Makalah Kultur Jaringan Lengkap

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Salah satu dampak dalam peningkatan ekspor komoditi pertanian adalah kebutuhan bibit yang semakin meningkat. Bibit dari suatu varietas unggul yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas, sedangkan bibit tanaman yang dibutuhkan jumlahnya sangat banyak. Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang. Salah satu teknologi harapan yang banyak dibicarakan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik kultur jaringan. Melalui kultur jaringan tanaman dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan karena faktor perbanyakannya yang tinggi. Bibit dari varietas unggul yang jumlahnya sangat sedikit dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan. Pada tanaman perbanyakan melalui kultur jaringan, bila berhasil dapat lebih menguntungkan karena sifatnya akan sama dengan induknya (seragam) dan dalam waktu yang singkat bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas penyakit. Kultur jaringan adalah metode perbanyakan vegetatif dengan menumbuhkan sel, organ atau bagian tanaman dalam media buatan secara steril dengan lingkungan yang terkendali. Tanaman bisa melakukan kultur jaringan jika memiliki sifat totipotensi, yaitu kemampuan sel untuk beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. I.2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini diadakan adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai perkembangbiakan vegetatif melalui kultur jaringan. Termasuk di dalamnya tahapan dan manfaat kultur jaringan itu sendiri. Serta keterkaitan antara teori totipotensi dengan perbanyakan melalui kultur jaringan. I.3. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian kultur jaringan? 2. Apa prinsip dasar dalam kultur jaringan? 3. Apa keterkaitan antara teori totipotensi dengan kultur jaringan? 4. Apa saja tipe-tipe kultur jaringan? 5. Apakah kelebihan dan kekurangan dari kultur jaringan? 6. Apa perbedaan perbanyakan alami dengan kultur jaringan? 7. Apa saja peralatan yang dipakai dalam kultur jaringan? 8. Apa saja fasilitas laboratorium kultur jaringan? 9. Apa metode pelaksanaan kultur jaringan? 10. Apa saja tahapan dalam kultur jaringan?

11. Apa saja yang mempengaruhi regenerasi pada kultur jaringan? 12. Apa saja kendala dan masalah yang dapat terjadi dalam kultur jaringan? I.4. Landasan Teori Teori yang melandasi kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel (Schwann dan Schleiden) yang menyatakan bahwa sel memiliki sifat totipotensi, yaitu bahwa setiap sel tanaman yang hidup dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh, jika kondisinya sesuai. Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembangbiak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. BAB II PEMBAHASAN II.1. Pengertian Kultur jaringan bila diartikan ke dalam Bahasa Jerman disebut Gewebe Kultur, dalam Bahasa Inggris disebut Tissue Culture, dalam Bahasa Belanda disebut weefsel kweek atau weefsel cultuur. Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atauorgan yang serba steril, dalam botolkultur yang sterildan dalam kondisi yang aseptic, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap. Usaha memperoleh suatu individu baru dari satu sel atau jaringan dikenal sebagai kultur sel atau kultur jaringan.. Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut tissue culture. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Jadi, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang memiliki sifat seperti induknya. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Kultur jaringan termasuk jenis perkembangbiakan vegetatif yang prinsip dasarnya sama dengan menyetek. Bagian tanaman yang akan dikultur (eksplan) dapat diambil dari akar, pucuk, bunga, meristem, serbuk sari. II.2. Prinsip Dasar Kultur Jaringan Menurut Thorpe (1981), ada 3 prinsip utama dalam kultur jaringan:  Isolasi bagian tanaman dari tanaman utuh (organ, akar, daun dll)  Memelihara bagian tanaman tadi dalam lingkungan yang sesuai dan kondisi kultur yang tepat  Pemeliharaan dalam kondisi aseptik

Kultur protoplasma. buku batang. tangkai daun.tipe Kultur Jaringan Tipe-tipe kultur. seperti: ujung akar. Kultur suspensi sel (suspension culture) adalah kultur yang menggunakan media cair dengan pengocokan yang terus menerus menggunakan shaker dan menggunakan sel atau agregat sel sebagai bahan eksplannya. jika kondisinya sesuai. eksplan yang digunakan adalah sel yang telah dilepas bagian dinding selnya menggunakan bantuan enzim. II. akar dll. biasanya eksplan yang digunakan berupa kalus atau jaringan meristem. Teori Totipotensi Sel Teori sel oleh Schwann dan Schleiden (1898) yang menyatakan bahwa sel memiliki sifat totipotensi. Kultur kalus (callus culture). Dalam kultur jaringan bagian tanaman yang terdiri atas sel-sel dan jaringan dibuat sedemikian mungkin untuk ditanam di sebuah media yang steril dan lingkungan yang terkendali. Kultur protoplas biasanya untuk keperluan hibridisasi somatik atau fusi sel soma (fusi 2 protoplas baik intraspesifik maupun interspesifik). Sel dari suatu organisme multiseluler dimanapun letaknya sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (omne cellula ex cellula). bagian tanaman yang ditanam di media tersebut ternyata dapat bertumbuh dan berkembang menjadi individu baru bila kondisinya sesuai.4. pucuk aksilar. merupakan budidaya yang bahan tanamnya menggunakan organ. kultur yang bahan tanamnya menggunakan biji atau seedling. Kultur biji (seed culture). yakni: 1. Kaitan Teori Totipotensi dengan Kultur Jaringan Teori totipotensi yang menyatakan bahwa setiap sel tanaman dapat berkembang menjadi individu baru. . 4. digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan kultur jaringan. 3. b. bunga. Kultur organ (organ culture). 2. II.3. Seperti teori totipotensi tersebut. 5. Tipe. yaitu bahwa setiap sel tanaman yang hidup dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh. Protoplas diletakkan pada media padat dibiarkan agar membelah diri dan membentuk dinding selnya kembali. helaian daun. buah muda. inflorescentia. Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembangbiak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup.Teori Dasar Kultur Jaringan: a. merupakan kultur yang menggunakan jaringan (sekumpulan sel) biasanya berupa jaringan parenkim sebagai bahan eksplannya.

Perbanyakan dalam waktu singkat. Peralatan Kultur Jaringan Alat-alat yang dipakai dalam penanaman dalam kultur jaringan harus dalam keadaan steril. Sedangkan kekurangannya:      Bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap hama penyakit dan udara luar. Bagi orang tertentu. II. Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratorium khusus). tepungsari/ pollen (kutur pollen).7. Perbedaan Perbanyakan Alami dan Kultur Jaringan Alami Nutrisi diperoleh secara alami dari dalam tanah Tanaman dapat membuat makanannya sendiri (autotrof) Sumber tanaman harus cukup umur Fotosintesis dengan bantuan matahari Ada musim hujan dan kemarau yang tidak terkendali Kultur Jaringan Media terbuat dari nutrisi kimia Tanaman tidak membuat makanannya sendiri Sumber tanaman sedikit Fotosintesis dengan cahaya lampu Tidak dipengaruhi musim II. Tidak dipengaruhi oleh musim.6. Alat- . Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yg memuaskan. Kelebihan dan Kekurangan Kultur Jaringan Kelebihan:      Sifat identik dengan induknya. cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit. Tidak perlu areal pembibitan yang luas.5. ovule (kultur ovule). Kultur haploid adalah kultur yang berasal dari bagian reproduktif tanaman. Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh. sehingga dapat dihasilkan tanaman haploid.6. Tanaman bebas jamur dan bakteri. peralatan dan perlengkapan. II. yakni: kepalasari/ anther (kultur anther/kultur mikrospora).

alat ini digunakan sebagai tahap perlakuan penanaman. Karena ada bagian-bagian atau ruangan-ruangan yang harus dalam suasana steril atau bebas mikroba. digunakan untuk menakar air suling dan bahan kimia yang akan digunakan. Gelas Piala. merupakan alat penggojok yang putarannya dapat diatur menurut kemauan kita. tetapi yang penting adalah timbanagn yaang dapat dipergunakan untuk menimbang sampai satuan yang sangat keil. yaitu sebagai berikut: A. digunakan pada saat mengerjakan isolasi protoplas dan isiolasi khloroplas. gagangnya dapat disterilkan dengan pemanasan namun pisaunya dapat menjadi tumpul bila dipanaskan dalam temperatur tinggi. jenis alat ini bermacam-macam. merupakan alat sterilisasi untuk alat dan medium kultur jarinang tanaman. Autoklaf. Oleh karena itu untuk bladenya dianjurkan cara sterilisasi dengan pencelupan dalam alkohol atau larutan kaporit. digunakan untuk menuangkan atau mempersiapkan bahan kimia dan air suling dalam pembuatan medium. Kertas saring.alat logam dan gelas dapat disterilkan dalam autoklaf. Jarum. alat ini digunakan dalama kultur jaringan tanaman sebagai sarana mmenuangkan air suling maupun untuk tempat media dan penanaman eeksplan. Pinset. Erlenmeyer. – Gagang scapel. alat ini berfungsi sebagai kompor disamping sebagai penggojok. Alat-alat kultur jaringan yang perlu disterilisasi sebelum penanaman adalah. Pipet Peralatan kultur jaringan: Laminar Air Flow Cabinet (LAFC). II. yaitu ruang yang selalu harus dalam keadaan steril. Tabung Reaksi. Gunting. Stirer. Alat ini berfungsi sebagai alat untuk menimbang bahan-bahan kimia yang digunakan untuk kultur jaringan. Fasilitas Laboratorium Kultur Jaringan Fasilitas laboratorium kultur jaringan di bagi dalam beberapa bagian yang fungsinya satu sama lainnya berbeda-beda dan persyaratannya pun berbeda-beda pula.Ruang Tidak Steril Ruang Tamu Dalam laborsatorium kultur jaringan sebaiknya di lengkapi dengan ruang tamu.8. merupakan bentuk lama dari alat penabur (LAFC). Laboratorium kultur jaringan harus dirancang secara khusus. Pinset dan Scalpel. Penggojok ini dapat digunakan untuk keperluan menumbuhkan kalus pada eksplan anggrek atau untuk membentuk protokormusatau sering disebut plb (protocorm like bodies) dari kalus bermacam jaringan tanaman. Alat tanam seperti: pinset dan gunting dapat juga disterilkan dengan pembakaran atau dengan pemanasan dalam bacticinerator khusus untuk scapel. digunakan untuk sterilisasi dissecting kit (skalpel dan pinset) di dalam laminar air flow cabinet atau di dalam enkas pada kita mengerjakan penanaman atau sub-culture. merupakan semacam jenis gelas piala yang mutlak dibutuhkan dalam kultur jaringan. Dengan menggunakan listrik. Ruang-ruang dalam kultur jaringan di kelompokkan menurut macam kegiatan yang ada di dalamnya. alat ini berfungsi untuk menggojok dengan pemanas. Entkas. Timbangan Analitik. karena biasanya . Gelas Ukur. Petridish. pinset digunakan untuk memegang atau mengambil irisan eksplan atau untuk menanam eksplan Lampu Spiritus. maka fungsinya pun sama seperti (LAFC) Shaker (penggojok). alat ini letaknya di ruang penabur. Petridish. Botol-botol kosong.

Ruang Tidak Mutlak Steril Ruang Planlet Ruangan ini menggunakan alat pendingi (AC). Ruang Administrasi Segala surat-menyurat tentang pembelian alat-alatlboratorium. Bahan kimia yang mahal harganya seperti hormon tumbuh dan enzim untuk isolasi protoplas harus disimpan dala ruangan yang sejuk. penjualan bibit-bibit hasil biakan kultur jaringan. Alat-alat dari gelas seperti erlenmeyer. Tujuan penyediaan rumah kaca adalah untuk tempat meletakkan pot-pot bibit tanaman. misalnya dalam mencari salah sau komponen media saja membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu. dalam arti baru di cuci. Oleh karena itu. maka para karyawan di dalam laboratorium kultur jaringan perlu memakai pakaian yang bersih. Oleh karena itu dalam ruangan kultur jaringan perlu di adakan ruang ganti pakaian. tubuh dan pakaiannya harus bersih. Di dalam ruang staf ini dapat pula di lakasanakan diskusi antar staf pada waktu berkumpul bersama. Ruang Preparasi Di dalam ruangan ini disediakan peralatan dan tempat untuk mencuci alat-alat laboratorium yang akan digunakan. maka temperatur ruangan dapat mencapai sekitar 25OC sehingga ideal bagi pertumbuhan planlet. tidak berkeringat dan tidak berdebu Ruang Ganti Pakaian Untuk menghindari timbulnya kontaminasi oleh mikroba. Oleh sebab itu. Bila pekerja akan memasuki ruangan penabur atau ruang inkubator. pembelian media kultur jringan. Botol-botol yang berisi planlet jumlahnya dapat mencapai ratusan. Kamar Mandi dan WC Ruang kultur jaringan harus dalam suasana bersih untuk menghindari kontaminasi oleh mikroba. penyimpanannya memerlukan pengaturn yang khusus supaya mudah mecarinya. Ruang Staf Laboratorium kultur jaringan membutuhkan staf peneliti dalam jumlah banyak. gelas ukur dan alat gelas lainnya perlu disimpan dalam almari tersendiri. tujuannya adalah agar dapat di adakan pembagian kerja sesuai dengan spesialisasinya masing-masing.laboratorium kultur jaringan selalu di datangi tamu baik tamu yang ingin melihat sarana dan suasana laboratorium maupun tamu ingin membeli hasil biakan kultur jaringan. dan transaksi-transaksi ataupun perjanjianperjanjian kerja sama tentang penelitian dilaksanakan di dalam ruangan administrasi.dengan demikian dibutuhkan lat untuk menimbang semua komponen bahan kimia tersebut. Ruang Tempat Penyimpanan Bahan Kimia dan Alat-alat dari Gelas Komponen bahan kimia penyusun media kultur jaringan sangat banyak macamna. dalam ruangan ini perlu disediakan rak-rak alumuniaum yang dasrnya berlobang-lobang untuk meletakkan botol-botol tersebut secara teratur dan rapi. Ruang Penimbangan dan Sterilisasi Bermacam-macam media kultur jaringan dijual dalam bentuk kemasan dengan harga yang relatif mahal. Rumah Kaca (Green House) Rumah kaca adalah suatu bangunan yang atap dan sekeliling dinding bagian atasnya terbuat dari kaca. B. Ruang Inkubator Eksplan yang sudah ditanam dalam media kultur jringan perlu dipantau pertumbuhannya setiap . Penyimpanan yang tidak teratur akan mempelambat dalam pekerjaan. Peralatan yang ada antara lain keranjang-keranjang plastik untuk tempat peralatan yang baru dicuci. staf labolatorium lebih senang meramu sendiri medum tanam yang dibutuhkannya. Misalnya menimbang bahan kimia makro dan mikro.

Metode Padat (Solid Method) Metode pada dilakukan dengan tujuan mendapatkan kalus dan kemudian dengan medium diferensiasi yang berguna untuk menumbuhkan akar dan tunas sehingga kalus dapat tumbuh menjadi planlet. yaitu 2×3 m2. Sebaiknya. Ruang inkubator harus memiliki suhu kurang lebih 25OC dan harus dilengkapi dengan lampu-lampu neon. Untuk pemantauan ini perlu ruangan khusus yang keadaannya lebih steril dari ruang planlet. Sedangkan sterilisasi lantai dengan menggunakan kain pel yang dibasahi alkohol 96%. atau agar-agar kemasan kaleng yang yang memang khusus digunakan untuk media padat untuk kultur jaringan. Dengan demikian steril ruangan dapat dijamin. Eksplan yang tenggelam tidak akan dapat tumbuh menjadi kalus. Zat pemadat tersebut dapat berupa agar-agar batangan. Bila keadaan protocormus sudah keadaan demikian maka sudah siap dipindahkan kedalam media padat untuk di tumbuhkan menjadi planlet. kegunaan enkas ini sama dengan Laminar Air Flow Cabinet. tujuannya adalah agar pelaksanaan sterilisasi ruangannya tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak mengalami kesulitan. Bila saat calon penabur akan memasuki ruangan. Bentuk protocormus adalah bulat-bulat padat dan berwarna hijau. Media padat adalah media yang mengandung semua komponen kimia yang dibutuhkan oleh tanaman dan kemudian dipadatkan dengan menambahkan zat pemadat. yaitu untuk menabur eksplan. Eksplan yang baru ditanam dan diinkubasikan dalam ruang inkubator akan menghasilkan kalus. yaitu ruang inkubator. sebab akar sulit untuk menembus ke dalam media. karena tempat area kalus yaitu pada irisan . sehingga sterilisasi mudah dilakukan.hari. pada saat akan keluar lampu neon di matikan dan setelah keluar menutup daun pintu kembali lampu ultra violet dinyalakan. maka dapat diperlukan suspensi sel. yaitu menumbuhkan suatu eksplan atau kalus dengan menggunakan media cair (media yang tidak menggunakan zat pemadat atau agar). Enkas juga sering di letakkan dalam satu ruang dengan shaker. Kegagalan dapat berupa tenggelamnya eksplan yang ditanam. Sterilisasi ini mutlak harus dilakukan menjelang ruang penabur akan digunakan. C. agar-agar bubuk. Sterilisasi ruangan dilakukan dengan cara menyemprotkan alkohol 96% dengan hand-sprayer.9 Metode Pelaksanaan Kultur Jaringan Metode Kultur Jaringan: 1. Dinding ruang penabur dilengkapi dengan porselin. Media yang terlalu padat akan mengakibatkan akar sukar tumbuh. Ruang Shaker dan Enkas. karena eksplan yang ditumbuhkan dalam ruangan inkubasi membutuhkan temperatru dan cahaya yang dapat diatur dan disesuaikan dengan jenis eksplannya. II. Dilihat dari Macam Media Tanam Teknik kultur jaringan dapat dilaksanakan dengan dua metode yaitu: a. Ruang Mutlak Steril Ruang Penabur Ruang penabur biasanya di buat dengan ukuran yang tidak terlalu besar. kemudian digojok di atas shaker. lampu ultra violet harus dimatkan terlebih dahulu kemudian menyalakan lampu neon biasa dan calon penabur diperbolehkan memasuki ruangan tersebut. Hasil pertumbuhan kalus ini adalah berupa protokormus atau dalam istilah asing disebut plb (protocorm like bodies). Sedangkan media yang terlalu lembek akan menyebabkan kegagalan dalam pekerjaan. Bila kalus ini cukup umur.

Pembuatan media cair jauh lebih cepat daripada media padat. 2) Kultur antera 3) Kultur endosperma 4) Kultur suspensi sel 5) Kultur protoplas 6) Kultur embrio 7) Kultur spora 8) Dan lain-lain 3. Nutrisi dicampurkan pada agar.10. Artinya. untuk menumbuhkan planlet dari protokormus stelah dipindahkan dari suspensi sel. Oleh karena itu. penggunaan media cair lebih ditekankan untuk suspensi sel. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media padat pada umumnya berupa padatan gel. Pemindahan yang terlambat dapat menyebabkan pertumbuahn eksplan atau kalus dapat terhenti atau dapat mengalami brownig atau terkontaminasi oleh jamur atau bakteri. Dari protokormus ini nantinya dapat tumbuh menjadi planlet apabila dipindahkan kedalam media padat yang sesuai. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya.Tahapan Kultur Jaringan Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat pendukung kehidupan jaringan yang dibiakkan. maka metode kultur jaringan yang telah dikenal sekarang antara lain adalah: 1) Kultur meristem. yaitu untuk menumbuhkan plb (prtocorm like bodies). 2. seperti agar. dan untuk menumbuhkan planlet dari prtoplas yang sudah difusikan (digabungkan). karena untuk menumbuhkan kalus langsung dari ekspaln sangat sulit sehingga keberhasilannya sangat kecil dan hana tanaman-tanaman tertentu yang dapat berhasil. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak. agar dapat tumbuh menjadi kalus dan kemudian menjadi planlet. eksplan atau kalus yang sudah waktunya untuk dipindahkan ke dalam media tanam yang baru harus segera dilaksanakan. Metode Cair(Liquid Metho) Penggunaan metode cair ini kurang praktis dibandingkan dengan metode padat. yaitu: . Metode padat dapat digunakan untuk metode kloning. Dilihat dari Bahan atau Eksplan yang Dipakai Bila dilihat dari macam bahan yang digunakan. Dilihat dari Cara Pemeliharaan Eksplan yang telah ditanam.(jaringan yang luka) tertutup oleh medium. Tahapan tersebut. membutuhkan pemeliharaan yang rutin dan tepat. tidak boleh sampai terlambat. Pelaksana harus bekerja dengan teliti dan serius. Media cair juga tidak memerlukan zat pemadat sehingga keadaannya tetap berupa larutan nutrein. karena kita tidak p erlu memanaskannya untuk melarutkan agar-agar. tergantung kebutuhan. Yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril. karena setiap tahapan pekerjaan tersebut memerlukan penanganan tersendiri dengan dasar pengetahuan tersendiri. Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. untuk menumbuhkan protoplas stelah diisolasikan. b. II. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan.

5 % dll – direndam dalam bahan sterilant – sterilisasi dalam laminar – tanaman dipro-kondisi c. Tahapan Sterilisasi: 1. Selain itu. Co) . Senyawa fenol tersebut bersifat toksik. Hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang timbul akibat stress mekanik yang timbul akibat pelukaan pada waktu proses isolasi eksplan dari tanaman induk. sehingga akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat. b. Tahapan pembuatan media kultur:      Persiapan bahan Formulasi Pengukuran pH (5. baik jenisnya maupun jumlahnya.8) Pemberian agar-agar dan pemanasan media Penuangan dan penutupan media -> sterilisasi Kandungan nutrisi dalam agar-agar : 1. Cu. Dalam tahap ini juga diharapkan bahwa eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi pertumbuhan baru. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoclave. Tujuan sterilisasi yaitu untuk menciptakan kondisi kultur yang steril. tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.7-5. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. mineral :   Makro nutrient (N. gula. P. Inisiasi Kultur Tujuan utama dari propagasi secara in-vitro tahap ini adalah pembuatan kultur dari eksplan yang bebas mikroorganisme serta inisiasi pertumbuhan baru (Wetherell. Sterilisasi Sterilisasi adalah proses pembebasan dari mikroorganisme. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. dan lain-lain. Masalah yang sering dihadapi pada kultur tahap ini adalah terjadinya pencokelatan atau penghitaman bagian eksplan (browning). 1976). menghambat pertumbuhan atau bahkan dapat mematikan jaringan eksplan. Mg) Mikro nutrient (Mn. K. 1976). Mo. vitamin. dan hormon. Zn. 2. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi. Ini mengusahakan kultur yang aseptik atau aksenik. diperlukan juga bahan tambahan seperti agar. Ca. Sterilisasi bahan tanaman Tanaman induk – sterilisasi bahan tanam/eksplan menggunakan detergen.untuk perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya (Wetherell.a. kloroks 0. Pembuatan media kultur Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. alcohol. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral. Sterilisasi peralatan gelas dan stainless dalam suhu 121o di dalam autoklaf. sedangkan aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme.

Glisin 2 20.5 17.1 19. Syarat eksplan yang baik:  Berasal dari induk yang sehat dan subur  Berasal dari induk yang diketahui jenisnya  Tempat tumbuh pada lingkungan yang baik  Ukuran tunas optimal sekitar 5 cm tingginya  Tunas langsung diproses sesegera mungkin Tahapan sub kultur:  Induksi tunas Tanaman tersebut harus jelas jenis. karbohidrat (gula) 3. Na2MoO4+2H20 0. Na 37. hormon Komposisi media Murashige dan Skoog (MS) Bahan Kimia Konsentrasi Kimia (mg/l) 1. CaCL2+2H20 440 4. H3BO3 6. CoCl2+6H20 0. KH2PO4 170 6.2 11. KI 0. CuSO4+5H20 0.2.3 9. tanaman ditanam pada media tanam di laminar air flow menggunakan alat-alat yang steril.25 13. dan varietasnya serta harus sehat dan bebas dari hama dan penyakit.83 12. Penanaman eksplan Melalui sub kultur atau transfer. MnSO4+4H20 22. ZnSO4.6 10. vitamin (B dan C) 4.025 14.025 15. Niasin 0. MgSO4+7H20 370 5. Myoinositol 100 16.5 18. Sukrosa 30000 d. protein 5. KNO3 1900 3. FeSO4+7H20 27 7. spesies.7H2O 8. Tanaman indukan sumber eksplan tersebut harus dikondisikan dan dipersiapkan secara khusus di rumah kaca atau greenhouse agar eksplan yang akan dikulturkan . Piridoksin-HCL 0.3 8. Tiamin-HCL 0. NH4NO3 1650 2.

sehat dan dapat tumbuh baik serta bebas dari sumber kontaminan pada waktu dikulturkan secara in-vitro. Ini dilakukan untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Untuk pengakaran digunakan media MS + NAA.  Inkubasi Pada tahap inkubasi. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).Faktor yang Mempengaruhi Proses Regenerasi . Suhu yang sesuai untuk pertumbuhan kultur adalah antara 24–28oC. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.  Aklitimasi Aklitimasi merupakan proses adaptasi/pemindahan tanaman dari lingkungan dalam ke lingkungan luar (dari lingkungan yang terkendali ke lingkungan yang tidak terkendali). Setelah itu tanaman perlu ditumbuhkan di nursery sampai mencapai tinggi 50 – 60 cm kemudian dipindahkan ke lapangan II. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. Pada saat aklimatisasi ini umumnya 2 minggu dengan sungkup dan 4 minggu tanpa sungkup. Proses perakaran pada umumnya berlangsung selama 1 bulan. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Tabung yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.11.  Multiplikasi tunas Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media.  Pengakaran Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. maka di dalam ruangan tersebut dipasang Air Conditioner (AC). Untuk mengkondisikan ruang inkubasi pada suhu yang diinginkan. eksplan ditempatkan di ruang/lingkungan yang terkendali (untuk duji keberhasilannya). yaitu dengan memberikan sungkup. Dan pada saat itu planlet sudah mencapai tinggi 20 – 25 cm. Selanjutnya bibit siap ditumbuhkan dalam polibag.

kualitas sinar. walaupun dapat di usahakan secara sederhana (dalam ruang yang terbatas). 5. Benziladenin (BA). panjang penyinaran. Eksplan Merupakan bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan tanaman. Golongan Gibberelin seperti GA3. pucuk adventif. Knudson-C. sterilisasi eksplan. isolasi bahan tanam (eksplan). batang muda.. sebab medium yang sudah jadi masih harus di impor dari luar negeri. 4. Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan adalah pucuk muda. pelaksanaan teknik kultur jaringan mutlak memerlukan laboratorium khusus. 2I-P. Di dalam media tumbuh mengandung komposisi garam anorganik. ovari muda. urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu. hipokotil. dll. namun tetap memerlukan peralatan yang memadai. . Zeatin. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi. Di samping itu. karena setiap tahapan pekerjaan tersebut memerlukan penanganan tersendiri dengan dasar pengetahuan tersendiri. anther. dll 2. II. Lepas semua dari kendala-kendala tersebut diatas. Biaya untuk mewujudkan perbanyakan tanaman secara in vitro ini juga sangat mahal. Enzim-enzim yang digunakan dalam kultur jaringan juga masih dibeli dari luar negeri seperti Jepang. terutama untuk pengembangan bioteknologi. Anderson dll. dan CCC. embrio. Golongan Sitokinin seperti Kinetin. endosperm. embrio somatik. biologi. dan bentuk fisik media.4-D. zat pengatur tumbuh. Media yang sering digunakan secara luas adalah MS. karena pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman memerlukan keterampilan khusus dan harus dilatar belakangi dengan ilmu pengetahuan dasar tentang fisiologi tumbuhan. aklimatisasi dan usaha pemindahan tanaman hasil kultur jaringan ke lapang. dan seks (jantan/betina). tentu biayanya akan bertambah besar. kita harus mengakui bahwa teknik kultur jaringan sangat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan. dan PBA. TIBA. kecuali kita meramu medium sendiri. baru beberapa kalangan pengusaha swasta saja yang sudah mencoba melaksanakannya. letak pada cabang. pembentukan protocorm like bodies. Jenis yang sering digunakan adalah golongan Auksin seperti Indole Aceti Acid(IAA). Pelaksana harus bekerja dengan teliti dan serius. umur eksplan.12. kotiledon. Apalagi kita harus membeli saran untuk perlakuan isolasi dan fusi protoplas. Kemungkinan lain petani akan merasa enggan bekerja secara aseptik. kimia dan pertanian. antara lain: Murashige dan Skoog (MS). Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan. daun muda. Lingkungan Tumbuh Lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi temperatur. Knop. inokulasi eksplan. Bila kita terpaksa harus membeli medium yang sudah jadi (dalam kemasan) jelas akan sangat mahal. intensitas penyinaran. Woody Plant Medium (WPM). Dengan demikian jelas akan amat sulit untuk diterima oleh kalangan petani biasa. CPA dan Indole Acetic Acid (IBA). anatomi tumbuhan. Paclobutrazol. Thidiazuron.1.Kendala dan Masalah Melakukan Kultur Jaringan Teknik kultur jaringan sampai saat ini memang belum biasa dilaksanakan oleh para petani. Napthalene Acetic Acid (NAA). Pekerjaan kultur jaringan meliputi: persiapan media. 2. Faktor eksplan yang penting adalah genotipe/varietas. Golongan zat penghambat tumbuh seperti Ancymidol. Bentuk Regenerasi dalam Kultur In Vitro: pucuk aksilar. Karena semua pekerjaan harus dilaksanakan secara hati-hati dan cermat serta memerlukan kesabaran yang tinggi. 3. dan ukuran wadah kultur. Media Tumbuh.

Fenomena kontaminasi sangat beragam. Pada daunnya tidak memiliki jaringan pallisade. variasi terjadi karena terjadinya sub kultur berulang yang tidak terkontrol Penggunaan teknik yang tidak sesuai. dll). Upaya mencegah terjadinya kontaminsi:    Biasakan membersihkan berbagai sarana yang diperlukan dalam kultur jaringan. Munculnya gangguan ini bila dipahami secara mendasar adalah merupakan sesuatu yang sangat wajar sebagai konsekuensi penggunaan yang diperkaya. 4) Variabilitas Genetik Bila kultur jaringan digunakan untuk upaya perbanyakan tanaman yang seragam dalam jumlah yang banyak. media atau hormon. Lakukan proses penanaman bahan pada keadaan anda nyaman dan cari waktu yang longgar. maupun dari manusianya. cara mengatasinya tidak dapat secara preventif tetapi diselesaikan setelah kasus itu muncul. 2) Pencoklatan/browning Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Tanaman yang dihasikan pendek-pendek atau kerdil. Yakinkan bahwa proses sterilisasi media secara baik dan benar. tidak sedikit masalah-masalah yang muncul sebagai pengganggu dan bahkan menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan kegiatan kultur yang dilakukan. Peristiwa pencoklatan sesunggguhnya merupakan peristiwa alamiah yang biasa yang sering terjadi. Adapun masalah-masalah yang terjadi dalam kultur jaringan yaitu: 1) Kontaminasi Kontaminasi adalah gangguan yang sangat umum terjadi dalam kegiatan kultur jaringan. hal tersebut terjadi karena munculnya sifat instabilitas kromosom mungkin akibat teknis kultur. dari lingkungan kultur. virus. Variasi genetik dapat terjadi pada kultur in vitro karena: Laju multiflikasi yang tinggi. Permasalahan dalam kultur ada yang dapat diprediksi sebelumnya dan ada pula yang sulit diprediksi kejadiannya. jamur. 3) Vitrifikasi Vitrifikasi adalah suatu istilah problem pada kultur yang ditandai dengan: Munculnya pertumbuhan dan pertumbuhan yang tidaknormal. . keragaman tersebut dapat dilihat dari jenis kontaminasinya (bakteri. Variasi genetik yang paling umum terjadi pada kultur kalus dan kultur -suspensi sel. Pertrumbuhan batang cenderung ke arah penambahan diameter Tanaman utuhnya menjadi sangat turgescent..Masalah-masalah Dalam Kultur Jaringan Dalam kegiatan kultur jaringan. Pencoklatan umumnya merupakan suatu tanda-tanda kemunduran fisiologi eksplan dan tidak jarang berakhir pada kematian eksplan. dan bukan sebagai upaya pemuliaan tanaman maka variasi genetik adalah kendala. Untuk yang tidak dapat diprediksi. Gangguan kultur secara umum dapat muncul dari bahan yang ditanam.

Faktor eksplan yang perlu .1. Kebutuhan antara satu tananaman dengan tanaman yang lain berbeda. namunddemikian solusinya sulit dilakukan mengingat umumnya ruangan inkubator suatu ruangan laboratorium kultur jaringan tidak bisa dibuat variasi antara satu ruangan dengan bagian ruangan yang lainnya. pertumbuahn dan perkembangannya dlama botol saja tetapi juga sangat bisa dipengaruhi oleh persyaratan kegiatan prapelakuan. mata tunas. Prapelakuan dilakukan umumnya untuk tujuan-tujuan tertentu. proses reaksi dan alternatif pengelolaannya. kultur jaringan merupakan suatu tehnik membiakkan sel atau jaringan ke dalam media kultur. Hambatan berupa bahan kimia penanganannya harus dimulai dari pengenalan senyawa aktif. secara umum adalah dalam rangka menghilangkan hambatan. harus memperhatikan aspek yang dikulturkan. atau dari sel-sel tua yang muda kembali. Karena awal pertumbuhan eksplan akan dimulai dari selsel yang muda yang aktif membelah. BAB III PENUTUP III. biologis. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. tahapan pembentukan kalus harus dilanjutkan dengan mendorong induksi embriosomatik dari sel-sel kalus. membelah. suhu yang terlalu rendah aatau tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada eksplan. yaitu sel atau irisan jaringan tanaman yang akan menjadi benih tanaman yang baru nanti setelah di kultur jaringan.Cara mengatasi masalah variasi genetik tentunya tidak sederhana. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman seperti daun. Untuk menghindari hal itu dapat dilakukan dengan preventif menghindari bahan tanam yang tidak juvenil atau tidak meristematik. Dalam kultur jaringan digunakan eksplan. fisik. Pada proses klutur jaringan yang bersifa inderict embriogenesis. serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptic yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap. dan menghasilkan tumbuhan baru dengan cepat dan memiliki sifat yang sama dengan induknya. dari mulai tanam hingga kurun waktu tertentu tidak mati tetapi tidak tumbuh.Kesimpulan Pada dasarnya. sehingga tumbuh. Hambatan apat berupa hambatan kemikalis. karena dari kondisi medialah suatu sel dapat atau tidak terdorong melakukan proses pembelahan dan pembesaran dirinya. 5) Pertumbuhan dan Perkembangan Masalah utama berkaitan dengan proses pertumbuhan adalah bila eksplan yang ditanam mengalami stagnasi. Terjadinya embrio somatik dapat secara endogen atau eksogen. potensi gangguan. 6) Praperlakuan Masalah pada kegiatan in vitro bukan hanya dari penanaman eksplan saja. Suhu ruangan inkubator sangat menentukan optimasi pertumbuhan eksplan. Pada kasus ini masalah akan muncul bila kegiatan prapelakuaan tidak dilakukan. Sehingga optimasi pertumbuhan tidak bisa diharapkan sama antara kultur yang satu dengan kultur yang lain. Media juag dapat menjadi sebab terjadinya stagnasi pertumbuhan. 7) Lingkungan Mikro Masalah lingkungan inkubator juga tidak bisa diabaiakan karena ini juga sering menjadi masalah.

Prinsip dasar Kultur Jaringan yaitu : a. 1. Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan adalah pucuk muda. Inkubasi f. artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap. Sel dari suatu organisme multiseluler dimana pun letaknya. dll. daun muda. Penanaman eksplan e. Jadi sifat totipotensi ( total genetic potential) sel. endosperm. Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembang biak. ovari muda. Bentuk Regenerasi . kotiledon. sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (Setiap sel berasal dari satu sel). jika kondisinya sesuai. umur eksplan. Totipotensi artinya kemampuan setiap sel tumbuhan untuk menjadi individu yang sempurna atau untuk beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. letak pada cabang. Pembuatan media kultur d. batang muda.diperhatikan adalah genotipe/varietas. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential). Aklitimasi Peralatan Kultur Jaringan:              Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) Entkas Shaker Autoklaf Timbangan Analitik Stirer Erlenmeyer Gelas Ukur Gelas Piala Petridish Pinset dan Scalpel Lampu Spiritus Tabung Reaksi Faktor yang Mempengaruhi Proses Regenerasi 1. dan sifat Totipotensi. embrio. Autonom artinya dapat mengatur aktivitas hidup sendiri. dan seks (jantan/betina). hipokotil. yaitu bahwa setiap sel tanaman yang hidup dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh. Sedangkan Tahap-tahap pada kultur jaringan tanaman yaitu : a.karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan – jaringan hidup. Inisiasi kultur b. anther. Tanaman yang dimanfaatkan dalam kultur jaringan harus memiliki sifat Autonom. Sterilisasi c. 2. sehingga tumbuhan yang bersifat Autonom akan dapat mengatur aktvitas yg dilakukannya sendiri. b.

Saya harap saran dipertimbangkan. D. Media 4. Juga kepada SMAN 1 Purwakarta. 2007. Saya menyarankan kepada pemerintah. Biologi. Jakarta: Erlangga. dkk.A. untuk mengagendakan pembuatan laboratorium kultur jaringan di masa yang akan datang supaya para murid dapat dengan mudah mempraktekkan teori yang didapat mengenai kultur jaringan.. sebaiknya pemerintah ikut memperhatikan masalah mengenai pertanian terutama dalam metode kultur jaringan yang seharusnya dapat menghasilkan keberhasilan yang besar. Hapsoro. Lingkungan Tumbuh Masalah-masalah yang dapat terjadi dalam kultur jaringan:        Kontaminasi Pencokelatan/browning Vitrifikasi Variabilitas Genetik Masalah dalam pertumbuhan dan perkembangan eksplan Masalah dalam properlakuan Masalah dalam lingkungan mikro III. LAMPIRAN Laminar Air Flow Tempat penanaman eksplan dilakukan Autoklaf Tempat pensterilan media kultur Tahap Sterilisasi Tahap induksi tunas Tahap Multiplikasi Tunas Tahap Inkubasi Tunas Eksplan mulai berakar dan siap di aklitimasi DAFTAR PUSTAKA Pratiwi. Eksplan 3. Surakarta: Aspirasi.2. Drs.2. . Hal ini dikarenakan kurangnya dana dan fasilitas. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman 5.Saran Pelaksanaan kultur jaringan di Indonesia belum cukup banyak dilakukan. Biologi.

Ruang persiapan media. a.Ruang kultur atau inkubator yang lingkungannya terkontrol . ruang untuk tempat oven pengering.wordpress.com/ Search engine WordPress http://thafransisca.Ruang pencucian .com/2008/07/kultur-jaringan.blogspot.com/ Blogspot http://rsf-gudangilmu. 26 Oktober 2010 SITUS WEB Google http://www. sterilisasi dan penyimpanan .blogspot. Ruang Pencucian Ruang pencucian harus mempunyai bak cuci.google. rak pengering dan mempunyai saluran untuk air demineralisasi atau destilasi.com/2009/11/kultur-jaringan-dan-teori-totipotensi. .Ruang pengamatan dan koleksi data Diagram laboratorium kultur jaringan dapat dilihat pada gambar B-2. serta rak atau lemari penyimpanan alat. meja kerja yang terbuat dari bahan yang tahan terhadap asam dan basa.Catatan hasil study tour ke Mekarsari.html Wikipedia 1. Organisasi Dalam Laboratorium Kultur Jaringan Di setiap laboratorium dimana teknik kultur jaringan digunakan harus mempunyai sejumlah fasilitas yang mencakup al.Ruang transfer aseptik .: .1. alat/mesin pencuci dan pengering.html http://hamdan-motor.

bakteri). Laminar air flow yang digunakan dalam kultur jaringan tanaman adalah tipe horizontal dan dirancang dengan mempunyai ruangan yang bebas dari partikel debu yang halus dan dilengkapi dengan sinar ultra violet (UV) serta unit penyaring udara. kompor gas. dan peralatan gelas yang diperlukan untuk pembuatan media. refrigerator (kulkas) dan freezer untuk penyimpanan larutan stok dan bahan kimia. flourida. Ruang Kultur Semua jenis kultur harus disimpan dalam tempat yang terkontrol baik temperatur. Didalam pembuatan media kultur. gas. (2) penyaringan dengan membran. d. dan bahan organik dan mempunyai konduktivitas elektrik kurang dari 1. Deionisasi menghilangkan dari bahan yang bersifat ionik dan proses destilasi menghilangkan molekul-molekul organik. Semua permukaan ruang kerja dalam laminar harus dirancang dan mempunyai konstruksi sedemikian rupa sehingga debu dan mikroorganisme tidak dapat berakumulasi dan permukaan tempat kerja dapat mudah dibersihkan dan diidisinfeksi. Oleh karena itu pemindahan atau transfer biakan dikerjakan dalam ruang transfer steril atau laminar air flow.). anion-anion (bikarbonat. dengan menggunakan karbon aktif untuk menghilangkan kontaminan organik dan bebas klorine. Penyaring udara harus mempunyai filter udara dengan efisiensi tinggi atau ”highefficiency particulate air (HEPA filter). bahan organik dll. HEPA filter harus mempunyai pori sekitar 0.97 – 99. yang menghilangkan bahan-bahan partikulat dan kontaminasi oleh bakteri. Meja yang kokoh atau ”bench” untuk penyimpanan ”hot plate magnetic stirrer”.). distiling unit. nitrogen) dan bahan-bahan lain (minyak. dll. yang menghilangkan sekitar 99% bakteri. Peralatan lain yang biasanya ada di ruang persiapan dan pembuatan media antara lain alat vaccum. gas-gas (oksigen.0 µmho/cm. sirkulasi udara.). oven dan autoclave untuk sterilisasi mdia. kelmbaban maupun kualitas dan lamanya cahaya. CO2. dan dispenser harus tersedia. mikroorganisme (algae. pH meter. dan (3) reverse osmosis. magnesium natrium. fosfat.3 µm dengan efisiensi kerja berkisar 99.b. c. Ruang Transfer Teknik kultur jaringan dapat berlangsung dengan sukses apabila dilakukan dibawah kondisi laboratorium yang sangat bersih. bunsen. timbangan. besi. Agar lebih akurat. mikrowave. gambar Metoda yang paling umum untuk pemurnian air standar type II adalah dengan deionosasi yang diikuti dengan satu atau dua destilasi gelas. bahan organik dan bahan partikulat. klorida. jamur. Air yang digunakan dalam pembuatan media harus berkualitas tinggi yang mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi. Metode-metode lain yang dapat digunakan untuk mendapatkan air murni type II adalah (1) penyaringan dengan cara absorpsi. gelas kultur dan penutupnya. peralatan gelas dan peralatan lain. Air yang digunakan dalam kultur jaringan harus mempunyai standar type II (minimum) yaitu bebas pirogen. dalam pembuatan media harus dilakukan tahap demi tahap dan bahanbahan yang digunakan harus di ”checklist”. bahanbahan kimia yang digunakan harus yang bertaraf analitik dan penimbangannya harus baik dan benar. kalsium. mikroorganisme dan pirogen. dll. Faktor-faktor lingkungan tersebut akan mempengaruhi proses pertumbuhan dan diferensiasi biakan baik secara langsung maupun tidak . Air ledeng atau sumur tidak digunakan untuk pembuatan media karena mengandung kation-kation (amonium. Ruang Persiapan Media Di dalam ruang persiapan media harus tersedia tempat untuk penyimpanan bahan-bahan kimia.99%.

Tabung gelas. Peralatan gelas yang digunakan di lab kultur jaringan umumnya terbuat dari Pyrex. pH meter 5. Pipet ukur 16.langsung. . botol jam atau bekas selai juga sering digunakan sebagai botol kultur. Alat sterilisasi dengan tekanan uap (autoclave) 4. Disinfectant 19. Dll. scalpel (pinset). Timbangan (analitical dan bench top loading) 6. Kultur protoplas. Hal yang paling perlu diperhatikan adalah akurasi. erlenmeyer) atau stainless steel untuk memanaskan dan melarutkan media 3. Peralatan gelas (gelas ukur. Peralatan dan Bahan Dasar Dalam Laboratorium Kultur Jaringan Peralatan yang diperlukan dari suatu laboratorium umumnya adalah sbb. Shaker 17.000 lux. Refrigerator 11.: 1. 2. dengan fluktuasi kurang dari ±0. pipet dan labu ukur. gelas ukur. kebersihan dan keamanan saat bekerja dengan teknik kultur jaringan. Bahan kimia yang diperlukan untuk pembuatan media (Lampiran) 20. 125. Suhu dan cahaya harus dapat diprogram selama 24 jam. Laminar air flow 18. Peralatan gelas lain yang biasanya digunakan adalah gelas piala. Ventilasi udara harus baik dengan kelembaban berkisar 20-98%. Gelas ukur gradual 7.5oC. Alat diseksi (spatula. Erlenmeyer dari berbagai ukuran (50. 3. semua bahan yang ditimbang harus dilakukan dengan hati-hati meskipun untuk pembuatan media dalam skala komersial. Hot plate/magnetic stirrer atau kompor 2. 500. Peralatan gelas tesebut harus tahan panas selama proses sterilisasi dengan oven atau autoclave. Suhu ruang kultur untuk pertumbuhan umumnya berkisar antara 15o – 30oC. Ruang kultur harus mempunyai pencahayaan hingga 10. Botol kultur dengan penutupnya 8. Dispenser 9. forcep. gunting) 10. Oven 13. Mikroskop 15. Setiap penggunaan timbangan atau alat-alat lain harus memperhatikan instruksi dari pabrikannya. akan tetapi kisaran suhu yang lebih besar mungkin diperlukan untuk tujuan percobaan. Prosedur Dasar Laboratorium Umumnya penggunaan operasional di lab perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan dapat dipelajari dengan mudah. 1000 atau 2000 ml) digunakan untuk wadah kultur dan pembuatan media. Distiling unit atau water deionizer 12. cawan petri. suspensi sel dan kultur anther adalah yang paling sensitif terhadap kondisi lingkungan. Microwave 14. Penimbangan Pada saat pembuatan media. 250.

25. Ruang kultur harus dibersihkan dengan sabun kemudian dilap dengan Na-hypoklorit 2% (merek komersial seperti Sunclin. maka cara ini banyak ditinggalkan kecuali untuk peralatan gelas yang terkontaminasi tinggi. Cairan dihisap kedalam pipet dengan menekan tombol bagian atas dan melepaskan cairan dengan menekan tombol bagian bawah. a. Penggunaan pipet harus dibantu dengan alat penghisap larutan (pipetor). Bayclin atau pembersih lantai lain yang . 100 dan 1000 ml banyak digunakan untuk mengukur volume. (iv) penimbangan disarankan menggunakan wadah atau alas yang ringan atau kertas daripada menempatkan bahan yang ditimbang secara langsung di atas piring timbangan. Apabila spora jamur kontak dengan media kultur dan kondisinya optimal untuk perkecambahan jamur. maka akan terjadi kontaminasi. permukaannya rata yang bebas getaran dan kebocoran. Bakteri dan jamur adalah dua kontaminan yang paling banyak dijumpai dalam kultur. penimbangan jangan sampai pernah overload. Ruang transfer dapat juga disterilisasi dengan mencuci/mengepel 1-2 kali setiap bulan dengan bahan anti jamur (fungisida) komersial. Jangan pernah menggunakan mulut untuk memipet. Gelas ukur kapasitas 10. (iii) alat penghisap dengan bantuan pompa udara secara elektrik. tetapi pengukuran yang lebih akurat diperlukan labu ukur dan pipet. Karena asam kromat dapat menyebabkan korosif. Spora jamur sangat ringan dan ada disekeliling lingkungan. Pengukuran larutan dengan menggunakan pipet dan labu ukur hanya akan akurat apabila bagian dasar dari cekungan antara air dan udara berada tepat pada tanda pengukuran. Jenis-jenis pipetor yang umum digunakan antara lain (i) tipe bola penghisap yang dilengkapi dengan beberapa katup pengontrol. Sterilisasi Bagian yang sangat penting dalam teknik in vitro adalah sterilisasi bahan tanaman dan media dan menjaga kondisi aseptik yang telah dicapai. (iii) yang terpenting lagi.Jenis timbangan yang sering digunakan di lab antara lain top-loading balance dan analytical balance yang memungkinkan akurasi penimbangan hingga skala milligram. Membersihkan peralatan gelas Metoda konvensional pencucian peralatan gelas dilakukan dengan merendam gelas dalam larutan asam kromat yang diikuti pembilasan dengan air kran dan air destilasi. Radiasi UV sangat berbahaya bagi mata dan kulit. (iv) pipet mikro. (ii) pipet penghisap yang dioperasikan menggunakan roda kecil pada bagian atas alat penghisap. Peralatan gelas yang telah dicuci. Waktu sterilisasi bervariasi tergantung dari ukuran ruang transfer itu sendiri dan harus dilakukan apabila tidak ada kegiatan dalam ruang tersebut. kemudian disimpan dalam lemari tertutup. (ii) daerah sekitar penimbangan harus terjaga kebersihannya. dikeringkan dalam oven pada suhu 150oC dibungkus dengan aluminium foil. Pengukuran cairan/larutan Peralatan gelas yang mempunyai ukuran seperti gelas piala. erlenmeyer dan pipet diperlukan untuk pembuatan media. sehingga sterilisasinya dilakukan dengan UV dan diikuti dengan membasuh/melap permukaan tempat bekerja dalam laminar dengan alkohol 95% sebelum mulai bekerja. Ruang kerja dalam laminar flow biasanya sudah dilengkapi dengan lampu UV. biasanya untuk pengambilan larutan dengan volume yang sangat kecil (mikro liter). Sterilisasi Ruang Kultur dan Transfer Sterilisasi ruang kultur yang paling baik adalah dilakukan dengan penggunaan sinar ultraviolet (UV). Pencucian yang lebih aman adalah dengan air panas (>70oC) + sabun. Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan agar diperoleh penimbangan yang akurat adalah (i) timbangan harus ditempatkan pada tempat yang keras. diikuti dengan pembilasan dengan air panas dan air destilasi. stabil.

tetapi jangan menggunakan kertas karena akan akan terdekomposisi pada suhu 170oC. Akan tetapi. (iii) kedua larutan yang sudah disterilisasi dengan metoda yang berbeda tersebut digabungkan dalam kondisi aseptik. pipet. Beberapa senyawa yang tergolong dalam kelompok protein. Teknik ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena alkohol sangat mudah terbakar. Sterilisasi dengan menggunakan autoclave tidak dsarankan untuk bahan yang erbuat dari metal karena akan menyebabkan karat. hormon dan karbohidrat ada yang bersifat thermolabile yang mungkin akan mengakibatkan dekomposisi bila disterilisasi dengan autoclave. asam amino. setelah disterilisasi dalam oven harus direndam dahulu dalam alkohol 96% kemudian dibakar di atas lampu bunsen.mengandung disinfektan) atau alkohol 95%. d d. Tekanan jangan melebhi dari 20 psi karena dapat mengakibatkan dekomposisi karbohidrat dan bahan lain dalam media yang bersifat thermolabile. Filter Millipore yang mempunyai porositas ± 0. Lantai ruangan dan dinding harus dibesihkan seminggu sekali dengan bahan yang sama. waktu yang dibutuhkan adalah 15-20 menit. Media yang sebagian mengandung komponen thermolabile. (ii) pada bagian lain dalam kondisi yang steril. Untuk peralatan diseksi yang akan digunakan pada ruang transfer atau laminar. dapat disterilsasi dengan cara pengeringan dalam oven pada suhu 130o-170oC selama 2-4 jam. air. dan media kultur. gelas.2 mikron (µm) merupakan salah satu filter yang banyak digunakan untuk sterilisasi bahan yang bersifat thermolabile. Untuk volume larutan per wadah yang sedikit (< 100 ml). saringan dari nylon. Peralatan yang terbuat dari metal. sehingga harus disterilisasi dengan filter. c. dapat dibuat dengan cara: (i) larutan yang mengandung komponen heat-stable disterilisasi dengan autoclave. tutup plastik. Teknik ini disebut sterilisasi pembakaran (flame sterilization). Sterilisasi Bahan Tanaman . peralatan gelas. vitamin. larutan dari bahan-bahan yang bersifat tidak stabil (heat-labile) harus menggunakan filter. Sterilisasi Peralatan Gelas dan Peralatan Lain. Semua peralatan tersebut harus dibungkus sebelum di oven. Umumnya media diautoclave pada tekanan 15 psi dengan suhu 121oC. Peralatan gelas yang akan menampung media yang disterilisasi dengan filter harus sudah disterilisasi dahulu dengan autoclave. Autoclave adalah metoda sterilisasi dengan menggunakan tekanan uap air. aluminium foil. ekstrak tanama. pakaian lab. larutan yang mengandung komponen besifat thermolabile disterilisasi dengan filter. tetapi untuk jumlah yang besar (2-4 liter) selama 30-40 menit. dll. Bahan-bahan atau alat yang dapat disterilisasi dengan cara autoclave ini antara lain kapas penutup tabung.. yaitu dengan autoclave dan filter membran. air destilasi dan campuran yang stabil dapat disterilisasi dalam autoclave dengan menggunakan wadah yang ditutup dengan kapas. Hampir semua mikroba dapat mati bila diautoclave pada suhu 121oC dengan tekanan 15 psi selama 15-20 menit. Sterilisasi Media Ada dua metoda untuk sterilisasi media yang umum digunakan. b. kemudian didinginkan sampai suhu 50o-60oC pada kondisi steril (biasanya dalam laminar). Media kultur. aluminium foil atau plastik.

Umumnya pengukuran pH media menggunakan pH meter. Semua permukaan eksplan yang disteriliasi harus terendam dalam sterilan. kemampuan agar untuk menjadi gel dan selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan sel-sel. karena sebagai bahan biologis tidak dapat dilakukan dengan cara pemanasan yang ekstrim. umbi dll.Mendapatkan bahan tanaman yang steril merupakan hal yang sulit. Skala pH mulai dari 0 (sangat asam) hingga 14 (sangat basa) dan skala 7 adalah titik netral. biasanya sebelum disterilisasi dengan larutan disinfektan harus dibersihkan dahulu dengan sabun dan dibilas dengan air mengalir. tetapi tidak untuk tanaman jenis herbaceous. Larutan yang digunakan harus yang aman bagi jaringan/eksplan tetapi bersifat dapat membunuh kontaminan baik bakteri maupun jamur. pH dapat memengaruhi kelarutan ion-ion di dalam media. Meskipun bermacam tindakan pencegahan sudah dilakukan.1 sebelum diautoclave. Menentukan pH larutan pH larutan diukur berdasarkan konsentrasi ion hidrogen dalam larutan.7 ± 0. sehingga waktu perendaman dalam larutan disinfektan merupakan kisaran karena tergantung pada jenis bahan dan tanaman yang akan disterilisasi. . Tidak ada metoda yang baku untuk sterilisasi eksplan. pH dari media kultur umumnya diatur 5. 95% kultur akan mengalami kontaminasi apabila eksplan tidak didisinfeksi. Oleh karena itu akurasi pH media menjadi faktor yang penting untk diperhatikan. dan setelahnya harus dibilas dengan akuades steril sekurang-kurangnya tiga kali. Organ atau jaringan tanaman harus disterilisasi dengan larutan disinfektan. Untuk tanaman berkayu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful