Draft RPP 19 Juli 2010 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG KENDARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Tentang Kendaraan; a. Pasal 5 ayat (1) serta Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); TAHUN

Mengingat

:

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH KENDARAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas Kendaraan

REPUBLIK

INDONESIA

TENTANG

Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.

2. Kendaraan Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan

mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel.

1

Draft RPP 19 Juli 2010
3. Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga

manusia dan/atau hewan.

4. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap Kendaraan yang digunakan untuk

angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.

5. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-

rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. tempat duduk maksimal 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya tidak lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. duduk lebih dari 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram.

6. Mobil Penumpang adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki

7. Mobil Bus adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki tempat

8. Mobil Bus Gandeng adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan gandengannya,

yang gandengannya mempunyai sedikitnya 2 (dua) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak vertikal (terhadap bus gandengan) dan mengontrol arah sumbu roda depan gandengan tetapi tidak membebani sumbu bus penarik dan memiliki lorong penghubung. tempelannya mempunyai sedikitnya 1 (satu) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak horizontal dan vertikal (terhadap bus tempelan) dan membebani sumbu bus penarik. penghubung kedua lantai tersebut. barang.

9. Mobil Bus Tempel adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan tempelan, yang

10. Bus Tingkat adalah bus yang memiliki dua lantai dan dilengkapi tangga sebagai

11. Mobil Barang adalah Kendaraan Bermotor yang digunakan untuk angkutan

12. Rumah – Rumah adalah bagian dari kendaraan bermotor jenis mobil penumpang

atau mobil bus atau mobil barang, yang berada pada landasan berbentuk ruang muatan, baik untuk orang maupun barang.

13. Pengujian Kendaraan Bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau

memeriksa bagian-bagian atau komponenkomponen kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.

2

Draft RPP 19 Juli 2010
14. Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Tipe Kendaraan

Bermotor adalah pengujian yang dilakukan terhadap fisik kendaraan bermotor atau penelitian terhadap rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan sebelum kendaraan bermotor tersebut dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor secara massal serta kendaraan bermotor yang dimodifikasi. adalah pengujian kendaraan bermotor yang dilakukan secara berkala terhadap setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan, yang dioperasikan di jalan.

15. Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Berkala

16. Sertifikat Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal

Perhubungan Darat sebagai bukti bahwa tipe kendaraan bermotor atau landasan kendaraan bermotor yang bersangkutan telah lulus uji tipe. pengesahan dari Pemerintah sebagai bukti bahwa rancangan kendaraan bermotor, kereta gandengan, atau kereta tempelan tersebut telah memenuhi persyaratan teknis.

17. Pengesahan Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor adalah Surat

18. Sertifikat Registrasi Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur

Jenderal Perhubungan Darat, sebagai bukti bahwa setiap kendaraan bermotor, landasan kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan/atau kereta tempelan yang dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor atau dimodifikasi memiliki spesifikasi teknik sama/sesuai dengan tipe kendaraan yang telah disahkan atau rancang bangun dan rekayasa kendaraan yang telah disahkan, yang merupakan kelengkapan persyaratan pendaftaran dan pengujian berkala kendaraan bermotor. dan/atau peruntukannya yang dapat mengakibatkan perubahan spesifikasi teknik utama. produksi yang telah memiliki sertifikat uji tipe.

19. Modifikasi Kendaraan Bermotor adalah kendaraan bermotor yang diubah bentuk

20. Uji Sampel adalah pengujian kesesuaian terhadap spesifikasi teknik terhadap seri 21. Kendaraan Khusus adalah Kendaraan Bermotor yang dirancang khusus yang

memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu, antara lain: a. Kendaraan Bermotor Tentara Nasional Indonesia; b. Kendaraan Bermotor Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Alat berat antara lain bulldozer, traktor, mesin gilas (stoomwaltz), forklift, loader, excavator, dan crane; serta d. Kendaraan khusus penyandang cacat.

22. Kereta Gandengan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut

barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor.

3

Draft RPP 19 Juli 2010
23. Kereta Tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang

yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan bermotor penariknya. yang dipasang simetris atau pada dasarnya simetris terhadap bidang membujur tengah kendaraan, walaupun roda-roda tersebut tidak dipasang pada satu sumbu yang sama. maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya.

24. Roda Pada Satu Sumbu adalah roda tunggal atau roda ganda atau beberapa roda

25. Jumlah Berat Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBB adalah berat

26. Jumlah Berat Kombinasi Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBKB

adalah berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya. yang selanjutnya disebut JBI adalah berat maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui. berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui.

27. Jumlah Berat Yang Diizinkan

28. Jumlah Berat Kombinasi yang Diizinkan yang selanjutnya disebut JBKI adalah

29. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik

Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

30. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah 31. Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin kementerian negara dan

bertanggung jawab atas urusan pemerintahan di bidang Jalan, bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bidang industri, bidang pengembangan teknologi, atau bidang pendidikan dan pelatihan. BAB II JENIS DAN FUNGSI KENDARAAN Pasal 2

Kendaraan terdiri atas: a. b. Kendaraan Bermotor; dan Kendaraan Tidak Bermotor.

4

atau b. mobil bus. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. kendaraan khusus. kendaraan untuk angkutan barang. dikelompokan berdasarkan peruntukan: a. delman. kereta dorong atau kereta tarik. huruf c dan (3) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sepeda. Pasal 4 (1) Kendaraan tidak bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. c. b. 5 . antara lain : a. mobil penumpang. becak. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. dirancang dengan ruang untuk pengemudi dan ruang untuk penumpang. Pasal 5 (1) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a. d. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. dirancang dengan ruang untuk mengangkut orang dan ruang untuk mengangkut barang terpisah dengan penyekat atau dinding. sepeda motor. dikelompokan berdasarkan fungsi: a. Kendaraan Bermotor umum. mobil penumpang dan mobil bus. kendaraan untuk angkutan orang. dikelompokkan dalam: a. e. huruf d . b. antara lain : a. (2) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. dan b. dan b. cikar. Kendaraan Bermotor perseorangan. (2) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. mobil barang. dan b.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 3 (1) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dikelompokkan berdasarkan jenis: a. dan penjelasan ayat (1) huruf d Termasuk dalam pengertian mobil barang setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor. c.

Station Wagon. ruang pengemudi dan penumpang. Multy Purpose Vehicle.000 (lima ribu) kilogram dan jumlah tempat duduk lebih dari 8 (delapan) orang termasuk pengemudi dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1. terpisah secara permanen atau tidak permanen ruang pengemudi dan penumpang di bagian tengah. All Purpose Vehicle. Mobil Penumpang sedan.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa kereta samping. ruang mesin. 2. meliputi : a. mobil jenazah. penjelasan mobil penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang dirancang terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. dan ruang bagasi di bagian belakang atau depan.500 (tiga ribu lima ratus) sampai dengan 5. c. c. pengertian bukan sedan antara lain Sport Utility Vehicle. Mobil Penumpang lainnya yang dirancang untuk keperluan khusus. (2) Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b. meliputi : a. Pasal 6 (1) Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a. ruang penumpang dan/atau bagasi. Mobil Penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang terdiri dari: 1. Kendaraan Bermotor roda 3 (tiga) tanpa rumah-rumah.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (2) yang dimaksud dengan ruang untuk mengangkut barang adalah berbentuk bak muatan terbuka atau bak muatan tertutup (box). Hatch Back. mobil bus kecil. yang memiliki 3 (tiga) ruang yang terdiri dari: 1. Penjelasan huruf c yang dimaksud dengan mobil penumpang lainnya contoh mobil ambulance. ruang pengemudi. b. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa rumah-rumah. ruang mesin. penjelasan terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. ruang pengemudi dan penumpang dan/atau bagasi. meliputi : a. 6 . 3. 2. ruang bagasi. yang dirancang khusus. b. (3) Mobil Bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3.

7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. ukuran panjang keseluruhan kendaraan bermotor lebih dari 9.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (sembilan ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (dua puluh satu ribu) kilogram sampai dengan 24.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13.000 (dua puluh empat ribu) kilogram. c. ukuran panjang keseluruhan lebih dari 12.Draft RPP 19 Juli 2010 b.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 13. e.000 (delapan ribu) sampai dengan 16. mobil bus gandeng yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22. mobil bus tempel yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.200 (empat ribu dua ratus) milimeter. mobil bus besar. g.000 (dua puluh empat ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan sekurang-kurangnya 9.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 5. catatan: perlu dirumuskan kembali.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (delapan ribu) kilogram.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan ukuran tinggi mobil bus tingkat tidak lebih dari 4.000 (lima ribu) sampai dengan 8.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26. ukuran panjang keseluruhan tidak melebihi 9.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4. mobil bus tingkat yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) sekurang-kurangnya 21.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. bus besar 7 . bus sedang dengan jumlah tempat duduk maksimal 32. yang dirancang. mobil bus sedang.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26. d. contoh: bus kecil dengan jumlah tempat duduk maksimal 16.000 (dua belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. mobil bus maxi.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.100 (dua ribu seratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1.000 (dua belas ribu) milimeter sampai dengan 13. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 8.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 12. f.000 (enam belas ribu) kilogram sampai dengan 24.000 (enam belas ribu) kilogram. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 16.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.

penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan tertutup adalah antara lain seperti box. gas mampat. non dump truck.. panser. peti kemas. Security Barrier. kendaraan lapis baja yang digunakan untuk tempur dan kendaraan yang dirancang khusus yang dimiliki oleh.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan jumlah tempat duduk maksimal 58. mobil barang bak muatan terbuka. b. penjelasan yang dimaksud mobil barang tangki adalah mobil yang dirancang untuk mengangkut barang cairan. flat deck. cair. d. mobil barang kabin ganda. mobil barang kabin ganda. barang yang mudah meledak. 8 . gas cair. kendaraan untuk menarik kereta tempelan. penjelasan huruf a: yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan terbuka adalah antara lain seperti dump truck. d. barang curah. antara lain: a. wing box. yang dimaksud dengan mobil barang khusus adalah angkutan yang membutuhkan mobil barang yang dirancang khusus untuk mengangkut benda yang berbentuk curah. bahan penghasil oksidan..dll c. g. racun dan bahan yang mudah menular. dan gas. mobil barang bak muatan tertutup. b. dan h. hewan hidup. antara lain: a.. barang yang bersifat radioaktif. Penjelasan : yang dimaksud dengan mobil barang kabin adalah:mobil barang kabin ganda (double cabin). Catatan: Perlu dijelaskan definisi kendaraan untuk menarik kereta tempelan (5) Kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e. EOD (Explosive Ordinance Disposal. atau gas. padatan mudah menyala. box freezer. gas terlarut pada tekanan atau temperatur tertentu. Kendaraan tank. e. cairan mudah menyala. tumbuhan. mempunyai fungsi dan dirancang bangun tertentu. f. Commander Call Carrier. barang yang bersifat korosif. mobil barang tangki. meliputi: a. yang dirancang memiliki 2 (dua) baris tempat duduk pengemudi dan penumpang dengan ruang barang yang terpisah secara permanen dan/atau tidak permanen oleh dinding atau sekat. c.dan disesuaikan dengan RPP tentang Angkutan (4) Mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d. dan alat berat serta membawa barang berbahaya.

diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. g. excavator. c. stoomwaltz. dan Commander Call Carrier. buldozer. dan/atau i. dan crane. pemuatan. d.Draft RPP 19 Juli 2010 b. Security Barrier. BAB III PERSYARATAN TEKNIS DAN LAIK JALAN KENDARAAN BERMOTOR. dan kendaraan taktis lainnya yang dirancang khusus dan dimiliki oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. susunan. Anti Personel Carrier (APC). Pasal 9 (1) Ketentuan mengenai persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 berlaku bagi setiap jenis kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf i untuk Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor. loader. karoseri. (2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. f. h. e. perlengkapan. rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya. EOD (Explosive Ordinance Disposal. 9 . Pasal 7 Ketentuan lebih lanjut mengenai Fungsi Kendaraan Bermotor. KERETA GANDENGAN DAN KERETA TEMPELAN Bagian Kesatu Ketentuan Umum Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Paragraf 1 Persyaratan Teknis Pasal 8 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis. penggunaan. d. Kendaraan alat berat antara lain traktor. forklift. penggandengan Kendaraan Bermotor. kendaraan khusus penyandang cacat. c. Kendaraan water canon. penempelan Kendaraan Bermotor. ukuran. b. kecuali kendaraan khusus milik TNI dan Polri sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (5) huruf a dan huruf b.

Pasal 11 (1) Setiap rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. dapat dilakukan melalui perhitungan-perhitungan teknis dengan menggunakan norma-norma teknologi yang telah baku. dikonstruksi menyatu atau secara terpisah dengan badan kendaraan yang bersangkutan. sistem lampu dan alat pemantul cahaya. d. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat. dapat menahan seluruh beban. b. rangka landasan. f. (2) Rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Kendaraan bermotor yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. h. Penjelasan Ayat (1) Untuk mengetahui bahwa rangka landasan kendaraan bermotor memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. getaran dan goncangan kendaraan berikut muatannya. i. sistem kemudi. dilengkapi dengan peralatan penarik yang dirancang khusus untuk itu. c. penjelasan yang dimaksud dengan rangka landasan adalah rangka atau chassis atau landasan. sistem pembuangan. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. c. b. sistem penerus daya. baik dengan menggunakan peralatan uji konstruksi maupun uji jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan terhadap: a. sistem suspensi. sistem roda-roda. d. Pasal 12 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 harus dibubuhkan nomor rangka landasan. komponen pendukung. sebesar jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan atau jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. j. atau melalui uji konstruksi. g. c. 10 . tahan terhadap korosi. dilengkapi dengan alat pengait di bagian depan dan bagian belakang kendaraan bermotor. Pasal 10 Susunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a terdiri atas: a. motor penggerak. e. b. kecuali sepeda motor. sistem rem.

(3) Untuk rangka landasan yang menyatu dengan badan kendaraan. buku uji. (2) Kendaraan bermotor jenis mobil penumpang dan mobil bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3) harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan orang. Pasal 14 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis konstruksi rangka landasan. surat tanda nomor kendaraan bermotor. tata cara penomoran rangka landasan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penjelasan Ayat (2) Nomor rangka landasan kendaraan bermotor harus dibubuhkan secara permanen dan tidak dapat dihapus selama kendaraan bermotor yang bersangkutan dioperasikan di jalan. nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditempatkan pada bagian tertentu badan kendaraan secara permanen dan mudah dilihat serta dibaca. 11 . pada saat akan dibuat melalui karoseri kendaraan bermotor harus sesuai peruntukannya. Penjelasan Ayat (3) Nomor rangka landasan yang dibubuhkan pada badan kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 13 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a. untuk keperluan penulisan jati diri atau identitas kendaraan bermotor yang bersangkutan pada sertifikat regristasi. (4) Kendaraan bermotor jenis kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf e dapat menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang atau angkutan orang. Oleh karena itu. Nomor rangka landasan kendaraan bermotor tersebut merupakan identitas atau jati diri kendaraan yang bersangkutan. (3) Kendaraan bermotor jenis mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf d harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu rangka landasan dan mudah dilihat dan dibaca serta ditulis dalam bentuk embos ke dalam atau keluar. maka setiap pembuat kendaraan bermotor melaporkan sistem penomoran dan lokasi penomoran rangka landasannya. konstruksi rangka landasan yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. konstruksi pengait kendaraan bermotor. dan buku pemilik kendaraan bermotor.

dan butir e tidak berlaku untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan tidak melebihi 25 (dua puluh lima) kilometer per jam pada jalan datar. selain sepeda motor harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 4.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 15 (1) Motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. butir d. motor penggerak yang digerakan oleh gabungan 2 (dua) jenis motor penggerak di atas. motor listrik. motor bakar.50 (lima koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. Penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan tidak melebihi 25 kilometer per jam adalah mengacu ke EEC No. f.50 (empat koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. mempunyai daya untuk dapat mendaki pada jalan tanjakan dengan sudut kemiringan maksimum 8 (delapan derajat) dengan kecepatan minimum 20 (dua puluh) kilometer per jam pada segala kondisi jalan. Pasal 16 (1) Pada setiap motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). b. penjelasan huruf a yang termasuk motor bakar adalah dengan bahan cair dan/atau gas. c. e. c. butir c. motor penggerak kendaraan bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan. harus dibubuhkan nomor motor penggerak sesuai dengan peraturan perundangundangan. 2002/24/EEC) (2) Motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam beberapa jenis : a.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). penjelasan yang dimaksud dengan motor penggerak sama dengan mesin atau engine 12 . d. motor penggerak kendaraan bermotor yang digunakan untuk menarik kereta gandengan. kereta tempelan. harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 5. b. perbandingan antara daya motor penggerak dan berat kendaraan khusus atau sepeda motor ditetapkan sesuai dengan kebutuhan lalu lintas dan angkutan serta kelas jalan. motor penggerak dapat dihidupkan dari tempat duduk pengemudi. bus tempelan dan bus gandengan selain sepeda motor. ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir b.

gear box.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu motor penggerak dan mudah diidentifikasi dalam bentuk embos ke dalam atau keluar atau dalam bentuk lain. dan pipa pembuangan. pipa pembuangan tidak melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor. dan/atau c. sistem penerus daya manual. diarahkan ke arah kanan bagian depan ruang pengemudi. Pasal 18 (1) Sistem penerus daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf d harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan pengguna jalan lain adalah termasuk orang yang sedang berdiri atau berjalan di pinggir jalan. peredam suara. sistem pembuangan kendaraan pengangkut bahan yang mudah terbakar. d. sistem penerus daya kombinasi otomatis dan manual. asap dari hasil pembuangan tidak boleh mengarah pada tangki bahan bakar atau roda pada sumbu belakang kendaraan. e. arah pipa pembuangan harus dibuat dengan posisi yang tidak mengganggu pengguna jalan lain. transmisi atau perseneling adalah sistem untuk meneruskan tenaga dari mesin ke roda dapat berupa : a. dan untuk mobil bus diarahkan ke arah belakang pada sisi kanan. b. dirancang dan dibuat dari bahan yang cukup kuat sehingga memenuhi ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. (2) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. ke belakang atau ke sisi kanan di sebelah belakang ruang penumpang dengan sudut kemiringan tertentu terhadap garis tengah kendaraan bermotor yang menjamin keselamatan. f. b. penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan pipa pembuangan tidak boleh melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor adalah untuk menghindari terjadinya pusaran-pusaran (turbulensi) yang dapat mengakibatkan masuknya asap atau gas buang ke ruang penumpang. Penjelasan ayat (1) Yang dimaksud dengan sistem penerus daya. termasuk dalam hal ini pipa pembuangan yang tidak boleh terlalu pendek). gas buang dan asap dari sistem pembuangan kendaraan bermotor kecuali sepeda motor diarahkan ke atas. Pasal 17 (1) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c sekurangkurangnya terdiri atas manifold. sistem penerus daya otomatis. c. 13 .

kereta gandengan dan kereta tempelan. kapan ban-ban dan pelek-pelek tersebut boleh digunakan pada kendaraan dan kapan tidak boleh digunakan lagi. sumbu roda. (3) Keharusan untuk melengkapi sistem penerus daya yang memungkinkan kendaraan bermotor dapat bergerak mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk : a. dikaitkan dengan tekanan kerja ban. maka kendaraan tersebut harus dikonstruksi dengan menggunakan sumbu ganda atau lebih. (2) Roda-roda sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). Sepeda Motor. (3) Ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki adesi yang cukup. baik dengan atau tanpa kereta samping. 14 . baik pada jalan kering maupun jalan basah. besarnya beban yang diperbolehkan untuk masing-masing ukuran ban. atau kereta tempelan yang dirancang dan dibuat untuk mengangkut beban tertentu sebesar jumlah berat yang diperbolehkan ternyata beban pada masing-masing sumbu tunggalnya melebihi kemampuan kelas jalan yang akan dilalui. kereta gandengan dan kereta tempelan harus dihitung dan dirancang atau dibuat sedemikian rupa sehingga mampu memikul beban dinamis kendaraan sebesar jumlah berat yang diperbolehkan (JBB). kereta gandengan. cara pemasangan. Sepeda Motor beroda tiga yang roda-rodanya dipasang semetris terhadap bidang tengah arah memanjang. (4) Ukuran roda berupa pelek dan ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang digunakan pada kendaraan bermotor harus memiliki ukuran dan kemampuan yang disesuaikan dengan Jumlah berat kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan. b. Penjelasan ayat (3): Dalam hal kendaraan bermotor. Untuk dapat memberikan jaminan keselamatan secara teknis terhadap penggunaan ban-ban dan pelek-pelek pada kendaraan bermotor. Dengan demikian maka dapat diketahui secara pasti. dan b. dan tingkat keausan serta kerusakannya. Penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan ban bertekanan adalah ban yang berongga yang dapat diisi dengan gas. roda-roda. Sumbu-sumbu roda kendaraan bermotor. disesuaikan dengan kelas jalan yang dilalui. Pasal 19 (1) Sistem roda-roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf e terdiri atas : a.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Sistem penerus daya sebagai dimaksud pada ayat (1) harus memungkinkan kendaraan bermotor bergerak maju dengan satu atau lebih tingkat kecepatan dan memungkinkan bergerak mundur. berupa pelek dan ban bertekanan serta sumbu-sumbu atau gabungan sumbu dan roda yang dapat menjamin keselamatan.

penjelasan ayat (1) : sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. roda kemudi atau stang kemudi. dapat digerakkan dengan tenaga yang wajar. Pasal 21 Sistem suspensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf f berupa penyangga yang mampu menahan beban. (2) Kendaraan bermotor. yang tidak sesuai dengan ukuran Pasal 20 (1) Rancangan sumbu dan roda dan/atau gabungan sumbu dan roda berikut rodarodanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). (3) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kereta gandengan. pembuatan dan pemasangan batang kemudi dan roda kemudi tidak menimbulkan bahaya bagi pengemudi. Roda kemudi digunakan untuk mobil penumpang. sedangkan stang digunakan untuk sepeda motor roda dua atau roda tiga. getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap jalan. b. Jenis penyangga antara lain berupa pegas daun. harus memperhatikan kelas jalan yang akan dilalui. untuk kepentingan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dapat ditetapkan jenis-jenis suspensi berupa penyangga yang boleh digunakan di Indonesia. Pasal 22 (1) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf g meliputi: a.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (4) Tidak diperbolehkan mengganti roda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Namun demikian. batang kemudi. perancangan. (2) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. penyangga hidrolis. belum tentu seluruh jenis sistem suspensi tersebut cocok untuk digunakan di Indonesia. mobil barang dan kendaraan khusus. penjelasan ayat (1) Kemajuan teknologi memungkinkan banyaknya jenis sistem suspensi yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor. mobil bus. dapat dilengkapi dengan tenaga bantu untuk dapat membantu pengemudi dalam mengendalikan kendaraan. kereta gandengan dan kereta tempelan baru. dan penyangga pneumatis. penjelasan ayat (3): 15 . dan b. harus menggunakan sumbu dan roda yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. dan kereta tempelan. Oleh karena itu.

dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. Pasal 24 Kendaraan Bermotor dengan transmisi otomatis (automatic transmission) harus dilengkapi dengan sistem yang dapat menurunkan putaran mesin ke kondisi yang menjamin keselamatan pada saat dilakukan pengereman. dan b. b. rem utama ditempatkan dekat dengan pengemudi sehingga pengemudi dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kendaraan bermotor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi atau stang kemudi. baik kendaraan bermotor yang berdiri sendiri maupun kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. dalam hal ada bagian rem utama yang tidak berfungsi. rem parkir yang dikendalikan dari ruang pengemudi dan mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. rem utama. bekerja pada semua roda kendaraan sesuai dengan besarnya beban pada masingmasing sumbu. 16 . b. Pasal 26 Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 25 Rem utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. rem tersebut harus dapat bekerja sekurang-kurangnya pada roda-roda yang bersebelahan pada satu sumbu dan dapat digunakan untuk memperlambat dan menghentikan kendaraan.Draft RPP 19 Juli 2010 Dengan ketentuan apabila tenaga bantu (power steering) tersebut tidak bekerja maka kendaraan bermotor tersebut harus tetap dapat dikemudikan dengan tenaga yang wajar. tanjakan maupun turunan. Sistem kemudi yang dilengkapi dengan tenaga bantu harus dapat menurunkan kinerjanya seakan – akan tidak dilengkapi dengan alat bantu apabila kendaraan bermotor tersebut bergerak dengan kecepatan meningkat yang tidak sesuai dengan kecepatan normal. Pasal 23 Sistem rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf h berupa peralatan pengereman yang meliputi : a. c. rem parkir. penjelasan : yang dimaksud dengan menjamin keselamatan antara lain menggunakan alat yang mengembalikan putaran mesin dalam kondisi idle (brake to idle override).

lampu utama jauh. dapat dilihat pada waktu siang atau malam hari oleh pengguna jalan lain.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh lebih dekat ke sisi bagian terluar kendaraan dibandingkan dengan tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. f. lampu penunjuk arah. Pasal 28 Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a. j. lampu posisi belakang. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. dengan syarat : a. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. warna merah. lampu tanda batas secara berpasangan untuk kendaraan bermotor yang lebarnya lebih dari 2.250 (seribu dua ratus lima puluh) millimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. warna merah. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada huruf a. lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan berwarna putih. pemantul cahaya berwarna merah secara berpasangan. k. 17 . tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. e. b. atau kuning muda. d. b. warna kuning tua dengan sinar kelap-kelip. lampu isyarat peringatan bahaya berwarna kuning tua dengan sinar kelap .100 (dua ribu seratus) milimeter berwarna putih atau kuning muda untuk bagian depan dan berwarna merah untuk bagian belakang. warna putih atau kuning muda. i. warna putih. b. c. lampu mundur dengan warna putih atau kuning muda kecuali untuk sepeda motor. warna putih. dipasang secara berpasangan berjumlah 2 (dua) buah dengan syarat : a. Pasal 29 Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b berjumlah genap.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 27 Sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf i meliputi : a. lampu posisi depan. h.kelip. atau kuning muda. Pasal 30 Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf c berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. lampu utama dekat. dengan syarat : a. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. g. lampu rem.

dengan syarat : a.100 mm berbentuk vertical Lampu dengan susunan vertical. penjelasan huruf c : yang dimaksud dengan lampu rem tambahan yaitu antara lain seperti hi-mount stop lamp yang dipasang di bagian dalam kaca belakang. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. dan harus dapat dilihat pada malam serta tidak menyilaukan pengguna jalan lain. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. dapat bersatu dengan lampu utama dekat. c.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dan harus dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pengguna jalan lainnya. berjumlah sekurang-kurangnya 2 (dua) berpasangan pada bagian muka kendaraan dan 2 (dua) berpasangan pada bagian belakang kendaraan. b. Pasal 31 Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf d berjumlah sekurangkurangnya 2 (dua) buah. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. b. Pasal 33 Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf f berjumlah genap.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan diukur pada ujung bagian atas lampu. lampu paling atas adalah lampu posisi Pasal 32 Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf e berjumlah 2 (dua).100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. dengan syarat : a. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. dengan syarat : a. diperbolehkan menggunakan 1 (satu) lampu rem tambahan. di spoiler belakang kendaraan dan sebagainya). mempunyai kekuatan cahaya lebih besar dari lampu posisi belakang dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. b. c. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. d.500 (seribu lima ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian muka kendaraan. 18 . dan d. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan. dipasang di bagian depan. Ketentuan UN-ECE R48 INSTALLATION OF LIGHT MAXIMUM HEIGHT 2. c. Catatan : Sesuai dengan Ergonomis posisi mata pengendara melihat ketinggian lampu.100 mm Susunan lampu dengan ketinggian maksimum 2.Draft RPP 19 Juli 2010 b.

dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. Pasal 35 Lampu penerangan tanda nomor Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf h.500 (seribu lima ratus) milimeter. d. Pasal 37 Lampu tanda batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf j secara berpasangan bagi kendaraan yang memiliki lebar lebih dari 2. berbentuk segitiga untuk kendaraan gandengan dan tempelan. dipasang di bagian belakang kiri atas dan kanan atas kendaraan. dipasang di bagian depan kiri atas dan kanan atas kendaraan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 34 Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf g berjumlah 2 (dua). Pasal 38 Alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf k dipasang secara berpasangan dengan syarat : a. c. Pasal 39 (1) Kendaraan bermotor dapat dilengkapi dengan lampu kabut yang berjumlah paling banyak 2 (dua) buah dipasang di bagian depan kendaraan. dengan syarat : a. dipasang di bagian belakang kendaraan bermotor pada ketinggian tidak melebihi 1. 19 . c. b. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain.200 (seribu dua ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. dan b.100 (dua ribu seratus) milimeter. b. hanya menyala apabila penerus daya digunakan untuk posisi mundur. dipasang di bagian belakang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor kendaraan pada malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang – kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. tepi bagian terluar pemantul cahaya tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. harus dapat dilihat oleh pengemudi kendaraan lain yang berada di belakangnya pada malam hari dengan cuaca cerah dari jarak sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter apabila pemantul cahaya tersebut disinari lampu utama kendaraan dibelakangnya.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. dilengkapi tanda bunyi mundur untuk kendaraan dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. dengan syarat : a. d. Pasal 36 Lampu isyarat peringatan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf i menggunakan lampu penunjuk arah yang menyala secara bersamaan dengan sinar kelap-kelip.

dan bumper kecuali sepeda motor. dilengkapi alat penyemprot kaca. c. b. klakson. yang terpasang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pandangan samping dan belakang dengan jelas. berupa alat pengukur kecepatan mekanis dan/atau alat pengukur kecepatan elektronis. berjumlah dua buah atau lebih. kaca spion. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. d. penghapus kaca kecuali sepeda motor. spakbor. dibuat dari kaca atau bahan menyerupai kaca. f. Pasal 42 Pengukur kecepatan (speedometer) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a. Pasal 43 Kaca spion kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b. digerakkan secara mekanis dan/atau elektronis. harus memenuhi syarat : a.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Lampu kabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengeluarkan cahaya berwarna putih atau kuning. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain pada saat digunakan. d. b. dilengkapi dengan pengukur jarak dan dipasang pada tempat yang mudah dilihat oleh pengemudi. e. tepi terluar permukaan penyinaran lampu kabut tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. Pasal 44 (1) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c. Pasal 40 Ketentuan lebih lanjut mengenai lampu – lampu kendaraan bermotor dan pemantul cahaya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. b. b. (2) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu membersihkan bagian kaca depan dengan cukup luas sehingga pengemudi mempunyai pandangan yang jelas ke jalan. pengukur kecepatan (speedometer). titik tertinggi permukaan penyinaran tidak melebihi titik tertinggi permukaan penyinaran dari lampu utama dekat. dengan syarat : a. c. 20 . Pasal 41 Komponen pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf j meliputi : a. harus memenuhi persyaratan : a. sekurang-kurangnya berjumlah satu buah dipasang di bagian kaca depan. c.

harus mengeluarkan bunyi paling rendah 83 (delapan puluh tiga) desibel (A) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A). ataupun badan kendaraan. c. segitiga pengaman. b. dipasang di depan untuk mobil barang. harus memenuhi persyaratan: a.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 45 Klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf d. Pasal 49 Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf b terdiri atas: a. sabuk keselamatan. ban cadangan. b. (2) Bumper depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menonjol ke depan lebih dari 500 mm (lima ratus milimeter) melewati bagian badan kendaraan yang paling depan. pembuka roda. Pasal 48 Ketentuan lebih lanjut mengenai komponen pendukung diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dongkrak. Pasal 46 (1) Spakbor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf e. dipasang di depan dan belakang untuk mobil penumpang. Pasal 47 (1) Bumper sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf f. helm dan rompi pemantul cahaya bagi pengemudi Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih yang tidak memiliki rumah-rumah. dan g. catatan : tingkat suara paling rendah 83 (delapan puluh tiga) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A) akan diatur lebih lanjut sesuai dengan kategori kendaraannya. mobil bus dan mobil barang berbentuk tangki. e. 21 . (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang kendaraan. d. harus memiliki lebar paling sedikit selebar telapak ban. f. peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan.

b. 22 . Bar Lengkap (complete bar) yaitu lampu peringatan khusus dengan dua atau lebih sistem optik yang memancarkan cahaya berkedip di sekeliling sumbu vertikal. c. Penjelasan : Pemasangan lampu tersebut dapat dipasang secara permanen maupun dapat dipindah-pindahkan (4) lampu isyarat sebagaimana pada ayat (2) huruf b dan c dipasang dibagian atas kabin kendaraan pada sumbu horizontal sejajar dengan bidang median longitudinal kendaraan. b. (2) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. Rotasi atau stasioner yaitu lampu peringatan khusus yang berkedip dengan memancarkan cahaya di sekeliling sumbu vertikal (Kategori T). (6) Panjang lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b tidak boleh melebihi lebar kabin kendaraan. posisi lampu yang berbentuk batang memanjang harus terpasang melintang dan diletakkan diatas atap kendaraan bagian luar. terlihat di siang hari dari jarak sedikitnya 200 (dua ratus) meter dari segala arah. Pasal 51 (1) Untuk kepentingan tertentu. (7) sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. Catatan : Refrensi UN-ECE R65 (3) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dipasang dibagian atas kabin kendaraan sedemikian rupa sehingga dapat memancarkan cahaya secara efektif. Lampu flashing (Strobo) / direct ional flashing lamp yaitu lampu peringatan khusus yang memancarkan cahaya kedap-kedip dengan arah sudut tertentu (Kategori X). Kendaraan Bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene. merah. b. (5) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. dalam keadaan darurat dapat mengeluarkan suara “whooping” Pasal 52 (1) Lampu isyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 terdiri atas warna : a. dapat mengeluarkan suara “hee – haw”secara terus menerus seperti suara meratap.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 50 Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas.

Draft RPP 19 Juli 2010 b. paling sedikit berjumlah 3(tiga) jangkar untuk tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang paling pinggir di samping pengemudi serta paling sedikit berjumlah 2 (dua) jangkar untuk tempat duduk penumpang lainnya. palang merah. harus memenuhi persyaratan : a. b. (4) Penggunaan lampu isyarat dan sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) sebagai berikut: a. (3) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor tahanan. perawatan dan pembersihan fasilitas umum. biru. menderek Kendaraan. dan angkutan barang khusus. b. 23 . tidak mempunyai tepi-tepi yang tajam yang dapat melukai pemakai. lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. dan c. pengawalan Tentara Nasional Indonesia. kepala pengunci harus dapat dioperasikan dengan mudah. dan c. c. pemadam kebakaran. kuning. ambulans. Pasal 54 (1) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf a wajib dipasang di tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang di samping tempat duduk pengemudi. dan jenazah. pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. rescue. dipasang sedemikian sehingga tidak ada benda atau peralatan lain yang mengganggu fungsinya. (2) Lampu isyarat warna merah atau biru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) berfungsi sebagai tanda Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama. lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor patroli jalan tol. d. (3) Lampu isyarat warna kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berfungsi sebagai tanda peringatan kepada Pengguna Jalan lain. Pasal 53 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan lampu isyarat dan sirene diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2) Sabuk keselamatan dapat dipasang di tempat duduk penumpang selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Penjelasan : yang dimaksud dengan ban cadangan adalah ban yang bertekanan Ban cadangan yang dimaksud huruf b hanya untuk digunakan sementara waktu (temporary spare tire) dan dilengkapi pemberian informasi dalam bahasa Indonesia (kecepatan max 60 km/jam pada sisi bagian luar pelek dan warna pelek temporary spare tire dapat berbeda dengan pelek pada ban normal (UNECE R 64) Pasal 56 (1) Segitiga pengaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf c minimal berjumlah 2 (dua) buah. memiliki ukuran lebar tapak yang berbeda dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut tetapi memiliki diameter keseluruhan sama. 24 . Pasal 59 (1) Helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 55 Ban cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. b. memiliki ukuran yang sama dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut. Pasal 58 Pembuka roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf e harus mampu membuka roda kendaraan bermotor yang digunakan dan tidak merusak komponen yang ada pada roda. Pasal 60 Peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf g paling sedikit terdiri dari : a. (3) Setiap sepeda motor dengan atau tanpa kereta samping. Pasal 57 Dongkrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf d paling sedikit harus mampu mengangkat muatan sumbu sesuai dengan muatan sumbu terberat kendaraan bermotor yang digunakan. c. kain kassa (Perban). atau b. (2) Rompi pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus mampu memantulkan cahaya. obat antiseptic. plester. wajib dilengkapi dengan helm sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pengemudi dan penumpangnya. kuat dan tahan terhadap cuaca tertentu. (2) Segitiga pengaman berwarna merah dan bersifat memantulkan cahaya (reflektif). d. kapas.

2.000 (dua belas ribu) milimeter untuk kendaran bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan dan jenis mobil barang yang memiliki sumbu paling sedikit 4 (empat) sumbu. (2) Panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang. e.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. tinggi tidak melebihi 4. Pasal 62 Ukuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf c merupakan dimensi utama Kendaraan Bermotor yaitu panjang. julur depan (front over hang). jarak bebas (ground clearence) antara bagian permanen paling bawah kendaraan bermotor dengan permukaan bidang atau jalan yang rata. Pasal 63 (1) Ukuran Kendaraan Bermotor. Penjelasan : walaupun lebar 2. dengan atau tanpa muatan harus memenuhi syarat: a. dan sudut pergi (departure angle). 12. 3.700 (tiga belas ribu tujuh ratus) millimeter untuk mobil bus yang memiliki paling sedikit 3 (tiga) sumbu.50 % (empat puluh tujuh koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya. maksimum 62. d. c.50 % (enam puluh dua koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya (wheel base). julur belakang (rear over hang).000 (delapan belas ribu) milimeter untuk Kendaraan Bermotor yang dilengkapi dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. Namun tidak termasuk kaca spion di bagian luar kendaraan bermotor. sudut pergi bagian belakang bawah kendaraan sekurang-kurangnya 8° (delapan derajat) diukur dari atas permukaan bidang atau jalan yang rata. lebar. tinggi. 13. panjang tidak melebihi : 1.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan. maksimum 47.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai perlengkapan kendaraan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.500 (dua ribu lima ratus) milimeter tergantung dari lebar chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan maksimal 50 milimeter ke kiri dan ke kanan Yang dimaksud dengan lebar maksimum adalah lebar terluar yang termasuk engsel-engsel. sedangkan yang menjulur ke depan dari sumbu paling depan. lebar tidak melebihi 2. penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor adalah jarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat 25 . handle bak muatan. bukan berarti semua kendaraan boleh memiliki lebar maksimum 2. 18. b.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak lebih dari 1.500 (dua ribu lima ratus) milimeter.

panjang. dan b. Jumlah Berat yang diIzinkan (JBI).500 (tiga ribu lima ratus) milimeter.50 %. bukan berarti semua kendaraan memiliki julur belakang 62. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. b. bak muatan terbuka. Jumlah Berat yang diperBolehkan (JBB). (4) Tanda peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa tulisan yang mudah dilihat oleh pengemudi di dalam ruang pengemudi. daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut. kelas jalan yang dilalui dan spesifikasi tipe landasan kendaraan bermotor. 26 . (3) Bak muatan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. (2) Ukuran bak muatan mobil barang dengan atau tanpa muatan tergantung pada konfigurasi sumbu. wajib dilengkapi dengan tanda peringatan mengenai tinggi kendaraan. c. tergantung dari panjang chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan bumper.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh kecuali untuk kendaraan 2 (dua) sumbu. maksimum 62.bak muatan tertutup. lebar dan tinggi ukuran bak muatan harus sesuai dengan spesifikasi teknis kendaraan bermotor. Pasal 64 (1) Bak muatan mobil barang terdiri atas : a. jarak sumbunya dihitung dari jarak sumbu depan ke sumbu belakang yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor yang memiliki lebih dari satu steering axle maka yang merupakan sumbu terdepan adalah steering axle yang paling depan yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) untuk kereta tempelan adalah jarak yang dihitung dari king pin ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh yang dimaksud dengan jarak sumbu untuk kereta gandengan adalahjarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh walaupun panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang memiliki tinggi total lebih dari 3. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk kendaraan bermotor dengan sumbu belakang tunggal 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) milimeter.50 %. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang kecuali untuk dump truck.

f. ukuran bak muatan harus ditentukan berdasarkan spesifikasi teknis Kendaraan Bermotor. c. b. d. panjang dan lebar bak. (4) Bak muatan tertutup sebagaimana dimakud pada ayat (1) huruf b. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 milimeter pada sisi kiri dan kanan. Penjelasan : Yang dimaksud tinggi bak muatan adalah tinggi bak yang dihitung dari lantai bak sampai dengan tinggi dinding sisi kanan. kiri dan belakang paling atas.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. Kendaraan Bermotor untuk angkutan barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3. Apabila tinggi dinding bak paling depan lebih rendah dari jendela kabin belakang maka harus dipasang teralis besi di jendela kabin tersebut. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk Kendaraan Bermotor dengan sumbu belakang tunggal adalah 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) millimeter. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 (seratus) milimeter pada sisi kiri dan kanan. 27 . Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan.Draft RPP 19 Juli 2010 Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 milimeter pada sisi kiri dan kanan. e. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. d. tinggi bak muatan dihitung bedasarkan perbandingan daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut.

Draft RPP 19 Juli 2010 e. untuk Kendaraan Bermotor barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan; tinggi bak muatan tertutup diukur dari permukaan tanah maksimum 4.200 mm (empat ribu dua ratus milimeter) dan tidak lebih dari 1,7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan bermotor. Pasal 65 (1) Jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk Kendaraan Bermotor, atau rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan atau kereta tempelan ditentukan oleh pembuatnya berdasarkan : a. perhitungan kekuatan konstruksi; b. besarnya daya motor; c. kapasitas pengereman; d. kemampuan ban; e. kekuatan sumbu-sumbu; f. ketinggian tanjakan jalan. (2) Jumlah berat yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus lebih kecil atau sama dengan hasil penjumlahan dari kekuatan masing-masing sumbu. Pasal 66 (1) Jumlah berat yang diizinkan atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan pada setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan, ditentukan berdasarkan : a. berat kosong kendaraan; b. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau c. jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan; d. dimensi kendaraan dan bak muatan; e. titik berat muatan dan pengemudi; f. kelas jalan; g. jumlah tempat duduk yang tersedia, bagi mobil bus. (2) Jumlah berat kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan bagi kendaraan. (3) Jumlah berat kombinasi kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. Pasal 67 (1) Radius putar Kendaraan Bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 12.000 (dua belas ribu) milimeter.
28

f.

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Radius putar Kendaraan Bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 18.000 (delapan belas ribu) milimeter. Pasal 68 (1) Bagian Kendaraan Bermotor atau rangkaian Kendaraan Bermotor beserta muatan yang menonjol, maksimum 2.000 (dua ribu) milimeter dari sisi bagian terluar belakang kendaraan bermotor dan tidak melebihi kaca depan kendaraan bermotor. (2) Apabila muatan menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada ujung muatan ditambah lampu-lampu atau pemantul cahaya. (3) Panjang total kendaraan bermotor beserta muatan yang menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lebih dari ketentuan panjang total sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67. Pasal 69 Rangkaian Kendaraan Bermotor yang diizinkan dioperasikan di jalan, meliputi: a. Mobil Barang dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; b. Mobil Bus dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; c. Mobil Penumpang dengan kereta gandengan; d. Sepeda Motor dengan kereta gandengan. Pasal 70 Setiap Mobil Barang dengan atau tanpa Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki JBB atau JBKB lebih dari 12.000 (dua belas ribu) kilogram harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukan kendaraan bermotor berat. Pasal 71 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki panjang lebih dari 6.000 (enam ribu) milimeter, harus dilengkapi dengan pelat tanda gandengan atau tempelan yang memantulkan cahaya. (2) Pelat tanda gandengan atau tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan warna dasar kuning dengan warna tulisan hitam dengan bertuliskan kata gandengan. (3) Pelat belakang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada perisai kolong atau di tempat lain pada sisi belakang Kendaraan. Pasal 72 (1) Kendaraan Bermotor dengan pengemudi dalam kondisi tertentu dapat ditarik Kendaraan Bermotor lain. penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan kondisi tertentu antara lain mogok, kendaraan rusak, memindahkan kendaraan.

29

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Kendaraan Bermotor penarik harus dilengkapi dengan alat penarik yang kaku, apabila Kendaraan Bermotor yang akan ditarik memiliki JBB lebih dari 4.000 (empat ribu) kilogram dengan jarak antara kendaraan penarik dan yang ditarik tidak lebih dari 5 (lima) meter. (3) Kendaraan Bermotor tanpa pengemudi dapat ditarik dengan cara mengangkat dan menempatkan sumbu Kendaraan Bermotor dengan peralatan derek yang terpasang pada kendaraan bermotor penarik. (4) Kendaraan Bermotor yang ditarik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memiliki berat tidak lebih dari separoh berat kendaraan penarik, serta tidak lebih dari 750 (tujuh ratus lima puluh) kilogram. (5) Kendaraan Bermotor yang ditarik pada waktu malam hari harus menyalakan lampu isyarat atau memasang tanda yang dapat memantulkan cahaya, di bagian belakang. Pasal 73 Ketentuan lebih lanjut mengenai ukuran Kendaraan Bermotor, tanda kendaraan bermotor berat, tanda gandengan atau tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 74 Karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d merupakan badan kendaraan, antara lain kaca-kaca, pintu, engsel, tempat duduk, tempat pemasangan tanda nomor Kendaraan Bermotor, tempat keluar darurat dan tangga untuk Mobil Bus, dan perisai kolong untuk Mobil Barang. Pasal 75 Rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf e merupakan rancangan yang sesuai dengan fungsi: a. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang; atau b. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang. Pasal 76 Pemuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf f merupakan tata cara untuk memuat orang dan/atau barang. Pasal 77 Penggunaan sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf g merupakan cara menggunakan Kendaraan Bermotor sesuai dengan peruntukannya.

30

Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 78 Penggandengan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf h merupakan cara menggandengkan Kendaraan Bermotor dengan menggunakan alat perangkai. Pasal 79 Penempelan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf i dilakukan dengan cara : a. menggunakan alat perangkai; b. menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci; dan c. dilengkapi kaki-kaki penopang.

Paragraf 2 Persyaratan Laik Jalan Pasal 80 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan. (2) Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal Kendaraan Bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas: a. emisi gas buang; b. kebisingan suara; c. efisiensi sistem rem utama; d. efisiensi sistem rem parkir; e. kincup roda depan; f. suara klakson; g. daya pancar dan arah sinar lampu utama; h. radius putar; i. akurasi alat penunjuk kecepatan; j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat Kendaraan. Pasal 81 (1) Ketentuan mengenai persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) berlaku bagi setiap jenis Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf h untuk Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor. (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan terhadap: a. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat;
31

(2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 kecuali huruf h. Pasal 16. Pasal 84 (1) Keharusan melengkapi alat pengereman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) tidak berlaku untuk roda kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor. (2) Sepeda Motor yang mempunyai roda tiga selain dilengkapi dengan peralatan pengereman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. (3) Peralatan rem sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi syarat : a. harus pula dilengkapi dengan rem parkir. kecuali peralatan rem parkir tidak berlaku baik dengan atau tanpa kereta samping. Pasal 45. bekerja pada semua roda sepeda motor sesuai dengan besarnya beban pada masing-masing sumbu rodanya. Pasal 15 kecuali ayat (1) huruf c dan huruf d. 32 . (2) Setiap Sepeda Motor roda dua atau roda tiga yang dipasang simetris terhadap sumbu tengah kendaraan yang membujur ke depan harus dilengkapi dengan peralatan pengereman pada roda belakang dan roda depan. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). Pasal 43.Draft RPP 19 Juli 2010 b. pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat dan memberhentikan sepeda motor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi. Pasal 83 (1) Sistem rem Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. b. Pasal 18 sampai dengan Pasal 40. apabila daya pengereman yang diperlukan dapat diperoleh dari rem yang terdapat pada sepeda motor yang bersangkutan. Bagian Kedua Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Sepeda Motor Pasal 82 (1) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) kecuali huruf i. Pasal 46. Pasal 50. dan Pasal 59 ayat (3). Pasal 11 kecuali ayat (1) huruf d. Pasal 42. c. Pasal 17 kecuali ayat (2) huruf c. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. Pasal 41 kecuali huruf c dan huruf f.

(6) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama jauh. berjumlah genap dengan sinar kelap-kelip berwarna kuning tua. tanjakan maupun turunan. sejajar di sisi kiri dan kanan bagian muka dan bagian belakang Sepeda Motor. mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. lampu rem. maka (7) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. lampu utama jauh harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. paling banyak dua buah. dan dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. (4) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama dekat. f. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. d. lampu utama dekat harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Rem parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. (8) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dipasang secara 33 . Pasal 85 (1) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping harus dilengkapi dengan lampu- lampu dan pemantul cahaya yang meliputi : a. b. e. b. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan pada malam hari dengan cuaca cerah. apabila mampu mempunyai kecepatan melebihi 40 (empat puluh) km per jam pada jalan datar. paling banyak dua buah. lampu utama jauh. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan secukupnya pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter ke depan Sepeda Motor. lampu posisi belakang. 1 (Satu) atau 2 (dua) pemantul cahaya berwarna merah yang tidak berbentuk segitiga. lampu utama dekat. maka (5) Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) meter ke depan Sepeda Motor. lampu penunjuk arah secara berpasangan di bagian depan dan bagian belakang sepeda motor. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi lampu posisi depan. c. (2) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping selain dilengkapi dengan lampu (3) Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Catatan : Kendaraan bermotor roda 3 (tiga) harus memiliki 2 (dua) alat pemantul cahaya berwarna merah pada sisi belakang dan 2 (dua) warna putih pada sisi depan dan tidak berbentuk segitiga.

satu pemantul cahaya. Penjelasan ayat (10) Yang dimaksud dengan lampu posisi belakang berjumlah paling banyak adalah 2 (dua) atau 1 (satu) kelompok yang berdekatan. kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang yang dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor. di bagian belakang dengan lampu posisi belakang. lampu-lampu itu harus berdekatan sedekat mungkin.Draft RPP 19 Juli 2010 (9) Jika Sepeda Motor mempunyai dua lampu posisi depan. c. harus dilengkapi dengan lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). di bagian depan dengan lampu posisi depan. Pasal 86 (11) (12) Selain dilengkapi dengan lampu-lampu dan pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor juga harus dilengkapi dengan satu lampu penerangan tanda nomor Kendaraan di bagian belakang. Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h. harus dilengkapi : a. (3) Sepeda Motor yang mempunyai tiga roda dipasang secara simetris terhadap bidang sumbu Sepeda Motor yang membujur. 34 . berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua) berwarna merah yang dapat dilihat pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. d. b. Lampu rem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua). (10) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e.300 (seribu tiga ratus) milimeter. (2) Lampu posisi depan dan lampu posisi belakang kereta samping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyala apabila lampu posisi belakang Sepeda Motor dinyalakan. lampu penunjuk arah yang dipasang di sisi kiri bagian depan dan belakang Sepeda Motor. maka cukup dilengkapi dengan satu lampu utama dekat dan satu lampu utama jauh. (4) Jika lebar Sepeda Motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi 1. Pasal 87 (1) Kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor roda dua. dan yang diperlakukan sebagai sepeda motor.

35 . Penjelasan . setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7.000 kg (tujuh ribu kilogram) dan Mobil Barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 12. transmisi Pasal 92 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan jenis Mobil Penumpang diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 88 Lebar kereta gandengan yang dapat ditarik oleh Sepeda Motor maksimum 1.000 (dua belas ribu) kilogram harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. Pasal 94 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. Pasal 91 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. Pasal 89 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan Jenis Sepeda Motor diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bagian Ketiga Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Penumpang Pasal 90 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80.000 kg (tujuh ribu kilogram) harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7. Bagian Keempat Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Bus Pasal 93 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80. Penjelasan : Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake).000 (seribu) milimeter.

dua pintu keluar dan/atau masuk untuk penum-pang. satu pintu keluar dan/atau masuk yang lebar-nya sekurang-kurangnya 1. atau b. harus mempunyai sekurangkurangnya satu pintu keluar dan/atau masuk penumpang pada dinding kiri bagian depan atau belakang. satu pintu harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satu pintu lainnya ditempatkan pada dinding kiri dengan lebar sekurangkurangnya 550 (lima ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. tidak termasuk pengemudi. 1 (satu) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. (5) Tangga pintu keluar/masuk penumpang yang dapat dilipat. jika muatannya tidak lebih dari 26 (dua puluh enam) penumpang. terdiri dari : 1. harus dikonstruksi sedemikian sehingga anak tangga selalu berada pada tempatnya secara kukuh dan memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). dan 2. sekurangkurangnya : a. Pasal 97 (1) Di samping pintu keluar/masuk penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. 36 . jika pintu dibuka. transmisi Pasal 95 Ketentuan lebih lanjut mengenai kendaraan bermotor jenis Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. setiap Mobil Bus harus pula mempunyai tempat keluar darurat pada kedua sisinya. harus mempunyai sekurang-kurangnya : a. (3) Pintu keluar/masuk untuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus menjamin kemudahan penggunaannya dan tidak terhalang.200 (seribu dua ratus) milimeter yang meliputi seluruh tinggi dinding. (4) Anak tangga paling bawah dari pintu keluar atau masuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling tinggi 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter diukur dari permukaan jalan dan lebar sekurangkurangnya 400 (empat ratus) milimeter.Draft RPP 19 Juli 2010 Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). (2) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang sebanyak 15 (lima belas) orang atau lebih. yang lebarnya sekurang-kurangnya 650 (enam ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. Pasal 96 (1) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang kurang dari 15 (lima belas) orang tidak termasuk pengemudi. (2) Jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

diukur 400 (empat ratus) milimeter dari dinding samping dalam kendaraan. tidak dirintangi oleh tongkat-tongkat atau jeruji pelindung. (5) Tempat keluar darurat berupa jendela harus meme-nuhi persyaratan : a. untuk mobil bus yang dileng-kapi dengan tempat berdiri. (3) Pada sisi kiri. mudah dan cepat dapat dibuka atau dirusak atau dilepas. b. Pasal 98 (1) Tempat keluar darurat diberi tanda dengan tulisan yang menyatakan tempat keluar darurat. b. harus memenuhi persyaratan : a. b.200 (seribu dua ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter disamakan dengan memiliki dua tempat keluar darurat. dan penjelasan mengenai tata cara membukanya. 1. 1. sudut-sudut jendela yang berfungsi sebagai tempat keluar darurat tidak runcing. 4 (empat) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya lebih dari 80 (delapan puluh) penumpang. 3 (tiga) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya antara 51 (lima puluh satu) dan 80 (delapan puluh) penumpang. (6) Tempat keluar darurat berupa pintu yang dipasang pada dinding samping kanan. 37 . Pasal 99 (1) Setiap Mobil Bus dilengkapi lorong dengan lebar efektif 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter atau lebih yang membentang dari pintu masuk sampai ke setiap tempat duduk. d. memiliki lebar sekurang-kurangnya 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. (4) Tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa jendela dan atau pintu. (2) Tempat duduk di dekat tempat keluar darurat harus mudah dilepas atau dilipat. untuk mobil bus yang tidak dilengkapi dengan tempat berdiri. c.500 (seribu lima ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. memiliki ukuran minimum 600 (enam ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter dan apabila memiliki ukuran sekurang-kurangnya 1. d. (2) Tinggi atap bagian dalam kendaraan. jika muatannya antara 27 (dua puluh tujuh) dan 50 (lima puluh) penumpang.700 (seribu tujuh ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. c. 2 (dua) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat diku-rangi dengan satu.Draft RPP 19 Juli 2010 b. mudah dibuka setiap waktu dari dalam. jika pada dinding belakang terdapat pintu yang lebarnya paling sedikit 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. sekurang-kurangnya : a.

dipasang suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan bus sekolah. (3) Ukuran lebar dan tinggi efektif pintu masuk dan atau keluar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 100. Pasal 102 Setiap Mobil Bus sekolah pada sisi luar bagian depan dan belakang. (2) Jarak antara anak tangga yang satu dengan lainnya paling tinggi 200 (dua ratus) milimeter dan jarak antara permukaan tanah dengan anak tangga terbawah paling tinggi 300 (tiga ratus) milimeter. (2) Mobil bus sekolah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). harus jelas dinyatakan dengan suatu tulisan yang ditempatkan di dalam Mobil Bus sehingga jelas kelihatan oleh awak dan penumpangnya. 38 . Pasal 105 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk mobil bus sekolah diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dilengkapi suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan berhenti jika lampu merah nyala dipasang di bawah jendela belakang. Pasal 104 (1) Pintu masuk dan atau keluar Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan anak tangga. Pasal 103 (1) Setiap Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan lampu berwarna merah di bawah jendela belakang yang berfungsi memberi tanda bahwa mobil bus sekolah tersebut berhenti. Pasal 101 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 100 Jumlah tempat duduk dan tempat berdiri di dalam Mobil Bus umum.

harus dilengkapi dengan peralatan yang dapat bekerja secara otomatis menghentikan kereta gandengan apabila alat perangkai putus/terlepas dari kendaraan penariknya. rem utama yang memungkinkan pengemudi dari tempat duduknya dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kereta gandengan atau kereta tempelan secara bersama-sama atau hampir bersamaan dengan kendaraan bermotor penariknya. penjelasan huruf a: rem utama dalam ketentuan ini harus mampu mengendalikan kecepatan dan memberhentikan rangkaian kendaraan bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. yaitu : a. 39 . rem parkir yang mampu menahan posisi kereta gandengan atau kereta tempelan berhenti pada jalan datar.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kelima Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Barang Pasal 106 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Barang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sampai denga Pasal 80. tanjakan maupun turunan. harus dilengkapi dengan rem yang dapat menjalankan dua fungsi. (2) Ketentuan mengenai keharusan melengkapi rem yang dapat menjalankan dua fungsi sebagaimana dimaksud alam ayat (1) tidak berlaku untuk kereta tempelan satu sumbu yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan tidak melebihi 750 kg (tujuh ratus lima puluh kilogram). Rem parkir tersebut harus dilengkapi dengan alat pengunci mekanis). baik dalam keadaan tanpa muatan maupun dengan muatan sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. Penjelasan huruf b : rem parkir harus dapat berfungsi secara baik pada semua kondisi jalan bila kendaraan bermotor yang bersangkutan dimuati sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. Rem utama tersebut harus dapat bekerja secara serempak atau hampir bersamaan pada setiap roda pada rangkaian kendaraan bermotor). b. Pasal 107 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan. Pasal 108 (1) Rem utama kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) huruf a. Penjelasan rem yang menjalankan dua fungsi pengereman dalam ketentuan ini dapat mempunyai bagian-agian yang merangkap dan bekerja pada semua roda).

lampu rem secara berpasangan. lampu penunjuk arah secara berpasangan. berbentuk segitiga secara berpasangan. lampu mundur secara berpasangan. (2) Bekerjanya rem utama harus tersebar dan bekerja hampir bersamaan secara baik. atau jika kendaraan bermotor penariknya menggunakan sistem rem hidrolis. g. apabila lebar kereta gandengan lebih dari 800 (delapan ratus) milimeter.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan yang jarak sumbu rodanya kurang dari satu meter dengan jumlah berat yang diperbolehkan tidak lebih dari 1. maka kendaraan yang ditarik harus menggunakan sistem rem hidrolis pula). alat pemantul cahaya berwarna putih yang tidak berbentuk segitiga secara berpasangan. e. b. d. Pasal 109 (1) Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang dirangkaikan dengan Kendaraan Bermotor dalam satu rangkaian Kendaraan. lampu posisi belakang secara berpasangan. alat pemantul cahaya berwarna merah. Pasal 110 Kereta Gandengan dan Kereta Tempelan wajib dilengkapi dengan lampu-lampu dan alat pemantul cahaya yang meliputi : a. h. pada masing-masing roda setiap sumbu rangkaian Kendaraan. berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip berwarna kuning tua serta dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. lampu posisi depan secara berpasangan. maka sistem rem yang digunakan pada kendaraan yang ditarik juga sistem udara. f. apabila sisi terluar kereta gandengan melampaui tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang kendaraan penariknya. Pasal 111 (1) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf a. lampu penerangan tanda nomor kendaraan di bagian belakang kendaraan. 40 .500 kg (seribu lima ratus kilogram) dan/atau kereta gandengan yang ditarik oleh kendaraan bermotor penarik yang dirancang untuk kecepatan maksimum kurang dari 20 km/jam (dua puluh kilometer per jam). Penjelasan ayat (1) yang dimaksud dengan bersesuaian adalah penggunaan sistem pengereman yang bersesuaian antara kendaraan bermotor penarik dengan kendaraan yang ditarik. harus memiliki peralatan pengereman yang bersesuaian. misalnya apabila kendaraan bermotor penariknya menggunakan alat pengereman dengan sistem udara. (2) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan dan belakang Kereta Gandengan. c.

(3) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. berjumlah dua buah berwarna putih atau kuning muda yang tidak menyilaukan atau mengganggu pemakai jalan lain. berjumlah dua buah berwarna merah yang kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang dan dipasang di sebelah kiri dan kanan bagian belakang Kereta Gandengan. 41 . dilengkapi satu buah atau lebih lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 114 (1) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf d. berjumlah dua buah dan berwarna putih. (2) Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya menyala apabila alat penerus daya digunakan pada posisi mundur.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 112 (1) Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf b. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan dengan ukuran kecil yang posisinya dalam keadaan ditarik tidak menutupi lampu rem dari kendaraan penariknya. berjumlah genap dan berwarna merah yang kelihatan pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. dipasang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor Kendaraan pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang . Pasal 113 (1) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf c.kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. (2) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 400 (empat ratus) milimeter. Pasal 116 (1) Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf f. Pasal 115 Lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor bagian belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf e. (2) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian depan kereta gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 150 (sertus lima puluh) milimeter.

42 . c. tidak melebihi 100 (seratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. dipasang simetris terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. memenuhi persyaratan kalorimetris yang sama. berjumlah genap berwarna merah dan berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisinya tidak kurang dari 150 (seratus lima puluh) milimeter dan tidak melebihi 200 (dua ratus) milimeter serta dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan. b. Pasal 120 (1) Lampu posisi depan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku apabila lampu utama jauh sedang memberikan peringatan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 117 (1) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf g. (3) Titik sudut terluar pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilihat oleh pengemudi yang ada dibelakangnya pada waktu malam hari dalam cuaca cerah dari jarak 100 (seratus) meter apabila terkena sinar lampu utama kendaraan di belakangnya. Pasal 118 Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf h. lampu posisi belakang. harus dapat dinyalakan atau dimatikan. (2) Lampu utama jauh atau lampu utama dekat. apabila lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan menyala. d.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan. (4) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter dilengkapi satu buah atau lebih pemantul cahaya. simetris dengan sesamanya terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. Pasal 119 Lampu-lampu yang berpasangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 harus memenuhi persyaratan : a. dan lampu tanda batas. mempunyai sifat-sifat fotometris yang sama. lampu penerangan tanda nomor Kendaraan. atau lampu kabut yang dipasang pada kendaraan hanya dapat dinyalakan. berjumlah dua buah dan dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan kereta gandengan dengan jarak tidak melebihi 400 (emapt ratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. dipasang pada kendaraan dengan tinggi tidak melebihi 1. e. secara serentak.

pneumatis atau mekanis yang memungkinkan diangkatnya rodaroda dari tanah dapat digunakan sewaktu Kendaraan berjalan biasa. Pasal 123 (1) Setiap Kereta Tempelan dilengkapi dengan kaki-kaki penopang yang dipasang secara kukuh pada jarak lebih dari dua pertiga dari seluruh panjang kereta tempelan. Kereta Tempelan. dan/atau sumbu paling belakang berjarak lebih dari 1. ketika sumbu yang lain berada dalam posisi diangkat. Pasal 122 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan harus menggunakan alat perangkai. c. apabila rancangan alat pengangkat tersebut tidak menimbulkan lebih muatan pada salah satu sumbu kendaraan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 121 Dilarang memasang lampu pada Kendaraan Bermotor. Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang menyinarkan : a. Pasal 126 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan harus menggunakan alat perangkai.000 milimeter diukur dari sisi terluar bagian belakang kereta gandengan atau kereta tempelan. cahaya kelap-kelip. Pasal 125 Peralatan hidrolis. (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci. cahaya berwarna merah ke arah depan. dipasang perisai kolong. otomatis dan bukan otomatis. (3) Alat perangkai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa alat perangkai (4) Apabila rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan alat perangkai otomatis. hanya boleh digunakan pada rangkaian kendaraan yang memiliki jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan maksimum 20.000 Kg (dua puluh ribu kilogram). (2) Letak kaki penopang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak melebihi lebar Pasal 124 Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang tinggi ujung landasannya dan atau bagian belakang dan/atau bagian samping badannya berjarak lebih dari 700 milimeter di atas jalan. b. 43 . cahaya berwarna putih ke arah belakang kecuali lampu mundur. selain lampu penunjuk arah dan lampu isyarat peringatan bahaya. diukur dari ujung paling belakang kereta tempelan.

Pasal 128 (1) Kereta gandengan dan kereta tempelan yang dirangkaikan dengan kendaraan bermotor penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor apabila : a. yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik yang seluruh bebannya ditumpu oleh kereta gandengan itu sendiri dan memiliki sebanyak-banyaknya 2 (dua) sumbu roda.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 127 Kereta Gandengan yang tidak dilengkapi dengan rem otomatis wajib dilengkapi dengan alat tambahan berupa rantai. Kereta gandengan (full trailer). sehingga dapat menahan seluruh berat kendaraan yang ditarik. c. kabel. Pasal 129 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk rangkaian kendaraan. sistem kelistrikan pada kendaraan. atau alat sejenisnya yang dapat mencegah tongkat penarik menyentuh tanah dan memungkinkan kereta gandengan tersebut dihentikan apabila alat penariknya putus. yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik (tractor head) yang sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan penariknya dan memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) sumbu roda. b. kereta tempelan (semi trailer). sewaktu terjadi tubrukan atau sebagai akibat dari getaran kendaraan. kukuh. Penjelasan : Yang dimaksud dengan kereta gandengan atau tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor Yang dimaksud dengan Kendaraan bermotor penarik adalah kendaraan bermotor yang memiliki perlengkapan untuk menarik. kereta gandengan dan kereta tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. b. dilengkapi dengan alat keselamatan yang layak untuk mencegah pemisahan yang tidak disengaja. dikonstruksi dengan gerakan terbatas dan dapat merangkaikan kendaraan bermotor penarik dengan Kendaraan yang ditarik dengan kukuh dan sempurna. sistem pengereman. 44 . GCW. (2) Bus gandeng yang dirangkaikan dengan bus penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor.

tempat naik dan turun penumpang yang dapat dioperasikan secara automatik maupun mekanik. terdiri atas : a. becak. kereta. BAB V KENDARAAN TIDAK BERMOTOR Bagian Kesatu Jenis Pasal 131 (1) Kendaraan Tidak Bermotor dikelompokkan dalam: a. 45 . delman. c. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. kereta dorong. cikar. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a. b. terdiri atas : a. c.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Keenam Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bagi Penyandang Cacat Pasal 130 (1) Kendaraan khusus penyandang cacat harus dirancang khusus yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu. sepeda. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus atau Mobil Penumpang yang digunakan sebagai angkutan umum wajib menyediakan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat. dan b. tanda atau petunjuk bagi penyandang tunanetra. b. b. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. (3) Fasilitas bagi penumpang penyandang cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi antara lain : a.

lebar maksimum 1.100 (dua ribu seratus) milimeter.700 (seribu tujuh ratus) millimeter.000 (enam ribu) millimeter. (2) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut barang tidak termasuk muatannya adalah : a. panjang maksimum 2. lebar maksimum 550 (lima ratus lima puluh) milimeter. b. b. 3.250 (lima ribu dua ratus lima puluh) milimeter. panjang maksimum 5. 2.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. 2. 2.700 (dua ribu dua tujuh ratus) millimeter.400 (lima ribu empat ratus) millimeter. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1. Pasal 133 (1) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut orang tidak termasuk muatannya adalah : a. b.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1. (5) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong tidak termasuk muatannya adalah : a. 3. panjang maksimum 2.800 (dua ribu delapan ratus) millimeter.250 (dua ribu dua ratus lima puluh) milimeter.800 (seribu delapan ratus) millimeter. (4) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis becak tidak termasuk muatan adalah : a. lebar maksimum 1.500 (seribu lima ratus) millimeter. panjang maksimum 6.000 (lima ribu) millimeter. 2. lebar maksimum 2. lebar maksimum 1. panjang maksimum 2. panjang maksimum 1. c.000 (dua ribu) milimeter. 3.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kedua Persyaratan Keselamatan Pasal 132 Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis sepeda tidak termasuk muatannya adalah : a. panjang maksimum 2. b. panjang maksimum 2.300 (dua ribu tiga ratus) millimeter. panjang maksimum 5. lebar maksimum 2.500 (seribu lima ratus) millimeter. lebar maksimum 2. panjang maksimum 5. 3.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. panjang maksimum 2. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1. (3) Untuk kepentingan angkutan pariwisata persyaratan kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik oleh hewan lebih dari 2 (dua) ekor diatur dengan Peraturan Daerah sesuai kebutuhan daerah masing – masing dengan tetap memperhatikan keselamatan berlalu lintas. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1. 46 .

mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke arah belakang atau badan kendaraan. 47 . Pasal 134 Setiap kendaraan tidak bermotor kecuali sepeda jenis kereta yang ditarik dengan hewan untuk angkutan barang atau kereta dorong atau tarik. (2) Rem kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). becak dan kereta yang ditarik kuda harus dilengkapi dengan spakbor. diatur dengan Peraturan Daerah. harus dibuat sedemikian rupa sehingga tetap memiliki bidang pandang bagi pendorongnya untuk dapat melihat kedepan secara leluasa.500 (dua aribu lima ratus) millimeter.Draft RPP 19 Juli 2010 b. harus memiliki sistem suspensi berupa penyangga yang mampu menahan beban. Pasal 138 Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan penggunaan kendaraan tidak bermotor. Pasal 136 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis sepeda dan becak harus dilengkapi dengan rem yang berfungsi dengan baik untuk mengendalikan kecepatan atau memperlambat dan menghentikan kendaraan. panjang maksimum 2. (6) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong yang ketinggiannya melebihi bahu orang yang mendorongnya. (2) Alat bantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 135 (1) Setiap kendaraan tidak bermotor jenis sepeda. b. c. panjang maksimum 2.000 (dua ribu) millimeter. memiliki lebar sekurang – kurangnya selebar telapak ban.getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan. sekurang-kurangya dipasang pada roda penggerak kendaraan sesuai dengan besarnya beban. Pasal 137 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik dengan hewan harus dilengkapi dengan alat bantu yang berfungsi untuk memperlambat kecepatan kendaraan sebagai pengganti rem. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi tanpa mengganggu pengemudi dalam mengendalikan atau mengemudikan kendaraan. penjelasan : yang dimaksud dengan alat bantu antara lain tali pengendali.

M2 dan M3. Mobil penumpang masuk kategori M1. meliputi: a. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi c. Mobil bus masuk kategori M1. menjaga kelestarian lingkungan dan pelayanan umum. kendaraan bermotor kategori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang 1. b. L3. penjelasan huruf a kendaraan bermotor kategori L yaitu kendaraan beroda kurang dari empat 1. L4 dan L5. Sepeda motor masuk dalam kategori L1. kereta gandengan. kategori L5 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda simetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. (2) Kategori jenis kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan wajib dilakukan pengujian sesuai dengan kategori jenis kendaraan bermotor. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan 48 . L2. kategori L4 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda asimetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya (sepeda motor dengan kereta) 5.Draft RPP 19 Juli 2010 BAB VI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Umum Pasal 139 (1) Untuk memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. kategori L1 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. kendaraan bermotor kate gori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang. kategori L2 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda sembarang dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis ienaga penggeraknya 3. dan kereta tempelan yang diimpor. kendaraan bermotor. kategori L3 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya 4. 2. Penjelasan ayat (1) Tujuan dilakukan pengujian adalah dalam rangka menjamin keselamatan.

kategori N1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 3. kendaraan pada kelas ini tidak diijinkan adanya penumpang berdiri d. Mobil barang masuk kategori N1. kategori M3 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 5 ton 4. kendaraan bermolor kategori M2 dan M3 dibedakan dalam kelas sebagai berikut: a.5 ton tetapi tidak lebih dari 10 ton 49 .5 ton 2. Kelas I untuk kendaraan bermotor yang dikonruksi untuk penumpang berdiri dan bergerak bebas b. kategori 02 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0.5 ton 3. kategori N3 adalah kendaraari bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 12 ton kategori O kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel 1. kategori M2 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 5 ton 3. O1. kelas III untuk kendaraan bermotor yang di desain khusus untuk membawa penumpang duduk d. penjelasan huruf d : kendaraan bermotor kategori N adalah kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan barang 1. O3.75 ton tetapi lebih dari 3. dan O4. kategori 03 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. kategori 01 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0. N3.Draft RPP 19 Juli 2010 orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi 2. kendaraan pada kelas ini memiliki tempat duduk dan memungkinkan penumpang berdiri e. O2.75 ton 2.5 ton tetapi tidak lebih dari 12 ton 3. N2. kelas B untuk kendaraan bermotor tidak di desain untuk membawa penumpang berdiri. kelas II untuk kendaraan bermotor yang pada prinsipnya dikonstruksi membawa penumpang duduk dan di desain untuk membawa penumpang berdiri di gang dan atau di daerah yang sudah disediakan tetapi luasnya tidak boleh lebih dari dua baris tempat duduk untuk dua orang c. kategori N2 adalahkendaraan bermotor yang digunaKan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. kelas A untuk kendaraan bermotor di desain untuk membawa penumpang berdiri.

b. tidak lebih dari 10% berat makstmum kereta gandengan. gandengan sumbu tengah (Centre-exle trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik yang dilengkapi dengan alat penarik yang tidak dapat bergerak vertikal (terhadap kereta gandengan) dan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dekat dengan pusat gravitasi kendaraan (terbebani merata). 50 . serta sistem dan prosedur pengujian. Pasal 140 (1) Pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang memiliki : a. 2.000 N dibebankan pada kendaraan penarik. N atau O untuk angkutan penumpang atau barang dan diperlukan pembuatan bodi khusus dan / atau perlengkapannya untuk menunjang fungsi khusus tersebut sumber : SNI dan UN ECE (3) Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a.Draft RPP 19 Juli 2010 4. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik e. uji tipe. dan b. O3 dan dibedakan menjadi tiga tipe sebagai berikut: 1. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian. tenaga penguji yang memiliki sertifikat kompetensi penguji kendaraan bermotor. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. beban vertikal statis kecil. Kendaraan bermotor penarik untuk kategori O2. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. uji berkala. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik. kategori khusus kendaraan bermotor khusus kendaraan bermotor kategori M. kategori 04 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah benat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 10 ton. Kendaraan khusus tidak masuk dalam kategori pengujian. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik 3. keakurasian peralatan pengujian. fasilitas prasarana dan peralatan pengujian. atau beban tidak lebih dari 10.

mengkalibrasi secara berkala dan mengoperasikan seluruh peralatan uji secara baik dan benar. Pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan kendaraan bermotor dan kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memelihara. Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang dilakukan terhadap rumah – rumah. b. Paragraf 2 Pengujian Fisik Pasal 142 (1) Pengujian tipe melalui Pengujian fisik terhadap persyaratan teknis dilakukan melalui pemeriksaan persyaratan teknis secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. Penjelasan ayat (2) Yang dimaksud dengan mengkalibrasi secara berkala yaitu dapat dilakukan sendiri maupun yang dilakukan oleh institusi lain yang mempunyai kewenangan untuk melakukan kalibrasi untuk menjamin keakurasian alat uji yang digunakan dan waktunya disesuaikan dengan spesifikasi teknis masing – masing peralatan. kereta gandengan. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. 51 . dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi tipenya (2) Uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh unit pelaksana uji tipe yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bagian Kedua Uji Tipe Paragraf 1 Umum Pasal 141 (1) Uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf a terdiri atas : a. (3) Pembinaan dan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. kereta tempelan. dan b. bak muatan. nomor dan tipe motor penggerak. (2) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap landasan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a.

kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. kebocoran sistem rem. nomor dan tipe motor penggerak. dan tempat duduk. bentuk bumper. corong pengisi bahan bakar. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). m. g. k. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. corong pengisi bahan bakar. g. keberadaan dan kondisi ban cadangan. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kondisi badan kendaraan. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kebocoran sistem rem. kondisi kaca spion. m. i. j. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. 52 . b. segitiga pengaman. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. segitiga pengaman. o. kondisi spakbor. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). k. l. h. n. c. f. kondisi dan posisi pipa pembuangan. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. i. bentuk bumper bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. kaca-kaca bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. dongkrak. alat pembuka roda. kondisi kaca spion bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. d. d. serta kondisi ban. kondisi dan posisi pipa pembuangan. serta kondisi ban. keberadaan dan kondisi ban cadangan. kondisi tangki bahan bakar. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. j. (3) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. dongkrak. pipa saluran bahan bakar. pipa saluran bahan bakar. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. kondisi tangki bahan bakar.Draft RPP 19 Juli 2010 c. f. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. e. l. engsel. p. n. h. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. e.

tempat duduk. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. f. mengukur dimensi utama kendaraan. c. (6) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap meliputi : a. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. engsel. kondisi rem parkir. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. 53 . h. serta kondisi ban. nomor dan tipe motor penggerak. pipa saluran bahan bakar. f. kondisi spakbor. kondisi kaca spion. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kondisi badan kendaraan. i. sudut bebas kemudi (speling steer). k. d. c. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kebocoran sistem rem. j. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). e. m. kondisi badan kendaraan n. h. b. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. kecuali untuk sepeda motor. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. q. g. bagian dalam kendaraan. (4) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. e. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). kaca-kaca. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. (5) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap landasan kendaraan bermotor meliputi : a. kondisi tangki bahan bakar. g. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. dan tempat keluar darurat. p. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. mengukur ukuran tempat duduk.Draft RPP 19 Juli 2010 o. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). kondisi dan posisi pipa pembuangan. corong pengisi bahan bakar. l. perisai kolong. d. b. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. kondisi rem utama baik di roda depan atau belakang.

Draft RPP 19 Juli 2010 b. uji lampu utama. sekurang-kurangnya meliputi : a. h. uji radius putar. e. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). g. kondisi rem parkir. sudut bebas kemudi (speling steer). 54 . g. mengukur ukuran tempat duduk. uji speedometer. e. uji radius putar. j. f. uji emisi gas buang. c. i. j. uji tingkat suara klakson. Pasal 143 (1) Pengujian laik jalan terhadap kendaraan bermotor dalam bentuk landasan (chassis engine atau cabin engine). c. f. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). uji rem utama dan rem parkir. g. f. e. uji emisi gas buang. dan tempat keluar darurat. b. b. uji kincup roda depan. uji/pengukuran berat landasan. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. uji kincup roda depan. kondisi rem parkir. kondisi penerus daya. uji speedometer. uji/pengukuran dimensi. e. d. d. uji/pengukuran berat kendaraan. uji/pemeriksaan konstruksi. c. d. d. b. sekurang-kurangnya meliputi : a. h. uji tingkat suara klakson. mengukur dimensi utama kendaraan. uji rem utama dan rem parkir. i. bagian dalam kendaraan. (2) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. fungsi klakson. h. uji lain. i. c. mengukur dimensi utama kendaraan. fungsi klakson. uji lampu. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. (7) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor jenis sepeda motor meliputi : a.

uji prestasi/performansi dan/ atau uji kemampuan jalan. d. uji tingkat suara klakson. q. g. h. uji kebisingan.Draft RPP 19 Juli 2010 k. (2) Pernyataan penetapan hasil uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. perangkat elektronik pengendali kecepatan. 55 . b. alasan tidak lulus uji. o. uji/pengukuran dimensi kendaraan bermotor. i. uji/pengukuran berat kendaraan bermotor. Pasal 145 (1) Dalam hal tipe kendaraan bermotor yang diuji tipe yang berkaitan dengan pengujian fisik dinyatakan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 143 dapat dilakukan uji tipe ulang. uji speedometer. uji sabuk keselamatan. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). uji rem. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. c. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. juga harus dilakukan pengujian terhadap unjuk kerja akumulator listrik. uji suspensi. (3) Uji ulang hanya dilakukan terhadap tipe kendaraan bermotor yang memiliki nomor landasan/rangka dan/atau nomor mesin yang sama dengan yang dimiliki kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1). selain harus memenuhi ketentuan uji persyaratan teknis dan laik jalan. item – item yang tidak lulus uji. uji lain.uji prestasi/performansi. n. e. uji lampu utama. sekurang-kurangnya meliputi : a. uji emisi gas buang. p. c. yang disesuaikan dengan perkembangan bermotor. uji posisi roda depan. uji jalan/kemampuan jalan. uji/pengukuran penghapus kaca depan. r. Pasal 144 Kendaraan bermotor yang menggunakan motor penggerak listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b. teknologi kendaraan (3) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor. f. j. l. m. d. b. uji kebisingan. dan alat pengisian ulang energi listrik.

sertifikat uji tipe landasan dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk landasan kendaraan bermotor yang diuji tipe fisik dalam bentuk landasan. kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. penanggung jawab perusahaan pengimpor. serta pemodifikasi. peruntukan. g. apabila ada. nomor motor penggerak. nomor sertifikat uji tipe. dianggap mengajukan permohonan baru. f. jenis. apabila ada. alamat perusahaan pembuat dan/atau perakit dan/atau pengimpor dan/atau pemodifikasi. n. nomor rangka landasan. sertifikat uji tipe dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk kendaraan bermotor yang diuji tipe yang melalui pengujian fisik dalam keadaan lengkap. b. e. pembuat dan/atau perakit. sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. Pasal 146 Kendaraan bermotor. h. serta pemodifikasi. yang telah lulus uji tipe yang melalui pengujian fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 diberikan bukti lulus uji tipe oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. 56 . m. nomor sertifikat registrasi uji tipe. varian. berupa : a. nama perusahaan pengimpor. j. Pasal 147 (1) Sertifikat lulus uji tipe setiap kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146. b.spesifikasi teknik kendaraan bermotor. tipe kendaraan bermotor yang bersangkutan tidak dapat dilakukan uji ulang lagi dan apabila akan mengujikan kembali tipe kendaraannya. c. d. merek dan tipe. i. harus memproses dari awal lagi sebagai permohonan baru. pembuat dan/atau perakit. l. (7) Jika hasil uji tipe yang melalui pengujian fisik ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak lulus. k. tahun pembuat/perakit/modifikasi. (6) Pemohon yang mengajukan uji ulang sebagaiman dimaksud pada ayat (4) diluar waktu dan tempat yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. (5) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah pemohon menunjukkan dan memberitahukan secara tertulis mengenai perbaikan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. spesifikasi teknik varian.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipungut biaya hanya terhadap item-item yang dinyatakan tidak lulus uji tipe kendaraan bermotor.

(2) Sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat dari bahan yang memiliki unsur-unsur pengaman.Draft RPP 19 Juli 2010 o. Yang dimaksud dengan bak muatan adalah semua bentuk konstruksi bak muatan untuk angkutan barang yang bersifat padat. dilakukan terhadap desain: a. bak muatan. rumah-rumah atau karoseri. berat kosong kendaraan bermotor. daya angkut orang dan/atau barang. cair atau gas yang terpasang pada landasan kendaraan bermotor. Penjelasan ayat (2) : Yang dimaksud dengan Unsur-unsur pengaman antara lain berupa hologram dan/atau water mark dan/atau invisible ink. r. atau kuasanya yang distempel. q. pembuat dan/atau perakit. nama dan tanda tangan penanggung jawab perusahaan pengimpor. Penjelasan huruf b. kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe berupa dimensi. p. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan. tempat dan tanggal penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. u. v. d. serta pemodifikasi. nama dan tanda tangan pejabat yang meregistrasi dan stempel. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. Pasal 148 Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk. c. w. dan kemampuan daya angkut. (4) Sertifikat lulus uji tipe yang telah diterbitkan atau disahkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. kereta gandengan. t. b. s. dimensi bak muatan/tangki. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan. Paragraf 3 Penelitian Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor Pasal 149 Penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor. (3) Dalam kaitannya dengan sistem informasi data – data teknis yang terdapat didalam sertifikat lulus uji tipe dapat disimpan dalam bentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. kereta tempelan. e. penjelasan Pasal 151: 57 . mesin. isi dan tata cara penerbitan sertifikat lulus uji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

analisa dan penilaian terhadap desain teknis rumah-rumah. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. f. b. material. f. Pasal 150 (1) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap rumahrumah atau karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf a. pintu. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. (3) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf c. ukuran dan susunan. sekurang-kurangnya meliputi : a. konstruksi (engsel. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. sabuk keselamatan dan tempat ban cadangan. g. k. c. perisai kolong. e. g. material. i. kereta tempelan dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe. b. h. sekurang-kurangnya meliputi : a. engsel. tempat keluar darurat. pintu. bumper). bumper). c. g. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). ukuran dan susunan. c. konstruksi (kaca-kaca. bumper). kereta gandengan. engsel. (2) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap bak muatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf b. bak muatan. alat perangkai. h. j. perisai kolong. material. sekurang-kurangnya meliputi : a. alat perangkai untuk mobil bus tempelan atau gandengan (termasuk penutup perangkai). e. ukuran dan susunan. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. tangga penumpang (untuk mobil bus). e. tempat duduk. d. d. d.Draft RPP 19 Juli 2010 yang dimaksud dengan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang akan dioperasikan di jalan adalah kegiatan pemeriksaan. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). 58 . konstruksi (kaca-kaca. f. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. (4) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta tempelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf d. b. sekurangkurangnya meliputi : a.

tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor disahkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan menerbitkan surat Keputusan pengesahan rancang bangun dan rekayasa. Pasal 151 (1) Hasil penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang telah memenuhi standar teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 ayat (6) dibuat berita acara hasil penelitian oleh Pimpinan Unit Pelaksana Uji Tipe. e. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. perisai kolong. d. kaki penopang. c. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. j. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). material. ukuran dan susunan. Penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan seri produksi adalah jumlah kendaraan bermotor yang diimpor. b. Paragraf 4 Uji Sampel Pasal 152 (1) Uji sampel dilakukan sebagai jaminan kesesuaian spesifikasi teknik seri produksinya terhadap sertifikat uji tipe. engsel. i. h. alat perangkai. f. (6) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berpedoman pada standar teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bumper). (2) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan juga terhadap seri produksi karoseri kendaraan bermotor. ukuran dan susunan. d. c. pintu. (2) Berdasarkan berita acara hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri. serta dimodifikasi yang memiliki merek dan tipe sama.Draft RPP 19 Juli 2010 b. bumper). material. 59 . alat pengunci (twist lock) (5) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kendaraan bermotor yang dimodifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf e. f. konstruksi (engsel. e. dan kereta tempelan. konstruksi (kaca-kaca. sekurang-kurangnya meliputi : a. kereta gandengan. g. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya.

Pasal 154 (1) Kendaraan bermotor yang diuji sampel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 153 yang dinyatakan lulus diberikan surat keterangan lulus uji sampel sebagai dasar penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. (2) Tipe Kendaraan bermotor yang telah mendapat surat keterangan lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. catatan untuk ayat (6): 60 . (6) Setelah dilakukan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). sedangkan jumlah untuk kendaraan yang diproduksi massal. Penjelasan ayat (2): Yang dimaksud dengan waktu adalah untuk kendaraan yang jumlah produksinya terbatas dalam satuan waktu. dapat dilakukan perbaikan terhadap item – item yang tidak lulus. Pasal 153 (1) Uji sampel dilaksanakan terhadap tipe kendaraan bermotor yang diimpor. Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji sampel. dapat diajukan kembali untuk dilakukan uji tipe. (3) Tata cara uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sebagaimana pelaksanaan uji tipe. dan/atau dirakit di dalam negeri. dibuat. (2) Pelaksanaan uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan waktu dan/atau jumlah terhadap seri produksi kendaraan bermotor per perusahaan dalam 1 (satu) tipe. (5) Tipe kendaraan yang dinyatakan tidak lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang diuji sampel tidak lulus uji. penguji melakukan uji sampel terhadap seri produksi kendaraan bermotor yang sama tipenya dalam jumlah yang lebih banyak.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan untuk menilai kesesuaian spesifikasi teknis seri produksinya terhadap sertifikat lulus uji tipe atau pengesahan rancang bangun dan rekayasa. (4) Dalam hal kendaraan bermotor yang telah dilakukan uji sampel tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan dinyatakan tidak lulus. (4) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Unit pelaksana Uji Tipe yang dibentuk oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

(2) Modifikasi Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. (3) Untuk menjamin pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 155 (1) Uji sampel dan penerbitan sertifikat registrasi uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan. ditetapkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan disetorkan ke kas negara. dan tata cara uji sampel serta penerbitan sertifikat registrasiuji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 1. setiap Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi wajib dilakukan uji tipe. Paragraf 5 Modifikasi Kendaraan Bermotor Pasal 157 (1) Modifikasi Kendaraan Bermotor dapat berupa modifikasi dimensi. 61 . mesin. Apakah uji terhadap tipe kendaraan yang dinyatkan tidak lulus uji sampel dan kemudian telah diperbaiki dilakukan uji tipe atau uji sampel ulang ? pilihan mana yang paling menjamin untuk keselamatan. (2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan modifikasi dimensi adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada perpanjangan atau pemendekan chassis tanpa mengubah jarak sumbu dan konstruksi kendaraan bermotor tersebut serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. Pasal 156 Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah. waktu. yang dimaksud dengan modifikasi daya angkut adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada kendaraan bermotor dengan menambah sumbu bagian belakang tanpa mengubah jarak sumbu aslinya dan sumbu yang ditambahkan harus memiliki material yang sama dengan sumbu aslinya dan harus dilakukan perhitungan sesuai dengan daya dukung jalan yang dilalui serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. dan kemampuan daya angkut. yang dimaksud dengan modifikasi mesin adalah modifikasi yang dilakukan dengan mengganti mesin dengan syarat mesin tersebut memiliki merek dan type yang sama dengan merek dan type mesin sebelum diganti serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. mohon disepakati di tingkat pengambil kebijakan.

(7) Modifikasi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) wajib dilakukan oleh bengkel umum kendaraan bermotor yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Industri. 62 . (4) Pelaksanaan pembangunan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan mempertimbangkan : a. yang dimaksud dengan bekerjasama dengan pihak ketiga berbentuk peminjaman atau penyewaan sarana dan prasarana atau tenaga penguji. penjelasan ayat (5) persyaratan registrasi dan identifikasi ulang kendaraan bermotor yang dimodifikasi adalah sertifikat lulus uji tipe. wajib dilakukan registrasi dan identifikasi ulang. penjelasan ayat (6) istilah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) tidak sesuai dengan UU Anti Monopoli sehingga penyebutannya menggunakan Agen Pemegang Merek. keselamatan penggunaan kendaraan bermotor. penjelasan ayat (7) bengkel umum yang melaksanakan modifikasi kendaraan bermotor memberikan surat keterangan modifikasi kendaraan bermotor yangselanjutnya sebagai syarat untuk mengajukan uji tipe dan registrasi kendaraan bermotor tersebut. (3) Dalam keadaan tertentu pelaksanaan uji tipe. diberikan sertifikat lulus uji tipe. (2) Unit pelaksana uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyediakan fasilitas dan peralatan pengujian serta tenaga yang memiliki kompetensi.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Kendaraan bermotor yang dimodifikasi dan telah dinyatakan lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi yang telah mendapatkan sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Paragraf 6 Unit Pelaksana Uji Tipe Pasal 158 (1) Unit Pelaksana uji tipe Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (2) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. penjelasan ayat (3) yang dimaksud dengan keadaan tertentu antara lain dalam hal tidak atau belum tersedianya fasilitas dan peralatan uji yang dipergunakan untuk menguji item tertentu (seperti alat uji emisi). peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Unit Pelaksana uji tipe dapat bekerjasama dengan pihak ketiga. (6) Modifikasi kendaraan bermotor dapat dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). b.

Draft RPP 19 Juli 2010 c. pagar. e. 63 . serta dikalibrasi secara periodik. sekurang .kurangnya : a. umur teknis dan ekonomis peralatan serta fasilitas yang ada. kesepakatan-kesepakatan regional dan/atau internasional. kelestarian lingkungan hidup. (7) Unit pelaksana uji tipe wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor. perkembangan teknologi. b. kemajuan industri kendaraan bermotor.fasilitas pengisian bahan bakar. (5) Fasilitas dan peralatan pengujian yang digunakan harus dirawat dan/atau diperbaiki dengan baik. e. e. i. b. lapangan parkir.fasilitas penunjang. f. lampu penerangan. d. fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor). j. trek pengujian tanjakan dan turunan. trek pengujian pengendalian. c. bangunan gedung administrasi. trek pengujian Belgian road.bangunan gedung untuk generator set. trek pengujian kecepatan tinggi. dan besaran biaya yang dikenakan. agar kondisinya senantiasa layak dan siap operasi. f. c. Pasal 159 (1) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . f. h.jalan lingkungan pengujian. (2) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l. d. kapasitas. g. h. (6) Unit pelaksana uji tipe kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi yang ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca oleh pemohon yang memuat persyaratan.kurangnya: a. pompa air dan menara air. i. g. jalan keluar masuk. k. g.fasilitas listrik. trek pengujian serba guna. m. l.bangunan beban kerja untuk fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor dalam gedung (indoor). kompresor dan gudang. trek pengujian melalui jalan berlumpur. d. fasilitas pengujian tingkat suara. mengutamakan produksi dalam negeri. trek pengujian slip. h. prosedur pelaksanaan. fasilitas pengujian radius putar.

h. trek pengujian melalui lintasan berair. alat uji posisi roda depan. b. n. r.Draft RPP 19 Juli 2010 j. 64 . alat uji prestasi kendaraan bermotor. j. pemeliharaan. k. m. alat uji kincup roda depan. d. l. alat uji ban. lapangan pengujian analitis. termasuk ketebalan asap gas buang. l. jenis.terowongan debu. pembangunan. bahan. terowongan air. s. alat uji pengujian berat. alat uji emisi gas buang. alat uji tingkat suara.alat uji motor penggerak. e. peralatan bantu. alat uji dimensi. f. c. tapak selip (skid pad). ukuran. alat uji tekanan udara. r. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata letak. lintasan berliku-liku. alat uji speedometer. bentuk. spesifikasi teknik. s. alat uji lain. jalan inspeksi (inspection road). penggunaan. fasilitas dan peralatan bantu. alat uji sabuk keselamatan. konstruksi. dan penggantian fasilitas uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. m. fasilitas uji tabrakan (test crash). peralatan. t. alat uji konstruksi. alat uji kebisingan. p. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. k. perbaikan. p. q. alat uji lampu utama. alat uji rem utama dan rem parkir. alat uji kaca. fasilitas pembuat angin. tipe. i. q. perlengkapan. n.kurangnya: a. o. o. Pasal 160 (1) Peralatan uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . g. alat uji suspensi roda dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan bermotor.

unit pelaksana agen tunggal pemegang merek yang mendapat izin dari Pemerintah. kapasitas. spesifikasi teknik. mobil barang. mobil bus. pembangunan. ukuran. dan penggantian peralatan uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. perbaikan. pengadaan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tipe. pemasangan. penjelasan ayat (2) huruf c yang dimaksud dengan pengujian swasta adalah pihak swasta yang melakukan kegiatan khusus di bidang pengujian kendaraan bermotor atau bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu untuk dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. bentuk. teknologi yang digunakan. (2) Dalam keadaan tertentu pengujian berkala kendaraan bermotor dapat dilakukan pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor terdekat yang tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. b. Bagian Ketiga Uji Berkala Paragraf 1 Umum Pasal 161 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf b diwajibkan untuk mobil penumpang umum. unit pelaksana pengujian swasta yang memenuhi persyaratan dan mendapatkan izin dari Pemerintah. penggunaan. pemeliharaan. jumlah. kereta gandengan dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan. Pasal 162 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilakukan di daerah tempat kendaraan bermotor diregistrasi. (2) Uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh : a. penjelasan ayat (2) yang dimaksud dalam keadaan tertentu antara lain masa berlaku uji berkala telah jatuh tempo sementara kendaraan tidak berada di domisili atau kendaraan yang terkena sanksi pelanggaran karena tidak terpenuhi persyaratan teknis dan laik jalan di luar wilayah domisilinya atau pada saat sistem telah terbangun secara on line. unit pelaksana pengujian pemerintah kabupaten/kota.atau c. 65 .

66 .Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 163 (1) Pengujian berkala dilakukan terhadap kendaran bermotor wajib uji berkala untuk pertama kali paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). (3) Masa uji berkala kendaraan bermotor wajib uji berkala berlaku selama 6 (enam) bulan dan harus dilakukan uji berkala berikutnya. helm. wajib dilakukan uji berkala di Indonesia. fotocopy sertifikat registrasi uji tipe dengan menunjukan aslinya. yang dimaksud dengan keperluan tertentu antara lain untuk kegiatan olahraga kendaraan bermotor. meteran. b. (2) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. (4) Kendaraan bermotor asing yang digunakan di Indonesia untuk keperluan – keperluan tertentu dan telah berakhir masa uji berkalanya. dan pariwisata yang penggunaannya bersifat sementara. (5) Dalam hal tidak dilakukan uji berkala di Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kendaraan bermotor asing dilarang dioperasikan di jalan. Pasal 164 Permohonan pengujian berkala kendaraan bermotor untuk yang pertama kali diajukan kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor secara tertulis dengan melampirkan : a. peralatan seperti kunci pas. senter. Penjelasan ayat (2) : Yang termasuk alat bantu adalah palu khusus. kacamata pelindung. Paragraf 2 Pemeriksaan Dan Pengujian Fisik Terhadap Persyaratan Teknis Dan Laik Jalan Pasal 165 (1) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dalam pengujian berkala dilakukan terhadap persyaratan teknis. tang. penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan kendaraan bermotor asing adalah kendaraan dari negara asing yang telah memiliki bukti lulus uji dan bukti registrasi dan identifikasi yang masih berlaku di negaranya. fotocopy STNK dengan menunjukan aslinya. (2) Pengujian berkala untuk pertama kali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mendasarkan data spesifikasi teknik kendaraan bermotor yang terdapat dalam sertifikat registrasi uji tipe.

nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. l. i. b. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). d. sudut bebas kemudi (speling steer). keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). perlengkapan. pipa saluran bahan bakar. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). segitiga pengaman. kondisi spakbor. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. dongkrak.bentuk bumper. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kebocoran sistem rem. (5) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan atau tanpa alat bantu sekurang – kurangnya meliputi : a. corong pengisi bahan bakar. rancangan teknis kendaraan bermotor sesuai dengan peruntukannya. kondisi rem parkir. kaca-kaca. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. fungsi klakson. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. k. keberadaan dan kondisi ban cadangan. (4) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis. m. f. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. kondisi badan kendaraan. kondisi tangki bahan bakar. c. d. ukuran. b. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. h. karoseri. e. engsel. j. o. d.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi : a. g. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan secara visual sekurang – kurangnya meliputi: a. p. kondisi kaca spion. f. q. c. perisai kolong. n. serta kondisi ban. c. tempat duduk. e. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. e. b. 67 . nomor dan tipe motor penggerak. susunan.

c. Pasal 168 (1) Apabila kendaraan bermotor dinyatakan tidak lulus uji. bagian dalam kendaraan. Pasal 166 (1) Pemeriksaan dan pengujian terhadap persyaratan laik jalan untuk kendaraan wajib uji berkala sekurang-kurangnya meliputi: a. kincup roda depan. pengukuran berat. i. untuk semua jenis kendaraan. kemampuan rem parkir. Pasal 167 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah dinyatakan lulus terhadap pemeriksaan dan pengujian fisik diberikan tanda bukti lulus uji berkala kendaraan bermotor yang berupa kartu uji dan tanda uji. emisi gas buang. maka terhadap kendaraan tersebut wajib dilakukan uji ulang dan penguji wajib menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji. alasan tidak lulus uji. b. tingkat kebisingan. pemeriksaan kosntruksi. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). c. 68 . pengukuran dimensi. mengukur dimensi utama kendaraan. kedalaman alur ban. e.Draft RPP 19 Juli 2010 g. uji kemampuan rem. tata cara pemeriksaan dan pengujian diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. f. akurasi alat penunjuk kecepatan (speedometer). h. kemampuan rem utama d. mengukur ukuran tempat duduk. item – item yang tidak lulus uji. h. (2) Kartu uji dan tanda uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku di seluruh wilayah Indonesia. f. kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama. pengukuran kedalaman alur ban. (3) Pengujian berkala terhadap untuk kereta gandengan dan kereta tempelan sekurang-kurangnya meliputi : a. g. b. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur. dan tempat keluar darurat. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. (2) Pernyataan surat keterangan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. b. c. e. uji sistem lampu d.

isi silinder. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. i. c. e. tanggal dan nomor pengesahan uji tipe. o. konfigurasi sumbu. 69 . f. (3) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang. dimensi kendaraan (rumah-rumah/bak muatan). Paragraf 3 Bukti Lulus Uji Pasal 169 (1) Setiap kendaraan bermotor wajib uji yang didaftarkan untuk dilakukan uji berkala untuk yang pertama kali. tahun pembuatan/perakitan. l. serta tidak diperlakukan sebagai pemohon baru. tanggal dan nomor sertifikat registrasi uji tipe. j. g. nomor motor penggerak/mesin. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mengajukan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. jenis. p. merek/tipe. b. alamat pemilik. (4) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang namun surat pernyataan tidak lulus uji yang dimilikinya telah habis masa berlakunya. d. nomor uji berkala. (6) Apabila pemilik yang menguasai kendaraan bermotor tidak menyetujui keputusan penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji hanya dapat dioperasikan di jalan dalam rangka perbaikan ke bengkel umum kendaraan bermotor terdekat atau yang ditunjuk dengan dilengkapi surat tanda tidak lulus uji. nomor kendaraan. bahan bakar yang digunakan. (2) Kartu induk uji berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. n. k. nama pemilik. diperlakukan sebagai pemohon baru. wajib melakukan perbaikan-perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. dapat mengajukan keberatan kepada pimpinan unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. diterbitkan kartu induk uji berkala yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia dan/atau tanda uji berkala. m. h. daya motor penggerak.Draft RPP 19 Juli 2010 d.

jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk mobil barang dan mobil bus. (3) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sesuai dengan wilayah domisili kendaraan . Pasal 171 (1) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. kode Kabupaten/kota. jenis. e. l. n.berat kosong kendaraan. tempat dan tanggal dilakukan uji pertama kali. g. kode tahun pendaftaran uji. b. merek/tipe. isi silinder. 70 . nama pemilik. nomor dan tanggal sertifikat registrasi uji tipe. (2) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berisikan kode wilayah yang terdiri dari kode provinsi. kode jenis kendaraan bermotor. dan nomor urut pengujian. daya motor penggerak. k. r. Pasal 170 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah diuji berkala untuk pertama kali diberi nomor uji kendaraan bermotor. i. nama dan tanda tangan tenaga penguji yang mengesahkan masa uji berkala untuk yang pertama kali. nomor uji kendaraan. s. nomor dan tanggal pengesahan tipe bagi kendaraan yang di uji fisik dan nomor pengesahan yang dilakukan melalui penelitian rekayasa dan rancang bangun. (4) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilampirkan setiap akan melakukan pengujian berkala kecuali pengujian berkala yang dilakukan diluar wilayah domisili kendaraan. f. nama dan identitas penanggung jawab unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang menerbitkan kartu pengujian berkala. foto berwarna tampak samping kanan. c. d. depan dan belakang kendaraan bermotor. m. h. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. kiri. tahun pembuatan/perakitan. j. Catatan : Pengecualian ini berlaku pada saat sistem pengujian berkala telah terbangun sistem online yang sudah tidak ada lagi istilah numpang uji.Draft RPP 19 Juli 2010 q. (3) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama kendaraan yang bersangkutan masih termasuk sebagai kendaraan wajib uji. alamat pemilik.

memiliki identitas pemilik kendaraan. Pasal 172 (1) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (1) yang berbentuk stiker ditempel pada kaca depan sisi kiri bawah bagian dalam.Draft RPP 19 Juli 2010 o. t. daya angkut. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. konfigurasi sumbu roda. d. (2) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi : a. b. q. melampirkan surat tanda terima laporan bagi kendaraan yang tidak dapat melaksanakan pengujian berkala pada saat masa berlaku uji berakhir. muatan sumbu terberat. kartu uji dan tanda uji diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungj awab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. x. masa berlaku uji kendaraan. e. lulus uji berkala. daya angkut orang dan barang. ukuran utama kendaraan. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. jumlah berat yang diizinkan untuk kendaraan bermotor tunggal dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau tempelan. c. b. b. 71 . jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk mobil barang dan mobil bus. ukuran ban. v. s. w. memiliki identitas pemilik kendaraan. kode wilayah pengujian. r. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. c. (2) Perubahan bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan: a. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. masa berlaku hasil uji. bahan bakar yang digunakan. hasil uji. pedoman nomor uji. Pasal 173 Ketentuan lebih lanjut mengenai kartu induk uji berkala. (2) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. p. u. d. Pasal 174 (1) Perpanjangan masa berlaku bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a.

tidak dapat melakukan uji berkala. Pasal 175 (1) Pemilik kendaraan bermotor yang telah mendapatkan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 harus melaporkan secara tertulis kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala apabila : a. d. pemilik kendaraan dapat melaporkan kepada unit pelaksana pengujian terdekat. (2) Dalam hal keberadaan kendaraan bermotor berada diluar domisili unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor pemerintah Kabupaten/kota. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor swasta. membawa surat keterangan kehilangan dari kepolisian setempat. merupakan bengkel umum kendaraan bermotor yang telah ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana LaluLintas dan Angkutan Jalan berdasarkan rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. b. (4) Perpanjangan. menyampaikan keterangan mengenai perubahan-perubahan spesifikasi teknik dan/atau data pemilik dan/atau wilayah operasi kendaraan. melampirkan salinan identitas pemilik kendaraan dengan menunjukkan aslinya. Paragraf 4 Unit Pelaksana Uji Berkala Pasal 176 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan oleh : a. lulus uji berkala untuk kendaraan yang mengalami perubahan spesifikasi tekniknya. (3) Penggantian bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. memindahkan operasi kendaraannya secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan ke wilayah lain di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. dan c. dengan menyebutkan alasan-alasannya. ayat (2) dan ayat (3) diberikan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak diterima permohonan. atau c. perubahan dan penggantian bukti lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Unit pelaksana pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan c.Draft RPP 19 Juli 2010 c. 72 . unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor agen tunggal pemegang merek. atau b. b. melampirkan bukti lulus uji berkala yang ada untuk bukti lulus uji yang rusak. pada saat masa berlaku uji kendaraannya berakhir. apabila bukti lulus uji berkala hilang.

(3) Untuk menjamin setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan memenuhi akuntabilitas pelayanan publik. standar keakurasian peralatan pengujian kendaraan bermotor. sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. melaksankana pengujian sesuai dengan akreditasi dan sertifikasi. kompetensi penguji kendaraan bermotor. 73 . membuat rencana dan pelaporan secara berkala setiap penyelenggara pengujian kepada Menteri. Pasal 177 (1) Setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan tentang : a. (4) Dalam hal pengujian dilakukan oleh bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pengesahan uji dilakukan oleh petugas swasta yang memiliki kompetensi yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk pengujian yang dilakukan oleh unit pelaksana pengujian agen tunggal pemegang merek dan unit pelaksana pengujian swasta. memiliki atau menguasai areal tanah sesuai dengan kebutuhan. c. terletak pada lokasi yang mudah dijangkau oleh pemilik kendaraan bermotor. b. e. c. lokasi. mengikuti tata cara pengujian. harus dilakukan akreditasi oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dan e. standar fasilitas prasarana dan peralatan pengujian kendaraan bermotor. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian berkala kendaraan bermotor. menggunakan peralatan pengujian.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Unit pelaksanaan uji berkala wajib : a. b. f. sistem dan prosedur. b. (2) Setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki 1 (satu) unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. Pasal 178 (1) Lokasi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya: a. mempertahankan mutu pengujian yang diselenggarakan. d. c. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan unit pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. d.

b. l. alat pengukur berat. dan ketebalan asap gas buang. e. alat pengukur suara (sound level meter). alat uji kincup roda depan (side slip tester). peralatan bantu. alat uji lampu utama. alat uji rem. k. alat uji kebisingan. (2) Peralatan uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi : a. alat uji speedometer. j. n. alat uji emisi gas buang. o. d. alat uji suspensi roda (pit wheel suspension tester) dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan. Pasal 179 (1) Unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 ayat (1) harus memiliki peralatan uji. hidro karbon (HC).Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Suatu daerah yang hanya memiliki kendaraan wajib uji relatif sedikit dibanding dengan luas daerah yang harus dilayani. f. Pasal 180 (1) Pada setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi atau media informasi lainnya yang berisikan prosedur pengujian berkala kendaraan bermotor. 74 . meliputi alat uji karbon monoksida (CO). generator set. dan/atau karena kondisi geografisnya tidak memungkinkan kendaraan dari satu tempat mencapai tempat unit pelaksana pengujian. (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca setiap saat oleh pemohon. g. kompresor udara. c. alat pengukur tekanan udara. pelaksanaan pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan unit pengujian berkala keliling. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai spesifikasi teknis peralatan uji berkala kendaraan bermotor dan peralatan pendukungnya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. alat pengukur dimensi. alat uji kaca. h. m. i.

Penjelasan ayat (1): Yang dimaksud dengan sekurang-kurangnya satu tahun sekali adalah dimungkinkan pelaksanaan kalibrasi lebih dari satu kali dalam setahun untuk unit pelaksana pengujian kendaraan yang disesuaikan dengan jumlah kendaraan bermotor yang diuji) atau kondisi peralatan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 181 (1) Unit pelaksana pengujian berkala wajib membangun sistem informasi dan komunikasi. (2) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. peralatan pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 179 harus dikalibrasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali. (4) Biaya kalibrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada unit pengujian kendaraan bermotor yang bersangkutan. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor pada pemerintah provinsi DKI Jakarta. Pasal 182 (1) Untuk menjamin keakurasian dan keselamatan pemakaian. (2) Kalibrasi peralatan uji pada unit pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. (2) sistem informasi dan komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat saling terhubung (on line) dan terintegrasi antara daerah dengan kementerian perhubungan serta dapat diakses oleh masyarakat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 75 . (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kalibrasi diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Unit pengujian kendaraan bermotor yang tidak melakukan kalibrasi peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka hasil uji berkala kendaraan bermotor tidak dapat dipertanggung jawabkan. Pasal 183 (1) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan/atau gubernur atau pejabat yang ditunjuk.

Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Bentuk pengawasan dan pengontrolan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan (4) berupa melakukan uji petik terhadap sekurang-kurangnya 2 (dua) unit kendaraan bermotor atau 5% (lima persen) kendaraan bermotor hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih secara random. Bagian Keempat Kualifikasi Teknis dan Kompetensi Penguji Kendaraan Bermotor Pasal 184 (1) Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) dilakukan oleh tenaga penguji yang memiliki kompetensi penguji kendaraan bermotor. tidak merasa terganggu dengan adanya uji petik tersebut) (5) Hasil uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai salah satu penilaian hasil pemeriksaan kinerja unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. 76 . (4) Uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada hari yang sama dengan mengirim penguji kendaraan bermotor yang memiliki sertifikat kompetensi ke unit-unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih. Penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan sesuai tingkat kewenangannya adalah kewenangan untuk menandatangani pada kolom hasil uji dan masa berlaku uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor sesuai ketentuan yang berlaku. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan uji petik dan bentuk laporan hasil uji petik diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) kompetensi tenaga penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan berdasarkan tingkat keahlian. wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang yang diperoleh setelah mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan dan uji kompetensi pengujian kendaraan bermotor. Penjelasan ayat (4) : yang dimaksud dengan uji petik dilakukan pada hari yang sama adalah dimaksudkan supaya pemilik kendaraan bermotor yang sedang mengujikan kendaraannya di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih untuk uji petik. (3) Penguji yang memenuhi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis penguji kendaraan bermotor oleh menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasana. (4) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan berdasarkan pertimbangan tingkat wewenang dan tanggung jawab penguji secara berjenjang.

Yang dimaksud dengan petugas adalah petugas penguji Pemerintah maupun petugas penguji swasta. Pasal 186 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 merupakan kewajiban Pemerintah dan dalam penyelenggaraannya dapat tidak dipungut biaya. (2) Pelaksanaan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh agen tunggal pemegang merek. BAB VII BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Persyaratan dan Penyelenggaran Bengkel Umum Pasal 187 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor berfungsi untuk memperbaiki dan merawat kendaraan bermotor agar tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Penjelasan: yang dimaksud dengan pengesahan hasil uji adalah penandatanganan pada kolom hasil uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor. prosedur pengangkatan tenaga penguji serta tanda kualifikasi teknis penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan Peraturan perundang – undangan. ayat (3). (6) Setiap tenaga penguji yang sedang menjalankan tugas wajib mengenakan tanda kualifikasi teknis.Draft RPP 19 Juli 2010 (5) Sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku di seluruh Indonesia. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan persyaratan. dan bengkel umum. Pasal 185 Pengesahan hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor dilakukan oleh petugas yang memilik kompetensi pengujian kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. negara wajib memberikan kompensasi. wajib memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. ayat (2). swasta. 77 .

merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. B. perbaikan besar. b. perbaikan kecil. perbaikan besar. Bengkel tipe A. Bagian Kedua Akreditasi Bengkel Umum Untuk Pengujian Berkala Pasal 188 (1) Bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. perbaikan kecil. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala dan perbaikan kecil. bengkel kelas II tipe A. 78 . (5) Penetapan klasifikasi bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melalui sistem sertifikasi bengkel umum. bengkel umum swasta (bukan agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor). (2) Kualitas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bahwa bengkel umum tersebut mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. c. serta perbaikan sasis dan bodi kendaraan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas tingkat pemenuhan terhadap persyaratan sistem mutu. Bengkel tipe C. (3) Bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. bengkel kelas I tipe A. B. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan sistem sertifikasi bengkel umum diatur oleh Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. c. atau jenis pekerjaan perawatan berkala. b. (3) Bengkel umum yang memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan terbagi atas beberapa klasifikasi : a. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. b. dan perbaikan besar. fasilitas dan peralatan. serta manajemen informasi. dan C. Bengkel tipe B. perbaikan kecil. bengkel umum agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor. mekanik. (4) Tipe bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas jenis pekerjaaan yang mampu dilakukan. perbaikan kecil. dan C. yaitu : a. B. dan C. (6) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang industri. bengkel kelas III tipe A.

peralatan. 79 . izin usaha bengkel kendaraan bermotor dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota setempat dan mendapat rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan rekomendasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. c. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian akreditasi dan penetapan bengkel umum menjadi unit pelaksana pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. b. (4) Rekomendasi yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a terkait dengan aspek keamanan lingkungan. (3) Penetapan bengkel umum kendaraan bermotor menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor oleh Menteri yang bertangung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. e. (2) Bengkel umum yang melakukan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan : a. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem sertifikasi. perawatan. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. analisis dampak lalu lintas. Pasal 190 (1) Bengkel umum dapat dilengkapi fasilitas prasarana. sumber daya manusia. memiliki peralatan dan fasilitas pengujian berkala. memiliki akreditasi dari Pemerintah. d. (2) Penetapan bengkel pemasangan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 189 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 dapat menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. pengalaman menjadi bengkel umum kelas I tipe A sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun. dan sistem prosedur sebagai bengkel pemasangan. (3) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. perawatan.

Pasal 193 (1) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 203 ayat (2) huruf a dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut untuk jangka waktu masing – masing 30 (tiga puluh) hari kalender. (3) Pencabutan tanda kualifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender. pencabutan tanda kualifikasi. peringatan tertulis. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Kesatu Bagi Penguji Pasal 192 (1) Setiap Penguji yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 dikenakan sanksi administratif.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Ketiga Perizinan Bengkel kendaraan Bermotor Pasal 191 (1) Penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor yang akan dijadikan unit pengujian berkala harus mendapatkan izin dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2) Apabila peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Penguji tidak mengindahkannya setelah berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ke 3 (tiga). dikenai sanksi administratif berupa pencabutan tanda kualifikasi. Penjelasan ayat (1): yang dimaksudkan rekomendasi adalah memberikan keterangan bahwa bengkel yang didirikan tidak mengganggu keamanan dan ketertiban. atau b. 80 . (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/kota.

(2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.00 (dua ratus juta rupiah). Pasal 197 (1) Sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dan Pasal 167 dapat dicabut apabila : a. c. 81 . b. Pasal 195 (1) Setiap pemilik kendaraan bermotor yang tidak melakukan pengujian kendaraannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 ayat (1) dikenakan sanksi administratif. tidak melaksanakan kalibrasi secara berkala. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a.000. tidak menyelenggarakan sistem informasi dan administrasi pengujian berkala secara baik dan bertanggung jawab. apabila melakukan pelanggaran. tidak mengoperasikan peralatan uji saat melakukan pengujian berkala. tidak bersedia menerima petugas yang sedang ditugaskan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan tanpa alasan yang jelas.000. e. atau b. g. pencabutan izin. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dikenai sanksi denda admnistratif paling banyak Rp. i. kendaraan diubah spesifikasi tekniknya sehingga tidak sesuai lagi dengan data yang ada pada sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala kendaraan yang bersangkutan. f. terbukti melakukan pungutan biaya uji melebihi biaya yang telah ditetapkan. peringatan tertulis.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 194 Bengkel umum yang menyelenggarakan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pencabutan hak operasi selaku unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. tidak mengisi data teknis dan hasil uji berkala secara benar pada tanda bukti lulus uji berkala. mengabaikan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 196 (1) Selain dikenai sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (2) Pemilik kendaraan bermotor. terbukti mempersulit proses pelaksanaan pengujian berkala. d. h.200. tidak melakukan perawatan dan perbaikan terhadap peralatan uji berkala yang menjadi tanggung jawabnya. yang meliputi : a.

wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor (on line system). Pasal 201 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku setiap unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor paling lama 5 (lima) tahun. kendaraan dioperasikan secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. penggunaan buku uji. Pasal 198 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. c. Pasal 200 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku.Draft RPP 19 Juli 2010 b. 82 . mengalihkan pemilikan kendaraan bermotor sehingga nama pemilik tidak sesuai lagi dengan yang tercantum dalam bukti lulus uji berkala. (2) Pemilik kendaraan bermotor yang sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkalanya dicabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan bukti lulus uji berkala baru setelah yang bersangkutan melakukan uji berkala kembali sesuai dengan ketentuan yang berlaku. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 199 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku rem motor untuk sepeda motor yang baru dan yang sudah beroperasi harus menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. tanda uji dan tanda samping yang telah ada dinyatakan masih berlaku sampai habis masa berlakunya dan paling lama 5 (lima) tahun harus menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini.

83 . SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR ... Agar setiap orang mengetahuinya. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA H. Pasal 203 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini..Draft RPP 19 Juli 2010 BAB XI PENUTUP Pasal 202 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini.. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi di cabut dan dinyatakan tidak berlaku. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 204 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. semua Peraturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi yang mengatur tentang Kendaraan dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful