Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur

)

PENYUSUNAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) STUDI KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL BAGI UKM*) Daniel Asnur**) Abstract DSS is a system based model which consisted of procedures in data processing, addressed to assist managers in taking decision. This system has to be: 1. Simple, 2. Robust, 3. Easy to be controlled, 4. Adaptable, 5. Has various important features, 6. Communicative. Implicitly it’s also means that this system must base on computer (computerized) and applied/use to support SME to solve their problems. DSS SME software is a computerized information system which can support its users in plan and making decision for SME business finance and economic. DSS can give amenities in doing calculation, correctness in calculation and inspection. This software application is expected to be able to give effectiveness and efficiency for government, stakeholders and intermediary institute in doing decision making to develop SME business. This application system run/compatible with Microsoft Windows, it has attractive display appearance and can yield SME financial and economic eligibility output in .doc format (Microsoft office word) for further editing and printing.

Sistem informasi, aplikasi software, UKM I. PENDAHULUAN Eksistensi UKM dalam perekonomian Indonesia cukup dominan dan signifikan. Sedikitnya, terdapat 3 (tiga) indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan UKM di Indonesia memiliki posisi dominan dan signifikan. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Jumlah populasi UKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99% terhadap total unit usaha di Indonesia, dengan jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga
Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. Artikel diterima 16 April 200�, peer review 22 April s.d. 8 �uni 200�, review akhir �� �uli 200� **) Kepala Bidang Kerjasama dan �aringan pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian)
*)



JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

kerja. Setiap unit investasi pada sektor UKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UKM menyerap 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yakni jumlah PDB mencapai Rp 3.957,4 triliun, dimana UKM memberikan kontribusi sebesar Rp 2.121,3 triliun atau 53,6% dari total PDB Indonesia. Pertumbuhan PDB UKM tahun 2007 terjadi di semua sektor ekonomi. Ekspor hasil produksi UKM selama tahun 2007 mencapai Rp 142,8 triliun atau 20% terhadap total ekspor nonmigas nasional sebesar Rp 713,4 triliun. Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang belum kondusif ini, pengembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Argumentasi ekonomi ini karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang dimiliki bangsa ini. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak memerlukan kapital yang besar dan dalam periode krisis selama ini UKM relatif tahan banting”, terutama UKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UKM dalam sektor pertanian dapat memperoleh keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UKM yang tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak depresiasi rupiah ini. Di sisi lain, permasalahan UKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources), managemen, funding access, informasi teknologi dan market acces membuat para pengusaha UKM (umumnya) memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 31% pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan. Di lain pihak perbankan merasa bahwa sebagian pelaku UKM yang mengajukan kredit juga belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh perbankan. Salah satu upaya yang dapat diusung dan dikembangkan adalah dengan menyusun Pedoman Pengambilan Keputusan Pengembangan Investasi UKM Berbasis Teknologi dan Sistem Informasi (Decision Support System/ DSS) yang menjembatani permasalahan dasar UKM dan kebutuhan pihak intermediary swasta untuk meningkatkan portofolio investasinya. DSS adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung keputusan. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan, ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Mengintegrasikan konsep DSS dan konsep kelayakan ekonomi dan finansial untuk pengembangan usaha UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas, efesiensi dan ketelitian bagi pihak pemerintah, pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.

2

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dirancang sebuah sistem informasi dalam pengambilan keputusan untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial bisnis UKM yang dapat direplikasikan untuk usaha yang sejenis pada wilayah-wilayah di Indonesia, sehingga keputusan pengembangan dan pemberdayaan usaha ini dapat dijalankan secara akurat dan teliti. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mengukur kinerja usaha ini dalam menjalankan bisnisnya dan memberikan informasi tentang kondisi yang dihadapi. II. TINJAUAN PENELITIAN SEBELUMNYA Sebagai bahan perbandingan dalam penelitian Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM, diantaranya penelitian yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2003) dengan judul Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam hal: (a) Kecepatan di dalam mencari informasi pangan sampai level kecamatan, sehingga dapat membantu mempercepat perhitungan kebutuhan, pengadaan, dan distribusi pangan; (b) Reliabilitas estimasi luas dan produksi pangan (khususnya padi), sehingga dapat digunakan sebagai opsi kedua setelah BPS dalam perhitungan pengadaan pangan; dan (c) Ketepatan luas dan penggunaan lahan dan trend perubahannya, sehingga kebijakan untuk mengantisipasi laju perubahan lahan pertanian ke non pertanian dapat dilakukan sedini mungkin. Penelitian lanjutan yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2005) dalam dengan judul Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan alat bantu pengambil keputusan untuk pendayagunaan sumberdaya iklim dan air untuk perencanaan pertanian Berdasarkan kedua sumber penelitian tersebut di atas, tampak bahwa manfaat yang diberikan oleh aplikasi Decision Support System sangatlah luas. Sehingga penulis tertarik untuk mengintegrasikan aplikasi DSS ini di dalam dunia koperasi dan UKM yang antara lain untuk keperluan analisa marketing, operasi logistik dan distribusi, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi (taxation, budgeting, dsb.). III. KERANGKA PEMIKIRAN Dalam penelitian ini akan menyusun Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM. Hasil analisis tersebut ut menunjukkan apakah usaha yang dijalankan UMKM layak atau tidak untuk dilaksanakan.

3

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

Langkah pertama adalah menyusun variabel ekonomi dan finansial UMKM. Variabel ekonomi terdiri dari aspek produksi, aspek pemasaran, aspek managemen dan SDM, aspek lingkungan. Aspek finansial meliputi initial invesment, working capital, perhitungan cash flow dan biaya produksi dan operasi. Selanjutnya menganalisis data kuantitatif dengan menghitung kelayakan investasi yang mempunyai beberapa kriteria yaitu Break Event Point (BEP), B/C Ratio, Payback Periods (PP), NPV, PI, IRR, dan Rentabilitas Ekonomi. Kemudian mencari perhitungan analisis sensitivitas untuk melihat sampai berapa persen peningkatan atau penurunan faktor-faktor pemasukan atau biaya tersebut dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi pada aspek keuangan yaitu dari layak atau menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Kemudian dari hasil perubahan biaya atau pendapatan dimasukkan kedalam analisis kelayakan investasi UKM yang diterapkan. Langkah terakhir adalah interpretasi hasil analisis kelayakan, apakah layak atau tidak. Bila hasilnya menyatakan layak maka diteruskan dengan pelaksanaan. Bila hasilnya menyatakan tidak layak maka perlu dilakukan evaluasi. Pada gambar 1 disajikan skema kerangka berpikir sebagaimana penjelasan di atas.

Gambar

1.

Skema Kerangka Pemikiran Penyusunan Decision Support System (DSS) Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM

4

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

III.

METODOLOGI 1. Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan finasial ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisa kajian literatur yang berkenaan dengan indikator yang ditentukan sebagai variabel ekonomi dan finansial. Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk model perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan dari hasil penyebaran kuisioner kepada responden. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan ini memperoleh hasil yang valid dan komprehensif. 2. Populasi dan Sampel Dari populasi yang menjadi subjek dalam kajian ini, kemudian diambil sampel. Responden yang menjadi sampel penelitian untuk masingmasing kegiatan penyusunan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM dilakukan dengan purposive sampling berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu. Sampel diambil dari Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Irian Jaya. Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut: • • • • Pelaku UKM yang usahanya merupakan produk unggulan di masing-masing propinsi Telah menjalankan usaha yang sejenis selama lima tahun Penghasilan usaha positif Data yang diambil merupakan data yang wajar.

3. Jenis dan Sumber Data: Jenis dan sumber data yang menjadi bahan dalam kajian ini terdiri dari : • Data Primer, yaitu data dan informasi yang diperoleh secara langsung dari narasumber/responden baik yang berupa hasil wawancara dan kuesioner yang disebarkan kepada responden. Data primer diperoleh dari pelaku UKM pada masing-masing lokasi kajian. Data Sekunder, yaitu data dan informasi yang diperoleh dari dokumen/publikasi/laporan penelitian dari dinas/instansi maupun sumber data lainnya yang menunjang.

5

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

4. Teknik Pengumpulan Data: Untuk menganalisis kegiatan pengembangan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM yang efektif serta merekomendasi best practice yang dapat digunakan dan dikembangkan, maka akan digunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: • • Studi Kepustakaan dan Literatur, digunakan untuk mendapatkan data-data awal tentang kelayakan ekonomi dan finansial. Wawancara mendalam (indepth interview), yakni teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada key informan. Penyebaran kuisioner, yakni teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner kepada pelaku bisnis dan instansi terkaitdan kuesioner ini bertujuan untuk mandapatkan data faktual tentang kajian.

5. Teknik Analisis Data: Setelah data diperoleh dari berbagai kelompok responden serta setelah dilakukan entri dan tabulasi data, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil survei. Hasil dari survei dan analisa ini akan menjadi dasar informasi untuk mendesain kebutuhan seperti apa yang harus dipenuhi dari sisi operasional. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tahapan selanjutnya, yaitu melakukan desain terhadap software DSS yang akan dibangun. 6. Tahapan Perancangan Aplikasi: Tahapan-tahapan perancangan aplikasi dengan metode Rapid Application Development (RAD) adalah sebagai yang terilustrasi pada Gambar 2. a) Pemodelan Cara Kerja Data-data masukan mengalir dari satu fungsi kerja ke fungsi kerja berikutnya. Aliran data masukan kedalam beberapa fungsi kerja tersebut dimodelkan untuk mendapatkan model cara kerja. Pemodelan cara kerja ini akan menjawab berapa pertanyan mendasar sebagai berikut: 1). Informasi apa sajakah yang dapat mempengaruhi aplikasi; 2). Informasi apa sajakah yang akan dihasilkan; 3). Bagian-bagian mana yang menghasilkan informasi; 4). Kemana informasi/data itu akan dikirimkan; 5). Siapa dan bagaimana data/informasi itu diproses.

6

Karakteristik masing-masing objek (biasanya disebut sebagai attribute) kemudian diidentifikasikan. menghapus. Transformasi yang dimaksud antara lain. menyunting. C# atau Delphi. VB. mengambil dan menyimpan data.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) ����������������� ����������������� ������������� ���������������� ���������������������� �������������������� Gambar 2. Semua proses itu dimodelkan dalam pemodelan pemrosesan data ini. c) Pemodelan Pemrosesan Data Disini konsultan akan mendefinisikan proses/transformasi di semua objek data yang telah didefinisikan pada tahap pemodelan data. Proses/ transformasi data tersebut harus disesuaikan dengan aliran informasi yang telah dirancang pada pemodelan cara kerja. Tahapan Perancangan Aplikasi b) Pemodelan Data Aliran informasi yang telah didefinsikan didalam pemodelan cara kerja kemudian dianalisa kembali lebih detail untuk mendapatkan daftar objek/data yang dibutuhkan untuk mendukung cara kerja yang telah dimodelkan. misalnya Java. Didalam pemodelan data juga dilakukan pendefinisian hubungan/relasi antara objek satu dengan yang lain. d) Pengembangan Aplikasi Pengembangan aplikasi dengan menggunakan model RAD ini akan sebanyak-banyaknya memanfaatkan alat bantu yang telah ada dan sering digunakan. RAD 7 . menambah. dan antara atribut satu dengan yang lain.

8) Targeting. 8 . Pilihan ini diambil karena Java cukup banyak digunakan dan berukuran cukup kecil. Didalam pengembangan aplikasi kali ini. Fungsi tambahan yang sering dilakukan dalam model RAD ini antara lain melakukan otomatisasi. 2) Fasilitas produksi. Berikut ini faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melihat aspek pasar adalah sebagai berikut: 1) Permintaan. IV. Secara umum. konsultan akan menggunakan excel sebagai prosesor untuk melakukan kalkulasi yang akurat. 4) Tenaga kerja.AGUSTUS 2009 : 1-17 menekankan pada penggunaan kembali komponen-komponen yang telah tersedia. 6) Segmentasi. konsultan akan menggunakan lingkungan kerja (framework) Java sebagai pengelola UI (user interface) atau antar muka. penggabungan satu atau dua aplikasi lain yang telah ada untuk pengembangan aplikasi. 7) Jumlah.JURNAL VOLUME 4 . titik tolak dalam alur pikir tersebut adalah penyusunan aspek pemasaran dapat dilakukan setelah pengusaha mempunyai rencana pengembangan bisnis. 2) Harga. 3) Jalur Pemasaran. Kemudian untuk kebutuhan kalkulasi. 8) Produksi Optimum. Faktor-faktor yang yang menjadi pertimbangan dalam aspek produksi seperti sebagai berikut: 1) Lokasi Usaha. 10) Critical Path Method. Jenis dan mutu. penawaran dan persaingan pasar. b) Aspek Pemasaran Analisis usaha dapat dilakukan secara kualitatif atau deskriptif kuantitatif untuk mengetahui aspek pasar dan pemasaran. 7) Positioning. Penilaian kelayakan diukur secara kuantitatif dengan menggunakan kuisioner untuk melihat apakah menurut pelaku usaha kegiatan teknis produksi dan operasi yang dijalankan telah layak secara ekonomi. 6) Proses produksi. 4) Pemilihan Pola usaha. integrasi antara satu komponen dengan komponen yang lain. 5) Teknologi. Disain Input dan Output DSS UMKM Disain input dan output yang dikembangkan untuk pembuatan software kelayakan ekonomi dan keuangan selain Profil Perusahaan adalah sebagai berikut: a) Aspek Produksi Analisis teknis berkenaan dengan kegiatan produksi dan operasi yang dijalankan. 9) Kendala produksi. 5) Market size dan market share. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. 3) Bahan Baku.

yaitu : Bentuk Organisasi Perusahaan. profitability index. profil usaha dan kompensasi. Kelayakan investasi dapat diukur dari berbagai kriteria. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. Aplikasi software DSS UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas dan efesiensi bagi pihak pemerintah. dengan tampilan yang menarik dan mampu menghasilkan output kelayakan ekonomi dan finansial dalam format pdf yang siap di cetak maupun dalam format doc untuk proses pengeditan lebih lanjut.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) c) Aspek Managemen dan SDM Pembahasan mengenai aspek managemen dan SDM ini terkait dengan. 9 . Aplikasi juga memiliki beberapa fitur yang salah satu diantaranya adalah fasilitas untuk me-review perencanaan bisnis yang dibuat. d) Aspek Lingkungan Pembahasan mengenai aspek lingkungan ini terkait dengan. Fitur Aplikasi DSS UMKM Software DSS UKM adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung para penggunanya dalam perencanaan dan pengembalin keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. net present value. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Kemudian untuk profil usaha terkait dengan skala usaha dan sistim pengelolaan usaha. analisis break even point. Selain itu. dan jarak antar usaha sejenis. modal kerja. cash flow dan biaya operasional yang terdiri dari fixed cost dan variable cost. tetapi dapat bertahap yang pada akhirnya menghasilkan sebuah perencanaan bisnis yang lengkap dan akurat. 2. sedang kompensasi terkait dengan tingkat kompensasi yang diberikan. penghalang memasuki industri (Entry Barier). sumber bahan baku. Fasilitas yang disedikan mengarahkan para pengguna yang awam akan perencanaan usaha untuk mampu membuat perencaaan ataupun pengambilan keputusan kelayakan usaha dengan mudah dan sederhana. e) Aspek Keuangan Dalam variabel keuangan ini akan disajikan informasi tentang biaya investasi. pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM. jumlah pesaing industri sejenis. Untuk bentuk organisasi terkait dengan badan hukum perusahaan dan perizinan. yaitu : tingkat ketersediaan bahan baku. Aplikasi ini dijalankan diatas windows. yang dalam hal ini menggunakan. benefit/cost ratio. payback periods. internal rate of return dan rentabilitas ekonomi. proses pengisian langkah-langkah studi kelayakan tidak harus sekaligus dimasukkan dalam satu saat.

restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. grafik warna dan deskripsi hasil analisis. Untuk mempermudah penggunaan. terkait dengan aspek produksi. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor. managemen dan SDM. merupakan toolbar yang terdiri dari profil perusahaan dan profil usaha. b) Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. b) Aspek. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsikan aspek ekonomi dan keuangan perusahaan dan usaha yang dijalankan. Lingkungan dan Keuangan. Pada saat shortcut DSS UMKM di klik dua kali akan muncul menu pilihan bidang usaha yang akan 10 . d) Print. Langkah-langkah memulai aplikasi DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial bagi UMKM adalah sebagai berikut: a) Pilih Bidang Usaha: untuk mulai menjalankannya.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 1-17 Aplikasi Software DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan bagi setiap user sebagai berikut: a) Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. pemasaran. manufaktur. jasa. pemasaran. toolbar ini disedikan untuk memberikan pilihan kepada user untuk memprint hasil studi kelayakan dalam format dokumen Ms Word (doc). berikut penjelasan dari masing-masing tombol toolbar yang terdapat dalam aplikasi. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek produksi. d) Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. c) Analisis Bisnis. pada toolbar ini. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsi perusahaan dan usaha yang dijalankan. a) Profil. toolbar dari kiri ke kanan mengilustrasikan proses pembuatan studi kelayakan dan sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3. user terlebih dahulu diminta untuk menyesuaikan sektor usaha yang dijalankannya atau sektor usaha yang akan dibuat studi kelayakannya dengan memilih tampilan toolbar aplikasi. c) Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file pdf siap cetak maupun file doc (ms word). lingkungan dan keuangan. pertanian. managemen & SDM.

Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian identitas perusahaan dan konsep awal. Layer Aplikasi DSS  . c) Tahap pengisian profil usaha. d) Tahap pengisian Aspek Produksi. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kondisi perusahaan dan form pola pembiayaan bank. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek produksi. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kondisi perusahaan. dimulai dengan Tahap Pengisian Profil Perusahaan. Pertanian. Isian form terletak pada layar paling kanan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form identitas perusahaan. Setelah terisi. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. user dapat langsung meng-klik icon aspek produksi. Lalu isilah setiap pertanyaan Gambar 3. Bidang usaha yang dapat dipilih pada software versi ini adalah Perdagangan. Manufaktur. Isian form terletak pada layar paling kanan. Jasa dan Restoran. user dapat langsung meng-klik icon profil usaha. Setelah terisi.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) dibuat perencaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. kembali di-klik form konsep awal untuk melakukan pengisian selanjutnya. b) Untuk membuat studi kelayakan dari usaha. User dapat langsung meng-klik icon profil perusahaan.

f) Tahap pengisian Aspek Managemen dan SDM. Isian form terletak pada layar paling kanan. Isian form terletak pada layar paling kanan. user dapat langsung meng-klik icon aspek lingkungan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form aspek lingkungan. Layer Pilihan Bidang Usaha 12 . Setelah terisi. e) Tahap pengisian Aspek Pemasaran. user dapat langsung meng-klik icon aspek managemen dan SDM. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek lingkungan. g) Tahap pengisian Aspek Lingkungan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja Pemasaran. Isian form terletak pada layar paling kanan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja managemen dan SDM. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian managemen dan SDM. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja Pemasaran.AGUSTUS 2009 : 1-17 yang tersedia pada tampilan form aspek produksi. Isian form terletak pada layar paling kanan. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. user dapat langsung meng-klik icon aspek pemasaran.JURNAL VOLUME 4 . Gambar 4.

pada toolbar ini. angka kelayakan 13 . Layer Hasil Analisis Bisnis Aspek Produksi i) Analisis bisnis. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor (indeks). Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form kinerja keuangan. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek. Klik icon toolbar Analisis bisnis Tab hasil analisis berdasarkan aspek Hasil analisis perindikator Hasil analisis komulatif seluruh indikator Gambar 5. User dapat langsung meng-klik icon aspek keuangan.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) h) Tahap pengisian Aspek Keuangan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja keuangan yang terdiri dari tujuh form. mulai dari form satu sampai tujuh. Isian form terletak pada layar paling kanan.

Agar berhasil mencapai tujuannya. j) Tahap printing ke MS Word. Pada layar ditunjukkan hasil analisis perindikator dan analisis secara komulatif keseluruhan indikator. IRR. pemasaran. hasil isian dan analisis dapat langsung di export kedalam bentuk dokumen MS word dan siap di print. Dengan begitu. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah. Kesimpulan Sebagai kesimpulan dari kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan keuangan UKM adalah sebagai berikut : 1). 3.JURNAL VOLUME 4 . lengkap pada halhal penting. daftar isi dan ilustrasi variabel (aspek produksi. SDM. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. Out put print dapat langsung menjadi bagian dari perencanaan bisnis dari UKM. terdiri dari prosedur-prosedur dalam pemrosesan data dan pertimbangannya yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. Untuk hasil analisis dengan kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. PP. Aplikasi DSS dirancang untuk membantu UKM dalam hal pengambilan keputusan dari aspek produksi. BCR. dan mudah berkomunikasi dengannya. managemen dan SDM. Output Aplikasi DSS UMKM Aplikasi Output dari software aplikasi DSS UMKM dirancang untuk dapat langsung menjadi semacam proposal bisnis yang dapat digunakan oleh stakeholder lain seperti dunia perbankan. maka fitur-fitur sistem DSS dirancang secara sederhana. lingkungan serta analisis bisnisnya.AGUSTUS 2009 : 1-18 keuangan (Cash Flow. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. managemen. atau dapat menjadi alat ukur pihak-pihak yang berkepentingan (intermediary. mudah beradaptasi. mudah untuk dikontrol. BEP. output sudah langsung terprint berikut cover. V. grafik warna dan deskripsi hasil analisis. 14 . Pada gambar disamping diberikan contoh hasil analisis produksi. NPV-PI). funding) untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial UKM tersebut. lingkungan dan keuangan dalam mengukur tingkat kelayakan sekaligus melihat peluang dan hambatan UKM dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. Untuk melihat hasil analisis dari masingmasing aspek dapat langsung di klik tab hasil analisis pada bagian tengah aplikasi. pemasaran. robust. Aplikasi DSS UKM dikembangkan sebagai sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi.

perkembangan cash flow serta analisis Break Event Point. Monitor dengan resolusi minimum 800x600. seperti: pelaksaaan sejumlah workshop untuk para UKM terkait dengan perencanaan bisnis. AdoBe Reader dan Dot Net Framework 2. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. konsultan merekomendasikan kepada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk merancang kegiatan sosialisasi software bagi para UKM. pertanian. Saran Untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan aplikasi software. manufaktur.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) 2). Benefit/Cost Rasio. grafik warna (kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. RAM minimum 512MB. Internal Rate of Return dan deskripsi hasil analisis. laporan laba rugi. Dan dukungan software. Hasil analisis kelayakan ekonomi ditampilkan dalam image angka skor kelayakan. OPEN Office. Aplikasi DSS UMKM ini akan berjalan baik pada komputer dengan konfigurasi hardware sebagai berikut: Komputer dengan prosesor Intel Pentium IV ataupun yang setara. Software aplikasi DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan oleh setiap user UKM sebagai berikut: • Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. Profitability Index. Sistem operasi Microsoft Windows XP. Net Present Value. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah ) dan deskripsi hasil analisis. Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file doc (ms word) yang siap diprint. Sedang kelayakan keuangan ditampilkan tabulasi neraca. Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. jasa. 15 . Payback Periods. • • • • 3).

Elex Media Komputindo. an entrepreneur’s Guidebook. Edisi 1. (1993). Busthami. Microsoft Press. Small Business Management. (1990). Meginson. Wayne and Noe. (2002). Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan �awa Tengah. pengembangan sistim (DSS UMKM versi 2) ataupun kegiatan lainnya yang dapat menindaklanjutkan keberadaan software ini pada kementerian Koperasi dan UMKM. Aplikasi Inventori Control dengan Microsoft Visual FoxPro ��. Jakarta. penggandaan CD program dan manual. (2005). Agung. Prosise. Lawrence. Jakarta. Selain itu. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Allyn & Bacon. Fifh Edition. Microsoft Press. Haer. Mondy. Jakarta. (2003). (1992). (2002). Elex Media Komputindo. Yogyakarta. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. 16 . Programming Microsoft® . (2006). (2003). Internet Up Load. Amperiyanto. Managemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari Teori Ke Praktik. R. Mc Graw Hill. Robert M. Gregorius. uji reability penggunaan software. Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Analisis & Disain Sistem Informasi. Human Resources Management. (2005). Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. West Virginia University-USA. Jakarta. Elex Media Komputindo.JURNAL VOLUME 4 AGUSTUS 2009 : 1-17 pelatihan pemanfaatn software. cet 1. HM. Jacowitz.NET (Core reference). PT. Bakrie. Tri. Raja Grafindo Persada Edisi 1. Rivai Veithzal. Talib. USA. Jeffrey. Applied Microsoft®. Richter. Jeff. software aplikasi DSS UMKM kiranya dapat dimiliki oleh para pelaku usaha UMKM secara gratis (tanpa dipungut bayaran). Penerbit PT. Penerbit PT. NET Framework Programming (ProDeveloper). (2004).. DAFTAR PUSTAKA Jogiyanto. Jakarta. Melihat Keamanan Windows Vista. Andi Offset. Penerbit PT. (2006). Penerbit PT. Byrd. Program Aplikasi Foxpro Pada Sistem Akuntansi. Advanced Software Project Management. Elex Media Komputindo. (2004). 11 Script Spektakuler Active Server Pages.

E.J. (1991). Keith & Frederick. Business and Society.. John Wiley and Sons. M. Mc. Fifth Edition. A Division of Macmillan Publishing Co. Modern Portfolio Theory and Invesment Analysis. William. 17 . Competitive Strategy : Techniques for Analyzing Industries and Competitors.J. (1980). Davis. and Gruber.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) Porter. The Free Press. E Michael. Inc. (1980).. Elton.Graw-Hill.

Licensing programmes which have been implemented by Local Government have not reached to granting legal status. 2) form of licensing institution.d. 5) socialization of licensing. Some variables which influence on the total of MSMEs: which got business license are: 1) approach.��34 units of MSME in 6 districts/ municipalities.14%.AGUSTUS 2009 : 18-36 KAJIAN PENGEMBANGAN FORMALISASI UMKM *) Teuku Syarif **) Abstract Formalization of Micro. 6) consequences of licensing.583.12%) which have got license. Total of MSMEs which have got new license are only ��. Small and Medium Enterprises (MSMEs) is granting license for certain business activities and legal status for Micro.JURNAL VOLUME 4 . Karakteristik UMKM I. Program Pelayanan Satu Pintu (P2SP). peer review 2�� April s. 4) procedure of licensing. Latar Belakang UMKM banyak memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya nasional. Perda Perizinan sejalan UU Nomor 20 Tahun 2008. it is expected immediately that there will be an issuance of local government regulation on licensing which is in line with the law number 20 of 2008 concerning MSME and the characteristic of MSME. This matter is due to there are many types of licensing which is required by one type of business and complicated licensing process including its big cost. Salah satunya adalah kesulitan dalam mendapatkan legalitas atau formalitas usahanya. cost of licensing.12% which have got license. b) requirements do not comply with the characteristic of MSME (especially micro enterprise). review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 18 . Yang dimaksud dengan formalisasi UMKM adalah pemberian izin kegiatan usaha tertentu dan status badan hukum bagi UMKM sesuai dengan ketentuan perundang Kajian Asdep Urusan Penelitian Sumberdaya tahun 2008 Artikel diterima 2�� April 200�. Small and Medium which have complied with the requirements stipulated in the valid legislation. Several/crucial problems to be handled are: a) so many types of license which have to be fulfilled by MSMEs to be able to conduct a business activity. To speed up formalization of MSME. Legalitas. less socialization and there is no clear consequence from the government by having legal status. as example there are 1��. There are still a few MSMEs (4. 8 �uni 200�. Namun demikian perkembangannya masih terkendala oleh berbagai masalah klasik. Of 1. 3) license requirements.

12%) usaha mikro dan usaha kecil yang telah mendapatkan izin kegiatan usaha. Formalisasi UMKM dibedakan dalam dua bentuk yaitu: a) Formalisasi perusahaan adalah pengesahan bentuk badan hukum dari perusahaan yang bersangkutan. Oleh sebab itu biayanya relatif cukup besar untuk ukuran usaha mikro dan usaha kecil. Untuk mengatasi masalah perizinan maka sebagian pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM ditetapkan bahwa untuk kelompok usaha mikro tidak diperlukan badan hukum. Tetapi sampai sekarang belum ketahui seberapa jauh efektifitas dari program tersebut. Kebijakan tersebut antara lain dalam hal penurunan biaya perizinan. pengawasan yang lebih intensif. Kelompok usaha mikro memiliki karakteristik antara lain: a) Merupakan usaha perorangan dengan modal relatif kecil dan dikelola dengan manajemen keluarga. Pengesahan badan hukum perusahaan menjadi kewenangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilimpahkan kepada Notaris. Perseroan Terbatas (PT). memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM. b) Sebagai formalitas usaha yang menjamin jaminan bagi calon mitra dan atau stakeholder. Salah satu unsur pendukung efisiensi adalah adanya jaringan usaha dan kemitraan. c) Ruang lingkup dan jaringan usaha yang terbatas. Sebagai contoh Usaha Dagang (UD). Perizinan kegiatan usaha lebih diperlukan untuk: a) Melaksanakan kegiatan usaha. Perusahaan Persero dan lain-lain. Tetapi sebagai perusahaan perorangan cukup mendaftarkan diri pada dinasdinas yang membidangi koperasi dan UKM di kabupaten atau kota madya setempat. sosialisasi perizinan dan melaksanaan program pelayanan satu pintu. izin penambangan. Menghadapi era globalisasi UMKM dituntut dapat meningkatkan efisiensi untuk menghadapi persaingan. c) Menghindari pungutan liar. izin trayek dan lainlain.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) undangan yang berlaku. d) Konsumen dan segmen pasar yang sudah tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut kajian dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan. izin lingkungan. serta e) Jenis dan kegiatan usaha yang sangat mudah berganti (dinamis). Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan jika UMKM yang sudah mendapat status formal. b) Kualitas sumberdaya manusia yang relatif rendah. Pelayanan Perizinan Satu Pintu (P2SP) berpeluang besar untuk mempermudah dan mempercepat proses prizinan UMKM. Untuk itu idealnya usaha mikro dan kecil bergabung dalam koperasi. Sampai sekarang sangat sedikit (4. serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan program dari berbagai pola pelaksanaan proses perizinan/formalisasi UMKM 19 . Perusahaan perorangan (CV) perusahan kongsi (Firma). b) Perizinan kegiatan usaha yang dikeluarkan oleh instansi/lembaga sektoral. kesulitan dalam proses mendapatkan izin dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Hal tersebut disebabkan banyaknya jenis perizinan. Sebagai contoh Surat Izin Usaha Pendirian (SIUP).

Manfaat kajian adalah untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang. dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian perizinan untuk UMKM. Salah satu program pemerintah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan daya saing UMKM adalah perbaikan iklim usaha. Berbagai hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2006 lebih dari 95% unit usaha UMKM terutama pengusaha mikro yang merupakan perusahaan perorangan belum memiliki badan hukum dan 91. lembaga pemasaran. 2) Menentukan pendekatan. kelembagaan model dan prosedur pemberian perizinan yang sesuai dengan karakter UMKM. 20 . 2). Salah satu faktor yang dilihat adalah formalitas perusahaan. Jumlah. Mendapatkan alternatif model kelembagaan dan lternatif prosedur formalisasi UMKM.JURNAL VOLUME 4 . Sedangkan ketidakpastian itu sendiri menurut Sirait (2003) di Indonesia banyak disebabkan oleh faktor kebijakan makro ekonomi dan faktor birokrasi. 1).1 Kerangka Konsepsional Pembentukan atau keikutsertaan suatu unit usaha dalam suatu jaringan yang komprehensif ditentukan oleh banyak faktor antara lain adanya informasi. Sebagai misal dilaksanakan dalam bentuk program penyederhanaan perizinan.AGUSTUS 2009 : 18-36 II. dan lembaga asuransi) untuk melakukan kerjasama sangat memperhatikan karakteristik suatu perusahaan. Kerangka Pemikiran 3. Ouput yang diharapkan dari kajian ini adalah mendapatkan alternatif model dan prosedur pemberian perizinan bagi UMKM III. maka kelompok ini hanya memerlukan izin kegiatan usaha. Menginventarisir. kewirausahaan dari pengusaha dan formalitas unit usaha.8% diantaranya tidak memiliki izin kegiatan usaha. Tujuan Manfat dan Output Tujuan Kajian Pengembangan Formalisasi UKM adalah sebagai berikut: 1). mengidentifikasi tingkat keberhasilan dan faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian perizinan untuk UMKM. persebaran serta permasalahan yang dihadapi UMKM dalam proses formalisasi usaha. Anwar (1995) berpendapat bahwa mitra usaha dan berbagai unsur pendukung pembangunan suatu unit usaha ekonomi (perbankan. Ketidakpastian formalitas unit usaha UMKM menurut Haryadi (2001) merupakan faktor penyebab kesulitan UMKM untuk memasuki suatu jaringan usaha. UMKM merupakan usaha perorangan dan tidak diharuskan untuk mempunyai badan usaha.

jenis kelamin. UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2008 tidak dimasukan sebagai variabel bebas karena bersifat given untuk semua tempat di wilayah NKRI dan semua waktu. 2) Kelembagaan perizinan. c) Mendorong pembentukan dan atau pengembangan jaringan usaha. Selain itu juga diperlukan dalam rangka pembinaan. konsekuensi dari keharusan UMKM mendapatkan perizinan. Dua faktor penting yang diduga mempengaruhi keberhasilan proses formalisasi adalah: a) Kelembagan dan pendekatan. 3. b) Melindungi para pengusaha dari berbagai pungutan liar serta. Izin usaha diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif (eksternalitas dis economics) yang mengeksploitasi lingkungan.2 Kerangka Operasional Pengkajian Kerangka operasional Pengkajian diilustrasikan pada gambar 1: 1. 4) prosedur pemberian perizinan dan 5) karakteristi UMKM. 2. 21 . Untuk dapat membangun suatu sistem pemberian perizinan yang efektif dalam mendukung pemberdayaan UMKM perlu dilakukan kajian terhadap tingkat keberhasilan dari kedua faktor di atas. b) Karakteristik UMKM. UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM serta karakteristik UMKM. peraturan mendapatkan perizinan (persyaratan yang diperlukan).Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) Izin kegiatan usaha merupakan suatu bentuk pengaturan (regulasi) pengendalian pemerintah terhadap aktivitas usaha individual yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan lingkungan fisik ekonomi dan sosial. 3) Model pemberian perizinan. Ouput akhir yang ingin didapatkan dari kajian ini adalah kelembagaan. Kesulitan timbul sebagai akibat dari ketidak-sesuaian kelembagaan pende-katan dan model prosedur pemberian perizinan dengan karakteristik UMKM. Kelembagaan terdiri dari bentuk lembaga atau organisasi pemberian perizinan. pendidikan dan pengalaman. Untuk penyesuaian diperlukan perubahan kelembagaan pendekatan dan prosedur perizinan dengan memperhatikan UUD 1945. biaya yang harus dibayar dan prosedur mendapatkan perizinan. umur. letak lokasi UMKM dari instansi perizinan serta bidang usaha yang dilaksanakan. 3. Dalam karakteristik UMKM terdapat faktor internal UMKM meliputi modal yang dimiliki. model dan prosedur perizinan yang sesuai dengan karakteristik UMKM. sosialisasi penyuluhan dan pendampingan. Dengan demikian unsur kemudahan UMKM untuk medapatkan perizinan adalah variabel terikat merupakan resultante dari beberapa variabel bebas yaitu: 1) Pendekatan dalam pemberian perizinan. yaitu untuk: a) Mempermudah pengusaha dalam mengakses sumbersumberdaya produktif.

Pendekatan dalam pemberian perizinan idealnya adalah ditujukan untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia. Faktor ini diindikasikan dari komitmen pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM. ekonomi. Kerangka Operasional Pengkajian 3. b. sosial dan politik. Tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan secara adil dan merata dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan fisik. dan tempat kedudukan instansi tersebut.AGUSTUS 2009 : 18-36 Kesulitan UMKM Untuk Mendapatkan Perinzinan Analisis Masalah Pendekatan MODEL PEMBERIAN PERIZINAN UMKM KARAKTER/ KONDISI INTERNAL UMKM Restrukturisasi Kelembagaan Model Dan Prosedur Pemberian Perizinan Untuk UMKM Kelembagaan. persyaratan. Model Dan Prosedur Perizinan Yang sesuai Dengan Karakteristik UMKM UUD 1945 Dan Undang Undang UMKM Gambar 1. c. Hal tersebut yaitu bentuk dan kedudukan lembaga pelayanan perizinan dalam struktur organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan kontribusi APBD terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengurusan perizinan. Kelembagaan terdiri dari peraturan perundang-undangan. instansi organisasi. Prosedur formalisasi idealnya disusun sesuai kemampuan UMKM khususnya pengusaha mikro dengan segala keterbatasannya. biaya. Variabel Bebas terdiri dari: a. waktu pelayanan.JURNAL VOLUME 4 .3 Faktor Analisis 1. 22 . personil pelaksana.

2. 23 . Sosialisasi dalam rangka penyebarluasan pemahaman tentang kepentingan mendapatkan perizinan serta persyaratan dan prosedur mendapatkannya. kelembagaan untuk perizinan. f.1 Ruang Lingkup Substansi a. Kodya Makasar merupakan contoh pembanding yang belum melaksanakan P2SP. Analisis data dan permasalahan dalam rangka mendapatkan model pemberian perizinan sesuai dengan karakteristik UMKM. kondisi internal. Konsekuensi dari didapatkannya perizinan ideal oleh UMKM akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan. Variabel Terikat adalah jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Kondisi internal UMKM terdiri dari pendidikan formal. provinsi Bali dengan dua kabupaten/kodya contoh yaitu kabupaten Jembrana dan kodya Denpasar. pendekatan prosedur pemberian perizinan. Perancangan model formalisasi sesuai dengan karakter UMKM dalam bentuk best practice. pengetahuan UMKM dalam berurusan birokrasi dan kewirausahaan UMKM. c. provinsi Sulawesi Selatan dengan dua kodya contoh yaitu kodya Makasar dan kodya Pare-pare. dan masalah yang dihadapi Pemda dan UMKM berkaitan dengan pemberian perizinan. Metoda Penelitian dan Analisis Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan metoda stratified random sampling. e. Pengumpulkan data dan informasi perkembangan jumlah UMKM yang memperoleh perizinan. V. b. IV. Ruang Lingkup Kajian 4. 4.2 Ruang Lingkup Lokasi Kajian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah dengan dua kabupaten/ kodya contoh yaitu kodya Surakarta dan kabupaten Sragen.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) d.

Model analisis deskriptif kualitatif. Stratifikasi lokasi contoh UMKM didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu: 1). 2).1 Kinerja UMKM Jumlah UMKM di enam kabupaten/kodya contoh. b. rata-rata baru 17. Ada tidaknya programprogram formalisasi UMKM.AGUSTUS 2009 : 18-36 5. Model analisis perbandingan (comparatif analisys). Biro Perekonomian pemerintah daerah dan beberapa instansi terkait). Hasil Pengamatan dan Analisis 6.2 Model Analisa Data Sesuai dengan tujuan penelitian dan variabel-variabel analisis. VI. 24 . untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat sosial dan kebijakan.14% yang telah memiliki izin usaha. Kalangan pemerintahan (Dinas Koperasi dan UKM. Ada tidaknya UMKM yang sudah mendapat formalitas usaha. 5. 2. Teknik pengumpulan data menggunakan metoda purposif sampling yang terstratifikasi. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur sesuai dengan tujuan dan metoda pengkajian. Model analisis rataan dan kecenderungan (mean dan mode). 1.12% yang memiliki izin usaha. Sedangkan untuk kabupaten/kodya contoh yang belum melaksanakan program P2SP baru 7. Model analisis regresi berganda untuk mengetahui besar pengaruh tiap variabel bebas terhadap variabel terikat. maka data yang ada akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan . c. diprediksikan mencapai 1. Data primer diperoleh langsung dari UMKM dan stakeholder yang terdiri dari: a). Kelengkapan keberadaan/lembaga formalisasi UMKM.583. Model analisis evaluatif dengan menggunakan beberapa model matematis yaitu a.734 unit usaha dan yang telah melaksanakan program P2SP. 3).1 Data dan Teknik Penarikan Contoh Data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.JURNAL VOLUME 4 .

Kesulitan tersebut dalam memenuhi persyaratan dan banyaknya jenis perizinan yang harus dimiliki. sarana produksi.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. Bagi mereka yang sudah memiliki izin kegiatan.42% memiliki izin kegiatan usaha. Dari jumlah tersebut 41.2 Jenis Kegiatan Usaha dan Perizinan Pengusaha yang bergerak di sektor pengolahan hasil perkebunan. 25 . Para pengusaha di sektor pedagangan terutama pedagang antar kecamatan.27%) sudah memiliki status badan hukum terutama Usaha Dagang (UD). Dari jumlah tersebut. dan pemasaran serta. Pengusaha mikro yang bergerak pada kegiatan penggalian sebagian semua sudah memiliki izin usaha tetapi hanya 3 dari 15 pengusaha yang menjadi sampel pada penelitian ini yang memiliki badan hukum. termasuk untuk mendapatkan kegiatan usaha dari pemerintah. nampaknya perizinan bukan lagi menjadi hal yang sulit. Sebagian kecil (28. Walaupun kelompok UMKM tersebut sudah menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial. b) Kecilnya skala usaha yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan badan hukum. Besarnya jumlah pengusaha dari kelompok ini yang memiliki badan hukum dan izin usaha nampaknya lebih dikarenakan ketatnya pengawasan pemerintah daerah terhadap mereka.8 juta sampai Rp 246 juta. Kelompok ini juga tidak dapat mengandalkan koperasi untuk berhadapan dengan stakeholder karena bargaining koperasi sendiri masih belum diperhitungkan oleh kalangan stakeholder. Sebagian lainnya terutama yang bergerak di sektor angkutan belum memiliki badan hukum dan masih merupakan usaha perseorangan. Sebanyak 82.8% nya telah memiliki izin kegiatan berupa SIUP. 61. Kesulitan memiliki badan hukum disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Karakter usaha mereka yang sudah memiliki jaringan tradisional yang menjamin penyediaan modal. angkutan pedesaan dan angkutan besar (bis dan truk). tetapi komitment pemberdayaan mereka oleh pemerintah daerah masih belum optimal. terkait dengan pungutan pajak retribusi. tetapi belum memiliki izin usaha tidak mendapatkan masalah dalam berhubungan dengan perbankan. Hal tersebut disebabkan mereka memiliki modal yang relatif besar yaitu antara Rp 21.87% nya juga sudah mempunyai badan hukum. Namun mereka masih sulit membangun kemitraan dengan stakeholder lainnya dalam rangka memperluas jaringan usahanya. Di daerah yang sudah melaksanakan program P2SP sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro menyatakan masih banyak menghadapi kesulitan. Hal ini diindikasikan dari sedikitnya bantuan pemerintah untuk memberdayakan mereka seperti dalam mengembangkan modal dan jaringan usaha serta adanya pungutan-pungutan liar yang idealnya dapat diatasi melalui Perda. Bagi kedua kelompok diatas. serta perhotelan merupakan kelompok UMKM.

6. kedudukan lembaga tersebut dalam struktur pemerintahan daerah. Tidak diimilikinya status badan hukum dan atau izin kegiatan usaha akan berdampak pada kesulitan pengusaha yang bersangkutan untuk berhubungan dengan pihak-pihak luar. c) Reformasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan badan hukum untuk UMKM. Hal tersebut dikarenan program tersebut perannya masih terbatas pada peningkatan jumlah pengusaha kecil yang mendapatkan izin usaha atau izin kegiatan. Oleh sebab itu restrukturisasi prosedur dan persyaratan mendapatkan badan hukum merupakan salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan. Hal tersebut menyebabkan lembaga tersebut belum memiliki bargaining yang cukup dalam berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempermudah proses pemberian perizinan. Program pelayanan satu pintu idealnya memiliki berbagai konsekuensi logis antara lain. Pengembangan sistem pelayanan satu pintu belum menjadi solusi pemecahan masalah secara tuntas. a) Keberhasilan dalam meningkatkan pendapatan UMKM. Dua dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan P2SP menempatkan lembaga perizinan setingkat eselon III. Dari sisi kelestarian lingkungan dan kesinambungan pembangunan akan menyebabkan terjadinya eksploitasi sumberdaya secara berlebihan.AGUSTUS 2009 : 18-36 Pengusaha mikro hanya mungkin dapat memiliki badan hukum jika pemerintah mengeluarkan kebijakan terobosan misalnya. Usaha kecil yang usahanya sebagian sudah meluas antar daerah maka pemilikan badan hukum sangat penting. b) Menunjuk notaris yang secara khusus dapat memberikan badan hukum kepada UMKM dengan biaya yang relatif lebih murah dan. c) Meningkatnya sumbangan UMKM terhadap pembangunan daerah diindikasikan dari peningkatan GDP serta meningkatnya sumbangan UMKM terhadap Pendatan Asli Daerah (PAD). b) Meningkatnya kemampuan penyerapan tenaga kerja dikalangan UMKM diindikasikan dari meningkatnya jumlah tenaga kerja per unit usaha UMKM. Hal tersebut dapat dianalisis antara lain melalui pendekatan yang digunakan dalam membangun kelembagaan pelayanan. Hal tersebut secara langsung berdampak pada kelestarian lingkungan. Satu dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP masih menetapkan biaya perizinan hanya 26 . a) Memberikan subsidi kepada UMKM untuk mendapatkan badan hukum.3 Pendekatan dan Kelembagaan Perizinan P2SP belum dapat dijadikan indikator komitmen Pemda yang bersangkutan untuk memberdayakan UMKM melalui reformasi dibidang perizinan.JURNAL VOLUME 4 . dan kompetensi personil yang ditempatkan dalam lembaga perizinan.

112.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) berdasarkan target pemasukan retribusi untuk mendukung PAD.400. Sedangkan untuk satu jenis kegiatan yang akan dilaksanakan UMKM memerlukan antara 4 sampai dengan 8 jenis perizinan.000 s. sehingga terpaksa ditempatkan di dalam instansi perizinan. Penetapan persyaratan perizinan idealnya perlu tidak hanya dari kepentingan pemerintah untuk mengatur lokasi sumberdaya tersedia. ratarata biaya perizinan yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan satu jenis surat izin berkisar antara Rp. Tiga dari lima kabupaten/kodya contoh. 370. 124. 2. Rp. 246.000. Hal tersebut dilakukan karena latar belakang pekerjaan kurang kompeten. maka total biaya yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan status formal tersebut mencapai Rp. Nilai rata-rata skors persyaratan perizinan di kabupaten/ kodya contoh yang sudah melaksanakan P2SP baru mencapai nilai 1. Kelima kabupaten/kodya contoh dalam menyusun persyaratan masih berorientasi pada paradigma lama yaitu tidak mempertimbangkan kesulitan UMKM dalam memenuhi persyaratan yang ada. Biaya Perizinan Di daerah yang sudah melaksanakan Program P2SP.8 juta biaya tersebut 27 .4 Pola pelaksanaan pemberian izin 1.83 (termasuk dalam katagori sulit).72 (termasuk dalam katagori mudah). Hal ini memang perlu mendapatkan perhatian.000. Harus diingat bahwa tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mempermudah UMKM dalam mendapatkan izin usaha dari berbagai aspek pemberian perizinan tersebut.400. Bagi usaha kecil yang memiliki rata-rata modal mencapai Rp. 84. Sedangkan bagi yang belum melaksanakan program tersebut rata-rata nilai skoring hanya mencapai angka 1. Belum ada kabupaten/kodya contoh yang berani melakukan perubahan dalam hal pola perizinan. tetapi juga dari sisi pengusaha (UMKM). Prosedur Perizinan Nilai skoring kemudahan prosedur pemberian izin usaha bagi daerah yang sudah melaksanakan program P2SP mencapai angka 2. Idealnya ditempatkan pada lokasi umum dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. Jika ditambahkan dengan biaya transportasi dan akomodasi untuk mengurus perizinan yang rata-rata sebesar Rp. masih menempatkan personil kunci dalam instasi perizinan.d.34 (termasuk katagori sulit). sehingga jumlah perizinan untuk satu kegiatan usaha UMKM bisa mencapai 8 jenis. 20. sehingga rata-rata biaya yang diperlukan mencapai Rp. 6.

Pada umumnya mereka mengidentifikasikan izin usaha dengan pajak.96% dari modal yang dimiliki. 200. biaya yang harus dibayar juga masih cukup besar.5 Sosialisasi Perizinan Nilai skors rata-rata sosialisi yang dicapai dari 5 kabupaten/ kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP adalah 1. Sosialisasi pemberian izin usaha seharusnya mendapat perhatian. retribusi.JURNAL VOLUME 4 . b) Biaya-biaya administratif dan. Biaya yang besar ini tidak akan mungkin dapat ditanggung oleh para pengusaha mikro. pengumpulan dan penggunaannya tidak transparan. Tetapi bagi usaha mikro yang rata rata-rata modalnya sebesar Rp. 1. Hal ini disebabkan penetapan biaya perizinan didasarkan pada jumlah biaya riil yang dikeluarkan ditambah dengan pajak/retribusi pemda. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Tetapi di daerah daerah yang telah melaksanakan program P2SP. c) Biaya survey.987 atau tergolong kurang. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar UMKM masih beranggapan bahwa pengurusan perizinan merupakan hal yang sulit dan belum diperlukan. karena hanya 0. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemda antara lain adalah: a) Gaji pegawai.234.000. 6. Kelompok pengusaha marginal tersebut masih menjadi sasaran pungutan liar. atau bea meterai. biaya yang harus di bayar lebih besar lagi. basis perekonomian rakyat di daerah yang secara langsung berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Sosialisasi masih dilaksanakan terbatas dalam bentuk pamflet dan baliho di jalan-jalan ataupun melalui media elektronika terutama radio-radio pemerintah daerah dan siaran lokal. 6. Biaya pengurusan perizinan ini idealnya hanya merupakan bentuk pajak. Biaya tersebut menjadi dana taktis yang penarikan. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. maka nilai skors 1.213.AGUSTUS 2009 : 18-36 relatif tidak besar. Biaya perizinan berkisar antara Rp.21 atau sangat rendah. maka idealnya sebagian dari biaya tersebut dapat ditanggung pemerintah. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk dapat melaksanakan satu kegiatan usaha mencapai Rp. Demikian juga ada indikasi setiap instansi yang berwenang menetapkan biaya perizinan yang beragam. Pemberdayaan UMKM merupakan amanat konstitusi (UUD 1945). Akibatnya sebagian besar dari mereka tidak ingin mendapatkan izin usaha. maka jumlah tersebut mencapai 5. Hal ini menyebabkan sebagian besar pengusaha terutama para pengusaha mikro sama sekali tidak memahami arti penting dari adanya izin usaha.000.03% dari modal. 28 .000 sampai dengan puluhan juta rupiah.

Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. dan.89 juta pertahun atau bertambah sebesar 12. Hasil pengamatan lapang mengindikasikan yang sebagian besar (74.7 Jenis-Jenis Perizinan Yang Diperlukan Jumlah perizinan yang secara umum diperlukan untuk suatu jenis kegiatan usaha berkisar antara 0 (tidak memerlukan izin) sampai dengan 7 jenis. Keterangan Domisili Usaha. Sedangkan Kemampuan akses UMKM terhadap permodalan hampir tidak ada pengaruhnya. Surat Izin Lingkungan. 6. g). Pajak Bumi dan Bangunan. Hal tersebut dikarenakan kalangan pengusaha masih tetap sulit untuk berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama perbankan. Untuk mendapatkan satu izin kegiatan usaha seperti industri kerajinan diperlukan persyaratan: a).87 juta dari Rp 10. a) Rata-rata omset meningkat dari Rp 102.01%. Dari aspek internal dikalangan pengusaha mikro. Kelebihan yang diterima oleh UMKM yang telah mendapatkan izin hanya terlihat di kabupaten Jembrana dan kodya Pare-Pare yang melaksanakan pelatihan managemen teknik produksi kepada UMKM di bidang angkutan dan industri kecil.47%. Terbuka pula peluang UMKM untuk ikut serta dalam pameran maupun temu bisnis yang dilakukan oleh pemerintah dari rata-rata 0. d). Total jumlah perizinan yang diperlukan mencapai 77 jenis di mana 49 jenis diantaranya sudah dapat dilayani melalui program P2SP. Kartu Tanda Penduduk. Sisanya 28 jenis masih dikelurkan oleh instansi sektoral dan lembaga lainnya seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan.12 kali menjadi 1. UMKM yang telah mendapatkan izin usaha diberikan dari rata-rata 1. Surat Izin Penggunaan 29 . b).32 juta atau bertambah 63.47 kali per UMKM. Kinerja UMKM yang telah memiliki perizinan bernilai positif dalam menjalin hubungan bisnis terhadap kinerja. b) Laba meningkat Rp 16.6%) responden contoh menyatakan lebih senang melakukan kerjasama dengan UMKM yang telah memiliki izin usaha. Surat Keterangan Pembuangan atau Pengolahan Limbah.89 menjadi 1. f). pada harga tetap perubahan yang terjadi adalah.6 Konsekwensi dari Perizinan Pengaruh langsung dari didapatkannya izin usaha belum banyak dirasakan oleh UMKM. c). e).57 juta menjadi Rp 114.17 kali per UKM. Majelis Ulama Indonesia dan lain-lain. Konsekuensi pemerintah bagi UMKM yang telah mendapatkan izin usaha juga belum jelas. Karena dalam segala bentuk kebijakan pemda tidak membedakan atau memberlakukan diskriminasi antara UMKM yang telah mendapatkan izin dengan yang belum mendapatkan izin. Kartu Keluarga. Diperolehnya perizinan ternyata membawa konsekuensi yang cukup besar dari kalangan masyarakat.

Oleh karena diperlukannya persyaratan pokok tersebut.1 Kondisi UMKM Umur dan kelamin tidak nyata pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. belum menjadi target program P2SP. Tetapi mengingat jumlah jenis perizinan yang diperlukan cukup banyak (minimal 4 jenis) maka jumlah waktu yang tersita untuk mengurus perizinan ini juga masih relatif panjang. VII. 6. Yang terlama adalah untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan rata-rata 8. pikulan. lapak dan lain-lain). izin industri rumah tangga. kiranya masih diperlukan pemikiran prosedur pemberian perizinan yang lebih singkat misalnya dengan pola paket pemberian perizinan lengkap dari membuat IMB sampai dengan penerbitan izin usaha sektoral (perdagangan. Ketentuan tersebut di atas menyebabkan pengusaha yang berpindah-pindah.4 30 .41 hari. baik disebabkan karena tidak memiliki tempat usaha atau yang memang karakter usahanya berpindah-pindah (menggunakan gerobak. Untuk lebih meningkatkan efisien waktu pengurusan. antara lain izin usaha perdagangan.JURNAL VOLUME 4 . Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena jumlah pengusaha yang seperti itu sangat banyak dan diperkirakan mencapai 41. Berbagai jenis perizinan.76 hari dan yang paling cepat adalah untuk mendapat surat izin lingkungan yang hanya memerlukan waktu 2 hari. izin usaha pendidikan dan pelatihan serta izin pengoprerasian dan trayek angkutan. pertambangan dan lain-lain).8 Waktu yang Diperlukan untuk Mengurus Perizinan Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan adalah 4. Hal ini mungkin disebabkan sebagian besar responden adalah laki-laki dengan rata-rata umur 33. jasa.67% dari jumlah usaha mikro dan kecil yang ada di Indonesia (Ramelan 1999). Persyaratan surat-surat keterangan dasar ini berbeda antara tiap daerah. izin usaha perbengkelan. maka sebagian besar pengusaha mikro terutama mereka yang usahanya berpindah-pindah tidak mungkin untuk mendapatkan perizinan. Analisis Faktor Perizinan UMKM Kondisi dan Tingkat Pengaruh dari faktor-faktor Penentu 7.39 hari.AGUSTUS 2009 : 18-36 Bangunan. izin usaha restoran dan rumah makan serta izin penggalian Sedangkan perizinan yang kurang mendapat perhatian adalah izin usaha keuangan dan izin usaha minuman keras. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan sebelum adanya program P2SP yang mencapai rata-rata 23.

tetapi masih tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ada di lingkungan UMKM. Dalam hal ini tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia guna mendukung pemberdayaan UMKM.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) tahun atau dalam kondisi produktif.93% yang bergerak di sektor primer terutama kegiatan pertambangan dan penggalian. Oleh sebab itu masih sangat diperlukan penyederhanaan prosedur atau adanya pendampingan. Dengan demikian UMKM tidak mengalami kesulitan untuk mengurus proses perizinan atau formalisasi kegiatan usahanya. Sektor usaha berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Implementasi dari tujuan tersebut adalah lembaga pelayanan yang dibangun harus mampu mengatasi masalah-masalah struktural yang selama ini menghambat 31 . Jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lincoln (1982) yang mengatakan bahwa “Tercapai tujuan dari suatu sistem sangat dipengaruhi oleh pendekatan sistem tersebuit dalam mencapai tujuannya dan adanya kelembagaan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut”. Oleh sebab itu kelembagaan yang dibangun idealnya adalah yang dapat memberikan peluang seluas-luasnya bagi UMKM untuk dapat eksis dalam sistem perekonomian. yang rata-rata hanya memiliki tenaga kerja 2. Tingkat pendidikan berpengaruh nyata. Rata-rata 43. Dengan adanya P2SP. Rata-rata pendidikan UMKM yang telah mendapatkan izin usaha hanya mencapai nilai bobot 7.264 orang.67 (relatif rendah). rata-rata waktu yang diperlukan untuk pengurusan memang berkurang.67% adalah yang bergerak di sektor tersier dan hanya 4. Pemilikan modal UMKM berpengaruh nyata positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Hal tersebut disebabkan prosedur untuk mendapatkan perizinan memerlukan pengetahuan yang relatif luas (terutama yang berhubungan dengan pola kerja birokrasi).2 Faktor Eksternal 1) Pendekatan Model formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% pendekatan dalam konsepsi pemberian perizinan untuk UMKM berpengaruh positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha. Hal ini mungkin dikarenakan untuk pengurusan masih diperlukan waktu dan tenaga. Pengaruh ini diduga berkaitan dengan biaya perizinan yang relatif cukup besar untuk kelompok usaha mikro (sedangkan usaha mikro bagian terbesar dari UMKM).60% UMKM yang telah mendapatkan izin usaha adalah yang bergerak di sektor sekunder. 7. 38.

Kondisi tersebut dapat diterangkan sebagai berikut bahwa ”Sebagian besar pengusaha mikro menyatakan bahwa prosedur pelayanan yang ditetapkan ternyata masih sulit dimengerti. c) Kedudukan lembaga pemberian perizinan masih cukup tinggi yaitu minimal setara dengan eselon III. c) Membuka transparansi persyaratan dan biaya.JURNAL VOLUME 4 . Hal tersebut dikarenakan latar belakang pendidikan mereka memang cukup tinggi dan mereka sudah biasa berhubungan dengan dengan birokrasi. Hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: a) Adanya satu lembaga perizinan telah menghilangkan perbedaan peresepsi tentang tujuan pemberian perizinan bagi UMKM. b) Instansi pemberian perizinan berada di bawah instansi induk yang kompeten dengan kepentingan pemberdayaan UMKM. Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya: a). 3) Kedudukan lembaga perizinan Variabel ini sampai dengan tingkat kepercayaan 80% belum menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Hal ini cukup beralasan karena sebagian besar dari pengusaha mikro tersebut berpendidikan rendah dan belum berpengalaman dalam berurusan dengan birokrasi. Masalah tersebut antara lain banyak jenis perizinan yang harus dimiliki oleh UMKM. persayaratan yang tidak sesuai dengan karakter UMKM dan biaya yang memberatkan UMKM. Peraturan yang mengharuskan mengikutsertakan semua instansi terkait agar tidak ada lagi perbedaan persepsi pemberian perizinan. 4) Prosedur formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% varibel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.AGUSTUS 2009 : 18-36 proses formalisasi UMKM. Misalnya di bawah Dinas Koperasi dan UKM. 32 . Dapat disimpulkan bahwa ada kaitan (korelasi) antara prosedur pelayanan dengan tingkat pendidikan dan pengalaman UMKM dalam berhubungan dengan “birokrasi”. Sebaliknya sebagian besar pengusaha kecil menyatakan tidak kesulitan. b) Mempermudah UMKM dalam pengurusan karena hanya harus pergi ke satu tempat serta. 2) Bentuk Lembaga Perizinan Bentuk lembaga perizinan sampai pada tingkat kepercayaan 95% sudah menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin kegiatan usaha.

c) Pengambilan berada pada level atas yang rata-rata memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pemberian perizinan bagi UMKM. pengetahuan. 7) Biaya Perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 90% variabel ini belum berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Pengaruh ini jelas berhubungan dengan pemahaman UMKM terhadap kepentingan. 6) Persyaratan Perizinan Variabel ini pada tingkat kepercayaan 95% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 9) Konsekuensi adanya perizinan Pada tingkat kepercayaan 90% variabel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. konsekuensi prosedur dan persyaratan perizinan. Pengaruh tersebut nampaknya berhubungan langsung dengan karakter UMKM yang diwarnai oleh berbagai keterbatasan (uang. Hal tersebut diduga dikarenakan. variabel ini belum menunjukkan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Ada dan tidaknya nilai tambah yang akan diperoleh UMKM sebagai konsekuensi dari didapatkannya perizinan akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan 33 .Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 5) Kompetensi personil lembaga perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 80%. b) Personil sebelum bekerja sudah dilatih dan dibekali dengan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. waktu dan tenaga). diduga menyebab variabel biaya ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Masih relatif besarnya biaya perizinan yang harus dibayar oleh pengusaha. 8) Sosialisasi Perizinan Variabel ini sampai pada tingkat kepercayaan 85% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. akibat pendekatan dalam penetapan biaya perizinan yang tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha mikro. a) Pemberian perizinan bukan merupakan pekerjaan sederhana yang hanya mengikuti prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan.

2.JURNAL VOLUME 4 . 5) Sosialisasi perizinan . 5. Dalam penyusunan konsep pemberian perizinan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara pendekatan. 6. 2) Bentuk lembaga perizinan.1 Kesimpulan 1. Program formalisasi usaha harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya 34 . Beberapa variabel yang berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha adalah: 1) pendekatan. 2. Program-program perizinan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah belum menjangkau masalah pemberian badan hukum. b) Persyaratan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM khususnya pengusaha mikro. Hal ini dikarenakan pemberian badan hukum merupakan kewenangan dari Departemen Hukum dan Ham yang dalam UU otonomi daerah juga tidak dilimpahkan kewenangannya kepada pemerintah daerah. 3. 6) Konsekuensi dari adanya perizinan. 4.12%. kelembagaan dan karakteristik UMKM. Bagi pengusaha mikro.AGUSTUS 2009 : 18-36 VIII. Hal tersebut disebabkan karena usaha mikro sebagian besar merupakan perusahaan perorangan yang ruang lingkup usahanya yang relatif sempit. 7. c) Kurangnya sosialisasi dan belum adanya konsekuensi yang jelas dari pemerintah dengan dimilikinya badan hukum. Berbagai usaha untuk mempermudah pemberian perizinan yang dilakukan sekarang (program P2SP) belum sepenuhnya dapat menyelesaikan masalah formalisasi UMKM. 4) Prosedur perizinan. Ketidakmampuan ini berkaitan dengan implementasi kelembagaan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM.2 Saran-saran 1. izin perusahaan atau badan hukum secara yuridis formal memang untuk waktu sekarang belum diperlukan. Beberapa masalah yang sangat mendesak untuk diperbaiki adalah: a) Banyaknya jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan usaha. 3) Persyaratan perizinan. Kesimpulan Dan Saran 8. Jumlah UMKM yang telah mendapat formalitas usaha dalam bentuk perizinan relatif sedikit tidak terkecuali pada daerah-daerah yang telah melaksanakan P2SP yang baru mencapai 17. Dari hasil temuan di atas dapat disusun best practice penyusunan konsep Lembaga perizinan UMKM 8.

Jakarta. Manggara Tambunan. Support by The Asia Foundation and PEG-USAID.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM dan kemampuan UMKM untuk memenuhi persyaratan tersebut. Vol 7 nomor 1. 3. Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. (2002). (1999). Conference on “The Economic Issues Facing The New Government”. Indonesia Small Business Statistics. Anonim. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. Basic Penumbuhan Wirausaha Baru. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. Anonim. Anonim. Perlu dilakukan sosialisasi best pratice formalisasi UMKM yang telah disusun dengan memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi efektifitas sistem pelayanan. (2001). Supported by The Asia Foundation. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004. (2004). Study Report. Study Report. (2003). Kusnadi dan R. Saleh. Departemen Koperasi. The Asia Foundation. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. Jakarta. Melangkah ke Depan Bersama UKM. (1999). Small and Medium Entreprise Development. Jointly orgized by LPEM-UI and PEG-USAID. Anonim. 1���. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. (2005). (2006). Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Jakarta. (2008). Anonim. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. Heriawan. Jurnal Ekonomi UNTAR. Anonim. Anonim. Jakarta. (1992). Kementerian Koperasi dan UKM. Pedoman Pengembangan Kewirausahaan. Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya. 35 .

Kamis 21 Oktober 2004. Taiwan. Jakarta. (1993).. Bisnis Indonesia.” November 2004. “The Entreprise Culture and Education” dalam International Small Business Journal Vol. January 2005.” 16th International Conference. (2004). World SME Convention.. “The Bucharest Declaration: Preparing SME’s for the Knowledge Based Economy. Bucharest May 15-18.JURNAL VOLUME 4 .B. Terapkan Ekonomi Terbuka. Gibb. 2005. 2nd ed. “Building The Policy of ICT Development. The Symphony Consortium. Zsehong Tsai. USA. Singapore: John Willey & Son. “Symphony Solution for Strategic Network: Project Overview. Allan A.“ National Information & Communications Initiative Committee & Science and Technology Advisory Group (STAG).AGUSTUS 2009 : 18-36 Yudhoyono S. 36 . 2. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving.

koperasi dapat bertahan dan bahkan berkembang.d. The result of the assessment showed that: 1) There is a difference between SLC and CC in implementing cooperative principles. d) CC has a clear promotional operational standard. pendidikan. 3) SLC is necessary to conduct horizontal and vertical cooperation and implements financial interlending. KSP dan Kopdit berbeda dalam implementasi prinsip koperasi. 5) SLC is necessary to prepare implementation of operational standard for SLC like CC. syarat anggota. 8 �uni 200�. b) Cooperation horizontal and vertical and interlending implementation on the sixth cooperative principle. The difference lays on determining member requirements on the first cooperative principle: a) The implementation of education on the fifth cooperative principle. b) Education is a facility to increase the capability and cooperative motivation. 2) What’s really at the bottom of that (CC) is better in implementing cooperation principles: a) Members are the owner of cooperative should be serviced well. c) Cooperation among CC is an instrument of helping each other among CC and resource of business increase in rendering service to the members. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 37 . kerjasama horisontal dan vertikal I. 2) Education to members and management of SLC should be conducted regularly and consistence. 4) SLC is necessary to establish secondary level of SLC in the district level or for some primary SLC’s which the function to coordinate the interests of SLC’s in the area of business and finance.1 Latar Belakang Ketika krisis ekonomi melanda di Indonesia. Peer review 22 April s. Suggestion which is proposed in line with the conclusion above mentioned: 1) LSC should make members requirement which are more operational so that member of LSC will be more selective on its quality. PENDAHULUAN 1. khususnya koperasi simpan Kajian Kelompok Peneliti tahun 2008.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) ANALISA KOMPARATIF ANTARA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) DAN KOPERASI KREDIT (KOPDIT)*) Riana Panggabean**) Abstract Objective of the activity is to compare Savings and Loan Cooperative (SLC) and Credit Cooperative (CC) in implementing cooperative basic principle. Artikel diterima � April 200�. c) Obligation of to pay tax on the sevent cooperative principle.

(4) Otonomi dan kebebasan. (5) Pendidikan dan pelatihan serta informasi. Selain koperasi tersebut koperasi kredit (credit union) mulai timbul di Indonesia pada tahun 1950 adalah koperasi yang mempunyai kegiatan simpan pinjam sama dengan KSP/USP yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM tersebut.AGUSTUS 2009 : 37-61 pinjam. (6) Kerjasama antar koperasi dan (7) Kepedulian terhadap komunitas (Internasional Co-operative Alliance/ICA). calon anggota koperasi yang bersangkutan. Koperasi kredit dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. Koperasi ini berhasil karena melaksanakan prinsip-prinsip koperasi secara tepat dalam menjalankan organisasi dan usahanya. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka untuk tujuan produktif dan kesejahteraan anggotanya. Prinsip koperasi merupakan esensi dari dasar kerja koperasi sebagai badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari usaha lain. kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelakanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam.JURNAL VOLUME 4 . 38 . (3) Partisipasi ekonomi anggota. Tujuan produktif dan kesejahteraan berarti bahwa pinjaman hanya diberikan pada anggota untuk dimanfaatkan modal usaha yang bisa meningkatkan penghasilan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota.koperasi lain dan atau anggotanya. (2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis. Artinya pinjaman tidak bisa diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Koperasi simpan pinjam yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM ada dua bentuk yaitu (1) Koperasi Simpan Pinjam disebut KSP melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan pinjam dan (2) Unit Usaha Simpan Pinjam disebut USP adalah unit usaha yang dibentuk dalam suatu koperasi sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi melakukan kegiatan usaha simpan pinjam (PP No 9 Thn 1995). Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip koperasi adalah (1) Keanggotaan sukarela dan terbuka. Ini merupakan bukti bahwa koperasi perlu diperkuat dan dipertahankan sebagai lembaga keuangan mikro agar selalu mampu melayani anggota dan masyarakat disekitarnya. Usaha simpan pinjam juga menjadi cikal bakal pertumbuhan dan pengembangan koperasi simpan pinjam di Indonesia dan usaha ini merupakan usaha dominan koperasi hingga saat ini.

865.578.55 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 1. (2) Jumlah anggota keseluruhan 668.288.864.011 unit. (5) Modal sendiri Rp 776.03 juta.18 juta.783 orang.364.393. (8) SHU yg belum dibagi Rp 1. 2002) KSP dan USP cukup pesat perkembangannya seperti yang disebut di atas.640.346 orang. Koperasi ini dikembangkan dan berkembang sesuai dengan jatidiri koperasi (Sumisjokartono.118. (4) Simpanan non saham Rp 791. (5) Jumlah pinjaman beredar sebanyak Rp 1.495.545. Demikian juga perkembangan USP pada tahun yang sama cukup menonjol yaitu: (1) Jumlah USP koperasi sebanyak 36.844 orang.908 orang. (2) Jumlah anggota sebanyak 4.600. (4) Modal pinjaman Rp 195. (2) Jumlah anggota sebanyak 480. (6) Modal penyertaan Rp 200.36 juta.91.326 orang.054.95 juta.73 juta.460. Kopdit dalam melaksanakan usahanya 39 .379 orang.270. perkembangan KSP sampai Tahun 2005 sangat pesat dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah KSP 1.154. (5) Modal sendiri Rp 4.524.932. Secara kualitatif menurut hasil penelitian dijelaskan bahwa kopdit cukup pesat perkembangannya dilihat dari pertumbuhan dan usahanya karena kopdit dapat bertahan dan berkembang terus bahkan dianggap berprestasi walaupun pada masa krisis. Lawang 2007). Sedangkan kopdit berhasil karena melaksanakan/menjalankan koperasinya sesuai dengan prinsip dasar koperasi secara konsisten.438 (Robert M.62 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 13.88 juta.67 juta.834.502 orang dan jumlah anggota perempuan 268.94 juta.598 unit.063.114 dan. (7) Simpanan yang diterima Rp 325.374.557.485 unit. (7) Simpanan yang diterima Rp 1.83 juta.633. terdiri dari jumlah anggota laki-laki 399. Selanjutnya perkembangan koperasi kredit (kopdit) secara kuantitatif pada tahun 2006 dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah koperasi kredit di Indonesia sebanyak 1.873. (8) SHU yg belum dibagi Rp 107.815.858. (3) Jumlah nasabah 10.662 juta.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Kerjasama dan Jaringan Informasi pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK.000 juta.693. (3) Jumlah nasabah 878.987.216.Z. (6) Modal penyertaan Rp 6. (2) KSP saat ini menjadi alat untuk mencari rente ekonomi terutama fasilitasi perkuatan dari pemerintah. (9) Total aset Rp 1. (3) Banyak KSP yang telah berubah menjadi lembaga keuangan yang hanya mencari keuntungan semata sehingga mengabaikan pelayanan kepada anggota.165. (9) Total aset Rp 7.877. (3) Jumlah saham sebanyak Rp 1. Namun dalam prakteknya disinyalir: (1) Ada terjadi penyimpangan-penyimpangan managemen organisasi dan usaha yang kurang sesuai dengan peraturan perundangan terutama yang menyangkut dengan prinsip dasar koperasi. (4) Modal pinjaman Rp 1.524.

Keanggotaan yang Bersifat Terbuka dan Sukarela Keterbukaan dalam organisasi koperasi hanya bisa terlaksana jika ada kesukarelaan. Perlu ditelusuri konsep prinsip-prinsip dasar koperasi. TINJAUAN KONSEP Sesuai dengan tujuan kegiatan ini yaitu membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. Perincian prinsip-prinsip koperasi yang menjadi landasan operasional KSP dan kopdit dijelaskan sebagai berikut: 1). sesuai Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi dan Manajemen Operasional Koperasi Kredit. II. 1. Dengan melaksanakan keseluruhan prinsip tersebut.1 Prinsip-prinsip Koperasi Menurut Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian disampaikan bahwa prinsip koperasi merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berkoperasi.3 Manfaat Kajian Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan/keputusan untuk pengembangan KSP dan kopdit lebih lanjut. Ada 4 prinsip yang berkaitan dengan keanggotaan yaitu (1) prinsip sukarela. 40 .AGUSTUS 2009 : 37-61 tidak menggantungkan diri kepada fasilitas dan bantuan pemerintah dan kopdit dalam melaksanakan usahanya hanya melayani anggota.JURNAL VOLUME 4 . koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial.2 Tujuan dan Manfaat Kajian Tujuan kegiatan ini adalah membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 2. 1. masalah yang akan diamati dalam kajian ini adalah belum diketahui apa perbedaan antara KSP dengan kopdit dalam mengimplementasikan jati diri koperasi. Selanjutnya menurut Internasional Co-operative Alliance (2001) prinsip-prinsip ini tidak independen satu dengan lainnya sehingga tidak boleh dinilai secara parsial berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip tersebut tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu kesatuan. (2) keterbukaan.

Sifat terbuka memberi arti dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi apapun. Prinsip yang utama adalah sekali anggota diterima menjadi anggota koperasi mempunyai hak-hak yang sama dengan anggota sebelumnya termasuk dalam hak suara tanpa melihat besarnya total simpanan. Para anggota memegang dan melaksanakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. partisipasi dalam bisnis. Prinsip keterbukaan adalah tanpa pembatasan yang dibuat-buat seperti simpanan pokok atau pendaftaran. menanggung kontrol organisasi secara demokratis dan bila perlu meminta pertanggungjawaban pemimpin yang dipilih anggotanya. latar belakang. ras. politik dan agama. Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan koperasi artinya bahwa: (1) Menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksa oleh siapapun. (2) Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam anggaran dasar. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah organisasi yang bersifat sukarela dan terbuka bagi semua orang yang bersedia memanfaatkan pelayanannya dan bersedia pula untuk menerima tanggung jawab keanggotaan. Sukarela artinya orang-orang yang secara sukarela memilih untuk membuat komitmen terhadap koperasi mereka bahwa bergabungnya seseorang menjadi anggota koperasi tidak karena paksaan dalam bentuk apapun. 2).Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) (3) non diskriminasi dan (4) tanggung jawab. Prinsip nondiskriminasi adalah bahwa anggota tanpa diskriminasi sosial. hak pilih dan hak untuk menentukan sikap yang sama. tanpa membedakan jenis kalamin (gender). Prinsip tanggung jawab adalah keanggotaan koperasi harus terbuka terhadap semua orang yang mau menerima tanggung jawab sebagai anggota. Operasional prinsip ini dalam banyak koperasi diwujudkan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) dimana anggota aktif dalam membahas masalah dan kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan. sosial. Tanggung jawab meliputi: kontribusi dalam modal. politik dan agama apapun. Pengelolaan Dilakukan Secara Demokratis Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota. 41 . Karena koperasi adalah organisasi demokratis dikendalikan oleh anggotanya maka setiap anggota memiliki hak suara. untuk menemukan sikap yang sama.

melalui kebijakan kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota. nasional. Pelatihan dan Penerangan Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain. menolong diri sendiri serta diawasi oleh para anggota.JURNAL VOLUME 4 . Pengertian konsep ini dijelaskan sebagai berikut: 42 . Kerjasama Antara Koperasi Koperasi melayani para anggotanya secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi dengan kerjasama melalui struktur lokal. dibagikan kepada anggota seimbang dengan transaksi yang mereka lakukan mendukung kegiatan lainnya yang disahkan rapat anggota.AGUSTUS 2009 : 37-61 3). Sebagian dari modal menjadi milik bersama koperasi. 2. Adanya Otonomi dan Kemandirian Koperasi adalah organisasi otonom. khususnya kepada pemuda dan pembentuk opini dimasyarakat tentang hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi.2 Koperasi Kredit Menurut Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (1996:7) pengertian kopdit adalah badan usaha yang dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. Pendidikan. atau memupuk modal dari sumber luar. koperasi melakukannya berdasarkan persyaratan yang menjamin pengawasan demokratis oleh para anggotanya dan mempertahankan otonomi mereka. regional dan internasional. 6). 4). Memiliki Kepedulian Terhadap Masyarakat Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. termasuk pemerintah. Anggota Berpartisipasi Dalam Kegiatan Ekonomi Para anggota memberikan kontribusi modal secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis terhadap modal. memberikan penerangan kepada masyarakat umum. Apabila ada modal lain hanya akan diberikan imbalan yang terbatas. membentuk dana cadangan. Sisa Hasil Usaha dialokasikan untuk pengembangan koperasi. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka dengan bunga yang layak serta untuk tujuan produktif dan kesejahteraan. 7). 5).

Dimiliki Oleh Sekumpulan Orang Dimiliki oleh sekompulan orang pria dan wanita yang berjumlah sekurang-kurangnya 20 orang. b). dan pengawas. wanita. Dalam Suatu Ikatan Pemersatu Dalam suatu ikatan pemersatu artinya sekumpulan orang diikat dipersatukan oleh adanya kepentingan bersama dan kebutuhan yang dirasakan bersama di dalam salah satu lingkungan masyarakat seperti: a). d). pemuda dsb. 2). Badan Usaha Pengertian badan usaha (UU Nomor 25 Tahun 1992) pada kopdit adalah badan usaha dengan ciri khas pemiliknya adalah anggota-anggotanya. Jika potensi keanggotaannya tidak besar maka koperasi di tempat kerja saat tertentu dianjurkan membuka diri bagi bagi masyarakat sekitarnya. Lingkungan Kerja (Accupational Common Bond) Dimana sekelompok orang/anggota dipersatukan karena melakukan pekerjaan yang sama. dan guru. olahraga. c). RW dan RK. Misalnya karyawan sebuah pabrik. Anggota wajib mendukung kemajuan kopdit sebagai badan usaha. pramuka. Lingkungan tempat tinggal (Teritorial Commond Bond) Dimana sekumpulan orang yang diikat oleh karena bertempat tinggal pada suatu tempat atau menjadi warga dari suatu daerah yang sama Misalnya satu lingkungan RT. Oleh karena itu koperasi harus dikelola dengan memperhatikan kaidah-kaidah ekonomi tanpa melupakan tujuan dibentuknya usaha ini oleh kelompok pemiliknya. petani. Misalnya mahasisiwa. Kopdit akan berkembang baik bila potensi keanggotaannya cukup besar. Anggota dalam kopdit adalah pemilik pelaksana. rumah sakit.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Lingkungan Perkumpulan (Asosieson Commond Bond) Dimana sekumpulan orang diikat oleh karena sama-sama menjadi anggota dari suatu perkumpulan. Bila sudah berkembang diharapkan membuka diri bagi masyarakat sekitarnya. buruh. 3). Bersepakat Untuk Menabung Uang Mereka yang Disisihkan Dari Penghasilan Bahwa sekumpulan orang setuju tanpa paksaan untuk menabungkan uang yang mereka hematkan dari 43 .

Ini berarti bahwa masing-masing bertanggung jawab. Bunga yang Layak Bahwa bunga pinjaman pada kopdit harus layak. Kopdit mengajarkan cara menghemat dengan memberikan bimbingan perencanaan keuangan keluarga anggota dengan baik. (2) Memberikan Pinjaman layak. Dengan menghemat seseorang bisa: (1) Menabung.JURNAL VOLUME 4 . tepat. i). dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol dengan pendidikan. h). g). (2) Setia kawan/Solidaritas. cepat. karena dengan menghemat orang bisa menabung. cara menyimpan uang secara praktis.AGUSTUS 2009 : 37-61 penghasilannya bersepakat untuk menabung. Menghemat itu penting. Tujuan Produktif dan Kesejahteraan Pinjaman hanya diberikan untuk kebutuhan anggota bagi usaha-usaha yang bisa meningkatkan penghasilan dan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. dan (3) Mendidik anggota dalam hal menggunakan uang secara bijaksana. Kopdit tidak sekedar 44 . Layak artinya dapat memberi balas jasa simpanan sesuai pasar dan dapat membiayai operasional kantor kopdit. sebagai (a) Modal sendiri berupa simpanan wajib dan pokok. dan terarah. saling melayani dan mempercayai serta memanfaatkan tabungan untuk kemajuan bersama. f). kopdit dimulai dengan pendidikan. Tiga Pilar Koperasi Kredit Sebagai alat Pembangunan Tiga pilar ini disebut Trilogi pembangunan yaitu: (1) Pendidikan. Dipinjamkan Diantara Sesama Mereka Artinya bahwa pinjaman diberikan kepada anggotaanggotanya dan pinjaman dijamin oleh watak baik si anggota peminjam serta kelayakan usaha. (b) Modal-modal lain yang berupa modal hutang. Menciptakan Modal Bersama Bahwa modal diperoleh dari tabungan bersamasama para anggotanya. Tujuan kopdit diimplementasikan dalam membimbing dan mengembangkan sikap menghemat diantara para anggotanya. menarik dan berhasil bagi anggota. modal penyertaan dan hibah. e). Artinya pinjaman tidak boleh diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif.

Inilah ciri khas yang membedakan kopdit dari lembaga keuangan lain seperti bank dan perusahaan-perusahaan pengawasan harta benda lainnya (trust companies). Koperasi Kredit Dikendalikan oleh Anggota Perkembangan serta kegiatan pergerakan kopdit Indonesia selama ini dikendalikan oleh prinsip-prinsip kopdit (Mission Statement) yang diakui secara internasional dan pernyataan misi yang dikembangkan oleh Gerakan Koperasi Kredit Indonesia. Pada kenyataannya keuntungan dan laba dari modal para anggota adalah sasaran yang justru harus diraih oleh semua kopdit. (3) Swadaya. 2. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1).3 Implementasi Konsep Kredit Prinsip Koperasi Menurut Koperasi Implementasi konsep prinsip koperasi pada kopdit (credit union) dituangkan dalam Manajemen Profesional Koperasi Kredit yang diterbitkan oleh Induk Koperasi Kredit pada Pebruari 2003. 45 . Namun kopdit tidak didirikan hanya sekedar untuk memberi keuntungan modal para anggota. Kopdit selalu berusaha untuk sedapat mungkin membiayai dirinya dalam pengertian bahwa anggota kopdit selalu berusaha agar koperasi kreditnya semakin besar dan sehat. Sebuah kopdit adalah usaha koperasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh para anggotanya. Secara teoritis kopdit ditujukan untuk beroperasi secara non profit (tidak mengambil keuntungan). sebagai acuan bertindak untuk melaksanakan usaha simpan pinjam. Keuntungan yang diraih kopdit digunakan untuk tujuan-tujuan demokratis kesadaran sosial dan pengembangan manusianya. Kopdit juga memberikan manfaat dan layanan bagi para anggota sesuai dengan besarnya jasa yang diberikan kepada kopdit tersebut. Agar dapat memahami sifat kopdit dan mengerti aspekaspek unik gerakan ini terlebih dahulu perlu dipelajari prinsipprinsip visi yang selama ini mengarahkan perkembangan gerakan tersebut.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) menghimpun dan menyalurkan kredit dari dan untuk anggota namun yang paling penting adalah bagaimana setiap anggota memperhatikan kepentingan kelompok daripada kepentingan sendiri.

3). Kopdit boleh mengganti biayabiaya sah yang dikeluarkan oleh para pengurus terpilih tersebut.AGUSTUS 2009 : 37-61 2). Layanan kepada Anggota Layanan kopdit ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan baik ekonomis maupun sosial para anggotanya. simpanan atau volume bisnis masingmasing anggota. Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dilakukan secara proporsional ataupun representatif sesuai dengan prinsip koperasi. Struktur yang Demokratis Kopdit beroperasi berdasarkan prinsip demokrasi dimana keanggotaan terbuka untuk siapa saja. jenis kelamin agama maupun politik. Para anggota memiliki hak yang sama dalam pemberian suara dan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kopdit tersebut. 6). Pengurus yang duduk dalam suatu kopdit sifatnya sukarela dan para pengurus yang terpilih seharusnya tidak digaji. 7). Distribusi kepada Anggota Dalam rangka mendorong penghematan melalui menabung dan juga agar dapat menyediakan pinjaman serta layanan lainnya maka setiap tabungan dan simpanan diberikan bunga dengan tingkat yang wajar berada dalam batas kemampuan kopdit bersangkutan. Kopdit juga memiliki otonomi sendiri kaitannya dengan hukum dan peraturan negara dimana negara mengakui kopdit sebagai suatu koperasi yang melayani dan dijalankan sepenuhnya oleh anggota. Pengendalian (control) Demokratis Para anggota kopdit memiliki hak suara yang sama dan hak yang sama pula untuk berpartisipasi dalam menentukan keputusan yang berpengaruh terhadap kopdit dimana hak ini tidak tergantung pada jumlah tabungan. yang ingin mengambil manfaat dari layanan yang disediakan kopdit dan bersedia menerima tanggung jawab yang diakibatkannya. 4). 5). kebangsaan. 46 . Non Diskriminasi Kopdit tidak membedakan ras.JURNAL VOLUME 4 . Keanggotaan yang Terbuka dan Suka Rela Keanggotaan kopdit bersifat sukarela dan terbuka bagi siapa saja dalam batas ikatan pemersatu sebuah kopdit tersebut.

1. sosial. 8). Dimana tidak boleh ada anggota yang mendapat keuntungan lebih sementara anggota lain ada yang rugi. Membangun Stabilitas Keuangan Salah satu aspek utama dari kopdit adalah membangun kekuatan finansial termasuk pengadaan cadangan keuangan dan pengendalian internal yang memadai agar layanan anggota bisa terjamin keanggotaannya. managemen keuangan.4 Peubah dan Indikator Kajian Untuk mencapai tujuan umum pada kajian ini diidentifikasi indikator yang diasumsikan mampu menjelaskan inplementasi pelaksanaan prinsip-prinsip koperasi pada kedua sasaran kajian yang akan dibedakan dalam kajian ini. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode survey. III. Pendidikan yang berkelanjutan Kopdit harus secara aktif menyelanggarakan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ekonomi. Sisa tersebut adalah hak semua anggota. 9). 47 . kemandirian dari koperasi tersebut dalam melayani kebutuhan anggota. perkoperasian. Kelebihan itu bisa dibagikan kepada anggota dalam bentuk bunga atau laba sesuai jumlah transaksi yang mereka lakukan dengan kopdit bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan tambahan yang dibutuhkan anggota. Tujuan Sosial Kopdit harus secara aktif mempromosikan pendidikan kepada anggotanya dan kerjasama dengan organisasi lain demi kepentingan bersama. managemen koperasi. Data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dan data primer. demokrasi. 10). METODE KAJIAN 3.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Jika ada laba yang tersisa dari hasil kegiatan kopdit setelah dikurangi dana cadangan dan membayar deviden terbatas atas modal sendiri sesuai ketentuan. Ketujuh prinsip tersebut dijadikan variabel dan dari variabel diidentifikasi indikatornya seperti pada Tabel 1. 2.

48 . Skema Identifikasi Prinsip & Peubah Kajian 3. Jawa Barat. Responden masing koperasi 3 orang (1 orang pengurus/ managemen dan dua orang anggota). Teknik penarikan sampel KSP dan kopdit dilakukan secara purposive dengan ciri ciri KSP dan kopdit aktif melakukan usaha simpan pinjam 4). Lokasi kajian ini dilakukan di 4 (empat) provinsi: Sumatera Utara.2. Teknik penarik lokasi sampel dalam kajian ini dilakukan dengan metode purposive dengan ciri di kab/kodya yang bersangkutan terdapat KSP/USP dan kopdit yang sudah berjalan selama 5 tahun dan koperasi tersebut aktif 3).3. Teknik Analisis Data 1).AGUSTUS 2009 : 37-61 ������������ ������������� ����� ������������������ � ������������������ ���������� � �������������������� � ������������������������ ������������� � ����������������� � ������������������ ����������� � ����������������� � �������������������� ����������������� ����������������������� �������������� � �������������� � ���������� � ����������� � ���������� � ��������� � ���������� � ������ � �������������� � ������������������� � � � � � � � � ��������������������� ��������������� ���������������������������� ����������������������� ���������������������� ��������� ���������������������� ������������ ����������������� �������������������� ��������������������� ��������� �������������� ���������������� ��������������������������� ������� Gambar 1. dan Bali 5). Populasi dalam kajian ini adalah semua KSP dan kopdit yang ada di kabupaten lokasi kajian 2). Teknik Penetapan Sampel 1).JURNAL VOLUME 4 . Jawa Timur. Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantatif . 3. Jumlah sampel koperasi masing-masing kabupaten 2 KSP dan 2 kopdit.

Jika dilihat dari jumlah anggota maka perbandingan jumlah anggota kopdit 4 kali lipat lebih besar dari jumlah anggota KSP. (3) Total Modal yang terdiri dari Modal sendiri dan modal luar. Mengapa jumlah anggota kopdit jauh lebih besar dari jumlah anggota KSP. IV. (4) Total asset dan (5) SHU.. Data sekunder profil KSP dan kopdit di tingkat kab/kota diolah dengan analisis pengujian varian satu jalur (one way anova) Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan (DuwiPryanto. Temuan di lapang menunjukkan bahwa kopdit berusaha melayani anggota sebaik mungkin karena kopdit menumbuhkan dan mengembangkan modal dari anggota sedangkan KSP disinyalir melayani non anggota. Sedangkan jumlah anggota 8 unit kopdit responden jauh lebih besar dibanding dengan jumlah anggota KSP yaitu sebanyak 7. 3).25. Jumlah nasabah yang dilayani pada KSP kurang jelas sedangkan jumlah nasabah di kopdit otomatis sama dengan jumlah anggotanya karena prinsip kopdit adalah melayani anggota.695. 2008).757. 49 . Jumlah anggota terendah terdapat di Bali dan Jumlah anggota tertinggi terdapat di Jawa Barat. Total modal rata-rata 8 orang responden KSP sebanyak Rp. Jumlah ini jika dibagi dengan banyaknya anggota maka rata-rata anggota memiliki modal sebanyak Rp.679. dijelaskan pada tabel 1 (lampiran 1). Hasil kajian menjelaskan bahwa jumlah rata-rata anggota pada 8 unit KSP responden sebanyak 1684 orang.-. Jumlah skoring masing-masing KSP/kopdit itulah yang menjadi pembeda antara KSP dengan kopdit.761 dan jumlah modal terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 222. Analisis kualitatif dilakukan melalui teknik pembobotan dan skoring.1 Profil Responden KSP dan Kopdit Profil KSP dan kopdit dilihat dari (1) Jumlah anggota. 166.013. 34.071.-. 2. Skor masing-masing koperasi dijumlah dan dibagi 100. Total modal ini berasal dari anggota dan disalurkan untuk anggota. HASIL KAJIAN 4.993. (2) Jumlah nasabah.805. Total modal rata-rata terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak Rp.039 atau empat kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Jumlah anggota kopdit terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak 16.612.750.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). Kondisi ini menjelaskan bahwa modal kopdit berasal dari anggota dan dikembangkan untuk anggota.261.323.795. Total modal ini 10 kali lipat lebih besar dari total modal KSP. Total modal rata-rata kopdit sebanyak Rp.386 dan jumlah anggota terkecil terdapat di Jawa Barat.017. 7.

4. 3. dan jumlah modal yang berasal dari pemerintah sebesar Rp. 1... 407.JURNAL VOLUME 4 .679.. 2.. 2.AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 1. Variabel dan Indikator Analisis Komparatif Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit Koperasi :.sedangkan modal kopdit hanya modal sendiri dan modal ini semuanya berasal dari anggota.078..25. Otonomi dan Kemandirian 1. No....Calon anggota:.. 3.337 dan modal luar Rp 358. 15 5. 3... Kerjasama usaha secara vertikal..25 dan modal luar Rp... Anggota melaksanakan pengawasan Anggota aktif dalam memecahkan masalah...670. Variabel Kajian (Prinsip) Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Indikator/Kegiatan yang harus dilakukan KSP/kopdit KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota Anggota bebas masuk dan keluar. 25 4. dari lingkungan Kerjasama Koperasi dengan organisasi kemasyarakatan.871. Skor (0-100) Nilai (BxS)i 2.458. 2. 3.....447. Interlending keuangan Ketaatan Koperasi membayar pajak.458... Pengendalian oleh Anggota Secara demokratis Partisipasi Ekonomi Anggota 20 3. 4... 1.. Penyerapan tenaga kerja. 7. 10 10 100 Nilai Akhir = ( BXS ) 100 Struktur modal sendiri KSP rata-rata Rp. Pendidikan dan Pelatihan 1..... Kerjasama diantara koperasi Kepedulian terhadap komunitas 1.. Anggota berperan aktif dalam RAT..koperas Jumlah anggota yang dilayanai: : . KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan Diklat bagi anggota. 2.. 2. KSP& kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kpd anggota KSP/kopdit diaudit auditor independen KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas.. dan solvabilitas KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan. orang ... 3..Anggota tetap: ... dan karyawan Kerjasama usaha secara horizontal.. 5. 10 6. orang KSP/kopdit melaksanakan Rencana Kerja dan RAPB. 358. Jumlah Bobot (0-100) 10 Koperasi 1. 4.625... Anggota melunasi simpanan pokok Anggota aktif menyetor s wajib & s rela Anggota ikut dalam pengambilan keputusan Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. 1... 1...... 3.. 2........ 50 2 .. 2. 2.

001c 0.044.9 31.656. Dari indikator-indikator profil koperasi dan kopdit di atas ternyata nilai indikator kopdit jauh lebih baik dibanding dengan KSP.566.245.704.930.13 45.075.5 30.012.5 205.983.670.938.027 c Sum Uta-ra Tabel Keterangan: 3.395.64 776. berbeda secara Variabel a b a SD Rata-rata SDb Rata-rata signifikan jika 5.876.705. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi a.63 919.000.153.943.105.2 9.085 c 0.00 Sig.717.340.679.819593.005.30 1.112.241.990.50 220.416.841c 0.787.022.186.307.953.034. Total rata-rata SHU sebesar Rp.terbesar terdapat pada KSP di provinsi Bali sebesar Rp 5.8 Sig.272. bahwa kopdit dan KSP berbeda secara signifikan dalam kriteria Jumlah Anggota.977.723.228.0 993.456. hasil analisis one way anova pada Tabel 2.516.151.. Modal Pemerintah dan SHU (Sig.904.3 105.474.323c 0.5 2.408.40 23.000 c 0.154.7 1.4 81.124c 0.87 Rata-rataa 566. Deskripsi Data Kopdit dan KSP 5 Provinsi Variabel Jumlah Anggota M Sendiri M Luar M Pemtah Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 2.412. 2.282.950 dibanding dengan total asset kopdit ternyata total asset kopdit jauh lebih besar yaitu sebesar Rp 25.880.055c 0.00 1.573.807. Dimana kopdit memiliki nilai lebih besar dalam kriteria-kriteria tersebut dibandingkan dengan KSP sedangkan dalam kriteria Total Aset tidak berbeda secara signifikan antara kopdit dengan KSP (Sig.127 c 0.976.0 13.05).121.2 293.0 58.625.124.5 560.691.43 23.003 c Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri 51 110.169.625.sedangkan total asset terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 370.5 904.865.857.683.009.381.2 Profil KSP dan Kopdit Tingkat Kabupaten/Kota Memperkuat hasil diskriftip diatas.89 SDb 2. Tabel 2.369.433.0 Sig.2 40.7 258.249.366.6 800.38 730. 0.169.627.859.5 857.532.666.8 175.728.0 99.461.340.941.549.7 kali lipat jauh lebih besar.179.174.06 2.3 892.880.814.294.3 635.75 68.871.392.768.3 201.404.562.016 c 0.959. 4.148.000.503.236.237. menjelaskan.5 4.670 c 0.67 11.119.980.054. < 0.016 c 0.06 1.327.000c 0.95 3.1 .020.5 3. = 0.986.544.50 atau 10.59 KSP SDb 920.9 6.3 361.8 Jumlah Anggota 905..877.457.3 229.5 276. 1.8 274.664. Standar Deviasi (Simpangan Baku) Kopdit KSP Prop c.36 410.518. < 0.7 30.397.875.7 1.388.007 c 0.29 1.471.50.05 (Taraf nyata 5%) Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota 19.386.259.460.3 269. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).6 524.865.0 350.75. Rata-rata dari data yang ada b.887.-. Modal Luar.127).970.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Total asset rata-rata KSP Rp.524.023.001c 0.496.829.898.3 2.0 74.jauh lebih kecil dibanding dengan SHU kopdit sebesar Rp.338.005 c 0.297.711.090.09 2.330.73 407.144.8 500.335.25 15.142.024.842.254.596. 145.734.471.118.2 1.346. 0.253.104. Modal Sendiri.345.752.234.996.82 260.781.

KSP lebih tinggi dibandingkan dengan kopdit (Tabel 2).000.179.6 KSP SDb Sig.900.2 639.218.880.0 99.000 c 0.000.313.2 40.841c 0.950.346.236.121.186.518.001c 0.432. Rata-rata dari data yang ada b.095.8 175.5 12.9 30.846.282.2 1.941. dimana untuk kedua kriteria tersebut kopdit memperlihatkan nilai yang lebih besar.0 293.366.048 c 0.7 197.000.912.8 50.568.3 892.259.880.133.5 268. Standar Deviasi (Simpangan Baku) C.722.000c 0.0 13.294.2 3.787.254.6 524.772.442.044.503.5 904.5 560.144.729.234.044.9 31.183.588.711.859.05 (Taraf nyata 5%) 52 .625.AGUSTUS 2009 : 37-61 Pada tabel 3 menjelaskan bahwa kriteria antara kopdit dan KSP berbeda secara signifikan di provinsi Sumatera Utara adalah Jumlah Anggota dan SHU.119.5 205.2 9.237.495.4 81. 0.327.013.388.920.911.3 361.404.876.710.461.1 58.0 74.124c 0.3 269.5 205.930.340.970.1 31.0 110. Namun untuk kriteria total aset.983.003 c 0. Diantara 5 kriteria antara kopdit dan KSP yang dianalisis pada provinsi Jawa Barat tampak berbeda secara signifikan hanya SHU.118.562.0 993.034.241. Terdapat 4 kriteria antara kopdit dan KSP yang berbeda secara signifikan di provinsi Bali yaitu jumlah anggota. dimana SHU kopdit lebih rendah dibandingkan dengan SHU KSP (Tabel 2).8 905. Tabel 3.887.728.637.050.7 33.704.323c 0.537. dan SHU. berbeda secara signifikan jika Sig.561.005 c 0.8 19.971.448.3 2.664.005.0 51.169. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA). modal sendiri.253.7 1.3 635.8 379.5 857.516.286.723.472.245.5 575.829.959.579.001 c 0.148.105. < 0.0 187. Dimana untuk kriteria jumlah anggota. total aset.104.2 163.0 1.457.2 2.694. kopdit memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.736.3 105.272.5 500.904.000.086.625.986.139 c 0.679.5 6.8 4.004 c 0.345.0 2.532.6 800.2 38.265 c 0.323.032. modal sendiri dan SHU.1 128.3 229.154.627.381.7 SDb Rata-rataa 350.055c 0.4 33.496.762.7 258.387.151.7 54.JURNAL VOLUME 4 .898.007 c 0.076.169.670 c 0.136.0 183.865.0 29.807.814.383.5 3.8 274. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi Prop Variabel Jumlah Anggota SumUtara Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota Jawa Barat Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota KalBarat Modal Sendiri Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 5.4 2.691.011 c Keterangan: a.085 c 0.7 22.4 1.338.416.419.5 276.3 201.054.198.656.573.0 30.003.0 279.904.2 370.188.392.053.7 1.

179.144.000).345.2 1.8 269.340.401 0.0 54.623 Sig.911.5 0.254.005 c 0.7 1.151.005.044.134 2.323.1 Jumlah Anggota Modal Sendiri 635.136.007 c 0.048 c 0.007 Analisis 0.0 Total Aset 361.032.971.9 Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Kopdit dan KSP di provinsi Kalimantan Barat berbeda secara 1.003 c 0.8 268.2 40.001 c 0.004 c 0. yaitu jumlah anggota.59 Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.710.568.134 Tabel 5.637.807.535 0.784 0.8 Kal BarAt Lebih lanjut pada Tabel 4.2 524.743 -0.941.876. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Beta t Sig.0 signifikan dalam 3 kriteria.388. =Aset Adjustedyang terjadi bersifat positif.694.865. 0.859.7 1.787.148.259.245.846.495.4 TotalSHU.736.6 maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.46 2.841c 0.050.185 (Constant) Modal Sendiri t Sig.0 12.5 904.3 201.950.729.169.679. Pengaruh Tabel 6.034. modal sendiri.3 58. Dimana untuk kesemua kriteria tersebut kopdit memiliki nilai Aset 1.253.0 33.4 74. (Constant) Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar 0.387. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Tabel 4. 1.SHU Jumlah Anggota Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar 3.0 SHU 163.001 0.044. 0.876 0.000.457.591 Sig.829.4 terhadap SHU (Sig.0 993.3 892.085 c 0.188.013.5 370. R Square = 0.332 4. Beta t Tabel 7.000 c 0. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Tabel 5.055c 0.532.346.930. 0.537.383.003).2 229.472. semakin besar modal maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.133.0 22.983.000 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0. Tabel 4.723.4 187.448.7 279.0 128.003 SHU yang diperoleh akan semakin tinggi (Tabel 6). Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar Beta T Sig.670 c 0.772.234.121. (Constant) 2.241. Analisis Regresi denganterhadap Bebas(Sig.2 50.562.503.573.625.623 0.580 6. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Tabel 6.315 (Constant) Total Aset 0.5 276. hasil analisis regresi 205.404.198.904.3 560.313.185 Sig.294.920.007 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.5 yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP. Analisis Dependent Variable: SHU Regresi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah .912.46 regresi parsial memperlihatkan bahwa modal sendiri 3 Dependent Variable: SHU berpengaruh secara signifikan Peubah SHU Total 0.011 Tabel 6.000 3.8 274.7 parsial 33. dimana pengaruh yang terjadi bersifat positif.664.053.392.338.419. dimana semakin besar modal sendiri.518.1 Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) SHU 13.75 T -0.186.73 4.5 857.286.814. = 0.0 110. Tabel 5.076.332 Tabel 7.327. = 0.265 c 0.315 t 2. Modal Sendiri 0.986.086.183.625.366.169.535 0.762.784 3. dimana semakin besar jumlah anggota SHU 639.8 2.401 Sig.011 0.0 197.7 51.7 258.118. (Constant) Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri 1.704.900.505 (Constant) Modal Luar 0.3 99.728.442.218. 38.2 379. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Beta (Constant) Jumlah Anggota Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0. Modal Luar 0. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Total Aset 0.579.7 175.000 T -0.566 0.000).011 c Tabel 5 menunjukan analisis regresi parsial dengan peubah bebas modal sendiri yang berpengaruh secara signifikan terhadap SHU (Sig.6 30.7 2.104.6 800.656.588.73 53 Tabel 8.0 81.548 0.2 31.5 105.432. dan Modal Luar 575.095.898.691.561.1 183.000.904.3 9.3 31.722.139 c 0.236.003 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.743 0.876 0.003.59 3.2 memperlihatkan bahwa jumlah anggota berpengaruh secara signifikan Total Aset 29.5 205.

73 terhadap perolehan SHU seperti yang parsial diatas (Sig. 0.080 0.464 0. Modal Luar 0.356 89.6 79.73 Tabel 5.743 -0.000 (Constant) 0.94 dan kopdit 73. Bebas t juga berpengaruhBeta secara signifikan terhadap SHU (Sig.505 R Square = pemerintah akan meningkatkan perolehan SHU sebesar Beta t Sig.001).55 90 masing nilai per provinsi dijelaskan sebagai berikut: 4 Kalimantan Barat 45 82.315Beta t Sig.011 T Sig.356 DependentKSP dan kopdit 1Artinya. = 0.535 2.94 4 4 54 4 . Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Rata-Rata 73.332 0. = 0.6 pada 3.94 73. Nilai Skor Adjusted R Square = 0.007 t Sig. Jawa Barat.007 (Constant) 2.315 Beta (Constant) Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset 0.743 Adjusted R Square = 0. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Dependent Variable: SHU JURNAL VOLUME 4 .55 90 45 82. Analisis Regresi dengan Peubah3.401 Modal luar0.876 Sig. 4 Provinsi Sumut Jawa Barat Bali Kalimantan Barat Rata-Rata Nilai Skor Prinsip Koperasi KSP Kopdit 80 90 84 93.6 prinsip koperasi lebih lemah dibanding dengan kopdit.94 Barat No Kalimantan menjelaskan bahwa nilai Nilai Skor Prinsip Koperasi 0.332 0. Bali dan 0.464 82. Bali 79. Analisis Regresi dengan peubah3. KSP Nilai SkorBarat Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Beta Jawa 84 t 93.59 Tabel 6.59 Tabel 7. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian No 1 2 3.854 Nilai Skor Prinsip Koperasi Tabel 8. Rincian masing3.46 Tabel 6. Adjusted R Square = 0.46 2.73 4. Analisis Regresi dengan Peubahdiperlihatkan Analisis regresi Bebas Modal Pemerintah Modal Luar 4. Total Aset 0.134 0. 2.Adjusted R Square = 0. 4.3 0.94 dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Beta T Sig.000).332 Tabel 6.784 0. Analisis Regresi 0.623 Modal luar 0.535 0. dimana jika terjadi kenaikan satu rupiah Adjusted R Square =SHU 0.003 bebas Adjusted R Square = 0. Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.185 (Constant) Total Aset Beta t 1.000 0.854 bahwa KSP80 dalam mengimplementasi prinsip Adjusted R 2 Jawa Barat 84 93. Dependent Variable: SHU (Constant) -0.55 90 (Constant) di provinsi Sumatera Utara.876 0.505Beta (Constant) 2.134 dimana Adjusted R Square = 0.939 Dependent Variable: Modal Pemerintah SHU 0. Dependent Variable: SHU (Constant) jika terjadi kenaikan satu rupiah modal luar akan meningkatkan 1.59 3. AnalisisProvinsi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Regresi No KSP Implementasi Prinsip-Prinsip Koperasi Tabel 9.000 Dependent Variable: SHU 0. Sendiri 0. Square = 0.003 (Constant) -0.505 Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.356 89.94 6.464 0.94 Rupiah (Tabel 8).784 0.854 Beta t Sig.94 Kopdit 1 Sumut 80 90 Tabel 9. bebas (Constant)Analisis Regresi dengan peubah 0.623 0.185 Dependent Variable: SHU T Sig.080 dan kopdit Bali Kalimantan 4 45 6. Tabel 7. 2 Hasil kajian implementasi prinsip-prinsip koperasiSig. Analisis Total Aset 0.623 0.011 Analisis regresi parsial memperlihatkan bahwa 0. Modalperolehan SHU sebesar 0.185Beta (Constant) Modal Sendiri 0.315 Dependent Variable: Adjustedmodal dari0. bebas Modal Luar Analisis Regresi dengan peubah4. adalah Sumut 90 89.94 Rata-Rata adalah nilai KSP KSP sebesar 89.AGUSTUS 2009 : 37-61 Adjusted R Square = 0.001 Tabel 9.003 luar modal 0.011 Dependent Variable: SHU Regresi dengan peubah bebas Modal luar Tabel 7. Tabel 7. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri t Sig.939 Tabel 8.94 Tabel 9.94.001 Tabel 8.939 0.401 Total Aset Sig.080 Modal luar 0. 79.356 Kopdit pada Variable: SHU skor 73.743 Modal pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan Tabel 8.001 Modal Pemerintah Provinsi Barat skor penerapan prinsip-prinsip koperasi 0. Analisis Regresi dengan Peubah BebasModal Pemerintah Modal Pemerintah 6.401 0.73 Rupiah (Tabel 7).784 0.

dan setelah menjadi anggota. RAPB ini biasanya di jelaskan pada Rapat anggota untuk mendapat pengesahan dari anggota. Namun dalam implementasinya antara KSP dan kopdit terdapat perbedaan. Yang berbeda adalah materi karena masing-masing responden (koperasi mempunya rencana masing-masing). (b) Berdomisili di wilyah kerja KSP. Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Pada umumnya KSP dan kopdit menentukan persyaratan terhadap anggota.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) KSP mensyaratkan keanggotaan bersifat umum seperti: (a) Warga negara Indonesia. atau sederajat). Pendidikan menjadi alat atau metode bagi kopdit untuk membangun motivasi dan mememlihara partisipasi anggota. Dalam rencana tersebut dijelaskan apa saja yang akan dilaksanakan selama setahun berjalan. Sedangkan (2) Kopdit mensyaratkan keanggotaan sebagai berikut: (a) Mengikuti pendidikan calon anggota yang dilaksanakan dalam waktu lima kali pertemuan. 2). Dilihat dari perkembangan jumlah anggota ternyata perkembangan jumlah anggota KSP jauh lebih sedikit dibanding dengan jumlah anggota kopdit. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara KSP dan kopdit. Hasil kajian menunjukkan bahwa semua responden (8 unit KSP dan 8 unit kopdit) membuat RAPB setiap tahun. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jumlah anggota kopdit 4 kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kopdit berusaha mencari dan menerima anggota dengan ciri atau kualitas serta membangun anggotanya melalui pendidikan. (2) Anggota berperan aktif dalam RAT. (c) Membayar simpanan pokok dan wajib. (e) Mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan tidak mempunyai usaha yang bersaing dengan kopdit. SMP. Kegiatan seperti ini tentunya sangat baik dilakukan oleh KSP agar anggota dapat mengetahui apa yang akan dan dilakukan oleh koperasi. 55 . (d) Dijamin dan didukung oleh anggota kelompok yang aktif dalam satu lingkungan. (c) Mampu membayar pinjaman. (c) Tidak dalam status pelajar (SD. (3) Anggota aktif dalam memecahkan masalah. Suatu kelebihan kopdit adalah mengadakan pendidikan terhadap anggotanya dari awal masuk. (b) Umur calon anggota pada saat mendaftar tidak lebih dari 45 tahun. Pengendalian oleh Anggota Secara Demokratis Dalam variabel ini indikator yang dikaji adalah (1) KSP/ kopdit melaksanakan rencana RAPB. SMA.

.....Calon anggota : ... Anggota melaksanakan pengawasan 4... KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota 3. Anggota aktif dalam memecahkan masalah Partisipasi ekonomi 1.Anggota tetap : .356 4000 35654 356.43 73. Interlending keuangan terhadap 1. Ketaatan koperasi membayar pajak 2. Hasil kajian menunjukkan bawa jumlah anggota yang hadir setiap RAT pada KSP antra 51 sampai dengan 80% sedangkan pada kopdit antara 51 sampai dengan 90%. Jumlah anggota yang dilayani . KSP/kopdit melaksanakan rencana kerja dan anggota secara RAPB demokratis 2.....5 89.. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan diklat bagi anggota karyawan.... diantara 1. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan 2. Kalbar) No  Variabel Kajian (Prinsip) Indikator/kegiatan yang harus dilakukan KSP/Kopdit Skor KSP 4000 Nilai Skor Kopdit 4000 2 3 4 Keanggotaan sukarela 1. org Pengendalian oleh 1..AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 10........ Kerjasama usaha secara vertikal 3.. Bali. Kalbar) (Sumut.... Jabar... Anggota berperan aktif dalam RAT 3..... Nilai Skor dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi (Sumut. KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas Pendidikan pelatihan Kerjasama koperasi Kepedulian komunitas dan 1. KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota dan terbuka 2. KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri 5........ penyebabnya adalah karena pada kopdit kegiatan pendidikan itu dilaksanakan secara rutin sehingga informasi mengenai kegiatan 56 5 .. Nilai Skor KSPKSP dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Tabel 10...14 Pada indikator kedua variabel ini ukuran keaktifan anggota dalam RAT dilihat dari seberapa banyak anggota hadir dalam RAT. Jabar. Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan Jumlah Total Nilai Skor Nilai Rata-rata 6750 7000 8625 9000 7387..JURNAL VOLUME 4 . Kerjasama usaha secara horizontal 2. Anggota melunasi simpanan pokok anggota 2. Anggota bebas masuk dan keluar koperasi 3. KSP/kopdit diaudit auditor independen 4. KSP & kopdit membuat perencanaan dan kemandirian melaksanakan 2.. Anggota aktif menyetor wajib dan sukarela Otonomi dan 1. Bali... Mengapa kehadiran anggota pada RAT di KSP lebih sedikit dari anggota yang hadir pada kopdit. Penyerapan tenaga kerja dari lingkungan 3..... org .5 4994 5 2250 3000 6 7 330 3660 3000 29343 293...

(2) Anggota aktif melunasi simpanan wajib dan sukarela. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP anggota memberikan saran untuk memecahkan masalah terjadi hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pemberian saran lebih dari sekali setahun karena pada kopdit rapat-rapat atau pertemuan sering dilakukan melalui rapat-rapat kelompok. Pada kopdit anggota disadarkan pemahamannya bahwa kalau modal itu hanya bersumber dari anggota dan dikembangkan/dipakai untuk anggota sehingga jika anggota tidak aktif membayar simpanan wajib koperasi tidak berkembang. Hasil kajian menjelaskan bahwa pada KSP pembayaran simpanan wajib dilakukan pada saat membayar pinjaman yang langsung ditarik beserta pinjaman ditambah bunga sedangkan pada kopdit simpanan wajib diantar oleh anggota dengan kesadran sendiri karena kopdit memupuk modal dari anggota dan untuk anggota disinilah kelebihan kopdit dibanding dengan KSP. Dalam pengambilan keputusan pada KSP peran anggota terakomoder hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pengambilan 57 . Indikator ketiga yaitu anggota aktif dalam memecahkan masalah dalam koperasi diukur dari seberapa banyak anggota memberi masukan dalam setiap rapat yang diadakan oleh KSP/ kopdit. Partisipasi Ekonomi Anggota Partisipasi ekonomi anggota diamati melalui: (1) Anggota melunasi simpanan pokok.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) apa saja yang ada di kopdit langsung dikomunikasikan dalam forum pendidikan itu sehingga semua informasi sampai kepada anggota melalui forum pendidikan tersebut. 3). Indikator kedua menunjukkan bahwa anggota aktif menyetor simpanan wajib dan sukarela. (3) Anggota ikut dalam pengambilan keputusan dan (4) Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu dilaksanakan oleh pengurus terhadap anggotanya agar mereka mau dan mampu mengembangkan modal dari anggota. Hal seperti itu jarang ditemui pada KSP. Dan hasil kajian menunjukkan bahwa pada indikator pertama semua responden baik kopdit maupun KSP anggota KSP dan kopdit wajib melakukan atau membayar simpanan pokok karena simpanan pokok hanya sekali dilakukan pada saat dia menjadi calon anggota sehingga pada indikator ini antara KSP dan kopdit tidak ada perbedaan.

(4) KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas. Pada indikator kedua KSP selain melayani anggota KSP juga melayani calon anggota rata-rata calon anggota pada KSP diatas 14% dari jumlah anggota sedangkan kopdit hanya melayani anggota saja. Pada indikator ketiga menunjukan bahwa sebagian atau 50% KSP diaudit oleh Lembaga Audit Koperasi dan 50% lainnya diaudit oleh auditor independen. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata hasil pelaksanaan program pada KSP tercapai diatas 80% sedangkan pada kopdit tercapai hampir 100%. seperti pada kopdit Satolop di Tapanuli Utara. Semua responden membuat perencanaan dan melaksanakan rencana serta evaluasi sejauhmana hasil antara perencanaan dan pelaksanaan. 5). Indikator kelima. menunjukkan bahwa semua responden KSP maupun kopdit melakukan evaluasi kinerja keuangan tentang likuiditas dan solvabilitas. (2) KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota. 4). Disinilah perbedaan yang terlihat menonjol antara keanggotaan KSP dengan kopdit. Pada kopdit tidak ada calon anggota dan anggota dididik pada saat masuk dan diikuti perkembangannya selama anggota menjadi anggota koperasi. Otonomi dan Kemandirian Otonomi dan kemandirian pada KSP dan kopdit dilihat dari (1) KSP/kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan.JURNAL VOLUME 4 . (3) KSP dan kopdit diaudit auditor independen.AGUSTUS 2009 : 37-61 keputusan itu selain pada RAT juga terjadi pada rapat-rapat kelompok. KSP responden menyelenggarakan pendidikan terhadap 58 . Selanjutnya pada indikator keempat hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP dan kopdit transaksi anggota terjadi pada saat meminjam dan mengembalikan pinjaman. Sedangkan kopdit diaudit oleh auditor internal kopdit bersangkutan. dan ada kopdit yang melebihi pelaksanaan diatas 100%. Pendidikan dan Pelatihan Indikator pendidikan dan pelatihan diamati dari: (1) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap karyawan dan (2) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap anggota.

Kerjasama Diantara Koperasi Indikator penilaian untuk variabel ini: (1) Kerjasama usaha secara horizontal. 6). Mengapa kopdit berhasil dan mampu mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. karena jika kopdit mengalami kekurangan dana maka kopdit dapat memenuhi pembiayaan melalui interlending ini. Kekuatan kopdit sangat tergantung pada kerjasama ini. Demikian juga dengan kopdit. Mengapa kopdit memiliki nilai lebih tinggi dari KSP. Artinya bahwa kerjasama horizontal maupun vertikal dan interlending belum dilakukan oleh KSP sedangkan kopdit sudah melakukan kerjasama ini dengan baik. Karena kopdit membangun koperasi dan mengembangkan nya melalui pendidikan. Puskopdit berfungsi dan bertugas untuk melakukan pengaturan pembiayaan bagi kopdit-kopdit yang ada di bawahnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kopdit dalam mengelola usaha simpan pinjam mempunyai Standart Operasional Pelaksanaan (SOP). Puskopdit tidak mengadakan operasional menandingi kopdit-kopditnya. 59 . Pada kopdit pendidikan baik terhadap karyawan maupun anggota wajib dilakukan. Atas kesadaran ini untuk memudahkan kerjasama kopdit medirikan Pusat Koperasi Kredit yang berada di Tingkat Kabupaten/Kota. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kerjasama diantara koperasi menunjukan nilai KSP sebesar 330 sedangkan kopdit sebesar 3360. (2) Kerjasama usaha secara vertikal dan (3) Interlending keuangan antar koperasi.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) karyawan melalui pendidikan yang diadakan oleh Dinas KUKM yang ada di daerah masing-masing. Pendidikan pada kopdit diadakan pada saat anggota mendaftar. Mempelajari keberhasilan kopdit di kota Denpasar provinsi Bali ada beberapa KSP. Satu pusat kopdit membawahi antara 5-10 kopdit dimasing-masing wilayah kerjanya. penyebabnya adalah kopdit menyadari tanpa kerjasama antar sesama kopdit tidak akan kuat untuk melayani anggotanya. sedangkan KSP hanya memiliki Petunjuk Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam yang umum. KSP telah membentuk Pusat Koperasi KSP untuk melaksanakan interlending keuangan bagi KSP.

JURNAL VOLUME 4 .356 sedangkan kopdit 89. (4) Prinsip ke tujuh kepedulian terhadap lingkungan dalam hal membayar pajak. Sedangkan kopdit melakukannya melalui Koordinasi Pusat Kopdit (Puskopdit). Perbedaannya terletak pada: (a) KSP melakukan persayaratan anggota secara umum seperti KTP. V. Kepedulian Terhadap Komunitas Indikator variabel ini adalah: (1) Ketaatan koperasi membayar pajak. (b) Mempunyai penghasilan tetap setiap bulan. (c) Bersedia mengikuti pendidikan dalam 5 kali pertemuan. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) Prinsip pertama dalam menentukan persyaratan anggota. (b) Usia maksimal saat pendaftaran 45 tahun. KSP belum melakukan pendidikan kepada anggotanya. (2) Prinsip ke lima dalam melaksanakan pendidikan. Sedangkan kopdit melakukan pendidikan secara reguler rata-rata 5 kali dalam setahun kepada pengurus.AGUSTUS 2009 : 37-61 7). (3) Prinsip ke enam dalam melakukan kerja sama secara horizontal.14. 60 . (d) Kewajiban membayar pajak pada prinsip koperasi ke-7. vertikal dan pelaksanaan interlending pada prinsip ke-6 dan. Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa nilai skor implementasi prinsip koperasi KSP sebanyak 73. Artinya bahwa kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. horizontal dan belum melakukan interlending keuangan. KESIMPULAN DAN SARAN 5. KSP belum melakukan kerjasama vertikal. (c) Kerjasama horizontal. manajer dan anggota. vertikal dan mengadakan interlending keuangan. Perbedaannya terletak pada: (a) Penetapan persyaratan anggota pada prinsip koperasi pertama. (b) Berdomisili di wilayah KSP. Ada perbedaan antara KSP dan kopdit dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip koperasi. (b) Pelaksanaan pendidikan pada prinsip koperasi kelima. Sedangkan kopdit membuat persyaratan anggota untuk mencari anggota yang berkualitas seperti: (a) Dijamin oleh lima orang anggota lama. KSP membayar pajak karena melayani non anggota sedangkan kopdit tidak membayar pajak karena hanya melayani anggota. (2) Penyerapan tenaga kerja dan (3) Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan.1 Kesimpulan Dari penjelasan diatas kesimpulan kajian ini adalah: 1).

KSP perlu membuat persyaratan anggota yang lebih teknis operasional sehingga anggota KSP lebih terseleksi pada kualitas. Muhammad Yunus. KSP perlu membangun Pusat KSP ditingkat Kabupaten atau untuk beberapa KSP primer yang berfungsi untuk mengkoordinasikan kepentingan KSP-KSP baik dalam usaha dan keuangan. (1992). Batu Merah. LSP2I. (b) Pendidikan adalah suatu sarana meningkatkan kemampuan dan motivasi berkoperasi.2 Saran-Saran Dari kesimpulan di atas ada beberapa saran yang diusulkan dalam kajian ini yaitu: 1). Media Kom. KSP perlu melakukan kerja sama secara horizontal. Bank Kaum Miskin. Peraturan Pemerintah Nomor � Tahun 1��5 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. 5). 2). Mandiri Belajar SPSS. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Koperasi. Penyebab kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi: (a) Anggota adalah pemilik koperasi yang perlu dilayani dengan sebaik-baiknya. Pendidikan pada anggota dan pengelola KSP perlu dilakukan secara teratur dan konsisten 3).Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). dan Menengah Republik Indonesia. ICA Co-operative Identity Statement Prinsip-prinsip Koperasi Untuk Abad Ke-21 Terjemahan Pengantar Ibnoe Soedjono. Jakarta. KSP perlu membuat Standar Operasinal Pelaksanaan KSP seperti kopdit. ------------------. (2004). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Duwi Pryanto. Yogyakarta. �atidiri Koperasi. DAFTAR PUSTAKA -------------------. (2007). Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan). 61 . (d) Kopdit memiliki standar operasional pembinaan yang jelas. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil. (c) Kerjasama antar kopdit merupakan wahana saling membantu antar kopdit dan sumber peningkatan usaha dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota. PT. vertikal dan mengadakan interlending keuangan 4). Jakarta. (2008). (2001). International Co-operative Alliance. 5.

said that enforcement support programme which were done since 2000 it was only 4. Sebaliknya masalah besar yang dikhawatirkan timbul dan berdampak luas adalah bertambahnya jumlah penganggur yang secara langsung akan meningkatnya angka kemiskinan. Pendahuluan Kondisi perekonomian dunia pada akhir tahun 2007 yang diwarnai oleh gejolak akibat krisi ekonomoni di AS dan Eropa secara langsung berimbas pada perekonomian nasional.��5% were from own/internal capital. peer review 2�� April s.20% from bank and non-bank loan. 8 �uni 200�. tujuan penggunaan. Penelitian UKM (tim peneliti) 62 . To overcome the problem. This condition still shows the dominant role of private money lenders and capital owner in supporting business survival of micro enterprises. the government has done several credit programmes during the last four decades but the effectiveness of those programmes were still asked after up to the end of 200��. program. cautioned that most of Micro. seperti misalnya hasilhasil perkebunan. Bisnis dan UKM. This condition as a consequence of unparticipated formal credit institutions.��5%) depended upon nonformal financial resources and private in implementing their business activities. Walaupun demikian eksistensi UMKM masih cukup besar karena dampak krisis masih terbatas hanya pada beberapa produk usaha kecil yang berorientasi ekspor. The result of the assessment by The State Ministry of Cooperatives and SMEs in 2006. Yang dikhawatirkan adalah krisis yang terjadi sekarang berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1997 yang imbasnya tidak mempengaruhi kelangsungan usaha UMKM.JURNAL VOLUME 4 . it was found that capital structure of micro enterprises 15. karakteristik UMKM.��0% from capital owner/private money lender and the rest 6. Kontribusi kredit. Small and Medium Enterprises (MSMEs) (80.AGUSTUS 2009 : 62-87 KAJIAN KONTRIBUSI KREDIT BANTUAN PERKUATAN DALAM MENDUKUNG PERMODALAN UMKM*) Teuku Syarif**) dan Etty Budhiningsih***) Abstract Sondakh dan Hafiz (1987). Birowo and Lukman Sutrisno (1994). review akhir �� �uli 200� Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM (tim peneliti) Kasubid. �. Asdep Urusan. 56. 11. From the result of this assessment. Artikel diterima 2�� April 200�.��5% were from among family and neighbour.d. sumber perkreditan I.6% from government’s loan.63% accessible by micro and small enterprises. Kejadian tersebut masih *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008.

2% adalah pengusaha mikro.258 juta. Berbagai hasil penelitian antara lain yang dilakukan oleh Sondakh dan Hafiz (1987). 63 . Dengan pendapatan sekecil itu mereka masih tergolong kelompok miskin yang berpendapatan kurang dari 1 Dolar AS per orang per hari.795 juta atau 95. Birowo dan Lukman Sutrisno (1994). Namun demikian kelompok usaha ini menyererap lebih kurang 89 juta tenaga kerja atau identik dengan 96. Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 saja pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar Rp 39. Sampai sekarang sangat banyak masalah di lingkungan UMKM yang belum terselesaikan terutama yang berhubungan dengan iklim usaha. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sampai sekarang masalah pengembangan modal dikalangan UMKM masih terus mengemuka dan seberapa besar kontribusi program-program pemerintah tersebut dalam mendukung permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil. Dari dana tersebut lebih kurang Rp 3. Keraguan tersebut juga dialamatkan kepada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai oleh banyak pihak lebih terlihat sebagai isue politis ketimbang perhatian pemerintah terhadap nasib UMKM khususnya pengusaha mikro dan kecil. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari belum berperannya lembaga-lembaga perkreditan formal Untuk mengatasi masalah permodalan bagi UMKM pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan perkreditan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi sektoral. Menurut Sutanto (2007) sebagian besar pengusaha mikro terutama yang bergerak di sektor pertanian dan sektor informal memiliki pendapatan bersih kurang dari 1. atau 99.75% UMKM dalam melaksanakan kegiatan usahanya masih terikat pada sumber-sumber keuangan non formal. Dari adanya permasalahan diatas perlu diketahui seberapa besar peranan kredit program-program pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok UMKM khususnya pengusaha mikro yang menjadi bagian terbesar dari UMKM. Karena itu pemberdayaan UMKM sudah menjadi komitmen nasional. Kementerian Negara Koperasi dan UKM (2008) menginformasikan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah unit usaha UMKM telah mencapai 49. Berbagai isue dan sinyalemen yang berkembang banyak meragukan keseriusan pemerintah untuk memberdayakan UMKM dibidang permodalan.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) dapat diantisipasi oleh UMKM karena masih cukup banyak kesempatan kerja yang terbuka dilingkungan UMKM.4 triliun disalurkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM.54 triliun untuk 214 jenis program yang disalurkan melalui 12 instansi.440 Dolar AS per keluarga per tahun.99% dari pelaku bisnis yang ada di Indonesia. mensinyalir bahwa sebagian besar atau sebanyak 80. Salah satu masalah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah kesulitan UMKM dalam mengembangkan permodalannya. Berbagai kenyataan di lapang menunjukan bahwa baru sedikit yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan program program nyata. Dari jumlah tersebut 46.7% tenaga kerja yang ada dalam dunia usaha.

III. Kredit Usaha Tani (KUT) dan yang terkhir adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). TUJUAN DAN MANFAAT Kajian bertujuan untuk ini adalah: 1) Menginventarisir dan mengidentifikasi sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro.JURNAL VOLUME 4 . Nasution (1999) mengemukakan adanya indikasi bahwa tujuan. khususnya pengusaha mikro dan pengusaha 64 .1 Kerangka Konsepsional Belum membaiknya kondisi usaha UMKM karena adanya berbagai kendala yang sejak lama belum terpecahkan. dan pendekatan serta pola pelaksanaan program-program tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Jika di satu pihak UMKM menghadapi kesulitan mengakses permodalan padahal di pihak yang lain banyak indikasi dan sinyalemen antara lain yang dikemukakan oleh Hutagalung (2007) bahwa dana dari perbankan yang tersimpan pada Bank Indonesia sampai Agustus 2007 mencapai Rp 218 triliun. Untuk mengatasi masalah kelangkaan modal di kalangan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil pemerintah telah melaksanakan berbagai program perkreditan sejak dari program Bimas. Dalam pelaksanaan program-program. KERANGKA PEMIKIRAN 3. antara lain kesulitan akses terhadap permodalan dan iklim usaha yang belum kondusif.AGUSTUS 2009 : 62-87 II. Paradoks masalah antara demand dan suplay uang ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana peranan Bank Indonesia sebagai regulator pasar uang mampu mengalokasikan sumberdaya potensial tersebut secara optimal. Kredit Candak Kulak (KCK). Manfaat kajian adalah mendapatkan gambaran kongkrit tentang struktur permodalan usaha mikro dan kontribusi kredit program pemerintah dalam mendukung permodalan usaha mikro. serta ada beberapa diantaranya memang ditujukan untuk mendukung keberhasilan program sektoral. sehingga penyebarannya dikalangan UMKM juga berbeda. Kesemua program tersebut pada hakekatnya dilaksanakan secara sektoral melalui berbagai instansi yang terkait. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan usaha mikro. yaitu ketidaksesuaian pendekatan pola dan prosedur lembaga perkrediatn formal dengan karakteristik dari sebagaian besar UMKM. Di sini dinyatakan bahwa permasalahannya terletak pada ketidaksinkronan antara aturan pasar uang dengan karakter UMKM. Kesulitan UMKM untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal menurut Muna (1989) merupakan simptom dari permasalahan yang ada dibelakangnya.

197. Dengan demikian sangat banyak faktor yang menentukan besar kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan UMKM. Muna. c) Ketepatan sasaran penyaluran dan. b) Distribusi secara sektoral dan regional.118. bahwa modal yang diperlukan oleh usaha mikro untuk melaksanakan kegiatan usahanya berkisar antara Rp 326.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) kecil.700. Akar permasalahan yang masih menjadi kendala bagi UMKM adalah kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal terutama perbankan... Dengan kata lain mereka yang bermata pencaharian sebagai pengusaha mikro di luar sektor pertanian sangat jarang mendapatkan pinjaman dari bank Hasil kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi dan UKM tahun 2006 menginformasikan.450. 65 .81% merupakan modal sendiri dan sisanya berasal dari modal pinjaman. Terkait dengan peranan perbankan dalam mendukung permodalan UMKM. Dalam hal efektifitas penggunaan dana oleh peminjam disini juga harus diperhatikan apakah pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan produktif atau konsumtif.dengan rata-rata sebesar Rp 4. Memang program perkreditan dari pemerintah tidak ditujukan untuk dapat memenuhi semua kebutuhan UMKM. Tetapi dalam pola inipun ada satu faktor penting yang perlu dikaji yaitu mengenai pola perguliran termasuk sistem kelembagaannya. Sumber utama permodalan mereka adalah dari perorangan.-. Sondakh dan Hafiz (1987) dari hasil penelitian tentang lembaga perkreditan pedesaan mengemukakan bahwa “sebagian besar pengusaha kecil jarang sekali berhubungan dengan bank.913. jumlah dana yang telah disalurkan pemerintah dari berbagai program pemberdayaan UMKM relatif kecil atau baru lebih kurang 21.755.2% dari kebutuhan. lembaga non formal. khususnya pengusaha mikro.306.” Sebagian dari mereka mendapatkan pinjaman dari program pemerintah dalam jumlah terbatas dengan tujuan penggunaan yang umumnya dikaitkan dengan kepentingan pembangunan terutama di sektor pertanian. Total keperluan dana untuk memberdayakan pengusaha mikro yang jumlahnya mencapai 49 juta unit usaha adalah sebesar Rp 184. Disamping kecilnya dana yang disalurkan banyak faktor lain yang menjadi kendala bagi UMKM untuk mendapatkan kredit program antara lain untuk: a) Tujuan pendekatan dan pola penyaluran. Dengan demikian untuk mengembangkan usahanya. Oleh sebab itu ada sebagian program yang menggunakan pola perguliran seperti program Kementerian Negara Koperasi dan UKM. d) Unsur-unsur lain yang tidak terkait dengan kepentingan pemberdayaan UMKM. atau kalangan keluarga dan tetangga.004 triliun.. Dari jumlah modal tersebut diketahui bahwa 12. Dibandingkan dengan besarnya kebutuhan dana untuk UMKM tersebut. Soemardjan.sampai dengan Rp 9. per unit usaha mikro diperlukan tambahan modal sebesar Rp 3.

9) Prioritas Kegiatan usaha. Ruang Lingkup Substansi Oleh karena pengusaha mikro merupakan bagian terbesar UMKM.AGUSTUS 2009 : 62-87 3.1. maka yang dimaksud dengan UMKM dalam kajian ini adalah usaha mikro. Ruang lingkup substansi penelitian adalah sebagai berikut: 1) Inventarisasi dan identifikasi permodalan UKM dan sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha serta kemudahan modal dari kalangan pengusaha mikro.2 Kerangka Analisis Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kontribusi kredit program terhadap permodalan UMKM yaitu: 1) Tujuan program. 8) Ketepatan Waktu Penyaluran.2.1.1. Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat.1. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro. 11)Prioritas Kepentingan.JURNAL VOLUME 4 . dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM.2. 4) Alokasi dana. Kinerja usaha UMKM IV. Sedangkan analisis untuk penarikan kesimpulan dilakukan dengan model analisis deskriptif dan penggunaan model-model statistik sederhana 66 .1. 10) Prioritas Daerah. 14) Kinerja SDM UMKM. 13) Model Perguliran. 2) Pendekatan program 3) Pola Penyaluran. Metoda Penelitian dan Analisis 4. Stratifikasi didasarkan pada keragaman jumlah dan jenis program perkreditan yang dilaksanakan di daerah contoh. 6) Pendistribusian Regional. RUANG LINGKUP DAN METODA PENELITIAN 4. Metoda Penelitian dan Teknik pengambilan Contoh Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan model pengambilan data stratified random sampling.2. 4. 4. 7) Ketepatan Sasaran. 5) Pendistribusian Sektoral. Ruang lingkup Penelitian 4. 12) Kelembagaan Perguliran. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di tiga kabupaten contoh yaitu Kalimantan Barat.

545 Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari 31.68 26. (%) (%) Rp (Rp rb) (%) (Rp rb) Sedangkan rata-rata jumlah modal yang diperlukan oleh pengusaha mikro adalah sebesar Rp 3.68 106.312 Per sen (%) Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Barat Rata-rata usaha mikro yangBarat menggunakan modal sendiri Nilai di ketiga propinsi contoh relatif rendah yaitu Persen sebesar Persen Nilai Persen Nilai Persen (Rp rb) (%) 833.1.238 127..Data 27.28 22.08 11.00 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 426 358 310 1.002 21. Jumlah Usaha Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman yang diperlukan oleh mereka yaitu sebesar Rp 3.166 2)  2 3 4 5 6 24.per orang.11 4.89 0.51 4. dengan rata-rata pinjaman Rata-rata sebesar Rp 409.96 5.028 14.143 48.58 9.261 32.33 UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46..75 100.984 42.05 4.365 Persen (%) 4.93 8.11 8.49 5.527.99 37.200 2.08% dari modal yang dibutuhkan.15 18.24 awal. Jumlah ini juga sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan tambahan modal Tabel 3. Kemeneg KUKM Instansi Sektoral No Propinsi Jumlah UMKM (ribu) UMKM (rb unit) 36.114 586 Lainnya Jumlah 3.884 753 3.834 23.000.1 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Mikro Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan sumber-sumber pinjaman usaha mikro dan serta besar kontribusi kredit program terhadap permodalan kelompok usaha mikro.63 10.80 67 .978 8.49 16.697 301 2.947 5.64 11.141 Modal Sdri 461 Kred Prog 396 Perbankan Pelepas Uang 1.62 35.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) V.378 Tabel 2 .882 2388 3.74 33. sehingga para pengusaha mikro tidak akan mampu 2.28 13.538 7.30 73.94 5.69 4.128 30.782jumlah UMKM.46 8.848 24.34 100.290 100 dari 100 69.229 3.815 37.600 1.62 3.7 754..31 program pemerintah masih sangat kurang yaitu rata-rata baru Jumlah 61.899 6.3 811.51 12.928 4.27 2. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Sumber Modal Sumatera Barat Nilai Persen Rp rb % 34.26 65.00 Tda 5.8 2. Tabel 1.20 53.. Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Sumatera Barat No Sumber Modal Dari tabel 1 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : Kalimantan Nusa Tenggara 1) Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.26 100.1 Sumber-sumber Permodalan UMKM 5.37%.20 10.00 11.46 16.atau 19.000 atau 53. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Rata-rata Nilai (Rp rb) 833 409 325 1.527.8 10.128 16.59 5.297 100 11.927 tersebut5.95 berusaha tanpa adanya pinjaman modal.44 6.805 27.00 No  2 3 4 5 1.07 4.000.389.64 4.934 Nusa Tenggara Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%) 14.17 26.17 100.48 83.6% 73.01 7.739 100 69.37 6.000.14 26.392 4.00 Tabel 1.527 Persen (%) 19.297 2.882.45 19.41 19.13 85.60 9.853 mengindikasikan rendahnya pemilikan modal 7.00 7.00 568 245 520 2. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS 5.000.807 20. dari Kredit Program Kontribusi kredit program relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata pinjaman dari para pelepas uang yang Kredit Program Dari Kredit dari Jumlah Prediksi mencapai rata-rata Rp 1.56 57.83 10.92 234. 2.11 19.47  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah 823.927 8.

Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari bantuan perkuatan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2) 3) 68 .542 milyar belum sebanding dengan apa yang seharusnya diberikan oleh pemerintah.AGUSTUS 2009 : 62-87 3) Hal tersebut diatas sangat wajar.15% dari total modal kerja yang digunakan. Pinjaman kepada UMKM yang bagian terbesar dari dunia usaha yang ada di Indonesia sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kredit perbankan untuk usaha besar yang pada tahun 2008 mencapai Rp 986 triliun. Meningkatkan proporsi Meningkatkan proporsi pinjaman dari kalangan perbankan karena kelompok usaha ini tidak memiliki kemampuan memenuhi persyaratan lembaga keungan yang menerapkan ketentuan The five C of credit.000.1.2 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Dari tabel 2 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : 1) Rata-rata modal sendiri usaha kecil di ketiga propinsi contoh relatif masih rendah yaitu hanya sebesar Rp 18. Sharing pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok usaha mikro sebesar Rp 39. tetapi proporsi modal sendiri ini sudah lebih baik dibandingkan dengan usaha mikro yang hanya sebesar 23.atau hanya 27. Sumber-sumber permodalan lainnya bagi kelompok pengusaha mikro adalah dari kalangan keluarga dan tetangga sebesar 6.. sedangkan dari perorangan dan lembaga perkreditan non formal termasuk rentenir adalah sebesar 53.37%. 4) 5) 5. mengingat jenis program yang dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintah relatif sangat banyak (mencapai 56 jenis). dan alokasi dana yang disediakan relatif kecil-kecil dibandingkan dengan kebutuhan usaha para pengusaha mikro yang jumlahnya sangat banyak (lebih kurang 49 juta unit usaha).75%. Pinjaman modal dari kalangan perbankan pada kelompok ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha mikro yaitu mencapai 31.815.61%.JURNAL VOLUME 4 .47%.

No

Sumber Modal

Barat Nilai Persen Rp rb %

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb)

Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%)

833 8,46 568 14,51 426 34,28 1.141 Modal Sdri  Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM 409 8,96 245 12,20 358 13,64 461 Kred Prog 2 (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 325 5,30 520 10,56 310 11,74 396 Perbankan 3 4 5

19,08 11,60 9,20 53,37 1.882 73,45 57,83 2.884 1.697 33,00 Pelepas Uang 1.114 6,75 2388 19,17 753 10,26 301 7,34 586 Lainnya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang Jumlah 3.378 100,00 kepada usaha mikro. Hal 100,00 2.934 100,00 3.927 3.527 100,00 diberikan tersebut nampaknya

terkait dengan kecil pagu kredit per peminjam.

Tabel . Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Tabel 2 .2Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil
Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 1.807 20.028 14.166 61.290 Persen (%) 30,00 8,01 3,24 2,95 32,68 23,11 100 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 11.927 5.853 6.229 4.200 26.128 19.545 73.782 Persen (%) 16,17 7,93 8,44 5,69 35,41 26,49 100 Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) 26.128 4.538 2.978 Tda 19.261 16.834 69.739 Persen (%) 37,46 6,51 4,27 0,00 27,62 24,14 100 Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.815 4.899 4.928 2.002 21.805 16.848 69.297 Persen (%) 27,15 7,07 7,11 2,89 31,47 24,31 100 

2 3 4 5 6

Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Jumlah Rata-rata

4) Mikro dan pinjaman Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Usaha Kontribusi Usaha Kecildari perseorangan dan lembagadari Kredit Program lembaga kredit non formal. Kondisi ini mungkin dapat

No 

2 Kalbar 3 5.2 NTB Jumlah Jumlah 5.2.1 Rata-rata

dihubungkan dengan semakin baiknya kemampuan SDM Kredit Program Dari Kredit dari dilingkungan pengusaha kecil dalam membangun dan Jumlah Prediksi Kemeneg KUKM bisnis. Instansi Sektoral menjalankan strategi Jumlah Propinsi Per UMKM UMKM Persen UMKM Persen UMKM 5) Rendahnya peran pemerintah daerah dalam membangun sen (ribu) (rb unit) (%) (rb unit) (%) (rb usaha kemampuan permodalan usaha mikro dan unit) kecil, (%) terlihat sedikitnya kontribusi pinjaman modal dari pemerintah daerah untuk kelompok usaha ini. 5,62 83,26 10,11 823,7 36.984 4,49 46,28 Sumbar
4,64 85,92 10,58 811,8 48.238 5,94 37,68 UMKM yang mendapatkan Pinjaman Kredit Program 2.389,8 127.365 5,33 106.947 4,48 234.312 9,80 Jumlah Pengusaha Mikro Yang Mendapat Kredit Program 796,6 42.455 5,33 35.649 4,48 78.104 9,80 754,3 42.143 5,59 22,99 3,05 65,13 8,63

Jumlah usaha mikro dan usaha kecil di ketiga propinsi contoh yang mendapatkan kredit sebanyak 127.365 unit usaha, hanya 5,32% dari jumlah pengusaha mikro yang ada diketiga propinsi contoh sebanyak 2.389.800 unit. Disini terlihat bahwa bahwa kredit program belum banyak memberikan kesempatan bagi usaha mikro untuk mengembangkan permodalannya. Hal tersebut berdampak besar pada kondisi pasar uang ditingkat bawah yang semakin didominansi oleh lembaga kredit non formal dan perorangan, disebabkan oleh: 1). Jumlah dana untuk ketiga daerah contoh relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah usaha mikro yang mencapai 2.389.000 unit usaha

69

Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 2). 1.807 20.028 14.166 61.290 3). Persen (%)

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%) 

2 3 4 5 6

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 62-87
Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya

27,15 18.815 37,46 16,17 26.128 30,00 11.927 7,07 4.899 6,51 4.538 7,93 5.853 8,01 7,11 4.928 4,27 2.978 8,44 6.229 3,24 Distribusi kredit program Tda belum merata dan banyaknya 2,89 2.002 0,00 5,69 4.200 2,95 jenis kredit program menyebabkan adanya21.805 31,47 tumpang tindih 27,62 35,41 19.261 32,68 26.128 diantara 19.545 26,49tersebut 24,31 16.848 24,14 16.834 23,11 kredit-kredit 100 73.782 100 69.297 100 Penyaluran kredit 100 69.739 sektoral membuka peluang terjadinya kesalahan sasaran

Jumlah Rata-rata

Tabel 3. Jumlah Usaha Usaha dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Mikro Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan dari Kredit Kredit Pinjaman dariProgramProgram
Prediksi Jumlah UMKM (ribu) 823,7 754,3 811,8 2.389,8 796,6 Kredit Program Dari Kredit dari Kemeneg KUKM Instansi Sektoral UMKM (rb unit) 36.984 42.143 48.238 127.365 42.455 Persen (%) 4,49 5,59 5,94 5,33 5,33 Jumlah Per sen (%) 10,11 8,63 10,58 9,80 9,80

No

Propinsi

UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46,28 22,99 37,68 106.947 35.649 5,62 3,05 4,64 4,48 4,48 83,26 65,13 85,92 234.312 78.104 

2 3

Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata

Dari ketiga hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk memperbesar jumlah kredit program tidak saja diperlukan penambahan alokasi kredit tetapi yang lebih penting  adalah memperbaiki sistem distribusi dan mengkoordinasikan pemberian bantuan melalui satu lembaga yang secara khusus disesuaikan dengan karakter UMKM 5.2.2 Sumber-sumber Permodalan Pengusaha Mikro Tabel 4 memperlihatkan pinjaman usaha mikro dari perbankan, dan Lembaga Kredit Formal (LKF) dan sumbersumber perkreditan non formal, termasuk perseorangan baik, tetangga kerabat maupun pemilik modal atau pelepas uang. Hal-hal yang dapat dikemukakan dari tabel 4 yaitu: 1) Pelepas uang masih mendominasi sumber pinjaman bagi pengusaha mikro dengan pangsa kredit terhadap permodalan pengusaha mikro mencapai 34,45%. Dapat dikatakan bahwa para money leander ini masih menjadi andalan utama bagi pengusaha mikro dalam mendapatkan modal bagi kelanjutan usahanya. 2) Sebagian pengusaha mikro sudah mampu berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama BPR (10%)

70

Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih)

Pemerintah Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program Pemerintah
Sumatera Barat No Sumber Modal UKM (unit ) 4 5 6 3 18 9 9 6 60 Persen % 6,67 18,33 5,00 10,00 10,00 8,33 20,00 25,00 100,00 Kalimantan Barat UKM Persen (Unit % 2 7 8 9 22 2 6 4 60 3,33 11,67 13,33 23,33 23,33 1,66 15,00 11,66 100,00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 5 6 13 4 22 4 4 2 60 Persen (%) 8,33 15,00 10,00 13,33 31,67 10,00 11,67 8,33 100,00 Rata-rata UKM (unit ) 3,67 6,00 9,00 5,33 20,67 5,00 6,33 4,33 60 Persen (%) 6,11 10,00 15,00 8,88 34,45 8,33 11,67 7,22 100,00

Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program 

2 3 4 5 6 7 8

Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tdk meminjam Jumlah

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

dan bank umum sebanyak 6,11%, tetapi mereka lebih banyak bersandar pada kalangan kerabat (11,67%) 3) Sumber-sumber hanya memiliki kontribusi Tabel 5.Koperasi ternyataPermodalan Usaha Kecil sebesar 8,33% hal ini Kredit Program Pemerintah Diluar mungkin sedikitnya dukungan dari program-program kredit pemerintah yang diperuntukan bagi koperasi
Kalimantan Nusa Tenggara Rata-rata 4) Sumatera7,22% usahaBarat Hanya Barat mikro yang tidak memiliki pinjaman, Barat hal ini UKM mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan Sumber Modal Persen UKM Persen UKM Persen UKM Persen (unit ) mikro masih sangat besar. usaha % (Unit) % (unit ) (%) (unit) (%) Bank umum 1) BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata 11,65 2,33 10,00 2 10,00 2 15,00 3 Dikalangan pengusaha kecil dominansi pinjaman6,00 modal 30,00 dari 30,00 6 35,00 7 25,00 5 6,65 1,33 5,00  5,00  2 pelepas 10,00 mulai berkurang (tinggal 10%), dibandingkan uang 3,33 0.66 5,00  5,00  0,00 0 dengan pengusaha mikro yang mencapai 34,45%. Sumber 10,00 2,00 5,00  15,00 3 pinjaman bagi pengusaha kecil 2 adalah1,00 Bank Perkreditan 13,30 2,66 20,00 4 10,00 2 Rakyat 10,00 dengan pangsa kredit terhadap permodalan (BPR) 2 20,00 4,00 10,00 2 30,00 6 20,00 4 pengusaha kecil mencapai 30%, 2diikuti dengan pinjaman 5,00 1,00 10,00 0,00 0 5,00  dari kalangan kerabat yang mencapai 20%. 100,00 100,00 20 100,00 20 100,00 20 20

No  2 3 4 5 6 7 8

Dari tabel 5 terlihat bahwa:

2) Sample di tiga propinsi contoh Keterangan : Diolah dari data 60Pengusaha kecil sudah lebih

mampu berhubungan dengan bank komersial yang pangsa kreditnya terhadap permodalan usaha kecil mencapai 11,65%. Hal ini diduga karena kalangan usaha kecil lebih mampu dalam hal penyediaan agunan dan mengikuti prosedur bank umum atau bank komersial

71
2

2.17% dari jumlah sampel. Sedangkan untuk usaha kecil lebih sedikit yaitu ratarata 5.66 2.30 20.66 100.00 10.8 Tdk meminjam Jumlah 6 60 25.00 5.00 Sumatera Barat No  2 3 4 5 6 7 8 Sumber Modal UKM (unit ) 3 5 2 0 3 2 4  20 Persen % 15. 4) Hanya 5% usaha kecil yang tidak memiliki pinjaman.00 0.00 13.00 1.00 4.00 15.00 10.00 5.00 0.33 6.00 20.00 Rata-rata UKM (unit) 2.00 20. hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan usaha kecil juga masih sangat besar.00 30.00 1.00 20 Persen (%) 11.00 100.00 25.00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 2 6   2 4 2 2 20 Persen (%) 10.00 4 60 11. Hal ini mungkin disebabkan dana yang diperlukan oleh pengusaha kecil relatif lebih besar dibandingkan dengan pengusaha mikro sehingga koperasi tidak mampu menyediakan pinjaman untuk kelompok 2 ini.00 10.00 5. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Diluar Kredit Program Pemerintah Diluar Kredit Program Pemerintah Kalimantan Barat UKM (Unit) 2 7    2 6 0 20 Persen % 10.65 30.66 4.00 100.00 30.00 Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh 3) Peran koperasi dalam mendukung permodalan kelompok pengusaha kecil ternyata sangat sedikt (3.22 100.3 UMKM Yang Mendapatkan Pinjaman Program dan Pinjaman Pihak Lain Dari tabel 6 terlihat bahwa jumlah UMKM yang disamping mendapatkan pinjaman dari kredit program juga masih mengambil pinjaman dari tempat lain relatif banyak yaitu untuk usaha mikro 17 unit usaha atau 43.00 100. 5.00 2 60 8.33 60 7.00 10.65 3.00 100.00 100.33%) dibandingkan dengan peran koperasi terhadap permodalan pengusaha mikro yang mencapai 8.00 5.33 100.67 unit atau 14.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 5.00 Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh JURNAL VOLUME 4 .00 5.33 0.00 1. Oleh sebab itu perlu perhatian yang lebih besar dari para stakeholder terutama pemerintah agar lebih banyak lagi melaksanakan programprogam pemberdayaan permodalan untuk kalangan pengusaha kecil. 72 . Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Tabel 5.00 2.33%.00 10.00 5.00 6.00 5.33 10.30% dari jumlah sample.00 35.

1 Struktur Permodalan.3.865 21. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi Propinsi (1) (1) Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Modal Modal (Rp rb) (Rp rb) (2) (2) 61.210 3.00 40 8 20.487 1.772 mencukupi bagi kalangan tersebut untuk mampu memenuhi Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan kebutuhan modalnya Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Kurangnya pembinaan dalam penggunaan dana.205 88.54 10.168 719 86.182 42.253 28.17 43.59 80. serta tidak 98.48 21.678 93.65 24.210 3.39 3.30 Sample40 5.3 Struktur Permodalan. 49.67 14.345 juta relatif(6) hampir sama (93.18 Modal Kecukupan Modal usaha mikro Tabel 8.69 1.035 279.401 19.070 1.782 69.02 32.70 44.516 21.00 40 8 20.068 29.927 10.015 1.451 45.128 33.40 32.39 3.467 3.67 mendapat pinjaman 14.45 sejumlah modal 45.70 mikro kalangan usaha 3.345 93.90 120 17 42.48 21.45 86.268 kecil. 3) 3.93 3.85 26.408 46.02 1.015dan usaha 38.51 60.345 93.33 Mikro 60 Sample Usaha Tabel 7.70 632 44.207 36. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro 1) Jumlah pinjaman yang diterima dari kredit program belum Untuk Usaha Mikro Hal ini mengindikasikan bahwa: Propinsi Propinsi Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal per 2) Modal sebagian pinjaman yang tidak digunakan untukPersentase Ada tujuan sendiri Modal Modal per Persentase UKM (Rp rb) Nilai Persen Kecukupan sendiri Modal rb) tujuan Nilai Persen usaha UKM (Rp rb) (Rpproduktif atau Persen pengembangan tersedianmelainkan Nilai Nilai Persen Kecukupan (Rp rb) % (Rp rb) % (Rp rb) tersedian modal (%) (Rp modal (%) (Rp untuk tujuan lain rb) konsumtif rb) % (Rp atau % digunakanrb) (Rp rb) 3.90 120 17 42.467 3.50 43.342 18.273 68.17 dan 30 usaha kecil yang No No Propinsi Propinsi Jumlah Jumlah Sample Sample Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata dari Keterangan : Diolah   2 2 3 3 Keterangan : Diolah dari Program Usaha Mikro dan 30 Sample usaha kecil yang mendapat pinjaman dari Kredit 60 Sample dari Kredit Program 40 17 40 17 40 24 40 24 40  40  120 52 120 52 40 17.927 3.33 40 17.13% yang bersumber dari modal 68. UMKMYang Mendapat Kredit Program Tabel 6.96 3.865 32.00 60. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Tabel 8.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Tabel 6.620 108.70 1.207 36.574 1.57 1.45 1.02 1.85 10. Kontribusi Kredit Program dan Kecukupan 3.620 108. 3.50 40 7 17.54 5.739 68. UMKM Yang Mendapat Kredit Program Tabel 6.39 46.57 965 1.13 1.54 73 3 3 .516 2) Dari 39.00 27.298 61. UMKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain Pinjaman Dari Tempat Lain dan Pinjaman Dari Tempat Lain UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Mikro Usaha Kecil Mikro Usaha Kecil Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase (Unit) (%) sample unit usaha (%) (Unit) (%) sample unit usaha (%) 42.298 73.021 52.897 47.600 35.30 40 5.445 31.021 52.02 28.51 64. Kontribusi kredit Program dan Dari hasil temuan lapang seperti diperlihatkan pada Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman Modal sendiri Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman tabel 7 dapat dikemukakan lain Pihak beberapa hal sebagai berikut: modal Dari program Modal sendiri Pihak lain modal Dari program Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen tase Nilai Persen Nilai digunakan Nilai tersedia oleh % Persen 1) rb) atau usaha (Rp Rata-rata modal yang % (Rp rb) % Rp rb Persen tase % (7) = 6/2 x 100 (Rp rb) % (Rp rb) % Rp rb (3) (4) (5) (6) (7) = 6/2 x 100 mikro sebesar Rp 3.487 1.45 31.182 47.205 88.168 719 kebutuhan965 pinjaman bagi 1.85 26.401 19.50 129.897 mereka hampir mencapai titik optimal.39 42.253 42.451 27.40 32.69 1.223 98.54 68.50 27.54 pengusaha oleh 60.268 93.50 129.600 35.62 3.62 3.772 3.09 yang 42.40 40 2 5.287 28.378.50 40 7 17. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Tabel 7.782 73.408 80.678 31.23 11.54 dengan kebutuhan modal usaha mikro sehingga skala usaha mikro.00 60.273 5.65 3.40 40 2 5.070 1.23 11.574 1.342 18.09 digunakan 27.18%) (3) (4) (5) (6) (6) 49.223 adanya perencanaan yang 632 dalam memperhitungkan baik 38.739 69.93 3.223 39.59 64. hanya rata-rata 36.378.035 279.287 28.445 24.13 1.85 10. 3.96 3.18 3.068 29.128 33.223 31.00 42.

273 juta sedangkan rata-rata modal sendiri yang dimilikinya sebesar Rp.068 juta (29. 4) Rendahnya kontribusi pinjaman program pemerintah dalam struktur permodalan pengusaha mikro diduga disebabkan oleh: a) Perencanaan yang bersifat sektoral dan terpusat.85 29.467 3.015 3.45 31.268 3.57 108.678 10. Tabel 7. 21.96 93. b) Mempertahankan eksistensi para pelepas uang dalam usaha dan kehidupan para pengusaha mikro serta. c) Menyebabkan penggunaaan pinjaman sulit diawasi. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro Kebutuhaan Modal per UKM (Rp jt) Modal sendiri (Rp jt) Pinjaman kredit Program Nilai (Rp jt) 1.865 juta sehingga untuk 74 . 3.13 Pinjaman dari Pihak lain Nilai (Rp jt) 632 1.93%) dan pinjaman dari sumbersumber lain rata-rata-rata sebesar Rp 1. 68.068 Persen % 18.378.620 1.345 98.3.445 3. 5.070 3) Besarnya pinjaman dari pihak-pihak lain dikhawatirkan akan berdampak pada: a) Mengganggu kelancaran pengembalian kredit program.574 1.207 Persen % 44.62 Modal tersedia dan Kecukupan modal Persentase Modal Kecukupan tersedian modal (%) (Rp jt) 3.93 86.39 36.927 10.70 38.772 3.223 719 1. b) Belum adanya pemikiran untuk menjadikan biaya hidup sebelum produksi sebagai salah satu unsur dalam mengkalkulasi kebutuhan kredit para pengusaha mikro. Hal ini seharusnya mendapat perhatian karena biaya hidup sebelum produksi di kalangan UMKM dapat dikelompokan sebagai biaya produksi karena UMKM sebagian besar (79.035 3.54 93.AGUSTUS 2009 : 62-87 pinjaman kredit program sedangkan sisanya berasal dari modal sendiri (rata-rata 29.62%).18 Propinsi Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata 3.487 1.02 33.210 1.128 1.342 3.168 965 3.70 88.205 1.65 279.84%) menggunakan tenaga kerja keluarga.69 24.JURNAL VOLUME 4 .2 Struktur permodalan dan Kecukupan Permodalan Usaha Kecil Dari tabel 8 dapat dikemukakan bahwa: 1) Rata-rata modal yang digunakan oleh usaha mikro sebesar Rp.

17.02 Pinjaman dari Pihak lain Persen Nilai (Rp jt) % (6) (5) 32.408 80.4 Dampak Kredit Program 5.253 52.1 Dampak Kredit Program terhadap kondisi dan Kinerja Bisnis UMKM Dari data pada tabel 9 dapat dikemukakan: 1) Rata-rata UMKM contoh tergolong dalam kelompok usaha mikro.223 46.298 73. 46. 75 .782 69.086 juta (25. dapat ditutupi dengan meminjam dari berbagai pihak terutama para pelepas uang.40 35. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi (1) Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata Modal (Rp juta) (2) 61.48 39. 5.865 Persen % (4) 19.451 28.4. 13.600 42.92%) menjadi rata-rata Rp. rata-rata aset UMKM meningkat sebesar Rp. 2) Skala usaha usaha kecil pada umumnya belum mencapai titik break event point (titik impas) sehingga untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi kalangan usaha ini perlu dibantu dengan memberikan pinjaman agar tercapai break event point yaitu rata-rata sebesar Rp.45 32.54 68. 2) Dengan adanya bantuan program perkuatan.897 26.408 juta rupiah.51 60.54 3) Dengan meningkatnya skala usaha diharapkan efisiensi produksi akan terjadi dan para pengusaha mikro mendapatkan laba yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan PDB.39 Kebutuhan pinjaman modal Dari program Nilai Persen tase % Rp jt (7) = 6/2 x 100 (6) 49. 28.253 juta).76 juta.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) mencapai break event point usahanya diperkirakan masih memerlukan tambahan modal sebesar Rp.516 21.29 juta.408 juta.59 64.739 68. dengan rata-rata pemilikan aset sebelum menerima bantuan perkuatan sebesar Rp.85 45. 3. Keperluan ini sebagian (rata-rata Rp.273 Modal sendiri Nilai (Rp jt) (3) 11. Peningkatan ini merupakan pengaruh langsung dari adanya pinjaman dari program perkuatan. Tabel 8.287 31.401 47.09 42.182 27.23 28. 46.021 21.

90 6.19 bantuan )3.00 58.53 23.14 Sebelum 167. jt) Per tahun (Rp jt) (Rp No Propinsi Selisih Selisih Sebelum Tabel 10.14 31.54 8.79 1.33(%)  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Tabel 9.56 2.82 11.66 5.41 14.58 9.55 13.68 25.05 Per tahun Sebelum 51.49 13.92 6.71 10.80 3.18 2.92(%) (Rp 13.28 8.71 10.82 8.12 15.90 (Rp Jt) (%) 12.53 14. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuanJt) 9. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) rata-rata sebesar Rp.10 47.30 Sebelum Sesudah Nilai Persen 10.80 18.98 11.47 39.55 Selisih 21.30 12.5307. Kinerja UKM Nilai Berbantuan menerima Sesudah Nilai Persen menerima bantuan) dan (Rp Jt) Rp Jt (%) DariVolume UsahaUsahaLaba Aspek Volume (%) dan Laba  Sumbar 2 Kalbar 3 NTB No Propinsi Jumlah Rataan  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Jumlah Propinsi Rataan 59.05 12.15 28.82 18.17 5.00 57.24 11.14 30. 3.56 (Rp jt) 2.73 175.61 25.68 Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp ) (%) Tabel 11.74 Rata-rata Pertambahan23. Aset.98 11.30 Selisih 19.60 1.49 Per Rata-rata Peningkatan Produksi18.07 6.17 25.19 32.82 Sebelum Sesudah Nilai 9.05 75.18 per 9.50 2.27 (Rp Jt) (%) 76 2 Sumbar Kalbar NTB 3 No Propinsi Jumlah Rataan  . Aset.99 8.03 9. Aset.61 25.80 11.25 Rata-rata Laba3.41 45. Dengan perkataan lain peminjam belum mampu menginvestasikan sebagian laba yang diperoleh untuk menambah aset dalam bentuk investasi.29 Jt) 25.54 8.61 11.79 1.54 dari yaitu 10.83 3) bertambah 29.55 11.58tahun9.53 Hari 14.76 57.12 Asset Total 18.33%.38 Persen 47.083 55.29 25.083 55.74 18.72 (%) 141. Kinerja UKM Berbantuan (yang(yangSebelum bantuan) Dari Aspek Sesudah Persen Tabel 10.55 9.80 7.04 10.09 45.78 70.97 58.25 32.JURNAL VOLUME 4 .97 Sesudah Nilai 19.00 8.28 47.81 11.78 20.17 11. b) Sebagian peminjam lainnya mempersiapkan kelebihan laba yang diperoleh untuk digunakan membayar pinjaman dari program perkuatan walaupun mungkin belum jatuh tempo.33 untuk Omset Usaha UMKM yang tahun Rata-rata menutup kebutuhan modal Rata-rata Laba per selama ini sebagian berasal dari pinjaman pihak ketiga.18 36.94 tahun 16.05 (Jam) (%) 146. Hal ini dapat diterangkan dari dua sebab yaitu: a) Para penerima pinjaman sebagian besar sudah mendapatkan pinjaman dari dari pihak ketiga sehingga sebagian laba dipergunakan untuk menutupi pinjaman tersebut.30 juta 58.24 26.61 4.29Dari Aspek Volume Usaha dan Laba 51.24 11.88 Sesudah 77. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan No Propinsi Rata-rata Pertambahan Total Asset Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Per tahun Sebelum Sesudah Pertambahan Pertambahan Sebelum Sesudah (Rp jt) (Rp Jt) (%) (%) 18.17 jt) 25.AGUSTUS 2009 : 62-87 yang terutama digunakan untuk modal kerja.61 Persen 10.88 77. Tambahan modal ini relatif belum mencukupi Tabel 11.10 Rp Jt (%) Tabel 10.8 Sebelum Sesudah Nilai Persen 7. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan Tabel 9.31 25.03 Rata-rata Jam Kerja6.32 0.48 14.53 15. 47.78 70.24 juta.05 75.76 Rata-rata Peningkatan Produksi 16.45 36.49 13. Tabel 9.21 5.05rata-rata sebesar Rp.25 8.05 Rata-rata Jam Kerja Per Hari 13.94 59.50 1.58 9. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan 20.90 10.24  2 3 13.18 2.41Dari adanya bantuan perkuatan modal UMKM 69.28 207.24 167.00 1. 6.09 Selisih 31.83 29.72 58.70 Selisih 31.38 Selisih 25.31 25.09 69.02 18.10 11.71 juta menjadi rata-rata sebesar Rp.99 8. 41.18 11.54 7.18 5.35 33.05 51.81 11. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima 16.41 14.45 (Jam) 11.80 (Jam) 26.41 45.05 51.47 39.58 6.04 10.62 15.14 Sebelum 30.65 34.80 7.20 Per (Rp 45.73 Sesudah 6.76 17.30 Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Pertambahan 175.29 (Rp jt) 17.49 Selisih 141.84 (%)1.48 14.02 Rata-rata Omset Usaha18.82 atau11.24 58.04 45.20 9.78 Pertambahan 41.61 69.45 12.66 14.

menjadi Rp 13. baik di pasar input (pengadaan bahan baku) maupun di pasar output-nya (pemasaran produknya). dari aspek peningkatan etos kerja dan peningkatan produksi UMKM. Laba UMKM meningkat dari rata-rata Rp 10. 4) Dari kondisi pada butir 1 sampai dengan butir 3 di atas dapat dikemukakan bahwa pinjaman yang diberikan jumlahnya relatif kecil.90 juta (19. Persentase pertambahan laba ini juga masih lebih kecil dibandingkan dengan persentase pertambahan modal yang mencapai 51. atau rata-rata bertambah sebesar Rp 8. menjadi Rp 55.083 juta. yaitu dari 10. sehingga belum mencukupi bagi UMKM untuk dapat mencapai skala ekonomi (ecomic of scale).23%.23%. 3) Dengan memperhatikan pertambahan omset dan laba. yang memungkinkan terjadinya peningkatan efisiensi produksi. belum terlihat adanya indikasi bahwa pertambahan modal telah dapat menekan biaya produksi misalnya bahan baku.05 jam per hari. Dalam hal ini etos kerja. Pertambahan ini nampaknya masih lebih kecil dari tambahan modal yang diterima UMKM yang rata-rata mencapai 51. omset UMKM juga meningkat dari rata-rata Rp 47. atau bertambah Rp 2.60 jam.99 juta. merupakan derivasi 77 .10%). sehingga meningkatnya laba tidak lebih besar dari peningkatan modal. Selain dampak perkuatan terhadap tiga aspek bisnis UMMK di atas.18 juta per tahun. 2) Selain mempengaruhi pertambahan omset usaha.68 juta (25.38%).55 jam menjadi 11. tabel 11 memperlihatkan dampak pemberian bantuan perkuatan modal terhadap perubahan kinerja UMKM. Disamping itu pertambahan modal juga belum mampu meningkatkan bargaining UKM dalam pasar.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Dari tabel 10 dapat dikemukakan: 1) Sejalan dengan adanya pertambahan modal. Dari tabel 11 dapat dikemukakan bahwa: 1) Peningkatan etos kerja yang diindikasikan dari pertambahan jam kerja UMKM memperlihatkan adanya tambahan sebesar 1. meningkatnya modal UMKM juga mempengaruhi pertambahan laba yang diterima UMKM.49 juta.

55 12.Tabel 10.56 2.24 47.58 kondisi peningkatan etos kerja.82 9.90 8. 78 .55 3.80 18.05 1.98 11.10 Tabel 11.09 dan sebatas mana 14.17 jauh 25. UMKM harus diarahkan agar mampu pengembangan etos kerja.62 11.20 9. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Tabel 11.28 5.00 16.14 31.8 69.352 orang (78.895 orang atau 10.24 11.18 ke45.78 36.61 5.15 1.21 8.80 11.05 9.02 18.046 orang.68 25.65 10.30 55.31 51.18 2.47 39.30 45.09 146.50 13.38 10. (Rp Jt) (%) Rp Jt (%) No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 2) 59.49 kerja dapat dikembangkan sangat etos 167.99 8. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) JURNAL VOLUME 4 .79 1.70 31.60 1. seberapa25.94 32.27 No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3) Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menyebabkan timbulnya permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan program ini.84 6.53 9.41 45.49 13.97%.81 11. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Rata-rata Jam Kerja Per Hari Rata-rata Peningkatan Produksi (Jam) (%) Selisih Selisih Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp Jt) (%) 11.55 0.00 6.AGUSTUS 2009 : 62-87 Dari Aspek Volume Usaha dan Laba Rata-rata Omset Usaha Rata-rata Laba per tahun Per tahun (Rp jt) (Rp jt) dari keberhasilan usaha seseorang dan kepentingan orang Selisih Selisih Sebelum tersebut untuk mendapatkan prestasi yang secara langsung Sesudah Sebelum Sesudah Nilai Persen Nilai Persen maupun tidak langsung mempengaruhi kesejahteraannya.05 141.80 2. yang akan mendorong semangat kewirausahaan.2 Dampak Kredit Program Terhadap Perekonomian Daerah 1. 4 5.03 arah 9. dimana sebanyak 325.45 12. diantaranya adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha (bekerja) dalam kelompok UMKM.04 4.10 13.17 12. Pengembangan etos kerja juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.19 3.54 tergantung pada pola pelaksanaan program.76 11.06%).41 1.05 75.45 9.25 16. adalah para pencari kerja yang diharapkan dapat terserap dengan meningkatnya aktifitas usaha dari kelompok UMKM.72 58.17 14.55 21. Dari jumlah tersebut sebanyak 52.58 6.05 11. 8.4.90 19. Dampak program perkuatan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja 1) Rata-rata jumlah tenaga kerja poduktif (umur antara 17 sampai dengan 60 tahun) yang ada di 3 (tiga) Propinsi contoh cukup besar yaitu mencapai 412.61 33.35 7.07 15.083 Hasil pengamatan lapang memperlihatkan adanya indikasi 70.50 207.25 34.97 26.32 28.

93 2.411 94.97 3.4 10.90 4.20 4.652 326. maka dapat diprediksikan jumlah pengangguran yang mampu diserap oleh UMKM baru sebanyak 4.88 4.91 3.45 3.686 Jumlah 1.00 Rata-rata 412.12 Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) 4.89 Peningk.61 Terhadaptersedia.89 Tabel 14.56 8.1 SHU 76Jlh 31.32 20.78% dari jumlah penganggur yang ada di ke tiga propinsi contoh.64 2.43 11.07 Peningk.45 Rata-rata Peningtan5.33 2.904 202.31 5.67 3.18 2.20 3.49 76 31.45 9.93 1.411 94.90 1.455 1.97 3.44 0.659 di Kabupaten Contoh ( Orang) 6.07 79  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan . Sebelum Peningk.420 674.700 263.47 4.528 NTB UMKM Propinsi Pencari 976.352 Kerja Rata-rata 412.046 52.88 6.72 Sesudah 3.12 3.45 3.44 Kalbar Program terhadap (Product Regional Domestic Bruto) serta 6.644 orang atau 8.7 310.224 PDRB 434.236.877 Perkiraan Sumbangan2.30 1.71 0.420 674.9 Perkuatan 35.21 23. Tabel Tabel 12. Sebelum Sesudah 374.3 35.92 0. 3.843 Sumbar UMKM31.677 176.61 orang per UKM.38 7.64 Penyalur UMKM 65.65 6.88 UMKM (%) 111.1 36 172.41 10.1 327.58 10.08 kontribusi 44.78 Sebelum 6. 3.72 3.76 11. Jumlah Tenagakerja dan Kinerja UMKM Berbantuan 12.873 611.69 1.54 1.89 11.186 9.52 1. termasuk penganggurmenyalurkan bantuan Perkuatan PDB (Rp miliar) *) Tenaga kerja usia produktif yang Tabel 13.528 NTB dalam Menyumbang PDB Jumlah 1.47 3. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Jumlah Tenaga Kerja dan 10. termasuk penganggur Total Pendapatan Kotor Daerah (Product Regional Domestic Bruto) (miliar) tambah tase Kop luran Rp juta Tabel 13.4 10.05 3.15 7.968 7.5 26 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan178.87 0.140 berbantuan UMKM 22.52 1.3 Kop 25.32 11.98 1.843 Sumbar Tabel 13.613 (unit) (unit) (Org) (Org) *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.74 1.7 Rataan 92.56 9.48 3.38 berikut: 3.58 10.839 Kerja 325.89 11.8 983.56 4.15 11.33 2.3 161.18 2.90 miliar) 64.769 Kalbar 5.9 Rp Juta Rp jt 111.14 Modal 9.866 434.61 (Org) (org) Kerja 49.609 4.540 268.21 3.742 32.76 Koperasi Per tahun(%) 11.92 0.540 268.85 147. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan Kotor Daerah 1.873 611.01 UMKM 197.85 Tenaga 147.3 374.895 325.75 1.20 3.154 421.75 Sesudah 1.90 64. 2.20 0.3 No Propinsi PDRB Nilai Persen Jlh Penya Biaya Penda SHU *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006  2 3 No Propinsi Rata-rata Peningkatan Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) Simpanan Anggota /tahun (%) *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Sebelum Sesudah Peningk.473 224.140 158.455 1.89 8. termasuk penganggur 36.33 10.44 65.98 0.9 Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) Sesudah *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Peningk.352 7.97 Rata-rata Peningkatan Anggota /tahun (%) 1.877 Sumbar 429.97 3.186 2.236.32 3.057 22.78 4.44 176.91 7.613 1.677 Koperasi 0.1 Penda 310.43 2.74 1.00 (%) (Org) Propinsi *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.99 1.69 Tambahan 1.14 4. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Jumlah 27.90 Sebelum 5.765 Kalbar 178.88 1.81 Sebelum 3.32 8.02 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang 49.7 patan 103.31 4.67 3.82 7.88 144.41 3.224 NTB Tabel 14.  2 3 Sumbar Kalbar NTB No Jumlah Propinsi Rataan 3.659 202.839 3.71 0.652 326.65 9.1 103.968 7.48 23.87 0.48 8.510 472.41 3.18 hal sebagai 1.686 976.742 32.88 Sesudah 3.50 25.700 263.82 Sebelum 7.895 7.93 1.769 2.48Simpanan4.49 Nilai Persen 27.41 Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di kabupaten Contoh (Orang) 44.870 1.01 9.02 Persen 1.180 14 Penya Biaya 983.56 6.35 20.81 4.9 143.046 Perkiraan Sumbangan UMKM 52.99 Sesudah 1.057 Tenaga 158.90 5.8 13.5 26 197.7 143.89 11. (unit) (Org) (org) (unit) Kerja (%) (Org) (Org)(yang menerima bantuan ) di Lima Propinsi Contoh (Org) 36.44 7.870 1.3 429.93 1.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 2) Rata-rata pertambahan tenaga kerja UMKM setelah mendapat bantuan pinjaman modal dari program perkuatan adalah sebesar 0.18 Peningk.473 224.54 2. DampakDari tabel 13 dapat dikemukakanKoperasi Program Perkuatan terhadap Kinerja beberapa 1.154 421.510 472. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan patan Daerah Kotor Kop UMKM (%) Rp Juta Rp jt serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur (Product Regional Domestic Bruto) serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan 172.30 1.50 tambah tase 92.2 7.180 14 0.609 4.8 Kop luran Rp juta 327.33 10.866 (miliar) 144.05 5. Dengan memperhitungkan jumlah UMKM yang mendapatkan bantuan per propinsi sebanyak 7613 orang.904 31.35 3.44 4.1 36 161.2 7. Dampak Kredit Jumlah dan Kinerja 2.8 13.765 Terhadap PDB (Rp 0. Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan (yang menerima bantuan) ) di Lima Propinsi Contoh (yang menerima bantuan di Lima Propinsi Contoh Jumlah Tenaga Kerja dan Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di UMKM di Kabupaten Contoh ( Orang) kabupaten Contoh (Orang) UMKM Tambahan Pencari Tenaga Sesudah UMKM berbantuan Sebelum Tenaga Persen Kerja Kerja Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan Tabel 12.08 1.

maka sumbangan usaha mikro terhadap PDRB tidak berubah banyak. Hal ini dapat dijelaskan dengan memperhatikan bahwa pertambahan jumlah PDRB yang berasal dari adanya UMKM yang mendapat bantuan perkuatan per kabupaten relatif kecil yaitu sebesar Rp. 5. Dengan perkataan lain masyarakat ingin menjadi anggota koperasi karena adanya 80 .83 dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 yang diperkirakan 48%. 144. Dari sini terlihat adanya dampak positif dari pelaksanaan program perkuatan dalam mendorong pertumbuhan jumlah anggota sebanyak 3.89%. 928. Kondisi yang demikian nampaknya cukup wajar karena jumlah UMKM yang menerima bantuan.JURNAL VOLUME 4 . dibandingkan dengan rata-rata PDRB daerah yang mencapai Rp.3 Dampak Kredit Koperasi Perkuatan Terhadap Pembangunan Dari tabel 14 terlihat bahwa terlihat bahwa: 1) Rata-rata jumlah anggota koperasi mengalami kenaikan dari rata-rata 3. Seandainya semua (308.4. Kondisi ini dikarenakan usaha-usaha tersebut sudah ada sebelumnya dan pertambahan jumlah kebutuhan maupun produk yang dihasilkan oleh UKM yang mendapat bantuan perkuatan relatif masih kecil.342 orang) UMKM sudah mendapat bantuan perkuatan maka diprediksikan sumbangan UMKM akan mencapai 71.AGUSTUS 2009 : 62-87 1) Dengan asumsi sebagian (50%) UMKM yang mendapat bantuan perkuatan bekerja pada kegiatan usaha produktif. 2) Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh UMKM merupakan kegiatan spesifik daerah yang tidak lagi memberikan imbasan yang signifikan terhadap kegiatan usaha yang ada dibelakangnya (back word efect).8 miliar per kabupaten. maupun di depannya (fore Word efect).72% pada tahun 2007. atau tidak mengalami tambahan yang signifikan. dan tidak dengan memperhitungkan dampak kegiatan yang dilaksanakannya. Unsur ini jelas didorong oleh adanya program perkreditan yang memang angat dibutuhkan oleh masyarakat. juga relatif masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang berada dimasing masing lokasi tersebut. Kenaikan jumlah anggota yang cukup signifikan ini mengindikasikasikan adanya ketertarikan masyarakat untuk menjadi anggota koperasi.870 juta (1.83% atau meningkat 23.82% pada lima tahun sebelumnya menjadi 7.46%).

Hal tersebut disebabkan adanya tambahan modal luar yang melonjak dari pinjaman modal program perkuatan.89 11. atau naik sebanyak 1.31 5.2 7. Peningkatan jumlahnya 5 simpanan ini terlihat belum sejalan dengan pengingkatan rata-rata jumlah anggota yang mendapat bantuan perkuatan.78% pertahun menjadi rata-rata 4.35 3. 81 .9 143.20 3.99% sesudah dilaksanakannya program perkuatan.8 13.97 3.44 4.88 6.33 10. Lebih lanjut pada tabel 15 diperlihatkan dampak pelaksanaan program perkuatan terhadap volume usaha dan SHU koperasi.18 2.968 7. Sedangkan pengaruh dari pelaksanaan program terhadap kenaikan modal sendiri relatif sangat sedikit dibandingkan dengan total modal koperasi dalam yang dimiliki koperasi.89 Sebelum 2.82 Sesudah 7.7 *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat pada bantuan permodalan cukup besar.10%.866 76 310. 1.700 263.47 4.97 3.765 35. Tabel 14.43 2.38 7.1 Motivasi144.224 harapan 434.56 9.3 92.No Propinsi Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 172.877 Sumbar  2 3 Kalbar NTB Jumlah Rataan Perkiraan Sumbangan UMKM Terhadap PDB (Rp miliar) PDRB Nilai Persen (miliar) tambah tase UMKM (%) Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan Perkuatan Jlh Penya Biaya Penda SHU Kop luran Rp juta patan Kop Rp Juta Rp jt 161.3 374.99 Peningk.609 4.33 2.18 Sebelum 3.93 1.21 23.81 Sesudah 4.90 64.870memang 25.32 20.89 11. Dibandingkan dengan tambahan modal luar yang bersumber dari program perkuatan nampaknya tambahan modal koperasi yang bersumber dari SHU pelaksanaan program perkuatan pengaruhnya belum signifikan.455 1.56 8.01 9.1perkuatan.1 36 10. yang mencapai 23%.45 9. menjadi 3. Hal ini 1. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Tabel 14.540 268.65 6.90 4.88 Peningk.49 untuk mendapatkan 31. sehingga adanya bantuan perkuatan tidak lagi mempengaruhi besar simpanan yang dapat dikumpulkan.473 224.91 3. Kejadian ini mungkin disebabkan sebelumnya memang partisipasi anggota dalam membayar simpanan sudah tinggi.420 674.20 0.7 178.12 3.32 11.76 11. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) No Propinsi Sebelum  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3.67 3.4 10. 3) Modal koperasi meningkat dari rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 3.45 3.5 26 197.72 Peningk.88%.14 4.9 yang ideal.98 1.54 1.186 2.48 3. atau meningkat sebesar 1.58 111.48 8.41 3.8 983.81% selama 4 tahun sebelum program perkuatan dilaksanakan.18%. 1.15 7.3 429. 3.50 bukan motivasi 103.88 327.78 Sesudah 4. bantuan kredit 27.07 Rata-rata Peningkatan Simpanan Anggota /tahun (%) Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) 2) Sejalan dengan peningkatan jumlah anggota juga terjadi kenaikan simpanan anggota dari rata-rata 2.180 14 0.

11 2.03 2. Peningkatan ini nampaknya merupakan pengaruh langsung dari pelaksanaan kegiatan penyaluran program bantuan perkuatan saja. 4. Dengan biaya operasional riil yang ternyata masih lebih kecil dari yang didapatkannya tersebut. bila dibandingkan dengan peningkatan SHU pada lima tahun sebelumnya yaitu dari rata-rata 2. koperasi memperoleh bagian biaya operasional sebesar 4% dari dana yang disalurkan.59 17.02 1.43 0. Hal ini menunjukan bahwa koperasi belum mampu mengembangkan kegiatan yang diperlukan anggotanya.14 6.40 pertahun pada lima tahun sebelumnya.81 3.43 2. rata-rata koperasi memperoleh SHU sebesar Rp 8.76 3. seperti penyediaan bahan baku produksi.14%.99 2.47 0. Sama seperti peningkatan volume usaha.42 3.04 2.JURNAL VOLUME 4 .21 3. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Tabel 15.34 10.96 1.24 5.74% sesudah menyalurkan program perkuatan.76 3. 2.40 6.34%. peningkatan SHU ini juga murni sebagai sumbangan dari pelaksanaan program perkuatan dan tidak terlihat dampak dari adanya kegiatan pengembangandari pelaksanaan kegiatan penyaluran program. transportasi dan pemasaran hasil produksi anggotanya.81%.25 7. yang berkaitan dengan adanya program perkuatan tersebut.18 9.74 2.34 Rata-rata Peningkatan Sisa Hasil Usaha per tahun (%) Sebelu Sesudah Peningk.87 5. atau meningkat sebesar 2. 3) Dari kegiatan melaksanakan penyaluran kredit perkuatan. menjadi 5.33% menjadi 3.45 juta. 2) Rata-rata Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi meningkat sebesar 0.78 4. Dengan demikian terlihat bahwa koperasi 82 .92 1.14 0.81  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Dari tabel 15 terlihat bahwa: 1) Rata-rata volume usaha koperasi mengalami peningkatan dari rata-rata 3. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi No Propinsi Rata-rata Peningkatan Volume Usaha per tahun (%) Sebelum Sesudah Peningk.89 2.33 3.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 15. Dengan kata lain program perkuatan belum memberikan dampak ikutan bagi kegiatan koperasi diluar kegiatan program itu sendiri.

000. 56. diperkirakan mencapai Rp. 22.-. Adanya perbedaan antara persentase kebutuhan pinjaman UMKM dan dana yang telah dialokasikan oleh pemerintah (23. 171. maka bagian koperasi yang menjadi SHU belum signifikan dengan total SHU koperasi. dan 3) Deviasi sampel.yang terendah adalah untuk mereka yang berusaha di sektor informal dan perdagangan eceran sebesar Rp 1. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh: 1) Sebagian dana program pemerintah memang diberikan dalam bentuk pinjaman (kredit sesuai dengan pengertian kredit dan ensiklopedia Indonesia) sebagian lagi dalam bentuk subsidi atau hibah.574. 83 .000. Kondisi ini masih menunjukkan peranan yang dominan dari para pelepas uang dan pemilik modal dalam mendukung kelangsungan usaha para pengusaha mikro. Dengan demikian dana yang diperlukan untuk memberdayakan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil.05%) dengan hasil pengamatan kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro dan usaha kecil yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu 11.55 triliun. 4) Hal lain yang juga dapat dicatat bahwa jumlah dana yang telah dikembalikan dari peminjam ada yang belum dapat digulirkan lagi oleh koperasi.75% bersumber dari kalangan keluarga dan tetangga. 11. VI.70% pinjaman dari pemilik modal/pelepas uang dan sisanya 6.05% dari kebutuhan modal UMKM. Struktur permodalan usaha mikro dibangun 15.. 3. Rata-rata tambahan modal yang diperlukan oleh kalangan pengusaha mikro dan pengusaha kecil adalah sebesar Rp. 2.60%.dan yang tertinggi adalah untuk mereka yang berusaha di sektor pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp. 3. sehingga tidak dinyatakan sebagai kredit.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) juga memperoleh dampak positif dari kegiatan ini. 2) Ada kesalahan sasaran dalam penyaluran kredit.75% oleh modal sendiri. sehingga idealnya program-program perkreditan dari pemerintah selama 7 tahun terakhir sudah menjangkau 23. 9.783. PENUTUP 1.60% dari pinjaman program pemerintah.20% pinjaman dari lembaga perkreditan formal (Bank dan non bank). Tetapi karena jumlah dana yang disalurkan masih relatif kecil. Hal tersebut terjadi karena belum ada ketentuan tentang pola pergulirannya dan belum ada institusi yang secara formal mengatur perguliran dana tersebut.876..05% dari jumlah UMKM khususnya pengusaha mikro. atau sudah menjangkau 23.000.

sehingga sering tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakter pengusaha mikro.5% bertujuan untuk mendukung pembangunan sektoral seperti untuk program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) 35. 5. d) Banyaknya jenis kredit yang disalurkan. atau tidak sesuai dengan peruntukannya. 44. akibatnya yang bersangkutan masih meminjam dari sumber-sumber lain terutama para pelepas uang dan pemilik modal. c) Bentuk dan besar pinjaman yang cenderung menggunakan sistem paket. seperti Kredit Keluarga Miskin (KKM) dan Kredit Pemilikan RSS. 84 .JURNAL VOLUME 4 .75% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas. b) Bunga bersubsidi membuka peluang terjadinya manipulasi penggunaan kredit baik ditingkat penyalur maupun oleh peminjam. 7.25% pengembangan potensi kelompok. Dari aspek pendistribusian dana diketahui 41.92% disalurkan untuk daerah-daerah lainnya.25% bertujuan mengurangi kemiskinan. seperti Program pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal 26. menyebabkan terjadinya tumpang tidih penggunaan dan sasaran kredit di tingkat peminjam.25% yang bertujuan untuk memberdayakan UMKM seperti P3KUM dan KUR. dan sisanya 16.45% menggunakan pendekatan pengembangan potensi daerah.83% dari usaha mikro tersebut menyatakan jumlah pinjaman yang diperoleh belum menutupi kebutuhan modal. pengembangan potensi daerah dan pengembangan kelompok (Community development) merupakan pendekatan yang efektif untuk memberdayakan UMKM. Hanya 11.75% menggunakan pendekatan pengembangan daerah. dan sisanya 19.18% disalurkan di Pulau Jawa dan sisanya 58. Kredit-kredit yang bersumber dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM yang kesemuanya bertujuan memberdayakan KUMKM. Dalam hal pola pelaksanaan perkreditan terlihat bahwa: a) Prosedur dan persyaratan cenderung didasarkan pada kepentingan sektoral dan keamanan kredit.85% menggunakan pendekatan pengembangan kelompok seperti seperti dalam program Lembaga Usaha Ekonomi Bersama (LUEB). dan hanya 17.AGUSTUS 2009 : 62-87 4. Banyaknya dana yang disalurkan di Pulau Jawa dilakukan berdasarkan pertimbangan jumlah orang yang berhak menerima. Hasil analisis dari aspek kemanfaatan kredit dalam meningkatkan pendapatan UMKM menunjukkan bahwa. 6. tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pengusaha mikro serta.35% pengembangan kelembagaan.65% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas.95% menggunakan pendekatan pengembangan kelembagaan. 8. Dari 214 jenis program perkreditan yang dapat diinventarisir diketahui bahwa 47. 11. 10. 28. sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk. Sedangkan dari aspek pendekatan program 41.60% pengusaha mikro yang pernah mendapatkan pijaman dari kredit program pemerintah dan 21.

dan pola pelaksanaan yang ada. sebagian besar (63. c) Adanya unsur-unsur yang tidak berkaitan dengan tujuan pemberdayan UMKM serta.60%). maupun untuk lembaga penyelenggaranya.77%) kredit program dilaksanakan dengan tidak meng-gunakan model perguliran dan hanya 9. Sebagian besar (56. 10.92% dan sisanya sebanyak 14.52% responden menilai kredit program tepat sasaran dan hanya 54. tetapi 96.40%) responden menyatakan perlu adanya kelembagaan tersebut (organisasi dan ketentuan-ketentuannya).81 juta per tahun.11 tahun atau setingkat dengan SLP.65% kredit tersebut tepat waktu penyalurannya. Dalam hal keperluan kelembagaan perguliran.1 juta. 79.87%) responden menilai tidak ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit. 13.23% yang menggunakan model perguliran. Dari aspek pengalaman. Sebagian dari yang tidak menggunakan perguliran adalah yang berupa hibah untuk masyarakat. Dalam hal tingkat pendidikan.21% menyatakan tidak tahu.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 9. Kesimpulan 1) Dari temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa: a) Kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro relatif masih sangat sedikit (11. sedangkan yang menilai ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit ada sebanyak 28. Sebagian kredit yang tidak tepat sasaran adalah yang diberikan kepada kelompok orang miskin sebagai bantuan sosial.85 % dari mereka tidak mengetahui adanya Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).75%) adalah mereka yang berpengalaman lebih dari 5 tahun. dan pestisida serta untuk pedagang kecil. 11. Dalam hal ketepatan sasaran. 85 . 6. 32.25%) peminjam adalah mereka yang berpengalaman dibidang usahanya kurang dari lima tahun dan sisanya (36. Kondisi internal pengusaha mikro didominasi oleh meraka yang memiliki aset terbatas yaitu rata-rata Rp.51 juta. yang paling sedikit Rp.2 juta dengan laba rata-rata sebesar Rp 11. Selain itu tujuan penggunaannya yang sebagian besar bersifat sektoral. Sedangkan yang tidak tepat waktu penyalurannya adalah kredit yang diberikan dalam bentuk natural seperti pupuk benih. d) Kondisi internal pengusaha mikro yang sangat lemah serta belum siapnya lembaga perguliran dana. b) Rendahnya kontribusi kredit program tersebut disebabkan karena tidak semua program diberikan dalam bentuk kredit (pinjaman yang harus dikembalikan). Sebagian besar (90.23 juta dan yang terbesar Rp. 12. 0. ratarata responden berpendidikan formal 8. ternyata tidak sesuai dengan karakteristik UMKM. Sedangkan dari aspek omset yang diperoleh per tahun rata-rata Rp 37. sebagian besar (87.

Anonim. Jakarta. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. Jakarta. 2) Perlu adanya pola pelaksanaan program dengan karakter UMKM khususnya pengusaha mikro. (2003). (2003). Petunjuk Teknis Tentang Modal Awal dan Padanan. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Besarnya permintaan kredit dari kalangan pengusaha mikro karena tidak tercover oleh lembaga-lembaga perkreditan formal. Anonim. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Jakarta.JURNAL VOLUME 4 . b) Para pemilik modal dan pelepas uang mampu memberikan pinjaman lepada pengusaha mikro dalam waktu singkat. 3) Membangun sistem kelembagaan yang komprehensif memperkecil dalam hal jumlah instansi yang terlibat dan jenis kredit program yang disalurkan sehingga koordinasi menjadi mudah dan dana pemerintah tidak berserakan di mana-mana. Supported by The Asia Foundation. Jakarta. Jurnal Ekonomi UNTAR. (1995). (1999). 86 . (1992). 14. pengembangan kelembagaan dan kelompok. Small and Medium Entreprise Development.AGUSTUS 2009 : 62-87 2) Peranan sumber-sumber perkreditan non formal masih cukup besar. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Saran 1) Perlu dilakukan perubahan orientasi kredit program yang semula untuk kepentingan pembangunan sektoral diarahkan kepada pemberdayaan UMKM. Anonim. Jakarta. The Asia Foundation. (2002). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Jakarta. Anonim. Anonim. 1���. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Kementerian Negara KUKM. c) Kondisi lingkungan sosial budaya memungkinkan para pemilik modal dan pelepas uang membangun sistem hubungan Patron –Client. Vol 7 nomor 1. Study Report. Departemen Koperasi.

Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Anonim. Indonesia. The Entreprise Culture and Education. John Willey & Son. Asian Development Bank. Tambunan Mangara. Anonim. (2002). Sondagh. Nasution Muslimin. Deputi Bidang Pembiayaan. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian IPB. Kajian pemanfaatan Bantuan Perkuatan. Tambunan Mangara. ADB MSE Development Technical Assistant. 2nd ed. (2006). Gibb. Penelitian Lembaga Kredit Pedesaan di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Allan A. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. Anonim. (2002). Anonim. Paper Staff. Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) UKM. Project Report. (1991). Jakarta. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Badan Litbang Koperasi dan PK. Mid Term Action Plan for SME Development : Strategy and Recommendations. (2002). Departemen Koperasi dan PPK. F. ----------. (2006). (1993).. 2002. Jakarta. Informasi Tentang Kredit Usaha Mikro dan Kecil dari Dana SUP005. Jakarta. Center for Economic and Social Studies (CESS). (2006). Apakah Usaha Menengah Mengalami Stagnasi. 19 Oktober (tidak dipublikasi). Bank Indonesia Jakarta. 87 . BPS-2006. Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah: Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pasca Krisis Ekonomi. Lucky. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. (2007). Singapore. Lembaga Perkreditan Pedesaan. Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta. Jakarta. Annual Report Bank Indonesia 2006.

Apabila hal ini tidak dilakukan. The other characteristic is c) Representation regulation which can make sure who is entitle towards something in every process of decision making. juga diikuti dengan perkembangan usaha ritel dan pedagang eceran dalam bentuk Indomart atau Alfamart dan sejenisnya. This feature refers to the definite of right and obligation regulated by the law. managemen. Clarification of intellectual property right in the institution is as strength resource of development participant in developing access and control on the traffic and allocation of resources. custom/tradition and / or consensus. dana bergulir. pasar tradisional I. mall. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Kajian yang dilaksanakan oleh penulis tahun 200��. b) Intellectual property rights. Koperasi. Institutional has characteristic among others are: a) Yurisdiction border which determine who and what is encompassed in the system and related to authority limit and power. Pendahuluan Pesatnya perkembangan pembangunan sarana pemasaran yang dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha perdagangan lainnya seperti supermaket.AGUSTUS 2009 : 88-115 KAJIAN PENATAAN KELEMBAGAAN KOPERASI PENERIMA BANTUAN DANA BERGULIR PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL*) Saudin Sijabat**) Abstract Institution is ”an organizational system which can control on resources”. berdampak pada koperasi yang bergerak dibidang perdagangan khususnya koperasi pengelola pasar tradisional harus menyesuaikan diri agar selalu bisa eksis untuk memberikan pelayanan kepada anggotanya para pedagang.d. Artikel diterima 5 April 200�. Revolving fund for traditional market development through cooperative is government fund derives for state budget of The State Ministry of Cooperatives and SMEs which was distributed to cooperative to develop traditional market by cooperative and from then on lend it to the members unders revolving fund scheme among cooperatives. 8 �uni 200�.JURNAL VOLUME 4 . kelembagaan. swalayan dan bentuk-bentuk perkulakan lainnya yang sudah merambah ke daerah pemukiman dan pedesaan. sudah barang tentu koperasi pasar akan semakin jauh dari akses-akses usaha yang diperlukan anggota karena tidak dapat memberikan pelayanan yang efektif kepada anggota sehingga koperasi tidak mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis. peer review 22 April s. *) 88 .

harus tercermin dalam bentuk konstribusi dalam menetapkan tujuan dan sasaran usaha. dan hanya sebagian kecil penyebab kemunduran koperasi yang bersumber dari pengaruh luar (eksternal). organisasi maupun usaha. Pengaruh dari dalam yang paling dominan mempengaruhi maju mundurnya koperasi adalah dukungan partisipasi aktif dari anggotanya. Dari beberapa uraian di atas. menunjukkan bahwa kebanyakan kegagalan suatu organisasi koperasi disebabkan oleh masalahmasalah yang bersumber dari dalam koperasi (internal).Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Disadari bahwa swadana pembangunan dan pengelolaan pasar oleh pemerintah setempat atau lembaga lainnya melalui fasilitas-fasilitas tertentu. Dengan tercapainya kedua kepentingan tersebut yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan harus selalu dipelihara. sepanjang tidak merugikan kepentingan anggota dan lembaga koperasi. akan sesuai dengan perubahan lingkungan untuk mewujudkan perilaku yang responsif dan inovatif dari para anggotanya. Dengan demikian koperasi pasar yang memperoleh bantuan dana bergulir untuk membangun pasar tradisional akan melakukan kegiatan usaha dan organisasinya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan para anggotanya. memelihara organisasi serta menggunakan kegiatan usaha koperasi. yaitu kepentingan bisnis (bisnis entity) dan kepentingan sosial (social entity). anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi. Sesuai karakteristik pokok organisasi koperasi aktivitasnya mempadukan dua kepentingan secara bersama-sama. Partisipasi anggota. tanpa keterlibatan para pengguna pasar itu sendiri. Bercermin atas keadaan sebagaimana diuraikan di atas. Dalam penjelasan disebutkan bahwa sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. maknanya sesuai dengan penjelasan pasal 17 (ayat 1) Undang-Undang Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992. maka koperasi dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bukan anggota sesuai dengan sifat kegiatan usahanya. Hal ini dimaksudkan selain untuk menarik yang bukan anggota menjadi anggota koperasi juga untuk memperluas skala usaha koperasi dan memperluas pangsa pasar yang dimiliki. diharapkan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional oleh koperasi pasar. melalui penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir untuk pembangunan pasar 89 . akan merugikan para pedagang. diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan dalam meletakkan fondasi bagi bangun struktur organisasi koperasi sebagai milik bersama. Sekalipun demikian. Berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah melalui program Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap maju mundurnya suatu koperasi. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui program pemasaran dan jaringan usaha melaksanakan program penyaluran bantuan dana bergulir untuk meningkatkan kelayakan sarana dan prasarana usaha pasar tradisional melalui koperasi pasar yang sudah ada. baik secara finansial. Dukungan partisipasi anggota koperasi pasar (sebagai pedagang).

Terwujudnya peningkatan nilai manfaat dan nilai tambah bagi anggota koperasi dan UKM melalui peningkatan aktivitas usaha dan organisasi koperasi secara terbuka dan demokratif. 6). 2). Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1).2 Sasaran Sasaran kajian adalah: 1). Merumuskan indikator kajian penetaan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. Terwujudnya peningkatan kinerja koperasi pasar sehingga pengelola pasar tradisional semakin baik dalam memberikan pelayanan kepada anggota dan UKM yang berusaha dalam pasar tradisional dimaksud. Oleh karenanya selain pemanfaatan fasilitas tersebut. dan pengurus koperasi. 3). Melakukan pembahasan konsep kajian untuk penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. maka penulis melakukan Kajian pada tahun 2007 mengenai Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan dana bergulir pengembangan Pasar Tradisional. 90 . lembaga koperasi harus memiliki kelembagaan yang baik. Menyiapkan panduan dan kuesioner pengumpulan data dari pengurus koperasi. belum menjamin kelangsungan koperasi untuk memenuhi harapan di atas. 1. sehingga koperasi pasar tradisional selain mampu melakukan program dengan baik. Terwujudnya peningkatan peran serta anggota koperasi dan UKM secara aktif dalam membangun kemandirian koperasi yang tangguh secara berkelanjutan.JURNAL VOLUME 4 . untuk mengelola pasar tradisional. sehingga partisipasi anggota koperasi tidak hanya pada aktivitas usaha saja. Memilih lokasi pelaksanaan survey terhadap pembina koperasi propinsi. Penyempurnaan konsep final hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. 5).AGUSTUS 2009 : 88-115 tradisional. 3).1 Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Terwujudnya Lembaga Koperasi Pasar yang baik. usaha yang sehat dan pengurus yang memiliki dedikasi yang tinggi. terutama menjalankan usahanya dalam memberikan pelayanan terhadap anggota. juga agar koperasi memiliki daya tahan dan daya saing untuk melakukan aktivitas. 1. 4).3 Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan adalah penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. tetapi juga dalam aktivitas managemen koperasi. 1. kabupaten/kota. 2). 4). Untuk mendukung program yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Melakukan pengumpulan data dan informasi lapang.

meliputi: 1. di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupatan/kota. dari sejumlah responden yang memungkinkan dapat mewakili pembina koperasi pengelola pasar tradisional. pendekatan partisipatif. b). f). Data dan informasi dari pembina koperasi propinsi dan kabupaten/kota. e). c). maka kegiatan ini menghimpun beberapa macam data dan informasi.4 Metodologi Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah penelitian lapang dengan metode Analisis Deskriptif. Tentang Perkoperasian. II. dalam melakukan kegiatannya berdasarkan pada prinsip koperasi. Data dan informasi dari pengurus koperasi. antara lain mencakup: a). 91 . Data Data dan informasi yang dihimpun digali dari berbagai sumber. seperti tertuang dalam UU Republik Indonesia. d). adil dan makmur dalam tata perekonomian nasional. Jenis dan Sumber Data Sesuai dengan lingkup kajian dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan model analisis ini. sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 1. pembahasan hasil analisa dapat dilakukan secara komprehensif dan selanjutnya menyusun ruang lingkup wilayah dan pendataan. Undang-undang dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan koperasi. 2. Informasi pengawasan anggota dalam RAT. terdiri dari: 1. Informasi dari instansi terkait dan litetatur yang relevan.1 Pemahaman Koperasi Koperasi sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang ha atau badan hukum koperasi. Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan usaha berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju. Perumusan jatidiri koperasi menurut ICA di Manchaster (ICA Cooperative Identity Statement/ICS) tahun 1995. Wilayah Kajian Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar analisis dilakukan diskusi dengan pembina koperasi. Definisi Koperasi. Tinjauan Teoritis 2. Data dan informasi kelengkapan organisasi dan tatalaksana koperasi. Koperasi adalah perkumpulan otonomi dari orangorang yang berhimpun secara sukarela untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi. Nomor 25 Tahun 1��2. Diskusi ini dilakukan untuk memperoleh data yang representatif.

b. perusahaan koperasi diukur dari kemampuannya memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangga para anggotanya. Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa masing-masing anggota. Perbedaan itu antara lain: a. prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a). Kemandrian. Otonomi dan kebebasan. dan 5 menetapkan prinsip koperasi Indonesia. pada dasarnya hampir sama (identik) walaupun dalam penerapannya terdapat perbedaan tetapi tidak signifikan. Muenker menyatakan adanya ciri-ciri khusus koperasi sebagai organisasi usaha.AGUSTUS 2009 : 88-115 2. Kerjasama diantara koperasi. 7). Kerjasama antar koperasi. Hans H. 2). g). Keanggotaan sukarela dan Keanggotaan sukarela dan terbuka. Kepedulian terhadap komunitas. e). melainkan diberi tugas melayani anggotanya. yang terdiri dari 7 (tujuh) butir yang dituangkan dalam 2 ayat. 2. 4. f).3 Ciri-ciri Organisasi Koperasi Koperasi. agar anggotanya meraih keuntungan yang lebih baik. persamaan. Koperasi dibentuk bukan untuk mengejar keuntungan bagi perusahaan koperasi sendiri. Partisipasi ekonomi anggota. Prinsip-prinsip (sebagai penjabaran nilai-nilai). Ketujuh butir prinsip koperasi Indonesia di atas.JURNAL VOLUME 4 . c). Nilai-nilai. Pendidikan perkoperasian. d). kejujuran. demokratis.2 Ciri-ciri Koperasi Indonesia Indonesia termasuk salah satu negara yang menerbitkan perundang-undangan yang khusus mengatur koperasi. yaitu: 1). tanggung jawab sendiri. Undang-undang ndangan (UU) yang berlaku saat ini adalah UU RI Nomor 25 Tahun 1992. bila dibandingkan dengan prinsip koperasi yang berlaku secara internasional berdasarkan rumusan kongres ICA di Manchaster 1995. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. 3). Keberhasilan perusahaan kapitalistik diukur dari kemampuan meraih laba. tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Pengendalian oleh anggota secara demokratis. 6). Adanya orang yang menjalin 92 . keterbukaan. Koperasi memiliki nilai-nilai menolong diri sendiri. yaitu: 1). Pengelolaan dilakukan secara demokratis. 5). Tentang perkoperasian. pelatihan dan informasi. 2. Pendidikan. merupakan bentuk perusahaan yang unik berbeda dengan bentuk perusahaan kapitalistik pada umumnya. 3. 3. b). Ciri-ciri koperasi Indonesia secara umum dituangkan dalam pasal 2. 4). Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.

material dan keuangan koperasi untuk mencapai tujuan koperasi yang ditetapkan. maka hilang pula ciri perusahaannya sebagai anggota koperasi. Adanya suatu perusahaan yang didirikan. yaitu untuk menghasilkan manfaat yang dapat digunakan oleh anggotanya dalam upaya meningkatkan kegiatan ekonominya. Oleh sebab itu. 579). Optimal mengandung maksud bahwa sumber daya koperasi dikelola secara efisien dan efektif. melalui usaha-usaha bersama atas dasar swadaya dan saling tolong menolong. Ketiganya dalam organisasi koperasi memiliki tugas mengembangkan kerjasama sehingga membentuk suatu kelompok pengelola. pengurus dan 93 . 3). Managemen koperasi bersifat terbuka (tentunya terhadap anggotanya) serta dilengkapi dengan prinsip-prinsip koperasi. 2). berarti managemen koperasi merupakan serangkaian kegiatan yang teratur. dan diawasi secara bersama sama sebagai sarana untuk mencapai sasaran bersama bagi para anggota. Untuk menjalankan fungsifungsi dari perangkat organisasi koperasi (rapat anggota. pertama pendekatan kebudayaaan. Sebagai perbandingan. Proses. pengorganisasian pelaksanaan dan pengendalian. 2). (c) Pengawas. maka pemilik perusahaan kapitalistik tidak identik dengan pelanggannya. sedangkan managemen sebagai fungsi berarti keseluruhan tugas/fungsi yang harus dijalankan dalam rangka menjamin keberhasilan organisasi dalam jangka panjang. Satu anggota satu hak suara tanpa melihat besar kecilnya kontribusi modal masing-masing. Managemen koperasi dapat diartikan dalam dua pendekatan yaitu. yaitu menunjuk kepada orang/ kelompok orang dan yang kedua pendekatan proses. Menurut UU Nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 21 menyatakan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari (a) Rapat Anggota.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) hubungan antara sesamanya atas dasar sekurang-kurangnya satu kepentingan ekonomi yang sama. 51). Managemen sebagai institusi menggambarkan orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas organisasi. Apabila identitas ganda dari anggota koperasi tersebut hilang. melalui tahap perencanaan. dalam koperasi berlaku prinsip-prinsip: 1). yaitu pelaksanaan proses managemen itu sendiri (Caska 2003. 2. dibiayai. (b) Pengurus. The term management refers to the institution and to the function (Helmut Wagner 1994. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi pada koperasi.4 Konsep Managemen Koperasi Managemen koperasi adalah proses mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia. 3). Status khusus tersebut merupakan identitas koperasi dimana anggota memiliki identitas ganda atau prinsip ganda anggota (dual identity). Adanya dorongan (motivasi) untuk mengorganisasikan diri di dalam kelompok dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.

and decisison making. menengah. Buku Agenda. Dengan demikian. Oleh sebab itu. Pengawas. jenis kelamin. dan koperasi untuk mengikuti gerak pembangunan ekonomi terutama disebabkan adanya kelemahan akses mereka di bidang permodalan. organizing. Buku Simpanan Anggota dan Buku Inventaris. Buku Tamu. Pengurus. pengembangan kelembagaan pada hakikatnya ditujukan agar dapat mendukung kemampuan pengusaha kecil dan koperasi melalui: 1). Manajer dan Karyawan. 1989). dalam bidang ekonomi. controling.JURNAL VOLUME 4 . dan sekaligus mampu menyerap berbagai masukan yang diperlukan bagi pertumbuhan lembaga yang bersangkutan. leading. cap ibu jari anggota dan atau tanda tangan anggota. Pertumbuhan kelembagaan harus diarahkan agar dapat mengimbangi gejolak. Ketidakmampuan usaha kecil. mata pencaharian. Banyak pakar berpendapat bahwa fungsi managemen sangat bervariasi. tidak seperti halnya modal dan teknologi (Soetrisno. informasi. tanggal masuk menjadi anggota. industri kerajinan. bisnis ritel karena sifatnya yang padat karya dan lingkup usahanya yang relatif luas. Kelembagaan merupakan unsur esensial yang tidak bisa dijiplak mentah-mentah atau dipinjam dari luar. secara bertahap dan harmonis harus dilakukan berdasarkan koordinasi fungsi managemen. 94 . Buku Daftar Anggota memuat nomor urut anggota. umur. Misalnya menurut Griffin (1990. koperasi melaksanakan pembukuan/akuntansi koperasi secara tertib lengkap dan akurat sesuai norma pembukuan/akuntasi yang ditentukan. Selain itu juga harus ada buku-buku antara lain: Keputusan Rapat Anggota. Hal ini karena kita masih kurang menyadari. yang relatif belum berkembang. Dalam penyelenggaraan administrasi usaha dan keuangan. Instansi Terkait. alamat.5 Konsepsi Penataan Kelembagaan Program bantuan perkuatan yang disalurkan Kementerian Negara Koperasi dan UKM selama ini. Notulen Rapat Pengurus dan Rapat Pengawas. dan pasar. Dalam penyelenggaraan administrasi organisasi koperasi. khususnya pemberdayaan UMKM. Buku Catatan Kejadian Penting. 8) menyebutkan bahwa fungsi managemen meliputi planning. Saran/Anjuran Pejabat. 2. teknologi. masih kurang memperhatikan unsur kelembagaan sebagai faktor penting untuk menjamin keberhasilan dan kelangsungan pembangunan. bahwa kelembagaan adalah faktor strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi terutama di sektor pertanian. nama lengkap.AGUSTUS 2009 : 88-115 pengawas). ada 16 (enam belas) buku yang dianjurkan untuk dimiliki oleh koperasi yaitu: Buku Daftar: Anggota. penataan kelembagaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mengembangkan usaha. mampu mengantisipasi berbagai perubahan sosial. Buku Saran Anggota dan Saran Pengawas.

adat. 5). Ciri ini mengacu pada kepastian masalah hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum. Tertinggalnya faktor kelembagaan dibandingkan dengan laju perubahan teknologi sedikit banyak ditentukan oleh model perencanaan. Akibatnya pembangunan kelembagaan jadi tertinggal. dan atau konsensus. b) Hak-hak properti. Untuk itu perlu disepakati terlebih dahulu bahwa karakteristik yang tercakup dalam kelembagaan adalah mengacu pada optimalitas pengalokasian sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan. a) Batas juridiksi yang menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam sistem serta menyangkut batas otoritas dan kekuasaan. Pembenahan kondisi struktural agar lebih kondusif bagi pengembangan para pengusaha kecil dan koperasi. karenanya tidak dimasukan sebagai faktor strategis dalam kalkulus perencanaan. kelembagaan mempunyai karakteristik antara lain. Demikian juga dalam perencanaan indikatif kelembagaan sering dilihat sebagai faktor eksogen. Pembenahan masalah sindikasi perdagangan nasional dan internasional yang memungkinkan para pengusaha kecil dan koperasi dapat eksis di dalamnya. peran kelembagaan harus diperhitungkan sebagai faktor endogen. Dalam kondisi ekonomi yang diwarnai kesenjangan. 2). Pengembangan potensi SDM.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Penciptaan iklim usaha berpihak kepada mereka yang merupakan bagian terbesar dari ekonomi rakyat. 4). tidak selalu sinkron dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. modal serta institusi dari para pengusaha kecil dan koperasi. Kejelasan hak properti dalam kelembagaan 95 . 3). supaya peluang koperasi menjadi lembaga penyangga pemberdayaan usaha para pengusaha kecil. Dalam hal ini. Seperti telah diuraikan dimuka. Banyak masalah pembangunan ekonorni muncul karena terkait dengan batas jurisdiksi. Pentingnya kelembagaan dianggap sebagai faktor endogen dalam pembangunan tidak diragukan lagi. Namun bagaimana pendefinisian kelembagaan itu secara tegas masih sukar dan kompleks karena sangat ditentukan oleh asumsi dan pendekatan yang digunakan. material. secara positif dan normatif menjadi sangat besar. Pernantapan peran koperasi untuk mampu menjadi lembaga alternatif bagi pengembangan kemampuan para pengusaha kecil. dalam jangka waktu pendek untuk mencapai sasaran antara. sehingga fungsi institusi sebagai pengatur alokasi sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan mengalami kegagalan dan dapat menimbulkan kesenjangan. Model perencanaan indikatif yang mengandalkan prestasi sektoral sebagai performa pembangunan ekonomi. mungkin perlu diperhatikan pendapat Pakpahan (1990) yang memberikan batasan bahwa kelembagaan adalah ”suatu sistem organisasi yang dapat mengontrol sumber daya”. Kecenderungan penerapan model indikatif pada umumnya akan lebih diwarnai oleh peningkatan produksi dan rata-rata pendapatan.

mencakup nilai (baik buruknya dan benar salahnya). Pasar tradisional yang sedang atau akan dikembangkan diprakarsai oleh koperasi atau prakarsa Pemda dengan 96 . Hal ini dapat dikategorikan pada perangkat lunak dan keras. pranata sosial (sosial budaya). Refleksi kelembagaan dengan sendirinya sangat luas dan beragam. c) Aturan reprensentasi yang dapat memastikan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam setiap proses pengambilan keputusan. Dalam struktur dunia usaha yang sangat dinamis tidak memungkinkan kelompok pengusaha kecil untuk secara sendiri-sendiri mampu tumbuh dan berkembang. Dari uraian di atas dapatlah kita nyatakan bahwa kelembagaan itu sangat berdimensi normatif di samping dimensi positif. dan kebijakan pembangunan serta lainya yang dianggap penting.1 Persyaratan Pasar Tradisional. tetapi bukan berarti dibangunnya berbagai organisasi/lembaga di perdesaan dapat menjawab masalah kelembagaan. Termasuk di dalam analisis kelembagaan adalah bentuk-bentuk organisasi (badan hukum). Karakteristik lainnya adalah.JURNAL VOLUME 4 . III. Akibatnya mereka banyak menemui kesulitan untuk melibatkan diri ke dalam sistem kelembagaan ekonomi masyarakat sehingga mereka terlepas dari jangkauan atau jaringan fasilitas dan kebijaksanaan pemerintah yang sebenarnya tertuju kepada mereka. peraturan perundang-undangan. organisasi yang terbentuk bukan merupakan suatu sistem yang utuh sehingga tidak memiliki kriteria sebagai kelembagaan yang tangguh. Selarna ketiga karakterisitik di atas belum menjiwai lembaga yang dibentuk maka kelembagaan dimaksud tidak akan efektif terutama dalam fungsinya sebagai unsur pengatur alokasi sumber daya dan pemerataan hasil pembangunan. Kebijakan Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Melalui Koperasi 3. Pasar Sebagai calon penerima perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Umumnya mereka tidak terorganisir dan kalaupun mereka membentuk sindikasi.AGUSTUS 2009 : 88-115 adalah sebagai sumber kekuatan partisipan pembangunan dalam mengembangkan akses dan pengontrolan lalu lintas dan alokasi sumber daya. Koperasi dan Pedagang Calon Penerima Bantuan Dana Bergulir 1.

f. Bersedia memenuhi kewajiban pelaporan secara berkala sesuai format yang ditentukan . penempatan pedagang maupun pengelolaan. 97 . d. e. dan pedagang yang siap menempati kios atau los segera setelah selesai dikembangkan. pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional serta pengembalian dana bergulir secara tepat jumlah dan waktu.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) melibatkan koperasi. g. c. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memiliki jumlah pedagang anggota koperasi paling sedikit 30 (tiga puluh) orang. Bersedia dan mampu mengelola dana bergulir pengembangan pasar tradisional sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan dibuktikan dengan surat pernyataan serta rekomendasi dari dinas. Mempunyai anggota sebagai pedagang minimal 30 orang. managemen dan usaha koperasi dalam kondisi sehat yang dibuktikan dengan pernyataan hasil penilaian dari Dinas. d. Mendapat persetujuan dari anggota/pedagang untuk melaksanakan program pengembangan yang dibuktikan dengan berita acara Rapat Anggota atau surat pernyataan. sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Pedoman Teknis. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memliki pola kepemilikan atau pemanfaatan kios dan los yang memberikan kepastian tempat berusaha bagi pedagang dalam jangka panjang. b. Telah berbadan hukum paling sedikit 1 (satu) tahun dan berkedudukan serta berusaha di wilayah pasar tradisional yang akan dikembangkan. Belum pernah mendapat bantuan dana bergulir serupa. Organisasi. c. b. Bersedia dan mampu berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan. h. penentuan harga. baik dalam perencanaan. Pasar tradisional yang akan dikembangkan harus didukung oleh Pemda setempat. Koperasi Persyaratan koperasi penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. 2.

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

3.

Anggota Koperasi/Pedagang Kriteria anggota koperasi/pedagang penerima bantuan perkuatan dana bergulir adalah: a. b. c. d. Terdaftar sebagai kewajiban. anggota koperasi, telah memenuhi

Berdomisili dan bertempat tinggal di wilayah kerja koperasi Sanggup dan bersedia mentaati peraturan dan memnuhi persyaratan yang ditetapkan oleh koperasi. Tidak memiliki tunggakan pinjaman pada bank atau lembaga lain.

3.2

Penetapan, pencairan, pemanfaatan dan pengembalian bantuan dana bergulir 1. Penetapan Koperasi Penetapan koperasi calon penerima dana bergulir dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Keuangan kabupaten/kota melalui tahapan sebagai berikut: a. Menerima permohonan dari koperasi calon penerima dana bergulir yang dilampiri dengan identitas diri Pengurus berupa KTP, bukti keanggotaan pada Koperasi dan Berita Acara Pemilihan Pengurus yang diketahui lurah setempat. b. Mengadakan penelitan dan peniliain terhadap pemenuhan persyaratan Koperasi penerima. c. Mengumumkan hasil penelitian dan penilain koperasi calon penerima pada papan Pengumuman di kantor kecamatan tempat kedudukan Koperasi dan pada dinas/instansi kabupaten/kota setempat. d. Menetapkan calon koperasi yang akan disusulkan kepada Menteri paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal pengumuman dengan Surat Keputusan Kepala Dinas yang membidangi pengembangan koperasi dilampiri berita acara hasil penilaian yang ditandatangani paling sedikti oleh 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah anggota Pokja. e. Menyampaikan hasil seleksi calon koperasi penerima dana bergulir Pokja Keuangan Propinsi untuk diteruskan kepada Pokja Keauangan Pusat dan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha.

98

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat)

2.

Tatacara pencairan bantuan Tata cara pencairan bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Menteri menetapkan koperasi penerima bantuan perkuatan dengan memperhatikan usulan koperasi yang disampaikan oleh bupati/walikota setempat. b. Melalui Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Menteri menyampaikan pemberitahuan penetapan sebagaimana dimaksud huruf a kepada koperasi yang bersangkutan melalui Pokja Keuangan kabupaten/kota. c. Koperasi penerima bantuan perkuatan yang telah ditetapkan Menteri, mengajukan permohonan pencairan dan rencana penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir kepada Menteri atau Pokja Keuangan kabupaten/kota atau dinas secara bertingkat. d. Ketua dan bendahara koperasi penerima dana bergulir membuka nomor rekening tabungan di kantor cabang bank terdekat atas nama koperasi yang berfungsi sebagai rekening penampungan koperasi. e. Menteri meneliti kelengkapan permohonan koperasi penerima bantuan perkuatan dan selanjutnya diajukan ke KPKN-I untuk mentransfer dana bantuan perkuatan tersebut ke rekening penampungan masing-masing koperasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam Bidang Keuangan Negara.

3.

Penggunaan Tata cara penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir untuk pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Dana bergulir digunakan oleh koperasi penerima untuk kegiatan sebagai berikut: 1). Pembangunan kios atau los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional; 2). Renovasi kios dan los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional. b. Penggunaan dana dari rekening penampungan koperasi dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dituangkan dalam proposal yang diajukan. c. Jasa yang timbul pada rekening penampungan koperasi sebelum digunakan wajib terlebih dahulu dipindahbukukan oleh koperasi ke rekening perguliran koperasi.

99

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

4.

Penyaluran Tata cara penyaluran dana bergulir dari koperasi kepada anggotanya adalah sebagai berikut: a. Pedagang anggota koperasi mengajukan permohonan pinjaman untuk pembangunan atau renovasi kios atau los kepada koperasi. Pedagang anggota yang memenuhi syarat ketentuan koperasi membuat perjanjian kredit dengan koperasi untuk menentukan jumlah pinjaman, jangka waktu pengembalian dan besarnya jasa pinjaman. Atas dasar permohonan anggotanya, koperasi melaksanakan kegiatan pembangunan atau renovasi pasar tradisional baik dilaksankan sendiri oleh koperasi meupun kerjasama dengan pihak ketiga. Setelah pembangunan atau renovasi pasar selesai, koperasi melaksanakan serah terima kios atau los dengan anggota sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara anggota dan koperasi sebagimana dimaksud butir b).

b.

c.

d.

5.

Pengembalian. Tata cara pengambilan dana bergulir adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Jangka waktu pengembalian dana bergulir koperasi adalah 8 (delapan) tahun. Terhadap dana bergulir sebagaiman huruf a diberlakukan grace period selam 1 (satu) tahun. Koperasi melakukan penagihan pada menyetorkannya kepada Bank setiap bulan. anggota dan

Koperasi mebukukan secara terpisah antara pengembalian dana bergulir dan jasa operasional dari anggota Pengembalian dana bergulir dari anggota disetorkan pada rekening perguliran koperasi, sedangkan jasa/bunga dari anggota disetorkan pada rekening jasa koperasi. Bunga yang timbul pada rekening perguliran koperasi sebelum digulirkan kembali diakumulasikan pada rekening perguliran koperasi. Dana pada rekening perguliran koperasi hanya dapat dicairkan untuk keperluan perguliran kepada koperasi lain dengan ketetapan Menteri.

f.

g.

100

Pengembalian Dana Bergulir dari Anggota Tata cara pengembalian dana bergulir dari anggota kepada koperasi penerima dana bergulir adalah sebagai berikut: a. Jasa dibayar anggota sejak serah terima kios atau los. d. Besarnya pokok angsuran per bulan setiap anggota adalah: jumlah total dibagi jumlah bulan angsuran. Dana bergulir pada program ini khusus untuk keperluan pengembangan pasar tradisional oleh koperasi. e.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 6. Tata cara Perguliran Dana adalah sebagai berikut: a. c. g. Dalam hal anggota membayar uang muka atau DP (down payment) maka besarnya total pokok pinjaman berkurang sebesar uang muka yang dibayarkan. Alokasi pemanfaatan jasa/bunga sebagaimana dimaksud huruf a) diatur sesuai dengan ketentuan di Juknis. b. Koperasi penerima dana bergulir dikenakan jasa atau bunga menurun sebesar 12% per tahun efektif dari sisa pokok. Anggota menyetor angsuran pokok dan jasa kepada koperasi melalui unit simpan pinjam koperasi. 8. Jangka waktu pengembalian pinjaman dari anggota selamalamanya 8 (delapan) tahun. Pemanfaatan jasa untuk biaya monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud huruf b). f. 7. b. c. Penetapan dan pemanfaatan jasa. Besarnya jasa yang harus dibayarkan anggota setiap bulan adalah 1% dikali sisa pokok pinjaman. Tata cara Penetapan dan Pemanfaatan Jasa atas pinjaman diatur sebagai berikut: a. 101 . ditetapkan berdasarkan persetujuan Menteri. Pengembalian pokok pinjaman dimulai setelah berakhir masa grace period yaitu bulan ke-13 setelah serah terima kios atau los. Perguliran Dana.

dan kios dan los yang dibangun sudah terbengkalai selama 2 tahun lebih. Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah melakukan pengembangan pasar tradisional di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupaten/kota serta jumlah koperasi sebanyak 9 (sembilan) koperasi pasar. namun demikian pasar yang sudah dibangun dengan anggaran APBN tahun 2003 sebesar 1. berada di Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu koperasi pasar yang berkesempatan untuk mengelola bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Evaluasi Terhadap Kelembagaan Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional 4. Perguliran antar koperasi dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu seluruh dana dikembalikan.1 Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Dari data sekunder yang diperoleh dari Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha. c. dengan jumlah dana yang telah direalisasikan sebesar Rp 34.AGUSTUS 2009 : 88-115 b. Proses perguliran dari satu koperasi kepada koperasi lainnya ditetapkan oleh menteri atas usulan dari bupati/walikota.JURNAL VOLUME 4 . Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa jalan masuk ke pasar hanya satu jalan. Data hasil kunjungan kepada koperasi pasar penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. e. dapat disampaikan seperti pada tabel 1. d.5 milyar belum disalurkan kepada anggota. dan belum ada kepastian kapan akan dibuka pasar tersebut. sementara Pemda mengharapkan adanya dua (2) jalan tembus menuju pasar.2 Keragaan Kelembagaan Koperasi Pasar 1. IV. Propinsi Nangro Aceh Darussalam. 4. 102 . Kabupaten Gayo Lues di Koperasi Pasar Pelita Karya Koperasi Pasar Pelita Karya ini. Proses pemindahbukuan dari rekening perguliran koperasi penerima dana kepada rekening penampungan koperasi penerima berikutnya dilakukan oleh koperasi dengan persetujuan atau contra sign dari bupati/walikota. Dana pada rekening perguliran koperasi penerima dana hanya dapat dicairkan khusus untuk keperluan perguliran kepada koperasi penerima dana berikutnya dengan ketetapan menteri.125 miliar.

Gw.750.10. Pompanua Ps. Kabupaten Bone 3.750. Anyar Ps. Kota Palembang Koperasi Pelita Karya.000. Jatisari Ps.3. Gayo Lues Kop.000. Retno Ps.Kop.500. karena operasional koperasi belum optimal.000. Kota Palembang 3. Centong Blangkerejen Ps. Kr. Muaradua Ps.000. Prembun Thn Bantuan 2003 2005 2005 2005 2003 2004 2004 2003 2003 2003 Jlh Dana (Rp. Jakabaring Ps.Koppas Saka Selabung.000.000. Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional dari Tahun 2003.000.KUD Telumpoccoe. Kab.7. dan simpanan wajib anggota tidak lancar penagihannya. sehingga usaha koperasi belum berjalan terutama usaha pertokoan. demikian pula usaha yang jalan hanya simpan pinjam yang tidak ditunjang dengan sistem administrasi dan pembukuan yang baik. Adapun kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional adalah pasar belum beroperasi. Tanete Ps. Palatte Ps.2005 No  Propinsi Sulawesi Selatan Nama Koperasi Dan Alamat 1. Tumenggung Ps.Alang-Alang Lebar Ps.1.000. Kabupasten Bone 1. Kabupaten Sinjai 2.500. Kabupaten OKU 2. Kutowinarya Ps.- Ket 2 Sumatera Selatan 3 4 5 NAD Bengkulu Jawa Tengah Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) kepada koperasi dalam pengembangan pasar tradisional berupa bantuan los dan kios. BMT Tarbiyah.000.KSU Tunas Baru.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tabel 1.KUD Tenri Sangkae.PKL Bangun Wijaya. serta pembelian tanah untuk jalan ke lokasi pasar dan tanah pembangunan gedung pasar telah diupayakan oleh Pemda. Kota Bengkulu Koppas Melati. 000) 982.2005 Tradisional dari Tahun 2003.500.KUD Waempubbue. Walaupun memiliki pengurus yang lengkap dan mempunyai 103  .2. Performance kelembagaan koperasi pasar sangat kurang baik. Pagar Dewa Ps.KUD Mandiri Puncak.000. Songging Ps. sarana mushola dan MCK.7. Kabupaten Kebumen Lokasi Pasar Ps. Kabupaten Bone 4. Kuwarasan Ps.1.000.000. hal ini terlihat dari pelaksanaan RAT dua tahun terakhir tidak dilakukan.000.652.

berkedudukan di Kota Bengkulu. adalah kebijakan Pemda kota Bengkulu memfungsikan pasar belum menyentuh apa yang diharapkan oleh koperasi selaku pengelola pasar dan pedagang. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi koperasi sebagai berikut.086. pengawas dan karyawan sudah lengkap dan menjalankan tugas dengan baik. karena penjualan kios dilakukan oleh Dinas Pasar Kota Bengkulu dan hasil penjualan juga belum diserahkan kepada koperasi sebagai pengelola dana bergulir.menjadi Rp. Dilain pihak modal luar jangka pendek menurun dari Rp.000. demikian pula pengerjaan buku-buku adminstrasi usaha baik dan tertib. karena tidak memiliki buku-buku organisasi sebagaimana layaknya koperasi yang ditentukan dalam penetapan koperasi yang boleh dapat bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. namur angsuran pengembalian belum berjalan sebagaimana mestinya.dan modal luar jangka panjang tetap yaitu sebesar 3 (tiga) miliar rupiah.. Kota Bengkulu di Koperasi Pasar Pagar Dewa Koperasi Pasar Pagar Dewa ini. karena minimnya sarana penunjang pasar seperti sarana transportasi dan lain sebagainya. Propinsi Bengkulu yang mengelola program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisonal pada tahun 2003. 2. selama dua tahun tidak ada perubahan jumlah anggota yaitu sebanyak 87 Orang. Propinsi Bengkulu.JURNAL VOLUME 4 .. Koperasi ini. 22. Buku-buku administrasi usaha lengkap. tetapi telah melaksanakan RAT tepat waktu pada 2 tahun terakhir. dan modal sendiri dua tahun terakhir juga meningkat yaitu dari Rp.AGUSTUS 2009 : 88-115 karyawan sebanyak 3 orang. 119..000. pengurus.688. dengan dana sebesar 3 (tiga) miliar rupiah. Kondisi koperasi Pasar Pelita Karya lebih rinci dapat terlihat pada tabel 2. dikerjakan dengan baik dan tertib. namun terjadi penurunan simpanan wajib anggota. Usaha koperasi yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perdagangan. 56. tetapi tidak mendukung jalannya usaha koperasi.023.-.28. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional ini. tetapi simpanan pokok dan simpanan sukarela meningkat. 104 .135.000. Buku-buku organisasi lengkap. Penyaluran kios sudah dilakukan kepada anggota. kinerjanya cukup baik dilihat dari organisasi dan usaha yang dilaklukan. demikian pula pemanfaatan kios dan los yang dibangun belum maksimal. Adapun keragaan koperasi Pasar Pagar Dewa seperti terlihat pada tabel 3.000.menjadi Rp.

Gayo Lues Thn. Administrasi Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan/Perdagangan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . Keragaan Organisasi.Buku kas tabelaris . Keragaan Organisasi. melaks. jt Thn 2004= 18. thn 2005 = 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . thn 2005 = 5. tugas dgn baik Ada Ada tidak Ada Tidak Ada Tidak lengkap Kurang Baik Tabelaris Betul Ada. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Tabel 2.Buku kas harian . jt Thn 2004= 0 jt.Kab. Administrasi Organisasi. thn 2005 = 0 jt Thn 2004= 0 jt. melaks. Blangkejeren. tugas dgn baik 3 Org.Buku-buku Bantu . jt. Administrasi Organisasi. tidak jalan Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Thn 2004= 12.Bendel bukti KM-KK .5 jt. jt. melaks.Buku-buku besar . tugas dgn baik 3 Org.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pelita Karya Kec. VI VII 105 2 . 2005 =216 ORG Thn 2004 dan thn 2005 tdk ada 3 Org. thn 2005 = 21. thn 2005 = 40. jt Thn 2004= 2. 2004 = 120 Org.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 2. kurang lancar Ada.

dengan dana sebesar Rp.7. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. namun perkembangan anggota tidak ada yaitu 99 Orang. namun pengelolaan pasar tradisional belum berjalan seperti yang diharapkan.AGUSTUS 2009 : 88-115 3. di Kota Palembang menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2004. di Kota Palembang. usahanya pun tidak berjalan dan tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi bagaimana seharusnya. dan penambahan anggota dari tahun 2004–2005 meningkat kurang lebih 500 Orang. Keragaan organisasi dan Usaha koperasi adalah sebagai berikut. sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir tepat waktu sesuai ketentuan. Bukubuku administrasi ada. 7 milyar. serta belum melaksanakan RAT dua tahun berturut-turut. dan tertib dilakukan. Koperasi Serba Usaha Tunas Baru. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar dikelola dan disalurkan lepada anggota dengan tertib. Kabupaten OKU dan Kota Palembang sebanyak tiga ( 3) Koperasi 1) Koperasi Pasar Saka Selabung di Kabupaten OKU. Keragaan organisasi dan usaha sebagai berikut. dan dikerjakan cukup tertib. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional pada tahun 2003 dengan anggaran sebesar Rp.6 milyar. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. modal dan perolehan SHU meningkat. koperasi memiliki anggota sebanyak 50 orang dan tidak ada penambahan anggota selama dua tahun terahir. Sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir walaupun waktunya kurang tepat. dengan dana sebesar Rp 10 milyar. Buku-buku administrasi lengkap. Koperasi BMT Tarbiyah. 2) 3) 106 . Propinsi Sumatera Selatan. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional pada tahun 2004. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik.JURNAL VOLUME 4 . perkembangan modal dan perolehan SHU cukup baik.

453 jt. 2004 =87 Org danThn.Buku kas harian . Keragaan Organisasi. thn 2005 = 22.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pagar Dewa. Administrasi Tabel 3. thn 2005 = 3 m 2 V VI VII 107 . Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.135 jt Thn 2004= 3 m.Buku kas tabelaris .Buku-buku besar . melaks. thn 2005 = 119. Keragaan Organisasi.023 jt. Jln Raden Patah Thn. jt Thn 2004= 56.5 jt.Buku-buku Bantu . AdministrasiI Organisasi. melaks.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .086 jt Thn 2004= 28. thn 2005 = 52. thn 2005 = 40.698 jt Thn 2004= 18. 2005 = 87 Org 14-02-2005 dan 13-03-2006 3 Org.9 31jt. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Administrasi Manajerial Tertib ada ada II 1 2 3 4 III 1 2 3 IV 1 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Thn 2004= 1. melaks. thn 2005 = 1. tugas dgn baik 3 Org. tugas dgn baik 8 Org.981 jt Thn 2004= 53. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 NO I 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .688 jt.Bendel bukti KM-KK .Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 3.

Tabel 4. / 3.505 jt 2004/5=1. Administrasi Usaha Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 Tahun 2006 Di Propinsi Sumatera Selatan NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tg jawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Usaha Pengolahan Pasar . Administrasi Organisasi. Plg KSU Tunas Baru Jln HM Ryakudu. Pr SakaSelabung Kec.AGUSTUS 2009 : 88-115 Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan usaha koperasi pasar tradisional. melaks.Buku kas harian .JURNAL VOLUME 4 .350 jt 2004/5=0. Plg Kop. melaks.207 jt. tgs dgn baik 81Org. / 2./ 0 jt 2004/5=0.235 jt/19. tgs dgn baik 3 Org.Betutu.000 3./=2./=7./ 0 jt 2004/5= 2.123 m 108 .823 jt.825jt.509 jt 2004/5=72.Buku-buku besar . tgs dgn baik 24Org.500 jt. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 4.740 jt/ 1.637.607 jt. Administrasi Organisasi. Penentuan lokasi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) dan pendirian bangunan tidak dikenakan biaya. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tabel 4.680jt./10. tgs dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Manual Betul/Tertib Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Tabelaris Tertib 692.dan kantor serta fasilitas umum./ 4.185 jt II  2 3 4 III  IV  2 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=2./ 0 jt 2004/5= 0 jt. melaks.750 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 m./3./=29.406 M 2004/5= 7.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi BMT Tarbiah Tlg. antara lain./ = 0 m V 2004/5= 0 jt. melaks./0.melaks. tgs dgn baik 3 Org. memberikan akses dan dukungan terhadap sumber pembiayaan melalui perbankan dan non bank.750 jt 2004/5= 0 jt. dan Penyediaan lahan pembangunan pasar. melaks.249 jt. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris ./91.835jt 2004/5=16. dan Jumlah transportasi belum memadai.837 m 2004/5=10.340.500jt.850 jt 2004/5=4.029 jt Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=8. Keragaan Organisasi. yaitu belum berfungsinya operasional pasar secara maksimal. Dilain pihak kendala yang dihadapi pengurus untuk pengembangan koperasi pasar. tgs dgn baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap 2004/5 = 99 Org/= 99 Org 2004/5=1541 Org/2052 Org 30-04-2005/29-04-2006 24-08-2005/31-01-2006 5 Org. melaks.Buku kas tabelaris -Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .256 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=2. melaks.Bendel bukti KM-KK .Maraduo 2004/5 = 50 Org/ 50 Org tidak ada data 5 Org.Buku-buku Bantu . dan rencana proposal bantuan dana bergulir.396 jt.902 m.312 jt 2004/5= 3. Keragaan Organisasi.Laba Usaha Peng./110.310m. tgs dgn baik 3 Org. tgs dgn baik 3 Org.

2).750 juta.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. pelayanan usaha simpan pinjam yang dilakukan lebih banyak kepada non anggota. Tidak tersedia 109 . Pedagang sebagai penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang disalurkan oleh KUD tidak seluruhnya anggota koperasi. Walaupun perolehan sisa hasil usaha meningkat. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. dengan dana sebesar Rp. 3). pasar dimaksud belum dibangun. Kab. Bone ada 3 Koperasi Pengelola dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional di propinsi Sulawesi Selatan ada 3 Koperasi Unit Desa (KUD). Usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perkembangan simpanan anggota tidak ada. 1). menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. namun demikian. dengan dana sebesar Rp. Tidak jelas penyebabnya. namun demikian volume usahanya sangat kecil. namun demikian sampai pada saat dilakukan kunjungan kelokasi. 982. Sinjai dan Kab. Usaha yang dilakukan adalah unit usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan.Telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. namun tidak demikian dengan perkembangan simpanan anggota.5 juta. dan tidak ada penambahan anggota tetap sebanyak 158 Orang. Kabupaten Sinjai menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003. Koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi secara tertib. Bone menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. KUD Tenrisangkae Kab. namun yang melakukan pengelolaan dengan baik baru satu koperasi yaitu KUD Puncak. dengan dana sebesar Rp. Unit usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan pertokoan.Juta. KUD ini belum melaksanakan RAT pada 2 tahun terakhir. tetapi perkembangan anggota tidak ada tetap sebanyak 518 Orang. KUD Puncak. Bone. Sudah melakukan RAT pada tahun buku 2 tahun terakhir dengan tepat waktu. Kab. Buku-buku administrasi dan keuangan lengkap dan dikerjakan dengan tertib. KUD Waepubbue. Kabupaten Sinjai.750. maka KUD ini digolongkan sebagai Koperasi Pasar. Propinsi Sulawesi Selatan.Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.

dan karyawan lengkap serta melaksanakan tugs dengan baik. sehingga penagihan cicilan masih belum dilaksanakan terhadap anggota. dan pengelolaan program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional telah dilakukan dengan baik. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional. Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir.dan usaha pasar dengan volumen usahasebesar Rp..000. dengan dana sebesar Rp. bahkan simpanan sukarela tidak ada.JURNAL VOLUME 4 . Permasalahan yang dihadapi pengurus koperasi pasar adalah karena belum dikeluarkan petunjuk dari Menteri Negara Koperasi 110 .AGUSTUS 2009 : 88-115 data-data organisasi dan usaha. dan status tanah pengembangan pasar masih mempunyai masalah. Unit usaha yang dilaksanakan koperasi adalah simpan pinjam dengan volumen usaha sebesar Rp. dengan demikian disimpulkan koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan administrasi pembukuan sebagaimana seharusnya.000. masyarakat ada yang menuntut hak miliknya. administrasi usaha dilakukan dengan sistim buku kas tabelaris dan sistim akuntansi dan memiliki buku-buku lengkap serta dikerjakan dengan baik. pengawas dan karyawan ada. Kabupaten Kebumen menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003.625. telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir.500 juta. pengawas. Perkembangan modal sendiri meningkat melalui pemupukan modal yang bersumber dari anggota. antara lain: status anggota masih lebih banyak calon anggota. adanya pertumbuhan anggota. Pembagian tugas dan wewenang pengurus. 5. sedangkan modal jangka panjang tidak ada. memiliki pengurus. 2.500. Propinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen di Koperasi Pasar Melati Koperasi Pasar Melati. 529.298. walaupun simpanan pokok dan simpanan wajib peningkatan dalam dua tahun terakhir sangat kecil. Dilain pihak perkembangan modal luar meningkat khususnya modal jangka pendek. demikian pula rencana kerja.2. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi seprti berikut. Pemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi organisasi lengkap dan tertib dilaksanakan. sehingga belum mengetahui mengenai hak dan kewajibannya. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 5.

melaks.426 jt 2004/5=41. 980 jt/557. 5 Keragaan Organisasi.Non Anggota . tugas dgn baik 9 Org. dan pembayaran cicilan kios tidak rutin dilakukan anggota.000 Ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=1.300.500.798 jt 2004/5=14.Untuk Anggota .075 jt/1.Untuk Anggota .900jt/0.000 1.980jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 10 0 jt / 100 jt KUD Tentri Sangkae.024jt / 50.500. Administrasi Organisasi.000 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt IV  2 V VI VII  .968.366 363.607.727 jt 2004/5= 61.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang KUD Puncak.000 11. jt 2004/5=61. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya.529.750.052. tgs dgn baik 3 Org.383jt/ =14. melaks. Administrasi Organisasi.426 jt/5.000 1.000 14. melaks. tugas dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tertib 933. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. tgs dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tidak Tertib 11. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. melaks.800 6. melaks. tgs dgn baik Tidak ada data 4 Org. Bone 2004/5 = 158 Org/158 Org 05-01-2005/18-02-2006 3 Org. tugas dgn baik 3 Org. Kab.Buku kas tabelaris -Buku pendukung Sistem akuntansi .052.607jt/64. Tabel.000 599. 5 Keragaan Organisasi.800 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=5. tgs dgn baik Tidak Lengkap Tidak Baik Stndar Akuntansi Tidak Tertib 599.607jt /61.Bendel bukti KM-KK .439. melaks.Buku kas harian .000 17. Bone 2004/5= tidak ada data tidak ada data 3 Org. pola RAT yang sudah ada kurang tepat untuk dilaksanakan. tgs dgn baik 5 Org. perihal pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.Dana Bergulir dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Administrasi Usaha dan Pasar Tradisional Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 II  2 3 4 III  2 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Adminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistim Pembukuan SP Volume Usaha : . jt KUD Waempubbue.900 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5=557.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) dan UKM.812.798 jt/41.Buku-buku besar .Buku-buku Bantu .163.000 570.300. jt 2004/5=114. melaks.Non Anggota . melaks. Kab. Kab. Administrasi Usaha Tabel.383.515.366 36.Laba Usaha Pertokoan .Laba Usaha Administrasi Usaha Sistem buku tabelaris . Sinjai 2004/5 = 518 Org/518 Org 21-03-2005/20-01-2006 3 Org.075 jt 2004/5=0.

Dwi Karsa – Kebumen 2004 = 1002 Org dan 2005 = 1033 Org 16-02-2005 dan 16-02-2006 5 Org.110jt/ 5.Buku-buku Bantu .500.538 jt 2004/5= 183.Buku kas tabelaris .227.dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.Laba Usaha Usaha Pengolahan Pasar .552.505 10. melaks. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Tabel 6. melaks.Bendel bukti KM-KK .Laba Usaha Peng.944 2.260 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V VI VII 112 .Laba Usaha Usaha Pertokoan/Perdagangan .Buku kas harian .297 jt/15.JURNAL VOLUME 4 .116 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5= 5. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . Administrasi Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Volume Usaha : . melaks.153 jt 2004/5=13. tugas dgn baik 7 Org. AdministrasiI Organisasi.298. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Betul/Tertib 529.Buku-buku besar .Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .646. Keragaan Organisasi.625.678 jt/70.873 jt 2004/5= 0 jt / = 0 jt 2004/5=61.035 jt /195. tugas dgn baik 3 Org.950 2. Administrasi Usaha Keragaan Organisasi.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Melati Jl.AGUSTUS 2009 : 88-115 Tabel 6.000 15.

Kelembagaan Koperasi Pasar Untuk perbaikan pelaksanakan penataan kelembagaan koperasi penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang akan datang. Melakukan sosialisasi penataan kelembagaan koperasi kepada calon penerima bantuan perkuatan dana bergulir pasar tradisional terhadap pengurus.3 Langkah-Langkah Penataan Tradisional. 7. 8. Mengecek kebenaran laporan pengurus/pengelola koperasi tentang pengelolaan organisasi dan usaha yang dilaksanakan. tatalaksana dan administrasi usaha koperasi pasar yang mengajukan permohonan bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. 3. Mempersiapkan formulir angket isian. terutama menyangkut adminiatrasi keuangan dan usaha koperasi. Melakukan kunjungan ke koperasi yang terdaftar sebagai calon penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional untuk melakukan evaluasi. sesuai kebutuhan. pengelola supaya menyelenggarakan pembukuan sesuai standar akuntasi keuangan koperasi yang berlaku. Memberikan saran. 4. pengawas. 6. Mengkroscek keterangan yang disampaikan pengurus. 2. Mengecek kelengkapan buku-buku administrasi koperasi sebagaimana ditetapkan (16 buku) dan menguji ketertiban pelaksanaannya. 113 . pengelola dan pengawas dengan keterangan dari anggota tentang kebenaran tertib administrasi dan tertib usaha koperasi.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. 5. apakah sesuai dengan laporan yang disampaikan kepada Tim. dan penyelesaian untuk perbaikan pengelolaan koperasi yang baik dan disertai contoh-contoh konkrit. untuk mengetahui kelengkapan organisasi. penjelasan. Dalam mengelola administrasi usaha koperasi. untuk memperoleh data yang baik. Memberikan saran-saran pembenahan tata usaha organisasi dan managemen kepada pengurus/pengelola baik kelembagaan maupun usaha koperasi. pengelola dan anggota/kader koperasi.

7. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. kapasitas dan tanggung jawabnya terhadap kegiatan koperasi pengelola pasar tradisional sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing dalam managemen koperasi. monitoring dan evaluasi secara reguler oleh pejabat pembina koperasi. 3. pengurus. Kelembagaan koperasi pasar tradisional sangat perlu didata. kondisi kepemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi sangat kurang baik. pendidikan dan latihan. Badan Pengawas dan Karyawan Koperasi) untuk membangun komitmen. agar terlebih dahulu dilakukan penataan kelembagaan terhadap koperasi calon pengelola bantuan perkuatan. Pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Meningkatkan kemampuan managerial dan kompetensi SDM koperasi (anggota. 114 . Laporan pertanggungjawaban pengurus belum memenuhi standar pelaporan sebagaimana layaknya. Pelaksanaan RAT pada beberapa koperasi belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Untuk itu perlu diintensifkan pelaksanaan bimbingan konsultasi. 5. pengendalian. khususnya pengelola bantuan perkuatan atau sejenisnya. 8. mengingat dari sampel yang ditinjau diberbagai propinsi. Kegiatan pembinaan ini difokuskan pada 2. pada hal RAT adalah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Koperasi Pengelola bantuan dana bergulir perlu memiliki sistem administrasi yang lengkap sebagai dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengelola dana publik.JURNAL VOLUME 4 . maka dianjurkan koperasi pengelola bantuan dana bergulir pembangunan pasar tradisional agar memiliki buku-buku tersebut di atas.AGUSTUS 2009 : 88-115 V. Pengelolaan dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional masih kurang tertib sesuai dengan ketentuan. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. diskusi temu usaha. Hal ini terkait dengan kurang tertibnya administrasi organisasi dan usaha serta lemahnya kemampuan SDM koperasi dalam pemahaman administrasi managemen. 6. Kesimpulan dan Saran Hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pasar penerima program bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang telah dilaksanakan. 4. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Dalam penunjukan/penetapan koperasi pelaksana program.

Analis IS-LM dan PermintaanPenawaran Agregatif. Saudin Sijabat.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) peningkatan kemampuan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Ekonomi Makro. Nomor : 22/PER/M. (2007). Peraturan Pemerintah R. Jakarta. Nomor : 9 Tahun 1995. (2008). Kajian Pengendalian Anggota pada Koperasi Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Koperasi. (2008). (2007).September 2008.I. 29 Tahun XXII 2006. --------------. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Mengah R. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Volume 3 – September 2008. Jakarta. Infokop Volume 15 No. R. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Tentang Perkoperasian. 115 . Jakarta. (2007). Kementerian Negara Koperasi dan UKM. (2000). Yokyakarta. 2 Tahun 2007. Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Oleh Koperasi. (2006). Jakarta. Pedagang kaki Lima : Entrepreneur Yang Terabaikan. Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM. Infokop No. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Jakarta. Jakarta. --------------. Pembinaan Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Kelembagaan Koperasi. Saudin Sijabat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Potret Iklim Usaha Pemberdayaan UKMK. Tentang Pedoman Pemeringkatan Koperasi. Tentang Usaha Mikro. BPFE. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM R. ---------------. (2007). (2007). Saudin Sijabat. Saudin Sijabat. R.I. Jakarta. Pegadaian Versus Bank Umum (Menilai Profil Yang Potensial Untuk Menjadi Lembaga Perkreditan Rakyat). Kecil dan Menengah. Jakarta. Kamus Istilah Pemberdayaan Koperasi dan UKM. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK.I. Kementerian Kementerian Negara Koperasi dan UKM R. (2004. (2008). Halomoan Tamba. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Soediyono Reksoprayitno.I. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. DAFTAR PUSTAKA Anonim. KUKM/IV/200��.I. Infokop Volume 16 . Jakarta -------------. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2. Jakarta.I. -------------.

untuk itu perlu dibangun sistem pemasaran bagi UMKM yang lebih baik. Promotion affect positively to 1) Improvement of profit and omset of MSMEs. yaitu jenis barang. Some problems which often arise and lessen effective promotion is: a) the minim of socialization. d) time management with product demand fluctuation. 8 �uni 200�. review terakhir �� �uli 200� Kabid. Result of four activities (as ranked) 1) Trading Board 2) Meeting Business. *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Penelitian UKM tahun 200��. c) the lack of location information with the product especially related to product demand and goods to be promoted and also. peer review 8 Mei s. and also c) to know most efficient and effective promotion program to support development of MSMEs. posed at from the increasing of profit mean. kuantitas. product marketing promotion.. 4).d. 2) The labor absorption improvement. Penyelenggaraan. Informasi pasar disatu sisi berupa informasi tentang barang-barang hasil produksi UMKM dan kebutuhan atau kecenderungan pasar. PENDAHULUAN 1. having the character of quadratic to improvement of omset. 3) Exhibition and 4) Mission Trade. b) to know problems faced and dominant factors which are influencing the effective product marketing promotion of MSMEs. promosi pemasaran I. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian) Eks Pegawai Asdep Urusan Penelitian UKM sebagai Pemerhati KUKM 116 .1 Latar Belakang Salah satu kendala yang dihadapi oleh UMKM adalah akses pasar. pemasaran. pasar.JURNAL VOLUME 4 . b) partial planning. Untuk memenuhi permintaan pasar dan selera pasar serta menghadapi persaingan global menuntut inovasi dan kreatifitas para pelaku usaha termasuk dalam aspek teknologi. kualitas. 3) Improvement of production technology. System management improvement. Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan informasi pasar. maupun spesifikasi suatu barang yang diminati masyarakat.AGUSTUS 2009 : 116-139 KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)*) Indra Idris**) dan Sri Lestari***) Abstract Study aim to: a) to measure the impact of MSMEs. informasi pasar. Artikel diterima 18 Mei 200�.

UMKM sendiri. Kegiatan promosi pemasaran diharapkan dapat mendorong UMKM meningkatkan efesiensi dan produktifitas. bila tidak ingin tergilas atau lenyap sama sekali dalam pertarungan pasar. Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) diketahui bahwa antara tahun 2001 sampai dengan bulan Agustus tahun 2007. Pengembangan sistem informasi untuk UMKM selama satu dekade terakhir ini memang sudah dilaksanakan baik oleh UMKM sendiri. Frekuensi keikutsertaan UMKM tersebut relatif besar. Bentuk promosi invidual ini cenderung memiliki jangkauan pasar yang relatif sempit (tingkat daerah dan nasional saja). penyebaran brosur dan leaflet. dibandingkan dengan jumlah dan jenis produk UMKM. Program promosi pemasaran produk UMKM pada intinya adalah ditujukan untuk memperkenalkan produk UMKM kepasaran nasional dan internasional. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh UMKM sendiri ruang lingkupnya sangat terbatas. iklan reklame dan lain-lain yang bersifat parsial. serta meningkatkan kemampuan dalam memperbaiki kualitas teknologi dan managemen usahanya. Dari data Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). Jumlah UMKM yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut mencapai 2. Pelaksanaan kegiatan promosi pemasaran produk UMKM memang telah dilaksanakan baik oleh pemerintah. terutama dalam berbagai bentuk promosi produk UMKM.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Persaingan pasar yang semakin terbuka menuntut semua pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku bisnis yang terjadi. telah dilakukan promosi pemasaran oleh Instansi pemerintah. tetapi frekuensinya belum mencukupi. tetapi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah jenis UMKM dan jumlah jenis barang yang diproduksi oleh UMKM. pemerintah dan pihak-pihak lainnya. Dampak lebih lanjut yang diharapkan adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran. Adanya permasalahan internal UMKM serta perkembangan lingkungan dan teknologi yang demikian cepat menyebabkan UMKM belum mampu mengakses informasi pasar. sedangkan program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah jumlahnya relatif masih sedikit. maupun para stakeholder lainnya.864 unit usaha. dan pihak-pihak pihak lainnya sebanyak 127 kali. Perlu komitmen berbagai pihak untuk memberdayakannya terutama meningkatkan akses pasar melalui peningkatan akses informasi dan teknologi bagi UMKM. Disamping promosi secara individual UMKM juga melaksanakan kegiatan promosi pemasaran lainnya seperti iklan di media masa. pemasangan spanduk. dengan perincian 76 kali di dalam negeri dan 51 kali di luar negeri. 117 .478 orang dari 1.

Apa saja faktor kunci yang menentukan tingkat keberhasilan program promosi pemasaran UMKM ? 1. penyerapan tenaga. perbaikan teknologi serta pengembangan sistem managemen usaha UMKM. terhadap peningkatan omset. 2) Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. 3) Mendapatkan solusi pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi serta menetapkan dan mengembangkan bentuk promosi pemasaran yang efektif. serta. apakah itu karena adanya promosi yang diprakarsai dan dilakukan baik oleh pemerintah.AGUSTUS 2009 : 116-139 Sejalan dengan uraian di atas. 2) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran produk UMKM.2 Tujuan Kajian Kajian ini bertujuan untuk: 1) Mengukur dampak kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dalam berbagai bentuk. UMKM sendiri maupun pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya? 3.3 Sasaran Kajian Sasaran Kajian ini adalah: 1) Mengetahui tingkat pengaruh promosi pemasaran UMKM terhadap perluasan pangsa produk UMKM. 118 . maka diperlukan kajian eksploratif evaluatif untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut 1. 3) Mengetahui bentuk program promosi yang paling efektif dan efisien dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang diindikasi dari peningkatan omset dan laba UMKM. Apakah program promosi dalam berbagai bentuk ditingkat nasional maupun internasional tersebut telah memberikan dampak nyata (signifikan) terhadap peningkatan produksi dan pangsa pasar UMKM? 2. Jika terjadi kenaikan produksi dan omset UMKM.JURNAL VOLUME 4 . Apa permasalahan yang dihadapi dalam upaya meninglkatan efektifitas berbagai kegiatan promosi yang telah dan yang bisa dilakukan? 4. 1. laba. baik yang dilaksanakan di dalam maupun di luar negeri.

Beberapa kegiatan promosi yang paling banyak dilakukan oleh UMKM dan para stakeholder adalah berupa pameran. Penjualan langsung ini umumnya kurang menguntungkan karena laba yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Dengan dikenalnya produk UMKM diharapkan dapat meningkatkan volume usaha sehingga pada akhirnya meningkatkan laba. Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Kebiasaan ini menandakan bahwa UMKM masih terobsesi pada kesempatan pameran lokal yang menjadi ajang penjualan langsung. Hal tersebut berdampak meningkatnya tabungan (saving) guna mendukung upaya perluasan skala usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) II. Pengertian promosi adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk memperkenalkan UMKM dan produknya kepada konsumen.1 Kerangka Dasar Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. misi dagang dan temu bisnis. KERANGKA PEMIKIRAN 2. trading board. Beberapa faktor yang harus diperhitungkan oleh UMKM sebagai produsen menurut Harry (1968) adalah kelayakan penggunaan dana. maka promosi harus dilakukan secara profesional. Keempat aspek ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran. tempat atau lokasi dan promosi produk. 119 . Dari keempat unsur tersebut promosi merupakan unsur terakhir yang dianggap memiliki posisi strategis sebagai faktor kunci yang menghubungkan atau memperkenalkan produk yang dihasilkan UMKM kepada konsumen atau pasar. UMKM harus dapat memilih bentuk promosi yang memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. pesaing. dengan tujuan utama untuk memperoleh pembeli (buyers). selera konsumen atas barang tersebut. Teori ekonomi menjelaskan bahwa konsep pemasaran meliputi 4 unsur pendukung yaitu produk. dan belum berorientasi sistem bisnis modern. peluang pasar. jenis barang yang akan dipasarkan. harga. barang substitusi dan komplementer. Untuk tujuan tersebut produsen harus mengalokasikan sejumlah sumberdaya yang jumlahnya cukup besar. trent atau mode serta faktor-faktor eksternal lainnya. Beberapa hasil pengamatan empiris seperti yang dilakukan poleh Wachidin (2002) dan Sujito (2001) menunjukkan bahwa pada kesempatan pameran UMKM lebih cenderung menjual produknya secara retail. Menurut Ramlan (2001) dalam pameran/festival terbuka peluang bagi UMKM untuk menjual produknya secara langsung juga terbuka. yang mengutamakan relasi dan kesinambungan pasar.

2 Kerangka Operasional Kajian ini difokuskan untuk melihat seberapa besar dampak dari pelaksanaan promosi terhadap perluasan pasar yang berdampak pada peningkatan omset UMKM. atau para pengusaha kelas menengah dan besar.AGUSTUS 2009 : 116-139 Temu bisnis atau misi dagang pada dasarnya juga merupakan media yang bertujuan untuk mempromosikan produk kepada buyer/ pasar. Secara skematis hubungan antar keterkaitan faktor penentu. Kementerian Negara Koperasi dan UMKM merencanakan dan telah melaksanakan berbagai program promosi bagi UMKM berupa misi dagang. menyangkut semua aspek perdagangan dan kebijakan pemerintah yang mendukung kelancaran perdagangan. sehingga sulit dilakukan. trading house. UMKM skala usaha kecil menuju menengah di sektor industri kerajinan yang sering mengikuti kegiatan promosi. pameran/exhibition dan lainnya. Biasanya dalam misi dagang dilaksanakan dalam ruang lingkup yang sangat luas. memerlukan biaya besar.JURNAL VOLUME 4 . Sujito (2001) mengemukakan bahwa berdasarkan pengamatannya. Djauhari (2006) mengatakan bahwa disamping bentuk promosi di atas yang telah pernah dilakukan oleh UMKM. dan menuntut pengetahuan luas dari produsen dan buyer tentang barang dan managemen pemasarannya. Dampaknya sangat besar karena pembelian biasanya dilakukan dalam bentuk partai besar dan jangka waktu yang relatif panjang. Atas pertimbangan tersebut di atas maka untuk mendukung pertumbuhan bisnis UMKM. dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada gambar 1. Ruang lingkup promosi hanya terbatas diantara produsen dengan beberapa buyer saja. yang diproduksi oleh UMKM. Promosi tersebut memang diperlukan UMKM untuk menarik konsumen dari daerah yang sudah menggunakan produk sejenis. Pembangunan dan penyelenggaraan promosi ini hanya mungkin dilaksanakan oleh pemerintah. Temu bisnis juga merupakan kegiatan yang cukup luas. temu bisnis. 2. Sebagai misal yang telah dilakukan oleh pemerintah China dan pemerintah Vietnam di Afrika Barat dan beberapa negara Arab. 120 . Keikutsertaan mereka dalam kegiatan promosi pemasaran yang bersifat terkoordinir tersebut juga dikarenakan apabila mereka melakukan promosi secara mandiri tidak memiliki pengetahuan dan biaya yang cukup besar. Misi dagang Misi dagang umumnya hanya melibatkan para pengusaha menengah dan besar. ada wacana untuk membangun trading house dan bussines center di beberapa negara konsumen.

85 10. Omset.5 63. PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO KEGIATAN PROMOSI Peningkatas Kualitas Produk Dan SDM Perluasan Pasar Produk UMKMK Inovasi Teknologi Peningkatan Omset Peningkatan Pendapatan /Laba Pertambahan Investasi Perbaikan Produktifitas Gambar 1.85 121 53.70 47.55 37. ProduktifitasProduktifitas dan Pendapatan UKM peningkatan dan Pendapatan UKM 2.88 50.98 54.Y. Dalam Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah faktor akan unsur-unsur tersebut akan menjadi variabel bebas yang Omset Omset Omset Omset Pembeli Pembeli Pembeli ( %) %) ( %) ( %) dapat ditentukanPembeli signifikansi pengaruhnya (dengan (menggunakan %) ( %) ( %) ( %) 40.39 30.8 14. lama waktu penyelenggaran.7 10.81 53.41 13.27 Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM No 1.05 59.3 Variabel Analisis A.5 64.4  . 2. jenis produk yang ingin dipromosikan. Tabel 1.15 65. biaya promosi lokasi atau tempat promosi.18 35.5 62. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan (%) Faktor Penentukan Keberhasilan Beberapa unsur yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program promosi pemasaran dalam kajian Pameran Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board ini diasumsikan menjadi faktor kunci (keyKnaikan Knaikan analisis factor). KaitanKaitan Dampak Pameran terhadap peningkatanpeningkatan Gambar 1.16 28.15 70.1 8. frekuensi keikutsertaan dalam promosi.2 7.30 28.46 61. Jatim Rata-rata /Propinsi 48. penyelenggara promosi.4 41.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Dari gambar 1 dapat dikemukakan bahwa keberhasilan kegiatan promosi pemasaran ditentukan oleh banyak faktor antara lain kondisi internal UMKM.68 14. Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset.92 17.9 39. prosedur dan keikutsertaan dalam promosi.00 42.I.5 43.26 11. 3. Propinsi Jateng D. jumlah pesaing dan kondisi persaingan. kualitas produk.

Selain itu kajian dilaksanakan di tiga propinsi contoh yaitu Jawa Tengah. Penyelenggara pameran. 7) Lokasi atau tempat. 3. Biaya promosi. 3. 9) Prosedur dan keikutsertaan. 5) Peningkatan kualitas managemen usaha. 3). III. Frekuensi keikutsertaan dalam kegiatan promosi pemasaran. Dampak keberhasilan pelaksanaan promosi Dampak yang dikaji dengan keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran yaitu: 1) Peningkatan omset.2 Metoda Pengumpulan Data Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda survey terbatas. Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas modelmodel promosi pemasaran produk UMKM. yaitu terdiri dari: 1) Kondisi internal UMKM. dan Jawa Timur. Adapun data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait dan berbagai referensi. METODA KAJIAN DAN ANALISIS 3. 2) Peningkatan laba. 4) Peningkatan teknologi produksi.Yogyakarta. D I. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan acak terbatas (purposive random sampling).JURNAL VOLUME 4 . Bentuk promosi. 8) Lama waktu penyelenggaran.AGUSTUS 2009 : 116-139 model-model kualitatif maupun kuantitatif (matematis). 3) Menetapkan faktorfaktor dominan yang mempengaruhi efektifitas program promosi pemasaran produk UMKM. baik dari penjualan langsung (untuk promosi dalam bentuk pameran) dan barang yang terjual sesudah dilaksanakannya kegiatan promosi (pemesanan).1 Ruang Lingkup Substansi Kajian Ruang lingkup kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM b). 6). 4). Analisis kuantitatif menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan matematik antara lain: 122 . 2) Jenis produk yang ingin di pamerkan/pasarkan. 3) Peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja.3 Metoda Analisis Kajian ini menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. 5). 11) Jumlah pesaing dan kondisi persaingan. 10) Kualitas barang produk. B. Analisis kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi ideal dan kondisi riil di lapang. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari responden sample.

E=Galat (error). 123 . Jumlah pesaing dan kondisi persaingan=X11. dan X= Peubah bebas (independent variable). Frekuensi Keikutsertaan=X3. Biaya promosi= X6. Adapun model dasar yang digunakan adalah K = M/B. Lama waktu penyelenggaran=X8. sedangkan bila K < 1. Perluasan Pasar Produk UMKM. Y1 = Y2 = Yang mana A=Intersep (constanta). yang ditujukan untuk menentukan kelayakan keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan promosi. bila K > 1 dinilai layak. baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan program promosi UKMK yaitu: Kondisi internal UMKM=X1. Tema promosi= X5. B=Koefisien regresi. Lokasi atau tempat=X7. dimana: K = Kelayakan keikutsertaan UMKM.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 1) Analisa ekonomi sederhana berupa model analisa biaya manfaat (benefid cost ratio). Adapun peubah bebas terdiri dari beberapa faktor-faktor yang diduga berpengaruh. Penyelenggara promosi= X4. Adapun model dasar yang digunakan adalah: Y = a + Bx + e Y = Peubah tetap yaitu kinerja/indikator keberhasilan pameran dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang terdiri dari. UMKM dinilai tidak layak untuk ikut promosi Manfaat yang diperoleh berupa kenaikan laba UMKM dari keikutsertaannya dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) Biaya yang dikeluarkan oleh UMKM untuk ikut serta dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) M = B = 2) Regresi linier berganda (multy variety analisys) untuk menentukan ada tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent terhadap dependent variable. Peningkatan teknologi produksi. Kualitas barang=X10. Jenis produk yang ingin di pamerkan/ pasarkan=X2. Prosedur Prosedur keikutsertaan dalam promosi=X9. 3) Oleh karena adanya dugaan bahwa ada pengaruh silang antar tiap peubah bebas (independet variable) terhadap kinerja peubah tetap (dependent variable) maka akan digunakan model analisis regresi berjenjang (step wise analisys).

I. misi dagang dan kontak dagang.dan Jumlah Peserta Hasil kajian di propinsi Jawa Tengah. Nampaknya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada di ketiga propinsi contoh. tiap propinsi contoh rata-rata telah mengirim UMKM ikut dalam program promosi sebanyak 14. penggunaan teknologi. Frekuensi keikutsertaan. dengan frekuensi kegiatan selama lima tahun terakhir sebanyak 29 kali dan peserta 1.AGUSTUS 2009 : 116-139 Untuk menguji ada tidaknya pengaruh.1 Penyelenggaraan Promosi Pemasaran 4.1. Pelaksanaan. serta seberapa besar pengaruh dari independent variable terhadap dependent variable akan digunakan Uji t (t test). D. dengan tingkat kepercayaan 90 %. 4) Model analisis komparatif. Yogyakarta dan Jawa Timar. Jenis. digunakan untuk menjawab indikator dampak kegiatan promosi pemasaran terhadap peningkatan Kualitas SDM yang diindikasikan dari perubahan pola pikir produsen baik dalam hal managemen. Bentuk promosi yang relatif banyak menyerap peserta adalah pameran. Jumlah ini menurut mereka sudah cukup memadai. kualitas produk dan orientasi pasar. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS 4. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh berjenjang antar dependent variable akan digunakan step wise analisys dengan Uji a (alpha test).2 per propinsi per tahun. IV. atau 104. Berikutnya adalah trading board sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta. Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan program Statistical Analisys System (SAS) dengan uji t dan Uji a sampai dengan tingkat kepercayaan (level of significant) 90%. Temu bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang.yang diperkirakan mencapai 8.6 kali per tahun.6 orang per tahun. dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73 orang. Frekwensi .94 juta unit usaha.082 orang. Sedangkan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta adalah temu bisnis. menunjukkan bahwa bentuk promosi pemasaran yang paling banyak diikuti UMKM adalah pameran. Jumlah peserta yang diikutkan sebanyak 312. diikuti dengan trading board.JURNAL VOLUME 4 .1. Hasil pengamatan menyimpulkan bahwa rendahnya jumlah penyelenggaraan promosi dan keikutsertaan UMKM dalam 124 .

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari)

kegiatan tersebut adalah disebabkan adanya berbagai kendala antara lain: a) Keterbatasan dana dan SDM, baik dikalangan stakeholder (terutama pemerintah), maupun dikalangan UMKM sendiri; b) Terbatasnya kepedulian dan komitmen dari kalangan yang berkepentingan langsung dengan kegiatan tersebut dan; c) Kurangnya inisiatif UMKM sendiri untuk melakukan promosi pemasaran. 4.1.2. Keikutsertaan UMKM dalam Kegiatan Promosi Menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 yaitu sebagian besar UMKM bergerak di sektor industri kerajinan, dengan peserta sebanyak 833 orang (53,23%), pertambangan/penggalian sebanyak 353 orang (22,56%), dan pariwisata 302 orang (19,29%). Sedangkan UMKM yang bergerak di sektor lainnya sangat sedikit, yaitu hanya 84 orang (5,47%), Dari aspek skala usaha, dari 1.565 orang yang ikut dalam kegiatan promosi pemasaran pertanian terdiri dari 171 orang (10,93%) tergolong usaha mikro, 922 orang (58,91%) tergolong usaha kecil dan 472 orang (30,16%) tergolong kelompok usaha menengah. Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi juga dipengaruhi oleh: a) Faktor penyelenggara (pusat, internasional, lokal); b) Tempat, lama/waktu penyelenggaraan promosi, jarak tempat promosi dengan produsen; c) Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang; d) Besar biaya dan atau ketersedian dan sumberdana dari penyelenggara serta; e) Inisiatif dan atau kepedulian dari stakeholder. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas penyelenggaraan promosi antara lain; a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. 4.1.3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Dilihat dari tempat dan waktu penyelenggaraan promosi pemasaran ditunjukkan bahwa: (a) Dari 73 kali keikutsertaan UMKM di ketiga propinsi contoh dalam kegiatan promosi

125

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 116-139

selama lima tahun tahun terakhir, 14 kali di laksanakan di luar negeri (pameran, misi dagang dan temu bisnis), 59 kali ditingkat nasional dan tingkat propinsi, (b) Rata-rata waktu penyelenggaraan promosi berbeda-beda sesuai bentuk promosi dan tempat promosi pemasaran, dengan rincian sebagai berikut: misi dagang waktu efektif 3,43 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, temu bisnis waktu efektif 4 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, Pameran di luar negeri waktu efektif 11,33 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan dan pulang, pameran di tingkat nasional waktu efektif 11 hari termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang Dibandingkan dengan temuan Sujito (1997), waktu yang disediakan untuk berbagai bentuk kegiatan promosi ini relatif cukup dan kendalanya adalah waktu untuk mempersiapkan pameran. Dari hasil kajian menyatakan bahwa 36,6% responden memerlukan waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan keikutsertaaan mereka dalam kegiatan promosi, 63,4% responden memerlukan waktu sekitar satu sampai tiga bulan untuk mempersiapkan pameran, namun waktu yang diberikan oleh penyelenggara biasanya hanya sekitar dua minggu sampai dengan satu bulan. Dengan sempitnya waktu tersebut biasanya calon peserta menghadapi masalah dalam mempersiapkan modal, bahan baku, dan sebagainya. 4.1.4. Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kajian mengenai penyelenggara dan biaya promosi kegiatan promosi pemasaran yang diikuti UMKM selama 5 tahun terakhir di 3 Propinsi contoh adalah sebagai berikut: a. Penyelenggara atau pemrakarsa kegiatan promosi, terbanyak (43 kali atau 58,90%) adalah pemerintah, pusat maupun daerah, kelompok swasta/asossiasi perdagangan/komoditi sebanyak 7 kali atau 9,58%, dan dari negara-negara lain baik swasta maupun pemerintahnya sebanya 13 kali atau 30,23% . b. Besarnya biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan. Komponen biaya promosi di luar modal kerja yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dipamerkan adalah: a) Sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) Biaya pengepakan; d) Biaya pengangkutan dan biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran).

126

PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA

FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI

LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) KEGIATAN (Indra Idris dan Sri Lestari) PROMOSI

Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di luar negeri biaya yang dikeluarkan untuk ikut dalam kegiatan tersebut rataPeningkatas rata Rp 21,67 juta (misi dagang), Rp 23,33Inovasi juta (temu bisnis), Perluasan Pasar Kualitas Produk yang mana Produk UMKMK Teknologi 75,4% dibebankan pada pelaku usaha dan sisanya Dan SDM 24,6% ditanggung oleh penyelenggara atau stakeholder. Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di dalam negeri, (umumnya pameran), biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp 3,6 juta Peningkatan Omset sampai dengan Rp 4,2 juta, dengan rata-rata sebesar Rp 3,9 juta, yang mana rata-rata biaya yang dikeluarkan (sharing) UMKM Peningkatan Pendapatan untuk promosi di dalam negeri (pameran) adalah 70,2% dari /Laba total biaya promosi, kekurangannya yang 39,8% ditanggung oleh penyelenggara.
Pertambahan Investasi Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa biaya promosi yang harus ditanggung oleh UMKM relatif mahal. Hal tersebut menyebabkan UMKM terutama kelompok pengusaha Perbaikan mikro dan pengusaha kecil, tidak mampu ikut promosi. Produktifitas Gambar

4.2

Dampak Promosi Terhadap Peningkatan Jumlah Pembeli UMKM
1.

diikuti UMKM contoh di 3 Propinsi terhadap peningkatan jumlah pembeli dan omset UMKM seperti ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaranterhadap peningkatan (%) (%) Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM
Pameran Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 48,5 40,9 62,5 39,5 64,5 43,4 63,4 41,26 Misi Dagang Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 11,92 30,88 17,85 50,46 10,41 61,70 13,39 47,68 Temu Bisnis Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 14,1 14,16 8,2 28,00 7,7 42,30 10,8 28,15 Trading Board Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 65,05 35,15 59,55 70,81 37,98 53,85 54,18 53,27

Kaitan Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset, peningkatan Produktifitas dan Pendapatanpemasaran yang pernah Dampak berbagai bentuk promosi UKM

No 1. 2. 3.

Propinsi Jateng D.I.Y. Jatim Rata-rata /Propinsi

4.2.1

Dampak Promosi dalam Bentuk Pameran 

Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan pameran, yaitu terjadi peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 63,4% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 41,26% pada UMKM setelah mengikuti kegiatan promosi pemasaran dalam bentuk pameran, yang mana UMKM Jawa Timur mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 64,5% dan 43,4% .

127

68% pada UMKM setelah mengikuti misi dagang/kontak dagang.46%.4%) tapi memberikan dampak peningkatan omset lebih tinggi 47.6 juta per tahun (28.39% lebih rendah dari peningkatan jumlah pembeli dampak pameran (63.AGUSTUS 2009 : 116-139 Kenaikan jumlah pembeli dapat dihitung dari peningkatan: 1) Pembelian langsung. Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 17. yaitu sewaktu dilaksanakannya pameran yang mana jumlah pembeli mencapai ratarata 103 orang per propinsi. yaitu: terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 13.04%).68% dibanding pameran 41. nilai jual (omset) dan bermuara peningkatan laba UMKM.26% dan temu bisnis (28.39% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 47.2 Dampak Misi Dagang /Kontak Dagang Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan misi dagang/kontak dagang. Dari aspek peningkatan omset.2.JURNAL VOLUME 4 . 4.15% pada UMKM setelah mengikuti temu bisnis. yang berdampak pada peningkatan produksi.15%) Besarnya dampak misi dagang terhadap peningkatan omset terutama dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk yang dipromosikan dalam jumlah tertentu. peningkatan omset-nya 128 . untuk jangka waktu tertentu.2. 4. terlihat bahwa tambahan omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran mencapai Rp 46.1%.I.2 juta. Misi dagang/kontak dagang memberikan dampak peningkatan jumlah pembeli 13. atau meningkat sebesar Rp 33.85% dan 50.8 juta menjadi Rp 158. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 10.8% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 28. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 14. Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119. 2) Pembelian melalui pemesanan produk yang dipromosikan.3 Dampak Temu Bisnis Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan temu bisnis.1 juta per UKM. UMKM D. Sedangkan keberhasilan pameran ditunjukkan dari keberhasilan peningkatan permintaan dalam jangka panjang.

peningkatan omset-nya hanya 35.18% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 53.16%.7%. Persentase pertambahan omset UMKM Jawa Tengah hanya meningkatkan omset separuhnya.77%. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.I. Kenaikan jumlah pembeli ini relatif cukup signifikan. UMKM Jawa Timur jumlah pembelinya hanya meningkat 7. yaitu 129 . Persentase pertambahan omset ternyata 2. UMKM D. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 54.I. Di sini terlihat bahwa pertambahan jumlah pembeli tidak linier dengan pertambahan omset.27% pada UMKM setelah mengikuti trading board.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) hanya 14. UMKM D. hal ini dimungkinkan karena trading board umumnya memiliki jangkauan daerah yang cukup luas. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. Peningkatan tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. Yogyakarta jumlah pembelinya meningkat 59.30%. Yogyakarta dari pertambahan jumlah pembeli membuat peningkatan omset tertinggi. peningkatan omset-nya paling tinggi mencapai 70.05%. a) Harga pembelian menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan. Dan Penyerapan Tenaga Kerja Dampak promosi pemasaran pada tabel 2 menunjukan rata-rata meningkatkan laba 44. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 65. peningkatan omset-nya paling tinggi yaitu mencapai 42.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 29.81%.15%. a) Harga penjualan menjadi lebih rendah. 4. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.8 kali lebih besar dari pertambahan jumlah pembeli.3 Dampak Promosi Pemasaran Terhadap Laba UMKM.2. Terlihat bahwa pertambahan rata-rata jumlah pembeli linier dengan pertambahan omset.4 Dampak Trading Board Dari tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan trading board.14% dari sebelum mengikuti kegiatan promosi pemasaran. 4.

18% 0.21 kegiatan misi dagang/kontak dagang.96 2.13 7.89 0.90% dan 2. Peningkatan penyerapan tenaga kerja Managemen Usaha ter tinggi dicapai oleh UMKM D.I.14% dari sebelum mengikuti promosi pemasaran.53 32.54 35.01 61.10 3) Dampak temu bisnis yang diikuti UMKM di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 43. Peningkatan laba dan0.88 meningkatkan 1.19 0.29 61.68 sebesar6.08 16.06 29.98 meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 35.53% dari sebelum mengikuti temu bisnis.12 Tenaga Laba Kerja 31.70 44.21 11. Adapun dampak dari masing-masing jenis promosi pemasaran dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 2. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51. yaitu laba UMKM 5.50 Tenaga Laba Kerja 11.15% dibanding sebelum mengikuti 1.55 1.I.46 31.60 1.30 17.29 2.98 0.11% dari sebelum 2. 2. Dampak Promosi Pemasaran laba 43. yaitu meningkatkan Awal Sesudah Awal Sesudah Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 130 2 .29 42.31 62.54 58.76 1.67 35.99% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.72 60. Peningkatan Peningkatan 2) Dampak misi dagang/kontak dagang yang telah diikuti UMKM Skor Persen Skor Persen di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 58.AGUSTUS 2009 : 116-139 meningkatkan laba UMKM sebesar 51. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan Tenaga Kerja Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Pameran Laba Jawa Tengah D. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan dan Tabel 2.35 0.46% dan penyerapan tenaga kerja 29.21 10.11 5.33 0.11 43.73 2.05 2.47 0.15 43.06 0.66 33.72 31.70 18.14 Propinsi Tenaga Laba Kerja 25. Adapun peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM Yogyakarta.88 1.39 39.37 20.73 % dari laba UMKM Managemen Usaha sebelumTeknologi mengikuti pameran.73 2.04 2.22 penyerapan tenaga 1.52 28.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 20.35 31.74 42.87 kerja tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Tengah.63 meningkatkan dan 5. Yogyakarta meningkat 35.63% dan meningkatkan contoh rata-rata meningkatkan terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen 30.48 28.23 51.18 8.08 41.29% (Nilai skor) (Nilai skor) dibanding sebelum mengikuti pameran.63 Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board Rataan Tenaga Kerja 28.24 62.65 penyerapan tenaga kerja 46.JURNAL VOLUME 4 .99 35.11 53. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.80 40.18 35.94 20. Yogya Jawa Timur Rata-rata 39.52 51. yaitu meningkatkanTeknologi dan sebesar 60. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.44 21.76 34.73 43.54% penyerapan tenaga kerja sebesar Usaha dari sebelum mengikuti pameran.17 30. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Dampak Terhadap Jawa Timur.17 mengikuti misi dagang.50 PROPINSI 1) Dampak pameran yang pernah diikuti UMKM di 3 propinsi Tabel 3.77 1.16 30.27 10.90 Tenaga Laba Kerja 46.88 30.

yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.88 1. 4) Dampak trading board yang telah diikuti UMKM di 3 propinsi contoh meningkatkan laba rata-rata 32. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi. yaitu terjadi peningkatan nilai skor rata-rata sebesar 0.96 2.52 D.13 0.24 62.47 7.44 21.80 40.52 51.04 10.73 31.21 Propinsi Rataan PROPINSI Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 1.I.11 53. ditunjukkan pada tabel 3. Adapun Tabel 2.11 Rata-rata lapang yang sudah diubah dalam bentuk kuantitatif tersebut.76 34.22 0.33 1.73 5.35 16.70 35.90 35.98 6.50 20.35 2. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Tabel 3.27 1.06 2.68 1.53 (skoring).18 46. 35.15 43.37 Persen 10. nilai skor dampak promosi terhadap pengembangan teknologi produksi termasuk dalam kategori sedang (2.74 1.73 5.31 2.90% dibanding sebelum mengikuti kegiatan trading board.94 Jawa Timur dengan menggunakan metoda 43.63 30.12 31.54 58.29 Peningkatan kemampuan managemen usaha. 28.17 1.23 51.18 0.60 8. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen Usaha Teknologi Dan Managemen Usaha Dampak Terhadap Teknologi dan Managemen Usaha Teknologi Managemen Usaha (Nilai skor) (Nilai skor) Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.I Yogyakarta.08 11. Yogya variabel tetap yang bersifat kualitatif ini.08 41.05 1.88 b) Kedua 30.21 0.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) penyerapan tenaga kerja 31.72 61.30 0.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan promosi trading board.63 0.4 Dampak Non Finansial Pameran Dampak non finansial dari keikutsertaan UMKM dalam kegiatan Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Laba Laba Laba Laba Laba Kerja Kerja Kerja Kerja Kerja promosi pemasaran adalah terdiri dari: a) Peningkatan teknologi 25.70% dari sebelum mengikuti trading board.29 42. dalam 28.10 Dari tabel 3 terlihat bahwa keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran berdampak pada: 1) Pengembangan teknologi yang digunakan.29 31.65 11.16 produksi.76 2.88 33.01 2.19 2.99 18.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba dan peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM D.55 Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.37 poin dibandingkan dengan waktu sebelum dilaksanakan program promosi yang hanya mencapai 2 131 . Data44.77 61.06 kajian dikuantifkan 60.89 2.12% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 31.21 Persen 17.46 30.87 5. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.50 29.98 2. Tabel 3.14 penilaian 32.48 Jawa Tengah 39. Penyerapan Tenaga Kerja yaitu meningkatkan penyerapan tenaga kerja 31.33).39 39.67 35.66 20. Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board 4.54 28.17 42.11 0.70 hasil kajian 43.72 31.

terutama laba dan omset.68 Misi Dagang 28.24 34.5 73. bagi UMKM yang memiliki ratio tambahan laba perbandingan cost dan benefid ratio (B/C rasio) kurang dari satu kegiatan promosi dinilai kurang layak.4 357.36 178. Hasil pengamatan memperlihatkan rata-rata UMKM yang mengikuti kegiatan promosi pemasaran diketiga propinsi contoh secara agregat semua layak untuk mengikuti kegiatan tersebut karena B/C rationya rata-rata mencapai 2.52 58.30 13.12 58.322 5. Peningk.28 29.853 16.39 10.47 17.10 ( kategori sedang).35 2.36 30.97 2.53 35.88 26.31 2.54 34. atau per tahun lima tahun Tenaga Managemen Tekno Jumlah rata Kerja logi mencapai Rp 36.06 2.55 Rata-rata 42.55 rata-rata mencapai Temu Bisnis 47.88 41.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 116-139 nilai skors 1.51 19.87 132 Jumlah 170.49 11.58 26.452 2.21 poin atau 11.37 12.19 30.5 Kelayakan Penyelenggaraan Promosi Hasil analisas kelayakan kegiatan promosi pemasaran dilihat dari aspek finansial dan non finansial (tabel 4) memperlihatkan: ) Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek finansial UMKM.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.48 182.33 Perbaikan managemen 2.14 157. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan oleh kondisi usaha UMKM sendiri.17 136.89 (kategori kurang) menjadi 2.88 70.92 117.1% yaitu dari 1.11 24.15.54 20.28 41.18 30.83 54.15 Manfaat Non Finansial Perbaikan Teknologi 2.96 (kategori kurang).30 121.21 39.55 9.52 31.10 PROPINSI Omset Laba Jateng D. Tabel 4 Tabel 4 .73 21.9 49.93 729.19 124.21 Pameran rasio41. Laba 24. maka baik secara parsial.342 Rasio peningk.15 Trading Board 53.852 5.027 5.26 Peningk. Peningk.7 juta. 2) Pengembangan sistem managemen usaha.4 118.63 43.4 183.23 29.2 43.8 juta.70 6.90 13.17 25.20 6.85 184. Oleh*) karena UMKM yang turut Bentuk dalam kegiatan promosi pemasaran mengalami kenaikan rata-rata Pening Tambahan Peningk.26 biaya terhadap peningkatan omset-nya10.42 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Tabel 5. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kelayakan Finansial Pening katan Omset 60.28 2.01 2.05 Biaya Promosi 12. Nilai skor sistem managemen usaha meningkat rata-rata 0.59 44.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen .2 113.04 77. Promosi Peningk.69 26. 4. maupun kumulatif 180.06 32. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 2) Dari aspek omset usaha.46 Ratio Pening kata omset/biaya 4. Karena besarnya ratarata biaya promosi maka secara parsial.I. bagi kelompok UMKM yang ikut Produk UMKM Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi dalam promosi ditentukan oleh angka perbandingan antara pertambahan Dampak Promosi omset usaha dengan biaya promosi.47 7.27 1.32 28.8 61.27 43.27 37.98 6.21 12. Ratakatan omsetOmset selama Laba Pembeli sebesar Rp 183. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran .16 75. laba/biaya 1.19 2.32 30.8 119. terjadi perbaikan sistem managemen usaha diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem managemen usaha dikalangan UMKM yang telah mengikuti kegiatan promosi pemasaran.61 227.

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 5. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari bentuk promosi ini adalah: a) Peningkatan rata-rata dengan nilai bobot 227.15 2.05 11.17 136.88 70.19 atau rata60.452 7. Omset 41.852 2.11 Peningk.28 9. b) Biaya promosi yang relatif rendah.36 184.12 43. Peningk.61 227.48 182.01 6. Keberhasilan bentuk promosi ini dalam mendukung 3 kemampuan UMKM disebabkan oleh antara lain: a) Waktu promosi yang cukup panjang (lama).55 4. ranking ke 2.853 2.69 26.4 41.19 Ratarata 30. Laba Laba Promosi Teknologi managemen kata Adapun urutan (ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut: ranking Omset laba/biaya omset/biaya pertama adalah trading board dengan nilai bobot 227.87 Pameran Temu Bisnis Misi Dagang Trading Board Jumlah 170.06 rata 37.39%.58 26.52 13.39%.27 Peningk.27 73.342.36 atau 34.8 124. Tabel5.47 1.53 35.14 atau rata-rata 30.92 117.61 atau rata-rata 26.98 184. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi Tabel pemasaran Produk UMKM Produk UMKM Dampak Promosi *) Bentuk Promosi Peningk. c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja 35.21 12.31 61.55 26.20 adalah pameran dengan tiga nilai bobot 180.93 729.19 29.63 43.32 28.69%.18 Tambahan Tenaga Kerja 31.04 77.4 118.027 30. Dengan nilai sebesar ini kegiatan promosi pemasaran dinilai sangat layak untuk dilakukan oleh UMKM.59 44.2 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Dari tabel 5 dapat dikemukakan bahwa berdasarkan metoda Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan pembobotan di atas diketahui bahwa rata-rata nilai bobot dari keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran tersebut sebesar 30.33 2.9 43.28 75. Biaya Pening Perbaikan Perbaikan katan peningk.47 17.342 2. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 5.46 5. b) Peningkatan laba dengan mencapai 58.06 30.88 21. 4.28 2.11%.37 12.55 Rata-rata 42.87%.87%.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti Keterangan: kegiatan promosi dalam satuan persen *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen 1) Trading Board Trading board memiliki dampak yang signifikan kesemua aspek penilaian.23 29. Tekno logi 10.16 13.30 121.27% dari jumlah omset sebelumnya. Nilai bobot Kelayakan Finansial Manfaat Non Finansial mengindikasikan bahwa sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran Ratio Pening memiliki nilai tambah dari berbagai aspek Rasio pengamatan sebesar 30. Laba 32.90% dan.51 19.322 2.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.54 34.15 53.19 dengan nilai bobot 49.I.26 47. b) Peningkatan omset setelah dilakukannya promosi dalam bentuk trading board mencapai 53.35 2.10 dagang dengan nilai bobot 157.68 28.27 37.26 41.42 25.49 rata-rata16. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran PROPINSI Omset Jateng D. 133 .90 Pening katan Pembeli 58.19 atau nilai rata-rata 37.14 157.5 39.54 20.4 357.32 30.88 Peningk.27%.83 54.97 bisnis.6 Tingkat Keberhasilan Dari Tiap Bentuk Promosi Tabel 4 .2 113.52 58.24 5.85 Jumlah 180.30 5. ranking kedua adalah temu1.39 10.8 119.70 30.21 24.21 24.73 12.17 6. 2.06%. ranking ke empat adalah misi 183. serta c) Jenis produksi yang dipromosikan bisa sangat beragam. Managemen 6.36 178.

JURNAL VOLUME 4 . b) Akan terbentuk adanya kerjasama dalam pemasaran produk. jumlah barang serta pola kerjasama atau kemitraan). karena temu bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan omset penjualan. hanya ada satu faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. b) Peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat meningkatkan investasi serta. b) Memberikan inspirasi kepada pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar serta. kualitas barang. Dari beberapa indikator keberhasilan temu bisnis yang dianalis dalam kajian ini. Dari aspek penyerapan tenaga kerja kurang ideal. 3) Pameran Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. temu bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. c) Adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-pihak lainnya untuk menjual produk teknologi yang diproduksi. Dalam temu bisnis maka calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi produk yang akan ditawarkan (jenis barang. Hal ini dimungkinkan karena: a) Produsen dapat berhubungan langsung dengan konsumen. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. Rendahnya kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan dari bentuk promosi ini. 134 . Besarnya peningkatan teknologi pada temu bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan dan selera konsumen. Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. laba dan perbaikan managemen usaha. karena tidak banyak meningkatkan penyerapan tenaga kerja. c) Mempromosikan produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (fore ward efect). Kehandalan pameran dari aspek penyerapan tenaga kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk yang dipromosikan adalah barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya.AGUSTUS 2009 : 116-139 2) Temu Bisnis Keberhasil bentuk promosi ini sangat merata dari segala aspek penilaian. Dari aspek peningkatan omset. tanpa memperhatikan peningkatan jumlah pembelinya. Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak signifikan.

Penyerapan tenaga kerja.37% dan 28. dengan nilai kondisi hubungan 0. Kualitas barang.8830 dan nilai keeratan hubungan 0. 5) Promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. 11) Kualitas Barang.9213 dan nilai keeratan hubungan 0. Bentuk promosi. 9) Waktu Promosi.7076. V. dengan nilai kondisi hubungan 2) 135 . Jenis Produk 3). d). dengan nilai kondisi hubungan 0. ANALISIS FAKTOR BERPENGARUH KEBERHASILAN PROMOSI PEMASARAN Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran digunakan uji statistik Analisis Regresi Simultan pada tingkat kepercayaan 90% dan Principle Componen Analisis dengan tingkat kepercayaan 85%.7928.9616 dan nilai keeratan hubungan 0. Pengembangan teknologi produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki adanya peningkatan kualitas dan kuantitas barang yang ingin dibeli. c). Jenis produk yang dipromosikan. dan 12) Jumlah Pesaing. Frekuensi Keikutsertaan 4).9113 dan nilai keeratan hubungan 0.8763 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. 10) Prosedur keikutsertaan. Kondisi Internal 2). Promosi.9341 dan nilai keeratan hubungan 0. d).13%. dengan nilai kondisi hubungan 0.8766. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap nilai penjualan (omset) UMKM yaitu: a). f) Managemen Usaha. Biaya promosi. Dampak misi dagang diindikasikan dari kenaikan nilai bobot.9254. d). Hasil analisis menunjukan. terdapat 6 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap jumlah pembeli UMKM yaitu: a).8989 dan nilai keeratan hubungan 8016. B) Jumlah pembeli. c) Bentuk promosi.8917. Jenis produk yang dipromosikan. b). 6) Tema Promosi. g) Jaringan Usaha. c) Laba. Kedua aspek penilaian tersebut masing-masing 26. e) Teknologi produksi. adapun kinerja yang dihasilkan adalah peningkatan: a) Nilai penjualan (omset). Terdapat 12 Peubah bebas (independent variable) yang dianalisis yaitu: 1). Perbaikan sistem managemen didorong oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya. dengan nilai kondisi hubungan 0. Kondisi internal UMKM.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 4) Misi Dagang Keunggulan misi dagang ditunjukan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. Penyelenggara promosi. 7) Biaya Promosi 8) Lokasi Promosi. Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Hasil analisis menunjukan.9061 b). dengan nilai kondisi hubungan 0.

f) Waktu promosi.8709 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.9720 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.7986. b). dengan nilai kondisi hubungan 0.8709.8637 dan nilai keeratan hubungan 0.8788 dan nilai keeratan hubungan 0. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu perusahaan untuk berproduksi lebih efisien. Kualitas barang.9178.8748.7798. f) Jumlah pesaing.8907 dan nilai keeratan hubungan 0. yang diperoleh dari berbagai pihak. dengan nilai kondisi hubungan 0. c) Frekwensi keikutsertaan. Kondisi internal UMKM.JURNAL VOLUME 4 .7619.8955. 3) Hasil analisis menunjukan terdapat. e) Lokasi promosi. Lokasi promosi. e). Hasil analisis menunjukkan. untuk itu perusahaan yang bersangkutan akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien.8392.8871 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8698.9109 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. 7 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a). Hasil analisis menunjukan.7945. dengan nilai kondisi hubungan 0.8732 dan nilai keeratan hubungan 0.8731 dan nilai keeratan hubungan 0.9391 dan nilai keeratan hubungan 0.9639 dan nilai keeratan hubungan 0. b). dengan nilai kondisi hubungan 0.AGUSTUS 2009 : 116-139 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. d) Biaya promosi. Jenis produk yang dipromosikan. Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0.8967 dan nilai keeratan hubungan. Jenis produk yang dipromosikan.78798. g) Jumlah pesaing.8613 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8651. maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang tentang teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efesien produksi. dengan nilai kondisi hubungan 0. Kondisi internal UMKM. 4) 5) 6) 136 . dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kemampuan UMKM dalam penyerapan tenaga yaitu jenis produk yang dipromosikan. c) Penyelenggara promosi.97139 dan nilai keeratan hubungan 0.8769. dengan nilai kondisi hubungan 0. 0. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a).9308 dan nilai keeratan hubungan 0. d ). dengan nilai kondisi hubungan 0.7619.9178. Besarnya pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut dalam kegiatan promosi.97139 dan nilai keeratan hubungan 0. g) Jumlah pesaing.7665. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM peningkatan managemen usaha UMKM yaitu kondisi internal UMKM.

1 Kesimpulan 1. dengan nilai kondisi hubungan 0. h) Kualitas barang. misi/kontak dagang dan temu bisnis.8609. dengan nilai kondisi hubungan 0.8769. Terdapat empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh UMKM yaitu pameran.8650 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. KESIMPULAN DAN SARAN 6. VI. serta menurunkan biaya produksi. trading board. dengan nilai kondisi hubungan 0. b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta. Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (73 kali) diikuti UMKM.8854 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. d) Bentuk promosi. g) Lokasi promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. 7) Hasil analisis menunjukan. Sifat peningkatan laba yang tidak linier dengan peningkatan omset dikarenakan peningkatan laba ternyata bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM tetapi karena berkurangnya marjin yang terserap dalam serta pasar. 9480 dan nilai keeratan hubungan 0. 2.9176 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0.9265.8759.8987 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. b).9184 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. 8243. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8798. f) Biaya promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0.9805 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dengan nilai kondisi hubungan 0. c) Frekuensi keikutsertaan UMKM. dengan nilai kondisi hubungan 0. 137 . Keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha menengah. Secara agregat semua usaha kecil dan menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi. Promosi pemasaran mampu meningkatkan laba UMKM. c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut.9078. Kondisi internal UMKM.9378 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0.9140. Jenis produk yang dipromosikan. e) Penyelenggara Promosi. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas promosi adalah: a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi). terdapat 8 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan jaringan pasar yaitu: a).9352.9207 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. 3.

JURNAL VOLUME 4 . Promosi pemasaran berdampak nyata pada: a). Usaha yang memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program promosi adalah: a) Memperbanyak program promosi melalui kerjasama dengan para stakeholder. 8. sedangkan temu bisnis perlu lebih didorong sehingga tidak hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi juga dapat dilakukan oleh UKM dan koperasi. Pameran menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. 2.2 Saran 1. Peningkatan teknologi produksi. c). b) Jenis dan Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba UMKM serta penigkatan kualitas teknologi. sehingga berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (foreword efect). c) Memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta 138 . d) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam meningkatkan perolehan laba. Misi dagang memang memiliki total nilai bobot terendah. Untuk meringankan beban biaya usaha mikro mengikuti kegiatan promosi pemasaran maka diperlukan subsidi penuh dari pemerintah. Trading board dapat dikembangkan di tingkat propinsi. yang diindikasikan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. Temu bisnis merupakan bentuk promosi yang dapat diandalkan. c) Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan Laba UMKM. Temu bisnis berdampak merata pada aspek peningkatan omset. Peningkatan kualitas managemen. pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari kabupaten sampai dengan di tingkat internasional. 5. Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebehasilan promosi pemasaran diperoleh hasil: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata terhadap perluasan pangsa pasar. 6. nasional dan internasional. dan d). Peningkatan kualitas tekonologi. Peningkatan jumlah pembeli juga jauh lebih besar dibandingkan bentuk promosi lainnya. laba dan perbaikan managemen usaha. e) Berpengaruh nyata terhadap pangsa pasar. tetapi bentuk promosi ini memiliki keungulan spesifik. b). Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. omset dan laba perusahaan. Kemampuan Kemampuan penyerapan tenaga kerja. 6. misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh pemerintah. b) Memfasilitasi kegiatan promosi.AGUSTUS 2009 : 116-139 4. 7.

(1984). (1984). P. Kajian Manfaat Pameran Dalam Meningkatkan Omset Industri Kecil (Thesis). serta. Bharata Jakarta. (2002). New York. Jakarta. Business Review Havard University London. Program Doktor Bidang Ekonomi Perusahaan. (1980). 139 . Jakarta. PT. Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran Melalui Program Promosi (Studi kasus kebijakan Perdagangan Internasional). Sujito. Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. Panglaikim. Marketing (Suatu Pengantar). Ramlan. Shaw. Program Pasca Sarjana Universitas Gajahmada. Bina Antar Nusa Jakarta. PT. (2001). (1967). Mac Graw HillBook Company.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dalam kegiatan promosi. Some Problem of Market Distribution. Nurachmat. Jakarta. Bina Aksara. Program Pasca Sarjana Universitas Pajajaran Bandung. Untuk mengatasi berbagai masalah dalam rangka meningkatkan efektifitas kegiatan promosi pemasaran diperlukan: a) Perencanaan yang terkoordinasi.A. DAFTAR PUSTAKA Affandi. (2005). Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan Dalam Menghadapi Pasar Global. Kasali Reinal. Program Magister Managemen Universitas Indonesia. Manulang. Jakarta.T. Pembangunan Jakarta. (1969). e) Membangun kaitan (lingkage) yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara dengan semua stakeholder lainnya serta. (2001). (1997). Buletin Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional. Managemen Promosi dan Pemasaran Produk. Introduction to Sales Management. Harry R. Marketing. Tosdal. Wahidin.R. b) Evaluasi kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan. c) Perhitungan waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. 3. Macam-Macam Bentuk Promosi Yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk Industri Kecil.

extension. This interrelationship is also significant or real. capacity building I.JURNAL VOLUME 4 . socialization. From the point of view of the implementation of all the vertical integration function of secondary cooperatives interrelated with the primary cooperatives of their member. The result of the data analysis shows that: a). From the aspect of the implementation of vertical integration functions group of each institusional functions. peer review 24 April 200�. Koperasi primer. the secondary cooperative is interrelated with primary cooperatives of their members. Deputi Bidang Produksi (koordinator kajian) ***) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK *) 140 . and techniques should be increased. To identify the interrelationship among provincial level secondary cooperative with the primary cooperative of their member. b). To identify the interrelationship based on functional group implemented by secondary cooperative to primary cooperative of their member. Kehutanan.1 Latar Belakang Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992 menyebutkan bahwa koperasi sekunder adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. This interrelationship is significant and real.AGUSTUS 2009 : 140-160 KAJIAN TENTANG KETERKAITAN KOPERASI SEKUNDER DENGAN KOPERASI PRIMER ANGGOTANYA*) Togap Tambunan**) dan Jannes Situmorang***) Abstract Assessment on interrelation of secondary cooperative with primary cooperative of their member is aimed at: a). but it has a weak level of interrelationship. review akhir �� �uli 200� **) Kabid. but the level of interrelationship is still weak. empowerment of cooperative principles. Artikel diterima 24 April 200�. Sample was determined by using purposive sampling. through training. PENDAHULUAN 1. keterkaitan lemah. This assessment suggests so that the level of interrelationship between secondary cooperative with the primary cooperative ot their member could become stronger then capacity building. This assessment were done in 8 with the objects of secondary and primary cooperative of their member. business functions and supporting functions. koperasi sekunder. b). Koperasi sekunder dapat Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200��.

Fungsi dan peran ini kemudian akan menciptakan berbagai manfaat koperasi di dalam perekonomian. dan 86 koperasi lainnya berbentuk Pusat (Kementerian Koperasi dan UKM. Beberapa contoh Koperasi Sekunder yang dikenal antara lain INKOPOL. PUSKSP.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. dan (2) Berfungsi sebagai ”subsidiaritas” dimana bisnis yang dilaksanakan anggota (koperasi primer) tidak dijalankan oleh koperasi sekunder sehingga tidak saling mematikan. Sebagai sebuah lembaga. 2005). Koperasikoperasi sekunder diharapkan mampu membentuk jaringan usaha dengan koperasi-koperasi primer dan mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan. INKUD. GKBI. koperasi sekunder didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan 141 . (2) Gabungan. 1. koperasi sekunder harus mampu membangun dan mengembangkan potensi ekonomi koperasi anggotanya. Jumlah ini belum termasuk koperasi sekunder yang tersebar disetiap provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia. Bagaimana sesungguhnya jaringan usaha yang terbentuk dan kerjasama yang dibangun? Informasi dan data-data mengenai hal ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan suatu kajian untuk menelaahnya secara khusus. Juga menurut undang-undang tersebut. INKOPDIT. Sesuai Undang-Undang Perkoperasian. fungsi dan peran tersebut adalah: (1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.2 Permasalahan Fungsi koperasi sekunder secara spesifik menurut UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 adalah (1) Berfungsi sebagai jaringan dengan sekurang-kurangnya 3 anggota untuk menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar. IKPRI. dan (2) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. PUSKOPDIT. INKOPKAR. koperasi sekunder memiliki beberapa fungsi dan peran umum. Hingga saat ini tercatat terdapat 156 koperasi sekunder tingkat nasional yang terdiri dari 63 Induk Koperasi. dalam menjalankan fungsinya. PUSKOPKAR. 7 koperasi berbentuk Gabungan. PUSKUD. dan lain-lain. GKSI. IKPI. Sesuai pasal 4 Undang-undang Nomor 25 tahun 1992. Pendirian koperasi sekunder dalam berbagai tingkatan selama ini dikenal dengan sebutan (1) Pusat. PUSKOPTI. dan (3) Induk.

Identifikasi hubungan fungsional dan capacity building koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Mengetahui keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. 2). Identifikasi keterkaitan usaha antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Karena itu. Koperasi sekunder dapat didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. Juga belum diketahui peran koperasi sekunder menjalankan fungsi-fungsinya kepada koperasi primer anggotanya dan sebaliknya koperasi primer menjalankan kewajibannya kepada koperasi sekunder. Efisiensi usaha dan bargaining position di dalam koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggotanya. Berdasarkan basis pembentukannya. Hal ini kemudian menyebabkan terbentuknya banyak koperasi primer dan koperasi sekunder. 3). 1.4 Ruang Lingkup g Ruang lingkup kajian meliputi beberapa aspek antara lain: 1).AGUSTUS 2009 : 140-160 kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. Mengetahui keterkaitan berdasarkan kelompok fungsi yang dilaksanakan koperasi sekunder kepada koperasi primer anggotanya. Koperasi sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) koperasi primer. maka koperasi sekunder memiliki tiga azas yaitu: (1) Efisiensi. KERANGKA PEMIKIRAN Koperasi sekunder memiliki bentuk koperasi yang khas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian. diperlukan kajian untuk mengetahui sejauhmana keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. dan (3) Kebersamaan. (2) Mutual (saling melengkapi). Undang-undang tersebut memberikan peluang kepada gerakan koperasi untuk mendirikan koperasi pada berbagai tingkatan sesuai kebutuhannya. 2).JURNAL VOLUME 4 . yakni koperasi sekunder yang dibentuk oleh badan hukum koperasi primer. Namun eksistensi dan keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya hingga sekarang belum diketahui pasti. Koperasi sekunder memiliki dua fungsi 142 . II.3 Tujuan Kajian Tujuan kajian ini adalah untuk: 1). Koperasi sekunder tidak berbasis kepada orang (member based) melainkan dibentuk berdasarkan kesamaan kebutuhan organisasi. Selama ini koperasi-koperasi sekunder terus terbentuk dan bertumbuh dengan berbagai aktivitas. 1.

teknologi dan manajemen yang akses PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER lebih modern. Aktivitas : Pabrik jaring Pabrik pengalengan Ekspor. sehingga tidak saling mematikan. tidak dijalankan di tingkat koperasi sekunder. masing-masing pihak menerima manfaat yang dapat mendorong peningkatan dan pengembangan usaha secara lebih baik. koperasi sekunder diharapkan mampu menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar bagi dirinya sendiri dan bagi koperasi primer anggotanya. Dari keterkaitan sesuai jaringan yang ada. Sedangkan fungsi subsidiaritas memiliki arti bisnis yang dilakukan anggotanya (koperasi primer). TAHUN 1992 Gambar 1 memperlihatkan keterkaitan antara kelembagaan koperasi sekunder – primer dan SEBAGAI PILAR dalam usaha-usaha yang saling KOPERASI keterkaitan di mendukung (backward and INDONESIA PEREKONOMIAN forward linkages). 143  . Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Usaha Perikanan Usaha Perikanan Secara garis besar. INDUK PUSAT IKPI Aktivitas : Pabrik es Pemasaran antar daerah Pengadaan BBM Kebutuhan penolong. PRIMERmodal. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. adanya KOPERASI KOPERASI KOPERASI jaminan pasar bagi produknya. dan berpeluangF1 mengembangkan bisnis ? yang lebih tinggi tingkatannya sehingga dapat bersaing dengan bisnis non-koperasi.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) yaitu sebagai suatu jaringan dan sebagai subsidiaritas. Sebagai jaringan. peningkatan produksi KOPERASI KOPERASIdari usaha-usaha yang dijalankan. Selain itu manfaat umum baik bagi koperasi ? sekunder maupun KOPERASI koperasi primer adalahSEKUNDER tercipta efisiensi usaha dan jaringan usaha yang kuat diantara mereka. gambar 1 menyajikan sebuah contoh jaringan dan subsidiaritas koperasi sekunder – koperasi primer pada bidang usaha UNDANG-UNDANG NOMOR 25 perikanan. Aktivitas : Penangkapan Pengolahan Pelelangan Simpan pinjam KOPERASI PRIMER Pabrik es Produksi garam Pengadaan BBM Gambar Gambar 1. Para anggota (koperasi primer) mendapat manfaat peningkatan keuntungan secara finansial. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer 1. OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Koperasi-koperasi sekunder mendapat manfaat sebagai pasar F2 dan menerima input dari koperasi primer.

KerangkaPemikiranKeterkaitan Usaha dandan Kelembagaan Gambar Kerangka Pemikiran Keterkaitan Usaha Kelembagaan Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. Primer F2 = Pelaksanaan kewajiban oleh Kop. METODE KAJIAN 3. Sekunder kepada Kop.1 Obyek Kajian Obyek kajian ini mencakup: (1) Koperasi sekunder tingkat provinsi (pusat dan gabungan). Primer kepada Kop. III. 2.JURNAL VOLUME 4 . 144 .AGUSTUS 2009 : 140-160 Sedangkan gambar 2 menyajikan skema kerangka berpikir yang digunakan dalam kajian ini. Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 1992 KOPERASI SEBAGAI PILAR PEREKONOMIAN INDONESIA KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER F2 F1 KOPERASI SEKUNDER ? ? OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Gambar 2. dan (2) Koperasi primer anggota. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. Keterangan : = Arah pembentukan koperasi = Arah pelaksanaan fungsi dan kewajiban F1 = Pelaksanaan fungsi oleh Kop. Sekunder.

Nusa Tenggara Barat. Kelembagaan FA1 : memberikan bimbingan dan advokasi keanggotaan FA2 : memberikan masukan mengenai RAT (menghadiri. Responden penelitian ini adalah pengurus koperasi sekunder dan pengurus koperasi primer anggotanya.2 Lokasi dan Waktu Kajian Kajian ini telah dilaksanakan pada 8 provinsi yang memiliki koperasi sekunder masing-masing: Jawa Timur. Definisi fungsi-fungsi tersebut adalah: A. dan dari masing-masing koperasi. Data primer diperoleh dari para responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun secara terstruktur. 3. kemudian dipilih koperasi sekunder dan primer anggota sebagai sampel. Sumatera Barat. Sulawesi Selatan. Seleksi fungsi-fungsi tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Petunjuk Pemeringkatan Koperasi Berkualitas dan Koperasi Berprestasi. mengarahkan) FA3 : ikut menyusun rencana kerja dan RAPB Koperasi Sekunder FA4 : memberikan pelatihan manajerial koperasi FA5 : menegakkan implementasi nilai-nilai koperasi 145 . dan (3) Fungsi penunjang. 3. BPS tingkat provinsi.2 Seleksi Fungsi-fungsi Keterkaitan Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi-fungsi diantara mereka. dinas koperasi tingkat provinsi dan kabupaten.1 Jenis Data Data yang dikumpulkan sebagai bahan analisis terdiri dari data primer dan data sekunder. Koperasi sekunder dimaksud adalah yang masih aktif dan memiliki keterkaitan dengan koperasi anggotanya. 3.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) 3. Jawa Tengah. Sampel koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggota dipilih berdasarkan informasi dari dinas koperasi provinsi setempat.3 Metode Penarikan Sampel (Sampling Methode) Penarikan sampel pada objek kajian dilakukan dengan metode Purposive Sampling. Dari lokasi kajian yang telah ditentukan. Sumatera Utara. (2) Fungsi usaha. Fungsifungsi yang harus dilaksanakan oleh masing-masing tentu sangat banyak. Nusa Tenggara Timur. Diperoleh 25 fungsi yang layak dijadikan faktor yang menentukan keterkaitan dimaksud. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari laporan-laporan Kementerian Koperasi dan UKM. Fungsi-fungsi tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian masing-masing: (1) Fungsi kelembagaan. dan Kalimantan Barat.

FB1 sampai FB6 dan FC1 sampai FC5 dilaksanakan oleh koperasi sekunder kepada koperasi primer anggota.. Penunjang FC1 : membantu administrasi bisnis (pembukuan..................... Usaha FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 : memberikan pelatihan organisasi koperasi han : memberikan pelatihan keanggotaan koperasi : mengadakan pertemuan khusus.........3 Metode Analisis Data a).. dan FA13.. F12 dan F13 dilaksanakan oleh koperasi primer anggota kepada koperasi sekunder. Uji Chi Square (Uji χ 2 ) Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya dapat dianalisis dengan metode Chi-Square (uji χ 2 ) dengan rumus: (1) χ2 = ∑ ∑ ( f0 − fh )2 fh . lokakarya) : membangun kerjasama antara koperasi anggota : mengupayakan kemitraan dengan pihak ketiga : mengadakan pertemuan secara periodik : menghadiri RAT Koperasi Sekunder : membagikan SHU kepada anggota : memenuhi kewajiban. Keterangan : Fungsi FA1. ilmiah (seminar. FA4 sampai FA11....... akuntansi. dll) FC2 : membantu manajemen FC3 : membantu sistem informasi FC4 : membantu penyebaran informasi FC5 : membantu image (citra) koperasi.JURNAL VOLUME 4 .. 3....AGUSTUS 2009 : 140-160 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 B.. 146 ...... : : : : : : membantu penyusunan business plan (rencana kerja) membantu dan membangun jaringan pemasaran membantu pengolahan/proses produksi membantu permodalan/pembiayaan produksi membantu promosi mengadakan temu usaha........ FA2..... sedangkan fungsi F3........ C.

.. Sebaliknya H0 ditolak atau terima H berarti ada keterkaitan yang signifikan antara kedua variabel. Dihitung frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis). Terima H0 memiliki arti tidak ada keterkaitan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya.. dan 3)... Secara statistik dinyatakan bahwa : H0 diterima bila : χ2 ≤ χ2 α...Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Keterangan : χ 2 = Chi – Square fo = Frekuensi yang diperoleh dari sampel (hasil observasi) fh = Frekuensi yang diharapkan atau disebut juga frekuensi teoritis. Menghitung nilai Uji Chi-Square berdasarkan rumus (1)... Data frekuensi ditabulasi.... (2) fe = (∑ f kolom) Total (∑ f baris ) . 2).. ditempuh beberapa langkah yakni: 1). Dalam penelitian ini.... dengan derajad bebas tertentu.. digunakan rumus pada persamaan (2). dimana : fe = Frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis) Σ f kolom = Jumlah frekuensi kolom Σ f baris = Jumlah frekuensi baris Total = Jumlah baris dan kolom (keduanya harus sama)... Untuk menghitung nilai dari frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis). Setelah perhitungan dengan metode Chi-Square....... uji signifikansi digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya melalui fungsi-fungsi yang mereka lakukan. b)..... analisis kemudian dilanjutkan dengan uji signifikansi... Untuk mendapatkan nilai Chi-Square........ Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis nol/nihil (H0) dan hipotesis tandingan/alternatif (H).. Uji Signifikansi Uji siginifkansi digunakan untuk menunjukkan bahwa apakah ada hubungan yang signifikan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Nilai χ2 diperoleh dari hasil perhitungan sesuai rumus chi square di atas... Sedangkan nilai χ2 2 α dengan derajad bebas tertentu adalah nilai chi square statistik 147 .... dengan derajad bebas tertentu H0 ditolak atau terima H bila : χ2 > χ2 α.

(3) dimana : C = Koefisien kontingensi χ 2 = Nilai chi... IV. Sedangan jika C < 0... Derajat bebas (d... dan apakah hubungan tersebut kuat atau tidak kuat. Lotim dan Lobar).. Jika C = 1 maka terdapat keterkaitan yang sangat kuat diantara keduanya... (4) PUSKUD MINA (Puskud Mina Jatim).. Sumut. c)...01 yang memiliki arti kita percaya bahwa 99% hasil uji yang kita peroleh adalah sangat akurat.5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya dan keterkaitan tersebut dikatakan cukup kuat....... Sumbar....... NTT.b) diperoleh dengan rumus: (Jumlah baris – 1) dikalikan (jumlah kolom – 1) Taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah α = 0. 148 . diperoleh 33 koperasi sekunder..... dan Kalbar). Koefisien Kontingensi (C) Koefisien kontingensi digunakan untuk mengukur derajat hubungan. dan jika C > 0.....5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya namun keterkaitan tersebut lemah.. GAMBARAN UMUM KOPERASI SAMPEL 4.. Sumut. (2) GKSI Jateng...... Sulsel.. (6) PUSKOPPAS (Puskoppas Sulsel)..... Rumus koefisien kontingensi adalah : C= χ2 χ +n 2 ... Sulsel.. NTT.AGUSTUS 2009 : 140-160 yang dapat dilihat pada tabel chi square standar.. atau dependensi dari klasifikasi-klasifikasi dalam tabel kontingensi.1 Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi Dari hasil survei lapangan pada 8 provinsi.. Nilai koefisien kontingensi (C) berkisar antara nol hingga satu..... (5) PKP-RI (PKP Sumbar. asosiasi..square n = Besar sampel... NTT. Derajat hubungan di sini menunjukkan ada korelasi atau tidak antara kolom dan baris tabel kontingensi.... (3) PUSKOPDIT (Puskopdit Jateng...... Jateng.. Sumut)..... Jumlah tersebut dibagi dalam 12 jenis koperasi masing-masing: (1) PUSKUD (Puskud Jatim...... Jika C = 0 maka tidak terdapat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. (7) PUSKOPPONTREN (Puskoppontren Sulsel).JURNAL VOLUME 4 .

06%. Data ini menunjukkan masih cukup banyak koperasi sekunder yang menyeleggarakan RAT setiap tahun. Pada jumlah unit usaha. Namun pada nilai SHU.15%. sebanyak 30. Puskopad A’DAM VII/WRB.06%. (9) PUSKOPWAN (Puskowan Jatim. Sebanyak 54.30% berusia 10 sampai 20 tahun. Sumbar. Ini menunjukkan mereka cukup aktif dan tetap menjalankan ketentuan administrasi secara baik. PUSKUD. Sementara itu PUSKUD MINA mengalami kerugian dimana SHU-nya bernilai ratarata negatif dalam 5 tahun terakhir.24% atau 8 koperasi menempati gedung kantor berstatus pinjaman. PUSKOPPOLDA. Sebanyak 24. NTT. Sesuai data yang terkumpul. Sesuai data yang terhimpun. Dari sisi jumlah anggota. Keragaan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi secara rata-rata selama 5 tahun terakhir menurut urutan nilai-nilai yang paling tinggi hingga terendah dapat dilihat pada Gambar 3. dan (12) PKSU (PKSU NTB dan Kalbar).Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) (8) PUSKSP (Puskospin Jatim. (11) PUSAT KOPERASI VETERAN (Puskop Purnawirawan & Warakawuri TNI & Polri NTT).12%. Meskipun dari modal PUSKUD memiliki modal yang paling besar namun nilai SHU-nya lebih rendah dibanding rata-rata yang dicapai oleh PUSKOPPAS dan PUSKOPPOLDA. Sedangkan koperasi-koprerasi lainnya memiliki jumlah anggota lebih sedikit (kurang dari 100 unit). disusul PKP–RI. sebagian koperasi-koperasi sekunder tingkat provinsi mengalami perkembangan yang makin maju. GKSI Jateng dan PUSKOPWAN mencapai nilai terbesar. sebanyak 33. dan yang tidak melakukan RAT sama sekali sebanyak 6. Sumut).36% berusia 3 sampai 9 tahun. dan PUSKUD. satu kali sebanyak 6. 149 .06% atau 2 koperasi masih menempati gadung kantor dengan status kontrak. PUSKUD memiliki anggota (KUD) yang paling banyak.70% koperasi sekunder tingkat provinsi sampel (atau 23 koperasi) sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri. sebanyak 69. dua kali sebanyak 6. Dari sisi usaha. jumlah modal dan volume usaha PUSKUD. Dari segi usia.55% koperasi sekunder tingkat provinsi melakukan RAT setiap tahun dalam 5 tahun terakhir. dan sebanyak 6. PUSKOPPOLDA dan PUSKUD MINA memiliki jumlah yang lebih banyak. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah mengalami perkembangan yang makin menurun. (10) PUSKOPPOLDA (Puskoppolda Sumbar.33% koperasi berusia lebih dari 20 tahun. Sulsel). tiga kali sebanyak 12. Sedangkan yang melakukan RAT empat kali sebanyak 15. NTB).06%. tiga koperasi yang mencapai nilai yang paling besar adalah PUSKOPPAS. Sulsel. dan sisanya 36.

KOPWAN PUSKUD GKSI PKP .41 331.17 291.VETERAN P.52 8. POLDA PUSKUD PUS.RI P.89 6.44 349.KOPDIT P. VETERAN 1349 1225 974 965 410 259 138 - 5891 17553 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah 926 553 472 381 321 99 90 36 Jt Rupiah Jumlah SHU Koperasi Sekunder Rata-rata Tingkat Solvabilitas Koperasi Sekunder -27.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.PONTREN P.KOPWAN PKP .PONTREN P. VETERAN P. VETERAN PUS.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Unit Us aha Kope ras i Se k unde r 7 7 P.65 152.KOPWAN P.MINA PKP .60 P. POLDA P.65 8.MINA 179.00 19.55 11.KOPDIT PUS.57 P.KOPPAS P.25 30.KOPPAS Jumlah Modal Koperasi Sekunder 23633 PUSKUD GKSI P. VETERAN PKP .34 Jt Rupiah 169.MINA P.88 63.KOPDIT PUSKUD P.67 53.51 Persen Gambar 3.JURNAL VOLUME 4 . POLDA PUS.RI P.52 119.PONTREN PUSKSP PKSU P.RI PUSKUD P.87 Persen 547.23 P.KOPDIT PUS.KOPDIT GKSI PKP .MINA PKSU GKSI P.PONTREN P.PONTREN P. VETERAN PKSU P.KOPPAS P.54 Nama Koperasi - Rata-rata Tingkat Rentabilitas Koperasi Sekunder 19.MINA 411.KOPDIT P.RI P.KOPW AN PUSKSP GKSI PKP .36 178.89 10.40 75.RI P.08 9.43 -8.24 253.PONTREN P.MINA PUSKSP P.KOPDIT PKSU P.69 83.RI PUS.33 21.74 5. POLDA PUS.50 27. POLDA P.RI P.52 Persen P.KOPPAS PUS.02 - 86.64 51.37 54.KOPW AN P.KOPPAS N a m a K o p e ra s i Jumlah Volume Usaha Koperasi Sekunder 2680 2169 1656 3513 P.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.63 165.KOPPAS Nama Koperasi Nama Koperasi - 0.19 10. VETERAN PUSKSP P. POLDA PKSU P.74 152. Keragaan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi 150 . VETERAN PKP .MINA PUSKUD P.74 5.PONTREN PKSU P.KOPPAS Jumlah Anggota Koperasi Sekunder N ama Koperas i 1 1 - 2 2 2 2 3 4 6 Jumlah Unit 86 60 47 31 27 24 22 16 12 8 143 405 Jumlah Unit PUSKUD PKP .20 156.KOPPAS N am a K operasi Rata-rata Tingkat Likuiditas Koperasi Sekunder 386.01 123.RI P.MINA P.PONTREN PUSKSP P.KOPDIT P.POLDA GKSI PUSKSP P. POLDA PUSKUD P.33 21.KOPW AN P.

5 koperasi. Kalimantan Barat dan Sumatera Barat. (8) KSP. dan (11) KSU. KUD MINA. Dari sisi jumlah anggota. (5) KPRI. Dari sisi permodalan. Tiga provinsi masing-masing NTT. hampir 90% Koperasi Sekundernya aktif menyelenggarakan RAT setiap tahun selama 5 tahun terakhir. 4. Keragaan masing-masing golongan koperasi secara rata-rata selama 5 tahun (tahun 2001 – 2005) menurut urutan nilai terbesar dapat dilihat pada Gambar 4.2 Koperasi Primer Anggota Koperasi primer anggota dari koperasi sekunder yang terpilih dalam penelitian ini berjumlah 107 koperasi. KSP. Ratarata Koperasi sekunder menghadiri RAT yang diselenggarakan koperasi primer anggotanya. 24 koperasi. 26 koperasi. Ada beberapa koperasi primer sampel menyatakan tidak memperoleh informasi memadai dari koperasi sekunder dalam kegiatan pengembangan usaha dan informasi pasar. (7) KOPPONTREN. (9) KOPWAN. Pada umumnya sebagian koperasi primer mengalami perkembangan yang makin maju. hampir semua koperasi sekunder tingkat provinsi mengeluhkan kekurangan modal untuk pembiayaan usahanya. (4) KUD MINA. 4 provinsi masing-masing Jawa Timur. 1 koperasi. KUD. 9 koperasi. Pada sisi pengurus. dan KOPPONTREN memiliki jumlah pengurus lebih banyak dibanding koperasi-koperasi lainnya. Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara kurang dari 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahun. 151 . dan seterusnya. Jawa Tengah. 4 koperasi. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah makin menurun. 12 koperasi. 7 koperasi. KUD Susu memiliki anggota jauh lebih banyak diikuti. Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat hanya menjalankan RAT satu kali selama 5 tahun terakhir. 6 koperasi. Jumlah ini dikategorikan menurut 12 jenis koperasi sekunder tingkat provinsi dengan perincian sebagai berikut: (1) KUD. Namun dalam hal kerjasama membangun jaringan usaha yang saling terkait dengan usaha anggotanya. Untuk jumlah unit usaha.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi provinsi. Namun dengan segenap keterbatasan yang ada mereka tetap berusaha untuk tetap eksis menjalankan usaha yang ada. jarang dilakukan. KSI memiliki jumlah yang lebih banyak (9 unit) diikuti masing-masing oleh KUD MINA dan KUD. (3) KOPDIT. 11 koperasi. (6) KOPPAS. Sedangkan provinsi NTB 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahunnya. KOPDIT. (10) KOPPOLDA. 2 koperasi. (2) KUD Susu. KOPWAN. Bahkan masing-masing satu koperasi sekunder dari NTT.

58 285. POLDA KSU KP .PONTREN 231 154 142 116 83 63 63 28 - 481 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah Rata-rata Solvabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 417.PONTREN K.RI K.PONTREN KSU KP .30 KSU 5.48 297.94 149.78 145.01 Persen Gambar 4.67 21.98 KOPDIT 1.31 104.11 130. POLDA KOPDIT KSP KUD KSU KUD MINA K.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Anggota Kope ras i Prim e r Anggota Sam pe l 3364 2434 1299 530 512 481 469 246 51 50 Orang 6421 KUD SUSU KUD MINA KOPDIT KUD KSU K.24 Persen Rata-rata Rentabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 25.03 KUD 4.21 207.24 KOPW AN 14.RI KUD KOPW AN KUD SUSU KSP KOPDIT KUD MINA KOPPAS K.46 152.42 144. Keragaan Koperasi Primer Anggota Sampel 152 N aK am operasi N a Koperasi am . POLDA KP .68 168.86 159. POLDA 19.78 KOPPAS 20.PONTREN 353. POLDA KUD SUSU KP .RI KUD MINA KUD KOPPA S KSU Nama Koperasi 7 7 7 8 8 8 8 9 Orang Jumlah Unit Usaha Koperasi Primer Anggota Sampel Jumlah Modal Koperasi Primer Anggota Sampel 4848 11399 KUD KUD SUSU KOPDIT KOPWAN KOPPAS KP .JURNAL VOLUME 4 . POLDA KP . POLDA K.RI K.02 KP . POLDA KSU KUD SUSU KOPDIT KUD MINA K.94 KSP 9. POLDA KSP KOPPAS KOPWAN 2618 1154 1030 913 871 688 670 450 273 Jt Rupiah Jum lah V olum e Us aha Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 2757 2301 1018 1002 730 607 463 153 24 11 Jt Rupiah 8911 KUD SUSU KOPWA N KOPPA S KP .83 760.PONTREN KOPDIT K.60 91.87 KUD MINA KUD SUSU Persen K.PONTREN Nama Koperasi Rata-rata Likuiditas Koperasi Primer Anggota Sampel 821.PONTREN Jumlah SHU Koperasi Primer Anggota Sampel 1110 KOPPAS KUD KSP KOPW AN KP .83 109.RI 20.RI KOPWA N KSP K.PONTREN KOPPA S Nama Koperasi Jum lah Pe ngur us Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 11 10 14 KSP KOPWA N K.50 368.PONTREN KSU KUD MINA Nam a K operasi 2 2 2 2 3 3 3 Unit Nama Koperasi 4 4 5 9 KUD SUSU KUD MINA KUD KOPDIT K.80 KSU K.RI KSP K.RI K.84 404.61 122.RI KUD KUD SUSU KOPW AN KSP KOPPAS KOPDIT KUD MINA K.34 K.

Beberapa koperasi primer sampel yang bergerak pada bidang perdagangan mengeluhkan persaingan harga yang makin ketat dengan swalayan dan pasar modern yang ada. KSU. Nilai solvabilitas dan likuiditas yang besar ini memiliki arti keempat koperasi tersebut memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembalikan hutang. KUD memiliki modal terbesar mencapai Rp. mampu menghasilkan nilai SHU sebesar nilai persentase masing-masing. 153 . dan KUD mencapai nilai solvabilitas dan likuiditas yang lebih besar.80% atau 3 koperasi yang hanya melaksanakan RAT satu kali selama 5 tahun. Kesulitan lainnya adalah mengenai kemampuan sumber daya manusia pengurus koperasi yang belum baik. Dari sisi rasio keuangan.81% atau 64 koperasi melaksanakan RAT setiap tahunnya selama 5 tahun terakhir.16% koperasi primer sampel atau 74 koperasi sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri.25% atau 42 koperasi berusia 10 sampai 20 tahun. Pada nilai volume usaha. Sedangkan KUD MINA mencapai nilai SHU yang paling rendah. koperasi primer sampel tetap memenuhi kewajiban mereka yakni membayar simpanan pokok dan wajib kepada koperasi sekunder. KPRI. Dari segi usia. Kesulitan utama yang dihadapi koperasi primer adalah permodalan yang terbatas. Nilai ini memiliki arti dari setiap seratus rupiah harta masing-masing koperasi. Sedangkan nilai SHU terbesar dicapai oleh KOPPAS disusul KUD dan KSP. Secara umum. dan sebanyak 20. dan sisanya 21. KOPWAN.25% atau 42 koperasi berusia lebih dari 20 tahun.56% atau 22 koperasi masih menempati gedung kantor dengan status pinjaman. sebanyak 39. Hanya 2. KOPPOLDA. Dari 107 koperasi primer anggota. Sedangkan untuk rasio rentabilitas. Perkembangan koperasi primer anggota koperasi sekunder tingkat provinsi dominan lebih baik.49% atau 23 koperasi berusia 3 sampai 9 tahun. Dari data ini. 59. 11. Sisanya 37. Sebanyak 10. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa sebanyak 69.28% atau 11 koperasi menempati gedung kantor berstatus sewa. Ini adalah hambatan utama yang sering menyebabkan para anggota keluar dari keanggotannya.38% atau 40 koperasi menyelanggarakan RAT 2-4 kali. 78. dan KSP.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi modal. KOPPOLDA.50% koperasi primer sampel sudah berusia lebih dari 10 tahun. 5 koperasi yang mencapai nilai paling besar adalah KPRI.4 milyar jauh di atas koperasi-koperasi lainnya. Modal terbanyak kedua dicapai oleh KUD Susu disusul KOPDIT dan KOPWAN. KSI mencapai volume usaha terbesar disusul KOPWAN dan KOPPAS. Ini menunjukkan pada umumnya semua koperasi primer anggota masih beroperasi secara aktif dan konsisten menjalankan RAT setiap tahunnya. Juga sebanyak 39. KOPPAS.

Pada tabel 2 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya. 1). Angka ini lebih kecil dari 0. dan pada tabel 3 disajikan nilai chi square menurut analisis keseluruhan fungsi integrasi. V. Ini berarti kita tolak hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif (H). pembinaan dan pelatihan managemen serta kerjasama dengan berbagai pihak. Keterkaitan di antara koperasi sekunder dan koperasi anggotanya dapat terwujud di dalam fungsi-fungsi yang dijalankan di antara mereka.04. Keterkaitan diantara koperasi dibedakan atas dua kategori. diperoleh nilai koefisien kontingensi koperasi sekunder sesuai tabel 3 hanya sebesar 0.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota dipisahkan menurut golongan fungsi yakni fungsi-fungsi kelembagaan. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui sejauh mana koperasi sekunder berperan menunjang aktivitas dan usaha-usaha koperasi anggotanya maka perlu dibahas sejauh mana keterkaitan di antara mereka.497 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer 154 .497. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = 0. 5. 2). fungsi-fungsi usaha dan fungsi-fungsi penunjang. Tolak hipotesis nol (H0) memiliki arti bahwa secara keseluruhan koperasi sekunder memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan dengan koperasi primer anggotanya.AGUSTUS 2009 : 140-160 Rata-rata koperasi primer terjalin usahanya dengan koperasi sekunder hanya sebatas organisasi dan belum kepada pelaksanaan fungsi-fungsi secara nyata. Hasil analisis pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai chi square sangat besar yaitu sebesar 304.44.JURNAL VOLUME 4 . Rata-rata koperasi primer membutuhkan campur tangan pemerintah menangani permasalahan yang mereka hadapi mengenai bantuan permodalan. Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa nilai chi square hasil perhitungan lebih besar dari nilai kritis chi square. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0.1 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi sekunder secara nyata dapat terkait dengan koperasi primer anggotanya jika dilihat dari sisi pelaksanaan fungsinya secara menyeluruh.01 sesuai kurva normal adalah sebesar 99. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota secara keseluruhan. Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi.

69 2.91 1.46 PUSKOPPAS 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 6 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 2. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.03 3.27 3.05 100 4 155 PKP .34 3.46 53 65 38 49 32 40 33 31 33 31 56 83 51 80 27 18 8 27 8 17 56 28 25 21 19 929 100 5.55 3.61 2.55 3.RI PUSKUD .PONTREN 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 13 1.10 PUSKOPPOLDA 2 7 5 4 3 3 1 1 4 1 4 9 4 9 3 1 0 1 0 0 30 2 2 2 3 101 10.09 5.93 5.44 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya (menurut analisis keseluruhan fungsi keterkaitan).95 PUSKOPDIT 5 7 2 7 5 6 6 6 4 5 6 8 6 8 6 4 1 4 2 3 6 6 6 2 4 125 13.87 PKSU JUMLAH BARIS (%) 2 4 2 4 4 3 3 2 2 2 4 4 3 4 3 1 1 3 1 1 3 3 3 3 4 69 7.497 artinya tingkat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya tidak kuat (lemah).87 PKP-RI 14 16 9 12 5 11 9 7 4 4 10 17 13 16 6 2 0 8 0 6 8 8 6 5 0 196 21.31 21.44 4.94 0.00 4.71 7.38 GKSI 3 4 2 3 0 2 0 2 2 3 4 4 4 4 1 3 0 3 0 1 1 0 0 0 0 46 4.43 9 4 6 6 5 5 5 5 5 6 8 6 8 4 4 4 5 2 4 4 4 4 4 4 4 125 13.34 6.46 13.04 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 240 dan pada 0.38 PUSKSP 1 2 2 2 1 1 2 1 0 3 3 4 1 4 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 40 4.03 8.Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Koperasi Sekunder dengan Anggotanya PUSKO WAN FUNGSI INTEGRASI FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 FC1 FC2 FC3 FC4 FC5 J Kolom (%) kunder Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Tabel 3. Uji Signifikansi dan KoefisienKoefisien Kontingensi Tabel 3.01 2.31 3.26 2. Nilai Chi Square.51 10.86 2.49 8.91 0. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah PUSKUD 13 17 8 8 7 7 5 6 9 6 15 22 10 22 2 2 0 3 0 1 3 4 3 4 3 180 19.83 6.86 1. Nilai Chi Square. 2.10 13.40 19.01 sebesar 99.46 PUSKUD MINA 2 2 1 1 1 0 0 0 1 0 1 2 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 1.15 P.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel 2. Uji Signifikansi dan Kontingensi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Nilai Chi Square ( 2) = 304.

KOPDIT P.7%. Hasil ini menunjukkan bahwa keempat koperasi diatas secara frekuensi paling banyak melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitan dengan anggotanya. dan PUSKOPPONTREN (1.MINA P. kita telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Semua Fungsi Keterkaitan oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Gambar 6 menunjukkan bahwa fungsi FA12 yaitu koperasi primer anggota menghadiri rat koperasi sekunder tingkat provinsi secara frekuensi paling banyak dilaksanakan oleh semua koperasi. Dengan persentase yang rendah seperti ini berarti koperasi-koperasi tersebut relatif kurang dapat melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitannya. Ini berarti mereka mengabaikan tanggung jawabnya kepada koperasi anggotanya.POLDA P.51 1. yakni hanya sebesar 49. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan lemah.38% dan PKSU dan PUSKOPDIT masing-masing melaksanakan 13.43 4.46 10.10 19.95 4. Tiga koperasi yang sangat rendah presentase frekuensi pelaksanaan fungsinya adalah PUSKOPPAS (2.RI PUSKUD PKSU P.40%). PUSKUD MINA (1. yaitu 156 .87 7. Berikut itu ditunjukkan pelaksanaan fungsi-fungsi yang memperlihatkan keterkaitan tersebut pada Gambar 5 dan 6.38 Koperasi Sekunder 13. PUSKUD melaksanakan sebanyak 19.10% fungsi-fungsi keterkaitan dari total pelaksanaan semua fungsi oleh semua koperasi.KOPWAN GKSI PUSKSP P. Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa secara frekuensi PKP–RI melaksanakan 21.46%.46 13.JURNAL VOLUME 4 .40 Persen PKP .51%). Berikutnya.15 1. 21.PONTREN Sumber data: Primer diolah Gambar 5.31 2.KOPPAS PUS.15%). Secara statistik.AGUSTUS 2009 : 140-160 anggotanya.

27 7.49 5. 5. Gambar 6.61 0. Nama Fungsi 157 .31 4.86%.71 5.00%.26 2.03 5.91 2. FB6 (KS mengadakan temu usaha dengan koperasi anggotanya) sebesar 1.69 2. dan fungsi penunjang. Pada tabel 4 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya menurut katagori fungsi. FB3 (KS membantu pengolahan/proses produksi dari koperasi primer anggota) dan FB5 (KS membantu promosi produksi kepada koperasi primer anggota) masing-masing dilaksanakan hanya sebanyak 0. Ini berarti keempat fungsi ini sangat jarang dilaksanakan oleh koperasi sekunder.86 4.93%.2 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Kelompok Fungsi Analisis menurut kelompok fungsi dimaksudkan untuk melihat apakah ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya dilihat dari 3 kelompok fungsi.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) sebanyak 8.34 3.05 1.09 3.82%. padahal fungsi-fungsi tersebut adalah penting untuk menunjang kemandirian koperasi anggotanya.93 8.94%.61%. dan pada tabel 5 disajikan nilai chi square menurut analisis kelompok fungsi integrasi.44 3. Distribusi Frekuensi Pelaksanan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Empat fungsi paling rendah frekuensi pelaksanaannya adalah masing-masing FB2 (KS membangun jaringan pemasaran bagi anggota) sebesar 1.83 6.34 3.03 6.00 Persen FA12 FA14 FA2 FC1 FA11 FA1 FA13 FA4 FA6 FA3 FA9 FA7 FA5 FA10 FA8 FC2 FB4 FB1 FC3 FC4 FC5 FB2 FB6 FB5 FB3 Gambar 6.55 3. dan FA2 (koperasi sekunder memberikan masukan yaitu menghadiri dan mengarahkan rat koperasi primer anggotanya) dilaksanakan sebanyak 7. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya 8.91 2. fungsi usaha.86 0.94 1.01 2.55 3. Fungsi FA14 (koperasi primer anggota memenuhi kewajibannya kepada koperasi sekunder) dilaksanakan sebanyak 8. masing-masing fungsi kelambagaan.

01 sebesar 37. Nilai Nilai Chi Square ( 12) kita87. Nilai Chi81 155 37 14 147 20 12 43 57 82 Tabel 0.PONTREN PUSKSP 27 8 40 PUSKSP PUSKOPPOLDA 57 5 101 PUSKOPPOLDA PKSU JUMLAH BARIS 43 10 82 23 675 107 152 934 JUMLAH BARIS Tabel 4. Uji Signifikansi dan Koefisien Anggotanya Sekunder dengan Koperasi Primer Kontingensi Koperasi Sekundertidak kuat (lemah).76. Nilai Chi Square.566 Chi Tolak dengan derajad bebas = terima H memiliki arti bahwa secara Jlh Kolom 180 2 46 125 14 196 22 69 101 125 934 kelompok fungsi2 yaitu dilihat dari14 40 pelaksanaan fungsi-fungsi integrasi hitung > tabel Hasil : Sumber data: Primer sisi kelembagaan. Uji Signifikansi dan Koefisien Kontingensi Tabel 5. diperoleh nilai koefisien kontingensi hanya sebesar 0. (menurut Nilai Koefisien Kontingensi = 0. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi.01 dengan derajad bebas 20 diperoleh 27 Koefisien Kontingensi 675 Square. Nilai Square. Jika nilai Koperasi hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai kritis chi8 squareSekunder1Dianalisis1menurut Kelompok Fungsi 23 chi square Usaha 8 20 22 1 8 10 5 107 maka diperoleh hasil nilai chi square hasil perhitungan lebih besar.761 hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif ini17berarti = 24 tolak 27 Penun-jang 1 1 5 16 39 20 152 Nilai Kritis(H).566 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya (menurut analisis kelompok fungsi keterkaitan).PONTREN 12 1 14 P.AGUSTUS 2009 : 140-160 Tabel 4.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Sekunder dengan Koperasi Primer Anggotanya tidak kuat (lemah). analisis kelompok fungsi keterkaitan). PUSKOPWAN FUNGSI INTEGRASI Kelembagaan Usaha Jlh Kolom FUNGSI INTEGRASI PUSKUD 155 8 180 PUSKUD GKSI 37 8 46 GKSI PUSKOPDIT 81 20 125 PUSKOPDIT PUSKUD MINA 14 1 14 PUSKUD MINA PKP-RI 147 22 196 PKP-RI PUSKOPPAS 20 1 22 PUSKOPPAS P. Koperasi SekunderDianalisis menurut Kelompok Fungsi Dianalisis menurut Kelompok Fungsi Sumber data: Primer diolah Nilai Chi Square ( 2) = 87. Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = Kelembagaan 5.01 sebesar 37. 69 PUSKOPWAN 125 PKSU Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan nilai chi square cukup besar yaitu sebesar 87.76 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 20 dan pada 0.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Tabel 5. usaha dan penunjang. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.4. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.293 (tabel 5). diperoleh hasil Koperasi diolah Keputusan dariTolak H0 atau terima H : Sekunder memiliki keterkaitan yang signifikan dengan Koperasi Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya Primer anggotanya. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Penun-jang 17 1 1 27 1 1 5 16 39 20 Koperasi Sekunder 24 dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.566. Uji Signifikansi dan nilai sebesar 37. 158 6 .Square hipotesis nol (H0) atau 20 dan pada 0.JURNAL VOLUME 4 .

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. 2. 6. (1992). VI. Sumatera Barat. Statistical Methods for the Social Sciences. Pedoman Pengembangan Koperasi Khusus Koperasi Sekunder di DKI Jakarta Tahun 2004. -------------. Nusa Tenggara Timur. dirumuskan beberapa kesimpulan sesuai tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. A. pemberdayaan prinsip-prinsip koperasi dan teknis perkoperasian. koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya. Sumatera Utara. koperasi sekunder terkait dengan koperasi Primer anggotanya. Anonim. dan fungsi-fungsi penunjang. Dari sisi pelaksanaan kelompok fungsi integrasi vertikal masingmasing fungsi-fungsi kelembagaan. pemasyarakatan. Dilihat dari pelaksanaan keseluruhan fungsi integrasi vertikal.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat.1 Saran Sesuai hasil analisis yang menunjukkan bahwa keterkaitan koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota yang lemah maka disarankan agar koperasi sekunder harus meningkatkan capacity building melalui pelatihan. KESIMPULAN DAN SARAN 6. New Jersey. keterkaitan ini signifikan atau nyata namun memiliki tingkat hubungan yang lemah.3%. Prentice Hall.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Angka ini lebih kecil dari 0. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0. (2004).1 Kesimpulan Berdasarkan data dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya mengenai keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya pada delapan daerah survei masing-masing provinsi Jawa Timur. Sulawesi Selatan. F. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan cukup lemah. and Barbara. Jakarta. yakni hanya sebesar 29. Jawa Tengah. penyuluhan. 159 . fungsi-fungsi usaha. Keterkaitan ini juga signifikan namun tingkat keterkaitannya lemah.293 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. DAFTAR PUSTAKA Agresti.

Hadi.JURNAL VOLUME 4 . Bogor. Donald Ary. Warta Koperasi. California. L. ICA.edu:70) Partomo. (//gopher. (1979). Farmer Organizations and Rural Cooperatives. Hott Rinehart and Winston.T. Statistik II. Media Pengkajian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. S. Suatu Kajian Cross-Section. BPFE Yogyakarta. May 1995. Ch. 160 . Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Babie. Penerbit. (2002). No. Belmont. Suwandi. Koperasi Organisasi Ekonomi yang Berwatak Sosial. Bayu Krisnamurthi. Earl R. Maret 2006. (2006). International Cooperative Aliance (ICA) Communication.adp. (1987). Djarwanto. (1987). (1973). Jakarta. Revitalisasi Koperasi Sekunder Nasional. Yogyakarta. No: 26 Tahun XX 2005. Bharata. 164. dan Abdul Rahman S. Introduction in Research Education 2nd Editon. Survey Research Methods. (1999). Jakarta. Ekonomi Skala Kecil/Menengah & Koperasi. Suwandi. Ghalia Indonesia. Jakarta. Yacobs and Razavich.AGUSTUS 2009 : 140-160 -------------. Statistik Nonparametrik. Anggota IKAPI. Jakarta.. Wadsworth Publication Co. (2005). Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di �awa Barat. S. Sydney. Solusi Koperasi & Usaha Kecil. (1995). (1988). Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.wisc.

Peran anggota koperasi dengan berdasar identitas tersebut merupakan faktor strategis dalam pengembangan koperasi di Indonesia. Sistem tanggung renteng. pasar.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial*) Burhanuddin R**) dan Pariaman Sinaga***) Abstract At first assessment was dedicated to Puskowanjati on her 50th anniversary on March. 8 �uni 200�. **) Peneliti Utama pada Deputi Pengkajian SDM KUKM (tim peneliti). because it was successful in uniting women and house wives into cooperative organization. baik sebagai pemilik dan pelanggan/pengguna jasa organisasinya. this assessment was done by using psychological variables and especially psychosocial one. Pengantar Definisi koperasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan kepada prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaaan. Mutual liability system is a phenomenal system. 1. kohesivitas.d. modal. The result was significantly interesting to be a thinking material in the process of cooperative promotion and development in the future time. Lembaga koperasi ini terdiri dari kelompok orang yang disebut anggota berdasar sifat individu dan tidak berdasarkan modal atau saham. produksi. *) 161 . ***) Asdep Urusan Penelitian Koperasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti). teknologi. Anggota koperasi mempunyai identitas ganda. In the frame of revealing a part of some factors that influenced the success of the system concerned. aspek manusia sangat penting dalam kehidupan berkoperasi di Indonesia dan tidak hanya berdasarkan modal dan saham. Oleh karena itu. yang dipengaruhi beberapa faktor seperti: faktor sumber daya manusia (SDM). Peran aktif anggota koperasi menentukan target yang Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200�. penyesuaian diri. dan kebijakan publik lainnya. kebijakan moneter. 200� in implementing mutual liability system. peer review 25 Mei s. koperasi juga dihadapkan pada dua lingkungan bisnis yakni lingkungan eksternal dan internal. Artikel diterima 25 Mei 200�. dan dinamika kelompok I. kewirausahaan. review terakhir �� �uli 200�. Selaku badan usaha.

Dengan demikian. Penyesuaian diri berkaitan dengan peran individu untuk menyesuaikan diri terhadap kepentingan diri dan kepentingan koperasi. kelompok juga sebagai wahana dan sarana komunikasi antar anggota maupun dengan koperasinya. saling percaya.AGUSTUS 2009 : 161-170 akan dicapai organisasi koperasi dapat tercapai atau tidak. Terkait dengan ketiga variabel ini. musyawarah. keberadaan kelompok merupakan wadah anggota dalam beraktivitas untuk pemenuhan hak dan kewajiban sebagai anggota koperasi. dan ketiganya ditengarai berpeluang untuk direplikasi ke koperasi lain. Koperasi tidak dapat berkembang apabila anggota koperasi tidak berperan aktif di lembaganya. Untuk itu kelompok diwajibkan untuk mengadakan pertemuan rutin secara berkala. penyesuaian diri dan kewirausahaan. Dalam penerapan sistem ini. Beberapa variabel penting koperasi yang berkaitan dengan dua identitas ganda koperasi adalah. kewajiban dan peraturan. terdapat dua identitas yang melekat pada anggota koperasi termasuk sebagai diri pribadi manusia dengan ciri psikologis tertentu dan terpisahkan dari kesehatan koperasi. Inilah prinsip tanggung renteng yang melibatkan tiga unsur utama yaitu kelompok. Kohesivitas anggota koperasi sesuai dengan ciri khas koperasi yaitu individu yang saling berinteraksi dalam berkelompok untuk mencapai tujuan koperasi.JURNAL VOLUME 4 . aspek psikologi dan khususnya psikososial di koperasi juga merupakan faktor penting untuk keberlangsungan hidup koperasi. Di samping itu. Artinya. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi koperasi apapun untuk bisa tumbuh dan berkembang baik dari sisi organisasi maupun usaha. II. Dengan demikian dalam kelompok juga akan terjadi proses pembelajaran bagi anggota. kohesivitas anggota koperasi. Implementasi dalam mewujudkan target koperasi dapat diraih dengan bantuan manajemen dan pengurus yang mengarahkan kegiatan bisnis koperasi. disiplin dan tanggung jawab. Bila proses sistem tanggung renteng diterapkan secara benar. keterbukaan. naskah ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada koperasi primer anggota Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) dalam rangka meneliti aspek psikologis dalam pengembangan sistem tanggung renteng. Sebuah sikap dan perilaku yang dilandisi kesadaran terhadap tata nilai tanggung renteng yaitu kebersamaan. maka akan terjadi perubahan sikap dan perilaku anggota. Sistem Tanggung Renteng Tanggung jawab bersama diantara anggota dalam satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi dengan dasar “keterbukaan dan saling mempercayai”. 162 . Kewirausahaan merupakan sikap pribadi berkaitan dengan kepentingan ekonomi pribadi dan koperasi.

kohesivitas. Semua data variabel diukur dengan 22 memakai skala Likert. KSP Citra Lestari. 9646 (Pariaman dan Hidayat.8496 (Martono. yaitu di Kabupaten Malang.2 Penetapan Koperasi Contoh 2 3 Jumlah koperasi primer wanita yang menjadi anggota Puskowanjati sampai tahun 2008 tercatat sebanyak 46 koperasi primer 83 dan yang ditetapkan sebagai sampel kajian sebanyak delapan anggota koperasi primer wanita yaitu: 1.1 Pengumpulan data ditetapkan di tiga lokasi yang juga ditetapkan Variabel Kohesivitas secara sengaja. Tabel 1. Metode Kajian Kajian ini dilaksanakan dengan metode survei yang dilengkapi dengan observasi langsung kepada objek kajian tanpa memberikan perlakuan apapun sehingga terjadi aktivitas yang saling mempengaruhi (expost facto model).4.9179 (Mardiyati. Kota Surabaya 3. 2004). 3. namun kemudian yang layak diukur ditemukan hanya sebanyak 162 orang. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu. KSU Setia Budi Wanita. penyesuaian dan kewirausahaan. Kabupaten Malang 2. Lokasi Koperasi Kelompok 4 3 1 8 2 2 2 6 Anggota (orang) 10 10 10 ------Responden (orang) 80 60 20 160 1. sebesar 0.1 Penetapan Kerangka Pengambilan Contoh (Sampling Frame) Subyek atau responden penelitian ditetapkan secara sengaja (purposive sampling method) sebanyak 160 orang dan dalam pelaksanaannya meningkat menjadi 170 orang.Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah (Org) 83 57 22 Persentase (%) 51 35 14 163 . KSP Kartini Mandiri. Analisis data menggunakan teknik analisis persamaan regresi sederhana dan persamaan regresi berganda yang dalam penyajian hasil kajian dilengkapi dengan analisis statistik deskriptif berupa grafik histogram rerata dan matriks kategori. Kabupaten Pasuruan Jumlah 4. 57 1996). 2004). 3. 1 3. Provinsi Jawa Timur. dan setiap variabel telah memiliki koefisien reliabilitas yaitu : untuk variabel kohesivitas. Batu. KSU Kartika Chandra. dan variabel kewirausahaan 0.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) III. Pandaan. pada bulan Februari 2009. Kota Surabaya. Lawang. 2. dan Kabupaten Pasuruan. vairabel penyesuaian. 0. Malang.

kreatifitas. 6. berani mengambil risiko. Pemilihan dan penetapan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan keragaman lokasi kajian dan anggota koperasi. 8. KSU Setia Bhakti Wanita. KSU Setia Kartini Wanita. KSU Mawar Putih. Sidoarjo. kekuatan kelompok. Kewirausahaan adalah kecenderungan individu yang percaya diri untuk bekerja mandiri. Malang. Kohesivitas adalah keterikatan anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan berkelompok. optimis. 3. Surabaya.JURNAL VOLUME 4 . telah berhasil dirumuskan tiga definisi operasional variabel untuk digunakan dalam kajian. keterlibatan. Grafik Kohesivitas Anggota Koperasi Wanita Sampel 164 . bekerja keras. dan KSU Waspada.1 Variabel Kohesivitas 22 57 1 2 3 83 Gambar 1. dan peka terhadap kritik dan komentar/pendapat pihak lain. 7. dan memiliki sifat kepemimpinan. Penyesuaian diri adalah perilaku belajar mengatasi dorongan dari tuntutan diri dan lingkungan dengan mengendalikan tindakan langsung dan hubungan interpersonal. mampu melihat peluang bisnis.AGUSTUS 2009 : 161-170 5. inisiatif. Surabaya.3 Definisi Operasional Variabel Berdasarkan penulusuran terhadap beberapa literatur dan jurnal kajian yang sejenis khususnya yang berkaitan langsung dengan variabel kajian. status dan peringkat koperasi. Hasil Penelitian 4. IV. toleransi terhadap kelompok dan pemenuhan harapan untuk bekerjasama mencapai tujuan bersama.

Pengaruh masih ketat c. Ada mitra tanding f. Tabel 1. Dampak Kohesivitas Kepuasan Rasa tanggung jawab Optimalisasi prestasi Komunikatif Rasa kami kuat Menolak perombakan kelompok Penampilan kerja baik 165 . Kewirausaha individu dalam koperasi karena ada contoh dalam kelompok untuk mengelola bisnis dalam rumah tangga dan koperasi. Tabel 1 kategorisasi menunjukkan kohesivitas anggota koperasi wanita tinggi. Rasa sepenanggungan d. Individu belajar menyesuaikan diri dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Diskripsi Kohesivitas Dinamika Kohesivitas a.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian  a. f. Diskripsi Kohesivitas 2. b. Keterikatan 83 anggota akan keberlangsungan hidup koperasi akan membuat anggota koperasi terlibat dalam kelompok di koperasi. Saling melengkapi h. c. d. e. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (Org) 83 57 22 162 Persentase (%) 51 35 14 100 Dinamika Kelompok Individu dalam kelompok mempunyai keterikatan dengan kelompok sesuai dengan bagaimana penyesuaian diri individu dan interaksi individu di dalam kelompok. Kesempatan partisipasi g. 1987) (Alderfer. Keterikatan akan aturan dan kepentingan ekonomi membuat anggota koperasi secara sadar menerapkan sistem tanggung renteng. g. 1. dalam Hadipranata. Kohesivitas kelompok menunjukkan keterikatan individu dengan individu lain dalam kelompok. Ada sistem imbalan (Alderfer. Ukuran terbatas (kecil) b. Kelompok kelompok koperasi yang menerapkan tanggung renteng akan merasa saling terikat.22 57 Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) 1 2 3 Kohesivitas koperasi sebagai bukti interaksi antar anggota ditemukan cukup tinggi di koperasi wanita sampel. TabelTabel 2. 1987) 4. Rasa keterkaitan e. dalam Hadipranata.

Kelompok yang beriklim kohesif ini dalam membuat keputusan lebih efektif. 2) Produktifitas kerja kelompok. Setiap anggota memperoleh tanggungjawab terhadap beberapa tugas-tugas yang sudah rutin. dan g) Hadiah lebih besar dari hukuman. kemampuan maupun perspektifnya memiliki karakter yang dibutuhkan bagi efisiensi kinerja kelompok. Karenanya diperlukan beberapa syarat (Katz. artinya ada job requirement. f) Aktivitas berperan serta dalam keputusan. Langkah-langkah untuk menguatkan kohesivitas dalam kelompok dapat dilakukan. Menurut Steiner (1972). b) Jumlah anggota yang ideal kurang dari enam orang.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 161-170 Kelompok yang berkohesivitas dengan memiliki jati diri sosial (social identity) dan memiliki kekuatan kerjasama yang tangguh. 1982). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kohesivitas suatu kelompok (Jannis. Kelompok bhinneka adalah kelompok yang anggotanya memiliki perbedaan nilai. b) Sumber daya kelompok yang tepat penempatannya. c) Mekanisme kerja kelompok demokratis. Anggota koperasi dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama. yaitu: a) Kiprah interaksi personalnya. Sebagai bentuk partisipasi koperasi akan membuat saling pengertian yang lebih baik dan kemudian lebih memiliki keikatan dalam penyelesaian tugas secara positif dan efektif. d) Kesediaan bermitra tanding. terbuka dan memperoleh peluang untuk bermitra tanding atau berkompetisi yang sehat. Hal ini membuat keberhasilan kelompok lebih utuh. Setiap anggota memberikan kelebihannya dan menerima kekurangannya. pendapat. c) Keterbukaan isolasi dari luar. Keberhasilan pengaruh kohesivitas kelompok terhadap produktifitas koperasi dapat dikatakan tergantung pada pengaturan koperasi terhadap kelompok dalam pencapaian tujuan bersama. baik sifat-sifat individu maupun watak kelompoknya. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah kelompok kohesif jauh lebih 166 . Kohesivitas juga menciptakan “motivasi sosial” karena kohesivitas kelompok di koperasi wanita identik dengan keragaman atau disebut juga kelompok bhinneka. e) pertaruhan nama kelompok atau jiwa korps. 1989). efektifitas kelompok kohesif itu: 1) Derajat keterikatan anggota kelompok. Jati diri kelompok kohesif membuat kerjasama pada setiap peringkat organisasi termasuk internal pengurus koperasi. yaitu antara lain: a) Tatanan tugas. sehingga menimbulkan pengembangan kepribadian yang unik. pekerjaan dan aturan kerja yang mapan. lebih kreatif dan dalam penyelesaian masalah pun lebih koordinatif serta lebih produktif dari pada sejumlah orang yang sama dalam kelompok biasa yang biasanya kerja kurang terkoordinasi. 3) Kepuasan kerja anggota kelompok. Penelitian tersebut juga dikenakan berbagai macam jenis pekerjaan. sedangkan yang tidak berkohesivitas cenderung lemah terhadap kerjasama. dan.

Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Penyesuaian diri wanita anggota koperasi dapat diamati pada Grafik 2 dan Tabel 2. Hanya saja kadangkala untuk jenis pekerjaan seni.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) baik daripada kinerja individual.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian 43 51 1 2 3 68 Gambar 2. maka kerajinan tangan yang bersifat pribadi dan kinerja perorangan lebih baik daripada dikerjakan bersama 4. Wanita anggota koperasi akan merasa senasib sepenanggungan dengan mengedepankan penyesuaian diri sehingga kepentingan ekonomi dapat terwujud secara bersama-sama. Hal tersebut disebabkan sistem tanggung renteng itu sendiri memberikan kesempatan anggota koperasi untuk berinteraksi sehingga timbul perilaku mencontoh. Penjelasan perilaku wanita wirausaha yang tinggi berkaitan dengan tanggung renteng. 4. Ternyata dari hasil pengukuran ditemukan bahwa koperasi cukup tinggi. Wanita melakukan penyesuaian diri terutama berkaitan dengan lingkungan dimana kelompok berkumpul sebagai wujud tanggung renteng koperasi. Munculnya keyakinan diri seseorang mengenai kemampuannya dalam menampilkan suatu bentuk perilaku menggambarkan hubungan dengan situasi yang dihadapi seseorang tersebut dan menempatkannya sebagai elemen kognitif dalam pembelajaran sosial. Model tanggung renteng menerapkan perilaku belajar peraturan.3 Variabel Kewirausahaan Grafik 3 dan Tabel 3 menunjukkan bahwa kategori anggota koperasi tinggi pada aspek kewirausahaan. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bandura bahwa keyakinan individu akan dirinya yang dapat melakukan tindakan yang dikehendaki oleh situasi tertentu dengan berhasil. Figur dalam kelompok akan mendorong individu dalam koperasi untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik terutama berkaitan dengan peraturan sebagai turunan dari model. 167 .

secara berturut-turut adalah: kewirausahaan (71 persen).JURNAL VOLUME 4 . Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Kategori Jumlah Persentase (org) (%) Tinggi Kewirausahaan 68 42 Sedang 51 32 Rendah 43 26 Total 162 100 30 Kewirausahaan 61 1 2 3 2 30 61 71 1 2 3 Grafik 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan 71 Tabel 4. Jumlah (org) 71 61 30 162 Persentase (%) 44 38 18 100 168 . dan kohesivitas (51 persen). Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Tabel 3. Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel 4. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan ditemukan bahwa ketiga variabel menempati kategori tertinggi. Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Gambar 3. 3. penyesuaian diri (68 persen).AGUSTUS 2009 : 161-170 Grafik 2. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan Anggota Koperasi Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total VI.

(1990). Hal ini mendukung upaya penyelamatan asset dan ketersediaan likuiditas koperasi sehingga semua anggota koperasi memiliki kesempatan yang relatif sama untuk mendapatkan pelayanan dari koperasi masing-masing. maka generalisasi kajian dalam bentuk replikasi sistem tanggung renteng masih memerlukan kajian lebih mendalam dengan lingkup lebih luas. (1987). Mikeo. A. Administrative Science Quarterly. 81-104. Aspek-aspek psikososial yang berhasil diukur ini nampaknya perlu dipertimbangkan dengan lebih cermat di masa akan datang sebagai bagian dari pola pembinaan koperasi dan anggotanya. Para wanita anggota koperasi primer yang mempraktekkan sistem tanggung renteng ditengarai turut menopang kehidupan organisasi koperasi masingmasing. Hadipranata. (1987). Hal tersebut disebabkan karena dasar pendirian koperasi adalah merupakan kumpulan orang-orang (human capital) dan bukan semata-mata kepada unsur permodalan. A... Sehubungan dengan hal tersebut di atas. & Rasyid. R. Penelitian. Laporan Hasil Lokakarya.. Himam. The Effects of Group Longerity on Project Communication and Performance. Hasil kajian juga mengindikasikan bahwa pengembangan koperasi tidak bisa terlepas sepenuhnya dari aspekaspek psikologis dan sosiologis anggotanya. Yogyakarta: Badan Pelaksana Pendidikan dan Latihan Ketenagakerjaan Yogyakarta.Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. DAFTAR PUSTAKA Hadipranata.F.F. Yogyakarta: Studio Yogyayasa Laboratorium Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Hasil kajian juga menggambarkan adanya kemampuan adaptasi para wanita anggota koperasi dalam mengadopsi suatu sistem yang diyakini bersama dapat membantu pemenuhan ekonomi rumah tangga mereka. Mikeo. 169 . (1993). 27. Perbedaan Semangat Kerja Karyawan Dalam Kelompok Yang Kohesif dan Yang Tidak Kohesif Pada Perusahaan Tenun ATBM Kodya Yogyakarta.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Penemuan ini mencerminkan bahwa jiwa kewirausahaan anggota koperasi primer ternyata mempengaruhi dan turut menentukan kelangsungan usaha koperasi-koperasi primer wanita yang bernaung dalam Puskowanjati. (1982). Katz. Hadipranata.F.. A.. Keberhasilan tanggung renteng sebagai suatu sistem dapat dicermati dari unsur rasa keterikatan anggota kepada kelompoknya dan koperasinya. F.F.. H. Identifikasi dan Analisis Alat Ukur Penelitian di Bidang Psikologi Industri dan Organisasi. Laporan Penelitian.

San Fransisco: Jossey Bass. A. Group Process and Productivity. (1989). The Psychology of Group Processes. (1972). A. Crucial Decissions. New York: The Free Press. Zander. New York: Academic Press.A. I. Annual Review of Psychology. 30. Steiner.AGUSTUS 2009 : 161-170 Jannis.L.. 417-452. (2004).JURNAL VOLUME 4 . Zander. 170 . Making Group Effective. I. Mardiyati.... (1979). Kebahagiaan Perkawinan Ditinjau Penyesuaian Diri dan Sikap Terhadap Konsep Wanita Ideal �awa. (1982).

kemanfaatan I. auditors and members are not explicitly written. and the timing of services. Pendahuluan 1. Data are analyzed using simple descripted statistics. *) 171 . management and members – are weak.d.e. Pemikiran bahwa dalam melihat Kajian Suplementasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK tahun 2006.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. The rules of conduct in cooperatives have not been developed systematically. management. indikator. dan 3). Artikel diterima 12 Mei 200�. the quality of product. Human resources of cooperatives – board of directors. Cooperatives has not built financial intermediary system among themselves so that the capital can be used more productive and efficiently. Gopar**) Abstract This research has been conducted in order to asses the impacts of cooperatives for its members. **) Peneliti pada Deputi bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (peneliti kajian). intermediasi. partisipasi.I. covered 15 cooperatives and about 150 members of cooperatives. 8 �uni 200�. Pengukuran yang dilakukan selama ini dirasakan belum memadai untuk menerangkan manfaat keberadaan koperasi bagi anggota dan masyarakat sekitarnya. review akhir �� �uli 200�.1 Latar Belakang Tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya penelitian untuk menilai dampak koperasi pada tingkat anggotanya: 1). D. experiences and composition of directors and management. The weaknesses have been occurred in some areas such as education. Kepentingan untuk mengukur kemajuan koperasi menurut dimensi pertumbuhan secara agregat dan sumbangannya terhadap pendapatan regional maupun nasional. The impact get through the services i. and North Sulawesi. 2). Financially. cooperatives fail to mobilize capital and to use it more productive. Members are also benefited through saving and loan activities. Dampak. cooperative pricing policy. Kepentingan untuk mengembangkan koperasi sebagai alat untuk ingan meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin. The research indicates some important results. the tasks and the responsibilities for directors. Gopar) KAJIAN DAMPAK KOPERASI TERHADAP ANGGOTANYA1*) Achmad H. especially in rural areas.. Cooperatives have given good impacts for its members. North Sumatra. peer review 12 Mei s. Assessment is implemented in three provinces. Yogyakarta. Market information from cooperatives is also useful for members in selling their products. kelompok sasaran.

Kementerian Negara KUKM. Indikator-indikator tersebut diujicobakan dalam penelitian agar bisa disempurnakan dan secara berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengukur dampak koperasi terhadap anggota. 2 Memberikan masukan kepada koperasi itu sendiri dalam rangka merumuskan kebijakan organisasi dan usahanya.3 Manfaat Penelitian Kegiatan penelitian ini pada dasarnya akan dapat memberikan manfaat ganda. 1. yang dilaksanakan tim dari Universitas Indonesia dengan judul ”Kajian Dampak Pemberdayaan KUKM terhadap Kesejahteraan Rakyat”. Melakukan pengukuran dampak koperasi terhadap anggota pada beberapa lokasi terpilih. 2 Memberikan masukan kebijaksanaan dalam penyusunan sistem dan mekanisme monitoring dan evaluasi pembangunan perkoperasian. dalam hal-hal sebagai berikut : Manfaat yang dapat diambil oleh gerakan koperasi adalah sebagai berikut:  Meningkatkan kemampuan analisis secara kritis para pengelola koperasi. b. Sedangkan bagi Pemerintah kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1 Memberikan masukan informasi yang berguna dalam penyusunan kebijaksanaan pembangunan koperasi. Penelitian ini merupakan suplementasi dari penelitian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. 1. tahun anggaran 2006. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengembangkan indikator-indikator monitoring dan evaluasi dampak koperasi terhadap anggotanya.AGUSTUS 2009 : 171-185 kemajuan yang dicapai koperasi atau manfaat kehadiran koperasi di tengah-tengah masyarakat perlu pemantauan dan evaluasi sejauhmana dampak koperasi terhadap anggotanya.JURNAL VOLUME 4 . Bertitik tolak dari ke tiga alasan di atas maka lahirlah gagasan dan pemikiran untuk mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi dampak koperasi di tingkat anggota. 172 . Melakukan uji coba dan pengembangan indikator-indikator pengukuran dampak koperasi terhadap anggota.2 Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. baik kepada gerakan koperasi maupun kepada pemerintah.

seperti persepsi anggota terhadap kualitas pelayanan koperasi dan seterusnya. Aspek Pengamatan Informasi atau data yang dikumpulkan pada dasarnya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai oleh penelitian itu sendiri. Aspek Penelitian Para pengelola yang melaksanakan penelitian tersebut dibekali dengan pengetahuan teknis penelitian maka selanjutnya mereka langsung dilibatkan dalam praktek atau proses penelitian. volume usaha dan sebagainya. maka secara umum dapat dikelompokkan dalam dua kategori data. maka cakupan kegiatannya meliputi sebagai berikut: 1. mudah diperoleh dan dapat dilakukan secara nasional. seperti misalnya jumlah anggota. Dari mereka digali informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan.4 Ruang Lingkup Mengingat penelitian ini lebih merupakan proyek perintisan yang bersifat eksperimental study yang pelaksanaannya dilakukan juga oleh koperasi. Mekanisme monitoring semacam ini sudah berjalan dengan baik. Dalam kerangka monitoring dan evaluasi dampak koperasi. Gopar) 1. Sebagai responden untuk mewakili koperasi adalah pengurus atau pengelola koperasi. Tenaga-tenaga dari koperasi tersebut diikutsertakan dalam proses pelaksanaan penelitian sehingga diharapkan akan terjadi proses alih pengetahuan (learning by doing) mengenai penelitian perkoperasian. sedangkan untuk anggota koperasi diwawancarai sebanyak sepuluh orang anggota koperasi yang ada di wilayah kerjanya. 3. Dalam monitoring perkembangan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah secara rutin dan terus menerus selama ini adalah menggunakan data atau indikator kuantitas yang bisa dimonitor. Namun kelemahannya adalah kemungkinan datanya kurang reliable dan belum memadai untuk menggambarkan apakah kehadiran koperasi 173 .Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. dari tingkat yang paling bawah (kabupaten/kota) sampai dengan tingkat nasional. dan 2) Data yang tidak yang tidak bisa dimonitor (unmonitorable). yaitu: 1) Data yang bisa dimonitor setiap saat dan secara terus menerus (monitorable). 2. setiap saat. Alih Pengetahuan Uji coba dan pengambilan data pada penelitian melibatkan langsung tenaga pengelola koperasi sebagai pelaksana pengumpulan data penelitian. Obyek pengamatan adalah koperasi dan anggotanya. jumlah simpanan. Keuntungan cara ini adalah datanya tersedia.

Selain itu partisipasi merupakan dasar kekuatan koperasi. dan dampak koperasi (cooperative impact) terhadap anggota dan lingkungan yang dipengaruhinya. peranan koperasi terlihat belum memadai dan belum menggambarkan dampak penggandanya terhadap seluruh aspek kehidupan anggota koperasi maupun masyarakat. Dengan menggunakan cara yang pertama. Kerangka Pemikiran Setidaknya ada tiga cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan koperasi. Berdasarkan asumsi ini maka pengukuran keberhasilan pembangunan koperasi dapat dilakukan melalui pengukuran pertumbuhannya. Berdasarkan suatu asumsi bahwa semua koperasi akan berusaha secara maksimal untuk melayani anggotanya atau berorientasi pada kepetingan anggota. sumbangannya terhadap GDP maupun GNP (cooperative share). Di lain pihak jika kita mengukur dari segi cooperative share terhadap GDP. maka partisipasi anggota merupakan kata kunci yang melambangkan dampak keberhasilan koperasi dalam memperbaiki kesejahteraan para anggotanya. Banyaknya anggota belum menggambarkan besarnya manfaat keberadaan koperasi karena hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki akses terhadap pelayanan koperasi. Dimensi pertama dapat dijelaskan sebagaimana berikut. namun akan lebih ditekankan pada tingkat anggota. memerlukan suatu studi secara khusus dan komprehensif mengenai dampak koperasi pada tingkat (level) anggotanya. yaitu dilihat dari dimensi pertumbuhan (cooperative growth). Mengingat basis kekuatan koperasi adalah pada anggota. yaitu dilihat dari perspektif pertumbuhan koperasi ternyata hasilnya belum memuaskan.AGUSTUS 2009 : 171-185 itu memberikan manfaat bagi sebagian besar anggota dan masyarakat sekitarnya. dalam penelitian ini pengukuran dampak koperasi terhadap anggota tidak hanya diambil dari data kuantitatif yang diperoleh dari koperasi. Dengan lain perkataan di samping data yang bisa dimonitor dari koperasi juga akan diambil data berdasarkan persepsi atau opini anggota. Pengukuran dampak koperasi dalam bentuk kemanfaatan koperasi dan partisipasi sebagai komplemen bahkan mungkin subtitusif dari dua tolok ukur dan atau cara pengukuran di atas. 174 . Pemikiran ini selanjutnya akan sampai pada suatu justifikasi bahwa mengukur keberhasilan koperasi menurut dimensi pertumbuhan dan sumbangannya terhadap GDP dianggap kurang memadai. maka dengan semakin besarnya pertumbuhan koperasi memberikan indikasi semakin banyak jumlah anggota yang memperoleh manfaat dari kehadiran koperasi. Oleh karena itu. II.JURNAL VOLUME 4 .

Keterbatasan sumberdaya yang ada pada pemerintah. Secara dini koperasi dapat menemukenali kesalahan dan penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program. Selain itu terjamin tingkat akurasi dan reliabilitas data dan informasi yang disajikan. efisien serta manageable jika dilakukan oleh koperasi itu sendiri. Dalam pelaksanaan perlu dipantau terus menerus. pencatatan. ditetapkan rencana dan program yang hendak dicapai oleh koperasi dalam kurun waktu tertentu. (berupa tenaga pelaksana dan pembiayaan) tidak memungkinkan koperasi secara nasional untuk melakukan kegiatan ini. pengumpulan. volume hasil produksi yang akan dipasarkan atau diserap dan sebagainya.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Kinerja dapat diartikan sebagai suatu tingkat pencapaian target selama periode tertentu. Kegiatan monitoring dan evaluasi sangat penting bagi individual koperasi yang bersangkutan. Tujuannya adalah mendapatkan informasi jumlah atau volume komoditi atau kebutuhan anggota yang sudah tersalur maupun jumlah anggota yang sudah menerimanya dan seterusnya. Karena secara cepat dapat mengkoreksi berbagai kesalahan ataupun penyimpangan yang terjadi pada koperasi. Selain itu dilakukan evaluasi membandingkan pelaksanaan program yang telah dicapai secara aktual dan dampaknya dengan rencana yang hendak dicapai. Selanjutnya dilakukan penyesuaian terhadap kebijaksanaan dan tujuan yang hendak dicapai. (b). Gopar) Monitoring dapat dirumuskan sebagai proses pengukuran. dan penyajian informasi untuk membantu pengelola dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerjanya dalam mengelola suatu organisasi atau perusahaan. Dengan cara ini membantu menemukan sebab keberhasilan maupun kegagalan dari berbagai program. Kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana komunikasi dua arah dan member education. Disamping itu koperasi menjadi semakin kritis dan realistis dalam perumusan kebijaksanaan dan perencanaannya. Lebih mudah dan cepat untuk melakukan penyempurnaan. (d). volume bibit. 175 . Hubungan koperasi dengan para anggotanya menjadi semakin dekat dan tidak terjadi kesenjangan antara koperasi dan anggotanya. (c). Atas dasar itu. Pada umumnya hasil evaluasi pemerintah tidak segera dikomunikasikan dengan koperasi yang diamati. Misalnya dalam sebuah koperasi pertanian telah dilakukan inventarisasi atau pencatatan terhadap luas area yang ditanami. Kegiatan ini disebut evaluasi (impact monitoring). pupuk dan kredit yang akan disalurkan kepada petani anggota. antara lain yaitu: (a). Ada beberapa pertimbangan pentingnya koperasi untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri. pengolahan. Dalam rangka operasionalisasinya akan lebih efektif.

Operasionalisasi kegiatan secara mekanistis diarahkan untuk memasok data agregat pengambilan keputusan di tingkat pemerintah melalui jaringan kerja (network): Anggota – Koperasi – Kantor koperasi di kabupaten/ kota – Provinsi – Pemerintah pusat. D. Pemilihan tiga propinsi dimaksud diharapkan dapat mewakili keragaman situasi dan kondisi lingkungan koperasi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Di samping data/informasi perkembangan organisasi dan usaha. Metode Penelitian Untuk mencapai tujuan proyek penelitian ini dan berdasarkan ruang lingkup kegiatan yang dicakup. III. dan berbagai pertimbangan non teknis lainnya. dilaporkan hasil monitoring dan evaluasi dampak koperasi pada tingkat anggota kepada dinas koperasi kabupaten/kota. Lokasi untuk penelitian ini adalah provinsi Sumatera Utara.JURNAL VOLUME 4 .I. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ditetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan kebutuhan akan representasi dari keadaan yang ada di lapang dan ketersediaan dana. Pada penelitian ini koperasi sampel ditentukan secara acak (random) dari sejumlah koperasi pedesaan yang masih aktif di provinsi lokasi penelitian.AGUSTUS 2009 : 171-185 Anggota sebagai kelompok sasaran (target group) merupakan objek pelaksanaan monitoring dan evaluasi. ditetapkanlah sebanyak 15 KUD sebagai objek penelitian. 2. Secara simultan koperasi yang bersangkutan sudah dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk penyesuaian dan penyempurnaan kebijakan. dukungan pembiayaan dan representasi data yang dapat diambil. Pemilihan Koperasi Contoh Pemilihan koperasi contoh didasarkan kepada berbagai pertimbangan pula. Yogyakarta. Jumlah KUD untuk masing- 176 . Berdasarkan pertimbangan kemampuan pelaksanaan. Kantor dinas tingkat provinsi akan menyusun laporan sedemikian rupa kepada pemerintah pusat. Selanjutnya dilaporkan kepada kantor dinas koperasi tingkat provinsi. Sifat dan keadaan serta karakteristik yang khas dari ketiga daerah tersebut menjadi pembanding untuk masing-masing situasi dan kondisi lingkungan lainnya yang mungkin berbeda. Kantor dinas membuat laporan kumulatif perkembangan koperasi. dan propinsi Sulawesi Utara. maka pelaksanaannya dilakukan berdasarkan anaannya metodologi dan prosedur yang disusun sebagai berikut: 1. Merangkum hasil monitoring dan evaluasi masing-masing koperasi yang ada di daerahnya. sebagaimana pada pemilihan lokasi penelitian.

3 banyak mengenai dampak koperasi terhadap anggotanya. maka ditetapkanlah sebanyak 6 (enam) KUD di Sumatera Utara. Namun juga sebagai salah satu upaya untuk melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasi sampel (dalam hal ini diwakili oleh pengurus).DIY KoperasiSULUT tersebut sampel rata SUMUT adalah sebagaimana tertera pada tabel 1.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Koperasi Contoh dan Lokasinya Tabel 1.7 45 70 40 Pendidikananggota sebagai% orang (>SMP) responden.  2 3 4 5 6 7 8 9 10  12 13 14 15 Nama Koperasi Harta Sidomukti Sritani Tani Makmur Rata Harapan Ringin IX Ngaglik Makmur Turi Wenang Lestario Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kecamatan Selesai Hinai Gebang Babelan Besitang Pagar Merbau Cangkringan Ngaglik Kalasan Turi Sario Molas Kombi Kombi kombi idem idem idem idem idem Yogyakarta idem idem idem idem Sulawesi utara idem idem idem Propinsi Sumatera Utara No  2 3 4 Sesuai dengan jumlah KUD yang ada di masing-masing provinsi. 177 . Gopar) masing provinsi ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah KUD dan KUD mandiri yang ada di setiap propinsi tersebut.8 3.7 78 70 % Pekerjaan (tani) Selanjutnya untuk setiap koperasi sampel diambil76 sebanyak 10 51. Responden anggota ini diperlukan 2. koperasi yang terpilih sebagai sampel hanyalah diambil dari beberapa kabupaten Propinsi RataIdentitas Satuan saja. 83. 4 (empat) Tabel 2. Koperasi Contoh dan Lokasinya No. dan 5 (lima) Umum Sulawesi Utara sebagai koperasi sampel. informal untuk menggali data dan informasi yang lebih 1. Dengan pertimbangan efektivitas pelaksanaan survai.1 kali Pend. Tabel 1.3 82 92 76 % Umur (>35 thn) 74.4 2. Identitas KUD di Anggota KUD di Yogyakarta. tidaklah menyebar di semua kabupaten.

Metoda Analisis Analisis yang dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan penelitian.4 kali. serta upaya melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasinya. ketersediaan waktu dan dana. Karena mereka umumnya hidup di pedesaan.JURNAL VOLUME 4 .7%). Organisasi koperasi di pedesaaan pada umumnya KUD adalah berbasis kewilayahan. Hanya sekitar 51. Keterangan secara menyeluruh untuk semua lokasi penelitian dapat dikaji lebih lanjut pada tabel 2. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya. Teknik ini digunakan karena secara sederhana akan dapat menggambarkan kecenderungan yang terdapat pada suatu populasi. Terlebih dahulu akan memaparkan kondisi keanggotaan koperasi pedesaan yang diteliti.7% dari mereka yang mempunyai pendidikan diatas sekolah lanjutan pertama (SLP). Perlakuan dan pengolahan akan dilakukan terhadap distribusi frekuensi. maka kita akan dapat memprediksikan kemungkinan maupun alternatip yang ada dari data. ketersediaan perangkat keras dan lunaknya. ketersediaan data dan informasi yang didapat dan pertimbangan seperti kemampuan para peneliti. Hal tersebut dapat dimaklumi. 1988).1%). Jikalau kita tinjau ciri keanggotaan lainnya (tabel 3) terlihat bahwa para responden umumnya telah menjadi anggota koperasi selama lebih dari lima tahun (73. Persepsi tersebut belum tentu sama dengan persepsi anggota. Hasil Pengamatan dan Analisis Dari sudut pandang koperasi (diwakili oleh pengurus dan/atau pengelola) bahwa koperasi telah memberikan dampaknya kepada anggota secara maksimal. Mereka umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang belum memadai.AGUSTUS 2009 : 171-185 3. IV. Secara umum dapat dikatakan bahwa para responden anggota koperasi adalah para anggota yang pekerjaaannya sebagai petani (74. penggalian dan pendalaman data/informasi dari dan tentang anggota untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang anggota. Untuk itu akan dibahas persepsi anggota tentang dampak dan manfaat koperasi dari sudut pandang anggota koperasi. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi anggota di koperasi lainnya (32%). Selebihnya mereka mengaku paling tinggi hanya tamat SLP. 178 . Penelitian ini menggunakan model-model analisis statistik deskriptip sederhana (simple descriptive statistics) sebagaimana dikemukakan oleh Welch & Comer (1988). Dengan melihat kecenderungan dari data yang terolah. Usia mereka Usia mereka yang berada diatas 35 tahun ada sebanyak 83.3% dari keseluruhan responden. Namun demikian dari keseluruhan responden anggota tersebut umumnya mereka telah mendapatkan pendidikan non-formal dan keterampilan rata-rata sebanyak 2. et al. tendensi pemusatan dan penyebaran (Neter.

Ciri-ciri Keanggotaan Tabel 3.0 64 70 58 Tabel 5.8 Ratarata 83. Bagaimana manfaat dan 3 74 42 57.2 ha). keinginan sendiri Pemilikan lahan Satuan % % % % % % (ha/angg) Propinsi SUMUT 72 40 52 6 40 1.4 SULUT 68 26 32 8 56 1. 2. Hanya sekitar 55.3 SULUT 82 76 45 2.3% saja yang menjadi anggota koperasi atas keinginan sendiri. anjuran pengurus c. Ciri-ciri Keanggotaan No  2 3 Ciri keanggotaan Lama keanggotaan (>5 thn) Anggota koperasi lain Motivasi a. Ini menarik untuk dikemukakan.3 74. Begitu juga halnya dengan di Sulawesi86 Utara yang kepemilikan lahan 2 Obat-obatan dan bibit 68 60 62 63.7 32. Sedangkan sebanyak 31. informal Satuan % % % kali SUMUT 76 70 40 3.1 Propinsi DIY 92 78 70 1.0 179 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a.3 para Kredit anggota koperasinya rata-rata 56 sekitar 1.96 1 4 Ciri lainnya yang penting untuk dikaji adalah kenyataan bahwa Tabel 4.3 1. anjuran kepala desa b.3 dan ketepatanlainnya 5 Pelayanan waktunya dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.7 51. Berlahan sempit kepemilikan lahan rata-rata hanya sekitar 0.3 3.2 DIY 81 30 10 10 70 0. anjuran pembina d. Pengaruh anjuran pembina dan pengurus terhadap calon anggota untuk menjadi anggota koperasi yang hanya sekitar 8% tentunya belumlah bisa menggambarkan bahwa anjuran dan penyuluhan belum memadai.7 2. lebih tinggi . 64. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa menjadi anggota koperasi tidaklah hanya berdasarkan motivasi dan keinginan sendiri.3 4. Tabel 3.4 Hal menarik lainnya adalah motivasi menjadi anggota koperasi.3 0.0 31. Di Sumatera Utara para Propinsi RataNo Komoditi anggotanya menjadi pemilik kebun kelapa DIY ternyata memiliki lahan sawit SULUT rata SUMUT yang jauh lebih luas dari rata-rata kepemilikan lahan tersebut diatas (sekitar  Pupuk 70 76 77. Efektivitasnya perlu untuk dikaji lebih lanjut.3 Ratarata 73.96 ha. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 3 (Persentase) Ratarata SULUT 62 24. Gopar) Tabel 2. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya para anggota koperasi umumnya merupakan petani kecil.3 dampak koperasi bagi anggotanya dalam hal ketersediaan beberapa komoditi 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 76 75.3% lainnya menjadi anggota koperasi karena atas anjuran kepala desa. Identitas Umum Anggota Tabel Identitas Umum Anggota No  2 3 4 Identitas Umur (>35 thn) Pekerjaan (tani) Pendidikan (>SMP) Pend. Tentunya kepemilikan (Persentase) lahan ini sangatlah bervariasi antar lokasi penelitian. Ternyata pengaruh anjuran para pembina dan pengurus ternyata masih cukup kecil.7 55.3 ha.13 14 15 Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kombi Kombi kombi idem idem idem Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.

lainnya transaksi antara 64 Pelayanan normal/sama Dalam hal anggota dan koperasinya.10 52 % a.3 4 2 28 c.3 55.7 11. ternyata belumlah cukup memuaskan Propinsi 76 Pupuk 70 86 77. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat latar belakang para anggota koperasi di Sulawesi 2 180 . Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 56 28 78 92 3 86 2 66 70 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Dari tabel 4 terlihat bahwa komoditi pupuk ketersediaan dan ketepatan (Persentase) waktunya merupakan yang tertinggi angka persentasenya.4 (ha/angg) 4 Pemilikan lahan JURNAL VOLUME 4 .3 58 64.3 76 8 77.7 68 32.3 SULUT 3. lebih tinggi Kemudahan Cara pembayaran 70 80 3 76 62 75.3 57.3 dan 64% saja koperasi vs di umum 56 yang menyatakan 42 dari para responden bahwa 57.3%) menyatakan mereka mendapatkan kemudahan dari 72. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi komoditi pupuk cukup Ratabesar dari responden (77.3 4. anjuran kepala desa 10 % b. dan lainnya.3 42 1. lebih tinggi b. kredit.rata 57.0 83.0 54.3 3.4 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 5 Pelayanan lainnya 64 70 32 8 56 1. Hanya sebagian kecil saja dari mereka (3%) yang menyatakan harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi. keinginan sendiri bibit 2 Obat-obatan dan 68 40 6070 (ha/angg) 561. Ciri-ciri Keanggotaan 0. 83.0 72 66 78 2 Harga koperasi sbg patokan cara pembayaranharga diberikan oleh koperasi.3 0.AGUSTUS 2009 : 171-185 1.3%.96 Ratarata Tabel Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Tabel 4. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya 4 No  2 3 4 5 Tabel 4. anjuran pembina Pupuk 70 6 86 % d.2 Propinsi No Ciri keanggotaan Satuan SUMUT DIY  2 3 81 72 % Lama keanggotaan (>5 thn) 30 40 % Anggota koperasi lain Motivasi Propinsi No 10 52 % a.7 55.3 SULUT 31.3 72.3%. 4.7 56 70 86 58 22 64.2 Pemilikan lahan 3 Kredit 740. Sebanyak 62% dari para respondennya menyatakan bahwa harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi.I. lebih rendah para responden (75.0 54. SUMUT Masing-masing hanya 63.0 b. bahwa sebagian anggota koperasi sarnpel di Sumatera Utara (56%) dan D.3 0. Yogyakarta (86%). keinginan sendiri Tabel 3. sebagian besar 11. anjuran pengurus 6 % c. DIY komoditi lainnya seperti Untuk SULUT (Persentase) SUMUT obat-obatan dan bibit. Obat-obatan dan bibit 68 60 DIY 62SULUT 63.3 2 3 2 Mengenai harga komoditi.3%) menyatakan bahwa Komoditi rata tersedia dan waktunya tepat saat dibutuhkan.96 76 75.0 26 (Persentase) Rata32 rata 31.3 ketersediaan  Kredit Harga di 74 beberapa komoditi tersebut adalah cukup dan pada waktu yang tepat. ini berarti sebagian Tabel 5.3RataNo Jenis Tanggapan ketersediaan dan ketepatan waktunya. ternyata mendapatkan tanggapan yang cukup berbeda antar daerah. lebih rendah Harga koperasi sbg patokan Kepastian harga (Persentase) Ratarata SULUT 62 22 4 72 88 24. 24.3 4. anjuran pembina 70 40 % d. anjuran pengurus % c. harga pembelian komoditi milik anggota oleh koperasi jika dibandingkan dengan pasaran umum adalah normal ataupun relatip sama.3 88 70 92 3 Kepastian yang Tabel 5.7 62 56 63. Tanggapan atas Harga Komoditi Tabel 5. anjuran kepalaKomoditi desa SUMUT DIY 10 % b.0 3 a.3 73. normal/sama c. Sebagaimana terlihat pada tabel 5. Ini sangat berbeda dengan pendapat para anggota koperasi sampel di Sulawesi Utara.

Tabel 6.6 7. Demikian juga dengan kepastian harga. sebanyak 83. sebanyak 34% responden menyatakan pernah meminjam uang kepada koperasi.0 80.7 92. Hal ini dapat dilihat pada tabel 6. Ada sebanyak 72% responden menyatakan bahwa harga koperasi merupakan barometer transaksi jual beli. Gopar) Utara. Dalam hal kemudahan informasi pasar.0 95.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Dampak Koperasi Menurut Anggota Propinsi Rata- 181 (Persentase) . Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman No I  2 3 II 4 5 6 Kemanfaatan Pemasaran Kemudahan informasi pasar Informasi tersebut membantu Pelayanan koperasi a.7%) menyatakan bahwa proses peminjaman tersebut cukup mudah dan tidak berbelit-belit.0 34. Hal tersebut menyebabkan terhindarnya fluktuasi harga yang merugikan anggota. umumnya sepakat (sekitar 95.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan kepastian harga bagi komoditi yang mereka kelola.3% responden) menyatakan bahwa informasi pasar yang mereka dapatkan tersebut adalah membantu memahami pasar. Sebagian besar (80. Berarti koperasi sedikit banyak telah dapat mengendalikan harga komoditi yang dikelola anggota. sangat baik Pinjaman Pernah meminjam Mudahnya peminjaman Bunga rendah Propinsi SUMUT 88 94 86 6 32 82 92 DIY 96 100 60 12 46 70 90 (Persentase) Ratarata 92. Umumnya 92% responden menyatakan bahwa bunga yang dikenakan oleh koperasi cukup rendah. Apakah hal tersebut berkaitan dengan komoditi kelapa sawit yang kelola. Pada umumnya para responden menyatakan harga koperasi dapat dijadikan patokan harga bagi komoditi yang mereka kelola.3 72. Pada umumnya adalah para petani cengkeh yang sistem jual belinya sudah diatur dengan sistem tataniaga cengkeh. baik b. Hal ini menarik untuk disimak dan dikaji jika dibandingkan jawaban responden dari Sumatera Utara adalah sebanyak 28% dari mereka menyatakan harga koperasi adalah lebih rendah. Mengenai kemanfaatan informasi tersebut. Kiranya perlu pendalaman lebih lanjut. sebanyak 92% responden menyatakan mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan informasi pasar.6% responden menyatakan bahwa pelayanan koperasi dalam hal informasi pasar ini adalah baik. Kemanfaatan lain yang dirasakan para responden adalah dalam hal pemasaran komoditi dan peminjaman modal ke koperasi. Selain itu sebanyak 72.0 SULUT 92 92 72 3 24 90 94 Tabel 7. Sebanyak 7% dari mereka menyatakan pelayanan tersebut sangat baik. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman Tabel 6. Dalam hal pinjaman.

0 86. Dampak Koperasi Menurut Anggota (Persentase) No  2 3 4 5 6 7 Dampak koperasi Kemajuan anggota Peningkatan lapangan kerja Peningkatan perekonomian desa a. baik pembangunan. Sebagai alat perubahan. koperasi dimaksudkan 3 Pelayanan koperasi dapat menjadi wahana atau agen untuk setiap perubahan (change agent) dalam 72.6 72 60 86 a. Umumnya sebanyak 98.3 182 . Tabel 7. meminjam 80. sangat mempengaruhi Alat perubahan dalam pembangunan ekonomi Alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota Alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi Fasilitator dalam pembangunan ekonomi Propinsi SUMUT 80 100 50 48 82 84 76 78 DIY 78 100 60 32 85 95 80 70 SULUT 86 96 45 55 88 80 60 66 Ratarata 81. ada sebanyak 72%90 Selain hal-hal responden yang 92.7 70 82 5 Mudahnya peminjaman tersebut di atas.3 98. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 81. Sebanyak 86. maka 7.0 71. Angka persentase rata SUMUT DIY SULUT tersebut hampir sama dengan yang menyatakan bahwa koperasi dapat Pemasaran I merupakan alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota.7 51.AGUSTUS 2009 : 171-185 Bagaimana dampak koperasi dirasakan oleh anggota.3% lainnya menyatakan bahwa koperasi dapat merupakan fasilitator dalam pembangunan ekonomi.JURNAL VOLUME 4 .7 45.3% 92.0 85.3 72.0 24 46 32 Pernah 4 anggota. Di lain pihak ada sebanyak 71.3 92 100 94 Informasi tersebut membantu 2 dalam perekonomian anggota. Pengaruh koperasi terhadap peningkatan perekonomian desa ternyata. (Persentase) No RataPropinsi Ada sebanyak 85% responden menyatakan bahwa koperasi dapat Kemanfaatan merupakan alat perubahan dalam pembangunan ekonomi.0 3 6 b.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan anggota. Dampak Koperasi Menurut Anggota Tabel 7. cukup mempengaruhi b. Kemanfaatan dalam Pemasaran mempengaruhi.0 92 88 Kemudahan informasi pasar  responden menyatakan bahwa koperasi dapat 96 merupakan alat pertumbuhan 95. Sebagai alat pertumbuhan dalam12 perekonomian anggota.7% responden sepakat menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja di daerah kerjanya.0 94 90 92 Bunga rendah 6 menyatakan bahwa koperasi merupakan alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi. Hal ini dapat dikaji pada tabel 7. mendapatkan tanggapan positif dari para responden. responden menyatakan bahwa koperasi cukup dan Peminjamansedangkan sebanyak 45% lainnya menyatakan sangat mempengaruhi terhadap peningkatan perekonomian pedesaan. Sebanyak 51.7% Tabel 6. sangat baik Pinjaman II koperasi diharapkan dapat mengembangkan dan meningkatkan perekonomian 34.

Untuk itu pendidikan perkoperasian maupun pendidikan keahlian bisnis bagi pengelola koperasi perlu lebih ditingkatkan lagi. Namun demikian perlu diingat bahwa ukuran yang digunakan dimaksud adalah ukuran subjektif-kualitatif. Dari segi permodalan koperasi pedesaan masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi. Gopar) Dari uraian di atas diungkapkan dampak koperasi sebagaimana yang dirasakan oleh anggota. Karena hal tersebut menyebabkan frekuensi dan arus penciptaan marjin keuntungannya semakin meningkat. Peningkatan produktivitas permodalan dilakukan dengan meningkatkan perputaran modal yang ada. Pengembangan dan pengaturan organisasi dan managemen yang dimulai dengan mewujudkan ”aturan main” tersebut perlu terus dikembangkan sehingga terwujud suatu sistem managemen koperasi yang khas dan tepat guna. Terutama dalam hal pemanfaatan modal yang tersedia agar menghasilkan produktivitas dan efisiensi yang semaksimal mungkin. maka perlu dilakukan pengkajian yang lebih spesifik dan terfokus. Walaupun pada kenyataannya di beberapa koperasi banyak dari pengurus/pengawas dan pengelolanya telah mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. 183 . sehingga sebenarnya masih diperlukan lagi pengukuran yang bersifat objektif-kuantitatif. VI. Selain itu tingkat pengalaman yang umumnya masih belum lama. kadar keterlibatan pekerjaan yang masih belum memuaskan. Selain itu pula ”aturan main” bagi pelaksana haruslah dibuat berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif dalam hal-hal sebagaimana diterangkan di atas. Hasil kajian dimaksud diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi kehidupan perkoperasian.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Dengan demikian tercipta suatu sistem keuangan koperasi yang mandiri. dan sistem serta prosedur yang berlaku secara lazim dalam bisnis. Peningkatan efisiensi permodalan dilakukan melalui perbaikan sistem managemen koperasi dan sistem operasional yang digunakan oleh anggota dalam mengelola aktivitas ekonominya. Mengingat adanya beberapa peraturan/perundangan yang menata sistem keuangan. Untuk itu semangat yang dikandung oleh UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang sistem keuangan koperasi perlu dikaji lebih mendalam lagi. Dalam hal pencarian sumber dana eksternal serta memobilisasikannya guna memperkuat permodalan. maka diperlukan upaya dari suprastruktur (terutama dari pemerintah) untuk mengembangkan sistem keuangan koperasi. akan turut mempengaruhi tingkat kemanfaatan sumberdaya manusia untuk pengembangan usaha koperasi. Kesimpulan Dan Saran Dari penelitian ini ternyata kualitas sumberdaya manusia yang menjalankan kegiatan koperasi pedesaan ini belumlah memuaskan. Komposisi dalam suatu perangkat organisasi usaha belumlah cukup seimbang.

Gilbert. Inc. Issues. Planning for Social Welfare. New York: John Wiley & Sons. Kemanfaatan koperasi bagi anggota selain kemanfaatan langsung usaha dan kegiatan ekonomi di tingkat anggotanya. and Tasks. Dari penelitian ini setidaknya ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh koperasi. (2) Pemupukan modal sendiri. Sebagai misalnya adalah penjualan komoditi dengan harga yang wajar. juga perlu dikembangkan lebih lanjut pengembangan kemanfaatan koperasi dari sistem patron yang ada dalam koperasi.JURNAL VOLUME 4 . Semakin aktif partisipasi anggota semakin besar manfaat yang dirasakan oleh anggota tersebut. Untuk itu diperlukan kreativitas dan model kegiatan yang menggali potensi anggota maupun non anggota. Secara umum dapat dikatakan bahwa kehadiran koperasi di pedesaan telah dirasakan dampaknya oleh anggota. (5) Penyertaan anggota dalam proses perencanaan. kualitas yang memadai dan tersedia pada waktu yang diperlukan. (6) Penciptaan keterkaitan usaha anggota. DAFTAR PUSTAKA Draper. and H. N . dan (8) Pengawasan oleh anggota.R. Dalam hal keperluan modal dan pinjaman ternyata juga telah dirasakan manfaatnya bagi para anggota. Kiat-kiat yang dapat dilaksanakan koperasi untuk meningkatkan dampak koperasi perlu ditemukenali. antara lain adalah: (1) Meningkatkan jumlah anggota.AGUSTUS 2009 : 171-185 Adanya berbagai peluang untuk pengembangan usaha sebagai konsekuensi dari berlakunya berbagai peraturan pemerintah yang sangat mendukung berkembangnya koperasi pedesaan (terutama UU Nomor 25 Tahun 1992) perlu diantisipasi oleh koperasi untuk lebih mengembangkan organisasi dan usahanya. (3) Peningkatan volume usaha. Sehubungan dengan hal tersebut koperasi sebagai badan usaha perlu lebih mengembangkan kegiatannya. Model. (1981). Applied Regresion Analysis. (4) Penciptaan penanggulangan tunggakan kredit. Pelayanan tersebut ternyata akan semakin dirasakan dengan meningkatnya partisipasi.. Dampak kepada anggota akan sesuai Dampak kepada anggota akan sesuai dengan peluang yang ada dalam peraturan/perundangan. Pengembangan organisasi dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi internal dan aspek eksternal. (7) Rapat Anggota Tahunan. dinilai responden sebagai cukup baik. Pada akhirnya kemanfaatannya akan jatuh kepada anggota. New Jersey: Pretice-Hall. and H. terutama kemitraan. Pelayanan koperasi dalam memberikan informasi pasar dan kepastian harga ternyata cukup bermanfaat bagi anggota. Smith. Specht. Dampak berupa kemanfaatan umumnya dirasakan melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh koperasi. N. Terutama dalam hal kemudahan yang diperoleh anggota dalam kecepatan proses dan tingkat bunga. (1977). dikembangkan dan dilaksanakan dengan baik. 184 .

Jakarta: Pemerintah Koperasi.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. 185 . Comer. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. S. Chicago: The Dorsey Press. (1988). and J. Quantitative Methods for Public Administration. (1992). Welch. Gopar) -------------. Techniques and Applications.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful