Draft RPP 19 Juli 2010 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG KENDARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Tentang Kendaraan; a. Pasal 5 ayat (1) serta Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); TAHUN

Mengingat

:

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH KENDARAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas Kendaraan

REPUBLIK

INDONESIA

TENTANG

Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.

2. Kendaraan Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan

mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel.

1

Draft RPP 19 Juli 2010
3. Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga

manusia dan/atau hewan.

4. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap Kendaraan yang digunakan untuk

angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.

5. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-

rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. tempat duduk maksimal 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya tidak lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. duduk lebih dari 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram.

6. Mobil Penumpang adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki

7. Mobil Bus adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki tempat

8. Mobil Bus Gandeng adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan gandengannya,

yang gandengannya mempunyai sedikitnya 2 (dua) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak vertikal (terhadap bus gandengan) dan mengontrol arah sumbu roda depan gandengan tetapi tidak membebani sumbu bus penarik dan memiliki lorong penghubung. tempelannya mempunyai sedikitnya 1 (satu) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak horizontal dan vertikal (terhadap bus tempelan) dan membebani sumbu bus penarik. penghubung kedua lantai tersebut. barang.

9. Mobil Bus Tempel adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan tempelan, yang

10. Bus Tingkat adalah bus yang memiliki dua lantai dan dilengkapi tangga sebagai

11. Mobil Barang adalah Kendaraan Bermotor yang digunakan untuk angkutan

12. Rumah – Rumah adalah bagian dari kendaraan bermotor jenis mobil penumpang

atau mobil bus atau mobil barang, yang berada pada landasan berbentuk ruang muatan, baik untuk orang maupun barang.

13. Pengujian Kendaraan Bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau

memeriksa bagian-bagian atau komponenkomponen kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.

2

Draft RPP 19 Juli 2010
14. Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Tipe Kendaraan

Bermotor adalah pengujian yang dilakukan terhadap fisik kendaraan bermotor atau penelitian terhadap rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan sebelum kendaraan bermotor tersebut dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor secara massal serta kendaraan bermotor yang dimodifikasi. adalah pengujian kendaraan bermotor yang dilakukan secara berkala terhadap setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan, yang dioperasikan di jalan.

15. Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Berkala

16. Sertifikat Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal

Perhubungan Darat sebagai bukti bahwa tipe kendaraan bermotor atau landasan kendaraan bermotor yang bersangkutan telah lulus uji tipe. pengesahan dari Pemerintah sebagai bukti bahwa rancangan kendaraan bermotor, kereta gandengan, atau kereta tempelan tersebut telah memenuhi persyaratan teknis.

17. Pengesahan Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor adalah Surat

18. Sertifikat Registrasi Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur

Jenderal Perhubungan Darat, sebagai bukti bahwa setiap kendaraan bermotor, landasan kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan/atau kereta tempelan yang dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor atau dimodifikasi memiliki spesifikasi teknik sama/sesuai dengan tipe kendaraan yang telah disahkan atau rancang bangun dan rekayasa kendaraan yang telah disahkan, yang merupakan kelengkapan persyaratan pendaftaran dan pengujian berkala kendaraan bermotor. dan/atau peruntukannya yang dapat mengakibatkan perubahan spesifikasi teknik utama. produksi yang telah memiliki sertifikat uji tipe.

19. Modifikasi Kendaraan Bermotor adalah kendaraan bermotor yang diubah bentuk

20. Uji Sampel adalah pengujian kesesuaian terhadap spesifikasi teknik terhadap seri 21. Kendaraan Khusus adalah Kendaraan Bermotor yang dirancang khusus yang

memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu, antara lain: a. Kendaraan Bermotor Tentara Nasional Indonesia; b. Kendaraan Bermotor Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Alat berat antara lain bulldozer, traktor, mesin gilas (stoomwaltz), forklift, loader, excavator, dan crane; serta d. Kendaraan khusus penyandang cacat.

22. Kereta Gandengan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut

barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor.

3

Draft RPP 19 Juli 2010
23. Kereta Tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang

yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan bermotor penariknya. yang dipasang simetris atau pada dasarnya simetris terhadap bidang membujur tengah kendaraan, walaupun roda-roda tersebut tidak dipasang pada satu sumbu yang sama. maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya.

24. Roda Pada Satu Sumbu adalah roda tunggal atau roda ganda atau beberapa roda

25. Jumlah Berat Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBB adalah berat

26. Jumlah Berat Kombinasi Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBKB

adalah berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya. yang selanjutnya disebut JBI adalah berat maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui. berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui.

27. Jumlah Berat Yang Diizinkan

28. Jumlah Berat Kombinasi yang Diizinkan yang selanjutnya disebut JBKI adalah

29. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik

Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

30. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah 31. Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin kementerian negara dan

bertanggung jawab atas urusan pemerintahan di bidang Jalan, bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bidang industri, bidang pengembangan teknologi, atau bidang pendidikan dan pelatihan. BAB II JENIS DAN FUNGSI KENDARAAN Pasal 2

Kendaraan terdiri atas: a. b. Kendaraan Bermotor; dan Kendaraan Tidak Bermotor.

4

kereta dorong atau kereta tarik. antara lain : a. sepeda motor. Kendaraan Bermotor perseorangan. huruf d . e. c. b. b. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. mobil penumpang dan mobil bus. dan b. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. dikelompokan berdasarkan peruntukan: a. becak. (2) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. atau b. dan b. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. sepeda. kendaraan khusus. dirancang dengan ruang untuk mengangkut orang dan ruang untuk mengangkut barang terpisah dengan penyekat atau dinding. dan b. c. kendaraan untuk angkutan barang. dirancang dengan ruang untuk pengemudi dan ruang untuk penumpang. 5 . dikelompokkan dalam: a. dan penjelasan ayat (1) huruf d Termasuk dalam pengertian mobil barang setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor. Pasal 5 (1) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a. dikelompokan berdasarkan fungsi: a. delman. mobil penumpang.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 3 (1) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dikelompokkan berdasarkan jenis: a. (2) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b. mobil bus. antara lain : a. d. mobil barang. kendaraan untuk angkutan orang. Pasal 4 (1) Kendaraan tidak bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. cikar. huruf c dan (3) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. Kendaraan Bermotor umum.

(3) Mobil Bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c. terpisah secara permanen atau tidak permanen ruang pengemudi dan penumpang di bagian tengah. All Purpose Vehicle. mobil jenazah.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (2) yang dimaksud dengan ruang untuk mengangkut barang adalah berbentuk bak muatan terbuka atau bak muatan tertutup (box). mobil bus kecil. ruang pengemudi dan penumpang dan/atau bagasi. yang memiliki 3 (tiga) ruang yang terdiri dari: 1. ruang pengemudi dan penumpang. Kendaraan Bermotor roda 3 (tiga) tanpa rumah-rumah. c. penjelasan terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. Multy Purpose Vehicle. 3. ruang mesin. meliputi : a. ruang mesin. yang dirancang khusus. Mobil Penumpang sedan. dan ruang bagasi di bagian belakang atau depan. pengertian bukan sedan antara lain Sport Utility Vehicle. 6 . ruang pengemudi. Station Wagon. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. meliputi : a.000 (lima ribu) kilogram dan jumlah tempat duduk lebih dari 8 (delapan) orang termasuk pengemudi dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1. Penjelasan huruf c yang dimaksud dengan mobil penumpang lainnya contoh mobil ambulance. Mobil Penumpang lainnya yang dirancang untuk keperluan khusus. b. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa rumah-rumah. ruang penumpang dan/atau bagasi. 2. ruang bagasi. Pasal 6 (1) Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a. penjelasan mobil penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang dirancang terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. 2. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa kereta samping. meliputi : a. Hatch Back. b. (2) Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b. Mobil Penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang terdiri dari: 1. c.500 (tiga ribu lima ratus) sampai dengan 5.

mobil bus besar. ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. yang dirancang.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 12. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 8.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 16. contoh: bus kecil dengan jumlah tempat duduk maksimal 16.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 5.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.000 (dua puluh satu ribu) kilogram sampai dengan 24.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. bus besar 7 .500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4. e.000 (dua belas ribu) milimeter sampai dengan 13. mobil bus maxi.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. ukuran panjang keseluruhan tidak melebihi 9.000 (delapan ribu) kilogram. catatan: perlu dirumuskan kembali. ukuran panjang keseluruhan lebih dari 12.000 (enam belas ribu) kilogram. ukuran panjang keseluruhan kendaraan bermotor lebih dari 9. bus sedang dengan jumlah tempat duduk maksimal 32.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13.000 (dua puluh empat ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan sekurang-kurangnya 9. mobil bus tingkat yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) sekurang-kurangnya 21.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4. c. mobil bus tempel yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4. mobil bus gandeng yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22.000 (sembilan ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (enam belas ribu) kilogram sampai dengan 24.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4. mobil bus sedang.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.000 (dua puluh empat ribu) kilogram.200 (empat ribu dua ratus) milimeter.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.000 (delapan ribu) sampai dengan 16.000 (lima ribu) sampai dengan 8.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 13.Draft RPP 19 Juli 2010 b.000 (dua belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. f. d.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan ukuran tinggi mobil bus tingkat tidak lebih dari 4.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.100 (dua ribu seratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1. g.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26.

8 . d. mobil barang kabin ganda. meliputi: a. peti kemas.dan disesuaikan dengan RPP tentang Angkutan (4) Mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d. cairan mudah menyala. non dump truck. Penjelasan : yang dimaksud dengan mobil barang kabin adalah:mobil barang kabin ganda (double cabin). box freezer. penjelasan yang dimaksud mobil barang tangki adalah mobil yang dirancang untuk mengangkut barang cairan. b. EOD (Explosive Ordinance Disposal. mobil barang bak muatan terbuka. f. dan h. Security Barrier. flat deck. dan gas. kendaraan lapis baja yang digunakan untuk tempur dan kendaraan yang dirancang khusus yang dimiliki oleh.. barang curah. mempunyai fungsi dan dirancang bangun tertentu. barang yang mudah meledak. panser.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan jumlah tempat duduk maksimal 58. dan alat berat serta membawa barang berbahaya. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan tertutup adalah antara lain seperti box. penjelasan huruf a: yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan terbuka adalah antara lain seperti dump truck. gas mampat.. racun dan bahan yang mudah menular. antara lain: a. hewan hidup. antara lain: a. d. gas terlarut pada tekanan atau temperatur tertentu. mobil barang bak muatan tertutup. mobil barang kabin ganda. g.dll c. Catatan: Perlu dijelaskan definisi kendaraan untuk menarik kereta tempelan (5) Kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e. bahan penghasil oksidan. tumbuhan. e. barang yang bersifat korosif. cair. yang dimaksud dengan mobil barang khusus adalah angkutan yang membutuhkan mobil barang yang dirancang khusus untuk mengangkut benda yang berbentuk curah. c. kendaraan untuk menarik kereta tempelan. mobil barang tangki. gas cair. b. wing box. barang yang bersifat radioaktif. yang dirancang memiliki 2 (dua) baris tempat duduk pengemudi dan penumpang dengan ruang barang yang terpisah secara permanen dan/atau tidak permanen oleh dinding atau sekat. Commander Call Carrier. atau gas. Kendaraan tank. padatan mudah menyala..

penggandengan Kendaraan Bermotor. d. Pasal 9 (1) Ketentuan mengenai persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 berlaku bagi setiap jenis kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf i untuk Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor. dan kendaraan taktis lainnya yang dirancang khusus dan dimiliki oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. g. dan Commander Call Carrier. kendaraan khusus penyandang cacat. dan crane. e. penempelan Kendaraan Bermotor. f. Anti Personel Carrier (APC). penggunaan. Security Barrier. c. EOD (Explosive Ordinance Disposal. perlengkapan. pemuatan. (2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. dan/atau i. karoseri. diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. KERETA GANDENGAN DAN KERETA TEMPELAN Bagian Kesatu Ketentuan Umum Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Paragraf 1 Persyaratan Teknis Pasal 8 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis. ukuran.Draft RPP 19 Juli 2010 b. 9 . Kendaraan water canon. h. rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya. susunan. excavator. forklift. c. kecuali kendaraan khusus milik TNI dan Polri sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (5) huruf a dan huruf b. d. Kendaraan alat berat antara lain traktor. loader. b. buldozer. Pasal 7 Ketentuan lebih lanjut mengenai Fungsi Kendaraan Bermotor. stoomwaltz. BAB III PERSYARATAN TEKNIS DAN LAIK JALAN KENDARAAN BERMOTOR.

Kendaraan Bermotor untuk orang cacat. Penjelasan Ayat (1) Untuk mengetahui bahwa rangka landasan kendaraan bermotor memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. h. d. tahan terhadap korosi. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. Pasal 10 Susunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a terdiri atas: a. penjelasan yang dimaksud dengan rangka landasan adalah rangka atau chassis atau landasan. sistem pembuangan. 10 . sistem lampu dan alat pemantul cahaya. sistem suspensi. sebesar jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan atau jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. b. motor penggerak. baik dengan menggunakan peralatan uji konstruksi maupun uji jalan. kecuali sepeda motor. dapat menahan seluruh beban. c. e. Pasal 11 (1) Setiap rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. b. dikonstruksi menyatu atau secara terpisah dengan badan kendaraan yang bersangkutan. d. Pasal 12 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 harus dibubuhkan nomor rangka landasan. sistem rem. b. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. sistem kemudi. sistem roda-roda. rangka landasan. j. dilengkapi dengan peralatan penarik yang dirancang khusus untuk itu. f. getaran dan goncangan kendaraan berikut muatannya. g. komponen pendukung. c. c.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan terhadap: a. sistem penerus daya. (2) Rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Kendaraan bermotor yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. atau melalui uji konstruksi. i. dilengkapi dengan alat pengait di bagian depan dan bagian belakang kendaraan bermotor. dapat dilakukan melalui perhitungan-perhitungan teknis dengan menggunakan norma-norma teknologi yang telah baku.

konstruksi pengait kendaraan bermotor. Pasal 14 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis konstruksi rangka landasan. (2) Kendaraan bermotor jenis mobil penumpang dan mobil bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3) harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan orang. pada saat akan dibuat melalui karoseri kendaraan bermotor harus sesuai peruntukannya. (3) Untuk rangka landasan yang menyatu dengan badan kendaraan. buku uji. (3) Kendaraan bermotor jenis mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf d harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang. 11 . untuk keperluan penulisan jati diri atau identitas kendaraan bermotor yang bersangkutan pada sertifikat regristasi. (4) Kendaraan bermotor jenis kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf e dapat menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang atau angkutan orang. Oleh karena itu. konstruksi rangka landasan yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. surat tanda nomor kendaraan bermotor. Nomor rangka landasan kendaraan bermotor tersebut merupakan identitas atau jati diri kendaraan yang bersangkutan. tata cara penomoran rangka landasan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditempatkan pada bagian tertentu badan kendaraan secara permanen dan mudah dilihat serta dibaca. Penjelasan Ayat (2) Nomor rangka landasan kendaraan bermotor harus dibubuhkan secara permanen dan tidak dapat dihapus selama kendaraan bermotor yang bersangkutan dioperasikan di jalan. maka setiap pembuat kendaraan bermotor melaporkan sistem penomoran dan lokasi penomoran rangka landasannya.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu rangka landasan dan mudah dilihat dan dibaca serta ditulis dalam bentuk embos ke dalam atau keluar. dan buku pemilik kendaraan bermotor. Penjelasan Ayat (3) Nomor rangka landasan yang dibubuhkan pada badan kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 13 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a.

Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 15 (1) Motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. b. motor penggerak kendaraan bermotor yang digunakan untuk menarik kereta gandengan. mempunyai daya untuk dapat mendaki pada jalan tanjakan dengan sudut kemiringan maksimum 8 (delapan derajat) dengan kecepatan minimum 20 (dua puluh) kilometer per jam pada segala kondisi jalan. motor penggerak kendaraan bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan. bus tempelan dan bus gandengan selain sepeda motor. c. selain sepeda motor harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 4. b. penjelasan yang dimaksud dengan motor penggerak sama dengan mesin atau engine 12 .000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). motor penggerak yang digerakan oleh gabungan 2 (dua) jenis motor penggerak di atas.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). kereta tempelan. motor penggerak dapat dihidupkan dari tempat duduk pengemudi. motor listrik. c. dan butir e tidak berlaku untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan tidak melebihi 25 (dua puluh lima) kilometer per jam pada jalan datar.50 (lima koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. Penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan tidak melebihi 25 kilometer per jam adalah mengacu ke EEC No. 2002/24/EEC) (2) Motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam beberapa jenis : a. harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 5. butir d. f. ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir b.50 (empat koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. perbandingan antara daya motor penggerak dan berat kendaraan khusus atau sepeda motor ditetapkan sesuai dengan kebutuhan lalu lintas dan angkutan serta kelas jalan. d. harus dibubuhkan nomor motor penggerak sesuai dengan peraturan perundangundangan. butir c. motor bakar. e. Pasal 16 (1) Pada setiap motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. penjelasan huruf a yang termasuk motor bakar adalah dengan bahan cair dan/atau gas.

arah pipa pembuangan harus dibuat dengan posisi yang tidak mengganggu pengguna jalan lain. gear box. 13 . ke belakang atau ke sisi kanan di sebelah belakang ruang penumpang dengan sudut kemiringan tertentu terhadap garis tengah kendaraan bermotor yang menjamin keselamatan. dan untuk mobil bus diarahkan ke arah belakang pada sisi kanan. sistem penerus daya otomatis. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan pengguna jalan lain adalah termasuk orang yang sedang berdiri atau berjalan di pinggir jalan. sistem pembuangan kendaraan pengangkut bahan yang mudah terbakar. d. diarahkan ke arah kanan bagian depan ruang pengemudi. b. Pasal 17 (1) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c sekurangkurangnya terdiri atas manifold. transmisi atau perseneling adalah sistem untuk meneruskan tenaga dari mesin ke roda dapat berupa : a. gas buang dan asap dari sistem pembuangan kendaraan bermotor kecuali sepeda motor diarahkan ke atas.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu motor penggerak dan mudah diidentifikasi dalam bentuk embos ke dalam atau keluar atau dalam bentuk lain. c. sistem penerus daya kombinasi otomatis dan manual. Pasal 18 (1) Sistem penerus daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf d harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi. dan pipa pembuangan. termasuk dalam hal ini pipa pembuangan yang tidak boleh terlalu pendek). pipa pembuangan tidak melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor. Penjelasan ayat (1) Yang dimaksud dengan sistem penerus daya. b. sistem penerus daya manual. dirancang dan dibuat dari bahan yang cukup kuat sehingga memenuhi ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. e. (2) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. asap dari hasil pembuangan tidak boleh mengarah pada tangki bahan bakar atau roda pada sumbu belakang kendaraan. peredam suara. dan/atau c. f. penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan pipa pembuangan tidak boleh melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor adalah untuk menghindari terjadinya pusaran-pusaran (turbulensi) yang dapat mengakibatkan masuknya asap atau gas buang ke ruang penumpang.

sumbu roda. maka kendaraan tersebut harus dikonstruksi dengan menggunakan sumbu ganda atau lebih. Penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan ban bertekanan adalah ban yang berongga yang dapat diisi dengan gas. Sepeda Motor beroda tiga yang roda-rodanya dipasang semetris terhadap bidang tengah arah memanjang. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). (4) Ukuran roda berupa pelek dan ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang digunakan pada kendaraan bermotor harus memiliki ukuran dan kemampuan yang disesuaikan dengan Jumlah berat kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan. Sepeda Motor. besarnya beban yang diperbolehkan untuk masing-masing ukuran ban. dan b. berupa pelek dan ban bertekanan serta sumbu-sumbu atau gabungan sumbu dan roda yang dapat menjamin keselamatan. atau kereta tempelan yang dirancang dan dibuat untuk mengangkut beban tertentu sebesar jumlah berat yang diperbolehkan ternyata beban pada masing-masing sumbu tunggalnya melebihi kemampuan kelas jalan yang akan dilalui. kereta gandengan dan kereta tempelan. baik dengan atau tanpa kereta samping. Sumbu-sumbu roda kendaraan bermotor. Pasal 19 (1) Sistem roda-roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf e terdiri atas : a. kereta gandengan dan kereta tempelan harus dihitung dan dirancang atau dibuat sedemikian rupa sehingga mampu memikul beban dinamis kendaraan sebesar jumlah berat yang diperbolehkan (JBB).Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Sistem penerus daya sebagai dimaksud pada ayat (1) harus memungkinkan kendaraan bermotor bergerak maju dengan satu atau lebih tingkat kecepatan dan memungkinkan bergerak mundur. kapan ban-ban dan pelek-pelek tersebut boleh digunakan pada kendaraan dan kapan tidak boleh digunakan lagi. Dengan demikian maka dapat diketahui secara pasti. cara pemasangan. Penjelasan ayat (3): Dalam hal kendaraan bermotor. baik pada jalan kering maupun jalan basah. b. roda-roda. dan tingkat keausan serta kerusakannya. 14 . disesuaikan dengan kelas jalan yang dilalui. (3) Ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki adesi yang cukup. kereta gandengan. dikaitkan dengan tekanan kerja ban. Untuk dapat memberikan jaminan keselamatan secara teknis terhadap penggunaan ban-ban dan pelek-pelek pada kendaraan bermotor. (3) Keharusan untuk melengkapi sistem penerus daya yang memungkinkan kendaraan bermotor dapat bergerak mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk : a. (2) Roda-roda sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a.

(3) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penjelasan ayat (3): 15 . Pasal 22 (1) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf g meliputi: a. untuk kepentingan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dapat ditetapkan jenis-jenis suspensi berupa penyangga yang boleh digunakan di Indonesia. Pasal 21 Sistem suspensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf f berupa penyangga yang mampu menahan beban. dan kereta tempelan. batang kemudi. penjelasan ayat (1) : sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. dapat digerakkan dengan tenaga yang wajar. kereta gandengan dan kereta tempelan baru. Roda kemudi digunakan untuk mobil penumpang. perancangan. dan b.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (4) Tidak diperbolehkan mengganti roda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). mobil bus. dan penyangga pneumatis. b. sedangkan stang digunakan untuk sepeda motor roda dua atau roda tiga. harus menggunakan sumbu dan roda yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. belum tentu seluruh jenis sistem suspensi tersebut cocok untuk digunakan di Indonesia. mobil barang dan kendaraan khusus. pembuatan dan pemasangan batang kemudi dan roda kemudi tidak menimbulkan bahaya bagi pengemudi. (2) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Jenis penyangga antara lain berupa pegas daun. (2) Kendaraan bermotor. Namun demikian. penjelasan ayat (1) Kemajuan teknologi memungkinkan banyaknya jenis sistem suspensi yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor. kereta gandengan. Oleh karena itu. dapat dilengkapi dengan tenaga bantu untuk dapat membantu pengemudi dalam mengendalikan kendaraan. sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. yang tidak sesuai dengan ukuran Pasal 20 (1) Rancangan sumbu dan roda dan/atau gabungan sumbu dan roda berikut rodarodanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). harus memperhatikan kelas jalan yang akan dilalui. getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap jalan. penyangga hidrolis. roda kemudi atau stang kemudi.

dan b. b. Pasal 24 Kendaraan Bermotor dengan transmisi otomatis (automatic transmission) harus dilengkapi dengan sistem yang dapat menurunkan putaran mesin ke kondisi yang menjamin keselamatan pada saat dilakukan pengereman. dalam hal ada bagian rem utama yang tidak berfungsi. rem tersebut harus dapat bekerja sekurang-kurangnya pada roda-roda yang bersebelahan pada satu sumbu dan dapat digunakan untuk memperlambat dan menghentikan kendaraan. rem utama ditempatkan dekat dengan pengemudi sehingga pengemudi dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kendaraan bermotor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi atau stang kemudi. Pasal 25 Rem utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. bekerja pada semua roda kendaraan sesuai dengan besarnya beban pada masingmasing sumbu. rem utama. 16 . penjelasan : yang dimaksud dengan menjamin keselamatan antara lain menggunakan alat yang mengembalikan putaran mesin dalam kondisi idle (brake to idle override). c. rem parkir yang dikendalikan dari ruang pengemudi dan mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. baik kendaraan bermotor yang berdiri sendiri maupun kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. Pasal 23 Sistem rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf h berupa peralatan pengereman yang meliputi : a.Draft RPP 19 Juli 2010 Dengan ketentuan apabila tenaga bantu (power steering) tersebut tidak bekerja maka kendaraan bermotor tersebut harus tetap dapat dikemudikan dengan tenaga yang wajar. Sistem kemudi yang dilengkapi dengan tenaga bantu harus dapat menurunkan kinerjanya seakan – akan tidak dilengkapi dengan alat bantu apabila kendaraan bermotor tersebut bergerak dengan kecepatan meningkat yang tidak sesuai dengan kecepatan normal. b. Pasal 26 Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b harus memenuhi persyaratan : a. rem parkir. tanjakan maupun turunan.

d. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. warna kuning tua dengan sinar kelap-kelip. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. lampu isyarat peringatan bahaya berwarna kuning tua dengan sinar kelap .100 (dua ribu seratus) milimeter berwarna putih atau kuning muda untuk bagian depan dan berwarna merah untuk bagian belakang. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. warna putih. warna putih atau kuning muda. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. g. lampu posisi belakang.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh lebih dekat ke sisi bagian terluar kendaraan dibandingkan dengan tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. dapat dilihat pada waktu siang atau malam hari oleh pengguna jalan lain. lampu mundur dengan warna putih atau kuning muda kecuali untuk sepeda motor. pemantul cahaya berwarna merah secara berpasangan. b. e. c. lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan berwarna putih. dengan syarat : a. dengan syarat : a. warna merah. atau kuning muda. lampu posisi depan. h. f. Pasal 29 Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b berjumlah genap. Pasal 28 Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a. dipasang secara berpasangan berjumlah 2 (dua) buah dengan syarat : a. lampu tanda batas secara berpasangan untuk kendaraan bermotor yang lebarnya lebih dari 2.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 27 Sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf i meliputi : a.250 (seribu dua ratus lima puluh) millimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. lampu utama dekat. warna putih. b. lampu utama jauh. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. warna merah. i. b. j. lampu rem.kelip. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada huruf a. Pasal 30 Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf c berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip. atau kuning muda. 17 . k. lampu penunjuk arah.

dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. b. dengan syarat : a. Catatan : Sesuai dengan Ergonomis posisi mata pengendara melihat ketinggian lampu.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dan harus dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pengguna jalan lainnya. berjumlah sekurang-kurangnya 2 (dua) berpasangan pada bagian muka kendaraan dan 2 (dua) berpasangan pada bagian belakang kendaraan. Pasal 33 Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf f berjumlah genap. dapat bersatu dengan lampu utama dekat. mempunyai kekuatan cahaya lebih besar dari lampu posisi belakang dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. c. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. di spoiler belakang kendaraan dan sebagainya). c.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan diukur pada ujung bagian atas lampu. dan harus dapat dilihat pada malam serta tidak menyilaukan pengguna jalan lain. penjelasan huruf c : yang dimaksud dengan lampu rem tambahan yaitu antara lain seperti hi-mount stop lamp yang dipasang di bagian dalam kaca belakang.500 (seribu lima ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian muka kendaraan. b. Ketentuan UN-ECE R48 INSTALLATION OF LIGHT MAXIMUM HEIGHT 2.100 mm Susunan lampu dengan ketinggian maksimum 2. c.Draft RPP 19 Juli 2010 b. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. 18 . dengan syarat : a. b. tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. d.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. Pasal 31 Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf d berjumlah sekurangkurangnya 2 (dua) buah. lampu paling atas adalah lampu posisi Pasal 32 Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf e berjumlah 2 (dua). dan d. diperbolehkan menggunakan 1 (satu) lampu rem tambahan. dipasang di bagian depan.100 mm berbentuk vertical Lampu dengan susunan vertical. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. dengan syarat : a.

Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 34 Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf g berjumlah 2 (dua). dengan syarat : a. dilengkapi tanda bunyi mundur untuk kendaraan dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. 19 . Pasal 37 Lampu tanda batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf j secara berpasangan bagi kendaraan yang memiliki lebar lebih dari 2. c. c. b. dan b. berbentuk segitiga untuk kendaraan gandengan dan tempelan. Pasal 38 Alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf k dipasang secara berpasangan dengan syarat : a.100 (dua ribu seratus) milimeter. Pasal 36 Lampu isyarat peringatan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf i menggunakan lampu penunjuk arah yang menyala secara bersamaan dengan sinar kelap-kelip. d. dengan syarat : a. dipasang di bagian belakang kendaraan bermotor pada ketinggian tidak melebihi 1. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain.500 (seribu lima ratus) milimeter. d.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. tepi bagian terluar pemantul cahaya tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. dipasang di bagian belakang kiri atas dan kanan atas kendaraan. harus dapat dilihat oleh pengemudi kendaraan lain yang berada di belakangnya pada malam hari dengan cuaca cerah dari jarak sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter apabila pemantul cahaya tersebut disinari lampu utama kendaraan dibelakangnya. Pasal 39 (1) Kendaraan bermotor dapat dilengkapi dengan lampu kabut yang berjumlah paling banyak 2 (dua) buah dipasang di bagian depan kendaraan. dipasang di bagian belakang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor kendaraan pada malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang – kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. b. Pasal 35 Lampu penerangan tanda nomor Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf h. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. dipasang di bagian depan kiri atas dan kanan atas kendaraan. hanya menyala apabila penerus daya digunakan untuk posisi mundur.200 (seribu dua ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan.

20 . tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain pada saat digunakan. Pasal 43 Kaca spion kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b. digerakkan secara mekanis dan/atau elektronis. titik tertinggi permukaan penyinaran tidak melebihi titik tertinggi permukaan penyinaran dari lampu utama dekat. pengukur kecepatan (speedometer). d. spakbor. yang terpasang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pandangan samping dan belakang dengan jelas. Pasal 44 (1) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c. harus memenuhi persyaratan : a. c. c. b. dibuat dari kaca atau bahan menyerupai kaca. berupa alat pengukur kecepatan mekanis dan/atau alat pengukur kecepatan elektronis. Pasal 40 Ketentuan lebih lanjut mengenai lampu – lampu kendaraan bermotor dan pemantul cahaya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. d. penghapus kaca kecuali sepeda motor. b. harus memenuhi syarat : a. sekurang-kurangnya berjumlah satu buah dipasang di bagian kaca depan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. dengan syarat : a. Pasal 41 Komponen pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf j meliputi : a. dilengkapi dengan pengukur jarak dan dipasang pada tempat yang mudah dilihat oleh pengemudi. f. b. dilengkapi alat penyemprot kaca.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Lampu kabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengeluarkan cahaya berwarna putih atau kuning. dan bumper kecuali sepeda motor. e. c. b. kaca spion. klakson. (2) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu membersihkan bagian kaca depan dengan cukup luas sehingga pengemudi mempunyai pandangan yang jelas ke jalan. Pasal 42 Pengukur kecepatan (speedometer) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a. berjumlah dua buah atau lebih. tepi terluar permukaan penyinaran lampu kabut tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan.

segitiga pengaman. ataupun badan kendaraan. d. harus memenuhi persyaratan: a. dipasang di depan dan belakang untuk mobil penumpang. Pasal 46 (1) Spakbor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf e. helm dan rompi pemantul cahaya bagi pengemudi Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih yang tidak memiliki rumah-rumah. harus memiliki lebar paling sedikit selebar telapak ban. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang kendaraan. pembuka roda. sabuk keselamatan. b. mobil bus dan mobil barang berbentuk tangki. Pasal 49 Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf b terdiri atas: a. ban cadangan. dan g. catatan : tingkat suara paling rendah 83 (delapan puluh tiga) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A) akan diatur lebih lanjut sesuai dengan kategori kendaraannya. c. Pasal 47 (1) Bumper sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf f. 21 . dipasang di depan untuk mobil barang. b. f. peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan. harus mengeluarkan bunyi paling rendah 83 (delapan puluh tiga) desibel (A) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A). Pasal 48 Ketentuan lebih lanjut mengenai komponen pendukung diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. e. dongkrak.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 45 Klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf d. (2) Bumper depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menonjol ke depan lebih dari 500 mm (lima ratus milimeter) melewati bagian badan kendaraan yang paling depan.

Kendaraan Bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene. Lampu flashing (Strobo) / direct ional flashing lamp yaitu lampu peringatan khusus yang memancarkan cahaya kedap-kedip dengan arah sudut tertentu (Kategori X). Bar Lengkap (complete bar) yaitu lampu peringatan khusus dengan dua atau lebih sistem optik yang memancarkan cahaya berkedip di sekeliling sumbu vertikal. b. (6) Panjang lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b tidak boleh melebihi lebar kabin kendaraan. Pasal 51 (1) Untuk kepentingan tertentu. dapat mengeluarkan suara “hee – haw”secara terus menerus seperti suara meratap. terlihat di siang hari dari jarak sedikitnya 200 (dua ratus) meter dari segala arah. Rotasi atau stasioner yaitu lampu peringatan khusus yang berkedip dengan memancarkan cahaya di sekeliling sumbu vertikal (Kategori T). (5) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. Penjelasan : Pemasangan lampu tersebut dapat dipasang secara permanen maupun dapat dipindah-pindahkan (4) lampu isyarat sebagaimana pada ayat (2) huruf b dan c dipasang dibagian atas kabin kendaraan pada sumbu horizontal sejajar dengan bidang median longitudinal kendaraan. b. c. posisi lampu yang berbentuk batang memanjang harus terpasang melintang dan diletakkan diatas atap kendaraan bagian luar. (2) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 50 Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas. 22 . Catatan : Refrensi UN-ECE R65 (3) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dipasang dibagian atas kabin kendaraan sedemikian rupa sehingga dapat memancarkan cahaya secara efektif. dalam keadaan darurat dapat mengeluarkan suara “whooping” Pasal 52 (1) Lampu isyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 terdiri atas warna : a. b. merah. (7) sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a.

Draft RPP 19 Juli 2010 b. rescue. biru. dan jenazah. kepala pengunci harus dapat dioperasikan dengan mudah. pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 53 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan lampu isyarat dan sirene diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. d. perawatan dan pembersihan fasilitas umum. c. lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor patroli jalan tol. menderek Kendaraan. tidak mempunyai tepi-tepi yang tajam yang dapat melukai pemakai. lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor tahanan. (3) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Lampu isyarat warna merah atau biru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) berfungsi sebagai tanda Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama. dan c. harus memenuhi persyaratan : a. dan c. 23 . lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. dipasang sedemikian sehingga tidak ada benda atau peralatan lain yang mengganggu fungsinya. palang merah. dan angkutan barang khusus. ambulans. (2) Sabuk keselamatan dapat dipasang di tempat duduk penumpang selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. kuning. paling sedikit berjumlah 3(tiga) jangkar untuk tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang paling pinggir di samping pengemudi serta paling sedikit berjumlah 2 (dua) jangkar untuk tempat duduk penumpang lainnya. Pasal 54 (1) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf a wajib dipasang di tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang di samping tempat duduk pengemudi. (3) Lampu isyarat warna kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berfungsi sebagai tanda peringatan kepada Pengguna Jalan lain. pemadam kebakaran. b. pengawalan Tentara Nasional Indonesia. (4) Penggunaan lampu isyarat dan sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) sebagai berikut: a.

Penjelasan : yang dimaksud dengan ban cadangan adalah ban yang bertekanan Ban cadangan yang dimaksud huruf b hanya untuk digunakan sementara waktu (temporary spare tire) dan dilengkapi pemberian informasi dalam bahasa Indonesia (kecepatan max 60 km/jam pada sisi bagian luar pelek dan warna pelek temporary spare tire dapat berbeda dengan pelek pada ban normal (UNECE R 64) Pasal 56 (1) Segitiga pengaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf c minimal berjumlah 2 (dua) buah. obat antiseptic. atau b. Pasal 59 (1) Helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). (2) Segitiga pengaman berwarna merah dan bersifat memantulkan cahaya (reflektif). 24 . Pasal 58 Pembuka roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf e harus mampu membuka roda kendaraan bermotor yang digunakan dan tidak merusak komponen yang ada pada roda. kain kassa (Perban). memiliki ukuran yang sama dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 55 Ban cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. kuat dan tahan terhadap cuaca tertentu. (3) Setiap sepeda motor dengan atau tanpa kereta samping. b. c. (2) Rompi pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus mampu memantulkan cahaya. plester. Pasal 57 Dongkrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf d paling sedikit harus mampu mengangkat muatan sumbu sesuai dengan muatan sumbu terberat kendaraan bermotor yang digunakan. d. kapas. wajib dilengkapi dengan helm sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pengemudi dan penumpangnya. Pasal 60 Peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf g paling sedikit terdiri dari : a. memiliki ukuran lebar tapak yang berbeda dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut tetapi memiliki diameter keseluruhan sama.

julur belakang (rear over hang). 12. 13.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak lebih dari 1. tinggi. 2. dan sudut pergi (departure angle). jarak bebas (ground clearence) antara bagian permanen paling bawah kendaraan bermotor dengan permukaan bidang atau jalan yang rata. tinggi tidak melebihi 4.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. sedangkan yang menjulur ke depan dari sumbu paling depan. 18.000 (delapan belas ribu) milimeter untuk Kendaraan Bermotor yang dilengkapi dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. 3.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. handle bak muatan. maksimum 62.500 (dua ribu lima ratus) milimeter tergantung dari lebar chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan maksimal 50 milimeter ke kiri dan ke kanan Yang dimaksud dengan lebar maksimum adalah lebar terluar yang termasuk engsel-engsel.50 % (empat puluh tujuh koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya. penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor adalah jarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat 25 .700 (tiga belas ribu tujuh ratus) millimeter untuk mobil bus yang memiliki paling sedikit 3 (tiga) sumbu.000 (dua belas ribu) milimeter untuk kendaran bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan dan jenis mobil barang yang memiliki sumbu paling sedikit 4 (empat) sumbu.50 % (enam puluh dua koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya (wheel base). (2) Panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan. b. sudut pergi bagian belakang bawah kendaraan sekurang-kurangnya 8° (delapan derajat) diukur dari atas permukaan bidang atau jalan yang rata. maksimum 47. lebar. c. e.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai perlengkapan kendaraan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Namun tidak termasuk kaca spion di bagian luar kendaraan bermotor. Pasal 62 Ukuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf c merupakan dimensi utama Kendaraan Bermotor yaitu panjang. bukan berarti semua kendaraan boleh memiliki lebar maksimum 2. dengan atau tanpa muatan harus memenuhi syarat: a. Pasal 63 (1) Ukuran Kendaraan Bermotor. Penjelasan : walaupun lebar 2. d. julur depan (front over hang). lebar tidak melebihi 2. panjang tidak melebihi : 1.

jarak sumbunya dihitung dari jarak sumbu depan ke sumbu belakang yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor yang memiliki lebih dari satu steering axle maka yang merupakan sumbu terdepan adalah steering axle yang paling depan yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) untuk kereta tempelan adalah jarak yang dihitung dari king pin ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh yang dimaksud dengan jarak sumbu untuk kereta gandengan adalahjarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh walaupun panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter. c. harus memenuhi persyaratan antara lain: a.bak muatan tertutup.50 %.50 %. Pasal 64 (1) Bak muatan mobil barang terdiri atas : a. dan b. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk kendaraan bermotor dengan sumbu belakang tunggal 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) milimeter. tergantung dari panjang chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan bumper. Jumlah Berat yang diIzinkan (JBI). maksimum 62. lebar dan tinggi ukuran bak muatan harus sesuai dengan spesifikasi teknis kendaraan bermotor. b. panjang. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang memiliki tinggi total lebih dari 3. kelas jalan yang dilalui dan spesifikasi tipe landasan kendaraan bermotor. (4) Tanda peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa tulisan yang mudah dilihat oleh pengemudi di dalam ruang pengemudi.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh kecuali untuk kendaraan 2 (dua) sumbu. wajib dilengkapi dengan tanda peringatan mengenai tinggi kendaraan. bukan berarti semua kendaraan memiliki julur belakang 62. (3) Bak muatan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. (2) Ukuran bak muatan mobil barang dengan atau tanpa muatan tergantung pada konfigurasi sumbu. bak muatan terbuka. Jumlah Berat yang diperBolehkan (JBB). 26 . dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang kecuali untuk dump truck. daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut.

b. ukuran bak muatan harus ditentukan berdasarkan spesifikasi teknis Kendaraan Bermotor. 27 . Apabila tinggi dinding bak paling depan lebih rendah dari jendela kabin belakang maka harus dipasang teralis besi di jendela kabin tersebut. Kendaraan Bermotor untuk angkutan barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 milimeter pada sisi kiri dan kanan. kiri dan belakang paling atas. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang. (4) Bak muatan tertutup sebagaimana dimakud pada ayat (1) huruf b. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk Kendaraan Bermotor dengan sumbu belakang tunggal adalah 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) millimeter. c. e. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 (seratus) milimeter pada sisi kiri dan kanan. d. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. f. Penjelasan : Yang dimaksud tinggi bak muatan adalah tinggi bak yang dihitung dari lantai bak sampai dengan tinggi dinding sisi kanan. d. panjang dan lebar bak. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 milimeter pada sisi kiri dan kanan. tinggi bak muatan dihitung bedasarkan perbandingan daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut.Draft RPP 19 Juli 2010 Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan.

Draft RPP 19 Juli 2010 e. untuk Kendaraan Bermotor barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan; tinggi bak muatan tertutup diukur dari permukaan tanah maksimum 4.200 mm (empat ribu dua ratus milimeter) dan tidak lebih dari 1,7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan bermotor. Pasal 65 (1) Jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk Kendaraan Bermotor, atau rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan atau kereta tempelan ditentukan oleh pembuatnya berdasarkan : a. perhitungan kekuatan konstruksi; b. besarnya daya motor; c. kapasitas pengereman; d. kemampuan ban; e. kekuatan sumbu-sumbu; f. ketinggian tanjakan jalan. (2) Jumlah berat yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus lebih kecil atau sama dengan hasil penjumlahan dari kekuatan masing-masing sumbu. Pasal 66 (1) Jumlah berat yang diizinkan atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan pada setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan, ditentukan berdasarkan : a. berat kosong kendaraan; b. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau c. jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan; d. dimensi kendaraan dan bak muatan; e. titik berat muatan dan pengemudi; f. kelas jalan; g. jumlah tempat duduk yang tersedia, bagi mobil bus. (2) Jumlah berat kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan bagi kendaraan. (3) Jumlah berat kombinasi kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. Pasal 67 (1) Radius putar Kendaraan Bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 12.000 (dua belas ribu) milimeter.
28

f.

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Radius putar Kendaraan Bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 18.000 (delapan belas ribu) milimeter. Pasal 68 (1) Bagian Kendaraan Bermotor atau rangkaian Kendaraan Bermotor beserta muatan yang menonjol, maksimum 2.000 (dua ribu) milimeter dari sisi bagian terluar belakang kendaraan bermotor dan tidak melebihi kaca depan kendaraan bermotor. (2) Apabila muatan menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada ujung muatan ditambah lampu-lampu atau pemantul cahaya. (3) Panjang total kendaraan bermotor beserta muatan yang menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lebih dari ketentuan panjang total sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67. Pasal 69 Rangkaian Kendaraan Bermotor yang diizinkan dioperasikan di jalan, meliputi: a. Mobil Barang dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; b. Mobil Bus dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; c. Mobil Penumpang dengan kereta gandengan; d. Sepeda Motor dengan kereta gandengan. Pasal 70 Setiap Mobil Barang dengan atau tanpa Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki JBB atau JBKB lebih dari 12.000 (dua belas ribu) kilogram harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukan kendaraan bermotor berat. Pasal 71 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki panjang lebih dari 6.000 (enam ribu) milimeter, harus dilengkapi dengan pelat tanda gandengan atau tempelan yang memantulkan cahaya. (2) Pelat tanda gandengan atau tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan warna dasar kuning dengan warna tulisan hitam dengan bertuliskan kata gandengan. (3) Pelat belakang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada perisai kolong atau di tempat lain pada sisi belakang Kendaraan. Pasal 72 (1) Kendaraan Bermotor dengan pengemudi dalam kondisi tertentu dapat ditarik Kendaraan Bermotor lain. penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan kondisi tertentu antara lain mogok, kendaraan rusak, memindahkan kendaraan.

29

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Kendaraan Bermotor penarik harus dilengkapi dengan alat penarik yang kaku, apabila Kendaraan Bermotor yang akan ditarik memiliki JBB lebih dari 4.000 (empat ribu) kilogram dengan jarak antara kendaraan penarik dan yang ditarik tidak lebih dari 5 (lima) meter. (3) Kendaraan Bermotor tanpa pengemudi dapat ditarik dengan cara mengangkat dan menempatkan sumbu Kendaraan Bermotor dengan peralatan derek yang terpasang pada kendaraan bermotor penarik. (4) Kendaraan Bermotor yang ditarik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memiliki berat tidak lebih dari separoh berat kendaraan penarik, serta tidak lebih dari 750 (tujuh ratus lima puluh) kilogram. (5) Kendaraan Bermotor yang ditarik pada waktu malam hari harus menyalakan lampu isyarat atau memasang tanda yang dapat memantulkan cahaya, di bagian belakang. Pasal 73 Ketentuan lebih lanjut mengenai ukuran Kendaraan Bermotor, tanda kendaraan bermotor berat, tanda gandengan atau tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 74 Karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d merupakan badan kendaraan, antara lain kaca-kaca, pintu, engsel, tempat duduk, tempat pemasangan tanda nomor Kendaraan Bermotor, tempat keluar darurat dan tangga untuk Mobil Bus, dan perisai kolong untuk Mobil Barang. Pasal 75 Rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf e merupakan rancangan yang sesuai dengan fungsi: a. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang; atau b. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang. Pasal 76 Pemuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf f merupakan tata cara untuk memuat orang dan/atau barang. Pasal 77 Penggunaan sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf g merupakan cara menggunakan Kendaraan Bermotor sesuai dengan peruntukannya.

30

Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 78 Penggandengan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf h merupakan cara menggandengkan Kendaraan Bermotor dengan menggunakan alat perangkai. Pasal 79 Penempelan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf i dilakukan dengan cara : a. menggunakan alat perangkai; b. menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci; dan c. dilengkapi kaki-kaki penopang.

Paragraf 2 Persyaratan Laik Jalan Pasal 80 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan. (2) Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal Kendaraan Bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas: a. emisi gas buang; b. kebisingan suara; c. efisiensi sistem rem utama; d. efisiensi sistem rem parkir; e. kincup roda depan; f. suara klakson; g. daya pancar dan arah sinar lampu utama; h. radius putar; i. akurasi alat penunjuk kecepatan; j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat Kendaraan. Pasal 81 (1) Ketentuan mengenai persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) berlaku bagi setiap jenis Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf h untuk Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor. (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan terhadap: a. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat;
31

bekerja pada semua roda sepeda motor sesuai dengan besarnya beban pada masing-masing sumbu rodanya. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 kecuali huruf h.Draft RPP 19 Juli 2010 b. Pasal 11 kecuali ayat (1) huruf d. (3) Peralatan rem sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi syarat : a. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat dan memberhentikan sepeda motor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi. Pasal 43. Pasal 50. harus pula dilengkapi dengan rem parkir. Pasal 17 kecuali ayat (2) huruf c. apabila daya pengereman yang diperlukan dapat diperoleh dari rem yang terdapat pada sepeda motor yang bersangkutan. Pasal 16. Pasal 15 kecuali ayat (1) huruf c dan huruf d. Pasal 83 (1) Sistem rem Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. b. Pasal 84 (1) Keharusan melengkapi alat pengereman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) tidak berlaku untuk roda kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor. Pasal 18 sampai dengan Pasal 40. Bagian Kedua Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Sepeda Motor Pasal 82 (1) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) kecuali huruf i. c. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. Pasal 45. Pasal 42. kecuali peralatan rem parkir tidak berlaku baik dengan atau tanpa kereta samping. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. Pasal 46. 32 . Pasal 41 kecuali huruf c dan huruf f. dan Pasal 59 ayat (3). (2) Sepeda Motor yang mempunyai roda tiga selain dilengkapi dengan peralatan pengereman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Setiap Sepeda Motor roda dua atau roda tiga yang dipasang simetris terhadap sumbu tengah kendaraan yang membujur ke depan harus dilengkapi dengan peralatan pengereman pada roda belakang dan roda depan.

sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) meter ke depan Sepeda Motor. (6) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama jauh. dan dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. maka (7) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Rem parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan pada malam hari dengan cuaca cerah. e. berjumlah genap dengan sinar kelap-kelip berwarna kuning tua. b. lampu penunjuk arah secara berpasangan di bagian depan dan bagian belakang sepeda motor. sejajar di sisi kiri dan kanan bagian muka dan bagian belakang Sepeda Motor. 1 (Satu) atau 2 (dua) pemantul cahaya berwarna merah yang tidak berbentuk segitiga. c. Catatan : Kendaraan bermotor roda 3 (tiga) harus memiliki 2 (dua) alat pemantul cahaya berwarna merah pada sisi belakang dan 2 (dua) warna putih pada sisi depan dan tidak berbentuk segitiga. apabila mampu mempunyai kecepatan melebihi 40 (empat puluh) km per jam pada jalan datar. mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. (2) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping selain dilengkapi dengan lampu (3) Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. maka (5) Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. f. lampu utama dekat harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. paling banyak dua buah. paling banyak dua buah. tanjakan maupun turunan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi lampu posisi depan. lampu rem. lampu posisi belakang. b. d. lampu utama jauh harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. lampu utama dekat. (8) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dipasang secara 33 . (4) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama dekat. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan secukupnya pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter ke depan Sepeda Motor. lampu utama jauh. Pasal 85 (1) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping harus dilengkapi dengan lampu- lampu dan pemantul cahaya yang meliputi : a.

(10) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. Pasal 87 (1) Kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor roda dua.Draft RPP 19 Juli 2010 (9) Jika Sepeda Motor mempunyai dua lampu posisi depan. maka cukup dilengkapi dengan satu lampu utama dekat dan satu lampu utama jauh. Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h. satu pemantul cahaya. di bagian belakang dengan lampu posisi belakang. (2) Lampu posisi depan dan lampu posisi belakang kereta samping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyala apabila lampu posisi belakang Sepeda Motor dinyalakan. Lampu rem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua). lampu-lampu itu harus berdekatan sedekat mungkin.300 (seribu tiga ratus) milimeter. harus dilengkapi dengan lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang yang dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. d. 34 . harus dilengkapi : a. c. Pasal 86 (11) (12) Selain dilengkapi dengan lampu-lampu dan pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor juga harus dilengkapi dengan satu lampu penerangan tanda nomor Kendaraan di bagian belakang. b. lampu penunjuk arah yang dipasang di sisi kiri bagian depan dan belakang Sepeda Motor. di bagian depan dengan lampu posisi depan. berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua) berwarna merah yang dapat dilihat pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. (3) Sepeda Motor yang mempunyai tiga roda dipasang secara simetris terhadap bidang sumbu Sepeda Motor yang membujur. dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor. (4) Jika lebar Sepeda Motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi 1. Penjelasan ayat (10) Yang dimaksud dengan lampu posisi belakang berjumlah paling banyak adalah 2 (dua) atau 1 (satu) kelompok yang berdekatan. dan yang diperlakukan sebagai sepeda motor.

Pasal 89 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan Jenis Sepeda Motor diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.000 (dua belas ribu) kilogram harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7. Bagian Keempat Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Bus Pasal 93 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80. Penjelasan . setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7. transmisi Pasal 92 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan jenis Mobil Penumpang diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.000 kg (tujuh ribu kilogram) harus pula dilengkapi dengan rem pelambat.000 kg (tujuh ribu kilogram) dan Mobil Barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 12.000 (seribu) milimeter. Pasal 94 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. Penjelasan : Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). 35 . Pasal 91 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 88 Lebar kereta gandengan yang dapat ditarik oleh Sepeda Motor maksimum 1. Bagian Ketiga Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Penumpang Pasal 90 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80.

atau b. (2) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang sebanyak 15 (lima belas) orang atau lebih. (2) Jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (5) Tangga pintu keluar/masuk penumpang yang dapat dilipat. dan 2. sekurangkurangnya : a. satu pintu lainnya ditempatkan pada dinding kiri dengan lebar sekurangkurangnya 550 (lima ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. jika pintu dibuka. harus mempunyai sekurangkurangnya satu pintu keluar dan/atau masuk penumpang pada dinding kiri bagian depan atau belakang. harus dikonstruksi sedemikian sehingga anak tangga selalu berada pada tempatnya secara kukuh dan memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). dua pintu keluar dan/atau masuk untuk penum-pang. tidak termasuk pengemudi. terdiri dari : 1. 36 . Pasal 96 (1) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang kurang dari 15 (lima belas) orang tidak termasuk pengemudi.200 (seribu dua ratus) milimeter yang meliputi seluruh tinggi dinding.Draft RPP 19 Juli 2010 Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). yang lebarnya sekurang-kurangnya 650 (enam ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. satu pintu keluar dan/atau masuk yang lebar-nya sekurang-kurangnya 1. transmisi Pasal 95 Ketentuan lebih lanjut mengenai kendaraan bermotor jenis Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. harus mempunyai sekurang-kurangnya : a. Pasal 97 (1) Di samping pintu keluar/masuk penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. jika muatannya tidak lebih dari 26 (dua puluh enam) penumpang. (3) Pintu keluar/masuk untuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus menjamin kemudahan penggunaannya dan tidak terhalang. setiap Mobil Bus harus pula mempunyai tempat keluar darurat pada kedua sisinya. (4) Anak tangga paling bawah dari pintu keluar atau masuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling tinggi 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter diukur dari permukaan jalan dan lebar sekurangkurangnya 400 (empat ratus) milimeter. satu pintu harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 1 (satu) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri.

untuk mobil bus yang dileng-kapi dengan tempat berdiri. 4 (empat) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya lebih dari 80 (delapan puluh) penumpang. (2) Tinggi atap bagian dalam kendaraan. tidak dirintangi oleh tongkat-tongkat atau jeruji pelindung. d. memiliki lebar sekurang-kurangnya 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat diku-rangi dengan satu. b. d. Pasal 98 (1) Tempat keluar darurat diberi tanda dengan tulisan yang menyatakan tempat keluar darurat. (3) Pada sisi kiri. c.500 (seribu lima ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan.200 (seribu dua ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter disamakan dengan memiliki dua tempat keluar darurat. Pasal 99 (1) Setiap Mobil Bus dilengkapi lorong dengan lebar efektif 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter atau lebih yang membentang dari pintu masuk sampai ke setiap tempat duduk. sudut-sudut jendela yang berfungsi sebagai tempat keluar darurat tidak runcing. c. 3 (tiga) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya antara 51 (lima puluh satu) dan 80 (delapan puluh) penumpang. dan penjelasan mengenai tata cara membukanya. (2) Tempat duduk di dekat tempat keluar darurat harus mudah dilepas atau dilipat. 37 . (4) Tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa jendela dan atau pintu. jika muatannya antara 27 (dua puluh tujuh) dan 50 (lima puluh) penumpang. b. 2 (dua) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. harus memenuhi persyaratan : a. mudah dan cepat dapat dibuka atau dirusak atau dilepas. sekurang-kurangnya : a. (6) Tempat keluar darurat berupa pintu yang dipasang pada dinding samping kanan. memiliki ukuran minimum 600 (enam ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter dan apabila memiliki ukuran sekurang-kurangnya 1.700 (seribu tujuh ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. jika pada dinding belakang terdapat pintu yang lebarnya paling sedikit 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. mudah dibuka setiap waktu dari dalam. diukur 400 (empat ratus) milimeter dari dinding samping dalam kendaraan. 1. b.Draft RPP 19 Juli 2010 b. 1. (5) Tempat keluar darurat berupa jendela harus meme-nuhi persyaratan : a. untuk mobil bus yang tidak dilengkapi dengan tempat berdiri.

dipasang suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan bus sekolah. (3) Ukuran lebar dan tinggi efektif pintu masuk dan atau keluar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 100. 38 . Pasal 104 (1) Pintu masuk dan atau keluar Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan anak tangga. (2) Mobil bus sekolah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dilengkapi suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan berhenti jika lampu merah nyala dipasang di bawah jendela belakang. (2) Jarak antara anak tangga yang satu dengan lainnya paling tinggi 200 (dua ratus) milimeter dan jarak antara permukaan tanah dengan anak tangga terbawah paling tinggi 300 (tiga ratus) milimeter. Pasal 103 (1) Setiap Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan lampu berwarna merah di bawah jendela belakang yang berfungsi memberi tanda bahwa mobil bus sekolah tersebut berhenti. harus jelas dinyatakan dengan suatu tulisan yang ditempatkan di dalam Mobil Bus sehingga jelas kelihatan oleh awak dan penumpangnya. Pasal 101 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 105 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk mobil bus sekolah diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 102 Setiap Mobil Bus sekolah pada sisi luar bagian depan dan belakang.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 100 Jumlah tempat duduk dan tempat berdiri di dalam Mobil Bus umum.

(2) Ketentuan mengenai keharusan melengkapi rem yang dapat menjalankan dua fungsi sebagaimana dimaksud alam ayat (1) tidak berlaku untuk kereta tempelan satu sumbu yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan tidak melebihi 750 kg (tujuh ratus lima puluh kilogram). harus dilengkapi dengan peralatan yang dapat bekerja secara otomatis menghentikan kereta gandengan apabila alat perangkai putus/terlepas dari kendaraan penariknya. rem parkir yang mampu menahan posisi kereta gandengan atau kereta tempelan berhenti pada jalan datar.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kelima Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Barang Pasal 106 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Barang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sampai denga Pasal 80. Rem parkir tersebut harus dilengkapi dengan alat pengunci mekanis). Rem utama tersebut harus dapat bekerja secara serempak atau hampir bersamaan pada setiap roda pada rangkaian kendaraan bermotor). rem utama yang memungkinkan pengemudi dari tempat duduknya dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kereta gandengan atau kereta tempelan secara bersama-sama atau hampir bersamaan dengan kendaraan bermotor penariknya. penjelasan huruf a: rem utama dalam ketentuan ini harus mampu mengendalikan kecepatan dan memberhentikan rangkaian kendaraan bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. Penjelasan rem yang menjalankan dua fungsi pengereman dalam ketentuan ini dapat mempunyai bagian-agian yang merangkap dan bekerja pada semua roda). Penjelasan huruf b : rem parkir harus dapat berfungsi secara baik pada semua kondisi jalan bila kendaraan bermotor yang bersangkutan dimuati sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. baik dalam keadaan tanpa muatan maupun dengan muatan sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. yaitu : a. Pasal 107 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan. b. tanjakan maupun turunan. 39 . Pasal 108 (1) Rem utama kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) huruf a. harus dilengkapi dengan rem yang dapat menjalankan dua fungsi.

pada masing-masing roda setiap sumbu rangkaian Kendaraan. lampu penunjuk arah secara berpasangan. lampu rem secara berpasangan. Pasal 111 (1) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf a. maka kendaraan yang ditarik harus menggunakan sistem rem hidrolis pula).500 kg (seribu lima ratus kilogram) dan/atau kereta gandengan yang ditarik oleh kendaraan bermotor penarik yang dirancang untuk kecepatan maksimum kurang dari 20 km/jam (dua puluh kilometer per jam). Pasal 110 Kereta Gandengan dan Kereta Tempelan wajib dilengkapi dengan lampu-lampu dan alat pemantul cahaya yang meliputi : a. f. lampu penerangan tanda nomor kendaraan di bagian belakang kendaraan. misalnya apabila kendaraan bermotor penariknya menggunakan alat pengereman dengan sistem udara. d. g. c. h. maka sistem rem yang digunakan pada kendaraan yang ditarik juga sistem udara. lampu posisi depan secara berpasangan. lampu mundur secara berpasangan. Pasal 109 (1) Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang dirangkaikan dengan Kendaraan Bermotor dalam satu rangkaian Kendaraan. lampu posisi belakang secara berpasangan. Penjelasan ayat (1) yang dimaksud dengan bersesuaian adalah penggunaan sistem pengereman yang bersesuaian antara kendaraan bermotor penarik dengan kendaraan yang ditarik. atau jika kendaraan bermotor penariknya menggunakan sistem rem hidrolis.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan yang jarak sumbu rodanya kurang dari satu meter dengan jumlah berat yang diperbolehkan tidak lebih dari 1. (2) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan dan belakang Kereta Gandengan. alat pemantul cahaya berwarna merah. b. e. (2) Bekerjanya rem utama harus tersebar dan bekerja hampir bersamaan secara baik. harus memiliki peralatan pengereman yang bersesuaian. berbentuk segitiga secara berpasangan. apabila sisi terluar kereta gandengan melampaui tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang kendaraan penariknya. alat pemantul cahaya berwarna putih yang tidak berbentuk segitiga secara berpasangan. apabila lebar kereta gandengan lebih dari 800 (delapan ratus) milimeter. 40 . berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip berwarna kuning tua serta dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya.

dilengkapi satu buah atau lebih lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 400 (empat ratus) milimeter. Pasal 114 (1) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf d. (2) Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya menyala apabila alat penerus daya digunakan pada posisi mundur. berjumlah dua buah dan berwarna putih.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 112 (1) Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf b. 41 . (2) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian depan kereta gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 150 (sertus lima puluh) milimeter. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan dengan ukuran kecil yang posisinya dalam keadaan ditarik tidak menutupi lampu rem dari kendaraan penariknya. dipasang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor Kendaraan pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang . Pasal 115 Lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor bagian belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf e. berjumlah dua buah berwarna putih atau kuning muda yang tidak menyilaukan atau mengganggu pemakai jalan lain.kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. berjumlah dua buah berwarna merah yang kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang dan dipasang di sebelah kiri dan kanan bagian belakang Kereta Gandengan. (3) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. berjumlah genap dan berwarna merah yang kelihatan pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. Pasal 116 (1) Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf f. Pasal 113 (1) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf c.

(4) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter dilengkapi satu buah atau lebih pemantul cahaya. d. berjumlah dua buah dan dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan kereta gandengan dengan jarak tidak melebihi 400 (emapt ratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. (2) Lampu utama jauh atau lampu utama dekat. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku apabila lampu utama jauh sedang memberikan peringatan. dipasang pada kendaraan dengan tinggi tidak melebihi 1. apabila lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan menyala. Pasal 120 (1) Lampu posisi depan. e. simetris dengan sesamanya terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. b. c. (2) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilihat oleh pengemudi yang ada dibelakangnya pada waktu malam hari dalam cuaca cerah dari jarak 100 (seratus) meter apabila terkena sinar lampu utama kendaraan di belakangnya. lampu posisi belakang. berjumlah genap berwarna merah dan berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisinya tidak kurang dari 150 (seratus lima puluh) milimeter dan tidak melebihi 200 (dua ratus) milimeter serta dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan. dan lampu tanda batas. Pasal 119 Lampu-lampu yang berpasangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 harus memenuhi persyaratan : a. harus dapat dinyalakan atau dimatikan. mempunyai sifat-sifat fotometris yang sama. Pasal 118 Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf h. (3) Titik sudut terluar pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak melebihi 100 (seratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. secara serentak.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 117 (1) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf g. 42 . lampu penerangan tanda nomor Kendaraan. dipasang simetris terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan. atau lampu kabut yang dipasang pada kendaraan hanya dapat dinyalakan. memenuhi persyaratan kalorimetris yang sama.

Pasal 125 Peralatan hidrolis. Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang menyinarkan : a. Kereta Tempelan. cahaya berwarna putih ke arah belakang kecuali lampu mundur. Pasal 126 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan harus menggunakan alat perangkai. hanya boleh digunakan pada rangkaian kendaraan yang memiliki jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan maksimum 20. cahaya berwarna merah ke arah depan. Pasal 123 (1) Setiap Kereta Tempelan dilengkapi dengan kaki-kaki penopang yang dipasang secara kukuh pada jarak lebih dari dua pertiga dari seluruh panjang kereta tempelan. (3) Alat perangkai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa alat perangkai (4) Apabila rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan alat perangkai otomatis. dipasang perisai kolong. c. diukur dari ujung paling belakang kereta tempelan. selain lampu penunjuk arah dan lampu isyarat peringatan bahaya. Pasal 122 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan harus menggunakan alat perangkai.000 Kg (dua puluh ribu kilogram).Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 121 Dilarang memasang lampu pada Kendaraan Bermotor. apabila rancangan alat pengangkat tersebut tidak menimbulkan lebih muatan pada salah satu sumbu kendaraan. ketika sumbu yang lain berada dalam posisi diangkat. otomatis dan bukan otomatis. (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci.000 milimeter diukur dari sisi terluar bagian belakang kereta gandengan atau kereta tempelan. (2) Letak kaki penopang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak melebihi lebar Pasal 124 Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang tinggi ujung landasannya dan atau bagian belakang dan/atau bagian samping badannya berjarak lebih dari 700 milimeter di atas jalan. dan/atau sumbu paling belakang berjarak lebih dari 1. cahaya kelap-kelip. pneumatis atau mekanis yang memungkinkan diangkatnya rodaroda dari tanah dapat digunakan sewaktu Kendaraan berjalan biasa. b. 43 .

Pasal 128 (1) Kereta gandengan dan kereta tempelan yang dirangkaikan dengan kendaraan bermotor penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor apabila : a. Pasal 127 Kereta Gandengan yang tidak dilengkapi dengan rem otomatis wajib dilengkapi dengan alat tambahan berupa rantai. sewaktu terjadi tubrukan atau sebagai akibat dari getaran kendaraan. Kereta gandengan (full trailer). yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik yang seluruh bebannya ditumpu oleh kereta gandengan itu sendiri dan memiliki sebanyak-banyaknya 2 (dua) sumbu roda. dikonstruksi dengan gerakan terbatas dan dapat merangkaikan kendaraan bermotor penarik dengan Kendaraan yang ditarik dengan kukuh dan sempurna. kabel. sehingga dapat menahan seluruh berat kendaraan yang ditarik. kereta tempelan (semi trailer). c. GCW.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. b. b. sistem pengereman. dilengkapi dengan alat keselamatan yang layak untuk mencegah pemisahan yang tidak disengaja. (2) Bus gandeng yang dirangkaikan dengan bus penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor. 44 . sistem kelistrikan pada kendaraan. Penjelasan : Yang dimaksud dengan kereta gandengan atau tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor Yang dimaksud dengan Kendaraan bermotor penarik adalah kendaraan bermotor yang memiliki perlengkapan untuk menarik. kukuh. kereta gandengan dan kereta tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik (tractor head) yang sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan penariknya dan memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) sumbu roda. Pasal 129 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk rangkaian kendaraan. atau alat sejenisnya yang dapat mencegah tongkat penarik menyentuh tanah dan memungkinkan kereta gandengan tersebut dihentikan apabila alat penariknya putus.

dan b. terdiri atas : a. (3) Fasilitas bagi penumpang penyandang cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi antara lain : a. terdiri atas : a. cikar. sepeda. tanda atau petunjuk bagi penyandang tunanetra. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a. b.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Keenam Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bagi Penyandang Cacat Pasal 130 (1) Kendaraan khusus penyandang cacat harus dirancang khusus yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu. kereta dorong. c. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus atau Mobil Penumpang yang digunakan sebagai angkutan umum wajib menyediakan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. b. kereta. tempat naik dan turun penumpang yang dapat dioperasikan secara automatik maupun mekanik. BAB V KENDARAAN TIDAK BERMOTOR Bagian Kesatu Jenis Pasal 131 (1) Kendaraan Tidak Bermotor dikelompokkan dalam: a. b. delman. 45 . (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. c. becak.

Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kedua Persyaratan Keselamatan Pasal 132 Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis sepeda tidak termasuk muatannya adalah : a. lebar maksimum 2. panjang maksimum 2.250 (dua ribu dua ratus lima puluh) milimeter. 2. panjang maksimum 5. (2) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut barang tidak termasuk muatannya adalah : a. lebar maksimum 1. panjang maksimum 1. (4) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis becak tidak termasuk muatan adalah : a.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. lebar maksimum 1. 46 . 2.400 (lima ribu empat ratus) millimeter.250 (lima ribu dua ratus lima puluh) milimeter. panjang maksimum 2. 2. 3. b. b.500 (seribu lima ratus) millimeter.700 (dua ribu dua tujuh ratus) millimeter. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1.300 (dua ribu tiga ratus) millimeter. Pasal 133 (1) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut orang tidak termasuk muatannya adalah : a.000 (lima ribu) millimeter. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1.800 (seribu delapan ratus) millimeter. panjang maksimum 5. panjang maksimum 2. panjang maksimum 5.800 (dua ribu delapan ratus) millimeter.100 (dua ribu seratus) milimeter.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. lebar maksimum 550 (lima ratus lima puluh) milimeter. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1. panjang maksimum 2. b. 3. lebar maksimum 2. lebar maksimum 1. 3. panjang maksimum 2. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1.000 (dua ribu) milimeter. 2.000 (enam ribu) millimeter. lebar maksimum 2. b. panjang maksimum 6. c. (3) Untuk kepentingan angkutan pariwisata persyaratan kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik oleh hewan lebih dari 2 (dua) ekor diatur dengan Peraturan Daerah sesuai kebutuhan daerah masing – masing dengan tetap memperhatikan keselamatan berlalu lintas. (5) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong tidak termasuk muatannya adalah : a.700 (seribu tujuh ratus) millimeter.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. panjang maksimum 2.500 (seribu lima ratus) millimeter. 3.

sekurang-kurangya dipasang pada roda penggerak kendaraan sesuai dengan besarnya beban. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 134 Setiap kendaraan tidak bermotor kecuali sepeda jenis kereta yang ditarik dengan hewan untuk angkutan barang atau kereta dorong atau tarik. mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke arah belakang atau badan kendaraan. 47 . (2) Alat bantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 137 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik dengan hewan harus dilengkapi dengan alat bantu yang berfungsi untuk memperlambat kecepatan kendaraan sebagai pengganti rem. harus dibuat sedemikian rupa sehingga tetap memiliki bidang pandang bagi pendorongnya untuk dapat melihat kedepan secara leluasa. becak dan kereta yang ditarik kuda harus dilengkapi dengan spakbor. (6) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong yang ketinggiannya melebihi bahu orang yang mendorongnya. harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi tanpa mengganggu pengemudi dalam mengendalikan atau mengemudikan kendaraan. (2) Rem kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000 (dua ribu) millimeter. panjang maksimum 2. diatur dengan Peraturan Daerah. harus memiliki sistem suspensi berupa penyangga yang mampu menahan beban. b. Pasal 136 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis sepeda dan becak harus dilengkapi dengan rem yang berfungsi dengan baik untuk mengendalikan kecepatan atau memperlambat dan menghentikan kendaraan. Pasal 138 Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan penggunaan kendaraan tidak bermotor. penjelasan : yang dimaksud dengan alat bantu antara lain tali pengendali. c. panjang maksimum 2. memiliki lebar sekurang – kurangnya selebar telapak ban.Draft RPP 19 Juli 2010 b.500 (dua aribu lima ratus) millimeter.getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan. Pasal 135 (1) Setiap kendaraan tidak bermotor jenis sepeda.

M2 dan M3. Mobil penumpang masuk kategori M1. menjaga kelestarian lingkungan dan pelayanan umum. L2. penjelasan huruf a kendaraan bermotor kategori L yaitu kendaraan beroda kurang dari empat 1. L3. 2. kategori L1 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. meliputi: a. kendaraan bermotor kate gori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang. kategori L4 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda asimetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya (sepeda motor dengan kereta) 5. dan kereta tempelan yang diimpor. Penjelasan ayat (1) Tujuan dilakukan pengujian adalah dalam rangka menjamin keselamatan. Sepeda motor masuk dalam kategori L1. b.Draft RPP 19 Juli 2010 BAB VI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Umum Pasal 139 (1) Untuk memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan 48 . (2) Kategori jenis kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kendaraan bermotor. kategori L5 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda simetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. Mobil bus masuk kategori M1. kereta gandengan. kendaraan bermotor kategori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang 1. dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan wajib dilakukan pengujian sesuai dengan kategori jenis kendaraan bermotor. kategori L3 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya 4. L4 dan L5. kategori L2 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda sembarang dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis ienaga penggeraknya 3. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi c.

kendaraan pada kelas ini memiliki tempat duduk dan memungkinkan penumpang berdiri e. kategori N1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 3. kelas A untuk kendaraan bermotor di desain untuk membawa penumpang berdiri.75 ton tetapi lebih dari 3.5 ton tetapi tidak lebih dari 12 ton 3.75 ton 2. kendaraan pada kelas ini tidak diijinkan adanya penumpang berdiri d. kategori 02 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0. kelas II untuk kendaraan bermotor yang pada prinsipnya dikonstruksi membawa penumpang duduk dan di desain untuk membawa penumpang berdiri di gang dan atau di daerah yang sudah disediakan tetapi luasnya tidak boleh lebih dari dua baris tempat duduk untuk dua orang c. dan O4. kategori 01 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0.5 ton 3. kelas B untuk kendaraan bermotor tidak di desain untuk membawa penumpang berdiri. kategori 03 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. penjelasan huruf d : kendaraan bermotor kategori N adalah kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan barang 1. kendaraan bermolor kategori M2 dan M3 dibedakan dalam kelas sebagai berikut: a.Draft RPP 19 Juli 2010 orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi 2. kategori M2 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 5 ton 3. kategori N2 adalahkendaraan bermotor yang digunaKan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. kategori N3 adalah kendaraari bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 12 ton kategori O kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel 1. kelas III untuk kendaraan bermotor yang di desain khusus untuk membawa penumpang duduk d. kategori M3 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 5 ton 4. Mobil barang masuk kategori N1. N2. O1. O3. O2.5 ton tetapi tidak lebih dari 10 ton 49 . N3. Kelas I untuk kendaraan bermotor yang dikonruksi untuk penumpang berdiri dan bergerak bebas b.5 ton 2.

Kendaraan khusus tidak masuk dalam kategori pengujian. serta sistem dan prosedur pengujian. fasilitas prasarana dan peralatan pengujian. 50 . Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik 3. b. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. Kendaraan bermotor penarik untuk kategori O2. atau beban tidak lebih dari 10. uji berkala. 2. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik e. keakurasian peralatan pengujian.000 N dibebankan pada kendaraan penarik. kategori 04 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah benat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 10 ton. tenaga penguji yang memiliki sertifikat kompetensi penguji kendaraan bermotor. kategori khusus kendaraan bermotor khusus kendaraan bermotor kategori M. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian. gandengan sumbu tengah (Centre-exle trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik yang dilengkapi dengan alat penarik yang tidak dapat bergerak vertikal (terhadap kereta gandengan) dan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dekat dengan pusat gravitasi kendaraan (terbebani merata). tidak lebih dari 10% berat makstmum kereta gandengan. O3 dan dibedakan menjadi tiga tipe sebagai berikut: 1. N atau O untuk angkutan penumpang atau barang dan diperlukan pembuatan bodi khusus dan / atau perlengkapannya untuk menunjang fungsi khusus tersebut sumber : SNI dan UN ECE (3) Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. dan b.Draft RPP 19 Juli 2010 4. uji tipe. Pasal 140 (1) Pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang memiliki : a. beban vertikal statis kecil. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik.

kereta gandengan. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. b. Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang dilakukan terhadap rumah – rumah. kereta tempelan. 51 . bak muatan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memelihara. Bagian Kedua Uji Tipe Paragraf 1 Umum Pasal 141 (1) Uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf a terdiri atas : a. Penjelasan ayat (2) Yang dimaksud dengan mengkalibrasi secara berkala yaitu dapat dilakukan sendiri maupun yang dilakukan oleh institusi lain yang mempunyai kewenangan untuk melakukan kalibrasi untuk menjamin keakurasian alat uji yang digunakan dan waktunya disesuaikan dengan spesifikasi teknis masing – masing peralatan. dan b. nomor dan tipe motor penggerak. (3) Pembinaan dan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Paragraf 2 Pengujian Fisik Pasal 142 (1) Pengujian tipe melalui Pengujian fisik terhadap persyaratan teknis dilakukan melalui pemeriksaan persyaratan teknis secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. (2) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap landasan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan kendaraan bermotor dan kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi tipenya (2) Uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh unit pelaksana uji tipe yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. mengkalibrasi secara berkala dan mengoperasikan seluruh peralatan uji secara baik dan benar.

kondisi tangki bahan bakar. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. segitiga pengaman. e. kebocoran sistem rem. p. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. dan tempat duduk. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. 52 . l. m. pipa saluran bahan bakar. kondisi kaca spion. pipa saluran bahan bakar. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. h. corong pengisi bahan bakar. d. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kondisi kaca spion bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. h. b. m. kondisi spakbor. engsel. keberadaan dan kondisi ban cadangan. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. (3) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. k. segitiga pengaman. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. i. dongkrak. f. kaca-kaca bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. bentuk bumper bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. kondisi tangki bahan bakar. kondisi badan kendaraan. c. f.Draft RPP 19 Juli 2010 c. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. n. serta kondisi ban. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. alat pembuka roda. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). dongkrak. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. e. g. kondisi dan posisi pipa pembuangan. keberadaan dan kondisi ban cadangan. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. bentuk bumper. d. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. nomor dan tipe motor penggerak. g. o. n. j. kebocoran sistem rem. serta kondisi ban. j. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). i. k. l. corong pengisi bahan bakar.

f. kebocoran sistem rem. d. dan tempat keluar darurat. kondisi badan kendaraan. q. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. sudut bebas kemudi (speling steer). tempat duduk.Draft RPP 19 Juli 2010 o. kondisi kaca spion. c. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kondisi spakbor. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. e. (6) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap meliputi : a. corong pengisi bahan bakar. (4) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. perisai kolong. bagian dalam kendaraan. engsel. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. (5) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap landasan kendaraan bermotor meliputi : a. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kaca-kaca. l. e. k. h. kondisi rem parkir. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. b. 53 . c. b. pipa saluran bahan bakar. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). serta kondisi ban. m. kecuali untuk sepeda motor. kondisi tangki bahan bakar. g. mengukur ukuran tempat duduk. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. h. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). mengukur dimensi utama kendaraan. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. p. i. g. d. nomor dan tipe motor penggerak. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kondisi badan kendaraan n. f. j. kondisi rem utama baik di roda depan atau belakang.

mengukur dimensi utama kendaraan. sekurang-kurangnya meliputi : a. h. kondisi rem parkir. (7) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor jenis sepeda motor meliputi : a. sudut bebas kemudi (speling steer). j. e. e. d. (2) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. uji lain. kondisi rem parkir. j. h. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). sekurang-kurangnya meliputi : a. uji speedometer. i. uji/pengukuran dimensi. uji tingkat suara klakson. uji emisi gas buang. fungsi klakson. c. i. mengukur dimensi utama kendaraan. mengukur ukuran tempat duduk. i. h. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. g. uji speedometer. g. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). e. c. b. c. uji rem utama dan rem parkir. uji lampu. g. f. uji lampu utama. uji kincup roda depan.Draft RPP 19 Juli 2010 b. uji radius putar. uji rem utama dan rem parkir. d. e. dan tempat keluar darurat. uji radius putar. fungsi klakson. Pasal 143 (1) Pengujian laik jalan terhadap kendaraan bermotor dalam bentuk landasan (chassis engine atau cabin engine). b. uji/pengukuran berat kendaraan. f. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). uji kincup roda depan. kondisi penerus daya. c. uji tingkat suara klakson. b. d. uji/pemeriksaan konstruksi. uji emisi gas buang. d. uji/pengukuran berat landasan. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. 54 . bagian dalam kendaraan. f.

uji/pengukuran dimensi kendaraan bermotor. sekurang-kurangnya meliputi : a. c. uji tingkat suara klakson. b. d. c. f. uji/pengukuran penghapus kaca depan. d. uji kebisingan. uji sabuk keselamatan. 55 . (3) Uji ulang hanya dilakukan terhadap tipe kendaraan bermotor yang memiliki nomor landasan/rangka dan/atau nomor mesin yang sama dengan yang dimiliki kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1).uji prestasi/performansi. uji speedometer.Draft RPP 19 Juli 2010 k. (2) Pernyataan penetapan hasil uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. g. selain harus memenuhi ketentuan uji persyaratan teknis dan laik jalan. q. b. Pasal 144 Kendaraan bermotor yang menggunakan motor penggerak listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b. Pasal 145 (1) Dalam hal tipe kendaraan bermotor yang diuji tipe yang berkaitan dengan pengujian fisik dinyatakan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 143 dapat dilakukan uji tipe ulang. uji prestasi/performansi dan/ atau uji kemampuan jalan. uji jalan/kemampuan jalan. p. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). uji posisi roda depan. r. uji suspensi. uji lain. j. item – item yang tidak lulus uji. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. m. uji/pengukuran berat kendaraan bermotor. uji emisi gas buang. teknologi kendaraan (3) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor. perangkat elektronik pengendali kecepatan. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. uji lampu utama. n. e. yang disesuaikan dengan perkembangan bermotor. alasan tidak lulus uji. o. h. i. dan alat pengisian ulang energi listrik. juga harus dilakukan pengujian terhadap unjuk kerja akumulator listrik. l. uji kebisingan. uji rem.

pembuat dan/atau perakit. nomor rangka landasan. apabila ada. peruntukan. pembuat dan/atau perakit. e. tipe kendaraan bermotor yang bersangkutan tidak dapat dilakukan uji ulang lagi dan apabila akan mengujikan kembali tipe kendaraannya. 56 . b. varian.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipungut biaya hanya terhadap item-item yang dinyatakan tidak lulus uji tipe kendaraan bermotor. sertifikat uji tipe landasan dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk landasan kendaraan bermotor yang diuji tipe fisik dalam bentuk landasan. j. sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. serta pemodifikasi. sertifikat uji tipe dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk kendaraan bermotor yang diuji tipe yang melalui pengujian fisik dalam keadaan lengkap. kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. h. i. c. b. nama perusahaan pengimpor. (7) Jika hasil uji tipe yang melalui pengujian fisik ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak lulus. g. nomor sertifikat uji tipe. merek dan tipe. berupa : a. dianggap mengajukan permohonan baru. l. f. apabila ada. jenis.spesifikasi teknik kendaraan bermotor. alamat perusahaan pembuat dan/atau perakit dan/atau pengimpor dan/atau pemodifikasi. m. serta pemodifikasi. yang telah lulus uji tipe yang melalui pengujian fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 diberikan bukti lulus uji tipe oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. nomor motor penggerak. Pasal 147 (1) Sertifikat lulus uji tipe setiap kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146. Pasal 146 Kendaraan bermotor. nomor sertifikat registrasi uji tipe. k. (5) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah pemohon menunjukkan dan memberitahukan secara tertulis mengenai perbaikan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. tahun pembuat/perakit/modifikasi. d. (6) Pemohon yang mengajukan uji ulang sebagaiman dimaksud pada ayat (4) diluar waktu dan tempat yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. n. harus memproses dari awal lagi sebagai permohonan baru. spesifikasi teknik varian. penanggung jawab perusahaan pengimpor.

t. pembuat dan/atau perakit. tempat dan tanggal penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. p. dimensi bak muatan/tangki. berat kosong kendaraan bermotor. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan. u. (3) Dalam kaitannya dengan sistem informasi data – data teknis yang terdapat didalam sertifikat lulus uji tipe dapat disimpan dalam bentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. Penjelasan ayat (2) : Yang dimaksud dengan Unsur-unsur pengaman antara lain berupa hologram dan/atau water mark dan/atau invisible ink.Draft RPP 19 Juli 2010 o. d. w. v. dilakukan terhadap desain: a. (2) Sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat dari bahan yang memiliki unsur-unsur pengaman. kereta gandengan. bak muatan. Pasal 148 Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk. nama dan tanda tangan penanggung jawab perusahaan pengimpor. serta pemodifikasi. daya angkut orang dan/atau barang. nama dan tanda tangan pejabat yang meregistrasi dan stempel. kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe berupa dimensi. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan. atau kuasanya yang distempel. e. cair atau gas yang terpasang pada landasan kendaraan bermotor. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. kereta tempelan. rumah-rumah atau karoseri. Penjelasan huruf b. r. penjelasan Pasal 151: 57 . (4) Sertifikat lulus uji tipe yang telah diterbitkan atau disahkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. isi dan tata cara penerbitan sertifikat lulus uji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. s. berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Paragraf 3 Penelitian Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor Pasal 149 Penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor. mesin. q. c. dan kemampuan daya angkut. Yang dimaksud dengan bak muatan adalah semua bentuk konstruksi bak muatan untuk angkutan barang yang bersifat padat. b.

rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). pintu. e. konstruksi (engsel. h. alat perangkai untuk mobil bus tempelan atau gandengan (termasuk penutup perangkai). g. kereta tempelan dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe. d. e. f. konstruksi (kaca-kaca. ukuran dan susunan. bak muatan. e. ukuran dan susunan. 58 . d. perisai kolong. konstruksi (kaca-kaca. material. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. engsel. i. g. b. tempat duduk. tangga penumpang (untuk mobil bus). alat perangkai. material. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). j. (3) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf c. sekurang-kurangnya meliputi : a. (2) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap bak muatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf b. c. sabuk keselamatan dan tempat ban cadangan. perisai kolong. g. tempat keluar darurat. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. f. c. bumper). engsel. analisa dan penilaian terhadap desain teknis rumah-rumah. sekurang-kurangnya meliputi : a. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). pintu. f. sekurangkurangnya meliputi : a. d. ukuran dan susunan. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). Pasal 150 (1) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap rumahrumah atau karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf a. sekurang-kurangnya meliputi : a. b. k. h. bumper).Draft RPP 19 Juli 2010 yang dimaksud dengan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang akan dioperasikan di jalan adalah kegiatan pemeriksaan. b. (4) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta tempelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf d. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. c. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. bumper). material. kereta gandengan.

f. e. b. sekurang-kurangnya meliputi : a. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. i. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). (6) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berpedoman pada standar teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. e. (2) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan juga terhadap seri produksi karoseri kendaraan bermotor. (2) Berdasarkan berita acara hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. kereta gandengan. f. serta dimodifikasi yang memiliki merek dan tipe sama. engsel. bumper). Penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan seri produksi adalah jumlah kendaraan bermotor yang diimpor. 59 . ukuran dan susunan. Pasal 151 (1) Hasil penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang telah memenuhi standar teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 ayat (6) dibuat berita acara hasil penelitian oleh Pimpinan Unit Pelaksana Uji Tipe. c. konstruksi (kaca-kaca. dan kereta tempelan. ukuran dan susunan. atau dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri. rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor disahkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan menerbitkan surat Keputusan pengesahan rancang bangun dan rekayasa. perisai kolong.Draft RPP 19 Juli 2010 b. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. material. kaki penopang. j. Paragraf 4 Uji Sampel Pasal 152 (1) Uji sampel dilakukan sebagai jaminan kesesuaian spesifikasi teknik seri produksinya terhadap sertifikat uji tipe. d. g. konstruksi (engsel. material. pintu. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. alat pengunci (twist lock) (5) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kendaraan bermotor yang dimodifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf e. alat perangkai. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. c. d. bumper).

Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan untuk menilai kesesuaian spesifikasi teknis seri produksinya terhadap sertifikat lulus uji tipe atau pengesahan rancang bangun dan rekayasa. dapat diajukan kembali untuk dilakukan uji tipe. Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji sampel. (2) Tipe Kendaraan bermotor yang telah mendapat surat keterangan lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang diuji sampel tidak lulus uji. (4) Dalam hal kendaraan bermotor yang telah dilakukan uji sampel tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan dinyatakan tidak lulus. Pasal 153 (1) Uji sampel dilaksanakan terhadap tipe kendaraan bermotor yang diimpor. dan/atau dirakit di dalam negeri. (4) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Unit pelaksana Uji Tipe yang dibentuk oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Pelaksanaan uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan waktu dan/atau jumlah terhadap seri produksi kendaraan bermotor per perusahaan dalam 1 (satu) tipe. sedangkan jumlah untuk kendaraan yang diproduksi massal. catatan untuk ayat (6): 60 . Pasal 154 (1) Kendaraan bermotor yang diuji sampel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 153 yang dinyatakan lulus diberikan surat keterangan lulus uji sampel sebagai dasar penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. penguji melakukan uji sampel terhadap seri produksi kendaraan bermotor yang sama tipenya dalam jumlah yang lebih banyak. dibuat. dapat dilakukan perbaikan terhadap item – item yang tidak lulus. (6) Setelah dilakukan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). (5) Tipe kendaraan yang dinyatakan tidak lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Penjelasan ayat (2): Yang dimaksud dengan waktu adalah untuk kendaraan yang jumlah produksinya terbatas dalam satuan waktu. (3) Tata cara uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sebagaimana pelaksanaan uji tipe.

Apakah uji terhadap tipe kendaraan yang dinyatkan tidak lulus uji sampel dan kemudian telah diperbaiki dilakukan uji tipe atau uji sampel ulang ? pilihan mana yang paling menjamin untuk keselamatan. dan tata cara uji sampel serta penerbitan sertifikat registrasiuji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. ditetapkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan disetorkan ke kas negara. dan kemampuan daya angkut. waktu. mesin. mohon disepakati di tingkat pengambil kebijakan. Paragraf 5 Modifikasi Kendaraan Bermotor Pasal 157 (1) Modifikasi Kendaraan Bermotor dapat berupa modifikasi dimensi. Pasal 156 Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah.Draft RPP 19 Juli 2010 1. penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan modifikasi dimensi adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada perpanjangan atau pemendekan chassis tanpa mengubah jarak sumbu dan konstruksi kendaraan bermotor tersebut serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. 61 . yang dimaksud dengan modifikasi mesin adalah modifikasi yang dilakukan dengan mengganti mesin dengan syarat mesin tersebut memiliki merek dan type yang sama dengan merek dan type mesin sebelum diganti serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. (2) Modifikasi Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Pasal 155 (1) Uji sampel dan penerbitan sertifikat registrasi uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan. yang dimaksud dengan modifikasi daya angkut adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada kendaraan bermotor dengan menambah sumbu bagian belakang tanpa mengubah jarak sumbu aslinya dan sumbu yang ditambahkan harus memiliki material yang sama dengan sumbu aslinya dan harus dilakukan perhitungan sesuai dengan daya dukung jalan yang dilalui serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. (2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Untuk menjamin pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). setiap Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi wajib dilakukan uji tipe.

Unit Pelaksana uji tipe dapat bekerjasama dengan pihak ketiga. yang dimaksud dengan bekerjasama dengan pihak ketiga berbentuk peminjaman atau penyewaan sarana dan prasarana atau tenaga penguji. peningkatan pelayanan kepada masyarakat. penjelasan ayat (3) yang dimaksud dengan keadaan tertentu antara lain dalam hal tidak atau belum tersedianya fasilitas dan peralatan uji yang dipergunakan untuk menguji item tertentu (seperti alat uji emisi). (2) Unit pelaksana uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyediakan fasilitas dan peralatan pengujian serta tenaga yang memiliki kompetensi.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Kendaraan bermotor yang dimodifikasi dan telah dinyatakan lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Dalam keadaan tertentu pelaksanaan uji tipe. penjelasan ayat (7) bengkel umum yang melaksanakan modifikasi kendaraan bermotor memberikan surat keterangan modifikasi kendaraan bermotor yangselanjutnya sebagai syarat untuk mengajukan uji tipe dan registrasi kendaraan bermotor tersebut. keselamatan penggunaan kendaraan bermotor. penjelasan ayat (5) persyaratan registrasi dan identifikasi ulang kendaraan bermotor yang dimodifikasi adalah sertifikat lulus uji tipe. Paragraf 6 Unit Pelaksana Uji Tipe Pasal 158 (1) Unit Pelaksana uji tipe Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (2) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (5) Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi yang telah mendapatkan sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (6) Modifikasi kendaraan bermotor dapat dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). penjelasan ayat (6) istilah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) tidak sesuai dengan UU Anti Monopoli sehingga penyebutannya menggunakan Agen Pemegang Merek. 62 . diberikan sertifikat lulus uji tipe. b. (7) Modifikasi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) wajib dilakukan oleh bengkel umum kendaraan bermotor yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Industri. (4) Pelaksanaan pembangunan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan mempertimbangkan : a. wajib dilakukan registrasi dan identifikasi ulang.

(5) Fasilitas dan peralatan pengujian yang digunakan harus dirawat dan/atau diperbaiki dengan baik. trek pengujian kecepatan tinggi. d. h. kesepakatan-kesepakatan regional dan/atau internasional. m. j.Draft RPP 19 Juli 2010 c. mengutamakan produksi dalam negeri. e.kurangnya: a. lapangan parkir. g. bangunan gedung administrasi.bangunan beban kerja untuk fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor dalam gedung (indoor). b. (6) Unit pelaksana uji tipe kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi yang ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca oleh pemohon yang memuat persyaratan. 63 . fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor). fasilitas pengujian tingkat suara. e. f. (2) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l.jalan lingkungan pengujian. trek pengujian slip. pagar. dan besaran biaya yang dikenakan.fasilitas penunjang. pompa air dan menara air. Pasal 159 (1) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . prosedur pelaksanaan.bangunan gedung untuk generator set. lampu penerangan. g. i. f. agar kondisinya senantiasa layak dan siap operasi. k. trek pengujian pengendalian. (7) Unit pelaksana uji tipe wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor. kelestarian lingkungan hidup. c. i.fasilitas pengisian bahan bakar. trek pengujian melalui jalan berlumpur. d. h. trek pengujian tanjakan dan turunan. serta dikalibrasi secara periodik. perkembangan teknologi. jalan keluar masuk. trek pengujian Belgian road. l. g. fasilitas pengujian radius putar. kemajuan industri kendaraan bermotor. sekurang .fasilitas listrik. c. umur teknis dan ekonomis peralatan serta fasilitas yang ada. e. b. kapasitas. f. trek pengujian serba guna. h. d.kurangnya : a. kompresor dan gudang.

fasilitas dan peralatan bantu. termasuk ketebalan asap gas buang. p. o. h. bentuk. s. alat uji rem utama dan rem parkir. alat uji dimensi. bahan. jalan inspeksi (inspection road). pembangunan. q. b. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata letak. perbaikan. alat uji prestasi kendaraan bermotor. alat uji tingkat suara. alat uji lampu utama. alat uji tekanan udara. alat uji ban. n. k. perlengkapan. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. c. alat uji posisi roda depan. k. alat uji kincup roda depan. tapak selip (skid pad). dan penggantian fasilitas uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. s. q. jenis. konstruksi. spesifikasi teknik. m. r. alat uji sabuk keselamatan. pemeliharaan. alat uji pengujian berat. alat uji konstruksi.Draft RPP 19 Juli 2010 j. r. ukuran. alat uji kebisingan. t. peralatan. alat uji lain. o. d. alat uji speedometer. p. lapangan pengujian analitis. terowongan air. e. m.alat uji motor penggerak.terowongan debu. i. 64 . tipe. alat uji kaca. l. fasilitas pembuat angin. penggunaan. alat uji emisi gas buang. lintasan berliku-liku. trek pengujian melalui lintasan berair.kurangnya: a. l. alat uji suspensi roda dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan bermotor. peralatan bantu. Pasal 160 (1) Peralatan uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . fasilitas uji tabrakan (test crash). g. n. f. j.

pengadaan. unit pelaksana agen tunggal pemegang merek yang mendapat izin dari Pemerintah. pembangunan. (2) Uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh : a.atau c. 65 . b. penjelasan ayat (2) huruf c yang dimaksud dengan pengujian swasta adalah pihak swasta yang melakukan kegiatan khusus di bidang pengujian kendaraan bermotor atau bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu untuk dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. penggunaan. (2) Dalam keadaan tertentu pengujian berkala kendaraan bermotor dapat dilakukan pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor terdekat yang tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. perbaikan. penjelasan ayat (2) yang dimaksud dalam keadaan tertentu antara lain masa berlaku uji berkala telah jatuh tempo sementara kendaraan tidak berada di domisili atau kendaraan yang terkena sanksi pelanggaran karena tidak terpenuhi persyaratan teknis dan laik jalan di luar wilayah domisilinya atau pada saat sistem telah terbangun secara on line. pemeliharaan. jumlah. Bagian Ketiga Uji Berkala Paragraf 1 Umum Pasal 161 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf b diwajibkan untuk mobil penumpang umum.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tipe. pemasangan. bentuk. unit pelaksana pengujian pemerintah kabupaten/kota. Pasal 162 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilakukan di daerah tempat kendaraan bermotor diregistrasi. mobil barang. kereta gandengan dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan. dan penggantian peralatan uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. spesifikasi teknik. teknologi yang digunakan. ukuran. kapasitas. mobil bus. unit pelaksana pengujian swasta yang memenuhi persyaratan dan mendapatkan izin dari Pemerintah.

Penjelasan ayat (2) : Yang termasuk alat bantu adalah palu khusus. penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan kendaraan bermotor asing adalah kendaraan dari negara asing yang telah memiliki bukti lulus uji dan bukti registrasi dan identifikasi yang masih berlaku di negaranya. 66 . peralatan seperti kunci pas. (2) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. Pasal 164 Permohonan pengujian berkala kendaraan bermotor untuk yang pertama kali diajukan kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor secara tertulis dengan melampirkan : a. fotocopy STNK dengan menunjukan aslinya. senter. dan pariwisata yang penggunaannya bersifat sementara. wajib dilakukan uji berkala di Indonesia. (5) Dalam hal tidak dilakukan uji berkala di Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kendaraan bermotor asing dilarang dioperasikan di jalan. (2) Pengujian berkala untuk pertama kali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mendasarkan data spesifikasi teknik kendaraan bermotor yang terdapat dalam sertifikat registrasi uji tipe. kacamata pelindung. helm. fotocopy sertifikat registrasi uji tipe dengan menunjukan aslinya. meteran. Paragraf 2 Pemeriksaan Dan Pengujian Fisik Terhadap Persyaratan Teknis Dan Laik Jalan Pasal 165 (1) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dalam pengujian berkala dilakukan terhadap persyaratan teknis.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 163 (1) Pengujian berkala dilakukan terhadap kendaran bermotor wajib uji berkala untuk pertama kali paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). yang dimaksud dengan keperluan tertentu antara lain untuk kegiatan olahraga kendaraan bermotor. (3) Masa uji berkala kendaraan bermotor wajib uji berkala berlaku selama 6 (enam) bulan dan harus dilakukan uji berkala berikutnya. tang. b. (4) Kendaraan bermotor asing yang digunakan di Indonesia untuk keperluan – keperluan tertentu dan telah berakhir masa uji berkalanya.

e.bentuk bumper. kondisi tangki bahan bakar. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). corong pengisi bahan bakar. f. b. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. kondisi spakbor. kondisi kaca spion. d. perisai kolong. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. kebocoran sistem rem. e. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. k. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. (5) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan atau tanpa alat bantu sekurang – kurangnya meliputi : a. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. c. c. q. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). segitiga pengaman. ukuran. kondisi dan posisi pipa pembuangan. d. susunan. kondisi rem parkir. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. fungsi klakson. keberadaan dan kondisi ban cadangan. b. kondisi badan kendaraan. d. sudut bebas kemudi (speling steer). l. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. engsel. tempat duduk. nomor dan tipe motor penggerak. h. karoseri. dongkrak. b. o. p. n. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. i. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan secara visual sekurang – kurangnya meliputi: a. rancangan teknis kendaraan bermotor sesuai dengan peruntukannya. m. 67 . serta kondisi ban. f. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. g. kaca-kaca. e. j. perlengkapan. c. pipa saluran bahan bakar.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi : a. (4) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan.

e. kincup roda depan.Draft RPP 19 Juli 2010 g. b. bagian dalam kendaraan. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). alasan tidak lulus uji. h. (3) Pengujian berkala terhadap untuk kereta gandengan dan kereta tempelan sekurang-kurangnya meliputi : a. Pasal 168 (1) Apabila kendaraan bermotor dinyatakan tidak lulus uji. Pasal 167 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah dinyatakan lulus terhadap pemeriksaan dan pengujian fisik diberikan tanda bukti lulus uji berkala kendaraan bermotor yang berupa kartu uji dan tanda uji. kemampuan rem parkir. (2) Kartu uji dan tanda uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku di seluruh wilayah Indonesia. pemeriksaan kosntruksi. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur. kedalaman alur ban. tingkat kebisingan. kemampuan rem utama d. c. f. b. i. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. 68 . uji kemampuan rem. akurasi alat penunjuk kecepatan (speedometer). (2) Pernyataan surat keterangan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. Pasal 166 (1) Pemeriksaan dan pengujian terhadap persyaratan laik jalan untuk kendaraan wajib uji berkala sekurang-kurangnya meliputi: a. item – item yang tidak lulus uji. e. emisi gas buang. c. mengukur ukuran tempat duduk. tata cara pemeriksaan dan pengujian diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. pengukuran kedalaman alur ban. g. h. untuk semua jenis kendaraan. dan tempat keluar darurat. c. maka terhadap kendaraan tersebut wajib dilakukan uji ulang dan penguji wajib menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji. pengukuran berat. f. uji sistem lampu d. mengukur dimensi utama kendaraan. kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama. pengukuran dimensi. b.

tahun pembuatan/perakitan. (6) Apabila pemilik yang menguasai kendaraan bermotor tidak menyetujui keputusan penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). merek/tipe. jenis. j. b. nama pemilik. tanggal dan nomor sertifikat registrasi uji tipe. (5) Kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji hanya dapat dioperasikan di jalan dalam rangka perbaikan ke bengkel umum kendaraan bermotor terdekat atau yang ditunjuk dengan dilengkapi surat tanda tidak lulus uji. o. diperlakukan sebagai pemohon baru. m. isi silinder. nomor uji berkala. (3) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mengajukan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. g. nomor kendaraan. l. n. f. i. 69 . serta tidak diperlakukan sebagai pemohon baru. konfigurasi sumbu. h. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. d. wajib melakukan perbaikan-perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. alamat pemilik. c. k.Draft RPP 19 Juli 2010 d. (2) Kartu induk uji berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. diterbitkan kartu induk uji berkala yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia dan/atau tanda uji berkala. e. nomor motor penggerak/mesin. dapat mengajukan keberatan kepada pimpinan unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. (4) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang namun surat pernyataan tidak lulus uji yang dimilikinya telah habis masa berlakunya. tanggal dan nomor pengesahan uji tipe. p. dimensi kendaraan (rumah-rumah/bak muatan). daya motor penggerak. Paragraf 3 Bukti Lulus Uji Pasal 169 (1) Setiap kendaraan bermotor wajib uji yang didaftarkan untuk dilakukan uji berkala untuk yang pertama kali. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. bahan bakar yang digunakan.

nomor rangka landasan kendaraan bermotor. nomor dan tanggal sertifikat registrasi uji tipe. foto berwarna tampak samping kanan. c. dan nomor urut pengujian. kiri. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk mobil barang dan mobil bus. nomor dan tanggal pengesahan tipe bagi kendaraan yang di uji fisik dan nomor pengesahan yang dilakukan melalui penelitian rekayasa dan rancang bangun. Pasal 171 (1) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. l. f. nama dan tanda tangan tenaga penguji yang mengesahkan masa uji berkala untuk yang pertama kali. m. tahun pembuatan/perakitan. nama pemilik. j. merek/tipe. (4) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilampirkan setiap akan melakukan pengujian berkala kecuali pengujian berkala yang dilakukan diluar wilayah domisili kendaraan. daya motor penggerak. h. r. nomor uji kendaraan. (3) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama kendaraan yang bersangkutan masih termasuk sebagai kendaraan wajib uji. alamat pemilik. (3) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sesuai dengan wilayah domisili kendaraan . isi silinder. 70 . i. b.Draft RPP 19 Juli 2010 q. e. kode Kabupaten/kota. (2) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berisikan kode wilayah yang terdiri dari kode provinsi. depan dan belakang kendaraan bermotor. kode tahun pendaftaran uji. g. kode jenis kendaraan bermotor. d. n. s. Pasal 170 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah diuji berkala untuk pertama kali diberi nomor uji kendaraan bermotor. tempat dan tanggal dilakukan uji pertama kali. k. jenis. Catatan : Pengecualian ini berlaku pada saat sistem pengujian berkala telah terbangun sistem online yang sudah tidak ada lagi istilah numpang uji. nama dan identitas penanggung jawab unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang menerbitkan kartu pengujian berkala.berat kosong kendaraan.

(2) Perubahan bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan: a. lulus uji berkala. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. s. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. e. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. daya angkut orang dan barang. u. konfigurasi sumbu roda. t. ukuran utama kendaraan. d. (2) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. jumlah berat yang diizinkan untuk kendaraan bermotor tunggal dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau tempelan. pedoman nomor uji. memiliki identitas pemilik kendaraan. x. Pasal 173 Ketentuan lebih lanjut mengenai kartu induk uji berkala. c. v. daya angkut. masa berlaku uji kendaraan. muatan sumbu terberat. kartu uji dan tanda uji diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungj awab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. memiliki identitas pemilik kendaraan. bahan bakar yang digunakan. 71 . jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk mobil barang dan mobil bus. Pasal 172 (1) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (1) yang berbentuk stiker ditempel pada kaca depan sisi kiri bawah bagian dalam. r. q. b. p. w. masa berlaku hasil uji. d. hasil uji. c. kode wilayah pengujian. melampirkan surat tanda terima laporan bagi kendaraan yang tidak dapat melaksanakan pengujian berkala pada saat masa berlaku uji berakhir. b. ukuran ban. b. (2) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi : a. Pasal 174 (1) Perpanjangan masa berlaku bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a.Draft RPP 19 Juli 2010 o.

Draft RPP 19 Juli 2010 c. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor agen tunggal pemegang merek. apabila bukti lulus uji berkala hilang. Pasal 175 (1) Pemilik kendaraan bermotor yang telah mendapatkan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 harus melaporkan secara tertulis kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala apabila : a. dengan menyebutkan alasan-alasannya. lulus uji berkala untuk kendaraan yang mengalami perubahan spesifikasi tekniknya. b. membawa surat keterangan kehilangan dari kepolisian setempat. melampirkan salinan identitas pemilik kendaraan dengan menunjukkan aslinya. b. menyampaikan keterangan mengenai perubahan-perubahan spesifikasi teknik dan/atau data pemilik dan/atau wilayah operasi kendaraan. dan c. Paragraf 4 Unit Pelaksana Uji Berkala Pasal 176 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan oleh : a. memindahkan operasi kendaraannya secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan ke wilayah lain di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. (4) Perpanjangan. pemilik kendaraan dapat melaporkan kepada unit pelaksana pengujian terdekat. (2) Unit pelaksana pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan c. (2) Dalam hal keberadaan kendaraan bermotor berada diluar domisili unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala. pada saat masa berlaku uji kendaraannya berakhir. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor pemerintah Kabupaten/kota. perubahan dan penggantian bukti lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor swasta. d. 72 . tidak dapat melakukan uji berkala. ayat (2) dan ayat (3) diberikan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak diterima permohonan. (3) Penggantian bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. merupakan bengkel umum kendaraan bermotor yang telah ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana LaluLintas dan Angkutan Jalan berdasarkan rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. atau c. atau b. melampirkan bukti lulus uji berkala yang ada untuk bukti lulus uji yang rusak.

(2) Setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki 1 (satu) unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. c. terletak pada lokasi yang mudah dijangkau oleh pemilik kendaraan bermotor. memiliki atau menguasai areal tanah sesuai dengan kebutuhan. sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. Pasal 177 (1) Setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan tentang : a. mengikuti tata cara pengujian. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan unit pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. harus dilakukan akreditasi oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. b. b. sistem dan prosedur.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Unit pelaksanaan uji berkala wajib : a. 73 . membuat rencana dan pelaporan secara berkala setiap penyelenggara pengujian kepada Menteri. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian berkala kendaraan bermotor. e. mempertahankan mutu pengujian yang diselenggarakan. b. dan e. standar fasilitas prasarana dan peralatan pengujian kendaraan bermotor. menggunakan peralatan pengujian. Pasal 178 (1) Lokasi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya: a. (3) Untuk menjamin setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan memenuhi akuntabilitas pelayanan publik. c. lokasi. (4) Dalam hal pengujian dilakukan oleh bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pengesahan uji dilakukan oleh petugas swasta yang memiliki kompetensi yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk pengujian yang dilakukan oleh unit pelaksana pengujian agen tunggal pemegang merek dan unit pelaksana pengujian swasta. d. c. melaksankana pengujian sesuai dengan akreditasi dan sertifikasi. d. kompetensi penguji kendaraan bermotor. standar keakurasian peralatan pengujian kendaraan bermotor. f.

kompresor udara. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai spesifikasi teknis peralatan uji berkala kendaraan bermotor dan peralatan pendukungnya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. e. d. dan ketebalan asap gas buang. (2) Peralatan uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi : a. alat pengukur berat. Pasal 179 (1) Unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 ayat (1) harus memiliki peralatan uji. n. alat uji suspensi roda (pit wheel suspension tester) dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan. alat pengukur tekanan udara. h. generator set. alat uji kincup roda depan (side slip tester). pelaksanaan pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan unit pengujian berkala keliling. l. c. f. alat pengukur dimensi. m. i. alat uji rem. 74 . g. peralatan bantu. b. Pasal 180 (1) Pada setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi atau media informasi lainnya yang berisikan prosedur pengujian berkala kendaraan bermotor. alat pengukur suara (sound level meter). meliputi alat uji karbon monoksida (CO). alat uji speedometer. o. hidro karbon (HC). alat uji kaca. alat uji kebisingan. dan/atau karena kondisi geografisnya tidak memungkinkan kendaraan dari satu tempat mencapai tempat unit pelaksana pengujian. alat uji lampu utama. j. alat uji emisi gas buang.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Suatu daerah yang hanya memiliki kendaraan wajib uji relatif sedikit dibanding dengan luas daerah yang harus dilayani. k. (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca setiap saat oleh pemohon.

Penjelasan ayat (1): Yang dimaksud dengan sekurang-kurangnya satu tahun sekali adalah dimungkinkan pelaksanaan kalibrasi lebih dari satu kali dalam setahun untuk unit pelaksana pengujian kendaraan yang disesuaikan dengan jumlah kendaraan bermotor yang diuji) atau kondisi peralatan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kalibrasi diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor pada pemerintah provinsi DKI Jakarta. (2) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) sistem informasi dan komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat saling terhubung (on line) dan terintegrasi antara daerah dengan kementerian perhubungan serta dapat diakses oleh masyarakat.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 181 (1) Unit pelaksana pengujian berkala wajib membangun sistem informasi dan komunikasi. 75 . peralatan pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 179 harus dikalibrasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali. Pasal 182 (1) Untuk menjamin keakurasian dan keselamatan pemakaian. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161. Pasal 183 (1) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan/atau gubernur atau pejabat yang ditunjuk. (3) Unit pengujian kendaraan bermotor yang tidak melakukan kalibrasi peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka hasil uji berkala kendaraan bermotor tidak dapat dipertanggung jawabkan. (4) Biaya kalibrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada unit pengujian kendaraan bermotor yang bersangkutan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Kalibrasi peralatan uji pada unit pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan.

Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Bentuk pengawasan dan pengontrolan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan (4) berupa melakukan uji petik terhadap sekurang-kurangnya 2 (dua) unit kendaraan bermotor atau 5% (lima persen) kendaraan bermotor hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih secara random. (4) Uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada hari yang sama dengan mengirim penguji kendaraan bermotor yang memiliki sertifikat kompetensi ke unit-unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih. Penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan sesuai tingkat kewenangannya adalah kewenangan untuk menandatangani pada kolom hasil uji dan masa berlaku uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor sesuai ketentuan yang berlaku. 76 . tidak merasa terganggu dengan adanya uji petik tersebut) (5) Hasil uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai salah satu penilaian hasil pemeriksaan kinerja unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. (4) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan berdasarkan pertimbangan tingkat wewenang dan tanggung jawab penguji secara berjenjang. (2) kompetensi tenaga penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan berdasarkan tingkat keahlian. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan uji petik dan bentuk laporan hasil uji petik diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang yang diperoleh setelah mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan dan uji kompetensi pengujian kendaraan bermotor. Penjelasan ayat (4) : yang dimaksud dengan uji petik dilakukan pada hari yang sama adalah dimaksudkan supaya pemilik kendaraan bermotor yang sedang mengujikan kendaraannya di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih untuk uji petik. (3) Penguji yang memenuhi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis penguji kendaraan bermotor oleh menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasana. Bagian Keempat Kualifikasi Teknis dan Kompetensi Penguji Kendaraan Bermotor Pasal 184 (1) Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) dilakukan oleh tenaga penguji yang memiliki kompetensi penguji kendaraan bermotor.

dan bengkel umum. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penjelasan: yang dimaksud dengan pengesahan hasil uji adalah penandatanganan pada kolom hasil uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor. 77 . (2) Pelaksanaan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh agen tunggal pemegang merek. ayat (3). Yang dimaksud dengan petugas adalah petugas penguji Pemerintah maupun petugas penguji swasta. wajib memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan persyaratan. Pasal 185 Pengesahan hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor dilakukan oleh petugas yang memilik kompetensi pengujian kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. BAB VII BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Persyaratan dan Penyelenggaran Bengkel Umum Pasal 187 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor berfungsi untuk memperbaiki dan merawat kendaraan bermotor agar tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan Peraturan perundang – undangan.Draft RPP 19 Juli 2010 (5) Sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku di seluruh Indonesia. Pasal 186 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 merupakan kewajiban Pemerintah dan dalam penyelenggaraannya dapat tidak dipungut biaya. (6) Setiap tenaga penguji yang sedang menjalankan tugas wajib mengenakan tanda kualifikasi teknis. prosedur pengangkatan tenaga penguji serta tanda kualifikasi teknis penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). negara wajib memberikan kompensasi. swasta. ayat (2).

Bengkel tipe B. bengkel kelas II tipe A. fasilitas dan peralatan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas tingkat pemenuhan terhadap persyaratan sistem mutu. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. yaitu : a. (5) Penetapan klasifikasi bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melalui sistem sertifikasi bengkel umum. (3) Bengkel umum yang memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan terbagi atas beberapa klasifikasi : a. (3) Bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. serta manajemen informasi. atau jenis pekerjaan perawatan berkala. serta perbaikan sasis dan bodi kendaraan. bengkel kelas I tipe A. perbaikan kecil. b. perbaikan besar. dan C. bengkel kelas III tipe A. B. perbaikan besar. mekanik. Bengkel tipe A. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. perbaikan kecil. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala dan perbaikan kecil. dan perbaikan besar. B. dan C. bengkel umum agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor. B. c. (2) Kualitas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bahwa bengkel umum tersebut mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. dan C. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. Bengkel tipe C. c. b. perbaikan kecil. 78 . (4) Tipe bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas jenis pekerjaaan yang mampu dilakukan. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. Bagian Kedua Akreditasi Bengkel Umum Untuk Pengujian Berkala Pasal 188 (1) Bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. (6) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang industri. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan sistem sertifikasi bengkel umum diatur oleh Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. b. bengkel umum swasta (bukan agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor). perbaikan kecil.

analisis dampak lalu lintas. Pasal 190 (1) Bengkel umum dapat dilengkapi fasilitas prasarana. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. memiliki peralatan dan fasilitas pengujian berkala. c. sumber daya manusia. (2) Penetapan bengkel pemasangan. perawatan. 79 . perawatan. e. (4) Rekomendasi yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a terkait dengan aspek keamanan lingkungan. memiliki akreditasi dari Pemerintah. d. b. dan sistem prosedur sebagai bengkel pemasangan. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem sertifikasi. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian akreditasi dan penetapan bengkel umum menjadi unit pelaksana pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. pengalaman menjadi bengkel umum kelas I tipe A sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun. izin usaha bengkel kendaraan bermotor dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota setempat dan mendapat rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan rekomendasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. (3) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. (3) Penetapan bengkel umum kendaraan bermotor menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor oleh Menteri yang bertangung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 189 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 dapat menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. (2) Bengkel umum yang melakukan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan : a. peralatan.

(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Kesatu Bagi Penguji Pasal 192 (1) Setiap Penguji yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 dikenakan sanksi administratif. Penjelasan ayat (1): yang dimaksudkan rekomendasi adalah memberikan keterangan bahwa bengkel yang didirikan tidak mengganggu keamanan dan ketertiban. (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/kota. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. peringatan tertulis. 80 . pencabutan tanda kualifikasi. Pasal 193 (1) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 203 ayat (2) huruf a dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut untuk jangka waktu masing – masing 30 (tiga puluh) hari kalender.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Ketiga Perizinan Bengkel kendaraan Bermotor Pasal 191 (1) Penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor yang akan dijadikan unit pengujian berkala harus mendapatkan izin dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia. dikenai sanksi administratif berupa pencabutan tanda kualifikasi. (3) Pencabutan tanda kualifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender. atau b. (2) Apabila peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Penguji tidak mengindahkannya setelah berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ke 3 (tiga).

peringatan tertulis. h. Pasal 196 (1) Selain dikenai sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (2) Pemilik kendaraan bermotor.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 194 Bengkel umum yang menyelenggarakan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pencabutan hak operasi selaku unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. atau b. terbukti melakukan pungutan biaya uji melebihi biaya yang telah ditetapkan. tidak melakukan perawatan dan perbaikan terhadap peralatan uji berkala yang menjadi tanggung jawabnya. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. tidak bersedia menerima petugas yang sedang ditugaskan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan tanpa alasan yang jelas. tidak mengoperasikan peralatan uji saat melakukan pengujian berkala. Pasal 195 (1) Setiap pemilik kendaraan bermotor yang tidak melakukan pengujian kendaraannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 ayat (1) dikenakan sanksi administratif.00 (dua ratus juta rupiah). pencabutan izin. terbukti mempersulit proses pelaksanaan pengujian berkala. Pasal 197 (1) Sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dan Pasal 167 dapat dicabut apabila : a. dikenai sanksi denda admnistratif paling banyak Rp. tidak melaksanakan kalibrasi secara berkala. b.000. (2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengabaikan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. 81 . kendaraan diubah spesifikasi tekniknya sehingga tidak sesuai lagi dengan data yang ada pada sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala kendaraan yang bersangkutan.000. yang meliputi : a. tidak mengisi data teknis dan hasil uji berkala secara benar pada tanda bukti lulus uji berkala. c. apabila melakukan pelanggaran.200. i. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. tidak menyelenggarakan sistem informasi dan administrasi pengujian berkala secara baik dan bertanggung jawab. e. g. d. f.

mengalihkan pemilikan kendaraan bermotor sehingga nama pemilik tidak sesuai lagi dengan yang tercantum dalam bukti lulus uji berkala. c. 82 . tanda uji dan tanda samping yang telah ada dinyatakan masih berlaku sampai habis masa berlakunya dan paling lama 5 (lima) tahun harus menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini. kendaraan dioperasikan secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 199 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku rem motor untuk sepeda motor yang baru dan yang sudah beroperasi harus menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. (2) Pemilik kendaraan bermotor yang sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkalanya dicabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan bukti lulus uji berkala baru setelah yang bersangkutan melakukan uji berkala kembali sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Draft RPP 19 Juli 2010 b. wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor (on line system). Pasal 200 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku. Pasal 201 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku setiap unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor paling lama 5 (lima) tahun. Pasal 198 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. penggunaan buku uji.

. Pasal 204 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA H. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi di cabut dan dinyatakan tidak berlaku. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 203 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini.Draft RPP 19 Juli 2010 BAB XI PENUTUP Pasal 202 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini.. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR ... 83 . Agar setiap orang mengetahuinya. semua Peraturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi yang mengatur tentang Kendaraan dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful