Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur

)

PENYUSUNAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) STUDI KELAYAKAN EKONOMI DAN FINANSIAL BAGI UKM*) Daniel Asnur**) Abstract DSS is a system based model which consisted of procedures in data processing, addressed to assist managers in taking decision. This system has to be: 1. Simple, 2. Robust, 3. Easy to be controlled, 4. Adaptable, 5. Has various important features, 6. Communicative. Implicitly it’s also means that this system must base on computer (computerized) and applied/use to support SME to solve their problems. DSS SME software is a computerized information system which can support its users in plan and making decision for SME business finance and economic. DSS can give amenities in doing calculation, correctness in calculation and inspection. This software application is expected to be able to give effectiveness and efficiency for government, stakeholders and intermediary institute in doing decision making to develop SME business. This application system run/compatible with Microsoft Windows, it has attractive display appearance and can yield SME financial and economic eligibility output in .doc format (Microsoft office word) for further editing and printing.

Sistem informasi, aplikasi software, UKM I. PENDAHULUAN Eksistensi UKM dalam perekonomian Indonesia cukup dominan dan signifikan. Sedikitnya, terdapat 3 (tiga) indikator yang menunjukkan bahwa keberadaan UKM di Indonesia memiliki posisi dominan dan signifikan. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Jumlah populasi UKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,99% terhadap total unit usaha di Indonesia, dengan jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga
Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. Artikel diterima 16 April 200�, peer review 22 April s.d. 8 �uni 200�, review akhir �� �uli 200� **) Kepala Bidang Kerjasama dan �aringan pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian)
*)



JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

kerja. Setiap unit investasi pada sektor UKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UKM menyerap 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan, yakni jumlah PDB mencapai Rp 3.957,4 triliun, dimana UKM memberikan kontribusi sebesar Rp 2.121,3 triliun atau 53,6% dari total PDB Indonesia. Pertumbuhan PDB UKM tahun 2007 terjadi di semua sektor ekonomi. Ekspor hasil produksi UKM selama tahun 2007 mencapai Rp 142,8 triliun atau 20% terhadap total ekspor nonmigas nasional sebesar Rp 713,4 triliun. Dalam situasi dan kondisi ekonomi yang belum kondusif ini, pengembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Argumentasi ekonomi ini karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang dimiliki bangsa ini. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak memerlukan kapital yang besar dan dalam periode krisis selama ini UKM relatif tahan banting”, terutama UKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UKM dalam sektor pertanian dapat memperoleh keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UKM yang tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak depresiasi rupiah ini. Di sisi lain, permasalahan UKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources), managemen, funding access, informasi teknologi dan market acces membuat para pengusaha UKM (umumnya) memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Hal ini terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 31% pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan. Di lain pihak perbankan merasa bahwa sebagian pelaku UKM yang mengajukan kredit juga belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh perbankan. Salah satu upaya yang dapat diusung dan dikembangkan adalah dengan menyusun Pedoman Pengambilan Keputusan Pengembangan Investasi UKM Berbasis Teknologi dan Sistem Informasi (Decision Support System/ DSS) yang menjembatani permasalahan dasar UKM dan kebutuhan pihak intermediary swasta untuk meningkatkan portofolio investasinya. DSS adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung keputusan. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan, ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Mengintegrasikan konsep DSS dan konsep kelayakan ekonomi dan finansial untuk pengembangan usaha UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas, efesiensi dan ketelitian bagi pihak pemerintah, pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM.

2

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dirancang sebuah sistem informasi dalam pengambilan keputusan untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial bisnis UKM yang dapat direplikasikan untuk usaha yang sejenis pada wilayah-wilayah di Indonesia, sehingga keputusan pengembangan dan pemberdayaan usaha ini dapat dijalankan secara akurat dan teliti. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mengukur kinerja usaha ini dalam menjalankan bisnisnya dan memberikan informasi tentang kondisi yang dihadapi. II. TINJAUAN PENELITIAN SEBELUMNYA Sebagai bahan perbandingan dalam penelitian Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM, diantaranya penelitian yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2003) dengan judul Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam hal: (a) Kecepatan di dalam mencari informasi pangan sampai level kecamatan, sehingga dapat membantu mempercepat perhitungan kebutuhan, pengadaan, dan distribusi pangan; (b) Reliabilitas estimasi luas dan produksi pangan (khususnya padi), sehingga dapat digunakan sebagai opsi kedua setelah BPS dalam perhitungan pengadaan pangan; dan (c) Ketepatan luas dan penggunaan lahan dan trend perubahannya, sehingga kebijakan untuk mengantisipasi laju perubahan lahan pertanian ke non pertanian dapat dilakukan sedini mungkin. Penelitian lanjutan yang dilakukan Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (2005) dalam dengan judul Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan alat bantu pengambil keputusan untuk pendayagunaan sumberdaya iklim dan air untuk perencanaan pertanian Berdasarkan kedua sumber penelitian tersebut di atas, tampak bahwa manfaat yang diberikan oleh aplikasi Decision Support System sangatlah luas. Sehingga penulis tertarik untuk mengintegrasikan aplikasi DSS ini di dalam dunia koperasi dan UKM yang antara lain untuk keperluan analisa marketing, operasi logistik dan distribusi, serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi (taxation, budgeting, dsb.). III. KERANGKA PEMIKIRAN Dalam penelitian ini akan menyusun Decision Support System Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM. Hasil analisis tersebut ut menunjukkan apakah usaha yang dijalankan UMKM layak atau tidak untuk dilaksanakan.

3

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

Langkah pertama adalah menyusun variabel ekonomi dan finansial UMKM. Variabel ekonomi terdiri dari aspek produksi, aspek pemasaran, aspek managemen dan SDM, aspek lingkungan. Aspek finansial meliputi initial invesment, working capital, perhitungan cash flow dan biaya produksi dan operasi. Selanjutnya menganalisis data kuantitatif dengan menghitung kelayakan investasi yang mempunyai beberapa kriteria yaitu Break Event Point (BEP), B/C Ratio, Payback Periods (PP), NPV, PI, IRR, dan Rentabilitas Ekonomi. Kemudian mencari perhitungan analisis sensitivitas untuk melihat sampai berapa persen peningkatan atau penurunan faktor-faktor pemasukan atau biaya tersebut dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi pada aspek keuangan yaitu dari layak atau menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Kemudian dari hasil perubahan biaya atau pendapatan dimasukkan kedalam analisis kelayakan investasi UKM yang diterapkan. Langkah terakhir adalah interpretasi hasil analisis kelayakan, apakah layak atau tidak. Bila hasilnya menyatakan layak maka diteruskan dengan pelaksanaan. Bila hasilnya menyatakan tidak layak maka perlu dilakukan evaluasi. Pada gambar 1 disajikan skema kerangka berpikir sebagaimana penjelasan di atas.

Gambar

1.

Skema Kerangka Pemikiran Penyusunan Decision Support System (DSS) Kelayakan Ekonomi dan Finansial bagi UMKM

4

Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur)

III.

METODOLOGI 1. Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan finasial ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisa kajian literatur yang berkenaan dengan indikator yang ditentukan sebagai variabel ekonomi dan finansial. Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk model perhitungan kelayakan ekonomi dan keuangan dari hasil penyebaran kuisioner kepada responden. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan ini memperoleh hasil yang valid dan komprehensif. 2. Populasi dan Sampel Dari populasi yang menjadi subjek dalam kajian ini, kemudian diambil sampel. Responden yang menjadi sampel penelitian untuk masingmasing kegiatan penyusunan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM dilakukan dengan purposive sampling berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu. Sampel diambil dari Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Irian Jaya. Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut: • • • • Pelaku UKM yang usahanya merupakan produk unggulan di masing-masing propinsi Telah menjalankan usaha yang sejenis selama lima tahun Penghasilan usaha positif Data yang diambil merupakan data yang wajar.

3. Jenis dan Sumber Data: Jenis dan sumber data yang menjadi bahan dalam kajian ini terdiri dari : • Data Primer, yaitu data dan informasi yang diperoleh secara langsung dari narasumber/responden baik yang berupa hasil wawancara dan kuesioner yang disebarkan kepada responden. Data primer diperoleh dari pelaku UKM pada masing-masing lokasi kajian. Data Sekunder, yaitu data dan informasi yang diperoleh dari dokumen/publikasi/laporan penelitian dari dinas/instansi maupun sumber data lainnya yang menunjang.

5

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 1-17

4. Teknik Pengumpulan Data: Untuk menganalisis kegiatan pengembangan software DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial UKM yang efektif serta merekomendasi best practice yang dapat digunakan dan dikembangkan, maka akan digunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: • • Studi Kepustakaan dan Literatur, digunakan untuk mendapatkan data-data awal tentang kelayakan ekonomi dan finansial. Wawancara mendalam (indepth interview), yakni teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada key informan. Penyebaran kuisioner, yakni teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner kepada pelaku bisnis dan instansi terkaitdan kuesioner ini bertujuan untuk mandapatkan data faktual tentang kajian.

5. Teknik Analisis Data: Setelah data diperoleh dari berbagai kelompok responden serta setelah dilakukan entri dan tabulasi data, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil survei. Hasil dari survei dan analisa ini akan menjadi dasar informasi untuk mendesain kebutuhan seperti apa yang harus dipenuhi dari sisi operasional. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang nantinya akan menjadi dasar bagi tahapan selanjutnya, yaitu melakukan desain terhadap software DSS yang akan dibangun. 6. Tahapan Perancangan Aplikasi: Tahapan-tahapan perancangan aplikasi dengan metode Rapid Application Development (RAD) adalah sebagai yang terilustrasi pada Gambar 2. a) Pemodelan Cara Kerja Data-data masukan mengalir dari satu fungsi kerja ke fungsi kerja berikutnya. Aliran data masukan kedalam beberapa fungsi kerja tersebut dimodelkan untuk mendapatkan model cara kerja. Pemodelan cara kerja ini akan menjawab berapa pertanyan mendasar sebagai berikut: 1). Informasi apa sajakah yang dapat mempengaruhi aplikasi; 2). Informasi apa sajakah yang akan dihasilkan; 3). Bagian-bagian mana yang menghasilkan informasi; 4). Kemana informasi/data itu akan dikirimkan; 5). Siapa dan bagaimana data/informasi itu diproses.

6

c) Pemodelan Pemrosesan Data Disini konsultan akan mendefinisikan proses/transformasi di semua objek data yang telah didefinisikan pada tahap pemodelan data.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) ����������������� ����������������� ������������� ���������������� ���������������������� �������������������� Gambar 2. menyunting. misalnya Java. Didalam pemodelan data juga dilakukan pendefinisian hubungan/relasi antara objek satu dengan yang lain. dan antara atribut satu dengan yang lain. Proses/ transformasi data tersebut harus disesuaikan dengan aliran informasi yang telah dirancang pada pemodelan cara kerja. menambah. VB. Tahapan Perancangan Aplikasi b) Pemodelan Data Aliran informasi yang telah didefinsikan didalam pemodelan cara kerja kemudian dianalisa kembali lebih detail untuk mendapatkan daftar objek/data yang dibutuhkan untuk mendukung cara kerja yang telah dimodelkan. C# atau Delphi. Karakteristik masing-masing objek (biasanya disebut sebagai attribute) kemudian diidentifikasikan. mengambil dan menyimpan data. Transformasi yang dimaksud antara lain. Semua proses itu dimodelkan dalam pemodelan pemrosesan data ini. menghapus. RAD 7 . d) Pengembangan Aplikasi Pengembangan aplikasi dengan menggunakan model RAD ini akan sebanyak-banyaknya memanfaatkan alat bantu yang telah ada dan sering digunakan.

Secara umum. IV. Kemudian untuk kebutuhan kalkulasi. 2) Fasilitas produksi. 6) Segmentasi. konsultan akan menggunakan lingkungan kerja (framework) Java sebagai pengelola UI (user interface) atau antar muka. Disain Input dan Output DSS UMKM Disain input dan output yang dikembangkan untuk pembuatan software kelayakan ekonomi dan keuangan selain Profil Perusahaan adalah sebagai berikut: a) Aspek Produksi Analisis teknis berkenaan dengan kegiatan produksi dan operasi yang dijalankan. penggabungan satu atau dua aplikasi lain yang telah ada untuk pengembangan aplikasi. 9) Kendala produksi.JURNAL VOLUME 4 . Penilaian kelayakan diukur secara kuantitatif dengan menggunakan kuisioner untuk melihat apakah menurut pelaku usaha kegiatan teknis produksi dan operasi yang dijalankan telah layak secara ekonomi. Fungsi tambahan yang sering dilakukan dalam model RAD ini antara lain melakukan otomatisasi. Berikut ini faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melihat aspek pasar adalah sebagai berikut: 1) Permintaan. konsultan akan menggunakan excel sebagai prosesor untuk melakukan kalkulasi yang akurat.AGUSTUS 2009 : 1-17 menekankan pada penggunaan kembali komponen-komponen yang telah tersedia. 3) Bahan Baku. Faktor-faktor yang yang menjadi pertimbangan dalam aspek produksi seperti sebagai berikut: 1) Lokasi Usaha. 5) Teknologi. Jenis dan mutu. 10) Critical Path Method. 8) Targeting. 4) Tenaga kerja. 2) Harga. 8 . 7) Jumlah. 7) Positioning. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. 8) Produksi Optimum. titik tolak dalam alur pikir tersebut adalah penyusunan aspek pemasaran dapat dilakukan setelah pengusaha mempunyai rencana pengembangan bisnis. 5) Market size dan market share. b) Aspek Pemasaran Analisis usaha dapat dilakukan secara kualitatif atau deskriptif kuantitatif untuk mengetahui aspek pasar dan pemasaran. Pilihan ini diambil karena Java cukup banyak digunakan dan berukuran cukup kecil. Didalam pengembangan aplikasi kali ini. penawaran dan persaingan pasar. 3) Jalur Pemasaran. 4) Pemilihan Pola usaha. 6) Proses produksi. integrasi antara satu komponen dengan komponen yang lain.

cash flow dan biaya operasional yang terdiri dari fixed cost dan variable cost. Selain itu. sedang kompensasi terkait dengan tingkat kompensasi yang diberikan. 2. proses pengisian langkah-langkah studi kelayakan tidak harus sekaligus dimasukkan dalam satu saat. Aplikasi ini dijalankan diatas windows. net present value. pelaku usaha dan lembaga intermediary dalam melakukan pengambilan keputusan untuk mengembangkan bisnis UKM. Aplikasi software DSS UKM diharapkan dapat memberikan efektivitas dan efesiensi bagi pihak pemerintah. dengan tampilan yang menarik dan mampu menghasilkan output kelayakan ekonomi dan finansial dalam format pdf yang siap di cetak maupun dalam format doc untuk proses pengeditan lebih lanjut. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Kelayakan investasi dapat diukur dari berbagai kriteria. payback periods. yaitu : tingkat ketersediaan bahan baku. sumber bahan baku. Aplikasi juga memiliki beberapa fitur yang salah satu diantaranya adalah fasilitas untuk me-review perencanaan bisnis yang dibuat. internal rate of return dan rentabilitas ekonomi. Fasilitas yang disedikan mengarahkan para pengguna yang awam akan perencanaan usaha untuk mampu membuat perencaaan ataupun pengambilan keputusan kelayakan usaha dengan mudah dan sederhana. analisis break even point. profil usaha dan kompensasi. e) Aspek Keuangan Dalam variabel keuangan ini akan disajikan informasi tentang biaya investasi. DSS dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. yaitu : Bentuk Organisasi Perusahaan. modal kerja. jumlah pesaing industri sejenis. benefit/cost ratio. Fitur Aplikasi DSS UMKM Software DSS UKM adalah sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi yang dapat mendukung para penggunanya dalam perencanaan dan pengembalin keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. Kemudian untuk profil usaha terkait dengan skala usaha dan sistim pengelolaan usaha. penghalang memasuki industri (Entry Barier). profitability index. 9 . Untuk bentuk organisasi terkait dengan badan hukum perusahaan dan perizinan. dan jarak antar usaha sejenis. tetapi dapat bertahap yang pada akhirnya menghasilkan sebuah perencanaan bisnis yang lengkap dan akurat. yang dalam hal ini menggunakan.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) c) Aspek Managemen dan SDM Pembahasan mengenai aspek managemen dan SDM ini terkait dengan. d) Aspek Lingkungan Pembahasan mengenai aspek lingkungan ini terkait dengan.

Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsi perusahaan dan usaha yang dijalankan. d) Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. a) Profil. user terlebih dahulu diminta untuk menyesuaikan sektor usaha yang dijalankannya atau sektor usaha yang akan dibuat studi kelayakannya dengan memilih tampilan toolbar aplikasi. Langkah-langkah memulai aplikasi DSS studi kelayakan ekonomi dan finansial bagi UMKM adalah sebagai berikut: a) Pilih Bidang Usaha: untuk mulai menjalankannya. merupakan toolbar yang terdiri dari profil perusahaan dan profil usaha. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor. d) Print. b) Aspek. Lingkungan dan Keuangan. c) Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file pdf siap cetak maupun file doc (ms word). pertanian. toolbar ini disedikan untuk memberikan pilihan kepada user untuk memprint hasil studi kelayakan dalam format dokumen Ms Word (doc). pada toolbar ini. toolbar dari kiri ke kanan mengilustrasikan proses pembuatan studi kelayakan dan sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3. lingkungan dan keuangan. Untuk mempermudah penggunaan. managemen & SDM. managemen dan SDM. pemasaran. Toolbar ini dapat di klik untuk membantu user mendeskripsikan aspek ekonomi dan keuangan perusahaan dan usaha yang dijalankan. jasa. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. c) Analisis Bisnis. sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek produksi. Pada saat shortcut DSS UMKM di klik dua kali akan muncul menu pilihan bidang usaha yang akan 10 . terkait dengan aspek produksi. grafik warna dan deskripsi hasil analisis.JURNAL VOLUME 4 . pemasaran. b) Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. berikut penjelasan dari masing-masing tombol toolbar yang terdapat dalam aplikasi. manufaktur.AGUSTUS 2009 : 1-17 Aplikasi Software DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan bagi setiap user sebagai berikut: a) Mendukung user UKM pada sektor perdagangan.

Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form identitas perusahaan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek produksi. User dapat langsung meng-klik icon profil perusahaan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian identitas perusahaan dan konsep awal. Manufaktur. Lalu isilah setiap pertanyaan Gambar 3. Setelah terisi. Layer Aplikasi DSS  . Isian form terletak pada layar paling kanan. user dapat langsung meng-klik icon aspek produksi. dimulai dengan Tahap Pengisian Profil Perusahaan. kembali di-klik form konsep awal untuk melakukan pengisian selanjutnya. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kondisi perusahaan. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kondisi perusahaan dan form pola pembiayaan bank. Jasa dan Restoran. Pertanian. d) Tahap pengisian Aspek Produksi. b) Untuk membuat studi kelayakan dari usaha. Setelah terisi. Bidang usaha yang dapat dipilih pada software versi ini adalah Perdagangan. c) Tahap pengisian profil usaha.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) dibuat perencaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan usaha. Isian form terletak pada layar paling kanan. user dapat langsung meng-klik icon profil usaha.

Isian form terletak pada layar paling kanan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian managemen dan SDM. kembali di-klik form selanjutnya mengenai pola pembiayaan bank untuk melakukan pengisian selanjutnya. Layer Pilihan Bidang Usaha 12 . Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja Pemasaran.AGUSTUS 2009 : 1-17 yang tersedia pada tampilan form aspek produksi. e) Tahap pengisian Aspek Pemasaran. Isian form terletak pada layar paling kanan. user dapat langsung meng-klik icon aspek managemen dan SDM. Gambar 4. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian aspek lingkungan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form aspek lingkungan. Setelah terisi. Isian form terletak pada layar paling kanan. user dapat langsung meng-klik icon aspek lingkungan. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja Pemasaran. f) Tahap pengisian Aspek Managemen dan SDM.JURNAL VOLUME 4 . Isian form terletak pada layar paling kanan. g) Tahap pengisian Aspek Lingkungan. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada tampilan form kinerja managemen dan SDM. user dapat langsung meng-klik icon aspek pemasaran.

sistim akan secara otomatis melakukan analisis setelah user melakukan pengisian pertanyaan yang diajukan/tersedia pada toolbar profil dan aspek. User dapat langsung meng-klik icon aspek keuangan. Klik icon toolbar Analisis bisnis Tab hasil analisis berdasarkan aspek Hasil analisis perindikator Hasil analisis komulatif seluruh indikator Gambar 5. Setelah di-klik akan muncul layar tampilan bantuan dan form isian kinerja keuangan yang terdiri dari tujuh form. angka kelayakan 13 . mulai dari form satu sampai tujuh. Layer Hasil Analisis Bisnis Aspek Produksi i) Analisis bisnis. Lalu isilah setiap pertanyaan yang tersedia pada setiap tampilan form kinerja keuangan. Isian form terletak pada layar paling kanan. Hasil analisis akan ditampilkan dalam image angka skor (indeks). pada toolbar ini.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) h) Tahap pengisian Aspek Keuangan.

Out put print dapat langsung menjadi bagian dari perencanaan bisnis dari UKM. Agar berhasil mencapai tujuannya. lengkap pada halhal penting. Output Aplikasi DSS UMKM Aplikasi Output dari software aplikasi DSS UMKM dirancang untuk dapat langsung menjadi semacam proposal bisnis yang dapat digunakan oleh stakeholder lain seperti dunia perbankan. NPV-PI). lingkungan dan keuangan dalam mengukur tingkat kelayakan sekaligus melihat peluang dan hambatan UKM dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. Untuk hasil analisis dengan kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. pemasaran. SDM. Untuk melihat hasil analisis dari masingmasing aspek dapat langsung di klik tab hasil analisis pada bagian tengah aplikasi. mudah untuk dikontrol.AGUSTUS 2009 : 1-18 keuangan (Cash Flow. Pada gambar disamping diberikan contoh hasil analisis produksi. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. managemen dan SDM. j) Tahap printing ke MS Word. V. managemen. mudah beradaptasi. maka fitur-fitur sistem DSS dirancang secara sederhana. BEP. dan mudah berkomunikasi dengannya. hasil isian dan analisis dapat langsung di export kedalam bentuk dokumen MS word dan siap di print. BCR. lingkungan serta analisis bisnisnya. Aplikasi DSS dirancang untuk membantu UKM dalam hal pengambilan keputusan dari aspek produksi. output sudah langsung terprint berikut cover. 3. robust. pemasaran. 14 . kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah. Aplikasi DSS UKM dikembangkan sebagai sebuah kelas sistem informasi yang terkomputerisasi. Pada layar ditunjukkan hasil analisis perindikator dan analisis secara komulatif keseluruhan indikator. terdiri dari prosedur-prosedur dalam pemrosesan data dan pertimbangannya yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan perhitungan. ketelitian dalam perhitungan dan pemeriksaan. Dengan begitu. funding) untuk melihat kelayakan ekonomi dan finansial UKM tersebut. daftar isi dan ilustrasi variabel (aspek produksi. PP.JURNAL VOLUME 4 . IRR. atau dapat menjadi alat ukur pihak-pihak yang berkepentingan (intermediary. Kesimpulan Sebagai kesimpulan dari kegiatan pembuatan software aplikasi DSS kelayakan ekonomi dan keuangan UKM adalah sebagai berikut : 1). grafik warna dan deskripsi hasil analisis.

kelayakan sedang dilustrasikan dengan warna kuning dan kelayakan rendah diilustrasikan dengan warna merah ) dan deskripsi hasil analisis. Sedang kelayakan keuangan ditampilkan tabulasi neraca. restoran untuk perencanaan dan pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. perkembangan cash flow serta analisis Break Event Point. Saran Untuk lebih memaksimalkan pemanfaatan aplikasi software. Net Present Value. Hasil analisis kelayakan ekonomi ditampilkan dalam image angka skor kelayakan. Memiliki fasilitas yang memberikan informasi dan wawasan berkaitan dengan peristilahan dan teknik-teknik pembuatan perencanaan maupun pengambilan keputusan kelayakan ekonomi dan keuangan. laporan laba rugi. Profitability Index. konsultan merekomendasikan kepada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk merancang kegiatan sosialisasi software bagi para UKM. manufaktur. Proses pengisian untuk pembuatan studi kelayakan ekonomi dan keuangan tidak harus dilaksanakan pada satu waktu dan dapat disimpan kapan saja. seperti: pelaksaaan sejumlah workshop untuk para UKM terkait dengan perencanaan bisnis. grafik warna (kelayakan tinggi diilustrasikan dengan warna hijau. pertanian. Internal Rate of Return dan deskripsi hasil analisis. AdoBe Reader dan Dot Net Framework 2.Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) 2). Monitor dengan resolusi minimum 800x600. Sistem operasi Microsoft Windows XP. Payback Periods. OPEN Office. Software aplikasi DSS UKM ini memiliki fitur-fitur (fasilitas) yang dapat dimanfaatkan oleh setiap user UKM sebagai berikut: • Mendukung user UKM pada sektor perdagangan. RAM minimum 512MB. jasa. 15 . • • • • 3). Benefit/Cost Rasio. Mampu melakukan ekspor dokumen menjadi file doc (ms word) yang siap diprint. Dan dukungan software. Aplikasi DSS UMKM ini akan berjalan baik pada komputer dengan konfigurasi hardware sebagai berikut: Komputer dengan prosesor Intel Pentium IV ataupun yang setara.

Penerbit PT. (1992). (2005). Rivai Veithzal. Allyn & Bacon. pengembangan sistim (DSS UMKM versi 2) ataupun kegiatan lainnya yang dapat menindaklanjutkan keberadaan software ini pada kementerian Koperasi dan UMKM. Fifh Edition.JURNAL VOLUME 4 AGUSTUS 2009 : 1-17 pelatihan pemanfaatn software. Haer. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Penerbit PT. Wayne and Noe. (2005). Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. an entrepreneur’s Guidebook. Elex Media Komputindo. Amperiyanto. Andi Offset. Bakrie. Mondy. Meginson. Busthami. Microsoft Press. Elex Media Komputindo. Aplikasi Inventori Control dengan Microsoft Visual FoxPro ��. Jacowitz. Selain itu. 11 Script Spektakuler Active Server Pages. Human Resources Management. Prosise. Mc Graw Hill. R. Managemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari Teori Ke Praktik. (2004). West Virginia University-USA. Lawrence. (2004).. Byrd. Small Business Management. Penyusunan DSS untuk Pendayagunaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Perencanaan Pertanian. Robert M.NET (Core reference). Programming Microsoft® . Jakarta. Tri. (2003). (2006). Analisis & Disain Sistem Informasi. Melihat Keamanan Windows Vista. Talib. cet 1. Jakarta. USA. (2002). Gregorius. Richter. (2002). Applied Microsoft®. NET Framework Programming (ProDeveloper). Jakarta. (2003). Advanced Software Project Management. Yogyakarta. Edisi 1. Raja Grafindo Persada Edisi 1. (1990). uji reability penggunaan software. Jeffrey. PT. Internet Up Load. Microsoft Press. (2006). (1993). Jakarta. Penyusunan DSS Informasi dan Pengendalian Ketahanan Pangan �awa Tengah. Program Aplikasi Foxpro Pada Sistem Akuntansi. Penerbit PT. Jeff. Penerbit PT. Agung. Badan Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. 16 . Elex Media Komputindo. penggandaan CD program dan manual. HM. Elex Media Komputindo. Jakarta. software aplikasi DSS UMKM kiranya dapat dimiliki oleh para pelaku usaha UMKM secara gratis (tanpa dipungut bayaran). DAFTAR PUSTAKA Jogiyanto.

Keith & Frederick.J. William. A Division of Macmillan Publishing Co. Mc.J. Davis. 17 . Fifth Edition. Competitive Strategy : Techniques for Analyzing Industries and Competitors.. Modern Portfolio Theory and Invesment Analysis. E. Elton. (1991).Penyusunan Decision Support System (DSS) Studi Kelayakan Ekonomi dan Finansial Bagi UKM (Daniel Asnur) Porter. Inc. John Wiley and Sons. (1980). M. and Gruber..Graw-Hill. E Michael. Business and Society. The Free Press. (1980).

6) consequences of licensing. Karakteristik UMKM I.12% which have got license. This matter is due to there are many types of licensing which is required by one type of business and complicated licensing process including its big cost. Latar Belakang UMKM banyak memiliki keunggulan dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya nasional. peer review 2�� April s. To speed up formalization of MSME. Licensing programmes which have been implemented by Local Government have not reached to granting legal status. Yang dimaksud dengan formalisasi UMKM adalah pemberian izin kegiatan usaha tertentu dan status badan hukum bagi UMKM sesuai dengan ketentuan perundang Kajian Asdep Urusan Penelitian Sumberdaya tahun 2008 Artikel diterima 2�� April 200�. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 18 .583. There are still a few MSMEs (4. Program Pelayanan Satu Pintu (P2SP). b) requirements do not comply with the characteristic of MSME (especially micro enterprise). Some variables which influence on the total of MSMEs: which got business license are: 1) approach.AGUSTUS 2009 : 18-36 KAJIAN PENGEMBANGAN FORMALISASI UMKM *) Teuku Syarif **) Abstract Formalization of Micro. Legalitas. less socialization and there is no clear consequence from the government by having legal status. Of 1. Salah satunya adalah kesulitan dalam mendapatkan legalitas atau formalitas usahanya. it is expected immediately that there will be an issuance of local government regulation on licensing which is in line with the law number 20 of 2008 concerning MSME and the characteristic of MSME. 5) socialization of licensing.d. Small and Medium Enterprises (MSMEs) is granting license for certain business activities and legal status for Micro. Several/crucial problems to be handled are: a) so many types of license which have to be fulfilled by MSMEs to be able to conduct a business activity. Small and Medium which have complied with the requirements stipulated in the valid legislation.12%) which have got license. Namun demikian perkembangannya masih terkendala oleh berbagai masalah klasik. Total of MSMEs which have got new license are only ��.��34 units of MSME in 6 districts/ municipalities. cost of licensing. 3) license requirements. as example there are 1��. 2) form of licensing institution. 4) procedure of licensing. 8 �uni 200�.14%. Perda Perizinan sejalan UU Nomor 20 Tahun 2008.JURNAL VOLUME 4 .

Untuk itu idealnya usaha mikro dan kecil bergabung dalam koperasi. Tetapi sebagai perusahaan perorangan cukup mendaftarkan diri pada dinasdinas yang membidangi koperasi dan UKM di kabupaten atau kota madya setempat. Perusahaan perorangan (CV) perusahan kongsi (Firma). Perusahaan Persero dan lain-lain. b) Kualitas sumberdaya manusia yang relatif rendah. Pelayanan Perizinan Satu Pintu (P2SP) berpeluang besar untuk mempermudah dan mempercepat proses prizinan UMKM. c) Ruang lingkup dan jaringan usaha yang terbatas. Perseroan Terbatas (PT). Pengesahan badan hukum perusahaan menjadi kewenangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilimpahkan kepada Notaris. Untuk mengatasi masalah perizinan maka sebagian pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan jika UMKM yang sudah mendapat status formal.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) undangan yang berlaku. izin lingkungan. Hal tersebut disebabkan banyaknya jenis perizinan. izin penambangan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM ditetapkan bahwa untuk kelompok usaha mikro tidak diperlukan badan hukum. Tetapi sampai sekarang belum ketahui seberapa jauh efektifitas dari program tersebut. sosialisasi perizinan dan melaksanaan program pelayanan satu pintu. b) Perizinan kegiatan usaha yang dikeluarkan oleh instansi/lembaga sektoral. Kelompok usaha mikro memiliki karakteristik antara lain: a) Merupakan usaha perorangan dengan modal relatif kecil dan dikelola dengan manajemen keluarga. Sebagai contoh Surat Izin Usaha Pendirian (SIUP). Kebijakan tersebut antara lain dalam hal penurunan biaya perizinan. Menghadapi era globalisasi UMKM dituntut dapat meningkatkan efisiensi untuk menghadapi persaingan. izin trayek dan lainlain. memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM. kesulitan dalam proses mendapatkan izin dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Perizinan kegiatan usaha lebih diperlukan untuk: a) Melaksanakan kegiatan usaha.12%) usaha mikro dan usaha kecil yang telah mendapatkan izin kegiatan usaha. Sehubungan dengan hal tersebut kajian dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan. Formalisasi UMKM dibedakan dalam dua bentuk yaitu: a) Formalisasi perusahaan adalah pengesahan bentuk badan hukum dari perusahaan yang bersangkutan. pengawasan yang lebih intensif. Oleh sebab itu biayanya relatif cukup besar untuk ukuran usaha mikro dan usaha kecil. Sebagai contoh Usaha Dagang (UD). b) Sebagai formalitas usaha yang menjamin jaminan bagi calon mitra dan atau stakeholder. c) Menghindari pungutan liar. Salah satu unsur pendukung efisiensi adalah adanya jaringan usaha dan kemitraan. d) Konsumen dan segmen pasar yang sudah tertentu. serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan program dari berbagai pola pelaksanaan proses perizinan/formalisasi UMKM 19 . Sampai sekarang sangat sedikit (4. serta e) Jenis dan kegiatan usaha yang sangat mudah berganti (dinamis).

1 Kerangka Konsepsional Pembentukan atau keikutsertaan suatu unit usaha dalam suatu jaringan yang komprehensif ditentukan oleh banyak faktor antara lain adanya informasi. Sebagai misal dilaksanakan dalam bentuk program penyederhanaan perizinan.JURNAL VOLUME 4 . 20 . Jumlah. lembaga pemasaran. Menginventarisir. Mendapatkan alternatif model kelembagaan dan lternatif prosedur formalisasi UMKM. persebaran serta permasalahan yang dihadapi UMKM dalam proses formalisasi usaha. maka kelompok ini hanya memerlukan izin kegiatan usaha. dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian perizinan untuk UMKM. Sedangkan ketidakpastian itu sendiri menurut Sirait (2003) di Indonesia banyak disebabkan oleh faktor kebijakan makro ekonomi dan faktor birokrasi. Kerangka Pemikiran 3. kelembagaan model dan prosedur pemberian perizinan yang sesuai dengan karakter UMKM. 1). Ouput yang diharapkan dari kajian ini adalah mendapatkan alternatif model dan prosedur pemberian perizinan bagi UMKM III. dan lembaga asuransi) untuk melakukan kerjasama sangat memperhatikan karakteristik suatu perusahaan. mengidentifikasi tingkat keberhasilan dan faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian perizinan untuk UMKM. 2) Menentukan pendekatan. UMKM merupakan usaha perorangan dan tidak diharuskan untuk mempunyai badan usaha. 2). Tujuan Manfat dan Output Tujuan Kajian Pengembangan Formalisasi UKM adalah sebagai berikut: 1). Anwar (1995) berpendapat bahwa mitra usaha dan berbagai unsur pendukung pembangunan suatu unit usaha ekonomi (perbankan.AGUSTUS 2009 : 18-36 II. Ketidakpastian formalitas unit usaha UMKM menurut Haryadi (2001) merupakan faktor penyebab kesulitan UMKM untuk memasuki suatu jaringan usaha.8% diantaranya tidak memiliki izin kegiatan usaha. kewirausahaan dari pengusaha dan formalitas unit usaha. Berbagai hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2006 lebih dari 95% unit usaha UMKM terutama pengusaha mikro yang merupakan perusahaan perorangan belum memiliki badan hukum dan 91. Salah satu faktor yang dilihat adalah formalitas perusahaan. Manfaat kajian adalah untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang. Salah satu program pemerintah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan daya saing UMKM adalah perbaikan iklim usaha.

Selain itu juga diperlukan dalam rangka pembinaan. yaitu untuk: a) Mempermudah pengusaha dalam mengakses sumbersumberdaya produktif. Kesulitan timbul sebagai akibat dari ketidak-sesuaian kelembagaan pende-katan dan model prosedur pemberian perizinan dengan karakteristik UMKM.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) Izin kegiatan usaha merupakan suatu bentuk pengaturan (regulasi) pengendalian pemerintah terhadap aktivitas usaha individual yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan lingkungan fisik ekonomi dan sosial. c) Mendorong pembentukan dan atau pengembangan jaringan usaha. Kelembagaan terdiri dari bentuk lembaga atau organisasi pemberian perizinan. umur. pendidikan dan pengalaman. jenis kelamin. 2) Kelembagaan perizinan. sosialisasi penyuluhan dan pendampingan. Untuk penyesuaian diperlukan perubahan kelembagaan pendekatan dan prosedur perizinan dengan memperhatikan UUD 1945. 3. letak lokasi UMKM dari instansi perizinan serta bidang usaha yang dilaksanakan. 3) Model pemberian perizinan. b) Karakteristik UMKM. model dan prosedur perizinan yang sesuai dengan karakteristik UMKM. biaya yang harus dibayar dan prosedur mendapatkan perizinan. Untuk dapat membangun suatu sistem pemberian perizinan yang efektif dalam mendukung pemberdayaan UMKM perlu dilakukan kajian terhadap tingkat keberhasilan dari kedua faktor di atas. Dalam karakteristik UMKM terdapat faktor internal UMKM meliputi modal yang dimiliki. peraturan mendapatkan perizinan (persyaratan yang diperlukan). 3. UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM serta karakteristik UMKM. Ouput akhir yang ingin didapatkan dari kajian ini adalah kelembagaan. Izin usaha diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif (eksternalitas dis economics) yang mengeksploitasi lingkungan. konsekuensi dari keharusan UMKM mendapatkan perizinan.2 Kerangka Operasional Pengkajian Kerangka operasional Pengkajian diilustrasikan pada gambar 1: 1. 21 . Dua faktor penting yang diduga mempengaruhi keberhasilan proses formalisasi adalah: a) Kelembagan dan pendekatan. UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2008 tidak dimasukan sebagai variabel bebas karena bersifat given untuk semua tempat di wilayah NKRI dan semua waktu. b) Melindungi para pengusaha dari berbagai pungutan liar serta. 2. Dengan demikian unsur kemudahan UMKM untuk medapatkan perizinan adalah variabel terikat merupakan resultante dari beberapa variabel bebas yaitu: 1) Pendekatan dalam pemberian perizinan. 4) prosedur pemberian perizinan dan 5) karakteristi UMKM.

instansi organisasi.AGUSTUS 2009 : 18-36 Kesulitan UMKM Untuk Mendapatkan Perinzinan Analisis Masalah Pendekatan MODEL PEMBERIAN PERIZINAN UMKM KARAKTER/ KONDISI INTERNAL UMKM Restrukturisasi Kelembagaan Model Dan Prosedur Pemberian Perizinan Untuk UMKM Kelembagaan. 22 . Prosedur formalisasi idealnya disusun sesuai kemampuan UMKM khususnya pengusaha mikro dengan segala keterbatasannya. c. dan tempat kedudukan instansi tersebut. personil pelaksana. Pendekatan dalam pemberian perizinan idealnya adalah ditujukan untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia. waktu pelayanan. Faktor ini diindikasikan dari komitmen pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM.3 Faktor Analisis 1. b. Model Dan Prosedur Perizinan Yang sesuai Dengan Karakteristik UMKM UUD 1945 Dan Undang Undang UMKM Gambar 1. Kerangka Operasional Pengkajian 3. sosial dan politik. ekonomi. Hal tersebut yaitu bentuk dan kedudukan lembaga pelayanan perizinan dalam struktur organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) dan kontribusi APBD terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengurusan perizinan. Variabel Bebas terdiri dari: a. Kelembagaan terdiri dari peraturan perundang-undangan. biaya. persyaratan. Tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan secara adil dan merata dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan fisik.JURNAL VOLUME 4 .

e. 2. provinsi Bali dengan dua kabupaten/kodya contoh yaitu kabupaten Jembrana dan kodya Denpasar. Konsekuensi dari didapatkannya perizinan ideal oleh UMKM akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan. dan masalah yang dihadapi Pemda dan UMKM berkaitan dengan pemberian perizinan. Ruang Lingkup Kajian 4. 23 . Kondisi internal UMKM terdiri dari pendidikan formal. kondisi internal. provinsi Sulawesi Selatan dengan dua kodya contoh yaitu kodya Makasar dan kodya Pare-pare. Analisis data dan permasalahan dalam rangka mendapatkan model pemberian perizinan sesuai dengan karakteristik UMKM. kelembagaan untuk perizinan. c. Kodya Makasar merupakan contoh pembanding yang belum melaksanakan P2SP. Variabel Terikat adalah jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Metoda Penelitian dan Analisis Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan metoda stratified random sampling. Sosialisasi dalam rangka penyebarluasan pemahaman tentang kepentingan mendapatkan perizinan serta persyaratan dan prosedur mendapatkannya. 4. pengetahuan UMKM dalam berurusan birokrasi dan kewirausahaan UMKM.2 Ruang Lingkup Lokasi Kajian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Tengah dengan dua kabupaten/ kodya contoh yaitu kodya Surakarta dan kabupaten Sragen. f. pendekatan prosedur pemberian perizinan. IV.1 Ruang Lingkup Substansi a. b. Pengumpulkan data dan informasi perkembangan jumlah UMKM yang memperoleh perizinan. V.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) d. Perancangan model formalisasi sesuai dengan karakter UMKM dalam bentuk best practice.

583. 1. untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat sosial dan kebijakan.1 Kinerja UMKM Jumlah UMKM di enam kabupaten/kodya contoh. Sedangkan untuk kabupaten/kodya contoh yang belum melaksanakan program P2SP baru 7. 5. Kelengkapan keberadaan/lembaga formalisasi UMKM.AGUSTUS 2009 : 18-36 5. Stratifikasi lokasi contoh UMKM didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu: 1). 24 . Data primer diperoleh langsung dari UMKM dan stakeholder yang terdiri dari: a). b. Model analisis regresi berganda untuk mengetahui besar pengaruh tiap variabel bebas terhadap variabel terikat. Model analisis perbandingan (comparatif analisys). Hasil Pengamatan dan Analisis 6. Model analisis rataan dan kecenderungan (mean dan mode). 2). Model analisis evaluatif dengan menggunakan beberapa model matematis yaitu a. maka data yang ada akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan .734 unit usaha dan yang telah melaksanakan program P2SP. Kalangan pemerintahan (Dinas Koperasi dan UKM.14% yang telah memiliki izin usaha.12% yang memiliki izin usaha.2 Model Analisa Data Sesuai dengan tujuan penelitian dan variabel-variabel analisis. rata-rata baru 17. c. Ada tidaknya programprogram formalisasi UMKM. 2. 3).JURNAL VOLUME 4 . VI. Biro Perekonomian pemerintah daerah dan beberapa instansi terkait). Ada tidaknya UMKM yang sudah mendapat formalitas usaha.1 Data dan Teknik Penarikan Contoh Data yang akan dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan metoda purposif sampling yang terstratifikasi. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur sesuai dengan tujuan dan metoda pengkajian. diprediksikan mencapai 1. Model analisis deskriptif kualitatif.

Para pengusaha di sektor pedagangan terutama pedagang antar kecamatan. Sebanyak 82. b) Kecilnya skala usaha yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan badan hukum. Bagi kedua kelompok diatas. Sebagian kecil (28.87% nya juga sudah mempunyai badan hukum. terkait dengan pungutan pajak retribusi. Di daerah yang sudah melaksanakan program P2SP sebagian besar UMKM terutama pengusaha mikro menyatakan masih banyak menghadapi kesulitan. Besarnya jumlah pengusaha dari kelompok ini yang memiliki badan hukum dan izin usaha nampaknya lebih dikarenakan ketatnya pengawasan pemerintah daerah terhadap mereka. sarana produksi. Bagi mereka yang sudah memiliki izin kegiatan. Pengusaha mikro yang bergerak pada kegiatan penggalian sebagian semua sudah memiliki izin usaha tetapi hanya 3 dari 15 pengusaha yang menjadi sampel pada penelitian ini yang memiliki badan hukum. Hal ini diindikasikan dari sedikitnya bantuan pemerintah untuk memberdayakan mereka seperti dalam mengembangkan modal dan jaringan usaha serta adanya pungutan-pungutan liar yang idealnya dapat diatasi melalui Perda. Hal tersebut disebabkan mereka memiliki modal yang relatif besar yaitu antara Rp 21. termasuk untuk mendapatkan kegiatan usaha dari pemerintah. Namun mereka masih sulit membangun kemitraan dengan stakeholder lainnya dalam rangka memperluas jaringan usahanya. Kelompok ini juga tidak dapat mengandalkan koperasi untuk berhadapan dengan stakeholder karena bargaining koperasi sendiri masih belum diperhitungkan oleh kalangan stakeholder.2 Jenis Kegiatan Usaha dan Perizinan Pengusaha yang bergerak di sektor pengolahan hasil perkebunan.8% nya telah memiliki izin kegiatan berupa SIUP. angkutan pedesaan dan angkutan besar (bis dan truk). 61.8 juta sampai Rp 246 juta. serta perhotelan merupakan kelompok UMKM. Kesulitan tersebut dalam memenuhi persyaratan dan banyaknya jenis perizinan yang harus dimiliki.27%) sudah memiliki status badan hukum terutama Usaha Dagang (UD). tetapi komitment pemberdayaan mereka oleh pemerintah daerah masih belum optimal. Dari jumlah tersebut.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. tetapi belum memiliki izin usaha tidak mendapatkan masalah dalam berhubungan dengan perbankan. Dari jumlah tersebut 41. dan pemasaran serta. 25 . Walaupun kelompok UMKM tersebut sudah menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang potensial. Sebagian lainnya terutama yang bergerak di sektor angkutan belum memiliki badan hukum dan masih merupakan usaha perseorangan. nampaknya perizinan bukan lagi menjadi hal yang sulit. Kesulitan memiliki badan hukum disebabkan oleh beberapa hal antara lain: a) Karakter usaha mereka yang sudah memiliki jaringan tradisional yang menjamin penyediaan modal.42% memiliki izin kegiatan usaha.

c) Meningkatnya sumbangan UMKM terhadap pembangunan daerah diindikasikan dari peningkatan GDP serta meningkatnya sumbangan UMKM terhadap Pendatan Asli Daerah (PAD). Hal tersebut dapat dianalisis antara lain melalui pendekatan yang digunakan dalam membangun kelembagaan pelayanan. c) Reformasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan badan hukum untuk UMKM. Dua dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan P2SP menempatkan lembaga perizinan setingkat eselon III. kedudukan lembaga tersebut dalam struktur pemerintahan daerah.AGUSTUS 2009 : 18-36 Pengusaha mikro hanya mungkin dapat memiliki badan hukum jika pemerintah mengeluarkan kebijakan terobosan misalnya. Program pelayanan satu pintu idealnya memiliki berbagai konsekuensi logis antara lain. 6. Hal tersebut secara langsung berdampak pada kelestarian lingkungan.3 Pendekatan dan Kelembagaan Perizinan P2SP belum dapat dijadikan indikator komitmen Pemda yang bersangkutan untuk memberdayakan UMKM melalui reformasi dibidang perizinan. dan kompetensi personil yang ditempatkan dalam lembaga perizinan. b) Menunjuk notaris yang secara khusus dapat memberikan badan hukum kepada UMKM dengan biaya yang relatif lebih murah dan. Usaha kecil yang usahanya sebagian sudah meluas antar daerah maka pemilikan badan hukum sangat penting. a) Memberikan subsidi kepada UMKM untuk mendapatkan badan hukum. Hal tersebut dikarenan program tersebut perannya masih terbatas pada peningkatan jumlah pengusaha kecil yang mendapatkan izin usaha atau izin kegiatan. b) Meningkatnya kemampuan penyerapan tenaga kerja dikalangan UMKM diindikasikan dari meningkatnya jumlah tenaga kerja per unit usaha UMKM. a) Keberhasilan dalam meningkatkan pendapatan UMKM. Oleh sebab itu restrukturisasi prosedur dan persyaratan mendapatkan badan hukum merupakan salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan. Hal tersebut menyebabkan lembaga tersebut belum memiliki bargaining yang cukup dalam berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempermudah proses pemberian perizinan. Pengembangan sistem pelayanan satu pintu belum menjadi solusi pemecahan masalah secara tuntas.JURNAL VOLUME 4 . Dari sisi kelestarian lingkungan dan kesinambungan pembangunan akan menyebabkan terjadinya eksploitasi sumberdaya secara berlebihan. Tidak diimilikinya status badan hukum dan atau izin kegiatan usaha akan berdampak pada kesulitan pengusaha yang bersangkutan untuk berhubungan dengan pihak-pihak luar. Satu dari lima kabupaten/kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP masih menetapkan biaya perizinan hanya 26 .

246.000 s. Jika ditambahkan dengan biaya transportasi dan akomodasi untuk mengurus perizinan yang rata-rata sebesar Rp.d.34 (termasuk katagori sulit). Hal tersebut dilakukan karena latar belakang pekerjaan kurang kompeten. Rp. Idealnya ditempatkan pada lokasi umum dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. 20.83 (termasuk dalam katagori sulit).8 juta biaya tersebut 27 . 370. Biaya Perizinan Di daerah yang sudah melaksanakan Program P2SP. Bagi usaha kecil yang memiliki rata-rata modal mencapai Rp. sehingga jumlah perizinan untuk satu kegiatan usaha UMKM bisa mencapai 8 jenis. Tiga dari lima kabupaten/kodya contoh. Prosedur Perizinan Nilai skoring kemudahan prosedur pemberian izin usaha bagi daerah yang sudah melaksanakan program P2SP mencapai angka 2. Hal ini memang perlu mendapatkan perhatian.400. Kelima kabupaten/kodya contoh dalam menyusun persyaratan masih berorientasi pada paradigma lama yaitu tidak mempertimbangkan kesulitan UMKM dalam memenuhi persyaratan yang ada. masih menempatkan personil kunci dalam instasi perizinan. tetapi juga dari sisi pengusaha (UMKM).000. Nilai rata-rata skors persyaratan perizinan di kabupaten/ kodya contoh yang sudah melaksanakan P2SP baru mencapai nilai 1. ratarata biaya perizinan yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan satu jenis surat izin berkisar antara Rp.000. 84. sehingga rata-rata biaya yang diperlukan mencapai Rp.72 (termasuk dalam katagori mudah).4 Pola pelaksanaan pemberian izin 1.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) berdasarkan target pemasukan retribusi untuk mendukung PAD. 6. 112. Sedangkan bagi yang belum melaksanakan program tersebut rata-rata nilai skoring hanya mencapai angka 1.400. sehingga terpaksa ditempatkan di dalam instansi perizinan. Sedangkan untuk satu jenis kegiatan yang akan dilaksanakan UMKM memerlukan antara 4 sampai dengan 8 jenis perizinan. Belum ada kabupaten/kodya contoh yang berani melakukan perubahan dalam hal pola perizinan. Penetapan persyaratan perizinan idealnya perlu tidak hanya dari kepentingan pemerintah untuk mengatur lokasi sumberdaya tersedia. 2. Harus diingat bahwa tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mempermudah UMKM dalam mendapatkan izin usaha dari berbagai aspek pemberian perizinan tersebut. maka total biaya yang harus dikeluarkan oleh UMKM untuk mendapatkan status formal tersebut mencapai Rp. 124.

987 atau tergolong kurang. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP. Biaya yang besar ini tidak akan mungkin dapat ditanggung oleh para pengusaha mikro. Biaya tersebut menjadi dana taktis yang penarikan. 28 . Tetapi bagi usaha mikro yang rata rata-rata modalnya sebesar Rp. Biaya perizinan berkisar antara Rp. maka nilai skors 1. retribusi. Hal ini menyebabkan sebagian besar pengusaha terutama para pengusaha mikro sama sekali tidak memahami arti penting dari adanya izin usaha. maka idealnya sebagian dari biaya tersebut dapat ditanggung pemerintah. 1. pengumpulan dan penggunaannya tidak transparan.JURNAL VOLUME 4 . Sosialisasi pemberian izin usaha seharusnya mendapat perhatian. Akibatnya sebagian besar dari mereka tidak ingin mendapatkan izin usaha. Biaya pengurusan perizinan ini idealnya hanya merupakan bentuk pajak. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar UMKM masih beranggapan bahwa pengurusan perizinan merupakan hal yang sulit dan belum diperlukan.5 Sosialisasi Perizinan Nilai skors rata-rata sosialisi yang dicapai dari 5 kabupaten/ kodya contoh yang telah melaksanakan program P2SP adalah 1. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemda antara lain adalah: a) Gaji pegawai. b) Biaya-biaya administratif dan. biaya yang harus di bayar lebih besar lagi.03% dari modal. basis perekonomian rakyat di daerah yang secara langsung berkontribusi terhadap pembangunan nasional. karena hanya 0. 6. Di daerah yang belum melaksanakan P2SP.96% dari modal yang dimiliki. maka jumlah tersebut mencapai 5. biaya yang harus dibayar juga masih cukup besar. 200. c) Biaya survey. Pada umumnya mereka mengidentifikasikan izin usaha dengan pajak. Demikian juga ada indikasi setiap instansi yang berwenang menetapkan biaya perizinan yang beragam. Pemberdayaan UMKM merupakan amanat konstitusi (UUD 1945).000.AGUSTUS 2009 : 18-36 relatif tidak besar. Sosialisasi masih dilaksanakan terbatas dalam bentuk pamflet dan baliho di jalan-jalan ataupun melalui media elektronika terutama radio-radio pemerintah daerah dan siaran lokal. 6. Tetapi di daerah daerah yang telah melaksanakan program P2SP.234. Kelompok pengusaha marginal tersebut masih menjadi sasaran pungutan liar.213. atau bea meterai.000. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk dapat melaksanakan satu kegiatan usaha mencapai Rp.000 sampai dengan puluhan juta rupiah. Hal ini disebabkan penetapan biaya perizinan didasarkan pada jumlah biaya riil yang dikeluarkan ditambah dengan pajak/retribusi pemda.21 atau sangat rendah.

pada harga tetap perubahan yang terjadi adalah. Sedangkan Kemampuan akses UMKM terhadap permodalan hampir tidak ada pengaruhnya. Surat Izin Penggunaan 29 .47 kali per UMKM. b). Kelebihan yang diterima oleh UMKM yang telah mendapatkan izin hanya terlihat di kabupaten Jembrana dan kodya Pare-Pare yang melaksanakan pelatihan managemen teknik produksi kepada UMKM di bidang angkutan dan industri kecil.89 menjadi 1. Surat Keterangan Pembuangan atau Pengolahan Limbah.47%.01%.6 Konsekwensi dari Perizinan Pengaruh langsung dari didapatkannya izin usaha belum banyak dirasakan oleh UMKM.89 juta pertahun atau bertambah sebesar 12. Konsekuensi pemerintah bagi UMKM yang telah mendapatkan izin usaha juga belum jelas.17 kali per UKM. Kinerja UMKM yang telah memiliki perizinan bernilai positif dalam menjalin hubungan bisnis terhadap kinerja.12 kali menjadi 1. Surat Izin Lingkungan. f). Keterangan Domisili Usaha. Untuk mendapatkan satu izin kegiatan usaha seperti industri kerajinan diperlukan persyaratan: a). c). d).6%) responden contoh menyatakan lebih senang melakukan kerjasama dengan UMKM yang telah memiliki izin usaha.32 juta atau bertambah 63.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 6. a) Rata-rata omset meningkat dari Rp 102. Dari aspek internal dikalangan pengusaha mikro.7 Jenis-Jenis Perizinan Yang Diperlukan Jumlah perizinan yang secara umum diperlukan untuk suatu jenis kegiatan usaha berkisar antara 0 (tidak memerlukan izin) sampai dengan 7 jenis. e). Kartu Keluarga. b) Laba meningkat Rp 16. Hal tersebut dikarenakan kalangan pengusaha masih tetap sulit untuk berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama perbankan. Hasil pengamatan lapang mengindikasikan yang sebagian besar (74. g). UMKM yang telah mendapatkan izin usaha diberikan dari rata-rata 1. Terbuka pula peluang UMKM untuk ikut serta dalam pameran maupun temu bisnis yang dilakukan oleh pemerintah dari rata-rata 0. 6.87 juta dari Rp 10. Kartu Tanda Penduduk. dan. Pajak Bumi dan Bangunan. Sisanya 28 jenis masih dikelurkan oleh instansi sektoral dan lembaga lainnya seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Diperolehnya perizinan ternyata membawa konsekuensi yang cukup besar dari kalangan masyarakat. Majelis Ulama Indonesia dan lain-lain. Total jumlah perizinan yang diperlukan mencapai 77 jenis di mana 49 jenis diantaranya sudah dapat dilayani melalui program P2SP. Karena dalam segala bentuk kebijakan pemda tidak membedakan atau memberlakukan diskriminasi antara UMKM yang telah mendapatkan izin dengan yang belum mendapatkan izin.57 juta menjadi Rp 114.

izin usaha restoran dan rumah makan serta izin penggalian Sedangkan perizinan yang kurang mendapat perhatian adalah izin usaha keuangan dan izin usaha minuman keras. Untuk lebih meningkatkan efisien waktu pengurusan.41 hari. Ketentuan tersebut di atas menyebabkan pengusaha yang berpindah-pindah.AGUSTUS 2009 : 18-36 Bangunan. 6. Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena jumlah pengusaha yang seperti itu sangat banyak dan diperkirakan mencapai 41. antara lain izin usaha perdagangan. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan sebelum adanya program P2SP yang mencapai rata-rata 23. Analisis Faktor Perizinan UMKM Kondisi dan Tingkat Pengaruh dari faktor-faktor Penentu 7. jasa. pikulan. pertambangan dan lain-lain). izin usaha pendidikan dan pelatihan serta izin pengoprerasian dan trayek angkutan. izin usaha perbengkelan. Tetapi mengingat jumlah jenis perizinan yang diperlukan cukup banyak (minimal 4 jenis) maka jumlah waktu yang tersita untuk mengurus perizinan ini juga masih relatif panjang.39 hari. Hal ini mungkin disebabkan sebagian besar responden adalah laki-laki dengan rata-rata umur 33. izin industri rumah tangga.JURNAL VOLUME 4 . maka sebagian besar pengusaha mikro terutama mereka yang usahanya berpindah-pindah tidak mungkin untuk mendapatkan perizinan. Oleh karena diperlukannya persyaratan pokok tersebut. Persyaratan surat-surat keterangan dasar ini berbeda antara tiap daerah. Berbagai jenis perizinan. lapak dan lain-lain). belum menjadi target program P2SP. Yang terlama adalah untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan rata-rata 8.76 hari dan yang paling cepat adalah untuk mendapat surat izin lingkungan yang hanya memerlukan waktu 2 hari. VII. baik disebabkan karena tidak memiliki tempat usaha atau yang memang karakter usahanya berpindah-pindah (menggunakan gerobak.4 30 .1 Kondisi UMKM Umur dan kelamin tidak nyata pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.67% dari jumlah usaha mikro dan kecil yang ada di Indonesia (Ramelan 1999). kiranya masih diperlukan pemikiran prosedur pemberian perizinan yang lebih singkat misalnya dengan pola paket pemberian perizinan lengkap dari membuat IMB sampai dengan penerbitan izin usaha sektoral (perdagangan.8 Waktu yang Diperlukan untuk Mengurus Perizinan Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perizinan adalah 4.

Oleh sebab itu masih sangat diperlukan penyederhanaan prosedur atau adanya pendampingan. Implementasi dari tujuan tersebut adalah lembaga pelayanan yang dibangun harus mampu mengatasi masalah-masalah struktural yang selama ini menghambat 31 . Oleh sebab itu kelembagaan yang dibangun idealnya adalah yang dapat memberikan peluang seluas-luasnya bagi UMKM untuk dapat eksis dalam sistem perekonomian.93% yang bergerak di sektor primer terutama kegiatan pertambangan dan penggalian.67 (relatif rendah). yang rata-rata hanya memiliki tenaga kerja 2. Dengan demikian UMKM tidak mengalami kesulitan untuk mengurus proses perizinan atau formalisasi kegiatan usahanya. Hal tersebut disebabkan prosedur untuk mendapatkan perizinan memerlukan pengetahuan yang relatif luas (terutama yang berhubungan dengan pola kerja birokrasi).264 orang.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) tahun atau dalam kondisi produktif. Rata-rata 43. Sektor usaha berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 7. 38.67% adalah yang bergerak di sektor tersier dan hanya 4. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lincoln (1982) yang mengatakan bahwa “Tercapai tujuan dari suatu sistem sangat dipengaruhi oleh pendekatan sistem tersebuit dalam mencapai tujuannya dan adanya kelembagaan yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut”. tetapi masih tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ada di lingkungan UMKM. Tingkat pendidikan berpengaruh nyata. Dengan adanya P2SP. Rata-rata pendidikan UMKM yang telah mendapatkan izin usaha hanya mencapai nilai bobot 7. rata-rata waktu yang diperlukan untuk pengurusan memang berkurang.60% UMKM yang telah mendapatkan izin usaha adalah yang bergerak di sektor sekunder. Jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata. Dalam hal ini tujuan pembangunan lembaga perizinan adalah untuk mengoptimalkan semua potensi sumberdaya tersedia guna mendukung pemberdayaan UMKM.2 Faktor Eksternal 1) Pendekatan Model formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% pendekatan dalam konsepsi pemberian perizinan untuk UMKM berpengaruh positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha. Pemilikan modal UMKM berpengaruh nyata positif terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Pengaruh ini diduga berkaitan dengan biaya perizinan yang relatif cukup besar untuk kelompok usaha mikro (sedangkan usaha mikro bagian terbesar dari UMKM). Hal ini mungkin dikarenakan untuk pengurusan masih diperlukan waktu dan tenaga.

Sebaliknya sebagian besar pengusaha kecil menyatakan tidak kesulitan. Dapat disimpulkan bahwa ada kaitan (korelasi) antara prosedur pelayanan dengan tingkat pendidikan dan pengalaman UMKM dalam berhubungan dengan “birokrasi”. 32 . persayaratan yang tidak sesuai dengan karakter UMKM dan biaya yang memberatkan UMKM. Peraturan yang mengharuskan mengikutsertakan semua instansi terkait agar tidak ada lagi perbedaan persepsi pemberian perizinan. 4) Prosedur formalisasi Pada tingkat kepercayaan 90% varibel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. b) Mempermudah UMKM dalam pengurusan karena hanya harus pergi ke satu tempat serta. 3) Kedudukan lembaga perizinan Variabel ini sampai dengan tingkat kepercayaan 80% belum menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Masalah tersebut antara lain banyak jenis perizinan yang harus dimiliki oleh UMKM. 2) Bentuk Lembaga Perizinan Bentuk lembaga perizinan sampai pada tingkat kepercayaan 95% sudah menunjukan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin kegiatan usaha. b) Instansi pemberian perizinan berada di bawah instansi induk yang kompeten dengan kepentingan pemberdayaan UMKM.JURNAL VOLUME 4 . Misalnya di bawah Dinas Koperasi dan UKM.AGUSTUS 2009 : 18-36 proses formalisasi UMKM. Kondisi tersebut dapat diterangkan sebagai berikut bahwa ”Sebagian besar pengusaha mikro menyatakan bahwa prosedur pelayanan yang ditetapkan ternyata masih sulit dimengerti. c) Membuka transparansi persyaratan dan biaya. Hal ini cukup beralasan karena sebagian besar dari pengusaha mikro tersebut berpendidikan rendah dan belum berpengalaman dalam berurusan dengan birokrasi. Hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: a) Adanya satu lembaga perizinan telah menghilangkan perbedaan peresepsi tentang tujuan pemberian perizinan bagi UMKM. Hal tersebut dikarenakan latar belakang pendidikan mereka memang cukup tinggi dan mereka sudah biasa berhubungan dengan dengan birokrasi. c) Kedudukan lembaga pemberian perizinan masih cukup tinggi yaitu minimal setara dengan eselon III. Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya: a).

pengetahuan. Pengaruh tersebut nampaknya berhubungan langsung dengan karakter UMKM yang diwarnai oleh berbagai keterbatasan (uang. akibat pendekatan dalam penetapan biaya perizinan yang tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha mikro.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) 5) Kompetensi personil lembaga perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 80%. 6) Persyaratan Perizinan Variabel ini pada tingkat kepercayaan 95% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Ada dan tidaknya nilai tambah yang akan diperoleh UMKM sebagai konsekuensi dari didapatkannya perizinan akan menjadi faktor penarik bagi UMKM untuk mendapatkan perizinan 33 . Hal tersebut diduga dikarenakan. a) Pemberian perizinan bukan merupakan pekerjaan sederhana yang hanya mengikuti prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. 7) Biaya Perizinan Sampai dengan tingkat kepercayaan 90% variabel ini belum berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. b) Personil sebelum bekerja sudah dilatih dan dibekali dengan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. 8) Sosialisasi Perizinan Variabel ini sampai pada tingkat kepercayaan 85% berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. Pengaruh ini jelas berhubungan dengan pemahaman UMKM terhadap kepentingan. konsekuensi prosedur dan persyaratan perizinan. Masih relatif besarnya biaya perizinan yang harus dibayar oleh pengusaha. waktu dan tenaga). c) Pengambilan berada pada level atas yang rata-rata memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pemberian perizinan bagi UMKM. variabel ini belum menunjukkan pengaruhnya terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. 9) Konsekuensi adanya perizinan Pada tingkat kepercayaan 90% variabel ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan. diduga menyebab variabel biaya ini berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan perizinan.

12%. b) Persyaratan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM khususnya pengusaha mikro. 2. Beberapa masalah yang sangat mendesak untuk diperbaiki adalah: a) Banyaknya jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan usaha.2 Saran-saran 1. Ketidakmampuan ini berkaitan dengan implementasi kelembagaan yang belum sesuai dengan karakteristik UMKM. Program-program perizinan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah belum menjangkau masalah pemberian badan hukum. 3. Hal tersebut disebabkan karena usaha mikro sebagian besar merupakan perusahaan perorangan yang ruang lingkup usahanya yang relatif sempit. 7. Program formalisasi usaha harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya 34 . 6) Konsekuensi dari adanya perizinan. Bagi pengusaha mikro. 5. Hal ini dikarenakan pemberian badan hukum merupakan kewenangan dari Departemen Hukum dan Ham yang dalam UU otonomi daerah juga tidak dilimpahkan kewenangannya kepada pemerintah daerah.1 Kesimpulan 1. 4. Dalam penyusunan konsep pemberian perizinan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara pendekatan. Jumlah UMKM yang telah mendapat formalitas usaha dalam bentuk perizinan relatif sedikit tidak terkecuali pada daerah-daerah yang telah melaksanakan P2SP yang baru mencapai 17. 2. kelembagaan dan karakteristik UMKM. Dari hasil temuan di atas dapat disusun best practice penyusunan konsep Lembaga perizinan UMKM 8. 3) Persyaratan perizinan. Berbagai usaha untuk mempermudah pemberian perizinan yang dilakukan sekarang (program P2SP) belum sepenuhnya dapat menyelesaikan masalah formalisasi UMKM. izin perusahaan atau badan hukum secara yuridis formal memang untuk waktu sekarang belum diperlukan. 6. 5) Sosialisasi perizinan . c) Kurangnya sosialisasi dan belum adanya konsekuensi yang jelas dari pemerintah dengan dimilikinya badan hukum. 4) Prosedur perizinan. 2) Bentuk lembaga perizinan.AGUSTUS 2009 : 18-36 VIII. Beberapa variabel yang berpengaruh nyata terhadap jumlah UMKM yang mendapatkan izin usaha adalah: 1) pendekatan. Kesimpulan Dan Saran 8.JURNAL VOLUME 4 .

Jakarta. (1992). (2001). (2008). Anonim. Anonim. Anonim. 1���. (2004). Supported by The Asia Foundation. Anonim. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Jointly orgized by LPEM-UI and PEG-USAID. Basic Penumbuhan Wirausaha Baru. Manggara Tambunan. Saleh. Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004. Anonim. (1999). Departemen Koperasi. Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Perlu dilakukan sosialisasi best pratice formalisasi UMKM yang telah disusun dengan memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi efektifitas sistem pelayanan. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. (1999). Kusnadi dan R. Kementerian Koperasi dan UKM. (2002). Jakarta. Jurnal Ekonomi UNTAR. Melangkah ke Depan Bersama UKM. (2003). Pedoman Pengembangan Kewirausahaan. The Asia Foundation. 3. Jakarta. 35 . Anonim. Study Report. Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK. (2006). Study Report. (2005). Vol 7 nomor 1.Kajian Pengembangan Formalisasi UMKM (Teuku Syarief) jenis perizinan yang harus dipenuhi oleh UMKM dan kemampuan UMKM untuk memenuhi persyaratan tersebut. Anonim. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. Support by The Asia Foundation and PEG-USAID. Jakarta. Jakarta Convention Centre 15-16 September 2004. Heriawan. Small and Medium Entreprise Development. Conference on “The Economic Issues Facing The New Government”. Indonesia Small Business Statistics. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM.

“Building The Policy of ICT Development. Gibb. Zsehong Tsai.” November 2004. (2004).B.AGUSTUS 2009 : 18-36 Yudhoyono S. January 2005. Allan A. World SME Convention. Bucharest May 15-18. The Symphony Consortium. Kamis 21 Oktober 2004. “The Entreprise Culture and Education” dalam International Small Business Journal Vol.JURNAL VOLUME 4 . USA.“ National Information & Communications Initiative Committee & Science and Technology Advisory Group (STAG). (1993).. 2nd ed. Jakarta. 2. Singapore: John Willey & Son. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. Bisnis Indonesia.” 16th International Conference. Taiwan. 36 .. “Symphony Solution for Strategic Network: Project Overview. 2005. Terapkan Ekonomi Terbuka. “The Bucharest Declaration: Preparing SME’s for the Knowledge Based Economy.

d) CC has a clear promotional operational standard. khususnya koperasi simpan Kajian Kelompok Peneliti tahun 2008. 5) SLC is necessary to prepare implementation of operational standard for SLC like CC. pendidikan. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti) *) 37 . 3) SLC is necessary to conduct horizontal and vertical cooperation and implements financial interlending. 4) SLC is necessary to establish secondary level of SLC in the district level or for some primary SLC’s which the function to coordinate the interests of SLC’s in the area of business and finance. Artikel diterima � April 200�. 2) Education to members and management of SLC should be conducted regularly and consistence. The result of the assessment showed that: 1) There is a difference between SLC and CC in implementing cooperative principles.d. 8 �uni 200�. PENDAHULUAN 1. b) Cooperation horizontal and vertical and interlending implementation on the sixth cooperative principle. Suggestion which is proposed in line with the conclusion above mentioned: 1) LSC should make members requirement which are more operational so that member of LSC will be more selective on its quality.1 Latar Belakang Ketika krisis ekonomi melanda di Indonesia. The difference lays on determining member requirements on the first cooperative principle: a) The implementation of education on the fifth cooperative principle.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) ANALISA KOMPARATIF ANTARA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) DAN KOPERASI KREDIT (KOPDIT)*) Riana Panggabean**) Abstract Objective of the activity is to compare Savings and Loan Cooperative (SLC) and Credit Cooperative (CC) in implementing cooperative basic principle. kerjasama horisontal dan vertikal I. 2) What’s really at the bottom of that (CC) is better in implementing cooperation principles: a) Members are the owner of cooperative should be serviced well. c) Cooperation among CC is an instrument of helping each other among CC and resource of business increase in rendering service to the members. c) Obligation of to pay tax on the sevent cooperative principle. KSP dan Kopdit berbeda dalam implementasi prinsip koperasi. syarat anggota. Peer review 22 April s. koperasi dapat bertahan dan bahkan berkembang. b) Education is a facility to increase the capability and cooperative motivation.

Koperasi simpan pinjam yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM ada dua bentuk yaitu (1) Koperasi Simpan Pinjam disebut KSP melaksanakan kegiatan usahanya hanya usaha simpan pinjam dan (2) Unit Usaha Simpan Pinjam disebut USP adalah unit usaha yang dibentuk dalam suatu koperasi sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi melakukan kegiatan usaha simpan pinjam (PP No 9 Thn 1995).AGUSTUS 2009 : 37-61 pinjam. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka untuk tujuan produktif dan kesejahteraan anggotanya. Tujuan produktif dan kesejahteraan berarti bahwa pinjaman hanya diberikan pada anggota untuk dimanfaatkan modal usaha yang bisa meningkatkan penghasilan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota. Usaha simpan pinjam juga menjadi cikal bakal pertumbuhan dan pengembangan koperasi simpan pinjam di Indonesia dan usaha ini merupakan usaha dominan koperasi hingga saat ini. 38 . Koperasi kredit dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. (6) Kerjasama antar koperasi dan (7) Kepedulian terhadap komunitas (Internasional Co-operative Alliance/ICA). Selain koperasi tersebut koperasi kredit (credit union) mulai timbul di Indonesia pada tahun 1950 adalah koperasi yang mempunyai kegiatan simpan pinjam sama dengan KSP/USP yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM tersebut. (3) Partisipasi ekonomi anggota.koperasi lain dan atau anggotanya. Ini merupakan bukti bahwa koperasi perlu diperkuat dan dipertahankan sebagai lembaga keuangan mikro agar selalu mampu melayani anggota dan masyarakat disekitarnya. Prinsip koperasi merupakan esensi dari dasar kerja koperasi sebagai badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari usaha lain. (5) Pendidikan dan pelatihan serta informasi. Artinya pinjaman tidak bisa diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip koperasi adalah (1) Keanggotaan sukarela dan terbuka.JURNAL VOLUME 4 . calon anggota koperasi yang bersangkutan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelakanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam. Koperasi ini berhasil karena melaksanakan prinsip-prinsip koperasi secara tepat dalam menjalankan organisasi dan usahanya. kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan. (2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis. (4) Otonomi dan kebebasan.

(2) Jumlah anggota keseluruhan 668.524. Secara kualitatif menurut hasil penelitian dijelaskan bahwa kopdit cukup pesat perkembangannya dilihat dari pertumbuhan dan usahanya karena kopdit dapat bertahan dan berkembang terus bahkan dianggap berprestasi walaupun pada masa krisis. terdiri dari jumlah anggota laki-laki 399. (6) Modal penyertaan Rp 200. (3) Banyak KSP yang telah berubah menjadi lembaga keuangan yang hanya mencari keuntungan semata sehingga mengabaikan pelayanan kepada anggota. Kopdit dalam melaksanakan usahanya 39 .36 juta.000 juta.815.460.640.438 (Robert M. Namun dalam prakteknya disinyalir: (1) Ada terjadi penyimpangan-penyimpangan managemen organisasi dan usaha yang kurang sesuai dengan peraturan perundangan terutama yang menyangkut dengan prinsip dasar koperasi.987. (5) Modal sendiri Rp 4. (2) KSP saat ini menjadi alat untuk mencari rente ekonomi terutama fasilitasi perkuatan dari pemerintah.118.346 orang.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Kerjasama dan Jaringan Informasi pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK.908 orang. (4) Simpanan non saham Rp 791.94 juta. (6) Modal penyertaan Rp 6.73 juta.864.67 juta. (3) Jumlah nasabah 10.865. (7) Simpanan yang diterima Rp 1. Selanjutnya perkembangan koperasi kredit (kopdit) secara kuantitatif pada tahun 2006 dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah koperasi kredit di Indonesia sebanyak 1.598 unit.495. (2) Jumlah anggota sebanyak 480. (8) SHU yg belum dibagi Rp 1. (9) Total aset Rp 1.011 unit.063.326 orang.858.662 juta. Koperasi ini dikembangkan dan berkembang sesuai dengan jatidiri koperasi (Sumisjokartono.877.393. (9) Total aset Rp 7. (4) Modal pinjaman Rp 1.693.270. (8) SHU yg belum dibagi Rp 107.379 orang. Sedangkan kopdit berhasil karena melaksanakan/menjalankan koperasinya sesuai dengan prinsip dasar koperasi secara konsisten.216.873.154.054.374. Lawang 2007). perkembangan KSP sampai Tahun 2005 sangat pesat dijelaskan sebagai berikut: (1) Jumlah KSP 1. (5) Modal sendiri Rp 776.932. (3) Jumlah saham sebanyak Rp 1. (4) Modal pinjaman Rp 195. (5) Jumlah pinjaman beredar sebanyak Rp 1.62 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 13.834.545.91.Z.502 orang dan jumlah anggota perempuan 268.633.18 juta.114 dan.95 juta.485 unit.524.03 juta. (3) Jumlah nasabah 878.844 orang.55 juta dan (10) Pinjaman yang diberikan Rp 1.83 juta.783 orang. (7) Simpanan yang diterima Rp 325.600. Demikian juga perkembangan USP pada tahun yang sama cukup menonjol yaitu: (1) Jumlah USP koperasi sebanyak 36.88 juta.578.364. (2) Jumlah anggota sebanyak 4.165.288.557. 2002) KSP dan USP cukup pesat perkembangannya seperti yang disebut di atas.

sesuai Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi dan Manajemen Operasional Koperasi Kredit. (2) keterbukaan. II.JURNAL VOLUME 4 . koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 2. Ada 4 prinsip yang berkaitan dengan keanggotaan yaitu (1) prinsip sukarela. Perlu ditelusuri konsep prinsip-prinsip dasar koperasi. masalah yang akan diamati dalam kajian ini adalah belum diketahui apa perbedaan antara KSP dengan kopdit dalam mengimplementasikan jati diri koperasi. Perincian prinsip-prinsip koperasi yang menjadi landasan operasional KSP dan kopdit dijelaskan sebagai berikut: 1).1 Prinsip-prinsip Koperasi Menurut Undang Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian disampaikan bahwa prinsip koperasi merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berkoperasi. Dengan melaksanakan keseluruhan prinsip tersebut. TINJAUAN KONSEP Sesuai dengan tujuan kegiatan ini yaitu membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi. 40 . 1.2 Tujuan dan Manfaat Kajian Tujuan kegiatan ini adalah membandingkan KSP dan kopdit dalam implementasi prinsip dasar koperasi.3 Manfaat Kajian Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan/keputusan untuk pengembangan KSP dan kopdit lebih lanjut. Selanjutnya menurut Internasional Co-operative Alliance (2001) prinsip-prinsip ini tidak independen satu dengan lainnya sehingga tidak boleh dinilai secara parsial berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip tersebut tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu kesatuan. 1.AGUSTUS 2009 : 37-61 tidak menggantungkan diri kepada fasilitas dan bantuan pemerintah dan kopdit dalam melaksanakan usahanya hanya melayani anggota. Keanggotaan yang Bersifat Terbuka dan Sukarela Keterbukaan dalam organisasi koperasi hanya bisa terlaksana jika ada kesukarelaan.

politik dan agama apapun. untuk menemukan sikap yang sama. sosial.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) (3) non diskriminasi dan (4) tanggung jawab. Karena koperasi adalah organisasi demokratis dikendalikan oleh anggotanya maka setiap anggota memiliki hak suara. Sukarela artinya orang-orang yang secara sukarela memilih untuk membuat komitmen terhadap koperasi mereka bahwa bergabungnya seseorang menjadi anggota koperasi tidak karena paksaan dalam bentuk apapun. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah organisasi yang bersifat sukarela dan terbuka bagi semua orang yang bersedia memanfaatkan pelayanannya dan bersedia pula untuk menerima tanggung jawab keanggotaan. tanpa membedakan jenis kalamin (gender). partisipasi dalam bisnis. (2) Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam anggaran dasar. Pengelolaan Dilakukan Secara Demokratis Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota. Prinsip nondiskriminasi adalah bahwa anggota tanpa diskriminasi sosial. hak pilih dan hak untuk menentukan sikap yang sama. 41 . Para anggota memegang dan melaksanakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan koperasi artinya bahwa: (1) Menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksa oleh siapapun. Sifat terbuka memberi arti dalam keanggotaan tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi apapun. Prinsip keterbukaan adalah tanpa pembatasan yang dibuat-buat seperti simpanan pokok atau pendaftaran. politik dan agama. Operasional prinsip ini dalam banyak koperasi diwujudkan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) dimana anggota aktif dalam membahas masalah dan kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan. Prinsip tanggung jawab adalah keanggotaan koperasi harus terbuka terhadap semua orang yang mau menerima tanggung jawab sebagai anggota. latar belakang. ras. Prinsip yang utama adalah sekali anggota diterima menjadi anggota koperasi mempunyai hak-hak yang sama dengan anggota sebelumnya termasuk dalam hak suara tanpa melihat besarnya total simpanan. Tanggung jawab meliputi: kontribusi dalam modal. 2). menanggung kontrol organisasi secara demokratis dan bila perlu meminta pertanggungjawaban pemimpin yang dipilih anggotanya.

Pengertian konsep ini dijelaskan sebagai berikut: 42 . khususnya kepada pemuda dan pembentuk opini dimasyarakat tentang hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi. koperasi melakukannya berdasarkan persyaratan yang menjamin pengawasan demokratis oleh para anggotanya dan mempertahankan otonomi mereka. termasuk pemerintah. regional dan internasional. 7). memberikan penerangan kepada masyarakat umum. Adanya Otonomi dan Kemandirian Koperasi adalah organisasi otonom. Memiliki Kepedulian Terhadap Masyarakat Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. 6). 5).JURNAL VOLUME 4 . Sisa Hasil Usaha dialokasikan untuk pengembangan koperasi. 2. menolong diri sendiri serta diawasi oleh para anggota. Pelatihan dan Penerangan Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota. Apabila ada modal lain hanya akan diberikan imbalan yang terbatas. Sebagian dari modal menjadi milik bersama koperasi. atau memupuk modal dari sumber luar. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain. membentuk dana cadangan. melalui kebijakan kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota. Kerjasama Antara Koperasi Koperasi melayani para anggotanya secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi dengan kerjasama melalui struktur lokal. Pendidikan. Anggota Berpartisipasi Dalam Kegiatan Ekonomi Para anggota memberikan kontribusi modal secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis terhadap modal. dibagikan kepada anggota seimbang dengan transaksi yang mereka lakukan mendukung kegiatan lainnya yang disahkan rapat anggota. bersepakat untuk menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama guna dipinjamkan diantara sesama mereka dengan bunga yang layak serta untuk tujuan produktif dan kesejahteraan.AGUSTUS 2009 : 37-61 3).2 Koperasi Kredit Menurut Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (1996:7) pengertian kopdit adalah badan usaha yang dimiliki oleh sekumpulan orang dalam suatu ikatan pemersatu. 4). nasional.

d). Kopdit akan berkembang baik bila potensi keanggotaannya cukup besar. wanita. Lingkungan Kerja (Accupational Common Bond) Dimana sekelompok orang/anggota dipersatukan karena melakukan pekerjaan yang sama. dan pengawas. olahraga. pemuda dsb. Dimiliki Oleh Sekumpulan Orang Dimiliki oleh sekompulan orang pria dan wanita yang berjumlah sekurang-kurangnya 20 orang. Lingkungan Perkumpulan (Asosieson Commond Bond) Dimana sekumpulan orang diikat oleh karena sama-sama menjadi anggota dari suatu perkumpulan. Lingkungan tempat tinggal (Teritorial Commond Bond) Dimana sekumpulan orang yang diikat oleh karena bertempat tinggal pada suatu tempat atau menjadi warga dari suatu daerah yang sama Misalnya satu lingkungan RT. b). pramuka. Bila sudah berkembang diharapkan membuka diri bagi masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu koperasi harus dikelola dengan memperhatikan kaidah-kaidah ekonomi tanpa melupakan tujuan dibentuknya usaha ini oleh kelompok pemiliknya. Misalnya mahasisiwa. petani. Jika potensi keanggotaannya tidak besar maka koperasi di tempat kerja saat tertentu dianjurkan membuka diri bagi bagi masyarakat sekitarnya. Badan Usaha Pengertian badan usaha (UU Nomor 25 Tahun 1992) pada kopdit adalah badan usaha dengan ciri khas pemiliknya adalah anggota-anggotanya. buruh. Anggota wajib mendukung kemajuan kopdit sebagai badan usaha. Bersepakat Untuk Menabung Uang Mereka yang Disisihkan Dari Penghasilan Bahwa sekumpulan orang setuju tanpa paksaan untuk menabungkan uang yang mereka hematkan dari 43 . Anggota dalam kopdit adalah pemilik pelaksana. dan guru. rumah sakit. 2). RW dan RK. 3). c). Dalam Suatu Ikatan Pemersatu Dalam suatu ikatan pemersatu artinya sekumpulan orang diikat dipersatukan oleh adanya kepentingan bersama dan kebutuhan yang dirasakan bersama di dalam salah satu lingkungan masyarakat seperti: a).Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Misalnya karyawan sebuah pabrik.

Dipinjamkan Diantara Sesama Mereka Artinya bahwa pinjaman diberikan kepada anggotaanggotanya dan pinjaman dijamin oleh watak baik si anggota peminjam serta kelayakan usaha. f). Dengan menghemat seseorang bisa: (1) Menabung. cepat. e). dan terarah. modal penyertaan dan hibah. Layak artinya dapat memberi balas jasa simpanan sesuai pasar dan dapat membiayai operasional kantor kopdit. (2) Setia kawan/Solidaritas. Tujuan kopdit diimplementasikan dalam membimbing dan mengembangkan sikap menghemat diantara para anggotanya. dan (3) Mendidik anggota dalam hal menggunakan uang secara bijaksana. menarik dan berhasil bagi anggota. (b) Modal-modal lain yang berupa modal hutang. tepat. sebagai (a) Modal sendiri berupa simpanan wajib dan pokok. kopdit dimulai dengan pendidikan. i). Ini berarti bahwa masing-masing bertanggung jawab.AGUSTUS 2009 : 37-61 penghasilannya bersepakat untuk menabung. karena dengan menghemat orang bisa menabung.JURNAL VOLUME 4 . (2) Memberikan Pinjaman layak. Artinya pinjaman tidak boleh diberikan untuk tujuan konsumtif ataupun spekulatif. Menghemat itu penting. Bunga yang Layak Bahwa bunga pinjaman pada kopdit harus layak. g). h). dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol dengan pendidikan. Tiga Pilar Koperasi Kredit Sebagai alat Pembangunan Tiga pilar ini disebut Trilogi pembangunan yaitu: (1) Pendidikan. Menciptakan Modal Bersama Bahwa modal diperoleh dari tabungan bersamasama para anggotanya. Kopdit tidak sekedar 44 . cara menyimpan uang secara praktis. Kopdit mengajarkan cara menghemat dengan memberikan bimbingan perencanaan keuangan keluarga anggota dengan baik. saling melayani dan mempercayai serta memanfaatkan tabungan untuk kemajuan bersama. Tujuan Produktif dan Kesejahteraan Pinjaman hanya diberikan untuk kebutuhan anggota bagi usaha-usaha yang bisa meningkatkan penghasilan dan atau usaha stabilitas kehidupan para anggota.

Agar dapat memahami sifat kopdit dan mengerti aspekaspek unik gerakan ini terlebih dahulu perlu dipelajari prinsipprinsip visi yang selama ini mengarahkan perkembangan gerakan tersebut. Kopdit juga memberikan manfaat dan layanan bagi para anggota sesuai dengan besarnya jasa yang diberikan kepada kopdit tersebut. Keuntungan yang diraih kopdit digunakan untuk tujuan-tujuan demokratis kesadaran sosial dan pengembangan manusianya. Secara teoritis kopdit ditujukan untuk beroperasi secara non profit (tidak mengambil keuntungan). (3) Swadaya. Kopdit selalu berusaha untuk sedapat mungkin membiayai dirinya dalam pengertian bahwa anggota kopdit selalu berusaha agar koperasi kreditnya semakin besar dan sehat. Koperasi Kredit Dikendalikan oleh Anggota Perkembangan serta kegiatan pergerakan kopdit Indonesia selama ini dikendalikan oleh prinsip-prinsip kopdit (Mission Statement) yang diakui secara internasional dan pernyataan misi yang dikembangkan oleh Gerakan Koperasi Kredit Indonesia.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) menghimpun dan menyalurkan kredit dari dan untuk anggota namun yang paling penting adalah bagaimana setiap anggota memperhatikan kepentingan kelompok daripada kepentingan sendiri. Sebuah kopdit adalah usaha koperasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh para anggotanya. Pada kenyataannya keuntungan dan laba dari modal para anggota adalah sasaran yang justru harus diraih oleh semua kopdit. sebagai acuan bertindak untuk melaksanakan usaha simpan pinjam. Inilah ciri khas yang membedakan kopdit dari lembaga keuangan lain seperti bank dan perusahaan-perusahaan pengawasan harta benda lainnya (trust companies). 2. Namun kopdit tidak didirikan hanya sekedar untuk memberi keuntungan modal para anggota. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1).3 Implementasi Konsep Kredit Prinsip Koperasi Menurut Koperasi Implementasi konsep prinsip koperasi pada kopdit (credit union) dituangkan dalam Manajemen Profesional Koperasi Kredit yang diterbitkan oleh Induk Koperasi Kredit pada Pebruari 2003. 45 .

jenis kelamin agama maupun politik. 6). 3). Distribusi kepada Anggota Dalam rangka mendorong penghematan melalui menabung dan juga agar dapat menyediakan pinjaman serta layanan lainnya maka setiap tabungan dan simpanan diberikan bunga dengan tingkat yang wajar berada dalam batas kemampuan kopdit bersangkutan. 5). yang ingin mengambil manfaat dari layanan yang disediakan kopdit dan bersedia menerima tanggung jawab yang diakibatkannya. kebangsaan.JURNAL VOLUME 4 . Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dilakukan secara proporsional ataupun representatif sesuai dengan prinsip koperasi.AGUSTUS 2009 : 37-61 2). Pengendalian (control) Demokratis Para anggota kopdit memiliki hak suara yang sama dan hak yang sama pula untuk berpartisipasi dalam menentukan keputusan yang berpengaruh terhadap kopdit dimana hak ini tidak tergantung pada jumlah tabungan. Kopdit juga memiliki otonomi sendiri kaitannya dengan hukum dan peraturan negara dimana negara mengakui kopdit sebagai suatu koperasi yang melayani dan dijalankan sepenuhnya oleh anggota. 7). Pengurus yang duduk dalam suatu kopdit sifatnya sukarela dan para pengurus yang terpilih seharusnya tidak digaji. simpanan atau volume bisnis masingmasing anggota. Non Diskriminasi Kopdit tidak membedakan ras. Para anggota memiliki hak yang sama dalam pemberian suara dan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kopdit tersebut. Layanan kepada Anggota Layanan kopdit ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan baik ekonomis maupun sosial para anggotanya. 4). 46 . Kopdit boleh mengganti biayabiaya sah yang dikeluarkan oleh para pengurus terpilih tersebut. Struktur yang Demokratis Kopdit beroperasi berdasarkan prinsip demokrasi dimana keanggotaan terbuka untuk siapa saja. Keanggotaan yang Terbuka dan Suka Rela Keanggotaan kopdit bersifat sukarela dan terbuka bagi siapa saja dalam batas ikatan pemersatu sebuah kopdit tersebut.

1. 9). Pendidikan yang berkelanjutan Kopdit harus secara aktif menyelanggarakan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ekonomi. 47 . 2. Dimana tidak boleh ada anggota yang mendapat keuntungan lebih sementara anggota lain ada yang rugi. Membangun Stabilitas Keuangan Salah satu aspek utama dari kopdit adalah membangun kekuatan finansial termasuk pengadaan cadangan keuangan dan pengendalian internal yang memadai agar layanan anggota bisa terjamin keanggotaannya. perkoperasian. Kelebihan itu bisa dibagikan kepada anggota dalam bentuk bunga atau laba sesuai jumlah transaksi yang mereka lakukan dengan kopdit bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan tambahan yang dibutuhkan anggota. sosial.4 Peubah dan Indikator Kajian Untuk mencapai tujuan umum pada kajian ini diidentifikasi indikator yang diasumsikan mampu menjelaskan inplementasi pelaksanaan prinsip-prinsip koperasi pada kedua sasaran kajian yang akan dibedakan dalam kajian ini. kemandirian dari koperasi tersebut dalam melayani kebutuhan anggota. METODE KAJIAN 3. managemen keuangan.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Jika ada laba yang tersisa dari hasil kegiatan kopdit setelah dikurangi dana cadangan dan membayar deviden terbatas atas modal sendiri sesuai ketentuan. managemen koperasi. 10). Tujuan Sosial Kopdit harus secara aktif mempromosikan pendidikan kepada anggotanya dan kerjasama dengan organisasi lain demi kepentingan bersama. demokrasi. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengambilan data dilakukan dengan metode survey. Ketujuh prinsip tersebut dijadikan variabel dan dari variabel diidentifikasi indikatornya seperti pada Tabel 1. 8). Sisa tersebut adalah hak semua anggota. Data dan informasi yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dan data primer. III.

2. Skema Identifikasi Prinsip & Peubah Kajian 3. Jawa Barat.AGUSTUS 2009 : 37-61 ������������ ������������� ����� ������������������ � ������������������ ���������� � �������������������� � ������������������������ ������������� � ����������������� � ������������������ ����������� � ����������������� � �������������������� ����������������� ����������������������� �������������� � �������������� � ���������� � ����������� � ���������� � ��������� � ���������� � ������ � �������������� � ������������������� � � � � � � � � ��������������������� ��������������� ���������������������������� ����������������������� ���������������������� ��������� ���������������������� ������������ ����������������� �������������������� ��������������������� ��������� �������������� ���������������� ��������������������������� ������� Gambar 1. Populasi dalam kajian ini adalah semua KSP dan kopdit yang ada di kabupaten lokasi kajian 2). Teknik Analisis Data 1). 48 . Responden masing koperasi 3 orang (1 orang pengurus/ managemen dan dua orang anggota). Jumlah sampel koperasi masing-masing kabupaten 2 KSP dan 2 kopdit. Jawa Timur.3. Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantatif . dan Bali 5). 3. Teknik penarikan sampel KSP dan kopdit dilakukan secara purposive dengan ciri ciri KSP dan kopdit aktif melakukan usaha simpan pinjam 4). Teknik Penetapan Sampel 1).JURNAL VOLUME 4 . Lokasi kajian ini dilakukan di 4 (empat) provinsi: Sumatera Utara. Teknik penarik lokasi sampel dalam kajian ini dilakukan dengan metode purposive dengan ciri di kab/kodya yang bersangkutan terdapat KSP/USP dan kopdit yang sudah berjalan selama 5 tahun dan koperasi tersebut aktif 3).

071.-. Total modal rata-rata kopdit sebanyak Rp. 2..757.386 dan jumlah anggota terkecil terdapat di Jawa Barat. Total modal rata-rata terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak Rp. Total modal ini 10 kali lipat lebih besar dari total modal KSP. Sedangkan jumlah anggota 8 unit kopdit responden jauh lebih besar dibanding dengan jumlah anggota KSP yaitu sebanyak 7. 2008). Total modal rata-rata 8 orang responden KSP sebanyak Rp.612.013.679.805.750.261.1 Profil Responden KSP dan Kopdit Profil KSP dan kopdit dilihat dari (1) Jumlah anggota. Jumlah anggota terendah terdapat di Bali dan Jumlah anggota tertinggi terdapat di Jawa Barat. Jika dilihat dari jumlah anggota maka perbandingan jumlah anggota kopdit 4 kali lipat lebih besar dari jumlah anggota KSP.25. (3) Total Modal yang terdiri dari Modal sendiri dan modal luar. 3). Jumlah ini jika dibagi dengan banyaknya anggota maka rata-rata anggota memiliki modal sebanyak Rp. Temuan di lapang menunjukkan bahwa kopdit berusaha melayani anggota sebaik mungkin karena kopdit menumbuhkan dan mengembangkan modal dari anggota sedangkan KSP disinyalir melayani non anggota.695. Analisis kualitatif dilakukan melalui teknik pembobotan dan skoring. IV.993.017. dijelaskan pada tabel 1 (lampiran 1). Jumlah nasabah yang dilayani pada KSP kurang jelas sedangkan jumlah nasabah di kopdit otomatis sama dengan jumlah anggotanya karena prinsip kopdit adalah melayani anggota. (2) Jumlah nasabah. 7. Hasil kajian menjelaskan bahwa jumlah rata-rata anggota pada 8 unit KSP responden sebanyak 1684 orang.323. Skor masing-masing koperasi dijumlah dan dibagi 100. Total modal ini berasal dari anggota dan disalurkan untuk anggota. 166.795.039 atau empat kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Jumlah anggota kopdit terbanyak terdapat di provinsi Sumut sebanyak 16. 49 .Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2).-. Kondisi ini menjelaskan bahwa modal kopdit berasal dari anggota dan dikembangkan untuk anggota. Mengapa jumlah anggota kopdit jauh lebih besar dari jumlah anggota KSP. HASIL KAJIAN 4. Data sekunder profil KSP dan kopdit di tingkat kab/kota diolah dengan analisis pengujian varian satu jalur (one way anova) Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan (DuwiPryanto. 34.761 dan jumlah modal terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 222. (4) Total asset dan (5) SHU. Jumlah skoring masing-masing KSP/kopdit itulah yang menjadi pembeda antara KSP dengan kopdit.

.337 dan modal luar Rp 358.. Jumlah Bobot (0-100) 10 Koperasi 1..670. dan solvabilitas KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan..... 7...JURNAL VOLUME 4 . dan karyawan Kerjasama usaha secara horizontal..Anggota tetap: .25 dan modal luar Rp. 3. Kerjasama usaha secara vertikal.....625..Calon anggota:.AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 1. orang . Pengendalian oleh Anggota Secara demokratis Partisipasi Ekonomi Anggota 20 3.458. 2. Anggota berperan aktif dalam RAT.. 4..koperas Jumlah anggota yang dilayanai: : .. KSP& kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kpd anggota KSP/kopdit diaudit auditor independen KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas. 407... Pendidikan dan Pelatihan 1... 3. 1. 2.... 2. Otonomi dan Kemandirian 1... Interlending keuangan Ketaatan Koperasi membayar pajak. Variabel Kajian (Prinsip) Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Indikator/Kegiatan yang harus dilakukan KSP/kopdit KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota Anggota bebas masuk dan keluar..... 3.. 1. 4...... 3. dan jumlah modal yang berasal dari pemerintah sebesar Rp. 5. 2. orang KSP/kopdit melaksanakan Rencana Kerja dan RAPB. Anggota melunasi simpanan pokok Anggota aktif menyetor s wajib & s rela Anggota ikut dalam pengambilan keputusan Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. 10 6. 2.. Anggota melaksanakan pengawasan Anggota aktif dalam memecahkan masalah.078. 1. Kerjasama diantara koperasi Kepedulian terhadap komunitas 1.sedangkan modal kopdit hanya modal sendiri dan modal ini semuanya berasal dari anggota.. 2. dari lingkungan Kerjasama Koperasi dengan organisasi kemasyarakatan.....458..25. 4.. 3......... Skor (0-100) Nilai (BxS)i 2.447. 3. 10 10 100 Nilai Akhir = ( BXS ) 100 Struktur modal sendiri KSP rata-rata Rp. 358. 15 5. 50 2 ... 1..679. No. 2. 2. Variabel dan Indikator Analisis Komparatif Simpan Pinjam dan Koperasi Kredit Koperasi :.871. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan Diklat bagi anggota.. 25 4. Penyerapan tenaga kerja.

Dimana kopdit memiliki nilai lebih besar dalam kriteria-kriteria tersebut dibandingkan dengan KSP sedangkan dalam kriteria Total Aset tidak berbeda secara signifikan antara kopdit dengan KSP (Sig.460.119.397.408.63 919.807. = 0.50 220.711.898. Rata-rata dari data yang ada b.930.3 892.814.085 c 0.943.887.877. Modal Pemerintah dan SHU (Sig.38 730.75. 145.2 Profil KSP dan Kopdit Tingkat Kabupaten/Kota Memperkuat hasil diskriftip diatas.020.6 800.25 15.562.40 23.728.461.terbesar terdapat pada KSP di provinsi Bali sebesar Rp 5.781.516.228.670 c 0.471.8 175.05).00 Sig.022.245.8 Sig.970.000. Standar Deviasi (Simpangan Baku) Kopdit KSP Prop c.388.43 23.06 2.89 SDb 2.3 361.5 3. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi a.865.253.433.186.142.67 11.0 Sig.179.705.524.544.734.549.345.625.075.174. Deskripsi Data Kopdit dan KSP 5 Provinsi Variabel Jumlah Anggota M Sendiri M Luar M Pemtah Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 2.842. 0.683. hasil analisis one way anova pada Tabel 2.50.95 3.5 2.532.841c 0.112.9 31.5 30.8 Jumlah Anggota 905. Modal Sendiri.000c 0.327.5 276.005 c 0.154.3 2.819593.4 81.023.670.752.338.0 99.169.118.027 c Sum Uta-ra Tabel Keterangan: 3.294.5 205.857.395. Modal Luar.169.386.392.009.259.456.0 74.0 350.236.865.127).666.144.73 407.7 30.625.457.679.880.691.404.007 c 0.3 229.596.566. Tabel 2.2 9.7 1.330.016 c 0.29 1.104.875.282.054.30 1.8 274.82 260.471.518.2 40.340.768.64 776.121.983.876.005.829.59 KSP SDb 920.000. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).416.1 .0 58. 0.381.75 68.024.jauh lebih kecil dibanding dengan SHU kopdit sebesar Rp.990.980.034.127 c 0.627.001c 0.241.7 1.09 2.2 1. 1.664.996.001c 0.880.871.8 500.13 45.717.369.9 6.012.3 269..366.055c 0.7 kali lipat jauh lebih besar.237.234. menjelaskan. < 0. berbeda secara Variabel a b a SD Rata-rata SDb Rata-rata signifikan jika 5.953.05 (Taraf nyata 5%) Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota 19.496.016 c 0.5 4.704.153.124c 0.346.-. 2.656. Total rata-rata SHU sebesar Rp.340.573.50 atau 10.7 258.5 857.003 c Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri 51 110.0 993.148.986.124. 4.3 201.976. Dari indikator-indikator profil koperasi dan kopdit di atas ternyata nilai indikator kopdit jauh lebih baik dibanding dengan KSP.723.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) Total asset rata-rata KSP Rp.249.6 524.307.859.36 410.959.151.474.412.87 Rata-rataa 566.323c 0.938. < 0.sedangkan total asset terkecil terdapat di provinsi Kalimantan Barat sebesar Rp 370.977..00 1.06 1.3 635.272.5 560.335.105.787.3 105.090.2 293.904.254.297.503. bahwa kopdit dan KSP berbeda secara signifikan dalam kriteria Jumlah Anggota.5 904.950 dibanding dengan total asset kopdit ternyata total asset kopdit jauh lebih besar yaitu sebesar Rp 25.941.000 c 0.044.0 13.

001c 0.637.625.6 524. Terdapat 4 kriteria antara kopdit dan KSP yang berbeda secara signifikan di provinsi Bali yaitu jumlah anggota.3 269.941.983.5 857.904.105.095.234.9 30.887.000c 0.2 40.148.900.912. KSP lebih tinggi dibandingkan dengan kopdit (Tabel 2).179.6 800.001 c 0.627.000 c 0.259.970.005.265 c 0.9 31.282.691.272.0 74.496.124c 0.4 33.7 22.448.4 81.003 c 0.1 128.920.728.2 1.05 (Taraf nyata 5%) 52 .787.573. Tabel 3.345. Namun untuk kriteria total aset.8 4.5 560.392.8 19.2 2.537.930.121.5 205.055c 0.7 1.169.004 c 0.005 c 0. Dimana untuk kriteria jumlah anggota.338.911.419.0 29.532.0 110.762.710.5 205.0 13.007 c 0.8 274.294.432.0 183.846.3 229.076.404.086.950.011 c Keterangan: a.4 2.118.5 904.340.568.119. Standar Deviasi (Simpangan Baku) C.2 639.388.704.000.865.198.736.0 279.366. kopdit memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP.000.253.013.588.3 892. Nilai Signifikasi dari Uji Ragam Satu Arah (One-Way ANOVA).461.7 54.898.5 3.136.442.971.1 31.5 500.188. Diantara 5 kriteria antara kopdit dan KSP yang dianalisis pada provinsi Jawa Barat tampak berbeda secara signifikan hanya SHU.0 30.5 276.562. dan SHU.032.829.381.6 KSP SDb Sig. total aset.3 2.2 163.0 993.383.034.183.807.664.841c 0.323c 0.218.286.7 33.814.8 175.722. berbeda secara signifikan jika Sig.044.772.4 1.254.3 201.457.0 293.694.003.104.2 9.416.346.8 50. modal sendiri dan SHU.2 370.518.000.0 187. dimana untuk kedua kriteria tersebut kopdit memperlihatkan nilai yang lebih besar.236. 0.085 c 0.8 905.5 575.044.880.054.503.3 105.7 1.0 51. dimana SHU kopdit lebih rendah dibandingkan dengan SHU KSP (Tabel 2).904.133.0 99.729.237.186.327.144.5 6.245.495. < 0.313.0 2.876.2 3.139 c 0.048 c 0.986.JURNAL VOLUME 4 .7 197.1 58.387.880. Deskripsi Data Kopdit dan KSP Masing-Masing Provinsi Prop Variabel Jumlah Anggota SumUtara Modal Sendiri Modal Luar SHU Jumlah Anggota Jawa Barat Modal Sendiri Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Modal Luar Total Aset SHU Jumlah Anggota KalBarat Modal Sendiri Total Aset SHU Kopdit Rata-rataa 5.723.679.241.169.516.7 SDb Rata-rataa 350.7 258.656.5 12. modal sendiri. Rata-rata dari data yang ada b.151.053.472.000.3 635.561.859.959.2 38.3 361.AGUSTUS 2009 : 37-61 Pada tabel 3 menjelaskan bahwa kriteria antara kopdit dan KSP berbeda secara signifikan di provinsi Sumatera Utara adalah Jumlah Anggota dan SHU.670 c 0.711.154.0 1.050.323.8 379.625.5 268.579.

73 4.323.001 c 0.829.340.095. 1.0 54.0 81.034.005 c 0.75 T -0.535 0.186.664.338.7 1.148.573.198.345. Tabel 4. (Constant) Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar 0.59 Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.784 3. dimana semakin besar jumlah anggota SHU 639. = 0.472.259.983.188.387. dimana semakin besar modal sendiri.5 0.8 Kal BarAt Lebih lanjut pada Tabel 4.0 12.003.5 105.579.623 Sig.904.762.265 c 0.245. 0.000 T -0.179.134 Tabel 5.2 379.169.000 3.8 274.419.8 269.841c 0.118.728. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Beta t Sig.704.315 t 2.0 33.003).234.784 0.000). hasil analisis regresi 205.134 2.388. Analisis Regresi denganterhadap Bebas(Sig.0 197. Pengaruh Tabel 6.787.4 TotalSHU.971.0 22.139 c 0.053.000).144.568.286.169.003 c 0.4 74.055c 0.2 229.950.729.876 0.2 31.SHU Jumlah Anggota Jawa BarAt Modal Sendiri Modal Luar 3. (Constant) Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri 1.3 892. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Tabel 4.2 50.562.7 258.401 0.722.7 parsial 33.3 31.3 201.772. Modal Luar 0.898.2 40.518. semakin besar modal maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.254. Analisis Regresi dengan peubah bebas Modal luar Beta T Sig.315 (Constant) Total Aset 0.5 857. modal sendiri.4 terhadap SHU (Sig.656.859.73 53 Tabel 8.0 110.580 6.694.3 560.2 524.0 993.404.332 Tabel 7.532.876.327.185 Sig. yaitu jumlah anggota.6 800.59 3.623 0.005.183.003 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.920. (Constant) 2. Dimana untuk kesemua kriteria tersebut kopdit memiliki nilai Aset 1.001 0. R Square = 0.904.044.000 c 0.5 370.076.6 30.253. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri Tabel 5.185 (Constant) Modal Sendiri t Sig.007 Analisis 0.5 904.537.7 51.401 Sig. Modal Sendiri 0.104.0 signifikan dalam 3 kriteria.637.2 memperlihatkan bahwa jumlah anggota berpengaruh secara signifikan Total Aset 29.846.000.007 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.1 Jumlah Anggota Modal Sendiri 635. Analisis Dependent Variable: SHU Regresi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah .503.495.723. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Tabel 6.346.151.003 SHU yang diperoleh akan semakin tinggi (Tabel 6).941.561.3 9.986.5 276.294. Beta t Tabel 7.032.048 c 0.679.218.6 maka semakin tinggi SHU yang diperoleh.548 0. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Jumlah Anggota Beta (Constant) Jumlah Anggota Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.332 4. 38.46 regresi parsial memperlihatkan bahwa modal sendiri 3 Dependent Variable: SHU berpengaruh secara signifikan Peubah SHU Total 0.085 c 0.865.1 183.366.46 2.004 c 0.930.133.136.625.383.0 SHU 163.505 (Constant) Modal Luar 0.0 Total Aset 361.086.000.007 c 0.8 268.121.011 c Tabel 5 menunjukan analisis regresi parsial dengan peubah bebas modal sendiri yang berpengaruh secara signifikan terhadap SHU (Sig.000 Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.4 187.691.588.313.3 58.7 175.7 1. =Aset Adjustedyang terjadi bersifat positif. 0.432.566 0.814.236.457.807.3 99.0 128.7 2.670 c 0.011 0.743 0. = 0.7 279.912.044.013.625.9 Jumlah Anggota Modal Sendiri Bali Kopdit dan KSP di provinsi Kalimantan Barat berbeda secara 1.743 -0.736. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Total Aset 0.1 Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) SHU 13. Tabel 5.5 yang lebih tinggi dibandingkan dengan KSP. dimana pengaruh yang terjadi bersifat positif.050. dan Modal Luar 575.911.448.710.442.8 2.591 Sig.011 Tabel 6.392.241.2 1. 0.900.5 205.876 0.535 0.

adalah Sumut 90 89.401 0.001). Modalperolehan SHU sebesar 0.854 Beta t Sig.94 6.55 90 45 82.332 Tabel 6.73 Tabel 5.011 Dependent Variable: SHU Regresi dengan peubah bebas Modal luar Tabel 7. = 0.185 Dependent Variable: SHU T Sig.94 dan kopdit 73.876 0. 79.134 0.94. 4 Provinsi Sumut Jawa Barat Bali Kalimantan Barat Rata-Rata Nilai Skor Prinsip Koperasi KSP Kopdit 80 90 84 93. 4.000 0.001 Tabel 9. bebas Modal Luar Analisis Regresi dengan peubah4. Bebas t juga berpengaruhBeta secara signifikan terhadap SHU (Sig. dimana jika terjadi kenaikan satu rupiah Adjusted R Square =SHU 0. Rincian masing3.401 Modal luar0.3 0.73 4.001 Tabel 8.55 90 (Constant) di provinsi Sumatera Utara.356 89.315 Dependent Variable: Adjustedmodal dari0.623 0.73 Rupiah (Tabel 7).003 luar modal 0.007 t Sig.535 2.94 Tabel 9. Analisis Regresi dengan peubah3.59 Tabel 7. 2. Tabel 7. Total Aset 0.AGUSTUS 2009 : 37-61 Adjusted R Square = 0.535 0. AnalisisProvinsi dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Regresi No KSP Implementasi Prinsip-Prinsip Koperasi Tabel 9. 0.94 73.94 Rata-Rata adalah nilai KSP KSP sebesar 89.001 Modal Pemerintah Provinsi Barat skor penerapan prinsip-prinsip koperasi 0.939 Tabel 8.784 0.505 Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Dependent Variable: SHU Adjusted R Square = 0.Adjusted R Square = 0.464 82.332 0.854 Nilai Skor Prinsip Koperasi Tabel 8.46 Tabel 6.784 0.59 Tabel 6. bebas (Constant)Analisis Regresi dengan peubah 0.94 Kopdit 1 Sumut 80 90 Tabel 9. Analisis Total Aset 0. KSP Nilai SkorBarat Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Beta Jawa 84 t 93. Analisis Regresi dengan Peubahdiperlihatkan Analisis regresi Bebas Modal Pemerintah Modal Luar 4.623 Modal luar 0.007 (Constant) 2.784 0.000).743 Modal pemerintah memiliki pengaruh yang signifikan Tabel 8.59 3. Dependent Variable: SHU (Constant) -0.003 (Constant) -0.94 dengan Peubah Bebas Modal Pemerintah Beta T Sig.003 bebas Adjusted R Square = 0. Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset Dependent Variable: SHU JURNAL VOLUME 4 .000 (Constant) 0.315Beta t Sig.46 2. Analisis Regresi dengan Peubah3.332 0.94 Rupiah (Tabel 8).55 90 masing nilai per provinsi dijelaskan sebagai berikut: 4 Kalimantan Barat 45 82.6 79.876 Sig.080 Modal luar 0.743 -0.854 bahwa KSP80 dalam mengimplementasi prinsip Adjusted R 2 Jawa Barat 84 93.011 Analisis regresi parsial memperlihatkan bahwa 0.080 0.505 R Square = pemerintah akan meningkatkan perolehan SHU sebesar Beta t Sig.356 89.94 Barat No Kalimantan menjelaskan bahwa nilai Nilai Skor Prinsip Koperasi 0.73 terhadap perolehan SHU seperti yang parsial diatas (Sig.401 Total Aset Sig.94 4 4 54 4 . Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian Rata-Rata 73. Bali dan 0.464 0.134 dimana Adjusted R Square = 0. Square = 0. Adjusted R Square = 0.185Beta (Constant) Modal Sendiri 0. Modal Luar 0. Analisis Regresi Dengan Peubah Bebas Modal Sendiri t Sig.939 Dependent Variable: Modal Pemerintah SHU 0. Analisis Regresi dengan Peubah BebasModal Pemerintah Modal Pemerintah 6.356 Kopdit pada Variable: SHU skor 73. Bali 79. Nilai Skor Implementasi Prinsip Koperasi di Daerah Kajian No 1 2 3. 2 Hasil kajian implementasi prinsip-prinsip koperasiSig.000 Dependent Variable: SHU 0. Dependent Variable: SHU Beta Adjusted R Square = 0.505Beta (Constant) 2. Dependent Variable: SHU (Constant) jika terjadi kenaikan satu rupiah modal luar akan meningkatkan 1.080 dan kopdit Bali Kalimantan 4 45 6. Jawa Barat. Analisis Regresi 0. Tabel 7. Nilai Skor Adjusted R Square = 0.185 (Constant) Total Aset Beta t 1.623 0. Sendiri 0.315 Beta (Constant) Analisis Regresi dengan Peubah Bebas Total Aset 0.743 Adjusted R Square = 0.464 0. = 0.6 pada 3.939 0.6 prinsip koperasi lebih lemah dibanding dengan kopdit.356 DependentKSP dan kopdit 1Artinya.011 T Sig.

SMA. (3) Anggota aktif dalam memecahkan masalah. Hasil kajian menunjukkan bahwa semua responden (8 unit KSP dan 8 unit kopdit) membuat RAPB setiap tahun. 55 . Keanggotaan Sukarela dan Terbuka Pada umumnya KSP dan kopdit menentukan persyaratan terhadap anggota. RAPB ini biasanya di jelaskan pada Rapat anggota untuk mendapat pengesahan dari anggota. (c) Membayar simpanan pokok dan wajib. Dalam rencana tersebut dijelaskan apa saja yang akan dilaksanakan selama setahun berjalan. (c) Mampu membayar pinjaman. Yang berbeda adalah materi karena masing-masing responden (koperasi mempunya rencana masing-masing). Suatu kelebihan kopdit adalah mengadakan pendidikan terhadap anggotanya dari awal masuk. Pendidikan menjadi alat atau metode bagi kopdit untuk membangun motivasi dan mememlihara partisipasi anggota. dan setelah menjadi anggota. Namun dalam implementasinya antara KSP dan kopdit terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) KSP mensyaratkan keanggotaan bersifat umum seperti: (a) Warga negara Indonesia. 2). (2) Anggota berperan aktif dalam RAT. (d) Dijamin dan didukung oleh anggota kelompok yang aktif dalam satu lingkungan. Dilihat dari perkembangan jumlah anggota ternyata perkembangan jumlah anggota KSP jauh lebih sedikit dibanding dengan jumlah anggota kopdit. atau sederajat). (b) Berdomisili di wilyah kerja KSP. SMP. Sedangkan (2) Kopdit mensyaratkan keanggotaan sebagai berikut: (a) Mengikuti pendidikan calon anggota yang dilaksanakan dalam waktu lima kali pertemuan. (c) Tidak dalam status pelajar (SD. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jumlah anggota kopdit 4 kali lebih besar dari jumlah anggota KSP Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kopdit berusaha mencari dan menerima anggota dengan ciri atau kualitas serta membangun anggotanya melalui pendidikan. Pengendalian oleh Anggota Secara Demokratis Dalam variabel ini indikator yang dikaji adalah (1) KSP/ kopdit melaksanakan rencana RAPB. (b) Umur calon anggota pada saat mendaftar tidak lebih dari 45 tahun.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 1). Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara KSP dan kopdit. Kegiatan seperti ini tentunya sangat baik dilakukan oleh KSP agar anggota dapat mengetahui apa yang akan dan dilakukan oleh koperasi. (e) Mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan tidak mempunyai usaha yang bersaing dengan kopdit.

... Kerjasama usaha secara horizontal 2.. Kalbar) (Sumut.. KSP/kopdit mengadakan persyaratan anggota dan terbuka 2.. KSP/kopdit mengambil keputusan sendiri 5.. Ketaatan koperasi membayar pajak 2. Bali. Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan Jumlah Total Nilai Skor Nilai Rata-rata 6750 7000 8625 9000 7387. org . Anggota aktif menyetor wajib dan sukarela Otonomi dan 1........JURNAL VOLUME 4 ... KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan penerangan dan penyuluhan 2.. Nilai Skor KSPKSP dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Tabel 10..... penyebabnya adalah karena pada kopdit kegiatan pendidikan itu dilaksanakan secara rutin sehingga informasi mengenai kegiatan 56 5 .. KSP & kopdit membuat perencanaan dan kemandirian melaksanakan 2. KSP/kopdit diaudit auditor independen 4.Anggota tetap : . Nilai Skor dan Kopdit Penerapan Prinsip Koperasi di 4 Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi (Sumut. KSP/kopdit melaksanakan rencana kerja dan anggota secara RAPB demokratis 2. Jumlah anggota yang dilayani .5 89... Mengapa kehadiran anggota pada RAT di KSP lebih sedikit dari anggota yang hadir pada kopdit. org Pengendalian oleh 1.. Jabar. Anggota bebas masuk dan keluar koperasi 3.356 4000 35654 356. KSP/kopdit menyelenggarakan kegiatan diklat bagi anggota karyawan. Hasil kajian menunjukkan bawa jumlah anggota yang hadir setiap RAT pada KSP antra 51 sampai dengan 80% sedangkan pada kopdit antara 51 sampai dengan 90%. Anggota aktif dalam memecahkan masalah Partisipasi ekonomi 1.... Interlending keuangan terhadap 1......... Kalbar) No  Variabel Kajian (Prinsip) Indikator/kegiatan yang harus dilakukan KSP/Kopdit Skor KSP 4000 Nilai Skor Kopdit 4000 2 3 4 Keanggotaan sukarela 1.43 73.. Penyerapan tenaga kerja dari lingkungan 3...... Kerjasama usaha secara vertikal 3. KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota 3.5 4994 5 2250 3000 6 7 330 3660 3000 29343 293. Anggota berperan aktif dalam RAT 3.... Bali.AGUSTUS 2009 : 37-61 Tabel 10. Anggota melunasi simpanan pokok anggota 2..14 Pada indikator kedua variabel ini ukuran keaktifan anggota dalam RAT dilihat dari seberapa banyak anggota hadir dalam RAT. Jabar... diantara 1. Anggota melaksanakan pengawasan 4.... KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas Pendidikan pelatihan Kerjasama koperasi Kepedulian komunitas dan 1...Calon anggota : ...

Pada kopdit anggota disadarkan pemahamannya bahwa kalau modal itu hanya bersumber dari anggota dan dikembangkan/dipakai untuk anggota sehingga jika anggota tidak aktif membayar simpanan wajib koperasi tidak berkembang. Hasil kajian menjelaskan bahwa pada KSP pembayaran simpanan wajib dilakukan pada saat membayar pinjaman yang langsung ditarik beserta pinjaman ditambah bunga sedangkan pada kopdit simpanan wajib diantar oleh anggota dengan kesadran sendiri karena kopdit memupuk modal dari anggota dan untuk anggota disinilah kelebihan kopdit dibanding dengan KSP. Indikator ketiga yaitu anggota aktif dalam memecahkan masalah dalam koperasi diukur dari seberapa banyak anggota memberi masukan dalam setiap rapat yang diadakan oleh KSP/ kopdit. Dan hasil kajian menunjukkan bahwa pada indikator pertama semua responden baik kopdit maupun KSP anggota KSP dan kopdit wajib melakukan atau membayar simpanan pokok karena simpanan pokok hanya sekali dilakukan pada saat dia menjadi calon anggota sehingga pada indikator ini antara KSP dan kopdit tidak ada perbedaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP anggota memberikan saran untuk memecahkan masalah terjadi hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pemberian saran lebih dari sekali setahun karena pada kopdit rapat-rapat atau pertemuan sering dilakukan melalui rapat-rapat kelompok. 3). Indikator kedua menunjukkan bahwa anggota aktif menyetor simpanan wajib dan sukarela. (3) Anggota ikut dalam pengambilan keputusan dan (4) Anggota aktif bertransaksi dengan koperasi. Partisipasi Ekonomi Anggota Partisipasi ekonomi anggota diamati melalui: (1) Anggota melunasi simpanan pokok. Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu dilaksanakan oleh pengurus terhadap anggotanya agar mereka mau dan mampu mengembangkan modal dari anggota. Dalam pengambilan keputusan pada KSP peran anggota terakomoder hanya pada RAT sedangkan pada kopdit pengambilan 57 . Hal seperti itu jarang ditemui pada KSP. (2) Anggota aktif melunasi simpanan wajib dan sukarela.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) apa saja yang ada di kopdit langsung dikomunikasikan dalam forum pendidikan itu sehingga semua informasi sampai kepada anggota melalui forum pendidikan tersebut.

menunjukkan bahwa semua responden KSP maupun kopdit melakukan evaluasi kinerja keuangan tentang likuiditas dan solvabilitas. Sedangkan kopdit diaudit oleh auditor internal kopdit bersangkutan.AGUSTUS 2009 : 37-61 keputusan itu selain pada RAT juga terjadi pada rapat-rapat kelompok. Pada indikator ketiga menunjukan bahwa sebagian atau 50% KSP diaudit oleh Lembaga Audit Koperasi dan 50% lainnya diaudit oleh auditor independen. Indikator kelima. (2) KSP/kopdit mengutamakan pelayanan kepada anggota. Pada kopdit tidak ada calon anggota dan anggota dididik pada saat masuk dan diikuti perkembangannya selama anggota menjadi anggota koperasi. 4).JURNAL VOLUME 4 . KSP responden menyelenggarakan pendidikan terhadap 58 . Semua responden membuat perencanaan dan melaksanakan rencana serta evaluasi sejauhmana hasil antara perencanaan dan pelaksanaan. Selanjutnya pada indikator keempat hasil kajian menunjukkan bahwa pada KSP dan kopdit transaksi anggota terjadi pada saat meminjam dan mengembalikan pinjaman. Disinilah perbedaan yang terlihat menonjol antara keanggotaan KSP dengan kopdit. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata hasil pelaksanaan program pada KSP tercapai diatas 80% sedangkan pada kopdit tercapai hampir 100%. 5). seperti pada kopdit Satolop di Tapanuli Utara. (3) KSP dan kopdit diaudit auditor independen. Otonomi dan Kemandirian Otonomi dan kemandirian pada KSP dan kopdit dilihat dari (1) KSP/kopdit membuat perencanaan dan melaksanakan. (4) KSP/kopdit membuat perhitungan tentang likuiditas dan solvabilitas. dan ada kopdit yang melebihi pelaksanaan diatas 100%. Pendidikan dan Pelatihan Indikator pendidikan dan pelatihan diamati dari: (1) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap karyawan dan (2) KSP/kopdit menyelenggarakan pendidikan terhadap anggota. Pada indikator kedua KSP selain melayani anggota KSP juga melayani calon anggota rata-rata calon anggota pada KSP diatas 14% dari jumlah anggota sedangkan kopdit hanya melayani anggota saja.

Puskopdit tidak mengadakan operasional menandingi kopdit-kopditnya. 6). Atas kesadaran ini untuk memudahkan kerjasama kopdit medirikan Pusat Koperasi Kredit yang berada di Tingkat Kabupaten/Kota. Karena kopdit membangun koperasi dan mengembangkan nya melalui pendidikan. Artinya bahwa kerjasama horizontal maupun vertikal dan interlending belum dilakukan oleh KSP sedangkan kopdit sudah melakukan kerjasama ini dengan baik. Satu pusat kopdit membawahi antara 5-10 kopdit dimasing-masing wilayah kerjanya. (2) Kerjasama usaha secara vertikal dan (3) Interlending keuangan antar koperasi. sedangkan KSP hanya memiliki Petunjuk Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam yang umum. Mengapa kopdit berhasil dan mampu mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. Mengapa kopdit memiliki nilai lebih tinggi dari KSP. Kekuatan kopdit sangat tergantung pada kerjasama ini. penyebabnya adalah kopdit menyadari tanpa kerjasama antar sesama kopdit tidak akan kuat untuk melayani anggotanya. Puskopdit berfungsi dan bertugas untuk melakukan pengaturan pembiayaan bagi kopdit-kopdit yang ada di bawahnya. Demikian juga dengan kopdit. 59 . Hasil kajian memperlihatkan bahwa kerjasama diantara koperasi menunjukan nilai KSP sebesar 330 sedangkan kopdit sebesar 3360. Mempelajari keberhasilan kopdit di kota Denpasar provinsi Bali ada beberapa KSP. Pada kopdit pendidikan baik terhadap karyawan maupun anggota wajib dilakukan. KSP telah membentuk Pusat Koperasi KSP untuk melaksanakan interlending keuangan bagi KSP. Kerjasama Diantara Koperasi Indikator penilaian untuk variabel ini: (1) Kerjasama usaha secara horizontal. Pendidikan pada kopdit diadakan pada saat anggota mendaftar. Hasil kajian menunjukkan bahwa kopdit dalam mengelola usaha simpan pinjam mempunyai Standart Operasional Pelaksanaan (SOP). karena jika kopdit mengalami kekurangan dana maka kopdit dapat memenuhi pembiayaan melalui interlending ini.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) karyawan melalui pendidikan yang diadakan oleh Dinas KUKM yang ada di daerah masing-masing.

KSP belum melakukan pendidikan kepada anggotanya.356 sedangkan kopdit 89. KSP belum melakukan kerjasama vertikal. Perbedaannya terletak pada: (a) Penetapan persyaratan anggota pada prinsip koperasi pertama. (2) Prinsip ke lima dalam melaksanakan pendidikan.1 Kesimpulan Dari penjelasan diatas kesimpulan kajian ini adalah: 1). Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa nilai skor implementasi prinsip koperasi KSP sebanyak 73. Sedangkan kopdit melakukan pendidikan secara reguler rata-rata 5 kali dalam setahun kepada pengurus. KSP membayar pajak karena melayani non anggota sedangkan kopdit tidak membayar pajak karena hanya melayani anggota. (3) Prinsip ke enam dalam melakukan kerja sama secara horizontal. Perbedaan tersebut terdapat pada: (1) Prinsip pertama dalam menentukan persyaratan anggota. (b) Pelaksanaan pendidikan pada prinsip koperasi kelima.14. Sedangkan kopdit membuat persyaratan anggota untuk mencari anggota yang berkualitas seperti: (a) Dijamin oleh lima orang anggota lama. vertikal dan mengadakan interlending keuangan. (4) Prinsip ke tujuh kepedulian terhadap lingkungan dalam hal membayar pajak. vertikal dan pelaksanaan interlending pada prinsip ke-6 dan. Ada perbedaan antara KSP dan kopdit dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip koperasi. Perbedaannya terletak pada: (a) KSP melakukan persayaratan anggota secara umum seperti KTP. Artinya bahwa kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi dibanding dengan KSP. 60 . Kepedulian Terhadap Komunitas Indikator variabel ini adalah: (1) Ketaatan koperasi membayar pajak.AGUSTUS 2009 : 37-61 7). (c) Kerjasama horizontal. horizontal dan belum melakukan interlending keuangan. V. (2) Penyerapan tenaga kerja dan (3) Kerjasama koperasi dengan organisasi kemasyarakatan. manajer dan anggota. KESIMPULAN DAN SARAN 5.JURNAL VOLUME 4 . (b) Berdomisili di wilayah KSP. (c) Bersedia mengikuti pendidikan dalam 5 kali pertemuan. Sedangkan kopdit melakukannya melalui Koordinasi Pusat Kopdit (Puskopdit). (b) Mempunyai penghasilan tetap setiap bulan. (b) Usia maksimal saat pendaftaran 45 tahun. (d) Kewajiban membayar pajak pada prinsip koperasi ke-7.

LSP2I. vertikal dan mengadakan interlending keuangan 4). Duwi Pryanto. PT. 5. ------------------. Penyebab kopdit lebih baik mengimplementasikan prinsip koperasi: (a) Anggota adalah pemilik koperasi yang perlu dilayani dengan sebaik-baiknya. KSP perlu melakukan kerja sama secara horizontal. 5). Pendidikan pada anggota dan pengelola KSP perlu dilakukan secara teratur dan konsisten 3). Jakarta. dan Menengah Republik Indonesia. 61 . Muhammad Yunus. Biro Hukum dan Organisasi Departemen Koperasi. Media Kom. (2004). (2001). KSP perlu membuat persyaratan anggota yang lebih teknis operasional sehingga anggota KSP lebih terseleksi pada kualitas. (1992). (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian. Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan). Bank Kaum Miskin. Yogyakarta. KSP perlu membangun Pusat KSP ditingkat Kabupaten atau untuk beberapa KSP primer yang berfungsi untuk mengkoordinasikan kepentingan KSP-KSP baik dalam usaha dan keuangan. 2). DAFTAR PUSTAKA -------------------. (c) Kerjasama antar kopdit merupakan wahana saling membantu antar kopdit dan sumber peningkatan usaha dalam meningkatkan pelayanan kepada anggota. (b) Pendidikan adalah suatu sarana meningkatkan kemampuan dan motivasi berkoperasi. �atidiri Koperasi. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil. KSP perlu membuat Standar Operasinal Pelaksanaan KSP seperti kopdit. Batu Merah. Jakarta.Analisa Komparatif Antara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Koperasi Kredit (KOPDIT) (Riana Panggabean) 2). Mandiri Belajar SPSS. International Co-operative Alliance. Peraturan Pemerintah Nomor � Tahun 1��5 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. (2008).2 Saran-Saran Dari kesimpulan di atas ada beberapa saran yang diusulkan dalam kajian ini yaitu: 1). (d) Kopdit memiliki standar operasional pembinaan yang jelas. ICA Co-operative Identity Statement Prinsip-prinsip Koperasi Untuk Abad Ke-21 Terjemahan Pengantar Ibnoe Soedjono.

karakteristik UMKM.d. From the result of this assessment. it was found that capital structure of micro enterprises 15. sumber perkreditan I. tujuan penggunaan. seperti misalnya hasilhasil perkebunan. cautioned that most of Micro. To overcome the problem. Pendahuluan Kondisi perekonomian dunia pada akhir tahun 2007 yang diwarnai oleh gejolak akibat krisi ekonomoni di AS dan Eropa secara langsung berimbas pada perekonomian nasional.20% from bank and non-bank loan.��5%) depended upon nonformal financial resources and private in implementing their business activities. Birowo and Lukman Sutrisno (1994). Penelitian UKM (tim peneliti) 62 . the government has done several credit programmes during the last four decades but the effectiveness of those programmes were still asked after up to the end of 200��. Asdep Urusan. peer review 2�� April s.JURNAL VOLUME 4 . The result of the assessment by The State Ministry of Cooperatives and SMEs in 2006. Artikel diterima 2�� April 200�.��5% were from own/internal capital.��0% from capital owner/private money lender and the rest 6. Walaupun demikian eksistensi UMKM masih cukup besar karena dampak krisis masih terbatas hanya pada beberapa produk usaha kecil yang berorientasi ekspor. This condition as a consequence of unparticipated formal credit institutions.��5% were from among family and neighbour. said that enforcement support programme which were done since 2000 it was only 4. Bisnis dan UKM. 11. program.6% from government’s loan. Kejadian tersebut masih *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Pengembangan Perkaderan UKM tahun 2008. Sebaliknya masalah besar yang dikhawatirkan timbul dan berdampak luas adalah bertambahnya jumlah penganggur yang secara langsung akan meningkatnya angka kemiskinan. Kontribusi kredit. review akhir �� �uli 200� Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM (tim peneliti) Kasubid. 8 �uni 200�.AGUSTUS 2009 : 62-87 KAJIAN KONTRIBUSI KREDIT BANTUAN PERKUATAN DALAM MENDUKUNG PERMODALAN UMKM*) Teuku Syarif**) dan Etty Budhiningsih***) Abstract Sondakh dan Hafiz (1987). 56. Yang dikhawatirkan adalah krisis yang terjadi sekarang berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1997 yang imbasnya tidak mempengaruhi kelangsungan usaha UMKM. Small and Medium Enterprises (MSMEs) (80. �. This condition still shows the dominant role of private money lenders and capital owner in supporting business survival of micro enterprises.63% accessible by micro and small enterprises.

Menurut Sutanto (2007) sebagian besar pengusaha mikro terutama yang bergerak di sektor pertanian dan sektor informal memiliki pendapatan bersih kurang dari 1. Keraguan tersebut juga dialamatkan kepada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai oleh banyak pihak lebih terlihat sebagai isue politis ketimbang perhatian pemerintah terhadap nasib UMKM khususnya pengusaha mikro dan kecil. Dari jumlah tersebut 46.75% UMKM dalam melaksanakan kegiatan usahanya masih terikat pada sumber-sumber keuangan non formal. Karena itu pemberdayaan UMKM sudah menjadi komitmen nasional. Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 saja pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar Rp 39. Dari dana tersebut lebih kurang Rp 3.7% tenaga kerja yang ada dalam dunia usaha. Namun demikian kelompok usaha ini menyererap lebih kurang 89 juta tenaga kerja atau identik dengan 96.54 triliun untuk 214 jenis program yang disalurkan melalui 12 instansi. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari belum berperannya lembaga-lembaga perkreditan formal Untuk mengatasi masalah permodalan bagi UMKM pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan perkreditan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi sektoral.440 Dolar AS per keluarga per tahun. atau 99. Berbagai isue dan sinyalemen yang berkembang banyak meragukan keseriusan pemerintah untuk memberdayakan UMKM dibidang permodalan.4 triliun disalurkan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM.258 juta.795 juta atau 95. Berbagai hasil penelitian antara lain yang dilakukan oleh Sondakh dan Hafiz (1987). 2% adalah pengusaha mikro. mensinyalir bahwa sebagian besar atau sebanyak 80. Salah satu masalah yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah kesulitan UMKM dalam mengembangkan permodalannya. Dengan pendapatan sekecil itu mereka masih tergolong kelompok miskin yang berpendapatan kurang dari 1 Dolar AS per orang per hari. Berbagai kenyataan di lapang menunjukan bahwa baru sedikit yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan program program nyata. Birowo dan Lukman Sutrisno (1994). 63 . Dari adanya permasalahan diatas perlu diketahui seberapa besar peranan kredit program-program pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok UMKM khususnya pengusaha mikro yang menjadi bagian terbesar dari UMKM. Sampai sekarang sangat banyak masalah di lingkungan UMKM yang belum terselesaikan terutama yang berhubungan dengan iklim usaha.99% dari pelaku bisnis yang ada di Indonesia. Kementerian Negara Koperasi dan UKM (2008) menginformasikan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah unit usaha UMKM telah mencapai 49.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) dapat diantisipasi oleh UMKM karena masih cukup banyak kesempatan kerja yang terbuka dilingkungan UMKM. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sampai sekarang masalah pengembangan modal dikalangan UMKM masih terus mengemuka dan seberapa besar kontribusi program-program pemerintah tersebut dalam mendukung permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil.

Kesulitan UMKM untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal menurut Muna (1989) merupakan simptom dari permasalahan yang ada dibelakangnya. KERANGKA PEMIKIRAN 3. khususnya pengusaha mikro dan pengusaha 64 . sehingga penyebarannya dikalangan UMKM juga berbeda. Kredit Usaha Tani (KUT) dan yang terkhir adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). dan pendekatan serta pola pelaksanaan program-program tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Manfaat kajian adalah mendapatkan gambaran kongkrit tentang struktur permodalan usaha mikro dan kontribusi kredit program pemerintah dalam mendukung permodalan usaha mikro.1 Kerangka Konsepsional Belum membaiknya kondisi usaha UMKM karena adanya berbagai kendala yang sejak lama belum terpecahkan.AGUSTUS 2009 : 62-87 II.JURNAL VOLUME 4 . III. yaitu ketidaksesuaian pendekatan pola dan prosedur lembaga perkrediatn formal dengan karakteristik dari sebagaian besar UMKM. Di sini dinyatakan bahwa permasalahannya terletak pada ketidaksinkronan antara aturan pasar uang dengan karakter UMKM. Kredit Candak Kulak (KCK). Paradoks masalah antara demand dan suplay uang ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana peranan Bank Indonesia sebagai regulator pasar uang mampu mengalokasikan sumberdaya potensial tersebut secara optimal. Kesemua program tersebut pada hakekatnya dilaksanakan secara sektoral melalui berbagai instansi yang terkait. Dalam pelaksanaan program-program. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan usaha mikro. Nasution (1999) mengemukakan adanya indikasi bahwa tujuan. Untuk mengatasi masalah kelangkaan modal di kalangan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil pemerintah telah melaksanakan berbagai program perkreditan sejak dari program Bimas. antara lain kesulitan akses terhadap permodalan dan iklim usaha yang belum kondusif. TUJUAN DAN MANFAAT Kajian bertujuan untuk ini adalah: 1) Menginventarisir dan mengidentifikasi sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha mikro. serta ada beberapa diantaranya memang ditujukan untuk mendukung keberhasilan program sektoral. Jika di satu pihak UMKM menghadapi kesulitan mengakses permodalan padahal di pihak yang lain banyak indikasi dan sinyalemen antara lain yang dikemukakan oleh Hutagalung (2007) bahwa dana dari perbankan yang tersimpan pada Bank Indonesia sampai Agustus 2007 mencapai Rp 218 triliun.

Soemardjan. Muna. c) Ketepatan sasaran penyaluran dan. d) Unsur-unsur lain yang tidak terkait dengan kepentingan pemberdayaan UMKM.306. Dengan demikian sangat banyak faktor yang menentukan besar kontribusi kredit program terhadap struktur permodalan UMKM. Terkait dengan peranan perbankan dalam mendukung permodalan UMKM. jumlah dana yang telah disalurkan pemerintah dari berbagai program pemberdayaan UMKM relatif kecil atau baru lebih kurang 21. Dengan kata lain mereka yang bermata pencaharian sebagai pengusaha mikro di luar sektor pertanian sangat jarang mendapatkan pinjaman dari bank Hasil kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi dan UKM tahun 2006 menginformasikan.. atau kalangan keluarga dan tetangga. 65 . khususnya pengusaha mikro.. Dalam hal efektifitas penggunaan dana oleh peminjam disini juga harus diperhatikan apakah pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan produktif atau konsumtif. lembaga non formal.913.118. Sumber utama permodalan mereka adalah dari perorangan. Total keperluan dana untuk memberdayakan pengusaha mikro yang jumlahnya mencapai 49 juta unit usaha adalah sebesar Rp 184.004 triliun. Akar permasalahan yang masih menjadi kendala bagi UMKM adalah kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga perkreditan formal terutama perbankan.-.. Tetapi dalam pola inipun ada satu faktor penting yang perlu dikaji yaitu mengenai pola perguliran termasuk sistem kelembagaannya. Memang program perkreditan dari pemerintah tidak ditujukan untuk dapat memenuhi semua kebutuhan UMKM.755.197.” Sebagian dari mereka mendapatkan pinjaman dari program pemerintah dalam jumlah terbatas dengan tujuan penggunaan yang umumnya dikaitkan dengan kepentingan pembangunan terutama di sektor pertanian.sampai dengan Rp 9. b) Distribusi secara sektoral dan regional.2% dari kebutuhan. Disamping kecilnya dana yang disalurkan banyak faktor lain yang menjadi kendala bagi UMKM untuk mendapatkan kredit program antara lain untuk: a) Tujuan pendekatan dan pola penyaluran. bahwa modal yang diperlukan oleh usaha mikro untuk melaksanakan kegiatan usahanya berkisar antara Rp 326. Dibandingkan dengan besarnya kebutuhan dana untuk UMKM tersebut. Oleh sebab itu ada sebagian program yang menggunakan pola perguliran seperti program Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Dengan demikian untuk mengembangkan usahanya.450. Dari jumlah modal tersebut diketahui bahwa 12.dengan rata-rata sebesar Rp 4.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) kecil.700. Sondakh dan Hafiz (1987) dari hasil penelitian tentang lembaga perkreditan pedesaan mengemukakan bahwa “sebagian besar pengusaha kecil jarang sekali berhubungan dengan bank. per unit usaha mikro diperlukan tambahan modal sebesar Rp 3.81% merupakan modal sendiri dan sisanya berasal dari modal pinjaman.

1.1.1.AGUSTUS 2009 : 62-87 3. 5) Pendistribusian Sektoral. Ruang lingkup Penelitian 4.2.1. 8) Ketepatan Waktu Penyaluran. Ruang lingkup substansi penelitian adalah sebagai berikut: 1) Inventarisasi dan identifikasi permodalan UKM dan sumber-sumber permodalan UMKM khususnya pengusaha serta kemudahan modal dari kalangan pengusaha mikro. 4. 11)Prioritas Kepentingan. dengan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM.2. Sedangkan analisis untuk penarikan kesimpulan dilakukan dengan model analisis deskriptif dan penggunaan model-model statistik sederhana 66 . Ruang Lingkup Substansi Oleh karena pengusaha mikro merupakan bagian terbesar UMKM. 4) Alokasi dana. 2) Pendekatan program 3) Pola Penyaluran. 2) Menganalisis kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro. 7) Ketepatan Sasaran. 9) Prioritas Kegiatan usaha. Metoda Penelitian dan Analisis 4. 6) Pendistribusian Regional. Metoda Penelitian dan Teknik pengambilan Contoh Kajian ini merupakan penelitian evaluatif dengan menggunakan model pengambilan data stratified random sampling. Ruang Lingkup Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di tiga kabupaten contoh yaitu Kalimantan Barat.JURNAL VOLUME 4 . 10) Prioritas Daerah.1.2 Kerangka Analisis Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kontribusi kredit program terhadap permodalan UMKM yaitu: 1) Tujuan program. 4. Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. 12) Kelembagaan Perguliran. RUANG LINGKUP DAN METODA PENELITIAN 4.2. Stratifikasi didasarkan pada keragaman jumlah dan jenis program perkreditan yang dilaksanakan di daerah contoh. 13) Model Perguliran. Kinerja usaha UMKM IV. maka yang dimaksud dengan UMKM dalam kajian ini adalah usaha mikro. 14) Kinerja SDM UMKM.

290 100 dari 100 69.26 65..128 16. (%) (%) Rp (Rp rb) (%) (Rp rb) Sedangkan rata-rata jumlah modal yang diperlukan oleh pengusaha mikro adalah sebesar Rp 3.166 2)  2 3 4 5 6 24.000. Tabel 1..27 2.49 5.92 234.000.93 8.8 10.58 9.947 5.128 30.74 33.49 16.1.365 Persen (%) 4..64 4.00 Tda 5.96 5.59 5.805 27.46 16.697 301 2.7 754. Jumlah Usaha Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman yang diperlukan oleh mereka yaitu sebesar Rp 3. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Rata-rata Nilai (Rp rb) 833 409 325 1.600 1.45 19.3 811.527.17 26.07 4.978 8.24 awal.1 Sumber-sumber Permodalan UMKM 5.69 4. Kemeneg KUKM Instansi Sektoral No Propinsi Jumlah UMKM (ribu) UMKM (rb unit) 36.44 6.815 37.08% dari modal yang dibutuhkan.62 3.392 4.08 11.114 586 Lainnya Jumlah 3.984 42.per orang.62 35.11 4.83 10.31 program pemerintah masih sangat kurang yaitu rata-rata baru Jumlah 61.882.261 32.41 19.000. sehingga para pengusaha mikro tidak akan mampu 2.884 753 3.28 13.37%.848 24.899 6.807 20.68 106.47  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah 823.64 11.00 11. Jumlah ini juga sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan tambahan modal Tabel 3.927 tersebut5.782jumlah UMKM.89 0.002 21.14 26.545 Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari 31.538 7.94 5.95 berusaha tanpa adanya pinjaman modal.11 8.00 Tabel 1.15 18.00 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 426 358 310 1.389.739 100 69.05 4.927 8.20 10.51 4.934 Nusa Tenggara Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%) 14.200 2.. 2.238 127.13 85.028 14.28 22. Sumber-sumber pinjaman Untuk Usaha Mikro Sumber Modal Sumatera Barat Nilai Persen Rp rb % 34. dari Kredit Program Kontribusi kredit program relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata pinjaman dari para pelepas uang yang Kredit Program Dari Kredit dari Jumlah Prediksi mencapai rata-rata Rp 1.01 7.00 No  2 3 4 5 1.68 26.141 Modal Sdri 461 Kred Prog 396 Perbankan Pelepas Uang 1. Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Sumatera Barat No Sumber Modal Dari tabel 1 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : Kalimantan Nusa Tenggara 1) Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.297 2.527 Persen (%) 19.30 73.297 100 11.000 atau 53. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS 5.8 2.46 8.834 23.882 2388 3.928 4.17 100.000.51 12.75 100.atau 19.99 37.56 57.378 Tabel 2 .Data 27.20 53.63 10.1 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Mikro Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan sumber-sumber pinjaman usaha mikro dan serta besar kontribusi kredit program terhadap permodalan kelompok usaha mikro.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) V.00 7.229 3.60 9.11 19.6% 73.312 Per sen (%) Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Barat Rata-rata usaha mikro yangBarat menggunakan modal sendiri Nilai di ketiga propinsi contoh relatif rendah yaitu Persen sebesar Persen Nilai Persen Nilai Persen (Rp rb) (%) 833.527.853 mengindikasikan rendahnya pemilikan modal 7.26 100. dengan rata-rata pinjaman Rata-rata sebesar Rp 409.00 568 245 520 2.33 UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46.34 100.143 48.80 67 .48 83.37 6.

Pinjaman modal dari kalangan perbankan pada kelompok ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha mikro yaitu mencapai 31.61%. Rata-rata pinjaman kredit yang bersumber dari bantuan perkuatan Kementerian Negara Koperasi dan UKM 2) 3) 68 .37%.815. mengingat jenis program yang dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintah relatif sangat banyak (mencapai 56 jenis). dan alokasi dana yang disediakan relatif kecil-kecil dibandingkan dengan kebutuhan usaha para pengusaha mikro yang jumlahnya sangat banyak (lebih kurang 49 juta unit usaha)..15% dari total modal kerja yang digunakan.000. Meningkatkan proporsi Meningkatkan proporsi pinjaman dari kalangan perbankan karena kelompok usaha ini tidak memiliki kemampuan memenuhi persyaratan lembaga keungan yang menerapkan ketentuan The five C of credit.atau hanya 27.47%. 4) 5) 5.1. Sharing pemerintah dalam mendukung permodalan kelompok usaha mikro sebesar Rp 39.JURNAL VOLUME 4 . tetapi proporsi modal sendiri ini sudah lebih baik dibandingkan dengan usaha mikro yang hanya sebesar 23.2 Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Dari tabel 2 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut : 1) Rata-rata modal sendiri usaha kecil di ketiga propinsi contoh relatif masih rendah yaitu hanya sebesar Rp 18.542 milyar belum sebanding dengan apa yang seharusnya diberikan oleh pemerintah.75%.AGUSTUS 2009 : 62-87 3) Hal tersebut diatas sangat wajar. sedangkan dari perorangan dan lembaga perkreditan non formal termasuk rentenir adalah sebesar 53. Sumber-sumber permodalan lainnya bagi kelompok pengusaha mikro adalah dari kalangan keluarga dan tetangga sebesar 6. Pinjaman kepada UMKM yang bagian terbesar dari dunia usaha yang ada di Indonesia sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kredit perbankan untuk usaha besar yang pada tahun 2008 mencapai Rp 986 triliun.

No

Sumber Modal

Barat Nilai Persen Rp rb %

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb)

Barat Persen Nilai Persen % Rp rb (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%)

833 8,46 568 14,51 426 34,28 1.141 Modal Sdri  Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM 409 8,96 245 12,20 358 13,64 461 Kred Prog 2 (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 325 5,30 520 10,56 310 11,74 396 Perbankan 3 4 5

19,08 11,60 9,20 53,37 1.882 73,45 57,83 2.884 1.697 33,00 Pelepas Uang 1.114 6,75 2388 19,17 753 10,26 301 7,34 586 Lainnya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang Jumlah 3.378 100,00 kepada usaha mikro. Hal 100,00 2.934 100,00 3.927 3.527 100,00 diberikan tersebut nampaknya

terkait dengan kecil pagu kredit per peminjam.

Tabel . Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil Tabel 2 .2Sumber-sumber Pinjaman Untuk Usaha Kecil
Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 1.807 20.028 14.166 61.290 Persen (%) 30,00 8,01 3,24 2,95 32,68 23,11 100 Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) 11.927 5.853 6.229 4.200 26.128 19.545 73.782 Persen (%) 16,17 7,93 8,44 5,69 35,41 26,49 100 Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) 26.128 4.538 2.978 Tda 19.261 16.834 69.739 Persen (%) 37,46 6,51 4,27 0,00 27,62 24,14 100 Rata-rata Nilai (Rp rb) 18.815 4.899 4.928 2.002 21.805 16.848 69.297 Persen (%) 27,15 7,07 7,11 2,89 31,47 24,31 100 

2 3 4 5 6

Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya Jumlah Rata-rata

4) Mikro dan pinjaman Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Usaha Kontribusi Usaha Kecildari perseorangan dan lembagadari Kredit Program lembaga kredit non formal. Kondisi ini mungkin dapat

No 

2 Kalbar 3 5.2 NTB Jumlah Jumlah 5.2.1 Rata-rata

dihubungkan dengan semakin baiknya kemampuan SDM Kredit Program Dari Kredit dari dilingkungan pengusaha kecil dalam membangun dan Jumlah Prediksi Kemeneg KUKM bisnis. Instansi Sektoral menjalankan strategi Jumlah Propinsi Per UMKM UMKM Persen UMKM Persen UMKM 5) Rendahnya peran pemerintah daerah dalam membangun sen (ribu) (rb unit) (%) (rb unit) (%) (rb usaha kemampuan permodalan usaha mikro dan unit) kecil, (%) terlihat sedikitnya kontribusi pinjaman modal dari pemerintah daerah untuk kelompok usaha ini. 5,62 83,26 10,11 823,7 36.984 4,49 46,28 Sumbar
4,64 85,92 10,58 811,8 48.238 5,94 37,68 UMKM yang mendapatkan Pinjaman Kredit Program 2.389,8 127.365 5,33 106.947 4,48 234.312 9,80 Jumlah Pengusaha Mikro Yang Mendapat Kredit Program 796,6 42.455 5,33 35.649 4,48 78.104 9,80 754,3 42.143 5,59 22,99 3,05 65,13 8,63

Jumlah usaha mikro dan usaha kecil di ketiga propinsi contoh yang mendapatkan kredit sebanyak 127.365 unit usaha, hanya 5,32% dari jumlah pengusaha mikro yang ada diketiga propinsi contoh sebanyak 2.389.800 unit. Disini terlihat bahwa bahwa kredit program belum banyak memberikan kesempatan bagi usaha mikro untuk mengembangkan permodalannya. Hal tersebut berdampak besar pada kondisi pasar uang ditingkat bawah yang semakin didominansi oleh lembaga kredit non formal dan perorangan, disebabkan oleh: 1). Jumlah dana untuk ketiga daerah contoh relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah usaha mikro yang mencapai 2.389.000 unit usaha

69

Sumatera Barat No Sumber Modal Nilai (Rp rb) 18.392 4.297 2.600 2). 1.807 20.028 14.166 61.290 3). Persen (%)

Kalimantan Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Nusa Tenggara Barat Nilai (Rp rb) Persen (%)

Rata-rata Nilai (Rp rb) Persen (%) 

2 3 4 5 6

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 62-87
Modal Sdri Men KUKM Ins sektoral Pemda Perbankan Lainnya

27,15 18.815 37,46 16,17 26.128 30,00 11.927 7,07 4.899 6,51 4.538 7,93 5.853 8,01 7,11 4.928 4,27 2.978 8,44 6.229 3,24 Distribusi kredit program Tda belum merata dan banyaknya 2,89 2.002 0,00 5,69 4.200 2,95 jenis kredit program menyebabkan adanya21.805 31,47 tumpang tindih 27,62 35,41 19.261 32,68 26.128 diantara 19.545 26,49tersebut 24,31 16.848 24,14 16.834 23,11 kredit-kredit 100 73.782 100 69.297 100 Penyaluran kredit 100 69.739 sektoral membuka peluang terjadinya kesalahan sasaran

Jumlah Rata-rata

Tabel 3. Jumlah Usaha Usaha dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan Pinjaman Tabel 3. Jumlah Mikro Mikro dan Usaha Kecil Yang Mendapatkan dari Kredit Kredit Pinjaman dariProgramProgram
Prediksi Jumlah UMKM (ribu) 823,7 754,3 811,8 2.389,8 796,6 Kredit Program Dari Kredit dari Kemeneg KUKM Instansi Sektoral UMKM (rb unit) 36.984 42.143 48.238 127.365 42.455 Persen (%) 4,49 5,59 5,94 5,33 5,33 Jumlah Per sen (%) 10,11 8,63 10,58 9,80 9,80

No

Propinsi

UMKM Persen UMKM (rb unit) (%) (rb unit) 46,28 22,99 37,68 106.947 35.649 5,62 3,05 4,64 4,48 4,48 83,26 65,13 85,92 234.312 78.104 

2 3

Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata

Dari ketiga hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk memperbesar jumlah kredit program tidak saja diperlukan penambahan alokasi kredit tetapi yang lebih penting  adalah memperbaiki sistem distribusi dan mengkoordinasikan pemberian bantuan melalui satu lembaga yang secara khusus disesuaikan dengan karakter UMKM 5.2.2 Sumber-sumber Permodalan Pengusaha Mikro Tabel 4 memperlihatkan pinjaman usaha mikro dari perbankan, dan Lembaga Kredit Formal (LKF) dan sumbersumber perkreditan non formal, termasuk perseorangan baik, tetangga kerabat maupun pemilik modal atau pelepas uang. Hal-hal yang dapat dikemukakan dari tabel 4 yaitu: 1) Pelepas uang masih mendominasi sumber pinjaman bagi pengusaha mikro dengan pangsa kredit terhadap permodalan pengusaha mikro mencapai 34,45%. Dapat dikatakan bahwa para money leander ini masih menjadi andalan utama bagi pengusaha mikro dalam mendapatkan modal bagi kelanjutan usahanya. 2) Sebagian pengusaha mikro sudah mampu berhubungan dengan lembaga perkreditan formal terutama BPR (10%)

70

Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih)

Pemerintah Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program Pemerintah
Sumatera Barat No Sumber Modal UKM (unit ) 4 5 6 3 18 9 9 6 60 Persen % 6,67 18,33 5,00 10,00 10,00 8,33 20,00 25,00 100,00 Kalimantan Barat UKM Persen (Unit % 2 7 8 9 22 2 6 4 60 3,33 11,67 13,33 23,33 23,33 1,66 15,00 11,66 100,00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 5 6 13 4 22 4 4 2 60 Persen (%) 8,33 15,00 10,00 13,33 31,67 10,00 11,67 8,33 100,00 Rata-rata UKM (unit ) 3,67 6,00 9,00 5,33 20,67 5,00 6,33 4,33 60 Persen (%) 6,11 10,00 15,00 8,88 34,45 8,33 11,67 7,22 100,00

Tabel 4. Sumber-sumber Permodalan Usaha Mikro Diluar Program 

2 3 4 5 6 7 8

Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tdk meminjam Jumlah

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh

dan bank umum sebanyak 6,11%, tetapi mereka lebih banyak bersandar pada kalangan kerabat (11,67%) 3) Sumber-sumber hanya memiliki kontribusi Tabel 5.Koperasi ternyataPermodalan Usaha Kecil sebesar 8,33% hal ini Kredit Program Pemerintah Diluar mungkin sedikitnya dukungan dari program-program kredit pemerintah yang diperuntukan bagi koperasi
Kalimantan Nusa Tenggara Rata-rata 4) Sumatera7,22% usahaBarat Hanya Barat mikro yang tidak memiliki pinjaman, Barat hal ini UKM mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan Sumber Modal Persen UKM Persen UKM Persen UKM Persen (unit ) mikro masih sangat besar. usaha % (Unit) % (unit ) (%) (unit) (%) Bank umum 1) BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata 11,65 2,33 10,00 2 10,00 2 15,00 3 Dikalangan pengusaha kecil dominansi pinjaman6,00 modal 30,00 dari 30,00 6 35,00 7 25,00 5 6,65 1,33 5,00  5,00  2 pelepas 10,00 mulai berkurang (tinggal 10%), dibandingkan uang 3,33 0.66 5,00  5,00  0,00 0 dengan pengusaha mikro yang mencapai 34,45%. Sumber 10,00 2,00 5,00  15,00 3 pinjaman bagi pengusaha kecil 2 adalah1,00 Bank Perkreditan 13,30 2,66 20,00 4 10,00 2 Rakyat 10,00 dengan pangsa kredit terhadap permodalan (BPR) 2 20,00 4,00 10,00 2 30,00 6 20,00 4 pengusaha kecil mencapai 30%, 2diikuti dengan pinjaman 5,00 1,00 10,00 0,00 0 5,00  dari kalangan kerabat yang mencapai 20%. 100,00 100,00 20 100,00 20 100,00 20 20

No  2 3 4 5 6 7 8

Dari tabel 5 terlihat bahwa:

2) Sample di tiga propinsi contoh Keterangan : Diolah dari data 60Pengusaha kecil sudah lebih

mampu berhubungan dengan bank komersial yang pangsa kreditnya terhadap permodalan usaha kecil mencapai 11,65%. Hal ini diduga karena kalangan usaha kecil lebih mampu dalam hal penyediaan agunan dan mengikuti prosedur bank umum atau bank komersial

71
2

00 10.22 100.67 unit atau 14.33 10.00 5. hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan kredit dikalangan usaha kecil juga masih sangat besar.3 UMKM Yang Mendapatkan Pinjaman Program dan Pinjaman Pihak Lain Dari tabel 6 terlihat bahwa jumlah UMKM yang disamping mendapatkan pinjaman dari kredit program juga masih mengambil pinjaman dari tempat lain relatif banyak yaitu untuk usaha mikro 17 unit usaha atau 43.00 35.00 25.00 5.65 3.33%.00 10.33%) dibandingkan dengan peran koperasi terhadap permodalan pengusaha mikro yang mencapai 8. Oleh sebab itu perlu perhatian yang lebih besar dari para stakeholder terutama pemerintah agar lebih banyak lagi melaksanakan programprogam pemberdayaan permodalan untuk kalangan pengusaha kecil.00 10.00 5.30 20.65 30.00 15.00 100.00 100.33 100. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Tabel 5.00 20.66 4.00 5.66 100.17% dari jumlah sampel.00 2.33 6.00 30.00 4 60 11.00 1.00 5.66 2.8 Tdk meminjam Jumlah 6 60 25.00 20.00 0.00 20 Persen (%) 11.30% dari jumlah sample.00 6.33 0. Sedangkan untuk usaha kecil lebih sedikit yaitu ratarata 5.00 30.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 5.00 Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh Bank umum BPR Pemilik modal Koperasi Money Leander Tetangga/teman Kerabat Tidak meminjam Jumlah Rata-rata Keterangan : Diolah dari data 60 Sample di tiga propinsi contoh 3) Peran koperasi dalam mendukung permodalan kelompok pengusaha kecil ternyata sangat sedikt (3.00 100. 5.00 1.00 10.2.00 2 60 8.00 100. Sumber-sumber Permodalan Usaha Kecil Diluar Kredit Program Pemerintah Diluar Kredit Program Pemerintah Kalimantan Barat UKM (Unit) 2 7    2 6 0 20 Persen % 10.00 13. 72 .00 Nusa Tenggara Barat UKM (unit ) 2 6   2 4 2 2 20 Persen (%) 10.00 Keterangan : Diolah dari data 180 Sample di tiga Propinsi Contoh JURNAL VOLUME 4 .00 10.00 1. 4) Hanya 5% usaha kecil yang tidak memiliki pinjaman.00 4. Hal ini mungkin disebabkan dana yang diperlukan oleh pengusaha kecil relatif lebih besar dibandingkan dengan pengusaha mikro sehingga koperasi tidak mampu menyediakan pinjaman untuk kelompok 2 ini.00 0.00 Sumatera Barat No  2 3 4 5 6 7 8 Sumber Modal UKM (unit ) 3 5 2 0 3 2 4  20 Persen % 15.00 100.00 Rata-rata UKM (unit) 2.00 5.33 60 7.00 5.

070 1.54 10.39 3.85 10.69 1. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Tabel 7.207 36. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro 1) Jumlah pinjaman yang diterima dari kredit program belum Untuk Usaha Mikro Hal ini mengindikasikan bahwa: Propinsi Propinsi Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal Program Pihak lain Kecukupan modal Kebutuhaan Modal per 2) Modal sebagian pinjaman yang tidak digunakan untukPersentase Ada tujuan sendiri Modal Modal per Persentase UKM (Rp rb) Nilai Persen Kecukupan sendiri Modal rb) tujuan Nilai Persen usaha UKM (Rp rb) (Rpproduktif atau Persen pengembangan tersedianmelainkan Nilai Nilai Persen Kecukupan (Rp rb) % (Rp rb) % (Rp rb) tersedian modal (%) (Rp modal (%) (Rp untuk tujuan lain rb) konsumtif rb) % (Rp atau % digunakanrb) (Rp rb) 3.50 40 7 17.451 27.467 3.45 1.85 26.298 73.445 24.168 719 kebutuhan965 pinjaman bagi 1.620 108.39 42.17 43.00 40 8 20.51 60.678 93.13 1.021 52.378.068 29.287 28.574 1.015 1.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Tabel 6.54 dengan kebutuhan modal usaha mikro sehingga skala usaha mikro. 49.070 1.487 1.40 32.378.39 3.40 32.223 39.00 40 8 20.210 3.30 40 5.59 64.33 Mikro 60 Sample Usaha Tabel 7.253 42.23 11.65 3.54 68.223 adanya perencanaan yang 632 dalam memperhitungkan baik 38.51 64.00 60.168 719 86.50 129.897 47.772 3.02 32.182 47.50 40 7 17.02 1.65 24.67 14.48 21.865 21.273 5.068 29.3 Struktur Permodalan. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Tabel 8.516 21.40 40 2 5.345 juta relatif(6) hampir sama (93.678 31.1 Struktur Permodalan.96 3.50 43.445 31.128 33.09 yang 42.00 42.48 21.85 10.69 1.45 sejumlah modal 45.85 26.39 46.401 19. UMKMYang Mendapat Kredit Program Tabel 6.600 35.93 3.223 98.345 93.273 68.02 28.035 279.772 mencukupi bagi kalangan tersebut untuk mampu memenuhi Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan kebutuhan modalnya Pinjaman kredit Pinjaman dari Modal tersedia dan Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Kurangnya pembinaan dalam penggunaan dana.33 40 17.782 69.40 40 2 5.574 1.345 93. UMKM Yang Mendapat Kredit Program Tabel 6.45 31. UMKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain Pinjaman Dari Tempat Lain dan Pinjaman Dari Tempat Lain UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman UKM Yang Mendapat Kredit Program dan Pinjaman Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Dari Tempat Lain (dalam satuan unit usaha) Mikro Usaha Kecil Mikro Usaha Kecil Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Jumlah Persentase (Unit) (%) sample unit usaha (%) (Unit) (%) sample unit usaha (%) 42.50 129.451 45.408 46.18 Modal Kecukupan Modal usaha mikro Tabel 8.18%) (3) (4) (5) (6) (6) 49.342 18.13 1.128 33.54 5.67 mendapat pinjaman 14. 3. Kontribusi Kredit Program dan Kecukupan 3.205 88.90 120 17 42.600 35.620 108.035 279.268 kecil. hanya rata-rata 36.401 19.021 52.70 mikro kalangan usaha 3.3.57 965 1.782 73.50 27.00 60.298 61.927 3.253 28.13% yang bersumber dari modal 68.70 44.62 3. Kontribusi kredit Program dan Dari hasil temuan lapang seperti diperlihatkan pada Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman Modal sendiri Pinjaman dari Kebutuhan pinjaman tabel 7 dapat dikemukakan lain Pihak beberapa hal sebagai berikut: modal Dari program Modal sendiri Pihak lain modal Dari program Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen tase Nilai Persen Nilai digunakan Nilai tersedia oleh % Persen 1) rb) atau usaha (Rp Rata-rata modal yang % (Rp rb) % Rp rb Persen tase % (7) = 6/2 x 100 (Rp rb) % (Rp rb) % Rp rb (3) (4) (5) (6) (7) = 6/2 x 100 mikro sebesar Rp 3.23 11.90 120 17 42.02 1.54 pengusaha oleh 60.287 28.17 dan 30 usaha kecil yang No No Propinsi Propinsi Jumlah Jumlah Sample Sample Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata dari Keterangan : Diolah   2 2 3 3 Keterangan : Diolah dari Program Usaha Mikro dan 30 Sample usaha kecil yang mendapat pinjaman dari Kredit 60 Sample dari Kredit Program 40 17 40 17 40 24 40 24 40  40  120 52 120 52 40 17.223 31.93 3.205 88.45 86.09 digunakan 27.70 632 44.30 Sample40 5.268 93.897 mereka hampir mencapai titik optimal.62 3.54 73 3 3 .210 3.182 42. 3) 3.57 1.342 18.927 10.487 1.207 36.739 69. serta tidak 98.467 3. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi Propinsi (1) (1) Sumbar Sumbar Kalbar Kalbar NTB NTB Jumlah Jumlah Rata-rata Rata-rata Modal Modal (Rp rb) (Rp rb) (2) (2) 61.408 80.865 32.18 3.96 3.015dan usaha 38.00 27.59 80.70 1. 3.516 2) Dari 39.739 68.

45 31.93%) dan pinjaman dari sumbersumber lain rata-rata-rata sebesar Rp 1.205 1.345 98. b) Belum adanya pemikiran untuk menjadikan biaya hidup sebelum produksi sebagai salah satu unsur dalam mengkalkulasi kebutuhan kredit para pengusaha mikro.210 1.54 93.65 279.AGUSTUS 2009 : 62-87 pinjaman kredit program sedangkan sisanya berasal dari modal sendiri (rata-rata 29.13 Pinjaman dari Pihak lain Nilai (Rp jt) 632 1.927 10.JURNAL VOLUME 4 .574 1.865 juta sehingga untuk 74 .772 3.2 Struktur permodalan dan Kecukupan Permodalan Usaha Kecil Dari tabel 8 dapat dikemukakan bahwa: 1) Rata-rata modal yang digunakan oleh usaha mikro sebesar Rp.70 38.02 33.487 1. Tabel 7.015 3. 5.62%).445 3.620 1. Kebutuhan Modal Modal Tersedia dan Kecukupan Modal Untuk Usaha Mikro Kebutuhaan Modal per UKM (Rp jt) Modal sendiri (Rp jt) Pinjaman kredit Program Nilai (Rp jt) 1.223 719 1.467 3. 68.168 965 3.57 108.39 36.128 1. 21.678 10.18 Propinsi Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata 3.035 3.268 3.068 Persen % 18. 3.69 24.342 3.207 Persen % 44.068 juta (29.62 Modal tersedia dan Kecukupan modal Persentase Modal Kecukupan tersedian modal (%) (Rp jt) 3. 4) Rendahnya kontribusi pinjaman program pemerintah dalam struktur permodalan pengusaha mikro diduga disebabkan oleh: a) Perencanaan yang bersifat sektoral dan terpusat.85 29.070 3) Besarnya pinjaman dari pihak-pihak lain dikhawatirkan akan berdampak pada: a) Mengganggu kelancaran pengembalian kredit program. b) Mempertahankan eksistensi para pelepas uang dalam usaha dan kehidupan para pengusaha mikro serta. Hal ini seharusnya mendapat perhatian karena biaya hidup sebelum produksi di kalangan UMKM dapat dikelompokan sebagai biaya produksi karena UMKM sebagian besar (79.273 juta sedangkan rata-rata modal sendiri yang dimilikinya sebesar Rp.70 88.3.96 93.93 86.378.84%) menggunakan tenaga kerja keluarga. c) Menyebabkan penggunaaan pinjaman sulit diawasi.

rata-rata aset UMKM meningkat sebesar Rp.4.76 juta. Tabel 8.39 Kebutuhan pinjaman modal Dari program Nilai Persen tase % Rp jt (7) = 6/2 x 100 (6) 49.54 3) Dengan meningkatnya skala usaha diharapkan efisiensi produksi akan terjadi dan para pengusaha mikro mendapatkan laba yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan PDB.59 64. Peningkatan ini merupakan pengaruh langsung dari adanya pinjaman dari program perkuatan.29 juta.92%) menjadi rata-rata Rp. 75 . 5.401 47.45 32.223 46.408 80.182 27.40 35. 17.253 juta).408 juta rupiah.782 69.865 Persen % (4) 19. 2) Dengan adanya bantuan program perkuatan.09 42.086 juta (25. 3. Struktur Permodalan dan Kecukupan Modal Usaha Kecil Propinsi (1) Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rata-rata Modal (Rp juta) (2) 61.54 68.51 60.739 68. 2) Skala usaha usaha kecil pada umumnya belum mencapai titik break event point (titik impas) sehingga untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi kalangan usaha ini perlu dibantu dengan memberikan pinjaman agar tercapai break event point yaitu rata-rata sebesar Rp.23 28.451 28.85 45.253 52.287 31.408 juta.02 Pinjaman dari Pihak lain Persen Nilai (Rp jt) % (6) (5) 32.273 Modal sendiri Nilai (Rp jt) (3) 11.897 26.298 73.021 21. 46. dapat ditutupi dengan meminjam dari berbagai pihak terutama para pelepas uang.4 Dampak Kredit Program 5.516 21. 46.1 Dampak Kredit Program terhadap kondisi dan Kinerja Bisnis UMKM Dari data pada tabel 9 dapat dikemukakan: 1) Rata-rata UMKM contoh tergolong dalam kelompok usaha mikro.48 39. 28.600 42.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) mencapai break event point usahanya diperkirakan masih memerlukan tambahan modal sebesar Rp. dengan rata-rata pemilikan aset sebelum menerima bantuan perkuatan sebesar Rp. 13. Keperluan ini sebagian (rata-rata Rp.

28 207.30 Sebelum Sesudah Nilai Persen 10.41 14.58 6.24 juta.55 Selisih 21.82 11. Aset.02 Rata-rata Omset Usaha18. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan Tabel 9.5307. b) Sebagian peminjam lainnya mempersiapkan kelebihan laba yang diperoleh untuk digunakan membayar pinjaman dari program perkuatan walaupun mungkin belum jatuh tempo.10 Rp Jt (%) Tabel 10.76 17.60 1.8 Sebelum Sesudah Nilai Persen 7.55 13. Aset.90 10.29 (Rp jt) 17.32 0.41 45.07 6.76 Rata-rata Peningkatan Produksi 16.29 Jt) 25. Tambahan modal ini relatif belum mencukupi Tabel 11. Kinerja UKM Nilai Berbantuan menerima Sesudah Nilai Persen menerima bantuan) dan (Rp Jt) Rp Jt (%) DariVolume UsahaUsahaLaba Aspek Volume (%) dan Laba  Sumbar 2 Kalbar 3 NTB No Propinsi Jumlah Rataan  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Jumlah Propinsi Rataan 59.49 Per Rata-rata Peningkatan Produksi18.083 55.41Dari adanya bantuan perkuatan modal UMKM 69.94 59.53 Hari 14.83 29.AGUSTUS 2009 : 62-87 yang terutama digunakan untuk modal kerja.02 18.31 25.18 36.54 8.61 25.73 175. jt) Per tahun (Rp jt) (Rp No Propinsi Selisih Selisih Sebelum Tabel 10.14 31.18 per 9.92(%) (Rp 13.05 75.05 51.88 Sesudah 77.05 (Jam) (%) 146.83 3) bertambah 29.12 15.80 7.61 4.50 1.92 6.35 33.38 Persen 47. Kinerja UKM Berbantuan (yang(yangSebelum bantuan) Dari Aspek Sesudah Persen Tabel 10.12 Asset Total 18.66 14.30 12.33 untuk Omset Usaha UMKM yang tahun Rata-rata menutup kebutuhan modal Rata-rata Laba per selama ini sebagian berasal dari pinjaman pihak ketiga.97 Sesudah Nilai 19.18 5.19 32.88 77.24 11.28 8.99 8.24  2 3 13. 6.00 58.41 45.15 28.48 14.98 11.17 11.41 14.05 51.82 18.68 25.17 jt) 25.53 15.90 6.21 5.29Dari Aspek Volume Usaha dan Laba 51.05 75.55 9.81 11.083 55.24 11.94 tahun 16.09 45.10 47.38 Selisih 25.17 25.54 7.00 57.56 2.30 Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Pertambahan 175.03 Rata-rata Jam Kerja6.72 58.30 Selisih 19.73 Sesudah 6.53 23.45 36.49 13.98 11.58 9.68 Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp ) (%) Tabel 11.18 11.71 10.82 8.31 25.14 Sebelum 30.58tahun9.18 2.56 (Rp jt) 2.30 juta 58.66 5.81 11. 3.25 32.03 9.24 167.54 8.65 34. Tabel 9.04 45.79 1.78 20. Hal ini dapat diterangkan dari dua sebab yaitu: a) Para penerima pinjaman sebagian besar sudah mendapatkan pinjaman dari dari pihak ketiga sehingga sebagian laba dipergunakan untuk menutupi pinjaman tersebut. 41.27 (Rp Jt) (%) 76 2 Sumbar Kalbar NTB 3 No Propinsi Jumlah Rataan  .48 14.61 Persen 10.24 26.14 Sebelum 167.JURNAL VOLUME 4 .45 12.82 Sebelum Sesudah Nilai 9. 47.20 Per (Rp 45. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) rata-rata sebesar Rp.09 Selisih 31.99 8.25 Rata-rata Laba3.53 14.70 Selisih 31.33%.97 58.05rata-rata sebesar Rp.29 25. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuanJt) 9.90 (Rp Jt) (%) 12.10 11.78 70.61 25.25 8.58 9.80 7. Dengan perkataan lain peminjam belum mampu menginvestasikan sebagian laba yang diperoleh untuk menambah aset dalam bentuk investasi.74 18.00 1.45 (Jam) 11.82 atau11. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima 16.20 9.17 5.14 30.78 70.71 juta menjadi rata-rata sebesar Rp.00 8.09 69.80 (Jam) 26. Aset.76 57.80 18.79 1.49 Selisih 141.18 2.47 39.05 Rata-rata Jam Kerja Per Hari 13.78 Pertambahan 41. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan No Propinsi Rata-rata Pertambahan Total Asset Rata-rata Pertambahan Modal (Rp Jt) Per tahun Sebelum Sesudah Pertambahan Pertambahan Sebelum Sesudah (Rp jt) (Rp Jt) (%) (%) 18.54 dari yaitu 10.24 58. Permodalan dan Omset UKM Berbantuan 20.05 Per tahun Sebelum 51.47 39.84 (%)1.62 15.04 10.19 bantuan )3.74 Rata-rata Pertambahan23.72 (%) 141.28 47.50 2.05 12.33(%)  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Tabel 9.61 69.49 13.04 10.71 10.80 3.80 11.55 11.61 11.

38%). meningkatnya modal UMKM juga mempengaruhi pertambahan laba yang diterima UMKM. atau rata-rata bertambah sebesar Rp 8. Dari tabel 11 dapat dikemukakan bahwa: 1) Peningkatan etos kerja yang diindikasikan dari pertambahan jam kerja UMKM memperlihatkan adanya tambahan sebesar 1. menjadi Rp 55.99 juta.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Dari tabel 10 dapat dikemukakan: 1) Sejalan dengan adanya pertambahan modal.49 juta.083 juta. Selain dampak perkuatan terhadap tiga aspek bisnis UMMK di atas. Pertambahan ini nampaknya masih lebih kecil dari tambahan modal yang diterima UMKM yang rata-rata mencapai 51.55 jam menjadi 11.18 juta per tahun. atau bertambah Rp 2.23%. omset UMKM juga meningkat dari rata-rata Rp 47. sehingga belum mencukupi bagi UMKM untuk dapat mencapai skala ekonomi (ecomic of scale). 3) Dengan memperhatikan pertambahan omset dan laba. Dalam hal ini etos kerja. dari aspek peningkatan etos kerja dan peningkatan produksi UMKM.60 jam. Laba UMKM meningkat dari rata-rata Rp 10.10%). tabel 11 memperlihatkan dampak pemberian bantuan perkuatan modal terhadap perubahan kinerja UMKM.90 juta (19. 4) Dari kondisi pada butir 1 sampai dengan butir 3 di atas dapat dikemukakan bahwa pinjaman yang diberikan jumlahnya relatif kecil. Persentase pertambahan laba ini juga masih lebih kecil dibandingkan dengan persentase pertambahan modal yang mencapai 51. belum terlihat adanya indikasi bahwa pertambahan modal telah dapat menekan biaya produksi misalnya bahan baku. yang memungkinkan terjadinya peningkatan efisiensi produksi. 2) Selain mempengaruhi pertambahan omset usaha.68 juta (25.23%. menjadi Rp 13. merupakan derivasi 77 .05 jam per hari. yaitu dari 10. Disamping itu pertambahan modal juga belum mampu meningkatkan bargaining UKM dalam pasar. sehingga meningkatnya laba tidak lebih besar dari peningkatan modal. baik di pasar input (pengadaan bahan baku) maupun di pasar output-nya (pemasaran produknya).

06%).65 10.45 9.60 1.55 0.82 9. Dari jumlah tersebut sebanyak 52.8 69. dimana sebanyak 325.09 dan sebatas mana 14.58 kondisi peningkatan etos kerja. Pengembangan etos kerja juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.79 1.32 28.18 2.05 9.70 31.21 8.62 11.00 16. yang akan mendorong semangat kewirausahaan.80 2.14 31.19 3.78 36.35 7.AGUSTUS 2009 : 62-87 Dari Aspek Volume Usaha dan Laba Rata-rata Omset Usaha Rata-rata Laba per tahun Per tahun (Rp jt) (Rp jt) dari keberhasilan usaha seseorang dan kepentingan orang Selisih Selisih Sebelum tersebut untuk mendapatkan prestasi yang secara langsung Sesudah Sebelum Sesudah Nilai Persen Nilai Persen maupun tidak langsung mempengaruhi kesejahteraannya.03 arah 9.02 18. 78 .81 11. seberapa25. adalah para pencari kerja yang diharapkan dapat terserap dengan meningkatnya aktifitas usaha dari kelompok UMKM.05 1. UMKM harus diarahkan agar mampu pengembangan etos kerja.27 No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3) Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang menyebabkan timbulnya permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan program ini.15 1.30 55.Tabel 10.083 Hasil pengamatan lapang memperlihatkan adanya indikasi 70.68 25.99 8.17 14.61 33. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Rata-rata Jam Kerja Per Hari Rata-rata Peningkatan Produksi (Jam) (%) Selisih Selisih Sebelum Sesudah Nilai Persen Sebelum Sesudah Nilai Persen (Jam) (%) (Rp Jt) (%) 11.56 2.84 6.05 141.38 10.10 13.49 kerja dapat dikembangkan sangat etos 167.45 12.49 13.31 51.53 9.94 32.046 orang.30 45.80 18.00 6. 8.05 75.05 11.09 146. Dampak program perkuatan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja 1) Rata-rata jumlah tenaga kerja poduktif (umur antara 17 sampai dengan 60 tahun) yang ada di 3 (tiga) Propinsi contoh cukup besar yaitu mencapai 412.41 45.18 ke45.50 13.10 Tabel 11.41 1.54 tergantung pada pola pelaksanaan program.97 26.90 19.895 orang atau 10. 4 5.97%.17 12.80 11.24 47. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan ) Tabel 11.4.76 11.04 4. diantaranya adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha (bekerja) dalam kelompok UMKM.55 12.24 11.98 11.25 34.25 16.72 58.47 39.61 5.55 3. Kinerja UKM Berbantuan (yang menerima bantuan) JURNAL VOLUME 4 .07 15.20 9.28 5.58 6.50 207.352 orang (78.90 8.2 Dampak Kredit Program Terhadap Perekonomian Daerah 1. (Rp Jt) (%) Rp Jt (%) No Propinsi  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 2) 59.17 jauh 25.55 21.

75 1.88 144.30 1.61 orang per UKM.49 Nilai Persen 27.652 326.765 Terhadap PDB (Rp 0.613 1.765 Kalbar 178.873 611.33 2.32 8.89 11.90 Sebelum 5.52 1.9 Perkuatan 35. DampakDari tabel 13 dapat dikemukakanKoperasi Program Perkuatan terhadap Kinerja beberapa 1.3 Kop 25.8 13.510 472.2 7.90 64.154 421.236.07 79  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan .88 Sesudah 3.236.968 7.5 26 197.85 147.97 3.180 14 0.8 Kop luran Rp juta 327.140 158.65 6.41 10.677 Koperasi 0. 3.69 1.1 Penda 310.904 202.00 (%) (Org) Propinsi *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.677 176.057 22.540 268.52 1.18 2.48 8.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 2) Rata-rata pertambahan tenaga kerja UMKM setelah mendapat bantuan pinjaman modal dari program perkuatan adalah sebesar 0.93 1.90 4.18 2.38 berikut: 3.67 3.44 65.3 429.18 Peningk.411 94.1 36 161.686 976.154 421.4 10.44 7. 2.92 0.3 374.870 1.71 0. Jumlah Tenagakerja dan Kinerja UMKM Berbantuan 12.41 Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di kabupaten Contoh (Orang) 44.81 Sebelum 3.609 4.1 36 172.742 32.50 tambah tase 92.510 472.186 2. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Jumlah 27.7 patan 103.98 1.21 23. termasuk penganggurmenyalurkan bantuan Perkuatan PDB (Rp miliar) *) Tenaga kerja usia produktif yang Tabel 13.5 26 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan178.8 13.64 2.7 Rataan 92.61 (Org) (org) Kerja 49.15 7. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Jumlah Tenaga Kerja dan 10.3 161. termasuk penganggur 36.742 32.88 6.91 3.843 Sumbar UMKM31.88 4.4 10.01 9.35 3. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan patan Daerah Kotor Kop UMKM (%) Rp Juta Rp jt serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur (Product Regional Domestic Bruto) serta Jumlah dan Kinerja Koperasi Penyalur  2 3 No Sumbar Kalbar NTB Propinsi Jumlah Rataan 172.352 7.69 Tambahan 1.866 434.877 Sumbar 429.659 di Kabupaten Contoh ( Orang) 6.48 3. Tabel Tabel 12.14 4.843 Sumbar Tabel 13.1 103.18 hal sebagai 1.07 Peningk.44 Kalbar Program terhadap (Product Regional Domestic Bruto) serta 6.20 3.644 orang atau 8.93 2.99 Sesudah 1.8 983.47 4.473 224.44 4.609 4.420 674.1 SHU 76Jlh 31.32 11.49 76 31.14 Modal 9.540 268.9 143.90 1.48Simpanan4.78 Sebelum 6.839 3.659 202.74 1.65 9.50 25.89 8.33 2.873 611.  2 3 Sumbar Kalbar NTB No Jumlah Propinsi Rataan 3.75 Sesudah 1.58 10.870 1.45 9.140 berbantuan UMKM 22.877 Perkiraan Sumbangan2.82 Sebelum 7.15 11.528 NTB UMKM Propinsi Pencari 976.08 kontribusi 44.81 4.98 0.89 Peningk.56 8.224 NTB Tabel 14.45 3.839 Kerja 325.7 143.769 2.90 5.700 263.87 0.56 9.2 7.895 7.30 1.67 3.47 3.56 4.046 52.613 (unit) (unit) (Org) (Org) *) Tenaga kerja usia produktif yang tersedia.71 0. maka dapat diprediksikan jumlah pengangguran yang mampu diserap oleh UMKM baru sebanyak 4.9 Rp Juta Rp jt 111.44 0.56 6.1 327.87 0.352 Kerja Rata-rata 412.61 Terhadaptersedia.769 Kalbar 5.90 miliar) 64.473 224.895 325.968 7.20 3.91 7.97 3.3 35.02 Persen 1.32 20.48 23.45 3.41 3. Dampak Kredit Jumlah dan Kinerja 2.54 1.652 326.05 5.89 Tabel 14.180 14 Penya Biaya 983.05 3.72 Sesudah 3.78 4.89 11.76 Koperasi Per tahun(%) 11.72 3.35 20.85 Tenaga 147.455 1.528 NTB dalam Menyumbang PDB Jumlah 1.43 11.93 1. 3.88 UMKM (%) 111.88 1.43 2.45 Rata-rata Peningtan5.02 Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang 49.99 1.64 Penyalur UMKM 65.31 4.78% dari jumlah penganggur yang ada di ke tiga propinsi contoh.41 3.904 31.00 Rata-rata 412.12 Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) 4.93 1. termasuk penganggur Total Pendapatan Kotor Daerah (Product Regional Domestic Bruto) (miliar) tambah tase Kop luran Rp juta Tabel 13. Pertumbuhan Sumbangan UMKM terhadap Total Pendapatan Kotor Daerah 1.97 Rata-rata Peningkatan Anggota /tahun (%) 1. (unit) (Org) (org) (unit) Kerja (%) (Org) (Org)(yang menerima bantuan ) di Lima Propinsi Contoh (Org) 36.21 3.32 3. Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan (yang menerima bantuan) ) di Lima Propinsi Contoh (yang menerima bantuan di Lima Propinsi Contoh Jumlah Tenaga Kerja dan Rata-rata Tenaga Kerja per UMKM di UMKM di Kabupaten Contoh ( Orang) kabupaten Contoh (Orang) UMKM Tambahan Pencari Tenaga Sesudah UMKM berbantuan Sebelum Tenaga Persen Kerja Kerja Jumlah Tenaga kerja dan Kinerja UMKM Berbantuan Tabel 12.420 674.31 5. Dengan memperhitungkan jumlah UMKM yang mendapatkan bantuan per propinsi sebanyak 7613 orang.89 11.186 9.9 Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) Sesudah *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Peningk.82 7.3 No Propinsi PDRB Nilai Persen Jlh Penya Biaya Penda SHU *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006  2 3 No Propinsi Rata-rata Peningkatan Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) Simpanan Anggota /tahun (%) *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 Sebelum Sesudah Peningk.7 310.38 7.44 176.33 10.54 2.411 94.224 PDRB 434.046 Perkiraan Sumbangan UMKM 52.686 Jumlah 1.12 3. Sebelum Peningk.92 0.97 3.76 11.08 1.20 0.01 UMKM 197.455 1. Sebelum Sesudah 374.20 4.057 Tenaga 158.866 (miliar) 144.58 10.700 263.74 1.33 10.

928. atau tidak mengalami tambahan yang signifikan. Hal ini dapat dijelaskan dengan memperhatikan bahwa pertambahan jumlah PDRB yang berasal dari adanya UMKM yang mendapat bantuan perkuatan per kabupaten relatif kecil yaitu sebesar Rp.AGUSTUS 2009 : 62-87 1) Dengan asumsi sebagian (50%) UMKM yang mendapat bantuan perkuatan bekerja pada kegiatan usaha produktif. 5.72% pada tahun 2007.4.82% pada lima tahun sebelumnya menjadi 7. Kenaikan jumlah anggota yang cukup signifikan ini mengindikasikasikan adanya ketertarikan masyarakat untuk menjadi anggota koperasi.83 dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 yang diperkirakan 48%. Dari sini terlihat adanya dampak positif dari pelaksanaan program perkuatan dalam mendorong pertumbuhan jumlah anggota sebanyak 3.89%.870 juta (1. Seandainya semua (308.JURNAL VOLUME 4 .342 orang) UMKM sudah mendapat bantuan perkuatan maka diprediksikan sumbangan UMKM akan mencapai 71. maka sumbangan usaha mikro terhadap PDRB tidak berubah banyak. 144. dibandingkan dengan rata-rata PDRB daerah yang mencapai Rp. dan tidak dengan memperhitungkan dampak kegiatan yang dilaksanakannya.3 Dampak Kredit Koperasi Perkuatan Terhadap Pembangunan Dari tabel 14 terlihat bahwa terlihat bahwa: 1) Rata-rata jumlah anggota koperasi mengalami kenaikan dari rata-rata 3. juga relatif masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang berada dimasing masing lokasi tersebut. 2) Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh UMKM merupakan kegiatan spesifik daerah yang tidak lagi memberikan imbasan yang signifikan terhadap kegiatan usaha yang ada dibelakangnya (back word efect). Kondisi yang demikian nampaknya cukup wajar karena jumlah UMKM yang menerima bantuan. Kondisi ini dikarenakan usaha-usaha tersebut sudah ada sebelumnya dan pertambahan jumlah kebutuhan maupun produk yang dihasilkan oleh UKM yang mendapat bantuan perkuatan relatif masih kecil.83% atau meningkat 23.8 miliar per kabupaten. Dengan perkataan lain masyarakat ingin menjadi anggota koperasi karena adanya 80 .46%). maupun di depannya (fore Word efect). Unsur ini jelas didorong oleh adanya program perkreditan yang memang angat dibutuhkan oleh masyarakat.

41 3. Hal tersebut disebabkan adanya tambahan modal luar yang melonjak dari pinjaman modal program perkuatan.44 4. bantuan kredit 27.01 9.56 8.88 327.45 3.3 374.72 Peningk.54 1.18 2.89 11.99 Peningk.48 3. Peningkatan jumlahnya 5 simpanan ini terlihat belum sejalan dengan pengingkatan rata-rata jumlah anggota yang mendapat bantuan perkuatan.609 4.99% sesudah dilaksanakannya program perkuatan.473 224.07 Rata-rata Peningkatan Simpanan Anggota /tahun (%) Rata-rata Peningtan Modal Koperasi Per tahun(%) 2) Sejalan dengan peningkatan jumlah anggota juga terjadi kenaikan simpanan anggota dari rata-rata 2.8 983.76 11. 1.1perkuatan.31 5.89 11.91 3.78 Sesudah 4.877 Sumbar  2 3 Kalbar NTB Jumlah Rataan Perkiraan Sumbangan UMKM Terhadap PDB (Rp miliar) PDRB Nilai Persen (miliar) tambah tase UMKM (%) Jumlah dan Kinerja Koperasi Yang menyalurkan bantuan Perkuatan Jlh Penya Biaya Penda SHU Kop luran Rp juta patan Kop Rp Juta Rp jt 161. yang mencapai 23%.90 4.3 429.81 Sesudah 4. 3) Modal koperasi meningkat dari rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 3.14 4. menjadi 3.224 harapan 434.20 3.97 3.870memang 25.8 13.97 3.33 10. sehingga adanya bantuan perkuatan tidak lagi mempengaruhi besar simpanan yang dapat dikumpulkan. Lebih lanjut pada tabel 15 diperlihatkan dampak pelaksanaan program perkuatan terhadap volume usaha dan SHU koperasi.180 14 0.700 263.15 7. Kejadian ini mungkin disebabkan sebelumnya memang partisipasi anggota dalam membayar simpanan sudah tinggi.18 Sebelum 3.82 Sesudah 7.9 yang ideal.50 bukan motivasi 103.48 8.67 3.35 3.56 9.12 3.32 20. Hal ini 1.4 10.47 4. atau meningkat sebesar 1.7 *) PDRB 2005 dan prediksi tambahan pendapatan UKM tahun 2006 tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat pada bantuan permodalan cukup besar. atau naik sebanyak 1.38 7.33 2.968 7.10%. Tabel 14. 3. Sedangkan pengaruh dari pelaksanaan program terhadap kenaikan modal sendiri relatif sangat sedikit dibandingkan dengan total modal koperasi dalam yang dimiliki koperasi.866 76 310.No Propinsi Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 172.45 9.88%. Dibandingkan dengan tambahan modal luar yang bersumber dari program perkuatan nampaknya tambahan modal koperasi yang bersumber dari SHU pelaksanaan program perkuatan pengaruhnya belum signifikan.2 7.7 178.65 6.88 Peningk.540 268.9 143.88 6.18%.98 1.90 64. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Tabel 14.455 1.43 2. 81 . 1.58 111.3 92.1 Motivasi144.93 1.765 35.420 674.20 0.89 Sebelum 2.32 11.49 untuk mendapatkan 31.186 2.1 36 10.78% pertahun menjadi rata-rata 4.21 23.81% selama 4 tahun sebelum program perkuatan dilaksanakan. Dampak Program Perkuatan terhadap Kinerja Koperasi Rata-rata Peningkatan Jumlah anggota / tahun (%) No Propinsi Sebelum  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan 3.5 26 197.

atau meningkat sebesar 2.43 2.87 5.34%.81  2 3 Sumbar Kalbar NTB Jumlah Rataan Dari tabel 15 terlihat bahwa: 1) Rata-rata volume usaha koperasi mengalami peningkatan dari rata-rata 3. 2) Rata-rata Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi meningkat sebesar 0.34 Rata-rata Peningkatan Sisa Hasil Usaha per tahun (%) Sebelu Sesudah Peningk.59 17.43 0. rata-rata koperasi memperoleh SHU sebesar Rp 8.96 1. yang berkaitan dengan adanya program perkuatan tersebut.14%.14 0. Dengan demikian terlihat bahwa koperasi 82 . Dengan biaya operasional riil yang ternyata masih lebih kecil dari yang didapatkannya tersebut. peningkatan SHU ini juga murni sebagai sumbangan dari pelaksanaan program perkuatan dan tidak terlihat dampak dari adanya kegiatan pengembangandari pelaksanaan kegiatan penyaluran program.03 2. Sama seperti peningkatan volume usaha. Hal ini menunjukan bahwa koperasi belum mampu mengembangkan kegiatan yang diperlukan anggotanya.76 3. 2. 3) Dari kegiatan melaksanakan penyaluran kredit perkuatan.24 5.25 7.14 6.21 3.AGUSTUS 2009 : 62-87 Tabel 15.47 0.02 1.33% menjadi 3.33 3. Peningkatan ini nampaknya merupakan pengaruh langsung dari pelaksanaan kegiatan penyaluran program bantuan perkuatan saja.04 2.92 1.78 4.18 9. transportasi dan pemasaran hasil produksi anggotanya. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Tabel 15.99 2. 4.89 2. Dengan kata lain program perkuatan belum memberikan dampak ikutan bagi kegiatan koperasi diluar kegiatan program itu sendiri. menjadi 5.45 juta.JURNAL VOLUME 4 . bila dibandingkan dengan peningkatan SHU pada lima tahun sebelumnya yaitu dari rata-rata 2.76 3. seperti penyediaan bahan baku produksi.74 2.11 2.40 6.40 pertahun pada lima tahun sebelumnya.81%.74% sesudah menyalurkan program perkuatan.81 3.34 10. koperasi memperoleh bagian biaya operasional sebesar 4% dari dana yang disalurkan.42 3. Dampak Pelaksanaan Program Perkuatan Terhadap Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi Volume Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi No Propinsi Rata-rata Peningkatan Volume Usaha per tahun (%) Sebelum Sesudah Peningk.

Tetapi karena jumlah dana yang disalurkan masih relatif kecil.-.000. maka bagian koperasi yang menjadi SHU belum signifikan dengan total SHU koperasi. 3. 4) Hal lain yang juga dapat dicatat bahwa jumlah dana yang telah dikembalikan dari peminjam ada yang belum dapat digulirkan lagi oleh koperasi. dan 3) Deviasi sampel.75% bersumber dari kalangan keluarga dan tetangga. atau sudah menjangkau 23. Struktur permodalan usaha mikro dibangun 15. PENUTUP 1.000. 2. 171.05%) dengan hasil pengamatan kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro dan usaha kecil yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu 11.876. 22. 11.05% dari kebutuhan modal UMKM.574. VI. Rata-rata tambahan modal yang diperlukan oleh kalangan pengusaha mikro dan pengusaha kecil adalah sebesar Rp.75% oleh modal sendiri.000.60% dari pinjaman program pemerintah.60%.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) juga memperoleh dampak positif dari kegiatan ini. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh: 1) Sebagian dana program pemerintah memang diberikan dalam bentuk pinjaman (kredit sesuai dengan pengertian kredit dan ensiklopedia Indonesia) sebagian lagi dalam bentuk subsidi atau hibah. 2) Ada kesalahan sasaran dalam penyaluran kredit. 3. sehingga tidak dinyatakan sebagai kredit. Adanya perbedaan antara persentase kebutuhan pinjaman UMKM dan dana yang telah dialokasikan oleh pemerintah (23..55 triliun.yang terendah adalah untuk mereka yang berusaha di sektor informal dan perdagangan eceran sebesar Rp 1. Kondisi ini masih menunjukkan peranan yang dominan dari para pelepas uang dan pemilik modal dalam mendukung kelangsungan usaha para pengusaha mikro.70% pinjaman dari pemilik modal/pelepas uang dan sisanya 6. Dengan demikian dana yang diperlukan untuk memberdayakan UMKM khususnya pengusaha mikro dan pengusaha kecil.dan yang tertinggi adalah untuk mereka yang berusaha di sektor pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp. Hal tersebut terjadi karena belum ada ketentuan tentang pola pergulirannya dan belum ada institusi yang secara formal mengatur perguliran dana tersebut.783. 83 . diperkirakan mencapai Rp.05% dari jumlah UMKM khususnya pengusaha mikro. sehingga idealnya program-program perkreditan dari pemerintah selama 7 tahun terakhir sudah menjangkau 23.20% pinjaman dari lembaga perkreditan formal (Bank dan non bank). 9. 56..

85% menggunakan pendekatan pengembangan kelompok seperti seperti dalam program Lembaga Usaha Ekonomi Bersama (LUEB).25% pengembangan potensi kelompok. akibatnya yang bersangkutan masih meminjam dari sumber-sumber lain terutama para pelepas uang dan pemilik modal. dan sisanya 19.45% menggunakan pendekatan pengembangan potensi daerah.83% dari usaha mikro tersebut menyatakan jumlah pinjaman yang diperoleh belum menutupi kebutuhan modal.65% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas.25% yang bertujuan untuk memberdayakan UMKM seperti P3KUM dan KUR. 11. 8.35% pengembangan kelembagaan. b) Bunga bersubsidi membuka peluang terjadinya manipulasi penggunaan kredit baik ditingkat penyalur maupun oleh peminjam. c) Bentuk dan besar pinjaman yang cenderung menggunakan sistem paket. seperti Kredit Keluarga Miskin (KKM) dan Kredit Pemilikan RSS. 10. tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pengusaha mikro serta. 44.5% bertujuan untuk mendukung pembangunan sektoral seperti untuk program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) 35.95% menggunakan pendekatan pengembangan kelembagaan.75% menggunakan pendekatan pengembangan komoditas.75% menggunakan pendekatan pengembangan daerah. dan hanya 17. seperti Program pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal 26.18% disalurkan di Pulau Jawa dan sisanya 58. Kredit-kredit yang bersumber dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM yang kesemuanya bertujuan memberdayakan KUMKM.25% bertujuan mengurangi kemiskinan.92% disalurkan untuk daerah-daerah lainnya.JURNAL VOLUME 4 . 84 . Hanya 11.AGUSTUS 2009 : 62-87 4. Hasil analisis dari aspek kemanfaatan kredit dalam meningkatkan pendapatan UMKM menunjukkan bahwa. 7. sehingga sering tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakter pengusaha mikro. Dari aspek pendistribusian dana diketahui 41. d) Banyaknya jenis kredit yang disalurkan. pengembangan potensi daerah dan pengembangan kelompok (Community development) merupakan pendekatan yang efektif untuk memberdayakan UMKM.60% pengusaha mikro yang pernah mendapatkan pijaman dari kredit program pemerintah dan 21. menyebabkan terjadinya tumpang tidih penggunaan dan sasaran kredit di tingkat peminjam. Sedangkan dari aspek pendekatan program 41. dan sisanya 16. Dalam hal pola pelaksanaan perkreditan terlihat bahwa: a) Prosedur dan persyaratan cenderung didasarkan pada kepentingan sektoral dan keamanan kredit. atau tidak sesuai dengan peruntukannya. 6. 28. Banyaknya dana yang disalurkan di Pulau Jawa dilakukan berdasarkan pertimbangan jumlah orang yang berhak menerima. Dari 214 jenis program perkreditan yang dapat diinventarisir diketahui bahwa 47. 5. sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk.

75%) adalah mereka yang berpengalaman lebih dari 5 tahun. Dalam hal keperluan kelembagaan perguliran. Selain itu tujuan penggunaannya yang sebagian besar bersifat sektoral. dan pestisida serta untuk pedagang kecil. d) Kondisi internal pengusaha mikro yang sangat lemah serta belum siapnya lembaga perguliran dana. yang paling sedikit Rp. 6. Sebagian dari yang tidak menggunakan perguliran adalah yang berupa hibah untuk masyarakat. Sedangkan dari aspek omset yang diperoleh per tahun rata-rata Rp 37.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) 9. sedangkan yang menilai ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit ada sebanyak 28. Sebagian besar (56. sebagian besar (87.52% responden menilai kredit program tepat sasaran dan hanya 54. c) Adanya unsur-unsur yang tidak berkaitan dengan tujuan pemberdayan UMKM serta. Sedangkan yang tidak tepat waktu penyalurannya adalah kredit yang diberikan dalam bentuk natural seperti pupuk benih.81 juta per tahun. dan pola pelaksanaan yang ada. 12.21% menyatakan tidak tahu. sebagian besar (63.40%) responden menyatakan perlu adanya kelembagaan tersebut (organisasi dan ketentuan-ketentuannya).85 % dari mereka tidak mengetahui adanya Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Sebagian besar (90. Dalam hal ketepatan sasaran.23% yang menggunakan model perguliran.11 tahun atau setingkat dengan SLP.92% dan sisanya sebanyak 14. 11.23 juta dan yang terbesar Rp.2 juta dengan laba rata-rata sebesar Rp 11. Kondisi internal pengusaha mikro didominasi oleh meraka yang memiliki aset terbatas yaitu rata-rata Rp. 13. ratarata responden berpendidikan formal 8. 10. 32.1 juta.77%) kredit program dilaksanakan dengan tidak meng-gunakan model perguliran dan hanya 9. 79. 0.87%) responden menilai tidak ada unsur lain yang menentukan penjatahan kredit. Dari aspek pengalaman.65% kredit tersebut tepat waktu penyalurannya.60%).25%) peminjam adalah mereka yang berpengalaman dibidang usahanya kurang dari lima tahun dan sisanya (36. 85 . ternyata tidak sesuai dengan karakteristik UMKM. Dalam hal tingkat pendidikan. Sebagian kredit yang tidak tepat sasaran adalah yang diberikan kepada kelompok orang miskin sebagai bantuan sosial.51 juta. maupun untuk lembaga penyelenggaranya. tetapi 96. b) Rendahnya kontribusi kredit program tersebut disebabkan karena tidak semua program diberikan dalam bentuk kredit (pinjaman yang harus dikembalikan). Kesimpulan 1) Dari temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa: a) Kontribusi kredit program terhadap permodalan usaha mikro relatif masih sangat sedikit (11.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 Tentang Perkoperasian.AGUSTUS 2009 : 62-87 2) Peranan sumber-sumber perkreditan non formal masih cukup besar. c) Kondisi lingkungan sosial budaya memungkinkan para pemilik modal dan pelepas uang membangun sistem hubungan Patron –Client. Anonim. Saran 1) Perlu dilakukan perubahan orientasi kredit program yang semula untuk kepentingan pembangunan sektoral diarahkan kepada pemberdayaan UMKM. Anonim. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Anonim. Ditjen Bina Lembaga Koperasi. Jakarta. (2003). Jakarta. Jakarta.JURNAL VOLUME 4 . Strategi Pengembangan Iklim Usaha dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah di Daerah. 3) Membangun sistem kelembagaan yang komprehensif memperkecil dalam hal jumlah instansi yang terlibat dan jenis kredit program yang disalurkan sehingga koordinasi menjadi mudah dan dana pemerintah tidak berserakan di mana-mana. Departemen Koperasi. (2003). b) Para pemilik modal dan pelepas uang mampu memberikan pinjaman lepada pengusaha mikro dalam waktu singkat. 1���. (2002). Kementerian Negara KUKM. Study Report. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Small and Medium Entreprise Development. 86 . (1999). 2) Perlu adanya pola pelaksanaan program dengan karakter UMKM khususnya pengusaha mikro. Jakarta. Vol 7 nomor 1. Supported by The Asia Foundation. Petunjuk Teknis Tentang Modal Awal dan Padanan. Anonim. Jakarta. (1995). Anonim. (1992). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Jurnal Ekonomi UNTAR. The Asia Foundation. 14. pengembangan kelembagaan dan kelompok. Jakarta. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Besarnya permintaan kredit dari kalangan pengusaha mikro karena tidak tercover oleh lembaga-lembaga perkreditan formal. Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises.

BPS-2006. The Entreprise Culture and Education. 87 . Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta.. 19 Oktober (tidak dipublikasi). (2007). Annual Report Bank Indonesia 2006. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. ----------. Lucky. Project Report. Nasution Muslimin.Kajian Kontribusi Kredit Bantuan Perkuatan Dalam Mendukung Permodalan UMKM (Teuku Syarief & Etty Budhiningsih) Anonim. Departemen Koperasi dan PPK. 2002. Jakarta. (2006). Paper Staff. (2002). Apakah Usaha Menengah Mengalami Stagnasi. Gibb. Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) UKM. Anonim. (2002). Badan Litbang Koperasi dan PK. John Willey & Son. Tambunan Mangara. Singapore. 2nd ed. Lembaga Perkreditan Pedesaan. Entrepreneurship & Small Business Problem Solving. Anonim. Allan A. Anonim. Penelitian Lembaga Kredit Pedesaan di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Kajian pemanfaatan Bantuan Perkuatan. Asian Development Bank. Mid Term Action Plan for SME Development : Strategy and Recommendations. Informasi Tentang Kredit Usaha Mikro dan Kecil dari Dana SUP005. Deputi Bidang Pembiayaan. ADB MSE Development Technical Assistant. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian IPB. Deputi Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi. Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah: Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pasca Krisis Ekonomi. F. Jakarta. Center for Economic and Social Studies (CESS). Tambunan Mangara. Jakarta. (1993). Bank Indonesia Jakarta. (1991). Indonesia. (2006). Jakarta. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. (2002). (2006). Sondagh.

sudah barang tentu koperasi pasar akan semakin jauh dari akses-akses usaha yang diperlukan anggota karena tidak dapat memberikan pelayanan yang efektif kepada anggota sehingga koperasi tidak mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis. berdampak pada koperasi yang bergerak dibidang perdagangan khususnya koperasi pengelola pasar tradisional harus menyesuaikan diri agar selalu bisa eksis untuk memberikan pelayanan kepada anggotanya para pedagang. *) 88 . Revolving fund for traditional market development through cooperative is government fund derives for state budget of The State Ministry of Cooperatives and SMEs which was distributed to cooperative to develop traditional market by cooperative and from then on lend it to the members unders revolving fund scheme among cooperatives. managemen. Pendahuluan Pesatnya perkembangan pembangunan sarana pemasaran yang dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha perdagangan lainnya seperti supermaket.JURNAL VOLUME 4 . dana bergulir. Apabila hal ini tidak dilakukan. review akhir �� �uli 200� **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. This feature refers to the definite of right and obligation regulated by the law. kelembagaan. b) Intellectual property rights. Koperasi. The other characteristic is c) Representation regulation which can make sure who is entitle towards something in every process of decision making. juga diikuti dengan perkembangan usaha ritel dan pedagang eceran dalam bentuk Indomart atau Alfamart dan sejenisnya. Kajian yang dilaksanakan oleh penulis tahun 200��. pasar tradisional I. swalayan dan bentuk-bentuk perkulakan lainnya yang sudah merambah ke daerah pemukiman dan pedesaan. Artikel diterima 5 April 200�. Institutional has characteristic among others are: a) Yurisdiction border which determine who and what is encompassed in the system and related to authority limit and power.d.AGUSTUS 2009 : 88-115 KAJIAN PENATAAN KELEMBAGAAN KOPERASI PENERIMA BANTUAN DANA BERGULIR PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL*) Saudin Sijabat**) Abstract Institution is ”an organizational system which can control on resources”. 8 �uni 200�. Clarification of intellectual property right in the institution is as strength resource of development participant in developing access and control on the traffic and allocation of resources. peer review 22 April s. custom/tradition and / or consensus. mall.

Dengan demikian koperasi pasar yang memperoleh bantuan dana bergulir untuk membangun pasar tradisional akan melakukan kegiatan usaha dan organisasinya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan para anggotanya. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap maju mundurnya suatu koperasi. menunjukkan bahwa kebanyakan kegagalan suatu organisasi koperasi disebabkan oleh masalahmasalah yang bersumber dari dalam koperasi (internal). Pengaruh dari dalam yang paling dominan mempengaruhi maju mundurnya koperasi adalah dukungan partisipasi aktif dari anggotanya. Dari beberapa uraian di atas. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui program pemasaran dan jaringan usaha melaksanakan program penyaluran bantuan dana bergulir untuk meningkatkan kelayakan sarana dan prasarana usaha pasar tradisional melalui koperasi pasar yang sudah ada. akan sesuai dengan perubahan lingkungan untuk mewujudkan perilaku yang responsif dan inovatif dari para anggotanya. Berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah melalui program Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. organisasi maupun usaha. akan merugikan para pedagang. Sekalipun demikian. Bercermin atas keadaan sebagaimana diuraikan di atas. baik secara finansial. Sesuai karakteristik pokok organisasi koperasi aktivitasnya mempadukan dua kepentingan secara bersama-sama. Dukungan partisipasi anggota koperasi pasar (sebagai pedagang). diharapkan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional oleh koperasi pasar. memelihara organisasi serta menggunakan kegiatan usaha koperasi. yaitu kepentingan bisnis (bisnis entity) dan kepentingan sosial (social entity). maknanya sesuai dengan penjelasan pasal 17 (ayat 1) Undang-Undang Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992. harus tercermin dalam bentuk konstribusi dalam menetapkan tujuan dan sasaran usaha. dan hanya sebagian kecil penyebab kemunduran koperasi yang bersumber dari pengaruh luar (eksternal). Partisipasi anggota. tanpa keterlibatan para pengguna pasar itu sendiri. Dengan tercapainya kedua kepentingan tersebut yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan harus selalu dipelihara. melalui penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir untuk pembangunan pasar 89 . maka koperasi dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bukan anggota sesuai dengan sifat kegiatan usahanya. Dalam penjelasan disebutkan bahwa sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi. Hal ini dimaksudkan selain untuk menarik yang bukan anggota menjadi anggota koperasi juga untuk memperluas skala usaha koperasi dan memperluas pangsa pasar yang dimiliki. anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi. diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan dalam meletakkan fondasi bagi bangun struktur organisasi koperasi sebagai milik bersama. sepanjang tidak merugikan kepentingan anggota dan lembaga koperasi.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Disadari bahwa swadana pembangunan dan pengelolaan pasar oleh pemerintah setempat atau lembaga lainnya melalui fasilitas-fasilitas tertentu.

4). belum menjamin kelangsungan koperasi untuk memenuhi harapan di atas. juga agar koperasi memiliki daya tahan dan daya saing untuk melakukan aktivitas. Oleh karenanya selain pemanfaatan fasilitas tersebut.AGUSTUS 2009 : 88-115 tradisional. Penyempurnaan konsep final hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. 2). sehingga partisipasi anggota koperasi tidak hanya pada aktivitas usaha saja. 3). 6). 90 . Melakukan pengumpulan data dan informasi lapang. Menyiapkan panduan dan kuesioner pengumpulan data dari pengurus koperasi. Merumuskan indikator kajian penetaan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. 4).2 Sasaran Sasaran kajian adalah: 1). Memilih lokasi pelaksanaan survey terhadap pembina koperasi propinsi.1 Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Terwujudnya peningkatan kinerja koperasi pasar sehingga pengelola pasar tradisional semakin baik dalam memberikan pelayanan kepada anggota dan UKM yang berusaha dalam pasar tradisional dimaksud. maka penulis melakukan Kajian pada tahun 2007 mengenai Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan dana bergulir pengembangan Pasar Tradisional.3 Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan adalah penataan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Terwujudnya peningkatan peran serta anggota koperasi dan UKM secara aktif dalam membangun kemandirian koperasi yang tangguh secara berkelanjutan. terutama menjalankan usahanya dalam memberikan pelayanan terhadap anggota. 1. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1). untuk mengelola pasar tradisional. Melakukan pembahasan konsep kajian untuk penataan kelembagaan koperasi pengelola pasar tradisional. Untuk mendukung program yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. kabupaten/kota. 1.JURNAL VOLUME 4 . 3). 1. Terwujudnya peningkatan nilai manfaat dan nilai tambah bagi anggota koperasi dan UKM melalui peningkatan aktivitas usaha dan organisasi koperasi secara terbuka dan demokratif. 2). lembaga koperasi harus memiliki kelembagaan yang baik. dan pengurus koperasi. usaha yang sehat dan pengurus yang memiliki dedikasi yang tinggi. tetapi juga dalam aktivitas managemen koperasi. sehingga koperasi pasar tradisional selain mampu melakukan program dengan baik. 5). Terwujudnya Lembaga Koperasi Pasar yang baik.

f). d). Dengan model analisis ini. Undang-undang dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan koperasi. 91 . dari sejumlah responden yang memungkinkan dapat mewakili pembina koperasi pengelola pasar tradisional. e).1 Pemahaman Koperasi Koperasi sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang ha atau badan hukum koperasi. Informasi dari instansi terkait dan litetatur yang relevan.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 1. c). Tinjauan Teoritis 2. seperti tertuang dalam UU Republik Indonesia. Perumusan jatidiri koperasi menurut ICA di Manchaster (ICA Cooperative Identity Statement/ICS) tahun 1995. Data dan informasi kelengkapan organisasi dan tatalaksana koperasi. maka kegiatan ini menghimpun beberapa macam data dan informasi. Diskusi ini dilakukan untuk memperoleh data yang representatif. terdiri dari: 1. meliputi: 1. di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupatan/kota. b). dalam melakukan kegiatannya berdasarkan pada prinsip koperasi.4 Metodologi Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah penelitian lapang dengan metode Analisis Deskriptif. Koperasi adalah perkumpulan otonomi dari orangorang yang berhimpun secara sukarela untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi. Data Data dan informasi yang dihimpun digali dari berbagai sumber. Data dan informasi dari pembina koperasi propinsi dan kabupaten/kota. antara lain mencakup: a). adil dan makmur dalam tata perekonomian nasional. 2. sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan usaha berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju. Data dan informasi dari pengurus koperasi. pembahasan hasil analisa dapat dilakukan secara komprehensif dan selanjutnya menyusun ruang lingkup wilayah dan pendataan. II. Nomor 25 Tahun 1��2. Wilayah Kajian Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar analisis dilakukan diskusi dengan pembina koperasi. Tentang Perkoperasian. Informasi pengawasan anggota dalam RAT. Definisi Koperasi. Jenis dan Sumber Data Sesuai dengan lingkup kajian dan tujuan yang ingin dicapai. pendekatan partisipatif.

3. f). 3). 3. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. perusahaan koperasi diukur dari kemampuannya memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangga para anggotanya. c). 2). b). Muenker menyatakan adanya ciri-ciri khusus koperasi sebagai organisasi usaha. Nilai-nilai. bila dibandingkan dengan prinsip koperasi yang berlaku secara internasional berdasarkan rumusan kongres ICA di Manchaster 1995. 7). persamaan. 2. Ciri-ciri koperasi Indonesia secara umum dituangkan dalam pasal 2. keterbukaan. 2. Perbedaan itu antara lain: a. Kemandrian. 4). e).2 Ciri-ciri Koperasi Indonesia Indonesia termasuk salah satu negara yang menerbitkan perundang-undangan yang khusus mengatur koperasi. Pendidikan. agar anggotanya meraih keuntungan yang lebih baik. Pengendalian oleh anggota secara demokratis. kejujuran. Keanggotaan sukarela dan Keanggotaan sukarela dan terbuka. tanggung jawab sendiri. Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa masing-masing anggota. Kerjasama diantara koperasi. demokratis. yaitu: 1). pada dasarnya hampir sama (identik) walaupun dalam penerapannya terdapat perbedaan tetapi tidak signifikan. Hans H. pelatihan dan informasi. b. Otonomi dan kebebasan. g). Prinsip-prinsip (sebagai penjabaran nilai-nilai). yaitu: 1). Pengelolaan dilakukan secara demokratis. Partisipasi ekonomi anggota. tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Koperasi memiliki nilai-nilai menolong diri sendiri. melainkan diberi tugas melayani anggotanya. yang terdiri dari 7 (tujuh) butir yang dituangkan dalam 2 ayat.JURNAL VOLUME 4 . Kepedulian terhadap komunitas. merupakan bentuk perusahaan yang unik berbeda dengan bentuk perusahaan kapitalistik pada umumnya. Keberhasilan perusahaan kapitalistik diukur dari kemampuan meraih laba. Kerjasama antar koperasi. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. Undang-undang ndangan (UU) yang berlaku saat ini adalah UU RI Nomor 25 Tahun 1992. Tentang perkoperasian. prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a). d).AGUSTUS 2009 : 88-115 2. 4. Pendidikan perkoperasian. Ketujuh butir prinsip koperasi Indonesia di atas. 5). 6).3 Ciri-ciri Organisasi Koperasi Koperasi. Adanya orang yang menjalin 92 . dan 5 menetapkan prinsip koperasi Indonesia. Koperasi dibentuk bukan untuk mengejar keuntungan bagi perusahaan koperasi sendiri.

579).Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) hubungan antara sesamanya atas dasar sekurang-kurangnya satu kepentingan ekonomi yang sama. yaitu pelaksanaan proses managemen itu sendiri (Caska 2003. maka pemilik perusahaan kapitalistik tidak identik dengan pelanggannya. dan diawasi secara bersama sama sebagai sarana untuk mencapai sasaran bersama bagi para anggota. Apabila identitas ganda dari anggota koperasi tersebut hilang. melalui usaha-usaha bersama atas dasar swadaya dan saling tolong menolong. pengurus dan 93 . dalam koperasi berlaku prinsip-prinsip: 1). yaitu menunjuk kepada orang/ kelompok orang dan yang kedua pendekatan proses. pertama pendekatan kebudayaaan. Satu anggota satu hak suara tanpa melihat besar kecilnya kontribusi modal masing-masing. Adanya suatu perusahaan yang didirikan. Adanya dorongan (motivasi) untuk mengorganisasikan diri di dalam kelompok dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. 2). (b) Pengurus. 2). sedangkan managemen sebagai fungsi berarti keseluruhan tugas/fungsi yang harus dijalankan dalam rangka menjamin keberhasilan organisasi dalam jangka panjang. maka hilang pula ciri perusahaannya sebagai anggota koperasi. 3). Managemen koperasi bersifat terbuka (tentunya terhadap anggotanya) serta dilengkapi dengan prinsip-prinsip koperasi. 2. The term management refers to the institution and to the function (Helmut Wagner 1994. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi pada koperasi. Managemen sebagai institusi menggambarkan orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas organisasi. Ketiganya dalam organisasi koperasi memiliki tugas mengembangkan kerjasama sehingga membentuk suatu kelompok pengelola. Untuk menjalankan fungsifungsi dari perangkat organisasi koperasi (rapat anggota. Status khusus tersebut merupakan identitas koperasi dimana anggota memiliki identitas ganda atau prinsip ganda anggota (dual identity). berarti managemen koperasi merupakan serangkaian kegiatan yang teratur. (c) Pengawas. pengorganisasian pelaksanaan dan pengendalian. Sebagai perbandingan. Optimal mengandung maksud bahwa sumber daya koperasi dikelola secara efisien dan efektif. material dan keuangan koperasi untuk mencapai tujuan koperasi yang ditetapkan. 51). melalui tahap perencanaan. Oleh sebab itu. Menurut UU Nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 21 menyatakan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari (a) Rapat Anggota. Proses.4 Konsep Managemen Koperasi Managemen koperasi adalah proses mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia. yaitu untuk menghasilkan manfaat yang dapat digunakan oleh anggotanya dalam upaya meningkatkan kegiatan ekonominya. 3). Managemen koperasi dapat diartikan dalam dua pendekatan yaitu. dibiayai.

cap ibu jari anggota dan atau tanda tangan anggota. tidak seperti halnya modal dan teknologi (Soetrisno. masih kurang memperhatikan unsur kelembagaan sebagai faktor penting untuk menjamin keberhasilan dan kelangsungan pembangunan. Dengan demikian. mampu mengantisipasi berbagai perubahan sosial. 1989). Ketidakmampuan usaha kecil. koperasi melaksanakan pembukuan/akuntansi koperasi secara tertib lengkap dan akurat sesuai norma pembukuan/akuntasi yang ditentukan. dan koperasi untuk mengikuti gerak pembangunan ekonomi terutama disebabkan adanya kelemahan akses mereka di bidang permodalan. Buku Agenda. nama lengkap. Instansi Terkait. organizing. Hal ini karena kita masih kurang menyadari. Pengawas.AGUSTUS 2009 : 88-115 pengawas). menengah.5 Konsepsi Penataan Kelembagaan Program bantuan perkuatan yang disalurkan Kementerian Negara Koperasi dan UKM selama ini. industri kerajinan. leading. Manajer dan Karyawan. bisnis ritel karena sifatnya yang padat karya dan lingkup usahanya yang relatif luas. umur. 94 . penataan kelembagaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mengembangkan usaha. Dalam penyelenggaraan administrasi usaha dan keuangan. controling. Misalnya menurut Griffin (1990. secara bertahap dan harmonis harus dilakukan berdasarkan koordinasi fungsi managemen.JURNAL VOLUME 4 . Dalam penyelenggaraan administrasi organisasi koperasi. and decisison making. Pengurus. dan sekaligus mampu menyerap berbagai masukan yang diperlukan bagi pertumbuhan lembaga yang bersangkutan. mata pencaharian. Kelembagaan merupakan unsur esensial yang tidak bisa dijiplak mentah-mentah atau dipinjam dari luar. ada 16 (enam belas) buku yang dianjurkan untuk dimiliki oleh koperasi yaitu: Buku Daftar: Anggota. teknologi. 8) menyebutkan bahwa fungsi managemen meliputi planning. bahwa kelembagaan adalah faktor strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi terutama di sektor pertanian. dan pasar. Banyak pakar berpendapat bahwa fungsi managemen sangat bervariasi. Buku Simpanan Anggota dan Buku Inventaris. Selain itu juga harus ada buku-buku antara lain: Keputusan Rapat Anggota. tanggal masuk menjadi anggota. Oleh sebab itu. Notulen Rapat Pengurus dan Rapat Pengawas. Buku Catatan Kejadian Penting. alamat. Saran/Anjuran Pejabat. pengembangan kelembagaan pada hakikatnya ditujukan agar dapat mendukung kemampuan pengusaha kecil dan koperasi melalui: 1). informasi. Buku Saran Anggota dan Saran Pengawas. jenis kelamin. Buku Daftar Anggota memuat nomor urut anggota. Pertumbuhan kelembagaan harus diarahkan agar dapat mengimbangi gejolak. khususnya pemberdayaan UMKM. 2. dalam bidang ekonomi. yang relatif belum berkembang. Buku Tamu.

Pengembangan potensi SDM. Dalam hal ini. Pembenahan masalah sindikasi perdagangan nasional dan internasional yang memungkinkan para pengusaha kecil dan koperasi dapat eksis di dalamnya. mungkin perlu diperhatikan pendapat Pakpahan (1990) yang memberikan batasan bahwa kelembagaan adalah ”suatu sistem organisasi yang dapat mengontrol sumber daya”. kelembagaan mempunyai karakteristik antara lain. Banyak masalah pembangunan ekonorni muncul karena terkait dengan batas jurisdiksi. dalam jangka waktu pendek untuk mencapai sasaran antara. a) Batas juridiksi yang menentukan siapa dan apa yang tercakup dalam sistem serta menyangkut batas otoritas dan kekuasaan. Kecenderungan penerapan model indikatif pada umumnya akan lebih diwarnai oleh peningkatan produksi dan rata-rata pendapatan. Tertinggalnya faktor kelembagaan dibandingkan dengan laju perubahan teknologi sedikit banyak ditentukan oleh model perencanaan.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Penciptaan iklim usaha berpihak kepada mereka yang merupakan bagian terbesar dari ekonomi rakyat. Pentingnya kelembagaan dianggap sebagai faktor endogen dalam pembangunan tidak diragukan lagi. supaya peluang koperasi menjadi lembaga penyangga pemberdayaan usaha para pengusaha kecil. karenanya tidak dimasukan sebagai faktor strategis dalam kalkulus perencanaan. Demikian juga dalam perencanaan indikatif kelembagaan sering dilihat sebagai faktor eksogen. Pembenahan kondisi struktural agar lebih kondusif bagi pengembangan para pengusaha kecil dan koperasi. Ciri ini mengacu pada kepastian masalah hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum. adat. Seperti telah diuraikan dimuka. material. Namun bagaimana pendefinisian kelembagaan itu secara tegas masih sukar dan kompleks karena sangat ditentukan oleh asumsi dan pendekatan yang digunakan. b) Hak-hak properti. tidak selalu sinkron dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. peran kelembagaan harus diperhitungkan sebagai faktor endogen. dan atau konsensus. secara positif dan normatif menjadi sangat besar. 2). Model perencanaan indikatif yang mengandalkan prestasi sektoral sebagai performa pembangunan ekonomi. sehingga fungsi institusi sebagai pengatur alokasi sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan mengalami kegagalan dan dapat menimbulkan kesenjangan. Dalam kondisi ekonomi yang diwarnai kesenjangan. 4). modal serta institusi dari para pengusaha kecil dan koperasi. Akibatnya pembangunan kelembagaan jadi tertinggal. Pernantapan peran koperasi untuk mampu menjadi lembaga alternatif bagi pengembangan kemampuan para pengusaha kecil. Kejelasan hak properti dalam kelembagaan 95 . 3). 5). Untuk itu perlu disepakati terlebih dahulu bahwa karakteristik yang tercakup dalam kelembagaan adalah mengacu pada optimalitas pengalokasian sumber daya dan pendistribusian hasil-hasil pembangunan.

dan kebijakan pembangunan serta lainya yang dianggap penting. Refleksi kelembagaan dengan sendirinya sangat luas dan beragam. Dari uraian di atas dapatlah kita nyatakan bahwa kelembagaan itu sangat berdimensi normatif di samping dimensi positif. Pasar Sebagai calon penerima perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Pasar tradisional yang sedang atau akan dikembangkan diprakarsai oleh koperasi atau prakarsa Pemda dengan 96 .1 Persyaratan Pasar Tradisional. mencakup nilai (baik buruknya dan benar salahnya). III. Hal ini dapat dikategorikan pada perangkat lunak dan keras. tetapi bukan berarti dibangunnya berbagai organisasi/lembaga di perdesaan dapat menjawab masalah kelembagaan.JURNAL VOLUME 4 . Akibatnya mereka banyak menemui kesulitan untuk melibatkan diri ke dalam sistem kelembagaan ekonomi masyarakat sehingga mereka terlepas dari jangkauan atau jaringan fasilitas dan kebijaksanaan pemerintah yang sebenarnya tertuju kepada mereka. peraturan perundang-undangan. Umumnya mereka tidak terorganisir dan kalaupun mereka membentuk sindikasi. pranata sosial (sosial budaya). Selarna ketiga karakterisitik di atas belum menjiwai lembaga yang dibentuk maka kelembagaan dimaksud tidak akan efektif terutama dalam fungsinya sebagai unsur pengatur alokasi sumber daya dan pemerataan hasil pembangunan. organisasi yang terbentuk bukan merupakan suatu sistem yang utuh sehingga tidak memiliki kriteria sebagai kelembagaan yang tangguh. Koperasi dan Pedagang Calon Penerima Bantuan Dana Bergulir 1.AGUSTUS 2009 : 88-115 adalah sebagai sumber kekuatan partisipan pembangunan dalam mengembangkan akses dan pengontrolan lalu lintas dan alokasi sumber daya. Dalam struktur dunia usaha yang sangat dinamis tidak memungkinkan kelompok pengusaha kecil untuk secara sendiri-sendiri mampu tumbuh dan berkembang. Karakteristik lainnya adalah. c) Aturan reprensentasi yang dapat memastikan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam setiap proses pengambilan keputusan. Termasuk di dalam analisis kelembagaan adalah bentuk-bentuk organisasi (badan hukum). Kebijakan Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Melalui Koperasi 3.

Pasar tradisional yang akan dikembangkan harus didukung oleh Pemda setempat. Bersedia dan mampu berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan. d. 2. pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan pasar tradisional serta pengembalian dana bergulir secara tepat jumlah dan waktu. Telah berbadan hukum paling sedikit 1 (satu) tahun dan berkedudukan serta berusaha di wilayah pasar tradisional yang akan dikembangkan. 97 . Pasar tradisional yang akan dikembangkan memliki pola kepemilikan atau pemanfaatan kios dan los yang memberikan kepastian tempat berusaha bagi pedagang dalam jangka panjang. Bersedia dan mampu mengelola dana bergulir pengembangan pasar tradisional sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan dibuktikan dengan surat pernyataan serta rekomendasi dari dinas. d. h. sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Pedoman Teknis.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) melibatkan koperasi. Koperasi Persyaratan koperasi penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Mendapat persetujuan dari anggota/pedagang untuk melaksanakan program pengembangan yang dibuktikan dengan berita acara Rapat Anggota atau surat pernyataan. penentuan harga. b. penempatan pedagang maupun pengelolaan. c. Bersedia memenuhi kewajiban pelaporan secara berkala sesuai format yang ditentukan . managemen dan usaha koperasi dalam kondisi sehat yang dibuktikan dengan pernyataan hasil penilaian dari Dinas. baik dalam perencanaan. c. g. Mempunyai anggota sebagai pedagang minimal 30 orang. f. Organisasi. b. Belum pernah mendapat bantuan dana bergulir serupa. dan pedagang yang siap menempati kios atau los segera setelah selesai dikembangkan. e. Pasar tradisional yang akan dikembangkan memiliki jumlah pedagang anggota koperasi paling sedikit 30 (tiga puluh) orang.

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

3.

Anggota Koperasi/Pedagang Kriteria anggota koperasi/pedagang penerima bantuan perkuatan dana bergulir adalah: a. b. c. d. Terdaftar sebagai kewajiban. anggota koperasi, telah memenuhi

Berdomisili dan bertempat tinggal di wilayah kerja koperasi Sanggup dan bersedia mentaati peraturan dan memnuhi persyaratan yang ditetapkan oleh koperasi. Tidak memiliki tunggakan pinjaman pada bank atau lembaga lain.

3.2

Penetapan, pencairan, pemanfaatan dan pengembalian bantuan dana bergulir 1. Penetapan Koperasi Penetapan koperasi calon penerima dana bergulir dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Keuangan kabupaten/kota melalui tahapan sebagai berikut: a. Menerima permohonan dari koperasi calon penerima dana bergulir yang dilampiri dengan identitas diri Pengurus berupa KTP, bukti keanggotaan pada Koperasi dan Berita Acara Pemilihan Pengurus yang diketahui lurah setempat. b. Mengadakan penelitan dan peniliain terhadap pemenuhan persyaratan Koperasi penerima. c. Mengumumkan hasil penelitian dan penilain koperasi calon penerima pada papan Pengumuman di kantor kecamatan tempat kedudukan Koperasi dan pada dinas/instansi kabupaten/kota setempat. d. Menetapkan calon koperasi yang akan disusulkan kepada Menteri paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal pengumuman dengan Surat Keputusan Kepala Dinas yang membidangi pengembangan koperasi dilampiri berita acara hasil penilaian yang ditandatangani paling sedikti oleh 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah anggota Pokja. e. Menyampaikan hasil seleksi calon koperasi penerima dana bergulir Pokja Keuangan Propinsi untuk diteruskan kepada Pokja Keauangan Pusat dan Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha.

98

Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat)

2.

Tatacara pencairan bantuan Tata cara pencairan bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan dana bergulir pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Menteri menetapkan koperasi penerima bantuan perkuatan dengan memperhatikan usulan koperasi yang disampaikan oleh bupati/walikota setempat. b. Melalui Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Menteri menyampaikan pemberitahuan penetapan sebagaimana dimaksud huruf a kepada koperasi yang bersangkutan melalui Pokja Keuangan kabupaten/kota. c. Koperasi penerima bantuan perkuatan yang telah ditetapkan Menteri, mengajukan permohonan pencairan dan rencana penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir kepada Menteri atau Pokja Keuangan kabupaten/kota atau dinas secara bertingkat. d. Ketua dan bendahara koperasi penerima dana bergulir membuka nomor rekening tabungan di kantor cabang bank terdekat atas nama koperasi yang berfungsi sebagai rekening penampungan koperasi. e. Menteri meneliti kelengkapan permohonan koperasi penerima bantuan perkuatan dan selanjutnya diajukan ke KPKN-I untuk mentransfer dana bantuan perkuatan tersebut ke rekening penampungan masing-masing koperasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam Bidang Keuangan Negara.

3.

Penggunaan Tata cara penggunaan bantuan perkuatan dana bergulir untuk pengembangan pasar tradisional adalah sebagai berikut: a. Dana bergulir digunakan oleh koperasi penerima untuk kegiatan sebagai berikut: 1). Pembangunan kios atau los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional; 2). Renovasi kios dan los bagi pedagang anggotanya pada pasar tradisional. b. Penggunaan dana dari rekening penampungan koperasi dilaksanakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dituangkan dalam proposal yang diajukan. c. Jasa yang timbul pada rekening penampungan koperasi sebelum digunakan wajib terlebih dahulu dipindahbukukan oleh koperasi ke rekening perguliran koperasi.

99

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 88-115

4.

Penyaluran Tata cara penyaluran dana bergulir dari koperasi kepada anggotanya adalah sebagai berikut: a. Pedagang anggota koperasi mengajukan permohonan pinjaman untuk pembangunan atau renovasi kios atau los kepada koperasi. Pedagang anggota yang memenuhi syarat ketentuan koperasi membuat perjanjian kredit dengan koperasi untuk menentukan jumlah pinjaman, jangka waktu pengembalian dan besarnya jasa pinjaman. Atas dasar permohonan anggotanya, koperasi melaksanakan kegiatan pembangunan atau renovasi pasar tradisional baik dilaksankan sendiri oleh koperasi meupun kerjasama dengan pihak ketiga. Setelah pembangunan atau renovasi pasar selesai, koperasi melaksanakan serah terima kios atau los dengan anggota sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara anggota dan koperasi sebagimana dimaksud butir b).

b.

c.

d.

5.

Pengembalian. Tata cara pengambilan dana bergulir adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Jangka waktu pengembalian dana bergulir koperasi adalah 8 (delapan) tahun. Terhadap dana bergulir sebagaiman huruf a diberlakukan grace period selam 1 (satu) tahun. Koperasi melakukan penagihan pada menyetorkannya kepada Bank setiap bulan. anggota dan

Koperasi mebukukan secara terpisah antara pengembalian dana bergulir dan jasa operasional dari anggota Pengembalian dana bergulir dari anggota disetorkan pada rekening perguliran koperasi, sedangkan jasa/bunga dari anggota disetorkan pada rekening jasa koperasi. Bunga yang timbul pada rekening perguliran koperasi sebelum digulirkan kembali diakumulasikan pada rekening perguliran koperasi. Dana pada rekening perguliran koperasi hanya dapat dicairkan untuk keperluan perguliran kepada koperasi lain dengan ketetapan Menteri.

f.

g.

100

Dana bergulir pada program ini khusus untuk keperluan pengembangan pasar tradisional oleh koperasi. 7. Jangka waktu pengembalian pinjaman dari anggota selamalamanya 8 (delapan) tahun. b. Tata cara Penetapan dan Pemanfaatan Jasa atas pinjaman diatur sebagai berikut: a. Anggota menyetor angsuran pokok dan jasa kepada koperasi melalui unit simpan pinjam koperasi. 8. Tata cara Perguliran Dana adalah sebagai berikut: a.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 6. Alokasi pemanfaatan jasa/bunga sebagaimana dimaksud huruf a) diatur sesuai dengan ketentuan di Juknis. c. Penetapan dan pemanfaatan jasa. 101 . Koperasi penerima dana bergulir dikenakan jasa atau bunga menurun sebesar 12% per tahun efektif dari sisa pokok. b. e. Perguliran Dana. d. Pemanfaatan jasa untuk biaya monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud huruf b). ditetapkan berdasarkan persetujuan Menteri. c. Pengembalian Dana Bergulir dari Anggota Tata cara pengembalian dana bergulir dari anggota kepada koperasi penerima dana bergulir adalah sebagai berikut: a. g. Dalam hal anggota membayar uang muka atau DP (down payment) maka besarnya total pokok pinjaman berkurang sebesar uang muka yang dibayarkan. Jasa dibayar anggota sejak serah terima kios atau los. Besarnya jasa yang harus dibayarkan anggota setiap bulan adalah 1% dikali sisa pokok pinjaman. Pengembalian pokok pinjaman dimulai setelah berakhir masa grace period yaitu bulan ke-13 setelah serah terima kios atau los. Besarnya pokok angsuran per bulan setiap anggota adalah: jumlah total dibagi jumlah bulan angsuran. f.

Proses perguliran dari satu koperasi kepada koperasi lainnya ditetapkan oleh menteri atas usulan dari bupati/walikota. Dana pada rekening perguliran koperasi penerima dana hanya dapat dicairkan khusus untuk keperluan perguliran kepada koperasi penerima dana berikutnya dengan ketetapan menteri. Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa jalan masuk ke pasar hanya satu jalan. 102 . namun demikian pasar yang sudah dibangun dengan anggaran APBN tahun 2003 sebesar 1. dan kios dan los yang dibangun sudah terbengkalai selama 2 tahun lebih. Propinsi Nangro Aceh Darussalam. 4. berada di Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu koperasi pasar yang berkesempatan untuk mengelola bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. dan belum ada kepastian kapan akan dibuka pasar tersebut.1 Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional Dari data sekunder yang diperoleh dari Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha.AGUSTUS 2009 : 88-115 b. Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah melakukan pengembangan pasar tradisional di 5 (lima) propinsi dan 7 (tujuh) kabupaten/kota serta jumlah koperasi sebanyak 9 (sembilan) koperasi pasar. IV. Evaluasi Terhadap Kelembagaan Koperasi Pasar Penerima Program Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional 4. Data hasil kunjungan kepada koperasi pasar penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. e.2 Keragaan Kelembagaan Koperasi Pasar 1.125 miliar. dengan jumlah dana yang telah direalisasikan sebesar Rp 34.5 milyar belum disalurkan kepada anggota. dapat disampaikan seperti pada tabel 1. Proses pemindahbukuan dari rekening perguliran koperasi penerima dana kepada rekening penampungan koperasi penerima berikutnya dilakukan oleh koperasi dengan persetujuan atau contra sign dari bupati/walikota. d. c.JURNAL VOLUME 4 . Perguliran antar koperasi dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus menunggu seluruh dana dikembalikan. Kabupaten Gayo Lues di Koperasi Pasar Pelita Karya Koperasi Pasar Pelita Karya ini. sementara Pemda mengharapkan adanya dua (2) jalan tembus menuju pasar.

Kop.- Ket 2 Sumatera Selatan 3 4 5 NAD Bengkulu Jawa Tengah Dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) kepada koperasi dalam pengembangan pasar tradisional berupa bantuan los dan kios.000.2005 Tradisional dari Tahun 2003. 000) 982.000.750.000.000.Koppas Saka Selabung. Tanete Ps. Kr. Kabupaten Kebumen Lokasi Pasar Ps. Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional dari Tahun 2003. Jakabaring Ps.10. Prembun Thn Bantuan 2003 2005 2005 2005 2003 2004 2004 2003 2003 2003 Jlh Dana (Rp.500. Gw. Centong Blangkerejen Ps.Alang-Alang Lebar Ps. Pompanua Ps.KSU Tunas Baru. Kabupaten Sinjai 2.652. sarana mushola dan MCK.000.KUD Mandiri Puncak.3.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tabel 1.1. Kota Palembang Koperasi Pelita Karya. Tumenggung Ps. Kuwarasan Ps. Kabupasten Bone 1.PKL Bangun Wijaya.7. Gayo Lues Kop.7.000.500.000.000.000. Kutowinarya Ps. Muaradua Ps. BMT Tarbiyah.2.1.000.500. Performance kelembagaan koperasi pasar sangat kurang baik. Kabupaten Bone 4.KUD Telumpoccoe. Walaupun memiliki pengurus yang lengkap dan mempunyai 103  . Kabupaten Bone 3. Kota Bengkulu Koppas Melati. Kabupaten OKU 2. Palatte Ps. Anyar Ps. Kab. dan simpanan wajib anggota tidak lancar penagihannya. sehingga usaha koperasi belum berjalan terutama usaha pertokoan.000. hal ini terlihat dari pelaksanaan RAT dua tahun terakhir tidak dilakukan. demikian pula usaha yang jalan hanya simpan pinjam yang tidak ditunjang dengan sistem administrasi dan pembukuan yang baik. Retno Ps.2005 No  Propinsi Sulawesi Selatan Nama Koperasi Dan Alamat 1. Pagar Dewa Ps.000.KUD Tenri Sangkae. serta pembelian tanah untuk jalan ke lokasi pasar dan tanah pembangunan gedung pasar telah diupayakan oleh Pemda.KUD Waempubbue. Jatisari Ps.750. Adapun kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional adalah pasar belum beroperasi. Kota Palembang 3. karena operasional koperasi belum optimal. Songging Ps.000.

119. berkedudukan di Kota Bengkulu. Kota Bengkulu di Koperasi Pasar Pagar Dewa Koperasi Pasar Pagar Dewa ini.688.. Penyaluran kios sudah dilakukan kepada anggota. 56.AGUSTUS 2009 : 88-115 karyawan sebanyak 3 orang.-. Adapun keragaan koperasi Pasar Pagar Dewa seperti terlihat pada tabel 3. tetapi tidak mendukung jalannya usaha koperasi.28.000. Kondisi koperasi Pasar Pelita Karya lebih rinci dapat terlihat pada tabel 2. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional ini.000. 104 . namur angsuran pengembalian belum berjalan sebagaimana mestinya.000. Propinsi Bengkulu.086.023. Buku-buku organisasi lengkap. demikian pula pengerjaan buku-buku adminstrasi usaha baik dan tertib. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi koperasi sebagai berikut.menjadi Rp. karena penjualan kios dilakukan oleh Dinas Pasar Kota Bengkulu dan hasil penjualan juga belum diserahkan kepada koperasi sebagai pengelola dana bergulir. dengan dana sebesar 3 (tiga) miliar rupiah. dikerjakan dengan baik dan tertib. karena minimnya sarana penunjang pasar seperti sarana transportasi dan lain sebagainya. dan modal sendiri dua tahun terakhir juga meningkat yaitu dari Rp. selama dua tahun tidak ada perubahan jumlah anggota yaitu sebanyak 87 Orang.menjadi Rp. tetapi simpanan pokok dan simpanan sukarela meningkat. kinerjanya cukup baik dilihat dari organisasi dan usaha yang dilaklukan. Propinsi Bengkulu yang mengelola program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisonal pada tahun 2003. 22.000.dan modal luar jangka panjang tetap yaitu sebesar 3 (tiga) miliar rupiah. karena tidak memiliki buku-buku organisasi sebagaimana layaknya koperasi yang ditentukan dalam penetapan koperasi yang boleh dapat bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. Usaha koperasi yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perdagangan. Koperasi ini. pengawas dan karyawan sudah lengkap dan menjalankan tugas dengan baik. tetapi telah melaksanakan RAT tepat waktu pada 2 tahun terakhir.. demikian pula pemanfaatan kios dan los yang dibangun belum maksimal. Dilain pihak modal luar jangka pendek menurun dari Rp. Buku-buku administrasi usaha lengkap.135. adalah kebijakan Pemda kota Bengkulu memfungsikan pasar belum menyentuh apa yang diharapkan oleh koperasi selaku pengelola pasar dan pedagang.JURNAL VOLUME 4 . pengurus. 2. namun terjadi penurunan simpanan wajib anggota..

thn 2005 = 0 jt Thn 2004= 0 jt.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 2. 2004 = 120 Org. tugas dgn baik Ada Ada tidak Ada Tidak Ada Tidak lengkap Kurang Baik Tabelaris Betul Ada. Administrasi Organisasi.Bendel bukti KM-KK . Keragaan Organisasi.Gayo Lues Thn. melaks. Keragaan Organisasi. melaks. kurang lancar Ada.Kab. jt Thn 2004= 2.Buku kas tabelaris . VI VII 105 2 . thn 2005 = 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V.Buku kas harian . jt. tugas dgn baik 3 Org. thn 2005 = 40. jt.Buku-buku besar . Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Tabel 2. Administrasi Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan/Perdagangan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .5 jt. melaks. tugas dgn baik 3 Org. Blangkejeren. jt Thn 2004= 18.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pelita Karya Kec. tidak jalan Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Tidak Ada dan Tidak tertib Thn 2004= 12. thn 2005 = 5. 2005 =216 ORG Thn 2004 dan thn 2005 tdk ada 3 Org. jt Thn 2004= 0 jt.Buku-buku Bantu . Administrasi Organisasi. thn 2005 = 21.

Bukubuku administrasi ada. Buku-buku administrasi lengkap. Sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir walaupun waktunya kurang tepat. dan penambahan anggota dari tahun 2004–2005 meningkat kurang lebih 500 Orang. usahanya pun tidak berjalan dan tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi bagaimana seharusnya. Koperasi Serba Usaha Tunas Baru. dan tertib dilakukan. di Kota Palembang menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2004. Keragaan organisasi dan usaha sebagai berikut.AGUSTUS 2009 : 88-115 3.6 milyar. koperasi memiliki anggota sebanyak 50 orang dan tidak ada penambahan anggota selama dua tahun terahir. Koperasi BMT Tarbiyah.7.JURNAL VOLUME 4 . sudah melaksanakan RAT dua tahun terakhir tepat waktu sesuai ketentuan. Keragaan organisasi dan Usaha koperasi adalah sebagai berikut. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. 7 milyar. namun pengelolaan pasar tradisional belum berjalan seperti yang diharapkan. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar dikelola dan disalurkan lepada anggota dengan tertib. di Kota Palembang. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional pada tahun 2003 dengan anggaran sebesar Rp. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional pada tahun 2004. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. serta belum melaksanakan RAT dua tahun berturut-turut. dengan dana sebesar Rp 10 milyar. Usaha pengelolaan pasar berjalan dengan baik. Propinsi Sumatera Selatan. perkembangan modal dan perolehan SHU cukup baik. 2) 3) 106 . dengan dana sebesar Rp. namun perkembangan anggota tidak ada yaitu 99 Orang. dan dikerjakan cukup tertib. Kabupaten OKU dan Kota Palembang sebanyak tiga ( 3) Koperasi 1) Koperasi Pasar Saka Selabung di Kabupaten OKU. modal dan perolehan SHU meningkat.

thn 2005 = 22. thn 2005 = 1.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) Tabel 3.688 jt. tugas dgn baik 8 Org.Buku-buku besar . 2005 = 87 Org 14-02-2005 dan 13-03-2006 3 Org.9 31jt. tugas dgn baik 3 Org. thn 2005 = 52. melaks. Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi. 2004 =87 Org danThn. thn 2005 = 3 m 2 V VI VII 107 . melaks.Bendel bukti KM-KK .981 jt Thn 2004= 53. jt Thn 2004= 56.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .135 jt Thn 2004= 3 m.5 jt. thn 2005 = 119.086 jt Thn 2004= 28. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Administrasi Manajerial Tertib ada ada II 1 2 3 4 III 1 2 3 IV 1 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Thn 2004= 1. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 Di Propinsi Bengkulu Tahun 2006 NO I 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Usaha Pertokoan Usaha Pengolahan Pasar Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .Buku-buku Bantu .Buku kas tabelaris . thn 2005 = 40. Keragaan Organisasi.698 jt Thn 2004= 18. Administrasi Tabel 3.453 jt.Buku kas harian . Jln Raden Patah Thn.023 jt. AdministrasiI Organisasi. Keragaan Organisasi.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Pagar Dewa. melaks.

AGUSTUS 2009 : 88-115 Dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan usaha koperasi pasar tradisional.melaks./3. tgs dgn baik 3 Org.Bendel bukti KM-KK ./ 0 jt 2004/5= 2.312 jt 2004/5= 3.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi BMT Tarbiah Tlg.Buku kas tabelaris -Buku-buku pendukung Sistem akuntansi ./0. tgs dgn baik 81Org.509 jt 2004/5=72./=7./91.505 jt 2004/5=1./ 0 jt 2004/5=0.350 jt 2004/5=0. Plg Kop. melaks.637. Keragaan Organisasi.825jt.Maraduo 2004/5 = 50 Org/ 50 Org tidak ada data 5 Org.406 M 2004/5= 7. Keragaan Organisasi.123 m 108 .235 jt/19.Buku kas harian .310m./ 4.835jt 2004/5=16. Tabel 4. tgs dgn baik 3 Org. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 4. melaks. tgs dgn baik 3 Org./ = 0 m V 2004/5= 0 jt.902 m.740 jt/ 1.JURNAL VOLUME 4 . Administrasi Usaha dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tabel 4.750 jt 2004/5= 0 jt.823 jt./=29./=2.Buku-buku Bantu .500 jt.249 jt. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris . dan Penyediaan lahan pembangunan pasar. melaks.000 3. tgs dgn baik 3 Org. memberikan akses dan dukungan terhadap sumber pembiayaan melalui perbankan dan non bank.837 m 2004/5=10. melaks. melaks. dan Jumlah transportasi belum memadai.Buku-buku besar .029 jt Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=8. antara lain.680jt. Administrasi Organisasi. Pr SakaSelabung Kec. Plg KSU Tunas Baru Jln HM Ryakudu. / 2.396 jt. dan rencana proposal bantuan dana bergulir./10./110. Penentuan lokasi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) dan pendirian bangunan tidak dikenakan biaya. melaks./ 0 jt 2004/5= 0 jt. Dilain pihak kendala yang dihadapi pengurus untuk pengembangan koperasi pasar.340.207 jt. melaks. / 3. tgs dgn baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap 2004/5 = 99 Org/= 99 Org 2004/5=1541 Org/2052 Org 30-04-2005/29-04-2006 24-08-2005/31-01-2006 5 Org. tgs dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Manual Betul/Tertib Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Tabelaris Tertib 692.607 jt. tgs dgn baik 24Org.185 jt II  2 3 4 III  IV  2 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=2. Administrasi Usaha Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 Tahun 2006 Di Propinsi Sumatera Selatan NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tg jawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Usaha Pengolahan Pasar . yaitu belum berfungsinya operasional pasar secara maksimal.Laba Usaha Peng.dan kantor serta fasilitas umum.750 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 m.500jt.Betutu. Administrasi Organisasi.256 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=2.850 jt 2004/5=4.

pelayanan usaha simpan pinjam yang dilakukan lebih banyak kepada non anggota.Telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. maka KUD ini digolongkan sebagai Koperasi Pasar. dan tidak ada penambahan anggota tetap sebanyak 158 Orang. Bone ada 3 Koperasi Pengelola dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional di propinsi Sulawesi Selatan ada 3 Koperasi Unit Desa (KUD). Bone.5 juta.Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Pedagang sebagai penerima bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang disalurkan oleh KUD tidak seluruhnya anggota koperasi. Propinsi Sulawesi Selatan. namun demikian sampai pada saat dilakukan kunjungan kelokasi. Sudah melakukan RAT pada tahun buku 2 tahun terakhir dengan tepat waktu. KUD Waepubbue. KUD Puncak. namun yang melakukan pengelolaan dengan baik baru satu koperasi yaitu KUD Puncak.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. dengan dana sebesar Rp. namun demikian volume usahanya sangat kecil. 2). Kabupaten Sinjai. Pengelolaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional dikelola dan disalurkan kepada anggota dengan baik dan tertib. namun demikian. Kab. Koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan bukubuku administrasi secara tertib. Usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan perkembangan simpanan anggota tidak ada. pasar dimaksud belum dibangun. Walaupun perolehan sisa hasil usaha meningkat. Sinjai dan Kab. 1). Tidak jelas penyebabnya. Tidak tersedia 109 . Unit usaha yang berjalan adalah unit usaha simpan pinjam dan pertokoan. tetapi perkembangan anggota tidak ada tetap sebanyak 518 Orang. dengan dana sebesar Rp. Kab.750 juta. namun tidak demikian dengan perkembangan simpanan anggota. KUD Tenrisangkae Kab. 3). Usaha yang dilakukan adalah unit usaha simpan pinjam dan usaha pertokoan. menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005. 982. dengan dana sebesar Rp. KUD ini belum melaksanakan RAT pada 2 tahun terakhir. Buku-buku administrasi dan keuangan lengkap dan dikerjakan dengan tertib.750. Kabupaten Sinjai menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003.Juta. Bone menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2005.

Kabupaten Kebumen menerima program bantuan perkuatan dana bergulir pada tahun 2003.JURNAL VOLUME 4 . dengan dana sebesar Rp.dan usaha pasar dengan volumen usahasebesar Rp. pengawas. dan status tanah pengembangan pasar masih mempunyai masalah. Dilain pihak perkembangan modal luar meningkat khususnya modal jangka pendek.2. 529.. Pemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi organisasi lengkap dan tertib dilaksanakan. Koperasi ini salah satu yang dipercayakan sebagai penyalur bantuan perkuatan dana bergulir. Keragaan ketiga koperasi di atas dapat dilihat pada tabel 5.298. telah melaksanakan RAT tepat waktu dua tahun terakhir. walaupun simpanan pokok dan simpanan wajib peningkatan dalam dua tahun terakhir sangat kecil.500 juta. Unit usaha yang dilaksanakan koperasi adalah simpan pinjam dengan volumen usaha sebesar Rp. bahkan simpanan sukarela tidak ada. sedangkan modal jangka panjang tidak ada. Pembagian tugas dan wewenang pengurus. sehingga penagihan cicilan masih belum dilaksanakan terhadap anggota.000. Permasalahan yang dihadapi pengurus koperasi pasar adalah karena belum dikeluarkan petunjuk dari Menteri Negara Koperasi 110 . memiliki pengurus. masyarakat ada yang menuntut hak miliknya. dan pengelolaan program bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional telah dilakukan dengan baik. Perkembangan modal sendiri meningkat melalui pemupukan modal yang bersumber dari anggota. administrasi usaha dilakukan dengan sistim buku kas tabelaris dan sistim akuntansi dan memiliki buku-buku lengkap serta dikerjakan dengan baik. demikian pula rencana kerja. 5.000. Keragaan organisasi dan administrasi organisasi seprti berikut. Kendala yang dihadapi pengurus koperasi untuk pengembangan pasar tradisional. sehingga belum mengetahui mengenai hak dan kewajibannya. 2.625.AGUSTUS 2009 : 88-115 data-data organisasi dan usaha. dan karyawan lengkap serta melaksanakan tugs dengan baik. Propinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen di Koperasi Pasar Melati Koperasi Pasar Melati. pengawas dan karyawan ada. dengan demikian disimpulkan koperasi ini tidak memiliki dan mengerjakan administrasi pembukuan sebagaimana seharusnya. antara lain: status anggota masih lebih banyak calon anggota. adanya pertumbuhan anggota.500.

dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14. jt 2004/5=61. melaks. perihal pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional.529. Sinjai 2004/5 = 518 Org/518 Org 21-03-2005/20-01-2006 3 Org. Tabel.500.Non Anggota . Kab. tugas dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tertib 933.383jt/ =14.Bendel bukti KM-KK .500.812. Bone 2004/5 = 158 Org/158 Org 05-01-2005/18-02-2006 3 Org. melaks.800 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5=5. tugas dgn baik 3 Org.Untuk Anggota .075 jt 2004/5=0. pola RAT yang sudah ada kurang tepat untuk dilaksanakan.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang KUD Puncak.800 6.727 jt 2004/5= 61.Laba Usaha Administrasi Usaha Sistem buku tabelaris . Kab.383. melaks.000 14. jt KUD Waempubbue.000 11.000 Ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5=1.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) dan UKM. melaks.366 36. jt 2004/5=114.000 1.607jt/64.366 363. melaks. Bone 2004/5= tidak ada data tidak ada data 3 Org.000 599. tgs dgn baik Tidak ada data 4 Org.Buku-buku besar . dan pembayaran cicilan kios tidak rutin dilakukan anggota.426 jt/5.000 17.000 Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib Tidak ada dan tidak tertib 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt IV  2 V VI VII  .052.426 jt 2004/5=41.980jt 2004/5= 0 jt / 0 jt 2004/5= 10 0 jt / 100 jt KUD Tentri Sangkae.000 1. Administrasi Organisasi.Laba Usaha Pertokoan . melaks.300.798 jt 2004/5=14.024jt / 50.Buku kas tabelaris -Buku pendukung Sistem akuntansi . tgs dgn baik Lengkap Baik Akuntansi Tidak Tertib 11. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. Administrasi Usaha Tabel.Non Anggota .163. tgs dgn baik 3 Org. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota.Buku kas harian .607jt /61. 980 jt/557.000 570.052.900jt/0. Administrasi Organisasi. 5 Keragaan Organisasi. melaks.607.900 jt 2004/5= 0 jt/ 0 jt 2004/5=557.439. Kab. 5 Keragaan Organisasi.Buku-buku Bantu .Dana Bergulir dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Administrasi Usaha dan Pasar Tradisional Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 II  2 3 4 III  2 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Adminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistim Pembukuan SP Volume Usaha : . melaks.Untuk Anggota . tgs dgn baik Tidak Lengkap Tidak Baik Stndar Akuntansi Tidak Tertib 599. tugas dgn baik 9 Org.750.798 jt/41.515. tgs dgn baik 5 Org.300.075 jt/1.968.

500.116 Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib Ada dan tertib 2004/5= 5.538 jt 2004/5= 183.Laba Usaha Usaha Pertokoan/Perdagangan .Dwi Karsa – Kebumen 2004 = 1002 Org dan 2005 = 1033 Org 16-02-2005 dan 16-02-2006 5 Org. tugas dgn baik Ada Ada Ada Ada Lengkap Baik Betul/Tertib 529.JURNAL VOLUME 4 . tugas dgn baik 7 Org.000 15.Laba Usaha Peng.Laporan Keuangan Simpanan Anggota Simpanan pokok Simpanan wajib Simpanan sukarela Modal Sendiri Modal Luar Jangka Pendek Jangka Panjang Koperasi Pasar Melati Jl.873 jt 2004/5= 0 jt / = 0 jt 2004/5=61. Administrasi Usaha Keragaan Organisasi.dan Permodalan Koperasi Penerima Organisasi.552. AdministrasiI Bantuan Dana Bergulir Usaha Tabel 6.Buku kas tabelaris . Keragaan Organisasi.110jt/ 5.Buku-buku pendukung Sistem akuntansi .260 jt 2004/5= 0 jt / 0 jt II  2 3 4 III  2 3 IV  2 V VI VII 112 .035 jt /195.678 jt/70.Buku kas harian .Buku-buku Bantu . tugas dgn baik 3 Org.625.Laba Usaha Usaha Pengolahan Pasar .505 10. melaks. melaks. AdministrasiI Organisasi.153 jt 2004/5=13.AGUSTUS 2009 : 88-115 Tabel 6.950 2.646.297 jt/15. melaks.227.298. Usaha Administrasi Usaha Sistem buku kas tabelaris .Buku-buku besar .Bendel bukti KM-KK .944 2. Administrasi Pasar Tradisional dan Permodalan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pasar Tradisional Di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 NO I  2 3 4 5 6 7 Keterangan Organisasi Jumlah Anggota Pelaksanaan RAT Jumlah Pengurus Jumlah Pengawas Jumlah Karyawan Pembagian Tugas/ Wewenang/Tanggungjawab Rencana Kerja Pengurus Semseteran Triwulan Bulanan Adiminstrasi Organisasi Buku-buku Organisasi Pengerjaan Adm Sistem Pembukuan Pengerjaan Pembukuan Unit Usaha Simpan Pinjam Volume Usaha : .

6. Melakukan kunjungan ke koperasi yang terdaftar sebagai calon penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional untuk melakukan evaluasi. Kelembagaan Koperasi Pasar Untuk perbaikan pelaksanakan penataan kelembagaan koperasi penerima program bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang akan datang. untuk memperoleh data yang baik. Dalam mengelola administrasi usaha koperasi. dan penyelesaian untuk perbaikan pengelolaan koperasi yang baik dan disertai contoh-contoh konkrit. sesuai kebutuhan. Mengecek kelengkapan buku-buku administrasi koperasi sebagaimana ditetapkan (16 buku) dan menguji ketertiban pelaksanaannya. untuk mengetahui kelengkapan organisasi. penjelasan.3 Langkah-Langkah Penataan Tradisional. pengelola supaya menyelenggarakan pembukuan sesuai standar akuntasi keuangan koperasi yang berlaku. tatalaksana dan administrasi usaha koperasi pasar yang mengajukan permohonan bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. pengelola dan anggota/kader koperasi. apakah sesuai dengan laporan yang disampaikan kepada Tim. Memberikan saran. Mempersiapkan formulir angket isian. 7. pengawas. 3. Mengkroscek keterangan yang disampaikan pengurus. 5. 8.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) 4. terutama menyangkut adminiatrasi keuangan dan usaha koperasi. Memberikan saran-saran pembenahan tata usaha organisasi dan managemen kepada pengurus/pengelola baik kelembagaan maupun usaha koperasi. pengelola dan pengawas dengan keterangan dari anggota tentang kebenaran tertib administrasi dan tertib usaha koperasi. 2. Mengecek kebenaran laporan pengurus/pengelola koperasi tentang pengelolaan organisasi dan usaha yang dilaksanakan. maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. 4. Melakukan sosialisasi penataan kelembagaan koperasi kepada calon penerima bantuan perkuatan dana bergulir pasar tradisional terhadap pengurus. 113 .

Dalam penunjukan/penetapan koperasi pelaksana program. pendidikan dan latihan. juknis yang bermasalah tentang pengunduran diri dari anggota. 6. mengingat dari sampel yang ditinjau diberbagai propinsi. 3. Pelaksanaan RAT pada beberapa koperasi belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. maka dianjurkan koperasi pengelola bantuan dana bergulir pembangunan pasar tradisional agar memiliki buku-buku tersebut di atas. maka dana dimaksud belum dapat dimanfaatkan oleh koperasi sebagaimana mestinya. monitoring dan evaluasi secara reguler oleh pejabat pembina koperasi. agar terlebih dahulu dilakukan penataan kelembagaan terhadap koperasi calon pengelola bantuan perkuatan. dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Kegiatan pembinaan ini difokuskan pada 2. Kesimpulan dan Saran Hasil kajian penataan kelembagaan koperasi pasar penerima program bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional yang telah dilaksanakan. Pemanfaatan jasa atau bunga yang termuat dalam pasal 14 Juknis pelaksanaan bantuan perkuatan dana bergulir pembangunan pasar tradisional. Untuk itu perlu diintensifkan pelaksanaan bimbingan konsultasi. Meningkatkan kemampuan managerial dan kompetensi SDM koperasi (anggota. Kelembagaan koperasi pasar tradisional sangat perlu didata. kondisi kepemilikan dan pengerjaan buku-buku administrasi sangat kurang baik. diskusi temu usaha. 114 . Hal ini terkait dengan kurang tertibnya administrasi organisasi dan usaha serta lemahnya kemampuan SDM koperasi dalam pemahaman administrasi managemen. kapasitas dan tanggung jawabnya terhadap kegiatan koperasi pengelola pasar tradisional sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing dalam managemen koperasi.AGUSTUS 2009 : 88-115 V. pada hal RAT adalah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Laporan pertanggungjawaban pengurus belum memenuhi standar pelaporan sebagaimana layaknya. Badan Pengawas dan Karyawan Koperasi) untuk membangun komitmen. pengendalian. 5. pengurus. Pengelolaan dan penyaluran bantuan perkuatan dana bergulir pengembangan pasar tradisional masih kurang tertib sesuai dengan ketentuan.JURNAL VOLUME 4 . Koperasi Pengelola bantuan dana bergulir perlu memiliki sistem administrasi yang lengkap sebagai dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengelola dana publik. 8. 4. khususnya pengelola bantuan perkuatan atau sejenisnya. 7. dimana diminta ada petunjuk/persetujuan dari menteri tentang pelaksanaan pasal 14.

KUKM/IV/200��. Jakarta. Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Oleh Koperasi. Infokop No. Soediyono Reksoprayitno. Pembinaan Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Kelembagaan Koperasi. Saudin Sijabat. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM R. Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM.I. Tentang Perkoperasian. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Infokop Volume 16 . Saudin Sijabat. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 2 Tahun 2007. -------------. (2007). R. Jakarta -------------. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Mengah R. Saudin Sijabat. Halomoan Tamba. Jakarta. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. (2007). Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Volume 3 – September 2008. Potret Iklim Usaha Pemberdayaan UKMK. Jakarta.I.I. (2006). (2000). Kecil dan Menengah. --------------. (2008). ---------------. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Jakarta.I. Saudin Sijabat. Kamus Istilah Pemberdayaan Koperasi dan UKM. Kajian Pengendalian Anggota pada Koperasi Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Koperasi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2.I. Tentang Pedoman Pemeringkatan Koperasi.September 2008. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Pegadaian Versus Bank Umum (Menilai Profil Yang Potensial Untuk Menjadi Lembaga Perkreditan Rakyat). Nomor : 22/PER/M. Kementerian Kementerian Negara Koperasi dan UKM R.Kajian Penataan Kelembagaan Koperasi Penerima Bantuan Dana Bergulir Pengembangan Pasar Tradisional (Saudin Sijabat) peningkatan kemampuan kelembagaan koperasi penerima bantuan dana bergulir pengembangan pasar tradisional. BPFE. 29 Tahun XXII 2006. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. (2007). Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. (2008). Tentang Usaha Mikro. --------------. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. (2007). Nomor : 9 Tahun 1995.I. (2007). Jakarta. 115 . Infokop Volume 15 No. Peraturan Pemerintah R. Jakarta. Analis IS-LM dan PermintaanPenawaran Agregatif. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Yokyakarta. Jakarta. R. (2008). Ekonomi Makro. (2004. Pedagang kaki Lima : Entrepreneur Yang Terabaikan.

Result of four activities (as ranked) 1) Trading Board 2) Meeting Business. c) the lack of location information with the product especially related to product demand and goods to be promoted and also. pasar. maupun spesifikasi suatu barang yang diminati masyarakat. 3) Improvement of production technology. pemasaran. Artikel diterima 18 Mei 200�.1 Latar Belakang Salah satu kendala yang dihadapi oleh UMKM adalah akses pasar. System management improvement. b) partial planning.. Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan informasi pasar. product marketing promotion. PENDAHULUAN 1. 2) The labor absorption improvement. Promotion affect positively to 1) Improvement of profit and omset of MSMEs. 4). 8 �uni 200�. informasi pasar. review terakhir �� �uli 200� Kabid. 3) Exhibition and 4) Mission Trade. and also c) to know most efficient and effective promotion program to support development of MSMEs. peer review 8 Mei s. kualitas. Some problems which often arise and lessen effective promotion is: a) the minim of socialization. Untuk memenuhi permintaan pasar dan selera pasar serta menghadapi persaingan global menuntut inovasi dan kreatifitas para pelaku usaha termasuk dalam aspek teknologi. promosi pemasaran I. untuk itu perlu dibangun sistem pemasaran bagi UMKM yang lebih baik. b) to know problems faced and dominant factors which are influencing the effective product marketing promotion of MSMEs. posed at from the increasing of profit mean.AGUSTUS 2009 : 116-139 KAJIAN EFEKTIFITAS MODEL PROMOSI PEMASARAN PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)*) Indra Idris**) dan Sri Lestari***) Abstract Study aim to: a) to measure the impact of MSMEs. yaitu jenis barang. *) **) ***) Kajian Asdep Urusan Penelitian UKM tahun 200��. kuantitas. d) time management with product demand fluctuation. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (koordinator kajian) Eks Pegawai Asdep Urusan Penelitian UKM sebagai Pemerhati KUKM 116 . Penyelenggaraan.JURNAL VOLUME 4 . having the character of quadratic to improvement of omset.d. Informasi pasar disatu sisi berupa informasi tentang barang-barang hasil produksi UMKM dan kebutuhan atau kecenderungan pasar.

Jumlah UMKM yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut mencapai 2. tetapi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah jenis UMKM dan jumlah jenis barang yang diproduksi oleh UMKM. Kegiatan promosi pemasaran diharapkan dapat mendorong UMKM meningkatkan efesiensi dan produktifitas. Adanya permasalahan internal UMKM serta perkembangan lingkungan dan teknologi yang demikian cepat menyebabkan UMKM belum mampu mengakses informasi pasar. Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) diketahui bahwa antara tahun 2001 sampai dengan bulan Agustus tahun 2007. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh UMKM sendiri ruang lingkupnya sangat terbatas.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Persaingan pasar yang semakin terbuka menuntut semua pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku bisnis yang terjadi. Dampak lebih lanjut yang diharapkan adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran. pemasangan spanduk. terutama dalam berbagai bentuk promosi produk UMKM. Dari data Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). pemerintah dan pihak-pihak lainnya. penyebaran brosur dan leaflet. dengan perincian 76 kali di dalam negeri dan 51 kali di luar negeri. 117 .864 unit usaha. telah dilakukan promosi pemasaran oleh Instansi pemerintah. iklan reklame dan lain-lain yang bersifat parsial.478 orang dari 1. bila tidak ingin tergilas atau lenyap sama sekali dalam pertarungan pasar. Frekuensi keikutsertaan UMKM tersebut relatif besar. Pengembangan sistem informasi untuk UMKM selama satu dekade terakhir ini memang sudah dilaksanakan baik oleh UMKM sendiri. Program promosi pemasaran produk UMKM pada intinya adalah ditujukan untuk memperkenalkan produk UMKM kepasaran nasional dan internasional. maupun para stakeholder lainnya. UMKM sendiri. dibandingkan dengan jumlah dan jenis produk UMKM. Bentuk promosi invidual ini cenderung memiliki jangkauan pasar yang relatif sempit (tingkat daerah dan nasional saja). serta meningkatkan kemampuan dalam memperbaiki kualitas teknologi dan managemen usahanya. Disamping promosi secara individual UMKM juga melaksanakan kegiatan promosi pemasaran lainnya seperti iklan di media masa. Pelaksanaan kegiatan promosi pemasaran produk UMKM memang telah dilaksanakan baik oleh pemerintah. Perlu komitmen berbagai pihak untuk memberdayakannya terutama meningkatkan akses pasar melalui peningkatan akses informasi dan teknologi bagi UMKM. sedangkan program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah jumlahnya relatif masih sedikit. tetapi frekuensinya belum mencukupi. dan pihak-pihak pihak lainnya sebanyak 127 kali.

Apa permasalahan yang dihadapi dalam upaya meninglkatan efektifitas berbagai kegiatan promosi yang telah dan yang bisa dilakukan? 4. apakah itu karena adanya promosi yang diprakarsai dan dilakukan baik oleh pemerintah. UMKM sendiri maupun pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya? 3. 1. 2) Menetapkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran produk UMKM. 118 . serta. 3) Mengetahui bentuk program promosi yang paling efektif dan efisien dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang diindikasi dari peningkatan omset dan laba UMKM. Apakah program promosi dalam berbagai bentuk ditingkat nasional maupun internasional tersebut telah memberikan dampak nyata (signifikan) terhadap peningkatan produksi dan pangsa pasar UMKM? 2.JURNAL VOLUME 4 . perbaikan teknologi serta pengembangan sistem managemen usaha UMKM. penyerapan tenaga.3 Sasaran Kajian Sasaran Kajian ini adalah: 1) Mengetahui tingkat pengaruh promosi pemasaran UMKM terhadap perluasan pangsa produk UMKM. terhadap peningkatan omset. Apa saja faktor kunci yang menentukan tingkat keberhasilan program promosi pemasaran UMKM ? 1. baik yang dilaksanakan di dalam maupun di luar negeri. 2) Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi efektifitas kegiatan promosi pemasaran produk UMKM. Jika terjadi kenaikan produksi dan omset UMKM.2 Tujuan Kajian Kajian ini bertujuan untuk: 1) Mengukur dampak kegiatan promosi pemasaran produk UMKM dalam berbagai bentuk.AGUSTUS 2009 : 116-139 Sejalan dengan uraian di atas. maka diperlukan kajian eksploratif evaluatif untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut 1. 3) Mendapatkan solusi pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi serta menetapkan dan mengembangkan bentuk promosi pemasaran yang efektif. laba.

Kebiasaan ini menandakan bahwa UMKM masih terobsesi pada kesempatan pameran lokal yang menjadi ajang penjualan langsung. Untuk memperoleh hasil yang maksimal. maka promosi harus dilakukan secara profesional. barang substitusi dan komplementer.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) II. harga. Teori ekonomi menjelaskan bahwa konsep pemasaran meliputi 4 unsur pendukung yaitu produk. trent atau mode serta faktor-faktor eksternal lainnya. pesaing. Untuk tujuan tersebut produsen harus mengalokasikan sejumlah sumberdaya yang jumlahnya cukup besar. KERANGKA PEMIKIRAN 2. yang mengutamakan relasi dan kesinambungan pasar. Pengertian promosi adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk memperkenalkan UMKM dan produknya kepada konsumen. jenis barang yang akan dipasarkan.1 Kerangka Dasar Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM adalah rendahnya akses UMKM terhadap pasar. misi dagang dan temu bisnis. Menurut Ramlan (2001) dalam pameran/festival terbuka peluang bagi UMKM untuk menjual produknya secara langsung juga terbuka. 119 . Beberapa faktor yang harus diperhitungkan oleh UMKM sebagai produsen menurut Harry (1968) adalah kelayakan penggunaan dana. tempat atau lokasi dan promosi produk. trading board. Beberapa hasil pengamatan empiris seperti yang dilakukan poleh Wachidin (2002) dan Sujito (2001) menunjukkan bahwa pada kesempatan pameran UMKM lebih cenderung menjual produknya secara retail. Penjualan langsung ini umumnya kurang menguntungkan karena laba yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. peluang pasar. Hal tersebut berdampak meningkatnya tabungan (saving) guna mendukung upaya perluasan skala usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. dan belum berorientasi sistem bisnis modern. dengan tujuan utama untuk memperoleh pembeli (buyers). selera konsumen atas barang tersebut. UMKM harus dapat memilih bentuk promosi yang memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi. Dengan dikenalnya produk UMKM diharapkan dapat meningkatkan volume usaha sehingga pada akhirnya meningkatkan laba. Keempat aspek ini saling terkait dalam meningkatkan fungsi pemasaran. Beberapa kegiatan promosi yang paling banyak dilakukan oleh UMKM dan para stakeholder adalah berupa pameran. Dari keempat unsur tersebut promosi merupakan unsur terakhir yang dianggap memiliki posisi strategis sebagai faktor kunci yang menghubungkan atau memperkenalkan produk yang dihasilkan UMKM kepada konsumen atau pasar.

temu bisnis. Keikutsertaan mereka dalam kegiatan promosi pemasaran yang bersifat terkoordinir tersebut juga dikarenakan apabila mereka melakukan promosi secara mandiri tidak memiliki pengetahuan dan biaya yang cukup besar. Sebagai misal yang telah dilakukan oleh pemerintah China dan pemerintah Vietnam di Afrika Barat dan beberapa negara Arab.AGUSTUS 2009 : 116-139 Temu bisnis atau misi dagang pada dasarnya juga merupakan media yang bertujuan untuk mempromosikan produk kepada buyer/ pasar. UMKM skala usaha kecil menuju menengah di sektor industri kerajinan yang sering mengikuti kegiatan promosi. Atas pertimbangan tersebut di atas maka untuk mendukung pertumbuhan bisnis UMKM. trading house.2 Kerangka Operasional Kajian ini difokuskan untuk melihat seberapa besar dampak dari pelaksanaan promosi terhadap perluasan pasar yang berdampak pada peningkatan omset UMKM. memerlukan biaya besar. 120 . Secara skematis hubungan antar keterkaitan faktor penentu. Biasanya dalam misi dagang dilaksanakan dalam ruang lingkup yang sangat luas. menyangkut semua aspek perdagangan dan kebijakan pemerintah yang mendukung kelancaran perdagangan. 2. ada wacana untuk membangun trading house dan bussines center di beberapa negara konsumen. sehingga sulit dilakukan. Dampaknya sangat besar karena pembelian biasanya dilakukan dalam bentuk partai besar dan jangka waktu yang relatif panjang. Ruang lingkup promosi hanya terbatas diantara produsen dengan beberapa buyer saja. yang diproduksi oleh UMKM. pameran/exhibition dan lainnya. Sujito (2001) mengemukakan bahwa berdasarkan pengamatannya. Djauhari (2006) mengatakan bahwa disamping bentuk promosi di atas yang telah pernah dilakukan oleh UMKM. dengan dampak keberhasilan promosi dalam bentuk pemasaran serta keterkaitan antar dampak tersebut seperti pada gambar 1. Temu bisnis juga merupakan kegiatan yang cukup luas. atau para pengusaha kelas menengah dan besar.JURNAL VOLUME 4 . Kementerian Negara Koperasi dan UMKM merencanakan dan telah melaksanakan berbagai program promosi bagi UMKM berupa misi dagang. dan menuntut pengetahuan luas dari produsen dan buyer tentang barang dan managemen pemasarannya. Misi dagang Misi dagang umumnya hanya melibatkan para pengusaha menengah dan besar. Promosi tersebut memang diperlukan UMKM untuk menarik konsumen dari daerah yang sudah menggunakan produk sejenis. Pembangunan dan penyelenggaraan promosi ini hanya mungkin dilaksanakan oleh pemerintah.

jumlah pesaing dan kondisi persaingan.27 Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM No 1. penyelenggara promosi. Propinsi Jateng D.I.Y.05 59. biaya promosi lokasi atau tempat promosi.98 54.39 30. 3.85 121 53. frekuensi keikutsertaan dalam promosi.68 14. jenis produk yang ingin dipromosikan.5 43. PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO KEGIATAN PROMOSI Peningkatas Kualitas Produk Dan SDM Perluasan Pasar Produk UMKMK Inovasi Teknologi Peningkatan Omset Peningkatan Pendapatan /Laba Pertambahan Investasi Perbaikan Produktifitas Gambar 1.92 17. 2.3 Variabel Analisis A.4  .16 28. Omset.1 8.15 65.5 63.30 28.5 64. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan (%) Faktor Penentukan Keberhasilan Beberapa unsur yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program promosi pemasaran dalam kajian Pameran Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board ini diasumsikan menjadi faktor kunci (keyKnaikan Knaikan analisis factor).00 42. kualitas produk.26 11.7 10.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) Dari gambar 1 dapat dikemukakan bahwa keberhasilan kegiatan promosi pemasaran ditentukan oleh banyak faktor antara lain kondisi internal UMKM. lama waktu penyelenggaran.9 39.15 70.41 13. ProduktifitasProduktifitas dan Pendapatan UKM peningkatan dan Pendapatan UKM 2.88 50.85 10.5 62.55 37. prosedur dan keikutsertaan dalam promosi.4 41.2 7.18 35.8 14.81 53. Dalam Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Knaikan Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah faktor akan unsur-unsur tersebut akan menjadi variabel bebas yang Omset Omset Omset Omset Pembeli Pembeli Pembeli ( %) %) ( %) ( %) dapat ditentukanPembeli signifikansi pengaruhnya (dengan (menggunakan %) ( %) ( %) ( %) 40. KaitanKaitan Dampak Pameran terhadap peningkatanpeningkatan Gambar 1. Jatim Rata-rata /Propinsi 48.70 47. Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset. Tabel 1.46 61.

B. Frekuensi keikutsertaan dalam kegiatan promosi pemasaran. Adapun data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait dan berbagai referensi. Analisis kualitatif dilakukan dengan metoda komparatif yaitu membandingkan kondisi ideal dan kondisi riil di lapang. Biaya promosi. 10) Kualitas barang produk. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik pengumpulan acak terbatas (purposive random sampling). METODA KAJIAN DAN ANALISIS 3. Dampak keberhasilan pelaksanaan promosi Dampak yang dikaji dengan keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran yaitu: 1) Peningkatan omset. 2) Peningkatan laba. Selain itu kajian dilaksanakan di tiga propinsi contoh yaitu Jawa Tengah. yaitu terdiri dari: 1) Kondisi internal UMKM. baik dari penjualan langsung (untuk promosi dalam bentuk pameran) dan barang yang terjual sesudah dilaksanakannya kegiatan promosi (pemesanan).Yogyakarta. Analisis kuantitatif menggunakan beberapa model analisis ekonomi dan matematik antara lain: 122 . Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh dari responden sample. 11) Jumlah pesaing dan kondisi persaingan. 5). 4) Peningkatan teknologi produksi.AGUSTUS 2009 : 116-139 model-model kualitatif maupun kuantitatif (matematis).2 Metoda Pengumpulan Data Kajian ini merupakan penelitian exploratif dengan menggunakan metoda survey terbatas.3 Metoda Analisis Kajian ini menggunakan analisis deskriftif kualitatif dan analisis kuantitatif. 5) Peningkatan kualitas managemen usaha. III. 3). Mengidentifikasi dan menganalisis efektifitas modelmodel promosi pemasaran produk UMKM. Bentuk promosi. D I. 3. 7) Lokasi atau tempat. 2) Jenis produk yang ingin di pamerkan/pasarkan. dan Jawa Timur. Penyelenggara pameran. 3. 3) Menetapkan faktorfaktor dominan yang mempengaruhi efektifitas program promosi pemasaran produk UMKM. 6). 4).1 Ruang Lingkup Substansi Kajian Ruang lingkup kajian adalah: a) Mengukur tingkat pengaruh promosi pemasaran produk UMKM terhadap perluasan pangsa pasar UMKM b). 3) Peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja. 8) Lama waktu penyelenggaran. 9) Prosedur dan keikutsertaan.JURNAL VOLUME 4 .

B=Koefisien regresi. Jumlah pesaing dan kondisi persaingan=X11. Adapun peubah bebas terdiri dari beberapa faktor-faktor yang diduga berpengaruh. yang ditujukan untuk menentukan kelayakan keikutsertaan UMKM dalam suatu kegiatan promosi. baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan program promosi UKMK yaitu: Kondisi internal UMKM=X1. dimana: K = Kelayakan keikutsertaan UMKM. UMKM dinilai tidak layak untuk ikut promosi Manfaat yang diperoleh berupa kenaikan laba UMKM dari keikutsertaannya dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) Biaya yang dikeluarkan oleh UMKM untuk ikut serta dalam pameran pada pada satu periode waktu (dalam Rupiah per tahun) M = B = 2) Regresi linier berganda (multy variety analisys) untuk menentukan ada tidaknya serta seberapa besar pengaruh independent terhadap dependent variable. Prosedur Prosedur keikutsertaan dalam promosi=X9.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 1) Analisa ekonomi sederhana berupa model analisa biaya manfaat (benefid cost ratio). Perluasan Pasar Produk UMKM. Adapun model dasar yang digunakan adalah K = M/B. Biaya promosi= X6. Adapun model dasar yang digunakan adalah: Y = a + Bx + e Y = Peubah tetap yaitu kinerja/indikator keberhasilan pameran dalam mendukung pengembangan usaha UMKM yang terdiri dari. E=Galat (error). Lama waktu penyelenggaran=X8. bila K > 1 dinilai layak. Penyelenggara promosi= X4. Peningkatan teknologi produksi. Frekuensi Keikutsertaan=X3. Tema promosi= X5. 123 . Lokasi atau tempat=X7. 3) Oleh karena adanya dugaan bahwa ada pengaruh silang antar tiap peubah bebas (independet variable) terhadap kinerja peubah tetap (dependent variable) maka akan digunakan model analisis regresi berjenjang (step wise analisys). Y1 = Y2 = Yang mana A=Intersep (constanta). Jenis produk yang ingin di pamerkan/ pasarkan=X2. sedangkan bila K < 1. Kualitas barang=X10. dan X= Peubah bebas (independent variable).

IV.AGUSTUS 2009 : 116-139 Untuk menguji ada tidaknya pengaruh. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh berjenjang antar dependent variable akan digunakan step wise analisys dengan Uji a (alpha test). D.2 per propinsi per tahun. tiap propinsi contoh rata-rata telah mengirim UMKM ikut dalam program promosi sebanyak 14.6 kali per tahun.082 orang.dan Jumlah Peserta Hasil kajian di propinsi Jawa Tengah. Frekwensi . Yogyakarta dan Jawa Timar.1 Penyelenggaraan Promosi Pemasaran 4. Jumlah peserta yang diikutkan sebanyak 312. penggunaan teknologi.1. diikuti dengan trading board. Sedangkan bentuk promosi yang paling sedikit menyerap jumlah peserta adalah temu bisnis.6 orang per tahun. Berikutnya adalah trading board sebanyak 19 kali dengan peserta sebanyak 359 orang serta. Hasil pengamatan menyimpulkan bahwa rendahnya jumlah penyelenggaraan promosi dan keikutsertaan UMKM dalam 124 .I.yang diperkirakan mencapai 8. 4) Model analisis komparatif. Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan program Statistical Analisys System (SAS) dengan uji t dan Uji a sampai dengan tingkat kepercayaan (level of significant) 90%. Frekuensi keikutsertaan. Nampaknya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada di ketiga propinsi contoh. Pelaksanaan. Temu bisnis merupakan kegiatan promosi yang paling sedikit diikuti oleh UMKM yaitu sebanyak 8 kali dan peserta 49 orang. dengan frekuensi sebanyak 17 kali dan peserta kegiatan sebanyak 73 orang. atau 104. misi dagang dan kontak dagang. dengan frekuensi kegiatan selama lima tahun terakhir sebanyak 29 kali dan peserta 1. digunakan untuk menjawab indikator dampak kegiatan promosi pemasaran terhadap peningkatan Kualitas SDM yang diindikasikan dari perubahan pola pikir produsen baik dalam hal managemen. Jumlah ini menurut mereka sudah cukup memadai. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS 4. Bentuk promosi yang relatif banyak menyerap peserta adalah pameran.94 juta unit usaha. serta seberapa besar pengaruh dari independent variable terhadap dependent variable akan digunakan Uji t (t test).1. Jenis.JURNAL VOLUME 4 . dengan tingkat kepercayaan 90 %. kualitas produk dan orientasi pasar. menunjukkan bahwa bentuk promosi pemasaran yang paling banyak diikuti UMKM adalah pameran.

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari)

kegiatan tersebut adalah disebabkan adanya berbagai kendala antara lain: a) Keterbatasan dana dan SDM, baik dikalangan stakeholder (terutama pemerintah), maupun dikalangan UMKM sendiri; b) Terbatasnya kepedulian dan komitmen dari kalangan yang berkepentingan langsung dengan kegiatan tersebut dan; c) Kurangnya inisiatif UMKM sendiri untuk melakukan promosi pemasaran. 4.1.2. Keikutsertaan UMKM dalam Kegiatan Promosi Menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran menurut Sektor dan Skala Usaha Ekonomi selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 yaitu sebagian besar UMKM bergerak di sektor industri kerajinan, dengan peserta sebanyak 833 orang (53,23%), pertambangan/penggalian sebanyak 353 orang (22,56%), dan pariwisata 302 orang (19,29%). Sedangkan UMKM yang bergerak di sektor lainnya sangat sedikit, yaitu hanya 84 orang (5,47%), Dari aspek skala usaha, dari 1.565 orang yang ikut dalam kegiatan promosi pemasaran pertanian terdiri dari 171 orang (10,93%) tergolong usaha mikro, 922 orang (58,91%) tergolong usaha kecil dan 472 orang (30,16%) tergolong kelompok usaha menengah. Keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi juga dipengaruhi oleh: a) Faktor penyelenggara (pusat, internasional, lokal); b) Tempat, lama/waktu penyelenggaraan promosi, jarak tempat promosi dengan produsen; c) Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang; d) Besar biaya dan atau ketersedian dan sumberdana dari penyelenggara serta; e) Inisiatif dan atau kepedulian dari stakeholder. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas penyelenggaraan promosi antara lain; a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi); b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta; c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. 4.1.3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Dilihat dari tempat dan waktu penyelenggaraan promosi pemasaran ditunjukkan bahwa: (a) Dari 73 kali keikutsertaan UMKM di ketiga propinsi contoh dalam kegiatan promosi

125

JURNAL VOLUME 4 - AGUSTUS 2009 : 116-139

selama lima tahun tahun terakhir, 14 kali di laksanakan di luar negeri (pameran, misi dagang dan temu bisnis), 59 kali ditingkat nasional dan tingkat propinsi, (b) Rata-rata waktu penyelenggaraan promosi berbeda-beda sesuai bentuk promosi dan tempat promosi pemasaran, dengan rincian sebagai berikut: misi dagang waktu efektif 3,43 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, temu bisnis waktu efektif 4 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang, Pameran di luar negeri waktu efektif 11,33 hari tidak termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan dan pulang, pameran di tingkat nasional waktu efektif 11 hari termasuk waktu keberangkatan dan perjalanan pulang Dibandingkan dengan temuan Sujito (1997), waktu yang disediakan untuk berbagai bentuk kegiatan promosi ini relatif cukup dan kendalanya adalah waktu untuk mempersiapkan pameran. Dari hasil kajian menyatakan bahwa 36,6% responden memerlukan waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan keikutsertaaan mereka dalam kegiatan promosi, 63,4% responden memerlukan waktu sekitar satu sampai tiga bulan untuk mempersiapkan pameran, namun waktu yang diberikan oleh penyelenggara biasanya hanya sekitar dua minggu sampai dengan satu bulan. Dengan sempitnya waktu tersebut biasanya calon peserta menghadapi masalah dalam mempersiapkan modal, bahan baku, dan sebagainya. 4.1.4. Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kajian mengenai penyelenggara dan biaya promosi kegiatan promosi pemasaran yang diikuti UMKM selama 5 tahun terakhir di 3 Propinsi contoh adalah sebagai berikut: a. Penyelenggara atau pemrakarsa kegiatan promosi, terbanyak (43 kali atau 58,90%) adalah pemerintah, pusat maupun daerah, kelompok swasta/asossiasi perdagangan/komoditi sebanyak 7 kali atau 9,58%, dan dari negara-negara lain baik swasta maupun pemerintahnya sebanya 13 kali atau 30,23% . b. Besarnya biaya promosi sangat tergantung dari bentuk, tempat dan lama kegiatan. Komponen biaya promosi di luar modal kerja yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dipamerkan adalah: a) Sewa tempat; b) Biaya administrasi; c) Biaya pengepakan; d) Biaya pengangkutan dan biaya petugas UMKM yang ikut dalam pameran (penjaga pameran).

126

PEMERINTAH DAN STAKEHOLDER LAINNYA

FAKTOR FAKTOR KEBERHASILAN PROMOSI

LINGKUNGAN EKONOMI MAKRO

Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) KEGIATAN (Indra Idris dan Sri Lestari) PROMOSI

Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di luar negeri biaya yang dikeluarkan untuk ikut dalam kegiatan tersebut rataPeningkatas rata Rp 21,67 juta (misi dagang), Rp 23,33Inovasi juta (temu bisnis), Perluasan Pasar Kualitas Produk yang mana Produk UMKMK Teknologi 75,4% dibebankan pada pelaku usaha dan sisanya Dan SDM 24,6% ditanggung oleh penyelenggara atau stakeholder. Untuk kegiatan promosi yang dilaksanakan di dalam negeri, (umumnya pameran), biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp 3,6 juta Peningkatan Omset sampai dengan Rp 4,2 juta, dengan rata-rata sebesar Rp 3,9 juta, yang mana rata-rata biaya yang dikeluarkan (sharing) UMKM Peningkatan Pendapatan untuk promosi di dalam negeri (pameran) adalah 70,2% dari /Laba total biaya promosi, kekurangannya yang 39,8% ditanggung oleh penyelenggara.
Pertambahan Investasi Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa biaya promosi yang harus ditanggung oleh UMKM relatif mahal. Hal tersebut menyebabkan UMKM terutama kelompok pengusaha Perbaikan mikro dan pengusaha kecil, tidak mampu ikut promosi. Produktifitas Gambar

4.2

Dampak Promosi Terhadap Peningkatan Jumlah Pembeli UMKM
1.

diikuti UMKM contoh di 3 Propinsi terhadap peningkatan jumlah pembeli dan omset UMKM seperti ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaranterhadap peningkatan (%) (%) Tabel 1. Dampak Promosi Pemasaran terhadap peningkatan Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM Jumlah Pembeli (buyers) dan Omset UMKM
Pameran Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 48,5 40,9 62,5 39,5 64,5 43,4 63,4 41,26 Misi Dagang Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 11,92 30,88 17,85 50,46 10,41 61,70 13,39 47,68 Temu Bisnis Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 14,1 14,16 8,2 28,00 7,7 42,30 10,8 28,15 Trading Board Knaikan Knaikan Jumlah Omset Pembeli ( %) ( %) 65,05 35,15 59,55 70,81 37,98 53,85 54,18 53,27

Kaitan Dampak Pameran terhadap peningkatan Omset, peningkatan Produktifitas dan Pendapatanpemasaran yang pernah Dampak berbagai bentuk promosi UKM

No 1. 2. 3.

Propinsi Jateng D.I.Y. Jatim Rata-rata /Propinsi

4.2.1

Dampak Promosi dalam Bentuk Pameran 

Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan pameran, yaitu terjadi peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 63,4% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 41,26% pada UMKM setelah mengikuti kegiatan promosi pemasaran dalam bentuk pameran, yang mana UMKM Jawa Timur mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 64,5% dan 43,4% .

127

nilai jual (omset) dan bermuara peningkatan laba UMKM.8 juta menjadi Rp 158.15%) Besarnya dampak misi dagang terhadap peningkatan omset terutama dikarenakan adanya kontrak atau pemesanan produk yang dipromosikan dalam jumlah tertentu.68% pada UMKM setelah mengikuti misi dagang/kontak dagang. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 10. peningkatan omset-nya 128 .15% pada UMKM setelah mengikuti temu bisnis. 4.JURNAL VOLUME 4 .2 Dampak Misi Dagang /Kontak Dagang Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan misi dagang/kontak dagang. yaitu: terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 13.AGUSTUS 2009 : 116-139 Kenaikan jumlah pembeli dapat dihitung dari peningkatan: 1) Pembelian langsung.68% dibanding pameran 41.I. UMKM D.3 Dampak Temu Bisnis Dari Tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan temu bisnis.2. terlihat bahwa tambahan omset yang diperoleh sewaktu dilaksanakannya promosi dalam bentuk pameran mencapai Rp 46.39% lebih rendah dari peningkatan jumlah pembeli dampak pameran (63.1%. Rata-rata kenaikan omset per tahun sesudah dilaksanakannya promosi adalah dari Rp 119. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 14.04%). yaitu sewaktu dilaksanakannya pameran yang mana jumlah pembeli mencapai ratarata 103 orang per propinsi.8% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 28. untuk jangka waktu tertentu.39% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 47. yang berdampak pada peningkatan produksi.85% dan 50. Dari aspek peningkatan omset.26% dan temu bisnis (28.6 juta per tahun (28.2. Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah pembeli maupun omset paling tinggi yaitu 17.4%) tapi memberikan dampak peningkatan omset lebih tinggi 47. Sedangkan keberhasilan pameran ditunjukkan dari keberhasilan peningkatan permintaan dalam jangka panjang.2 juta. 4. Misi dagang/kontak dagang memberikan dampak peningkatan jumlah pembeli 13. atau meningkat sebesar Rp 33.1 juta per UKM.46%. 2) Pembelian melalui pemesanan produk yang dipromosikan.

Persentase pertambahan omset ternyata 2.27% pada UMKM setelah mengikuti trading board. Yogyakarta jumlah pembelinya meningkat 59.81%. Kenaikan jumlah pembeli ini relatif cukup signifikan. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. Persentase pertambahan omset UMKM Jawa Tengah hanya meningkatkan omset separuhnya. UMKM Jawa Tengah mengalami peningkatan jumlah pembeli paling tinggi yaitu 65. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. hal ini dimungkinkan karena trading board umumnya memiliki jangkauan daerah yang cukup luas. Yogyakarta dari pertambahan jumlah pembeli membuat peningkatan omset tertinggi. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual. a) Harga penjualan menjadi lebih rendah. Peningkatan tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. b) Adanya kepastian pasar menyebabkan tidak adanya lagi fluktuasi harga jual.77%.7%. Terlihat bahwa pertambahan rata-rata jumlah pembeli linier dengan pertambahan omset.15%. peningkatan omset-nya paling tinggi yaitu mencapai 42. UMKM D. peningkatan omset-nya paling tinggi mencapai 70.14% dari sebelum mengikuti kegiatan promosi pemasaran. UMKM D.50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 29.4 Dampak Trading Board Dari tabel 1 memperlihatkan dampak keikutsertaan UMKM dalam kegiatan trading board. Dan Penyerapan Tenaga Kerja Dampak promosi pemasaran pada tabel 2 menunjukan rata-rata meningkatkan laba 44.16%.3 Dampak Promosi Pemasaran Terhadap Laba UMKM. a) Harga pembelian menjadi lebih tinggi karena tidak ada nilai tambah yang terserap dalam sistem pasar dan.2.I.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) hanya 14.30%.I. Di sini terlihat bahwa pertambahan jumlah pembeli tidak linier dengan pertambahan omset. peningkatan omset-nya hanya 35. yaitu terjadinya peningkatan jumlah pembeli sebesar rata-rata 54. UMKM Jawa Timur jumlah pembelinya hanya meningkat 7. 4.8 kali lebih besar dari pertambahan jumlah pembeli.18% dan peningkatan omset rata-rata sebesar 53.05%. 4. Kenyataan perubahan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait yaitu. c) Pertambahan jumlah pembeli sedikit tapi melakukan pembelian dalam jumlah besar. yaitu 129 .

98 0.99% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.88 1.18% 0. Yogyakarta meningkat 35.08 16.66 33.53% dari sebelum mengikuti temu bisnis.11 5.AGUSTUS 2009 : 116-139 meningkatkan laba UMKM sebesar 51.52 28.31 62. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.I.44 21.24 62.27 10.54% penyerapan tenaga kerja sebesar Usaha dari sebelum mengikuti pameran.94 20.21 kegiatan misi dagang/kontak dagang.15 43.04 2.22 penyerapan tenaga 1. Peningkatan laba dan0.63 meningkatkan dan 5. yaitu laba UMKM 5. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan dan Tabel 2.08 41.19 0.18 8. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51. 2.88 30.37 20.29 42.JURNAL VOLUME 4 . Dampak Promosi Pemasaran laba 43.12 Tenaga Laba Kerja 31.87 kerja tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Tengah.39 39.46 31.73 2.72 60.10 3) Dampak temu bisnis yang diikuti UMKM di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 43. Adapun peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM Yogyakarta.11 43. Peningkatan penyerapan tenaga kerja Managemen Usaha ter tinggi dicapai oleh UMKM D.33 0.13 7.73 2.89 0.63% dan meningkatkan contoh rata-rata meningkatkan terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen 30.14% dari sebelum mengikuti promosi pemasaran.06 0.29 2.23 51.01 61.76 34.74 42.90% dan 2.99 35.17 mengikuti misi dagang.90 Tenaga Laba Kerja 46.35 31.30 17.67 35.21 10.70 44. yaitu meningkatkanTeknologi dan sebesar 60.96 2.11 53.21 11. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur.47 0.14 Propinsi Tenaga Laba Kerja 25.72 31.35 0. yaitu meningkatkan Awal Sesudah Awal Sesudah Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 130 2 .50% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 20.29% (Nilai skor) (Nilai skor) dibanding sebelum mengikuti pameran.55 1.50 Tenaga Laba Kerja 11.16 30.70 18.48 28.53 32.60 1.18 35.52 51.73 43.50 PROPINSI 1) Dampak pameran yang pernah diikuti UMKM di 3 propinsi Tabel 3.I. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Dampak Terhadap Jawa Timur.77 1.65 penyerapan tenaga kerja 46.76 1. Yogya Jawa Timur Rata-rata 39.29 61. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan Tenaga Kerja Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Pameran Laba Jawa Tengah D.06 29.63 Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board Rataan Tenaga Kerja 28.17 30.05 2.15% dibanding sebelum mengikuti 1.88 meningkatkan 1.98 meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 35.80 40.46% dan penyerapan tenaga kerja 29.54 58.73 % dari laba UMKM Managemen Usaha sebelumTeknologi mengikuti pameran. Adapun dampak dari masing-masing jenis promosi pemasaran dapat diuraikan sebagai berikut: Tabel 2. Peningkatan Peningkatan 2) Dampak misi dagang/kontak dagang yang telah diikuti UMKM Skor Persen Skor Persen di 3 propinsi contoh rata-rata meningkatkan laba 58.54 35.68 sebesar6.11% dari sebelum 2.

22 0.88 1.08 11.88 b) Kedua 30.17 42.17 1.63 0.11 Rata-rata lapang yang sudah diubah dalam bentuk kuantitatif tersebut.55 Awal Sesudah Peningkatan Skor 0. Data44. dalam 28. Peningkatan laba tertinggi dicapai oleh UMKM propinsi Jawa Timur. 4) Dampak trading board yang telah diikuti UMKM di 3 propinsi contoh meningkatkan laba rata-rata 32.70 hasil kajian 43.29 31.50 29.11 0.52 D.53 (skoring).99 18.08 41.54 58.13 0.18 46. 35.I.I Yogyakarta.73 5.68 1.66 20.65 11.52 51.74 1.90% dibanding sebelum mengikuti kegiatan trading board.23 51. 28.60 8.76 2.10 Dari tabel 3 terlihat bahwa keikutsertaan UMKM dalam kegiatan promosi pemasaran berdampak pada: 1) Pengembangan teknologi yang digunakan.16 produksi.39 39.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) penyerapan tenaga kerja 31. Tabel 3. yaitu terjadi peningkatan nilai skor rata-rata sebesar 0.21 Propinsi Rataan PROPINSI Jateng Yogya Jatim Jumlah Rataan 1.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan temu bisnis.35 16.76% dibanding sebelum mengikuti kegiatan promosi trading board.24 62. yaitu meningkatkan laba UMKM sebesar 51.19 2.06 2.67 35.70% dari sebelum mengikuti trading board.89 2. ditunjukkan pada tabel 3.72 61.12% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 31.88 33. namun tidak diikuti penyerapan tenaga kerja tertinggi.87 5.14 penilaian 32.35 2.30 0.63 30.77 61.46 30.98 2.80 40.15 43. Adapun Tabel 2. Yogya variabel tetap yang bersifat kualitatif ini.73 31.33).94 Jawa Timur dengan menggunakan metoda 43.47 7.48 Jawa Tengah 39.50 20.06 kajian dikuantifkan 60.04 10.29 42.11 53. nilai skor dampak promosi terhadap pengembangan teknologi produksi termasuk dalam kategori sedang (2.18 0. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Tabel 3.29 Peningkatan kemampuan managemen usaha.37 poin dibandingkan dengan waktu sebelum dilaksanakan program promosi yang hanya mencapai 2 131 .31 2.01 2.72 31.21 0.73 5. Peningkatan Laba dan Penyerapan Tenaga Kerja (%) Misi Dagang Temu Bisnis Trading Board 4.76 34.4 Dampak Non Finansial Pameran Dampak non finansial dari keikutsertaan UMKM dalam kegiatan Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Tenaga Laba Laba Laba Laba Laba Kerja Kerja Kerja Kerja Kerja promosi pemasaran adalah terdiri dari: a) Peningkatan teknologi 25.44 21. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Pengembangan Teknologi Dan Managemen Usaha Teknologi Dan Managemen Usaha Dampak Terhadap Teknologi dan Managemen Usaha Teknologi Managemen Usaha (Nilai skor) (Nilai skor) Awal Sesudah Peningkatan Skor 0.70 35.96 2.12 31.37 Persen 10.21 Persen 17.33 1.27 1.05 1.98 6. Dampak Promosi Pemasaran terhadap Peningkatan Laba dan peningkatan tenaga kerja tertinggi dicapai UMKM D. Penyerapan Tenaga Kerja yaitu meningkatkan penyerapan tenaga kerja 31.54 28.90 35.

19 124.55 9.JURNAL VOLUME 4 .58 26. Nilai skor sistem managemen usaha meningkat rata-rata 0.15 Manfaat Non Finansial Perbaikan Teknologi 2.32 28.16 75.852 5.8 119.853 16.35 2.47 7.2 113. 4. Promosi Peningk. Hasil pengamatan memperlihatkan rata-rata UMKM yang mengikuti kegiatan promosi pemasaran diketiga propinsi contoh secara agregat semua layak untuk mengikuti kegiatan tersebut karena B/C rationya rata-rata mencapai 2.14 157.48 182.10 PROPINSI Omset Laba Jateng D.47 17.27 1.342 Rasio peningk.97 2.28 41. bagi kelompok UMKM yang ikut Produk UMKM Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi dalam promosi ditentukan oleh angka perbandingan antara pertambahan Dampak Promosi omset usaha dengan biaya promosi.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen .I. maka baik secara parsial.52 58. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran .28 2. Ratakatan omsetOmset selama Laba Pembeli sebesar Rp 183.8 61.39 10. laba/biaya 1.17 136.452 2.8 juta.32 30.19 30.21 poin atau 11.15.24 34.54 34.4 118.12 58.52 31. terutama laba dan omset.18 30.36 178.27 37. Karena besarnya ratarata biaya promosi maka secara parsial.30 13. Peningk.1% yaitu dari 1.73 21.01 2.36 30.7 juta. terjadi perbaikan sistem managemen usaha diindikasikan dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan sistem managemen usaha dikalangan UMKM yang telah mengikuti kegiatan promosi pemasaran.17 25.06 32.55 Rata-rata 42. Besarnya rasio biaya manfaat dari pelaksanaan promosi ditentukan oleh kondisi usaha UMKM sendiri.53 35.26 Peningk.04 77.30 121.63 43.10 ( kategori sedang).21 Pameran rasio41.87 132 Jumlah 170. Tabel 4 Tabel 4 .2 43.98 6.88 41.42 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Tabel 5.9 49.4 357.96 (kategori kurang).88 70.85 184.027 5.21 12.70 6.93 729.21 39.26 biaya terhadap peningkatan omset-nya10. Peningk.322 5.33 Perbaikan managemen 2.5 Kelayakan Penyelenggaraan Promosi Hasil analisas kelayakan kegiatan promosi pemasaran dilihat dari aspek finansial dan non finansial (tabel 4) memperlihatkan: ) Keikutsertaan UMKM dalam kegitan promosi pemasaran mempengaruhi aspek finansial UMKM.46 Ratio Pening kata omset/biaya 4.90 13.68 Misi Dagang 28.51 19.88 26.4 183.69 26. Laba 24. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan Kelayakan Finansial Pening katan Omset 60.92 117.15 Trading Board 53.05 Biaya Promosi 12. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 2) Dari aspek omset usaha.28 29.54 20. maupun kumulatif 180.49 11.31 2.27 43.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.55 rata-rata mencapai Temu Bisnis 47. bagi UMKM yang memiliki ratio tambahan laba perbandingan cost dan benefid ratio (B/C rasio) kurang dari satu kegiatan promosi dinilai kurang layak.20 6.61 227.37 12. atau per tahun lima tahun Tenaga Managemen Tekno Jumlah rata Kerja logi mencapai Rp 36. Oleh*) karena UMKM yang turut Bentuk dalam kegiatan promosi pemasaran mengalami kenaikan rata-rata Pening Tambahan Peningk. 2) Pengembangan sistem managemen usaha.23 29.AGUSTUS 2009 : 116-139 nilai skors 1.5 73.11 24.83 54.89 (kategori kurang) menjadi 2.59 44.06 2.19 2.

39%.48 182.2 113.24 5.69%.10 dagang dengan nilai bobot 157.90% dan.06 30.28 75.54 20. Tabel5.27 Peningk.852 2.83 54.853 2.39 10.19 atau nilai rata-rata 37.31 61.14 atau rata-rata 30.12 43.342.28 2. ranking kedua adalah temu1.88 21.4 357.15 53.90 Pening katan Pembeli 58.15 2.2 Keterangan : *) Ratio peningkatan Omset terhadap biaya promosi Dari tabel 5 dapat dikemukakan bahwa berdasarkan metoda Penyelenggara dan Biaya Penyelenggaraan pembobotan di atas diketahui bahwa rata-rata nilai bobot dari keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran tersebut sebesar 30. 133 .49 rata-rata16.61 227.47 17.28 9.30 121.88 Peningk.36 178.11%.27 73.88 70.11 Peningk.68 28.21 12.63 43.37 12.21 24.16 13. Tiga indikator keberhasilan yang paling menonjol dari bentuk promosi ini adalah: a) Peningkatan rata-rata dengan nilai bobot 227.93 729. Laba 32.06%. Dengan nilai sebesar ini kegiatan promosi pemasaran dinilai sangat layak untuk dilakukan oleh UMKM.19 dengan nilai bobot 49.04 77.70 30.01 6.69 26.5 39.39 Keterangan: *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti Keterangan: kegiatan promosi dalam satuan persen *) Dihitung secara kumulatif (lima tahun) dari selisih antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan promosi dalam satuan persen 1) Trading Board Trading board memiliki dampak yang signifikan kesemua aspek penilaian.73 12. ranking ke empat adalah misi 183.9 43.87%.4 118.19 Ratarata 30.17 6.55 26.85 Jumlah 180.23 29. c) Peningkatan penyerapan tenaga kerja 35. serta c) Jenis produksi yang dipromosikan bisa sangat beragam. 2.87 Pameran Temu Bisnis Misi Dagang Trading Board Jumlah 170.19 atau rata60. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi pemasaran 5.58 26.47 1.27 37. Nilai bobot Kelayakan Finansial Manfaat Non Finansial mengindikasikan bahwa sesungguhnya kegiatan promosi pemasaran Ratio Pening memiliki nilai tambah dari berbagai aspek Rasio pengamatan sebesar 30.21 24.05 11. Peningk.26 41.32 30.53 35.6 Tingkat Keberhasilan Dari Tiap Bentuk Promosi Tabel 4 .87%.8 124. Omset 41.97 bisnis. Biaya Pening Perbaikan Perbaikan katan peningk.4 41.36 184.39%.342 2.18 Tambahan Tenaga Kerja 31.59 44.8 119.33 2. Managemen 6.42 25.20 adalah pameran dengan tiga nilai bobot 180.06 rata 37.19 29. Kelayakan Penyelenggaraan promosi Pemasaran PROPINSI Omset Jateng D.27%.27% dari jumlah omset sebelumnya.32 28.Y Jatim Jumlah Rata-rata 121.I.322 2.55 4.30 5.26 47.61 atau rata-rata 26.92 117. 4.027 30.51 19. Perbandingan Dampak Berbagai Bentuk kegiatan Promosi Tabel pemasaran Produk UMKM Produk UMKM Dampak Promosi *) Bentuk Promosi Peningk.452 7. Keberhasilan bentuk promosi ini dalam mendukung 3 kemampuan UMKM disebabkan oleh antara lain: a) Waktu promosi yang cukup panjang (lama).35 2. b) Biaya promosi yang relatif rendah.14 157.54 34. Tekno logi 10.98 184.55 Rata-rata 42. ranking ke 2.46 5. b) Peningkatan omset setelah dilakukannya promosi dalam bentuk trading board mencapai 53.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 5.36 atau 34. Laba Laba Promosi Teknologi managemen kata Adapun urutan (ranking) nilai bobotnya adalah sebagai berikut: ranking Omset laba/biaya omset/biaya pertama adalah trading board dengan nilai bobot 227.52 13. b) Peningkatan laba dengan mencapai 58.17 136.52 58.

Untuk aspek-aspek lainnya bentuk promosi ini pengaruhnya tidak signifikan. b) Memberikan inspirasi kepada pihak lain untuk membuat barang-barang sejenis yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup besar serta. Dari aspek penyerapan tenaga kerja kurang ideal. karena temu bisnis memang lebih diorientasikan pada tujuan untuk meningkatkan omset penjualan. kualitas barang. karena tidak banyak meningkatkan penyerapan tenaga kerja.AGUSTUS 2009 : 116-139 2) Temu Bisnis Keberhasil bentuk promosi ini sangat merata dari segala aspek penilaian. c) Mempromosikan produk tertentu yang tadinya belum banyak dikenal berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (fore ward efect). jumlah barang serta pola kerjasama atau kemitraan). Pameran juga berdampak besar terhadap peningkatan jumlah pembeli. 134 .JURNAL VOLUME 4 . Rendahnya kemampuan meningkatkan jumlah pembeli nampaknya tidak mengurangi kehandalan dari bentuk promosi ini. b) Peningkatan laba yang memungkinkan UMKM dapat meningkatkan investasi serta. temu bisnis merupakan bentuk promosi yang sangat dapat diandalkan. Kehandalan pameran dari aspek penyerapan tenaga kerja diduga disebabkan oleh: a) Produk yang dipromosikan adalah barang hasil kerajinan yang dalam proses pembuatannya bersifat padat karya. Dari beberapa indikator keberhasilan temu bisnis yang dianalis dalam kajian ini. tanpa memperhatikan peningkatan jumlah pembelinya. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. Dari aspek peningkatan omset. 3) Pameran Pameran merupakan bentuk promosi yang menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. hanya ada satu faktor yang memiliki nilai rendah yaitu peningkatan jumlah pembeli. b) Akan terbentuk adanya kerjasama dalam pemasaran produk. laba dan perbaikan managemen usaha. Dalam temu bisnis maka calon pembeli atau mitra usaha sudah diberikan informasi produk yang akan ditawarkan (jenis barang. Hal ini dimungkinkan karena: a) Produsen dapat berhubungan langsung dengan konsumen. Besarnya peningkatan teknologi pada temu bisnis mungkin dikarenakan beberapa hal antara lain: a) Pemenuhan jumlah pesanan dan selera konsumen. c) Adanya kesepakatan dengan pihak pembeli atau pihak-pihak lainnya untuk menjual produk teknologi yang diproduksi.

Kondisi internal UMKM.9113 dan nilai keeratan hubungan 0. dan 12) Jumlah Pesaing. dengan nilai kondisi hubungan 0.8917. g) Jaringan Usaha. Frekuensi Keikutsertaan 4). Penyelenggara promosi. Kedua aspek penilaian tersebut masing-masing 26.8766. Terdapat 12 Peubah bebas (independent variable) yang dianalisis yaitu: 1). terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap nilai penjualan (omset) UMKM yaitu: a).9341 dan nilai keeratan hubungan 0.8763 dan nilai keeratan hubungan 0. Kondisi Internal 2). Jenis Produk 3). Promosi. Bentuk promosi. Kualitas barang.9061 b).9254. Jenis produk yang dipromosikan. Pengembangan teknologi produksi UMKM lebih didorong oleh adanya tuntutan konsumen yang menghendaki adanya peningkatan kualitas dan kuantitas barang yang ingin dibeli.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) 4) Misi Dagang Keunggulan misi dagang ditunjukan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM.7076. Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Hasil analisis menunjukan. e) Teknologi produksi.13%. V. Perbaikan sistem managemen didorong oleh tuntutan profesionalisme bisnis mitranya. dengan nilai kondisi hubungan 0. d). Dampak misi dagang diindikasikan dari kenaikan nilai bobot. 5) Promosi.9616 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 6 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap jumlah pembeli UMKM yaitu: a). f) Managemen Usaha. dengan nilai kondisi hubungan 0. c) Laba. B) Jumlah pembeli. 10) Prosedur keikutsertaan.8989 dan nilai keeratan hubungan 8016. b). d). c) Bentuk promosi. ANALISIS FAKTOR BERPENGARUH KEBERHASILAN PROMOSI PEMASARAN Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan promosi pemasaran digunakan uji statistik Analisis Regresi Simultan pada tingkat kepercayaan 90% dan Principle Componen Analisis dengan tingkat kepercayaan 85%. Penyerapan tenaga kerja. d). dengan nilai kondisi hubungan 0.8830 dan nilai keeratan hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 0. c). Hasil analisis menunjukan.7928. 9) Waktu Promosi. dengan nilai kondisi hubungan 2) 135 . 6) Tema Promosi. adapun kinerja yang dihasilkan adalah peningkatan: a) Nilai penjualan (omset).9213 dan nilai keeratan hubungan 0. 7) Biaya Promosi 8) Lokasi Promosi. 11) Kualitas Barang. dengan nilai kondisi hubungan 0. Biaya promosi.37% dan 28.

dengan nilai kondisi hubungan 0.9391 dan nilai keeratan hubungan 0. b). Hasil analisis menunjukkan.8907 dan nilai keeratan hubungan 0. 0.9109 dan nilai keeratan hubungan 0.8651.7986. Kondisi internal UMKM. dengan nilai kondisi hubungan 0. e) Lokasi promosi.8613 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0.9720 dan nilai keeratan hubungan 0.8637 dan nilai keeratan hubungan 0. Jenis produk yang dipromosikan. dengan nilai kondisi hubungan 0. Kualitas barang.7665.78798. dengan nilai kondisi hubungan 0. Lokasi promosi. e).7619. Besarnya pengaruh frekuensi keikutsertaan UMKM terhadap peningkatan teknologi produksi ini diduga karena semakin sering UMKM ikut dalam kegiatan promosi.8788 dan nilai keeratan hubungan 0. maka akan semakin banyak mendapat masukan tentang tentang teknologi yang dapat mendorong peningkatan produk dan efesien produksi. d) Biaya promosi.8709. 4) 5) 6) 136 .8698.7619.8709 dan nilai keeratan hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. f) Waktu promosi. dengan nilai kondisi hubungan 0. f) Jumlah pesaing. terdapat 4 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a). Jenis produk yang dipromosikan.9308 dan nilai keeratan hubungan 0.8732 dan nilai keeratan hubungan 0.JURNAL VOLUME 4 . Kondisi internal UMKM. Hasil analisis menunjukan. dengan nilai kondisi hubungan 0. d ). dengan nilai kondisi hubungan 0. b). dengan nilai kondisi hubungan 0. Banyaknya jumlah pesaing akan mendorong suatu perusahaan untuk berproduksi lebih efisien. c) Frekwensi keikutsertaan. Hasil analisis menunjukan. untuk itu perusahaan yang bersangkutan akan terdorong untuk menggunakan teknologi yang yang lebih efisien.8871 dan nilai keeratan hubungan 0.8392. 3) Hasil analisis menunjukan terdapat.9639 dan nilai keeratan hubungan 0.8955. c) Penyelenggara promosi. g) Jumlah pesaing.8748.7798.8731 dan nilai keeratan hubungan 0.AGUSTUS 2009 : 116-139 0.8769. yang diperoleh dari berbagai pihak. dengan nilai kondisi hubungan 0.8967 dan nilai keeratan hubungan. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM peningkatan managemen usaha UMKM yaitu kondisi internal UMKM. 7 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan laba UMKM yaitu: a).7945.9178.97139 dan nilai keeratan hubungan 0. g) Jumlah pesaing. terdapat 1 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap peningkatan kemampuan UMKM dalam penyerapan tenaga yaitu jenis produk yang dipromosikan.9178.97139 dan nilai keeratan hubungan 0.

b) Kesesuaian lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan serta. Beberapa masalah yang sering timbul dan mengurangi efekfitas promosi adalah: a) Perencanaan yang bersifat parsial sektoral (tidak terkoordinasi). trading board.8987 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. terdapat 8 variabel bebas dari promosi pemasaran yang berpengaruh nyata terhadap pengembangan jaringan pasar yaitu: a). dengan nilai kondisi hubungan 0.9207 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. 8243. 3. dengan nilai kondisi hubungan 0.8609. dengan nilai kondisi hubungan 0. misi/kontak dagang dan temu bisnis.9378 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. Secara agregat semua usaha kecil dan menengah layak untuk mengikuti kegiatan promosi.9140. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Jenis produk yang dipromosikan. VI. 9480 dan nilai keeratan hubungan 0. 137 .8769.9176 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. Pameran merupakan bentuk promosi yang paling banyak (73 kali) diikuti UMKM. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. h) Kualitas barang.9352. g) Lokasi promosi.9805 dan nilai keeratan hubungan (sangat besar) 0. Terdapat empat bentuk promosi yang secara umum pernah diikuti oleh UMKM yaitu pameran. Kondisi internal UMKM. Promosi pemasaran mampu meningkatkan laba UMKM.1 Kesimpulan 1.9265.9184 dan nilai keeratan hubungan (besar) 0. Sifat peningkatan laba yang tidak linier dengan peningkatan omset dikarenakan peningkatan laba ternyata bukan hanya karena meningkatkan permintaan produk UMKM tetapi karena berkurangnya marjin yang terserap dalam serta pasar. dengan nilai kondisi hubungan 0. dengan nilai kondisi hubungan 0. c) Waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. c) Frekuensi keikutsertaan UMKM. d) Bentuk promosi. 7) Hasil analisis menunjukan. serta menurunkan biaya produksi. Keempat bentuk kegiatan promosi pemasaran layak untuk dilakukan oleh pengusaha kecil dan pengusaha menengah.8650 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. e) Penyelenggara Promosi.8854 dan nilai keeratan hubungan (cukup besar) 0. b).8759.9078. 2.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dengan nilai kondisi hubungan 0.8798. f) Biaya promosi.

tetapi bentuk promosi ini memiliki keungulan spesifik. 5. Bentuk promosi ini mempunyai kehandalan dari aspek penyerapan tenaga kerja dan jumlah pembeli. Temu bisnis berdampak merata pada aspek peningkatan omset. d) Waktu promosi berkaitan erat dengan keberhasilan UMKM dalam meningkatkan perolehan laba. 7. Usaha yang memperbesar keikutsertaan UMKM dalam program promosi adalah: a) Memperbanyak program promosi melalui kerjasama dengan para stakeholder. Peningkatan kualitas managemen. sehingga berdampak pada pengembangan kegiatan ekonomi pada hulunya (back word efect) dan industri hilirnya (foreword efect). 8. Misi dagang memang memiliki total nilai bobot terendah. e) Berpengaruh nyata terhadap pangsa pasar. laba dan perbaikan managemen usaha. b) Memfasilitasi kegiatan promosi. Peningkatan teknologi produksi. c). 6. Kemampuan Kemampuan penyerapan tenaga kerja. Trading board dapat dikembangkan di tingkat propinsi. misi dagang perlu lebih dikembangkan terutama oleh pemerintah.2 Saran 1. sedangkan temu bisnis perlu lebih didorong sehingga tidak hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha besar tetapi juga dapat dilakukan oleh UKM dan koperasi. 2. b) Jenis dan Kualitas barang berpengaruh nyata terhadap omset dan laba UMKM serta penigkatan kualitas teknologi.JURNAL VOLUME 4 . c) Lokasi promosi berpengaruh nyata terhadap peningkatan omset dan Laba UMKM. Untuk meringankan beban biaya usaha mikro mengikuti kegiatan promosi pemasaran maka diperlukan subsidi penuh dari pemerintah. omset dan laba perusahaan. Peningkatan jumlah pembeli juga jauh lebih besar dibandingkan bentuk promosi lainnya. Promosi pemasaran berdampak nyata pada: a). pameran perlu dilaksanakan dalam semua tingkatan dari kabupaten sampai dengan di tingkat internasional. Temu bisnis merupakan bentuk promosi yang dapat diandalkan. b). Pameran menempati urutan ketiga dalam mencapai nilai bobot kelayakan. yang diindikasikan dari aspek perbaikan sistem managemen usaha dan pengembangan teknologi produksi UMKM.AGUSTUS 2009 : 116-139 4. c) Memberdayakan UMKM untuk mampu ikut serta 138 . Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebehasilan promosi pemasaran diperoleh hasil: a) Penyelenggara kegiatan promosi berpengaruh nyata terhadap perluasan pangsa pasar. dan d). 6. nasional dan internasional. Peningkatan kualitas tekonologi.

Mac Graw HillBook Company. P. Sujito. Managemen Promosi dan Pemasaran Produk. Manulang. Jakarta. Marketing. New York. (1984). (1980). Kasali Reinal. Buletin Ekonomi dan Sosial Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Sumberdaya Nasional. Marketing (Suatu Pengantar). (2002). (1967). Panglaikim. Harry R. c) Perhitungan waktu penyelenggaraan dengan sifat barang dan fluktuasi permintaan atas barang tersebut. Introduction to Sales Management. Jakarta. (1984). Untuk mengatasi berbagai masalah dalam rangka meningkatkan efektifitas kegiatan promosi pemasaran diperlukan: a) Perencanaan yang terkoordinasi. b) Evaluasi kelayakan lokasi dengan produk yang akan dipromosikan terutama yang berkaitan dengan demand atas barang yang akan dipromosikan. Tosdal. Jakarta. (1997). (1969). Bina Antar Nusa Jakarta. Nurachmat. Kajian Pengembangan Sistem Pemasaran Melalui Program Promosi (Studi kasus kebijakan Perdagangan Internasional). DAFTAR PUSTAKA Affandi.A.Kajian Efektifitas Model Promosi Pemasaran Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) (Indra Idris dan Sri Lestari) dalam kegiatan promosi. Tantangan Pemasaran Dalam Era Pasar Global (makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Penggembangan Pemasaran Industri Kerajinan Dalam Menghadapi Pasar Global.T. serta. PT. Bina Aksara.R. 139 . Program Pasca Sarjana Universitas Gajahmada. Business Review Havard University London. Jakarta. Program Magister Managemen Universitas Indonesia. (2001). PT. Membangun Pemasaran Melalui Berbagai Bentuk Promosi. Kajian Manfaat Pameran Dalam Meningkatkan Omset Industri Kecil (Thesis). Macam-Macam Bentuk Promosi Yang Mendukung Usaha Pemasaran Produk Industri Kecil. Shaw. e) Membangun kaitan (lingkage) yang saling menguntungkan antar UMKM dan antara dengan semua stakeholder lainnya serta. Ramlan. Some Problem of Market Distribution. Pembangunan Jakarta. Bharata Jakarta. Program Doktor Bidang Ekonomi Perusahaan. (2005). (2001). Wahidin. Program Pasca Sarjana Universitas Pajajaran Bandung. 3.

Kehutanan. Deputi Bidang Produksi (koordinator kajian) ***) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK *) 140 . the secondary cooperative is interrelated with primary cooperatives of their members. but the level of interrelationship is still weak. but it has a weak level of interrelationship. Artikel diterima 24 April 200�. To identify the interrelationship based on functional group implemented by secondary cooperative to primary cooperative of their member. The result of the data analysis shows that: a). and techniques should be increased. peer review 24 April 200�. Koperasi sekunder dapat Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200��. From the aspect of the implementation of vertical integration functions group of each institusional functions. keterkaitan lemah. review akhir �� �uli 200� **) Kabid. koperasi sekunder. This interrelationship is significant and real. extension. b). Koperasi primer. This interrelationship is also significant or real. PENDAHULUAN 1. business functions and supporting functions. This assessment suggests so that the level of interrelationship between secondary cooperative with the primary cooperative ot their member could become stronger then capacity building. through training.1 Latar Belakang Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992 menyebutkan bahwa koperasi sekunder adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. b). empowerment of cooperative principles.JURNAL VOLUME 4 . To identify the interrelationship among provincial level secondary cooperative with the primary cooperative of their member. socialization.AGUSTUS 2009 : 140-160 KAJIAN TENTANG KETERKAITAN KOPERASI SEKUNDER DENGAN KOPERASI PRIMER ANGGOTANYA*) Togap Tambunan**) dan Jannes Situmorang***) Abstract Assessment on interrelation of secondary cooperative with primary cooperative of their member is aimed at: a). From the point of view of the implementation of all the vertical integration function of secondary cooperatives interrelated with the primary cooperatives of their member. This assessment were done in 8 with the objects of secondary and primary cooperative of their member. capacity building I. Sample was determined by using purposive sampling.

INKOPKAR. PUSKOPDIT. dan 86 koperasi lainnya berbentuk Pusat (Kementerian Koperasi dan UKM. GKBI. PUSKOPTI.2 Permasalahan Fungsi koperasi sekunder secara spesifik menurut UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 adalah (1) Berfungsi sebagai jaringan dengan sekurang-kurangnya 3 anggota untuk menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar. 7 koperasi berbentuk Gabungan. koperasi sekunder memiliki beberapa fungsi dan peran umum. Jumlah ini belum termasuk koperasi sekunder yang tersebar disetiap provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia. fungsi dan peran tersebut adalah: (1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. IKPRI. Hingga saat ini tercatat terdapat 156 koperasi sekunder tingkat nasional yang terdiri dari 63 Induk Koperasi. PUSKUD. (2) Gabungan. 1. dalam menjalankan fungsinya. Koperasikoperasi sekunder diharapkan mampu membentuk jaringan usaha dengan koperasi-koperasi primer dan mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan. Beberapa contoh Koperasi Sekunder yang dikenal antara lain INKOPOL. PUSKOPKAR. dan (3) Induk. Sesuai Undang-Undang Perkoperasian. Sebagai sebuah lembaga. koperasi sekunder didirikan oleh dan beranggotakan koperasi primer dan/atau koperasi sekunder berdasarkan 141 . IKPI. dan lain-lain.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. INKUD. GKSI. Bagaimana sesungguhnya jaringan usaha yang terbentuk dan kerjasama yang dibangun? Informasi dan data-data mengenai hal ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan suatu kajian untuk menelaahnya secara khusus. 2005). INKOPDIT. koperasi sekunder harus mampu membangun dan mengembangkan potensi ekonomi koperasi anggotanya. Juga menurut undang-undang tersebut. PUSKSP. dan (2) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. dan (2) Berfungsi sebagai ”subsidiaritas” dimana bisnis yang dilaksanakan anggota (koperasi primer) tidak dijalankan oleh koperasi sekunder sehingga tidak saling mematikan. Sesuai pasal 4 Undang-undang Nomor 25 tahun 1992. Pendirian koperasi sekunder dalam berbagai tingkatan selama ini dikenal dengan sebutan (1) Pusat. Fungsi dan peran ini kemudian akan menciptakan berbagai manfaat koperasi di dalam perekonomian.

Identifikasi hubungan fungsional dan capacity building koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. II. Juga belum diketahui peran koperasi sekunder menjalankan fungsi-fungsinya kepada koperasi primer anggotanya dan sebaliknya koperasi primer menjalankan kewajibannya kepada koperasi sekunder. KERANGKA PEMIKIRAN Koperasi sekunder memiliki bentuk koperasi yang khas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian. Koperasi sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) koperasi primer. Hal ini kemudian menyebabkan terbentuknya banyak koperasi primer dan koperasi sekunder. Efisiensi usaha dan bargaining position di dalam koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggotanya. dan (3) Kebersamaan. diperlukan kajian untuk mengetahui sejauhmana keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Berdasarkan basis pembentukannya. Namun eksistensi dan keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya hingga sekarang belum diketahui pasti.3 Tujuan Kajian Tujuan kajian ini adalah untuk: 1). 3). Koperasi sekunder memiliki dua fungsi 142 . maka koperasi sekunder memiliki tiga azas yaitu: (1) Efisiensi. Koperasi sekunder tidak berbasis kepada orang (member based) melainkan dibentuk berdasarkan kesamaan kebutuhan organisasi. (2) Mutual (saling melengkapi). Koperasi sekunder dapat didirikan oleh koperasi sejenis maupun koperasi berbagai jenis atau tingkatan. Selama ini koperasi-koperasi sekunder terus terbentuk dan bertumbuh dengan berbagai aktivitas. Mengetahui keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Identifikasi keterkaitan usaha antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. 1. yakni koperasi sekunder yang dibentuk oleh badan hukum koperasi primer. Mengetahui keterkaitan berdasarkan kelompok fungsi yang dilaksanakan koperasi sekunder kepada koperasi primer anggotanya.AGUSTUS 2009 : 140-160 kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. Karena itu. Undang-undang tersebut memberikan peluang kepada gerakan koperasi untuk mendirikan koperasi pada berbagai tingkatan sesuai kebutuhannya.JURNAL VOLUME 4 .4 Ruang Lingkup g Ruang lingkup kajian meliputi beberapa aspek antara lain: 1). 1. 2). 2).

adanya KOPERASI KOPERASI KOPERASI jaminan pasar bagi produknya. Aktivitas : Pabrik jaring Pabrik pengalengan Ekspor. Selain itu manfaat umum baik bagi koperasi ? sekunder maupun KOPERASI koperasi primer adalahSEKUNDER tercipta efisiensi usaha dan jaringan usaha yang kuat diantara mereka. peningkatan produksi KOPERASI KOPERASIdari usaha-usaha yang dijalankan. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Usaha Perikanan Usaha Perikanan Secara garis besar. sehingga tidak saling mematikan. Jaringan dan Subsidiaritas Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer 1. masing-masing pihak menerima manfaat yang dapat mendorong peningkatan dan pengembangan usaha secara lebih baik. teknologi dan manajemen yang akses PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER lebih modern. koperasi sekunder diharapkan mampu menciptakan skala ekonomis dan posisi tawar bagi dirinya sendiri dan bagi koperasi primer anggotanya.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) yaitu sebagai suatu jaringan dan sebagai subsidiaritas. INDUK PUSAT IKPI Aktivitas : Pabrik es Pemasaran antar daerah Pengadaan BBM Kebutuhan penolong. PRIMERmodal. 143  . Dari keterkaitan sesuai jaringan yang ada. Sebagai jaringan. TAHUN 1992 Gambar 1 memperlihatkan keterkaitan antara kelembagaan koperasi sekunder – primer dan SEBAGAI PILAR dalam usaha-usaha yang saling KOPERASI keterkaitan di mendukung (backward and INDONESIA PEREKONOMIAN forward linkages). Aktivitas : Penangkapan Pengolahan Pelelangan Simpan pinjam KOPERASI PRIMER Pabrik es Produksi garam Pengadaan BBM Gambar Gambar 1. tidak dijalankan di tingkat koperasi sekunder. Para anggota (koperasi primer) mendapat manfaat peningkatan keuntungan secara finansial. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi. Koperasi-koperasi sekunder mendapat manfaat sebagai pasar F2 dan menerima input dari koperasi primer. OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. gambar 1 menyajikan sebuah contoh jaringan dan subsidiaritas koperasi sekunder – koperasi primer pada bidang usaha UNDANG-UNDANG NOMOR 25 perikanan. dan berpeluangF1 mengembangkan bisnis ? yang lebih tinggi tingkatannya sehingga dapat bersaing dengan bisnis non-koperasi. Sedangkan fungsi subsidiaritas memiliki arti bisnis yang dilakukan anggotanya (koperasi primer).

Primer kepada Kop. Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 1992 KOPERASI SEBAGAI PILAR PEREKONOMIAN INDONESIA KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI KOPERASI PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER PRIMER F2 F1 KOPERASI SEKUNDER ? ? OUTPUT : Keterkaitan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya. Keterangan : = Arah pembentukan koperasi = Arah pelaksanaan fungsi dan kewajiban F1 = Pelaksanaan fungsi oleh Kop. Keterkaitan menurut katagori fungsi koperasi.JURNAL VOLUME 4 . Sekunder kepada Kop. 144 .AGUSTUS 2009 : 140-160 Sedangkan gambar 2 menyajikan skema kerangka berpikir yang digunakan dalam kajian ini. Sekunder. dan (2) Koperasi primer anggota. III. KerangkaPemikiranKeterkaitan Usaha dandan Kelembagaan Gambar Kerangka Pemikiran Keterkaitan Usaha Kelembagaan Antara Koperasi Sekunder dan Koperasi Primer Anggotanya. METODE KAJIAN 3. Primer F2 = Pelaksanaan kewajiban oleh Kop.1 Obyek Kajian Obyek kajian ini mencakup: (1) Koperasi sekunder tingkat provinsi (pusat dan gabungan). 2. Gambar 2.

3. dinas koperasi tingkat provinsi dan kabupaten. Koperasi sekunder dimaksud adalah yang masih aktif dan memiliki keterkaitan dengan koperasi anggotanya. Seleksi fungsi-fungsi tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Petunjuk Pemeringkatan Koperasi Berkualitas dan Koperasi Berprestasi. mengarahkan) FA3 : ikut menyusun rencana kerja dan RAPB Koperasi Sekunder FA4 : memberikan pelatihan manajerial koperasi FA5 : menegakkan implementasi nilai-nilai koperasi 145 . Nusa Tenggara Timur. Sampel koperasi sekunder tingkat provinsi dan koperasi primer anggota dipilih berdasarkan informasi dari dinas koperasi provinsi setempat. Jawa Tengah. kemudian dipilih koperasi sekunder dan primer anggota sebagai sampel. Fungsifungsi yang harus dilaksanakan oleh masing-masing tentu sangat banyak. Diperoleh 25 fungsi yang layak dijadikan faktor yang menentukan keterkaitan dimaksud. dan dari masing-masing koperasi. Sulawesi Selatan. Kelembagaan FA1 : memberikan bimbingan dan advokasi keanggotaan FA2 : memberikan masukan mengenai RAT (menghadiri. 3. BPS tingkat provinsi. Dari lokasi kajian yang telah ditentukan.1 Jenis Data Data yang dikumpulkan sebagai bahan analisis terdiri dari data primer dan data sekunder. Responden penelitian ini adalah pengurus koperasi sekunder dan pengurus koperasi primer anggotanya. dan (3) Fungsi penunjang. Sumatera Utara. dan Kalimantan Barat. 3.3 Metode Penarikan Sampel (Sampling Methode) Penarikan sampel pada objek kajian dilakukan dengan metode Purposive Sampling.2 Seleksi Fungsi-fungsi Keterkaitan Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi-fungsi diantara mereka. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari laporan-laporan Kementerian Koperasi dan UKM.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) 3. Fungsi-fungsi tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian masing-masing: (1) Fungsi kelembagaan. (2) Fungsi usaha. Definisi fungsi-fungsi tersebut adalah: A. Data primer diperoleh dari para responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun secara terstruktur. Nusa Tenggara Barat.2 Lokasi dan Waktu Kajian Kajian ini telah dilaksanakan pada 8 provinsi yang memiliki koperasi sekunder masing-masing: Jawa Timur. Sumatera Barat.

dll) FC2 : membantu manajemen FC3 : membantu sistem informasi FC4 : membantu penyebaran informasi FC5 : membantu image (citra) koperasi....... Uji Chi Square (Uji χ 2 ) Keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya dapat dianalisis dengan metode Chi-Square (uji χ 2 ) dengan rumus: (1) χ2 = ∑ ∑ ( f0 − fh )2 fh .. ilmiah (seminar.. C.... Usaha FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 : memberikan pelatihan organisasi koperasi han : memberikan pelatihan keanggotaan koperasi : mengadakan pertemuan khusus............ 3..... F12 dan F13 dilaksanakan oleh koperasi primer anggota kepada koperasi sekunder.. sedangkan fungsi F3.... FB1 sampai FB6 dan FC1 sampai FC5 dilaksanakan oleh koperasi sekunder kepada koperasi primer anggota..........3 Metode Analisis Data a). 146 .. : : : : : : membantu penyusunan business plan (rencana kerja) membantu dan membangun jaringan pemasaran membantu pengolahan/proses produksi membantu permodalan/pembiayaan produksi membantu promosi mengadakan temu usaha.... akuntansi.. Penunjang FC1 : membantu administrasi bisnis (pembukuan..AGUSTUS 2009 : 140-160 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 B. dan FA13. FA2. lokakarya) : membangun kerjasama antara koperasi anggota : mengupayakan kemitraan dengan pihak ketiga : mengadakan pertemuan secara periodik : menghadiri RAT Koperasi Sekunder : membagikan SHU kepada anggota : memenuhi kewajiban.JURNAL VOLUME 4 ..... Keterangan : Fungsi FA1.... FA4 sampai FA11..............

.. Sebaliknya H0 ditolak atau terima H berarti ada keterkaitan yang signifikan antara kedua variabel...... Untuk menghitung nilai dari frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis)..... dengan derajad bebas tertentu H0 ditolak atau terima H bila : χ2 > χ2 α.... digunakan rumus pada persamaan (2)....... dan 3).. (2) fe = (∑ f kolom) Total (∑ f baris ) . dengan derajad bebas tertentu...... Data frekuensi ditabulasi.. Uji Signifikansi Uji siginifkansi digunakan untuk menunjukkan bahwa apakah ada hubungan yang signifikan antara satu variabel dengan variabel lainnya.. Sedangkan nilai χ2 2 α dengan derajad bebas tertentu adalah nilai chi square statistik 147 . ditempuh beberapa langkah yakni: 1)... Menghitung nilai Uji Chi-Square berdasarkan rumus (1).. 2). b).. analisis kemudian dilanjutkan dengan uji signifikansi. Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis nol/nihil (H0) dan hipotesis tandingan/alternatif (H). Terima H0 memiliki arti tidak ada keterkaitan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya.. Nilai χ2 diperoleh dari hasil perhitungan sesuai rumus chi square di atas. Setelah perhitungan dengan metode Chi-Square... Untuk mendapatkan nilai Chi-Square.... Secara statistik dinyatakan bahwa : H0 diterima bila : χ2 ≤ χ2 α.. Dihitung frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis). uji signifikansi digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya melalui fungsi-fungsi yang mereka lakukan.. dimana : fe = Frekuensi yang diharapkan (frekuensi teoritis) Σ f kolom = Jumlah frekuensi kolom Σ f baris = Jumlah frekuensi baris Total = Jumlah baris dan kolom (keduanya harus sama).. Dalam penelitian ini...Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Keterangan : χ 2 = Chi – Square fo = Frekuensi yang diperoleh dari sampel (hasil observasi) fh = Frekuensi yang diharapkan atau disebut juga frekuensi teoritis..

.square n = Besar sampel... Jika C = 0 maka tidak terdapat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Sedangan jika C < 0....... NTT. Jumlah tersebut dibagi dalam 12 jenis koperasi masing-masing: (1) PUSKUD (Puskud Jatim. (3) PUSKOPDIT (Puskopdit Jateng........... Sumut. NTT...... Lotim dan Lobar)..JURNAL VOLUME 4 ....... (6) PUSKOPPAS (Puskoppas Sulsel). (7) PUSKOPPONTREN (Puskoppontren Sulsel)..5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya dan keterkaitan tersebut dikatakan cukup kuat. Sulsel... (5) PKP-RI (PKP Sumbar. Sumut)........ 148 ... Jika C = 1 maka terdapat keterkaitan yang sangat kuat diantara keduanya.1 Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi Dari hasil survei lapangan pada 8 provinsi. Koefisien Kontingensi (C) Koefisien kontingensi digunakan untuk mengukur derajat hubungan......AGUSTUS 2009 : 140-160 yang dapat dilihat pada tabel chi square standar......01 yang memiliki arti kita percaya bahwa 99% hasil uji yang kita peroleh adalah sangat akurat.. IV.. dan Kalbar). asosiasi.5 maka terdapat keterkaitan antara keduanya namun keterkaitan tersebut lemah.... Nilai koefisien kontingensi (C) berkisar antara nol hingga satu.. (4) PUSKUD MINA (Puskud Mina Jatim). Jateng.. GAMBARAN UMUM KOPERASI SAMPEL 4. Derajat bebas (d.. (3) dimana : C = Koefisien kontingensi χ 2 = Nilai chi. diperoleh 33 koperasi sekunder. NTT. Sumut. Sumbar.... Derajat hubungan di sini menunjukkan ada korelasi atau tidak antara kolom dan baris tabel kontingensi. dan jika C > 0..b) diperoleh dengan rumus: (Jumlah baris – 1) dikalikan (jumlah kolom – 1) Taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah α = 0... atau dependensi dari klasifikasi-klasifikasi dalam tabel kontingensi.... c). Rumus koefisien kontingensi adalah : C= χ2 χ +n 2 ... Sulsel. dan apakah hubungan tersebut kuat atau tidak kuat.. (2) GKSI Jateng..

06% atau 2 koperasi masih menempati gadung kantor dengan status kontrak. Sesuai data yang terhimpun. PUSKUD. PUSKUD memiliki anggota (KUD) yang paling banyak. Sulsel.06%. dan yang tidak melakukan RAT sama sekali sebanyak 6. dua kali sebanyak 6. Dari sisi jumlah anggota. Sedangkan koperasi-koprerasi lainnya memiliki jumlah anggota lebih sedikit (kurang dari 100 unit). Sebanyak 54. Dari segi usia. sebanyak 69. (9) PUSKOPWAN (Puskowan Jatim. Ini menunjukkan mereka cukup aktif dan tetap menjalankan ketentuan administrasi secara baik. Namun pada nilai SHU.30% berusia 10 sampai 20 tahun. jumlah modal dan volume usaha PUSKUD. PUSKOPPOLDA.15%. tiga kali sebanyak 12. Keragaan masing-masing koperasi sekunder tingkat provinsi secara rata-rata selama 5 tahun terakhir menurut urutan nilai-nilai yang paling tinggi hingga terendah dapat dilihat pada Gambar 3.06%. dan sebanyak 6.12%. Pada jumlah unit usaha. NTT. tiga koperasi yang mencapai nilai yang paling besar adalah PUSKOPPAS. Data ini menunjukkan masih cukup banyak koperasi sekunder yang menyeleggarakan RAT setiap tahun.55% koperasi sekunder tingkat provinsi melakukan RAT setiap tahun dalam 5 tahun terakhir. GKSI Jateng dan PUSKOPWAN mencapai nilai terbesar.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) (8) PUSKSP (Puskospin Jatim. disusul PKP–RI. Puskopad A’DAM VII/WRB. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah mengalami perkembangan yang makin menurun.36% berusia 3 sampai 9 tahun. Sesuai data yang terkumpul. Sumut). Sebanyak 24. dan (12) PKSU (PKSU NTB dan Kalbar). Sumbar. dan sisanya 36. dan PUSKUD.24% atau 8 koperasi menempati gedung kantor berstatus pinjaman. Sedangkan yang melakukan RAT empat kali sebanyak 15.06%. (10) PUSKOPPOLDA (Puskoppolda Sumbar. Sementara itu PUSKUD MINA mengalami kerugian dimana SHU-nya bernilai ratarata negatif dalam 5 tahun terakhir. (11) PUSAT KOPERASI VETERAN (Puskop Purnawirawan & Warakawuri TNI & Polri NTT). Meskipun dari modal PUSKUD memiliki modal yang paling besar namun nilai SHU-nya lebih rendah dibanding rata-rata yang dicapai oleh PUSKOPPAS dan PUSKOPPOLDA. Sulsel).33% koperasi berusia lebih dari 20 tahun. sebagian koperasi-koperasi sekunder tingkat provinsi mengalami perkembangan yang makin maju. NTB). PUSKOPPOLDA dan PUSKUD MINA memiliki jumlah yang lebih banyak. satu kali sebanyak 6. Dari sisi usaha. sebanyak 30. 149 .70% koperasi sekunder tingkat provinsi sampel (atau 23 koperasi) sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri. sebanyak 33.

VETERAN P.MINA PKP .KOPPAS P.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P.MINA P.KOPDIT PUSKUD P.KOPPAS P.RI P.89 10.20 156.25 30.MINA 411. POLDA PUS.MINA PUSKUD P.KOPPAS Jumlah Anggota Koperasi Sekunder N ama Koperas i 1 1 - 2 2 2 2 3 4 6 Jumlah Unit 86 60 47 31 27 24 22 16 12 8 143 405 Jumlah Unit PUSKUD PKP .65 8.37 54.KOPPAS Nama Koperasi Nama Koperasi - 0.65 152.19 10.KOPPAS PUS. POLDA PUSKUD PUS.52 119.52 Persen P.MINA 179.74 5.88 63. POLDA PUSKUD P.PONTREN P.63 165.87 Persen 547.RI P. Keragaan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi 150 .PONTREN P.52 8.KOPPAS N am a K operasi Rata-rata Tingkat Likuiditas Koperasi Sekunder 386.51 Persen Gambar 3.64 51. POLDA P.MINA PUSKSP P.KOPPAS N a m a K o p e ra s i Jumlah Volume Usaha Koperasi Sekunder 2680 2169 1656 3513 P.57 P.17 291.74 152.33 21. VETERAN P. VETERAN PKP .KOPDIT PUS.24 253. POLDA PUS.34 Jt Rupiah 169.KOPDIT P.MINA PKSU GKSI P.55 11.KOPDIT P.PONTREN P. VETERAN 1349 1225 974 965 410 259 138 - 5891 17553 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah 926 553 472 381 321 99 90 36 Jt Rupiah Jumlah SHU Koperasi Sekunder Rata-rata Tingkat Solvabilitas Koperasi Sekunder -27.KOPW AN P.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Unit Us aha Kope ras i Se k unde r 7 7 P.23 P.KOPPAS Jumlah Modal Koperasi Sekunder 23633 PUSKUD GKSI P.KOPWAN PUSKUD GKSI PKP .KOPDIT PUS.PONTREN PKSU P.RI P.RI PUSKUD P.KOPW AN P.50 27.JURNAL VOLUME 4 .KOPWAN PKP .RI P.74 5. VETERAN PUS.KOPW AN PUSKSP GKSI PKP .KOPDIT PKSU P.PONTREN P.KOPDIT P.89 6.RI PUS.RI P.MINA P.08 9.KOPWAN P.69 83.PONTREN PUSKSP P.01 123.RI P.33 21.KOPW AN GKSI PUSKSP PKSU P. POLDA PKSU P.PONTREN PUSKSP PKSU P.41 331.54 Nama Koperasi - Rata-rata Tingkat Rentabilitas Koperasi Sekunder 19.KOPDIT GKSI PKP .44 349.43 -8. VETERAN PKSU P.PONTREN P.36 178. VETERAN PUSKSP P. VETERAN PKP .POLDA GKSI PUSKSP P.67 53.60 P.02 - 86.00 19.40 75. POLDA P.

dan KOPPONTREN memiliki jumlah pengurus lebih banyak dibanding koperasi-koperasi lainnya. (7) KOPPONTREN. Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat hanya menjalankan RAT satu kali selama 5 tahun terakhir. dan seterusnya. Dari sisi permodalan.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi provinsi. Ratarata Koperasi sekunder menghadiri RAT yang diselenggarakan koperasi primer anggotanya. Pada umumnya sebagian koperasi primer mengalami perkembangan yang makin maju. hampir semua koperasi sekunder tingkat provinsi mengeluhkan kekurangan modal untuk pembiayaan usahanya. 11 koperasi. 4. (9) KOPWAN. 4 provinsi masing-masing Jawa Timur. KUD Susu memiliki anggota jauh lebih banyak diikuti. Kalimantan Barat dan Sumatera Barat. (4) KUD MINA. Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara kurang dari 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahun. Dari sisi jumlah anggota. Jawa Tengah. 5 koperasi. Ada beberapa koperasi primer sampel menyatakan tidak memperoleh informasi memadai dari koperasi sekunder dalam kegiatan pengembangan usaha dan informasi pasar. Sedangkan provinsi NTB 50% koperasi sekundernya menyelenggarakan RAT setiap tahunnya. (3) KOPDIT. 24 koperasi. dan (11) KSU. (8) KSP. KOPWAN. Namun dalam hal kerjasama membangun jaringan usaha yang saling terkait dengan usaha anggotanya. (2) KUD Susu. sebagian lagi tidak mengalami kemajuan berarti atau tetap statis dan sebagian lainnya malah makin menurun. KSI memiliki jumlah yang lebih banyak (9 unit) diikuti masing-masing oleh KUD MINA dan KUD. Bahkan masing-masing satu koperasi sekunder dari NTT. Namun dengan segenap keterbatasan yang ada mereka tetap berusaha untuk tetap eksis menjalankan usaha yang ada. 2 koperasi. 151 . KOPDIT. Keragaan masing-masing golongan koperasi secara rata-rata selama 5 tahun (tahun 2001 – 2005) menurut urutan nilai terbesar dapat dilihat pada Gambar 4. KUD MINA. hampir 90% Koperasi Sekundernya aktif menyelenggarakan RAT setiap tahun selama 5 tahun terakhir. 9 koperasi. 26 koperasi. 7 koperasi. Jumlah ini dikategorikan menurut 12 jenis koperasi sekunder tingkat provinsi dengan perincian sebagai berikut: (1) KUD. Pada sisi pengurus.2 Koperasi Primer Anggota Koperasi primer anggota dari koperasi sekunder yang terpilih dalam penelitian ini berjumlah 107 koperasi. 6 koperasi. jarang dilakukan. Untuk jumlah unit usaha. Tiga provinsi masing-masing NTT. 4 koperasi. (5) KPRI. (6) KOPPAS. KUD. KSP. 12 koperasi. (10) KOPPOLDA. 1 koperasi.

78 KOPPAS 20.87 KUD MINA KUD SUSU Persen K. POLDA 19.24 Persen Rata-rata Rentabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 25.AGUSTUS 2009 : 140-160 Jum lah Anggota Kope ras i Prim e r Anggota Sam pe l 3364 2434 1299 530 512 481 469 246 51 50 Orang 6421 KUD SUSU KUD MINA KOPDIT KUD KSU K.30 KSU 5.PONTREN K.PONTREN KOPDIT K.PONTREN KSU KUD MINA Nam a K operasi 2 2 2 2 3 3 3 Unit Nama Koperasi 4 4 5 9 KUD SUSU KUD MINA KUD KOPDIT K.58 285.67 21.24 KOPW AN 14.60 91.RI KUD KUD SUSU KOPW AN KSP KOPPAS KOPDIT KUD MINA K.PONTREN 231 154 142 116 83 63 63 28 - 481 Nama Koperasi Nama Koperasi Jt Rupiah Rata-rata Solvabilitas Koperasi Primer Anggota Sampel 417.RI KOPWA N KSP K.RI 20.PONTREN Nama Koperasi Rata-rata Likuiditas Koperasi Primer Anggota Sampel 821.83 760.11 130.86 159.98 KOPDIT 1.42 144. POLDA KP . POLDA KUD SUSU KP .68 168.RI K.78 145.PONTREN Jumlah SHU Koperasi Primer Anggota Sampel 1110 KOPPAS KUD KSP KOPW AN KP .RI K. POLDA KSU KUD SUSU KOPDIT KUD MINA K.21 207. POLDA KSU KP .02 KP .03 KUD 4.34 K.61 122.PONTREN 353. POLDA KOPDIT KSP KUD KSU KUD MINA K.01 Persen Gambar 4.RI KUD MINA KUD KOPPA S KSU Nama Koperasi 7 7 7 8 8 8 8 9 Orang Jumlah Unit Usaha Koperasi Primer Anggota Sampel Jumlah Modal Koperasi Primer Anggota Sampel 4848 11399 KUD KUD SUSU KOPDIT KOPWAN KOPPAS KP .31 104.83 109.50 368.RI KSP K. Keragaan Koperasi Primer Anggota Sampel 152 N aK am operasi N a Koperasi am .84 404.PONTREN KSU KP . POLDA K.46 152. POLDA KP .RI KUD KOPW AN KUD SUSU KSP KOPDIT KUD MINA KOPPAS K.80 KSU K.94 149.JURNAL VOLUME 4 .PONTREN KOPPA S Nama Koperasi Jum lah Pe ngur us Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 11 10 14 KSP KOPWA N K.RI K. POLDA KSP KOPPAS KOPWAN 2618 1154 1030 913 871 688 670 450 273 Jt Rupiah Jum lah V olum e Us aha Kope r as i Pr im e r Anggota Sam pe l 2757 2301 1018 1002 730 607 463 153 24 11 Jt Rupiah 8911 KUD SUSU KOPWA N KOPPA S KP .48 297.94 KSP 9.

56% atau 22 koperasi masih menempati gedung kantor dengan status pinjaman. 153 . Dari 107 koperasi primer anggota. Dari segi usia. KOPWAN. KOPPAS. Hanya 2.50% koperasi primer sampel sudah berusia lebih dari 10 tahun. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa sebanyak 69. Sebanyak 10.16% koperasi primer sampel atau 74 koperasi sudah memiliki gedung kantor berstatus milik sendiri.28% atau 11 koperasi menempati gedung kantor berstatus sewa. 59. Sisanya 37. KPRI. Beberapa koperasi primer sampel yang bergerak pada bidang perdagangan mengeluhkan persaingan harga yang makin ketat dengan swalayan dan pasar modern yang ada. 5 koperasi yang mencapai nilai paling besar adalah KPRI. Dari sisi rasio keuangan. 78.49% atau 23 koperasi berusia 3 sampai 9 tahun. Sedangkan KUD MINA mencapai nilai SHU yang paling rendah. sebanyak 39. Ini menunjukkan pada umumnya semua koperasi primer anggota masih beroperasi secara aktif dan konsisten menjalankan RAT setiap tahunnya. 11. Dari data ini.25% atau 42 koperasi berusia lebih dari 20 tahun. Kesulitan utama yang dihadapi koperasi primer adalah permodalan yang terbatas. KOPPOLDA. koperasi primer sampel tetap memenuhi kewajiban mereka yakni membayar simpanan pokok dan wajib kepada koperasi sekunder.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Dari sisi modal. Pada nilai volume usaha.81% atau 64 koperasi melaksanakan RAT setiap tahunnya selama 5 tahun terakhir. KSU.25% atau 42 koperasi berusia 10 sampai 20 tahun. KSI mencapai volume usaha terbesar disusul KOPWAN dan KOPPAS. Sedangkan untuk rasio rentabilitas. Kesulitan lainnya adalah mengenai kemampuan sumber daya manusia pengurus koperasi yang belum baik.38% atau 40 koperasi menyelanggarakan RAT 2-4 kali. dan KUD mencapai nilai solvabilitas dan likuiditas yang lebih besar. Sedangkan nilai SHU terbesar dicapai oleh KOPPAS disusul KUD dan KSP. dan KSP. KOPPOLDA. Nilai solvabilitas dan likuiditas yang besar ini memiliki arti keempat koperasi tersebut memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembalikan hutang. dan sebanyak 20. KUD memiliki modal terbesar mencapai Rp.4 milyar jauh di atas koperasi-koperasi lainnya.80% atau 3 koperasi yang hanya melaksanakan RAT satu kali selama 5 tahun. mampu menghasilkan nilai SHU sebesar nilai persentase masing-masing. Perkembangan koperasi primer anggota koperasi sekunder tingkat provinsi dominan lebih baik. dan sisanya 21. Secara umum. Ini adalah hambatan utama yang sering menyebabkan para anggota keluar dari keanggotannya. Juga sebanyak 39. Nilai ini memiliki arti dari setiap seratus rupiah harta masing-masing koperasi. Modal terbanyak kedua dicapai oleh KUD Susu disusul KOPDIT dan KOPWAN.

497.1 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi sekunder secara nyata dapat terkait dengan koperasi primer anggotanya jika dilihat dari sisi pelaksanaan fungsinya secara menyeluruh.JURNAL VOLUME 4 .497 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer 154 . Sedangkan nilai kritis chi square pada α = 0. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0. 2). fungsi-fungsi usaha dan fungsi-fungsi penunjang.5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat. Pada tabel 2 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya. Angka ini lebih kecil dari 0. V. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui sejauh mana koperasi sekunder berperan menunjang aktivitas dan usaha-usaha koperasi anggotanya maka perlu dibahas sejauh mana keterkaitan di antara mereka. Rata-rata koperasi primer membutuhkan campur tangan pemerintah menangani permasalahan yang mereka hadapi mengenai bantuan permodalan.AGUSTUS 2009 : 140-160 Rata-rata koperasi primer terjalin usahanya dengan koperasi sekunder hanya sebatas organisasi dan belum kepada pelaksanaan fungsi-fungsi secara nyata. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota secara keseluruhan. Keterkaitan diantara koperasi dibedakan atas dua kategori. 1). Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa nilai chi square hasil perhitungan lebih besar dari nilai kritis chi square. 5.44.01 sesuai kurva normal adalah sebesar 99. Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi. diperoleh nilai koefisien kontingensi koperasi sekunder sesuai tabel 3 hanya sebesar 0. Hasil analisis pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai chi square sangat besar yaitu sebesar 304. Ini berarti kita tolak hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif (H).04. dan pada tabel 3 disajikan nilai chi square menurut analisis keseluruhan fungsi integrasi. pembinaan dan pelatihan managemen serta kerjasama dengan berbagai pihak. Tolak hipotesis nol (H0) memiliki arti bahwa secara keseluruhan koperasi sekunder memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan dengan koperasi primer anggotanya. keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota dipisahkan menurut golongan fungsi yakni fungsi-fungsi kelembagaan. Keterkaitan di antara koperasi sekunder dan koperasi anggotanya dapat terwujud di dalam fungsi-fungsi yang dijalankan di antara mereka.

40 19. Nilai Koefisien Kontingensi = 0.93 5.31 21.46 53 65 38 49 32 40 33 31 33 31 56 83 51 80 27 18 8 27 8 17 56 28 25 21 19 929 100 5.46 PUSKOPPAS 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 6 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 2.46 13. Uji Signifikansi dan KoefisienKoefisien Kontingensi Tabel 3.55 3.44 4.PONTREN 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 13 1.03 8.34 3. Nilai Chi Square.91 1. 2.51 10.15 P.69 2. Nilai Chi Square.01 2.RI PUSKUD .27 3.34 6. Uji Signifikansi dan Kontingensi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Koperasi Sekunder Dianalisis menurut Keseluruhan Fungsi Nilai Chi Square ( 2) = 304.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel 2.86 2.71 7.10 13.49 8.09 5.03 3.26 2.83 6.00 4.05 100 4 155 PKP .91 0.Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Koperasi Sekunder dengan Anggotanya PUSKO WAN FUNGSI INTEGRASI FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 FA6 FA7 FA8 FA9 FA10 FA11 FA12 FA13 FA14 FB1 FB2 FB3 FB4 FB5 FB6 FC1 FC2 FC3 FC4 FC5 J Kolom (%) kunder Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Tabel 3. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah PUSKUD 13 17 8 8 7 7 5 6 9 6 15 22 10 22 2 2 0 3 0 1 3 4 3 4 3 180 19.44 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya (menurut analisis keseluruhan fungsi keterkaitan).87 PKSU JUMLAH BARIS (%) 2 4 2 4 4 3 3 2 2 2 4 4 3 4 3 1 1 3 1 1 3 3 3 3 4 69 7.46 PUSKUD MINA 2 2 1 1 1 0 0 0 1 0 1 2 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 1.43 9 4 6 6 5 5 5 5 5 6 8 6 8 4 4 4 5 2 4 4 4 4 4 4 4 125 13.38 GKSI 3 4 2 3 0 2 0 2 2 3 4 4 4 4 1 3 0 3 0 1 1 0 0 0 0 46 4.95 PUSKOPDIT 5 7 2 7 5 6 6 6 4 5 6 8 6 8 6 4 1 4 2 3 6 6 6 2 4 125 13.61 2.86 1.55 3.04 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 240 dan pada 0.10 PUSKOPPOLDA 2 7 5 4 3 3 1 1 4 1 4 9 4 9 3 1 0 1 0 0 30 2 2 2 3 101 10.87 PKP-RI 14 16 9 12 5 11 9 7 4 4 10 17 13 16 6 2 0 8 0 6 8 8 6 5 0 196 21.497 artinya tingkat keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya tidak kuat (lemah).31 3.01 sebesar 99.38 PUSKSP 1 2 2 2 1 1 2 1 0 3 3 4 1 4 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 40 4.94 0.

38 Koperasi Sekunder 13. Tiga koperasi yang sangat rendah presentase frekuensi pelaksanaan fungsinya adalah PUSKOPPAS (2.KOPPAS PUS.51%). kita telah menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggotanya.43 4. Ini berarti mereka mengabaikan tanggung jawabnya kepada koperasi anggotanya. yaitu 156 .40 Persen PKP .10 19. Secara statistik. Berikut itu ditunjukkan pelaksanaan fungsi-fungsi yang memperlihatkan keterkaitan tersebut pada Gambar 5 dan 6. 21.15 1.JURNAL VOLUME 4 . Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa secara frekuensi PKP–RI melaksanakan 21.POLDA P. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan lemah.MINA P. PUSKUD MINA (1. Hasil ini menunjukkan bahwa keempat koperasi diatas secara frekuensi paling banyak melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitan dengan anggotanya.10% fungsi-fungsi keterkaitan dari total pelaksanaan semua fungsi oleh semua koperasi. yakni hanya sebesar 49.31 2.46%.38% dan PKSU dan PUSKOPDIT masing-masing melaksanakan 13.15%).7%.AGUSTUS 2009 : 140-160 anggotanya.51 1.87 7. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Semua Fungsi Keterkaitan oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Gambar 6 menunjukkan bahwa fungsi FA12 yaitu koperasi primer anggota menghadiri rat koperasi sekunder tingkat provinsi secara frekuensi paling banyak dilaksanakan oleh semua koperasi.KOPWAN GKSI PUSKSP P. Berikutnya.RI PUSKUD PKSU P. PUSKUD melaksanakan sebanyak 19.PONTREN Sumber data: Primer diolah Gambar 5.46 13.40%). dan PUSKOPPONTREN (1. Dengan persentase yang rendah seperti ini berarti koperasi-koperasi tersebut relatif kurang dapat melaksanakan fungsi-fungsi keterkaitannya.95 4.46 10.KOPDIT P.

91 2.93%.93 8. Fungsi FA14 (koperasi primer anggota memenuhi kewajibannya kepada koperasi sekunder) dilaksanakan sebanyak 8. padahal fungsi-fungsi tersebut adalah penting untuk menunjang kemandirian koperasi anggotanya.01 2.27 7.71 5.34 3.69 2. Pada tabel 4 disajikan distribusi frekuensi pelaksanaan fungsi-fungsi keterkaitan koperasi sekunder dengan anggotanya menurut katagori fungsi.83 6.34 3. Distribusi Frekuensi Pelaksanan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Empat fungsi paling rendah frekuensi pelaksanaannya adalah masing-masing FB2 (KS membangun jaringan pemasaran bagi anggota) sebesar 1. dan fungsi penunjang.03 6.03 5.86 0. masing-masing fungsi kelambagaan.00 Persen FA12 FA14 FA2 FC1 FA11 FA1 FA13 FA4 FA6 FA3 FA9 FA7 FA5 FA10 FA8 FC2 FB4 FB1 FC3 FC4 FC5 FB2 FB6 FB5 FB3 Gambar 6. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Masing-masing Fungsi oleh Koperasi Sekunder dengan Anggotanya 8.94%.05 1.09 3.55 3. Gambar 6.82%.61%.31 4.86 4. Nama Fungsi 157 .61 0.2 Keterkaitan Koperasi Sekunder Tingkat Provinsi dengan Koperasi Primer Anggotanya Dianalisis Menurut Kelompok Fungsi Analisis menurut kelompok fungsi dimaksudkan untuk melihat apakah ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya dilihat dari 3 kelompok fungsi.94 1.49 5. FB6 (KS mengadakan temu usaha dengan koperasi anggotanya) sebesar 1. FB3 (KS membantu pengolahan/proses produksi dari koperasi primer anggota) dan FB5 (KS membantu promosi produksi kepada koperasi primer anggota) masing-masing dilaksanakan hanya sebanyak 0.55 3. fungsi usaha.44 3.86%. 5. dan pada tabel 5 disajikan nilai chi square menurut analisis kelompok fungsi integrasi.00%. Ini berarti keempat fungsi ini sangat jarang dilaksanakan oleh koperasi sekunder.26 2.91 2. dan FA2 (koperasi sekunder memberikan masukan yaitu menghadiri dan mengarahkan rat koperasi primer anggotanya) dilaksanakan sebanyak 7.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) sebanyak 8.

Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Tabel Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. Uji Signifikansi dan Koefisien Anggotanya Sekunder dengan Koperasi Primer Kontingensi Koperasi Sekundertidak kuat (lemah).566 Hasil : 2 hitung > 2 tabel Keputusan : Tolak H0 atau terima H Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya (menurut analisis kelompok fungsi keterkaitan).293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Sekunder dengan Koperasi Primer Anggotanya tidak kuat (lemah). diperoleh nilai koefisien kontingensi hanya sebesar 0. usaha dan penunjang.PONTREN PUSKSP 27 8 40 PUSKSP PUSKOPPOLDA 57 5 101 PUSKOPPOLDA PKSU JUMLAH BARIS 43 10 82 23 675 107 152 934 JUMLAH BARIS Tabel 4.01 dengan derajad bebas 20 diperoleh 27 Koefisien Kontingensi 675 Square. Koperasi SekunderDianalisis menurut Kelompok Fungsi Dianalisis menurut Kelompok Fungsi Sumber data: Primer diolah Nilai Chi Square ( 2) = 87.293 (tabel 5). 158 6 . Nilai Nilai Chi Square ( 12) kita87.76.76 Nilai Kritis Chi Square dengan derajad bebas = 20 dan pada 0. Nilai Chi Square. Sedangkan nilai kritis chi square pada α = Kelembagaan 5.Square hipotesis nol (H0) atau 20 dan pada 0. (menurut Nilai Koefisien Kontingensi = 0. 69 PUSKOPWAN 125 PKSU Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan nilai chi square cukup besar yaitu sebesar 87.PONTREN 12 1 14 P.01 sebesar 37.01 sebesar 37. Nilai Chi81 155 37 14 147 20 12 43 57 82 Tabel 0. Uji Signifikansi dan Koefisien Kontingensi Tabel 5.293 artinya tingkat keterkaitan antara Koperasi Tabel 5. Koperasi Sekunder dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. analisis kelompok fungsi keterkaitan). Nilai Koefisien Kontingensi = 0. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Fungsi-fungsi Keterkaitan Penun-jang 17 1 1 27 1 1 5 16 39 20 Koperasi Sekunder 24 dengan Anggotanya Menurut Kelompok Fungsi. Uji Signifikansi dan nilai sebesar 37.566.JURNAL VOLUME 4 . PUSKOPWAN FUNGSI INTEGRASI Kelembagaan Usaha Jlh Kolom FUNGSI INTEGRASI PUSKUD 155 8 180 PUSKUD GKSI 37 8 46 GKSI PUSKOPDIT 81 20 125 PUSKOPDIT PUSKUD MINA 14 1 14 PUSKUD MINA PKP-RI 147 22 196 PKP-RI PUSKOPPAS 20 1 22 PUSKOPPAS P. Nilai Square.566 Chi Tolak dengan derajad bebas = terima H memiliki arti bahwa secara Jlh Kolom 180 2 46 125 14 196 22 69 101 125 934 kelompok fungsi2 yaitu dilihat dari14 40 pelaksanaan fungsi-fungsi integrasi hitung > tabel Hasil : Sumber data: Primer sisi kelembagaan. Jika nilai Koperasi hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai kritis chi8 squareSekunder1Dianalisis1menurut Kelompok Fungsi 23 chi square Usaha 8 20 22 1 8 10 5 107 maka diperoleh hasil nilai chi square hasil perhitungan lebih besar. diperoleh hasil Koperasi diolah Keputusan dariTolak H0 atau terima H : Sekunder memiliki keterkaitan yang signifikan dengan Koperasi Kesimpulan : Koperasi Sekunder terkait dengan Koperasi Primer Anggotanya Primer anggotanya.4.761 hipotesis nol (H0) atau terima hipotesis alternatif ini17berarti = 24 tolak 27 Penun-jang 1 1 5 16 39 20 152 Nilai Kritis(H).AGUSTUS 2009 : 140-160 Tabel 4. Sumber data: Primer diolah Sumber data: Primer diolah Namun setelah diuji keterkaitan tersebut dengan uji kontingensi.

Prentice Hall. New Jersey. Jawa Tengah. koperasi sekunder terkait dengan koperasi Primer anggotanya. F. VI.Kajian Tentang Keterkaitan Koperasi Sekunder Dengan Koperasi Primer Anggotanya (Togap Tambunan dan Jannes Situmorang) Angka ini lebih kecil dari 0. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Keterkaitan ini juga signifikan namun tingkat keterkaitannya lemah. fungsi-fungsi usaha. 2. Pedoman Pengembangan Koperasi Khusus Koperasi Sekunder di DKI Jakarta Tahun 2004. Anonim.3%. Sumatera Utara. pemberdayaan prinsip-prinsip koperasi dan teknis perkoperasian. Sulawesi Selatan. penyuluhan. A. 159 . Statistical Methods for the Social Sciences. namun keterkaitan tersebut (keeratan hubungan) antara keduanya digolongkan cukup lemah. dirumuskan beberapa kesimpulan sesuai tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Dari sisi pelaksanaan kelompok fungsi integrasi vertikal masingmasing fungsi-fungsi kelembagaan. Nusa Tenggara Timur. Dilihat dari pelaksanaan keseluruhan fungsi integrasi vertikal. and Barbara. (1992). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. Jakarta. 6. dan fungsi-fungsi penunjang.1 Kesimpulan Berdasarkan data dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya mengenai keterkaitan koperasi sekunder dengan koperasi anggotanya pada delapan daerah survei masing-masing provinsi Jawa Timur. DAFTAR PUSTAKA Agresti. (2004).5 sebagai kriteria statistik yang menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut digolongkan kuat.1 Saran Sesuai hasil analisis yang menunjukkan bahwa keterkaitan koperasi sekunder tingkat provinsi dengan koperasi primer anggota yang lemah maka disarankan agar koperasi sekunder harus meningkatkan capacity building melalui pelatihan. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta.293 memiliki arti bahwa ada keterkaitan antara koperasi sekunder dengan koperasi primer anggotanya. Sumatera Barat. keterkaitan ini signifikan atau nyata namun memiliki tingkat hubungan yang lemah. yakni hanya sebesar 29. koperasi sekunder terkait dengan koperasi primer anggotanya. -------------. pemasyarakatan. Karena itu nilai koefisien kontingensi sebesar 0.

Hott Rinehart and Winston.AGUSTUS 2009 : 140-160 -------------. Suwandi. Bharata. Revitalisasi Koperasi Sekunder Nasional. Jakarta. Jakarta.JURNAL VOLUME 4 . Hadi. No. Earl R. Jakarta. Media Pengkajian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. Bogor. Warta Koperasi. Statistik Nonparametrik. (1995). Jakarta. Maret 2006. Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di �awa Barat. (//gopher. 160 . Farmer Organizations and Rural Cooperatives. Survey Research Methods.adp. ICA. (1979). Donald Ary. Penerbit. (2006). (1987). Ghalia Indonesia.. No: 26 Tahun XX 2005. California. Ekonomi Skala Kecil/Menengah & Koperasi. May 1995. Suatu Kajian Cross-Section. (1999).wisc. BPFE Yogyakarta. (2005). L. Yogyakarta. Belmont. Koperasi Organisasi Ekonomi yang Berwatak Sosial. Sydney. Yacobs and Razavich. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. International Cooperative Aliance (ICA) Communication. (1988).T. Anggota IKAPI. Solusi Koperasi & Usaha Kecil.edu:70) Partomo. Introduction in Research Education 2nd Editon. S. Bayu Krisnamurthi. Suwandi. (1973). Djarwanto. Babie. S. Wadsworth Publication Co. (1987). Statistik II. 164. (2002). Ch. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. dan Abdul Rahman S.

Selaku badan usaha. The result was significantly interesting to be a thinking material in the process of cooperative promotion and development in the future time. ***) Asdep Urusan Penelitian Koperasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (tim peneliti). penyesuaian diri. produksi. Anggota koperasi mempunyai identitas ganda. dan dinamika kelompok I. this assessment was done by using psychological variables and especially psychosocial one. **) Peneliti Utama pada Deputi Pengkajian SDM KUKM (tim peneliti). 1. because it was successful in uniting women and house wives into cooperative organization. modal. kebijakan moneter. 8 �uni 200�. kewirausahaan. 200� in implementing mutual liability system. review terakhir �� �uli 200�. Oleh karena itu.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial*) Burhanuddin R**) dan Pariaman Sinaga***) Abstract At first assessment was dedicated to Puskowanjati on her 50th anniversary on March. Peran anggota koperasi dengan berdasar identitas tersebut merupakan faktor strategis dalam pengembangan koperasi di Indonesia.d. koperasi juga dihadapkan pada dua lingkungan bisnis yakni lingkungan eksternal dan internal. Sistem tanggung renteng. kohesivitas. Pengantar Definisi koperasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan kepada prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaaan. In the frame of revealing a part of some factors that influenced the success of the system concerned. Artikel diterima 25 Mei 200�. Peran aktif anggota koperasi menentukan target yang Kajian Asdep Urusan Penelitian Koperasi tahun 200�. *) 161 . peer review 25 Mei s. Mutual liability system is a phenomenal system. aspek manusia sangat penting dalam kehidupan berkoperasi di Indonesia dan tidak hanya berdasarkan modal dan saham. yang dipengaruhi beberapa faktor seperti: faktor sumber daya manusia (SDM). baik sebagai pemilik dan pelanggan/pengguna jasa organisasinya. dan kebijakan publik lainnya. pasar. teknologi. Lembaga koperasi ini terdiri dari kelompok orang yang disebut anggota berdasar sifat individu dan tidak berdasarkan modal atau saham.

Dengan demikian dalam kelompok juga akan terjadi proses pembelajaran bagi anggota. dan ketiganya ditengarai berpeluang untuk direplikasi ke koperasi lain. Artinya. musyawarah. Dalam penerapan sistem ini. maka akan terjadi perubahan sikap dan perilaku anggota. Inilah prinsip tanggung renteng yang melibatkan tiga unsur utama yaitu kelompok. naskah ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada koperasi primer anggota Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) dalam rangka meneliti aspek psikologis dalam pengembangan sistem tanggung renteng. Sistem Tanggung Renteng Tanggung jawab bersama diantara anggota dalam satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi dengan dasar “keterbukaan dan saling mempercayai”. Kohesivitas anggota koperasi sesuai dengan ciri khas koperasi yaitu individu yang saling berinteraksi dalam berkelompok untuk mencapai tujuan koperasi. saling percaya. terdapat dua identitas yang melekat pada anggota koperasi termasuk sebagai diri pribadi manusia dengan ciri psikologis tertentu dan terpisahkan dari kesehatan koperasi. Untuk itu kelompok diwajibkan untuk mengadakan pertemuan rutin secara berkala. Kewirausahaan merupakan sikap pribadi berkaitan dengan kepentingan ekonomi pribadi dan koperasi. Hal inilah yang menjadi modal utama bagi koperasi apapun untuk bisa tumbuh dan berkembang baik dari sisi organisasi maupun usaha. Dengan demikian. disiplin dan tanggung jawab. Koperasi tidak dapat berkembang apabila anggota koperasi tidak berperan aktif di lembaganya. Sebuah sikap dan perilaku yang dilandisi kesadaran terhadap tata nilai tanggung renteng yaitu kebersamaan. Beberapa variabel penting koperasi yang berkaitan dengan dua identitas ganda koperasi adalah. aspek psikologi dan khususnya psikososial di koperasi juga merupakan faktor penting untuk keberlangsungan hidup koperasi. Di samping itu. keterbukaan. II. kohesivitas anggota koperasi. keberadaan kelompok merupakan wadah anggota dalam beraktivitas untuk pemenuhan hak dan kewajiban sebagai anggota koperasi. kelompok juga sebagai wahana dan sarana komunikasi antar anggota maupun dengan koperasinya. penyesuaian diri dan kewirausahaan. Terkait dengan ketiga variabel ini. 162 .AGUSTUS 2009 : 161-170 akan dicapai organisasi koperasi dapat tercapai atau tidak.JURNAL VOLUME 4 . Penyesuaian diri berkaitan dengan peran individu untuk menyesuaikan diri terhadap kepentingan diri dan kepentingan koperasi. Implementasi dalam mewujudkan target koperasi dapat diraih dengan bantuan manajemen dan pengurus yang mengarahkan kegiatan bisnis koperasi. Bila proses sistem tanggung renteng diterapkan secara benar. kewajiban dan peraturan.

Tabel 1. 57 1996). Lawang. 1 3. Provinsi Jawa Timur. Kota Surabaya 3. dan variabel kewirausahaan 0. kohesivitas. 2004). 2. KSP Citra Lestari. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu. Kabupaten Malang 2. Batu. 3. Malang. Semua data variabel diukur dengan 22 memakai skala Likert. Pandaan. Analisis data menggunakan teknik analisis persamaan regresi sederhana dan persamaan regresi berganda yang dalam penyajian hasil kajian dilengkapi dengan analisis statistik deskriptif berupa grafik histogram rerata dan matriks kategori. dan setiap variabel telah memiliki koefisien reliabilitas yaitu : untuk variabel kohesivitas.2 Penetapan Koperasi Contoh 2 3 Jumlah koperasi primer wanita yang menjadi anggota Puskowanjati sampai tahun 2008 tercatat sebanyak 46 koperasi primer 83 dan yang ditetapkan sebagai sampel kajian sebanyak delapan anggota koperasi primer wanita yaitu: 1. 9646 (Pariaman dan Hidayat.1 Penetapan Kerangka Pengambilan Contoh (Sampling Frame) Subyek atau responden penelitian ditetapkan secara sengaja (purposive sampling method) sebanyak 160 orang dan dalam pelaksanaannya meningkat menjadi 170 orang. Lokasi Koperasi Kelompok 4 3 1 8 2 2 2 6 Anggota (orang) 10 10 10 ------Responden (orang) 80 60 20 160 1. Kota Surabaya. dan Kabupaten Pasuruan. namun kemudian yang layak diukur ditemukan hanya sebanyak 162 orang.4. KSP Kartini Mandiri. KSU Setia Budi Wanita. yaitu di Kabupaten Malang.Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah (Org) 83 57 22 Persentase (%) 51 35 14 163 . 3. sebesar 0. KSU Kartika Chandra. 0.8496 (Martono.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) III. Kabupaten Pasuruan Jumlah 4. vairabel penyesuaian. penyesuaian dan kewirausahaan. 2004). pada bulan Februari 2009.1 Pengumpulan data ditetapkan di tiga lokasi yang juga ditetapkan Variabel Kohesivitas secara sengaja. Metode Kajian Kajian ini dilaksanakan dengan metode survei yang dilengkapi dengan observasi langsung kepada objek kajian tanpa memberikan perlakuan apapun sehingga terjadi aktivitas yang saling mempengaruhi (expost facto model).9179 (Mardiyati.

3. 8. dan peka terhadap kritik dan komentar/pendapat pihak lain. KSU Mawar Putih. telah berhasil dirumuskan tiga definisi operasional variabel untuk digunakan dalam kajian. Surabaya. 7. 6. Surabaya. mampu melihat peluang bisnis. optimis.AGUSTUS 2009 : 161-170 5. inisiatif. bekerja keras. dan memiliki sifat kepemimpinan. Grafik Kohesivitas Anggota Koperasi Wanita Sampel 164 . KSU Setia Bhakti Wanita. KSU Setia Kartini Wanita.3 Definisi Operasional Variabel Berdasarkan penulusuran terhadap beberapa literatur dan jurnal kajian yang sejenis khususnya yang berkaitan langsung dengan variabel kajian. berani mengambil risiko. Malang. Kohesivitas adalah keterikatan anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan berkelompok. toleransi terhadap kelompok dan pemenuhan harapan untuk bekerjasama mencapai tujuan bersama. kreatifitas. IV. Kewirausahaan adalah kecenderungan individu yang percaya diri untuk bekerja mandiri. Hasil Penelitian 4. status dan peringkat koperasi. keterlibatan. Sidoarjo.JURNAL VOLUME 4 . Pemilihan dan penetapan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan keragaman lokasi kajian dan anggota koperasi. dan KSU Waspada.1 Variabel Kohesivitas 22 57 1 2 3 83 Gambar 1. kekuatan kelompok. Penyesuaian diri adalah perilaku belajar mengatasi dorongan dari tuntutan diri dan lingkungan dengan mengendalikan tindakan langsung dan hubungan interpersonal.

f. dalam Hadipranata. d. Keterikatan akan aturan dan kepentingan ekonomi membuat anggota koperasi secara sadar menerapkan sistem tanggung renteng. Ada mitra tanding f. Tabel 1 kategorisasi menunjukkan kohesivitas anggota koperasi wanita tinggi. TabelTabel 2. dalam Hadipranata. Kohesivitas kelompok menunjukkan keterikatan individu dengan individu lain dalam kelompok. Keterikatan 83 anggota akan keberlangsungan hidup koperasi akan membuat anggota koperasi terlibat dalam kelompok di koperasi. Tabel 1. Pengaruh masih ketat c. Individu belajar menyesuaikan diri dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Saling melengkapi h. Dampak Kohesivitas Kepuasan Rasa tanggung jawab Optimalisasi prestasi Komunikatif Rasa kami kuat Menolak perombakan kelompok Penampilan kerja baik 165 . b. g. Rasa keterkaitan e. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Kohesivitas Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total Jumlah (Org) 83 57 22 162 Persentase (%) 51 35 14 100 Dinamika Kelompok Individu dalam kelompok mempunyai keterikatan dengan kelompok sesuai dengan bagaimana penyesuaian diri individu dan interaksi individu di dalam kelompok. e.22 57 Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) 1 2 3 Kohesivitas koperasi sebagai bukti interaksi antar anggota ditemukan cukup tinggi di koperasi wanita sampel. 1987) 4. c. Kelompok kelompok koperasi yang menerapkan tanggung renteng akan merasa saling terikat. Kewirausaha individu dalam koperasi karena ada contoh dalam kelompok untuk mengelola bisnis dalam rumah tangga dan koperasi. Diskripsi Kohesivitas 2. 1. Ada sistem imbalan (Alderfer. Kesempatan partisipasi g.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian  a. Rasa sepenanggungan d. Ukuran terbatas (kecil) b. Diskripsi Kohesivitas Dinamika Kohesivitas a. 1987) (Alderfer.

Hal ini membuat keberhasilan kelompok lebih utuh. Kelompok yang beriklim kohesif ini dalam membuat keputusan lebih efektif. Setiap anggota memberikan kelebihannya dan menerima kekurangannya. baik sifat-sifat individu maupun watak kelompoknya. kemampuan maupun perspektifnya memiliki karakter yang dibutuhkan bagi efisiensi kinerja kelompok. f) Aktivitas berperan serta dalam keputusan. c) Keterbukaan isolasi dari luar. Menurut Steiner (1972). 1989). Karenanya diperlukan beberapa syarat (Katz. Keberhasilan pengaruh kohesivitas kelompok terhadap produktifitas koperasi dapat dikatakan tergantung pada pengaturan koperasi terhadap kelompok dalam pencapaian tujuan bersama. Jati diri kelompok kohesif membuat kerjasama pada setiap peringkat organisasi termasuk internal pengurus koperasi. efektifitas kelompok kohesif itu: 1) Derajat keterikatan anggota kelompok. Kelompok bhinneka adalah kelompok yang anggotanya memiliki perbedaan nilai. 3) Kepuasan kerja anggota kelompok.JURNAL VOLUME 4 . b) Jumlah anggota yang ideal kurang dari enam orang. 1982). yaitu antara lain: a) Tatanan tugas. terbuka dan memperoleh peluang untuk bermitra tanding atau berkompetisi yang sehat. c) Mekanisme kerja kelompok demokratis. dan. Kohesivitas juga menciptakan “motivasi sosial” karena kohesivitas kelompok di koperasi wanita identik dengan keragaman atau disebut juga kelompok bhinneka. pekerjaan dan aturan kerja yang mapan. Sebagai bentuk partisipasi koperasi akan membuat saling pengertian yang lebih baik dan kemudian lebih memiliki keikatan dalam penyelesaian tugas secara positif dan efektif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kohesivitas suatu kelompok (Jannis. dan g) Hadiah lebih besar dari hukuman. Setiap anggota memperoleh tanggungjawab terhadap beberapa tugas-tugas yang sudah rutin. b) Sumber daya kelompok yang tepat penempatannya. artinya ada job requirement. Penelitian tersebut juga dikenakan berbagai macam jenis pekerjaan. sedangkan yang tidak berkohesivitas cenderung lemah terhadap kerjasama. Anggota koperasi dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama. e) pertaruhan nama kelompok atau jiwa korps. 2) Produktifitas kerja kelompok. yaitu: a) Kiprah interaksi personalnya. sehingga menimbulkan pengembangan kepribadian yang unik. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah kelompok kohesif jauh lebih 166 . pendapat. d) Kesediaan bermitra tanding. Langkah-langkah untuk menguatkan kohesivitas dalam kelompok dapat dilakukan.AGUSTUS 2009 : 161-170 Kelompok yang berkohesivitas dengan memiliki jati diri sosial (social identity) dan memiliki kekuatan kerjasama yang tangguh. lebih kreatif dan dalam penyelesaian masalah pun lebih koordinatif serta lebih produktif dari pada sejumlah orang yang sama dalam kelompok biasa yang biasanya kerja kurang terkoordinasi.

Hal tersebut disebabkan sistem tanggung renteng itu sendiri memberikan kesempatan anggota koperasi untuk berinteraksi sehingga timbul perilaku mencontoh. 4. Munculnya keyakinan diri seseorang mengenai kemampuannya dalam menampilkan suatu bentuk perilaku menggambarkan hubungan dengan situasi yang dihadapi seseorang tersebut dan menempatkannya sebagai elemen kognitif dalam pembelajaran sosial. Model tanggung renteng menerapkan perilaku belajar peraturan. Ternyata dari hasil pengukuran ditemukan bahwa koperasi cukup tinggi. Hanya saja kadangkala untuk jenis pekerjaan seni. Wanita melakukan penyesuaian diri terutama berkaitan dengan lingkungan dimana kelompok berkumpul sebagai wujud tanggung renteng koperasi.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) baik daripada kinerja individual.3 Variabel Kewirausahaan Grafik 3 dan Tabel 3 menunjukkan bahwa kategori anggota koperasi tinggi pada aspek kewirausahaan. Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Penyesuaian diri wanita anggota koperasi dapat diamati pada Grafik 2 dan Tabel 2. Penjelasan perilaku wanita wirausaha yang tinggi berkaitan dengan tanggung renteng.2 Variabel Penyesuaian Diri Penyesuaian 43 51 1 2 3 68 Gambar 2. maka kerajinan tangan yang bersifat pribadi dan kinerja perorangan lebih baik daripada dikerjakan bersama 4. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bandura bahwa keyakinan individu akan dirinya yang dapat melakukan tindakan yang dikehendaki oleh situasi tertentu dengan berhasil. Figur dalam kelompok akan mendorong individu dalam koperasi untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik terutama berkaitan dengan peraturan sebagai turunan dari model. 167 . Wanita anggota koperasi akan merasa senasib sepenanggungan dengan mengedepankan penyesuaian diri sehingga kepentingan ekonomi dapat terwujud secara bersama-sama.

Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan ditemukan bahwa ketiga variabel menempati kategori tertinggi. Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel 4. Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Kategori Jumlah Persentase (org) (%) Tinggi Kewirausahaan 68 42 Sedang 51 32 Rendah 43 26 Total 162 100 30 Kewirausahaan 61 1 2 3 2 30 61 71 1 2 3 Grafik 3. penyesuaian diri (68 persen). secara berturut-turut adalah: kewirausahaan (71 persen). Grafik Kewirausahaan Anggota Koperasi Wanita Sampel Gambar 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan Anggota Koperasi Anggota Koperasi Kategori Tinggi Sedang Rendah Total VI. Jumlah (org) 71 61 30 162 Persentase (%) 44 38 18 100 168 . Grafik Penyesuaian Anggota Koperasi Wanita Sampel Tabel Ringkasan Hasil Kategorisasi Penyesuaian Anggota Koperasi Tabel 3. Ringkasan Hasil Kategorisasi Kewirausahaan 71 Tabel 4. 3. dan kohesivitas (51 persen).JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 161-170 Grafik 2.

Mikeo. 169 . Para wanita anggota koperasi primer yang mempraktekkan sistem tanggung renteng ditengarai turut menopang kehidupan organisasi koperasi masingmasing. DAFTAR PUSTAKA Hadipranata.. Perbedaan Semangat Kerja Karyawan Dalam Kelompok Yang Kohesif dan Yang Tidak Kohesif Pada Perusahaan Tenun ATBM Kodya Yogyakarta. Katz. 81-104...F.F. Identifikasi dan Analisis Alat Ukur Penelitian di Bidang Psikologi Industri dan Organisasi. R..Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. A.. Keberhasilan tanggung renteng sebagai suatu sistem dapat dicermati dari unsur rasa keterikatan anggota kepada kelompoknya dan koperasinya. Hadipranata. Hal tersebut disebabkan karena dasar pendirian koperasi adalah merupakan kumpulan orang-orang (human capital) dan bukan semata-mata kepada unsur permodalan. The Effects of Group Longerity on Project Communication and Performance. (1993). Mikeo. Hasil kajian juga menggambarkan adanya kemampuan adaptasi para wanita anggota koperasi dalam mengadopsi suatu sistem yang diyakini bersama dapat membantu pemenuhan ekonomi rumah tangga mereka. Penelitian. H.F. Laporan Penelitian. Aspek-aspek psikososial yang berhasil diukur ini nampaknya perlu dipertimbangkan dengan lebih cermat di masa akan datang sebagai bagian dari pola pembinaan koperasi dan anggotanya. (1982). (1987). (1987). Hadipranata. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. maka generalisasi kajian dalam bentuk replikasi sistem tanggung renteng masih memerlukan kajian lebih mendalam dengan lingkup lebih luas.. 27. (1990). Yogyakarta: Badan Pelaksana Pendidikan dan Latihan Ketenagakerjaan Yogyakarta.Sistem Tanggung Renteng: Perspektif Psikososial (Burhanuddin dan Pariaman Sinaga) Penemuan ini mencerminkan bahwa jiwa kewirausahaan anggota koperasi primer ternyata mempengaruhi dan turut menentukan kelangsungan usaha koperasi-koperasi primer wanita yang bernaung dalam Puskowanjati. & Rasyid. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. A. Laporan Hasil Lokakarya. F.F. Yogyakarta: Studio Yogyayasa Laboratorium Sumberdaya Manusia. Hasil kajian juga mengindikasikan bahwa pengembangan koperasi tidak bisa terlepas sepenuhnya dari aspekaspek psikologis dan sosiologis anggotanya. Himam. Administrative Science Quarterly. A. Hal ini mendukung upaya penyelamatan asset dan ketersediaan likuiditas koperasi sehingga semua anggota koperasi memiliki kesempatan yang relatif sama untuk mendapatkan pelayanan dari koperasi masing-masing.

Making Group Effective.. I. Mardiyati. (1972). Crucial Decissions. (1979).. I. A. Steiner. A.JURNAL VOLUME 4 . 30. Group Process and Productivity. (2004). The Psychology of Group Processes. New York: The Free Press.A. Zander. San Fransisco: Jossey Bass. (1989). 417-452. New York: Academic Press.. (1982).L. Kebahagiaan Perkawinan Ditinjau Penyesuaian Diri dan Sikap Terhadap Konsep Wanita Ideal �awa. Zander. 170 . Annual Review of Psychology..AGUSTUS 2009 : 161-170 Jannis.

The weaknesses have been occurred in some areas such as education.d.1 Latar Belakang Tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya penelitian untuk menilai dampak koperasi pada tingkat anggotanya: 1). management and members – are weak. kelompok sasaran. peer review 12 Mei s. kemanfaatan I. partisipasi. the tasks and the responsibilities for directors. Cooperatives has not built financial intermediary system among themselves so that the capital can be used more productive and efficiently. D.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. The rules of conduct in cooperatives have not been developed systematically. cooperatives fail to mobilize capital and to use it more productive.. especially in rural areas. auditors and members are not explicitly written. *) 171 . review akhir �� �uli 200�. Kepentingan untuk mengukur kemajuan koperasi menurut dimensi pertumbuhan secara agregat dan sumbangannya terhadap pendapatan regional maupun nasional. Kepentingan untuk mengembangkan koperasi sebagai alat untuk ingan meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin.e. cooperative pricing policy. the quality of product. Pendahuluan 1. Gopar**) Abstract This research has been conducted in order to asses the impacts of cooperatives for its members. Yogyakarta. Dampak.I. Pemikiran bahwa dalam melihat Kajian Suplementasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK tahun 2006. management. Gopar) KAJIAN DAMPAK KOPERASI TERHADAP ANGGOTANYA1*) Achmad H. and North Sulawesi. Data are analyzed using simple descripted statistics. Members are also benefited through saving and loan activities. The research indicates some important results. The impact get through the services i. North Sumatra. Human resources of cooperatives – board of directors. **) Peneliti pada Deputi bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK (peneliti kajian). Financially. Assessment is implemented in three provinces. Cooperatives have given good impacts for its members. covered 15 cooperatives and about 150 members of cooperatives. Market information from cooperatives is also useful for members in selling their products. experiences and composition of directors and management. dan 3). intermediasi. and the timing of services. 8 �uni 200�. Artikel diterima 12 Mei 200�. indikator. Pengukuran yang dilakukan selama ini dirasakan belum memadai untuk menerangkan manfaat keberadaan koperasi bagi anggota dan masyarakat sekitarnya. 2).

172 .AGUSTUS 2009 : 171-185 kemajuan yang dicapai koperasi atau manfaat kehadiran koperasi di tengah-tengah masyarakat perlu pemantauan dan evaluasi sejauhmana dampak koperasi terhadap anggotanya. Bertitik tolak dari ke tiga alasan di atas maka lahirlah gagasan dan pemikiran untuk mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi dampak koperasi di tingkat anggota. baik kepada gerakan koperasi maupun kepada pemerintah.3 Manfaat Penelitian Kegiatan penelitian ini pada dasarnya akan dapat memberikan manfaat ganda. 2 Memberikan masukan kebijaksanaan dalam penyusunan sistem dan mekanisme monitoring dan evaluasi pembangunan perkoperasian. dalam hal-hal sebagai berikut : Manfaat yang dapat diambil oleh gerakan koperasi adalah sebagai berikut:  Meningkatkan kemampuan analisis secara kritis para pengelola koperasi. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengembangkan indikator-indikator monitoring dan evaluasi dampak koperasi terhadap anggotanya. 2 Memberikan masukan kepada koperasi itu sendiri dalam rangka merumuskan kebijakan organisasi dan usahanya. yang dilaksanakan tim dari Universitas Indonesia dengan judul ”Kajian Dampak Pemberdayaan KUKM terhadap Kesejahteraan Rakyat”. Penelitian ini merupakan suplementasi dari penelitian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. tahun anggaran 2006. Sedangkan bagi Pemerintah kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1 Memberikan masukan informasi yang berguna dalam penyusunan kebijaksanaan pembangunan koperasi. Indikator-indikator tersebut diujicobakan dalam penelitian agar bisa disempurnakan dan secara berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengukur dampak koperasi terhadap anggota. Melakukan uji coba dan pengembangan indikator-indikator pengukuran dampak koperasi terhadap anggota. 1. Melakukan pengukuran dampak koperasi terhadap anggota pada beberapa lokasi terpilih. Kementerian Negara KUKM. b.JURNAL VOLUME 4 .2 Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. 1.

dari tingkat yang paling bawah (kabupaten/kota) sampai dengan tingkat nasional. Dalam monitoring perkembangan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah secara rutin dan terus menerus selama ini adalah menggunakan data atau indikator kuantitas yang bisa dimonitor.4 Ruang Lingkup Mengingat penelitian ini lebih merupakan proyek perintisan yang bersifat eksperimental study yang pelaksanaannya dilakukan juga oleh koperasi. Namun kelemahannya adalah kemungkinan datanya kurang reliable dan belum memadai untuk menggambarkan apakah kehadiran koperasi 173 . Sebagai responden untuk mewakili koperasi adalah pengurus atau pengelola koperasi. Alih Pengetahuan Uji coba dan pengambilan data pada penelitian melibatkan langsung tenaga pengelola koperasi sebagai pelaksana pengumpulan data penelitian. maka secara umum dapat dikelompokkan dalam dua kategori data. seperti misalnya jumlah anggota. 3.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. sedangkan untuk anggota koperasi diwawancarai sebanyak sepuluh orang anggota koperasi yang ada di wilayah kerjanya. Mekanisme monitoring semacam ini sudah berjalan dengan baik. Dalam kerangka monitoring dan evaluasi dampak koperasi. Dari mereka digali informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan. Aspek Pengamatan Informasi atau data yang dikumpulkan pada dasarnya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai oleh penelitian itu sendiri. maka cakupan kegiatannya meliputi sebagai berikut: 1. Keuntungan cara ini adalah datanya tersedia. seperti persepsi anggota terhadap kualitas pelayanan koperasi dan seterusnya. jumlah simpanan. Gopar) 1. volume usaha dan sebagainya. yaitu: 1) Data yang bisa dimonitor setiap saat dan secara terus menerus (monitorable). mudah diperoleh dan dapat dilakukan secara nasional. 2. Obyek pengamatan adalah koperasi dan anggotanya. Tenaga-tenaga dari koperasi tersebut diikutsertakan dalam proses pelaksanaan penelitian sehingga diharapkan akan terjadi proses alih pengetahuan (learning by doing) mengenai penelitian perkoperasian. Aspek Penelitian Para pengelola yang melaksanakan penelitian tersebut dibekali dengan pengetahuan teknis penelitian maka selanjutnya mereka langsung dilibatkan dalam praktek atau proses penelitian. setiap saat. dan 2) Data yang tidak yang tidak bisa dimonitor (unmonitorable).

dalam penelitian ini pengukuran dampak koperasi terhadap anggota tidak hanya diambil dari data kuantitatif yang diperoleh dari koperasi. peranan koperasi terlihat belum memadai dan belum menggambarkan dampak penggandanya terhadap seluruh aspek kehidupan anggota koperasi maupun masyarakat. maka dengan semakin besarnya pertumbuhan koperasi memberikan indikasi semakin banyak jumlah anggota yang memperoleh manfaat dari kehadiran koperasi. Pengukuran dampak koperasi dalam bentuk kemanfaatan koperasi dan partisipasi sebagai komplemen bahkan mungkin subtitusif dari dua tolok ukur dan atau cara pengukuran di atas. Selain itu partisipasi merupakan dasar kekuatan koperasi. dan dampak koperasi (cooperative impact) terhadap anggota dan lingkungan yang dipengaruhinya. maka partisipasi anggota merupakan kata kunci yang melambangkan dampak keberhasilan koperasi dalam memperbaiki kesejahteraan para anggotanya. Oleh karena itu.JURNAL VOLUME 4 .AGUSTUS 2009 : 171-185 itu memberikan manfaat bagi sebagian besar anggota dan masyarakat sekitarnya. Dengan menggunakan cara yang pertama. Di lain pihak jika kita mengukur dari segi cooperative share terhadap GDP. Banyaknya anggota belum menggambarkan besarnya manfaat keberadaan koperasi karena hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki akses terhadap pelayanan koperasi. II. sumbangannya terhadap GDP maupun GNP (cooperative share). yaitu dilihat dari perspektif pertumbuhan koperasi ternyata hasilnya belum memuaskan. Kerangka Pemikiran Setidaknya ada tiga cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan koperasi. Pemikiran ini selanjutnya akan sampai pada suatu justifikasi bahwa mengukur keberhasilan koperasi menurut dimensi pertumbuhan dan sumbangannya terhadap GDP dianggap kurang memadai. namun akan lebih ditekankan pada tingkat anggota. Berdasarkan asumsi ini maka pengukuran keberhasilan pembangunan koperasi dapat dilakukan melalui pengukuran pertumbuhannya. yaitu dilihat dari dimensi pertumbuhan (cooperative growth). Dengan lain perkataan di samping data yang bisa dimonitor dari koperasi juga akan diambil data berdasarkan persepsi atau opini anggota. Mengingat basis kekuatan koperasi adalah pada anggota. Dimensi pertama dapat dijelaskan sebagaimana berikut. Berdasarkan suatu asumsi bahwa semua koperasi akan berusaha secara maksimal untuk melayani anggotanya atau berorientasi pada kepetingan anggota. 174 . memerlukan suatu studi secara khusus dan komprehensif mengenai dampak koperasi pada tingkat (level) anggotanya.

pengolahan. Hubungan koperasi dengan para anggotanya menjadi semakin dekat dan tidak terjadi kesenjangan antara koperasi dan anggotanya. 175 . Disamping itu koperasi menjadi semakin kritis dan realistis dalam perumusan kebijaksanaan dan perencanaannya. dan penyajian informasi untuk membantu pengelola dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerjanya dalam mengelola suatu organisasi atau perusahaan. antara lain yaitu: (a). volume bibit. pencatatan. Pada umumnya hasil evaluasi pemerintah tidak segera dikomunikasikan dengan koperasi yang diamati. Keterbatasan sumberdaya yang ada pada pemerintah. Atas dasar itu. Dalam pelaksanaan perlu dipantau terus menerus. pengumpulan. Ada beberapa pertimbangan pentingnya koperasi untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri. Kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana komunikasi dua arah dan member education. Misalnya dalam sebuah koperasi pertanian telah dilakukan inventarisasi atau pencatatan terhadap luas area yang ditanami. Dengan cara ini membantu menemukan sebab keberhasilan maupun kegagalan dari berbagai program. Kinerja dapat diartikan sebagai suatu tingkat pencapaian target selama periode tertentu. pupuk dan kredit yang akan disalurkan kepada petani anggota. Dalam rangka operasionalisasinya akan lebih efektif. (d). Selanjutnya dilakukan penyesuaian terhadap kebijaksanaan dan tujuan yang hendak dicapai.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Kegiatan ini disebut evaluasi (impact monitoring). (b). Kegiatan monitoring dan evaluasi sangat penting bagi individual koperasi yang bersangkutan. ditetapkan rencana dan program yang hendak dicapai oleh koperasi dalam kurun waktu tertentu. Selain itu terjamin tingkat akurasi dan reliabilitas data dan informasi yang disajikan. (berupa tenaga pelaksana dan pembiayaan) tidak memungkinkan koperasi secara nasional untuk melakukan kegiatan ini. Tujuannya adalah mendapatkan informasi jumlah atau volume komoditi atau kebutuhan anggota yang sudah tersalur maupun jumlah anggota yang sudah menerimanya dan seterusnya. efisien serta manageable jika dilakukan oleh koperasi itu sendiri. Secara dini koperasi dapat menemukenali kesalahan dan penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program. volume hasil produksi yang akan dipasarkan atau diserap dan sebagainya. Gopar) Monitoring dapat dirumuskan sebagai proses pengukuran. Selain itu dilakukan evaluasi membandingkan pelaksanaan program yang telah dicapai secara aktual dan dampaknya dengan rencana yang hendak dicapai. Lebih mudah dan cepat untuk melakukan penyempurnaan. (c). Karena secara cepat dapat mengkoreksi berbagai kesalahan ataupun penyimpangan yang terjadi pada koperasi.

maka pelaksanaannya dilakukan berdasarkan anaannya metodologi dan prosedur yang disusun sebagai berikut: 1. Metode Penelitian Untuk mencapai tujuan proyek penelitian ini dan berdasarkan ruang lingkup kegiatan yang dicakup. Operasionalisasi kegiatan secara mekanistis diarahkan untuk memasok data agregat pengambilan keputusan di tingkat pemerintah melalui jaringan kerja (network): Anggota – Koperasi – Kantor koperasi di kabupaten/ kota – Provinsi – Pemerintah pusat. dukungan pembiayaan dan representasi data yang dapat diambil. 2. D. Di samping data/informasi perkembangan organisasi dan usaha. sebagaimana pada pemilihan lokasi penelitian. ditetapkanlah sebanyak 15 KUD sebagai objek penelitian. Yogyakarta.I. Kantor dinas tingkat provinsi akan menyusun laporan sedemikian rupa kepada pemerintah pusat. dilaporkan hasil monitoring dan evaluasi dampak koperasi pada tingkat anggota kepada dinas koperasi kabupaten/kota.AGUSTUS 2009 : 171-185 Anggota sebagai kelompok sasaran (target group) merupakan objek pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Pemilihan tiga propinsi dimaksud diharapkan dapat mewakili keragaman situasi dan kondisi lingkungan koperasi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Secara simultan koperasi yang bersangkutan sudah dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk penyesuaian dan penyempurnaan kebijakan. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ditetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan kebutuhan akan representasi dari keadaan yang ada di lapang dan ketersediaan dana. Lokasi untuk penelitian ini adalah provinsi Sumatera Utara. dan propinsi Sulawesi Utara. Pada penelitian ini koperasi sampel ditentukan secara acak (random) dari sejumlah koperasi pedesaan yang masih aktif di provinsi lokasi penelitian. Kantor dinas membuat laporan kumulatif perkembangan koperasi. Sifat dan keadaan serta karakteristik yang khas dari ketiga daerah tersebut menjadi pembanding untuk masing-masing situasi dan kondisi lingkungan lainnya yang mungkin berbeda. dan berbagai pertimbangan non teknis lainnya. Merangkum hasil monitoring dan evaluasi masing-masing koperasi yang ada di daerahnya.JURNAL VOLUME 4 . Jumlah KUD untuk masing- 176 . Berdasarkan pertimbangan kemampuan pelaksanaan. Selanjutnya dilaporkan kepada kantor dinas koperasi tingkat provinsi. Pemilihan Koperasi Contoh Pemilihan koperasi contoh didasarkan kepada berbagai pertimbangan pula. III.

83. Koperasi Contoh dan Lokasinya No.3 82 92 76 % Umur (>35 thn) 74. Identitas KUD di Anggota KUD di Yogyakarta.  2 3 4 5 6 7 8 9 10  12 13 14 15 Nama Koperasi Harta Sidomukti Sritani Tani Makmur Rata Harapan Ringin IX Ngaglik Makmur Turi Wenang Lestario Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kecamatan Selesai Hinai Gebang Babelan Besitang Pagar Merbau Cangkringan Ngaglik Kalasan Turi Sario Molas Kombi Kombi kombi idem idem idem idem idem Yogyakarta idem idem idem idem Sulawesi utara idem idem idem Propinsi Sumatera Utara No  2 3 4 Sesuai dengan jumlah KUD yang ada di masing-masing provinsi. dan 5 (lima) Umum Sulawesi Utara sebagai koperasi sampel. 4 (empat) Tabel 2.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H.4 2.3 banyak mengenai dampak koperasi terhadap anggotanya.7 78 70 % Pekerjaan (tani) Selanjutnya untuk setiap koperasi sampel diambil76 sebanyak 10 51. koperasi yang terpilih sebagai sampel hanyalah diambil dari beberapa kabupaten Propinsi RataIdentitas Satuan saja. 177 . Gopar) masing provinsi ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah KUD dan KUD mandiri yang ada di setiap propinsi tersebut. Responden anggota ini diperlukan 2.1 kali Pend. tidaklah menyebar di semua kabupaten. Koperasi Contoh dan Lokasinya Tabel 1. maka ditetapkanlah sebanyak 6 (enam) KUD di Sumatera Utara. Dengan pertimbangan efektivitas pelaksanaan survai.8 3. Tabel 1.DIY KoperasiSULUT tersebut sampel rata SUMUT adalah sebagaimana tertera pada tabel 1. informal untuk menggali data dan informasi yang lebih 1. Namun juga sebagai salah satu upaya untuk melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasi sampel (dalam hal ini diwakili oleh pengurus).7 45 70 40 Pendidikananggota sebagai% orang (>SMP) responden.

Perlakuan dan pengolahan akan dilakukan terhadap distribusi frekuensi.4 kali. IV.1%).7% dari mereka yang mempunyai pendidikan diatas sekolah lanjutan pertama (SLP).JURNAL VOLUME 4 . Hasil Pengamatan dan Analisis Dari sudut pandang koperasi (diwakili oleh pengurus dan/atau pengelola) bahwa koperasi telah memberikan dampaknya kepada anggota secara maksimal. ketersediaan perangkat keras dan lunaknya. Hal tersebut dapat dimaklumi. Keterangan secara menyeluruh untuk semua lokasi penelitian dapat dikaji lebih lanjut pada tabel 2. Karena mereka umumnya hidup di pedesaan.AGUSTUS 2009 : 171-185 3. serta upaya melakukan uji silang (cross-check) terhadap data dan informasi yang didapat dari koperasinya.7%). Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi anggota di koperasi lainnya (32%). ketersediaan waktu dan dana. et al. maka kita akan dapat memprediksikan kemungkinan maupun alternatip yang ada dari data. penggalian dan pendalaman data/informasi dari dan tentang anggota untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang anggota. Penelitian ini menggunakan model-model analisis statistik deskriptip sederhana (simple descriptive statistics) sebagaimana dikemukakan oleh Welch & Comer (1988). Dengan melihat kecenderungan dari data yang terolah. Metoda Analisis Analisis yang dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan penelitian. Organisasi koperasi di pedesaaan pada umumnya KUD adalah berbasis kewilayahan. Teknik ini digunakan karena secara sederhana akan dapat menggambarkan kecenderungan yang terdapat pada suatu populasi. Persepsi tersebut belum tentu sama dengan persepsi anggota. Usia mereka Usia mereka yang berada diatas 35 tahun ada sebanyak 83. Untuk itu akan dibahas persepsi anggota tentang dampak dan manfaat koperasi dari sudut pandang anggota koperasi. Selebihnya mereka mengaku paling tinggi hanya tamat SLP. Jikalau kita tinjau ciri keanggotaan lainnya (tabel 3) terlihat bahwa para responden umumnya telah menjadi anggota koperasi selama lebih dari lima tahun (73. Mereka umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang belum memadai. Namun demikian dari keseluruhan responden anggota tersebut umumnya mereka telah mendapatkan pendidikan non-formal dan keterampilan rata-rata sebanyak 2. Hanya sekitar 51. Terlebih dahulu akan memaparkan kondisi keanggotaan koperasi pedesaan yang diteliti. 178 .3% dari keseluruhan responden. Secara umum dapat dikatakan bahwa para responden anggota koperasi adalah para anggota yang pekerjaaannya sebagai petani (74. 1988). tendensi pemusatan dan penyebaran (Neter. ketersediaan data dan informasi yang didapat dan pertimbangan seperti kemampuan para peneliti. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya.

Di Sumatera Utara para Propinsi RataNo Komoditi anggotanya menjadi pemilik kebun kelapa DIY ternyata memiliki lahan sawit SULUT rata SUMUT yang jauh lebih luas dari rata-rata kepemilikan lahan tersebut diatas (sekitar  Pupuk 70 76 77. Hanya sekitar 55.3 para Kredit anggota koperasinya rata-rata 56 sekitar 1. keinginan sendiri Pemilikan lahan Satuan % % % % % % (ha/angg) Propinsi SUMUT 72 40 52 6 40 1. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 3 (Persentase) Ratarata SULUT 62 24.3 0.7 32.3% lainnya menjadi anggota koperasi karena atas anjuran kepala desa.7 2.0 31.4 SULUT 68 26 32 8 56 1. anjuran kepala desa b.7 51.1 Propinsi DIY 92 78 70 1. Begitu juga halnya dengan di Sulawesi86 Utara yang kepemilikan lahan 2 Obat-obatan dan bibit 68 60 62 63. Pengaruh anjuran pembina dan pengurus terhadap calon anggota untuk menjadi anggota koperasi yang hanya sekitar 8% tentunya belumlah bisa menggambarkan bahwa anjuran dan penyuluhan belum memadai. 64. Sedangkan sebanyak 31. informal Satuan % % % kali SUMUT 76 70 40 3.13 14 15 Ayamen Prisma Jaya Ranong Kayu Kombi Kombi kombi idem idem idem Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Ciri-ciri Keanggotaan Tabel 3. Bagaimana manfaat dan 3 74 42 57. Ciri-ciri Keanggotaan No  2 3 Ciri keanggotaan Lama keanggotaan (>5 thn) Anggota koperasi lain Motivasi a.3 Ratarata 73.3% saja yang menjadi anggota koperasi atas keinginan sendiri. Gopar) Tabel 2.96 ha.3 1.3 dampak koperasi bagi anggotanya dalam hal ketersediaan beberapa komoditi 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 76 75. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa menjadi anggota koperasi tidaklah hanya berdasarkan motivasi dan keinginan sendiri.7 55.3 3. Berlahan sempit kepemilikan lahan rata-rata hanya sekitar 0.3 4. Ini menarik untuk dikemukakan.3 74.0 179 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a.3 ha. Tentunya kepemilikan (Persentase) lahan ini sangatlah bervariasi antar lokasi penelitian.96 1 4 Ciri lainnya yang penting untuk dikaji adalah kenyataan bahwa Tabel 4. Identitas Umum Anggota Tabel Identitas Umum Anggota No  2 3 4 Identitas Umur (>35 thn) Pekerjaan (tani) Pendidikan (>SMP) Pend.2 ha).8 Ratarata 83. Ternyata pengaruh anjuran para pembina dan pengurus ternyata masih cukup kecil.0 64 70 58 Tabel 5. 2. Tabel 3.3 SULUT 82 76 45 2. Efektivitasnya perlu untuk dikaji lebih lanjut.3 dan ketepatanlainnya 5 Pelayanan waktunya dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.2 DIY 81 30 10 10 70 0.4 Hal menarik lainnya adalah motivasi menjadi anggota koperasi. anjuran pengurus c. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya para anggota koperasi umumnya merupakan petani kecil. lebih tinggi . anjuran pembina d.

7 68 32.3 73.7 55. kredit.4 4 Kemudahan Cara pembayaran 70 80 5 Pelayanan lainnya 64 70 32 8 56 1. ternyata mendapatkan tanggapan yang cukup berbeda antar daerah. 83. Tanggapan atas Harga Komoditi Tabel 5.3%.3 72.3 2 3 2 Mengenai harga komoditi.0 83.2 Pemilikan lahan 3 Kredit 740.3%.3 ketersediaan  Kredit Harga di 74 beberapa komoditi tersebut adalah cukup dan pada waktu yang tepat. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat latar belakang para anggota koperasi di Sulawesi 2 180 . lainnya transaksi antara 64 Pelayanan normal/sama Dalam hal anggota dan koperasinya.3 4. Sebanyak 62% dari para respondennya menyatakan bahwa harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi.0 72 66 78 2 Harga koperasi sbg patokan cara pembayaranharga diberikan oleh koperasi. lebih rendah Harga koperasi sbg patokan Kepastian harga (Persentase) Ratarata SULUT 62 22 4 72 88 24.4 (ha/angg) 4 Pemilikan lahan JURNAL VOLUME 4 .96 Ratarata Tabel Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Tabel 4.3 dan 64% saja koperasi vs di umum 56 yang menyatakan 42 dari para responden bahwa 57. keinginan sendiri Tabel 3.3 4 2 28 c.2 Propinsi No Ciri keanggotaan Satuan SUMUT DIY  2 3 81 72 % Lama keanggotaan (>5 thn) 30 40 % Anggota koperasi lain Motivasi Propinsi No 10 52 % a.rata 57. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya 4 No  2 3 4 5 Tabel 4. anjuran kepalaKomoditi desa SUMUT DIY 10 % b. anjuran pembina Pupuk 70 6 86 % d.3 76 8 77. ternyata belumlah cukup memuaskan Propinsi 76 Pupuk 70 86 77. Ketersediaan Komoditi dan Ketepatan Waktunya Dari tabel 4 terlihat bahwa komoditi pupuk ketersediaan dan ketepatan (Persentase) waktunya merupakan yang tertinggi angka persentasenya.3 0.3 0.3 58 64.3%) menyatakan bahwa Komoditi rata tersedia dan waktunya tepat saat dibutuhkan. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi komoditi pupuk cukup Ratabesar dari responden (77. anjuran pengurus % c.7 56 70 86 58 22 64.3 55.AGUSTUS 2009 : 171-185 1. lebih tinggi b.0 54.3 4. anjuran pembina 70 40 % d. 4.7 62 56 63.3 42 1. 24.3 3. harga pembelian komoditi milik anggota oleh koperasi jika dibandingkan dengan pasaran umum adalah normal ataupun relatip sama. DIY komoditi lainnya seperti Untuk SULUT (Persentase) SUMUT obat-obatan dan bibit. sebagian besar 11.3 SULUT 31. anjuran kepala desa 10 % b. Sebagaimana terlihat pada tabel 5. ini berarti sebagian Tabel 5. Hanya sebagian kecil saja dari mereka (3%) yang menyatakan harga pembelian oleh koperasi adalah lebih tinggi. Yogyakarta (86%).3 SULUT 3. bahwa sebagian anggota koperasi sarnpel di Sumatera Utara (56%) dan D.0 b. Ini sangat berbeda dengan pendapat para anggota koperasi sampel di Sulawesi Utara. normal/sama c.3 57. Ciri-ciri Keanggotaan 0. anjuran pengurus 6 % c. Obat-obatan dan bibit 68 60 DIY 62SULUT 63. lebih tinggi Kemudahan Cara pembayaran 70 80 3 76 62 75. dan lainnya.I.10 52 % a.3RataNo Jenis Tanggapan ketersediaan dan ketepatan waktunya. Tanggapan atas Harga Komoditi Propinsi SUMUT DIY 3 56 28 78 92 3 86 2 66 70 No  Jenis Tanggapan Harga di koperasi vs di umum a.0 3 a.0 26 (Persentase) Rata32 rata 31.0 54.3%) menyatakan mereka mendapatkan kemudahan dari 72. keinginan sendiri bibit 2 Obat-obatan dan 68 40 6070 (ha/angg) 561.3 88 70 92 3 Kepastian yang Tabel 5. SUMUT Masing-masing hanya 63. lebih rendah para responden (75.7 11.96 76 75.

Kiranya perlu pendalaman lebih lanjut. Sebanyak 7% dari mereka menyatakan pelayanan tersebut sangat baik.3 72.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Hal ini dapat dilihat pada tabel 6. Ada sebanyak 72% responden menyatakan bahwa harga koperasi merupakan barometer transaksi jual beli. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman Tabel 6. baik b. Hal ini menarik untuk disimak dan dikaji jika dibandingkan jawaban responden dari Sumatera Utara adalah sebanyak 28% dari mereka menyatakan harga koperasi adalah lebih rendah.3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan kepastian harga bagi komoditi yang mereka kelola. Pada umumnya adalah para petani cengkeh yang sistem jual belinya sudah diatur dengan sistem tataniaga cengkeh.0 34. sebanyak 83. Gopar) Utara. Kemanfaatan dalam Pemasaran dan Peminjaman No I  2 3 II 4 5 6 Kemanfaatan Pemasaran Kemudahan informasi pasar Informasi tersebut membantu Pelayanan koperasi a.7 92.6% responden menyatakan bahwa pelayanan koperasi dalam hal informasi pasar ini adalah baik. Sebagian besar (80. Demikian juga dengan kepastian harga. Kemanfaatan lain yang dirasakan para responden adalah dalam hal pemasaran komoditi dan peminjaman modal ke koperasi.0 80.0 95.3% responden) menyatakan bahwa informasi pasar yang mereka dapatkan tersebut adalah membantu memahami pasar. Dalam hal kemudahan informasi pasar. Selain itu sebanyak 72. umumnya sepakat (sekitar 95.7%) menyatakan bahwa proses peminjaman tersebut cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Pada umumnya para responden menyatakan harga koperasi dapat dijadikan patokan harga bagi komoditi yang mereka kelola. sebanyak 92% responden menyatakan mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan informasi pasar. Umumnya 92% responden menyatakan bahwa bunga yang dikenakan oleh koperasi cukup rendah. Berarti koperasi sedikit banyak telah dapat mengendalikan harga komoditi yang dikelola anggota. Mengenai kemanfaatan informasi tersebut. sebanyak 34% responden menyatakan pernah meminjam uang kepada koperasi. Hal tersebut menyebabkan terhindarnya fluktuasi harga yang merugikan anggota.0 SULUT 92 92 72 3 24 90 94 Tabel 7. Apakah hal tersebut berkaitan dengan komoditi kelapa sawit yang kelola. Tabel 6. Dampak Koperasi Menurut Anggota Propinsi Rata- 181 (Persentase) . Dalam hal pinjaman.6 7. sangat baik Pinjaman Pernah meminjam Mudahnya peminjaman Bunga rendah Propinsi SUMUT 88 94 86 6 32 82 92 DIY 96 100 60 12 46 70 90 (Persentase) Ratarata 92.

3% responden menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan anggota.3 98. baik pembangunan. Sebagai alat pertumbuhan dalam12 perekonomian anggota.0 94 90 92 Bunga rendah 6 menyatakan bahwa koperasi merupakan alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi. Sebanyak 51.0 85.7 70 82 5 Mudahnya peminjaman tersebut di atas. maka 7.7% Tabel 6. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 81.7 51. Hal ini dapat dikaji pada tabel 7.3 182 .3% lainnya menyatakan bahwa koperasi dapat merupakan fasilitator dalam pembangunan ekonomi. Dampak Koperasi Menurut Anggota (Persentase) No  2 3 4 5 6 7 Dampak koperasi Kemajuan anggota Peningkatan lapangan kerja Peningkatan perekonomian desa a. sangat mempengaruhi Alat perubahan dalam pembangunan ekonomi Alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota Alat perlindungan dalam pembangunan ekonomi Fasilitator dalam pembangunan ekonomi Propinsi SUMUT 80 100 50 48 82 84 76 78 DIY 78 100 60 32 85 95 80 70 SULUT 86 96 45 55 88 80 60 66 Ratarata 81. koperasi dimaksudkan 3 Pelayanan koperasi dapat menjadi wahana atau agen untuk setiap perubahan (change agent) dalam 72.0 24 46 32 Pernah 4 anggota.0 86. sangat baik Pinjaman II koperasi diharapkan dapat mengembangkan dan meningkatkan perekonomian 34.3% 92. Angka persentase rata SUMUT DIY SULUT tersebut hampir sama dengan yang menyatakan bahwa koperasi dapat Pemasaran I merupakan alat pertumbuhan dalam perekonomian anggota. Sebanyak 86. Sebagai alat perubahan.7% responden sepakat menyatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja di daerah kerjanya. Kemanfaatan dalam Pemasaran mempengaruhi.7 45. meminjam 80. Dampak Koperasi Menurut Anggota Tabel 7.0 71. Di lain pihak ada sebanyak 71.JURNAL VOLUME 4 . Tabel 7. Umumnya sebanyak 98. (Persentase) No RataPropinsi Ada sebanyak 85% responden menyatakan bahwa koperasi dapat Kemanfaatan merupakan alat perubahan dalam pembangunan ekonomi. mendapatkan tanggapan positif dari para responden.3 72.6 72 60 86 a. responden menyatakan bahwa koperasi cukup dan Peminjamansedangkan sebanyak 45% lainnya menyatakan sangat mempengaruhi terhadap peningkatan perekonomian pedesaan. ada sebanyak 72%90 Selain hal-hal responden yang 92.0 3 6 b.0 92 88 Kemudahan informasi pasar  responden menyatakan bahwa koperasi dapat 96 merupakan alat pertumbuhan 95. Pengaruh koperasi terhadap peningkatan perekonomian desa ternyata.3 92 100 94 Informasi tersebut membantu 2 dalam perekonomian anggota. cukup mempengaruhi b.AGUSTUS 2009 : 171-185 Bagaimana dampak koperasi dirasakan oleh anggota.

Komposisi dalam suatu perangkat organisasi usaha belumlah cukup seimbang. Karena hal tersebut menyebabkan frekuensi dan arus penciptaan marjin keuntungannya semakin meningkat. sehingga sebenarnya masih diperlukan lagi pengukuran yang bersifat objektif-kuantitatif. Pengembangan dan pengaturan organisasi dan managemen yang dimulai dengan mewujudkan ”aturan main” tersebut perlu terus dikembangkan sehingga terwujud suatu sistem managemen koperasi yang khas dan tepat guna. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa koperasi telah memberikan dampak positif dalam hal-hal sebagaimana diterangkan di atas. Mengingat adanya beberapa peraturan/perundangan yang menata sistem keuangan.Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. Hasil kajian dimaksud diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi kehidupan perkoperasian. Peningkatan produktivitas permodalan dilakukan dengan meningkatkan perputaran modal yang ada. maka diperlukan upaya dari suprastruktur (terutama dari pemerintah) untuk mengembangkan sistem keuangan koperasi. Gopar) Dari uraian di atas diungkapkan dampak koperasi sebagaimana yang dirasakan oleh anggota. Dengan demikian tercipta suatu sistem keuangan koperasi yang mandiri. Untuk itu semangat yang dikandung oleh UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang sistem keuangan koperasi perlu dikaji lebih mendalam lagi. Terutama dalam hal pemanfaatan modal yang tersedia agar menghasilkan produktivitas dan efisiensi yang semaksimal mungkin. maka perlu dilakukan pengkajian yang lebih spesifik dan terfokus. 183 . Kesimpulan Dan Saran Dari penelitian ini ternyata kualitas sumberdaya manusia yang menjalankan kegiatan koperasi pedesaan ini belumlah memuaskan. dan sistem serta prosedur yang berlaku secara lazim dalam bisnis. Selain itu pula ”aturan main” bagi pelaksana haruslah dibuat berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. Namun demikian perlu diingat bahwa ukuran yang digunakan dimaksud adalah ukuran subjektif-kualitatif. Walaupun pada kenyataannya di beberapa koperasi banyak dari pengurus/pengawas dan pengelolanya telah mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Dalam hal pencarian sumber dana eksternal serta memobilisasikannya guna memperkuat permodalan. Peningkatan efisiensi permodalan dilakukan melalui perbaikan sistem managemen koperasi dan sistem operasional yang digunakan oleh anggota dalam mengelola aktivitas ekonominya. kadar keterlibatan pekerjaan yang masih belum memuaskan. Selain itu tingkat pengalaman yang umumnya masih belum lama. VI. Dari segi permodalan koperasi pedesaan masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi. akan turut mempengaruhi tingkat kemanfaatan sumberdaya manusia untuk pengembangan usaha koperasi. Untuk itu pendidikan perkoperasian maupun pendidikan keahlian bisnis bagi pengelola koperasi perlu lebih ditingkatkan lagi.

(2) Pemupukan modal sendiri. 184 . (1977). antara lain adalah: (1) Meningkatkan jumlah anggota. Inc. Issues. kualitas yang memadai dan tersedia pada waktu yang diperlukan. Pengembangan organisasi dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi internal dan aspek eksternal.. Kemanfaatan koperasi bagi anggota selain kemanfaatan langsung usaha dan kegiatan ekonomi di tingkat anggotanya. Pelayanan tersebut ternyata akan semakin dirasakan dengan meningkatnya partisipasi. and H. Applied Regresion Analysis. and Tasks.AGUSTUS 2009 : 171-185 Adanya berbagai peluang untuk pengembangan usaha sebagai konsekuensi dari berlakunya berbagai peraturan pemerintah yang sangat mendukung berkembangnya koperasi pedesaan (terutama UU Nomor 25 Tahun 1992) perlu diantisipasi oleh koperasi untuk lebih mengembangkan organisasi dan usahanya. (4) Penciptaan penanggulangan tunggakan kredit. Untuk itu diperlukan kreativitas dan model kegiatan yang menggali potensi anggota maupun non anggota. Model. dinilai responden sebagai cukup baik. Gilbert. (7) Rapat Anggota Tahunan. DAFTAR PUSTAKA Draper.R. New Jersey: Pretice-Hall. dan (8) Pengawasan oleh anggota. juga perlu dikembangkan lebih lanjut pengembangan kemanfaatan koperasi dari sistem patron yang ada dalam koperasi. Sebagai misalnya adalah penjualan komoditi dengan harga yang wajar. Dampak kepada anggota akan sesuai Dampak kepada anggota akan sesuai dengan peluang yang ada dalam peraturan/perundangan. terutama kemitraan. Specht. Smith. Semakin aktif partisipasi anggota semakin besar manfaat yang dirasakan oleh anggota tersebut. (5) Penyertaan anggota dalam proses perencanaan. Dari penelitian ini setidaknya ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh koperasi. Kiat-kiat yang dapat dilaksanakan koperasi untuk meningkatkan dampak koperasi perlu ditemukenali. (3) Peningkatan volume usaha. New York: John Wiley & Sons. Planning for Social Welfare. Sehubungan dengan hal tersebut koperasi sebagai badan usaha perlu lebih mengembangkan kegiatannya. Dampak berupa kemanfaatan umumnya dirasakan melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh koperasi. and H. Pelayanan koperasi dalam memberikan informasi pasar dan kepastian harga ternyata cukup bermanfaat bagi anggota. N. Secara umum dapat dikatakan bahwa kehadiran koperasi di pedesaan telah dirasakan dampaknya oleh anggota. dikembangkan dan dilaksanakan dengan baik. N . (1981). Terutama dalam hal kemudahan yang diperoleh anggota dalam kecepatan proses dan tingkat bunga. Dalam hal keperluan modal dan pinjaman ternyata juga telah dirasakan manfaatnya bagi para anggota. Pada akhirnya kemanfaatannya akan jatuh kepada anggota. (6) Penciptaan keterkaitan usaha anggota.JURNAL VOLUME 4 .

Welch. Chicago: The Dorsey Press. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1��2 tentang Perkoperasian. Quantitative Methods for Public Administration. Techniques and Applications. 185 .Kajian Dampak Koperasi Terhadap Anggotanya (Achmad H. and J. Comer. Jakarta: Pemerintah Koperasi. (1992). (1988). Gopar) -------------. S.