P. 1
MEKANIKA STRUKTUR

MEKANIKA STRUKTUR

|Views: 546|Likes:
Published by Natal Costa

More info:

Published by: Natal Costa on Apr 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

pdf

text

original

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012 LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA STRUKTUR

Yang bertanda tangan dibawah ini, Dosen Pembimbing tugas LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA STRUKTUR, menerima dan menyetujui tugas besar disusunoleh:

1. BARBARA CARMELINDA 2. FELICIANO ALMEIDA B. X 3. AGUSTINHO DA COSTA M. 4. NATALISIO DA COSTA 5. AGUSTINHO ARANDA

1021003 1021082 1021027 1021052 1021060

Telah menyelesaikan LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA STRUKTUR. Setelah diperiksa, maka laporan ini dapat diterima dan disetujui dengan

NILAI

:……………………………

Malang …..….April 2012

Mengetahui Kepala lab. Bahan konstruksi

Disetujui Dosen Pembimbing

Ir. Bambang Wedyantadji, MT

Ir. Bambang Wedyantadji,MT

i

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran tuhan yang maha Esa terselesainya laporan Tugas praktikum mekanika struktur ini dengan baik

Terwujudnya laporan pratikum mekanika struktur ini tidak lepas dari perang serata dan bantuan dari beberapa pihak. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ir. Adrianus Agus Santoso selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. 2. Ir. Hirijanto, MT selaku Jurusan Teknik Sipil S-1. 3. Lila Ayu Ratna Winanda, ST. MT selaku Sekretaris Jurusan Teknik Sipil S-1. 4. Ir. Bambang Wedyantadji, MT selaku Kepala Lab. Bahan konstruksi sekaligus dosen pembimbing kami. 5. Kedua orang tua yang telah mendukung materi maupun moral. 6. Spesial kepada kedua asisten lab mekanika struktur dan masih banyak lagi tidak dapat disebut satu persatu yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini.

Akhirnya kami berharap semoga laporan - laporan ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi para pembaca. Tak lupa pula, penyusun memohon maaf apabila ada kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna penyempurnaan dalam mengerjakan laporan-laporan selanjutnya.

Malang,……….April 2012

Penyusun

ii

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012 DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN..................................................................................... i KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii BAB I ...................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 BAB II ................................................................................................................... 17 PENGUJIAN TARIK ........................................................................................... 17 BAB III ................................................................................................................. 30 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................. 30

iii

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum
Baja dalam ilmu konstruksi merupakan material yang sangat sering digunakan, terutama dalam pembuatan struktur beton bertulang. Baja memiliki kemampuan yang baik dalam menahan gaya tarik, sedangkan beton memiliki kemampuan yang baik terhadap gaya tekan, sehingga baja digunakan sebagai tulangan dalam beton bertulang agar menghasilkan suatu struktur yang memiliki kemampuan dalam menahan gaya tekan dan gaya tarik. Banyak banhan di pakai dalam membuat suatu struktur sehingga perlu di katahua sebagai mana kuatnya bahan baja. Namum dalam mementkan bentuk dan ukuran-ukuran bagian suatu

konstruksibaja, maka kita harus mengitu ketentuan-ketentuan yang berlaku ditempat itu atau ketentuan lain, yang diberiakan oleh yang memberi tugas atau perinta antara lian, magenai pekerjaan bahan, beban yang di ambil tegangantegangan yang di perolehkan,dan bentuk konstruksi yang di rencanakan. Sebab mutu bahan yang diperguanakansangat berpengaruh sekali terhadap dimana didiriak serta kegunaan dari konstriksi tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian tarik terhadap material baja sehingga diketahui sifat-sifatnya dan dapat dipergunakan sesuai kemampuan baja tersebut. Suatu konstruksi dikatakan baik apabila tidak mengalami deformasi jika menerima suatu beban. Deformasi pada suatu konstruksi terjadi karena pembebanan yang melampaui batas maksimum yang diizinkan.

Praktikum Mekanika Struktur ini atau pengujian kuat tarik baja yang dilakukan guna menunjang teori yang telah diberikan pada matakuliah statika dan mekanika bahan. Dengan melaksanakan praktikum ini, diharapkan praktikum dapat mengenal dan dapat menggunakan alat pengujian tarik, mengetahui parameterparameter pengujian dan menyadari pentingnya pengujian suatu material yang dikaitkan dalam penggunaannya di lapangan.

1

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
1.2 BAHAN ATAU MATERIAL BAJA Bahan/material baja yang banyak digunakan dalam proyek-proyek pembangunan konstruksi gedung maupun sarana penunjang transportasi seperti jembatan dan lain-lain merupakan bahan/material yang memiliki sifat diantaranya proses pembuatan dan pelaksanaannya yang relatif lebih cepat. Namun selain memiliki keuntungan tersebut material ini memiliki kekurangan yakni diantaranya mudahnya material ini mengalami karat jika tidak cepat ditanggulangi secara dini, yang akan berakibat fatal pada saat pengerjaannya. Penggunaan material baja ini di Amerika Serikat pada mulanya adalah sebagai konstruksi utama Jembatan Eads di St. Louis, Missouri, yang dimulai pembangunannya pada tahun 1868 dan selesai pada tahun 1874. Kemudian pada tahun 1884 diikuti dengan pembangunan gedung bertingkat sepuluh berstruktur baja (nantinya menjadi 12 tingkat), yaitu Home Insurance Company Building di Chicago. Seabad setelah ditemukannya, bahan baja telah banyak dikembangkan, baik dalam sifat materialnya maupun dalam metode dan jenis penggunaannya. Beberapa struktur baja yang dapat dicatat disini antara lain adalah jembatan gantung Humber Estuary di Inggris, yang bentang utamanya sampai 4626 ft; menara radio di Polandia dengan tinggi 2120 ft; dan Sears Tower di Chicago setinggi 109 tingkat (1454 ft).

1.3 SIFAT SIFAT BAHAN/MATERIAL BAJA Seperti yang telah disinggung pada awal pembahasannya, bahwa salah satu sifat dari bahan/material baja yakni mudahnya material ini menjadi karat jika dalam proses konstruksi tidak dilakukan perawatan secara khusus terhadap material ini. Pengaruh buruknya cuaca dalam proses konstruksi merupakan salah satu penyebab yang dapat mempengaruhi material ini menjadi karat. Seseorang akan mengetahui sifat mekanik pada material baja apabila dilakukan percobaan uji tarik pada material tersebut. Uji ini melibatkan pembebanan tarik sampel baja dan bersamaan dengan itu dilakukan pengukuran beban dan perpanjangan sehingga akan diperoleh tegangan dan renggangan, yang dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : Tegangan ( fy ) = P/A

2

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
Regangan ( ε ) = ∆Lo/Lo dimana : fy = tegangan tarik yang dihitung (ksi) P = beban tarik yang diberikan (kips)
2

A = luas penampang melintang spesimen tarik (in. ); harga ini diasumsikanb selama uji dilakukan; pengurangan luas penampang diabaikan ε Δlo = regangan (in./in.) perpanjangan atau perubahan panjang antara dua titik acuan pada s pesimen tarik (in.) Lo = panjang semula di antara dua titik acuan (dapat berupa tanda berlubang) pada spesimen tarik sebelum dibebani (in.)

Gambar 1.1. Kurva tegangan f1 terhadap renggangan ε

Pada gambar 1.1 diatas diperlihatkan diagram tegangan-regangan khas untuk baja struktural yang umum digunakan. Akibat dibebani, sampel yang diuji tarik ini pada awalnya menunjukkan hubungan linear antara tegangan dan regangan. Titik dimana hubungan tegangan-regangan menjadi tidak linear disebut limit proporsional. Hal ini ditunjukkan dalam gambar 1.2. berikut, dimana bagian kiri dari gambar 1.1. diperlihatkan dengan skala besar. Baja tersebut tetap elastis (artinya, apabila beban dihilangkan akan kembali ke panjangnya semula) asalkan

3

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
tegangannya tidak melampaui harga sedikit di atas limit proporsional yang disebut limit elastis.
Selang elastis Selang plastis strain hardening

Tegangan KSI

Batas porposional

0.01 Regangan (in)

0.02

Gambar 1.2 Kurva tegangan fy terhadap renggangan ε dalam skala yang lebih besar

Dengan menambah bebannya, akan tercapai suatu titik pada saat regangan sangat bertambah pada harga tegangan yang konstan. Tegangan pada saat hal ini terjadi disebut tegangan leleh, fy. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2. fy, bahwa adalah besarnya tegangan untuk daerah horizontal kurva teganganregangan. Bagian kurva mulai dari titik awal sampai limit proporsional disebut dengan selang elastis. Pada desain demikian, hanya bagian kiri dari kurva yang diperlukan oleh seorang perancang. Sekalipun demikian, perancang harus menyadari bahwa masih ada selang tengangan-regangan yang dapat dialami oleh baja sebelum benar-benar mengalami kegagalan tarik.

Pada gambar 1.2. terlihat bahwa apabila telah melampaui limit proporsionalnya, baja tersebut akan masuk ke dalam selang plastis dan regangannya akan konstan pada tegangan sebesar Fy. Pada saat baja ini terus meregang, lama-kelamaan akan dicapai titik dimana kapasitas pikul bebannya bertambah. Fenomena bertambahnya kekuatan ini disebut strain hardening.

Sekalipun desain elastis hingga saat ini masih merupakan cara yang banyak digunakan, ada metode desain lain yang memperbolehkan sebagian dari

4

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
penampang elemen struktur mengalami tegangan Fy dan regangannya ada di dalam selang plastis. Hal ini disebut dengan desain plastis Salah satu sifat bahan/material baja yang lain yakni daktilitas, yakni kemampuan material baja mengalami deformasi sebelum mengalami keruntuhan/collapse. Dari tinjauan desain struktural, material baja yang menunjukkan perilaku daktil sangat diinginkan karena daerah plastisnya memberikan arti sebagai ukuran cadangan kekuatan. Defleksi ini dengan jelas dapat terlihat dengan mata, dan jauh lebih besar dibandingkan defleksi yang digunakan dalam desain sehingga dapat dipakai sebagai peringatan akan adanya kegagalan.

1.4 pengaerjaad dingin dan penguatan regangan Setaelah regangan leleh εy = f / E, pada leleh pertama terlapaui, dan uji dibebas bebankan, pembebanan kembali akan memberikan hubungan tegangan-regangan yang berbedadari hubungan semula.dalam gambar 1.3 pembebasbebanan terjadi dari lintasan A ke B, Timbul regangan permanen OB. Kapasitas daklisitas berkurang dari regangan OF ke BE. Pembebanan kembali dimulai dari titik B hingga mencapai daerah penguatan regangan (titik C). Dibebas-beankan keimbali sampai ke titik D.

Tegangan Tarik
Tegangan

Hubunga Tegangan Regangan elastis-plastis A

C Peninkatan tegangan leleh akibat penguatan regangan

E (Tegangan Putus)

Kemiringan elaastis

O

B Daerah Plastis Daerah Plastis Regangan permanen

D Pengutan Regangan

F

Regangan

Gambar 1.3 Efek penguatan Regangan

5

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
Bila material yang mengalami pembebanan hingga mencapai daerah penguataan regangan dan kemudian beban dilepaskan beberapa saat , maka mat, maka material itu akan menampakkan sifat yang berbedah. Hubungan teganganregangan tidak lagi melalui lintasan D,C, E dalam gambar 1.3. namun tidak leleh baja akan meninkat.fenomena ini disebut strain aging. Baja mengalami strain aging akan mengalami kenaikan tegangan leleh, tegangan tarik dan tegangan putusnya, daerah plastis dengan tegangan konstan juga mengalami kenaikan, namun daktilitas materieal ini mengalami penurunan. Beban malai diberiakan kembali dari titik D, panjang lingtasan DC lebih panjang dari lintasan BA yang mengindikasikan pula terjadi kenaikan titik leleh, peristiwa ini sebut efek penguatan regangan. Proses pembebanan diluar daerah elastis yang berakibat perubahan daktilitas bahan, dan dilakukan pada temperatur rung dikenal dengan istilah pengerjaan dingin(cold form)

peninkatan tegangan leleh akibat peguatan regangan

Tegangan

peninkatan tegangan akibat strain aging C E

D Daktilitas setelah penguatan regangan dan strain aging

Regangan

Gambar 1.4 efek strain aging

Berdasarkan tinggi tegangan leleh, ASTM membagi baja dalam empat kelompok sebagai berikut: a. Carbon steels (baja karbon) dengan tegangan leleh 210—280 Mpa. b. High-strength low-alloy steels (baja paduan rendah berkekuatantinggi) dengan tegangan leleh 280 – 490 Mpa.

6

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
c. Heat treated carbon and high-strength low alloy steels (baja paduan rendah dengan perlakuan karbon panas) mempunyai tegangan leleh322– 700 Mpa. d. Heat-treated constructional alloy steels (baja struktural paduan rendah denganperlakuan panas) dengan tegangan leleh 630 – 700 Mpa.

Gambar 1.3. Penentuan tegangan leleh

Seperti halnya dengan ASTM, SNI-2002 membedakan baja strukturalal berdasarkan kekuatannya menjadi beberapa jenis yaitu Bj 34, Bj 37, Bj 41, Bj 50, dan Bj 55. Perencanaan struktur baja di Indonesia dilakukan secara kuat batas dengan factor aman berdasarkan Load Resistance Factored Design (LRFD). Adapun sifat mekanis berbagai jenis baja struktural dapat dilihat pada Tabel 1.1.Sifat-sifat mekanis baja.

Jenis Baja

Tegangan putus minimum, fu (MPa)

Tegangan leleh minimum, f y (MPa) 210 240 250 290 410

Peregangan minimum (%) 22 20 18 16 33

BJ 34 BJ 37 BJ 41 BJ 50 BJ 55

340 370 410 500 550

Sifat-sifat mekanis lainnya baja struktural untuk maksud perencanaan ditetapkan sebagai berikut: Modulus elastisitas : E = 200.000 MPa Modulus geser : G = 80.000 MPa

7

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
Nisbah poisson : μ = 0,3 Koefisien pemuaian : α = 12 x 10-6/C0

1.5 Pengaruh Keretakan Getas Setelah temperatur diturunkan dengan tiba-tiba, maka peningkatan akan terjadi pada tegangan leleh, kuat tarik, modulus elestisitas, dan tegangan lelah. Sebaliknya keuletan baja yang diukur dari penyempitan tampang ataupun dari pertambahan panjang, turun akibat penurunan temperatur. Lebih lanjut pada suatu temperatur tertentu yang relatif rendah, baja struktural mungkin saja mengalami retak dengan sedikit atau tanpa perubahan bentuk plastis. Keretakan yang terjadi karena tegangan tarik yang lebih rendah dari tegangan leleh, biasanya disebut dengan keretakan getas. Keretakan getas (brittle fracture) umumnya terjadi pada baja struktural jika terdapat kombinasi hal-hal yang merugikan dari tegangan tarik, antara lain laju regangan pengaruh temperatur dan perubahan tampang secara mendadak. Perubahan bentuk plastis hanya dapat terjadi jika terdapat tegangan geser. Tegangan geser selalu terjadi pada pembebanan secara uniaksial atau biaksial, tetapi dalam tegangan triaksial dengan ketiga tegangan sama besar tegangan geser menjadi nol. Oleh karena itu tegangan tarik triaksial cenderung mengakibatkan keretakan getas, dan harus dihindari. Tegangan triaksial dapat terjadi pada pembebanan uniaksial jika terdapat penyempitan tampang atau perubahan bentuk tampang secara mendadak. Keretakan getas dapat juga terjadi akibat pengerjaan secara dingin ataupun penuaan regangan. Pembentukan secara dingin pengaruhnya dapat dikurangi dengan memilih jari-jari pembentukan sedemikian sehingga regangan yang timbul terbatas. Jika terdapat tegangan tarik sisa misalnya akibat pengelasan, maka tegangan sisa ini dapat mengakibatkan tegangan yang jauh lebih besar dari tegangan akibat pembebanan.

8

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
1.6 Keruntuhan Lelah (Fatigue)     Tegangan tarik yang bersifat siklis dapat menyebabkan keruntuhan meskipun kuat leleh baja tidak pernah tercapai Gejala tersebut dinamakan keruntuhan lelah (fatigue) Keruntuhan atau keretakan yang terjadi bersifat progresif hingga mencapai keadaan instabilitas Keruntuhan lelah dipengaruhi oleh beberapa faktor : 1. Jumlah siklus pembebanan 2. Taraf tegangan tarik yang terjadi (dibandingkan dengan kuat leleh) 3. Ukuran cacat-cacat dalam material baja  Dalam hal keruntuhan lelah, tegangan yang terjadi pada saat layan merupakan pertimbangan utama, sedangkan mutu baja tidak memegang peranan penting  Pengaruh beban mati juga tidak cukup sensitif Namun geometri

penampang dan kehalusan penyelesaian detailing memberikan pengaruh yang dominan.

1.7 JENIS-JENIS BAJA Baja merupakan campuran dari beberapa unsur Besi (Fe) Karbon (C) Manganese (Mn) Silikon (Si) Tembaga (Cu) Phosfor (P) dan belerang (S) : + 98 % : max 1,7 % (tegangan naik, regangan kurang) : max 1,65 % (kekuatan) : max 0,6 % (mengurangi gas) : max 0,6 % (ketahanan terhadap karat) (kurang keuletan)

 Sifat baja bergantung kepada kadar carbon, semakin bertambah kadar carbonnya maka tegangannya akan naik tetapi regangannya semakin menurun sehingga baja bersifat keras tetapi getas.  Adanya phospor (P) dan belerang (S) juga menyebabkan berkurangnya keuletan (getas)  Tembaga (Cu) mempunyai pengaruh baik terhadap ketahanan korosi

9

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
 Silikon (Si) digunakan untuk mengurangi gas pada leburan logam  Manganese (Mn) juga menambah kekuatan baja  Baja yang biasa digunakan untuk keperluan struktur adalah dari jenis : 1. Baja Karbon (fy = 210 – 250 MPa) Baja karbon rendah : sekitar 0,15 % Baja karbon sedang : 0.15 % - 0,29 % (umum untuk struktur bangunan misalnya BJ 37) Baja karbon medium : 0,3 % - 0,5 % Baja karbon tinggi : 0,6 % - 1,7 % Baja karbon memiliki titik peralihan leleh yang tegas, peningkatan kadar karbon akan meningkatkan kuat leleh tapi mengurangi daktilitas dan menyulitkan proses pengelasan 2. Baja Mutu Tinggi (fy = 275 – 480 MPa)  Menunjukkan titik peralihan leleh yang tegas  Didapat dengan menambahkan unsur aloi (chromium, nickel, vanadium, dll) kedalam baja karbon untuk mendapatkan bentuk mikrostruktur yang lebih halus 3. Baja Aloi (fy = 550 – 760 MPa)  Tidak menunjukkan titik peralihan leleh yang tegas  Titik peralihan leleh ditentukan menggunakan metode tangen 2 ‰ atau metode regangan 5 ‰

1.8 Bentuk dan Ukuran Spesimen Uji tarik Spesimen yang digunakan pada uji tarik ini mempunyai bentuk standar. Penampangnya berbentuk lingkaran dengan bagian tengah lebih kecil daripada kedua ujungnya. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan aksial yang seragam pada pusat benda uji, selain itu juga mengurangi tegangan yang diukur sehingga menghindari patahan-patahan di bagian lain yang tidak diinginkan.

10

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

1.8.1 Profil bulat
JENIS ULIR SPECIMENT SEMULA SPECIMENT DIBENTUK

POLOS

Lo =49.5mm 11mm Do = 9 mm

Gambar 1.4 mesin pengunji gaya tarik BAJA

11

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
1.8.1 Specimen Untuk Uji Memiliki 3 daerah Bagian yang diuji (ditengah) dan 2 bagian pegangan (dike-2 ujungnya). Ujung pegangan dirancang untuk memindahkan beban dari mesin penguji kebagian tengahnya. Bagian transisi dari pegangan ke bagian tengah dirancang dengan radius yang besar dengan maksud menghilangkan konsentrasi tegangan. Jenisjenis specimen yang digunakan tergantung pada mesin penguji yangdigunakan untuk tujuan dari uji coba ini.

1.8.2 Kekuatan Tarik Pada percobaan ini menghasilkan angka-angka bahan terpenting kekuatan, kesudian regang dan kekenyalan Dari bahan yang diuji dibuat sebuah batang coba dengan ukuran yang distandarisasikan, dieretkan pada sebuah mesin renggut dan dibebani gaya tarik yang dinaikkan secara perlahan-lahan sampai ia putus. Selama percobaan diukur terus menerus beban dan regangan batang coba dan kedua besaran ini ditampilkan dalam sebuah gambar unjuk (diagram). Skala tegangan menunjukkan tegangan dalam N/mm2 dengan berpatokan pada penampang batang semula, sedangkan skala mendatar menyatakan regangan (perpanjangan)yang bersangkutan dalam prosentasi panjang awalnya.

Gambar 1.5

Grafik tegangan-regangan pada pengujian tarik

12

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

Gamabar 1.6 Mesin pengiju kuat tarik baja

Pertama-tama lengkumgan memperlihatkan garis lurus miring, ini berarti bahwa tegangan dan regangan naik sebanding (proposional). Pada batas proporsionalitas (batas kesebandingan),yaitu pada ujung atas garis lurus, maka berdaulat tegangan p. jika beban terus ditingkatkan, maka akan dicapai batas elastisitas (batas kekenyalan)dengan teganagan E. Jika pada saat ini batang diulepaskan dari tegangan maka akan memegas kembali secara kenyal ke kedudukan awalnya (kedudukan semula Lo) tanpa meninggalkan bentuk yang berarti. Regangan yang menetap disini hanya boleh sampai setinggitingginya 0,01%. Jika beban dinaikkan melampaui batas kekenyalan, maka regangan membesar relatiflebihpesat dan lengkungan segera menunjukkan sebuah tekukan yang akan tampil semakin jelas,semakin ulet bahan itu. Tegangan s dalam tahap percobaan ini dinamakan batas rentang atau batas leleh. Ia merupakan angka ciri bahan yang penting, karena disisni bahan untuk pertama kalinya mengalami pelonggaran menetap pada stukturnya yang dapat dikenal melalui munculnya wujud-wujud leleh pada permukaan batang. Di dalam kasus yang tidak jelas, maka batas rentang s ditetapkan sebagai tegangan yang menimbulkan regangan sebesar 0,2%. Pada pembebanan yang ditingkatkan lebih lanjut, maka tegangan akan mencatat titik puncaknya seraya melajunya regangan batang. Bahan telah mencapai pembebanan tertinggi yang mungkin, dan batang kini menyusut pada kedudukannya yang nantinya merupakan tempat perpecahan. Ia dapat lagi

13

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
menahan beban tertinggi dan terus meregang walaupun beban menukik, sampai ia putus pada batas perenggutan (titik z). Tegangan tertinggi B dalam daN/mm2 atau daN/cm2 yang berpatokan pada penampang batang semula, menghasilkan kekuatan tarik bahan. Regangan memanjang batang sampai saat perenggutan (titik z) disebut regangan pecah dan diungkapkan dalam persentase (%) dari panjang semula Lo. Suatu bahan ulet menghasilkan regangan perpecahan yang besar. Kekuatan tarik maksimum (ultimite tensile strength) adalah beban maksimum dibagi luas penampang lintang benda uji.

Su =
Pada pengujian tarik, pengukuran dilaksanakan berdasarkan tegangan yang diperlukan untuk menarik benda uji dengan penambahan tegangan konstan. Bila suatu logam dibebani dengan beban tarik, maka akan mengalami deformasi. Deformasi adalah perubahan ukuran atau bentuk karena pengaruh beban yang dikenakan kepadanya. Deformasi ini dapat terjadi secara elastis atau plastis.

1.7.2. Regangan Regangan adalah perpanjangan dibagi dengan panjang benda semula.

ε=Regangan ∆L = perpanjangan

L= panjang akhir L0 = panjang awal

Dari hukum Hooke diperolehkan

Dimana: p= gaya E= modulus elastisitas Dan jika di kaitkan dengan tegangan menjadi

14

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

1.7.3. Batas Elastisitas Batas ini sulit ditentukan dalam percobaan. Batas keseimbangan keadaan juga digunakan untuk batas elastisitas karena jaraknya sangat dekat sekali (untuk bahan tertentu). Biasanya dalam tegangan-regangan di bawah elastisitas terdapat batas proposional. Ada juga yang mengasumsikan batas proposional sama dengan batas elastisitas. Batas elastisitas adalah batas dimana batas tegangan , bahan tidak kembali lagi ke bentuk semula setelah tegangan dihilangkan, akan tetapi benda akan mengalami deformasi tetap yang disebut permanent. 1.7.4 Modulus Young Dalam menentukan hubungan tegangan dan regangan, penampang batas harus diketahui. Dengan demikian tegangan yang bekerja dapat ditentukan.

1.7.5 Yield Point (Batas Linier) Jika benda yang bekerja pada batang uji diteruskan sampai di luar batas elastisitas akan terjadi secara tiba-tiba, perpanjangan permanen dari suatu bahan uji ini disebut Yield Point. Di mana tegangan meningkat sekalipun tidak ada peningkatan tegangan, tentu saja beban sebenarnya ketika terjadi mulur. Tetapi gejala mulur memang terjadi pada baja.

1.7.6 Yield Strength Untuk beberapa logam non-ferro dan baja, yield point sukar diteliti. Oleh karena itu, kekuatan mulurnya biasanya ditetapkan dengan metode pergeseran. Metode ini berupa penarikan garis sejajar ke garis singgung awal kurva teganganregangan. Garis ini dimulai dari pergeseran sembarang besarnya 0,2 %.

1.7.7. Pengecilan Penampang Pengecilan penampang terjadi di antara kekuatan maksimal dan kekuatan patah. Untuk baja, struktur kekuatan patah lebih besar dari kekuatan maksimal. Karena patah bahan meregang dengansangat cepat dan secara simultan bertambah

15

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
kecil sehingga beban patah sebenarnya terdistribusikan sepanjang luas terkecil.

1.7.8. Keuletan Adalah besarnya tegangan plastis sampai perpatahan dan dapat dinyatakan dalam prosentase perpanjangan dan tidak berdimensi.

Apabila bahan uji dibebani, maka akan mengalami deformasi. Selama deformasi, beban akan menyerap energi akibat gaya yang bekerja sepanjang jarak deformasi.

1.7.9 Regangan Patah Adalah sifat bahan yang akan diukur pada batang yang ditarik hingga patah, dinyatakan dengan :

L0 = panjang benda mula-mula L1 = panjang benda setelah putus

* Uji tarik dimaksudkan untuk mengetahui : - kekuatan maksimum logam : σ mak ( kg/mm2 atau N/mm2 ) terhadap beban yang bekerja pada logam tersebut. - Regangan (%) yang dicapai dari logam sewaktu mendapat beban dari luar. - Ketangguhan logam, dinilai σ dari dan ε

16

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

BAB II PENGUJIAN TARIK

2.1. TUJUAN Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kekuatan tarik baja beton. Kekuatan tarik baja beton adalah gaya tarik tiap satuan luas penampang yang menyebabkan baja beton putus. 2.2 LANDASAN TEORI Baja diproduksi oleh campuran besi (Fe) dan karbon (C) di rasio spesifik tertentu,di mana persentase dari karbon berkisar antara 0.2% hingga 2.14% dari berat total. Selain dari karbon, material campuran yang biasa digunakan dalam pembuatan baja antara lain termasuk kromium (Cr), mangan (Mn), vanadium (V), dan wolfram (W). Dari materialmaterial tersebut, karbon adalah bahan yang paling efektif, dan setiap dari material campuran tersebut membantu pembentukan sifat mekanis dari baja. Dalam suatu konstruksi bangunan baja biasanya digunakan sebagai tulangan beton, kerangka atap bangunan, kerangka dinding, dan sebagainya.

 Physical Properties
Sifat fisis dari sebuah baja bergantung pada komposisi dari bahan-bahan dan proses memproduksinya. Walaupun begitu, sifat fisis dari baja sangat berbeda dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan pembuatnya (besi dan karbon). Salah satu dari sifat fisis baja yang paling berbeda adalah kemampuannya kembali ke suhu rendah secara cepat dari pemanasan dengan temperatur yang tinggi, setelah direndam dalam minyak atau air. Sifat fisis dari baja antara lain adalah strength yang tinggi, berat yang rendah, durability, ductility, resistansi terhadap korosi. Baja memiliki strength yang tinggi meskipun beratnya cukup ringan. Faktanya, baja memiliki rasio weight/strength yang paling rendah dibandingkan material bangunan lainnya yang tersedia. Yang dimaksud dari ductility adalah kemampuan baja untuk berubah

17

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
bentuk secara permanen jika diberikan gaya sedemikian rupa hingga terbentuk yang benar-benar berbeda dari bentuk awal. .

2.3 Mechanical Properties
Strenght adalah ukuran ketahanan dari suatu material apabila diberikan beban/gaya terhadapnya. Berdasarkan gayanya, jenis-jenis strength adalah : - Compressive strength (kekuatan tekan) - Flexural strength (kekuatan lentur) - Shear strength (kekuatan geser) - Tensile strength (kekuatan tarik) Campuran dan proses pemanasan yang berbeda dari produksi sebuah baja menghasilkan nilai strength yang berbeda pula. Pengujian yang dilakukan untuk menguji properti mekanis dari sebuah baja harus akurat untuk menentukan kekuatan dari baja tersebut dan untuk memastikan bahwa baja yang akan digunakan untuk kebutuhan konstruksi telah sesuai standar yang ada. Dalam praktikum kali ini dilakukan pengujian tarik terhadap baja. Pengujian tarik adalah sebuah metode untuk mengevaluasi bagaimana respon baja apabila diberikan gaya terhadapnya, dimana hasilnya akan diungkapkan melalui hubungan antara tegangan (stress) dan regangan (strain) dari baja. Nilai dari tegangan (stress), biasanya diberi lambang σ (tao), dihasilkan dari membagi nilai total gaya yang diberikan (F) terhadap luas penampang dimana gaya diberikan (A). σ = F/A Regangan (strain), biasanya diberi lambang З (epsilon), adalah persentase rasio dari perubahan ukuran (Δl / Δh) dari baja setelah diberikan gaya terhadap ukuran awal (l0 / h0). Pengujian tarik baja dilakukan untuk menentukan titik leleh, titik maksimum, dan titik putus dari suatu baja. Umumnya baja yang mengalami gaya penarikan dengan gaya yang meningkat secara linear terhadap waktu akan mengalami beberapa fase yang bisadiamati, yaitu fase linear elastis, dan fase plastis dimana baja akan mencapai titik maksimum dan akan putus. Secara umum, perilaku baja, bahkan material-material lain

18

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
yang ideal dalam menerima gaya tarik adalah berupa perilaku dari baja ringan, atau dengan kata lain baja yang memiliki kandungan karbon dibawah 0.25%.

Secara grafik perilaku baja yang ideal apabila diberikan gaya tarik adalah seperti grafik di atas. Di mana A merupakan titik batas linear elastis, dimana selanjutnya dia akan memasuki fase plastis. Titik B merupakan titik leleh, dimana setelah itu baja akan mengalami penurunan kekuatan sementara kemudian kembali naik lagi hingga mencapai titik C yang merupakan titik kekuatan maksimum, lalu mengalami penurunan kekuatan kembali hingga mencapai titik D yaitu titik dimana baja tersebut putus. Selanjutnya setelah melakukan pengujian tarik terhadap baja juga dilakukan pengujian tekuk. Pengujian tekuk ini dilakukan untuk menentukan kekuatan lentur dari baja. Dalam penentuan kualitas baja, di Indonesia memiliki sebuah perangkat standar yang mengklasifikasi baja dari segi kualitasnya yang terdapat pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam bidang konstruksi.

2.4 PERALATAN  Mesin uji tarik, yang harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut: 1. Mesin uji tarik harus dapat menarik batang percobaan dengan kecepatan

19

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
merata dan dapat diatur, sehingga kecepatan naiknya tegangan tidak melebihi 1 kg/mm2 tiap detik. 2. Ketelitian pembacaan sebaiknya sampai 1/10 dikali beban maksimum menurut skala penunjuk beban pada mesin uji tarik.  Alat ukur geser  Alat pemotong baja  Alat penggores batang percobaan  Mesin bubut apabila diperlukan

2.5 BAHAN  Bentuk dan ukuran benda uji: Benda uji disebut batang percobaan proporsional, disingkat dp. yang dimaksud dengan batang percobaan proporsional adalah batang percobaan dengan perbandingan yang sama antara panjang ukur L0 dan luas penampang S0. Panjang ukur L0 dinyatakan dengan rumus: L0 = k SS0 Dimana: L0 = panjang ukur semula S0 = luas penampang terkecil semula

Apabila luas penampang benda uji tidak melebihi kapasitas mesin tarik, benda uji dapat langsung diuji tanpa merubah bentuk serta ukuran asalnya, sesuai dengan ukuran atau kapasitas yang di terima oleh mesin penguji tarik.  Apabila luas penampang benda uji melebihi kapasitas mesin tarik, benda uji itu harus dirubah bentuk serta ukurannya dengan mesin bubut, sesuai dengan gambar no. 1b dan daftar no. 2.

2.6 PROSEDUR Uji tarik besi beton 1. Menjepit kedua ujung benda uji pada pegangan h ( gambar 1.a dan 1.b ) pada alat penjepit mesin tarik. Sumbu alat penjepit harus berhimpit dengan sumbu benda uji. 2. Menarik benda uji dengan kecepatan tarik 1 kg/mm2 tiap detik dan mengamati kenaikan benda dan kenaikan panjang yang terjadi sampa benda uji putus.

20

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

2.7 Uji tekuk besi beton 1. Menjepit kedua ujung benda uji pada pegangan h ( gambar 1.a dan 1.b ) pada alat penjepit mesin tekuk. 2. Menjalankan mesin untuk melakukan uji tekuk pada besi beton.

Tabel 2.1

DATA : Test tarik baja
Data Baja Diameter (mm) panjang (cm) 22.5 23 Jenis Baja Polos Baja Ulir Beban (KN) Leleh 27.9 65.6 Putus 28.9 73.8 49.5 63.5

No 1 2

tanggal 04/04/2012 04/04/2012 9 12.5

L₀ (mm)

2.7.1 PENGOLAHAN DATA  Jenis Baja polos Dari pengukuran awal didapat : L0 = 49.5 mm σ Dari pengamatan di mesin pengujian tarik didapat : D10 ∆L10 P10 = 5.5 mm = 31 mm = 28900 N e = ∆L10 / L0 . 100 % = 31 / 49.5. 100 % = 60.606 % Kemudian dilakukan perhitungan sebagai berikut : A0 = π/4 . D02 = 3,14/4 . (9)2 = 63,585 mm2 = π/4 . D1
2 2

D0

= 9 mm

= P10 / A0 = 28900 / 63,585 = 454.51 N

σ3

= P10 / A10 = 28900 / 23.746 = 1217.03 N/mm2

ɛ

= Ln A0 / A10 . 100 % = Ln 63,585 / 23.746 . 100 % = 98.495%

A1

= 3,14/4 . (9)

= 63,585 mm2

Perhitungan selanjutnya dapat dilihat di tabel data pengujian tarik.

21

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

 Jenis Baja Ulir Dari pengukuran awal didapat : L0 = 63.5 mm D0 = 12.5 mm Dari pengamatan di mesin pengujian tarik didapat : D10 ∆L10 P10 = 8 mm = 30 mm = 7380 N

= 122.656 mm2 σ

= P10 / A0 = 7380 / 122.656 = 60.168 N

e

= ∆L10 / L0 . 100 % = 30 / 63.5 . 100 % = 47.244 %

σ3

= P10 / A10 = 7380 / 50.240 = 38146.895 N/mm2

Kemudian dilakukan perhitungan sebagai berikut : A0 = π/4 . D02 = 3,14/4 . (12.5)2 = 122.656 mm2 = π/4 . D12 = 3,14/4 . (12.5)2 ɛ

= Ln A0 / A10 . 100 % = Ln 122.656 / 50.240. 100%

A1

= 89.257 % Perhitungan selanjutnya dapat dilihat di tabel data pengujian tarik.

Tabel 2.2 hasil data percobaan tegangan leleh dan putus.
No 1 Tegangan (N/mm²) Leleh maksimun 27900,000 pengolongan Putus 28900,000 Bj Tp 5o keterangan Do= 9 mm Di=11mm Lo=49.5mm Do= 12.5 32.5mm Lo=63.5mm

2

65600

73800

Bj Tp 55

22

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

Hasil polot dari :  Data percobaan profil bulat polos
daerah elastis 3000

ƒe ƒp

28900 27900

25000

20000
Tegangan(N/mm ²)

15000

10000

5000

0

25

5O

75

100

125

150

175

200

225

250

Regangan (m)

 Data percobaan profil bulat polos
daerah elastis

80000
28900

ƒe ƒp

70000
27900

60000

50000

40000
Tegangan(N/mm ²)

30000

20000

10000

o

25

5O

75

100

125

150

175

200

225

250

Regangan (m)

23

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

NAMA : NIM : KELOMPOK : 9 (sembilan) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dl (mm) 12,5 12,1 11,7 11,2 10,7 10,2 9,7 8,9 8,5 8 Δli (mm) 0 2 5 9 12 14 19 23 27 30

DATA PENGUJIAN TARIK BAJA (ULIR) JENIS MESIN : JINAN TESTING MECHINERY FACTORY PERIODE : TAHUN : 2012 A0 =π/4 x Do² (mm) 122,656 122,656 122,656 122,656 122,656 122,656 122,656 122,656 122,656 122,656 Ai=π/4 x D² (mm) 122,656 114,932 107,459 98,470 89,875 81,671 73,861 62,180 56,716 50,240 Pi (N) 0 8200 16400 24600 32800 41000 49200 57400 65600 73800 σ = Pi/Ao (N/mm²) 0 66,854 133,707 200,561 267,415 334,268 401,122 467,975 534,829 601,683

Tabel 2.3 e= Δl/Lo (%) 0,000 3,150 7,874 14,173 18,898 22,047 29,921 36,220 42,520 47,244

Hasil pengujian ɛ =Ln . Ao/Ai (%) 0 6,504 13,228 21,963 31,097 40,668 50,720 67,935 77,132 89,257

σ₃= Pi/Ai (mm²) 0 71,347 152,617 249,821 364,953 502,012 666,119 923,129 1156,635 1468,949

DIKETAHUI Lo = 63.5 Dari pembacaan grfik di dapat σ leleh (Yield Strenght) σ putus (tensile Strenght)

p = 65600 N p = 73800 N

Sebesar = 534.83 (N/mm²) Sebesar = 601.68 (N/mm²)

24

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

NAMA : NIM : KELOMPOK : 9 (sembilan) No Dl (mm) 9,0 8,7 8,2 7,8 7,9 7,5 7,1 6,6 6,0 5,5 Lo = Δli (mm) 0 2 5 9 12 14 19 23 27 30

DATA PENGUJIAN TARIK BAJA (POLOS) JENIS MESIN : JINAN TESTING MECHINERY FACTORY PERIODE : TAHUN : 2012 Ai=π/4 x D² (mm) 63,585 59,417 52,783 47,759 48,992 44,156 39,572 34,195 28,260 23,746 Pi (N) 0 3211,111 6422,222 9633,333 12844,444 16055,556 19266,667 22477,778 27900,000 28900,000 σ = Pi/Ao (N/mm²) 0 50,501 101,002 151,503 202,004 252,505 303,006 353,508 438,783 454,510 Tabel 2.3 e= Δl/Lo (%) 0,000 4,040 10,101 18,182 24,242 28,283 38,384 46,465 54,545 60,606 Hasil pengujian ɛ =Ln . Ao/Ai (%) 0,00 6,780 18,618 28,620 26,072 36,464 47,426 62,031 81,093 98,495

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 DIKETAHUI 49.5

A0 =π/4 x Do² (mm) 63,585 63,585 63,585 63,585 63,585 63,585 63,585 63,585 63,585 63,585

σ₃= Pi/Ai (mm²) 0 54,044 121,671 201,705 262,175 363,608 486,878 657,349 987,261 1217,034

Dari pembacaan grfik di dapat σ leleh (Yield Strenght) σ putus (tensile Strenght)

p = 2790 N p = 2890 N

Sebesar = 438.783 (N/mm²) Sebesar = 454.510 (N/mm²)

25

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
2.8 ANALISA 2.8.1 Analisa percobaan Percobaan ini bertujuan untuk bisa mengetahui mutu dari baja yang akan digunakan untuk keperluan konstruksi. Mutu dari baja akan diuji di laboratorium agar kelayakan pakai dari baja tersebut dapat diketahui. Pada praktikum ini dilakukan dua cara pengujian, yaitu uji tarik dan uji tekuk. Pengujian tekan tidak dapat dilakukan terhadap baja dikarenakan baja adalah salah satu material yang tidak dapat menahan tekanan axial. Pada praktimum ini, dilakukan pengujian kepada dua jenis baja. Jenis yang pertama adalah baja polos berbentuk silinder dengan diameter 11 mm dan panjang 18.1cm. Selain mengetes baja polos, pengetesan juga dilakukan untuk baja ulir dengan diameter 23.5 mm dengan panjang 22.9 cm. Pengetesan ini menggunakan mesin tarik dan mesin tekuk baja. Pada mesin tarik, baja dijepit dan kemudian diberikan gaya untuk dapat menentukan tiga titik, titik leleh, titik maksimum, dan titik putusnya. Titiktitik ini dapat diketahui nilainya dengan mengamati pergerakan jarum pada mesin tarik baja. Titik leleh didapatkan ketika jarum berhenti sebentar pada suatu angka untuk pertama kalinya. Setelah itu, jarum akan kembali berputar sampai mencapai titik maksimumnya dan kemudian titik putusnya. Titik maksimum adalah nilai yang dapat ditahan oleh baja sebelum ia putus. Setelah mencapai titik maksimum, baja akan putus di suatu titik. Itulah yang dinamanakan sebagai titik putus. Sebelum dilakukan test tarik, baja akan diberi tanda. Tanda ini berjarak sebesar 49.5 mm dan akan digunakan sebagai panjang awal. Nanti setelah test ini selesai dilakukan panjangnya akan kembali dilihat untuk mengetahui berapa regangannya. Setelah didapatkan data-data tersebut, baja yang telah putus akan diukur kembali diameternya dan panjangnya. Jadi, akan dihasilkan data yang cukup untuk melakukan perhitungan.

2.8.2 Analisa percobaan Percobaan ini bertujuan untuk bisa mengetahui mutu dari baja yang akan digunakan untuk keperluan konstruksi. Mutu dari baja akan diuji di laboratorium agar kelayakan pakai dari baja tersebut dapat diketahui. Pada praktikum ini dilakukan dua cara pengujian, yaitu uji tarik dan uji tekuk.

26

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
Pengujian tekan tidak dapat dilakukan terhadap baja dikarenakan baja adalah salah satu material yang tidak dapat menahan tekanan axial. Pada praktimum ini, dilakukan pengujian kepada dua jenis baja. Jenis yang pertama adalah baja polos berbentuk silinder dengan diameter 11 mm dan panjang 18.1cm. Selain mengetes baja polos, pengetesan juga dilakukan untuk baja ulir dengan diameter 23.5 mm dengan panjang 22.9 cm. Pengetesan ini menggunakan mesin tarik dan mesin tekuk baja. Pada mesin tarik, baja dijepit dan kemudian diberikan gaya untuk dapat menentukan tiga titik, titik leleh, titik maksimum, dan titik putusnya. Titiktitik ini dapat diketahui nilainya dengan mengamati pergerakan jarum pada mesin tarik baja. Titik leleh didapatkan ketika jarum berhenti sebentar pada suatu angka untuk pertama kalinya. Setelah itu, jarum akan kembali berputar sampai mencapai titik maksimumnya dan kemudian titik putusnya. Titik maksimum adalah nilai yang dapat ditahan oleh baja sebelum ia putus. Setelah mencapai titik maksimum, baja akan putus di suatu titik. Itulah yang dinamanakan sebagai titik putus. Sebelum dilakukan test tarik, baja akan diberi tanda. Tanda ini berjarak sebesar 5 cm dan akan digunakan sebagai panjang awal. Nanti setelah test ini selesai dilakukan panjangnya akan kembali dilihat untuk mengetahui berapa

regangannya. Setelah didapatkan data-data tersebut, baja yang telah putus akan diukur kembali diameternya dan panjangnya. Jadi, akan dihasilkan data yang cukup untuk melakukan perhitungan.ungan. Selain test tarik, akan dilakukan juga test tekuk. Test tekuk dilakukan dengan metode tekuk dingin 180o. Ketika mesin dinyalakan, baja akan mendapatkan tekanan sehingga tertekuk. Setelah sampai 180o, maka baja akan diambil dan dilihat tampilan fisiknya apakah ada kerusakan yang berarti akibat test tekuk ini. Percobaan ini dilakukan kepada dua jenis baja yang berbeda, baja polos dan baja ulir untuk bisa membandingkan kualitas antara kedua jenis baja ini.

2.8.3 Analisa hasil Setelah praktikum ini dilakukan, akan didapatkan hasil seperti pada tabel di bagian pengolahan data. Dari perhitungan yang dihasilkan dari data pengamatan, tegangan leleh, maksimum, dan putus akan digunakan sebagai acuan

27

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012
dalam menentukan penggolongan baja. Kualitas dari baja ini juga akan ditentukan dari hasil test tekuk. Berdasarkan hasil, baja polos termasuk golongan jenis Bj Tp 30. Penggolongan ini dilihat dari tegangan leleh, maksimum, dan putus yang didapat dari perhitungan sebelumnya. Baja jenis ini memiliki ketahanan terhadap tarik yang kurang besar karena gaya yang dapat ditahan tak erlalu besar. Selain itu, setelah dilakukan test tekuk, baja dengan jenis polos akan tertekuk dengan baik. Tak dihasilkan retakan yang menunjukkan kalau mutu baja ini tak bagus. Sehingga dapat dikatakan kalau baja polos ini memiliki ketahanan terhadap tarikan yang kurang kuat tetapi dapat tahan akan gaya tekuk. Setelah menguji baja dengan jenis polos, akan dilakukan pengujian terhadap jenis ulir juga. Dengan cara yang sama seperti pada pengetesan untuk baja polos, ternyata baja denga jenis ulir atau sirip ini dapat menahan gaya tarik yang lebih besar dari baja polos sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari penggolongan baja sirip yang diuji sebagai Bj Ts 50. Penggolongan mutu ini termasuk bagus dan salah satu jenis baja yang kuat. Test tekuk bagi baja ulir ini juga menghasilkan hasil yang mendukung mutu dari baja ulir. Test tekuk diberikan 180o, sama seperti pada baja polos, dan hasilnya adalah baja ulir tertekuk tanpa retakan. Hasil yang didapatkan bukan hanya mutu saja. Dihitung juga regangan dari masing-masing baja yag diuji. Untuk baja polos, regangan yang dihasilkan adalah sebesar 36%. Selain itu, untuk baja ulir, regangan sebesar 42%. Dari hasil ini juga dapat dikatakan kalau baja dengan jenis ulir memiliki ketahanan terhadap tarik yang lebih tinggi dari baja dengan jenis polos. Dari hasil yang ada, dapat dikatakan kalau baja ulir memiliki mutu yang lebih baik daripada baja polos. Hal ini dikarenakan oleh baja tulangan ulir memiliki bentuk permukaan yang tidak rata ( adanya tonjolan ) terhadap beton yang berfungsi sebagai penahan selip antar baja tulangan dengan beton dan meningkatkan kapasitas lekatannya yang menahan gaya tarik keluar. Selain itu baja tulangan ulir juga untuk merubah perilaku yang mengandalkan luas permukaan atas gesekan dan adhesi dan lebih mengandalkan ketahanannya dari tonjolan terhadap beton. Tegangan leleh baja tulangan ulir juga lebih besar akibat adanya tarikan pada permukaanbaja tersebut sehingga menambah kekuatan baja itu sendiri.

28

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

2.8.4 Analisa kesalahan Pada percobaan ini, pengetesan dilakukan sebanyak sekali saja. Oleh karena itu, hasil yang didapatkan belum tentu akurat dan sesuai dengan yang sesungguhnya. Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya kesalahan dalam penggolongan dan penentuan mutu dari baja polos dan baja ulir adalah :

- Kesalahan pembacaan skala Dalam membaca skala, dimungkinkan terjadi kesalahan karena jarum pada alat berhenti hanya sebentar saja dan mata manusia yang terbatas bisa salah dalam membaca Selain dalam membaca skala pada mesin tarik, dapat juga terjadi jangka sorong ketika menandai Lo baja

kesalahan dalam membaca skala

sepanjang 5mm. Ketika ini terjadi maka pengukuran selanjutnya saat baja telah selesai ditarik akan mengalami kesalahan juga.

- Kesalahan diameter baja Pada baja yang akan diuji, tertulis bahwa diameternya adalah 9 mm (untuk baja polos) dan 63.5 mm (bagi baja ulir). Akan tetapi setelah dihitung dengan menggunakan rumus yang ada, dihasilkan diameter yang berbeda. Diameter bagi baja polos adalah 9.56 mm dan diameter baja ulir adalah 12.5 mm. Pada perhitungan, digunakan diameter yang telah tertera di baja sehingga akan ada kesalahan yang dihasilkan.ka Kesalahan yang dilakukan dalam mengambil data akan menyebabkan perhitungan menjadi kurang akurat sehingga dalam penggolongan mutu, bisa terjadi kesalahan walaupun hanya berbeda sedikit saja.la yang tertera. di baja sehingga akan ada kesalahan yang dihasilkan. Kesalahan yang dilakukan dalam mengambil data akan menyebabkan perhitungan menjadi kurang akurat sehingga dalam penggolongan mutu, bisa terjadi kesalahan walaupun hanya berbeda sedikit saja.

29

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1

Kesimpulan
1. Dari hasil pengujian, baja tulangan polos diperoleh nilai yield strength (tegangan leleh) sebesar 438.78 N/mm2 pada saat dibebani P = 27900 N dan tensile strength (tegangan putus) sebesar 454.51 N/mm2 pada saat dibebani P = 28900 N dan Bj TP= 50 2. Dari hasil pengujian, baja tulangan ulir diperoleh nilai yield strength (tegangan leleh) sebesar 534.83 N/mm2 pada saat dibebani P = 65600 N dan tensile strength (tegangan putus) sebesar 601.68 N/mm2 pada saat dibebani P = 73800 N dan Bj TP= 55 3. Baja tulangan ulir mampu menahan beban dan memiliki tensile strength (tegangan putus) yang lebih besar daripada baja tulangan polos.

3.2

Saran
1. Pada saat melaksanakan praktikum hendaknya praktikan melakukan pengamatan dengan cermat, karena proses pengujian baja tulangan di mesin uji tarik berlangsung sangat cepat. 2. Benda uji yang digunakan untuk masing – masing varian hendaknya lebih dari satu buah, agar mendapatkan hasil yang maksimal 3. Mesin uji tarik hendaknya dikalibrasi secara rutin agar pengujian mendapatkan hasil yang akurat 4. Dalam peoses perhitungan, menggunakan software Microsoft Excel sangat membantu untuk mendapatkan hasil yang akurat.

30

Laporan Praktikum Mekanika Struktur 2012

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->