MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 10 MUNTOK MATA PELAJARAN IPS TENTANG ALAT KOMUNIKASI MASA LALU

DAN MASA KINI DENGAN METODE DEMONSTRASI
DAN

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IIIB SD NEGERI 10 MUNTOK BANGKA BARAT TENTANG JENIS PEKERJAAN DENGAN METODE MAKE A MATCH

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK 4501) sebagai salah satu syarat dalam menempuh Tugas Akhir Program S-1 PGSD

Disusun Oleh :

ISRIYANTO NIM. ...........................

UNIVERSITAS TERBUKA UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH PANGKALPINANG 2011

1

LEMBAR IDENTIFIKASI DAN PENGESAHAN

Nama Mahasiswa NIM Program Studi Tempat Mengajar

: ISRIYANTO : ......................... : S1 PGSD : SD Negeri 10 Muntok Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat

Perbaikan Pembelajaran Tempat Pelaksanaan Tanggal Pelaksanaan Judul

: 3 siklus : SD Negeri 10 Muntok : 16 Maret 2011 sampai tanggal 30 Maret 2011 : ” MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 10 MUNTOK MATA PELAJARAN IPS TENTANG ALAT KOMUNIKASI MASA LALU DAN MASA KINI DENGAN METODE DEMONSTRASI”

Masalah yang menjadi fokus perbaikan : ”Bagaimana meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini dengan menggunakan metode demonstrasi di kelas IV SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat”.

Supervisor,

Muntok, 1 Mei 2011 Mahasiswa,

JUNIAR, S.Pd NIP. 19650117 198903 2 005 1965052119

ISRIYANTO NIM. .........................

Mengetahui, Kepala UPBJJ Pangkalpinang

Dr. MAMAN RUMANTA, M.Si NIP : 196305091989031002

2

SURAT PERNYATAAN

Laporan PKP Program S1 PGSD yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 10 Muntok Mata Pelajaran IPS Tentang Alat

Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini Dengan Metode Demonstrasi adalah hasil

karya sendiri, dan seluruh sumber yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan benar.

Apabila dikemudian hari ternyatakan ditemukan adanya penjiplakan (plagiat), maka saya bersedia meneria sanksi akademik berupa pembatalan kelulusan saya.

Muntok, 1 Mei 2011 Yang Menyatakan,

ISRIYANTO NIM. .........................

3

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 10 MUNTOK MATA PELAJARAN IPS TENTANG ALAT KOMUNIKASI MASA LALU DAN MASA KINI DENGAN METODE DEMONSTRASI
Oleh :

ISRIYANTO NIM. ......................... ABSTRAK
Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Dengan belajar aktif, melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Hal ini dapat tercapai dengan keberhasilan proses belajar yang dilaksanakan, dengan dukungan metode dan alat peraga yang digunakan. Penelitian masalah meningkatkan aktivitas siswa pada materi Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini di kelas IV SD Negeri 10 Muntok telah dilaksanakan pada bulan Maret 2011 (16 – 30 Maret 2011). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai hasil belajar siswa karena minat siswa dalam pembelajaran sangat kurang. Hal ini disebabkan oleh metode guru dalam menyajikan pelajaran tidak efektif dan tidak sesuai untuk materi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, hasil belajar siswa dan aktivitas siswa dalam mata pelajaran IPS khususnya materi Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini. Selain itu juga untuk meningkatkan profesionalisme guru dengan menambah pengalaman dan pengetahuan dalam menerapkan metode mengajar. Data penelitian diperoleh hasil bahwa nilai rata-rata siswa selama proses perbaikan pembelajaran dari siklus I sampai siklus III mengalami peningkatan mencapai 100 % sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 10 Muntok pada mata pelajaran IPS materi Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini.

Kata Kunci : Metode demonstrasi, Hasil Belajar, dan Alat Komunikasi.

4

KATA PENGANTAR

S
1. 2. 3. 4. 5. 6.

yukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Banyak kendala yang dihadapi penulis dalam menyusun laporan ini, namun

berkat dan karunia-Nya yang disertai kemauan, ketekunan, serta usaha yang keras dari semua pihak terutama dari supervisor, maka kendala tersebut dapat teratasi. Melalui laporan ini, penulis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada : Bapak Dr. Maman Rumanta, M.Si selaku Kepala UPBJJ – UT Pangkalpinang. Ibu Juniar, S.Pd selaku Supervisor. Bapak Sugiarso, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah SD Negeri 10 Muntok. Bapak Sahana, S.Pd selaku teman sejawat. Rekan-rekan guru SD Negeri 10 Muntok. Murid-murid kelas IV SD Negeri 10 Muntok. Sesungguhnya penulis menyadari banyak sekali kekurangan dan kejanggalan yang terdapat dalam laporan ini. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan di dalam penyusunan laporan ini. Harapan penulis mudah-mudahan laporan ini dapat memberikan manfaat yang berguna untuk lembaga pendidikan. Khususnya bagi rekan-rekan guru dalam membentuk peserta didik sebagai sumber daya manusia yang bermutu..

Muntok, 30 Maret 2011 Penulis

5

DAFTAR ISI
Halaman Lembar Identifikasi dan Pengesahan ......................................................................... i Surat Pernyataan ........................................................................................................ ii Abstrak ...................................................................................................................... iii Kata Pengantar ........................................................................................................... iv Daftar Isi ..................................................................................................................... v Daftar Lampiran ......................................................................................................... vi

I.

PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang .......................................................................................... 1 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2 Tujuan Perbaikan ...................................................................................... 2 Manfaat Perbaikan .................................................................................... 2

II.

KAJIAN PUSTAKA A. B. C. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar .......................................................... 3 Metode Demonstrasi ................................................................................ 5 Hasil Belajar .............................................................................................. 7

III. PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. B. Subjek Penelitian ..................................................................................... 10 Perbaikan Pembelajaran .......................................................................... 10

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. B. V. Hasil Penelitian ........................................................................................ 13 Pembahasan .............................................................................................. 14

KESIMPULAN DAN SARAN A. B. Kesimpulan .............................................................................................. 17 Saran ........................................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 18 LAMPIRAN ............................................................................................................. 19

6

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9

Rencana Pembelajaran ....................................................................... 19 Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus I ......................................... 21 Sistematika Laporan Siklus I ............................................................. 23 Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus II ....................................... 24 Sistematika Laporan Siklus II ........................................................... 26 Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus III ...................................... 27 Sistematika Laporan Siklus III........................................................... 29 Tabel Hasil Evaluasi Siswa Setiap Siklus .......................................... 30 Tabel Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran ...................................... 31

Lampiran 10 Tabel Lembar Observasi Guru ........................................................... 32 Lampiran 11 Dokumentasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus III .......................... 33 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Surat Pernyataan Teman Sejawat ...................................................... 34 Surat Keterangan Kepala Sekolah ..................................................... 34 Lembar Konsultasi ........................................................................... 36 Laporan Hasil Perbaikan .................................................................. 37

7

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pendidikan adalah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dimana setiap warga Negara berhak atas pendidikan itu. Dengan adanya pendidikan maka manusia dapat memperkaya diri dan mencapai taraf kebudayaan yang lebih tinggi, sehingga masing-masing manusia akan mengalami banyak perkembangan di berbagai bidang kehidupan. Pendidikan Sekolah Dasar bukan hanya memberikan bekal kemampuan intlektual, dasar dalam membaca, menulis dan berhitung saja melainkan juga berbagai proses pengembangan kemapuan dasar peserta didik secara optimal dalam segala aspek. Beberapa hal yang berpengaruh bagi peserta didik diantaranya saranaprasarana, motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran, serta profesionalisme guru, semangat siswa belajar terkadang menurun sehingga terkadang proses pembelajaran menjadi kurang menarik terutama pada jam-jam pelajaran terakhir. Mata pelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran utama non-eksak di sekolah dasar. Pembelajaran mata pelajaran ini biasa diajarkan secara konvensional hampir di setiap sekolah dasar, dengan metode klasik ceramah sehingga menciptakan kejenuhan dalam lingkungan belajar, dikarenakan siswa hanya cenderung mendengar dan mendengarkan. Dan hal tersebut menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap suatu materi ajar. Berkaitan dengan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran, ketika proses pembelajaran yang terjadi di kelas pada jam pelajaran terakhir, penulis menemukan ada siswa yang kelihatan pasif seperti tidak ada gairah belajar, sulit memahami pelajaran yang sedang diikuti bahkan ada yang sibuk dengan hal lain. Keadaan tersebut menyebabkan rendahnya kemampuan menguasai materi pembelajaran. Di kelas IV untuk materi Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini, dari 23 siswa, hanya 17,39% siswa yang memperoleh nilai > KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 65. Jadi hanya 4 orang siswa yang mendapat nilai > 65. Sedangkan 19 orang siswa lainnya mendapat nilai di bawah 65.

8

Setelah guru melakukan pengamatan di dalam kelas IV dan refleksi pembelajaran yang telah dilakukan salah satu penyebab rendahnya pencapaian KKM siswa kemungkinan adalah metode pembelajaran yang dilakukan tidak

mengaktivkan siswa. Oleh karena itu penulis berupaya meningkatkan aktivitas belajar siswa yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Demonstrasi. B. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah, rumusan masalah yang menjadi fokus perbaikan dan pelitian adalah :”Bagaimana meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini dengan menggunakan metode demonstrasi di kelas IV SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat”. C. Tujuan Perbaikan 1. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat. 2. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode Demonstrasi dalam pembelajaran Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas IV di SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat. 3. Untuk mendeskripsikan penggunaan demonstrasi dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat.

D. Manfaat Perbaikan 1. Bagi Siswa a. Dapat meningkatkan minat dan aktifitas belajar siswa b. Menambah tingkat penguasaan materi pelajaran dari sebelumnya 2. Bagi Guru a. Dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar b. Dapat merefleksi kegiatan belajar mengajar 3. Bagi Sekolah a. Dapat meningkatkan mutu dan keberhasilan sekolah b. Membawa nama baik sekolah

9

II.

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran IPS di SD Pakar pendidikan melihat perilaku belajar sebagai proses psikologispedagogis yang ditandai dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang disengaja diciptakan. Menurut Suwarno (1981), bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan formal karena mempunyai bentuk (form) yang jelas dalam arti memiliki program yang telah direncanakan dengan teratur dan ditetapkan dengan resmi. Menurut Winaputra U. S at al (2008), tentang pendidikan IPS tidak bisa dilepaskan dari interaksi fungsional perkembangan masyarakat Indonesia dengan system dan praktisi pendidikannya. Jika dilihat secara analitik, praktis pendidikan IPS dalam kehidupan masyarakat bangsa Negara Indonesia yang sedang dalam proses pertumbuhan dengan segala krisis yang dialaminya, menunjukkan suatu bidang permasalahan yang utuh, menyeluruh, dan multi-dimensional. Di situ ada konstribusi pengalaman sejarah, kondisi objektif alam, social, ekonomi, politik, budaya, dan pengaruh dunia luar sebagai dampak dari kehidupan yang semakin mendunia. Oleh karena itu, pendekatan yang perlu digunakan dalam pengkajian pendidikan IPS adalah pendekatan holistic sebagai pendekatan yang menuntut kearifan intuisi dan bersifat ekologis. Tentu saja kaidah-kaidah keilmuan pada tataran epistomologi harus tetap menjadi rujukan konseptual. Dengan demikian, kajian pendidikan IPS tidak bisa tidak harus merupakan suatu kerangka konseptual sistematik atau integrated system of knowledge (pengetahuan yang terintgrade), synthetic discipline (disiplin) serta multi-dimensional. Menurut Wiyata dalam Suwarno (1981), alam perguruan adalah pusat pendidikan yang teristimewa berkewajiban mengusahakan kecerdasakan pikiran (perkembangan intlektual) beserta pemberian ilmu pengetahuan. Menurut Gagne, yang terpenting dalam pembelajaran adalah menciptakan suatu kondisi pembelajaran (ekstrnal) yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang bersifat internal. Menurut Dewi Salma dalam Suprayekti et al (2008), sampai saat ini pendidikan kita telah melalui tiga paradigma, yaitu paradigma pengajaran (teaching), pembelajaran (instruction), dan proses belajar (learning) :

10

1. Paradigma pengajaran (teaching) dapat diartikan bahwa pendidikan hanya terjadi di sekolah, dimana sudah ada guru yang mengajar. Guru sebagai satusatunya narasumber yang akan mentransfer ilmu. Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai penyaji materi artinya guru menjelaskan materi kepada siswa, sedangkan siswa menyimak dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Alat bantu mengajar yang digunakan oleh guru bersifat mendukung penjelasan guru, alat bantu tersebut ditentukan oleh guru. 2. Paradigma pembelajaran (instructional). Paradigma ini lebih memberikan perhatian kepada siswa. Dalam paradigma ini guru tidak hanya sebagai satusatunya narasumber dan tidak hanya sebagai pengajar, namun juga sebagai fasilitator yang membantu siswa belajar. Proses komonikasi dan pendekatan system mulai diterapkan pada paradigma ini, sebagai proses komonikasi, guru berperan sebagai komunikator/pengirim pesan. Tugas guru sebagai

komunikator adalah mengolah pesan dan menentukan penyampaian agar pesan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Penerapan pendekatan system yaitu guru sebagai subsistem berperan dalam merancang, mengelola dan menilai proses pembelajaran. Media digunakan sebagi sumber belajar dan guru sebagai fasilitator. 3. Paradigma proses belajar (learning). Paradigma ini menggali lebih dalam lagi seluruh aspek belajar, tidak hanya proses belajar yang berada dalam lingkungan pendidikan formal tapi juga di lembaga non formal. Menurut Piaget dan Vygotsky dalam Slameto (1995) pada proses pembelajaran siswa diharapkan mampu membangun pemahamannya sendiri. Hal senada dikemukakan oleh Eusta Supono (2004) bahwa titik pembelajaran bukan lagi teori tetapi praktik sehingga siswa mampu merumuskan pemahamannya sendiri dan guru cukup membimbing dan membantu. Menurut Sudjana (1989), pemahaman diartikan sebagai melihat suatu hubungan atau suatu ide tentang suatu persoalan. Sesuatu itu dipahami selagi faktafakta mengenai persoalan itu dikumpulkan. Selain itu pemahaman dapat diartikan sebagai suatu alat pengguna fakta, jika seseorang memahami suatu objek, proses, ide fakta dan melihat bagaimana menggunakan fakta itu dalam berbagai tujuan. Jadi, menurut Sudjana pemahaman dapat diartikan sebagai melihat penggunaan sesuatu

11

secara produktif berupa kemampuan seseorang untuk menangkap makna dari sesuatu yang telah atau sedang dipelajarinya. Menurut Bloom dalam W.S Winkel (1991), menyatakan bahwa pemahaman adalah kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari yang menyangkut kedalaman kognitif dan efektif yang dimiliki oleh individu misalnya seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain. Hamijoyo dalam Suprayekti et al (2008) mengemukakan inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahkan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. Seiring dengan pendapat Ibrahim dalam Suprayekti et al (2008), mendefinisikan inovasi pendidikan adalah inovasi (pembaruan) dalam bidang pendidikan atau inovasi yang dilakukan untuk memecahkan masalah pendidikan. Inovasi pendidikan merupakan suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil inverse atau diskoversi yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan. Cara guru mengajar yang menarik, menantang siswa berfikir dan berperan aktif akan mempengaruhi motivasi siswa secara positif. Hamalik O. (1995)

menyebutkan pembelajaran sebagai suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba untuk menggunakan model pembelajaran make a match untuk memotivasi siswa yang bertujuan untuk meningkatkan aktifitas belajar, hasil belajar dan pemahaman siswa pada pelajaran IPS dengan pokok bahasan Jenis Pekerjaan.

B. Metode Demonstrasi Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik untuk mencapai sesuatu maksud dalam ilmu pengetahuan.

12

Metode

mengajar

merupakan

cara

yang

digunakan

guru

dalam

membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai penjelasan lisan (Djamarah, 2006 : 90). a. Langkah-langkah Metode Demonstrasi 1) Persiapan Menciptakan kondisi belajar siswa untuk melakukan demonstrasi Menyediakan alat-alat yang akan didemonstrasikan Mengatur tempat duduk siswa

2) Pelaksanaan Mengajukan masalah kepada siswa tentang hal / materi yang akan didemonstrasikan dengan ceramah. Menjelaskan dan mendemonstrasikan dengan prosedur atau proses. Siswa mengamati / mengikuti pelaksanaan demonstrasi dengan baik. Memberikan penjelasan secara singkat dan padat pada saat

mendemonstrasikan materi. Mengadakan tanya jawab pada siswa.

3) Evaluasi / tindak lanjut Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan / mendemonstrasikan materi sendiri / berkelompok. Membuat kesimpulan hasil demonstrasi Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa. ( Djamarah, 2006 : 101). b. Kelebihan Metode Demonstrasi Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret, sehingga terhindar pemahaman yang verbalisme. Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari Proses pengajaran lebih menarik Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukan sendiri. ( Djamarah, 2006 : 91).

13

C. Hasil Belajar Penilaian hasil belajar merupakan aktivitas yang sangat penting dalam proses pendidikan. Semua proses di lembaga pendidikan formal pada akhirnya akan bermuara pada hasil belajar yang diwujudkan secara kuantitatif berupa nilai. Begitu pula, bahwa belajar sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar. Karena prestasi itu sendiri, merupakan hasil belajar itu biasanya dinyatakan dengan nilai. Menurut Winarno (1997), sebagai berikut “Prestasi belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”. Hasil belajar siswa diperoleh dari interaksi siswa dengan lingkungan yang sengaja direncanakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Mengajar tidak

hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran dari guru kepada siswa, akan tetapi merupakan seluruh kegiatan dan tindakan yang diupayakan oleh guru untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Untuk itu guru berperan sebagai fasilitator dan motifator agar terjadi proses interaksi pembelajaran yang melibatkan seluruh peserta didik. Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi belajar di antaranya faktor guru, siswa, kurikulum, dan lingkungan. a. Faktor guru Guru merupakan faktor utama keberhasilan tercapainya pembelajaran Guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan metode, menggunakan media, dan dapat mengalokasikan waktu dengan tepat. Keterampilan mengajar tersebut di antaranya: 1) Keterampilan membuka pelajaran 2) Keterampilan menutup pelajaran 3) Keterampilan menjelaskan 4) Keterampilan mengelola kelas 5) Keterampilan bertanya 6) Keterampilan memberikan penguatan b. Faktor siswa Di dalam pembelajaran, peserta didik adalah subyek yang akan mencapai tujuan pembelajaran, bukanlah obyek pembelajaran. Faktor yang berpengaruh di

14

antaranya tingkat kecerdasan, gaya belajar, keadaan fisik, dan keadaan mental/psikis. c. Faktor lingkungan Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik (kelas, laboratorium, perpustakaan) dan nonfisik (suasana belajar, cahaya, ventilasi). Kedua lingkungan itu harus dimanfaatkan secara optimal agar pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Lingkungan fisik dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang

direncanakan, sedangkan lingkungan nonfisik digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif. Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi (a) tes dan (b) bukan tes (nontes). Tes bisa terdiri atas tes lisan (menuntut jawaban secara lisan), tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk (a) objektif, ada juga yang disusun dalam bentuk (b) esai atau uraian. Sedangkan bukan tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala penilaian, sosiometri, studi kasus, dan lain-lain. Tes hasil belajar ada yang sudah dibakukan (standardized test), ada pula yang dibuat guru, yakni tes yang tidak baku. Pada umumnya penilaian hasil belajar di sekolah menggunakan tes buatan guru untuk semua bidang studi/mata pelajaran. Tes baku, sekalipun lebih baik dari pada tes buatan guru, masih sangat langka sebab membuat tes baku memerlukan beberapa kali percobaan dan analisis dari segi reliabilitas dan validitasnya. Tes sebagai alat penilaian hasil belajar ada yang mengutamakan kecepatan (speed tests) dan ada pula yang mengutamakan kekuatan (power test). Tes objektif pada umumnya termasuk speed tes sebab jumlah pertanyaan cukup banyak waktunya relatif terbatas, sedangkan tes esai termasuk power test sebab jumlah pertanyaan sedikit waktunya relatif lama. Dilihat dari objek yang dinilai atau penyajian tes ada yang bersifat individual dan ada tes yang bersifat kelompok. Tujuan dari penilaian hasil belajar adalah untuk : a. Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya

15

b. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran disekolah, dalam aspek intelektual, sosial, emosional, moral, dan ketrampilan yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan. Keberhasilan pendidikan dan pembelajaran penting artinya mengingat peranannya sebagai upaya memanusiakan atau membudayakan manusia, dalam hal ini para siswa agar menjadi manusia yang berkualitas. c. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pembelajaran serta strategi pelaksanaannya. Kegagalan para siswa dalam hasil belajar yang dicapainya hendakmya tidak dipandang sebagai kekurangan pada diri siswa semata-mata, tetapi juga bisa disebabkan oleh program pembelajaran yang diberikan kepadanya atau oleh kesalahan strategi dalam mekalsanakan program tersebut. Misalnya kekurangtepatan dalam memilih dan menggunakan metode mengajar dan alat bantu pembelajaran. d. Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa. Dalam mempertanggungjawabkan hasilhasil yang telah dicapainya, sekolah memberikan laporan berbagai kekuatan dan kelemahan pelaksanaan sistem pendidikan serta kendala yang dihadapinya. Laporan disampaikan kepada pihak yang berkepentingan, misalnya dinas pendidikan setempat melalui petugas yang menanganinya. Sedangkan pertanggungjawaban kepada masyarakat dan orang tua disampaikan melalui laporan kemajuan belajar siswa (raport) pada setiap akhir program, semester. (Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional (2008)).

16

III.

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek Penelitian Perbaikan pembelajaran materi Alat Komunikasi Masa Lalu dan Masa Kini yang dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 10 Muntok Kabupaten Bangka Barat dengan jumlah siswa 23 orang, terdiri dari laki-laki 12 orang dan perempuan 11 orang, dengan jadwal sebagai berikut : No. 1. 2. 3. Hari / Tanggal Rabu, 16 Maret 2011 Rabu, 23 Maret 2011 Rabu, 30 Maret 2011 Siklus I II III Pokok Bahasan Alat Komunikasi Alat Komunikasi Alat Komunikasi

B. Perbaikan Pembelajaran
1. Siklus 1

a. Rencana Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus I, menyiapkan sistematika laporan siklus I, menggunakan metode ceramah. b. Pelaksanaan Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I ini , di kegiatan awal guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan awal siswa yang dapat dikaitkan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa. Kemudian di kegiatan inti guru menjelaskan materi Alat Komunikasi

menggunakan buku pegangan dan menunjukkan gambar-gambar yang ada dalam buku. Lalu guru melakukan Tanya jawab tentang materi kepada siswa. Dan di kegiatan akhir guru memberikan latihan soal kepada siswa secara individu.

17

c. Pengamatan Setelah perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan, diadakanlah diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang telah dilakukan bersama menunjukkan hasil yang belum sesuai dengan yang diharapkan. d. Refleksi Berdasarkan tidak optimalnya pembelajaran siklus I yang didapat dari hasil diskusi bersama teman sejawat, maka peneliti perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II.

2. Siklus II

a. Rencana Menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran siklus II, menyiapkan sistematika laporan siklus II , menyiapkan alat peraga gambar. b. Pelaksanaan Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II ini, di awal pertemuan guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan siswa yang berkaitan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Di kegiatan inti guru menjelaskan materi dan memperlihatkan gambar. Lalu guru melakukan tanya jawab tentang materi dengan siswa. Dan di kegiatan akhir guru dan siswa membuat rangkuman tentang materi. Kemudian memberikan latihan soal kepada siswa untuk dikerjakan secara individu. c. Pengamatan Setelah perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan, diadakanlah diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang telah dilakukan bersama menunjukkan hasil yang lebih baik dari siklus I namun masih belum seperti yang diharapkan. d. Refleksi Berdasarkan penyebab tidak optimalnya pembelajaran siklus II dan hasil diskusi bersama teman sejawat, maka peneliti perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus III.

18

3. Siklus III

a. Rencana Menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran siklus III, menyiapkan sistematika laporan siklus III, menyiapkan alat peraga gambar, kentongan, handphone dan lembar kerja siswa (LKS). b. Pelaksanaan Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus III ini di awal pertemuan, guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan siswa yang berkaitan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Di kegiatan inti, guru menjelaskan materi pelajaran, menjelaskan tentang benda-benda yang sudah dipersiapkan (kentongan dan handphone), setelah selesai guru dan siswa membuat rangkuman tentang materi. Di kegiatan akhir guru memberikan latihan soal kepada siswa untuk dikerjakan secara individu. c. Pengamatan Sesudah perbaikan pembelajaran siklus III dilaksanakan diadakan diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang dilakukan bersama menunjukkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. d. Refleksi Berdasarkan pengamatan bersama teman sejawat tentang perbaikan pembelajaran siklus III maka hasil refleksi dijadikan sebagai bahan laporan penelitian tindakan kelas.

19

IV.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Pembelajaran siklus I, walaupun terlaksana akan tetapi nilai yang diharapkan tidak maksimal dikarenakan metode ceramah yang tidak efektif untuk kegiatan pembelajaran materi yang diberikan, walaupun kemudian pada siklus II mengalami peningkatan respon dan efektivitas belajar siswa akan tetapi masih kurang memuaskan, dan setelah dilakukan perbaikan pada siklus III, mengalami peningkatan respon, efektivitas, hasil belajar yang diharapkan. Berikut disampaikan Diagram Ketuntasan Belajar siswa. Diagram 4.1 Ketuntasan Belajar Siswa Selama Pembelajaran
23 siswa 19 siswa 19 siswa 15 siswa 8 siswa 4 siswa 4 siswa 0 siswa PRA SIKLUS SIKLUS I TUNTAS SIKLUS II TIDAK TUNTAS SIKLUS III

25 siswa 20 siswa 15 siswa 10 siswa 5 siswa 0 siswa

Dari diagram di atas, terlihat adanya peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajarnya, mulai dari siklus I sampai siklus III. Persentase kenaikan jumlah siswa yang tuntas dari siklus I ke siklus II adalah 17,39%. Kemudian persentase kenaikan ketuntasan belajar siswa dari siklus II ke siklus III adalah 65,22%.

Diagram 4.2 Nilai Rata-rata Siswa Selama Pembelajaran

88.00 64.00 52.00 49.50 0.00 20.00 PRA SIKLUS 40.00 SIKLUS I 60.00 SIKLUS II 80.00 SIKLUS III 100.00

20

Dari diagram di atas terlihat bahwa terjadi nilai rata-rata siswa selama pembelajaran, mulai dari siklus I sampai ke siklus III. Peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II adalah 12%. Kemudian dari siklus II ke siklus III terjadi peningkatan 24%. Peningkatan ini dikarenakan guru melakukan beberapa kali perubahan metode pembelajaran di saat mengajarkan mata pelajaran IPS pokok bahasan Alat Komunikasi kepada siswa kelas IV di SD Negeri 10 Muntok Bangka Barat. Diagram 4.3 Aktivitas Siswa Setiap Siklus
10 siswa 8 siswa 6 siswa 4 siswa 2 siswa 0 siswa PRA SIKLUS Melontarkan Pertanyaan SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS III Keaktifan/Berkomentar 0 siswa 1 siswa 0 siswa 3 siswa 2 siswa 2 siswa 10 siswa 10 siswa 8 siswa 9 siswa

8 siswa 7 siswa

Menjawab Pertanyaan Guru

Pada diagram di atas, terlihat adanya peningkatan aktivitas siswa mulai dari siklus I sampai siklus III. Peningkatan itu terlihat di saat siswa semakin berani Melontarkan Pertanyaan, Berani Menjawab Pertanyaan yang diberi guru dan Aktif Berkomentar mengenai materi pelajaran dan yang sedang dipelajari. Selain dari data aktivitas siswa, selama perbaikan pembelajaran juga dilakukan pengamatan terhadap aktivitas mengajar guru disamping itu juga dikumpulkan data tentang hasil evaluasi belajar siswa yang diperoleh dari tes tertulis yang dilakukan selama perbaikan pembelajaran.

B. Pembahasan Pada siklus I, menurut guru dan teman sejawat, perbaikan yang dilaksanakan dianggap belum berhasil karena hasil dan aktivitas belajar siswa masih rendah. Dimana siswa lebih cenderung diam, pasif dan bingung ketika guru menjelaskan materi, lebih banyak beraktivitas dengan urusan masing-masing. Sehingga hasil yang didapat tidak terlalu jauh dari hasil belajar pada kegiatan pra siklus yaitu dari

21

rata-rata kelas 49,50 hanya menjadi 52,00. Refleksi yang dilakukan bersama dengan teman sejawat, hal ini terjadi dikarenakan pemberian materi hanya didominasi oleh guru sedangkan siswa cenderung hanya mendengar dan tidak tefokus terhadap materi yang diberikan. Pada siklus II, perbaikan yang dilakukan tujuannya adalah lebih menyempurnakan kegiatan pada siklus I yaitu gambar yang diperlihatkan bukan hanya pada buku pegangan akan tetapi juga gambar yang lebih jelas. Dalam kegiatan perbaikan siklus II ini didapatkan siswa lebih senang, lebih interaktif dan lebih berminat dan hasil belajar yang didapat juga lebih baik dibandingkan dengan perbaikan pada siklus I yaitu dari rata-rata kelas 52,00 menjadi 64,00. Akan tetapi setelah melakukan diskusi bersama teman sejawat, hasil belajar yang dicapai pada siklus II ini belum maksimal dan dianggap belum berhasil dikarenakan dari 23 siswa hanya 8 siswa yang mencapai nilai KKM sedangkan 15 siswa lainnya masih relatif rendah, maka dengan kesepakatan bersama teman sejawat, perlu dilakukan perbaikan siklus III. Pada siklus III, dari dua siklus perbaikan yang sudah dilakukan, penulis bersama teman sejawat menganggap bahwa ketidak berhasilan pembelajaran yang dilakukan adalah dikarenakan metode yang digunakan tidak efektif dan tidak sesuai dengan topic pembelajaran yang diberikan. Maka pada siklus III, guru bersama dengan teman sejawat berdiskusi berusaha menentukan metode yang dapat lebih menarik minat belajar siswa, serta meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari hasil diskusi ini, guru dan teman sejawat sepakat untuk merubah metode pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi. Pada kegiatan perbaikan pada siklus III ini, siswa lebih berani menjawab ketika guru bertanya, lebih berani berkomentar dan bertanya ketika siswa lain sulit mencari pasangannya, dan hasil dari kegiatan pembelajaran ini yang bisa dilihat adalah bukan hanya kegiatan dan aktivitas belajar siswa yang meningkat akan tetapi juga hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari rata-rata kelas 64,00 menjadi 88,00 dengan tingkat nilai ketuntasan 100%. Pelaksanaan siklus ke tiga pembelajaran yang telah dilakukan adalah kegiatan perbaikan yang dianggap penulis dan teman sejawat paling berhasil dan efektif, kerena memberikan perubahan dan peningkatan penguasaan dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Perubahan yang dapat dilihat adalah :

22

1. Perhatian siswa terhadap materi, lebih terfokus 2. Peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep pembelajaran 3. Peningkatan aktifitas dan interaksi siswa terhadap pelajaran yang diberikan. 4. Peningkatan presentasi nilai siswa. Suatu nilai dan rumusan bahwa, perubahan metode pembelajaran memiliki potensi unggul dalam rangka meningkatkan efektifitas dan hasil belajar siswa yang lebih baik. Setiap siswa mempunyai potensi yang sama dalam menerima pendidikan (positif), jika penyampaian materi yang dilakukan bisa menarik minat siswa kepada pembentukan suatu konsep. Seiring dengan teori Skinner, bahwa proses Shaping (pembentukan) yang dilakukan secara bertahap akan menghasilkan penguasaan terhadap perilaku yang kompleks melalui perancangan (manipulasi) stimulus yang diskriminatif dan penguatan. Serta seiring dengan teori Connectionism Thorndike bahwa dalil sebab-akibat menyatakan bahwa situasi atau hasil yang menyenangkan yang diperoleh dari suatu respons akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respons atau perilaku yang muncul. Penulis menemukan penggunaan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran, terdapat nilai penguatan. Dari hasil siklus III ini, dengan kesepakatan bersama teman sejawat untuk tidak melanjutkan pada siklus berikutnya.

23

V.

KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan, keberhasilan dalam suatu proses pembelajaran dapat tercapai dengan : 1. Pembelajaran dengan metode demonstrasi, dapat meningkatkan efektifitas, motivasi, dan keaktifan belajar siswa kelas IV SD Negeri 10 Muntok. 2. Pembelajaran dengan metode demonstrasi, dapat meningkatkan hasil belajar siswa siswa kelas IV SD Negeri 10 Muntok.

B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan merangsang motivasi siswa dalam pembelajaran, perlu kiranya guru memperhatikan hal sebagai berikut : 1. Menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dalam pembelajaran seperti metode demonstrasi. 2. Memberikan penjelasan yang mudah dipahami siswa 3. Menumbuhkan interakasi antar siswa. 4. Menciptakan suasana belajar yang saling percaya dan saling membutuhkan.

24

DAFTAR PUSTAKA

Nama Penulis. Tahun Terbit. Judul Buku. Kota penerbit. Nama Penerbit.

25

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful