dari 1.565 orang yang ikut dalam kegiatan promosi pemasaran pertanian terdiri dari 171 orang (10,93%) tergolong usaha mikro, 922 orang (58,91%) tergolong usaha kecil dan 472 orang (30,16%) tergolong kelompok usaha menengah. Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi juga dipengaruhi oleh: a) Faktor penyelenggara (pusat, internasional, lokal); b) Tempat, lama/waktu penyelenggaraan promosi, jarak tempat promosi dengan produsen; c) Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang; d) Besar biaya dan atau ketersedian dan sumberdana dari penyelenggara serta; e) Inisiatif dan atau kepedulian dari stakeholder. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas penyelenggaraan promosi antara lain; a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. 4.1.3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Dilihat dari tempat dan waktu penyelenggaraan promosi pemasaran ditunjukkan bahwa: (a) Dari 73 kali keikutsertaan UMKM di ketiga propinsi contoh dalam kegiatan promosi

125

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 116-139

selama lima tahun tahun terakhir, 14 kali di laksanakan di luar negeri (pameran, misi dagang dan temu bisnis), 59 kali ditingkat nasional dan tingkat propinsi, (b) Rata-rata waktu penyelenggaraan promosi berbeda-beda sesuai bentuk promosi dan tempat promosi pemasaran, dengan rincian sebagai berikut: misi dagang waktu efektif 3,43 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, temu bisnis waktu efektif 4 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, Pameran di luar negeri waktu efektif 11,33 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan dan pulang, pameran di tingkat nasional waktu efektif 11 hari termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang Dibandingkan dengan temuan Sujito (1997), waktu yang disediakan untuk berbagai bentuk kegiatan promosi ini relatif cukup dan kendalanya adalah waktu untuk mempersiapkan pameran. Dari hasil kajian menyatakan bahwa 36,6% responden memerlukan waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan keikutsertaaan mereka dalam kegiatan promosi, 63,4% responden memerlukan waktu sekitar satu sampai tiga bulan untuk mempersiapkan pameran, namun waktu yang diberikan oleh penyelenggara biasanya hanya sekitar dua minggu sampai dengan satu bulan. Dengan sempitnya waktu tersebut biasanya calon peserta menghadapi masalah dalam mempersiapkan modal, bahan baku, dan sebagainya. 4.1.4. Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kajian mengenai penyelenggara dan biaya promosi kegiatan promosi pemasaran yang diikuti UMKM selama 5 tahun terakhir di 3 Propinsi contoh adalah sebagai berikut: a. Penyelenggara atau pemrakarsa kegiatan promosi, terbanyak (43 kali atau 58,90%) adalah pemerintah, pusat maupun daerah, kelompok swasta/asossiasi perdagangan/komoditi sebanyak 7 kali atau 9,58%, dan dari negara-negara lain baik swasta maupun pemerintahnya sebanya 13 kali atau 30,23% . b. Besarnya biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan. Komponen biaya promosi di luar modal kerja yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dipamerkan adalah: a) Sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) Biaya pengepakan; d) Biaya pengangkutan dan biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran).

126

PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA

FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI

LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) KEGIATAN (Indra Idris dan Sri Lestari) PROMOSI

Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di luar negeri biaya yang dikeluarkan untuk ikut dalam kegiatan tersebut rataPeningkatas rata Rp 21,67 juta (misi dagang), Rp 23,33Inovasi juta (temu bisnis), Perluasan Pasar Kualitas Produk yang mana Produk UMKMK Teknologi 75,4% dibebankan pada pelaku usaha dan sisanya Dan SDM 24,6% ditanggung oleh penyelenggara atau stakeholder. Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di dalam negeri, (umumnya pameran), biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp 3,6 juta Peningkatan Omset sampai dengan Rp 4,2 juta, dengan rata-rata sebesar Rp 3,9 juta, yang mana rata-rata biaya yang dikeluarkan (sharing) UMKM Peningkatan Pendapatan untuk promosi di dalam negeri (pameran) adalah 70,2% dari /Laba total biaya promosi, kekurangannya yang 39,8% ditanggung oleh penyelenggara.
Pertambahan Investasi Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa biaya promosi yang harus ditanggung oleh UMKM relatif mahal. Hal tersebut menyebabkan UMKM terutama kelompok pengusaha Perbaikan mikro dan pengusaha kecil, tidak mampu ikut promosi. Produktifitas Gambar

4.2

Dampak Promosi Terhadap Peningkatan Jumlah Pembeli UMKM
1.

diikuti UMKM contoh di 3 Propinsi terhadap peningkatan jumlah pembeli dan omset UMKM seperti ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaranterhadap peningkatan (%) (%) Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM
Pameran Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 48,5 40,9 62,5 39,5 64,5 43,4 63,4 41,26 Misi Dagang Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 11,92 30,88 17,85 50,46 10,41 61,70 13,39 47,68 Temu Bisnis Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 14,1 14,16 8,2 28,00 7,7 42,30 10,8 28,15 Trading Board Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 65,05 35,15 59,55 70,81 37,98 53,85 54,18 53,27

Kaitan Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset, peningkatan Produktifitas dan Pendapatanpemasaran yang pernah Dampak berbagai bentuk promosi UKM

No 1. 2. 3.

Propinsi Jateng D.I.Y. Jatim Rata-rata /Propinsi

4.2.1

Dampak Promosi dalam Bentuk Pameran 

Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan pameran, yaitu terjadi peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 63,4% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 41,26% pada UMKM setelah mengikuti kegiatan promosi pemasaran dalam bentuk pameran, yang mana UMKM Jawa Timur mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 64,5% dan 43,4% .

127

peningkatan omset-nya 128 .4%) tapi memberikan dampak peningkatan omset lebih tinggi 47.JURNAL VOLUME 4 .15% pada UMKM setelah mengikuti temu bisnis. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 10. yang berdampak pada peningkatan produksi. terlihat bahwa tambahan omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran mencapai Rp 46. Dari aspek peningkatan omset.04%). untuk jangka waktu tertentu. Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119.1 juta per UKM.AGUSTUS 2009 : 116-139 Kenaikan jumlah pembeli dapat dihitung dari peningkatan: 1) Pembelian langsung. atau meningkat sebesar Rp 33. yaitu: terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 13. nilai jual (omset) dan bermuara peningkatan laba UMKM.15%) Besarnya dampak misi dagang terhadap peningkatan omset terutama dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk yang dipromosikan dalam jumlah tertentu.2.6 juta per tahun (28. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 14.8% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 28. Sedangkan keberhasilan pameran ditunjukkan dari keberhasilan peningkatan permintaan dalam jangka panjang.68% dibanding pameran 41.I. UMKM D. Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 17.39% lebih rendah dari peningkatan jumlah pembeli dampak pameran (63.2.2 juta.68% pada UMKM setelah mengikuti misi dagang/kontak dagang.85% dan 50. 4. 2) Pembelian melalui pemesanan produk yang dipromosikan. Misi dagang/kontak dagang memberikan dampak peningkatan jumlah pembeli 13.3 Dampak Temu Bisnis Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan temu bisnis.2 Dampak Misi Dagang /Kontak Dagang Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan misi dagang/kontak dagang.46%.26% dan temu bisnis (28.39% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 47. yaitu sewaktu dilaksanakannya pameran yang mana jumlah pembeli mencapai ratarata 103 orang per propinsi.8 juta menjadi Rp 158. 4.1%.

81%. UMKM D.77%.30%. peningkatan omset-nya paling tinggi yaitu mencapai 42.4 Dampak Trading Board Dari tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan trading board. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 54.27% pada UMKM setelah mengikuti trading board. UMKM Jawa Timur jumlah pembelinya hanya meningkat 7.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 29. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu.05%. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. Terlihat bahwa pertambahan rata-rata jumlah pembeli linier dengan pertambahan omset.I. Kenaikan jumlah pembeli ini relatif cukup signifikan. hal ini dimungkinkan karena trading board umumnya memiliki jangkauan daerah yang cukup luas. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 65. peningkatan omset-nya paling tinggi mencapai 70.I. Yogyakarta dari pertambahan jumlah pembeli membuat peningkatan omset tertinggi.3 Dampak Promosi Pemasaran Terhadap Laba UMKM. a) Harga penjualan menjadi lebih rendah. 4. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.14% dari sebelum mengikuti kegiatan promosi pemasaran. Persentase pertambahan omset ternyata 2.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) hanya 14.15%.2.16%. a) Harga pembelian menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan. Dan Penyerapan Tenaga Kerja Dampak promosi pemasaran pada tabel 2 menunjukan rata-rata meningkatkan laba 44. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. Persentase pertambahan omset UMKM Jawa Tengah hanya meningkatkan omset separuhnya. Yogyakarta jumlah pembelinya meningkat 59. UMKM D. 4. Di sini terlihat bahwa pertambahan jumlah pembeli tidak linier dengan pertambahan omset. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.8 kali lebih besar dari pertambahan jumlah pembeli.7%. Peningkatan tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. peningkatan omset-nya hanya 35.18% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 53. yaitu 129 .

Peningkatan penyerapan tenaga kerja Managemen Usaha ter tinggi dicapai oleh UMKM D.76 1.98 meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 35.99% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.99 35. Yogya Jawa Timur Rata-rata 39.08 41.37 20.63 Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board Rataan Tenaga Kerja 28. Peningkatan laba dan0.88 30.63 meningkatkan dan 5.21 10.04 2.88 meningkatkan 1.70 18.54 35.18 8.11 43.11% dari sebelum 2.31 62.52 28. Yogyakarta meningkat 35.27 10.15 43.60 1.72 31.54 58.AGUSTUS 2009 : 116-139 meningkatkan laba UMKM sebesar 51.11 53.88 1.06 29.90% dan 2.94 20.53 32. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan Tenaga Kerja Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Pameran Laba Jawa Tengah D.05 2.50 Tenaga Laba Kerja 11.19 0.89 0.23 51.JURNAL VOLUME 4 . Adapun dampak dari masing-masing jenis promosi pemasaran dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 2. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan dan Tabel 2.01 61.17 mengikuti misi dagang.74 42.I.90 Tenaga Laba Kerja 46.52 51.22 penyerapan tenaga 1. Peningkatan Peningkatan 2) Dampak misi dagang/kontak dagang yang telah diikuti UMKM Skor Persen Skor Persen di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 58.80 40.68 sebesar6.29 42. yaitu meningkatkanTeknologi dan sebesar 60.35 31.18% 0.77 1. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.13 7.16 30.63% dan meningkatkan contoh rata-rata meningkatkan terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen 30.29 61.65 penyerapan tenaga kerja 46.48 28.98 0.55 1.72 60.30 17. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.46% dan penyerapan tenaga kerja 29.35 0.54% penyerapan tenaga kerja sebesar Usaha dari sebelum mengikuti pameran. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Dampak Terhadap Jawa Timur.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 20.15% dibanding sebelum mengikuti 1.67 35. 2.76 34.50 PROPINSI 1) Dampak pameran yang pernah diikuti UMKM di 3 propinsi Tabel 3.47 0.17 30. Dampak Promosi Pemasaran laba 43.66 33.14% dari sebelum mengikuti promosi pemasaran.24 62.10 3) Dampak temu bisnis yang diikuti UMKM di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 43.29% (Nilai skor) (Nilai skor) dibanding sebelum mengikuti pameran.08 16.46 31.70 44.21 11.44 21.14 Propinsi Tenaga Laba Kerja 25. yaitu meningkatkan Awal Sesudah Awal Sesudah Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 130 2 .73 2.11 5.18 35.73 2. Adapun peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM Yogyakarta.73 43.73 % dari laba UMKM Managemen Usaha sebelumTeknologi mengikuti pameran.I.96 2.21 kegiatan misi dagang/kontak dagang.33 0.39 39.29 2.12 Tenaga Laba Kerja 31.06 0.87 kerja tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Tengah.53% dari sebelum mengikuti temu bisnis. yaitu laba UMKM 5.

yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51. nilai skor dampak promosi terhadap pengembangan teknologi produksi termasuk dalam kategori sedang (2.16 produksi. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba dan peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM D.18 46. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Tabel 3.29 Peningkatan kemampuan managemen usaha.55 Awal Sesudah Peningkatan Skor 0. dalam 28.72 31.12 31.70 35.17 1.33).21 Persen 17. Adapun Tabel 2.65 11. Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board 4.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan promosi trading board.66 20.52 51.21 0. 35. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.54 28.67 35.70 hasil kajian 43.74 1. 4) Dampak trading board yang telah diikuti UMKM di 3 propinsi contoh meningkatkan laba rata-rata 32.44 21.39 39. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.98 2.88 1.29 42.27 1.I.04 10.76 2.15 43.63 30.08 41.98 6.90% dibanding sebelum mengikuti kegiatan trading board.17 42.22 0.46 30.87 5.50 29.18 0.23 51.31 2.30 0.54 58.52 D.35 16.37 Persen 10.I Yogyakarta.73 5.80 40.63 0.73 31. Penyerapan Tenaga Kerja yaitu meningkatkan penyerapan tenaga kerja 31. 28.73 5.4 Dampak Non Finansial Pameran Dampak non finansial dari keikutsertaan UMKM dalam kegiatan Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Laba Laba Laba Laba Laba Kerja Kerja Kerja Kerja Kerja promosi pemasaran adalah terdiri dari: a) Peningkatan teknologi 25.96 2.06 kajian dikuantifkan 60.77 61.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.47 7.11 Rata-rata lapang yang sudah diubah dalam bentuk kuantitatif tersebut.48 Jawa Tengah 39.90 35.60 8. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen Usaha Teknologi Dan Managemen Usaha Dampak Terhadap Teknologi dan Managemen Usaha Teknologi Managemen Usaha (Nilai skor) (Nilai skor) Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) penyerapan tenaga kerja 31. ditunjukkan pada tabel 3.72 61.68 1.11 0.99 18.76 34.10 Dari tabel 3 terlihat bahwa keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran berdampak pada: 1) Pengembangan teknologi yang digunakan. Data44.06 2.11 53.08 11.24 62.21 Propinsi Rataan PROPINSI Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 1.33 1.13 0.14 penilaian 32.70% dari sebelum mengikuti trading board.12% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 31.50 20.29 31.94 Jawa Timur dengan menggunakan metoda 43.37 poin dibandingkan dengan waktu sebelum dilaksanakan program promosi yang hanya mencapai 2 131 .35 2.88 b) Kedua 30.88 33.01 2.05 1.89 2. Yogya variabel tetap yang bersifat kualitatif ini.19 2. Tabel 3.53 (skoring). yaitu terjadi peningkatan nilai skor rata-rata sebesar 0.

54 34. laba/biaya 1.8 61.35 2. Nilai skor sistem managemen usaha meningkat rata-rata 0.27 1. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 2) Dari aspek omset usaha. Promosi Peningk.48 182.47 7.58 26.39 10.31 2.15 Manfaat Non Finansial Perbaikan Teknologi 2.04 77.852 5. terutama laba dan omset.4 357.10 ( kategori sedang).61 227.15 Trading Board 53. bagi kelompok UMKM yang ikut Produk UMKM Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi dalam promosi ditentukan oleh angka perbandingan antara pertambahan Dampak Promosi omset usaha dengan biaya promosi.027 5.88 41. Tabel 4 Tabel 4 . atau per tahun lima tahun Tenaga Managemen Tekno Jumlah rata Kerja logi mencapai Rp 36.51 19.69 26.15.26 Peningk.10 PROPINSI Omset Laba Jateng D.19 2.342 Rasio peningk.52 58.06 2. maka baik secara parsial.97 2.89 (kategori kurang) menjadi 2.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.4 183.21 poin atau 11. 2) Pengembangan sistem managemen usaha.36 178.452 2.14 157.32 30.21 Pameran rasio41.52 31.20 6.68 Misi Dagang 28. Laba 24.26 biaya terhadap peningkatan omset-nya10.2 113.8 119.21 39.28 41.98 6.59 44.96 (kategori kurang).83 54.853 16. bagi UMKM yang memiliki ratio tambahan laba perbandingan cost dan benefid ratio (B/C rasio) kurang dari satu kegiatan promosi dinilai kurang layak.54 20.49 11.11 24.AGUSTUS 2009 : 116-139 nilai skors 1. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan oleh kondisi usaha UMKM sendiri.85 184. Karena besarnya ratarata biaya promosi maka secara parsial.18 30.9 49.4 118.30 121.06 32.5 73.88 26. Hasil pengamatan memperlihatkan rata-rata UMKM yang mengikuti kegiatan promosi pemasaran diketiga propinsi contoh secara agregat semua layak untuk mengikuti kegiatan tersebut karena B/C rationya rata-rata mencapai 2. maupun kumulatif 180.24 34.16 75.23 29.63 43.19 124. Peningk.19 30.21 12.46 Ratio Pening kata omset/biaya 4.36 30.55 Rata-rata 42. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran .8 juta.33 Perbaikan managemen 2. Peningk. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kelayakan Finansial Pening katan Omset 60.70 6.53 35.27 37.I.05 Biaya Promosi 12.27 43. 4.28 2. Oleh*) karena UMKM yang turut Bentuk dalam kegiatan promosi pemasaran mengalami kenaikan rata-rata Pening Tambahan Peningk.JURNAL VOLUME 4 .322 5.1% yaitu dari 1.5 Kelayakan Penyelenggaraan Promosi Hasil analisas kelayakan kegiatan promosi pemasaran dilihat dari aspek finansial dan non finansial (tabel 4) memperlihatkan: ) Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek finansial UMKM.42 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Tabel 5.93 729. Ratakatan omsetOmset selama Laba Pembeli sebesar Rp 183.73 21.2 43.01 2. terjadi perbaikan sistem managemen usaha diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem managemen usaha dikalangan UMKM yang telah mengikuti kegiatan promosi pemasaran.55 rata-rata mencapai Temu Bisnis 47.55 9.87 132 Jumlah 170.88 70.92 117.90 13.32 28.47 17.7 juta.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen .37 12.12 58.30 13.28 29.17 25.17 136.

21 12.19 Ratarata 30.I.30 5.55 Rata-rata 42.87%.48 182.32 28.30 121.98 184.92 117.322 2.2 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Dari tabel 5 dapat dikemukakan bahwa berdasarkan metoda Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan pembobotan di atas diketahui bahwa rata-rata nilai bobot dari keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran tersebut sebesar 30.14 atau rata-rata 30.90 Pening katan Pembeli 58. Dengan nilai sebesar ini kegiatan promosi pemasaran dinilai sangat layak untuk dilakukan oleh UMKM.28 75.05 11. Tabel5. 2.24 5.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.027 30. Peningk.69 26. Laba Laba Promosi Teknologi managemen kata Adapun urutan (ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut: ranking Omset laba/biaya omset/biaya pertama adalah trading board dengan nilai bobot 227.06%.14 157.27 73.61 atau rata-rata 26.68 28. b) Peningkatan omset setelah dilakukannya promosi dalam bentuk trading board mencapai 53.55 26.52 13. c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja 35.54 20.87%.342.19 atau rata60.19 dengan nilai bobot 49.15 2.9 43.42 25.26 47. ranking kedua adalah temu1.69%.93 729.11 Peningk.36 178.47 17.36 atau 34. ranking ke 2.52 58. 133 .88 Peningk.46 5. ranking ke empat adalah misi 183. 4.342 2.63 43.37 12.55 4.4 357.8 119.54 34. Managemen 6. b) Peningkatan laba dengan mencapai 58.12 43.31 61.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 5.88 21.6 Tingkat Keberhasilan Dari Tiap Bentuk Promosi Tabel 4 .21 24. Laba 32.47 1.26 41.20 adalah pameran dengan tiga nilai bobot 180.33 2.70 30.06 30.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti Keterangan: kegiatan promosi dalam satuan persen *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen 1) Trading Board Trading board memiliki dampak yang signifikan kesemua aspek penilaian.2 113.27%.01 6.10 dagang dengan nilai bobot 157.17 136.15 53. Keberhasilan bentuk promosi ini dalam mendukung 3 kemampuan UMKM disebabkan oleh antara lain: a) Waktu promosi yang cukup panjang (lama).16 13.90% dan.27 Peningk.59 44. Omset 41.853 2.452 7. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari bentuk promosi ini adalah: a) Peningkatan rata-rata dengan nilai bobot 227.28 9.97 bisnis.17 6.39 10.36 184.85 Jumlah 180.4 41.39%.61 227.39%.11%. Nilai bobot Kelayakan Finansial Manfaat Non Finansial mengindikasikan bahwa sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran Ratio Pening memiliki nilai tambah dari berbagai aspek Rasio pengamatan sebesar 30.35 2. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi Tabel pemasaran Produk UMKM Produk UMKM Dampak Promosi *) Bentuk Promosi Peningk.88 70.8 124.28 2.27 37.53 35.4 118. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran PROPINSI Omset Jateng D.23 29.21 24. serta c) Jenis produksi yang dipromosikan bisa sangat beragam.49 rata-rata16.06 rata 37. Biaya Pening Perbaikan Perbaikan katan peningk.5 39.19 atau nilai rata-rata 37.83 54. Tekno logi 10.27% dari jumlah omset sebelumnya.32 30.87 Pameran Temu Bisnis Misi Dagang Trading Board Jumlah 170.58 26.852 2.73 12. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 5.18 Tambahan Tenaga Kerja 31. b) Biaya promosi yang relatif rendah.51 19.19 29.04 77.

Besarnya peningkatan teknologi pada temu bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan dan selera konsumen. Hal ini dimungkinkan karena: a) Produsen dapat berhubungan langsung dengan konsumen. 3) Pameran Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. jumlah barang serta pola kerjasama atau kemitraan). c) Mempromosikan produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (fore ward efect). Dari aspek peningkatan omset.AGUSTUS 2009 : 116-139 2) Temu Bisnis Keberhasil bentuk promosi ini sangat merata dari segala aspek penilaian. b) Memberikan inspirasi kepada pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar serta. Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak signifikan. b) Peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat meningkatkan investasi serta. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. Kehandalan pameran dari aspek penyerapan tenaga kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk yang dipromosikan adalah barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya. Dari beberapa indikator keberhasilan temu bisnis yang dianalis dalam kajian ini. hanya ada satu faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. c) Adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-pihak lainnya untuk menjual produk teknologi yang diproduksi.JURNAL VOLUME 4 . Rendahnya kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan dari bentuk promosi ini. tanpa memperhatikan peningkatan jumlah pembelinya. 134 . karena tidak banyak meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Dari aspek penyerapan tenaga kerja kurang ideal. Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. kualitas barang. laba dan perbaikan managemen usaha. b) Akan terbentuk adanya kerjasama dalam pemasaran produk. Dalam temu bisnis maka calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi produk yang akan ditawarkan (jenis barang. karena temu bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan omset penjualan. temu bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan.

d). Terdapat 12 Peubah bebas (independent variable) yang dianalisis yaitu: 1). c). Dampak misi dagang diindikasikan dari kenaikan nilai bobot.8989 dan nilai keeratan hubungan 8016. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. 6) Tema Promosi.7928. 10) Prosedur keikutsertaan. Jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 2) 135 . Kondisi Internal 2). terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap nilai penjualan (omset) UMKM yaitu: a). Promosi. f) Managemen Usaha.8766.9341 dan nilai keeratan hubungan 0. V. Kualitas barang. b). dengan nilai kondisi hubungan 0.13%.9616 dan nilai keeratan hubungan 0. d). Kondisi internal UMKM.8830 dan nilai keeratan hubungan 0. Kedua aspek penilaian tersebut masing-masing 26. 9) Waktu Promosi. Perbaikan sistem managemen didorong oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya. adapun kinerja yang dihasilkan adalah peningkatan: a) Nilai penjualan (omset).Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 4) Misi Dagang Keunggulan misi dagang ditunjukan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM.9061 b). c) Laba. Hasil analisis menunjukan. ANALISIS FAKTOR BERPENGARUH KEBERHASILAN PROMOSI PEMASARAN Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran digunakan uji statistik Analisis Regresi Simultan pada tingkat kepercayaan 90% dan Principle Componen Analisis dengan tingkat kepercayaan 85%. Jenis produk yang dipromosikan. Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Hasil analisis menunjukan.7076.8763 dan nilai keeratan hubungan 0. B) Jumlah pembeli. dan 12) Jumlah Pesaing. c) Bentuk promosi. Penyerapan tenaga kerja. Pengembangan teknologi produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki adanya peningkatan kualitas dan kuantitas barang yang ingin dibeli.37% dan 28. 7) Biaya Promosi 8) Lokasi Promosi. d). Penyelenggara promosi. Jenis Produk 3). dengan nilai kondisi hubungan 0. e) Teknologi produksi. 5) Promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 6 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap jumlah pembeli UMKM yaitu: a). g) Jaringan Usaha. Biaya promosi.9113 dan nilai keeratan hubungan 0. Bentuk promosi.9254.9213 dan nilai keeratan hubungan 0. 11) Kualitas Barang.8917. Frekuensi Keikutsertaan 4).

9391 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8955.78798.7945. c) Frekwensi keikutsertaan. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a). f) Waktu promosi.8698.9720 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8651.7798.8769.8871 dan nilai keeratan hubungan 0. Hasil analisis menunjukkan.8732 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8788 dan nilai keeratan hubungan 0.7619.8637 dan nilai keeratan hubungan 0. b).8709 dan nilai keeratan hubungan 0.JURNAL VOLUME 4 .8907 dan nilai keeratan hubungan 0.7986.97139 dan nilai keeratan hubungan 0.8967 dan nilai keeratan hubungan. g) Jumlah pesaing. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu perusahaan untuk berproduksi lebih efisien. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan.7665. maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang tentang teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efesien produksi. Hasil analisis menunjukan. d ).9639 dan nilai keeratan hubungan 0.8392. Kualitas barang.8709. 0.8748. Hasil analisis menunjukan. f) Jumlah pesaing. dengan nilai kondisi hubungan 0.8613 dan nilai keeratan hubungan 0. yang diperoleh dari berbagai pihak.9178.9178. e). dengan nilai kondisi hubungan 0.AGUSTUS 2009 : 116-139 0. e) Lokasi promosi. Kondisi internal UMKM.97139 dan nilai keeratan hubungan 0. 3) Hasil analisis menunjukan terdapat. 7 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a).8731 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 0. 4) 5) 6) 136 . b). d) Biaya promosi. Lokasi promosi.9308 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Besarnya pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut dalam kegiatan promosi. c) Penyelenggara promosi. untuk itu perusahaan yang bersangkutan akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kemampuan UMKM dalam penyerapan tenaga yaitu jenis produk yang dipromosikan.7619. g) Jumlah pesaing. dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM peningkatan managemen usaha UMKM yaitu kondisi internal UMKM. Kondisi internal UMKM.9109 dan nilai keeratan hubungan 0.

1 Kesimpulan 1. VI.8650 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0.9184 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. e) Penyelenggara Promosi.9176 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. f) Biaya promosi. serta menurunkan biaya produksi. dengan nilai kondisi hubungan 0. 9480 dan nilai keeratan hubungan 0.9378 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. terdapat 8 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan jaringan pasar yaitu: a). Secara agregat semua usaha kecil dan menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi. Promosi pemasaran mampu meningkatkan laba UMKM. 137 .9140. Keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha menengah.9078. Sifat peningkatan laba yang tidak linier dengan peningkatan omset dikarenakan peningkatan laba ternyata bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM tetapi karena berkurangnya marjin yang terserap dalam serta pasar. 8243. dengan nilai kondisi hubungan 0.8987 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. d) Bentuk promosi. c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. misi/kontak dagang dan temu bisnis.8854 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. trading board. c) Frekuensi keikutsertaan UMKM. dengan nilai kondisi hubungan 0.8769. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan. 3. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas promosi adalah: a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi).8798.9352. Kondisi internal UMKM.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dengan nilai kondisi hubungan 0. Terdapat empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh UMKM yaitu pameran. g) Lokasi promosi. Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (73 kali) diikuti UMKM.9207 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta. b).9265. KESIMPULAN DAN SARAN 6. dengan nilai kondisi hubungan 0. h) Kualitas barang. 7) Hasil analisis menunjukan.8759.8609.9805 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. 2.

b) Memfasilitasi kegiatan promosi. Pameran menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. Usaha yang memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program promosi adalah: a) Memperbanyak program promosi melalui kerjasama dengan para stakeholder. Promosi pemasaran berdampak nyata pada: a). 5. Peningkatan kualitas managemen. misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh pemerintah. c) Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan Laba UMKM. 7. Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebehasilan promosi pemasaran diperoleh hasil: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata terhadap perluasan pangsa pasar.2 Saran 1. b) Jenis dan Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba UMKM serta penigkatan kualitas teknologi. yang diindikasikan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. tetapi bentuk promosi ini memiliki keungulan spesifik. laba dan perbaikan managemen usaha. 6. d) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam meningkatkan perolehan laba. 6.JURNAL VOLUME 4 . Peningkatan jumlah pembeli juga jauh lebih besar dibandingkan bentuk promosi lainnya. nasional dan internasional. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. b). Peningkatan kualitas tekonologi. Peningkatan teknologi produksi. e) Berpengaruh nyata terhadap pangsa pasar. sedangkan temu bisnis perlu lebih didorong sehingga tidak hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi juga dapat dilakukan oleh UKM dan koperasi. pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari kabupaten sampai dengan di tingkat internasional. c). 2. Temu bisnis berdampak merata pada aspek peningkatan omset. Untuk meringankan beban biaya usaha mikro mengikuti kegiatan promosi pemasaran maka diperlukan subsidi penuh dari pemerintah. Kemampuan Kemampuan penyerapan tenaga kerja. Trading board dapat dikembangkan di tingkat propinsi. dan d).AGUSTUS 2009 : 116-139 4. Temu bisnis merupakan bentuk promosi yang dapat diandalkan. sehingga berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (foreword efect). omset dan laba perusahaan. Misi dagang memang memiliki total nilai bobot terendah. c) Memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta 138 . 8.

Sujito.A. Jakarta. Kasali Reinal. (1969). (1984). Panglaikim. e) Membangun kaitan (lingkage) yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara dengan semua stakeholder lainnya serta. Marketing (Suatu Pengantar). (1984). Jakarta. Program Doktor Bidang Ekonomi Perusahaan. P. Macam-Macam Bentuk Promosi Yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk Industri Kecil. Managemen Promosi dan Pemasaran Produk. Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan Dalam Menghadapi Pasar Global. New York. serta. Nurachmat. Buletin Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional. DAFTAR PUSTAKA Affandi. Untuk mengatasi berbagai masalah dalam rangka meningkatkan efektifitas kegiatan promosi pemasaran diperlukan: a) Perencanaan yang terkoordinasi. Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran Melalui Program Promosi (Studi kasus kebijakan Perdagangan Internasional). Some Problem of Market Distribution. Mac Graw HillBook Company. Marketing. Tosdal. Manulang. (1980). Harry R. Shaw. (2005). (1967). 3. Jakarta. PT. (1997).Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dalam kegiatan promosi. b) Evaluasi kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan. Jakarta. PT. Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi.R.T. Program Magister Managemen Universitas Indonesia. Ramlan. c) Perhitungan waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. (2002). Wahidin. Pembangunan Jakarta. (2001). Bharata Jakarta. Bina Aksara. Program Pasca Sarjana Universitas Gajahmada. 139 . Program Pasca Sarjana Universitas Pajajaran Bandung. (2001). Business Review Havard University London. Kajian Manfaat Pameran Dalam Meningkatkan Omset Industri Kecil (Thesis). Introduction to Sales Management. Bina Antar Nusa Jakarta.

but it has a weak level of interrelationship. through training. extension. The result of the data analysis shows that: a). b). From the aspect of the implementation of vertical integration functions group of each institusional functions. This interrelationship is also significant or real. koperasi sekunder.AGUSTUS 2009 : 140-160 KAJIAN TENTANG KETERKAITAN KOPERASI SEKUNDER DENGAN KOPERASI PRIMER ANGGOTANYA*) Togap Tambunan**) dan Jannes Situmorang***) Abstract Assessment on interrelation of secondary cooperative with primary cooperative of their member is aimed at: a). business functions and supporting functions. the secondary cooperative is interrelated with primary cooperatives of their members. empowerment of cooperative principles. Sample was determined by using purposive sampling. This assessment were done in 8 with the objects of secondary and primary cooperative of their member. capacity building I. keterkaitan lemah.JURNAL VOLUME 4 . Koperasi primer. From the point of view of the implementation of all the vertical integration function of secondary cooperatives interrelated with the primary cooperatives of their member. review akhir �� �uli 200� **) Kabid. Artikel diterima 24 April 200�.1 Latar Belakang Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992 menyebutkan bahwa koperasi sekunder adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. socialization. To identify the interrelationship based on functional group implemented by secondary cooperative to primary cooperative of their member. b). Kehutanan. and techniques should be increased. but the level of interrelationship is still weak. Koperasi sekunder dapat Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200��. This interrelationship is significant and real. PENDAHULUAN 1. This assessment suggests so that the level of interrelationship between secondary cooperative with the primary cooperative ot their member could become stronger then capacity building. To identify the interrelationship among provincial level secondary cooperative with the primary cooperative of their member. Deputi Bidang Produksi (koordinator kajian) ***) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK *) 140 . peer review 24 April 200�.

koperasi sekunder harus mampu membangun dan mengembangkan potensi ekonomi koperasi anggotanya. PUSKOPKAR. Sesuai Undang-Undang Perkoperasian. PUSKSP. Beberapa contoh Koperasi Sekunder yang dikenal antara lain INKOPOL. INKOPKAR. dan (3) Induk. dan (2) Berfungsi sebagai ”subsidiaritas” dimana bisnis yang dilaksanakan anggota (koperasi primer) tidak dijalankan oleh koperasi sekunder sehingga tidak saling mematikan. (2) Gabungan. IKPRI. 1.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. Sesuai pasal 4 Undang-undang Nomor 25 tahun 1992. GKSI. koperasi sekunder didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan 141 . INKOPDIT. Hingga saat ini tercatat terdapat 156 koperasi sekunder tingkat nasional yang terdiri dari 63 Induk Koperasi. IKPI. PUSKOPDIT. 7 koperasi berbentuk Gabungan. Koperasikoperasi sekunder diharapkan mampu membentuk jaringan usaha dengan koperasi-koperasi primer dan mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan. Bagaimana sesungguhnya jaringan usaha yang terbentuk dan kerjasama yang dibangun? Informasi dan data-data mengenai hal ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan suatu kajian untuk menelaahnya secara khusus. Juga menurut undang-undang tersebut.2 Permasalahan Fungsi koperasi sekunder secara spesifik menurut UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 adalah (1) Berfungsi sebagai jaringan dengan sekurang-kurangnya 3 anggota untuk menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar. dan lain-lain. dalam menjalankan fungsinya. koperasi sekunder memiliki beberapa fungsi dan peran umum. PUSKOPTI. Sebagai sebuah lembaga. Jumlah ini belum termasuk koperasi sekunder yang tersebar disetiap provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia. Pendirian koperasi sekunder dalam berbagai tingkatan selama ini dikenal dengan sebutan (1) Pusat. PUSKUD. dan (2) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. GKBI. Fungsi dan peran ini kemudian akan menciptakan berbagai manfaat koperasi di dalam perekonomian. INKUD. fungsi dan peran tersebut adalah: (1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. dan 86 koperasi lainnya berbentuk Pusat (Kementerian Koperasi dan UKM. 2005).

Koperasi sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) koperasi primer. Identifikasi keterkaitan usaha antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Mengetahui keterkaitan berdasarkan kelompok fungsi yang dilaksanakan koperasi sekunder kepada koperasi primer anggotanya. Hal ini kemudian menyebabkan terbentuknya banyak koperasi primer dan koperasi sekunder. Koperasi sekunder memiliki dua fungsi 142 . diperlukan kajian untuk mengetahui sejauhmana keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. maka koperasi sekunder memiliki tiga azas yaitu: (1) Efisiensi. Namun eksistensi dan keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya hingga sekarang belum diketahui pasti. Efisiensi usaha dan bargaining position di dalam koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggotanya. 2). (2) Mutual (saling melengkapi). Selama ini koperasi-koperasi sekunder terus terbentuk dan bertumbuh dengan berbagai aktivitas. yakni koperasi sekunder yang dibentuk oleh badan hukum koperasi primer. 2). II.JURNAL VOLUME 4 . 3).4 Ruang Lingkup g Ruang lingkup kajian meliputi beberapa aspek antara lain: 1). Koperasi sekunder dapat didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan.3 Tujuan Kajian Tujuan kajian ini adalah untuk: 1). dan (3) Kebersamaan. Berdasarkan basis pembentukannya. Undang-undang tersebut memberikan peluang kepada gerakan koperasi untuk mendirikan koperasi pada berbagai tingkatan sesuai kebutuhannya. 1. Karena itu. KERANGKA PEMIKIRAN Koperasi sekunder memiliki bentuk koperasi yang khas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian. Identifikasi hubungan fungsional dan capacity building koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Juga belum diketahui peran koperasi sekunder menjalankan fungsi-fungsinya kepada koperasi primer anggotanya dan sebaliknya koperasi primer menjalankan kewajibannya kepada koperasi sekunder. Mengetahui keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. 1. Koperasi sekunder tidak berbasis kepada orang (member based) melainkan dibentuk berdasarkan kesamaan kebutuhan organisasi.AGUSTUS 2009 : 140-160 kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi.

peningkatan produksi KOPERASI KOPERASIdari usaha-usaha yang dijalankan. masing-masing pihak menerima manfaat yang dapat mendorong peningkatan dan pengembangan usaha secara lebih baik. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. Aktivitas : Penangkapan Pengolahan Pelelangan Simpan pinjam KOPERASI PRIMER Pabrik es Produksi garam Pengadaan BBM Gambar Gambar 1. gambar 1 menyajikan sebuah contoh jaringan dan subsidiaritas koperasi sekunder – koperasi primer pada bidang usaha UNDANG-UNDANG NOMOR 25 perikanan. adanya KOPERASI KOPERASI KOPERASI jaminan pasar bagi produknya. TAHUN 1992 Gambar 1 memperlihatkan keterkaitan antara kelembagaan koperasi sekunder – primer dan SEBAGAI PILAR dalam usaha-usaha yang saling KOPERASI keterkaitan di mendukung (backward and INDONESIA PEREKONOMIAN forward linkages). PRIMERmodal. Selain itu manfaat umum baik bagi koperasi ? sekunder maupun KOPERASI koperasi primer adalahSEKUNDER tercipta efisiensi usaha dan jaringan usaha yang kuat diantara mereka. Dari keterkaitan sesuai jaringan yang ada. Sebagai jaringan. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Usaha Perikanan Usaha Perikanan Secara garis besar.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) yaitu sebagai suatu jaringan dan sebagai subsidiaritas. sehingga tidak saling mematikan. Koperasi-koperasi sekunder mendapat manfaat sebagai pasar F2 dan menerima input dari koperasi primer. INDUK PUSAT IKPI Aktivitas : Pabrik es Pemasaran antar daerah Pengadaan BBM Kebutuhan penolong. Para anggota (koperasi primer) mendapat manfaat peningkatan keuntungan secara finansial. teknologi dan manajemen yang akses PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER lebih modern. Sedangkan fungsi subsidiaritas memiliki arti bisnis yang dilakukan anggotanya (koperasi primer). 143  . tidak dijalankan di tingkat koperasi sekunder. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer 1. Aktivitas : Pabrik jaring Pabrik pengalengan Ekspor. dan berpeluangF1 mengembangkan bisnis ? yang lebih tinggi tingkatannya sehingga dapat bersaing dengan bisnis non-koperasi. koperasi sekunder diharapkan mampu menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar bagi dirinya sendiri dan bagi koperasi primer anggotanya. OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya.

Primer kepada Kop. Gambar 2. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi.1 Obyek Kajian Obyek kajian ini mencakup: (1) Koperasi sekunder tingkat provinsi (pusat dan gabungan). Keterangan : = Arah pembentukan koperasi = Arah pelaksanaan fungsi dan kewajiban F1 = Pelaksanaan fungsi oleh Kop. Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. METODE KAJIAN 3.JURNAL VOLUME 4 . III. 2. KerangkaPemikiranKeterkaitan Usaha dandan Kelembagaan Gambar Kerangka Pemikiran Keterkaitan Usaha Kelembagaan Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 1992 KOPERASI SEBAGAI PILAR PEREKONOMIAN INDONESIA KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER F2 F1 KOPERASI SEKUNDER ? ? OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya.AGUSTUS 2009 : 140-160 Sedangkan gambar 2 menyajikan skema kerangka berpikir yang digunakan dalam kajian ini. Sekunder. Sekunder kepada Kop. 144 . dan (2) Koperasi primer anggota. Primer F2 = Pelaksanaan kewajiban oleh Kop.

Sumatera Barat. Responden penelitian ini adalah pengurus koperasi sekunder dan pengurus koperasi primer anggotanya. dinas koperasi tingkat provinsi dan kabupaten. Jawa Tengah. Definisi fungsi-fungsi tersebut adalah: A. Seleksi fungsi-fungsi tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Petunjuk Pemeringkatan Koperasi Berkualitas dan Koperasi Berprestasi. Sulawesi Selatan. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari laporan-laporan Kementerian Koperasi dan UKM. dan dari masing-masing koperasi. Koperasi sekunder dimaksud adalah yang masih aktif dan memiliki keterkaitan dengan koperasi anggotanya. (2) Fungsi usaha.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) 3. 3. Diperoleh 25 fungsi yang layak dijadikan faktor yang menentukan keterkaitan dimaksud. Fungsi-fungsi tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian masing-masing: (1) Fungsi kelembagaan. 3. Fungsifungsi yang harus dilaksanakan oleh masing-masing tentu sangat banyak. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Timur. 3. Kelembagaan FA1 : memberikan bimbingan dan advokasi keanggotaan FA2 : memberikan masukan mengenai RAT (menghadiri. kemudian dipilih koperasi sekunder dan primer anggota sebagai sampel.1 Jenis Data Data yang dikumpulkan sebagai bahan analisis terdiri dari data primer dan data sekunder. Dari lokasi kajian yang telah ditentukan.2 Seleksi Fungsi-fungsi Keterkaitan Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi-fungsi diantara mereka.2 Lokasi dan Waktu Kajian Kajian ini telah dilaksanakan pada 8 provinsi yang memiliki koperasi sekunder masing-masing: Jawa Timur. mengarahkan) FA3 : ikut menyusun rencana kerja dan RAPB Koperasi Sekunder FA4 : memberikan pelatihan manajerial koperasi FA5 : menegakkan implementasi nilai-nilai koperasi 145 . BPS tingkat provinsi. dan Kalimantan Barat. Sumatera Utara.3 Metode Penarikan Sampel (Sampling Methode) Penarikan sampel pada objek kajian dilakukan dengan metode Purposive Sampling. dan (3) Fungsi penunjang. Sampel koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggota dipilih berdasarkan informasi dari dinas koperasi provinsi setempat. Data primer diperoleh dari para responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun secara terstruktur.

........ sedangkan fungsi F3.. 3.... C... : : : : : : membantu penyusunan business plan (rencana kerja) membantu dan membangun jaringan pemasaran membantu pengolahan/proses produksi membantu permodalan/pembiayaan produksi membantu promosi mengadakan temu usaha..JURNAL VOLUME 4 .. dan FA13...... FB1 sampai FB6 dan FC1 sampai FC5 dilaksanakan oleh koperasi sekunder kepada koperasi primer anggota.....AGUSTUS 2009 : 140-160 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 B...... FA4 sampai FA11......... F12 dan F13 dilaksanakan oleh koperasi primer anggota kepada koperasi sekunder. 146 .... ilmiah (seminar....... Keterangan : Fungsi FA1.. Uji Chi Square (Uji χ 2 ) Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya dapat dianalisis dengan metode Chi-Square (uji χ 2 ) dengan rumus: (1) χ2 = ∑ ∑ ( f0 − fh )2 fh ........ FA2... Penunjang FC1 : membantu administrasi bisnis (pembukuan. Usaha FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 : memberikan pelatihan organisasi koperasi han : memberikan pelatihan keanggotaan koperasi : mengadakan pertemuan khusus.3 Metode Analisis Data a)... lokakarya) : membangun kerjasama antara koperasi anggota : mengupayakan kemitraan dengan pihak ketiga : mengadakan pertemuan secara periodik : menghadiri RAT Koperasi Sekunder : membagikan SHU kepada anggota : memenuhi kewajiban... akuntansi.... dll) FC2 : membantu manajemen FC3 : membantu sistem informasi FC4 : membantu penyebaran informasi FC5 : membantu image (citra) koperasi..

...... Untuk mendapatkan nilai Chi-Square. ditempuh beberapa langkah yakni: 1).. dan 3). Secara statistik dinyatakan bahwa : H0 diterima bila : χ2 ≤ χ2 α. dimana : fe = Frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis) Σ f kolom = Jumlah frekuensi kolom Σ f baris = Jumlah frekuensi baris Total = Jumlah baris dan kolom (keduanya harus sama)........... uji signifikansi digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya melalui fungsi-fungsi yang mereka lakukan... Terima H0 memiliki arti tidak ada keterkaitan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Keterangan : χ 2 = Chi – Square fo = Frekuensi yang diperoleh dari sampel (hasil observasi) fh = Frekuensi yang diharapkan atau disebut juga frekuensi teoritis..... Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis nol/nihil (H0) dan hipotesis tandingan/alternatif (H). Dalam penelitian ini.... Setelah perhitungan dengan metode Chi-Square....... dengan derajad bebas tertentu.. digunakan rumus pada persamaan (2).. dengan derajad bebas tertentu H0 ditolak atau terima H bila : χ2 > χ2 α... Menghitung nilai Uji Chi-Square berdasarkan rumus (1). analisis kemudian dilanjutkan dengan uji signifikansi. b)..... (2) fe = (∑ f kolom) Total (∑ f baris ) .. Dihitung frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis). Untuk menghitung nilai dari frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis). Sebaliknya H0 ditolak atau terima H berarti ada keterkaitan yang signifikan antara kedua variabel.. Data frekuensi ditabulasi... Nilai χ2 diperoleh dari hasil perhitungan sesuai rumus chi square di atas. Uji Signifikansi Uji siginifkansi digunakan untuk menunjukkan bahwa apakah ada hubungan yang signifikan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Sedangkan nilai χ2 2 α dengan derajad bebas tertentu adalah nilai chi square statistik 147 . 2).

. NTT. 148 ..... atau dependensi dari klasifikasi-klasifikasi dalam tabel kontingensi.. Sumut).. Derajat bebas (d. Lotim dan Lobar). Jika C = 0 maka tidak terdapat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya........ Sumut. Jateng.5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya dan keterkaitan tersebut dikatakan cukup kuat.... Jika C = 1 maka terdapat keterkaitan yang sangat kuat diantara keduanya.. Sulsel.......... diperoleh 33 koperasi sekunder...01 yang memiliki arti kita percaya bahwa 99% hasil uji yang kita peroleh adalah sangat akurat.... (4) PUSKUD MINA (Puskud Mina Jatim).... IV.. dan jika C > 0.. Sumut. c)....b) diperoleh dengan rumus: (Jumlah baris – 1) dikalikan (jumlah kolom – 1) Taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah α = 0... Rumus koefisien kontingensi adalah : C= χ2 χ +n 2 ...AGUSTUS 2009 : 140-160 yang dapat dilihat pada tabel chi square standar.. NTT.. Sedangan jika C < 0. (3) PUSKOPDIT (Puskopdit Jateng... GAMBARAN UMUM KOPERASI SAMPEL 4. dan apakah hubungan tersebut kuat atau tidak kuat.5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya namun keterkaitan tersebut lemah. Nilai koefisien kontingensi (C) berkisar antara nol hingga satu.. (2) GKSI Jateng.. (5) PKP-RI (PKP Sumbar. dan Kalbar). Koefisien Kontingensi (C) Koefisien kontingensi digunakan untuk mengukur derajat hubungan. Sulsel. (7) PUSKOPPONTREN (Puskoppontren Sulsel).... NTT... Jumlah tersebut dibagi dalam 12 jenis koperasi masing-masing: (1) PUSKUD (Puskud Jatim... Sumbar....JURNAL VOLUME 4 .1 Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi Dari hasil survei lapangan pada 8 provinsi... asosiasi.... (3) dimana : C = Koefisien kontingensi χ 2 = Nilai chi. (6) PUSKOPPAS (Puskoppas Sulsel).... Derajat hubungan di sini menunjukkan ada korelasi atau tidak antara kolom dan baris tabel kontingensi.....square n = Besar sampel...

PUSKUD memiliki anggota (KUD) yang paling banyak. sebanyak 69. dan PUSKUD. Dari sisi usaha. Puskopad A’DAM VII/WRB. dua kali sebanyak 6. disusul PKP–RI. (10) PUSKOPPOLDA (Puskoppolda Sumbar. PUSKOPPOLDA. PUSKUD.12%.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) (8) PUSKSP (Puskospin Jatim. Sulsel). Sedangkan yang melakukan RAT empat kali sebanyak 15. Namun pada nilai SHU.24% atau 8 koperasi menempati gedung kantor berstatus pinjaman. NTB). PUSKOPPOLDA dan PUSKUD MINA memiliki jumlah yang lebih banyak. NTT. Dari sisi jumlah anggota. dan sisanya 36. GKSI Jateng dan PUSKOPWAN mencapai nilai terbesar. Meskipun dari modal PUSKUD memiliki modal yang paling besar namun nilai SHU-nya lebih rendah dibanding rata-rata yang dicapai oleh PUSKOPPAS dan PUSKOPPOLDA. tiga kali sebanyak 12.15%. sebagian koperasi-koperasi sekunder tingkat provinsi mengalami perkembangan yang makin maju.70% koperasi sekunder tingkat provinsi sampel (atau 23 koperasi) sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri. Sesuai data yang terkumpul.06% atau 2 koperasi masih menempati gadung kantor dengan status kontrak. Sedangkan koperasi-koprerasi lainnya memiliki jumlah anggota lebih sedikit (kurang dari 100 unit). Data ini menunjukkan masih cukup banyak koperasi sekunder yang menyeleggarakan RAT setiap tahun.30% berusia 10 sampai 20 tahun. Sesuai data yang terhimpun.06%. dan sebanyak 6. Sebanyak 24. Dari segi usia. Keragaan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi secara rata-rata selama 5 tahun terakhir menurut urutan nilai-nilai yang paling tinggi hingga terendah dapat dilihat pada Gambar 3. sebanyak 30. Sumut).33% koperasi berusia lebih dari 20 tahun. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah mengalami perkembangan yang makin menurun. Sumbar. Ini menunjukkan mereka cukup aktif dan tetap menjalankan ketentuan administrasi secara baik. jumlah modal dan volume usaha PUSKUD.06%. sebanyak 33. dan (12) PKSU (PKSU NTB dan Kalbar). Sementara itu PUSKUD MINA mengalami kerugian dimana SHU-nya bernilai ratarata negatif dalam 5 tahun terakhir. (9) PUSKOPWAN (Puskowan Jatim.55% koperasi sekunder tingkat provinsi melakukan RAT setiap tahun dalam 5 tahun terakhir. Sulsel.36% berusia 3 sampai 9 tahun. (11) PUSAT KOPERASI VETERAN (Puskop Purnawirawan & Warakawuri TNI & Polri NTT). Sebanyak 54. tiga koperasi yang mencapai nilai yang paling besar adalah PUSKOPPAS. satu kali sebanyak 6.06%. Pada jumlah unit usaha. 149 . dan yang tidak melakukan RAT sama sekali sebanyak 6.

52 Persen P.50 27.19 10.KOPWAN P.KOPPAS N a m a K o p e ra s i Jumlah Volume Usaha Koperasi Sekunder 2680 2169 1656 3513 P.89 10.VETERAN P.87 Persen 547.52 119.23 P.51 Persen Gambar 3.RI P.24 253.55 11.43 -8.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.54 Nama Koperasi - Rata-rata Tingkat Rentabilitas Koperasi Sekunder 19.65 152.PONTREN P.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Unit Us aha Kope ras i Se k unde r 7 7 P.08 9.74 5.25 30.60 P.KOPDIT PUS. VETERAN PKSU P.PONTREN P.KOPW AN P.MINA 179. VETERAN PUS.RI P.PONTREN PUSKSP P.37 54. POLDA P.52 8.33 21.POLDA GKSI PUSKSP P.63 165.RI PUSKUD P. VETERAN P.00 19.MINA P.34 Jt Rupiah 169.KOPDIT P. POLDA PUSKUD P.KOPDIT P.65 8.MINA PUSKSP P.KOPPAS P. VETERAN 1349 1225 974 965 410 259 138 - 5891 17553 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah 926 553 472 381 321 99 90 36 Jt Rupiah Jumlah SHU Koperasi Sekunder Rata-rata Tingkat Solvabilitas Koperasi Sekunder -27.40 75.MINA PKP . POLDA PUSKUD PUS. VETERAN PKP . Keragaan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi 150 .MINA P.RI PUS.RI P.PONTREN P.KOPDIT PUSKUD P.KOPDIT GKSI PKP .KOPPAS Jumlah Modal Koperasi Sekunder 23633 PUSKUD GKSI P.RI P.KOPPAS PUS.33 21.20 156.01 123.MINA PKSU GKSI P.PONTREN PUSKSP PKSU P.KOPPAS N am a K operasi Rata-rata Tingkat Likuiditas Koperasi Sekunder 386.KOPDIT PUS.PONTREN PKSU P.88 63.02 - 86.41 331. POLDA PUS.PONTREN P.KOPW AN P.KOPDIT P.RI P.KOPPAS Nama Koperasi Nama Koperasi - 0.RI P.MINA PUSKUD P.89 6.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.57 P.KOPDIT PKSU P.44 349.KOPWAN PKP . POLDA PKSU P.KOPPAS P.74 152. POLDA P. VETERAN PKP .JURNAL VOLUME 4 .69 83.KOPPAS Jumlah Anggota Koperasi Sekunder N ama Koperas i 1 1 - 2 2 2 2 3 4 6 Jumlah Unit 86 60 47 31 27 24 22 16 12 8 143 405 Jumlah Unit PUSKUD PKP .MINA 411.67 53. POLDA PUS.64 51.74 5.36 178.17 291.KOPW AN PUSKSP GKSI PKP .PONTREN P.KOPWAN PUSKUD GKSI PKP . VETERAN PUSKSP P.

12 koperasi. KOPWAN. Pada sisi pengurus. (2) KUD Susu. (5) KPRI. Tiga provinsi masing-masing NTT. Pada umumnya sebagian koperasi primer mengalami perkembangan yang makin maju. Ratarata Koperasi sekunder menghadiri RAT yang diselenggarakan koperasi primer anggotanya. hampir semua koperasi sekunder tingkat provinsi mengeluhkan kekurangan modal untuk pembiayaan usahanya. (7) KOPPONTREN. Untuk jumlah unit usaha. KSI memiliki jumlah yang lebih banyak (9 unit) diikuti masing-masing oleh KUD MINA dan KUD. (6) KOPPAS. 4 provinsi masing-masing Jawa Timur. dan KOPPONTREN memiliki jumlah pengurus lebih banyak dibanding koperasi-koperasi lainnya. (3) KOPDIT. (10) KOPPOLDA. 151 . (9) KOPWAN. Dari sisi permodalan. Namun dengan segenap keterbatasan yang ada mereka tetap berusaha untuk tetap eksis menjalankan usaha yang ada. Ada beberapa koperasi primer sampel menyatakan tidak memperoleh informasi memadai dari koperasi sekunder dalam kegiatan pengembangan usaha dan informasi pasar. 26 koperasi. Dari sisi jumlah anggota. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah makin menurun. dan seterusnya. hampir 90% Koperasi Sekundernya aktif menyelenggarakan RAT setiap tahun selama 5 tahun terakhir. Jawa Tengah. Jumlah ini dikategorikan menurut 12 jenis koperasi sekunder tingkat provinsi dengan perincian sebagai berikut: (1) KUD. 4. Keragaan masing-masing golongan koperasi secara rata-rata selama 5 tahun (tahun 2001 – 2005) menurut urutan nilai terbesar dapat dilihat pada Gambar 4. KUD.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi provinsi. (8) KSP. (4) KUD MINA. dan (11) KSU. KUD Susu memiliki anggota jauh lebih banyak diikuti. 24 koperasi. 1 koperasi. Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat hanya menjalankan RAT satu kali selama 5 tahun terakhir. 2 koperasi. jarang dilakukan. 11 koperasi. Sedangkan provinsi NTB 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahunnya. Bahkan masing-masing satu koperasi sekunder dari NTT. Namun dalam hal kerjasama membangun jaringan usaha yang saling terkait dengan usaha anggotanya. 6 koperasi. 4 koperasi. Kalimantan Barat dan Sumatera Barat. 5 koperasi. 7 koperasi. 9 koperasi.2 Koperasi Primer Anggota Koperasi primer anggota dari koperasi sekunder yang terpilih dalam penelitian ini berjumlah 107 koperasi. KOPDIT. KUD MINA. Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara kurang dari 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahun. KSP.

PONTREN Nama Koperasi Rata-rata Likuiditas Koperasi Primer Anggota Sampel 821.61 122.PONTREN KSU KUD MINA Nam a K operasi 2 2 2 2 3 3 3 Unit Nama Koperasi 4 4 5 9 KUD SUSU KUD MINA KUD KOPDIT K.RI KSP K.24 KOPW AN 14.01 Persen Gambar 4. POLDA KSP KOPPAS KOPWAN 2618 1154 1030 913 871 688 670 450 273 Jt Rupiah Jum lah V olum e Us aha Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 2757 2301 1018 1002 730 607 463 153 24 11 Jt Rupiah 8911 KUD SUSU KOPWA N KOPPA S KP .RI 20.80 KSU K.PONTREN 231 154 142 116 83 63 63 28 - 481 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah Rata-rata Solvabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 417.42 144.PONTREN KOPDIT K.83 760.PONTREN 353.86 159.84 404. POLDA KUD SUSU KP .34 K.JURNAL VOLUME 4 . POLDA KSU KP .21 207. POLDA 19.83 109.PONTREN Jumlah SHU Koperasi Primer Anggota Sampel 1110 KOPPAS KUD KSP KOPW AN KP .58 285.03 KUD 4.11 130.PONTREN K.87 KUD MINA KUD SUSU Persen K. POLDA K. POLDA KSU KUD SUSU KOPDIT KUD MINA K.30 KSU 5. POLDA KP .50 368.78 145.68 168.RI K.94 KSP 9.PONTREN KSU KP .78 KOPPAS 20.48 297.46 152.67 21.98 KOPDIT 1.RI KUD MINA KUD KOPPA S KSU Nama Koperasi 7 7 7 8 8 8 8 9 Orang Jumlah Unit Usaha Koperasi Primer Anggota Sampel Jumlah Modal Koperasi Primer Anggota Sampel 4848 11399 KUD KUD SUSU KOPDIT KOPWAN KOPPAS KP .PONTREN KOPPA S Nama Koperasi Jum lah Pe ngur us Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 11 10 14 KSP KOPWA N K. POLDA KOPDIT KSP KUD KSU KUD MINA K.94 149.RI KUD KUD SUSU KOPW AN KSP KOPPAS KOPDIT KUD MINA K.RI KOPWA N KSP K.RI K. POLDA KP . Keragaan Koperasi Primer Anggota Sampel 152 N aK am operasi N a Koperasi am .RI KUD KOPW AN KUD SUSU KSP KOPDIT KUD MINA KOPPAS K.31 104.60 91.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Anggota Kope ras i Prim e r Anggota Sam pe l 3364 2434 1299 530 512 481 469 246 51 50 Orang 6421 KUD SUSU KUD MINA KOPDIT KUD KSU K.RI K.02 KP .24 Persen Rata-rata Rentabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 25.

59. Hanya 2. KSI mencapai volume usaha terbesar disusul KOPWAN dan KOPPAS. Nilai ini memiliki arti dari setiap seratus rupiah harta masing-masing koperasi.25% atau 42 koperasi berusia 10 sampai 20 tahun. Ini menunjukkan pada umumnya semua koperasi primer anggota masih beroperasi secara aktif dan konsisten menjalankan RAT setiap tahunnya. Ini adalah hambatan utama yang sering menyebabkan para anggota keluar dari keanggotannya. KUD memiliki modal terbesar mencapai Rp. Perkembangan koperasi primer anggota koperasi sekunder tingkat provinsi dominan lebih baik.28% atau 11 koperasi menempati gedung kantor berstatus sewa. 11. dan KSP. Nilai solvabilitas dan likuiditas yang besar ini memiliki arti keempat koperasi tersebut memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembalikan hutang. Pada nilai volume usaha. Sedangkan nilai SHU terbesar dicapai oleh KOPPAS disusul KUD dan KSP. Kesulitan lainnya adalah mengenai kemampuan sumber daya manusia pengurus koperasi yang belum baik. 153 . mampu menghasilkan nilai SHU sebesar nilai persentase masing-masing.16% koperasi primer sampel atau 74 koperasi sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri.56% atau 22 koperasi masih menempati gedung kantor dengan status pinjaman.25% atau 42 koperasi berusia lebih dari 20 tahun. dan sebanyak 20. Dari data ini. Juga sebanyak 39.49% atau 23 koperasi berusia 3 sampai 9 tahun. Sedangkan untuk rasio rentabilitas. 78. KOPPOLDA. 5 koperasi yang mencapai nilai paling besar adalah KPRI. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa sebanyak 69. KOPPOLDA. dan sisanya 21.38% atau 40 koperasi menyelanggarakan RAT 2-4 kali. Dari sisi rasio keuangan. Kesulitan utama yang dihadapi koperasi primer adalah permodalan yang terbatas. Sedangkan KUD MINA mencapai nilai SHU yang paling rendah. Dari 107 koperasi primer anggota. Sisanya 37.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi modal.81% atau 64 koperasi melaksanakan RAT setiap tahunnya selama 5 tahun terakhir. KSU. Beberapa koperasi primer sampel yang bergerak pada bidang perdagangan mengeluhkan persaingan harga yang makin ketat dengan swalayan dan pasar modern yang ada.80% atau 3 koperasi yang hanya melaksanakan RAT satu kali selama 5 tahun. dan KUD mencapai nilai solvabilitas dan likuiditas yang lebih besar. Modal terbanyak kedua dicapai oleh KUD Susu disusul KOPDIT dan KOPWAN. KOPPAS.50% koperasi primer sampel sudah berusia lebih dari 10 tahun. sebanyak 39. KPRI. Secara umum.4 milyar jauh di atas koperasi-koperasi lainnya. koperasi primer sampel tetap memenuhi kewajiban mereka yakni membayar simpanan pokok dan wajib kepada koperasi sekunder. Dari segi usia. Sebanyak 10. KOPWAN.

44. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui sejauh mana koperasi sekunder berperan menunjang aktivitas dan usaha-usaha koperasi anggotanya maka perlu dibahas sejauh mana keterkaitan di antara mereka. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota dipisahkan menurut golongan fungsi yakni fungsi-fungsi kelembagaan.497. pembinaan dan pelatihan managemen serta kerjasama dengan berbagai pihak. dan pada tabel 3 disajikan nilai chi square menurut analisis keseluruhan fungsi integrasi.JURNAL VOLUME 4 .04. Rata-rata koperasi primer membutuhkan campur tangan pemerintah menangani permasalahan yang mereka hadapi mengenai bantuan permodalan. Keterkaitan di antara koperasi sekunder dan koperasi anggotanya dapat terwujud di dalam fungsi-fungsi yang dijalankan di antara mereka. V. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = 0. 2).1 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi sekunder secara nyata dapat terkait dengan koperasi primer anggotanya jika dilihat dari sisi pelaksanaan fungsinya secara menyeluruh. Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi.AGUSTUS 2009 : 140-160 Rata-rata koperasi primer terjalin usahanya dengan koperasi sekunder hanya sebatas organisasi dan belum kepada pelaksanaan fungsi-fungsi secara nyata. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota secara keseluruhan. Angka ini lebih kecil dari 0.497 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer 154 . 5. Ini berarti kita tolak hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif (H). Keterkaitan diantara koperasi dibedakan atas dua kategori.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0. 1). Tolak hipotesis nol (H0) memiliki arti bahwa secara keseluruhan koperasi sekunder memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan dengan koperasi primer anggotanya. diperoleh nilai koefisien kontingensi koperasi sekunder sesuai tabel 3 hanya sebesar 0.01 sesuai kurva normal adalah sebesar 99. Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa nilai chi square hasil perhitungan lebih besar dari nilai kritis chi square. Pada tabel 2 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya. Hasil analisis pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai chi square sangat besar yaitu sebesar 304. fungsi-fungsi usaha dan fungsi-fungsi penunjang.

09 5.51 10.46 53 65 38 49 32 40 33 31 33 31 56 83 51 80 27 18 8 27 8 17 56 28 25 21 19 929 100 5.04 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 240 dan pada 0.69 2.38 GKSI 3 4 2 3 0 2 0 2 2 3 4 4 4 4 1 3 0 3 0 1 1 0 0 0 0 46 4. Uji Signifikansi dan KoefisienKoefisien Kontingensi Tabel 3.40 19.31 3.91 0.01 sebesar 99.95 PUSKOPDIT 5 7 2 7 5 6 6 6 4 5 6 8 6 8 6 4 1 4 2 3 6 6 6 2 4 125 13. Nilai Chi Square.46 PUSKUD MINA 2 2 1 1 1 0 0 0 1 0 1 2 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 1.55 3.61 2.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel 2.94 0.83 6.497 artinya tingkat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya tidak kuat (lemah).34 6.44 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya (menurut analisis keseluruhan fungsi keterkaitan).03 8.10 13.34 3.05 100 4 155 PKP .49 8.10 PUSKOPPOLDA 2 7 5 4 3 3 1 1 4 1 4 9 4 9 3 1 0 1 0 0 30 2 2 2 3 101 10.Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Koperasi Sekunder dengan Anggotanya PUSKO WAN FUNGSI INTEGRASI FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 FC1 FC2 FC3 FC4 FC5 J Kolom (%) kunder Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Tabel 3.55 3.43 9 4 6 6 5 5 5 5 5 6 8 6 8 4 4 4 5 2 4 4 4 4 4 4 4 125 13.91 1. Uji Signifikansi dan Kontingensi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Nilai Chi Square ( 2) = 304. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.87 PKSU JUMLAH BARIS (%) 2 4 2 4 4 3 3 2 2 2 4 4 3 4 3 1 1 3 1 1 3 3 3 3 4 69 7.86 1.46 13.26 2.27 3.93 5.01 2.03 3.44 4.PONTREN 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 13 1.71 7.15 P.RI PUSKUD .00 4.31 21. Nilai Chi Square. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah PUSKUD 13 17 8 8 7 7 5 6 9 6 15 22 10 22 2 2 0 3 0 1 3 4 3 4 3 180 19.38 PUSKSP 1 2 2 2 1 1 2 1 0 3 3 4 1 4 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 40 4.87 PKP-RI 14 16 9 12 5 11 9 7 4 4 10 17 13 16 6 2 0 8 0 6 8 8 6 5 0 196 21.86 2. 2.46 PUSKOPPAS 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 6 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 2.

46 13.AGUSTUS 2009 : 140-160 anggotanya. kita telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya.43 4.38% dan PKSU dan PUSKOPDIT masing-masing melaksanakan 13.POLDA P. PUSKUD MINA (1.51%).31 2. 21.KOPPAS PUS. yakni hanya sebesar 49.51 1. PUSKUD melaksanakan sebanyak 19.JURNAL VOLUME 4 . Berikut itu ditunjukkan pelaksanaan fungsi-fungsi yang memperlihatkan keterkaitan tersebut pada Gambar 5 dan 6.40 Persen PKP . namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan lemah.MINA P.38 Koperasi Sekunder 13.46 10.RI PUSKUD PKSU P. yaitu 156 . Dengan persentase yang rendah seperti ini berarti koperasi-koperasi tersebut relatif kurang dapat melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitannya. Hasil ini menunjukkan bahwa keempat koperasi diatas secara frekuensi paling banyak melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitan dengan anggotanya. Ini berarti mereka mengabaikan tanggung jawabnya kepada koperasi anggotanya. dan PUSKOPPONTREN (1.7%.40%).KOPWAN GKSI PUSKSP P.87 7.46%. Secara statistik. Berikutnya.95 4. Tiga koperasi yang sangat rendah presentase frekuensi pelaksanaan fungsinya adalah PUSKOPPAS (2.KOPDIT P. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Semua Fungsi Keterkaitan oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Gambar 6 menunjukkan bahwa fungsi FA12 yaitu koperasi primer anggota menghadiri rat koperasi sekunder tingkat provinsi secara frekuensi paling banyak dilaksanakan oleh semua koperasi.15%).15 1.PONTREN Sumber data: Primer diolah Gambar 5.10 19.10% fungsi-fungsi keterkaitan dari total pelaksanaan semua fungsi oleh semua koperasi. Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa secara frekuensi PKP–RI melaksanakan 21.

FB6 (KS mengadakan temu usaha dengan koperasi anggotanya) sebesar 1.93%.34 3.03 5.49 5. Distribusi Frekuensi Pelaksanan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Empat fungsi paling rendah frekuensi pelaksanaannya adalah masing-masing FB2 (KS membangun jaringan pemasaran bagi anggota) sebesar 1.94%. Ini berarti keempat fungsi ini sangat jarang dilaksanakan oleh koperasi sekunder.31 4.09 3.00 Persen FA12 FA14 FA2 FC1 FA11 FA1 FA13 FA4 FA6 FA3 FA9 FA7 FA5 FA10 FA8 FC2 FB4 FB1 FC3 FC4 FC5 FB2 FB6 FB5 FB3 Gambar 6. padahal fungsi-fungsi tersebut adalah penting untuk menunjang kemandirian koperasi anggotanya.86 0. dan fungsi penunjang.91 2.01 2.55 3.34 3. Pada tabel 4 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya menurut katagori fungsi.83 6.03 6. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya 8.71 5. FB3 (KS membantu pengolahan/proses produksi dari koperasi primer anggota) dan FB5 (KS membantu promosi produksi kepada koperasi primer anggota) masing-masing dilaksanakan hanya sebanyak 0.2 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Kelompok Fungsi Analisis menurut kelompok fungsi dimaksudkan untuk melihat apakah ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya dilihat dari 3 kelompok fungsi. dan FA2 (koperasi sekunder memberikan masukan yaitu menghadiri dan mengarahkan rat koperasi primer anggotanya) dilaksanakan sebanyak 7.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) sebanyak 8.27 7.91 2. Fungsi FA14 (koperasi primer anggota memenuhi kewajibannya kepada koperasi sekunder) dilaksanakan sebanyak 8. Gambar 6. dan pada tabel 5 disajikan nilai chi square menurut analisis kelompok fungsi integrasi. Nama Fungsi 157 .26 2.82%. fungsi usaha.93 8. 5.05 1.94 1.00%. masing-masing fungsi kelambagaan.44 3.86%.69 2.61%.86 4.55 3.61 0.

158 6 . Uji Signifikansi dan Koefisien Anggotanya Sekunder dengan Koperasi Primer Kontingensi Koperasi Sekundertidak kuat (lemah).293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Sekunder dengan Koperasi Primer Anggotanya tidak kuat (lemah).01 sebesar 37.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Tabel 5.PONTREN PUSKSP 27 8 40 PUSKSP PUSKOPPOLDA 57 5 101 PUSKOPPOLDA PKSU JUMLAH BARIS 43 10 82 23 675 107 152 934 JUMLAH BARIS Tabel 4.PONTREN 12 1 14 P.76 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 20 dan pada 0. Uji Signifikansi dan Koefisien Kontingensi Tabel 5. Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. diperoleh nilai koefisien kontingensi hanya sebesar 0. Uji Signifikansi dan nilai sebesar 37. Nilai Nilai Chi Square ( 12) kita87. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = Kelembagaan 5. Nilai Chi81 155 37 14 147 20 12 43 57 82 Tabel 0.01 sebesar 37.JURNAL VOLUME 4 .Square hipotesis nol (H0) atau 20 dan pada 0.AGUSTUS 2009 : 140-160 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Penun-jang 17 1 1 27 1 1 5 16 39 20 Koperasi Sekunder 24 dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.566 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya (menurut analisis kelompok fungsi keterkaitan).566 Chi Tolak dengan derajad bebas = terima H memiliki arti bahwa secara Jlh Kolom 180 2 46 125 14 196 22 69 101 125 934 kelompok fungsi2 yaitu dilihat dari14 40 pelaksanaan fungsi-fungsi integrasi hitung > tabel Hasil : Sumber data: Primer sisi kelembagaan. diperoleh hasil Koperasi diolah Keputusan dariTolak H0 atau terima H : Sekunder memiliki keterkaitan yang signifikan dengan Koperasi Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya Primer anggotanya. 69 PUSKOPWAN 125 PKSU Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan nilai chi square cukup besar yaitu sebesar 87. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.761 hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif ini17berarti = 24 tolak 27 Penun-jang 1 1 5 16 39 20 152 Nilai Kritis(H). Nilai Chi Square.76. Jika nilai Koperasi hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai kritis chi8 squareSekunder1Dianalisis1menurut Kelompok Fungsi 23 chi square Usaha 8 20 22 1 8 10 5 107 maka diperoleh hasil nilai chi square hasil perhitungan lebih besar.566. (menurut Nilai Koefisien Kontingensi = 0. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi. PUSKOPWAN FUNGSI INTEGRASI Kelembagaan Usaha Jlh Kolom FUNGSI INTEGRASI PUSKUD 155 8 180 PUSKUD GKSI 37 8 46 GKSI PUSKOPDIT 81 20 125 PUSKOPDIT PUSKUD MINA 14 1 14 PUSKUD MINA PKP-RI 147 22 196 PKP-RI PUSKOPPAS 20 1 22 PUSKOPPAS P. analisis kelompok fungsi keterkaitan).293 (tabel 5). Nilai Koefisien Kontingensi = 0. Nilai Square.4.01 dengan derajad bebas 20 diperoleh 27 Koefisien Kontingensi 675 Square. Koperasi SekunderDianalisis menurut Kelompok Fungsi Dianalisis menurut Kelompok Fungsi Sumber data: Primer diolah Nilai Chi Square ( 2) = 87. usaha dan penunjang.

DAFTAR PUSTAKA Agresti. KESIMPULAN DAN SARAN 6.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Angka ini lebih kecil dari 0. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta. Prentice Hall. 2. Jakarta.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. pemberdayaan prinsip-prinsip koperasi dan teknis perkoperasian. (2004). Sulawesi Selatan. A. Dilihat dari pelaksanaan keseluruhan fungsi integrasi vertikal. -------------. keterkaitan ini signifikan atau nyata namun memiliki tingkat hubungan yang lemah. and Barbara. Pedoman Pengembangan Koperasi Khusus Koperasi Sekunder di DKI Jakarta Tahun 2004.3%. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. Statistical Methods for the Social Sciences. Sumatera Barat. koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya. yakni hanya sebesar 29. New Jersey.1 Saran Sesuai hasil analisis yang menunjukkan bahwa keterkaitan koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota yang lemah maka disarankan agar koperasi sekunder harus meningkatkan capacity building melalui pelatihan. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan cukup lemah. Dari sisi pelaksanaan kelompok fungsi integrasi vertikal masingmasing fungsi-fungsi kelembagaan. 6.293 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. dan fungsi-fungsi penunjang. VI. koperasi sekunder terkait dengan koperasi Primer anggotanya. penyuluhan. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. Sumatera Utara. dirumuskan beberapa kesimpulan sesuai tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. F. Keterkaitan ini juga signifikan namun tingkat keterkaitannya lemah. fungsi-fungsi usaha. 159 . (1992). pemasyarakatan.1 Kesimpulan Berdasarkan data dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya mengenai keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya pada delapan daerah survei masing-masing provinsi Jawa Timur. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0. Anonim. Nusa Tenggara Timur.

L. BPFE Yogyakarta. Bayu Krisnamurthi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. (1979). Donald Ary. Hott Rinehart and Winston. Bogor. (1995).JURNAL VOLUME 4 . Bharata. No: 26 Tahun XX 2005. Suwandi. dan Abdul Rahman S. Ghalia Indonesia.AGUSTUS 2009 : 140-160 -------------. Survey Research Methods. Jakarta. Revitalisasi Koperasi Sekunder Nasional. (2002). Sydney.T.. No. Media Pengkajian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Penerbit. 164. (2006). (1987). Solusi Koperasi & Usaha Kecil. Maret 2006. (1999). S. Babie. (1987). May 1995. Ekonomi Skala Kecil/Menengah & Koperasi. Hadi. Earl R. (2005). 160 . Introduction in Research Education 2nd Editon. Koperasi Organisasi Ekonomi yang Berwatak Sosial. International Cooperative Aliance (ICA) Communication. California. Statistik II. (1973). Yogyakarta. Anggota IKAPI.edu:70) Partomo.adp. S. Warta Koperasi. Statistik Nonparametrik. Jakarta. Suwandi. Jakarta. Djarwanto. Jakarta. Yacobs and Razavich. Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di �awa Barat. Suatu Kajian Cross-Section. (1988). (//gopher. Ch. Belmont. Farmer Organizations and Rural Cooperatives. ICA.wisc. Wadsworth Publication Co.

Artikel diterima 25 Mei 200�. Peran aktif anggota koperasi menentukan target yang Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200�. kewirausahaan. because it was successful in uniting women and house wives into cooperative organization. *) 161 .Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial*) Burhanuddin R**) dan Pariaman Sinaga***) Abstract At first assessment was dedicated to Puskowanjati on her 50th anniversary on March. **) Peneliti Utama pada Deputi Pengkajian SDM KUKM (tim peneliti). penyesuaian diri. yang dipengaruhi beberapa faktor seperti: faktor sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu. koperasi juga dihadapkan pada dua lingkungan bisnis yakni lingkungan eksternal dan internal. review terakhir �� �uli 200�. ***) Asdep Urusan Penelitian Koperasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti). peer review 25 Mei s. 1.d. modal. kohesivitas. this assessment was done by using psychological variables and especially psychosocial one. kebijakan moneter. In the frame of revealing a part of some factors that influenced the success of the system concerned. Anggota koperasi mempunyai identitas ganda. The result was significantly interesting to be a thinking material in the process of cooperative promotion and development in the future time. Peran anggota koperasi dengan berdasar identitas tersebut merupakan faktor strategis dalam pengembangan koperasi di Indonesia. produksi. pasar. 200� in implementing mutual liability system. Mutual liability system is a phenomenal system. Lembaga koperasi ini terdiri dari kelompok orang yang disebut anggota berdasar sifat individu dan tidak berdasarkan modal atau saham. 8 �uni 200�. Sistem tanggung renteng. Selaku badan usaha. dan kebijakan publik lainnya. dan dinamika kelompok I. aspek manusia sangat penting dalam kehidupan berkoperasi di Indonesia dan tidak hanya berdasarkan modal dan saham. baik sebagai pemilik dan pelanggan/pengguna jasa organisasinya. Pengantar Definisi koperasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan kepada prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaaan. teknologi.

naskah ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada koperasi primer anggota Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) dalam rangka meneliti aspek psikologis dalam pengembangan sistem tanggung renteng. Sistem Tanggung Renteng Tanggung jawab bersama diantara anggota dalam satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi dengan dasar “keterbukaan dan saling mempercayai”. Di samping itu. Implementasi dalam mewujudkan target koperasi dapat diraih dengan bantuan manajemen dan pengurus yang mengarahkan kegiatan bisnis koperasi. disiplin dan tanggung jawab. musyawarah. maka akan terjadi perubahan sikap dan perilaku anggota. kelompok juga sebagai wahana dan sarana komunikasi antar anggota maupun dengan koperasinya. Dengan demikian. saling percaya. Terkait dengan ketiga variabel ini.JURNAL VOLUME 4 . Kohesivitas anggota koperasi sesuai dengan ciri khas koperasi yaitu individu yang saling berinteraksi dalam berkelompok untuk mencapai tujuan koperasi. Kewirausahaan merupakan sikap pribadi berkaitan dengan kepentingan ekonomi pribadi dan koperasi. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi koperasi apapun untuk bisa tumbuh dan berkembang baik dari sisi organisasi maupun usaha. Artinya. Koperasi tidak dapat berkembang apabila anggota koperasi tidak berperan aktif di lembaganya. Beberapa variabel penting koperasi yang berkaitan dengan dua identitas ganda koperasi adalah. II. kohesivitas anggota koperasi. keberadaan kelompok merupakan wadah anggota dalam beraktivitas untuk pemenuhan hak dan kewajiban sebagai anggota koperasi. Inilah prinsip tanggung renteng yang melibatkan tiga unsur utama yaitu kelompok. Sebuah sikap dan perilaku yang dilandisi kesadaran terhadap tata nilai tanggung renteng yaitu kebersamaan. terdapat dua identitas yang melekat pada anggota koperasi termasuk sebagai diri pribadi manusia dengan ciri psikologis tertentu dan terpisahkan dari kesehatan koperasi. penyesuaian diri dan kewirausahaan. kewajiban dan peraturan. Untuk itu kelompok diwajibkan untuk mengadakan pertemuan rutin secara berkala. Dengan demikian dalam kelompok juga akan terjadi proses pembelajaran bagi anggota.AGUSTUS 2009 : 161-170 akan dicapai organisasi koperasi dapat tercapai atau tidak. 162 . keterbukaan. Penyesuaian diri berkaitan dengan peran individu untuk menyesuaikan diri terhadap kepentingan diri dan kepentingan koperasi. Bila proses sistem tanggung renteng diterapkan secara benar. dan ketiganya ditengarai berpeluang untuk direplikasi ke koperasi lain. Dalam penerapan sistem ini. aspek psikologi dan khususnya psikososial di koperasi juga merupakan faktor penting untuk keberlangsungan hidup koperasi.

kohesivitas.1 Penetapan Kerangka Pengambilan Contoh (Sampling Frame) Subyek atau responden penelitian ditetapkan secara sengaja (purposive sampling method) sebanyak 160 orang dan dalam pelaksanaannya meningkat menjadi 170 orang. Analisis data menggunakan teknik analisis persamaan regresi sederhana dan persamaan regresi berganda yang dalam penyajian hasil kajian dilengkapi dengan analisis statistik deskriptif berupa grafik histogram rerata dan matriks kategori. Batu. Semua data variabel diukur dengan 22 memakai skala Likert. 9646 (Pariaman dan Hidayat. Kota Surabaya 3. vairabel penyesuaian. namun kemudian yang layak diukur ditemukan hanya sebanyak 162 orang. KSP Kartini Mandiri. KSU Kartika Chandra. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu. Kabupaten Malang 2. 2. Malang.8496 (Martono. sebesar 0.2 Penetapan Koperasi Contoh 2 3 Jumlah koperasi primer wanita yang menjadi anggota Puskowanjati sampai tahun 2008 tercatat sebanyak 46 koperasi primer 83 dan yang ditetapkan sebagai sampel kajian sebanyak delapan anggota koperasi primer wanita yaitu: 1. 2004).Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) III.9179 (Mardiyati.Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah (Org) 83 57 22 Persentase (%) 51 35 14 163 . 3. 57 1996). dan Kabupaten Pasuruan. Lawang. Lokasi Koperasi Kelompok 4 3 1 8 2 2 2 6 Anggota (orang) 10 10 10 ------Responden (orang) 80 60 20 160 1. KSP Citra Lestari. 1 3. penyesuaian dan kewirausahaan. pada bulan Februari 2009. Kabupaten Pasuruan Jumlah 4. Provinsi Jawa Timur. yaitu di Kabupaten Malang. dan variabel kewirausahaan 0. KSU Setia Budi Wanita. dan setiap variabel telah memiliki koefisien reliabilitas yaitu : untuk variabel kohesivitas. Kota Surabaya.1 Pengumpulan data ditetapkan di tiga lokasi yang juga ditetapkan Variabel Kohesivitas secara sengaja. 3. Pandaan. Metode Kajian Kajian ini dilaksanakan dengan metode survei yang dilengkapi dengan observasi langsung kepada objek kajian tanpa memberikan perlakuan apapun sehingga terjadi aktivitas yang saling mempengaruhi (expost facto model).4. Tabel 1. 0. 2004).

IV. Hasil Penelitian 4. kekuatan kelompok. Kohesivitas adalah keterikatan anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan berkelompok. keterlibatan. optimis. dan memiliki sifat kepemimpinan. Malang. Grafik Kohesivitas Anggota Koperasi Wanita Sampel 164 . KSU Setia Kartini Wanita. 6. 3. mampu melihat peluang bisnis. Penyesuaian diri adalah perilaku belajar mengatasi dorongan dari tuntutan diri dan lingkungan dengan mengendalikan tindakan langsung dan hubungan interpersonal. Pemilihan dan penetapan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan keragaman lokasi kajian dan anggota koperasi.3 Definisi Operasional Variabel Berdasarkan penulusuran terhadap beberapa literatur dan jurnal kajian yang sejenis khususnya yang berkaitan langsung dengan variabel kajian. 7.JURNAL VOLUME 4 . KSU Mawar Putih. Sidoarjo. toleransi terhadap kelompok dan pemenuhan harapan untuk bekerjasama mencapai tujuan bersama.1 Variabel Kohesivitas 22 57 1 2 3 83 Gambar 1. Kewirausahaan adalah kecenderungan individu yang percaya diri untuk bekerja mandiri. telah berhasil dirumuskan tiga definisi operasional variabel untuk digunakan dalam kajian. berani mengambil risiko. kreatifitas. dan peka terhadap kritik dan komentar/pendapat pihak lain. 8. inisiatif. KSU Setia Bhakti Wanita. bekerja keras. status dan peringkat koperasi. Surabaya. Surabaya. dan KSU Waspada.AGUSTUS 2009 : 161-170 5.

Dampak Kohesivitas Kepuasan Rasa tanggung jawab Optimalisasi prestasi Komunikatif Rasa kami kuat Menolak perombakan kelompok Penampilan kerja baik 165 . Keterikatan akan aturan dan kepentingan ekonomi membuat anggota koperasi secara sadar menerapkan sistem tanggung renteng. Diskripsi Kohesivitas 2. Diskripsi Kohesivitas Dinamika Kohesivitas a. Kohesivitas kelompok menunjukkan keterikatan individu dengan individu lain dalam kelompok. g. dalam Hadipranata. Kewirausaha individu dalam koperasi karena ada contoh dalam kelompok untuk mengelola bisnis dalam rumah tangga dan koperasi. TabelTabel 2. 1. Ada sistem imbalan (Alderfer. Kelompok kelompok koperasi yang menerapkan tanggung renteng akan merasa saling terikat. Pengaruh masih ketat c.22 57 Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) 1 2 3 Kohesivitas koperasi sebagai bukti interaksi antar anggota ditemukan cukup tinggi di koperasi wanita sampel. 1987) (Alderfer. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (Org) 83 57 22 162 Persentase (%) 51 35 14 100 Dinamika Kelompok Individu dalam kelompok mempunyai keterikatan dengan kelompok sesuai dengan bagaimana penyesuaian diri individu dan interaksi individu di dalam kelompok. Keterikatan 83 anggota akan keberlangsungan hidup koperasi akan membuat anggota koperasi terlibat dalam kelompok di koperasi. b.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian  a. f. c. Tabel 1 kategorisasi menunjukkan kohesivitas anggota koperasi wanita tinggi. 1987) 4. Tabel 1. Kesempatan partisipasi g. e. Rasa sepenanggungan d. dalam Hadipranata. Ada mitra tanding f. Individu belajar menyesuaikan diri dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Ukuran terbatas (kecil) b. d. Rasa keterkaitan e. Saling melengkapi h.

pekerjaan dan aturan kerja yang mapan. dan g) Hadiah lebih besar dari hukuman. Keberhasilan pengaruh kohesivitas kelompok terhadap produktifitas koperasi dapat dikatakan tergantung pada pengaturan koperasi terhadap kelompok dalam pencapaian tujuan bersama. Anggota koperasi dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama. Menurut Steiner (1972). Jati diri kelompok kohesif membuat kerjasama pada setiap peringkat organisasi termasuk internal pengurus koperasi. 3) Kepuasan kerja anggota kelompok.JURNAL VOLUME 4 . Kelompok yang beriklim kohesif ini dalam membuat keputusan lebih efektif. 1982). kemampuan maupun perspektifnya memiliki karakter yang dibutuhkan bagi efisiensi kinerja kelompok. Setiap anggota memberikan kelebihannya dan menerima kekurangannya. pendapat. Hal ini membuat keberhasilan kelompok lebih utuh. Langkah-langkah untuk menguatkan kohesivitas dalam kelompok dapat dilakukan. yaitu: a) Kiprah interaksi personalnya. Kohesivitas juga menciptakan “motivasi sosial” karena kohesivitas kelompok di koperasi wanita identik dengan keragaman atau disebut juga kelompok bhinneka. f) Aktivitas berperan serta dalam keputusan. b) Sumber daya kelompok yang tepat penempatannya. c) Keterbukaan isolasi dari luar. terbuka dan memperoleh peluang untuk bermitra tanding atau berkompetisi yang sehat. artinya ada job requirement. 1989). c) Mekanisme kerja kelompok demokratis. e) pertaruhan nama kelompok atau jiwa korps. lebih kreatif dan dalam penyelesaian masalah pun lebih koordinatif serta lebih produktif dari pada sejumlah orang yang sama dalam kelompok biasa yang biasanya kerja kurang terkoordinasi. sehingga menimbulkan pengembangan kepribadian yang unik. d) Kesediaan bermitra tanding.AGUSTUS 2009 : 161-170 Kelompok yang berkohesivitas dengan memiliki jati diri sosial (social identity) dan memiliki kekuatan kerjasama yang tangguh. baik sifat-sifat individu maupun watak kelompoknya. 2) Produktifitas kerja kelompok. yaitu antara lain: a) Tatanan tugas. Setiap anggota memperoleh tanggungjawab terhadap beberapa tugas-tugas yang sudah rutin. dan. Sebagai bentuk partisipasi koperasi akan membuat saling pengertian yang lebih baik dan kemudian lebih memiliki keikatan dalam penyelesaian tugas secara positif dan efektif. Karenanya diperlukan beberapa syarat (Katz. sedangkan yang tidak berkohesivitas cenderung lemah terhadap kerjasama. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kohesivitas suatu kelompok (Jannis. efektifitas kelompok kohesif itu: 1) Derajat keterikatan anggota kelompok. b) Jumlah anggota yang ideal kurang dari enam orang. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah kelompok kohesif jauh lebih 166 . Kelompok bhinneka adalah kelompok yang anggotanya memiliki perbedaan nilai. Penelitian tersebut juga dikenakan berbagai macam jenis pekerjaan.

Hal tersebut disebabkan sistem tanggung renteng itu sendiri memberikan kesempatan anggota koperasi untuk berinteraksi sehingga timbul perilaku mencontoh. Penjelasan perilaku wanita wirausaha yang tinggi berkaitan dengan tanggung renteng. Hanya saja kadangkala untuk jenis pekerjaan seni. 167 . Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bandura bahwa keyakinan individu akan dirinya yang dapat melakukan tindakan yang dikehendaki oleh situasi tertentu dengan berhasil. Figur dalam kelompok akan mendorong individu dalam koperasi untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik terutama berkaitan dengan peraturan sebagai turunan dari model. Wanita anggota koperasi akan merasa senasib sepenanggungan dengan mengedepankan penyesuaian diri sehingga kepentingan ekonomi dapat terwujud secara bersama-sama. Ternyata dari hasil pengukuran ditemukan bahwa koperasi cukup tinggi. 4.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) baik daripada kinerja individual.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian 43 51 1 2 3 68 Gambar 2. Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Penyesuaian diri wanita anggota koperasi dapat diamati pada Grafik 2 dan Tabel 2. Wanita melakukan penyesuaian diri terutama berkaitan dengan lingkungan dimana kelompok berkumpul sebagai wujud tanggung renteng koperasi. Munculnya keyakinan diri seseorang mengenai kemampuannya dalam menampilkan suatu bentuk perilaku menggambarkan hubungan dengan situasi yang dihadapi seseorang tersebut dan menempatkannya sebagai elemen kognitif dalam pembelajaran sosial. Model tanggung renteng menerapkan perilaku belajar peraturan.3 Variabel Kewirausahaan Grafik 3 dan Tabel 3 menunjukkan bahwa kategori anggota koperasi tinggi pada aspek kewirausahaan. maka kerajinan tangan yang bersifat pribadi dan kinerja perorangan lebih baik daripada dikerjakan bersama 4.

Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel 4.AGUSTUS 2009 : 161-170 Grafik 2. Jumlah (org) 71 61 30 162 Persentase (%) 44 38 18 100 168 . secara berturut-turut adalah: kewirausahaan (71 persen). Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan ditemukan bahwa ketiga variabel menempati kategori tertinggi. 3. penyesuaian diri (68 persen). Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan Anggota Koperasi Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total VI. Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Gambar 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Kategori Jumlah Persentase (org) (%) Tinggi Kewirausahaan 68 42 Sedang 51 32 Rendah 43 26 Total 162 100 30 Kewirausahaan 61 1 2 3 2 30 61 71 1 2 3 Grafik 3.JURNAL VOLUME 4 . Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Tabel 3. dan kohesivitas (51 persen). Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan 71 Tabel 4.

. Perbedaan Semangat Kerja Karyawan Dalam Kelompok Yang Kohesif dan Yang Tidak Kohesif Pada Perusahaan Tenun ATBM Kodya Yogyakarta. (1982). (1990). Penelitian. Yogyakarta: Badan Pelaksana Pendidikan dan Latihan Ketenagakerjaan Yogyakarta. Para wanita anggota koperasi primer yang mempraktekkan sistem tanggung renteng ditengarai turut menopang kehidupan organisasi koperasi masingmasing.F. Hal ini mendukung upaya penyelamatan asset dan ketersediaan likuiditas koperasi sehingga semua anggota koperasi memiliki kesempatan yang relatif sama untuk mendapatkan pelayanan dari koperasi masing-masing..Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Penemuan ini mencerminkan bahwa jiwa kewirausahaan anggota koperasi primer ternyata mempengaruhi dan turut menentukan kelangsungan usaha koperasi-koperasi primer wanita yang bernaung dalam Puskowanjati. 169 . maka generalisasi kajian dalam bentuk replikasi sistem tanggung renteng masih memerlukan kajian lebih mendalam dengan lingkup lebih luas. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. (1987). 27. Hadipranata.F. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Mikeo. Laporan Penelitian. A. Hasil kajian juga mengindikasikan bahwa pengembangan koperasi tidak bisa terlepas sepenuhnya dari aspekaspek psikologis dan sosiologis anggotanya. & Rasyid. Identifikasi dan Analisis Alat Ukur Penelitian di Bidang Psikologi Industri dan Organisasi.. The Effects of Group Longerity on Project Communication and Performance. Yogyakarta: Studio Yogyayasa Laboratorium Sumberdaya Manusia. A. 81-104. Aspek-aspek psikososial yang berhasil diukur ini nampaknya perlu dipertimbangkan dengan lebih cermat di masa akan datang sebagai bagian dari pola pembinaan koperasi dan anggotanya.Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. (1993). F. Katz. H. Keberhasilan tanggung renteng sebagai suatu sistem dapat dicermati dari unsur rasa keterikatan anggota kepada kelompoknya dan koperasinya. Hasil kajian juga menggambarkan adanya kemampuan adaptasi para wanita anggota koperasi dalam mengadopsi suatu sistem yang diyakini bersama dapat membantu pemenuhan ekonomi rumah tangga mereka. Himam.F. Hal tersebut disebabkan karena dasar pendirian koperasi adalah merupakan kumpulan orang-orang (human capital) dan bukan semata-mata kepada unsur permodalan. A... DAFTAR PUSTAKA Hadipranata. R.F. Mikeo. Hadipranata.. Laporan Hasil Lokakarya. (1987). Administrative Science Quarterly.

I. New York: Academic Press.. (2004). A. 30. San Fransisco: Jossey Bass. Crucial Decissions.. 170 .A. 417-452. (1972). Zander. The Psychology of Group Processes. (1982).AGUSTUS 2009 : 161-170 Jannis. Zander. Group Process and Productivity. I.. (1989). Steiner.. A. (1979). Kebahagiaan Perkawinan Ditinjau Penyesuaian Diri dan Sikap Terhadap Konsep Wanita Ideal �awa. Making Group Effective.L.JURNAL VOLUME 4 . New York: The Free Press. Annual Review of Psychology. Mardiyati.

The research indicates some important results. Assessment is implemented in three provinces. 2). and the timing of services. peer review 12 Mei s. cooperative pricing policy.I. covered 15 cooperatives and about 150 members of cooperatives. Kepentingan untuk mengukur kemajuan koperasi menurut dimensi pertumbuhan secara agregat dan sumbangannya terhadap pendapatan regional maupun nasional. management. partisipasi. North Sumatra. 8 �uni 200�. Gopar) KAJIAN DAMPAK KOPERASI TERHADAP ANGGOTANYA1*) Achmad H. especially in rural areas. the tasks and the responsibilities for directors. Human resources of cooperatives – board of directors.1 Latar Belakang Tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya penelitian untuk menilai dampak koperasi pada tingkat anggotanya: 1). Yogyakarta. experiences and composition of directors and management. management and members – are weak. Kepentingan untuk mengembangkan koperasi sebagai alat untuk ingan meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin. Data are analyzed using simple descripted statistics.d. indikator. The impact get through the services i. The weaknesses have been occurred in some areas such as education. review akhir �� �uli 200�. the quality of product. kelompok sasaran. *) 171 . intermediasi.e. **) Peneliti pada Deputi bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (peneliti kajian). Pendahuluan 1. Pengukuran yang dilakukan selama ini dirasakan belum memadai untuk menerangkan manfaat keberadaan koperasi bagi anggota dan masyarakat sekitarnya.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Members are also benefited through saving and loan activities. dan 3). Pemikiran bahwa dalam melihat Kajian Suplementasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK tahun 2006. Financially. Dampak. kemanfaatan I. Gopar**) Abstract This research has been conducted in order to asses the impacts of cooperatives for its members.. cooperatives fail to mobilize capital and to use it more productive. Market information from cooperatives is also useful for members in selling their products. Cooperatives has not built financial intermediary system among themselves so that the capital can be used more productive and efficiently. Cooperatives have given good impacts for its members. The rules of conduct in cooperatives have not been developed systematically. auditors and members are not explicitly written. D. Artikel diterima 12 Mei 200�. and North Sulawesi.

172 .JURNAL VOLUME 4 . Penelitian ini merupakan suplementasi dari penelitian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. 2 Memberikan masukan kebijaksanaan dalam penyusunan sistem dan mekanisme monitoring dan evaluasi pembangunan perkoperasian.2 Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. 2 Memberikan masukan kepada koperasi itu sendiri dalam rangka merumuskan kebijakan organisasi dan usahanya. Sedangkan bagi Pemerintah kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1 Memberikan masukan informasi yang berguna dalam penyusunan kebijaksanaan pembangunan koperasi. dalam hal-hal sebagai berikut : Manfaat yang dapat diambil oleh gerakan koperasi adalah sebagai berikut:  Meningkatkan kemampuan analisis secara kritis para pengelola koperasi. tahun anggaran 2006. Melakukan uji coba dan pengembangan indikator-indikator pengukuran dampak koperasi terhadap anggota. baik kepada gerakan koperasi maupun kepada pemerintah. Kementerian Negara KUKM. 1. b. Melakukan pengukuran dampak koperasi terhadap anggota pada beberapa lokasi terpilih. Indikator-indikator tersebut diujicobakan dalam penelitian agar bisa disempurnakan dan secara berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengukur dampak koperasi terhadap anggota. yang dilaksanakan tim dari Universitas Indonesia dengan judul ”Kajian Dampak Pemberdayaan KUKM terhadap Kesejahteraan Rakyat”. Bertitik tolak dari ke tiga alasan di atas maka lahirlah gagasan dan pemikiran untuk mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi dampak koperasi di tingkat anggota.AGUSTUS 2009 : 171-185 kemajuan yang dicapai koperasi atau manfaat kehadiran koperasi di tengah-tengah masyarakat perlu pemantauan dan evaluasi sejauhmana dampak koperasi terhadap anggotanya. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengembangkan indikator-indikator monitoring dan evaluasi dampak koperasi terhadap anggotanya. 1.3 Manfaat Penelitian Kegiatan penelitian ini pada dasarnya akan dapat memberikan manfaat ganda.

Alih Pengetahuan Uji coba dan pengambilan data pada penelitian melibatkan langsung tenaga pengelola koperasi sebagai pelaksana pengumpulan data penelitian. Sebagai responden untuk mewakili koperasi adalah pengurus atau pengelola koperasi. Dalam kerangka monitoring dan evaluasi dampak koperasi. Dari mereka digali informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan. maka secara umum dapat dikelompokkan dalam dua kategori data. Gopar) 1. 2. maka cakupan kegiatannya meliputi sebagai berikut: 1. setiap saat. mudah diperoleh dan dapat dilakukan secara nasional. volume usaha dan sebagainya. Keuntungan cara ini adalah datanya tersedia. Dalam monitoring perkembangan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah secara rutin dan terus menerus selama ini adalah menggunakan data atau indikator kuantitas yang bisa dimonitor. seperti misalnya jumlah anggota. dari tingkat yang paling bawah (kabupaten/kota) sampai dengan tingkat nasional.4 Ruang Lingkup Mengingat penelitian ini lebih merupakan proyek perintisan yang bersifat eksperimental study yang pelaksanaannya dilakukan juga oleh koperasi. 3.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. sedangkan untuk anggota koperasi diwawancarai sebanyak sepuluh orang anggota koperasi yang ada di wilayah kerjanya. Aspek Pengamatan Informasi atau data yang dikumpulkan pada dasarnya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai oleh penelitian itu sendiri. Namun kelemahannya adalah kemungkinan datanya kurang reliable dan belum memadai untuk menggambarkan apakah kehadiran koperasi 173 . Mekanisme monitoring semacam ini sudah berjalan dengan baik. Aspek Penelitian Para pengelola yang melaksanakan penelitian tersebut dibekali dengan pengetahuan teknis penelitian maka selanjutnya mereka langsung dilibatkan dalam praktek atau proses penelitian. yaitu: 1) Data yang bisa dimonitor setiap saat dan secara terus menerus (monitorable). Tenaga-tenaga dari koperasi tersebut diikutsertakan dalam proses pelaksanaan penelitian sehingga diharapkan akan terjadi proses alih pengetahuan (learning by doing) mengenai penelitian perkoperasian. seperti persepsi anggota terhadap kualitas pelayanan koperasi dan seterusnya. jumlah simpanan. Obyek pengamatan adalah koperasi dan anggotanya. dan 2) Data yang tidak yang tidak bisa dimonitor (unmonitorable).

Di lain pihak jika kita mengukur dari segi cooperative share terhadap GDP. Dengan menggunakan cara yang pertama. peranan koperasi terlihat belum memadai dan belum menggambarkan dampak penggandanya terhadap seluruh aspek kehidupan anggota koperasi maupun masyarakat. Mengingat basis kekuatan koperasi adalah pada anggota. namun akan lebih ditekankan pada tingkat anggota. yaitu dilihat dari dimensi pertumbuhan (cooperative growth). maka dengan semakin besarnya pertumbuhan koperasi memberikan indikasi semakin banyak jumlah anggota yang memperoleh manfaat dari kehadiran koperasi. Kerangka Pemikiran Setidaknya ada tiga cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan koperasi. Banyaknya anggota belum menggambarkan besarnya manfaat keberadaan koperasi karena hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki akses terhadap pelayanan koperasi. maka partisipasi anggota merupakan kata kunci yang melambangkan dampak keberhasilan koperasi dalam memperbaiki kesejahteraan para anggotanya.JURNAL VOLUME 4 . Dengan lain perkataan di samping data yang bisa dimonitor dari koperasi juga akan diambil data berdasarkan persepsi atau opini anggota. memerlukan suatu studi secara khusus dan komprehensif mengenai dampak koperasi pada tingkat (level) anggotanya. dalam penelitian ini pengukuran dampak koperasi terhadap anggota tidak hanya diambil dari data kuantitatif yang diperoleh dari koperasi.AGUSTUS 2009 : 171-185 itu memberikan manfaat bagi sebagian besar anggota dan masyarakat sekitarnya. Berdasarkan asumsi ini maka pengukuran keberhasilan pembangunan koperasi dapat dilakukan melalui pengukuran pertumbuhannya. Berdasarkan suatu asumsi bahwa semua koperasi akan berusaha secara maksimal untuk melayani anggotanya atau berorientasi pada kepetingan anggota. dan dampak koperasi (cooperative impact) terhadap anggota dan lingkungan yang dipengaruhinya. yaitu dilihat dari perspektif pertumbuhan koperasi ternyata hasilnya belum memuaskan. Pemikiran ini selanjutnya akan sampai pada suatu justifikasi bahwa mengukur keberhasilan koperasi menurut dimensi pertumbuhan dan sumbangannya terhadap GDP dianggap kurang memadai. Selain itu partisipasi merupakan dasar kekuatan koperasi. II. Pengukuran dampak koperasi dalam bentuk kemanfaatan koperasi dan partisipasi sebagai komplemen bahkan mungkin subtitusif dari dua tolok ukur dan atau cara pengukuran di atas. 174 . Dimensi pertama dapat dijelaskan sebagaimana berikut. sumbangannya terhadap GDP maupun GNP (cooperative share). Oleh karena itu.

Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Selanjutnya dilakukan penyesuaian terhadap kebijaksanaan dan tujuan yang hendak dicapai. efisien serta manageable jika dilakukan oleh koperasi itu sendiri. 175 . Dengan cara ini membantu menemukan sebab keberhasilan maupun kegagalan dari berbagai program. pengumpulan. Selain itu terjamin tingkat akurasi dan reliabilitas data dan informasi yang disajikan. Misalnya dalam sebuah koperasi pertanian telah dilakukan inventarisasi atau pencatatan terhadap luas area yang ditanami. pengolahan. antara lain yaitu: (a). Tujuannya adalah mendapatkan informasi jumlah atau volume komoditi atau kebutuhan anggota yang sudah tersalur maupun jumlah anggota yang sudah menerimanya dan seterusnya. Keterbatasan sumberdaya yang ada pada pemerintah. Dalam rangka operasionalisasinya akan lebih efektif. Kinerja dapat diartikan sebagai suatu tingkat pencapaian target selama periode tertentu. Kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana komunikasi dua arah dan member education. pencatatan. (b). dan penyajian informasi untuk membantu pengelola dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerjanya dalam mengelola suatu organisasi atau perusahaan. Lebih mudah dan cepat untuk melakukan penyempurnaan. volume hasil produksi yang akan dipasarkan atau diserap dan sebagainya. Pada umumnya hasil evaluasi pemerintah tidak segera dikomunikasikan dengan koperasi yang diamati. Karena secara cepat dapat mengkoreksi berbagai kesalahan ataupun penyimpangan yang terjadi pada koperasi. volume bibit. Kegiatan monitoring dan evaluasi sangat penting bagi individual koperasi yang bersangkutan. (berupa tenaga pelaksana dan pembiayaan) tidak memungkinkan koperasi secara nasional untuk melakukan kegiatan ini. Atas dasar itu. Dalam pelaksanaan perlu dipantau terus menerus. Disamping itu koperasi menjadi semakin kritis dan realistis dalam perumusan kebijaksanaan dan perencanaannya. (d). pupuk dan kredit yang akan disalurkan kepada petani anggota. Hubungan koperasi dengan para anggotanya menjadi semakin dekat dan tidak terjadi kesenjangan antara koperasi dan anggotanya. Ada beberapa pertimbangan pentingnya koperasi untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri. ditetapkan rencana dan program yang hendak dicapai oleh koperasi dalam kurun waktu tertentu. Secara dini koperasi dapat menemukenali kesalahan dan penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program. Kegiatan ini disebut evaluasi (impact monitoring). Selain itu dilakukan evaluasi membandingkan pelaksanaan program yang telah dicapai secara aktual dan dampaknya dengan rencana yang hendak dicapai. Gopar) Monitoring dapat dirumuskan sebagai proses pengukuran. (c).

Pemilihan tiga propinsi dimaksud diharapkan dapat mewakili keragaman situasi dan kondisi lingkungan koperasi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Pemilihan Koperasi Contoh Pemilihan koperasi contoh didasarkan kepada berbagai pertimbangan pula. Yogyakarta. dan berbagai pertimbangan non teknis lainnya. III. dukungan pembiayaan dan representasi data yang dapat diambil. D. Berdasarkan pertimbangan kemampuan pelaksanaan. Operasionalisasi kegiatan secara mekanistis diarahkan untuk memasok data agregat pengambilan keputusan di tingkat pemerintah melalui jaringan kerja (network): Anggota – Koperasi – Kantor koperasi di kabupaten/ kota – Provinsi – Pemerintah pusat. 2. Di samping data/informasi perkembangan organisasi dan usaha. sebagaimana pada pemilihan lokasi penelitian. Merangkum hasil monitoring dan evaluasi masing-masing koperasi yang ada di daerahnya. Kantor dinas membuat laporan kumulatif perkembangan koperasi. dan propinsi Sulawesi Utara. dilaporkan hasil monitoring dan evaluasi dampak koperasi pada tingkat anggota kepada dinas koperasi kabupaten/kota. Selanjutnya dilaporkan kepada kantor dinas koperasi tingkat provinsi. Kantor dinas tingkat provinsi akan menyusun laporan sedemikian rupa kepada pemerintah pusat. ditetapkanlah sebanyak 15 KUD sebagai objek penelitian. Secara simultan koperasi yang bersangkutan sudah dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk penyesuaian dan penyempurnaan kebijakan. Lokasi untuk penelitian ini adalah provinsi Sumatera Utara. maka pelaksanaannya dilakukan berdasarkan anaannya metodologi dan prosedur yang disusun sebagai berikut: 1.AGUSTUS 2009 : 171-185 Anggota sebagai kelompok sasaran (target group) merupakan objek pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ditetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan kebutuhan akan representasi dari keadaan yang ada di lapang dan ketersediaan dana. Pada penelitian ini koperasi sampel ditentukan secara acak (random) dari sejumlah koperasi pedesaan yang masih aktif di provinsi lokasi penelitian. Jumlah KUD untuk masing- 176 . Metode Penelitian Untuk mencapai tujuan proyek penelitian ini dan berdasarkan ruang lingkup kegiatan yang dicakup.I.JURNAL VOLUME 4 . Sifat dan keadaan serta karakteristik yang khas dari ketiga daerah tersebut menjadi pembanding untuk masing-masing situasi dan kondisi lingkungan lainnya yang mungkin berbeda.

maka ditetapkanlah sebanyak 6 (enam) KUD di Sumatera Utara.1 kali Pend. 4 (empat) Tabel 2.3 82 92 76 % Umur (>35 thn) 74. informal untuk menggali data dan informasi yang lebih 1. 83.7 78 70 % Pekerjaan (tani) Selanjutnya untuk setiap koperasi sampel diambil76 sebanyak 10 51.4 2. Identitas KUD di Anggota KUD di Yogyakarta. 177 . Gopar) masing provinsi ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah KUD dan KUD mandiri yang ada di setiap propinsi tersebut. Koperasi Contoh dan Lokasinya Tabel 1. tidaklah menyebar di semua kabupaten.7 45 70 40 Pendidikananggota sebagai% orang (>SMP) responden.  2 3 4 5 6 7 8 9 10  12 13 14 15 Nama Koperasi Harta Sidomukti Sritani Tani Makmur Rata Harapan Ringin IX Ngaglik Makmur Turi Wenang Lestario Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kecamatan Selesai Hinai Gebang Babelan Besitang Pagar Merbau Cangkringan Ngaglik Kalasan Turi Sario Molas Kombi Kombi kombi idem idem idem idem idem Yogyakarta idem idem idem idem Sulawesi utara idem idem idem Propinsi Sumatera Utara No  2 3 4 Sesuai dengan jumlah KUD yang ada di masing-masing provinsi.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Dengan pertimbangan efektivitas pelaksanaan survai.8 3. Responden anggota ini diperlukan 2. Namun juga sebagai salah satu upaya untuk melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasi sampel (dalam hal ini diwakili oleh pengurus). dan 5 (lima) Umum Sulawesi Utara sebagai koperasi sampel. koperasi yang terpilih sebagai sampel hanyalah diambil dari beberapa kabupaten Propinsi RataIdentitas Satuan saja. Koperasi Contoh dan Lokasinya No.3 banyak mengenai dampak koperasi terhadap anggotanya.DIY KoperasiSULUT tersebut sampel rata SUMUT adalah sebagaimana tertera pada tabel 1. Tabel 1.

1%).AGUSTUS 2009 : 171-185 3. Usia mereka Usia mereka yang berada diatas 35 tahun ada sebanyak 83. ketersediaan perangkat keras dan lunaknya. Persepsi tersebut belum tentu sama dengan persepsi anggota. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi anggota di koperasi lainnya (32%). Mereka umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang belum memadai. Secara umum dapat dikatakan bahwa para responden anggota koperasi adalah para anggota yang pekerjaaannya sebagai petani (74. Dengan melihat kecenderungan dari data yang terolah. tendensi pemusatan dan penyebaran (Neter. ketersediaan data dan informasi yang didapat dan pertimbangan seperti kemampuan para peneliti. Penelitian ini menggunakan model-model analisis statistik deskriptip sederhana (simple descriptive statistics) sebagaimana dikemukakan oleh Welch & Comer (1988). Metoda Analisis Analisis yang dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan penelitian. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya.4 kali. Hal tersebut dapat dimaklumi. Hasil Pengamatan dan Analisis Dari sudut pandang koperasi (diwakili oleh pengurus dan/atau pengelola) bahwa koperasi telah memberikan dampaknya kepada anggota secara maksimal. 1988). Namun demikian dari keseluruhan responden anggota tersebut umumnya mereka telah mendapatkan pendidikan non-formal dan keterampilan rata-rata sebanyak 2. Terlebih dahulu akan memaparkan kondisi keanggotaan koperasi pedesaan yang diteliti. 178 .3% dari keseluruhan responden.JURNAL VOLUME 4 . Untuk itu akan dibahas persepsi anggota tentang dampak dan manfaat koperasi dari sudut pandang anggota koperasi. serta upaya melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasinya. Keterangan secara menyeluruh untuk semua lokasi penelitian dapat dikaji lebih lanjut pada tabel 2. et al.7%).7% dari mereka yang mempunyai pendidikan diatas sekolah lanjutan pertama (SLP). ketersediaan waktu dan dana. Organisasi koperasi di pedesaaan pada umumnya KUD adalah berbasis kewilayahan. maka kita akan dapat memprediksikan kemungkinan maupun alternatip yang ada dari data. Teknik ini digunakan karena secara sederhana akan dapat menggambarkan kecenderungan yang terdapat pada suatu populasi. Jikalau kita tinjau ciri keanggotaan lainnya (tabel 3) terlihat bahwa para responden umumnya telah menjadi anggota koperasi selama lebih dari lima tahun (73. Hanya sekitar 51. penggalian dan pendalaman data/informasi dari dan tentang anggota untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang anggota. Karena mereka umumnya hidup di pedesaan. Perlakuan dan pengolahan akan dilakukan terhadap distribusi frekuensi. Selebihnya mereka mengaku paling tinggi hanya tamat SLP. IV.

96 ha. Ternyata pengaruh anjuran para pembina dan pengurus ternyata masih cukup kecil.0 64 70 58 Tabel 5. anjuran kepala desa b. Di Sumatera Utara para Propinsi RataNo Komoditi anggotanya menjadi pemilik kebun kelapa DIY ternyata memiliki lahan sawit SULUT rata SUMUT yang jauh lebih luas dari rata-rata kepemilikan lahan tersebut diatas (sekitar  Pupuk 70 76 77.3 SULUT 82 76 45 2.13 14 15 Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kombi Kombi kombi idem idem idem Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.3 dan ketepatanlainnya 5 Pelayanan waktunya dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini. Ciri-ciri Keanggotaan Tabel 3. lebih tinggi .2 DIY 81 30 10 10 70 0.2 ha).3 3. Identitas Umum Anggota Tabel Identitas Umum Anggota No  2 3 4 Identitas Umur (>35 thn) Pekerjaan (tani) Pendidikan (>SMP) Pend.96 1 4 Ciri lainnya yang penting untuk dikaji adalah kenyataan bahwa Tabel 4. Efektivitasnya perlu untuk dikaji lebih lanjut. Gopar) Tabel 2.4 SULUT 68 26 32 8 56 1.4 Hal menarik lainnya adalah motivasi menjadi anggota koperasi. Tabel 3. 64.3% saja yang menjadi anggota koperasi atas keinginan sendiri.3 0.3 Ratarata 73.3 4. anjuran pengurus c. Bagaimana manfaat dan 3 74 42 57. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 3 (Persentase) Ratarata SULUT 62 24. Tentunya kepemilikan (Persentase) lahan ini sangatlah bervariasi antar lokasi penelitian.3 dampak koperasi bagi anggotanya dalam hal ketersediaan beberapa komoditi 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 76 75. Sedangkan sebanyak 31.3% lainnya menjadi anggota koperasi karena atas anjuran kepala desa.7 55.3 ha. keinginan sendiri Pemilikan lahan Satuan % % % % % % (ha/angg) Propinsi SUMUT 72 40 52 6 40 1. Berlahan sempit kepemilikan lahan rata-rata hanya sekitar 0.0 179 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa menjadi anggota koperasi tidaklah hanya berdasarkan motivasi dan keinginan sendiri. anjuran pembina d. Hanya sekitar 55.8 Ratarata 83.3 1. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya para anggota koperasi umumnya merupakan petani kecil. Ciri-ciri Keanggotaan No  2 3 Ciri keanggotaan Lama keanggotaan (>5 thn) Anggota koperasi lain Motivasi a.7 2.7 51.1 Propinsi DIY 92 78 70 1. Ini menarik untuk dikemukakan.7 32.0 31. informal Satuan % % % kali SUMUT 76 70 40 3. Pengaruh anjuran pembina dan pengurus terhadap calon anggota untuk menjadi anggota koperasi yang hanya sekitar 8% tentunya belumlah bisa menggambarkan bahwa anjuran dan penyuluhan belum memadai.3 para Kredit anggota koperasinya rata-rata 56 sekitar 1.3 74. 2. Begitu juga halnya dengan di Sulawesi86 Utara yang kepemilikan lahan 2 Obat-obatan dan bibit 68 60 62 63.

7 56 70 86 58 22 64. dan lainnya. Sebanyak 62% dari para respondennya menyatakan bahwa harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi. lebih rendah Harga koperasi sbg patokan Kepastian harga (Persentase) Ratarata SULUT 62 22 4 72 88 24.0 83. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat latar belakang para anggota koperasi di Sulawesi 2 180 .3 SULUT 3.3RataNo Jenis Tanggapan ketersediaan dan ketepatan waktunya.2 Pemilikan lahan 3 Kredit 740. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi komoditi pupuk cukup Ratabesar dari responden (77. ternyata mendapatkan tanggapan yang cukup berbeda antar daerah.rata 57.7 68 32.3 4. normal/sama c. harga pembelian komoditi milik anggota oleh koperasi jika dibandingkan dengan pasaran umum adalah normal ataupun relatip sama. Ini sangat berbeda dengan pendapat para anggota koperasi sampel di Sulawesi Utara.3 4.3%.7 11.0 54. keinginan sendiri bibit 2 Obat-obatan dan 68 40 6070 (ha/angg) 561.AGUSTUS 2009 : 171-185 1. lebih rendah para responden (75. Sebagaimana terlihat pada tabel 5.3 72. Obat-obatan dan bibit 68 60 DIY 62SULUT 63. ini berarti sebagian Tabel 5.3 4 2 28 c.0 b. Hanya sebagian kecil saja dari mereka (3%) yang menyatakan harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi.4 (ha/angg) 4 Pemilikan lahan JURNAL VOLUME 4 .3 2 3 2 Mengenai harga komoditi.3 0. keinginan sendiri Tabel 3.3 dan 64% saja koperasi vs di umum 56 yang menyatakan 42 dari para responden bahwa 57.3 76 8 77. sebagian besar 11.3%) menyatakan mereka mendapatkan kemudahan dari 72. anjuran pembina 70 40 % d.3 73.3 42 1.3 3.3 ketersediaan  Kredit Harga di 74 beberapa komoditi tersebut adalah cukup dan pada waktu yang tepat.4 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 5 Pelayanan lainnya 64 70 32 8 56 1.3 88 70 92 3 Kepastian yang Tabel 5.3 0. anjuran kepala desa 10 % b. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 56 28 78 92 3 86 2 66 70 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a. lebih tinggi b.3%) menyatakan bahwa Komoditi rata tersedia dan waktunya tepat saat dibutuhkan. kredit.7 55.3 SULUT 31.I. 83. 24. Tanggapan atas Harga Komoditi Tabel 5. SUMUT Masing-masing hanya 63. anjuran kepalaKomoditi desa SUMUT DIY 10 % b. lebih tinggi Kemudahan Cara pembayaran 70 80 3 76 62 75.3%.0 54. Yogyakarta (86%). ternyata belumlah cukup memuaskan Propinsi 76 Pupuk 70 86 77.7 62 56 63. anjuran pembina Pupuk 70 6 86 % d.96 76 75. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Dari tabel 4 terlihat bahwa komoditi pupuk ketersediaan dan ketepatan (Persentase) waktunya merupakan yang tertinggi angka persentasenya. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya 4 No  2 3 4 5 Tabel 4.3 58 64.10 52 % a.0 26 (Persentase) Rata32 rata 31.0 3 a.0 72 66 78 2 Harga koperasi sbg patokan cara pembayaranharga diberikan oleh koperasi.3 57. DIY komoditi lainnya seperti Untuk SULUT (Persentase) SUMUT obat-obatan dan bibit.3 55. anjuran pengurus % c. anjuran pengurus 6 % c. Ciri-ciri Keanggotaan 0.96 Ratarata Tabel Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Tabel 4. 4.2 Propinsi No Ciri keanggotaan Satuan SUMUT DIY  2 3 81 72 % Lama keanggotaan (>5 thn) 30 40 % Anggota koperasi lain Motivasi Propinsi No 10 52 % a. bahwa sebagian anggota koperasi sarnpel di Sumatera Utara (56%) dan D. lainnya transaksi antara 64 Pelayanan normal/sama Dalam hal anggota dan koperasinya.

0 SULUT 92 92 72 3 24 90 94 Tabel 7.3 72. Selain itu sebanyak 72. baik b. sangat baik Pinjaman Pernah meminjam Mudahnya peminjaman Bunga rendah Propinsi SUMUT 88 94 86 6 32 82 92 DIY 96 100 60 12 46 70 90 (Persentase) Ratarata 92. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman No I  2 3 II 4 5 6 Kemanfaatan Pemasaran Kemudahan informasi pasar Informasi tersebut membantu Pelayanan koperasi a. Pada umumnya adalah para petani cengkeh yang sistem jual belinya sudah diatur dengan sistem tataniaga cengkeh.7%) menyatakan bahwa proses peminjaman tersebut cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Hal tersebut menyebabkan terhindarnya fluktuasi harga yang merugikan anggota.6 7. sebanyak 92% responden menyatakan mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan informasi pasar.0 80. Dalam hal pinjaman.7 92. Sebagian besar (80. Gopar) Utara.3% responden) menyatakan bahwa informasi pasar yang mereka dapatkan tersebut adalah membantu memahami pasar. Kemanfaatan lain yang dirasakan para responden adalah dalam hal pemasaran komoditi dan peminjaman modal ke koperasi. Hal ini dapat dilihat pada tabel 6. Ada sebanyak 72% responden menyatakan bahwa harga koperasi merupakan barometer transaksi jual beli.6% responden menyatakan bahwa pelayanan koperasi dalam hal informasi pasar ini adalah baik. Berarti koperasi sedikit banyak telah dapat mengendalikan harga komoditi yang dikelola anggota.0 34. Umumnya 92% responden menyatakan bahwa bunga yang dikenakan oleh koperasi cukup rendah.0 95. umumnya sepakat (sekitar 95. sebanyak 34% responden menyatakan pernah meminjam uang kepada koperasi. Tabel 6. sebanyak 83. Kiranya perlu pendalaman lebih lanjut.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Demikian juga dengan kepastian harga. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman Tabel 6.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan kepastian harga bagi komoditi yang mereka kelola. Dalam hal kemudahan informasi pasar. Pada umumnya para responden menyatakan harga koperasi dapat dijadikan patokan harga bagi komoditi yang mereka kelola. Sebanyak 7% dari mereka menyatakan pelayanan tersebut sangat baik. Dampak Koperasi Menurut Anggota Propinsi Rata- 181 (Persentase) . Mengenai kemanfaatan informasi tersebut. Hal ini menarik untuk disimak dan dikaji jika dibandingkan jawaban responden dari Sumatera Utara adalah sebanyak 28% dari mereka menyatakan harga koperasi adalah lebih rendah. Apakah hal tersebut berkaitan dengan komoditi kelapa sawit yang kelola.

Dampak Koperasi Menurut Anggota Tabel 7.3 182 . Dampak Koperasi Menurut Anggota (Persentase) No  2 3 4 5 6 7 Dampak koperasi Kemajuan anggota Peningkatan lapangan kerja Peningkatan perekonomian desa a. Pengaruh koperasi terhadap peningkatan perekonomian desa ternyata.3% lainnya menyatakan bahwa koperasi dapat merupakan fasilitator dalam pembangunan ekonomi.0 3 6 b.JURNAL VOLUME 4 . Di lain pihak ada sebanyak 71.0 92 88 Kemudahan informasi pasar  responden menyatakan bahwa koperasi dapat 96 merupakan alat pertumbuhan 95.3 92 100 94 Informasi tersebut membantu 2 dalam perekonomian anggota.0 71. Sebagai alat pertumbuhan dalam12 perekonomian anggota.7% responden sepakat menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja di daerah kerjanya. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 81. maka 7.3% 92.0 94 90 92 Bunga rendah 6 menyatakan bahwa koperasi merupakan alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi. baik pembangunan. Kemanfaatan dalam Pemasaran mempengaruhi.0 24 46 32 Pernah 4 anggota. mendapatkan tanggapan positif dari para responden. Tabel 7. Angka persentase rata SUMUT DIY SULUT tersebut hampir sama dengan yang menyatakan bahwa koperasi dapat Pemasaran I merupakan alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota. meminjam 80. sangat mempengaruhi Alat perubahan dalam pembangunan ekonomi Alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota Alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi Fasilitator dalam pembangunan ekonomi Propinsi SUMUT 80 100 50 48 82 84 76 78 DIY 78 100 60 32 85 95 80 70 SULUT 86 96 45 55 88 80 60 66 Ratarata 81. cukup mempengaruhi b. sangat baik Pinjaman II koperasi diharapkan dapat mengembangkan dan meningkatkan perekonomian 34.7 51. responden menyatakan bahwa koperasi cukup dan Peminjamansedangkan sebanyak 45% lainnya menyatakan sangat mempengaruhi terhadap peningkatan perekonomian pedesaan.AGUSTUS 2009 : 171-185 Bagaimana dampak koperasi dirasakan oleh anggota. Sebanyak 86.3 98. Umumnya sebanyak 98. koperasi dimaksudkan 3 Pelayanan koperasi dapat menjadi wahana atau agen untuk setiap perubahan (change agent) dalam 72.7% Tabel 6. Hal ini dapat dikaji pada tabel 7.0 85. Sebagai alat perubahan.7 45. (Persentase) No RataPropinsi Ada sebanyak 85% responden menyatakan bahwa koperasi dapat Kemanfaatan merupakan alat perubahan dalam pembangunan ekonomi.3 72.6 72 60 86 a.0 86. ada sebanyak 72%90 Selain hal-hal responden yang 92.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan anggota. Sebanyak 51.7 70 82 5 Mudahnya peminjaman tersebut di atas.

183 . Kesimpulan Dan Saran Dari penelitian ini ternyata kualitas sumberdaya manusia yang menjalankan kegiatan koperasi pedesaan ini belumlah memuaskan. maka perlu dilakukan pengkajian yang lebih spesifik dan terfokus. Hasil kajian dimaksud diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi kehidupan perkoperasian. Peningkatan efisiensi permodalan dilakukan melalui perbaikan sistem managemen koperasi dan sistem operasional yang digunakan oleh anggota dalam mengelola aktivitas ekonominya. Untuk itu semangat yang dikandung oleh UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang sistem keuangan koperasi perlu dikaji lebih mendalam lagi.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Selain itu pula ”aturan main” bagi pelaksana haruslah dibuat berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. Dari segi permodalan koperasi pedesaan masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi. dan sistem serta prosedur yang berlaku secara lazim dalam bisnis. Pengembangan dan pengaturan organisasi dan managemen yang dimulai dengan mewujudkan ”aturan main” tersebut perlu terus dikembangkan sehingga terwujud suatu sistem managemen koperasi yang khas dan tepat guna. Dengan demikian tercipta suatu sistem keuangan koperasi yang mandiri. maka diperlukan upaya dari suprastruktur (terutama dari pemerintah) untuk mengembangkan sistem keuangan koperasi. Peningkatan produktivitas permodalan dilakukan dengan meningkatkan perputaran modal yang ada. Gopar) Dari uraian di atas diungkapkan dampak koperasi sebagaimana yang dirasakan oleh anggota. Mengingat adanya beberapa peraturan/perundangan yang menata sistem keuangan. VI. Namun demikian perlu diingat bahwa ukuran yang digunakan dimaksud adalah ukuran subjektif-kualitatif. Terutama dalam hal pemanfaatan modal yang tersedia agar menghasilkan produktivitas dan efisiensi yang semaksimal mungkin. Untuk itu pendidikan perkoperasian maupun pendidikan keahlian bisnis bagi pengelola koperasi perlu lebih ditingkatkan lagi. Karena hal tersebut menyebabkan frekuensi dan arus penciptaan marjin keuntungannya semakin meningkat. kadar keterlibatan pekerjaan yang masih belum memuaskan. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif dalam hal-hal sebagaimana diterangkan di atas. Walaupun pada kenyataannya di beberapa koperasi banyak dari pengurus/pengawas dan pengelolanya telah mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. akan turut mempengaruhi tingkat kemanfaatan sumberdaya manusia untuk pengembangan usaha koperasi. Dalam hal pencarian sumber dana eksternal serta memobilisasikannya guna memperkuat permodalan. Komposisi dalam suatu perangkat organisasi usaha belumlah cukup seimbang. sehingga sebenarnya masih diperlukan lagi pengukuran yang bersifat objektif-kuantitatif. Selain itu tingkat pengalaman yang umumnya masih belum lama.

Issues. New York: John Wiley & Sons. Gilbert. Sebagai misalnya adalah penjualan komoditi dengan harga yang wajar. Secara umum dapat dikatakan bahwa kehadiran koperasi di pedesaan telah dirasakan dampaknya oleh anggota. (1981). Kiat-kiat yang dapat dilaksanakan koperasi untuk meningkatkan dampak koperasi perlu ditemukenali. dikembangkan dan dilaksanakan dengan baik. (4) Penciptaan penanggulangan tunggakan kredit. Dalam hal keperluan modal dan pinjaman ternyata juga telah dirasakan manfaatnya bagi para anggota. Dari penelitian ini setidaknya ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh koperasi.JURNAL VOLUME 4 . (7) Rapat Anggota Tahunan. (5) Penyertaan anggota dalam proses perencanaan. Pelayanan koperasi dalam memberikan informasi pasar dan kepastian harga ternyata cukup bermanfaat bagi anggota. Dampak kepada anggota akan sesuai Dampak kepada anggota akan sesuai dengan peluang yang ada dalam peraturan/perundangan. antara lain adalah: (1) Meningkatkan jumlah anggota. Inc. dan (8) Pengawasan oleh anggota. Kemanfaatan koperasi bagi anggota selain kemanfaatan langsung usaha dan kegiatan ekonomi di tingkat anggotanya. dinilai responden sebagai cukup baik. (2) Pemupukan modal sendiri. DAFTAR PUSTAKA Draper. Planning for Social Welfare. kualitas yang memadai dan tersedia pada waktu yang diperlukan. Pengembangan organisasi dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi internal dan aspek eksternal. (3) Peningkatan volume usaha. New Jersey: Pretice-Hall. N. Smith. and H. Terutama dalam hal kemudahan yang diperoleh anggota dalam kecepatan proses dan tingkat bunga. Pelayanan tersebut ternyata akan semakin dirasakan dengan meningkatnya partisipasi. and Tasks. Applied Regresion Analysis.. Sehubungan dengan hal tersebut koperasi sebagai badan usaha perlu lebih mengembangkan kegiatannya. (1977). juga perlu dikembangkan lebih lanjut pengembangan kemanfaatan koperasi dari sistem patron yang ada dalam koperasi. Semakin aktif partisipasi anggota semakin besar manfaat yang dirasakan oleh anggota tersebut.R. N . Dampak berupa kemanfaatan umumnya dirasakan melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh koperasi. Pada akhirnya kemanfaatannya akan jatuh kepada anggota. and H.AGUSTUS 2009 : 171-185 Adanya berbagai peluang untuk pengembangan usaha sebagai konsekuensi dari berlakunya berbagai peraturan pemerintah yang sangat mendukung berkembangnya koperasi pedesaan (terutama UU Nomor 25 Tahun 1992) perlu diantisipasi oleh koperasi untuk lebih mengembangkan organisasi dan usahanya. (6) Penciptaan keterkaitan usaha anggota. terutama kemitraan. Specht. 184 . Model. Untuk itu diperlukan kreativitas dan model kegiatan yang menggali potensi anggota maupun non anggota.

Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. Jakarta: Pemerintah Koperasi. Techniques and Applications. Chicago: The Dorsey Press. Welch. (1992). Comer. Gopar) -------------. and J. (1988). 185 . S. Quantitative Methods for Public Administration.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful