P. 1
Jurnal Isi Ok

Jurnal Isi Ok

|Views: 176|Likes:
Published by parezaalam19

More info:

Published by: parezaalam19 on Apr 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2015

pdf

text

original

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur

)

PENYUSUNAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) STUDI KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL BAGI UKM*) Daniel Asnur**) Abstract DSS is a system based model which consisted of procedures in data processing, addressed to assist managers in taking decision. This system has to be: 1. Simple, 2. Robust, 3. Easy to be controlled, 4. Adaptable, 5. Has various important features, 6. Communicative. Implicitly it’s also means that this system must base on computer (computerized) and applied/use to support SME to solve their problems. DSS SME software is a computerized information system which can support its users in plan and making decision for SME business finance and economic. DSS can give amenities in doing calculation, correctness in calculation and inspection. This software application is expected to be able to give effectiveness and efficiency for government, stakeholders and intermediary institute in doing decision making to develop SME business. This application system run/compatible with Microsoft Windows, it has attractive display appearance and can yield SME financial and economic eligibility output in .doc format (Microsoft office word) for further editing and printing.

Sistem informasi, aplikasi software, UKM I. PENDAHULUAN Eksistensi UKM dalam perekonomian Indonesia cukup dominan dan signifikan. Sedikitnya, terdapat 3 (tiga) indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan UKM di Indonesia memiliki posisi dominan dan signifikan. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Jumlah populasi UKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99% terhadap total unit usaha di Indonesia, dengan jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga
Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. Artikel diterima 16 April 200�, peer review 22 April s.d. 8 �uni 200�, review akhir �� �uli 200� **) Kepala Bidang Kerjasama dan �aringan pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian)
*)



JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

kerja. Setiap unit investasi pada sektor UKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UKM menyerap 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yakni jumlah PDB mencapai Rp 3.957,4 triliun, dimana UKM memberikan kontribusi sebesar Rp 2.121,3 triliun atau 53,6% dari total PDB Indonesia. Pertumbuhan PDB UKM tahun 2007 terjadi di semua sektor ekonomi. Ekspor hasil produksi UKM selama tahun 2007 mencapai Rp 142,8 triliun atau 20% terhadap total ekspor nonmigas nasional sebesar Rp 713,4 triliun. Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang belum kondusif ini, pengembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Argumentasi ekonomi ini karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang dimiliki bangsa ini. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak memerlukan kapital yang besar dan dalam periode krisis selama ini UKM relatif tahan banting”, terutama UKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UKM dalam sektor pertanian dapat memperoleh keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UKM yang tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak depresiasi rupiah ini. Di sisi lain, permasalahan UKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources), managemen, funding access, informasi teknologi dan market acces membuat para pengusaha UKM (umumnya) memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 31% pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan. Di lain pihak perbankan merasa bahwa sebagian pelaku UKM yang mengajukan kredit juga belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh perbankan. Salah satu upaya yang dapat diusung dan dikembangkan adalah dengan menyusun Pedoman Pengambilan Keputusan Pengembangan Investasi UKM Berbasis Teknologi dan Sistem Informasi (Decision Support System/ DSS) yang menjembatani permasalahan dasar UKM dan kebutuhan pihak intermediary swasta untuk meningkatkan portofolio investasinya. DSS adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung keputusan. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan, ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Mengintegrasikan konsep DSS dan konsep kelayakan ekonomi dan finansial untuk pengembangan usaha UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas, efesiensi dan ketelitian bagi pihak pemerintah, pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.

2

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dirancang sebuah sistem informasi dalam pengambilan keputusan untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial bisnis UKM yang dapat direplikasikan untuk usaha yang sejenis pada wilayah-wilayah di Indonesia, sehingga keputusan pengembangan dan pemberdayaan usaha ini dapat dijalankan secara akurat dan teliti. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mengukur kinerja usaha ini dalam menjalankan bisnisnya dan memberikan informasi tentang kondisi yang dihadapi. II. TINJAUAN PENELITIAN SEBELUMNYA Sebagai bahan perbandingan dalam penelitian Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM, diantaranya penelitian yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2003) dengan judul Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam hal: (a) Kecepatan di dalam mencari informasi pangan sampai level kecamatan, sehingga dapat membantu mempercepat perhitungan kebutuhan, pengadaan, dan distribusi pangan; (b) Reliabilitas estimasi luas dan produksi pangan (khususnya padi), sehingga dapat digunakan sebagai opsi kedua setelah BPS dalam perhitungan pengadaan pangan; dan (c) Ketepatan luas dan penggunaan lahan dan trend perubahannya, sehingga kebijakan untuk mengantisipasi laju perubahan lahan pertanian ke non pertanian dapat dilakukan sedini mungkin. Penelitian lanjutan yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2005) dalam dengan judul Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan alat bantu pengambil keputusan untuk pendayagunaan sumberdaya iklim dan air untuk perencanaan pertanian Berdasarkan kedua sumber penelitian tersebut di atas, tampak bahwa manfaat yang diberikan oleh aplikasi Decision Support System sangatlah luas. Sehingga penulis tertarik untuk mengintegrasikan aplikasi DSS ini di dalam dunia koperasi dan UKM yang antara lain untuk keperluan analisa marketing, operasi logistik dan distribusi, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi (taxation, budgeting, dsb.). III. KERANGKA PEMIKIRAN Dalam penelitian ini akan menyusun Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM. Hasil analisis tersebut ut menunjukkan apakah usaha yang dijalankan UMKM layak atau tidak untuk dilaksanakan.

3

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

Langkah pertama adalah menyusun variabel ekonomi dan finansial UMKM. Variabel ekonomi terdiri dari aspek produksi, aspek pemasaran, aspek managemen dan SDM, aspek lingkungan. Aspek finansial meliputi initial invesment, working capital, perhitungan cash flow dan biaya produksi dan operasi. Selanjutnya menganalisis data kuantitatif dengan menghitung kelayakan investasi yang mempunyai beberapa kriteria yaitu Break Event Point (BEP), B/C Ratio, Payback Periods (PP), NPV, PI, IRR, dan Rentabilitas Ekonomi. Kemudian mencari perhitungan analisis sensitivitas untuk melihat sampai berapa persen peningkatan atau penurunan faktor-faktor pemasukan atau biaya tersebut dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi pada aspek keuangan yaitu dari layak atau menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Kemudian dari hasil perubahan biaya atau pendapatan dimasukkan kedalam analisis kelayakan investasi UKM yang diterapkan. Langkah terakhir adalah interpretasi hasil analisis kelayakan, apakah layak atau tidak. Bila hasilnya menyatakan layak maka diteruskan dengan pelaksanaan. Bila hasilnya menyatakan tidak layak maka perlu dilakukan evaluasi. Pada gambar 1 disajikan skema kerangka berpikir sebagaimana penjelasan di atas.

Gambar

1.

Skema Kerangka Pemikiran Penyusunan Decision Support System (DSS) Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM

4

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

III.

METODOLOGI 1. Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan finasial ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisa kajian literatur yang berkenaan dengan indikator yang ditentukan sebagai variabel ekonomi dan finansial. Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk model perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan dari hasil penyebaran kuisioner kepada responden. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan ini memperoleh hasil yang valid dan komprehensif. 2. Populasi dan Sampel Dari populasi yang menjadi subjek dalam kajian ini, kemudian diambil sampel. Responden yang menjadi sampel penelitian untuk masingmasing kegiatan penyusunan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM dilakukan dengan purposive sampling berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu. Sampel diambil dari Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Irian Jaya. Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut: • • • • Pelaku UKM yang usahanya merupakan produk unggulan di masing-masing propinsi Telah menjalankan usaha yang sejenis selama lima tahun Penghasilan usaha positif Data yang diambil merupakan data yang wajar.

3. Jenis dan Sumber Data: Jenis dan sumber data yang menjadi bahan dalam kajian ini terdiri dari : • Data Primer, yaitu data dan informasi yang diperoleh secara langsung dari narasumber/responden baik yang berupa hasil wawancara dan kuesioner yang disebarkan kepada responden. Data primer diperoleh dari pelaku UKM pada masing-masing lokasi kajian. Data Sekunder, yaitu data dan informasi yang diperoleh dari dokumen/publikasi/laporan penelitian dari dinas/instansi maupun sumber data lainnya yang menunjang.

5

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

4. Teknik Pengumpulan Data: Untuk menganalisis kegiatan pengembangan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM yang efektif serta merekomendasi best practice yang dapat digunakan dan dikembangkan, maka akan digunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: • • Studi Kepustakaan dan Literatur, digunakan untuk mendapatkan data-data awal tentang kelayakan ekonomi dan finansial. Wawancara mendalam (indepth interview), yakni teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada key informan. Penyebaran kuisioner, yakni teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner kepada pelaku bisnis dan instansi terkaitdan kuesioner ini bertujuan untuk mandapatkan data faktual tentang kajian.

5. Teknik Analisis Data: Setelah data diperoleh dari berbagai kelompok responden serta setelah dilakukan entri dan tabulasi data, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil survei. Hasil dari survei dan analisa ini akan menjadi dasar informasi untuk mendesain kebutuhan seperti apa yang harus dipenuhi dari sisi operasional. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tahapan selanjutnya, yaitu melakukan desain terhadap software DSS yang akan dibangun. 6. Tahapan Perancangan Aplikasi: Tahapan-tahapan perancangan aplikasi dengan metode Rapid Application Development (RAD) adalah sebagai yang terilustrasi pada Gambar 2. a) Pemodelan Cara Kerja Data-data masukan mengalir dari satu fungsi kerja ke fungsi kerja berikutnya. Aliran data masukan kedalam beberapa fungsi kerja tersebut dimodelkan untuk mendapatkan model cara kerja. Pemodelan cara kerja ini akan menjawab berapa pertanyan mendasar sebagai berikut: 1). Informasi apa sajakah yang dapat mempengaruhi aplikasi; 2). Informasi apa sajakah yang akan dihasilkan; 3). Bagian-bagian mana yang menghasilkan informasi; 4). Kemana informasi/data itu akan dikirimkan; 5). Siapa dan bagaimana data/informasi itu diproses.

6

Tahapan Perancangan Aplikasi b) Pemodelan Data Aliran informasi yang telah didefinsikan didalam pemodelan cara kerja kemudian dianalisa kembali lebih detail untuk mendapatkan daftar objek/data yang dibutuhkan untuk mendukung cara kerja yang telah dimodelkan. RAD 7 . misalnya Java. dan antara atribut satu dengan yang lain. Karakteristik masing-masing objek (biasanya disebut sebagai attribute) kemudian diidentifikasikan. Transformasi yang dimaksud antara lain. VB. Proses/ transformasi data tersebut harus disesuaikan dengan aliran informasi yang telah dirancang pada pemodelan cara kerja. menghapus. menambah.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) ����������������� ����������������� ������������� ���������������� ���������������������� �������������������� Gambar 2. Semua proses itu dimodelkan dalam pemodelan pemrosesan data ini. d) Pengembangan Aplikasi Pengembangan aplikasi dengan menggunakan model RAD ini akan sebanyak-banyaknya memanfaatkan alat bantu yang telah ada dan sering digunakan. menyunting. C# atau Delphi. mengambil dan menyimpan data. Didalam pemodelan data juga dilakukan pendefinisian hubungan/relasi antara objek satu dengan yang lain. c) Pemodelan Pemrosesan Data Disini konsultan akan mendefinisikan proses/transformasi di semua objek data yang telah didefinisikan pada tahap pemodelan data.

konsultan akan menggunakan excel sebagai prosesor untuk melakukan kalkulasi yang akurat. 5) Market size dan market share. 7) Positioning.AGUSTUS 2009 : 1-17 menekankan pada penggunaan kembali komponen-komponen yang telah tersedia. 6) Segmentasi. Kemudian untuk kebutuhan kalkulasi. IV. Didalam pengembangan aplikasi kali ini. 8) Targeting. 4) Pemilihan Pola usaha. penggabungan satu atau dua aplikasi lain yang telah ada untuk pengembangan aplikasi. 9) Kendala produksi. Pilihan ini diambil karena Java cukup banyak digunakan dan berukuran cukup kecil. Berikut ini faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melihat aspek pasar adalah sebagai berikut: 1) Permintaan. 8 . 7) Jumlah. b) Aspek Pemasaran Analisis usaha dapat dilakukan secara kualitatif atau deskriptif kuantitatif untuk mengetahui aspek pasar dan pemasaran. Fungsi tambahan yang sering dilakukan dalam model RAD ini antara lain melakukan otomatisasi. 4) Tenaga kerja. 5) Teknologi. 6) Proses produksi. penawaran dan persaingan pasar. Jenis dan mutu. 8) Produksi Optimum. 2) Fasilitas produksi. Disain Input dan Output DSS UMKM Disain input dan output yang dikembangkan untuk pembuatan software kelayakan ekonomi dan keuangan selain Profil Perusahaan adalah sebagai berikut: a) Aspek Produksi Analisis teknis berkenaan dengan kegiatan produksi dan operasi yang dijalankan. 2) Harga.JURNAL VOLUME 4 . Faktor-faktor yang yang menjadi pertimbangan dalam aspek produksi seperti sebagai berikut: 1) Lokasi Usaha. 10) Critical Path Method. Secara umum. 3) Jalur Pemasaran. 3) Bahan Baku. titik tolak dalam alur pikir tersebut adalah penyusunan aspek pemasaran dapat dilakukan setelah pengusaha mempunyai rencana pengembangan bisnis. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. konsultan akan menggunakan lingkungan kerja (framework) Java sebagai pengelola UI (user interface) atau antar muka. integrasi antara satu komponen dengan komponen yang lain. Penilaian kelayakan diukur secara kuantitatif dengan menggunakan kuisioner untuk melihat apakah menurut pelaku usaha kegiatan teknis produksi dan operasi yang dijalankan telah layak secara ekonomi.

Aplikasi software DSS UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas dan efesiensi bagi pihak pemerintah. Selain itu. dengan tampilan yang menarik dan mampu menghasilkan output kelayakan ekonomi dan finansial dalam format pdf yang siap di cetak maupun dalam format doc untuk proses pengeditan lebih lanjut. Fasilitas yang disedikan mengarahkan para pengguna yang awam akan perencanaan usaha untuk mampu membuat perencaaan ataupun pengambilan keputusan kelayakan usaha dengan mudah dan sederhana. jumlah pesaing industri sejenis. d) Aspek Lingkungan Pembahasan mengenai aspek lingkungan ini terkait dengan. profil usaha dan kompensasi. yaitu : tingkat ketersediaan bahan baku. Aplikasi juga memiliki beberapa fitur yang salah satu diantaranya adalah fasilitas untuk me-review perencanaan bisnis yang dibuat. yaitu : Bentuk Organisasi Perusahaan. tetapi dapat bertahap yang pada akhirnya menghasilkan sebuah perencanaan bisnis yang lengkap dan akurat. yang dalam hal ini menggunakan. e) Aspek Keuangan Dalam variabel keuangan ini akan disajikan informasi tentang biaya investasi. proses pengisian langkah-langkah studi kelayakan tidak harus sekaligus dimasukkan dalam satu saat. penghalang memasuki industri (Entry Barier). 9 . 2. Fitur Aplikasi DSS UMKM Software DSS UKM adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung para penggunanya dalam perencanaan dan pengembalin keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. Untuk bentuk organisasi terkait dengan badan hukum perusahaan dan perizinan. cash flow dan biaya operasional yang terdiri dari fixed cost dan variable cost. dan jarak antar usaha sejenis. internal rate of return dan rentabilitas ekonomi. pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) c) Aspek Managemen dan SDM Pembahasan mengenai aspek managemen dan SDM ini terkait dengan. Aplikasi ini dijalankan diatas windows. profitability index. Kelayakan investasi dapat diukur dari berbagai kriteria. modal kerja. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. analisis break even point. net present value. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. benefit/cost ratio. payback periods. sumber bahan baku. sedang kompensasi terkait dengan tingkat kompensasi yang diberikan. Kemudian untuk profil usaha terkait dengan skala usaha dan sistim pengelolaan usaha.

JURNAL VOLUME 4 . merupakan toolbar yang terdiri dari profil perusahaan dan profil usaha. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsikan aspek ekonomi dan keuangan perusahaan dan usaha yang dijalankan. berikut penjelasan dari masing-masing tombol toolbar yang terdapat dalam aplikasi.AGUSTUS 2009 : 1-17 Aplikasi Software DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan bagi setiap user sebagai berikut: a) Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. Langkah-langkah memulai aplikasi DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial bagi UMKM adalah sebagai berikut: a) Pilih Bidang Usaha: untuk mulai menjalankannya. jasa. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor. pertanian. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsi perusahaan dan usaha yang dijalankan. toolbar dari kiri ke kanan mengilustrasikan proses pembuatan studi kelayakan dan sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek produksi. grafik warna dan deskripsi hasil analisis. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. terkait dengan aspek produksi. Lingkungan dan Keuangan. manufaktur. managemen dan SDM. toolbar ini disedikan untuk memberikan pilihan kepada user untuk memprint hasil studi kelayakan dalam format dokumen Ms Word (doc). pada toolbar ini. Untuk mempermudah penggunaan. Pada saat shortcut DSS UMKM di klik dua kali akan muncul menu pilihan bidang usaha yang akan 10 . user terlebih dahulu diminta untuk menyesuaikan sektor usaha yang dijalankannya atau sektor usaha yang akan dibuat studi kelayakannya dengan memilih tampilan toolbar aplikasi. d) Print. a) Profil. pemasaran. c) Analisis Bisnis. d) Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. managemen & SDM. b) Aspek. lingkungan dan keuangan. c) Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file pdf siap cetak maupun file doc (ms word). b) Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. pemasaran.

Pertanian. Setelah terisi. Isian form terletak pada layar paling kanan. Setelah terisi. Isian form terletak pada layar paling kanan. User dapat langsung meng-klik icon profil perusahaan. kembali di-klik form konsep awal untuk melakukan pengisian selanjutnya. user dapat langsung meng-klik icon aspek produksi. Lalu isilah setiap pertanyaan Gambar 3. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek produksi. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kondisi perusahaan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian identitas perusahaan dan konsep awal. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. c) Tahap pengisian profil usaha.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) dibuat perencaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. b) Untuk membuat studi kelayakan dari usaha. user dapat langsung meng-klik icon profil usaha. d) Tahap pengisian Aspek Produksi. dimulai dengan Tahap Pengisian Profil Perusahaan. Bidang usaha yang dapat dipilih pada software versi ini adalah Perdagangan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kondisi perusahaan dan form pola pembiayaan bank. Jasa dan Restoran. Layer Aplikasi DSS  . Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form identitas perusahaan. Manufaktur.

Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja Pemasaran. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. user dapat langsung meng-klik icon aspek managemen dan SDM.JURNAL VOLUME 4 . Layer Pilihan Bidang Usaha 12 . user dapat langsung meng-klik icon aspek pemasaran.AGUSTUS 2009 : 1-17 yang tersedia pada tampilan form aspek produksi. f) Tahap pengisian Aspek Managemen dan SDM. Isian form terletak pada layar paling kanan. e) Tahap pengisian Aspek Pemasaran. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek lingkungan. Setelah terisi. Isian form terletak pada layar paling kanan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form aspek lingkungan. g) Tahap pengisian Aspek Lingkungan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja Pemasaran. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian managemen dan SDM. Isian form terletak pada layar paling kanan. Gambar 4. user dapat langsung meng-klik icon aspek lingkungan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja managemen dan SDM. Isian form terletak pada layar paling kanan.

Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja keuangan yang terdiri dari tujuh form. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form kinerja keuangan. Isian form terletak pada layar paling kanan. Klik icon toolbar Analisis bisnis Tab hasil analisis berdasarkan aspek Hasil analisis perindikator Hasil analisis komulatif seluruh indikator Gambar 5. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor (indeks). angka kelayakan 13 . mulai dari form satu sampai tujuh.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) h) Tahap pengisian Aspek Keuangan. Layer Hasil Analisis Bisnis Aspek Produksi i) Analisis bisnis. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek. User dapat langsung meng-klik icon aspek keuangan. pada toolbar ini.

daftar isi dan ilustrasi variabel (aspek produksi. Kesimpulan Sebagai kesimpulan dari kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan keuangan UKM adalah sebagai berikut : 1). Aplikasi DSS UKM dikembangkan sebagai sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi. BCR. terdiri dari prosedur-prosedur dalam pemrosesan data dan pertimbangannya yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. Output Aplikasi DSS UMKM Aplikasi Output dari software aplikasi DSS UMKM dirancang untuk dapat langsung menjadi semacam proposal bisnis yang dapat digunakan oleh stakeholder lain seperti dunia perbankan.JURNAL VOLUME 4 . IRR. 3. Aplikasi DSS dirancang untuk membantu UKM dalam hal pengambilan keputusan dari aspek produksi. V. managemen. BEP. maka fitur-fitur sistem DSS dirancang secara sederhana. output sudah langsung terprint berikut cover. pemasaran. mudah untuk dikontrol. robust. pemasaran. Agar berhasil mencapai tujuannya. lingkungan dan keuangan dalam mengukur tingkat kelayakan sekaligus melihat peluang dan hambatan UKM dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. hasil isian dan analisis dapat langsung di export kedalam bentuk dokumen MS word dan siap di print. j) Tahap printing ke MS Word. Untuk melihat hasil analisis dari masingmasing aspek dapat langsung di klik tab hasil analisis pada bagian tengah aplikasi. dan mudah berkomunikasi dengannya. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah. Pada layar ditunjukkan hasil analisis perindikator dan analisis secara komulatif keseluruhan indikator. lengkap pada halhal penting. atau dapat menjadi alat ukur pihak-pihak yang berkepentingan (intermediary. 14 . NPV-PI). ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. PP. Dengan begitu. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. Pada gambar disamping diberikan contoh hasil analisis produksi.AGUSTUS 2009 : 1-18 keuangan (Cash Flow. SDM. Untuk hasil analisis dengan kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. managemen dan SDM. funding) untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial UKM tersebut. mudah beradaptasi. grafik warna dan deskripsi hasil analisis. lingkungan serta analisis bisnisnya. Out put print dapat langsung menjadi bagian dari perencanaan bisnis dari UKM.

grafik warna (kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. seperti: pelaksaaan sejumlah workshop untuk para UKM terkait dengan perencanaan bisnis. Software aplikasi DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan oleh setiap user UKM sebagai berikut: • Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. Sedang kelayakan keuangan ditampilkan tabulasi neraca. Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. Hasil analisis kelayakan ekonomi ditampilkan dalam image angka skor kelayakan. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. Sistem operasi Microsoft Windows XP.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) 2). Aplikasi DSS UMKM ini akan berjalan baik pada komputer dengan konfigurasi hardware sebagai berikut: Komputer dengan prosesor Intel Pentium IV ataupun yang setara. manufaktur. Saran Untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan aplikasi software. Payback Periods. Internal Rate of Return dan deskripsi hasil analisis. • • • • 3). pertanian. Dan dukungan software. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah ) dan deskripsi hasil analisis. Profitability Index. Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file doc (ms word) yang siap diprint. konsultan merekomendasikan kepada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk merancang kegiatan sosialisasi software bagi para UKM. OPEN Office. perkembangan cash flow serta analisis Break Event Point. laporan laba rugi. jasa. AdoBe Reader dan Dot Net Framework 2. Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. Monitor dengan resolusi minimum 800x600. 15 . RAM minimum 512MB. Net Present Value. Benefit/Cost Rasio.

Jacowitz. (2002). Aplikasi Inventori Control dengan Microsoft Visual FoxPro ��. Raja Grafindo Persada Edisi 1. Wayne and Noe. Microsoft Press. 11 Script Spektakuler Active Server Pages. (2005). Haer. (1993). Applied Microsoft®. Jakarta. Andi Offset. Penerbit PT. Agung. Penerbit PT. Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. penggandaan CD program dan manual. (2002). HM. Microsoft Press. pengembangan sistim (DSS UMKM versi 2) ataupun kegiatan lainnya yang dapat menindaklanjutkan keberadaan software ini pada kementerian Koperasi dan UMKM. Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Penerbit PT. Allyn & Bacon. (2005). (1990). Mondy. Small Business Management. Busthami. Tri. West Virginia University-USA. Jeffrey. Jakarta. Analisis & Disain Sistem Informasi. Richter. (2003). Penerbit PT. Selain itu.. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Internet Up Load. Jakarta. Bakrie. Fifh Edition. (2003). Melihat Keamanan Windows Vista. (2004). Program Aplikasi Foxpro Pada Sistem Akuntansi. Jeff. Elex Media Komputindo. Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan �awa Tengah. Human Resources Management. Robert M.NET (Core reference). Yogyakarta. uji reability penggunaan software. Elex Media Komputindo. Amperiyanto. USA. Jakarta. Advanced Software Project Management. DAFTAR PUSTAKA Jogiyanto. software aplikasi DSS UMKM kiranya dapat dimiliki oleh para pelaku usaha UMKM secara gratis (tanpa dipungut bayaran). Prosise. (2006).JURNAL VOLUME 4 AGUSTUS 2009 : 1-17 pelatihan pemanfaatn software. NET Framework Programming (ProDeveloper). Rivai Veithzal. Edisi 1. cet 1. (2004). an entrepreneur’s Guidebook. Mc Graw Hill. (1992). 16 . R. Elex Media Komputindo. Byrd. Gregorius. Elex Media Komputindo. Talib. Jakarta. Programming Microsoft® . PT. Meginson. Lawrence. Managemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari Teori Ke Praktik. (2006).

Mc. (1991). Davis. Competitive Strategy : Techniques for Analyzing Industries and Competitors. William. Inc. and Gruber.Graw-Hill. Fifth Edition.J. Business and Society.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) Porter. John Wiley and Sons. A Division of Macmillan Publishing Co.J. Keith & Frederick. Elton. Modern Portfolio Theory and Invesment Analysis. (1980).. The Free Press. (1980).. M. E Michael. E. 17 .

Some variables which influence on the total of MSMEs: which got business license are: 1) approach.12%) which have got license. 3) license requirements. 6) consequences of licensing. Of 1. Latar Belakang UMKM banyak memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya nasional. Several/crucial problems to be handled are: a) so many types of license which have to be fulfilled by MSMEs to be able to conduct a business activity. Yang dimaksud dengan formalisasi UMKM adalah pemberian izin kegiatan usaha tertentu dan status badan hukum bagi UMKM sesuai dengan ketentuan perundang Kajian Asdep Urusan Penelitian Sumberdaya tahun 2008 Artikel diterima 2�� April 200�. 8 �uni 200�. 5) socialization of licensing.��34 units of MSME in 6 districts/ municipalities. This matter is due to there are many types of licensing which is required by one type of business and complicated licensing process including its big cost. Licensing programmes which have been implemented by Local Government have not reached to granting legal status. b) requirements do not comply with the characteristic of MSME (especially micro enterprise).12% which have got license. Karakteristik UMKM I.JURNAL VOLUME 4 . it is expected immediately that there will be an issuance of local government regulation on licensing which is in line with the law number 20 of 2008 concerning MSME and the characteristic of MSME. Legalitas. To speed up formalization of MSME. cost of licensing. 2) form of licensing institution. 4) procedure of licensing. as example there are 1��. Program Pelayanan Satu Pintu (P2SP). Small and Medium which have complied with the requirements stipulated in the valid legislation.d. Namun demikian perkembangannya masih terkendala oleh berbagai masalah klasik.14%. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 18 . There are still a few MSMEs (4.AGUSTUS 2009 : 18-36 KAJIAN PENGEMBANGAN FORMALISASI UMKM *) Teuku Syarif **) Abstract Formalization of Micro.583. Perda Perizinan sejalan UU Nomor 20 Tahun 2008. Total of MSMEs which have got new license are only ��. Small and Medium Enterprises (MSMEs) is granting license for certain business activities and legal status for Micro. less socialization and there is no clear consequence from the government by having legal status. peer review 2�� April s. Salah satunya adalah kesulitan dalam mendapatkan legalitas atau formalitas usahanya.

b) Perizinan kegiatan usaha yang dikeluarkan oleh instansi/lembaga sektoral. izin lingkungan. memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM. kesulitan dalam proses mendapatkan izin dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. sosialisasi perizinan dan melaksanaan program pelayanan satu pintu. serta e) Jenis dan kegiatan usaha yang sangat mudah berganti (dinamis). Perseroan Terbatas (PT). Pengesahan badan hukum perusahaan menjadi kewenangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilimpahkan kepada Notaris. pengawasan yang lebih intensif. Untuk itu idealnya usaha mikro dan kecil bergabung dalam koperasi. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan jika UMKM yang sudah mendapat status formal. serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan program dari berbagai pola pelaksanaan proses perizinan/formalisasi UMKM 19 . Oleh sebab itu biayanya relatif cukup besar untuk ukuran usaha mikro dan usaha kecil. Tetapi sampai sekarang belum ketahui seberapa jauh efektifitas dari program tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut kajian dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan. Menghadapi era globalisasi UMKM dituntut dapat meningkatkan efisiensi untuk menghadapi persaingan. d) Konsumen dan segmen pasar yang sudah tertentu. Perizinan kegiatan usaha lebih diperlukan untuk: a) Melaksanakan kegiatan usaha. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM ditetapkan bahwa untuk kelompok usaha mikro tidak diperlukan badan hukum. b) Kualitas sumberdaya manusia yang relatif rendah. Hal tersebut disebabkan banyaknya jenis perizinan. Sebagai contoh Surat Izin Usaha Pendirian (SIUP). b) Sebagai formalitas usaha yang menjamin jaminan bagi calon mitra dan atau stakeholder. Sampai sekarang sangat sedikit (4. Perusahaan perorangan (CV) perusahan kongsi (Firma). Tetapi sebagai perusahaan perorangan cukup mendaftarkan diri pada dinasdinas yang membidangi koperasi dan UKM di kabupaten atau kota madya setempat. Pelayanan Perizinan Satu Pintu (P2SP) berpeluang besar untuk mempermudah dan mempercepat proses prizinan UMKM. izin trayek dan lainlain. izin penambangan. Kelompok usaha mikro memiliki karakteristik antara lain: a) Merupakan usaha perorangan dengan modal relatif kecil dan dikelola dengan manajemen keluarga.12%) usaha mikro dan usaha kecil yang telah mendapatkan izin kegiatan usaha. Kebijakan tersebut antara lain dalam hal penurunan biaya perizinan. Untuk mengatasi masalah perizinan maka sebagian pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Perusahaan Persero dan lain-lain. c) Ruang lingkup dan jaringan usaha yang terbatas. Sebagai contoh Usaha Dagang (UD). Formalisasi UMKM dibedakan dalam dua bentuk yaitu: a) Formalisasi perusahaan adalah pengesahan bentuk badan hukum dari perusahaan yang bersangkutan.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) undangan yang berlaku. c) Menghindari pungutan liar. Salah satu unsur pendukung efisiensi adalah adanya jaringan usaha dan kemitraan.

Jumlah. Menginventarisir. kelembagaan model dan prosedur pemberian perizinan yang sesuai dengan karakter UMKM. 1). maka kelompok ini hanya memerlukan izin kegiatan usaha.AGUSTUS 2009 : 18-36 II.JURNAL VOLUME 4 . Sedangkan ketidakpastian itu sendiri menurut Sirait (2003) di Indonesia banyak disebabkan oleh faktor kebijakan makro ekonomi dan faktor birokrasi. 2). dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian perizinan untuk UMKM. Berbagai hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2006 lebih dari 95% unit usaha UMKM terutama pengusaha mikro yang merupakan perusahaan perorangan belum memiliki badan hukum dan 91. Mendapatkan alternatif model kelembagaan dan lternatif prosedur formalisasi UMKM. dan lembaga asuransi) untuk melakukan kerjasama sangat memperhatikan karakteristik suatu perusahaan. persebaran serta permasalahan yang dihadapi UMKM dalam proses formalisasi usaha.1 Kerangka Konsepsional Pembentukan atau keikutsertaan suatu unit usaha dalam suatu jaringan yang komprehensif ditentukan oleh banyak faktor antara lain adanya informasi. mengidentifikasi tingkat keberhasilan dan faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian perizinan untuk UMKM. Ketidakpastian formalitas unit usaha UMKM menurut Haryadi (2001) merupakan faktor penyebab kesulitan UMKM untuk memasuki suatu jaringan usaha. kewirausahaan dari pengusaha dan formalitas unit usaha. 2) Menentukan pendekatan. Salah satu program pemerintah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan daya saing UMKM adalah perbaikan iklim usaha. 20 . Salah satu faktor yang dilihat adalah formalitas perusahaan. Sebagai misal dilaksanakan dalam bentuk program penyederhanaan perizinan. lembaga pemasaran. Anwar (1995) berpendapat bahwa mitra usaha dan berbagai unsur pendukung pembangunan suatu unit usaha ekonomi (perbankan. Manfaat kajian adalah untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang. UMKM merupakan usaha perorangan dan tidak diharuskan untuk mempunyai badan usaha. Ouput yang diharapkan dari kajian ini adalah mendapatkan alternatif model dan prosedur pemberian perizinan bagi UMKM III.8% diantaranya tidak memiliki izin kegiatan usaha. Tujuan Manfat dan Output Tujuan Kajian Pengembangan Formalisasi UKM adalah sebagai berikut: 1). Kerangka Pemikiran 3.

Selain itu juga diperlukan dalam rangka pembinaan. 2) Kelembagaan perizinan. Dalam karakteristik UMKM terdapat faktor internal UMKM meliputi modal yang dimiliki. sosialisasi penyuluhan dan pendampingan. UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM serta karakteristik UMKM. 3. jenis kelamin. Ouput akhir yang ingin didapatkan dari kajian ini adalah kelembagaan. b) Melindungi para pengusaha dari berbagai pungutan liar serta. konsekuensi dari keharusan UMKM mendapatkan perizinan. Dua faktor penting yang diduga mempengaruhi keberhasilan proses formalisasi adalah: a) Kelembagan dan pendekatan. Untuk dapat membangun suatu sistem pemberian perizinan yang efektif dalam mendukung pemberdayaan UMKM perlu dilakukan kajian terhadap tingkat keberhasilan dari kedua faktor di atas. Untuk penyesuaian diperlukan perubahan kelembagaan pendekatan dan prosedur perizinan dengan memperhatikan UUD 1945. peraturan mendapatkan perizinan (persyaratan yang diperlukan). Kesulitan timbul sebagai akibat dari ketidak-sesuaian kelembagaan pende-katan dan model prosedur pemberian perizinan dengan karakteristik UMKM.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) Izin kegiatan usaha merupakan suatu bentuk pengaturan (regulasi) pengendalian pemerintah terhadap aktivitas usaha individual yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan lingkungan fisik ekonomi dan sosial. c) Mendorong pembentukan dan atau pengembangan jaringan usaha. 4) prosedur pemberian perizinan dan 5) karakteristi UMKM. Dengan demikian unsur kemudahan UMKM untuk medapatkan perizinan adalah variabel terikat merupakan resultante dari beberapa variabel bebas yaitu: 1) Pendekatan dalam pemberian perizinan. letak lokasi UMKM dari instansi perizinan serta bidang usaha yang dilaksanakan. biaya yang harus dibayar dan prosedur mendapatkan perizinan. b) Karakteristik UMKM. UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2008 tidak dimasukan sebagai variabel bebas karena bersifat given untuk semua tempat di wilayah NKRI dan semua waktu. Kelembagaan terdiri dari bentuk lembaga atau organisasi pemberian perizinan. 3. Izin usaha diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif (eksternalitas dis economics) yang mengeksploitasi lingkungan. yaitu untuk: a) Mempermudah pengusaha dalam mengakses sumbersumberdaya produktif.2 Kerangka Operasional Pengkajian Kerangka operasional Pengkajian diilustrasikan pada gambar 1: 1. 21 . umur. 2. model dan prosedur perizinan yang sesuai dengan karakteristik UMKM. pendidikan dan pengalaman. 3) Model pemberian perizinan.

biaya. 22 . sosial dan politik. b. Kerangka Operasional Pengkajian 3. Tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan secara adil dan merata dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan fisik. Pendekatan dalam pemberian perizinan idealnya adalah ditujukan untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia. waktu pelayanan. personil pelaksana. Prosedur formalisasi idealnya disusun sesuai kemampuan UMKM khususnya pengusaha mikro dengan segala keterbatasannya. Hal tersebut yaitu bentuk dan kedudukan lembaga pelayanan perizinan dalam struktur organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan kontribusi APBD terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengurusan perizinan.AGUSTUS 2009 : 18-36 Kesulitan UMKM Untuk Mendapatkan Perinzinan Analisis Masalah Pendekatan MODEL PEMBERIAN PERIZINAN UMKM KARAKTER/ KONDISI INTERNAL UMKM Restrukturisasi Kelembagaan Model Dan Prosedur Pemberian Perizinan Untuk UMKM Kelembagaan. Kelembagaan terdiri dari peraturan perundang-undangan.JURNAL VOLUME 4 . dan tempat kedudukan instansi tersebut. persyaratan. Model Dan Prosedur Perizinan Yang sesuai Dengan Karakteristik UMKM UUD 1945 Dan Undang Undang UMKM Gambar 1. Faktor ini diindikasikan dari komitmen pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM.3 Faktor Analisis 1. instansi organisasi. c. ekonomi. Variabel Bebas terdiri dari: a.

Konsekuensi dari didapatkannya perizinan ideal oleh UMKM akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan. 4. provinsi Sulawesi Selatan dengan dua kodya contoh yaitu kodya Makasar dan kodya Pare-pare. Perancangan model formalisasi sesuai dengan karakter UMKM dalam bentuk best practice. IV. f. pendekatan prosedur pemberian perizinan. Kodya Makasar merupakan contoh pembanding yang belum melaksanakan P2SP.1 Ruang Lingkup Substansi a. kelembagaan untuk perizinan. c. Metoda Penelitian dan Analisis Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan metoda stratified random sampling. dan masalah yang dihadapi Pemda dan UMKM berkaitan dengan pemberian perizinan. 23 . Analisis data dan permasalahan dalam rangka mendapatkan model pemberian perizinan sesuai dengan karakteristik UMKM. kondisi internal. Sosialisasi dalam rangka penyebarluasan pemahaman tentang kepentingan mendapatkan perizinan serta persyaratan dan prosedur mendapatkannya. 2. pengetahuan UMKM dalam berurusan birokrasi dan kewirausahaan UMKM. e. V.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) d. Pengumpulkan data dan informasi perkembangan jumlah UMKM yang memperoleh perizinan. provinsi Bali dengan dua kabupaten/kodya contoh yaitu kabupaten Jembrana dan kodya Denpasar. Ruang Lingkup Kajian 4. Variabel Terikat adalah jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.2 Ruang Lingkup Lokasi Kajian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah dengan dua kabupaten/ kodya contoh yaitu kodya Surakarta dan kabupaten Sragen. b. Kondisi internal UMKM terdiri dari pendidikan formal.

1.583. 24 . untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat sosial dan kebijakan. VI. c. Model analisis deskriptif kualitatif.2 Model Analisa Data Sesuai dengan tujuan penelitian dan variabel-variabel analisis. maka data yang ada akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan .1 Data dan Teknik Penarikan Contoh Data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.14% yang telah memiliki izin usaha. 2). 3). Biro Perekonomian pemerintah daerah dan beberapa instansi terkait). Model analisis regresi berganda untuk mengetahui besar pengaruh tiap variabel bebas terhadap variabel terikat. Data primer diperoleh langsung dari UMKM dan stakeholder yang terdiri dari: a). Kalangan pemerintahan (Dinas Koperasi dan UKM. Model analisis evaluatif dengan menggunakan beberapa model matematis yaitu a. Hasil Pengamatan dan Analisis 6. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur sesuai dengan tujuan dan metoda pengkajian. 2. Teknik pengumpulan data menggunakan metoda purposif sampling yang terstratifikasi.734 unit usaha dan yang telah melaksanakan program P2SP. Sedangkan untuk kabupaten/kodya contoh yang belum melaksanakan program P2SP baru 7. Ada tidaknya programprogram formalisasi UMKM.AGUSTUS 2009 : 18-36 5.1 Kinerja UMKM Jumlah UMKM di enam kabupaten/kodya contoh. rata-rata baru 17.12% yang memiliki izin usaha. Ada tidaknya UMKM yang sudah mendapat formalitas usaha. Model analisis rataan dan kecenderungan (mean dan mode).JURNAL VOLUME 4 . Model analisis perbandingan (comparatif analisys). Kelengkapan keberadaan/lembaga formalisasi UMKM. Stratifikasi lokasi contoh UMKM didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu: 1). diprediksikan mencapai 1. b. 5.

Namun mereka masih sulit membangun kemitraan dengan stakeholder lainnya dalam rangka memperluas jaringan usahanya. Besarnya jumlah pengusaha dari kelompok ini yang memiliki badan hukum dan izin usaha nampaknya lebih dikarenakan ketatnya pengawasan pemerintah daerah terhadap mereka. Bagi kedua kelompok diatas. Sebanyak 82. tetapi belum memiliki izin usaha tidak mendapatkan masalah dalam berhubungan dengan perbankan. Dari jumlah tersebut 41. Sebagian kecil (28. Pengusaha mikro yang bergerak pada kegiatan penggalian sebagian semua sudah memiliki izin usaha tetapi hanya 3 dari 15 pengusaha yang menjadi sampel pada penelitian ini yang memiliki badan hukum.8 juta sampai Rp 246 juta. Para pengusaha di sektor pedagangan terutama pedagang antar kecamatan. Dari jumlah tersebut. Sebagian lainnya terutama yang bergerak di sektor angkutan belum memiliki badan hukum dan masih merupakan usaha perseorangan. termasuk untuk mendapatkan kegiatan usaha dari pemerintah. Hal ini diindikasikan dari sedikitnya bantuan pemerintah untuk memberdayakan mereka seperti dalam mengembangkan modal dan jaringan usaha serta adanya pungutan-pungutan liar yang idealnya dapat diatasi melalui Perda.2 Jenis Kegiatan Usaha dan Perizinan Pengusaha yang bergerak di sektor pengolahan hasil perkebunan. dan pemasaran serta. Bagi mereka yang sudah memiliki izin kegiatan.42% memiliki izin kegiatan usaha. angkutan pedesaan dan angkutan besar (bis dan truk). terkait dengan pungutan pajak retribusi. 25 .87% nya juga sudah mempunyai badan hukum. Di daerah yang sudah melaksanakan program P2SP sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro menyatakan masih banyak menghadapi kesulitan. Hal tersebut disebabkan mereka memiliki modal yang relatif besar yaitu antara Rp 21.27%) sudah memiliki status badan hukum terutama Usaha Dagang (UD). Walaupun kelompok UMKM tersebut sudah menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial. serta perhotelan merupakan kelompok UMKM. tetapi komitment pemberdayaan mereka oleh pemerintah daerah masih belum optimal. Kesulitan memiliki badan hukum disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Karakter usaha mereka yang sudah memiliki jaringan tradisional yang menjamin penyediaan modal. nampaknya perizinan bukan lagi menjadi hal yang sulit.8% nya telah memiliki izin kegiatan berupa SIUP. Kesulitan tersebut dalam memenuhi persyaratan dan banyaknya jenis perizinan yang harus dimiliki. b) Kecilnya skala usaha yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan badan hukum.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. 61. sarana produksi. Kelompok ini juga tidak dapat mengandalkan koperasi untuk berhadapan dengan stakeholder karena bargaining koperasi sendiri masih belum diperhitungkan oleh kalangan stakeholder.

Tidak diimilikinya status badan hukum dan atau izin kegiatan usaha akan berdampak pada kesulitan pengusaha yang bersangkutan untuk berhubungan dengan pihak-pihak luar. Hal tersebut secara langsung berdampak pada kelestarian lingkungan. c) Reformasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan badan hukum untuk UMKM. a) Memberikan subsidi kepada UMKM untuk mendapatkan badan hukum.3 Pendekatan dan Kelembagaan Perizinan P2SP belum dapat dijadikan indikator komitmen Pemda yang bersangkutan untuk memberdayakan UMKM melalui reformasi dibidang perizinan. a) Keberhasilan dalam meningkatkan pendapatan UMKM. Hal tersebut menyebabkan lembaga tersebut belum memiliki bargaining yang cukup dalam berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempermudah proses pemberian perizinan. Dari sisi kelestarian lingkungan dan kesinambungan pembangunan akan menyebabkan terjadinya eksploitasi sumberdaya secara berlebihan. Program pelayanan satu pintu idealnya memiliki berbagai konsekuensi logis antara lain. Oleh sebab itu restrukturisasi prosedur dan persyaratan mendapatkan badan hukum merupakan salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan. dan kompetensi personil yang ditempatkan dalam lembaga perizinan.AGUSTUS 2009 : 18-36 Pengusaha mikro hanya mungkin dapat memiliki badan hukum jika pemerintah mengeluarkan kebijakan terobosan misalnya. Hal tersebut dapat dianalisis antara lain melalui pendekatan yang digunakan dalam membangun kelembagaan pelayanan. c) Meningkatnya sumbangan UMKM terhadap pembangunan daerah diindikasikan dari peningkatan GDP serta meningkatnya sumbangan UMKM terhadap Pendatan Asli Daerah (PAD). kedudukan lembaga tersebut dalam struktur pemerintahan daerah. Dua dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan P2SP menempatkan lembaga perizinan setingkat eselon III. b) Meningkatnya kemampuan penyerapan tenaga kerja dikalangan UMKM diindikasikan dari meningkatnya jumlah tenaga kerja per unit usaha UMKM. 6. Usaha kecil yang usahanya sebagian sudah meluas antar daerah maka pemilikan badan hukum sangat penting. b) Menunjuk notaris yang secara khusus dapat memberikan badan hukum kepada UMKM dengan biaya yang relatif lebih murah dan.JURNAL VOLUME 4 . Pengembangan sistem pelayanan satu pintu belum menjadi solusi pemecahan masalah secara tuntas. Hal tersebut dikarenan program tersebut perannya masih terbatas pada peningkatan jumlah pengusaha kecil yang mendapatkan izin usaha atau izin kegiatan. Satu dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP masih menetapkan biaya perizinan hanya 26 .

Penetapan persyaratan perizinan idealnya perlu tidak hanya dari kepentingan pemerintah untuk mengatur lokasi sumberdaya tersedia. ratarata biaya perizinan yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan satu jenis surat izin berkisar antara Rp. 246. sehingga terpaksa ditempatkan di dalam instansi perizinan.000.83 (termasuk dalam katagori sulit). sehingga rata-rata biaya yang diperlukan mencapai Rp. 2. Prosedur Perizinan Nilai skoring kemudahan prosedur pemberian izin usaha bagi daerah yang sudah melaksanakan program P2SP mencapai angka 2.400. Rp. 124.34 (termasuk katagori sulit). 20. Idealnya ditempatkan pada lokasi umum dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. Jika ditambahkan dengan biaya transportasi dan akomodasi untuk mengurus perizinan yang rata-rata sebesar Rp.d. Hal tersebut dilakukan karena latar belakang pekerjaan kurang kompeten. tetapi juga dari sisi pengusaha (UMKM). Belum ada kabupaten/kodya contoh yang berani melakukan perubahan dalam hal pola perizinan. Tiga dari lima kabupaten/kodya contoh.8 juta biaya tersebut 27 .000 s.72 (termasuk dalam katagori mudah). Sedangkan untuk satu jenis kegiatan yang akan dilaksanakan UMKM memerlukan antara 4 sampai dengan 8 jenis perizinan. 370.400. Biaya Perizinan Di daerah yang sudah melaksanakan Program P2SP. 84. Harus diingat bahwa tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mempermudah UMKM dalam mendapatkan izin usaha dari berbagai aspek pemberian perizinan tersebut. sehingga jumlah perizinan untuk satu kegiatan usaha UMKM bisa mencapai 8 jenis. 112. maka total biaya yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan status formal tersebut mencapai Rp. 6. Nilai rata-rata skors persyaratan perizinan di kabupaten/ kodya contoh yang sudah melaksanakan P2SP baru mencapai nilai 1. masih menempatkan personil kunci dalam instasi perizinan.4 Pola pelaksanaan pemberian izin 1. Bagi usaha kecil yang memiliki rata-rata modal mencapai Rp.000. Sedangkan bagi yang belum melaksanakan program tersebut rata-rata nilai skoring hanya mencapai angka 1. Kelima kabupaten/kodya contoh dalam menyusun persyaratan masih berorientasi pada paradigma lama yaitu tidak mempertimbangkan kesulitan UMKM dalam memenuhi persyaratan yang ada.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) berdasarkan target pemasukan retribusi untuk mendukung PAD. Hal ini memang perlu mendapatkan perhatian.

03% dari modal. 200. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar UMKM masih beranggapan bahwa pengurusan perizinan merupakan hal yang sulit dan belum diperlukan. 6. maka nilai skors 1. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Pemberdayaan UMKM merupakan amanat konstitusi (UUD 1945). Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemda antara lain adalah: a) Gaji pegawai.JURNAL VOLUME 4 . 1. Akibatnya sebagian besar dari mereka tidak ingin mendapatkan izin usaha.5 Sosialisasi Perizinan Nilai skors rata-rata sosialisi yang dicapai dari 5 kabupaten/ kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP adalah 1. Biaya pengurusan perizinan ini idealnya hanya merupakan bentuk pajak.213. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk dapat melaksanakan satu kegiatan usaha mencapai Rp. Pada umumnya mereka mengidentifikasikan izin usaha dengan pajak. maka idealnya sebagian dari biaya tersebut dapat ditanggung pemerintah. karena hanya 0. c) Biaya survey. b) Biaya-biaya administratif dan. Biaya tersebut menjadi dana taktis yang penarikan.234.AGUSTUS 2009 : 18-36 relatif tidak besar. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Kelompok pengusaha marginal tersebut masih menjadi sasaran pungutan liar. pengumpulan dan penggunaannya tidak transparan. Sosialisasi pemberian izin usaha seharusnya mendapat perhatian. maka jumlah tersebut mencapai 5. Biaya yang besar ini tidak akan mungkin dapat ditanggung oleh para pengusaha mikro.000 sampai dengan puluhan juta rupiah.000. Hal ini disebabkan penetapan biaya perizinan didasarkan pada jumlah biaya riil yang dikeluarkan ditambah dengan pajak/retribusi pemda. Tetapi bagi usaha mikro yang rata rata-rata modalnya sebesar Rp. retribusi. Sosialisasi masih dilaksanakan terbatas dalam bentuk pamflet dan baliho di jalan-jalan ataupun melalui media elektronika terutama radio-radio pemerintah daerah dan siaran lokal.987 atau tergolong kurang. 28 . Biaya perizinan berkisar antara Rp. biaya yang harus di bayar lebih besar lagi. 6.000. atau bea meterai. basis perekonomian rakyat di daerah yang secara langsung berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Demikian juga ada indikasi setiap instansi yang berwenang menetapkan biaya perizinan yang beragam. Hal ini menyebabkan sebagian besar pengusaha terutama para pengusaha mikro sama sekali tidak memahami arti penting dari adanya izin usaha.96% dari modal yang dimiliki. Tetapi di daerah daerah yang telah melaksanakan program P2SP. biaya yang harus dibayar juga masih cukup besar.21 atau sangat rendah.

Pajak Bumi dan Bangunan. Total jumlah perizinan yang diperlukan mencapai 77 jenis di mana 49 jenis diantaranya sudah dapat dilayani melalui program P2SP. b). Diperolehnya perizinan ternyata membawa konsekuensi yang cukup besar dari kalangan masyarakat. Hasil pengamatan lapang mengindikasikan yang sebagian besar (74. Hal tersebut dikarenakan kalangan pengusaha masih tetap sulit untuk berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama perbankan. g). Kartu Keluarga. Terbuka pula peluang UMKM untuk ikut serta dalam pameran maupun temu bisnis yang dilakukan oleh pemerintah dari rata-rata 0. Kartu Tanda Penduduk. Dari aspek internal dikalangan pengusaha mikro. dan.32 juta atau bertambah 63. Konsekuensi pemerintah bagi UMKM yang telah mendapatkan izin usaha juga belum jelas. Karena dalam segala bentuk kebijakan pemda tidak membedakan atau memberlakukan diskriminasi antara UMKM yang telah mendapatkan izin dengan yang belum mendapatkan izin.7 Jenis-Jenis Perizinan Yang Diperlukan Jumlah perizinan yang secara umum diperlukan untuk suatu jenis kegiatan usaha berkisar antara 0 (tidak memerlukan izin) sampai dengan 7 jenis. d).47%. f). Surat Keterangan Pembuangan atau Pengolahan Limbah. Sedangkan Kemampuan akses UMKM terhadap permodalan hampir tidak ada pengaruhnya. 6.17 kali per UKM.6%) responden contoh menyatakan lebih senang melakukan kerjasama dengan UMKM yang telah memiliki izin usaha.01%. Surat Izin Penggunaan 29 .6 Konsekwensi dari Perizinan Pengaruh langsung dari didapatkannya izin usaha belum banyak dirasakan oleh UMKM.57 juta menjadi Rp 114. Keterangan Domisili Usaha. UMKM yang telah mendapatkan izin usaha diberikan dari rata-rata 1.89 menjadi 1. pada harga tetap perubahan yang terjadi adalah. Kelebihan yang diterima oleh UMKM yang telah mendapatkan izin hanya terlihat di kabupaten Jembrana dan kodya Pare-Pare yang melaksanakan pelatihan managemen teknik produksi kepada UMKM di bidang angkutan dan industri kecil. e).Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. Surat Izin Lingkungan. b) Laba meningkat Rp 16. Untuk mendapatkan satu izin kegiatan usaha seperti industri kerajinan diperlukan persyaratan: a). a) Rata-rata omset meningkat dari Rp 102. Sisanya 28 jenis masih dikelurkan oleh instansi sektoral dan lembaga lainnya seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Kinerja UMKM yang telah memiliki perizinan bernilai positif dalam menjalin hubungan bisnis terhadap kinerja.12 kali menjadi 1.47 kali per UMKM. c).89 juta pertahun atau bertambah sebesar 12.87 juta dari Rp 10. Majelis Ulama Indonesia dan lain-lain.

izin usaha perbengkelan.AGUSTUS 2009 : 18-36 Bangunan. antara lain izin usaha perdagangan.JURNAL VOLUME 4 .67% dari jumlah usaha mikro dan kecil yang ada di Indonesia (Ramelan 1999). izin industri rumah tangga. izin usaha pendidikan dan pelatihan serta izin pengoprerasian dan trayek angkutan. pikulan. Ketentuan tersebut di atas menyebabkan pengusaha yang berpindah-pindah. pertambangan dan lain-lain).1 Kondisi UMKM Umur dan kelamin tidak nyata pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Yang terlama adalah untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan rata-rata 8.76 hari dan yang paling cepat adalah untuk mendapat surat izin lingkungan yang hanya memerlukan waktu 2 hari. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan sebelum adanya program P2SP yang mencapai rata-rata 23. VII. Oleh karena diperlukannya persyaratan pokok tersebut. Tetapi mengingat jumlah jenis perizinan yang diperlukan cukup banyak (minimal 4 jenis) maka jumlah waktu yang tersita untuk mengurus perizinan ini juga masih relatif panjang. Persyaratan surat-surat keterangan dasar ini berbeda antara tiap daerah. 6. belum menjadi target program P2SP.39 hari.4 30 . izin usaha restoran dan rumah makan serta izin penggalian Sedangkan perizinan yang kurang mendapat perhatian adalah izin usaha keuangan dan izin usaha minuman keras. Analisis Faktor Perizinan UMKM Kondisi dan Tingkat Pengaruh dari faktor-faktor Penentu 7. Berbagai jenis perizinan.8 Waktu yang Diperlukan untuk Mengurus Perizinan Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan adalah 4. lapak dan lain-lain).41 hari. Hal ini mungkin disebabkan sebagian besar responden adalah laki-laki dengan rata-rata umur 33. maka sebagian besar pengusaha mikro terutama mereka yang usahanya berpindah-pindah tidak mungkin untuk mendapatkan perizinan. Untuk lebih meningkatkan efisien waktu pengurusan. jasa. Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena jumlah pengusaha yang seperti itu sangat banyak dan diperkirakan mencapai 41. baik disebabkan karena tidak memiliki tempat usaha atau yang memang karakter usahanya berpindah-pindah (menggunakan gerobak. kiranya masih diperlukan pemikiran prosedur pemberian perizinan yang lebih singkat misalnya dengan pola paket pemberian perizinan lengkap dari membuat IMB sampai dengan penerbitan izin usaha sektoral (perdagangan.

Implementasi dari tujuan tersebut adalah lembaga pelayanan yang dibangun harus mampu mengatasi masalah-masalah struktural yang selama ini menghambat 31 . Rata-rata 43.67% adalah yang bergerak di sektor tersier dan hanya 4.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) tahun atau dalam kondisi produktif. tetapi masih tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ada di lingkungan UMKM. Dengan adanya P2SP. Pemilikan modal UMKM berpengaruh nyata positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Dengan demikian UMKM tidak mengalami kesulitan untuk mengurus proses perizinan atau formalisasi kegiatan usahanya. Jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata. Oleh sebab itu masih sangat diperlukan penyederhanaan prosedur atau adanya pendampingan. 7. Oleh sebab itu kelembagaan yang dibangun idealnya adalah yang dapat memberikan peluang seluas-luasnya bagi UMKM untuk dapat eksis dalam sistem perekonomian. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lincoln (1982) yang mengatakan bahwa “Tercapai tujuan dari suatu sistem sangat dipengaruhi oleh pendekatan sistem tersebuit dalam mencapai tujuannya dan adanya kelembagaan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut”. Hal ini mungkin dikarenakan untuk pengurusan masih diperlukan waktu dan tenaga. Pengaruh ini diduga berkaitan dengan biaya perizinan yang relatif cukup besar untuk kelompok usaha mikro (sedangkan usaha mikro bagian terbesar dari UMKM). Sektor usaha berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Tingkat pendidikan berpengaruh nyata. Hal tersebut disebabkan prosedur untuk mendapatkan perizinan memerlukan pengetahuan yang relatif luas (terutama yang berhubungan dengan pola kerja birokrasi).93% yang bergerak di sektor primer terutama kegiatan pertambangan dan penggalian.264 orang.60% UMKM yang telah mendapatkan izin usaha adalah yang bergerak di sektor sekunder. Dalam hal ini tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia guna mendukung pemberdayaan UMKM. Rata-rata pendidikan UMKM yang telah mendapatkan izin usaha hanya mencapai nilai bobot 7.67 (relatif rendah). rata-rata waktu yang diperlukan untuk pengurusan memang berkurang. 38.2 Faktor Eksternal 1) Pendekatan Model formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% pendekatan dalam konsepsi pemberian perizinan untuk UMKM berpengaruh positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha. yang rata-rata hanya memiliki tenaga kerja 2.

3) Kedudukan lembaga perizinan Variabel ini sampai dengan tingkat kepercayaan 80% belum menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. b) Mempermudah UMKM dalam pengurusan karena hanya harus pergi ke satu tempat serta. Misalnya di bawah Dinas Koperasi dan UKM. Kondisi tersebut dapat diterangkan sebagai berikut bahwa ”Sebagian besar pengusaha mikro menyatakan bahwa prosedur pelayanan yang ditetapkan ternyata masih sulit dimengerti. 32 . persayaratan yang tidak sesuai dengan karakter UMKM dan biaya yang memberatkan UMKM.AGUSTUS 2009 : 18-36 proses formalisasi UMKM. Dapat disimpulkan bahwa ada kaitan (korelasi) antara prosedur pelayanan dengan tingkat pendidikan dan pengalaman UMKM dalam berhubungan dengan “birokrasi”. Masalah tersebut antara lain banyak jenis perizinan yang harus dimiliki oleh UMKM. b) Instansi pemberian perizinan berada di bawah instansi induk yang kompeten dengan kepentingan pemberdayaan UMKM. Sebaliknya sebagian besar pengusaha kecil menyatakan tidak kesulitan. Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya: a). Peraturan yang mengharuskan mengikutsertakan semua instansi terkait agar tidak ada lagi perbedaan persepsi pemberian perizinan.JURNAL VOLUME 4 . c) Membuka transparansi persyaratan dan biaya. 2) Bentuk Lembaga Perizinan Bentuk lembaga perizinan sampai pada tingkat kepercayaan 95% sudah menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin kegiatan usaha. 4) Prosedur formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% varibel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Hal tersebut dikarenakan latar belakang pendidikan mereka memang cukup tinggi dan mereka sudah biasa berhubungan dengan dengan birokrasi. Hal ini cukup beralasan karena sebagian besar dari pengusaha mikro tersebut berpendidikan rendah dan belum berpengalaman dalam berurusan dengan birokrasi. Hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: a) Adanya satu lembaga perizinan telah menghilangkan perbedaan peresepsi tentang tujuan pemberian perizinan bagi UMKM. c) Kedudukan lembaga pemberian perizinan masih cukup tinggi yaitu minimal setara dengan eselon III.

Pengaruh ini jelas berhubungan dengan pemahaman UMKM terhadap kepentingan. akibat pendekatan dalam penetapan biaya perizinan yang tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha mikro. waktu dan tenaga). 6) Persyaratan Perizinan Variabel ini pada tingkat kepercayaan 95% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. variabel ini belum menunjukkan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. pengetahuan. b) Personil sebelum bekerja sudah dilatih dan dibekali dengan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Pengaruh tersebut nampaknya berhubungan langsung dengan karakter UMKM yang diwarnai oleh berbagai keterbatasan (uang. konsekuensi prosedur dan persyaratan perizinan. 9) Konsekuensi adanya perizinan Pada tingkat kepercayaan 90% variabel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 7) Biaya Perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 90% variabel ini belum berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 8) Sosialisasi Perizinan Variabel ini sampai pada tingkat kepercayaan 85% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. a) Pemberian perizinan bukan merupakan pekerjaan sederhana yang hanya mengikuti prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. Masih relatif besarnya biaya perizinan yang harus dibayar oleh pengusaha. c) Pengambilan berada pada level atas yang rata-rata memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pemberian perizinan bagi UMKM. diduga menyebab variabel biaya ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Hal tersebut diduga dikarenakan. Ada dan tidaknya nilai tambah yang akan diperoleh UMKM sebagai konsekuensi dari didapatkannya perizinan akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan 33 .Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 5) Kompetensi personil lembaga perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 80%.

5. Berbagai usaha untuk mempermudah pemberian perizinan yang dilakukan sekarang (program P2SP) belum sepenuhnya dapat menyelesaikan masalah formalisasi UMKM. Beberapa masalah yang sangat mendesak untuk diperbaiki adalah: a) Banyaknya jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan usaha. 5) Sosialisasi perizinan . Ketidakmampuan ini berkaitan dengan implementasi kelembagaan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM. Program-program perizinan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah belum menjangkau masalah pemberian badan hukum. Hal ini dikarenakan pemberian badan hukum merupakan kewenangan dari Departemen Hukum dan Ham yang dalam UU otonomi daerah juga tidak dilimpahkan kewenangannya kepada pemerintah daerah. Dari hasil temuan di atas dapat disusun best practice penyusunan konsep Lembaga perizinan UMKM 8. 2. Jumlah UMKM yang telah mendapat formalitas usaha dalam bentuk perizinan relatif sedikit tidak terkecuali pada daerah-daerah yang telah melaksanakan P2SP yang baru mencapai 17. 6. Dalam penyusunan konsep pemberian perizinan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara pendekatan. 4) Prosedur perizinan. kelembagaan dan karakteristik UMKM.JURNAL VOLUME 4 . Program formalisasi usaha harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya 34 . 2.12%. Hal tersebut disebabkan karena usaha mikro sebagian besar merupakan perusahaan perorangan yang ruang lingkup usahanya yang relatif sempit. b) Persyaratan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM khususnya pengusaha mikro. 7. c) Kurangnya sosialisasi dan belum adanya konsekuensi yang jelas dari pemerintah dengan dimilikinya badan hukum. 6) Konsekuensi dari adanya perizinan. 4. Bagi pengusaha mikro. 2) Bentuk lembaga perizinan. Beberapa variabel yang berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha adalah: 1) pendekatan.2 Saran-saran 1. 3) Persyaratan perizinan.1 Kesimpulan 1. 3.AGUSTUS 2009 : 18-36 VIII. Kesimpulan Dan Saran 8. izin perusahaan atau badan hukum secara yuridis formal memang untuk waktu sekarang belum diperlukan.

Anonim. Study Report. Perlu dilakukan sosialisasi best pratice formalisasi UMKM yang telah disusun dengan memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi efektifitas sistem pelayanan. (1999). Vol 7 nomor 1. Jakarta. Supported by The Asia Foundation. Jointly orgized by LPEM-UI and PEG-USAID. (2001). Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru. (1999). Study Report. (2003). Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. Jakarta. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. Departemen Koperasi. Small and Medium Entreprise Development. Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. (2004). Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK. Jurnal Ekonomi UNTAR. Pedoman Pengembangan Kewirausahaan. Anonim. Heriawan. Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya. The Asia Foundation. (1992). Basic Penumbuhan Wirausaha Baru. Indonesia Small Business Statistics. Anonim. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Manggara Tambunan. (2008). DAFTAR PUSTAKA Anonim. Kusnadi dan R. Anonim. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM dan kemampuan UMKM untuk memenuhi persyaratan tersebut. Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. (2002). 3. 1���. Anonim. Kementerian Koperasi dan UKM. Jakarta. Saleh. Anonim. Conference on “The Economic Issues Facing The New Government”. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. Anonim. Melangkah ke Depan Bersama UKM. (2006). (2005). 35 . Support by The Asia Foundation and PEG-USAID.

JURNAL VOLUME 4 .“ National Information & Communications Initiative Committee & Science and Technology Advisory Group (STAG).AGUSTUS 2009 : 18-36 Yudhoyono S. “Building The Policy of ICT Development.” 16th International Conference.. Singapore: John Willey & Son. Taiwan. Jakarta. 2. 2005.. The Symphony Consortium. “Symphony Solution for Strategic Network: Project Overview. Bisnis Indonesia.B. Gibb. 2nd ed. 36 . World SME Convention. USA. Kamis 21 Oktober 2004. Terapkan Ekonomi Terbuka. “The Entreprise Culture and Education” dalam International Small Business Journal Vol. Zsehong Tsai. (1993). Allan A. Bucharest May 15-18. “The Bucharest Declaration: Preparing SME’s for the Knowledge Based Economy.” November 2004. January 2005. (2004). Entrepreneurship & Small Business Problem Solving.

d) CC has a clear promotional operational standard. b) Education is a facility to increase the capability and cooperative motivation. Artikel diterima � April 200�. c) Cooperation among CC is an instrument of helping each other among CC and resource of business increase in rendering service to the members. 3) SLC is necessary to conduct horizontal and vertical cooperation and implements financial interlending. koperasi dapat bertahan dan bahkan berkembang. kerjasama horisontal dan vertikal I. b) Cooperation horizontal and vertical and interlending implementation on the sixth cooperative principle. The result of the assessment showed that: 1) There is a difference between SLC and CC in implementing cooperative principles. 2) What’s really at the bottom of that (CC) is better in implementing cooperation principles: a) Members are the owner of cooperative should be serviced well. 4) SLC is necessary to establish secondary level of SLC in the district level or for some primary SLC’s which the function to coordinate the interests of SLC’s in the area of business and finance. 5) SLC is necessary to prepare implementation of operational standard for SLC like CC. Suggestion which is proposed in line with the conclusion above mentioned: 1) LSC should make members requirement which are more operational so that member of LSC will be more selective on its quality. khususnya koperasi simpan Kajian Kelompok Peneliti tahun 2008. 8 �uni 200�. pendidikan. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 37 . KSP dan Kopdit berbeda dalam implementasi prinsip koperasi. Peer review 22 April s. c) Obligation of to pay tax on the sevent cooperative principle. 2) Education to members and management of SLC should be conducted regularly and consistence.d. syarat anggota. The difference lays on determining member requirements on the first cooperative principle: a) The implementation of education on the fifth cooperative principle. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketika krisis ekonomi melanda di Indonesia.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) ANALISA KOMPARATIF ANTARA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) DAN KOPERASI KREDIT (KOPDIT)*) Riana Panggabean**) Abstract Objective of the activity is to compare Savings and Loan Cooperative (SLC) and Credit Cooperative (CC) in implementing cooperative basic principle.

Koperasi simpan pinjam yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM ada dua bentuk yaitu (1) Koperasi Simpan Pinjam disebut KSP melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan pinjam dan (2) Unit Usaha Simpan Pinjam disebut USP adalah unit usaha yang dibentuk dalam suatu koperasi sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi melakukan kegiatan usaha simpan pinjam (PP No 9 Thn 1995). Selain koperasi tersebut koperasi kredit (credit union) mulai timbul di Indonesia pada tahun 1950 adalah koperasi yang mempunyai kegiatan simpan pinjam sama dengan KSP/USP yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM tersebut. Artinya pinjaman tidak bisa diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Usaha simpan pinjam juga menjadi cikal bakal pertumbuhan dan pengembangan koperasi simpan pinjam di Indonesia dan usaha ini merupakan usaha dominan koperasi hingga saat ini. Koperasi kredit dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu.koperasi lain dan atau anggotanya. (6) Kerjasama antar koperasi dan (7) Kepedulian terhadap komunitas (Internasional Co-operative Alliance/ICA). kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan. Koperasi ini berhasil karena melaksanakan prinsip-prinsip koperasi secara tepat dalam menjalankan organisasi dan usahanya. (2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis. (5) Pendidikan dan pelatihan serta informasi. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka untuk tujuan produktif dan kesejahteraan anggotanya.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 37-61 pinjam. 38 . Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip koperasi adalah (1) Keanggotaan sukarela dan terbuka. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelakanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam. calon anggota koperasi yang bersangkutan. (4) Otonomi dan kebebasan. (3) Partisipasi ekonomi anggota. Tujuan produktif dan kesejahteraan berarti bahwa pinjaman hanya diberikan pada anggota untuk dimanfaatkan modal usaha yang bisa meningkatkan penghasilan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. Ini merupakan bukti bahwa koperasi perlu diperkuat dan dipertahankan sebagai lembaga keuangan mikro agar selalu mampu melayani anggota dan masyarakat disekitarnya. Prinsip koperasi merupakan esensi dari dasar kerja koperasi sebagai badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari usaha lain.

(5) Modal sendiri Rp 4.364.495.578.374.326 orang.88 juta.011 unit.834. (9) Total aset Rp 1. (5) Jumlah pinjaman beredar sebanyak Rp 1.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Kerjasama dan Jaringan Informasi pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK.114 dan. (6) Modal penyertaan Rp 6. terdiri dari jumlah anggota laki-laki 399.557.346 orang.640.62 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 13. Secara kualitatif menurut hasil penelitian dijelaskan bahwa kopdit cukup pesat perkembangannya dilihat dari pertumbuhan dan usahanya karena kopdit dapat bertahan dan berkembang terus bahkan dianggap berprestasi walaupun pada masa krisis.03 juta.36 juta.73 juta.662 juta.693.95 juta. (7) Simpanan yang diterima Rp 325.000 juta. (3) Banyak KSP yang telah berubah menjadi lembaga keuangan yang hanya mencari keuntungan semata sehingga mengabaikan pelayanan kepada anggota. (6) Modal penyertaan Rp 200. (8) SHU yg belum dibagi Rp 1.94 juta.864. Lawang 2007).877. Koperasi ini dikembangkan dan berkembang sesuai dengan jatidiri koperasi (Sumisjokartono.054.379 orang.18 juta.154.502 orang dan jumlah anggota perempuan 268.393.Z.55 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 1.598 unit.932. Kopdit dalam melaksanakan usahanya 39 .815. (9) Total aset Rp 7. 2002) KSP dan USP cukup pesat perkembangannya seperti yang disebut di atas. (4) Modal pinjaman Rp 1.460. (8) SHU yg belum dibagi Rp 107.873.858. perkembangan KSP sampai Tahun 2005 sangat pesat dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah KSP 1. (2) KSP saat ini menjadi alat untuk mencari rente ekonomi terutama fasilitasi perkuatan dari pemerintah. (5) Modal sendiri Rp 776. (3) Jumlah saham sebanyak Rp 1. (7) Simpanan yang diterima Rp 1.524. (2) Jumlah anggota keseluruhan 668. (3) Jumlah nasabah 878.83 juta.987.865. (2) Jumlah anggota sebanyak 480. (4) Modal pinjaman Rp 195.288.844 orang.270.783 orang.118.063. (3) Jumlah nasabah 10.600. Namun dalam prakteknya disinyalir: (1) Ada terjadi penyimpangan-penyimpangan managemen organisasi dan usaha yang kurang sesuai dengan peraturan perundangan terutama yang menyangkut dengan prinsip dasar koperasi. (2) Jumlah anggota sebanyak 4. Demikian juga perkembangan USP pada tahun yang sama cukup menonjol yaitu: (1) Jumlah USP koperasi sebanyak 36.165. Selanjutnya perkembangan koperasi kredit (kopdit) secara kuantitatif pada tahun 2006 dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah koperasi kredit di Indonesia sebanyak 1.524.545.91.633.485 unit.67 juta. (4) Simpanan non saham Rp 791.438 (Robert M.216. Sedangkan kopdit berhasil karena melaksanakan/menjalankan koperasinya sesuai dengan prinsip dasar koperasi secara konsisten.908 orang.

1.AGUSTUS 2009 : 37-61 tidak menggantungkan diri kepada fasilitas dan bantuan pemerintah dan kopdit dalam melaksanakan usahanya hanya melayani anggota. Selanjutnya menurut Internasional Co-operative Alliance (2001) prinsip-prinsip ini tidak independen satu dengan lainnya sehingga tidak boleh dinilai secara parsial berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip tersebut tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu kesatuan. masalah yang akan diamati dalam kajian ini adalah belum diketahui apa perbedaan antara KSP dengan kopdit dalam mengimplementasikan jati diri koperasi.JURNAL VOLUME 4 . Ada 4 prinsip yang berkaitan dengan keanggotaan yaitu (1) prinsip sukarela. II. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Perincian prinsip-prinsip koperasi yang menjadi landasan operasional KSP dan kopdit dijelaskan sebagai berikut: 1).2 Tujuan dan Manfaat Kajian Tujuan kegiatan ini adalah membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial. (2) keterbukaan.1 Prinsip-prinsip Koperasi Menurut Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian disampaikan bahwa prinsip koperasi merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berkoperasi. 40 . 1. Dengan melaksanakan keseluruhan prinsip tersebut. Keanggotaan yang Bersifat Terbuka dan Sukarela Keterbukaan dalam organisasi koperasi hanya bisa terlaksana jika ada kesukarelaan. TINJAUAN KONSEP Sesuai dengan tujuan kegiatan ini yaitu membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. Perlu ditelusuri konsep prinsip-prinsip dasar koperasi. sesuai Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi dan Manajemen Operasional Koperasi Kredit.3 Manfaat Kajian Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan/keputusan untuk pengembangan KSP dan kopdit lebih lanjut.

41 . Karena koperasi adalah organisasi demokratis dikendalikan oleh anggotanya maka setiap anggota memiliki hak suara. sosial.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) (3) non diskriminasi dan (4) tanggung jawab. 2). Pengelolaan Dilakukan Secara Demokratis Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota. (2) Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam anggaran dasar. tanpa membedakan jenis kalamin (gender). latar belakang. politik dan agama apapun. Sifat terbuka memberi arti dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi apapun. Prinsip tanggung jawab adalah keanggotaan koperasi harus terbuka terhadap semua orang yang mau menerima tanggung jawab sebagai anggota. Sukarela artinya orang-orang yang secara sukarela memilih untuk membuat komitmen terhadap koperasi mereka bahwa bergabungnya seseorang menjadi anggota koperasi tidak karena paksaan dalam bentuk apapun. Prinsip yang utama adalah sekali anggota diterima menjadi anggota koperasi mempunyai hak-hak yang sama dengan anggota sebelumnya termasuk dalam hak suara tanpa melihat besarnya total simpanan. Prinsip keterbukaan adalah tanpa pembatasan yang dibuat-buat seperti simpanan pokok atau pendaftaran. hak pilih dan hak untuk menentukan sikap yang sama. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah organisasi yang bersifat sukarela dan terbuka bagi semua orang yang bersedia memanfaatkan pelayanannya dan bersedia pula untuk menerima tanggung jawab keanggotaan. Tanggung jawab meliputi: kontribusi dalam modal. Prinsip nondiskriminasi adalah bahwa anggota tanpa diskriminasi sosial. menanggung kontrol organisasi secara demokratis dan bila perlu meminta pertanggungjawaban pemimpin yang dipilih anggotanya. partisipasi dalam bisnis. Para anggota memegang dan melaksanakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. untuk menemukan sikap yang sama. politik dan agama. Operasional prinsip ini dalam banyak koperasi diwujudkan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) dimana anggota aktif dalam membahas masalah dan kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan. Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan koperasi artinya bahwa: (1) Menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksa oleh siapapun. ras.

Sebagian dari modal menjadi milik bersama koperasi. regional dan internasional. melalui kebijakan kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka dengan bunga yang layak serta untuk tujuan produktif dan kesejahteraan. khususnya kepada pemuda dan pembentuk opini dimasyarakat tentang hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi. Kerjasama Antara Koperasi Koperasi melayani para anggotanya secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi dengan kerjasama melalui struktur lokal. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain. Pelatihan dan Penerangan Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota. Pendidikan.AGUSTUS 2009 : 37-61 3).2 Koperasi Kredit Menurut Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (1996:7) pengertian kopdit adalah badan usaha yang dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. Adanya Otonomi dan Kemandirian Koperasi adalah organisasi otonom. koperasi melakukannya berdasarkan persyaratan yang menjamin pengawasan demokratis oleh para anggotanya dan mempertahankan otonomi mereka.JURNAL VOLUME 4 . memberikan penerangan kepada masyarakat umum. 6). Apabila ada modal lain hanya akan diberikan imbalan yang terbatas. Memiliki Kepedulian Terhadap Masyarakat Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. Pengertian konsep ini dijelaskan sebagai berikut: 42 . 2. Anggota Berpartisipasi Dalam Kegiatan Ekonomi Para anggota memberikan kontribusi modal secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis terhadap modal. membentuk dana cadangan. menolong diri sendiri serta diawasi oleh para anggota. atau memupuk modal dari sumber luar. termasuk pemerintah. 5). 4). nasional. Sisa Hasil Usaha dialokasikan untuk pengembangan koperasi. 7). dibagikan kepada anggota seimbang dengan transaksi yang mereka lakukan mendukung kegiatan lainnya yang disahkan rapat anggota.

Lingkungan tempat tinggal (Teritorial Commond Bond) Dimana sekumpulan orang yang diikat oleh karena bertempat tinggal pada suatu tempat atau menjadi warga dari suatu daerah yang sama Misalnya satu lingkungan RT. Oleh karena itu koperasi harus dikelola dengan memperhatikan kaidah-kaidah ekonomi tanpa melupakan tujuan dibentuknya usaha ini oleh kelompok pemiliknya. Kopdit akan berkembang baik bila potensi keanggotaannya cukup besar. 3). wanita. Bersepakat Untuk Menabung Uang Mereka yang Disisihkan Dari Penghasilan Bahwa sekumpulan orang setuju tanpa paksaan untuk menabungkan uang yang mereka hematkan dari 43 . pemuda dsb. Lingkungan Perkumpulan (Asosieson Commond Bond) Dimana sekumpulan orang diikat oleh karena sama-sama menjadi anggota dari suatu perkumpulan. rumah sakit. olahraga. RW dan RK. Bila sudah berkembang diharapkan membuka diri bagi masyarakat sekitarnya. dan guru. Jika potensi keanggotaannya tidak besar maka koperasi di tempat kerja saat tertentu dianjurkan membuka diri bagi bagi masyarakat sekitarnya. d). buruh. Misalnya mahasisiwa. Anggota dalam kopdit adalah pemilik pelaksana. Dimiliki Oleh Sekumpulan Orang Dimiliki oleh sekompulan orang pria dan wanita yang berjumlah sekurang-kurangnya 20 orang. 2). b). Dalam Suatu Ikatan Pemersatu Dalam suatu ikatan pemersatu artinya sekumpulan orang diikat dipersatukan oleh adanya kepentingan bersama dan kebutuhan yang dirasakan bersama di dalam salah satu lingkungan masyarakat seperti: a). pramuka. Badan Usaha Pengertian badan usaha (UU Nomor 25 Tahun 1992) pada kopdit adalah badan usaha dengan ciri khas pemiliknya adalah anggota-anggotanya. dan pengawas. Lingkungan Kerja (Accupational Common Bond) Dimana sekelompok orang/anggota dipersatukan karena melakukan pekerjaan yang sama. Misalnya karyawan sebuah pabrik. petani.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). c). Anggota wajib mendukung kemajuan kopdit sebagai badan usaha.

cara menyimpan uang secara praktis. g). Ini berarti bahwa masing-masing bertanggung jawab. Kopdit tidak sekedar 44 . (2) Memberikan Pinjaman layak. (2) Setia kawan/Solidaritas. Dipinjamkan Diantara Sesama Mereka Artinya bahwa pinjaman diberikan kepada anggotaanggotanya dan pinjaman dijamin oleh watak baik si anggota peminjam serta kelayakan usaha. Tujuan kopdit diimplementasikan dalam membimbing dan mengembangkan sikap menghemat diantara para anggotanya. Artinya pinjaman tidak boleh diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. sebagai (a) Modal sendiri berupa simpanan wajib dan pokok. Tiga Pilar Koperasi Kredit Sebagai alat Pembangunan Tiga pilar ini disebut Trilogi pembangunan yaitu: (1) Pendidikan. Menghemat itu penting. modal penyertaan dan hibah. dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol dengan pendidikan. Dengan menghemat seseorang bisa: (1) Menabung. Tujuan Produktif dan Kesejahteraan Pinjaman hanya diberikan untuk kebutuhan anggota bagi usaha-usaha yang bisa meningkatkan penghasilan dan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. tepat. Bunga yang Layak Bahwa bunga pinjaman pada kopdit harus layak. Kopdit mengajarkan cara menghemat dengan memberikan bimbingan perencanaan keuangan keluarga anggota dengan baik. Menciptakan Modal Bersama Bahwa modal diperoleh dari tabungan bersamasama para anggotanya. f). e). i). kopdit dimulai dengan pendidikan.JURNAL VOLUME 4 . saling melayani dan mempercayai serta memanfaatkan tabungan untuk kemajuan bersama. dan terarah. cepat. Layak artinya dapat memberi balas jasa simpanan sesuai pasar dan dapat membiayai operasional kantor kopdit. (b) Modal-modal lain yang berupa modal hutang. h). karena dengan menghemat orang bisa menabung. dan (3) Mendidik anggota dalam hal menggunakan uang secara bijaksana. menarik dan berhasil bagi anggota.AGUSTUS 2009 : 37-61 penghasilannya bersepakat untuk menabung.

Inilah ciri khas yang membedakan kopdit dari lembaga keuangan lain seperti bank dan perusahaan-perusahaan pengawasan harta benda lainnya (trust companies). Keuntungan yang diraih kopdit digunakan untuk tujuan-tujuan demokratis kesadaran sosial dan pengembangan manusianya. Secara teoritis kopdit ditujukan untuk beroperasi secara non profit (tidak mengambil keuntungan). Agar dapat memahami sifat kopdit dan mengerti aspekaspek unik gerakan ini terlebih dahulu perlu dipelajari prinsipprinsip visi yang selama ini mengarahkan perkembangan gerakan tersebut. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). (3) Swadaya.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) menghimpun dan menyalurkan kredit dari dan untuk anggota namun yang paling penting adalah bagaimana setiap anggota memperhatikan kepentingan kelompok daripada kepentingan sendiri. 45 . Kopdit selalu berusaha untuk sedapat mungkin membiayai dirinya dalam pengertian bahwa anggota kopdit selalu berusaha agar koperasi kreditnya semakin besar dan sehat. Sebuah kopdit adalah usaha koperasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh para anggotanya. Pada kenyataannya keuntungan dan laba dari modal para anggota adalah sasaran yang justru harus diraih oleh semua kopdit.3 Implementasi Konsep Kredit Prinsip Koperasi Menurut Koperasi Implementasi konsep prinsip koperasi pada kopdit (credit union) dituangkan dalam Manajemen Profesional Koperasi Kredit yang diterbitkan oleh Induk Koperasi Kredit pada Pebruari 2003. Koperasi Kredit Dikendalikan oleh Anggota Perkembangan serta kegiatan pergerakan kopdit Indonesia selama ini dikendalikan oleh prinsip-prinsip kopdit (Mission Statement) yang diakui secara internasional dan pernyataan misi yang dikembangkan oleh Gerakan Koperasi Kredit Indonesia. Kopdit juga memberikan manfaat dan layanan bagi para anggota sesuai dengan besarnya jasa yang diberikan kepada kopdit tersebut. Namun kopdit tidak didirikan hanya sekedar untuk memberi keuntungan modal para anggota. sebagai acuan bertindak untuk melaksanakan usaha simpan pinjam. 2.

Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dilakukan secara proporsional ataupun representatif sesuai dengan prinsip koperasi. Non Diskriminasi Kopdit tidak membedakan ras. 5). 4). simpanan atau volume bisnis masingmasing anggota. Layanan kepada Anggota Layanan kopdit ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan baik ekonomis maupun sosial para anggotanya. kebangsaan. Kopdit juga memiliki otonomi sendiri kaitannya dengan hukum dan peraturan negara dimana negara mengakui kopdit sebagai suatu koperasi yang melayani dan dijalankan sepenuhnya oleh anggota. Pengurus yang duduk dalam suatu kopdit sifatnya sukarela dan para pengurus yang terpilih seharusnya tidak digaji.AGUSTUS 2009 : 37-61 2). Para anggota memiliki hak yang sama dalam pemberian suara dan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kopdit tersebut. jenis kelamin agama maupun politik. Distribusi kepada Anggota Dalam rangka mendorong penghematan melalui menabung dan juga agar dapat menyediakan pinjaman serta layanan lainnya maka setiap tabungan dan simpanan diberikan bunga dengan tingkat yang wajar berada dalam batas kemampuan kopdit bersangkutan.JURNAL VOLUME 4 . 7). Pengendalian (control) Demokratis Para anggota kopdit memiliki hak suara yang sama dan hak yang sama pula untuk berpartisipasi dalam menentukan keputusan yang berpengaruh terhadap kopdit dimana hak ini tidak tergantung pada jumlah tabungan. 3). Kopdit boleh mengganti biayabiaya sah yang dikeluarkan oleh para pengurus terpilih tersebut. yang ingin mengambil manfaat dari layanan yang disediakan kopdit dan bersedia menerima tanggung jawab yang diakibatkannya. Keanggotaan yang Terbuka dan Suka Rela Keanggotaan kopdit bersifat sukarela dan terbuka bagi siapa saja dalam batas ikatan pemersatu sebuah kopdit tersebut. 46 . 6). Struktur yang Demokratis Kopdit beroperasi berdasarkan prinsip demokrasi dimana keanggotaan terbuka untuk siapa saja.

sosial. Tujuan Sosial Kopdit harus secara aktif mempromosikan pendidikan kepada anggotanya dan kerjasama dengan organisasi lain demi kepentingan bersama. managemen keuangan. Ketujuh prinsip tersebut dijadikan variabel dan dari variabel diidentifikasi indikatornya seperti pada Tabel 1. Kelebihan itu bisa dibagikan kepada anggota dalam bentuk bunga atau laba sesuai jumlah transaksi yang mereka lakukan dengan kopdit bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan tambahan yang dibutuhkan anggota. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode survey. III.4 Peubah dan Indikator Kajian Untuk mencapai tujuan umum pada kajian ini diidentifikasi indikator yang diasumsikan mampu menjelaskan inplementasi pelaksanaan prinsip-prinsip koperasi pada kedua sasaran kajian yang akan dibedakan dalam kajian ini. Data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dan data primer. managemen koperasi. demokrasi. 9). 10). 47 . Membangun Stabilitas Keuangan Salah satu aspek utama dari kopdit adalah membangun kekuatan finansial termasuk pengadaan cadangan keuangan dan pengendalian internal yang memadai agar layanan anggota bisa terjamin keanggotaannya. 8). Sisa tersebut adalah hak semua anggota.1. 2. METODE KAJIAN 3. perkoperasian. Dimana tidak boleh ada anggota yang mendapat keuntungan lebih sementara anggota lain ada yang rugi. Pendidikan yang berkelanjutan Kopdit harus secara aktif menyelanggarakan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ekonomi. kemandirian dari koperasi tersebut dalam melayani kebutuhan anggota.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Jika ada laba yang tersisa dari hasil kegiatan kopdit setelah dikurangi dana cadangan dan membayar deviden terbatas atas modal sendiri sesuai ketentuan.

AGUSTUS 2009 : 37-61 ������������ ������������� ����� ������������������ � ������������������ ���������� � �������������������� � ������������������������ ������������� � ����������������� � ������������������ ����������� � ����������������� � �������������������� ����������������� ����������������������� �������������� � �������������� � ���������� � ����������� � ���������� � ��������� � ���������� � ������ � �������������� � ������������������� � � � � � � � � ��������������������� ��������������� ���������������������������� ����������������������� ���������������������� ��������� ���������������������� ������������ ����������������� �������������������� ��������������������� ��������� �������������� ���������������� ��������������������������� ������� Gambar 1. Skema Identifikasi Prinsip & Peubah Kajian 3. Responden masing koperasi 3 orang (1 orang pengurus/ managemen dan dua orang anggota). Lokasi kajian ini dilakukan di 4 (empat) provinsi: Sumatera Utara. Jawa Barat.3. Jawa Timur. dan Bali 5).JURNAL VOLUME 4 . Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantatif . Populasi dalam kajian ini adalah semua KSP dan kopdit yang ada di kabupaten lokasi kajian 2). 48 . Teknik Analisis Data 1). Teknik Penetapan Sampel 1).2. Teknik penarik lokasi sampel dalam kajian ini dilakukan dengan metode purposive dengan ciri di kab/kodya yang bersangkutan terdapat KSP/USP dan kopdit yang sudah berjalan selama 5 tahun dan koperasi tersebut aktif 3). Teknik penarikan sampel KSP dan kopdit dilakukan secara purposive dengan ciri ciri KSP dan kopdit aktif melakukan usaha simpan pinjam 4). 3. Jumlah sampel koperasi masing-masing kabupaten 2 KSP dan 2 kopdit.

261.757. Total modal rata-rata terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak Rp.323.761 dan jumlah modal terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 222.695. Jumlah skoring masing-masing KSP/kopdit itulah yang menjadi pembeda antara KSP dengan kopdit. Temuan di lapang menunjukkan bahwa kopdit berusaha melayani anggota sebaik mungkin karena kopdit menumbuhkan dan mengembangkan modal dari anggota sedangkan KSP disinyalir melayani non anggota. 166. Total modal ini berasal dari anggota dan disalurkan untuk anggota. (4) Total asset dan (5) SHU.1 Profil Responden KSP dan Kopdit Profil KSP dan kopdit dilihat dari (1) Jumlah anggota. Total modal rata-rata 8 orang responden KSP sebanyak Rp.-. Total modal ini 10 kali lipat lebih besar dari total modal KSP. Jika dilihat dari jumlah anggota maka perbandingan jumlah anggota kopdit 4 kali lipat lebih besar dari jumlah anggota KSP. Data sekunder profil KSP dan kopdit di tingkat kab/kota diolah dengan analisis pengujian varian satu jalur (one way anova) Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan (DuwiPryanto.795. Jumlah anggota terendah terdapat di Bali dan Jumlah anggota tertinggi terdapat di Jawa Barat. Skor masing-masing koperasi dijumlah dan dibagi 100. Total modal rata-rata kopdit sebanyak Rp. Jumlah ini jika dibagi dengan banyaknya anggota maka rata-rata anggota memiliki modal sebanyak Rp..071. 34.017.013. dijelaskan pada tabel 1 (lampiran 1).039 atau empat kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Jumlah anggota kopdit terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak 16. (3) Total Modal yang terdiri dari Modal sendiri dan modal luar. 7.386 dan jumlah anggota terkecil terdapat di Jawa Barat.25.993.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). Jumlah nasabah yang dilayani pada KSP kurang jelas sedangkan jumlah nasabah di kopdit otomatis sama dengan jumlah anggotanya karena prinsip kopdit adalah melayani anggota. Hasil kajian menjelaskan bahwa jumlah rata-rata anggota pada 8 unit KSP responden sebanyak 1684 orang. 49 . Analisis kualitatif dilakukan melalui teknik pembobotan dan skoring. Sedangkan jumlah anggota 8 unit kopdit responden jauh lebih besar dibanding dengan jumlah anggota KSP yaitu sebanyak 7. HASIL KAJIAN 4.679. 2008). IV.750.-. 2.805. Kondisi ini menjelaskan bahwa modal kopdit berasal dari anggota dan dikembangkan untuk anggota. Mengapa jumlah anggota kopdit jauh lebih besar dari jumlah anggota KSP.612. (2) Jumlah nasabah. 3).

. Interlending keuangan Ketaatan Koperasi membayar pajak....Anggota tetap: . 50 2 .458. 4.871. 2...... Pendidikan dan Pelatihan 1. Skor (0-100) Nilai (BxS)i 2. 2.... 25 4... 3. 4..AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 1. Variabel Kajian (Prinsip) Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Indikator/Kegiatan yang harus dilakukan KSP/kopdit KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota Anggota bebas masuk dan keluar. Kerjasama diantara koperasi Kepedulian terhadap komunitas 1. 1.25 dan modal luar Rp. 3.koperas Jumlah anggota yang dilayanai: : .337 dan modal luar Rp 358. dan solvabilitas KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan. 3...625.447. 2. 7. 2. 10 10 100 Nilai Akhir = ( BXS ) 100 Struktur modal sendiri KSP rata-rata Rp..078.. dan jumlah modal yang berasal dari pemerintah sebesar Rp.. 15 5....679. Otonomi dan Kemandirian 1. 3. orang . 10 6.. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan Diklat bagi anggota.... 5.. Variabel dan Indikator Analisis Komparatif Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit Koperasi :. 3. 2. dari lingkungan Kerjasama Koperasi dengan organisasi kemasyarakatan. Anggota berperan aktif dalam RAT.. 2. No.. Anggota melaksanakan pengawasan Anggota aktif dalam memecahkan masalah.458.. KSP& kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kpd anggota KSP/kopdit diaudit auditor independen KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas.. 2.. dan karyawan Kerjasama usaha secara horizontal. 3.JURNAL VOLUME 4 .... Pengendalian oleh Anggota Secara demokratis Partisipasi Ekonomi Anggota 20 3....25... 4.... 1. 407. orang KSP/kopdit melaksanakan Rencana Kerja dan RAPB....sedangkan modal kopdit hanya modal sendiri dan modal ini semuanya berasal dari anggota..Calon anggota:. 358. 1..... 2. Kerjasama usaha secara vertikal.. Jumlah Bobot (0-100) 10 Koperasi 1. 1.670.. Anggota melunasi simpanan pokok Anggota aktif menyetor s wajib & s rela Anggota ikut dalam pengambilan keputusan Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi... Penyerapan tenaga kerja..

berbeda secara Variabel a b a SD Rata-rata SDb Rata-rata signifikan jika 5.904.395.020.865.127 c 0.228.sedangkan total asset terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 370.5 560.679. < 0.976.335. 0.8 274.338.5 30.38 730.4 81. Deskripsi Data Kopdit dan KSP 5 Provinsi Variabel Jumlah Anggota M Sendiri M Luar M Pemtah Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 2.346.857.50 220.2 1.151. 0.460.3 635.2 9.003 c Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri 51 110.7 258.9 31..887.5 205.245.7 1.496.terbesar terdapat pada KSP di provinsi Bali sebesar Rp 5.82 260.880.5 857.-.404. Rata-rata dari data yang ada b.625.705.249.456.871.412.397.524.562.169.054.307.027 c Sum Uta-ra Tabel Keterangan: 3.89 SDb 2. 4.8 Jumlah Anggota 905.683. Standar Deviasi (Simpangan Baku) Kopdit KSP Prop c.0 58.254.05).06 2.516.124c 0. 2.898.768.67 11.596.980.943.234.000.0 350.153.297. hasil analisis one way anova pada Tabel 2.259.085 c 0.29 1.6 800.009.127).000 c 0.841c 0.327. bahwa kopdit dan KSP berbeda secara signifikan dalam kriteria Jumlah Anggota.034.532.670 c 0.124. Tabel 2.148.13 45.0 Sig.986.340.656. Dari indikator-indikator profil koperasi dan kopdit di atas ternyata nilai indikator kopdit jauh lebih baik dibanding dengan KSP.366.0 74.474.1 .3 361.704.323c 0.75.503.566.50 atau 10.40 23.734.787.664.7 1.877.433.001c 0.0 993.859.95 3.00 Sig.112. 145.386.3 269. Modal Luar. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).63 919.970.00 1.941.3 105.461.471.842.5 3.016 c 0.105.3 201.723.392.875.169.jauh lebih kecil dibanding dengan SHU kopdit sebesar Rp.2 Profil KSP dan Kopdit Tingkat Kabupaten/Kota Memperkuat hasil diskriftip diatas.5 904.007 c 0.8 500.5 276.938.953.340.272.121.241.5 4. 1.457.625.075.87 Rata-rataa 566.5 2.471.024.8 175.237.865. = 0. Modal Pemerintah dan SHU (Sig.012.990.711.544.408.807.59 KSP SDb 920.282.950 dibanding dengan total asset kopdit ternyata total asset kopdit jauh lebih besar yaitu sebesar Rp 25.977.000.30 1.253.75 68.294.518.179.996. < 0.142.381.001c 0.3 2.983.044.691.549.814.627.73 407.119. Dimana kopdit memiliki nilai lebih besar dalam kriteria-kriteria tersebut dibandingkan dengan KSP sedangkan dalam kriteria Total Aset tidak berbeda secara signifikan antara kopdit dengan KSP (Sig.104. Total rata-rata SHU sebesar Rp.7 30.819593.670.154.959.144.388.06 1.023.880.174..930.752.64 776.345.005.7 kali lipat jauh lebih besar.666.6 524.717. menjelaskan.876.9 6.50.8 Sig.118.090. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi a.3 892.236.2 293.781.728.25 15.000c 0.055c 0.186.005 c 0.3 229.022.016 c 0.2 40.43 23.05 (Taraf nyata 5%) Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota 19.416.330.369.573.36 410. Modal Sendiri.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Total asset rata-rata KSP Rp.0 13.829.0 99.09 2.

912. berbeda secara signifikan jika Sig.532.970.442.9 31.7 33.104.218.124c 0.1 128.0 30.8 4.722.2 9.0 51. modal sendiri.723.900.503.5 205.286.664.139 c 0.876.971.179.8 905.432.0 13.0 74. kopdit memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.237.495.8 274.007 c 0.259.627.151.537.254.154. dimana SHU kopdit lebih rendah dibandingkan dengan SHU KSP (Tabel 2).388. < 0.265 c 0.5 575. dan SHU.272.625.5 276.880.694.2 2.2 3.496.898.169.7 54.930.345.253.8 19.911.0 99.2 163.787.119.340.0 110. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi Prop Variabel Jumlah Anggota SumUtara Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota Jawa Barat Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota KalBarat Modal Sendiri Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 5.05 (Taraf nyata 5%) 52 .338.053.959. dimana untuk kedua kriteria tersebut kopdit memperlihatkan nilai yang lebih besar.6 KSP SDb Sig.950.034.679.000.186.625.294.004 c 0.383.085 c 0. KSP lebih tinggi dibandingkan dengan kopdit (Tabel 2).562.105.381. Terdapat 4 kriteria antara kopdit dan KSP yang berbeda secara signifikan di provinsi Bali yaitu jumlah anggota.7 1.904.AGUSTUS 2009 : 37-61 Pada tabel 3 menjelaskan bahwa kriteria antara kopdit dan KSP berbeda secara signifikan di provinsi Sumatera Utara adalah Jumlah Anggota dan SHU.0 29.5 6.005 c 0.865.234.0 279.691.846.148.404.7 22.904.841c 0.136.829.076.568.2 38.169.032.282.2 639.561.859.7 SDb Rata-rataa 350.5 12.8 379.710.245. Dimana untuk kriteria jumlah anggota.144.001 c 0.920.941.323c 0.198.044.044.5 500.5 560.086.729.8 175.472. Rata-rata dari data yang ada b.4 33.814.313.5 205.0 1.183.054.516.670 c 0.3 105.236.0 2.0 293.6 800.JURNAL VOLUME 4 .7 1.637.2 1.9 30.3 269.8 50.986.188.6 524.5 3.4 2. Namun untuk kriteria total aset.579.656.588.887.5 857.000.4 1.2 370. modal sendiri dan SHU.573.003. Standar Deviasi (Simpangan Baku) C.4 81.011 c Keterangan: a.3 2.880.366.7 197.0 993.461.133.001c 0.118.762.3 229.000.2 40.013.3 201.772.050.387.000c 0.000 c 0.5 268. Tabel 3.346.736.048 c 0.416.728.0 183.711.3 635.1 31.000. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).704.005.241.448.392.3 361.983.323.1 58.7 258.419.457. total aset.518.3 892.055c 0.095.0 187.327. Diantara 5 kriteria antara kopdit dan KSP yang dianalisis pada provinsi Jawa Barat tampak berbeda secara signifikan hanya SHU. 0.5 904.003 c 0.807.121.

Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Total Aset 0.323. Tabel 4.245. dimana semakin besar jumlah anggota SHU 639.7 1.032.104.911.5 904.315 t 2.095.007 Analisis 0.005 c 0.332 Tabel 7.3 31.664. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Beta t Sig.920.762. 38.518.2 50.573.236. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Tabel 5.503.000 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.0 110.7 1.001 c 0.134 2. (Constant) Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri 1.3 58.044.086.003). = 0.013.588. Pengaruh Tabel 6.787.566 0.185 Sig.723.5 0.59 Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0. 0.218.8 269.6 30.000 T -0.003 c 0.136.000 c 0.941.SHU Jumlah Anggota Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar 3.000. semakin besar modal maka semakin tinggi SHU yang diperoleh. Analisis Regresi denganterhadap Bebas(Sig.134 Tabel 5.332 4.6 800.46 2.0 signifikan dalam 3 kriteria. yaitu jumlah anggota.432.3 201.8 274.185 (Constant) Modal Sendiri t Sig.3 892.076. 0.710.7 279.085 c 0.179.505 (Constant) Modal Luar 0.704.1 Jumlah Anggota Modal Sendiri 635.234.623 0.1 183. modal sendiri.2 40.048 c 0.670 c 0.0 Total Aset 361.004 c 0.46 regresi parsial memperlihatkan bahwa modal sendiri 3 Dependent Variable: SHU berpengaruh secara signifikan Peubah SHU Total 0.3 560.876.183.865.841c 0.254.338.055c 0.691. dan Modal Luar 575.0 22.121.7 175.011 c Tabel 5 menunjukan analisis regresi parsial dengan peubah bebas modal sendiri yang berpengaruh secara signifikan terhadap SHU (Sig.050.241.0 993.034.5 857.144.169.679.2 379.729. Dimana untuk kesemua kriteria tersebut kopdit memiliki nilai Aset 1.419.315 (Constant) Total Aset 0.0 SHU 163.2 1.625.7 51.5 105.2 229.1 Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) SHU 13.2 memperlihatkan bahwa jumlah anggota berpengaruh secara signifikan Total Aset 29.7 parsial 33. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Tabel 6.392.7 2.846.495.457. 1.2 31.8 2.548 0.4 terhadap SHU (Sig.383.044.003 SHU yang diperoleh akan semakin tinggi (Tabel 6).388.900.562.859.4 TotalSHU.000).73 53 Tabel 8.198.743 0.807. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Beta (Constant) Jumlah Anggota Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.265 c 0.898.6 maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.0 12. Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar Beta T Sig.784 0. hasil analisis regresi 205.904.784 3.829.532.5 205.912.286.9 Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Kopdit dan KSP di provinsi Kalimantan Barat berbeda secara 1.007 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.5 yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.743 -0.75 T -0. Modal Luar 0.5 276.736.623 Sig.053.579.139 c 0.59 3.151.3 9. = 0.7 258.950.294.472.133.253.591 Sig.366.346.8 268.011 Tabel 6.728.904.001 0.148. Beta t Tabel 7.188.4 74.000 3.0 81.8 Kal BarAt Lebih lanjut pada Tabel 4.3 99.625.5 370.694.772.722. Analisis Dependent Variable: SHU Regresi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah .814.986.259.876 0.580 6.0 54.73 4.186. R Square = 0. Modal Sendiri 0.387.000. Tabel 5.442.983.535 0.535 0.401 0.000). (Constant) 2.448.876 0.345.404.401 Sig.637.656.169. =Aset Adjustedyang terjadi bersifat positif.0 33.568. 0.327.011 0. dimana semakin besar modal sendiri.118.340.003.4 187. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Tabel 4.2 524.537.005. dimana pengaruh yang terjadi bersifat positif.930.003 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.561.313.0 128.0 197.007 c 0. (Constant) Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar 0.971.

94 Kopdit 1 Sumut 80 90 Tabel 9.59 Tabel 6.011 T Sig.94 73.94 Barat No Kalimantan menjelaskan bahwa nilai Nilai Skor Prinsip Koperasi 0.315 Beta (Constant) Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset 0.134 0.080 Modal luar 0.185 (Constant) Total Aset Beta t 1.6 pada 3.001 Tabel 9. Bali dan 0.55 90 45 82. Tabel 7.007 t Sig.73 Tabel 5. adalah Sumut 90 89. Total Aset 0.332 Tabel 6.94 4 4 54 4 .011 Analisis regresi parsial memperlihatkan bahwa 0. bebas (Constant)Analisis Regresi dengan peubah 0.46 2.854 bahwa KSP80 dalam mengimplementasi prinsip Adjusted R 2 Jawa Barat 84 93.59 3.011 Dependent Variable: SHU Regresi dengan peubah bebas Modal luar Tabel 7.73 terhadap perolehan SHU seperti yang parsial diatas (Sig.94. Dependent Variable: SHU (Constant) jika terjadi kenaikan satu rupiah modal luar akan meningkatkan 1.535 0.623 0.623 Modal luar 0. 0.003 (Constant) -0.401 Total Aset Sig.332 0. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Rata-Rata 73.001).185 Dependent Variable: SHU T Sig.003 bebas Adjusted R Square = 0.505 Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0. Analisis Regresi dengan Peubahdiperlihatkan Analisis regresi Bebas Modal Pemerintah Modal Luar 4.134 dimana Adjusted R Square = 0.315Beta t Sig.743 Modal pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan Tabel 8. KSP Nilai SkorBarat Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Beta Jawa 84 t 93.080 0. Sendiri 0.94 dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Beta T Sig.939 Dependent Variable: Modal Pemerintah SHU 0.854 Beta t Sig.854 Nilai Skor Prinsip Koperasi Tabel 8.401 0.876 Sig.356 DependentKSP dan kopdit 1Artinya.55 90 masing nilai per provinsi dijelaskan sebagai berikut: 4 Kalimantan Barat 45 82. = 0. Square = 0.59 Tabel 7.356 89.185Beta (Constant) Modal Sendiri 0. Rincian masing3. 79.94 dan kopdit 73.464 82.73 4. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Dependent Variable: SHU JURNAL VOLUME 4 . Analisis Regresi dengan Peubah3.535 2. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian No 1 2 3.000).94 Tabel 9. 2 Hasil kajian implementasi prinsip-prinsip koperasiSig.001 Modal Pemerintah Provinsi Barat skor penerapan prinsip-prinsip koperasi 0. Adjusted R Square = 0. AnalisisProvinsi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Regresi No KSP Implementasi Prinsip-Prinsip Koperasi Tabel 9.000 Dependent Variable: SHU 0. Bebas t juga berpengaruhBeta secara signifikan terhadap SHU (Sig.6 79. Analisis Regresi dengan peubah3.080 dan kopdit Bali Kalimantan 4 45 6.001 Tabel 8.73 Rupiah (Tabel 7). 4 Provinsi Sumut Jawa Barat Bali Kalimantan Barat Rata-Rata Nilai Skor Prinsip Koperasi KSP Kopdit 80 90 84 93.743 -0.505Beta (Constant) 2.94 Rupiah (Tabel 8). = 0. Tabel 7. bebas Modal Luar Analisis Regresi dengan peubah4.AGUSTUS 2009 : 37-61 Adjusted R Square = 0. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri t Sig. 2. Bali 79.000 (Constant) 0.623 0. Modalperolehan SHU sebesar 0.401 Modal luar0.784 0.939 0. Nilai Skor Adjusted R Square = 0.356 Kopdit pada Variable: SHU skor 73.876 0.356 89.332 0.464 0.6 prinsip koperasi lebih lemah dibanding dengan kopdit.464 0.939 Tabel 8.3 0.743 Adjusted R Square = 0. Dependent Variable: SHU (Constant) -0. Analisis Regresi dengan Peubah BebasModal Pemerintah Modal Pemerintah 6. Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.94 Rata-Rata adalah nilai KSP KSP sebesar 89. Analisis Total Aset 0. dimana jika terjadi kenaikan satu rupiah Adjusted R Square =SHU 0.784 0.784 0. Modal Luar 0.94 6. Jawa Barat.Adjusted R Square = 0.55 90 (Constant) di provinsi Sumatera Utara.46 Tabel 6.000 0.315 Dependent Variable: Adjustedmodal dari0.003 luar modal 0. 4.007 (Constant) 2.505 R Square = pemerintah akan meningkatkan perolehan SHU sebesar Beta t Sig. Analisis Regresi 0.

(3) Anggota aktif dalam memecahkan masalah. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) KSP mensyaratkan keanggotaan bersifat umum seperti: (a) Warga negara Indonesia. Namun dalam implementasinya antara KSP dan kopdit terdapat perbedaan. Sedangkan (2) Kopdit mensyaratkan keanggotaan sebagai berikut: (a) Mengikuti pendidikan calon anggota yang dilaksanakan dalam waktu lima kali pertemuan. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jumlah anggota kopdit 4 kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kopdit berusaha mencari dan menerima anggota dengan ciri atau kualitas serta membangun anggotanya melalui pendidikan. Dalam rencana tersebut dijelaskan apa saja yang akan dilaksanakan selama setahun berjalan. atau sederajat). Pendidikan menjadi alat atau metode bagi kopdit untuk membangun motivasi dan mememlihara partisipasi anggota. RAPB ini biasanya di jelaskan pada Rapat anggota untuk mendapat pengesahan dari anggota. Pengendalian oleh Anggota Secara Demokratis Dalam variabel ini indikator yang dikaji adalah (1) KSP/ kopdit melaksanakan rencana RAPB. (d) Dijamin dan didukung oleh anggota kelompok yang aktif dalam satu lingkungan. 55 . (e) Mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan tidak mempunyai usaha yang bersaing dengan kopdit. Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Pada umumnya KSP dan kopdit menentukan persyaratan terhadap anggota. (c) Tidak dalam status pelajar (SD. Kegiatan seperti ini tentunya sangat baik dilakukan oleh KSP agar anggota dapat mengetahui apa yang akan dan dilakukan oleh koperasi. Suatu kelebihan kopdit adalah mengadakan pendidikan terhadap anggotanya dari awal masuk. (b) Umur calon anggota pada saat mendaftar tidak lebih dari 45 tahun. (2) Anggota berperan aktif dalam RAT. 2). (c) Mampu membayar pinjaman. (c) Membayar simpanan pokok dan wajib. Dilihat dari perkembangan jumlah anggota ternyata perkembangan jumlah anggota KSP jauh lebih sedikit dibanding dengan jumlah anggota kopdit. Hasil kajian menunjukkan bahwa semua responden (8 unit KSP dan 8 unit kopdit) membuat RAPB setiap tahun. (b) Berdomisili di wilyah kerja KSP. dan setelah menjadi anggota. Yang berbeda adalah materi karena masing-masing responden (koperasi mempunya rencana masing-masing).Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). SMP. SMA. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara KSP dan kopdit.

Anggota aktif menyetor wajib dan sukarela Otonomi dan 1. KSP/kopdit diaudit auditor independen 4.AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 10. KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri 5. Kerjasama usaha secara horizontal 2. Anggota bebas masuk dan keluar koperasi 3... Anggota melunasi simpanan pokok anggota 2. Hasil kajian menunjukkan bawa jumlah anggota yang hadir setiap RAT pada KSP antra 51 sampai dengan 80% sedangkan pada kopdit antara 51 sampai dengan 90%..Anggota tetap : .....JURNAL VOLUME 4 .43 73.... penyebabnya adalah karena pada kopdit kegiatan pendidikan itu dilaksanakan secara rutin sehingga informasi mengenai kegiatan 56 5 .. Nilai Skor KSPKSP dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Tabel 10. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan diklat bagi anggota karyawan. KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas Pendidikan pelatihan Kerjasama koperasi Kepedulian komunitas dan 1. Jabar... Ketaatan koperasi membayar pajak 2.... Anggota melaksanakan pengawasan 4..... Anggota berperan aktif dalam RAT 3. Kalbar) No  Variabel Kajian (Prinsip) Indikator/kegiatan yang harus dilakukan KSP/Kopdit Skor KSP 4000 Nilai Skor Kopdit 4000 2 3 4 Keanggotaan sukarela 1. Penyerapan tenaga kerja dari lingkungan 3. KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota 3..... Bali..Calon anggota : . KSP/kopdit melaksanakan rencana kerja dan anggota secara RAPB demokratis 2... org .. Jumlah anggota yang dilayani ..356 4000 35654 356.5 89. Mengapa kehadiran anggota pada RAT di KSP lebih sedikit dari anggota yang hadir pada kopdit... Jabar. diantara 1. KSP & kopdit membuat perencanaan dan kemandirian melaksanakan 2..14 Pada indikator kedua variabel ini ukuran keaktifan anggota dalam RAT dilihat dari seberapa banyak anggota hadir dalam RAT. Anggota aktif dalam memecahkan masalah Partisipasi ekonomi 1... KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan 2.... org Pengendalian oleh 1...... Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan Jumlah Total Nilai Skor Nilai Rata-rata 6750 7000 8625 9000 7387. Bali.5 4994 5 2250 3000 6 7 330 3660 3000 29343 293....... Kalbar) (Sumut. Kerjasama usaha secara vertikal 3... Nilai Skor dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi (Sumut..... KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota dan terbuka 2. Interlending keuangan terhadap 1..

Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu dilaksanakan oleh pengurus terhadap anggotanya agar mereka mau dan mampu mengembangkan modal dari anggota. Partisipasi Ekonomi Anggota Partisipasi ekonomi anggota diamati melalui: (1) Anggota melunasi simpanan pokok. Indikator ketiga yaitu anggota aktif dalam memecahkan masalah dalam koperasi diukur dari seberapa banyak anggota memberi masukan dalam setiap rapat yang diadakan oleh KSP/ kopdit. Dan hasil kajian menunjukkan bahwa pada indikator pertama semua responden baik kopdit maupun KSP anggota KSP dan kopdit wajib melakukan atau membayar simpanan pokok karena simpanan pokok hanya sekali dilakukan pada saat dia menjadi calon anggota sehingga pada indikator ini antara KSP dan kopdit tidak ada perbedaan.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) apa saja yang ada di kopdit langsung dikomunikasikan dalam forum pendidikan itu sehingga semua informasi sampai kepada anggota melalui forum pendidikan tersebut. (2) Anggota aktif melunasi simpanan wajib dan sukarela. (3) Anggota ikut dalam pengambilan keputusan dan (4) Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP anggota memberikan saran untuk memecahkan masalah terjadi hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pemberian saran lebih dari sekali setahun karena pada kopdit rapat-rapat atau pertemuan sering dilakukan melalui rapat-rapat kelompok. Indikator kedua menunjukkan bahwa anggota aktif menyetor simpanan wajib dan sukarela. 3). Hal seperti itu jarang ditemui pada KSP. Dalam pengambilan keputusan pada KSP peran anggota terakomoder hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pengambilan 57 . Pada kopdit anggota disadarkan pemahamannya bahwa kalau modal itu hanya bersumber dari anggota dan dikembangkan/dipakai untuk anggota sehingga jika anggota tidak aktif membayar simpanan wajib koperasi tidak berkembang. Hasil kajian menjelaskan bahwa pada KSP pembayaran simpanan wajib dilakukan pada saat membayar pinjaman yang langsung ditarik beserta pinjaman ditambah bunga sedangkan pada kopdit simpanan wajib diantar oleh anggota dengan kesadran sendiri karena kopdit memupuk modal dari anggota dan untuk anggota disinilah kelebihan kopdit dibanding dengan KSP.

(4) KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata hasil pelaksanaan program pada KSP tercapai diatas 80% sedangkan pada kopdit tercapai hampir 100%.AGUSTUS 2009 : 37-61 keputusan itu selain pada RAT juga terjadi pada rapat-rapat kelompok. Sedangkan kopdit diaudit oleh auditor internal kopdit bersangkutan. 4). KSP responden menyelenggarakan pendidikan terhadap 58 . dan ada kopdit yang melebihi pelaksanaan diatas 100%. seperti pada kopdit Satolop di Tapanuli Utara. (3) KSP dan kopdit diaudit auditor independen. Pendidikan dan Pelatihan Indikator pendidikan dan pelatihan diamati dari: (1) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap karyawan dan (2) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap anggota. Selanjutnya pada indikator keempat hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP dan kopdit transaksi anggota terjadi pada saat meminjam dan mengembalikan pinjaman. Semua responden membuat perencanaan dan melaksanakan rencana serta evaluasi sejauhmana hasil antara perencanaan dan pelaksanaan. 5). menunjukkan bahwa semua responden KSP maupun kopdit melakukan evaluasi kinerja keuangan tentang likuiditas dan solvabilitas. Pada indikator ketiga menunjukan bahwa sebagian atau 50% KSP diaudit oleh Lembaga Audit Koperasi dan 50% lainnya diaudit oleh auditor independen. (2) KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota. Otonomi dan Kemandirian Otonomi dan kemandirian pada KSP dan kopdit dilihat dari (1) KSP/kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan. Pada kopdit tidak ada calon anggota dan anggota dididik pada saat masuk dan diikuti perkembangannya selama anggota menjadi anggota koperasi. Pada indikator kedua KSP selain melayani anggota KSP juga melayani calon anggota rata-rata calon anggota pada KSP diatas 14% dari jumlah anggota sedangkan kopdit hanya melayani anggota saja. Disinilah perbedaan yang terlihat menonjol antara keanggotaan KSP dengan kopdit.JURNAL VOLUME 4 . Indikator kelima.

Mengapa kopdit memiliki nilai lebih tinggi dari KSP. Satu pusat kopdit membawahi antara 5-10 kopdit dimasing-masing wilayah kerjanya. Kekuatan kopdit sangat tergantung pada kerjasama ini. sedangkan KSP hanya memiliki Petunjuk Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam yang umum.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) karyawan melalui pendidikan yang diadakan oleh Dinas KUKM yang ada di daerah masing-masing. Pada kopdit pendidikan baik terhadap karyawan maupun anggota wajib dilakukan. Atas kesadaran ini untuk memudahkan kerjasama kopdit medirikan Pusat Koperasi Kredit yang berada di Tingkat Kabupaten/Kota. Artinya bahwa kerjasama horizontal maupun vertikal dan interlending belum dilakukan oleh KSP sedangkan kopdit sudah melakukan kerjasama ini dengan baik. Karena kopdit membangun koperasi dan mengembangkan nya melalui pendidikan. Mempelajari keberhasilan kopdit di kota Denpasar provinsi Bali ada beberapa KSP. (2) Kerjasama usaha secara vertikal dan (3) Interlending keuangan antar koperasi. 6). Demikian juga dengan kopdit. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kerjasama diantara koperasi menunjukan nilai KSP sebesar 330 sedangkan kopdit sebesar 3360. Hasil kajian menunjukkan bahwa kopdit dalam mengelola usaha simpan pinjam mempunyai Standart Operasional Pelaksanaan (SOP). Kerjasama Diantara Koperasi Indikator penilaian untuk variabel ini: (1) Kerjasama usaha secara horizontal. karena jika kopdit mengalami kekurangan dana maka kopdit dapat memenuhi pembiayaan melalui interlending ini. 59 . Puskopdit tidak mengadakan operasional menandingi kopdit-kopditnya. Puskopdit berfungsi dan bertugas untuk melakukan pengaturan pembiayaan bagi kopdit-kopdit yang ada di bawahnya. KSP telah membentuk Pusat Koperasi KSP untuk melaksanakan interlending keuangan bagi KSP. Mengapa kopdit berhasil dan mampu mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. penyebabnya adalah kopdit menyadari tanpa kerjasama antar sesama kopdit tidak akan kuat untuk melayani anggotanya. Pendidikan pada kopdit diadakan pada saat anggota mendaftar.

KSP belum melakukan pendidikan kepada anggotanya. Kepedulian Terhadap Komunitas Indikator variabel ini adalah: (1) Ketaatan koperasi membayar pajak.AGUSTUS 2009 : 37-61 7). Perbedaannya terletak pada: (a) Penetapan persyaratan anggota pada prinsip koperasi pertama. Sedangkan kopdit melakukan pendidikan secara reguler rata-rata 5 kali dalam setahun kepada pengurus. horizontal dan belum melakukan interlending keuangan. vertikal dan mengadakan interlending keuangan. KESIMPULAN DAN SARAN 5. (4) Prinsip ke tujuh kepedulian terhadap lingkungan dalam hal membayar pajak. (c) Bersedia mengikuti pendidikan dalam 5 kali pertemuan. KSP membayar pajak karena melayani non anggota sedangkan kopdit tidak membayar pajak karena hanya melayani anggota. (3) Prinsip ke enam dalam melakukan kerja sama secara horizontal. Perbedaannya terletak pada: (a) KSP melakukan persayaratan anggota secara umum seperti KTP.14. (b) Berdomisili di wilayah KSP. (d) Kewajiban membayar pajak pada prinsip koperasi ke-7. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) Prinsip pertama dalam menentukan persyaratan anggota. KSP belum melakukan kerjasama vertikal.1 Kesimpulan Dari penjelasan diatas kesimpulan kajian ini adalah: 1). Sedangkan kopdit melakukannya melalui Koordinasi Pusat Kopdit (Puskopdit). manajer dan anggota. Ada perbedaan antara KSP dan kopdit dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip koperasi. (2) Prinsip ke lima dalam melaksanakan pendidikan. (2) Penyerapan tenaga kerja dan (3) Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan.356 sedangkan kopdit 89. (b) Pelaksanaan pendidikan pada prinsip koperasi kelima. vertikal dan pelaksanaan interlending pada prinsip ke-6 dan.JURNAL VOLUME 4 . Sedangkan kopdit membuat persyaratan anggota untuk mencari anggota yang berkualitas seperti: (a) Dijamin oleh lima orang anggota lama. 60 . Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa nilai skor implementasi prinsip koperasi KSP sebanyak 73. V. (b) Usia maksimal saat pendaftaran 45 tahun. Artinya bahwa kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. (c) Kerjasama horizontal. (b) Mempunyai penghasilan tetap setiap bulan.

61 . (d) Kopdit memiliki standar operasional pembinaan yang jelas. KSP perlu membuat persyaratan anggota yang lebih teknis operasional sehingga anggota KSP lebih terseleksi pada kualitas. 5. 5). KSP perlu membangun Pusat KSP ditingkat Kabupaten atau untuk beberapa KSP primer yang berfungsi untuk mengkoordinasikan kepentingan KSP-KSP baik dalam usaha dan keuangan. Batu Merah. dan Menengah Republik Indonesia. (c) Kerjasama antar kopdit merupakan wahana saling membantu antar kopdit dan sumber peningkatan usaha dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota. Muhammad Yunus. ------------------.2 Saran-Saran Dari kesimpulan di atas ada beberapa saran yang diusulkan dalam kajian ini yaitu: 1). Peraturan Pemerintah Nomor � Tahun 1��5 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan). Jakarta. Bank Kaum Miskin. PT. ICA Co-operative Identity Statement Prinsip-prinsip Koperasi Untuk Abad Ke-21 Terjemahan Pengantar Ibnoe Soedjono. (2001). LSP2I. KSP perlu melakukan kerja sama secara horizontal. (2008). 2). Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil. (2004). Mandiri Belajar SPSS. Pendidikan pada anggota dan pengelola KSP perlu dilakukan secara teratur dan konsisten 3). Penyebab kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi: (a) Anggota adalah pemilik koperasi yang perlu dilayani dengan sebaik-baiknya. KSP perlu membuat Standar Operasinal Pelaksanaan KSP seperti kopdit.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). (1992). (2007). Jakarta. Duwi Pryanto. Media Kom. (b) Pendidikan adalah suatu sarana meningkatkan kemampuan dan motivasi berkoperasi. DAFTAR PUSTAKA -------------------. �atidiri Koperasi. International Co-operative Alliance. vertikal dan mengadakan interlending keuangan 4). Yogyakarta. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Koperasi.

seperti misalnya hasilhasil perkebunan. �.6% from government’s loan.��5%) depended upon nonformal financial resources and private in implementing their business activities.��0% from capital owner/private money lender and the rest 6.d. Kontribusi kredit. it was found that capital structure of micro enterprises 15. Penelitian UKM (tim peneliti) 62 . review akhir �� �uli 200� Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM (tim peneliti) Kasubid. 11. peer review 2�� April s.20% from bank and non-bank loan. Birowo and Lukman Sutrisno (1994). This condition still shows the dominant role of private money lenders and capital owner in supporting business survival of micro enterprises. Artikel diterima 2�� April 200�. 8 �uni 200�. Asdep Urusan. Sebaliknya masalah besar yang dikhawatirkan timbul dan berdampak luas adalah bertambahnya jumlah penganggur yang secara langsung akan meningkatnya angka kemiskinan. The result of the assessment by The State Ministry of Cooperatives and SMEs in 2006. cautioned that most of Micro. program. karakteristik UMKM. 56. Yang dikhawatirkan adalah krisis yang terjadi sekarang berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1997 yang imbasnya tidak mempengaruhi kelangsungan usaha UMKM.��5% were from among family and neighbour. Pendahuluan Kondisi perekonomian dunia pada akhir tahun 2007 yang diwarnai oleh gejolak akibat krisi ekonomoni di AS dan Eropa secara langsung berimbas pada perekonomian nasional. the government has done several credit programmes during the last four decades but the effectiveness of those programmes were still asked after up to the end of 200��. Small and Medium Enterprises (MSMEs) (80. Bisnis dan UKM.JURNAL VOLUME 4 . From the result of this assessment. sumber perkreditan I. Walaupun demikian eksistensi UMKM masih cukup besar karena dampak krisis masih terbatas hanya pada beberapa produk usaha kecil yang berorientasi ekspor. tujuan penggunaan.AGUSTUS 2009 : 62-87 KAJIAN KONTRIBUSI KREDIT BANTUAN PERKUATAN DALAM MENDUKUNG PERMODALAN UMKM*) Teuku Syarif**) dan Etty Budhiningsih***) Abstract Sondakh dan Hafiz (1987). This condition as a consequence of unparticipated formal credit institutions.63% accessible by micro and small enterprises. said that enforcement support programme which were done since 2000 it was only 4.��5% were from own/internal capital. Kejadian tersebut masih *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. To overcome the problem.

Birowo dan Lukman Sutrisno (1994). Berbagai hasil penelitian antara lain yang dilakukan oleh Sondakh dan Hafiz (1987). Namun demikian kelompok usaha ini menyererap lebih kurang 89 juta tenaga kerja atau identik dengan 96.54 triliun untuk 214 jenis program yang disalurkan melalui 12 instansi.440 Dolar AS per keluarga per tahun. Salah satu masalah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah kesulitan UMKM dalam mengembangkan permodalannya. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari belum berperannya lembaga-lembaga perkreditan formal Untuk mengatasi masalah permodalan bagi UMKM pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan perkreditan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi sektoral. Keraguan tersebut juga dialamatkan kepada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai oleh banyak pihak lebih terlihat sebagai isue politis ketimbang perhatian pemerintah terhadap nasib UMKM khususnya pengusaha mikro dan kecil. Sampai sekarang sangat banyak masalah di lingkungan UMKM yang belum terselesaikan terutama yang berhubungan dengan iklim usaha. mensinyalir bahwa sebagian besar atau sebanyak 80. 2% adalah pengusaha mikro. Kementerian Negara Koperasi dan UKM (2008) menginformasikan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah unit usaha UMKM telah mencapai 49. Dari dana tersebut lebih kurang Rp 3. Berbagai kenyataan di lapang menunjukan bahwa baru sedikit yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan program program nyata. 63 . Dari adanya permasalahan diatas perlu diketahui seberapa besar peranan kredit program-program pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok UMKM khususnya pengusaha mikro yang menjadi bagian terbesar dari UMKM.75% UMKM dalam melaksanakan kegiatan usahanya masih terikat pada sumber-sumber keuangan non formal. atau 99.795 juta atau 95. Berbagai isue dan sinyalemen yang berkembang banyak meragukan keseriusan pemerintah untuk memberdayakan UMKM dibidang permodalan. Dari jumlah tersebut 46. Menurut Sutanto (2007) sebagian besar pengusaha mikro terutama yang bergerak di sektor pertanian dan sektor informal memiliki pendapatan bersih kurang dari 1.99% dari pelaku bisnis yang ada di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sampai sekarang masalah pengembangan modal dikalangan UMKM masih terus mengemuka dan seberapa besar kontribusi program-program pemerintah tersebut dalam mendukung permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil.258 juta. Karena itu pemberdayaan UMKM sudah menjadi komitmen nasional.4 triliun disalurkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM.7% tenaga kerja yang ada dalam dunia usaha. Dengan pendapatan sekecil itu mereka masih tergolong kelompok miskin yang berpendapatan kurang dari 1 Dolar AS per orang per hari. Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 saja pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar Rp 39.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) dapat diantisipasi oleh UMKM karena masih cukup banyak kesempatan kerja yang terbuka dilingkungan UMKM.

khususnya pengusaha mikro dan pengusaha 64 . Dalam pelaksanaan program-program. Kesulitan UMKM untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal menurut Muna (1989) merupakan simptom dari permasalahan yang ada dibelakangnya. Jika di satu pihak UMKM menghadapi kesulitan mengakses permodalan padahal di pihak yang lain banyak indikasi dan sinyalemen antara lain yang dikemukakan oleh Hutagalung (2007) bahwa dana dari perbankan yang tersimpan pada Bank Indonesia sampai Agustus 2007 mencapai Rp 218 triliun. Kesemua program tersebut pada hakekatnya dilaksanakan secara sektoral melalui berbagai instansi yang terkait. antara lain kesulitan akses terhadap permodalan dan iklim usaha yang belum kondusif.1 Kerangka Konsepsional Belum membaiknya kondisi usaha UMKM karena adanya berbagai kendala yang sejak lama belum terpecahkan. Kredit Usaha Tani (KUT) dan yang terkhir adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM).JURNAL VOLUME 4 . III. dan pendekatan serta pola pelaksanaan program-program tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan usaha mikro. Manfaat kajian adalah mendapatkan gambaran kongkrit tentang struktur permodalan usaha mikro dan kontribusi kredit program pemerintah dalam mendukung permodalan usaha mikro. Di sini dinyatakan bahwa permasalahannya terletak pada ketidaksinkronan antara aturan pasar uang dengan karakter UMKM. Paradoks masalah antara demand dan suplay uang ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana peranan Bank Indonesia sebagai regulator pasar uang mampu mengalokasikan sumberdaya potensial tersebut secara optimal. KERANGKA PEMIKIRAN 3. TUJUAN DAN MANFAAT Kajian bertujuan untuk ini adalah: 1) Menginventarisir dan mengidentifikasi sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro. serta ada beberapa diantaranya memang ditujukan untuk mendukung keberhasilan program sektoral. Nasution (1999) mengemukakan adanya indikasi bahwa tujuan. Kredit Candak Kulak (KCK).AGUSTUS 2009 : 62-87 II. Untuk mengatasi masalah kelangkaan modal di kalangan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil pemerintah telah melaksanakan berbagai program perkreditan sejak dari program Bimas. sehingga penyebarannya dikalangan UMKM juga berbeda. yaitu ketidaksesuaian pendekatan pola dan prosedur lembaga perkrediatn formal dengan karakteristik dari sebagaian besar UMKM.

lembaga non formal.755.118.. d) Unsur-unsur lain yang tidak terkait dengan kepentingan pemberdayaan UMKM.700. Terkait dengan peranan perbankan dalam mendukung permodalan UMKM.004 triliun. Muna. Dalam hal efektifitas penggunaan dana oleh peminjam disini juga harus diperhatikan apakah pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan produktif atau konsumtif. 65 . khususnya pengusaha mikro. Dengan demikian sangat banyak faktor yang menentukan besar kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan UMKM. Disamping kecilnya dana yang disalurkan banyak faktor lain yang menjadi kendala bagi UMKM untuk mendapatkan kredit program antara lain untuk: a) Tujuan pendekatan dan pola penyaluran. bahwa modal yang diperlukan oleh usaha mikro untuk melaksanakan kegiatan usahanya berkisar antara Rp 326. c) Ketepatan sasaran penyaluran dan.-. Dengan demikian untuk mengembangkan usahanya. Dari jumlah modal tersebut diketahui bahwa 12. Total keperluan dana untuk memberdayakan pengusaha mikro yang jumlahnya mencapai 49 juta unit usaha adalah sebesar Rp 184. Dengan kata lain mereka yang bermata pencaharian sebagai pengusaha mikro di luar sektor pertanian sangat jarang mendapatkan pinjaman dari bank Hasil kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi dan UKM tahun 2006 menginformasikan.sampai dengan Rp 9. Sondakh dan Hafiz (1987) dari hasil penelitian tentang lembaga perkreditan pedesaan mengemukakan bahwa “sebagian besar pengusaha kecil jarang sekali berhubungan dengan bank.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) kecil. b) Distribusi secara sektoral dan regional.dengan rata-rata sebesar Rp 4. Soemardjan..2% dari kebutuhan.306. Sumber utama permodalan mereka adalah dari perorangan..” Sebagian dari mereka mendapatkan pinjaman dari program pemerintah dalam jumlah terbatas dengan tujuan penggunaan yang umumnya dikaitkan dengan kepentingan pembangunan terutama di sektor pertanian. Tetapi dalam pola inipun ada satu faktor penting yang perlu dikaji yaitu mengenai pola perguliran termasuk sistem kelembagaannya.450. atau kalangan keluarga dan tetangga.197.81% merupakan modal sendiri dan sisanya berasal dari modal pinjaman. Dibandingkan dengan besarnya kebutuhan dana untuk UMKM tersebut. jumlah dana yang telah disalurkan pemerintah dari berbagai program pemberdayaan UMKM relatif kecil atau baru lebih kurang 21. per unit usaha mikro diperlukan tambahan modal sebesar Rp 3. Oleh sebab itu ada sebagian program yang menggunakan pola perguliran seperti program Kementerian Negara Koperasi dan UKM.913. Akar permasalahan yang masih menjadi kendala bagi UMKM adalah kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal terutama perbankan. Memang program perkreditan dari pemerintah tidak ditujukan untuk dapat memenuhi semua kebutuhan UMKM.

Ruang lingkup Penelitian 4.2. Stratifikasi didasarkan pada keragaman jumlah dan jenis program perkreditan yang dilaksanakan di daerah contoh. 13) Model Perguliran.2. 10) Prioritas Daerah. Ruang Lingkup Substansi Oleh karena pengusaha mikro merupakan bagian terbesar UMKM. 4) Alokasi dana. Metoda Penelitian dan Analisis 4. RUANG LINGKUP DAN METODA PENELITIAN 4. Sedangkan analisis untuk penarikan kesimpulan dilakukan dengan model analisis deskriptif dan penggunaan model-model statistik sederhana 66 . 4.1. 14) Kinerja SDM UMKM.JURNAL VOLUME 4 . 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro. 4. Ruang lingkup substansi penelitian adalah sebagai berikut: 1) Inventarisasi dan identifikasi permodalan UKM dan sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha serta kemudahan modal dari kalangan pengusaha mikro. 6) Pendistribusian Regional. dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. Kinerja usaha UMKM IV.1.1. Metoda Penelitian dan Teknik pengambilan Contoh Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan model pengambilan data stratified random sampling.1.1. 2) Pendekatan program 3) Pola Penyaluran. 7) Ketepatan Sasaran. 11)Prioritas Kepentingan.2. maka yang dimaksud dengan UMKM dalam kajian ini adalah usaha mikro. 12) Kelembagaan Perguliran. 8) Ketepatan Waktu Penyaluran. 9) Prioritas Kegiatan usaha. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di tiga kabupaten contoh yaitu Kalimantan Barat.2 Kerangka Analisis Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kontribusi kredit program terhadap permodalan UMKM yaitu: 1) Tujuan program. Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. 5) Pendistribusian Sektoral.AGUSTUS 2009 : 62-87 3.

74 33.378 Tabel 2 .392 4.11 19.46 16.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) V.00 Tda 5.882 2388 3. Jumlah ini juga sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan tambahan modal Tabel 3.75 100.365 Persen (%) 4.11 4.92 234.11 8.24 awal.48 83.297 2.20 10.000.807 20.527 Persen (%) 19.947 5. dengan rata-rata pinjaman Rata-rata sebesar Rp 409.312 Per sen (%) Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Barat Rata-rata usaha mikro yangBarat menggunakan modal sendiri Nilai di ketiga propinsi contoh relatif rendah yaitu Persen sebesar Persen Nilai Persen Nilai Persen (Rp rb) (%) 833.62 35.64 4.128 16.697 301 2.739 100 69.8 10.62 3.atau 19.000.05 4.37%. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Rata-rata Nilai (Rp rb) 833 409 325 1.49 16.08 11.00 7.31 program pemerintah masih sangat kurang yaitu rata-rata baru Jumlah 61. Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Sumatera Barat No Sumber Modal Dari tabel 1 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : Kalimantan Nusa Tenggara 1) Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.47  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah 823.8 2.33 UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46.3 811.848 24.28 13.00 Tabel 1.17 100.27 2.000.815 37.782jumlah UMKM.297 100 11.01 7.538 7.20 53.63 10.200 2.26 65.64 11. Jumlah Usaha Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman yang diperlukan oleh mereka yaitu sebesar Rp 3.899 6.13 85.51 12. sehingga para pengusaha mikro tidak akan mampu 2.96 5.1 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Mikro Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan sumber-sumber pinjaman usaha mikro dan serta besar kontribusi kredit program terhadap permodalan kelompok usaha mikro.882.114 586 Lainnya Jumlah 3. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS 5.1.229 3.128 30.00 No  2 3 4 5 1.389.17 26.49 5.93 8.46 8.000.15 18..7 754.68 106.08% dari modal yang dibutuhkan.805 27.928 4.89 0.166 2)  2 3 4 5 6 24.141 Modal Sdri 461 Kred Prog 396 Perbankan Pelepas Uang 1.69 4.984 42.00 11.per orang.07 4.. (%) (%) Rp (Rp rb) (%) (Rp rb) Sedangkan rata-rata jumlah modal yang diperlukan oleh pengusaha mikro adalah sebesar Rp 3.80 67 .95 berusaha tanpa adanya pinjaman modal.26 100.545 Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari 31.143 48.44 6.527.. Kemeneg KUKM Instansi Sektoral No Propinsi Jumlah UMKM (ribu) UMKM (rb unit) 36. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Sumber Modal Sumatera Barat Nilai Persen Rp rb % 34. 2.45 19. dari Kredit Program Kontribusi kredit program relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata pinjaman dari para pelepas uang yang Kredit Program Dari Kredit dari Jumlah Prediksi mencapai rata-rata Rp 1.99 37.28 22.238 127.94 5.41 19.60 9.600 1.261 32.290 100 dari 100 69.927 tersebut5.000 atau 53.56 57.59 5.51 4.1 Sumber-sumber Permodalan UMKM 5.884 753 3.00 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 426 358 310 1.58 9.028 14.14 26. Tabel 1.37 6.00 568 245 520 2.853 mengindikasikan rendahnya pemilikan modal 7.6% 73.34 100.Data 27.527.927 8.30 73.68 26.83 10.934 Nusa Tenggara Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%) 14.002 21.834 23..978 8.

atau hanya 27.000. tetapi proporsi modal sendiri ini sudah lebih baik dibandingkan dengan usaha mikro yang hanya sebesar 23.JURNAL VOLUME 4 .75%..15% dari total modal kerja yang digunakan.542 milyar belum sebanding dengan apa yang seharusnya diberikan oleh pemerintah. Meningkatkan proporsi Meningkatkan proporsi pinjaman dari kalangan perbankan karena kelompok usaha ini tidak memiliki kemampuan memenuhi persyaratan lembaga keungan yang menerapkan ketentuan The five C of credit. Sharing pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok usaha mikro sebesar Rp 39.1. Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari bantuan perkuatan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2) 3) 68 . Pinjaman modal dari kalangan perbankan pada kelompok ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha mikro yaitu mencapai 31.37%.61%.AGUSTUS 2009 : 62-87 3) Hal tersebut diatas sangat wajar.815. mengingat jenis program yang dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintah relatif sangat banyak (mencapai 56 jenis). sedangkan dari perorangan dan lembaga perkreditan non formal termasuk rentenir adalah sebesar 53.2 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Dari tabel 2 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : 1) Rata-rata modal sendiri usaha kecil di ketiga propinsi contoh relatif masih rendah yaitu hanya sebesar Rp 18. Sumber-sumber permodalan lainnya bagi kelompok pengusaha mikro adalah dari kalangan keluarga dan tetangga sebesar 6. 4) 5) 5. Pinjaman kepada UMKM yang bagian terbesar dari dunia usaha yang ada di Indonesia sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kredit perbankan untuk usaha besar yang pada tahun 2008 mencapai Rp 986 triliun.47%. dan alokasi dana yang disediakan relatif kecil-kecil dibandingkan dengan kebutuhan usaha para pengusaha mikro yang jumlahnya sangat banyak (lebih kurang 49 juta unit usaha).

No

Sumber Modal

Barat Nilai Persen Rp rb %

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb)

Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%)

833 8,46 568 14,51 426 34,28 1.141 Modal Sdri  Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM 409 8,96 245 12,20 358 13,64 461 Kred Prog 2 (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 325 5,30 520 10,56 310 11,74 396 Perbankan 3 4 5

19,08 11,60 9,20 53,37 1.882 73,45 57,83 2.884 1.697 33,00 Pelepas Uang 1.114 6,75 2388 19,17 753 10,26 301 7,34 586 Lainnya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang Jumlah 3.378 100,00 kepada usaha mikro. Hal 100,00 2.934 100,00 3.927 3.527 100,00 diberikan tersebut nampaknya

terkait dengan kecil pagu kredit per peminjam.

Tabel . Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Tabel 2 .2Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil
Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 1.807 20.028 14.166 61.290 Persen (%) 30,00 8,01 3,24 2,95 32,68 23,11 100 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 11.927 5.853 6.229 4.200 26.128 19.545 73.782 Persen (%) 16,17 7,93 8,44 5,69 35,41 26,49 100 Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) 26.128 4.538 2.978 Tda 19.261 16.834 69.739 Persen (%) 37,46 6,51 4,27 0,00 27,62 24,14 100 Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.815 4.899 4.928 2.002 21.805 16.848 69.297 Persen (%) 27,15 7,07 7,11 2,89 31,47 24,31 100 

2 3 4 5 6

Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Jumlah Rata-rata

4) Mikro dan pinjaman Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Usaha Kontribusi Usaha Kecildari perseorangan dan lembagadari Kredit Program lembaga kredit non formal. Kondisi ini mungkin dapat

No 

2 Kalbar 3 5.2 NTB Jumlah Jumlah 5.2.1 Rata-rata

dihubungkan dengan semakin baiknya kemampuan SDM Kredit Program Dari Kredit dari dilingkungan pengusaha kecil dalam membangun dan Jumlah Prediksi Kemeneg KUKM bisnis. Instansi Sektoral menjalankan strategi Jumlah Propinsi Per UMKM UMKM Persen UMKM Persen UMKM 5) Rendahnya peran pemerintah daerah dalam membangun sen (ribu) (rb unit) (%) (rb unit) (%) (rb usaha kemampuan permodalan usaha mikro dan unit) kecil, (%) terlihat sedikitnya kontribusi pinjaman modal dari pemerintah daerah untuk kelompok usaha ini. 5,62 83,26 10,11 823,7 36.984 4,49 46,28 Sumbar
4,64 85,92 10,58 811,8 48.238 5,94 37,68 UMKM yang mendapatkan Pinjaman Kredit Program 2.389,8 127.365 5,33 106.947 4,48 234.312 9,80 Jumlah Pengusaha Mikro Yang Mendapat Kredit Program 796,6 42.455 5,33 35.649 4,48 78.104 9,80 754,3 42.143 5,59 22,99 3,05 65,13 8,63

Jumlah usaha mikro dan usaha kecil di ketiga propinsi contoh yang mendapatkan kredit sebanyak 127.365 unit usaha, hanya 5,32% dari jumlah pengusaha mikro yang ada diketiga propinsi contoh sebanyak 2.389.800 unit. Disini terlihat bahwa bahwa kredit program belum banyak memberikan kesempatan bagi usaha mikro untuk mengembangkan permodalannya. Hal tersebut berdampak besar pada kondisi pasar uang ditingkat bawah yang semakin didominansi oleh lembaga kredit non formal dan perorangan, disebabkan oleh: 1). Jumlah dana untuk ketiga daerah contoh relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah usaha mikro yang mencapai 2.389.000 unit usaha

69

Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 2). 1.807 20.028 14.166 61.290 3). Persen (%)

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%) 

2 3 4 5 6

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 62-87
Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya

27,15 18.815 37,46 16,17 26.128 30,00 11.927 7,07 4.899 6,51 4.538 7,93 5.853 8,01 7,11 4.928 4,27 2.978 8,44 6.229 3,24 Distribusi kredit program Tda belum merata dan banyaknya 2,89 2.002 0,00 5,69 4.200 2,95 jenis kredit program menyebabkan adanya21.805 31,47 tumpang tindih 27,62 35,41 19.261 32,68 26.128 diantara 19.545 26,49tersebut 24,31 16.848 24,14 16.834 23,11 kredit-kredit 100 73.782 100 69.297 100 Penyaluran kredit 100 69.739 sektoral membuka peluang terjadinya kesalahan sasaran

Jumlah Rata-rata

Tabel 3. Jumlah Usaha Usaha dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Mikro Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan dari Kredit Kredit Pinjaman dariProgramProgram
Prediksi Jumlah UMKM (ribu) 823,7 754,3 811,8 2.389,8 796,6 Kredit Program Dari Kredit dari Kemeneg KUKM Instansi Sektoral UMKM (rb unit) 36.984 42.143 48.238 127.365 42.455 Persen (%) 4,49 5,59 5,94 5,33 5,33 Jumlah Per sen (%) 10,11 8,63 10,58 9,80 9,80

No

Propinsi

UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46,28 22,99 37,68 106.947 35.649 5,62 3,05 4,64 4,48 4,48 83,26 65,13 85,92 234.312 78.104 

2 3

Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata

Dari ketiga hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk memperbesar jumlah kredit program tidak saja diperlukan penambahan alokasi kredit tetapi yang lebih penting  adalah memperbaiki sistem distribusi dan mengkoordinasikan pemberian bantuan melalui satu lembaga yang secara khusus disesuaikan dengan karakter UMKM 5.2.2 Sumber-sumber Permodalan Pengusaha Mikro Tabel 4 memperlihatkan pinjaman usaha mikro dari perbankan, dan Lembaga Kredit Formal (LKF) dan sumbersumber perkreditan non formal, termasuk perseorangan baik, tetangga kerabat maupun pemilik modal atau pelepas uang. Hal-hal yang dapat dikemukakan dari tabel 4 yaitu: 1) Pelepas uang masih mendominasi sumber pinjaman bagi pengusaha mikro dengan pangsa kredit terhadap permodalan pengusaha mikro mencapai 34,45%. Dapat dikatakan bahwa para money leander ini masih menjadi andalan utama bagi pengusaha mikro dalam mendapatkan modal bagi kelanjutan usahanya. 2) Sebagian pengusaha mikro sudah mampu berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama BPR (10%)

70

Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih)

Pemerintah Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program Pemerintah
Sumatera Barat No Sumber Modal UKM (unit ) 4 5 6 3 18 9 9 6 60 Persen % 6,67 18,33 5,00 10,00 10,00 8,33 20,00 25,00 100,00 Kalimantan Barat UKM Persen (Unit % 2 7 8 9 22 2 6 4 60 3,33 11,67 13,33 23,33 23,33 1,66 15,00 11,66 100,00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 5 6 13 4 22 4 4 2 60 Persen (%) 8,33 15,00 10,00 13,33 31,67 10,00 11,67 8,33 100,00 Rata-rata UKM (unit ) 3,67 6,00 9,00 5,33 20,67 5,00 6,33 4,33 60 Persen (%) 6,11 10,00 15,00 8,88 34,45 8,33 11,67 7,22 100,00

Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program 

2 3 4 5 6 7 8

Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tdk meminjam Jumlah

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

dan bank umum sebanyak 6,11%, tetapi mereka lebih banyak bersandar pada kalangan kerabat (11,67%) 3) Sumber-sumber hanya memiliki kontribusi Tabel 5.Koperasi ternyataPermodalan Usaha Kecil sebesar 8,33% hal ini Kredit Program Pemerintah Diluar mungkin sedikitnya dukungan dari program-program kredit pemerintah yang diperuntukan bagi koperasi
Kalimantan Nusa Tenggara Rata-rata 4) Sumatera7,22% usahaBarat Hanya Barat mikro yang tidak memiliki pinjaman, Barat hal ini UKM mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan Sumber Modal Persen UKM Persen UKM Persen UKM Persen (unit ) mikro masih sangat besar. usaha % (Unit) % (unit ) (%) (unit) (%) Bank umum 1) BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata 11,65 2,33 10,00 2 10,00 2 15,00 3 Dikalangan pengusaha kecil dominansi pinjaman6,00 modal 30,00 dari 30,00 6 35,00 7 25,00 5 6,65 1,33 5,00  5,00  2 pelepas 10,00 mulai berkurang (tinggal 10%), dibandingkan uang 3,33 0.66 5,00  5,00  0,00 0 dengan pengusaha mikro yang mencapai 34,45%. Sumber 10,00 2,00 5,00  15,00 3 pinjaman bagi pengusaha kecil 2 adalah1,00 Bank Perkreditan 13,30 2,66 20,00 4 10,00 2 Rakyat 10,00 dengan pangsa kredit terhadap permodalan (BPR) 2 20,00 4,00 10,00 2 30,00 6 20,00 4 pengusaha kecil mencapai 30%, 2diikuti dengan pinjaman 5,00 1,00 10,00 0,00 0 5,00  dari kalangan kerabat yang mencapai 20%. 100,00 100,00 20 100,00 20 100,00 20 20

No  2 3 4 5 6 7 8

Dari tabel 5 terlihat bahwa:

2) Sample di tiga propinsi contoh Keterangan : Diolah dari data 60Pengusaha kecil sudah lebih

mampu berhubungan dengan bank komersial yang pangsa kreditnya terhadap permodalan usaha kecil mencapai 11,65%. Hal ini diduga karena kalangan usaha kecil lebih mampu dalam hal penyediaan agunan dan mengikuti prosedur bank umum atau bank komersial

71
2

67 unit atau 14.8 Tdk meminjam Jumlah 6 60 25.00 5.65 3. 5.00 4.00 10.00 10.00 5.00 100.00 0.30% dari jumlah sample.00 25.00 0.00 10.30 20.22 100.00 Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh 3) Peran koperasi dalam mendukung permodalan kelompok pengusaha kecil ternyata sangat sedikt (3.00 1.00 100. hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan usaha kecil juga masih sangat besar. 72 . Hal ini mungkin disebabkan dana yang diperlukan oleh pengusaha kecil relatif lebih besar dibandingkan dengan pengusaha mikro sehingga koperasi tidak mampu menyediakan pinjaman untuk kelompok 2 ini.00 5.00 2 60 8.00 15.00 6.00 35.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 5.66 2. 4) Hanya 5% usaha kecil yang tidak memiliki pinjaman.33%.00 100.33 0.66 4.00 Sumatera Barat No  2 3 4 5 6 7 8 Sumber Modal UKM (unit ) 3 5 2 0 3 2 4  20 Persen % 15. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Tabel 5.00 100.00 13.00 5.2.00 100. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Diluar Kredit Program Pemerintah Diluar Kredit Program Pemerintah Kalimantan Barat UKM (Unit) 2 7    2 6 0 20 Persen % 10.00 1.33%) dibandingkan dengan peran koperasi terhadap permodalan pengusaha mikro yang mencapai 8.33 6.3 UMKM Yang Mendapatkan Pinjaman Program dan Pinjaman Pihak Lain Dari tabel 6 terlihat bahwa jumlah UMKM yang disamping mendapatkan pinjaman dari kredit program juga masih mengambil pinjaman dari tempat lain relatif banyak yaitu untuk usaha mikro 17 unit usaha atau 43.65 30.00 5.00 30.00 2.00 5.00 20 Persen (%) 11.00 20.00 10.66 100.33 60 7.00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 2 6   2 4 2 2 20 Persen (%) 10.00 20.33 10.33 100.00 30.00 1.00 Rata-rata UKM (unit) 2.00 4 60 11.00 10. Sedangkan untuk usaha kecil lebih sedikit yaitu ratarata 5.00 5. Oleh sebab itu perlu perhatian yang lebih besar dari para stakeholder terutama pemerintah agar lebih banyak lagi melaksanakan programprogam pemberdayaan permodalan untuk kalangan pengusaha kecil.00 Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh JURNAL VOLUME 4 .17% dari jumlah sampel.

068 29.678 93. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi Propinsi (1) (1) Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Modal Modal (Rp rb) (Rp rb) (2) (2) 61.287 28.223 adanya perencanaan yang 632 dalam memperhitungkan baik 38.268 93.50 129.021 52.516 21.70 632 44.128 33.678 31.205 88. 49.45 1.40 40 2 5.54 10.600 35.62 3.035 279.445 24.96 3. hanya rata-rata 36.50 40 7 17.487 1.620 108.02 1.600 35.574 1.345 93.3.401 19.268 kecil.45 31.408 80.927 10.210 3.298 61.59 64. UMKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain Pinjaman Dari Tempat Lain dan Pinjaman Dari Tempat Lain UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Mikro Usaha Kecil Mikro Usaha Kecil Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase (Unit) (%) sample unit usaha (%) (Unit) (%) sample unit usaha (%) 42.467 3.40 32.67 mendapat pinjaman 14.253 42.23 11.00 40 8 20.205 88.378. 3.93 3.451 45.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Tabel 6.021 52.69 1.927 3.69 1.70 1.445 31.223 39.3 Struktur Permodalan.342 18.17 43.223 31. Kontribusi kredit Program dan Dari hasil temuan lapang seperti diperlihatkan pada Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman Modal sendiri Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman tabel 7 dapat dikemukakan lain Pihak beberapa hal sebagai berikut: modal Dari program Modal sendiri Pihak lain modal Dari program Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen tase Nilai Persen Nilai digunakan Nilai tersedia oleh % Persen 1) rb) atau usaha (Rp Rata-rata modal yang % (Rp rb) % Rp rb Persen tase % (7) = 6/2 x 100 (Rp rb) % (Rp rb) % Rp rb (3) (4) (5) (6) (7) = 6/2 x 100 mikro sebesar Rp 3.00 27.070 1.02 32.40 32.128 33.18 3. Kontribusi Kredit Program dan Kecukupan 3.30 Sample40 5.17 dan 30 usaha kecil yang No No Propinsi Propinsi Jumlah Jumlah Sample Sample Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata dari Keterangan : Diolah   2 2 3 3 Keterangan : Diolah dari Program Usaha Mikro dan 30 Sample usaha kecil yang mendapat pinjaman dari Kredit 60 Sample dari Kredit Program 40 17 40 17 40 24 40 24 40  40  120 52 120 52 40 17.273 5. serta tidak 98.02 28.54 dengan kebutuhan modal usaha mikro sehingga skala usaha mikro.487 1.620 108.897 47.62 3.93 3.33 Mikro 60 Sample Usaha Tabel 7.253 28.39 3.40 40 2 5.00 42.13 1.85 26.772 mencukupi bagi kalangan tersebut untuk mampu memenuhi Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan kebutuhan modalnya Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Kurangnya pembinaan dalam penggunaan dana.168 719 86.54 73 3 3 .772 3. UMKM Yang Mendapat Kredit Program Tabel 6.182 47.273 68.782 73.67 14.09 digunakan 27.50 129.65 3.48 21.865 21.57 1.035 279.207 36.897 mereka hampir mencapai titik optimal.70 44.54 5.50 40 7 17.739 68.09 yang 42.39 46.85 10.182 42.865 32.467 3.90 120 17 42. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Tabel 8.345 juta relatif(6) hampir sama (93.345 93.51 64.57 965 1.287 28.18 Modal Kecukupan Modal usaha mikro Tabel 8.070 1.342 18.48 21.51 60. 3.30 40 5.54 pengusaha oleh 60.59 80.13% yang bersumber dari modal 68.210 3.739 69.13 1.207 36.782 69. UMKMYang Mendapat Kredit Program Tabel 6.70 mikro kalangan usaha 3.223 98.451 27.516 2) Dari 39.50 43.574 1.50 27.00 60.18%) (3) (4) (5) (6) (6) 49.1 Struktur Permodalan.298 73.015dan usaha 38.00 60.378. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Tabel 7.068 29.408 46. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro 1) Jumlah pinjaman yang diterima dari kredit program belum Untuk Usaha Mikro Hal ini mengindikasikan bahwa: Propinsi Propinsi Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal per 2) Modal sebagian pinjaman yang tidak digunakan untukPersentase Ada tujuan sendiri Modal Modal per Persentase UKM (Rp rb) Nilai Persen Kecukupan sendiri Modal rb) tujuan Nilai Persen usaha UKM (Rp rb) (Rpproduktif atau Persen pengembangan tersedianmelainkan Nilai Nilai Persen Kecukupan (Rp rb) % (Rp rb) % (Rp rb) tersedian modal (%) (Rp modal (%) (Rp untuk tujuan lain rb) konsumtif rb) % (Rp atau % digunakanrb) (Rp rb) 3.015 1.168 719 kebutuhan965 pinjaman bagi 1.39 3.96 3.45 86.401 19.90 120 17 42.23 11.45 sejumlah modal 45.39 42.00 40 8 20.85 10.85 26.02 1.65 24.33 40 17. 3) 3.54 68.

39 36. 3.13 Pinjaman dari Pihak lain Nilai (Rp jt) 632 1.84%) menggunakan tenaga kerja keluarga.678 10.70 38.068 Persen % 18.85 29.467 3.342 3.070 3) Besarnya pinjaman dari pihak-pihak lain dikhawatirkan akan berdampak pada: a) Mengganggu kelancaran pengembalian kredit program.487 1.AGUSTUS 2009 : 62-87 pinjaman kredit program sedangkan sisanya berasal dari modal sendiri (rata-rata 29.378.068 juta (29.70 88.128 1. Tabel 7.02 33. b) Mempertahankan eksistensi para pelepas uang dalam usaha dan kehidupan para pengusaha mikro serta. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro Kebutuhaan Modal per UKM (Rp jt) Modal sendiri (Rp jt) Pinjaman kredit Program Nilai (Rp jt) 1. 4) Rendahnya kontribusi pinjaman program pemerintah dalam struktur permodalan pengusaha mikro diduga disebabkan oleh: a) Perencanaan yang bersifat sektoral dan terpusat.445 3. c) Menyebabkan penggunaaan pinjaman sulit diawasi.574 1.865 juta sehingga untuk 74 .96 93.035 3.223 719 1.2 Struktur permodalan dan Kecukupan Permodalan Usaha Kecil Dari tabel 8 dapat dikemukakan bahwa: 1) Rata-rata modal yang digunakan oleh usaha mikro sebesar Rp.927 10.93 86.JURNAL VOLUME 4 .45 31.620 1.62%). Hal ini seharusnya mendapat perhatian karena biaya hidup sebelum produksi di kalangan UMKM dapat dikelompokan sebagai biaya produksi karena UMKM sebagian besar (79. 21.015 3.205 1.57 108.65 279.210 1.772 3.69 24. 68. b) Belum adanya pemikiran untuk menjadikan biaya hidup sebelum produksi sebagai salah satu unsur dalam mengkalkulasi kebutuhan kredit para pengusaha mikro. 5.273 juta sedangkan rata-rata modal sendiri yang dimilikinya sebesar Rp.93%) dan pinjaman dari sumbersumber lain rata-rata-rata sebesar Rp 1.54 93.268 3.345 98.168 965 3.62 Modal tersedia dan Kecukupan modal Persentase Modal Kecukupan tersedian modal (%) (Rp jt) 3.207 Persen % 44.3.18 Propinsi Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata 3.

401 47.021 21.76 juta.4 Dampak Kredit Program 5.23 28.516 21.51 60.865 Persen % (4) 19. Keperluan ini sebagian (rata-rata Rp. 2) Skala usaha usaha kecil pada umumnya belum mencapai titik break event point (titik impas) sehingga untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi kalangan usaha ini perlu dibantu dengan memberikan pinjaman agar tercapai break event point yaitu rata-rata sebesar Rp.85 45.223 46.29 juta.40 35.739 68. dapat ditutupi dengan meminjam dari berbagai pihak terutama para pelepas uang.4.897 26.45 32. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi (1) Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata Modal (Rp juta) (2) 61.48 39.253 juta).408 80.273 Modal sendiri Nilai (Rp jt) (3) 11. 17. 2) Dengan adanya bantuan program perkuatan.09 42.54 68.92%) menjadi rata-rata Rp.182 27.782 69.1 Dampak Kredit Program terhadap kondisi dan Kinerja Bisnis UMKM Dari data pada tabel 9 dapat dikemukakan: 1) Rata-rata UMKM contoh tergolong dalam kelompok usaha mikro.54 3) Dengan meningkatnya skala usaha diharapkan efisiensi produksi akan terjadi dan para pengusaha mikro mendapatkan laba yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan PDB.59 64.39 Kebutuhan pinjaman modal Dari program Nilai Persen tase % Rp jt (7) = 6/2 x 100 (6) 49.408 juta rupiah. dengan rata-rata pemilikan aset sebelum menerima bantuan perkuatan sebesar Rp.253 52. 75 . 13. 28.02 Pinjaman dari Pihak lain Persen Nilai (Rp jt) % (6) (5) 32. Peningkatan ini merupakan pengaruh langsung dari adanya pinjaman dari program perkuatan.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) mencapai break event point usahanya diperkirakan masih memerlukan tambahan modal sebesar Rp.287 31. 46. 3.298 73.408 juta. 5.451 28.600 42. 46.086 juta (25. Tabel 8. rata-rata aset UMKM meningkat sebesar Rp.

Dengan perkataan lain peminjam belum mampu menginvestasikan sebagian laba yang diperoleh untuk menambah aset dalam bentuk investasi.49 Per Rata-rata Peningkatan Produksi18.53 Hari 14. jt) Per tahun (Rp jt) (Rp No Propinsi Selisih Selisih Sebelum Tabel 10. Hal ini dapat diterangkan dari dua sebab yaitu: a) Para penerima pinjaman sebagian besar sudah mendapatkan pinjaman dari dari pihak ketiga sehingga sebagian laba dipergunakan untuk menutupi pinjaman tersebut.58 9.09 Selisih 31.50 1.82 atau11.84 (%)1.71 10.10 Rp Jt (%) Tabel 10.18 2.35 33.02 18.25 8. 3. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan Tabel 9. 6.99 8.32 0.41 14.09 69.45 36.00 57.47 39.18 5.20 9.24 11.25 32.90 (Rp Jt) (%) 12.83 3) bertambah 29.09 45.56 (Rp jt) 2.24 juta.33 untuk Omset Usaha UMKM yang tahun Rata-rata menutup kebutuhan modal Rata-rata Laba per selama ini sebagian berasal dari pinjaman pihak ketiga.54 7.07 6.30 Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Pertambahan 175.17 25.04 10.12 15.83 29.45 (Jam) 11.68 Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp ) (%) Tabel 11.33%. Aset.18 36.14 Sebelum 167. Aset.17 5.76 Rata-rata Peningkatan Produksi 16.24  2 3 13. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan 20.81 11.73 175.92 6.18 2.71 10.49 13.12 Asset Total 18.98 11.76 17.24 11.28 8.61 25.90 10.80 18.78 70.81 11.JURNAL VOLUME 4 .61 25.80 7.02 Rata-rata Omset Usaha18. Tambahan modal ini relatif belum mencukupi Tabel 11.05 Rata-rata Jam Kerja Per Hari 13. Aset.29 25.80 11.88 77.05 75.74 Rata-rata Pertambahan23.54 dari yaitu 10. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima 16.05 Per tahun Sebelum 51.72 58.62 15.24 26.04 10.73 Sesudah 6.94 59.71 juta menjadi rata-rata sebesar Rp.55 11. Kinerja UKM Berbantuan (yang(yangSebelum bantuan) Dari Aspek Sesudah Persen Tabel 10.60 1.30 Selisih 19.30 juta 58.41Dari adanya bantuan perkuatan modal UMKM 69.90 6.17 11.31 25.21 5.14 30.66 14.38 Persen 47.97 Sesudah Nilai 19.53 15.05 (Jam) (%) 146.30 12.AGUSTUS 2009 : 62-87 yang terutama digunakan untuk modal kerja.28 207.05 51.48 14.10 11.58 9.27 (Rp Jt) (%) 76 2 Sumbar Kalbar NTB 3 No Propinsi Jumlah Rataan  .47 39.31 25. 47.41 14.41 45.45 12.28 47.92(%) (Rp 13.54 8.00 58.61 69.74 18. b) Sebagian peminjam lainnya mempersiapkan kelebihan laba yang diperoleh untuk digunakan membayar pinjaman dari program perkuatan walaupun mungkin belum jatuh tempo.55 Selisih 21.19 32.14 31.29Dari Aspek Volume Usaha dan Laba 51.41 45.76 57.99 8.18 per 9.05 12.00 1.78 20.56 2.66 5.82 18.82 8.72 (%) 141.30 Sebelum Sesudah Nilai Persen 10.49 13.19 bantuan )3.80 (Jam) 26.20 Per (Rp 45.25 Rata-rata Laba3.05rata-rata sebesar Rp.18 11.33(%)  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Tabel 9.82 Sebelum Sesudah Nilai 9.80 7.65 34.79 1.58tahun9.68 25.05 51.80 3.58 6.15 28.38 Selisih 25.53 14.82 11.61 4. Kinerja UKM Nilai Berbantuan menerima Sesudah Nilai Persen menerima bantuan) dan (Rp Jt) Rp Jt (%) DariVolume UsahaUsahaLaba Aspek Volume (%) dan Laba  Sumbar 2 Kalbar 3 NTB No Propinsi Jumlah Rataan  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Jumlah Propinsi Rataan 59.61 11.10 47.94 tahun 16.70 Selisih 31.24 167.88 Sesudah 77.04 45.54 8. Tabel 9.00 8.98 11.5307. 41.50 2.24 58. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) rata-rata sebesar Rp.55 9.49 Selisih 141.61 Persen 10.79 1.48 14.55 13.53 23.29 (Rp jt) 17.03 Rata-rata Jam Kerja6.97 58.05 75.083 55.14 Sebelum 30.03 9. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan No Propinsi Rata-rata Pertambahan Total Asset Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Per tahun Sebelum Sesudah Pertambahan Pertambahan Sebelum Sesudah (Rp jt) (Rp Jt) (%) (%) 18. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuanJt) 9.78 70.083 55.78 Pertambahan 41.29 Jt) 25.8 Sebelum Sesudah Nilai Persen 7.17 jt) 25.

atau bertambah Rp 2. yang memungkinkan terjadinya peningkatan efisiensi produksi. yaitu dari 10.99 juta.05 jam per hari.23%.23%. Dalam hal ini etos kerja.55 jam menjadi 11.083 juta. menjadi Rp 13. Disamping itu pertambahan modal juga belum mampu meningkatkan bargaining UKM dalam pasar.38%). dari aspek peningkatan etos kerja dan peningkatan produksi UMKM.10%). Selain dampak perkuatan terhadap tiga aspek bisnis UMMK di atas. atau rata-rata bertambah sebesar Rp 8. omset UMKM juga meningkat dari rata-rata Rp 47. Pertambahan ini nampaknya masih lebih kecil dari tambahan modal yang diterima UMKM yang rata-rata mencapai 51. 2) Selain mempengaruhi pertambahan omset usaha. menjadi Rp 55. merupakan derivasi 77 . Laba UMKM meningkat dari rata-rata Rp 10. belum terlihat adanya indikasi bahwa pertambahan modal telah dapat menekan biaya produksi misalnya bahan baku. meningkatnya modal UMKM juga mempengaruhi pertambahan laba yang diterima UMKM.18 juta per tahun. 4) Dari kondisi pada butir 1 sampai dengan butir 3 di atas dapat dikemukakan bahwa pinjaman yang diberikan jumlahnya relatif kecil. 3) Dengan memperhatikan pertambahan omset dan laba. tabel 11 memperlihatkan dampak pemberian bantuan perkuatan modal terhadap perubahan kinerja UMKM. baik di pasar input (pengadaan bahan baku) maupun di pasar output-nya (pemasaran produknya).Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Dari tabel 10 dapat dikemukakan: 1) Sejalan dengan adanya pertambahan modal.49 juta. Persentase pertambahan laba ini juga masih lebih kecil dibandingkan dengan persentase pertambahan modal yang mencapai 51. Dari tabel 11 dapat dikemukakan bahwa: 1) Peningkatan etos kerja yang diindikasikan dari pertambahan jam kerja UMKM memperlihatkan adanya tambahan sebesar 1.68 juta (25.90 juta (19.60 jam. sehingga belum mencukupi bagi UMKM untuk dapat mencapai skala ekonomi (ecomic of scale). sehingga meningkatnya laba tidak lebih besar dari peningkatan modal.

083 Hasil pengamatan lapang memperlihatkan adanya indikasi 70.68 25.99 8. 4 5. diantaranya adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha (bekerja) dalam kelompok UMKM.00 6.58 kondisi peningkatan etos kerja.05 11.02 18.97%.07 15. adalah para pencari kerja yang diharapkan dapat terserap dengan meningkatnya aktifitas usaha dari kelompok UMKM.8 69. dimana sebanyak 325.14 31.09 dan sebatas mana 14.50 13.AGUSTUS 2009 : 62-87 Dari Aspek Volume Usaha dan Laba Rata-rata Omset Usaha Rata-rata Laba per tahun Per tahun (Rp jt) (Rp jt) dari keberhasilan usaha seseorang dan kepentingan orang Selisih Selisih Sebelum tersebut untuk mendapatkan prestasi yang secara langsung Sesudah Sebelum Sesudah Nilai Persen Nilai Persen maupun tidak langsung mempengaruhi kesejahteraannya.79 1.65 10.81 11.05 9.58 6.19 3.03 arah 9.45 9.61 33. yang akan mendorong semangat kewirausahaan.25 16. UMKM harus diarahkan agar mampu pengembangan etos kerja.09 146.60 1. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Tabel 11.55 3.98 11. Dari jumlah tersebut sebanyak 52.55 12.00 16.31 51. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Rata-rata Jam Kerja Per Hari Rata-rata Peningkatan Produksi (Jam) (%) Selisih Selisih Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp Jt) (%) 11.47 39. 8.41 1.30 55.15 1.90 8.17 12.82 9.41 45.4.78 36.05 141.895 orang atau 10.76 11.32 28.38 10.53 9. (Rp Jt) (%) Rp Jt (%) No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 2) 59. seberapa25.61 5.80 11.10 13.06%).18 ke45. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) JURNAL VOLUME 4 .28 5.97 26.04 4. Pengembangan etos kerja juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.70 31.49 13.046 orang.55 0.17 14.90 19.72 58.05 75.24 47.50 207. 78 .20 9.18 2.56 2.80 18.80 2.352 orang (78.27 No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3) Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menyebabkan timbulnya permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan program ini. Dampak program perkuatan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja 1) Rata-rata jumlah tenaga kerja poduktif (umur antara 17 sampai dengan 60 tahun) yang ada di 3 (tiga) Propinsi contoh cukup besar yaitu mencapai 412.Tabel 10.54 tergantung pada pola pelaksanaan program.49 kerja dapat dikembangkan sangat etos 167.24 11.84 6.45 12.17 jauh 25.94 32.35 7.30 45.05 1.62 11.25 34.55 21.10 Tabel 11.2 Dampak Kredit Program Terhadap Perekonomian Daerah 1.21 8.

71 0.07 Peningk. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Jumlah 27.18 hal sebagai 1.4 10.48 8.30 1.82 Sebelum 7.700 263.1 Penda 310.510 472.47 4.52 1.85 147.968 7.02 Persen 1.56 9.613 1.186 2.78 Sebelum 6.411 94.224 NTB Tabel 14.540 268.76 11.1 327.02 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang 49.31 4.58 10.9 Rp Juta Rp jt 111. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan patan Daerah Kotor Kop UMKM (%) Rp Juta Rp jt serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur (Product Regional Domestic Bruto) serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan 172.609 4.69 Tambahan 1.47 3.186 9.769 2.72 Sesudah 3.3 161.700 263.65 6.00 (%) (Org) Propinsi *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.89 8.89 Tabel 14.00 Rata-rata 412.742 32.35 20.21 3.904 202.43 2.742 32.35 3.41 Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di kabupaten Contoh (Orang) 44.1 SHU 76Jlh 31.92 0.67 3.07 79  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan .420 674.839 3.652 326.154 421.44 Kalbar Program terhadap (Product Regional Domestic Bruto) serta 6.88 144.895 7.93 1. Jumlah Tenagakerja dan Kinerja UMKM Berbantuan 12.48 23.046 52.48Simpanan4.93 1.99 Sesudah 1.455 1.236.38 berikut: 3.38 7.20 3.98 0.609 4.89 11.74 1. 3.3 429.877 Sumbar 429.057 Tenaga 158.44 4.75 1.510 472.61 (Org) (org) Kerja 49.18 2.30 1.45 3.613 (unit) (unit) (Org) (Org) *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.54 1.72 3.45 9.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 2) Rata-rata pertambahan tenaga kerja UMKM setelah mendapat bantuan pinjaman modal dari program perkuatan adalah sebesar 0.236. Sebelum Peningk.046 Perkiraan Sumbangan UMKM 52.44 7. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan Kotor Daerah 1. 3.56 4.140 berbantuan UMKM 22.659 di Kabupaten Contoh ( Orang) 6.31 5.75 Sesudah 1.895 325.843 Sumbar Tabel 13.76 Koperasi Per tahun(%) 11.05 3.97 3.50 25.71 0. termasuk penganggur Total Pendapatan Kotor Daerah (Product Regional Domestic Bruto) (miliar) tambah tase Kop luran Rp juta Tabel 13.52 1.843 Sumbar UMKM31.180 14 0.50 tambah tase 92.33 10.88 6.20 3.58 10.81 4.5 26 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan178.88 UMKM (%) 111.839 Kerja 325.89 11.89 Peningk.56 8.352 7.686 976.8 983.7 patan 103.90 Sebelum 5.866 (miliar) 144.74 1.1 36 172.64 2.78 4.870 1.05 5.32 8.420 674.2 7.473 224.873 611.64 Penyalur UMKM 65. termasuk penganggur 36.14 4.44 65.87 0.9 Perkuatan 35.352 Kerja Rata-rata 412.21 23. Sebelum Sesudah 374.677 176.98 1.180 14 Penya Biaya 983.1 36 161.67 3.20 4.8 13.154 421.32 11.61 orang per UKM.765 Kalbar 178.2 7.12 3.528 NTB dalam Menyumbang PDB Jumlah 1.33 2. maka dapat diprediksikan jumlah pengangguran yang mampu diserap oleh UMKM baru sebanyak 4. Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan (yang menerima bantuan) ) di Lima Propinsi Contoh (yang menerima bantuan di Lima Propinsi Contoh Jumlah Tenaga Kerja dan Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di UMKM di Kabupaten Contoh ( Orang) kabupaten Contoh (Orang) UMKM Tambahan Pencari Tenaga Sesudah UMKM berbantuan Sebelum Tenaga Persen Kerja Kerja Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan Tabel 12. (unit) (Org) (org) (unit) Kerja (%) (Org) (Org)(yang menerima bantuan ) di Lima Propinsi Contoh (Org) 36.644 orang atau 8.41 3.8 Kop luran Rp juta 327.877 Perkiraan Sumbangan2.41 3.87 0.12 Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) 4.4 10.91 3.93 2.659 202.540 268.32 3.78% dari jumlah penganggur yang ada di ke tiga propinsi contoh.56 6.411 94. Tabel Tabel 12.90 64. termasuk penganggurmenyalurkan bantuan Perkuatan PDB (Rp miliar) *) Tenaga kerja usia produktif yang Tabel 13.866 434.057 22.873 611.90 5.08 kontribusi 44.652 326.41 10.3 No Propinsi PDRB Nilai Persen Jlh Penya Biaya Penda SHU *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006  2 3 No Propinsi Rata-rata Peningkatan Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) Simpanan Anggota /tahun (%) *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Sebelum Sesudah Peningk.15 7.  2 3 Sumbar Kalbar NTB No Jumlah Propinsi Rataan 3. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Jumlah Tenaga Kerja dan 10.92 0.904 31.01 UMKM 197.93 1.968 7.97 3.1 103. DampakDari tabel 13 dapat dikemukakanKoperasi Program Perkuatan terhadap Kinerja beberapa 1.65 9.528 NTB UMKM Propinsi Pencari 976.455 1.88 1.686 Jumlah 1.15 11.765 Terhadap PDB (Rp 0.7 143.82 7.88 Sesudah 3.45 Rata-rata Peningtan5.18 2.97 3.14 Modal 9.140 158.473 224.85 Tenaga 147.7 310.43 11.91 7.20 0.54 2.3 Kop 25.7 Rataan 92.44 0.88 4.61 Terhadaptersedia.8 13.49 76 31.5 26 197.3 35.01 9.48 3.33 2.99 1.90 1.45 3.69 1.89 11.81 Sebelum 3.3 374.769 Kalbar 5. Dampak Kredit Jumlah dan Kinerja 2.97 Rata-rata Peningkatan Anggota /tahun (%) 1.677 Koperasi 0.44 176.18 Peningk.49 Nilai Persen 27. 2.32 20.224 PDRB 434.9 Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) Sesudah *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Peningk.90 4.870 1.90 miliar) 64.9 143.08 1.33 10. Dengan memperhitungkan jumlah UMKM yang mendapatkan bantuan per propinsi sebanyak 7613 orang.

342 orang) UMKM sudah mendapat bantuan perkuatan maka diprediksikan sumbangan UMKM akan mencapai 71. maupun di depannya (fore Word efect). Kondisi yang demikian nampaknya cukup wajar karena jumlah UMKM yang menerima bantuan. juga relatif masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang berada dimasing masing lokasi tersebut.3 Dampak Kredit Koperasi Perkuatan Terhadap Pembangunan Dari tabel 14 terlihat bahwa terlihat bahwa: 1) Rata-rata jumlah anggota koperasi mengalami kenaikan dari rata-rata 3. 5.8 miliar per kabupaten. maka sumbangan usaha mikro terhadap PDRB tidak berubah banyak. Unsur ini jelas didorong oleh adanya program perkreditan yang memang angat dibutuhkan oleh masyarakat.870 juta (1. Dengan perkataan lain masyarakat ingin menjadi anggota koperasi karena adanya 80 .4. 144. Seandainya semua (308.JURNAL VOLUME 4 .46%).83% atau meningkat 23. Dari sini terlihat adanya dampak positif dari pelaksanaan program perkuatan dalam mendorong pertumbuhan jumlah anggota sebanyak 3. dibandingkan dengan rata-rata PDRB daerah yang mencapai Rp. atau tidak mengalami tambahan yang signifikan. Hal ini dapat dijelaskan dengan memperhatikan bahwa pertambahan jumlah PDRB yang berasal dari adanya UMKM yang mendapat bantuan perkuatan per kabupaten relatif kecil yaitu sebesar Rp.83 dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 yang diperkirakan 48%. dan tidak dengan memperhitungkan dampak kegiatan yang dilaksanakannya.82% pada lima tahun sebelumnya menjadi 7.89%.72% pada tahun 2007. 2) Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh UMKM merupakan kegiatan spesifik daerah yang tidak lagi memberikan imbasan yang signifikan terhadap kegiatan usaha yang ada dibelakangnya (back word efect). Kondisi ini dikarenakan usaha-usaha tersebut sudah ada sebelumnya dan pertambahan jumlah kebutuhan maupun produk yang dihasilkan oleh UKM yang mendapat bantuan perkuatan relatif masih kecil.AGUSTUS 2009 : 62-87 1) Dengan asumsi sebagian (50%) UMKM yang mendapat bantuan perkuatan bekerja pada kegiatan usaha produktif. 928. Kenaikan jumlah anggota yang cukup signifikan ini mengindikasikasikan adanya ketertarikan masyarakat untuk menjadi anggota koperasi.

18%.18 Sebelum 3.97 3.765 35.968 7.88 327. Lebih lanjut pada tabel 15 diperlihatkan dampak pelaksanaan program perkuatan terhadap volume usaha dan SHU koperasi.67 3.186 2.3 92. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) No Propinsi Sebelum  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3. Dibandingkan dengan tambahan modal luar yang bersumber dari program perkuatan nampaknya tambahan modal koperasi yang bersumber dari SHU pelaksanaan program perkuatan pengaruhnya belum signifikan.72 Peningk.870memang 25. 3) Modal koperasi meningkat dari rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 3. yang mencapai 23%.56 9.76 11.15 7.224 harapan 434.58 111. Peningkatan jumlahnya 5 simpanan ini terlihat belum sejalan dengan pengingkatan rata-rata jumlah anggota yang mendapat bantuan perkuatan. sehingga adanya bantuan perkuatan tidak lagi mempengaruhi besar simpanan yang dapat dikumpulkan. atau meningkat sebesar 1.41 3.877 Sumbar  2 3 Kalbar NTB Jumlah Rataan Perkiraan Sumbangan UMKM Terhadap PDB (Rp miliar) PDRB Nilai Persen (miliar) tambah tase UMKM (%) Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan Perkuatan Jlh Penya Biaya Penda SHU Kop luran Rp juta patan Kop Rp Juta Rp jt 161.18 2.44 4.90 4.56 8.180 14 0.700 263.01 9.81% selama 4 tahun sebelum program perkuatan dilaksanakan.48 8. Sedangkan pengaruh dari pelaksanaan program terhadap kenaikan modal sendiri relatif sangat sedikit dibandingkan dengan total modal koperasi dalam yang dimiliki koperasi. 81 .20 0.93 1.473 224.31 5.65 6.10%.38 7.47 4. Tabel 14. bantuan kredit 27.No Propinsi Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 172.7 178.14 4.12 3.54 1. atau naik sebanyak 1.540 268.35 3.1 36 10.4 10.9 143. Hal tersebut disebabkan adanya tambahan modal luar yang melonjak dari pinjaman modal program perkuatan.88 Peningk.50 bukan motivasi 103.90 64.49 untuk mendapatkan 31.89 11.3 374. 1.43 2.97 3.88%.33 2.78% pertahun menjadi rata-rata 4.20 3.8 983.07 Rata-rata Peningkatan Simpanan Anggota /tahun (%) Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) 2) Sejalan dengan peningkatan jumlah anggota juga terjadi kenaikan simpanan anggota dari rata-rata 2.45 3.82 Sesudah 7.89 11.9 yang ideal.455 1.1perkuatan.91 3.81 Sesudah 4. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Tabel 14.33 10. 3.1 Motivasi144.48 3. Kejadian ini mungkin disebabkan sebelumnya memang partisipasi anggota dalam membayar simpanan sudah tinggi.5 26 197.32 11.32 20.866 76 310. Hal ini 1. 1.21 23.78 Sesudah 4.609 4.99 Peningk.98 1.99% sesudah dilaksanakannya program perkuatan.89 Sebelum 2. menjadi 3.8 13.45 9.3 429.7 *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat pada bantuan permodalan cukup besar.88 6.420 674.2 7.

59 17. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi No Propinsi Rata-rata Peningkatan Volume Usaha per tahun (%) Sebelum Sesudah Peningk. 3) Dari kegiatan melaksanakan penyaluran kredit perkuatan.47 0. peningkatan SHU ini juga murni sebagai sumbangan dari pelaksanaan program perkuatan dan tidak terlihat dampak dari adanya kegiatan pengembangandari pelaksanaan kegiatan penyaluran program.81  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Dari tabel 15 terlihat bahwa: 1) Rata-rata volume usaha koperasi mengalami peningkatan dari rata-rata 3. Dengan kata lain program perkuatan belum memberikan dampak ikutan bagi kegiatan koperasi diluar kegiatan program itu sendiri.81 3. transportasi dan pemasaran hasil produksi anggotanya.43 0. 2.40 pertahun pada lima tahun sebelumnya.34%. menjadi 5.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 15. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Tabel 15.18 9.45 juta.99 2.74% sesudah menyalurkan program perkuatan. bila dibandingkan dengan peningkatan SHU pada lima tahun sebelumnya yaitu dari rata-rata 2.14 6.78 4.89 2. Dengan demikian terlihat bahwa koperasi 82 .76 3. Hal ini menunjukan bahwa koperasi belum mampu mengembangkan kegiatan yang diperlukan anggotanya.21 3.96 1.43 2.74 2.04 2.34 Rata-rata Peningkatan Sisa Hasil Usaha per tahun (%) Sebelu Sesudah Peningk.02 1.25 7. atau meningkat sebesar 2. rata-rata koperasi memperoleh SHU sebesar Rp 8.33% menjadi 3.81%.92 1.03 2. Peningkatan ini nampaknya merupakan pengaruh langsung dari pelaksanaan kegiatan penyaluran program bantuan perkuatan saja. 4. koperasi memperoleh bagian biaya operasional sebesar 4% dari dana yang disalurkan. seperti penyediaan bahan baku produksi. 2) Rata-rata Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi meningkat sebesar 0.87 5.76 3. yang berkaitan dengan adanya program perkuatan tersebut. Sama seperti peningkatan volume usaha.34 10.JURNAL VOLUME 4 .40 6.14 0. Dengan biaya operasional riil yang ternyata masih lebih kecil dari yang didapatkannya tersebut.33 3.42 3.11 2.14%.24 5.

Dengan demikian dana yang diperlukan untuk memberdayakan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil.876.yang terendah adalah untuk mereka yang berusaha di sektor informal dan perdagangan eceran sebesar Rp 1.20% pinjaman dari lembaga perkreditan formal (Bank dan non bank).000. Tetapi karena jumlah dana yang disalurkan masih relatif kecil.05% dari jumlah UMKM khususnya pengusaha mikro.. 9. VI. Kondisi ini masih menunjukkan peranan yang dominan dari para pelepas uang dan pemilik modal dalam mendukung kelangsungan usaha para pengusaha mikro. sehingga idealnya program-program perkreditan dari pemerintah selama 7 tahun terakhir sudah menjangkau 23. Rata-rata tambahan modal yang diperlukan oleh kalangan pengusaha mikro dan pengusaha kecil adalah sebesar Rp.60% dari pinjaman program pemerintah. 11.-.dan yang tertinggi adalah untuk mereka yang berusaha di sektor pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp. dan 3) Deviasi sampel. 3. 4) Hal lain yang juga dapat dicatat bahwa jumlah dana yang telah dikembalikan dari peminjam ada yang belum dapat digulirkan lagi oleh koperasi.05% dari kebutuhan modal UMKM.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) juga memperoleh dampak positif dari kegiatan ini. 3.05%) dengan hasil pengamatan kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro dan usaha kecil yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu 11. 2) Ada kesalahan sasaran dalam penyaluran kredit. diperkirakan mencapai Rp. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh: 1) Sebagian dana program pemerintah memang diberikan dalam bentuk pinjaman (kredit sesuai dengan pengertian kredit dan ensiklopedia Indonesia) sebagian lagi dalam bentuk subsidi atau hibah.783. 83 . maka bagian koperasi yang menjadi SHU belum signifikan dengan total SHU koperasi. 171.. 56. 22.000. Struktur permodalan usaha mikro dibangun 15. sehingga tidak dinyatakan sebagai kredit. atau sudah menjangkau 23. Adanya perbedaan antara persentase kebutuhan pinjaman UMKM dan dana yang telah dialokasikan oleh pemerintah (23.000.55 triliun.75% oleh modal sendiri. Hal tersebut terjadi karena belum ada ketentuan tentang pola pergulirannya dan belum ada institusi yang secara formal mengatur perguliran dana tersebut. 2. PENUTUP 1.60%.70% pinjaman dari pemilik modal/pelepas uang dan sisanya 6.574.75% bersumber dari kalangan keluarga dan tetangga.

Dari 214 jenis program perkreditan yang dapat diinventarisir diketahui bahwa 47. dan sisanya 19. sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk.35% pengembangan kelembagaan. seperti Program pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal 26. 44.JURNAL VOLUME 4 .45% menggunakan pendekatan pengembangan potensi daerah. seperti Kredit Keluarga Miskin (KKM) dan Kredit Pemilikan RSS. 84 . 28. akibatnya yang bersangkutan masih meminjam dari sumber-sumber lain terutama para pelepas uang dan pemilik modal. 5. tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pengusaha mikro serta.18% disalurkan di Pulau Jawa dan sisanya 58. Hasil analisis dari aspek kemanfaatan kredit dalam meningkatkan pendapatan UMKM menunjukkan bahwa. Dari aspek pendistribusian dana diketahui 41. 11. Sedangkan dari aspek pendekatan program 41.25% yang bertujuan untuk memberdayakan UMKM seperti P3KUM dan KUR.92% disalurkan untuk daerah-daerah lainnya.60% pengusaha mikro yang pernah mendapatkan pijaman dari kredit program pemerintah dan 21. sehingga sering tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakter pengusaha mikro. 8. d) Banyaknya jenis kredit yang disalurkan.75% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas. Hanya 11. dan hanya 17.75% menggunakan pendekatan pengembangan daerah.85% menggunakan pendekatan pengembangan kelompok seperti seperti dalam program Lembaga Usaha Ekonomi Bersama (LUEB). pengembangan potensi daerah dan pengembangan kelompok (Community development) merupakan pendekatan yang efektif untuk memberdayakan UMKM. Kredit-kredit yang bersumber dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM yang kesemuanya bertujuan memberdayakan KUMKM.65% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas.95% menggunakan pendekatan pengembangan kelembagaan. Dalam hal pola pelaksanaan perkreditan terlihat bahwa: a) Prosedur dan persyaratan cenderung didasarkan pada kepentingan sektoral dan keamanan kredit.25% bertujuan mengurangi kemiskinan. b) Bunga bersubsidi membuka peluang terjadinya manipulasi penggunaan kredit baik ditingkat penyalur maupun oleh peminjam.5% bertujuan untuk mendukung pembangunan sektoral seperti untuk program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) 35. c) Bentuk dan besar pinjaman yang cenderung menggunakan sistem paket. 10. 7.25% pengembangan potensi kelompok. Banyaknya dana yang disalurkan di Pulau Jawa dilakukan berdasarkan pertimbangan jumlah orang yang berhak menerima. atau tidak sesuai dengan peruntukannya.AGUSTUS 2009 : 62-87 4. dan sisanya 16.83% dari usaha mikro tersebut menyatakan jumlah pinjaman yang diperoleh belum menutupi kebutuhan modal. 6. menyebabkan terjadinya tumpang tidih penggunaan dan sasaran kredit di tingkat peminjam.

2 juta dengan laba rata-rata sebesar Rp 11. Selain itu tujuan penggunaannya yang sebagian besar bersifat sektoral. Dari aspek pengalaman.81 juta per tahun. Dalam hal tingkat pendidikan.11 tahun atau setingkat dengan SLP. Sebagian besar (56. Dalam hal keperluan kelembagaan perguliran.75%) adalah mereka yang berpengalaman lebih dari 5 tahun. Kesimpulan 1) Dari temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa: a) Kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro relatif masih sangat sedikit (11. tetapi 96.40%) responden menyatakan perlu adanya kelembagaan tersebut (organisasi dan ketentuan-ketentuannya). d) Kondisi internal pengusaha mikro yang sangat lemah serta belum siapnya lembaga perguliran dana. c) Adanya unsur-unsur yang tidak berkaitan dengan tujuan pemberdayan UMKM serta.65% kredit tersebut tepat waktu penyalurannya. sebagian besar (63. Sebagian kredit yang tidak tepat sasaran adalah yang diberikan kepada kelompok orang miskin sebagai bantuan sosial.21% menyatakan tidak tahu.77%) kredit program dilaksanakan dengan tidak meng-gunakan model perguliran dan hanya 9. sedangkan yang menilai ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit ada sebanyak 28. Kondisi internal pengusaha mikro didominasi oleh meraka yang memiliki aset terbatas yaitu rata-rata Rp. dan pola pelaksanaan yang ada. 0. dan pestisida serta untuk pedagang kecil. Sebagian besar (90. 10.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 9. 11.1 juta. 6. 12. 13.51 juta. ternyata tidak sesuai dengan karakteristik UMKM. Sedangkan dari aspek omset yang diperoleh per tahun rata-rata Rp 37. Dalam hal ketepatan sasaran.23% yang menggunakan model perguliran.87%) responden menilai tidak ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit. maupun untuk lembaga penyelenggaranya.25%) peminjam adalah mereka yang berpengalaman dibidang usahanya kurang dari lima tahun dan sisanya (36.60%).85 % dari mereka tidak mengetahui adanya Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). 85 .23 juta dan yang terbesar Rp. Sedangkan yang tidak tepat waktu penyalurannya adalah kredit yang diberikan dalam bentuk natural seperti pupuk benih. yang paling sedikit Rp. Sebagian dari yang tidak menggunakan perguliran adalah yang berupa hibah untuk masyarakat. 79.92% dan sisanya sebanyak 14.52% responden menilai kredit program tepat sasaran dan hanya 54. ratarata responden berpendidikan formal 8. b) Rendahnya kontribusi kredit program tersebut disebabkan karena tidak semua program diberikan dalam bentuk kredit (pinjaman yang harus dikembalikan). 32. sebagian besar (87.

86 . Anonim. (2003). Jakarta. (2002). Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Anonim.JURNAL VOLUME 4 . Petunjuk Teknis Tentang Modal Awal dan Padanan. Study Report. (1999). Departemen Koperasi. Jakarta. 14. 3) Membangun sistem kelembagaan yang komprehensif memperkecil dalam hal jumlah instansi yang terlibat dan jenis kredit program yang disalurkan sehingga koordinasi menjadi mudah dan dana pemerintah tidak berserakan di mana-mana. Anonim. c) Kondisi lingkungan sosial budaya memungkinkan para pemilik modal dan pelepas uang membangun sistem hubungan Patron –Client. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Anonim. Jakarta. Vol 7 nomor 1. The Asia Foundation. Supported by The Asia Foundation. Anonim. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. (1992).AGUSTUS 2009 : 62-87 2) Peranan sumber-sumber perkreditan non formal masih cukup besar. (1995). pengembangan kelembagaan dan kelompok. Jurnal Ekonomi UNTAR. 1���. Kementerian Negara KUKM. 2) Perlu adanya pola pelaksanaan program dengan karakter UMKM khususnya pengusaha mikro. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. (2003). Jakarta. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. b) Para pemilik modal dan pelepas uang mampu memberikan pinjaman lepada pengusaha mikro dalam waktu singkat. Saran 1) Perlu dilakukan perubahan orientasi kredit program yang semula untuk kepentingan pembangunan sektoral diarahkan kepada pemberdayaan UMKM. Small and Medium Entreprise Development. Jakarta. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Besarnya permintaan kredit dari kalangan pengusaha mikro karena tidak tercover oleh lembaga-lembaga perkreditan formal.

Anonim. Informasi Tentang Kredit Usaha Mikro dan Kecil dari Dana SUP005. Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta. The Entreprise Culture and Education. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Bank Indonesia Jakarta. Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) UKM. 2002. 87 . (1991). Singapore. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi. (2006). (2007). Deputi Bidang Pembiayaan. 2nd ed. Asian Development Bank. Departemen Koperasi dan PPK. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. Indonesia. Apakah Usaha Menengah Mengalami Stagnasi. Tambunan Mangara. Gibb. Nasution Muslimin. John Willey & Son. ----------. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Jakarta.. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian IPB. (2002). Lembaga Perkreditan Pedesaan. Annual Report Bank Indonesia 2006. Tambunan Mangara. Badan Litbang Koperasi dan PK. Jakarta. Center for Economic and Social Studies (CESS).Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Anonim. Sondagh. (2002). Mid Term Action Plan for SME Development : Strategy and Recommendations. Jakarta. ADB MSE Development Technical Assistant. (2006). Penelitian Lembaga Kredit Pedesaan di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Jakarta. (2002). Anonim. Anonim. Lucky. Allan A. F. 19 Oktober (tidak dipublikasi). Project Report. (1993). Paper Staff. Kajian pemanfaatan Bantuan Perkuatan. Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah: Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pasca Krisis Ekonomi. (2006). BPS-2006.

mall. Koperasi. dana bergulir.d. pasar tradisional I. kelembagaan.AGUSTUS 2009 : 88-115 KAJIAN PENATAAN KELEMBAGAAN KOPERASI PENERIMA BANTUAN DANA BERGULIR PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL*) Saudin Sijabat**) Abstract Institution is ”an organizational system which can control on resources”. sudah barang tentu koperasi pasar akan semakin jauh dari akses-akses usaha yang diperlukan anggota karena tidak dapat memberikan pelayanan yang efektif kepada anggota sehingga koperasi tidak mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis. custom/tradition and / or consensus. Revolving fund for traditional market development through cooperative is government fund derives for state budget of The State Ministry of Cooperatives and SMEs which was distributed to cooperative to develop traditional market by cooperative and from then on lend it to the members unders revolving fund scheme among cooperatives. juga diikuti dengan perkembangan usaha ritel dan pedagang eceran dalam bentuk Indomart atau Alfamart dan sejenisnya. Kajian yang dilaksanakan oleh penulis tahun 200��. This feature refers to the definite of right and obligation regulated by the law. swalayan dan bentuk-bentuk perkulakan lainnya yang sudah merambah ke daerah pemukiman dan pedesaan. Artikel diterima 5 April 200�. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Apabila hal ini tidak dilakukan. peer review 22 April s. *) 88 . managemen. The other characteristic is c) Representation regulation which can make sure who is entitle towards something in every process of decision making. Pendahuluan Pesatnya perkembangan pembangunan sarana pemasaran yang dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha perdagangan lainnya seperti supermaket. 8 �uni 200�. Institutional has characteristic among others are: a) Yurisdiction border which determine who and what is encompassed in the system and related to authority limit and power. Clarification of intellectual property right in the institution is as strength resource of development participant in developing access and control on the traffic and allocation of resources. b) Intellectual property rights.JURNAL VOLUME 4 . berdampak pada koperasi yang bergerak dibidang perdagangan khususnya koperasi pengelola pasar tradisional harus menyesuaikan diri agar selalu bisa eksis untuk memberikan pelayanan kepada anggotanya para pedagang.

Dengan tercapainya kedua kepentingan tersebut yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan harus selalu dipelihara. memelihara organisasi serta menggunakan kegiatan usaha koperasi. baik secara finansial. organisasi maupun usaha. tanpa keterlibatan para pengguna pasar itu sendiri. Pengaruh dari dalam yang paling dominan mempengaruhi maju mundurnya koperasi adalah dukungan partisipasi aktif dari anggotanya.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Disadari bahwa swadana pembangunan dan pengelolaan pasar oleh pemerintah setempat atau lembaga lainnya melalui fasilitas-fasilitas tertentu. Sekalipun demikian. Sesuai karakteristik pokok organisasi koperasi aktivitasnya mempadukan dua kepentingan secara bersama-sama. anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap maju mundurnya suatu koperasi. Partisipasi anggota. diharapkan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional oleh koperasi pasar. akan sesuai dengan perubahan lingkungan untuk mewujudkan perilaku yang responsif dan inovatif dari para anggotanya. maknanya sesuai dengan penjelasan pasal 17 (ayat 1) Undang-Undang Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992. Dari beberapa uraian di atas. yaitu kepentingan bisnis (bisnis entity) dan kepentingan sosial (social entity). Hal ini dimaksudkan selain untuk menarik yang bukan anggota menjadi anggota koperasi juga untuk memperluas skala usaha koperasi dan memperluas pangsa pasar yang dimiliki. maka koperasi dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bukan anggota sesuai dengan sifat kegiatan usahanya. Dalam penjelasan disebutkan bahwa sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. harus tercermin dalam bentuk konstribusi dalam menetapkan tujuan dan sasaran usaha. Bercermin atas keadaan sebagaimana diuraikan di atas. sepanjang tidak merugikan kepentingan anggota dan lembaga koperasi. diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan dalam meletakkan fondasi bagi bangun struktur organisasi koperasi sebagai milik bersama. Berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah melalui program Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. menunjukkan bahwa kebanyakan kegagalan suatu organisasi koperasi disebabkan oleh masalahmasalah yang bersumber dari dalam koperasi (internal). Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui program pemasaran dan jaringan usaha melaksanakan program penyaluran bantuan dana bergulir untuk meningkatkan kelayakan sarana dan prasarana usaha pasar tradisional melalui koperasi pasar yang sudah ada. dan hanya sebagian kecil penyebab kemunduran koperasi yang bersumber dari pengaruh luar (eksternal). Dengan demikian koperasi pasar yang memperoleh bantuan dana bergulir untuk membangun pasar tradisional akan melakukan kegiatan usaha dan organisasinya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan para anggotanya. akan merugikan para pedagang. melalui penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir untuk pembangunan pasar 89 . Dukungan partisipasi anggota koperasi pasar (sebagai pedagang).

juga agar koperasi memiliki daya tahan dan daya saing untuk melakukan aktivitas.1 Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. kabupaten/kota. Penyempurnaan konsep final hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. 1. Menyiapkan panduan dan kuesioner pengumpulan data dari pengurus koperasi. sehingga koperasi pasar tradisional selain mampu melakukan program dengan baik. Oleh karenanya selain pemanfaatan fasilitas tersebut. Memilih lokasi pelaksanaan survey terhadap pembina koperasi propinsi. 1. Melakukan pengumpulan data dan informasi lapang. 6). Terwujudnya peningkatan peran serta anggota koperasi dan UKM secara aktif dalam membangun kemandirian koperasi yang tangguh secara berkelanjutan. Merumuskan indikator kajian penetaan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. Untuk mendukung program yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. 4). belum menjamin kelangsungan koperasi untuk memenuhi harapan di atas. 1. 2). Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1). untuk mengelola pasar tradisional. Terwujudnya peningkatan kinerja koperasi pasar sehingga pengelola pasar tradisional semakin baik dalam memberikan pelayanan kepada anggota dan UKM yang berusaha dalam pasar tradisional dimaksud. Melakukan pembahasan konsep kajian untuk penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. usaha yang sehat dan pengurus yang memiliki dedikasi yang tinggi. lembaga koperasi harus memiliki kelembagaan yang baik.2 Sasaran Sasaran kajian adalah: 1). maka penulis melakukan Kajian pada tahun 2007 mengenai Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan dana bergulir pengembangan Pasar Tradisional. Terwujudnya Lembaga Koperasi Pasar yang baik.JURNAL VOLUME 4 . dan pengurus koperasi. 5). 3). 90 . 4). terutama menjalankan usahanya dalam memberikan pelayanan terhadap anggota. tetapi juga dalam aktivitas managemen koperasi. sehingga partisipasi anggota koperasi tidak hanya pada aktivitas usaha saja. 2). Terwujudnya peningkatan nilai manfaat dan nilai tambah bagi anggota koperasi dan UKM melalui peningkatan aktivitas usaha dan organisasi koperasi secara terbuka dan demokratif.AGUSTUS 2009 : 88-115 tradisional. 3).3 Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan adalah penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional.

b). pendekatan partisipatif. Undang-undang dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan koperasi. seperti tertuang dalam UU Republik Indonesia. Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan usaha berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju. Data dan informasi kelengkapan organisasi dan tatalaksana koperasi. Data dan informasi dari pengurus koperasi. dari sejumlah responden yang memungkinkan dapat mewakili pembina koperasi pengelola pasar tradisional. d). Perumusan jatidiri koperasi menurut ICA di Manchaster (ICA Cooperative Identity Statement/ICS) tahun 1995. Tinjauan Teoritis 2. Dengan model analisis ini. Jenis dan Sumber Data Sesuai dengan lingkup kajian dan tujuan yang ingin dicapai. maka kegiatan ini menghimpun beberapa macam data dan informasi. Data dan informasi dari pembina koperasi propinsi dan kabupaten/kota. e).4 Metodologi Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah penelitian lapang dengan metode Analisis Deskriptif. Koperasi adalah perkumpulan otonomi dari orangorang yang berhimpun secara sukarela untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi. f). dalam melakukan kegiatannya berdasarkan pada prinsip koperasi. antara lain mencakup: a). Data Data dan informasi yang dihimpun digali dari berbagai sumber. Diskusi ini dilakukan untuk memperoleh data yang representatif. Informasi pengawasan anggota dalam RAT.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 1. terdiri dari: 1. sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. 91 . c). Nomor 25 Tahun 1��2. Definisi Koperasi. Informasi dari instansi terkait dan litetatur yang relevan. Tentang Perkoperasian. adil dan makmur dalam tata perekonomian nasional. 2. II. pembahasan hasil analisa dapat dilakukan secara komprehensif dan selanjutnya menyusun ruang lingkup wilayah dan pendataan. di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupatan/kota. Wilayah Kajian Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar analisis dilakukan diskusi dengan pembina koperasi. meliputi: 1.1 Pemahaman Koperasi Koperasi sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang ha atau badan hukum koperasi.

2 Ciri-ciri Koperasi Indonesia Indonesia termasuk salah satu negara yang menerbitkan perundang-undangan yang khusus mengatur koperasi. Partisipasi ekonomi anggota. bila dibandingkan dengan prinsip koperasi yang berlaku secara internasional berdasarkan rumusan kongres ICA di Manchaster 1995. 2). Perbedaan itu antara lain: a. 4). Muenker menyatakan adanya ciri-ciri khusus koperasi sebagai organisasi usaha. prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a). pelatihan dan informasi. Pengelolaan dilakukan secara demokratis. melainkan diberi tugas melayani anggotanya. c). yang terdiri dari 7 (tujuh) butir yang dituangkan dalam 2 ayat. Pengendalian oleh anggota secara demokratis. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. 2. 3. 7). Ketujuh butir prinsip koperasi Indonesia di atas. Adanya orang yang menjalin 92 . Prinsip-prinsip (sebagai penjabaran nilai-nilai). Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa masing-masing anggota. Koperasi dibentuk bukan untuk mengejar keuntungan bagi perusahaan koperasi sendiri. Undang-undang ndangan (UU) yang berlaku saat ini adalah UU RI Nomor 25 Tahun 1992. Kepedulian terhadap komunitas. d). demokratis. tanggung jawab sendiri. g). 5). Keanggotaan sukarela dan Keanggotaan sukarela dan terbuka. yaitu: 1). Kemandrian. e). perusahaan koperasi diukur dari kemampuannya memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangga para anggotanya. yaitu: 1). 2. Otonomi dan kebebasan.JURNAL VOLUME 4 . tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain.3 Ciri-ciri Organisasi Koperasi Koperasi. keterbukaan. Ciri-ciri koperasi Indonesia secara umum dituangkan dalam pasal 2. 3. Nilai-nilai. b). 3). Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. 6). b. kejujuran.AGUSTUS 2009 : 88-115 2. persamaan. pada dasarnya hampir sama (identik) walaupun dalam penerapannya terdapat perbedaan tetapi tidak signifikan. dan 5 menetapkan prinsip koperasi Indonesia. 4. Koperasi memiliki nilai-nilai menolong diri sendiri. Pendidikan perkoperasian. agar anggotanya meraih keuntungan yang lebih baik. Hans H. Tentang perkoperasian. Kerjasama antar koperasi. merupakan bentuk perusahaan yang unik berbeda dengan bentuk perusahaan kapitalistik pada umumnya. f). Keberhasilan perusahaan kapitalistik diukur dari kemampuan meraih laba. Pendidikan. Kerjasama diantara koperasi.

Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi pada koperasi. maka pemilik perusahaan kapitalistik tidak identik dengan pelanggannya.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) hubungan antara sesamanya atas dasar sekurang-kurangnya satu kepentingan ekonomi yang sama. Optimal mengandung maksud bahwa sumber daya koperasi dikelola secara efisien dan efektif. yaitu untuk menghasilkan manfaat yang dapat digunakan oleh anggotanya dalam upaya meningkatkan kegiatan ekonominya. (b) Pengurus. Adanya suatu perusahaan yang didirikan. 3). 2. Managemen koperasi dapat diartikan dalam dua pendekatan yaitu. 579).4 Konsep Managemen Koperasi Managemen koperasi adalah proses mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia. Proses. pengorganisasian pelaksanaan dan pengendalian. 2). Oleh sebab itu. melalui tahap perencanaan. dibiayai. yaitu menunjuk kepada orang/ kelompok orang dan yang kedua pendekatan proses. berarti managemen koperasi merupakan serangkaian kegiatan yang teratur. Satu anggota satu hak suara tanpa melihat besar kecilnya kontribusi modal masing-masing. dan diawasi secara bersama sama sebagai sarana untuk mencapai sasaran bersama bagi para anggota. pertama pendekatan kebudayaaan. 3). yaitu pelaksanaan proses managemen itu sendiri (Caska 2003. Sebagai perbandingan. Adanya dorongan (motivasi) untuk mengorganisasikan diri di dalam kelompok dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. dalam koperasi berlaku prinsip-prinsip: 1). maka hilang pula ciri perusahaannya sebagai anggota koperasi. Managemen koperasi bersifat terbuka (tentunya terhadap anggotanya) serta dilengkapi dengan prinsip-prinsip koperasi. Managemen sebagai institusi menggambarkan orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas organisasi. material dan keuangan koperasi untuk mencapai tujuan koperasi yang ditetapkan. melalui usaha-usaha bersama atas dasar swadaya dan saling tolong menolong. Ketiganya dalam organisasi koperasi memiliki tugas mengembangkan kerjasama sehingga membentuk suatu kelompok pengelola. Untuk menjalankan fungsifungsi dari perangkat organisasi koperasi (rapat anggota. Apabila identitas ganda dari anggota koperasi tersebut hilang. The term management refers to the institution and to the function (Helmut Wagner 1994. pengurus dan 93 . Menurut UU Nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 21 menyatakan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari (a) Rapat Anggota. 2). Status khusus tersebut merupakan identitas koperasi dimana anggota memiliki identitas ganda atau prinsip ganda anggota (dual identity). 51). (c) Pengawas. sedangkan managemen sebagai fungsi berarti keseluruhan tugas/fungsi yang harus dijalankan dalam rangka menjamin keberhasilan organisasi dalam jangka panjang.

informasi. industri kerajinan. Buku Simpanan Anggota dan Buku Inventaris. Buku Daftar Anggota memuat nomor urut anggota. Ketidakmampuan usaha kecil. Hal ini karena kita masih kurang menyadari. Pengurus. controling. Buku Agenda.5 Konsepsi Penataan Kelembagaan Program bantuan perkuatan yang disalurkan Kementerian Negara Koperasi dan UKM selama ini. masih kurang memperhatikan unsur kelembagaan sebagai faktor penting untuk menjamin keberhasilan dan kelangsungan pembangunan. leading. Dalam penyelenggaraan administrasi organisasi koperasi. jenis kelamin. Instansi Terkait. Dengan demikian. Manajer dan Karyawan.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 88-115 pengawas). tidak seperti halnya modal dan teknologi (Soetrisno. 1989). bahwa kelembagaan adalah faktor strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi terutama di sektor pertanian. koperasi melaksanakan pembukuan/akuntansi koperasi secara tertib lengkap dan akurat sesuai norma pembukuan/akuntasi yang ditentukan. Oleh sebab itu. 2. pengembangan kelembagaan pada hakikatnya ditujukan agar dapat mendukung kemampuan pengusaha kecil dan koperasi melalui: 1). Misalnya menurut Griffin (1990. Banyak pakar berpendapat bahwa fungsi managemen sangat bervariasi. Buku Saran Anggota dan Saran Pengawas. nama lengkap. penataan kelembagaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mengembangkan usaha. menengah. Dalam penyelenggaraan administrasi usaha dan keuangan. bisnis ritel karena sifatnya yang padat karya dan lingkup usahanya yang relatif luas. and decisison making. Pengawas. dan sekaligus mampu menyerap berbagai masukan yang diperlukan bagi pertumbuhan lembaga yang bersangkutan. Selain itu juga harus ada buku-buku antara lain: Keputusan Rapat Anggota. Pertumbuhan kelembagaan harus diarahkan agar dapat mengimbangi gejolak. dalam bidang ekonomi. 8) menyebutkan bahwa fungsi managemen meliputi planning. yang relatif belum berkembang. Kelembagaan merupakan unsur esensial yang tidak bisa dijiplak mentah-mentah atau dipinjam dari luar. dan pasar. ada 16 (enam belas) buku yang dianjurkan untuk dimiliki oleh koperasi yaitu: Buku Daftar: Anggota. mata pencaharian. Buku Catatan Kejadian Penting. 94 . cap ibu jari anggota dan atau tanda tangan anggota. umur. Notulen Rapat Pengurus dan Rapat Pengawas. tanggal masuk menjadi anggota. Saran/Anjuran Pejabat. teknologi. khususnya pemberdayaan UMKM. organizing. dan koperasi untuk mengikuti gerak pembangunan ekonomi terutama disebabkan adanya kelemahan akses mereka di bidang permodalan. secara bertahap dan harmonis harus dilakukan berdasarkan koordinasi fungsi managemen. alamat. Buku Tamu. mampu mengantisipasi berbagai perubahan sosial.

Pembenahan masalah sindikasi perdagangan nasional dan internasional yang memungkinkan para pengusaha kecil dan koperasi dapat eksis di dalamnya. Kecenderungan penerapan model indikatif pada umumnya akan lebih diwarnai oleh peningkatan produksi dan rata-rata pendapatan. supaya peluang koperasi menjadi lembaga penyangga pemberdayaan usaha para pengusaha kecil. Banyak masalah pembangunan ekonorni muncul karena terkait dengan batas jurisdiksi. Demikian juga dalam perencanaan indikatif kelembagaan sering dilihat sebagai faktor eksogen. adat. material. a) Batas juridiksi yang menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam sistem serta menyangkut batas otoritas dan kekuasaan. Untuk itu perlu disepakati terlebih dahulu bahwa karakteristik yang tercakup dalam kelembagaan adalah mengacu pada optimalitas pengalokasian sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam hal ini. Akibatnya pembangunan kelembagaan jadi tertinggal. Pernantapan peran koperasi untuk mampu menjadi lembaga alternatif bagi pengembangan kemampuan para pengusaha kecil. 5). karenanya tidak dimasukan sebagai faktor strategis dalam kalkulus perencanaan. Namun bagaimana pendefinisian kelembagaan itu secara tegas masih sukar dan kompleks karena sangat ditentukan oleh asumsi dan pendekatan yang digunakan. secara positif dan normatif menjadi sangat besar. 4). Pentingnya kelembagaan dianggap sebagai faktor endogen dalam pembangunan tidak diragukan lagi. mungkin perlu diperhatikan pendapat Pakpahan (1990) yang memberikan batasan bahwa kelembagaan adalah ”suatu sistem organisasi yang dapat mengontrol sumber daya”. modal serta institusi dari para pengusaha kecil dan koperasi. Ciri ini mengacu pada kepastian masalah hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum. 2). Seperti telah diuraikan dimuka. 3).Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Penciptaan iklim usaha berpihak kepada mereka yang merupakan bagian terbesar dari ekonomi rakyat. sehingga fungsi institusi sebagai pengatur alokasi sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan mengalami kegagalan dan dapat menimbulkan kesenjangan. b) Hak-hak properti. tidak selalu sinkron dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. dalam jangka waktu pendek untuk mencapai sasaran antara. dan atau konsensus. Dalam kondisi ekonomi yang diwarnai kesenjangan. Kejelasan hak properti dalam kelembagaan 95 . Model perencanaan indikatif yang mengandalkan prestasi sektoral sebagai performa pembangunan ekonomi. Pengembangan potensi SDM. Tertinggalnya faktor kelembagaan dibandingkan dengan laju perubahan teknologi sedikit banyak ditentukan oleh model perencanaan. peran kelembagaan harus diperhitungkan sebagai faktor endogen. kelembagaan mempunyai karakteristik antara lain. Pembenahan kondisi struktural agar lebih kondusif bagi pengembangan para pengusaha kecil dan koperasi.

Termasuk di dalam analisis kelembagaan adalah bentuk-bentuk organisasi (badan hukum). tetapi bukan berarti dibangunnya berbagai organisasi/lembaga di perdesaan dapat menjawab masalah kelembagaan.1 Persyaratan Pasar Tradisional.AGUSTUS 2009 : 88-115 adalah sebagai sumber kekuatan partisipan pembangunan dalam mengembangkan akses dan pengontrolan lalu lintas dan alokasi sumber daya.JURNAL VOLUME 4 . organisasi yang terbentuk bukan merupakan suatu sistem yang utuh sehingga tidak memiliki kriteria sebagai kelembagaan yang tangguh. Akibatnya mereka banyak menemui kesulitan untuk melibatkan diri ke dalam sistem kelembagaan ekonomi masyarakat sehingga mereka terlepas dari jangkauan atau jaringan fasilitas dan kebijaksanaan pemerintah yang sebenarnya tertuju kepada mereka. dan kebijakan pembangunan serta lainya yang dianggap penting. Kebijakan Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Melalui Koperasi 3. Dalam struktur dunia usaha yang sangat dinamis tidak memungkinkan kelompok pengusaha kecil untuk secara sendiri-sendiri mampu tumbuh dan berkembang. c) Aturan reprensentasi yang dapat memastikan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam setiap proses pengambilan keputusan. Karakteristik lainnya adalah. Koperasi dan Pedagang Calon Penerima Bantuan Dana Bergulir 1. Dari uraian di atas dapatlah kita nyatakan bahwa kelembagaan itu sangat berdimensi normatif di samping dimensi positif. pranata sosial (sosial budaya). Pasar tradisional yang sedang atau akan dikembangkan diprakarsai oleh koperasi atau prakarsa Pemda dengan 96 . Umumnya mereka tidak terorganisir dan kalaupun mereka membentuk sindikasi. Refleksi kelembagaan dengan sendirinya sangat luas dan beragam. Selarna ketiga karakterisitik di atas belum menjiwai lembaga yang dibentuk maka kelembagaan dimaksud tidak akan efektif terutama dalam fungsinya sebagai unsur pengatur alokasi sumber daya dan pemerataan hasil pembangunan. III. peraturan perundang-undangan. Pasar Sebagai calon penerima perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Hal ini dapat dikategorikan pada perangkat lunak dan keras. mencakup nilai (baik buruknya dan benar salahnya).

Pasar tradisional yang akan dikembangkan memiliki jumlah pedagang anggota koperasi paling sedikit 30 (tiga puluh) orang. pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional serta pengembalian dana bergulir secara tepat jumlah dan waktu. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memliki pola kepemilikan atau pemanfaatan kios dan los yang memberikan kepastian tempat berusaha bagi pedagang dalam jangka panjang. penentuan harga. 97 . Mempunyai anggota sebagai pedagang minimal 30 orang. c. c.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) melibatkan koperasi. Pasar tradisional yang akan dikembangkan harus didukung oleh Pemda setempat. h. Telah berbadan hukum paling sedikit 1 (satu) tahun dan berkedudukan serta berusaha di wilayah pasar tradisional yang akan dikembangkan. b. f. Bersedia memenuhi kewajiban pelaporan secara berkala sesuai format yang ditentukan . Bersedia dan mampu mengelola dana bergulir pengembangan pasar tradisional sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan dibuktikan dengan surat pernyataan serta rekomendasi dari dinas. dan pedagang yang siap menempati kios atau los segera setelah selesai dikembangkan. Mendapat persetujuan dari anggota/pedagang untuk melaksanakan program pengembangan yang dibuktikan dengan berita acara Rapat Anggota atau surat pernyataan. Organisasi. e. g. d. 2. baik dalam perencanaan. Belum pernah mendapat bantuan dana bergulir serupa. sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Pedoman Teknis. managemen dan usaha koperasi dalam kondisi sehat yang dibuktikan dengan pernyataan hasil penilaian dari Dinas. penempatan pedagang maupun pengelolaan. d. Bersedia dan mampu berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan. b. Koperasi Persyaratan koperasi penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a.

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

3.

Anggota Koperasi/Pedagang Kriteria anggota koperasi/pedagang penerima bantuan perkuatan dana bergulir adalah: a. b. c. d. Terdaftar sebagai kewajiban. anggota koperasi, telah memenuhi

Berdomisili dan bertempat tinggal di wilayah kerja koperasi Sanggup dan bersedia mentaati peraturan dan memnuhi persyaratan yang ditetapkan oleh koperasi. Tidak memiliki tunggakan pinjaman pada bank atau lembaga lain.

3.2

Penetapan, pencairan, pemanfaatan dan pengembalian bantuan dana bergulir 1. Penetapan Koperasi Penetapan koperasi calon penerima dana bergulir dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Keuangan kabupaten/kota melalui tahapan sebagai berikut: a. Menerima permohonan dari koperasi calon penerima dana bergulir yang dilampiri dengan identitas diri Pengurus berupa KTP, bukti keanggotaan pada Koperasi dan Berita Acara Pemilihan Pengurus yang diketahui lurah setempat. b. Mengadakan penelitan dan peniliain terhadap pemenuhan persyaratan Koperasi penerima. c. Mengumumkan hasil penelitian dan penilain koperasi calon penerima pada papan Pengumuman di kantor kecamatan tempat kedudukan Koperasi dan pada dinas/instansi kabupaten/kota setempat. d. Menetapkan calon koperasi yang akan disusulkan kepada Menteri paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal pengumuman dengan Surat Keputusan Kepala Dinas yang membidangi pengembangan koperasi dilampiri berita acara hasil penilaian yang ditandatangani paling sedikti oleh 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah anggota Pokja. e. Menyampaikan hasil seleksi calon koperasi penerima dana bergulir Pokja Keuangan Propinsi untuk diteruskan kepada Pokja Keauangan Pusat dan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha.

98

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat)

2.

Tatacara pencairan bantuan Tata cara pencairan bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Menteri menetapkan koperasi penerima bantuan perkuatan dengan memperhatikan usulan koperasi yang disampaikan oleh bupati/walikota setempat. b. Melalui Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Menteri menyampaikan pemberitahuan penetapan sebagaimana dimaksud huruf a kepada koperasi yang bersangkutan melalui Pokja Keuangan kabupaten/kota. c. Koperasi penerima bantuan perkuatan yang telah ditetapkan Menteri, mengajukan permohonan pencairan dan rencana penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir kepada Menteri atau Pokja Keuangan kabupaten/kota atau dinas secara bertingkat. d. Ketua dan bendahara koperasi penerima dana bergulir membuka nomor rekening tabungan di kantor cabang bank terdekat atas nama koperasi yang berfungsi sebagai rekening penampungan koperasi. e. Menteri meneliti kelengkapan permohonan koperasi penerima bantuan perkuatan dan selanjutnya diajukan ke KPKN-I untuk mentransfer dana bantuan perkuatan tersebut ke rekening penampungan masing-masing koperasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam Bidang Keuangan Negara.

3.

Penggunaan Tata cara penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir untuk pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Dana bergulir digunakan oleh koperasi penerima untuk kegiatan sebagai berikut: 1). Pembangunan kios atau los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional; 2). Renovasi kios dan los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional. b. Penggunaan dana dari rekening penampungan koperasi dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dituangkan dalam proposal yang diajukan. c. Jasa yang timbul pada rekening penampungan koperasi sebelum digunakan wajib terlebih dahulu dipindahbukukan oleh koperasi ke rekening perguliran koperasi.

99

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

4.

Penyaluran Tata cara penyaluran dana bergulir dari koperasi kepada anggotanya adalah sebagai berikut: a. Pedagang anggota koperasi mengajukan permohonan pinjaman untuk pembangunan atau renovasi kios atau los kepada koperasi. Pedagang anggota yang memenuhi syarat ketentuan koperasi membuat perjanjian kredit dengan koperasi untuk menentukan jumlah pinjaman, jangka waktu pengembalian dan besarnya jasa pinjaman. Atas dasar permohonan anggotanya, koperasi melaksanakan kegiatan pembangunan atau renovasi pasar tradisional baik dilaksankan sendiri oleh koperasi meupun kerjasama dengan pihak ketiga. Setelah pembangunan atau renovasi pasar selesai, koperasi melaksanakan serah terima kios atau los dengan anggota sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara anggota dan koperasi sebagimana dimaksud butir b).

b.

c.

d.

5.

Pengembalian. Tata cara pengambilan dana bergulir adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Jangka waktu pengembalian dana bergulir koperasi adalah 8 (delapan) tahun. Terhadap dana bergulir sebagaiman huruf a diberlakukan grace period selam 1 (satu) tahun. Koperasi melakukan penagihan pada menyetorkannya kepada Bank setiap bulan. anggota dan

Koperasi mebukukan secara terpisah antara pengembalian dana bergulir dan jasa operasional dari anggota Pengembalian dana bergulir dari anggota disetorkan pada rekening perguliran koperasi, sedangkan jasa/bunga dari anggota disetorkan pada rekening jasa koperasi. Bunga yang timbul pada rekening perguliran koperasi sebelum digulirkan kembali diakumulasikan pada rekening perguliran koperasi. Dana pada rekening perguliran koperasi hanya dapat dicairkan untuk keperluan perguliran kepada koperasi lain dengan ketetapan Menteri.

f.

g.

100

b. Dalam hal anggota membayar uang muka atau DP (down payment) maka besarnya total pokok pinjaman berkurang sebesar uang muka yang dibayarkan. c. Anggota menyetor angsuran pokok dan jasa kepada koperasi melalui unit simpan pinjam koperasi. 101 . Besarnya pokok angsuran per bulan setiap anggota adalah: jumlah total dibagi jumlah bulan angsuran. d. 8. Alokasi pemanfaatan jasa/bunga sebagaimana dimaksud huruf a) diatur sesuai dengan ketentuan di Juknis. Koperasi penerima dana bergulir dikenakan jasa atau bunga menurun sebesar 12% per tahun efektif dari sisa pokok. Pemanfaatan jasa untuk biaya monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud huruf b). Penetapan dan pemanfaatan jasa. Besarnya jasa yang harus dibayarkan anggota setiap bulan adalah 1% dikali sisa pokok pinjaman. f. c. Tata cara Perguliran Dana adalah sebagai berikut: a. Pengembalian Dana Bergulir dari Anggota Tata cara pengembalian dana bergulir dari anggota kepada koperasi penerima dana bergulir adalah sebagai berikut: a.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 6. Jangka waktu pengembalian pinjaman dari anggota selamalamanya 8 (delapan) tahun. g. Pengembalian pokok pinjaman dimulai setelah berakhir masa grace period yaitu bulan ke-13 setelah serah terima kios atau los. Jasa dibayar anggota sejak serah terima kios atau los. e. ditetapkan berdasarkan persetujuan Menteri. b. Dana bergulir pada program ini khusus untuk keperluan pengembangan pasar tradisional oleh koperasi. Tata cara Penetapan dan Pemanfaatan Jasa atas pinjaman diatur sebagai berikut: a. 7. Perguliran Dana.

4.1 Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Dari data sekunder yang diperoleh dari Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha. Dana pada rekening perguliran koperasi penerima dana hanya dapat dicairkan khusus untuk keperluan perguliran kepada koperasi penerima dana berikutnya dengan ketetapan menteri.2 Keragaan Kelembagaan Koperasi Pasar 1. Data hasil kunjungan kepada koperasi pasar penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Proses pemindahbukuan dari rekening perguliran koperasi penerima dana kepada rekening penampungan koperasi penerima berikutnya dilakukan oleh koperasi dengan persetujuan atau contra sign dari bupati/walikota. 102 . Propinsi Nangro Aceh Darussalam. dan kios dan los yang dibangun sudah terbengkalai selama 2 tahun lebih. dapat disampaikan seperti pada tabel 1.AGUSTUS 2009 : 88-115 b. Proses perguliran dari satu koperasi kepada koperasi lainnya ditetapkan oleh menteri atas usulan dari bupati/walikota. namun demikian pasar yang sudah dibangun dengan anggaran APBN tahun 2003 sebesar 1. dengan jumlah dana yang telah direalisasikan sebesar Rp 34.JURNAL VOLUME 4 . e. berada di Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu koperasi pasar yang berkesempatan untuk mengelola bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah melakukan pengembangan pasar tradisional di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupaten/kota serta jumlah koperasi sebanyak 9 (sembilan) koperasi pasar.5 milyar belum disalurkan kepada anggota. sementara Pemda mengharapkan adanya dua (2) jalan tembus menuju pasar. Evaluasi Terhadap Kelembagaan Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional 4.125 miliar. IV. Kabupaten Gayo Lues di Koperasi Pasar Pelita Karya Koperasi Pasar Pelita Karya ini. dan belum ada kepastian kapan akan dibuka pasar tersebut. Perguliran antar koperasi dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu seluruh dana dikembalikan. d. c. Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa jalan masuk ke pasar hanya satu jalan.

Kota Palembang Koperasi Pelita Karya. Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional dari Tahun 2003.3.1. Kuwarasan Ps.2005 No  Propinsi Sulawesi Selatan Nama Koperasi Dan Alamat 1. Kabupaten OKU 2.Alang-Alang Lebar Ps.KUD Waempubbue.Koppas Saka Selabung. Performance kelembagaan koperasi pasar sangat kurang baik. Gw.KUD Tenri Sangkae.000.2005 Tradisional dari Tahun 2003. Muaradua Ps.KSU Tunas Baru. Tanete Ps. Kota Bengkulu Koppas Melati.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tabel 1.000. Kab. Kota Palembang 3.750. Kabupaten Bone 4. karena operasional koperasi belum optimal.750. Kabupasten Bone 1.652. Kutowinarya Ps.PKL Bangun Wijaya.Kop. Jatisari Ps.000.000.10.000.000. Prembun Thn Bantuan 2003 2005 2005 2005 2003 2004 2004 2003 2003 2003 Jlh Dana (Rp.000. Jakabaring Ps. Retno Ps. dan simpanan wajib anggota tidak lancar penagihannya. Palatte Ps.7. Adapun kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional adalah pasar belum beroperasi. hal ini terlihat dari pelaksanaan RAT dua tahun terakhir tidak dilakukan. BMT Tarbiyah. Tumenggung Ps. Songging Ps.000.2.000.000. Kr. Kabupaten Bone 3. sarana mushola dan MCK. Pagar Dewa Ps. Kabupaten Kebumen Lokasi Pasar Ps. demikian pula usaha yang jalan hanya simpan pinjam yang tidak ditunjang dengan sistem administrasi dan pembukuan yang baik. Anyar Ps. sehingga usaha koperasi belum berjalan terutama usaha pertokoan. 000) 982.1. Pompanua Ps.500. Walaupun memiliki pengurus yang lengkap dan mempunyai 103  . serta pembelian tanah untuk jalan ke lokasi pasar dan tanah pembangunan gedung pasar telah diupayakan oleh Pemda.000.500.000.7. Gayo Lues Kop. Centong Blangkerejen Ps.KUD Mandiri Puncak.000.- Ket 2 Sumatera Selatan 3 4 5 NAD Bengkulu Jawa Tengah Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) kepada koperasi dalam pengembangan pasar tradisional berupa bantuan los dan kios.500. Kabupaten Sinjai 2.KUD Telumpoccoe.

023. dan modal sendiri dua tahun terakhir juga meningkat yaitu dari Rp. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional ini..000. tetapi telah melaksanakan RAT tepat waktu pada 2 tahun terakhir.086. Kondisi koperasi Pasar Pelita Karya lebih rinci dapat terlihat pada tabel 2. tetapi tidak mendukung jalannya usaha koperasi. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi koperasi sebagai berikut. pengawas dan karyawan sudah lengkap dan menjalankan tugas dengan baik. dengan dana sebesar 3 (tiga) miliar rupiah. berkedudukan di Kota Bengkulu.-. 2. pengurus. namun terjadi penurunan simpanan wajib anggota. 119.28. karena minimnya sarana penunjang pasar seperti sarana transportasi dan lain sebagainya. Buku-buku organisasi lengkap.dan modal luar jangka panjang tetap yaitu sebesar 3 (tiga) miliar rupiah.menjadi Rp. selama dua tahun tidak ada perubahan jumlah anggota yaitu sebanyak 87 Orang. namur angsuran pengembalian belum berjalan sebagaimana mestinya. karena tidak memiliki buku-buku organisasi sebagaimana layaknya koperasi yang ditentukan dalam penetapan koperasi yang boleh dapat bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. adalah kebijakan Pemda kota Bengkulu memfungsikan pasar belum menyentuh apa yang diharapkan oleh koperasi selaku pengelola pasar dan pedagang. Penyaluran kios sudah dilakukan kepada anggota.menjadi Rp. Koperasi ini.000. Kota Bengkulu di Koperasi Pasar Pagar Dewa Koperasi Pasar Pagar Dewa ini. 104 .000.. Adapun keragaan koperasi Pasar Pagar Dewa seperti terlihat pada tabel 3. 56. demikian pula pengerjaan buku-buku adminstrasi usaha baik dan tertib.000. Usaha koperasi yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perdagangan.AGUSTUS 2009 : 88-115 karyawan sebanyak 3 orang.135.. dikerjakan dengan baik dan tertib. 22. Dilain pihak modal luar jangka pendek menurun dari Rp.688. kinerjanya cukup baik dilihat dari organisasi dan usaha yang dilaklukan. Propinsi Bengkulu. Propinsi Bengkulu yang mengelola program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisonal pada tahun 2003. Buku-buku administrasi usaha lengkap. tetapi simpanan pokok dan simpanan sukarela meningkat.JURNAL VOLUME 4 . demikian pula pemanfaatan kios dan los yang dibangun belum maksimal. karena penjualan kios dilakukan oleh Dinas Pasar Kota Bengkulu dan hasil penjualan juga belum diserahkan kepada koperasi sebagai pengelola dana bergulir.

Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Tabel 2. tugas dgn baik Ada Ada tidak Ada Tidak Ada Tidak lengkap Kurang Baik Tabelaris Betul Ada.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pelita Karya Kec. melaks. tugas dgn baik 3 Org. 2005 =216 ORG Thn 2004 dan thn 2005 tdk ada 3 Org. kurang lancar Ada.5 jt. Administrasi Organisasi. Keragaan Organisasi. 2004 = 120 Org. VI VII 105 2 .Kab.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 2. thn 2005 = 0 jt Thn 2004= 0 jt. tugas dgn baik 3 Org. Keragaan Organisasi.Gayo Lues Thn. thn 2005 = 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V.Buku-buku besar . Blangkejeren. jt.Buku kas harian . Administrasi Organisasi.Buku-buku Bantu . thn 2005 = 40.Buku kas tabelaris .Bendel bukti KM-KK . jt Thn 2004= 18. melaks. Administrasi Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan/Perdagangan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . thn 2005 = 5. jt Thn 2004= 0 jt. thn 2005 = 21. jt Thn 2004= 2. jt. tidak jalan Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Thn 2004= 12.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . melaks.

Keragaan organisasi dan usaha sebagai berikut. usahanya pun tidak berjalan dan tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi bagaimana seharusnya. Keragaan organisasi dan Usaha koperasi adalah sebagai berikut. serta belum melaksanakan RAT dua tahun berturut-turut. di Kota Palembang. modal dan perolehan SHU meningkat. Koperasi BMT Tarbiyah. 7 milyar. Sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir walaupun waktunya kurang tepat. dan tertib dilakukan. dan penambahan anggota dari tahun 2004–2005 meningkat kurang lebih 500 Orang. Koperasi Serba Usaha Tunas Baru. Bukubuku administrasi ada. Kabupaten OKU dan Kota Palembang sebanyak tiga ( 3) Koperasi 1) Koperasi Pasar Saka Selabung di Kabupaten OKU. Propinsi Sumatera Selatan. namun pengelolaan pasar tradisional belum berjalan seperti yang diharapkan. di Kota Palembang menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2004. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik.6 milyar. sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir tepat waktu sesuai ketentuan.AGUSTUS 2009 : 88-115 3. 2) 3) 106 . Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. koperasi memiliki anggota sebanyak 50 orang dan tidak ada penambahan anggota selama dua tahun terahir. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar dikelola dan disalurkan lepada anggota dengan tertib. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib.JURNAL VOLUME 4 . perkembangan modal dan perolehan SHU cukup baik.7. dengan dana sebesar Rp 10 milyar. dengan dana sebesar Rp. dan dikerjakan cukup tertib. Buku-buku administrasi lengkap. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional pada tahun 2003 dengan anggaran sebesar Rp. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional pada tahun 2004. namun perkembangan anggota tidak ada yaitu 99 Orang.

5 jt. Administrasi Tabel 3.Buku kas harian .Buku kas tabelaris . jt Thn 2004= 56.Bendel bukti KM-KK . thn 2005 = 119.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . tugas dgn baik 8 Org.135 jt Thn 2004= 3 m. melaks. tugas dgn baik 3 Org. thn 2005 = 1. Jln Raden Patah Thn. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Administrasi Manajerial Tertib ada ada II 1 2 3 4 III 1 2 3 IV 1 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Thn 2004= 1.981 jt Thn 2004= 53. 2005 = 87 Org 14-02-2005 dan 13-03-2006 3 Org.9 31jt.698 jt Thn 2004= 18. melaks.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 3.453 jt. Keragaan Organisasi. thn 2005 = 22. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 NO I 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .Buku-buku besar . melaks. Keragaan Organisasi.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pagar Dewa. thn 2005 = 3 m 2 V VI VII 107 .688 jt.023 jt. AdministrasiI Organisasi.086 jt Thn 2004= 28. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.Buku-buku Bantu . thn 2005 = 40. 2004 =87 Org danThn. thn 2005 = 52.

340. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 4.505 jt 2004/5=1. yaitu belum berfungsinya operasional pasar secara maksimal. Penentuan lokasi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) dan pendirian bangunan tidak dikenakan biaya.396 jt./110.740 jt/ 1. melaks.AGUSTUS 2009 : 88-115 Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan usaha koperasi pasar tradisional.000 3.Maraduo 2004/5 = 50 Org/ 50 Org tidak ada data 5 Org./3.dan kantor serta fasilitas umum. / 2.637.823 jt.835jt 2004/5=16. tgs dgn baik 24Org./ 4. Plg Kop. / 3./ 0 jt 2004/5= 0 jt. dan rencana proposal bantuan dana bergulir. Plg KSU Tunas Baru Jln HM Ryakudu.837 m 2004/5=10. tgs dgn baik 3 Org.Buku-buku besar . melaks. melaks.Buku kas tabelaris -Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .207 jt.Laba Usaha Peng. Pr SakaSelabung Kec.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi BMT Tarbiah Tlg./=7. melaks.750 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 m. antara lain./ 0 jt 2004/5= 2./ 0 jt 2004/5=0. tgs dgn baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap 2004/5 = 99 Org/= 99 Org 2004/5=1541 Org/2052 Org 30-04-2005/29-04-2006 24-08-2005/31-01-2006 5 Org.123 m 108 ./ = 0 m V 2004/5= 0 jt. dan Penyediaan lahan pembangunan pasar. tgs dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Manual Betul/Tertib Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Tabelaris Tertib 692. Tabel 4. Keragaan Organisasi. Administrasi Usaha Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 Tahun 2006 Di Propinsi Sumatera Selatan NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tg jawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Usaha Pengolahan Pasar . tgs dgn baik 3 Org. Administrasi Organisasi.185 jt II  2 3 4 III  IV  2 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=2.Betutu./=29. melaks. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tabel 4. tgs dgn baik 3 Org./91.235 jt/19.249 jt. tgs dgn baik 81Org.902 m. dan Jumlah transportasi belum memadai.350 jt 2004/5=0.Buku-buku Bantu . Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .825jt. Administrasi Organisasi. tgs dgn baik 3 Org.406 M 2004/5= 7.JURNAL VOLUME 4 ./10.256 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=2.850 jt 2004/5=4./0./=2.312 jt 2004/5= 3.Buku kas harian .509 jt 2004/5=72.Bendel bukti KM-KK .029 jt Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=8.500 jt. Keragaan Organisasi.607 jt.750 jt 2004/5= 0 jt. melaks. melaks.680jt.500jt. Dilain pihak kendala yang dihadapi pengurus untuk pengembangan koperasi pasar. memberikan akses dan dukungan terhadap sumber pembiayaan melalui perbankan dan non bank.melaks.310m.

Bone menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. tetapi perkembangan anggota tidak ada tetap sebanyak 518 Orang.Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.750 juta. Buku-buku administrasi dan keuangan lengkap dan dikerjakan dengan tertib. maka KUD ini digolongkan sebagai Koperasi Pasar. Kab. Koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi secara tertib. Pedagang sebagai penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang disalurkan oleh KUD tidak seluruhnya anggota koperasi. 2). dengan dana sebesar Rp.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. Usaha yang dilakukan adalah unit usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan. namun demikian sampai pada saat dilakukan kunjungan kelokasi. KUD Waepubbue. Sudah melakukan RAT pada tahun buku 2 tahun terakhir dengan tepat waktu. 1). dan tidak ada penambahan anggota tetap sebanyak 158 Orang. 982. 3). Kab. Tidak tersedia 109 . Tidak jelas penyebabnya. pelayanan usaha simpan pinjam yang dilakukan lebih banyak kepada non anggota. namun demikian.Juta. Walaupun perolehan sisa hasil usaha meningkat. namun demikian volume usahanya sangat kecil. Kabupaten Sinjai menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003. pasar dimaksud belum dibangun. KUD Tenrisangkae Kab. KUD Puncak.750. namun tidak demikian dengan perkembangan simpanan anggota. namun yang melakukan pengelolaan dengan baik baru satu koperasi yaitu KUD Puncak. Bone ada 3 Koperasi Pengelola dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional di propinsi Sulawesi Selatan ada 3 Koperasi Unit Desa (KUD). Propinsi Sulawesi Selatan.Telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. dengan dana sebesar Rp. KUD ini belum melaksanakan RAT pada 2 tahun terakhir. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. Sinjai dan Kab. dengan dana sebesar Rp. Usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perkembangan simpanan anggota tidak ada.5 juta. Unit usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan pertokoan. Bone. Kabupaten Sinjai.

2. 529. Permasalahan yang dihadapi pengurus koperasi pasar adalah karena belum dikeluarkan petunjuk dari Menteri Negara Koperasi 110 .000. sehingga penagihan cicilan masih belum dilaksanakan terhadap anggota. Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir. administrasi usaha dilakukan dengan sistim buku kas tabelaris dan sistim akuntansi dan memiliki buku-buku lengkap serta dikerjakan dengan baik. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi seprti berikut.. dan pengelolaan program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional telah dilakukan dengan baik.625. Dilain pihak perkembangan modal luar meningkat khususnya modal jangka pendek. adanya pertumbuhan anggota. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 5. pengawas. Pembagian tugas dan wewenang pengurus. Kabupaten Kebumen menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003. 5.000.298. antara lain: status anggota masih lebih banyak calon anggota.AGUSTUS 2009 : 88-115 data-data organisasi dan usaha. Pemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi organisasi lengkap dan tertib dilaksanakan. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional. telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. memiliki pengurus. dan status tanah pengembangan pasar masih mempunyai masalah. Propinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen di Koperasi Pasar Melati Koperasi Pasar Melati. sedangkan modal jangka panjang tidak ada. Unit usaha yang dilaksanakan koperasi adalah simpan pinjam dengan volumen usaha sebesar Rp.500. walaupun simpanan pokok dan simpanan wajib peningkatan dalam dua tahun terakhir sangat kecil. Perkembangan modal sendiri meningkat melalui pemupukan modal yang bersumber dari anggota. demikian pula rencana kerja. masyarakat ada yang menuntut hak miliknya. sehingga belum mengetahui mengenai hak dan kewajibannya.500 juta. dengan demikian disimpulkan koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan administrasi pembukuan sebagaimana seharusnya.JURNAL VOLUME 4 . dengan dana sebesar Rp. dan karyawan lengkap serta melaksanakan tugs dengan baik.dan usaha pasar dengan volumen usahasebesar Rp.2. bahkan simpanan sukarela tidak ada. pengawas dan karyawan ada.

968. tgs dgn baik 3 Org. 5 Keragaan Organisasi.Buku kas harian .000 599. Administrasi Organisasi.Dana Bergulir dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Administrasi Usaha dan Pasar Tradisional Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 II  2 3 4 III  2 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Adminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistim Pembukuan SP Volume Usaha : . melaks.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) dan UKM.Bendel bukti KM-KK .052.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang KUD Puncak.607jt/64.Non Anggota .Laba Usaha Administrasi Usaha Sistem buku tabelaris .052. melaks.300.727 jt 2004/5= 61. tgs dgn baik 5 Org.750.Untuk Anggota .515.000 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt IV  2 V VI VII  . jt 2004/5=114.024jt / 50.607jt /61. melaks.Non Anggota . Tabel.000 1. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. melaks. melaks. melaks.426 jt/5.000 570.607.800 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=5. 5 Keragaan Organisasi.500.Untuk Anggota . tgs dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tidak Tertib 11. Bone 2004/5 = 158 Org/158 Org 05-01-2005/18-02-2006 3 Org. perihal pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Bone 2004/5= tidak ada data tidak ada data 3 Org.Buku-buku Bantu .439.000 Ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=1.Buku-buku besar .800 6.366 363. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. Kab.426 jt 2004/5=41. tugas dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tertib 933.075 jt 2004/5=0. Kab.Laba Usaha Pertokoan .900jt/0.383. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota.900 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5=557.529. Kab. tugas dgn baik 3 Org. Sinjai 2004/5 = 518 Org/518 Org 21-03-2005/20-01-2006 3 Org.000 11.300. tugas dgn baik 9 Org. melaks. jt KUD Waempubbue.075 jt/1.798 jt/41. Administrasi Organisasi.366 36.000 14.383jt/ =14. Administrasi Usaha Tabel.000 1. tgs dgn baik Tidak ada data 4 Org.980jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 10 0 jt / 100 jt KUD Tentri Sangkae.812.798 jt 2004/5=14. pola RAT yang sudah ada kurang tepat untuk dilaksanakan. jt 2004/5=61.Buku kas tabelaris -Buku pendukung Sistem akuntansi . 980 jt/557. melaks. tgs dgn baik Tidak Lengkap Tidak Baik Stndar Akuntansi Tidak Tertib 599.163. dan pembayaran cicilan kios tidak rutin dilakukan anggota.000 17.500.

dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.950 2.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Melati Jl.227. melaks.Buku kas tabelaris . Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . melaks.Laba Usaha Usaha Pengolahan Pasar . AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Tabel 6.Bendel bukti KM-KK .Buku-buku Bantu .Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .944 2. Keragaan Organisasi.AGUSTUS 2009 : 88-115 Tabel 6.678 jt/70. Administrasi Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Volume Usaha : .153 jt 2004/5=13.Dwi Karsa – Kebumen 2004 = 1002 Org dan 2005 = 1033 Org 16-02-2005 dan 16-02-2006 5 Org.500.298. Administrasi Usaha Keragaan Organisasi. AdministrasiI Organisasi.625. tugas dgn baik 3 Org.Laba Usaha Peng.873 jt 2004/5= 0 jt / = 0 jt 2004/5=61. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Betul/Tertib 529.JURNAL VOLUME 4 .297 jt/15.110jt/ 5.260 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V VI VII 112 . tugas dgn baik 7 Org.116 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5= 5.Buku kas harian .000 15.505 10.035 jt /195.538 jt 2004/5= 183.Laba Usaha Usaha Pertokoan/Perdagangan .552.646. melaks.Buku-buku besar .

pengelola supaya menyelenggarakan pembukuan sesuai standar akuntasi keuangan koperasi yang berlaku. dan penyelesaian untuk perbaikan pengelolaan koperasi yang baik dan disertai contoh-contoh konkrit. pengelola dan anggota/kader koperasi. tatalaksana dan administrasi usaha koperasi pasar yang mengajukan permohonan bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. 4. Mengecek kelengkapan buku-buku administrasi koperasi sebagaimana ditetapkan (16 buku) dan menguji ketertiban pelaksanaannya.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. 5. 113 . Mempersiapkan formulir angket isian. Mengecek kebenaran laporan pengurus/pengelola koperasi tentang pengelolaan organisasi dan usaha yang dilaksanakan. 3. Melakukan sosialisasi penataan kelembagaan koperasi kepada calon penerima bantuan perkuatan dana bergulir pasar tradisional terhadap pengurus. 7. Melakukan kunjungan ke koperasi yang terdaftar sebagai calon penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional untuk melakukan evaluasi. maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. sesuai kebutuhan. Mengkroscek keterangan yang disampaikan pengurus. terutama menyangkut adminiatrasi keuangan dan usaha koperasi. pengawas.3 Langkah-Langkah Penataan Tradisional. Memberikan saran-saran pembenahan tata usaha organisasi dan managemen kepada pengurus/pengelola baik kelembagaan maupun usaha koperasi. untuk memperoleh data yang baik. 8. 2. apakah sesuai dengan laporan yang disampaikan kepada Tim. Memberikan saran. untuk mengetahui kelengkapan organisasi. 6. Kelembagaan Koperasi Pasar Untuk perbaikan pelaksanakan penataan kelembagaan koperasi penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang akan datang. Dalam mengelola administrasi usaha koperasi. penjelasan. pengelola dan pengawas dengan keterangan dari anggota tentang kebenaran tertib administrasi dan tertib usaha koperasi.

Pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. 114 . Hal ini terkait dengan kurang tertibnya administrasi organisasi dan usaha serta lemahnya kemampuan SDM koperasi dalam pemahaman administrasi managemen. Meningkatkan kemampuan managerial dan kompetensi SDM koperasi (anggota. Koperasi Pengelola bantuan dana bergulir perlu memiliki sistem administrasi yang lengkap sebagai dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengelola dana publik. Kelembagaan koperasi pasar tradisional sangat perlu didata. 8. 4. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. khususnya pengelola bantuan perkuatan atau sejenisnya. Laporan pertanggungjawaban pengurus belum memenuhi standar pelaporan sebagaimana layaknya. maka dianjurkan koperasi pengelola bantuan dana bergulir pembangunan pasar tradisional agar memiliki buku-buku tersebut di atas. monitoring dan evaluasi secara reguler oleh pejabat pembina koperasi. 7. kondisi kepemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi sangat kurang baik. dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. pendidikan dan latihan. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya.JURNAL VOLUME 4 . Untuk itu perlu diintensifkan pelaksanaan bimbingan konsultasi. Dalam penunjukan/penetapan koperasi pelaksana program. 6. Kegiatan pembinaan ini difokuskan pada 2.AGUSTUS 2009 : 88-115 V. Pengelolaan dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional masih kurang tertib sesuai dengan ketentuan. Badan Pengawas dan Karyawan Koperasi) untuk membangun komitmen. pengurus. diskusi temu usaha. 3. Kesimpulan dan Saran Hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pasar penerima program bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang telah dilaksanakan. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. Pelaksanaan RAT pada beberapa koperasi belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. agar terlebih dahulu dilakukan penataan kelembagaan terhadap koperasi calon pengelola bantuan perkuatan. 5. pada hal RAT adalah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. kapasitas dan tanggung jawabnya terhadap kegiatan koperasi pengelola pasar tradisional sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing dalam managemen koperasi. mengingat dari sampel yang ditinjau diberbagai propinsi. pengendalian.

Jakarta. (2007). Pembinaan Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Kelembagaan Koperasi. Pegadaian Versus Bank Umum (Menilai Profil Yang Potensial Untuk Menjadi Lembaga Perkreditan Rakyat). Peraturan Pemerintah R. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Volume 3 – September 2008. Jakarta.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) peningkatan kemampuan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional.I. (2008). Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Oleh Koperasi. Jakarta. (2000). Soediyono Reksoprayitno. Pedagang kaki Lima : Entrepreneur Yang Terabaikan. Potret Iklim Usaha Pemberdayaan UKMK. KUKM/IV/200��. Infokop No. --------------. Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM. Nomor : 22/PER/M. (2007). ---------------. Tentang Perkoperasian. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 2 Tahun 2007. Jakarta. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Tentang Usaha Mikro. Jakarta. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Halomoan Tamba.I. (2007). (2008). Kajian Pengendalian Anggota pada Koperasi Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Koperasi. (2008). Infokop Volume 15 No. Jakarta. Saudin Sijabat. Saudin Sijabat. Saudin Sijabat. --------------.I. 115 . Ekonomi Makro. R.I. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM R. Nomor : 9 Tahun 1995. BPFE. Jakarta. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2. -------------. Kamus Istilah Pemberdayaan Koperasi dan UKM. 29 Tahun XXII 2006. Analis IS-LM dan PermintaanPenawaran Agregatif.I. (2007).I. Kementerian Kementerian Negara Koperasi dan UKM R. Saudin Sijabat. Jakarta. R. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. (2004.September 2008. Infokop Volume 16 . Jakarta. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Jakarta -------------. Tentang Pedoman Pemeringkatan Koperasi. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Kecil dan Menengah. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Mengah R. Yokyakarta. DAFTAR PUSTAKA Anonim.

promosi pemasaran I. peer review 8 Mei s. informasi pasar. yaitu jenis barang. maupun spesifikasi suatu barang yang diminati masyarakat. Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan informasi pasar. b) partial planning. pasar. posed at from the increasing of profit mean. Penyelenggaraan.1 Latar Belakang Salah satu kendala yang dihadapi oleh UMKM adalah akses pasar. 8 �uni 200�.JURNAL VOLUME 4 . pemasaran. Promotion affect positively to 1) Improvement of profit and omset of MSMEs.. Artikel diterima 18 Mei 200�. kualitas. Informasi pasar disatu sisi berupa informasi tentang barang-barang hasil produksi UMKM dan kebutuhan atau kecenderungan pasar. b) to know problems faced and dominant factors which are influencing the effective product marketing promotion of MSMEs. kuantitas. Result of four activities (as ranked) 1) Trading Board 2) Meeting Business. product marketing promotion. c) the lack of location information with the product especially related to product demand and goods to be promoted and also. 4). 3) Exhibition and 4) Mission Trade. 2) The labor absorption improvement. untuk itu perlu dibangun sistem pemasaran bagi UMKM yang lebih baik. and also c) to know most efficient and effective promotion program to support development of MSMEs. *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Penelitian UKM tahun 200��. Some problems which often arise and lessen effective promotion is: a) the minim of socialization. 3) Improvement of production technology. review terakhir �� �uli 200� Kabid. d) time management with product demand fluctuation. having the character of quadratic to improvement of omset. Untuk memenuhi permintaan pasar dan selera pasar serta menghadapi persaingan global menuntut inovasi dan kreatifitas para pelaku usaha termasuk dalam aspek teknologi.d. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian) Eks Pegawai Asdep Urusan Penelitian UKM sebagai Pemerhati KUKM 116 . PENDAHULUAN 1. System management improvement.AGUSTUS 2009 : 116-139 KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)*) Indra Idris**) dan Sri Lestari***) Abstract Study aim to: a) to measure the impact of MSMEs.

pemerintah dan pihak-pihak lainnya. Dampak lebih lanjut yang diharapkan adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran. dengan perincian 76 kali di dalam negeri dan 51 kali di luar negeri. iklan reklame dan lain-lain yang bersifat parsial. Adanya permasalahan internal UMKM serta perkembangan lingkungan dan teknologi yang demikian cepat menyebabkan UMKM belum mampu mengakses informasi pasar. Pelaksanaan kegiatan promosi pemasaran produk UMKM memang telah dilaksanakan baik oleh pemerintah. tetapi frekuensinya belum mencukupi. penyebaran brosur dan leaflet.864 unit usaha. Pengembangan sistem informasi untuk UMKM selama satu dekade terakhir ini memang sudah dilaksanakan baik oleh UMKM sendiri. pemasangan spanduk. Disamping promosi secara individual UMKM juga melaksanakan kegiatan promosi pemasaran lainnya seperti iklan di media masa. bila tidak ingin tergilas atau lenyap sama sekali dalam pertarungan pasar. Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) diketahui bahwa antara tahun 2001 sampai dengan bulan Agustus tahun 2007. 117 . Jumlah UMKM yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut mencapai 2. tetapi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah jenis UMKM dan jumlah jenis barang yang diproduksi oleh UMKM. Dari data Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). dan pihak-pihak pihak lainnya sebanyak 127 kali. Kegiatan promosi pemasaran diharapkan dapat mendorong UMKM meningkatkan efesiensi dan produktifitas. serta meningkatkan kemampuan dalam memperbaiki kualitas teknologi dan managemen usahanya. Perlu komitmen berbagai pihak untuk memberdayakannya terutama meningkatkan akses pasar melalui peningkatan akses informasi dan teknologi bagi UMKM. terutama dalam berbagai bentuk promosi produk UMKM.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Persaingan pasar yang semakin terbuka menuntut semua pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku bisnis yang terjadi. UMKM sendiri. telah dilakukan promosi pemasaran oleh Instansi pemerintah. dibandingkan dengan jumlah dan jenis produk UMKM. Bentuk promosi invidual ini cenderung memiliki jangkauan pasar yang relatif sempit (tingkat daerah dan nasional saja). Kegiatan promosi yang dilakukan oleh UMKM sendiri ruang lingkupnya sangat terbatas. Program promosi pemasaran produk UMKM pada intinya adalah ditujukan untuk memperkenalkan produk UMKM kepasaran nasional dan internasional. sedangkan program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah jumlahnya relatif masih sedikit. Frekuensi keikutsertaan UMKM tersebut relatif besar.478 orang dari 1. maupun para stakeholder lainnya.

maka diperlukan kajian eksploratif evaluatif untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut 1. 1. Jika terjadi kenaikan produksi dan omset UMKM. 118 . 2) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran produk UMKM.2 Tujuan Kajian Kajian ini bertujuan untuk: 1) Mengukur dampak kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dalam berbagai bentuk.AGUSTUS 2009 : 116-139 Sejalan dengan uraian di atas. baik yang dilaksanakan di dalam maupun di luar negeri. 3) Mengetahui bentuk program promosi yang paling efektif dan efisien dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang diindikasi dari peningkatan omset dan laba UMKM. laba. 2) Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. Apakah program promosi dalam berbagai bentuk ditingkat nasional maupun internasional tersebut telah memberikan dampak nyata (signifikan) terhadap peningkatan produksi dan pangsa pasar UMKM? 2. penyerapan tenaga. Apa saja faktor kunci yang menentukan tingkat keberhasilan program promosi pemasaran UMKM ? 1.JURNAL VOLUME 4 . Apa permasalahan yang dihadapi dalam upaya meninglkatan efektifitas berbagai kegiatan promosi yang telah dan yang bisa dilakukan? 4. UMKM sendiri maupun pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya? 3. 3) Mendapatkan solusi pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi serta menetapkan dan mengembangkan bentuk promosi pemasaran yang efektif. terhadap peningkatan omset. perbaikan teknologi serta pengembangan sistem managemen usaha UMKM.3 Sasaran Kajian Sasaran Kajian ini adalah: 1) Mengetahui tingkat pengaruh promosi pemasaran UMKM terhadap perluasan pangsa produk UMKM. serta. apakah itu karena adanya promosi yang diprakarsai dan dilakukan baik oleh pemerintah.

peluang pasar. UMKM harus dapat memilih bentuk promosi yang memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. Pengertian promosi adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk memperkenalkan UMKM dan produknya kepada konsumen. Hal tersebut berdampak meningkatnya tabungan (saving) guna mendukung upaya perluasan skala usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. trading board. KERANGKA PEMIKIRAN 2. selera konsumen atas barang tersebut. harga. misi dagang dan temu bisnis. Untuk memperoleh hasil yang maksimal. 119 . Untuk tujuan tersebut produsen harus mengalokasikan sejumlah sumberdaya yang jumlahnya cukup besar. Keempat aspek ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran. tempat atau lokasi dan promosi produk. yang mengutamakan relasi dan kesinambungan pasar. trent atau mode serta faktor-faktor eksternal lainnya. maka promosi harus dilakukan secara profesional. barang substitusi dan komplementer. jenis barang yang akan dipasarkan. Penjualan langsung ini umumnya kurang menguntungkan karena laba yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.1 Kerangka Dasar Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. Dengan dikenalnya produk UMKM diharapkan dapat meningkatkan volume usaha sehingga pada akhirnya meningkatkan laba. Dari keempat unsur tersebut promosi merupakan unsur terakhir yang dianggap memiliki posisi strategis sebagai faktor kunci yang menghubungkan atau memperkenalkan produk yang dihasilkan UMKM kepada konsumen atau pasar. Kebiasaan ini menandakan bahwa UMKM masih terobsesi pada kesempatan pameran lokal yang menjadi ajang penjualan langsung. Beberapa faktor yang harus diperhitungkan oleh UMKM sebagai produsen menurut Harry (1968) adalah kelayakan penggunaan dana. dengan tujuan utama untuk memperoleh pembeli (buyers). pesaing. Menurut Ramlan (2001) dalam pameran/festival terbuka peluang bagi UMKM untuk menjual produknya secara langsung juga terbuka.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) II. Beberapa kegiatan promosi yang paling banyak dilakukan oleh UMKM dan para stakeholder adalah berupa pameran. Teori ekonomi menjelaskan bahwa konsep pemasaran meliputi 4 unsur pendukung yaitu produk. dan belum berorientasi sistem bisnis modern. Beberapa hasil pengamatan empiris seperti yang dilakukan poleh Wachidin (2002) dan Sujito (2001) menunjukkan bahwa pada kesempatan pameran UMKM lebih cenderung menjual produknya secara retail.

Atas pertimbangan tersebut di atas maka untuk mendukung pertumbuhan bisnis UMKM. Ruang lingkup promosi hanya terbatas diantara produsen dengan beberapa buyer saja. Kementerian Negara Koperasi dan UMKM merencanakan dan telah melaksanakan berbagai program promosi bagi UMKM berupa misi dagang. menyangkut semua aspek perdagangan dan kebijakan pemerintah yang mendukung kelancaran perdagangan. 120 . 2. dan menuntut pengetahuan luas dari produsen dan buyer tentang barang dan managemen pemasarannya. yang diproduksi oleh UMKM. dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada gambar 1. Secara skematis hubungan antar keterkaitan faktor penentu. UMKM skala usaha kecil menuju menengah di sektor industri kerajinan yang sering mengikuti kegiatan promosi. Pembangunan dan penyelenggaraan promosi ini hanya mungkin dilaksanakan oleh pemerintah. memerlukan biaya besar. Temu bisnis juga merupakan kegiatan yang cukup luas. Sebagai misal yang telah dilakukan oleh pemerintah China dan pemerintah Vietnam di Afrika Barat dan beberapa negara Arab. Keikutsertaan mereka dalam kegiatan promosi pemasaran yang bersifat terkoordinir tersebut juga dikarenakan apabila mereka melakukan promosi secara mandiri tidak memiliki pengetahuan dan biaya yang cukup besar. atau para pengusaha kelas menengah dan besar. temu bisnis. trading house. sehingga sulit dilakukan. Dampaknya sangat besar karena pembelian biasanya dilakukan dalam bentuk partai besar dan jangka waktu yang relatif panjang. Misi dagang Misi dagang umumnya hanya melibatkan para pengusaha menengah dan besar. pameran/exhibition dan lainnya. Promosi tersebut memang diperlukan UMKM untuk menarik konsumen dari daerah yang sudah menggunakan produk sejenis.AGUSTUS 2009 : 116-139 Temu bisnis atau misi dagang pada dasarnya juga merupakan media yang bertujuan untuk mempromosikan produk kepada buyer/ pasar.2 Kerangka Operasional Kajian ini difokuskan untuk melihat seberapa besar dampak dari pelaksanaan promosi terhadap perluasan pasar yang berdampak pada peningkatan omset UMKM.JURNAL VOLUME 4 . Biasanya dalam misi dagang dilaksanakan dalam ruang lingkup yang sangat luas. Sujito (2001) mengemukakan bahwa berdasarkan pengamatannya. Djauhari (2006) mengatakan bahwa disamping bentuk promosi di atas yang telah pernah dilakukan oleh UMKM. ada wacana untuk membangun trading house dan bussines center di beberapa negara konsumen.

92 17.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Dari gambar 1 dapat dikemukakan bahwa keberhasilan kegiatan promosi pemasaran ditentukan oleh banyak faktor antara lain kondisi internal UMKM.5 63.85 121 53.70 47.3 Variabel Analisis A.00 42.2 7.55 37.39 30.15 70. biaya promosi lokasi atau tempat promosi. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan (%) Faktor Penentukan Keberhasilan Beberapa unsur yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program promosi pemasaran dalam kajian Pameran Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board ini diasumsikan menjadi faktor kunci (keyKnaikan Knaikan analisis factor).30 28. 3. lama waktu penyelenggaran. Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset.81 53. Propinsi Jateng D.4  . kualitas produk.8 14.26 11. Tabel 1.68 14.Y.7 10. Jatim Rata-rata /Propinsi 48. ProduktifitasProduktifitas dan Pendapatan UKM peningkatan dan Pendapatan UKM 2. prosedur dan keikutsertaan dalam promosi.05 59.16 28.5 62. KaitanKaitan Dampak Pameran terhadap peningkatanpeningkatan Gambar 1.15 65.46 61.5 64.I. Omset.4 41. 2.98 54.1 8. Dalam Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah faktor akan unsur-unsur tersebut akan menjadi variabel bebas yang Omset Omset Omset Omset Pembeli Pembeli Pembeli ( %) %) ( %) ( %) dapat ditentukanPembeli signifikansi pengaruhnya (dengan (menggunakan %) ( %) ( %) ( %) 40. jenis produk yang ingin dipromosikan.85 10. PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO KEGIATAN PROMOSI Peningkatas Kualitas Produk Dan SDM Perluasan Pasar Produk UMKMK Inovasi Teknologi Peningkatan Omset Peningkatan Pendapatan /Laba Pertambahan Investasi Perbaikan Produktifitas Gambar 1. jumlah pesaing dan kondisi persaingan.88 50.27 Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM No 1.18 35.9 39. frekuensi keikutsertaan dalam promosi.5 43. penyelenggara promosi.41 13.

3) Peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja. 3. 3). 8) Lama waktu penyelenggaran. Analisis kuantitatif menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan matematik antara lain: 122 . 3.3 Metoda Analisis Kajian ini menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. Biaya promosi. 5) Peningkatan kualitas managemen usaha.Yogyakarta. dan Jawa Timur.AGUSTUS 2009 : 116-139 model-model kualitatif maupun kuantitatif (matematis). 6). 7) Lokasi atau tempat.1 Ruang Lingkup Substansi Kajian Ruang lingkup kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM b). 4). baik dari penjualan langsung (untuk promosi dalam bentuk pameran) dan barang yang terjual sesudah dilaksanakannya kegiatan promosi (pemesanan). 10) Kualitas barang produk.2 Metoda Pengumpulan Data Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda survey terbatas. 5). Analisis kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi ideal dan kondisi riil di lapang. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan acak terbatas (purposive random sampling).JURNAL VOLUME 4 . 9) Prosedur dan keikutsertaan. B. Penyelenggara pameran. 11) Jumlah pesaing dan kondisi persaingan. III. D I. Selain itu kajian dilaksanakan di tiga propinsi contoh yaitu Jawa Tengah. Dampak keberhasilan pelaksanaan promosi Dampak yang dikaji dengan keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran yaitu: 1) Peningkatan omset. Adapun data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait dan berbagai referensi. 2) Jenis produk yang ingin di pamerkan/pasarkan. 4) Peningkatan teknologi produksi. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari responden sample. Frekuensi keikutsertaan dalam kegiatan promosi pemasaran. 2) Peningkatan laba. 3) Menetapkan faktorfaktor dominan yang mempengaruhi efektifitas program promosi pemasaran produk UMKM. Bentuk promosi. yaitu terdiri dari: 1) Kondisi internal UMKM. Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas modelmodel promosi pemasaran produk UMKM. METODA KAJIAN DAN ANALISIS 3.

Perluasan Pasar Produk UMKM. baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan program promosi UKMK yaitu: Kondisi internal UMKM=X1. 123 . Jenis produk yang ingin di pamerkan/ pasarkan=X2. Adapun model dasar yang digunakan adalah: Y = a + Bx + e Y = Peubah tetap yaitu kinerja/indikator keberhasilan pameran dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang terdiri dari. 3) Oleh karena adanya dugaan bahwa ada pengaruh silang antar tiap peubah bebas (independet variable) terhadap kinerja peubah tetap (dependent variable) maka akan digunakan model analisis regresi berjenjang (step wise analisys). dimana: K = Kelayakan keikutsertaan UMKM. Tema promosi= X5. dan X= Peubah bebas (independent variable). Lama waktu penyelenggaran=X8. yang ditujukan untuk menentukan kelayakan keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan promosi. E=Galat (error). Frekuensi Keikutsertaan=X3. Adapun peubah bebas terdiri dari beberapa faktor-faktor yang diduga berpengaruh. Biaya promosi= X6. UMKM dinilai tidak layak untuk ikut promosi Manfaat yang diperoleh berupa kenaikan laba UMKM dari keikutsertaannya dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) Biaya yang dikeluarkan oleh UMKM untuk ikut serta dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) M = B = 2) Regresi linier berganda (multy variety analisys) untuk menentukan ada tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent terhadap dependent variable. Lokasi atau tempat=X7. B=Koefisien regresi. Prosedur Prosedur keikutsertaan dalam promosi=X9. Jumlah pesaing dan kondisi persaingan=X11. bila K > 1 dinilai layak. Adapun model dasar yang digunakan adalah K = M/B. sedangkan bila K < 1. Y1 = Y2 = Yang mana A=Intersep (constanta). Peningkatan teknologi produksi. Kualitas barang=X10.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 1) Analisa ekonomi sederhana berupa model analisa biaya manfaat (benefid cost ratio). Penyelenggara promosi= X4.

dan Jumlah Peserta Hasil kajian di propinsi Jawa Tengah.94 juta unit usaha. Frekwensi . Jenis. D.6 kali per tahun. tiap propinsi contoh rata-rata telah mengirim UMKM ikut dalam program promosi sebanyak 14. Sedangkan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta adalah temu bisnis.2 per propinsi per tahun.1 Penyelenggaraan Promosi Pemasaran 4. Jumlah ini menurut mereka sudah cukup memadai. Yogyakarta dan Jawa Timar.1.AGUSTUS 2009 : 116-139 Untuk menguji ada tidaknya pengaruh.JURNAL VOLUME 4 . Pelaksanaan.I. Bentuk promosi yang relatif banyak menyerap peserta adalah pameran. serta seberapa besar pengaruh dari independent variable terhadap dependent variable akan digunakan Uji t (t test). kualitas produk dan orientasi pasar. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh berjenjang antar dependent variable akan digunakan step wise analisys dengan Uji a (alpha test). penggunaan teknologi.6 orang per tahun. Jumlah peserta yang diikutkan sebanyak 312.082 orang. dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73 orang. misi dagang dan kontak dagang. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS 4.1. Hasil pengamatan menyimpulkan bahwa rendahnya jumlah penyelenggaraan promosi dan keikutsertaan UMKM dalam 124 . Berikutnya adalah trading board sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta. Temu bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang. diikuti dengan trading board. atau 104. Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan program Statistical Analisys System (SAS) dengan uji t dan Uji a sampai dengan tingkat kepercayaan (level of significant) 90%.yang diperkirakan mencapai 8. Frekuensi keikutsertaan. Nampaknya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada di ketiga propinsi contoh. 4) Model analisis komparatif. digunakan untuk menjawab indikator dampak kegiatan promosi pemasaran terhadap peningkatan Kualitas SDM yang diindikasikan dari perubahan pola pikir produsen baik dalam hal managemen. IV. dengan tingkat kepercayaan 90 %. dengan frekuensi kegiatan selama lima tahun terakhir sebanyak 29 kali dan peserta 1. menunjukkan bahwa bentuk promosi pemasaran yang paling banyak diikuti UMKM adalah pameran.

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari)

kegiatan tersebut adalah disebabkan adanya berbagai kendala antara lain: a) Keterbatasan dana dan SDM, baik dikalangan stakeholder (terutama pemerintah), maupun dikalangan UMKM sendiri; b) Terbatasnya kepedulian dan komitmen dari kalangan yang berkepentingan langsung dengan kegiatan tersebut dan; c) Kurangnya inisiatif UMKM sendiri untuk melakukan promosi pemasaran. 4.1.2. Keikutsertaan UMKM dalam Kegiatan Promosi Menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 yaitu sebagian besar UMKM bergerak di sektor industri kerajinan, dengan peserta sebanyak 833 orang (53,23%), pertambangan/penggalian sebanyak 353 orang (22,56%), dan pariwisata 302 orang (19,29%). Sedangkan UMKM yang bergerak di sektor lainnya sangat sedikit, yaitu hanya 84 orang (5,47%), Dari aspek skala usaha, dari 1.565 orang yang ikut dalam kegiatan promosi pemasaran pertanian terdiri dari 171 orang (10,93%) tergolong usaha mikro, 922 orang (58,91%) tergolong usaha kecil dan 472 orang (30,16%) tergolong kelompok usaha menengah. Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi juga dipengaruhi oleh: a) Faktor penyelenggara (pusat, internasional, lokal); b) Tempat, lama/waktu penyelenggaraan promosi, jarak tempat promosi dengan produsen; c) Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang; d) Besar biaya dan atau ketersedian dan sumberdana dari penyelenggara serta; e) Inisiatif dan atau kepedulian dari stakeholder. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas penyelenggaraan promosi antara lain; a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. 4.1.3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Dilihat dari tempat dan waktu penyelenggaraan promosi pemasaran ditunjukkan bahwa: (a) Dari 73 kali keikutsertaan UMKM di ketiga propinsi contoh dalam kegiatan promosi

125

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 116-139

selama lima tahun tahun terakhir, 14 kali di laksanakan di luar negeri (pameran, misi dagang dan temu bisnis), 59 kali ditingkat nasional dan tingkat propinsi, (b) Rata-rata waktu penyelenggaraan promosi berbeda-beda sesuai bentuk promosi dan tempat promosi pemasaran, dengan rincian sebagai berikut: misi dagang waktu efektif 3,43 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, temu bisnis waktu efektif 4 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, Pameran di luar negeri waktu efektif 11,33 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan dan pulang, pameran di tingkat nasional waktu efektif 11 hari termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang Dibandingkan dengan temuan Sujito (1997), waktu yang disediakan untuk berbagai bentuk kegiatan promosi ini relatif cukup dan kendalanya adalah waktu untuk mempersiapkan pameran. Dari hasil kajian menyatakan bahwa 36,6% responden memerlukan waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan keikutsertaaan mereka dalam kegiatan promosi, 63,4% responden memerlukan waktu sekitar satu sampai tiga bulan untuk mempersiapkan pameran, namun waktu yang diberikan oleh penyelenggara biasanya hanya sekitar dua minggu sampai dengan satu bulan. Dengan sempitnya waktu tersebut biasanya calon peserta menghadapi masalah dalam mempersiapkan modal, bahan baku, dan sebagainya. 4.1.4. Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kajian mengenai penyelenggara dan biaya promosi kegiatan promosi pemasaran yang diikuti UMKM selama 5 tahun terakhir di 3 Propinsi contoh adalah sebagai berikut: a. Penyelenggara atau pemrakarsa kegiatan promosi, terbanyak (43 kali atau 58,90%) adalah pemerintah, pusat maupun daerah, kelompok swasta/asossiasi perdagangan/komoditi sebanyak 7 kali atau 9,58%, dan dari negara-negara lain baik swasta maupun pemerintahnya sebanya 13 kali atau 30,23% . b. Besarnya biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan. Komponen biaya promosi di luar modal kerja yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dipamerkan adalah: a) Sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) Biaya pengepakan; d) Biaya pengangkutan dan biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran).

126

PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA

FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI

LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) KEGIATAN (Indra Idris dan Sri Lestari) PROMOSI

Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di luar negeri biaya yang dikeluarkan untuk ikut dalam kegiatan tersebut rataPeningkatas rata Rp 21,67 juta (misi dagang), Rp 23,33Inovasi juta (temu bisnis), Perluasan Pasar Kualitas Produk yang mana Produk UMKMK Teknologi 75,4% dibebankan pada pelaku usaha dan sisanya Dan SDM 24,6% ditanggung oleh penyelenggara atau stakeholder. Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di dalam negeri, (umumnya pameran), biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp 3,6 juta Peningkatan Omset sampai dengan Rp 4,2 juta, dengan rata-rata sebesar Rp 3,9 juta, yang mana rata-rata biaya yang dikeluarkan (sharing) UMKM Peningkatan Pendapatan untuk promosi di dalam negeri (pameran) adalah 70,2% dari /Laba total biaya promosi, kekurangannya yang 39,8% ditanggung oleh penyelenggara.
Pertambahan Investasi Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa biaya promosi yang harus ditanggung oleh UMKM relatif mahal. Hal tersebut menyebabkan UMKM terutama kelompok pengusaha Perbaikan mikro dan pengusaha kecil, tidak mampu ikut promosi. Produktifitas Gambar

4.2

Dampak Promosi Terhadap Peningkatan Jumlah Pembeli UMKM
1.

diikuti UMKM contoh di 3 Propinsi terhadap peningkatan jumlah pembeli dan omset UMKM seperti ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaranterhadap peningkatan (%) (%) Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM
Pameran Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 48,5 40,9 62,5 39,5 64,5 43,4 63,4 41,26 Misi Dagang Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 11,92 30,88 17,85 50,46 10,41 61,70 13,39 47,68 Temu Bisnis Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 14,1 14,16 8,2 28,00 7,7 42,30 10,8 28,15 Trading Board Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 65,05 35,15 59,55 70,81 37,98 53,85 54,18 53,27

Kaitan Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset, peningkatan Produktifitas dan Pendapatanpemasaran yang pernah Dampak berbagai bentuk promosi UKM

No 1. 2. 3.

Propinsi Jateng D.I.Y. Jatim Rata-rata /Propinsi

4.2.1

Dampak Promosi dalam Bentuk Pameran 

Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan pameran, yaitu terjadi peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 63,4% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 41,26% pada UMKM setelah mengikuti kegiatan promosi pemasaran dalam bentuk pameran, yang mana UMKM Jawa Timur mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 64,5% dan 43,4% .

127

Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119.2.85% dan 50.6 juta per tahun (28.39% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 47. yaitu: terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 13. 4. terlihat bahwa tambahan omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran mencapai Rp 46. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 10.39% lebih rendah dari peningkatan jumlah pembeli dampak pameran (63. untuk jangka waktu tertentu.2.15% pada UMKM setelah mengikuti temu bisnis.JURNAL VOLUME 4 . UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 14. 2) Pembelian melalui pemesanan produk yang dipromosikan. Misi dagang/kontak dagang memberikan dampak peningkatan jumlah pembeli 13.1%.2 juta.4%) tapi memberikan dampak peningkatan omset lebih tinggi 47.I. atau meningkat sebesar Rp 33.2 Dampak Misi Dagang /Kontak Dagang Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan misi dagang/kontak dagang.8 juta menjadi Rp 158.3 Dampak Temu Bisnis Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan temu bisnis. UMKM D.04%).68% pada UMKM setelah mengikuti misi dagang/kontak dagang. yang berdampak pada peningkatan produksi. peningkatan omset-nya 128 . nilai jual (omset) dan bermuara peningkatan laba UMKM. yaitu sewaktu dilaksanakannya pameran yang mana jumlah pembeli mencapai ratarata 103 orang per propinsi. Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 17.46%.68% dibanding pameran 41.26% dan temu bisnis (28. Dari aspek peningkatan omset.15%) Besarnya dampak misi dagang terhadap peningkatan omset terutama dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk yang dipromosikan dalam jumlah tertentu.8% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 28. Sedangkan keberhasilan pameran ditunjukkan dari keberhasilan peningkatan permintaan dalam jangka panjang.1 juta per UKM.AGUSTUS 2009 : 116-139 Kenaikan jumlah pembeli dapat dihitung dari peningkatan: 1) Pembelian langsung. 4.

2. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. 4. Peningkatan tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. a) Harga penjualan menjadi lebih rendah.8 kali lebih besar dari pertambahan jumlah pembeli.I.30%. Persentase pertambahan omset ternyata 2.I. hal ini dimungkinkan karena trading board umumnya memiliki jangkauan daerah yang cukup luas. UMKM D.05%. Kenaikan jumlah pembeli ini relatif cukup signifikan. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) hanya 14.77%. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.15%.3 Dampak Promosi Pemasaran Terhadap Laba UMKM. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 54. a) Harga pembelian menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan.4 Dampak Trading Board Dari tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan trading board. peningkatan omset-nya paling tinggi mencapai 70.14% dari sebelum mengikuti kegiatan promosi pemasaran. Dan Penyerapan Tenaga Kerja Dampak promosi pemasaran pada tabel 2 menunjukan rata-rata meningkatkan laba 44.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 29. Di sini terlihat bahwa pertambahan jumlah pembeli tidak linier dengan pertambahan omset. Yogyakarta jumlah pembelinya meningkat 59. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. UMKM D. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 65. UMKM Jawa Timur jumlah pembelinya hanya meningkat 7.16%.81%. peningkatan omset-nya hanya 35. Terlihat bahwa pertambahan rata-rata jumlah pembeli linier dengan pertambahan omset.27% pada UMKM setelah mengikuti trading board. Yogyakarta dari pertambahan jumlah pembeli membuat peningkatan omset tertinggi. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar.7%.18% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 53. Persentase pertambahan omset UMKM Jawa Tengah hanya meningkatkan omset separuhnya. peningkatan omset-nya paling tinggi yaitu mencapai 42. yaitu 129 . 4.

I.76 34.77 1.08 16.18 35.50 PROPINSI 1) Dampak pameran yang pernah diikuti UMKM di 3 propinsi Tabel 3.JURNAL VOLUME 4 .73 % dari laba UMKM Managemen Usaha sebelumTeknologi mengikuti pameran. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Dampak Terhadap Jawa Timur.73 2.55 1.74 42.18% 0.70 18. Peningkatan penyerapan tenaga kerja Managemen Usaha ter tinggi dicapai oleh UMKM D.39 39. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.47 0. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 20. Adapun dampak dari masing-masing jenis promosi pemasaran dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 2.90% dan 2. yaitu meningkatkanTeknologi dan sebesar 60.27 10.63% dan meningkatkan contoh rata-rata meningkatkan terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen 30.73 43.12 Tenaga Laba Kerja 31. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.05 2.13 7.15 43. yaitu laba UMKM 5.87 kerja tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Tengah.22 penyerapan tenaga 1.67 35.37 20.04 2.21 11.14 Propinsi Tenaga Laba Kerja 25.15% dibanding sebelum mengikuti 1.88 meningkatkan 1.I.52 51.68 sebesar6.98 0.53% dari sebelum mengikuti temu bisnis. Dampak Promosi Pemasaran laba 43.94 20. Peningkatan Peningkatan 2) Dampak misi dagang/kontak dagang yang telah diikuti UMKM Skor Persen Skor Persen di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 58.10 3) Dampak temu bisnis yang diikuti UMKM di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 43.88 1.80 40.30 17.31 62.54 35.90 Tenaga Laba Kerja 46. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan dan Tabel 2.70 44.06 29.63 Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board Rataan Tenaga Kerja 28.33 0.76 1.72 31.14% dari sebelum mengikuti promosi pemasaran.23 51.17 mengikuti misi dagang.19 0.21 kegiatan misi dagang/kontak dagang.99 35.88 30.73 2.96 2.66 33.98 meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 35.29 2.44 21. Yogyakarta meningkat 35.50 Tenaga Laba Kerja 11.AGUSTUS 2009 : 116-139 meningkatkan laba UMKM sebesar 51.11 43.46% dan penyerapan tenaga kerja 29.29 61. Yogya Jawa Timur Rata-rata 39.01 61.17 30.48 28.60 1.52 28.46 31.65 penyerapan tenaga kerja 46. yaitu meningkatkan Awal Sesudah Awal Sesudah Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 130 2 .11 5.53 32.99% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.08 41.72 60.35 0. Adapun peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM Yogyakarta.54% penyerapan tenaga kerja sebesar Usaha dari sebelum mengikuti pameran.29 42.35 31.24 62. 2.06 0.11 53.18 8.89 0.54 58.21 10. Peningkatan laba dan0.29% (Nilai skor) (Nilai skor) dibanding sebelum mengikuti pameran.16 30.63 meningkatkan dan 5. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan Tenaga Kerja Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Pameran Laba Jawa Tengah D.11% dari sebelum 2.

44 21.31 2.35 2.29 Peningkatan kemampuan managemen usaha.24 62.21 Propinsi Rataan PROPINSI Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 1.55 Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.17 1.96 2.33 1.66 20.98 6. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Tabel 3.73 5. Penyerapan Tenaga Kerja yaitu meningkatkan penyerapan tenaga kerja 31.87 5.06 2.88 1.72 31. Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board 4.14 penilaian 32.70% dari sebelum mengikuti trading board.37 Persen 10.35 16.70 hasil kajian 43.54 58.23 51.76 34.37 poin dibandingkan dengan waktu sebelum dilaksanakan program promosi yang hanya mencapai 2 131 .94 Jawa Timur dengan menggunakan metoda 43.30 0.06 kajian dikuantifkan 60.63 30.52 D. 28.29 31. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba dan peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM D.98 2.22 0. dalam 28. yaitu terjadi peningkatan nilai skor rata-rata sebesar 0. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.88 b) Kedua 30.70 35.76 2.11 53. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen Usaha Teknologi Dan Managemen Usaha Dampak Terhadap Teknologi dan Managemen Usaha Teknologi Managemen Usaha (Nilai skor) (Nilai skor) Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.39 39.04 10.54 28.29 42. ditunjukkan pada tabel 3.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) penyerapan tenaga kerja 31.08 41.52 51.65 11. Data44.72 61.16 produksi. Adapun Tabel 2.4 Dampak Non Finansial Pameran Dampak non finansial dari keikutsertaan UMKM dalam kegiatan Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Laba Laba Laba Laba Laba Kerja Kerja Kerja Kerja Kerja promosi pemasaran adalah terdiri dari: a) Peningkatan teknologi 25.21 0.74 1. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.68 1.10 Dari tabel 3 terlihat bahwa keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran berdampak pada: 1) Pengembangan teknologi yang digunakan. Tabel 3.12 31. nilai skor dampak promosi terhadap pengembangan teknologi produksi termasuk dalam kategori sedang (2.19 2.05 1.67 35. 35.77 61.89 2.73 5.01 2. Yogya variabel tetap yang bersifat kualitatif ini.60 8.18 46.53 (skoring).13 0.48 Jawa Tengah 39.17 42.18 0.33). 4) Dampak trading board yang telah diikuti UMKM di 3 propinsi contoh meningkatkan laba rata-rata 32.50 29.47 7.27 1.11 Rata-rata lapang yang sudah diubah dalam bentuk kuantitatif tersebut.15 43.50 20.46 30.90 35.90% dibanding sebelum mengikuti kegiatan trading board.11 0.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.73 31.I.63 0.80 40.I Yogyakarta. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.21 Persen 17.08 11.12% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 31.99 18.88 33.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan promosi trading board.

2 43.28 29.2 113.5 Kelayakan Penyelenggaraan Promosi Hasil analisas kelayakan kegiatan promosi pemasaran dilihat dari aspek finansial dan non finansial (tabel 4) memperlihatkan: ) Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek finansial UMKM.46 Ratio Pening kata omset/biaya 4.54 34.05 Biaya Promosi 12. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 2) Dari aspek omset usaha.37 12.55 9.12 58.28 2.26 Peningk. atau per tahun lima tahun Tenaga Managemen Tekno Jumlah rata Kerja logi mencapai Rp 36.14 157.36 178.27 43. Peningk.852 5.21 12.06 2.01 2.10 ( kategori sedang).8 119.58 26. bagi UMKM yang memiliki ratio tambahan laba perbandingan cost dan benefid ratio (B/C rasio) kurang dari satu kegiatan promosi dinilai kurang layak. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran .35 2.27 1.63 43.027 5.5 73.31 2.98 6.853 16.93 729.96 (kategori kurang).33 Perbaikan managemen 2. terutama laba dan omset.16 75.8 61.4 357. laba/biaya 1.452 2.23 29.30 13.24 34.32 30.17 25.322 5.4 118. bagi kelompok UMKM yang ikut Produk UMKM Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi dalam promosi ditentukan oleh angka perbandingan antara pertambahan Dampak Promosi omset usaha dengan biaya promosi. Karena besarnya ratarata biaya promosi maka secara parsial. maupun kumulatif 180.51 19.39 10.28 41.06 32.11 24.21 Pameran rasio41.85 184.8 juta. Hasil pengamatan memperlihatkan rata-rata UMKM yang mengikuti kegiatan promosi pemasaran diketiga propinsi contoh secara agregat semua layak untuk mengikuti kegiatan tersebut karena B/C rationya rata-rata mencapai 2.36 30.88 41.73 21.20 6.27 37.342 Rasio peningk.42 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Tabel 5. Oleh*) karena UMKM yang turut Bentuk dalam kegiatan promosi pemasaran mengalami kenaikan rata-rata Pening Tambahan Peningk.15 Trading Board 53.47 17.30 121.88 70.55 Rata-rata 42.53 35.I.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.92 117.9 49.87 132 Jumlah 170. 4.59 44. maka baik secara parsial.19 124. Nilai skor sistem managemen usaha meningkat rata-rata 0.15.21 39. 2) Pengembangan sistem managemen usaha.69 26.7 juta.88 26.52 31. Tabel 4 Tabel 4 . Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan oleh kondisi usaha UMKM sendiri.19 2.90 13. Laba 24.19 30.JURNAL VOLUME 4 .55 rata-rata mencapai Temu Bisnis 47.70 6.26 biaya terhadap peningkatan omset-nya10.61 227.17 136. Peningk.04 77.18 30.83 54.47 7.54 20.4 183.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen .10 PROPINSI Omset Laba Jateng D.48 182.AGUSTUS 2009 : 116-139 nilai skors 1.97 2. terjadi perbaikan sistem managemen usaha diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem managemen usaha dikalangan UMKM yang telah mengikuti kegiatan promosi pemasaran.15 Manfaat Non Finansial Perbaikan Teknologi 2.52 58.49 11. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kelayakan Finansial Pening katan Omset 60.32 28. Ratakatan omsetOmset selama Laba Pembeli sebesar Rp 183.68 Misi Dagang 28.89 (kategori kurang) menjadi 2.1% yaitu dari 1.21 poin atau 11. Promosi Peningk.

Biaya Pening Perbaikan Perbaikan katan peningk.31 61.19 atau nilai rata-rata 37. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi Tabel pemasaran Produk UMKM Produk UMKM Dampak Promosi *) Bentuk Promosi Peningk. Dengan nilai sebesar ini kegiatan promosi pemasaran dinilai sangat layak untuk dilakukan oleh UMKM.10 dagang dengan nilai bobot 157.46 5.24 5.83 54. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 5.4 357.27%.322 2.48 182.4 41.61 atau rata-rata 26.19 dengan nilai bobot 49. b) Peningkatan omset setelah dilakukannya promosi dalam bentuk trading board mencapai 53. Nilai bobot Kelayakan Finansial Manfaat Non Finansial mengindikasikan bahwa sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran Ratio Pening memiliki nilai tambah dari berbagai aspek Rasio pengamatan sebesar 30.27% dari jumlah omset sebelumnya.53 35. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran PROPINSI Omset Jateng D.73 12.47 17.90 Pening katan Pembeli 58.23 29.9 43.63 43. ranking ke 2.49 rata-rata16.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti Keterangan: kegiatan promosi dalam satuan persen *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen 1) Trading Board Trading board memiliki dampak yang signifikan kesemua aspek penilaian. b) Biaya promosi yang relatif rendah.6 Tingkat Keberhasilan Dari Tiap Bentuk Promosi Tabel 4 .32 28.52 13.87%. Managemen 6.19 atau rata60.88 Peningk.37 12.8 124.85 Jumlah 180.55 4.05 11.17 136.90% dan.28 2.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.88 70.20 adalah pameran dengan tiga nilai bobot 180.68 28.61 227.19 29.8 119.69%. Tabel5. Omset 41.28 75.36 178.55 26.04 77.11 Peningk.12 43.27 Peningk.30 121.87%.87 Pameran Temu Bisnis Misi Dagang Trading Board Jumlah 170.5 39.92 117.69 26.47 1.01 6. ranking ke empat adalah misi 183.21 24.342 2.39%.21 24.15 53.16 13.32 30.853 2.I.42 25.93 729.452 7. b) Peningkatan laba dengan mencapai 58.28 9.26 41.39%.21 12.36 184.54 34.36 atau 34.19 Ratarata 30. Peningk. Laba Laba Promosi Teknologi managemen kata Adapun urutan (ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut: ranking Omset laba/biaya omset/biaya pertama adalah trading board dengan nilai bobot 227.98 184.4 118. serta c) Jenis produksi yang dipromosikan bisa sangat beragam.14 atau rata-rata 30. Tekno logi 10. Laba 32.58 26. c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja 35.59 44.33 2.30 5. Keberhasilan bentuk promosi ini dalam mendukung 3 kemampuan UMKM disebabkan oleh antara lain: a) Waktu promosi yang cukup panjang (lama).Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 5.06%.27 37.06 rata 37.2 113.027 30.15 2. 133 .26 47. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari bentuk promosi ini adalah: a) Peningkatan rata-rata dengan nilai bobot 227.54 20.342.35 2. 4.55 Rata-rata 42.51 19. 2.18 Tambahan Tenaga Kerja 31.852 2.97 bisnis.06 30.88 21.27 73.52 58.11%.14 157.39 10. ranking kedua adalah temu1.70 30.17 6.2 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Dari tabel 5 dapat dikemukakan bahwa berdasarkan metoda Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan pembobotan di atas diketahui bahwa rata-rata nilai bobot dari keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran tersebut sebesar 30.

Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak signifikan. Kehandalan pameran dari aspek penyerapan tenaga kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk yang dipromosikan adalah barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya. karena temu bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan omset penjualan. Hal ini dimungkinkan karena: a) Produsen dapat berhubungan langsung dengan konsumen. Rendahnya kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan dari bentuk promosi ini. kualitas barang. c) Adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-pihak lainnya untuk menjual produk teknologi yang diproduksi. Besarnya peningkatan teknologi pada temu bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan dan selera konsumen. temu bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. c) Mempromosikan produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (fore ward efect).JURNAL VOLUME 4 . b) Peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat meningkatkan investasi serta. Dari beberapa indikator keberhasilan temu bisnis yang dianalis dalam kajian ini. hanya ada satu faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. karena tidak banyak meningkatkan penyerapan tenaga kerja. b) Akan terbentuk adanya kerjasama dalam pemasaran produk. tanpa memperhatikan peningkatan jumlah pembelinya. 134 .AGUSTUS 2009 : 116-139 2) Temu Bisnis Keberhasil bentuk promosi ini sangat merata dari segala aspek penilaian. laba dan perbaikan managemen usaha. Dari aspek penyerapan tenaga kerja kurang ideal. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. b) Memberikan inspirasi kepada pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar serta. Dalam temu bisnis maka calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi produk yang akan ditawarkan (jenis barang. jumlah barang serta pola kerjasama atau kemitraan). Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. Dari aspek peningkatan omset. 3) Pameran Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan.

8830 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. c) Bentuk promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. c). Pengembangan teknologi produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki adanya peningkatan kualitas dan kuantitas barang yang ingin dibeli. Kualitas barang. dengan nilai kondisi hubungan 0. d). Hasil analisis menunjukan.9254. c) Laba.7928.9061 b). Frekuensi Keikutsertaan 4).9213 dan nilai keeratan hubungan 0. Jenis Produk 3). terdapat 6 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap jumlah pembeli UMKM yaitu: a). 10) Prosedur keikutsertaan. Kedua aspek penilaian tersebut masing-masing 26. b). d). 9) Waktu Promosi. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap nilai penjualan (omset) UMKM yaitu: a). adapun kinerja yang dihasilkan adalah peningkatan: a) Nilai penjualan (omset). Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Hasil analisis menunjukan.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 4) Misi Dagang Keunggulan misi dagang ditunjukan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. g) Jaringan Usaha. 11) Kualitas Barang. B) Jumlah pembeli. dan 12) Jumlah Pesaing.8989 dan nilai keeratan hubungan 8016.8763 dan nilai keeratan hubungan 0. f) Managemen Usaha. Dampak misi dagang diindikasikan dari kenaikan nilai bobot.9341 dan nilai keeratan hubungan 0. Penyerapan tenaga kerja. dengan nilai kondisi hubungan 2) 135 . e) Teknologi produksi.9113 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. V. Kondisi internal UMKM.13%.8917.8766. Jenis produk yang dipromosikan. d). 6) Tema Promosi.7076. Bentuk promosi. Kondisi Internal 2). 5) Promosi. ANALISIS FAKTOR BERPENGARUH KEBERHASILAN PROMOSI PEMASARAN Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran digunakan uji statistik Analisis Regresi Simultan pada tingkat kepercayaan 90% dan Principle Componen Analisis dengan tingkat kepercayaan 85%. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.37% dan 28.9616 dan nilai keeratan hubungan 0. Promosi. 7) Biaya Promosi 8) Lokasi Promosi. Biaya promosi. Terdapat 12 Peubah bebas (independent variable) yang dianalisis yaitu: 1). Penyelenggara promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan. Perbaikan sistem managemen didorong oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya.

Lokasi promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0.8651.8871 dan nilai keeratan hubungan 0.97139 dan nilai keeratan hubungan 0. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kemampuan UMKM dalam penyerapan tenaga yaitu jenis produk yang dipromosikan.9178.JURNAL VOLUME 4 .9639 dan nilai keeratan hubungan 0.78798.7619. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Besarnya pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut dalam kegiatan promosi.9720 dan nilai keeratan hubungan 0. Kondisi internal UMKM.8788 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8709 dan nilai keeratan hubungan 0.8907 dan nilai keeratan hubungan 0. 3) Hasil analisis menunjukan terdapat. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a). dengan nilai kondisi hubungan 0. Kondisi internal UMKM.8967 dan nilai keeratan hubungan.8748. e). maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang tentang teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efesien produksi.8613 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. b).8698. dengan nilai kondisi hubungan 0.9391 dan nilai keeratan hubungan 0. g) Jumlah pesaing.9178.7619. dengan nilai kondisi hubungan 0.8731 dan nilai keeratan hubungan 0.7665.AGUSTUS 2009 : 116-139 0.7798. Jenis produk yang dipromosikan. f) Waktu promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0.9109 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu perusahaan untuk berproduksi lebih efisien.8709. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM peningkatan managemen usaha UMKM yaitu kondisi internal UMKM.9308 dan nilai keeratan hubungan 0. yang diperoleh dari berbagai pihak. d) Biaya promosi. Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0. 7 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a). dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8955. f) Jumlah pesaing. Hasil analisis menunjukkan.8637 dan nilai keeratan hubungan 0. b).97139 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8769. c) Penyelenggara promosi. Hasil analisis menunjukan.8732 dan nilai keeratan hubungan 0. e) Lokasi promosi. c) Frekwensi keikutsertaan. d ). 0.8392.7945. 4) 5) 6) 136 . untuk itu perusahaan yang bersangkutan akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien. Jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 0. g) Jumlah pesaing. Kualitas barang.7986.

VI.8798.8609. serta menurunkan biaya produksi.9078. dengan nilai kondisi hubungan 0. 3.9176 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta. 8243. dengan nilai kondisi hubungan 0. 7) Hasil analisis menunjukan.9352. Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (73 kali) diikuti UMKM.8650 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. Promosi pemasaran mampu meningkatkan laba UMKM. terdapat 8 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan jaringan pasar yaitu: a).8759. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Terdapat empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh UMKM yaitu pameran. h) Kualitas barang.8769. f) Biaya promosi.9265. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. Sifat peningkatan laba yang tidak linier dengan peningkatan omset dikarenakan peningkatan laba ternyata bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM tetapi karena berkurangnya marjin yang terserap dalam serta pasar. Keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha menengah.8987 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0.9207 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. b). c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut.1 Kesimpulan 1. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas promosi adalah: a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi). 137 . dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. g) Lokasi promosi. d) Bentuk promosi. misi/kontak dagang dan temu bisnis. trading board. c) Frekuensi keikutsertaan UMKM.9805 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. Secara agregat semua usaha kecil dan menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi.9184 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. 9480 dan nilai keeratan hubungan 0. Kondisi internal UMKM.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dengan nilai kondisi hubungan 0. 2.9378 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. e) Penyelenggara Promosi.8854 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0.9140. Jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 0.

e) Berpengaruh nyata terhadap pangsa pasar. Trading board dapat dikembangkan di tingkat propinsi. Pameran menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. omset dan laba perusahaan. Peningkatan kualitas managemen.AGUSTUS 2009 : 116-139 4.JURNAL VOLUME 4 . c) Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan Laba UMKM. Peningkatan kualitas tekonologi. laba dan perbaikan managemen usaha. Misi dagang memang memiliki total nilai bobot terendah.2 Saran 1. c). Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. yang diindikasikan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. 6. Peningkatan teknologi produksi. sehingga berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (foreword efect). Kemampuan Kemampuan penyerapan tenaga kerja. 5. Untuk meringankan beban biaya usaha mikro mengikuti kegiatan promosi pemasaran maka diperlukan subsidi penuh dari pemerintah. 8. 2. Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebehasilan promosi pemasaran diperoleh hasil: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata terhadap perluasan pangsa pasar. c) Memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta 138 . 6. nasional dan internasional. b) Memfasilitasi kegiatan promosi. sedangkan temu bisnis perlu lebih didorong sehingga tidak hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi juga dapat dilakukan oleh UKM dan koperasi. Temu bisnis berdampak merata pada aspek peningkatan omset. d) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam meningkatkan perolehan laba. tetapi bentuk promosi ini memiliki keungulan spesifik. 7. Peningkatan jumlah pembeli juga jauh lebih besar dibandingkan bentuk promosi lainnya. pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari kabupaten sampai dengan di tingkat internasional. Temu bisnis merupakan bentuk promosi yang dapat diandalkan. dan d). Promosi pemasaran berdampak nyata pada: a). b). misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh pemerintah. Usaha yang memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program promosi adalah: a) Memperbanyak program promosi melalui kerjasama dengan para stakeholder. b) Jenis dan Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba UMKM serta penigkatan kualitas teknologi.

e) Membangun kaitan (lingkage) yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara dengan semua stakeholder lainnya serta. Mac Graw HillBook Company. (1997). Manulang. 3.R. Ramlan. DAFTAR PUSTAKA Affandi. (2001). Some Problem of Market Distribution. New York. 139 . Program Doktor Bidang Ekonomi Perusahaan. Managemen Promosi dan Pemasaran Produk. Marketing (Suatu Pengantar). (1984). Jakarta.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dalam kegiatan promosi. Pembangunan Jakarta. c) Perhitungan waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. Panglaikim. Nurachmat. Jakarta. P. Program Pasca Sarjana Universitas Pajajaran Bandung. PT. Bina Antar Nusa Jakarta. (1984). PT. (1980). b) Evaluasi kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan. (1967). Buletin Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional. Bina Aksara. Macam-Macam Bentuk Promosi Yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk Industri Kecil. Jakarta. (1969). Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran Melalui Program Promosi (Studi kasus kebijakan Perdagangan Internasional). serta. Business Review Havard University London. (2002). Untuk mengatasi berbagai masalah dalam rangka meningkatkan efektifitas kegiatan promosi pemasaran diperlukan: a) Perencanaan yang terkoordinasi. Sujito. Wahidin. Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan Dalam Menghadapi Pasar Global. Kajian Manfaat Pameran Dalam Meningkatkan Omset Industri Kecil (Thesis). Program Magister Managemen Universitas Indonesia. Marketing. Kasali Reinal. (2005). Introduction to Sales Management. Tosdal. Harry R.T. Program Pasca Sarjana Universitas Gajahmada.A. Jakarta. Shaw. Bharata Jakarta. Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. (2001).

Artikel diterima 24 April 200�. This interrelationship is significant and real. review akhir �� �uli 200� **) Kabid. This assessment were done in 8 with the objects of secondary and primary cooperative of their member. business functions and supporting functions.AGUSTUS 2009 : 140-160 KAJIAN TENTANG KETERKAITAN KOPERASI SEKUNDER DENGAN KOPERASI PRIMER ANGGOTANYA*) Togap Tambunan**) dan Jannes Situmorang***) Abstract Assessment on interrelation of secondary cooperative with primary cooperative of their member is aimed at: a). peer review 24 April 200�. Koperasi sekunder dapat Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200��. but it has a weak level of interrelationship. This interrelationship is also significant or real. The result of the data analysis shows that: a). empowerment of cooperative principles. Deputi Bidang Produksi (koordinator kajian) ***) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK *) 140 . and techniques should be increased. keterkaitan lemah. From the point of view of the implementation of all the vertical integration function of secondary cooperatives interrelated with the primary cooperatives of their member. From the aspect of the implementation of vertical integration functions group of each institusional functions. This assessment suggests so that the level of interrelationship between secondary cooperative with the primary cooperative ot their member could become stronger then capacity building. capacity building I. extension. through training. but the level of interrelationship is still weak. b).1 Latar Belakang Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992 menyebutkan bahwa koperasi sekunder adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi.JURNAL VOLUME 4 . b). Kehutanan. To identify the interrelationship based on functional group implemented by secondary cooperative to primary cooperative of their member. the secondary cooperative is interrelated with primary cooperatives of their members. Koperasi primer. socialization. To identify the interrelationship among provincial level secondary cooperative with the primary cooperative of their member. koperasi sekunder. Sample was determined by using purposive sampling. PENDAHULUAN 1.

2005). Beberapa contoh Koperasi Sekunder yang dikenal antara lain INKOPOL. PUSKUD. Sebagai sebuah lembaga. INKOPDIT. INKOPKAR. (2) Gabungan. IKPI. PUSKOPKAR. Bagaimana sesungguhnya jaringan usaha yang terbentuk dan kerjasama yang dibangun? Informasi dan data-data mengenai hal ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan suatu kajian untuk menelaahnya secara khusus. dan lain-lain. IKPRI. Hingga saat ini tercatat terdapat 156 koperasi sekunder tingkat nasional yang terdiri dari 63 Induk Koperasi. Fungsi dan peran ini kemudian akan menciptakan berbagai manfaat koperasi di dalam perekonomian. Koperasikoperasi sekunder diharapkan mampu membentuk jaringan usaha dengan koperasi-koperasi primer dan mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan. dan (3) Induk. dan (2) Berfungsi sebagai ”subsidiaritas” dimana bisnis yang dilaksanakan anggota (koperasi primer) tidak dijalankan oleh koperasi sekunder sehingga tidak saling mematikan. GKSI. Juga menurut undang-undang tersebut. PUSKOPTI. dalam menjalankan fungsinya. Pendirian koperasi sekunder dalam berbagai tingkatan selama ini dikenal dengan sebutan (1) Pusat. Sesuai Undang-Undang Perkoperasian.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. GKBI. koperasi sekunder didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan 141 . fungsi dan peran tersebut adalah: (1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.2 Permasalahan Fungsi koperasi sekunder secara spesifik menurut UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 adalah (1) Berfungsi sebagai jaringan dengan sekurang-kurangnya 3 anggota untuk menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar. koperasi sekunder harus mampu membangun dan mengembangkan potensi ekonomi koperasi anggotanya. PUSKOPDIT. 1. PUSKSP. koperasi sekunder memiliki beberapa fungsi dan peran umum. Jumlah ini belum termasuk koperasi sekunder yang tersebar disetiap provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia. 7 koperasi berbentuk Gabungan. INKUD. Sesuai pasal 4 Undang-undang Nomor 25 tahun 1992. dan 86 koperasi lainnya berbentuk Pusat (Kementerian Koperasi dan UKM. dan (2) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.

KERANGKA PEMIKIRAN Koperasi sekunder memiliki bentuk koperasi yang khas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian. Karena itu.3 Tujuan Kajian Tujuan kajian ini adalah untuk: 1). Identifikasi keterkaitan usaha antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Mengetahui keterkaitan berdasarkan kelompok fungsi yang dilaksanakan koperasi sekunder kepada koperasi primer anggotanya. Identifikasi hubungan fungsional dan capacity building koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Mengetahui keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Koperasi sekunder dapat didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. Berdasarkan basis pembentukannya.JURNAL VOLUME 4 . Koperasi sekunder tidak berbasis kepada orang (member based) melainkan dibentuk berdasarkan kesamaan kebutuhan organisasi. 2). 3). Koperasi sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) koperasi primer. maka koperasi sekunder memiliki tiga azas yaitu: (1) Efisiensi. Hal ini kemudian menyebabkan terbentuknya banyak koperasi primer dan koperasi sekunder. (2) Mutual (saling melengkapi). diperlukan kajian untuk mengetahui sejauhmana keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Koperasi sekunder memiliki dua fungsi 142 . Efisiensi usaha dan bargaining position di dalam koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggotanya. Juga belum diketahui peran koperasi sekunder menjalankan fungsi-fungsinya kepada koperasi primer anggotanya dan sebaliknya koperasi primer menjalankan kewajibannya kepada koperasi sekunder.AGUSTUS 2009 : 140-160 kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. yakni koperasi sekunder yang dibentuk oleh badan hukum koperasi primer. II. dan (3) Kebersamaan. 2). 1. 1. Undang-undang tersebut memberikan peluang kepada gerakan koperasi untuk mendirikan koperasi pada berbagai tingkatan sesuai kebutuhannya.4 Ruang Lingkup g Ruang lingkup kajian meliputi beberapa aspek antara lain: 1). Selama ini koperasi-koperasi sekunder terus terbentuk dan bertumbuh dengan berbagai aktivitas. Namun eksistensi dan keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya hingga sekarang belum diketahui pasti.

143  . TAHUN 1992 Gambar 1 memperlihatkan keterkaitan antara kelembagaan koperasi sekunder – primer dan SEBAGAI PILAR dalam usaha-usaha yang saling KOPERASI keterkaitan di mendukung (backward and INDONESIA PEREKONOMIAN forward linkages). Aktivitas : Pabrik jaring Pabrik pengalengan Ekspor. tidak dijalankan di tingkat koperasi sekunder. Selain itu manfaat umum baik bagi koperasi ? sekunder maupun KOPERASI koperasi primer adalahSEKUNDER tercipta efisiensi usaha dan jaringan usaha yang kuat diantara mereka. teknologi dan manajemen yang akses PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER lebih modern. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer 1. sehingga tidak saling mematikan. dan berpeluangF1 mengembangkan bisnis ? yang lebih tinggi tingkatannya sehingga dapat bersaing dengan bisnis non-koperasi. Aktivitas : Penangkapan Pengolahan Pelelangan Simpan pinjam KOPERASI PRIMER Pabrik es Produksi garam Pengadaan BBM Gambar Gambar 1. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. Sedangkan fungsi subsidiaritas memiliki arti bisnis yang dilakukan anggotanya (koperasi primer). Koperasi-koperasi sekunder mendapat manfaat sebagai pasar F2 dan menerima input dari koperasi primer. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Usaha Perikanan Usaha Perikanan Secara garis besar. Dari keterkaitan sesuai jaringan yang ada. Sebagai jaringan. OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. INDUK PUSAT IKPI Aktivitas : Pabrik es Pemasaran antar daerah Pengadaan BBM Kebutuhan penolong. Para anggota (koperasi primer) mendapat manfaat peningkatan keuntungan secara finansial. masing-masing pihak menerima manfaat yang dapat mendorong peningkatan dan pengembangan usaha secara lebih baik.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) yaitu sebagai suatu jaringan dan sebagai subsidiaritas. adanya KOPERASI KOPERASI KOPERASI jaminan pasar bagi produknya. peningkatan produksi KOPERASI KOPERASIdari usaha-usaha yang dijalankan. PRIMERmodal. gambar 1 menyajikan sebuah contoh jaringan dan subsidiaritas koperasi sekunder – koperasi primer pada bidang usaha UNDANG-UNDANG NOMOR 25 perikanan. koperasi sekunder diharapkan mampu menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar bagi dirinya sendiri dan bagi koperasi primer anggotanya.

METODE KAJIAN 3. Keterangan : = Arah pembentukan koperasi = Arah pelaksanaan fungsi dan kewajiban F1 = Pelaksanaan fungsi oleh Kop. KerangkaPemikiranKeterkaitan Usaha dandan Kelembagaan Gambar Kerangka Pemikiran Keterkaitan Usaha Kelembagaan Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. Sekunder kepada Kop. UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 1992 KOPERASI SEBAGAI PILAR PEREKONOMIAN INDONESIA KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER F2 F1 KOPERASI SEKUNDER ? ? OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Sekunder.JURNAL VOLUME 4 . Primer kepada Kop. Primer F2 = Pelaksanaan kewajiban oleh Kop. dan (2) Koperasi primer anggota.1 Obyek Kajian Obyek kajian ini mencakup: (1) Koperasi sekunder tingkat provinsi (pusat dan gabungan). Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. III. 2. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. 144 . Gambar 2.AGUSTUS 2009 : 140-160 Sedangkan gambar 2 menyajikan skema kerangka berpikir yang digunakan dalam kajian ini.

Fungsi-fungsi tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian masing-masing: (1) Fungsi kelembagaan. Nusa Tenggara Timur. Kelembagaan FA1 : memberikan bimbingan dan advokasi keanggotaan FA2 : memberikan masukan mengenai RAT (menghadiri. 3. (2) Fungsi usaha. Data primer diperoleh dari para responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun secara terstruktur. Dari lokasi kajian yang telah ditentukan.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) 3. Fungsifungsi yang harus dilaksanakan oleh masing-masing tentu sangat banyak. kemudian dipilih koperasi sekunder dan primer anggota sebagai sampel. Koperasi sekunder dimaksud adalah yang masih aktif dan memiliki keterkaitan dengan koperasi anggotanya. Nusa Tenggara Barat. dinas koperasi tingkat provinsi dan kabupaten. dan (3) Fungsi penunjang. 3.2 Lokasi dan Waktu Kajian Kajian ini telah dilaksanakan pada 8 provinsi yang memiliki koperasi sekunder masing-masing: Jawa Timur. BPS tingkat provinsi. Definisi fungsi-fungsi tersebut adalah: A. mengarahkan) FA3 : ikut menyusun rencana kerja dan RAPB Koperasi Sekunder FA4 : memberikan pelatihan manajerial koperasi FA5 : menegakkan implementasi nilai-nilai koperasi 145 .3 Metode Penarikan Sampel (Sampling Methode) Penarikan sampel pada objek kajian dilakukan dengan metode Purposive Sampling. Sumatera Barat. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari laporan-laporan Kementerian Koperasi dan UKM.2 Seleksi Fungsi-fungsi Keterkaitan Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi-fungsi diantara mereka. Sampel koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggota dipilih berdasarkan informasi dari dinas koperasi provinsi setempat. Sumatera Utara. 3. dan Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan. Responden penelitian ini adalah pengurus koperasi sekunder dan pengurus koperasi primer anggotanya. Diperoleh 25 fungsi yang layak dijadikan faktor yang menentukan keterkaitan dimaksud. Seleksi fungsi-fungsi tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Petunjuk Pemeringkatan Koperasi Berkualitas dan Koperasi Berprestasi.1 Jenis Data Data yang dikumpulkan sebagai bahan analisis terdiri dari data primer dan data sekunder. dan dari masing-masing koperasi. Jawa Tengah.

......... akuntansi...... Keterangan : Fungsi FA1. FA4 sampai FA11... Usaha FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 : memberikan pelatihan organisasi koperasi han : memberikan pelatihan keanggotaan koperasi : mengadakan pertemuan khusus.... sedangkan fungsi F3.... C........3 Metode Analisis Data a).. ilmiah (seminar.... : : : : : : membantu penyusunan business plan (rencana kerja) membantu dan membangun jaringan pemasaran membantu pengolahan/proses produksi membantu permodalan/pembiayaan produksi membantu promosi mengadakan temu usaha... FB1 sampai FB6 dan FC1 sampai FC5 dilaksanakan oleh koperasi sekunder kepada koperasi primer anggota..... lokakarya) : membangun kerjasama antara koperasi anggota : mengupayakan kemitraan dengan pihak ketiga : mengadakan pertemuan secara periodik : menghadiri RAT Koperasi Sekunder : membagikan SHU kepada anggota : memenuhi kewajiban....... F12 dan F13 dilaksanakan oleh koperasi primer anggota kepada koperasi sekunder.. Uji Chi Square (Uji χ 2 ) Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya dapat dianalisis dengan metode Chi-Square (uji χ 2 ) dengan rumus: (1) χ2 = ∑ ∑ ( f0 − fh )2 fh . 146 .. 3..AGUSTUS 2009 : 140-160 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 B....... FA2... dll) FC2 : membantu manajemen FC3 : membantu sistem informasi FC4 : membantu penyebaran informasi FC5 : membantu image (citra) koperasi.JURNAL VOLUME 4 ....... dan FA13. Penunjang FC1 : membantu administrasi bisnis (pembukuan....

. Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis nol/nihil (H0) dan hipotesis tandingan/alternatif (H).... dan 3). Secara statistik dinyatakan bahwa : H0 diterima bila : χ2 ≤ χ2 α..... dimana : fe = Frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis) Σ f kolom = Jumlah frekuensi kolom Σ f baris = Jumlah frekuensi baris Total = Jumlah baris dan kolom (keduanya harus sama).. b). Setelah perhitungan dengan metode Chi-Square... Dalam penelitian ini... 2). dengan derajad bebas tertentu.. Sebaliknya H0 ditolak atau terima H berarti ada keterkaitan yang signifikan antara kedua variabel. Untuk mendapatkan nilai Chi-Square. Dihitung frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis).... Uji Signifikansi Uji siginifkansi digunakan untuk menunjukkan bahwa apakah ada hubungan yang signifikan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Untuk menghitung nilai dari frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis).... dengan derajad bebas tertentu H0 ditolak atau terima H bila : χ2 > χ2 α. Menghitung nilai Uji Chi-Square berdasarkan rumus (1). Data frekuensi ditabulasi.. ditempuh beberapa langkah yakni: 1).. digunakan rumus pada persamaan (2).Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Keterangan : χ 2 = Chi – Square fo = Frekuensi yang diperoleh dari sampel (hasil observasi) fh = Frekuensi yang diharapkan atau disebut juga frekuensi teoritis...... Sedangkan nilai χ2 2 α dengan derajad bebas tertentu adalah nilai chi square statistik 147 ......... Nilai χ2 diperoleh dari hasil perhitungan sesuai rumus chi square di atas... (2) fe = (∑ f kolom) Total (∑ f baris ) ... Terima H0 memiliki arti tidak ada keterkaitan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. uji signifikansi digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya melalui fungsi-fungsi yang mereka lakukan.. analisis kemudian dilanjutkan dengan uji signifikansi.....

. Derajat hubungan di sini menunjukkan ada korelasi atau tidak antara kolom dan baris tabel kontingensi.. (3) PUSKOPDIT (Puskopdit Jateng..5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya dan keterkaitan tersebut dikatakan cukup kuat...JURNAL VOLUME 4 . asosiasi......... Jika C = 0 maka tidak terdapat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya... c)....5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya namun keterkaitan tersebut lemah. NTT.... Sulsel. Sumut).. Koefisien Kontingensi (C) Koefisien kontingensi digunakan untuk mengukur derajat hubungan...... dan Kalbar)......b) diperoleh dengan rumus: (Jumlah baris – 1) dikalikan (jumlah kolom – 1) Taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah α = 0. (4) PUSKUD MINA (Puskud Mina Jatim). (2) GKSI Jateng... GAMBARAN UMUM KOPERASI SAMPEL 4.. (3) dimana : C = Koefisien kontingensi χ 2 = Nilai chi.. (7) PUSKOPPONTREN (Puskoppontren Sulsel)..AGUSTUS 2009 : 140-160 yang dapat dilihat pada tabel chi square standar.square n = Besar sampel.. dan jika C > 0..01 yang memiliki arti kita percaya bahwa 99% hasil uji yang kita peroleh adalah sangat akurat.. 148 .. Derajat bebas (d. dan apakah hubungan tersebut kuat atau tidak kuat..... NTT. Jumlah tersebut dibagi dalam 12 jenis koperasi masing-masing: (1) PUSKUD (Puskud Jatim. Jika C = 1 maka terdapat keterkaitan yang sangat kuat diantara keduanya... Sumut..1 Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi Dari hasil survei lapangan pada 8 provinsi......... (6) PUSKOPPAS (Puskoppas Sulsel)..... Sedangan jika C < 0.. Lotim dan Lobar).. NTT. Sumbar.... IV. (5) PKP-RI (PKP Sumbar.. Rumus koefisien kontingensi adalah : C= χ2 χ +n 2 . Nilai koefisien kontingensi (C) berkisar antara nol hingga satu... atau dependensi dari klasifikasi-klasifikasi dalam tabel kontingensi.. Jateng.... Sumut. diperoleh 33 koperasi sekunder... Sulsel.

Sementara itu PUSKUD MINA mengalami kerugian dimana SHU-nya bernilai ratarata negatif dalam 5 tahun terakhir. sebanyak 30. Dari segi usia. Sedangkan yang melakukan RAT empat kali sebanyak 15. Data ini menunjukkan masih cukup banyak koperasi sekunder yang menyeleggarakan RAT setiap tahun. Puskopad A’DAM VII/WRB.33% koperasi berusia lebih dari 20 tahun. Keragaan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi secara rata-rata selama 5 tahun terakhir menurut urutan nilai-nilai yang paling tinggi hingga terendah dapat dilihat pada Gambar 3. sebanyak 33. Sumut). PUSKUD. dan sebanyak 6. PUSKOPPOLDA dan PUSKUD MINA memiliki jumlah yang lebih banyak. Sebanyak 24. NTB). Sulsel. Dari sisi usaha. Ini menunjukkan mereka cukup aktif dan tetap menjalankan ketentuan administrasi secara baik. PUSKUD memiliki anggota (KUD) yang paling banyak. Dari sisi jumlah anggota.36% berusia 3 sampai 9 tahun.06% atau 2 koperasi masih menempati gadung kantor dengan status kontrak. (10) PUSKOPPOLDA (Puskoppolda Sumbar. PUSKOPPOLDA. sebagian koperasi-koperasi sekunder tingkat provinsi mengalami perkembangan yang makin maju. dan sisanya 36.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) (8) PUSKSP (Puskospin Jatim. (11) PUSAT KOPERASI VETERAN (Puskop Purnawirawan & Warakawuri TNI & Polri NTT). Namun pada nilai SHU. 149 . jumlah modal dan volume usaha PUSKUD. (9) PUSKOPWAN (Puskowan Jatim.15%. Sulsel). sebanyak 69.06%. Sesuai data yang terhimpun. satu kali sebanyak 6.06%. tiga kali sebanyak 12. Sebanyak 54. Sedangkan koperasi-koprerasi lainnya memiliki jumlah anggota lebih sedikit (kurang dari 100 unit).24% atau 8 koperasi menempati gedung kantor berstatus pinjaman.12%. dan (12) PKSU (PKSU NTB dan Kalbar). Meskipun dari modal PUSKUD memiliki modal yang paling besar namun nilai SHU-nya lebih rendah dibanding rata-rata yang dicapai oleh PUSKOPPAS dan PUSKOPPOLDA.30% berusia 10 sampai 20 tahun. GKSI Jateng dan PUSKOPWAN mencapai nilai terbesar. Sumbar. dan PUSKUD. dan yang tidak melakukan RAT sama sekali sebanyak 6. dua kali sebanyak 6. tiga koperasi yang mencapai nilai yang paling besar adalah PUSKOPPAS. NTT. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah mengalami perkembangan yang makin menurun. Pada jumlah unit usaha.55% koperasi sekunder tingkat provinsi melakukan RAT setiap tahun dalam 5 tahun terakhir. Sesuai data yang terkumpul.06%.70% koperasi sekunder tingkat provinsi sampel (atau 23 koperasi) sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri. disusul PKP–RI.

69 83.PONTREN P. POLDA PUSKUD P.KOPPAS N a m a K o p e ra s i Jumlah Volume Usaha Koperasi Sekunder 2680 2169 1656 3513 P.50 27.KOPPAS N am a K operasi Rata-rata Tingkat Likuiditas Koperasi Sekunder 386.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P. VETERAN PKSU P.MINA PKSU GKSI P. VETERAN PUSKSP P.PONTREN PUSKSP PKSU P.34 Jt Rupiah 169. POLDA PUS.63 165. POLDA PKSU P.KOPPAS PUS.KOPDIT P.KOPPAS P.55 11.KOPDIT P.POLDA GKSI PUSKSP P.RI P.52 119.RI P.51 Persen Gambar 3.41 331.KOPDIT PUS. VETERAN P. VETERAN PKP .KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P. VETERAN PKP .01 123. POLDA PUSKUD PUS.54 Nama Koperasi - Rata-rata Tingkat Rentabilitas Koperasi Sekunder 19.60 P.MINA 411.MINA PKP .KOPPAS P.KOPW AN PUSKSP GKSI PKP .65 152.20 156.KOPPAS Jumlah Modal Koperasi Sekunder 23633 PUSKUD GKSI P.RI P.17 291.RI P.23 P. Keragaan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi 150 .33 21.PONTREN PUSKSP P.RI P.PONTREN P.33 21.00 19.MINA P.RI PUSKUD P.65 8.37 54.52 8.KOPDIT P.PONTREN P.25 30.MINA P.52 Persen P.KOPDIT PUS. VETERAN 1349 1225 974 965 410 259 138 - 5891 17553 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah 926 553 472 381 321 99 90 36 Jt Rupiah Jumlah SHU Koperasi Sekunder Rata-rata Tingkat Solvabilitas Koperasi Sekunder -27.VETERAN P.KOPDIT PKSU P. POLDA PUS.36 178.57 P. POLDA P.19 10.87 Persen 547.89 10.RI PUS.KOPWAN P.MINA PUSKUD P.PONTREN P.KOPW AN P.40 75.88 63.RI P.02 - 86.PONTREN P.KOPPAS Jumlah Anggota Koperasi Sekunder N ama Koperas i 1 1 - 2 2 2 2 3 4 6 Jumlah Unit 86 60 47 31 27 24 22 16 12 8 143 405 Jumlah Unit PUSKUD PKP .AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Unit Us aha Kope ras i Se k unde r 7 7 P.KOPWAN PUSKUD GKSI PKP .67 53.74 5.KOPW AN P.MINA PUSKSP P.44 349.KOPPAS Nama Koperasi Nama Koperasi - 0.KOPDIT GKSI PKP . VETERAN PUS.JURNAL VOLUME 4 .74 152.KOPDIT PUSKUD P.PONTREN PKSU P.74 5. POLDA P.08 9.24 253.89 6.43 -8.64 51.KOPWAN PKP .MINA 179.

Bahkan masing-masing satu koperasi sekunder dari NTT. Pada umumnya sebagian koperasi primer mengalami perkembangan yang makin maju.2 Koperasi Primer Anggota Koperasi primer anggota dari koperasi sekunder yang terpilih dalam penelitian ini berjumlah 107 koperasi. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah makin menurun. KUD. Untuk jumlah unit usaha. Sedangkan provinsi NTB 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahunnya. Kalimantan Barat dan Sumatera Barat. Keragaan masing-masing golongan koperasi secara rata-rata selama 5 tahun (tahun 2001 – 2005) menurut urutan nilai terbesar dapat dilihat pada Gambar 4. (5) KPRI. (2) KUD Susu. 5 koperasi. 4. 12 koperasi. hampir 90% Koperasi Sekundernya aktif menyelenggarakan RAT setiap tahun selama 5 tahun terakhir. jarang dilakukan. Ada beberapa koperasi primer sampel menyatakan tidak memperoleh informasi memadai dari koperasi sekunder dalam kegiatan pengembangan usaha dan informasi pasar. Tiga provinsi masing-masing NTT. 4 koperasi. Jumlah ini dikategorikan menurut 12 jenis koperasi sekunder tingkat provinsi dengan perincian sebagai berikut: (1) KUD. Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara kurang dari 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahun. dan seterusnya. (6) KOPPAS. Namun dalam hal kerjasama membangun jaringan usaha yang saling terkait dengan usaha anggotanya. Dari sisi jumlah anggota. hampir semua koperasi sekunder tingkat provinsi mengeluhkan kekurangan modal untuk pembiayaan usahanya. 2 koperasi. KUD MINA. KOPWAN. 1 koperasi.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi provinsi. Ratarata Koperasi sekunder menghadiri RAT yang diselenggarakan koperasi primer anggotanya. Namun dengan segenap keterbatasan yang ada mereka tetap berusaha untuk tetap eksis menjalankan usaha yang ada. (8) KSP. 7 koperasi. (3) KOPDIT. KSP. 4 provinsi masing-masing Jawa Timur. 6 koperasi. Dari sisi permodalan. 26 koperasi. Pada sisi pengurus. KOPDIT. dan KOPPONTREN memiliki jumlah pengurus lebih banyak dibanding koperasi-koperasi lainnya. (9) KOPWAN. (7) KOPPONTREN. 11 koperasi. KSI memiliki jumlah yang lebih banyak (9 unit) diikuti masing-masing oleh KUD MINA dan KUD. (4) KUD MINA. 9 koperasi. 151 . Jawa Tengah. Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat hanya menjalankan RAT satu kali selama 5 tahun terakhir. KUD Susu memiliki anggota jauh lebih banyak diikuti. (10) KOPPOLDA. dan (11) KSU. 24 koperasi.

78 KOPPAS 20.58 285.94 149.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Anggota Kope ras i Prim e r Anggota Sam pe l 3364 2434 1299 530 512 481 469 246 51 50 Orang 6421 KUD SUSU KUD MINA KOPDIT KUD KSU K.03 KUD 4.PONTREN Nama Koperasi Rata-rata Likuiditas Koperasi Primer Anggota Sampel 821.PONTREN Jumlah SHU Koperasi Primer Anggota Sampel 1110 KOPPAS KUD KSP KOPW AN KP . POLDA KP .RI K.24 Persen Rata-rata Rentabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 25.RI KUD KUD SUSU KOPW AN KSP KOPPAS KOPDIT KUD MINA K.84 404.67 21. POLDA KSU KUD SUSU KOPDIT KUD MINA K. POLDA KSU KP .30 KSU 5.PONTREN KSU KUD MINA Nam a K operasi 2 2 2 2 3 3 3 Unit Nama Koperasi 4 4 5 9 KUD SUSU KUD MINA KUD KOPDIT K. POLDA KSP KOPPAS KOPWAN 2618 1154 1030 913 871 688 670 450 273 Jt Rupiah Jum lah V olum e Us aha Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 2757 2301 1018 1002 730 607 463 153 24 11 Jt Rupiah 8911 KUD SUSU KOPWA N KOPPA S KP .PONTREN KOPDIT K.50 368. POLDA K.80 KSU K.PONTREN K.RI K.PONTREN 353.83 109.42 144.PONTREN 231 154 142 116 83 63 63 28 - 481 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah Rata-rata Solvabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 417.46 152.60 91.RI 20. POLDA KP .98 KOPDIT 1.48 297.RI KUD KOPW AN KUD SUSU KSP KOPDIT KUD MINA KOPPAS K. Keragaan Koperasi Primer Anggota Sampel 152 N aK am operasi N a Koperasi am .68 168.34 K.31 104.94 KSP 9.87 KUD MINA KUD SUSU Persen K.24 KOPW AN 14.61 122. POLDA KOPDIT KSP KUD KSU KUD MINA K.02 KP .RI K. POLDA KUD SUSU KP .RI KOPWA N KSP K.RI KUD MINA KUD KOPPA S KSU Nama Koperasi 7 7 7 8 8 8 8 9 Orang Jumlah Unit Usaha Koperasi Primer Anggota Sampel Jumlah Modal Koperasi Primer Anggota Sampel 4848 11399 KUD KUD SUSU KOPDIT KOPWAN KOPPAS KP .PONTREN KSU KP .21 207.83 760.01 Persen Gambar 4.JURNAL VOLUME 4 .PONTREN KOPPA S Nama Koperasi Jum lah Pe ngur us Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 11 10 14 KSP KOPWA N K.11 130.78 145.RI KSP K. POLDA 19.86 159.

dan KUD mencapai nilai solvabilitas dan likuiditas yang lebih besar. Pada nilai volume usaha. KOPPAS.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi modal. Juga sebanyak 39.50% koperasi primer sampel sudah berusia lebih dari 10 tahun. Sedangkan KUD MINA mencapai nilai SHU yang paling rendah.49% atau 23 koperasi berusia 3 sampai 9 tahun. Perkembangan koperasi primer anggota koperasi sekunder tingkat provinsi dominan lebih baik. KSI mencapai volume usaha terbesar disusul KOPWAN dan KOPPAS. Dari data ini. Modal terbanyak kedua dicapai oleh KUD Susu disusul KOPDIT dan KOPWAN. dan sisanya 21. Hanya 2.81% atau 64 koperasi melaksanakan RAT setiap tahunnya selama 5 tahun terakhir. KUD memiliki modal terbesar mencapai Rp. mampu menghasilkan nilai SHU sebesar nilai persentase masing-masing. Ini adalah hambatan utama yang sering menyebabkan para anggota keluar dari keanggotannya. Sebanyak 10.25% atau 42 koperasi berusia lebih dari 20 tahun. koperasi primer sampel tetap memenuhi kewajiban mereka yakni membayar simpanan pokok dan wajib kepada koperasi sekunder.4 milyar jauh di atas koperasi-koperasi lainnya. Nilai solvabilitas dan likuiditas yang besar ini memiliki arti keempat koperasi tersebut memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembalikan hutang. KOPWAN. Ini menunjukkan pada umumnya semua koperasi primer anggota masih beroperasi secara aktif dan konsisten menjalankan RAT setiap tahunnya. Kesulitan utama yang dihadapi koperasi primer adalah permodalan yang terbatas.16% koperasi primer sampel atau 74 koperasi sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri.38% atau 40 koperasi menyelanggarakan RAT 2-4 kali.28% atau 11 koperasi menempati gedung kantor berstatus sewa. KOPPOLDA. 153 .80% atau 3 koperasi yang hanya melaksanakan RAT satu kali selama 5 tahun.56% atau 22 koperasi masih menempati gedung kantor dengan status pinjaman. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa sebanyak 69.25% atau 42 koperasi berusia 10 sampai 20 tahun. Beberapa koperasi primer sampel yang bergerak pada bidang perdagangan mengeluhkan persaingan harga yang makin ketat dengan swalayan dan pasar modern yang ada. 5 koperasi yang mencapai nilai paling besar adalah KPRI. Sisanya 37. Dari segi usia. 11. Nilai ini memiliki arti dari setiap seratus rupiah harta masing-masing koperasi. dan sebanyak 20. Kesulitan lainnya adalah mengenai kemampuan sumber daya manusia pengurus koperasi yang belum baik. Dari 107 koperasi primer anggota. 78. Sedangkan nilai SHU terbesar dicapai oleh KOPPAS disusul KUD dan KSP. KPRI. sebanyak 39. Dari sisi rasio keuangan. Sedangkan untuk rasio rentabilitas. KOPPOLDA. Secara umum. dan KSP. KSU. 59.

04. Tolak hipotesis nol (H0) memiliki arti bahwa secara keseluruhan koperasi sekunder memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan dengan koperasi primer anggotanya.1 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi sekunder secara nyata dapat terkait dengan koperasi primer anggotanya jika dilihat dari sisi pelaksanaan fungsinya secara menyeluruh. V. Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa nilai chi square hasil perhitungan lebih besar dari nilai kritis chi square. diperoleh nilai koefisien kontingensi koperasi sekunder sesuai tabel 3 hanya sebesar 0. fungsi-fungsi usaha dan fungsi-fungsi penunjang. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = 0. Rata-rata koperasi primer membutuhkan campur tangan pemerintah menangani permasalahan yang mereka hadapi mengenai bantuan permodalan. Angka ini lebih kecil dari 0.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat.JURNAL VOLUME 4 . Ini berarti kita tolak hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif (H). keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota secara keseluruhan.497 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer 154 . 2). Pada tabel 2 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya. Keterkaitan diantara koperasi dibedakan atas dua kategori. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui sejauh mana koperasi sekunder berperan menunjang aktivitas dan usaha-usaha koperasi anggotanya maka perlu dibahas sejauh mana keterkaitan di antara mereka. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0. 5. 1). Keterkaitan di antara koperasi sekunder dan koperasi anggotanya dapat terwujud di dalam fungsi-fungsi yang dijalankan di antara mereka.497.44. pembinaan dan pelatihan managemen serta kerjasama dengan berbagai pihak.AGUSTUS 2009 : 140-160 Rata-rata koperasi primer terjalin usahanya dengan koperasi sekunder hanya sebatas organisasi dan belum kepada pelaksanaan fungsi-fungsi secara nyata. Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota dipisahkan menurut golongan fungsi yakni fungsi-fungsi kelembagaan. dan pada tabel 3 disajikan nilai chi square menurut analisis keseluruhan fungsi integrasi.01 sesuai kurva normal adalah sebesar 99. Hasil analisis pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai chi square sangat besar yaitu sebesar 304.

04 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 240 dan pada 0.71 7.91 1. 2. Uji Signifikansi dan KoefisienKoefisien Kontingensi Tabel 3.09 5.46 53 65 38 49 32 40 33 31 33 31 56 83 51 80 27 18 8 27 8 17 56 28 25 21 19 929 100 5.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel 2.03 3.49 8.61 2. Nilai Chi Square.87 PKSU JUMLAH BARIS (%) 2 4 2 4 4 3 3 2 2 2 4 4 3 4 3 1 1 3 1 1 3 3 3 3 4 69 7.43 9 4 6 6 5 5 5 5 5 6 8 6 8 4 4 4 5 2 4 4 4 4 4 4 4 125 13.27 3.RI PUSKUD .03 8.01 2. Uji Signifikansi dan Kontingensi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Nilai Chi Square ( 2) = 304. Nilai Chi Square.46 PUSKOPPAS 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 6 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 2.69 2.00 4.01 sebesar 99.26 2.93 5. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah PUSKUD 13 17 8 8 7 7 5 6 9 6 15 22 10 22 2 2 0 3 0 1 3 4 3 4 3 180 19.46 PUSKUD MINA 2 2 1 1 1 0 0 0 1 0 1 2 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 1.38 PUSKSP 1 2 2 2 1 1 2 1 0 3 3 4 1 4 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 40 4.55 3.PONTREN 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 13 1.31 21.51 10.83 6.31 3.91 0.44 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya (menurut analisis keseluruhan fungsi keterkaitan).05 100 4 155 PKP .46 13.10 13.34 3.Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Koperasi Sekunder dengan Anggotanya PUSKO WAN FUNGSI INTEGRASI FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 FC1 FC2 FC3 FC4 FC5 J Kolom (%) kunder Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Tabel 3.94 0.87 PKP-RI 14 16 9 12 5 11 9 7 4 4 10 17 13 16 6 2 0 8 0 6 8 8 6 5 0 196 21.34 6.86 1.10 PUSKOPPOLDA 2 7 5 4 3 3 1 1 4 1 4 9 4 9 3 1 0 1 0 0 30 2 2 2 3 101 10.40 19.86 2.44 4.95 PUSKOPDIT 5 7 2 7 5 6 6 6 4 5 6 8 6 8 6 4 1 4 2 3 6 6 6 2 4 125 13.55 3.38 GKSI 3 4 2 3 0 2 0 2 2 3 4 4 4 4 1 3 0 3 0 1 1 0 0 0 0 46 4.497 artinya tingkat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya tidak kuat (lemah).15 P. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.

95 4. Hasil ini menunjukkan bahwa keempat koperasi diatas secara frekuensi paling banyak melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitan dengan anggotanya.87 7. yaitu 156 .POLDA P.PONTREN Sumber data: Primer diolah Gambar 5. 21. dan PUSKOPPONTREN (1.40%).46 10.38% dan PKSU dan PUSKOPDIT masing-masing melaksanakan 13. Dengan persentase yang rendah seperti ini berarti koperasi-koperasi tersebut relatif kurang dapat melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitannya.40 Persen PKP .38 Koperasi Sekunder 13.51 1.RI PUSKUD PKSU P. Berikut itu ditunjukkan pelaksanaan fungsi-fungsi yang memperlihatkan keterkaitan tersebut pada Gambar 5 dan 6. Ini berarti mereka mengabaikan tanggung jawabnya kepada koperasi anggotanya.46 13. Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa secara frekuensi PKP–RI melaksanakan 21.MINA P.31 2.46%.51%). PUSKUD MINA (1. Secara statistik.10% fungsi-fungsi keterkaitan dari total pelaksanaan semua fungsi oleh semua koperasi.15 1.7%. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan lemah.15%). kita telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Semua Fungsi Keterkaitan oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Gambar 6 menunjukkan bahwa fungsi FA12 yaitu koperasi primer anggota menghadiri rat koperasi sekunder tingkat provinsi secara frekuensi paling banyak dilaksanakan oleh semua koperasi. yakni hanya sebesar 49.KOPDIT P.AGUSTUS 2009 : 140-160 anggotanya. Berikutnya.KOPPAS PUS.43 4.KOPWAN GKSI PUSKSP P.JURNAL VOLUME 4 . Tiga koperasi yang sangat rendah presentase frekuensi pelaksanaan fungsinya adalah PUSKOPPAS (2.10 19. PUSKUD melaksanakan sebanyak 19.

94%. FB3 (KS membantu pengolahan/proses produksi dari koperasi primer anggota) dan FB5 (KS membantu promosi produksi kepada koperasi primer anggota) masing-masing dilaksanakan hanya sebanyak 0.86 4.86%. 5. dan FA2 (koperasi sekunder memberikan masukan yaitu menghadiri dan mengarahkan rat koperasi primer anggotanya) dilaksanakan sebanyak 7. dan fungsi penunjang.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) sebanyak 8. Nama Fungsi 157 .01 2.61%.09 3. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya 8.26 2. fungsi usaha.31 4.03 5. padahal fungsi-fungsi tersebut adalah penting untuk menunjang kemandirian koperasi anggotanya.44 3.83 6.91 2. Fungsi FA14 (koperasi primer anggota memenuhi kewajibannya kepada koperasi sekunder) dilaksanakan sebanyak 8.71 5.55 3.93%.00%.00 Persen FA12 FA14 FA2 FC1 FA11 FA1 FA13 FA4 FA6 FA3 FA9 FA7 FA5 FA10 FA8 FC2 FB4 FB1 FC3 FC4 FC5 FB2 FB6 FB5 FB3 Gambar 6.34 3.05 1.49 5.94 1.69 2.82%. Gambar 6.61 0. masing-masing fungsi kelambagaan. Ini berarti keempat fungsi ini sangat jarang dilaksanakan oleh koperasi sekunder.91 2.2 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Kelompok Fungsi Analisis menurut kelompok fungsi dimaksudkan untuk melihat apakah ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya dilihat dari 3 kelompok fungsi.27 7.55 3.93 8. Distribusi Frekuensi Pelaksanan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Empat fungsi paling rendah frekuensi pelaksanaannya adalah masing-masing FB2 (KS membangun jaringan pemasaran bagi anggota) sebesar 1. dan pada tabel 5 disajikan nilai chi square menurut analisis kelompok fungsi integrasi.34 3. Pada tabel 4 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya menurut katagori fungsi.86 0. FB6 (KS mengadakan temu usaha dengan koperasi anggotanya) sebesar 1.03 6.

Uji Signifikansi dan Koefisien Kontingensi Tabel 5. Jika nilai Koperasi hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai kritis chi8 squareSekunder1Dianalisis1menurut Kelompok Fungsi 23 chi square Usaha 8 20 22 1 8 10 5 107 maka diperoleh hasil nilai chi square hasil perhitungan lebih besar.01 sebesar 37. usaha dan penunjang. Nilai Chi81 155 37 14 147 20 12 43 57 82 Tabel 0.76.293 (tabel 5). Sedangkan nilai kritis chi square pada α = Kelembagaan 5. Nilai Nilai Chi Square ( 12) kita87. analisis kelompok fungsi keterkaitan).4. Nilai Chi Square. Koperasi SekunderDianalisis menurut Kelompok Fungsi Dianalisis menurut Kelompok Fungsi Sumber data: Primer diolah Nilai Chi Square ( 2) = 87. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. diperoleh hasil Koperasi diolah Keputusan dariTolak H0 atau terima H : Sekunder memiliki keterkaitan yang signifikan dengan Koperasi Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya Primer anggotanya.Square hipotesis nol (H0) atau 20 dan pada 0.566 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya (menurut analisis kelompok fungsi keterkaitan). Nilai Koefisien Kontingensi = 0. (menurut Nilai Koefisien Kontingensi = 0.PONTREN PUSKSP 27 8 40 PUSKSP PUSKOPPOLDA 57 5 101 PUSKOPPOLDA PKSU JUMLAH BARIS 43 10 82 23 675 107 152 934 JUMLAH BARIS Tabel 4. Uji Signifikansi dan nilai sebesar 37.76 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 20 dan pada 0. Uji Signifikansi dan Koefisien Anggotanya Sekunder dengan Koperasi Primer Kontingensi Koperasi Sekundertidak kuat (lemah).566. PUSKOPWAN FUNGSI INTEGRASI Kelembagaan Usaha Jlh Kolom FUNGSI INTEGRASI PUSKUD 155 8 180 PUSKUD GKSI 37 8 46 GKSI PUSKOPDIT 81 20 125 PUSKOPDIT PUSKUD MINA 14 1 14 PUSKUD MINA PKP-RI 147 22 196 PKP-RI PUSKOPPAS 20 1 22 PUSKOPPAS P.566 Chi Tolak dengan derajad bebas = terima H memiliki arti bahwa secara Jlh Kolom 180 2 46 125 14 196 22 69 101 125 934 kelompok fungsi2 yaitu dilihat dari14 40 pelaksanaan fungsi-fungsi integrasi hitung > tabel Hasil : Sumber data: Primer sisi kelembagaan. 158 6 .01 dengan derajad bebas 20 diperoleh 27 Koefisien Kontingensi 675 Square. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Penun-jang 17 1 1 27 1 1 5 16 39 20 Koperasi Sekunder 24 dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.01 sebesar 37. Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.JURNAL VOLUME 4 .PONTREN 12 1 14 P.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Sekunder dengan Koperasi Primer Anggotanya tidak kuat (lemah). Nilai Square.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Tabel 5. 69 PUSKOPWAN 125 PKSU Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan nilai chi square cukup besar yaitu sebesar 87.AGUSTUS 2009 : 140-160 Tabel 4. diperoleh nilai koefisien kontingensi hanya sebesar 0.761 hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif ini17berarti = 24 tolak 27 Penun-jang 1 1 5 16 39 20 152 Nilai Kritis(H).

pemasyarakatan. penyuluhan. fungsi-fungsi usaha. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian.1 Saran Sesuai hasil analisis yang menunjukkan bahwa keterkaitan koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota yang lemah maka disarankan agar koperasi sekunder harus meningkatkan capacity building melalui pelatihan. VI. koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Angka ini lebih kecil dari 0. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta. keterkaitan ini signifikan atau nyata namun memiliki tingkat hubungan yang lemah. Statistical Methods for the Social Sciences. dan fungsi-fungsi penunjang. yakni hanya sebesar 29. New Jersey. and Barbara. pemberdayaan prinsip-prinsip koperasi dan teknis perkoperasian. A. Prentice Hall. DAFTAR PUSTAKA Agresti. Jakarta. 2. 159 . Pedoman Pengembangan Koperasi Khusus Koperasi Sekunder di DKI Jakarta Tahun 2004. koperasi sekunder terkait dengan koperasi Primer anggotanya. Sulawesi Selatan. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Dari sisi pelaksanaan kelompok fungsi integrasi vertikal masingmasing fungsi-fungsi kelembagaan. Jawa Tengah. (2004).1 Kesimpulan Berdasarkan data dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya mengenai keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya pada delapan daerah survei masing-masing provinsi Jawa Timur. dirumuskan beberapa kesimpulan sesuai tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Keterkaitan ini juga signifikan namun tingkat keterkaitannya lemah. F. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Barat. Dilihat dari pelaksanaan keseluruhan fungsi integrasi vertikal. Anonim. Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. Sumatera Utara. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0.293 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat.3%. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan cukup lemah. 6. (1992). -------------.

Farmer Organizations and Rural Cooperatives.edu:70) Partomo. Statistik Nonparametrik. 160 . Hott Rinehart and Winston. L. Bharata. Suwandi. (1987). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. (1987). Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Donald Ary. Wadsworth Publication Co. Sydney. Babie. (1999). Introduction in Research Education 2nd Editon. California. Penerbit. (2002). Jakarta. Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di �awa Barat. (2005). dan Abdul Rahman S.JURNAL VOLUME 4 ..AGUSTUS 2009 : 140-160 -------------. (1988). Ghalia Indonesia. (1973). Maret 2006. (2006). Ekonomi Skala Kecil/Menengah & Koperasi. BPFE Yogyakarta. Survey Research Methods. Jakarta. Jakarta. S. Djarwanto. Anggota IKAPI. Solusi Koperasi & Usaha Kecil. Ch. Bogor. Earl R. Yogyakarta. Statistik II. Warta Koperasi. Suatu Kajian Cross-Section. Jakarta. Media Pengkajian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. May 1995. Yacobs and Razavich. (//gopher. Koperasi Organisasi Ekonomi yang Berwatak Sosial. (1995). ICA.T. Hadi. 164. International Cooperative Aliance (ICA) Communication. S. Bayu Krisnamurthi. Revitalisasi Koperasi Sekunder Nasional. Suwandi. (1979). Belmont.wisc. No: 26 Tahun XX 2005. No.adp.

koperasi juga dihadapkan pada dua lingkungan bisnis yakni lingkungan eksternal dan internal. this assessment was done by using psychological variables and especially psychosocial one. ***) Asdep Urusan Penelitian Koperasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti). modal. Anggota koperasi mempunyai identitas ganda. pasar. 8 �uni 200�. In the frame of revealing a part of some factors that influenced the success of the system concerned. because it was successful in uniting women and house wives into cooperative organization. dan dinamika kelompok I. 200� in implementing mutual liability system. produksi. The result was significantly interesting to be a thinking material in the process of cooperative promotion and development in the future time. aspek manusia sangat penting dalam kehidupan berkoperasi di Indonesia dan tidak hanya berdasarkan modal dan saham.d. kewirausahaan. Sistem tanggung renteng. Mutual liability system is a phenomenal system. *) 161 . Artikel diterima 25 Mei 200�. Peran aktif anggota koperasi menentukan target yang Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200�. **) Peneliti Utama pada Deputi Pengkajian SDM KUKM (tim peneliti). 1. Selaku badan usaha. penyesuaian diri. Lembaga koperasi ini terdiri dari kelompok orang yang disebut anggota berdasar sifat individu dan tidak berdasarkan modal atau saham. peer review 25 Mei s. kebijakan moneter. teknologi.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial*) Burhanuddin R**) dan Pariaman Sinaga***) Abstract At first assessment was dedicated to Puskowanjati on her 50th anniversary on March. review terakhir �� �uli 200�. dan kebijakan publik lainnya. baik sebagai pemilik dan pelanggan/pengguna jasa organisasinya. Peran anggota koperasi dengan berdasar identitas tersebut merupakan faktor strategis dalam pengembangan koperasi di Indonesia. Pengantar Definisi koperasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan kepada prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaaan. Oleh karena itu. kohesivitas. yang dipengaruhi beberapa faktor seperti: faktor sumber daya manusia (SDM).

penyesuaian diri dan kewirausahaan. terdapat dua identitas yang melekat pada anggota koperasi termasuk sebagai diri pribadi manusia dengan ciri psikologis tertentu dan terpisahkan dari kesehatan koperasi. musyawarah. dan ketiganya ditengarai berpeluang untuk direplikasi ke koperasi lain. disiplin dan tanggung jawab. saling percaya. Artinya. Dalam penerapan sistem ini. kohesivitas anggota koperasi. Terkait dengan ketiga variabel ini. Beberapa variabel penting koperasi yang berkaitan dengan dua identitas ganda koperasi adalah. Sebuah sikap dan perilaku yang dilandisi kesadaran terhadap tata nilai tanggung renteng yaitu kebersamaan. kelompok juga sebagai wahana dan sarana komunikasi antar anggota maupun dengan koperasinya.AGUSTUS 2009 : 161-170 akan dicapai organisasi koperasi dapat tercapai atau tidak. Kewirausahaan merupakan sikap pribadi berkaitan dengan kepentingan ekonomi pribadi dan koperasi. Implementasi dalam mewujudkan target koperasi dapat diraih dengan bantuan manajemen dan pengurus yang mengarahkan kegiatan bisnis koperasi. 162 . II. Di samping itu. Sistem Tanggung Renteng Tanggung jawab bersama diantara anggota dalam satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi dengan dasar “keterbukaan dan saling mempercayai”. keberadaan kelompok merupakan wadah anggota dalam beraktivitas untuk pemenuhan hak dan kewajiban sebagai anggota koperasi. aspek psikologi dan khususnya psikososial di koperasi juga merupakan faktor penting untuk keberlangsungan hidup koperasi. Dengan demikian dalam kelompok juga akan terjadi proses pembelajaran bagi anggota. maka akan terjadi perubahan sikap dan perilaku anggota. naskah ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada koperasi primer anggota Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) dalam rangka meneliti aspek psikologis dalam pengembangan sistem tanggung renteng. keterbukaan. Koperasi tidak dapat berkembang apabila anggota koperasi tidak berperan aktif di lembaganya. Dengan demikian.JURNAL VOLUME 4 . Kohesivitas anggota koperasi sesuai dengan ciri khas koperasi yaitu individu yang saling berinteraksi dalam berkelompok untuk mencapai tujuan koperasi. kewajiban dan peraturan. Penyesuaian diri berkaitan dengan peran individu untuk menyesuaikan diri terhadap kepentingan diri dan kepentingan koperasi. Bila proses sistem tanggung renteng diterapkan secara benar. Untuk itu kelompok diwajibkan untuk mengadakan pertemuan rutin secara berkala. Inilah prinsip tanggung renteng yang melibatkan tiga unsur utama yaitu kelompok. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi koperasi apapun untuk bisa tumbuh dan berkembang baik dari sisi organisasi maupun usaha.

Batu. dan setiap variabel telah memiliki koefisien reliabilitas yaitu : untuk variabel kohesivitas. KSP Kartini Mandiri. Semua data variabel diukur dengan 22 memakai skala Likert.4. namun kemudian yang layak diukur ditemukan hanya sebanyak 162 orang. 2004). KSU Kartika Chandra. Tabel 1. dan variabel kewirausahaan 0. Lawang. 57 1996). vairabel penyesuaian. Kota Surabaya 3. Kabupaten Pasuruan Jumlah 4.1 Penetapan Kerangka Pengambilan Contoh (Sampling Frame) Subyek atau responden penelitian ditetapkan secara sengaja (purposive sampling method) sebanyak 160 orang dan dalam pelaksanaannya meningkat menjadi 170 orang. 2. dan Kabupaten Pasuruan. Analisis data menggunakan teknik analisis persamaan regresi sederhana dan persamaan regresi berganda yang dalam penyajian hasil kajian dilengkapi dengan analisis statistik deskriptif berupa grafik histogram rerata dan matriks kategori. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu. Metode Kajian Kajian ini dilaksanakan dengan metode survei yang dilengkapi dengan observasi langsung kepada objek kajian tanpa memberikan perlakuan apapun sehingga terjadi aktivitas yang saling mempengaruhi (expost facto model). 2004). KSP Citra Lestari. Kota Surabaya. penyesuaian dan kewirausahaan. Lokasi Koperasi Kelompok 4 3 1 8 2 2 2 6 Anggota (orang) 10 10 10 ------Responden (orang) 80 60 20 160 1.1 Pengumpulan data ditetapkan di tiga lokasi yang juga ditetapkan Variabel Kohesivitas secara sengaja. KSU Setia Budi Wanita. Malang. yaitu di Kabupaten Malang. pada bulan Februari 2009.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) III.Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah (Org) 83 57 22 Persentase (%) 51 35 14 163 .9179 (Mardiyati. Kabupaten Malang 2. 0. 3. 3. 1 3. kohesivitas. Provinsi Jawa Timur. Pandaan. sebesar 0. 9646 (Pariaman dan Hidayat.8496 (Martono.2 Penetapan Koperasi Contoh 2 3 Jumlah koperasi primer wanita yang menjadi anggota Puskowanjati sampai tahun 2008 tercatat sebanyak 46 koperasi primer 83 dan yang ditetapkan sebagai sampel kajian sebanyak delapan anggota koperasi primer wanita yaitu: 1.

Hasil Penelitian 4. kekuatan kelompok. IV. dan KSU Waspada. Kohesivitas adalah keterikatan anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan berkelompok.1 Variabel Kohesivitas 22 57 1 2 3 83 Gambar 1. status dan peringkat koperasi. kreatifitas. optimis. Surabaya.JURNAL VOLUME 4 . berani mengambil risiko. Pemilihan dan penetapan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan keragaman lokasi kajian dan anggota koperasi. Kewirausahaan adalah kecenderungan individu yang percaya diri untuk bekerja mandiri. 8. dan peka terhadap kritik dan komentar/pendapat pihak lain. Grafik Kohesivitas Anggota Koperasi Wanita Sampel 164 . bekerja keras. toleransi terhadap kelompok dan pemenuhan harapan untuk bekerjasama mencapai tujuan bersama. KSU Setia Kartini Wanita.3 Definisi Operasional Variabel Berdasarkan penulusuran terhadap beberapa literatur dan jurnal kajian yang sejenis khususnya yang berkaitan langsung dengan variabel kajian. mampu melihat peluang bisnis. Sidoarjo. Surabaya. Malang.AGUSTUS 2009 : 161-170 5. KSU Mawar Putih. 6. inisiatif. keterlibatan. KSU Setia Bhakti Wanita. telah berhasil dirumuskan tiga definisi operasional variabel untuk digunakan dalam kajian. 3. dan memiliki sifat kepemimpinan. 7. Penyesuaian diri adalah perilaku belajar mengatasi dorongan dari tuntutan diri dan lingkungan dengan mengendalikan tindakan langsung dan hubungan interpersonal.

c. Keterikatan 83 anggota akan keberlangsungan hidup koperasi akan membuat anggota koperasi terlibat dalam kelompok di koperasi. Rasa keterkaitan e.22 57 Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) 1 2 3 Kohesivitas koperasi sebagai bukti interaksi antar anggota ditemukan cukup tinggi di koperasi wanita sampel. b. Kelompok kelompok koperasi yang menerapkan tanggung renteng akan merasa saling terikat. Ada mitra tanding f. Pengaruh masih ketat c. 1987) 4. Saling melengkapi h. Ada sistem imbalan (Alderfer. TabelTabel 2. Kohesivitas kelompok menunjukkan keterikatan individu dengan individu lain dalam kelompok. 1.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian  a. dalam Hadipranata. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (Org) 83 57 22 162 Persentase (%) 51 35 14 100 Dinamika Kelompok Individu dalam kelompok mempunyai keterikatan dengan kelompok sesuai dengan bagaimana penyesuaian diri individu dan interaksi individu di dalam kelompok. Ukuran terbatas (kecil) b. f. Individu belajar menyesuaikan diri dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Dampak Kohesivitas Kepuasan Rasa tanggung jawab Optimalisasi prestasi Komunikatif Rasa kami kuat Menolak perombakan kelompok Penampilan kerja baik 165 . dalam Hadipranata. e. Diskripsi Kohesivitas Dinamika Kohesivitas a. d. Rasa sepenanggungan d. Kewirausaha individu dalam koperasi karena ada contoh dalam kelompok untuk mengelola bisnis dalam rumah tangga dan koperasi. g. Diskripsi Kohesivitas 2. Keterikatan akan aturan dan kepentingan ekonomi membuat anggota koperasi secara sadar menerapkan sistem tanggung renteng. Tabel 1. 1987) (Alderfer. Tabel 1 kategorisasi menunjukkan kohesivitas anggota koperasi wanita tinggi. Kesempatan partisipasi g.

Karenanya diperlukan beberapa syarat (Katz. artinya ada job requirement.AGUSTUS 2009 : 161-170 Kelompok yang berkohesivitas dengan memiliki jati diri sosial (social identity) dan memiliki kekuatan kerjasama yang tangguh. sedangkan yang tidak berkohesivitas cenderung lemah terhadap kerjasama. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kohesivitas suatu kelompok (Jannis. c) Keterbukaan isolasi dari luar. dan. sehingga menimbulkan pengembangan kepribadian yang unik. yaitu: a) Kiprah interaksi personalnya. c) Mekanisme kerja kelompok demokratis. Setiap anggota memberikan kelebihannya dan menerima kekurangannya. Menurut Steiner (1972). dan g) Hadiah lebih besar dari hukuman. Penelitian tersebut juga dikenakan berbagai macam jenis pekerjaan. 3) Kepuasan kerja anggota kelompok. pendapat. lebih kreatif dan dalam penyelesaian masalah pun lebih koordinatif serta lebih produktif dari pada sejumlah orang yang sama dalam kelompok biasa yang biasanya kerja kurang terkoordinasi. d) Kesediaan bermitra tanding. Anggota koperasi dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama. f) Aktivitas berperan serta dalam keputusan. 2) Produktifitas kerja kelompok. Setiap anggota memperoleh tanggungjawab terhadap beberapa tugas-tugas yang sudah rutin. Kelompok bhinneka adalah kelompok yang anggotanya memiliki perbedaan nilai. Hal ini membuat keberhasilan kelompok lebih utuh. Sebagai bentuk partisipasi koperasi akan membuat saling pengertian yang lebih baik dan kemudian lebih memiliki keikatan dalam penyelesaian tugas secara positif dan efektif. 1989). pekerjaan dan aturan kerja yang mapan. b) Jumlah anggota yang ideal kurang dari enam orang. Kelompok yang beriklim kohesif ini dalam membuat keputusan lebih efektif. Langkah-langkah untuk menguatkan kohesivitas dalam kelompok dapat dilakukan. b) Sumber daya kelompok yang tepat penempatannya. Kohesivitas juga menciptakan “motivasi sosial” karena kohesivitas kelompok di koperasi wanita identik dengan keragaman atau disebut juga kelompok bhinneka. baik sifat-sifat individu maupun watak kelompoknya. 1982).JURNAL VOLUME 4 . Jati diri kelompok kohesif membuat kerjasama pada setiap peringkat organisasi termasuk internal pengurus koperasi. terbuka dan memperoleh peluang untuk bermitra tanding atau berkompetisi yang sehat. efektifitas kelompok kohesif itu: 1) Derajat keterikatan anggota kelompok. yaitu antara lain: a) Tatanan tugas. kemampuan maupun perspektifnya memiliki karakter yang dibutuhkan bagi efisiensi kinerja kelompok. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah kelompok kohesif jauh lebih 166 . Keberhasilan pengaruh kohesivitas kelompok terhadap produktifitas koperasi dapat dikatakan tergantung pada pengaturan koperasi terhadap kelompok dalam pencapaian tujuan bersama. e) pertaruhan nama kelompok atau jiwa korps.

3 Variabel Kewirausahaan Grafik 3 dan Tabel 3 menunjukkan bahwa kategori anggota koperasi tinggi pada aspek kewirausahaan. Penjelasan perilaku wanita wirausaha yang tinggi berkaitan dengan tanggung renteng. 4. Wanita melakukan penyesuaian diri terutama berkaitan dengan lingkungan dimana kelompok berkumpul sebagai wujud tanggung renteng koperasi. maka kerajinan tangan yang bersifat pribadi dan kinerja perorangan lebih baik daripada dikerjakan bersama 4.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian 43 51 1 2 3 68 Gambar 2. Model tanggung renteng menerapkan perilaku belajar peraturan. Figur dalam kelompok akan mendorong individu dalam koperasi untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik terutama berkaitan dengan peraturan sebagai turunan dari model. Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Penyesuaian diri wanita anggota koperasi dapat diamati pada Grafik 2 dan Tabel 2. 167 . Ternyata dari hasil pengukuran ditemukan bahwa koperasi cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan sistem tanggung renteng itu sendiri memberikan kesempatan anggota koperasi untuk berinteraksi sehingga timbul perilaku mencontoh. Wanita anggota koperasi akan merasa senasib sepenanggungan dengan mengedepankan penyesuaian diri sehingga kepentingan ekonomi dapat terwujud secara bersama-sama.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) baik daripada kinerja individual. Munculnya keyakinan diri seseorang mengenai kemampuannya dalam menampilkan suatu bentuk perilaku menggambarkan hubungan dengan situasi yang dihadapi seseorang tersebut dan menempatkannya sebagai elemen kognitif dalam pembelajaran sosial. Hanya saja kadangkala untuk jenis pekerjaan seni. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bandura bahwa keyakinan individu akan dirinya yang dapat melakukan tindakan yang dikehendaki oleh situasi tertentu dengan berhasil.

Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Tabel 3. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan ditemukan bahwa ketiga variabel menempati kategori tertinggi.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 161-170 Grafik 2. secara berturut-turut adalah: kewirausahaan (71 persen). penyesuaian diri (68 persen). Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Kategori Jumlah Persentase (org) (%) Tinggi Kewirausahaan 68 42 Sedang 51 32 Rendah 43 26 Total 162 100 30 Kewirausahaan 61 1 2 3 2 30 61 71 1 2 3 Grafik 3. dan kohesivitas (51 persen). 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan 71 Tabel 4. Jumlah (org) 71 61 30 162 Persentase (%) 44 38 18 100 168 . Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel 4. Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Gambar 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan Anggota Koperasi Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total VI.

(1987). Hadipranata. Himam. & Rasyid. A. (1990). Para wanita anggota koperasi primer yang mempraktekkan sistem tanggung renteng ditengarai turut menopang kehidupan organisasi koperasi masingmasing. 81-104. Mikeo. F.. Hasil kajian juga menggambarkan adanya kemampuan adaptasi para wanita anggota koperasi dalam mengadopsi suatu sistem yang diyakini bersama dapat membantu pemenuhan ekonomi rumah tangga mereka. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Badan Pelaksana Pendidikan dan Latihan Ketenagakerjaan Yogyakarta. Hasil kajian juga mengindikasikan bahwa pengembangan koperasi tidak bisa terlepas sepenuhnya dari aspekaspek psikologis dan sosiologis anggotanya. A. (1993). Aspek-aspek psikososial yang berhasil diukur ini nampaknya perlu dipertimbangkan dengan lebih cermat di masa akan datang sebagai bagian dari pola pembinaan koperasi dan anggotanya.. Sehubungan dengan hal tersebut di atas.. Katz. Yogyakarta: Studio Yogyayasa Laboratorium Sumberdaya Manusia. H. Identifikasi dan Analisis Alat Ukur Penelitian di Bidang Psikologi Industri dan Organisasi.. Perbedaan Semangat Kerja Karyawan Dalam Kelompok Yang Kohesif dan Yang Tidak Kohesif Pada Perusahaan Tenun ATBM Kodya Yogyakarta.F.Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. 27. R.F. DAFTAR PUSTAKA Hadipranata. Laporan Hasil Lokakarya.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Penemuan ini mencerminkan bahwa jiwa kewirausahaan anggota koperasi primer ternyata mempengaruhi dan turut menentukan kelangsungan usaha koperasi-koperasi primer wanita yang bernaung dalam Puskowanjati. Administrative Science Quarterly. 169 . Hadipranata.. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Hal ini mendukung upaya penyelamatan asset dan ketersediaan likuiditas koperasi sehingga semua anggota koperasi memiliki kesempatan yang relatif sama untuk mendapatkan pelayanan dari koperasi masing-masing. Penelitian. Keberhasilan tanggung renteng sebagai suatu sistem dapat dicermati dari unsur rasa keterikatan anggota kepada kelompoknya dan koperasinya.F. maka generalisasi kajian dalam bentuk replikasi sistem tanggung renteng masih memerlukan kajian lebih mendalam dengan lingkup lebih luas. Mikeo. (1987). The Effects of Group Longerity on Project Communication and Performance.. (1982). Hal tersebut disebabkan karena dasar pendirian koperasi adalah merupakan kumpulan orang-orang (human capital) dan bukan semata-mata kepada unsur permodalan. A.F.

L. (1989).A. I..AGUSTUS 2009 : 161-170 Jannis. (2004).. I. Making Group Effective. Group Process and Productivity. Mardiyati. 417-452. New York: The Free Press. A. 170 . (1982). The Psychology of Group Processes.. (1979). Crucial Decissions.JURNAL VOLUME 4 . A. 30. New York: Academic Press. (1972). Kebahagiaan Perkawinan Ditinjau Penyesuaian Diri dan Sikap Terhadap Konsep Wanita Ideal �awa. Annual Review of Psychology.. Zander. San Fransisco: Jossey Bass. Steiner. Zander.

e. Members are also benefited through saving and loan activities. Assessment is implemented in three provinces. covered 15 cooperatives and about 150 members of cooperatives.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Dampak. the quality of product. and the timing of services. management and members – are weak. Gopar) KAJIAN DAMPAK KOPERASI TERHADAP ANGGOTANYA1*) Achmad H. Kepentingan untuk mengembangkan koperasi sebagai alat untuk ingan meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin. The research indicates some important results. Data are analyzed using simple descripted statistics. partisipasi.. cooperative pricing policy. 8 �uni 200�. The weaknesses have been occurred in some areas such as education. *) 171 . North Sumatra. The rules of conduct in cooperatives have not been developed systematically.1 Latar Belakang Tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya penelitian untuk menilai dampak koperasi pada tingkat anggotanya: 1). Kepentingan untuk mengukur kemajuan koperasi menurut dimensi pertumbuhan secara agregat dan sumbangannya terhadap pendapatan regional maupun nasional. Pendahuluan 1. peer review 12 Mei s. Market information from cooperatives is also useful for members in selling their products. management. kelompok sasaran. Cooperatives have given good impacts for its members. D. The impact get through the services i. Human resources of cooperatives – board of directors. kemanfaatan I. cooperatives fail to mobilize capital and to use it more productive. the tasks and the responsibilities for directors. and North Sulawesi. Yogyakarta. review akhir �� �uli 200�. auditors and members are not explicitly written. 2). especially in rural areas. Financially. experiences and composition of directors and management. intermediasi.I. Pemikiran bahwa dalam melihat Kajian Suplementasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK tahun 2006. dan 3). Pengukuran yang dilakukan selama ini dirasakan belum memadai untuk menerangkan manfaat keberadaan koperasi bagi anggota dan masyarakat sekitarnya.d. **) Peneliti pada Deputi bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (peneliti kajian). Artikel diterima 12 Mei 200�. indikator. Gopar**) Abstract This research has been conducted in order to asses the impacts of cooperatives for its members. Cooperatives has not built financial intermediary system among themselves so that the capital can be used more productive and efficiently.

baik kepada gerakan koperasi maupun kepada pemerintah. Indikator-indikator tersebut diujicobakan dalam penelitian agar bisa disempurnakan dan secara berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengukur dampak koperasi terhadap anggota. Sedangkan bagi Pemerintah kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1 Memberikan masukan informasi yang berguna dalam penyusunan kebijaksanaan pembangunan koperasi. yang dilaksanakan tim dari Universitas Indonesia dengan judul ”Kajian Dampak Pemberdayaan KUKM terhadap Kesejahteraan Rakyat”. Melakukan pengukuran dampak koperasi terhadap anggota pada beberapa lokasi terpilih. Bertitik tolak dari ke tiga alasan di atas maka lahirlah gagasan dan pemikiran untuk mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi dampak koperasi di tingkat anggota.2 Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. 2 Memberikan masukan kebijaksanaan dalam penyusunan sistem dan mekanisme monitoring dan evaluasi pembangunan perkoperasian. tahun anggaran 2006.3 Manfaat Penelitian Kegiatan penelitian ini pada dasarnya akan dapat memberikan manfaat ganda.AGUSTUS 2009 : 171-185 kemajuan yang dicapai koperasi atau manfaat kehadiran koperasi di tengah-tengah masyarakat perlu pemantauan dan evaluasi sejauhmana dampak koperasi terhadap anggotanya. Melakukan uji coba dan pengembangan indikator-indikator pengukuran dampak koperasi terhadap anggota. 2 Memberikan masukan kepada koperasi itu sendiri dalam rangka merumuskan kebijakan organisasi dan usahanya. Kementerian Negara KUKM. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengembangkan indikator-indikator monitoring dan evaluasi dampak koperasi terhadap anggotanya. 1.JURNAL VOLUME 4 . Penelitian ini merupakan suplementasi dari penelitian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. dalam hal-hal sebagai berikut : Manfaat yang dapat diambil oleh gerakan koperasi adalah sebagai berikut:  Meningkatkan kemampuan analisis secara kritis para pengelola koperasi. 1. 172 . b.

Sebagai responden untuk mewakili koperasi adalah pengurus atau pengelola koperasi. 2. maka secara umum dapat dikelompokkan dalam dua kategori data. sedangkan untuk anggota koperasi diwawancarai sebanyak sepuluh orang anggota koperasi yang ada di wilayah kerjanya.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Alih Pengetahuan Uji coba dan pengambilan data pada penelitian melibatkan langsung tenaga pengelola koperasi sebagai pelaksana pengumpulan data penelitian. seperti persepsi anggota terhadap kualitas pelayanan koperasi dan seterusnya. Dalam kerangka monitoring dan evaluasi dampak koperasi. Mekanisme monitoring semacam ini sudah berjalan dengan baik. maka cakupan kegiatannya meliputi sebagai berikut: 1. Aspek Pengamatan Informasi atau data yang dikumpulkan pada dasarnya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai oleh penelitian itu sendiri. volume usaha dan sebagainya. mudah diperoleh dan dapat dilakukan secara nasional. yaitu: 1) Data yang bisa dimonitor setiap saat dan secara terus menerus (monitorable). Tenaga-tenaga dari koperasi tersebut diikutsertakan dalam proses pelaksanaan penelitian sehingga diharapkan akan terjadi proses alih pengetahuan (learning by doing) mengenai penelitian perkoperasian. dan 2) Data yang tidak yang tidak bisa dimonitor (unmonitorable). jumlah simpanan. Dalam monitoring perkembangan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah secara rutin dan terus menerus selama ini adalah menggunakan data atau indikator kuantitas yang bisa dimonitor.4 Ruang Lingkup Mengingat penelitian ini lebih merupakan proyek perintisan yang bersifat eksperimental study yang pelaksanaannya dilakukan juga oleh koperasi. 3. Aspek Penelitian Para pengelola yang melaksanakan penelitian tersebut dibekali dengan pengetahuan teknis penelitian maka selanjutnya mereka langsung dilibatkan dalam praktek atau proses penelitian. Dari mereka digali informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan. dari tingkat yang paling bawah (kabupaten/kota) sampai dengan tingkat nasional. setiap saat. Gopar) 1. Keuntungan cara ini adalah datanya tersedia. seperti misalnya jumlah anggota. Obyek pengamatan adalah koperasi dan anggotanya. Namun kelemahannya adalah kemungkinan datanya kurang reliable dan belum memadai untuk menggambarkan apakah kehadiran koperasi 173 .

II. dan dampak koperasi (cooperative impact) terhadap anggota dan lingkungan yang dipengaruhinya. Selain itu partisipasi merupakan dasar kekuatan koperasi. dalam penelitian ini pengukuran dampak koperasi terhadap anggota tidak hanya diambil dari data kuantitatif yang diperoleh dari koperasi. yaitu dilihat dari perspektif pertumbuhan koperasi ternyata hasilnya belum memuaskan. Kerangka Pemikiran Setidaknya ada tiga cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan koperasi. maka partisipasi anggota merupakan kata kunci yang melambangkan dampak keberhasilan koperasi dalam memperbaiki kesejahteraan para anggotanya. yaitu dilihat dari dimensi pertumbuhan (cooperative growth). peranan koperasi terlihat belum memadai dan belum menggambarkan dampak penggandanya terhadap seluruh aspek kehidupan anggota koperasi maupun masyarakat.JURNAL VOLUME 4 . memerlukan suatu studi secara khusus dan komprehensif mengenai dampak koperasi pada tingkat (level) anggotanya. Dimensi pertama dapat dijelaskan sebagaimana berikut. Dengan lain perkataan di samping data yang bisa dimonitor dari koperasi juga akan diambil data berdasarkan persepsi atau opini anggota. Berdasarkan suatu asumsi bahwa semua koperasi akan berusaha secara maksimal untuk melayani anggotanya atau berorientasi pada kepetingan anggota. Pengukuran dampak koperasi dalam bentuk kemanfaatan koperasi dan partisipasi sebagai komplemen bahkan mungkin subtitusif dari dua tolok ukur dan atau cara pengukuran di atas. maka dengan semakin besarnya pertumbuhan koperasi memberikan indikasi semakin banyak jumlah anggota yang memperoleh manfaat dari kehadiran koperasi.AGUSTUS 2009 : 171-185 itu memberikan manfaat bagi sebagian besar anggota dan masyarakat sekitarnya. Di lain pihak jika kita mengukur dari segi cooperative share terhadap GDP. Mengingat basis kekuatan koperasi adalah pada anggota. sumbangannya terhadap GDP maupun GNP (cooperative share). Berdasarkan asumsi ini maka pengukuran keberhasilan pembangunan koperasi dapat dilakukan melalui pengukuran pertumbuhannya. namun akan lebih ditekankan pada tingkat anggota. Dengan menggunakan cara yang pertama. 174 . Banyaknya anggota belum menggambarkan besarnya manfaat keberadaan koperasi karena hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki akses terhadap pelayanan koperasi. Oleh karena itu. Pemikiran ini selanjutnya akan sampai pada suatu justifikasi bahwa mengukur keberhasilan koperasi menurut dimensi pertumbuhan dan sumbangannya terhadap GDP dianggap kurang memadai.

Atas dasar itu. Kegiatan ini disebut evaluasi (impact monitoring). ditetapkan rencana dan program yang hendak dicapai oleh koperasi dalam kurun waktu tertentu. Ada beberapa pertimbangan pentingnya koperasi untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri. Kegiatan monitoring dan evaluasi sangat penting bagi individual koperasi yang bersangkutan. efisien serta manageable jika dilakukan oleh koperasi itu sendiri. Lebih mudah dan cepat untuk melakukan penyempurnaan. pengolahan. Secara dini koperasi dapat menemukenali kesalahan dan penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program. Selanjutnya dilakukan penyesuaian terhadap kebijaksanaan dan tujuan yang hendak dicapai. Karena secara cepat dapat mengkoreksi berbagai kesalahan ataupun penyimpangan yang terjadi pada koperasi. Gopar) Monitoring dapat dirumuskan sebagai proses pengukuran. Selain itu dilakukan evaluasi membandingkan pelaksanaan program yang telah dicapai secara aktual dan dampaknya dengan rencana yang hendak dicapai. Selain itu terjamin tingkat akurasi dan reliabilitas data dan informasi yang disajikan. Keterbatasan sumberdaya yang ada pada pemerintah. Tujuannya adalah mendapatkan informasi jumlah atau volume komoditi atau kebutuhan anggota yang sudah tersalur maupun jumlah anggota yang sudah menerimanya dan seterusnya. antara lain yaitu: (a). Disamping itu koperasi menjadi semakin kritis dan realistis dalam perumusan kebijaksanaan dan perencanaannya. volume bibit. Pada umumnya hasil evaluasi pemerintah tidak segera dikomunikasikan dengan koperasi yang diamati. (berupa tenaga pelaksana dan pembiayaan) tidak memungkinkan koperasi secara nasional untuk melakukan kegiatan ini.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. pupuk dan kredit yang akan disalurkan kepada petani anggota. Kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana komunikasi dua arah dan member education. Dalam rangka operasionalisasinya akan lebih efektif. (d). (b). pencatatan. Kinerja dapat diartikan sebagai suatu tingkat pencapaian target selama periode tertentu. Dalam pelaksanaan perlu dipantau terus menerus. Misalnya dalam sebuah koperasi pertanian telah dilakukan inventarisasi atau pencatatan terhadap luas area yang ditanami. pengumpulan. Dengan cara ini membantu menemukan sebab keberhasilan maupun kegagalan dari berbagai program. 175 . dan penyajian informasi untuk membantu pengelola dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerjanya dalam mengelola suatu organisasi atau perusahaan. Hubungan koperasi dengan para anggotanya menjadi semakin dekat dan tidak terjadi kesenjangan antara koperasi dan anggotanya. volume hasil produksi yang akan dipasarkan atau diserap dan sebagainya. (c).

Metode Penelitian Untuk mencapai tujuan proyek penelitian ini dan berdasarkan ruang lingkup kegiatan yang dicakup. sebagaimana pada pemilihan lokasi penelitian. Merangkum hasil monitoring dan evaluasi masing-masing koperasi yang ada di daerahnya. Pemilihan Koperasi Contoh Pemilihan koperasi contoh didasarkan kepada berbagai pertimbangan pula. Di samping data/informasi perkembangan organisasi dan usaha.JURNAL VOLUME 4 . dan propinsi Sulawesi Utara. 2. dukungan pembiayaan dan representasi data yang dapat diambil. Berdasarkan pertimbangan kemampuan pelaksanaan.I. Pemilihan tiga propinsi dimaksud diharapkan dapat mewakili keragaman situasi dan kondisi lingkungan koperasi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. dan berbagai pertimbangan non teknis lainnya. Yogyakarta. Selanjutnya dilaporkan kepada kantor dinas koperasi tingkat provinsi. Secara simultan koperasi yang bersangkutan sudah dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk penyesuaian dan penyempurnaan kebijakan.AGUSTUS 2009 : 171-185 Anggota sebagai kelompok sasaran (target group) merupakan objek pelaksanaan monitoring dan evaluasi. D. III. Lokasi untuk penelitian ini adalah provinsi Sumatera Utara. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ditetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan kebutuhan akan representasi dari keadaan yang ada di lapang dan ketersediaan dana. Pada penelitian ini koperasi sampel ditentukan secara acak (random) dari sejumlah koperasi pedesaan yang masih aktif di provinsi lokasi penelitian. dilaporkan hasil monitoring dan evaluasi dampak koperasi pada tingkat anggota kepada dinas koperasi kabupaten/kota. Sifat dan keadaan serta karakteristik yang khas dari ketiga daerah tersebut menjadi pembanding untuk masing-masing situasi dan kondisi lingkungan lainnya yang mungkin berbeda. Operasionalisasi kegiatan secara mekanistis diarahkan untuk memasok data agregat pengambilan keputusan di tingkat pemerintah melalui jaringan kerja (network): Anggota – Koperasi – Kantor koperasi di kabupaten/ kota – Provinsi – Pemerintah pusat. ditetapkanlah sebanyak 15 KUD sebagai objek penelitian. maka pelaksanaannya dilakukan berdasarkan anaannya metodologi dan prosedur yang disusun sebagai berikut: 1. Kantor dinas membuat laporan kumulatif perkembangan koperasi. Jumlah KUD untuk masing- 176 . Kantor dinas tingkat provinsi akan menyusun laporan sedemikian rupa kepada pemerintah pusat.

1 kali Pend. Dengan pertimbangan efektivitas pelaksanaan survai. 83. maka ditetapkanlah sebanyak 6 (enam) KUD di Sumatera Utara. koperasi yang terpilih sebagai sampel hanyalah diambil dari beberapa kabupaten Propinsi RataIdentitas Satuan saja. 4 (empat) Tabel 2. Koperasi Contoh dan Lokasinya No. dan 5 (lima) Umum Sulawesi Utara sebagai koperasi sampel. Koperasi Contoh dan Lokasinya Tabel 1. Responden anggota ini diperlukan 2. Namun juga sebagai salah satu upaya untuk melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasi sampel (dalam hal ini diwakili oleh pengurus).8 3. Tabel 1.7 45 70 40 Pendidikananggota sebagai% orang (>SMP) responden.3 82 92 76 % Umur (>35 thn) 74.7 78 70 % Pekerjaan (tani) Selanjutnya untuk setiap koperasi sampel diambil76 sebanyak 10 51. 177 . Gopar) masing provinsi ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah KUD dan KUD mandiri yang ada di setiap propinsi tersebut.DIY KoperasiSULUT tersebut sampel rata SUMUT adalah sebagaimana tertera pada tabel 1. tidaklah menyebar di semua kabupaten.4 2. Identitas KUD di Anggota KUD di Yogyakarta. informal untuk menggali data dan informasi yang lebih 1.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.  2 3 4 5 6 7 8 9 10  12 13 14 15 Nama Koperasi Harta Sidomukti Sritani Tani Makmur Rata Harapan Ringin IX Ngaglik Makmur Turi Wenang Lestario Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kecamatan Selesai Hinai Gebang Babelan Besitang Pagar Merbau Cangkringan Ngaglik Kalasan Turi Sario Molas Kombi Kombi kombi idem idem idem idem idem Yogyakarta idem idem idem idem Sulawesi utara idem idem idem Propinsi Sumatera Utara No  2 3 4 Sesuai dengan jumlah KUD yang ada di masing-masing provinsi.3 banyak mengenai dampak koperasi terhadap anggotanya.

Teknik ini digunakan karena secara sederhana akan dapat menggambarkan kecenderungan yang terdapat pada suatu populasi. Keterangan secara menyeluruh untuk semua lokasi penelitian dapat dikaji lebih lanjut pada tabel 2. Untuk itu akan dibahas persepsi anggota tentang dampak dan manfaat koperasi dari sudut pandang anggota koperasi. Selebihnya mereka mengaku paling tinggi hanya tamat SLP. Metoda Analisis Analisis yang dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan penelitian. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya. Perlakuan dan pengolahan akan dilakukan terhadap distribusi frekuensi. ketersediaan data dan informasi yang didapat dan pertimbangan seperti kemampuan para peneliti. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi anggota di koperasi lainnya (32%).JURNAL VOLUME 4 . Organisasi koperasi di pedesaaan pada umumnya KUD adalah berbasis kewilayahan. penggalian dan pendalaman data/informasi dari dan tentang anggota untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang anggota. Hasil Pengamatan dan Analisis Dari sudut pandang koperasi (diwakili oleh pengurus dan/atau pengelola) bahwa koperasi telah memberikan dampaknya kepada anggota secara maksimal. Usia mereka Usia mereka yang berada diatas 35 tahun ada sebanyak 83. Hal tersebut dapat dimaklumi.7% dari mereka yang mempunyai pendidikan diatas sekolah lanjutan pertama (SLP).AGUSTUS 2009 : 171-185 3. Jikalau kita tinjau ciri keanggotaan lainnya (tabel 3) terlihat bahwa para responden umumnya telah menjadi anggota koperasi selama lebih dari lima tahun (73. tendensi pemusatan dan penyebaran (Neter. Secara umum dapat dikatakan bahwa para responden anggota koperasi adalah para anggota yang pekerjaaannya sebagai petani (74. 178 . ketersediaan waktu dan dana.7%). Terlebih dahulu akan memaparkan kondisi keanggotaan koperasi pedesaan yang diteliti. Hanya sekitar 51. Dengan melihat kecenderungan dari data yang terolah. 1988). Penelitian ini menggunakan model-model analisis statistik deskriptip sederhana (simple descriptive statistics) sebagaimana dikemukakan oleh Welch & Comer (1988).1%). Namun demikian dari keseluruhan responden anggota tersebut umumnya mereka telah mendapatkan pendidikan non-formal dan keterampilan rata-rata sebanyak 2. Mereka umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang belum memadai. Karena mereka umumnya hidup di pedesaan. et al.4 kali.3% dari keseluruhan responden. maka kita akan dapat memprediksikan kemungkinan maupun alternatip yang ada dari data. Persepsi tersebut belum tentu sama dengan persepsi anggota. ketersediaan perangkat keras dan lunaknya. serta upaya melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasinya. IV.

anjuran pembina d. keinginan sendiri Pemilikan lahan Satuan % % % % % % (ha/angg) Propinsi SUMUT 72 40 52 6 40 1. Ternyata pengaruh anjuran para pembina dan pengurus ternyata masih cukup kecil. Sedangkan sebanyak 31.3 4.0 64 70 58 Tabel 5. Tentunya kepemilikan (Persentase) lahan ini sangatlah bervariasi antar lokasi penelitian. Ciri-ciri Keanggotaan Tabel 3. Hanya sekitar 55.2 DIY 81 30 10 10 70 0.8 Ratarata 83.96 1 4 Ciri lainnya yang penting untuk dikaji adalah kenyataan bahwa Tabel 4. Bagaimana manfaat dan 3 74 42 57.7 51. anjuran kepala desa b.3 dampak koperasi bagi anggotanya dalam hal ketersediaan beberapa komoditi 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 76 75.2 ha). 64. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya para anggota koperasi umumnya merupakan petani kecil. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 3 (Persentase) Ratarata SULUT 62 24.3 74.3 para Kredit anggota koperasinya rata-rata 56 sekitar 1. Berlahan sempit kepemilikan lahan rata-rata hanya sekitar 0.96 ha. lebih tinggi .7 55.7 32. Identitas Umum Anggota Tabel Identitas Umum Anggota No  2 3 4 Identitas Umur (>35 thn) Pekerjaan (tani) Pendidikan (>SMP) Pend.0 31. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa menjadi anggota koperasi tidaklah hanya berdasarkan motivasi dan keinginan sendiri.3 0. Ini menarik untuk dikemukakan. Ciri-ciri Keanggotaan No  2 3 Ciri keanggotaan Lama keanggotaan (>5 thn) Anggota koperasi lain Motivasi a.3 dan ketepatanlainnya 5 Pelayanan waktunya dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.3 SULUT 82 76 45 2.3 ha.3 Ratarata 73. informal Satuan % % % kali SUMUT 76 70 40 3. Di Sumatera Utara para Propinsi RataNo Komoditi anggotanya menjadi pemilik kebun kelapa DIY ternyata memiliki lahan sawit SULUT rata SUMUT yang jauh lebih luas dari rata-rata kepemilikan lahan tersebut diatas (sekitar  Pupuk 70 76 77.4 Hal menarik lainnya adalah motivasi menjadi anggota koperasi.13 14 15 Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kombi Kombi kombi idem idem idem Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Begitu juga halnya dengan di Sulawesi86 Utara yang kepemilikan lahan 2 Obat-obatan dan bibit 68 60 62 63. Gopar) Tabel 2.1 Propinsi DIY 92 78 70 1. 2.3% saja yang menjadi anggota koperasi atas keinginan sendiri.0 179 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a.3% lainnya menjadi anggota koperasi karena atas anjuran kepala desa.3 3.4 SULUT 68 26 32 8 56 1.3 1. anjuran pengurus c. Pengaruh anjuran pembina dan pengurus terhadap calon anggota untuk menjadi anggota koperasi yang hanya sekitar 8% tentunya belumlah bisa menggambarkan bahwa anjuran dan penyuluhan belum memadai. Tabel 3. Efektivitasnya perlu untuk dikaji lebih lanjut.7 2.

Ini sangat berbeda dengan pendapat para anggota koperasi sampel di Sulawesi Utara.96 Ratarata Tabel Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Tabel 4.3%) menyatakan bahwa Komoditi rata tersedia dan waktunya tepat saat dibutuhkan. anjuran pembina 70 40 % d. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi komoditi pupuk cukup Ratabesar dari responden (77.0 83. Yogyakarta (86%). ternyata belumlah cukup memuaskan Propinsi 76 Pupuk 70 86 77. 24.3 0.3%. 4.3 4. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat latar belakang para anggota koperasi di Sulawesi 2 180 .3 2 3 2 Mengenai harga komoditi. Hanya sebagian kecil saja dari mereka (3%) yang menyatakan harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi.AGUSTUS 2009 : 171-185 1. bahwa sebagian anggota koperasi sarnpel di Sumatera Utara (56%) dan D. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Dari tabel 4 terlihat bahwa komoditi pupuk ketersediaan dan ketepatan (Persentase) waktunya merupakan yang tertinggi angka persentasenya.3 42 1.7 62 56 63.3 57.3 73.7 56 70 86 58 22 64.0 54.3 76 8 77. harga pembelian komoditi milik anggota oleh koperasi jika dibandingkan dengan pasaran umum adalah normal ataupun relatip sama.96 76 75. anjuran pengurus 6 % c.3%.10 52 % a.3%) menyatakan mereka mendapatkan kemudahan dari 72. anjuran kepala desa 10 % b. ini berarti sebagian Tabel 5.3 0. ternyata mendapatkan tanggapan yang cukup berbeda antar daerah.4 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 5 Pelayanan lainnya 64 70 32 8 56 1. SUMUT Masing-masing hanya 63. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 56 28 78 92 3 86 2 66 70 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a. keinginan sendiri bibit 2 Obat-obatan dan 68 40 6070 (ha/angg) 561. anjuran pengurus % c.3 58 64. Tanggapan atas Harga Komoditi Tabel 5.4 (ha/angg) 4 Pemilikan lahan JURNAL VOLUME 4 . anjuran pembina Pupuk 70 6 86 % d.7 68 32. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya 4 No  2 3 4 5 Tabel 4.3 55. kredit.0 72 66 78 2 Harga koperasi sbg patokan cara pembayaranharga diberikan oleh koperasi. lebih rendah para responden (75. lebih tinggi Kemudahan Cara pembayaran 70 80 3 76 62 75. Obat-obatan dan bibit 68 60 DIY 62SULUT 63. sebagian besar 11. lebih rendah Harga koperasi sbg patokan Kepastian harga (Persentase) Ratarata SULUT 62 22 4 72 88 24.3 dan 64% saja koperasi vs di umum 56 yang menyatakan 42 dari para responden bahwa 57.3RataNo Jenis Tanggapan ketersediaan dan ketepatan waktunya.0 b.3 72. lebih tinggi b.3 4.2 Pemilikan lahan 3 Kredit 740.3 88 70 92 3 Kepastian yang Tabel 5.3 ketersediaan  Kredit Harga di 74 beberapa komoditi tersebut adalah cukup dan pada waktu yang tepat. 83. anjuran kepalaKomoditi desa SUMUT DIY 10 % b. Sebagaimana terlihat pada tabel 5.7 11. DIY komoditi lainnya seperti Untuk SULUT (Persentase) SUMUT obat-obatan dan bibit.3 SULUT 3.3 4 2 28 c.0 3 a. dan lainnya.2 Propinsi No Ciri keanggotaan Satuan SUMUT DIY  2 3 81 72 % Lama keanggotaan (>5 thn) 30 40 % Anggota koperasi lain Motivasi Propinsi No 10 52 % a.I.3 SULUT 31. normal/sama c. Ciri-ciri Keanggotaan 0. Sebanyak 62% dari para respondennya menyatakan bahwa harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi.3 3. keinginan sendiri Tabel 3.0 54.0 26 (Persentase) Rata32 rata 31. lainnya transaksi antara 64 Pelayanan normal/sama Dalam hal anggota dan koperasinya.rata 57.7 55.

Apakah hal tersebut berkaitan dengan komoditi kelapa sawit yang kelola. sangat baik Pinjaman Pernah meminjam Mudahnya peminjaman Bunga rendah Propinsi SUMUT 88 94 86 6 32 82 92 DIY 96 100 60 12 46 70 90 (Persentase) Ratarata 92. Sebagian besar (80. umumnya sepakat (sekitar 95. baik b. Berarti koperasi sedikit banyak telah dapat mengendalikan harga komoditi yang dikelola anggota.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Selain itu sebanyak 72. Dalam hal pinjaman.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan kepastian harga bagi komoditi yang mereka kelola.3 72. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman No I  2 3 II 4 5 6 Kemanfaatan Pemasaran Kemudahan informasi pasar Informasi tersebut membantu Pelayanan koperasi a. Ada sebanyak 72% responden menyatakan bahwa harga koperasi merupakan barometer transaksi jual beli.7 92. sebanyak 34% responden menyatakan pernah meminjam uang kepada koperasi.6 7. Demikian juga dengan kepastian harga. sebanyak 83. Hal ini dapat dilihat pada tabel 6. Kiranya perlu pendalaman lebih lanjut. Dampak Koperasi Menurut Anggota Propinsi Rata- 181 (Persentase) .6% responden menyatakan bahwa pelayanan koperasi dalam hal informasi pasar ini adalah baik. sebanyak 92% responden menyatakan mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan informasi pasar. Tabel 6. Hal ini menarik untuk disimak dan dikaji jika dibandingkan jawaban responden dari Sumatera Utara adalah sebanyak 28% dari mereka menyatakan harga koperasi adalah lebih rendah. Pada umumnya adalah para petani cengkeh yang sistem jual belinya sudah diatur dengan sistem tataniaga cengkeh. Gopar) Utara. Dalam hal kemudahan informasi pasar. Umumnya 92% responden menyatakan bahwa bunga yang dikenakan oleh koperasi cukup rendah. Hal tersebut menyebabkan terhindarnya fluktuasi harga yang merugikan anggota.0 95.7%) menyatakan bahwa proses peminjaman tersebut cukup mudah dan tidak berbelit-belit.0 80. Kemanfaatan lain yang dirasakan para responden adalah dalam hal pemasaran komoditi dan peminjaman modal ke koperasi.3% responden) menyatakan bahwa informasi pasar yang mereka dapatkan tersebut adalah membantu memahami pasar.0 34. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman Tabel 6.0 SULUT 92 92 72 3 24 90 94 Tabel 7. Mengenai kemanfaatan informasi tersebut. Pada umumnya para responden menyatakan harga koperasi dapat dijadikan patokan harga bagi komoditi yang mereka kelola. Sebanyak 7% dari mereka menyatakan pelayanan tersebut sangat baik.

3% lainnya menyatakan bahwa koperasi dapat merupakan fasilitator dalam pembangunan ekonomi.7 51. Sebanyak 51.0 94 90 92 Bunga rendah 6 menyatakan bahwa koperasi merupakan alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi.3 182 .7 45.0 24 46 32 Pernah 4 anggota.JURNAL VOLUME 4 .3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan anggota. Sebagai alat perubahan. Sebagai alat pertumbuhan dalam12 perekonomian anggota. Sebanyak 86.7% Tabel 6. Hal ini dapat dikaji pada tabel 7. maka 7.0 85. Di lain pihak ada sebanyak 71. Dampak Koperasi Menurut Anggota (Persentase) No  2 3 4 5 6 7 Dampak koperasi Kemajuan anggota Peningkatan lapangan kerja Peningkatan perekonomian desa a.0 86. Kemanfaatan dalam Pemasaran mempengaruhi. Angka persentase rata SUMUT DIY SULUT tersebut hampir sama dengan yang menyatakan bahwa koperasi dapat Pemasaran I merupakan alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 81.AGUSTUS 2009 : 171-185 Bagaimana dampak koperasi dirasakan oleh anggota. Umumnya sebanyak 98. ada sebanyak 72%90 Selain hal-hal responden yang 92.7% responden sepakat menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja di daerah kerjanya. mendapatkan tanggapan positif dari para responden. meminjam 80. responden menyatakan bahwa koperasi cukup dan Peminjamansedangkan sebanyak 45% lainnya menyatakan sangat mempengaruhi terhadap peningkatan perekonomian pedesaan.0 71. Dampak Koperasi Menurut Anggota Tabel 7.0 92 88 Kemudahan informasi pasar  responden menyatakan bahwa koperasi dapat 96 merupakan alat pertumbuhan 95. koperasi dimaksudkan 3 Pelayanan koperasi dapat menjadi wahana atau agen untuk setiap perubahan (change agent) dalam 72.3 92 100 94 Informasi tersebut membantu 2 dalam perekonomian anggota. Pengaruh koperasi terhadap peningkatan perekonomian desa ternyata. Tabel 7. sangat baik Pinjaman II koperasi diharapkan dapat mengembangkan dan meningkatkan perekonomian 34. cukup mempengaruhi b.3 98.0 3 6 b. baik pembangunan.3 72. sangat mempengaruhi Alat perubahan dalam pembangunan ekonomi Alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota Alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi Fasilitator dalam pembangunan ekonomi Propinsi SUMUT 80 100 50 48 82 84 76 78 DIY 78 100 60 32 85 95 80 70 SULUT 86 96 45 55 88 80 60 66 Ratarata 81.7 70 82 5 Mudahnya peminjaman tersebut di atas.6 72 60 86 a. (Persentase) No RataPropinsi Ada sebanyak 85% responden menyatakan bahwa koperasi dapat Kemanfaatan merupakan alat perubahan dalam pembangunan ekonomi.3% 92.

Untuk itu semangat yang dikandung oleh UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang sistem keuangan koperasi perlu dikaji lebih mendalam lagi. Walaupun pada kenyataannya di beberapa koperasi banyak dari pengurus/pengawas dan pengelolanya telah mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Selain itu pula ”aturan main” bagi pelaksana haruslah dibuat berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. maka perlu dilakukan pengkajian yang lebih spesifik dan terfokus. Dari segi permodalan koperasi pedesaan masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif dalam hal-hal sebagaimana diterangkan di atas. 183 . dan sistem serta prosedur yang berlaku secara lazim dalam bisnis. maka diperlukan upaya dari suprastruktur (terutama dari pemerintah) untuk mengembangkan sistem keuangan koperasi. sehingga sebenarnya masih diperlukan lagi pengukuran yang bersifat objektif-kuantitatif. Peningkatan efisiensi permodalan dilakukan melalui perbaikan sistem managemen koperasi dan sistem operasional yang digunakan oleh anggota dalam mengelola aktivitas ekonominya. Selain itu tingkat pengalaman yang umumnya masih belum lama. Dalam hal pencarian sumber dana eksternal serta memobilisasikannya guna memperkuat permodalan. Peningkatan produktivitas permodalan dilakukan dengan meningkatkan perputaran modal yang ada.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Namun demikian perlu diingat bahwa ukuran yang digunakan dimaksud adalah ukuran subjektif-kualitatif. Gopar) Dari uraian di atas diungkapkan dampak koperasi sebagaimana yang dirasakan oleh anggota. Kesimpulan Dan Saran Dari penelitian ini ternyata kualitas sumberdaya manusia yang menjalankan kegiatan koperasi pedesaan ini belumlah memuaskan. Hasil kajian dimaksud diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi kehidupan perkoperasian. Pengembangan dan pengaturan organisasi dan managemen yang dimulai dengan mewujudkan ”aturan main” tersebut perlu terus dikembangkan sehingga terwujud suatu sistem managemen koperasi yang khas dan tepat guna. kadar keterlibatan pekerjaan yang masih belum memuaskan. Dengan demikian tercipta suatu sistem keuangan koperasi yang mandiri. Untuk itu pendidikan perkoperasian maupun pendidikan keahlian bisnis bagi pengelola koperasi perlu lebih ditingkatkan lagi. Karena hal tersebut menyebabkan frekuensi dan arus penciptaan marjin keuntungannya semakin meningkat. Komposisi dalam suatu perangkat organisasi usaha belumlah cukup seimbang. Mengingat adanya beberapa peraturan/perundangan yang menata sistem keuangan. Terutama dalam hal pemanfaatan modal yang tersedia agar menghasilkan produktivitas dan efisiensi yang semaksimal mungkin. VI. akan turut mempengaruhi tingkat kemanfaatan sumberdaya manusia untuk pengembangan usaha koperasi.

and H. and Tasks. Gilbert. N.R. (4) Penciptaan penanggulangan tunggakan kredit. dinilai responden sebagai cukup baik. (2) Pemupukan modal sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut koperasi sebagai badan usaha perlu lebih mengembangkan kegiatannya. Planning for Social Welfare.JURNAL VOLUME 4 . terutama kemitraan. Inc. kualitas yang memadai dan tersedia pada waktu yang diperlukan. (1981). Terutama dalam hal kemudahan yang diperoleh anggota dalam kecepatan proses dan tingkat bunga. Issues. Dampak berupa kemanfaatan umumnya dirasakan melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh koperasi. Dalam hal keperluan modal dan pinjaman ternyata juga telah dirasakan manfaatnya bagi para anggota. DAFTAR PUSTAKA Draper. Dari penelitian ini setidaknya ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh koperasi. (7) Rapat Anggota Tahunan. (6) Penciptaan keterkaitan usaha anggota. Semakin aktif partisipasi anggota semakin besar manfaat yang dirasakan oleh anggota tersebut. Model. Dampak kepada anggota akan sesuai Dampak kepada anggota akan sesuai dengan peluang yang ada dalam peraturan/perundangan.. dan (8) Pengawasan oleh anggota. Untuk itu diperlukan kreativitas dan model kegiatan yang menggali potensi anggota maupun non anggota. 184 . juga perlu dikembangkan lebih lanjut pengembangan kemanfaatan koperasi dari sistem patron yang ada dalam koperasi. (3) Peningkatan volume usaha. Specht. N . Secara umum dapat dikatakan bahwa kehadiran koperasi di pedesaan telah dirasakan dampaknya oleh anggota. New York: John Wiley & Sons. Kiat-kiat yang dapat dilaksanakan koperasi untuk meningkatkan dampak koperasi perlu ditemukenali. antara lain adalah: (1) Meningkatkan jumlah anggota. New Jersey: Pretice-Hall. Kemanfaatan koperasi bagi anggota selain kemanfaatan langsung usaha dan kegiatan ekonomi di tingkat anggotanya. Applied Regresion Analysis. and H. Sebagai misalnya adalah penjualan komoditi dengan harga yang wajar. Pelayanan tersebut ternyata akan semakin dirasakan dengan meningkatnya partisipasi.AGUSTUS 2009 : 171-185 Adanya berbagai peluang untuk pengembangan usaha sebagai konsekuensi dari berlakunya berbagai peraturan pemerintah yang sangat mendukung berkembangnya koperasi pedesaan (terutama UU Nomor 25 Tahun 1992) perlu diantisipasi oleh koperasi untuk lebih mengembangkan organisasi dan usahanya. dikembangkan dan dilaksanakan dengan baik. Pengembangan organisasi dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi internal dan aspek eksternal. Pelayanan koperasi dalam memberikan informasi pasar dan kepastian harga ternyata cukup bermanfaat bagi anggota. (5) Penyertaan anggota dalam proses perencanaan. (1977). Smith. Pada akhirnya kemanfaatannya akan jatuh kepada anggota.

185 . Gopar) -------------. Comer. and J. Welch. Techniques and Applications. Jakarta: Pemerintah Koperasi. (1988). Quantitative Methods for Public Administration. S. (1992). Chicago: The Dorsey Press. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->