Proposal Outline

STUDI KEPADATAN POPULASI Tarsius spectrum DI CAGAR ALAM TANGALE DESA LABANU, KECAMATAN TIBAWA KABUPATEN GORONTALO

Oleh HELMA 431 406 82

Mengetahui Ketua Jurusan

Prof. Dr. Ani M. Hasan, M.Pd Nip. 19660820 199203 2 001

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2012

Kawasan tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan no.32% luas wilayah yang berada pada ketinggian 0- .08% wilayah yang berada pada kemiringan 2-15%. 1994).12% luas wilayah. hutan suaka alam dan hutan lindung (Odum.80% luas Kabupaten. Sedangkan wilayah yang berada pada daerah yang datar dengan kemiringan 0-2 m.BAB I PENDAHULUAN 1. Wilayah ini terletak di kecamatan Tibawa kabupaten Gorontalo.31% dari luasan Kabupaten Gorontalo merupakan daerah berbukit hingga bergunung-gunung. serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan dinamis (Arif. yang meliputi 34. Menurut ketinggian dari permukaan laut terdapat 0. mencapai 20. Topografi Cagar Alam ini berada pada kemiringan 15-40 m. 431/Kpts/II/92. 1993). pada tanggal 5 Mei 1999 dengan luas 113 ha. meliputi 71. dan masih terdapat 8. hutan dapat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu hutan produksi. Cagar Alam Tangale ini secara geografis terletak antara 0º 35´ – 0º 36´ LU dan 122º 45´ – 122º 47´ BT. Salah satu hutan lindung yang ada di Gorontalo yaitu Hutan Cagar Alam Tangale yang berada di Desa Labanu Kecamatan Tibawa Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo yang mana hutan ini merupakan salah satu kawasan konservasi di Gorontalo yang mempunyai luas sekitar 113 ha.1 Latar Belakang Hutan adalah masyarakat tetumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan dipermukaan tanah yang terletak pada suatu kawasan. Berdasarkan variasi sistem ekologi dan tujuan pengelolaannya.

dengan lama penyinaran matahari mencapai 66.55%. dengan suhu maksimum 270 C dan suhu minimum 18. curah hujan rata-rata selama tahun 2003 dan 2004 adalah111. Bentang darat dimulai dari dataran rendah hingga berbukit dengan ketinggian mulai dari 100 m dpl pada lokasi Desa Buhu sampai dengan lebih kurang 350 m dpl pada lokasi Desa Labanu.92 hari hujan (HH) dan 13. Sebagian besar wilayah Kabupaten Gorontalo berada pada ketinggian 100-500 m dpl. Luas wilayah yang berada pada ketinggian 25-100 m dpl adalah 29. Cagar Alam Tangale ini berbatasan dengan hutan produksi terbatas yang ditanami oleh pohon jati emas dan berbatasan dengan perkebunan rakyat yang ditanami oleh bambu dan kemiri (Draf Rencana Pengelolaan Cagar Alam Tangale: 2007:2032) Kawasan Cagar Alam Tangale ini relatif kecil namun informasi tentang potensi yang ada masih sangat kurang yaitu terutama pada tumbuhan hias .50%. Sedangkan sisanya berada pada ketinggian 500-1000 m dpl dan > 1000 m dpl.25 m dpl. Suhu udara berkisar pada 26-290 C.20 C.90 C.92 mm/tahun dan 86 mm/tahun dengan jumlah hari ujan di tahun 2003 adalah 13.3% selama tahun 2004. Keadaan topografi lapangan pada Cagar Alam Tangale sendiri umumnya bergelombang sampai berbukitdan sebagian kecil landai. Kelembapan udara berkisar 68.4-83.1 HH pada tahun 2004.66% dan 17. Cagar Alam Tangale ini memiliki deskriptif iklim yaitu type C ( menurut Schmidt dan Ferguson). secara berurut adalah 13. Rata kecepatan angin 1 hingga 4 knot.97% luas wilayah. yang mencapai 38.

Perubahan dalam penyebaran dan kepadatan spesies ini penting bagi pengelolaan dalam menentukan perlakuan dalam pembinaan kawasan. Sampai saat ini tmbuhan kelompok Aglaonema masih kurang mendapat perhatian. di hutan tropis dan ditanam sebagai tanaman hias. serta kondisi sosial masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. tumbuh tegak. Ruang lingkup Inventarisasi Hutan meliputi : survei mengenai status dan keadaan fisik hutan. Hampir semua jenis anggota marga ini merupakan herba tropis. Inventarisasi Hutan adalah kegiatan pengumpulan dan penyusunan data dan fakta mengenai sumber daya hutan untuk perencanan pengelolaan sumber daya tersebut. Inventarisasi hutan wajib . batang relatif tidak bercabang. Kegiatan identifikasi dan inventarisasi tumbuhan dan satwa memang pernah dilakukanakan tetapi informasi tersebut masih terlalu sedikit untuk digunakan sebagai bahan dalam pembuatan suatu kebijakan pengelolaan. flora dan fauna. sumber daya manusia. Sejak abad 18 hingga saat ini aglaonema populer keindahan daun yang beranekaragam. meskipun banyak jenis dari tumbuhan Aglaonema memiliki fungsi ekonomi bagi manusia. ruas batang dekat pangkal batang biasanya panjang dan tangkai daun sama panjang.Aglaonema. Anggota marga ini umumnya tumbuh ditempat lembab di bawah pohon rindang. Salah satu informasi yang masih perlu untuk digali di kawasan Cagar Alam Tangale ini adalah komunitas spesies apa yang masih ada serta berapa jumlahnya dan bagaimana kecenderungan populasi tersebut dari waktu ke waktu. Aglaonema merupakan tumbuhan hias dan merupakan salah satu marga dari suku araceae.

.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk: 1. 1. Memberikan informasi mengenai keberadaan spesies aglaonema di hutan Cagar Alam Tangale Gorontalo. namun sampai sekarang belum selesai dilaksanakan. 1994) dianggap perlu adanya para taksonom. yaitu orang yang ikut terlibat walaupun orang tersebut bukan ahli taksonomi. Inventarisasi keanekaragaman flora di Indonesia sudah dimulai sejak Rumphius pada tahun 1970.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis aglaonema (Arecaceae) di hutan Cagar Alam Tangale Gorontalo.dilaksanakan karena hasilnya digunakan sebagai bahan perencanan pengelolaan hutan agar diperoleh kelestarian hasil. 1. Maka dari itu peneliti ingin meneliti dengan formulasi judul Inventarisasi Tumbuhan Hias Jenis Aglaonema Di Cagar Alam Tangale Kecamatan Tibawa Gorontalo. Untuk memperlancar inventarisasi flora Indonesia menurut (Wijaya.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diambil rumusan masalah yaitu jenis-jenis tumbuhan hias aglaonema apa sajakah yang terdapat di hutan Cagar Alam Tangale Gorontalo? 1.

penelitian serta sebagai informasi bagi masyarakat. instansi atau lembaga terkait dalam pengelolaan kawasan konservasi Sumber Daya Alam (SKSDA) Gorontalo. . pemerintah. Berguna bagi dunia pendidikan.2.

secara harfiah Aglaonema berarti benang yang bersinar. Filipina. data dan informasi tentang kekayaan jenis tumbuhan maupun jenis yang berpotensi sebagai bahan pangan masih sangat kurang. Kamboja. Laos. yaitu Aglos yang berarti sinar dan Nema yang berarti benang. Papua Nugini. juga mengumpulkan spesimen bukti berupa koleksi spesimen herbarium untuk Herbarium Bogoriense. yang memiliki tulang daun berwarna putih cerah membelah kehijauan permukaan daun. 431/Kpts/II/92. yang diperuntukkan bagi perlindungan flora dan estetis. Keanekaragaman jenis tumbuhan di Cagar Alam Tangale (CAT) tidak begitu tinggi.1 Kawasan Cagar Alam Tangale Gorontalo Kawasan hutan Tangale termasuk wilayah Cagar Alam yang status pengelolaannya dibawah Balai KSDA di Manado. 2005). tetapi wilayah tersebut dititipkan pengelolaannya pada Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan no. 2. tanggal 5 Mei 1999 luas wilayahnya 113 ha.BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. Menurut asal-usulnya Aglaonema berasal dari benua Asia.2 Sejarah dan Asal Usul Aglaonema Nama Aglaonema berasal dari bahasa Yunani. Dengan demikian. yakni Aglaonema costatum. Vietnam. . Myanmar. Adapun tujuannya adalah mengumpulkan data keanekaragaman jenis tumbuhan yang berpotensi terutama sebagai bahan pangan di CAT. sehingga tampak menyerupai benang yang bersinar (Subono dan Andoko. Thailand. seperti Malaysia. Fakta ini tampak dari salah satu spesies Aglaonema.

Sosoknya tidak terlalu tinggi. beberapa aksesi menunjukkan terdapatnya buah dengan embrio fertil yang banyak diketemukan secara alami. yang artinnya pelangi dari Thailand. 2. yang berarti tanaman pembawa keberuntungan. Purwanto.3 Ciri-ciri Aglaonema Bunga aglaonema berbentuk seperti tongkol memanjang dengan bagianbagian terdiri atas tangkai bunga. sehingga penyerbukan bunga betina dari bunga jantan pada tongkol yang sama (self pollination) relatif sulit terjadi. Di Indonesia tanaman ini disebut Sri Rejeki. dan Spathiphyllum) ini hidup di hutan-hutan yang teduh dengan tingkat intensitas sinar matahari rendah. seludang (spathe) dan spadiks. yang berarti bunga jantan dan betina matang dalam waktu yang tidak bersamaan. Apalagi warna dan corak daunnya sangat memikat. Namun demikian. Aglaonema dikenal sebagai siamese rainbow. Biji-biji ini adalah biji apomiktif yang berasal dari organ somatis selain ovum pada bunga betina yang berkembang . Anthurium. Sebutan Aglaonema adalah Chinese evergreen yang memang mencitrakan tanaman hias berdaun hijau (Budiana. Anggota keluarga Araceae (Diefferenbachia. yang menarik adalah daun bulat lonjong mirip gunungan wayang (kesenian tradisional jawa) muncul menutupi batang sehingga penampilannya tampak kompak. 2006).dan Indonesia. Philodendron. Beberapa aksesi Aglaonema diketahui bersifat protogynuous. 2006). Di Thailand. hanya puluhan sentimeter. Tanaman ini memang indah dan sedap dipandang mata sehingga menarik digunakan sebagai penghias taman (Ari W.

Ukuran batang sangat pendek dan tertutup oleh daun yang tersusun rapat satu sama lain sehingga merupakan suatu roset. Purwanto. bersifat lunak dan berair. 2006). Buah tanaman aglaonema berbentuk berry dan bulat agak lonjong.membentuk biji fertil. hijau muda. 2. dan bahkan bentuk delta (deltoideus). batang. runcing (acutus). 2. . atau merah muda (Ari W. daun. serta tepi tidak bergerigi. dan biji. 2006). Daun Aglaonema relatif tipis dan memiliki tekstur yang kaku. bulat telur (ovalus). Warna batang umumnya putih. Daun tersusun berselang-seling atau saling berhadapan dengan tangkai memeluk batang tanama (Ari W. Aglaonema berakar serabut atau disebut juga wild root (akar liar) karena semua akar rumbuh dari pangkal batang dan berbentuk serabut (Ari W. Umumnya daun Aglaonema berwarna hijau bercorak atau bertotol-totol dengan gradasinya. 2. yaitu akar. bunga. 2006).4.4. 2.4. lonjong (oblongus).2 Batang Batang Aglaonema termasuk batang basah (herbaceous). Purwanto.3 Daun Bentuk daun Aglaonema sangat bervariasi. Purwanto. Permukaan daun licin dan tidak berbulu.4 Morfologi Aglaonema Secara morfologi. Bentuk ujung daun pun bervariasi. tanaman Aglaonema terdiri atas beberapa bagian. dan membulat (rotundalus). tumpul (obtusus). meruncing (acuminatus).1 Akar Aglaonema termasuk tanaman monokotil.

5 Klasifikasi Klasifikasi Aglaonema berdasarkan kedudukannya dalam taksonomi tumbuhan sebagai berikut : Filum : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub-divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Araceales Famili : Araceae Genus : Aglaonema Spesies : Aglaonema commutatum(Leman. tumbuh diketiak daun. 2006). dan tergolong bunga tongkol (sepadix). Pada tongkol. Bunga jantan yang sudah masak akan terdapat serbuk sarinya yang juga berwarna putih (Ari W. Mula-mula buah berwarna hijau kekuningan.5 Buah dan Biji Penyerbukan yang berhasil ditandai dengan bakal buah membesar dan berkembang menjadi buah yang berada di pangkal bunga. 2. bunga jantan terletak di bagian atas. 2. Buah berbentuk bulat lonjong. . lalu berubah menjadi merah sebagai tanda sudah matang (Budiana.2. Bunga-bunga yang mandul ini secara kasat mata dapat dilihat dari warnanya yang putih dengan seludang putih kehijau-hijauan. Purwanto.4. sedangkan bunga betina di bagian bawah. Di antara kedua jenis bunga itu sering sekali terdapat bunga-bunga yang mandul.4 Bunga Bunga Aglaonema termasuk bunga majemuk tak terbatas. 2006).4. 2006). Bunga berbentuk bulir.

2006). adalah Aglaonema rotundum (Leman. Aglaonema Paten Aglaonema paten merupakan Aglaonema silangan (hibrida) yang mempunyai hak paten.5. 2006). seperti komoditas atau hak cipta lainnya. Pengembangbiakan atau perbanyakan tanaman dapat dilakukan orang tersebut atau orang lain dengan membayar sejumlah royalti ke pemegang hak paten (Leman. Umumnya.2.2 Aglaonema Hibrida a. Corak daun Aglaonema spesies sederhana sehingga kurang menarik. 2006). bukan hasil silangan manusia. Keunggulan Aglaonema spesies ini adalah mempunyai daya tahan yang kuat terhadap lingkungan ekstrem dan serangan hama penyakit. Umumnya. Aglaonema spesies inilah yang merupakan tanaman-tanaman induk Aglaonema hibrida (Ari W.5 Jenis-jenis Aglaonema 2. Aglaonema yang termasuk kelompok ini tidak diperbanyak secara besar-besaran sehingga harganya lebih mahal dibanding . Aglaonema Non-Paten Aglaonema non-paten adalah Aglaonema yang tidak didaftarkan pada lembaga paten.5. Pemegang hak paten adalah orang pertama yang menghasilkan tanaman tersebut. Aglaonema spesies berwarna hijau seperti warna daun pada umumnya dan hanya beberapa yang mempunyai corak dan satu-satunya yang berwarna merah. b. Purwanto. 2.1 Aglaonema Spesies Aglaonema spesies merupakan Aglaonema yang ditemukan atau terdapat di alam.

Tanaman Aglaonema pun demikian. 2. Purwanto.6 Syarat Tumbuh Aglaonema 2. Padahal apabila jeli menyikapinya.3 Aglaonema Mutasi Tanaman dapat mengalami mutasi atau perubahan sehingga mempunyai penampilan yang berbeda.dengan Aglaonema paten. mutasi pada tanaman Aglaonema bisa terjadi pada bentuk serta pola daunnya (Handoko. Varigata merupakan corak warna yang tidak merata. 2009).1 Cahaya Aglaonema membutuhkan sinar matahari yang cukup untuk proses fotosintesis. Namun demikian. Kebanyakan masyarakat hanya melihat dari sisi warna saja. warna asli tanaman tersebut bercampur dengan warna kuning atau putih. Umumnya. kirakira 10% – 30% sehingga dibutuhkan paranet sekitar 70% – 90%. Banyak dari Aglaonema non-paten ini tidak diberi nama (Ari W. sampai saat ini banyak yang belum paham betul mengenai mutasi tersebut. Sementara bila diletakkan di dataran sedang umumnya memerlukan paranet .5. Sebetulnya tanaman ini dapat hidup di dataran sedang. Mutasi yang terjadi umumnya berupa perubahan warna dan atau coraknya menjadi varigata. 2006). Namun. beberapa jenis lebih menyenangi lokasi teduh dengan pencahayaan terbatas. Nilai daun Aglaonema akan semakin tinggi bila ternyata memiliki warna atau bentuk yang menyimpang dari aslinya yang sering diistilahkan dengan mutasi. Mutasi tersebut dapat terjadi pada tanaman asli (spesies) maupun tanaman hibrida (Leman. Bila diletakkan di dataran rendah membutuhkan paranet 90% sehingga sinar matahari yang masuk 10%. 2006).4. 2.

Cahaya matahari yang terlalu terik dapat membakar helai daun Aglaonema. tanaman akan terhambat pertumbuhannya. 2. serta daun terlihat cenderung tegak (sudut antara daun dan batang kurang dari 45°). Aglaonema pada suhu diatas 32° C. 2006). Hal itu dikarenakan beberapa bagian tanaman mengalami kekurangan suplai makanan atau nutrisi akibat penguapan cairan pada jaringan cukup besar. seperti halnya tanaman hias ruangan pada umumnya.70%.2 Temperatur Aglaonema termasuk jenis tanaman yang membutuhkan tingkat kelembaban yang tinggi. Tanda-tanda kelebihan cahaya matahari adalah daun Aglaonema menjadi pucat. putih. Purwanto. Cuaca dingin yaitu yang bertemperatur sekitar 120C – 150C juga dapat membantu tanaman yang baru dipindahkan atau dipotkan untuk menyesuaikan diri (Putri. Akan tetapi. bila kekurangan cahaya. 2006). Oleh karena itu. Tanaman Aglaonema bisa bertahan sampai suhu 32° C. dan bahkan ada titik-titik gosong atau terbakar. tanaman akan “terbakar” dan akhirnya mati. sedangkan temperatur malam yang diperlukan adalah 180C – 210C. sebaiknya segera dilakukan . Aglaonema sangat tahan dengan pencahayaan minimal (150 cahaya lilin) makanya tanaman hias ini cocok dipakai sebagai indoor plant yang cukup lama (1-2 minggu) oleh karena itulah. sangat mudah menyesuaikan diri pada temperatur yang ada. tanaman ini populer sebagai indoor plant (Budiana. Tegaknya daun itu sebetulnya merupakan mekanisme pertahanan diri Aglaonema agar cahaya yang menimpa daun tidak terlalu banyak (Ari W. Temperatur siang yang diperlukan adalah 240C – 290C. asalkan temperatur tersebut tidak berubah-ubah. bila temperatur terlalu tinggi. Tetapi Aglaonema. 1990).4.

3 Kelembapan Pada dasarnya tanaman Aglaonema hidup dibawah naungan pepohonan. . 2006). 2. Purwanto. Tanaman hias Aglaonema menyukai udara dengan kelembaban sekitar 50% yang merupakan perpaduan suhu ideal sekitar 250C pada siang hari dan 160C sampai 200C pada malam hari (Subono dan Andoko. 2005).4. Aglaonema tumbuh dengan baik pada kelembaban yang relatif tinggi.penyemprotan uap air di sekitar lingkungan tanaman agar temperatur dapat kembali normal (Ari W.

.BAB III METODE PENELITIAN 3. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dimuai dari bulan April sampai bulan Juni.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yaitu metode yang bersifat ingin memperoleh data atau gambaran secara langsung mengenai masalah yang akan diteliti. Setiap kali dijumpai aglaonema maka pada saat itu pula dilakukan pengamatan. 3. kemudian dihitung jumlah setiap aglaonema dan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif.2 Objek Penelitian Yang menjadi objek penelitian ini adalah jenis-jenis tumbuhan hias aglaonema di Cagar Alam Tangale di Desa Labanu Kecamatan Tibawa.4 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data. baik dari tahap persiapan hingga pelaporan hasil akhir dari penelitian. Selanjutnya aglaonema yang diperoleh diidentifikasi. 3. menggunakan metode eksploratif yaitu menjelajahi setiap sudut lokasi yang mewakili suatu wilayah yang terdapat jenis aglaonema.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam Tangale di Desa Labanu Kecamatan Tibawa Gorontalo. 3. Dalam pengambilan data peneliti berjalan melalui jalur atau trek pendakian yang berupa jalan setapak.

.. Altimeter digunakan untuk mengukur ketinggian lokasi (daerah).......... pada Flora oleh Van Steenis dan referensi lain yang mendukung serta kamera digunakan untuk pengambilan dokumentasi pada saat penelitian... termometer digunakan untuk mengukur suhu lingkungan... GPS (Global Positioning System) digunakan untuk menentukan posisi geografis titik pengambilan data.2 Analisis Data Data yang terkumpul selanjutnya ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif tentang aglaonema..... 3....... Alat yang digunakan dalam penelitian Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah higrometer digunakan untuk mengukur kelembaban udara.. Data yang dianalisis adalah data tentang aglaonema yang terdapat di lokasi penelitian.. .3....5 Prosedur Penelitian 3.....3.1.......5. soil tester untuk menentukan PH tanah....... lux meter digunakan untuk mengukur intensitas cahaya. alat tulis menulis untuk mengidentifikasi jenis aglaonema...

Odum.Steenis Van. Jakarta C. Informasi kawasan konservasi Propinsi Sulawesi Tenggara. 1999.G. Kendari. Dasar-dasar Ekologi.J. 2009. Sub Balai KSDA Sulawesi Tenggara. 2008. 2007. Jakarta. 1993. Flora. Purwanto Arie W. Inventarisasi. 1994. Aglaonema Pesona Kecantikan Sang Ratu Daun. Yogyakarta. HLM. PT Bumi Aksara. Rumphius. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Ekologi Hutan. Budidaya Tanaman Hias Aglaonema di Deni Nursery and Gardening. Jakarta Indrianto. PT Kharisma Ilmu. Bogor . 2006. Kanisius. Balai Tanaman Hias. Puspitasari Anita tri. Ensklopedia Flora. Panduan Karakterisasi Tanaman Hias Aglaonema. kantor Wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara. 2010. Departemen Kehutanan. PT Pradnya Paramita. Wijaya. 1970.Daftar Pustaka Anonim. 2006. Budiarto Kurniawan. Surakarta. Inventarisasi Keanekaragaman Flora. Terjemahan Oleh Tjahjono Samingan dari buku Fundamental Of Ecology. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Yuzammi. E.G.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful