MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK: Pandangan Islam dan Barat

Oleh: Moh. Ibnu Sulaiman ∗ Slamet ABSTRACT: There are some schools in education such as; Pessi- mism, Optimism, Convergence, and Islam has view point that man has potential to be educated (Homo Educandum), the talent and environment constitute two convergence lines strive one focus, that is the man development, besides that as creature who can be educated, the man also needs education in order to develop himself. Because, as human being, man is substantially has capability to know the highest level, at once place them as social creature and cultural one that his growing and developing at culture totally, including education and also as human being, man has rational capability, from rational capability the man can study fro what is seen them. The man with this potential can develop himself as caliph who has some excellences from another creature. KEYWORDS: keunggulan Manusia, pendidikan, khalifah,

MANUSIA sebagai yang diisyaratkan Alquran, lahir tanpa memiliki pengetahuan apapun.1 Namun, pada diri manusia terdapat sejumlah potensi yang memungkinkannya memiliki pengetahuan setelah beradap- tasi dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan menurut ajaran Islam potensi- potensi tersebut menyebabkan manusia memiliki kewajiban untuk harus berpengetahuan, bahkan harus cerdas, karena untuk mencapai atau memi- liki keunggulan komparatif (kebahagiaan) di dunia maupun di akhirat, manusia harus berilmu. Pilihan untuk berpengetahuan atau cerdas biasanya disinergikan dengan pendidikan, yang telah berlangsung sepanjang umur manusia, pada masyarakat primitif maupun masyarakat modern, dan akan tetap berlangsung sepanjang hayat manusia. Ada tiga alasan penting mengapa pendidikan menjadi yang terpen- ting dalam kehidupan manusia. Pertama, pendidikan berlangsung lama
Magister Agama lulusan Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar ini adalah kandidiat doktor bidang pendidikan Islam pada almamater yang sama. Saat ini ia sedang menjabat sebagai Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar.

32

LENTERA PENDIDIKAN, VOL. 11 NO. 1 JUNI 2008: 32-44

dan terus menerus. Kedua, pendidikan merupakan salah satu pranata sosial penting yang direncanakan matang oleh suatu masyarakat. Ketiga, pendi- dikan bertalian erat dengan pembentukan watak dan kepribadian manusia. Fakta-fakta historis menunjukkan bahwa kemajuan bangsabangsa modern sangat ditentukan oleh sejauhmana kualitas pendidikan masya- rakat. Proses pemanusiaan manusia ternyata sangat ditentukan oleh kon- tinuitas pendidikan yang dijalani manusia, baik dalam kapasitas sebagai objek pendidikan maupun subjek pendidikan. Di sini terlihat bahwa manusia dan pendidikan ada dan tumbuh serta berkembang secara paralel. Semakin maju peradaban manusia semakin maju dan berkembang pula kualitas pendidikannya; begitu pula sebaliknya, semakin maju dan ber- kembang kualitas pendidikan, semakin maju pula peradaban manusia. Dalam kaitan ini manusia dikenal sebagai makhluk yang memiliki aspek pedagogis, yaitu makhluk yang harus dididik.2 Biasa pula manusia disebut sebagai homo educandum. Tulisan ini mencoba menguraikan aspek pedagogis manusia dalam pandangan Islam maupun Barat. MANUSIA PANDANGAN DALAM BERBAGAI

Pergumulan nilai tentang siapa itu manusia, dari mana ia berasal, sedang apa kini, dan hendak kemana berakhir, telah berjalan ribuan tahun yang telah silam. Makhluk hidup yang bernama manusia telah menjadi pembicaraan yang unik, yang tidak pernah ada ujungnya, sehingga timbullah konsepsi manusia yang beragam menurut sudut tinjauan dan persepsinya masing- masing. Menurut pandangan kaum materialisme3 manusia hanya tersusun dari tubuh kasar, manusia hanya merupakan susunan-susunan bendawi, partikel-partikel materi yang menjadi satu. Menurut pandangan mereka hidup manusia hanya sekali saja, setelah manusia mati habislah atau berakhirlah riwayat hidup manusia tanpa ada kelanjutan hidup berikut- nya. Tidak ada kehidupan akhirat yang ada di dalamnya pahala sebagai imbalan terhadap perbuatan baik, dan siksa sebagai balasan dari perbuatan dosa dan tercela. Kebahagiaan menurut pandangan kaum ini hanya dapat dicapai di dunia dengan mengumpulkan materi sebanyak mungkin. Sehingga tujuan hidup mereka adalah materi, maka mereka menghalalkan segala cara. Akhirnya mereka membuat onar, fitnah maupun kerusakan. Karena bagi mereka tidak ada hari kebangkitan (hisab). Inilah kelompok yang digambarkan Allah dalam Q.S. al-Mu’minun, ayat 37, yang artinya:

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK (MOH. IBNU SULAIMAN SLAMET)

33

. Dalam bagian lain filosof seperti Socrates9 mengatakan bahwa manusia adalah Zoon Politicon. juga manusia mempunyai kedudukan sebagai “penguasa bumi” dan hanya akan memperoleh kegembiraan (kebahagiaan) jika ia melaksanakan tugas.6 Abd. masa atau nature5. hewan yang menerima kenyataan adanya kehadiran manusia dalam berbagi kelompok dan adanya potensi manusia untuk mengkomunikasikan hubungan antar sesama manusia. Atau dengan ungkapan lisan manusia sebagi makhluk sosial dan makhluk kultural. Bahkan menu. menang. mereka tidak lain hanya mendugaduga saja. Dengan begitu. Hidup dan mati menurut mereka hanya sekali saja. alNas. maka menurut kelompok intelektualisme. kedua istilah ini merujuk kepada manusia karena adanya dan mendapat penghormatan dari Allah. dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. ayat 24 yang terje.4 Kalau kaum materialisme berpendapat manusia hanya sekedar rangkaian materi atau fisik. konteks rohani menurut mereka adalah akal. kedua istilah di atas relevan dengan konsep politik. Muin Salim7 ketika menguraikan fitrah manusia dalam Alquran memperkenalkan tiga istilah yang biasa dipakai Alquran berkaitan dengan penamaan manusia. dan Insiy. sebab konsep-konsep tersebut merupakan basis bagi prinsip musyawarah.bangkan intelek semaksimal mungkin. Pertama: al-Insan. itulah sebabnya mereka berpendapat keba. Kelompok inipun tidak memper. Kedua: al-Basyar: mengisyaratkan manusia sebagai mempunyai. Akan tetapi.hagian hanya akan didapat selain dengan materi.gapi dan menyatakan emosinya dalam komunikasi dengan sesamanya. manusia tersusun dari jasmani dan rohani.nya itu. dan bahwa manusia mempu.cayai adanya hari kiamat sebagai hari pembalasan amal baik dan amal buruk. al-Isn.mahannya sebagai berikut: Dan mereka berkata: kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. juga dengan mengem.rut mereka manusia mati atau binasa tidak ada yang mematikan atau membinasakan kecuali al-Dahri. Kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan kembali. al-Jātsiah. Kata ini mengandung konsep manusia sebagai mahkluk yang memiliki sifat keramahan dan kemampuan mengetahui yang sangat tinggi. yaitu hewan yang bermasyarakat. Ketiga: Bani Adam dan Zurriyat Adam. kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.8 Kedua kata itupun memberi arti konsep keragaman manusia yang terdiri atas berbagai warna dan bangsa. Penggunaan kedua kata tersebut di atas bermakna atau memberi kesan kesejarahan dalam konsep manusia. Anasiy.S. Allah memperkenalkan kelompok ini dalam firmannya dalam Q.nyai satu asal.Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini.

11 NO. VOL.34 LENTERA PENDIDIKAN. 1 JUNI 2008: 32-44 .

Manusia memahami dirinya sebagai subyek sekali. memiliki arti melihat. Ia mengalami proses bertindak. Olehnya itu. berbuat membangun dirinya menjadi pribadi dewasa yang susila. makan dan minum dari bahan yang sama yang ada dalam alam ini. pertumbuhan dan perkembangan fisiknya bergantung pada apa yang dimakan dan diminum. Dengan demikian.gus obyek. kata mubāsyarah diartikan mulāmasah yang artinya persentuhan antara kulit laki-laki dengan kulit perempuan. dan kemudian mati. ia dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Pribadi dewasa susila memiliki karakteristik: . Manusia adalah pribadi yang harus mengangkat dirinya ke taraf insani (monodualisme). Menurut Langeveld11. sedangkan basyar digunakan untuk menunjuk pada dimensi alamiahnya. kata basyar selalu mengacu kepada manusia dari aspek lahiriyah.puan penalaran. dan terdorong untuk meminta izin dalam rangka menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. wajah. yakni dengan penalaran itu manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya. pemahaman kedua kata tersebut berdimensi: insan digunakan untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran. minum. mengetahui dan minta izin. kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemam. termasuk ke dalamnya adalah pendidikan.nya. Atas dasar ini.buhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan. Ada dua hal yang dapat dicermati dari uraian bahwa manusia dalam pengertian basyar. mempunyai bentuk tubuh yang sama. Pengertian ini menunjukkan dengan jelas adanya potensi manusia untuk dapat didik. yang artinya permukaan kulit kepala. tergantung sepenuhnya pada alam. Kata kunci yang kedua adalah kata al-basyar jamak dari kata basyarah. dan di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan.Musa Asy’ari ketika membahas manusia dengan memakai pendekatan semantik. seperti makan. Dengan demikian. yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. dan karena pertambahan usia maka kondisi tubuhnya akan menurun. Menurut Asy-Syāti10 pemakaian kata basyar di beberapa tempat dalam Alquran seluruhnya memberikan pengertian anak Adam yang bisa makan dan berjalan di pasar-pasar. menjadi tua dan akhirnya akan mati. Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertum. manusia adalah suatu realitas yang harus merealisasikan dirinya. dan tubuh manusia. Kedua kata kunci tersebut adalah: al-Insān yang bentuk jamaknya al-Nās. menyebutkan bahwa Alquran memperkenalkan dua kata kunci untuk memahami manusia secara komprehensif.

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK (MOH. IBNU SULAIMAN SLAMET) 35 .

hatiannya yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada di luar dirinya. sosialitas. Menyadari. hewan yang bermasyarakat. Memahami. Kera tetap kera. memiliki norma kesusilaan dan nilai-nilai kemanusiaan. nilai-nilai hidup atas tanggung jawab sendiri. J. 2.nusia. Pendapat ini menunjukkan betapa sulitnya memahami manusia secara tuntas dan menyeluruh. Langeveld di atas. makhluk Tuhan yang derajatnya jauh di bawah ma. Menurut Alexis Carrel14. Memahami. the missing link. Quraish Shihab15 ketika membahas tentang hal ini menga. karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan per. Bertindak. Pemikiran M. termasuk hewan. sejenis hewan. demi kebahagian dirinya dan kebahagian masyarakat. sebenarnya sama dan sebangun dengan pengertian insan dan basyar yang dimaknai secara semantik dari teks-teks Alquran yang mengindikasikan manusia memiliki berbagai aspek. dan tidak menemukan bukti-bukti yang kuat adanya perubahan dari primat atau kera menjadi manusia. tetapi juga dalam berbagai kehidupan yang dimiliki manusia pada umumnya. dan mencintai dirinya (individualisme). berbuat sesuai dengan norma kesusilaan. Berbagai literatur yang membahas tentang hakekat manusia dalam alam semesta ini selalu dihubungkan dengan konsep kekhalifaan manusia di muka bumi.takan bahwa kata khalifah dalam berbagai bentuk mengartikan kekuasaan pada manusia dalam dua bentuk. Walaupun manusia makhluk yang diberikan kekuasaan berlebih oleh Allah. maka muncul pula aspek yang lainnya yang belum ia bahas. tetapi menurut Quraish Shihab diperlukan sikap moral dan etika yang harus ditegakkan dalam . 3. yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang mulia. yaitu kekuasaan dalam bidang politik yang dikhususkan untuk nabi-nabi dan tidak digunakan untuk manusia pada umumnya. yang walaupun oleh Socrates menyebutnya sebagai zoon politicon. manusia adalah makhluk misterius. dan mencintai orang lain (sosialitas). Dan kekuasaan yang bukan saja di bidang politik.12 menyebutkan sebagai das kranke tier. atau Max Schaller. mengerti. mengerti. dan 4. Proses evolusi Darwin akhirnya terhempas oleh mata rantai yang hilang. kultural. Sehingga setiap kali seseorang selesai memahami manusia dari suatu aspek. orang lain (moralitas). hewan yang sakit. Charles Darwin13 dengan teori evolusinya telah menerangkan bahwa manusia bukanlah suatu proses perubahan dari primat atau kera kemudian menjadi manusia.1. bahkan moralitas yang kesemuanya menempatkan manusia pada dimensi yang berbeda dengan makhluk Allah yang lain. seperti: individualitas.

1 JUNI 2008: 32-44 . VOL. 11 NO.melaksanakan fungsi kekhalifaan tersebut. sehingga manusia harus sadari bahwa hubungannya dengan alam atau 36 LENTERA PENDIDIKAN.

tetapi hal tersebut bukan akibat kekuatan atau kekuasaan yang dimilikinya. melainkan akibat Tuhan menundukkannya kepada manusia.18 Dari sini pula dapat dipahami bahwa manusia sangat membutuhkan pendidikan. maka itu berarti adanya pengakuan bahwa umur pendidikan setua umur manusia. adalah manusia sebagai hamba (‘abd). tetapi hubungan keber. Allah berkenan melengkapi manusia dengan pendengaran. seseorang perlu memahami persyaratan yang bersifat teknis dan keterampilan. adalah penghulu umat manusia.gulan komparatif manusia dari makhluk-makhluk lain. Menurut Abuddin Nata16. Karena walaupun manusia mampu mengelola (menguasai) bumi. Dengan demikian kedudukan manusia di alam raya ini di samping sebagai khalifah yang memiliki kekuasaan untuk mengelola alam dengan menggunakan segenap daya dan potensi yang dimilikinya. penglihatan dengan aneka hati.samaan dalam ketundukan kepada Allah.mukaan bumi. Manusia yang dapat melaksa.kenan mengajarkan Adam berbagai nama (ilmu pengetahuan). Alquran memberikan petunjuk bahwa untuk menjadi khalifah. Kedudukan lainnya dari manusia di alam ini sering diangkat oleh para pakar. keterampilan. Musa Asy’ari17 ketika membahas hal ini mengatakan bahwa esensi ‘abd adalah ketaatan. Oleh karena itu. yaitu seluruh usaha dan aktivitasnya itu hanya dilaksanakan dalam rangka ibadah kepada Allah. pengalaman. Bahwa pendidikan itu telah ada sejak adanya manusia di per.dengan sesama manusia bukan sebagai hubungan penakluk dan yang ditaklukkan atau hubungan hamba dengan tuan. MANUSIA DAN PENDIDIKAN KEBUTUHANNYA TERHADAP Jika diakui bahwa Adam as. pengajaran.19 agar manusia dapat mengkomunikasikan dengan potensi- . maka manusia perlu diberikan pendidikan. bahkan pengetahuan Adam mengenai nama-nama tersebut telah menjadi keung. manusia sebagai khalifah perlu memiliki pendidikan yang cukup. Artinya. Untuk dapat melaksanakan fungsi kekhali.nakan fungsifungsi tersebut itulah yang diharapkan muncul dari kegiatan pendidikan. memiliki kemampuan yang bersifat konseptual yang dihasilkan melalui pendidikan.dukan dan kepatuhan yang semuanya itu layak diberikan pada Tuhan. ketun.fahan dan ibadah dengan baik. Dalam Alquran didapati informasi tentang bagaimana Allah ber. teknologi dan sarana pendukung lainnya. juga sekaligus sebagai ‘abd. Tanpa pendidikan manusia tidak memiliki arti apa-apa. Ini menunjukkan bahwa konsep kekhalifahan dan ibadah dalam Alquran erat kaitannya dengan pendidikan.

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK (MOH. IBNU SULAIMAN SLAMET) 37 .

Hati anak suci bagaikan mutiara cemerlang. Seseorang yang dilahirkan dengan bakat seni. ia mampu menerima segala yang diukirkan atasnya dan condong kepada segala yang dicon. Adanya pendidikan awal dalam keluarga dan ber. Jika seandainya manusia dapat hidup hanya dengan naluri. sehingga faktor lingkungan. seperti oleh Ivan Paulou (1849-1936) di Rusia dan Edward Z. yang melahirkan konsep clasical conditioning dan operant condition yang memandang bahwa anak didik adalah generator of information. maka tidak ada bedanya dengan binatang. Aliran ini biasanya disebut aliran pesimisme. manusia lahir telah dikaruniai dimensi hakekat manusia yang masih dalam wujud potensi.puan dalam diri anak. Dalam dunia pendidikan dikenal berbagai aliran pendidikan yang dapat dikategorikan sebagai aliran yang berprasangka tentang kurangnya pe. berupa potensi-potensi yang perlu dikembangkan oleh kedua orangtuanya agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya itu.dongkan kepadanya. Di sinilah hakekat dari pesan Rasulullah bahwa manusia telah dilahirkan dengan membawa fitrah. Hanya melalui pendidikan status binatang itu dapat diubah ke arah status manusia.langsung pendidikan seumur hidup (life long education) bagi manusia diakui oleh berbagai tokoh muslim maupun barat. melatih atau mendidik anak-anak adalah suatu hal yang penting. termasuk faktor pendi- . Setiap manusia lahir dikaruniai naluri. Kesalahan orangtua dalam mendidik akan mengakibatkan terjadinya apa yang dikenal condisi sin cuanon bagi kelanjutan pertumbuhan dan perkem. Perbincangan selanjutnya tentang manusia sebagai makhluk yang dapat dididik (pedagogik) melahirkan berbagai pandangan menyangkut dominasi pendidikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. seks.ranan pendidikan dalam perkembangan anak. yaitu dorongandorongan yang alami (dorongan makan. Al-Gazali21 mengatakan. Menurut Umar Tirtarahardja20. belum ter.potensi lain sehingga ia dapat menjadi manusia yang dapat dididik maupun mendidik (pedagogik).aktualisasi menjadi wujud aktualisasi. bersih dari segala ukiran serta gambaran. Itulah sebabnya. karena anak adalah amanat bagi kedua orangtuanya. misalnya. Thorndike (1874-1949) di Amerika Serikat. dan sebaliknya aliran yang sangat optimis terhadap peranan pendidikan dalam perkembangan jiwa anak. memerlukan pendidikan untuk proses menjadi seniman terkenal.bangan peserta didik. Dari kondisi potensi menjadi wujud aktualisasi terdapat rentang proses yang mengandung pendidikan untuk berperan dalam memberikan jasanya. Aliran Pesimisme Pendidikan dalam Aliran ini bertolak dari leibnitzion tradition yang menekankan kemam. mempertahankan diri dan lain-lain).

11 NO.38 LENTERA PENDIDIKAN. VOL. 1 JUNI 2008: 32-44 .

Pendidikan hanya merubah lapisan permukaan atau kulit dari watak anak didik. yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik. sebagai “nasib”. Tokoh aliran ini adalah Schopenhauer. Apa yang patut dihargai dari pendidikan tidak lebih dari sekedar memoles lapisan permukaan peradaban dan tingkah laku sosial.22 berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. yang bukan buah dari pekerjaannya dan bukan pula menurut keinginannya. yang menentukan seseorang. Psikolog Austria. aliran ini berpendapat bahwa pengaruh atau . Rohracher. Szondi. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh L. maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak itu sendiri.faktor yang diturunkan. Dengan kata lain pengalaman belajar ditentukan oleh internal frame of reference yang dimiliki anak. mereka berpen. filosof Jerman (17881880). Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Dengan demikian. tetapi pengalaman dalam belajar itu sangat ditentukan oleh kemampuan memberi kepada apa yang dialaminya itu. Sedangkan lapisan paling dalam dari kepribadian anak tidak perlu ditentukan. kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Sesuai dengan makna asal katanya natie yang berarti terlahir. Berbeda dengan nativisme. Aliran Optimisme Pendidikan dalam Aliran optimisme dalam pendidikan dikenal dengan nama empirisme. karena itu hasil pendidikan ditentukan oleh pem. mengemukakan manusia adalah produk dari hukum proses alamiah yang berlangsung sebelumnya. Berdasarkan pandangan ini.bawaan sejak lahir. Rogers25 yang mengakui pentingnya belajar.pendapat bahwa anak tumbuh dalam kemampuan diri yang bersifat kodrati. sedangkan pengaruh dari faktor luar lingkungan dianggap tidak memberikan bekas pada pertumbuhan anak. Sekarang muncul aliran humanistic psychology dari aliran Nativisme yang dipelopori oleh carl R. Aliran ini ber.dikan.dapat sifat baik dan buruk yang dibawa sejak lahir tidak akan dapat diubah oleh kekuatan luar. dorongan dan tingkah laku sosial dan intelektual ditentukan sepenuhnya oleh faktor.23 aliran ini berpendapat lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Sebuah pemikiran yang mendekati pemikiran aliran Empirisme.24 H. aliran pedagogisch pesimisme atau optimisme yang bersifat natifisme berpendapat bahwa pendidikan tidak mempunyai kekuatan.

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK (MOH. IBNU SULAIMAN SLAMET) 39 .

11 NO.dupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan.faktor-faktor dari luar saja yang berpengaruh pada perkembangan anak. pendidikan memegang peranan yang sangat penting.bawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peran yang sangat penting. dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam perkembangan anak. yang mengembangkan teori tabula rasa26. Bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan perkembangan bakat itu. Menurut pandangan empirisme. pembawaan dan lingkungan merupakan dua garis konvergensi (memusat ke satu titik) dan kedua-duanya sangat penting bagi perkembangan. Aliran empirisme bertolak dari Lockean Traditional yang mementingkan simulasi eksternal dalam perkembangan manusia. Jadi. Pembawaan Hasil pendidikan/perkembangan Lingkungan Menurut teori konvergensi: • Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan. Aliran ini mengakui adanya pembawaan baik dan buruk yang dibawa anak sejak lahir. Stimulan berasal dari alam bebas maupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. dalam proses perkembangan anak. sorang ahli pendidikan bangsa Jerman. Seperti ingin menengahi dua pemikiran terdahulu yang terkesan bertentangan. Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehi. Sebaliknya.waan tidak dipentingkan. baik faktor pem. sedangkan pemba. lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk itu. sebab pendidikan dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalamanpengalaman yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Tokoh perintis aliran ini adalah seorang filosof Inggris bernama John Locke (1632-1704). 1 JUNI 2008: 32-44 . begitu pula mengakui peran yang dimainkan oleh lingkungan maupun pendidikan. Menurut aliran ini. VOL. Aliran Teori Konvergensi Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939). yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih.stimulan. • Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan 40 LENTERA PENDIDIKAN.

Ajaran-ajaran ini dapat dilihat antara lain dalam: • Q. Islam lebih cenderung kepada aliran konvergensi.27 ISLAM DAN PENDIDIKAN ALIRAN-ALIRAN DALAM Sebagai sebuah ajaran yang diyakini kesempurnaanya.S. Dalam kaitannya dengan pendapat aliran nativisme yang mengem.kembangan anak.S. • Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan juga lingkungan.S.Baqarah (2): 286. al. Dengan demikian. Menyangkut adanya pengaruh lingkungan atau “ajar” terhadap per.bangkan potensi “dasar” yang dominan dalam perkembangan anak. Dalam pengertian yang sama dapat dilihat juga Q. • Hadis Rasulullah tentang selektif di dalam memiliki keturunan karena keturunan berpotensi mempengaruhi perkembangan anak. • Hadis Rasulullah tentang adanya penetapan bahwa anak sejak dalam rahim ibu. Allah maupun Rasul-Nya telah mengajarkan bahwa: • Perkembangan seseorang ditentukan oleh hasil usaha. alRa’ad (13): 11.ruhi pendidikan. yang mengakui adanya peranan “dasar” atau bawaan dan “ajar”. atau lingkungan pendidikan dalam proses . Lihat Q.S. maka Islam melalui ajaran-ajarannya telah menginformasikan dan mengkonfirmasikan kepada umatnya tentang berbagai faktor yang dominan dan mempenga. al-Nahl (16): 78. • Q. al-Rum (30): 30. alNajam (53): 39.S. lihat Q. • Yang merubah nasib manusia adalah manusia sendiri. • Hadis Nabi tentang peranan orangtua terhadap perkembangan anak. • Dan lainlain. maka Islam melalui ajaran-ajarannya telah memperkenalkan adanya ajaran tentang potensi “dasar” atau bawaan.kepada peserta didik untuk mengembangankan potensi-potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik. • Hadis Rasulullah tentang manusia yang dilahirkan dengan membawa potensi dasar (fitrah).

IBNU SULAIMAN SLAMET) 41 .perkembangan anak. yaitu: MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK (MOH.28 meskipun Alquran dan Hadis tidak secara tegas menentukan tentang faktor lingkungan dan keturunan sebagai faktor pokok yang mempengaruhi pertumbuhan insan. Menurut Zakiah Daradjat. tetapi dapat dipahami dari yang tersirat dalam ajaran tersebut tentang adanya dua warisan yang berpengaruh.

Manusia dalam berbagai pandangan disebut sebagai makhluk sosial. 1 JUNI 2008: 32-44 . Lihat umpamanya dalam Q. 11 NO. Salah satu kelebihannya adalah dapat dididik atau dapat menerima pendidikan. dapat disimpulkan bahwa: Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan berbagai kele. dan nas-nas ajaran agama.S. 2. seseorang tidak akan dapat mencapai perkembangan kecenderungan tauhidnya itu dengan sempurna kecuali melalui pendidikan dan pengajaran. • Warisan sosial (external) yang dipindahkan oleh faktor di luar diri (unit. terutama keluarga. homo educandum atau makhluk yang beraspek pedagogis. bahkan berperan dalam pendidikan.rungan beribadah hanya kepada Allah. dalam perkembangnnya konvergensi lebih diterima sebagai sebuah konsep pendidikan karena sesuai dengan fakta-fakta empirik. yang mempengaruhi perkembangan manusia.kembangan anak. VOL. 1.bihan dari makhluk-makhluk yang lain. yang dapat dikembangkan melalui pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan sekolah. 3. PENUTUP Dari berbagai uraian di atas. nativisme. bahkan sebagai penguasa bumi. dan lingkungan rumah tangga. media yang berperan dalam bagian ini adalah pancaindera. edukatif. Ibnu Maskawaih30 mengakui potensi atau tabiat manusia yang dibawa sejak lahir yang salah satu contohnya adalah tabiat memelihara diri. kultural dan power hanya akan dapat dilakukan melalui pendidikan. al-Nahl (16) ayat 78. Namun. kultural. Para pemikir pendidikan memperkenalkan tiga aliran pendidikan. tradisi. Namun. akal. 42 LENTERA PENDIDIKAN. empirisme dan konvergensi. Berbagai pendapat di atas lebih mempertegas komitmen Islam ten. serta jenis interaksi sosial yang beraneka ragam).29 manusia dikaruniai tabiat atau kecende. Suatu spesies yang dapat menerima pendidikan.jaringan benih.unit sosial. CATATAN AKHIR 1. karena itu manusia disebut homo educabil. yaitu.tang adanya pengaruh “dasar” bawaan dan “ajar” lingkungan dalam per. Menurut Ibnu Taimiyah.• Warisan alami atau fitrah (internal) yang dipindahkan oleh jaringan. Hal ini berarti manusia membutuhkan pendidikan bagi perkembangan dirinya. Perkembangan dimensi sosial. Lingkungan pemerintahan.

Tidak ada kaitannya dengan perhitungan amal di hari akhirat. h. 1990. 10. 18. h. 11. 1996. Lihat Quraish Shihab. catatan kaki no. Lihat Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir al-Qur’an. h. cet. Kehidupan dan kematian yang dimaksudkan dalam ayat ini menggambarkan sebuah pemaknaan bahwa lahir dan meninggal adalah suatu proses yang sangat natural (alamiah) yang terjadi secara lumrah. 1996. Intermasa. 19. Lihat A. Bandung: Mizan. dkk. suatu peristiwa. Yogya. 4.mahnya. manusia adalah makhluk yang historis. 1-13. 20. Lihat Umar Tirtarahardja dan La Sula. Pengantar Pendidikan. Manusia Multi Dimensional Sebuah Renungan Filsafat. 24. 818. 14. 6. al-Qur’an dan Terje. dlm Muhrab. 7. Nur Alam Bakri. cet. dalam Muhrab. Pengantar Pendidikan. Membumikan al-Qur’an. yang tidak dapat dilakukan oleh malaikat (mewakili makhluk selain manusia). 16. 4 dan 5. pada Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir al-Qur’an. h. 29. Fitrah Manusia dalam al-Qur’an. h. (falammā anbaahum bi asmāihim). Jakarta: Rineka Cipta. jilid I. Sastraprateja. Akal. Ujung Pandang: Lembaga Studi Kebudayaan Islam (LKSI). 156 s/d 158. 5/XI/85. Lihat. Lihat Musa Asy’ari. h. Kata. 5. 17. Lihat. h. Usjudu li Adam. h. 13. I.mata datang. 13-14. 8. 9. 5. 39. Lihat Umar Tirtarahardja dan La Sula. Lihat Alexis Carrel dalam Abuddin Nata. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. 1 dan 2. Lihat H. h. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. h. Mesir: Dar al-Ma’arif. h. 413. Nur Alam Bakri. h. 1992. dalam sejarah bangsa Indonesia. 1997. h. Lihat Langeveld. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Jakarta: Gramedia. Ilmu Pendidikan.2. cet. “Manusia: Fisik. Lihat Abd. Bulletin & Kumpulan Ceramah. yang bukan semata. Lihat Abuddin Nata. I. Filsafat Pendidikan Islam. Lihat A. dalam Ivens Taulaini. 12. 1992. Lihat Aisyah ‘Abd al-Rahman binti Asy-Syāti. 2000. Lihat Umar Tirtarahardja dan La Sula. 1985. Lihat Umar Tirtarahardja dan La Sula. 530. yang dalam ayat-ayat tersebut dapat pula dimaknai adanya keunggulan manusia dari makhluk yang lain karena berilmu. 20. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an. Muin Salim.karta: Lembaga Studi Filsafat Islam. Pengantar Pendidikan. Said. MSK No. ix-x. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. 15. I. . 3. sujudlah kepada Adam. 3.. 3. Akal dan Kalbu”. h. Menurut Sastraprateja. M. h. II. IC. al-Qur’an dan Terjemahnya. 1982. Lihat Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir al-Qur’an. M. dan Kalbu”. 5. 3. h. Filsafat Pendidikan Islam. subhānaka lā ‘ilma lanāa illā mā ‘allamtanā. h. al-Qur’an dan Terjemahnya. Al-Maqāl fi al-Insān Dirāsah Qur’āniyah. III. 101. Bandung: Alumni. cet. Hakekat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarahnya. Jakarta: Masjid Agung Sunda Kelapa. “Manusia: Fisik. dapat dimaknai sebagai perantara untuk memberi pengakuan terhadap eksistensi Adam sebagai makhluk yang berilmu yang telah lulus dalam proses belajar mengajar. Ayat 31 s/d 34 surah al-Baqarah dapat menjadi rujukan untuk mendeteksi adanya proses belajar mengajar yang dilakukan Allah terhadap hambanya Adam (manusia). cet. Hakikat manusia sendiri adalah suatu sejarah. h. 1993.

IBNU SULAIMAN SLAMET) 43 .MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PEDAGOGIK (MOH.

II. Lihat Abuddin Nata. Asy-Syāti bin Aisyah. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. Manusia Multi Dimensional Sebuah Renungan Filsafat. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. IC. cet. h. al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Bumi Aksara. 196. 199. M. 1996. 52 dan 53. 23. Quraish. Filsafat Pendidikan Islam. Ujung Pandang. Lihat Zakiyah Daradjat. II. 30. Sastraprateja. DAFTAR PUSTAKA Arifin. Ilmu Pendidikan Islam. dkk. Lihat Zakiyah Daradjat.. 24. Langeveld. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. M. Lihat H. Fitrah Manusia dalam al-Qur’an. Zakiyah. 1990.. Intermasa. Ilmu Pendidikan Islam. Ilmu Pendidikan Islam. h. PT. Lihat Zakiyah Daradjat. H. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Muin. 2000. h. h. 1992. 51. M. . Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. Carrel.. 1985. cet. dalam Ivens Taulaini. 2004. 56 dan 57. 2001. H. Ilmu Pendidikan Islam. Pengantar Pendidikan. II. Mesir: Dar al-Ma’arif. 1996. 1993. 22. 26. Umar dan La Sula.. M Arifin. h.. Jakarta: Bumi Aksara. 27. dalam Abuddin Nata. Raja Grafindo Persada. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Asy’ari. dkk. h. Lihat Umar Tirtarahardja dan La Sula. Nur Alam. 25. Masjid Agung Sunda Kelapa. Jakarta: Bulan Bintang. Nata. Bakri. jilid I. MSK No. Jakarta: Gramedia. Lihat Zakiyah Daradjat. 51. Pengantar Pendidikan. “Manusia Fisik. V.. Said. 1992. dkk. Pengantar Pendidikan. Tirtarahardja. Al-Maqāl fi al-Insān Dirāsah Qur’āniyah. 2004. h. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an. h. Lembaga Studi Kebudayaan Islam (LKSI). Salim. Bandung: Mizan. dalam Muhrab. 2001. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsiran al-Qur’an. h. Pengantar Pendidikan. 5/XI/85.. 51. cet. 29. Abd. Membumikan al-Qur’an. Lihat Abuddin Nata. dkk. Jakarta. Ilmu Pendidikan. 28.. 5. ‘Abd al-Rahman. Ilmu Pendidikan Islam. h. 22. 75.. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. 196. I..21. Musa.. Alexis. dkk. Jakarta: Bulan Bintang. Ilmu Pendidikan Islam. Departemen Agama RI. V. Bandingkan dengan Umar Tirtarahardja dan La Sula. Abuddin. 1997. cet. h. dkk. Akal. bandingkan pula dengan H. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Arifin. Lihat Umar Tirtarahardja dan La Sula. Shihab. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam. dkk. A. cet. 51. h. M. Bulletin & Kumpulan Ceramah. cet. h. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Daradjat. Jakarta. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Lihat Zakiyah Daradjat. dan Kalbu”. 1982. Bandung: Alumni. 141 dan 142.

VOL.44 LENTERA PENDIDIKAN. 11 NO. 1 JUNI 2008: 32-44 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful