ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GASTRO ENTERITIS (GE

)
GASTRO ENTERITIS (GE) A. Pengertian Diare adalah suatu keadaan bertambahnya kekerapan dan keenceran buang air besar. Kekerapan yang masih di anggap normal adalah sekitar 1-3 kali dan banyaknya 200-250 gram sehari. Beberapa kasus klien mengalami peningkatan kekerapan dan kenceran buang air besar walaupun jumlahnya kurang dari 250 mg dalam kuraun waktu sehari (Soeparman 1990). B. Faktor pencetus timbulnya diare 1. a. Pengurangan atau penghambatan ion-ion. b. Perangsangan dan sekresi aktif ion-ion pada usus (Secretory diarrhea) 2. Terdapatnya zat yang sukar diabsorbsi atau cairan dengan tekanan osmotik yang tinggi pada usus(obat pencahar/ lansansia) 3. Perubahan pergerakan dinding usus. D. Gejala klinik - Diare yang berlangsung lama (berhari-hari atau berminggu-minggu) baik secara menetap atau berulang ? panderita akan mengalami penurunan berat badan. - Berak kadang bercampur dengan darah. - Tinja yang berbuih. - Konsistensi tinja tampak berlendir. - Tinja dengan konsistensi encer bercampur dengan lemak. - Penderita merasakan sekit perut. - Rasa kembung. - Kadang-kadang demam. E. Pendekatan diagnosis dari aspek tinja 1. Volume tinja yang banyak ? diare berasal dari kelainan usus halus dan permulaan usus besar. 2. Tinja yang sedikit dan berlendir (dengan peningkatan kemendadakan serta kekerapan buang air besar) ? kelainan berasal dari kolon desenden, sigmoid dan rektum. 3. Tinja yang berlendir dan bercampur dengan darah ? peradangan usus besar. 4. Tinja yang berbau busuk ? menunjukan adanya pembusukan asamamino yang tidak diserap. F. Pemeriksaan 1. Laboratoris (pemeriksaan darah) Peningkatan LED (pada penyakit Chron dan kolitis). Anemia terjadi pada penyakit malabsorbsi. Di jumpai pula hipokalsemia dan avitaminosis D, peningkatan serum albumin, fosfatase alkali dan masa protrombin pada klien dengan malabsorbsi. Penuruna jumlah serum albumin pada klien penyakit chron. 2. Radiologis - Barrium Foloow through ? penyakit chron. - Barrium enema ? skip lession, spasme pada sindroma kolon iritable.

3. Kolonoskopi Pemeriksaan ini di anjurkan pada pasien yang menderita peradangan kolon. G. Penatalaksanaan 1. Pengaturan diet Bila terjadi konstipasi berikan makan dengan makanan tinggi serat. Di anjurkan untuk menghindari susu. 2. Pengaturan obat-obatan H. Pengkajian 1. Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan faktor pendukung terjadinya diare, serta biopsiko- sosio- spiritual. 2. Keluhan dan pemeriksaan fisik - Nyeri/ kolik pada perut bagian bawah yang berkurang dengan pergerakan usus. - Malaise. - Kadang demam. - Peningkatan pengeluaran tinja. - Adanya lendir atau pus di dalam tinja. - Anoreksia. - Penurunan berat badan. - Obstruksi intestinal. - Peningkatan bising usus (khususnya di kuadran kanan bawah). - Tinja yang lembek atau cair. - Flatus. I. Masalah dan rencana tindakan keperawatan 1. Perubahan pola eliminasi defekasi (diare) berhubungan dengan proses peradangan pada usus. Tujuan: Pasien menunjukan adanya pola eliminasi yang berangsur normal dalam frekwensi dan konsistensi tinja. a. Kaji kebiasaan pasien dalam melakukan buang air besar (frekwensi dan konsistensi). b. Perhatikan dan catat karakteristik, faktor presipitasi dari diare. c. Siapkan bedpan atau kamar kecil yang selalu siap di gunakan. d. Bersihkan bedpan secepatnya dan gunakan pewangi untuk mengurangi bau. e. Kurangi makan atau minuman yang menjadi faktor pencetus diare (jika di ketahui). f. Kolaborasi dalam pemberian antispamodic, antidiare, dan antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus. g. Kolaborasi dalam pemberian anti inflamasi dan steroid. 2. Resiko terjadinya gangguan keseimbangan cairan (defisit) berhubungan dengan diare Tujuan: Selama dalam perawatan tidak terjadi defisit cairan. a. Kolaborasi dalam pemeriksaan status cairan dengan (pemeriksaan BJ Plasma). b. Pertahankan pemberian cairan oral yang adekuat. c. Hitung dengan tepat selisih antara jumlah cairan yang masuk dan yang keluar. d. Kolaborasi dalam pemberian cairan perpar enteral jika di perlukan. e. Observasi tanda-tanda terjadinya defisit cairan (membran mukosa, turgor kulit, produksi urin, peningkatan temperatur, kelemahan, peningkatan BUN. 3. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan atau berkurangnya kemampuan usus dalam melakukan absorbsi makanan. Tujuan : selama dalam perawatan pasien tidak mengalami penurunan berat

Kaji dan catat adanya distensi abdomen. b. Kolaborasi dalam pemberian analgesik dan anti kolinergik. pedas. Timbang BB setiap hari. e. karaktristik nyeri dan lokasinya. d. f. Observasi keluhan serta TTV.010. Jaga daerah sekitar bokong agar tetap kering dan tidak lembab. 2. mata tidak cowong dan ubun-ubun besar tidak cekung. Kaji keadaan kulit pasien terutama pada bagian bokong dan sekitarnya yang mudah lecet akibat feces yang bersifat asam. Pantau intake dan out put R/ Haluaran dapat melebihi masukan. Kriteria : ? Tanda-tanda vital dalam batas normal ? Tanda-tanda dehidrasi (-). Kaji kebutuhan nutrisi pasien sesuai dengan kebutuhan individual pasien (berdasarkan usia dan berat badan). susu) e. 4. c. 5. d. 3. Anjurkan pada pasien untuk rileks serta ajarkan tehnk relaksasi serta beberapa cara untuk mengurangi rasa nyeri. d. turgor kulit elastis. Kolaborasi dalam pemberian Zat besi jika terjadi anemia dan anti emetik jika pasien mengalami mual. b. ? BGA dalam batas normal Intervensi : 1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan (dehidrasi) R/ Penurunan volume cairan bersirkulasi menyebabkan kekeringan jaringan dan pemekatan urine. Observasi keadaan kulit sekitar bokong. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit. BUN dalam batas normal. c. yang sebelumnya tidak mencukupi untuk mengkompensasi kehilangan cairan. c. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengeluaran feces secara terus menerus Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit selama dalam perawatan a. haluaran urine terkontrol.a. b. membran mukosa basah. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat haluaran tak adeguat untuk membersihkan sesa metabolisme. ? Konsistensi BAB liat/lembek dan frekuensi 1 kali dalam sehari ? Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit BJ urine 1. Anjurkan pada pasien untuk mengganti sering ganti posisi pada saat istirahat terlentang. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kram pada abdominal Tujuan: Rasa nyeri berkurang atau hilang a.008-1. . Anjurkan pada pasien untuk mengurangi beberapa jenis makan yang dapat menimbulkan diare (makanan yang berlemak. Jika diare berkurang berikan peningkatan jenis makanan secara bertahap (lembut dan berkalori tinggi ? kasar kemudian biasa). Rencana Asuhan Keperawatan Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap diare. R/ Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilangan cairan. Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif. Tujuan : Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan secara optimal. Bersihkan sekitar lokasi bokong secara adekuat. Sajikan makanan dan minuman dalam keadaan hangat.

b. 8. Kolaborasi : a. antispasmolitik dan antibiotik) R/ Antisekresi berfungsi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit untuk keseimbangannya. 5. b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan diare Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria : ? Nafsu makan baik ? BB ideal sesuai dengan umur dan kondisi tubuh ? Hasil pemeriksaan laborat protein dalam batas normal (3-5 mg/dalam) Intervensi : 1. R/ Makanan ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus. oralit dan pedyalit mengandung elektrolit sebagai ganti cairan yang hilang secara peroral. makan setengah padat/makanan padat. 5. 6. R/ Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi releks dan menyenangkan. Kolaborasi : a. protein dan vitamin. R/ Makanan sebagai bahan yang dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dan katabolisme serta peningkatan daya tahan tubuh terutama dalam keadaan sakit. R/ Pada diare dengan usus yang terinfeksi enzim laktose inaktif sehingga intoleransi laktose. Antispasmolitik berfungsi untuk proses absrobsi normal. K dan Ca serta BUN) R/ Serum elektrolit sebagai koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit. Ciptakan lingkungan yang menyenagkan selama waktu makan dan bantu sesuai dengan kebutuhan. R/ Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang intakenya atau dehidrasi berat perlu pemeberian cairan cepat melalui IV line sebai pengganti cairan yang telah hilang. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan yang berserat tinggi. Pemberian cairan parenteral (IV line) sesuai dengan umur dan penyulit (penyakit penyerta). Obat-obatan (antisekresi. Pemeriksaan serum elektrolit (Na. 9. Penatalaksanaan rehidrasi : a. Antibiotik sebagai antibakteri berspektrum luas untuk menghambat endoktoksin. Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg diberi makan susu/cair dan padat R/ Makanan cukup gizi dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan. 1 tahun/> 1 tahun dengan BB < 7 kg diberi susu (ASI atau formula rendah laktosa). Bula menyebarkan gelombang udara dan mengurangi distensi. berlemak dan air panas atau dingin) 2. 3. R/ Perubahan berat badan yang menurun menggambarkan peningkatan kebutuhan kalori. Dietetik anak . oralit atau pedyalit 10 cc/kg BB/mencret. BUN untuk mengetahui faali ginjal (kompensasi). . Penjelasan yang diterima dapat membuka jalan pikiran untuk mencoba dan melaksanakan apa yang diketahuinya. Timbang BB setiap hari 4. Diskusikan dan jelaskan tentang pentingnya makanan yang sesuai dengan kesehatan dan peningkatan daya tahan tubuh. Anjurkan keluarga bersama klien untuk meinum yang banyak (LGG. K dan glukosa dalam LGG. 7.4. R/ Kandungan Na.

pernapasan. 3. Atur posisi klien selang 2-3 jam. 4. Risiko injuri kulit (area perianal) berhubungan dengan peningkatan frekuensi diare Tujuan : Injuri kulit tidak terjadi Kriteria : ? Integritas kulit utuh ? Iritasi tidak terjadi ? Kulittidak hiperemia.b. Untuk itu pengertian akan mendorong keluarga untuk mengatasi masalah tersebut. ? Tanda-tanda vital Terjadi peningkatan suhu tubuh. 2. R/ Posisi yang bergantian berpengaruh pada proses vaskularisasi lancar dan mengurangi penekanan yang lama. ? Bila terjadi kekurangan cairan didapatkan : Haus Lidah kering Tulang pipi menonjol Turgor kulit menurun Suara menjadi serak ? Bila terjadi gangguan biokimia : Asidosis metabolik Napas cepat/dalam (kusmaul) . c. R/ Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat dikurangi dengan menjaga kebersihan dan pemberian lotion dari iritasi. Supporatif (pemberian vitamin A) R/ Vitamin merupakan bagian dari kandungan zat gizi yang diperlukan tubuh terutama pada bayi untuk proses pertumbuhan. Rehidrasi parenteral (IV line) R/ Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang intakenya atau dehidrasi berat perlu pemeberian cairan cepat melalui IV line sebai pengganti cairan yang telah hilang. Informasi yang adeguat melalui metode diskusi dapat memberikan gambaran tentang pentingnya kebersihan dan keadaran partisipasi dalam peningkatan kesehatan. c. R/ Kooperatif dan partisipati sangat penting untuk peningkatan dan pencegahan untuk mencegah terjadinya disintegrasi kulit yang tidak diharapkan. 5. R/ Kebersihan mencegah aktivitas kuman. Pemeriksaan fisik. R/ Kelembaban dan keasaman faeces merupakan faktor pencetus timbulnya iritasi. sehingga mencegah ischemia dan iritasi. Lindungi area perianal dari irtasi dengan pemeberian lotion. dan disertai ada atau tidak ada peningkatan nadi . serta alasnya. Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga kebersihan di tempat tidur . Libatkan dan demonstrasikan cara perawatan perianal bila basah akibat diare atau kencing dengan mengeringkannya dan mengganti pakaian bawah. Menganjurkan keluarga untuk mengganti pakaian bawah yang basah.atau iscemia ? Kebersihan peranal terjaga dan tetap bersih ? Keluarga dapat mendemonstrasikan dan melakasnakan perawatan perianal dengan baik dan benar Intervensi : 1.

pembatasan diet. R/ Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal. Perubahan kenyamanan berhubungan dengan kram abdomen. Intervensi : 1.. b. . Dorong klien untuk berbaring dalam posisi terlentang dnegan bantalan penghangat di atas abdomen. susu. teh encer. ? Menyebutkan makanan yang harus dihindari. 5. R/ Tindakan ini meningkatkan relaksasi otot GI dan mengurangi kram. Muka pucat Ujung-ujung ektremitas dingin Sianosis ? Bila perfusi ginjal menurun Anuria Nekrosis tubular akut. Arif. diare dan muntah sekunder akibat dilatasi vaskuler dan hiperperistaltik. Lemak juga meningkatkan peristaltik dan kafein meningkatkan motilitas usus. R/ cairan yang dingin merangsang kram .. . pembatasan diet. 3. agaragar. air) 30 sampai 60 ml tiap 1/2 sampai 1 jam. (Mansjoer.? Bila banyak kekurangan kalium Aritmia jantung ? Bila syok hipovolumik berat Nadi cepat lebih 120 x/menit Tekanan darah menurun sampai dari tak terukur. ? Kriteria hasil : Klien akan : ? Melaporkan penurunan kram abdomen. Lindungi area perianal dari iritasi. Instruksikan klien untuk menghindari hal ini : a. Kafein. 1999). air jahe. Singkirkan pemadangan yang tidak menyenangkan dan bau yang tidak sedap dari lingkungan klien. Dorong masukan jumlah kecil dan sering dari cairan jernih (misal. Risiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik yang berhubungan dnegan kurang pengetahuan tentang kondisi. Cairan yang panas dan dingin. et all. dan tanda-tanda serta gejala komplikasi Tujuan : Pengetahuan klien tentang kondisi. buah) c. 2. ? Tujuan : Klien merasa nyaman. cairan panas menrangsang peristaltik . dan tanda-tanda serta gejala komplikasi adekuat. Pasien gelisah. 4. Maknan yang mengandung lemak dan serat (misal . R/ Cairan dalam jumlah yang kecil cairan tidak akan mendesak area gastrik dan dengan demikian tidak memperberat gejala. ? Kriteria hasil : ? Klien dapat menjelaskan kembali kepada perawat setelah penjelasan dari perawat. R/ Pemandangan yang tidak menyenangkan atau bau tak sedap merangsang pusat muntah.

R/ Makann ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus. Junadi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. R/ Deteksi dini dan pelaporan tanda dehidrasi memungkinkan intervensi segera untuk mencegah ketidakseimbangan cairan atau elektrolit serius. Jelaskan pentingnya mempertahankan kesimbangan antara masukan cairan oral dan haluaran cairan. Jelaskan pembatasan diet : a. 1982.Intervensi : 1. Feses berdarah. Air yang sangat panas atau dingin. 2. Nursing Care Planning Guides For Adult. Desinfeksi area permukaan dengan desinfektan yang mengandung tinggi alkohol. R/ Penyebaran virus dapat dikontrol dengan desinfeksi area permukaan area (kamar tidur) dan peralatan makan. 1990. c. Askep / Asuhan Keperawatan Gastro Enteritis ( GE ) Read more: . 3. Instruksikan untuk mencuci tangan dan : a. DAFTAR PUSTAKA Caine. 1985. makanan goreng). 5. b. Sylvia Anderson. Desinfeksi dengan kandungan alkohol rendah tak efektif melawan beberapa virus. Makanan tinggi serat (sekam & buah segar). Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. R/ Inaktivitas menurunkan peristaltik dan memungkinkan salurang GI untuk istirahat. Jakarta: EGC. c. Kapita Selekta Kedokteran. 1987. USA Baltimore: William & Wilkins. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Urine coklat gelap menetap selama lebih dari 12 jam. b. R/ Muntah dan diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi. Ajarkan klien dan keluarga untuk melaporkan gejala ini : a. Rendam peralatan makan dan termometer dalam larutan alkohol atau gunakan alat pencuci piring untuk peralatan makan. b. Pathofisiologi Konsep klinik Proses-Proses Penyakit. Price. Makanan tinggi lemak ( susu. Jelaskan manfaat istirahat dan dorong untuk istirahat adekuat. Randy Marion. 4. Soeparman. Purnawan. Tidak mengijinkan menggunkan bersama alat-alat dengan orang sakit.

1997). 1999).html#ixzz1rX B3taSK Selasa. 2. 4. dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto.kapukonline. ETIOLOGI 1. dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah. 27 Maret 2012 Askep GE Pada Anak Askep Anak Dengan Gastro Enteritis ( GE ) / Diare KONSEP DASAR A. (www. Faktor infeksi . Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi.2007) B.medicastore.com/2011/09/askepasuhankeperawatangastroenteritis. PENGERTIAN 1.http://www. Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan. Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. 3.

Campylobacter. dll). bronkopneumonia.· Infeksi enteral. tonsilitis. PATOFISIOLOGI Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah: 1. Faktor Makanan: Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi. Faktor Malabsorbsi Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa. merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut. ensefalitis dan sebagainya. Yersinia. G. Rotavirus. fruktosa dan galaktosa). meliputi infeksi bakteri (Vibrio. monosakarida (intoleransi glukosa. Astrovirus. dsb). · Infeksi parenteral. Adenovirus. infeksi parasit (E. infeksi virus (Enterovirus. infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare. Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. 3. coli. Faktor Psikologis Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas) C. Salmonella. T. beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Aeromonas. hystolytica. maltosa dan sukrosa). Gangguan osmotic Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. 4. . albicans).lamblia. 2. E. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein. Shigella. hominis) dan jamur (C.

Berak cair terusmenerus .Kadang panas .Berak cair 1-2 kali sehari .Masih mau makan .Haus sekali .Masih mau bermain Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang. D.Tanda-tandanya: .Tidak kencing 6 jam atau lebih - . air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus. Tanda-tandanya: . Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi.Tangan dan kaki dingin .Tidak mau bermain . Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan.Sangat lemah . · Demam.Kadang muntah 1-2 kali sehari .Haus Tidak mau makan .Badan lesu lemas Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat. selanjutnya dapat timbul diare pula. · Nyeri Abdomen · Membran mukosa mulut dan bibir kering · Fontanel Cekung · Kehilangan berat badan · Tidak nafsu makan · Lemah Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan).Bibir kering dan biru .Mata cekung .2.Berak cair 4-9 kali sehari .Haus tidak ada .Muntah tidak adaB .Muntah terus-menerus . 3. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare.Tanda-tandanya: . MANIFESTASI KLINIS · Muntah.Tidak mau makan .

Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul) Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tandatanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit).Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah. muka pucat. tulang pipi tampak lebih menonjol. mata cekung. akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Pasien mulai gelisah. · Dehidrasi · Renjatan hipovolemik · Kejang · Bakterimia · Mal nutrisi · Hipoglikemia . demam. turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. hematoschezia. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus. tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. nyeri perut dan atau kejang perut. lidah kering. berat badan berkurang. tenesmus. E. KOMPLIKASI.

suara serak. Pemeriksaan laboratorium.tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Dehidrasi ringan Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dari komplikasi Gastroentritis.10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun. penderita belum jatuh pada keadaan syok. Dehidrasi Sedang Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek. penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.bila memungkinkan. PENATALAKSANAAN · Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan). suara serak. . Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup. G. F. Dehidrasi Berat Kehilangan cairan 8 . Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal. dilakukan pembiakan terhadap contoh tinja. Pemeriksaan tinja.bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup. apatis sampai koma. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui kadar elektrolit dan jumlah sel darah putih. otot-otot kaku sampai sianosis. Untuk mengetahui organisme penyebabnya.· Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.terutama dilakukan pada penderita diare kronik. pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif.

5 gelas selanjutnya 0.ASI (Air Susu Ibu) diteruskan . beri anak minum lebih banyak dari biasanya .Berikan oralit .5 gelas setiap kali mencret Di bawah 5 thn (anak balita) 3 jam pertama 3 gelas. selanjutnya 1. · Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat Tindakan: .Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas: .ASI (Air Susu Ibu) diteruskan .Makanan diberikan seperti biasanya .Bila tidak ada perubahan segera bawa kembali ke Puskesmas terdekat.Tindakan: .Untuk mencegah dehidrasi.Oralit dan ASI diteruskan selama masih bisa minum Takaran Pemberian Oralit. Umur Jumlah Cairan Di bawah 1 thn 3 jam pertama 1.Teruskan pemberian makanan . mudah dicerna dan tidak merangsang .Sebaiknya yang lunak.5 gelas setiap kali mencret Anak diatas 12 thn & dewasa 3 jam pertama 12 gelas. segera bawa ke Puskesmas terdekat · Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang Tindakan: .Segera bawa ke Rumah Sakit / Puskesmas dengan fasilitas Perawatan . selanjutnya 1 gelas setiap kali mencret Anak diatas 5 thn 3 jam pertama 6 gelas.Bila keadaan anak bertambah berat. selanjutnya 2 gelas setiap kali mencret (1 gelas : 200 cc) Prinsip Penatalaksanaan a.

2) Jumlah cairan yang hendak diberikan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus: Mengukur BJ Plasma Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus: BJ Plasma . yakni: · diare ringan. kebutuhan cairan = 5% x kg BB · diare sedang.025 ———————. kebutuhan cairan = 10% x kg BB . Memberikan terapi simtomatik Memberikan terapi definitif.1. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0. Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan.9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7.5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. kebutuhan cairan = 8% x kg BB · diare ringan. yaitu: 1) Jenis cairan yang hendak digunakan.001 Metode Pierce Berdasarkan keadaan klinis.x BB x 4 ml 0.Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat. Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya. Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.

2. sopor atau koma = 2 · Frekuensi napas >30 x/mnt = 1 · Facies cholerica = 2 · Vox cholerica = 2 · Turgor kulit menurun = 1 · Washer women’s hand = 1 · Ekstremitas dingin = 1 · Sianosis = 2 · Usia 50-60 tahun = 1 · Usia >60 tahun = 2 Kebutuhan cairan = Skor——– x 10% x kgBB x 1 ltr 3) Jalan masuk atau cara pemberian cairan Rute pemberian cairan pada orang dewasa meliputi oral dan intravena.Metode Daldiyono Berdasarkan skoring keadaan klinis sebagai berikut: · Rasa haus/muntah = 1 · BP sistolik 60-90 mmHg = 1 · BP sistolik <60 mmHg = 2 · Frekuensi nadi >120 x/mnt = 1 · Kesadaran apatis = 1 · Kesadaran somnolen.5 g KCl stiap liternya diberikan per oral pada diare ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah rehidrasi inisial untuk mempertahankan hidrasi. Larutan orali dengan komposisi berkisar 29 g glukosa. 3.5 g NaBik dan 1.5 g NaCl. .

Jadual pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam ke-3 didasarkan pada kehilangan cairan selama 2 jam fase inisial sebelumnya. 2) Disentriform. jamur dan Rotavirus biasanya menyusul setelah melihat hasil pemeriksaan penyaring. Pemeriksaan khusus seperti serologi amuba.Gangguan keseimbangan cairan. Pemeriksaan penunjang yang telah disinggung di atas dapat diarahkan sesuai manifestasi klnis diare. analisa gas darah. Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk diare yang diakibatkan oleh bakteri entero-invasif karena memperpanjang waktu kontak bakteri dengan epitel usus yang seyogyanya cepat dieliminasi. diare dengan tinja bercampur lendir kental dan kadang-kadang darah. kreatinin dan BJ plasma. Dengan demikian. rehidrasi diharapkan lengkap pada akhir jam ke-3. elektrolit. diare dengan tinja terutama terdiri atas cairan saja. Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan dengan keadaan klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui pemeriksaan biakan tinja disertai dengan pemeriksaan urine lengkap dan tinja lengkap.4) Jadual pemberian cairan Jadual rehidrasi inisial yang dihitung berdasarkan BJ plasma atau sistem skor diberikan dalam waktu 2 jam dengan tujuan untuk mencapai rehidrasi optimal secepat mungkin. Widal.Memberikan terapi simtomatik Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan keuntungannya. .Memberikan terapi definitif. Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan sebagai berikut: 1) Koleriform. c. d. b. elektrolit dan asam basa diperjelas melalui pemeriksaan darah lengkap.Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi. preparat malaria serta serologi Helicobacter jejuni sangat dianjurkan.Bila ada demam tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik pemeriksaan biakan empedu. ureum.

Buang air besar disembarang tempat .gelisah.psikal assessment. tidak memerluka terapi spesifik 4) C.1992 adalah : Identitas klien.suhu tubuh meningkat.Menggunakan sumber air yang tercemar .PENGKAJIAN.observasi.Pencemaran makanan oleh serangga (lalat.Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi: 1) Kolera-eltor: Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.Pemakaian botol susu yang tidak bersih . Riwayat keperawatan. 3) E. dll) atau oleh tangan yang kotor. parahaemolyticus. spesifik 5) A. perfringens. aureus : Kloramfenikol 6) Salmonellosis: Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan Quinolon seperti Siprofloksasin7) Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol 8) Helicobacter: Eritromisin 9) Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol 10) Giardiasis: Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol 11) Balantidiasis: Tetrasiklin 12) Candidiasis: Mycostatin 13) Virus: simtomatik dan suportif Penyakit Diare dapat ditularkan melalui: . Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data. Awalan serangan : Awalnya anak cengeng. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi. coli. 2) V. Kaji data menurut Cyndi Smith Greenberg. kecoa. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE A.analisa data dan penentuan masalah.anoreksia kemudian timbul .

Kebutuhan dasar. Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari. Pada bayi ubun-ubun besar cekung. Riwayat penyakit yang diderita. Riwayat psikososial keluarga.anopreksia.tonus dan turgor kulit berkurang. Pola nutrisi : diawali dengan mual.muntah. .diare. Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.muntah.bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi. Riwayat kesehatan masa lalu.riwayat pemberian imunisasi.BAK sedikit atau jarang.menyebabkan penurunan berat badan pasien.selaput lendir mulut dan bibir kering.kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak. Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga.mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah. Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.setelah menyadari penyakit anaknya.frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer. Keluhan utama : Faeces semakin cair. Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.berat badan menurun.

d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.ubun-ubun besar. · Nyeri (akut) b. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif. DIAGNOSA KEPERAWATAN · Kekurangan volume cairan b. Pemeriksaan tinja.nadi cepat dan lemah. Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.suhu tubuh tinggi. Pemeriksaan penunjang.anus kemerahan.selaput lendir.Pemerikasaan fisik.d hiperperistaltik. iritasi fisura perirektal. B. Pemeriksaan sistematik : Inspeksi : mata cekung. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis Auskultasi : terdengarnya bising usus.mulut dan bibir kering.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).berat badan menurun.pernapasan agak cepat.kesadran composmentis sampai koma.d perubahan status kesehatan anaknya . · Kecemasan keluarga b. Perkusi : adanya distensi abdomen. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah. · Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.

RENCANA KEPERAWATAN Dx. elektrolit dan keseimbangan asam basa Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui Dx.· Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi. tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium Menilai status hidrasi. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan bera badan Intervensi Rasional Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual) Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi Intervensi Rasional Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasiPantau intake dan output. prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan informasi terbatas. Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.d perpisahan dengan orang tua. · Kecemasan anak b. salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif. Menurunkan kebutuhan metabolik Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian .2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti. lingkungan yang baru C. Kaji tanda vital.

mencegah iritasi Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5). petunjuk verbal dan non verbal . Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen Meningkatkan relaksasi. misalnya dengan lutut fleksi.3 : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik. Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet Memenuhi kebutuhan nutrisi klien Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut Dx. mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit Melindungi kulit dari keasaman feses.makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. perubahan karakteristik nyeri. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan. Tujuan : Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal Intervensi Rasional Atur posisi yang nyaman bagi klien. iritasi fisura perirektal.

prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas. termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya. serta mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah. Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian Ciptakan lingkungan yang tenang. Tujuan : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya.5 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi. Tujuan : Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang. Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan Dx. Intervensi Rasional Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran. tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien. salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif. Intervensi Rasional Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya Dx. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang .4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.

Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya Dx. 6 : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua. bila dalam evaluasi belum teratasi . Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang. penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari. Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien Jelaskan tentang tujuan pemberian obat.pengetahuan sebelumnya. kemudian disusun rencana. kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya. frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan. dosis. EVALUASI Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. lingkugan yang baru Tujuan : Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan Intervensi Rasional Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perawatn yang dilakukan Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan klien Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimun D.

Media Aesculapius. (2001). Diagnosa dan Pelaksanaan. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh. Jakarta. Kapita Selekta Kedokteran. Salemba Medika. (2001). (2007). Jakarta. Arif. Yogyakarta. Salemba Medika. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan. Diagnose Nanda: Nic dan Noc. Graha Ilmu. Cemas pada klien teratasi.Soegeng. Integritas kulit kembali normal. (2002). Media Aesculapius. Rasa nyaman terpenuhi. Jakarta. (2007). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Nanda. Soegijanto. Kapita Selekta Kedokteran.maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai. Jakar . Jakarta. Nursalam. DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. Nursalam. (2002). Pengetahuan kelurga meningkat. Jilid II. Asuhan Keperawatan Pada Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan). Jilid I. Arif. Setiadi. Mansjoer. Arif. Ilmu Penyakit Anak. Jakarta. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Salemba Medika. (2005). (2000). Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Penyakit. Mansjoer.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful