Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur

)

PENYUSUNAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) STUDI KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL BAGI UKM*) Daniel Asnur**) Abstract DSS is a system based model which consisted of procedures in data processing, addressed to assist managers in taking decision. This system has to be: 1. Simple, 2. Robust, 3. Easy to be controlled, 4. Adaptable, 5. Has various important features, 6. Communicative. Implicitly it’s also means that this system must base on computer (computerized) and applied/use to support SME to solve their problems. DSS SME software is a computerized information system which can support its users in plan and making decision for SME business finance and economic. DSS can give amenities in doing calculation, correctness in calculation and inspection. This software application is expected to be able to give effectiveness and efficiency for government, stakeholders and intermediary institute in doing decision making to develop SME business. This application system run/compatible with Microsoft Windows, it has attractive display appearance and can yield SME financial and economic eligibility output in .doc format (Microsoft office word) for further editing and printing.

Sistem informasi, aplikasi software, UKM I. PENDAHULUAN Eksistensi UKM dalam perekonomian Indonesia cukup dominan dan signifikan. Sedikitnya, terdapat 3 (tiga) indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan UKM di Indonesia memiliki posisi dominan dan signifikan. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Jumlah populasi UKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99% terhadap total unit usaha di Indonesia, dengan jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga
Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. Artikel diterima 16 April 200�, peer review 22 April s.d. 8 �uni 200�, review akhir �� �uli 200� **) Kepala Bidang Kerjasama dan �aringan pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian)
*)



JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

kerja. Setiap unit investasi pada sektor UKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UKM menyerap 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yakni jumlah PDB mencapai Rp 3.957,4 triliun, dimana UKM memberikan kontribusi sebesar Rp 2.121,3 triliun atau 53,6% dari total PDB Indonesia. Pertumbuhan PDB UKM tahun 2007 terjadi di semua sektor ekonomi. Ekspor hasil produksi UKM selama tahun 2007 mencapai Rp 142,8 triliun atau 20% terhadap total ekspor nonmigas nasional sebesar Rp 713,4 triliun. Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang belum kondusif ini, pengembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Argumentasi ekonomi ini karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang dimiliki bangsa ini. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak memerlukan kapital yang besar dan dalam periode krisis selama ini UKM relatif tahan banting”, terutama UKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UKM dalam sektor pertanian dapat memperoleh keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UKM yang tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak depresiasi rupiah ini. Di sisi lain, permasalahan UKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources), managemen, funding access, informasi teknologi dan market acces membuat para pengusaha UKM (umumnya) memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 31% pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan. Di lain pihak perbankan merasa bahwa sebagian pelaku UKM yang mengajukan kredit juga belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh perbankan. Salah satu upaya yang dapat diusung dan dikembangkan adalah dengan menyusun Pedoman Pengambilan Keputusan Pengembangan Investasi UKM Berbasis Teknologi dan Sistem Informasi (Decision Support System/ DSS) yang menjembatani permasalahan dasar UKM dan kebutuhan pihak intermediary swasta untuk meningkatkan portofolio investasinya. DSS adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung keputusan. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan, ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Mengintegrasikan konsep DSS dan konsep kelayakan ekonomi dan finansial untuk pengembangan usaha UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas, efesiensi dan ketelitian bagi pihak pemerintah, pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.

2

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dirancang sebuah sistem informasi dalam pengambilan keputusan untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial bisnis UKM yang dapat direplikasikan untuk usaha yang sejenis pada wilayah-wilayah di Indonesia, sehingga keputusan pengembangan dan pemberdayaan usaha ini dapat dijalankan secara akurat dan teliti. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mengukur kinerja usaha ini dalam menjalankan bisnisnya dan memberikan informasi tentang kondisi yang dihadapi. II. TINJAUAN PENELITIAN SEBELUMNYA Sebagai bahan perbandingan dalam penelitian Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM, diantaranya penelitian yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2003) dengan judul Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam hal: (a) Kecepatan di dalam mencari informasi pangan sampai level kecamatan, sehingga dapat membantu mempercepat perhitungan kebutuhan, pengadaan, dan distribusi pangan; (b) Reliabilitas estimasi luas dan produksi pangan (khususnya padi), sehingga dapat digunakan sebagai opsi kedua setelah BPS dalam perhitungan pengadaan pangan; dan (c) Ketepatan luas dan penggunaan lahan dan trend perubahannya, sehingga kebijakan untuk mengantisipasi laju perubahan lahan pertanian ke non pertanian dapat dilakukan sedini mungkin. Penelitian lanjutan yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2005) dalam dengan judul Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan alat bantu pengambil keputusan untuk pendayagunaan sumberdaya iklim dan air untuk perencanaan pertanian Berdasarkan kedua sumber penelitian tersebut di atas, tampak bahwa manfaat yang diberikan oleh aplikasi Decision Support System sangatlah luas. Sehingga penulis tertarik untuk mengintegrasikan aplikasi DSS ini di dalam dunia koperasi dan UKM yang antara lain untuk keperluan analisa marketing, operasi logistik dan distribusi, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi (taxation, budgeting, dsb.). III. KERANGKA PEMIKIRAN Dalam penelitian ini akan menyusun Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM. Hasil analisis tersebut ut menunjukkan apakah usaha yang dijalankan UMKM layak atau tidak untuk dilaksanakan.

3

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

Langkah pertama adalah menyusun variabel ekonomi dan finansial UMKM. Variabel ekonomi terdiri dari aspek produksi, aspek pemasaran, aspek managemen dan SDM, aspek lingkungan. Aspek finansial meliputi initial invesment, working capital, perhitungan cash flow dan biaya produksi dan operasi. Selanjutnya menganalisis data kuantitatif dengan menghitung kelayakan investasi yang mempunyai beberapa kriteria yaitu Break Event Point (BEP), B/C Ratio, Payback Periods (PP), NPV, PI, IRR, dan Rentabilitas Ekonomi. Kemudian mencari perhitungan analisis sensitivitas untuk melihat sampai berapa persen peningkatan atau penurunan faktor-faktor pemasukan atau biaya tersebut dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi pada aspek keuangan yaitu dari layak atau menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Kemudian dari hasil perubahan biaya atau pendapatan dimasukkan kedalam analisis kelayakan investasi UKM yang diterapkan. Langkah terakhir adalah interpretasi hasil analisis kelayakan, apakah layak atau tidak. Bila hasilnya menyatakan layak maka diteruskan dengan pelaksanaan. Bila hasilnya menyatakan tidak layak maka perlu dilakukan evaluasi. Pada gambar 1 disajikan skema kerangka berpikir sebagaimana penjelasan di atas.

Gambar

1.

Skema Kerangka Pemikiran Penyusunan Decision Support System (DSS) Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM

4

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

III.

METODOLOGI 1. Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan finasial ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisa kajian literatur yang berkenaan dengan indikator yang ditentukan sebagai variabel ekonomi dan finansial. Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk model perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan dari hasil penyebaran kuisioner kepada responden. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan ini memperoleh hasil yang valid dan komprehensif. 2. Populasi dan Sampel Dari populasi yang menjadi subjek dalam kajian ini, kemudian diambil sampel. Responden yang menjadi sampel penelitian untuk masingmasing kegiatan penyusunan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM dilakukan dengan purposive sampling berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu. Sampel diambil dari Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Irian Jaya. Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut: • • • • Pelaku UKM yang usahanya merupakan produk unggulan di masing-masing propinsi Telah menjalankan usaha yang sejenis selama lima tahun Penghasilan usaha positif Data yang diambil merupakan data yang wajar.

3. Jenis dan Sumber Data: Jenis dan sumber data yang menjadi bahan dalam kajian ini terdiri dari : • Data Primer, yaitu data dan informasi yang diperoleh secara langsung dari narasumber/responden baik yang berupa hasil wawancara dan kuesioner yang disebarkan kepada responden. Data primer diperoleh dari pelaku UKM pada masing-masing lokasi kajian. Data Sekunder, yaitu data dan informasi yang diperoleh dari dokumen/publikasi/laporan penelitian dari dinas/instansi maupun sumber data lainnya yang menunjang.

5

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

4. Teknik Pengumpulan Data: Untuk menganalisis kegiatan pengembangan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM yang efektif serta merekomendasi best practice yang dapat digunakan dan dikembangkan, maka akan digunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: • • Studi Kepustakaan dan Literatur, digunakan untuk mendapatkan data-data awal tentang kelayakan ekonomi dan finansial. Wawancara mendalam (indepth interview), yakni teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada key informan. Penyebaran kuisioner, yakni teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner kepada pelaku bisnis dan instansi terkaitdan kuesioner ini bertujuan untuk mandapatkan data faktual tentang kajian.

5. Teknik Analisis Data: Setelah data diperoleh dari berbagai kelompok responden serta setelah dilakukan entri dan tabulasi data, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil survei. Hasil dari survei dan analisa ini akan menjadi dasar informasi untuk mendesain kebutuhan seperti apa yang harus dipenuhi dari sisi operasional. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tahapan selanjutnya, yaitu melakukan desain terhadap software DSS yang akan dibangun. 6. Tahapan Perancangan Aplikasi: Tahapan-tahapan perancangan aplikasi dengan metode Rapid Application Development (RAD) adalah sebagai yang terilustrasi pada Gambar 2. a) Pemodelan Cara Kerja Data-data masukan mengalir dari satu fungsi kerja ke fungsi kerja berikutnya. Aliran data masukan kedalam beberapa fungsi kerja tersebut dimodelkan untuk mendapatkan model cara kerja. Pemodelan cara kerja ini akan menjawab berapa pertanyan mendasar sebagai berikut: 1). Informasi apa sajakah yang dapat mempengaruhi aplikasi; 2). Informasi apa sajakah yang akan dihasilkan; 3). Bagian-bagian mana yang menghasilkan informasi; 4). Kemana informasi/data itu akan dikirimkan; 5). Siapa dan bagaimana data/informasi itu diproses.

6

Transformasi yang dimaksud antara lain. RAD 7 . VB. Karakteristik masing-masing objek (biasanya disebut sebagai attribute) kemudian diidentifikasikan. menambah. menghapus. menyunting. C# atau Delphi. Proses/ transformasi data tersebut harus disesuaikan dengan aliran informasi yang telah dirancang pada pemodelan cara kerja.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) ����������������� ����������������� ������������� ���������������� ���������������������� �������������������� Gambar 2. Didalam pemodelan data juga dilakukan pendefinisian hubungan/relasi antara objek satu dengan yang lain. c) Pemodelan Pemrosesan Data Disini konsultan akan mendefinisikan proses/transformasi di semua objek data yang telah didefinisikan pada tahap pemodelan data. misalnya Java. mengambil dan menyimpan data. Tahapan Perancangan Aplikasi b) Pemodelan Data Aliran informasi yang telah didefinsikan didalam pemodelan cara kerja kemudian dianalisa kembali lebih detail untuk mendapatkan daftar objek/data yang dibutuhkan untuk mendukung cara kerja yang telah dimodelkan. Semua proses itu dimodelkan dalam pemodelan pemrosesan data ini. d) Pengembangan Aplikasi Pengembangan aplikasi dengan menggunakan model RAD ini akan sebanyak-banyaknya memanfaatkan alat bantu yang telah ada dan sering digunakan. dan antara atribut satu dengan yang lain.

b) Aspek Pemasaran Analisis usaha dapat dilakukan secara kualitatif atau deskriptif kuantitatif untuk mengetahui aspek pasar dan pemasaran. konsultan akan menggunakan excel sebagai prosesor untuk melakukan kalkulasi yang akurat. konsultan akan menggunakan lingkungan kerja (framework) Java sebagai pengelola UI (user interface) atau antar muka. Faktor-faktor yang yang menjadi pertimbangan dalam aspek produksi seperti sebagai berikut: 1) Lokasi Usaha. 4) Tenaga kerja. Pilihan ini diambil karena Java cukup banyak digunakan dan berukuran cukup kecil. Secara umum. 7) Positioning. Berikut ini faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melihat aspek pasar adalah sebagai berikut: 1) Permintaan. Fungsi tambahan yang sering dilakukan dalam model RAD ini antara lain melakukan otomatisasi. 2) Fasilitas produksi. integrasi antara satu komponen dengan komponen yang lain. 8) Targeting. 3) Bahan Baku. Jenis dan mutu. 7) Jumlah. 2) Harga. 9) Kendala produksi. 6) Proses produksi.JURNAL VOLUME 4 . 6) Segmentasi. 8) Produksi Optimum. titik tolak dalam alur pikir tersebut adalah penyusunan aspek pemasaran dapat dilakukan setelah pengusaha mempunyai rencana pengembangan bisnis. Didalam pengembangan aplikasi kali ini. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. penawaran dan persaingan pasar. 3) Jalur Pemasaran.AGUSTUS 2009 : 1-17 menekankan pada penggunaan kembali komponen-komponen yang telah tersedia. 5) Teknologi. 5) Market size dan market share. 8 . IV. penggabungan satu atau dua aplikasi lain yang telah ada untuk pengembangan aplikasi. Disain Input dan Output DSS UMKM Disain input dan output yang dikembangkan untuk pembuatan software kelayakan ekonomi dan keuangan selain Profil Perusahaan adalah sebagai berikut: a) Aspek Produksi Analisis teknis berkenaan dengan kegiatan produksi dan operasi yang dijalankan. 10) Critical Path Method. Kemudian untuk kebutuhan kalkulasi. Penilaian kelayakan diukur secara kuantitatif dengan menggunakan kuisioner untuk melihat apakah menurut pelaku usaha kegiatan teknis produksi dan operasi yang dijalankan telah layak secara ekonomi. 4) Pemilihan Pola usaha.

Aplikasi software DSS UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas dan efesiensi bagi pihak pemerintah. modal kerja. sumber bahan baku. dengan tampilan yang menarik dan mampu menghasilkan output kelayakan ekonomi dan finansial dalam format pdf yang siap di cetak maupun dalam format doc untuk proses pengeditan lebih lanjut. internal rate of return dan rentabilitas ekonomi. benefit/cost ratio. yang dalam hal ini menggunakan. Fitur Aplikasi DSS UMKM Software DSS UKM adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung para penggunanya dalam perencanaan dan pengembalin keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. tetapi dapat bertahap yang pada akhirnya menghasilkan sebuah perencanaan bisnis yang lengkap dan akurat. sedang kompensasi terkait dengan tingkat kompensasi yang diberikan. yaitu : Bentuk Organisasi Perusahaan. dan jarak antar usaha sejenis. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. payback periods. cash flow dan biaya operasional yang terdiri dari fixed cost dan variable cost. Untuk bentuk organisasi terkait dengan badan hukum perusahaan dan perizinan. jumlah pesaing industri sejenis. yaitu : tingkat ketersediaan bahan baku. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. Fasilitas yang disedikan mengarahkan para pengguna yang awam akan perencanaan usaha untuk mampu membuat perencaaan ataupun pengambilan keputusan kelayakan usaha dengan mudah dan sederhana. Aplikasi juga memiliki beberapa fitur yang salah satu diantaranya adalah fasilitas untuk me-review perencanaan bisnis yang dibuat. Kemudian untuk profil usaha terkait dengan skala usaha dan sistim pengelolaan usaha. Aplikasi ini dijalankan diatas windows. analisis break even point. 9 . penghalang memasuki industri (Entry Barier). profil usaha dan kompensasi. Kelayakan investasi dapat diukur dari berbagai kriteria. profitability index. d) Aspek Lingkungan Pembahasan mengenai aspek lingkungan ini terkait dengan. proses pengisian langkah-langkah studi kelayakan tidak harus sekaligus dimasukkan dalam satu saat. e) Aspek Keuangan Dalam variabel keuangan ini akan disajikan informasi tentang biaya investasi. net present value. pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) c) Aspek Managemen dan SDM Pembahasan mengenai aspek managemen dan SDM ini terkait dengan. Selain itu. 2.

b) Aspek. terkait dengan aspek produksi. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsikan aspek ekonomi dan keuangan perusahaan dan usaha yang dijalankan. pemasaran. berikut penjelasan dari masing-masing tombol toolbar yang terdapat dalam aplikasi. lingkungan dan keuangan. Lingkungan dan Keuangan. Langkah-langkah memulai aplikasi DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial bagi UMKM adalah sebagai berikut: a) Pilih Bidang Usaha: untuk mulai menjalankannya. merupakan toolbar yang terdiri dari profil perusahaan dan profil usaha. pada toolbar ini. Pada saat shortcut DSS UMKM di klik dua kali akan muncul menu pilihan bidang usaha yang akan 10 .AGUSTUS 2009 : 1-17 Aplikasi Software DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan bagi setiap user sebagai berikut: a) Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. manufaktur. managemen dan SDM. c) Analisis Bisnis. c) Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file pdf siap cetak maupun file doc (ms word). a) Profil. pertanian. d) Print. grafik warna dan deskripsi hasil analisis. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsi perusahaan dan usaha yang dijalankan. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. b) Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. d) Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor. pemasaran. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek produksi. toolbar dari kiri ke kanan mengilustrasikan proses pembuatan studi kelayakan dan sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3.JURNAL VOLUME 4 . user terlebih dahulu diminta untuk menyesuaikan sektor usaha yang dijalankannya atau sektor usaha yang akan dibuat studi kelayakannya dengan memilih tampilan toolbar aplikasi. managemen & SDM. Untuk mempermudah penggunaan. jasa. toolbar ini disedikan untuk memberikan pilihan kepada user untuk memprint hasil studi kelayakan dalam format dokumen Ms Word (doc).

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) dibuat perencaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. kembali di-klik form konsep awal untuk melakukan pengisian selanjutnya. Layer Aplikasi DSS  . Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kondisi perusahaan dan form pola pembiayaan bank. Pertanian. Bidang usaha yang dapat dipilih pada software versi ini adalah Perdagangan. dimulai dengan Tahap Pengisian Profil Perusahaan. Setelah terisi. user dapat langsung meng-klik icon profil usaha. b) Untuk membuat studi kelayakan dari usaha. Lalu isilah setiap pertanyaan Gambar 3. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian identitas perusahaan dan konsep awal. Jasa dan Restoran. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. Manufaktur. Isian form terletak pada layar paling kanan. user dapat langsung meng-klik icon aspek produksi. c) Tahap pengisian profil usaha. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kondisi perusahaan. d) Tahap pengisian Aspek Produksi. Isian form terletak pada layar paling kanan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek produksi. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form identitas perusahaan. Setelah terisi. User dapat langsung meng-klik icon profil perusahaan.

Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja Pemasaran. user dapat langsung meng-klik icon aspek lingkungan. Isian form terletak pada layar paling kanan.AGUSTUS 2009 : 1-17 yang tersedia pada tampilan form aspek produksi. g) Tahap pengisian Aspek Lingkungan. f) Tahap pengisian Aspek Managemen dan SDM. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja managemen dan SDM. Gambar 4. e) Tahap pengisian Aspek Pemasaran. Isian form terletak pada layar paling kanan. Isian form terletak pada layar paling kanan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja Pemasaran. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form aspek lingkungan. Setelah terisi. user dapat langsung meng-klik icon aspek pemasaran. Layer Pilihan Bidang Usaha 12 . Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek lingkungan. Isian form terletak pada layar paling kanan. user dapat langsung meng-klik icon aspek managemen dan SDM. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya.JURNAL VOLUME 4 . Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian managemen dan SDM.

User dapat langsung meng-klik icon aspek keuangan. Layer Hasil Analisis Bisnis Aspek Produksi i) Analisis bisnis. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek. mulai dari form satu sampai tujuh. Isian form terletak pada layar paling kanan. Klik icon toolbar Analisis bisnis Tab hasil analisis berdasarkan aspek Hasil analisis perindikator Hasil analisis komulatif seluruh indikator Gambar 5. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja keuangan yang terdiri dari tujuh form. angka kelayakan 13 .Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) h) Tahap pengisian Aspek Keuangan. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor (indeks). Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form kinerja keuangan. pada toolbar ini.

14 . robust. 3. lingkungan serta analisis bisnisnya.JURNAL VOLUME 4 . BCR. SDM. grafik warna dan deskripsi hasil analisis. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. funding) untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial UKM tersebut. V. lengkap pada halhal penting. dan mudah berkomunikasi dengannya. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah. Untuk melihat hasil analisis dari masingmasing aspek dapat langsung di klik tab hasil analisis pada bagian tengah aplikasi. Output Aplikasi DSS UMKM Aplikasi Output dari software aplikasi DSS UMKM dirancang untuk dapat langsung menjadi semacam proposal bisnis yang dapat digunakan oleh stakeholder lain seperti dunia perbankan. BEP. lingkungan dan keuangan dalam mengukur tingkat kelayakan sekaligus melihat peluang dan hambatan UKM dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. j) Tahap printing ke MS Word. IRR. maka fitur-fitur sistem DSS dirancang secara sederhana. pemasaran. NPV-PI). Dengan begitu. atau dapat menjadi alat ukur pihak-pihak yang berkepentingan (intermediary. output sudah langsung terprint berikut cover. terdiri dari prosedur-prosedur dalam pemrosesan data dan pertimbangannya yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. Out put print dapat langsung menjadi bagian dari perencanaan bisnis dari UKM. hasil isian dan analisis dapat langsung di export kedalam bentuk dokumen MS word dan siap di print. pemasaran.AGUSTUS 2009 : 1-18 keuangan (Cash Flow. PP. Aplikasi DSS UKM dikembangkan sebagai sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi. mudah beradaptasi. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. Kesimpulan Sebagai kesimpulan dari kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan keuangan UKM adalah sebagai berikut : 1). mudah untuk dikontrol. daftar isi dan ilustrasi variabel (aspek produksi. Untuk hasil analisis dengan kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. Agar berhasil mencapai tujuannya. managemen dan SDM. Aplikasi DSS dirancang untuk membantu UKM dalam hal pengambilan keputusan dari aspek produksi. Pada layar ditunjukkan hasil analisis perindikator dan analisis secara komulatif keseluruhan indikator. Pada gambar disamping diberikan contoh hasil analisis produksi. managemen.

Saran Untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan aplikasi software. grafik warna (kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. Monitor dengan resolusi minimum 800x600. • • • • 3). AdoBe Reader dan Dot Net Framework 2. Internal Rate of Return dan deskripsi hasil analisis. seperti: pelaksaaan sejumlah workshop untuk para UKM terkait dengan perencanaan bisnis. Payback Periods. Profitability Index. Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. manufaktur. Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file doc (ms word) yang siap diprint. Sistem operasi Microsoft Windows XP. jasa. konsultan merekomendasikan kepada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk merancang kegiatan sosialisasi software bagi para UKM. Software aplikasi DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan oleh setiap user UKM sebagai berikut: • Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. perkembangan cash flow serta analisis Break Event Point. laporan laba rugi. kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah ) dan deskripsi hasil analisis. OPEN Office. 15 . Aplikasi DSS UMKM ini akan berjalan baik pada komputer dengan konfigurasi hardware sebagai berikut: Komputer dengan prosesor Intel Pentium IV ataupun yang setara. RAM minimum 512MB. Dan dukungan software. Sedang kelayakan keuangan ditampilkan tabulasi neraca.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) 2). Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. Hasil analisis kelayakan ekonomi ditampilkan dalam image angka skor kelayakan. Benefit/Cost Rasio. pertanian. Net Present Value. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan.

software aplikasi DSS UMKM kiranya dapat dimiliki oleh para pelaku usaha UMKM secara gratis (tanpa dipungut bayaran). Bakrie. (2005). USA. Elex Media Komputindo. Small Business Management. (2002). Internet Up Load. Jeff.NET (Core reference). Program Aplikasi Foxpro Pada Sistem Akuntansi. R. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. (2006). (1993). 16 . DAFTAR PUSTAKA Jogiyanto. Penerbit PT. Lawrence. (2004). Aplikasi Inventori Control dengan Microsoft Visual FoxPro ��. Byrd. Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan �awa Tengah. Meginson. Andi Offset. Jakarta. Allyn & Bacon. Gregorius. Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Jeffrey. Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penerbit PT. Jakarta. Microsoft Press. (2006). 11 Script Spektakuler Active Server Pages. PT. Fifh Edition. Selain itu. Edisi 1. West Virginia University-USA. Managemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari Teori Ke Praktik. cet 1. Elex Media Komputindo. Busthami. (2002). penggandaan CD program dan manual. Jakarta. Haer. Penerbit PT. Applied Microsoft®. (1990). Tri. Human Resources Management. Richter. Amperiyanto.. uji reability penggunaan software. Yogyakarta. Penerbit PT. Analisis & Disain Sistem Informasi. an entrepreneur’s Guidebook. Agung. Talib. HM. Elex Media Komputindo. Jacowitz. Prosise. Advanced Software Project Management. Jakarta. (2004).JURNAL VOLUME 4 AGUSTUS 2009 : 1-17 pelatihan pemanfaatn software. Programming Microsoft® . Mondy. Melihat Keamanan Windows Vista. (2003). (2005). (2003). NET Framework Programming (ProDeveloper). Rivai Veithzal. Robert M. Microsoft Press. Jakarta. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Mc Graw Hill. pengembangan sistim (DSS UMKM versi 2) ataupun kegiatan lainnya yang dapat menindaklanjutkan keberadaan software ini pada kementerian Koperasi dan UMKM. Elex Media Komputindo. Raja Grafindo Persada Edisi 1. Wayne and Noe. (1992).

Modern Portfolio Theory and Invesment Analysis. The Free Press. Mc. E Michael. E. Elton.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) Porter. 17 .J. (1980). John Wiley and Sons. Competitive Strategy : Techniques for Analyzing Industries and Competitors. and Gruber.J. (1980). William.. (1991). Fifth Edition. M.Graw-Hill. A Division of Macmillan Publishing Co. Keith & Frederick. Business and Society. Inc.. Davis.

it is expected immediately that there will be an issuance of local government regulation on licensing which is in line with the law number 20 of 2008 concerning MSME and the characteristic of MSME. There are still a few MSMEs (4. Perda Perizinan sejalan UU Nomor 20 Tahun 2008. 2) form of licensing institution. Namun demikian perkembangannya masih terkendala oleh berbagai masalah klasik. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 18 . Small and Medium which have complied with the requirements stipulated in the valid legislation. Program Pelayanan Satu Pintu (P2SP). 4) procedure of licensing. less socialization and there is no clear consequence from the government by having legal status. peer review 2�� April s.AGUSTUS 2009 : 18-36 KAJIAN PENGEMBANGAN FORMALISASI UMKM *) Teuku Syarif **) Abstract Formalization of Micro. Some variables which influence on the total of MSMEs: which got business license are: 1) approach.��34 units of MSME in 6 districts/ municipalities.JURNAL VOLUME 4 . Karakteristik UMKM I. 3) license requirements.d. Legalitas.14%. Total of MSMEs which have got new license are only ��. Licensing programmes which have been implemented by Local Government have not reached to granting legal status.12%) which have got license. 8 �uni 200�. Several/crucial problems to be handled are: a) so many types of license which have to be fulfilled by MSMEs to be able to conduct a business activity.583.12% which have got license. 5) socialization of licensing. b) requirements do not comply with the characteristic of MSME (especially micro enterprise). Small and Medium Enterprises (MSMEs) is granting license for certain business activities and legal status for Micro. To speed up formalization of MSME. This matter is due to there are many types of licensing which is required by one type of business and complicated licensing process including its big cost. cost of licensing. Salah satunya adalah kesulitan dalam mendapatkan legalitas atau formalitas usahanya. Latar Belakang UMKM banyak memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya nasional. 6) consequences of licensing. Of 1. Yang dimaksud dengan formalisasi UMKM adalah pemberian izin kegiatan usaha tertentu dan status badan hukum bagi UMKM sesuai dengan ketentuan perundang Kajian Asdep Urusan Penelitian Sumberdaya tahun 2008 Artikel diterima 2�� April 200�. as example there are 1��.

kesulitan dalam proses mendapatkan izin dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. sosialisasi perizinan dan melaksanaan program pelayanan satu pintu. Menghadapi era globalisasi UMKM dituntut dapat meningkatkan efisiensi untuk menghadapi persaingan. serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan program dari berbagai pola pelaksanaan proses perizinan/formalisasi UMKM 19 . memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan jika UMKM yang sudah mendapat status formal. Perseroan Terbatas (PT). Dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM ditetapkan bahwa untuk kelompok usaha mikro tidak diperlukan badan hukum. Kebijakan tersebut antara lain dalam hal penurunan biaya perizinan. pengawasan yang lebih intensif. izin lingkungan. Perusahaan Persero dan lain-lain. serta e) Jenis dan kegiatan usaha yang sangat mudah berganti (dinamis). c) Ruang lingkup dan jaringan usaha yang terbatas. Pelayanan Perizinan Satu Pintu (P2SP) berpeluang besar untuk mempermudah dan mempercepat proses prizinan UMKM. b) Kualitas sumberdaya manusia yang relatif rendah. c) Menghindari pungutan liar. Salah satu unsur pendukung efisiensi adalah adanya jaringan usaha dan kemitraan. Perusahaan perorangan (CV) perusahan kongsi (Firma). Tetapi sampai sekarang belum ketahui seberapa jauh efektifitas dari program tersebut. Tetapi sebagai perusahaan perorangan cukup mendaftarkan diri pada dinasdinas yang membidangi koperasi dan UKM di kabupaten atau kota madya setempat. izin trayek dan lainlain. Formalisasi UMKM dibedakan dalam dua bentuk yaitu: a) Formalisasi perusahaan adalah pengesahan bentuk badan hukum dari perusahaan yang bersangkutan. Kelompok usaha mikro memiliki karakteristik antara lain: a) Merupakan usaha perorangan dengan modal relatif kecil dan dikelola dengan manajemen keluarga. Sebagai contoh Surat Izin Usaha Pendirian (SIUP). b) Sebagai formalitas usaha yang menjamin jaminan bagi calon mitra dan atau stakeholder. Sebagai contoh Usaha Dagang (UD). Oleh sebab itu biayanya relatif cukup besar untuk ukuran usaha mikro dan usaha kecil. d) Konsumen dan segmen pasar yang sudah tertentu. Sampai sekarang sangat sedikit (4. Pengesahan badan hukum perusahaan menjadi kewenangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilimpahkan kepada Notaris. Perizinan kegiatan usaha lebih diperlukan untuk: a) Melaksanakan kegiatan usaha. b) Perizinan kegiatan usaha yang dikeluarkan oleh instansi/lembaga sektoral. izin penambangan. Untuk itu idealnya usaha mikro dan kecil bergabung dalam koperasi. Hal tersebut disebabkan banyaknya jenis perizinan.12%) usaha mikro dan usaha kecil yang telah mendapatkan izin kegiatan usaha.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) undangan yang berlaku. Untuk mengatasi masalah perizinan maka sebagian pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Sehubungan dengan hal tersebut kajian dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan.

2) Menentukan pendekatan. Sebagai misal dilaksanakan dalam bentuk program penyederhanaan perizinan. kelembagaan model dan prosedur pemberian perizinan yang sesuai dengan karakter UMKM. dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian perizinan untuk UMKM. Manfaat kajian adalah untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang. 1). Tujuan Manfat dan Output Tujuan Kajian Pengembangan Formalisasi UKM adalah sebagai berikut: 1). Kerangka Pemikiran 3. dan lembaga asuransi) untuk melakukan kerjasama sangat memperhatikan karakteristik suatu perusahaan.AGUSTUS 2009 : 18-36 II. 20 . Berbagai hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2006 lebih dari 95% unit usaha UMKM terutama pengusaha mikro yang merupakan perusahaan perorangan belum memiliki badan hukum dan 91. mengidentifikasi tingkat keberhasilan dan faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian perizinan untuk UMKM. Salah satu program pemerintah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan daya saing UMKM adalah perbaikan iklim usaha. lembaga pemasaran.1 Kerangka Konsepsional Pembentukan atau keikutsertaan suatu unit usaha dalam suatu jaringan yang komprehensif ditentukan oleh banyak faktor antara lain adanya informasi. Menginventarisir. UMKM merupakan usaha perorangan dan tidak diharuskan untuk mempunyai badan usaha. Anwar (1995) berpendapat bahwa mitra usaha dan berbagai unsur pendukung pembangunan suatu unit usaha ekonomi (perbankan. Ouput yang diharapkan dari kajian ini adalah mendapatkan alternatif model dan prosedur pemberian perizinan bagi UMKM III.8% diantaranya tidak memiliki izin kegiatan usaha. persebaran serta permasalahan yang dihadapi UMKM dalam proses formalisasi usaha. Ketidakpastian formalitas unit usaha UMKM menurut Haryadi (2001) merupakan faktor penyebab kesulitan UMKM untuk memasuki suatu jaringan usaha. Jumlah. kewirausahaan dari pengusaha dan formalitas unit usaha.JURNAL VOLUME 4 . Mendapatkan alternatif model kelembagaan dan lternatif prosedur formalisasi UMKM. maka kelompok ini hanya memerlukan izin kegiatan usaha. Salah satu faktor yang dilihat adalah formalitas perusahaan. Sedangkan ketidakpastian itu sendiri menurut Sirait (2003) di Indonesia banyak disebabkan oleh faktor kebijakan makro ekonomi dan faktor birokrasi. 2).

3) Model pemberian perizinan. letak lokasi UMKM dari instansi perizinan serta bidang usaha yang dilaksanakan. sosialisasi penyuluhan dan pendampingan. Kelembagaan terdiri dari bentuk lembaga atau organisasi pemberian perizinan. 4) prosedur pemberian perizinan dan 5) karakteristi UMKM.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) Izin kegiatan usaha merupakan suatu bentuk pengaturan (regulasi) pengendalian pemerintah terhadap aktivitas usaha individual yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan lingkungan fisik ekonomi dan sosial. Dua faktor penting yang diduga mempengaruhi keberhasilan proses formalisasi adalah: a) Kelembagan dan pendekatan. jenis kelamin. Izin usaha diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif (eksternalitas dis economics) yang mengeksploitasi lingkungan. Kesulitan timbul sebagai akibat dari ketidak-sesuaian kelembagaan pende-katan dan model prosedur pemberian perizinan dengan karakteristik UMKM. b) Melindungi para pengusaha dari berbagai pungutan liar serta. 2) Kelembagaan perizinan. UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2008 tidak dimasukan sebagai variabel bebas karena bersifat given untuk semua tempat di wilayah NKRI dan semua waktu. UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM serta karakteristik UMKM. Dengan demikian unsur kemudahan UMKM untuk medapatkan perizinan adalah variabel terikat merupakan resultante dari beberapa variabel bebas yaitu: 1) Pendekatan dalam pemberian perizinan. konsekuensi dari keharusan UMKM mendapatkan perizinan. Ouput akhir yang ingin didapatkan dari kajian ini adalah kelembagaan. 21 .2 Kerangka Operasional Pengkajian Kerangka operasional Pengkajian diilustrasikan pada gambar 1: 1. Dalam karakteristik UMKM terdapat faktor internal UMKM meliputi modal yang dimiliki. Untuk dapat membangun suatu sistem pemberian perizinan yang efektif dalam mendukung pemberdayaan UMKM perlu dilakukan kajian terhadap tingkat keberhasilan dari kedua faktor di atas. pendidikan dan pengalaman. 3. b) Karakteristik UMKM. Selain itu juga diperlukan dalam rangka pembinaan. umur. yaitu untuk: a) Mempermudah pengusaha dalam mengakses sumbersumberdaya produktif. Untuk penyesuaian diperlukan perubahan kelembagaan pendekatan dan prosedur perizinan dengan memperhatikan UUD 1945. 3. 2. c) Mendorong pembentukan dan atau pengembangan jaringan usaha. biaya yang harus dibayar dan prosedur mendapatkan perizinan. peraturan mendapatkan perizinan (persyaratan yang diperlukan). model dan prosedur perizinan yang sesuai dengan karakteristik UMKM.

dan tempat kedudukan instansi tersebut.AGUSTUS 2009 : 18-36 Kesulitan UMKM Untuk Mendapatkan Perinzinan Analisis Masalah Pendekatan MODEL PEMBERIAN PERIZINAN UMKM KARAKTER/ KONDISI INTERNAL UMKM Restrukturisasi Kelembagaan Model Dan Prosedur Pemberian Perizinan Untuk UMKM Kelembagaan. instansi organisasi. ekonomi. persyaratan. c. Model Dan Prosedur Perizinan Yang sesuai Dengan Karakteristik UMKM UUD 1945 Dan Undang Undang UMKM Gambar 1. sosial dan politik. waktu pelayanan. Tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan secara adil dan merata dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan fisik.JURNAL VOLUME 4 . Faktor ini diindikasikan dari komitmen pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM. biaya. personil pelaksana. Variabel Bebas terdiri dari: a.3 Faktor Analisis 1. Kelembagaan terdiri dari peraturan perundang-undangan. 22 . Prosedur formalisasi idealnya disusun sesuai kemampuan UMKM khususnya pengusaha mikro dengan segala keterbatasannya. Kerangka Operasional Pengkajian 3. b. Pendekatan dalam pemberian perizinan idealnya adalah ditujukan untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia. Hal tersebut yaitu bentuk dan kedudukan lembaga pelayanan perizinan dalam struktur organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan kontribusi APBD terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengurusan perizinan.

c. Pengumpulkan data dan informasi perkembangan jumlah UMKM yang memperoleh perizinan. Ruang Lingkup Kajian 4. f. e.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) d. Konsekuensi dari didapatkannya perizinan ideal oleh UMKM akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan. IV.1 Ruang Lingkup Substansi a. pengetahuan UMKM dalam berurusan birokrasi dan kewirausahaan UMKM. kondisi internal.2 Ruang Lingkup Lokasi Kajian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah dengan dua kabupaten/ kodya contoh yaitu kodya Surakarta dan kabupaten Sragen. dan masalah yang dihadapi Pemda dan UMKM berkaitan dengan pemberian perizinan. V. 2. provinsi Sulawesi Selatan dengan dua kodya contoh yaitu kodya Makasar dan kodya Pare-pare. 23 . kelembagaan untuk perizinan. Analisis data dan permasalahan dalam rangka mendapatkan model pemberian perizinan sesuai dengan karakteristik UMKM. b. Metoda Penelitian dan Analisis Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan metoda stratified random sampling. Kondisi internal UMKM terdiri dari pendidikan formal. pendekatan prosedur pemberian perizinan. Kodya Makasar merupakan contoh pembanding yang belum melaksanakan P2SP. provinsi Bali dengan dua kabupaten/kodya contoh yaitu kabupaten Jembrana dan kodya Denpasar. Variabel Terikat adalah jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Perancangan model formalisasi sesuai dengan karakter UMKM dalam bentuk best practice. Sosialisasi dalam rangka penyebarluasan pemahaman tentang kepentingan mendapatkan perizinan serta persyaratan dan prosedur mendapatkannya. 4.

5. Model analisis rataan dan kecenderungan (mean dan mode).583. Teknik pengumpulan data menggunakan metoda purposif sampling yang terstratifikasi. 3). Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur sesuai dengan tujuan dan metoda pengkajian. b. diprediksikan mencapai 1. Ada tidaknya programprogram formalisasi UMKM. Ada tidaknya UMKM yang sudah mendapat formalitas usaha. Hasil Pengamatan dan Analisis 6. VI. Model analisis regresi berganda untuk mengetahui besar pengaruh tiap variabel bebas terhadap variabel terikat.1 Data dan Teknik Penarikan Contoh Data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Model analisis evaluatif dengan menggunakan beberapa model matematis yaitu a.2 Model Analisa Data Sesuai dengan tujuan penelitian dan variabel-variabel analisis.14% yang telah memiliki izin usaha.AGUSTUS 2009 : 18-36 5. Biro Perekonomian pemerintah daerah dan beberapa instansi terkait). rata-rata baru 17. Model analisis perbandingan (comparatif analisys). untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat sosial dan kebijakan.734 unit usaha dan yang telah melaksanakan program P2SP. Model analisis deskriptif kualitatif.1 Kinerja UMKM Jumlah UMKM di enam kabupaten/kodya contoh. Data primer diperoleh langsung dari UMKM dan stakeholder yang terdiri dari: a). 2. Sedangkan untuk kabupaten/kodya contoh yang belum melaksanakan program P2SP baru 7. Kelengkapan keberadaan/lembaga formalisasi UMKM. Stratifikasi lokasi contoh UMKM didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu: 1). c. 24 . 1. 2). maka data yang ada akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan .12% yang memiliki izin usaha. Kalangan pemerintahan (Dinas Koperasi dan UKM.JURNAL VOLUME 4 .

serta perhotelan merupakan kelompok UMKM.87% nya juga sudah mempunyai badan hukum. Para pengusaha di sektor pedagangan terutama pedagang antar kecamatan. dan pemasaran serta. 61. Walaupun kelompok UMKM tersebut sudah menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial. Pengusaha mikro yang bergerak pada kegiatan penggalian sebagian semua sudah memiliki izin usaha tetapi hanya 3 dari 15 pengusaha yang menjadi sampel pada penelitian ini yang memiliki badan hukum.8 juta sampai Rp 246 juta. Besarnya jumlah pengusaha dari kelompok ini yang memiliki badan hukum dan izin usaha nampaknya lebih dikarenakan ketatnya pengawasan pemerintah daerah terhadap mereka. Sebanyak 82. Kesulitan tersebut dalam memenuhi persyaratan dan banyaknya jenis perizinan yang harus dimiliki. Di daerah yang sudah melaksanakan program P2SP sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro menyatakan masih banyak menghadapi kesulitan. terkait dengan pungutan pajak retribusi. Namun mereka masih sulit membangun kemitraan dengan stakeholder lainnya dalam rangka memperluas jaringan usahanya. Dari jumlah tersebut 41. Kelompok ini juga tidak dapat mengandalkan koperasi untuk berhadapan dengan stakeholder karena bargaining koperasi sendiri masih belum diperhitungkan oleh kalangan stakeholder. Hal ini diindikasikan dari sedikitnya bantuan pemerintah untuk memberdayakan mereka seperti dalam mengembangkan modal dan jaringan usaha serta adanya pungutan-pungutan liar yang idealnya dapat diatasi melalui Perda.27%) sudah memiliki status badan hukum terutama Usaha Dagang (UD). b) Kecilnya skala usaha yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan badan hukum. angkutan pedesaan dan angkutan besar (bis dan truk). tetapi belum memiliki izin usaha tidak mendapatkan masalah dalam berhubungan dengan perbankan.42% memiliki izin kegiatan usaha. Sebagian kecil (28. 25 .Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6.2 Jenis Kegiatan Usaha dan Perizinan Pengusaha yang bergerak di sektor pengolahan hasil perkebunan. Hal tersebut disebabkan mereka memiliki modal yang relatif besar yaitu antara Rp 21.8% nya telah memiliki izin kegiatan berupa SIUP. termasuk untuk mendapatkan kegiatan usaha dari pemerintah. nampaknya perizinan bukan lagi menjadi hal yang sulit. Sebagian lainnya terutama yang bergerak di sektor angkutan belum memiliki badan hukum dan masih merupakan usaha perseorangan. Dari jumlah tersebut. Bagi mereka yang sudah memiliki izin kegiatan. Kesulitan memiliki badan hukum disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Karakter usaha mereka yang sudah memiliki jaringan tradisional yang menjamin penyediaan modal. tetapi komitment pemberdayaan mereka oleh pemerintah daerah masih belum optimal. sarana produksi. Bagi kedua kelompok diatas.

Pengembangan sistem pelayanan satu pintu belum menjadi solusi pemecahan masalah secara tuntas.JURNAL VOLUME 4 . Oleh sebab itu restrukturisasi prosedur dan persyaratan mendapatkan badan hukum merupakan salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan. 6. Hal tersebut dikarenan program tersebut perannya masih terbatas pada peningkatan jumlah pengusaha kecil yang mendapatkan izin usaha atau izin kegiatan. Hal tersebut dapat dianalisis antara lain melalui pendekatan yang digunakan dalam membangun kelembagaan pelayanan.AGUSTUS 2009 : 18-36 Pengusaha mikro hanya mungkin dapat memiliki badan hukum jika pemerintah mengeluarkan kebijakan terobosan misalnya. Dua dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan P2SP menempatkan lembaga perizinan setingkat eselon III. Satu dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP masih menetapkan biaya perizinan hanya 26 . Tidak diimilikinya status badan hukum dan atau izin kegiatan usaha akan berdampak pada kesulitan pengusaha yang bersangkutan untuk berhubungan dengan pihak-pihak luar. dan kompetensi personil yang ditempatkan dalam lembaga perizinan.3 Pendekatan dan Kelembagaan Perizinan P2SP belum dapat dijadikan indikator komitmen Pemda yang bersangkutan untuk memberdayakan UMKM melalui reformasi dibidang perizinan. c) Reformasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan badan hukum untuk UMKM. b) Menunjuk notaris yang secara khusus dapat memberikan badan hukum kepada UMKM dengan biaya yang relatif lebih murah dan. a) Memberikan subsidi kepada UMKM untuk mendapatkan badan hukum. kedudukan lembaga tersebut dalam struktur pemerintahan daerah. Usaha kecil yang usahanya sebagian sudah meluas antar daerah maka pemilikan badan hukum sangat penting. Hal tersebut menyebabkan lembaga tersebut belum memiliki bargaining yang cukup dalam berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempermudah proses pemberian perizinan. Hal tersebut secara langsung berdampak pada kelestarian lingkungan. a) Keberhasilan dalam meningkatkan pendapatan UMKM. c) Meningkatnya sumbangan UMKM terhadap pembangunan daerah diindikasikan dari peningkatan GDP serta meningkatnya sumbangan UMKM terhadap Pendatan Asli Daerah (PAD). b) Meningkatnya kemampuan penyerapan tenaga kerja dikalangan UMKM diindikasikan dari meningkatnya jumlah tenaga kerja per unit usaha UMKM. Dari sisi kelestarian lingkungan dan kesinambungan pembangunan akan menyebabkan terjadinya eksploitasi sumberdaya secara berlebihan. Program pelayanan satu pintu idealnya memiliki berbagai konsekuensi logis antara lain.

8 juta biaya tersebut 27 .4 Pola pelaksanaan pemberian izin 1. 2.000 s.400. Biaya Perizinan Di daerah yang sudah melaksanakan Program P2SP. tetapi juga dari sisi pengusaha (UMKM). Hal tersebut dilakukan karena latar belakang pekerjaan kurang kompeten. Belum ada kabupaten/kodya contoh yang berani melakukan perubahan dalam hal pola perizinan. 124. 370. sehingga terpaksa ditempatkan di dalam instansi perizinan. Kelima kabupaten/kodya contoh dalam menyusun persyaratan masih berorientasi pada paradigma lama yaitu tidak mempertimbangkan kesulitan UMKM dalam memenuhi persyaratan yang ada. Rp. Penetapan persyaratan perizinan idealnya perlu tidak hanya dari kepentingan pemerintah untuk mengatur lokasi sumberdaya tersedia. masih menempatkan personil kunci dalam instasi perizinan. Bagi usaha kecil yang memiliki rata-rata modal mencapai Rp.34 (termasuk katagori sulit). 84.d.83 (termasuk dalam katagori sulit).000. Nilai rata-rata skors persyaratan perizinan di kabupaten/ kodya contoh yang sudah melaksanakan P2SP baru mencapai nilai 1.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) berdasarkan target pemasukan retribusi untuk mendukung PAD. Prosedur Perizinan Nilai skoring kemudahan prosedur pemberian izin usaha bagi daerah yang sudah melaksanakan program P2SP mencapai angka 2.72 (termasuk dalam katagori mudah). Hal ini memang perlu mendapatkan perhatian.000. ratarata biaya perizinan yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan satu jenis surat izin berkisar antara Rp. 112. Jika ditambahkan dengan biaya transportasi dan akomodasi untuk mengurus perizinan yang rata-rata sebesar Rp.400. sehingga rata-rata biaya yang diperlukan mencapai Rp. Idealnya ditempatkan pada lokasi umum dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. sehingga jumlah perizinan untuk satu kegiatan usaha UMKM bisa mencapai 8 jenis. Tiga dari lima kabupaten/kodya contoh. Harus diingat bahwa tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mempermudah UMKM dalam mendapatkan izin usaha dari berbagai aspek pemberian perizinan tersebut. Sedangkan untuk satu jenis kegiatan yang akan dilaksanakan UMKM memerlukan antara 4 sampai dengan 8 jenis perizinan. 6. maka total biaya yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan status formal tersebut mencapai Rp. 246. Sedangkan bagi yang belum melaksanakan program tersebut rata-rata nilai skoring hanya mencapai angka 1. 20.

b) Biaya-biaya administratif dan. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar UMKM masih beranggapan bahwa pengurusan perizinan merupakan hal yang sulit dan belum diperlukan. Akibatnya sebagian besar dari mereka tidak ingin mendapatkan izin usaha. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Kelompok pengusaha marginal tersebut masih menjadi sasaran pungutan liar. maka nilai skors 1. Tetapi di daerah daerah yang telah melaksanakan program P2SP. Biaya perizinan berkisar antara Rp. Hal ini menyebabkan sebagian besar pengusaha terutama para pengusaha mikro sama sekali tidak memahami arti penting dari adanya izin usaha. basis perekonomian rakyat di daerah yang secara langsung berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk dapat melaksanakan satu kegiatan usaha mencapai Rp. biaya yang harus di bayar lebih besar lagi. karena hanya 0.96% dari modal yang dimiliki. 6. Biaya tersebut menjadi dana taktis yang penarikan. atau bea meterai.213. c) Biaya survey. 200.987 atau tergolong kurang.000. retribusi. 28 . Tetapi bagi usaha mikro yang rata rata-rata modalnya sebesar Rp.000. Biaya yang besar ini tidak akan mungkin dapat ditanggung oleh para pengusaha mikro.5 Sosialisasi Perizinan Nilai skors rata-rata sosialisi yang dicapai dari 5 kabupaten/ kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP adalah 1. maka jumlah tersebut mencapai 5. Hal ini disebabkan penetapan biaya perizinan didasarkan pada jumlah biaya riil yang dikeluarkan ditambah dengan pajak/retribusi pemda.03% dari modal.JURNAL VOLUME 4 . Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemda antara lain adalah: a) Gaji pegawai. Sosialisasi masih dilaksanakan terbatas dalam bentuk pamflet dan baliho di jalan-jalan ataupun melalui media elektronika terutama radio-radio pemerintah daerah dan siaran lokal. Demikian juga ada indikasi setiap instansi yang berwenang menetapkan biaya perizinan yang beragam. Pada umumnya mereka mengidentifikasikan izin usaha dengan pajak. Biaya pengurusan perizinan ini idealnya hanya merupakan bentuk pajak. Pemberdayaan UMKM merupakan amanat konstitusi (UUD 1945).21 atau sangat rendah.000 sampai dengan puluhan juta rupiah. Sosialisasi pemberian izin usaha seharusnya mendapat perhatian. pengumpulan dan penggunaannya tidak transparan. maka idealnya sebagian dari biaya tersebut dapat ditanggung pemerintah.AGUSTUS 2009 : 18-36 relatif tidak besar. biaya yang harus dibayar juga masih cukup besar.234. 6. 1.

Karena dalam segala bentuk kebijakan pemda tidak membedakan atau memberlakukan diskriminasi antara UMKM yang telah mendapatkan izin dengan yang belum mendapatkan izin. Kartu Tanda Penduduk.17 kali per UKM.89 juta pertahun atau bertambah sebesar 12. g). Pajak Bumi dan Bangunan. b). f). Surat Izin Lingkungan.47%. c).87 juta dari Rp 10.32 juta atau bertambah 63. Dari aspek internal dikalangan pengusaha mikro. Diperolehnya perizinan ternyata membawa konsekuensi yang cukup besar dari kalangan masyarakat. Keterangan Domisili Usaha. d). b) Laba meningkat Rp 16. 6. e). a) Rata-rata omset meningkat dari Rp 102.6 Konsekwensi dari Perizinan Pengaruh langsung dari didapatkannya izin usaha belum banyak dirasakan oleh UMKM. Total jumlah perizinan yang diperlukan mencapai 77 jenis di mana 49 jenis diantaranya sudah dapat dilayani melalui program P2SP. Untuk mendapatkan satu izin kegiatan usaha seperti industri kerajinan diperlukan persyaratan: a).01%. Hal tersebut dikarenakan kalangan pengusaha masih tetap sulit untuk berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama perbankan.89 menjadi 1. Sisanya 28 jenis masih dikelurkan oleh instansi sektoral dan lembaga lainnya seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan.12 kali menjadi 1. Terbuka pula peluang UMKM untuk ikut serta dalam pameran maupun temu bisnis yang dilakukan oleh pemerintah dari rata-rata 0. Hasil pengamatan lapang mengindikasikan yang sebagian besar (74. UMKM yang telah mendapatkan izin usaha diberikan dari rata-rata 1. Kartu Keluarga.7 Jenis-Jenis Perizinan Yang Diperlukan Jumlah perizinan yang secara umum diperlukan untuk suatu jenis kegiatan usaha berkisar antara 0 (tidak memerlukan izin) sampai dengan 7 jenis. Surat Keterangan Pembuangan atau Pengolahan Limbah. Sedangkan Kemampuan akses UMKM terhadap permodalan hampir tidak ada pengaruhnya. Kelebihan yang diterima oleh UMKM yang telah mendapatkan izin hanya terlihat di kabupaten Jembrana dan kodya Pare-Pare yang melaksanakan pelatihan managemen teknik produksi kepada UMKM di bidang angkutan dan industri kecil. Surat Izin Penggunaan 29 . pada harga tetap perubahan yang terjadi adalah.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. Majelis Ulama Indonesia dan lain-lain.47 kali per UMKM. Kinerja UMKM yang telah memiliki perizinan bernilai positif dalam menjalin hubungan bisnis terhadap kinerja.57 juta menjadi Rp 114.6%) responden contoh menyatakan lebih senang melakukan kerjasama dengan UMKM yang telah memiliki izin usaha. dan. Konsekuensi pemerintah bagi UMKM yang telah mendapatkan izin usaha juga belum jelas.

Persyaratan surat-surat keterangan dasar ini berbeda antara tiap daerah. Analisis Faktor Perizinan UMKM Kondisi dan Tingkat Pengaruh dari faktor-faktor Penentu 7.8 Waktu yang Diperlukan untuk Mengurus Perizinan Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan adalah 4.67% dari jumlah usaha mikro dan kecil yang ada di Indonesia (Ramelan 1999). izin usaha restoran dan rumah makan serta izin penggalian Sedangkan perizinan yang kurang mendapat perhatian adalah izin usaha keuangan dan izin usaha minuman keras. izin usaha pendidikan dan pelatihan serta izin pengoprerasian dan trayek angkutan. pikulan. Yang terlama adalah untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan rata-rata 8. Berbagai jenis perizinan. lapak dan lain-lain). jasa.1 Kondisi UMKM Umur dan kelamin tidak nyata pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.JURNAL VOLUME 4 . izin industri rumah tangga. maka sebagian besar pengusaha mikro terutama mereka yang usahanya berpindah-pindah tidak mungkin untuk mendapatkan perizinan. Tetapi mengingat jumlah jenis perizinan yang diperlukan cukup banyak (minimal 4 jenis) maka jumlah waktu yang tersita untuk mengurus perizinan ini juga masih relatif panjang. antara lain izin usaha perdagangan. kiranya masih diperlukan pemikiran prosedur pemberian perizinan yang lebih singkat misalnya dengan pola paket pemberian perizinan lengkap dari membuat IMB sampai dengan penerbitan izin usaha sektoral (perdagangan. 6.AGUSTUS 2009 : 18-36 Bangunan.41 hari. VII.39 hari.4 30 . izin usaha perbengkelan. baik disebabkan karena tidak memiliki tempat usaha atau yang memang karakter usahanya berpindah-pindah (menggunakan gerobak. pertambangan dan lain-lain).76 hari dan yang paling cepat adalah untuk mendapat surat izin lingkungan yang hanya memerlukan waktu 2 hari. Oleh karena diperlukannya persyaratan pokok tersebut. Ketentuan tersebut di atas menyebabkan pengusaha yang berpindah-pindah. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan sebelum adanya program P2SP yang mencapai rata-rata 23. Untuk lebih meningkatkan efisien waktu pengurusan. Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena jumlah pengusaha yang seperti itu sangat banyak dan diperkirakan mencapai 41. Hal ini mungkin disebabkan sebagian besar responden adalah laki-laki dengan rata-rata umur 33. belum menjadi target program P2SP.

Dalam hal ini tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia guna mendukung pemberdayaan UMKM. Oleh sebab itu masih sangat diperlukan penyederhanaan prosedur atau adanya pendampingan. 38. rata-rata waktu yang diperlukan untuk pengurusan memang berkurang.67 (relatif rendah).67% adalah yang bergerak di sektor tersier dan hanya 4. tetapi masih tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ada di lingkungan UMKM. 7.2 Faktor Eksternal 1) Pendekatan Model formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% pendekatan dalam konsepsi pemberian perizinan untuk UMKM berpengaruh positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha. Dengan adanya P2SP. Pengaruh ini diduga berkaitan dengan biaya perizinan yang relatif cukup besar untuk kelompok usaha mikro (sedangkan usaha mikro bagian terbesar dari UMKM).93% yang bergerak di sektor primer terutama kegiatan pertambangan dan penggalian. Implementasi dari tujuan tersebut adalah lembaga pelayanan yang dibangun harus mampu mengatasi masalah-masalah struktural yang selama ini menghambat 31 . Rata-rata 43. yang rata-rata hanya memiliki tenaga kerja 2. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lincoln (1982) yang mengatakan bahwa “Tercapai tujuan dari suatu sistem sangat dipengaruhi oleh pendekatan sistem tersebuit dalam mencapai tujuannya dan adanya kelembagaan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut”. Pemilikan modal UMKM berpengaruh nyata positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.60% UMKM yang telah mendapatkan izin usaha adalah yang bergerak di sektor sekunder. Oleh sebab itu kelembagaan yang dibangun idealnya adalah yang dapat memberikan peluang seluas-luasnya bagi UMKM untuk dapat eksis dalam sistem perekonomian. Jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata. Sektor usaha berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Tingkat pendidikan berpengaruh nyata. Hal ini mungkin dikarenakan untuk pengurusan masih diperlukan waktu dan tenaga. Dengan demikian UMKM tidak mengalami kesulitan untuk mengurus proses perizinan atau formalisasi kegiatan usahanya. Rata-rata pendidikan UMKM yang telah mendapatkan izin usaha hanya mencapai nilai bobot 7.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) tahun atau dalam kondisi produktif.264 orang. Hal tersebut disebabkan prosedur untuk mendapatkan perizinan memerlukan pengetahuan yang relatif luas (terutama yang berhubungan dengan pola kerja birokrasi).

c) Membuka transparansi persyaratan dan biaya. 32 . b) Instansi pemberian perizinan berada di bawah instansi induk yang kompeten dengan kepentingan pemberdayaan UMKM. Hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: a) Adanya satu lembaga perizinan telah menghilangkan perbedaan peresepsi tentang tujuan pemberian perizinan bagi UMKM. Sebaliknya sebagian besar pengusaha kecil menyatakan tidak kesulitan. b) Mempermudah UMKM dalam pengurusan karena hanya harus pergi ke satu tempat serta. persayaratan yang tidak sesuai dengan karakter UMKM dan biaya yang memberatkan UMKM. Peraturan yang mengharuskan mengikutsertakan semua instansi terkait agar tidak ada lagi perbedaan persepsi pemberian perizinan. Masalah tersebut antara lain banyak jenis perizinan yang harus dimiliki oleh UMKM. Hal tersebut dikarenakan latar belakang pendidikan mereka memang cukup tinggi dan mereka sudah biasa berhubungan dengan dengan birokrasi. 2) Bentuk Lembaga Perizinan Bentuk lembaga perizinan sampai pada tingkat kepercayaan 95% sudah menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin kegiatan usaha. Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya: a). c) Kedudukan lembaga pemberian perizinan masih cukup tinggi yaitu minimal setara dengan eselon III. 4) Prosedur formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% varibel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Dapat disimpulkan bahwa ada kaitan (korelasi) antara prosedur pelayanan dengan tingkat pendidikan dan pengalaman UMKM dalam berhubungan dengan “birokrasi”.JURNAL VOLUME 4 . Hal ini cukup beralasan karena sebagian besar dari pengusaha mikro tersebut berpendidikan rendah dan belum berpengalaman dalam berurusan dengan birokrasi.AGUSTUS 2009 : 18-36 proses formalisasi UMKM. Misalnya di bawah Dinas Koperasi dan UKM. Kondisi tersebut dapat diterangkan sebagai berikut bahwa ”Sebagian besar pengusaha mikro menyatakan bahwa prosedur pelayanan yang ditetapkan ternyata masih sulit dimengerti. 3) Kedudukan lembaga perizinan Variabel ini sampai dengan tingkat kepercayaan 80% belum menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.

Masih relatif besarnya biaya perizinan yang harus dibayar oleh pengusaha. variabel ini belum menunjukkan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. pengetahuan. a) Pemberian perizinan bukan merupakan pekerjaan sederhana yang hanya mengikuti prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. Pengaruh ini jelas berhubungan dengan pemahaman UMKM terhadap kepentingan. 6) Persyaratan Perizinan Variabel ini pada tingkat kepercayaan 95% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. c) Pengambilan berada pada level atas yang rata-rata memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pemberian perizinan bagi UMKM. Ada dan tidaknya nilai tambah yang akan diperoleh UMKM sebagai konsekuensi dari didapatkannya perizinan akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan 33 . 7) Biaya Perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 90% variabel ini belum berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 9) Konsekuensi adanya perizinan Pada tingkat kepercayaan 90% variabel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. waktu dan tenaga). Hal tersebut diduga dikarenakan. Pengaruh tersebut nampaknya berhubungan langsung dengan karakter UMKM yang diwarnai oleh berbagai keterbatasan (uang. 8) Sosialisasi Perizinan Variabel ini sampai pada tingkat kepercayaan 85% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. b) Personil sebelum bekerja sudah dilatih dan dibekali dengan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. konsekuensi prosedur dan persyaratan perizinan. diduga menyebab variabel biaya ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. akibat pendekatan dalam penetapan biaya perizinan yang tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha mikro.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 5) Kompetensi personil lembaga perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 80%.

Beberapa variabel yang berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha adalah: 1) pendekatan. 6. 2. Hal tersebut disebabkan karena usaha mikro sebagian besar merupakan perusahaan perorangan yang ruang lingkup usahanya yang relatif sempit. b) Persyaratan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM khususnya pengusaha mikro. Dari hasil temuan di atas dapat disusun best practice penyusunan konsep Lembaga perizinan UMKM 8. 5. 7. Kesimpulan Dan Saran 8. 3. c) Kurangnya sosialisasi dan belum adanya konsekuensi yang jelas dari pemerintah dengan dimilikinya badan hukum.1 Kesimpulan 1. Jumlah UMKM yang telah mendapat formalitas usaha dalam bentuk perizinan relatif sedikit tidak terkecuali pada daerah-daerah yang telah melaksanakan P2SP yang baru mencapai 17. izin perusahaan atau badan hukum secara yuridis formal memang untuk waktu sekarang belum diperlukan. 2) Bentuk lembaga perizinan. Program-program perizinan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah belum menjangkau masalah pemberian badan hukum.2 Saran-saran 1.AGUSTUS 2009 : 18-36 VIII. 6) Konsekuensi dari adanya perizinan. 2.12%. Beberapa masalah yang sangat mendesak untuk diperbaiki adalah: a) Banyaknya jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan usaha. Berbagai usaha untuk mempermudah pemberian perizinan yang dilakukan sekarang (program P2SP) belum sepenuhnya dapat menyelesaikan masalah formalisasi UMKM. 4. Program formalisasi usaha harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya 34 . 4) Prosedur perizinan. 5) Sosialisasi perizinan . Bagi pengusaha mikro. 3) Persyaratan perizinan.JURNAL VOLUME 4 . Dalam penyusunan konsep pemberian perizinan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara pendekatan. Ketidakmampuan ini berkaitan dengan implementasi kelembagaan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM. kelembagaan dan karakteristik UMKM. Hal ini dikarenakan pemberian badan hukum merupakan kewenangan dari Departemen Hukum dan Ham yang dalam UU otonomi daerah juga tidak dilimpahkan kewenangannya kepada pemerintah daerah.

Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004. Jakarta. (2002). Departemen Koperasi. Heriawan. Basic Penumbuhan Wirausaha Baru. Jakarta. Jakarta. 35 . Jointly orgized by LPEM-UI and PEG-USAID. Jurnal Ekonomi UNTAR. Study Report. Study Report. (2006). Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya. Support by The Asia Foundation and PEG-USAID. Anonim. 3. Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. 1���. Indonesia Small Business Statistics. Perlu dilakukan sosialisasi best pratice formalisasi UMKM yang telah disusun dengan memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi efektifitas sistem pelayanan. Anonim. Pedoman Pengembangan Kewirausahaan. (1999). Manggara Tambunan. Jakarta. (2008). Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru. (1999).Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM dan kemampuan UMKM untuk memenuhi persyaratan tersebut. Anonim. Anonim. Conference on “The Economic Issues Facing The New Government”. (2003). The Asia Foundation. Kementerian Koperasi dan UKM. Anonim. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. Jakarta. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK. Saleh. Supported by The Asia Foundation. Melangkah ke Depan Bersama UKM. (2005). (2004). (1992). Kusnadi dan R. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Anonim. Anonim. Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. Vol 7 nomor 1. (2001). Small and Medium Entreprise Development.

Gibb. “The Bucharest Declaration: Preparing SME’s for the Knowledge Based Economy.AGUSTUS 2009 : 18-36 Yudhoyono S. “Symphony Solution for Strategic Network: Project Overview. Taiwan. “The Entreprise Culture and Education” dalam International Small Business Journal Vol. 2005.“ National Information & Communications Initiative Committee & Science and Technology Advisory Group (STAG). (2004). (1993). Terapkan Ekonomi Terbuka. January 2005. 2. 2nd ed. Bisnis Indonesia. Bucharest May 15-18. USA. “Building The Policy of ICT Development. Allan A. World SME Convention..” November 2004. Zsehong Tsai. 36 .. Singapore: John Willey & Son.B. The Symphony Consortium. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving.” 16th International Conference. Kamis 21 Oktober 2004. Jakarta.JURNAL VOLUME 4 .

c) Obligation of to pay tax on the sevent cooperative principle.d. Peer review 22 April s. 2) Education to members and management of SLC should be conducted regularly and consistence. The difference lays on determining member requirements on the first cooperative principle: a) The implementation of education on the fifth cooperative principle. 3) SLC is necessary to conduct horizontal and vertical cooperation and implements financial interlending. Artikel diterima � April 200�.1 Latar Belakang Ketika krisis ekonomi melanda di Indonesia. Suggestion which is proposed in line with the conclusion above mentioned: 1) LSC should make members requirement which are more operational so that member of LSC will be more selective on its quality. 4) SLC is necessary to establish secondary level of SLC in the district level or for some primary SLC’s which the function to coordinate the interests of SLC’s in the area of business and finance. The result of the assessment showed that: 1) There is a difference between SLC and CC in implementing cooperative principles. KSP dan Kopdit berbeda dalam implementasi prinsip koperasi. koperasi dapat bertahan dan bahkan berkembang. 8 �uni 200�. syarat anggota. 2) What’s really at the bottom of that (CC) is better in implementing cooperation principles: a) Members are the owner of cooperative should be serviced well. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 37 . d) CC has a clear promotional operational standard. khususnya koperasi simpan Kajian Kelompok Peneliti tahun 2008. c) Cooperation among CC is an instrument of helping each other among CC and resource of business increase in rendering service to the members. b) Education is a facility to increase the capability and cooperative motivation. 5) SLC is necessary to prepare implementation of operational standard for SLC like CC. pendidikan.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) ANALISA KOMPARATIF ANTARA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) DAN KOPERASI KREDIT (KOPDIT)*) Riana Panggabean**) Abstract Objective of the activity is to compare Savings and Loan Cooperative (SLC) and Credit Cooperative (CC) in implementing cooperative basic principle. b) Cooperation horizontal and vertical and interlending implementation on the sixth cooperative principle. kerjasama horisontal dan vertikal I. PENDAHULUAN 1.

Prinsip koperasi merupakan esensi dari dasar kerja koperasi sebagai badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari usaha lain. Ini merupakan bukti bahwa koperasi perlu diperkuat dan dipertahankan sebagai lembaga keuangan mikro agar selalu mampu melayani anggota dan masyarakat disekitarnya.koperasi lain dan atau anggotanya. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip koperasi adalah (1) Keanggotaan sukarela dan terbuka. Artinya pinjaman tidak bisa diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Usaha simpan pinjam juga menjadi cikal bakal pertumbuhan dan pengembangan koperasi simpan pinjam di Indonesia dan usaha ini merupakan usaha dominan koperasi hingga saat ini. (5) Pendidikan dan pelatihan serta informasi. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelakanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam. (3) Partisipasi ekonomi anggota. kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan. Koperasi ini berhasil karena melaksanakan prinsip-prinsip koperasi secara tepat dalam menjalankan organisasi dan usahanya. (4) Otonomi dan kebebasan. Koperasi simpan pinjam yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM ada dua bentuk yaitu (1) Koperasi Simpan Pinjam disebut KSP melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan pinjam dan (2) Unit Usaha Simpan Pinjam disebut USP adalah unit usaha yang dibentuk dalam suatu koperasi sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi melakukan kegiatan usaha simpan pinjam (PP No 9 Thn 1995). 38 . (6) Kerjasama antar koperasi dan (7) Kepedulian terhadap komunitas (Internasional Co-operative Alliance/ICA).JURNAL VOLUME 4 . Koperasi kredit dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. calon anggota koperasi yang bersangkutan. (2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka untuk tujuan produktif dan kesejahteraan anggotanya. Selain koperasi tersebut koperasi kredit (credit union) mulai timbul di Indonesia pada tahun 1950 adalah koperasi yang mempunyai kegiatan simpan pinjam sama dengan KSP/USP yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM tersebut.AGUSTUS 2009 : 37-61 pinjam. Tujuan produktif dan kesejahteraan berarti bahwa pinjaman hanya diberikan pada anggota untuk dimanfaatkan modal usaha yang bisa meningkatkan penghasilan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota.

011 unit.000 juta. (4) Simpanan non saham Rp 791. Sedangkan kopdit berhasil karena melaksanakan/menjalankan koperasinya sesuai dengan prinsip dasar koperasi secara konsisten. (5) Modal sendiri Rp 4.364. 2002) KSP dan USP cukup pesat perkembangannya seperti yang disebut di atas. (5) Modal sendiri Rp 776. (9) Total aset Rp 7.524. perkembangan KSP sampai Tahun 2005 sangat pesat dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah KSP 1. (5) Jumlah pinjaman beredar sebanyak Rp 1.063.783 orang. (4) Modal pinjaman Rp 1.114 dan.36 juta.640.62 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 13. (6) Modal penyertaan Rp 6. Selanjutnya perkembangan koperasi kredit (kopdit) secara kuantitatif pada tahun 2006 dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah koperasi kredit di Indonesia sebanyak 1.460. terdiri dari jumlah anggota laki-laki 399. Lawang 2007).865. Secara kualitatif menurut hasil penelitian dijelaskan bahwa kopdit cukup pesat perkembangannya dilihat dari pertumbuhan dan usahanya karena kopdit dapat bertahan dan berkembang terus bahkan dianggap berprestasi walaupun pada masa krisis.346 orang.524.118. (4) Modal pinjaman Rp 195.393.88 juta. Koperasi ini dikembangkan dan berkembang sesuai dengan jatidiri koperasi (Sumisjokartono. (8) SHU yg belum dibagi Rp 107. (2) Jumlah anggota keseluruhan 668.67 juta.91.877.502 orang dan jumlah anggota perempuan 268.83 juta.55 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 1. (2) Jumlah anggota sebanyak 480.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Kerjasama dan Jaringan Informasi pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK.03 juta. (3) Jumlah nasabah 878.054.326 orang.288.95 juta.374. Namun dalam prakteknya disinyalir: (1) Ada terjadi penyimpangan-penyimpangan managemen organisasi dan usaha yang kurang sesuai dengan peraturan perundangan terutama yang menyangkut dengan prinsip dasar koperasi.662 juta.815. (7) Simpanan yang diterima Rp 325.932.873. (3) Jumlah nasabah 10.18 juta.858. (2) KSP saat ini menjadi alat untuk mencari rente ekonomi terutama fasilitasi perkuatan dari pemerintah.908 orang.693. (6) Modal penyertaan Rp 200.598 unit.495. Demikian juga perkembangan USP pada tahun yang sama cukup menonjol yaitu: (1) Jumlah USP koperasi sebanyak 36.578. (3) Banyak KSP yang telah berubah menjadi lembaga keuangan yang hanya mencari keuntungan semata sehingga mengabaikan pelayanan kepada anggota.987. (8) SHU yg belum dibagi Rp 1.Z. (7) Simpanan yang diterima Rp 1.834. (9) Total aset Rp 1.154.94 juta.864.165.485 unit.73 juta.633. (2) Jumlah anggota sebanyak 4.438 (Robert M.545.844 orang.557. Kopdit dalam melaksanakan usahanya 39 .600.216.270. (3) Jumlah saham sebanyak Rp 1.379 orang.

Keanggotaan yang Bersifat Terbuka dan Sukarela Keterbukaan dalam organisasi koperasi hanya bisa terlaksana jika ada kesukarelaan. masalah yang akan diamati dalam kajian ini adalah belum diketahui apa perbedaan antara KSP dengan kopdit dalam mengimplementasikan jati diri koperasi. TINJAUAN KONSEP Sesuai dengan tujuan kegiatan ini yaitu membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. 1. Selanjutnya menurut Internasional Co-operative Alliance (2001) prinsip-prinsip ini tidak independen satu dengan lainnya sehingga tidak boleh dinilai secara parsial berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip tersebut tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu kesatuan. koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Perincian prinsip-prinsip koperasi yang menjadi landasan operasional KSP dan kopdit dijelaskan sebagai berikut: 1). Dengan melaksanakan keseluruhan prinsip tersebut. II.2 Tujuan dan Manfaat Kajian Tujuan kegiatan ini adalah membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi.1 Prinsip-prinsip Koperasi Menurut Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian disampaikan bahwa prinsip koperasi merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berkoperasi. 1. sesuai Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi dan Manajemen Operasional Koperasi Kredit. Ada 4 prinsip yang berkaitan dengan keanggotaan yaitu (1) prinsip sukarela. Perlu ditelusuri konsep prinsip-prinsip dasar koperasi.AGUSTUS 2009 : 37-61 tidak menggantungkan diri kepada fasilitas dan bantuan pemerintah dan kopdit dalam melaksanakan usahanya hanya melayani anggota.JURNAL VOLUME 4 . (2) keterbukaan.3 Manfaat Kajian Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan/keputusan untuk pengembangan KSP dan kopdit lebih lanjut. 40 .

Prinsip keterbukaan adalah tanpa pembatasan yang dibuat-buat seperti simpanan pokok atau pendaftaran. hak pilih dan hak untuk menentukan sikap yang sama. tanpa membedakan jenis kalamin (gender). Pengelolaan Dilakukan Secara Demokratis Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota. Prinsip nondiskriminasi adalah bahwa anggota tanpa diskriminasi sosial. ras. Sifat terbuka memberi arti dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi apapun. 41 . untuk menemukan sikap yang sama. Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan koperasi artinya bahwa: (1) Menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksa oleh siapapun. 2). Prinsip tanggung jawab adalah keanggotaan koperasi harus terbuka terhadap semua orang yang mau menerima tanggung jawab sebagai anggota. Prinsip yang utama adalah sekali anggota diterima menjadi anggota koperasi mempunyai hak-hak yang sama dengan anggota sebelumnya termasuk dalam hak suara tanpa melihat besarnya total simpanan. (2) Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam anggaran dasar. partisipasi dalam bisnis. politik dan agama. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah organisasi yang bersifat sukarela dan terbuka bagi semua orang yang bersedia memanfaatkan pelayanannya dan bersedia pula untuk menerima tanggung jawab keanggotaan. politik dan agama apapun. menanggung kontrol organisasi secara demokratis dan bila perlu meminta pertanggungjawaban pemimpin yang dipilih anggotanya. Operasional prinsip ini dalam banyak koperasi diwujudkan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) dimana anggota aktif dalam membahas masalah dan kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan. Para anggota memegang dan melaksanakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) (3) non diskriminasi dan (4) tanggung jawab. latar belakang. Tanggung jawab meliputi: kontribusi dalam modal. Sukarela artinya orang-orang yang secara sukarela memilih untuk membuat komitmen terhadap koperasi mereka bahwa bergabungnya seseorang menjadi anggota koperasi tidak karena paksaan dalam bentuk apapun. Karena koperasi adalah organisasi demokratis dikendalikan oleh anggotanya maka setiap anggota memiliki hak suara. sosial.

2.AGUSTUS 2009 : 37-61 3). 5). Apabila ada modal lain hanya akan diberikan imbalan yang terbatas. Pengertian konsep ini dijelaskan sebagai berikut: 42 . Pendidikan. 7). melalui kebijakan kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota. memberikan penerangan kepada masyarakat umum. membentuk dana cadangan. Kerjasama Antara Koperasi Koperasi melayani para anggotanya secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi dengan kerjasama melalui struktur lokal. khususnya kepada pemuda dan pembentuk opini dimasyarakat tentang hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi. nasional. koperasi melakukannya berdasarkan persyaratan yang menjamin pengawasan demokratis oleh para anggotanya dan mempertahankan otonomi mereka.JURNAL VOLUME 4 . Anggota Berpartisipasi Dalam Kegiatan Ekonomi Para anggota memberikan kontribusi modal secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis terhadap modal. Sisa Hasil Usaha dialokasikan untuk pengembangan koperasi. Memiliki Kepedulian Terhadap Masyarakat Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. menolong diri sendiri serta diawasi oleh para anggota. 6).2 Koperasi Kredit Menurut Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (1996:7) pengertian kopdit adalah badan usaha yang dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. regional dan internasional. Adanya Otonomi dan Kemandirian Koperasi adalah organisasi otonom. termasuk pemerintah. atau memupuk modal dari sumber luar. dibagikan kepada anggota seimbang dengan transaksi yang mereka lakukan mendukung kegiatan lainnya yang disahkan rapat anggota. Sebagian dari modal menjadi milik bersama koperasi. Pelatihan dan Penerangan Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka dengan bunga yang layak serta untuk tujuan produktif dan kesejahteraan. 4).

Misalnya mahasisiwa. Bila sudah berkembang diharapkan membuka diri bagi masyarakat sekitarnya. rumah sakit. Anggota dalam kopdit adalah pemilik pelaksana. Bersepakat Untuk Menabung Uang Mereka yang Disisihkan Dari Penghasilan Bahwa sekumpulan orang setuju tanpa paksaan untuk menabungkan uang yang mereka hematkan dari 43 . olahraga. petani. buruh. b). Lingkungan tempat tinggal (Teritorial Commond Bond) Dimana sekumpulan orang yang diikat oleh karena bertempat tinggal pada suatu tempat atau menjadi warga dari suatu daerah yang sama Misalnya satu lingkungan RT. 2). wanita. Oleh karena itu koperasi harus dikelola dengan memperhatikan kaidah-kaidah ekonomi tanpa melupakan tujuan dibentuknya usaha ini oleh kelompok pemiliknya. 3). RW dan RK.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Anggota wajib mendukung kemajuan kopdit sebagai badan usaha. c). Kopdit akan berkembang baik bila potensi keanggotaannya cukup besar. dan pengawas. Badan Usaha Pengertian badan usaha (UU Nomor 25 Tahun 1992) pada kopdit adalah badan usaha dengan ciri khas pemiliknya adalah anggota-anggotanya. Dalam Suatu Ikatan Pemersatu Dalam suatu ikatan pemersatu artinya sekumpulan orang diikat dipersatukan oleh adanya kepentingan bersama dan kebutuhan yang dirasakan bersama di dalam salah satu lingkungan masyarakat seperti: a). d). pramuka. Misalnya karyawan sebuah pabrik. Lingkungan Perkumpulan (Asosieson Commond Bond) Dimana sekumpulan orang diikat oleh karena sama-sama menjadi anggota dari suatu perkumpulan. pemuda dsb. Dimiliki Oleh Sekumpulan Orang Dimiliki oleh sekompulan orang pria dan wanita yang berjumlah sekurang-kurangnya 20 orang. dan guru. Lingkungan Kerja (Accupational Common Bond) Dimana sekelompok orang/anggota dipersatukan karena melakukan pekerjaan yang sama. Jika potensi keanggotaannya tidak besar maka koperasi di tempat kerja saat tertentu dianjurkan membuka diri bagi bagi masyarakat sekitarnya.

karena dengan menghemat orang bisa menabung. cara menyimpan uang secara praktis.AGUSTUS 2009 : 37-61 penghasilannya bersepakat untuk menabung. (2) Memberikan Pinjaman layak. Dipinjamkan Diantara Sesama Mereka Artinya bahwa pinjaman diberikan kepada anggotaanggotanya dan pinjaman dijamin oleh watak baik si anggota peminjam serta kelayakan usaha. Menghemat itu penting. Kopdit mengajarkan cara menghemat dengan memberikan bimbingan perencanaan keuangan keluarga anggota dengan baik. (2) Setia kawan/Solidaritas. Tujuan kopdit diimplementasikan dalam membimbing dan mengembangkan sikap menghemat diantara para anggotanya. Menciptakan Modal Bersama Bahwa modal diperoleh dari tabungan bersamasama para anggotanya. i). Tujuan Produktif dan Kesejahteraan Pinjaman hanya diberikan untuk kebutuhan anggota bagi usaha-usaha yang bisa meningkatkan penghasilan dan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. (b) Modal-modal lain yang berupa modal hutang. kopdit dimulai dengan pendidikan. tepat. f). Dengan menghemat seseorang bisa: (1) Menabung. g). sebagai (a) Modal sendiri berupa simpanan wajib dan pokok. Artinya pinjaman tidak boleh diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Bunga yang Layak Bahwa bunga pinjaman pada kopdit harus layak. saling melayani dan mempercayai serta memanfaatkan tabungan untuk kemajuan bersama.JURNAL VOLUME 4 . h). modal penyertaan dan hibah. menarik dan berhasil bagi anggota. dan terarah. Kopdit tidak sekedar 44 . Ini berarti bahwa masing-masing bertanggung jawab. cepat. Tiga Pilar Koperasi Kredit Sebagai alat Pembangunan Tiga pilar ini disebut Trilogi pembangunan yaitu: (1) Pendidikan. dan (3) Mendidik anggota dalam hal menggunakan uang secara bijaksana. dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol dengan pendidikan. Layak artinya dapat memberi balas jasa simpanan sesuai pasar dan dapat membiayai operasional kantor kopdit. e).

Namun kopdit tidak didirikan hanya sekedar untuk memberi keuntungan modal para anggota. Keuntungan yang diraih kopdit digunakan untuk tujuan-tujuan demokratis kesadaran sosial dan pengembangan manusianya. Inilah ciri khas yang membedakan kopdit dari lembaga keuangan lain seperti bank dan perusahaan-perusahaan pengawasan harta benda lainnya (trust companies). Sebuah kopdit adalah usaha koperasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh para anggotanya. Agar dapat memahami sifat kopdit dan mengerti aspekaspek unik gerakan ini terlebih dahulu perlu dipelajari prinsipprinsip visi yang selama ini mengarahkan perkembangan gerakan tersebut.3 Implementasi Konsep Kredit Prinsip Koperasi Menurut Koperasi Implementasi konsep prinsip koperasi pada kopdit (credit union) dituangkan dalam Manajemen Profesional Koperasi Kredit yang diterbitkan oleh Induk Koperasi Kredit pada Pebruari 2003. Pada kenyataannya keuntungan dan laba dari modal para anggota adalah sasaran yang justru harus diraih oleh semua kopdit. sebagai acuan bertindak untuk melaksanakan usaha simpan pinjam. 2. 45 . Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). Kopdit juga memberikan manfaat dan layanan bagi para anggota sesuai dengan besarnya jasa yang diberikan kepada kopdit tersebut.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) menghimpun dan menyalurkan kredit dari dan untuk anggota namun yang paling penting adalah bagaimana setiap anggota memperhatikan kepentingan kelompok daripada kepentingan sendiri. Secara teoritis kopdit ditujukan untuk beroperasi secara non profit (tidak mengambil keuntungan). Kopdit selalu berusaha untuk sedapat mungkin membiayai dirinya dalam pengertian bahwa anggota kopdit selalu berusaha agar koperasi kreditnya semakin besar dan sehat. (3) Swadaya. Koperasi Kredit Dikendalikan oleh Anggota Perkembangan serta kegiatan pergerakan kopdit Indonesia selama ini dikendalikan oleh prinsip-prinsip kopdit (Mission Statement) yang diakui secara internasional dan pernyataan misi yang dikembangkan oleh Gerakan Koperasi Kredit Indonesia.

Layanan kepada Anggota Layanan kopdit ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan baik ekonomis maupun sosial para anggotanya. 6). 46 . Pengendalian (control) Demokratis Para anggota kopdit memiliki hak suara yang sama dan hak yang sama pula untuk berpartisipasi dalam menentukan keputusan yang berpengaruh terhadap kopdit dimana hak ini tidak tergantung pada jumlah tabungan.AGUSTUS 2009 : 37-61 2). Para anggota memiliki hak yang sama dalam pemberian suara dan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kopdit tersebut. simpanan atau volume bisnis masingmasing anggota. 7). Non Diskriminasi Kopdit tidak membedakan ras. jenis kelamin agama maupun politik. Struktur yang Demokratis Kopdit beroperasi berdasarkan prinsip demokrasi dimana keanggotaan terbuka untuk siapa saja. Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dilakukan secara proporsional ataupun representatif sesuai dengan prinsip koperasi. Kopdit boleh mengganti biayabiaya sah yang dikeluarkan oleh para pengurus terpilih tersebut. kebangsaan. Distribusi kepada Anggota Dalam rangka mendorong penghematan melalui menabung dan juga agar dapat menyediakan pinjaman serta layanan lainnya maka setiap tabungan dan simpanan diberikan bunga dengan tingkat yang wajar berada dalam batas kemampuan kopdit bersangkutan. yang ingin mengambil manfaat dari layanan yang disediakan kopdit dan bersedia menerima tanggung jawab yang diakibatkannya. 4). Kopdit juga memiliki otonomi sendiri kaitannya dengan hukum dan peraturan negara dimana negara mengakui kopdit sebagai suatu koperasi yang melayani dan dijalankan sepenuhnya oleh anggota. Keanggotaan yang Terbuka dan Suka Rela Keanggotaan kopdit bersifat sukarela dan terbuka bagi siapa saja dalam batas ikatan pemersatu sebuah kopdit tersebut. Pengurus yang duduk dalam suatu kopdit sifatnya sukarela dan para pengurus yang terpilih seharusnya tidak digaji. 3).JURNAL VOLUME 4 . 5).

Pendidikan yang berkelanjutan Kopdit harus secara aktif menyelanggarakan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ekonomi. METODE KAJIAN 3. Sisa tersebut adalah hak semua anggota. Kelebihan itu bisa dibagikan kepada anggota dalam bentuk bunga atau laba sesuai jumlah transaksi yang mereka lakukan dengan kopdit bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan tambahan yang dibutuhkan anggota. managemen keuangan. 10). Data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dan data primer.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Jika ada laba yang tersisa dari hasil kegiatan kopdit setelah dikurangi dana cadangan dan membayar deviden terbatas atas modal sendiri sesuai ketentuan. 47 . 9).4 Peubah dan Indikator Kajian Untuk mencapai tujuan umum pada kajian ini diidentifikasi indikator yang diasumsikan mampu menjelaskan inplementasi pelaksanaan prinsip-prinsip koperasi pada kedua sasaran kajian yang akan dibedakan dalam kajian ini. 2. 8). Ketujuh prinsip tersebut dijadikan variabel dan dari variabel diidentifikasi indikatornya seperti pada Tabel 1. sosial. perkoperasian.1. demokrasi. Dimana tidak boleh ada anggota yang mendapat keuntungan lebih sementara anggota lain ada yang rugi. kemandirian dari koperasi tersebut dalam melayani kebutuhan anggota. Membangun Stabilitas Keuangan Salah satu aspek utama dari kopdit adalah membangun kekuatan finansial termasuk pengadaan cadangan keuangan dan pengendalian internal yang memadai agar layanan anggota bisa terjamin keanggotaannya. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode survey. managemen koperasi. III. Tujuan Sosial Kopdit harus secara aktif mempromosikan pendidikan kepada anggotanya dan kerjasama dengan organisasi lain demi kepentingan bersama.

Responden masing koperasi 3 orang (1 orang pengurus/ managemen dan dua orang anggota). 48 . Jumlah sampel koperasi masing-masing kabupaten 2 KSP dan 2 kopdit.3.AGUSTUS 2009 : 37-61 ������������ ������������� ����� ������������������ � ������������������ ���������� � �������������������� � ������������������������ ������������� � ����������������� � ������������������ ����������� � ����������������� � �������������������� ����������������� ����������������������� �������������� � �������������� � ���������� � ����������� � ���������� � ��������� � ���������� � ������ � �������������� � ������������������� � � � � � � � � ��������������������� ��������������� ���������������������������� ����������������������� ���������������������� ��������� ���������������������� ������������ ����������������� �������������������� ��������������������� ��������� �������������� ���������������� ��������������������������� ������� Gambar 1.JURNAL VOLUME 4 .2. Jawa Barat. Teknik Analisis Data 1). dan Bali 5). Populasi dalam kajian ini adalah semua KSP dan kopdit yang ada di kabupaten lokasi kajian 2). Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantatif . Lokasi kajian ini dilakukan di 4 (empat) provinsi: Sumatera Utara. 3. Jawa Timur. Teknik penarikan sampel KSP dan kopdit dilakukan secara purposive dengan ciri ciri KSP dan kopdit aktif melakukan usaha simpan pinjam 4). Teknik penarik lokasi sampel dalam kajian ini dilakukan dengan metode purposive dengan ciri di kab/kodya yang bersangkutan terdapat KSP/USP dan kopdit yang sudah berjalan selama 5 tahun dan koperasi tersebut aktif 3). Skema Identifikasi Prinsip & Peubah Kajian 3. Teknik Penetapan Sampel 1).

dijelaskan pada tabel 1 (lampiran 1). Data sekunder profil KSP dan kopdit di tingkat kab/kota diolah dengan analisis pengujian varian satu jalur (one way anova) Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan (DuwiPryanto.1 Profil Responden KSP dan Kopdit Profil KSP dan kopdit dilihat dari (1) Jumlah anggota. Jumlah skoring masing-masing KSP/kopdit itulah yang menjadi pembeda antara KSP dengan kopdit. 3).993. 49 .013.761 dan jumlah modal terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 222. 2.795.386 dan jumlah anggota terkecil terdapat di Jawa Barat. Total modal ini 10 kali lipat lebih besar dari total modal KSP. Jumlah anggota terendah terdapat di Bali dan Jumlah anggota tertinggi terdapat di Jawa Barat.750. Total modal ini berasal dari anggota dan disalurkan untuk anggota. 2008).757.612. Total modal rata-rata terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak Rp. Sedangkan jumlah anggota 8 unit kopdit responden jauh lebih besar dibanding dengan jumlah anggota KSP yaitu sebanyak 7. HASIL KAJIAN 4. 166.25. 7.039 atau empat kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Jumlah anggota kopdit terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak 16. Kondisi ini menjelaskan bahwa modal kopdit berasal dari anggota dan dikembangkan untuk anggota. Jumlah nasabah yang dilayani pada KSP kurang jelas sedangkan jumlah nasabah di kopdit otomatis sama dengan jumlah anggotanya karena prinsip kopdit adalah melayani anggota. Skor masing-masing koperasi dijumlah dan dibagi 100.261.-. 34. Jika dilihat dari jumlah anggota maka perbandingan jumlah anggota kopdit 4 kali lipat lebih besar dari jumlah anggota KSP.017.805. (2) Jumlah nasabah. Analisis kualitatif dilakukan melalui teknik pembobotan dan skoring.695. Hasil kajian menjelaskan bahwa jumlah rata-rata anggota pada 8 unit KSP responden sebanyak 1684 orang. Temuan di lapang menunjukkan bahwa kopdit berusaha melayani anggota sebaik mungkin karena kopdit menumbuhkan dan mengembangkan modal dari anggota sedangkan KSP disinyalir melayani non anggota.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2).. (4) Total asset dan (5) SHU.323. Mengapa jumlah anggota kopdit jauh lebih besar dari jumlah anggota KSP. Jumlah ini jika dibagi dengan banyaknya anggota maka rata-rata anggota memiliki modal sebanyak Rp.-. (3) Total Modal yang terdiri dari Modal sendiri dan modal luar. Total modal rata-rata kopdit sebanyak Rp. Total modal rata-rata 8 orang responden KSP sebanyak Rp. IV.679.071.

...Calon anggota:. 25 4.... 1. 1.. Interlending keuangan Ketaatan Koperasi membayar pajak... Jumlah Bobot (0-100) 10 Koperasi 1.25 dan modal luar Rp.679. 2. dan solvabilitas KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan... 3.. dari lingkungan Kerjasama Koperasi dengan organisasi kemasyarakatan.625. 1. dan karyawan Kerjasama usaha secara horizontal. 2. No. 2..... KSP& kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kpd anggota KSP/kopdit diaudit auditor independen KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas. 10 6.25... Anggota melaksanakan pengawasan Anggota aktif dalam memecahkan masalah.JURNAL VOLUME 4 ....078. Kerjasama diantara koperasi Kepedulian terhadap komunitas 1..sedangkan modal kopdit hanya modal sendiri dan modal ini semuanya berasal dari anggota.458.458. 15 5.koperas Jumlah anggota yang dilayanai: : .... 3.. 4. Penyerapan tenaga kerja. orang KSP/kopdit melaksanakan Rencana Kerja dan RAPB.. 1. 4.. Skor (0-100) Nilai (BxS)i 2...... 2. 3.. 2..Anggota tetap: . dan jumlah modal yang berasal dari pemerintah sebesar Rp. 407.. 7....AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 1. Pendidikan dan Pelatihan 1.447. orang . 5. 2. 3.. 10 10 100 Nilai Akhir = ( BXS ) 100 Struktur modal sendiri KSP rata-rata Rp.. Variabel Kajian (Prinsip) Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Indikator/Kegiatan yang harus dilakukan KSP/kopdit KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota Anggota bebas masuk dan keluar.. 3... Variabel dan Indikator Analisis Komparatif Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit Koperasi :. 50 2 . KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan Diklat bagi anggota.. Kerjasama usaha secara vertikal.... 358. Anggota melunasi simpanan pokok Anggota aktif menyetor s wajib & s rela Anggota ikut dalam pengambilan keputusan Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi.871.. 2. 3.....670. Otonomi dan Kemandirian 1. Anggota berperan aktif dalam RAT... 4. 2...337 dan modal luar Rp 358. Pengendalian oleh Anggota Secara demokratis Partisipasi Ekonomi Anggota 20 3.

338.666.7 30. hasil analisis one way anova pada Tabel 2.3 229.jauh lebih kecil dibanding dengan SHU kopdit sebesar Rp.544..408.986.842.865. Modal Pemerintah dan SHU (Sig.386.003 c Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri 51 110.6 800.456.0 13.9 31.254.50.627. < 0.625.144.-.691.880.4 81.562.412.340.012.001c 0.249.8 175.670. 145.228.06 2.433.82 260.06 1.090.024.121.841c 0.366.75.807.000c 0.87 Rata-rataa 566. Modal Sendiri.875.3 635.330.142.186.119.573.335.876.169. 0.027 c Sum Uta-ra Tabel Keterangan: 3.416.768.865.124.857.89 SDb 2.814.43 23.566.020. = 0..877.752.471.023.8 Jumlah Anggota 905.105. Rata-rata dari data yang ada b.859.297.5 2.728.345.3 201.253.5 4.054.307.369.977. 0.683.50 220.148.154.5 857.112.5 30.5 3.034.007 c 0.00 1.236.085 c 0.272.2 Profil KSP dan Kopdit Tingkat Kabupaten/Kota Memperkuat hasil diskriftip diatas.0 99.2 293.959. Modal Luar.819593.787.151.3 361.656.871.705.723.516.457.6 524.05).044.127).169. berbeda secara Variabel a b a SD Rata-rata SDb Rata-rata signifikan jika 5.711.938.664.05 (Taraf nyata 5%) Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota 19.022.941.0 58.461.8 500. 2.943.29 1.153.950 dibanding dengan total asset kopdit ternyata total asset kopdit jauh lebih besar yaitu sebesar Rp 25. Tabel 2.127 c 0.7 1.282.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Total asset rata-rata KSP Rp.898.474.734.549.388.327.64 776.781.0 74.3 105. bahwa kopdit dan KSP berbeda secara signifikan dalam kriteria Jumlah Anggota.9 6.704.880.1 .09 2.829.460.075.63 919.717.471.397.8 274.3 2.25 15.009. Deskripsi Data Kopdit dan KSP 5 Provinsi Variabel Jumlah Anggota M Sendiri M Luar M Pemtah Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 2.73 407.terbesar terdapat pada KSP di provinsi Bali sebesar Rp 5.5 205.503.381.40 23.976.930.67 11.000.670 c 0.0 350.104.36 410.518.7 kali lipat jauh lebih besar.625.75 68.95 3.294.005 c 0.237.524. menjelaskan.983. < 0.904. 4.2 9.496.234.953.532.7 1.2 40.980.000 c 0.596.990.sedangkan total asset terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 370.00 Sig. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi a.124c 0.996. Standar Deviasi (Simpangan Baku) Kopdit KSP Prop c.3 892.13 45.887.30 1.395.8 Sig.118.000.0 Sig.179.5 276. Total rata-rata SHU sebesar Rp.016 c 0.59 KSP SDb 920.055c 0.0 993.2 1. 1.323c 0.241.016 c 0.245.259.392. Dimana kopdit memiliki nilai lebih besar dalam kriteria-kriteria tersebut dibandingkan dengan KSP sedangkan dalam kriteria Total Aset tidak berbeda secara signifikan antara kopdit dengan KSP (Sig.174. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).404.679.970. Dari indikator-indikator profil koperasi dan kopdit di atas ternyata nilai indikator kopdit jauh lebih baik dibanding dengan KSP.50 atau 10.5 904.5 560.38 730.005.7 258.001c 0.3 269.346.340.

3 201.3 361.286.876.448.133.034.253.032.265 c 0.044.0 183.0 279.2 2.2 40.432.8 19.5 205.532.2 9.0 1.076.5 904.880.254.710.055c 0.588.416.959.904.0 110.986.001 c 0.729.912.144.0 29.186.900.4 2.050.004 c 0.7 1.6 524.561.218.503.198.579.3 229.419.282.814.JURNAL VOLUME 4 .880.313.294.941.7 SDb Rata-rataa 350.323.930.1 128.105.327. dimana untuk kedua kriteria tersebut kopdit memperlihatkan nilai yang lebih besar. < 0.1 58.983.6 KSP SDb Sig.457.787.625.829.179.001c 0.387.9 31.904.003 c 0.911.118.124c 0.236.000.627.7 33.2 370.562. Standar Deviasi (Simpangan Baku) C. Diantara 5 kriteria antara kopdit dan KSP yang dianalisis pada provinsi Jawa Barat tampak berbeda secara signifikan hanya SHU.0 51. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi Prop Variabel Jumlah Anggota SumUtara Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota Jawa Barat Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota KalBarat Modal Sendiri Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 5.573.136. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).05 (Taraf nyata 5%) 52 .442.237.0 293.0 993.0 13.5 560. modal sendiri.694.2 38.5 500.4 1.345. Terdapat 4 kriteria antara kopdit dan KSP yang berbeda secara signifikan di provinsi Bali yaitu jumlah anggota.7 22.5 857.086.496.7 54.245.7 258.5 205.007 c 0.5 3.183.272.736.846.323c 0.011 c Keterangan: a. kopdit memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.5 276.404.104.898.723.8 905.971.2 1. berbeda secara signifikan jika Sig. dimana SHU kopdit lebih rendah dibandingkan dengan SHU KSP (Tabel 2).920.3 105.000c 0. dan SHU.000.679.000.568.5 12.085 c 0.8 274.9 30.151.392.005 c 0.950.169.7 1.3 892.8 175.340.383.388.188.6 800.000.0 2.5 268.381.704.003.762.0 30.234.656.772.887.7 197.053.4 33. Rata-rata dari data yang ada b. Tabel 3.637.2 639.139 c 0.664.722.8 379.865.013.0 99.1 31.3 635.625.8 4.461.5 6.2 3.346.537.841c 0.338.2 163. KSP lebih tinggi dibandingkan dengan kopdit (Tabel 2). Namun untuk kriteria total aset.119.241.259.0 74.095.8 50.121.4 81.048 c 0.859.970. Dimana untuk kriteria jumlah anggota.0 187.154.3 2.366.728. modal sendiri dan SHU.518.044. total aset.670 c 0.148.3 269.472.005.691.054.711.000 c 0.807.495.516.AGUSTUS 2009 : 37-61 Pada tabel 3 menjelaskan bahwa kriteria antara kopdit dan KSP berbeda secara signifikan di provinsi Sumatera Utara adalah Jumlah Anggota dan SHU.169.5 575. 0.

179.185 Sig.548 0.003 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.148.518.086.007 Analisis 0.7 parsial 33.050. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Beta t Sig.000).7 175.294.4 terhadap SHU (Sig.5 105.898.118.912.0 128.004 c 0. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Beta (Constant) Jumlah Anggota Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.419.704.505 (Constant) Modal Luar 0.59 Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.535 0.005.095.236.327.4 TotalSHU.388. Dimana untuk kesemua kriteria tersebut kopdit memiliki nilai Aset 1. Beta t Tabel 7. dan Modal Luar 575.829.134 2.0 197. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Total Aset 0.73 4.392. Analisis Regresi denganterhadap Bebas(Sig.4 187.2 1.000.3 99.003).562.032.044.0 22.950. (Constant) Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar 0.566 0.876 0.670 c 0.186.432.5 370.588.000.003.013.580 6. dimana semakin besar jumlah anggota SHU 639.846.2 379.656.7 1.900.2 31.0 signifikan dalam 3 kriteria.007 c 0.865.001 c 0.323.048 c 0.104.46 regresi parsial memperlihatkan bahwa modal sendiri 3 Dependent Variable: SHU berpengaruh secara signifikan Peubah SHU Total 0.2 memperlihatkan bahwa jumlah anggota berpengaruh secara signifikan Total Aset 29.121.9 Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Kopdit dan KSP di provinsi Kalimantan Barat berbeda secara 1.814.679.5 904. modal sendiri.0 SHU 163.8 274.941.1 Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) SHU 13. (Constant) Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri 1.664.345. R Square = 0.710.729.387.787.332 Tabel 7.561. Analisis Dependent Variable: SHU Regresi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah .691.133.7 2.053.169.0 54.743 0.003 c 0.841c 0.332 4.2 524.183. Tabel 5.623 0.151.265 c 0.535 0.537.73 53 Tabel 8.4 74.5 857.722.055c 0.6 30.904.383.5 yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Tabel 5. dimana pengaruh yang terjadi bersifat positif.920.338.254. dimana semakin besar modal sendiri.401 0.457.001 0.772.085 c 0.911.188. =Aset Adjustedyang terjadi bersifat positif. Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar Beta T Sig.859.736.495.579.0 110.340.8 268. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Tabel 4.3 31. 0.3 892.259. semakin besar modal maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.442.472.0 33.623 Sig.8 269.59 3.743 -0.625.625.0 Total Aset 361.930.7 1.3 58.6 maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.8 Kal BarAt Lebih lanjut pada Tabel 4.904.134 Tabel 5. Modal Sendiri 0.762.8 2.784 3.136.218.983. (Constant) 2.503.723.3 560.007 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.532. yaitu jumlah anggota.75 T -0.6 800. 0.573.SHU Jumlah Anggota Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar 3.401 Sig.568.241.694.876. Pengaruh Tabel 6.2 229.144.000).46 2. = 0.315 t 2. 38.000 T -0.986. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Tabel 6.5 205.169.011 Tabel 6.3 201.784 0.185 (Constant) Modal Sendiri t Sig.044.7 279.366.1 183. hasil analisis regresi 205.000 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.286.000 c 0.313.5 0. = 0.807.404.234.245.011 0.637.1 Jumlah Anggota Modal Sendiri 635.139 c 0.728.076.198.448. Tabel 4.0 12. Modal Luar 0.2 50.005 c 0.011 c Tabel 5 menunjukan analisis regresi parsial dengan peubah bebas modal sendiri yang berpengaruh secara signifikan terhadap SHU (Sig.0 993.3 9.253.003 SHU yang diperoleh akan semakin tinggi (Tabel 6).315 (Constant) Total Aset 0.876 0.7 258. 1.591 Sig.346.5 276.000 3. 0.2 40.0 81.971.7 51.034.

Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Rata-Rata 73.743 Adjusted R Square = 0.356 DependentKSP dan kopdit 1Artinya.94 dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Beta T Sig.000 (Constant) 0.007 (Constant) 2.94. Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.080 dan kopdit Bali Kalimantan 4 45 6.356 Kopdit pada Variable: SHU skor 73.73 Rupiah (Tabel 7).464 0. = 0.73 4. bebas (Constant)Analisis Regresi dengan peubah 0.73 Tabel 5.94 Rupiah (Tabel 8).401 Modal luar0. Analisis Regresi dengan Peubahdiperlihatkan Analisis regresi Bebas Modal Pemerintah Modal Luar 4.AGUSTUS 2009 : 37-61 Adjusted R Square = 0.134 dimana Adjusted R Square = 0.315 Dependent Variable: Adjustedmodal dari0. Modalperolehan SHU sebesar 0. Analisis Regresi dengan peubah3.401 0.939 Tabel 8. bebas Modal Luar Analisis Regresi dengan peubah4.876 Sig.6 prinsip koperasi lebih lemah dibanding dengan kopdit. Rincian masing3. dimana jika terjadi kenaikan satu rupiah Adjusted R Square =SHU 0. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian No 1 2 3.59 Tabel 6.332 Tabel 6. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri t Sig.332 0.332 0.94 Barat No Kalimantan menjelaskan bahwa nilai Nilai Skor Prinsip Koperasi 0.Adjusted R Square = 0.505 Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.315Beta t Sig.94 Kopdit 1 Sumut 80 90 Tabel 9.623 0.315 Beta (Constant) Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset 0. Analisis Regresi 0. Bali dan 0.001).94 6. Dependent Variable: SHU (Constant) jika terjadi kenaikan satu rupiah modal luar akan meningkatkan 1. Bebas t juga berpengaruhBeta secara signifikan terhadap SHU (Sig. Analisis Total Aset 0.401 Total Aset Sig.854 bahwa KSP80 dalam mengimplementasi prinsip Adjusted R 2 Jawa Barat 84 93. 2.6 79.784 0. Adjusted R Square = 0.94 Tabel 9. Analisis Regresi dengan Peubah BebasModal Pemerintah Modal Pemerintah 6.73 terhadap perolehan SHU seperti yang parsial diatas (Sig. Total Aset 0.505Beta (Constant) 2.6 pada 3. Analisis Regresi dengan Peubah3.854 Nilai Skor Prinsip Koperasi Tabel 8.001 Tabel 8.94 Rata-Rata adalah nilai KSP KSP sebesar 89. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Dependent Variable: SHU JURNAL VOLUME 4 .185 (Constant) Total Aset Beta t 1.464 0.000).011 Analisis regresi parsial memperlihatkan bahwa 0. 4.55 90 45 82. Nilai Skor Adjusted R Square = 0.876 0.743 -0.080 Modal luar 0.623 Modal luar 0.505 R Square = pemerintah akan meningkatkan perolehan SHU sebesar Beta t Sig.464 82.854 Beta t Sig. Jawa Barat.080 0.535 2. Sendiri 0.134 0.185 Dependent Variable: SHU T Sig.356 89.000 Dependent Variable: SHU 0.011 T Sig.939 Dependent Variable: Modal Pemerintah SHU 0.007 t Sig.784 0.939 0. = 0. Tabel 7.000 0.59 Tabel 7. Modal Luar 0.003 (Constant) -0.55 90 (Constant) di provinsi Sumatera Utara. 79.46 2.001 Tabel 9. 2 Hasil kajian implementasi prinsip-prinsip koperasiSig.55 90 masing nilai per provinsi dijelaskan sebagai berikut: 4 Kalimantan Barat 45 82.003 bebas Adjusted R Square = 0.001 Modal Pemerintah Provinsi Barat skor penerapan prinsip-prinsip koperasi 0. adalah Sumut 90 89.94 4 4 54 4 . Dependent Variable: SHU (Constant) -0.3 0. 0. Bali 79.011 Dependent Variable: SHU Regresi dengan peubah bebas Modal luar Tabel 7.784 0. Square = 0. KSP Nilai SkorBarat Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Beta Jawa 84 t 93.94 73.46 Tabel 6.535 0.623 0.59 3. AnalisisProvinsi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Regresi No KSP Implementasi Prinsip-Prinsip Koperasi Tabel 9.356 89.003 luar modal 0. Tabel 7.743 Modal pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan Tabel 8.185Beta (Constant) Modal Sendiri 0. 4 Provinsi Sumut Jawa Barat Bali Kalimantan Barat Rata-Rata Nilai Skor Prinsip Koperasi KSP Kopdit 80 90 84 93.94 dan kopdit 73.

Pendidikan menjadi alat atau metode bagi kopdit untuk membangun motivasi dan mememlihara partisipasi anggota. (3) Anggota aktif dalam memecahkan masalah. (e) Mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan tidak mempunyai usaha yang bersaing dengan kopdit. Dilihat dari perkembangan jumlah anggota ternyata perkembangan jumlah anggota KSP jauh lebih sedikit dibanding dengan jumlah anggota kopdit. (b) Berdomisili di wilyah kerja KSP.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). (c) Mampu membayar pinjaman. (c) Membayar simpanan pokok dan wajib. Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Pada umumnya KSP dan kopdit menentukan persyaratan terhadap anggota. atau sederajat). (c) Tidak dalam status pelajar (SD. Hasil kajian menunjukkan bahwa semua responden (8 unit KSP dan 8 unit kopdit) membuat RAPB setiap tahun. Kegiatan seperti ini tentunya sangat baik dilakukan oleh KSP agar anggota dapat mengetahui apa yang akan dan dilakukan oleh koperasi. RAPB ini biasanya di jelaskan pada Rapat anggota untuk mendapat pengesahan dari anggota. Pengendalian oleh Anggota Secara Demokratis Dalam variabel ini indikator yang dikaji adalah (1) KSP/ kopdit melaksanakan rencana RAPB. Suatu kelebihan kopdit adalah mengadakan pendidikan terhadap anggotanya dari awal masuk. dan setelah menjadi anggota. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara KSP dan kopdit. (d) Dijamin dan didukung oleh anggota kelompok yang aktif dalam satu lingkungan. 55 . 2). Yang berbeda adalah materi karena masing-masing responden (koperasi mempunya rencana masing-masing). SMP. (2) Anggota berperan aktif dalam RAT. Namun dalam implementasinya antara KSP dan kopdit terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) KSP mensyaratkan keanggotaan bersifat umum seperti: (a) Warga negara Indonesia. SMA. Dalam rencana tersebut dijelaskan apa saja yang akan dilaksanakan selama setahun berjalan. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jumlah anggota kopdit 4 kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kopdit berusaha mencari dan menerima anggota dengan ciri atau kualitas serta membangun anggotanya melalui pendidikan. (b) Umur calon anggota pada saat mendaftar tidak lebih dari 45 tahun. Sedangkan (2) Kopdit mensyaratkan keanggotaan sebagai berikut: (a) Mengikuti pendidikan calon anggota yang dilaksanakan dalam waktu lima kali pertemuan.

14 Pada indikator kedua variabel ini ukuran keaktifan anggota dalam RAT dilihat dari seberapa banyak anggota hadir dalam RAT. Kerjasama usaha secara vertikal 3. Anggota berperan aktif dalam RAT 3... Nilai Skor dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi (Sumut...43 73. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan 2.. Penyerapan tenaga kerja dari lingkungan 3.....Anggota tetap : .. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan diklat bagi anggota karyawan. KSP/kopdit melaksanakan rencana kerja dan anggota secara RAPB demokratis 2. Ketaatan koperasi membayar pajak 2.Calon anggota : . Bali...5 89...... Jabar... Anggota aktif dalam memecahkan masalah Partisipasi ekonomi 1. Bali..... org . KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota 3.JURNAL VOLUME 4 .. penyebabnya adalah karena pada kopdit kegiatan pendidikan itu dilaksanakan secara rutin sehingga informasi mengenai kegiatan 56 5 . Jabar........ KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota dan terbuka 2.... Jumlah anggota yang dilayani .. KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas Pendidikan pelatihan Kerjasama koperasi Kepedulian komunitas dan 1. Anggota aktif menyetor wajib dan sukarela Otonomi dan 1... Hasil kajian menunjukkan bawa jumlah anggota yang hadir setiap RAT pada KSP antra 51 sampai dengan 80% sedangkan pada kopdit antara 51 sampai dengan 90%. KSP/kopdit diaudit auditor independen 4.356 4000 35654 356.. Kalbar) No  Variabel Kajian (Prinsip) Indikator/kegiatan yang harus dilakukan KSP/Kopdit Skor KSP 4000 Nilai Skor Kopdit 4000 2 3 4 Keanggotaan sukarela 1.... Interlending keuangan terhadap 1.. Nilai Skor KSPKSP dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Tabel 10.. Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan Jumlah Total Nilai Skor Nilai Rata-rata 6750 7000 8625 9000 7387... Anggota bebas masuk dan keluar koperasi 3. org Pengendalian oleh 1. Kalbar) (Sumut.5 4994 5 2250 3000 6 7 330 3660 3000 29343 293. Kerjasama usaha secara horizontal 2. Anggota melaksanakan pengawasan 4. KSP & kopdit membuat perencanaan dan kemandirian melaksanakan 2...... diantara 1. Anggota melunasi simpanan pokok anggota 2. Mengapa kehadiran anggota pada RAT di KSP lebih sedikit dari anggota yang hadir pada kopdit....AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 10.. KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri 5..

Hasil kajian menjelaskan bahwa pada KSP pembayaran simpanan wajib dilakukan pada saat membayar pinjaman yang langsung ditarik beserta pinjaman ditambah bunga sedangkan pada kopdit simpanan wajib diantar oleh anggota dengan kesadran sendiri karena kopdit memupuk modal dari anggota dan untuk anggota disinilah kelebihan kopdit dibanding dengan KSP. Indikator kedua menunjukkan bahwa anggota aktif menyetor simpanan wajib dan sukarela. Partisipasi Ekonomi Anggota Partisipasi ekonomi anggota diamati melalui: (1) Anggota melunasi simpanan pokok. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP anggota memberikan saran untuk memecahkan masalah terjadi hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pemberian saran lebih dari sekali setahun karena pada kopdit rapat-rapat atau pertemuan sering dilakukan melalui rapat-rapat kelompok. 3). Hal seperti itu jarang ditemui pada KSP. Dan hasil kajian menunjukkan bahwa pada indikator pertama semua responden baik kopdit maupun KSP anggota KSP dan kopdit wajib melakukan atau membayar simpanan pokok karena simpanan pokok hanya sekali dilakukan pada saat dia menjadi calon anggota sehingga pada indikator ini antara KSP dan kopdit tidak ada perbedaan. Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu dilaksanakan oleh pengurus terhadap anggotanya agar mereka mau dan mampu mengembangkan modal dari anggota. Pada kopdit anggota disadarkan pemahamannya bahwa kalau modal itu hanya bersumber dari anggota dan dikembangkan/dipakai untuk anggota sehingga jika anggota tidak aktif membayar simpanan wajib koperasi tidak berkembang. Indikator ketiga yaitu anggota aktif dalam memecahkan masalah dalam koperasi diukur dari seberapa banyak anggota memberi masukan dalam setiap rapat yang diadakan oleh KSP/ kopdit.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) apa saja yang ada di kopdit langsung dikomunikasikan dalam forum pendidikan itu sehingga semua informasi sampai kepada anggota melalui forum pendidikan tersebut. (2) Anggota aktif melunasi simpanan wajib dan sukarela. Dalam pengambilan keputusan pada KSP peran anggota terakomoder hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pengambilan 57 . (3) Anggota ikut dalam pengambilan keputusan dan (4) Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi.

KSP responden menyelenggarakan pendidikan terhadap 58 .JURNAL VOLUME 4 . Semua responden membuat perencanaan dan melaksanakan rencana serta evaluasi sejauhmana hasil antara perencanaan dan pelaksanaan. Disinilah perbedaan yang terlihat menonjol antara keanggotaan KSP dengan kopdit. menunjukkan bahwa semua responden KSP maupun kopdit melakukan evaluasi kinerja keuangan tentang likuiditas dan solvabilitas. (3) KSP dan kopdit diaudit auditor independen. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata hasil pelaksanaan program pada KSP tercapai diatas 80% sedangkan pada kopdit tercapai hampir 100%. 4). Pada kopdit tidak ada calon anggota dan anggota dididik pada saat masuk dan diikuti perkembangannya selama anggota menjadi anggota koperasi. Otonomi dan Kemandirian Otonomi dan kemandirian pada KSP dan kopdit dilihat dari (1) KSP/kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan.AGUSTUS 2009 : 37-61 keputusan itu selain pada RAT juga terjadi pada rapat-rapat kelompok. Indikator kelima. Sedangkan kopdit diaudit oleh auditor internal kopdit bersangkutan. (2) KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota. Pendidikan dan Pelatihan Indikator pendidikan dan pelatihan diamati dari: (1) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap karyawan dan (2) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap anggota. Selanjutnya pada indikator keempat hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP dan kopdit transaksi anggota terjadi pada saat meminjam dan mengembalikan pinjaman. 5). dan ada kopdit yang melebihi pelaksanaan diatas 100%. Pada indikator ketiga menunjukan bahwa sebagian atau 50% KSP diaudit oleh Lembaga Audit Koperasi dan 50% lainnya diaudit oleh auditor independen. Pada indikator kedua KSP selain melayani anggota KSP juga melayani calon anggota rata-rata calon anggota pada KSP diatas 14% dari jumlah anggota sedangkan kopdit hanya melayani anggota saja. seperti pada kopdit Satolop di Tapanuli Utara. (4) KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas.

Pada kopdit pendidikan baik terhadap karyawan maupun anggota wajib dilakukan. Atas kesadaran ini untuk memudahkan kerjasama kopdit medirikan Pusat Koperasi Kredit yang berada di Tingkat Kabupaten/Kota. 59 . Kerjasama Diantara Koperasi Indikator penilaian untuk variabel ini: (1) Kerjasama usaha secara horizontal. (2) Kerjasama usaha secara vertikal dan (3) Interlending keuangan antar koperasi. Artinya bahwa kerjasama horizontal maupun vertikal dan interlending belum dilakukan oleh KSP sedangkan kopdit sudah melakukan kerjasama ini dengan baik. 6). Hasil kajian menunjukkan bahwa kopdit dalam mengelola usaha simpan pinjam mempunyai Standart Operasional Pelaksanaan (SOP). Satu pusat kopdit membawahi antara 5-10 kopdit dimasing-masing wilayah kerjanya. Puskopdit tidak mengadakan operasional menandingi kopdit-kopditnya. karena jika kopdit mengalami kekurangan dana maka kopdit dapat memenuhi pembiayaan melalui interlending ini.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) karyawan melalui pendidikan yang diadakan oleh Dinas KUKM yang ada di daerah masing-masing. Mengapa kopdit memiliki nilai lebih tinggi dari KSP. Mempelajari keberhasilan kopdit di kota Denpasar provinsi Bali ada beberapa KSP. Kekuatan kopdit sangat tergantung pada kerjasama ini. Pendidikan pada kopdit diadakan pada saat anggota mendaftar. Demikian juga dengan kopdit. Karena kopdit membangun koperasi dan mengembangkan nya melalui pendidikan. Puskopdit berfungsi dan bertugas untuk melakukan pengaturan pembiayaan bagi kopdit-kopdit yang ada di bawahnya. Mengapa kopdit berhasil dan mampu mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. penyebabnya adalah kopdit menyadari tanpa kerjasama antar sesama kopdit tidak akan kuat untuk melayani anggotanya. sedangkan KSP hanya memiliki Petunjuk Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam yang umum. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kerjasama diantara koperasi menunjukan nilai KSP sebesar 330 sedangkan kopdit sebesar 3360. KSP telah membentuk Pusat Koperasi KSP untuk melaksanakan interlending keuangan bagi KSP.

Ada perbedaan antara KSP dan kopdit dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip koperasi.14. (c) Bersedia mengikuti pendidikan dalam 5 kali pertemuan.356 sedangkan kopdit 89. (2) Prinsip ke lima dalam melaksanakan pendidikan. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) Prinsip pertama dalam menentukan persyaratan anggota. Artinya bahwa kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP.JURNAL VOLUME 4 . KSP belum melakukan kerjasama vertikal. manajer dan anggota. (4) Prinsip ke tujuh kepedulian terhadap lingkungan dalam hal membayar pajak. Sedangkan kopdit membuat persyaratan anggota untuk mencari anggota yang berkualitas seperti: (a) Dijamin oleh lima orang anggota lama. Sedangkan kopdit melakukan pendidikan secara reguler rata-rata 5 kali dalam setahun kepada pengurus. Kepedulian Terhadap Komunitas Indikator variabel ini adalah: (1) Ketaatan koperasi membayar pajak. (b) Mempunyai penghasilan tetap setiap bulan. (d) Kewajiban membayar pajak pada prinsip koperasi ke-7. (b) Pelaksanaan pendidikan pada prinsip koperasi kelima. vertikal dan mengadakan interlending keuangan. (c) Kerjasama horizontal. (b) Usia maksimal saat pendaftaran 45 tahun. KSP belum melakukan pendidikan kepada anggotanya. Perbedaannya terletak pada: (a) Penetapan persyaratan anggota pada prinsip koperasi pertama. KSP membayar pajak karena melayani non anggota sedangkan kopdit tidak membayar pajak karena hanya melayani anggota.1 Kesimpulan Dari penjelasan diatas kesimpulan kajian ini adalah: 1). (2) Penyerapan tenaga kerja dan (3) Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan. Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa nilai skor implementasi prinsip koperasi KSP sebanyak 73.AGUSTUS 2009 : 37-61 7). Sedangkan kopdit melakukannya melalui Koordinasi Pusat Kopdit (Puskopdit). (3) Prinsip ke enam dalam melakukan kerja sama secara horizontal. horizontal dan belum melakukan interlending keuangan. Perbedaannya terletak pada: (a) KSP melakukan persayaratan anggota secara umum seperti KTP. vertikal dan pelaksanaan interlending pada prinsip ke-6 dan. 60 . (b) Berdomisili di wilayah KSP. V.

(2008). (2001). Jakarta. dan Menengah Republik Indonesia. KSP perlu membuat persyaratan anggota yang lebih teknis operasional sehingga anggota KSP lebih terseleksi pada kualitas. (c) Kerjasama antar kopdit merupakan wahana saling membantu antar kopdit dan sumber peningkatan usaha dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota. Pendidikan pada anggota dan pengelola KSP perlu dilakukan secara teratur dan konsisten 3). Muhammad Yunus. KSP perlu melakukan kerja sama secara horizontal. Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan). 5. Duwi Pryanto.2 Saran-Saran Dari kesimpulan di atas ada beberapa saran yang diusulkan dalam kajian ini yaitu: 1). KSP perlu membangun Pusat KSP ditingkat Kabupaten atau untuk beberapa KSP primer yang berfungsi untuk mengkoordinasikan kepentingan KSP-KSP baik dalam usaha dan keuangan.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). LSP2I. Bank Kaum Miskin. Jakarta. Media Kom. �atidiri Koperasi. (2004). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. 61 . Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil. (1992). International Co-operative Alliance. Peraturan Pemerintah Nomor � Tahun 1��5 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. (d) Kopdit memiliki standar operasional pembinaan yang jelas. 2). Mandiri Belajar SPSS. ------------------. PT. Penyebab kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi: (a) Anggota adalah pemilik koperasi yang perlu dilayani dengan sebaik-baiknya. (2007). Yogyakarta. 5). vertikal dan mengadakan interlending keuangan 4). Batu Merah. ICA Co-operative Identity Statement Prinsip-prinsip Koperasi Untuk Abad Ke-21 Terjemahan Pengantar Ibnoe Soedjono. (b) Pendidikan adalah suatu sarana meningkatkan kemampuan dan motivasi berkoperasi. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Koperasi. DAFTAR PUSTAKA -------------------. KSP perlu membuat Standar Operasinal Pelaksanaan KSP seperti kopdit.

56. it was found that capital structure of micro enterprises 15. Kejadian tersebut masih *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. To overcome the problem. Kontribusi kredit. seperti misalnya hasilhasil perkebunan. sumber perkreditan I.20% from bank and non-bank loan. 8 �uni 200�. the government has done several credit programmes during the last four decades but the effectiveness of those programmes were still asked after up to the end of 200��.6% from government’s loan.JURNAL VOLUME 4 . Pendahuluan Kondisi perekonomian dunia pada akhir tahun 2007 yang diwarnai oleh gejolak akibat krisi ekonomoni di AS dan Eropa secara langsung berimbas pada perekonomian nasional. review akhir �� �uli 200� Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM (tim peneliti) Kasubid. This condition as a consequence of unparticipated formal credit institutions. said that enforcement support programme which were done since 2000 it was only 4. Small and Medium Enterprises (MSMEs) (80. �. cautioned that most of Micro.��0% from capital owner/private money lender and the rest 6. Bisnis dan UKM. Sebaliknya masalah besar yang dikhawatirkan timbul dan berdampak luas adalah bertambahnya jumlah penganggur yang secara langsung akan meningkatnya angka kemiskinan. From the result of this assessment. program. Walaupun demikian eksistensi UMKM masih cukup besar karena dampak krisis masih terbatas hanya pada beberapa produk usaha kecil yang berorientasi ekspor. Yang dikhawatirkan adalah krisis yang terjadi sekarang berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1997 yang imbasnya tidak mempengaruhi kelangsungan usaha UMKM. Asdep Urusan.AGUSTUS 2009 : 62-87 KAJIAN KONTRIBUSI KREDIT BANTUAN PERKUATAN DALAM MENDUKUNG PERMODALAN UMKM*) Teuku Syarif**) dan Etty Budhiningsih***) Abstract Sondakh dan Hafiz (1987).63% accessible by micro and small enterprises. tujuan penggunaan. Artikel diterima 2�� April 200�. This condition still shows the dominant role of private money lenders and capital owner in supporting business survival of micro enterprises.��5% were from own/internal capital. The result of the assessment by The State Ministry of Cooperatives and SMEs in 2006. 11. karakteristik UMKM.��5%) depended upon nonformal financial resources and private in implementing their business activities.��5% were from among family and neighbour. Penelitian UKM (tim peneliti) 62 .d. Birowo and Lukman Sutrisno (1994). peer review 2�� April s.

Salah satu masalah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah kesulitan UMKM dalam mengembangkan permodalannya. Karena itu pemberdayaan UMKM sudah menjadi komitmen nasional.795 juta atau 95. 63 . Namun demikian kelompok usaha ini menyererap lebih kurang 89 juta tenaga kerja atau identik dengan 96. atau 99. Kementerian Negara Koperasi dan UKM (2008) menginformasikan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah unit usaha UMKM telah mencapai 49. Keraguan tersebut juga dialamatkan kepada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai oleh banyak pihak lebih terlihat sebagai isue politis ketimbang perhatian pemerintah terhadap nasib UMKM khususnya pengusaha mikro dan kecil. Dari adanya permasalahan diatas perlu diketahui seberapa besar peranan kredit program-program pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok UMKM khususnya pengusaha mikro yang menjadi bagian terbesar dari UMKM.4 triliun disalurkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Sampai sekarang sangat banyak masalah di lingkungan UMKM yang belum terselesaikan terutama yang berhubungan dengan iklim usaha.7% tenaga kerja yang ada dalam dunia usaha. Berbagai kenyataan di lapang menunjukan bahwa baru sedikit yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan program program nyata.99% dari pelaku bisnis yang ada di Indonesia. Dengan pendapatan sekecil itu mereka masih tergolong kelompok miskin yang berpendapatan kurang dari 1 Dolar AS per orang per hari. Berbagai hasil penelitian antara lain yang dilakukan oleh Sondakh dan Hafiz (1987). Berbagai isue dan sinyalemen yang berkembang banyak meragukan keseriusan pemerintah untuk memberdayakan UMKM dibidang permodalan.54 triliun untuk 214 jenis program yang disalurkan melalui 12 instansi. Dari dana tersebut lebih kurang Rp 3. Birowo dan Lukman Sutrisno (1994). Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 saja pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar Rp 39.258 juta.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) dapat diantisipasi oleh UMKM karena masih cukup banyak kesempatan kerja yang terbuka dilingkungan UMKM. mensinyalir bahwa sebagian besar atau sebanyak 80.75% UMKM dalam melaksanakan kegiatan usahanya masih terikat pada sumber-sumber keuangan non formal.440 Dolar AS per keluarga per tahun. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sampai sekarang masalah pengembangan modal dikalangan UMKM masih terus mengemuka dan seberapa besar kontribusi program-program pemerintah tersebut dalam mendukung permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil. Menurut Sutanto (2007) sebagian besar pengusaha mikro terutama yang bergerak di sektor pertanian dan sektor informal memiliki pendapatan bersih kurang dari 1. 2% adalah pengusaha mikro. Dari jumlah tersebut 46. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari belum berperannya lembaga-lembaga perkreditan formal Untuk mengatasi masalah permodalan bagi UMKM pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan perkreditan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi sektoral.

sehingga penyebarannya dikalangan UMKM juga berbeda.1 Kerangka Konsepsional Belum membaiknya kondisi usaha UMKM karena adanya berbagai kendala yang sejak lama belum terpecahkan. Kesemua program tersebut pada hakekatnya dilaksanakan secara sektoral melalui berbagai instansi yang terkait. dan pendekatan serta pola pelaksanaan program-program tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Manfaat kajian adalah mendapatkan gambaran kongkrit tentang struktur permodalan usaha mikro dan kontribusi kredit program pemerintah dalam mendukung permodalan usaha mikro. Jika di satu pihak UMKM menghadapi kesulitan mengakses permodalan padahal di pihak yang lain banyak indikasi dan sinyalemen antara lain yang dikemukakan oleh Hutagalung (2007) bahwa dana dari perbankan yang tersimpan pada Bank Indonesia sampai Agustus 2007 mencapai Rp 218 triliun. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Kesulitan UMKM untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal menurut Muna (1989) merupakan simptom dari permasalahan yang ada dibelakangnya. khususnya pengusaha mikro dan pengusaha 64 . yaitu ketidaksesuaian pendekatan pola dan prosedur lembaga perkrediatn formal dengan karakteristik dari sebagaian besar UMKM. Paradoks masalah antara demand dan suplay uang ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana peranan Bank Indonesia sebagai regulator pasar uang mampu mengalokasikan sumberdaya potensial tersebut secara optimal. III. TUJUAN DAN MANFAAT Kajian bertujuan untuk ini adalah: 1) Menginventarisir dan mengidentifikasi sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro.AGUSTUS 2009 : 62-87 II. Dalam pelaksanaan program-program. Kredit Usaha Tani (KUT) dan yang terkhir adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). Untuk mengatasi masalah kelangkaan modal di kalangan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil pemerintah telah melaksanakan berbagai program perkreditan sejak dari program Bimas.JURNAL VOLUME 4 . antara lain kesulitan akses terhadap permodalan dan iklim usaha yang belum kondusif. Di sini dinyatakan bahwa permasalahannya terletak pada ketidaksinkronan antara aturan pasar uang dengan karakter UMKM. Kredit Candak Kulak (KCK). serta ada beberapa diantaranya memang ditujukan untuk mendukung keberhasilan program sektoral. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan usaha mikro. Nasution (1999) mengemukakan adanya indikasi bahwa tujuan.

Dalam hal efektifitas penggunaan dana oleh peminjam disini juga harus diperhatikan apakah pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan produktif atau konsumtif.81% merupakan modal sendiri dan sisanya berasal dari modal pinjaman. Memang program perkreditan dari pemerintah tidak ditujukan untuk dapat memenuhi semua kebutuhan UMKM. Terkait dengan peranan perbankan dalam mendukung permodalan UMKM. Total keperluan dana untuk memberdayakan pengusaha mikro yang jumlahnya mencapai 49 juta unit usaha adalah sebesar Rp 184.450. Sondakh dan Hafiz (1987) dari hasil penelitian tentang lembaga perkreditan pedesaan mengemukakan bahwa “sebagian besar pengusaha kecil jarang sekali berhubungan dengan bank. Tetapi dalam pola inipun ada satu faktor penting yang perlu dikaji yaitu mengenai pola perguliran termasuk sistem kelembagaannya.004 triliun. khususnya pengusaha mikro. b) Distribusi secara sektoral dan regional. per unit usaha mikro diperlukan tambahan modal sebesar Rp 3.306. Dengan demikian sangat banyak faktor yang menentukan besar kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan UMKM. Dengan demikian untuk mengembangkan usahanya. Oleh sebab itu ada sebagian program yang menggunakan pola perguliran seperti program Kementerian Negara Koperasi dan UKM..sampai dengan Rp 9. bahwa modal yang diperlukan oleh usaha mikro untuk melaksanakan kegiatan usahanya berkisar antara Rp 326. Sumber utama permodalan mereka adalah dari perorangan. Dari jumlah modal tersebut diketahui bahwa 12. Dengan kata lain mereka yang bermata pencaharian sebagai pengusaha mikro di luar sektor pertanian sangat jarang mendapatkan pinjaman dari bank Hasil kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi dan UKM tahun 2006 menginformasikan. c) Ketepatan sasaran penyaluran dan.913. atau kalangan keluarga dan tetangga. lembaga non formal.-. jumlah dana yang telah disalurkan pemerintah dari berbagai program pemberdayaan UMKM relatif kecil atau baru lebih kurang 21. 65 .” Sebagian dari mereka mendapatkan pinjaman dari program pemerintah dalam jumlah terbatas dengan tujuan penggunaan yang umumnya dikaitkan dengan kepentingan pembangunan terutama di sektor pertanian.197. Disamping kecilnya dana yang disalurkan banyak faktor lain yang menjadi kendala bagi UMKM untuk mendapatkan kredit program antara lain untuk: a) Tujuan pendekatan dan pola penyaluran. Akar permasalahan yang masih menjadi kendala bagi UMKM adalah kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal terutama perbankan.118.dengan rata-rata sebesar Rp 4..700.2% dari kebutuhan. Muna. Soemardjan..Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) kecil. d) Unsur-unsur lain yang tidak terkait dengan kepentingan pemberdayaan UMKM.755. Dibandingkan dengan besarnya kebutuhan dana untuk UMKM tersebut.

2. 10) Prioritas Daerah. RUANG LINGKUP DAN METODA PENELITIAN 4. 12) Kelembagaan Perguliran. Ruang lingkup substansi penelitian adalah sebagai berikut: 1) Inventarisasi dan identifikasi permodalan UKM dan sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha serta kemudahan modal dari kalangan pengusaha mikro. Stratifikasi didasarkan pada keragaman jumlah dan jenis program perkreditan yang dilaksanakan di daerah contoh. Kinerja usaha UMKM IV.1.2. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro.1.1. Metoda Penelitian dan Analisis 4. Ruang Lingkup Substansi Oleh karena pengusaha mikro merupakan bagian terbesar UMKM. 6) Pendistribusian Regional. Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. 4.1. 11)Prioritas Kepentingan.1. Metoda Penelitian dan Teknik pengambilan Contoh Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan model pengambilan data stratified random sampling. 14) Kinerja SDM UMKM.JURNAL VOLUME 4 . Ruang lingkup Penelitian 4. 2) Pendekatan program 3) Pola Penyaluran.AGUSTUS 2009 : 62-87 3. 4. 8) Ketepatan Waktu Penyaluran. dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM. 5) Pendistribusian Sektoral. 13) Model Perguliran. maka yang dimaksud dengan UMKM dalam kajian ini adalah usaha mikro. 7) Ketepatan Sasaran. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di tiga kabupaten contoh yaitu Kalimantan Barat. Sedangkan analisis untuk penarikan kesimpulan dilakukan dengan model analisis deskriptif dan penggunaan model-model statistik sederhana 66 . 9) Prioritas Kegiatan usaha. 4) Alokasi dana.2.2 Kerangka Analisis Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kontribusi kredit program terhadap permodalan UMKM yaitu: 1) Tujuan program.

08% dari modal yang dibutuhkan.200 2..96 5.17 26.807 20. Tabel 1.00 568 245 520 2.00 Tda 5.. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Rata-rata Nilai (Rp rb) 833 409 325 1.527.89 0.93 8.41 19.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) V.238 127.30 73.882.1.927 8.28 22.92 234..62 3.60 9.08 11.739 100 69. dengan rata-rata pinjaman Rata-rata sebesar Rp 409.46 16.002 21.000.Data 27.per orang.697 301 2. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS 5. Jumlah Usaha Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman yang diperlukan oleh mereka yaitu sebesar Rp 3.600 1.56 57.49 5.58 9.984 42.95 berusaha tanpa adanya pinjaman modal.927 tersebut5.05 4.26 65.27 2.45 19. Jumlah ini juga sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan tambahan modal Tabel 3.848 24.947 5.7 754.00 11.290 100 dari 100 69. 2.834 23.392 4.51 4.34 100.37 6.atau 19. sehingga para pengusaha mikro tidak akan mampu 2.229 3.782jumlah UMKM.13 85.20 10.128 30.31 program pemerintah masih sangat kurang yaitu rata-rata baru Jumlah 61.51 12.3 811.297 2.63 10.46 8.884 753 3.28 13.389.365 Persen (%) 4.000.028 14.64 4.545 Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari 31.01 7.74 33.378 Tabel 2 .69 4.94 5. dari Kredit Program Kontribusi kredit program relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata pinjaman dari para pelepas uang yang Kredit Program Dari Kredit dari Jumlah Prediksi mencapai rata-rata Rp 1..83 10.07 4.11 4.312 Per sen (%) Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Barat Rata-rata usaha mikro yangBarat menggunakan modal sendiri Nilai di ketiga propinsi contoh relatif rendah yaitu Persen sebesar Persen Nilai Persen Nilai Persen (Rp rb) (%) 833.68 26.538 7. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Sumber Modal Sumatera Barat Nilai Persen Rp rb % 34.899 6.934 Nusa Tenggara Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%) 14.59 5.166 2)  2 3 4 5 6 24.26 100.24 awal.1 Sumber-sumber Permodalan UMKM 5.00 Tabel 1.1 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Mikro Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan sumber-sumber pinjaman usaha mikro dan serta besar kontribusi kredit program terhadap permodalan kelompok usaha mikro.80 67 .143 48.527 Persen (%) 19.49 16. (%) (%) Rp (Rp rb) (%) (Rp rb) Sedangkan rata-rata jumlah modal yang diperlukan oleh pengusaha mikro adalah sebesar Rp 3.17 100.297 100 11.14 26.8 10. Kemeneg KUKM Instansi Sektoral No Propinsi Jumlah UMKM (ribu) UMKM (rb unit) 36.882 2388 3. Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Sumatera Barat No Sumber Modal Dari tabel 1 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : Kalimantan Nusa Tenggara 1) Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.68 106.6% 73.20 53.48 83.62 35.44 6.141 Modal Sdri 461 Kred Prog 396 Perbankan Pelepas Uang 1.978 8.805 27.000.928 4.11 19.000 atau 53.853 mengindikasikan rendahnya pemilikan modal 7.00 7.99 37.00 No  2 3 4 5 1.527.128 16.75 100.11 8.47  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah 823.00 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 426 358 310 1.815 37.261 32.33 UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46.000.8 2.15 18.37%.114 586 Lainnya Jumlah 3.64 11.

75%. Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari bantuan perkuatan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2) 3) 68 . 4) 5) 5.1. tetapi proporsi modal sendiri ini sudah lebih baik dibandingkan dengan usaha mikro yang hanya sebesar 23. Meningkatkan proporsi Meningkatkan proporsi pinjaman dari kalangan perbankan karena kelompok usaha ini tidak memiliki kemampuan memenuhi persyaratan lembaga keungan yang menerapkan ketentuan The five C of credit.2 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Dari tabel 2 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : 1) Rata-rata modal sendiri usaha kecil di ketiga propinsi contoh relatif masih rendah yaitu hanya sebesar Rp 18.15% dari total modal kerja yang digunakan.atau hanya 27.JURNAL VOLUME 4 . sedangkan dari perorangan dan lembaga perkreditan non formal termasuk rentenir adalah sebesar 53. Pinjaman modal dari kalangan perbankan pada kelompok ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha mikro yaitu mencapai 31.. Pinjaman kepada UMKM yang bagian terbesar dari dunia usaha yang ada di Indonesia sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kredit perbankan untuk usaha besar yang pada tahun 2008 mencapai Rp 986 triliun. mengingat jenis program yang dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintah relatif sangat banyak (mencapai 56 jenis).542 milyar belum sebanding dengan apa yang seharusnya diberikan oleh pemerintah.47%.815.61%.000. Sumber-sumber permodalan lainnya bagi kelompok pengusaha mikro adalah dari kalangan keluarga dan tetangga sebesar 6. Sharing pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok usaha mikro sebesar Rp 39.AGUSTUS 2009 : 62-87 3) Hal tersebut diatas sangat wajar.37%. dan alokasi dana yang disediakan relatif kecil-kecil dibandingkan dengan kebutuhan usaha para pengusaha mikro yang jumlahnya sangat banyak (lebih kurang 49 juta unit usaha).

No

Sumber Modal

Barat Nilai Persen Rp rb %

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb)

Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%)

833 8,46 568 14,51 426 34,28 1.141 Modal Sdri  Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM 409 8,96 245 12,20 358 13,64 461 Kred Prog 2 (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 325 5,30 520 10,56 310 11,74 396 Perbankan 3 4 5

19,08 11,60 9,20 53,37 1.882 73,45 57,83 2.884 1.697 33,00 Pelepas Uang 1.114 6,75 2388 19,17 753 10,26 301 7,34 586 Lainnya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang Jumlah 3.378 100,00 kepada usaha mikro. Hal 100,00 2.934 100,00 3.927 3.527 100,00 diberikan tersebut nampaknya

terkait dengan kecil pagu kredit per peminjam.

Tabel . Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Tabel 2 .2Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil
Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 1.807 20.028 14.166 61.290 Persen (%) 30,00 8,01 3,24 2,95 32,68 23,11 100 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 11.927 5.853 6.229 4.200 26.128 19.545 73.782 Persen (%) 16,17 7,93 8,44 5,69 35,41 26,49 100 Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) 26.128 4.538 2.978 Tda 19.261 16.834 69.739 Persen (%) 37,46 6,51 4,27 0,00 27,62 24,14 100 Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.815 4.899 4.928 2.002 21.805 16.848 69.297 Persen (%) 27,15 7,07 7,11 2,89 31,47 24,31 100 

2 3 4 5 6

Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Jumlah Rata-rata

4) Mikro dan pinjaman Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Usaha Kontribusi Usaha Kecildari perseorangan dan lembagadari Kredit Program lembaga kredit non formal. Kondisi ini mungkin dapat

No 

2 Kalbar 3 5.2 NTB Jumlah Jumlah 5.2.1 Rata-rata

dihubungkan dengan semakin baiknya kemampuan SDM Kredit Program Dari Kredit dari dilingkungan pengusaha kecil dalam membangun dan Jumlah Prediksi Kemeneg KUKM bisnis. Instansi Sektoral menjalankan strategi Jumlah Propinsi Per UMKM UMKM Persen UMKM Persen UMKM 5) Rendahnya peran pemerintah daerah dalam membangun sen (ribu) (rb unit) (%) (rb unit) (%) (rb usaha kemampuan permodalan usaha mikro dan unit) kecil, (%) terlihat sedikitnya kontribusi pinjaman modal dari pemerintah daerah untuk kelompok usaha ini. 5,62 83,26 10,11 823,7 36.984 4,49 46,28 Sumbar
4,64 85,92 10,58 811,8 48.238 5,94 37,68 UMKM yang mendapatkan Pinjaman Kredit Program 2.389,8 127.365 5,33 106.947 4,48 234.312 9,80 Jumlah Pengusaha Mikro Yang Mendapat Kredit Program 796,6 42.455 5,33 35.649 4,48 78.104 9,80 754,3 42.143 5,59 22,99 3,05 65,13 8,63

Jumlah usaha mikro dan usaha kecil di ketiga propinsi contoh yang mendapatkan kredit sebanyak 127.365 unit usaha, hanya 5,32% dari jumlah pengusaha mikro yang ada diketiga propinsi contoh sebanyak 2.389.800 unit. Disini terlihat bahwa bahwa kredit program belum banyak memberikan kesempatan bagi usaha mikro untuk mengembangkan permodalannya. Hal tersebut berdampak besar pada kondisi pasar uang ditingkat bawah yang semakin didominansi oleh lembaga kredit non formal dan perorangan, disebabkan oleh: 1). Jumlah dana untuk ketiga daerah contoh relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah usaha mikro yang mencapai 2.389.000 unit usaha

69

Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 2). 1.807 20.028 14.166 61.290 3). Persen (%)

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%) 

2 3 4 5 6

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 62-87
Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya

27,15 18.815 37,46 16,17 26.128 30,00 11.927 7,07 4.899 6,51 4.538 7,93 5.853 8,01 7,11 4.928 4,27 2.978 8,44 6.229 3,24 Distribusi kredit program Tda belum merata dan banyaknya 2,89 2.002 0,00 5,69 4.200 2,95 jenis kredit program menyebabkan adanya21.805 31,47 tumpang tindih 27,62 35,41 19.261 32,68 26.128 diantara 19.545 26,49tersebut 24,31 16.848 24,14 16.834 23,11 kredit-kredit 100 73.782 100 69.297 100 Penyaluran kredit 100 69.739 sektoral membuka peluang terjadinya kesalahan sasaran

Jumlah Rata-rata

Tabel 3. Jumlah Usaha Usaha dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Mikro Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan dari Kredit Kredit Pinjaman dariProgramProgram
Prediksi Jumlah UMKM (ribu) 823,7 754,3 811,8 2.389,8 796,6 Kredit Program Dari Kredit dari Kemeneg KUKM Instansi Sektoral UMKM (rb unit) 36.984 42.143 48.238 127.365 42.455 Persen (%) 4,49 5,59 5,94 5,33 5,33 Jumlah Per sen (%) 10,11 8,63 10,58 9,80 9,80

No

Propinsi

UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46,28 22,99 37,68 106.947 35.649 5,62 3,05 4,64 4,48 4,48 83,26 65,13 85,92 234.312 78.104 

2 3

Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata

Dari ketiga hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk memperbesar jumlah kredit program tidak saja diperlukan penambahan alokasi kredit tetapi yang lebih penting  adalah memperbaiki sistem distribusi dan mengkoordinasikan pemberian bantuan melalui satu lembaga yang secara khusus disesuaikan dengan karakter UMKM 5.2.2 Sumber-sumber Permodalan Pengusaha Mikro Tabel 4 memperlihatkan pinjaman usaha mikro dari perbankan, dan Lembaga Kredit Formal (LKF) dan sumbersumber perkreditan non formal, termasuk perseorangan baik, tetangga kerabat maupun pemilik modal atau pelepas uang. Hal-hal yang dapat dikemukakan dari tabel 4 yaitu: 1) Pelepas uang masih mendominasi sumber pinjaman bagi pengusaha mikro dengan pangsa kredit terhadap permodalan pengusaha mikro mencapai 34,45%. Dapat dikatakan bahwa para money leander ini masih menjadi andalan utama bagi pengusaha mikro dalam mendapatkan modal bagi kelanjutan usahanya. 2) Sebagian pengusaha mikro sudah mampu berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama BPR (10%)

70

Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih)

Pemerintah Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program Pemerintah
Sumatera Barat No Sumber Modal UKM (unit ) 4 5 6 3 18 9 9 6 60 Persen % 6,67 18,33 5,00 10,00 10,00 8,33 20,00 25,00 100,00 Kalimantan Barat UKM Persen (Unit % 2 7 8 9 22 2 6 4 60 3,33 11,67 13,33 23,33 23,33 1,66 15,00 11,66 100,00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 5 6 13 4 22 4 4 2 60 Persen (%) 8,33 15,00 10,00 13,33 31,67 10,00 11,67 8,33 100,00 Rata-rata UKM (unit ) 3,67 6,00 9,00 5,33 20,67 5,00 6,33 4,33 60 Persen (%) 6,11 10,00 15,00 8,88 34,45 8,33 11,67 7,22 100,00

Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program 

2 3 4 5 6 7 8

Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tdk meminjam Jumlah

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

dan bank umum sebanyak 6,11%, tetapi mereka lebih banyak bersandar pada kalangan kerabat (11,67%) 3) Sumber-sumber hanya memiliki kontribusi Tabel 5.Koperasi ternyataPermodalan Usaha Kecil sebesar 8,33% hal ini Kredit Program Pemerintah Diluar mungkin sedikitnya dukungan dari program-program kredit pemerintah yang diperuntukan bagi koperasi
Kalimantan Nusa Tenggara Rata-rata 4) Sumatera7,22% usahaBarat Hanya Barat mikro yang tidak memiliki pinjaman, Barat hal ini UKM mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan Sumber Modal Persen UKM Persen UKM Persen UKM Persen (unit ) mikro masih sangat besar. usaha % (Unit) % (unit ) (%) (unit) (%) Bank umum 1) BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata 11,65 2,33 10,00 2 10,00 2 15,00 3 Dikalangan pengusaha kecil dominansi pinjaman6,00 modal 30,00 dari 30,00 6 35,00 7 25,00 5 6,65 1,33 5,00  5,00  2 pelepas 10,00 mulai berkurang (tinggal 10%), dibandingkan uang 3,33 0.66 5,00  5,00  0,00 0 dengan pengusaha mikro yang mencapai 34,45%. Sumber 10,00 2,00 5,00  15,00 3 pinjaman bagi pengusaha kecil 2 adalah1,00 Bank Perkreditan 13,30 2,66 20,00 4 10,00 2 Rakyat 10,00 dengan pangsa kredit terhadap permodalan (BPR) 2 20,00 4,00 10,00 2 30,00 6 20,00 4 pengusaha kecil mencapai 30%, 2diikuti dengan pinjaman 5,00 1,00 10,00 0,00 0 5,00  dari kalangan kerabat yang mencapai 20%. 100,00 100,00 20 100,00 20 100,00 20 20

No  2 3 4 5 6 7 8

Dari tabel 5 terlihat bahwa:

2) Sample di tiga propinsi contoh Keterangan : Diolah dari data 60Pengusaha kecil sudah lebih

mampu berhubungan dengan bank komersial yang pangsa kreditnya terhadap permodalan usaha kecil mencapai 11,65%. Hal ini diduga karena kalangan usaha kecil lebih mampu dalam hal penyediaan agunan dan mengikuti prosedur bank umum atau bank komersial

71
2

00 6.00 5.00 5. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Tabel 5.2.65 30.00 10.00 100.00 20.66 4.00 13.00 5.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 5.00 0. Sedangkan untuk usaha kecil lebih sedikit yaitu ratarata 5.30 20.00 35.00 2 60 8.00 30.33 60 7.00 10.67 unit atau 14.00 1.00 20.33 0.00 15.00 10.00 Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh JURNAL VOLUME 4 .00 0.33 100.00 5.17% dari jumlah sampel.00 100.00 Sumatera Barat No  2 3 4 5 6 7 8 Sumber Modal UKM (unit ) 3 5 2 0 3 2 4  20 Persen % 15. Oleh sebab itu perlu perhatian yang lebih besar dari para stakeholder terutama pemerintah agar lebih banyak lagi melaksanakan programprogam pemberdayaan permodalan untuk kalangan pengusaha kecil.00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 2 6   2 4 2 2 20 Persen (%) 10. 4) Hanya 5% usaha kecil yang tidak memiliki pinjaman.00 100.00 30.66 2.65 3.00 100.00 4 60 11.33 6.30% dari jumlah sample.22 100.8 Tdk meminjam Jumlah 6 60 25.00 1.00 Rata-rata UKM (unit) 2.33%) dibandingkan dengan peran koperasi terhadap permodalan pengusaha mikro yang mencapai 8.00 5. 5.00 100.00 2.00 Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh 3) Peran koperasi dalam mendukung permodalan kelompok pengusaha kecil ternyata sangat sedikt (3.00 1.00 25.00 4.00 20 Persen (%) 11.00 10.00 5.3 UMKM Yang Mendapatkan Pinjaman Program dan Pinjaman Pihak Lain Dari tabel 6 terlihat bahwa jumlah UMKM yang disamping mendapatkan pinjaman dari kredit program juga masih mengambil pinjaman dari tempat lain relatif banyak yaitu untuk usaha mikro 17 unit usaha atau 43.00 5.33%. hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan usaha kecil juga masih sangat besar. Hal ini mungkin disebabkan dana yang diperlukan oleh pengusaha kecil relatif lebih besar dibandingkan dengan pengusaha mikro sehingga koperasi tidak mampu menyediakan pinjaman untuk kelompok 2 ini.00 10. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Diluar Kredit Program Pemerintah Diluar Kredit Program Pemerintah Kalimantan Barat UKM (Unit) 2 7    2 6 0 20 Persen % 10.33 10. 72 .66 100.

128 33. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Tabel 8.50 27.40 32.273 68. serta tidak 98.70 1.021 52.50 43.015dan usaha 38.287 28.445 24.035 279.90 120 17 42.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Tabel 6.345 93.45 sejumlah modal 45.33 Mikro 60 Sample Usaha Tabel 7.207 36.253 42.96 3.51 64.600 35.50 129.739 69.67 14.67 mendapat pinjaman 14.45 86.345 juta relatif(6) hampir sama (93.021 52.574 1.620 108.00 42.182 47.897 mereka hampir mencapai titik optimal. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro 1) Jumlah pinjaman yang diterima dari kredit program belum Untuk Usaha Mikro Hal ini mengindikasikan bahwa: Propinsi Propinsi Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal per 2) Modal sebagian pinjaman yang tidak digunakan untukPersentase Ada tujuan sendiri Modal Modal per Persentase UKM (Rp rb) Nilai Persen Kecukupan sendiri Modal rb) tujuan Nilai Persen usaha UKM (Rp rb) (Rpproduktif atau Persen pengembangan tersedianmelainkan Nilai Nilai Persen Kecukupan (Rp rb) % (Rp rb) % (Rp rb) tersedian modal (%) (Rp modal (%) (Rp untuk tujuan lain rb) konsumtif rb) % (Rp atau % digunakanrb) (Rp rb) 3.378.298 61.57 965 1.57 1.96 3.070 1.345 93.54 68.298 73.39 3.85 10.54 pengusaha oleh 60.342 18.1 Struktur Permodalan.23 11. Kontribusi Kredit Program dan Kecukupan 3. Kontribusi kredit Program dan Dari hasil temuan lapang seperti diperlihatkan pada Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman Modal sendiri Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman tabel 7 dapat dikemukakan lain Pihak beberapa hal sebagai berikut: modal Dari program Modal sendiri Pihak lain modal Dari program Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen tase Nilai Persen Nilai digunakan Nilai tersedia oleh % Persen 1) rb) atau usaha (Rp Rata-rata modal yang % (Rp rb) % Rp rb Persen tase % (7) = 6/2 x 100 (Rp rb) % (Rp rb) % Rp rb (3) (4) (5) (6) (7) = 6/2 x 100 mikro sebesar Rp 3.182 42.54 10.516 2) Dari 39.39 46.487 1.51 60.17 dan 30 usaha kecil yang No No Propinsi Propinsi Jumlah Jumlah Sample Sample Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata dari Keterangan : Diolah   2 2 3 3 Keterangan : Diolah dari Program Usaha Mikro dan 30 Sample usaha kecil yang mendapat pinjaman dari Kredit 60 Sample dari Kredit Program 40 17 40 17 40 24 40 24 40  40  120 52 120 52 40 17.54 dengan kebutuhan modal usaha mikro sehingga skala usaha mikro.17 43.600 35. 3) 3. 3.678 93.59 64.00 60.70 632 44.69 1.772 mencukupi bagi kalangan tersebut untuk mampu memenuhi Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan kebutuhan modalnya Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Kurangnya pembinaan dalam penggunaan dana.070 1.54 5. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi Propinsi (1) (1) Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Modal Modal (Rp rb) (Rp rb) (2) (2) 61.13 1.772 3.401 19.48 21.451 27.30 Sample40 5.205 88.487 1.48 21.00 60.18 Modal Kecukupan Modal usaha mikro Tabel 8. UMKM Yang Mendapat Kredit Program Tabel 6.223 31.13 1.210 3.00 40 8 20. UMKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain Pinjaman Dari Tempat Lain dan Pinjaman Dari Tempat Lain UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Mikro Usaha Kecil Mikro Usaha Kecil Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase (Unit) (%) sample unit usaha (%) (Unit) (%) sample unit usaha (%) 42.897 47.02 1.50 129.40 40 2 5.782 73.865 21.69 1.00 27.678 31.54 73 3 3 .273 5.02 32.516 21.40 32.02 28.927 10.45 31.223 39.207 36. UMKMYang Mendapat Kredit Program Tabel 6.85 26.268 93.90 120 17 42.09 digunakan 27.035 279.223 adanya perencanaan yang 632 dalam memperhitungkan baik 38.65 3.205 88.467 3.342 18. hanya rata-rata 36.93 3.445 31.93 3.65 24.574 1.865 32.168 719 86.23 11.40 40 2 5.782 69. 3.62 3.467 3.30 40 5.927 3.287 28.70 mikro kalangan usaha 3.33 40 17.59 80.85 10.378.39 42.408 46.253 28.210 3.401 19.18%) (3) (4) (5) (6) (6) 49.223 98.18 3.068 29.3 Struktur Permodalan.39 3.70 44.02 1.620 108.85 26.09 yang 42. 49.13% yang bersumber dari modal 68.451 45.00 40 8 20.50 40 7 17.015 1.168 719 kebutuhan965 pinjaman bagi 1.128 33.408 80.62 3.268 kecil.50 40 7 17. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Tabel 7.739 68.45 1.068 29.3.

068 juta (29.168 965 3.207 Persen % 44.13 Pinjaman dari Pihak lain Nilai (Rp jt) 632 1.128 1.54 93.070 3) Besarnya pinjaman dari pihak-pihak lain dikhawatirkan akan berdampak pada: a) Mengganggu kelancaran pengembalian kredit program. 3. b) Mempertahankan eksistensi para pelepas uang dalam usaha dan kehidupan para pengusaha mikro serta.015 3. 5. Tabel 7.39 36. 4) Rendahnya kontribusi pinjaman program pemerintah dalam struktur permodalan pengusaha mikro diduga disebabkan oleh: a) Perencanaan yang bersifat sektoral dan terpusat.345 98.3.772 3.18 Propinsi Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata 3.574 1.223 719 1.378.273 juta sedangkan rata-rata modal sendiri yang dimilikinya sebesar Rp.487 1.JURNAL VOLUME 4 .678 10.927 10.467 3. 68.AGUSTUS 2009 : 62-87 pinjaman kredit program sedangkan sisanya berasal dari modal sendiri (rata-rata 29.85 29.865 juta sehingga untuk 74 . Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro Kebutuhaan Modal per UKM (Rp jt) Modal sendiri (Rp jt) Pinjaman kredit Program Nilai (Rp jt) 1.210 1. 21.620 1.93%) dan pinjaman dari sumbersumber lain rata-rata-rata sebesar Rp 1.70 88.62%).268 3.2 Struktur permodalan dan Kecukupan Permodalan Usaha Kecil Dari tabel 8 dapat dikemukakan bahwa: 1) Rata-rata modal yang digunakan oleh usaha mikro sebesar Rp.035 3. c) Menyebabkan penggunaaan pinjaman sulit diawasi. Hal ini seharusnya mendapat perhatian karena biaya hidup sebelum produksi di kalangan UMKM dapat dikelompokan sebagai biaya produksi karena UMKM sebagian besar (79.342 3.62 Modal tersedia dan Kecukupan modal Persentase Modal Kecukupan tersedian modal (%) (Rp jt) 3.70 38.02 33.69 24.57 108.65 279.96 93.445 3.205 1.45 31.84%) menggunakan tenaga kerja keluarga.93 86. b) Belum adanya pemikiran untuk menjadikan biaya hidup sebelum produksi sebagai salah satu unsur dalam mengkalkulasi kebutuhan kredit para pengusaha mikro.068 Persen % 18.

85 45. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi (1) Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata Modal (Rp juta) (2) 61.02 Pinjaman dari Pihak lain Persen Nilai (Rp jt) % (6) (5) 32.865 Persen % (4) 19.451 28.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) mencapai break event point usahanya diperkirakan masih memerlukan tambahan modal sebesar Rp.54 68. 3. 28.021 21.086 juta (25. 13. rata-rata aset UMKM meningkat sebesar Rp.516 21. Keperluan ini sebagian (rata-rata Rp.40 35. 46.48 39. Tabel 8. 17.408 juta rupiah.600 42. Peningkatan ini merupakan pengaruh langsung dari adanya pinjaman dari program perkuatan.287 31.23 28.29 juta.897 26.76 juta.408 80.223 46.253 juta).54 3) Dengan meningkatnya skala usaha diharapkan efisiensi produksi akan terjadi dan para pengusaha mikro mendapatkan laba yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan PDB. 46.1 Dampak Kredit Program terhadap kondisi dan Kinerja Bisnis UMKM Dari data pada tabel 9 dapat dikemukakan: 1) Rata-rata UMKM contoh tergolong dalam kelompok usaha mikro.298 73.09 42.51 60. 5. dapat ditutupi dengan meminjam dari berbagai pihak terutama para pelepas uang.4. 2) Skala usaha usaha kecil pada umumnya belum mencapai titik break event point (titik impas) sehingga untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi kalangan usaha ini perlu dibantu dengan memberikan pinjaman agar tercapai break event point yaitu rata-rata sebesar Rp.408 juta.92%) menjadi rata-rata Rp.739 68.39 Kebutuhan pinjaman modal Dari program Nilai Persen tase % Rp jt (7) = 6/2 x 100 (6) 49.4 Dampak Kredit Program 5.401 47.273 Modal sendiri Nilai (Rp jt) (3) 11.59 64. 2) Dengan adanya bantuan program perkuatan.182 27. dengan rata-rata pemilikan aset sebelum menerima bantuan perkuatan sebesar Rp.45 32. 75 .782 69.253 52.

04 10.99 8.94 59.74 18.61 25. Kinerja UKM Berbantuan (yang(yangSebelum bantuan) Dari Aspek Sesudah Persen Tabel 10.00 58.5307.88 77.70 Selisih 31.82 atau11. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuanJt) 9.47 39.55 11.78 Pertambahan 41.82 Sebelum Sesudah Nilai 9.10 47.19 32.24 167.17 25.45 (Jam) 11.98 11. 47.17 5. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan Tabel 9. 41.82 11.84 (%)1.80 18.38 Persen 47.49 13.20 9.32 0.82 18. 6. Tabel 9.76 57.79 1.02 18.80 11.49 Per Rata-rata Peningkatan Produksi18.09 45.20 Per (Rp 45.19 bantuan )3.12 15.66 14.55 13.18 per 9.61 Persen 10.53 Hari 14.41 45.29Dari Aspek Volume Usaha dan Laba 51.03 Rata-rata Jam Kerja6.60 1.92 6. Hal ini dapat diterangkan dari dua sebab yaitu: a) Para penerima pinjaman sebagian besar sudah mendapatkan pinjaman dari dari pihak ketiga sehingga sebagian laba dipergunakan untuk menutupi pinjaman tersebut.00 57.78 70.58 9.61 25.50 1. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan No Propinsi Rata-rata Pertambahan Total Asset Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Per tahun Sebelum Sesudah Pertambahan Pertambahan Sebelum Sesudah (Rp jt) (Rp Jt) (%) (%) 18.45 12.83 3) bertambah 29.97 Sesudah Nilai 19.88 Sesudah 77.61 4.33%.14 30.41 45.55 9.71 10.05 51.61 69.83 29.47 39.53 14.04 10.09 Selisih 31.18 11. 3. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) rata-rata sebesar Rp.35 33.28 8.49 Selisih 141. Tambahan modal ini relatif belum mencukupi Tabel 11. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima 16.94 tahun 16.98 11.24 58.05 (Jam) (%) 146.18 2.53 23.49 13. Aset.68 Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp ) (%) Tabel 11.04 45. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan 20.80 (Jam) 26.30 Sebelum Sesudah Nilai Persen 10.05 75.54 7.17 jt) 25.24  2 3 13.083 55.30 Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Pertambahan 175.18 36.05 75.90 (Rp Jt) (%) 12.76 17.05 51.JURNAL VOLUME 4 .41Dari adanya bantuan perkuatan modal UMKM 69.56 (Rp jt) 2.10 Rp Jt (%) Tabel 10.14 Sebelum 167.80 3.24 11.74 Rata-rata Pertambahan23.76 Rata-rata Peningkatan Produksi 16.79 1.48 14.28 47. Dengan perkataan lain peminjam belum mampu menginvestasikan sebagian laba yang diperoleh untuk menambah aset dalam bentuk investasi.24 juta.00 1.AGUSTUS 2009 : 62-87 yang terutama digunakan untuk modal kerja.54 8.41 14.18 2.72 58.55 Selisih 21.78 20.73 175.90 10.50 2.30 juta 58.07 6.25 Rata-rata Laba3.53 15.03 9.33 untuk Omset Usaha UMKM yang tahun Rata-rata menutup kebutuhan modal Rata-rata Laba per selama ini sebagian berasal dari pinjaman pihak ketiga.62 15.29 (Rp jt) 17.41 14.14 31.09 69.29 25.71 10.27 (Rp Jt) (%) 76 2 Sumbar Kalbar NTB 3 No Propinsi Jumlah Rataan  .05rata-rata sebesar Rp.15 28.33(%)  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Tabel 9.81 11.72 (%) 141.82 8.90 6.56 2.38 Selisih 25.083 55.78 70.66 5.71 juta menjadi rata-rata sebesar Rp.58 9.65 34. Aset. b) Sebagian peminjam lainnya mempersiapkan kelebihan laba yang diperoleh untuk digunakan membayar pinjaman dari program perkuatan walaupun mungkin belum jatuh tempo.12 Asset Total 18. jt) Per tahun (Rp jt) (Rp No Propinsi Selisih Selisih Sebelum Tabel 10.97 58.31 25. Kinerja UKM Nilai Berbantuan menerima Sesudah Nilai Persen menerima bantuan) dan (Rp Jt) Rp Jt (%) DariVolume UsahaUsahaLaba Aspek Volume (%) dan Laba  Sumbar 2 Kalbar 3 NTB No Propinsi Jumlah Rataan  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Jumlah Propinsi Rataan 59.8 Sebelum Sesudah Nilai Persen 7.25 32.54 dari yaitu 10.30 Selisih 19.48 14.14 Sebelum 30.28 207.54 8.45 36.58 6.29 Jt) 25.25 8.61 11.00 8.21 5.30 12.81 11.31 25.05 Per tahun Sebelum 51.80 7.17 11.24 26.58tahun9.18 5.80 7.05 Rata-rata Jam Kerja Per Hari 13.68 25.02 Rata-rata Omset Usaha18.24 11.73 Sesudah 6. Aset.99 8.10 11.05 12.92(%) (Rp 13.

Dalam hal ini etos kerja.10%).38%). Persentase pertambahan laba ini juga masih lebih kecil dibandingkan dengan persentase pertambahan modal yang mencapai 51. sehingga belum mencukupi bagi UMKM untuk dapat mencapai skala ekonomi (ecomic of scale). Disamping itu pertambahan modal juga belum mampu meningkatkan bargaining UKM dalam pasar. belum terlihat adanya indikasi bahwa pertambahan modal telah dapat menekan biaya produksi misalnya bahan baku. omset UMKM juga meningkat dari rata-rata Rp 47. sehingga meningkatnya laba tidak lebih besar dari peningkatan modal.99 juta.90 juta (19. 4) Dari kondisi pada butir 1 sampai dengan butir 3 di atas dapat dikemukakan bahwa pinjaman yang diberikan jumlahnya relatif kecil.60 jam.083 juta. menjadi Rp 13.68 juta (25. atau rata-rata bertambah sebesar Rp 8. yaitu dari 10. menjadi Rp 55. Dari tabel 11 dapat dikemukakan bahwa: 1) Peningkatan etos kerja yang diindikasikan dari pertambahan jam kerja UMKM memperlihatkan adanya tambahan sebesar 1. Selain dampak perkuatan terhadap tiga aspek bisnis UMMK di atas. tabel 11 memperlihatkan dampak pemberian bantuan perkuatan modal terhadap perubahan kinerja UMKM. baik di pasar input (pengadaan bahan baku) maupun di pasar output-nya (pemasaran produknya).49 juta.05 jam per hari. Laba UMKM meningkat dari rata-rata Rp 10. 3) Dengan memperhatikan pertambahan omset dan laba.18 juta per tahun. merupakan derivasi 77 . yang memungkinkan terjadinya peningkatan efisiensi produksi. atau bertambah Rp 2. dari aspek peningkatan etos kerja dan peningkatan produksi UMKM. meningkatnya modal UMKM juga mempengaruhi pertambahan laba yang diterima UMKM. 2) Selain mempengaruhi pertambahan omset usaha.55 jam menjadi 11. Pertambahan ini nampaknya masih lebih kecil dari tambahan modal yang diterima UMKM yang rata-rata mencapai 51.23%.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Dari tabel 10 dapat dikemukakan: 1) Sejalan dengan adanya pertambahan modal.23%.

10 Tabel 11.72 58. dimana sebanyak 325. Dari jumlah tersebut sebanyak 52. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) JURNAL VOLUME 4 .06%).38 10.09 146.62 11.24 47.90 19.19 3.84 6.80 18.00 6. diantaranya adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha (bekerja) dalam kelompok UMKM.41 45.04 4.4.05 11.98 11.35 7.28 5.45 9. 4 5.AGUSTUS 2009 : 62-87 Dari Aspek Volume Usaha dan Laba Rata-rata Omset Usaha Rata-rata Laba per tahun Per tahun (Rp jt) (Rp jt) dari keberhasilan usaha seseorang dan kepentingan orang Selisih Selisih Sebelum tersebut untuk mendapatkan prestasi yang secara langsung Sesudah Sebelum Sesudah Nilai Persen Nilai Persen maupun tidak langsung mempengaruhi kesejahteraannya.30 55.21 8. adalah para pencari kerja yang diharapkan dapat terserap dengan meningkatnya aktifitas usaha dari kelompok UMKM.79 1.45 12.76 11. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Tabel 11.046 orang.47 39.17 14.68 25. Dampak program perkuatan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja 1) Rata-rata jumlah tenaga kerja poduktif (umur antara 17 sampai dengan 60 tahun) yang ada di 3 (tiga) Propinsi contoh cukup besar yaitu mencapai 412.55 21.49 kerja dapat dikembangkan sangat etos 167.50 13.80 2.083 Hasil pengamatan lapang memperlihatkan adanya indikasi 70.14 31.17 jauh 25.97 26.02 18.20 9.81 11.05 9.56 2.61 5.78 36.25 34.60 1.17 12.27 No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3) Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menyebabkan timbulnya permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan program ini. (Rp Jt) (%) Rp Jt (%) No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 2) 59. seberapa25.49 13.65 10.05 141.2 Dampak Kredit Program Terhadap Perekonomian Daerah 1.18 ke45.15 1.53 9.55 12.00 16.55 3.50 207.61 33. UMKM harus diarahkan agar mampu pengembangan etos kerja.90 8.31 51.05 75. 78 .03 arah 9.55 0.32 28.99 8.30 45.25 16.05 1.58 6.18 2.895 orang atau 10.09 dan sebatas mana 14.10 13.Tabel 10. yang akan mendorong semangat kewirausahaan. 8.07 15. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Rata-rata Jam Kerja Per Hari Rata-rata Peningkatan Produksi (Jam) (%) Selisih Selisih Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp Jt) (%) 11.41 1.80 11. Pengembangan etos kerja juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.94 32.82 9.24 11.352 orang (78.8 69.58 kondisi peningkatan etos kerja.97%.70 31.54 tergantung pada pola pelaksanaan program.

56 8.652 326.540 268.15 11.47 4.82 7.89 11.05 5.74 1.97 Rata-rata Peningkatan Anggota /tahun (%) 1.72 Sesudah 3.8 13.140 berbantuan UMKM 22.35 3.02 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang 49. 2.20 0.21 23.97 3.046 52.686 Jumlah 1.88 UMKM (%) 111.44 65.90 Sebelum 5.411 94.89 8.644 orang atau 8.154 421. Sebelum Peningk.92 0.88 4.14 Modal 9.01 9.61 Terhadaptersedia.76 Koperasi Per tahun(%) 11.99 1.00 (%) (Org) Propinsi *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.843 Sumbar Tabel 13.9 Perkuatan 35.85 147.3 No Propinsi PDRB Nilai Persen Jlh Penya Biaya Penda SHU *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006  2 3 No Propinsi Rata-rata Peningkatan Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) Simpanan Anggota /tahun (%) *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Sebelum Sesudah Peningk.8 13.236.31 5.057 Tenaga 158.44 Kalbar Program terhadap (Product Regional Domestic Bruto) serta 6. Sebelum Sesudah 374.769 2.78 Sebelum 6.742 32.870 1.877 Perkiraan Sumbangan2.765 Kalbar 178.677 176.48Simpanan4.48 23.93 1.8 983.15 7.43 2.50 tambah tase 92.78% dari jumlah penganggur yang ada di ke tiga propinsi contoh.08 1.866 434.90 5.90 64.44 4.75 Sesudah 1.02 Persen 1.92 0.99 Sesudah 1.90 4.877 Sumbar 429.82 Sebelum 7.38 berikut: 3.904 31.224 NTB Tabel 14.140 158.1 103.180 14 Penya Biaya 983.968 7.843 Sumbar UMKM31.89 11.677 Koperasi 0. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Jumlah 27.33 2.18 Peningk.32 20.1 327.47 3.180 14 0.3 35.41 3.52 1.74 1.08 kontribusi 44.93 1.90 1.473 224.93 2. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan Kotor Daerah 1.88 6.45 3.91 7. Dampak Kredit Jumlah dan Kinerja 2. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan patan Daerah Kotor Kop UMKM (%) Rp Juta Rp jt serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur (Product Regional Domestic Bruto) serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan 172.510 472.98 1.00 Rata-rata 412.4 10.609 4. maka dapat diprediksikan jumlah pengangguran yang mampu diserap oleh UMKM baru sebanyak 4.69 Tambahan 1.20 3.30 1.89 Tabel 14.76 11.45 Rata-rata Peningtan5.44 0.613 1.455 1. Jumlah Tenagakerja dan Kinerja UMKM Berbantuan 12.186 9.154 421. (unit) (Org) (org) (unit) Kerja (%) (Org) (Org)(yang menerima bantuan ) di Lima Propinsi Contoh (Org) 36.420 674.839 Kerja 325.49 Nilai Persen 27.510 472.01 UMKM 197. DampakDari tabel 13 dapat dikemukakanKoperasi Program Perkuatan terhadap Kinerja beberapa 1.609 4.41 10.3 429.873 611.32 8. Tabel Tabel 12.652 326.65 9.64 Penyalur UMKM 65.700 263.742 32.58 10.5 26 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan178.81 Sebelum 3.45 9.420 674.904 202.48 8.18 2.224 PDRB 434.352 7.769 Kalbar 5.32 11.41 Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di kabupaten Contoh (Orang) 44.7 143.18 hal sebagai 1.473 224.31 4. Dengan memperhitungkan jumlah UMKM yang mendapatkan bantuan per propinsi sebanyak 7613 orang.85 Tenaga 147.05 3.9 143.56 4.35 20.78 4.67 3.411 94.07 79  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan .56 9. Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan (yang menerima bantuan) ) di Lima Propinsi Contoh (yang menerima bantuan di Lima Propinsi Contoh Jumlah Tenaga Kerja dan Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di UMKM di Kabupaten Contoh ( Orang) kabupaten Contoh (Orang) UMKM Tambahan Pencari Tenaga Sesudah UMKM berbantuan Sebelum Tenaga Persen Kerja Kerja Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan Tabel 12.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 2) Rata-rata pertambahan tenaga kerja UMKM setelah mendapat bantuan pinjaman modal dari program perkuatan adalah sebesar 0.41 3.9 Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) Sesudah *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Peningk.528 NTB dalam Menyumbang PDB Jumlah 1.659 di Kabupaten Contoh ( Orang) 6.52 1.1 36 161.88 Sesudah 3.87 0.4 10.65 6.33 10.3 Kop 25.14 4.64 2. 3.91 3.67 3.45 3.49 76 31.528 NTB UMKM Propinsi Pencari 976.8 Kop luran Rp juta 327.700 263.54 2.046 Perkiraan Sumbangan UMKM 52. termasuk penganggurmenyalurkan bantuan Perkuatan PDB (Rp miliar) *) Tenaga kerja usia produktif yang Tabel 13.98 0.12 3.18 2.87 0.540 268.61 orang per UKM.455 1.968 7.866 (miliar) 144.07 Peningk.97 3.352 Kerja Rata-rata 412.3 161.765 Terhadap PDB (Rp 0.71 0.21 3.895 325.186 2.1 Penda 310.  2 3 Sumbar Kalbar NTB No Jumlah Propinsi Rataan 3.33 2.895 7.97 3.54 1. termasuk penganggur 36.236.2 7.20 4.61 (Org) (org) Kerja 49.2 7.75 1.93 1.30 1.20 3.12 Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) 4.71 0.44 7.32 3.659 202.72 3.870 1.1 SHU 76Jlh 31.89 Peningk.3 374.69 1.38 7.58 10.88 1. 3. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Jumlah Tenaga Kerja dan 10.7 310.56 6.33 10.89 11.873 611.5 26 197.43 11.48 3.9 Rp Juta Rp jt 111.613 (unit) (unit) (Org) (Org) *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.057 22.839 3.1 36 172.50 25.90 miliar) 64.44 176.88 144.7 patan 103. termasuk penganggur Total Pendapatan Kotor Daerah (Product Regional Domestic Bruto) (miliar) tambah tase Kop luran Rp juta Tabel 13.686 976.81 4.7 Rataan 92.

870 juta (1. 144. 5.8 miliar per kabupaten. 928. maupun di depannya (fore Word efect). maka sumbangan usaha mikro terhadap PDRB tidak berubah banyak. Dengan perkataan lain masyarakat ingin menjadi anggota koperasi karena adanya 80 . juga relatif masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang berada dimasing masing lokasi tersebut. dibandingkan dengan rata-rata PDRB daerah yang mencapai Rp. Kenaikan jumlah anggota yang cukup signifikan ini mengindikasikasikan adanya ketertarikan masyarakat untuk menjadi anggota koperasi. Unsur ini jelas didorong oleh adanya program perkreditan yang memang angat dibutuhkan oleh masyarakat.4. Kondisi ini dikarenakan usaha-usaha tersebut sudah ada sebelumnya dan pertambahan jumlah kebutuhan maupun produk yang dihasilkan oleh UKM yang mendapat bantuan perkuatan relatif masih kecil.342 orang) UMKM sudah mendapat bantuan perkuatan maka diprediksikan sumbangan UMKM akan mencapai 71.83% atau meningkat 23.AGUSTUS 2009 : 62-87 1) Dengan asumsi sebagian (50%) UMKM yang mendapat bantuan perkuatan bekerja pada kegiatan usaha produktif. dan tidak dengan memperhitungkan dampak kegiatan yang dilaksanakannya. Seandainya semua (308. Dari sini terlihat adanya dampak positif dari pelaksanaan program perkuatan dalam mendorong pertumbuhan jumlah anggota sebanyak 3.83 dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 yang diperkirakan 48%.JURNAL VOLUME 4 . atau tidak mengalami tambahan yang signifikan. 2) Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh UMKM merupakan kegiatan spesifik daerah yang tidak lagi memberikan imbasan yang signifikan terhadap kegiatan usaha yang ada dibelakangnya (back word efect). Kondisi yang demikian nampaknya cukup wajar karena jumlah UMKM yang menerima bantuan.82% pada lima tahun sebelumnya menjadi 7.46%).3 Dampak Kredit Koperasi Perkuatan Terhadap Pembangunan Dari tabel 14 terlihat bahwa terlihat bahwa: 1) Rata-rata jumlah anggota koperasi mengalami kenaikan dari rata-rata 3.89%.72% pada tahun 2007. Hal ini dapat dijelaskan dengan memperhatikan bahwa pertambahan jumlah PDRB yang berasal dari adanya UMKM yang mendapat bantuan perkuatan per kabupaten relatif kecil yaitu sebesar Rp.

180 14 0.609 4.18%.56 9.968 7.49 untuk mendapatkan 31. 81 .88 327.91 3.9 143.21 23.473 224.186 2. atau meningkat sebesar 1.33 10.877 Sumbar  2 3 Kalbar NTB Jumlah Rataan Perkiraan Sumbangan UMKM Terhadap PDB (Rp miliar) PDRB Nilai Persen (miliar) tambah tase UMKM (%) Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan Perkuatan Jlh Penya Biaya Penda SHU Kop luran Rp juta patan Kop Rp Juta Rp jt 161.97 3.455 1.18 2.No Propinsi Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 172.82 Sesudah 7.58 111. Tabel 14.88 6.20 0. yang mencapai 23%.81 Sesudah 4.3 92. sehingga adanya bantuan perkuatan tidak lagi mempengaruhi besar simpanan yang dapat dikumpulkan.01 9. Kejadian ini mungkin disebabkan sebelumnya memang partisipasi anggota dalam membayar simpanan sudah tinggi.15 7.41 3.32 20.1 Motivasi144.97 3.8 983.90 64.48 8.870memang 25.18 Sebelum 3.31 5. Peningkatan jumlahnya 5 simpanan ini terlihat belum sejalan dengan pengingkatan rata-rata jumlah anggota yang mendapat bantuan perkuatan.420 674. Lebih lanjut pada tabel 15 diperlihatkan dampak pelaksanaan program perkuatan terhadap volume usaha dan SHU koperasi.14 4.48 3.9 yang ideal.4 10.88%.47 4.56 8. menjadi 3.3 374.5 26 197.54 1.81% selama 4 tahun sebelum program perkuatan dilaksanakan.76 11.99% sesudah dilaksanakannya program perkuatan.224 harapan 434.07 Rata-rata Peningkatan Simpanan Anggota /tahun (%) Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) 2) Sejalan dengan peningkatan jumlah anggota juga terjadi kenaikan simpanan anggota dari rata-rata 2. 3) Modal koperasi meningkat dari rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 3.765 35.35 3.89 11.90 4.65 6.78% pertahun menjadi rata-rata 4.10%.33 2.2 7. Hal ini 1.89 11.540 268.72 Peningk.67 3.1 36 10. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Tabel 14.45 3. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) No Propinsi Sebelum  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3.12 3.20 3.866 76 310.45 9.98 1.93 1.43 2.8 13. Hal tersebut disebabkan adanya tambahan modal luar yang melonjak dari pinjaman modal program perkuatan.50 bukan motivasi 103.38 7.7 *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat pada bantuan permodalan cukup besar.32 11. 1.44 4.3 429. 1.78 Sesudah 4. bantuan kredit 27.7 178.89 Sebelum 2.88 Peningk.700 263. atau naik sebanyak 1. Sedangkan pengaruh dari pelaksanaan program terhadap kenaikan modal sendiri relatif sangat sedikit dibandingkan dengan total modal koperasi dalam yang dimiliki koperasi. 3.1perkuatan. Dibandingkan dengan tambahan modal luar yang bersumber dari program perkuatan nampaknya tambahan modal koperasi yang bersumber dari SHU pelaksanaan program perkuatan pengaruhnya belum signifikan.99 Peningk.

25 7.92 1.89 2.81 3.99 2. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Tabel 15.34%. seperti penyediaan bahan baku produksi.74 2.33% menjadi 3. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi No Propinsi Rata-rata Peningkatan Volume Usaha per tahun (%) Sebelum Sesudah Peningk.42 3. rata-rata koperasi memperoleh SHU sebesar Rp 8. bila dibandingkan dengan peningkatan SHU pada lima tahun sebelumnya yaitu dari rata-rata 2.14 0.JURNAL VOLUME 4 .59 17.02 1. Dengan demikian terlihat bahwa koperasi 82 .43 2. 2. peningkatan SHU ini juga murni sebagai sumbangan dari pelaksanaan program perkuatan dan tidak terlihat dampak dari adanya kegiatan pengembangandari pelaksanaan kegiatan penyaluran program.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 15. 4.45 juta.76 3.81%. menjadi 5. 2) Rata-rata Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi meningkat sebesar 0.33 3.87 5. Peningkatan ini nampaknya merupakan pengaruh langsung dari pelaksanaan kegiatan penyaluran program bantuan perkuatan saja. Dengan biaya operasional riil yang ternyata masih lebih kecil dari yang didapatkannya tersebut.81  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Dari tabel 15 terlihat bahwa: 1) Rata-rata volume usaha koperasi mengalami peningkatan dari rata-rata 3. koperasi memperoleh bagian biaya operasional sebesar 4% dari dana yang disalurkan.40 pertahun pada lima tahun sebelumnya. Dengan kata lain program perkuatan belum memberikan dampak ikutan bagi kegiatan koperasi diluar kegiatan program itu sendiri. yang berkaitan dengan adanya program perkuatan tersebut.78 4. Hal ini menunjukan bahwa koperasi belum mampu mengembangkan kegiatan yang diperlukan anggotanya.76 3.40 6.14 6.43 0. Sama seperti peningkatan volume usaha.18 9.21 3.03 2.34 10.14%. transportasi dan pemasaran hasil produksi anggotanya.04 2. 3) Dari kegiatan melaksanakan penyaluran kredit perkuatan.96 1.34 Rata-rata Peningkatan Sisa Hasil Usaha per tahun (%) Sebelu Sesudah Peningk. atau meningkat sebesar 2.11 2.47 0.24 5.74% sesudah menyalurkan program perkuatan.

171.783.876.55 triliun..70% pinjaman dari pemilik modal/pelepas uang dan sisanya 6. sehingga idealnya program-program perkreditan dari pemerintah selama 7 tahun terakhir sudah menjangkau 23. Adanya perbedaan antara persentase kebutuhan pinjaman UMKM dan dana yang telah dialokasikan oleh pemerintah (23.75% oleh modal sendiri.yang terendah adalah untuk mereka yang berusaha di sektor informal dan perdagangan eceran sebesar Rp 1. dan 3) Deviasi sampel.20% pinjaman dari lembaga perkreditan formal (Bank dan non bank).05%) dengan hasil pengamatan kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro dan usaha kecil yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu 11. maka bagian koperasi yang menjadi SHU belum signifikan dengan total SHU koperasi.000. 11.574. 3. 2) Ada kesalahan sasaran dalam penyaluran kredit.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) juga memperoleh dampak positif dari kegiatan ini. atau sudah menjangkau 23. Struktur permodalan usaha mikro dibangun 15.dan yang tertinggi adalah untuk mereka yang berusaha di sektor pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp.000. Hal tersebut terjadi karena belum ada ketentuan tentang pola pergulirannya dan belum ada institusi yang secara formal mengatur perguliran dana tersebut. Kondisi ini masih menunjukkan peranan yang dominan dari para pelepas uang dan pemilik modal dalam mendukung kelangsungan usaha para pengusaha mikro. 56.60% dari pinjaman program pemerintah.05% dari jumlah UMKM khususnya pengusaha mikro. PENUTUP 1. Rata-rata tambahan modal yang diperlukan oleh kalangan pengusaha mikro dan pengusaha kecil adalah sebesar Rp..05% dari kebutuhan modal UMKM.000. sehingga tidak dinyatakan sebagai kredit. Dengan demikian dana yang diperlukan untuk memberdayakan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil.60%. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh: 1) Sebagian dana program pemerintah memang diberikan dalam bentuk pinjaman (kredit sesuai dengan pengertian kredit dan ensiklopedia Indonesia) sebagian lagi dalam bentuk subsidi atau hibah. 4) Hal lain yang juga dapat dicatat bahwa jumlah dana yang telah dikembalikan dari peminjam ada yang belum dapat digulirkan lagi oleh koperasi.75% bersumber dari kalangan keluarga dan tetangga. 9. 83 . Tetapi karena jumlah dana yang disalurkan masih relatif kecil. 3. 22. diperkirakan mencapai Rp. 2. VI.-.

sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk. Dari 214 jenis program perkreditan yang dapat diinventarisir diketahui bahwa 47.45% menggunakan pendekatan pengembangan potensi daerah. c) Bentuk dan besar pinjaman yang cenderung menggunakan sistem paket.25% yang bertujuan untuk memberdayakan UMKM seperti P3KUM dan KUR. 10. 44.65% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas. 7.25% bertujuan mengurangi kemiskinan. Kredit-kredit yang bersumber dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM yang kesemuanya bertujuan memberdayakan KUMKM.JURNAL VOLUME 4 . seperti Program pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal 26. 28. atau tidak sesuai dengan peruntukannya. Dari aspek pendistribusian dana diketahui 41.5% bertujuan untuk mendukung pembangunan sektoral seperti untuk program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) 35. dan sisanya 16. pengembangan potensi daerah dan pengembangan kelompok (Community development) merupakan pendekatan yang efektif untuk memberdayakan UMKM.92% disalurkan untuk daerah-daerah lainnya. d) Banyaknya jenis kredit yang disalurkan.25% pengembangan potensi kelompok.35% pengembangan kelembagaan. Dalam hal pola pelaksanaan perkreditan terlihat bahwa: a) Prosedur dan persyaratan cenderung didasarkan pada kepentingan sektoral dan keamanan kredit. 11. 84 .18% disalurkan di Pulau Jawa dan sisanya 58. dan hanya 17. 6. Hasil analisis dari aspek kemanfaatan kredit dalam meningkatkan pendapatan UMKM menunjukkan bahwa. Banyaknya dana yang disalurkan di Pulau Jawa dilakukan berdasarkan pertimbangan jumlah orang yang berhak menerima. Hanya 11. sehingga sering tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakter pengusaha mikro. tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pengusaha mikro serta.75% menggunakan pendekatan pengembangan daerah.85% menggunakan pendekatan pengembangan kelompok seperti seperti dalam program Lembaga Usaha Ekonomi Bersama (LUEB). akibatnya yang bersangkutan masih meminjam dari sumber-sumber lain terutama para pelepas uang dan pemilik modal.75% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas.AGUSTUS 2009 : 62-87 4. menyebabkan terjadinya tumpang tidih penggunaan dan sasaran kredit di tingkat peminjam.95% menggunakan pendekatan pengembangan kelembagaan. 8. b) Bunga bersubsidi membuka peluang terjadinya manipulasi penggunaan kredit baik ditingkat penyalur maupun oleh peminjam. seperti Kredit Keluarga Miskin (KKM) dan Kredit Pemilikan RSS. 5. dan sisanya 19.83% dari usaha mikro tersebut menyatakan jumlah pinjaman yang diperoleh belum menutupi kebutuhan modal. Sedangkan dari aspek pendekatan program 41.60% pengusaha mikro yang pernah mendapatkan pijaman dari kredit program pemerintah dan 21.

13. Dalam hal tingkat pendidikan. yang paling sedikit Rp. maupun untuk lembaga penyelenggaranya. 85 . dan pestisida serta untuk pedagang kecil.2 juta dengan laba rata-rata sebesar Rp 11. 0. Dalam hal ketepatan sasaran. sebagian besar (87. Selain itu tujuan penggunaannya yang sebagian besar bersifat sektoral. c) Adanya unsur-unsur yang tidak berkaitan dengan tujuan pemberdayan UMKM serta.75%) adalah mereka yang berpengalaman lebih dari 5 tahun.77%) kredit program dilaksanakan dengan tidak meng-gunakan model perguliran dan hanya 9. Kesimpulan 1) Dari temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa: a) Kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro relatif masih sangat sedikit (11. 6.40%) responden menyatakan perlu adanya kelembagaan tersebut (organisasi dan ketentuan-ketentuannya).11 tahun atau setingkat dengan SLP. Dari aspek pengalaman.60%). Sedangkan yang tidak tepat waktu penyalurannya adalah kredit yang diberikan dalam bentuk natural seperti pupuk benih. Sedangkan dari aspek omset yang diperoleh per tahun rata-rata Rp 37. Sebagian besar (90. dan pola pelaksanaan yang ada. Sebagian dari yang tidak menggunakan perguliran adalah yang berupa hibah untuk masyarakat. 11. tetapi 96. 32.81 juta per tahun.51 juta.85 % dari mereka tidak mengetahui adanya Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). sedangkan yang menilai ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit ada sebanyak 28.92% dan sisanya sebanyak 14.87%) responden menilai tidak ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit. Dalam hal keperluan kelembagaan perguliran.1 juta.23% yang menggunakan model perguliran.65% kredit tersebut tepat waktu penyalurannya. 79. d) Kondisi internal pengusaha mikro yang sangat lemah serta belum siapnya lembaga perguliran dana. b) Rendahnya kontribusi kredit program tersebut disebabkan karena tidak semua program diberikan dalam bentuk kredit (pinjaman yang harus dikembalikan).52% responden menilai kredit program tepat sasaran dan hanya 54. sebagian besar (63. 10.23 juta dan yang terbesar Rp. Kondisi internal pengusaha mikro didominasi oleh meraka yang memiliki aset terbatas yaitu rata-rata Rp. ratarata responden berpendidikan formal 8.21% menyatakan tidak tahu. ternyata tidak sesuai dengan karakteristik UMKM. Sebagian kredit yang tidak tepat sasaran adalah yang diberikan kepada kelompok orang miskin sebagai bantuan sosial.25%) peminjam adalah mereka yang berpengalaman dibidang usahanya kurang dari lima tahun dan sisanya (36. 12.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 9. Sebagian besar (56.

Supported by The Asia Foundation. Saran 1) Perlu dilakukan perubahan orientasi kredit program yang semula untuk kepentingan pembangunan sektoral diarahkan kepada pemberdayaan UMKM. c) Kondisi lingkungan sosial budaya memungkinkan para pemilik modal dan pelepas uang membangun sistem hubungan Patron –Client. (1992).AGUSTUS 2009 : 62-87 2) Peranan sumber-sumber perkreditan non formal masih cukup besar. 2) Perlu adanya pola pelaksanaan program dengan karakter UMKM khususnya pengusaha mikro. Jakarta. Jurnal Ekonomi UNTAR. Jakarta. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Besarnya permintaan kredit dari kalangan pengusaha mikro karena tidak tercover oleh lembaga-lembaga perkreditan formal. Anonim. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Anonim. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Small and Medium Entreprise Development. Petunjuk Teknis Tentang Modal Awal dan Padanan. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah.JURNAL VOLUME 4 . (2002). (2003). b) Para pemilik modal dan pelepas uang mampu memberikan pinjaman lepada pengusaha mikro dalam waktu singkat. Jakarta. Anonim. (1999). Kementerian Negara KUKM. Departemen Koperasi. 1���. 14. Study Report. (1995). 3) Membangun sistem kelembagaan yang komprehensif memperkecil dalam hal jumlah instansi yang terlibat dan jenis kredit program yang disalurkan sehingga koordinasi menjadi mudah dan dana pemerintah tidak berserakan di mana-mana. DAFTAR PUSTAKA Anonim. pengembangan kelembagaan dan kelompok. The Asia Foundation. Jakarta. Anonim. 86 . Jakarta. (2003). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Anonim. Jakarta. Vol 7 nomor 1.

Penelitian Lembaga Kredit Pedesaan di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. (2002). Sondagh. (2006). Deputi Bidang Pembiayaan. Gibb. Indonesia. Singapore. BPS-2006. Allan A. 87 . Anonim. (1993). Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. F. (2002). Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah: Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pasca Krisis Ekonomi. Project Report. Asian Development Bank. Bank Indonesia Jakarta. Paper Staff. (2007). Anonim.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Anonim. Jakarta. ADB MSE Development Technical Assistant. (2002). Mid Term Action Plan for SME Development : Strategy and Recommendations. Jakarta. Jakarta. Kajian pemanfaatan Bantuan Perkuatan. Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta. (2006). Deputi Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi. Jakarta. ----------. Annual Report Bank Indonesia 2006. (1991). Lembaga Perkreditan Pedesaan.. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Nasution Muslimin. 19 Oktober (tidak dipublikasi). Kementerian Negara Koperasi dan UKM. John Willey & Son. Center for Economic and Social Studies (CESS). Informasi Tentang Kredit Usaha Mikro dan Kecil dari Dana SUP005. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian IPB. The Entreprise Culture and Education. 2nd ed. Badan Litbang Koperasi dan PK. Apakah Usaha Menengah Mengalami Stagnasi. (2006). Lucky. Anonim. Departemen Koperasi dan PPK. Tambunan Mangara. Tambunan Mangara. 2002. Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) UKM.

Clarification of intellectual property right in the institution is as strength resource of development participant in developing access and control on the traffic and allocation of resources.JURNAL VOLUME 4 . Apabila hal ini tidak dilakukan. managemen. berdampak pada koperasi yang bergerak dibidang perdagangan khususnya koperasi pengelola pasar tradisional harus menyesuaikan diri agar selalu bisa eksis untuk memberikan pelayanan kepada anggotanya para pedagang. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. *) 88 .AGUSTUS 2009 : 88-115 KAJIAN PENATAAN KELEMBAGAAN KOPERASI PENERIMA BANTUAN DANA BERGULIR PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL*) Saudin Sijabat**) Abstract Institution is ”an organizational system which can control on resources”. 8 �uni 200�. Revolving fund for traditional market development through cooperative is government fund derives for state budget of The State Ministry of Cooperatives and SMEs which was distributed to cooperative to develop traditional market by cooperative and from then on lend it to the members unders revolving fund scheme among cooperatives. sudah barang tentu koperasi pasar akan semakin jauh dari akses-akses usaha yang diperlukan anggota karena tidak dapat memberikan pelayanan yang efektif kepada anggota sehingga koperasi tidak mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis. Pendahuluan Pesatnya perkembangan pembangunan sarana pemasaran yang dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha perdagangan lainnya seperti supermaket. dana bergulir. pasar tradisional I. custom/tradition and / or consensus. Artikel diterima 5 April 200�. swalayan dan bentuk-bentuk perkulakan lainnya yang sudah merambah ke daerah pemukiman dan pedesaan. peer review 22 April s.d. The other characteristic is c) Representation regulation which can make sure who is entitle towards something in every process of decision making. This feature refers to the definite of right and obligation regulated by the law. Koperasi. Kajian yang dilaksanakan oleh penulis tahun 200��. mall. Institutional has characteristic among others are: a) Yurisdiction border which determine who and what is encompassed in the system and related to authority limit and power. kelembagaan. juga diikuti dengan perkembangan usaha ritel dan pedagang eceran dalam bentuk Indomart atau Alfamart dan sejenisnya. b) Intellectual property rights.

akan merugikan para pedagang. anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi. yaitu kepentingan bisnis (bisnis entity) dan kepentingan sosial (social entity). Sekalipun demikian. melalui penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir untuk pembangunan pasar 89 . memelihara organisasi serta menggunakan kegiatan usaha koperasi. akan sesuai dengan perubahan lingkungan untuk mewujudkan perilaku yang responsif dan inovatif dari para anggotanya. Pengaruh dari dalam yang paling dominan mempengaruhi maju mundurnya koperasi adalah dukungan partisipasi aktif dari anggotanya. organisasi maupun usaha. Dengan demikian koperasi pasar yang memperoleh bantuan dana bergulir untuk membangun pasar tradisional akan melakukan kegiatan usaha dan organisasinya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan para anggotanya. diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan dalam meletakkan fondasi bagi bangun struktur organisasi koperasi sebagai milik bersama. maknanya sesuai dengan penjelasan pasal 17 (ayat 1) Undang-Undang Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992. Sesuai karakteristik pokok organisasi koperasi aktivitasnya mempadukan dua kepentingan secara bersama-sama. harus tercermin dalam bentuk konstribusi dalam menetapkan tujuan dan sasaran usaha. Hal ini dimaksudkan selain untuk menarik yang bukan anggota menjadi anggota koperasi juga untuk memperluas skala usaha koperasi dan memperluas pangsa pasar yang dimiliki. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap maju mundurnya suatu koperasi. Dalam penjelasan disebutkan bahwa sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. diharapkan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional oleh koperasi pasar. sepanjang tidak merugikan kepentingan anggota dan lembaga koperasi. Dari beberapa uraian di atas.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Disadari bahwa swadana pembangunan dan pengelolaan pasar oleh pemerintah setempat atau lembaga lainnya melalui fasilitas-fasilitas tertentu. maka koperasi dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bukan anggota sesuai dengan sifat kegiatan usahanya. tanpa keterlibatan para pengguna pasar itu sendiri. baik secara finansial. Dukungan partisipasi anggota koperasi pasar (sebagai pedagang). menunjukkan bahwa kebanyakan kegagalan suatu organisasi koperasi disebabkan oleh masalahmasalah yang bersumber dari dalam koperasi (internal). Partisipasi anggota. dan hanya sebagian kecil penyebab kemunduran koperasi yang bersumber dari pengaruh luar (eksternal). Berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah melalui program Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui program pemasaran dan jaringan usaha melaksanakan program penyaluran bantuan dana bergulir untuk meningkatkan kelayakan sarana dan prasarana usaha pasar tradisional melalui koperasi pasar yang sudah ada. Dengan tercapainya kedua kepentingan tersebut yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan harus selalu dipelihara. Bercermin atas keadaan sebagaimana diuraikan di atas.

1. sehingga partisipasi anggota koperasi tidak hanya pada aktivitas usaha saja. 3). Memilih lokasi pelaksanaan survey terhadap pembina koperasi propinsi. Oleh karenanya selain pemanfaatan fasilitas tersebut. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1). dan pengurus koperasi.JURNAL VOLUME 4 . tetapi juga dalam aktivitas managemen koperasi. sehingga koperasi pasar tradisional selain mampu melakukan program dengan baik. Terwujudnya peningkatan peran serta anggota koperasi dan UKM secara aktif dalam membangun kemandirian koperasi yang tangguh secara berkelanjutan. kabupaten/kota. 4). lembaga koperasi harus memiliki kelembagaan yang baik.1 Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. juga agar koperasi memiliki daya tahan dan daya saing untuk melakukan aktivitas.AGUSTUS 2009 : 88-115 tradisional. Terwujudnya Lembaga Koperasi Pasar yang baik. Terwujudnya peningkatan nilai manfaat dan nilai tambah bagi anggota koperasi dan UKM melalui peningkatan aktivitas usaha dan organisasi koperasi secara terbuka dan demokratif. 2). 3). 2). 4). Penyempurnaan konsep final hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. 5). 1. Terwujudnya peningkatan kinerja koperasi pasar sehingga pengelola pasar tradisional semakin baik dalam memberikan pelayanan kepada anggota dan UKM yang berusaha dalam pasar tradisional dimaksud. 1. untuk mengelola pasar tradisional. Melakukan pengumpulan data dan informasi lapang. 6). usaha yang sehat dan pengurus yang memiliki dedikasi yang tinggi. Untuk mendukung program yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. 90 . Merumuskan indikator kajian penetaan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. terutama menjalankan usahanya dalam memberikan pelayanan terhadap anggota.2 Sasaran Sasaran kajian adalah: 1). belum menjamin kelangsungan koperasi untuk memenuhi harapan di atas. maka penulis melakukan Kajian pada tahun 2007 mengenai Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan dana bergulir pengembangan Pasar Tradisional.3 Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan adalah penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Menyiapkan panduan dan kuesioner pengumpulan data dari pengurus koperasi. Melakukan pembahasan konsep kajian untuk penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional.

Jenis dan Sumber Data Sesuai dengan lingkup kajian dan tujuan yang ingin dicapai. 2. di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupatan/kota. dari sejumlah responden yang memungkinkan dapat mewakili pembina koperasi pengelola pasar tradisional. Definisi Koperasi. Data Data dan informasi yang dihimpun digali dari berbagai sumber. dalam melakukan kegiatannya berdasarkan pada prinsip koperasi. 91 . Data dan informasi dari pengurus koperasi. meliputi: 1. Dengan model analisis ini. Informasi dari instansi terkait dan litetatur yang relevan. Koperasi adalah perkumpulan otonomi dari orangorang yang berhimpun secara sukarela untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi. adil dan makmur dalam tata perekonomian nasional. Undang-undang dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan koperasi. Nomor 25 Tahun 1��2. Perumusan jatidiri koperasi menurut ICA di Manchaster (ICA Cooperative Identity Statement/ICS) tahun 1995. maka kegiatan ini menghimpun beberapa macam data dan informasi. Diskusi ini dilakukan untuk memperoleh data yang representatif.1 Pemahaman Koperasi Koperasi sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang ha atau badan hukum koperasi. b). Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan usaha berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju. pendekatan partisipatif. sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. d). Informasi pengawasan anggota dalam RAT. seperti tertuang dalam UU Republik Indonesia. antara lain mencakup: a).4 Metodologi Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah penelitian lapang dengan metode Analisis Deskriptif. Data dan informasi kelengkapan organisasi dan tatalaksana koperasi. Data dan informasi dari pembina koperasi propinsi dan kabupaten/kota. II. Wilayah Kajian Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar analisis dilakukan diskusi dengan pembina koperasi. c). f).Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 1. terdiri dari: 1. Tinjauan Teoritis 2. e). pembahasan hasil analisa dapat dilakukan secara komprehensif dan selanjutnya menyusun ruang lingkup wilayah dan pendataan. Tentang Perkoperasian.

b.3 Ciri-ciri Organisasi Koperasi Koperasi. 7). demokratis. Prinsip-prinsip (sebagai penjabaran nilai-nilai). prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a). 5). Kemandrian. g).JURNAL VOLUME 4 . yang terdiri dari 7 (tujuh) butir yang dituangkan dalam 2 ayat. Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa masing-masing anggota. kejujuran. yaitu: 1). Pengelolaan dilakukan secara demokratis. dan 5 menetapkan prinsip koperasi Indonesia. Kerjasama diantara koperasi. 3). pada dasarnya hampir sama (identik) walaupun dalam penerapannya terdapat perbedaan tetapi tidak signifikan.2 Ciri-ciri Koperasi Indonesia Indonesia termasuk salah satu negara yang menerbitkan perundang-undangan yang khusus mengatur koperasi. 3. 2. agar anggotanya meraih keuntungan yang lebih baik. Pengendalian oleh anggota secara demokratis. 3. Undang-undang ndangan (UU) yang berlaku saat ini adalah UU RI Nomor 25 Tahun 1992. Perbedaan itu antara lain: a. Keanggotaan sukarela dan Keanggotaan sukarela dan terbuka. Kepedulian terhadap komunitas. persamaan. Pendidikan. Tentang perkoperasian. Ketujuh butir prinsip koperasi Indonesia di atas. Koperasi dibentuk bukan untuk mengejar keuntungan bagi perusahaan koperasi sendiri. 6). Koperasi memiliki nilai-nilai menolong diri sendiri.AGUSTUS 2009 : 88-115 2. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. yaitu: 1). keterbukaan. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. Ciri-ciri koperasi Indonesia secara umum dituangkan dalam pasal 2. pelatihan dan informasi. tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Muenker menyatakan adanya ciri-ciri khusus koperasi sebagai organisasi usaha. melainkan diberi tugas melayani anggotanya. perusahaan koperasi diukur dari kemampuannya memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangga para anggotanya. 4). 2). d). Nilai-nilai. Otonomi dan kebebasan. bila dibandingkan dengan prinsip koperasi yang berlaku secara internasional berdasarkan rumusan kongres ICA di Manchaster 1995. e). Partisipasi ekonomi anggota. c). b). Pendidikan perkoperasian. merupakan bentuk perusahaan yang unik berbeda dengan bentuk perusahaan kapitalistik pada umumnya. f). tanggung jawab sendiri. 4. Adanya orang yang menjalin 92 . Kerjasama antar koperasi. Hans H. 2. Keberhasilan perusahaan kapitalistik diukur dari kemampuan meraih laba.

yaitu pelaksanaan proses managemen itu sendiri (Caska 2003. 51). pengorganisasian pelaksanaan dan pengendalian. Ketiganya dalam organisasi koperasi memiliki tugas mengembangkan kerjasama sehingga membentuk suatu kelompok pengelola. 2). maka pemilik perusahaan kapitalistik tidak identik dengan pelanggannya. Adanya suatu perusahaan yang didirikan. 3). The term management refers to the institution and to the function (Helmut Wagner 1994. sedangkan managemen sebagai fungsi berarti keseluruhan tugas/fungsi yang harus dijalankan dalam rangka menjamin keberhasilan organisasi dalam jangka panjang. material dan keuangan koperasi untuk mencapai tujuan koperasi yang ditetapkan. maka hilang pula ciri perusahaannya sebagai anggota koperasi. Oleh sebab itu. Optimal mengandung maksud bahwa sumber daya koperasi dikelola secara efisien dan efektif. Sebagai perbandingan. 3).Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) hubungan antara sesamanya atas dasar sekurang-kurangnya satu kepentingan ekonomi yang sama. Apabila identitas ganda dari anggota koperasi tersebut hilang. Status khusus tersebut merupakan identitas koperasi dimana anggota memiliki identitas ganda atau prinsip ganda anggota (dual identity). Menurut UU Nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 21 menyatakan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari (a) Rapat Anggota. Managemen koperasi dapat diartikan dalam dua pendekatan yaitu.4 Konsep Managemen Koperasi Managemen koperasi adalah proses mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia. Untuk menjalankan fungsifungsi dari perangkat organisasi koperasi (rapat anggota. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi pada koperasi. (b) Pengurus. dibiayai. Adanya dorongan (motivasi) untuk mengorganisasikan diri di dalam kelompok dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. melalui tahap perencanaan. pertama pendekatan kebudayaaan. yaitu untuk menghasilkan manfaat yang dapat digunakan oleh anggotanya dalam upaya meningkatkan kegiatan ekonominya. 579). Proses. melalui usaha-usaha bersama atas dasar swadaya dan saling tolong menolong. Managemen koperasi bersifat terbuka (tentunya terhadap anggotanya) serta dilengkapi dengan prinsip-prinsip koperasi. 2). Managemen sebagai institusi menggambarkan orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas organisasi. dalam koperasi berlaku prinsip-prinsip: 1). (c) Pengawas. 2. dan diawasi secara bersama sama sebagai sarana untuk mencapai sasaran bersama bagi para anggota. Satu anggota satu hak suara tanpa melihat besar kecilnya kontribusi modal masing-masing. yaitu menunjuk kepada orang/ kelompok orang dan yang kedua pendekatan proses. berarti managemen koperasi merupakan serangkaian kegiatan yang teratur. pengurus dan 93 .

Notulen Rapat Pengurus dan Rapat Pengawas. Oleh sebab itu. dan sekaligus mampu menyerap berbagai masukan yang diperlukan bagi pertumbuhan lembaga yang bersangkutan. Kelembagaan merupakan unsur esensial yang tidak bisa dijiplak mentah-mentah atau dipinjam dari luar. ada 16 (enam belas) buku yang dianjurkan untuk dimiliki oleh koperasi yaitu: Buku Daftar: Anggota. tidak seperti halnya modal dan teknologi (Soetrisno. 8) menyebutkan bahwa fungsi managemen meliputi planning. mata pencaharian. Banyak pakar berpendapat bahwa fungsi managemen sangat bervariasi.JURNAL VOLUME 4 . Manajer dan Karyawan. Instansi Terkait. secara bertahap dan harmonis harus dilakukan berdasarkan koordinasi fungsi managemen. 1989). Dalam penyelenggaraan administrasi organisasi koperasi. khususnya pemberdayaan UMKM. dan pasar. bisnis ritel karena sifatnya yang padat karya dan lingkup usahanya yang relatif luas. umur. koperasi melaksanakan pembukuan/akuntansi koperasi secara tertib lengkap dan akurat sesuai norma pembukuan/akuntasi yang ditentukan. nama lengkap. jenis kelamin. tanggal masuk menjadi anggota. pengembangan kelembagaan pada hakikatnya ditujukan agar dapat mendukung kemampuan pengusaha kecil dan koperasi melalui: 1). Ketidakmampuan usaha kecil. 94 . 2. penataan kelembagaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mengembangkan usaha. Buku Simpanan Anggota dan Buku Inventaris. Pertumbuhan kelembagaan harus diarahkan agar dapat mengimbangi gejolak. Pengurus. Buku Agenda. menengah.AGUSTUS 2009 : 88-115 pengawas). Buku Daftar Anggota memuat nomor urut anggota. leading. mampu mengantisipasi berbagai perubahan sosial. yang relatif belum berkembang. alamat. cap ibu jari anggota dan atau tanda tangan anggota. Saran/Anjuran Pejabat. organizing. Dalam penyelenggaraan administrasi usaha dan keuangan. Buku Saran Anggota dan Saran Pengawas. Dengan demikian. Pengawas. teknologi. bahwa kelembagaan adalah faktor strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi terutama di sektor pertanian. Misalnya menurut Griffin (1990. Buku Catatan Kejadian Penting. controling. dalam bidang ekonomi. Buku Tamu.5 Konsepsi Penataan Kelembagaan Program bantuan perkuatan yang disalurkan Kementerian Negara Koperasi dan UKM selama ini. Hal ini karena kita masih kurang menyadari. dan koperasi untuk mengikuti gerak pembangunan ekonomi terutama disebabkan adanya kelemahan akses mereka di bidang permodalan. informasi. masih kurang memperhatikan unsur kelembagaan sebagai faktor penting untuk menjamin keberhasilan dan kelangsungan pembangunan. industri kerajinan. Selain itu juga harus ada buku-buku antara lain: Keputusan Rapat Anggota. and decisison making.

sehingga fungsi institusi sebagai pengatur alokasi sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan mengalami kegagalan dan dapat menimbulkan kesenjangan. karenanya tidak dimasukan sebagai faktor strategis dalam kalkulus perencanaan. secara positif dan normatif menjadi sangat besar. 5). a) Batas juridiksi yang menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam sistem serta menyangkut batas otoritas dan kekuasaan. 4). mungkin perlu diperhatikan pendapat Pakpahan (1990) yang memberikan batasan bahwa kelembagaan adalah ”suatu sistem organisasi yang dapat mengontrol sumber daya”. material. Kecenderungan penerapan model indikatif pada umumnya akan lebih diwarnai oleh peningkatan produksi dan rata-rata pendapatan. dalam jangka waktu pendek untuk mencapai sasaran antara. Namun bagaimana pendefinisian kelembagaan itu secara tegas masih sukar dan kompleks karena sangat ditentukan oleh asumsi dan pendekatan yang digunakan. 2). adat. Untuk itu perlu disepakati terlebih dahulu bahwa karakteristik yang tercakup dalam kelembagaan adalah mengacu pada optimalitas pengalokasian sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan. modal serta institusi dari para pengusaha kecil dan koperasi. Pengembangan potensi SDM. supaya peluang koperasi menjadi lembaga penyangga pemberdayaan usaha para pengusaha kecil. Pentingnya kelembagaan dianggap sebagai faktor endogen dalam pembangunan tidak diragukan lagi. Kejelasan hak properti dalam kelembagaan 95 . Dalam kondisi ekonomi yang diwarnai kesenjangan. peran kelembagaan harus diperhitungkan sebagai faktor endogen. Banyak masalah pembangunan ekonorni muncul karena terkait dengan batas jurisdiksi. kelembagaan mempunyai karakteristik antara lain. b) Hak-hak properti. Dalam hal ini. Model perencanaan indikatif yang mengandalkan prestasi sektoral sebagai performa pembangunan ekonomi. Pembenahan masalah sindikasi perdagangan nasional dan internasional yang memungkinkan para pengusaha kecil dan koperasi dapat eksis di dalamnya. Demikian juga dalam perencanaan indikatif kelembagaan sering dilihat sebagai faktor eksogen. Seperti telah diuraikan dimuka. Ciri ini mengacu pada kepastian masalah hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum. 3). Pernantapan peran koperasi untuk mampu menjadi lembaga alternatif bagi pengembangan kemampuan para pengusaha kecil. dan atau konsensus. Akibatnya pembangunan kelembagaan jadi tertinggal. Tertinggalnya faktor kelembagaan dibandingkan dengan laju perubahan teknologi sedikit banyak ditentukan oleh model perencanaan. tidak selalu sinkron dengan tujuan akhir yang ingin dicapai.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Penciptaan iklim usaha berpihak kepada mereka yang merupakan bagian terbesar dari ekonomi rakyat. Pembenahan kondisi struktural agar lebih kondusif bagi pengembangan para pengusaha kecil dan koperasi.

III. Pasar Sebagai calon penerima perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Hal ini dapat dikategorikan pada perangkat lunak dan keras. c) Aturan reprensentasi yang dapat memastikan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam setiap proses pengambilan keputusan. Selarna ketiga karakterisitik di atas belum menjiwai lembaga yang dibentuk maka kelembagaan dimaksud tidak akan efektif terutama dalam fungsinya sebagai unsur pengatur alokasi sumber daya dan pemerataan hasil pembangunan. dan kebijakan pembangunan serta lainya yang dianggap penting. peraturan perundang-undangan.JURNAL VOLUME 4 . Umumnya mereka tidak terorganisir dan kalaupun mereka membentuk sindikasi. Termasuk di dalam analisis kelembagaan adalah bentuk-bentuk organisasi (badan hukum). tetapi bukan berarti dibangunnya berbagai organisasi/lembaga di perdesaan dapat menjawab masalah kelembagaan. Karakteristik lainnya adalah.AGUSTUS 2009 : 88-115 adalah sebagai sumber kekuatan partisipan pembangunan dalam mengembangkan akses dan pengontrolan lalu lintas dan alokasi sumber daya. Kebijakan Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Melalui Koperasi 3. mencakup nilai (baik buruknya dan benar salahnya). Dalam struktur dunia usaha yang sangat dinamis tidak memungkinkan kelompok pengusaha kecil untuk secara sendiri-sendiri mampu tumbuh dan berkembang. organisasi yang terbentuk bukan merupakan suatu sistem yang utuh sehingga tidak memiliki kriteria sebagai kelembagaan yang tangguh. Akibatnya mereka banyak menemui kesulitan untuk melibatkan diri ke dalam sistem kelembagaan ekonomi masyarakat sehingga mereka terlepas dari jangkauan atau jaringan fasilitas dan kebijaksanaan pemerintah yang sebenarnya tertuju kepada mereka. Refleksi kelembagaan dengan sendirinya sangat luas dan beragam. pranata sosial (sosial budaya). Pasar tradisional yang sedang atau akan dikembangkan diprakarsai oleh koperasi atau prakarsa Pemda dengan 96 . Dari uraian di atas dapatlah kita nyatakan bahwa kelembagaan itu sangat berdimensi normatif di samping dimensi positif. Koperasi dan Pedagang Calon Penerima Bantuan Dana Bergulir 1.1 Persyaratan Pasar Tradisional.

Mempunyai anggota sebagai pedagang minimal 30 orang. d. g. d. dan pedagang yang siap menempati kios atau los segera setelah selesai dikembangkan. Bersedia memenuhi kewajiban pelaporan secara berkala sesuai format yang ditentukan . baik dalam perencanaan. 97 . b. Organisasi. h. f. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memliki pola kepemilikan atau pemanfaatan kios dan los yang memberikan kepastian tempat berusaha bagi pedagang dalam jangka panjang. Telah berbadan hukum paling sedikit 1 (satu) tahun dan berkedudukan serta berusaha di wilayah pasar tradisional yang akan dikembangkan. Belum pernah mendapat bantuan dana bergulir serupa. Koperasi Persyaratan koperasi penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. b. Bersedia dan mampu mengelola dana bergulir pengembangan pasar tradisional sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan dibuktikan dengan surat pernyataan serta rekomendasi dari dinas. e. Mendapat persetujuan dari anggota/pedagang untuk melaksanakan program pengembangan yang dibuktikan dengan berita acara Rapat Anggota atau surat pernyataan. Pasar tradisional yang akan dikembangkan harus didukung oleh Pemda setempat. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memiliki jumlah pedagang anggota koperasi paling sedikit 30 (tiga puluh) orang. 2. managemen dan usaha koperasi dalam kondisi sehat yang dibuktikan dengan pernyataan hasil penilaian dari Dinas.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) melibatkan koperasi. pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional serta pengembalian dana bergulir secara tepat jumlah dan waktu. c. Bersedia dan mampu berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan. penentuan harga. penempatan pedagang maupun pengelolaan. c. sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Pedoman Teknis.

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

3.

Anggota Koperasi/Pedagang Kriteria anggota koperasi/pedagang penerima bantuan perkuatan dana bergulir adalah: a. b. c. d. Terdaftar sebagai kewajiban. anggota koperasi, telah memenuhi

Berdomisili dan bertempat tinggal di wilayah kerja koperasi Sanggup dan bersedia mentaati peraturan dan memnuhi persyaratan yang ditetapkan oleh koperasi. Tidak memiliki tunggakan pinjaman pada bank atau lembaga lain.

3.2

Penetapan, pencairan, pemanfaatan dan pengembalian bantuan dana bergulir 1. Penetapan Koperasi Penetapan koperasi calon penerima dana bergulir dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Keuangan kabupaten/kota melalui tahapan sebagai berikut: a. Menerima permohonan dari koperasi calon penerima dana bergulir yang dilampiri dengan identitas diri Pengurus berupa KTP, bukti keanggotaan pada Koperasi dan Berita Acara Pemilihan Pengurus yang diketahui lurah setempat. b. Mengadakan penelitan dan peniliain terhadap pemenuhan persyaratan Koperasi penerima. c. Mengumumkan hasil penelitian dan penilain koperasi calon penerima pada papan Pengumuman di kantor kecamatan tempat kedudukan Koperasi dan pada dinas/instansi kabupaten/kota setempat. d. Menetapkan calon koperasi yang akan disusulkan kepada Menteri paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal pengumuman dengan Surat Keputusan Kepala Dinas yang membidangi pengembangan koperasi dilampiri berita acara hasil penilaian yang ditandatangani paling sedikti oleh 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah anggota Pokja. e. Menyampaikan hasil seleksi calon koperasi penerima dana bergulir Pokja Keuangan Propinsi untuk diteruskan kepada Pokja Keauangan Pusat dan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha.

98

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat)

2.

Tatacara pencairan bantuan Tata cara pencairan bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Menteri menetapkan koperasi penerima bantuan perkuatan dengan memperhatikan usulan koperasi yang disampaikan oleh bupati/walikota setempat. b. Melalui Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Menteri menyampaikan pemberitahuan penetapan sebagaimana dimaksud huruf a kepada koperasi yang bersangkutan melalui Pokja Keuangan kabupaten/kota. c. Koperasi penerima bantuan perkuatan yang telah ditetapkan Menteri, mengajukan permohonan pencairan dan rencana penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir kepada Menteri atau Pokja Keuangan kabupaten/kota atau dinas secara bertingkat. d. Ketua dan bendahara koperasi penerima dana bergulir membuka nomor rekening tabungan di kantor cabang bank terdekat atas nama koperasi yang berfungsi sebagai rekening penampungan koperasi. e. Menteri meneliti kelengkapan permohonan koperasi penerima bantuan perkuatan dan selanjutnya diajukan ke KPKN-I untuk mentransfer dana bantuan perkuatan tersebut ke rekening penampungan masing-masing koperasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam Bidang Keuangan Negara.

3.

Penggunaan Tata cara penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir untuk pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Dana bergulir digunakan oleh koperasi penerima untuk kegiatan sebagai berikut: 1). Pembangunan kios atau los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional; 2). Renovasi kios dan los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional. b. Penggunaan dana dari rekening penampungan koperasi dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dituangkan dalam proposal yang diajukan. c. Jasa yang timbul pada rekening penampungan koperasi sebelum digunakan wajib terlebih dahulu dipindahbukukan oleh koperasi ke rekening perguliran koperasi.

99

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

4.

Penyaluran Tata cara penyaluran dana bergulir dari koperasi kepada anggotanya adalah sebagai berikut: a. Pedagang anggota koperasi mengajukan permohonan pinjaman untuk pembangunan atau renovasi kios atau los kepada koperasi. Pedagang anggota yang memenuhi syarat ketentuan koperasi membuat perjanjian kredit dengan koperasi untuk menentukan jumlah pinjaman, jangka waktu pengembalian dan besarnya jasa pinjaman. Atas dasar permohonan anggotanya, koperasi melaksanakan kegiatan pembangunan atau renovasi pasar tradisional baik dilaksankan sendiri oleh koperasi meupun kerjasama dengan pihak ketiga. Setelah pembangunan atau renovasi pasar selesai, koperasi melaksanakan serah terima kios atau los dengan anggota sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara anggota dan koperasi sebagimana dimaksud butir b).

b.

c.

d.

5.

Pengembalian. Tata cara pengambilan dana bergulir adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Jangka waktu pengembalian dana bergulir koperasi adalah 8 (delapan) tahun. Terhadap dana bergulir sebagaiman huruf a diberlakukan grace period selam 1 (satu) tahun. Koperasi melakukan penagihan pada menyetorkannya kepada Bank setiap bulan. anggota dan

Koperasi mebukukan secara terpisah antara pengembalian dana bergulir dan jasa operasional dari anggota Pengembalian dana bergulir dari anggota disetorkan pada rekening perguliran koperasi, sedangkan jasa/bunga dari anggota disetorkan pada rekening jasa koperasi. Bunga yang timbul pada rekening perguliran koperasi sebelum digulirkan kembali diakumulasikan pada rekening perguliran koperasi. Dana pada rekening perguliran koperasi hanya dapat dicairkan untuk keperluan perguliran kepada koperasi lain dengan ketetapan Menteri.

f.

g.

100

Anggota menyetor angsuran pokok dan jasa kepada koperasi melalui unit simpan pinjam koperasi. Dana bergulir pada program ini khusus untuk keperluan pengembangan pasar tradisional oleh koperasi. Dalam hal anggota membayar uang muka atau DP (down payment) maka besarnya total pokok pinjaman berkurang sebesar uang muka yang dibayarkan. Jasa dibayar anggota sejak serah terima kios atau los.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 6. g. 7. e. c. d. Alokasi pemanfaatan jasa/bunga sebagaimana dimaksud huruf a) diatur sesuai dengan ketentuan di Juknis. Pemanfaatan jasa untuk biaya monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud huruf b). f. Besarnya pokok angsuran per bulan setiap anggota adalah: jumlah total dibagi jumlah bulan angsuran. Tata cara Perguliran Dana adalah sebagai berikut: a. Penetapan dan pemanfaatan jasa. Pengembalian pokok pinjaman dimulai setelah berakhir masa grace period yaitu bulan ke-13 setelah serah terima kios atau los. 101 . Tata cara Penetapan dan Pemanfaatan Jasa atas pinjaman diatur sebagai berikut: a. b. Besarnya jasa yang harus dibayarkan anggota setiap bulan adalah 1% dikali sisa pokok pinjaman. c. Jangka waktu pengembalian pinjaman dari anggota selamalamanya 8 (delapan) tahun. b. Pengembalian Dana Bergulir dari Anggota Tata cara pengembalian dana bergulir dari anggota kepada koperasi penerima dana bergulir adalah sebagai berikut: a. ditetapkan berdasarkan persetujuan Menteri. 8. Koperasi penerima dana bergulir dikenakan jasa atau bunga menurun sebesar 12% per tahun efektif dari sisa pokok. Perguliran Dana.

dan belum ada kepastian kapan akan dibuka pasar tersebut. c. Proses pemindahbukuan dari rekening perguliran koperasi penerima dana kepada rekening penampungan koperasi penerima berikutnya dilakukan oleh koperasi dengan persetujuan atau contra sign dari bupati/walikota. namun demikian pasar yang sudah dibangun dengan anggaran APBN tahun 2003 sebesar 1. dengan jumlah dana yang telah direalisasikan sebesar Rp 34. Propinsi Nangro Aceh Darussalam. Dana pada rekening perguliran koperasi penerima dana hanya dapat dicairkan khusus untuk keperluan perguliran kepada koperasi penerima dana berikutnya dengan ketetapan menteri. Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa jalan masuk ke pasar hanya satu jalan.5 milyar belum disalurkan kepada anggota. Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah melakukan pengembangan pasar tradisional di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupaten/kota serta jumlah koperasi sebanyak 9 (sembilan) koperasi pasar. d. Proses perguliran dari satu koperasi kepada koperasi lainnya ditetapkan oleh menteri atas usulan dari bupati/walikota.2 Keragaan Kelembagaan Koperasi Pasar 1. dan kios dan los yang dibangun sudah terbengkalai selama 2 tahun lebih. Perguliran antar koperasi dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu seluruh dana dikembalikan.JURNAL VOLUME 4 .1 Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Dari data sekunder yang diperoleh dari Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha. dapat disampaikan seperti pada tabel 1. 102 . Kabupaten Gayo Lues di Koperasi Pasar Pelita Karya Koperasi Pasar Pelita Karya ini.AGUSTUS 2009 : 88-115 b. sementara Pemda mengharapkan adanya dua (2) jalan tembus menuju pasar. IV. berada di Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu koperasi pasar yang berkesempatan untuk mengelola bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.125 miliar. Data hasil kunjungan kepada koperasi pasar penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. e. Evaluasi Terhadap Kelembagaan Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional 4. 4.

500.000.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tabel 1.2005 Tradisional dari Tahun 2003.KUD Waempubbue. Jakabaring Ps.KUD Telumpoccoe. Centong Blangkerejen Ps. Kabupaten OKU 2.000.000. serta pembelian tanah untuk jalan ke lokasi pasar dan tanah pembangunan gedung pasar telah diupayakan oleh Pemda. 000) 982. Pagar Dewa Ps. Gayo Lues Kop. Walaupun memiliki pengurus yang lengkap dan mempunyai 103  .1.Kop.000.3. Muaradua Ps.000. Anyar Ps.7. Prembun Thn Bantuan 2003 2005 2005 2005 2003 2004 2004 2003 2003 2003 Jlh Dana (Rp. sehingga usaha koperasi belum berjalan terutama usaha pertokoan.10. Kota Palembang Koperasi Pelita Karya. Performance kelembagaan koperasi pasar sangat kurang baik. Kota Bengkulu Koppas Melati. Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional dari Tahun 2003. BMT Tarbiyah. hal ini terlihat dari pelaksanaan RAT dua tahun terakhir tidak dilakukan. karena operasional koperasi belum optimal. Kabupaten Sinjai 2. Kr.Koppas Saka Selabung.500. Retno Ps.2. demikian pula usaha yang jalan hanya simpan pinjam yang tidak ditunjang dengan sistem administrasi dan pembukuan yang baik. Adapun kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional adalah pasar belum beroperasi.750.000.000.000.Alang-Alang Lebar Ps. sarana mushola dan MCK. Jatisari Ps. Kab.000.000.- Ket 2 Sumatera Selatan 3 4 5 NAD Bengkulu Jawa Tengah Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) kepada koperasi dalam pengembangan pasar tradisional berupa bantuan los dan kios.000.000. Songging Ps. Pompanua Ps.KSU Tunas Baru.7.KUD Tenri Sangkae. Kabupasten Bone 1. Kabupaten Kebumen Lokasi Pasar Ps.000.500. Kutowinarya Ps.PKL Bangun Wijaya. Kuwarasan Ps. Kabupaten Bone 4. Gw. Tanete Ps. dan simpanan wajib anggota tidak lancar penagihannya.1. Kabupaten Bone 3. Palatte Ps.652. Kota Palembang 3. Tumenggung Ps.750.2005 No  Propinsi Sulawesi Selatan Nama Koperasi Dan Alamat 1.KUD Mandiri Puncak.

Keragaan organisasi dan administrasi organisasi koperasi sebagai berikut. 22.023. Kondisi koperasi Pasar Pelita Karya lebih rinci dapat terlihat pada tabel 2. selama dua tahun tidak ada perubahan jumlah anggota yaitu sebanyak 87 Orang. demikian pula pengerjaan buku-buku adminstrasi usaha baik dan tertib.menjadi Rp. kinerjanya cukup baik dilihat dari organisasi dan usaha yang dilaklukan. berkedudukan di Kota Bengkulu.. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional ini. Koperasi ini.-. dan modal sendiri dua tahun terakhir juga meningkat yaitu dari Rp. namur angsuran pengembalian belum berjalan sebagaimana mestinya.. Adapun keragaan koperasi Pasar Pagar Dewa seperti terlihat pada tabel 3.000. Penyaluran kios sudah dilakukan kepada anggota.28. 56.JURNAL VOLUME 4 . pengurus. adalah kebijakan Pemda kota Bengkulu memfungsikan pasar belum menyentuh apa yang diharapkan oleh koperasi selaku pengelola pasar dan pedagang.dan modal luar jangka panjang tetap yaitu sebesar 3 (tiga) miliar rupiah. 119.135.000. tetapi telah melaksanakan RAT tepat waktu pada 2 tahun terakhir. namun terjadi penurunan simpanan wajib anggota. Buku-buku administrasi usaha lengkap.688. dikerjakan dengan baik dan tertib.menjadi Rp.000. Propinsi Bengkulu. tetapi tidak mendukung jalannya usaha koperasi.086. dengan dana sebesar 3 (tiga) miliar rupiah. karena penjualan kios dilakukan oleh Dinas Pasar Kota Bengkulu dan hasil penjualan juga belum diserahkan kepada koperasi sebagai pengelola dana bergulir. Usaha koperasi yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perdagangan. demikian pula pemanfaatan kios dan los yang dibangun belum maksimal. Propinsi Bengkulu yang mengelola program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisonal pada tahun 2003. 104 . pengawas dan karyawan sudah lengkap dan menjalankan tugas dengan baik. Dilain pihak modal luar jangka pendek menurun dari Rp. Kota Bengkulu di Koperasi Pasar Pagar Dewa Koperasi Pasar Pagar Dewa ini. 2. karena minimnya sarana penunjang pasar seperti sarana transportasi dan lain sebagainya. tetapi simpanan pokok dan simpanan sukarela meningkat.. karena tidak memiliki buku-buku organisasi sebagaimana layaknya koperasi yang ditentukan dalam penetapan koperasi yang boleh dapat bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Buku-buku organisasi lengkap.000.AGUSTUS 2009 : 88-115 karyawan sebanyak 3 orang.

Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pelita Karya Kec. melaks. Blangkejeren. thn 2005 = 5. tugas dgn baik 3 Org. kurang lancar Ada.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . jt Thn 2004= 18.Gayo Lues Thn.Kab. thn 2005 = 21. Keragaan Organisasi.Bendel bukti KM-KK . jt. 2005 =216 ORG Thn 2004 dan thn 2005 tdk ada 3 Org. melaks.Buku-buku besar . jt Thn 2004= 0 jt.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 2. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Tabel 2.Buku kas harian . Keragaan Organisasi. thn 2005 = 40. VI VII 105 2 . tugas dgn baik Ada Ada tidak Ada Tidak Ada Tidak lengkap Kurang Baik Tabelaris Betul Ada. jt Thn 2004= 2. tidak jalan Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Thn 2004= 12. tugas dgn baik 3 Org.Buku-buku Bantu . jt. Administrasi Organisasi. thn 2005 = 0 jt Thn 2004= 0 jt. Administrasi Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan/Perdagangan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . melaks. thn 2005 = 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V.Buku kas tabelaris .5 jt. 2004 = 120 Org. Administrasi Organisasi.

Koperasi BMT Tarbiyah. usahanya pun tidak berjalan dan tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi bagaimana seharusnya. dan penambahan anggota dari tahun 2004–2005 meningkat kurang lebih 500 Orang. namun pengelolaan pasar tradisional belum berjalan seperti yang diharapkan. Keragaan organisasi dan usaha sebagai berikut. Keragaan organisasi dan Usaha koperasi adalah sebagai berikut. Koperasi Serba Usaha Tunas Baru. di Kota Palembang.7. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. dan tertib dilakukan. Kabupaten OKU dan Kota Palembang sebanyak tiga ( 3) Koperasi 1) Koperasi Pasar Saka Selabung di Kabupaten OKU.JURNAL VOLUME 4 . sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir tepat waktu sesuai ketentuan. Bukubuku administrasi ada. namun perkembangan anggota tidak ada yaitu 99 Orang. dengan dana sebesar Rp 10 milyar. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional pada tahun 2003 dengan anggaran sebesar Rp. koperasi memiliki anggota sebanyak 50 orang dan tidak ada penambahan anggota selama dua tahun terahir. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. di Kota Palembang menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2004. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional pada tahun 2004. Propinsi Sumatera Selatan.AGUSTUS 2009 : 88-115 3. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar dikelola dan disalurkan lepada anggota dengan tertib. Buku-buku administrasi lengkap.6 milyar. serta belum melaksanakan RAT dua tahun berturut-turut. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. dan dikerjakan cukup tertib. 7 milyar. dengan dana sebesar Rp. perkembangan modal dan perolehan SHU cukup baik. modal dan perolehan SHU meningkat. Sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir walaupun waktunya kurang tepat. 2) 3) 106 .

tugas dgn baik 3 Org. thn 2005 = 40.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi . Keragaan Organisasi. melaks. jt Thn 2004= 56.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 3.453 jt. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 NO I 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .981 jt Thn 2004= 53.Bendel bukti KM-KK . 2004 =87 Org danThn. thn 2005 = 3 m 2 V VI VII 107 . AdministrasiI Organisasi. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi. Administrasi Tabel 3.023 jt.135 jt Thn 2004= 3 m. thn 2005 = 119. thn 2005 = 52. Jln Raden Patah Thn. thn 2005 = 1.698 jt Thn 2004= 18. thn 2005 = 22.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pagar Dewa.Buku kas tabelaris .Buku-buku besar . tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Administrasi Manajerial Tertib ada ada II 1 2 3 4 III 1 2 3 IV 1 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Thn 2004= 1. melaks.688 jt.086 jt Thn 2004= 28.5 jt. Keragaan Organisasi. melaks.Buku-buku Bantu . tugas dgn baik 8 Org.9 31jt.Buku kas harian . 2005 = 87 Org 14-02-2005 dan 13-03-2006 3 Org.

melaks./ 0 jt 2004/5= 2. tgs dgn baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap 2004/5 = 99 Org/= 99 Org 2004/5=1541 Org/2052 Org 30-04-2005/29-04-2006 24-08-2005/31-01-2006 5 Org.235 jt/19.509 jt 2004/5=72. Penentuan lokasi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) dan pendirian bangunan tidak dikenakan biaya.750 jt 2004/5= 0 jt.249 jt. melaks. Plg KSU Tunas Baru Jln HM Ryakudu. Pr SakaSelabung Kec. tgs dgn baik 81Org./10.637.607 jt. dan Jumlah transportasi belum memadai.Laba Usaha Peng./110. melaks.750 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 m. Keragaan Organisasi. tgs dgn baik 24Org./=29. tgs dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Manual Betul/Tertib Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Tabelaris Tertib 692.902 m.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi BMT Tarbiah Tlg. Plg Kop. Dilain pihak kendala yang dihadapi pengurus untuk pengembangan koperasi pasar./0. Administrasi Usaha Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 Tahun 2006 Di Propinsi Sumatera Selatan NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tg jawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Usaha Pengolahan Pasar . Tabel 4. tgs dgn baik 3 Org./=2. Administrasi Organisasi.825jt. / 2. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 4./3. tgs dgn baik 3 Org.Maraduo 2004/5 = 50 Org/ 50 Org tidak ada data 5 Org./ = 0 m V 2004/5= 0 jt.256 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=2.396 jt. Administrasi Organisasi.835jt 2004/5=16.340. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .312 jt 2004/5= 3.000 3.505 jt 2004/5=1.500jt.JURNAL VOLUME 4 . melaks.680jt.837 m 2004/5=10.500 jt.740 jt/ 1.dan kantor serta fasilitas umum./=7. melaks. / 3. dan Penyediaan lahan pembangunan pasar.310m. Keragaan Organisasi.350 jt 2004/5=0. tgs dgn baik 3 Org. dan rencana proposal bantuan dana bergulir.Betutu./ 0 jt 2004/5= 0 jt.Buku-buku Bantu .029 jt Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=8.406 M 2004/5= 7.123 m 108 .185 jt II  2 3 4 III  IV  2 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=2.Buku kas tabelaris -Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .Buku-buku besar .AGUSTUS 2009 : 88-115 Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan usaha koperasi pasar tradisional. melaks. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tabel 4.823 jt. antara lain.850 jt 2004/5=4.Bendel bukti KM-KK . tgs dgn baik 3 Org.207 jt./91. memberikan akses dan dukungan terhadap sumber pembiayaan melalui perbankan dan non bank. yaitu belum berfungsinya operasional pasar secara maksimal./ 0 jt 2004/5=0. melaks. melaks.Buku kas harian ./ 4.

750 juta. Usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perkembangan simpanan anggota tidak ada. Kab. namun yang melakukan pengelolaan dengan baik baru satu koperasi yaitu KUD Puncak.Telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. Kabupaten Sinjai. pasar dimaksud belum dibangun.Juta. dengan dana sebesar Rp. 1). Koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi secara tertib. namun demikian. Walaupun perolehan sisa hasil usaha meningkat. KUD ini belum melaksanakan RAT pada 2 tahun terakhir. namun demikian sampai pada saat dilakukan kunjungan kelokasi. Kab. Kabupaten Sinjai menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003.Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.750. namun demikian volume usahanya sangat kecil. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib.5 juta. KUD Puncak. 982. dan tidak ada penambahan anggota tetap sebanyak 158 Orang. dengan dana sebesar Rp. Tidak jelas penyebabnya. Unit usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan pertokoan. Buku-buku administrasi dan keuangan lengkap dan dikerjakan dengan tertib. 2). tetapi perkembangan anggota tidak ada tetap sebanyak 518 Orang. maka KUD ini digolongkan sebagai Koperasi Pasar. Pedagang sebagai penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang disalurkan oleh KUD tidak seluruhnya anggota koperasi. Bone menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. KUD Tenrisangkae Kab. KUD Waepubbue. namun tidak demikian dengan perkembangan simpanan anggota. Sudah melakukan RAT pada tahun buku 2 tahun terakhir dengan tepat waktu. dengan dana sebesar Rp. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. 3). Tidak tersedia 109 . Bone ada 3 Koperasi Pengelola dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional di propinsi Sulawesi Selatan ada 3 Koperasi Unit Desa (KUD). Propinsi Sulawesi Selatan. Usaha yang dilakukan adalah unit usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan. Sinjai dan Kab. pelayanan usaha simpan pinjam yang dilakukan lebih banyak kepada non anggota.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. Bone.

dan karyawan lengkap serta melaksanakan tugs dengan baik. 5.2. adanya pertumbuhan anggota. dengan dana sebesar Rp. Unit usaha yang dilaksanakan koperasi adalah simpan pinjam dengan volumen usaha sebesar Rp. Pembagian tugas dan wewenang pengurus. dengan demikian disimpulkan koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan administrasi pembukuan sebagaimana seharusnya. demikian pula rencana kerja.500 juta. pengawas dan karyawan ada.dan usaha pasar dengan volumen usahasebesar Rp. masyarakat ada yang menuntut hak miliknya. bahkan simpanan sukarela tidak ada. 2. telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. Pemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi organisasi lengkap dan tertib dilaksanakan. dan status tanah pengembangan pasar masih mempunyai masalah.625. 529. Perkembangan modal sendiri meningkat melalui pemupukan modal yang bersumber dari anggota. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi seprti berikut. memiliki pengurus. sehingga belum mengetahui mengenai hak dan kewajibannya. dan pengelolaan program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional telah dilakukan dengan baik.000.000. Propinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen di Koperasi Pasar Melati Koperasi Pasar Melati.AGUSTUS 2009 : 88-115 data-data organisasi dan usaha. Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir. Permasalahan yang dihadapi pengurus koperasi pasar adalah karena belum dikeluarkan petunjuk dari Menteri Negara Koperasi 110 . Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional.. sedangkan modal jangka panjang tidak ada.500.298. antara lain: status anggota masih lebih banyak calon anggota.JURNAL VOLUME 4 . pengawas. sehingga penagihan cicilan masih belum dilaksanakan terhadap anggota. Kabupaten Kebumen menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003. walaupun simpanan pokok dan simpanan wajib peningkatan dalam dua tahun terakhir sangat kecil. administrasi usaha dilakukan dengan sistim buku kas tabelaris dan sistim akuntansi dan memiliki buku-buku lengkap serta dikerjakan dengan baik. Dilain pihak perkembangan modal luar meningkat khususnya modal jangka pendek. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 5.

798 jt/41. pola RAT yang sudah ada kurang tepat untuk dilaksanakan.900jt/0. Administrasi Organisasi.500.968. tgs dgn baik 5 Org.812.Dana Bergulir dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Administrasi Usaha dan Pasar Tradisional Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 II  2 3 4 III  2 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Adminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistim Pembukuan SP Volume Usaha : .000 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt IV  2 V VI VII  .727 jt 2004/5= 61.366 36. tugas dgn baik 9 Org. melaks.980jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 10 0 jt / 100 jt KUD Tentri Sangkae.000 Ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=1.529. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. tgs dgn baik 3 Org.300.000 14.Buku-buku Bantu .Bendel bukti KM-KK .Buku kas tabelaris -Buku pendukung Sistem akuntansi . melaks.800 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=5.163.383jt/ =14.Buku-buku besar .515. tgs dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tidak Tertib 11.607. melaks. Administrasi Usaha Tabel. Kab.607jt /61. 5 Keragaan Organisasi.300. Sinjai 2004/5 = 518 Org/518 Org 21-03-2005/20-01-2006 3 Org.052.000 570.426 jt 2004/5=41.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) dan UKM. 980 jt/557.075 jt 2004/5=0.900 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5=557.Laba Usaha Pertokoan . Bone 2004/5 = 158 Org/158 Org 05-01-2005/18-02-2006 3 Org. tgs dgn baik Tidak ada data 4 Org.500.798 jt 2004/5=14.426 jt/5. jt KUD Waempubbue.383. jt 2004/5=61. tugas dgn baik 3 Org.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang KUD Puncak. Tabel.Buku kas harian . Kab.052.Non Anggota . melaks.800 6.Untuk Anggota . maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya.439. melaks. tugas dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tertib 933. melaks.075 jt/1.Non Anggota .024jt / 50. melaks.000 1. dan pembayaran cicilan kios tidak rutin dilakukan anggota. perihal pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.000 17. tgs dgn baik Tidak Lengkap Tidak Baik Stndar Akuntansi Tidak Tertib 599.000 11.607jt/64. jt 2004/5=114. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. Administrasi Organisasi.000 599. melaks.000 1.366 363.Laba Usaha Administrasi Usaha Sistem buku tabelaris . Kab.750. Bone 2004/5= tidak ada data tidak ada data 3 Org. 5 Keragaan Organisasi.Untuk Anggota .

melaks.227.500.AGUSTUS 2009 : 88-115 Tabel 6. Administrasi Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Volume Usaha : . Keragaan Organisasi.Buku kas tabelaris .538 jt 2004/5= 183.678 jt/70.Bendel bukti KM-KK .110jt/ 5.646. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Tabel 6.Laba Usaha Usaha Pertokoan/Perdagangan . Administrasi Usaha Keragaan Organisasi.Buku kas harian .Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .153 jt 2004/5=13.505 10.Buku-buku Bantu .JURNAL VOLUME 4 .950 2.Dwi Karsa – Kebumen 2004 = 1002 Org dan 2005 = 1033 Org 16-02-2005 dan 16-02-2006 5 Org.035 jt /195.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Melati Jl.552.Laba Usaha Peng.116 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5= 5.625. melaks. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Betul/Tertib 529.000 15.944 2.297 jt/15.Buku-buku besar . melaks. tugas dgn baik 7 Org. AdministrasiI Organisasi.873 jt 2004/5= 0 jt / = 0 jt 2004/5=61.298. tugas dgn baik 3 Org.260 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V VI VII 112 .dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.Laba Usaha Usaha Pengolahan Pasar .

7. Melakukan sosialisasi penataan kelembagaan koperasi kepada calon penerima bantuan perkuatan dana bergulir pasar tradisional terhadap pengurus. Mengecek kebenaran laporan pengurus/pengelola koperasi tentang pengelolaan organisasi dan usaha yang dilaksanakan. apakah sesuai dengan laporan yang disampaikan kepada Tim. Kelembagaan Koperasi Pasar Untuk perbaikan pelaksanakan penataan kelembagaan koperasi penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang akan datang. 8.3 Langkah-Langkah Penataan Tradisional. 113 . 4. tatalaksana dan administrasi usaha koperasi pasar yang mengajukan permohonan bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. sesuai kebutuhan. 6. Melakukan kunjungan ke koperasi yang terdaftar sebagai calon penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional untuk melakukan evaluasi. terutama menyangkut adminiatrasi keuangan dan usaha koperasi. pengelola dan anggota/kader koperasi. pengawas. maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. pengelola supaya menyelenggarakan pembukuan sesuai standar akuntasi keuangan koperasi yang berlaku. 2. dan penyelesaian untuk perbaikan pengelolaan koperasi yang baik dan disertai contoh-contoh konkrit. Memberikan saran-saran pembenahan tata usaha organisasi dan managemen kepada pengurus/pengelola baik kelembagaan maupun usaha koperasi. Mempersiapkan formulir angket isian.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. penjelasan. Mengecek kelengkapan buku-buku administrasi koperasi sebagaimana ditetapkan (16 buku) dan menguji ketertiban pelaksanaannya. Dalam mengelola administrasi usaha koperasi. untuk memperoleh data yang baik. untuk mengetahui kelengkapan organisasi. pengelola dan pengawas dengan keterangan dari anggota tentang kebenaran tertib administrasi dan tertib usaha koperasi. 3. Mengkroscek keterangan yang disampaikan pengurus. 5. Memberikan saran.

dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. Laporan pertanggungjawaban pengurus belum memenuhi standar pelaporan sebagaimana layaknya. diskusi temu usaha. khususnya pengelola bantuan perkuatan atau sejenisnya. Hal ini terkait dengan kurang tertibnya administrasi organisasi dan usaha serta lemahnya kemampuan SDM koperasi dalam pemahaman administrasi managemen. Dalam penunjukan/penetapan koperasi pelaksana program. Koperasi Pengelola bantuan dana bergulir perlu memiliki sistem administrasi yang lengkap sebagai dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengelola dana publik. 114 . juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. pada hal RAT adalah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. kapasitas dan tanggung jawabnya terhadap kegiatan koperasi pengelola pasar tradisional sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing dalam managemen koperasi. 4. agar terlebih dahulu dilakukan penataan kelembagaan terhadap koperasi calon pengelola bantuan perkuatan. Kegiatan pembinaan ini difokuskan pada 2. Kesimpulan dan Saran Hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pasar penerima program bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang telah dilaksanakan. pendidikan dan latihan. Pengelolaan dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional masih kurang tertib sesuai dengan ketentuan.AGUSTUS 2009 : 88-115 V. Kelembagaan koperasi pasar tradisional sangat perlu didata. Meningkatkan kemampuan managerial dan kompetensi SDM koperasi (anggota. Pelaksanaan RAT pada beberapa koperasi belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. pengurus. 3. mengingat dari sampel yang ditinjau diberbagai propinsi. kondisi kepemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi sangat kurang baik. monitoring dan evaluasi secara reguler oleh pejabat pembina koperasi. Pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. 5. Badan Pengawas dan Karyawan Koperasi) untuk membangun komitmen. dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. maka dianjurkan koperasi pengelola bantuan dana bergulir pembangunan pasar tradisional agar memiliki buku-buku tersebut di atas. pengendalian. Untuk itu perlu diintensifkan pelaksanaan bimbingan konsultasi.JURNAL VOLUME 4 . 8. 6. 7.

Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Mengah R. Yokyakarta. Jakarta.September 2008. Tentang Pedoman Pemeringkatan Koperasi. BPFE. Kementerian Negara Koperasi dan UKM.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) peningkatan kemampuan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. (2008). Kajian Pengendalian Anggota pada Koperasi Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Koperasi.I. Jakarta. Jakarta. Soediyono Reksoprayitno. Saudin Sijabat. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM R. (2008). Jakarta. Kecil dan Menengah. Tentang Usaha Mikro. 115 . 2 Tahun 2007. Jakarta. Pegadaian Versus Bank Umum (Menilai Profil Yang Potensial Untuk Menjadi Lembaga Perkreditan Rakyat). Pedagang kaki Lima : Entrepreneur Yang Terabaikan. (2006). (2008). ---------------. Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Oleh Koperasi. Peraturan Pemerintah R. (2007). Analis IS-LM dan PermintaanPenawaran Agregatif. (2004.I. --------------. (2007). Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Halomoan Tamba. Pembinaan Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Kelembagaan Koperasi. (2000). Saudin Sijabat. (2007).I.I. R. Saudin Sijabat. Tentang Perkoperasian. 29 Tahun XXII 2006. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Saudin Sijabat. Jakarta -------------. Infokop Volume 16 . Infokop No. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Kamus Istilah Pemberdayaan Koperasi dan UKM. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. --------------. Nomor : 22/PER/M. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Volume 3 – September 2008. Potret Iklim Usaha Pemberdayaan UKMK. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. R. (2007). -------------.I. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Nomor : 9 Tahun 1995. Infokop Volume 15 No. Jakarta. (2007). KUKM/IV/200��. Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM.I. Jakarta. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Ekonomi Makro. Kementerian Kementerian Negara Koperasi dan UKM R.

b) partial planning. promosi pemasaran I. d) time management with product demand fluctuation. posed at from the increasing of profit mean. Some problems which often arise and lessen effective promotion is: a) the minim of socialization. kualitas. 2) The labor absorption improvement. peer review 8 Mei s. and also c) to know most efficient and effective promotion program to support development of MSMEs. kuantitas. maupun spesifikasi suatu barang yang diminati masyarakat. Artikel diterima 18 Mei 200�. pemasaran. review terakhir �� �uli 200� Kabid. Penyelenggaraan. having the character of quadratic to improvement of omset. Promotion affect positively to 1) Improvement of profit and omset of MSMEs. Informasi pasar disatu sisi berupa informasi tentang barang-barang hasil produksi UMKM dan kebutuhan atau kecenderungan pasar. informasi pasar..JURNAL VOLUME 4 .d.AGUSTUS 2009 : 116-139 KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)*) Indra Idris**) dan Sri Lestari***) Abstract Study aim to: a) to measure the impact of MSMEs. untuk itu perlu dibangun sistem pemasaran bagi UMKM yang lebih baik. pasar. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian) Eks Pegawai Asdep Urusan Penelitian UKM sebagai Pemerhati KUKM 116 . *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Penelitian UKM tahun 200��. 3) Improvement of production technology. c) the lack of location information with the product especially related to product demand and goods to be promoted and also. Result of four activities (as ranked) 1) Trading Board 2) Meeting Business. 8 �uni 200�. Untuk memenuhi permintaan pasar dan selera pasar serta menghadapi persaingan global menuntut inovasi dan kreatifitas para pelaku usaha termasuk dalam aspek teknologi.1 Latar Belakang Salah satu kendala yang dihadapi oleh UMKM adalah akses pasar. PENDAHULUAN 1. 4). Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan informasi pasar. System management improvement. b) to know problems faced and dominant factors which are influencing the effective product marketing promotion of MSMEs. yaitu jenis barang. product marketing promotion. 3) Exhibition and 4) Mission Trade.

Dampak lebih lanjut yang diharapkan adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran. pemerintah dan pihak-pihak lainnya. sedangkan program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah jumlahnya relatif masih sedikit. tetapi frekuensinya belum mencukupi. UMKM sendiri. telah dilakukan promosi pemasaran oleh Instansi pemerintah. Adanya permasalahan internal UMKM serta perkembangan lingkungan dan teknologi yang demikian cepat menyebabkan UMKM belum mampu mengakses informasi pasar. Disamping promosi secara individual UMKM juga melaksanakan kegiatan promosi pemasaran lainnya seperti iklan di media masa.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Persaingan pasar yang semakin terbuka menuntut semua pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku bisnis yang terjadi. Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) diketahui bahwa antara tahun 2001 sampai dengan bulan Agustus tahun 2007. Dari data Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). maupun para stakeholder lainnya. Perlu komitmen berbagai pihak untuk memberdayakannya terutama meningkatkan akses pasar melalui peningkatan akses informasi dan teknologi bagi UMKM. 117 . Kegiatan promosi pemasaran diharapkan dapat mendorong UMKM meningkatkan efesiensi dan produktifitas. Bentuk promosi invidual ini cenderung memiliki jangkauan pasar yang relatif sempit (tingkat daerah dan nasional saja). Pengembangan sistem informasi untuk UMKM selama satu dekade terakhir ini memang sudah dilaksanakan baik oleh UMKM sendiri. dibandingkan dengan jumlah dan jenis produk UMKM. penyebaran brosur dan leaflet. serta meningkatkan kemampuan dalam memperbaiki kualitas teknologi dan managemen usahanya. pemasangan spanduk. dengan perincian 76 kali di dalam negeri dan 51 kali di luar negeri. Jumlah UMKM yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut mencapai 2. Program promosi pemasaran produk UMKM pada intinya adalah ditujukan untuk memperkenalkan produk UMKM kepasaran nasional dan internasional. terutama dalam berbagai bentuk promosi produk UMKM.864 unit usaha. dan pihak-pihak pihak lainnya sebanyak 127 kali.478 orang dari 1. Frekuensi keikutsertaan UMKM tersebut relatif besar. Pelaksanaan kegiatan promosi pemasaran produk UMKM memang telah dilaksanakan baik oleh pemerintah. bila tidak ingin tergilas atau lenyap sama sekali dalam pertarungan pasar. tetapi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah jenis UMKM dan jumlah jenis barang yang diproduksi oleh UMKM. iklan reklame dan lain-lain yang bersifat parsial. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh UMKM sendiri ruang lingkupnya sangat terbatas.

2) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran produk UMKM. 3) Mengetahui bentuk program promosi yang paling efektif dan efisien dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang diindikasi dari peningkatan omset dan laba UMKM. terhadap peningkatan omset. maka diperlukan kajian eksploratif evaluatif untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut 1. perbaikan teknologi serta pengembangan sistem managemen usaha UMKM.AGUSTUS 2009 : 116-139 Sejalan dengan uraian di atas. 3) Mendapatkan solusi pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi serta menetapkan dan mengembangkan bentuk promosi pemasaran yang efektif. 1. 118 . penyerapan tenaga. baik yang dilaksanakan di dalam maupun di luar negeri. laba. Apakah program promosi dalam berbagai bentuk ditingkat nasional maupun internasional tersebut telah memberikan dampak nyata (signifikan) terhadap peningkatan produksi dan pangsa pasar UMKM? 2. 2) Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. UMKM sendiri maupun pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya? 3. Jika terjadi kenaikan produksi dan omset UMKM. Apa permasalahan yang dihadapi dalam upaya meninglkatan efektifitas berbagai kegiatan promosi yang telah dan yang bisa dilakukan? 4.3 Sasaran Kajian Sasaran Kajian ini adalah: 1) Mengetahui tingkat pengaruh promosi pemasaran UMKM terhadap perluasan pangsa produk UMKM.2 Tujuan Kajian Kajian ini bertujuan untuk: 1) Mengukur dampak kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dalam berbagai bentuk. apakah itu karena adanya promosi yang diprakarsai dan dilakukan baik oleh pemerintah.JURNAL VOLUME 4 . Apa saja faktor kunci yang menentukan tingkat keberhasilan program promosi pemasaran UMKM ? 1. serta.

Penjualan langsung ini umumnya kurang menguntungkan karena laba yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Untuk tujuan tersebut produsen harus mengalokasikan sejumlah sumberdaya yang jumlahnya cukup besar. peluang pasar. Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Teori ekonomi menjelaskan bahwa konsep pemasaran meliputi 4 unsur pendukung yaitu produk. misi dagang dan temu bisnis. maka promosi harus dilakukan secara profesional. Beberapa kegiatan promosi yang paling banyak dilakukan oleh UMKM dan para stakeholder adalah berupa pameran. tempat atau lokasi dan promosi produk. Keempat aspek ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran. dan belum berorientasi sistem bisnis modern. Dengan dikenalnya produk UMKM diharapkan dapat meningkatkan volume usaha sehingga pada akhirnya meningkatkan laba. Beberapa faktor yang harus diperhitungkan oleh UMKM sebagai produsen menurut Harry (1968) adalah kelayakan penggunaan dana. Menurut Ramlan (2001) dalam pameran/festival terbuka peluang bagi UMKM untuk menjual produknya secara langsung juga terbuka. harga. KERANGKA PEMIKIRAN 2. UMKM harus dapat memilih bentuk promosi yang memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. trent atau mode serta faktor-faktor eksternal lainnya.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) II. yang mengutamakan relasi dan kesinambungan pasar. barang substitusi dan komplementer. jenis barang yang akan dipasarkan. pesaing. Kebiasaan ini menandakan bahwa UMKM masih terobsesi pada kesempatan pameran lokal yang menjadi ajang penjualan langsung. selera konsumen atas barang tersebut. Hal tersebut berdampak meningkatnya tabungan (saving) guna mendukung upaya perluasan skala usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja.1 Kerangka Dasar Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. dengan tujuan utama untuk memperoleh pembeli (buyers). Dari keempat unsur tersebut promosi merupakan unsur terakhir yang dianggap memiliki posisi strategis sebagai faktor kunci yang menghubungkan atau memperkenalkan produk yang dihasilkan UMKM kepada konsumen atau pasar. Beberapa hasil pengamatan empiris seperti yang dilakukan poleh Wachidin (2002) dan Sujito (2001) menunjukkan bahwa pada kesempatan pameran UMKM lebih cenderung menjual produknya secara retail. trading board. Pengertian promosi adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk memperkenalkan UMKM dan produknya kepada konsumen. 119 .

AGUSTUS 2009 : 116-139 Temu bisnis atau misi dagang pada dasarnya juga merupakan media yang bertujuan untuk mempromosikan produk kepada buyer/ pasar. Promosi tersebut memang diperlukan UMKM untuk menarik konsumen dari daerah yang sudah menggunakan produk sejenis. Ruang lingkup promosi hanya terbatas diantara produsen dengan beberapa buyer saja. atau para pengusaha kelas menengah dan besar. 2. trading house. dan menuntut pengetahuan luas dari produsen dan buyer tentang barang dan managemen pemasarannya. Pembangunan dan penyelenggaraan promosi ini hanya mungkin dilaksanakan oleh pemerintah. menyangkut semua aspek perdagangan dan kebijakan pemerintah yang mendukung kelancaran perdagangan. Biasanya dalam misi dagang dilaksanakan dalam ruang lingkup yang sangat luas. pameran/exhibition dan lainnya. Sebagai misal yang telah dilakukan oleh pemerintah China dan pemerintah Vietnam di Afrika Barat dan beberapa negara Arab. Dampaknya sangat besar karena pembelian biasanya dilakukan dalam bentuk partai besar dan jangka waktu yang relatif panjang. temu bisnis. sehingga sulit dilakukan. Sujito (2001) mengemukakan bahwa berdasarkan pengamatannya. ada wacana untuk membangun trading house dan bussines center di beberapa negara konsumen.2 Kerangka Operasional Kajian ini difokuskan untuk melihat seberapa besar dampak dari pelaksanaan promosi terhadap perluasan pasar yang berdampak pada peningkatan omset UMKM. UMKM skala usaha kecil menuju menengah di sektor industri kerajinan yang sering mengikuti kegiatan promosi. memerlukan biaya besar. Keikutsertaan mereka dalam kegiatan promosi pemasaran yang bersifat terkoordinir tersebut juga dikarenakan apabila mereka melakukan promosi secara mandiri tidak memiliki pengetahuan dan biaya yang cukup besar. Misi dagang Misi dagang umumnya hanya melibatkan para pengusaha menengah dan besar. Temu bisnis juga merupakan kegiatan yang cukup luas. Kementerian Negara Koperasi dan UMKM merencanakan dan telah melaksanakan berbagai program promosi bagi UMKM berupa misi dagang. yang diproduksi oleh UMKM. Secara skematis hubungan antar keterkaitan faktor penentu. 120 . Atas pertimbangan tersebut di atas maka untuk mendukung pertumbuhan bisnis UMKM.JURNAL VOLUME 4 . dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada gambar 1. Djauhari (2006) mengatakan bahwa disamping bentuk promosi di atas yang telah pernah dilakukan oleh UMKM.

Tabel 1. Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset. 3.2 7.85 121 53.5 64.68 14.41 13.18 35. penyelenggara promosi. Omset. Dalam Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah faktor akan unsur-unsur tersebut akan menjadi variabel bebas yang Omset Omset Omset Omset Pembeli Pembeli Pembeli ( %) %) ( %) ( %) dapat ditentukanPembeli signifikansi pengaruhnya (dengan (menggunakan %) ( %) ( %) ( %) 40. jenis produk yang ingin dipromosikan. kualitas produk.I.81 53.3 Variabel Analisis A.00 42. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan (%) Faktor Penentukan Keberhasilan Beberapa unsur yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program promosi pemasaran dalam kajian Pameran Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board ini diasumsikan menjadi faktor kunci (keyKnaikan Knaikan analisis factor).4 41.26 11.1 8. ProduktifitasProduktifitas dan Pendapatan UKM peningkatan dan Pendapatan UKM 2.9 39.98 54.88 50.8 14.46 61. Propinsi Jateng D.55 37. biaya promosi lokasi atau tempat promosi.7 10.39 30.15 65.5 62.5 43.Y.85 10. KaitanKaitan Dampak Pameran terhadap peningkatanpeningkatan Gambar 1.70 47.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Dari gambar 1 dapat dikemukakan bahwa keberhasilan kegiatan promosi pemasaran ditentukan oleh banyak faktor antara lain kondisi internal UMKM. 2.15 70. lama waktu penyelenggaran.30 28. prosedur dan keikutsertaan dalam promosi. Jatim Rata-rata /Propinsi 48.27 Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM No 1. PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO KEGIATAN PROMOSI Peningkatas Kualitas Produk Dan SDM Perluasan Pasar Produk UMKMK Inovasi Teknologi Peningkatan Omset Peningkatan Pendapatan /Laba Pertambahan Investasi Perbaikan Produktifitas Gambar 1.4  .05 59. frekuensi keikutsertaan dalam promosi.16 28.92 17. jumlah pesaing dan kondisi persaingan.5 63.

4) Peningkatan teknologi produksi. 9) Prosedur dan keikutsertaan.3 Metoda Analisis Kajian ini menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. 10) Kualitas barang produk. Selain itu kajian dilaksanakan di tiga propinsi contoh yaitu Jawa Tengah. yaitu terdiri dari: 1) Kondisi internal UMKM. Analisis kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi ideal dan kondisi riil di lapang. 4). Bentuk promosi. Adapun data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait dan berbagai referensi. Frekuensi keikutsertaan dalam kegiatan promosi pemasaran. 11) Jumlah pesaing dan kondisi persaingan.1 Ruang Lingkup Substansi Kajian Ruang lingkup kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM b). Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan acak terbatas (purposive random sampling). METODA KAJIAN DAN ANALISIS 3. 2) Jenis produk yang ingin di pamerkan/pasarkan. 5) Peningkatan kualitas managemen usaha. 6). B. 7) Lokasi atau tempat.2 Metoda Pengumpulan Data Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda survey terbatas. 3) Peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja.Yogyakarta. 5). 3. 3) Menetapkan faktorfaktor dominan yang mempengaruhi efektifitas program promosi pemasaran produk UMKM.AGUSTUS 2009 : 116-139 model-model kualitatif maupun kuantitatif (matematis). Biaya promosi. baik dari penjualan langsung (untuk promosi dalam bentuk pameran) dan barang yang terjual sesudah dilaksanakannya kegiatan promosi (pemesanan). 8) Lama waktu penyelenggaran. Analisis kuantitatif menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan matematik antara lain: 122 . Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari responden sample.JURNAL VOLUME 4 . dan Jawa Timur. Penyelenggara pameran. 2) Peningkatan laba. Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas modelmodel promosi pemasaran produk UMKM. D I. 3). III. Dampak keberhasilan pelaksanaan promosi Dampak yang dikaji dengan keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran yaitu: 1) Peningkatan omset. 3.

Frekuensi Keikutsertaan=X3. sedangkan bila K < 1. bila K > 1 dinilai layak. Adapun peubah bebas terdiri dari beberapa faktor-faktor yang diduga berpengaruh. Tema promosi= X5. E=Galat (error). Prosedur Prosedur keikutsertaan dalam promosi=X9. Lama waktu penyelenggaran=X8. dan X= Peubah bebas (independent variable). Jumlah pesaing dan kondisi persaingan=X11. dimana: K = Kelayakan keikutsertaan UMKM.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 1) Analisa ekonomi sederhana berupa model analisa biaya manfaat (benefid cost ratio). Jenis produk yang ingin di pamerkan/ pasarkan=X2. Adapun model dasar yang digunakan adalah: Y = a + Bx + e Y = Peubah tetap yaitu kinerja/indikator keberhasilan pameran dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang terdiri dari. yang ditujukan untuk menentukan kelayakan keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan promosi. Adapun model dasar yang digunakan adalah K = M/B. 123 . Perluasan Pasar Produk UMKM. Lokasi atau tempat=X7. B=Koefisien regresi. baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan program promosi UKMK yaitu: Kondisi internal UMKM=X1. Peningkatan teknologi produksi. Kualitas barang=X10. Biaya promosi= X6. Penyelenggara promosi= X4. UMKM dinilai tidak layak untuk ikut promosi Manfaat yang diperoleh berupa kenaikan laba UMKM dari keikutsertaannya dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) Biaya yang dikeluarkan oleh UMKM untuk ikut serta dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) M = B = 2) Regresi linier berganda (multy variety analisys) untuk menentukan ada tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent terhadap dependent variable. 3) Oleh karena adanya dugaan bahwa ada pengaruh silang antar tiap peubah bebas (independet variable) terhadap kinerja peubah tetap (dependent variable) maka akan digunakan model analisis regresi berjenjang (step wise analisys). Y1 = Y2 = Yang mana A=Intersep (constanta).

dan Jumlah Peserta Hasil kajian di propinsi Jawa Tengah. Jumlah peserta yang diikutkan sebanyak 312. Hasil pengamatan menyimpulkan bahwa rendahnya jumlah penyelenggaraan promosi dan keikutsertaan UMKM dalam 124 . Berikutnya adalah trading board sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta. Temu bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang. digunakan untuk menjawab indikator dampak kegiatan promosi pemasaran terhadap peningkatan Kualitas SDM yang diindikasikan dari perubahan pola pikir produsen baik dalam hal managemen.1 Penyelenggaraan Promosi Pemasaran 4.2 per propinsi per tahun.082 orang. Pelaksanaan. Jenis.yang diperkirakan mencapai 8. dengan frekuensi kegiatan selama lima tahun terakhir sebanyak 29 kali dan peserta 1. penggunaan teknologi.JURNAL VOLUME 4 . Sedangkan untuk mengetahui pengaruh berjenjang antar dependent variable akan digunakan step wise analisys dengan Uji a (alpha test). serta seberapa besar pengaruh dari independent variable terhadap dependent variable akan digunakan Uji t (t test).I.AGUSTUS 2009 : 116-139 Untuk menguji ada tidaknya pengaruh. kualitas produk dan orientasi pasar. Yogyakarta dan Jawa Timar.6 orang per tahun. Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan program Statistical Analisys System (SAS) dengan uji t dan Uji a sampai dengan tingkat kepercayaan (level of significant) 90%. atau 104.1. 4) Model analisis komparatif.94 juta unit usaha. Jumlah ini menurut mereka sudah cukup memadai. Nampaknya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada di ketiga propinsi contoh. IV. tiap propinsi contoh rata-rata telah mengirim UMKM ikut dalam program promosi sebanyak 14. D. diikuti dengan trading board. dengan tingkat kepercayaan 90 %.6 kali per tahun. menunjukkan bahwa bentuk promosi pemasaran yang paling banyak diikuti UMKM adalah pameran.1. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS 4. Frekuensi keikutsertaan. misi dagang dan kontak dagang. Bentuk promosi yang relatif banyak menyerap peserta adalah pameran. Sedangkan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta adalah temu bisnis. Frekwensi . dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73 orang.

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari)

kegiatan tersebut adalah disebabkan adanya berbagai kendala antara lain: a) Keterbatasan dana dan SDM, baik dikalangan stakeholder (terutama pemerintah), maupun dikalangan UMKM sendiri; b) Terbatasnya kepedulian dan komitmen dari kalangan yang berkepentingan langsung dengan kegiatan tersebut dan; c) Kurangnya inisiatif UMKM sendiri untuk melakukan promosi pemasaran. 4.1.2. Keikutsertaan UMKM dalam Kegiatan Promosi Menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 yaitu sebagian besar UMKM bergerak di sektor industri kerajinan, dengan peserta sebanyak 833 orang (53,23%), pertambangan/penggalian sebanyak 353 orang (22,56%), dan pariwisata 302 orang (19,29%). Sedangkan UMKM yang bergerak di sektor lainnya sangat sedikit, yaitu hanya 84 orang (5,47%), Dari aspek skala usaha, dari 1.565 orang yang ikut dalam kegiatan promosi pemasaran pertanian terdiri dari 171 orang (10,93%) tergolong usaha mikro, 922 orang (58,91%) tergolong usaha kecil dan 472 orang (30,16%) tergolong kelompok usaha menengah. Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi juga dipengaruhi oleh: a) Faktor penyelenggara (pusat, internasional, lokal); b) Tempat, lama/waktu penyelenggaraan promosi, jarak tempat promosi dengan produsen; c) Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang; d) Besar biaya dan atau ketersedian dan sumberdana dari penyelenggara serta; e) Inisiatif dan atau kepedulian dari stakeholder. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas penyelenggaraan promosi antara lain; a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. 4.1.3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Dilihat dari tempat dan waktu penyelenggaraan promosi pemasaran ditunjukkan bahwa: (a) Dari 73 kali keikutsertaan UMKM di ketiga propinsi contoh dalam kegiatan promosi

125

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 116-139

selama lima tahun tahun terakhir, 14 kali di laksanakan di luar negeri (pameran, misi dagang dan temu bisnis), 59 kali ditingkat nasional dan tingkat propinsi, (b) Rata-rata waktu penyelenggaraan promosi berbeda-beda sesuai bentuk promosi dan tempat promosi pemasaran, dengan rincian sebagai berikut: misi dagang waktu efektif 3,43 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, temu bisnis waktu efektif 4 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, Pameran di luar negeri waktu efektif 11,33 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan dan pulang, pameran di tingkat nasional waktu efektif 11 hari termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang Dibandingkan dengan temuan Sujito (1997), waktu yang disediakan untuk berbagai bentuk kegiatan promosi ini relatif cukup dan kendalanya adalah waktu untuk mempersiapkan pameran. Dari hasil kajian menyatakan bahwa 36,6% responden memerlukan waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan keikutsertaaan mereka dalam kegiatan promosi, 63,4% responden memerlukan waktu sekitar satu sampai tiga bulan untuk mempersiapkan pameran, namun waktu yang diberikan oleh penyelenggara biasanya hanya sekitar dua minggu sampai dengan satu bulan. Dengan sempitnya waktu tersebut biasanya calon peserta menghadapi masalah dalam mempersiapkan modal, bahan baku, dan sebagainya. 4.1.4. Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kajian mengenai penyelenggara dan biaya promosi kegiatan promosi pemasaran yang diikuti UMKM selama 5 tahun terakhir di 3 Propinsi contoh adalah sebagai berikut: a. Penyelenggara atau pemrakarsa kegiatan promosi, terbanyak (43 kali atau 58,90%) adalah pemerintah, pusat maupun daerah, kelompok swasta/asossiasi perdagangan/komoditi sebanyak 7 kali atau 9,58%, dan dari negara-negara lain baik swasta maupun pemerintahnya sebanya 13 kali atau 30,23% . b. Besarnya biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan. Komponen biaya promosi di luar modal kerja yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dipamerkan adalah: a) Sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) Biaya pengepakan; d) Biaya pengangkutan dan biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran).

126

PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA

FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI

LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) KEGIATAN (Indra Idris dan Sri Lestari) PROMOSI

Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di luar negeri biaya yang dikeluarkan untuk ikut dalam kegiatan tersebut rataPeningkatas rata Rp 21,67 juta (misi dagang), Rp 23,33Inovasi juta (temu bisnis), Perluasan Pasar Kualitas Produk yang mana Produk UMKMK Teknologi 75,4% dibebankan pada pelaku usaha dan sisanya Dan SDM 24,6% ditanggung oleh penyelenggara atau stakeholder. Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di dalam negeri, (umumnya pameran), biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp 3,6 juta Peningkatan Omset sampai dengan Rp 4,2 juta, dengan rata-rata sebesar Rp 3,9 juta, yang mana rata-rata biaya yang dikeluarkan (sharing) UMKM Peningkatan Pendapatan untuk promosi di dalam negeri (pameran) adalah 70,2% dari /Laba total biaya promosi, kekurangannya yang 39,8% ditanggung oleh penyelenggara.
Pertambahan Investasi Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa biaya promosi yang harus ditanggung oleh UMKM relatif mahal. Hal tersebut menyebabkan UMKM terutama kelompok pengusaha Perbaikan mikro dan pengusaha kecil, tidak mampu ikut promosi. Produktifitas Gambar

4.2

Dampak Promosi Terhadap Peningkatan Jumlah Pembeli UMKM
1.

diikuti UMKM contoh di 3 Propinsi terhadap peningkatan jumlah pembeli dan omset UMKM seperti ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaranterhadap peningkatan (%) (%) Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM
Pameran Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 48,5 40,9 62,5 39,5 64,5 43,4 63,4 41,26 Misi Dagang Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 11,92 30,88 17,85 50,46 10,41 61,70 13,39 47,68 Temu Bisnis Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 14,1 14,16 8,2 28,00 7,7 42,30 10,8 28,15 Trading Board Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 65,05 35,15 59,55 70,81 37,98 53,85 54,18 53,27

Kaitan Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset, peningkatan Produktifitas dan Pendapatanpemasaran yang pernah Dampak berbagai bentuk promosi UKM

No 1. 2. 3.

Propinsi Jateng D.I.Y. Jatim Rata-rata /Propinsi

4.2.1

Dampak Promosi dalam Bentuk Pameran 

Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan pameran, yaitu terjadi peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 63,4% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 41,26% pada UMKM setelah mengikuti kegiatan promosi pemasaran dalam bentuk pameran, yang mana UMKM Jawa Timur mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 64,5% dan 43,4% .

127

15%) Besarnya dampak misi dagang terhadap peningkatan omset terutama dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk yang dipromosikan dalam jumlah tertentu.68% dibanding pameran 41.15% pada UMKM setelah mengikuti temu bisnis. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 10.68% pada UMKM setelah mengikuti misi dagang/kontak dagang. Dari aspek peningkatan omset.I.2. peningkatan omset-nya 128 .1 juta per UKM.2 Dampak Misi Dagang /Kontak Dagang Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan misi dagang/kontak dagang.04%). Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119.2 juta.6 juta per tahun (28.1%. 2) Pembelian melalui pemesanan produk yang dipromosikan.39% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 47. 4. 4. untuk jangka waktu tertentu.39% lebih rendah dari peningkatan jumlah pembeli dampak pameran (63. yaitu sewaktu dilaksanakannya pameran yang mana jumlah pembeli mencapai ratarata 103 orang per propinsi. Misi dagang/kontak dagang memberikan dampak peningkatan jumlah pembeli 13. yang berdampak pada peningkatan produksi.4%) tapi memberikan dampak peningkatan omset lebih tinggi 47.8 juta menjadi Rp 158.AGUSTUS 2009 : 116-139 Kenaikan jumlah pembeli dapat dihitung dari peningkatan: 1) Pembelian langsung. terlihat bahwa tambahan omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran mencapai Rp 46. Sedangkan keberhasilan pameran ditunjukkan dari keberhasilan peningkatan permintaan dalam jangka panjang.8% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 28.3 Dampak Temu Bisnis Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan temu bisnis.26% dan temu bisnis (28.85% dan 50. atau meningkat sebesar Rp 33.JURNAL VOLUME 4 . Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 17. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 14. UMKM D. yaitu: terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 13. nilai jual (omset) dan bermuara peningkatan laba UMKM.46%.2.

peningkatan omset-nya paling tinggi mencapai 70. Persentase pertambahan omset ternyata 2. Kenaikan jumlah pembeli ini relatif cukup signifikan. a) Harga pembelian menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan. 4. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar.3 Dampak Promosi Pemasaran Terhadap Laba UMKM. UMKM Jawa Timur jumlah pembelinya hanya meningkat 7. yaitu 129 . Terlihat bahwa pertambahan rata-rata jumlah pembeli linier dengan pertambahan omset. peningkatan omset-nya paling tinggi yaitu mencapai 42. Peningkatan tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.16%.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 29.77%. Yogyakarta dari pertambahan jumlah pembeli membuat peningkatan omset tertinggi. a) Harga penjualan menjadi lebih rendah. hal ini dimungkinkan karena trading board umumnya memiliki jangkauan daerah yang cukup luas.7%. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 54. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. peningkatan omset-nya hanya 35.18% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 53. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual. UMKM D.8 kali lebih besar dari pertambahan jumlah pembeli.I.27% pada UMKM setelah mengikuti trading board.14% dari sebelum mengikuti kegiatan promosi pemasaran. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu.4 Dampak Trading Board Dari tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan trading board.05%. Persentase pertambahan omset UMKM Jawa Tengah hanya meningkatkan omset separuhnya.I.2. Yogyakarta jumlah pembelinya meningkat 59.81%. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 65.15%. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.30%. UMKM D. 4.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) hanya 14. Dan Penyerapan Tenaga Kerja Dampak promosi pemasaran pada tabel 2 menunjukan rata-rata meningkatkan laba 44. Di sini terlihat bahwa pertambahan jumlah pembeli tidak linier dengan pertambahan omset.

12 Tenaga Laba Kerja 31.44 21.37 20. yaitu meningkatkanTeknologi dan sebesar 60.60 1.11 5.73 2.68 sebesar6.72 31.18% 0.AGUSTUS 2009 : 116-139 meningkatkan laba UMKM sebesar 51.21 11.JURNAL VOLUME 4 . Yogya Jawa Timur Rata-rata 39.33 0.05 2. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.73 % dari laba UMKM Managemen Usaha sebelumTeknologi mengikuti pameran.11 43.35 0. 2.53% dari sebelum mengikuti temu bisnis. yaitu laba UMKM 5.54 35.54% penyerapan tenaga kerja sebesar Usaha dari sebelum mengikuti pameran. yaitu meningkatkan Awal Sesudah Awal Sesudah Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 130 2 .76 34.73 2.80 40. Peningkatan laba dan0. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan Tenaga Kerja Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Pameran Laba Jawa Tengah D.21 kegiatan misi dagang/kontak dagang.17 30.18 8.50 PROPINSI 1) Dampak pameran yang pernah diikuti UMKM di 3 propinsi Tabel 3.29 42.17 mengikuti misi dagang.19 0.22 penyerapan tenaga 1.04 2.89 0. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.90 Tenaga Laba Kerja 46.74 42.53 32.63 meningkatkan dan 5.08 16.63% dan meningkatkan contoh rata-rata meningkatkan terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen 30.88 30.29 61. Peningkatan penyerapan tenaga kerja Managemen Usaha ter tinggi dicapai oleh UMKM D.29 2.67 35.11 53.21 10.63 Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board Rataan Tenaga Kerja 28.35 31.90% dan 2.13 7.I.54 58.46% dan penyerapan tenaga kerja 29.66 33. Dampak Promosi Pemasaran laba 43.06 0.77 1.14 Propinsi Tenaga Laba Kerja 25.27 10. Yogyakarta meningkat 35.11% dari sebelum 2.18 35. Peningkatan Peningkatan 2) Dampak misi dagang/kontak dagang yang telah diikuti UMKM Skor Persen Skor Persen di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 58.I.96 2. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan dan Tabel 2.65 penyerapan tenaga kerja 46.29% (Nilai skor) (Nilai skor) dibanding sebelum mengikuti pameran.55 1.98 meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 35. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Dampak Terhadap Jawa Timur.30 17.99 35.88 1.50 Tenaga Laba Kerja 11.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 20.94 20.24 62.16 30.88 meningkatkan 1.99% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.23 51.87 kerja tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Tengah.39 39.52 51.01 61. Adapun peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM Yogyakarta.08 41.06 29.14% dari sebelum mengikuti promosi pemasaran.98 0.31 62. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi. Adapun dampak dari masing-masing jenis promosi pemasaran dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 2.47 0.73 43.76 1.46 31.48 28.10 3) Dampak temu bisnis yang diikuti UMKM di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 43.70 44.52 28.15% dibanding sebelum mengikuti 1.72 60.70 18.15 43.

76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan promosi trading board.70 35. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba dan peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM D. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board 4.01 2.16 produksi.11 53.06 2.96 2.27 1.39 39.70 hasil kajian 43.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) penyerapan tenaga kerja 31.11 0.05 1.37 Persen 10.80 40.88 b) Kedua 30.76 34.37 poin dibandingkan dengan waktu sebelum dilaksanakan program promosi yang hanya mencapai 2 131 .73 31.44 21.94 Jawa Timur dengan menggunakan metoda 43.67 35. ditunjukkan pada tabel 3.18 46.48 Jawa Tengah 39.54 58.10 Dari tabel 3 terlihat bahwa keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran berdampak pada: 1) Pengembangan teknologi yang digunakan.22 0.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis. dalam 28.21 Persen 17.54 28.I.21 0.35 2.30 0.76 2.63 30.73 5.53 (skoring).74 1.24 62. Yogya variabel tetap yang bersifat kualitatif ini.89 2.17 42.29 31.66 20.77 61.14 penilaian 32.46 30.18 0.13 0.65 11. Data44.87 5.08 11.15 43. 35.90% dibanding sebelum mengikuti kegiatan trading board.70% dari sebelum mengikuti trading board.47 7.72 31.35 16.33). Penyerapan Tenaga Kerja yaitu meningkatkan penyerapan tenaga kerja 31.11 Rata-rata lapang yang sudah diubah dalam bentuk kuantitatif tersebut.06 kajian dikuantifkan 60. yaitu terjadi peningkatan nilai skor rata-rata sebesar 0.04 10.88 1.72 61. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.31 2.52 D. Tabel 3.60 8.88 33.68 1.17 1.73 5.98 6. 4) Dampak trading board yang telah diikuti UMKM di 3 propinsi contoh meningkatkan laba rata-rata 32.50 20.23 51. 28.19 2.99 18.52 51.12 31.98 2.29 42.55 Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.50 29.12% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 31. Adapun Tabel 2. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Tabel 3.33 1. nilai skor dampak promosi terhadap pengembangan teknologi produksi termasuk dalam kategori sedang (2.90 35. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.I Yogyakarta.29 Peningkatan kemampuan managemen usaha.4 Dampak Non Finansial Pameran Dampak non finansial dari keikutsertaan UMKM dalam kegiatan Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Laba Laba Laba Laba Laba Kerja Kerja Kerja Kerja Kerja promosi pemasaran adalah terdiri dari: a) Peningkatan teknologi 25.08 41.21 Propinsi Rataan PROPINSI Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 1.63 0. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen Usaha Teknologi Dan Managemen Usaha Dampak Terhadap Teknologi dan Managemen Usaha Teknologi Managemen Usaha (Nilai skor) (Nilai skor) Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.

28 41.322 5. Promosi Peningk.1% yaitu dari 1.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.2 113.52 31. 2) Pengembangan sistem managemen usaha.27 1.04 77.54 34.15 Manfaat Non Finansial Perbaikan Teknologi 2.18 30. terutama laba dan omset. bagi UMKM yang memiliki ratio tambahan laba perbandingan cost dan benefid ratio (B/C rasio) kurang dari satu kegiatan promosi dinilai kurang layak.26 biaya terhadap peningkatan omset-nya10.55 rata-rata mencapai Temu Bisnis 47.55 9.7 juta.06 2.69 26.85 184.39 10.5 73.20 6. Tabel 4 Tabel 4 . Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran .10 ( kategori sedang).14 157.88 41. atau per tahun lima tahun Tenaga Managemen Tekno Jumlah rata Kerja logi mencapai Rp 36.5 Kelayakan Penyelenggaraan Promosi Hasil analisas kelayakan kegiatan promosi pemasaran dilihat dari aspek finansial dan non finansial (tabel 4) memperlihatkan: ) Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek finansial UMKM. laba/biaya 1.28 29.61 227. Peningk.17 136.88 70.58 26.16 75.4 357.8 61.37 12.52 58.36 178. Nilai skor sistem managemen usaha meningkat rata-rata 0. Laba 24.32 30. maupun kumulatif 180.21 Pameran rasio41.15.46 Ratio Pening kata omset/biaya 4.10 PROPINSI Omset Laba Jateng D. bagi kelompok UMKM yang ikut Produk UMKM Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi dalam promosi ditentukan oleh angka perbandingan antara pertambahan Dampak Promosi omset usaha dengan biaya promosi. 4.51 19.89 (kategori kurang) menjadi 2.342 Rasio peningk. terjadi perbaikan sistem managemen usaha diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem managemen usaha dikalangan UMKM yang telah mengikuti kegiatan promosi pemasaran.452 2.11 24.88 26.852 5.027 5.32 28.90 13.19 124.70 6.59 44.21 poin atau 11.92 117.05 Biaya Promosi 12.19 2.17 25.01 2.853 16.19 30.31 2.68 Misi Dagang 28.21 12.15 Trading Board 53. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kelayakan Finansial Pening katan Omset 60.96 (kategori kurang).54 20.30 13.48 182.27 43.AGUSTUS 2009 : 116-139 nilai skors 1.30 121.I.42 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Tabel 5.33 Perbaikan managemen 2.27 37.97 2.26 Peningk.4 183.63 43. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan oleh kondisi usaha UMKM sendiri.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen .06 32. Oleh*) karena UMKM yang turut Bentuk dalam kegiatan promosi pemasaran mengalami kenaikan rata-rata Pening Tambahan Peningk.49 11.83 54.73 21.4 118.53 35. Hasil pengamatan memperlihatkan rata-rata UMKM yang mengikuti kegiatan promosi pemasaran diketiga propinsi contoh secara agregat semua layak untuk mengikuti kegiatan tersebut karena B/C rationya rata-rata mencapai 2.8 juta.93 729.21 39.55 Rata-rata 42.9 49.35 2. Peningk.28 2.47 7.2 43. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 2) Dari aspek omset usaha.36 30.JURNAL VOLUME 4 .8 119.87 132 Jumlah 170. Ratakatan omsetOmset selama Laba Pembeli sebesar Rp 183.12 58.23 29.47 17. Karena besarnya ratarata biaya promosi maka secara parsial. maka baik secara parsial.98 6.24 34.

027 30.46 5.93 729.92 117.26 41.68 28. Managemen 6. ranking ke empat adalah misi 183.16 13. 4. Dengan nilai sebesar ini kegiatan promosi pemasaran dinilai sangat layak untuk dilakukan oleh UMKM.11%. b) Peningkatan omset setelah dilakukannya promosi dalam bentuk trading board mencapai 53.17 6.69 26.55 Rata-rata 42.33 2.51 19.42 25.31 61.87 Pameran Temu Bisnis Misi Dagang Trading Board Jumlah 170.55 26. Omset 41.6 Tingkat Keberhasilan Dari Tiap Bentuk Promosi Tabel 4 .39 10.06 30.61 227.59 44.88 Peningk.36 184. ranking kedua adalah temu1.24 5.49 rata-rata16. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 5.27 37.54 34. Tabel5.06%.2 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Dari tabel 5 dapat dikemukakan bahwa berdasarkan metoda Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan pembobotan di atas diketahui bahwa rata-rata nilai bobot dari keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran tersebut sebesar 30. Keberhasilan bentuk promosi ini dalam mendukung 3 kemampuan UMKM disebabkan oleh antara lain: a) Waktu promosi yang cukup panjang (lama).18 Tambahan Tenaga Kerja 31.28 75. b) Peningkatan laba dengan mencapai 58.27 73.342 2.01 6.10 dagang dengan nilai bobot 157.52 58. 133 .28 9.36 atau 34.8 124.69%.54 20.4 41.87%.37 12.2 113.19 dengan nilai bobot 49. serta c) Jenis produksi yang dipromosikan bisa sangat beragam.98 184.19 Ratarata 30. Laba Laba Promosi Teknologi managemen kata Adapun urutan (ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut: ranking Omset laba/biaya omset/biaya pertama adalah trading board dengan nilai bobot 227.14 157.53 35. Nilai bobot Kelayakan Finansial Manfaat Non Finansial mengindikasikan bahwa sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran Ratio Pening memiliki nilai tambah dari berbagai aspek Rasio pengamatan sebesar 30.23 29.61 atau rata-rata 26. Biaya Pening Perbaikan Perbaikan katan peningk.11 Peningk.30 121.19 atau nilai rata-rata 37.I.88 70. Tekno logi 10.32 28.88 21.97 bisnis. c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja 35. Peningk.19 29.8 119. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi Tabel pemasaran Produk UMKM Produk UMKM Dampak Promosi *) Bentuk Promosi Peningk.39%.35 2.90 Pening katan Pembeli 58.452 7. b) Biaya promosi yang relatif rendah.32 30.47 17.70 30.9 43.30 5.19 atau rata60.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti Keterangan: kegiatan promosi dalam satuan persen *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen 1) Trading Board Trading board memiliki dampak yang signifikan kesemua aspek penilaian.20 adalah pameran dengan tiga nilai bobot 180.21 24.04 77.14 atau rata-rata 30. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari bentuk promosi ini adalah: a) Peningkatan rata-rata dengan nilai bobot 227.12 43.28 2.39%.05 11.83 54.63 43.4 118.21 12.48 182.27 Peningk.5 39.15 2.852 2.342.27%.85 Jumlah 180.55 4.17 136.322 2.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 5.06 rata 37.47 1. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran PROPINSI Omset Jateng D.15 53.853 2.4 357.90% dan. Laba 32.58 26.21 24.87%.27% dari jumlah omset sebelumnya.36 178.52 13.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.73 12. 2.26 47. ranking ke 2.

hanya ada satu faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak signifikan. b) Memberikan inspirasi kepada pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar serta. Rendahnya kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan dari bentuk promosi ini. laba dan perbaikan managemen usaha. Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. Hal ini dimungkinkan karena: a) Produsen dapat berhubungan langsung dengan konsumen. Besarnya peningkatan teknologi pada temu bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan dan selera konsumen. c) Mempromosikan produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (fore ward efect). Dari beberapa indikator keberhasilan temu bisnis yang dianalis dalam kajian ini. karena tidak banyak meningkatkan penyerapan tenaga kerja.AGUSTUS 2009 : 116-139 2) Temu Bisnis Keberhasil bentuk promosi ini sangat merata dari segala aspek penilaian. 3) Pameran Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan.JURNAL VOLUME 4 . karena temu bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan omset penjualan. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. 134 . kualitas barang. temu bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. Dari aspek peningkatan omset. Dalam temu bisnis maka calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi produk yang akan ditawarkan (jenis barang. jumlah barang serta pola kerjasama atau kemitraan). Dari aspek penyerapan tenaga kerja kurang ideal. tanpa memperhatikan peningkatan jumlah pembelinya. Kehandalan pameran dari aspek penyerapan tenaga kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk yang dipromosikan adalah barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya. c) Adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-pihak lainnya untuk menjual produk teknologi yang diproduksi. b) Peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat meningkatkan investasi serta. b) Akan terbentuk adanya kerjasama dalam pemasaran produk.

37% dan 28. Bentuk promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan. Pengembangan teknologi produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki adanya peningkatan kualitas dan kuantitas barang yang ingin dibeli.8830 dan nilai keeratan hubungan 0. Dampak misi dagang diindikasikan dari kenaikan nilai bobot. dengan nilai kondisi hubungan 2) 135 . V. Biaya promosi.9113 dan nilai keeratan hubungan 0. 11) Kualitas Barang. c) Bentuk promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. 5) Promosi.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 4) Misi Dagang Keunggulan misi dagang ditunjukan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. c). Kedua aspek penilaian tersebut masing-masing 26. Promosi. ANALISIS FAKTOR BERPENGARUH KEBERHASILAN PROMOSI PEMASARAN Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran digunakan uji statistik Analisis Regresi Simultan pada tingkat kepercayaan 90% dan Principle Componen Analisis dengan tingkat kepercayaan 85%. Kondisi internal UMKM. Penyerapan tenaga kerja. c) Laba. Frekuensi Keikutsertaan 4). 6) Tema Promosi. terdapat 6 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap jumlah pembeli UMKM yaitu: a). d).8766. Jenis Produk 3). Penyelenggara promosi. adapun kinerja yang dihasilkan adalah peningkatan: a) Nilai penjualan (omset). b). B) Jumlah pembeli. 9) Waktu Promosi.8989 dan nilai keeratan hubungan 8016. e) Teknologi produksi. Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0. 10) Prosedur keikutsertaan. Kondisi Internal 2).7928.9061 b). dengan nilai kondisi hubungan 0. dan 12) Jumlah Pesaing. dengan nilai kondisi hubungan 0.8763 dan nilai keeratan hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan.9254. d). Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap nilai penjualan (omset) UMKM yaitu: a). Kualitas barang. Perbaikan sistem managemen didorong oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya.8917.7076. Terdapat 12 Peubah bebas (independent variable) yang dianalisis yaitu: 1). 7) Biaya Promosi 8) Lokasi Promosi. g) Jaringan Usaha.9213 dan nilai keeratan hubungan 0. d). f) Managemen Usaha.9616 dan nilai keeratan hubungan 0.13%.9341 dan nilai keeratan hubungan 0.

8732 dan nilai keeratan hubungan 0.8907 dan nilai keeratan hubungan 0.8698.8748. dengan nilai kondisi hubungan 0. e) Lokasi promosi. c) Frekwensi keikutsertaan. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM peningkatan managemen usaha UMKM yaitu kondisi internal UMKM. 0.7945. f) Jumlah pesaing. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu perusahaan untuk berproduksi lebih efisien.8955.7798.97139 dan nilai keeratan hubungan 0.8788 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8769. Hasil analisis menunjukan.7619.JURNAL VOLUME 4 . maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang tentang teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efesien produksi. Kondisi internal UMKM. Kondisi internal UMKM. 4) 5) 6) 136 . Lokasi promosi. Kualitas barang.8637 dan nilai keeratan hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan.8651. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8613 dan nilai keeratan hubungan 0.8392.9720 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.8731 dan nilai keeratan hubungan 0.7619.9391 dan nilai keeratan hubungan 0. g) Jumlah pesaing. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kemampuan UMKM dalam penyerapan tenaga yaitu jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 0. f) Waktu promosi. yang diperoleh dari berbagai pihak.7986. g) Jumlah pesaing. Besarnya pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut dalam kegiatan promosi.7665. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a).8709. d ).8967 dan nilai keeratan hubungan.9308 dan nilai keeratan hubungan 0. b). dengan nilai kondisi hubungan 0. 7 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a). Hasil analisis menunjukkan.8709 dan nilai keeratan hubungan 0.97139 dan nilai keeratan hubungan 0. e).78798.9109 dan nilai keeratan hubungan 0.9639 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. b).8871 dan nilai keeratan hubungan 0. Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan.AGUSTUS 2009 : 116-139 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. d) Biaya promosi.9178. dengan nilai kondisi hubungan 0. 3) Hasil analisis menunjukan terdapat. dengan nilai kondisi hubungan 0.9178. c) Penyelenggara promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. untuk itu perusahaan yang bersangkutan akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien.

9352. c) Frekuensi keikutsertaan UMKM. h) Kualitas barang. misi/kontak dagang dan temu bisnis. dengan nilai kondisi hubungan 0. 7) Hasil analisis menunjukan. Secara agregat semua usaha kecil dan menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi. trading board.9078.8854 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. VI. serta menurunkan biaya produksi.9378 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.9176 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. g) Lokasi promosi. Terdapat empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh UMKM yaitu pameran. Promosi pemasaran mampu meningkatkan laba UMKM. terdapat 8 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan jaringan pasar yaitu: a). dengan nilai kondisi hubungan 0.8987 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. f) Biaya promosi. Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (73 kali) diikuti UMKM.9207 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0.8650 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0.8769.9805 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. KESIMPULAN DAN SARAN 6.9184 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut.8759. b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta.9140.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dengan nilai kondisi hubungan 0. d) Bentuk promosi. Keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha menengah. 137 . Kondisi internal UMKM. e) Penyelenggara Promosi. 3. dengan nilai kondisi hubungan 0. 2. 9480 dan nilai keeratan hubungan 0.8609. 8243.9265. Jenis produk yang dipromosikan.8798. Sifat peningkatan laba yang tidak linier dengan peningkatan omset dikarenakan peningkatan laba ternyata bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM tetapi karena berkurangnya marjin yang terserap dalam serta pasar. dengan nilai kondisi hubungan 0.1 Kesimpulan 1. b). Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas promosi adalah: a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi).

yang diindikasikan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM. laba dan perbaikan managemen usaha. Untuk meringankan beban biaya usaha mikro mengikuti kegiatan promosi pemasaran maka diperlukan subsidi penuh dari pemerintah. Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebehasilan promosi pemasaran diperoleh hasil: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata terhadap perluasan pangsa pasar. Peningkatan teknologi produksi. Peningkatan kualitas managemen. 8. b). Promosi pemasaran berdampak nyata pada: a). 7. nasional dan internasional. Temu bisnis merupakan bentuk promosi yang dapat diandalkan. tetapi bentuk promosi ini memiliki keungulan spesifik. 2. 6. Usaha yang memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program promosi adalah: a) Memperbanyak program promosi melalui kerjasama dengan para stakeholder. e) Berpengaruh nyata terhadap pangsa pasar. c) Memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta 138 .JURNAL VOLUME 4 . Misi dagang memang memiliki total nilai bobot terendah. sedangkan temu bisnis perlu lebih didorong sehingga tidak hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi juga dapat dilakukan oleh UKM dan koperasi. dan d). b) Memfasilitasi kegiatan promosi. Pameran menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. c) Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan Laba UMKM.2 Saran 1.AGUSTUS 2009 : 116-139 4. Temu bisnis berdampak merata pada aspek peningkatan omset. c). sehingga berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (foreword efect). Trading board dapat dikembangkan di tingkat propinsi. 6. Peningkatan kualitas tekonologi. omset dan laba perusahaan. d) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam meningkatkan perolehan laba. b) Jenis dan Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba UMKM serta penigkatan kualitas teknologi. 5. misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh pemerintah. pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari kabupaten sampai dengan di tingkat internasional. Kemampuan Kemampuan penyerapan tenaga kerja. Peningkatan jumlah pembeli juga jauh lebih besar dibandingkan bentuk promosi lainnya.

Shaw. Program Pasca Sarjana Universitas Gajahmada. Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. PT. 3. Ramlan. Buletin Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional. Bharata Jakarta. Jakarta. Panglaikim. Jakarta. (2001). (1997). DAFTAR PUSTAKA Affandi. Nurachmat. Untuk mengatasi berbagai masalah dalam rangka meningkatkan efektifitas kegiatan promosi pemasaran diperlukan: a) Perencanaan yang terkoordinasi. Macam-Macam Bentuk Promosi Yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk Industri Kecil. PT. Program Magister Managemen Universitas Indonesia. Mac Graw HillBook Company.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dalam kegiatan promosi. Manulang. Wahidin. Marketing (Suatu Pengantar). 139 . serta. P. (1984). Jakarta. (1969). Introduction to Sales Management. Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan Dalam Menghadapi Pasar Global. (2002). Business Review Havard University London. (1967). (2005). c) Perhitungan waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. New York.A. Kajian Manfaat Pameran Dalam Meningkatkan Omset Industri Kecil (Thesis). Some Problem of Market Distribution. Program Pasca Sarjana Universitas Pajajaran Bandung. Tosdal. Sujito. e) Membangun kaitan (lingkage) yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara dengan semua stakeholder lainnya serta. (1984). Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran Melalui Program Promosi (Studi kasus kebijakan Perdagangan Internasional). (2001).T. Harry R. (1980). Bina Aksara. Program Doktor Bidang Ekonomi Perusahaan.R. Marketing. Managemen Promosi dan Pemasaran Produk. Jakarta. Kasali Reinal. Pembangunan Jakarta. Bina Antar Nusa Jakarta. b) Evaluasi kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan.

To identify the interrelationship among provincial level secondary cooperative with the primary cooperative of their member. review akhir �� �uli 200� **) Kabid. To identify the interrelationship based on functional group implemented by secondary cooperative to primary cooperative of their member. Koperasi primer. b). This assessment suggests so that the level of interrelationship between secondary cooperative with the primary cooperative ot their member could become stronger then capacity building. but the level of interrelationship is still weak. From the point of view of the implementation of all the vertical integration function of secondary cooperatives interrelated with the primary cooperatives of their member. This assessment were done in 8 with the objects of secondary and primary cooperative of their member. the secondary cooperative is interrelated with primary cooperatives of their members. socialization. business functions and supporting functions. Koperasi sekunder dapat Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200��.AGUSTUS 2009 : 140-160 KAJIAN TENTANG KETERKAITAN KOPERASI SEKUNDER DENGAN KOPERASI PRIMER ANGGOTANYA*) Togap Tambunan**) dan Jannes Situmorang***) Abstract Assessment on interrelation of secondary cooperative with primary cooperative of their member is aimed at: a). Kehutanan.1 Latar Belakang Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992 menyebutkan bahwa koperasi sekunder adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. This interrelationship is also significant or real. but it has a weak level of interrelationship. From the aspect of the implementation of vertical integration functions group of each institusional functions. and techniques should be increased. Artikel diterima 24 April 200�. extension. peer review 24 April 200�. Sample was determined by using purposive sampling. keterkaitan lemah. b). empowerment of cooperative principles. The result of the data analysis shows that: a). This interrelationship is significant and real. PENDAHULUAN 1. koperasi sekunder. Deputi Bidang Produksi (koordinator kajian) ***) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK *) 140 .JURNAL VOLUME 4 . through training. capacity building I.

PUSKUD. dalam menjalankan fungsinya. Juga menurut undang-undang tersebut.2 Permasalahan Fungsi koperasi sekunder secara spesifik menurut UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 adalah (1) Berfungsi sebagai jaringan dengan sekurang-kurangnya 3 anggota untuk menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar. Pendirian koperasi sekunder dalam berbagai tingkatan selama ini dikenal dengan sebutan (1) Pusat. PUSKOPTI. 1. Fungsi dan peran ini kemudian akan menciptakan berbagai manfaat koperasi di dalam perekonomian. 2005). IKPRI. Bagaimana sesungguhnya jaringan usaha yang terbentuk dan kerjasama yang dibangun? Informasi dan data-data mengenai hal ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan suatu kajian untuk menelaahnya secara khusus. INKUD. dan (2) Berfungsi sebagai ”subsidiaritas” dimana bisnis yang dilaksanakan anggota (koperasi primer) tidak dijalankan oleh koperasi sekunder sehingga tidak saling mematikan.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. GKBI. Sesuai Undang-Undang Perkoperasian. dan (2) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. INKOPDIT. PUSKOPDIT. 7 koperasi berbentuk Gabungan. Beberapa contoh Koperasi Sekunder yang dikenal antara lain INKOPOL. Sebagai sebuah lembaga. GKSI. PUSKOPKAR. dan lain-lain. IKPI. Koperasikoperasi sekunder diharapkan mampu membentuk jaringan usaha dengan koperasi-koperasi primer dan mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan. PUSKSP. Hingga saat ini tercatat terdapat 156 koperasi sekunder tingkat nasional yang terdiri dari 63 Induk Koperasi. Sesuai pasal 4 Undang-undang Nomor 25 tahun 1992. koperasi sekunder didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan 141 . koperasi sekunder harus mampu membangun dan mengembangkan potensi ekonomi koperasi anggotanya. koperasi sekunder memiliki beberapa fungsi dan peran umum. INKOPKAR. dan 86 koperasi lainnya berbentuk Pusat (Kementerian Koperasi dan UKM. fungsi dan peran tersebut adalah: (1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. dan (3) Induk. Jumlah ini belum termasuk koperasi sekunder yang tersebar disetiap provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia. (2) Gabungan.

II. Karena itu. yakni koperasi sekunder yang dibentuk oleh badan hukum koperasi primer. 1. maka koperasi sekunder memiliki tiga azas yaitu: (1) Efisiensi. Selama ini koperasi-koperasi sekunder terus terbentuk dan bertumbuh dengan berbagai aktivitas. (2) Mutual (saling melengkapi). KERANGKA PEMIKIRAN Koperasi sekunder memiliki bentuk koperasi yang khas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian. Namun eksistensi dan keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya hingga sekarang belum diketahui pasti. diperlukan kajian untuk mengetahui sejauhmana keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Identifikasi hubungan fungsional dan capacity building koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Koperasi sekunder tidak berbasis kepada orang (member based) melainkan dibentuk berdasarkan kesamaan kebutuhan organisasi. Hal ini kemudian menyebabkan terbentuknya banyak koperasi primer dan koperasi sekunder. 2). Juga belum diketahui peran koperasi sekunder menjalankan fungsi-fungsinya kepada koperasi primer anggotanya dan sebaliknya koperasi primer menjalankan kewajibannya kepada koperasi sekunder. Koperasi sekunder memiliki dua fungsi 142 . Koperasi sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) koperasi primer.JURNAL VOLUME 4 . Koperasi sekunder dapat didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. Undang-undang tersebut memberikan peluang kepada gerakan koperasi untuk mendirikan koperasi pada berbagai tingkatan sesuai kebutuhannya. Mengetahui keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Berdasarkan basis pembentukannya. Mengetahui keterkaitan berdasarkan kelompok fungsi yang dilaksanakan koperasi sekunder kepada koperasi primer anggotanya.4 Ruang Lingkup g Ruang lingkup kajian meliputi beberapa aspek antara lain: 1). 1. Identifikasi keterkaitan usaha antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya.AGUSTUS 2009 : 140-160 kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. 2). Efisiensi usaha dan bargaining position di dalam koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggotanya. dan (3) Kebersamaan. 3).3 Tujuan Kajian Tujuan kajian ini adalah untuk: 1).

PRIMERmodal. tidak dijalankan di tingkat koperasi sekunder. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Usaha Perikanan Usaha Perikanan Secara garis besar. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer 1. teknologi dan manajemen yang akses PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER lebih modern. sehingga tidak saling mematikan. peningkatan produksi KOPERASI KOPERASIdari usaha-usaha yang dijalankan. 143  . masing-masing pihak menerima manfaat yang dapat mendorong peningkatan dan pengembangan usaha secara lebih baik. INDUK PUSAT IKPI Aktivitas : Pabrik es Pemasaran antar daerah Pengadaan BBM Kebutuhan penolong.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) yaitu sebagai suatu jaringan dan sebagai subsidiaritas. adanya KOPERASI KOPERASI KOPERASI jaminan pasar bagi produknya. koperasi sekunder diharapkan mampu menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar bagi dirinya sendiri dan bagi koperasi primer anggotanya. Koperasi-koperasi sekunder mendapat manfaat sebagai pasar F2 dan menerima input dari koperasi primer. Para anggota (koperasi primer) mendapat manfaat peningkatan keuntungan secara finansial. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. Selain itu manfaat umum baik bagi koperasi ? sekunder maupun KOPERASI koperasi primer adalahSEKUNDER tercipta efisiensi usaha dan jaringan usaha yang kuat diantara mereka. gambar 1 menyajikan sebuah contoh jaringan dan subsidiaritas koperasi sekunder – koperasi primer pada bidang usaha UNDANG-UNDANG NOMOR 25 perikanan. TAHUN 1992 Gambar 1 memperlihatkan keterkaitan antara kelembagaan koperasi sekunder – primer dan SEBAGAI PILAR dalam usaha-usaha yang saling KOPERASI keterkaitan di mendukung (backward and INDONESIA PEREKONOMIAN forward linkages). dan berpeluangF1 mengembangkan bisnis ? yang lebih tinggi tingkatannya sehingga dapat bersaing dengan bisnis non-koperasi. Dari keterkaitan sesuai jaringan yang ada. Aktivitas : Pabrik jaring Pabrik pengalengan Ekspor. Sebagai jaringan. OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Aktivitas : Penangkapan Pengolahan Pelelangan Simpan pinjam KOPERASI PRIMER Pabrik es Produksi garam Pengadaan BBM Gambar Gambar 1. Sedangkan fungsi subsidiaritas memiliki arti bisnis yang dilakukan anggotanya (koperasi primer).

KerangkaPemikiranKeterkaitan Usaha dandan Kelembagaan Gambar Kerangka Pemikiran Keterkaitan Usaha Kelembagaan Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 1992 KOPERASI SEBAGAI PILAR PEREKONOMIAN INDONESIA KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER F2 F1 KOPERASI SEKUNDER ? ? OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. III. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi.1 Obyek Kajian Obyek kajian ini mencakup: (1) Koperasi sekunder tingkat provinsi (pusat dan gabungan). METODE KAJIAN 3. 2.AGUSTUS 2009 : 140-160 Sedangkan gambar 2 menyajikan skema kerangka berpikir yang digunakan dalam kajian ini. Sekunder. Primer kepada Kop. Sekunder kepada Kop. dan (2) Koperasi primer anggota. Primer F2 = Pelaksanaan kewajiban oleh Kop. Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya.JURNAL VOLUME 4 . Gambar 2. 144 . Keterangan : = Arah pembentukan koperasi = Arah pelaksanaan fungsi dan kewajiban F1 = Pelaksanaan fungsi oleh Kop.

Fungsifungsi yang harus dilaksanakan oleh masing-masing tentu sangat banyak. mengarahkan) FA3 : ikut menyusun rencana kerja dan RAPB Koperasi Sekunder FA4 : memberikan pelatihan manajerial koperasi FA5 : menegakkan implementasi nilai-nilai koperasi 145 . dan (3) Fungsi penunjang. dan dari masing-masing koperasi. Sampel koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggota dipilih berdasarkan informasi dari dinas koperasi provinsi setempat. Data primer diperoleh dari para responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun secara terstruktur. Dari lokasi kajian yang telah ditentukan. Sumatera Barat. Responden penelitian ini adalah pengurus koperasi sekunder dan pengurus koperasi primer anggotanya. 3. 3.3 Metode Penarikan Sampel (Sampling Methode) Penarikan sampel pada objek kajian dilakukan dengan metode Purposive Sampling. Sulawesi Selatan. Fungsi-fungsi tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian masing-masing: (1) Fungsi kelembagaan.1 Jenis Data Data yang dikumpulkan sebagai bahan analisis terdiri dari data primer dan data sekunder. Koperasi sekunder dimaksud adalah yang masih aktif dan memiliki keterkaitan dengan koperasi anggotanya. Kelembagaan FA1 : memberikan bimbingan dan advokasi keanggotaan FA2 : memberikan masukan mengenai RAT (menghadiri. 3. BPS tingkat provinsi. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari laporan-laporan Kementerian Koperasi dan UKM. dinas koperasi tingkat provinsi dan kabupaten.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) 3. Jawa Tengah.2 Seleksi Fungsi-fungsi Keterkaitan Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi-fungsi diantara mereka. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Barat. Seleksi fungsi-fungsi tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Petunjuk Pemeringkatan Koperasi Berkualitas dan Koperasi Berprestasi. kemudian dipilih koperasi sekunder dan primer anggota sebagai sampel. dan Kalimantan Barat.2 Lokasi dan Waktu Kajian Kajian ini telah dilaksanakan pada 8 provinsi yang memiliki koperasi sekunder masing-masing: Jawa Timur. Diperoleh 25 fungsi yang layak dijadikan faktor yang menentukan keterkaitan dimaksud. Definisi fungsi-fungsi tersebut adalah: A. (2) Fungsi usaha.

. akuntansi..........3 Metode Analisis Data a).......... FA4 sampai FA11. dan FA13......AGUSTUS 2009 : 140-160 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 B. F12 dan F13 dilaksanakan oleh koperasi primer anggota kepada koperasi sekunder..... C..JURNAL VOLUME 4 ..... 3.. sedangkan fungsi F3. Uji Chi Square (Uji χ 2 ) Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya dapat dianalisis dengan metode Chi-Square (uji χ 2 ) dengan rumus: (1) χ2 = ∑ ∑ ( f0 − fh )2 fh ... ilmiah (seminar..... FB1 sampai FB6 dan FC1 sampai FC5 dilaksanakan oleh koperasi sekunder kepada koperasi primer anggota..... Keterangan : Fungsi FA1........ 146 ... FA2. lokakarya) : membangun kerjasama antara koperasi anggota : mengupayakan kemitraan dengan pihak ketiga : mengadakan pertemuan secara periodik : menghadiri RAT Koperasi Sekunder : membagikan SHU kepada anggota : memenuhi kewajiban... Usaha FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 : memberikan pelatihan organisasi koperasi han : memberikan pelatihan keanggotaan koperasi : mengadakan pertemuan khusus.. dll) FC2 : membantu manajemen FC3 : membantu sistem informasi FC4 : membantu penyebaran informasi FC5 : membantu image (citra) koperasi.. : : : : : : membantu penyusunan business plan (rencana kerja) membantu dan membangun jaringan pemasaran membantu pengolahan/proses produksi membantu permodalan/pembiayaan produksi membantu promosi mengadakan temu usaha...... Penunjang FC1 : membantu administrasi bisnis (pembukuan....

Terima H0 memiliki arti tidak ada keterkaitan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Untuk menghitung nilai dari frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis)... Setelah perhitungan dengan metode Chi-Square. b)..... Untuk mendapatkan nilai Chi-Square. dengan derajad bebas tertentu H0 ditolak atau terima H bila : χ2 > χ2 α. 2)..Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Keterangan : χ 2 = Chi – Square fo = Frekuensi yang diperoleh dari sampel (hasil observasi) fh = Frekuensi yang diharapkan atau disebut juga frekuensi teoritis. Dihitung frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis). Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis nol/nihil (H0) dan hipotesis tandingan/alternatif (H)... dengan derajad bebas tertentu. digunakan rumus pada persamaan (2)........ Menghitung nilai Uji Chi-Square berdasarkan rumus (1).. (2) fe = (∑ f kolom) Total (∑ f baris ) . Dalam penelitian ini. dimana : fe = Frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis) Σ f kolom = Jumlah frekuensi kolom Σ f baris = Jumlah frekuensi baris Total = Jumlah baris dan kolom (keduanya harus sama)......... Uji Signifikansi Uji siginifkansi digunakan untuk menunjukkan bahwa apakah ada hubungan yang signifikan antara satu variabel dengan variabel lainnya.... Sebaliknya H0 ditolak atau terima H berarti ada keterkaitan yang signifikan antara kedua variabel.... uji signifikansi digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya melalui fungsi-fungsi yang mereka lakukan. ditempuh beberapa langkah yakni: 1).. analisis kemudian dilanjutkan dengan uji signifikansi...... Nilai χ2 diperoleh dari hasil perhitungan sesuai rumus chi square di atas... Sedangkan nilai χ2 2 α dengan derajad bebas tertentu adalah nilai chi square statistik 147 . Data frekuensi ditabulasi. dan 3). Secara statistik dinyatakan bahwa : H0 diterima bila : χ2 ≤ χ2 α......

.. Sumut.... Sumut.5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya dan keterkaitan tersebut dikatakan cukup kuat. diperoleh 33 koperasi sekunder.... Sumbar... Sulsel.... (5) PKP-RI (PKP Sumbar. Derajat hubungan di sini menunjukkan ada korelasi atau tidak antara kolom dan baris tabel kontingensi. NTT. NTT.... (4) PUSKUD MINA (Puskud Mina Jatim)...... atau dependensi dari klasifikasi-klasifikasi dalam tabel kontingensi.square n = Besar sampel... Rumus koefisien kontingensi adalah : C= χ2 χ +n 2 . Koefisien Kontingensi (C) Koefisien kontingensi digunakan untuk mengukur derajat hubungan.. Jika C = 0 maka tidak terdapat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya.. dan jika C > 0.01 yang memiliki arti kita percaya bahwa 99% hasil uji yang kita peroleh adalah sangat akurat.... Sedangan jika C < 0...... dan apakah hubungan tersebut kuat atau tidak kuat.... Jika C = 1 maka terdapat keterkaitan yang sangat kuat diantara keduanya... 148 .JURNAL VOLUME 4 ... c). Jateng.. NTT....AGUSTUS 2009 : 140-160 yang dapat dilihat pada tabel chi square standar....... asosiasi..... Derajat bebas (d... dan Kalbar). (3) PUSKOPDIT (Puskopdit Jateng. Nilai koefisien kontingensi (C) berkisar antara nol hingga satu... (2) GKSI Jateng.b) diperoleh dengan rumus: (Jumlah baris – 1) dikalikan (jumlah kolom – 1) Taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah α = 0. (7) PUSKOPPONTREN (Puskoppontren Sulsel).1 Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi Dari hasil survei lapangan pada 8 provinsi.....5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya namun keterkaitan tersebut lemah. (3) dimana : C = Koefisien kontingensi χ 2 = Nilai chi.. GAMBARAN UMUM KOPERASI SAMPEL 4.... Jumlah tersebut dibagi dalam 12 jenis koperasi masing-masing: (1) PUSKUD (Puskud Jatim... IV. Sulsel.. Lotim dan Lobar).. (6) PUSKOPPAS (Puskoppas Sulsel)... Sumut)...

06%. dan yang tidak melakukan RAT sama sekali sebanyak 6. Sumbar. Dari segi usia. Dari sisi jumlah anggota. Sesuai data yang terhimpun. sebagian koperasi-koperasi sekunder tingkat provinsi mengalami perkembangan yang makin maju. dua kali sebanyak 6. dan PUSKUD. PUSKUD memiliki anggota (KUD) yang paling banyak. Pada jumlah unit usaha. satu kali sebanyak 6. jumlah modal dan volume usaha PUSKUD. dan sisanya 36. tiga koperasi yang mencapai nilai yang paling besar adalah PUSKOPPAS.15%. tiga kali sebanyak 12. dan (12) PKSU (PKSU NTB dan Kalbar). Sulsel). sebanyak 30.12%. PUSKUD.33% koperasi berusia lebih dari 20 tahun.06% atau 2 koperasi masih menempati gadung kantor dengan status kontrak. sebanyak 33.06%. Puskopad A’DAM VII/WRB. Data ini menunjukkan masih cukup banyak koperasi sekunder yang menyeleggarakan RAT setiap tahun.06%. (9) PUSKOPWAN (Puskowan Jatim. NTT.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) (8) PUSKSP (Puskospin Jatim. NTB). Keragaan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi secara rata-rata selama 5 tahun terakhir menurut urutan nilai-nilai yang paling tinggi hingga terendah dapat dilihat pada Gambar 3. Sebanyak 24. Sumut). Sulsel. Sementara itu PUSKUD MINA mengalami kerugian dimana SHU-nya bernilai ratarata negatif dalam 5 tahun terakhir. GKSI Jateng dan PUSKOPWAN mencapai nilai terbesar. Dari sisi usaha. Sesuai data yang terkumpul. Meskipun dari modal PUSKUD memiliki modal yang paling besar namun nilai SHU-nya lebih rendah dibanding rata-rata yang dicapai oleh PUSKOPPAS dan PUSKOPPOLDA. dan sebanyak 6.70% koperasi sekunder tingkat provinsi sampel (atau 23 koperasi) sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri. Sebanyak 54. Sedangkan koperasi-koprerasi lainnya memiliki jumlah anggota lebih sedikit (kurang dari 100 unit). PUSKOPPOLDA.24% atau 8 koperasi menempati gedung kantor berstatus pinjaman. (11) PUSAT KOPERASI VETERAN (Puskop Purnawirawan & Warakawuri TNI & Polri NTT).36% berusia 3 sampai 9 tahun. Sedangkan yang melakukan RAT empat kali sebanyak 15. Ini menunjukkan mereka cukup aktif dan tetap menjalankan ketentuan administrasi secara baik.30% berusia 10 sampai 20 tahun. (10) PUSKOPPOLDA (Puskoppolda Sumbar. PUSKOPPOLDA dan PUSKUD MINA memiliki jumlah yang lebih banyak. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah mengalami perkembangan yang makin menurun. 149 .55% koperasi sekunder tingkat provinsi melakukan RAT setiap tahun dalam 5 tahun terakhir. disusul PKP–RI. sebanyak 69. Namun pada nilai SHU.

65 8. VETERAN PUS.17 291.MINA PUSKUD P.MINA 179.KOPPAS Nama Koperasi Nama Koperasi - 0.60 P.KOPDIT P.PONTREN PKSU P.52 Persen P.POLDA GKSI PUSKSP P.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Unit Us aha Kope ras i Se k unde r 7 7 P. POLDA PKSU P.KOPW AN PUSKSP GKSI PKP .MINA P. VETERAN 1349 1225 974 965 410 259 138 - 5891 17553 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah 926 553 472 381 321 99 90 36 Jt Rupiah Jumlah SHU Koperasi Sekunder Rata-rata Tingkat Solvabilitas Koperasi Sekunder -27.33 21.PONTREN P.JURNAL VOLUME 4 .63 165.43 -8.24 253.KOPPAS N am a K operasi Rata-rata Tingkat Likuiditas Koperasi Sekunder 386.34 Jt Rupiah 169. POLDA PUS.25 30. POLDA PUS. VETERAN P.87 Persen 547.89 10.RI P.08 9.KOPDIT P. VETERAN PKP .KOPDIT GKSI PKP .65 152.33 21.PONTREN P.74 5.52 8.VETERAN P. Keragaan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi 150 .KOPPAS Jumlah Modal Koperasi Sekunder 23633 PUSKUD GKSI P.KOPPAS N a m a K o p e ra s i Jumlah Volume Usaha Koperasi Sekunder 2680 2169 1656 3513 P.RI P.74 5.50 27.67 53.69 83.41 331.RI P.36 178. POLDA P.KOPWAN PUSKUD GKSI PKP .KOPPAS PUS.RI P.02 - 86. VETERAN PKP .40 75.89 6.37 54.23 P.44 349.RI PUS.52 119.KOPDIT P.51 Persen Gambar 3.74 152.RI P.KOPPAS Jumlah Anggota Koperasi Sekunder N ama Koperas i 1 1 - 2 2 2 2 3 4 6 Jumlah Unit 86 60 47 31 27 24 22 16 12 8 143 405 Jumlah Unit PUSKUD PKP .MINA PUSKSP P. POLDA PUSKUD P. VETERAN PKSU P. VETERAN PUSKSP P.57 P.MINA PKSU GKSI P.00 19.KOPDIT PUS.PONTREN P.KOPWAN P.MINA PKP .PONTREN PUSKSP PKSU P.RI PUSKUD P.MINA 411.54 Nama Koperasi - Rata-rata Tingkat Rentabilitas Koperasi Sekunder 19.KOPPAS P.PONTREN P. POLDA P.KOPDIT PUS.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.KOPPAS P.MINA P.19 10.20 156.KOPW AN P.64 51.88 63.PONTREN P.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.KOPDIT PUSKUD P.KOPW AN P.PONTREN PUSKSP P.01 123.KOPDIT PKSU P.55 11.KOPWAN PKP . POLDA PUSKUD PUS.RI P.

hampir 90% Koperasi Sekundernya aktif menyelenggarakan RAT setiap tahun selama 5 tahun terakhir.2 Koperasi Primer Anggota Koperasi primer anggota dari koperasi sekunder yang terpilih dalam penelitian ini berjumlah 107 koperasi. Tiga provinsi masing-masing NTT.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi provinsi. Dari sisi jumlah anggota. Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara kurang dari 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahun. (7) KOPPONTREN. 12 koperasi. KSP. Dari sisi permodalan. Untuk jumlah unit usaha. Ratarata Koperasi sekunder menghadiri RAT yang diselenggarakan koperasi primer anggotanya. KUD. Pada umumnya sebagian koperasi primer mengalami perkembangan yang makin maju. dan KOPPONTREN memiliki jumlah pengurus lebih banyak dibanding koperasi-koperasi lainnya. KOPWAN. (2) KUD Susu. 6 koperasi. (3) KOPDIT. Jawa Tengah. 151 . Jumlah ini dikategorikan menurut 12 jenis koperasi sekunder tingkat provinsi dengan perincian sebagai berikut: (1) KUD. dan (11) KSU. (4) KUD MINA. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah makin menurun. 9 koperasi. 4 provinsi masing-masing Jawa Timur. (9) KOPWAN. 1 koperasi. jarang dilakukan. (10) KOPPOLDA. KOPDIT. 4. (8) KSP. 2 koperasi. KSI memiliki jumlah yang lebih banyak (9 unit) diikuti masing-masing oleh KUD MINA dan KUD. hampir semua koperasi sekunder tingkat provinsi mengeluhkan kekurangan modal untuk pembiayaan usahanya. Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat hanya menjalankan RAT satu kali selama 5 tahun terakhir. Ada beberapa koperasi primer sampel menyatakan tidak memperoleh informasi memadai dari koperasi sekunder dalam kegiatan pengembangan usaha dan informasi pasar. Keragaan masing-masing golongan koperasi secara rata-rata selama 5 tahun (tahun 2001 – 2005) menurut urutan nilai terbesar dapat dilihat pada Gambar 4. 4 koperasi. 5 koperasi. Kalimantan Barat dan Sumatera Barat. Namun dengan segenap keterbatasan yang ada mereka tetap berusaha untuk tetap eksis menjalankan usaha yang ada. Bahkan masing-masing satu koperasi sekunder dari NTT. 24 koperasi. Pada sisi pengurus. 11 koperasi. Namun dalam hal kerjasama membangun jaringan usaha yang saling terkait dengan usaha anggotanya. Sedangkan provinsi NTB 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahunnya. (6) KOPPAS. (5) KPRI. KUD Susu memiliki anggota jauh lebih banyak diikuti. 7 koperasi. KUD MINA. 26 koperasi. dan seterusnya.

PONTREN KSU KP .46 152.PONTREN K.60 91.21 207.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Anggota Kope ras i Prim e r Anggota Sam pe l 3364 2434 1299 530 512 481 469 246 51 50 Orang 6421 KUD SUSU KUD MINA KOPDIT KUD KSU K.RI K.24 KOPW AN 14.50 368.84 404.58 285.83 760. Keragaan Koperasi Primer Anggota Sampel 152 N aK am operasi N a Koperasi am .PONTREN Jumlah SHU Koperasi Primer Anggota Sampel 1110 KOPPAS KUD KSP KOPW AN KP .34 K. POLDA KP .42 144.PONTREN KOPDIT K.86 159.78 145.67 21.11 130. POLDA KOPDIT KSP KUD KSU KUD MINA K. POLDA KP . POLDA KSP KOPPAS KOPWAN 2618 1154 1030 913 871 688 670 450 273 Jt Rupiah Jum lah V olum e Us aha Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 2757 2301 1018 1002 730 607 463 153 24 11 Jt Rupiah 8911 KUD SUSU KOPWA N KOPPA S KP .31 104.RI KSP K.PONTREN Nama Koperasi Rata-rata Likuiditas Koperasi Primer Anggota Sampel 821.30 KSU 5.87 KUD MINA KUD SUSU Persen K.02 KP .68 168.RI K.RI KOPWA N KSP K.RI KUD KOPW AN KUD SUSU KSP KOPDIT KUD MINA KOPPAS K.98 KOPDIT 1.PONTREN KOPPA S Nama Koperasi Jum lah Pe ngur us Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 11 10 14 KSP KOPWA N K.48 297.80 KSU K.03 KUD 4.01 Persen Gambar 4.61 122.RI 20.94 KSP 9.83 109.PONTREN KSU KUD MINA Nam a K operasi 2 2 2 2 3 3 3 Unit Nama Koperasi 4 4 5 9 KUD SUSU KUD MINA KUD KOPDIT K.RI K. POLDA KSU KUD SUSU KOPDIT KUD MINA K.94 149.JURNAL VOLUME 4 . POLDA KUD SUSU KP . POLDA 19.PONTREN 231 154 142 116 83 63 63 28 - 481 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah Rata-rata Solvabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 417. POLDA K.78 KOPPAS 20. POLDA KSU KP .RI KUD MINA KUD KOPPA S KSU Nama Koperasi 7 7 7 8 8 8 8 9 Orang Jumlah Unit Usaha Koperasi Primer Anggota Sampel Jumlah Modal Koperasi Primer Anggota Sampel 4848 11399 KUD KUD SUSU KOPDIT KOPWAN KOPPAS KP .PONTREN 353.RI KUD KUD SUSU KOPW AN KSP KOPPAS KOPDIT KUD MINA K.24 Persen Rata-rata Rentabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 25.

KSU. KOPPOLDA. KPRI. Nilai ini memiliki arti dari setiap seratus rupiah harta masing-masing koperasi.28% atau 11 koperasi menempati gedung kantor berstatus sewa.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi modal. KOPPAS.50% koperasi primer sampel sudah berusia lebih dari 10 tahun. 11. Dari data ini.38% atau 40 koperasi menyelanggarakan RAT 2-4 kali. Sebanyak 10.81% atau 64 koperasi melaksanakan RAT setiap tahunnya selama 5 tahun terakhir. 78. Sisanya 37.56% atau 22 koperasi masih menempati gedung kantor dengan status pinjaman. Sedangkan nilai SHU terbesar dicapai oleh KOPPAS disusul KUD dan KSP.4 milyar jauh di atas koperasi-koperasi lainnya. Ini adalah hambatan utama yang sering menyebabkan para anggota keluar dari keanggotannya. KUD memiliki modal terbesar mencapai Rp. mampu menghasilkan nilai SHU sebesar nilai persentase masing-masing.49% atau 23 koperasi berusia 3 sampai 9 tahun. Beberapa koperasi primer sampel yang bergerak pada bidang perdagangan mengeluhkan persaingan harga yang makin ketat dengan swalayan dan pasar modern yang ada. Ini menunjukkan pada umumnya semua koperasi primer anggota masih beroperasi secara aktif dan konsisten menjalankan RAT setiap tahunnya. Kesulitan utama yang dihadapi koperasi primer adalah permodalan yang terbatas. Secara umum. Sedangkan KUD MINA mencapai nilai SHU yang paling rendah. KOPWAN. dan KSP. Dari segi usia.25% atau 42 koperasi berusia lebih dari 20 tahun. Pada nilai volume usaha. Juga sebanyak 39. sebanyak 39. Modal terbanyak kedua dicapai oleh KUD Susu disusul KOPDIT dan KOPWAN. dan sebanyak 20. Nilai solvabilitas dan likuiditas yang besar ini memiliki arti keempat koperasi tersebut memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembalikan hutang. Sedangkan untuk rasio rentabilitas. Dari 107 koperasi primer anggota. KSI mencapai volume usaha terbesar disusul KOPWAN dan KOPPAS. Dari sisi rasio keuangan. koperasi primer sampel tetap memenuhi kewajiban mereka yakni membayar simpanan pokok dan wajib kepada koperasi sekunder. Hanya 2. Kesulitan lainnya adalah mengenai kemampuan sumber daya manusia pengurus koperasi yang belum baik. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa sebanyak 69. 153 . dan sisanya 21. Perkembangan koperasi primer anggota koperasi sekunder tingkat provinsi dominan lebih baik. dan KUD mencapai nilai solvabilitas dan likuiditas yang lebih besar. 59.25% atau 42 koperasi berusia 10 sampai 20 tahun.16% koperasi primer sampel atau 74 koperasi sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri.80% atau 3 koperasi yang hanya melaksanakan RAT satu kali selama 5 tahun. 5 koperasi yang mencapai nilai paling besar adalah KPRI. KOPPOLDA.

Angka ini lebih kecil dari 0.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. Ini berarti kita tolak hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif (H). Rata-rata koperasi primer membutuhkan campur tangan pemerintah menangani permasalahan yang mereka hadapi mengenai bantuan permodalan. Keterkaitan di antara koperasi sekunder dan koperasi anggotanya dapat terwujud di dalam fungsi-fungsi yang dijalankan di antara mereka. Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0.1 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi sekunder secara nyata dapat terkait dengan koperasi primer anggotanya jika dilihat dari sisi pelaksanaan fungsinya secara menyeluruh. 5. fungsi-fungsi usaha dan fungsi-fungsi penunjang. pembinaan dan pelatihan managemen serta kerjasama dengan berbagai pihak. 2).JURNAL VOLUME 4 .01 sesuai kurva normal adalah sebesar 99. Pada tabel 2 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota dipisahkan menurut golongan fungsi yakni fungsi-fungsi kelembagaan. Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa nilai chi square hasil perhitungan lebih besar dari nilai kritis chi square. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui sejauh mana koperasi sekunder berperan menunjang aktivitas dan usaha-usaha koperasi anggotanya maka perlu dibahas sejauh mana keterkaitan di antara mereka. diperoleh nilai koefisien kontingensi koperasi sekunder sesuai tabel 3 hanya sebesar 0. V.AGUSTUS 2009 : 140-160 Rata-rata koperasi primer terjalin usahanya dengan koperasi sekunder hanya sebatas organisasi dan belum kepada pelaksanaan fungsi-fungsi secara nyata. dan pada tabel 3 disajikan nilai chi square menurut analisis keseluruhan fungsi integrasi.04.497 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer 154 .44. Hasil analisis pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai chi square sangat besar yaitu sebesar 304. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota secara keseluruhan. Tolak hipotesis nol (H0) memiliki arti bahwa secara keseluruhan koperasi sekunder memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan dengan koperasi primer anggotanya.497. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = 0. Keterkaitan diantara koperasi dibedakan atas dua kategori. 1).

Uji Signifikansi dan Kontingensi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Nilai Chi Square ( 2) = 304.01 2.86 2.44 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya (menurut analisis keseluruhan fungsi keterkaitan).87 PKSU JUMLAH BARIS (%) 2 4 2 4 4 3 3 2 2 2 4 4 3 4 3 1 1 3 1 1 3 3 3 3 4 69 7. Nilai Chi Square.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel 2.RI PUSKUD .49 8.91 1.00 4.31 3.51 10.Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Koperasi Sekunder dengan Anggotanya PUSKO WAN FUNGSI INTEGRASI FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 FC1 FC2 FC3 FC4 FC5 J Kolom (%) kunder Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Tabel 3.94 0.95 PUSKOPDIT 5 7 2 7 5 6 6 6 4 5 6 8 6 8 6 4 1 4 2 3 6 6 6 2 4 125 13. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.38 PUSKSP 1 2 2 2 1 1 2 1 0 3 3 4 1 4 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 40 4.PONTREN 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 13 1.09 5. 2.27 3.87 PKP-RI 14 16 9 12 5 11 9 7 4 4 10 17 13 16 6 2 0 8 0 6 8 8 6 5 0 196 21.26 2.46 13.05 100 4 155 PKP . Uji Signifikansi dan KoefisienKoefisien Kontingensi Tabel 3.04 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 240 dan pada 0.497 artinya tingkat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya tidak kuat (lemah).91 0.15 P.03 8.34 3.10 PUSKOPPOLDA 2 7 5 4 3 3 1 1 4 1 4 9 4 9 3 1 0 1 0 0 30 2 2 2 3 101 10.03 3.38 GKSI 3 4 2 3 0 2 0 2 2 3 4 4 4 4 1 3 0 3 0 1 1 0 0 0 0 46 4.34 6.31 21.46 PUSKOPPAS 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 6 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 2.10 13. Nilai Chi Square.69 2.93 5.46 PUSKUD MINA 2 2 1 1 1 0 0 0 1 0 1 2 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 1.46 53 65 38 49 32 40 33 31 33 31 56 83 51 80 27 18 8 27 8 17 56 28 25 21 19 929 100 5.83 6.55 3.44 4.86 1.55 3.61 2.43 9 4 6 6 5 5 5 5 5 6 8 6 8 4 4 4 5 2 4 4 4 4 4 4 4 125 13. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah PUSKUD 13 17 8 8 7 7 5 6 9 6 15 22 10 22 2 2 0 3 0 1 3 4 3 4 3 180 19.40 19.71 7.01 sebesar 99.

PUSKUD melaksanakan sebanyak 19.15 1. yakni hanya sebesar 49. kita telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya.46 10.38 Koperasi Sekunder 13. Berikut itu ditunjukkan pelaksanaan fungsi-fungsi yang memperlihatkan keterkaitan tersebut pada Gambar 5 dan 6. Hasil ini menunjukkan bahwa keempat koperasi diatas secara frekuensi paling banyak melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitan dengan anggotanya.AGUSTUS 2009 : 140-160 anggotanya.RI PUSKUD PKSU P. PUSKUD MINA (1.95 4. 21.43 4.51%). yaitu 156 .40%).10% fungsi-fungsi keterkaitan dari total pelaksanaan semua fungsi oleh semua koperasi. Ini berarti mereka mengabaikan tanggung jawabnya kepada koperasi anggotanya.51 1. dan PUSKOPPONTREN (1.KOPPAS PUS.46 13. Secara statistik. Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa secara frekuensi PKP–RI melaksanakan 21. Tiga koperasi yang sangat rendah presentase frekuensi pelaksanaan fungsinya adalah PUSKOPPAS (2.7%.87 7.15%).10 19.KOPWAN GKSI PUSKSP P.PONTREN Sumber data: Primer diolah Gambar 5. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan lemah.31 2.POLDA P.46%.JURNAL VOLUME 4 . Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Semua Fungsi Keterkaitan oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Gambar 6 menunjukkan bahwa fungsi FA12 yaitu koperasi primer anggota menghadiri rat koperasi sekunder tingkat provinsi secara frekuensi paling banyak dilaksanakan oleh semua koperasi.38% dan PKSU dan PUSKOPDIT masing-masing melaksanakan 13.MINA P. Berikutnya.KOPDIT P.40 Persen PKP . Dengan persentase yang rendah seperti ini berarti koperasi-koperasi tersebut relatif kurang dapat melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitannya.

Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) sebanyak 8.93%. masing-masing fungsi kelambagaan.03 5. dan fungsi penunjang.00 Persen FA12 FA14 FA2 FC1 FA11 FA1 FA13 FA4 FA6 FA3 FA9 FA7 FA5 FA10 FA8 FC2 FB4 FB1 FC3 FC4 FC5 FB2 FB6 FB5 FB3 Gambar 6.05 1.93 8. padahal fungsi-fungsi tersebut adalah penting untuk menunjang kemandirian koperasi anggotanya. Pada tabel 4 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya menurut katagori fungsi.83 6. dan FA2 (koperasi sekunder memberikan masukan yaitu menghadiri dan mengarahkan rat koperasi primer anggotanya) dilaksanakan sebanyak 7.2 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Kelompok Fungsi Analisis menurut kelompok fungsi dimaksudkan untuk melihat apakah ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya dilihat dari 3 kelompok fungsi.03 6.26 2.01 2. FB3 (KS membantu pengolahan/proses produksi dari koperasi primer anggota) dan FB5 (KS membantu promosi produksi kepada koperasi primer anggota) masing-masing dilaksanakan hanya sebanyak 0.55 3.69 2.61%.44 3.09 3.94%.61 0.27 7.34 3. FB6 (KS mengadakan temu usaha dengan koperasi anggotanya) sebesar 1.31 4.55 3. Distribusi Frekuensi Pelaksanan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Empat fungsi paling rendah frekuensi pelaksanaannya adalah masing-masing FB2 (KS membangun jaringan pemasaran bagi anggota) sebesar 1.49 5.91 2.86%.71 5.34 3. 5. fungsi usaha.86 4. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya 8.82%.91 2.94 1.00%. Nama Fungsi 157 . Fungsi FA14 (koperasi primer anggota memenuhi kewajibannya kepada koperasi sekunder) dilaksanakan sebanyak 8. dan pada tabel 5 disajikan nilai chi square menurut analisis kelompok fungsi integrasi. Ini berarti keempat fungsi ini sangat jarang dilaksanakan oleh koperasi sekunder.86 0. Gambar 6.

01 dengan derajad bebas 20 diperoleh 27 Koefisien Kontingensi 675 Square.01 sebesar 37.76. (menurut Nilai Koefisien Kontingensi = 0. Uji Signifikansi dan nilai sebesar 37.PONTREN 12 1 14 P.Square hipotesis nol (H0) atau 20 dan pada 0. Uji Signifikansi dan Koefisien Kontingensi Tabel 5. 69 PUSKOPWAN 125 PKSU Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan nilai chi square cukup besar yaitu sebesar 87. diperoleh hasil Koperasi diolah Keputusan dariTolak H0 atau terima H : Sekunder memiliki keterkaitan yang signifikan dengan Koperasi Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya Primer anggotanya. Nilai Square. 158 6 . Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi.566.PONTREN PUSKSP 27 8 40 PUSKSP PUSKOPPOLDA 57 5 101 PUSKOPPOLDA PKSU JUMLAH BARIS 43 10 82 23 675 107 152 934 JUMLAH BARIS Tabel 4.01 sebesar 37.AGUSTUS 2009 : 140-160 Tabel 4.4. Jika nilai Koperasi hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai kritis chi8 squareSekunder1Dianalisis1menurut Kelompok Fungsi 23 chi square Usaha 8 20 22 1 8 10 5 107 maka diperoleh hasil nilai chi square hasil perhitungan lebih besar.761 hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif ini17berarti = 24 tolak 27 Penun-jang 1 1 5 16 39 20 152 Nilai Kritis(H).293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Sekunder dengan Koperasi Primer Anggotanya tidak kuat (lemah). usaha dan penunjang. Nilai Chi81 155 37 14 147 20 12 43 57 82 Tabel 0.76 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 20 dan pada 0. Nilai Chi Square.293 (tabel 5).293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Tabel 5.JURNAL VOLUME 4 . Uji Signifikansi dan Koefisien Anggotanya Sekunder dengan Koperasi Primer Kontingensi Koperasi Sekundertidak kuat (lemah). Nilai Koefisien Kontingensi = 0. Koperasi SekunderDianalisis menurut Kelompok Fungsi Dianalisis menurut Kelompok Fungsi Sumber data: Primer diolah Nilai Chi Square ( 2) = 87.566 Chi Tolak dengan derajad bebas = terima H memiliki arti bahwa secara Jlh Kolom 180 2 46 125 14 196 22 69 101 125 934 kelompok fungsi2 yaitu dilihat dari14 40 pelaksanaan fungsi-fungsi integrasi hitung > tabel Hasil : Sumber data: Primer sisi kelembagaan. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = Kelembagaan 5. Nilai Nilai Chi Square ( 12) kita87. analisis kelompok fungsi keterkaitan).566 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya (menurut analisis kelompok fungsi keterkaitan). diperoleh nilai koefisien kontingensi hanya sebesar 0. PUSKOPWAN FUNGSI INTEGRASI Kelembagaan Usaha Jlh Kolom FUNGSI INTEGRASI PUSKUD 155 8 180 PUSKUD GKSI 37 8 46 GKSI PUSKOPDIT 81 20 125 PUSKOPDIT PUSKUD MINA 14 1 14 PUSKUD MINA PKP-RI 147 22 196 PKP-RI PUSKOPPAS 20 1 22 PUSKOPPAS P. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Penun-jang 17 1 1 27 1 1 5 16 39 20 Koperasi Sekunder 24 dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi.

penyuluhan.3%. VI. -------------. 159 . (1992). Keterkaitan ini juga signifikan namun tingkat keterkaitannya lemah. 6. Dari sisi pelaksanaan kelompok fungsi integrasi vertikal masingmasing fungsi-fungsi kelembagaan. Jakarta. Pedoman Pengembangan Koperasi Khusus Koperasi Sekunder di DKI Jakarta Tahun 2004. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. Prentice Hall. Nusa Tenggara Timur. KESIMPULAN DAN SARAN 6. pemberdayaan prinsip-prinsip koperasi dan teknis perkoperasian. and Barbara. 2. dirumuskan beberapa kesimpulan sesuai tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1.1 Kesimpulan Berdasarkan data dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya mengenai keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya pada delapan daerah survei masing-masing provinsi Jawa Timur. Sumatera Barat. Statistical Methods for the Social Sciences.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. DAFTAR PUSTAKA Agresti. yakni hanya sebesar 29. Jawa Tengah. (2004).293 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0.1 Saran Sesuai hasil analisis yang menunjukkan bahwa keterkaitan koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota yang lemah maka disarankan agar koperasi sekunder harus meningkatkan capacity building melalui pelatihan. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan cukup lemah. pemasyarakatan. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta. keterkaitan ini signifikan atau nyata namun memiliki tingkat hubungan yang lemah. A. dan fungsi-fungsi penunjang. F. fungsi-fungsi usaha. Dilihat dari pelaksanaan keseluruhan fungsi integrasi vertikal. Anonim. koperasi sekunder terkait dengan koperasi Primer anggotanya. Sumatera Utara. New Jersey. koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Angka ini lebih kecil dari 0.

Bogor. (//gopher. Penerbit. Statistik II. Jakarta. Yacobs and Razavich. Jakarta. Suwandi. Babie. Suwandi.JURNAL VOLUME 4 . Ch.wisc. Suatu Kajian Cross-Section. Belmont. 164. (2006). Anggota IKAPI. (1988). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sydney. Jakarta. No: 26 Tahun XX 2005. Djarwanto. L. (2002). California. Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di �awa Barat. Revitalisasi Koperasi Sekunder Nasional. Survey Research Methods. (1987). Warta Koperasi. S. Earl R. Jakarta. 160 . Ekonomi Skala Kecil/Menengah & Koperasi. (1995). Bharata. Hadi. Yogyakarta. Farmer Organizations and Rural Cooperatives. (2005). Bayu Krisnamurthi.AGUSTUS 2009 : 140-160 -------------. No. Koperasi Organisasi Ekonomi yang Berwatak Sosial. Hott Rinehart and Winston. S.. Solusi Koperasi & Usaha Kecil. Wadsworth Publication Co. Introduction in Research Education 2nd Editon. (1987). dan Abdul Rahman S. Ghalia Indonesia. Statistik Nonparametrik. BPFE Yogyakarta. Donald Ary. Maret 2006. May 1995. (1973). Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.adp. Media Pengkajian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah.edu:70) Partomo. (1979). International Cooperative Aliance (ICA) Communication.T. (1999). ICA.

Oleh karena itu.d. Sistem tanggung renteng. Lembaga koperasi ini terdiri dari kelompok orang yang disebut anggota berdasar sifat individu dan tidak berdasarkan modal atau saham. Peran aktif anggota koperasi menentukan target yang Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200�. yang dipengaruhi beberapa faktor seperti: faktor sumber daya manusia (SDM). aspek manusia sangat penting dalam kehidupan berkoperasi di Indonesia dan tidak hanya berdasarkan modal dan saham. dan kebijakan publik lainnya. Selaku badan usaha. this assessment was done by using psychological variables and especially psychosocial one. review terakhir �� �uli 200�. 200� in implementing mutual liability system. kebijakan moneter.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial*) Burhanuddin R**) dan Pariaman Sinaga***) Abstract At first assessment was dedicated to Puskowanjati on her 50th anniversary on March. **) Peneliti Utama pada Deputi Pengkajian SDM KUKM (tim peneliti). baik sebagai pemilik dan pelanggan/pengguna jasa organisasinya. penyesuaian diri. because it was successful in uniting women and house wives into cooperative organization. *) 161 . 8 �uni 200�. kewirausahaan. produksi. 1. Artikel diterima 25 Mei 200�. teknologi. kohesivitas. pasar. ***) Asdep Urusan Penelitian Koperasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti). Pengantar Definisi koperasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan kepada prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaaan. koperasi juga dihadapkan pada dua lingkungan bisnis yakni lingkungan eksternal dan internal. In the frame of revealing a part of some factors that influenced the success of the system concerned. Anggota koperasi mempunyai identitas ganda. peer review 25 Mei s. Peran anggota koperasi dengan berdasar identitas tersebut merupakan faktor strategis dalam pengembangan koperasi di Indonesia. Mutual liability system is a phenomenal system. modal. The result was significantly interesting to be a thinking material in the process of cooperative promotion and development in the future time. dan dinamika kelompok I.

Koperasi tidak dapat berkembang apabila anggota koperasi tidak berperan aktif di lembaganya. keberadaan kelompok merupakan wadah anggota dalam beraktivitas untuk pemenuhan hak dan kewajiban sebagai anggota koperasi. Di samping itu. kohesivitas anggota koperasi. II. penyesuaian diri dan kewirausahaan. Sebuah sikap dan perilaku yang dilandisi kesadaran terhadap tata nilai tanggung renteng yaitu kebersamaan. Dalam penerapan sistem ini. saling percaya. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi koperasi apapun untuk bisa tumbuh dan berkembang baik dari sisi organisasi maupun usaha. Terkait dengan ketiga variabel ini. Artinya. maka akan terjadi perubahan sikap dan perilaku anggota. dan ketiganya ditengarai berpeluang untuk direplikasi ke koperasi lain. Dengan demikian. keterbukaan. terdapat dua identitas yang melekat pada anggota koperasi termasuk sebagai diri pribadi manusia dengan ciri psikologis tertentu dan terpisahkan dari kesehatan koperasi. Inilah prinsip tanggung renteng yang melibatkan tiga unsur utama yaitu kelompok. 162 . musyawarah. kelompok juga sebagai wahana dan sarana komunikasi antar anggota maupun dengan koperasinya. kewajiban dan peraturan. Bila proses sistem tanggung renteng diterapkan secara benar. Beberapa variabel penting koperasi yang berkaitan dengan dua identitas ganda koperasi adalah.JURNAL VOLUME 4 . Dengan demikian dalam kelompok juga akan terjadi proses pembelajaran bagi anggota. disiplin dan tanggung jawab. Untuk itu kelompok diwajibkan untuk mengadakan pertemuan rutin secara berkala.AGUSTUS 2009 : 161-170 akan dicapai organisasi koperasi dapat tercapai atau tidak. Penyesuaian diri berkaitan dengan peran individu untuk menyesuaikan diri terhadap kepentingan diri dan kepentingan koperasi. naskah ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada koperasi primer anggota Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) dalam rangka meneliti aspek psikologis dalam pengembangan sistem tanggung renteng. Implementasi dalam mewujudkan target koperasi dapat diraih dengan bantuan manajemen dan pengurus yang mengarahkan kegiatan bisnis koperasi. Sistem Tanggung Renteng Tanggung jawab bersama diantara anggota dalam satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi dengan dasar “keterbukaan dan saling mempercayai”. Kewirausahaan merupakan sikap pribadi berkaitan dengan kepentingan ekonomi pribadi dan koperasi. aspek psikologi dan khususnya psikososial di koperasi juga merupakan faktor penting untuk keberlangsungan hidup koperasi. Kohesivitas anggota koperasi sesuai dengan ciri khas koperasi yaitu individu yang saling berinteraksi dalam berkelompok untuk mencapai tujuan koperasi.

8496 (Martono. Kabupaten Malang 2. Kota Surabaya 3. dan variabel kewirausahaan 0. sebesar 0. KSU Kartika Chandra. vairabel penyesuaian. 2. KSP Kartini Mandiri.1 Penetapan Kerangka Pengambilan Contoh (Sampling Frame) Subyek atau responden penelitian ditetapkan secara sengaja (purposive sampling method) sebanyak 160 orang dan dalam pelaksanaannya meningkat menjadi 170 orang. dan Kabupaten Pasuruan. yaitu di Kabupaten Malang. Batu. 0. pada bulan Februari 2009. Analisis data menggunakan teknik analisis persamaan regresi sederhana dan persamaan regresi berganda yang dalam penyajian hasil kajian dilengkapi dengan analisis statistik deskriptif berupa grafik histogram rerata dan matriks kategori. 1 3. kohesivitas.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) III. 9646 (Pariaman dan Hidayat.9179 (Mardiyati. Provinsi Jawa Timur.4. namun kemudian yang layak diukur ditemukan hanya sebanyak 162 orang. Metode Kajian Kajian ini dilaksanakan dengan metode survei yang dilengkapi dengan observasi langsung kepada objek kajian tanpa memberikan perlakuan apapun sehingga terjadi aktivitas yang saling mempengaruhi (expost facto model).2 Penetapan Koperasi Contoh 2 3 Jumlah koperasi primer wanita yang menjadi anggota Puskowanjati sampai tahun 2008 tercatat sebanyak 46 koperasi primer 83 dan yang ditetapkan sebagai sampel kajian sebanyak delapan anggota koperasi primer wanita yaitu: 1. 3. dan setiap variabel telah memiliki koefisien reliabilitas yaitu : untuk variabel kohesivitas. Malang. Kota Surabaya.1 Pengumpulan data ditetapkan di tiga lokasi yang juga ditetapkan Variabel Kohesivitas secara sengaja. penyesuaian dan kewirausahaan. Kabupaten Pasuruan Jumlah 4. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu.Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah (Org) 83 57 22 Persentase (%) 51 35 14 163 . 3. 2004). Lawang. Tabel 1. Semua data variabel diukur dengan 22 memakai skala Likert. 2004). KSP Citra Lestari. KSU Setia Budi Wanita. Lokasi Koperasi Kelompok 4 3 1 8 2 2 2 6 Anggota (orang) 10 10 10 ------Responden (orang) 80 60 20 160 1. 57 1996). Pandaan.

keterlibatan. kekuatan kelompok. bekerja keras. Surabaya.JURNAL VOLUME 4 . Grafik Kohesivitas Anggota Koperasi Wanita Sampel 164 . KSU Mawar Putih. mampu melihat peluang bisnis. Kewirausahaan adalah kecenderungan individu yang percaya diri untuk bekerja mandiri. KSU Setia Bhakti Wanita.1 Variabel Kohesivitas 22 57 1 2 3 83 Gambar 1. toleransi terhadap kelompok dan pemenuhan harapan untuk bekerjasama mencapai tujuan bersama. 8. inisiatif. kreatifitas.AGUSTUS 2009 : 161-170 5. 3. IV. Kohesivitas adalah keterikatan anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan berkelompok. telah berhasil dirumuskan tiga definisi operasional variabel untuk digunakan dalam kajian. optimis. berani mengambil risiko.3 Definisi Operasional Variabel Berdasarkan penulusuran terhadap beberapa literatur dan jurnal kajian yang sejenis khususnya yang berkaitan langsung dengan variabel kajian. Penyesuaian diri adalah perilaku belajar mengatasi dorongan dari tuntutan diri dan lingkungan dengan mengendalikan tindakan langsung dan hubungan interpersonal. Pemilihan dan penetapan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan keragaman lokasi kajian dan anggota koperasi. dan KSU Waspada. Surabaya. Hasil Penelitian 4. Sidoarjo. status dan peringkat koperasi. dan memiliki sifat kepemimpinan. dan peka terhadap kritik dan komentar/pendapat pihak lain. 7. KSU Setia Kartini Wanita. 6. Malang.

d. 1. g. f. Keterikatan 83 anggota akan keberlangsungan hidup koperasi akan membuat anggota koperasi terlibat dalam kelompok di koperasi. Kewirausaha individu dalam koperasi karena ada contoh dalam kelompok untuk mengelola bisnis dalam rumah tangga dan koperasi. dalam Hadipranata. Diskripsi Kohesivitas Dinamika Kohesivitas a. Saling melengkapi h. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (Org) 83 57 22 162 Persentase (%) 51 35 14 100 Dinamika Kelompok Individu dalam kelompok mempunyai keterikatan dengan kelompok sesuai dengan bagaimana penyesuaian diri individu dan interaksi individu di dalam kelompok. 1987) (Alderfer. Rasa keterkaitan e. Tabel 1. Rasa sepenanggungan d. Kelompok kelompok koperasi yang menerapkan tanggung renteng akan merasa saling terikat. c. TabelTabel 2. Kesempatan partisipasi g. Pengaruh masih ketat c. e. Individu belajar menyesuaikan diri dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Diskripsi Kohesivitas 2. Ada sistem imbalan (Alderfer. Ukuran terbatas (kecil) b. b.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian  a. Ada mitra tanding f.22 57 Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) 1 2 3 Kohesivitas koperasi sebagai bukti interaksi antar anggota ditemukan cukup tinggi di koperasi wanita sampel. 1987) 4. Keterikatan akan aturan dan kepentingan ekonomi membuat anggota koperasi secara sadar menerapkan sistem tanggung renteng. Dampak Kohesivitas Kepuasan Rasa tanggung jawab Optimalisasi prestasi Komunikatif Rasa kami kuat Menolak perombakan kelompok Penampilan kerja baik 165 . Kohesivitas kelompok menunjukkan keterikatan individu dengan individu lain dalam kelompok. dalam Hadipranata. Tabel 1 kategorisasi menunjukkan kohesivitas anggota koperasi wanita tinggi.

lebih kreatif dan dalam penyelesaian masalah pun lebih koordinatif serta lebih produktif dari pada sejumlah orang yang sama dalam kelompok biasa yang biasanya kerja kurang terkoordinasi. Setiap anggota memberikan kelebihannya dan menerima kekurangannya. Penelitian tersebut juga dikenakan berbagai macam jenis pekerjaan. baik sifat-sifat individu maupun watak kelompoknya. efektifitas kelompok kohesif itu: 1) Derajat keterikatan anggota kelompok. b) Jumlah anggota yang ideal kurang dari enam orang. Anggota koperasi dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama. pendapat.AGUSTUS 2009 : 161-170 Kelompok yang berkohesivitas dengan memiliki jati diri sosial (social identity) dan memiliki kekuatan kerjasama yang tangguh. kemampuan maupun perspektifnya memiliki karakter yang dibutuhkan bagi efisiensi kinerja kelompok. artinya ada job requirement. d) Kesediaan bermitra tanding. Sebagai bentuk partisipasi koperasi akan membuat saling pengertian yang lebih baik dan kemudian lebih memiliki keikatan dalam penyelesaian tugas secara positif dan efektif. 3) Kepuasan kerja anggota kelompok. dan g) Hadiah lebih besar dari hukuman. sedangkan yang tidak berkohesivitas cenderung lemah terhadap kerjasama. Kohesivitas juga menciptakan “motivasi sosial” karena kohesivitas kelompok di koperasi wanita identik dengan keragaman atau disebut juga kelompok bhinneka. Kelompok yang beriklim kohesif ini dalam membuat keputusan lebih efektif. Setiap anggota memperoleh tanggungjawab terhadap beberapa tugas-tugas yang sudah rutin. 2) Produktifitas kerja kelompok. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kohesivitas suatu kelompok (Jannis. yaitu: a) Kiprah interaksi personalnya. sehingga menimbulkan pengembangan kepribadian yang unik. Keberhasilan pengaruh kohesivitas kelompok terhadap produktifitas koperasi dapat dikatakan tergantung pada pengaturan koperasi terhadap kelompok dalam pencapaian tujuan bersama. b) Sumber daya kelompok yang tepat penempatannya. terbuka dan memperoleh peluang untuk bermitra tanding atau berkompetisi yang sehat. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah kelompok kohesif jauh lebih 166 . dan. c) Mekanisme kerja kelompok demokratis. f) Aktivitas berperan serta dalam keputusan. Langkah-langkah untuk menguatkan kohesivitas dalam kelompok dapat dilakukan. Jati diri kelompok kohesif membuat kerjasama pada setiap peringkat organisasi termasuk internal pengurus koperasi. 1982). Hal ini membuat keberhasilan kelompok lebih utuh.JURNAL VOLUME 4 . Menurut Steiner (1972). Kelompok bhinneka adalah kelompok yang anggotanya memiliki perbedaan nilai. e) pertaruhan nama kelompok atau jiwa korps. pekerjaan dan aturan kerja yang mapan. Karenanya diperlukan beberapa syarat (Katz. yaitu antara lain: a) Tatanan tugas. 1989). c) Keterbukaan isolasi dari luar.

Model tanggung renteng menerapkan perilaku belajar peraturan. 4.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) baik daripada kinerja individual.3 Variabel Kewirausahaan Grafik 3 dan Tabel 3 menunjukkan bahwa kategori anggota koperasi tinggi pada aspek kewirausahaan. 167 . Hanya saja kadangkala untuk jenis pekerjaan seni. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bandura bahwa keyakinan individu akan dirinya yang dapat melakukan tindakan yang dikehendaki oleh situasi tertentu dengan berhasil. Hal tersebut disebabkan sistem tanggung renteng itu sendiri memberikan kesempatan anggota koperasi untuk berinteraksi sehingga timbul perilaku mencontoh. Penjelasan perilaku wanita wirausaha yang tinggi berkaitan dengan tanggung renteng. Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Penyesuaian diri wanita anggota koperasi dapat diamati pada Grafik 2 dan Tabel 2. Wanita melakukan penyesuaian diri terutama berkaitan dengan lingkungan dimana kelompok berkumpul sebagai wujud tanggung renteng koperasi. maka kerajinan tangan yang bersifat pribadi dan kinerja perorangan lebih baik daripada dikerjakan bersama 4. Wanita anggota koperasi akan merasa senasib sepenanggungan dengan mengedepankan penyesuaian diri sehingga kepentingan ekonomi dapat terwujud secara bersama-sama. Munculnya keyakinan diri seseorang mengenai kemampuannya dalam menampilkan suatu bentuk perilaku menggambarkan hubungan dengan situasi yang dihadapi seseorang tersebut dan menempatkannya sebagai elemen kognitif dalam pembelajaran sosial.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian 43 51 1 2 3 68 Gambar 2. Figur dalam kelompok akan mendorong individu dalam koperasi untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik terutama berkaitan dengan peraturan sebagai turunan dari model. Ternyata dari hasil pengukuran ditemukan bahwa koperasi cukup tinggi.

Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan Anggota Koperasi Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total VI. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan ditemukan bahwa ketiga variabel menempati kategori tertinggi.JURNAL VOLUME 4 . secara berturut-turut adalah: kewirausahaan (71 persen). dan kohesivitas (51 persen). Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel 4. 3.AGUSTUS 2009 : 161-170 Grafik 2. Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Tabel 3. Jumlah (org) 71 61 30 162 Persentase (%) 44 38 18 100 168 . penyesuaian diri (68 persen). Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan 71 Tabel 4. Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Gambar 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Kategori Jumlah Persentase (org) (%) Tinggi Kewirausahaan 68 42 Sedang 51 32 Rendah 43 26 Total 162 100 30 Kewirausahaan 61 1 2 3 2 30 61 71 1 2 3 Grafik 3.

Himam. A. F. Identifikasi dan Analisis Alat Ukur Penelitian di Bidang Psikologi Industri dan Organisasi.. The Effects of Group Longerity on Project Communication and Performance. Keberhasilan tanggung renteng sebagai suatu sistem dapat dicermati dari unsur rasa keterikatan anggota kepada kelompoknya dan koperasinya. 81-104. Laporan Hasil Lokakarya. Yogyakarta: Studio Yogyayasa Laboratorium Sumberdaya Manusia. maka generalisasi kajian dalam bentuk replikasi sistem tanggung renteng masih memerlukan kajian lebih mendalam dengan lingkup lebih luas. Yogyakarta: Badan Pelaksana Pendidikan dan Latihan Ketenagakerjaan Yogyakarta.F.. 169 . R. (1982).Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Penemuan ini mencerminkan bahwa jiwa kewirausahaan anggota koperasi primer ternyata mempengaruhi dan turut menentukan kelangsungan usaha koperasi-koperasi primer wanita yang bernaung dalam Puskowanjati. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Hasil kajian juga mengindikasikan bahwa pengembangan koperasi tidak bisa terlepas sepenuhnya dari aspekaspek psikologis dan sosiologis anggotanya. Hal tersebut disebabkan karena dasar pendirian koperasi adalah merupakan kumpulan orang-orang (human capital) dan bukan semata-mata kepada unsur permodalan.F. Mikeo.F. Hadipranata. Hal ini mendukung upaya penyelamatan asset dan ketersediaan likuiditas koperasi sehingga semua anggota koperasi memiliki kesempatan yang relatif sama untuk mendapatkan pelayanan dari koperasi masing-masing. Mikeo. Perbedaan Semangat Kerja Karyawan Dalam Kelompok Yang Kohesif dan Yang Tidak Kohesif Pada Perusahaan Tenun ATBM Kodya Yogyakarta.F. (1987). (1993). Penelitian. A. Administrative Science Quarterly. Hasil kajian juga menggambarkan adanya kemampuan adaptasi para wanita anggota koperasi dalam mengadopsi suatu sistem yang diyakini bersama dapat membantu pemenuhan ekonomi rumah tangga mereka. DAFTAR PUSTAKA Hadipranata.. H. & Rasyid. A. 27. Para wanita anggota koperasi primer yang mempraktekkan sistem tanggung renteng ditengarai turut menopang kehidupan organisasi koperasi masingmasing. Katz. Aspek-aspek psikososial yang berhasil diukur ini nampaknya perlu dipertimbangkan dengan lebih cermat di masa akan datang sebagai bagian dari pola pembinaan koperasi dan anggotanya.. (1990). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. (1987).. Hadipranata. Laporan Penelitian.Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM..

I. 170 . Kebahagiaan Perkawinan Ditinjau Penyesuaian Diri dan Sikap Terhadap Konsep Wanita Ideal �awa.. (1979). Crucial Decissions. (2004). A. 30. San Fransisco: Jossey Bass. Making Group Effective. Annual Review of Psychology.L.. Mardiyati. The Psychology of Group Processes.A.JURNAL VOLUME 4 . Steiner. (1982). (1989).. 417-452. New York: Academic Press.. Group Process and Productivity.AGUSTUS 2009 : 161-170 Jannis. Zander. I. (1972). Zander. A. New York: The Free Press.

The impact get through the services i. Market information from cooperatives is also useful for members in selling their products. management and members – are weak. review akhir �� �uli 200�. Dampak. auditors and members are not explicitly written. cooperatives fail to mobilize capital and to use it more productive. Cooperatives have given good impacts for its members. Yogyakarta. North Sumatra. Pengukuran yang dilakukan selama ini dirasakan belum memadai untuk menerangkan manfaat keberadaan koperasi bagi anggota dan masyarakat sekitarnya. The research indicates some important results. Kepentingan untuk mengembangkan koperasi sebagai alat untuk ingan meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin. Gopar) KAJIAN DAMPAK KOPERASI TERHADAP ANGGOTANYA1*) Achmad H. Members are also benefited through saving and loan activities. Assessment is implemented in three provinces.. D. the quality of product. Cooperatives has not built financial intermediary system among themselves so that the capital can be used more productive and efficiently. Pemikiran bahwa dalam melihat Kajian Suplementasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK tahun 2006. Artikel diterima 12 Mei 200�. Human resources of cooperatives – board of directors. partisipasi. Pendahuluan 1. kelompok sasaran. 2). and the timing of services. Financially.I. management. covered 15 cooperatives and about 150 members of cooperatives. experiences and composition of directors and management. *) 171 . indikator. the tasks and the responsibilities for directors. peer review 12 Mei s. Data are analyzed using simple descripted statistics.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. kemanfaatan I. The rules of conduct in cooperatives have not been developed systematically. and North Sulawesi.e. **) Peneliti pada Deputi bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (peneliti kajian).d. cooperative pricing policy. intermediasi.1 Latar Belakang Tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya penelitian untuk menilai dampak koperasi pada tingkat anggotanya: 1). 8 �uni 200�. The weaknesses have been occurred in some areas such as education. dan 3). Gopar**) Abstract This research has been conducted in order to asses the impacts of cooperatives for its members. Kepentingan untuk mengukur kemajuan koperasi menurut dimensi pertumbuhan secara agregat dan sumbangannya terhadap pendapatan regional maupun nasional. especially in rural areas.

Sedangkan bagi Pemerintah kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1 Memberikan masukan informasi yang berguna dalam penyusunan kebijaksanaan pembangunan koperasi. 172 . Melakukan pengukuran dampak koperasi terhadap anggota pada beberapa lokasi terpilih. 2 Memberikan masukan kepada koperasi itu sendiri dalam rangka merumuskan kebijakan organisasi dan usahanya. 2 Memberikan masukan kebijaksanaan dalam penyusunan sistem dan mekanisme monitoring dan evaluasi pembangunan perkoperasian. Indikator-indikator tersebut diujicobakan dalam penelitian agar bisa disempurnakan dan secara berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengukur dampak koperasi terhadap anggota. dalam hal-hal sebagai berikut : Manfaat yang dapat diambil oleh gerakan koperasi adalah sebagai berikut:  Meningkatkan kemampuan analisis secara kritis para pengelola koperasi. Melakukan uji coba dan pengembangan indikator-indikator pengukuran dampak koperasi terhadap anggota. Bertitik tolak dari ke tiga alasan di atas maka lahirlah gagasan dan pemikiran untuk mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi dampak koperasi di tingkat anggota. baik kepada gerakan koperasi maupun kepada pemerintah. b.JURNAL VOLUME 4 . yang dilaksanakan tim dari Universitas Indonesia dengan judul ”Kajian Dampak Pemberdayaan KUKM terhadap Kesejahteraan Rakyat”. 1. 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengembangkan indikator-indikator monitoring dan evaluasi dampak koperasi terhadap anggotanya. tahun anggaran 2006.AGUSTUS 2009 : 171-185 kemajuan yang dicapai koperasi atau manfaat kehadiran koperasi di tengah-tengah masyarakat perlu pemantauan dan evaluasi sejauhmana dampak koperasi terhadap anggotanya.3 Manfaat Penelitian Kegiatan penelitian ini pada dasarnya akan dapat memberikan manfaat ganda. Kementerian Negara KUKM. Penelitian ini merupakan suplementasi dari penelitian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK.

Gopar) 1. Dalam monitoring perkembangan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah secara rutin dan terus menerus selama ini adalah menggunakan data atau indikator kuantitas yang bisa dimonitor. seperti persepsi anggota terhadap kualitas pelayanan koperasi dan seterusnya. sedangkan untuk anggota koperasi diwawancarai sebanyak sepuluh orang anggota koperasi yang ada di wilayah kerjanya. seperti misalnya jumlah anggota. jumlah simpanan. dari tingkat yang paling bawah (kabupaten/kota) sampai dengan tingkat nasional. Obyek pengamatan adalah koperasi dan anggotanya.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Mekanisme monitoring semacam ini sudah berjalan dengan baik. yaitu: 1) Data yang bisa dimonitor setiap saat dan secara terus menerus (monitorable). Sebagai responden untuk mewakili koperasi adalah pengurus atau pengelola koperasi. maka secara umum dapat dikelompokkan dalam dua kategori data. setiap saat. 2.4 Ruang Lingkup Mengingat penelitian ini lebih merupakan proyek perintisan yang bersifat eksperimental study yang pelaksanaannya dilakukan juga oleh koperasi. Keuntungan cara ini adalah datanya tersedia. Namun kelemahannya adalah kemungkinan datanya kurang reliable dan belum memadai untuk menggambarkan apakah kehadiran koperasi 173 . dan 2) Data yang tidak yang tidak bisa dimonitor (unmonitorable). 3. Aspek Penelitian Para pengelola yang melaksanakan penelitian tersebut dibekali dengan pengetahuan teknis penelitian maka selanjutnya mereka langsung dilibatkan dalam praktek atau proses penelitian. mudah diperoleh dan dapat dilakukan secara nasional. Dari mereka digali informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan. volume usaha dan sebagainya. Tenaga-tenaga dari koperasi tersebut diikutsertakan dalam proses pelaksanaan penelitian sehingga diharapkan akan terjadi proses alih pengetahuan (learning by doing) mengenai penelitian perkoperasian. maka cakupan kegiatannya meliputi sebagai berikut: 1. Alih Pengetahuan Uji coba dan pengambilan data pada penelitian melibatkan langsung tenaga pengelola koperasi sebagai pelaksana pengumpulan data penelitian. Aspek Pengamatan Informasi atau data yang dikumpulkan pada dasarnya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai oleh penelitian itu sendiri. Dalam kerangka monitoring dan evaluasi dampak koperasi.

Oleh karena itu. 174 . Dengan menggunakan cara yang pertama. Berdasarkan asumsi ini maka pengukuran keberhasilan pembangunan koperasi dapat dilakukan melalui pengukuran pertumbuhannya. namun akan lebih ditekankan pada tingkat anggota. memerlukan suatu studi secara khusus dan komprehensif mengenai dampak koperasi pada tingkat (level) anggotanya. Dimensi pertama dapat dijelaskan sebagaimana berikut. dan dampak koperasi (cooperative impact) terhadap anggota dan lingkungan yang dipengaruhinya. dalam penelitian ini pengukuran dampak koperasi terhadap anggota tidak hanya diambil dari data kuantitatif yang diperoleh dari koperasi. Banyaknya anggota belum menggambarkan besarnya manfaat keberadaan koperasi karena hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki akses terhadap pelayanan koperasi. Pemikiran ini selanjutnya akan sampai pada suatu justifikasi bahwa mengukur keberhasilan koperasi menurut dimensi pertumbuhan dan sumbangannya terhadap GDP dianggap kurang memadai. maka dengan semakin besarnya pertumbuhan koperasi memberikan indikasi semakin banyak jumlah anggota yang memperoleh manfaat dari kehadiran koperasi.JURNAL VOLUME 4 . maka partisipasi anggota merupakan kata kunci yang melambangkan dampak keberhasilan koperasi dalam memperbaiki kesejahteraan para anggotanya. peranan koperasi terlihat belum memadai dan belum menggambarkan dampak penggandanya terhadap seluruh aspek kehidupan anggota koperasi maupun masyarakat. sumbangannya terhadap GDP maupun GNP (cooperative share). Pengukuran dampak koperasi dalam bentuk kemanfaatan koperasi dan partisipasi sebagai komplemen bahkan mungkin subtitusif dari dua tolok ukur dan atau cara pengukuran di atas.AGUSTUS 2009 : 171-185 itu memberikan manfaat bagi sebagian besar anggota dan masyarakat sekitarnya. Di lain pihak jika kita mengukur dari segi cooperative share terhadap GDP. yaitu dilihat dari perspektif pertumbuhan koperasi ternyata hasilnya belum memuaskan. II. Mengingat basis kekuatan koperasi adalah pada anggota. yaitu dilihat dari dimensi pertumbuhan (cooperative growth). Kerangka Pemikiran Setidaknya ada tiga cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan koperasi. Berdasarkan suatu asumsi bahwa semua koperasi akan berusaha secara maksimal untuk melayani anggotanya atau berorientasi pada kepetingan anggota. Dengan lain perkataan di samping data yang bisa dimonitor dari koperasi juga akan diambil data berdasarkan persepsi atau opini anggota. Selain itu partisipasi merupakan dasar kekuatan koperasi.

antara lain yaitu: (a). Misalnya dalam sebuah koperasi pertanian telah dilakukan inventarisasi atau pencatatan terhadap luas area yang ditanami. Dengan cara ini membantu menemukan sebab keberhasilan maupun kegagalan dari berbagai program. ditetapkan rencana dan program yang hendak dicapai oleh koperasi dalam kurun waktu tertentu. pupuk dan kredit yang akan disalurkan kepada petani anggota. (c). Ada beberapa pertimbangan pentingnya koperasi untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri. (d).Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Selain itu dilakukan evaluasi membandingkan pelaksanaan program yang telah dicapai secara aktual dan dampaknya dengan rencana yang hendak dicapai. Selanjutnya dilakukan penyesuaian terhadap kebijaksanaan dan tujuan yang hendak dicapai. Kinerja dapat diartikan sebagai suatu tingkat pencapaian target selama periode tertentu. Selain itu terjamin tingkat akurasi dan reliabilitas data dan informasi yang disajikan. pengumpulan. volume hasil produksi yang akan dipasarkan atau diserap dan sebagainya. (b). Kegiatan monitoring dan evaluasi sangat penting bagi individual koperasi yang bersangkutan. Kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana komunikasi dua arah dan member education. Hubungan koperasi dengan para anggotanya menjadi semakin dekat dan tidak terjadi kesenjangan antara koperasi dan anggotanya. (berupa tenaga pelaksana dan pembiayaan) tidak memungkinkan koperasi secara nasional untuk melakukan kegiatan ini. Gopar) Monitoring dapat dirumuskan sebagai proses pengukuran. pengolahan. Tujuannya adalah mendapatkan informasi jumlah atau volume komoditi atau kebutuhan anggota yang sudah tersalur maupun jumlah anggota yang sudah menerimanya dan seterusnya. Dalam pelaksanaan perlu dipantau terus menerus. Pada umumnya hasil evaluasi pemerintah tidak segera dikomunikasikan dengan koperasi yang diamati. efisien serta manageable jika dilakukan oleh koperasi itu sendiri. Lebih mudah dan cepat untuk melakukan penyempurnaan. Atas dasar itu. Kegiatan ini disebut evaluasi (impact monitoring). Keterbatasan sumberdaya yang ada pada pemerintah. Disamping itu koperasi menjadi semakin kritis dan realistis dalam perumusan kebijaksanaan dan perencanaannya. Karena secara cepat dapat mengkoreksi berbagai kesalahan ataupun penyimpangan yang terjadi pada koperasi. Secara dini koperasi dapat menemukenali kesalahan dan penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program. dan penyajian informasi untuk membantu pengelola dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerjanya dalam mengelola suatu organisasi atau perusahaan. pencatatan. 175 . Dalam rangka operasionalisasinya akan lebih efektif. volume bibit.

III. Jumlah KUD untuk masing- 176 . dilaporkan hasil monitoring dan evaluasi dampak koperasi pada tingkat anggota kepada dinas koperasi kabupaten/kota.JURNAL VOLUME 4 . Pemilihan Koperasi Contoh Pemilihan koperasi contoh didasarkan kepada berbagai pertimbangan pula. maka pelaksanaannya dilakukan berdasarkan anaannya metodologi dan prosedur yang disusun sebagai berikut: 1. Berdasarkan pertimbangan kemampuan pelaksanaan. ditetapkanlah sebanyak 15 KUD sebagai objek penelitian. Yogyakarta. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ditetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan kebutuhan akan representasi dari keadaan yang ada di lapang dan ketersediaan dana. Operasionalisasi kegiatan secara mekanistis diarahkan untuk memasok data agregat pengambilan keputusan di tingkat pemerintah melalui jaringan kerja (network): Anggota – Koperasi – Kantor koperasi di kabupaten/ kota – Provinsi – Pemerintah pusat. sebagaimana pada pemilihan lokasi penelitian. Kantor dinas tingkat provinsi akan menyusun laporan sedemikian rupa kepada pemerintah pusat. dukungan pembiayaan dan representasi data yang dapat diambil. Selanjutnya dilaporkan kepada kantor dinas koperasi tingkat provinsi. 2.AGUSTUS 2009 : 171-185 Anggota sebagai kelompok sasaran (target group) merupakan objek pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Di samping data/informasi perkembangan organisasi dan usaha. Secara simultan koperasi yang bersangkutan sudah dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk penyesuaian dan penyempurnaan kebijakan. Pemilihan tiga propinsi dimaksud diharapkan dapat mewakili keragaman situasi dan kondisi lingkungan koperasi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. dan berbagai pertimbangan non teknis lainnya. Sifat dan keadaan serta karakteristik yang khas dari ketiga daerah tersebut menjadi pembanding untuk masing-masing situasi dan kondisi lingkungan lainnya yang mungkin berbeda. Lokasi untuk penelitian ini adalah provinsi Sumatera Utara. Pada penelitian ini koperasi sampel ditentukan secara acak (random) dari sejumlah koperasi pedesaan yang masih aktif di provinsi lokasi penelitian. dan propinsi Sulawesi Utara.I. Kantor dinas membuat laporan kumulatif perkembangan koperasi. Merangkum hasil monitoring dan evaluasi masing-masing koperasi yang ada di daerahnya. D. Metode Penelitian Untuk mencapai tujuan proyek penelitian ini dan berdasarkan ruang lingkup kegiatan yang dicakup.

7 78 70 % Pekerjaan (tani) Selanjutnya untuk setiap koperasi sampel diambil76 sebanyak 10 51. informal untuk menggali data dan informasi yang lebih 1. Dengan pertimbangan efektivitas pelaksanaan survai. Responden anggota ini diperlukan 2. tidaklah menyebar di semua kabupaten. Identitas KUD di Anggota KUD di Yogyakarta. Koperasi Contoh dan Lokasinya No.1 kali Pend. 4 (empat) Tabel 2. koperasi yang terpilih sebagai sampel hanyalah diambil dari beberapa kabupaten Propinsi RataIdentitas Satuan saja. 177 .  2 3 4 5 6 7 8 9 10  12 13 14 15 Nama Koperasi Harta Sidomukti Sritani Tani Makmur Rata Harapan Ringin IX Ngaglik Makmur Turi Wenang Lestario Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kecamatan Selesai Hinai Gebang Babelan Besitang Pagar Merbau Cangkringan Ngaglik Kalasan Turi Sario Molas Kombi Kombi kombi idem idem idem idem idem Yogyakarta idem idem idem idem Sulawesi utara idem idem idem Propinsi Sumatera Utara No  2 3 4 Sesuai dengan jumlah KUD yang ada di masing-masing provinsi.3 82 92 76 % Umur (>35 thn) 74. 83. Gopar) masing provinsi ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah KUD dan KUD mandiri yang ada di setiap propinsi tersebut.4 2. Tabel 1.7 45 70 40 Pendidikananggota sebagai% orang (>SMP) responden.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Koperasi Contoh dan Lokasinya Tabel 1.8 3. Namun juga sebagai salah satu upaya untuk melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasi sampel (dalam hal ini diwakili oleh pengurus).3 banyak mengenai dampak koperasi terhadap anggotanya. dan 5 (lima) Umum Sulawesi Utara sebagai koperasi sampel.DIY KoperasiSULUT tersebut sampel rata SUMUT adalah sebagaimana tertera pada tabel 1. maka ditetapkanlah sebanyak 6 (enam) KUD di Sumatera Utara.

Hanya sekitar 51.4 kali. Metoda Analisis Analisis yang dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan penelitian. Hasil Pengamatan dan Analisis Dari sudut pandang koperasi (diwakili oleh pengurus dan/atau pengelola) bahwa koperasi telah memberikan dampaknya kepada anggota secara maksimal. Penelitian ini menggunakan model-model analisis statistik deskriptip sederhana (simple descriptive statistics) sebagaimana dikemukakan oleh Welch & Comer (1988).7% dari mereka yang mempunyai pendidikan diatas sekolah lanjutan pertama (SLP).JURNAL VOLUME 4 . et al.1%). Keterangan secara menyeluruh untuk semua lokasi penelitian dapat dikaji lebih lanjut pada tabel 2. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi anggota di koperasi lainnya (32%). Secara umum dapat dikatakan bahwa para responden anggota koperasi adalah para anggota yang pekerjaaannya sebagai petani (74. serta upaya melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasinya. Perlakuan dan pengolahan akan dilakukan terhadap distribusi frekuensi. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya.3% dari keseluruhan responden. Mereka umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang belum memadai. 178 . Namun demikian dari keseluruhan responden anggota tersebut umumnya mereka telah mendapatkan pendidikan non-formal dan keterampilan rata-rata sebanyak 2. Organisasi koperasi di pedesaaan pada umumnya KUD adalah berbasis kewilayahan. maka kita akan dapat memprediksikan kemungkinan maupun alternatip yang ada dari data. ketersediaan data dan informasi yang didapat dan pertimbangan seperti kemampuan para peneliti. Selebihnya mereka mengaku paling tinggi hanya tamat SLP. tendensi pemusatan dan penyebaran (Neter. IV. penggalian dan pendalaman data/informasi dari dan tentang anggota untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang anggota. Jikalau kita tinjau ciri keanggotaan lainnya (tabel 3) terlihat bahwa para responden umumnya telah menjadi anggota koperasi selama lebih dari lima tahun (73. ketersediaan waktu dan dana.7%). Terlebih dahulu akan memaparkan kondisi keanggotaan koperasi pedesaan yang diteliti. Teknik ini digunakan karena secara sederhana akan dapat menggambarkan kecenderungan yang terdapat pada suatu populasi. Untuk itu akan dibahas persepsi anggota tentang dampak dan manfaat koperasi dari sudut pandang anggota koperasi. Karena mereka umumnya hidup di pedesaan. Hal tersebut dapat dimaklumi. 1988). Dengan melihat kecenderungan dari data yang terolah. Usia mereka Usia mereka yang berada diatas 35 tahun ada sebanyak 83. Persepsi tersebut belum tentu sama dengan persepsi anggota. ketersediaan perangkat keras dan lunaknya.AGUSTUS 2009 : 171-185 3.

7 2.2 DIY 81 30 10 10 70 0. Tentunya kepemilikan (Persentase) lahan ini sangatlah bervariasi antar lokasi penelitian.13 14 15 Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kombi Kombi kombi idem idem idem Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Ciri-ciri Keanggotaan Tabel 3.3 dampak koperasi bagi anggotanya dalam hal ketersediaan beberapa komoditi 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 76 75. 64.0 31. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa menjadi anggota koperasi tidaklah hanya berdasarkan motivasi dan keinginan sendiri.2 ha). Bagaimana manfaat dan 3 74 42 57.3 74. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya para anggota koperasi umumnya merupakan petani kecil. Gopar) Tabel 2.3 SULUT 82 76 45 2. Sedangkan sebanyak 31. Identitas Umum Anggota Tabel Identitas Umum Anggota No  2 3 4 Identitas Umur (>35 thn) Pekerjaan (tani) Pendidikan (>SMP) Pend. keinginan sendiri Pemilikan lahan Satuan % % % % % % (ha/angg) Propinsi SUMUT 72 40 52 6 40 1. Di Sumatera Utara para Propinsi RataNo Komoditi anggotanya menjadi pemilik kebun kelapa DIY ternyata memiliki lahan sawit SULUT rata SUMUT yang jauh lebih luas dari rata-rata kepemilikan lahan tersebut diatas (sekitar  Pupuk 70 76 77.0 64 70 58 Tabel 5. Ternyata pengaruh anjuran para pembina dan pengurus ternyata masih cukup kecil. Efektivitasnya perlu untuk dikaji lebih lanjut.4 Hal menarik lainnya adalah motivasi menjadi anggota koperasi.3 para Kredit anggota koperasinya rata-rata 56 sekitar 1. Begitu juga halnya dengan di Sulawesi86 Utara yang kepemilikan lahan 2 Obat-obatan dan bibit 68 60 62 63. 2.3 0. Tabel 3.3 3.8 Ratarata 83.7 51. lebih tinggi .3% saja yang menjadi anggota koperasi atas keinginan sendiri.4 SULUT 68 26 32 8 56 1.7 55.0 179 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a.3 4.96 1 4 Ciri lainnya yang penting untuk dikaji adalah kenyataan bahwa Tabel 4. Hanya sekitar 55.3% lainnya menjadi anggota koperasi karena atas anjuran kepala desa. anjuran kepala desa b.3 ha.3 1. informal Satuan % % % kali SUMUT 76 70 40 3.3 Ratarata 73. Ini menarik untuk dikemukakan. Ciri-ciri Keanggotaan No  2 3 Ciri keanggotaan Lama keanggotaan (>5 thn) Anggota koperasi lain Motivasi a. anjuran pengurus c.7 32. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 3 (Persentase) Ratarata SULUT 62 24.3 dan ketepatanlainnya 5 Pelayanan waktunya dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini. Pengaruh anjuran pembina dan pengurus terhadap calon anggota untuk menjadi anggota koperasi yang hanya sekitar 8% tentunya belumlah bisa menggambarkan bahwa anjuran dan penyuluhan belum memadai.96 ha. anjuran pembina d. Berlahan sempit kepemilikan lahan rata-rata hanya sekitar 0.1 Propinsi DIY 92 78 70 1.

3%) menyatakan bahwa Komoditi rata tersedia dan waktunya tepat saat dibutuhkan. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi komoditi pupuk cukup Ratabesar dari responden (77.7 55. lainnya transaksi antara 64 Pelayanan normal/sama Dalam hal anggota dan koperasinya. normal/sama c. Ciri-ciri Keanggotaan 0.4 (ha/angg) 4 Pemilikan lahan JURNAL VOLUME 4 .3%.rata 57.0 54. lebih rendah para responden (75. anjuran pengurus % c.3%) menyatakan mereka mendapatkan kemudahan dari 72.3 73. ternyata mendapatkan tanggapan yang cukup berbeda antar daerah.3 55.0 26 (Persentase) Rata32 rata 31.3 58 64. Yogyakarta (86%). 4.96 76 75. Sebagaimana terlihat pada tabel 5. lebih tinggi Kemudahan Cara pembayaran 70 80 3 76 62 75.3 57.3 SULUT 3.3RataNo Jenis Tanggapan ketersediaan dan ketepatan waktunya.7 56 70 86 58 22 64.96 Ratarata Tabel Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Tabel 4. 24. lebih tinggi b.3 0. harga pembelian komoditi milik anggota oleh koperasi jika dibandingkan dengan pasaran umum adalah normal ataupun relatip sama. lebih rendah Harga koperasi sbg patokan Kepastian harga (Persentase) Ratarata SULUT 62 22 4 72 88 24.3 4.I.7 68 32. sebagian besar 11. anjuran pengurus 6 % c.0 72 66 78 2 Harga koperasi sbg patokan cara pembayaranharga diberikan oleh koperasi. SUMUT Masing-masing hanya 63. ini berarti sebagian Tabel 5.0 54.3 4.3 4 2 28 c.3 SULUT 31. keinginan sendiri bibit 2 Obat-obatan dan 68 40 6070 (ha/angg) 561. ternyata belumlah cukup memuaskan Propinsi 76 Pupuk 70 86 77. DIY komoditi lainnya seperti Untuk SULUT (Persentase) SUMUT obat-obatan dan bibit.10 52 % a.7 62 56 63. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat latar belakang para anggota koperasi di Sulawesi 2 180 .3 42 1. Sebanyak 62% dari para respondennya menyatakan bahwa harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi. bahwa sebagian anggota koperasi sarnpel di Sumatera Utara (56%) dan D. anjuran pembina Pupuk 70 6 86 % d. keinginan sendiri Tabel 3. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Dari tabel 4 terlihat bahwa komoditi pupuk ketersediaan dan ketepatan (Persentase) waktunya merupakan yang tertinggi angka persentasenya.7 11. anjuran kepala desa 10 % b.AGUSTUS 2009 : 171-185 1. 83. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 56 28 78 92 3 86 2 66 70 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a.3 2 3 2 Mengenai harga komoditi. Obat-obatan dan bibit 68 60 DIY 62SULUT 63.3 76 8 77.3 ketersediaan  Kredit Harga di 74 beberapa komoditi tersebut adalah cukup dan pada waktu yang tepat.3 0.2 Pemilikan lahan 3 Kredit 740. anjuran pembina 70 40 % d.0 b. anjuran kepalaKomoditi desa SUMUT DIY 10 % b.0 3 a.3 dan 64% saja koperasi vs di umum 56 yang menyatakan 42 dari para responden bahwa 57. Tanggapan atas Harga Komoditi Tabel 5. Hanya sebagian kecil saja dari mereka (3%) yang menyatakan harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi.0 83. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya 4 No  2 3 4 5 Tabel 4.3 88 70 92 3 Kepastian yang Tabel 5.2 Propinsi No Ciri keanggotaan Satuan SUMUT DIY  2 3 81 72 % Lama keanggotaan (>5 thn) 30 40 % Anggota koperasi lain Motivasi Propinsi No 10 52 % a.3%. kredit.3 3. dan lainnya. Ini sangat berbeda dengan pendapat para anggota koperasi sampel di Sulawesi Utara.4 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 5 Pelayanan lainnya 64 70 32 8 56 1.3 72.

sebanyak 34% responden menyatakan pernah meminjam uang kepada koperasi. Ada sebanyak 72% responden menyatakan bahwa harga koperasi merupakan barometer transaksi jual beli.7 92. Pada umumnya para responden menyatakan harga koperasi dapat dijadikan patokan harga bagi komoditi yang mereka kelola. sebanyak 92% responden menyatakan mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan informasi pasar. Umumnya 92% responden menyatakan bahwa bunga yang dikenakan oleh koperasi cukup rendah.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan kepastian harga bagi komoditi yang mereka kelola. baik b. Kiranya perlu pendalaman lebih lanjut. sebanyak 83. Berarti koperasi sedikit banyak telah dapat mengendalikan harga komoditi yang dikelola anggota. Selain itu sebanyak 72. Sebanyak 7% dari mereka menyatakan pelayanan tersebut sangat baik. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman Tabel 6. Mengenai kemanfaatan informasi tersebut.3 72. umumnya sepakat (sekitar 95. Pada umumnya adalah para petani cengkeh yang sistem jual belinya sudah diatur dengan sistem tataniaga cengkeh. Hal tersebut menyebabkan terhindarnya fluktuasi harga yang merugikan anggota. Demikian juga dengan kepastian harga.3% responden) menyatakan bahwa informasi pasar yang mereka dapatkan tersebut adalah membantu memahami pasar. Dalam hal pinjaman. Hal ini menarik untuk disimak dan dikaji jika dibandingkan jawaban responden dari Sumatera Utara adalah sebanyak 28% dari mereka menyatakan harga koperasi adalah lebih rendah.0 34. Tabel 6. Dampak Koperasi Menurut Anggota Propinsi Rata- 181 (Persentase) .0 SULUT 92 92 72 3 24 90 94 Tabel 7.6 7.0 80.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.6% responden menyatakan bahwa pelayanan koperasi dalam hal informasi pasar ini adalah baik.0 95. Kemanfaatan lain yang dirasakan para responden adalah dalam hal pemasaran komoditi dan peminjaman modal ke koperasi. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman No I  2 3 II 4 5 6 Kemanfaatan Pemasaran Kemudahan informasi pasar Informasi tersebut membantu Pelayanan koperasi a. Sebagian besar (80. sangat baik Pinjaman Pernah meminjam Mudahnya peminjaman Bunga rendah Propinsi SUMUT 88 94 86 6 32 82 92 DIY 96 100 60 12 46 70 90 (Persentase) Ratarata 92. Hal ini dapat dilihat pada tabel 6. Apakah hal tersebut berkaitan dengan komoditi kelapa sawit yang kelola.7%) menyatakan bahwa proses peminjaman tersebut cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Gopar) Utara. Dalam hal kemudahan informasi pasar.

Kemanfaatan dalam Pemasaran mempengaruhi.JURNAL VOLUME 4 . sangat mempengaruhi Alat perubahan dalam pembangunan ekonomi Alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota Alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi Fasilitator dalam pembangunan ekonomi Propinsi SUMUT 80 100 50 48 82 84 76 78 DIY 78 100 60 32 85 95 80 70 SULUT 86 96 45 55 88 80 60 66 Ratarata 81. Hal ini dapat dikaji pada tabel 7.0 85.3 182 . Umumnya sebanyak 98.7 51. Sebanyak 51.3% lainnya menyatakan bahwa koperasi dapat merupakan fasilitator dalam pembangunan ekonomi. Sebagai alat perubahan. Di lain pihak ada sebanyak 71.AGUSTUS 2009 : 171-185 Bagaimana dampak koperasi dirasakan oleh anggota.0 3 6 b.0 24 46 32 Pernah 4 anggota.7% responden sepakat menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja di daerah kerjanya.0 92 88 Kemudahan informasi pasar  responden menyatakan bahwa koperasi dapat 96 merupakan alat pertumbuhan 95. Sebanyak 86.7% Tabel 6. mendapatkan tanggapan positif dari para responden.3% 92.0 86. Pengaruh koperasi terhadap peningkatan perekonomian desa ternyata.0 94 90 92 Bunga rendah 6 menyatakan bahwa koperasi merupakan alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi. (Persentase) No RataPropinsi Ada sebanyak 85% responden menyatakan bahwa koperasi dapat Kemanfaatan merupakan alat perubahan dalam pembangunan ekonomi.0 71. responden menyatakan bahwa koperasi cukup dan Peminjamansedangkan sebanyak 45% lainnya menyatakan sangat mempengaruhi terhadap peningkatan perekonomian pedesaan. Tabel 7. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 81.6 72 60 86 a. baik pembangunan.7 70 82 5 Mudahnya peminjaman tersebut di atas. ada sebanyak 72%90 Selain hal-hal responden yang 92.3 72. Sebagai alat pertumbuhan dalam12 perekonomian anggota. sangat baik Pinjaman II koperasi diharapkan dapat mengembangkan dan meningkatkan perekonomian 34. Dampak Koperasi Menurut Anggota Tabel 7.3 92 100 94 Informasi tersebut membantu 2 dalam perekonomian anggota. cukup mempengaruhi b.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan anggota. Angka persentase rata SUMUT DIY SULUT tersebut hampir sama dengan yang menyatakan bahwa koperasi dapat Pemasaran I merupakan alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota. meminjam 80. koperasi dimaksudkan 3 Pelayanan koperasi dapat menjadi wahana atau agen untuk setiap perubahan (change agent) dalam 72. Dampak Koperasi Menurut Anggota (Persentase) No  2 3 4 5 6 7 Dampak koperasi Kemajuan anggota Peningkatan lapangan kerja Peningkatan perekonomian desa a.7 45.3 98. maka 7.

Kesimpulan Dan Saran Dari penelitian ini ternyata kualitas sumberdaya manusia yang menjalankan kegiatan koperasi pedesaan ini belumlah memuaskan. Dari segi permodalan koperasi pedesaan masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi. Gopar) Dari uraian di atas diungkapkan dampak koperasi sebagaimana yang dirasakan oleh anggota. Dalam hal pencarian sumber dana eksternal serta memobilisasikannya guna memperkuat permodalan. Hasil kajian dimaksud diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi kehidupan perkoperasian. dan sistem serta prosedur yang berlaku secara lazim dalam bisnis. Walaupun pada kenyataannya di beberapa koperasi banyak dari pengurus/pengawas dan pengelolanya telah mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. akan turut mempengaruhi tingkat kemanfaatan sumberdaya manusia untuk pengembangan usaha koperasi. Karena hal tersebut menyebabkan frekuensi dan arus penciptaan marjin keuntungannya semakin meningkat. Pengembangan dan pengaturan organisasi dan managemen yang dimulai dengan mewujudkan ”aturan main” tersebut perlu terus dikembangkan sehingga terwujud suatu sistem managemen koperasi yang khas dan tepat guna. VI. Selain itu tingkat pengalaman yang umumnya masih belum lama. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif dalam hal-hal sebagaimana diterangkan di atas. Untuk itu pendidikan perkoperasian maupun pendidikan keahlian bisnis bagi pengelola koperasi perlu lebih ditingkatkan lagi. kadar keterlibatan pekerjaan yang masih belum memuaskan. Komposisi dalam suatu perangkat organisasi usaha belumlah cukup seimbang. maka diperlukan upaya dari suprastruktur (terutama dari pemerintah) untuk mengembangkan sistem keuangan koperasi. Dengan demikian tercipta suatu sistem keuangan koperasi yang mandiri. Peningkatan efisiensi permodalan dilakukan melalui perbaikan sistem managemen koperasi dan sistem operasional yang digunakan oleh anggota dalam mengelola aktivitas ekonominya. Terutama dalam hal pemanfaatan modal yang tersedia agar menghasilkan produktivitas dan efisiensi yang semaksimal mungkin.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. sehingga sebenarnya masih diperlukan lagi pengukuran yang bersifat objektif-kuantitatif. 183 . Selain itu pula ”aturan main” bagi pelaksana haruslah dibuat berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. Namun demikian perlu diingat bahwa ukuran yang digunakan dimaksud adalah ukuran subjektif-kualitatif. Mengingat adanya beberapa peraturan/perundangan yang menata sistem keuangan. maka perlu dilakukan pengkajian yang lebih spesifik dan terfokus. Peningkatan produktivitas permodalan dilakukan dengan meningkatkan perputaran modal yang ada. Untuk itu semangat yang dikandung oleh UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang sistem keuangan koperasi perlu dikaji lebih mendalam lagi.

Terutama dalam hal kemudahan yang diperoleh anggota dalam kecepatan proses dan tingkat bunga. Model. terutama kemitraan. Pada akhirnya kemanfaatannya akan jatuh kepada anggota. (6) Penciptaan keterkaitan usaha anggota. Sebagai misalnya adalah penjualan komoditi dengan harga yang wajar. DAFTAR PUSTAKA Draper. New York: John Wiley & Sons. (4) Penciptaan penanggulangan tunggakan kredit. Dampak kepada anggota akan sesuai Dampak kepada anggota akan sesuai dengan peluang yang ada dalam peraturan/perundangan. and Tasks. antara lain adalah: (1) Meningkatkan jumlah anggota. and H. Semakin aktif partisipasi anggota semakin besar manfaat yang dirasakan oleh anggota tersebut. Specht.JURNAL VOLUME 4 . N . (1977). Untuk itu diperlukan kreativitas dan model kegiatan yang menggali potensi anggota maupun non anggota. New Jersey: Pretice-Hall. Dari penelitian ini setidaknya ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh koperasi. kualitas yang memadai dan tersedia pada waktu yang diperlukan. Pelayanan tersebut ternyata akan semakin dirasakan dengan meningkatnya partisipasi.AGUSTUS 2009 : 171-185 Adanya berbagai peluang untuk pengembangan usaha sebagai konsekuensi dari berlakunya berbagai peraturan pemerintah yang sangat mendukung berkembangnya koperasi pedesaan (terutama UU Nomor 25 Tahun 1992) perlu diantisipasi oleh koperasi untuk lebih mengembangkan organisasi dan usahanya. juga perlu dikembangkan lebih lanjut pengembangan kemanfaatan koperasi dari sistem patron yang ada dalam koperasi. Sehubungan dengan hal tersebut koperasi sebagai badan usaha perlu lebih mengembangkan kegiatannya. (1981). 184 . dan (8) Pengawasan oleh anggota. Planning for Social Welfare. Dalam hal keperluan modal dan pinjaman ternyata juga telah dirasakan manfaatnya bagi para anggota. Dampak berupa kemanfaatan umumnya dirasakan melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh koperasi. N. Inc. (5) Penyertaan anggota dalam proses perencanaan. (2) Pemupukan modal sendiri. Applied Regresion Analysis. and H. Kemanfaatan koperasi bagi anggota selain kemanfaatan langsung usaha dan kegiatan ekonomi di tingkat anggotanya. (7) Rapat Anggota Tahunan. Pengembangan organisasi dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi internal dan aspek eksternal.. Issues. Smith.R. Kiat-kiat yang dapat dilaksanakan koperasi untuk meningkatkan dampak koperasi perlu ditemukenali. Pelayanan koperasi dalam memberikan informasi pasar dan kepastian harga ternyata cukup bermanfaat bagi anggota. dinilai responden sebagai cukup baik. dikembangkan dan dilaksanakan dengan baik. Gilbert. (3) Peningkatan volume usaha. Secara umum dapat dikatakan bahwa kehadiran koperasi di pedesaan telah dirasakan dampaknya oleh anggota.

Jakarta: Pemerintah Koperasi. Techniques and Applications. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. Welch. Gopar) -------------. and J. 185 . Comer. Quantitative Methods for Public Administration. (1988). S. Chicago: The Dorsey Press. (1992).Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful