P. 1
Kelas X SMA Sosiologi 1 Suhardi

Kelas X SMA Sosiologi 1 Suhardi

|Views: 22,368|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis
Buku sekolah elektronik Sosiologi untuk kelas 10/ kelas 3 SMA/MA : Sosiologi-Suhardi
Buku sekolah elektronik Sosiologi untuk kelas 10/ kelas 3 SMA/MA : Sosiologi-Suhardi

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Apr 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2014

pdf

text

original

Nilai-nilai sosial adalah prinsip-
prinsip, patokan-patokan, anggap-
an, maupun keyakinan-keyakinan
yang berlaku di suatu masyarakat. Di
dalam masyarakat, ada patokan-pa-
tokan yang perlu dipatuhi, dianggap
baik, benar, dan berharga bagi war-
ga masyarakat. Patokan-patokan itu
tidak tertulis, namun hidup dalam
alam pikiran setiap warga masya-
rakat. Setiap generasi mewarisi nilai
sosial dari generasi sebelumnya. Ka-
pan terbentuknya setiap nilai sosial
tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, suatu prinsip atau patokan berpe-
rilaku dianggap telah menjadi nilai sosial apabila seluruh warga masyarakat
menyepakatinya. Nilai sosial yang telah diakui, disepakati dan dipatuhi bersa-
ma oleh suatu kelompok masyarakat secara sosial bersifat mengikat.
Banyak sekali nilai sosial yang berkem-
bang di suatu masyarakat. Nilai-nilai itu diper-
lukan untuk mengatur hubungan antarwarga
masyarakat. Semakin berkembang suatu ma-
syarakat, nilai-nilai sosialnya pun berubah. Pe-
rubahan nilai sering disebut juga pergeseran
nilai. Berikut ini, akan dijelaskan nilai gotong
royong dalam masyarakat kita. Bagaimana nilai
itu mengatur kehidupan warga masyarakat, dan
perubahan (pergeseran) apa yang terjadi.
Masyarakat tradisional Indonesia pada
umumnya menganut prinsip gotong royong.
Misalnya, kegiatan bersih desa, memperbaiki
saluran irigasi pertanian, atau membangun jalan-jalan di perkampungan, bahkan
kegiatan membangun rumah di desa-desa masih dikerjakan secara bergotong
royong. Di Jawa Tengah, hal ini dikenal dengan istilah sambatan. Hanya
pekerjaan khusus seperti tukang kayu dan tukang batu yang dibayar. Orang
kota mewujudkan nilai gotong royong dalam bentuk lain. Di lingkungan kerja
mereka yang sibuk, pada umumnya selalu ada pengumpulan dana sukarela se-
cara rutin. Dana itu digunakan untuk membantu warga kelompok yang sedang
kesusahan. Kesibukan orang kota yang bekerja di sektor formal membuat nilai
gotong royong berubah bentuk. Walaupun makna dasarnya sama, namun kadar

Infososio

CIRI-CIRI NILAI SOSIAL

Nilai sosial memiliki lima ciri, yaitu
selalu berkenaan dengan (1) haki-
kat hidup manusia, (2) hakikat
karya manusia, (3) hakikat kedu-
dukan manusia dalam ruang dan
waktu, (4) hakikat hubungan ma-
nusia dengan alam sekitarnya, dan
(5) hakikat hubungan manusia
dengan sesamanya.

Sumber : C. Kluchohn

Gambar 2.2Nilai gotong-royong masih hidup subur
di desa.

Foto: suasana gotong-
royong membangun rumah
atau membersihkan irigasi.

Sumber: Haryana

44

Sosiologi SMA/MA Kelas X

dan bentuknya berbeda. Pergeseran nilai
gotong royong berhubungan dengan sifat
masyarakat kota yang praktis, efisien, dan
cenderung individualistik.
Nilai sosial ada dalam setiap kehidupan
manusia, baik sebagai pribadi maupun dalam
masyarakat. Setiap masyarakat memiliki nilai-
nilai sosial yang berbeda dengan masyarakat
lain. Demikian juga, setiap individu mungkin
menganut nilai-nilai sosial yang berbeda de-
ngan orang lain. Seperti dijelaskan dalam con-
toh di atas, masyarakat kota mempunyai sifat
individualistik, sedangkan masyarakat desa
cenderung mengutamakan kebersamaan dan
kekeluargaan. Perbedaan itu menunjukkan
bahwa kedua masyarakat menganut nilai per-
gaulan yang berbeda, contohnya dalam ling-
kup pribadi. Risna beranggapan, bahwa se-
telah lulus SMA nanti, dia lebih baik mencari
pekerjaan untuk dapat menghasilkan uang
sendiri, walaupun orang tuanya mampu mem-
biayai dia kuliah, sedangkan Dewi beranggap-
an, bahwa meneruskan pendidikan hingga
memperoleh gelar kesarjanaan sangat penting baginya. Perbedaan anggapan
dalam hal pendidikan dan pekerjaan antara Risna dan Dewi, menunjukkan
keduanya menganut nilai yang berbeda.
Nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat bersumber pada:
1.hukum-hukum alam; suatu masyarakat biasanya mengambil nilai tertentu
pada kejadian-kejadian alam. Misalnya, penebangan liar dianggap hal tercela
karena dapat menyebabkan banjir;
2.kebenaran umum; konsep awalnya sangat sederhana yaitu lahir dari kondisi
alamiah setiap individu dalam masyarakat. Misalnya, dipukul rasanya sakit,
maka memukul orang lain bertentangan dengan kebenaran umum;
3.anggapan terhadap kekuasaan tresedental; Individu dengan segala
keterbatasannya pada kondisi tertentu akan mencari kesempurnaan di luar
wilayahnya.
Dari sumber-sumber tersebut suatu nilai mengalami proses penerimaan
menjadi nilai sosial. Penerimaan ini terjadi dalam tiga tahap, yaitu:
1.transformasi; penyampaian informasi ke dalam tiap-tiap individu anggota
masyarakat. Penyampaian informasi dilakukan dengan dua cara yaitu ra-
sionalisasi dan doktrin;
2.diskusi; proses sosial yang memusyawarahkan tentang suatunilai. Dari proses
ini, melahirkan penilaian apakah suatu nilai sosial diterima atau kebetulan;
serta

Infososio

RAGAM NILAI SOSIAL

Notonagoro membagi nilai sosial
menjadi tiga, yaitu (1) nilai mate-
rial, (2) nilai vital, dan (3) nilai ro-
hani.
Walter G. Evrett. merinci nilai so-
sial menjadi lima, yaitu (1) nilai
ekonomi, (2) nilai rekreasi, (3) nilai
perserikatan, (4) nilai kejasmanian,
dan (5) nilai watak.
Edward Spranger mengklasifikasi-
kan nilai menjadi (1) nilai teori
yang menentukan identitas se-
suatu, (2) nilai ekonomi yang beru-
pa kegunaan sesuatu, (3) nilai aga-
ma yang berhubungan dengan
sesuatu yang bersifat ketuhanan,
(4) nilai seni yang berhubungan
dengan ekspresi keindahan, (5) ni-
lai kekuasaan yang berhubungan
dengan politik dan pemerintahan,
dan (6) nilai solidaritas yang ber-
hubungan dengan cinta, persa-
habatan, dan hidup bersama.

Nilai dan Norma Sosial

45

3.kritik; kondisi sosial yang berubah-ubah memerlukan kritik untuk menafsir
nilai sosial agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Di dalam masyarakat terdapat bermacam-macam nilai sosial, yaitu nilai
rohani, nilai material, nilai vital, dan nilai perserikatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->