Pendidikan Agama Hindu

Pendidikan Agama Hindu sebetulnya bukan merupakan terminologi asing. Namun demikian karena kajian ini berkaitan dengan peristilahan tersebut maka dalam tulisan ini dibahas secara singkat konsep Pendidikan Agama Hindu tersebut sehingga dapat dilengkapi gambaran kajian ini. Secara sistematis Pendidikan Agama Hindu merupakan kelompok kata yang terbentuk dari bentuk Dasar Pendidikan dan Agama Hindu. Pendidikan dalam konteks ini yang dimaksud adalah seperti yang dinyatakan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, yakni dengan penekanan sebagai usaha sadar yang terencana dalam mengembangkan potensi anak didik (Depdiknas, 2003:6). Dengan penggunaan kedua bentuk dasar tersebut akan memperjelas pengertian bahwa dalam konteks ini Pendidikan Agama Hindu merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi dirinya dalam bidang Agama Hindu sehingga anak didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan ajaran Agama Hindu. Hal ini terlihat jelas dalam pasal 30 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Keagamaan yang menyangkut penyelenggara pendidikan agama, fungsi pendidikan agama, tempat penyelenggaraan, serta bentuk penyelenggaraan pendidikan agama (Depdiknas, 2003:30). Membicarakan konsep Pendidikan Agama Hindu tidak terlepas dari masalah konsep pendidikan agama dalam artri luas di Indonesia. Hal ini dinyatakan oleh Ibu Ahmadi bahwa sejak terjadinya pembrontakan PKI pendidikan agama wajib diberikan di seluruh sekolah dari Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi. Dengan demikian merupakan kewajiban seluruh murid untuk mengikuti pendidikan agama dan beragama adalah merupakan syarat mutlak bagi bangsa Indonesia. Berkaitan dengan konsep pendidikan agama ini dinyataka n bahwa pada tingkat Sekolah Dasar penekanan diletakkan pada proses pembiasaan melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama, pada tingkat Sekolah Menengah penekanan diletakkan pada kesadaran serta mempertebal keyakinan anak akan kebenaran ajaran agama, sedangkan pada Pendidikan Tinggi ditekankan pada ilmiah rasional dan memberikan argumentasi yang logis (Ahmadi, 2001: 22-23). Berdasarkan yang dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut di atas sebagai landasan hukum pelaksanaan pendidikan agama di Indonesia termasuk Pendidikan Agama Hindu, serta s esuai dengan yang dinyatakan oleh Ahmadi di atas, maka dalam konteks ini diartikan bahwa dalam Pendidikan Agama Hindu terkandung konsep lebih menekankan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif pada anak didik sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Pengertian Pendidikan Agama Hindu dalam buku Pedoman Guru Agama di Sekolah Dasar adalah : 1). Pendidikan Agama adalah segala usaha yang berupa bimbingan dan asuhan terhadap anakanak agar kelak setelah pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama serta menjadikannya “Way of life” kehidupan sehari-hari, 2). Pendidikan Agama adalah usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepribadian yang utuh yang memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupannya, 3). Pendidikan Agama adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak didik

tripod.menuju tercapainya manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.pdf .com/sas_store/Agama_Hindu. http://sasterpadu. 1983/ 1984: 9). (Tim Penyusun Buku Pedoman Guru Agama Sekolah Dasar.

Ia tidaklah hanya mencakup aspek physical saja. yaitu sejak tahun 1970. emosional. terpelajar. yang pada gilirannya membentuk emosi yang terkendali. maupun berbuat sesuatu. apa lagi diabaikan. . dan intelektual. tetapi segera setelah itu terpenuhi. kesehatan spiritual. Potensi-potensi yang berguna bagi meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia bertumpuk pada generasi muda. dan terdidik yang mempunyai kepribadian kokoh sebagai tempaan bangku sekolah dan pengalaman sehingga ia mandiri. Agama Hindu dengan Kitab Suci-nya: Veda. berkata-kata. reformis. Dalam kesadaran emosi yang positif. Manusia memerlukan tuntunan spiritual dalam kehidupannya agar dapat melakukan aktivitas tidak hanya berlandaskan keberadaan tubuh (on the bodily platform of existence). Kebangkitan generasi muda Hindu Nusantara nampak nyata sejak tahun 1970. Manusia di abad ini mengetahui bahwa kesehatan adalah hal pokok yang sangat penting untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. yaitu pertumpahan darah sebagai dampak peristiwa G-30-S/PKI. Kesadaran ini juga berkembang karena mutu pendidikan semakin baik. dan berkembanglah keinginan untuk selalu meningkatkan inteligensi melalui proses pendidikan dan pembelajaran. dan pengaruh globalisasi abad millennium. dan intelektual tidak dapat ditunda. sejalan dengan kesadaran yang tumbuh bahwa Agama adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. baik dalam berpikir. Timbul pertanyaan. emosional. serta bijaksana dalam bersikap. sehingga sangat disayangkan bila potensi demikian tidak didayagunakan. yaitu: spiritual. bagaimanakah kondisi potensi itu di kalangan generasi muda Hindu Nusantara? Kebangkitan Hindu Nusantara boleh dikatakan sejalan dengan tumbuhnya kesadaran umum bahwa Agama adalah sesuatu yang penting. kemajuan di bidang tehnologi informasi. tumbuh. Kesadaran yang tumbuh ini melalui pengorbanan yang sangat besar. Kesehatan jasmani memang menjadi landasan yang utama. menyediakan berbagai petunjuk dan perintah Tuhan yang memperkuat aspek spiritual.Peran Generasi Muda Hindu Dalam Memperkokoh Jati Diri Menuju Ajeg Hindu Generasi muda Hindu adalah kelompok angkatan usia produktif. selalu ingin mencapai tatanan kehidupan yang lebih baik. dewasa. tetapi juga mencakup aspek-aspek non-physical. Sudah tentu ia pemeluk Hindu yang taat.

Ia disebut oleh para Maha Rsi sebagai “Asta Aisvarya” (mempunyai delapan sifat kekuasaan). Agama Hindu tidak dogmatis dan terbuka untuk diuji kebenarannya tentang unsur-unsur srada (keyakinan) yang dimilikinya. dan tidak terbelenggu pada ritual yang bertele-tele serta membuang jauh-jauh pola pikir dan perilaku yang “meracuni” Agama Hindu. dan apresiasi yang murni terhadap agamaagama yang lain. Pemeluk Hindu puas dengan pengetahuan tentang asal suci dari roh. apalagi di masa itu Pemerintah dengan resmi mengakui eksistensi Agama Hindu sebagai Hindu Dharma. Agama Hindu memiliki gudang ilmu pengetahuan yang tidak habis digali oleh manusia guna meningkatkan kualitas kehidupannya. dan banyak lagi promosipromosi lainnya yang mendorong kehidupan Agama Hindu. dan disiplin meditasi. yoga. Mempertahankan eksistensi Hindu di dunia adalah suatu upaya menyayangi dan memelihara semesta karena Tuhan dalam keyakinan Hindu adalah semesta itu sendiri. sehingga bebas dari kelahiran kembali (samshara). jalan yang ditempuh melalui kehidupan dari satu masa ke masa lainnya. 4.Umat Hindu di Nusantara tidak “malu-malu” lagi mengaku dirinya Hindu. 2. karena aspek-aspeknya yang terdapat dalam Veda sangat luas dan dalam. menetapkan Tahun Baru Saka (Nyepi) sebagai hari libur Nasional. dan bertahan dalam Hindu adalah pemikir yang rasional dan moderat. 2. 5. . Anima: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat halus. misalnya feodalisme dan fanatisme tradisi-tradisi beragama yang menyimpang dari ajaran Veda. dan dikembangkan dengan menyampaikan bahwa Hindu sedang berkembang menjadi Agama Universal yang sesungguhnya. untuk menjadi “Universal” haruslah ditempuh upaya-upaya meningkatkan kualitas beragama. maka sebaliknya mereka yang berpindah ke agama lain atau tidak mendalami ke-Hinduan-nya adalah orang yang tersesat menuju pada kemunduran spiritual. mendalami filsafat Veda. Bila konsep-konsep di atas dimengerti dan diterima sebagai suatu kebenaran “Sanatana Dharma” maka generasi muda Hindu akan menemukan jati dirinya yang kokoh menuju “Ajeg Hindu”. Mereka hendaknya menjelaskan bahwa: 1. Agama Hindu percaya pada sebuah dunia yang adil karena setiap manusia dibimbing oleh hukum karma menuju kepada kesucian roh yang pada gilirannya akan mencapai tujuan akhir. antara lain Veda mengandung pengetahuan isoterik dari inti kesadaran. 3. Selain itu. Agama Hindu memiliki kasih yang tulus. Agama Hindu melayani keperluan spiritual setiap manusia. Laghima: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat ringan. yaitu: 1. yaitu persatuan roh dengan Tuhan atau Moksha. Generasi muda Hindu perlu diingatkan bahwa mereka yang masuk menjadi pemeluk Hindu. toleransi. Penggalian “kesadaran Hindu” akan sangat efektif bila dilakukan oleh para intelektual dan penulis. Potensi generasi muda Hindu hendaknya digali. dikuatkan.

Kecintaan manusia pada semesta adalah kecintaan pada Tuhan. maka kecintaan manusia pada dirinya sendiri adalah cermin kecintaannya juga pada alam semesta. yaitu Aparabhakti.3. . yang terdiri dari: pertiwi (tanah). 8. Yatrakamavasayitva: sifat kekuasaan Tuhan yang kehendak dan kodrat-Nya tak ada yang dapat mengubah. hanya dapat dirasakan oleh yang melaksanakannya secara individu karena didorong oleh perasaan-perasaan halus: 1. 2. melalui Bhakti-marga. dan sembahyang biasa. Pertiwi di Bhuwana Alit adalah daging dan tulang. Kerinduan untuk bertemu dengan Sang Pencipta. teja adalah suhu badan dan sinar mata. 6. Seseorang yang Bhakti kepada Tuhan disebut sebagai Bhakta. akan mendapatkan banyak manfaat bila menjalankan kewajibannya mengikuti ajaran Veda. Generasi muda Hindu yang terpelajar dan senang menuntut ilmu menuju peningkatan kualitas SDM. melalui perenungan. 7. Vasitva: sifat kekuasaan Tuhan yang sangat kuasa. dan Tapa yadnya (mengendalikan diri). 5. Bhakti dibagi atas dua tingkat. Mahima: sifat kekuasaan Tuhan yang luar biasa besarnya dan luasnya sehingga tidak terbatas oleh apapun juga. Karena Bhuwana Agung identik dengan Bhuwana Alit. dan akasa (angkasa). Prakamya: sifat kekuasaan Tuhan yang kehendak-Nya selalu tercapai. yang disebut sebagai Bhuwana Agung. Keinginan untuk berkorban secara ikhlas. Kedelapan sifat ini bersemayam pada-Nya yang dilambangkan sebagai Singhasana. Aparabhakti adalah cinta kasih yang perwujudannya masih lebih rendah dan dipraktekkan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kerohanian yang tinggi. tetapi juga turut menolong umat manusia mencapai pencerahan dan mewujudkan mokshartam jagaditaya ca iti dharmah. yaitu meliputi Panca Mahabhuta. dan akasa adalah otak/ syaraf. teja (matahari). Aparabhakti terlihat dari praktek ritual keagamaan sehari-hari. meliputi seluruh alam semesta. Ia tidak hanya menolong dirinya sendiri. Jnana yadnya (belajar/ mengajar). Filosofi seperti ini hanya terdapat dalam Veda. sedangkan Parabhakti tidak dengan mudah terlihat. 4. Prapti: sifat kekuasaan Tuhan yang dapat mencapai daerah manapun juga. Isitva: sifat kekuasaan Tuhan yang melebihi segala-galanya sehingga merajai alam semesta ini. dan Parabhakti. apah adalah darah dan air kencing. Tubuh manusia adalah Bhuwana Alit di mana unsur-unsur pokok Bhuwana Agung dan unsurunsur pokok Bhuwana Alit adalah sama. dalam bentuk Drwya yadnya (dana-punia). bayu (angin). apah (air). bayu adalah paru-paru. meditasi. Pernyataan rasa cinta kepada sesuatu yang lebih dihormati disebut Bhakti. Sedangkan Parabhakti adalah cinta kasih dalam perwujudannya yang lebih tinggi dan kerohaniannya sudah meningkat.

apakah sudah memanfaatkanNya untuk kesejahteraan kita? Bila jawabannya “belum” berarti kita harus banyak belajar. Tradisi-tradisi beragama Hindu juga telah dipraktekkan di kalangan masyarakat menengah ke atas. Demikian luasnya cakupan Veda karena Ia memang diwahyukan Tuhan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. berbagai teknik pengobatan alternatif dan upaya menjaga kebugaran tubuh. Generasi muda Hindu di dunia telah banyak berbuat dalam konteks modernisasi dan revitalisasi segala aspek kehidupan yang sumber-sumbernya dikembangkan dari ajaran Veda. pemikiran baru. misalnya meditasi. yoga. dan eksperimen sosial. Banyak kepercayaan yang menjadi dasar-dasar srada Agama Hindu seperti reinkarnasi. dan hubungan guru dan murid (gurukulla). dan bila jawabannya “sudah” maka andalah seorang Parabhakti. Penjelajahan antariksa. lalu tanyailah diri sendiri. karmaphala. Umat manusia sedunia sadar atau tidak sadar telah mengakui bahwa Veda menuntun umat manusia dalam melakukan metoda interiosasi (pencarian ke dalam jiwa) yang paling mudah dan cepat berhasil. Ia menyampingkan sektarianism dan terbuka menerima ide-ide. pemikiran ilmiah. roh. Kita sudah memiliki-Nya.Tanpa sengaja para Bhakta telah memperkenalkan Hindu sebagai satu-satunya jalan menuju universalism. dan moksha telah diterima secara luas oleh berbagai suku bangsa dan berkembang menjadi keyakinan yang tak terbantah. juga bersumber dari Veda. . Generasi muda Hindu Nusantara hendaknya menyadari kemuliaan permata Veda yang tiada tandingnya. dan spiritualism Hindu telah membuktikan dirinya sebagai rumah dari semua religiusitas yang murni.

Penanaman nilai-nilai ajaran Agama Hindu yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup (Moksartham Jagadhita). dan fungsinya.Fungsi dan Tujuan 1. sehingga menjadi insan Hindu yang darmika dan mampu mewujudkan cita-cita luhur Moksartham Jagadhita. Tujuan Pendidikan Agama Hindu bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan Sraddha (iman) dan Bhakti (ketaquaan) dari peserta didik kehadapan Brahman melalui pemberian. b. Pengembangan Sraddha dan Bhakti kehadapan Hyang Widhi (Brahman). kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. g. penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Fungsi Pendidikan Agama Hindu berfungsi untuk: a. sistem. f. c. . Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum. d. Penyiapan kemampuan sikap mental siswa yang ingin melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi. e. pemupukan. Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif yang diakibatkan oleh pergaulan dunia luar. 9 Pendahuluan 2. Mempersiapkan kematangan dan daya resistensi siwa dalam mengadaptasi diri terhadap lingkungan fisik dan sosial. Perbaikan kesalahan-kesalahan.

gerak tubuh. PAH menekankan refleksi Panca Sradha yaitu keimanan akan Brahman/Tuhan. energik. dan Bhiksuka. Kebenaran harus dinyatakan dengan penuh kebajikan agar terbangun kedamaian. kreatif. Adapun karakteristik PAH adalah sebagai berikut: 1.B. PAH merupakan pendidikan dalam usaha menanamkan rasa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. PAH diarahkan untuk membangun kualitas mental pribadi peserta didik agar memiliki visi yang jelas. (c) hidup untuk diterima oleh masyarakat. membangkitkan kesadaran bahwa agama merupakan kebutuhan hidup dalam mencapai kebahagiaan dan kepuasan di dunia dan di akhirat. PAH harus mampu mendorong peserta didik agar memiliki motivasi. sloka. rasa percaya diri. tujuan hidup 2. Wanaprasta. cerita. tekad kerja keras. dan berinisiatif tinggi serta berlandaskan pada dharma. 3. Punarbhawa. (d) hidup untuk mendapatkan status dan kehormatan. kidung atau nyanyian suci. upakara agama. Sundaram (kedamaian) dalam membangun keharmonisan tiga pola hubungan yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana. serta membantu memberi motivasi untuk berbuat baik dan menunjang profesi ilmu yang sedang dipelajarinya. dengan bertitik tolak dari pengalaman dan pergumulan hidup berimannya dalam masyarakat yang pluralis religi dan berbudaya. Karakteristik Mata Pelajaran Agama Hindu Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik yang khas. simbol-simbol agama. wawasan dan pengetahuan yang kontekstual. Pola pewartaan PAH bertumpu pada pencapaian kedamaian yang diformulasikan dengan pernyataan Moksartam Jagat Hita Ya Ca Iti Dharma. Dasar pijak gerak dalam PAH adalah Satyam (kebenaran). Mahabarata). ketabahan. itihasa (Ramayana. kemandirian. Interaksi dan komunikasi iman yang naratif-eksperiensial antara guru dan para peserta didik-nya dan antara para peserta didik satu sama lain. Grihasta. (b) hidup untuk mendapatkan rasa aman. dan Moksa. PAH memuat kajian konprehensif akan peran dan fungsi Agama Hindu dalam kehidupan modern yang pluralistik dan turbulent. mantram. Demikian juga halnya dengan Pendidikan Agama Hindu (PAH). . 5. 4. Karma Phala. upacara agama. ketekunan. perjalanan hidup para Rsi. Dalam konteks ini PAH sebaiknya “berwajah” Pendidikan Religiositas dan Kontekstual sebagai landasan proses menemukan makna hidup dan kehidupan. suka pada tantangan. (f) hidup untuk tidak hidup kembali (baca tidak lahir kembali) sesuai dengan tingkatan kehidupannya mulai dari masa Brahmacarya. Kehidupan untuk masa depan yang disadari dari penghayatan akan kehidupan masa kini dan masa lalu. Siwam (kebajikan). PAH membangun kesadaran akan persoalan bukan saja hidup sesudah mati tetapi juga apa yang harus diperbuat selama hidup di dunia ini. Kesadaran yang dibangun meningkat mulai dari kesadaran (a) hidup untuk mencari makan. Pengalaman dan pergumulan hidup ber-sradha dan ber-bhakti dimulai dengan menyajikan teks. PAH menekankan pada proses pengembangan karakter peserta didik. (e) hidup untuk menemukan makna hidup. Atman. perjalanan hidup tokoh hindu dan praktek-praktek keagamaan kemudian mendalami maknanya bagi hidup pribadi dan hidup bermasyarakat. purana.

sesama manusia. bugar dan energik. Punarbhawa. Tema-tema esensi dalam PAH bersumber pada Weda yaitu Sruti. dan Maha Pencipta. Peserta didik dilatih untuk merasakan Tuhan Maha Ada. Pendekatan dengan dimensi Ideologis yaitu pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan tingkat keyakinan peserta didik pada kebenaran Ajaran Agama Hindu. taat waktu. c. dan berkeyakinan Tuhan memberi perlindungan pada dirinya. Dengan demikian peserta didik terlatih berbuat jujur. 7. Kualitas mental tersebut menjadi penentu arah. memahami jati dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan. Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu menggunakan pola pendekatan terpadu. 6. mandiri dan bertanggungjawab yang tercermin dalam pola hidup sehari-hari dalam hubungannya dengan Tuhan. bersih. kedamaian. Peserta didik dilatih dan dibiasakan mempraktekkan dan merasakan manfaat pengamalan ajaran Agama Hindu dalam kehidupan nyata seperti berperilaku jujur. tidak sombong. rasa percaya diri. serta kompetensi teknik sesuai dengan swadharma hidupnya. Karma Phala. komitmen terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup yang tinggi. rasa harga diri. kemampuan hidup secara harmonis dan kreatif dalam masyarakat yang pluralistik. berakhlak mulia atau berbudi pekerti luhur. b. dan kontekstual sesuai dengan dinamika perkembangan berbangsa dan bernegara serta tuntutan masyarakat modern yang pluralistik dan turbelent. Maha Kuasa. tekad kerja keras. penghela. motivator dan fasilitator dalam pengembangan dan pemanfaatan kecakapan teknik. berinisiatif tinggi berlandaskan pada Dharma. berdana punia. tidak rendah diri. Acara. Pendekatan dengan dimensi Ritualistik yaitu pola pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan tingkat kepatuhan peserta didik dalam menjalankan ritual-ritual . bersemangat. rasa kompeten. fungsional. Pendekatan dengan dimensi Imperensial yaitu pola pendekatan pembelajaran menyangkut penumbuhan dan pengembangan intensitas perasaan-perasaan dan pengalaman religius peserta didik dalam bentuk upaya-upaya menghadirkan Tuhan dalam kesadaran peserta didik di setiap saat dan di setiap tempat. d. demokratis. Smerti. kebajikan. a. dan alam sekitar (Tri Hita Karana). Di mata peserta didik Tuhan tidak dihadirkan hanya dalam momen-momen eksklusif saja seperti pada saat ada upacara-upacara keagamaan di pura. Sila. tekad kerja keras. dan Atmanastuti sehingga peserta didik memiliki Sradha dan Bhakti kepada Brahman. tidak cemas.yang jelas. tertib. humanistis. melainkan terus menerus dalam setiap langkah kehidupan. suka pada tantangan. kepedulian terhadap lingkungan. kemurahan hati. tekun. Atman. Pendidikan Agama Hindu agar lebih fungsional dan bermakna bagi peserta didik maka strategi pembelajaran yang digunakan meliputi lima dimensi pendekatan yaitu: Pendekatan dengan dimensi Konsekuensial yaitu pola pendekatan pembelajaran yang menekankan pada peranan dan fungsi Agama Hindu sebagai sumber motivator dan sumber inspirasi dalam berperilaku keseharian sesuai dengan swadharma peserta didik sebagai anak bangsa. tolong menolong. kemandirian. dan Moksa. sabar. kreatif. Maha Mengetahui. sopan dan santun. Peserta didik dibangun kesadarannya agar menghayati Panca Sradha yaitu keyakinan terhadap adanya Brahman. tanpa kekerasan.

Kitab Suci. Budaya. Alam semesta. Peserta didik dilatih untuk menjalankan ritual Puja Tri Sandya setiap hari dan aktif mengikuti kegiatan upacara keagamaan pada setiap Purnama Tilem. Ketujuh karakteristik ini hendaknya dijadikan titik perhatian bagi para guru Pendidikan Agama Hindu dalam mengembangkan satuan acara pelajaran dan pelaksanaan pengajaran PAH. Siwaratri. Susila. e.blogspot. Pendekatan dengan dimensi Intelektual yaitu pola pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik mengenai ajaranajaran Agama Hindu berkaitan dengan Sradha.Agama Hindu. Hari Raya Galungan Kuningan. Yadnya.html . http://bisnisiklanterfaforit. Tempat Suci. Nyepi. Hari Suci. Pagerwesi. Orang Suci. Kepemimpinan. dan Sejarah Perkembangan Agama Hindu . dan hari piodalan lainnya.com/p/panduan-pengembangan-silabus-pendidikan_2136.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful