Anjuran berzakat dan ancaman bila tidak membayarnya

Sep 11, '08 11:15 PM untuk semuanya

Anjuran berzakat dan ancaman bila tidak membayarnya Penulis: Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc Fiqh, 07 November 2004, 03:44:55 Anjuran dalam Menunaikan Zakat Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka" . (At Taubah : 103)

Ayat ini mengajarkan untuk mengambil sedekah dari hartanya kaum mu'minin, baik itu shodaqoh yang ditentukan (zakat) ataupun yang tidak ditentukan (tathowa) demi untuk membersihkan mereka dari kotornya kebakhilan dan rakus. Juga mensucikan mereka dari kehinaan dan kerendahan dari mengambil dan makan haknya orang fakir. Dan juga untuk menumbuh kembangkan harta mereka dan mengangkatnya dengan kebaikan dan keberkahan akhlak dan mu'amalah sampai mengantarkan mereka menjadi orang yang berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Firman Allah Ta'ala: "Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat : 19)

Dalam ayat ini Allah Ta'ala telah mengkhususkan sifat-sifat yang mulia dengan berbuat baik. Dan kebaikan mereka nampak jelas dari menegakkan shalat malam, memohon ampun di waktu malam dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana kebaikan mereka yang nampak jelas dalam memberi dan menunaikan haknya orang-orang fakir demi kasih sayang dan rohmah bagi mereka. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan

zakat." (Al Hajj:41)

Allah telah menjanjikan dengan menunaikan zakat merupakan tujuan untuk bisa tegak dan kokoh di muka bumi ini. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tiga perkara yang aku bersumpah atas tiga perkara tersebut dan menceritakan kepada kalian maka jagalah : Tidak akan berkurang harta yang dishodaqohkan dan tidak seorang hamba dianiaya dengan satu kedholiman kemudian dia bersabar (atas kedholiman) kecuali Allah akan menambahkan baginya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Allah akan membaginya pintu kefakiran." (Turmudzi Kitab AzZuhd 4:487(2325) dari hadits Abi Habsyah)

Dari masih banyak hadits-hadits tentang anjuran untuk menunaikan zakat serta keutamaankeutamaannya.

Ancaman Bagi yang Tidak Menunaikan Zakat

Telah banyak dalil-dalil baik itu dari Al-Kitab ataupun As-Sunnah tentang ancaman keras bagi orang yang bakhil dengan zakat dan enggan untuk mengeluarkannya. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam lalu dibakar dengannya dahi mereka lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka :"Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu" (At Taubah : 34-35). Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Sekali-sekali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu kelak akan dikalungkan di lehernya di hari kiamat." (Ali Imron : 180)

Oleh karenanya harta yang tidak ditunaikan zakatnya maka itu termasuk harta simpanan yang pemiliknya akan disiksa dengannya pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidaklah seseorang yang memiliki emas atau perak kemudian tidak ditunaikan haknya, apabila datang hari kiamat dibentangkan baginya batubatu yang lebar dari neraka kemudian dia akan dipanggang di atas batu-batu itu di dalam neraka jahannam kemudian disetrika perut, dahi dan punggungnya. Setiap kali sudah dingin maka akan dikembalikan seperti semula yang satu hari adalah sama dengan 50.000 tahun sampai diputuskan perkaranya diantara manusia maka dia akan melihat jalannya, apakah ke surga atau neraka." (HR. Muslim Kitab Zakat 7:67 no. 2287 dari hadits Abu Hurairah)

Kemudian lanjutan hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan orang yang memiliki onta, sapi dan kambing yang tidak ditunaikan zakatnya akan mengalami nasib yang sama pula dari siksa di hari kiamat.

Juga sabda Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain : "Barang siapa yang Allah telah berikan harta kepadanya kemudian dia tidak menunaikan zakatnya maka pada hari kiamat nanti hartanya akan berujud ular yang botak yang mempunyai dua titik hitam diatas kepalanya yang mengalunginya kemudian mengambil dengan kedua sisi mulutnya sambil berkata: "Aku adalah simpananmu, aku adalah hartamu". Kemudian beliau membaca ayat: "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya, menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka, harta-harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhori Kitab Zakat 3:268 no.1403 dari hadits abu Hurairah; Muslim Kitab Zakat 7:74 no. 2294)

Hukum Bagi yang Tidak Mau Membayar Zakat

Dalam hal ini ada beberapa kriteria dari orang-orang yang tidak mau membayar zakat : 1. Seorang yang tidak mau membayar zakat tapi masih meyakini akan wajibnya. Para ulama menghukumi bahwa pelakunya berdosa dan tidak mengeluarkannya dari keislamannya. Kepada penguasa (hakim) agar memaksa pelakunya supaya mau membayar zakat serta memberikan hukuman pelajaran kepadanya (tahdzir). Dan mengambil hak zakat dari orang tersebut sesuai dengan kewajibannya, tidak boleh lebih. Kecuali pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Syafi'i (pendapat lama) maka mengambilnya separuh dari hartanya

sebagai hukuman baginya. Sebagaimana hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "… Dan barang siapa yang tidak mau menunaikannya (zakat) maka kami akan mengambilnya dan separuh hartanya adalah hak dari hak-hak wajib bagi Tuhan kami, tidak halal bagi keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam darinya sedikitpun." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, Hakim, Baihaqi dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya).

Adapun Ibnu Taimiyah menghukumi orang yang seperti itu adalah kafir dalam batinnya, walaupun secara dzahir tidak dikafirkan, akan tetapi disikapi seperti sikapnya orang-orang murtad yang diberi kesempatan bertaubat tiga kali, kalau tidak mau bertaubat maka hukumnya dibunuh. (lihat Fatawa 7:611, mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2:877; Mughni 4:67; majalah Buhuts Islamiyah Darul ifla' edisi 58 tahun 1420H hal. 11; Fiqh Sunnah 1:403)

2. Kalau yang tidak mau membayar zakat itu sekelompok orang yang mereka memiliki kekuatan tapi masih berkeyakinan akan wajibnya.

Para ulama menghukumi agar diperangi sampai mereka mau membayar zakat sebagaimana kisahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. (HR. Jama'ah dari Abu Hurairah)

Juga haditsnya Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, maka kalau mereka telah mengerjakannya terjagalah dari darah dan harta mereka kecuali haknya Islam dan hisab mereka di sisi Allah." (HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak mau membayar zakat dengan mengingkari akan wajibnya.

Berkata Ibnu Qudamah : "Barang siapa yang mengingkari karena jahil (tidak tahu) atau dia termasuk orang yang tidak tahu karena baru masuk Islam atau dia tinggal di daerah terpencil yang jauh dari daerah yang mengetahui akan wajibnya maka tidak dikafirkan. Adapun kalau

dia seorang muslim yang tinggal di negeri Islam di tengah-tengah ahli ilmu maka hukumnya murtad." (Mughni 4:6-7)

(Dikutip dari tulisan ustadz Qomar Sua'idi, Lc, yang diarsipkan eks. tim Zisonline, al akh Fikri Thalib) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=786 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar

Definisi Zakat dan Hikmah disyariatkannya Zakat

Sep 11, '08 11:14 PM untuk semuanya

Definisi Zakat dan Hikmah disyariatkannya Zakat Penulis: Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc Fiqh, 07 November 2004, 03:36:50 Definisi Zakat

1. Menurut Bahasa (lughoh)

Dari asal kata "zakkaa - yuzakkii - tazkiyatan - zakaatan" yang berarti : 1. Thoharoh (membersihkan/mensucikan) Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (At-Taubah:103)

2. Namaa' (tumbuh /berkembang)

Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Allah memusnahkan ribaa' dan menyuburkan sedekah" (Al-Baqarah:276)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Rabsyah Al-An Maary. "Harta tidak akan berkurang dengan dishodaqohkan" (HR. Tirmidzi, kitab Az Zuhd jilid 4 hal. 487 no. 2325, kata Imam Tirmidzi "Hadits ini hasan shohih")

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani : "Tanaman itu telah Zakka, yakni berkembang & tumbuh" (Fathul Baari, kitab zakat jilid 3 hal. 262)

3. Al-Barokah Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya" (Saba' : 39)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Hurairoh radhiallohu anhu : Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Hai anak Adam berinfaklah niscaya Aku akan berinfak untukmu". (HR. Bukhori, Kitab Tafsir surat Hud 8 : 352 (4684); Muslim, Kitab Zakat 7:81 no. 2305)

4. Al-Madh (Pujian) Dalam hadits Abu Hurairoh tentang kisah Zainab Ummul Mukminin : " . . . Bahwa Zainab namanya adalah Barroh maka dikatakan 'Dia memuji dirinya' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menamainya Zainab." (HR. Muslim, Kitab Al Azab Juz 14, hal. 346 no. 5572)

5. Amal Sholeh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan kami menghendaki supaya tuhan mereka mengganti mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu" Imam Al-Farro' mengatakan: arti 'yang lebih baik kesuciannya' adalah yang lebih baik amal sholehnya. (lihat An Nihayah karya Ibnu Al Atsir jilid 2 hal. 307; Lisanul Arab karya Ibnul Mandzur jilid 6 hal 64-65)

" (Mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2 : 876." (Taudhihul Ahkam 3:5) III. Pendapatnya Al-Hafidz Ibnu Hajar : "Memberikan sebagian dari harta yang sejenis yang sudah sampai nashob selama setahun dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya yang bukan dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib. shodaqoh. infaq/nafaqoh dan Al-'afwu. Menurut Hukum (Istilah syara') 1. terkadang dengan ungkapan zakat. untuk golongan tertentu pada waktu tertentu. tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku" (Al Baqoroh : 43) 2. Pendapat Syaikh Abdullah Al-Bassaam : "Hak wajib dari harta tertentu. Zakat Dalam Bahasa Al-Qur'an Sedangkan Al-Qur'an Al-Karim telah menyebutkan tentang zakat dengan berbagai ungkapan. 1. Zakat Ungkapan ini paling banyak disebutkan bahkan sering digabungkan dengan perintah shalat sampai diulang dalam 82 ayat (lihat Taudih al akham 3:5). Pendapat Ibnu Taimiyah : "Memberikan bagian tertentu dari harta yang berkembang jika sudah sampai nishob untuk keperluan tertentu.II." (Al-Fath 3:262) 2. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan dirikanlah sholat. dengan zakat itu …" (At Taubah : 103) . Fatawa 25:8) 3. Shodaqoh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.

" (Al-Bayyinah :5) Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Islam dibangun di atas lima dasar. Kitabul Iman 2:130(113). Katakanlah: yang lebih dari keperluan" (Al Baqoroh:219) Hukum Menunaikan Zakat Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan termasuk dari pondasi Islam yang agung. Maka hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim yang telah memenuhi persyaratan. nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu." (Al Baqoroh:267) 4.3. Firman Allah Ta'ala: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus. Muslim. Infaq/Nafaqoh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Hai orang-orang yang beriman. Al-'Afwu Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. ke . Dasarnya adalah dari Al Qur'an." (lihat Bukhari Kitabul Iman 1:49 (8) dari hadits Ibnu Umar. menegakkan sholat. menunaikan zakat. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz bin Jabbal ra. As Sunnah dan Ijma'. bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya. menunaikan haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan.

akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah bahwa kewajiban zakat di tetapkan dalam tiga fase: 1. Menguatkan rasa kasih sayang antara si kaya dengan si miskin. Zakat diwajibkan secara mutlak tidak ada batasan atau rincian akan tetapi hanya perintah untuk memberi. dan Tidak memberi makan orang miskin". diterangkan harta yang wajib dizakati dan kadar nishabnya serta jumlah yang harus dikeluarkan sebagai zakat". karya Ibnu Qudamah 4:5) Syaikh Abdullah Al Bassam menerangkan (Taudihul ahkam:3/12): Para ulama berselisih kapan diwajibkannya zakat. maka kaum muslimin disetiap masa telah ijma' akan wajibnya zakat. "Orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat". (HR. Allah berfirman: "Pada harta-harta mereka ada hak orang yang meminta dan …". Hikmah Disyariatkannya Zakat Diantara hikmah disyari'atkannya zakat adalah : a. memberi makan dan berbuat baik. Muslim Kitabul Iman 1:147(121)) Adapun Ijma'. didalam surat Fushilat Allah mengancam yang tidak mengeluarkan zakat. Tahun kesembilan Hijriyah ketika manusia masuk Islam dengan berbondong-bondong dan semakin luas daerah Islam Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim petugas-petugas untuk mengambil zakat . (Mughni.. ini berlangsung ketika sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah. Tahun kedua Hijriyah diterangkanlah hukum zakat dengan rinci. dalam surat AlMudatsir Allah memasukkan orang-orang yang tidak memberi makan orang miskin sebagai Al-Mujrimin (orang yang berdosa) ". Hal ini dikarenakan fitrahnya jiwa manusia adalah senang terhadap orang yang berbuat kebaikan (berjasa . 3.negeri Yaman : "Terangkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat yang dipungut dari orang-orang kaya diantara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka". Juga para sahabat telah sepakat untuk memerangi orang-orang yang tidak mau membayarnya dan menghalalkan darah dan harta mereka karena zakat termasuk dari syi'ar Islam yang agung.. (AlMudatsir : 44) 2.

tambahan dan ganti yang lebih baik dari Allah Ta'ala. b. e. jika sesuatu itu berkembang baik menuju kesempurnaan. tim Zisonline. c. Membiasakan seorang muslim untuk memiliki sifat belas kasihan. al akh Fikri Thalib) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.or.” Dikatakan. sesuatu itu zakat. (Dikutip dari tulisan ustadz Qomar Sua'idi.php?id_artikel=785 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal) Sep 11. Definisi zakat Secara bahasa. Sumber artikel : http://www. 00:51:27 Manfaat Zakat Hati Dan Zakat Harta A. d. '08 11:14 PM untuk semuanya Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal) Penulis: Al Akh Syamsu Muhajir Fiqh. . 08 November 2004.id/print. Memperoleh keberkahan. Sebagai ibadah kepada Allah Ta'ala (lihat Risalah Fi Zakat oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz). Mensucikan dan membersihkan jiwa serta menjauhkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil. zakat artinya “berkembang dan bertambah dalam kebaikan dan kesempurnaan.salafy. Lc. yang diarsipkan eks.kepadanya).

Zakat Hati Dosa dan kemaksiatan yang dilakukan manusia laksana hama pada tumbuhan. Bahkan terkadang sampai mematikan hati seperti halnya hama yang menghambat pertumbuhan tanaman dan bahkan mematikannya. menjauhi kemaksiatan dan yang dilarang Allah dan banyak bertaubat kepada-Nya. Ibarat pasir pada emas dan perak. keras hati menjadi penghambat berkembangnya hati. Apabila seseorang sanggup menahan nafsunya dari yang diharamkan Allah. senang dan gembiranya hati. yang demikian itu lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. tenangnya hati. agar hati itu menjadi baik dan agar hati berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan maka hati itu harus dibersihkan terlebih dahulu dari segala penyakit dan kotorannya. Seperti halnya badan kita. . hewan dan tumbuhan bisa berkembang dengan baik jika keadaannya baik dan bersih dari kotoran dan segala penyakit. besar kepala. Demikian pula penyakit hati seperti hasud. merendahkan manusia. B. tetapi harus diketahui bahwa yang disenangi oleh nafsu itu ada yang diharamkan dan ada yang dihalalkan. Allah Ta‟ala berfirman. Maka.” (An-Nur: 30) Allah Subhanahu wa Ta‟ala mengatakan di dalam ayat ini bahwa sucinya hati itu terjadi setelah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. yaitu menundukkan pandangan dari yang diharamkan Allah Ta‟ala. congkak. Allah Ta‟ala telah menguji kita dengan memberikan nafsu senang melihat sesuatu yang indah-indah. bodoh. Caranya ialah dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah. ) 30) “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatannya. maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik seperti sejuknya hati.Sesuatu bisa berkembang dengan baik apabila keadaan sesuatu itu bersih dari kotoran dan penyakit. sombong. Demikian pula hati manusia bisa berkembang dengan baik dan sempurna manakala hati itu baik serta bersih dari kotoran dan segala penyakit. senang melihat wanita berwajah cantik.

Dalam hadits disebutkan. “Apabila dikatakan kepadamu kembalilah maka kembalilah karena ini lebih suci bagi kalian. Adapun perkara yang dapat menjadikan hati berkembang dan yang dapat menjadikan hati baik. maka dia akan tunduk kepada apa yang dia cintai. sempurna. Dalam ayat lain Allah berfirman. dan suci adalah “tauhid. Perbuatan manusia ikut pada kemauan dan keadaan hatinya.” (Ath-Thur: 28) Ayat ini menerangkan orang yang meminta izin atau bertamu tetapi pemilik rumah belum berkenan menerimanya sehingga dia memohon agar sang tamu kembali kemudian tamu ini mengikuti permohonannya maka itu lebih suci bagi yang bertamu. ) ) “Barangsiapa meninggalkan sesuatu (yang haram) karena Allah niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR Ahmad dengan sanad shahih) Mengingat hati itu selalu terikat dengan sesuatu yang dicintainya. hanya Allah yang dicintainya maka dia hanya menghamba dan tunduk kepada Allah saja. maka ketika hatinya bersih. membersihkan hati dari keinginan-keinginan yang tidak benar dan tauhid (‫ ) لل ل ل ل‬merupakan bahan dasar yang menjadikan hati tumbuh dan berkembang dengan baik. Jadi supaya hati bisa berkembang dengan baik menuju kebaikan dan kesempurnaan adalah dengan membersihkan terlebih dahulu dari dosa dan maksiat dan membersihkannya dari penyakit-penyakitnya. yaitu ketika tidak ada lagi di hatinya . Sedangkan jika di hati itu sudah bercabang kecintaannya pada selain Allah.” yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah (‫) لل ل ل ل‬ Tauhid bukan hanya sebagai pengembang hati tetapi juga berfungsi sebagai pembersih hati yaitu membersihkan keyakinan-keyakinan (aqidah) yang batil.

amalan ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah juga berfungsi sebagai pembersih dan mensucikan hati. Namun demikian bagi orang yang telah dikaruniai taufiq dan hidayah oleh Allah mampu menjalankan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah tidak diperbolehkan untuk merasa dan menganggap dirinya sudah bersih dan suci. Allah Ta‟ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mengganggap dirinya bersih. tidak ada pelajaran yang melebihi ketinggian dan kemuliaan tauhid karena faidahnya yang fundamental karena yang dipelajari adalah Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia dan aqidah merupakan dasar bangunan Islam setiap muslim yang menjadi penentu kekokohan dan rapuhnya ke-Islaman seseorang. tidak ada lagi kemauan dan keinginan kecuali karena Allah. Di hatinya hanya ada Allah dan kebenaran yang bisa berbuah menjadi amalan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah.” (an-Nisa‟: 49) .” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir) Di samping tauhid. Allah Ta‟ala berfirman: ) 9) “Sungguh beruntung orang yang mensucikan hatinya.tuhan-tuhan selain Allah. Allah Ta‟ala berfirman: ) 6) “Celakalah orang-orang musyrik yang mereka itu tidak menunaikan zakat.” (Asy-Syams:9) Juga firman-Nya: ) 18) “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?” (An –Naazi‟at: 18) Zakkaa pada ayat ini adalah amalan ketaatan kepada Allah.” (Fush-shilat: 56) Kebanyakan ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata “zakat” di ayat ini adalah “tauhid. Maka dari itu.

yakni sulit menerima kebenaran dan petunjuk. Lapang dada menerima Islam.” (An-Nisa”49) Maka manfaat hati yang sudah dizakati (dibersihkan) akan dapat memudahkan seseorang untuk menerima kebenaran.” (At-Taubah: 103) Allah mengumpulkan dalam ayat ini tentang manfaat zakat harta yaitu membersihkan dan mensucikan karena harta tidak akan suci/berkembang tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Allah Ta‟ala berfirman: “tetapi Allah yang membersihkan/mensucikan siapa yang Dia kehendaki.” (an-Najm: 32) Pada hakikatnya hanya Allah yang menjadikan seseorang itu bersih dan suci dan hanya Allah Ta‟ala yang mengabarkan kebersihan dan kesucian seseroang. C. janganlah kalian mengatakan dirimu suci. Untuk menyempurnakan keislaman seorang hamba karena zakat termasuk rukun Islam. senang dalam menerima hidayah/petunjuk dari Allah. Lebih jauh Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan manfaat zakat harta itu. senang dan gembira dalam menjalankan ketaqwaan kepada-Nya. Zakat Harta Adapun manfaat zakat harta adalah seperti yang difirmankan Allah: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. sebagai berikut: 1. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda: ‫ل‬ .“Maka. sempit dan sesak dadanya terhadap syariat Islam dan berat untuk menjalankan ketaqwaan kepada Allah. Sedangkan jika hati kotor maka yang terjadi adalah sebaliknya.

sehingga hati akan mengikutinya karena hatinya akan gelisah ketika seseorang meninggalkan kebiasaan baiknya. 3. Untuk mensucikan akhlak orang yang berzakat karena dengan zakat dia akan keluar dari golongan orang-orang yang bakhil/pelit dan masuk pada golongan orang-orang derma. Dia harus sanggup mengeluarkan hartanya dari hatinya sebelum dikeluarkan dari tangannya.”(HR. Sebagai bentuk kesempurnaan iman karena kita senang manakala saudara kita memberikan hartanya pada kita dan begitu pula saudara kita akan senang kalau kita beri dia harta. 2. suka menebar salam. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda : “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. memberi makan dan orang yang shalat malam ketika manusia sedang tidur. Zakat dapat melapangkan dada dan menenangkan hati tetapi dengan dua syarat yaitu : 4a. 4b. . Muslim) 6. Sebagai bukti benarnya iman orang yang berzakat karena nafsu itu sangat senang pada harta maka seseorang tidak akan menyerahkan hartanya kecuali karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari harta itu yaitu ridho Allah yang nilainya jauh lebih baik dan lebih sempurna untuk hamba. karena tidak bermanfaat mengeluarkan dengan tangannya tetapi masih diikat oleh hatinya. puasa Ramadhan. Zakat menjadi sebab masuk surga karena surga itu diperuntukkan bagi orang baik pembicaraannya. 5. dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ketika mengeluarkan zakat harus lapang dada bukan dengan terpaksa. 4. menegakkan sholat.Islam itu dibangun di atas lima dasar mengucapkan syahadat bahwa tidak ada ilah yang hak selain Allah. dan haji ke Baitul Haram. menunaikan zakat.

9.” (HR. dan mendirikan shalat malam sedangkan manusia sedang tidur. suka menebar salam.” (Al-Qashash: 77) 8. Si kaya naik mobil. yang kaya kepada yang miskin. Perbedaan sosial yang mencolok sering memunculkan ketidakharmonisan sosial. Zakat dapat mendorong manusia untuk mengetahui dan mempelajari syariat dan hukum Allah karena zakat tidak bisa dilaksanakan tanpa didahului ilmu. Si kaya makan segala yang dia mau. sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. si fakir berjalan kaki. Zakat dapat mencegah dosa-dosa harta seperti pencurian. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda: “Setiap orang dalam naungan shodaqohnya pada hari kiamat. sehingga menghambat terlaksananya kebutuhan si miskin. 10. munculnya sifat kepedulian orang yang mampu kepada orang yang lemah. Si kaya tinggal di istananya. suka memberi makan. Allah Ta‟ala berfirman: “Berbuatlah ihsan/kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Tirmidzi hadits hasan shahih) 7. Tetapi jika si kaya bersifat derma dan peduli pada saudaranya maka ini dapat menenangkan keadaan dan meredam kecemburuan sosial dan meredam munculnya benih-benih pemberontakan si miskin terhadap si kaya. menyadari bahwa saudaranya yang lemah dan miskin butuh derma dan kepeduliannya. Zakat dapat meredam sifat memberontaknya orang-orang fakir. si fakir tidur beralas tikar dan berselimut angin dingin. si fakir harus menguras tenaga dan keringat hanya untuk sesuap nasi. perampasan. perampokan dan penipuan. Ahmad) 11.” (HR. Karena orang miskin merasa bahwa pada orang kaya ada haknya yang ditahan. Zakat dapat menyelamatkan dari panasnya hari kiamat. . Menjadikan masyarakat muslimin seperti satu keluarga.“Surga itu bagi orang yang memperbagus pembicaraannya.

” Zakat itu dapat meredam murka Allah dan mencegah mati jelek. Dalam hadits disebutkan: ‫ل‬ “Tidaklah zakat itu mengurangi harta. Zakat dapat mencegah dari mati jelek (su‟ul khotimah).” (HR. “Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda. Berikut tabel Perhitungan Zakat : . hadits hasan shahih).” (HR. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda. Tirmidzi) 16. Tirmidzi. Inilah manfaat zakat hati dan zakat harta semoga kita mampu melaksanakannya dengan baik dan benar. 17.” (HR. karena zakat melindungi harta dari penyakit-penyakitnya dan Allah akan memberkati harta yang bersih. Ibnu Majah) 14. Zakat dapat menghapus kesalahan dan dosa. kebangkrutan. Zakat itu mencegah turunnya bala‟ dari langit. Zakat dapat menumbuhkan dan mengembangkan harta. Zakat itu dapat menjadi sebab turunnya kebaikan. dalam hadits disebutkan: “Tidaklah suatu kaum menolak zakat harta mereka kecuali mereka telah menolak turunnya hujan dari langit. Dalam hadits disebutkan: ‫ل‬ ‫ل ل‬ Dari Anas Radliyallahu „anhu dia berkata. 15. 13. “ “Shodaqoh/zakat itu dapat memghapus kesalahan sebagaimana air dapat meredam api. Zakat dapat meredam murka Allah.12.” (HR. Bukhori) Seringnya penyakit harta itu dapat memberangus harta secara keseluruhan seperti kebakaran. atau sakit yang menguras hartanya.

(Dikutip dari artikel Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal). 2.salafy.id/download. Allahu a'lam.or. ditulis oleh Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah. temukan file zakat. Maraji‟ : 1. Syarhul Mumti‟ zadil mustaqni‟ karya Asy-Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah.php.Silakan klik www.gif untuk mendownloadnya. Mawaridul aman karya Al-Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rahimahullah. al Akh Syamsu Muhajir dengan .

Dan hadits sebelumnya sebagai syahid] Sebagian Ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa‟ad bin Ubadah. '08 11:13 PM untuk semuanya Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh.”195)[Riwayat Abu Daud (1622) dan An Nasa‟I (5/50).muraja‟ah Al Ustadz Usamah Mahri.php?id_artikel=801 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. ia berkata: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kami dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya . 28 Oktober 2004. Malang. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori.salafy. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. padanya ada Al Hasan ber-„an‟anah.id/print. Sumber artikel : http://www.”194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim] Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri.or. 05:03:44 1. Hukumnya Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia].

besar. Ibnu Khuzaimah (4/81) dan Al Hakim (1/410) dan Al Baihaqi (4/159) dari beberapa jalan.” 2. “Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. sedang hadits Ibnu Umar khusus.” Al Hafidz Rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya (3/368): “bahwa pada sanadnya ada rawi yang tidak dikenal196) [Akan tetapi hadits tersebut mempunyai penguat. Siapa yang Wajib Zakat ? Zakat fithri wajib atas kaum muslimin. karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain.”198) [HR Muslim (982)] Hadits ini umum. Yang lain berkata. dan dikeluarkan oleh An Nasa‟I (5/49) dan Ibnu Majah (1/585) dan Ahmad (6/6). kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin. perempuan. dan sanadnya shahih] dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (diahapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri. tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri). yang jelek dan (memberi) . mungkin Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mencukupkan dengan perintah yang pertama.(kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami. kedudukan zakat harta (sebagaiman) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang perorang). laki-laki. pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia.”197)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)] Sebagian Ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri.” Imam Al Khathabiy Rahimahullah berkata dalam Ma‟alimus Sunan (2/214): “Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri. sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum. anak kecil. orang yang merdeka maupun hamba. tidak mengharuskan dimansukhknya hukum sebelumnya. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma. tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah. atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka.

maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu. semuanya telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: . karena hadits Abu Sa‟id Al Khudri Radhiallahu anhu: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam) satu gantang makanan. zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari. tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu. satu gantang kurma.” Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin. satu gantang korma dan satu gantang salt. Macam Zakat Fithri Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu gantang gandum. baik menurut masyarakat maupun istilah. tepung dan adonan.makanan bagi orang yang miskin. namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya. satu gantang susu. ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu.” Al Hafidz menjawab (3/369): “Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan. karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar. satu gantang gandum. jika berserikat dalam „illat berserikat pula dalam hukum. 3.”199) [Telah lewat takhrijnya] Imam Al Khathabiy dalam Ma‟alimus Sunan (3/214) menegaskan: “Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia. jika „illat diwajibkannya karena pensucian. satu gantang anggur kering. satu ganang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit).”201) [Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/80) dan Al Hakim (1/409-410) Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa‟id Al Khudri.”200) [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)] Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan atu gantang gandum. satu gantang korma. satu gantang susu kering.

barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan. sanadnya hasan] Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Mu‟awiyah Radhiallahu anhu berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam. barangsiapa yang membawa gandum diterima. menurut hadits-hadits yang shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu gantang anggur. susu yang dikeringkan dan korma. anggur kering. sanadnya hasan] Dari beliau Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: “Zakat fithri satu gantang makanan.”205) [Riwayat Abu Daud (2340). bahwa pendapat Mua‟wiyah bukanlah ijtihad hasil dari pemikiran sendiri. dan yang paling sahahih berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam: “Tunaikanlah satu gantang gandum atau korma. Nasa‟I . “Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima. besar. aku mengira beliau berkata: “yang membawa adonan diterima.”202) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima. aku mengira beliau berkata. hamba. yang membawa anggur kering diterima. diterima. anak kecil atau besar.”204) [Telah lewat takhrijnya] Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri.”203) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180).“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu gantang makanan dari anak kecil. budak dan orang yang merdeka. Ini dikuat-kan oleh perkataan Abu Sa‟id: “Dulu makanan kami adalah gandum. Ukuran Zakat Fithri Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi. yang membawa korma diterima. tetapi berdasarkan hadita marfu‟ sampai kepada Rasululllah Shalallahu „alaihi wassalam. agar kaum muslimin yang mendudukkkan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka. dan bahwa satu mud hinthah itu melebihi yang ada di sini. ada yanga mengatakan setengah gantang ini yang rajih. mereka ikhtilaf tentang hinthah. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima. 4. untuk dua orang satu gantang dari gandum atas orang merdeka.

Maka -dengan jalan-jalan inimaka haditsnya menjadi hasan] 6. Siapakah yang harus dibayar zakatnya? Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih] 5. . Nasa‟I (7/281). maka lihatlah kitab tersebut. Dan dikeluarkan Al Baihaqi (4/161) dari jalan yang lain dari Ali. berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “kami diperintah oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua. dan kiloan yang teranggap adalah kiloan-nya orang madinah. Kemana Disalurkannya Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya. Dan Syaikhul Islam telah membentahnya pada kitab yang telah disebutkan baru saja. orang merdeka dan hamba dari orang-orang yang membekalinya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu‟ Fatawa (2/71-78) serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma‟ad (2/44). orang yang merdeka dan budak. baik anak kecil maupun orang tua laki-laki dan perempuan. dan sanadnya terputus. Sebagian Ahlul ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan.(7/281). Dan padanya ada jalan yang mauquf dari Ibnu Umar pada Inu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/37) dengan sanad shahih. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih]. tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya.”208) [Telah lewat takhrijnya]. mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”206) [Riwayat Abu Daud (2340). karena hal itu sangat penting. berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah.”207) [Dikeluarkan oleh Daruquthni (2/141) dan Ibnu Umar dengan sanad dhaif (lemah). Gantang yang teranggap adalah gantangnya penduduk Madinah.

Hikmah Zakat Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin . dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub. pent) untuk mengumpulkannya.”211) [Telah lewat takhrijnya] 8.Termasuk amalan sunah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk diberikan kepada yang berhak –pent).maktabah Al Islamiyah] berdasarkan perbuatan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma –berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayatnyamaka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “… Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima. dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada).” Aku katakan: “Kapankah petugas itu mulai bertugas?” Beliau menjawab: “Satu hari atau dua hari sebelum “Idul Fithri. Sungguh Nabi Shalallahu „alaihi wassalam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiallahu anhu. kecuali satu atau dua hari (sebelum „Id)210) [Lihat pada kitab Ahkamul „Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid. aku katakan: “Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang?” Berkata Ayyub: “Apabila petugas telah duduk (bertugas). Waktu Penunaian Zakat Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju sholat „Id dan tidak bleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya. ia berkata: “Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan. cet.” 7. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum „Iedul Fithri.”209) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/396)] Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar Radhiallahu anhuma mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan.

id/print. secara bahasa berarti tambahan (az-ziyadah) dan pensucian (ath-thaharah). '08 11:13 PM untuk semuanya Menunaikan zakat.or.php?id_artikel=777 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Menunaikan zakat. untuk dibagikan kepada golongan tertentu dan di waktu tertentu. Ke 5 th 1416 H. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). zakat adalah hak (bagian) yang wajib dikeluarkan dari harta tertentu. 23 Oktober 2004. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Sumber artikel : http://www. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Bab "Zakat Fitrah". Adapun secara syar‟i. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.untuk mencukupi (kebutuhan ) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma yang telah lalu. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. upaya pembersihan harta kita Penulis: Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah Fiqh. upaya pembersihan harta kita Sep 11.salafy. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. . 13:08:00 Bersihkan harta dengan berzakat Pengertian zakat Zakat.

menjauhkan. (QS. diri dari sifat kikir/ bakhil. firman Allah subhanahu wata‟ala : ”Dan dirikanlah shalat. Dalil tentang hal ini diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam . Dalil Al-Qur‟an. berdasarkan : 1. (QS. Rukun Islam yang lima yaitu : Bersyahadat. zakat dan haji ke baitullah bagi yang mampu. Hikmah disyariatkannya zakat : 1) Terjalinnya hubungan kasih sayang antara si kaya dan si miskin. 4) Melimpahkan barakah. Dalil Ijma‟ Kaum Muslimin telah bersepakat tentang wajibnya zakat. Ambillah zakat itu dari orang-orang kaya di antara meerka.Kedudukan zakat dalam Islam Zakat adalah termasuk salah satu rukun Islam yang lima. bahwa Allah subhanahu wata‟ala mewajibkan zakat. AtTaubah : 103) 3) Membiasakan diri berbuat dermawan. Para sahabat Nabi pun telah bersepakat bolehnya memerangi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. bersikap mulia dan rasa iba terhadap orang-orang yang membutuhkan. Dalil dari As-Sunnah Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman : “Beritahu kepada mereka. puasa. berkembangnya harta serta mendapatkan balasan/ ganti yang lebih baik dari sisi Allah I. tunaikanlah zakat” (QS.” (Hadits Muttafaqun alaih) 3. Saba‟ : 39) Hukum Zakat Wajib hukumnya mengeluarkan zakat. Dan bagikanlah kepada orang-orang miskin di antara mereka. 2) Membersihkan dan mensucikan jiwa. shalat. Baqarah : 43) 2.

Allah subhanahu wata‟ala berfirman : ‫ل‬ ) 34) “Hai orang-orang yang beriman. Bab “Memungut „Inaq (anak kambing betina umur satu tahun ke bawah) dalam shadaqoh". kecuali hasil bumi.35) Syarat-syarat wajib zakat : 1) Beragama Islam (bukan orang kafir) 2) Telah mencukupi nishabnya. maka beritahukanlah kepada mereka. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah. maka ia KAFIR. Ancaman bagi orang yang tidak menunaikan zakat. (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.Bab “Wajibnya Zakat”. Dan brangsiapa yang yakin tentang wajibnya zakat tetapi ia enggan menunaikannya maka ia FASIQ (maksiat kepada Allah subhanahu wata‟ala). golongan yang berhak menerima zakat adalah 8 golongan : . At-Taubah : 34 .” Barangsiapa yang menolak dengan sadar tentang kewajiban menunaikan zakat. lalu dibakar dengannya dahi mereka. sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. 3) Telah lewat masa satu tahun (haul). dan Bab “Memerangi orang yang enggan menunaikan zakat. zaktnya dikeluarkan seketika selesai panen. lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri.pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam. Golongan penerima zakat Berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur‟an surat At-Taubah ayat 60. maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu" (QS.

Sebagai contoh. 5) Budak. Termasuk kewajiban kaum muslimin adalah menyambut dan memuliakan mereka karena mereka sedang dalam menjalankan tugas agama mengingatkan dan membantu orang-orang kaya melaksanakan kewajibannya menunaikan zakat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengutus Umar Ibnul Khattab untuk menarik zakat dari Khalid Ibnul Walid. 7) Mujahidin (orang-orang yang berjihad di jalan Allah). 6) Gharimin (orang-orang yang berhutang). Malang.1) Orang-orang fakir.php?id_artikel=766 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar . 8) Ibnussabil (orang-orang yang sedang kehabisan bekal dalam perjalanan) Kedudukan petugas zakat Kedudukan petugas zakat diakui oleh syariat Islam. Ibnul Jamil dan selainnya. 3) Pengurus-pengurus (amil) zakat. al Akh Syamsu Muhajir dengan muraja‟ah Al Ustadz Usamah Mahri./** (Dikutip dari artikel Pengertian Zakat. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengutus sebagian sahabat untuk menarik zakat dari orang-orang kaya dan menyalurkannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. 2) Orang-orang miskin. untuk memerdekakan dirinya. Sumber artikel : http://www.or.id/print.salafy. ditulis oleh Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah. 4) Para mu'allaf (orang yang baru masuk Islam atau orang-orang yang diharapkan keislamannya).

pasti mengandung manfaat dan faedah. 12:52:33 Beberapa Faidah Puasa Semua perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang Dia syariatkan. atau hanya sekedar untuk latihan pengekangan nafsu dan atau hanya sekedar untuk mengangkat manusia dari derajat hewan. '08 11:11 PM untuk semuanya Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Penulis: Al Ustadz Abdurrahim Fiqh. yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan bagi orang beriman dan bertakwa perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala itu adalah qorrotul „uyun (penyejuk hati).atau hanya sekedar sebagai amalan ibadah yang berhak dihargai dengan suatu balasan dan pahala seperti halnya orang jual beli dengan penentuan harga. semua pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang dilaksanakan sebagai amalan ibadah. sebagai dasar ketenangan dan ketentraman hidup. atau hanya sekedar sebagai ujian keimanan dari Allah .Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Sep 11. kelezatan hati. pasti mengandung faedah dan manfaat dan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta‟ala pasti karena berakibat mudharat dan bahaya bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta‟ala. baik bahaya di dunia maupun di akhirat. Walaupun. baik di sadari ataupun tidak pasti karena bahayanya. sebagai makanan hati yang utama dan sebagai sumber kekuatan manusia yang hakiki yang hanya dengan ini kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba bisa dicapai. 23 Oktober 2004. sepintas lalu kebanyakan orang yang kalah dengan nafsunya beranggapan bahwa puasa itu hanya sebagai beban yang memberatkan. Sebenarnya. Baik dipahami maupun maupun tidak. baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Demikian halnya dengan syariat puasa Romadhon yang sedang yang kita jalani ini. yaitu hidup sibuk dengan upaya peningkatan iman dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala. .

Al-Bazzar ) Al-Imam Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad hasan dengan lafadz : “Orang yang banyak kenyang di dunia mereka adalah orang yang banyak lapar di akhirat. Ahmad dan An-Nasa‟i) Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman : “Hai manusia.” (QS. Sayyidatina Aisyah rodhiyallohu anha berkata : ‫ل‬ “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat. pasti mengandung faedah dan manfaat yang sangat besar untuk kesehatan badan dan kesehatan hati.” (HR.” . Yunus : 57) Menahan lapar di bulan puasa ataupun diluar bulan puasa ketika berpuasa maupun tidak.” Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan : „Dunia adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir.” (HR.” (Muttafaqun alaihi) Beliau bersabda : “Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat. sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.Seperti sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Dijadikan (oleh Allah) penyejuk hatiku dalam sholat. Hal ini sudah diterangkan oleh Rasulullah shollallohu alaihi wasallam dan telah dicontohkan oleh Beliau dan keluarga Beliau.

” Manfaat lapar terhadap kesehatan badan adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Masiwaih : “Sekiranya manusia mau mengamalkan hadits ini (riwayat Tirmidzi) mereka akan selamat dari sakit dan berbagai penyakit. memakai semua jenis pakaian dan banyak berbicara. Mereka banyak bernadzar tetapi tidak menunaikannya.” Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits : “ Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari perutnya.” Al-Harits seorang dokter Arab mengatakan : . Al-Imam Ash-shon‟ani rahimahullah berkata : “Hadits ini menunjukkan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar‟i/ ibadah. menutup rumah sakit dan mengistirahatkan toko obat/ apotik. Kemudian akan datang suatu kaum mereka memberikan persaksian padahal tidak diminta persaksiannya.Al-Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah bahwa Beliau bersabda : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. jika tidak bisa tidak (terpaksa) maka makanlah sepertiga makanan sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya. Dan banyak di kalangan mereka orang-orang gemuk/ gendut. hendaknya Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya. meminum semua jenis minuman. Maka. kemudian generasi berikutnya kemudian berikutnya. Imam Tirmidzi) Setelah membawakan sebagian hadits-hadits di atas. mereka itulah paling jeleknya ummatku.” Al-Imam Thabrani dan Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits : “Akan terjadi pada ummatku seseorang memakan semua jenis makanan. Hal itu karena sumber segala penyakit adalah kenyang.” (HR.

Berkata Dzunnun „ailaihissalam : “Saya tidak pernah kenyang kecuali saya berbuat maksiat atau berkeinginan untuk bermaksiat”. terluput dari berbagai kemamfataan duniawi dan ukhrowi”. orang lapar juga sedikit tidur karena orang yang banyak makan dan minum akan banyak tidur yang dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhiratnya. . mencerdaskan manusia dan menajamkan bashiroh.“Yang banyak membunuh manusia adalah karena manusia suka memasukkan makanan pada perut sebelum makanan dalam perut dicerna. Adapun manfaat lapar untuk kesehatan hati. Kenyang itu menyebabkan kedunguan. membutakan hati dan memperbanyak uap dan cairan dalam lambung. membisukan hikmah. mendudukkan anggota badan dari beribadah dan pada perut kosong itu banyak faedahnya yaitu menjernihkan hati . apa penyebab kematianmu? Kebanyakan mereka menjawab. pada orang yang lapar juga tidak bangkit padanya syahwat jima‟nya sehingga terhindar dari penyaluran syahwat yang diharomkan.”kenyang”. para ulama telah menerangkannya : Luqman al Hakim berwasiat pada putranya : “Wahai putraku jika kamu penuhi lambungmu maka akan tidur pikiranmu.” Yang lain mengatakan : “Kalau kamu bertanya pada ahli kubur. Berkata „Aisyah radiyallahu „anha: “Bid‟ah pertama yang terjadi setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam adalah kenyang sesungguhnya suatu kaum ketika kenyang perutnya keras nafsunya untuk mendapatkan dunia” Berkata al Imam ash Shan‟ani rahimahullah : “Sesungguhnya lapar itu adalah penjaga dari penjagaan Allah dan pertama yang terhindar dengan lapar adalah dorongan syahwat jima‟ dan syahwat berbicara karena bagi orang yang lapar tidak ada keinginan untuk berbicara kecuali sangat penting sehingga dia terhindar dari berbagai penyakit lisan.

Berkata Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah : “Lapar itu menyebabkan lembutnya hati. bahwa dia berkata : “Jauhilah oleh kalian kenyang.” Beliau juga berkata : “Tidaklah hikmah itu berada di perut yang penuh.” Beliau juga berkata : “Barangsiapa mampu menguasai perutnya maka dia akan mampu menguasai amal sholehnya. seorang mukmin menjadikan perutnya paling besar cita-citanya dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. makanlah sepertiga perutmu.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Wahai Bani Adam. lemahnya nafsu dan kemarahan.” Berkata Abu Imran Al-Juwaini : “Sesungguhnya nafsu. Sedangkan kenyang menyebabkan lawannya. karena kenyang itu mengeraskan hati. kuatnya pemahaman. lembutnya jiwa. jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut . dan terus kalian akan diuji dengan makan sampai hari kiamat.” Telah berkata Malik bin Dinar rahimahullah : “Tidak semestinya.” Diriwayatkan dari Amir bin Qois . minumlah sepertiga perutmu dan biarkan sepertiga untuk bernafas dan berfikir.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Adalah bapak kita Adam diuji dengan makan.” Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abi Dawud bahwa telah dikatakan padanya : “Lapar itu banyak menolong seseorang bersegera melakukan kebaikan.” Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata : “Aku tidak pernah kenyang sejak aku masuk Islam.

kenyang dan lega maka hatinya buta.” Beliau berkata : “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar, dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak, dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya.” Berkata Al-Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah : “Saya tidak pernah kenyang selama 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, menghilangkan kecerdasan, membuat banyak tidur dan melemahkan seseorang untuk melakukan ibadah.”

Demikian kehidupan Rasulullah dan para shahabat. Beliau dan para shahabatnya lebih memilih banyak lapar dari pada kenyang karena kefahamannya terhadap faedah lapar dan bahaya kenyang, lebih memilih mengekang syahwatnya daripada menurut syahwat, dan bukannya pada mereka tidak ada makanan tetapi beliau-beliau lebih memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada lawannya. Mereka makan dan minum sekedar dapat melaksanakan ibadah, karena hanya untuk itu (untuk beribadah) diciptakannya jin dan manusia.

Seringnya Rasulullah makan tiga hari sekali sampai wafat bukan makan sehari tiga kali seperti budaya kita. Allah berfirman : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

Ketika sholat sudah dilalaikan padahal sholat adalah tiang agama dan amalan yang diperintah untuk dijaga agar dikerjakan pada waktu-waktu terbaiknya maka amalan selain sholat sudah pasti akan lebih dilalaikan lagi.

Sholat adalah ukuran kedisiplinan seseorang, dan tidak ada yang lebih dapat melalaikan

sholat dan ibadah lainnya selain karena memperturutkan hawa nafsu, lebih mempertaruhkan hawa nafsu dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya daripada menjalankan hakhak Allah.

Semoga puasa kita pada bulan dan tahun ini diterima di sisi Allah sebagai ibadah yang diridhoi Allah, bermanfaat pada diri kita, baik dalam kehidupan di dunia, lebih-lebih sebagai bekal pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Wallahu a„lam bishshowab. Maraji‟ : 1. Tafsir Taisirul karimur Rohman, Al-Imam As-Sa‟di. 2. Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhussholihin, karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly.AlImam Ibnul Qoyyim. 3. Jami‟ul Ulum wal Hikam karya Al-Imam ibnu Rajab rahimahullah. 4. Subulussalam Syarah Bulughul Maram, karya Al-Imam As-Shon‟ani rahimahullah.

(Dikutip dari artikel Diantara Faidah Puasa, ditulis oleh ustadz Abdurrahim, Malang. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori, Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=764 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar

Beberapa faidah ibadah berpuasa kita

Sep 11, '08 11:11 PM untuk semuanya

Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Penulis: Al Ustadz Abdurrahim Fiqh, 23 Oktober 2004, 12:52:33 Beberapa Faidah Puasa Semua perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang Dia syariatkan, pasti mengandung faedah dan manfaat dan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta‟ala pasti karena berakibat mudharat dan bahaya bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta‟ala, baik bahaya di dunia maupun di akhirat. Baik dipahami maupun maupun tidak, baik di sadari ataupun tidak pasti karena bahayanya.

Demikian halnya dengan syariat puasa Romadhon yang sedang yang kita jalani ini, pasti mengandung manfaat dan faedah. Walaupun, sepintas lalu kebanyakan orang yang kalah dengan nafsunya beranggapan bahwa puasa itu hanya sebagai beban yang memberatkan, atau hanya sekedar sebagai ujian keimanan dari Allah ,atau hanya sekedar sebagai amalan ibadah yang berhak dihargai dengan suatu balasan dan pahala seperti halnya orang jual beli dengan penentuan harga, atau hanya sekedar untuk latihan pengekangan nafsu dan atau hanya sekedar untuk mengangkat manusia dari derajat hewan. Sebenarnya, semua pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang dilaksanakan sebagai amalan ibadah, yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan bagi orang beriman dan bertakwa perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala itu adalah qorrotul „uyun (penyejuk hati), kelezatan hati, sebagai dasar ketenangan dan ketentraman hidup, sebagai makanan hati yang utama dan sebagai sumber kekuatan manusia yang hakiki yang hanya dengan ini kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba bisa dicapai, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, yaitu hidup sibuk dengan upaya peningkatan iman dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala.

Seperti sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Dijadikan (oleh Allah) penyejuk hatiku dalam sholat.” (HR. Ahmad dan An-Nasa‟i) Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman :

pasti mengandung faedah dan manfaat yang sangat besar untuk kesehatan badan dan kesehatan hati. Yunus : 57) Menahan lapar di bulan puasa ataupun diluar bulan puasa ketika berpuasa maupun tidak. kemudian generasi berikutnya kemudian . sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Muttafaqun alaihi) Beliau bersabda : “Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat.“Hai manusia. Al-Bazzar ) Al-Imam Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad hasan dengan lafadz : “Orang yang banyak kenyang di dunia mereka adalah orang yang banyak lapar di akhirat. Hal ini sudah diterangkan oleh Rasulullah shollallohu alaihi wasallam dan telah dicontohkan oleh Beliau dan keluarga Beliau. Sayyidatina Aisyah rodhiyallohu anha berkata : ‫ل‬ “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat.” (HR.” Al-Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah bahwa Beliau bersabda : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku.” Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan : „Dunia adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir.” (QS.

”kenyang”. memakai semua jenis pakaian dan banyak berbicara. Mereka banyak bernadzar tetapi tidak menunaikannya. Al-Imam Ash-shon‟ani rahimahullah berkata : “Hadits ini menunjukkan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar‟i/ ibadah.” Al-Imam Thabrani dan Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits : “Akan terjadi pada ummatku seseorang memakan semua jenis makanan. Maka. . Hal itu karena sumber segala penyakit adalah kenyang.” Al-Harits seorang dokter Arab mengatakan : “Yang banyak membunuh manusia adalah karena manusia suka memasukkan makanan pada perut sebelum makanan dalam perut dicerna.berikutnya.” (HR.” Manfaat lapar terhadap kesehatan badan adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Masiwaih : “Sekiranya manusia mau mengamalkan hadits ini (riwayat Tirmidzi) mereka akan selamat dari sakit dan berbagai penyakit. Imam Tirmidzi) Setelah membawakan sebagian hadits-hadits di atas.” Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits : “ Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari perutnya. apa penyebab kematianmu? Kebanyakan mereka menjawab. menutup rumah sakit dan mengistirahatkan toko obat/ apotik.” Yang lain mengatakan : “Kalau kamu bertanya pada ahli kubur. meminum semua jenis minuman. mereka itulah paling jeleknya ummatku. jika tidak bisa tidak (terpaksa) maka makanlah sepertiga makanan sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya. hendaknya Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya. Dan banyak di kalangan mereka orang-orang gemuk/ gendut. Kemudian akan datang suatu kaum mereka memberikan persaksian padahal tidak diminta persaksiannya.

lemahnya nafsu dan kemarahan.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : . para ulama telah menerangkannya : Luqman al Hakim berwasiat pada putranya : “Wahai putraku jika kamu penuhi lambungmu maka akan tidur pikiranmu. kuatnya pemahaman. mencerdaskan manusia dan menajamkan bashiroh. Sedangkan kenyang menyebabkan lawannya. Berkata Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah : “Lapar itu menyebabkan lembutnya hati. pada orang yang lapar juga tidak bangkit padanya syahwat jima‟nya sehingga terhindar dari penyaluran syahwat yang diharomkan. terluput dari berbagai kemamfataan duniawi dan ukhrowi”. orang lapar juga sedikit tidur karena orang yang banyak makan dan minum akan banyak tidur yang dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhiratnya. Kenyang itu menyebabkan kedunguan. lembutnya jiwa. Berkata „Aisyah radiyallahu „anha: “Bid‟ah pertama yang terjadi setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam adalah kenyang sesungguhnya suatu kaum ketika kenyang perutnya keras nafsunya untuk mendapatkan dunia” Berkata al Imam ash Shan‟ani rahimahullah : “Sesungguhnya lapar itu adalah penjaga dari penjagaan Allah dan pertama yang terhindar dengan lapar adalah dorongan syahwat jima‟ dan syahwat berbicara karena bagi orang yang lapar tidak ada keinginan untuk berbicara kecuali sangat penting sehingga dia terhindar dari berbagai penyakit lisan. mendudukkan anggota badan dari beribadah dan pada perut kosong itu banyak faedahnya yaitu menjernihkan hati . Berkata Dzunnun „ailaihissalam : “Saya tidak pernah kenyang kecuali saya berbuat maksiat atau berkeinginan untuk bermaksiat”. membisukan hikmah.Adapun manfaat lapar untuk kesehatan hati. membutakan hati dan memperbanyak uap dan cairan dalam lambung.

“Wahai Bani Adam. dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah.” Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abi Dawud bahwa telah dikatakan padanya : “Lapar itu banyak menolong seseorang bersegera melakukan kebaikan. seorang mukmin menjadikan perutnya paling besar cita-citanya dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. bahwa dia berkata : “Jauhilah oleh kalian kenyang. jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut kenyang dan lega maka hatinya buta. karena kenyang itu mengeraskan hati.” Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata : “Aku tidak pernah kenyang sejak aku masuk Islam. Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak.” Beliau berkata : “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar. minumlah sepertiga perutmu dan biarkan sepertiga untuk bernafas dan berfikir.” Diriwayatkan dari Amir bin Qois . dan terus kalian akan diuji dengan makan sampai hari kiamat.” Beliau juga berkata : “Barangsiapa mampu menguasai perutnya maka dia akan mampu menguasai amal sholehnya.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Adalah bapak kita Adam diuji dengan makan.” Beliau juga berkata : “Tidaklah hikmah itu berada di perut yang penuh. makanlah sepertiga perutmu. dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada .” Telah berkata Malik bin Dinar rahimahullah : “Tidak semestinya.” Berkata Abu Imran Al-Juwaini : “Sesungguhnya nafsu.

karena kenyang itu memberatkan badan. Maryam : 59) Ketika sholat sudah dilalaikan padahal sholat adalah tiang agama dan amalan yang diperintah untuk dijaga agar dikerjakan pada waktu-waktu terbaiknya maka amalan selain sholat sudah pasti akan lebih dilalaikan lagi. Seringnya Rasulullah makan tiga hari sekali sampai wafat bukan makan sehari tiga kali seperti budaya kita. membuat banyak tidur dan melemahkan seseorang untuk melakukan ibadah. Allah berfirman : “Maka datanglah sesudah mereka. Sholat adalah ukuran kedisiplinan seseorang. Beliau dan para shahabatnya lebih memilih banyak lapar dari pada kenyang karena kefahamannya terhadap faedah lapar dan bahaya kenyang.” (QS.simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. karena hanya untuk itu (untuk beribadah) diciptakannya jin dan manusia. Mereka makan dan minum sekedar dapat melaksanakan ibadah. dan tidak ada yang lebih dapat melalaikan sholat dan ibadah lainnya selain karena memperturutkan hawa nafsu. Semoga puasa kita pada bulan dan tahun ini diterima di sisi Allah sebagai ibadah yang .” Berkata Al-Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah : “Saya tidak pernah kenyang selama 16 tahun. lebih memilih mengekang syahwatnya daripada menurut syahwat.” Demikian kehidupan Rasulullah dan para shahabat. pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. dan bukannya pada mereka tidak ada makanan tetapi beliau-beliau lebih memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada lawannya. menghilangkan kecerdasan. maka mereka kelak akan menemui kesesatan. lebih mempertaruhkan hawa nafsu dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya daripada menjalankan hakhak Allah.

diridhoi Allah. 21 Juli 2003. (Dikutip dari artikel Diantara Faidah Puasa. Wallahu a„lam bishshowab. Malang. Subulussalam Syarah Bulughul Maram. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori. Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhussholihin. Sumber artikel : http://www.or. lebih-lebih sebagai bekal pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.id/print. ditulis oleh ustadz Abdurrahim.php?id_artikel=764 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri Sep 11. Tafsir Taisirul karimur Rohman. baik dalam kehidupan di dunia. karya Al-Imam As-Shon‟ani rahimahullah.AlImam Ibnul Qoyyim.salafy. 2. 02:26:13 . Al-Imam As-Sa‟di. Maraji‟ : 1. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. '08 11:11 PM untuk semuanya Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf Fiqh. bermanfaat pada diri kita. 4. karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly. Jami‟ul Ulum wal Hikam karya Al-Imam ibnu Rajab rahimahullah. 3.

Di antara amalan yang menyempurnakan puasa kaum muslimin di bulan yang penuh barokah ini adalah zakatul fithr. Zakat ini disebut demikian karena ia wajib ditunaikan pada saat kaum muslimin berbuka (menyelesaikan ibadah puasanya di bulan Ramadhan). Oleh karenanya disebut pula sebagai shodaqoh Ramadhan.

Menunaikan Zakat Fithri Sebagian para ulama menukilkan ijma' (kesepakatan) ulama tentang wajibnya menunaikan zakat ini. Dan ini adalah pendapat yang rajih/ kuat meskipun pada kenyataannya ada beberapa ulama yang menyatakan sunnahnya zakat fithri ini. Di antara yang memperkuat pendapat sebagian besar para ulama adalah hadits dari Ibnu 'Umar Radiyallahu 'anhu bahwa: "Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri (ketika Ramadhan berakhir) bagi setiap orang merdeka atau budak, lelaki atau perempuan, yang besar maupun kecil dari kalangan muslimin berupa kurma (tamr) atau gandum sebanyak 1 sha'. Dan beliau memerintahkan agar zakat ini ditunaikan sebelum kaum Muslimin keluar menuju lapangan (untuk menunaikan) sholat Ied. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Yang pasti, Allah Ta'ala mensyariatkan ibadah ini karena mempunyai keutamaan dan hikmah yang besar.Maka di antara hikmah dari zakat fithri adalah: 1. Sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, menyempurnakan kekurangan pahala puasanya di bulan Ramadhan oleh karena perbuatan sia-sia/ dosa. 2. Sebagai bentuk rasa syukur yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala, setelah mampu menyelesaikan ibadah Ramadhan dengan baik. 3. Mempererat ukhuwwah antara kaum muslimin, di mana dengan pemberian zakat ini akan terjalin hubungan yang baik antara dhu'afa dan aghniya. Kaum dhu'afa tak lagi disibukkan dengan kerja keras banting tulang bahkan kadang terpaksa mengemis untuk memperoleh makanan yang akan dimakannya pada saat Idul Fithri. Dengan demikian mereka akan turut bergembira dan merasakan kemenangan di hari tersebut. Demikianlah di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Fathul Baari (III/369) berkata: "Zakat Fithri diwajibkan untuk orang yang berpuasa dan juga orang yang tidak berpuasa sebagaimana hal ini telah diketahui keshahihannya. Demikian pula orang yang baru masuk Islam sesaat

sebelum terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan, maka ia pun terkena kewajiban menunaikannya."

Dengan apa zakat fithri dibayarkan Dari hadits di atas kita ketahui bahwa zakat fithri adalah dengan memberikan gandum dan tamr (kurma) seberat 1 sha'. Lalu apakah terbatas hanya pada dua jenis makanan ini? Maka pertanyaan ini akan terjawab dengan hadits marfu' (sanadnya sampai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam) yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry bahwasanya dia berkata: "Kami dahulu memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu „alaihi wassalam seukuran 1 sha' makanan atau 1 sha' kurma atau 1 sha' gandum atau 1 sha' aqith (susu kambing yang dipanaskan hingga berbusa lalu diambil saripatinya dan dibiarkan hingga mengeras) atau 1 sha' anggur kering."

Ternyata dalam dua hadits ini, tidak kita dapati penyebutan beras atau sagu sebagai bahan makanan pokok di negeri ini. Sehingga apakah kita harus mencari bahan-bahan yang tersebut dalam dua hadits di atas untuk membayar zakat fithri kita?

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, pendapat yang paling masyhur di dalam madzhab Hanbali (madzhabnya pengikut Imam Ahmad ibnu Hanbal) adalah pendapat bahwa membayar zakat dengan bahan-bahan selain yang disebutkan dalam dua hadits di atas adalah tidak sah. Akan tetapi pendapat ini, wallahu a'lam, adalah pendapat yang marjuh/ lemah. Sebab dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudry mengatakan: "Kami (para sahabat Nabi) memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam berupa 1 sha' makanan." Abu Sa'id Al-Khudry berkata: "Dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, anggur kering, dan aqith."

Riwayat ini menunjukkan bahwa makanan yang dibayarkan adalah makanan pokok yang paling banyak dibutuhkan oleh penduduk suatu negeri. Dan ini adalah pendapat ulama dari madzhab Malikiyyah dan Syafi'i dan diriwayatkan pula dari Imam Ahmad, serta dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi'iy rahimahullah ta'ala. Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman ibnu Shalih Al-Bassam dalam Taisirul 'Allam –

keterangan beliau terhadap kitab Umdatul Ahkam – (I/404) mengatakan: "Bahan makanan yang paling utama untuk zakat fithri (dari bahan-bahan makanan yang ada) adalah bahan makanan pokok yang paling dibutuhkan oleh kaum muslimin (faqir dan miskin) setempat." Sehingga di Indonesia, bahan makanan yang paling baik untuk zakat fithri adalah beras. Wallahu a'lam.

Berapa ukurannya

Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ukuran (takaran) 1 sha' adalah sha' nabawy (seukuran 4 mud yang ditakar dengan dua tangan Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam). Dan apabila dikonversikan ke satuan timbangan (berat) maka 1 sha' nabawy setara dengan 2040 (dua ribu empat puluh) gram atau 2,04 kg. Wallahu a'lam.

Bolehkah menggantikan bahan pokok dengan uang yang senilai? Al-Imam An-Nawawy menukilkan dalam Syarah Muslim (VII/53) bahwa seluruh ulama (kecuali Abu Hanifah) tidak membolehkan zakat fithri yang dibayarkan dengan uang. Dan inilah yang rajih/ kuat berdasarkan beberapa hal: 1. Hadits tentang zakat fithri menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mensyariatkan zakat ini untuk ditunaikan dalam bentuk makanan. 2. Amalan Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam dan sahabatnya menunjukkan bahwa mereka selalu menunaikan zakat ini berupa makanan, padahal kita mengetahui bahwa di masa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam pun telah beredar uang dinar dan dirham. Namun beliau dan para sahabatnya tetap menunaikan zakat dengan bahan makanan, tidak dengan dinar dan dirham.

Siapa yang harus dibayarkan zakatnya Setiap kaum muslimin (laki-laki dan perempuan) harus membayar zakatnya masing-masing jika dia memiliki kemampuan untuk membayarnya. Sehingga seorang wanita atau anak kecil yang memiliki harta harus menunaikan dengan hartanya. Adapun bila dia tidak memiliki harta maka yang harus membayar adalah orang yang menanggung nafkahnya kalau dia memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang harus ia nafkahkan kepada orang-orang

Bolehkah membentuk kepanitiaan untuk zakat fithri Di antara sunnah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam dalam penunaian zakat fithri adalah pembentukan panitia khusus yang menerima zakat fithri dari kaum muslimin serta menyalurkannya kepada yang berhak menerima." (HR. sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama. Sedangkan untuk zakat fithri adalah dalil khusus yaitu hadits Ibnu Abbas yang telah disebut di atas. Karena dalil dari Al-Qur'an ini adalah dalil yang bersifat umum." . Mereka adalah orang-orang faqir dan miskin. yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin. Lalu mengapa zakat fithri ini tidak disalurkan kepada 8 golongan Sebagian para ulama menganggap bahwa zakat fithri disalurkan kepada 8 golongan. pensuci bagi orang yang puas dari perbuatan sia-sia." Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Majmu' Fatawa (II/71-78) serta Ibnul Qoyyim dalam kitab beliau Zadul Ma'ad (II/44). Namun qiyas ini tidaklah dibenarkan. maka wajib bagi tuannya untuk membayar zakat budak tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah: "Tidak ada kewajiban untuk membayarkan shodaqoh seorang hamba sahaya kecuali zakat fithri. Muslim). Adapun hamba sahaya. Bila dia tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang harus dia nafkahkan untuk tanggungannya maka tidaklah wajib baginya untuk membayar.yang berada di bawah tanggungannya pada malam Ied dan esoknya. Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu meriwayatkan: "Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. Mereka meng-qiyas-kannya dengan zakatul maal yang memang diberikan kepada 8 golongan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala dalam surat At-Taubah ayat 60. Beliau telah mencontohkan hal ini di masa hidupnya. Diceritakan oleh Abu Hurairah: "Rasulullah memberitahukan kepadaku agar aku mengurus zakat Ramadhan. Kepada siapa zakat fithri diberikan Zakat fithri diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Oleh sebab itu. Bulletin al Wala wal Bara Edisi ke-2 Tahun ke-1 / 29 November 2002 M / 24 Ramadhan 1423 H. maka hal ini diperbolehkan. Dan Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: "Barangsiapa menunaikan zakat fithri sebelum shalat ied maka ia adalah zakat yang diterima. sehingga Allah Subhanahu wa Ta‟ala menyempurnakan pahala ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini dengan zakat fithri yang kita tunaikan. Abu Dawud." Abdul Warits bertanya lagi: "Kapankah panitia itu mulai bertugas?" Maka beliau menjawab: "Satu atau dua hari sebelum Idul Fithri. kami mengajak segenap kaum muslimin untuk menunaikan zakat fithri sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam." (HR. dan lainnya dengan sanad yang hasan)." Kapan zakat fithri ditunaikan Ia harus ditunaikan (disampaikan kepada yang berhak) sebelum kaum muslimin keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat Ied.Ibnu Khuzaimah (dalam kitab [IV/83]) mencantumkan satu riwayat dari Abdul Warits dari Ayyub bahwasanya Ibnu Umar pernah menyalurkan zakat fithri melalui panitia yang dibentuk oleh pemerintah muslimin satu atau dua hari sebelum Idul Fithri." Adapun memajukannya satu atau dua hari sebelum Iedul Fithri.atspace. Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah zakat fithri. url sumber http://fdawj.org/awwb/th1/2. sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan riwayat dari Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radiyallahu „anhu. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar ra: "Bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kum muslimin untuk membayarkan zakatnya sebelum keluarnya mereka untuk menjalankan shalat Ied. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah dilakasanakan shalat iedul fithri maka ia dianggap sebagai salah satu jenis shodaqoh saja dan zakatnya tidak diterima. Dan para ulama sepakat bahwa ia tidak boleh ditunda sama sekali. Ibnu Majah. (Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf. Amin.htm) . Abdul Warits bertanya kepada Ayyub: "Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu sha' (zakat fithri)?" Ayyub menjawab: "Setelah panitia mulai bertugas.

dusta.php?id_artikel=121 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Lagi.salafy. karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia. 28 Oktober 2004. '08 11:03 PM untuk semuanya Lagi. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna. dan mematahkan takwilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu Sunnah. Sumber artikel : http://www. (untuk) memusnahkan penyimpangan orangorang sesat dari sunnah.id/print. diada-adakan atau lainnya. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Sep 11.tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walaupun sedikit perhatianpun. dan sebagai penegasan terhadap kebenaran. Maksud kami bukan membahas dengan detail . Sejak bertahuntahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits dhaif. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah.Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. maka kami katakan: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan sunnah Nabi secara adil.or. 05:15:09 Hadits-hadits dhaif yang tersebar seputra bulan Ramadhan Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami. wlaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan yang shahih yang menyingkap yang bathil.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.55) Maka kami katakan wabillahi taufiq: Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali. jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup) kita.menduduki kedudukan yang tinggi. tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan mashyur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya. Hadits ini maudhu‟ (palsu). (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat…” (riwayat Bukhari 6/361).” dan Bukhari. “Dia suka memalsukan hadits. Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia pada bulan Ramadhan diantaranya: 1. hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini –sangat disesalkan.” Jadikanlah imam ini sebagai suri tauladan kita. “matruk (ditinggalkan) . “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa‟i. niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. berkata.” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu‟aim. “Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan. Semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya.masalah ini. biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan kelemahannya. penyakitnya pada Jabir bin Ayyub. serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia. hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak.yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya‟la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul „Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas‟ud Al Ghifari. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” Hingga akhir hadits ini. dan sabda beliau: “Agama itu nasehat…”(riwayat Muslim no.

“Tidak kuat. “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad‟an. sungguh bulan yang agung twlah (menaungi) kalian. Hadits ini sanadnya dhaif. “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah. Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini. pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai. 23714-tertib urutannya). “Lemah di segala penjuru.” berkata Imam Ahmad bin Hanbal.” dan berkata Ibnu Khuzaimah. “Jangan berhujjah dengan hadits ini. “Jika benar kabarnya.” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam‟ul Jawami‟ (no.” Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323). karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al Bajali.” 3.b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad‟an dari Sa‟id bin Al Musayyib dari Salman. “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan.haditsnya. Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (1/249). “Jika haditsnya shahih. karena lemahnya Ali bin Zaid. bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. “Berpuasalah.” Ibnul Jauzi menghulumi hadits ini sebagai hadits palsu.” berkata Ibnu Ma‟in. dan dia lemah. maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain…. niscaya kalian akan sehat.” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf. dan ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat.” .” 2. “Hadits yang mungkar. “Wahai manusia. kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. berkata Ibnu Sa‟ad. karena jelek hafalannya. Hadits ini juga panjang.

” . “Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut. karena jeleknya hafalan dia. Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma‟ul Bahrain) dan Abu Nu‟aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud. Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas.” Ibnu Abi Hatim berkata. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari (4/161): “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak. dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah.berkata. “Aku mendengar Imam Ahmad –dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin muhammad. Berkata Abu Bakar Al Atsram. Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta‟liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah. dan hadits ini darinya. “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair –pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam.Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa‟id.” demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/427). “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak. tidak diketahuinya keadaan Abil muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah. hingga kesimpulannya ada tiga penyakit: idhthirab (goncang). At Tirmidzi (723).” Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu‟allaq* dalam Shahih-nya (4/160 –Fathul Bari) tanpa sanad. Dan sanad hadits ini lemah.” Al Ajalaiy berkata. Ibnu Majah (1672) dan Nasa‟i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373). dari Zuhair bin muhammad. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870). “Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari ahli Syam ini tidak membuatku kagum. biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaiman dinaskhkan oleh para Imam adalah mungkar. dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Aku katakan: dan Muhammad bin Sulaiaman Syaami. Abu Daud (2397). 4.pent) yang dhaif itu.

Dengan sanad ini dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak. Bab "HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN". Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Ditulis oleh: Penuntut Ilmu Syar‟i Ali Hasan Ali Abdul Hamid Saalim Al Hilali 25 Ramadhan 1403 H (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Dan inilah petunjuknya dalam puasa Ramadhan. inilah sifat puasa Nabi dihadapanmu. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Tidak menutup kemungikinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar. bersegeralah kepada kebaikan. wa atuubu ilaika. karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya sehingga hadits ini dhaif juga. asyhadu anlaa ilaha illa anta.” Mudah-mudahan Allah memberi rizki pada kami kebaikannya. membedakan yang shahih dari yang jelek. Penerbit Al .umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Wasubhaanakallahu wa bihamdika. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. yang sesuai dengan syari‟at kita yang lurus baik dari Al Qur‟an maupun Sunnah. namun walaupun demikian kita (sering)mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya. dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah. Wahai saudaraku yang haus akan ketaatan kepada Allah. telah benar dan baik orang yang menamainya (yakni Al Isnad) adalah: “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar. astaghfiruka. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit. akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam.” Wa ba‟du: Inilah empat hadits yang didhifkan oleh para ulama dan dilemahkan oleh para Imam. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: “Jika khabarnya shahih.

dan sebagai penegasan terhadap kebenaran.php?id_artikel=778 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Lagi. diada-adakan atau lainnya. maka kami katakan: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan sunnah Nabi secara adil. dan mematahkan takwilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu Sunnah.id/print. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Sep 11. (untuk) memusnahkan penyimpangan orangorang sesat dari sunnah. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna. Sejak bertahuntahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits dhaif. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. 28 Oktober 2004. karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia. '08 11:02 PM untuk semuanya Lagi. 05:15:09 Hadits-hadits dhaif yang tersebar seputra bulan Ramadhan Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami.salafy. Sumber artikel : http://www.or. dusta.tidak memperdulikan masalah yang mulia . Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Ke 5 th 1416 H. Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah.Maktabah Al islamiyyah cet.

wlaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan yang shahih yang menyingkap yang bathil. dan sabda beliau: “Agama itu nasehat…”(riwayat Muslim no. tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan mashyur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya. penyakitnya pada Jabir bin Ayyub. “Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan. biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan . niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya.ini walaupun sedikit perhatianpun. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat…” (riwayat Bukhari 6/361). hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak. Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia pada bulan Ramadhan diantaranya: 1. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya‟la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul „Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas‟ud Al Ghifari. serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” Hingga akhir hadits ini. jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup) kita.55) Maka kami katakan wabillahi taufiq: Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali.menduduki kedudukan yang tinggi. Hadits ini maudhu‟ (palsu). Semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya.yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif. Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini. hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini –sangat disesalkan.” Jadikanlah imam ini sebagai suri tauladan kita.

” Ibnul Jauzi menghulumi hadits ini sebagai hadits palsu.kelemahannya. Hadits ini sanadnya dhaif. Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (1/249).” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf.” 2. dan dia lemah. berkata. “Jangan berhujjah dengan hadits ini. “Tidak kuat. 23714-tertib urutannya).” dan berkata Ibnu Khuzaimah. berkata Ibnu Sa‟ad.b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad‟an dari Sa‟id bin Al Musayyib dari Salman. karena lemahnya Ali bin Zaid. “Hadits yang mungkar. “Jika benar kabarnya. “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya. “Dia suka memalsukan hadits. karena jelek hafalannya. “Lemah di segala penjuru. sungguh bulan yang agung twlah (menaungi) kalian. Hadits ini juga panjang. “matruk (ditinggalkan) haditsnya. dan ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan.” .” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam‟ul Jawami‟ (no. maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain…. “Wahai manusia.” berkata Imam Ahmad bin Hanbal.” dan Bukhari. “Jika haditsnya shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178. “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa‟i. pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat. Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini. “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad‟an.” berkata Ibnu Ma‟in. kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al Bajali.” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu‟aim. “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah.” Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323). Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah.

“Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut.pent) yang dhaif itu. niscaya kalian akan sehat. “Aku mendengar Imam Ahmad –dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin muhammad. tidak diketahuinya keadaan Abil muthawwas dan diragukan .3.” Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa‟id. dan hadits ini darinya. “Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari ahli Syam ini tidak membuatku kagum.” demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/427). hingga kesimpulannya ada tiga penyakit: idhthirab (goncang). Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma‟ul Bahrain) dan Abu Nu‟aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud. Dan sanad hadits ini lemah. dari Zuhair bin muhammad. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870).” Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu‟allaq* dalam Shahih-nya (4/160 –Fathul Bari) tanpa sanad. dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair –pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam. dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Aku katakan: dan Muhammad bin Sulaiaman Syaami. Ibnu Majah (1672) dan Nasa‟i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373). Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari (4/161): “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak. “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak.” Ibnu Abi Hatim berkata. At Tirmidzi (723). Abu Daud (2397). Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta‟liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah.” Al Ajalaiy berkata. karena jeleknya hafalan dia. Berkata Abu Bakar Al Atsram. 4. biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaiman dinaskhkan oleh para Imam adalah mungkar. “Berpuasalah.berkata.

karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya sehingga hadits ini dhaif juga. akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam.” Wa ba‟du: Inilah empat hadits yang didhifkan oleh para ulama dan dilemahkan oleh para Imam. wa atuubu ilaika.” Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: “Jika khabarnya shahih. Dan inilah petunjuknya dalam puasa Ramadhan. Tidak menutup kemungikinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar. Ditulis oleh: Penuntut Ilmu Syar‟i Ali Hasan Ali Abdul Hamid Saalim Al Hilali 25 Ramadhan 1403 H (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). asyhadu anlaa ilaha illa anta. membedakan yang shahih dari yang jelek. Bab .” Mudah-mudahan Allah memberi rizki pada kami kebaikannya. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. namun walaupun demikian kita (sering)mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya. yang sesuai dengan syari‟at kita yang lurus baik dari Al Qur‟an maupun Sunnah. Wasubhaanakallahu wa bihamdika. inilah sifat puasa Nabi dihadapanmu. astaghfiruka. Wahai saudaraku yang haus akan ketaatan kepada Allah.pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah. dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah. telah benar dan baik orang yang menamainya (yakni Al Isnad) adalah: “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar. bersegeralah kepada kebaikan. Dengan sanad ini dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain.

padanya ada Al Hasan ber-„an‟anah. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. 05:03:44 1.”195)[Riwayat Abu Daud (1622) dan An Nasa‟I (5/50). Ke 5 th 1416 H. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Hukumnya Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia]. 28 Oktober 2004."HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN". Sumber artikel : http://www.salafy.”194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim] Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. '08 10:54 PM untuk semuanya Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh.id/print. Dan hadits sebelumnya sebagai syahid] Sebagian Ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa‟ad bin Ubadah.php?id_artikel=778 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. ia berkata: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kami . Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.or.

kedudukan zakat harta (sebagaiman) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang perorang). dan dikeluarkan oleh An Nasa‟I (5/49) dan Ibnu Majah (1/585) dan Ahmad (6/6). tidak mengharuskan dimansukhknya hukum sebelumnya.”197)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)] Sebagian Ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri. mungkin Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mencukupkan dengan perintah yang pertama. tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah. Yang lain berkata. “Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan .”198) [HR Muslim (982)] Hadits ini umum.” Al Hafidz Rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya (3/368): “bahwa pada sanadnya ada rawi yang tidak dikenal196) [Akan tetapi hadits tersebut mempunyai penguat. anak kecil. sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum.” Imam Al Khathabiy Rahimahullah berkata dalam Ma‟alimus Sunan (2/214): “Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri. tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri). besar. perempuan. Ibnu Khuzaimah (4/81) dan Al Hakim (1/410) dan Al Baihaqi (4/159) dari beberapa jalan. karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain. orang yang merdeka maupun hamba. Siapa yang Wajib Zakat ? Zakat fithri wajib atas kaum muslimin.” 2. laki-laki. dan sanadnya shahih] dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (diahapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma. sedang hadits Ibnu Umar khusus. kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin. atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka.dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya (kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami.

3. satu gantang korma dan satu gantang salt.”200) [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)] Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan atu gantang gandum. satu gantang korma. jika „illat diwajibkannya karena pensucian.” Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin. karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar. yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin. namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya. satu gantang anggur kering. ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu. satu ganang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit). semuanya telah dilakukan oleh para sahabat .”201) [Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/80) dan Al Hakim (1/409-410) Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa‟id Al Khudri. tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu. baik menurut masyarakat maupun istilah. jika berserikat dalam „illat berserikat pula dalam hukum. Macam Zakat Fithri Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu gantang gandum.”199) [Telah lewat takhrijnya] Imam Al Khathabiy dalam Ma‟alimus Sunan (3/214) menegaskan: “Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia. satu gantang gandum. pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia. satu gantang susu kering. tepung dan adonan. satu gantang kurma. satu gantang susu. maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu. karena hadits Abu Sa‟id Al Khudri Radhiallahu anhu: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam) satu gantang makanan.zakat fithri. zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari.” Al Hafidz menjawab (3/369): “Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan.

mereka ikhtilaf tentang hinthah. tetapi berdasarkan hadita marfu‟ sampai kepada Rasululllah Shalallahu „alaihi wassalam. barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan. dan yang paling sahahih berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam: “Tunaikanlah satu gantang gandum atau korma. bahwa pendapat Mua‟wiyah bukanlah ijtihad hasil dari pemikiran sendiri. “Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima. diterima. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima.”204) [Telah lewat takhrijnya] Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri. besar. 4. barangsiapa yang membawa gandum diterima. yang membawa korma diterima. ada yanga mengatakan setengah gantang ini yang rajih. yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima. aku mengira beliau berkata: “yang membawa adonan diterima.”203) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). anggur kering. sanadnya hasan] Dari beliau Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: “Zakat fithri satu gantang makanan. dan bahwa satu mud hinthah itu melebihi yang ada di sini. untuk dua orang satu gantang dari gandum . susu yang dikeringkan dan korma. Ini dikuat-kan oleh perkataan Abu Sa‟id: “Dulu makanan kami adalah gandum. Ukuran Zakat Fithri Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi. menurut hadits-hadits yang shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu gantang anggur.”202) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). budak dan orang yang merdeka. agar kaum muslimin yang mendudukkkan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka.berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu gantang makanan dari anak kecil. sanadnya hasan] Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Mu‟awiyah Radhiallahu anhu berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam. yang membawa anggur kering diterima. aku mengira beliau berkata.

berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah. Dan Syaikhul Islam telah membentahnya pada kitab . Nasa‟I (7/281).”205) [Riwayat Abu Daud (2340). Dan dikeluarkan Al Baihaqi (4/161) dari jalan yang lain dari Ali. Dan padanya ada jalan yang mauquf dari Ibnu Umar pada Inu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/37) dengan sanad shahih. Maka -dengan jalan-jalan inimaka haditsnya menjadi hasan] 6. orang merdeka dan hamba dari orang-orang yang membekalinya. baik anak kecil maupun orang tua laki-laki dan perempuan.”208) [Telah lewat takhrijnya].”206) [Riwayat Abu Daud (2340). dan sanadnya terputus. Sebagian Ahlul ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan. Kemana Disalurkannya Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya. orang yang merdeka dan budak. mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya.”207) [Dikeluarkan oleh Daruquthni (2/141) dan Ibnu Umar dengan sanad dhaif (lemah). hamba. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih]. anak kecil atau besar. Nasa‟I (7/281). berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “kami diperintah oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua. Gantang yang teranggap adalah gantangnya penduduk Madinah. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu‟ Fatawa (2/71-78) serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma‟ad (2/44).atas orang merdeka. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih] 5. Siapakah yang harus dibayar zakatnya? Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya. dan kiloan yang teranggap adalah kiloan-nya orang madinah.

Termasuk amalan sunah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk diberikan kepada yang berhak –pent). ia berkata: “Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan.yang telah disebutkan baru saja. karena hal itu sangat penting. aku katakan: “Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang?” Berkata Ayyub: “Apabila petugas telah duduk (bertugas). Waktu Penunaian Zakat Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju sholat „Id dan tidak bleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya. kecuali satu atau dua hari (sebelum „Id)210) [Lihat pada kitab Ahkamul „Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid.”211) [Telah lewat takhrijnya] 8. Hikmah Zakat Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang . Sungguh Nabi Shalallahu „alaihi wassalam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiallahu anhu.maktabah Al Islamiyah] berdasarkan perbuatan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma –berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayatnyamaka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “… Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima. cet.” 7. dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum „Iedul Fithri. dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada).” Aku katakan: “Kapankah petugas itu mulai bertugas?” Beliau menjawab: “Satu hari atau dua hari sebelum “Idul Fithri. pent) untuk mengumpulkannya. maka lihatlah kitab tersebut.”209) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/396)] Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar Radhiallahu anhuma mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan.

.berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi (kebutuhan ) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma yang telah lalu. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Ke 5 th 1416 H. Seiring dengan menyempitnya pembuluh-pembuluh darah itu berarti menyempit pula tempat aliran setan dalam tubuh. Bab "Zakat Fitrah".id/print. maka puasa dapat memperkuat jiwa. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. 18 Oktober 2004. suplai bahan makanan dan minuman yang merupakan bahan bakar aktifitas kehidupan manusia berkurang sehingga pembuluhpembuluh darah menyempit. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR).or. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. '08 10:54 PM untuk semuanya Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Penulis: Al Ustadz Ahmad Hamdani Fatwa-Fatwa. 05:26:46 Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Kalau jasmani seseorang dapat menjadi kuat disebabkan latihan fisik.php?id_artikel=777 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Sep 11. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.salafy. Pada diri seseorang yang berpuasa. Sumber artikel : http://www. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.

Puasa sebagai benteng bagi orang-orang yang bertaqwa dari musuh Allah yaitu setan yang jalannya dalam rangka menguasai manusia adalah hawa nafsu syahwat. Dengan demikian puasa adalah perisai dari serangan nafsu syahwat bagi orang-orang yang bertaqwa. Inilah hakikat puasa. Puasa memiliki dua keutamaan khusus yang tidak ditemukan pada ibadah badan lainnya. (HR. 373 dan Al-Baihaqi . (HR. Akan tetapi orang-orang yang berpuasa itu berbeda dan bertingkat-tingkat dalam hal mendapatkan pahala dan keutamaannya. yaitu: 1. Bukhari 3/3.Keadaan seperti ini akan membuat nafsu syahwat terpenjara (dari hubungan sex atau persetubuhan) dan memenangkan anggota badannya dengan cara yang menakjubkan. Ad-Darimi 2/21. Puasa merupakan amal tersembunyi. ( ‫ق‬ ٠٧٢/٤ ١/٥٣٩ ‫ل‬ ٢/٢١ ‫٣٧٣ ،٦٤٤/٢ ح‬ Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya selain dari rasa lapar dan dahaga. Allah berfirman dalam hadits qudsi tentang keutamaan puasa: ). 9/175 dan Muslim 157-158) Sebenarnya cukuplah satu hadits qudsi yang mulia itu menunjukkan keutamaannya. Ibnu Majah 1/539. Pada umumnya orang lain tidak mengetahuinya dan kemungkinan besar sedikit tercampur dengan unsur riya‟. ٣/٣، ٩/١٧٥ ‫)٨٥١-٧٥١/٣ ل‬ Puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ). Ahmad 2/446. 2.

Begitu pula orang yang mengingkari orang yang berbuka (ketika safar). Di antara yang berbuka mengejek yang berpuasa dengan alasan bahwa berbuka itu lebih utama. Orang yang safar boleh mengqashar shalat dan berbuka puasa menurut kesepakatan ulama meskipun tidak merasa haus dan lapar. . maka orang tersebut diminta bertaubat. dan yang semisalnya. jihad. Dalam kaitan ini kami kutipkan fatwa-fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Fauzan yang berhubungan dengan puasa berupa tanya jawab sekitar puasa dan Ramadlan. Para ulama masih bersilang pendapat bila safarnya untuk bermaksiat pada Allah seperti safar dengan niat merampok. maka dibunuh. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab beliau Haqiqatus Shiyam hal. Semoga bermanfaat. Pertanyaan: Berapakah jarak boleh mengqashar shalat? Apakah bila seseorang safar pada suatu hari boleh berbuka puasa? Apakah perbedaan safar maksiat dan safar ketaatan kepada Allah? Jawab: Menurut kesepakatan kaum muslimin (ulama) berbuka puasa diperbolehkan bagi musafir jika safar itu bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya seperti haji. Jika tidak bertaubat. maka dia diminta untuk bertaubat dari pendapatnya itu. 87-100: Tanya: Beberapa orang melakukan safar (bepergian) pada bulan Ramadlan.4/270 dari jalan Sa'id Al-Muqbiri dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu) Hal ini terjadi disebabkan orang yang berpuasa tidak mengerti hakekat puasa sehingga tidak melaksanakannya sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya dan puasanya tidak mendatangkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. Dalam rombongan itu ada yang berbuka dan ada yang berpuasa. Orang yang mengatakan bahwa orang yang safar tidak boleh berbuka kecuali yang lemah untuk berpuasa. baik tersedia makanan minuman atau tidak. berdagang.

sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan ijma' umat. Bukhari dan Muslim) Sedangkan madzhab yang empat membolehkan puasa bagi musafir dengan dasar ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Anas radliyallahu 'anhu: ). Bukhari) Hal ini karena mereka memahami firman Allah: ‫ل‬ .Juga orang yang mengatakan bahwa orang yang berbuka (ketika safar) itu berdosa. Karena semua itu bertentangan dengan Kitabullah. bagi musafir diperbolehkan mengqashar shalat yang empat rakaat dan hal ini lebih afdhal. Tidak termasuk kebaikan puasa dalam safar (bepergian). maka yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa. Abu Hanifah. Imam Syafi'i. dan lainlain radliyallahu 'anhum. ( Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Menurut pendapat imam yang empat. Sekelompok ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa orang yang sedang safar harus berbuka. ia harus bertaubat dari ucapannya itu. Sebagaimana pula madzhab Dhahiri. Imam Malik. Para ulama tidak bersilang pendapat dalam hal pembolehan berbuka puasa bagi musafir. bahkan tidak diperbolehkan berpuasa sehingga meskipun ia berpuasa tetap wajib mengqadlanya. Pendapat ini dipegang oleh Abdurrahman bin 'Auf. Abu Hurairah. (HR. Sedangkan yang masih diperselisihkan justru pembolehan berpuasa bagi musafir. dan Imam Ahmad. (HR. Mereka berdalil dengan hadits: .

Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengqashar shalat ketika di Arafah dan Muzdalifah serta Mina yang diikuti oleh penduduk Mekah dan beliau tidak memerintahkan mereka menyempurnakan shalat mereka. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. supaya kamu bersyukur. Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu. (Al-Baqarah: 185) Adapun ukuran safar yang diperbolehkan untuk mengqashar shalat dan berbuka puasa menurut Imam Ahmad dan Syafi'i adalah jarak perjalanan dua hari dengan kendaraan unta atau jalan kaki sejauh lebih kurang 16 farsakh (satu farsakh lebih kurang 8 km –pent) seperti jarak antara Mekah-Ashfahan atau Mekah-Jedah. ١٨٥﴾ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan. Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan bathil).: . Keduanya dari Imam Ahmad. dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) (wajiblah baginya berpuasa). Sedangkan Abu Hanifah dan kelompok ulama salaf dan khalaf lainnya menentukan jarak perjalanan 3 hari. maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Para shahabat berbuka bila keluar safar pada pertengahan hari dan disebutkan bahwa yang . sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain. Tanya: Apakah seorang safar pada pertengahan hari boleh berbuka? Jawab: Ada dua pendapat yang masyhur mengenai masalah ini. Menurut pendapat yang paling kuat adalah boleh berbuka dan menqashar shalat pada bepergian kurang dari dua hari[1]. Sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab Sunan. Yang paling benar adalah seseorang diperbolehkan berbuka ketika safar di pertengahan hari (sebelumnya ia berpuasa –pent).

Orang-orang pedalaman seperti Badui Arab. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berniat puasa waktu safar. Akan tetapi dia wajib mengqadla baik berpuasa atau tidak. Sedangkan bila telah singgah di tempat musim dingin atau tempat musim panas tidak boleh berbuka dan mengqashar shalat. bila mereka dalam perjalanan dari tempat musim dingin ke tempat musim panas atau sebaliknya. Walaupun ada sebagian ulama mengatakan tidak berpahala bila ia puasa. Tanya: Ada seorang yang safar di bulan Ramadlan tidak merasa lapar.demikian itu sunnah yang dikerjakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang yang sering bepergian ke suatu tempat tertentu boleh berbuka seperti pedagang yang pergi ke kota lain. haus maupun lelah. Turki dan selainnya yang bermukim pada musim panas di suatu tempat. para ulama masih berselisih pendapat dalam menentukan kewajiban berpuasa. Kemudian beliau dijamu dan beliau makan. membawa perbekalan lengkap dan dia terus-menerus demikian maka dia tidak boleh mengqashar shalat maupun berbuka puasa. tukang pos yang bepergian untuk kemaslahatan kaum muslimin dan lain-lain. maka boleh mengqashar shalat. Apakah yang lebih utama baginya puasa atau tidak? Jawab: Menurut ijma' ia lebih utama berbuka meskipun dia tidak merasa berat dan berpuasa juga diperbolehkan. Apakah pendapat ini dibenarkan? . Tanya: Ada seorang imam masjid bermadzhab Hanafi menyebutkan bahwa dia membaca kitab bahwa bila seseorang berpuasa di bulan Ramadlan tidak berniat pada akhir waktu isya' atau sahur maka puasanya tidak berpahala. Sedangkan apabila seorang tiba di tempat tujuan pada pertengahan hari. Para shahabat melihat beliau. Sedangkan orang yang bepergian jauh dengan naik kapal besar ditemani istrinya.

cukup secara mutlak tidak dengan niat tertentu (ta'yin) selain niat puasa Ramadlan. Adapun bila seseorang tidak mengetahui bahwa besok bulan Ramadlan tidak wajib atasnya ta'yin dan barangsiapa mewajibkan ta'yin tanpa ia mengetahui yang dita'yin sungguh berarti ia mewajibkan dua perkara yang berlawanan. maka yang lebih mendekati kebenaran adalah cukup baginya niat mutlak tersebut. Bila ia tahu besok akan puasa haruslah ia meniatkan puasa. Ketiga. ia tentu berpuasa bulan itu dengan niat. cukup baginya. Maka saya katakan bahwa orang yang mengetahui keinginannya mesti akan berniat. Berpuasa dengan cara seperti itu. Lalu tak lama kemudian ia mengetahui bahwa ternyata titipan itu miliknya. Apabila berpuasa dengan cara seperti itu diniatkan puasa sunnah lalu diketahui bahwa hari itu adalah bulan Ramadlan. Riwayat yang ketiga ini dari Ahmad dipilih oleh Al-Hiraqi dan Abul Barkat. Kedua. Yang menjadi perselisihan adalah pengkhususan (ta'yin) niat untuk bulan Ramadlan. Melafalkan niat bukan wajib menurut ijma' kaum muslimin. Sebagaimana disabdakan Nabi . tetapi ia hendaknya mengatakan: Titipan yang kuberikan padamu itu adalah milikku. harus meniatkan puasa Ramadlan. tetapi ia tidak mengetahui bahwa titipan itu miliknya lalu ia sedekahkan pada orang lain. Keumuman kaum muslimin berpuasa dengan diiringi niat. Maka bila ia tidak melakukan berarti belum terbebas dari kewajiban. yaitu dengan niat mutlak. Bila ia tahu besok Ramadlan maka ia akan menta'yin (menentukan niatnya) artinya tidak cukup berniat secara mutlak karena Allah ta'ala memerintahkannya niat menunaikan kewajibannya yaitu puasa bulan Ramadlan. boleh secara mutlak seperti pendapat Abu Hanifah. Setiap orang akan mengetahui apa yang ia inginkan mesti meniatkannya dengan dilafalkan atau tidak. Niat itu tempatnya di hati. Dan riwayat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad menyatakan bahwa manusia itu mengikuti niat imamnya yaitu bahwa berbuka atau berpuasa ditentukan oleh ulama. apakah hal ini wajib atau tidak? Ada tiga pendapat dalam madzhab Imam Ahmad: Pertama.Jawab: Setiap muslim yang mengetahui bahwa puasa Ramadlan itu wajib hukumnya. Seperti seorang yang dititipi barang atau uang miliknya sendiri. tidak cukup niat mutlak[2]. maka ia tidak perlu menyerahkan barang itu kedua kalinya.

Idul Fithri kalian adalah hari kalian berbuka (tidak berpuasa) dan Idul Adlha adalah hari kalian menyembelih[3]. Apabila malam telah datang dari sini dan siang telah menghilang dari sini serta matahari telah terbenam dari sini (barat) maka berbukalah orang yang berpuasa. Yaitu ketika seluruh bulatan matahari telah hilang dan langit bagian timur akan tampak hitam. hadits 224 dan Al-Irwa no. Bukhari 4/171 . Tanya: Apakah seseorang diperbolehkan berbuka puasa dengan semata melihat terbenamnya matahari? Jawab: Bila seorang telah melihat hilang seluruh bulatan matahari maka ia harus berbuka tanpa menghiraukan masih ada warna merah yang tampak di ufuk barat. baik dilafalkan atau tidak. Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa. (HR. hadits 905) Tanya: Apakah seseorang yang berpuasa bulan Ramadlan memerlukan niat tiap hari atau tidak? Jawab: Setiap orang yang mengetahui bahwa besok Ramadlan dan dia menginginkan puasa maka dia pasti telah berniat. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. (HR. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Ash-Shahihah no. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam katakan: . Hal ini merupakan perbuatan kebanyakan kaum muslimin. Beliau mengatakan: Hadits ini hasan gharib.shallallahu 'alaihi wa sallam: .

Walaupun setelah itu ia tahu bahwa makan setelah terbit fajar masih diperselisihkan para ulama tentang wajib qadla` baginya. bagaimana tentang hal ini? Jawab: Apabila puasanya menyebabkan ia sakit seperti itu maka hendaknya ia berbuka dan mengqadla`.dan Muslim no. Pendapat yang paling benar adalah tidak diwajibkan mengqadla`. 1100) Tanya: Bolehkah makan sahur setelah adzan subuh pada bulan Ramadlan? Jawab: Bila muadzin adzan sebelum terbit fajar sebagaimana adzan pertama Bilal pada jaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Damaskus. apakah ia boleh berbuka atau tidak? . Bila hal ini terus menimpanya tiap kali ia berpuasa dan dia tidak mampu untuk puasa maka ia harus memberi makan tiap hari seorang miskin. maka seorang boleh makan dan minum beberapa saat setelah adzan itu. Tanya: Ada seorang yang pingsan setiap kali berpuasa. sekelompok ulama salaf dan khalaf. pilek dan mulutnya berbuih terus-menerus sampai berhari-hari belum sadar hingga dikira gila dan tidak jelas keadaannya. Apabila ia ragu apakah sudah terbit fajar atau belum maka hendaknya ia makan dan minum hingga tampak jelas terbit fajar. Tanya: Seorang perempuan hamil melihat darah serupa haidl dan darah haidl. wajib qadla` atasnya. Riwayat ini adalah riwayat dari Umar. Para bidan memutuskan ia harus berbuka karena untuk memberi makan janin yang dikandungnya tetapi wanita itu tidak sakit. Sedangkan menurut pendapat ahli fiqih yang empat.

***** Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah bin Al-Fauzan (anggota Kibaril Ulama Arab Saudi) dalam kitab Nur 'ala Darbi Fatawa hal. ketika bangun tidur sebagaimana biasa dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang benar adalah seseorang disunnahkan bersiwak tiap hari di bulan Ramadlan pada pagi hari dan sore dan tidak benar anggapan bahwa seseorang disunnahkan hanya bersiwak pada sore hari saja. boleh dikerjakan oleh yang berpuasa ataupun tidak berpuasa. Tanya: . ketika bau mulut mulai berubah. Bahkan para shahabat melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersiwak terus menerus sampai tak terhitung jumlahnya dalam keadaan berpuasa. ketika akan shalat. 73-81: Tanya: Apakah hukum bersiwak pada bulan Ramadlan? Jawab: Tidak diragukan lagi bahwa siwak merupakan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang dianjurkan pelaksanaannya. Akan tetapi dalam hal ini seorang harus berhati-hati ketika menggosok gigi dengan miswak (alat siwak) agar tidak melukai gusi yang dapat mengakibatkan pendarahan. ketika membaca Al-Qur`an. Banyak keutamaan bersiwak. Bersiwak pernah dilakukan maupun diperintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka bersiwak itu hukumnya sunnah. Bersiwak disunnahkan pada semua waktu termasuk waktu Ramadlan. Bersiwak sangat baik terutama pada tempat-tempat yang dibutuhkan seperti sebelum wudlu.Jawab: Bila wanita hamil itu mengkhawatirkan keadaan janinnya maka ia wajib berbuka dan wajib mengqadla` serta memberi makan tiap hari satu orang miskin 1 liter roti dan lauknya.

Pernah suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk rumah dalam keadaan puasa sunnah lalu menjumpai makanan yang dihadiahkan para shahabat lalu beliau makan (dan memutus puasanya). Pada hari-hari itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dibandingkan malam-malam sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa puasa sunnah tidak wajib disempurnakan.Apakah seorang yang berpuasa qadla` dan puasa sunnah boleh memutuskan puasanya? Jawab: Apabila ia berpuasa qadla` tidak boleh memutuskannya dan wajib menyempurnakannya. . Adapun bila ia berpuasa sunnah boleh memutuskan puasanya itu. Tanya: Apabila seorang berpuasa suatu hari kemudian ia safar pada pertengahan hari apakah ia berbuka pada hari itu? Jawab: Bila seseorang berniat puasa dan telah mengerjakannya lalu bepergian pada pertengahan hari maka hendaknya ia berbuka jika jarak perjalanan dari rumah ke tempat tujuan kurang lebih 80 km. tidak ada kewajiban menyempurnakan puasa sunnah. Tanya: Apakah keutamaan hari-hari 10 akhir bulan Ramadlan? Jawab: Hari-hari ini memiliki keutamaan yang besar dan agung. Banyak kaum muslimin mengharapkan menjumpai malam lailatul qadar pada 10 hari terakhir bulan mubarak itu. Beliau melakukan i'tikaf pada malam akhir Ramadlan dan tidak keluar dari masjid selain menunaikan hajatnya. Akan tetapi kalau ia mau menyempurnakannya maka lebih afdlal sebab sebagian ulama ada yang mewajibkan menyempurnakan puasa model ini.

Tanya: Bagaimana keterangan tentang keutamaan lailatul qadr dan ayat-ayat yang menerangkannya! Jawab: Allah memuliakan keadaan malam itu dan menamakannya lailatul qadr karena pada malam itu ditentukan ajal. Disebut juga lailatul qadr karena dia adalah malam yang ditentukan dan dimuliakan di sisi-Nya. Pada bulan itu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sangat dermawan.Tanya: Apakah keutamaan bersedekah pada bulan Ramadlan? Jawab: Bersedekah pada bulan Ramadlan lebih utama (afdlal) daripada bersedekah pada bulanbulan lainnya. Allah berfirman: "Kami menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam penuh barakah.[4] (HR. sangat mudah mengeluarkan sedekah ibarat angin yang bertiup kencang. Kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat itu lebih baik daripada angin sepoi-sepoi (angin yang bertiup terus-menerus dan bermanfaat). 2307)." (AdDukhan: 4). rezki seorang makhluk dan apa-apa yang akan terjadi dalam satu tahun. Bila seorang berbuat baik kepada mereka berarti ia membantu ketaatan kepada Allah terhadap mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan dan lebih dermawan pada bulan Ramadlan ketika Jibril menemuinya untuk mengajari Al-Qur`an pada setiap malam pada bulan itu. "Dan tahukah kamu apakah malam lailatul qadr itu. Dalil ini menunjukkan keutamaan sedekah bulan Ramadlan di mana pada bulan ini banyak orang yang miskin berpuasa. Juga disebut malam lailatul mubarak (malam yang diberkahi). Amal itu dilipatkan pahalanya karena kemuliaan waktu dan tempatnya (berdasarkan nash -pent) sebagaimana amal-amal dilipatkan pahalanya pada dua masjid Mekah dan Madinah (masjid Nabawi) yaitu shalat di dua masjid tersebut berpahala 1000 kali lipat dibanding shalat di tempat lainnya. Allah berfirman: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Lailatul qadr lebih baik daripada 1000 bulan. Bukhari dengan 1/30 Fath dan Muslim no." (44:33)." .

tetapi janganlah kamu campuri para istri itu sedang kamu beri'tikaf." (Al-Baqarah: 187) Jawab: Allah melarang mencampuri istri dalam keadaan i'tikaf di masjid setelah membolehkan mencampurinya pada bulan Ramadlan.. baik pada malam atau siang hari jika orang yang beri'tikaf itu tidak berpuasa. Beliau bersabda: . Malaikatmalaikat Allah tidak turun ke bumi kecuali untuk menyelesaikan urusan besar. Karena makna i'tikaf secara bahasa ialah . Tanya: Apakah makna ayat ". Seribu bulan lebih kurang 83 tahun. Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam lailatul qadr dengan mempercayai adanya malam itu dan mengharap pahalanya maka akan diampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang. Hal lain yang juga menunjukkan keutamaan dan kebesarannya ialah pada malam itu turun para malaikat dan Jibril (pemimpin para malaikat) untuk mengatur segala urusan. sungguh Allah tidak memberinya kebaikan yang banyak. Artinya beramal pada malam yang penuh berkah itu dilipatgandakan pahalanya semisal 1000 bulan beramal pada malam-malam selain bulan ini. baik dengan jimak maupun mubasyarah[5]. Sehingga mereka mempunyai banyak amal dan terkumpullah amal-amal pada semua malam bulan itu dengan malam lailatul qadr..(Al-Qadr: 2-3). Orang-orang yang beri'tikaf tidak boleh mencampuri istri-istrinya. Maka barangsiapa tidak mendapatkan kebaikan pada malam itu. (HR. Ayat ini menunjukkan tentang keutamaannya oleh karena itu beliau selalu menunggu-nunggu datangnya malam itu. Allah dengan hikmah-Nya yang maha luas merahasiakan malam itu pada bulan Ramadlan agar kaum muslimin bersungguh-sungguh mencarinya pada tiap malam. Kemudian Allah mensifati malam tersebut dengan malam yang penuh kesejahteraan sampai fajar. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu).

Orang yang beri'tikaf di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama'ah di dalamnya berada di antara dua keadaan yaitu antara i'tikaf dan meninggalkan shalat jama'ah. Bagaimana saya mengqadla` puasa pada bulan yang aku tinggalkan? Apakah saya harus berpuasa tiap bulan atau memberi makan 60 orang miskin? Aku ingin berpuasa tahun ini selama tiga bulan apakah hal itu dibenarkan? Bagaimana cara melaksanakannya dengan bersambung atau terputus (berselang-seling)? Jawab: Jawaban dari pertanyaan anda perlu perincian. Karena waktu itu anda . Seperti pergi ke pasar dan lainnya. Apabila seseorang mencampuri istrinya maka batallah i'tikafnya.meninggalkan perkara-perkara yang banyak dan meluangkan waktu untuk beribadah. Tanya: Saya seorang pemuda yang pernah tidak melaksanakan puasa tahun yang lalu sedangkan puasa tahun berikutnya saya berpuasa dengan sempurna. Maka i'tikaf harus diadakan di masjid-masjid yang didirikan padanya shalat jama'ah karena lafadh ayat menyebutkan fil masajid (di masjid-masjid). Ayat di atas menunjukkan bahwa i'tikaf itu harus diadakan di masjid yang dipakai untuk shalat berjama'ah dan memiliki imam rawatib. rumah atau tanah lapang atau masjid yang tidak ditegakkan shalat jama'ah. Demikian pula bila ia keluar masjid tanpa ada kebutuhan mendesak juga membatalkan i'tikaf. Tidak boleh i'tikaf menyendiri di mushalla. Bila ia tetap di dalam masjid berarti ia meninggalkan shalat berjama'ah padahal shalat berjama'ah wajib hukumnya. Atau ia keluar dari masjid untuk shalat berjama'ah di masjid yang didirikan shalat jama'ah tiap shalat 5 waktu yang hal ini menghilangkan makna i'tikaf. I'tikaf disebutkan pada akhir-akhir ayat puasa i'tikaf seharusnya dan lebih baik dilakukan ketika seorang dalam keadaan berpuasa dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak i'tikaf selain bulan Ramadlan yakni ketika puasa. Yaitu jika anda meninggalkan puasa itu karena meninggalkan shalat (meninggalkan shalat menurut beliau kafir -pent) maka anda tidak berkewajiban mengqadla` puasa yang telah anda tinggalkan.

Tanya: Apa hukum bercelak. memakai parfum bagi seorang muslimah pada bulan Ramadlan? Jawab: Adapun celak. ٣٣﴾ Dan hendaklah kamu (para wanita muslimah) tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan tunaikanlah shalat. kosmetik yang biasa dipakai wanita tidak membatalkan puasa. karena hal ini bisa menembus mata hingga ke tenggorokan tanpa disadarinya. Sebagian ulama melarang memakai celak bagi orang yang berpuasa atau meletakkan sesuatu pada matanya seperti obat tetes mata. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: . Bila anda menunda mengqadla` puasa tanpa udzur maka anda wajib memberi makan seorang miskin tiap hari sebagai ganti puasa yang anda tunda qadla`nya itu.belum masuk Islam.. Sedangkan harum-haruman. (Al-Ahzab: 33). obat tetes mata dan apa-apa yang diletakkan di mata bagi orang yang berpuasa terkadang dapat masuk ke tenggorokan sehingga membatalkan puasanya... Walaupun wanita itu keluar menuju masjid untuk beribadah tetap dilarang bertabaruj (berhias) dan memakai parfum. Namun bagi muslimah hendaknya memakai harum-haruman atau parfum dan kosmetik di dalam rumah saja dan menjauhi benda-benda itu untuk dipakai di luar rumah. Bahkan ia harus menutup wajahnya bila keluar rumah. Allah berfirman: : . Apabila anda tunda qadla` puasa karena ada udzur hingga datang Ramadlan berikutnya maka anda wajib mengqadla`nya setelah Ramadlan. tunaikan zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Janganlah kamu mencegah wanita-wanita menuju masjid Allah dan hendaklah mereka . Adapun setelah anda bertaubat yakni setelah melaksanakan shalat maka anda wajib mengqadla` puasa dan menunaikan seluruh syi'ar Islam yang diwajibkan.

Sebagaimana keterangan Aisyah radliyallahu 'anha ketika seorang bertanya tentang mubasyarah: : . [2] Niat mutlak adalah meniatkan berpuasa tanpa menentukan puasa apa yang ia lakukan. (Mutafaq 'alaihi. "Apa yang boleh dilakukan seorang yang berpuasa terhadap istrinya?" Beliau menjawab: "Semuanya boleh dilakukan selain jimak. puasa ramadlan atau qadla atau nadzar dan lain-lain. hadits no. Syaikh Salim Al-Hilali.(Jimak atau jima' adalah hubungan seks/sex atau bersetubuh/persetubuhan. 58.keluar tanpa berhias dan berharum-haruman.red)" (HR Abdur Razak dalam bukunya Al-Mushanaf 4/190/8439 dengan sanad shahih) Akan tetapi hendaknya yang perlu diperhatikan bahwa keluarnya mani (tanpa jimak) tidak membatalkan puasa dan mubasyarah itu perkara lain. memakai parfum dan celak mata yang tidak dilakukannya ketika di dalam rumah (untuk suaminya. wajib atau sunnah. 31) Syarat mereka boleh keluar menuju masjid adalah tidak berhias dan tidak memakai parfum atau wangi-wangian. Kita tidak menganjurkan orang yang . [4] Bahjatun Nadhirin. keluar rumah dengan berhias. membuka aurat dan wajah. [3] Maksudnya puasa dan berbuka bersama kebanyakan kaum muslimin. lihat Umdatul Ahkam. Sedangkan niat ta'yin adalah meniatkan dengan detail puasa apa yang ia akan lakukan esok harinya. -----------------------------------------------------[1] Yakni kembali pada makna safar secara umum. hal. tidak membatalkan puasa. pent). Kaum muslimah sekarang banyak melakukan perbuatan melanggar syariat Allah. [5] Mubasyarah bermakna dua yaitu mempergauli isteri dengan jimak dan mempergauli isteri tanpa jimak dengan menutupkan kain di atas farjinya yang meskipun suami mengeluarkan mani.

php?id_artikel=758 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Sep 11. '08 10:54 PM untuk semuanya Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Penulis: Al Ustadz Azhari Asri Fiqh. Biasanya orang yang mendekati daerah terlarang akan memasukinya. Di antara hadits-hadits yang mereka bawakan ada yang . Wallahu a'lam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‫ل‬ . 08:02:33 Sering kali kita mendengar para khatib di atas mimbar membawakan hadits-hadits tentang Ramadlan dan keutamaannya. dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya. Barangsiapa berada di sekitar daerah penjagaan.salafy. Sumber artikel : http://www. (Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXIII/Ramadlan/1418 H/1998 M.or. Hal ini dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam larangan (yakni berjimak –pent). Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. (Tamamul Minnah. penulis Ustadz Ahmad Hamdani. judul asli Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan). Syaikh Al-Albani hal.id/print.berpuasa Ramadlan ketika syahwat jimak sedang memuncak untuk mubasyarah dengan istrinya. 13 Oktober 2004. 420).

hadits dlaif hanya mendatangkan sangkaan yang salah (dhanul marjuh). Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari. Muslim dan Ibnu Hazm. yang aku pahami dari ucapan mereka tentang fadlail a'mal . Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak. Sungguh sangat jauh! Kedua. baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaankeutamaan. padahal sama sekali bukan! Oleh karena itu penulis mencoba mengangkat permasalahan ini sebagai nasehat kepada seluruh kaum muslimin.shahih dan ada yang dlaif. Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal. Bagaimana tidak. hendaknya dia mendatangkan bukti. Mereka menyangka bahwa perkara ini tidak diperselisihkan. baik para khatibnya maupun pendengarnya. bahkan maudlu' (palsu). Barangsiapa mengecualikan boleh beramal dengan hadits dlaif dalam fadlailul a'mal. Tidak boleh beramal dengannya berdasarkan kesepakatan. pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam 'Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma'in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam berbagai kitab beliau bahwa hal itu telah disepakati. Aku (Syaikh Al-Albani) katakan bahwa inilah yang benar menurutku. Tidak Boleh Beramal dengan Hadits Lemah dalam Hal Fadlailul A'mal (Keutamaan Amal) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidhahullah berkata: "Di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu telah masyhur bahwa hadits dlaif boleh diamalkan dalam fadlailul a'mal. Namun sangat disayangkan ketika membawakan hadits-hadits lemah. tidak ada keraguan padanya karena beberapa perkara: Pertama. Tetapi pernyataan beliau itu terbantah karena perselisihan dalam masalah ini ma'ruf. mereka tidak menerangkan tentang kelemahannya kepada hadirin yang awam tentang permasalahan hadits sehingga orang-orang yang mendengarnya menyangka bahwa hadits-hadits itu adalah ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

makruh. Akan tetapi kebanyakan orang yang berpendapat seperti itu tidak memaksudkan makna itu. mubah. Yaitu pada amal yang shahih berdasarkan Kitab dan Sunnah. Maka hadits lemah dalam keadaan semacam ini boleh diamalkan dalam fadlailul a'mal. kemudian ada hadits lemah yang menyertainya yang menyebutkan pahala khusus bagi orang yang mengamalkannya. karena hal itu bukan pensyariatan amal itu tetapi semata-mata sebagai keterangan tentang pahala khusus yang diharapkan oleh pelakunya. padahal hadits tentang masalah ini lemah (Lihat keterangan kedlaifannya dalam Al-Irwa` 241.). Seperti Syaikh Ali Al-Qari rahimahullah dalam Al-Mirqah 2/381 mengatakan bahwa hadits lemah diamalkan dalam perkara fadlail walaupun tidak didukung secara ijma' sebagaimana keterangan Imam Nawawi.] yang harus ditetapkan berdasarkan dalil. Amal ini tidak ditetapkan pensyariatannya kecuali pada hadits lemah tersebut. Meskipun demikian mereka menganggap hal itu sunnah. qad qamatis shalah) dengan ucapan aqamahallah wa adamaha (semoga Allah menegakkannya dan melazimkannya). Akan tetapi di sini tidak mungkin untuk mencantumkan berbagai contoh. .yaitu amal-amal yang telah disyariatkan berdasarkan hadits shahih. Seperti Imam Nawawi dan yang mengikutinya menganggap sunnah menjawab ucapan orang yang mengumandangkan iqamah ketika mengucapkan dua kalimat (qad qamatis shalah. Oleh karena itu ucapan sebagian ulama dimaksudkan seperti ini. bukan dari segi adanya dalil yang menetapkan pahala yang khusus pada amal itu. (Yakni dari segi adanya dalil tentang asal amal itu. (Ilmu Ushulil Bida' hal. sunnah. Dengan dasar inilah maka beramal dengan hadits lemah diperbolehkan jika telah ada hadits shahih yang menunjukkan disyariatkannya amal itu. Cukuplah salah satu contoh yang telah aku sebutkan. Padahal perkara sunnah adalah salah satu hukum di antara kelima hukum[Yakni wajib. Ilmu Ushul Bida' 157. Buktinya kita menyaksikan mereka beramal dengan hadits-hadits dlaif yang tidak terkandung dalam hadits-hadits shahih. 15)). dan haram. Betapa banyak perkara-perkara yang mereka anggap disyariatkan dan disunnahkan bagi manusia hanya didasari dengan hadits-hadits dlaif yang tidak ada asal pensyariatannya dalam hadits shahih.

Hadits itu tidak maudlu'. Atau sebagian orang-orang jahil menyangka bahwa hadits itu adalah shahih. Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta. Orang yang mengamalkannya mengetahui bahwa hadits itu dlaif. Tetapi sangat disayangkan kita menyaksikan kebanyakan ulama lebih-lebih orang awam meremehkan syarat-syarat ini. 3. . Kalaupun mereka mengetahui kelemahannya mereka tidak mengetahui apakah kelemahannya ringan atau sangat parah sehingga tidak boleh diamalkan. 3-4 bahwa para ahli ilmu telah bermudah-mudah dalam membawakan hadits-hadits tentang fadlail walaupun memiliki kelemahan selama tidak maudlu' (palsu). Hendaknya setiap orang khawatir jika termasuk dalam ancaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka mengamalkan suatu hadits tanpa mengetahui kelemahannya. sebab semuanya adalah syariat. Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad bin Abdus Salam dan lain-lain. 2. Inilah tiga syarat penting diperbolehkan beramal dengan hadits lemah: 1. Tidak memasyhurkan beramal dengannya. maka dia termasuk pendusta. Kemudian mereka memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits-hadits shahih! Oleh . Seharusnya hal itu diberi syarat yaitu orang yang beramal dengannya meyakini bahwa hadits itu lemah dan tidak memasyhurkannya sehingga orang tidak beramal dengan hadits lemah dan mensyariatkan apa yang tidak disyariatkan. Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Tabyinul 'Ujab hal.Yang terpenting di sini adalah hendaklah orang-orang yang menyelisihi hal ini mengetahui bahwa beramal dengan hadits lemah dalam perkara fadlail tidak mutlak menurut orangorang yang berpendapat dengannya. Maka bagaimana orang yang mengamalkannya?! Tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam perkara fadlail.

shahih atau tidak shahih. Inilah yang hak. Hal ini ditegaskan oleh sebagian ulama.yang tampak bahwa hadits itu dusta. Al-Hafidh Ibnu Hajar cenderung kepada tidak boleh beramal dengan hadits lemah berdasarkan ucapan beliau yang telah lewat bahwa tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam fadlail sebab semuanya adalah syariat. bahkan pada umumnya dusta dan palsu. karena hadits dlaif yang tidak ada penguatnya kemungkinan adalah dusta. Menurutku (Syaikh Al-Albani)." Yaitu dia menampakkan seperti itu. Sebab kita katakan bahwa Al-Hafidh menyebutkan . Apa yang kami sebutkan tidak menafikan bahwa Al-Hafidh menyebutkan syarat-syarat itu untuk mengamalkan hadits dlaif. bukan maudlu'.karena itu banyak ibadah-ibadah di kalangan kaum muslimin yang tidak shahih dan memalingkan mereka dari ibadah-ibadah yang shahih yang diriwayatkan dengan sanadsanad yang shahih. Orang yang membawakan hadits dlaif termasuk dalam ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: ". Adapun jika ucapan beliau dimaksudkan kepada larangan memakai hadits maudlu' dan tidak ada perbedaan antara perkara hukum dan fadlail adalah sangat jauh dari konteks ucapan Al-Hafidh. Sebagaimana hal itu tidak tersembunyi. Kemudian syarat-syarat tersebut menguatkan pendapat kami bahwa sebagian besar ulama tidak menginginkan makna yang kami anggap kuat tadi.. Oleh karena itu Al-Hafidh menambahkan dengan ucapannya: 'Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya?!' Hal ini dikuatkan dengan perkataan Imam Ibnu Hibban bahwa setiap orang yang ragu terhadap apa yang dia riwayatkan.. maka dia termasuk dalam hadits (yang berisi ancaman tersebut). Sebab satu pun di antara syaratsyarat itu tidak diterapkan sebagaimana yang tampak. Sebab ucapan beliau adalah dalam pembahasan hadits dlaif. Dan kita katakan seperti perkataan Al-Hafidh: 'Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya?' Inilah penjelas dari maksud ucapan Al-Hafidh tersebut.

Wallahul muwaffiq." Sampai di sini keterangan Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah hal. 34-38. Maka pada pembahasan terakhir ini kita akan menukil beberapa hadits lemah yang diucapkan para khatib dan diamalkan di bulan Ramadlan dari kitab Shifat Shaum Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam fi Ramadlan karya Syaikh Salim Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal.. Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Setelah kita mengetahui bahwa pendapat yang kuat dalam masalah hadits dlaif adalah tidak boleh dipakai sekalipun dalam fadlailul a'mal dan seandainya diperbolehkan harus dipenuhi syarat-syarat tersebut. Bahkan di akhir ucapan beliau menegaskan sebaliknya seperti yang telah kita terangkan. 109-113. (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 1886. Abu Ya'la dalam Musnadnya sebagaimana di dalam Al-Mathalib Al-'Aliyah (qaf 46/alif-ba/naskah . ل‬ ‫ل‬ Seandainya hamba-hamba itu mengetahui apa yang ada di bulan Ramadlan niscaya umatku berangan-angan agar Ramadlan setahun penuh. pent) dengan syarat-syarat itu. Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudlu'at 2/188-189.. ، ‫.' Al-Hafidh tidaklah menyatakan dengan tegas bahwa dia menyetujui mereka dalam pembolehan (beramal dengan hadits-hadits lemah. Kesimpulannya bahwa beramal dengan hadits lemah dalam perkara fadlailul a'mal tidak diperbolehkan sebab menyelisihi hukum asal dan tidak ada dalilnya. Beliau berdua menyebutkan beberapa hadits beserta penilaiannya. Orang yang membolehkannya harus memperhatikan syarat-syarat tersebut dan konsisten dengan syaratsyarat iltu ketika mengamalkan hadits lemah. Seakan-akan beliau berkata kepada mereka: 'Jika kalian berpendapat demikian maka seharusnya kalian menerapkan syarat-syarat ini.perkataan itu kepada orang-orang yang membolehkan memakai hadits lemah dalam perkara fadlail selama tidak maudlu'. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadlan dari ujung tahun ke tahun berikutnya.

" Demikian dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323). Ramadlan adalah bulan awalnya adalah rahmat. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Lisanul Mizan (2/101) dan berkata: "Dia terkenal dengan kelemahannya. ، . maka dia seperti menunaikan suatu kewajiban pada bulan lain.. dia adalah dlaif. Al-Ashbahani dalam At-Targhib (qaf/178. bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan." Ibnu Khuzaimah berkata: "Aku tidak berhujah dengannya karena hapalannya jelek. Al-Muhamili dalam Amalinya no. Sanad hadits ini lemah. 1887. 293. ba'/naskah manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid bin Jad'an dari Sa'id bin Al-Musayyib dari Salman. dengan ucapan: "Jika hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajiban dan shalat malam sebagai sunnah. karena kelemahan Ali bin Zaid. ، .manuskrip) dari jalan Jarir bin Ayub Al-Bajali dari Sya'bi dari Nafi' bin Bardah dari Abu Mas'ud Al-Ghifari). Ibnu Sa'ad berkata: "Dia (Ali bin Zaid) lemah.." Ibnu Ma'in berkata: "Dia dlaif." Kemudian Ibnu Hajar menukil ucapan Abu Nu'aim tentang dia: "Dia pemalsu hadits. Hadits ini maudlu'. tidak dapat dijadikan hujah." Ahmad bin Hanbal berkata: "Dia tidak kuat. Barangsiapa bertaqarub di dalamnya dengan satu kebaikan." Ibnu Abi Haitsamah berkata: "Dia dlaif dalam segala hal. cacatnya pada Jarir bin Ayyub.." Ibnu Hajar berkata dalam Al-Athraf: "Tidak diperselisihkan tentang Ali bin Zaid bin Jad'an. pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah kemerdekaan dari api neraka. Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits tersebut.." sedang dari Bukhari: "Dia meriwayatkan hadits mungkar" dan dari Nasai: "Dia matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya)!! Ibnul Jauzi menghukumi dia sering memalsukan hadits.. Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya (Abu Hatim) di dalam I'lalul Hadits 1/249): "Hadits ini mungkar... kalian telah dinaungi bulan yang agung.." . Wahai manusia.

Biografinya terdapat dalam Tarikh Dimasyk 15/qaf 386 – naskah manuskrip). Disebutkan sanad-sanadnya oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 1987. Barangsiapa membatalkan (puasanya) satu hari dari bulan Ramadlan tanpa udzur dan sakit. Nahsyal adalah matruk.Puasalah kalian. . Hadits ini disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya (4/160 – Fathul Bari) secara mu'alaq tanpa sanad. maka tidak dapat diqadla` walaupun dia puasa sepanjang tahun. Di antaranya adalah hadits ini." Abu Hatim berkata: "Hapalan Zuhair jelek. Demikian pula Ibnu Bukhait dalam Juz'unya sebagaimana dalam Syarhul Ihya' 7/401 dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abu Dawud dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abu Shalih dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu." Al Ajali berkata: "Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh penduduk Syam darinya tidak menakjubkan aku. niscaya kalian sehat. . dia berdusta dan Ad-Dlahhak tidak mendengar langsung dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma." Demikian dalam Tahdzibul Kamal 9/417. Ini adalah potongan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam Al-Kamil 7/2521 dari jalan Nahsyal bin Said dari Ad-Dlahhak dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma. Sanad hadits ini lemah.adalah munkar. Riwayatnya dari Zuhair –sebagaimana ditegaskan oleh para imam. Abu Bakar Al-Atsram berkata: "Aku mendengar Ahmad berkata: "Mereka (orang-orang Syam) meriwayatkan beberapa hadits munkar dari Zuhair. Haditsnya ketika di Syam lebih munkar daripada haditsnya di Irak karena hapalannya jelek. Diriwayatkan pula oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath (1/qaf – 69/alif – Majma'ul Bahrain). Aku (Syaikh Ali) katakan bahwa Muhammad bin Sulaiman adalah penduduk Syam.

yaitu: idltirab (sanadnya goncang).Tirmidzi 723. Demikian empat hadits yang didlaifkan oleh para ulama.com/baca. Memang sebagian hadits tersebut mengandung makna yang shahih yang terdapat dalam syariat kita yang lurus ini. Abul Muthawwis mendengar dari ayahnya dari Abu Hurairah diragukan. Ibnu Khuzaimah setelah meriwayatkan hadits ini berkata dengan ucapan: "Aku tidak mengetahui siapa Ibnul Muthawis dan ayahnya.php?id=30) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.php?id_artikel=753 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Fatwa Syaikh tentang Hukum I'tikaf Sep 11.or. Nasai dalam Al-Kubra. http://salafy. namun tidak boleh kita sandarkan hadits yang tidak shahih itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga hadits ini memiliki tiga 'ilat (cacat). sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 10/373.iwebland. Al-Baihaqi 4/228. Sumber artikel : http://www. Meskipun demikian masih sering terdengar dan terbaca pada setiap bula Ramadlan yang diberkahi ini khususnya.salafy. (Dinukil dari Majalah Salafy edisi XXIII/Ramadlan/1418 H/1998 M rubrik Mabhats. Wallahu a'lam.id/print. penulis ustadz Azhari Asri (murid syaikh Yahya al Hajuri dan syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah). Abu Dawud 2397. Ibnu Majah 1672. Ibnu Hajar dalam Ta'liqut Ta'liq 3/170 dari jalan Abul Muthawwis dari ayahnya dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu. keadaan Abul Muthawis majhul (tidak dikenal). Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 4/161: "Hadits ini banyak diperselisihkan pada Habib bin Abi Tsabit. '08 10:52 PM untuk semuanya ." Sehingga hadits ini juga dlaif.

jika itu memungkinkan. Disunnahkan beri`tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan untuk mengikuti Rasululllah Shalallahu 'alaihi wassalam. kecuali jika dia bernadzar.Juga tidak disyaratkan berpuasa walaupun dengan berpuasa lebih utama. Apabila waktu i`tikafnya diselingi oleh hari Jumat. Diperbolehkan baginya boleh memotong waktu tersebut jika ada keperluan lain. Tidak ada waktu-waktu tertentu bagi i`tikaf dalam pendapat Ulama yg terkuat . Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf agar memasuki tempat beri`tikaf saat dia berniat i`tikaf dan keluar dari padanya setelah lewat masa yang dia inginkannya. Para istri-istri beliau juga beri`tikaf bersama beliau Shalallahu 'alaihi wassalam. 05:11:25 Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang hukum I'tikaf Pertanyaan: Apakah hukum I`tikaf bagi laki-laki dan wanita? Apakah berpuasa merupakan syarat untuk syahnya I`tikaf? Kemudian amalan apa saja kah yang baik dilakukan oleh orang yang beri`tikaf? Kapan waktu memasuki tempat i`tikaf dan kapan keluar dari sana ? Jawaban: I`tikaf hukumnya Sunnah bagi laki-laki dan wanita sebagaimana telah datang dari Rasululullah Shalallahu 'alaihi wassalam. bahwasanya beliau dulu beri`tikaf di bulan Ramadhan. karena i`tikaf adalah sunnah dan tidak menjadi wajib jika dia telah memulainya. Kemudian pada akhirnya.Fatwa Syaikh tentang Hukum I'tikaf Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdullah Aziz Bin Baz Fiqh. i`tikaf beliau tetapkan pada sepuluh hari terakhir. Tempat beri`tikaf adalah mesjid-mesjid yang didirikan shalat berjamaah padanya. Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf saat itu . maka yang lebih utama adalah beri`tikaf di mesjid yang mengadakan shalat Jumat. dan juga setelah beliau wafat. 16 November 2003.

membaca qur`an. ----------------------------------------------------------------------- Referensi: Dinukil dari Tuhfatul ikhwan bi ajwibatin muhimmatin tata`allaqu bi arkanil islam. kecuali jika i`tikaf nadzar sebagaimana telah dijelaskan. Pada suatu saat Shofiyah mengunjungi beliau saat I`tikaf di bulan Ramadhan.salafy.untuk memasuki tempat i`tikafnya setelah shalat Fajar hari ke-21 dan keluar dari sana apabila telah selesai sepuluh hari. Yang lebih diutamakan adalah menyediakan tempat khusus di dalam mesjid untuk beristirahat jika memungkinkan. Tidak dilarang bagi teman-teman seseorang yang beri`tikaf untuk mengunjunginya dan berbicara dengan mereka sebagaimana Rasululullah Shalallahu 'alaihi wassalam dahulu dikunjungi oleh beberapa istrinya dan berbicara dengan mereka. Jika dia memotongnya maka tidak mengapa. Penerjemah Abu Abdillah Alee Masaid As salafee Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. '08 10:51 PM Ahlusunnah untuk semuanya Hukum-hukum sekitar I'tikaf dalam pandangan Ulama' Ahlusunnah .istighfar.php?id_artikel=341 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Hukum-hukum sekitar I'tikaf dalam pandangan Ulama' Sep 11. Hal ini menunjukan kesempurnaan sifat tawadhu` dan baiknya beliau terhadap istri-istri beliau. Dianjurkan bagi yang beri`tikaf agar memperbanyak dzikir.or.id/print. semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas beliau. berdoa dan mengerjakan shalat-shalat Sunnah selain pada waktuwaktu yang dilarang. Sumber artikel : http://www.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Mushannaf. Al-Baqarah :187) Disertai hadist-hadist shahih tentang I‟tikaf Nabi shalallahu „alaihi wasallam. dalam masalah keutamaannya “Barangsiapa beri‟tikaf suatu hari…” kemudian aku hilangkan. dalilnya adlah firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala : “Sedang kalian dalam kedaan I‟tikaf di masjid”. *(Dulu disini pada cetakan yang lalu ada hadist. Telah saya takhrij dan saya komentari dengan rinci dalam kitab ”Silsilah Dhoifah” 5347. (Riwayat Bukhari dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih keduanya telah ditakhrij dalam sumber yang lalu no: 2126-2130). Demikian pula atsar-atsar yang mutawatir dari ulama Salaf dalam masalah itu. Saya singkap penyakitnya yang sempat tersamarkan kepada saya dan juga kepada Al Haistany sebelum saya). . Dan lebih ditekankan di bulan Ramadhan berdasarkan hadist Abi Hurairah radhiyallahu „anhu. Muslim dan Ibnu Khuzaimah dan tambahan itu pada Bukhari dalam ssebuah riwayat. karena di kemudian hari jelas bagi saya lemahnya. karya Ibnu Abi syaibah dan Abdurrazzaq. (QS. Telah terdapat riwayat bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wa sallam i‟tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Syawal *(Potongan dari hadist Aisyah radhiyallahu „anha. Dan pada tahun dimana beliau wafat Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam I‟tikaf selama 20 hari.*(riwayat Bukhari. dan ahwa Umar radhiyallahu „anhu berkata kepada Nabi shalallahu „alaihi wasallam “Dahulu aku bernadzar di zaman jahiliyah untuk I‟tikaf semalam di Masjidil Haram”? Nabi shalallahu „alaihi wasallam bersabda : “Penuhilah nadzarmu”. dalam kitab shahih merekatelah ditahkrij dalam shahih Abu Dawud). seperti terdapat dalam “Mukhtasar Shahih Bukhari” (995) dan telah ditakhrij dalam “Shahih Abu Dawud” juga no: 2136-2137). 20 Oktober 2004. (maka Umar I‟tikaf semalam). 04:42:53 Hukumnya I‟tikaf adalah sunnah di bulan ramadhan dan yang lainnya sepanjang tahun. bahwa Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ber i‟tikaf di setiap Ramadhan 10 hari. riwayat Bukhari Muslim dan Ibu Khuzaimah .Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani Fiqh.

” yakni “Jangan berjima‟ dengan mereka “ ibnu Abbas mengatakan : kata ( ‫ل‬ ‫ش‬ ‫لل‬ ‫ل‬ ) semuanya berarti jima‟.Yang paling utama adalah pada akhir bulan Ramadhan. akan tetapi Allah mengkinayahkan apa yang Ia kehendaki dengan apa yang Allah kehendaki. dan tidak I‟tikaf melainkan pada masjid jami‟ (yang digunakan untuk shalat jamaah). dan Abu Dawud dengan sanad yang Hasan. (“…dan tidak ada I‟tikaf kecuali di masjid jami'”. (Riwayat Bukhari dan Ibnu Khuzaimah 2223 telah ditakhrij dalam Al-Irwa (996) dan “Shahih Abi Dawud” no :2125).] Berkata Aisyah radhiyallahu „anha : “Disunnahkan.. agar tidak keluar kecuali untuk kebutuhan yang mesti dia lakukan.. riwayat yang selanjutnya dari Aisyah radhiyallahu „anha. karena Nabi shalallahu „alaihi wasallam I‟tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. (Riwayat Baihaqi dengan sanad yang shahih. tidak pula jima‟ dengan mereka. Riwayat Baihaqi (4/321) dengan sanad yang perawinya terpercaya.) 2. [“dan jangan kalian melakukan jima. Syarat-syaratnya : 1. Disunnahkan pula bagi yang I‟tikaf untuk berpuasa. tidak boleh menyentuh wanita. Tidak boleh menjenguk orang sakit. karena jima‟ itu membatalkan I‟tikaf secara ijma‟. Tidak disyariatkan kecuali di dalam masjid-masjid berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala : “Dan janganlah kalian melakukan jima‟[1]dengan mereka sedang kalian beri‟tikaf di masjid-masjid”). maka diketahui dengan penyebutan masjid bahwa dimaksudkan I‟tikaf itu tidak boleh kecuali di masjid).). (Riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya perkara yang paling Allah benci adalah bid‟ah dan sesungguhnya termasuk bid‟ah adalah I‟tikaf di masjid- . Berkata al Hafidz Ibnu Hajar :“ Sisi pendalilan dari ayat itu bahwa kalau seandainya I‟tikaf itu sah selain dimasjid tidaklah akan dikhususkan pengharaman jima‟ itu hanya padanya. (Al Baqarah 187. Imam bukhari berdalil dengan ayat ini atas apa yang kami sebutkan. karena keluar untuk itu adalah wajib. Dan hendaklah pada masjid jami‟ agar tidak terpaksa keluar masjid untuk melaksanakan shalat jum‟at. bagi seorang I‟tikaf. dan telah di takhrij dalam Shahih Abu Dawud (2135) dan Irwa‟ul Ghalil no 996. Berdasarkan ucapan 'Aisyah Radhiyallahu „anha yang lalu dalam sebuah riwayat.

ketika itu beliau dalam keadaan I‟tikaf.[2] Yang dibolehkan untuk orang yang berI‟tikaf sbb : a. Telah ditakhrij dalam “Shahih Abu Dawud” (2131-2132) ). Kemudian saya dapati pada hadist yang shahih dan jelas yang mengkhususkan keumuman makna (masjid-masjid) yang tersebut dalam ayat. dan telah ditakhrij dalam “Silsilah shahihah” no :2787 bersama dengan riwayat-riwayat yang lain. Berkata Aisyah radhiyallahu „anha : “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dahulu megeluarkan kepalanya kepadaku sedang dia (dalam keadaan beri‟tikaf) di masjid dan saya di kamar saya. Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad dan tambahan lafadz itu dari keduanya. Muslim. Dan tidak tersembunyi lagi. Disunnahkan untuk yang melakukan I‟tikaf agar berpuasa sebagaimana yang lalu dari penjelasan Aisyah radhiyallahu „anha. Akan tetapi „Atha‟ tidak menyebutkan Masjidil Aqsa. yaitu hanya pada tiga masjid : Masjidil Haram. adalah sahabat Hudzaifah bin Al Yaman dan Sa'id bin Al Musayyib juga 'Atha‟ rahimahullah. b. Yang lain mengatakan masjid jami‟ secara mutlak. dan mengatakan : ”Walaupun dalam masjid (atau mushala –pent) rumahnya”. kemudian saya sisir rambutnya. (Diriwayatkan oleh Thahawi. isma‟ily dan Baihaqi dengan sanad yang shahih dari Hudzaifah bin Al Yaman. Dari apa yang saya sebutkan diatas dan semuanya shahih).masjid yang ada di rumah)”. juga mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dikeramasi atau disisir.” (Riwayat Bukhari. Dibolehkan keluar dari masjid untuk buang hajat. dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk hajat seorang manusia. Dan diantara ulama salaf yang berpendapat demikian sebagaimana yang telah saya dapati. bahwa mengambil pendapat yang sesuai dengan hadist. Masjid Nabawi. Dibolehkan untuk seorang yang I‟tikaf dan yang lain untuk berwudhu dalam masjid berdasarkan ucapan seseorang kepada yang melayani Nabi shalallahu „alaihi wasallam : “ . wallahu Subhanahu wa Ta‟ala a‟lam. 3. tetapi yang lain menyelisihi mereka. itulah yang semestinya. Masjidil Aqsa dengan hadist Nabi shalallahu „alaihi wasallam : “Tidak ada I‟tikaf kecuali pada 3 masjid itu”).” Dalam riwayat : “Lalu saya cuci kepalanya dan diantara aku dan dia kayu dasar pintu dan saya dalam keadaan haid.

riwayat perbuatan „Aisyah itu diriwayatkan oleh Bukhari adapun yang menerangkan perintah Nabi shallallahu „alahi wa sallam. sedang I‟tikaf Nabi shallallahu „alaihii wa sallam adalah macam yang lain (berbeda. ( Riwayat Baihaqi dengan sanad baik dan Ahmad (51364) secara ringkas dengan snad yang shahih). bahwa beliau meletakkan sepotong tikar di atas pintunya agar tidak terlihat oleh pandangan seseorang. Ini adalah satu macam. Dibolehkan pula membuat kemah kecil di bagian belakang masjid lalu ber‟tikaf didalamnya. riwayat Muslim dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih keduanya dan telah di Tahkrij dalam Shahih Abu Dawud no. karena Aisyah dulu membuat tenda untuk Nabi shalallahu „alaihi wasallam [3].39].Nabi shalallahu „alaihi wasallam berwudhu ringan di dalam masjid”. berdasarkan ucapan Shafiyah Radhiyallahu „anha : “Ketika itu Nabi shalallahu „alaihi wasallam beri‟tikaf dimasjid pada 10 hari terkhir bulan ramadhan. ada pada riwayat Muslim. red). naungan diatas pintu untuk menjaganya dari hujan. lalu aku berbicara dengan beliau beberapa saat lalu aku berdiri untuk kembali. yang dimaksud. Allahlah yang memberi taufiq. [Riwayat Bukhari dan Muslim dari hadist Aisyah radhiyallahu „anha.1251] Dibolehkannya Wanita beri‟tikaf dan menengok suaminya di masjid a. [Disebut “Khiba” salah satu bentuk rumah-rumah orang arab yang terbuat dari bulu unta atau wol. Maka beliaupun berdiri bersamaku untuk mengantarkanku. dan bukan dari rambut. dan itu atas perintah beliau shalallahu „alaihi wasallam[4]. dibuat diatas 2 tiang atau 3. Dibolehkannya seorang wanita menengok suaminya yang ada di tempat I‟tikafnya. maka beliau shalallahu „alaihi wasallam katakan : “ Jangan kau terburu-buru sehingga aku antarkan”.”Nihayah”.] dengan naungan tikar[6]]. Dan pernah beliau shalallahu „alaihi wasallam satu kali beri‟tikaf di qubah (semacam payung – pent) kecil[5] [aitu tenda kecil yang diatasnya melingkar. “Suddah” artinya semacam. lebih utama kita katakan : supaya pikiran orang yang beri‟tikaf tidak tersibukkan orang yang lewat didepannya agar mendapatkan maksud dan ruh dari I‟tikaf itu.[Ini adalah ujung hadist Abu Sa‟id Al-Khudri. maka aku datang menengoknya di malam hari dan di sisinya isteri-isterinya yang sedang bergembira. Shafiyah radhiyallahu „anha tinggal di kampung Usmah . dan hendaknya suaminya mengantarkannya sampai keluar pintu masjid.34 pada catatan kaki no. c. sebagaimana yang diucapkan Ibnu Qoyyim : “Kebalikan dari apa yang dilakukan orang-orag bodoh dimana orang-orang beri‟tika membuat semacam ruang tamu dan berbincang-bincang didalamnya. sebagaimana yang dikatakan As-Sindy. Telah lewat takhrijnya pada hal.] Jika beliau beri‟tikaf.

2138. Bahkan dibolehkan bagi wanita untuk I‟tikaf bersama suaminya. catatan kaki no. (Riwayat Bukhari telah ditakhrij dalam Shahih Abu Dawud no. Maka Nabi shalallahu „alaihi wasallam mengatakan : “Sesungguhnya setan mengalir pada seseorag seperti mengalirnya darah Dan sungguh aku khawatir kalau setan membisikkan pada hati kalian berdua kejelekan atau beliau mengucap sesuatu. Akan tetapi Darimi menyebutnya “Zaenab” 1/22 Wallahu a‟lam.2144-2134). .bin Zaid. dan kaidah fiqih mengatakan : “Menghindari keruskan itu lebih didahulukan dari pada mencari maslahat (kebaukan)”. 3. Muslim dan Abu Dawud tambahan. (Riwayat Bukhari Muslim dan selain keduanya telah di takhrij hal. sampai Allah mewafatkannya. atau sendirian. Tatkala berada di pintu masjid yang dekat dengan rumah Umi Salamah radhiyallahu „anha. riwayat yang lain adlah riwayat Said bin Manshur seperti terdapat dalam “Fathul Bari”4/281.2) Saya katakan : “Bahwa itu terdapat dalil. (Riwayat Bukhari. Berdasarkan banyak dalil dalam hal ini. Berdasarkan ucapan „Aisyah radhiyallahu „anha : “Telah I‟tikaf bersama Nabi shalallahu „alaihi wasallam seorang wanita yang isthihadhah (didalam sebuah riwayat dia adalah Umm Salamah) diantara isteri-isterinya dan dalam keadaan dia masih melihat kemerahan. kekuningan. red). telah ditakhrij dalam shahih Sunan Abu Dawud . terakhir pada hadist itu dikeluarkan oleh Abu Dawud.) „Aisyah juga mengatakan : “Dahulu Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam beri‟tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan. Jima‟ membatalkan I‟tikaf berdasarkan firman Allah : “Dan jangan kalian gauli mereka sedang kalian dalam ibadah I‟tikaf (di masjid)”.35. lewat dua orang sahabat Anshar. b. Lalu keduanya mengatakan : “Subhanallah ! Wahai Rasulullah”. serta aman dari fitnah dan tidak berkhalwat (menyendiri) dengan kaum lelaki. diizinkan waki-walinya untuk itu. bahkan kadang-kadang kami meletakkan bejana di bawahnya dalam keadaan dia tetap shalat”. Maka Nabi shalallahu „alaihi wasallam berkata : “ Pelan-pelan ! Sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah binti Huyai” (istri Rasulullah sendiri.”. Kemudian isteriisteri beliau beri‟tikaf setelahnya. Ketika mereka melihat Nabi Shalallahu „alaihi wasallam keduanya mempercepat (langkahnya). dibolehkannya juga wanita I‟tikaf dan tidak diragukan bahwa itu dengan catatan.

Sumber artikel : http://www.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah 3/920 dan Abdurrazzaq 4/363 dengan sanad yang shahih dan yang dimaksud dari kata (Ista‟nafa) dalam lafadz 2 hadist adalah mengulangi I‟tikafnya). semoga Allah Subhanahu wa Ta‟ala memberikan Shalawat dan salam-Nya kepada Nabi shalallahu „alaihi wasallam yang ummi. dengan pena penulisnya pada fajar hari ahad 26 Rajab tahun 1406 H.Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu : “Jika seorang yang I‟tikaf melakukan jima‟ bata. '08 10:51 PM untuk semuanya . I‟tikafnya. aku bersaksi bahwa tiada Illah yang hak melainkan Engkau. Bab “I‟tikaf”.or. Hal : 72 .id/print. Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su‟aidi. Dan tidak ada kafarah bagi dia karena tidak terdapat dalil dari Nabi shalallahu „alaihi wasallam dan para sahabatnya. “Maha suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu. (Dinukil dari terjemah kitab "Qiyamu Ramadhan". aku minta ampun kepada-Mu dan bertaubat Kepada-Mu. dan hendaklah dia memulainya kembali.php?id_artikel=762 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar I'tikaf seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.” Selesai mengoreksi dan membenahinya.salafy. Penerbit “Cahaya Tauhid Press”) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam ”. juga kepada keluarga dan sahabatnya.84 . juga menambahnya dengan tambahan-tambahan baru.

terlalu banyak bicara dan tidur. yang menyebabkan dia .I'tikaf seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: yaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. sehingga ia mampu mencurahkan kepada-Nya. kecintaan dan penghadapan kepadaNya sebagai ganti kesedihan (duka) hati dan betikan-betikannya. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. dan disyari‟atkannya (I‟tikaf) berdasarkan maslahah (kebaikan yang akan diperoleh) hingga seorang hamba dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sedangkan makan dan minum dengan berlebih-lebihan dan berlebih-lebihan dalam bergaul. 20 Oktober 2004. Hingga jadilah meng-ingat-Nya. bertafakur dalam mendapatkan keridhaan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah. dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati tersebut kepada Allah 'Azza wa Jalla secara menyeluruh. termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah berantakan (kusut) dan mencerai beraikan hati di setiap tempat. menghalangi dan menghentikannya. Dan disyari‟atkannya I‟tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah 'Azza wa Jalla dan kumpulnya hati kepada Allah. hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. dan jadilah keinginan semua kepada-Nya dan semua betikanbetikan hati dengan mengingat-Nya. karena kusutnya hati tidak akan sembuh kecuali dengan menghadapkan(nya) kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sehingga bermesraan dengan berkhalwat dengan Allah sebagai ganti kelembutannya terhadap makhluk. dan akan membersihkan kecenderungan syahwat pada hati yang (mana syahwat tersebut) dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah 'Azza wa Jalla. Hikmahnya Al 'Allamah Ibnul Qayyim berkata: “Manakala hadir dalam keadaan sehat dan istiqomah (konsisten) di atas rute perjalanan menuju Allah 'Azza wa Jalla tergantung pada kumpulnya (unsur pendukung) hati tersebut kepada Allah. berkhalwat dengan-Nya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk. 04:36:21 1. Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang menghendaki untuk mensyari‟atkan bagi mereka puasa yang menyebabkan hilangnya kelebihan makan dan minum pada hambaNya. dan (hal-hal tersebut) akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkannya.

dan (manakala) tidak ada lagi yang membahagiakan (dirinya) selain daripada-Nya. dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai Mu‟takif dan „Akif. beliau (pun) beri‟tikaf selama dua puluh hari.” Maka ia (Umar) pun beri‟tikaf pada malam harinya. maka inilah maksud dari I‟tikaf yang agung itu”. 168) [Riwayat Bukhari (4/266) dan Muslim (1173) dari Aisyah] 4.164) [Al Mishbahul Munir (3/424) oleh Al Fayumi. (yaitu) aku akan beri‟tikaf pada malam hari di Masjidil Haram.berbuat demikian adalah karena kelembutannya tersebut kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur mankala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya. Telah shahih bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam beri‟tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Syawwal.] 3.” Beliau bersabda: “Tunaikanlah nadzarmu. sesungguhnya aku ini pernah nadzar pada jaman jahiliyyah (dahulu). Makna I‟tikaf Yaitu berdiam(tinggal) di atas sesuatu. dan Lisanul Arab (9/252) oleh Ibnu Mandhur.163) [ Zaadul Ma‟ad (2/86-87)] 2. Disyari‟atkannya I‟tikaf Disunnahkannya pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya sepanjang tahun.165)[ Riwayat Bukhari (4/226) dan Muslim (1173)] Dan Umar pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam “Wahai Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam). Syarat-syarat I‟tikaf . 166)[ Riwayat Bukhari (4/237) dan Muslim (1656)] Yang paling utama (yaitu) pada bulan Ramadhan berdasarkan hadits Abu Hurairah Radiyallahu 'anhu (bahwasanya) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam sering beri‟tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang mana beliau diwafatkan padanya. 167)[ Riwayat Bukhari (4/245] Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam seringkali beri‟tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau.

5.171) [ Dikeluarkan oleh Abdul Razak dalam Al Mushannaf (8037) dan riwayat (8033) dengan maknanya dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas]. Dan sunnahnya bagi orang-orang yang beri‟tikaf (yaitu) hendaknya berpuasa sebagaimana dalam (riwayat) Aisyah Radiyallahu 'anha yang telah disebutkan. .”172) [hadits riwayat Bukhari (1/342) dan Muslim (297) dan lihat Mukhtasar Shahih Bukhari no.”173) [Dikeluarkan oleh Ahmad (5/364) dengan sanad yang shahih]. Lihat Zadul Masir (1/193) oleh Ibnul Jauzi]. Aisyah Radiyallahu 'anha berkata: “Dan sesungguhnya rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam pernah memasukkan kepalanya kepadaku. padahal beliau sedang I‟tikaf di masjid [“dan aku berada dalam kamarku”] kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat lain: “aku cuci rambutnya”) [“dan antara aku dan beliau (ada) utbah pintu”] {“dan waktu itu aku sedang haidh”] dan adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang I‟tikaf. Dan masjid-masjid di sini bukanlah secara mutlak (seluruh masjid. Pendapat tersebut merupakan pendapat jumhur (ulama). Diperbolehkan keluar masjid jika ada hajat. Tidak disyari‟atkan kecuali di masjid.a. pent). Al Baqarah: 187) b. boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir (rambutnya). berdasarkan firman-Nya Ta‟ala: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu169) [ Yakni “Janganlah kamu menjimaki mereka”. tapi telah dibatasi oleh hadits shahih yang mulia (yaitu) sabda beliau Shalallahu 'alaihi wassalam : “Tidak ada I‟tikaf kecuali pada tiga masjid (saja). Perkara-perkara yang boleh dilakukan: a.”170) [Hadits tersebut shahih. Orang yang sedang I‟tikaf dan yang lainnya diperbolehkan untuk berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam: “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam berwudlu di dalam masjid dengan wudlu yang ringan. dapat dilihat takhrijnya serta pembicaraan mengenai hal ini pada kitab yang berjudul Al Inshaf fi Ahkamil I‟tikaf oleh Ali Hasan Abdul Hamid] c. b. (QS.167 oleh Syaikh kami Al Albani rahimahullah dan Jami‟ul Ushul (1/3451) oleh Ibnu Atsir]. dishahihkan oleh para imam serta para ulama.

Shafiyyah Radiyallahu 'anha berkata: “Dahulu Nabi (Shalallahu 'alaihi wassalam) (tatkala beliau sedang) I‟tikaf [pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan] aku datang mengunjunginya pada malam hari [ketika itu di sisinya ada beberapa isteri beliau sedang bergembira ria] maka akupun berbincang sejenak. kemudian Nabi-pun bersabda: “Tenanglah177)[Janganlah kalian terburu-buru. 6. sebagaiman yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radiyallahu 'anhuma bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam jika I‟tikaf dihamparkan untuknya kasur atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At Taubah. Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang beri‟tikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut. dan suaminya diperbolehkan mengantar isteri sampai ke pintu masjid. karena Aisyah Radiyallahu 'anha (pernah) membuat kemah (yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang) apabila beliau beri‟tikaf174) [Sebagaimana dalam shahih Bukhari (4/226)] dan hal ini atas perintah Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam 175) [Sebagaimana dalam Shahih Muslim (1173)]. Diperbolehkan bagi seorang isteri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat I‟tikaf. d. [maka beliaupun berkata: jangan engkau tergesa-gesa sampai aku bisa mengantarmu] kemudian beliau berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku pulang. ya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam.I‟tikafnya wanita dan kunjungannya ke masjid a. Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang I‟tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri‟tikaf.176) [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (642-zawaidnya) an Al baihaqi. sebagaiman yang dikatakan oleh Al Bushiri dari dua jalan . ini adalah Shafiyyah bintu Huyay (istri Rasulullah sendiri.[sesampainya di samping pintu masjid yang terletak di samping pintu Ummu Salamah] lewatlah dua orang laki-laki-laki-laki dari kalangan Anshar dan ketika keduanya melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam. kemudian aku bangun untuk kembali. kemudian keduanya berkata: “Subhanallah (Maha Suci Allah). red)” .” Beliaupun bersabda: “Sesungguhnya syetan itu menjalar (menggoda) anak Adam pada .c. maka keduanyapun bergegas. Dan sanadnya hasan]. -tempat tinggal Shafiyyah yaitu rumah Usamah bin Zaid. ini bukanlah sesuatu yang kami benci].

Ke 5 th 1416 H. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.Malam Seribu Bulan Sep 11.salafy. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir akan bersarangnya kejelekan di hati kalianatau beliau berkata: sesuatu-“178) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/240) dan Muslim (2157) dan tambahan yang terakhir ada pada Abu daud (7/142-143 di dalam Aunul Ma‟bud)] b. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.”179)[ Telah lewat takhrijnya] berkata Syaikh kami (yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah-pent): “pada atsar tersebut ada suatu dalil yang menunjukkan atas bolehnya wanita I‟tikaf dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dibatasi (dengan catatan) adanya izin dari wali-wali mereka dan aman dari fitnah. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.php?id_artikel=761 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Malam Lailatul Qadar . kemudian isteri-isteri beliau I‟tikaf setelah itu. Bab "I'tikaf". Sumber artikel : http://www.” (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Seorang wanita boleh I‟tikaf dengan didampingi suaminya ataupun sendirian. berdasarkan dalil-dali yang banyak mengenai larangan berkhalwat dan kaidah Fiqhiyah: “ Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat. Berdasarkan ucapan Aisyah Radiyallahu 'anha: “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam I‟tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Al mewafatkan beliau.or. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.id/print. '08 10:50 PM untuk semuanya . Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.

[QS Al Qadar: 1 . Inilah wahai saudaraku muslim.Malam Lailatul Qadar . 05:19:43 Malam Lailatul Qadar Keutamaannya sangat besar. red).٣ : خ ل‬ (yang artinya) : "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Allah berfirman : ١﴾ ٤﴾ ٢﴾ ٥﴾ [ ‫]٥ .١ : قل‬ ٣﴾ (yang artinya) [1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.5] Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah : ٣﴾ ٦﴾ [ ‫]٦ . [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.Malam Seribu Bulan Penulis: yaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. 18 Oktober 2004. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah. Keutamaan Malam Lailatul Qadar Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang ٤﴾ ٥﴾ . 1. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur'an. karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. ayat-ayat Qur'aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.

”. Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar. ada dua orang sahabat berdebat.”. Pendapat yang paling kuat. karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Carilah di sepuluh hari terakhir.6] 2. 25.” (HR Bukari 4/221 dan Muslim 1165).penuh hikmah. Dari Ubadah bin Shamit Radiyallahu „anhu. terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan. ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam hari?”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388)."[QS Ad Dukhoon: 3 . [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Waktunya Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21. Telah diketahui dalam sunnah. janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir. ia berkata Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam keluar pada malam Lailatul Qadar. (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169) Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu. lihatlah). 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. 23. 27. Imam Syafi‟I berkata : “Menurut pemahamanku. carilah pada tujuh hari yang terakhir. membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini. maka barangsiapa ingin mencarinya. wallahu a‟lam. pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. berdasarkan hadits „Aisyah Radiyallahu „anha. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. Ini menafsirkan sabdanya : (yang artinya) “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi. [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan. beliau bersabda : “Aku . dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam beri‟tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda : (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (Lihat maraji‟ diatas). Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda. jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.

semoga ini lebih baik bagi kalian. jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar Sesungguhnya malam yang diberkahi ini. 27 dan 29.keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar. tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah. Maka dengan ini. tidak saling bertentangan.25 (dan dalam riwayat lain : tujuh. Kesimpulannya : Jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar. Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. maka carilah pada malam 29. bahkan bersatu tidak terpisahkan. sedang hadits kedua adalah khusus. 21. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir. Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir. maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25. Hadits yang pertama sifatnya umum. 23. (HR Bukhari 4/232). 3. tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi). Wallahu a‟lam. Ia berkata : “Adalah Rasulullah beri‟tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata : “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan”. . 27 dan 29.27. carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir. Oleh karena itu. dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar. yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah. cocoklah hadits-hadits tersebut. melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). tidak ada masalah. maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya. maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759). yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. 25. dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan. sembilan. lima).

” yang telah lalu. menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita. Beliau menjawab. dari Aisyah.” (HR Muslim 1174). 4.Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya). (dia) berkata : “Aku bertanya. Tanda-tandanya . Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi). Dari Aisyah Radiyallahu „anha. Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan. (dia berkata) : “Adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir). “Adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan). karya ibnu Rajab al Hanbali.) Saudaraku – semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir. Ibnu Majah (3850). Ya Allah. beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah. yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya. apa yang harus aku ucapkan ?”. menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. maka ampunilah aku. perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan. maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”. Telah diriwayatkan dari Sayyidah „Aisyah Radiyallahu „anha. (HR Tirmidzi (3760). halaman 55-57. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan. Juga dari „Aisyah Radiyallahu „anha. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759) Disunnahkan untuk memperbanyak do‟a pada malam tersebut. “Allahumma innaka „afuwwun tuhibbul „afwa fa‟fu „annii. Ya Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam). “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah. menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar).” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174). sanadnya shahih.

Ke 5 th 1416 H.” (HR Muslim 762).” (HR Muslim 1170. jafnah artinya bejana. matahari terbit tanpa sinar menyilaukan. Bab "Malam Lailatul Qadar".or. syiq artinya setengah. karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.Ketahuilah hamba yang taat – mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolongaNya – sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya. sanadnya hasan). penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.salafy. (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan. Dari Ubay Radiyallahu „anhu. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.php?id_artikel=757 Kata kunci: “tauziah series” . Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. seperti syiqi jafnah. Al Qadli „Iyadh berkata :”Dalam hadits ini ada isyarata bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan. ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Pagi hari malam Lailatul Qadar.”) Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu. Perkataannya “Syiqi Jafnah”. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Dari Abu Hurairah. Bazzar (1/486). ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah. ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam beliau bersabda : (yang artinya) “Siapa diantara kalian yang ingat ketika terbit bulan. cerah. tidak panas dan tidak juga dingin. seperti bejana hingga meninggi.id/print.” (HR Thyalisi (349). Sumber artikel : http://www. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Ibnu Khuzaimah (3/231).

red) seorang miskin. . bahwasanya ayat ini adalah khusus bagi orang yang sudah tua renta (baik laki-laki maupun perempuan). red) berdasarkan dua hadits Abdullah bin Umar dan Salamah bin Al Akwa Radiyallahu 'anhu.tidak ada komentar Siapa yang layak membayar fidyah secara syar'i ? Sep 11. '08 10:46 PM untuk semuanya Siapa yang layak membayar fidyah secara syar'i ? Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. 2. 17 Oktober 2004. dengan memberi makan seorang miskin”. hendaknya membayar fidyah. maka hendaknya mereka memberi makan setiap hari atas seorang miskin. bahwasanya dalam pembahasan yang lalu ayat ini mansukh (sudah dihapuskan hukumnya. (QS Al Baqarah 184). Penjelasan Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu Engkau telah mengetahui wahai saudaraku seiman. dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya) “Dan orang-orang yang tidak mampu berpuasa. sebagaimana akan datang penjelasannya dari Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu. Syaikh Ali Hasan Abdul Hami Fiqh. Bagi Siapa Fidyah itu ? Bagi ibu hamil dan menyusui jika dikhawatirkan keadaan keduanya. orang yang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. 05:32:06 Fidyah 1. Sisi pendalilannya. ibu hamil dan menyusui. (HR Bukhari 8/135). tetapi ada riwayat dari Ibnu Abbas yang menegaskan bahwa ayat ini tidak mansukh dan ini berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua dan bagi yang tidak mampu berpuasa. maka diperbolehkan berbuka dan memberi makan setiap harinya (yang ditinggalkan. jika dikhawatirkan keadaan keduanya.

lebih khusus lagi jika engkau mengetahui bahwasanya beliau menegaskan adanya mansukh. (Lihat I‟lamul Muwaqi‟in 1/35 karya Ibnu Qayyim dan Al Muwafaqat (3/118) karya Asy Syathibi). tetapi tatkala diberikan riwayat yang menegaskan adanya naskh. adapun mengkhususkan atau mengaitkan atau menunjukkan yang mutlak kepada muqayyad. . 3. Abu Daud (2318) sanadnya shahih). Yang Benar Ayat Tersebut (Al Baqarah 185) Mansukh Yang benar dan tidak diragukan lagi ayat tersebut adalah mansukh. Sebagian orang ada yang melihat zhahir riwayat yang lalu. sehingga mereka menamakan istitsna‟ (pengecualian). penafsirannya. red). karena salafush shalih Radiyallahu 'anhu menggunakan kata „naskh‟ untuk menghilangkan pemakaian dalil-dalil umum. Karena padanya mengandung penghilangan makna dan zhahir maksud lafadz tersebut. yaitu riwayat Bukhari pada kitab Tafsir dalam shahihnya yang menegaskan tidak adanya naskh (dalil yang menghapuskan.” (QS Al Baqarah 185). Naskh dalam bahasa Arab menjelaskan maksud tanpa memakai lafadz tersebut. hendaknya memberi makan seorang yang miskin dan tidak ada qadha‟. bahkan (bisa juga) dengan sebab dari luar. mutlak. tetapi dalam pengertian orang-orang terdahulu. Dalam riwayat lain (disebutkan) : “Diberi rukhsah (keringanan. zhahir dan selainnya. hingga mereka menyangka Hibrul Ummah (Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu) menyelisihi jumhur. red) bagi laki-laki dan perempuan yang sudah tua renta yang tidak mampu berpuasa. Telah sahih bagi kakek dan nenek yang sudah tua jika tidak mampu berpuasa. kemudian memberi makan setiap harinya seorang miskin. barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu (Ramadhan –ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. kemudian dimansukh oleh ayat (yang artinya) : “Karena itu. Al Baihaqi (4/230). (Ibnu Jarud (381). penjelasannya. syarat dan sifat sebagai „naskh‟. mereka menyangka adanya saling pertentangan!!!.Oleh karena itulah Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu dianggap menyelisihi jumhur shahabat atau pendapatnya saling bertentangan. ibu hamil dan menyusui yang khawatir keadaan keduanya untuk berbuka.

sehingga akan hilanglah musykilah (problema) yang disebabkan memaknakan perkataan salafus shalih dengan pengertian yang baru. hukum pertama mansukh dengan dalil al Qur‟an adapun hukum kedua dengan dalil dari Sunnah dan tidak akan dihapus sampai hari Kiamat. maka berpuasalah.” (QS Al Baqarah 185). Penguat hal ini dari sunnah adalah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Salamah bin al Akwa Radiyallahu 'anhu : “Kami pernah pada bulan Ramadhan bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Yang menguatkan akan hal ini adalah pernyataan Ibnu Abbas dalam riwayat yang menjelaskan adanya naskh : “Telah tetap bagi laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia . red) itu jika penyebutan mereka bukan sebagai dalil ataupun pembatasan ? Jika engkau telah merasa jelas dan yakin. Jika rukhshah tersebut hanya untuk laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia saja. Mungkin adanya masalah itu terjadi karena hadits Ibnu Abbas yang menegaskan adanya nash bahwa rukhshah itu untuk laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa. atau tidak biasa puasa. 4. maka apa makna rukhsah yang ditetapkan dan yang dinafikan (ditolak. hingga turun ayat (yang artinya) : “Karena itu. tetapi harus berbuka dengan memberi fidyah kepada seorang miskin. ayat diatas adalah bersifat umum bagi seluruh mukallaf yang mencakup orang yang biasa berpuasa. dan barangsiapa yang mau berbuka maka berbukalah.Sudah diketahui bahwa barangsiapa yang memperhatikan perkataan mereka (orang Arab) akan melihat banyak sekali contoh masalah tersebut. barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu (Ramadhan –ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. kemudian dihapus (dinaskh). barangsiapa yang mau berpuasa. dan tidak mansukh bagi orang yang tidak mampu berpuasa. tetapi masalah ini akan hilang jika jelas bagimu bahwa hadits tersebut hanya sebagai dalil bukan membatasi orangnya. serta berpendapat bahwa makna ayat mansukh bagi orang yang mampu berpuasa. dalil untuk memahami hal ini terdapat pada hadits itusendiri. hingga tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang lanjut usia. yang mengandung penghilangan hukum syar‟i terdahulu dengan dalil syar‟i mutakahirin yang dinisbatkan kepada mukallaf. Ayat Tersebut Bersifat Umum Yang menguatkan hal ini.

haditsnya mencocoki dua hadits yang lainnya (yaitu) hadits Ibnu Umar dan Salamah bin Al Akwa Radhiyallahu 'anhu dan juga tidak saling bertentangan. dan puasa Asyura‟. serta memberi keringanan (rukhshah) bagi orang yang sakit dan musafir dan menetapkan fidyah bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa. 5. yakni ayat ini dikhususkan. apa yang telah tsabit (tetap penyebutannya) dari Ibnu Abbas dan Mu‟adz hanyalah semata-mata pendapat. 2/288). inilah keadaan keduanya…” (HR Abu Daud dalam Sunannya (507). dengan keterangan ini jelaslah bahwa naskh dalam pemahaman shahabat berlawanan dengan pengkhususan dan pembatasan di kalangan ahli ushul mutaakhirin. menetapkan puasa selama tiga hari setiap bulannya. Al Baihaqi dalam sunannya (4/200). yakni ayat ini dikhususkan. Ahmad dalam Musnad (5/246-247) dan sanadnya shahih. serta wanita yang hamil dan menyusui juka khawatir akan keadaan keduanya. Allah menetapkan puasa bagi orang mukim dan sehat. demikianlah diisyaratkan oleh al Qurthubi dalam tafsirnya. Hadits Ibnu Abbas dan Muadz hanya ijtihad ? Mungkin engkau menyangka wahai saudara muslim.” Dan yang menambah jelas lagi hadits Mu‟adz bin Jabal Radiyallahu 'anhu : “Adapun keadaan-keadaan puasa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam saat datang ke Madinah.dan tidak mampu berpuasa. ijtihad dan pengkabaran. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat : (yang artinya) “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan padanya Al Qur‟an…” (QS Al Baqarah 185). Dua hadits ini menjelaskan bahwa ayat ini mansukh bagi orang yang mampu berpuasa dan tidak mansukh bagi orang yang tidak mampu berpuasa. sampai kemudian Allah mewajibkan puasa (Ramadhan) turunlah ayat : “Hai orang-orang yang beriman. Oleh karena itu Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhu mencocoki sahabat. diwajibkan atas kalian berpuasa…” (QS Al Baqarah 183). sehingga tidak bisa naik ke tingkatan hadits marfu‟ yang bisa mengkhususkan . untuk berbuka dan memberi makan orang miskin setiap harinya. (Al Jami‟ li Ahkamil Qur‟an. Perkataannya tidak mansukh ditafsirkan oleh perkataannya : “itu mansukh”.

Dari Malik dari Nafi‟ bahwasanya Ibnu Umar ditanya tentang seorang wanita yang hamil jika mengkhawatrkan anaknya. Ibnu Abbas menetapkan hukum ini bagi wanita yang menyusui dan hamil. Seorang yang beriman mencintai Allah dan RasulNya tidak boleh menyelisihi dua hadits ini jika ia anggap shahih. b. Ibnu Umar pun menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin. red). yakni dua sahabat ini menyaksikan wahyu dan turunnya al Qur‟an. beliau berkata : “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin. bahwa turunnya begini. „Ulumul Hadits (24) karya Ibnu Shalah). Tidak ada sahabat yang menentang Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu. (Lihat Tadribur Rawi (1/192-193) karya Imam Suyuthi. beliau menjawab : “Berbukalah. sanadnya jayyid”.” (Al Baihaqi dalam as Sunan (4/230) dari jalan Imam Syafi‟I. c.” Dari jalan lain beliau meriwayatkan : Seorang wanita yang hamil bertanya kepada Ibnu Umar. karena dua hadits ini ada dalam tafsir ketika menjelaskan asbabun nuzul. sanadnya shahih). maka jawabannya adalah sebagai berikut : a. maka ini adalah hadits yang musnad. beliau (Ibnu Umar) berkata : “Seorang wanita hamil dan menyusui boleh berbuka dan tidak mengqadha‟. Dan dia kehausan ketika puasa Ramadhan.perkara yang sifatnya umum dalam al Qur‟an. Dua hadist ini memiliki hukum marfu‟ menurut kesepakatan ahlul ilmi tentang hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Wanita Hamil dan Menyusui Gugur Puasanya . mengabarkan ayat Al Qur‟an. Dari jalan yang ketiga : Anak perempuan Ibnu Umar adalah istri seorang Quraisy. dan hamil. terlebih lagi beliau tidak sendirian tapi disepakati oleh Abdullah bin Umar yang meriwayatkan bahwa hadits ini mansukh (sudah dibatalkan. 6. (Sebagaimana dinashkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (3/21)). dan berilah makan orang miskin setiap harinya dan tidak perlu mengqadha‟. membatasi yang mutlak dan menafsirkan yang global. Daruquthni meriwayatkan (1/207) dari Ibnu Umar dan beliau menshahihkannya. darimana beliau mengambil hukum ini? Tidak diragukan lagi beliau mengambil dari Sunnah.

php?id_artikel=756 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Kafarat / Denda dalam Puasa Ramadhan Sep 11. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. yang terdapat dalam hadits Anas yang lalu.salafy. perkataan ini tertolak karena al Qur‟an menjelaskan makna gugurnya puasa dari musafir : (yang artinya) “Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka).” 7.or. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Maka jelaslah bagi kalian. Bab "Fidyah". Ke 5 th 1416 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. dia bayar fidyah tidak mengqadha‟.Keterangan ini menjelaskan makna : “Allah menggugurkan kewajiban puasa dari wanita hamil dan menyusui”. bahwa ayat ini adalah khusus untuk mereka. Musafir Gugur Puasanya dan Wajib mengqadha‟ Barangsiapa menyangka gugurnya puasa wanita hamil dan menyusui sama dengan musafir sehingga mengharuskan qadha‟. '08 10:45 PM .id/print. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. yakni dibatasi “kalau mengkhawatirkan diri dan anaknya”.” (QS Al Baqarah 184).” (QS Al Baqarah 184). Dan Allah menjelaskan makna gugurnya puasa bagi yang tidak mampu menjalankannya dalam firmanNya : (yang artinya) “Dan wajib orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) : memberi makan seorang miskin. Sumber artikel : http://www. bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk orang yang tercakup dalam ayat itu. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

08 November 2003. Kafarat bagi laki-laki yang menjima'i isterinya Telah lewat hadits Abu Hurairah. tetapi yang meriwayatkan dengan tertib (sesuai urutannya. namun tidak mampu mebebaskan seorang budak ataupun puasa (dua bulan berturut-turut) dan juga tidak mampu memberi makan (enam puluh orang miskin).untuk semuanya Kafarat / Denda dalam Puasa Ramadhan Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly Fiqh. maka gugurlah kewajibannya membayar kafarat. -ed) perawinya lebih banyak. dan orang yang berilmu menjadi hujjah atas yang tidak berilmu. mereka sepakat menyatakan tentang batalnya puasanya karena jima'. bahwa dia harus mengqadha' puasanya dan membayar kafarat yaitu : membebaskan seorang budak. yang menganggap lebih rajih yang tertib disebabkan karena tertib itu lebih hati-hati. tentang laki-laki yang menjima'i isterinya di siang hari bulan Ramadhan. 04:08:20 1. baik bagi yang menyatakan boleh memilih atau tidak. Allah berfirman (yang artinya) : “ Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kemampuan" [Al-Baqarah : 286] . Gugurnya kafarat Barang siapa yang telah wajib membayar kafarat. kalau tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut. kalau tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin. -ed). Tidak pernah terjadi hal seperti ini dalam riwayat-riwayat lain. maka riwayatnya lebih rajih karena perawinya lebih banyak jumlahnya dan padanya terdapat tambahan ilmu. 2. Ada yang mengatakan : kafarat jima' itu boleh dipilih secara tidak tertib (yaitu tidak urut seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah. karena tidak ada beban syari'at kecuali kalau ada kemampuan. karena itu berpegang dengan tertib sudah cukup. berbeda dengan sebaliknya.

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Kafarat hanya bagi laki-laki Seorang wanita tidak terkena kewajiban membayar kafarat. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.id/print. Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.Dan dengan dalil Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menggugurkan kafarat dari orang tersebut. Sumber artikel : http://www. Ke 5 th 1416 H. beliau hanya mewajibkan satu kafarat saja.php?id_artikel=322 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Petunjuk tentang Qunut Witir Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11.or. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR). Wallahu 'alam Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. ketika mengabarkan kesulitannya dan memberinya satu wadah korma untuk memberikan keluarganya. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.salafy. '08 10:45 PM untuk semuanya Petunjuk tentang Qunut Witir Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Abul 'Abbaas Musa ibn John Richardson . 3. karena ketika dikhabarkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam perbuatan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.

dan mengambil kesimpulan. memilah sesuai dengan riwayat yang sahih. yang didasarkan semata-mata pada masalah yang berkenaan dengan doa qunut dalam sholat Witir. Beliau juga mengumpulkan dari madzhab fiqih terkenal yang telah yang menjelaskan tentangnya. menggunakan manhaj para Ulama meneliti. agar supaya membedakan antara (riwayat) orang-orang yang tak dapat diterima dan yang bisa diterima.Fiqh.berargumentasi. Penyusun kemudian kembali dan meneliti masalah tersebut satu-persatu. dalam rangka memusatkan pada prinsip dasar dalam pelajaran tersebut yang layak diambil. Kemudian beliau mengumpulkan yang termasuk dalam kategori sahih. Sebagian dari kesimpulan dalam studi (beliau) sebagai berikut: . termasuk madzhab Dhahiriyyah. Saudi Arabia) Pelajaran terbagi menjadi dua bagian utama : Bagian Pertama: Riwayat-riwayat yang diperbincangkan kesahihannya Bagian Kedua : Masalah yang berhubungan dengan do'a qunut yang dilakukan dalam sholat Witir Penyusun mengumpulkan seluruh riwayat yang shahih dari Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam) dan pernyataan para sahabatnya yang berhubungan dengan qunut dalam sholat witir. 08 November 2004. dari perspektif hadits dan perspektif fiqih (Disampaikan oleh Shaykh Muhammad Bin Umar bin Salim Bazmul saat mengajar di Universitas Umm al-Quraa. 17:19:31 Judul Pelajaran : Penjelasan tentang do'a qunut yang dilakukan dalam sholat Witir.

Muhammad bin 'Umar Bazmul hal 362-385. Qunut (semestinya) ditinggalkan saat separuh pertama dari bulan Ramadhaan. HR Ibnu Abi Syaibah 2/205 no. sanad hadits shahih (lihat 'Irwaul Ghalil 1/167 hadits no 426 dan . dan beliau menyuruh Ubay radiyallaahu 'anhu untuk melakukan qunut pada pertengahan Ramadhan mulai malam 16 Ramadhan. 3. walaupun yang terbaik dilaksanakan sebelum ruku'. dan tidak dikenal luas. 2. Ibnu Majah no 1182. ia menyebutkan dari Qatadah dan lainnya. lihat juga kitab at-Tarjih fii Masaailil Thaharah was Shalah oleh DR. Bahwa doa qunut dalam sholat witir (di bulan Ramadhan.1. Menyambung (di atas). terlebih jika sholat tersebut dilakukan berjamaah dengan orang-orang. demikian juga dikalukan oleh Hasan al-Bahsri. HR Ibnu Abi Syaibah 2/305-306 atau 2/205]". Do'a qunut dalam witir dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruku'. Dan kata Ma'mar:"Sesungguhnya aku qunut witir sepanjang tahun kecuali awal Ramadhan sampai dengan pertengahan saya tidak qunut. 6. yakni setiap malam yang telah ditetapkan adalah separuh malam terakhir dari bulan Ramadhan. 5. simak Mukhtasar Qiyamullail 125. yakni dimulai dengan malam yang yang keenambelas. bahwasanya 'Umar radiyallaahu 'anhu menyuruh Ubay radiyallaahu 'anhu mengimami shalat tarawih pd bulan Ramadhan. Serta Dari Ibrahim an-Nakha'i telah berkata 'Abdullah:"ia tidak pernah qunut Shubuh sepanjang tahun dan ia qunut witir setiap malam sebelum ruku'." Kata Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah:"Ini atsar yang kami pegang. Diperbolehkan melakukan doa qunut pada (malam) pertama dan kedua dari separoh bulan Ramadhaan. Lihat Mushannaf 'Abdurrazzaq 3/120 dengan sanad yang shahih. Termasuk sunnah Nabi ( Shallallahu 'alaihi wasallam) yakni kadang-kadang melaksanakannya dan kadang-kadang meninggalkannya. red) diperbolehkan dilakukan semua sepanjang tahun. sebab hal ini menyimpang dari Sunnah. [Ishaq bin Rahawaih memilih qunut (witir) dilaksanakan sepanjang tahun.[Hadits Ubay bin Ka'ab:"bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku'. HR Abu Dawud no 1427.[Dari 'Amr dari Hasan.10] 4.

karena ada dalil dari para Shahabat radiyallaahu 'anhuma di zaman Umar radiyallaahu 'anhu. Merupakan Sunnah bagi imam orang-orang untuk tidak berdo'a qunut pada separuh pertama bulan Ramadhaan. Termasuk Sunnah adalah bahwa imam mengeraskan suaranya saat berdo'a qunut. tidak bebas melakukan apapun. Termasuk menyimpang dari Sunnah yakni bertakbir (Allahu akbar) sebelum dan sesudah qunut. Syaikh Albani berkata sanadnya jayyid menurut syarat Muslim (Irwaa'ul Ghalil 2/166). 11. dan yang terbaik adalah mencukupkan diri untuk merujuk pada apa yang telah yang diberitakan Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam). 9. Tidak ada ketetapan yang mengharuskan orang-orang untuk berdo'a qunut dengan cara tertentu.Shahih Sunan Abi Dawud no 1266). Juga Syaikh al-Albani rahimahullah berkata : "Boleh juga doa qunut sesudah ruku' dan ditambah dengan melaknat orang2 kafir. dan ini riwayat yg shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud dan 'Abdullah bin Umar radiyallaahu 'anhuma. 12. pada pertengahan Ramadhan. Diperbolehkan mengangkat tangan pada do'a qunut. dan para jama'ahnya mengucapkan "amiin"."Simak Diriwayatkan olsyaieh Ibnu Abi Syaibah 2/302 atau 2/202 no 12.31-32] 7. atau membiarkan tangan tetap di . untuk tidak memanjangkan do'a qunut. sebab cara yang terbaik adalah yang telah shahih riwayatnya. dikatakan oleh al-hafizh dalam "Addirayah" sanadnya hasan. Dan sebagaimana hadits Hasan bin Ali radiyallaahu 'anhuma. sebagaimana diriwayatkan Ibrahim al-Qamah:"Sesungguhnya Ibnu Mas'ud dan para Sahabat Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku'. bahkan diriwayatkan dari jumhur Sahabat. 10. ketika (memilih) berdoa qunut sebelum ruku'. lalu shalawat kepada Nabi shallalaahu 'alayhi wasallam dan mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin. serta memohon (dalam qunut) untuk membinasakan kaum kafir pada doa qunutnya. 8. sehingga dia hanya diperbolehkan untuk memperpanjang sesuai pernyataan yang telah tetap. (akan tetapi) melakukan qunut tersebut pada separuh terakhir. Simak Qiyamu Ramadhan hal. Termasuk Sunnah.

15. sera memberikan bimbingan. dan keteguhan. 16. Sholat yang paling menyerupai sholat witir adalah paling adalah Maghrib.samping (seperti posisi sebelumnya/tidak mengangkat tangan). menerimanya dan menolaknya dalil dalam kaitan dengan kesahihannya. Diperbolehkan mengucapkan shalawat kepada Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam) di (dalam) do'a qunut. [Dari abstrak pelajaran yang disampaikan Syaikh Muhammad Bazmul pada Universitas Umm al-Quraa. dan kemudian membuat kesimpulan yang berdasar padanya. Dan beliau berharap kiranya dapat membantu menghidupkan kembali manhaj Ulama' di (dalam) meneliti. atau mengangkat tangan di awal qunut dan menurunkan tangan di akhir qunut. 14. Semoga Allaah mengabulkan doa penyusun. 17. mengumpulkan dalil-dalil. semua cara ini diperbolehkan. Apa saja yang dikerjakan dalam qunut nazilah (yang dilakukan dalam sholat wajib) juga dapat dikerjakan dalam doa qunut dalam sholat witir. Abdullaah ibn Mas‟ud dan Ubay ibn Ka‟b (semoga Allah meridloi keduanya) yang telah meriwayatkan banyak tentang do'a qunut di (dalam) sholat witir. Saudi Arabia] Masalah yang keempat: Apakah posisi tangan diangkat dalam do‟a qunut ? Berikut hukum yang ditetapkan dalam do‟a qunut : 1) Yakni seseorang mengangkat tangannya. kecuali jika disana ada dalil khusus yang melarangnya. Tidak diizinkan untuk menyeka/menyapu wajah dengan tangan setelah qunut. 13. sebab sholat Maghrib adalah witir di sore [/siang] hari. . Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa sesuatu yang disahkan dalam amalan wajib adalah juga disahkan untuk amalan sunnah.

melainkan beliau mempelajari hal tersebut dari Nabi (Shallallaahu „ alaihi wasallam). 3) Yakni seseorang mengangkat tangannya di awal qunut dan menurunkan tangannya di akhir qunut. Makkah. . yakni memohon (kepada Allah. Dan 'Abdullaah ibn Mas'ud dahulu mengangkat tangannya saat qunut. dan al-Baihaqi didalam Dalaa'il anNubuwwah dan As-Sunan Al-Kubraa.[keterangan ust Abu Hamzah Yusuf : Dzahir perkataan Ahlul ilmi (tentang kaifiyat mengangkat tangan) :” bahwasanya kedua tangan digandengkan seperti orang yang sedang memohon." 3) Az-Zuhri meriwayatkan bahwa Ibn Mas'ud dahulu mengangkat tangannya di(dalam) Witir. 2) Az-Zuhri meriwayatkan. maka beliau tidak akan melakukan berbagai hal didalam shalat menurut pendapatnya sendiri. meminta dari orang lain agar memberikannya sesuatu. Lihat juga: Irwaa' Al-Ghalil ( 2/181)]. Dalil (yang berkenaan dengan poin di atas): 1) Nabi (Shallallaahu „ alaihi wasallam) menaikkan tangannya yang digunakan untuk berdo‟a qunut an-nazilah. dibatasi oleh dalil. Musa Abul-'Abbaas Musa ibn John Richardson ('Aziziyyah. sebab beliau adalah sahabat Nabi dan perbuatan ini adalah tauqifi. mengacu pada perbuatan Shahabat Nabi : "Mereka dahulu tidak menaikkan tangannya dalam Witir di bulan Ramadhan. Dan Allah Ta‟ala mengetahui yang terbaik. al-Mu'jam as-Saghir. [Sahihh: Ahmad 3/137. dan setelah itu membiarkan tangannya di sampingnya. Adapun dibentangkan dan saling berjauhan antara kedua tangan . Saudi Arabia) menyatakan : bahwa tindakan Ibn Mas'ud sesuai disini. red) untuk membinasakan kaum (kafir). maka aku tidak mengetahui ada asalnya dalam Sunnah tidak pula dari perkataan ulama” 2) Yakni seseorang membiarkan tangannya berada disampingnya.

Masalah yang keenam: Apakah do‟a qunut dan ucapan “Amiin" para makmum/jama‟ah dilaksanakan dengan suara keras? [Ringkasan] Mengingat tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa mereka dulu (sahabat) mengucapkan "Amiin" di belakang imam mereka sepanjang qunut witr. . maka dapat diambil dalil melihat perbuatan Sahabat pada qunut an-naazilah (do‟a untuk memohon perlawanan atas orangorang (musuh. red) yang dilakukan pada sholat yang wajib). karena ucapan mereka "Amiin" di belakang Imam dalam sholat adalah amalan (yang) dilaksanakan dalam sholat wajib. Apa saja yang telah ditetapkan untuk qunut nazilah (yang dilakukan pada sholat yang wajib) adalah juga dapat diamalkan dalam qunut pada sholat witir. Dan telah disepakati oleh al-Haakim. Ibn Khuzaimah (618). [Datang dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu „anhu] Dan Allah Ta‟ala mengetahui yang terbaik. dan al-Albaani (Irwaa' al-Ghalil:2/163). Hal ini didukung oleh bahwa amalan apapun yang disyariatkan dalam amalan wajib adalah juga disyariatkan dalam amalan sunnah. kecuali jika disana ada dalil khusus yang melarang hal tersebut. al-Bayhaqi dalam as-Sunan alKubraa (2/200). berdasarkan pada prinsip yang disebutkan dalam kaidah berikut : “. dengan begitu diperbolehkan juga untuk melakukannya didalam sholat yang tidak wajib. Ibn Khuzaimah.. Hal ini telah tetap dalilnya dilakukan dalam sholat Maghrib. Abu Dawud (1443).. red] witir yang wajib. al-Haakim (1/225). yang mana [sholat Magrib ini merupakan. (1) Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits hasan dalam Musnad Ahmad (2746).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful