Anjuran berzakat dan ancaman bila tidak membayarnya

Sep 11, '08 11:15 PM untuk semuanya

Anjuran berzakat dan ancaman bila tidak membayarnya Penulis: Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc Fiqh, 07 November 2004, 03:44:55 Anjuran dalam Menunaikan Zakat Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka" . (At Taubah : 103)

Ayat ini mengajarkan untuk mengambil sedekah dari hartanya kaum mu'minin, baik itu shodaqoh yang ditentukan (zakat) ataupun yang tidak ditentukan (tathowa) demi untuk membersihkan mereka dari kotornya kebakhilan dan rakus. Juga mensucikan mereka dari kehinaan dan kerendahan dari mengambil dan makan haknya orang fakir. Dan juga untuk menumbuh kembangkan harta mereka dan mengangkatnya dengan kebaikan dan keberkahan akhlak dan mu'amalah sampai mengantarkan mereka menjadi orang yang berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Firman Allah Ta'ala: "Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat : 19)

Dalam ayat ini Allah Ta'ala telah mengkhususkan sifat-sifat yang mulia dengan berbuat baik. Dan kebaikan mereka nampak jelas dari menegakkan shalat malam, memohon ampun di waktu malam dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana kebaikan mereka yang nampak jelas dalam memberi dan menunaikan haknya orang-orang fakir demi kasih sayang dan rohmah bagi mereka. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan

zakat." (Al Hajj:41)

Allah telah menjanjikan dengan menunaikan zakat merupakan tujuan untuk bisa tegak dan kokoh di muka bumi ini. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tiga perkara yang aku bersumpah atas tiga perkara tersebut dan menceritakan kepada kalian maka jagalah : Tidak akan berkurang harta yang dishodaqohkan dan tidak seorang hamba dianiaya dengan satu kedholiman kemudian dia bersabar (atas kedholiman) kecuali Allah akan menambahkan baginya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Allah akan membaginya pintu kefakiran." (Turmudzi Kitab AzZuhd 4:487(2325) dari hadits Abi Habsyah)

Dari masih banyak hadits-hadits tentang anjuran untuk menunaikan zakat serta keutamaankeutamaannya.

Ancaman Bagi yang Tidak Menunaikan Zakat

Telah banyak dalil-dalil baik itu dari Al-Kitab ataupun As-Sunnah tentang ancaman keras bagi orang yang bakhil dengan zakat dan enggan untuk mengeluarkannya. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam lalu dibakar dengannya dahi mereka lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka :"Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu" (At Taubah : 34-35). Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Sekali-sekali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu kelak akan dikalungkan di lehernya di hari kiamat." (Ali Imron : 180)

Oleh karenanya harta yang tidak ditunaikan zakatnya maka itu termasuk harta simpanan yang pemiliknya akan disiksa dengannya pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidaklah seseorang yang memiliki emas atau perak kemudian tidak ditunaikan haknya, apabila datang hari kiamat dibentangkan baginya batubatu yang lebar dari neraka kemudian dia akan dipanggang di atas batu-batu itu di dalam neraka jahannam kemudian disetrika perut, dahi dan punggungnya. Setiap kali sudah dingin maka akan dikembalikan seperti semula yang satu hari adalah sama dengan 50.000 tahun sampai diputuskan perkaranya diantara manusia maka dia akan melihat jalannya, apakah ke surga atau neraka." (HR. Muslim Kitab Zakat 7:67 no. 2287 dari hadits Abu Hurairah)

Kemudian lanjutan hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan orang yang memiliki onta, sapi dan kambing yang tidak ditunaikan zakatnya akan mengalami nasib yang sama pula dari siksa di hari kiamat.

Juga sabda Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain : "Barang siapa yang Allah telah berikan harta kepadanya kemudian dia tidak menunaikan zakatnya maka pada hari kiamat nanti hartanya akan berujud ular yang botak yang mempunyai dua titik hitam diatas kepalanya yang mengalunginya kemudian mengambil dengan kedua sisi mulutnya sambil berkata: "Aku adalah simpananmu, aku adalah hartamu". Kemudian beliau membaca ayat: "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya, menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka, harta-harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhori Kitab Zakat 3:268 no.1403 dari hadits abu Hurairah; Muslim Kitab Zakat 7:74 no. 2294)

Hukum Bagi yang Tidak Mau Membayar Zakat

Dalam hal ini ada beberapa kriteria dari orang-orang yang tidak mau membayar zakat : 1. Seorang yang tidak mau membayar zakat tapi masih meyakini akan wajibnya. Para ulama menghukumi bahwa pelakunya berdosa dan tidak mengeluarkannya dari keislamannya. Kepada penguasa (hakim) agar memaksa pelakunya supaya mau membayar zakat serta memberikan hukuman pelajaran kepadanya (tahdzir). Dan mengambil hak zakat dari orang tersebut sesuai dengan kewajibannya, tidak boleh lebih. Kecuali pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Syafi'i (pendapat lama) maka mengambilnya separuh dari hartanya

sebagai hukuman baginya. Sebagaimana hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "… Dan barang siapa yang tidak mau menunaikannya (zakat) maka kami akan mengambilnya dan separuh hartanya adalah hak dari hak-hak wajib bagi Tuhan kami, tidak halal bagi keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam darinya sedikitpun." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, Hakim, Baihaqi dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya).

Adapun Ibnu Taimiyah menghukumi orang yang seperti itu adalah kafir dalam batinnya, walaupun secara dzahir tidak dikafirkan, akan tetapi disikapi seperti sikapnya orang-orang murtad yang diberi kesempatan bertaubat tiga kali, kalau tidak mau bertaubat maka hukumnya dibunuh. (lihat Fatawa 7:611, mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2:877; Mughni 4:67; majalah Buhuts Islamiyah Darul ifla' edisi 58 tahun 1420H hal. 11; Fiqh Sunnah 1:403)

2. Kalau yang tidak mau membayar zakat itu sekelompok orang yang mereka memiliki kekuatan tapi masih berkeyakinan akan wajibnya.

Para ulama menghukumi agar diperangi sampai mereka mau membayar zakat sebagaimana kisahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. (HR. Jama'ah dari Abu Hurairah)

Juga haditsnya Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, maka kalau mereka telah mengerjakannya terjagalah dari darah dan harta mereka kecuali haknya Islam dan hisab mereka di sisi Allah." (HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak mau membayar zakat dengan mengingkari akan wajibnya.

Berkata Ibnu Qudamah : "Barang siapa yang mengingkari karena jahil (tidak tahu) atau dia termasuk orang yang tidak tahu karena baru masuk Islam atau dia tinggal di daerah terpencil yang jauh dari daerah yang mengetahui akan wajibnya maka tidak dikafirkan. Adapun kalau

dia seorang muslim yang tinggal di negeri Islam di tengah-tengah ahli ilmu maka hukumnya murtad." (Mughni 4:6-7)

(Dikutip dari tulisan ustadz Qomar Sua'idi, Lc, yang diarsipkan eks. tim Zisonline, al akh Fikri Thalib) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=786 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar

Definisi Zakat dan Hikmah disyariatkannya Zakat

Sep 11, '08 11:14 PM untuk semuanya

Definisi Zakat dan Hikmah disyariatkannya Zakat Penulis: Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc Fiqh, 07 November 2004, 03:36:50 Definisi Zakat

1. Menurut Bahasa (lughoh)

Dari asal kata "zakkaa - yuzakkii - tazkiyatan - zakaatan" yang berarti : 1. Thoharoh (membersihkan/mensucikan) Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (At-Taubah:103)

2. Namaa' (tumbuh /berkembang)

Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Allah memusnahkan ribaa' dan menyuburkan sedekah" (Al-Baqarah:276)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Rabsyah Al-An Maary. "Harta tidak akan berkurang dengan dishodaqohkan" (HR. Tirmidzi, kitab Az Zuhd jilid 4 hal. 487 no. 2325, kata Imam Tirmidzi "Hadits ini hasan shohih")

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani : "Tanaman itu telah Zakka, yakni berkembang & tumbuh" (Fathul Baari, kitab zakat jilid 3 hal. 262)

3. Al-Barokah Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya" (Saba' : 39)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Hurairoh radhiallohu anhu : Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Hai anak Adam berinfaklah niscaya Aku akan berinfak untukmu". (HR. Bukhori, Kitab Tafsir surat Hud 8 : 352 (4684); Muslim, Kitab Zakat 7:81 no. 2305)

4. Al-Madh (Pujian) Dalam hadits Abu Hurairoh tentang kisah Zainab Ummul Mukminin : " . . . Bahwa Zainab namanya adalah Barroh maka dikatakan 'Dia memuji dirinya' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menamainya Zainab." (HR. Muslim, Kitab Al Azab Juz 14, hal. 346 no. 5572)

5. Amal Sholeh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan kami menghendaki supaya tuhan mereka mengganti mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu" Imam Al-Farro' mengatakan: arti 'yang lebih baik kesuciannya' adalah yang lebih baik amal sholehnya. (lihat An Nihayah karya Ibnu Al Atsir jilid 2 hal. 307; Lisanul Arab karya Ibnul Mandzur jilid 6 hal 64-65)

shodaqoh." (Al-Fath 3:262) 2." (Mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2 : 876. dengan zakat itu …" (At Taubah : 103) . Pendapat Ibnu Taimiyah : "Memberikan bagian tertentu dari harta yang berkembang jika sudah sampai nishob untuk keperluan tertentu. terkadang dengan ungkapan zakat. 1.II. Zakat Dalam Bahasa Al-Qur'an Sedangkan Al-Qur'an Al-Karim telah menyebutkan tentang zakat dengan berbagai ungkapan. Zakat Ungkapan ini paling banyak disebutkan bahkan sering digabungkan dengan perintah shalat sampai diulang dalam 82 ayat (lihat Taudih al akham 3:5). infaq/nafaqoh dan Al-'afwu. Menurut Hukum (Istilah syara') 1." (Taudhihul Ahkam 3:5) III. untuk golongan tertentu pada waktu tertentu. Pendapatnya Al-Hafidz Ibnu Hajar : "Memberikan sebagian dari harta yang sejenis yang sudah sampai nashob selama setahun dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya yang bukan dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan dirikanlah sholat. Pendapat Syaikh Abdullah Al-Bassaam : "Hak wajib dari harta tertentu. tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku" (Al Baqoroh : 43) 2. Shodaqoh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Fatawa 25:8) 3.

nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Al-'Afwu Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. menunaikan zakat. Dasarnya adalah dari Al Qur'an." (Al Baqoroh:267) 4. Muslim. As Sunnah dan Ijma'. bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya. Maka hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim yang telah memenuhi persyaratan. menegakkan sholat." (Al-Bayyinah :5) Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Islam dibangun di atas lima dasar. Katakanlah: yang lebih dari keperluan" (Al Baqoroh:219) Hukum Menunaikan Zakat Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan termasuk dari pondasi Islam yang agung. Infaq/Nafaqoh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Hai orang-orang yang beriman.3. menunaikan haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan. Kitabul Iman 2:130(113). Firman Allah Ta'ala: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus." (lihat Bukhari Kitabul Iman 1:49 (8) dari hadits Ibnu Umar. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz bin Jabbal ra. ke .

dan Tidak memberi makan orang miskin".. Hal ini dikarenakan fitrahnya jiwa manusia adalah senang terhadap orang yang berbuat kebaikan (berjasa . Juga para sahabat telah sepakat untuk memerangi orang-orang yang tidak mau membayarnya dan menghalalkan darah dan harta mereka karena zakat termasuk dari syi'ar Islam yang agung.negeri Yaman : "Terangkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat yang dipungut dari orang-orang kaya diantara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka". Allah berfirman: "Pada harta-harta mereka ada hak orang yang meminta dan …". Hikmah Disyariatkannya Zakat Diantara hikmah disyari'atkannya zakat adalah : a. (AlMudatsir : 44) 2. Tahun kedua Hijriyah diterangkanlah hukum zakat dengan rinci.. maka kaum muslimin disetiap masa telah ijma' akan wajibnya zakat. memberi makan dan berbuat baik. Zakat diwajibkan secara mutlak tidak ada batasan atau rincian akan tetapi hanya perintah untuk memberi. akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah bahwa kewajiban zakat di tetapkan dalam tiga fase: 1. diterangkan harta yang wajib dizakati dan kadar nishabnya serta jumlah yang harus dikeluarkan sebagai zakat". Menguatkan rasa kasih sayang antara si kaya dengan si miskin. karya Ibnu Qudamah 4:5) Syaikh Abdullah Al Bassam menerangkan (Taudihul ahkam:3/12): Para ulama berselisih kapan diwajibkannya zakat. "Orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat". Muslim Kitabul Iman 1:147(121)) Adapun Ijma'. 3. (HR. ini berlangsung ketika sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah. (Mughni. didalam surat Fushilat Allah mengancam yang tidak mengeluarkan zakat. dalam surat AlMudatsir Allah memasukkan orang-orang yang tidak memberi makan orang miskin sebagai Al-Mujrimin (orang yang berdosa) ". Tahun kesembilan Hijriyah ketika manusia masuk Islam dengan berbondong-bondong dan semakin luas daerah Islam Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim petugas-petugas untuk mengambil zakat .

Definisi zakat Secara bahasa. Sebagai ibadah kepada Allah Ta'ala (lihat Risalah Fi Zakat oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz). sesuatu itu zakat.php?id_artikel=785 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal) Sep 11. Sumber artikel : http://www. zakat artinya “berkembang dan bertambah dalam kebaikan dan kesempurnaan. Mensucikan dan membersihkan jiwa serta menjauhkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil. b.kepadanya). 00:51:27 Manfaat Zakat Hati Dan Zakat Harta A. Membiasakan seorang muslim untuk memiliki sifat belas kasihan. Lc. jika sesuatu itu berkembang baik menuju kesempurnaan. Memperoleh keberkahan.or.” Dikatakan. al akh Fikri Thalib) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. yang diarsipkan eks. 08 November 2004.id/print.salafy. (Dikutip dari tulisan ustadz Qomar Sua'idi. c. . '08 11:14 PM untuk semuanya Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal) Penulis: Al Akh Syamsu Muhajir Fiqh. d. tambahan dan ganti yang lebih baik dari Allah Ta'ala. e. tim Zisonline.

Sesuatu bisa berkembang dengan baik apabila keadaan sesuatu itu bersih dari kotoran dan penyakit. hewan dan tumbuhan bisa berkembang dengan baik jika keadaannya baik dan bersih dari kotoran dan segala penyakit. senang melihat wanita berwajah cantik.” (An-Nur: 30) Allah Subhanahu wa Ta‟ala mengatakan di dalam ayat ini bahwa sucinya hati itu terjadi setelah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. congkak. Apabila seseorang sanggup menahan nafsunya dari yang diharamkan Allah. Demikian pula penyakit hati seperti hasud. Bahkan terkadang sampai mematikan hati seperti halnya hama yang menghambat pertumbuhan tanaman dan bahkan mematikannya. bodoh. tetapi harus diketahui bahwa yang disenangi oleh nafsu itu ada yang diharamkan dan ada yang dihalalkan. ) 30) “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatannya. merendahkan manusia. senang dan gembiranya hati. B. menjauhi kemaksiatan dan yang dilarang Allah dan banyak bertaubat kepada-Nya. maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik seperti sejuknya hati. Caranya ialah dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah. yang demikian itu lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Maka. yaitu menundukkan pandangan dari yang diharamkan Allah Ta‟ala. keras hati menjadi penghambat berkembangnya hati. Seperti halnya badan kita. . agar hati itu menjadi baik dan agar hati berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan maka hati itu harus dibersihkan terlebih dahulu dari segala penyakit dan kotorannya. Ibarat pasir pada emas dan perak. tenangnya hati. Zakat Hati Dosa dan kemaksiatan yang dilakukan manusia laksana hama pada tumbuhan. Demikian pula hati manusia bisa berkembang dengan baik dan sempurna manakala hati itu baik serta bersih dari kotoran dan segala penyakit. Allah Ta‟ala telah menguji kita dengan memberikan nafsu senang melihat sesuatu yang indah-indah. Allah Ta‟ala berfirman. besar kepala. sombong.

” (Ath-Thur: 28) Ayat ini menerangkan orang yang meminta izin atau bertamu tetapi pemilik rumah belum berkenan menerimanya sehingga dia memohon agar sang tamu kembali kemudian tamu ini mengikuti permohonannya maka itu lebih suci bagi yang bertamu. Adapun perkara yang dapat menjadikan hati berkembang dan yang dapat menjadikan hati baik. dan suci adalah “tauhid. Sedangkan jika di hati itu sudah bercabang kecintaannya pada selain Allah.” (HR Ahmad dengan sanad shahih) Mengingat hati itu selalu terikat dengan sesuatu yang dicintainya. maka ketika hatinya bersih. membersihkan hati dari keinginan-keinginan yang tidak benar dan tauhid (‫ ) لل ل ل ل‬merupakan bahan dasar yang menjadikan hati tumbuh dan berkembang dengan baik. Perbuatan manusia ikut pada kemauan dan keadaan hatinya. Jadi supaya hati bisa berkembang dengan baik menuju kebaikan dan kesempurnaan adalah dengan membersihkan terlebih dahulu dari dosa dan maksiat dan membersihkannya dari penyakit-penyakitnya. hanya Allah yang dicintainya maka dia hanya menghamba dan tunduk kepada Allah saja. maka dia akan tunduk kepada apa yang dia cintai. ) ) “Barangsiapa meninggalkan sesuatu (yang haram) karena Allah niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah (‫) لل ل ل ل‬ Tauhid bukan hanya sebagai pengembang hati tetapi juga berfungsi sebagai pembersih hati yaitu membersihkan keyakinan-keyakinan (aqidah) yang batil. sempurna. yaitu ketika tidak ada lagi di hatinya . Dalam ayat lain Allah berfirman.Dalam hadits disebutkan. “Apabila dikatakan kepadamu kembalilah maka kembalilah karena ini lebih suci bagi kalian.

tuhan-tuhan selain Allah. Allah Ta‟ala berfirman: ) 9) “Sungguh beruntung orang yang mensucikan hatinya.” (an-Nisa‟: 49) . Allah Ta‟ala berfirman: ) 6) “Celakalah orang-orang musyrik yang mereka itu tidak menunaikan zakat. Di hatinya hanya ada Allah dan kebenaran yang bisa berbuah menjadi amalan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Allah Ta‟ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mengganggap dirinya bersih.” (Asy-Syams:9) Juga firman-Nya: ) 18) “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?” (An –Naazi‟at: 18) Zakkaa pada ayat ini adalah amalan ketaatan kepada Allah. amalan ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah juga berfungsi sebagai pembersih dan mensucikan hati. Maka dari itu. Namun demikian bagi orang yang telah dikaruniai taufiq dan hidayah oleh Allah mampu menjalankan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah tidak diperbolehkan untuk merasa dan menganggap dirinya sudah bersih dan suci. tidak ada pelajaran yang melebihi ketinggian dan kemuliaan tauhid karena faidahnya yang fundamental karena yang dipelajari adalah Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia dan aqidah merupakan dasar bangunan Islam setiap muslim yang menjadi penentu kekokohan dan rapuhnya ke-Islaman seseorang. tidak ada lagi kemauan dan keinginan kecuali karena Allah.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir) Di samping tauhid.” (Fush-shilat: 56) Kebanyakan ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata “zakat” di ayat ini adalah “tauhid.

yakni sulit menerima kebenaran dan petunjuk. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda: ‫ل‬ .” (At-Taubah: 103) Allah mengumpulkan dalam ayat ini tentang manfaat zakat harta yaitu membersihkan dan mensucikan karena harta tidak akan suci/berkembang tanpa dibersihkan terlebih dahulu. senang dan gembira dalam menjalankan ketaqwaan kepada-Nya. Lebih jauh Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan manfaat zakat harta itu.“Maka.” (An-Nisa”49) Maka manfaat hati yang sudah dizakati (dibersihkan) akan dapat memudahkan seseorang untuk menerima kebenaran. sempit dan sesak dadanya terhadap syariat Islam dan berat untuk menjalankan ketaqwaan kepada Allah. Zakat Harta Adapun manfaat zakat harta adalah seperti yang difirmankan Allah: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Lapang dada menerima Islam. Sedangkan jika hati kotor maka yang terjadi adalah sebaliknya. Allah Ta‟ala berfirman: “tetapi Allah yang membersihkan/mensucikan siapa yang Dia kehendaki. sebagai berikut: 1.” (an-Najm: 32) Pada hakikatnya hanya Allah yang menjadikan seseorang itu bersih dan suci dan hanya Allah Ta‟ala yang mengabarkan kebersihan dan kesucian seseroang. C. janganlah kalian mengatakan dirimu suci. Untuk menyempurnakan keislaman seorang hamba karena zakat termasuk rukun Islam. senang dalam menerima hidayah/petunjuk dari Allah.

Muslim) 6. Sebagai bentuk kesempurnaan iman karena kita senang manakala saudara kita memberikan hartanya pada kita dan begitu pula saudara kita akan senang kalau kita beri dia harta. suka menebar salam. . Dia harus sanggup mengeluarkan hartanya dari hatinya sebelum dikeluarkan dari tangannya. 2. dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sebagai bukti benarnya iman orang yang berzakat karena nafsu itu sangat senang pada harta maka seseorang tidak akan menyerahkan hartanya kecuali karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari harta itu yaitu ridho Allah yang nilainya jauh lebih baik dan lebih sempurna untuk hamba.”(HR. Zakat menjadi sebab masuk surga karena surga itu diperuntukkan bagi orang baik pembicaraannya. 3. Zakat dapat melapangkan dada dan menenangkan hati tetapi dengan dua syarat yaitu : 4a. dan haji ke Baitul Haram. puasa Ramadhan. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda : “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Untuk mensucikan akhlak orang yang berzakat karena dengan zakat dia akan keluar dari golongan orang-orang yang bakhil/pelit dan masuk pada golongan orang-orang derma. 4. 5.Islam itu dibangun di atas lima dasar mengucapkan syahadat bahwa tidak ada ilah yang hak selain Allah. memberi makan dan orang yang shalat malam ketika manusia sedang tidur. menunaikan zakat. 4b. sehingga hati akan mengikutinya karena hatinya akan gelisah ketika seseorang meninggalkan kebiasaan baiknya. karena tidak bermanfaat mengeluarkan dengan tangannya tetapi masih diikat oleh hatinya. menegakkan sholat. Ketika mengeluarkan zakat harus lapang dada bukan dengan terpaksa.

perampokan dan penipuan. Tirmidzi hadits hasan shahih) 7. sehingga menghambat terlaksananya kebutuhan si miskin.“Surga itu bagi orang yang memperbagus pembicaraannya. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda: “Setiap orang dalam naungan shodaqohnya pada hari kiamat. Si kaya tinggal di istananya. suka memberi makan. Zakat dapat meredam sifat memberontaknya orang-orang fakir. Si kaya makan segala yang dia mau. suka menebar salam. dan mendirikan shalat malam sedangkan manusia sedang tidur. Allah Ta‟ala berfirman: “Berbuatlah ihsan/kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Perbedaan sosial yang mencolok sering memunculkan ketidakharmonisan sosial. si fakir harus menguras tenaga dan keringat hanya untuk sesuap nasi. perampasan.” (HR. munculnya sifat kepedulian orang yang mampu kepada orang yang lemah. Karena orang miskin merasa bahwa pada orang kaya ada haknya yang ditahan.” (HR. sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Zakat dapat mencegah dosa-dosa harta seperti pencurian. 9. Si kaya naik mobil.” (Al-Qashash: 77) 8. Menjadikan masyarakat muslimin seperti satu keluarga. si fakir berjalan kaki. Ahmad) 11. Zakat dapat mendorong manusia untuk mengetahui dan mempelajari syariat dan hukum Allah karena zakat tidak bisa dilaksanakan tanpa didahului ilmu. Zakat dapat menyelamatkan dari panasnya hari kiamat. 10. si fakir tidur beralas tikar dan berselimut angin dingin. menyadari bahwa saudaranya yang lemah dan miskin butuh derma dan kepeduliannya. . yang kaya kepada yang miskin. Tetapi jika si kaya bersifat derma dan peduli pada saudaranya maka ini dapat menenangkan keadaan dan meredam kecemburuan sosial dan meredam munculnya benih-benih pemberontakan si miskin terhadap si kaya.

kebangkrutan. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda. Tirmidzi) 16. atau sakit yang menguras hartanya. Zakat itu mencegah turunnya bala‟ dari langit.” (HR.12. 13.” Zakat itu dapat meredam murka Allah dan mencegah mati jelek. Ibnu Majah) 14. “Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda. Berikut tabel Perhitungan Zakat : . 17. Zakat dapat menghapus kesalahan dan dosa. “ “Shodaqoh/zakat itu dapat memghapus kesalahan sebagaimana air dapat meredam api. 15. Zakat itu dapat menjadi sebab turunnya kebaikan. dalam hadits disebutkan: “Tidaklah suatu kaum menolak zakat harta mereka kecuali mereka telah menolak turunnya hujan dari langit.” (HR.” (HR. Bukhori) Seringnya penyakit harta itu dapat memberangus harta secara keseluruhan seperti kebakaran. Zakat dapat mencegah dari mati jelek (su‟ul khotimah). Dalam hadits disebutkan: ‫ل‬ “Tidaklah zakat itu mengurangi harta. Zakat dapat menumbuhkan dan mengembangkan harta. karena zakat melindungi harta dari penyakit-penyakitnya dan Allah akan memberkati harta yang bersih. hadits hasan shahih). Dalam hadits disebutkan: ‫ل‬ ‫ل ل‬ Dari Anas Radliyallahu „anhu dia berkata.” (HR. Tirmidzi. Zakat dapat meredam murka Allah. Inilah manfaat zakat hati dan zakat harta semoga kita mampu melaksanakannya dengan baik dan benar.

Syarhul Mumti‟ zadil mustaqni‟ karya Asy-Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah. (Dikutip dari artikel Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal).php. temukan file zakat.gif untuk mendownloadnya. 2.Silakan klik www. Allahu a'lam. Maraji‟ : 1.or. Mawaridul aman karya Al-Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rahimahullah.salafy. ditulis oleh Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah.id/download. al Akh Syamsu Muhajir dengan .

'08 11:13 PM untuk semuanya Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. ia berkata: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kami dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya . 05:03:44 1. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.”195)[Riwayat Abu Daud (1622) dan An Nasa‟I (5/50).php?id_artikel=801 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. Malang.”194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim] Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri.salafy. Hukumnya Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia]. Dan hadits sebelumnya sebagai syahid] Sebagian Ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa‟ad bin Ubadah. Sumber artikel : http://www.or. padanya ada Al Hasan ber-„an‟anah.muraja‟ah Al Ustadz Usamah Mahri. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori.id/print. 28 Oktober 2004.

Ibnu Khuzaimah (4/81) dan Al Hakim (1/410) dan Al Baihaqi (4/159) dari beberapa jalan.” Imam Al Khathabiy Rahimahullah berkata dalam Ma‟alimus Sunan (2/214): “Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri. yang jelek dan (memberi) . kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin. Siapa yang Wajib Zakat ? Zakat fithri wajib atas kaum muslimin. tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri).” Al Hafidz Rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya (3/368): “bahwa pada sanadnya ada rawi yang tidak dikenal196) [Akan tetapi hadits tersebut mempunyai penguat. Yang lain berkata. sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum.(kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami. dan sanadnya shahih] dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (diahapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri. atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka.”198) [HR Muslim (982)] Hadits ini umum. perempuan. “Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri.” 2. laki-laki. pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia. karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain.”197)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)] Sebagian Ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri. mungkin Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mencukupkan dengan perintah yang pertama. anak kecil. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma. orang yang merdeka maupun hamba. sedang hadits Ibnu Umar khusus. tidak mengharuskan dimansukhknya hukum sebelumnya. dan dikeluarkan oleh An Nasa‟I (5/49) dan Ibnu Majah (1/585) dan Ahmad (6/6). kedudukan zakat harta (sebagaiman) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang perorang). besar. tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah.

semuanya telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: . satu gantang anggur kering. tepung dan adonan. maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu. jika berserikat dalam „illat berserikat pula dalam hukum.”199) [Telah lewat takhrijnya] Imam Al Khathabiy dalam Ma‟alimus Sunan (3/214) menegaskan: “Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia.makanan bagi orang yang miskin.”201) [Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/80) dan Al Hakim (1/409-410) Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa‟id Al Khudri. satu gantang gandum. satu gantang kurma. namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya. satu gantang korma dan satu gantang salt.” Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin. karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar. baik menurut masyarakat maupun istilah. satu gantang susu kering. 3. satu gantang susu. ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu. Macam Zakat Fithri Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu gantang gandum.”200) [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)] Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan atu gantang gandum. tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu. jika „illat diwajibkannya karena pensucian. zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari. karena hadits Abu Sa‟id Al Khudri Radhiallahu anhu: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam) satu gantang makanan. satu gantang korma.” Al Hafidz menjawab (3/369): “Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan. satu ganang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit).

“Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima. yang membawa anggur kering diterima. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima. susu yang dikeringkan dan korma. Ukuran Zakat Fithri Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi. Ini dikuat-kan oleh perkataan Abu Sa‟id: “Dulu makanan kami adalah gandum.“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu gantang makanan dari anak kecil.”203) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). hamba. dan yang paling sahahih berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam: “Tunaikanlah satu gantang gandum atau korma. menurut hadits-hadits yang shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu gantang anggur. bahwa pendapat Mua‟wiyah bukanlah ijtihad hasil dari pemikiran sendiri. yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima. 4. agar kaum muslimin yang mendudukkkan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka. anggur kering. diterima. ada yanga mengatakan setengah gantang ini yang rajih. tetapi berdasarkan hadita marfu‟ sampai kepada Rasululllah Shalallahu „alaihi wassalam. barangsiapa yang membawa gandum diterima. barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan. budak dan orang yang merdeka.”202) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). sanadnya hasan] Dari beliau Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: “Zakat fithri satu gantang makanan.”205) [Riwayat Abu Daud (2340). mereka ikhtilaf tentang hinthah. sanadnya hasan] Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Mu‟awiyah Radhiallahu anhu berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam. untuk dua orang satu gantang dari gandum atas orang merdeka.”204) [Telah lewat takhrijnya] Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri. aku mengira beliau berkata: “yang membawa adonan diterima. besar. anak kecil atau besar. yang membawa korma diterima. aku mengira beliau berkata. Nasa‟I . dan bahwa satu mud hinthah itu melebihi yang ada di sini.

berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih] 5. Kemana Disalurkannya Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya. maka lihatlah kitab tersebut.(7/281). dan sanadnya terputus. baik anak kecil maupun orang tua laki-laki dan perempuan. Nasa‟I (7/281). orang merdeka dan hamba dari orang-orang yang membekalinya. Dan padanya ada jalan yang mauquf dari Ibnu Umar pada Inu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/37) dengan sanad shahih.”207) [Dikeluarkan oleh Daruquthni (2/141) dan Ibnu Umar dengan sanad dhaif (lemah). Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih]. mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. karena hal itu sangat penting. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu‟ Fatawa (2/71-78) serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma‟ad (2/44). berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “kami diperintah oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua. dan kiloan yang teranggap adalah kiloan-nya orang madinah. . Dan dikeluarkan Al Baihaqi (4/161) dari jalan yang lain dari Ali. Sebagian Ahlul ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan. orang yang merdeka dan budak. Gantang yang teranggap adalah gantangnya penduduk Madinah. Maka -dengan jalan-jalan inimaka haditsnya menjadi hasan] 6. tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya.”208) [Telah lewat takhrijnya]. Dan Syaikhul Islam telah membentahnya pada kitab yang telah disebutkan baru saja. Siapakah yang harus dibayar zakatnya? Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya.”206) [Riwayat Abu Daud (2340).

Sungguh Nabi Shalallahu „alaihi wassalam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiallahu anhu. kecuali satu atau dua hari (sebelum „Id)210) [Lihat pada kitab Ahkamul „Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid.Termasuk amalan sunah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk diberikan kepada yang berhak –pent).”211) [Telah lewat takhrijnya] 8. aku katakan: “Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang?” Berkata Ayyub: “Apabila petugas telah duduk (bertugas). Waktu Penunaian Zakat Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju sholat „Id dan tidak bleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya. pent) untuk mengumpulkannya. ia berkata: “Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan. Hikmah Zakat Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin .maktabah Al Islamiyah] berdasarkan perbuatan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma –berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayatnyamaka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “… Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima. cet. dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada).” Aku katakan: “Kapankah petugas itu mulai bertugas?” Beliau menjawab: “Satu hari atau dua hari sebelum “Idul Fithri. dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub.” 7. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum „Iedul Fithri.”209) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/396)] Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar Radhiallahu anhuma mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan.

. upaya pembersihan harta kita Sep 11.untuk mencukupi (kebutuhan ) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma yang telah lalu. untuk dibagikan kepada golongan tertentu dan di waktu tertentu. '08 11:13 PM untuk semuanya Menunaikan zakat. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Bab "Zakat Fitrah".or. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Sumber artikel : http://www. secara bahasa berarti tambahan (az-ziyadah) dan pensucian (ath-thaharah).salafy. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.id/print. Adapun secara syar‟i. 23 Oktober 2004. zakat adalah hak (bagian) yang wajib dikeluarkan dari harta tertentu.php?id_artikel=777 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Menunaikan zakat. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Ke 5 th 1416 H. upaya pembersihan harta kita Penulis: Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah Fiqh. 13:08:00 Bersihkan harta dengan berzakat Pengertian zakat Zakat. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.

Dalil tentang hal ini diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam . tunaikanlah zakat” (QS. berkembangnya harta serta mendapatkan balasan/ ganti yang lebih baik dari sisi Allah I. zakat dan haji ke baitullah bagi yang mampu. Dalil Ijma‟ Kaum Muslimin telah bersepakat tentang wajibnya zakat. shalat. 2) Membersihkan dan mensucikan jiwa. menjauhkan. Dalil dari As-Sunnah Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman : “Beritahu kepada mereka. Saba‟ : 39) Hukum Zakat Wajib hukumnya mengeluarkan zakat.Kedudukan zakat dalam Islam Zakat adalah termasuk salah satu rukun Islam yang lima. diri dari sifat kikir/ bakhil. Baqarah : 43) 2. Rukun Islam yang lima yaitu : Bersyahadat. bahwa Allah subhanahu wata‟ala mewajibkan zakat. (QS. Dalil Al-Qur‟an. bersikap mulia dan rasa iba terhadap orang-orang yang membutuhkan. puasa. Ambillah zakat itu dari orang-orang kaya di antara meerka. (QS. Dan bagikanlah kepada orang-orang miskin di antara mereka. Para sahabat Nabi pun telah bersepakat bolehnya memerangi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. 4) Melimpahkan barakah. berdasarkan : 1. Hikmah disyariatkannya zakat : 1) Terjalinnya hubungan kasih sayang antara si kaya dan si miskin. AtTaubah : 103) 3) Membiasakan diri berbuat dermawan.” (Hadits Muttafaqun alaih) 3. firman Allah subhanahu wata‟ala : ”Dan dirikanlah shalat.

3) Telah lewat masa satu tahun (haul). kecuali hasil bumi. (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Ancaman bagi orang yang tidak menunaikan zakat. Bab “Memungut „Inaq (anak kambing betina umur satu tahun ke bawah) dalam shadaqoh". maka ia KAFIR. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah. Allah subhanahu wata‟ala berfirman : ‫ل‬ ) 34) “Hai orang-orang yang beriman.” Barangsiapa yang menolak dengan sadar tentang kewajiban menunaikan zakat. lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Dan brangsiapa yang yakin tentang wajibnya zakat tetapi ia enggan menunaikannya maka ia FASIQ (maksiat kepada Allah subhanahu wata‟ala). maka beritahukanlah kepada mereka. lalu dibakar dengannya dahi mereka.pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam. golongan yang berhak menerima zakat adalah 8 golongan : .35) Syarat-syarat wajib zakat : 1) Beragama Islam (bukan orang kafir) 2) Telah mencukupi nishabnya. zaktnya dikeluarkan seketika selesai panen. maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu" (QS. dan Bab “Memerangi orang yang enggan menunaikan zakat. At-Taubah : 34 . Golongan penerima zakat Berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur‟an surat At-Taubah ayat 60.Bab “Wajibnya Zakat”. sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.

3) Pengurus-pengurus (amil) zakat./** (Dikutip dari artikel Pengertian Zakat. untuk memerdekakan dirinya. 4) Para mu'allaf (orang yang baru masuk Islam atau orang-orang yang diharapkan keislamannya). Ibnul Jamil dan selainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengutus Umar Ibnul Khattab untuk menarik zakat dari Khalid Ibnul Walid.id/print.or. 6) Gharimin (orang-orang yang berhutang). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengutus sebagian sahabat untuk menarik zakat dari orang-orang kaya dan menyalurkannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sumber artikel : http://www. 8) Ibnussabil (orang-orang yang sedang kehabisan bekal dalam perjalanan) Kedudukan petugas zakat Kedudukan petugas zakat diakui oleh syariat Islam. Termasuk kewajiban kaum muslimin adalah menyambut dan memuliakan mereka karena mereka sedang dalam menjalankan tugas agama mengingatkan dan membantu orang-orang kaya melaksanakan kewajibannya menunaikan zakat. Malang. 2) Orang-orang miskin. ditulis oleh Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah. al Akh Syamsu Muhajir dengan muraja‟ah Al Ustadz Usamah Mahri. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori. Sebagai contoh. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.1) Orang-orang fakir.salafy.php?id_artikel=766 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar . 5) Budak. 7) Mujahidin (orang-orang yang berjihad di jalan Allah).

Baik dipahami maupun maupun tidak. sepintas lalu kebanyakan orang yang kalah dengan nafsunya beranggapan bahwa puasa itu hanya sebagai beban yang memberatkan.Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Sep 11. 23 Oktober 2004. '08 11:11 PM untuk semuanya Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Penulis: Al Ustadz Abdurrahim Fiqh. Walaupun. 12:52:33 Beberapa Faidah Puasa Semua perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang Dia syariatkan. sebagai dasar ketenangan dan ketentraman hidup. pasti mengandung faedah dan manfaat dan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta‟ala pasti karena berakibat mudharat dan bahaya bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta‟ala. baik di sadari ataupun tidak pasti karena bahayanya. pasti mengandung manfaat dan faedah. Sebenarnya. yaitu hidup sibuk dengan upaya peningkatan iman dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala. sebagai makanan hati yang utama dan sebagai sumber kekuatan manusia yang hakiki yang hanya dengan ini kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba bisa dicapai. kelezatan hati. . baik bahaya di dunia maupun di akhirat.atau hanya sekedar sebagai amalan ibadah yang berhak dihargai dengan suatu balasan dan pahala seperti halnya orang jual beli dengan penentuan harga. atau hanya sekedar untuk latihan pengekangan nafsu dan atau hanya sekedar untuk mengangkat manusia dari derajat hewan. baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. semua pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang dilaksanakan sebagai amalan ibadah. atau hanya sekedar sebagai ujian keimanan dari Allah . Demikian halnya dengan syariat puasa Romadhon yang sedang yang kita jalani ini. yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan bagi orang beriman dan bertakwa perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala itu adalah qorrotul „uyun (penyejuk hati).

Seperti sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Dijadikan (oleh Allah) penyejuk hatiku dalam sholat. sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. pasti mengandung faedah dan manfaat yang sangat besar untuk kesehatan badan dan kesehatan hati. Al-Bazzar ) Al-Imam Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad hasan dengan lafadz : “Orang yang banyak kenyang di dunia mereka adalah orang yang banyak lapar di akhirat. Yunus : 57) Menahan lapar di bulan puasa ataupun diluar bulan puasa ketika berpuasa maupun tidak. Ahmad dan An-Nasa‟i) Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman : “Hai manusia.” Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan : „Dunia adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir. Hal ini sudah diterangkan oleh Rasulullah shollallohu alaihi wasallam dan telah dicontohkan oleh Beliau dan keluarga Beliau.” (HR.” (QS.” .” (Muttafaqun alaihi) Beliau bersabda : “Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat. Sayyidatina Aisyah rodhiyallohu anha berkata : ‫ل‬ “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat.” (HR.

” Al-Harits seorang dokter Arab mengatakan : . meminum semua jenis minuman.” Manfaat lapar terhadap kesehatan badan adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Masiwaih : “Sekiranya manusia mau mengamalkan hadits ini (riwayat Tirmidzi) mereka akan selamat dari sakit dan berbagai penyakit. Mereka banyak bernadzar tetapi tidak menunaikannya. Al-Imam Ash-shon‟ani rahimahullah berkata : “Hadits ini menunjukkan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar‟i/ ibadah. Dan banyak di kalangan mereka orang-orang gemuk/ gendut. menutup rumah sakit dan mengistirahatkan toko obat/ apotik.” Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits : “ Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari perutnya. kemudian generasi berikutnya kemudian berikutnya. Hal itu karena sumber segala penyakit adalah kenyang. Maka. Kemudian akan datang suatu kaum mereka memberikan persaksian padahal tidak diminta persaksiannya. memakai semua jenis pakaian dan banyak berbicara. mereka itulah paling jeleknya ummatku. hendaknya Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya.Al-Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah bahwa Beliau bersabda : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. jika tidak bisa tidak (terpaksa) maka makanlah sepertiga makanan sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya.” (HR.” Al-Imam Thabrani dan Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits : “Akan terjadi pada ummatku seseorang memakan semua jenis makanan. Imam Tirmidzi) Setelah membawakan sebagian hadits-hadits di atas.

membutakan hati dan memperbanyak uap dan cairan dalam lambung. .” Yang lain mengatakan : “Kalau kamu bertanya pada ahli kubur. membisukan hikmah. pada orang yang lapar juga tidak bangkit padanya syahwat jima‟nya sehingga terhindar dari penyaluran syahwat yang diharomkan. mendudukkan anggota badan dari beribadah dan pada perut kosong itu banyak faedahnya yaitu menjernihkan hati . terluput dari berbagai kemamfataan duniawi dan ukhrowi”. mencerdaskan manusia dan menajamkan bashiroh. para ulama telah menerangkannya : Luqman al Hakim berwasiat pada putranya : “Wahai putraku jika kamu penuhi lambungmu maka akan tidur pikiranmu. Kenyang itu menyebabkan kedunguan. Adapun manfaat lapar untuk kesehatan hati. orang lapar juga sedikit tidur karena orang yang banyak makan dan minum akan banyak tidur yang dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhiratnya.”kenyang”. Berkata Dzunnun „ailaihissalam : “Saya tidak pernah kenyang kecuali saya berbuat maksiat atau berkeinginan untuk bermaksiat”.“Yang banyak membunuh manusia adalah karena manusia suka memasukkan makanan pada perut sebelum makanan dalam perut dicerna. Berkata „Aisyah radiyallahu „anha: “Bid‟ah pertama yang terjadi setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam adalah kenyang sesungguhnya suatu kaum ketika kenyang perutnya keras nafsunya untuk mendapatkan dunia” Berkata al Imam ash Shan‟ani rahimahullah : “Sesungguhnya lapar itu adalah penjaga dari penjagaan Allah dan pertama yang terhindar dengan lapar adalah dorongan syahwat jima‟ dan syahwat berbicara karena bagi orang yang lapar tidak ada keinginan untuk berbicara kecuali sangat penting sehingga dia terhindar dari berbagai penyakit lisan. apa penyebab kematianmu? Kebanyakan mereka menjawab.

lembutnya jiwa.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Adalah bapak kita Adam diuji dengan makan. kuatnya pemahaman. karena kenyang itu mengeraskan hati.” Beliau juga berkata : “Tidaklah hikmah itu berada di perut yang penuh. seorang mukmin menjadikan perutnya paling besar cita-citanya dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. lemahnya nafsu dan kemarahan.Berkata Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah : “Lapar itu menyebabkan lembutnya hati.” Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abi Dawud bahwa telah dikatakan padanya : “Lapar itu banyak menolong seseorang bersegera melakukan kebaikan. minumlah sepertiga perutmu dan biarkan sepertiga untuk bernafas dan berfikir.” Diriwayatkan dari Amir bin Qois .” Telah berkata Malik bin Dinar rahimahullah : “Tidak semestinya. bahwa dia berkata : “Jauhilah oleh kalian kenyang.” Beliau juga berkata : “Barangsiapa mampu menguasai perutnya maka dia akan mampu menguasai amal sholehnya. Sedangkan kenyang menyebabkan lawannya. jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut . makanlah sepertiga perutmu.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Wahai Bani Adam.” Berkata Abu Imran Al-Juwaini : “Sesungguhnya nafsu. dan terus kalian akan diuji dengan makan sampai hari kiamat.” Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata : “Aku tidak pernah kenyang sejak aku masuk Islam.

kenyang dan lega maka hatinya buta.” Beliau berkata : “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar, dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak, dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya.” Berkata Al-Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah : “Saya tidak pernah kenyang selama 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, menghilangkan kecerdasan, membuat banyak tidur dan melemahkan seseorang untuk melakukan ibadah.”

Demikian kehidupan Rasulullah dan para shahabat. Beliau dan para shahabatnya lebih memilih banyak lapar dari pada kenyang karena kefahamannya terhadap faedah lapar dan bahaya kenyang, lebih memilih mengekang syahwatnya daripada menurut syahwat, dan bukannya pada mereka tidak ada makanan tetapi beliau-beliau lebih memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada lawannya. Mereka makan dan minum sekedar dapat melaksanakan ibadah, karena hanya untuk itu (untuk beribadah) diciptakannya jin dan manusia.

Seringnya Rasulullah makan tiga hari sekali sampai wafat bukan makan sehari tiga kali seperti budaya kita. Allah berfirman : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

Ketika sholat sudah dilalaikan padahal sholat adalah tiang agama dan amalan yang diperintah untuk dijaga agar dikerjakan pada waktu-waktu terbaiknya maka amalan selain sholat sudah pasti akan lebih dilalaikan lagi.

Sholat adalah ukuran kedisiplinan seseorang, dan tidak ada yang lebih dapat melalaikan

sholat dan ibadah lainnya selain karena memperturutkan hawa nafsu, lebih mempertaruhkan hawa nafsu dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya daripada menjalankan hakhak Allah.

Semoga puasa kita pada bulan dan tahun ini diterima di sisi Allah sebagai ibadah yang diridhoi Allah, bermanfaat pada diri kita, baik dalam kehidupan di dunia, lebih-lebih sebagai bekal pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Wallahu a„lam bishshowab. Maraji‟ : 1. Tafsir Taisirul karimur Rohman, Al-Imam As-Sa‟di. 2. Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhussholihin, karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly.AlImam Ibnul Qoyyim. 3. Jami‟ul Ulum wal Hikam karya Al-Imam ibnu Rajab rahimahullah. 4. Subulussalam Syarah Bulughul Maram, karya Al-Imam As-Shon‟ani rahimahullah.

(Dikutip dari artikel Diantara Faidah Puasa, ditulis oleh ustadz Abdurrahim, Malang. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori, Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=764 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar

Beberapa faidah ibadah berpuasa kita

Sep 11, '08 11:11 PM untuk semuanya

Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Penulis: Al Ustadz Abdurrahim Fiqh, 23 Oktober 2004, 12:52:33 Beberapa Faidah Puasa Semua perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang Dia syariatkan, pasti mengandung faedah dan manfaat dan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta‟ala pasti karena berakibat mudharat dan bahaya bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta‟ala, baik bahaya di dunia maupun di akhirat. Baik dipahami maupun maupun tidak, baik di sadari ataupun tidak pasti karena bahayanya.

Demikian halnya dengan syariat puasa Romadhon yang sedang yang kita jalani ini, pasti mengandung manfaat dan faedah. Walaupun, sepintas lalu kebanyakan orang yang kalah dengan nafsunya beranggapan bahwa puasa itu hanya sebagai beban yang memberatkan, atau hanya sekedar sebagai ujian keimanan dari Allah ,atau hanya sekedar sebagai amalan ibadah yang berhak dihargai dengan suatu balasan dan pahala seperti halnya orang jual beli dengan penentuan harga, atau hanya sekedar untuk latihan pengekangan nafsu dan atau hanya sekedar untuk mengangkat manusia dari derajat hewan. Sebenarnya, semua pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang dilaksanakan sebagai amalan ibadah, yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan bagi orang beriman dan bertakwa perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala itu adalah qorrotul „uyun (penyejuk hati), kelezatan hati, sebagai dasar ketenangan dan ketentraman hidup, sebagai makanan hati yang utama dan sebagai sumber kekuatan manusia yang hakiki yang hanya dengan ini kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba bisa dicapai, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, yaitu hidup sibuk dengan upaya peningkatan iman dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala.

Seperti sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Dijadikan (oleh Allah) penyejuk hatiku dalam sholat.” (HR. Ahmad dan An-Nasa‟i) Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman :

” Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan : „Dunia adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir. Sayyidatina Aisyah rodhiyallohu anha berkata : ‫ل‬ “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat.“Hai manusia.” (QS. pasti mengandung faedah dan manfaat yang sangat besar untuk kesehatan badan dan kesehatan hati. Al-Bazzar ) Al-Imam Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad hasan dengan lafadz : “Orang yang banyak kenyang di dunia mereka adalah orang yang banyak lapar di akhirat. Hal ini sudah diterangkan oleh Rasulullah shollallohu alaihi wasallam dan telah dicontohkan oleh Beliau dan keluarga Beliau.” (Muttafaqun alaihi) Beliau bersabda : “Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat. kemudian generasi berikutnya kemudian .” (HR. sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Al-Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah bahwa Beliau bersabda : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Yunus : 57) Menahan lapar di bulan puasa ataupun diluar bulan puasa ketika berpuasa maupun tidak.

” Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits : “ Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari perutnya. Kemudian akan datang suatu kaum mereka memberikan persaksian padahal tidak diminta persaksiannya. Dan banyak di kalangan mereka orang-orang gemuk/ gendut. Mereka banyak bernadzar tetapi tidak menunaikannya.”kenyang”.” (HR. hendaknya Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya. meminum semua jenis minuman. Maka.” Yang lain mengatakan : “Kalau kamu bertanya pada ahli kubur. Imam Tirmidzi) Setelah membawakan sebagian hadits-hadits di atas.” Manfaat lapar terhadap kesehatan badan adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Masiwaih : “Sekiranya manusia mau mengamalkan hadits ini (riwayat Tirmidzi) mereka akan selamat dari sakit dan berbagai penyakit. Hal itu karena sumber segala penyakit adalah kenyang.berikutnya. mereka itulah paling jeleknya ummatku. memakai semua jenis pakaian dan banyak berbicara. Al-Imam Ash-shon‟ani rahimahullah berkata : “Hadits ini menunjukkan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar‟i/ ibadah. menutup rumah sakit dan mengistirahatkan toko obat/ apotik. apa penyebab kematianmu? Kebanyakan mereka menjawab.” Al-Imam Thabrani dan Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits : “Akan terjadi pada ummatku seseorang memakan semua jenis makanan.” Al-Harits seorang dokter Arab mengatakan : “Yang banyak membunuh manusia adalah karena manusia suka memasukkan makanan pada perut sebelum makanan dalam perut dicerna. jika tidak bisa tidak (terpaksa) maka makanlah sepertiga makanan sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya. .

Berkata Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah : “Lapar itu menyebabkan lembutnya hati. Berkata „Aisyah radiyallahu „anha: “Bid‟ah pertama yang terjadi setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam adalah kenyang sesungguhnya suatu kaum ketika kenyang perutnya keras nafsunya untuk mendapatkan dunia” Berkata al Imam ash Shan‟ani rahimahullah : “Sesungguhnya lapar itu adalah penjaga dari penjagaan Allah dan pertama yang terhindar dengan lapar adalah dorongan syahwat jima‟ dan syahwat berbicara karena bagi orang yang lapar tidak ada keinginan untuk berbicara kecuali sangat penting sehingga dia terhindar dari berbagai penyakit lisan. Berkata Dzunnun „ailaihissalam : “Saya tidak pernah kenyang kecuali saya berbuat maksiat atau berkeinginan untuk bermaksiat”. lembutnya jiwa. mencerdaskan manusia dan menajamkan bashiroh. terluput dari berbagai kemamfataan duniawi dan ukhrowi”. lemahnya nafsu dan kemarahan. pada orang yang lapar juga tidak bangkit padanya syahwat jima‟nya sehingga terhindar dari penyaluran syahwat yang diharomkan. mendudukkan anggota badan dari beribadah dan pada perut kosong itu banyak faedahnya yaitu menjernihkan hati . kuatnya pemahaman. membisukan hikmah.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : .Adapun manfaat lapar untuk kesehatan hati. para ulama telah menerangkannya : Luqman al Hakim berwasiat pada putranya : “Wahai putraku jika kamu penuhi lambungmu maka akan tidur pikiranmu. Sedangkan kenyang menyebabkan lawannya. Kenyang itu menyebabkan kedunguan. orang lapar juga sedikit tidur karena orang yang banyak makan dan minum akan banyak tidur yang dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhiratnya. membutakan hati dan memperbanyak uap dan cairan dalam lambung.

dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada . dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah.“Wahai Bani Adam. makanlah sepertiga perutmu.” Beliau berkata : “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar.” Beliau juga berkata : “Barangsiapa mampu menguasai perutnya maka dia akan mampu menguasai amal sholehnya. dan terus kalian akan diuji dengan makan sampai hari kiamat. jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut kenyang dan lega maka hatinya buta. bahwa dia berkata : “Jauhilah oleh kalian kenyang. karena kenyang itu mengeraskan hati.” Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abi Dawud bahwa telah dikatakan padanya : “Lapar itu banyak menolong seseorang bersegera melakukan kebaikan.” Berkata Abu Imran Al-Juwaini : “Sesungguhnya nafsu.” Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata : “Aku tidak pernah kenyang sejak aku masuk Islam.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Adalah bapak kita Adam diuji dengan makan.” Diriwayatkan dari Amir bin Qois . Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak. seorang mukmin menjadikan perutnya paling besar cita-citanya dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. minumlah sepertiga perutmu dan biarkan sepertiga untuk bernafas dan berfikir.” Telah berkata Malik bin Dinar rahimahullah : “Tidak semestinya.” Beliau juga berkata : “Tidaklah hikmah itu berada di perut yang penuh.

Beliau dan para shahabatnya lebih memilih banyak lapar dari pada kenyang karena kefahamannya terhadap faedah lapar dan bahaya kenyang. dan tidak ada yang lebih dapat melalaikan sholat dan ibadah lainnya selain karena memperturutkan hawa nafsu. karena hanya untuk itu (untuk beribadah) diciptakannya jin dan manusia. pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya.” Berkata Al-Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah : “Saya tidak pernah kenyang selama 16 tahun. lebih mempertaruhkan hawa nafsu dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya daripada menjalankan hakhak Allah.” (QS. lebih memilih mengekang syahwatnya daripada menurut syahwat. Seringnya Rasulullah makan tiga hari sekali sampai wafat bukan makan sehari tiga kali seperti budaya kita. dan bukannya pada mereka tidak ada makanan tetapi beliau-beliau lebih memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada lawannya. maka mereka kelak akan menemui kesesatan. karena kenyang itu memberatkan badan. Maryam : 59) Ketika sholat sudah dilalaikan padahal sholat adalah tiang agama dan amalan yang diperintah untuk dijaga agar dikerjakan pada waktu-waktu terbaiknya maka amalan selain sholat sudah pasti akan lebih dilalaikan lagi. Mereka makan dan minum sekedar dapat melaksanakan ibadah. Allah berfirman : “Maka datanglah sesudah mereka.” Demikian kehidupan Rasulullah dan para shahabat.simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. Sholat adalah ukuran kedisiplinan seseorang. membuat banyak tidur dan melemahkan seseorang untuk melakukan ibadah. menghilangkan kecerdasan. Semoga puasa kita pada bulan dan tahun ini diterima di sisi Allah sebagai ibadah yang .

bermanfaat pada diri kita. Maraji‟ : 1.diridhoi Allah. '08 11:11 PM untuk semuanya Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf Fiqh. Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhussholihin. Subulussalam Syarah Bulughul Maram.AlImam Ibnul Qoyyim.or. 02:26:13 . Malang.salafy. ditulis oleh ustadz Abdurrahim. karya Al-Imam As-Shon‟ani rahimahullah. lebih-lebih sebagai bekal pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www. 4. Tafsir Taisirul karimur Rohman. Jami‟ul Ulum wal Hikam karya Al-Imam ibnu Rajab rahimahullah. 21 Juli 2003. karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly. Wallahu a„lam bishshowab. 3. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori. Al-Imam As-Sa‟di. 2. (Dikutip dari artikel Diantara Faidah Puasa. baik dalam kehidupan di dunia.php?id_artikel=764 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri Sep 11.id/print.

Di antara amalan yang menyempurnakan puasa kaum muslimin di bulan yang penuh barokah ini adalah zakatul fithr. Zakat ini disebut demikian karena ia wajib ditunaikan pada saat kaum muslimin berbuka (menyelesaikan ibadah puasanya di bulan Ramadhan). Oleh karenanya disebut pula sebagai shodaqoh Ramadhan.

Menunaikan Zakat Fithri Sebagian para ulama menukilkan ijma' (kesepakatan) ulama tentang wajibnya menunaikan zakat ini. Dan ini adalah pendapat yang rajih/ kuat meskipun pada kenyataannya ada beberapa ulama yang menyatakan sunnahnya zakat fithri ini. Di antara yang memperkuat pendapat sebagian besar para ulama adalah hadits dari Ibnu 'Umar Radiyallahu 'anhu bahwa: "Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri (ketika Ramadhan berakhir) bagi setiap orang merdeka atau budak, lelaki atau perempuan, yang besar maupun kecil dari kalangan muslimin berupa kurma (tamr) atau gandum sebanyak 1 sha'. Dan beliau memerintahkan agar zakat ini ditunaikan sebelum kaum Muslimin keluar menuju lapangan (untuk menunaikan) sholat Ied. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Yang pasti, Allah Ta'ala mensyariatkan ibadah ini karena mempunyai keutamaan dan hikmah yang besar.Maka di antara hikmah dari zakat fithri adalah: 1. Sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, menyempurnakan kekurangan pahala puasanya di bulan Ramadhan oleh karena perbuatan sia-sia/ dosa. 2. Sebagai bentuk rasa syukur yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala, setelah mampu menyelesaikan ibadah Ramadhan dengan baik. 3. Mempererat ukhuwwah antara kaum muslimin, di mana dengan pemberian zakat ini akan terjalin hubungan yang baik antara dhu'afa dan aghniya. Kaum dhu'afa tak lagi disibukkan dengan kerja keras banting tulang bahkan kadang terpaksa mengemis untuk memperoleh makanan yang akan dimakannya pada saat Idul Fithri. Dengan demikian mereka akan turut bergembira dan merasakan kemenangan di hari tersebut. Demikianlah di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Fathul Baari (III/369) berkata: "Zakat Fithri diwajibkan untuk orang yang berpuasa dan juga orang yang tidak berpuasa sebagaimana hal ini telah diketahui keshahihannya. Demikian pula orang yang baru masuk Islam sesaat

sebelum terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan, maka ia pun terkena kewajiban menunaikannya."

Dengan apa zakat fithri dibayarkan Dari hadits di atas kita ketahui bahwa zakat fithri adalah dengan memberikan gandum dan tamr (kurma) seberat 1 sha'. Lalu apakah terbatas hanya pada dua jenis makanan ini? Maka pertanyaan ini akan terjawab dengan hadits marfu' (sanadnya sampai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam) yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry bahwasanya dia berkata: "Kami dahulu memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu „alaihi wassalam seukuran 1 sha' makanan atau 1 sha' kurma atau 1 sha' gandum atau 1 sha' aqith (susu kambing yang dipanaskan hingga berbusa lalu diambil saripatinya dan dibiarkan hingga mengeras) atau 1 sha' anggur kering."

Ternyata dalam dua hadits ini, tidak kita dapati penyebutan beras atau sagu sebagai bahan makanan pokok di negeri ini. Sehingga apakah kita harus mencari bahan-bahan yang tersebut dalam dua hadits di atas untuk membayar zakat fithri kita?

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, pendapat yang paling masyhur di dalam madzhab Hanbali (madzhabnya pengikut Imam Ahmad ibnu Hanbal) adalah pendapat bahwa membayar zakat dengan bahan-bahan selain yang disebutkan dalam dua hadits di atas adalah tidak sah. Akan tetapi pendapat ini, wallahu a'lam, adalah pendapat yang marjuh/ lemah. Sebab dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudry mengatakan: "Kami (para sahabat Nabi) memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam berupa 1 sha' makanan." Abu Sa'id Al-Khudry berkata: "Dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, anggur kering, dan aqith."

Riwayat ini menunjukkan bahwa makanan yang dibayarkan adalah makanan pokok yang paling banyak dibutuhkan oleh penduduk suatu negeri. Dan ini adalah pendapat ulama dari madzhab Malikiyyah dan Syafi'i dan diriwayatkan pula dari Imam Ahmad, serta dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi'iy rahimahullah ta'ala. Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman ibnu Shalih Al-Bassam dalam Taisirul 'Allam –

keterangan beliau terhadap kitab Umdatul Ahkam – (I/404) mengatakan: "Bahan makanan yang paling utama untuk zakat fithri (dari bahan-bahan makanan yang ada) adalah bahan makanan pokok yang paling dibutuhkan oleh kaum muslimin (faqir dan miskin) setempat." Sehingga di Indonesia, bahan makanan yang paling baik untuk zakat fithri adalah beras. Wallahu a'lam.

Berapa ukurannya

Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ukuran (takaran) 1 sha' adalah sha' nabawy (seukuran 4 mud yang ditakar dengan dua tangan Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam). Dan apabila dikonversikan ke satuan timbangan (berat) maka 1 sha' nabawy setara dengan 2040 (dua ribu empat puluh) gram atau 2,04 kg. Wallahu a'lam.

Bolehkah menggantikan bahan pokok dengan uang yang senilai? Al-Imam An-Nawawy menukilkan dalam Syarah Muslim (VII/53) bahwa seluruh ulama (kecuali Abu Hanifah) tidak membolehkan zakat fithri yang dibayarkan dengan uang. Dan inilah yang rajih/ kuat berdasarkan beberapa hal: 1. Hadits tentang zakat fithri menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mensyariatkan zakat ini untuk ditunaikan dalam bentuk makanan. 2. Amalan Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam dan sahabatnya menunjukkan bahwa mereka selalu menunaikan zakat ini berupa makanan, padahal kita mengetahui bahwa di masa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam pun telah beredar uang dinar dan dirham. Namun beliau dan para sahabatnya tetap menunaikan zakat dengan bahan makanan, tidak dengan dinar dan dirham.

Siapa yang harus dibayarkan zakatnya Setiap kaum muslimin (laki-laki dan perempuan) harus membayar zakatnya masing-masing jika dia memiliki kemampuan untuk membayarnya. Sehingga seorang wanita atau anak kecil yang memiliki harta harus menunaikan dengan hartanya. Adapun bila dia tidak memiliki harta maka yang harus membayar adalah orang yang menanggung nafkahnya kalau dia memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang harus ia nafkahkan kepada orang-orang

" Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Majmu' Fatawa (II/71-78) serta Ibnul Qoyyim dalam kitab beliau Zadul Ma'ad (II/44). Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu meriwayatkan: "Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri." . Adapun hamba sahaya. Namun qiyas ini tidaklah dibenarkan. maka wajib bagi tuannya untuk membayar zakat budak tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah: "Tidak ada kewajiban untuk membayarkan shodaqoh seorang hamba sahaya kecuali zakat fithri.yang berada di bawah tanggungannya pada malam Ied dan esoknya. pensuci bagi orang yang puas dari perbuatan sia-sia. Karena dalil dari Al-Qur'an ini adalah dalil yang bersifat umum. sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama. Kepada siapa zakat fithri diberikan Zakat fithri diberikan kepada yang berhak menerimanya. Bolehkah membentuk kepanitiaan untuk zakat fithri Di antara sunnah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam dalam penunaian zakat fithri adalah pembentukan panitia khusus yang menerima zakat fithri dari kaum muslimin serta menyalurkannya kepada yang berhak menerima. Diceritakan oleh Abu Hurairah: "Rasulullah memberitahukan kepadaku agar aku mengurus zakat Ramadhan. Sedangkan untuk zakat fithri adalah dalil khusus yaitu hadits Ibnu Abbas yang telah disebut di atas. Lalu mengapa zakat fithri ini tidak disalurkan kepada 8 golongan Sebagian para ulama menganggap bahwa zakat fithri disalurkan kepada 8 golongan. Mereka meng-qiyas-kannya dengan zakatul maal yang memang diberikan kepada 8 golongan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala dalam surat At-Taubah ayat 60." (HR. Mereka adalah orang-orang faqir dan miskin. Bila dia tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang harus dia nafkahkan untuk tanggungannya maka tidaklah wajib baginya untuk membayar. Beliau telah mencontohkan hal ini di masa hidupnya. Muslim). yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin.

" (HR.org/awwb/th1/2. Bulletin al Wala wal Bara Edisi ke-2 Tahun ke-1 / 29 November 2002 M / 24 Ramadhan 1423 H." Kapan zakat fithri ditunaikan Ia harus ditunaikan (disampaikan kepada yang berhak) sebelum kaum muslimin keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat Ied. Abdul Warits bertanya kepada Ayyub: "Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu sha' (zakat fithri)?" Ayyub menjawab: "Setelah panitia mulai bertugas. kami mengajak segenap kaum muslimin untuk menunaikan zakat fithri sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam. Abu Dawud." Adapun memajukannya satu atau dua hari sebelum Iedul Fithri. Dan Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: "Barangsiapa menunaikan zakat fithri sebelum shalat ied maka ia adalah zakat yang diterima. Dan para ulama sepakat bahwa ia tidak boleh ditunda sama sekali. sehingga Allah Subhanahu wa Ta‟ala menyempurnakan pahala ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini dengan zakat fithri yang kita tunaikan. Oleh sebab itu. dan lainnya dengan sanad yang hasan). Ibnu Majah." Abdul Warits bertanya lagi: "Kapankah panitia itu mulai bertugas?" Maka beliau menjawab: "Satu atau dua hari sebelum Idul Fithri.Ibnu Khuzaimah (dalam kitab [IV/83]) mencantumkan satu riwayat dari Abdul Warits dari Ayyub bahwasanya Ibnu Umar pernah menyalurkan zakat fithri melalui panitia yang dibentuk oleh pemerintah muslimin satu atau dua hari sebelum Idul Fithri. Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah zakat fithri. maka hal ini diperbolehkan. sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan riwayat dari Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radiyallahu „anhu. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah dilakasanakan shalat iedul fithri maka ia dianggap sebagai salah satu jenis shodaqoh saja dan zakatnya tidak diterima. url sumber http://fdawj. (Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf. Amin.htm) .atspace. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar ra: "Bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kum muslimin untuk membayarkan zakatnya sebelum keluarnya mereka untuk menjalankan shalat Ied.

maka kami katakan: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan sunnah Nabi secara adil. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna. 28 Oktober 2004. dan sebagai penegasan terhadap kebenaran.or.Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. dan mematahkan takwilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu Sunnah. wlaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan yang shahih yang menyingkap yang bathil. dusta.salafy. (untuk) memusnahkan penyimpangan orangorang sesat dari sunnah. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Sep 11.tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walaupun sedikit perhatianpun. Sejak bertahuntahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits dhaif. diada-adakan atau lainnya. karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia. Sumber artikel : http://www. Maksud kami bukan membahas dengan detail .id/print. 05:15:09 Hadits-hadits dhaif yang tersebar seputra bulan Ramadhan Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami.php?id_artikel=121 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Lagi. '08 11:03 PM untuk semuanya Lagi.

berkata. niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya.masalah ini. “matruk (ditinggalkan) .” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu‟aim. serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia. hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini –sangat disesalkan. Semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya. hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak. jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup) kita. “Dia suka memalsukan hadits. tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan mashyur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. penyakitnya pada Jabir bin Ayyub. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya‟la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul „Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas‟ud Al Ghifari.” Jadikanlah imam ini sebagai suri tauladan kita. Hadits ini maudhu‟ (palsu). “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa‟i. Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia pada bulan Ramadhan diantaranya: 1.” dan Bukhari. biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan kelemahannya.menduduki kedudukan yang tinggi.55) Maka kami katakan wabillahi taufiq: Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat…” (riwayat Bukhari 6/361). Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” Hingga akhir hadits ini. “Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan. dan sabda beliau: “Agama itu nasehat…”(riwayat Muslim no.yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif.

bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya.” . “Jangan berhujjah dengan hadits ini. Hadits ini juga panjang.” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam‟ul Jawami‟ (no.” 3. berkata Ibnu Sa‟ad. 23714-tertib urutannya).” berkata Imam Ahmad bin Hanbal. “Jika haditsnya shahih. “Hadits yang mungkar.” Ibnul Jauzi menghulumi hadits ini sebagai hadits palsu.” Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323).” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf. Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini. Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (1/249). kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur.” 2. Hadits ini sanadnya dhaif. niscaya kalian akan sehat.haditsnya. karena lemahnya Ali bin Zaid. “Wahai manusia. “Tidak kuat. “Berpuasalah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178. karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al Bajali. karena jelek hafalannya. “Lemah di segala penjuru.” dan berkata Ibnu Khuzaimah. sungguh bulan yang agung twlah (menaungi) kalian. dan ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya. Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai.” berkata Ibnu Ma‟in. “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah.b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad‟an dari Sa‟id bin Al Musayyib dari Salman. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat. “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad‟an. dan dia lemah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan. “Jika benar kabarnya. maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain….

tidak diketahuinya keadaan Abil muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah. dari Zuhair bin muhammad.” Ibnu Abi Hatim berkata. hingga kesimpulannya ada tiga penyakit: idhthirab (goncang). Berkata Abu Bakar Al Atsram. Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta‟liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah. Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas.pent) yang dhaif itu.” demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/427). dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas.” Al Ajalaiy berkata. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari (4/161): “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak. “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870).berkata. “Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut.” Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu‟allaq* dalam Shahih-nya (4/160 –Fathul Bari) tanpa sanad. Ibnu Majah (1672) dan Nasa‟i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373). At Tirmidzi (723). biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaiman dinaskhkan oleh para Imam adalah mungkar. Dan sanad hadits ini lemah. dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. 4.Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa‟id. “Aku mendengar Imam Ahmad –dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin muhammad. dan hadits ini darinya. “Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari ahli Syam ini tidak membuatku kagum. Aku katakan: dan Muhammad bin Sulaiaman Syaami. Abu Daud (2397). karena jeleknya hafalan dia. Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma‟ul Bahrain) dan Abu Nu‟aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud. “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair –pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam.” .

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. inilah sifat puasa Nabi dihadapanmu. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Wahai saudaraku yang haus akan ketaatan kepada Allah. yang sesuai dengan syari‟at kita yang lurus baik dari Al Qur‟an maupun Sunnah. namun walaupun demikian kita (sering)mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya. Wasubhaanakallahu wa bihamdika. Dengan sanad ini dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak. telah benar dan baik orang yang menamainya (yakni Al Isnad) adalah: “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar.” Mudah-mudahan Allah memberi rizki pada kami kebaikannya. bersegeralah kepada kebaikan. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. astaghfiruka.” Wa ba‟du: Inilah empat hadits yang didhifkan oleh para ulama dan dilemahkan oleh para Imam. membedakan yang shahih dari yang jelek. Dan inilah petunjuknya dalam puasa Ramadhan.umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Bab "HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN".Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: “Jika khabarnya shahih. akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah. karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya sehingga hadits ini dhaif juga. Ditulis oleh: Penuntut Ilmu Syar‟i Ali Hasan Ali Abdul Hamid Saalim Al Hilali 25 Ramadhan 1403 H (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Tidak menutup kemungikinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar. wa atuubu ilaika. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. asyhadu anlaa ilaha illa anta. Penerbit Al .

dan mematahkan takwilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu Sunnah.php?id_artikel=778 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Lagi. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. Sejak bertahuntahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits dhaif. 28 Oktober 2004.Maktabah Al islamiyyah cet. 05:15:09 Hadits-hadits dhaif yang tersebar seputra bulan Ramadhan Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna. maka kami katakan: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan sunnah Nabi secara adil. karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Ke 5 th 1416 H.tidak memperdulikan masalah yang mulia .salafy. (untuk) memusnahkan penyimpangan orangorang sesat dari sunnah. dan sebagai penegasan terhadap kebenaran. '08 11:02 PM untuk semuanya Lagi.id/print. Sumber artikel : http://www. diada-adakan atau lainnya.or. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Sep 11. dusta. Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah.

menduduki kedudukan yang tinggi.55) Maka kami katakan wabillahi taufiq: Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali. tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan mashyur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya. jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup) kita. Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia pada bulan Ramadhan diantaranya: 1. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat…” (riwayat Bukhari 6/361). 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya‟la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul „Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas‟ud Al Ghifari. wlaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan yang shahih yang menyingkap yang bathil. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif. Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini.” Jadikanlah imam ini sebagai suri tauladan kita. hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini –sangat disesalkan.ini walaupun sedikit perhatianpun. niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya. serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia. hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak. “Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan. Hadits ini maudhu‟ (palsu). biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan . Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” Hingga akhir hadits ini. penyakitnya pada Jabir bin Ayyub. dan sabda beliau: “Agama itu nasehat…”(riwayat Muslim no.

” berkata Imam Ahmad bin Hanbal.” dan Bukhari. pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai. “Jangan berhujjah dengan hadits ini. Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini. Hadits ini sanadnya dhaif. “Jika haditsnya shahih. “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa‟i.” berkata Ibnu Ma‟in.” Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323). karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al Bajali. berkata Ibnu Sa‟ad. “Dia suka memalsukan hadits. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat. 23714-tertib urutannya). Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan. “Hadits yang mungkar. “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad‟an. “Wahai manusia. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178.” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf.kelemahannya.” 2. “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah. karena jelek hafalannya. Hadits ini juga panjang.b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad‟an dari Sa‟id bin Al Musayyib dari Salman. dan ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya.” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu‟aim. “matruk (ditinggalkan) haditsnya. dan dia lemah. Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (1/249).” Ibnul Jauzi menghulumi hadits ini sebagai hadits palsu. “Jika benar kabarnya. sungguh bulan yang agung twlah (menaungi) kalian. “Lemah di segala penjuru. Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain…. karena lemahnya Ali bin Zaid.” . “Tidak kuat.” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam‟ul Jawami‟ (no. kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya.” dan berkata Ibnu Khuzaimah. berkata.

“Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair –pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam. niscaya kalian akan sehat. “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak.” Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa‟id.3.berkata.pent) yang dhaif itu. Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma‟ul Bahrain) dan Abu Nu‟aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud. “Aku mendengar Imam Ahmad –dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin muhammad. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari (4/161): “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak. biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaiman dinaskhkan oleh para Imam adalah mungkar. 4. dan hadits ini darinya. dari Zuhair bin muhammad. Aku katakan: dan Muhammad bin Sulaiaman Syaami. Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta‟liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah. At Tirmidzi (723). “Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut. dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. Berkata Abu Bakar Al Atsram. hingga kesimpulannya ada tiga penyakit: idhthirab (goncang). tidak diketahuinya keadaan Abil muthawwas dan diragukan .” Al Ajalaiy berkata.” Ibnu Abi Hatim berkata. dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. Ibnu Majah (1672) dan Nasa‟i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373). Abu Daud (2397).” demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/427). “Berpuasalah. Dan sanad hadits ini lemah. karena jeleknya hafalan dia.” Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu‟allaq* dalam Shahih-nya (4/160 –Fathul Bari) tanpa sanad. “Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari ahli Syam ini tidak membuatku kagum. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870).

Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. membedakan yang shahih dari yang jelek. Bab . yang sesuai dengan syari‟at kita yang lurus baik dari Al Qur‟an maupun Sunnah. Wahai saudaraku yang haus akan ketaatan kepada Allah. Tidak menutup kemungikinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar. bersegeralah kepada kebaikan. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. astaghfiruka. inilah sifat puasa Nabi dihadapanmu. Ditulis oleh: Penuntut Ilmu Syar‟i Ali Hasan Ali Abdul Hamid Saalim Al Hilali 25 Ramadhan 1403 H (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Dengan sanad ini dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak. telah benar dan baik orang yang menamainya (yakni Al Isnad) adalah: “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar.” Mudah-mudahan Allah memberi rizki pada kami kebaikannya. wa atuubu ilaika. asyhadu anlaa ilaha illa anta.” Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: “Jika khabarnya shahih.” Wa ba‟du: Inilah empat hadits yang didhifkan oleh para ulama dan dilemahkan oleh para Imam. namun walaupun demikian kita (sering)mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya. dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah. Dan inilah petunjuknya dalam puasa Ramadhan. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit.pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah. karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya sehingga hadits ini dhaif juga.umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Wasubhaanakallahu wa bihamdika.

28 Oktober 2004."HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN". ia berkata: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kami . Ke 5 th 1416 H. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. 05:03:44 1. Hukumnya Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia].php?id_artikel=778 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. Dan hadits sebelumnya sebagai syahid] Sebagian Ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa‟ad bin Ubadah. Sumber artikel : http://www.id/print. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.”194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim] Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. '08 10:54 PM untuk semuanya Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh.”195)[Riwayat Abu Daud (1622) dan An Nasa‟I (5/50). Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.salafy. padanya ada Al Hasan ber-„an‟anah.or.

dan sanadnya shahih] dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (diahapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri. dan dikeluarkan oleh An Nasa‟I (5/49) dan Ibnu Majah (1/585) dan Ahmad (6/6). “Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan . mungkin Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mencukupkan dengan perintah yang pertama.” Imam Al Khathabiy Rahimahullah berkata dalam Ma‟alimus Sunan (2/214): “Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri. tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah. orang yang merdeka maupun hamba. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma. Ibnu Khuzaimah (4/81) dan Al Hakim (1/410) dan Al Baihaqi (4/159) dari beberapa jalan. Siapa yang Wajib Zakat ? Zakat fithri wajib atas kaum muslimin.” Al Hafidz Rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya (3/368): “bahwa pada sanadnya ada rawi yang tidak dikenal196) [Akan tetapi hadits tersebut mempunyai penguat. karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain.” 2.dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya (kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami. tidak mengharuskan dimansukhknya hukum sebelumnya. sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum. laki-laki. atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka. kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin.”198) [HR Muslim (982)] Hadits ini umum. anak kecil. perempuan. besar. tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri). Yang lain berkata. sedang hadits Ibnu Umar khusus. kedudukan zakat harta (sebagaiman) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang perorang).”197)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)] Sebagian Ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri.

jika „illat diwajibkannya karena pensucian. jika berserikat dalam „illat berserikat pula dalam hukum. Macam Zakat Fithri Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu gantang gandum. ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu. satu gantang gandum. yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin. satu ganang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit). 3. tepung dan adonan.” Al Hafidz menjawab (3/369): “Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan. karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar. pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia. satu gantang korma dan satu gantang salt. namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya.”201) [Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/80) dan Al Hakim (1/409-410) Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa‟id Al Khudri. baik menurut masyarakat maupun istilah.zakat fithri.”200) [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)] Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan atu gantang gandum. satu gantang korma. maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu. satu gantang susu. satu gantang susu kering. satu gantang kurma. semuanya telah dilakukan oleh para sahabat . karena hadits Abu Sa‟id Al Khudri Radhiallahu anhu: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam) satu gantang makanan.” Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin. tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu. satu gantang anggur kering. zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari.”199) [Telah lewat takhrijnya] Imam Al Khathabiy dalam Ma‟alimus Sunan (3/214) menegaskan: “Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia.

menurut hadits-hadits yang shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu gantang anggur. diterima. yang membawa korma diterima.”203) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). agar kaum muslimin yang mendudukkkan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka.”202) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan. Ukuran Zakat Fithri Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi. 4. aku mengira beliau berkata: “yang membawa adonan diterima. bahwa pendapat Mua‟wiyah bukanlah ijtihad hasil dari pemikiran sendiri. ada yanga mengatakan setengah gantang ini yang rajih. “Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima. besar. anggur kering.”204) [Telah lewat takhrijnya] Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri. mereka ikhtilaf tentang hinthah. susu yang dikeringkan dan korma. barangsiapa yang membawa gandum diterima. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima. budak dan orang yang merdeka. Ini dikuat-kan oleh perkataan Abu Sa‟id: “Dulu makanan kami adalah gandum. tetapi berdasarkan hadita marfu‟ sampai kepada Rasululllah Shalallahu „alaihi wassalam. sanadnya hasan] Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Mu‟awiyah Radhiallahu anhu berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam. yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima. untuk dua orang satu gantang dari gandum .berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu gantang makanan dari anak kecil. sanadnya hasan] Dari beliau Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: “Zakat fithri satu gantang makanan. aku mengira beliau berkata. dan bahwa satu mud hinthah itu melebihi yang ada di sini. dan yang paling sahahih berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam: “Tunaikanlah satu gantang gandum atau korma. yang membawa anggur kering diterima.

”207) [Dikeluarkan oleh Daruquthni (2/141) dan Ibnu Umar dengan sanad dhaif (lemah). tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya. Dan dikeluarkan Al Baihaqi (4/161) dari jalan yang lain dari Ali. Dan padanya ada jalan yang mauquf dari Ibnu Umar pada Inu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/37) dengan sanad shahih. Nasa‟I (7/281). anak kecil atau besar. baik anak kecil maupun orang tua laki-laki dan perempuan. hamba. Siapakah yang harus dibayar zakatnya? Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih] 5. Gantang yang teranggap adalah gantangnya penduduk Madinah. orang yang merdeka dan budak. dan sanadnya terputus.atas orang merdeka. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih]. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu‟ Fatawa (2/71-78) serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma‟ad (2/44). dan kiloan yang teranggap adalah kiloan-nya orang madinah. Sebagian Ahlul ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan. Dan Syaikhul Islam telah membentahnya pada kitab .”206) [Riwayat Abu Daud (2340). Kemana Disalurkannya Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya.”205) [Riwayat Abu Daud (2340). mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Nasa‟I (7/281).”208) [Telah lewat takhrijnya]. orang merdeka dan hamba dari orang-orang yang membekalinya. berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah. berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “kami diperintah oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua. Maka -dengan jalan-jalan inimaka haditsnya menjadi hasan] 6.

Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum „Iedul Fithri. Hikmah Zakat Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang . dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada).” 7. aku katakan: “Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang?” Berkata Ayyub: “Apabila petugas telah duduk (bertugas).”209) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/396)] Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar Radhiallahu anhuma mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan. Waktu Penunaian Zakat Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju sholat „Id dan tidak bleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya. Sungguh Nabi Shalallahu „alaihi wassalam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiallahu anhu. dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub. Termasuk amalan sunah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk diberikan kepada yang berhak –pent).”211) [Telah lewat takhrijnya] 8.maktabah Al Islamiyah] berdasarkan perbuatan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma –berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayatnyamaka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “… Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima.” Aku katakan: “Kapankah petugas itu mulai bertugas?” Beliau menjawab: “Satu hari atau dua hari sebelum “Idul Fithri. karena hal itu sangat penting.yang telah disebutkan baru saja. cet. pent) untuk mengumpulkannya. kecuali satu atau dua hari (sebelum „Id)210) [Lihat pada kitab Ahkamul „Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid. ia berkata: “Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan. maka lihatlah kitab tersebut.

penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.or. suplai bahan makanan dan minuman yang merupakan bahan bakar aktifitas kehidupan manusia berkurang sehingga pembuluhpembuluh darah menyempit. Pada diri seseorang yang berpuasa. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Ke 5 th 1416 H. .id/print. maka puasa dapat memperkuat jiwa. '08 10:54 PM untuk semuanya Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Penulis: Al Ustadz Ahmad Hamdani Fatwa-Fatwa. 05:26:46 Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Kalau jasmani seseorang dapat menjadi kuat disebabkan latihan fisik. Bab "Zakat Fitrah". Sumber artikel : http://www. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Seiring dengan menyempitnya pembuluh-pembuluh darah itu berarti menyempit pula tempat aliran setan dalam tubuh.berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi (kebutuhan ) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma yang telah lalu. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. 18 Oktober 2004.salafy.php?id_artikel=777 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Sep 11.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ). Puasa sebagai benteng bagi orang-orang yang bertaqwa dari musuh Allah yaitu setan yang jalannya dalam rangka menguasai manusia adalah hawa nafsu syahwat. Ahmad 2/446. Puasa merupakan amal tersembunyi. 9/175 dan Muslim 157-158) Sebenarnya cukuplah satu hadits qudsi yang mulia itu menunjukkan keutamaannya. Pada umumnya orang lain tidak mengetahuinya dan kemungkinan besar sedikit tercampur dengan unsur riya‟.Keadaan seperti ini akan membuat nafsu syahwat terpenjara (dari hubungan sex atau persetubuhan) dan memenangkan anggota badannya dengan cara yang menakjubkan. Ad-Darimi 2/21. Allah berfirman dalam hadits qudsi tentang keutamaan puasa: ). ( ‫ق‬ ٠٧٢/٤ ١/٥٣٩ ‫ل‬ ٢/٢١ ‫٣٧٣ ،٦٤٤/٢ ح‬ Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya selain dari rasa lapar dan dahaga. Akan tetapi orang-orang yang berpuasa itu berbeda dan bertingkat-tingkat dalam hal mendapatkan pahala dan keutamaannya. yaitu: 1. 373 dan Al-Baihaqi . Bukhari 3/3. Dengan demikian puasa adalah perisai dari serangan nafsu syahwat bagi orang-orang yang bertaqwa. (HR. Ibnu Majah 1/539. 2. Inilah hakikat puasa. (HR. Puasa memiliki dua keutamaan khusus yang tidak ditemukan pada ibadah badan lainnya. ٣/٣، ٩/١٧٥ ‫)٨٥١-٧٥١/٣ ل‬ Puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya.

maka orang tersebut diminta bertaubat. . 87-100: Tanya: Beberapa orang melakukan safar (bepergian) pada bulan Ramadlan. Semoga bermanfaat. Dalam rombongan itu ada yang berbuka dan ada yang berpuasa. maka dibunuh. Pertanyaan: Berapakah jarak boleh mengqashar shalat? Apakah bila seseorang safar pada suatu hari boleh berbuka puasa? Apakah perbedaan safar maksiat dan safar ketaatan kepada Allah? Jawab: Menurut kesepakatan kaum muslimin (ulama) berbuka puasa diperbolehkan bagi musafir jika safar itu bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya seperti haji. berdagang. Orang yang safar boleh mengqashar shalat dan berbuka puasa menurut kesepakatan ulama meskipun tidak merasa haus dan lapar. Begitu pula orang yang mengingkari orang yang berbuka (ketika safar). baik tersedia makanan minuman atau tidak. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab beliau Haqiqatus Shiyam hal. dan yang semisalnya. maka dia diminta untuk bertaubat dari pendapatnya itu. Para ulama masih bersilang pendapat bila safarnya untuk bermaksiat pada Allah seperti safar dengan niat merampok. Dalam kaitan ini kami kutipkan fatwa-fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Fauzan yang berhubungan dengan puasa berupa tanya jawab sekitar puasa dan Ramadlan. jihad. Orang yang mengatakan bahwa orang yang safar tidak boleh berbuka kecuali yang lemah untuk berpuasa.4/270 dari jalan Sa'id Al-Muqbiri dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu) Hal ini terjadi disebabkan orang yang berpuasa tidak mengerti hakekat puasa sehingga tidak melaksanakannya sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya dan puasanya tidak mendatangkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. Di antara yang berbuka mengejek yang berpuasa dengan alasan bahwa berbuka itu lebih utama. Jika tidak bertaubat.

Imam Malik. ( Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena semua itu bertentangan dengan Kitabullah. sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan ijma' umat. Menurut pendapat imam yang empat. Bukhari) Hal ini karena mereka memahami firman Allah: ‫ل‬ . Abu Hanifah. ia harus bertaubat dari ucapannya itu. dan lainlain radliyallahu 'anhum. bahkan tidak diperbolehkan berpuasa sehingga meskipun ia berpuasa tetap wajib mengqadlanya. Pendapat ini dipegang oleh Abdurrahman bin 'Auf. (HR. Para ulama tidak bersilang pendapat dalam hal pembolehan berbuka puasa bagi musafir. Tidak termasuk kebaikan puasa dalam safar (bepergian). Imam Syafi'i. Bukhari dan Muslim) Sedangkan madzhab yang empat membolehkan puasa bagi musafir dengan dasar ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Anas radliyallahu 'anhu: ). (HR. Sekelompok ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa orang yang sedang safar harus berbuka. Sebagaimana pula madzhab Dhahiri. Abu Hurairah. Sedangkan yang masih diperselisihkan justru pembolehan berpuasa bagi musafir. maka yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa. bagi musafir diperbolehkan mengqashar shalat yang empat rakaat dan hal ini lebih afdhal. dan Imam Ahmad.Juga orang yang mengatakan bahwa orang yang berbuka (ketika safar) itu berdosa. Mereka berdalil dengan hadits: .

Sedangkan Abu Hanifah dan kelompok ulama salaf dan khalaf lainnya menentukan jarak perjalanan 3 hari. Menurut pendapat yang paling kuat adalah boleh berbuka dan menqashar shalat pada bepergian kurang dari dua hari[1]. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. (Al-Baqarah: 185) Adapun ukuran safar yang diperbolehkan untuk mengqashar shalat dan berbuka puasa menurut Imam Ahmad dan Syafi'i adalah jarak perjalanan dua hari dengan kendaraan unta atau jalan kaki sejauh lebih kurang 16 farsakh (satu farsakh lebih kurang 8 km –pent) seperti jarak antara Mekah-Ashfahan atau Mekah-Jedah. supaya kamu bersyukur.: . Yang paling benar adalah seseorang diperbolehkan berbuka ketika safar di pertengahan hari (sebelumnya ia berpuasa –pent). dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) (wajiblah baginya berpuasa). Sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab Sunan. sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain. ١٨٥﴾ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan. Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan bathil). Para shahabat berbuka bila keluar safar pada pertengahan hari dan disebutkan bahwa yang . Tanya: Apakah seorang safar pada pertengahan hari boleh berbuka? Jawab: Ada dua pendapat yang masyhur mengenai masalah ini. Keduanya dari Imam Ahmad. Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengqashar shalat ketika di Arafah dan Muzdalifah serta Mina yang diikuti oleh penduduk Mekah dan beliau tidak memerintahkan mereka menyempurnakan shalat mereka. maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu.

Kemudian beliau dijamu dan beliau makan. Turki dan selainnya yang bermukim pada musim panas di suatu tempat. Sedangkan apabila seorang tiba di tempat tujuan pada pertengahan hari. Sedangkan bila telah singgah di tempat musim dingin atau tempat musim panas tidak boleh berbuka dan mengqashar shalat. membawa perbekalan lengkap dan dia terus-menerus demikian maka dia tidak boleh mengqashar shalat maupun berbuka puasa.demikian itu sunnah yang dikerjakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. maka boleh mengqashar shalat. Apakah pendapat ini dibenarkan? . Orang-orang pedalaman seperti Badui Arab. Apakah yang lebih utama baginya puasa atau tidak? Jawab: Menurut ijma' ia lebih utama berbuka meskipun dia tidak merasa berat dan berpuasa juga diperbolehkan. Akan tetapi dia wajib mengqadla baik berpuasa atau tidak. Tanya: Ada seorang imam masjid bermadzhab Hanafi menyebutkan bahwa dia membaca kitab bahwa bila seseorang berpuasa di bulan Ramadlan tidak berniat pada akhir waktu isya' atau sahur maka puasanya tidak berpahala. haus maupun lelah. Tanya: Ada seorang yang safar di bulan Ramadlan tidak merasa lapar. Walaupun ada sebagian ulama mengatakan tidak berpahala bila ia puasa. Orang yang sering bepergian ke suatu tempat tertentu boleh berbuka seperti pedagang yang pergi ke kota lain. bila mereka dalam perjalanan dari tempat musim dingin ke tempat musim panas atau sebaliknya. Para shahabat melihat beliau. Sedangkan orang yang bepergian jauh dengan naik kapal besar ditemani istrinya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berniat puasa waktu safar. tukang pos yang bepergian untuk kemaslahatan kaum muslimin dan lain-lain. para ulama masih berselisih pendapat dalam menentukan kewajiban berpuasa.

Niat itu tempatnya di hati. Berpuasa dengan cara seperti itu. tetapi ia hendaknya mengatakan: Titipan yang kuberikan padamu itu adalah milikku. cukup baginya. Seperti seorang yang dititipi barang atau uang miliknya sendiri. cukup secara mutlak tidak dengan niat tertentu (ta'yin) selain niat puasa Ramadlan. yaitu dengan niat mutlak. Keumuman kaum muslimin berpuasa dengan diiringi niat. Kedua. maka ia tidak perlu menyerahkan barang itu kedua kalinya. Apabila berpuasa dengan cara seperti itu diniatkan puasa sunnah lalu diketahui bahwa hari itu adalah bulan Ramadlan. Maka bila ia tidak melakukan berarti belum terbebas dari kewajiban. Sebagaimana disabdakan Nabi . Bila ia tahu besok Ramadlan maka ia akan menta'yin (menentukan niatnya) artinya tidak cukup berniat secara mutlak karena Allah ta'ala memerintahkannya niat menunaikan kewajibannya yaitu puasa bulan Ramadlan. tetapi ia tidak mengetahui bahwa titipan itu miliknya lalu ia sedekahkan pada orang lain. Dan riwayat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad menyatakan bahwa manusia itu mengikuti niat imamnya yaitu bahwa berbuka atau berpuasa ditentukan oleh ulama. Bila ia tahu besok akan puasa haruslah ia meniatkan puasa. Melafalkan niat bukan wajib menurut ijma' kaum muslimin. Lalu tak lama kemudian ia mengetahui bahwa ternyata titipan itu miliknya. Adapun bila seseorang tidak mengetahui bahwa besok bulan Ramadlan tidak wajib atasnya ta'yin dan barangsiapa mewajibkan ta'yin tanpa ia mengetahui yang dita'yin sungguh berarti ia mewajibkan dua perkara yang berlawanan. Yang menjadi perselisihan adalah pengkhususan (ta'yin) niat untuk bulan Ramadlan. maka yang lebih mendekati kebenaran adalah cukup baginya niat mutlak tersebut. Setiap orang akan mengetahui apa yang ia inginkan mesti meniatkannya dengan dilafalkan atau tidak. Maka saya katakan bahwa orang yang mengetahui keinginannya mesti akan berniat. boleh secara mutlak seperti pendapat Abu Hanifah. tidak cukup niat mutlak[2]. apakah hal ini wajib atau tidak? Ada tiga pendapat dalam madzhab Imam Ahmad: Pertama. harus meniatkan puasa Ramadlan. Riwayat yang ketiga ini dari Ahmad dipilih oleh Al-Hiraqi dan Abul Barkat. Ketiga. ia tentu berpuasa bulan itu dengan niat.Jawab: Setiap muslim yang mengetahui bahwa puasa Ramadlan itu wajib hukumnya.

Bukhari 4/171 . Beliau mengatakan: Hadits ini hasan gharib. Yaitu ketika seluruh bulatan matahari telah hilang dan langit bagian timur akan tampak hitam. hadits 905) Tanya: Apakah seseorang yang berpuasa bulan Ramadlan memerlukan niat tiap hari atau tidak? Jawab: Setiap orang yang mengetahui bahwa besok Ramadlan dan dia menginginkan puasa maka dia pasti telah berniat.shallallahu 'alaihi wa sallam: . Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Ash-Shahihah no. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam katakan: . baik dilafalkan atau tidak. hadits 224 dan Al-Irwa no. Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Idul Fithri kalian adalah hari kalian berbuka (tidak berpuasa) dan Idul Adlha adalah hari kalian menyembelih[3]. Tanya: Apakah seseorang diperbolehkan berbuka puasa dengan semata melihat terbenamnya matahari? Jawab: Bila seorang telah melihat hilang seluruh bulatan matahari maka ia harus berbuka tanpa menghiraukan masih ada warna merah yang tampak di ufuk barat. Hal ini merupakan perbuatan kebanyakan kaum muslimin. (HR. (HR. Apabila malam telah datang dari sini dan siang telah menghilang dari sini serta matahari telah terbenam dari sini (barat) maka berbukalah orang yang berpuasa.

Para bidan memutuskan ia harus berbuka karena untuk memberi makan janin yang dikandungnya tetapi wanita itu tidak sakit. bagaimana tentang hal ini? Jawab: Apabila puasanya menyebabkan ia sakit seperti itu maka hendaknya ia berbuka dan mengqadla`. wajib qadla` atasnya. Apabila ia ragu apakah sudah terbit fajar atau belum maka hendaknya ia makan dan minum hingga tampak jelas terbit fajar. Sedangkan menurut pendapat ahli fiqih yang empat. pilek dan mulutnya berbuih terus-menerus sampai berhari-hari belum sadar hingga dikira gila dan tidak jelas keadaannya. Walaupun setelah itu ia tahu bahwa makan setelah terbit fajar masih diperselisihkan para ulama tentang wajib qadla` baginya. Pendapat yang paling benar adalah tidak diwajibkan mengqadla`. Tanya: Seorang perempuan hamil melihat darah serupa haidl dan darah haidl. apakah ia boleh berbuka atau tidak? . 1100) Tanya: Bolehkah makan sahur setelah adzan subuh pada bulan Ramadlan? Jawab: Bila muadzin adzan sebelum terbit fajar sebagaimana adzan pertama Bilal pada jaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Damaskus. Bila hal ini terus menimpanya tiap kali ia berpuasa dan dia tidak mampu untuk puasa maka ia harus memberi makan tiap hari seorang miskin. maka seorang boleh makan dan minum beberapa saat setelah adzan itu. Tanya: Ada seorang yang pingsan setiap kali berpuasa. Riwayat ini adalah riwayat dari Umar. sekelompok ulama salaf dan khalaf.dan Muslim no.

Bersiwak disunnahkan pada semua waktu termasuk waktu Ramadlan. Tanya: . boleh dikerjakan oleh yang berpuasa ataupun tidak berpuasa. Banyak keutamaan bersiwak. Yang benar adalah seseorang disunnahkan bersiwak tiap hari di bulan Ramadlan pada pagi hari dan sore dan tidak benar anggapan bahwa seseorang disunnahkan hanya bersiwak pada sore hari saja. 73-81: Tanya: Apakah hukum bersiwak pada bulan Ramadlan? Jawab: Tidak diragukan lagi bahwa siwak merupakan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang dianjurkan pelaksanaannya. ketika membaca Al-Qur`an. ketika bangun tidur sebagaimana biasa dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka bersiwak itu hukumnya sunnah. Akan tetapi dalam hal ini seorang harus berhati-hati ketika menggosok gigi dengan miswak (alat siwak) agar tidak melukai gusi yang dapat mengakibatkan pendarahan. Bahkan para shahabat melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersiwak terus menerus sampai tak terhitung jumlahnya dalam keadaan berpuasa. Bersiwak pernah dilakukan maupun diperintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bersiwak sangat baik terutama pada tempat-tempat yang dibutuhkan seperti sebelum wudlu.Jawab: Bila wanita hamil itu mengkhawatirkan keadaan janinnya maka ia wajib berbuka dan wajib mengqadla` serta memberi makan tiap hari satu orang miskin 1 liter roti dan lauknya. ketika akan shalat. ***** Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah bin Al-Fauzan (anggota Kibaril Ulama Arab Saudi) dalam kitab Nur 'ala Darbi Fatawa hal. ketika bau mulut mulai berubah.

Adapun bila ia berpuasa sunnah boleh memutuskan puasanya itu. . Banyak kaum muslimin mengharapkan menjumpai malam lailatul qadar pada 10 hari terakhir bulan mubarak itu. Tanya: Apabila seorang berpuasa suatu hari kemudian ia safar pada pertengahan hari apakah ia berbuka pada hari itu? Jawab: Bila seseorang berniat puasa dan telah mengerjakannya lalu bepergian pada pertengahan hari maka hendaknya ia berbuka jika jarak perjalanan dari rumah ke tempat tujuan kurang lebih 80 km.Apakah seorang yang berpuasa qadla` dan puasa sunnah boleh memutuskan puasanya? Jawab: Apabila ia berpuasa qadla` tidak boleh memutuskannya dan wajib menyempurnakannya. Hal ini menunjukkan bahwa puasa sunnah tidak wajib disempurnakan. Beliau melakukan i'tikaf pada malam akhir Ramadlan dan tidak keluar dari masjid selain menunaikan hajatnya. tidak ada kewajiban menyempurnakan puasa sunnah. Pernah suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk rumah dalam keadaan puasa sunnah lalu menjumpai makanan yang dihadiahkan para shahabat lalu beliau makan (dan memutus puasanya). Pada hari-hari itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dibandingkan malam-malam sebelumnya. Akan tetapi kalau ia mau menyempurnakannya maka lebih afdlal sebab sebagian ulama ada yang mewajibkan menyempurnakan puasa model ini. Tanya: Apakah keutamaan hari-hari 10 akhir bulan Ramadlan? Jawab: Hari-hari ini memiliki keutamaan yang besar dan agung.

" (44:33).Tanya: Apakah keutamaan bersedekah pada bulan Ramadlan? Jawab: Bersedekah pada bulan Ramadlan lebih utama (afdlal) daripada bersedekah pada bulanbulan lainnya. Bila seorang berbuat baik kepada mereka berarti ia membantu ketaatan kepada Allah terhadap mereka." .[4] (HR. Pada bulan itu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sangat dermawan. Allah berfirman: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Tanya: Bagaimana keterangan tentang keutamaan lailatul qadr dan ayat-ayat yang menerangkannya! Jawab: Allah memuliakan keadaan malam itu dan menamakannya lailatul qadr karena pada malam itu ditentukan ajal. Juga disebut malam lailatul mubarak (malam yang diberkahi). Bukhari dengan 1/30 Fath dan Muslim no. sangat mudah mengeluarkan sedekah ibarat angin yang bertiup kencang. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan dan lebih dermawan pada bulan Ramadlan ketika Jibril menemuinya untuk mengajari Al-Qur`an pada setiap malam pada bulan itu. Kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat itu lebih baik daripada angin sepoi-sepoi (angin yang bertiup terus-menerus dan bermanfaat). Lailatul qadr lebih baik daripada 1000 bulan. Disebut juga lailatul qadr karena dia adalah malam yang ditentukan dan dimuliakan di sisi-Nya. rezki seorang makhluk dan apa-apa yang akan terjadi dalam satu tahun." (AdDukhan: 4). 2307). "Dan tahukah kamu apakah malam lailatul qadr itu. Amal itu dilipatkan pahalanya karena kemuliaan waktu dan tempatnya (berdasarkan nash -pent) sebagaimana amal-amal dilipatkan pahalanya pada dua masjid Mekah dan Madinah (masjid Nabawi) yaitu shalat di dua masjid tersebut berpahala 1000 kali lipat dibanding shalat di tempat lainnya. Allah berfirman: "Kami menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam penuh barakah. Dalil ini menunjukkan keutamaan sedekah bulan Ramadlan di mana pada bulan ini banyak orang yang miskin berpuasa.

Allah dengan hikmah-Nya yang maha luas merahasiakan malam itu pada bulan Ramadlan agar kaum muslimin bersungguh-sungguh mencarinya pada tiap malam. Karena makna i'tikaf secara bahasa ialah . Orang-orang yang beri'tikaf tidak boleh mencampuri istri-istrinya. Beliau bersabda: . (HR. Kemudian Allah mensifati malam tersebut dengan malam yang penuh kesejahteraan sampai fajar. Malaikatmalaikat Allah tidak turun ke bumi kecuali untuk menyelesaikan urusan besar." (Al-Baqarah: 187) Jawab: Allah melarang mencampuri istri dalam keadaan i'tikaf di masjid setelah membolehkan mencampurinya pada bulan Ramadlan. tetapi janganlah kamu campuri para istri itu sedang kamu beri'tikaf. sungguh Allah tidak memberinya kebaikan yang banyak. Seribu bulan lebih kurang 83 tahun. Sehingga mereka mempunyai banyak amal dan terkumpullah amal-amal pada semua malam bulan itu dengan malam lailatul qadr.. Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam lailatul qadr dengan mempercayai adanya malam itu dan mengharap pahalanya maka akan diampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang. Tanya: Apakah makna ayat ". Maka barangsiapa tidak mendapatkan kebaikan pada malam itu. Ayat ini menunjukkan tentang keutamaannya oleh karena itu beliau selalu menunggu-nunggu datangnya malam itu.. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu). baik dengan jimak maupun mubasyarah[5]. Hal lain yang juga menunjukkan keutamaan dan kebesarannya ialah pada malam itu turun para malaikat dan Jibril (pemimpin para malaikat) untuk mengatur segala urusan. baik pada malam atau siang hari jika orang yang beri'tikaf itu tidak berpuasa. Artinya beramal pada malam yang penuh berkah itu dilipatgandakan pahalanya semisal 1000 bulan beramal pada malam-malam selain bulan ini.(Al-Qadr: 2-3).

Ayat di atas menunjukkan bahwa i'tikaf itu harus diadakan di masjid yang dipakai untuk shalat berjama'ah dan memiliki imam rawatib. Tidak boleh i'tikaf menyendiri di mushalla. Karena waktu itu anda . Maka i'tikaf harus diadakan di masjid-masjid yang didirikan padanya shalat jama'ah karena lafadh ayat menyebutkan fil masajid (di masjid-masjid). Demikian pula bila ia keluar masjid tanpa ada kebutuhan mendesak juga membatalkan i'tikaf. Apabila seseorang mencampuri istrinya maka batallah i'tikafnya. I'tikaf disebutkan pada akhir-akhir ayat puasa i'tikaf seharusnya dan lebih baik dilakukan ketika seorang dalam keadaan berpuasa dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak i'tikaf selain bulan Ramadlan yakni ketika puasa. Seperti pergi ke pasar dan lainnya. Tanya: Saya seorang pemuda yang pernah tidak melaksanakan puasa tahun yang lalu sedangkan puasa tahun berikutnya saya berpuasa dengan sempurna. Bagaimana saya mengqadla` puasa pada bulan yang aku tinggalkan? Apakah saya harus berpuasa tiap bulan atau memberi makan 60 orang miskin? Aku ingin berpuasa tahun ini selama tiga bulan apakah hal itu dibenarkan? Bagaimana cara melaksanakannya dengan bersambung atau terputus (berselang-seling)? Jawab: Jawaban dari pertanyaan anda perlu perincian. Orang yang beri'tikaf di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama'ah di dalamnya berada di antara dua keadaan yaitu antara i'tikaf dan meninggalkan shalat jama'ah. Bila ia tetap di dalam masjid berarti ia meninggalkan shalat berjama'ah padahal shalat berjama'ah wajib hukumnya. Atau ia keluar dari masjid untuk shalat berjama'ah di masjid yang didirikan shalat jama'ah tiap shalat 5 waktu yang hal ini menghilangkan makna i'tikaf. Yaitu jika anda meninggalkan puasa itu karena meninggalkan shalat (meninggalkan shalat menurut beliau kafir -pent) maka anda tidak berkewajiban mengqadla` puasa yang telah anda tinggalkan. rumah atau tanah lapang atau masjid yang tidak ditegakkan shalat jama'ah.meninggalkan perkara-perkara yang banyak dan meluangkan waktu untuk beribadah.

Apabila anda tunda qadla` puasa karena ada udzur hingga datang Ramadlan berikutnya maka anda wajib mengqadla`nya setelah Ramadlan. Bahkan ia harus menutup wajahnya bila keluar rumah. tunaikan zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. obat tetes mata dan apa-apa yang diletakkan di mata bagi orang yang berpuasa terkadang dapat masuk ke tenggorokan sehingga membatalkan puasanya. Tanya: Apa hukum bercelak. Adapun setelah anda bertaubat yakni setelah melaksanakan shalat maka anda wajib mengqadla` puasa dan menunaikan seluruh syi'ar Islam yang diwajibkan. Sedangkan harum-haruman. (Al-Ahzab: 33). karena hal ini bisa menembus mata hingga ke tenggorokan tanpa disadarinya. Allah berfirman: : .. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: . memakai parfum bagi seorang muslimah pada bulan Ramadlan? Jawab: Adapun celak. Bila anda menunda mengqadla` puasa tanpa udzur maka anda wajib memberi makan seorang miskin tiap hari sebagai ganti puasa yang anda tunda qadla`nya itu. ٣٣﴾ Dan hendaklah kamu (para wanita muslimah) tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan tunaikanlah shalat.belum masuk Islam. Walaupun wanita itu keluar menuju masjid untuk beribadah tetap dilarang bertabaruj (berhias) dan memakai parfum... Namun bagi muslimah hendaknya memakai harum-haruman atau parfum dan kosmetik di dalam rumah saja dan menjauhi benda-benda itu untuk dipakai di luar rumah. Sebagian ulama melarang memakai celak bagi orang yang berpuasa atau meletakkan sesuatu pada matanya seperti obat tetes mata. kosmetik yang biasa dipakai wanita tidak membatalkan puasa. Janganlah kamu mencegah wanita-wanita menuju masjid Allah dan hendaklah mereka .

(Jimak atau jima' adalah hubungan seks/sex atau bersetubuh/persetubuhan. lihat Umdatul Ahkam. [2] Niat mutlak adalah meniatkan berpuasa tanpa menentukan puasa apa yang ia lakukan. puasa ramadlan atau qadla atau nadzar dan lain-lain. Sebagaimana keterangan Aisyah radliyallahu 'anha ketika seorang bertanya tentang mubasyarah: : . -----------------------------------------------------[1] Yakni kembali pada makna safar secara umum. [5] Mubasyarah bermakna dua yaitu mempergauli isteri dengan jimak dan mempergauli isteri tanpa jimak dengan menutupkan kain di atas farjinya yang meskipun suami mengeluarkan mani. Kita tidak menganjurkan orang yang . wajib atau sunnah. hal. hadits no. "Apa yang boleh dilakukan seorang yang berpuasa terhadap istrinya?" Beliau menjawab: "Semuanya boleh dilakukan selain jimak. 31) Syarat mereka boleh keluar menuju masjid adalah tidak berhias dan tidak memakai parfum atau wangi-wangian. membuka aurat dan wajah. Kaum muslimah sekarang banyak melakukan perbuatan melanggar syariat Allah. Syaikh Salim Al-Hilali. pent).keluar tanpa berhias dan berharum-haruman. Sedangkan niat ta'yin adalah meniatkan dengan detail puasa apa yang ia akan lakukan esok harinya. (Mutafaq 'alaihi.red)" (HR Abdur Razak dalam bukunya Al-Mushanaf 4/190/8439 dengan sanad shahih) Akan tetapi hendaknya yang perlu diperhatikan bahwa keluarnya mani (tanpa jimak) tidak membatalkan puasa dan mubasyarah itu perkara lain. [4] Bahjatun Nadhirin. keluar rumah dengan berhias. memakai parfum dan celak mata yang tidak dilakukannya ketika di dalam rumah (untuk suaminya. tidak membatalkan puasa. [3] Maksudnya puasa dan berbuka bersama kebanyakan kaum muslimin. 58.

id/print. (Tamamul Minnah. Wallahu a'lam. Hal ini dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam larangan (yakni berjimak –pent). penulis Ustadz Ahmad Hamdani. Biasanya orang yang mendekati daerah terlarang akan memasukinya. judul asli Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan).or. 420). 13 Oktober 2004. 08:02:33 Sering kali kita mendengar para khatib di atas mimbar membawakan hadits-hadits tentang Ramadlan dan keutamaannya. Di antara hadits-hadits yang mereka bawakan ada yang .berpuasa Ramadlan ketika syahwat jimak sedang memuncak untuk mubasyarah dengan istrinya.php?id_artikel=758 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Sep 11. '08 10:54 PM untuk semuanya Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Penulis: Al Ustadz Azhari Asri Fiqh. Barangsiapa berada di sekitar daerah penjagaan. Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‫ل‬ . Syaikh Al-Albani hal. Sumber artikel : http://www. dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya.salafy. (Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXIII/Ramadlan/1418 H/1998 M.

pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam 'Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma'in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. Mereka menyangka bahwa perkara ini tidak diperselisihkan. yang aku pahami dari ucapan mereka tentang fadlail a'mal . Tetapi pernyataan beliau itu terbantah karena perselisihan dalam masalah ini ma'ruf. tidak ada keraguan padanya karena beberapa perkara: Pertama. Muslim dan Ibnu Hazm. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam berbagai kitab beliau bahwa hal itu telah disepakati.shahih dan ada yang dlaif. Aku (Syaikh Al-Albani) katakan bahwa inilah yang benar menurutku. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak. hadits dlaif hanya mendatangkan sangkaan yang salah (dhanul marjuh). hendaknya dia mendatangkan bukti. Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak. Sungguh sangat jauh! Kedua. padahal sama sekali bukan! Oleh karena itu penulis mencoba mengangkat permasalahan ini sebagai nasehat kepada seluruh kaum muslimin. mereka tidak menerangkan tentang kelemahannya kepada hadirin yang awam tentang permasalahan hadits sehingga orang-orang yang mendengarnya menyangka bahwa hadits-hadits itu adalah ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bagaimana tidak. Namun sangat disayangkan ketika membawakan hadits-hadits lemah. Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari. baik para khatibnya maupun pendengarnya. bahkan maudlu' (palsu). baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaankeutamaan. Barangsiapa mengecualikan boleh beramal dengan hadits dlaif dalam fadlailul a'mal. Tidak Boleh Beramal dengan Hadits Lemah dalam Hal Fadlailul A'mal (Keutamaan Amal) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidhahullah berkata: "Di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu telah masyhur bahwa hadits dlaif boleh diamalkan dalam fadlailul a'mal. Tidak boleh beramal dengannya berdasarkan kesepakatan. Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal.

sunnah. Akan tetapi kebanyakan orang yang berpendapat seperti itu tidak memaksudkan makna itu. Meskipun demikian mereka menganggap hal itu sunnah. Seperti Syaikh Ali Al-Qari rahimahullah dalam Al-Mirqah 2/381 mengatakan bahwa hadits lemah diamalkan dalam perkara fadlail walaupun tidak didukung secara ijma' sebagaimana keterangan Imam Nawawi. padahal hadits tentang masalah ini lemah (Lihat keterangan kedlaifannya dalam Al-Irwa` 241. mubah. Amal ini tidak ditetapkan pensyariatannya kecuali pada hadits lemah tersebut. karena hal itu bukan pensyariatan amal itu tetapi semata-mata sebagai keterangan tentang pahala khusus yang diharapkan oleh pelakunya. Dengan dasar inilah maka beramal dengan hadits lemah diperbolehkan jika telah ada hadits shahih yang menunjukkan disyariatkannya amal itu. Padahal perkara sunnah adalah salah satu hukum di antara kelima hukum[Yakni wajib. Maka hadits lemah dalam keadaan semacam ini boleh diamalkan dalam fadlailul a'mal. makruh. dan haram.yaitu amal-amal yang telah disyariatkan berdasarkan hadits shahih.).] yang harus ditetapkan berdasarkan dalil. Ilmu Ushul Bida' 157. . Buktinya kita menyaksikan mereka beramal dengan hadits-hadits dlaif yang tidak terkandung dalam hadits-hadits shahih. (Yakni dari segi adanya dalil tentang asal amal itu. Akan tetapi di sini tidak mungkin untuk mencantumkan berbagai contoh. Seperti Imam Nawawi dan yang mengikutinya menganggap sunnah menjawab ucapan orang yang mengumandangkan iqamah ketika mengucapkan dua kalimat (qad qamatis shalah. Cukuplah salah satu contoh yang telah aku sebutkan. Yaitu pada amal yang shahih berdasarkan Kitab dan Sunnah. Betapa banyak perkara-perkara yang mereka anggap disyariatkan dan disunnahkan bagi manusia hanya didasari dengan hadits-hadits dlaif yang tidak ada asal pensyariatannya dalam hadits shahih. bukan dari segi adanya dalil yang menetapkan pahala yang khusus pada amal itu. Oleh karena itu ucapan sebagian ulama dimaksudkan seperti ini. 15)). kemudian ada hadits lemah yang menyertainya yang menyebutkan pahala khusus bagi orang yang mengamalkannya. (Ilmu Ushulil Bida' hal. qad qamatis shalah) dengan ucapan aqamahallah wa adamaha (semoga Allah menegakkannya dan melazimkannya).

maka dia termasuk pendusta. Mereka mengamalkan suatu hadits tanpa mengetahui kelemahannya. Atau sebagian orang-orang jahil menyangka bahwa hadits itu adalah shahih. Orang yang mengamalkannya mengetahui bahwa hadits itu dlaif. Tidak memasyhurkan beramal dengannya. . Tetapi sangat disayangkan kita menyaksikan kebanyakan ulama lebih-lebih orang awam meremehkan syarat-syarat ini. Inilah tiga syarat penting diperbolehkan beramal dengan hadits lemah: 1. Hadits itu tidak maudlu'. Hendaknya setiap orang khawatir jika termasuk dalam ancaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta. Maka bagaimana orang yang mengamalkannya?! Tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam perkara fadlail. Kalaupun mereka mengetahui kelemahannya mereka tidak mengetahui apakah kelemahannya ringan atau sangat parah sehingga tidak boleh diamalkan. Kemudian mereka memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits-hadits shahih! Oleh . Seharusnya hal itu diberi syarat yaitu orang yang beramal dengannya meyakini bahwa hadits itu lemah dan tidak memasyhurkannya sehingga orang tidak beramal dengan hadits lemah dan mensyariatkan apa yang tidak disyariatkan. 3-4 bahwa para ahli ilmu telah bermudah-mudah dalam membawakan hadits-hadits tentang fadlail walaupun memiliki kelemahan selama tidak maudlu' (palsu). 3. sebab semuanya adalah syariat. Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Tabyinul 'Ujab hal. Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad bin Abdus Salam dan lain-lain.Yang terpenting di sini adalah hendaklah orang-orang yang menyelisihi hal ini mengetahui bahwa beramal dengan hadits lemah dalam perkara fadlail tidak mutlak menurut orangorang yang berpendapat dengannya. 2.

Menurutku (Syaikh Al-Albani). maka dia termasuk dalam hadits (yang berisi ancaman tersebut). Adapun jika ucapan beliau dimaksudkan kepada larangan memakai hadits maudlu' dan tidak ada perbedaan antara perkara hukum dan fadlail adalah sangat jauh dari konteks ucapan Al-Hafidh. bahkan pada umumnya dusta dan palsu... Dan kita katakan seperti perkataan Al-Hafidh: 'Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya?' Inilah penjelas dari maksud ucapan Al-Hafidh tersebut.karena itu banyak ibadah-ibadah di kalangan kaum muslimin yang tidak shahih dan memalingkan mereka dari ibadah-ibadah yang shahih yang diriwayatkan dengan sanadsanad yang shahih. Sebab satu pun di antara syaratsyarat itu tidak diterapkan sebagaimana yang tampak. Sebab kita katakan bahwa Al-Hafidh menyebutkan . Sebab ucapan beliau adalah dalam pembahasan hadits dlaif. karena hadits dlaif yang tidak ada penguatnya kemungkinan adalah dusta. Al-Hafidh Ibnu Hajar cenderung kepada tidak boleh beramal dengan hadits lemah berdasarkan ucapan beliau yang telah lewat bahwa tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam fadlail sebab semuanya adalah syariat." Yaitu dia menampakkan seperti itu. Hal ini ditegaskan oleh sebagian ulama. Kemudian syarat-syarat tersebut menguatkan pendapat kami bahwa sebagian besar ulama tidak menginginkan makna yang kami anggap kuat tadi. Sebagaimana hal itu tidak tersembunyi. Inilah yang hak. Oleh karena itu Al-Hafidh menambahkan dengan ucapannya: 'Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya?!' Hal ini dikuatkan dengan perkataan Imam Ibnu Hibban bahwa setiap orang yang ragu terhadap apa yang dia riwayatkan. bukan maudlu'.yang tampak bahwa hadits itu dusta. Orang yang membawakan hadits dlaif termasuk dalam ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: ". Apa yang kami sebutkan tidak menafikan bahwa Al-Hafidh menyebutkan syarat-syarat itu untuk mengamalkan hadits dlaif. shahih atau tidak shahih.

، ‫. Beliau berdua menyebutkan beberapa hadits beserta penilaiannya. (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 1886. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadlan dari ujung tahun ke tahun berikutnya.perkataan itu kepada orang-orang yang membolehkan memakai hadits lemah dalam perkara fadlail selama tidak maudlu'. Orang yang membolehkannya harus memperhatikan syarat-syarat tersebut dan konsisten dengan syaratsyarat iltu ketika mengamalkan hadits lemah. Kesimpulannya bahwa beramal dengan hadits lemah dalam perkara fadlailul a'mal tidak diperbolehkan sebab menyelisihi hukum asal dan tidak ada dalilnya..' Al-Hafidh tidaklah menyatakan dengan tegas bahwa dia menyetujui mereka dalam pembolehan (beramal dengan hadits-hadits lemah. pent) dengan syarat-syarat itu. Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Setelah kita mengetahui bahwa pendapat yang kuat dalam masalah hadits dlaif adalah tidak boleh dipakai sekalipun dalam fadlailul a'mal dan seandainya diperbolehkan harus dipenuhi syarat-syarat tersebut. Abu Ya'la dalam Musnadnya sebagaimana di dalam Al-Mathalib Al-'Aliyah (qaf 46/alif-ba/naskah . Maka pada pembahasan terakhir ini kita akan menukil beberapa hadits lemah yang diucapkan para khatib dan diamalkan di bulan Ramadlan dari kitab Shifat Shaum Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam fi Ramadlan karya Syaikh Salim Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal. Seakan-akan beliau berkata kepada mereka: 'Jika kalian berpendapat demikian maka seharusnya kalian menerapkan syarat-syarat ini. Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudlu'at 2/188-189. ل‬ ‫ل‬ Seandainya hamba-hamba itu mengetahui apa yang ada di bulan Ramadlan niscaya umatku berangan-angan agar Ramadlan setahun penuh. 34-38. Bahkan di akhir ucapan beliau menegaskan sebaliknya seperti yang telah kita terangkan.. 109-113." Sampai di sini keterangan Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah hal. Wallahul muwaffiq.

Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajiban dan shalat malam sebagai sunnah. dengan ucapan: "Jika hadits ini shahih." Ibnu Abi Haitsamah berkata: "Dia dlaif dalam segala hal. 293. bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.. karena kelemahan Ali bin Zaid. Al-Muhamili dalam Amalinya no. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Lisanul Mizan (2/101) dan berkata: "Dia terkenal dengan kelemahannya." sedang dari Bukhari: "Dia meriwayatkan hadits mungkar" dan dari Nasai: "Dia matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya)!! Ibnul Jauzi menghukumi dia sering memalsukan hadits. kalian telah dinaungi bulan yang agung. Sanad hadits ini lemah." Ibnu Khuzaimah berkata: "Aku tidak berhujah dengannya karena hapalannya jelek. Barangsiapa bertaqarub di dalamnya dengan satu kebaikan." Ibnu Hajar berkata dalam Al-Athraf: "Tidak diperselisihkan tentang Ali bin Zaid bin Jad'an. Wahai manusia. Ibnu Sa'ad berkata: "Dia (Ali bin Zaid) lemah. tidak dapat dijadikan hujah. Hadits ini maudlu'." Ibnu Ma'in berkata: "Dia dlaif. ba'/naskah manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid bin Jad'an dari Sa'id bin Al-Musayyib dari Salman. maka dia seperti menunaikan suatu kewajiban pada bulan lain.manuskrip) dari jalan Jarir bin Ayub Al-Bajali dari Sya'bi dari Nafi' bin Bardah dari Abu Mas'ud Al-Ghifari).." Demikian dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323). ، . Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah kemerdekaan dari api neraka." ... ، ." Kemudian Ibnu Hajar menukil ucapan Abu Nu'aim tentang dia: "Dia pemalsu hadits.. Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya (Abu Hatim) di dalam I'lalul Hadits 1/249): "Hadits ini mungkar. Al-Ashbahani dalam At-Targhib (qaf/178. dia adalah dlaif. Ramadlan adalah bulan awalnya adalah rahmat. 1887. Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits tersebut. cacatnya pada Jarir bin Ayyub...." Ahmad bin Hanbal berkata: "Dia tidak kuat.

Nahsyal adalah matruk. Abu Bakar Al-Atsram berkata: "Aku mendengar Ahmad berkata: "Mereka (orang-orang Syam) meriwayatkan beberapa hadits munkar dari Zuhair. Ini adalah potongan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam Al-Kamil 7/2521 dari jalan Nahsyal bin Said dari Ad-Dlahhak dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma. maka tidak dapat diqadla` walaupun dia puasa sepanjang tahun.adalah munkar." Al Ajali berkata: "Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh penduduk Syam darinya tidak menakjubkan aku. . Biografinya terdapat dalam Tarikh Dimasyk 15/qaf 386 – naskah manuskrip). Diriwayatkan pula oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath (1/qaf – 69/alif – Majma'ul Bahrain). Aku (Syaikh Ali) katakan bahwa Muhammad bin Sulaiman adalah penduduk Syam." Abu Hatim berkata: "Hapalan Zuhair jelek. Haditsnya ketika di Syam lebih munkar daripada haditsnya di Irak karena hapalannya jelek. Barangsiapa membatalkan (puasanya) satu hari dari bulan Ramadlan tanpa udzur dan sakit.Puasalah kalian. . Demikian pula Ibnu Bukhait dalam Juz'unya sebagaimana dalam Syarhul Ihya' 7/401 dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abu Dawud dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abu Shalih dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu. niscaya kalian sehat." Demikian dalam Tahdzibul Kamal 9/417. Di antaranya adalah hadits ini. dia berdusta dan Ad-Dlahhak tidak mendengar langsung dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma. Sanad hadits ini lemah. Riwayatnya dari Zuhair –sebagaimana ditegaskan oleh para imam. Hadits ini disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya (4/160 – Fathul Bari) secara mu'alaq tanpa sanad. Disebutkan sanad-sanadnya oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 1987.

Wallahu a'lam. Abul Muthawwis mendengar dari ayahnya dari Abu Hurairah diragukan. namun tidak boleh kita sandarkan hadits yang tidak shahih itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.com/baca. Al-Baihaqi 4/228. Sehingga hadits ini memiliki tiga 'ilat (cacat). Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 4/161: "Hadits ini banyak diperselisihkan pada Habib bin Abi Tsabit.salafy. Ibnu Majah 1672.or. Meskipun demikian masih sering terdengar dan terbaca pada setiap bula Ramadlan yang diberkahi ini khususnya.id/print. Abu Dawud 2397. Demikian empat hadits yang didlaifkan oleh para ulama. Ibnu Khuzaimah setelah meriwayatkan hadits ini berkata dengan ucapan: "Aku tidak mengetahui siapa Ibnul Muthawis dan ayahnya." Sehingga hadits ini juga dlaif. (Dinukil dari Majalah Salafy edisi XXIII/Ramadlan/1418 H/1998 M rubrik Mabhats. sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 10/373. Sumber artikel : http://www.php?id=30) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. http://salafy.php?id_artikel=753 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Fatwa Syaikh tentang Hukum I'tikaf Sep 11. '08 10:52 PM untuk semuanya . keadaan Abul Muthawis majhul (tidak dikenal). Memang sebagian hadits tersebut mengandung makna yang shahih yang terdapat dalam syariat kita yang lurus ini. penulis ustadz Azhari Asri (murid syaikh Yahya al Hajuri dan syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah).iwebland. yaitu: idltirab (sanadnya goncang). Ibnu Hajar dalam Ta'liqut Ta'liq 3/170 dari jalan Abul Muthawwis dari ayahnya dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu. Nasai dalam Al-Kubra.Tirmidzi 723.

05:11:25 Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang hukum I'tikaf Pertanyaan: Apakah hukum I`tikaf bagi laki-laki dan wanita? Apakah berpuasa merupakan syarat untuk syahnya I`tikaf? Kemudian amalan apa saja kah yang baik dilakukan oleh orang yang beri`tikaf? Kapan waktu memasuki tempat i`tikaf dan kapan keluar dari sana ? Jawaban: I`tikaf hukumnya Sunnah bagi laki-laki dan wanita sebagaimana telah datang dari Rasululullah Shalallahu 'alaihi wassalam. kecuali jika dia bernadzar.Juga tidak disyaratkan berpuasa walaupun dengan berpuasa lebih utama.Fatwa Syaikh tentang Hukum I'tikaf Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdullah Aziz Bin Baz Fiqh. Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf saat itu . jika itu memungkinkan. bahwasanya beliau dulu beri`tikaf di bulan Ramadhan. Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf agar memasuki tempat beri`tikaf saat dia berniat i`tikaf dan keluar dari padanya setelah lewat masa yang dia inginkannya. Diperbolehkan baginya boleh memotong waktu tersebut jika ada keperluan lain. Tempat beri`tikaf adalah mesjid-mesjid yang didirikan shalat berjamaah padanya. 16 November 2003. Para istri-istri beliau juga beri`tikaf bersama beliau Shalallahu 'alaihi wassalam. dan juga setelah beliau wafat. Tidak ada waktu-waktu tertentu bagi i`tikaf dalam pendapat Ulama yg terkuat . i`tikaf beliau tetapkan pada sepuluh hari terakhir. Disunnahkan beri`tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan untuk mengikuti Rasululllah Shalallahu 'alaihi wassalam. Apabila waktu i`tikafnya diselingi oleh hari Jumat. Kemudian pada akhirnya. karena i`tikaf adalah sunnah dan tidak menjadi wajib jika dia telah memulainya. maka yang lebih utama adalah beri`tikaf di mesjid yang mengadakan shalat Jumat.

membaca qur`an. Dianjurkan bagi yang beri`tikaf agar memperbanyak dzikir.php?id_artikel=341 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Hukum-hukum sekitar I'tikaf dalam pandangan Ulama' Sep 11. '08 10:51 PM Ahlusunnah untuk semuanya Hukum-hukum sekitar I'tikaf dalam pandangan Ulama' Ahlusunnah .salafy.istighfar. Hal ini menunjukan kesempurnaan sifat tawadhu` dan baiknya beliau terhadap istri-istri beliau.untuk memasuki tempat i`tikafnya setelah shalat Fajar hari ke-21 dan keluar dari sana apabila telah selesai sepuluh hari. berdoa dan mengerjakan shalat-shalat Sunnah selain pada waktuwaktu yang dilarang. Penerjemah Abu Abdillah Alee Masaid As salafee Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Yang lebih diutamakan adalah menyediakan tempat khusus di dalam mesjid untuk beristirahat jika memungkinkan. kecuali jika i`tikaf nadzar sebagaimana telah dijelaskan. Sumber artikel : http://www. Jika dia memotongnya maka tidak mengapa. ----------------------------------------------------------------------- Referensi: Dinukil dari Tuhfatul ikhwan bi ajwibatin muhimmatin tata`allaqu bi arkanil islam.id/print. semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas beliau. Tidak dilarang bagi teman-teman seseorang yang beri`tikaf untuk mengunjunginya dan berbicara dengan mereka sebagaimana Rasululullah Shalallahu 'alaihi wassalam dahulu dikunjungi oleh beberapa istrinya dan berbicara dengan mereka. Pada suatu saat Shofiyah mengunjungi beliau saat I`tikaf di bulan Ramadhan.or. karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah.

Telah terdapat riwayat bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wa sallam i‟tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Syawal *(Potongan dari hadist Aisyah radhiyallahu „anha. (maka Umar I‟tikaf semalam). karena di kemudian hari jelas bagi saya lemahnya. Al-Baqarah :187) Disertai hadist-hadist shahih tentang I‟tikaf Nabi shalallahu „alaihi wasallam. riwayat Bukhari Muslim dan Ibu Khuzaimah . Saya singkap penyakitnya yang sempat tersamarkan kepada saya dan juga kepada Al Haistany sebelum saya). 04:42:53 Hukumnya I‟tikaf adalah sunnah di bulan ramadhan dan yang lainnya sepanjang tahun. Dan pada tahun dimana beliau wafat Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam I‟tikaf selama 20 hari. Telah saya takhrij dan saya komentari dengan rinci dalam kitab ”Silsilah Dhoifah” 5347. Dan lebih ditekankan di bulan Ramadhan berdasarkan hadist Abi Hurairah radhiyallahu „anhu.*(riwayat Bukhari. 20 Oktober 2004. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Mushannaf. Demikian pula atsar-atsar yang mutawatir dari ulama Salaf dalam masalah itu. Muslim dan Ibnu Khuzaimah dan tambahan itu pada Bukhari dalam ssebuah riwayat. dalam kitab shahih merekatelah ditahkrij dalam shahih Abu Dawud). (QS. bahwa Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ber i‟tikaf di setiap Ramadhan 10 hari. *(Dulu disini pada cetakan yang lalu ada hadist. dalam masalah keutamaannya “Barangsiapa beri‟tikaf suatu hari…” kemudian aku hilangkan. dalilnya adlah firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala : “Sedang kalian dalam kedaan I‟tikaf di masjid”. seperti terdapat dalam “Mukhtasar Shahih Bukhari” (995) dan telah ditakhrij dalam “Shahih Abu Dawud” juga no: 2136-2137). karya Ibnu Abi syaibah dan Abdurrazzaq. . (Riwayat Bukhari dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih keduanya telah ditakhrij dalam sumber yang lalu no: 2126-2130). dan ahwa Umar radhiyallahu „anhu berkata kepada Nabi shalallahu „alaihi wasallam “Dahulu aku bernadzar di zaman jahiliyah untuk I‟tikaf semalam di Masjidil Haram”? Nabi shalallahu „alaihi wasallam bersabda : “Penuhilah nadzarmu”.Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani Fiqh.

dan Abu Dawud dengan sanad yang Hasan.Yang paling utama adalah pada akhir bulan Ramadhan. karena Nabi shalallahu „alaihi wasallam I‟tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau.. akan tetapi Allah mengkinayahkan apa yang Ia kehendaki dengan apa yang Allah kehendaki. dan telah di takhrij dalam Shahih Abu Dawud (2135) dan Irwa‟ul Ghalil no 996. karena keluar untuk itu adalah wajib. tidak pula jima‟ dengan mereka. agar tidak keluar kecuali untuk kebutuhan yang mesti dia lakukan. tidak boleh menyentuh wanita. (Riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya perkara yang paling Allah benci adalah bid‟ah dan sesungguhnya termasuk bid‟ah adalah I‟tikaf di masjid- . [“dan jangan kalian melakukan jima. bagi seorang I‟tikaf. (Al Baqarah 187. Riwayat Baihaqi (4/321) dengan sanad yang perawinya terpercaya. (Riwayat Bukhari dan Ibnu Khuzaimah 2223 telah ditakhrij dalam Al-Irwa (996) dan “Shahih Abi Dawud” no :2125). (“…dan tidak ada I‟tikaf kecuali di masjid jami'”. Disunnahkan pula bagi yang I‟tikaf untuk berpuasa. Syarat-syaratnya : 1. Tidak disyariatkan kecuali di dalam masjid-masjid berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala : “Dan janganlah kalian melakukan jima‟[1]dengan mereka sedang kalian beri‟tikaf di masjid-masjid”).) 2. Dan hendaklah pada masjid jami‟ agar tidak terpaksa keluar masjid untuk melaksanakan shalat jum‟at. Berkata al Hafidz Ibnu Hajar :“ Sisi pendalilan dari ayat itu bahwa kalau seandainya I‟tikaf itu sah selain dimasjid tidaklah akan dikhususkan pengharaman jima‟ itu hanya padanya. riwayat yang selanjutnya dari Aisyah radhiyallahu „anha. dan tidak I‟tikaf melainkan pada masjid jami‟ (yang digunakan untuk shalat jamaah). maka diketahui dengan penyebutan masjid bahwa dimaksudkan I‟tikaf itu tidak boleh kecuali di masjid). Tidak boleh menjenguk orang sakit. Imam bukhari berdalil dengan ayat ini atas apa yang kami sebutkan. (Riwayat Baihaqi dengan sanad yang shahih..] Berkata Aisyah radhiyallahu „anha : “Disunnahkan.” yakni “Jangan berjima‟ dengan mereka “ ibnu Abbas mengatakan : kata ( ‫ل‬ ‫ش‬ ‫لل‬ ‫ل‬ ) semuanya berarti jima‟. karena jima‟ itu membatalkan I‟tikaf secara ijma‟.). Berdasarkan ucapan 'Aisyah Radhiyallahu „anha yang lalu dalam sebuah riwayat.

Kemudian saya dapati pada hadist yang shahih dan jelas yang mengkhususkan keumuman makna (masjid-masjid) yang tersebut dalam ayat. Disunnahkan untuk yang melakukan I‟tikaf agar berpuasa sebagaimana yang lalu dari penjelasan Aisyah radhiyallahu „anha. Masjidil Aqsa dengan hadist Nabi shalallahu „alaihi wasallam : “Tidak ada I‟tikaf kecuali pada 3 masjid itu”). Yang lain mengatakan masjid jami‟ secara mutlak.masjid yang ada di rumah)”. Muslim. b. dan mengatakan : ”Walaupun dalam masjid (atau mushala –pent) rumahnya”. Dibolehkan keluar dari masjid untuk buang hajat. bahwa mengambil pendapat yang sesuai dengan hadist. adalah sahabat Hudzaifah bin Al Yaman dan Sa'id bin Al Musayyib juga 'Atha‟ rahimahullah. yaitu hanya pada tiga masjid : Masjidil Haram. Akan tetapi „Atha‟ tidak menyebutkan Masjidil Aqsa. tetapi yang lain menyelisihi mereka. dan telah ditakhrij dalam “Silsilah shahihah” no :2787 bersama dengan riwayat-riwayat yang lain. Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad dan tambahan lafadz itu dari keduanya. juga mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dikeramasi atau disisir. Masjid Nabawi. Berkata Aisyah radhiyallahu „anha : “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dahulu megeluarkan kepalanya kepadaku sedang dia (dalam keadaan beri‟tikaf) di masjid dan saya di kamar saya. Dari apa yang saya sebutkan diatas dan semuanya shahih).[2] Yang dibolehkan untuk orang yang berI‟tikaf sbb : a. kemudian saya sisir rambutnya. (Diriwayatkan oleh Thahawi. Telah ditakhrij dalam “Shahih Abu Dawud” (2131-2132) ). isma‟ily dan Baihaqi dengan sanad yang shahih dari Hudzaifah bin Al Yaman. 3. ketika itu beliau dalam keadaan I‟tikaf. Dibolehkan untuk seorang yang I‟tikaf dan yang lain untuk berwudhu dalam masjid berdasarkan ucapan seseorang kepada yang melayani Nabi shalallahu „alaihi wasallam : “ . Dan diantara ulama salaf yang berpendapat demikian sebagaimana yang telah saya dapati. wallahu Subhanahu wa Ta‟ala a‟lam. dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk hajat seorang manusia.” Dalam riwayat : “Lalu saya cuci kepalanya dan diantara aku dan dia kayu dasar pintu dan saya dalam keadaan haid. itulah yang semestinya. Dan tidak tersembunyi lagi.” (Riwayat Bukhari.

yang dimaksud. berdasarkan ucapan Shafiyah Radhiyallahu „anha : “Ketika itu Nabi shalallahu „alaihi wasallam beri‟tikaf dimasjid pada 10 hari terkhir bulan ramadhan. Shafiyah radhiyallahu „anha tinggal di kampung Usmah . Allahlah yang memberi taufiq. sebagaimana yang dikatakan As-Sindy. lebih utama kita katakan : supaya pikiran orang yang beri‟tikaf tidak tersibukkan orang yang lewat didepannya agar mendapatkan maksud dan ruh dari I‟tikaf itu.34 pada catatan kaki no. maka aku datang menengoknya di malam hari dan di sisinya isteri-isterinya yang sedang bergembira. ada pada riwayat Muslim. c. dan hendaknya suaminya mengantarkannya sampai keluar pintu masjid.] Jika beliau beri‟tikaf. ( Riwayat Baihaqi dengan sanad baik dan Ahmad (51364) secara ringkas dengan snad yang shahih).1251] Dibolehkannya Wanita beri‟tikaf dan menengok suaminya di masjid a. dan itu atas perintah beliau shalallahu „alaihi wasallam[4]. lalu aku berbicara dengan beliau beberapa saat lalu aku berdiri untuk kembali. karena Aisyah dulu membuat tenda untuk Nabi shalallahu „alaihi wasallam [3]. “Suddah” artinya semacam. riwayat perbuatan „Aisyah itu diriwayatkan oleh Bukhari adapun yang menerangkan perintah Nabi shallallahu „alahi wa sallam. [Riwayat Bukhari dan Muslim dari hadist Aisyah radhiyallahu „anha. Ini adalah satu macam. bahwa beliau meletakkan sepotong tikar di atas pintunya agar tidak terlihat oleh pandangan seseorang. riwayat Muslim dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih keduanya dan telah di Tahkrij dalam Shahih Abu Dawud no. Telah lewat takhrijnya pada hal. Maka beliaupun berdiri bersamaku untuk mengantarkanku. Dan pernah beliau shalallahu „alaihi wasallam satu kali beri‟tikaf di qubah (semacam payung – pent) kecil[5] [aitu tenda kecil yang diatasnya melingkar. red). sedang I‟tikaf Nabi shallallahu „alaihii wa sallam adalah macam yang lain (berbeda. maka beliau shalallahu „alaihi wasallam katakan : “ Jangan kau terburu-buru sehingga aku antarkan”.] dengan naungan tikar[6]]. Dibolehkannya seorang wanita menengok suaminya yang ada di tempat I‟tikafnya.[Ini adalah ujung hadist Abu Sa‟id Al-Khudri.Nabi shalallahu „alaihi wasallam berwudhu ringan di dalam masjid”. dibuat diatas 2 tiang atau 3. naungan diatas pintu untuk menjaganya dari hujan.”Nihayah”. Dibolehkan pula membuat kemah kecil di bagian belakang masjid lalu ber‟tikaf didalamnya. sebagaimana yang diucapkan Ibnu Qoyyim : “Kebalikan dari apa yang dilakukan orang-orag bodoh dimana orang-orang beri‟tika membuat semacam ruang tamu dan berbincang-bincang didalamnya. [Disebut “Khiba” salah satu bentuk rumah-rumah orang arab yang terbuat dari bulu unta atau wol.39]. dan bukan dari rambut.

b.) „Aisyah juga mengatakan : “Dahulu Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam beri‟tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan. bahkan kadang-kadang kami meletakkan bejana di bawahnya dalam keadaan dia tetap shalat”.”.2) Saya katakan : “Bahwa itu terdapat dalil.2144-2134). . lewat dua orang sahabat Anshar. (Riwayat Bukhari. Tatkala berada di pintu masjid yang dekat dengan rumah Umi Salamah radhiyallahu „anha. Muslim dan Abu Dawud tambahan. Bahkan dibolehkan bagi wanita untuk I‟tikaf bersama suaminya. Berdasarkan ucapan „Aisyah radhiyallahu „anha : “Telah I‟tikaf bersama Nabi shalallahu „alaihi wasallam seorang wanita yang isthihadhah (didalam sebuah riwayat dia adalah Umm Salamah) diantara isteri-isterinya dan dalam keadaan dia masih melihat kemerahan. Berdasarkan banyak dalil dalam hal ini. telah ditakhrij dalam shahih Sunan Abu Dawud . diizinkan waki-walinya untuk itu. Akan tetapi Darimi menyebutnya “Zaenab” 1/22 Wallahu a‟lam. dibolehkannya juga wanita I‟tikaf dan tidak diragukan bahwa itu dengan catatan. 3. Ketika mereka melihat Nabi Shalallahu „alaihi wasallam keduanya mempercepat (langkahnya). kekuningan. (Riwayat Bukhari Muslim dan selain keduanya telah di takhrij hal. Kemudian isteriisteri beliau beri‟tikaf setelahnya. catatan kaki no. Lalu keduanya mengatakan : “Subhanallah ! Wahai Rasulullah”. serta aman dari fitnah dan tidak berkhalwat (menyendiri) dengan kaum lelaki.2138. Maka Nabi shalallahu „alaihi wasallam mengatakan : “Sesungguhnya setan mengalir pada seseorag seperti mengalirnya darah Dan sungguh aku khawatir kalau setan membisikkan pada hati kalian berdua kejelekan atau beliau mengucap sesuatu. red). Jima‟ membatalkan I‟tikaf berdasarkan firman Allah : “Dan jangan kalian gauli mereka sedang kalian dalam ibadah I‟tikaf (di masjid)”. (Riwayat Bukhari telah ditakhrij dalam Shahih Abu Dawud no. sampai Allah mewafatkannya. riwayat yang lain adlah riwayat Said bin Manshur seperti terdapat dalam “Fathul Bari”4/281. dan kaidah fiqih mengatakan : “Menghindari keruskan itu lebih didahulukan dari pada mencari maslahat (kebaukan)”.bin Zaid. Maka Nabi shalallahu „alaihi wasallam berkata : “ Pelan-pelan ! Sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah binti Huyai” (istri Rasulullah sendiri. terakhir pada hadist itu dikeluarkan oleh Abu Dawud. atau sendirian.35.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu : “Jika seorang yang I‟tikaf melakukan jima‟ bata. Bab “I‟tikaf”.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah 3/920 dan Abdurrazzaq 4/363 dengan sanad yang shahih dan yang dimaksud dari kata (Ista‟nafa) dalam lafadz 2 hadist adalah mengulangi I‟tikafnya). semoga Allah Subhanahu wa Ta‟ala memberikan Shalawat dan salam-Nya kepada Nabi shalallahu „alaihi wasallam yang ummi. juga menambahnya dengan tambahan-tambahan baru.84 . juga kepada keluarga dan sahabatnya. (Dinukil dari terjemah kitab "Qiyamu Ramadhan". karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.or. edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam ”. Penerbit “Cahaya Tauhid Press”) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. aku bersaksi bahwa tiada Illah yang hak melainkan Engkau. I‟tikafnya.php?id_artikel=762 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar I'tikaf seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. '08 10:51 PM untuk semuanya .” Selesai mengoreksi dan membenahinya. Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su‟aidi. Sumber artikel : http://www. “Maha suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu.salafy. Dan tidak ada kafarah bagi dia karena tidak terdapat dalil dari Nabi shalallahu „alaihi wasallam dan para sahabatnya. aku minta ampun kepada-Mu dan bertaubat Kepada-Mu. dengan pena penulisnya pada fajar hari ahad 26 Rajab tahun 1406 H.id/print. dan hendaklah dia memulainya kembali. Hal : 72 .

I'tikaf seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: yaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. 04:36:21 1. terlalu banyak bicara dan tidur. bertafakur dalam mendapatkan keridhaan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah. dan (hal-hal tersebut) akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkannya. dan disyari‟atkannya (I‟tikaf) berdasarkan maslahah (kebaikan yang akan diperoleh) hingga seorang hamba dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sedangkan makan dan minum dengan berlebih-lebihan dan berlebih-lebihan dalam bergaul. Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang menghendaki untuk mensyari‟atkan bagi mereka puasa yang menyebabkan hilangnya kelebihan makan dan minum pada hambaNya. menghalangi dan menghentikannya. sehingga ia mampu mencurahkan kepada-Nya. dan jadilah keinginan semua kepada-Nya dan semua betikanbetikan hati dengan mengingat-Nya. Hikmahnya Al 'Allamah Ibnul Qayyim berkata: “Manakala hadir dalam keadaan sehat dan istiqomah (konsisten) di atas rute perjalanan menuju Allah 'Azza wa Jalla tergantung pada kumpulnya (unsur pendukung) hati tersebut kepada Allah. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. 20 Oktober 2004. dan akan membersihkan kecenderungan syahwat pada hati yang (mana syahwat tersebut) dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah 'Azza wa Jalla. Dan disyari‟atkannya I‟tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah 'Azza wa Jalla dan kumpulnya hati kepada Allah. kecintaan dan penghadapan kepadaNya sebagai ganti kesedihan (duka) hati dan betikan-betikannya. Hingga jadilah meng-ingat-Nya. yang menyebabkan dia . berkhalwat dengan-Nya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk. karena kusutnya hati tidak akan sembuh kecuali dengan menghadapkan(nya) kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sehingga bermesraan dengan berkhalwat dengan Allah sebagai ganti kelembutannya terhadap makhluk. dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati tersebut kepada Allah 'Azza wa Jalla secara menyeluruh. termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah berantakan (kusut) dan mencerai beraikan hati di setiap tempat.

sesungguhnya aku ini pernah nadzar pada jaman jahiliyyah (dahulu). 166)[ Riwayat Bukhari (4/237) dan Muslim (1656)] Yang paling utama (yaitu) pada bulan Ramadhan berdasarkan hadits Abu Hurairah Radiyallahu 'anhu (bahwasanya) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam sering beri‟tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang mana beliau diwafatkan padanya. Telah shahih bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam beri‟tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Syawwal.163) [ Zaadul Ma‟ad (2/86-87)] 2. dan (manakala) tidak ada lagi yang membahagiakan (dirinya) selain daripada-Nya.” Maka ia (Umar) pun beri‟tikaf pada malam harinya. Disyari‟atkannya I‟tikaf Disunnahkannya pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya sepanjang tahun. Makna I‟tikaf Yaitu berdiam(tinggal) di atas sesuatu. 167)[ Riwayat Bukhari (4/245] Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam seringkali beri‟tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau. 168) [Riwayat Bukhari (4/266) dan Muslim (1173) dari Aisyah] 4. dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai Mu‟takif dan „Akif.164) [Al Mishbahul Munir (3/424) oleh Al Fayumi.berbuat demikian adalah karena kelembutannya tersebut kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur mankala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya. beliau (pun) beri‟tikaf selama dua puluh hari.” Beliau bersabda: “Tunaikanlah nadzarmu.165)[ Riwayat Bukhari (4/226) dan Muslim (1173)] Dan Umar pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam “Wahai Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam). dan Lisanul Arab (9/252) oleh Ibnu Mandhur.] 3. Syarat-syarat I‟tikaf . maka inilah maksud dari I‟tikaf yang agung itu”. (yaitu) aku akan beri‟tikaf pada malam hari di Masjidil Haram.

Diperbolehkan keluar masjid jika ada hajat. 5. berdasarkan firman-Nya Ta‟ala: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu169) [ Yakni “Janganlah kamu menjimaki mereka”. boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir (rambutnya). Orang yang sedang I‟tikaf dan yang lainnya diperbolehkan untuk berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam: “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam berwudlu di dalam masjid dengan wudlu yang ringan. Tidak disyari‟atkan kecuali di masjid.a. dapat dilihat takhrijnya serta pembicaraan mengenai hal ini pada kitab yang berjudul Al Inshaf fi Ahkamil I‟tikaf oleh Ali Hasan Abdul Hamid] c. Al Baqarah: 187) b. Perkara-perkara yang boleh dilakukan: a. Pendapat tersebut merupakan pendapat jumhur (ulama). (QS. padahal beliau sedang I‟tikaf di masjid [“dan aku berada dalam kamarku”] kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat lain: “aku cuci rambutnya”) [“dan antara aku dan beliau (ada) utbah pintu”] {“dan waktu itu aku sedang haidh”] dan adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang I‟tikaf. Aisyah Radiyallahu 'anha berkata: “Dan sesungguhnya rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam pernah memasukkan kepalanya kepadaku. Dan masjid-masjid di sini bukanlah secara mutlak (seluruh masjid. pent).”172) [hadits riwayat Bukhari (1/342) dan Muslim (297) dan lihat Mukhtasar Shahih Bukhari no. Lihat Zadul Masir (1/193) oleh Ibnul Jauzi]. Dan sunnahnya bagi orang-orang yang beri‟tikaf (yaitu) hendaknya berpuasa sebagaimana dalam (riwayat) Aisyah Radiyallahu 'anha yang telah disebutkan.”170) [Hadits tersebut shahih. . b. tapi telah dibatasi oleh hadits shahih yang mulia (yaitu) sabda beliau Shalallahu 'alaihi wassalam : “Tidak ada I‟tikaf kecuali pada tiga masjid (saja). dishahihkan oleh para imam serta para ulama.171) [ Dikeluarkan oleh Abdul Razak dalam Al Mushannaf (8037) dan riwayat (8033) dengan maknanya dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas].”173) [Dikeluarkan oleh Ahmad (5/364) dengan sanad yang shahih].167 oleh Syaikh kami Al Albani rahimahullah dan Jami‟ul Ushul (1/3451) oleh Ibnu Atsir].

d.[sesampainya di samping pintu masjid yang terletak di samping pintu Ummu Salamah] lewatlah dua orang laki-laki-laki-laki dari kalangan Anshar dan ketika keduanya melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam. Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang beri‟tikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut. kemudian Nabi-pun bersabda: “Tenanglah177)[Janganlah kalian terburu-buru. kemudian keduanya berkata: “Subhanallah (Maha Suci Allah). Shafiyyah Radiyallahu 'anha berkata: “Dahulu Nabi (Shalallahu 'alaihi wassalam) (tatkala beliau sedang) I‟tikaf [pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan] aku datang mengunjunginya pada malam hari [ketika itu di sisinya ada beberapa isteri beliau sedang bergembira ria] maka akupun berbincang sejenak. ya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. ini adalah Shafiyyah bintu Huyay (istri Rasulullah sendiri. Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang I‟tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri‟tikaf. red)” . maka keduanyapun bergegas. Dan sanadnya hasan]. [maka beliaupun berkata: jangan engkau tergesa-gesa sampai aku bisa mengantarmu] kemudian beliau berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku pulang.c. dan suaminya diperbolehkan mengantar isteri sampai ke pintu masjid.I‟tikafnya wanita dan kunjungannya ke masjid a.176) [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (642-zawaidnya) an Al baihaqi. kemudian aku bangun untuk kembali. ini bukanlah sesuatu yang kami benci]. -tempat tinggal Shafiyyah yaitu rumah Usamah bin Zaid. karena Aisyah Radiyallahu 'anha (pernah) membuat kemah (yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang) apabila beliau beri‟tikaf174) [Sebagaimana dalam shahih Bukhari (4/226)] dan hal ini atas perintah Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam 175) [Sebagaimana dalam Shahih Muslim (1173)]. sebagaiman yang dikatakan oleh Al Bushiri dari dua jalan . sebagaiman yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radiyallahu 'anhuma bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam jika I‟tikaf dihamparkan untuknya kasur atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At Taubah. Diperbolehkan bagi seorang isteri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat I‟tikaf.” Beliaupun bersabda: “Sesungguhnya syetan itu menjalar (menggoda) anak Adam pada . 6.

Malam Seribu Bulan Sep 11.aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir akan bersarangnya kejelekan di hati kalianatau beliau berkata: sesuatu-“178) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/240) dan Muslim (2157) dan tambahan yang terakhir ada pada Abu daud (7/142-143 di dalam Aunul Ma‟bud)] b.”179)[ Telah lewat takhrijnya] berkata Syaikh kami (yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah-pent): “pada atsar tersebut ada suatu dalil yang menunjukkan atas bolehnya wanita I‟tikaf dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dibatasi (dengan catatan) adanya izin dari wali-wali mereka dan aman dari fitnah. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Bab "I'tikaf".or.id/print. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Berdasarkan ucapan Aisyah Radiyallahu 'anha: “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam I‟tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Al mewafatkan beliau. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Sumber artikel : http://www. berdasarkan dalil-dali yang banyak mengenai larangan berkhalwat dan kaidah Fiqhiyah: “ Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat. kemudian isteri-isteri beliau I‟tikaf setelah itu. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. '08 10:50 PM untuk semuanya .salafy.” (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Seorang wanita boleh I‟tikaf dengan didampingi suaminya ataupun sendirian.php?id_artikel=761 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Malam Lailatul Qadar .

red). karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. 18 Oktober 2004. Allah berfirman : ١﴾ ٤﴾ ٢﴾ ٥﴾ [ ‫]٥ .Malam Lailatul Qadar .١ : قل‬ ٣﴾ (yang artinya) [1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.Malam Seribu Bulan Penulis: yaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur'an. 1. Inilah wahai saudaraku muslim.٣ : خ ل‬ (yang artinya) : "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.5] Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah : ٣﴾ ٦﴾ [ ‫]٦ . ayat-ayat Qur'aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut. akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang ٤﴾ ٥﴾ . [QS Al Qadar: 1 . Keutamaan Malam Lailatul Qadar Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 05:19:43 Malam Lailatul Qadar Keutamaannya sangat besar.

[5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Dari Ubadah bin Shamit Radiyallahu „anhu. lihatlah). (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda. beliau bersabda : “Aku .”. ia berkata Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam keluar pada malam Lailatul Qadar. 25. ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam hari?”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388). Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar. jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya. Waktunya Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21. ada dua orang sahabat berdebat. membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini. 27."[QS Ad Dukhoon: 3 . beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut. 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. wallahu a‟lam. terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan. Pendapat yang paling kuat.” (HR Bukari 4/221 dan Muslim 1165). berdasarkan hadits „Aisyah Radiyallahu „anha. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Imam Syafi‟I berkata : “Menurut pemahamanku. karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Carilah di sepuluh hari terakhir. Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan. [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. 23. dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam beri‟tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda : (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Telah diketahui dalam sunnah.” (Lihat maraji‟ diatas). pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. carilah pada tujuh hari yang terakhir.penuh hikmah. janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir. Ini menafsirkan sabdanya : (yang artinya) “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi.6] 2.”. (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169) Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. maka barangsiapa ingin mencarinya.

27 dan 29. tidak ada masalah. tidak saling bertentangan. melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu. 25. 23. dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar. Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. (HR Bukhari 4/232). lima). cocoklah hadits-hadits tersebut. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar Sesungguhnya malam yang diberkahi ini. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir. Wallahu a‟lam. maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah.27. Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir. semoga ini lebih baik bagi kalian. carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir. Maka dengan ini. maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25. yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. 3.25 (dan dalam riwayat lain : tujuh. 27 dan 29. Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu. jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759). . dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan. maka carilah pada malam 29. barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya. sembilan. tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi). Kesimpulannya : Jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar. bahkan bersatu tidak terpisahkan. Hadits yang pertama sifatnya umum. sedang hadits kedua adalah khusus. tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah. 21. maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya).keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar. Ia berkata : “Adalah Rasulullah beri‟tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata : “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan”.

karya ibnu Rajab al Hanbali. apa yang harus aku ucapkan ?”. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan. Telah diriwayatkan dari Sayyidah „Aisyah Radiyallahu „anha. Ya Allah. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759) Disunnahkan untuk memperbanyak do‟a pada malam tersebut. menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita.” (HR Muslim 1174). Dari Aisyah Radiyallahu „anha. maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya). sanadnya shahih. Ibnu Majah (3850).) Saudaraku – semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir.”. menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar). halaman 55-57. perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan. dari Aisyah. Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan.” yang telah lalu. maka ampunilah aku. (HR Tirmidzi (3760). 4. “Adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan). yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya. Beliau menjawab. (dia berkata) : “Adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir). “Allahumma innaka „afuwwun tuhibbul „afwa fa‟fu „annii.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174). Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi). beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah. Juga dari „Aisyah Radiyallahu „anha. “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Ya Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam). (dia) berkata : “Aku bertanya. menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. Tanda-tandanya .

Ke 5 th 1416 H. Perkataannya “Syiqi Jafnah”. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Bab "Malam Lailatul Qadar". cerah. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR).salafy. syiq artinya setengah. sanadnya hasan).” (HR Thyalisi (349). jafnah artinya bejana. Dari Abu Hurairah.php?id_artikel=757 Kata kunci: “tauziah series” . tidak panas dan tidak juga dingin. Sumber artikel : http://www. ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam beliau bersabda : (yang artinya) “Siapa diantara kalian yang ingat ketika terbit bulan.or. seperti bejana hingga meninggi. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.” (HR Muslim 1170. Ibnu Khuzaimah (3/231). Bazzar (1/486). ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.Ketahuilah hamba yang taat – mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolongaNya – sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya. matahari terbit tanpa sinar menyilaukan. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.”) Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu.id/print.” (HR Muslim 762). (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Al Qadli „Iyadh berkata :”Dalam hadits ini ada isyarata bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan. ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Pagi hari malam Lailatul Qadar. Dari Ubay Radiyallahu „anhu. seperti syiqi jafnah. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan.

2. . red) berdasarkan dua hadits Abdullah bin Umar dan Salamah bin Al Akwa Radiyallahu 'anhu. red) seorang miskin. tetapi ada riwayat dari Ibnu Abbas yang menegaskan bahwa ayat ini tidak mansukh dan ini berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua dan bagi yang tidak mampu berpuasa. 05:32:06 Fidyah 1. bahwasanya dalam pembahasan yang lalu ayat ini mansukh (sudah dihapuskan hukumnya. Sisi pendalilannya. hendaknya membayar fidyah.tidak ada komentar Siapa yang layak membayar fidyah secara syar'i ? Sep 11. 17 Oktober 2004. dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya) “Dan orang-orang yang tidak mampu berpuasa. ibu hamil dan menyusui. maka diperbolehkan berbuka dan memberi makan setiap harinya (yang ditinggalkan. Syaikh Ali Hasan Abdul Hami Fiqh. (HR Bukhari 8/135). bahwasanya ayat ini adalah khusus bagi orang yang sudah tua renta (baik laki-laki maupun perempuan). '08 10:46 PM untuk semuanya Siapa yang layak membayar fidyah secara syar'i ? Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. maka hendaknya mereka memberi makan setiap hari atas seorang miskin. Penjelasan Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu Engkau telah mengetahui wahai saudaraku seiman. sebagaimana akan datang penjelasannya dari Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu. dengan memberi makan seorang miskin”. orang yang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. jika dikhawatirkan keadaan keduanya. (QS Al Baqarah 184). Bagi Siapa Fidyah itu ? Bagi ibu hamil dan menyusui jika dikhawatirkan keadaan keduanya.

Dalam riwayat lain (disebutkan) : “Diberi rukhsah (keringanan. Abu Daud (2318) sanadnya shahih). mereka menyangka adanya saling pertentangan!!!. hendaknya memberi makan seorang yang miskin dan tidak ada qadha‟. mutlak. Sebagian orang ada yang melihat zhahir riwayat yang lalu. lebih khusus lagi jika engkau mengetahui bahwasanya beliau menegaskan adanya mansukh. tetapi tatkala diberikan riwayat yang menegaskan adanya naskh. (Lihat I‟lamul Muwaqi‟in 1/35 karya Ibnu Qayyim dan Al Muwafaqat (3/118) karya Asy Syathibi). Telah sahih bagi kakek dan nenek yang sudah tua jika tidak mampu berpuasa. 3. adapun mengkhususkan atau mengaitkan atau menunjukkan yang mutlak kepada muqayyad. penafsirannya. . Yang Benar Ayat Tersebut (Al Baqarah 185) Mansukh Yang benar dan tidak diragukan lagi ayat tersebut adalah mansukh. (Ibnu Jarud (381). Al Baihaqi (4/230). penjelasannya. syarat dan sifat sebagai „naskh‟. yaitu riwayat Bukhari pada kitab Tafsir dalam shahihnya yang menegaskan tidak adanya naskh (dalil yang menghapuskan. tetapi dalam pengertian orang-orang terdahulu.Oleh karena itulah Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu dianggap menyelisihi jumhur shahabat atau pendapatnya saling bertentangan. kemudian dimansukh oleh ayat (yang artinya) : “Karena itu. kemudian memberi makan setiap harinya seorang miskin. barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu (Ramadhan –ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. ibu hamil dan menyusui yang khawatir keadaan keduanya untuk berbuka. zhahir dan selainnya. Naskh dalam bahasa Arab menjelaskan maksud tanpa memakai lafadz tersebut. Karena padanya mengandung penghilangan makna dan zhahir maksud lafadz tersebut. hingga mereka menyangka Hibrul Ummah (Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu) menyelisihi jumhur.” (QS Al Baqarah 185). red). bahkan (bisa juga) dengan sebab dari luar. sehingga mereka menamakan istitsna‟ (pengecualian). karena salafush shalih Radiyallahu 'anhu menggunakan kata „naskh‟ untuk menghilangkan pemakaian dalil-dalil umum. red) bagi laki-laki dan perempuan yang sudah tua renta yang tidak mampu berpuasa.

maka apa makna rukhsah yang ditetapkan dan yang dinafikan (ditolak.Sudah diketahui bahwa barangsiapa yang memperhatikan perkataan mereka (orang Arab) akan melihat banyak sekali contoh masalah tersebut. yang mengandung penghilangan hukum syar‟i terdahulu dengan dalil syar‟i mutakahirin yang dinisbatkan kepada mukallaf. tetapi harus berbuka dengan memberi fidyah kepada seorang miskin. hukum pertama mansukh dengan dalil al Qur‟an adapun hukum kedua dengan dalil dari Sunnah dan tidak akan dihapus sampai hari Kiamat. red) itu jika penyebutan mereka bukan sebagai dalil ataupun pembatasan ? Jika engkau telah merasa jelas dan yakin. Yang menguatkan akan hal ini adalah pernyataan Ibnu Abbas dalam riwayat yang menjelaskan adanya naskh : “Telah tetap bagi laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia . Mungkin adanya masalah itu terjadi karena hadits Ibnu Abbas yang menegaskan adanya nash bahwa rukhshah itu untuk laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa. 4. dan tidak mansukh bagi orang yang tidak mampu berpuasa. Ayat Tersebut Bersifat Umum Yang menguatkan hal ini. hingga turun ayat (yang artinya) : “Karena itu. hingga tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang lanjut usia. Penguat hal ini dari sunnah adalah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Salamah bin al Akwa Radiyallahu 'anhu : “Kami pernah pada bulan Ramadhan bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. dalil untuk memahami hal ini terdapat pada hadits itusendiri. barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu (Ramadhan –ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. barangsiapa yang mau berpuasa. maka berpuasalah. ayat diatas adalah bersifat umum bagi seluruh mukallaf yang mencakup orang yang biasa berpuasa. Jika rukhshah tersebut hanya untuk laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia saja.” (QS Al Baqarah 185). serta berpendapat bahwa makna ayat mansukh bagi orang yang mampu berpuasa. sehingga akan hilanglah musykilah (problema) yang disebabkan memaknakan perkataan salafus shalih dengan pengertian yang baru. tetapi masalah ini akan hilang jika jelas bagimu bahwa hadits tersebut hanya sebagai dalil bukan membatasi orangnya. atau tidak biasa puasa. dan barangsiapa yang mau berbuka maka berbukalah. kemudian dihapus (dinaskh).

apa yang telah tsabit (tetap penyebutannya) dari Ibnu Abbas dan Mu‟adz hanyalah semata-mata pendapat. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat : (yang artinya) “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan padanya Al Qur‟an…” (QS Al Baqarah 185). Perkataannya tidak mansukh ditafsirkan oleh perkataannya : “itu mansukh”. haditsnya mencocoki dua hadits yang lainnya (yaitu) hadits Ibnu Umar dan Salamah bin Al Akwa Radhiyallahu 'anhu dan juga tidak saling bertentangan. Ahmad dalam Musnad (5/246-247) dan sanadnya shahih. dan puasa Asyura‟. ijtihad dan pengkabaran. Allah menetapkan puasa bagi orang mukim dan sehat. serta memberi keringanan (rukhshah) bagi orang yang sakit dan musafir dan menetapkan fidyah bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa. untuk berbuka dan memberi makan orang miskin setiap harinya. (Al Jami‟ li Ahkamil Qur‟an. serta wanita yang hamil dan menyusui juka khawatir akan keadaan keduanya. sehingga tidak bisa naik ke tingkatan hadits marfu‟ yang bisa mengkhususkan . sampai kemudian Allah mewajibkan puasa (Ramadhan) turunlah ayat : “Hai orang-orang yang beriman. menetapkan puasa selama tiga hari setiap bulannya. Dua hadits ini menjelaskan bahwa ayat ini mansukh bagi orang yang mampu berpuasa dan tidak mansukh bagi orang yang tidak mampu berpuasa. demikianlah diisyaratkan oleh al Qurthubi dalam tafsirnya. yakni ayat ini dikhususkan. dengan keterangan ini jelaslah bahwa naskh dalam pemahaman shahabat berlawanan dengan pengkhususan dan pembatasan di kalangan ahli ushul mutaakhirin.” Dan yang menambah jelas lagi hadits Mu‟adz bin Jabal Radiyallahu 'anhu : “Adapun keadaan-keadaan puasa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam saat datang ke Madinah. Oleh karena itu Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhu mencocoki sahabat. Hadits Ibnu Abbas dan Muadz hanya ijtihad ? Mungkin engkau menyangka wahai saudara muslim. 2/288). Al Baihaqi dalam sunannya (4/200). inilah keadaan keduanya…” (HR Abu Daud dalam Sunannya (507). diwajibkan atas kalian berpuasa…” (QS Al Baqarah 183). 5. yakni ayat ini dikhususkan.dan tidak mampu berpuasa.

” Dari jalan lain beliau meriwayatkan : Seorang wanita yang hamil bertanya kepada Ibnu Umar. maka ini adalah hadits yang musnad. red). membatasi yang mutlak dan menafsirkan yang global. „Ulumul Hadits (24) karya Ibnu Shalah). (Sebagaimana dinashkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (3/21)). dan berilah makan orang miskin setiap harinya dan tidak perlu mengqadha‟. Dari Malik dari Nafi‟ bahwasanya Ibnu Umar ditanya tentang seorang wanita yang hamil jika mengkhawatrkan anaknya. sanadnya shahih).perkara yang sifatnya umum dalam al Qur‟an. Tidak ada sahabat yang menentang Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu. bahwa turunnya begini. dan hamil. beliau (Ibnu Umar) berkata : “Seorang wanita hamil dan menyusui boleh berbuka dan tidak mengqadha‟. Wanita Hamil dan Menyusui Gugur Puasanya . Dua hadist ini memiliki hukum marfu‟ menurut kesepakatan ahlul ilmi tentang hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Daruquthni meriwayatkan (1/207) dari Ibnu Umar dan beliau menshahihkannya. (Lihat Tadribur Rawi (1/192-193) karya Imam Suyuthi. Dan dia kehausan ketika puasa Ramadhan. 6. Ibnu Abbas menetapkan hukum ini bagi wanita yang menyusui dan hamil. c. Dari jalan yang ketiga : Anak perempuan Ibnu Umar adalah istri seorang Quraisy. terlebih lagi beliau tidak sendirian tapi disepakati oleh Abdullah bin Umar yang meriwayatkan bahwa hadits ini mansukh (sudah dibatalkan.” (Al Baihaqi dalam as Sunan (4/230) dari jalan Imam Syafi‟I. beliau menjawab : “Berbukalah. beliau berkata : “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin. maka jawabannya adalah sebagai berikut : a. sanadnya jayyid”. Ibnu Umar pun menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin. Seorang yang beriman mencintai Allah dan RasulNya tidak boleh menyelisihi dua hadits ini jika ia anggap shahih. karena dua hadits ini ada dalam tafsir ketika menjelaskan asbabun nuzul. darimana beliau mengambil hukum ini? Tidak diragukan lagi beliau mengambil dari Sunnah. b. mengabarkan ayat Al Qur‟an. yakni dua sahabat ini menyaksikan wahyu dan turunnya al Qur‟an.

penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Ke 5 th 1416 H.” (QS Al Baqarah 184). perkataan ini tertolak karena al Qur‟an menjelaskan makna gugurnya puasa dari musafir : (yang artinya) “Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka).salafy. yakni dibatasi “kalau mengkhawatirkan diri dan anaknya”. Sumber artikel : http://www. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.” 7. Bab "Fidyah".” (QS Al Baqarah 184). (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk orang yang tercakup dalam ayat itu. yang terdapat dalam hadits Anas yang lalu. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Maka jelaslah bagi kalian. dia bayar fidyah tidak mengqadha‟. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.Keterangan ini menjelaskan makna : “Allah menggugurkan kewajiban puasa dari wanita hamil dan menyusui”. bahwa ayat ini adalah khusus untuk mereka.id/print. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Dan Allah menjelaskan makna gugurnya puasa bagi yang tidak mampu menjalankannya dalam firmanNya : (yang artinya) “Dan wajib orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) : memberi makan seorang miskin. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. '08 10:45 PM .or. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.php?id_artikel=756 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Kafarat / Denda dalam Puasa Ramadhan Sep 11. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Musafir Gugur Puasanya dan Wajib mengqadha‟ Barangsiapa menyangka gugurnya puasa wanita hamil dan menyusui sama dengan musafir sehingga mengharuskan qadha‟.

08 November 2003. -ed) perawinya lebih banyak. berbeda dengan sebaliknya. 2. tentang laki-laki yang menjima'i isterinya di siang hari bulan Ramadhan. Tidak pernah terjadi hal seperti ini dalam riwayat-riwayat lain. mereka sepakat menyatakan tentang batalnya puasanya karena jima'. namun tidak mampu mebebaskan seorang budak ataupun puasa (dua bulan berturut-turut) dan juga tidak mampu memberi makan (enam puluh orang miskin). kalau tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin. tetapi yang meriwayatkan dengan tertib (sesuai urutannya.untuk semuanya Kafarat / Denda dalam Puasa Ramadhan Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly Fiqh. karena tidak ada beban syari'at kecuali kalau ada kemampuan. bahwa dia harus mengqadha' puasanya dan membayar kafarat yaitu : membebaskan seorang budak. Gugurnya kafarat Barang siapa yang telah wajib membayar kafarat. 04:08:20 1. dan orang yang berilmu menjadi hujjah atas yang tidak berilmu. -ed). yang menganggap lebih rajih yang tertib disebabkan karena tertib itu lebih hati-hati. Ada yang mengatakan : kafarat jima' itu boleh dipilih secara tidak tertib (yaitu tidak urut seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah. karena itu berpegang dengan tertib sudah cukup. Allah berfirman (yang artinya) : “ Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kemampuan" [Al-Baqarah : 286] . Kafarat bagi laki-laki yang menjima'i isterinya Telah lewat hadits Abu Hurairah. maka riwayatnya lebih rajih karena perawinya lebih banyak jumlahnya dan padanya terdapat tambahan ilmu. maka gugurlah kewajibannya membayar kafarat. kalau tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut. baik bagi yang menyatakan boleh memilih atau tidak.

Dan dengan dalil Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menggugurkan kafarat dari orang tersebut. Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.or. penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Kafarat hanya bagi laki-laki Seorang wanita tidak terkena kewajiban membayar kafarat.salafy. Sumber artikel : http://www.php?id_artikel=322 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Petunjuk tentang Qunut Witir Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR). Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. ketika mengabarkan kesulitannya dan memberinya satu wadah korma untuk memberikan keluarganya. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. 3. karena ketika dikhabarkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam perbuatan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Ke 5 th 1416 H.id/print. Wallahu 'alam Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. '08 10:45 PM untuk semuanya Petunjuk tentang Qunut Witir Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Abul 'Abbaas Musa ibn John Richardson . penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. beliau hanya mewajibkan satu kafarat saja.

yang didasarkan semata-mata pada masalah yang berkenaan dengan doa qunut dalam sholat Witir. dan mengambil kesimpulan. memilah sesuai dengan riwayat yang sahih. 08 November 2004. Penyusun kemudian kembali dan meneliti masalah tersebut satu-persatu. Saudi Arabia) Pelajaran terbagi menjadi dua bagian utama : Bagian Pertama: Riwayat-riwayat yang diperbincangkan kesahihannya Bagian Kedua : Masalah yang berhubungan dengan do'a qunut yang dilakukan dalam sholat Witir Penyusun mengumpulkan seluruh riwayat yang shahih dari Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam) dan pernyataan para sahabatnya yang berhubungan dengan qunut dalam sholat witir. dalam rangka memusatkan pada prinsip dasar dalam pelajaran tersebut yang layak diambil. Sebagian dari kesimpulan dalam studi (beliau) sebagai berikut: . 17:19:31 Judul Pelajaran : Penjelasan tentang do'a qunut yang dilakukan dalam sholat Witir.berargumentasi.Fiqh. Beliau juga mengumpulkan dari madzhab fiqih terkenal yang telah yang menjelaskan tentangnya. dari perspektif hadits dan perspektif fiqih (Disampaikan oleh Shaykh Muhammad Bin Umar bin Salim Bazmul saat mengajar di Universitas Umm al-Quraa. termasuk madzhab Dhahiriyyah. menggunakan manhaj para Ulama meneliti. Kemudian beliau mengumpulkan yang termasuk dalam kategori sahih. agar supaya membedakan antara (riwayat) orang-orang yang tak dapat diterima dan yang bisa diterima.

1. HR Ibnu Abi Syaibah 2/205 no. HR Ibnu Abi Syaibah 2/305-306 atau 2/205]". Do'a qunut dalam witir dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruku'. Muhammad bin 'Umar Bazmul hal 362-385. [Ishaq bin Rahawaih memilih qunut (witir) dilaksanakan sepanjang tahun. demikian juga dikalukan oleh Hasan al-Bahsri. 5. lihat juga kitab at-Tarjih fii Masaailil Thaharah was Shalah oleh DR. Serta Dari Ibrahim an-Nakha'i telah berkata 'Abdullah:"ia tidak pernah qunut Shubuh sepanjang tahun dan ia qunut witir setiap malam sebelum ruku'.[Dari 'Amr dari Hasan. yakni dimulai dengan malam yang yang keenambelas. 3. Dan kata Ma'mar:"Sesungguhnya aku qunut witir sepanjang tahun kecuali awal Ramadhan sampai dengan pertengahan saya tidak qunut. bahwasanya 'Umar radiyallaahu 'anhu menyuruh Ubay radiyallaahu 'anhu mengimami shalat tarawih pd bulan Ramadhan. dan beliau menyuruh Ubay radiyallaahu 'anhu untuk melakukan qunut pada pertengahan Ramadhan mulai malam 16 Ramadhan. terlebih jika sholat tersebut dilakukan berjamaah dengan orang-orang. walaupun yang terbaik dilaksanakan sebelum ruku'. Menyambung (di atas). sanad hadits shahih (lihat 'Irwaul Ghalil 1/167 hadits no 426 dan . Qunut (semestinya) ditinggalkan saat separuh pertama dari bulan Ramadhaan." Kata Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah:"Ini atsar yang kami pegang. yakni setiap malam yang telah ditetapkan adalah separuh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Lihat Mushannaf 'Abdurrazzaq 3/120 dengan sanad yang shahih.[Hadits Ubay bin Ka'ab:"bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku'. ia menyebutkan dari Qatadah dan lainnya. Ibnu Majah no 1182. 2. Termasuk sunnah Nabi ( Shallallahu 'alaihi wasallam) yakni kadang-kadang melaksanakannya dan kadang-kadang meninggalkannya. simak Mukhtasar Qiyamullail 125. Bahwa doa qunut dalam sholat witir (di bulan Ramadhan. 6. red) diperbolehkan dilakukan semua sepanjang tahun. HR Abu Dawud no 1427. dan tidak dikenal luas. Diperbolehkan melakukan doa qunut pada (malam) pertama dan kedua dari separoh bulan Ramadhaan. sebab hal ini menyimpang dari Sunnah.10] 4.

11. bahkan diriwayatkan dari jumhur Sahabat. serta memohon (dalam qunut) untuk membinasakan kaum kafir pada doa qunutnya. untuk tidak memanjangkan do'a qunut. dan yang terbaik adalah mencukupkan diri untuk merujuk pada apa yang telah yang diberitakan Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam). Dan sebagaimana hadits Hasan bin Ali radiyallaahu 'anhuma. Tidak ada ketetapan yang mengharuskan orang-orang untuk berdo'a qunut dengan cara tertentu. Diperbolehkan mengangkat tangan pada do'a qunut. ketika (memilih) berdoa qunut sebelum ruku'. sebab cara yang terbaik adalah yang telah shahih riwayatnya. lalu shalawat kepada Nabi shallalaahu 'alayhi wasallam dan mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin. Merupakan Sunnah bagi imam orang-orang untuk tidak berdo'a qunut pada separuh pertama bulan Ramadhaan. dikatakan oleh al-hafizh dalam "Addirayah" sanadnya hasan."Simak Diriwayatkan olsyaieh Ibnu Abi Syaibah 2/302 atau 2/202 no 12. Termasuk Sunnah. sehingga dia hanya diperbolehkan untuk memperpanjang sesuai pernyataan yang telah tetap. atau membiarkan tangan tetap di . (akan tetapi) melakukan qunut tersebut pada separuh terakhir. Syaikh Albani berkata sanadnya jayyid menurut syarat Muslim (Irwaa'ul Ghalil 2/166). Juga Syaikh al-Albani rahimahullah berkata : "Boleh juga doa qunut sesudah ruku' dan ditambah dengan melaknat orang2 kafir. 10. 12. dan ini riwayat yg shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud dan 'Abdullah bin Umar radiyallaahu 'anhuma. 9. tidak bebas melakukan apapun.31-32] 7. 8. dan para jama'ahnya mengucapkan "amiin". pada pertengahan Ramadhan. Simak Qiyamu Ramadhan hal. Termasuk Sunnah adalah bahwa imam mengeraskan suaranya saat berdo'a qunut. karena ada dalil dari para Shahabat radiyallaahu 'anhuma di zaman Umar radiyallaahu 'anhu.Shahih Sunan Abi Dawud no 1266). Termasuk menyimpang dari Sunnah yakni bertakbir (Allahu akbar) sebelum dan sesudah qunut. sebagaimana diriwayatkan Ibrahim al-Qamah:"Sesungguhnya Ibnu Mas'ud dan para Sahabat Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku'.

mengumpulkan dalil-dalil. Tidak diizinkan untuk menyeka/menyapu wajah dengan tangan setelah qunut. Saudi Arabia] Masalah yang keempat: Apakah posisi tangan diangkat dalam do‟a qunut ? Berikut hukum yang ditetapkan dalam do‟a qunut : 1) Yakni seseorang mengangkat tangannya. semua cara ini diperbolehkan. Dan beliau berharap kiranya dapat membantu menghidupkan kembali manhaj Ulama' di (dalam) meneliti. Diperbolehkan mengucapkan shalawat kepada Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam) di (dalam) do'a qunut. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa sesuatu yang disahkan dalam amalan wajib adalah juga disahkan untuk amalan sunnah. dan kemudian membuat kesimpulan yang berdasar padanya. . 17. [Dari abstrak pelajaran yang disampaikan Syaikh Muhammad Bazmul pada Universitas Umm al-Quraa. Apa saja yang dikerjakan dalam qunut nazilah (yang dilakukan dalam sholat wajib) juga dapat dikerjakan dalam doa qunut dalam sholat witir. 14. Sholat yang paling menyerupai sholat witir adalah paling adalah Maghrib. sera memberikan bimbingan. 15. 13.samping (seperti posisi sebelumnya/tidak mengangkat tangan). atau mengangkat tangan di awal qunut dan menurunkan tangan di akhir qunut. sebab sholat Maghrib adalah witir di sore [/siang] hari. Semoga Allaah mengabulkan doa penyusun. menerimanya dan menolaknya dalil dalam kaitan dengan kesahihannya. dan keteguhan. kecuali jika disana ada dalil khusus yang melarangnya. 16. Abdullaah ibn Mas‟ud dan Ubay ibn Ka‟b (semoga Allah meridloi keduanya) yang telah meriwayatkan banyak tentang do'a qunut di (dalam) sholat witir.

al-Mu'jam as-Saghir. meminta dari orang lain agar memberikannya sesuatu. Dalil (yang berkenaan dengan poin di atas): 1) Nabi (Shallallaahu „ alaihi wasallam) menaikkan tangannya yang digunakan untuk berdo‟a qunut an-nazilah. 2) Az-Zuhri meriwayatkan. Lihat juga: Irwaa' Al-Ghalil ( 2/181)]. Musa Abul-'Abbaas Musa ibn John Richardson ('Aziziyyah. yakni memohon (kepada Allah.[keterangan ust Abu Hamzah Yusuf : Dzahir perkataan Ahlul ilmi (tentang kaifiyat mengangkat tangan) :” bahwasanya kedua tangan digandengkan seperti orang yang sedang memohon. maka aku tidak mengetahui ada asalnya dalam Sunnah tidak pula dari perkataan ulama” 2) Yakni seseorang membiarkan tangannya berada disampingnya. . mengacu pada perbuatan Shahabat Nabi : "Mereka dahulu tidak menaikkan tangannya dalam Witir di bulan Ramadhan. melainkan beliau mempelajari hal tersebut dari Nabi (Shallallaahu „ alaihi wasallam). Saudi Arabia) menyatakan : bahwa tindakan Ibn Mas'ud sesuai disini. red) untuk membinasakan kaum (kafir). Dan 'Abdullaah ibn Mas'ud dahulu mengangkat tangannya saat qunut. dan setelah itu membiarkan tangannya di sampingnya. Adapun dibentangkan dan saling berjauhan antara kedua tangan . [Sahihh: Ahmad 3/137. dibatasi oleh dalil. dan al-Baihaqi didalam Dalaa'il anNubuwwah dan As-Sunan Al-Kubraa. 3) Yakni seseorang mengangkat tangannya di awal qunut dan menurunkan tangannya di akhir qunut. Dan Allah Ta‟ala mengetahui yang terbaik. Makkah. maka beliau tidak akan melakukan berbagai hal didalam shalat menurut pendapatnya sendiri. sebab beliau adalah sahabat Nabi dan perbuatan ini adalah tauqifi." 3) Az-Zuhri meriwayatkan bahwa Ibn Mas'ud dahulu mengangkat tangannya di(dalam) Witir.

Abu Dawud (1443). red] witir yang wajib. yang mana [sholat Magrib ini merupakan. (1) Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits hasan dalam Musnad Ahmad (2746). Dan telah disepakati oleh al-Haakim. . [Datang dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu „anhu] Dan Allah Ta‟ala mengetahui yang terbaik.. maka dapat diambil dalil melihat perbuatan Sahabat pada qunut an-naazilah (do‟a untuk memohon perlawanan atas orangorang (musuh. al-Haakim (1/225). kecuali jika disana ada dalil khusus yang melarang hal tersebut.Masalah yang keenam: Apakah do‟a qunut dan ucapan “Amiin" para makmum/jama‟ah dilaksanakan dengan suara keras? [Ringkasan] Mengingat tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa mereka dulu (sahabat) mengucapkan "Amiin" di belakang imam mereka sepanjang qunut witr. dengan begitu diperbolehkan juga untuk melakukannya didalam sholat yang tidak wajib. berdasarkan pada prinsip yang disebutkan dalam kaidah berikut : “. karena ucapan mereka "Amiin" di belakang Imam dalam sholat adalah amalan (yang) dilaksanakan dalam sholat wajib. Ibn Khuzaimah (618). Apa saja yang telah ditetapkan untuk qunut nazilah (yang dilakukan pada sholat yang wajib) adalah juga dapat diamalkan dalam qunut pada sholat witir. al-Bayhaqi dalam as-Sunan alKubraa (2/200). Hal ini didukung oleh bahwa amalan apapun yang disyariatkan dalam amalan wajib adalah juga disyariatkan dalam amalan sunnah. Hal ini telah tetap dalilnya dilakukan dalam sholat Maghrib. red) yang dilakukan pada sholat yang wajib). dan al-Albaani (Irwaa' al-Ghalil:2/163). Ibn Khuzaimah..