Anjuran berzakat dan ancaman bila tidak membayarnya

Sep 11, '08 11:15 PM untuk semuanya

Anjuran berzakat dan ancaman bila tidak membayarnya Penulis: Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc Fiqh, 07 November 2004, 03:44:55 Anjuran dalam Menunaikan Zakat Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka" . (At Taubah : 103)

Ayat ini mengajarkan untuk mengambil sedekah dari hartanya kaum mu'minin, baik itu shodaqoh yang ditentukan (zakat) ataupun yang tidak ditentukan (tathowa) demi untuk membersihkan mereka dari kotornya kebakhilan dan rakus. Juga mensucikan mereka dari kehinaan dan kerendahan dari mengambil dan makan haknya orang fakir. Dan juga untuk menumbuh kembangkan harta mereka dan mengangkatnya dengan kebaikan dan keberkahan akhlak dan mu'amalah sampai mengantarkan mereka menjadi orang yang berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Firman Allah Ta'ala: "Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat : 19)

Dalam ayat ini Allah Ta'ala telah mengkhususkan sifat-sifat yang mulia dengan berbuat baik. Dan kebaikan mereka nampak jelas dari menegakkan shalat malam, memohon ampun di waktu malam dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana kebaikan mereka yang nampak jelas dalam memberi dan menunaikan haknya orang-orang fakir demi kasih sayang dan rohmah bagi mereka. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan

zakat." (Al Hajj:41)

Allah telah menjanjikan dengan menunaikan zakat merupakan tujuan untuk bisa tegak dan kokoh di muka bumi ini. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tiga perkara yang aku bersumpah atas tiga perkara tersebut dan menceritakan kepada kalian maka jagalah : Tidak akan berkurang harta yang dishodaqohkan dan tidak seorang hamba dianiaya dengan satu kedholiman kemudian dia bersabar (atas kedholiman) kecuali Allah akan menambahkan baginya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Allah akan membaginya pintu kefakiran." (Turmudzi Kitab AzZuhd 4:487(2325) dari hadits Abi Habsyah)

Dari masih banyak hadits-hadits tentang anjuran untuk menunaikan zakat serta keutamaankeutamaannya.

Ancaman Bagi yang Tidak Menunaikan Zakat

Telah banyak dalil-dalil baik itu dari Al-Kitab ataupun As-Sunnah tentang ancaman keras bagi orang yang bakhil dengan zakat dan enggan untuk mengeluarkannya. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam lalu dibakar dengannya dahi mereka lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka :"Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu" (At Taubah : 34-35). Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Sekali-sekali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu kelak akan dikalungkan di lehernya di hari kiamat." (Ali Imron : 180)

Oleh karenanya harta yang tidak ditunaikan zakatnya maka itu termasuk harta simpanan yang pemiliknya akan disiksa dengannya pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidaklah seseorang yang memiliki emas atau perak kemudian tidak ditunaikan haknya, apabila datang hari kiamat dibentangkan baginya batubatu yang lebar dari neraka kemudian dia akan dipanggang di atas batu-batu itu di dalam neraka jahannam kemudian disetrika perut, dahi dan punggungnya. Setiap kali sudah dingin maka akan dikembalikan seperti semula yang satu hari adalah sama dengan 50.000 tahun sampai diputuskan perkaranya diantara manusia maka dia akan melihat jalannya, apakah ke surga atau neraka." (HR. Muslim Kitab Zakat 7:67 no. 2287 dari hadits Abu Hurairah)

Kemudian lanjutan hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan orang yang memiliki onta, sapi dan kambing yang tidak ditunaikan zakatnya akan mengalami nasib yang sama pula dari siksa di hari kiamat.

Juga sabda Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain : "Barang siapa yang Allah telah berikan harta kepadanya kemudian dia tidak menunaikan zakatnya maka pada hari kiamat nanti hartanya akan berujud ular yang botak yang mempunyai dua titik hitam diatas kepalanya yang mengalunginya kemudian mengambil dengan kedua sisi mulutnya sambil berkata: "Aku adalah simpananmu, aku adalah hartamu". Kemudian beliau membaca ayat: "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang telah Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya, menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka, harta-harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhori Kitab Zakat 3:268 no.1403 dari hadits abu Hurairah; Muslim Kitab Zakat 7:74 no. 2294)

Hukum Bagi yang Tidak Mau Membayar Zakat

Dalam hal ini ada beberapa kriteria dari orang-orang yang tidak mau membayar zakat : 1. Seorang yang tidak mau membayar zakat tapi masih meyakini akan wajibnya. Para ulama menghukumi bahwa pelakunya berdosa dan tidak mengeluarkannya dari keislamannya. Kepada penguasa (hakim) agar memaksa pelakunya supaya mau membayar zakat serta memberikan hukuman pelajaran kepadanya (tahdzir). Dan mengambil hak zakat dari orang tersebut sesuai dengan kewajibannya, tidak boleh lebih. Kecuali pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Syafi'i (pendapat lama) maka mengambilnya separuh dari hartanya

sebagai hukuman baginya. Sebagaimana hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "… Dan barang siapa yang tidak mau menunaikannya (zakat) maka kami akan mengambilnya dan separuh hartanya adalah hak dari hak-hak wajib bagi Tuhan kami, tidak halal bagi keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam darinya sedikitpun." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, Hakim, Baihaqi dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya).

Adapun Ibnu Taimiyah menghukumi orang yang seperti itu adalah kafir dalam batinnya, walaupun secara dzahir tidak dikafirkan, akan tetapi disikapi seperti sikapnya orang-orang murtad yang diberi kesempatan bertaubat tiga kali, kalau tidak mau bertaubat maka hukumnya dibunuh. (lihat Fatawa 7:611, mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2:877; Mughni 4:67; majalah Buhuts Islamiyah Darul ifla' edisi 58 tahun 1420H hal. 11; Fiqh Sunnah 1:403)

2. Kalau yang tidak mau membayar zakat itu sekelompok orang yang mereka memiliki kekuatan tapi masih berkeyakinan akan wajibnya.

Para ulama menghukumi agar diperangi sampai mereka mau membayar zakat sebagaimana kisahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. (HR. Jama'ah dari Abu Hurairah)

Juga haditsnya Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, maka kalau mereka telah mengerjakannya terjagalah dari darah dan harta mereka kecuali haknya Islam dan hisab mereka di sisi Allah." (HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak mau membayar zakat dengan mengingkari akan wajibnya.

Berkata Ibnu Qudamah : "Barang siapa yang mengingkari karena jahil (tidak tahu) atau dia termasuk orang yang tidak tahu karena baru masuk Islam atau dia tinggal di daerah terpencil yang jauh dari daerah yang mengetahui akan wajibnya maka tidak dikafirkan. Adapun kalau

dia seorang muslim yang tinggal di negeri Islam di tengah-tengah ahli ilmu maka hukumnya murtad." (Mughni 4:6-7)

(Dikutip dari tulisan ustadz Qomar Sua'idi, Lc, yang diarsipkan eks. tim Zisonline, al akh Fikri Thalib) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=786 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar

Definisi Zakat dan Hikmah disyariatkannya Zakat

Sep 11, '08 11:14 PM untuk semuanya

Definisi Zakat dan Hikmah disyariatkannya Zakat Penulis: Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc Fiqh, 07 November 2004, 03:36:50 Definisi Zakat

1. Menurut Bahasa (lughoh)

Dari asal kata "zakkaa - yuzakkii - tazkiyatan - zakaatan" yang berarti : 1. Thoharoh (membersihkan/mensucikan) Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (At-Taubah:103)

2. Namaa' (tumbuh /berkembang)

Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Allah memusnahkan ribaa' dan menyuburkan sedekah" (Al-Baqarah:276)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Rabsyah Al-An Maary. "Harta tidak akan berkurang dengan dishodaqohkan" (HR. Tirmidzi, kitab Az Zuhd jilid 4 hal. 487 no. 2325, kata Imam Tirmidzi "Hadits ini hasan shohih")

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani : "Tanaman itu telah Zakka, yakni berkembang & tumbuh" (Fathul Baari, kitab zakat jilid 3 hal. 262)

3. Al-Barokah Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya" (Saba' : 39)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari hadits Abu Hurairoh radhiallohu anhu : Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Hai anak Adam berinfaklah niscaya Aku akan berinfak untukmu". (HR. Bukhori, Kitab Tafsir surat Hud 8 : 352 (4684); Muslim, Kitab Zakat 7:81 no. 2305)

4. Al-Madh (Pujian) Dalam hadits Abu Hurairoh tentang kisah Zainab Ummul Mukminin : " . . . Bahwa Zainab namanya adalah Barroh maka dikatakan 'Dia memuji dirinya' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menamainya Zainab." (HR. Muslim, Kitab Al Azab Juz 14, hal. 346 no. 5572)

5. Amal Sholeh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan kami menghendaki supaya tuhan mereka mengganti mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu" Imam Al-Farro' mengatakan: arti 'yang lebih baik kesuciannya' adalah yang lebih baik amal sholehnya. (lihat An Nihayah karya Ibnu Al Atsir jilid 2 hal. 307; Lisanul Arab karya Ibnul Mandzur jilid 6 hal 64-65)

terkadang dengan ungkapan zakat." (Mausu'ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2 : 876. Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan dirikanlah sholat. 1. dengan zakat itu …" (At Taubah : 103) .II. Pendapat Syaikh Abdullah Al-Bassaam : "Hak wajib dari harta tertentu. shodaqoh. Pendapatnya Al-Hafidz Ibnu Hajar : "Memberikan sebagian dari harta yang sejenis yang sudah sampai nashob selama setahun dan diberikan kepada orang fakir dan semisalnya yang bukan dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Pendapat Ibnu Taimiyah : "Memberikan bagian tertentu dari harta yang berkembang jika sudah sampai nishob untuk keperluan tertentu. Shodaqoh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku" (Al Baqoroh : 43) 2. Zakat Ungkapan ini paling banyak disebutkan bahkan sering digabungkan dengan perintah shalat sampai diulang dalam 82 ayat (lihat Taudih al akham 3:5). untuk golongan tertentu pada waktu tertentu. Menurut Hukum (Istilah syara') 1." (Al-Fath 3:262) 2." (Taudhihul Ahkam 3:5) III. infaq/nafaqoh dan Al-'afwu. Zakat Dalam Bahasa Al-Qur'an Sedangkan Al-Qur'an Al-Karim telah menyebutkan tentang zakat dengan berbagai ungkapan. Fatawa 25:8) 3.

As Sunnah dan Ijma'. Kitabul Iman 2:130(113). Firman Allah Ta'ala: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz bin Jabbal ra. Infaq/Nafaqoh Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Hai orang-orang yang beriman.3." (lihat Bukhari Kitabul Iman 1:49 (8) dari hadits Ibnu Umar. Maka hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim yang telah memenuhi persyaratan." (Al-Bayyinah :5) Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Islam dibangun di atas lima dasar." (Al Baqoroh:267) 4. Al-'Afwu Firman Allah Ta‟ala (yang artinya) : "Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. menunaikan haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan. menunaikan zakat. Dasarnya adalah dari Al Qur'an. bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya. menegakkan sholat. Katakanlah: yang lebih dari keperluan" (Al Baqoroh:219) Hukum Menunaikan Zakat Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan termasuk dari pondasi Islam yang agung. nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Muslim. ke .

dalam surat AlMudatsir Allah memasukkan orang-orang yang tidak memberi makan orang miskin sebagai Al-Mujrimin (orang yang berdosa) ". "Orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat". (HR. dan Tidak memberi makan orang miskin". Juga para sahabat telah sepakat untuk memerangi orang-orang yang tidak mau membayarnya dan menghalalkan darah dan harta mereka karena zakat termasuk dari syi'ar Islam yang agung.. ini berlangsung ketika sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah. Muslim Kitabul Iman 1:147(121)) Adapun Ijma'. maka kaum muslimin disetiap masa telah ijma' akan wajibnya zakat. memberi makan dan berbuat baik. akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah bahwa kewajiban zakat di tetapkan dalam tiga fase: 1.negeri Yaman : "Terangkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat yang dipungut dari orang-orang kaya diantara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka". didalam surat Fushilat Allah mengancam yang tidak mengeluarkan zakat. Hal ini dikarenakan fitrahnya jiwa manusia adalah senang terhadap orang yang berbuat kebaikan (berjasa . Allah berfirman: "Pada harta-harta mereka ada hak orang yang meminta dan …". karya Ibnu Qudamah 4:5) Syaikh Abdullah Al Bassam menerangkan (Taudihul ahkam:3/12): Para ulama berselisih kapan diwajibkannya zakat. Menguatkan rasa kasih sayang antara si kaya dengan si miskin.. Tahun kedua Hijriyah diterangkanlah hukum zakat dengan rinci. (AlMudatsir : 44) 2. diterangkan harta yang wajib dizakati dan kadar nishabnya serta jumlah yang harus dikeluarkan sebagai zakat". Hikmah Disyariatkannya Zakat Diantara hikmah disyari'atkannya zakat adalah : a. (Mughni. Zakat diwajibkan secara mutlak tidak ada batasan atau rincian akan tetapi hanya perintah untuk memberi. 3. Tahun kesembilan Hijriyah ketika manusia masuk Islam dengan berbondong-bondong dan semakin luas daerah Islam Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim petugas-petugas untuk mengambil zakat .

sesuatu itu zakat.or. Lc. '08 11:14 PM untuk semuanya Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal) Penulis: Al Akh Syamsu Muhajir Fiqh. tambahan dan ganti yang lebih baik dari Allah Ta'ala. Memperoleh keberkahan. tim Zisonline. c. .kepadanya). (Dikutip dari tulisan ustadz Qomar Sua'idi. 08 November 2004.php?id_artikel=785 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal) Sep 11.” Dikatakan. yang diarsipkan eks. 00:51:27 Manfaat Zakat Hati Dan Zakat Harta A.id/print. d. Sebagai ibadah kepada Allah Ta'ala (lihat Risalah Fi Zakat oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz). Definisi zakat Secara bahasa. jika sesuatu itu berkembang baik menuju kesempurnaan. Membiasakan seorang muslim untuk memiliki sifat belas kasihan. b. e. al akh Fikri Thalib) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Mensucikan dan membersihkan jiwa serta menjauhkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil.salafy. Sumber artikel : http://www. zakat artinya “berkembang dan bertambah dalam kebaikan dan kesempurnaan.

senang dan gembiranya hati. ) 30) “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatannya. bodoh. menjauhi kemaksiatan dan yang dilarang Allah dan banyak bertaubat kepada-Nya. Seperti halnya badan kita.Sesuatu bisa berkembang dengan baik apabila keadaan sesuatu itu bersih dari kotoran dan penyakit. . Allah Ta‟ala telah menguji kita dengan memberikan nafsu senang melihat sesuatu yang indah-indah. yaitu menundukkan pandangan dari yang diharamkan Allah Ta‟ala. senang melihat wanita berwajah cantik. keras hati menjadi penghambat berkembangnya hati.” (An-Nur: 30) Allah Subhanahu wa Ta‟ala mengatakan di dalam ayat ini bahwa sucinya hati itu terjadi setelah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Apabila seseorang sanggup menahan nafsunya dari yang diharamkan Allah. Maka. agar hati itu menjadi baik dan agar hati berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan maka hati itu harus dibersihkan terlebih dahulu dari segala penyakit dan kotorannya. maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik seperti sejuknya hati. besar kepala. tenangnya hati. Allah Ta‟ala berfirman. Demikian pula penyakit hati seperti hasud. yang demikian itu lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Bahkan terkadang sampai mematikan hati seperti halnya hama yang menghambat pertumbuhan tanaman dan bahkan mematikannya. B. Zakat Hati Dosa dan kemaksiatan yang dilakukan manusia laksana hama pada tumbuhan. congkak. Ibarat pasir pada emas dan perak. merendahkan manusia. sombong. Demikian pula hati manusia bisa berkembang dengan baik dan sempurna manakala hati itu baik serta bersih dari kotoran dan segala penyakit. tetapi harus diketahui bahwa yang disenangi oleh nafsu itu ada yang diharamkan dan ada yang dihalalkan. hewan dan tumbuhan bisa berkembang dengan baik jika keadaannya baik dan bersih dari kotoran dan segala penyakit. Caranya ialah dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah.

Adapun perkara yang dapat menjadikan hati berkembang dan yang dapat menjadikan hati baik. Dalam ayat lain Allah berfirman. sempurna. hanya Allah yang dicintainya maka dia hanya menghamba dan tunduk kepada Allah saja. ) ) “Barangsiapa meninggalkan sesuatu (yang haram) karena Allah niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah (‫) لل ل ل ل‬ Tauhid bukan hanya sebagai pengembang hati tetapi juga berfungsi sebagai pembersih hati yaitu membersihkan keyakinan-keyakinan (aqidah) yang batil. Sedangkan jika di hati itu sudah bercabang kecintaannya pada selain Allah. maka dia akan tunduk kepada apa yang dia cintai. dan suci adalah “tauhid.” (Ath-Thur: 28) Ayat ini menerangkan orang yang meminta izin atau bertamu tetapi pemilik rumah belum berkenan menerimanya sehingga dia memohon agar sang tamu kembali kemudian tamu ini mengikuti permohonannya maka itu lebih suci bagi yang bertamu. yaitu ketika tidak ada lagi di hatinya .Dalam hadits disebutkan. Perbuatan manusia ikut pada kemauan dan keadaan hatinya. “Apabila dikatakan kepadamu kembalilah maka kembalilah karena ini lebih suci bagi kalian.” (HR Ahmad dengan sanad shahih) Mengingat hati itu selalu terikat dengan sesuatu yang dicintainya. maka ketika hatinya bersih. membersihkan hati dari keinginan-keinginan yang tidak benar dan tauhid (‫ ) لل ل ل ل‬merupakan bahan dasar yang menjadikan hati tumbuh dan berkembang dengan baik. Jadi supaya hati bisa berkembang dengan baik menuju kebaikan dan kesempurnaan adalah dengan membersihkan terlebih dahulu dari dosa dan maksiat dan membersihkannya dari penyakit-penyakitnya.

” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir) Di samping tauhid.” (Fush-shilat: 56) Kebanyakan ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata “zakat” di ayat ini adalah “tauhid.” (an-Nisa‟: 49) . amalan ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah juga berfungsi sebagai pembersih dan mensucikan hati. tidak ada lagi kemauan dan keinginan kecuali karena Allah. Allah Ta‟ala berfirman: ) 9) “Sungguh beruntung orang yang mensucikan hatinya.tuhan-tuhan selain Allah. tidak ada pelajaran yang melebihi ketinggian dan kemuliaan tauhid karena faidahnya yang fundamental karena yang dipelajari adalah Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia dan aqidah merupakan dasar bangunan Islam setiap muslim yang menjadi penentu kekokohan dan rapuhnya ke-Islaman seseorang. Namun demikian bagi orang yang telah dikaruniai taufiq dan hidayah oleh Allah mampu menjalankan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah tidak diperbolehkan untuk merasa dan menganggap dirinya sudah bersih dan suci. Allah Ta‟ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mengganggap dirinya bersih. Di hatinya hanya ada Allah dan kebenaran yang bisa berbuah menjadi amalan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Allah Ta‟ala berfirman: ) 6) “Celakalah orang-orang musyrik yang mereka itu tidak menunaikan zakat. Maka dari itu.” (Asy-Syams:9) Juga firman-Nya: ) 18) “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?” (An –Naazi‟at: 18) Zakkaa pada ayat ini adalah amalan ketaatan kepada Allah.

Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda: ‫ل‬ . yakni sulit menerima kebenaran dan petunjuk.” (an-Najm: 32) Pada hakikatnya hanya Allah yang menjadikan seseorang itu bersih dan suci dan hanya Allah Ta‟ala yang mengabarkan kebersihan dan kesucian seseroang.“Maka.” (An-Nisa”49) Maka manfaat hati yang sudah dizakati (dibersihkan) akan dapat memudahkan seseorang untuk menerima kebenaran. sebagai berikut: 1. senang dan gembira dalam menjalankan ketaqwaan kepada-Nya.” (At-Taubah: 103) Allah mengumpulkan dalam ayat ini tentang manfaat zakat harta yaitu membersihkan dan mensucikan karena harta tidak akan suci/berkembang tanpa dibersihkan terlebih dahulu. C. Lapang dada menerima Islam. Untuk menyempurnakan keislaman seorang hamba karena zakat termasuk rukun Islam. Zakat Harta Adapun manfaat zakat harta adalah seperti yang difirmankan Allah: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Sedangkan jika hati kotor maka yang terjadi adalah sebaliknya. Lebih jauh Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan manfaat zakat harta itu. senang dalam menerima hidayah/petunjuk dari Allah. janganlah kalian mengatakan dirimu suci. sempit dan sesak dadanya terhadap syariat Islam dan berat untuk menjalankan ketaqwaan kepada Allah. Allah Ta‟ala berfirman: “tetapi Allah yang membersihkan/mensucikan siapa yang Dia kehendaki.

2. menunaikan zakat. Sebagai bentuk kesempurnaan iman karena kita senang manakala saudara kita memberikan hartanya pada kita dan begitu pula saudara kita akan senang kalau kita beri dia harta. 4b. karena tidak bermanfaat mengeluarkan dengan tangannya tetapi masih diikat oleh hatinya. Untuk mensucikan akhlak orang yang berzakat karena dengan zakat dia akan keluar dari golongan orang-orang yang bakhil/pelit dan masuk pada golongan orang-orang derma. Dia harus sanggup mengeluarkan hartanya dari hatinya sebelum dikeluarkan dari tangannya. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda : “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. puasa Ramadhan. suka menebar salam.”(HR. Sebagai bukti benarnya iman orang yang berzakat karena nafsu itu sangat senang pada harta maka seseorang tidak akan menyerahkan hartanya kecuali karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari harta itu yaitu ridho Allah yang nilainya jauh lebih baik dan lebih sempurna untuk hamba. menegakkan sholat. 3. .Islam itu dibangun di atas lima dasar mengucapkan syahadat bahwa tidak ada ilah yang hak selain Allah. dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Zakat dapat melapangkan dada dan menenangkan hati tetapi dengan dua syarat yaitu : 4a. 4. 5. dan haji ke Baitul Haram. sehingga hati akan mengikutinya karena hatinya akan gelisah ketika seseorang meninggalkan kebiasaan baiknya. memberi makan dan orang yang shalat malam ketika manusia sedang tidur. Muslim) 6. Ketika mengeluarkan zakat harus lapang dada bukan dengan terpaksa. Zakat menjadi sebab masuk surga karena surga itu diperuntukkan bagi orang baik pembicaraannya.

perampasan. Tirmidzi hadits hasan shahih) 7. dan mendirikan shalat malam sedangkan manusia sedang tidur.” (Al-Qashash: 77) 8. perampokan dan penipuan. Zakat dapat menyelamatkan dari panasnya hari kiamat. Si kaya naik mobil. Si kaya makan segala yang dia mau. sehingga menghambat terlaksananya kebutuhan si miskin. Menjadikan masyarakat muslimin seperti satu keluarga. Zakat dapat mencegah dosa-dosa harta seperti pencurian.” (HR. Karena orang miskin merasa bahwa pada orang kaya ada haknya yang ditahan. munculnya sifat kepedulian orang yang mampu kepada orang yang lemah. Si kaya tinggal di istananya.“Surga itu bagi orang yang memperbagus pembicaraannya. menyadari bahwa saudaranya yang lemah dan miskin butuh derma dan kepeduliannya. 10.” (HR. Zakat dapat mendorong manusia untuk mengetahui dan mempelajari syariat dan hukum Allah karena zakat tidak bisa dilaksanakan tanpa didahului ilmu. Perbedaan sosial yang mencolok sering memunculkan ketidakharmonisan sosial. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda: “Setiap orang dalam naungan shodaqohnya pada hari kiamat. si fakir tidur beralas tikar dan berselimut angin dingin. Zakat dapat meredam sifat memberontaknya orang-orang fakir. si fakir berjalan kaki. Allah Ta‟ala berfirman: “Berbuatlah ihsan/kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. suka menebar salam. . si fakir harus menguras tenaga dan keringat hanya untuk sesuap nasi. suka memberi makan. Tetapi jika si kaya bersifat derma dan peduli pada saudaranya maka ini dapat menenangkan keadaan dan meredam kecemburuan sosial dan meredam munculnya benih-benih pemberontakan si miskin terhadap si kaya. 9. Ahmad) 11. yang kaya kepada yang miskin.

Zakat dapat meredam murka Allah.” (HR.” Zakat itu dapat meredam murka Allah dan mencegah mati jelek. 13. kebangkrutan. karena zakat melindungi harta dari penyakit-penyakitnya dan Allah akan memberkati harta yang bersih. “ “Shodaqoh/zakat itu dapat memghapus kesalahan sebagaimana air dapat meredam api.” (HR. dalam hadits disebutkan: “Tidaklah suatu kaum menolak zakat harta mereka kecuali mereka telah menolak turunnya hujan dari langit. Dalam hadits disebutkan: ‫ل‬ ‫ل ل‬ Dari Anas Radliyallahu „anhu dia berkata.12. hadits hasan shahih). Zakat dapat menumbuhkan dan mengembangkan harta. “Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda.” (HR. Ibnu Majah) 14. Inilah manfaat zakat hati dan zakat harta semoga kita mampu melaksanakannya dengan baik dan benar. Dalam hadits disebutkan: ‫ل‬ “Tidaklah zakat itu mengurangi harta.” (HR. 15. Zakat dapat menghapus kesalahan dan dosa. Tirmidzi) 16. Zakat dapat mencegah dari mati jelek (su‟ul khotimah). Tirmidzi. Rasulullah (Shalallahu „alaihi wassallam) bersabda. 17. Berikut tabel Perhitungan Zakat : . Bukhori) Seringnya penyakit harta itu dapat memberangus harta secara keseluruhan seperti kebakaran. Zakat itu mencegah turunnya bala‟ dari langit. atau sakit yang menguras hartanya. Zakat itu dapat menjadi sebab turunnya kebaikan.

Mawaridul aman karya Al-Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Maraji‟ : 1. temukan file zakat.Silakan klik www. (Dikutip dari artikel Manfaat Zakat Hati dan Zakat Harta (Maal). Allahu a'lam.php. Syarhul Mumti‟ zadil mustaqni‟ karya Asy-Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah.gif untuk mendownloadnya.or. ditulis oleh Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah.salafy.id/download. 2. al Akh Syamsu Muhajir dengan .

muraja‟ah Al Ustadz Usamah Mahri. ia berkata: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kami dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya . Hukumnya Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia]. 28 Oktober 2004.id/print.”194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim] Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. Sumber artikel : http://www. padanya ada Al Hasan ber-„an‟anah.”195)[Riwayat Abu Daud (1622) dan An Nasa‟I (5/50).php?id_artikel=801 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. 05:03:44 1. Dan hadits sebelumnya sebagai syahid] Sebagian Ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa‟ad bin Ubadah. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori. '08 11:13 PM untuk semuanya Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh.or. Malang.salafy.

orang yang merdeka maupun hamba. tidak mengharuskan dimansukhknya hukum sebelumnya.(kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami. kedudukan zakat harta (sebagaiman) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang perorang). anak kecil. sedang hadits Ibnu Umar khusus.” Al Hafidz Rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya (3/368): “bahwa pada sanadnya ada rawi yang tidak dikenal196) [Akan tetapi hadits tersebut mempunyai penguat.” Imam Al Khathabiy Rahimahullah berkata dalam Ma‟alimus Sunan (2/214): “Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri. sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma.”197)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)] Sebagian Ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri. laki-laki.”198) [HR Muslim (982)] Hadits ini umum.” 2. tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah. yang jelek dan (memberi) . “Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri). Ibnu Khuzaimah (4/81) dan Al Hakim (1/410) dan Al Baihaqi (4/159) dari beberapa jalan. kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin. perempuan. Siapa yang Wajib Zakat ? Zakat fithri wajib atas kaum muslimin. karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain. dan dikeluarkan oleh An Nasa‟I (5/49) dan Ibnu Majah (1/585) dan Ahmad (6/6). atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka. pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia. Yang lain berkata. besar. mungkin Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mencukupkan dengan perintah yang pertama. dan sanadnya shahih] dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (diahapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri.

” Al Hafidz menjawab (3/369): “Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan. Macam Zakat Fithri Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu gantang gandum. satu gantang korma. maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu. baik menurut masyarakat maupun istilah.” Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin.”199) [Telah lewat takhrijnya] Imam Al Khathabiy dalam Ma‟alimus Sunan (3/214) menegaskan: “Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia. namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya.makanan bagi orang yang miskin. ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu. satu gantang korma dan satu gantang salt. satu gantang susu. jika berserikat dalam „illat berserikat pula dalam hukum. karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar. tepung dan adonan. karena hadits Abu Sa‟id Al Khudri Radhiallahu anhu: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam) satu gantang makanan. satu gantang anggur kering. satu ganang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit).”200) [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)] Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan atu gantang gandum. jika „illat diwajibkannya karena pensucian. satu gantang susu kering. satu gantang gandum. tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu.”201) [Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/80) dan Al Hakim (1/409-410) Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa‟id Al Khudri. satu gantang kurma. zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari. 3. semuanya telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: .

besar. sanadnya hasan] Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Mu‟awiyah Radhiallahu anhu berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam. hamba. agar kaum muslimin yang mendudukkkan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka. “Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima. diterima. susu yang dikeringkan dan korma.”203) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). untuk dua orang satu gantang dari gandum atas orang merdeka. sanadnya hasan] Dari beliau Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: “Zakat fithri satu gantang makanan. barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan. aku mengira beliau berkata: “yang membawa adonan diterima. dan yang paling sahahih berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam: “Tunaikanlah satu gantang gandum atau korma. menurut hadits-hadits yang shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu gantang anggur. 4. anak kecil atau besar. budak dan orang yang merdeka.”205) [Riwayat Abu Daud (2340). barangsiapa yang membawa gandum diterima. aku mengira beliau berkata. Nasa‟I . mereka ikhtilaf tentang hinthah. anggur kering.”202) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). yang membawa korma diterima. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima. bahwa pendapat Mua‟wiyah bukanlah ijtihad hasil dari pemikiran sendiri. Ini dikuat-kan oleh perkataan Abu Sa‟id: “Dulu makanan kami adalah gandum.“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu gantang makanan dari anak kecil. yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima. ada yanga mengatakan setengah gantang ini yang rajih. yang membawa anggur kering diterima. tetapi berdasarkan hadita marfu‟ sampai kepada Rasululllah Shalallahu „alaihi wassalam. dan bahwa satu mud hinthah itu melebihi yang ada di sini. Ukuran Zakat Fithri Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi.”204) [Telah lewat takhrijnya] Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri.

Dan padanya ada jalan yang mauquf dari Ibnu Umar pada Inu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/37) dengan sanad shahih. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih] 5. dan kiloan yang teranggap adalah kiloan-nya orang madinah. tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya. Dan dikeluarkan Al Baihaqi (4/161) dari jalan yang lain dari Ali. Nasa‟I (7/281). Gantang yang teranggap adalah gantangnya penduduk Madinah. . mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Kemana Disalurkannya Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya.”207) [Dikeluarkan oleh Daruquthni (2/141) dan Ibnu Umar dengan sanad dhaif (lemah). Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih]. Maka -dengan jalan-jalan inimaka haditsnya menjadi hasan] 6. maka lihatlah kitab tersebut.”206) [Riwayat Abu Daud (2340). karena hal itu sangat penting.(7/281). berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “kami diperintah oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua. baik anak kecil maupun orang tua laki-laki dan perempuan. dan sanadnya terputus. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu‟ Fatawa (2/71-78) serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma‟ad (2/44). Siapakah yang harus dibayar zakatnya? Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya. orang merdeka dan hamba dari orang-orang yang membekalinya. orang yang merdeka dan budak. berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah. Sebagian Ahlul ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan.”208) [Telah lewat takhrijnya]. Dan Syaikhul Islam telah membentahnya pada kitab yang telah disebutkan baru saja.

dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub. pent) untuk mengumpulkannya.Termasuk amalan sunah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk diberikan kepada yang berhak –pent).” Aku katakan: “Kapankah petugas itu mulai bertugas?” Beliau menjawab: “Satu hari atau dua hari sebelum “Idul Fithri. ia berkata: “Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan. Hikmah Zakat Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin .”211) [Telah lewat takhrijnya] 8.maktabah Al Islamiyah] berdasarkan perbuatan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma –berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayatnyamaka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “… Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima. dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada). Waktu Penunaian Zakat Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju sholat „Id dan tidak bleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya. Sungguh Nabi Shalallahu „alaihi wassalam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiallahu anhu. aku katakan: “Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang?” Berkata Ayyub: “Apabila petugas telah duduk (bertugas). kecuali satu atau dua hari (sebelum „Id)210) [Lihat pada kitab Ahkamul „Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid.” 7. cet. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum „Iedul Fithri.”209) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/396)] Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar Radhiallahu anhuma mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan.

secara bahasa berarti tambahan (az-ziyadah) dan pensucian (ath-thaharah). Sumber artikel : http://www. Ke 5 th 1416 H. upaya pembersihan harta kita Sep 11. . Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.php?id_artikel=777 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Menunaikan zakat.or. Adapun secara syar‟i. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.untuk mencukupi (kebutuhan ) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma yang telah lalu. zakat adalah hak (bagian) yang wajib dikeluarkan dari harta tertentu. Bab "Zakat Fitrah". '08 11:13 PM untuk semuanya Menunaikan zakat. untuk dibagikan kepada golongan tertentu dan di waktu tertentu. 23 Oktober 2004. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. upaya pembersihan harta kita Penulis: Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah Fiqh. 13:08:00 Bersihkan harta dengan berzakat Pengertian zakat Zakat.salafy. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.id/print. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR).

(QS. Saba‟ : 39) Hukum Zakat Wajib hukumnya mengeluarkan zakat. 2) Membersihkan dan mensucikan jiwa. bersikap mulia dan rasa iba terhadap orang-orang yang membutuhkan.Kedudukan zakat dalam Islam Zakat adalah termasuk salah satu rukun Islam yang lima. Para sahabat Nabi pun telah bersepakat bolehnya memerangi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Dalil Al-Qur‟an. puasa. firman Allah subhanahu wata‟ala : ”Dan dirikanlah shalat. Dalil Ijma‟ Kaum Muslimin telah bersepakat tentang wajibnya zakat. zakat dan haji ke baitullah bagi yang mampu. shalat. diri dari sifat kikir/ bakhil. AtTaubah : 103) 3) Membiasakan diri berbuat dermawan. bahwa Allah subhanahu wata‟ala mewajibkan zakat. menjauhkan. Ambillah zakat itu dari orang-orang kaya di antara meerka. berdasarkan : 1. tunaikanlah zakat” (QS. Dalil dari As-Sunnah Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman : “Beritahu kepada mereka. Hikmah disyariatkannya zakat : 1) Terjalinnya hubungan kasih sayang antara si kaya dan si miskin. berkembangnya harta serta mendapatkan balasan/ ganti yang lebih baik dari sisi Allah I. Rukun Islam yang lima yaitu : Bersyahadat. (QS.” (Hadits Muttafaqun alaih) 3. 4) Melimpahkan barakah. Baqarah : 43) 2. Dalil tentang hal ini diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam . Dan bagikanlah kepada orang-orang miskin di antara mereka.

Allah subhanahu wata‟ala berfirman : ‫ل‬ ) 34) “Hai orang-orang yang beriman. zaktnya dikeluarkan seketika selesai panen.35) Syarat-syarat wajib zakat : 1) Beragama Islam (bukan orang kafir) 2) Telah mencukupi nishabnya. lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. dan Bab “Memerangi orang yang enggan menunaikan zakat. At-Taubah : 34 . golongan yang berhak menerima zakat adalah 8 golongan : . (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. kecuali hasil bumi. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah. maka beritahukanlah kepada mereka.pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam.” Barangsiapa yang menolak dengan sadar tentang kewajiban menunaikan zakat. Ancaman bagi orang yang tidak menunaikan zakat.Bab “Wajibnya Zakat”. Bab “Memungut „Inaq (anak kambing betina umur satu tahun ke bawah) dalam shadaqoh". 3) Telah lewat masa satu tahun (haul). Golongan penerima zakat Berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur‟an surat At-Taubah ayat 60. lalu dibakar dengannya dahi mereka. maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu" (QS. Dan brangsiapa yang yakin tentang wajibnya zakat tetapi ia enggan menunaikannya maka ia FASIQ (maksiat kepada Allah subhanahu wata‟ala). maka ia KAFIR. sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.

Ibnul Jamil dan selainnya. 8) Ibnussabil (orang-orang yang sedang kehabisan bekal dalam perjalanan) Kedudukan petugas zakat Kedudukan petugas zakat diakui oleh syariat Islam. 2) Orang-orang miskin. 4) Para mu'allaf (orang yang baru masuk Islam atau orang-orang yang diharapkan keislamannya). Malang. Termasuk kewajiban kaum muslimin adalah menyambut dan memuliakan mereka karena mereka sedang dalam menjalankan tugas agama mengingatkan dan membantu orang-orang kaya melaksanakan kewajibannya menunaikan zakat.salafy. ditulis oleh Panitia Ramadhan majelis Taklim dan Dakwah As-Sunnah. 6) Gharimin (orang-orang yang berhutang). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengutus Umar Ibnul Khattab untuk menarik zakat dari Khalid Ibnul Walid. untuk memerdekakan dirinya. 7) Mujahidin (orang-orang yang berjihad di jalan Allah).id/print. Sumber artikel : http://www. 3) Pengurus-pengurus (amil) zakat.1) Orang-orang fakir. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori. 5) Budak.php?id_artikel=766 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar . Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengutus sebagian sahabat untuk menarik zakat dari orang-orang kaya dan menyalurkannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sebagai contoh./** (Dikutip dari artikel Pengertian Zakat. al Akh Syamsu Muhajir dengan muraja‟ah Al Ustadz Usamah Mahri.or.

Demikian halnya dengan syariat puasa Romadhon yang sedang yang kita jalani ini. . sebagai dasar ketenangan dan ketentraman hidup. baik bahaya di dunia maupun di akhirat. atau hanya sekedar untuk latihan pengekangan nafsu dan atau hanya sekedar untuk mengangkat manusia dari derajat hewan. Walaupun. pasti mengandung manfaat dan faedah. atau hanya sekedar sebagai ujian keimanan dari Allah . sebagai makanan hati yang utama dan sebagai sumber kekuatan manusia yang hakiki yang hanya dengan ini kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba bisa dicapai. Sebenarnya.atau hanya sekedar sebagai amalan ibadah yang berhak dihargai dengan suatu balasan dan pahala seperti halnya orang jual beli dengan penentuan harga. yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan bagi orang beriman dan bertakwa perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala itu adalah qorrotul „uyun (penyejuk hati). semua pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang dilaksanakan sebagai amalan ibadah. pasti mengandung faedah dan manfaat dan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta‟ala pasti karena berakibat mudharat dan bahaya bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta‟ala. kelezatan hati. yaitu hidup sibuk dengan upaya peningkatan iman dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala. baik di sadari ataupun tidak pasti karena bahayanya.Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Sep 11. '08 11:11 PM untuk semuanya Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Penulis: Al Ustadz Abdurrahim Fiqh. 23 Oktober 2004. Baik dipahami maupun maupun tidak. baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. 12:52:33 Beberapa Faidah Puasa Semua perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang Dia syariatkan. sepintas lalu kebanyakan orang yang kalah dengan nafsunya beranggapan bahwa puasa itu hanya sebagai beban yang memberatkan.

sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.Seperti sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Dijadikan (oleh Allah) penyejuk hatiku dalam sholat.” . Al-Bazzar ) Al-Imam Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad hasan dengan lafadz : “Orang yang banyak kenyang di dunia mereka adalah orang yang banyak lapar di akhirat. Yunus : 57) Menahan lapar di bulan puasa ataupun diluar bulan puasa ketika berpuasa maupun tidak. Sayyidatina Aisyah rodhiyallohu anha berkata : ‫ل‬ “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat.” (HR.” (Muttafaqun alaihi) Beliau bersabda : “Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat. Hal ini sudah diterangkan oleh Rasulullah shollallohu alaihi wasallam dan telah dicontohkan oleh Beliau dan keluarga Beliau.” (HR. Ahmad dan An-Nasa‟i) Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman : “Hai manusia.” Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan : „Dunia adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir.” (QS. pasti mengandung faedah dan manfaat yang sangat besar untuk kesehatan badan dan kesehatan hati.

Dan banyak di kalangan mereka orang-orang gemuk/ gendut. menutup rumah sakit dan mengistirahatkan toko obat/ apotik. Kemudian akan datang suatu kaum mereka memberikan persaksian padahal tidak diminta persaksiannya. hendaknya Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya. Al-Imam Ash-shon‟ani rahimahullah berkata : “Hadits ini menunjukkan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar‟i/ ibadah. Mereka banyak bernadzar tetapi tidak menunaikannya.” Manfaat lapar terhadap kesehatan badan adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Masiwaih : “Sekiranya manusia mau mengamalkan hadits ini (riwayat Tirmidzi) mereka akan selamat dari sakit dan berbagai penyakit.” Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits : “ Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari perutnya. jika tidak bisa tidak (terpaksa) maka makanlah sepertiga makanan sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya. memakai semua jenis pakaian dan banyak berbicara. kemudian generasi berikutnya kemudian berikutnya. Hal itu karena sumber segala penyakit adalah kenyang.” Al-Harits seorang dokter Arab mengatakan : . mereka itulah paling jeleknya ummatku.” Al-Imam Thabrani dan Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits : “Akan terjadi pada ummatku seseorang memakan semua jenis makanan. Maka.” (HR. Imam Tirmidzi) Setelah membawakan sebagian hadits-hadits di atas.Al-Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah bahwa Beliau bersabda : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. meminum semua jenis minuman.

orang lapar juga sedikit tidur karena orang yang banyak makan dan minum akan banyak tidur yang dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhiratnya. Berkata Dzunnun „ailaihissalam : “Saya tidak pernah kenyang kecuali saya berbuat maksiat atau berkeinginan untuk bermaksiat”.” Yang lain mengatakan : “Kalau kamu bertanya pada ahli kubur. membutakan hati dan memperbanyak uap dan cairan dalam lambung. . Adapun manfaat lapar untuk kesehatan hati. apa penyebab kematianmu? Kebanyakan mereka menjawab. Berkata „Aisyah radiyallahu „anha: “Bid‟ah pertama yang terjadi setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam adalah kenyang sesungguhnya suatu kaum ketika kenyang perutnya keras nafsunya untuk mendapatkan dunia” Berkata al Imam ash Shan‟ani rahimahullah : “Sesungguhnya lapar itu adalah penjaga dari penjagaan Allah dan pertama yang terhindar dengan lapar adalah dorongan syahwat jima‟ dan syahwat berbicara karena bagi orang yang lapar tidak ada keinginan untuk berbicara kecuali sangat penting sehingga dia terhindar dari berbagai penyakit lisan.”kenyang”. mendudukkan anggota badan dari beribadah dan pada perut kosong itu banyak faedahnya yaitu menjernihkan hati . pada orang yang lapar juga tidak bangkit padanya syahwat jima‟nya sehingga terhindar dari penyaluran syahwat yang diharomkan. terluput dari berbagai kemamfataan duniawi dan ukhrowi”.“Yang banyak membunuh manusia adalah karena manusia suka memasukkan makanan pada perut sebelum makanan dalam perut dicerna. para ulama telah menerangkannya : Luqman al Hakim berwasiat pada putranya : “Wahai putraku jika kamu penuhi lambungmu maka akan tidur pikiranmu. Kenyang itu menyebabkan kedunguan. mencerdaskan manusia dan menajamkan bashiroh. membisukan hikmah.

jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut . Sedangkan kenyang menyebabkan lawannya. lembutnya jiwa.” Beliau juga berkata : “Barangsiapa mampu menguasai perutnya maka dia akan mampu menguasai amal sholehnya.” Diriwayatkan dari Amir bin Qois .” Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abi Dawud bahwa telah dikatakan padanya : “Lapar itu banyak menolong seseorang bersegera melakukan kebaikan. minumlah sepertiga perutmu dan biarkan sepertiga untuk bernafas dan berfikir.” Telah berkata Malik bin Dinar rahimahullah : “Tidak semestinya. karena kenyang itu mengeraskan hati.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Wahai Bani Adam. makanlah sepertiga perutmu.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Adalah bapak kita Adam diuji dengan makan.” Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata : “Aku tidak pernah kenyang sejak aku masuk Islam. dan terus kalian akan diuji dengan makan sampai hari kiamat. bahwa dia berkata : “Jauhilah oleh kalian kenyang.” Beliau juga berkata : “Tidaklah hikmah itu berada di perut yang penuh.Berkata Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah : “Lapar itu menyebabkan lembutnya hati.” Berkata Abu Imran Al-Juwaini : “Sesungguhnya nafsu. seorang mukmin menjadikan perutnya paling besar cita-citanya dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. kuatnya pemahaman. lemahnya nafsu dan kemarahan.

kenyang dan lega maka hatinya buta.” Beliau berkata : “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar, dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak, dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya.” Berkata Al-Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah : “Saya tidak pernah kenyang selama 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, menghilangkan kecerdasan, membuat banyak tidur dan melemahkan seseorang untuk melakukan ibadah.”

Demikian kehidupan Rasulullah dan para shahabat. Beliau dan para shahabatnya lebih memilih banyak lapar dari pada kenyang karena kefahamannya terhadap faedah lapar dan bahaya kenyang, lebih memilih mengekang syahwatnya daripada menurut syahwat, dan bukannya pada mereka tidak ada makanan tetapi beliau-beliau lebih memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada lawannya. Mereka makan dan minum sekedar dapat melaksanakan ibadah, karena hanya untuk itu (untuk beribadah) diciptakannya jin dan manusia.

Seringnya Rasulullah makan tiga hari sekali sampai wafat bukan makan sehari tiga kali seperti budaya kita. Allah berfirman : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

Ketika sholat sudah dilalaikan padahal sholat adalah tiang agama dan amalan yang diperintah untuk dijaga agar dikerjakan pada waktu-waktu terbaiknya maka amalan selain sholat sudah pasti akan lebih dilalaikan lagi.

Sholat adalah ukuran kedisiplinan seseorang, dan tidak ada yang lebih dapat melalaikan

sholat dan ibadah lainnya selain karena memperturutkan hawa nafsu, lebih mempertaruhkan hawa nafsu dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya daripada menjalankan hakhak Allah.

Semoga puasa kita pada bulan dan tahun ini diterima di sisi Allah sebagai ibadah yang diridhoi Allah, bermanfaat pada diri kita, baik dalam kehidupan di dunia, lebih-lebih sebagai bekal pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Wallahu a„lam bishshowab. Maraji‟ : 1. Tafsir Taisirul karimur Rohman, Al-Imam As-Sa‟di. 2. Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhussholihin, karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly.AlImam Ibnul Qoyyim. 3. Jami‟ul Ulum wal Hikam karya Al-Imam ibnu Rajab rahimahullah. 4. Subulussalam Syarah Bulughul Maram, karya Al-Imam As-Shon‟ani rahimahullah.

(Dikutip dari artikel Diantara Faidah Puasa, ditulis oleh ustadz Abdurrahim, Malang. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori, Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=764 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar

Beberapa faidah ibadah berpuasa kita

Sep 11, '08 11:11 PM untuk semuanya

Beberapa faidah ibadah berpuasa kita Penulis: Al Ustadz Abdurrahim Fiqh, 23 Oktober 2004, 12:52:33 Beberapa Faidah Puasa Semua perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang Dia syariatkan, pasti mengandung faedah dan manfaat dan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta‟ala pasti karena berakibat mudharat dan bahaya bagi hamba Allah Subhanahu wa Ta‟ala, baik bahaya di dunia maupun di akhirat. Baik dipahami maupun maupun tidak, baik di sadari ataupun tidak pasti karena bahayanya.

Demikian halnya dengan syariat puasa Romadhon yang sedang yang kita jalani ini, pasti mengandung manfaat dan faedah. Walaupun, sepintas lalu kebanyakan orang yang kalah dengan nafsunya beranggapan bahwa puasa itu hanya sebagai beban yang memberatkan, atau hanya sekedar sebagai ujian keimanan dari Allah ,atau hanya sekedar sebagai amalan ibadah yang berhak dihargai dengan suatu balasan dan pahala seperti halnya orang jual beli dengan penentuan harga, atau hanya sekedar untuk latihan pengekangan nafsu dan atau hanya sekedar untuk mengangkat manusia dari derajat hewan. Sebenarnya, semua pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang dilaksanakan sebagai amalan ibadah, yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan bagi orang beriman dan bertakwa perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala itu adalah qorrotul „uyun (penyejuk hati), kelezatan hati, sebagai dasar ketenangan dan ketentraman hidup, sebagai makanan hati yang utama dan sebagai sumber kekuatan manusia yang hakiki yang hanya dengan ini kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba bisa dicapai, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, yaitu hidup sibuk dengan upaya peningkatan iman dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala.

Seperti sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Dijadikan (oleh Allah) penyejuk hatiku dalam sholat.” (HR. Ahmad dan An-Nasa‟i) Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman :

Hal ini sudah diterangkan oleh Rasulullah shollallohu alaihi wasallam dan telah dicontohkan oleh Beliau dan keluarga Beliau.” Al-Imam Al-Baihaqi meriwayatkan : „Dunia adalah penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir.” (HR.” Al-Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah bahwa Beliau bersabda : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Yunus : 57) Menahan lapar di bulan puasa ataupun diluar bulan puasa ketika berpuasa maupun tidak.“Hai manusia. sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. pasti mengandung faedah dan manfaat yang sangat besar untuk kesehatan badan dan kesehatan hati.” (QS. Al-Bazzar ) Al-Imam Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad hasan dengan lafadz : “Orang yang banyak kenyang di dunia mereka adalah orang yang banyak lapar di akhirat. kemudian generasi berikutnya kemudian .” (Muttafaqun alaihi) Beliau bersabda : “Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat. Sayyidatina Aisyah rodhiyallohu anha berkata : ‫ل‬ “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat.

” (HR.” Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits : “ Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari perutnya.” Manfaat lapar terhadap kesehatan badan adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Masiwaih : “Sekiranya manusia mau mengamalkan hadits ini (riwayat Tirmidzi) mereka akan selamat dari sakit dan berbagai penyakit.”kenyang”.” Yang lain mengatakan : “Kalau kamu bertanya pada ahli kubur.” Al-Harits seorang dokter Arab mengatakan : “Yang banyak membunuh manusia adalah karena manusia suka memasukkan makanan pada perut sebelum makanan dalam perut dicerna. hendaknya Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya. memakai semua jenis pakaian dan banyak berbicara.berikutnya. Dan banyak di kalangan mereka orang-orang gemuk/ gendut. Imam Tirmidzi) Setelah membawakan sebagian hadits-hadits di atas. Al-Imam Ash-shon‟ani rahimahullah berkata : “Hadits ini menunjukkan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar‟i/ ibadah. Hal itu karena sumber segala penyakit adalah kenyang. . meminum semua jenis minuman.” Al-Imam Thabrani dan Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits : “Akan terjadi pada ummatku seseorang memakan semua jenis makanan. menutup rumah sakit dan mengistirahatkan toko obat/ apotik. Kemudian akan datang suatu kaum mereka memberikan persaksian padahal tidak diminta persaksiannya. jika tidak bisa tidak (terpaksa) maka makanlah sepertiga makanan sepertiga untuk minuman dan sepertiganya untuk nafasnya. mereka itulah paling jeleknya ummatku. Mereka banyak bernadzar tetapi tidak menunaikannya. apa penyebab kematianmu? Kebanyakan mereka menjawab. Maka.

Adapun manfaat lapar untuk kesehatan hati. orang lapar juga sedikit tidur karena orang yang banyak makan dan minum akan banyak tidur yang dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhiratnya. Berkata Dzunnun „ailaihissalam : “Saya tidak pernah kenyang kecuali saya berbuat maksiat atau berkeinginan untuk bermaksiat”. Berkata „Aisyah radiyallahu „anha: “Bid‟ah pertama yang terjadi setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam adalah kenyang sesungguhnya suatu kaum ketika kenyang perutnya keras nafsunya untuk mendapatkan dunia” Berkata al Imam ash Shan‟ani rahimahullah : “Sesungguhnya lapar itu adalah penjaga dari penjagaan Allah dan pertama yang terhindar dengan lapar adalah dorongan syahwat jima‟ dan syahwat berbicara karena bagi orang yang lapar tidak ada keinginan untuk berbicara kecuali sangat penting sehingga dia terhindar dari berbagai penyakit lisan. membutakan hati dan memperbanyak uap dan cairan dalam lambung. membisukan hikmah. lembutnya jiwa. Berkata Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah : “Lapar itu menyebabkan lembutnya hati.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : . mencerdaskan manusia dan menajamkan bashiroh. terluput dari berbagai kemamfataan duniawi dan ukhrowi”. Kenyang itu menyebabkan kedunguan. pada orang yang lapar juga tidak bangkit padanya syahwat jima‟nya sehingga terhindar dari penyaluran syahwat yang diharomkan. Sedangkan kenyang menyebabkan lawannya. mendudukkan anggota badan dari beribadah dan pada perut kosong itu banyak faedahnya yaitu menjernihkan hati . kuatnya pemahaman. para ulama telah menerangkannya : Luqman al Hakim berwasiat pada putranya : “Wahai putraku jika kamu penuhi lambungmu maka akan tidur pikiranmu. lemahnya nafsu dan kemarahan.

bahwa dia berkata : “Jauhilah oleh kalian kenyang. karena kenyang itu mengeraskan hati. Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak. dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah. minumlah sepertiga perutmu dan biarkan sepertiga untuk bernafas dan berfikir. seorang mukmin menjadikan perutnya paling besar cita-citanya dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada .” Beliau berkata : “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar.” Diriwayatkan dari Amir bin Qois .” Telah berkata Malik bin Dinar rahimahullah : “Tidak semestinya. makanlah sepertiga perutmu.” Beliau juga berkata : “Barangsiapa mampu menguasai perutnya maka dia akan mampu menguasai amal sholehnya.” Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata : “Aku tidak pernah kenyang sejak aku masuk Islam. dan terus kalian akan diuji dengan makan sampai hari kiamat.“Wahai Bani Adam. jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut kenyang dan lega maka hatinya buta.” Beliau juga berkata : “Tidaklah hikmah itu berada di perut yang penuh.” Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abi Dawud bahwa telah dikatakan padanya : “Lapar itu banyak menolong seseorang bersegera melakukan kebaikan.” Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Adalah bapak kita Adam diuji dengan makan.” Berkata Abu Imran Al-Juwaini : “Sesungguhnya nafsu.

karena kenyang itu memberatkan badan. Sholat adalah ukuran kedisiplinan seseorang. dan tidak ada yang lebih dapat melalaikan sholat dan ibadah lainnya selain karena memperturutkan hawa nafsu.” Berkata Al-Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah : “Saya tidak pernah kenyang selama 16 tahun. pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Seringnya Rasulullah makan tiga hari sekali sampai wafat bukan makan sehari tiga kali seperti budaya kita. Maryam : 59) Ketika sholat sudah dilalaikan padahal sholat adalah tiang agama dan amalan yang diperintah untuk dijaga agar dikerjakan pada waktu-waktu terbaiknya maka amalan selain sholat sudah pasti akan lebih dilalaikan lagi. Mereka makan dan minum sekedar dapat melaksanakan ibadah. lebih mempertaruhkan hawa nafsu dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya daripada menjalankan hakhak Allah. Semoga puasa kita pada bulan dan tahun ini diterima di sisi Allah sebagai ibadah yang . maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Beliau dan para shahabatnya lebih memilih banyak lapar dari pada kenyang karena kefahamannya terhadap faedah lapar dan bahaya kenyang. dan bukannya pada mereka tidak ada makanan tetapi beliau-beliau lebih memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada lawannya. Allah berfirman : “Maka datanglah sesudah mereka. menghilangkan kecerdasan. membuat banyak tidur dan melemahkan seseorang untuk melakukan ibadah. lebih memilih mengekang syahwatnya daripada menurut syahwat.simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya.” (QS.” Demikian kehidupan Rasulullah dan para shahabat. karena hanya untuk itu (untuk beribadah) diciptakannya jin dan manusia.

2. bermanfaat pada diri kita. 3. Subulussalam Syarah Bulughul Maram. Jami‟ul Ulum wal Hikam karya Al-Imam ibnu Rajab rahimahullah. Tafsir Taisirul karimur Rohman. Sumber artikel : http://www. 4. (Dikutip dari artikel Diantara Faidah Puasa. Malang dan edit oleh redaksi) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.salafy. Maraji‟ : 1. Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhussholihin.id/print.diridhoi Allah. 21 Juli 2003.php?id_artikel=764 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri Sep 11. 02:26:13 . karya Al-Imam As-Shon‟ani rahimahullah. Al-Imam As-Sa‟di. baik dalam kehidupan di dunia. '08 11:11 PM untuk semuanya Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf Fiqh. Malang. ditulis oleh ustadz Abdurrahim. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori. karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly.or.AlImam Ibnul Qoyyim. Wallahu a„lam bishshowab. lebih-lebih sebagai bekal pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.

Di antara amalan yang menyempurnakan puasa kaum muslimin di bulan yang penuh barokah ini adalah zakatul fithr. Zakat ini disebut demikian karena ia wajib ditunaikan pada saat kaum muslimin berbuka (menyelesaikan ibadah puasanya di bulan Ramadhan). Oleh karenanya disebut pula sebagai shodaqoh Ramadhan.

Menunaikan Zakat Fithri Sebagian para ulama menukilkan ijma' (kesepakatan) ulama tentang wajibnya menunaikan zakat ini. Dan ini adalah pendapat yang rajih/ kuat meskipun pada kenyataannya ada beberapa ulama yang menyatakan sunnahnya zakat fithri ini. Di antara yang memperkuat pendapat sebagian besar para ulama adalah hadits dari Ibnu 'Umar Radiyallahu 'anhu bahwa: "Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri (ketika Ramadhan berakhir) bagi setiap orang merdeka atau budak, lelaki atau perempuan, yang besar maupun kecil dari kalangan muslimin berupa kurma (tamr) atau gandum sebanyak 1 sha'. Dan beliau memerintahkan agar zakat ini ditunaikan sebelum kaum Muslimin keluar menuju lapangan (untuk menunaikan) sholat Ied. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Yang pasti, Allah Ta'ala mensyariatkan ibadah ini karena mempunyai keutamaan dan hikmah yang besar.Maka di antara hikmah dari zakat fithri adalah: 1. Sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, menyempurnakan kekurangan pahala puasanya di bulan Ramadhan oleh karena perbuatan sia-sia/ dosa. 2. Sebagai bentuk rasa syukur yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala, setelah mampu menyelesaikan ibadah Ramadhan dengan baik. 3. Mempererat ukhuwwah antara kaum muslimin, di mana dengan pemberian zakat ini akan terjalin hubungan yang baik antara dhu'afa dan aghniya. Kaum dhu'afa tak lagi disibukkan dengan kerja keras banting tulang bahkan kadang terpaksa mengemis untuk memperoleh makanan yang akan dimakannya pada saat Idul Fithri. Dengan demikian mereka akan turut bergembira dan merasakan kemenangan di hari tersebut. Demikianlah di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Fathul Baari (III/369) berkata: "Zakat Fithri diwajibkan untuk orang yang berpuasa dan juga orang yang tidak berpuasa sebagaimana hal ini telah diketahui keshahihannya. Demikian pula orang yang baru masuk Islam sesaat

sebelum terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan, maka ia pun terkena kewajiban menunaikannya."

Dengan apa zakat fithri dibayarkan Dari hadits di atas kita ketahui bahwa zakat fithri adalah dengan memberikan gandum dan tamr (kurma) seberat 1 sha'. Lalu apakah terbatas hanya pada dua jenis makanan ini? Maka pertanyaan ini akan terjawab dengan hadits marfu' (sanadnya sampai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam) yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry bahwasanya dia berkata: "Kami dahulu memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu „alaihi wassalam seukuran 1 sha' makanan atau 1 sha' kurma atau 1 sha' gandum atau 1 sha' aqith (susu kambing yang dipanaskan hingga berbusa lalu diambil saripatinya dan dibiarkan hingga mengeras) atau 1 sha' anggur kering."

Ternyata dalam dua hadits ini, tidak kita dapati penyebutan beras atau sagu sebagai bahan makanan pokok di negeri ini. Sehingga apakah kita harus mencari bahan-bahan yang tersebut dalam dua hadits di atas untuk membayar zakat fithri kita?

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, pendapat yang paling masyhur di dalam madzhab Hanbali (madzhabnya pengikut Imam Ahmad ibnu Hanbal) adalah pendapat bahwa membayar zakat dengan bahan-bahan selain yang disebutkan dalam dua hadits di atas adalah tidak sah. Akan tetapi pendapat ini, wallahu a'lam, adalah pendapat yang marjuh/ lemah. Sebab dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudry mengatakan: "Kami (para sahabat Nabi) memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam berupa 1 sha' makanan." Abu Sa'id Al-Khudry berkata: "Dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, anggur kering, dan aqith."

Riwayat ini menunjukkan bahwa makanan yang dibayarkan adalah makanan pokok yang paling banyak dibutuhkan oleh penduduk suatu negeri. Dan ini adalah pendapat ulama dari madzhab Malikiyyah dan Syafi'i dan diriwayatkan pula dari Imam Ahmad, serta dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi'iy rahimahullah ta'ala. Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman ibnu Shalih Al-Bassam dalam Taisirul 'Allam –

keterangan beliau terhadap kitab Umdatul Ahkam – (I/404) mengatakan: "Bahan makanan yang paling utama untuk zakat fithri (dari bahan-bahan makanan yang ada) adalah bahan makanan pokok yang paling dibutuhkan oleh kaum muslimin (faqir dan miskin) setempat." Sehingga di Indonesia, bahan makanan yang paling baik untuk zakat fithri adalah beras. Wallahu a'lam.

Berapa ukurannya

Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ukuran (takaran) 1 sha' adalah sha' nabawy (seukuran 4 mud yang ditakar dengan dua tangan Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam). Dan apabila dikonversikan ke satuan timbangan (berat) maka 1 sha' nabawy setara dengan 2040 (dua ribu empat puluh) gram atau 2,04 kg. Wallahu a'lam.

Bolehkah menggantikan bahan pokok dengan uang yang senilai? Al-Imam An-Nawawy menukilkan dalam Syarah Muslim (VII/53) bahwa seluruh ulama (kecuali Abu Hanifah) tidak membolehkan zakat fithri yang dibayarkan dengan uang. Dan inilah yang rajih/ kuat berdasarkan beberapa hal: 1. Hadits tentang zakat fithri menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mensyariatkan zakat ini untuk ditunaikan dalam bentuk makanan. 2. Amalan Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam dan sahabatnya menunjukkan bahwa mereka selalu menunaikan zakat ini berupa makanan, padahal kita mengetahui bahwa di masa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam pun telah beredar uang dinar dan dirham. Namun beliau dan para sahabatnya tetap menunaikan zakat dengan bahan makanan, tidak dengan dinar dan dirham.

Siapa yang harus dibayarkan zakatnya Setiap kaum muslimin (laki-laki dan perempuan) harus membayar zakatnya masing-masing jika dia memiliki kemampuan untuk membayarnya. Sehingga seorang wanita atau anak kecil yang memiliki harta harus menunaikan dengan hartanya. Adapun bila dia tidak memiliki harta maka yang harus membayar adalah orang yang menanggung nafkahnya kalau dia memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang harus ia nafkahkan kepada orang-orang

Karena dalil dari Al-Qur'an ini adalah dalil yang bersifat umum.yang berada di bawah tanggungannya pada malam Ied dan esoknya. yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin. Mereka meng-qiyas-kannya dengan zakatul maal yang memang diberikan kepada 8 golongan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala dalam surat At-Taubah ayat 60. sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama. Beliau telah mencontohkan hal ini di masa hidupnya. Kepada siapa zakat fithri diberikan Zakat fithri diberikan kepada yang berhak menerimanya. Mereka adalah orang-orang faqir dan miskin. Bolehkah membentuk kepanitiaan untuk zakat fithri Di antara sunnah Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam dalam penunaian zakat fithri adalah pembentukan panitia khusus yang menerima zakat fithri dari kaum muslimin serta menyalurkannya kepada yang berhak menerima. Muslim). Bila dia tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang harus dia nafkahkan untuk tanggungannya maka tidaklah wajib baginya untuk membayar. maka wajib bagi tuannya untuk membayar zakat budak tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah: "Tidak ada kewajiban untuk membayarkan shodaqoh seorang hamba sahaya kecuali zakat fithri." . Sedangkan untuk zakat fithri adalah dalil khusus yaitu hadits Ibnu Abbas yang telah disebut di atas. Namun qiyas ini tidaklah dibenarkan." (HR. Lalu mengapa zakat fithri ini tidak disalurkan kepada 8 golongan Sebagian para ulama menganggap bahwa zakat fithri disalurkan kepada 8 golongan. Diceritakan oleh Abu Hurairah: "Rasulullah memberitahukan kepadaku agar aku mengurus zakat Ramadhan." Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Majmu' Fatawa (II/71-78) serta Ibnul Qoyyim dalam kitab beliau Zadul Ma'ad (II/44). pensuci bagi orang yang puas dari perbuatan sia-sia. Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu meriwayatkan: "Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. Adapun hamba sahaya.

dan lainnya dengan sanad yang hasan). (Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah dilakasanakan shalat iedul fithri maka ia dianggap sebagai salah satu jenis shodaqoh saja dan zakatnya tidak diterima. Dan para ulama sepakat bahwa ia tidak boleh ditunda sama sekali. Abu Dawud. Dan Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: "Barangsiapa menunaikan zakat fithri sebelum shalat ied maka ia adalah zakat yang diterima. kami mengajak segenap kaum muslimin untuk menunaikan zakat fithri sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar ra: "Bahwa Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kum muslimin untuk membayarkan zakatnya sebelum keluarnya mereka untuk menjalankan shalat Ied. Ibnu Majah. Bulletin al Wala wal Bara Edisi ke-2 Tahun ke-1 / 29 November 2002 M / 24 Ramadhan 1423 H. Oleh sebab itu." Kapan zakat fithri ditunaikan Ia harus ditunaikan (disampaikan kepada yang berhak) sebelum kaum muslimin keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat Ied.htm) . Amin.atspace." Abdul Warits bertanya lagi: "Kapankah panitia itu mulai bertugas?" Maka beliau menjawab: "Satu atau dua hari sebelum Idul Fithri. maka hal ini diperbolehkan. sehingga Allah Subhanahu wa Ta‟ala menyempurnakan pahala ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini dengan zakat fithri yang kita tunaikan.org/awwb/th1/2. Abdul Warits bertanya kepada Ayyub: "Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu sha' (zakat fithri)?" Ayyub menjawab: "Setelah panitia mulai bertugas." Adapun memajukannya satu atau dua hari sebelum Iedul Fithri.Ibnu Khuzaimah (dalam kitab [IV/83]) mencantumkan satu riwayat dari Abdul Warits dari Ayyub bahwasanya Ibnu Umar pernah menyalurkan zakat fithri melalui panitia yang dibentuk oleh pemerintah muslimin satu atau dua hari sebelum Idul Fithri. url sumber http://fdawj." (HR. sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan riwayat dari Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radiyallahu „anhu. Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah zakat fithri.

Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah. Sumber artikel : http://www. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. (untuk) memusnahkan penyimpangan orangorang sesat dari sunnah. wlaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan yang shahih yang menyingkap yang bathil. dan sebagai penegasan terhadap kebenaran.tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walaupun sedikit perhatianpun.php?id_artikel=121 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Lagi. dan mematahkan takwilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu Sunnah. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Sep 11.Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna.id/print. Sejak bertahuntahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits dhaif. maka kami katakan: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan sunnah Nabi secara adil. diada-adakan atau lainnya. 28 Oktober 2004.or. '08 11:03 PM untuk semuanya Lagi. dusta. karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia. Maksud kami bukan membahas dengan detail . 05:15:09 Hadits-hadits dhaif yang tersebar seputra bulan Ramadhan Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami.salafy.

niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. “Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.” dan Bukhari. serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” Hingga akhir hadits ini.” Jadikanlah imam ini sebagai suri tauladan kita. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat…” (riwayat Bukhari 6/361).” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu‟aim. berkata.masalah ini.menduduki kedudukan yang tinggi. tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan mashyur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya.55) Maka kami katakan wabillahi taufiq: Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali. “matruk (ditinggalkan) . dan sabda beliau: “Agama itu nasehat…”(riwayat Muslim no. penyakitnya pada Jabir bin Ayyub. hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak.yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya‟la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul „Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas‟ud Al Ghifari. “Dia suka memalsukan hadits. Semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya. jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup) kita. biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan kelemahannya. “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa‟i. Hadits ini maudhu‟ (palsu). hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini –sangat disesalkan. Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia pada bulan Ramadhan diantaranya: 1.

Hadits ini sanadnya dhaif. “Wahai manusia. kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai. Hadits ini juga panjang. karena lemahnya Ali bin Zaid.” Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323).” Ibnul Jauzi menghulumi hadits ini sebagai hadits palsu. dan ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya. “Tidak kuat. bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.” 3. Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. “Berpuasalah. “Jangan berhujjah dengan hadits ini.” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf. maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain…. “Jika haditsnya shahih. dan dia lemah. “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya. Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini.” berkata Imam Ahmad bin Hanbal. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat. “Jika benar kabarnya. niscaya kalian akan sehat. karena jelek hafalannya. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan.” berkata Ibnu Ma‟in. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178.” . “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad‟an.b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad‟an dari Sa‟id bin Al Musayyib dari Salman.” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam‟ul Jawami‟ (no. karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al Bajali. “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah. 23714-tertib urutannya).haditsnya. sungguh bulan yang agung twlah (menaungi) kalian. Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (1/249).” dan berkata Ibnu Khuzaimah. berkata Ibnu Sa‟ad. “Lemah di segala penjuru. “Hadits yang mungkar.” 2.

Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta‟liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah. dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas.” Ibnu Abi Hatim berkata. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870). “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair –pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam. hingga kesimpulannya ada tiga penyakit: idhthirab (goncang).pent) yang dhaif itu. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari (4/161): “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak. Aku katakan: dan Muhammad bin Sulaiaman Syaami.Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa‟id. At Tirmidzi (723).” Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu‟allaq* dalam Shahih-nya (4/160 –Fathul Bari) tanpa sanad.” demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/427). tidak diketahuinya keadaan Abil muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah.” . karena jeleknya hafalan dia. “Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari ahli Syam ini tidak membuatku kagum. dari Zuhair bin muhammad. Berkata Abu Bakar Al Atsram. Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma‟ul Bahrain) dan Abu Nu‟aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud. 4.berkata. biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaiman dinaskhkan oleh para Imam adalah mungkar. Abu Daud (2397). Dan sanad hadits ini lemah.” Al Ajalaiy berkata. “Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut. Ibnu Majah (1672) dan Nasa‟i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373). dan hadits ini darinya. “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak. “Aku mendengar Imam Ahmad –dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin muhammad.

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. telah benar dan baik orang yang menamainya (yakni Al Isnad) adalah: “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar. Ditulis oleh: Penuntut Ilmu Syar‟i Ali Hasan Ali Abdul Hamid Saalim Al Hilali 25 Ramadhan 1403 H (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Dengan sanad ini dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak. Wasubhaanakallahu wa bihamdika. wa atuubu ilaika.” Wa ba‟du: Inilah empat hadits yang didhifkan oleh para ulama dan dilemahkan oleh para Imam. membedakan yang shahih dari yang jelek. asyhadu anlaa ilaha illa anta. Bab "HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN".umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya sehingga hadits ini dhaif juga. akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. namun walaupun demikian kita (sering)mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah. Wahai saudaraku yang haus akan ketaatan kepada Allah. Tidak menutup kemungikinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar. bersegeralah kepada kebaikan.” Mudah-mudahan Allah memberi rizki pada kami kebaikannya.Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: “Jika khabarnya shahih. Penerbit Al . Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit. yang sesuai dengan syari‟at kita yang lurus baik dari Al Qur‟an maupun Sunnah. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. inilah sifat puasa Nabi dihadapanmu. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. astaghfiruka. Dan inilah petunjuknya dalam puasa Ramadhan. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.

Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka –kecuali yang diberi rahmat oleh Allah. dusta.Maktabah Al islamiyyah cet. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna.tidak memperdulikan masalah yang mulia . karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www. maka kami katakan: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan sunnah Nabi secara adil. Sejak bertahuntahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits dhaif. Ke 5 th 1416 H.or. dan sebagai penegasan terhadap kebenaran. '08 11:02 PM untuk semuanya Lagi.salafy. diada-adakan atau lainnya. 28 Oktober 2004. dan mematahkan takwilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu Sunnah. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. 05:15:09 Hadits-hadits dhaif yang tersebar seputra bulan Ramadhan Kami menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami. (untuk) memusnahkan penyimpangan orangorang sesat dari sunnah.php?id_artikel=778 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Lagi. hadits-hadits lemah sekitar Ramadhan Sep 11.id/print.

Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia pada bulan Ramadhan diantaranya: 1. Semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan: “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata: “Masyhur dengan . jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup) kita.yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif. hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini –sangat disesalkan. wlaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan yang shahih yang menyingkap yang bathil. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat…” (riwayat Bukhari 6/361). Hadits ini maudhu‟ (palsu).” Jadikanlah imam ini sebagai suri tauladan kita. dan sabda beliau: “Agama itu nasehat…”(riwayat Muslim no. “Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan.menduduki kedudukan yang tinggi. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” Hingga akhir hadits ini. penyakitnya pada Jabir bin Ayyub. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Mauduat (2/188-189) dan Abul Ya‟la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al Muthalibul „Aaliyah (Bab/A-B/ tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas‟ud Al Ghifari. Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini.ini walaupun sedikit perhatianpun. tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan mashyur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya. hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih –walau banyak. niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia.55) Maka kami katakan wabillahi taufiq: Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali.

b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad‟an dari Sa‟id bin Al Musayyib dari Salman. “Dia suka memalsukan hadits. “Hadits yang mungkar. dan ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya. Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Hadits ini juga panjang. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan. 23714-tertib urutannya).” Juga dinukilkan perkataan Abu Nu‟aim.” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf. berkata Ibnu Sa‟ad. karena lemahnya Ali bin Zaid. dan dia lemah. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat.” 2. Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini.” Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323).” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam‟ul Jawami‟ (no. sungguh bulan yang agung twlah (menaungi) kalian.” dan Bukhari. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178. “Jika benar kabarnya. Hadits ini sanadnya dhaif. bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.kelemahannya.” dan berkata Ibnu Khuzaimah. “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya. berkata.” berkata Ibnu Ma‟in. “Jika haditsnya shahih. “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad‟an. “Wahai manusia.” Ibnul Jauzi menghulumi hadits ini sebagai hadits palsu.” berkata Imam Ahmad bin Hanbal. pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai. “Lemah di segala penjuru. “Mungkarul hadits” dan dari An Nasa‟i. “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah. Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (1/249). “Jangan berhujjah dengan hadits ini. karena jelek hafalannya. “matruk (ditinggalkan) haditsnya. kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. “Tidak kuat.” . karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al Bajali. maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain….

Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870).3. “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair –pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam. karena jeleknya hafalan dia. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul bari (4/161): “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak. “Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut. dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Berkata Abu Bakar Al Atsram. “Berpuasalah. Abu Daud (2397). “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak. tidak diketahuinya keadaan Abil muthawwas dan diragukan . dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. niscaya kalian akan sehat. 4.” Ibnu Abi Hatim berkata. biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaiman dinaskhkan oleh para Imam adalah mungkar.” Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu‟allaq* dalam Shahih-nya (4/160 –Fathul Bari) tanpa sanad. Dan sanad hadits ini lemah. Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta‟liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah. At Tirmidzi (723). Ibnu Majah (1672) dan Nasa‟i di dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatu Asyraaf (10/373). dan hadits ini darinya.berkata.” demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/427). hingga kesimpulannya ada tiga penyakit: idhthirab (goncang).pent) yang dhaif itu.” Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa‟id. Diriwayatkan oleh At Thabrani di dalam Al Ausath (1/q 69/ Al Majma‟ul Bahrain) dan Abu Nu‟aim di dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud. Nahsyal termasuk yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. “Aku mendengar Imam Ahmad –dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin muhammad. Aku katakan: dan Muhammad bin Sulaiaman Syaami. dari Zuhair bin muhammad.” Al Ajalaiy berkata. “Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari ahli Syam ini tidak membuatku kagum.

Ditulis oleh: Penuntut Ilmu Syar‟i Ali Hasan Ali Abdul Hamid Saalim Al Hilali 25 Ramadhan 1403 H (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). membedakan yang shahih dari yang jelek. Wahai saudaraku yang haus akan ketaatan kepada Allah. Dengan sanad ini dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak. akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam.” Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya: “Jika khabarnya shahih. yang sesuai dengan syari‟at kita yang lurus baik dari Al Qur‟an maupun Sunnah.umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. inilah sifat puasa Nabi dihadapanmu. telah benar dan baik orang yang menamainya (yakni Al Isnad) adalah: “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar. karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya sehingga hadits ini dhaif juga. Wasubhaanakallahu wa bihamdika.” Mudah-mudahan Allah memberi rizki pada kami kebaikannya. astaghfiruka. wa atuubu ilaika. Bab . Dan inilah petunjuknya dalam puasa Ramadhan.” Wa ba‟du: Inilah empat hadits yang didhifkan oleh para ulama dan dilemahkan oleh para Imam. Tidak menutup kemungikinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar.pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah. dan terlebih lagi –segala puji hanya bagi Allah. bersegeralah kepada kebaikan. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. asyhadu anlaa ilaha illa anta. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit. namun walaupun demikian kita (sering)mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.

id/print."HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN". ia berkata: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam memerintahkan kami .salafy.”194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim] Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri. '08 10:54 PM untuk semuanya Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Syaikh Salim & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. Sumber artikel : http://www.”195)[Riwayat Abu Daud (1622) dan An Nasa‟I (5/50). padanya ada Al Hasan ber-„an‟anah. Dan hadits sebelumnya sebagai syahid] Sebagian Ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa‟ad bin Ubadah.or. 28 Oktober 2004. Ke 5 th 1416 H. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Hukumnya Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:“Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia]. 05:03:44 1. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.php?id_artikel=778 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11.

perempuan. kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin. anak kecil. karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain. tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah.dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya (kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami.”198) [HR Muslim (982)] Hadits ini umum. Yang lain berkata. dan dikeluarkan oleh An Nasa‟I (5/49) dan Ibnu Majah (1/585) dan Ahmad (6/6). laki-laki. kedudukan zakat harta (sebagaiman) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang perorang). sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum. tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri).” Al Hafidz Rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya (3/368): “bahwa pada sanadnya ada rawi yang tidak dikenal196) [Akan tetapi hadits tersebut mempunyai penguat. tidak mengharuskan dimansukhknya hukum sebelumnya. Ibnu Khuzaimah (4/81) dan Al Hakim (1/410) dan Al Baihaqi (4/159) dari beberapa jalan. mungkin Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mencukupkan dengan perintah yang pertama. Siapa yang Wajib Zakat ? Zakat fithri wajib atas kaum muslimin. dan sanadnya shahih] dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (diahapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri. orang yang merdeka maupun hamba. “Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan .” Imam Al Khathabiy Rahimahullah berkata dalam Ma‟alimus Sunan (2/214): “Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri. besar.”197)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)] Sebagian Ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri.” 2. sedang hadits Ibnu Umar khusus. atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma.

tepung dan adonan. satu gantang korma. jika berserikat dalam „illat berserikat pula dalam hukum.”200) [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)] Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mewajibkan atu gantang gandum. ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu.” Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin. yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin. satu gantang gandum. satu ganang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit). karena hadits Abu Sa‟id Al Khudri Radhiallahu anhu: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam) satu gantang makanan. tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu. baik menurut masyarakat maupun istilah. karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar. namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya. zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari. satu gantang anggur kering. maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu. satu gantang korma dan satu gantang salt.”199) [Telah lewat takhrijnya] Imam Al Khathabiy dalam Ma‟alimus Sunan (3/214) menegaskan: “Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia. satu gantang kurma. jika „illat diwajibkannya karena pensucian.” Al Hafidz menjawab (3/369): “Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan. Macam Zakat Fithri Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu gantang gandum. pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia.zakat fithri. 3. satu gantang susu.”201) [Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/80) dan Al Hakim (1/409-410) Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa‟id Al Khudri. satu gantang susu kering. semuanya telah dilakukan oleh para sahabat .

anggur kering. aku mengira beliau berkata: “yang membawa adonan diterima. agar kaum muslimin yang mendudukkkan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka. budak dan orang yang merdeka. dan yang paling sahahih berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam: “Tunaikanlah satu gantang gandum atau korma.berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu gantang makanan dari anak kecil.”203) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima. tetapi berdasarkan hadita marfu‟ sampai kepada Rasululllah Shalallahu „alaihi wassalam. barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan. Ukuran Zakat Fithri Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi. ada yanga mengatakan setengah gantang ini yang rajih.”202) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180). susu yang dikeringkan dan korma. 4. besar. yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima. diterima. untuk dua orang satu gantang dari gandum . aku mengira beliau berkata. dan bahwa satu mud hinthah itu melebihi yang ada di sini. yang membawa korma diterima. menurut hadits-hadits yang shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu gantang anggur. sanadnya hasan] Dari beliau Shalallahu „alaihi wassalam bersabda: “Zakat fithri satu gantang makanan. bahwa pendapat Mua‟wiyah bukanlah ijtihad hasil dari pemikiran sendiri.”204) [Telah lewat takhrijnya] Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri. sanadnya hasan] Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Mu‟awiyah Radhiallahu anhu berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam. yang membawa anggur kering diterima. barangsiapa yang membawa gandum diterima. Ini dikuat-kan oleh perkataan Abu Sa‟id: “Dulu makanan kami adalah gandum. “Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima. mereka ikhtilaf tentang hinthah.

Nasa‟I (7/281). Kemana Disalurkannya Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya. tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih] 5. Dan dikeluarkan Al Baihaqi (4/161) dari jalan yang lain dari Ali.atas orang merdeka. dan sanadnya terputus.”207) [Dikeluarkan oleh Daruquthni (2/141) dan Ibnu Umar dengan sanad dhaif (lemah). Gantang yang teranggap adalah gantangnya penduduk Madinah. Maka -dengan jalan-jalan inimaka haditsnya menjadi hasan] 6. orang merdeka dan hamba dari orang-orang yang membekalinya. Sebagian Ahlul ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan. Nasa‟I (7/281). Dan padanya ada jalan yang mauquf dari Ibnu Umar pada Inu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/37) dengan sanad shahih.”206) [Riwayat Abu Daud (2340). dan kiloan yang teranggap adalah kiloan-nya orang madinah. baik anak kecil maupun orang tua laki-laki dan perempuan.”208) [Telah lewat takhrijnya]. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu‟ Fatawa (2/71-78) serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma‟ad (2/44). mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih]. Dan Syaikhul Islam telah membentahnya pada kitab . berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah. orang yang merdeka dan budak.”205) [Riwayat Abu Daud (2340). berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: “kami diperintah oleh Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua. hamba. Siapakah yang harus dibayar zakatnya? Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya. anak kecil atau besar.

” Aku katakan: “Kapankah petugas itu mulai bertugas?” Beliau menjawab: “Satu hari atau dua hari sebelum “Idul Fithri. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum „Iedul Fithri.yang telah disebutkan baru saja. Hikmah Zakat Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang .maktabah Al Islamiyah] berdasarkan perbuatan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma –berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayatnyamaka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “… Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima. dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada).”211) [Telah lewat takhrijnya] 8. aku katakan: “Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang?” Berkata Ayyub: “Apabila petugas telah duduk (bertugas). kecuali satu atau dua hari (sebelum „Id)210) [Lihat pada kitab Ahkamul „Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid. karena hal itu sangat penting. maka lihatlah kitab tersebut. pent) untuk mengumpulkannya.” 7. Waktu Penunaian Zakat Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju sholat „Id dan tidak bleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya. ia berkata: “Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan. Sungguh Nabi Shalallahu „alaihi wassalam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiallahu anhu. dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub. Termasuk amalan sunah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk diberikan kepada yang berhak –pent).”209) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/396)] Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar Radhiallahu anhuma mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan. cet.

Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.or. Bab "Zakat Fitrah".berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi (kebutuhan ) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma yang telah lalu. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.php?id_artikel=777 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Sep 11. .salafy. Sumber artikel : http://www. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. 05:26:46 Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Kalau jasmani seseorang dapat menjadi kuat disebabkan latihan fisik. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. suplai bahan makanan dan minuman yang merupakan bahan bakar aktifitas kehidupan manusia berkurang sehingga pembuluhpembuluh darah menyempit. 18 Oktober 2004. maka puasa dapat memperkuat jiwa. Ke 5 th 1416 H. '08 10:54 PM untuk semuanya Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan Penulis: Al Ustadz Ahmad Hamdani Fatwa-Fatwa. Pada diri seseorang yang berpuasa. Seiring dengan menyempitnya pembuluh-pembuluh darah itu berarti menyempit pula tempat aliran setan dalam tubuh.id/print.

Ahmad 2/446. Ibnu Majah 1/539. 2. ( ‫ق‬ ٠٧٢/٤ ١/٥٣٩ ‫ل‬ ٢/٢١ ‫٣٧٣ ،٦٤٤/٢ ح‬ Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya selain dari rasa lapar dan dahaga. (HR. Puasa merupakan amal tersembunyi. ٣/٣، ٩/١٧٥ ‫)٨٥١-٧٥١/٣ ل‬ Puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya. Puasa sebagai benteng bagi orang-orang yang bertaqwa dari musuh Allah yaitu setan yang jalannya dalam rangka menguasai manusia adalah hawa nafsu syahwat. Puasa memiliki dua keutamaan khusus yang tidak ditemukan pada ibadah badan lainnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ). Inilah hakikat puasa. Bukhari 3/3. Akan tetapi orang-orang yang berpuasa itu berbeda dan bertingkat-tingkat dalam hal mendapatkan pahala dan keutamaannya. Ad-Darimi 2/21. 373 dan Al-Baihaqi . yaitu: 1. Allah berfirman dalam hadits qudsi tentang keutamaan puasa: ). (HR. 9/175 dan Muslim 157-158) Sebenarnya cukuplah satu hadits qudsi yang mulia itu menunjukkan keutamaannya.Keadaan seperti ini akan membuat nafsu syahwat terpenjara (dari hubungan sex atau persetubuhan) dan memenangkan anggota badannya dengan cara yang menakjubkan. Pada umumnya orang lain tidak mengetahuinya dan kemungkinan besar sedikit tercampur dengan unsur riya‟. Dengan demikian puasa adalah perisai dari serangan nafsu syahwat bagi orang-orang yang bertaqwa.

Di antara yang berbuka mengejek yang berpuasa dengan alasan bahwa berbuka itu lebih utama. Para ulama masih bersilang pendapat bila safarnya untuk bermaksiat pada Allah seperti safar dengan niat merampok. Begitu pula orang yang mengingkari orang yang berbuka (ketika safar). Semoga bermanfaat. Orang yang mengatakan bahwa orang yang safar tidak boleh berbuka kecuali yang lemah untuk berpuasa. jihad. Dalam kaitan ini kami kutipkan fatwa-fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Fauzan yang berhubungan dengan puasa berupa tanya jawab sekitar puasa dan Ramadlan. maka orang tersebut diminta bertaubat. 87-100: Tanya: Beberapa orang melakukan safar (bepergian) pada bulan Ramadlan. Jika tidak bertaubat. Pertanyaan: Berapakah jarak boleh mengqashar shalat? Apakah bila seseorang safar pada suatu hari boleh berbuka puasa? Apakah perbedaan safar maksiat dan safar ketaatan kepada Allah? Jawab: Menurut kesepakatan kaum muslimin (ulama) berbuka puasa diperbolehkan bagi musafir jika safar itu bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya seperti haji. maka dibunuh. maka dia diminta untuk bertaubat dari pendapatnya itu. dan yang semisalnya. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab beliau Haqiqatus Shiyam hal. berdagang.4/270 dari jalan Sa'id Al-Muqbiri dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu) Hal ini terjadi disebabkan orang yang berpuasa tidak mengerti hakekat puasa sehingga tidak melaksanakannya sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya dan puasanya tidak mendatangkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. baik tersedia makanan minuman atau tidak. Orang yang safar boleh mengqashar shalat dan berbuka puasa menurut kesepakatan ulama meskipun tidak merasa haus dan lapar. Dalam rombongan itu ada yang berbuka dan ada yang berpuasa. .

Mereka berdalil dengan hadits: . (HR. Sebagaimana pula madzhab Dhahiri. sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan ijma' umat. dan Imam Ahmad. Sedangkan yang masih diperselisihkan justru pembolehan berpuasa bagi musafir. bagi musafir diperbolehkan mengqashar shalat yang empat rakaat dan hal ini lebih afdhal. Abu Hurairah. Abu Hanifah. Bukhari dan Muslim) Sedangkan madzhab yang empat membolehkan puasa bagi musafir dengan dasar ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Anas radliyallahu 'anhu: ). Pendapat ini dipegang oleh Abdurrahman bin 'Auf. Imam Malik.Juga orang yang mengatakan bahwa orang yang berbuka (ketika safar) itu berdosa. Bukhari) Hal ini karena mereka memahami firman Allah: ‫ل‬ . bahkan tidak diperbolehkan berpuasa sehingga meskipun ia berpuasa tetap wajib mengqadlanya. ia harus bertaubat dari ucapannya itu. Sekelompok ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa orang yang sedang safar harus berbuka. Menurut pendapat imam yang empat. Karena semua itu bertentangan dengan Kitabullah. maka yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa. Para ulama tidak bersilang pendapat dalam hal pembolehan berbuka puasa bagi musafir. Imam Syafi'i. ( Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak termasuk kebaikan puasa dalam safar (bepergian). dan lainlain radliyallahu 'anhum. (HR.

supaya kamu bersyukur. maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah: 185) Adapun ukuran safar yang diperbolehkan untuk mengqashar shalat dan berbuka puasa menurut Imam Ahmad dan Syafi'i adalah jarak perjalanan dua hari dengan kendaraan unta atau jalan kaki sejauh lebih kurang 16 farsakh (satu farsakh lebih kurang 8 km –pent) seperti jarak antara Mekah-Ashfahan atau Mekah-Jedah. bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan bathil). Menurut pendapat yang paling kuat adalah boleh berbuka dan menqashar shalat pada bepergian kurang dari dua hari[1]. sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain. Sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab Sunan.: . Sedangkan Abu Hanifah dan kelompok ulama salaf dan khalaf lainnya menentukan jarak perjalanan 3 hari. dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) (wajiblah baginya berpuasa). Tanya: Apakah seorang safar pada pertengahan hari boleh berbuka? Jawab: Ada dua pendapat yang masyhur mengenai masalah ini. Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu. Keduanya dari Imam Ahmad. ١٨٥﴾ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan. Para shahabat berbuka bila keluar safar pada pertengahan hari dan disebutkan bahwa yang . Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengqashar shalat ketika di Arafah dan Muzdalifah serta Mina yang diikuti oleh penduduk Mekah dan beliau tidak memerintahkan mereka menyempurnakan shalat mereka. Yang paling benar adalah seseorang diperbolehkan berbuka ketika safar di pertengahan hari (sebelumnya ia berpuasa –pent). Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Orang yang sering bepergian ke suatu tempat tertentu boleh berbuka seperti pedagang yang pergi ke kota lain.demikian itu sunnah yang dikerjakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. maka boleh mengqashar shalat. haus maupun lelah. bila mereka dalam perjalanan dari tempat musim dingin ke tempat musim panas atau sebaliknya. Sedangkan orang yang bepergian jauh dengan naik kapal besar ditemani istrinya. Apakah yang lebih utama baginya puasa atau tidak? Jawab: Menurut ijma' ia lebih utama berbuka meskipun dia tidak merasa berat dan berpuasa juga diperbolehkan. Turki dan selainnya yang bermukim pada musim panas di suatu tempat. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berniat puasa waktu safar. Apakah pendapat ini dibenarkan? . Orang-orang pedalaman seperti Badui Arab. Sedangkan bila telah singgah di tempat musim dingin atau tempat musim panas tidak boleh berbuka dan mengqashar shalat. membawa perbekalan lengkap dan dia terus-menerus demikian maka dia tidak boleh mengqashar shalat maupun berbuka puasa. Tanya: Ada seorang imam masjid bermadzhab Hanafi menyebutkan bahwa dia membaca kitab bahwa bila seseorang berpuasa di bulan Ramadlan tidak berniat pada akhir waktu isya' atau sahur maka puasanya tidak berpahala. Sedangkan apabila seorang tiba di tempat tujuan pada pertengahan hari. tukang pos yang bepergian untuk kemaslahatan kaum muslimin dan lain-lain. Tanya: Ada seorang yang safar di bulan Ramadlan tidak merasa lapar. Kemudian beliau dijamu dan beliau makan. Walaupun ada sebagian ulama mengatakan tidak berpahala bila ia puasa. para ulama masih berselisih pendapat dalam menentukan kewajiban berpuasa. Akan tetapi dia wajib mengqadla baik berpuasa atau tidak. Para shahabat melihat beliau.

Niat itu tempatnya di hati. Sebagaimana disabdakan Nabi . Bila ia tahu besok akan puasa haruslah ia meniatkan puasa. maka ia tidak perlu menyerahkan barang itu kedua kalinya. Bila ia tahu besok Ramadlan maka ia akan menta'yin (menentukan niatnya) artinya tidak cukup berniat secara mutlak karena Allah ta'ala memerintahkannya niat menunaikan kewajibannya yaitu puasa bulan Ramadlan. Ketiga. cukup baginya. boleh secara mutlak seperti pendapat Abu Hanifah. Kedua. harus meniatkan puasa Ramadlan.Jawab: Setiap muslim yang mengetahui bahwa puasa Ramadlan itu wajib hukumnya. tetapi ia hendaknya mengatakan: Titipan yang kuberikan padamu itu adalah milikku. Riwayat yang ketiga ini dari Ahmad dipilih oleh Al-Hiraqi dan Abul Barkat. yaitu dengan niat mutlak. apakah hal ini wajib atau tidak? Ada tiga pendapat dalam madzhab Imam Ahmad: Pertama. Seperti seorang yang dititipi barang atau uang miliknya sendiri. Keumuman kaum muslimin berpuasa dengan diiringi niat. tetapi ia tidak mengetahui bahwa titipan itu miliknya lalu ia sedekahkan pada orang lain. ia tentu berpuasa bulan itu dengan niat. tidak cukup niat mutlak[2]. Yang menjadi perselisihan adalah pengkhususan (ta'yin) niat untuk bulan Ramadlan. Adapun bila seseorang tidak mengetahui bahwa besok bulan Ramadlan tidak wajib atasnya ta'yin dan barangsiapa mewajibkan ta'yin tanpa ia mengetahui yang dita'yin sungguh berarti ia mewajibkan dua perkara yang berlawanan. Dan riwayat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad menyatakan bahwa manusia itu mengikuti niat imamnya yaitu bahwa berbuka atau berpuasa ditentukan oleh ulama. Berpuasa dengan cara seperti itu. Maka saya katakan bahwa orang yang mengetahui keinginannya mesti akan berniat. Apabila berpuasa dengan cara seperti itu diniatkan puasa sunnah lalu diketahui bahwa hari itu adalah bulan Ramadlan. Setiap orang akan mengetahui apa yang ia inginkan mesti meniatkannya dengan dilafalkan atau tidak. cukup secara mutlak tidak dengan niat tertentu (ta'yin) selain niat puasa Ramadlan. Melafalkan niat bukan wajib menurut ijma' kaum muslimin. Maka bila ia tidak melakukan berarti belum terbebas dari kewajiban. maka yang lebih mendekati kebenaran adalah cukup baginya niat mutlak tersebut. Lalu tak lama kemudian ia mengetahui bahwa ternyata titipan itu miliknya.

Hal ini merupakan perbuatan kebanyakan kaum muslimin. (HR. baik dilafalkan atau tidak. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Tanya: Apakah seseorang diperbolehkan berbuka puasa dengan semata melihat terbenamnya matahari? Jawab: Bila seorang telah melihat hilang seluruh bulatan matahari maka ia harus berbuka tanpa menghiraukan masih ada warna merah yang tampak di ufuk barat. Apabila malam telah datang dari sini dan siang telah menghilang dari sini serta matahari telah terbenam dari sini (barat) maka berbukalah orang yang berpuasa. Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa. hadits 224 dan Al-Irwa no. Yaitu ketika seluruh bulatan matahari telah hilang dan langit bagian timur akan tampak hitam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam katakan: . Idul Fithri kalian adalah hari kalian berbuka (tidak berpuasa) dan Idul Adlha adalah hari kalian menyembelih[3]. (HR. hadits 905) Tanya: Apakah seseorang yang berpuasa bulan Ramadlan memerlukan niat tiap hari atau tidak? Jawab: Setiap orang yang mengetahui bahwa besok Ramadlan dan dia menginginkan puasa maka dia pasti telah berniat. Bukhari 4/171 . Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Ash-Shahihah no.shallallahu 'alaihi wa sallam: . Beliau mengatakan: Hadits ini hasan gharib.

Tanya: Seorang perempuan hamil melihat darah serupa haidl dan darah haidl. sekelompok ulama salaf dan khalaf. 1100) Tanya: Bolehkah makan sahur setelah adzan subuh pada bulan Ramadlan? Jawab: Bila muadzin adzan sebelum terbit fajar sebagaimana adzan pertama Bilal pada jaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Damaskus. Walaupun setelah itu ia tahu bahwa makan setelah terbit fajar masih diperselisihkan para ulama tentang wajib qadla` baginya. apakah ia boleh berbuka atau tidak? . Apabila ia ragu apakah sudah terbit fajar atau belum maka hendaknya ia makan dan minum hingga tampak jelas terbit fajar. Sedangkan menurut pendapat ahli fiqih yang empat. Pendapat yang paling benar adalah tidak diwajibkan mengqadla`. Bila hal ini terus menimpanya tiap kali ia berpuasa dan dia tidak mampu untuk puasa maka ia harus memberi makan tiap hari seorang miskin. maka seorang boleh makan dan minum beberapa saat setelah adzan itu. bagaimana tentang hal ini? Jawab: Apabila puasanya menyebabkan ia sakit seperti itu maka hendaknya ia berbuka dan mengqadla`.dan Muslim no. Tanya: Ada seorang yang pingsan setiap kali berpuasa. wajib qadla` atasnya. Riwayat ini adalah riwayat dari Umar. pilek dan mulutnya berbuih terus-menerus sampai berhari-hari belum sadar hingga dikira gila dan tidak jelas keadaannya. Para bidan memutuskan ia harus berbuka karena untuk memberi makan janin yang dikandungnya tetapi wanita itu tidak sakit.

Akan tetapi dalam hal ini seorang harus berhati-hati ketika menggosok gigi dengan miswak (alat siwak) agar tidak melukai gusi yang dapat mengakibatkan pendarahan. Tanya: . Yang benar adalah seseorang disunnahkan bersiwak tiap hari di bulan Ramadlan pada pagi hari dan sore dan tidak benar anggapan bahwa seseorang disunnahkan hanya bersiwak pada sore hari saja. Bahkan para shahabat melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersiwak terus menerus sampai tak terhitung jumlahnya dalam keadaan berpuasa. Bersiwak disunnahkan pada semua waktu termasuk waktu Ramadlan. ketika membaca Al-Qur`an. Bersiwak sangat baik terutama pada tempat-tempat yang dibutuhkan seperti sebelum wudlu.Jawab: Bila wanita hamil itu mengkhawatirkan keadaan janinnya maka ia wajib berbuka dan wajib mengqadla` serta memberi makan tiap hari satu orang miskin 1 liter roti dan lauknya. Maka bersiwak itu hukumnya sunnah. ketika bangun tidur sebagaimana biasa dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. ketika bau mulut mulai berubah. Banyak keutamaan bersiwak. Bersiwak pernah dilakukan maupun diperintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. ketika akan shalat. 73-81: Tanya: Apakah hukum bersiwak pada bulan Ramadlan? Jawab: Tidak diragukan lagi bahwa siwak merupakan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang dianjurkan pelaksanaannya. ***** Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah bin Al-Fauzan (anggota Kibaril Ulama Arab Saudi) dalam kitab Nur 'ala Darbi Fatawa hal. boleh dikerjakan oleh yang berpuasa ataupun tidak berpuasa.

Banyak kaum muslimin mengharapkan menjumpai malam lailatul qadar pada 10 hari terakhir bulan mubarak itu. Adapun bila ia berpuasa sunnah boleh memutuskan puasanya itu. . Pada hari-hari itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dibandingkan malam-malam sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa puasa sunnah tidak wajib disempurnakan. Beliau melakukan i'tikaf pada malam akhir Ramadlan dan tidak keluar dari masjid selain menunaikan hajatnya. Tanya: Apabila seorang berpuasa suatu hari kemudian ia safar pada pertengahan hari apakah ia berbuka pada hari itu? Jawab: Bila seseorang berniat puasa dan telah mengerjakannya lalu bepergian pada pertengahan hari maka hendaknya ia berbuka jika jarak perjalanan dari rumah ke tempat tujuan kurang lebih 80 km. tidak ada kewajiban menyempurnakan puasa sunnah. Akan tetapi kalau ia mau menyempurnakannya maka lebih afdlal sebab sebagian ulama ada yang mewajibkan menyempurnakan puasa model ini. Pernah suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk rumah dalam keadaan puasa sunnah lalu menjumpai makanan yang dihadiahkan para shahabat lalu beliau makan (dan memutus puasanya). Tanya: Apakah keutamaan hari-hari 10 akhir bulan Ramadlan? Jawab: Hari-hari ini memiliki keutamaan yang besar dan agung.Apakah seorang yang berpuasa qadla` dan puasa sunnah boleh memutuskan puasanya? Jawab: Apabila ia berpuasa qadla` tidak boleh memutuskannya dan wajib menyempurnakannya.

Tanya: Bagaimana keterangan tentang keutamaan lailatul qadr dan ayat-ayat yang menerangkannya! Jawab: Allah memuliakan keadaan malam itu dan menamakannya lailatul qadr karena pada malam itu ditentukan ajal. Disebut juga lailatul qadr karena dia adalah malam yang ditentukan dan dimuliakan di sisi-Nya." (44:33)." (AdDukhan: 4). Bila seorang berbuat baik kepada mereka berarti ia membantu ketaatan kepada Allah terhadap mereka. Pada bulan itu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sangat dermawan. Allah berfirman: "Kami menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam penuh barakah. Allah berfirman: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat itu lebih baik daripada angin sepoi-sepoi (angin yang bertiup terus-menerus dan bermanfaat). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan dan lebih dermawan pada bulan Ramadlan ketika Jibril menemuinya untuk mengajari Al-Qur`an pada setiap malam pada bulan itu. Lailatul qadr lebih baik daripada 1000 bulan. rezki seorang makhluk dan apa-apa yang akan terjadi dalam satu tahun.Tanya: Apakah keutamaan bersedekah pada bulan Ramadlan? Jawab: Bersedekah pada bulan Ramadlan lebih utama (afdlal) daripada bersedekah pada bulanbulan lainnya. Juga disebut malam lailatul mubarak (malam yang diberkahi). Bukhari dengan 1/30 Fath dan Muslim no." . Amal itu dilipatkan pahalanya karena kemuliaan waktu dan tempatnya (berdasarkan nash -pent) sebagaimana amal-amal dilipatkan pahalanya pada dua masjid Mekah dan Madinah (masjid Nabawi) yaitu shalat di dua masjid tersebut berpahala 1000 kali lipat dibanding shalat di tempat lainnya.[4] (HR. Dalil ini menunjukkan keutamaan sedekah bulan Ramadlan di mana pada bulan ini banyak orang yang miskin berpuasa. "Dan tahukah kamu apakah malam lailatul qadr itu. 2307). sangat mudah mengeluarkan sedekah ibarat angin yang bertiup kencang.

Ayat ini menunjukkan tentang keutamaannya oleh karena itu beliau selalu menunggu-nunggu datangnya malam itu. (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu).. sungguh Allah tidak memberinya kebaikan yang banyak.." (Al-Baqarah: 187) Jawab: Allah melarang mencampuri istri dalam keadaan i'tikaf di masjid setelah membolehkan mencampurinya pada bulan Ramadlan. Karena makna i'tikaf secara bahasa ialah . Malaikatmalaikat Allah tidak turun ke bumi kecuali untuk menyelesaikan urusan besar. Allah dengan hikmah-Nya yang maha luas merahasiakan malam itu pada bulan Ramadlan agar kaum muslimin bersungguh-sungguh mencarinya pada tiap malam. Sehingga mereka mempunyai banyak amal dan terkumpullah amal-amal pada semua malam bulan itu dengan malam lailatul qadr. Artinya beramal pada malam yang penuh berkah itu dilipatgandakan pahalanya semisal 1000 bulan beramal pada malam-malam selain bulan ini. Maka barangsiapa tidak mendapatkan kebaikan pada malam itu. Orang-orang yang beri'tikaf tidak boleh mencampuri istri-istrinya. Tanya: Apakah makna ayat ". tetapi janganlah kamu campuri para istri itu sedang kamu beri'tikaf. Kemudian Allah mensifati malam tersebut dengan malam yang penuh kesejahteraan sampai fajar. Beliau bersabda: . Seribu bulan lebih kurang 83 tahun. Hal lain yang juga menunjukkan keutamaan dan kebesarannya ialah pada malam itu turun para malaikat dan Jibril (pemimpin para malaikat) untuk mengatur segala urusan. Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam lailatul qadr dengan mempercayai adanya malam itu dan mengharap pahalanya maka akan diampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang.(Al-Qadr: 2-3). baik dengan jimak maupun mubasyarah[5]. baik pada malam atau siang hari jika orang yang beri'tikaf itu tidak berpuasa.

meninggalkan perkara-perkara yang banyak dan meluangkan waktu untuk beribadah. Bagaimana saya mengqadla` puasa pada bulan yang aku tinggalkan? Apakah saya harus berpuasa tiap bulan atau memberi makan 60 orang miskin? Aku ingin berpuasa tahun ini selama tiga bulan apakah hal itu dibenarkan? Bagaimana cara melaksanakannya dengan bersambung atau terputus (berselang-seling)? Jawab: Jawaban dari pertanyaan anda perlu perincian. Apabila seseorang mencampuri istrinya maka batallah i'tikafnya. Tidak boleh i'tikaf menyendiri di mushalla. Orang yang beri'tikaf di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama'ah di dalamnya berada di antara dua keadaan yaitu antara i'tikaf dan meninggalkan shalat jama'ah. Yaitu jika anda meninggalkan puasa itu karena meninggalkan shalat (meninggalkan shalat menurut beliau kafir -pent) maka anda tidak berkewajiban mengqadla` puasa yang telah anda tinggalkan. Ayat di atas menunjukkan bahwa i'tikaf itu harus diadakan di masjid yang dipakai untuk shalat berjama'ah dan memiliki imam rawatib. Maka i'tikaf harus diadakan di masjid-masjid yang didirikan padanya shalat jama'ah karena lafadh ayat menyebutkan fil masajid (di masjid-masjid). Seperti pergi ke pasar dan lainnya. Bila ia tetap di dalam masjid berarti ia meninggalkan shalat berjama'ah padahal shalat berjama'ah wajib hukumnya. I'tikaf disebutkan pada akhir-akhir ayat puasa i'tikaf seharusnya dan lebih baik dilakukan ketika seorang dalam keadaan berpuasa dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak i'tikaf selain bulan Ramadlan yakni ketika puasa. Atau ia keluar dari masjid untuk shalat berjama'ah di masjid yang didirikan shalat jama'ah tiap shalat 5 waktu yang hal ini menghilangkan makna i'tikaf. Demikian pula bila ia keluar masjid tanpa ada kebutuhan mendesak juga membatalkan i'tikaf. Tanya: Saya seorang pemuda yang pernah tidak melaksanakan puasa tahun yang lalu sedangkan puasa tahun berikutnya saya berpuasa dengan sempurna. rumah atau tanah lapang atau masjid yang tidak ditegakkan shalat jama'ah. Karena waktu itu anda .

Sedangkan harum-haruman. tunaikan zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.belum masuk Islam. Sebagian ulama melarang memakai celak bagi orang yang berpuasa atau meletakkan sesuatu pada matanya seperti obat tetes mata. (Al-Ahzab: 33).. Tanya: Apa hukum bercelak. Bahkan ia harus menutup wajahnya bila keluar rumah. Walaupun wanita itu keluar menuju masjid untuk beribadah tetap dilarang bertabaruj (berhias) dan memakai parfum. karena hal ini bisa menembus mata hingga ke tenggorokan tanpa disadarinya. memakai parfum bagi seorang muslimah pada bulan Ramadlan? Jawab: Adapun celak. Allah berfirman: : . Namun bagi muslimah hendaknya memakai harum-haruman atau parfum dan kosmetik di dalam rumah saja dan menjauhi benda-benda itu untuk dipakai di luar rumah.. obat tetes mata dan apa-apa yang diletakkan di mata bagi orang yang berpuasa terkadang dapat masuk ke tenggorokan sehingga membatalkan puasanya. kosmetik yang biasa dipakai wanita tidak membatalkan puasa. ٣٣﴾ Dan hendaklah kamu (para wanita muslimah) tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan tunaikanlah shalat. Apabila anda tunda qadla` puasa karena ada udzur hingga datang Ramadlan berikutnya maka anda wajib mengqadla`nya setelah Ramadlan. Janganlah kamu mencegah wanita-wanita menuju masjid Allah dan hendaklah mereka .. Bila anda menunda mengqadla` puasa tanpa udzur maka anda wajib memberi makan seorang miskin tiap hari sebagai ganti puasa yang anda tunda qadla`nya itu. Adapun setelah anda bertaubat yakni setelah melaksanakan shalat maka anda wajib mengqadla` puasa dan menunaikan seluruh syi'ar Islam yang diwajibkan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: .

[4] Bahjatun Nadhirin. Sebagaimana keterangan Aisyah radliyallahu 'anha ketika seorang bertanya tentang mubasyarah: : . tidak membatalkan puasa. Kita tidak menganjurkan orang yang . wajib atau sunnah. keluar rumah dengan berhias. (Mutafaq 'alaihi. hal. Syaikh Salim Al-Hilali. 58.keluar tanpa berhias dan berharum-haruman. [3] Maksudnya puasa dan berbuka bersama kebanyakan kaum muslimin. hadits no. membuka aurat dan wajah. 31) Syarat mereka boleh keluar menuju masjid adalah tidak berhias dan tidak memakai parfum atau wangi-wangian. [5] Mubasyarah bermakna dua yaitu mempergauli isteri dengan jimak dan mempergauli isteri tanpa jimak dengan menutupkan kain di atas farjinya yang meskipun suami mengeluarkan mani.red)" (HR Abdur Razak dalam bukunya Al-Mushanaf 4/190/8439 dengan sanad shahih) Akan tetapi hendaknya yang perlu diperhatikan bahwa keluarnya mani (tanpa jimak) tidak membatalkan puasa dan mubasyarah itu perkara lain. lihat Umdatul Ahkam. Kaum muslimah sekarang banyak melakukan perbuatan melanggar syariat Allah. -----------------------------------------------------[1] Yakni kembali pada makna safar secara umum. "Apa yang boleh dilakukan seorang yang berpuasa terhadap istrinya?" Beliau menjawab: "Semuanya boleh dilakukan selain jimak.(Jimak atau jima' adalah hubungan seks/sex atau bersetubuh/persetubuhan. Sedangkan niat ta'yin adalah meniatkan dengan detail puasa apa yang ia akan lakukan esok harinya. memakai parfum dan celak mata yang tidak dilakukannya ketika di dalam rumah (untuk suaminya. puasa ramadlan atau qadla atau nadzar dan lain-lain. pent). [2] Niat mutlak adalah meniatkan berpuasa tanpa menentukan puasa apa yang ia lakukan.

Wallahu a'lam.or. 420). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‫ل‬ . Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. (Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXIII/Ramadlan/1418 H/1998 M.php?id_artikel=758 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Sep 11. penulis Ustadz Ahmad Hamdani. Barangsiapa berada di sekitar daerah penjagaan. (Tamamul Minnah. judul asli Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadlan). '08 10:54 PM untuk semuanya Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Penulis: Al Ustadz Azhari Asri Fiqh. Sumber artikel : http://www.salafy. Hal ini dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam larangan (yakni berjimak –pent).id/print. dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya.berpuasa Ramadlan ketika syahwat jimak sedang memuncak untuk mubasyarah dengan istrinya. Syaikh Al-Albani hal. Di antara hadits-hadits yang mereka bawakan ada yang . 13 Oktober 2004. Biasanya orang yang mendekati daerah terlarang akan memasukinya. 08:02:33 Sering kali kita mendengar para khatib di atas mimbar membawakan hadits-hadits tentang Ramadlan dan keutamaannya.

pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam 'Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma'in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. Tidak Boleh Beramal dengan Hadits Lemah dalam Hal Fadlailul A'mal (Keutamaan Amal) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidhahullah berkata: "Di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu telah masyhur bahwa hadits dlaif boleh diamalkan dalam fadlailul a'mal. mereka tidak menerangkan tentang kelemahannya kepada hadirin yang awam tentang permasalahan hadits sehingga orang-orang yang mendengarnya menyangka bahwa hadits-hadits itu adalah ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. padahal sama sekali bukan! Oleh karena itu penulis mencoba mengangkat permasalahan ini sebagai nasehat kepada seluruh kaum muslimin. Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam berbagai kitab beliau bahwa hal itu telah disepakati. bahkan maudlu' (palsu). Namun sangat disayangkan ketika membawakan hadits-hadits lemah. hendaknya dia mendatangkan bukti. Bagaimana tidak. Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak. Mereka menyangka bahwa perkara ini tidak diperselisihkan. Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak. Barangsiapa mengecualikan boleh beramal dengan hadits dlaif dalam fadlailul a'mal. baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaankeutamaan. Tidak boleh beramal dengannya berdasarkan kesepakatan.shahih dan ada yang dlaif. Tetapi pernyataan beliau itu terbantah karena perselisihan dalam masalah ini ma'ruf. Aku (Syaikh Al-Albani) katakan bahwa inilah yang benar menurutku. yang aku pahami dari ucapan mereka tentang fadlail a'mal . Sungguh sangat jauh! Kedua. tidak ada keraguan padanya karena beberapa perkara: Pertama. hadits dlaif hanya mendatangkan sangkaan yang salah (dhanul marjuh). baik para khatibnya maupun pendengarnya. Muslim dan Ibnu Hazm.

Amal ini tidak ditetapkan pensyariatannya kecuali pada hadits lemah tersebut. Seperti Syaikh Ali Al-Qari rahimahullah dalam Al-Mirqah 2/381 mengatakan bahwa hadits lemah diamalkan dalam perkara fadlail walaupun tidak didukung secara ijma' sebagaimana keterangan Imam Nawawi. Buktinya kita menyaksikan mereka beramal dengan hadits-hadits dlaif yang tidak terkandung dalam hadits-hadits shahih. 15)). Akan tetapi di sini tidak mungkin untuk mencantumkan berbagai contoh. kemudian ada hadits lemah yang menyertainya yang menyebutkan pahala khusus bagi orang yang mengamalkannya. (Yakni dari segi adanya dalil tentang asal amal itu. Ilmu Ushul Bida' 157. mubah. karena hal itu bukan pensyariatan amal itu tetapi semata-mata sebagai keterangan tentang pahala khusus yang diharapkan oleh pelakunya. . qad qamatis shalah) dengan ucapan aqamahallah wa adamaha (semoga Allah menegakkannya dan melazimkannya). Cukuplah salah satu contoh yang telah aku sebutkan. Seperti Imam Nawawi dan yang mengikutinya menganggap sunnah menjawab ucapan orang yang mengumandangkan iqamah ketika mengucapkan dua kalimat (qad qamatis shalah. Dengan dasar inilah maka beramal dengan hadits lemah diperbolehkan jika telah ada hadits shahih yang menunjukkan disyariatkannya amal itu. padahal hadits tentang masalah ini lemah (Lihat keterangan kedlaifannya dalam Al-Irwa` 241. Betapa banyak perkara-perkara yang mereka anggap disyariatkan dan disunnahkan bagi manusia hanya didasari dengan hadits-hadits dlaif yang tidak ada asal pensyariatannya dalam hadits shahih. sunnah. Maka hadits lemah dalam keadaan semacam ini boleh diamalkan dalam fadlailul a'mal. Yaitu pada amal yang shahih berdasarkan Kitab dan Sunnah. Padahal perkara sunnah adalah salah satu hukum di antara kelima hukum[Yakni wajib.). (Ilmu Ushulil Bida' hal. Oleh karena itu ucapan sebagian ulama dimaksudkan seperti ini. Meskipun demikian mereka menganggap hal itu sunnah.] yang harus ditetapkan berdasarkan dalil. makruh.yaitu amal-amal yang telah disyariatkan berdasarkan hadits shahih. Akan tetapi kebanyakan orang yang berpendapat seperti itu tidak memaksudkan makna itu. dan haram. bukan dari segi adanya dalil yang menetapkan pahala yang khusus pada amal itu.

Hadits itu tidak maudlu'. Seharusnya hal itu diberi syarat yaitu orang yang beramal dengannya meyakini bahwa hadits itu lemah dan tidak memasyhurkannya sehingga orang tidak beramal dengan hadits lemah dan mensyariatkan apa yang tidak disyariatkan. Tidak memasyhurkan beramal dengannya. Orang yang mengamalkannya mengetahui bahwa hadits itu dlaif. sebab semuanya adalah syariat. . Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Tabyinul 'Ujab hal. Atau sebagian orang-orang jahil menyangka bahwa hadits itu adalah shahih. Inilah tiga syarat penting diperbolehkan beramal dengan hadits lemah: 1. Hendaknya setiap orang khawatir jika termasuk dalam ancaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka bagaimana orang yang mengamalkannya?! Tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam perkara fadlail. Kemudian mereka memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits-hadits shahih! Oleh . Tetapi sangat disayangkan kita menyaksikan kebanyakan ulama lebih-lebih orang awam meremehkan syarat-syarat ini. 3. Mereka mengamalkan suatu hadits tanpa mengetahui kelemahannya. Kalaupun mereka mengetahui kelemahannya mereka tidak mengetahui apakah kelemahannya ringan atau sangat parah sehingga tidak boleh diamalkan. maka dia termasuk pendusta.Yang terpenting di sini adalah hendaklah orang-orang yang menyelisihi hal ini mengetahui bahwa beramal dengan hadits lemah dalam perkara fadlail tidak mutlak menurut orangorang yang berpendapat dengannya. 2. Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad bin Abdus Salam dan lain-lain. 3-4 bahwa para ahli ilmu telah bermudah-mudah dalam membawakan hadits-hadits tentang fadlail walaupun memiliki kelemahan selama tidak maudlu' (palsu). Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta.

Sebab ucapan beliau adalah dalam pembahasan hadits dlaif. Adapun jika ucapan beliau dimaksudkan kepada larangan memakai hadits maudlu' dan tidak ada perbedaan antara perkara hukum dan fadlail adalah sangat jauh dari konteks ucapan Al-Hafidh. karena hadits dlaif yang tidak ada penguatnya kemungkinan adalah dusta. bukan maudlu'. maka dia termasuk dalam hadits (yang berisi ancaman tersebut). Dan kita katakan seperti perkataan Al-Hafidh: 'Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya?' Inilah penjelas dari maksud ucapan Al-Hafidh tersebut. Hal ini ditegaskan oleh sebagian ulama. bahkan pada umumnya dusta dan palsu. Orang yang membawakan hadits dlaif termasuk dalam ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: ". Apa yang kami sebutkan tidak menafikan bahwa Al-Hafidh menyebutkan syarat-syarat itu untuk mengamalkan hadits dlaif. Sebab kita katakan bahwa Al-Hafidh menyebutkan . Inilah yang hak." Yaitu dia menampakkan seperti itu. Kemudian syarat-syarat tersebut menguatkan pendapat kami bahwa sebagian besar ulama tidak menginginkan makna yang kami anggap kuat tadi. Sebab satu pun di antara syaratsyarat itu tidak diterapkan sebagaimana yang tampak.yang tampak bahwa hadits itu dusta.. Sebagaimana hal itu tidak tersembunyi.. Oleh karena itu Al-Hafidh menambahkan dengan ucapannya: 'Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya?!' Hal ini dikuatkan dengan perkataan Imam Ibnu Hibban bahwa setiap orang yang ragu terhadap apa yang dia riwayatkan. shahih atau tidak shahih.karena itu banyak ibadah-ibadah di kalangan kaum muslimin yang tidak shahih dan memalingkan mereka dari ibadah-ibadah yang shahih yang diriwayatkan dengan sanadsanad yang shahih. Al-Hafidh Ibnu Hajar cenderung kepada tidak boleh beramal dengan hadits lemah berdasarkan ucapan beliau yang telah lewat bahwa tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam fadlail sebab semuanya adalah syariat. Menurutku (Syaikh Al-Albani).

' Al-Hafidh tidaklah menyatakan dengan tegas bahwa dia menyetujui mereka dalam pembolehan (beramal dengan hadits-hadits lemah." Sampai di sini keterangan Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah hal. Hadits-hadits Lemah yang Berkaitan dengan Bulan Ramadlan Setelah kita mengetahui bahwa pendapat yang kuat dalam masalah hadits dlaif adalah tidak boleh dipakai sekalipun dalam fadlailul a'mal dan seandainya diperbolehkan harus dipenuhi syarat-syarat tersebut.perkataan itu kepada orang-orang yang membolehkan memakai hadits lemah dalam perkara fadlail selama tidak maudlu'. 34-38. Bahkan di akhir ucapan beliau menegaskan sebaliknya seperti yang telah kita terangkan.. 109-113. ل‬ ‫ل‬ Seandainya hamba-hamba itu mengetahui apa yang ada di bulan Ramadlan niscaya umatku berangan-angan agar Ramadlan setahun penuh. pent) dengan syarat-syarat itu. Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudlu'at 2/188-189. Kesimpulannya bahwa beramal dengan hadits lemah dalam perkara fadlailul a'mal tidak diperbolehkan sebab menyelisihi hukum asal dan tidak ada dalilnya. Beliau berdua menyebutkan beberapa hadits beserta penilaiannya. Wallahul muwaffiq. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadlan dari ujung tahun ke tahun berikutnya. Abu Ya'la dalam Musnadnya sebagaimana di dalam Al-Mathalib Al-'Aliyah (qaf 46/alif-ba/naskah . (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 1886. ، ‫. Seakan-akan beliau berkata kepada mereka: 'Jika kalian berpendapat demikian maka seharusnya kalian menerapkan syarat-syarat ini.. Orang yang membolehkannya harus memperhatikan syarat-syarat tersebut dan konsisten dengan syaratsyarat iltu ketika mengamalkan hadits lemah. Maka pada pembahasan terakhir ini kita akan menukil beberapa hadits lemah yang diucapkan para khatib dan diamalkan di bulan Ramadlan dari kitab Shifat Shaum Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam fi Ramadlan karya Syaikh Salim Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal.

1887. Sanad hadits ini lemah. Al-Ashbahani dalam At-Targhib (qaf/178. 293. cacatnya pada Jarir bin Ayyub." Kemudian Ibnu Hajar menukil ucapan Abu Nu'aim tentang dia: "Dia pemalsu hadits. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Lisanul Mizan (2/101) dan berkata: "Dia terkenal dengan kelemahannya. bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan." Ahmad bin Hanbal berkata: "Dia tidak kuat. ba'/naskah manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid bin Jad'an dari Sa'id bin Al-Musayyib dari Salman.." Ibnu Ma'in berkata: "Dia dlaif. ، . Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya (Abu Hatim) di dalam I'lalul Hadits 1/249): "Hadits ini mungkar. dengan ucapan: "Jika hadits ini shahih." sedang dari Bukhari: "Dia meriwayatkan hadits mungkar" dan dari Nasai: "Dia matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya)!! Ibnul Jauzi menghukumi dia sering memalsukan hadits." Ibnu Abi Haitsamah berkata: "Dia dlaif dalam segala hal. pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah kemerdekaan dari api neraka. Ibnu Sa'ad berkata: "Dia (Ali bin Zaid) lemah. Allah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai kewajiban dan shalat malam sebagai sunnah. Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits tersebut." . Hadits ini maudlu'....." Ibnu Khuzaimah berkata: "Aku tidak berhujah dengannya karena hapalannya jelek. maka dia seperti menunaikan suatu kewajiban pada bulan lain. Ramadlan adalah bulan awalnya adalah rahmat." Ibnu Hajar berkata dalam Al-Athraf: "Tidak diperselisihkan tentang Ali bin Zaid bin Jad'an..." Demikian dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323). kalian telah dinaungi bulan yang agung. Barangsiapa bertaqarub di dalamnya dengan satu kebaikan. dia adalah dlaif. Al-Muhamili dalam Amalinya no. Wahai manusia. karena kelemahan Ali bin Zaid.. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. ، . tidak dapat dijadikan hujah.manuskrip) dari jalan Jarir bin Ayub Al-Bajali dari Sya'bi dari Nafi' bin Bardah dari Abu Mas'ud Al-Ghifari).

Hadits ini disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya (4/160 – Fathul Bari) secara mu'alaq tanpa sanad. dia berdusta dan Ad-Dlahhak tidak mendengar langsung dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma. Biografinya terdapat dalam Tarikh Dimasyk 15/qaf 386 – naskah manuskrip). Abu Bakar Al-Atsram berkata: "Aku mendengar Ahmad berkata: "Mereka (orang-orang Syam) meriwayatkan beberapa hadits munkar dari Zuhair. Aku (Syaikh Ali) katakan bahwa Muhammad bin Sulaiman adalah penduduk Syam. . Demikian pula Ibnu Bukhait dalam Juz'unya sebagaimana dalam Syarhul Ihya' 7/401 dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abu Dawud dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abu Shalih dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu.Puasalah kalian. Disebutkan sanad-sanadnya oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 1987. maka tidak dapat diqadla` walaupun dia puasa sepanjang tahun. . niscaya kalian sehat. Riwayatnya dari Zuhair –sebagaimana ditegaskan oleh para imam. Nahsyal adalah matruk. Di antaranya adalah hadits ini. Ini adalah potongan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam Al-Kamil 7/2521 dari jalan Nahsyal bin Said dari Ad-Dlahhak dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma. Haditsnya ketika di Syam lebih munkar daripada haditsnya di Irak karena hapalannya jelek." Abu Hatim berkata: "Hapalan Zuhair jelek. Diriwayatkan pula oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath (1/qaf – 69/alif – Majma'ul Bahrain)." Demikian dalam Tahdzibul Kamal 9/417.adalah munkar. Barangsiapa membatalkan (puasanya) satu hari dari bulan Ramadlan tanpa udzur dan sakit. Sanad hadits ini lemah." Al Ajali berkata: "Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh penduduk Syam darinya tidak menakjubkan aku.

com/baca. namun tidak boleh kita sandarkan hadits yang tidak shahih itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu a'lam. '08 10:52 PM untuk semuanya . Meskipun demikian masih sering terdengar dan terbaca pada setiap bula Ramadlan yang diberkahi ini khususnya. Sumber artikel : http://www. Abul Muthawwis mendengar dari ayahnya dari Abu Hurairah diragukan. Sehingga hadits ini memiliki tiga 'ilat (cacat). Ibnu Khuzaimah setelah meriwayatkan hadits ini berkata dengan ucapan: "Aku tidak mengetahui siapa Ibnul Muthawis dan ayahnya. keadaan Abul Muthawis majhul (tidak dikenal).php?id_artikel=753 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Fatwa Syaikh tentang Hukum I'tikaf Sep 11. yaitu: idltirab (sanadnya goncang).php?id=30) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. penulis ustadz Azhari Asri (murid syaikh Yahya al Hajuri dan syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah).or.salafy. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 4/161: "Hadits ini banyak diperselisihkan pada Habib bin Abi Tsabit. (Dinukil dari Majalah Salafy edisi XXIII/Ramadlan/1418 H/1998 M rubrik Mabhats. Al-Baihaqi 4/228." Sehingga hadits ini juga dlaif. http://salafy. Ibnu Hajar dalam Ta'liqut Ta'liq 3/170 dari jalan Abul Muthawwis dari ayahnya dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu.id/print.Tirmidzi 723.iwebland. sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 10/373. Ibnu Majah 1672. Abu Dawud 2397. Memang sebagian hadits tersebut mengandung makna yang shahih yang terdapat dalam syariat kita yang lurus ini. Nasai dalam Al-Kubra. Demikian empat hadits yang didlaifkan oleh para ulama.

05:11:25 Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang hukum I'tikaf Pertanyaan: Apakah hukum I`tikaf bagi laki-laki dan wanita? Apakah berpuasa merupakan syarat untuk syahnya I`tikaf? Kemudian amalan apa saja kah yang baik dilakukan oleh orang yang beri`tikaf? Kapan waktu memasuki tempat i`tikaf dan kapan keluar dari sana ? Jawaban: I`tikaf hukumnya Sunnah bagi laki-laki dan wanita sebagaimana telah datang dari Rasululullah Shalallahu 'alaihi wassalam. i`tikaf beliau tetapkan pada sepuluh hari terakhir. dan juga setelah beliau wafat. Para istri-istri beliau juga beri`tikaf bersama beliau Shalallahu 'alaihi wassalam. Tempat beri`tikaf adalah mesjid-mesjid yang didirikan shalat berjamaah padanya. Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf saat itu .Juga tidak disyaratkan berpuasa walaupun dengan berpuasa lebih utama. jika itu memungkinkan. Apabila waktu i`tikafnya diselingi oleh hari Jumat. maka yang lebih utama adalah beri`tikaf di mesjid yang mengadakan shalat Jumat. Tidak ada waktu-waktu tertentu bagi i`tikaf dalam pendapat Ulama yg terkuat . karena i`tikaf adalah sunnah dan tidak menjadi wajib jika dia telah memulainya. Kemudian pada akhirnya. 16 November 2003. Diperbolehkan baginya boleh memotong waktu tersebut jika ada keperluan lain.Fatwa Syaikh tentang Hukum I'tikaf Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdullah Aziz Bin Baz Fiqh. bahwasanya beliau dulu beri`tikaf di bulan Ramadhan. Disunnahkan beri`tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan untuk mengikuti Rasululllah Shalallahu 'alaihi wassalam. kecuali jika dia bernadzar. Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf agar memasuki tempat beri`tikaf saat dia berniat i`tikaf dan keluar dari padanya setelah lewat masa yang dia inginkannya.

Sumber artikel : http://www. karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah.istighfar. Dianjurkan bagi yang beri`tikaf agar memperbanyak dzikir. berdoa dan mengerjakan shalat-shalat Sunnah selain pada waktuwaktu yang dilarang.salafy. membaca qur`an.id/print. kecuali jika i`tikaf nadzar sebagaimana telah dijelaskan. Jika dia memotongnya maka tidak mengapa. Tidak dilarang bagi teman-teman seseorang yang beri`tikaf untuk mengunjunginya dan berbicara dengan mereka sebagaimana Rasululullah Shalallahu 'alaihi wassalam dahulu dikunjungi oleh beberapa istrinya dan berbicara dengan mereka. '08 10:51 PM Ahlusunnah untuk semuanya Hukum-hukum sekitar I'tikaf dalam pandangan Ulama' Ahlusunnah . Pada suatu saat Shofiyah mengunjungi beliau saat I`tikaf di bulan Ramadhan. semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas beliau. Yang lebih diutamakan adalah menyediakan tempat khusus di dalam mesjid untuk beristirahat jika memungkinkan.untuk memasuki tempat i`tikafnya setelah shalat Fajar hari ke-21 dan keluar dari sana apabila telah selesai sepuluh hari. ----------------------------------------------------------------------- Referensi: Dinukil dari Tuhfatul ikhwan bi ajwibatin muhimmatin tata`allaqu bi arkanil islam. Penerjemah Abu Abdillah Alee Masaid As salafee Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Hal ini menunjukan kesempurnaan sifat tawadhu` dan baiknya beliau terhadap istri-istri beliau.or.php?id_artikel=341 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Hukum-hukum sekitar I'tikaf dalam pandangan Ulama' Sep 11.

20 Oktober 2004. dalilnya adlah firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala : “Sedang kalian dalam kedaan I‟tikaf di masjid”. dalam kitab shahih merekatelah ditahkrij dalam shahih Abu Dawud). Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Mushannaf.Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani Fiqh. riwayat Bukhari Muslim dan Ibu Khuzaimah . (maka Umar I‟tikaf semalam). Dan lebih ditekankan di bulan Ramadhan berdasarkan hadist Abi Hurairah radhiyallahu „anhu. dalam masalah keutamaannya “Barangsiapa beri‟tikaf suatu hari…” kemudian aku hilangkan. 04:42:53 Hukumnya I‟tikaf adalah sunnah di bulan ramadhan dan yang lainnya sepanjang tahun. Dan pada tahun dimana beliau wafat Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam I‟tikaf selama 20 hari. Saya singkap penyakitnya yang sempat tersamarkan kepada saya dan juga kepada Al Haistany sebelum saya).*(riwayat Bukhari. (QS. seperti terdapat dalam “Mukhtasar Shahih Bukhari” (995) dan telah ditakhrij dalam “Shahih Abu Dawud” juga no: 2136-2137). Muslim dan Ibnu Khuzaimah dan tambahan itu pada Bukhari dalam ssebuah riwayat. karena di kemudian hari jelas bagi saya lemahnya. Al-Baqarah :187) Disertai hadist-hadist shahih tentang I‟tikaf Nabi shalallahu „alaihi wasallam. (Riwayat Bukhari dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih keduanya telah ditakhrij dalam sumber yang lalu no: 2126-2130). . *(Dulu disini pada cetakan yang lalu ada hadist. Telah saya takhrij dan saya komentari dengan rinci dalam kitab ”Silsilah Dhoifah” 5347. karya Ibnu Abi syaibah dan Abdurrazzaq. dan ahwa Umar radhiyallahu „anhu berkata kepada Nabi shalallahu „alaihi wasallam “Dahulu aku bernadzar di zaman jahiliyah untuk I‟tikaf semalam di Masjidil Haram”? Nabi shalallahu „alaihi wasallam bersabda : “Penuhilah nadzarmu”. Telah terdapat riwayat bahwa Nabi Shalallahu „alaihi wa sallam i‟tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Syawal *(Potongan dari hadist Aisyah radhiyallahu „anha. bahwa Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ber i‟tikaf di setiap Ramadhan 10 hari. Demikian pula atsar-atsar yang mutawatir dari ulama Salaf dalam masalah itu.

dan tidak I‟tikaf melainkan pada masjid jami‟ (yang digunakan untuk shalat jamaah). (Al Baqarah 187. tidak pula jima‟ dengan mereka. Berdasarkan ucapan 'Aisyah Radhiyallahu „anha yang lalu dalam sebuah riwayat. dan Abu Dawud dengan sanad yang Hasan.. Tidak boleh menjenguk orang sakit. bagi seorang I‟tikaf.) 2. (Riwayat Baihaqi dengan sanad yang shahih.Yang paling utama adalah pada akhir bulan Ramadhan.” yakni “Jangan berjima‟ dengan mereka “ ibnu Abbas mengatakan : kata ( ‫ل‬ ‫ش‬ ‫لل‬ ‫ل‬ ) semuanya berarti jima‟. maka diketahui dengan penyebutan masjid bahwa dimaksudkan I‟tikaf itu tidak boleh kecuali di masjid). Dan hendaklah pada masjid jami‟ agar tidak terpaksa keluar masjid untuk melaksanakan shalat jum‟at.] Berkata Aisyah radhiyallahu „anha : “Disunnahkan. riwayat yang selanjutnya dari Aisyah radhiyallahu „anha. akan tetapi Allah mengkinayahkan apa yang Ia kehendaki dengan apa yang Allah kehendaki. Disunnahkan pula bagi yang I‟tikaf untuk berpuasa. karena Nabi shalallahu „alaihi wasallam I‟tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Tidak disyariatkan kecuali di dalam masjid-masjid berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala : “Dan janganlah kalian melakukan jima‟[1]dengan mereka sedang kalian beri‟tikaf di masjid-masjid”). Syarat-syaratnya : 1. karena jima‟ itu membatalkan I‟tikaf secara ijma‟. (“…dan tidak ada I‟tikaf kecuali di masjid jami'”. Riwayat Baihaqi (4/321) dengan sanad yang perawinya terpercaya. [“dan jangan kalian melakukan jima. (Riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya perkara yang paling Allah benci adalah bid‟ah dan sesungguhnya termasuk bid‟ah adalah I‟tikaf di masjid- ..). Imam bukhari berdalil dengan ayat ini atas apa yang kami sebutkan. (Riwayat Bukhari dan Ibnu Khuzaimah 2223 telah ditakhrij dalam Al-Irwa (996) dan “Shahih Abi Dawud” no :2125). karena keluar untuk itu adalah wajib. Berkata al Hafidz Ibnu Hajar :“ Sisi pendalilan dari ayat itu bahwa kalau seandainya I‟tikaf itu sah selain dimasjid tidaklah akan dikhususkan pengharaman jima‟ itu hanya padanya. agar tidak keluar kecuali untuk kebutuhan yang mesti dia lakukan. tidak boleh menyentuh wanita. dan telah di takhrij dalam Shahih Abu Dawud (2135) dan Irwa‟ul Ghalil no 996.

(Diriwayatkan oleh Thahawi. dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk hajat seorang manusia.” Dalam riwayat : “Lalu saya cuci kepalanya dan diantara aku dan dia kayu dasar pintu dan saya dalam keadaan haid. bahwa mengambil pendapat yang sesuai dengan hadist. Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad dan tambahan lafadz itu dari keduanya. ketika itu beliau dalam keadaan I‟tikaf. Berkata Aisyah radhiyallahu „anha : “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dahulu megeluarkan kepalanya kepadaku sedang dia (dalam keadaan beri‟tikaf) di masjid dan saya di kamar saya. dan mengatakan : ”Walaupun dalam masjid (atau mushala –pent) rumahnya”. Dan diantara ulama salaf yang berpendapat demikian sebagaimana yang telah saya dapati. isma‟ily dan Baihaqi dengan sanad yang shahih dari Hudzaifah bin Al Yaman. Muslim. Masjid Nabawi. kemudian saya sisir rambutnya. b. Disunnahkan untuk yang melakukan I‟tikaf agar berpuasa sebagaimana yang lalu dari penjelasan Aisyah radhiyallahu „anha. Dari apa yang saya sebutkan diatas dan semuanya shahih). Kemudian saya dapati pada hadist yang shahih dan jelas yang mengkhususkan keumuman makna (masjid-masjid) yang tersebut dalam ayat. Dibolehkan untuk seorang yang I‟tikaf dan yang lain untuk berwudhu dalam masjid berdasarkan ucapan seseorang kepada yang melayani Nabi shalallahu „alaihi wasallam : “ . yaitu hanya pada tiga masjid : Masjidil Haram. dan telah ditakhrij dalam “Silsilah shahihah” no :2787 bersama dengan riwayat-riwayat yang lain. itulah yang semestinya. Yang lain mengatakan masjid jami‟ secara mutlak. adalah sahabat Hudzaifah bin Al Yaman dan Sa'id bin Al Musayyib juga 'Atha‟ rahimahullah. Telah ditakhrij dalam “Shahih Abu Dawud” (2131-2132) ). Dan tidak tersembunyi lagi.” (Riwayat Bukhari. Akan tetapi „Atha‟ tidak menyebutkan Masjidil Aqsa. Masjidil Aqsa dengan hadist Nabi shalallahu „alaihi wasallam : “Tidak ada I‟tikaf kecuali pada 3 masjid itu”). 3. juga mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dikeramasi atau disisir.[2] Yang dibolehkan untuk orang yang berI‟tikaf sbb : a. Dibolehkan keluar dari masjid untuk buang hajat.masjid yang ada di rumah)”. wallahu Subhanahu wa Ta‟ala a‟lam. tetapi yang lain menyelisihi mereka.

ada pada riwayat Muslim. Telah lewat takhrijnya pada hal. dan hendaknya suaminya mengantarkannya sampai keluar pintu masjid. riwayat Muslim dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih keduanya dan telah di Tahkrij dalam Shahih Abu Dawud no.[Ini adalah ujung hadist Abu Sa‟id Al-Khudri.39]. “Suddah” artinya semacam.] dengan naungan tikar[6]]. c. Dan pernah beliau shalallahu „alaihi wasallam satu kali beri‟tikaf di qubah (semacam payung – pent) kecil[5] [aitu tenda kecil yang diatasnya melingkar. dan itu atas perintah beliau shalallahu „alaihi wasallam[4]. karena Aisyah dulu membuat tenda untuk Nabi shalallahu „alaihi wasallam [3]. maka beliau shalallahu „alaihi wasallam katakan : “ Jangan kau terburu-buru sehingga aku antarkan”.] Jika beliau beri‟tikaf.1251] Dibolehkannya Wanita beri‟tikaf dan menengok suaminya di masjid a. riwayat perbuatan „Aisyah itu diriwayatkan oleh Bukhari adapun yang menerangkan perintah Nabi shallallahu „alahi wa sallam. sedang I‟tikaf Nabi shallallahu „alaihii wa sallam adalah macam yang lain (berbeda. bahwa beliau meletakkan sepotong tikar di atas pintunya agar tidak terlihat oleh pandangan seseorang. ( Riwayat Baihaqi dengan sanad baik dan Ahmad (51364) secara ringkas dengan snad yang shahih). Allahlah yang memberi taufiq.Nabi shalallahu „alaihi wasallam berwudhu ringan di dalam masjid”. lebih utama kita katakan : supaya pikiran orang yang beri‟tikaf tidak tersibukkan orang yang lewat didepannya agar mendapatkan maksud dan ruh dari I‟tikaf itu. berdasarkan ucapan Shafiyah Radhiyallahu „anha : “Ketika itu Nabi shalallahu „alaihi wasallam beri‟tikaf dimasjid pada 10 hari terkhir bulan ramadhan. Dibolehkan pula membuat kemah kecil di bagian belakang masjid lalu ber‟tikaf didalamnya. [Disebut “Khiba” salah satu bentuk rumah-rumah orang arab yang terbuat dari bulu unta atau wol. Dibolehkannya seorang wanita menengok suaminya yang ada di tempat I‟tikafnya. dibuat diatas 2 tiang atau 3.”Nihayah”. Shafiyah radhiyallahu „anha tinggal di kampung Usmah .34 pada catatan kaki no. lalu aku berbicara dengan beliau beberapa saat lalu aku berdiri untuk kembali. maka aku datang menengoknya di malam hari dan di sisinya isteri-isterinya yang sedang bergembira. yang dimaksud. Maka beliaupun berdiri bersamaku untuk mengantarkanku. sebagaimana yang dikatakan As-Sindy. Ini adalah satu macam. naungan diatas pintu untuk menjaganya dari hujan. red). dan bukan dari rambut. sebagaimana yang diucapkan Ibnu Qoyyim : “Kebalikan dari apa yang dilakukan orang-orag bodoh dimana orang-orang beri‟tika membuat semacam ruang tamu dan berbincang-bincang didalamnya. [Riwayat Bukhari dan Muslim dari hadist Aisyah radhiyallahu „anha.

”. lewat dua orang sahabat Anshar. kekuningan. riwayat yang lain adlah riwayat Said bin Manshur seperti terdapat dalam “Fathul Bari”4/281. dibolehkannya juga wanita I‟tikaf dan tidak diragukan bahwa itu dengan catatan. telah ditakhrij dalam shahih Sunan Abu Dawud . sampai Allah mewafatkannya. . Jima‟ membatalkan I‟tikaf berdasarkan firman Allah : “Dan jangan kalian gauli mereka sedang kalian dalam ibadah I‟tikaf (di masjid)”. Lalu keduanya mengatakan : “Subhanallah ! Wahai Rasulullah”.2138. Akan tetapi Darimi menyebutnya “Zaenab” 1/22 Wallahu a‟lam. catatan kaki no. 3. (Riwayat Bukhari Muslim dan selain keduanya telah di takhrij hal.bin Zaid. Berdasarkan banyak dalil dalam hal ini.35. dan kaidah fiqih mengatakan : “Menghindari keruskan itu lebih didahulukan dari pada mencari maslahat (kebaukan)”. bahkan kadang-kadang kami meletakkan bejana di bawahnya dalam keadaan dia tetap shalat”. red). Tatkala berada di pintu masjid yang dekat dengan rumah Umi Salamah radhiyallahu „anha.2) Saya katakan : “Bahwa itu terdapat dalil. b. diizinkan waki-walinya untuk itu. terakhir pada hadist itu dikeluarkan oleh Abu Dawud. Maka Nabi shalallahu „alaihi wasallam berkata : “ Pelan-pelan ! Sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah binti Huyai” (istri Rasulullah sendiri. Kemudian isteriisteri beliau beri‟tikaf setelahnya.) „Aisyah juga mengatakan : “Dahulu Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam beri‟tikaf sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan. (Riwayat Bukhari. Maka Nabi shalallahu „alaihi wasallam mengatakan : “Sesungguhnya setan mengalir pada seseorag seperti mengalirnya darah Dan sungguh aku khawatir kalau setan membisikkan pada hati kalian berdua kejelekan atau beliau mengucap sesuatu. Muslim dan Abu Dawud tambahan. Berdasarkan ucapan „Aisyah radhiyallahu „anha : “Telah I‟tikaf bersama Nabi shalallahu „alaihi wasallam seorang wanita yang isthihadhah (didalam sebuah riwayat dia adalah Umm Salamah) diantara isteri-isterinya dan dalam keadaan dia masih melihat kemerahan. atau sendirian. Bahkan dibolehkan bagi wanita untuk I‟tikaf bersama suaminya. (Riwayat Bukhari telah ditakhrij dalam Shahih Abu Dawud no. Ketika mereka melihat Nabi Shalallahu „alaihi wasallam keduanya mempercepat (langkahnya).2144-2134). serta aman dari fitnah dan tidak berkhalwat (menyendiri) dengan kaum lelaki.

edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam ”. “Maha suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu. Bab “I‟tikaf”.salafy. dengan pena penulisnya pada fajar hari ahad 26 Rajab tahun 1406 H.Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu : “Jika seorang yang I‟tikaf melakukan jima‟ bata. semoga Allah Subhanahu wa Ta‟ala memberikan Shalawat dan salam-Nya kepada Nabi shalallahu „alaihi wasallam yang ummi. Sumber artikel : http://www. (Dinukil dari terjemah kitab "Qiyamu Ramadhan".84 . dan hendaklah dia memulainya kembali. juga kepada keluarga dan sahabatnya.php?id_artikel=762 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar I'tikaf seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah 3/920 dan Abdurrazzaq 4/363 dengan sanad yang shahih dan yang dimaksud dari kata (Ista‟nafa) dalam lafadz 2 hadist adalah mengulangi I‟tikafnya).” Selesai mengoreksi dan membenahinya. '08 10:51 PM untuk semuanya . aku bersaksi bahwa tiada Illah yang hak melainkan Engkau. I‟tikafnya. Dan tidak ada kafarah bagi dia karena tidak terdapat dalil dari Nabi shalallahu „alaihi wasallam dan para sahabatnya.id/print. Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su‟aidi. juga menambahnya dengan tambahan-tambahan baru. Penerbit “Cahaya Tauhid Press”) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani. aku minta ampun kepada-Mu dan bertaubat Kepada-Mu.or. Hal : 72 .

20 Oktober 2004. menghalangi dan menghentikannya. yang menyebabkan dia . dan disyari‟atkannya (I‟tikaf) berdasarkan maslahah (kebaikan yang akan diperoleh) hingga seorang hamba dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat kelak. dan (hal-hal tersebut) akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkannya. berkhalwat dengan-Nya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk. 04:36:21 1. Dan disyari‟atkannya I‟tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah 'Azza wa Jalla dan kumpulnya hati kepada Allah. dan jadilah keinginan semua kepada-Nya dan semua betikanbetikan hati dengan mengingat-Nya. Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang menghendaki untuk mensyari‟atkan bagi mereka puasa yang menyebabkan hilangnya kelebihan makan dan minum pada hambaNya. kecintaan dan penghadapan kepadaNya sebagai ganti kesedihan (duka) hati dan betikan-betikannya. dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati tersebut kepada Allah 'Azza wa Jalla secara menyeluruh. dan akan membersihkan kecenderungan syahwat pada hati yang (mana syahwat tersebut) dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah 'Azza wa Jalla. Sedangkan makan dan minum dengan berlebih-lebihan dan berlebih-lebihan dalam bergaul. Sehingga bermesraan dengan berkhalwat dengan Allah sebagai ganti kelembutannya terhadap makhluk. bertafakur dalam mendapatkan keridhaan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah. termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah berantakan (kusut) dan mencerai beraikan hati di setiap tempat. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh.I'tikaf seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: yaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Hingga jadilah meng-ingat-Nya. hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. Hikmahnya Al 'Allamah Ibnul Qayyim berkata: “Manakala hadir dalam keadaan sehat dan istiqomah (konsisten) di atas rute perjalanan menuju Allah 'Azza wa Jalla tergantung pada kumpulnya (unsur pendukung) hati tersebut kepada Allah. terlalu banyak bicara dan tidur. sehingga ia mampu mencurahkan kepada-Nya. karena kusutnya hati tidak akan sembuh kecuali dengan menghadapkan(nya) kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Makna I‟tikaf Yaitu berdiam(tinggal) di atas sesuatu. maka inilah maksud dari I‟tikaf yang agung itu”. Telah shahih bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam beri‟tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Syawwal. 166)[ Riwayat Bukhari (4/237) dan Muslim (1656)] Yang paling utama (yaitu) pada bulan Ramadhan berdasarkan hadits Abu Hurairah Radiyallahu 'anhu (bahwasanya) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam sering beri‟tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang mana beliau diwafatkan padanya. beliau (pun) beri‟tikaf selama dua puluh hari. dan Lisanul Arab (9/252) oleh Ibnu Mandhur. dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai Mu‟takif dan „Akif.163) [ Zaadul Ma‟ad (2/86-87)] 2.164) [Al Mishbahul Munir (3/424) oleh Al Fayumi.” Beliau bersabda: “Tunaikanlah nadzarmu.” Maka ia (Umar) pun beri‟tikaf pada malam harinya.] 3. 168) [Riwayat Bukhari (4/266) dan Muslim (1173) dari Aisyah] 4.berbuat demikian adalah karena kelembutannya tersebut kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur mankala sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya. 167)[ Riwayat Bukhari (4/245] Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam seringkali beri‟tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau.165)[ Riwayat Bukhari (4/226) dan Muslim (1173)] Dan Umar pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam “Wahai Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam). Syarat-syarat I‟tikaf . sesungguhnya aku ini pernah nadzar pada jaman jahiliyyah (dahulu). dan (manakala) tidak ada lagi yang membahagiakan (dirinya) selain daripada-Nya. (yaitu) aku akan beri‟tikaf pada malam hari di Masjidil Haram. Disyari‟atkannya I‟tikaf Disunnahkannya pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya sepanjang tahun.

. dishahihkan oleh para imam serta para ulama. dapat dilihat takhrijnya serta pembicaraan mengenai hal ini pada kitab yang berjudul Al Inshaf fi Ahkamil I‟tikaf oleh Ali Hasan Abdul Hamid] c. Diperbolehkan keluar masjid jika ada hajat. Tidak disyari‟atkan kecuali di masjid.a. Lihat Zadul Masir (1/193) oleh Ibnul Jauzi]. (QS. Aisyah Radiyallahu 'anha berkata: “Dan sesungguhnya rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam pernah memasukkan kepalanya kepadaku.”170) [Hadits tersebut shahih. tapi telah dibatasi oleh hadits shahih yang mulia (yaitu) sabda beliau Shalallahu 'alaihi wassalam : “Tidak ada I‟tikaf kecuali pada tiga masjid (saja). Pendapat tersebut merupakan pendapat jumhur (ulama).”173) [Dikeluarkan oleh Ahmad (5/364) dengan sanad yang shahih]. Orang yang sedang I‟tikaf dan yang lainnya diperbolehkan untuk berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam: “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam berwudlu di dalam masjid dengan wudlu yang ringan.”172) [hadits riwayat Bukhari (1/342) dan Muslim (297) dan lihat Mukhtasar Shahih Bukhari no. Al Baqarah: 187) b. Perkara-perkara yang boleh dilakukan: a. b. Dan masjid-masjid di sini bukanlah secara mutlak (seluruh masjid. 5. padahal beliau sedang I‟tikaf di masjid [“dan aku berada dalam kamarku”] kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat lain: “aku cuci rambutnya”) [“dan antara aku dan beliau (ada) utbah pintu”] {“dan waktu itu aku sedang haidh”] dan adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang I‟tikaf. berdasarkan firman-Nya Ta‟ala: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu169) [ Yakni “Janganlah kamu menjimaki mereka”. Dan sunnahnya bagi orang-orang yang beri‟tikaf (yaitu) hendaknya berpuasa sebagaimana dalam (riwayat) Aisyah Radiyallahu 'anha yang telah disebutkan. pent).171) [ Dikeluarkan oleh Abdul Razak dalam Al Mushannaf (8037) dan riwayat (8033) dengan maknanya dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas]. boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir (rambutnya).167 oleh Syaikh kami Al Albani rahimahullah dan Jami‟ul Ushul (1/3451) oleh Ibnu Atsir].

Shafiyyah Radiyallahu 'anha berkata: “Dahulu Nabi (Shalallahu 'alaihi wassalam) (tatkala beliau sedang) I‟tikaf [pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan] aku datang mengunjunginya pada malam hari [ketika itu di sisinya ada beberapa isteri beliau sedang bergembira ria] maka akupun berbincang sejenak. kemudian keduanya berkata: “Subhanallah (Maha Suci Allah). Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang I‟tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri‟tikaf. sebagaiman yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radiyallahu 'anhuma bahwa Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam jika I‟tikaf dihamparkan untuknya kasur atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At Taubah. kemudian aku bangun untuk kembali. maka keduanyapun bergegas. 6.176) [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (642-zawaidnya) an Al baihaqi. Dan sanadnya hasan]. kemudian Nabi-pun bersabda: “Tenanglah177)[Janganlah kalian terburu-buru. dan suaminya diperbolehkan mengantar isteri sampai ke pintu masjid.I‟tikafnya wanita dan kunjungannya ke masjid a. sebagaiman yang dikatakan oleh Al Bushiri dari dua jalan . ya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. -tempat tinggal Shafiyyah yaitu rumah Usamah bin Zaid.c. red)” . karena Aisyah Radiyallahu 'anha (pernah) membuat kemah (yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang) apabila beliau beri‟tikaf174) [Sebagaimana dalam shahih Bukhari (4/226)] dan hal ini atas perintah Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam 175) [Sebagaimana dalam Shahih Muslim (1173)]. Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang beri‟tikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut. ini bukanlah sesuatu yang kami benci].” Beliaupun bersabda: “Sesungguhnya syetan itu menjalar (menggoda) anak Adam pada . Diperbolehkan bagi seorang isteri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat I‟tikaf. ini adalah Shafiyyah bintu Huyay (istri Rasulullah sendiri. d.[sesampainya di samping pintu masjid yang terletak di samping pintu Ummu Salamah] lewatlah dua orang laki-laki-laki-laki dari kalangan Anshar dan ketika keduanya melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam. [maka beliaupun berkata: jangan engkau tergesa-gesa sampai aku bisa mengantarmu] kemudian beliau berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku pulang.

Bab "I'tikaf".”179)[ Telah lewat takhrijnya] berkata Syaikh kami (yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah-pent): “pada atsar tersebut ada suatu dalil yang menunjukkan atas bolehnya wanita I‟tikaf dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dibatasi (dengan catatan) adanya izin dari wali-wali mereka dan aman dari fitnah. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.id/print. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Berdasarkan ucapan Aisyah Radiyallahu 'anha: “Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam I‟tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Al mewafatkan beliau. '08 10:50 PM untuk semuanya .Malam Seribu Bulan Sep 11.aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir akan bersarangnya kejelekan di hati kalianatau beliau berkata: sesuatu-“178) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/240) dan Muslim (2157) dan tambahan yang terakhir ada pada Abu daud (7/142-143 di dalam Aunul Ma‟bud)] b. Seorang wanita boleh I‟tikaf dengan didampingi suaminya ataupun sendirian.or. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Sumber artikel : http://www. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. berdasarkan dalil-dali yang banyak mengenai larangan berkhalwat dan kaidah Fiqhiyah: “ Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.php?id_artikel=761 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Malam Lailatul Qadar . penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.salafy.” (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). kemudian isteri-isteri beliau I‟tikaf setelah itu. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan.

Inilah wahai saudaraku muslim.5] Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah : ٣﴾ ٦﴾ [ ‫]٦ . Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur'an. Allah berfirman : ١﴾ ٤﴾ ٢﴾ ٥﴾ [ ‫]٥ . [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.٣ : خ ل‬ (yang artinya) : "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.١ : قل‬ ٣﴾ (yang artinya) [1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. [QS Al Qadar: 1 . ayat-ayat Qur'aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut. 18 Oktober 2004. akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah. red). 05:19:43 Malam Lailatul Qadar Keutamaannya sangat besar. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 1. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Fiqh. karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi.Malam Lailatul Qadar . [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang ٤﴾ ٥﴾ . Keutamaan Malam Lailatul Qadar Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan.Malam Seribu Bulan Penulis: yaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.

”. terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan. karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Carilah di sepuluh hari terakhir. (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169) Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu.” (Lihat maraji‟ diatas). maka barangsiapa ingin mencarinya. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda.6] 2. lihatlah). [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. carilah pada tujuh hari yang terakhir. Ini menafsirkan sabdanya : (yang artinya) “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi. 25.” (HR Bukari 4/221 dan Muslim 1165). membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388). ada dua orang sahabat berdebat. ia berkata Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam keluar pada malam Lailatul Qadar. Waktunya Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21.”. pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan. 27. janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir."[QS Ad Dukhoon: 3 . 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. Dari Ubadah bin Shamit Radiyallahu „anhu. [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.penuh hikmah. Telah diketahui dalam sunnah. 23. jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya. Pendapat yang paling kuat. wallahu a‟lam. dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam beri‟tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda : (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar. beliau bersabda : “Aku . beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut. ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam hari?”. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Imam Syafi‟I berkata : “Menurut pemahamanku. berdasarkan hadits „Aisyah Radiyallahu „anha.

tidak saling bertentangan. lima). Oleh karena itu. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar Sesungguhnya malam yang diberkahi ini.keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar. Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. . cocoklah hadits-hadits tersebut. Maka dengan ini. jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. 3. 27 dan 29. 23. Wallahu a‟lam. melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Hadits yang pertama sifatnya umum. dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar. Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir. maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. tidak ada masalah. 21. Ia berkata : “Adalah Rasulullah beri‟tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata : “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan”. sedang hadits kedua adalah khusus. semoga ini lebih baik bagi kalian. yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah. dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan. Kesimpulannya : Jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar. Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu. sembilan. bahkan bersatu tidak terpisahkan. maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir. tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi). yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir.27. 25. maka carilah pada malam 29. maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25. 27 dan 29.25 (dan dalam riwayat lain : tujuh. tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah. barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya. (HR Bukhari 4/232). (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).

Dari Aisyah Radiyallahu „anha. apa yang harus aku ucapkan ?”. menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. “Adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan). “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi). Ibnu Majah (3850). dari Aisyah. Telah diriwayatkan dari Sayyidah „Aisyah Radiyallahu „anha.” yang telah lalu. maka ampunilah aku. Ya Allah.” (HR Muslim 1174). (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759) Disunnahkan untuk memperbanyak do‟a pada malam tersebut. sanadnya shahih.Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya). maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.) Saudaraku – semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir. (HR Tirmidzi (3760). perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan. Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan. halaman 55-57. menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar). Juga dari „Aisyah Radiyallahu „anha. Ya Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam). karya ibnu Rajab al Hanbali. 4. (dia) berkata : “Aku bertanya. “Allahumma innaka „afuwwun tuhibbul „afwa fa‟fu „annii.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174). Tanda-tandanya . beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah. yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya. menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita. Beliau menjawab. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan.”. (dia berkata) : “Adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir).

php?id_artikel=757 Kata kunci: “tauziah series” . Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.” (HR Muslim 1170. Dari Abu Hurairah. tidak panas dan tidak juga dingin. cerah. ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Pagi hari malam Lailatul Qadar. seperti syiqi jafnah. (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan. Dari Ubay Radiyallahu „anhu. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. jafnah artinya bejana. Perkataannya “Syiqi Jafnah”.Ketahuilah hamba yang taat – mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolongaNya – sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya. sanadnya hasan).” (HR Muslim 762). Sumber artikel : http://www. Al Qadli „Iyadh berkata :”Dalam hadits ini ada isyarata bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan. seperti bejana hingga meninggi. Ibnu Khuzaimah (3/231). penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.salafy. Bab "Malam Lailatul Qadar". ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam beliau bersabda : (yang artinya) “Siapa diantara kalian yang ingat ketika terbit bulan.”) Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu „anhu.” (HR Thyalisi (349).or. syiq artinya setengah. karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan. ia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah. matahari terbit tanpa sinar menyilaukan. Ke 5 th 1416 H.id/print. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Bazzar (1/486).

red) seorang miskin. bahwasanya ayat ini adalah khusus bagi orang yang sudah tua renta (baik laki-laki maupun perempuan). hendaknya membayar fidyah. Bagi Siapa Fidyah itu ? Bagi ibu hamil dan menyusui jika dikhawatirkan keadaan keduanya. dengan memberi makan seorang miskin”. 05:32:06 Fidyah 1. (HR Bukhari 8/135). tetapi ada riwayat dari Ibnu Abbas yang menegaskan bahwa ayat ini tidak mansukh dan ini berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua dan bagi yang tidak mampu berpuasa. maka diperbolehkan berbuka dan memberi makan setiap harinya (yang ditinggalkan. '08 10:46 PM untuk semuanya Siapa yang layak membayar fidyah secara syar'i ? Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. jika dikhawatirkan keadaan keduanya. Penjelasan Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu Engkau telah mengetahui wahai saudaraku seiman. 17 Oktober 2004. orang yang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. Syaikh Ali Hasan Abdul Hami Fiqh. (QS Al Baqarah 184). dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya) “Dan orang-orang yang tidak mampu berpuasa. red) berdasarkan dua hadits Abdullah bin Umar dan Salamah bin Al Akwa Radiyallahu 'anhu. sebagaimana akan datang penjelasannya dari Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu. bahwasanya dalam pembahasan yang lalu ayat ini mansukh (sudah dihapuskan hukumnya. 2.tidak ada komentar Siapa yang layak membayar fidyah secara syar'i ? Sep 11. . ibu hamil dan menyusui. maka hendaknya mereka memberi makan setiap hari atas seorang miskin. Sisi pendalilannya.

Sebagian orang ada yang melihat zhahir riwayat yang lalu. lebih khusus lagi jika engkau mengetahui bahwasanya beliau menegaskan adanya mansukh. red). bahkan (bisa juga) dengan sebab dari luar. penafsirannya. hingga mereka menyangka Hibrul Ummah (Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu) menyelisihi jumhur. kemudian memberi makan setiap harinya seorang miskin. syarat dan sifat sebagai „naskh‟. (Ibnu Jarud (381). barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu (Ramadhan –ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Karena padanya mengandung penghilangan makna dan zhahir maksud lafadz tersebut. Dalam riwayat lain (disebutkan) : “Diberi rukhsah (keringanan. Al Baihaqi (4/230).” (QS Al Baqarah 185).Oleh karena itulah Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu dianggap menyelisihi jumhur shahabat atau pendapatnya saling bertentangan. Abu Daud (2318) sanadnya shahih). Naskh dalam bahasa Arab menjelaskan maksud tanpa memakai lafadz tersebut. adapun mengkhususkan atau mengaitkan atau menunjukkan yang mutlak kepada muqayyad. Telah sahih bagi kakek dan nenek yang sudah tua jika tidak mampu berpuasa. karena salafush shalih Radiyallahu 'anhu menggunakan kata „naskh‟ untuk menghilangkan pemakaian dalil-dalil umum. mutlak. ibu hamil dan menyusui yang khawatir keadaan keduanya untuk berbuka. Yang Benar Ayat Tersebut (Al Baqarah 185) Mansukh Yang benar dan tidak diragukan lagi ayat tersebut adalah mansukh. 3. zhahir dan selainnya. kemudian dimansukh oleh ayat (yang artinya) : “Karena itu. . sehingga mereka menamakan istitsna‟ (pengecualian). hendaknya memberi makan seorang yang miskin dan tidak ada qadha‟. yaitu riwayat Bukhari pada kitab Tafsir dalam shahihnya yang menegaskan tidak adanya naskh (dalil yang menghapuskan. (Lihat I‟lamul Muwaqi‟in 1/35 karya Ibnu Qayyim dan Al Muwafaqat (3/118) karya Asy Syathibi). mereka menyangka adanya saling pertentangan!!!. tetapi tatkala diberikan riwayat yang menegaskan adanya naskh. red) bagi laki-laki dan perempuan yang sudah tua renta yang tidak mampu berpuasa. tetapi dalam pengertian orang-orang terdahulu. penjelasannya.

red) itu jika penyebutan mereka bukan sebagai dalil ataupun pembatasan ? Jika engkau telah merasa jelas dan yakin. 4. Mungkin adanya masalah itu terjadi karena hadits Ibnu Abbas yang menegaskan adanya nash bahwa rukhshah itu untuk laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa. hingga tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang lanjut usia. maka berpuasalah. dan tidak mansukh bagi orang yang tidak mampu berpuasa. yang mengandung penghilangan hukum syar‟i terdahulu dengan dalil syar‟i mutakahirin yang dinisbatkan kepada mukallaf. barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu (Ramadhan –ed) maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Yang menguatkan akan hal ini adalah pernyataan Ibnu Abbas dalam riwayat yang menjelaskan adanya naskh : “Telah tetap bagi laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia . atau tidak biasa puasa. dan barangsiapa yang mau berbuka maka berbukalah. serta berpendapat bahwa makna ayat mansukh bagi orang yang mampu berpuasa. maka apa makna rukhsah yang ditetapkan dan yang dinafikan (ditolak.Sudah diketahui bahwa barangsiapa yang memperhatikan perkataan mereka (orang Arab) akan melihat banyak sekali contoh masalah tersebut. Ayat Tersebut Bersifat Umum Yang menguatkan hal ini. sehingga akan hilanglah musykilah (problema) yang disebabkan memaknakan perkataan salafus shalih dengan pengertian yang baru. hukum pertama mansukh dengan dalil al Qur‟an adapun hukum kedua dengan dalil dari Sunnah dan tidak akan dihapus sampai hari Kiamat.” (QS Al Baqarah 185). Jika rukhshah tersebut hanya untuk laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia saja. kemudian dihapus (dinaskh). Penguat hal ini dari sunnah adalah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Salamah bin al Akwa Radiyallahu 'anhu : “Kami pernah pada bulan Ramadhan bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. hingga turun ayat (yang artinya) : “Karena itu. dalil untuk memahami hal ini terdapat pada hadits itusendiri. tetapi masalah ini akan hilang jika jelas bagimu bahwa hadits tersebut hanya sebagai dalil bukan membatasi orangnya. ayat diatas adalah bersifat umum bagi seluruh mukallaf yang mencakup orang yang biasa berpuasa. tetapi harus berbuka dengan memberi fidyah kepada seorang miskin. barangsiapa yang mau berpuasa.

demikianlah diisyaratkan oleh al Qurthubi dalam tafsirnya. ijtihad dan pengkabaran. Oleh karena itu Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhu mencocoki sahabat. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat : (yang artinya) “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan padanya Al Qur‟an…” (QS Al Baqarah 185). sehingga tidak bisa naik ke tingkatan hadits marfu‟ yang bisa mengkhususkan . yakni ayat ini dikhususkan. menetapkan puasa selama tiga hari setiap bulannya. Ahmad dalam Musnad (5/246-247) dan sanadnya shahih. dan puasa Asyura‟. yakni ayat ini dikhususkan. Allah menetapkan puasa bagi orang mukim dan sehat. Al Baihaqi dalam sunannya (4/200). (Al Jami‟ li Ahkamil Qur‟an. serta wanita yang hamil dan menyusui juka khawatir akan keadaan keduanya. haditsnya mencocoki dua hadits yang lainnya (yaitu) hadits Ibnu Umar dan Salamah bin Al Akwa Radhiyallahu 'anhu dan juga tidak saling bertentangan. untuk berbuka dan memberi makan orang miskin setiap harinya. serta memberi keringanan (rukhshah) bagi orang yang sakit dan musafir dan menetapkan fidyah bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa. diwajibkan atas kalian berpuasa…” (QS Al Baqarah 183). Hadits Ibnu Abbas dan Muadz hanya ijtihad ? Mungkin engkau menyangka wahai saudara muslim. Dua hadits ini menjelaskan bahwa ayat ini mansukh bagi orang yang mampu berpuasa dan tidak mansukh bagi orang yang tidak mampu berpuasa. 2/288). sampai kemudian Allah mewajibkan puasa (Ramadhan) turunlah ayat : “Hai orang-orang yang beriman. 5. Perkataannya tidak mansukh ditafsirkan oleh perkataannya : “itu mansukh”.” Dan yang menambah jelas lagi hadits Mu‟adz bin Jabal Radiyallahu 'anhu : “Adapun keadaan-keadaan puasa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam saat datang ke Madinah.dan tidak mampu berpuasa. inilah keadaan keduanya…” (HR Abu Daud dalam Sunannya (507). apa yang telah tsabit (tetap penyebutannya) dari Ibnu Abbas dan Mu‟adz hanyalah semata-mata pendapat. dengan keterangan ini jelaslah bahwa naskh dalam pemahaman shahabat berlawanan dengan pengkhususan dan pembatasan di kalangan ahli ushul mutaakhirin.

Wanita Hamil dan Menyusui Gugur Puasanya . dan berilah makan orang miskin setiap harinya dan tidak perlu mengqadha‟. c. maka ini adalah hadits yang musnad. (Sebagaimana dinashkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (3/21)). (Lihat Tadribur Rawi (1/192-193) karya Imam Suyuthi. beliau menjawab : “Berbukalah.” (Al Baihaqi dalam as Sunan (4/230) dari jalan Imam Syafi‟I. 6. Ibnu Umar pun menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin. „Ulumul Hadits (24) karya Ibnu Shalah). bahwa turunnya begini.” Dari jalan lain beliau meriwayatkan : Seorang wanita yang hamil bertanya kepada Ibnu Umar. Ibnu Abbas menetapkan hukum ini bagi wanita yang menyusui dan hamil. b. Dan dia kehausan ketika puasa Ramadhan. terlebih lagi beliau tidak sendirian tapi disepakati oleh Abdullah bin Umar yang meriwayatkan bahwa hadits ini mansukh (sudah dibatalkan. Dari jalan yang ketiga : Anak perempuan Ibnu Umar adalah istri seorang Quraisy.perkara yang sifatnya umum dalam al Qur‟an. beliau berkata : “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin. beliau (Ibnu Umar) berkata : “Seorang wanita hamil dan menyusui boleh berbuka dan tidak mengqadha‟. darimana beliau mengambil hukum ini? Tidak diragukan lagi beliau mengambil dari Sunnah. red). maka jawabannya adalah sebagai berikut : a. sanadnya jayyid”. karena dua hadits ini ada dalam tafsir ketika menjelaskan asbabun nuzul. Seorang yang beriman mencintai Allah dan RasulNya tidak boleh menyelisihi dua hadits ini jika ia anggap shahih. membatasi yang mutlak dan menafsirkan yang global. yakni dua sahabat ini menyaksikan wahyu dan turunnya al Qur‟an. dan hamil. Dua hadist ini memiliki hukum marfu‟ menurut kesepakatan ahlul ilmi tentang hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. mengabarkan ayat Al Qur‟an. Dari Malik dari Nafi‟ bahwasanya Ibnu Umar ditanya tentang seorang wanita yang hamil jika mengkhawatrkan anaknya. Daruquthni meriwayatkan (1/207) dari Ibnu Umar dan beliau menshahihkannya. Tidak ada sahabat yang menentang Ibnu Abbas Radiyallahu 'anhu. sanadnya shahih).

Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. yang terdapat dalam hadits Anas yang lalu. bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk orang yang tercakup dalam ayat itu. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. bahwa ayat ini adalah khusus untuk mereka. Sumber artikel : http://www.php?id_artikel=756 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Kafarat / Denda dalam Puasa Ramadhan Sep 11. Bab "Fidyah". Musafir Gugur Puasanya dan Wajib mengqadha‟ Barangsiapa menyangka gugurnya puasa wanita hamil dan menyusui sama dengan musafir sehingga mengharuskan qadha‟.” (QS Al Baqarah 184). Dan Allah menjelaskan makna gugurnya puasa bagi yang tidak mampu menjalankannya dalam firmanNya : (yang artinya) “Dan wajib orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) : memberi makan seorang miskin.Keterangan ini menjelaskan makna : “Allah menggugurkan kewajiban puasa dari wanita hamil dan menyusui”.id/print.salafy.” 7. (Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka AlMubarok (PMR). perkataan ini tertolak karena al Qur‟an menjelaskan makna gugurnya puasa dari musafir : (yang artinya) “Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Ke 5 th 1416 H. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. yakni dibatasi “kalau mengkhawatirkan diri dan anaknya”. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. '08 10:45 PM .or. Edisi Indonesia) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. dia bayar fidyah tidak mengqadha‟. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly. Maka jelaslah bagi kalian.” (QS Al Baqarah 184).

baik bagi yang menyatakan boleh memilih atau tidak. maka riwayatnya lebih rajih karena perawinya lebih banyak jumlahnya dan padanya terdapat tambahan ilmu. maka gugurlah kewajibannya membayar kafarat. Gugurnya kafarat Barang siapa yang telah wajib membayar kafarat. tetapi yang meriwayatkan dengan tertib (sesuai urutannya. berbeda dengan sebaliknya. Kafarat bagi laki-laki yang menjima'i isterinya Telah lewat hadits Abu Hurairah. -ed) perawinya lebih banyak. Ada yang mengatakan : kafarat jima' itu boleh dipilih secara tidak tertib (yaitu tidak urut seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah. karena itu berpegang dengan tertib sudah cukup. kalau tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut. kalau tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin. Allah berfirman (yang artinya) : “ Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kemampuan" [Al-Baqarah : 286] . -ed). bahwa dia harus mengqadha' puasanya dan membayar kafarat yaitu : membebaskan seorang budak. namun tidak mampu mebebaskan seorang budak ataupun puasa (dua bulan berturut-turut) dan juga tidak mampu memberi makan (enam puluh orang miskin). Tidak pernah terjadi hal seperti ini dalam riwayat-riwayat lain.untuk semuanya Kafarat / Denda dalam Puasa Ramadhan Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly Fiqh. 08 November 2003. dan orang yang berilmu menjadi hujjah atas yang tidak berilmu. 2. yang menganggap lebih rajih yang tertib disebabkan karena tertib itu lebih hati-hati. mereka sepakat menyatakan tentang batalnya puasanya karena jima'. karena tidak ada beban syari'at kecuali kalau ada kemampuan. tentang laki-laki yang menjima'i isterinya di siang hari bulan Ramadhan. 04:08:20 1.

'08 10:45 PM untuk semuanya Petunjuk tentang Qunut Witir Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Penulis: Abul 'Abbaas Musa ibn John Richardson .php?id_artikel=322 Kata kunci: “tauziah series” tidak ada komentar Petunjuk tentang Qunut Witir Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam Sep 11.id/print. Ke 5 th 1416 H. 3. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.salafy. Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly.or. Sumber artikel : http://www. penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. beliau hanya mewajibkan satu kafarat saja. karena ketika dikhabarkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam perbuatan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet.Dan dengan dalil Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menggugurkan kafarat dari orang tersebut. Wallahu 'alam Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan. Kafarat hanya bagi laki-laki Seorang wanita tidak terkena kewajiban membayar kafarat. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR). ketika mengabarkan kesulitannya dan memberinya satu wadah korma untuk memberikan keluarganya. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.

menggunakan manhaj para Ulama meneliti. 17:19:31 Judul Pelajaran : Penjelasan tentang do'a qunut yang dilakukan dalam sholat Witir. dalam rangka memusatkan pada prinsip dasar dalam pelajaran tersebut yang layak diambil. yang didasarkan semata-mata pada masalah yang berkenaan dengan doa qunut dalam sholat Witir. 08 November 2004. termasuk madzhab Dhahiriyyah. Saudi Arabia) Pelajaran terbagi menjadi dua bagian utama : Bagian Pertama: Riwayat-riwayat yang diperbincangkan kesahihannya Bagian Kedua : Masalah yang berhubungan dengan do'a qunut yang dilakukan dalam sholat Witir Penyusun mengumpulkan seluruh riwayat yang shahih dari Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam) dan pernyataan para sahabatnya yang berhubungan dengan qunut dalam sholat witir. Kemudian beliau mengumpulkan yang termasuk dalam kategori sahih.berargumentasi. dan mengambil kesimpulan. agar supaya membedakan antara (riwayat) orang-orang yang tak dapat diterima dan yang bisa diterima. Penyusun kemudian kembali dan meneliti masalah tersebut satu-persatu. Beliau juga mengumpulkan dari madzhab fiqih terkenal yang telah yang menjelaskan tentangnya. dari perspektif hadits dan perspektif fiqih (Disampaikan oleh Shaykh Muhammad Bin Umar bin Salim Bazmul saat mengajar di Universitas Umm al-Quraa.Fiqh. Sebagian dari kesimpulan dalam studi (beliau) sebagai berikut: . memilah sesuai dengan riwayat yang sahih.

Menyambung (di atas)." Kata Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah:"Ini atsar yang kami pegang.[Dari 'Amr dari Hasan. Muhammad bin 'Umar Bazmul hal 362-385. bahwasanya 'Umar radiyallaahu 'anhu menyuruh Ubay radiyallaahu 'anhu mengimami shalat tarawih pd bulan Ramadhan. dan beliau menyuruh Ubay radiyallaahu 'anhu untuk melakukan qunut pada pertengahan Ramadhan mulai malam 16 Ramadhan. lihat juga kitab at-Tarjih fii Masaailil Thaharah was Shalah oleh DR. terlebih jika sholat tersebut dilakukan berjamaah dengan orang-orang. 2. ia menyebutkan dari Qatadah dan lainnya. sanad hadits shahih (lihat 'Irwaul Ghalil 1/167 hadits no 426 dan . dan tidak dikenal luas. HR Ibnu Abi Syaibah 2/305-306 atau 2/205]". sebab hal ini menyimpang dari Sunnah. Dan kata Ma'mar:"Sesungguhnya aku qunut witir sepanjang tahun kecuali awal Ramadhan sampai dengan pertengahan saya tidak qunut. Termasuk sunnah Nabi ( Shallallahu 'alaihi wasallam) yakni kadang-kadang melaksanakannya dan kadang-kadang meninggalkannya. yakni dimulai dengan malam yang yang keenambelas.[Hadits Ubay bin Ka'ab:"bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku'. 5. demikian juga dikalukan oleh Hasan al-Bahsri. Do'a qunut dalam witir dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruku'.10] 4. [Ishaq bin Rahawaih memilih qunut (witir) dilaksanakan sepanjang tahun. Lihat Mushannaf 'Abdurrazzaq 3/120 dengan sanad yang shahih. simak Mukhtasar Qiyamullail 125. HR Ibnu Abi Syaibah 2/205 no. 6. Serta Dari Ibrahim an-Nakha'i telah berkata 'Abdullah:"ia tidak pernah qunut Shubuh sepanjang tahun dan ia qunut witir setiap malam sebelum ruku'. walaupun yang terbaik dilaksanakan sebelum ruku'. 3. HR Abu Dawud no 1427. Qunut (semestinya) ditinggalkan saat separuh pertama dari bulan Ramadhaan. Bahwa doa qunut dalam sholat witir (di bulan Ramadhan. Diperbolehkan melakukan doa qunut pada (malam) pertama dan kedua dari separoh bulan Ramadhaan.1. red) diperbolehkan dilakukan semua sepanjang tahun. yakni setiap malam yang telah ditetapkan adalah separuh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Ibnu Majah no 1182.

8. Termasuk Sunnah."Simak Diriwayatkan olsyaieh Ibnu Abi Syaibah 2/302 atau 2/202 no 12. 12. bahkan diriwayatkan dari jumhur Sahabat. Tidak ada ketetapan yang mengharuskan orang-orang untuk berdo'a qunut dengan cara tertentu. dan para jama'ahnya mengucapkan "amiin". (akan tetapi) melakukan qunut tersebut pada separuh terakhir. tidak bebas melakukan apapun. Juga Syaikh al-Albani rahimahullah berkata : "Boleh juga doa qunut sesudah ruku' dan ditambah dengan melaknat orang2 kafir. dan ini riwayat yg shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud dan 'Abdullah bin Umar radiyallaahu 'anhuma. serta memohon (dalam qunut) untuk membinasakan kaum kafir pada doa qunutnya. Termasuk menyimpang dari Sunnah yakni bertakbir (Allahu akbar) sebelum dan sesudah qunut.31-32] 7. Dan sebagaimana hadits Hasan bin Ali radiyallaahu 'anhuma. sebab cara yang terbaik adalah yang telah shahih riwayatnya. Termasuk Sunnah adalah bahwa imam mengeraskan suaranya saat berdo'a qunut. Diperbolehkan mengangkat tangan pada do'a qunut. pada pertengahan Ramadhan. dikatakan oleh al-hafizh dalam "Addirayah" sanadnya hasan.Shahih Sunan Abi Dawud no 1266). Syaikh Albani berkata sanadnya jayyid menurut syarat Muslim (Irwaa'ul Ghalil 2/166). atau membiarkan tangan tetap di . Simak Qiyamu Ramadhan hal. dan yang terbaik adalah mencukupkan diri untuk merujuk pada apa yang telah yang diberitakan Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam). ketika (memilih) berdoa qunut sebelum ruku'. untuk tidak memanjangkan do'a qunut. 10. sebagaimana diriwayatkan Ibrahim al-Qamah:"Sesungguhnya Ibnu Mas'ud dan para Sahabat Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam qunut dalam shalat witir sebelum ruku'. sehingga dia hanya diperbolehkan untuk memperpanjang sesuai pernyataan yang telah tetap. 11. Merupakan Sunnah bagi imam orang-orang untuk tidak berdo'a qunut pada separuh pertama bulan Ramadhaan. karena ada dalil dari para Shahabat radiyallaahu 'anhuma di zaman Umar radiyallaahu 'anhu. 9. lalu shalawat kepada Nabi shallalaahu 'alayhi wasallam dan mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin.

Dan beliau berharap kiranya dapat membantu menghidupkan kembali manhaj Ulama' di (dalam) meneliti. Abdullaah ibn Mas‟ud dan Ubay ibn Ka‟b (semoga Allah meridloi keduanya) yang telah meriwayatkan banyak tentang do'a qunut di (dalam) sholat witir. Tidak diizinkan untuk menyeka/menyapu wajah dengan tangan setelah qunut. semua cara ini diperbolehkan. Diperbolehkan mengucapkan shalawat kepada Nabi (Shallallahu 'alaihi wasallam) di (dalam) do'a qunut. 16. dan keteguhan. kecuali jika disana ada dalil khusus yang melarangnya. 15. 17. atau mengangkat tangan di awal qunut dan menurunkan tangan di akhir qunut. menerimanya dan menolaknya dalil dalam kaitan dengan kesahihannya. . 13. Sholat yang paling menyerupai sholat witir adalah paling adalah Maghrib. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa sesuatu yang disahkan dalam amalan wajib adalah juga disahkan untuk amalan sunnah. 14. Saudi Arabia] Masalah yang keempat: Apakah posisi tangan diangkat dalam do‟a qunut ? Berikut hukum yang ditetapkan dalam do‟a qunut : 1) Yakni seseorang mengangkat tangannya. sera memberikan bimbingan.samping (seperti posisi sebelumnya/tidak mengangkat tangan). mengumpulkan dalil-dalil. dan kemudian membuat kesimpulan yang berdasar padanya. Apa saja yang dikerjakan dalam qunut nazilah (yang dilakukan dalam sholat wajib) juga dapat dikerjakan dalam doa qunut dalam sholat witir. [Dari abstrak pelajaran yang disampaikan Syaikh Muhammad Bazmul pada Universitas Umm al-Quraa. Semoga Allaah mengabulkan doa penyusun. sebab sholat Maghrib adalah witir di sore [/siang] hari.

" 3) Az-Zuhri meriwayatkan bahwa Ibn Mas'ud dahulu mengangkat tangannya di(dalam) Witir. melainkan beliau mempelajari hal tersebut dari Nabi (Shallallaahu „ alaihi wasallam). Adapun dibentangkan dan saling berjauhan antara kedua tangan . Saudi Arabia) menyatakan : bahwa tindakan Ibn Mas'ud sesuai disini. dibatasi oleh dalil. Dan Allah Ta‟ala mengetahui yang terbaik. Lihat juga: Irwaa' Al-Ghalil ( 2/181)].[keterangan ust Abu Hamzah Yusuf : Dzahir perkataan Ahlul ilmi (tentang kaifiyat mengangkat tangan) :” bahwasanya kedua tangan digandengkan seperti orang yang sedang memohon. Dalil (yang berkenaan dengan poin di atas): 1) Nabi (Shallallaahu „ alaihi wasallam) menaikkan tangannya yang digunakan untuk berdo‟a qunut an-nazilah. red) untuk membinasakan kaum (kafir). al-Mu'jam as-Saghir. mengacu pada perbuatan Shahabat Nabi : "Mereka dahulu tidak menaikkan tangannya dalam Witir di bulan Ramadhan. 2) Az-Zuhri meriwayatkan. yakni memohon (kepada Allah. meminta dari orang lain agar memberikannya sesuatu. maka aku tidak mengetahui ada asalnya dalam Sunnah tidak pula dari perkataan ulama” 2) Yakni seseorang membiarkan tangannya berada disampingnya. sebab beliau adalah sahabat Nabi dan perbuatan ini adalah tauqifi. Dan 'Abdullaah ibn Mas'ud dahulu mengangkat tangannya saat qunut. dan setelah itu membiarkan tangannya di sampingnya. Makkah. [Sahihh: Ahmad 3/137. Musa Abul-'Abbaas Musa ibn John Richardson ('Aziziyyah. 3) Yakni seseorang mengangkat tangannya di awal qunut dan menurunkan tangannya di akhir qunut. maka beliau tidak akan melakukan berbagai hal didalam shalat menurut pendapatnya sendiri. dan al-Baihaqi didalam Dalaa'il anNubuwwah dan As-Sunan Al-Kubraa. .

. Abu Dawud (1443). red] witir yang wajib. kecuali jika disana ada dalil khusus yang melarang hal tersebut. Apa saja yang telah ditetapkan untuk qunut nazilah (yang dilakukan pada sholat yang wajib) adalah juga dapat diamalkan dalam qunut pada sholat witir. . Hal ini didukung oleh bahwa amalan apapun yang disyariatkan dalam amalan wajib adalah juga disyariatkan dalam amalan sunnah. al-Bayhaqi dalam as-Sunan alKubraa (2/200). [Datang dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu „anhu] Dan Allah Ta‟ala mengetahui yang terbaik. dengan begitu diperbolehkan juga untuk melakukannya didalam sholat yang tidak wajib. maka dapat diambil dalil melihat perbuatan Sahabat pada qunut an-naazilah (do‟a untuk memohon perlawanan atas orangorang (musuh. Ibn Khuzaimah (618). yang mana [sholat Magrib ini merupakan. Dan telah disepakati oleh al-Haakim. Ibn Khuzaimah. al-Haakim (1/225). karena ucapan mereka "Amiin" di belakang Imam dalam sholat adalah amalan (yang) dilaksanakan dalam sholat wajib. Hal ini telah tetap dalilnya dilakukan dalam sholat Maghrib. dan al-Albaani (Irwaa' al-Ghalil:2/163). (1) Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits hasan dalam Musnad Ahmad (2746). red) yang dilakukan pada sholat yang wajib).Masalah yang keenam: Apakah do‟a qunut dan ucapan “Amiin" para makmum/jama‟ah dilaksanakan dengan suara keras? [Ringkasan] Mengingat tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa mereka dulu (sahabat) mengucapkan "Amiin" di belakang imam mereka sepanjang qunut witr. berdasarkan pada prinsip yang disebutkan dalam kaidah berikut : “..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful