Pendidikan Agama Hindu

Pendidikan Agama Hindu sebetulnya bukan merupakan terminologi asing. Namun demikian karena kajian ini berkaitan dengan peristilahan tersebut maka dalam tulisan ini dibahas secara singkat konsep Pendidikan Agama Hindu tersebut sehingga dapat dilengkapi gambaran kajian ini. Secara sistematis Pendidikan Agama Hindu merupakan kelompok kata yang terbentuk dari bentuk Dasar Pendidikan dan Agama Hindu. Pendidikan dalam konteks ini yang dimaksud adalah seperti yang dinyatakan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, yakni dengan penekanan sebagai usaha sadar yang terencana dalam mengembangkan potensi anak didik (Depdiknas, 2003:6). Dengan penggunaan kedua bentuk dasar tersebut akan memperjelas pengertian bahwa dalam konteks ini Pendidikan Agama Hindu merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi dirinya dalam bidang Agama Hindu sehingga anak didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan ajaran Agama Hindu. Hal ini terlihat jelas dalam pasal 30 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Keagamaan yang menyangkut penyelenggara pendidikan agama, fungsi pendidikan agama, tempat penyelenggaraan, serta bentuk penyelenggaraan pendidikan agama (Depdiknas, 2003:30). Membicarakan konsep Pendidikan Agama Hindu tidak terlepas dari masalah konsep pendidikan agama dalam artri luas di Indonesia. Hal ini dinyatakan oleh Ibu Ahmadi bahwa sejak terjadinya pembrontakan PKI pendidikan agama wajib diberikan di seluruh sekolah dari Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi. Dengan demikian merupakan kewajiban seluruh murid untuk mengikuti pendidikan agama dan beragama adalah merupakan syarat mutlak bagi bangsa Indonesia. Berkaitan dengan konsep pendidikan agama ini dinyataka n bahwa pada tingkat Sekolah Dasar penekanan diletakkan pada proses pembiasaan melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama, pada tingkat Sekolah Menengah penekanan diletakkan pada kesadaran serta mempertebal keyakinan anak akan kebenaran ajaran agama, sedangkan pada Pendidikan Tinggi ditekankan pada ilmiah rasional dan memberikan argumentasi yang logis (Ahmadi, 2001: 22-23). Berdasarkan yang dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut di atas sebagai landasan hukum pelaksanaan pendidikan agama di Indonesia termasuk Pendidikan Agama Hindu, serta s esuai dengan yang dinyatakan oleh Ahmadi di atas, maka dalam konteks ini diartikan bahwa dalam Pendidikan Agama Hindu terkandung konsep lebih menekankan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif pada anak didik sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Pengertian Pendidikan Agama Hindu dalam buku Pedoman Guru Agama di Sekolah Dasar adalah : 1). Pendidikan Agama adalah segala usaha yang berupa bimbingan dan asuhan terhadap anakanak agar kelak setelah pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama serta menjadikannya “Way of life” kehidupan sehari-hari, 2). Pendidikan Agama adalah usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepribadian yang utuh yang memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupannya, 3). Pendidikan Agama adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak didik

menuju tercapainya manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 1983/ 1984: 9). (Tim Penyusun Buku Pedoman Guru Agama Sekolah Dasar.com/sas_store/Agama_Hindu. http://sasterpadu.pdf .tripod.

yaitu sejak tahun 1970. yang pada gilirannya membentuk emosi yang terkendali. Sudah tentu ia pemeluk Hindu yang taat. dan berkembanglah keinginan untuk selalu meningkatkan inteligensi melalui proses pendidikan dan pembelajaran. yaitu pertumpahan darah sebagai dampak peristiwa G-30-S/PKI. Agama Hindu dengan Kitab Suci-nya: Veda. Manusia di abad ini mengetahui bahwa kesehatan adalah hal pokok yang sangat penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. dewasa. menyediakan berbagai petunjuk dan perintah Tuhan yang memperkuat aspek spiritual. emosional. apa lagi diabaikan. Kesehatan jasmani memang menjadi landasan yang utama. Kebangkitan generasi muda Hindu Nusantara nampak nyata sejak tahun 1970. dan terdidik yang mempunyai kepribadian kokoh sebagai tempaan bangku sekolah dan pengalaman sehingga ia mandiri. Timbul pertanyaan.Peran Generasi Muda Hindu Dalam Memperkokoh Jati Diri Menuju Ajeg Hindu Generasi muda Hindu adalah kelompok angkatan usia produktif. bagaimanakah kondisi potensi itu di kalangan generasi muda Hindu Nusantara? Kebangkitan Hindu Nusantara boleh dikatakan sejalan dengan tumbuhnya kesadaran umum bahwa Agama adalah sesuatu yang penting. tetapi segera setelah itu terpenuhi. serta bijaksana dalam bersikap. . sejalan dengan kesadaran yang tumbuh bahwa Agama adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. baik dalam berpikir. Manusia memerlukan tuntunan spiritual dalam kehidupannya agar dapat melakukan aktivitas tidak hanya berlandaskan keberadaan tubuh (on the bodily platform of existence). tetapi juga mencakup aspek-aspek non-physical. Kesadaran ini juga berkembang karena mutu pendidikan semakin baik. berkata-kata. terpelajar. Kesadaran yang tumbuh ini melalui pengorbanan yang sangat besar. tumbuh. maupun berbuat sesuatu. emosional. kesehatan spiritual. sehingga sangat disayangkan bila potensi demikian tidak didayagunakan. reformis. dan intelektual tidak dapat ditunda. dan pengaruh globalisasi abad millennium. Dalam kesadaran emosi yang positif. dan intelektual. Potensi-potensi yang berguna bagi meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia bertumpuk pada generasi muda. kemajuan di bidang tehnologi informasi. Ia tidaklah hanya mencakup aspek physical saja. selalu ingin mencapai tatanan kehidupan yang lebih baik. yaitu: spiritual.

dan bertahan dalam Hindu adalah pemikir yang rasional dan moderat. Agama Hindu melayani keperluan spiritual setiap manusia. 2. toleransi. Mempertahankan eksistensi Hindu di dunia adalah suatu upaya menyayangi dan memelihara semesta karena Tuhan dalam keyakinan Hindu adalah semesta itu sendiri. Bila konsep-konsep di atas dimengerti dan diterima sebagai suatu kebenaran “Sanatana Dharma” maka generasi muda Hindu akan menemukan jati dirinya yang kokoh menuju “Ajeg Hindu”. yoga. Mereka hendaknya menjelaskan bahwa: 1. dan disiplin meditasi. Selain itu. Agama Hindu percaya pada sebuah dunia yang adil karena setiap manusia dibimbing oleh hukum karma menuju kepada kesucian roh yang pada gilirannya akan mencapai tujuan akhir. dan tidak terbelenggu pada ritual yang bertele-tele serta membuang jauh-jauh pola pikir dan perilaku yang “meracuni” Agama Hindu. dan banyak lagi promosipromosi lainnya yang mendorong kehidupan Agama Hindu. Laghima: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat ringan. Ia disebut oleh para Maha Rsi sebagai “Asta Aisvarya” (mempunyai delapan sifat kekuasaan). 5. dikuatkan. apalagi di masa itu Pemerintah dengan resmi mengakui eksistensi Agama Hindu sebagai Hindu Dharma. Potensi generasi muda Hindu hendaknya digali. yaitu: 1. Pemeluk Hindu puas dengan pengetahuan tentang asal suci dari roh. Anima: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat halus. 4. misalnya feodalisme dan fanatisme tradisi-tradisi beragama yang menyimpang dari ajaran Veda. mendalami filsafat Veda. dan dikembangkan dengan menyampaikan bahwa Hindu sedang berkembang menjadi Agama Universal yang sesungguhnya. 3. jalan yang ditempuh melalui kehidupan dari satu masa ke masa lainnya. Penggalian “kesadaran Hindu” akan sangat efektif bila dilakukan oleh para intelektual dan penulis. Agama Hindu tidak dogmatis dan terbuka untuk diuji kebenarannya tentang unsur-unsur srada (keyakinan) yang dimilikinya. Agama Hindu memiliki gudang ilmu pengetahuan yang tidak habis digali oleh manusia guna meningkatkan kualitas kehidupannya. untuk menjadi “Universal” haruslah ditempuh upaya-upaya meningkatkan kualitas beragama. karena aspek-aspeknya yang terdapat dalam Veda sangat luas dan dalam.Umat Hindu di Nusantara tidak “malu-malu” lagi mengaku dirinya Hindu. antara lain Veda mengandung pengetahuan isoterik dari inti kesadaran. Generasi muda Hindu perlu diingatkan bahwa mereka yang masuk menjadi pemeluk Hindu. menetapkan Tahun Baru Saka (Nyepi) sebagai hari libur Nasional. maka sebaliknya mereka yang berpindah ke agama lain atau tidak mendalami ke-Hinduan-nya adalah orang yang tersesat menuju pada kemunduran spiritual. yaitu persatuan roh dengan Tuhan atau Moksha. dan apresiasi yang murni terhadap agamaagama yang lain. Agama Hindu memiliki kasih yang tulus. 2. . sehingga bebas dari kelahiran kembali (samshara).

Sedangkan Parabhakti adalah cinta kasih dalam perwujudannya yang lebih tinggi dan kerohaniannya sudah meningkat. Mahima: sifat kekuasaan Tuhan yang luar biasa besarnya dan luasnya sehingga tidak terbatas oleh apapun juga. 5. tetapi juga turut menolong umat manusia mencapai pencerahan dan mewujudkan mokshartam jagaditaya ca iti dharmah. 8. dan akasa (angkasa). bayu adalah paru-paru. apah adalah darah dan air kencing. Karena Bhuwana Agung identik dengan Bhuwana Alit. Pernyataan rasa cinta kepada sesuatu yang lebih dihormati disebut Bhakti. . Aparabhakti terlihat dari praktek ritual keagamaan sehari-hari. Vasitva: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat kuasa. akan mendapatkan banyak manfaat bila menjalankan kewajibannya mengikuti ajaran Veda. Prapti: sifat kekuasaan Tuhan yang dapat mencapai daerah manapun juga. Keinginan untuk berkorban secara ikhlas. bayu (angin). teja (matahari). Filosofi seperti ini hanya terdapat dalam Veda. maka kecintaan manusia pada dirinya sendiri adalah cermin kecintaannya juga pada alam semesta. meliputi seluruh alam semesta. hanya dapat dirasakan oleh yang melaksanakannya secara individu karena didorong oleh perasaan-perasaan halus: 1. Kedelapan sifat ini bersemayam pada-Nya yang dilambangkan sebagai Singhasana. Seseorang yang Bhakti kepada Tuhan disebut sebagai Bhakta. 6. yang terdiri dari: pertiwi (tanah). yaitu meliputi Panca Mahabhuta. meditasi. Tubuh manusia adalah Bhuwana Alit di mana unsur-unsur pokok Bhuwana Agung dan unsurunsur pokok Bhuwana Alit adalah sama. dan sembahyang biasa. Kecintaan manusia pada semesta adalah kecintaan pada Tuhan.3. Ia tidak hanya menolong dirinya sendiri. apah (air). yaitu Aparabhakti. melalui Bhakti-marga. Bhakti dibagi atas dua tingkat. Prakamya: sifat kekuasaan Tuhan yang kehendak-Nya selalu tercapai. Isitva: sifat kekuasaan Tuhan yang melebihi segala-galanya sehingga merajai alam semesta ini. 7. Pertiwi di Bhuwana Alit adalah daging dan tulang. 4. dalam bentuk Drwya yadnya (dana-punia). dan Parabhakti. Jnana yadnya (belajar/ mengajar). yang disebut sebagai Bhuwana Agung. dan Tapa yadnya (mengendalikan diri). melalui perenungan. sedangkan Parabhakti tidak dengan mudah terlihat. Kerinduan untuk bertemu dengan Sang Pencipta. 2. dan akasa adalah otak/ syaraf. Aparabhakti adalah cinta kasih yang perwujudannya masih lebih rendah dan dipraktekkan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kerohanian yang tinggi. teja adalah suhu badan dan sinar mata. Generasi muda Hindu yang terpelajar dan senang menuntut ilmu menuju peningkatan kualitas SDM. Yatrakamavasayitva: sifat kekuasaan Tuhan yang kehendak dan kodrat-Nya tak ada yang dapat mengubah.

apakah sudah memanfaatkanNya untuk kesejahteraan kita? Bila jawabannya “belum” berarti kita harus banyak belajar. dan bila jawabannya “sudah” maka andalah seorang Parabhakti. yoga. berbagai teknik pengobatan alternatif dan upaya menjaga kebugaran tubuh. Ia menyampingkan sektarianism dan terbuka menerima ide-ide. dan spiritualism Hindu telah membuktikan dirinya sebagai rumah dari semua religiusitas yang murni. lalu tanyailah diri sendiri. roh. Penjelajahan antariksa. Kita sudah memiliki-Nya. . dan moksha telah diterima secara luas oleh berbagai suku bangsa dan berkembang menjadi keyakinan yang tak terbantah. Umat manusia sedunia sadar atau tidak sadar telah mengakui bahwa Veda menuntun umat manusia dalam melakukan metoda interiosasi (pencarian ke dalam jiwa) yang paling mudah dan cepat berhasil. karmaphala. Generasi muda Hindu Nusantara hendaknya menyadari kemuliaan permata Veda yang tiada tandingnya. Demikian luasnya cakupan Veda karena Ia memang diwahyukan Tuhan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia.Tanpa sengaja para Bhakta telah memperkenalkan Hindu sebagai satu-satunya jalan menuju universalism. pemikiran ilmiah. Generasi muda Hindu di dunia telah banyak berbuat dalam konteks modernisasi dan revitalisasi segala aspek kehidupan yang sumber-sumbernya dikembangkan dari ajaran Veda. Tradisi-tradisi beragama Hindu juga telah dipraktekkan di kalangan masyarakat menengah ke atas. misalnya meditasi. dan eksperimen sosial. pemikiran baru. dan hubungan guru dan murid (gurukulla). Banyak kepercayaan yang menjadi dasar-dasar srada Agama Hindu seperti reinkarnasi. juga bersumber dari Veda.

g. Penyiapan kemampuan sikap mental siswa yang ingin melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi. sehingga menjadi insan Hindu yang darmika dan mampu mewujudkan cita-cita luhur Moksartham Jagadhita. Pengembangan Sraddha dan Bhakti kehadapan Hyang Widhi (Brahman). penghayatan dan pengamalan ajaran agama. pemupukan. b. Mempersiapkan kematangan dan daya resistensi siwa dalam mengadaptasi diri terhadap lingkungan fisik dan sosial. d. . 9 Pendahuluan 2. Tujuan Pendidikan Agama Hindu bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan Sraddha (iman) dan Bhakti (ketaquaan) dari peserta didik kehadapan Brahman melalui pemberian. dan fungsinya. Penanaman nilai-nilai ajaran Agama Hindu yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup (Moksartham Jagadhita). Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum. Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif yang diakibatkan oleh pergaulan dunia luar. f. kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. sistem.Fungsi dan Tujuan 1. Perbaikan kesalahan-kesalahan. Fungsi Pendidikan Agama Hindu berfungsi untuk: a. e. c.

sloka. (e) hidup untuk menemukan makna hidup. (b) hidup untuk mendapatkan rasa aman. simbol-simbol agama. dengan bertitik tolak dari pengalaman dan pergumulan hidup berimannya dalam masyarakat yang pluralis religi dan berbudaya. dan Moksa. Adapun karakteristik PAH adalah sebagai berikut: 1. suka pada tantangan. kidung atau nyanyian suci. Punarbhawa. Sundaram (kedamaian) dalam membangun keharmonisan tiga pola hubungan yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana. kemandirian. Grihasta. upakara agama. dan Bhiksuka. ketekunan. perjalanan hidup para Rsi. Dalam konteks ini PAH sebaiknya “berwajah” Pendidikan Religiositas dan Kontekstual sebagai landasan proses menemukan makna hidup dan kehidupan. Interaksi dan komunikasi iman yang naratif-eksperiensial antara guru dan para peserta didik-nya dan antara para peserta didik satu sama lain. (f) hidup untuk tidak hidup kembali (baca tidak lahir kembali) sesuai dengan tingkatan kehidupannya mulai dari masa Brahmacarya. rasa percaya diri. (d) hidup untuk mendapatkan status dan kehormatan. serta membantu memberi motivasi untuk berbuat baik dan menunjang profesi ilmu yang sedang dipelajarinya. PAH harus mampu mendorong peserta didik agar memiliki motivasi. purana. 4. Karma Phala. Atman. PAH diarahkan untuk membangun kualitas mental pribadi peserta didik agar memiliki visi yang jelas. (c) hidup untuk diterima oleh masyarakat. Pengalaman dan pergumulan hidup ber-sradha dan ber-bhakti dimulai dengan menyajikan teks. tekad kerja keras. dan berinisiatif tinggi serta berlandaskan pada dharma. Mahabarata). kreatif. 3. perjalanan hidup tokoh hindu dan praktek-praktek keagamaan kemudian mendalami maknanya bagi hidup pribadi dan hidup bermasyarakat. PAH membangun kesadaran akan persoalan bukan saja hidup sesudah mati tetapi juga apa yang harus diperbuat selama hidup di dunia ini. cerita. ketabahan. PAH menekankan pada proses pengembangan karakter peserta didik. Kebenaran harus dinyatakan dengan penuh kebajikan agar terbangun kedamaian. Siwam (kebajikan). Demikian juga halnya dengan Pendidikan Agama Hindu (PAH). Kehidupan untuk masa depan yang disadari dari penghayatan akan kehidupan masa kini dan masa lalu. Dasar pijak gerak dalam PAH adalah Satyam (kebenaran). gerak tubuh. mantram.B. Karakteristik Mata Pelajaran Agama Hindu Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik yang khas. membangkitkan kesadaran bahwa agama merupakan kebutuhan hidup dalam mencapai kebahagiaan dan kepuasan di dunia dan di akhirat. Wanaprasta. PAH merupakan pendidikan dalam usaha menanamkan rasa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. itihasa (Ramayana. energik. tujuan hidup 2. wawasan dan pengetahuan yang kontekstual. PAH menekankan refleksi Panca Sradha yaitu keimanan akan Brahman/Tuhan. 5. Kesadaran yang dibangun meningkat mulai dari kesadaran (a) hidup untuk mencari makan. upacara agama. Pola pewartaan PAH bertumpu pada pencapaian kedamaian yang diformulasikan dengan pernyataan Moksartam Jagat Hita Ya Ca Iti Dharma. PAH memuat kajian konprehensif akan peran dan fungsi Agama Hindu dalam kehidupan modern yang pluralistik dan turbulent. .

rasa kompeten. d. kemandirian. Karma Phala. tidak cemas. bugar dan energik. dan Moksa. melainkan terus menerus dalam setiap langkah kehidupan. berinisiatif tinggi berlandaskan pada Dharma. tekun. berdana punia. Di mata peserta didik Tuhan tidak dihadirkan hanya dalam momen-momen eksklusif saja seperti pada saat ada upacara-upacara keagamaan di pura. kepedulian terhadap lingkungan. tolong menolong. 6. Punarbhawa. bersih. 7. tidak rendah diri. kemampuan hidup secara harmonis dan kreatif dalam masyarakat yang pluralistik. Sila. suka pada tantangan. mandiri dan bertanggungjawab yang tercermin dalam pola hidup sehari-hari dalam hubungannya dengan Tuhan. rasa percaya diri. Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu menggunakan pola pendekatan terpadu. Kualitas mental tersebut menjadi penentu arah. Tema-tema esensi dalam PAH bersumber pada Weda yaitu Sruti. dan alam sekitar (Tri Hita Karana). Pendekatan dengan dimensi Ideologis yaitu pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan tingkat keyakinan peserta didik pada kebenaran Ajaran Agama Hindu. Smerti. humanistis. Pendekatan dengan dimensi Ritualistik yaitu pola pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan tingkat kepatuhan peserta didik dalam menjalankan ritual-ritual . b. fungsional. motivator dan fasilitator dalam pengembangan dan pemanfaatan kecakapan teknik. Dengan demikian peserta didik terlatih berbuat jujur. tidak sombong. sopan dan santun. tekad kerja keras. a. kedamaian. penghela. demokratis. sesama manusia. rasa harga diri. tanpa kekerasan. dan kontekstual sesuai dengan dinamika perkembangan berbangsa dan bernegara serta tuntutan masyarakat modern yang pluralistik dan turbelent. Peserta didik dilatih untuk merasakan Tuhan Maha Ada. sabar. komitmen terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup yang tinggi. Maha Mengetahui. Peserta didik dibangun kesadarannya agar menghayati Panca Sradha yaitu keyakinan terhadap adanya Brahman. Acara. bersemangat. dan berkeyakinan Tuhan memberi perlindungan pada dirinya. Pendidikan Agama Hindu agar lebih fungsional dan bermakna bagi peserta didik maka strategi pembelajaran yang digunakan meliputi lima dimensi pendekatan yaitu: Pendekatan dengan dimensi Konsekuensial yaitu pola pendekatan pembelajaran yang menekankan pada peranan dan fungsi Agama Hindu sebagai sumber motivator dan sumber inspirasi dalam berperilaku keseharian sesuai dengan swadharma peserta didik sebagai anak bangsa. tekad kerja keras. serta kompetensi teknik sesuai dengan swadharma hidupnya. memahami jati dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan. kebajikan. Maha Kuasa.yang jelas. tertib. dan Maha Pencipta. Peserta didik dilatih dan dibiasakan mempraktekkan dan merasakan manfaat pengamalan ajaran Agama Hindu dalam kehidupan nyata seperti berperilaku jujur. kemurahan hati. kreatif. taat waktu. Pendekatan dengan dimensi Imperensial yaitu pola pendekatan pembelajaran menyangkut penumbuhan dan pengembangan intensitas perasaan-perasaan dan pengalaman religius peserta didik dalam bentuk upaya-upaya menghadirkan Tuhan dalam kesadaran peserta didik di setiap saat dan di setiap tempat. Atman. berakhlak mulia atau berbudi pekerti luhur. c. dan Atmanastuti sehingga peserta didik memiliki Sradha dan Bhakti kepada Brahman.

dan hari piodalan lainnya. Tempat Suci. Orang Suci.html . Nyepi.blogspot. Yadnya. Pagerwesi. Siwaratri. Hari Raya Galungan Kuningan. http://bisnisiklanterfaforit. Kepemimpinan. Alam semesta. Kitab Suci. Ketujuh karakteristik ini hendaknya dijadikan titik perhatian bagi para guru Pendidikan Agama Hindu dalam mengembangkan satuan acara pelajaran dan pelaksanaan pengajaran PAH. e. dan Sejarah Perkembangan Agama Hindu . Susila.com/p/panduan-pengembangan-silabus-pendidikan_2136. Pendekatan dengan dimensi Intelektual yaitu pola pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik mengenai ajaranajaran Agama Hindu berkaitan dengan Sradha.Agama Hindu. Budaya. Peserta didik dilatih untuk menjalankan ritual Puja Tri Sandya setiap hari dan aktif mengikuti kegiatan upacara keagamaan pada setiap Purnama Tilem. Hari Suci.