P. 1
ANALISA MUTU CPO DAN KERNEL DI PKS DAMULI

ANALISA MUTU CPO DAN KERNEL DI PKS DAMULI

|Views: 3,717|Likes:
Published by Rahmad Dhanye
ISI LAPORAN PKL
ISI LAPORAN PKL

More info:

Published by: Rahmad Dhanye on Apr 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pelaksanaan PKL

Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu komoditi yang sangat penting dalam mendorong perekonomian Indonesia umumnya dan Sumatera Utara khususnya. Sebagai penghasil devisa negara kelapa sawit merupakan salah satu komoditi yang memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi, sehingga telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan ekspor minyak kelapa sawit (Anonim, 2010) Kelapa sawit yang diproduksi kemudian diolah menjadi CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil). CPO dan PKO ini kemudian dijual baik di dalam negeri (domestik) maupun di luar negeri (ekspor). Di pasar ekspor, minyak kelapa sawit merupakan salah satu dari minyak nabati. Volume ekspor minyak
sawit mentah (CPO/Crude Palm Oil) asal Indonesia terus meningkat signifikan selama enam tahun terakhir (2004-2009), mencapai 94,27%, yakni dari 8,66 juta ton pada tahun 2004, meningkat drastis menjadi 16,83 juta ton pada tahun 2009. India dan China adalah pasar ekspor utama Indonesia untuk CPO, rata-rata mencapai 41,90% per tahun dari total volume ekspor produk sawit tersebut selama 2004-2009. Bahkan, pada tahun 2009, pasar ekspor dua negara itu menyerap 48,38% volume ekspor CPO. Kinerja ekspor produk CPO semakin meningkat ke negara-negara Uni Eropa, dengan peningkatan mencapai 113,26% selama enam tahun terakhir, yakni dari 1,47 juta ton tahun 2004 menjadi 3,14 juta ton tahun 2009 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan, 2010).

PT. SINAR SAWIT LESTARI merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan. Saat ini berada pada posisi industri pertanian (agroindustri) yang mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi CPO (Crude Palm Oil) dan PK (Palm Kernel). Adapun yang dimaksud dengan Crude Palm Oil

1

(CPO) adalah produksi minyak sawit, sedangkan Palm Kernel (PK) adalah produksi inti sawit. Untuk mendapatkan produk yang bermutu tinggi dan berdaya saing di pasar global, tentunya perlu dilakukan pengujian terhadap bahan baku, bahan dalam proses dan juga produk CPO dan Kernel yang dihasilkan. Oleh karena itu, penulis ingin melakukan analisis terhadap kadar Asam Lemak Bebas ( FFA), moist (kadar air), kadar kotoran (Dirt), Oil Loses serta Total Loses untuk kernel, yang penulis lakukan di Laboratorium PT PT SINAR SAWIT LESTARI pada tanggal 21 Desember 2011 s.d. 22 Januari 2012.

1.2. Tujuan PKL Setiap kegiatan yang dilaksanakan harus mempunyai tujuan yang jelas agar dalam mencapai apa yang diinginkan dari pelaksaanan kegiatan itu. Seperti halnya PKL dapat membawa manfaat bagi beberapa pihak yaitu mahasiswa/i, universitas, dan bagi instansi tempat mahasiswa/i itu melakukan Praktek Kerja Lapangan. Adapun tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah : 1. Untuk membandingkan/mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan praktek kerja yang nyata dilapangan. 2. Dapat mengoperasikan alat-alat laboratorium yang digunakan untuk menganalisis dengan baik dan benar. 3. Untuk menambah wawasan, pandangan, pengetahuan serta pengalaman mahasiswa/i terhadap aktivitas harian perusahaan atau instansi secara nyata. 4. Mempersiapkan mental mahasiswa/i yang mantap dalam menghadapi lingkungan kerja di tengah-tengah masyarakat. 5. Melatih mahasiswa/i meningkatkan ketrampilan diri dalam melakukan pekerjaan di perusahaan atau instansi, juga dapat bekerja sama.

2

6.

Mengetahui sistem organisasi/manajeman perusahaan di tempat Pengenalan Lapangan.

7.

Untuk memperkenalkan pada situasi kerja yang sebenarnya yaitu dalam mengerjakan tugas-tugas rutin suatu instansi, menjalin hubungan kerja dengan para karyawan yang memiliki perbedaan dari segi tingkat umur dan pengalaman.

1.3. Manfaat PKL 1.3.1. Untuk Mahasiswa a. Mengetahui lebih banyak tentang tempat Kuliah Kerja Praktek terkait berdasarkan sejarahnya, tujuannya, proses produksi, produk dan permasalahan yang ada didalamnya. b. Memperoleh pengalaman kerja terutama yang berkaitan dengan analisis dan penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. c. Sebagai wadah untuk melatih diri dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah di lapangan kerja. d. Sebagai bahan penulisan laporan Kuliah Kerja Praktek yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan untuk penulisan Tugas Akhir/Karya Akhir.

1.3.2. Untuk Perguruan Tinggi a. Menjalin dan meningkatkan kerjasama Perguruan Tinggi dengan Perusahaan. b. Mendapatkan informasi mengenai penerapan ilmu manajemen, produksi dan hal-hal lainnya yang dapat digunakan sebagai acuan perbaikan kurikulum pendidikan di perguruan tinggi agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan kerja. c. Sebagai sarana promosi untuk mengenalkan Program S1 Universitas Negeri Medan jurusan Kimia kepada masyarakat khususnya Perusahaan.

3

1.3.3. Untuk PT. SINAR SAWIT LESTARI a. Sebagai bentuk dukungan Perusahaan terhadap pendidikan nasional dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia. b. Sebagai tanggung jawab sosial perusahaan dalam bidang pendidikan. c. Sebagai bahan rujukan untuk mengetahui eksistensi perusahaan dilihat dari sudut pandang masyarakat khususnya mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Praktek. d. Ruang Lingkup Kuliah Kerja Praktek di PT. SINAR SAWIT LESTARI meliputi ruang lingkup sebagai berikut 1) Manajemen Perusahaan Mencakup segala sesuatu tentang struktur organisasi perusahaan, tata letak pabrik, tenaga kerja, keselamatan dan kesehatan kerja, standar produksi.

2) Produksi Meliputi tentang berbagai proses produksi yang dilakukan di pabrik untuk melakukan pengolahan bahan baku (TBS) menjadi produk setengah jadi (CPO dan Kernel).

1.4. Batasan Permasalahan 1. Setiap mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan harus melakukan kerja praktek pada perusahaan atau lembaga/instansi pemerintah atau swasta. 2. Kerja praktek dilakukan di PT. SINAR SAWIT LESTARI Damuli, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) dan Kernel. Secara khusus, kerja praktek dilakukan pada analisa terhadap kadar Asam Lemak Bebas ( FFA), moist (kadar air), kadar kotoran (Dirt), Oil Loses serta Total Loses untuk kernel. 3. Kerja praktek ini harus bersifat latihan kerja yang berdisiplin dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pada perusahaan bersangkutan.

4

1.5. Waktu dan Tempat Waktu kegiatan pelaksanan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2011 s.d. 22 Januari 2012 di Laboratorium Analisa PT. SINAR SAWIT LESTARI. Kegiatan ini juga diikuti oleh 2 orang mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA UNIMED. Materi-materi yang dipelajari :   Latar belakang perusahaan : sejarah, pengolahan, aspek-aspek sosialekonomi, tenaga kerja. Proses pengolahan dari bahan baku, tahap-tahap produksi serta satuan operasi.

5

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PKL

2.1. Sejarah Singkat dan Letak Geografis

Gambar 2.1. Letak Geografis PT. SINAR SAWIT LESTARI Lokasi atau areal pabrik kelapa sawit Damuli PT. SINAR SAWIT LESTARI berada di jalan lintas medan Sumatera diantara Rantau Parapat KM. 232 Damuli yang terletak di kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Perusahaan PT. SINAR SAWIT LESTARI merupakan sebuah perusahaan yang mengolah berbagai hasil kelapa sawit. Perusahaan ini pada awalnya berdiri dengan Akte Pendirian CV. SIJ No. 18 Tanggal 20 Oktober 2004 1906 dengan nama SAWIT INTI JAYA (SIJ) Yang dibuat oleh Notaris Yustina, SH di Tanjung Balai. Selanjutnya pada tanggal 27 Januari 2010 perusahaan ini mengalami pergantian nama menjadi PT. SINAR SAWIT

6

LESTARI dengan akte pendirian PT. SSL No. 99 yang dibuat Notaris Martua Simanjuntak, SH di Medan dengan status Hak Guna Usaha (HGU). 2.1.1. Visi, Misi, Nilai dan Pilar-Pilar Budaya Perusahaan 2.1.1.1. Visi PT. SINAR SAWIT LESTARI "Menjadi salah satu bisnis kelapa sawit diakui di indonesia, yang menguntungkan, dengan pengelolaan terbaik dan berkesinambungan, Penyedia yang diutamakan oleh pelanggannya dan perusahaan yang dibanggakan oleh karyawannya." 2.1.1.2. Misi PT. SINAR SAWIT LESTARI “Meningkatkan rasa persaudaraan dan kerja sama diantara pelanggan dalam menyediakan hasil produksi dengan harga yang kompetitif”.

2.1.1.3. Nilai PT. SINAR SAWIT LESTARI
      

Professionalisme dengan integritas tinggi Kepemimpinan Berorientasi pada hasil kerja Memupuk kepedulian (“CARE”) Kerjasama Tim Tanggung jawab terhadap lingkungan Tanggung jawab terhadap pemegang saham

2.1.1.4. Pilar-Pilar Budaya PT. SINAR SAWIT LESTARI
  

Berfokus pada hasil Tangguh dan disiplin Kerjasama tim

7

2.2.

Sumber Daya Manusia dan Struktur Organisasi Struktur Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur Organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa melapor kepada siapa.

Gambar 2.2. Struktur Organisasi PT. SINAR SAWIT LESTARIPMKS Damuli

8

Struktur organisasi berbentuk Garis dan Staf berdasarkan fungsi: 1. Manager Mill      Mengadakan pertemuan mingguan dengan staf mengenai pelaksanaan hasil kerja. Menyetujui dan menandatangani permintaan material sesuai program kerja yang ditetapkan. Menyetujui dan menandatangani dokumen keuangan. Menyetujui dan menandatangani permintaan komponen sesuai kebutuhan. Menyelenggarakan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan maupun tertib administrasi guna penunjang proses pendapatan yang akurat dan handal.   Mempunyai garis komando langsung (line function). Mengkoordinir penyusunan rancangan anggaran belanja (RAB) tahunan. 2. Kepala Tata Usaha (KTU)          Bertanggung jawab kepada Mill Manager Mengkoordinasi tugas –tugas yang diberikan oleh pimpinan. Memonitor pekerjaan staf administrasi dan tenaga harian Mengelola dan mempertanggung jawabkan pengeluaran rumah tangga Mengelola surat-surat yang masuk dan keluar Mempersiapkan rapat–rapat/pertemuan pimpinan dan rapat dengan tamu-tamu. Menyusun notula rapat pimpinan dan menyebarluaskan Membina staf administrasi, melalui pengarahan dan peringatan lisan maupun dengan tulisan. Menggunakan sarana, prasarana kerja untuk kelancaran pelaksanaan tugas tugas. 3. Asisten Maintenance  Bertanggung jawab kepada Mill Manager.

9

   

Bertanggung jawab terhadap perawatan dan perbaikan mesin-mesin pengolahan dipabrik. Mengawasi, mengamati dan meneliti pengoperasian peralatan instalasi atau mesin yang dioperasikan untuk mencapai kapasitas pabrik. Membuat daftar permintaan barang-barang atau spare part dipabrik. Melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan bila ada masalah yang berhubungan dengan teknik.

4. Asisten proses     Bertanggung jawab kepada Mill Manager. Bertanggung jawab dan mengawasi secara langsung kelancaran produksi. Memberikan instruksi baik kepada mandor ataupun karyawan. Bertanggung jawab atas bagian-bagian :      Proses produksi. Power plant. Ketel uap (Boiler)

5. Asisten laboratorium Bertanggung jawab kepada Mill Manager mengenai pekerjaan di laboratorium untuk memeriksa kualitas dan kuantitas produksi. Mengatur mandor yang ada di laboratorium untuk menganalisa kondisi kualitas TBS yang berasal dari Pemasok baru Membuat rencana jangka pendek dalam operasional pabrik. Menandatangani dan mengevaluasi check sheet, penerimaan buah, kualitas, Kuantitas loose atau kehilangan dalam proses pengolahan. Menyetujui laporan hasil pemeriksaan dan pengujian pada penerimaan bahan baku pada awal maupun produk akhir 6. Asisten Sortasi  Bertanggung jawab kepada Mill Manager mengenai kualitas buah hasil sortiran dari kebun petani.

10

Memilih dan mengelompokkan TBS yang mutu nya baik dengan yang tidak baik.

7. Trading FFB  Bertanggung jawab kepada Mill Manager mengenai pembelian TBS.

2.2.1. Jumlah tenaga kerja dan jam kerja Tenaga kerja yang digunakan dalam menjalankan seluruh aktifitas kerja pada PT. SSL dibagi atas 3 jenis tenaga kerja sebagai berikut : 1. Tenaga kerja tetap, yaitu tenaga kerja yang diangkat dan diberhentikan berdasarkan keputusan direksi. 2. Tenaga kerja honorer, yaitu tenaga kerja yang diangkat dan diberhentikan berdasarkan keputusan kepala cabang. 3. Tenaga kerja borongan, yaitu tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan bila adanya borongan dan waktu kerjanya tidak ditentukan. Keseluruhan dari jumlah tenaga kerja PT. SSL-PMKS Damuli mencapai 84 orang, sedangkan tenaga kerja borongan berfluktuasi berdasarkan kebutuhan dari perusahaan akan tenaga kerja. Adapun jumlah keseluruhan tenaga kerja PT. SSL-PMKS Damuli saat ini dapat dilihat pada Tabel 2.2. Tabel 2.1. Jumlah Tenaga Kerja di PT. SSL-PMKS Damuli 1. Shift 1 BULAN URAIAN AGUSTUS Divisi / Bagian SHIFT 1 Mandor Proses 1 1 Jumlah Orang SEPTEMBER Jumlah Orang

11

Sortasi Laboratorium Loading Ramp Sterilizer Press Clarification Boiler Engine Room Water treatment Kernel Plant Maintenance shop Op. Loader Total Kantor Umum Security

5 4 1 9 1 2 3 1 1 1 8 1 38 8 2

5 4 1 9 1 2 3 1 1 1 8 1 38 8 2

12

Total Grand Total

10 48

10 48

2. Shift 2 SHIFT 2 Mandor Proses Sortasi Laboratorium Loading Ramp Sterilizer Press Clarification Boiler Engine Room Water treatment Kernel Plant Maintenance / workshop Op. Loader Total 1 31 1 31 1 2 1 2 1 11 1 2 2 1 1 11 1 2 2 1 1 5 3 1 5 3

13

Kantor Umum Security Total Grand Total Total Sumber: PT. SSL-PMKS Damuli

5 5 36 84

5 5 36 84

Jam kerja di PT. SSL-PMKS Damuli enam hari kerja untuk bagian kantor dan produksi, sedangkan untuk bagian pengolahan 7 hari kerja. Penjadwalan jam kerja untuk tenaga kerja adalah sebagai berikut : 1. Karyawan Kantor yang terdiri dari karyawan KTU (Kepala Tata Usaha), APK (Asisten Personalia Kebun), Kantor Pengolahan, Timbangan dan Bengkel, mulai bekerja pukul 07.00 – 17.00 WIB dengan waktu istirahat pukul 12.00- 14.00 WIB. 2. Karyawan Bagian Pengolahan Karyawan pada bagian pengolahan dibagi atas dua shift kerja, yaitu : a. Shift I, mulai bekerja pukul 07.00- 18.00 WIB dengan waktu istirahat pukul 12.00-13.30 WIB b. Shift II, mulai bekerja pukul 18.00- 07.00 WIB dengan waktu istirahat pukul 24.00-01.30 WIB 2.2.2. Sistem Pengupahan dan Fasilitas yang Digunakan Sistem pengupahan pada pabrik PT. SINAR SAWIT LESTARI PMKS-Damuli adalah sistem pengupahan yang dibayar setiap satu bulan sekali dan berbentuk : 1. Upah bulanan. Upah ini diberikan kepada tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung, yang diberikan pada hari ke-lima setiap bulan sesuai dengan jabatan dan jenis pekerjaannya masing-masing.

14

2. Upah lembur. Upah lembur diberikan kepada tenaga kerja yang melebihi jam kerja biasa. Pembayaran upah lembur akan dibayar apabila kerja dilakukan atas izin perusahaan dan dibuktikan dengan catatan kehadiran. Besarnya upah lembur sebesar dua kali lipat dari upah bulanan.

Kesejahteraan umum bagi karyawan merupakan hal yang sangat penting karena mempengaruhi produktivitas karyawan. Adapun fasilitas-fasilitas yang disediakan perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Jaminan Sosial Tenaga Kerja Perusahan memberikan asuransi jaminan sosial tenaga kerja jika terjadi sesuatu yang menyebabkan kecelakaan tenga kerja. 2. Pemberian Cuti Perusahaan memberikan cuti tahunan atau cuti besar agama dan cuti sakit pada karyawan. 3. Tunjangan Hari Besar Perusahaan memberikan tunjangan hari besar pada karyawan 4. Fasilitas Kerja Fasilitas yang disediakan perusahaan : a. Perumahan untuk karyawan b. Rumah Sakit c. Listrik dan Air Untuk menunjang kelancaran tugas karyawan perusahan juga

menyediakan peralatan-peralatan yang dibutuhkan oleh karyawan untuk meningkatkan keselatan kerja yaitu helm, safety shoes, dan masker. 2.3. Pengolahan, Produksi dan Pemasaran Ruang lingkup PT. SINAR SAWIT LESTARI PMKS-Damuli bergerak dalam bidang pengolahan buah kelapa sawit. Pabrik ini memproduksi dua jenis minyak dari hasil pengolahan yang dipasarkan, yaitu : 1. Tandan Buah Segar menjadi Crude Palm Oil/CPO (Minyak Sawit) 2. Tandan Buah Segar menjadi Kernel (Inti Sawit)

15

2.3.1. Pengolahan Uraian dari Proses produksi minyak pada PT. SINAR SAWIT LESTARI PMKS-Damuli, dapat dilihat sebagai berikut.: 2.3.1.1. Stasiun Penerimaan TBS (Tandan Buah Segar)

Stasiun penerimaan TBS (Tandan Buah Segar) terdiri atas 2 yakni : a. Jembatan Timbang (Weighting Bridge) Penimbangan bertujuan untuk mengetahui produktivitas kebun sehingga memerlukan data berat, asal kebun, bagian, blok. Setiap truk yang mengangkut TBS ke pabrik ditimbang terlebih dahulu di jembatan timbang (bridge weighing) untuk memperoleh berat sewaktu berisi (bruto) dan

sesudah dibongkar (tarra). Selisih antara bruto dengan tarra adalah jumlah TBS yang diterima di PKS (netto). Selain TBS, pada jembatan timbang dilakukan juga penimbangan terhadap pengiriman CPO dan inti sawit, janjang kosong, fiber, dan pupuk untuk afdeling kebun. b. Sortasi TBS dan Pemeriksaan Kualitas Sortasi dilakukan untuk menjamin bahan baku (TBS) yang diterima di pabrik sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Peralatan dan bahan yang digunakan untuk melakukan sortasi adalah gancu, skop, blong, timbangan, buku sortasi dan surat pengantar buah (PB.25) 2.3.1.2. Stasiun Loading Ramp Buah yang telah selesai ditimbang, dibawa ke loading ramp dan dituang ke tiap-tiap bays dari loading ramp, kemudian diisikan ke dalam lori-lori yang berkapasitas ± 20 ton TBS dengan cara membuka pintu bays yang diatur dengan sistem pintu hydraulic menggunakan elekromotor yang berfungsi untuk membagi ke dalam lori (tempat buah). Fungsi loading ramp antara lain adalah: 1. Tempat menampung TBS dari kebun sebelum diproses. 2. Mempermudah pemasukan TBS ke lori. 3. Mengurangi kadar kotoran
16

Lori adalah tempat untuk merebus TBS. Sistem transfer lori digunakan untuk memfasilitasi gerakan lori mulai didaerah loading ramp sampai ke stasiun rebusan. Peralatan yang digunakan adalah capstand, wesel dan jhondree. Kemudian lori buah tersebut ditarik menggunakan tali profelin dengan menggunakan capstand, setelah itu lori didorong masuk ke dalam rebusan menggunakan jhondera.

2.3.1.3.

Stasiun Rebusan (Sterilizer) Setelah lori penuh berisi TBS, kemudian ditarik dengan menggunakan

capstand dan selanjutnya dimasukkan ke dalam sterilizer, yaitu bejana uap tekan yang digunakan untuk merebus buah. Rebusan adalah bejana uap bertekanan yang digunakan untuk merebus TBS dengan uap (steam). PMKS Damuli memiliki 4 unit rebusan. Lori buah dimasukkan ke dalam stasiun perebusan untuk direbus dengan tujuan : 1. Menurunkan kadar air dalam daging buah Air yang ada di dalam buah akan menguap akibat pengaruh panas yang tinggi pada proses sterilisasi. Penurunan kadar air sangat penting dalam pengolahan pendahuluan dalam bejana pengaduk (digester) karena mempermudah serat buah terurai antara satu dengan yang lainnya. 2. Menghentikan aktifitas enzim Sebelum dinonaktifkan buah kelapa sawit mengandung lipase dan oksidase yang terus bekerja dalam buah. Dalam hal ini enzim lipase bertindak sebagai katalisator dalam pembentuk peroksida yang kemudian berubah menjadi gugus aldehid dan keton. Senyawa terakhir ini jika dioksidasi lagi akan membentuk asam lemak bebas. Untuk menghentikan aktifitas enzim tersebut maka harus dilakukan perebusan minimal pada temperatur 50ºC 3. Pelepasan buah dari tandannya Di dalam buah terdapat zat-zat polisakarida yang bersifat sebagai zat perekat yang akan terhidrolisa dan pecah menjadi monosakarida yang lain.

17

4. Melunakkan daging buah (pericarp) Pericarp yang telah direbus menjadi lunak dan hal ini mempermudah proses pengempaan. Pericarp ini mudah terlepas dari biji karena ketahan mekanis dari ikatan antara pericarp dengan biji akan menurun sehingga bagian mesocrap dan biji dapat dilepas satu sama lain di bagian digester dan akan terpisah sempurna di bagian depericarper. 5. Mempersiapkan biji untuk memperoleh inti biji Kadar air dalam cangkang akan berkurang dengan adanya proses pemanasan dan mengakibatkan elastisitas terhadap benturan saat pada pemecahan biji berkurang. Siklus perebusan adalah waktu yang diperlukan untuk merebus TBS, ditambah dengan waktu untuk memasukan lori ke rebusan dan mengeluarkannya. Proses perebusan dilakukan dengan sistem 3 puncak, dimana puncak pertama dan kedua bertujuan untuk memberikan tekanan kejut sehingga buah lepas dari tandan serta membuat udara di rebusan agar pemanasan pada masa tahap optimum (temperatur tercapai). Puncak ketiga bertujuan untuk mematang buah dan melunakan daging buah. Waktu yang digunakan untuk perebusan adalah 90 menit, sedangkan waktu untuk satu siklus perebusan 110-120 menit. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam perebusan tripel peak : 1. Persiapan perebusan Setelah lori-lori dimasukkan kedalam rebusan, pintu ditutup, krankran inlet steam, exhaust, dan kondensat ditutup. 2. Deaerasi Inlet steam dibuka dan kran kondensat dibuka untuk membuang udara-udara yang ada didalam rebusan selama 3 – 5 menit. 3. Puncak 1 Kran kondensat ditutup, inlet steam dibuka sampai mencapai tekanan 1,5 kg/cm2. Setelah tekanan tercapai, kran inlet steam ditutup dank ran kondensat dibuka hingga tekanan mencapai 0 kg/cm2. 4. Puncak 2

18

Kran kondensat ditutup dank ran inlet steam dibuka hingga mencapai tekanan 2,0 kg/cm2. Setelah mencapai tekanan 2,0 kg/cm2 kran inlet steam ditutup dan kran kondensat dibuka hingga mencapai tekanan 0,5 kg/cm2. 5. Puncak 3 Kran kondensat ditutup dan kran inlet steam dibuka hingga mencapai tekanan 2,8 – 3,0 kg/cm2 . setelah mencapai tekanan tersebut, semua kran ditutup dan ditahan selama 45 menit, kemudian kran exhaust dibuka dan setelah mencapai tekanan 1,0 kg/cm2, kran kondensat dibuka hingga mencapai tekanan 0 kg/cm2.

Gambar 2.3. Grafik Sistem Perebusan Tiga Puncak 6. Pengeluaran lori Pintu rebusan dibuka dan lori-lori dikeluarkan dengan

menggunakan bantuan capstand. Faktor – faktor yang mempengaruhi proses perebusan : Tekanan uap dan lama perebusan Tekanan dan lamanya waktu perebusan sangat penting karena mempengaruhi hasil perebusan dan efisiensi pabrik sendiri. Apabila tekanan dan waktu perebusan tidak cukup dapat menyebabkan beberapa kerugian, yaitu: 1. Buah kurang masak, sebagian brondolan tidak lepas dari tandan (unstriped bunch) yang menyebabkan kerugian minyak dalam janjangan kosong bertambah.

19

2. Pelumatan pada digester tidak sempurna, yaitu sebagian daging buah tidak lepas dari biji sehingga mengakibatkan proses pengempaan tidak sempurna dan mengakibatkan kerugian minyak pada fibre. 3. Ampas (fibre) basah yang meyebabkan pembakaran dalam ketel uap tidak sempurna. Sedangkan apabila perebusan terlalu lama dapat menyebabkan: 1. Buah menjadi memar, kerugian minyak dalam air rebusan (kondensat), dan janjangan kosong bertambah. 2. Merusak mutu minyak dan inti.

2.3.1.4. Stasiun Bantingan (Thressing) Pembantingan (treshing station) adalah proses pemisahan brondolan dari janjang buah kelapa sawit setelah dari Sterilizer dengan menggunakan mesin tresher. Treshing station pada PMKS Damuli terdiri dari : 1. Tippler. Tippler berfungsi mengeluarkan tandan buah sawit yang telah direbus dari lorry dengan cara memutar lorry 3600 di dalam tippler gate. Lorry kemudian diputar dengan menggunakan tippler sehingga buah yang ada didalamnya akan ditumpahkan ke bunch scraper conveyor. Penuangan TBS pada bunch conveyor ini harus benar-benar dijaga agar tidak terjadi kelebihan kapasitas dan mengurangi efektifitas tresher yang membuat losses minyak pada empty bunch menjadi tinggi. 2. Fruit Bunch Scraper Conveyor. Fruit bunch yang telah ditumpahkan oleh tippler selanjutnya dibawa oleh fruit bunch scraper conveyor ke tresher 1 dengan bantuan top distributing bunch conveyor. 3. Tresher. Setelah melalui top distributing bunch conveyor, TBS masuk kedalam tresher, maka TBS tersebut akan diputar dibanting berulang-ulang dengan tujuan untuk melepaskan semua loose fruit dari bunch. Tresher ini dilengkapi dengan batang-batang besi yang memanjang sepanjang Tresher yang berfungsi untuk

20

memudahkan TBS terangkat dan jatuh terbanting sehingga loose fruit akan terlepas dari bunch. Putaran tresher 20 rpm, bila terlalu cepat buah tidak terbanting secara sempurna. Sedangkan bila putaran terlalu lambat maka akan menyebabkan buah tertumpuk sehingga tidak akan terjadi pembantingan karena beban melebihi kapasitas drum tresher. 4. Hard Bunch Recycling Conveyor. Hard bunch recycling conveyor berfungsi untuk membawa empty bunch yang keluar dari tresher 1 menuju ke empty bunch crusher. 5. Empty Bunch Crusher. Empty bunch yang dibawa oleh hard bunch recycling conveyor dimasukkan ke empty bunch crusher untuk dihancurkan sebelum masuk ke thresher 2 sehingga memudahkan pemisahan lebih lanjut loose fruit yang masih melekat pada bunches. 6. Fruit Conveyor. Loose fruit yang berasal dari tresher 1 dan 2 kemudian diangkut oleh fruit conveyor menuju fruit elevator. Fruit conveyor Begerpang POM terdiri dari thresher 1 bottom fruit conveyor, tresher 2 bottom fruit conveyor, bottom cross fruit conveyor, dan main bottom fruit conveyor. 7. Empty Bunch Scraper Conveyor. Empty bunch dari tresher 2 dibawa oleh empty bunch scraper conveyor 1st ke mesin empty bunch press. Choping (hasil dari empty bunch press) dibawa oleh empty bunch scraper conveyor 2nd ke empty bunch hopper. 8. Empty Bunch Hopper. Empty bunch hopper berfungsi untuk penampungan sementara empty bunch yang dibawa oleh empty bunch conveyor sebelum dibawa ke enriched mulch location/composting area.

2.3.1.5. Stasiun Pengepressan (Pressing) Stasiun pengepresan melakukan pengambilan minyak dari pericarp yang dilakukan dengan cara pelumatan dan pengempaan. Pelumatan dilakukan dengan

21

digester dan pengempaan dilakukan dengan Screw Press. Proses Press station terdiri dari : 1. Loose Fruit Elevator. Loose fruit yang berasal dari fruit conveyor pada threshing station kemudian diangkut dengan loose fruit elevator ke bagian atas untuk didistribusikan ke setiap digester dengan distribution conveyor. 2. Top Distributing Fruit Conveyor. Loose fruit (brondolan) yang berasal dari loose fruit elevator selanjutnya didistribusikan oleh top distributing fruit conveyor ke bagian digester. 3. Digester. Digester merupakan sebuah tabung silinder berlapis dan mempunyai as putar yang dilengkapi dengan pisau pengaduk. Pisau-pisau ini dibuat bersilang antara satu dengan yang lainnya agar daya aduk pisau ini cukup besar dan letak pisau dibuat miring, sehingga buah yang diaduk turun naik agar proses pelumatan menjadi lebih sempurna serta membuat pericarp pecah dan terlepas dari bijinya. Alat ini berfungsi untuk melumatkan Loose Fruit sebelum diproses didalam mesin screw press. Tujuan pelumatan ini adalah membuka daging buah (mesocarp), sehingga mempermudah dalam proses pengempaan (pressing). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pengadukan ini. a. Minyak yang terbentuk dalam proses pengadukan harus dikeluarkan karena jika minyak dan air tersebut tidak dikeluarkan maka akan bertindak sebagai bahan pelumas sehingga gaya gesekan akan berkurang dimesin press. b. Digester harus selalu penuh atau sedikitnya ¾ dari kapasitas Digester. Hal ini dilakukan agar terjadi penekanan buah didalam Digester untuk masuk kedalam screw press sehingga akan terjadi pengepresan yang sempurna. c. Temperatur dijaga 95° C untuk mempermudah proses pada Digester. ± 4. Screw Press.

22

Screw press merupakan mesin yang memiliki fungsi untuk mengekstraksi minyak dari daging buah. Prinsip dari pengepresan adalah melakukan penekanan terhadap loose fruit yang telah diaduk sehingga terperas dan mengeluarkan minyak yang dikeluarkan melalui oil gutter dan dialirkan ke sand trap tank, sedangkan nut dan fibre dari screw press dikirim ke cake breaker conveyor pada Kernel Recovery Station. Ekstrak crude oil dari mesin screw press kemudian ditambahkan dengan kondensat sebagai dilution water. Campuran crude oil dan dilution water ini dinamakan diluted crude oil (DCO). Dilution water yang ditambahkan berfungsi untuk mempermudah proses pemisahan antara crude oil dengan sludge pada Clarification Station.

2.3.1.6. Stasiun Klarifikasi (Clarification Station) Crude oil yang berasal dari condensate tank masih mengandung kotoran dari daging buah seperti lumpur, air dan lain-lain. Keadaan ini menyebabkan penurunan mutu CPO, maka untuk mendapatkan CPO yang memenuhi standar diperlukan pemurnian CPO tersebut. Proses clarification station terdiri dari : a. Oil Gutter Minyak yang keluar dari mesin Press akan mengalir melalui pipa yaitu Oil Gutter. Oil Gutter ini akan membawa minyak yang keluar dari mesin Press menuju ke Sand Trap Tank. b. Sand Trap Tank. Minyak yang berasal dari screw press selanjutnya di-press di sand trap tank untuk menahan pasir ke COT sebelum di-press pada clarifier station. c. Vibrating Screen. Fungsi dari vibrating screen adalah untuk menyaring minyak (crude oil) dari serabut, ampas dan pasir yang dapat mengganggu proses pemisahan minyak. Vibrating screen yang digunakan bertipe double deck (dua kali penyaringan) dengan saringan pertama 20 mesh dan saringan terakhir 40 mesh yang selanjutnnya dialirkan ke COT. d. Crude Oil Tank (COT)

23

Minyak dari Vibrating Screen akan ditampung di Crude Oil Tank. Fungsi tangki ini adalah untuk mengendapkan zat-zat yang tidak larut dalam minyak yang lolos dari Vibrating Screen. Agar minyak tidak membeku dan tidak terikat dengan padatan yang masih ada maka di alirkan suhu panas melalui pipa Steam dengan suhu antara 90-950C e. Continuous settling tank Minyak dalam tank ini masih bercampur dengan sludge (lumpur, air dan kotoran lainnya). Di sini, minyak dipisahkan dari sludge berdasarkan perbedaan berat jenis (minyak berada di bagian atas). Minyak bersih dari continuous tank dialirkan ke top oil tank, sedangkan sludge dialirkan ke sludge tank. f. Oil Tank. Oil tank ini merupakan tangki untuk peyimpanan minyak setelah pengendapan di Clarifier. Minyak yang berada di dalam Oil Tank masih mengandung sedikit kotoran-kotoran yang perlu untuk dihilangkan. Oleh karena itu minyak di dalam Oil Tank dipanaskan dengan suhu 80-900C. g. Vacuum Drier. Pada vacuum drier dilakukan pemisahan air dari crude oil yang masih mengandung kadar air setelah dari oil tank yang dihisap dengan bantuan vacuum pump sehingga air terhisap dan keluar menuju hot water tank. Sedangkan minyak murni keluar dari bottom vacuum drier yang kemudian dipompakan ke storage tank melalui extraction pump

. h. Storage Tank. Minyak yang dipompakan dengan transfer pump ditampung didalam storage tank yang berupa CPO produksi dari pabrik sebelum dikirimkan kepada customer. Pada tangki ini, CPO dijaga pada suhu 55º C dengan tujuan agar tidak cepat beku. i. Vibrating Screen Sludge.

24

Fungsi dari vibrating screen sludge hampir sama vibrating screen, tetapi digunakan untuk menyaring sludge yang masih mengandung kotorankotoran padat. Vibrating screen sludge yang digunakan bertipe single deck (satu kali penyaringan) dengan saringan 30 mesh. Selanjutnya dipompakan ke sludge tank. j. Sludge Tank. Sludge yang telah tersaring dari vibrating screen sludge dan masih mengandung minyak ditampung dalam sludge tank untuk sementara sebelum dipompakan ke sand cyclone. Sludge dipanaskan pada suhu 95º C dengan menggunakan steam coil. k. Sand Cyclone. Pada sand cyclone, pasir yang terikut pada sludge dari sludge tank dipisahkan dengan rutin setiap 15 menit. Pasir yang terpisahkan jatuh ke bawah dan ditampung dengan sand collecting tank. Sludge yang bersih keluar dari bagian atas dan dialirkan ke Buffer tank untuk didistribusikan ke sludge centrifuge. l. Buffer Tank. Sludge yang keluar dari sand cyclone ditampung sementara kedalam balance tank sebelum didistribusikan ke 6 unit sludge centrifuge. Balance tank ditempatkan pada posisi tinggi agar memudahkan pengaliran sludge, sehingga sludge pada centrifuge selalu dalam keadaan penuh. m. Sludge Centrifuge. Sludge centrifuge berfungsi untuk memisahkan minyak yang masih terdapat pada sludge. Dengan adanya gaya gerak vertikal sentrifugal maka minyak akan terkumpul ditengah dan akan mengalir ke reclaimed oil tank yang kemudian dipompakan ke COT tank untuk didaur ulang, sedangkan sludge akan keluar melewati nozzle dan keluar dari sludge centrifuge menuju sludge pit. n. Sludge Pit. Sludge yang keluar dari centrifuge dialirkan ke sludge pit untuk ditampung sementara dan sebelum dialirkan kembali ke kolam limbah.

25

Minyak pada lapisan atas meluap melalui skimmer dan dialirkan ke COT tank untuk didaur ulang, sedangkan sludge turun melalui under flow menuju bak sludge pit kedua sebelum dialirkan menuju sediment pond.

2.3.1.7. Stasiun Kernel (Kernel Plant) Kernel plant ini berfungsi untuk memproses campuran ampas (fibre) dan biji (nut) yang ke luar dari screw press diproses untuk menghasilkan : 1) Cangkang (shell) dan fibre sebagai bahan bakar boiler. 2) Inti sawit (kernel) sebagai hasil produksi yang siap di pasarkan. a. Cake Breaker Conveyor Cake breaker conveyor terdiri dari 1 talang yang mempunyai dinding rangkap. Didalam conveyor, press cake diaduk-aduk sehingga ampas yang lebih ringan akan mudah dipisahkan dari biji. b. Depericarper Depericarper berfungsi untuk memisahkan fiber dengan nut dan membawa fiber untuk bahan baker boiler. Efektivitas kerja dari depericarper adalah banyaknya fiber yang terikut pada nut. Faktor – faktor yang mempengaruhi efektifitas kerja depericarper adalah : 1. Air lock pada fibre cyclone dan CBC 2. kualitas umpan 3. adjustement dumper pada fan kolom 4. kondisi ducting

5. Rpm fan 6. Kondisi fan 7. Kebersihan c. Nut polishing Drum Nut yang berasal dari depericarper kemudian dipoles atau dibersihkan di nut polishing drum sehingga nut bebas dari fibre. Nut polishing drum adalah suatu drum yang berputar yang mempunyai plat-plat yang dipasang miring pada dinding bagian dalam dan pada asnya.

26

Di ujung nut polishing drum memiliki kisi-kisi sebagai tempat keluarnya nut yang kemudian jatuh ke conveyor dan dihisap ke nut transport. Biji yang telah dipisahkan dari ampasnya masuk ke dalam nut polishing drum dan karena putaran drum tersebut, biji-biji akan dipolish untuk melepaskan serat-serat yang masih tinggal pada biji oleh plat-plat yang ada pada dinding dan asnya. Kecepatan dinding putaran adalah 26-28 rpm. Fungsi dari nut polishing drum 1. Memisahkan nut dari sampah 2. Membersihkan biji dari serabut yang masih melekat 3. Memisahkan gradasi nut 4. Membawa nut dari depericarper ke nut transport Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas nut polishing drum adalah : 1. Jumlah lubang penyaring 2. Kondisi plat pengarah 3. Diameter lubang penyaring 4. Aliran udara 5. Diameter dan panjang drum 6. Kualitas dan kuantitas 7. Kebersihan d. Nut Transport Nut transport berfungsi untuk menghantarkan nut dari nut polishing drum ke nut silo. Nut transport dilengkapi dengan blower dan cyclone untuk menghisap nut. Nut yang jatuh ke nut conveyor diatur kecepatannya dengan menggunakan air lock, sehingga nut tidak jatuh bersamaan. d. Nut Silo Nut silo berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara nut sebelum diolah pada proses berikutnya. Kebersihan shaking grade pada nut silo harus di perhatikan karena mempengaruhi terhadap keluaran nut silo, agar nut silo yang terolah sesuai dengan FIFO (first in first out). e. Ripple Mill Ripple mill berfungsinya untuk memecah nut dengan menjepit. Ripple mill memecah nut dengan cara menjepit nut diantara ripple plate dan rotor. Ripple mill

27

#1,2,4 dan #5 memiliki kapasitas olah 4 ton/jam. Sedangkan ripple mill #3 dan #6 memiliki kapasitas olah 5 ton/ jam. Faftor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pemecah adalah : 1. Rpm 2. Kualitas dan kuantitas umpan 3. Jarak antara cover dengan rotor 4. Kondisi ripple plate dan rotor bar 5. Jumlah roller bar Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya inti pecah yang keluar dari ripple mill adalah : 1. Nut terlalu kering 2. Clearence antara ripple plat dengan rotor bar terlalu kecil 3. Persentase nut pecah pada umpan terlalu besar 4. Umpan yang terlalu banyak f. LTDS (Light Tenera Dust Separation) Fungsi dari LTDS adalah untuk memisahkan cangkang dan inti serta membawa cangkang untuk bahan bakar boiler. Cangkang akan terhisap oleh blower ke bagian atas dan selanjutnya diangkut untuk bahan boiler. Inti yang lebih berat jatuh ke kernel grading drum (dry system), sedangkan inti yang lebih ringan dan cangkang yang lebih berat jatuh ke hydrocyclone (wet system). Pemisahan dilakukan dengan pengisapan dengan menggunakan blower. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja LTDS adalah : 1. Kualitas dan kuantitas umpan 2. Adjusment dumper coulum 3. Hisapan (dumper, air lock, blower)

g. Kernel Grading Drum Fungsi kernel grading adalah untuk menyaring nut utuh dan pecah yang berukuran besar yang dapat terikut ke produksi untuk diolah ulang. Jumlah kernel grading drum yang ada sebanyak 2 unit

28

Faktor yang mempengaruhi kineja kernel grading drum adalah : 1. Kualitas dan kuantitas umpan. 2. Lubang pada drum baik ukuran lubang maupun jumlahnya 3. Tuas pembersih 4. Pengarah 5. Rpm, diameter dan panjang drum h. Hydrocyclone Fungsi hydrocyclone untuk memisahkan inti dengan cangkang yang keluar dari LTDS. Pemisahan inti dan cangkang pada hydrocyclone didasarkan atas gaya Sentrifugal berat jenis, dimana berat jenis cangkang 1,3 sedangkan berat jenis inti 1,08. Hydrocyclone terdiri dari : 1. Tabung pemisah (cyclone) yang dilengkapi dengan pompa pengutip (vortex finder). 2. Bak air penampung cracked mixture yang terdiri dari beberapa sekat. 3. Dewatering water drum untuk inti dan cangkang Prinsip kerja Hydrocyclone: 1. Campuran cangkang dan inti yang keluar dari LTDS dimasukkan ke dalam bak pertama, lalu oleh pompa hydrocylone dipompa kedalam cyclone, campuran ini akan diputar dan oleh gaya sentrifugal, inti yang mempunyai berat jenis yang lebih kecil akan berkumpul di tengah cyclone lalu melalui vortex finder keluar dari sebelah atas dan kembali ke bak pertama. 2. Inti yang telah bercampur air ini kemudian masuk ke kernel dewatering screen untuk memisahkan air selanjutnya inti secara teratur banyaknya (diatur oleh air log)masuk ke kernel transport untuk dimasukkan ke dalam kernel silo. 3. Cangkang yang memiliki berat jenis yang lebih besar akan berkumpul di bagian pinggir cyclone lalu keluar dari bawah bersama air masuk ke bak kedua. Cangkang akan keluar ke sall dewatering screen dan keluar dari bak II.

29

Jika persentase inti dalam cangkang terlalu tinggi maka vortex finder diturunkan sebaliknya apabila persentase cangkang dalam inti tinggi, vortex finder dinaikkan. 1. Kondisi pompa 2. Kondisi dewatering drum. 3. Kondisi baffle (sekat). i. Claybath Claybath berfungsi untuk memisahkan shell dari kernel yang masih tidak dapat dipisahkan. Shell dipisahkan berdasarkan sensitifitas gaya berat antara Shell dan kernel. Dengan menggunakan larutan CaCO3 (specific grafity 1,140-1,160) sebagai media, kernel yang memiliki berat jenis yang lebih kecil dari pada shell akan mengapung diatas. j. Kernel silo Fungsi kernel silo adalah untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam inti produksi. Pengeringan dilakukan dengan cara menghembuskan udara panas dari steam heater. Udara dipanaskan dengan steam, oleh blower dihembuskan kedalam silo. Temperatur dalam kernel silo terbagi dalam 3 tingkatan yaitu bagian atas 600 C, bagian tengah 700 C, dan bagian bawah 800 C. Pengeringan dilakukan dalam kernel silo selama 5 – 8 jam. Kadar air inti yang terlalu rendah dapat menyebabkan kadar inti berubah warna terlalu besar. Sebaliknya jika inti kurang kering: 1. Kadar minyak yang diperoleh rendah 2. Inti akan berjamur 3. Kadar ALB dalam inti tinggi k. Kernel storage Fungsi kernel storage adalah sebagai tempat penyimpanan inti produksi sebelum di kirim keluar untuk dijual. Kernel storage memliki sebuah fan agar uap air yang terkandung dalam inti dapat keluar dan tidak menyebabkan kondisi dalam storage lembab, yang kemudian menyebabkan timbulnya jamur pada inti. Inti dari kernel silo diangkut ke kernel storage menggunakan screw conveyor dan pneumatic conveyor serta kernel elevator.

30

2.3.2.

Produksi PT. SINAR SAWI LESTARI melalukan produksi dengan mengolah

bahan baku (TBS) menjadi produk setengah jadi (CPO dan Kernel).

2.3.3. 2.3.3.1.

Msin dan Peralatan Mesin Tabel 2.2. Mesin di PT. SINAR SAWIT LESTARI-PMKS Damuli NO. 1. 2. MESIN Loading Ramp Capstand SPESIFIKASI Merk; Vickers. Type; 10 bays, days; 4 Kw/300 Volt Merk; teco induction, type; wire rope, days; 15 hp, tipe tali; 5/8” ARW c6 x 29 Merk; Reseo, diameter; 2100 mm, panjang 29,265 mm, kapasitas; 20 ton, tekanan uap; 0-3.5 kg/cm3, temperature uap; 1150-1300C Merek; demag Indonesia, kapasitas; 5 ton, cos 0; 0.8. putaran; 40 rpm Mek; renold chain, panjang; 5860 mm, lbar; 3300 mm, kapasitas; 15 ton/jam. Putaran; 0.3-0.5 rpm. Cos o; 0.8 Merk; Asian motor swed, diameter; 2057 mm, panjang; 5029 mm, putaran; 22.5 rpm, Merk; Renold chain, panjang; 3000 mm, daya; 10 hp, cos O; 0,8 Merk ; Stock Amsterdam, internal diameter; 1200 mm, tinggi container; 3000mm, isi; 3200 ltr, kapasitas; 10-15 ton, putaran; 23 rpm, daya; 22 kw, cos O; 0,8, type; LD 3200 Merk; MJT, panjang; 4910mm, lebar; 1478mm, tinggi; 1035, kapasitas; 15-17 ton/jam, putaran; 10,5 rpm, cos O; 0,8, daya; 40 hp, type; LP 10-12 Merek : Amkco, Diameter : ± 1524 mm (60” ), Jumlah : 2 unit, Kapasitas : 9-12 ton, Daya : 2,5 hp, Putaran : 1450 rpm, Cos Ø : 0,8 Merk : Sweeo, Kapasitas : 30 ton,
31

3.

Stelizer

4. 5.

Hiosting Crame Automatic feeder

6.

Thresser

7. 8.

Fruits Elavator Digaster

9.

Twin Screw Press

10.

Vibro Separator

11.

Crode Oil Tank

Putaran : 1450 rpm, 12. Kapasitas : 90 M3, Jumlah : 1 unit, Diameter : 500m 13. Sludge Tank Kapasitas : 6 ton, Diameter : 2.32 m, Tinggi : 2,7 m, 14. Oil Tank Kapasitas : 6 ton, Diameter : 2.32 m, Tinggi : 2,7 m, 15. Sludge Drain Tank Kapasitas : 15 M3, Panjang : 5000 m, Lebar : 2000m, Tinggi : 1500 m 16. Vacum Drayer Merk : Papemmeler, Type : 500/1583-01, Cos Ø : 0,8, Kapasitas : 9 ton, 17. Depericarper Merk : GNM, Kapasitas : 30 ton TBS/jam, Jumlah : 2 unit, Daya : 75 hp, Putaran : 1800 rpm 18. Nut Cyclone Merk : GNM, Diameter : 2500 mm, Daya : 5,5 hp, Putaran : 59,54 rpm, kapasitas : 35 ton/jam, 19. Nut Silo Merk : Warman-Australia, Panjang : 2580 m, Tebal: 3050 m, Kapasitas : 74 ton, 20. Ripple Mill Merk : GNM, Diameter : 380 mm, Daya : 3 hp, Cos Ø : 0,8, Putaran : 34,8 rpm. Sumber : PT. SINAR SAWIT LESTASI-PMKS Damuli Continous Setlling Tank

2.3.3.2. Peralatan Tabel 2.3. Peralatan di PT. SINAR SAWIT LESTARI-PMKS Damuli NO 1. 2. 3. 4. MESIN Tojok Talang Kereta sorong Beko FUNGSI Mengangkat buah yang jatuh dari lori Meratakan arang di dalam tungku boiler Memindahkan peralatan Mengangkut material dan barang-barang lain

Sumber : PT. SINAR SAWIT LESTASI-PMKS Damuli

2.3.4.

Pemasaran Pabrik kelapa sawit Damuli PT. SINAR SAWIT LESTARI memiliki

daerah pemasaran saat ini hanya di kawasan Sumatera Utara khususnya pada PT.
32

Musim Mas dan PT. Smart. Untuk selanjutnya CPO dan PKO diolah lagi menjadi minyak goreng, sabun, deterjen, margarine, dan lain-lain.

33

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Tanaman Kelapa Sawit Asal tanaman kelapa sawit secara pasti belum bisa diketahui. Namun, ada dugaan kuat tanaman ini berasal dari dua tempat, yaitu Amerika Selatan dan Afrika (Guenia). Spesies Elaeis melanococca atau Elaeis oleivera diduga berasal dari Amerika Selatan dan spesies Elaeis guineensis berasal dari Afrika (Guenia). Klasifikasi tanaman kelapa sawit: Divisi Sub divisi Kelas Keluarga : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Palmaceae

Sub keluarga : Cocoideae Genus Spesies : Elaeis : Elaeis guineensis Jack Gambar 3.1. Buah Sawit

(Sastrosayono, 2003) Tanaman Kelapa sawit (Elais guineensis Jack) merupakan salah satu tanaman perkebunan di Indonesia yang memiliki masa depan cukup cerah. Perkebunan kelapa sawit telah berkembang hampir di seluruh Indonesia. Ada beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang telah dikenal. Varietas itu dapat dibedakan berdasarkan tebal tempurung dan daging buah atau berdasarkan warna kulit buahnya. Berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah, dikenal beberapa varietas antara lain : 1. Dura Tempurung dura cukup tebal antara 2 – 8 mm dan tidak terdapat lingkaran sabut pada bagian luar tempurung. Daging buah relatif tipis dengan persentase daging buah terhadap buah variasi antara 35 – 50%. Kernel (daging biji) biasanya besar dengan kandungan minyak yang rendah. Dalam persilangan varietas dura dipakai sebagai pohon induk betina.

34

2. Pesifera Ketebalan tempurung sangat tipis, bahkan hampir tidak ada, tetapi daging buahnya tebal. Persentase daging buah terhadap buah cukup tinggi, sedangkan daging biji sangat tipis. Jenis pesifera tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis yang lain. Varietas ini dikenal sebagai tanaman betina yang steril sebab bunga betina gugur pada fase dini. Oleh sebab itu dalam persilangan dipakai sebagai pohon induk jantan. Penyerbukan silang antara pesifera dengan dura akan menghasilkan varietas tenera. 3. Tenera Varietas ini mempunyai sifat-sifat yang berasal dari kedua induknya, yaitu dura dan pesifera. Varietas inilah yang banyak ditanam diperkebunan pada saat ini. Tempurung sudah menipis, ketebalannya berkisar antara 0,5–4mm, dan terdapat lingkaran sabut disekelilingnya. Persentase daging buah terhadap buah tinggi, antara 60–96%. Tandan buah yang dihasilkan oleh tenera lebih banyak dari pada dura, tetapi ukuran tandannya relatif lebih kecil (Marunduri, 2009).

Gambar 3.2. Jenis-Jenis dari Biji Sawit

Didalam Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang disebut bahan mentah adalah kelapa sawit atau biasa disebut Tandan Buah Segar (TBS). Setelah diolah TBS akan menghasilkan minyak, yang mana minyak kelapa sawit tersebut terdiri dari dua macam, yang pertama minyak yang berasal dari daging buah yang dihasilkan

35

dari perebusan dan pemerasan. Minyak sawit ini dikenal sebagai minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO). Dan yang kedua minyak yang berasal dari inti sawit, dikenal sebagai minyak inti sawit atau Palm kernel Oil (PKO)

3.2. Minyak dan Lemak Minyak atau lemak adalah substansi yang bersifat non soluble di air (hidrofobik) terbuat dari satu mol gliserol dan tiga mol asam lemak. Minyak dan lemak adalah senyawa ester yang terbentuk dari senyawa gliserol dan berbagai asam karboksilat. Sebagian besar lemak dan minyak dalam alam terdiri atas 9899% trigliserida. Trigliserida adalah ester gliserol, suatu alkohol terhidrat dan asam lemak yang tepat disebut triasilgliserol (Almatsier, 2004). Lemak dan minyak meskipun struktur kimianya sama, namun

menunjukkan keragaman yang besar dalam sifat-sifat fisiknya, yakni : 1. Sifat fisik yang paling jelas adalah tidak larut dalam air. Hal ini disebabkan oleh adanya asam lemak berantai karbon panjang dan tidak adanya gugus-gugus polar. 2. Viskositas minyak dan lemak cair biasanya bertambah dengan bertambah panjangnya rantai karbon, berkurang dengan naiknya suhu dan berkurang ketidakjenuhan rangkaian karbonnya. 3. Lemak berbentuk padat dan minyak berbentuk cair. Berat jenis lemak (jenuh) lebih tinggi daripada trigliserida yang tidak jenuh. Berat jenisnya menurun dengan bertambahnya suhu. 4. Lemak adalah campuran trigliserida dalam bentuk padat dan terdiri dari suatu fase padat dan fase cair. Kristal dari fase padat terpisah dan dengan tekanan menggunting/memisah yang cocok, dapat bergerak sendiri lepas dari kristal lain. Jadi, lemak mempunyai struktur seperti benda padat plastik. 5. Oleh karena minyak dan lemak adalah campuran trigliserida, titik cair minyak dan lemak ditentukan oleh beberapa faktor. Makin pendek rantai asam lemak, makin rendah titik cair trigliserida itu. Cara-cara penyebaran

36

asam-asam lemak dalam suatu lemak juga mempengaruhi titik cairnya (Buckle, 1987). Triasilgiserol mudah larut didalam pelarut nonpolar seperti kloroform, benzena, eter yang sering kali digunakan untuk ekstraksi lemak dan jaringan. Triasilgiserol akan terhidrolisis jika dididihkan dengan asam atau basa. Hidrolisis oleh KOH atau NaOH disebut reaksi penyabunan (Fessenden dan Fessenden, 1986).

Gambar 3.3. Struktur kimia trigliserida Seperti halnya lemak dan minyak lainnya, minyak kelapa sawit terdiri atas trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon; yang setiap atom karbonnya mengikat satu atau dua atom hidrogen ; kecuali atom karbon terminal mengikat tiga atom hidrogen, sedangkan atom karbon terminal lainnya mengikat gugus karboksil. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh. Secara umum struktur asam lemak dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3.4. Struktur kimia 2 jenis asam lemak Makin jenuh molekul asam lemak dalam molekul trigliserida, makin tinggi titik beku atau titik cair minyak tersebut .Sehingga pada suhu kamar biasanya berada pada fase padat. Sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam molekul trigliserida maka makin rendah titik helm atau titik.cair minyak tersebut

37

sehingga pada suhu kamar berada pada fase cair. Minyak kelapa Sawit adalah lemak semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap. Tabel 3.1. Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit dan Inti Kelapa Sawit Asam Lemak Asam kaprilat Asam kaproat Asam laurat Asam miristat Asam palmitat Asam stearat Asam oleat Asam linoleat Sumber : Ketaren,1986 Minyak Kelapa Sawit 1,1 - 2,5 40 - 46 3,6 - 4,7 39 - 45 7 – 11 Minyak Inti Sawit 3-4 3-7 46 - 52 14 - 17 6,5 - 9 1 - 2,5 13 - 19 0,5 – 2

3.3. Sifat dan Karakteristik Minyak Minyak sawit adalah suatu trigliserida yaitu senyawa gliserol dan asam lemak. Sesuai dengan rantai asam lemaknya, minyak sawit termasuk golongan minyak asam oleat dan linoleat. Minyak sawit bewarna merah jingga karena kandungan karotenoida (terutama β-karotena), beronsistensi setengah pada suhu kamar (konsistensi dan titik lebur banyak ditentukan oleh kadar ALB-nya), dan dalam keadaan segar dan kadar asam lemak bebas yang rendah, bau dan rasanya cukup enak. Minyak sawit terdiri atas berbagai trigliserida dengan rantai asam lemak yang berbeda-beda. Panjang rantai antara 14-20 atom karbon. Dengan demikian sifat minyak sawit ditentukan oleh perbandingan dan komposisi trigliserida tersebut. Sesuai dengan panjang rantai dan sifat-sifat asam lemak yang ada dalam minyak sawit, kandungan asam lemak yang terbanyak adalah asam lemak tak jenuh oleat dan linoleat,dan minyak sawit termasuk golongan minyak asam oleatlinoleat (Mangoensoekarjo,2004).

38

3.3.1 Sifat Fisik Minyak Dan Lemak Sifat fisika-kimia minyak kelapa sawit meliputi warna, bau dan flavor, kelarutan, titik cair dan polymorphism, titik didih (boiling point), titik pelunakan, slipping poin, bobot jenis, indeks bias, titik kekeruhan (turbidity point). Warna minyak ditentukan oleh adanya pigmen yang masih tersisa setelah proses pemucatan, karena asam-asam lemak dan gliserin tidak berwarna. Warna orange atau kuning disebabkan oleh adanya pigmen karoten yang larut dalam minyak. Bau dan flavour dalam minyak terdapat secara alami juga terjadi akibat kerusakan minyak. Sedangkan bau khas minyak kelapa sawit ditimbulkan oleh persenyawaan betaionine. Titik cair bergantung pada asam lemak yang terkandung dalam minyak tersebut.

3.3.2 Sifat Kimia Minyak Dan Lemak Pada umumnya asam lemak jenuh dari minyak mempunyai rantai lurus monokarboksilat dengan jumlah atom karbon yang genap. Reaksi penting pada minyak dan lemak adalah reaksi hidrolisis, oksidasi dan hidrogenasi. a. Hidrolisis Dalam reaksi hidrolisis, minyak atau lemak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis yang dapat megakibatkan kerusakan minyak atau lemak karena tercapainya sejumlah air dalam minyak atau lemak tersebut. Minyak atau lemak dapat dihidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak karena adanya air. Reaksi ini dipercepat oleh basa, asam dan enzim-enzim. Hidrolisis oleh enzim lipase akan menyebabkan kadar asam lemak bebas menjadi tinggi (Ketaren,1986).

b. Oksidasi Proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada minyak, Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan tingkat selanjutnya adalah terurainya asam-asam lemak disertai dengan

39

konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam-asam lemak bebas (Ketaren,1986). c. Hidrogenasi Hidrogenasi disebut pengerasan, menyebutkan penjenuhan/ikatan rangkap dalam rangkaian asam lemak dari trigliserida. Dua akibat yang ditimbulkan yaitu titik cair lemak atau minyak akan naik,dan lemak atau minyak menjadi lebih stabil (Andry, 2008).
3.4. Minyak Kelapa Sawit Mentah (CPO) CPO diperoleh dari daging buah kelapa sawit. CPO mengandung sekitar 500 – 700 ppm karoten dan merupakan bahan pangan sumber karoten alami terbesar. Oleh karena itu CPO berwarna merah jingga. Disamping itu jumlahnya juga cukup tinggi. Minyak kelapa sawit ini diperoleh dari mesokarp buah kelapa sawit melalui ekstraksi dan mengandung sedikit air serta serat halus, yang berwarna kuning sampai merah dan berbentuk setengah padat pada suhu ruang. Dengan adanya air dan serat halus tersebut menyebabkan CPO tidak dapat langsung digunakan sebagai bahan pangan maupun non pangan (Naibaho, 1996).

Gambar. 3.5. CPO Standar Berwarna Jingga Kemerah-merahan
Bentuk setengah padat CPO disebabkan oleh kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, sekitar 50% asam lemak yang ada merupakan asam lemak jenuh dengan komponen utama asam palmitat, sekitar 40% asam lemak tidak jenuh tunggal (asam oleat) dan sekitar 10% asam lemak tidak jenuh jamak (asam linoleat). Asam palmitat bentuk bebas dan bentuk terikat sebagai monopalmitin, dipalmitin dan tripalmitin memiliki titik leleh yang relatif tinggi (di atas 60 0C), sehingga pada suhu ruang senyawa tersebut berbentuk padat (Belitz dan Grosh, 1987).

40

3.4.1. Parameter Mutu CPO a) Kadar Kotoran Kadar pengotor dan zat terlarut adalah keseluruhan bahan-bahan asing yang tidak larut dalam minyak, pengotor yang tidak terlarut dinyatakan sebagai persen zat pengotor terhadap minyak atau lemak. Pada umumnya, penyaringan hasil minyak sawit dilakukan dalam rangkaian proses pengendapan yaitu minyak sawit jernih dimurnikan dengan sentrifugasi. Dengan proses tersebut kotorankotoran yang berukuran besar memang dapat disaring. Akan tetapi, kotorankotoran atau serabut yang berukuran kecil tidak bisa disaring, hanya melayanglayang didalam minyak sawit sebab berat jenisnya sama dengan minyak sawit. Padahal alat sentrifugasi tersebut dapat berfungsi dengan prinsip kerja yang berdasarkan pada perbedaaan berat jenis (Marunduri, 2009). Kotoran yang terdapat pada minyak terdiri dari tiga golongan, yaitu : 1. Kotoran yang tidak terlarut dalam minyak (fat insolube) dan terdispersi dalam minyak. Kotoran yang terdiri dari biji atau partikel jaringan, lendir dan getah seratserat yang berasal dari kulit abu atau material yang terdiri dari Fe, Cu, Mg, dan Ca, serta air dalam jumlah kecil. Kotoran seperti ini dapat diatasi dengan cara mekanis yaitu dengan cara pengendapan dan sentrifugasi. Kadar pengotor dalam minyak sawit berupa logam seperti besi, tembaga, dan kuningan biasanya berasal dari alat-alat pengolahan yang digunakan. 2. Kotoran yang berbentuk suspensi koloid dalam minyak Kotoran ini terdiri dari pospolipid, senyawa yang mengandung nitrogen dan senyawa kompleks lainnya. Kotoran dapat dihilangkan dengan menggunakan uap panas, sentrifugasi, atau penyaringan dengan menggunakan adsorben. 3. Kotoran yang terlarut dalam minyak (fat soluble compound) Kotoran yang termasuk dalam golongan ini terdiri dari asam lemak bebas, sterol, hidrokabon, monogliserida dn digliserida yang dihasilkan dari hidrolisis trigliserida, zat warna yang terdiri dari karatenoid, klorofil. Zat warna lainnya yang dihasilkan dari proses oksidasi dan dekomposisi minyak yang terdiri dari

41

keton, aldehida dan resin serta zat lannya yang belum teridentifikasi (Ketaren, 1986). b) Kadar Asam Lemak Bebas Bilangan asam/kadar asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas, serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau dengan kata lain kadar asam lemak bebas dihitung sebagai persentase berat (b/b) dari asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak sawit mentah (CPO) dimana berat molekul asam lemak bebas tersebut dianggap sebesar 256 (sebagai asam palmitat). Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH 0,1 M maupun NaOH 0,1 M yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak. Kadar asam lemak bebas pada minyak atau lemak hasil ekstraksi dapat ditentukan dengan cara titrasi. Angka asam lemak bebas dinyatakan dalam % asam lemak yang dianggap dominan pada sampel produk yang sedang dianalisis. Kadar asam lemak bebas merupakan banyaknya asam lemak bebas yang dihasilkan dari proses hidrolisis minyak. Banyaknya asam lemak bebas dalam minyak menunjukkan penurunan kualitas minyak. Penentuan asam lemak bebas atau biasa disebut dengan FFA yang merupakan singkatan dari Free Fatty Acid sangat penting kaitannya dengan kualitas lemak. Karena bilangan asam dipergunakan untuk mengukur jumlah asam lemak bebas yang terdapat dalam lemak. Semakin besar angka ini berarti kandungan asam lemak bebas semakin tinggi, sementara asam lemak bebas yang terkandung dalam sampel dapat berasal dari proses hidrolisis ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Karena proses hidrolisis dapat berlangsung dengan penambahan asam dan dibantu oleh panas. Menurut Sudarmadji (1984) angka asam dapat menunjukan asam lemak bebas yang berasal dari hidrolisa minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Makin tinggi angka asam maka makin rendah kualitasnya. c) Kadar Air Penentuan kadar air bertujuan untuk mengetahui jumlah air yang terkandung dalam sampel. Kadar air merupakan jumlah air yang terkandung di dalam minyak sawit atau crude palm oil. Kadar air ini menentukan kualitas CPO

42

karena pada saat pengolahan CPO menjadi produk turunan, kadar air dapat menghambat proses pengolahan CPO menjadi produk turunan karena perbedaan massa jenis dari air tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin sedikit kadar air yang terkandung dalam CPO semakin tinggi kualitas CPO yang dihasilkan dan sebaliknya. Kadar air berperan dalam proses oksidasi maupun hidrolisis minyak yang akhirnya dapat menyebabkan ketengikan. Semakin tinggi kadar air, minyak semakin cepat tengik. Kadar air pada minyak menurut hasil praktikum diperoleh dari metode hot plate yaitu 0,3 %. Hal ini dapat terjadi mungkin karena minyak belum terpisah secara sempurna dan cara pemisahan minyak dari blondo dan air yang kurang baik. Tingginya kadar air akan menurunkan kualitas minyak yang dihasilkan yaitu minyak akan menjadi cepat tengik selama penyimpanan. Kadar air dalam CPO dapat diketahui dengan cara yang mudah yaitu dengan mendiamkannya pada suhu rendah. Jika CPO mudah membeku maka kemurniannya lebih bagus sebab dibawah suhu 250C CPO mulai membeku. Namun, bila kadar air tinggi proses pembekuan lebih lama. Air membeku pada suhu 0oC. CPO membeku seperti mentega dan jika dikembalikan ke suhu panas, mencair seperti semula.
3.5. Minyak Inti Kelapa Sawit Mentah (CPKO) CPKO dihasilkan dari inti buah kelapa sawit. CPKO memiliki rasa dan bau yang khas. CPKO mudah sekali menjadi tengik bila dibandingkan minyak yang telah dimurnikan. Titik lebur dari CPKO adalah berkisar antara 250C - 300C. CPKO merupakan trigliserida campuran, yang berarti bahwa gugus asam lemak yang terikat dari trigliserida-trigliserida yang dikandung lemak ini jenisnya lebih dari satu. Jenis asam lemaknya meliputi C8 (asam kaprilat) sampai C18 tak jenuh (asam oleat dan asam linoleat) (Winarno, 1991).

Gambar 3.6. Kernel

43

BAB IV PROSEDUR DAN PELAKSANAAN PKL

4.1.

Tempat dan Waktu Praktek Kerja Lapangan (PKL) Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di PT SINAR SAWIT

LESTARI yang berada di jalan lintas medan Sumatera diantara Rantau Parapat KM. 232 Damuli yang terletak di kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Waktu PKL selama satu bulan yaitu pada tanggal 21 Desember 2011 s.d. 22 Januari 2012.

4.2. Persiapan Alat yang digunakan pada analisis adalah Neraca Analitik, Automatic Buret, Hot Plate, Oven, Crusible, Erlenmeyer, Cawan Porselen, Labu Destilasi, Gelas Ukur, Botol Semprot, Botol Plastik, Labu Ukur, Erlenmeyer Bercabang, Alat Ekstraksi, Pipet Gondok, Beaker Gelas, Mikrofibre Filters, Neraca Digital, Alat Sentrifuse, Tabung sentrifuse, Thimbel, Vacum Pomp, Moisture Analyzer, Alat Destilasi. Bahan yang digunakan adalah CPO, Kernel, Hexana, NaOH,

Penolpthalein, Isopropil Alkohol, Aquades.

4.3.

Prosedur

4.3.1. Uji CPO pada Storage dan Vacum Dryer a. Uji Free Fatty Acid (FFA) 1. Menimbang sebanyak 5 gram sampel dalam erlenmeyer 250 mL 2. Menambahkan Isopropil Alkohol sebanyak 50 mL 3. Kemudian campuran tersebut dipanaskan di hotplate dengan suhu 700C sampai campuran homogen 4. Menambahkan 3 tetes penolpthalein sebanyak 3 tetes 5. Larutan dititrasi dengan NaOH 0,09 M, sampai larutan berwarna orange, mencatat volume NaOH pada titik akhir titrasi

44

6. Menghitung FFA dengan rumus:

FFA 

VNaOH xN NaOH xMrAsamPalmitat x100 % BeratSampel

b. Uji Kadar Air 1. Menimbang wadah, lalu menambahkan sampel sebanyak 10 gram 2. Memasukkan wadah+sampel dalam oven pada suhu 1050C selama 15 menit 3. Kemudian didinginkan dengan desikator selama 10 menit 4. Menimbang wadah + sampel dengan neraca analitik 5. Mengukur kadar air dengan rumus:
KadarAir  (W  S )  (W  S ) ker ing x100 % sampel

Keterangan:

W = Berat wadah kosong S = Sampel W +S = Berat wadah + sampel yang sudah di uapkan

c. Uji Kadar Kotoran 1. Memasukkan mikrofiber filter kedalam crusibel yang bersih 2. Menimbang crusibel + mikrofiber filter 3. Memasukkan sampel kedalam crusibel sebanyak 10 gram (W2) 4. Melatakkan crusibel + sampel di atas erlenmeyer yang disambungkan dengan mesin vacum 5. Menetesi crusibel + sampel dengan hexane hingga benar-benar bersih 6. Setelah bersih memasukkan crusibel tersebut kedalam oven pada suhu 1050C selama 10 menit 7. Mendinginkan crusibel dengan desikator selama 5 menit 8. Menimbang crusibel yang telah kering (W2)

45

9. Menghitung kadar kotoran dengan rumus:

Keterangan : A : Berat crucible + kotoran (gram) B : Berat Crucible (gram) C : Berat Sampel (gram) 4.3.2. Analisis Loses di Stasiun Kernel a. Pada Fiber Siklon, LTDS 1 dan 2, Shell Claybath, dan Kernel Claybath 1. Menimbang sampel masing-masing sebanyak 500gram 2. Memisahkan whole nut, broken nut, whole kernel, broken kernel, dan shell 3. menghitung kadar loses maupun efiseiensi b. Pada Press Cake 1 dan 2, Heavy Phase, Solid, Final Emfluent, Kondensat 1. Menimbang masing-masing sampel sebanyak 500gram 2. Memisahkan fiber dan nut pada press cake 3. Menimbang wadah kosong dan memasukkan sampel sebanyak 10 gram 4. Memasukkan sampel ke dalam Thimbel 5. Menimbang labu ekstraksi kosong 6. Mengekstraksi sampel dengan larutan hexane hingga larutan hexane pada sampel bening 7. Menguapkan labu ekstraksi sampai benar-benar tidak mengandung hexane 8. Menimbang labu ekstraksi dan menghitung loses

4.3.3. Uji Pada Proses Pengolahan (Crude sludge Tank /CST dan Crude Oil Tank /COT) pada Stasiun Klarifikasi 1. Mengambil sampel pada CST dan COT 2. Memasukkan masing-masing sampel dalam tabung sentrifuse, kemudian memasukkannya kedalam alat sentrifuse dengan kecepatan 100 rpm selama 30 menit 3. Mengukur banyaknya oil, emulsi, air, dan sludge

46

47

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.

Analisis CPO pada Storage dan Vacum Dryer

Tabel 5.1 Data CPO di storage dan Vacuum drayer untuk Analisis FFA pada tanggal 9 Januari 2012 Jam Sampel (gram) NaOH (N) Vol Titrasi (mL) Storage I Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) Storage 2 Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) 10.00 11.00 14.00 4,2158 4,0778 4,3020 0,944 0,0944 0,0944 6,0 5,5 5,2 4,0702 4,0982 4,6935 0,0944 0,0944 0,0944 7,2 7,1 7,9 5,6620 4,5440 4,6524 0,0944 0,0944 0,0944 14,7 11,9 12,1

48

15.00 16.00 17.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00

4,6242 5,2809 5,7964 3,3816 4,3280 3,6696 4,3028 4,1686 3,2503 3,5401 3,5241 4,1029 3,7249 4,3118

0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944

5,7 6,9 7,7 4,5 5,5 5,5 6,2 6,2 5,2 5,8 5,6 6,7 6,0 6,9

Maka perhitungan untuk menentukan kadar Asam Lemak Bebas pada Storage dan Vacum Drayer sesuai rumus perhitungan dibawah ini, Didapat FFA sebesar;

FFA 

VNaOH xN NaOH xMrAsamPalmitat x100 % BeratSampel

49

Tabel 5.2. Data Pengamatan Analisis FFA tanggal 9 Januari 2012

Jam

Sampel (gram)

NaOH (N)

Vol Titrasi(mL)

FFA (%)

Storage I Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) Storage 2 Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) 10.00 11.00 14.00 15.00 16.00 4,2158 4,0778 4,3020 4,6242 5,2809 0,944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 6,0 5,5 5,2 5,7 6,9 3,44 3,26 2,92 2,98 3,15 4,0702 4,0982 4,6935 0,0944 0,0944 0,0944 7,2 7,1 7,9 4,27 4,18 4,07 5,6620 4,5440 4,6524 0,0944 0,0944 0,0944 14,7 11,9 12,1 4,05 4,73 4,05

50

17.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00

5,7964 3,3816 4,3280 3,6696 4,3028 4,1686 3,2503 3,5401 3,5241 4,1029 3,7249 4,3118

0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944 0,0944

7,7 4,5 5,5 5,5 6,2 6,2 5,2 5,8 5,6 6,7 6,0 6,9

3,22 3,22 3,07 3,62 3,48 3,59 3,87 3,96 3,84 3,95 3,89 3,87

Tabel 5.3. Data CPO di storage dan vacuum drayer untuk Analisis Kadar Air (Moist) pada tanggal 9 Januari 2012 Jam Wadah (W) gram Storage I Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 62,0811 61,6939 63,1064 10,9288 10,5970 11,0769 73,7898 72,2730 74,1585 Sampel (S) gram W + S Kering gram

51

06.00-09.00 wib) Storage 2 Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) 10.00 11.00 14.00 15.00 16.00 17.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 63,7353 64,7823 61,6036 61,6896 64,7811 62,6077 62,8823 63,1188 58,9230 61,6032 61,6965 64,7808 63,7646 58,9193 62,8859 61,6904 63,1065 10,9339 10,4052 10,3427 10,6325 10,1899 11,1402 10,0867 10,5032 10,4425 10,7080 10,0614 10,1024 10,4224 10,1436 10,0524 10,7356 10,8722 74,6052 75,1315 71,8953 72,2808 74,9508 73,6951 72,9464 73,5654 69,3277 72,2988 71,7050 74,8238 74,0520 69,0211 72,9097 72,3382 73,9374 58,9263 62,6070 11,0278 10,5063 69,9272 73,4634

52

Maka perhitungan untuk menentukan kadar air (moist) pada Storage dan Vacum Drayer sesuai rumus perhitungan dibawah ini, Didapat Moist sebesar;

KadarAir 

(W  S )  (W  S ) ker ing x100 % sampel

Tabel 5.4. Data Pengamatan Analisis Kadar Air tanggal 9 Januari 2012 Jam Wadah (W) Gram Storage I Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) Storage 2 Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) 10.00 11.00 14.00 15.00 16.00 63,7353 64,7823 61,6036 61,6896 64,7811 10,9339 10,4052 10,3427 10,6325 10,1899 74,6452 75,1315 71,8953 72,2808 74,9508 0,21 0,33 0,39 0,31 0,21 58,9263 61,8745 62,6070 11,0278 10,4586 10,5063 69,9272 72,3305 73,4634 0,24 0,24 0,46 62,0811 61,6939 63,1064 10,9288 10,5970 11,0769 72,9870 72,2730 74,1585 0,21 0,17 0,22 Sampel (S) Gram W+S Kering (gram) Moist (%)

53

17.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00

62,6077 62,8823 63,1188 58,9230 61,6032 61,6965 64,7808 63,7646 58,9193 62,8859 61,6904 63,1065

11,1402 10,0867 10,5032 10,4425 10,7080 10,0614 10,1024 10,4224 10,1436 10,0524 10,7356 10,8722

73,6951 72,9464 73,5654 69,3277 72,2988 72,3850 74,8338 74,1567 69,0211 72,9097 72,4082 73,9374

0,22 0,22 0,46 0,36 0,12 0,18 0,38 0,29 0,38 0,28 0,65 0,38

Tabel 5.5. Data CPO di Storage dan Vacum Drayer untuk Analisis Kadar Kotoran (Dirt) pada tanggal 9 Januari 2012 Jam Sampel (S) gram Storage I Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) Storage 2 Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah 11,0278 11,0568 10,5063 38,6113 35, 7892 37,5838 38,6135 35, 7909 37,5868 10,9288 10,5970 11,0769 39,9198 36,8973 35,1249 39,9294 36,8990 35,1284 Crucible (gram) Crucible Dirt (gram)

54

(Pada saat jam 06.00-09.00 wib) 10.00 11.00 14.00 15.00 16.00 17.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 10,9339 10,4052 10,3427 10,6325 10,1899 11,1402 10,0867 10,5032 10,4425 10,7080 10,0614 10,1024 10,4224 10,1436 10,7356 10,0524 10,8722 38, 4562 35, 7892 37,5715 37,6496 36,2416 37, 7265 37,8009 36,7098 38,4572 36,8712 35,9825 38,7865 37,6542 36.0973 38,7829 38,7489 35,8921 38, 4574 35, 7907 37,5737 37,6533 36,2457 37,7310 37,8034 36,7124 38,4627 36,8721 35,9862 38,7902 37,6998 36,1328 38,7865 38,7501 35,8950

Maka perhitungan untuk menentukan kadar kotoran (dist) pada Storage dan Vacum Drayer sesuai rumus perhitungan dibawah ini, Didapat Kadar kotoran sebesar;

Keterangan : A : Berat crucible + kotoran (gram) B : Berat Crucible (gram) C : Berat Sampel (gram)
55

Tabel 5.6. Data Pengamatan Analisis Kadar Kotoran tanggal 9 Januari 2012 Jam Sampel (S) gram Storage I Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.00-09.00 wib) Storage 2 Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah (Pada saat jam 06.0009.00 wib) 10.00 11.00 14.00 15.00 16.00 17.00 19.00 20.00 10,9339 10,4052 10,3427 10,6325 10,1899 11,1402 10,0867 10,5032 38, 4562 35, 7892 37,5715 37,6496 36,2416 37, 7265 37,8009 36,7098 38, 4574 35, 7907 37,5737 37,6533 36,2457 37,7310 37,8034 36,7124 0,010 0,014 0,017 0,0037 0,040 0,040 0,024 0,024 11,0278 11,0568 10,5063 38,6113 35, 7892 37,5838 38,6135 35, 7909 37,5868 0,019 0.015 0,028 10,9288 10,5970 11,0769 39,9198 36,8973 35,1249 39,9294 36,8990 35,1284 0,042 0.016 0,031 Crucible (gram) Crucible Dirt (gram) Dirt (%)

56

21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00

10,0524 10,7080 10,0614 10,1024 10,4224 10,1436 10,7356 10,4425 10,8722

38,7489 36,8712 35,9825 38,7865 37,6542 36.0973 38,7829 38,4572 35,8921

38,7501 36,8721 35,9862 38,7902 37,6998 36,1328 38,7865 38,4627 35,8950

0,011 0,0084 0,036 0,036 0,042 0,034 0,033 0,052 0,002

Berdasarkan Data Pengamatan pada Analisis CPO, diketahui bahwa hasil CPO pada PT. SINAR SAWIT LESTARI dalam hal kadar FFA diperoleh persentase rata-rata sebesar 4,27 % pada storage pertama dan 4,17 % pada storage kedua pada saat jam 06.00-09.00 wib dimana hal ini masih dalam batas standart perusahan yang diperbolehkan dan Standart Nasional Indonesia dan begitu juga pada jam 10.00-05.00 wib (lihat tabel 5.7 dan 5.8). Sementara kadar yang diperoleh pada analisis kadar air (moist) pada storage kedua bagian bawah pada saat jam 06.00-09.00 wib sebesar 0,46 % dan begitu juga pada jam 20.00 wib sedangkan pada jam 04.00 pagi kadar air meningkat menjadi 0,65 %. Hal ini dapat disebabkan karena kerja alat yang belum maksimal dan sementara itu sesuai dengan SNI bahwa kadar yang diperbolehkan adalah 0,5 % sehingga kadar yang diperoleh masih dapat dipakai untuk proses selanjutnya. Disamping itu, kadar kotoran pada jam 04.00 pagi diperoleh 0,052% dimana dalam standar perusahaan adalah 0,05% dan SNI 0,5% sehingga masih diijinkan untuk produksi.

57

Tabel 5.7. Standar PT.SINAR SAWIT LESTARI-PMKS Damuli No. 1. 2. 3. Parameter Asam Lemak Bebas (ALB) Air Kadar Pengotor Standar Perusahaan < 4,5% < 0,4% < 0,05%

Sumber data : PT. SINAR SAWIT LESTARI-PMKS Damuli, 2008 Tabel 5.8. Standar SNI Mutu Minyak Kelapa Sawit No. 1. 2. 3. Uji Kuantitatif Asam Lemak Bebas (ALB) Air Kadar Pengotor Standar SNI < 5% < 0,5% < 0,5%

Sumber: SNI 2006

5.2. Analisis Loses Tabel 5.9. Data (Fiber Siklon, LTDS 1 dan 2, Shell Claybath dan kernel Claybath) pada tanggal 9 Januari 2012 Description Sample (gr) Whole nut (gr) Broken nut (gr) Whole kernel (gr) Press cake I Press cake II Fiber Cyclone LTDS I LTDS II Shell Claybath 489,6 530,6 785,2 13,4 5,8 6,0 564,8 474,3 345,6 109,2 140,9 50,0 40,6 2,8 4,5 Broken kernel (gr) 13,3 15,1 9,5 25,3 20,9 Shell (gr)

58

Kernel Claybath Riplle Mill Kernel Produksi

700,3

308,0

38,2

800,9 531,7

66,5 278,6 32,5

Maka perhitungan untuk menentukan kadar whole nut, broken nut, whole kernel, broken kernel dan shell sesuai rumus perhitungan dibawah ini,
%X  BeratX x100 % sample

Dimana X adalah whole nut, broken nut, whole kernel, broken kernel dan shell. Dan untuk mencari Efesiensi dari kerja Ripple Mill adalah , digunakan rumus

Selain itu, untuk mencari Total Loses pada Statsiun Fiber Cyclone, LTDS I dan II, di hitung besarnya % Broken kernel sedangkan pada Shell Claybath di lihat persen Whole Nut.

Tabel 5.10. Data Pengamatan Total Loses Description Sample (gr) Whole nut (%) Press cake I Press cake II Fiber Cyclone LTDS I LTDS II 489,6 530,6 1,18 1,13 1,18 1,13 564,8 474,3 345,6 19,33 29,70 Broken nut (%) 8,85 8,56 Whole kernel (%) 0,49 0,95 Broken kernel (%) 2,35 3,18 2,75 14,40 4,40 2,75 Shell (%) Total Loses (%)

59

Shell Claybath Kernel Claybath Riplle Mill Kernel Produksi

785,2

1,71

1,71

700,3

43,98

5,45

800,9 531,7

8,30 52,40

98,43

Berdasarkan data diatas, untuk melihat ukuran keberhasilan dari stasiun Depericarper pada Kernel Loosing di Fibre cyclone, Total Loses sebesar <1,5 % terhadap sample, sedangkan pada data pengamatan total loses di fibre cyclone sebesar 2,75% sehingga tingkat kerja dari stasiun Depericarper perlu ditingkatkan lagi. Tingkat kebehasilan dari operasi Digaster dan Press, ditentukan dengan melihat persen Nut yang Pecah di ampas Pres dengan Standart Mutu <10% dan sesuai dengan data pengamatan Persen Nut yang pecah rata-rata 8,705, oleh karena itu operasi Digaster dan Press masih dalam kondisi yang baik. Selanjutnya, untuk mengetahui apakah kerja operasi pada LTDS I dan II berjalan dengan baik atau tidak dapat dilihat dengan standart mutu sebesar 1,5 % dan sesuai dengan data pengamatan bahwa total loses yang dihasilkan sebesar 1,18% dan 1,13% dan ini berarti kerja operasi LTDS masih berjalan baik. Tetapi pada operasi Shell Claybath yang memiliki standart mutu 1,5% dan pada data pengamatan yang diperoleh sebesar 1,71 maka dapat disimpulkan bahwa kerja operasi dari shell claybath perlu dperbaiki. Sementara itu, tingkat Efisiensi pemecahan pada operasi Riplle Mill standart efisiensi berkisar 96-98% sedangkan pada data di peroleh efisiensi 98,43 % sehingga disimpulkan operasi Riplle Mill perlu diperbaiki.

60

Tabel 5.11. Data pada Stasiun Kernel untuk analisis Oil Loses pada tanggal 9 Januari 2012 Description Fibre Press I Wadah Sampel W+S kering Moist (%) Botol Oil +botol 34,72 34,21 12,52 94,05 73,68 96,88 111,0787 136,5461 95,56 110,8126 142,8746 75,9250 10,2970 82,6461 Fibre Press II 80,7249 10,3821 87,3552 82,1676 10,4297 91,2968 Nut Empty Bunch Heavy phase 78,7233 10,4720 79,3463 Solid Final Condesat

Decanter Empluent 76,2510 10,7207 79,0724 87,2326 10,1464 87,5490 88,1730 11,5331 88,6844

110,2095 110,6393 106,6892 163,5475 166,2873 118,5790

109,2844 107,3949 131,1708 146,0966

Dari tabel data diatas dapat diketahui untuk mencari kadar

61

Maka, data pengamatan yang diperoleh adalah,

Tabel 5.12. Data pengamatan Oil Loses pada tanggal 9 Januari 2012 Description Fibre Press I Wadah Sampel W+S kering Moist (%) Botol Oil +botol OWM (%) ODM (%) NOS (%) 34,72 34,21 12,52 94,05 73,68 96,88 111,0787 136,5461 2,51 80,45 0,61 95,56 110,8126 142,8746 2,78 62,61 1,66 75,9250 10,2970 82,6461 Fibre Press II 80,7249 10,3821 87,3552 82,1676 10,4297 91,2968 Nut Empty Bunch Heavy phase 78,7233 10,4720 79,3463 Solid Final Condesat

Decanter Empluent 76,2510 10,7207 79,0724 87,2326 10,1464 87,5490 88,1730 11,5331 88,6844

110,2095 110,6393 106,6892 163,5475 166,2873 118,5790 5,18 7,93 60,01 5,36 8,15 60,43 1,14 1,30 86,34

109,2844 107,3949 131,1708 146,0966 2,09 35,12 3,86 3,61 13,71 22,71

Berdasarkan data pengamatan diatas, standart mutu Oil Loses pada Condensate sebesar 15% sedangkan pada data pengamatan ODM yang

dihasilkan pada 9 januari 2012 sebesar 62,61 sehingga ukuran keberhasilan dari operasi Rebusan belum maksimal. Di samping itu ODM di Oil Loses pada Press Cake sebesar 8% dan sesuai data pengamatan yang diperoleh rata-rata 8,04 sehingga disimpulkan operasi dari Press cake dalam kondisi yang masih baik. Selain itu kadar air (moist) pada nut perlu dijaga dengan standar <17% sehingga operasi pada Riplle Mill dalam Kondisi yang baik .

62

5.3. Analisis pada pengolahan Crude sludge Tank /CST dan Crude Oil Tank /COT) pada Stasiun Klarifikasi Tabel 5.13. Data pada uji proses Pengolahan pada Stasiun Klarifikasi (CST dan COT) pada tanggal 9 Januari 2012 Jam COT Oil (%) 10.00 11.00 14.00 15.00 16.00 17.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 41 40 43 40 25 45 35 35 35 28 33 30 25 28 25 30 25 Emulsi (%) 4 3 2 4 4 5 5 5 5 5 5 5 3 4 2 5 Air (%) 12 22 10 20 10 15 14 24 22 15 20 30 25 37 28 20 Sludge (%) 43 35 57 48 51 41 45 46 36 45 47 47 40 44 34 40 50 OIL UNDER FLOW CST Oil (%) 4 5 5 4 6 5 6 6 5 6 6 6 6 6 7 6 5 Emulsi (%) 4 4 3 4 4 4 4 5 3 5 3 4 5 3 3 3 3 Air (%) 30 41 35 33 35 30 32 25 30 20 25 27 30 32 24 25 30 Sludge (%) 62 50 57 59 55 61 58 64 62 68 66 63 59 59 66 66 62

Kadar Oil, Emulsi, Air dan Sludge diperoleh dengan cara melihat takaran yang terdapat pada tabung sentrifuge, dan standart mutu untuk Oil di COT adalah min 35 % sedangkan Oil di CST sebesar 5 % dan sesuai tabel data pengamatan di atas, oil yang diproses distasiun klarifikasi semuanya dalam keadaan yang layak di olah untuk proses selanjutnya dan alat-alat operasi masih dalam keadaan yang baik.

63

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan a. Pengolahan kelapa sawit menjadi CPO pada intinya melalui 4 proses utama yaitu pemisahan brondol dengan janjang, pencacahan dan pelumatan daging, pengepresan, dan pemurnian minyak. Sedangkan pengolahan kelapa sawit menjadi kernel (inti sawit) melalui proses pemisahan brondol dengan janjang, pencacahan dan pelumatan daging, pengepresan, pemisahan serabut dengan inti dan pemisahan cangkang dengan inti. b. Setiap stasiun pada proses pengolahan CPO maupun Kernel selalu diawasi dan di ambil sampelnya setiap jam untuk mengetahui kondisi mesin pada stasiun tersebut. c. Mutu CPO pada SNI ialah FFA (<5%), Kadar Air (<0,5%), Kadar Pengotor (<0,5%). Pada analisis yang dilakukan tidak ada yang melebihi batas, apabila melebihi batas SNI maka minyak yang melebihi batas SNI akan dicampurkan dengan minyak dengan kadar yang sangat rendah, sehingga pencampuran tersebut dapat menghasilkan mutu minyak yang tidak melebihi SNI. 6.2. Saran a. Seharusnya ada pengujian terhadap kernel, dengan melihat minyak yang ada pada kernel bukan hanya melihat berapa total losses. b. Sebaiknya dilakukan pengujian bilangan iodin karena bilangan iodin dapat menentukan derajat ketidakjenuhan minyak/ lemak, semakin tinggi nilai ketidakjenuhan maka semakin baik kualitas minyak tersebut

64

DAFTAR PUSTAKA Almatsier, S., (2004), Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Andry. 2008, Teknologi Lemak Dan Minyak. http://www.pdf-search-engine.com. Diakses tanggal 28 Oktober 2011 Anonim. 2010. Komoditi Kelapa Sawit.

Sregionalinvestment.com/newsipid/.../2/oilpalm_kajianpeluanginvestasi.p df. Diakses Tanggal 8 Februari 2012.

Belitz, H.D, Grosch, W., 1999, Food Chemistry. Second Ed, Springer, Berlin Buckle, K. A., 1987, Ilmu Pangan. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono, Universitas Indonesia, Jakarta Dinas Perindustrian dan Pedagangan, 2010, Kinerja Ekspor CPO dan Produk Turunannya Asal Indonesia Menurut Negara Tujuan Ekspor,

Disperindag, Medan. Fessenden, R . J dan Fessenden, J. S , 1986, Kimia Organik. Edisi Ketiga. Jilid 2, Erlangga, Jakarta Ketaren, S., 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Cetakan Pertama. Universitas Indonesia. Jakarta Mangoensoekarjo, S., 2003. Manajemen agrobisnis Kelapa Sawit cetakan Pertaman. Gajah Mada University Press. Jakarta Marunduri, F. J., 2009. Pengaruh Waktu Inap CPO pada Storage Tank Terhadap Kadar Asam Lemak Bebas, Kadar Air, dan Kadar Kotoran di PTPN III Tebing Tinggi PKS Kebun Rambutan, Universitas Sumatera Utara, Medan. Naibaho, M. P., 1996, Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan Sastrosayono, S., 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.

65

SNI01-2901-2006,

2006,

Standar

Mutu

Minyak

Kelapa

Sawit,

http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.id/files/SNI Diakses 3 Februari 2012

01-2901-2006.pdf

Sudarmadji, 1984, Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian, Liberty, Yogyakarta. Winarno, F.G., 1991, Kimia Pangan dan Gizi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

66

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->