Draft RPP 19 Juli 2010 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG KENDARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Tentang Kendaraan; a. Pasal 5 ayat (1) serta Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); TAHUN

Mengingat

:

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH KENDARAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas Kendaraan

REPUBLIK

INDONESIA

TENTANG

Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.

2. Kendaraan Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan

mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel.

1

Draft RPP 19 Juli 2010
3. Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga

manusia dan/atau hewan.

4. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap Kendaraan yang digunakan untuk

angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.

5. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-

rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. tempat duduk maksimal 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya tidak lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. duduk lebih dari 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram.

6. Mobil Penumpang adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki

7. Mobil Bus adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki tempat

8. Mobil Bus Gandeng adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan gandengannya,

yang gandengannya mempunyai sedikitnya 2 (dua) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak vertikal (terhadap bus gandengan) dan mengontrol arah sumbu roda depan gandengan tetapi tidak membebani sumbu bus penarik dan memiliki lorong penghubung. tempelannya mempunyai sedikitnya 1 (satu) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak horizontal dan vertikal (terhadap bus tempelan) dan membebani sumbu bus penarik. penghubung kedua lantai tersebut. barang.

9. Mobil Bus Tempel adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan tempelan, yang

10. Bus Tingkat adalah bus yang memiliki dua lantai dan dilengkapi tangga sebagai

11. Mobil Barang adalah Kendaraan Bermotor yang digunakan untuk angkutan

12. Rumah – Rumah adalah bagian dari kendaraan bermotor jenis mobil penumpang

atau mobil bus atau mobil barang, yang berada pada landasan berbentuk ruang muatan, baik untuk orang maupun barang.

13. Pengujian Kendaraan Bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau

memeriksa bagian-bagian atau komponenkomponen kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.

2

Draft RPP 19 Juli 2010
14. Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Tipe Kendaraan

Bermotor adalah pengujian yang dilakukan terhadap fisik kendaraan bermotor atau penelitian terhadap rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan sebelum kendaraan bermotor tersebut dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor secara massal serta kendaraan bermotor yang dimodifikasi. adalah pengujian kendaraan bermotor yang dilakukan secara berkala terhadap setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan, yang dioperasikan di jalan.

15. Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Berkala

16. Sertifikat Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal

Perhubungan Darat sebagai bukti bahwa tipe kendaraan bermotor atau landasan kendaraan bermotor yang bersangkutan telah lulus uji tipe. pengesahan dari Pemerintah sebagai bukti bahwa rancangan kendaraan bermotor, kereta gandengan, atau kereta tempelan tersebut telah memenuhi persyaratan teknis.

17. Pengesahan Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor adalah Surat

18. Sertifikat Registrasi Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur

Jenderal Perhubungan Darat, sebagai bukti bahwa setiap kendaraan bermotor, landasan kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan/atau kereta tempelan yang dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor atau dimodifikasi memiliki spesifikasi teknik sama/sesuai dengan tipe kendaraan yang telah disahkan atau rancang bangun dan rekayasa kendaraan yang telah disahkan, yang merupakan kelengkapan persyaratan pendaftaran dan pengujian berkala kendaraan bermotor. dan/atau peruntukannya yang dapat mengakibatkan perubahan spesifikasi teknik utama. produksi yang telah memiliki sertifikat uji tipe.

19. Modifikasi Kendaraan Bermotor adalah kendaraan bermotor yang diubah bentuk

20. Uji Sampel adalah pengujian kesesuaian terhadap spesifikasi teknik terhadap seri 21. Kendaraan Khusus adalah Kendaraan Bermotor yang dirancang khusus yang

memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu, antara lain: a. Kendaraan Bermotor Tentara Nasional Indonesia; b. Kendaraan Bermotor Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Alat berat antara lain bulldozer, traktor, mesin gilas (stoomwaltz), forklift, loader, excavator, dan crane; serta d. Kendaraan khusus penyandang cacat.

22. Kereta Gandengan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut

barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor.

3

Draft RPP 19 Juli 2010
23. Kereta Tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang

yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan bermotor penariknya. yang dipasang simetris atau pada dasarnya simetris terhadap bidang membujur tengah kendaraan, walaupun roda-roda tersebut tidak dipasang pada satu sumbu yang sama. maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya.

24. Roda Pada Satu Sumbu adalah roda tunggal atau roda ganda atau beberapa roda

25. Jumlah Berat Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBB adalah berat

26. Jumlah Berat Kombinasi Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBKB

adalah berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya. yang selanjutnya disebut JBI adalah berat maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui. berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui.

27. Jumlah Berat Yang Diizinkan

28. Jumlah Berat Kombinasi yang Diizinkan yang selanjutnya disebut JBKI adalah

29. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik

Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

30. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah 31. Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin kementerian negara dan

bertanggung jawab atas urusan pemerintahan di bidang Jalan, bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bidang industri, bidang pengembangan teknologi, atau bidang pendidikan dan pelatihan. BAB II JENIS DAN FUNGSI KENDARAAN Pasal 2

Kendaraan terdiri atas: a. b. Kendaraan Bermotor; dan Kendaraan Tidak Bermotor.

4

cikar. dan penjelasan ayat (1) huruf d Termasuk dalam pengertian mobil barang setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor. c. kendaraan untuk angkutan orang. sepeda motor. dikelompokan berdasarkan peruntukan: a. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. Pasal 4 (1) Kendaraan tidak bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. dikelompokan berdasarkan fungsi: a. Pasal 5 (1) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a. dan b. kereta dorong atau kereta tarik. e. kendaraan khusus. atau b. c. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. dikelompokkan dalam: a. mobil bus. dirancang dengan ruang untuk mengangkut orang dan ruang untuk mengangkut barang terpisah dengan penyekat atau dinding. d. antara lain : a. b. Kendaraan Bermotor perseorangan. (2) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. huruf c dan (3) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kendaraan Bermotor umum. b. (2) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b. sepeda. mobil barang. delman. antara lain : a. mobil penumpang. 5 . dirancang dengan ruang untuk pengemudi dan ruang untuk penumpang. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 3 (1) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dikelompokkan berdasarkan jenis: a. kendaraan untuk angkutan barang. dan b. becak. huruf d . dan b. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. mobil penumpang dan mobil bus.

mobil jenazah. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. penjelasan terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. Mobil Penumpang lainnya yang dirancang untuk keperluan khusus. Mobil Penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang terdiri dari: 1. ruang penumpang dan/atau bagasi. ruang bagasi. Mobil Penumpang sedan. Kendaraan Bermotor roda 3 (tiga) tanpa rumah-rumah. pengertian bukan sedan antara lain Sport Utility Vehicle. dan ruang bagasi di bagian belakang atau depan. c. ruang pengemudi. Penjelasan huruf c yang dimaksud dengan mobil penumpang lainnya contoh mobil ambulance.000 (lima ribu) kilogram dan jumlah tempat duduk lebih dari 8 (delapan) orang termasuk pengemudi dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1. Hatch Back. All Purpose Vehicle. meliputi : a. Pasal 6 (1) Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a. meliputi : a. Station Wagon. ruang mesin. terpisah secara permanen atau tidak permanen ruang pengemudi dan penumpang di bagian tengah. mobil bus kecil. (3) Mobil Bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c. Multy Purpose Vehicle.500 (tiga ribu lima ratus) sampai dengan 5. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa rumah-rumah. ruang mesin. yang memiliki 3 (tiga) ruang yang terdiri dari: 1. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa kereta samping.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. meliputi : a. ruang pengemudi dan penumpang dan/atau bagasi. 2. c. penjelasan mobil penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang dirancang terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. 2. 6 . b. yang dirancang khusus.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (2) yang dimaksud dengan ruang untuk mengangkut barang adalah berbentuk bak muatan terbuka atau bak muatan tertutup (box). 3. ruang pengemudi dan penumpang. b. (2) Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b.

yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 8.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (dua belas ribu) milimeter sampai dengan 13.000 (dua puluh empat ribu) kilogram.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26. g.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18. mobil bus tingkat yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) sekurang-kurangnya 21.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter.000 (dua belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4. ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 12.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 16. bus sedang dengan jumlah tempat duduk maksimal 32.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. ukuran panjang keseluruhan lebih dari 12.000 (delapan ribu) sampai dengan 16. mobil bus maxi.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. ukuran panjang keseluruhan kendaraan bermotor lebih dari 9. mobil bus besar.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13.200 (empat ribu dua ratus) milimeter. mobil bus tempel yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22. catatan: perlu dirumuskan kembali. e.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. yang dirancang.Draft RPP 19 Juli 2010 b.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 13.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan ukuran tinggi mobil bus tingkat tidak lebih dari 4.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13. mobil bus gandeng yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. f. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 5. c.100 (dua ribu seratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1.000 (dua puluh satu ribu) kilogram sampai dengan 24. bus besar 7 .500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (lima ribu) sampai dengan 8.000 (sembilan ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. d.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. ukuran panjang keseluruhan tidak melebihi 9.000 (enam belas ribu) kilogram. mobil bus sedang.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26.000 (dua puluh empat ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan sekurang-kurangnya 9.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. contoh: bus kecil dengan jumlah tempat duduk maksimal 16.000 (delapan ribu) kilogram.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (enam belas ribu) kilogram sampai dengan 24.

EOD (Explosive Ordinance Disposal. gas terlarut pada tekanan atau temperatur tertentu.. barang yang bersifat radioaktif.dan disesuaikan dengan RPP tentang Angkutan (4) Mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d. antara lain: a. 8 . box freezer. hewan hidup. d. gas cair. kendaraan untuk menarik kereta tempelan.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan jumlah tempat duduk maksimal 58. bahan penghasil oksidan.. barang curah. penjelasan huruf a: yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan terbuka adalah antara lain seperti dump truck. d. dan alat berat serta membawa barang berbahaya. barang yang bersifat korosif. mobil barang tangki. racun dan bahan yang mudah menular. c. dan gas. mempunyai fungsi dan dirancang bangun tertentu. meliputi: a. b. padatan mudah menyala. atau gas. dan h. Commander Call Carrier. cair. b. e. g. mobil barang bak muatan terbuka. mobil barang kabin ganda. panser. peti kemas. kendaraan lapis baja yang digunakan untuk tempur dan kendaraan yang dirancang khusus yang dimiliki oleh. yang dirancang memiliki 2 (dua) baris tempat duduk pengemudi dan penumpang dengan ruang barang yang terpisah secara permanen dan/atau tidak permanen oleh dinding atau sekat. mobil barang kabin ganda.. wing box. f. antara lain: a. gas mampat. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan tertutup adalah antara lain seperti box. barang yang mudah meledak. flat deck. non dump truck. Catatan: Perlu dijelaskan definisi kendaraan untuk menarik kereta tempelan (5) Kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e. Security Barrier. Kendaraan tank.dll c. tumbuhan. penjelasan yang dimaksud mobil barang tangki adalah mobil yang dirancang untuk mengangkut barang cairan. cairan mudah menyala. yang dimaksud dengan mobil barang khusus adalah angkutan yang membutuhkan mobil barang yang dirancang khusus untuk mengangkut benda yang berbentuk curah. Penjelasan : yang dimaksud dengan mobil barang kabin adalah:mobil barang kabin ganda (double cabin). mobil barang bak muatan tertutup.

penggandengan Kendaraan Bermotor. Pasal 9 (1) Ketentuan mengenai persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 berlaku bagi setiap jenis kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf i untuk Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor. BAB III PERSYARATAN TEKNIS DAN LAIK JALAN KENDARAAN BERMOTOR. susunan. perlengkapan. karoseri. ukuran. forklift. dan Commander Call Carrier. dan kendaraan taktis lainnya yang dirancang khusus dan dimiliki oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. d. excavator. d. Kendaraan alat berat antara lain traktor. g. kecuali kendaraan khusus milik TNI dan Polri sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (5) huruf a dan huruf b. 9 . Anti Personel Carrier (APC). pemuatan. e. EOD (Explosive Ordinance Disposal. loader. KERETA GANDENGAN DAN KERETA TEMPELAN Bagian Kesatu Ketentuan Umum Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Paragraf 1 Persyaratan Teknis Pasal 8 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis. b. (2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Security Barrier. c.Draft RPP 19 Juli 2010 b. penggunaan. dan/atau i. h. c. penempelan Kendaraan Bermotor. kendaraan khusus penyandang cacat. dan crane. Pasal 7 Ketentuan lebih lanjut mengenai Fungsi Kendaraan Bermotor. stoomwaltz. buldozer. f. diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya. Kendaraan water canon.

d. sistem lampu dan alat pemantul cahaya. Pasal 12 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 harus dibubuhkan nomor rangka landasan. 10 . sistem roda-roda. g. h. sistem penerus daya. motor penggerak. dapat menahan seluruh beban. sistem rem. c. Pasal 10 Susunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a terdiri atas: a. dikonstruksi menyatu atau secara terpisah dengan badan kendaraan yang bersangkutan. sebesar jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan atau jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. b. sistem suspensi. f. getaran dan goncangan kendaraan berikut muatannya. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. e. penjelasan yang dimaksud dengan rangka landasan adalah rangka atau chassis atau landasan. j. rangka landasan. baik dengan menggunakan peralatan uji konstruksi maupun uji jalan. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan terhadap: a. Penjelasan Ayat (1) Untuk mengetahui bahwa rangka landasan kendaraan bermotor memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. c. sistem pembuangan. (2) Rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Kendaraan bermotor yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. dilengkapi dengan peralatan penarik yang dirancang khusus untuk itu. b. kecuali sepeda motor. c. Pasal 11 (1) Setiap rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. dilengkapi dengan alat pengait di bagian depan dan bagian belakang kendaraan bermotor. tahan terhadap korosi. atau melalui uji konstruksi. dapat dilakukan melalui perhitungan-perhitungan teknis dengan menggunakan norma-norma teknologi yang telah baku. komponen pendukung. sistem kemudi. d. i. b.

11 . surat tanda nomor kendaraan bermotor. (3) Kendaraan bermotor jenis mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf d harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang. pada saat akan dibuat melalui karoseri kendaraan bermotor harus sesuai peruntukannya. untuk keperluan penulisan jati diri atau identitas kendaraan bermotor yang bersangkutan pada sertifikat regristasi. konstruksi pengait kendaraan bermotor. Pasal 14 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis konstruksi rangka landasan. buku uji. (3) Untuk rangka landasan yang menyatu dengan badan kendaraan. konstruksi rangka landasan yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. Penjelasan Ayat (3) Nomor rangka landasan yang dibubuhkan pada badan kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 13 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a. nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditempatkan pada bagian tertentu badan kendaraan secara permanen dan mudah dilihat serta dibaca.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu rangka landasan dan mudah dilihat dan dibaca serta ditulis dalam bentuk embos ke dalam atau keluar. (2) Kendaraan bermotor jenis mobil penumpang dan mobil bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3) harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan orang. (4) Kendaraan bermotor jenis kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf e dapat menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang atau angkutan orang. Oleh karena itu. Nomor rangka landasan kendaraan bermotor tersebut merupakan identitas atau jati diri kendaraan yang bersangkutan. dan buku pemilik kendaraan bermotor. tata cara penomoran rangka landasan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. maka setiap pembuat kendaraan bermotor melaporkan sistem penomoran dan lokasi penomoran rangka landasannya. Penjelasan Ayat (2) Nomor rangka landasan kendaraan bermotor harus dibubuhkan secara permanen dan tidak dapat dihapus selama kendaraan bermotor yang bersangkutan dioperasikan di jalan.

motor listrik. bus tempelan dan bus gandengan selain sepeda motor. f. 2002/24/EEC) (2) Motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam beberapa jenis : a. ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir b. motor penggerak kendaraan bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan. motor penggerak kendaraan bermotor yang digunakan untuk menarik kereta gandengan. penjelasan yang dimaksud dengan motor penggerak sama dengan mesin atau engine 12 .000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). c. b. e.50 (empat koma lima puluh) kilo Watt setiap 1.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 15 (1) Motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. Penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan tidak melebihi 25 kilometer per jam adalah mengacu ke EEC No. butir c. perbandingan antara daya motor penggerak dan berat kendaraan khusus atau sepeda motor ditetapkan sesuai dengan kebutuhan lalu lintas dan angkutan serta kelas jalan. motor bakar. mempunyai daya untuk dapat mendaki pada jalan tanjakan dengan sudut kemiringan maksimum 8 (delapan derajat) dengan kecepatan minimum 20 (dua puluh) kilometer per jam pada segala kondisi jalan. selain sepeda motor harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 4. motor penggerak dapat dihidupkan dari tempat duduk pengemudi.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). kereta tempelan. d. c. b. dan butir e tidak berlaku untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan tidak melebihi 25 (dua puluh lima) kilometer per jam pada jalan datar. harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 5.50 (lima koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. Pasal 16 (1) Pada setiap motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. butir d. motor penggerak yang digerakan oleh gabungan 2 (dua) jenis motor penggerak di atas. harus dibubuhkan nomor motor penggerak sesuai dengan peraturan perundangundangan. penjelasan huruf a yang termasuk motor bakar adalah dengan bahan cair dan/atau gas.

sistem penerus daya manual. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan pengguna jalan lain adalah termasuk orang yang sedang berdiri atau berjalan di pinggir jalan. diarahkan ke arah kanan bagian depan ruang pengemudi. dan untuk mobil bus diarahkan ke arah belakang pada sisi kanan. (2) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. sistem pembuangan kendaraan pengangkut bahan yang mudah terbakar. termasuk dalam hal ini pipa pembuangan yang tidak boleh terlalu pendek). dan pipa pembuangan. Pasal 17 (1) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c sekurangkurangnya terdiri atas manifold. ke belakang atau ke sisi kanan di sebelah belakang ruang penumpang dengan sudut kemiringan tertentu terhadap garis tengah kendaraan bermotor yang menjamin keselamatan. arah pipa pembuangan harus dibuat dengan posisi yang tidak mengganggu pengguna jalan lain. 13 . transmisi atau perseneling adalah sistem untuk meneruskan tenaga dari mesin ke roda dapat berupa : a. f. d. peredam suara. Pasal 18 (1) Sistem penerus daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf d harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi. e. penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan pipa pembuangan tidak boleh melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor adalah untuk menghindari terjadinya pusaran-pusaran (turbulensi) yang dapat mengakibatkan masuknya asap atau gas buang ke ruang penumpang. sistem penerus daya otomatis. dirancang dan dibuat dari bahan yang cukup kuat sehingga memenuhi ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. b.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu motor penggerak dan mudah diidentifikasi dalam bentuk embos ke dalam atau keluar atau dalam bentuk lain. Penjelasan ayat (1) Yang dimaksud dengan sistem penerus daya. asap dari hasil pembuangan tidak boleh mengarah pada tangki bahan bakar atau roda pada sumbu belakang kendaraan. c. pipa pembuangan tidak melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor. gas buang dan asap dari sistem pembuangan kendaraan bermotor kecuali sepeda motor diarahkan ke atas. gear box. dan/atau c. b. sistem penerus daya kombinasi otomatis dan manual.

baik pada jalan kering maupun jalan basah. besarnya beban yang diperbolehkan untuk masing-masing ukuran ban. kereta gandengan dan kereta tempelan. maka kendaraan tersebut harus dikonstruksi dengan menggunakan sumbu ganda atau lebih. cara pemasangan. sumbu roda. (3) Ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki adesi yang cukup. roda-roda. kereta gandengan. (4) Ukuran roda berupa pelek dan ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang digunakan pada kendaraan bermotor harus memiliki ukuran dan kemampuan yang disesuaikan dengan Jumlah berat kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan. dan b. Sepeda Motor beroda tiga yang roda-rodanya dipasang semetris terhadap bidang tengah arah memanjang. Sumbu-sumbu roda kendaraan bermotor. dikaitkan dengan tekanan kerja ban. disesuaikan dengan kelas jalan yang dilalui. b. baik dengan atau tanpa kereta samping. 14 . kereta gandengan dan kereta tempelan harus dihitung dan dirancang atau dibuat sedemikian rupa sehingga mampu memikul beban dinamis kendaraan sebesar jumlah berat yang diperbolehkan (JBB). kapan ban-ban dan pelek-pelek tersebut boleh digunakan pada kendaraan dan kapan tidak boleh digunakan lagi. Penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan ban bertekanan adalah ban yang berongga yang dapat diisi dengan gas. berupa pelek dan ban bertekanan serta sumbu-sumbu atau gabungan sumbu dan roda yang dapat menjamin keselamatan. Sepeda Motor. (3) Keharusan untuk melengkapi sistem penerus daya yang memungkinkan kendaraan bermotor dapat bergerak mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk : a. Untuk dapat memberikan jaminan keselamatan secara teknis terhadap penggunaan ban-ban dan pelek-pelek pada kendaraan bermotor. atau kereta tempelan yang dirancang dan dibuat untuk mengangkut beban tertentu sebesar jumlah berat yang diperbolehkan ternyata beban pada masing-masing sumbu tunggalnya melebihi kemampuan kelas jalan yang akan dilalui. Penjelasan ayat (3): Dalam hal kendaraan bermotor.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Sistem penerus daya sebagai dimaksud pada ayat (1) harus memungkinkan kendaraan bermotor bergerak maju dengan satu atau lebih tingkat kecepatan dan memungkinkan bergerak mundur. dan tingkat keausan serta kerusakannya. Pasal 19 (1) Sistem roda-roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf e terdiri atas : a. (2) Roda-roda sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Dengan demikian maka dapat diketahui secara pasti. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram).

mobil bus. dan b. kereta gandengan. yang tidak sesuai dengan ukuran Pasal 20 (1) Rancangan sumbu dan roda dan/atau gabungan sumbu dan roda berikut rodarodanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). Oleh karena itu. (2) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. roda kemudi atau stang kemudi. harus menggunakan sumbu dan roda yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Roda kemudi digunakan untuk mobil penumpang. Pasal 21 Sistem suspensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf f berupa penyangga yang mampu menahan beban. Namun demikian. dan kereta tempelan. (3) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penjelasan ayat (1) Kemajuan teknologi memungkinkan banyaknya jenis sistem suspensi yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor. penyangga hidrolis. (2) Kendaraan bermotor. batang kemudi. penjelasan ayat (1) : sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. sedangkan stang digunakan untuk sepeda motor roda dua atau roda tiga. dapat digerakkan dengan tenaga yang wajar. Pasal 22 (1) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf g meliputi: a. penjelasan ayat (3): 15 . sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. untuk kepentingan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dapat ditetapkan jenis-jenis suspensi berupa penyangga yang boleh digunakan di Indonesia. kereta gandengan dan kereta tempelan baru. belum tentu seluruh jenis sistem suspensi tersebut cocok untuk digunakan di Indonesia. Jenis penyangga antara lain berupa pegas daun. harus memperhatikan kelas jalan yang akan dilalui. perancangan. dan penyangga pneumatis. dapat dilengkapi dengan tenaga bantu untuk dapat membantu pengemudi dalam mengendalikan kendaraan. pembuatan dan pemasangan batang kemudi dan roda kemudi tidak menimbulkan bahaya bagi pengemudi. getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (4) Tidak diperbolehkan mengganti roda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). mobil barang dan kendaraan khusus. b.

Pasal 26 Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b harus memenuhi persyaratan : a. dalam hal ada bagian rem utama yang tidak berfungsi.Draft RPP 19 Juli 2010 Dengan ketentuan apabila tenaga bantu (power steering) tersebut tidak bekerja maka kendaraan bermotor tersebut harus tetap dapat dikemudikan dengan tenaga yang wajar. rem utama ditempatkan dekat dengan pengemudi sehingga pengemudi dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kendaraan bermotor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi atau stang kemudi. rem tersebut harus dapat bekerja sekurang-kurangnya pada roda-roda yang bersebelahan pada satu sumbu dan dapat digunakan untuk memperlambat dan menghentikan kendaraan. dan b. Pasal 24 Kendaraan Bermotor dengan transmisi otomatis (automatic transmission) harus dilengkapi dengan sistem yang dapat menurunkan putaran mesin ke kondisi yang menjamin keselamatan pada saat dilakukan pengereman. Sistem kemudi yang dilengkapi dengan tenaga bantu harus dapat menurunkan kinerjanya seakan – akan tidak dilengkapi dengan alat bantu apabila kendaraan bermotor tersebut bergerak dengan kecepatan meningkat yang tidak sesuai dengan kecepatan normal. b. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. rem parkir. 16 . b. penjelasan : yang dimaksud dengan menjamin keselamatan antara lain menggunakan alat yang mengembalikan putaran mesin dalam kondisi idle (brake to idle override). rem utama. tanjakan maupun turunan. Pasal 25 Rem utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. rem parkir yang dikendalikan dari ruang pengemudi dan mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. Pasal 23 Sistem rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf h berupa peralatan pengereman yang meliputi : a. c. baik kendaraan bermotor yang berdiri sendiri maupun kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. bekerja pada semua roda kendaraan sesuai dengan besarnya beban pada masingmasing sumbu.

Pasal 30 Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf c berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip.100 (dua ribu seratus) milimeter berwarna putih atau kuning muda untuk bagian depan dan berwarna merah untuk bagian belakang. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. i. k. b. lampu penunjuk arah. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. lampu mundur dengan warna putih atau kuning muda kecuali untuk sepeda motor. c. h. atau kuning muda.250 (seribu dua ratus lima puluh) millimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. b. warna putih. g. warna putih atau kuning muda. j. lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan berwarna putih. Pasal 29 Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b berjumlah genap. lampu isyarat peringatan bahaya berwarna kuning tua dengan sinar kelap . lampu posisi depan. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. lampu tanda batas secara berpasangan untuk kendaraan bermotor yang lebarnya lebih dari 2. dengan syarat : a. dengan syarat : a. lampu utama dekat. d. warna kuning tua dengan sinar kelap-kelip. e. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. lampu utama jauh. warna putih. lampu posisi belakang. dipasang secara berpasangan berjumlah 2 (dua) buah dengan syarat : a. b. f.kelip. dapat dilihat pada waktu siang atau malam hari oleh pengguna jalan lain. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada huruf a. warna merah. 17 .Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 27 Sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf i meliputi : a.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh lebih dekat ke sisi bagian terluar kendaraan dibandingkan dengan tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. atau kuning muda. lampu rem. pemantul cahaya berwarna merah secara berpasangan. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. Pasal 28 Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a. warna merah.

Ketentuan UN-ECE R48 INSTALLATION OF LIGHT MAXIMUM HEIGHT 2. dengan syarat : a. dengan syarat : a. mempunyai kekuatan cahaya lebih besar dari lampu posisi belakang dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. c. Catatan : Sesuai dengan Ergonomis posisi mata pengendara melihat ketinggian lampu.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. Pasal 33 Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf f berjumlah genap. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. b. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2.500 (seribu lima ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian muka kendaraan.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dan harus dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pengguna jalan lainnya. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. b. 18 . dapat bersatu dengan lampu utama dekat.100 mm berbentuk vertical Lampu dengan susunan vertical. di spoiler belakang kendaraan dan sebagainya). b. tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. d. berjumlah sekurang-kurangnya 2 (dua) berpasangan pada bagian muka kendaraan dan 2 (dua) berpasangan pada bagian belakang kendaraan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. lampu paling atas adalah lampu posisi Pasal 32 Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf e berjumlah 2 (dua). dengan syarat : a. c.100 mm Susunan lampu dengan ketinggian maksimum 2.Draft RPP 19 Juli 2010 b.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. dan harus dapat dilihat pada malam serta tidak menyilaukan pengguna jalan lain. dipasang di bagian depan. dan d.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan diukur pada ujung bagian atas lampu. c. penjelasan huruf c : yang dimaksud dengan lampu rem tambahan yaitu antara lain seperti hi-mount stop lamp yang dipasang di bagian dalam kaca belakang. Pasal 31 Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf d berjumlah sekurangkurangnya 2 (dua) buah. diperbolehkan menggunakan 1 (satu) lampu rem tambahan. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2.

dipasang di bagian depan kiri atas dan kanan atas kendaraan.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. dipasang di bagian belakang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor kendaraan pada malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang – kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang.500 (seribu lima ratus) milimeter. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. 19 . Pasal 37 Lampu tanda batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf j secara berpasangan bagi kendaraan yang memiliki lebar lebih dari 2. dan b. Pasal 35 Lampu penerangan tanda nomor Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf h. Pasal 36 Lampu isyarat peringatan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf i menggunakan lampu penunjuk arah yang menyala secara bersamaan dengan sinar kelap-kelip. dipasang di bagian belakang kendaraan bermotor pada ketinggian tidak melebihi 1. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain. b. berbentuk segitiga untuk kendaraan gandengan dan tempelan. b. Pasal 38 Alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf k dipasang secara berpasangan dengan syarat : a.200 (seribu dua ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. d. tepi bagian terluar pemantul cahaya tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. hanya menyala apabila penerus daya digunakan untuk posisi mundur. c. dengan syarat : a. harus dapat dilihat oleh pengemudi kendaraan lain yang berada di belakangnya pada malam hari dengan cuaca cerah dari jarak sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter apabila pemantul cahaya tersebut disinari lampu utama kendaraan dibelakangnya.100 (dua ribu seratus) milimeter. c. d.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 34 Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf g berjumlah 2 (dua). dilengkapi tanda bunyi mundur untuk kendaraan dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. dipasang di bagian belakang kiri atas dan kanan atas kendaraan. dengan syarat : a. Pasal 39 (1) Kendaraan bermotor dapat dilengkapi dengan lampu kabut yang berjumlah paling banyak 2 (dua) buah dipasang di bagian depan kendaraan.

b. c. Pasal 42 Pengukur kecepatan (speedometer) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a. e. Pasal 43 Kaca spion kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b. harus memenuhi persyaratan : a. (2) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu membersihkan bagian kaca depan dengan cukup luas sehingga pengemudi mempunyai pandangan yang jelas ke jalan. spakbor. Pasal 41 Komponen pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf j meliputi : a. Pasal 40 Ketentuan lebih lanjut mengenai lampu – lampu kendaraan bermotor dan pemantul cahaya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sekurang-kurangnya berjumlah satu buah dipasang di bagian kaca depan. dilengkapi dengan pengukur jarak dan dipasang pada tempat yang mudah dilihat oleh pengemudi. dengan syarat : a. kaca spion.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Lampu kabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengeluarkan cahaya berwarna putih atau kuning. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. digerakkan secara mekanis dan/atau elektronis. klakson. berjumlah dua buah atau lebih. tepi terluar permukaan penyinaran lampu kabut tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. b. dan bumper kecuali sepeda motor. berupa alat pengukur kecepatan mekanis dan/atau alat pengukur kecepatan elektronis. pengukur kecepatan (speedometer). titik tertinggi permukaan penyinaran tidak melebihi titik tertinggi permukaan penyinaran dari lampu utama dekat. d. b. dilengkapi alat penyemprot kaca. c. Pasal 44 (1) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain pada saat digunakan. b. 20 . yang terpasang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pandangan samping dan belakang dengan jelas. dibuat dari kaca atau bahan menyerupai kaca. c. harus memenuhi syarat : a. d. penghapus kaca kecuali sepeda motor. f.

e. pembuka roda. f. catatan : tingkat suara paling rendah 83 (delapan puluh tiga) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A) akan diatur lebih lanjut sesuai dengan kategori kendaraannya. c. ataupun badan kendaraan. harus memenuhi persyaratan: a. d. ban cadangan. dipasang di depan untuk mobil barang. 21 . b. Pasal 48 Ketentuan lebih lanjut mengenai komponen pendukung diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. mobil bus dan mobil barang berbentuk tangki. Pasal 46 (1) Spakbor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf e. harus memiliki lebar paling sedikit selebar telapak ban. helm dan rompi pemantul cahaya bagi pengemudi Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih yang tidak memiliki rumah-rumah. segitiga pengaman. dipasang di depan dan belakang untuk mobil penumpang. dongkrak. peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang kendaraan. b. harus mengeluarkan bunyi paling rendah 83 (delapan puluh tiga) desibel (A) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A). dan g. sabuk keselamatan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 45 Klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf d. (2) Bumper depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menonjol ke depan lebih dari 500 mm (lima ratus milimeter) melewati bagian badan kendaraan yang paling depan. Pasal 49 Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf b terdiri atas: a. Pasal 47 (1) Bumper sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf f.

Bar Lengkap (complete bar) yaitu lampu peringatan khusus dengan dua atau lebih sistem optik yang memancarkan cahaya berkedip di sekeliling sumbu vertikal. posisi lampu yang berbentuk batang memanjang harus terpasang melintang dan diletakkan diatas atap kendaraan bagian luar. Pasal 51 (1) Untuk kepentingan tertentu. Lampu flashing (Strobo) / direct ional flashing lamp yaitu lampu peringatan khusus yang memancarkan cahaya kedap-kedip dengan arah sudut tertentu (Kategori X). b. Rotasi atau stasioner yaitu lampu peringatan khusus yang berkedip dengan memancarkan cahaya di sekeliling sumbu vertikal (Kategori T). (2) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. (7) sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 50 Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas. (5) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. 22 . dalam keadaan darurat dapat mengeluarkan suara “whooping” Pasal 52 (1) Lampu isyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 terdiri atas warna : a. Kendaraan Bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene. dapat mengeluarkan suara “hee – haw”secara terus menerus seperti suara meratap. (6) Panjang lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b tidak boleh melebihi lebar kabin kendaraan. terlihat di siang hari dari jarak sedikitnya 200 (dua ratus) meter dari segala arah. Catatan : Refrensi UN-ECE R65 (3) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dipasang dibagian atas kabin kendaraan sedemikian rupa sehingga dapat memancarkan cahaya secara efektif. b. b. merah. c. Penjelasan : Pemasangan lampu tersebut dapat dipasang secara permanen maupun dapat dipindah-pindahkan (4) lampu isyarat sebagaimana pada ayat (2) huruf b dan c dipasang dibagian atas kabin kendaraan pada sumbu horizontal sejajar dengan bidang median longitudinal kendaraan.

kepala pengunci harus dapat dioperasikan dengan mudah. menderek Kendaraan. c. Pasal 53 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan lampu isyarat dan sirene diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. d. perawatan dan pembersihan fasilitas umum.Draft RPP 19 Juli 2010 b. lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. 23 . dan jenazah. kuning. (2) Lampu isyarat warna merah atau biru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) berfungsi sebagai tanda Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama. b. pemadam kebakaran. lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor patroli jalan tol. dan angkutan barang khusus. harus memenuhi persyaratan : a. palang merah. dan c. paling sedikit berjumlah 3(tiga) jangkar untuk tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang paling pinggir di samping pengemudi serta paling sedikit berjumlah 2 (dua) jangkar untuk tempat duduk penumpang lainnya. biru. tidak mempunyai tepi-tepi yang tajam yang dapat melukai pemakai. rescue. b. (4) Penggunaan lampu isyarat dan sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) sebagai berikut: a. lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor tahanan. (3) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c. (3) Lampu isyarat warna kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berfungsi sebagai tanda peringatan kepada Pengguna Jalan lain. ambulans. pengawalan Tentara Nasional Indonesia. (2) Sabuk keselamatan dapat dipasang di tempat duduk penumpang selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 54 (1) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf a wajib dipasang di tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang di samping tempat duduk pengemudi. dipasang sedemikian sehingga tidak ada benda atau peralatan lain yang mengganggu fungsinya. pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

kuat dan tahan terhadap cuaca tertentu. Pasal 59 (1) Helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). (2) Segitiga pengaman berwarna merah dan bersifat memantulkan cahaya (reflektif). atau b. d. Pasal 58 Pembuka roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf e harus mampu membuka roda kendaraan bermotor yang digunakan dan tidak merusak komponen yang ada pada roda. kapas. obat antiseptic. Pasal 57 Dongkrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf d paling sedikit harus mampu mengangkat muatan sumbu sesuai dengan muatan sumbu terberat kendaraan bermotor yang digunakan. c. Penjelasan : yang dimaksud dengan ban cadangan adalah ban yang bertekanan Ban cadangan yang dimaksud huruf b hanya untuk digunakan sementara waktu (temporary spare tire) dan dilengkapi pemberian informasi dalam bahasa Indonesia (kecepatan max 60 km/jam pada sisi bagian luar pelek dan warna pelek temporary spare tire dapat berbeda dengan pelek pada ban normal (UNECE R 64) Pasal 56 (1) Segitiga pengaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf c minimal berjumlah 2 (dua) buah. plester. kain kassa (Perban). (3) Setiap sepeda motor dengan atau tanpa kereta samping. (2) Rompi pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus mampu memantulkan cahaya. memiliki ukuran lebar tapak yang berbeda dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut tetapi memiliki diameter keseluruhan sama. memiliki ukuran yang sama dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut. Pasal 60 Peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf g paling sedikit terdiri dari : a. 24 .Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 55 Ban cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. wajib dilengkapi dengan helm sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pengemudi dan penumpangnya. b.

b. 12. sudut pergi bagian belakang bawah kendaraan sekurang-kurangnya 8° (delapan derajat) diukur dari atas permukaan bidang atau jalan yang rata.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. d.50 % (empat puluh tujuh koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya. maksimum 62.500 (dua ribu lima ratus) milimeter.500 (dua ribu lima ratus) milimeter tergantung dari lebar chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan maksimal 50 milimeter ke kiri dan ke kanan Yang dimaksud dengan lebar maksimum adalah lebar terluar yang termasuk engsel-engsel. panjang tidak melebihi : 1. dengan atau tanpa muatan harus memenuhi syarat: a.50 % (enam puluh dua koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya (wheel base). julur depan (front over hang). penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor adalah jarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat 25 . (2) Panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang.700 (tiga belas ribu tujuh ratus) millimeter untuk mobil bus yang memiliki paling sedikit 3 (tiga) sumbu. 3.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai perlengkapan kendaraan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. e. Penjelasan : walaupun lebar 2. Pasal 62 Ukuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf c merupakan dimensi utama Kendaraan Bermotor yaitu panjang. bukan berarti semua kendaraan boleh memiliki lebar maksimum 2. 2.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak lebih dari 1. julur belakang (rear over hang). tinggi tidak melebihi 4. lebar.000 (dua belas ribu) milimeter untuk kendaran bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan dan jenis mobil barang yang memiliki sumbu paling sedikit 4 (empat) sumbu. sedangkan yang menjulur ke depan dari sumbu paling depan. c. dan sudut pergi (departure angle). tinggi. maksimum 47. 13. handle bak muatan. Namun tidak termasuk kaca spion di bagian luar kendaraan bermotor. Pasal 63 (1) Ukuran Kendaraan Bermotor. lebar tidak melebihi 2. jarak bebas (ground clearence) antara bagian permanen paling bawah kendaraan bermotor dengan permukaan bidang atau jalan yang rata. 18.000 (delapan belas ribu) milimeter untuk Kendaraan Bermotor yang dilengkapi dengan kereta gandengan atau kereta tempelan.

bak muatan terbuka. Jumlah Berat yang diIzinkan (JBI). b. lebar dan tinggi ukuran bak muatan harus sesuai dengan spesifikasi teknis kendaraan bermotor. (2) Ukuran bak muatan mobil barang dengan atau tanpa muatan tergantung pada konfigurasi sumbu. (3) Bak muatan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. c. dan b. 26 . maksimum 62.bak muatan tertutup. bukan berarti semua kendaraan memiliki julur belakang 62. Jumlah Berat yang diperBolehkan (JBB). panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk kendaraan bermotor dengan sumbu belakang tunggal 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) milimeter.50 %. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang kecuali untuk dump truck. wajib dilengkapi dengan tanda peringatan mengenai tinggi kendaraan. (4) Tanda peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa tulisan yang mudah dilihat oleh pengemudi di dalam ruang pengemudi. tergantung dari panjang chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan bumper. jarak sumbunya dihitung dari jarak sumbu depan ke sumbu belakang yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor yang memiliki lebih dari satu steering axle maka yang merupakan sumbu terdepan adalah steering axle yang paling depan yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) untuk kereta tempelan adalah jarak yang dihitung dari king pin ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh yang dimaksud dengan jarak sumbu untuk kereta gandengan adalahjarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh walaupun panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang. Pasal 64 (1) Bak muatan mobil barang terdiri atas : a. daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh kecuali untuk kendaraan 2 (dua) sumbu.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter. panjang. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang memiliki tinggi total lebih dari 3. kelas jalan yang dilalui dan spesifikasi tipe landasan kendaraan bermotor.50 %.

lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. tinggi bak muatan dihitung bedasarkan perbandingan daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. b. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang. (4) Bak muatan tertutup sebagaimana dimakud pada ayat (1) huruf b. kiri dan belakang paling atas.Draft RPP 19 Juli 2010 Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. Kendaraan Bermotor untuk angkutan barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk Kendaraan Bermotor dengan sumbu belakang tunggal adalah 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) millimeter. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 milimeter pada sisi kiri dan kanan. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. Penjelasan : Yang dimaksud tinggi bak muatan adalah tinggi bak yang dihitung dari lantai bak sampai dengan tinggi dinding sisi kanan. Apabila tinggi dinding bak paling depan lebih rendah dari jendela kabin belakang maka harus dipasang teralis besi di jendela kabin tersebut. d. 27 . lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 milimeter pada sisi kiri dan kanan. c. e. d. panjang dan lebar bak. f. ukuran bak muatan harus ditentukan berdasarkan spesifikasi teknis Kendaraan Bermotor. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 (seratus) milimeter pada sisi kiri dan kanan.

Draft RPP 19 Juli 2010 e. untuk Kendaraan Bermotor barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan; tinggi bak muatan tertutup diukur dari permukaan tanah maksimum 4.200 mm (empat ribu dua ratus milimeter) dan tidak lebih dari 1,7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan bermotor. Pasal 65 (1) Jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk Kendaraan Bermotor, atau rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan atau kereta tempelan ditentukan oleh pembuatnya berdasarkan : a. perhitungan kekuatan konstruksi; b. besarnya daya motor; c. kapasitas pengereman; d. kemampuan ban; e. kekuatan sumbu-sumbu; f. ketinggian tanjakan jalan. (2) Jumlah berat yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus lebih kecil atau sama dengan hasil penjumlahan dari kekuatan masing-masing sumbu. Pasal 66 (1) Jumlah berat yang diizinkan atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan pada setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan, ditentukan berdasarkan : a. berat kosong kendaraan; b. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau c. jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan; d. dimensi kendaraan dan bak muatan; e. titik berat muatan dan pengemudi; f. kelas jalan; g. jumlah tempat duduk yang tersedia, bagi mobil bus. (2) Jumlah berat kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan bagi kendaraan. (3) Jumlah berat kombinasi kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. Pasal 67 (1) Radius putar Kendaraan Bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 12.000 (dua belas ribu) milimeter.
28

f.

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Radius putar Kendaraan Bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 18.000 (delapan belas ribu) milimeter. Pasal 68 (1) Bagian Kendaraan Bermotor atau rangkaian Kendaraan Bermotor beserta muatan yang menonjol, maksimum 2.000 (dua ribu) milimeter dari sisi bagian terluar belakang kendaraan bermotor dan tidak melebihi kaca depan kendaraan bermotor. (2) Apabila muatan menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada ujung muatan ditambah lampu-lampu atau pemantul cahaya. (3) Panjang total kendaraan bermotor beserta muatan yang menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lebih dari ketentuan panjang total sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67. Pasal 69 Rangkaian Kendaraan Bermotor yang diizinkan dioperasikan di jalan, meliputi: a. Mobil Barang dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; b. Mobil Bus dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; c. Mobil Penumpang dengan kereta gandengan; d. Sepeda Motor dengan kereta gandengan. Pasal 70 Setiap Mobil Barang dengan atau tanpa Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki JBB atau JBKB lebih dari 12.000 (dua belas ribu) kilogram harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukan kendaraan bermotor berat. Pasal 71 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki panjang lebih dari 6.000 (enam ribu) milimeter, harus dilengkapi dengan pelat tanda gandengan atau tempelan yang memantulkan cahaya. (2) Pelat tanda gandengan atau tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan warna dasar kuning dengan warna tulisan hitam dengan bertuliskan kata gandengan. (3) Pelat belakang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada perisai kolong atau di tempat lain pada sisi belakang Kendaraan. Pasal 72 (1) Kendaraan Bermotor dengan pengemudi dalam kondisi tertentu dapat ditarik Kendaraan Bermotor lain. penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan kondisi tertentu antara lain mogok, kendaraan rusak, memindahkan kendaraan.

29

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Kendaraan Bermotor penarik harus dilengkapi dengan alat penarik yang kaku, apabila Kendaraan Bermotor yang akan ditarik memiliki JBB lebih dari 4.000 (empat ribu) kilogram dengan jarak antara kendaraan penarik dan yang ditarik tidak lebih dari 5 (lima) meter. (3) Kendaraan Bermotor tanpa pengemudi dapat ditarik dengan cara mengangkat dan menempatkan sumbu Kendaraan Bermotor dengan peralatan derek yang terpasang pada kendaraan bermotor penarik. (4) Kendaraan Bermotor yang ditarik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memiliki berat tidak lebih dari separoh berat kendaraan penarik, serta tidak lebih dari 750 (tujuh ratus lima puluh) kilogram. (5) Kendaraan Bermotor yang ditarik pada waktu malam hari harus menyalakan lampu isyarat atau memasang tanda yang dapat memantulkan cahaya, di bagian belakang. Pasal 73 Ketentuan lebih lanjut mengenai ukuran Kendaraan Bermotor, tanda kendaraan bermotor berat, tanda gandengan atau tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 74 Karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d merupakan badan kendaraan, antara lain kaca-kaca, pintu, engsel, tempat duduk, tempat pemasangan tanda nomor Kendaraan Bermotor, tempat keluar darurat dan tangga untuk Mobil Bus, dan perisai kolong untuk Mobil Barang. Pasal 75 Rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf e merupakan rancangan yang sesuai dengan fungsi: a. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang; atau b. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang. Pasal 76 Pemuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf f merupakan tata cara untuk memuat orang dan/atau barang. Pasal 77 Penggunaan sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf g merupakan cara menggunakan Kendaraan Bermotor sesuai dengan peruntukannya.

30

Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 78 Penggandengan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf h merupakan cara menggandengkan Kendaraan Bermotor dengan menggunakan alat perangkai. Pasal 79 Penempelan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf i dilakukan dengan cara : a. menggunakan alat perangkai; b. menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci; dan c. dilengkapi kaki-kaki penopang.

Paragraf 2 Persyaratan Laik Jalan Pasal 80 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan. (2) Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal Kendaraan Bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas: a. emisi gas buang; b. kebisingan suara; c. efisiensi sistem rem utama; d. efisiensi sistem rem parkir; e. kincup roda depan; f. suara klakson; g. daya pancar dan arah sinar lampu utama; h. radius putar; i. akurasi alat penunjuk kecepatan; j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat Kendaraan. Pasal 81 (1) Ketentuan mengenai persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) berlaku bagi setiap jenis Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf h untuk Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor. (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan terhadap: a. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat;
31

c. bekerja pada semua roda sepeda motor sesuai dengan besarnya beban pada masing-masing sumbu rodanya. (2) Sepeda Motor yang mempunyai roda tiga selain dilengkapi dengan peralatan pengereman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 17 kecuali ayat (2) huruf c. pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat dan memberhentikan sepeda motor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi. (3) Peralatan rem sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi syarat : a. Pasal 46. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 kecuali huruf h. Bagian Kedua Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Sepeda Motor Pasal 82 (1) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) kecuali huruf i.Draft RPP 19 Juli 2010 b. harus pula dilengkapi dengan rem parkir. Pasal 18 sampai dengan Pasal 40. Pasal 15 kecuali ayat (1) huruf c dan huruf d. (2) Setiap Sepeda Motor roda dua atau roda tiga yang dipasang simetris terhadap sumbu tengah kendaraan yang membujur ke depan harus dilengkapi dengan peralatan pengereman pada roda belakang dan roda depan. Pasal 84 (1) Keharusan melengkapi alat pengereman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) tidak berlaku untuk roda kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor. apabila daya pengereman yang diperlukan dapat diperoleh dari rem yang terdapat pada sepeda motor yang bersangkutan. Pasal 16. Pasal 42. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). Pasal 41 kecuali huruf c dan huruf f. dan Pasal 59 ayat (3). Pasal 83 (1) Sistem rem Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. Pasal 11 kecuali ayat (1) huruf d. Pasal 43. kecuali peralatan rem parkir tidak berlaku baik dengan atau tanpa kereta samping. Pasal 45. Pasal 50. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. 32 . b. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian.

(6) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama jauh. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. apabila mampu mempunyai kecepatan melebihi 40 (empat puluh) km per jam pada jalan datar. mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. lampu penunjuk arah secara berpasangan di bagian depan dan bagian belakang sepeda motor. sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) meter ke depan Sepeda Motor. lampu utama jauh harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. e. lampu utama jauh. tanjakan maupun turunan. lampu rem. sejajar di sisi kiri dan kanan bagian muka dan bagian belakang Sepeda Motor. lampu utama dekat harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. (4) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama dekat. (8) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dipasang secara 33 .Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Rem parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. maka (5) Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Catatan : Kendaraan bermotor roda 3 (tiga) harus memiliki 2 (dua) alat pemantul cahaya berwarna merah pada sisi belakang dan 2 (dua) warna putih pada sisi depan dan tidak berbentuk segitiga. 1 (Satu) atau 2 (dua) pemantul cahaya berwarna merah yang tidak berbentuk segitiga. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan pada malam hari dengan cuaca cerah. lampu posisi belakang. dan dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. b. paling banyak dua buah. (2) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping selain dilengkapi dengan lampu (3) Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. lampu utama dekat. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan secukupnya pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter ke depan Sepeda Motor. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi lampu posisi depan. Pasal 85 (1) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping harus dilengkapi dengan lampu- lampu dan pemantul cahaya yang meliputi : a. berjumlah genap dengan sinar kelap-kelip berwarna kuning tua. b. paling banyak dua buah. f. maka (7) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. d. c.

Pasal 86 (11) (12) Selain dilengkapi dengan lampu-lampu dan pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor juga harus dilengkapi dengan satu lampu penerangan tanda nomor Kendaraan di bagian belakang. d. harus dilengkapi dengan lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1).300 (seribu tiga ratus) milimeter. 34 . dan yang diperlakukan sebagai sepeda motor. Penjelasan ayat (10) Yang dimaksud dengan lampu posisi belakang berjumlah paling banyak adalah 2 (dua) atau 1 (satu) kelompok yang berdekatan. (2) Lampu posisi depan dan lampu posisi belakang kereta samping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyala apabila lampu posisi belakang Sepeda Motor dinyalakan. (3) Sepeda Motor yang mempunyai tiga roda dipasang secara simetris terhadap bidang sumbu Sepeda Motor yang membujur. (4) Jika lebar Sepeda Motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi 1. b. maka cukup dilengkapi dengan satu lampu utama dekat dan satu lampu utama jauh. Pasal 87 (1) Kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor roda dua. harus dilengkapi : a. (10) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. lampu penunjuk arah yang dipasang di sisi kiri bagian depan dan belakang Sepeda Motor. kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang yang dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor. satu pemantul cahaya. di bagian depan dengan lampu posisi depan. di bagian belakang dengan lampu posisi belakang. Lampu rem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua).Draft RPP 19 Juli 2010 (9) Jika Sepeda Motor mempunyai dua lampu posisi depan. lampu-lampu itu harus berdekatan sedekat mungkin. berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua) berwarna merah yang dapat dilihat pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h. c.

000 (seribu) milimeter. Pasal 91 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. Penjelasan . transmisi Pasal 92 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan jenis Mobil Penumpang diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penjelasan : Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). Pasal 89 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan Jenis Sepeda Motor diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bagian Ketiga Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Penumpang Pasal 90 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7. Pasal 94 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.000 kg (tujuh ribu kilogram) dan Mobil Barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 12. Bagian Keempat Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Bus Pasal 93 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80.000 (dua belas ribu) kilogram harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7.000 kg (tujuh ribu kilogram) harus pula dilengkapi dengan rem pelambat.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 88 Lebar kereta gandengan yang dapat ditarik oleh Sepeda Motor maksimum 1. 35 .

Pasal 96 (1) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang kurang dari 15 (lima belas) orang tidak termasuk pengemudi. (5) Tangga pintu keluar/masuk penumpang yang dapat dilipat. setiap Mobil Bus harus pula mempunyai tempat keluar darurat pada kedua sisinya. satu pintu harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yang lebarnya sekurang-kurangnya 650 (enam ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. satu pintu lainnya ditempatkan pada dinding kiri dengan lebar sekurangkurangnya 550 (lima ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. sekurangkurangnya : a. dan 2. harus mempunyai sekurang-kurangnya : a.Draft RPP 19 Juli 2010 Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). dua pintu keluar dan/atau masuk untuk penum-pang. transmisi Pasal 95 Ketentuan lebih lanjut mengenai kendaraan bermotor jenis Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. terdiri dari : 1. jika pintu dibuka. 1 (satu) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. (2) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang sebanyak 15 (lima belas) orang atau lebih. harus dikonstruksi sedemikian sehingga anak tangga selalu berada pada tempatnya secara kukuh dan memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). (2) Jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). harus mempunyai sekurangkurangnya satu pintu keluar dan/atau masuk penumpang pada dinding kiri bagian depan atau belakang. atau b. (4) Anak tangga paling bawah dari pintu keluar atau masuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling tinggi 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter diukur dari permukaan jalan dan lebar sekurangkurangnya 400 (empat ratus) milimeter. 36 . tidak termasuk pengemudi. Pasal 97 (1) Di samping pintu keluar/masuk penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. jika muatannya tidak lebih dari 26 (dua puluh enam) penumpang. satu pintu keluar dan/atau masuk yang lebar-nya sekurang-kurangnya 1. (3) Pintu keluar/masuk untuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus menjamin kemudahan penggunaannya dan tidak terhalang.200 (seribu dua ratus) milimeter yang meliputi seluruh tinggi dinding.

mudah dan cepat dapat dibuka atau dirusak atau dilepas. 2 (dua) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. Pasal 99 (1) Setiap Mobil Bus dilengkapi lorong dengan lebar efektif 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter atau lebih yang membentang dari pintu masuk sampai ke setiap tempat duduk. 37 . diukur 400 (empat ratus) milimeter dari dinding samping dalam kendaraan. 4 (empat) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya lebih dari 80 (delapan puluh) penumpang.500 (seribu lima ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. untuk mobil bus yang tidak dilengkapi dengan tempat berdiri. sudut-sudut jendela yang berfungsi sebagai tempat keluar darurat tidak runcing. d.200 (seribu dua ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter disamakan dengan memiliki dua tempat keluar darurat. b. c. mudah dibuka setiap waktu dari dalam. 3 (tiga) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya antara 51 (lima puluh satu) dan 80 (delapan puluh) penumpang. (5) Tempat keluar darurat berupa jendela harus meme-nuhi persyaratan : a. c. memiliki ukuran minimum 600 (enam ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter dan apabila memiliki ukuran sekurang-kurangnya 1. jika muatannya antara 27 (dua puluh tujuh) dan 50 (lima puluh) penumpang. (4) Tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa jendela dan atau pintu. untuk mobil bus yang dileng-kapi dengan tempat berdiri. (2) Tempat duduk di dekat tempat keluar darurat harus mudah dilepas atau dilipat. 1. memiliki lebar sekurang-kurangnya 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. sekurang-kurangnya : a. Pasal 98 (1) Tempat keluar darurat diberi tanda dengan tulisan yang menyatakan tempat keluar darurat. jika pada dinding belakang terdapat pintu yang lebarnya paling sedikit 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. 1. tidak dirintangi oleh tongkat-tongkat atau jeruji pelindung. d. harus memenuhi persyaratan : a.700 (seribu tujuh ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. b. (3) Pada sisi kiri. jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat diku-rangi dengan satu. (2) Tinggi atap bagian dalam kendaraan. (6) Tempat keluar darurat berupa pintu yang dipasang pada dinding samping kanan. dan penjelasan mengenai tata cara membukanya.Draft RPP 19 Juli 2010 b. b.

(3) Ukuran lebar dan tinggi efektif pintu masuk dan atau keluar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 100. Pasal 103 (1) Setiap Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan lampu berwarna merah di bawah jendela belakang yang berfungsi memberi tanda bahwa mobil bus sekolah tersebut berhenti. Pasal 101 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 105 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk mobil bus sekolah diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 38 . dipasang suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan bus sekolah.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 100 Jumlah tempat duduk dan tempat berdiri di dalam Mobil Bus umum. Pasal 102 Setiap Mobil Bus sekolah pada sisi luar bagian depan dan belakang. harus jelas dinyatakan dengan suatu tulisan yang ditempatkan di dalam Mobil Bus sehingga jelas kelihatan oleh awak dan penumpangnya. Pasal 104 (1) Pintu masuk dan atau keluar Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan anak tangga. dilengkapi suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan berhenti jika lampu merah nyala dipasang di bawah jendela belakang. (2) Mobil bus sekolah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Jarak antara anak tangga yang satu dengan lainnya paling tinggi 200 (dua ratus) milimeter dan jarak antara permukaan tanah dengan anak tangga terbawah paling tinggi 300 (tiga ratus) milimeter.

Penjelasan huruf b : rem parkir harus dapat berfungsi secara baik pada semua kondisi jalan bila kendaraan bermotor yang bersangkutan dimuati sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. Pasal 108 (1) Rem utama kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) huruf a. rem parkir yang mampu menahan posisi kereta gandengan atau kereta tempelan berhenti pada jalan datar. tanjakan maupun turunan. Penjelasan rem yang menjalankan dua fungsi pengereman dalam ketentuan ini dapat mempunyai bagian-agian yang merangkap dan bekerja pada semua roda). harus dilengkapi dengan peralatan yang dapat bekerja secara otomatis menghentikan kereta gandengan apabila alat perangkai putus/terlepas dari kendaraan penariknya. Rem utama tersebut harus dapat bekerja secara serempak atau hampir bersamaan pada setiap roda pada rangkaian kendaraan bermotor). yaitu : a. Rem parkir tersebut harus dilengkapi dengan alat pengunci mekanis). rem utama yang memungkinkan pengemudi dari tempat duduknya dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kereta gandengan atau kereta tempelan secara bersama-sama atau hampir bersamaan dengan kendaraan bermotor penariknya.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kelima Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Barang Pasal 106 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Barang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sampai denga Pasal 80. Pasal 107 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan. 39 . baik dalam keadaan tanpa muatan maupun dengan muatan sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. b. penjelasan huruf a: rem utama dalam ketentuan ini harus mampu mengendalikan kecepatan dan memberhentikan rangkaian kendaraan bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. harus dilengkapi dengan rem yang dapat menjalankan dua fungsi. (2) Ketentuan mengenai keharusan melengkapi rem yang dapat menjalankan dua fungsi sebagaimana dimaksud alam ayat (1) tidak berlaku untuk kereta tempelan satu sumbu yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan tidak melebihi 750 kg (tujuh ratus lima puluh kilogram).

apabila lebar kereta gandengan lebih dari 800 (delapan ratus) milimeter. e. lampu rem secara berpasangan.500 kg (seribu lima ratus kilogram) dan/atau kereta gandengan yang ditarik oleh kendaraan bermotor penarik yang dirancang untuk kecepatan maksimum kurang dari 20 km/jam (dua puluh kilometer per jam). Pasal 110 Kereta Gandengan dan Kereta Tempelan wajib dilengkapi dengan lampu-lampu dan alat pemantul cahaya yang meliputi : a. d. atau jika kendaraan bermotor penariknya menggunakan sistem rem hidrolis. lampu penunjuk arah secara berpasangan. Pasal 111 (1) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf a. Penjelasan ayat (1) yang dimaksud dengan bersesuaian adalah penggunaan sistem pengereman yang bersesuaian antara kendaraan bermotor penarik dengan kendaraan yang ditarik. b. lampu posisi belakang secara berpasangan. berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip berwarna kuning tua serta dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. apabila sisi terluar kereta gandengan melampaui tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang kendaraan penariknya. lampu posisi depan secara berpasangan. pada masing-masing roda setiap sumbu rangkaian Kendaraan. f. alat pemantul cahaya berwarna merah. misalnya apabila kendaraan bermotor penariknya menggunakan alat pengereman dengan sistem udara. alat pemantul cahaya berwarna putih yang tidak berbentuk segitiga secara berpasangan. g. Pasal 109 (1) Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang dirangkaikan dengan Kendaraan Bermotor dalam satu rangkaian Kendaraan. harus memiliki peralatan pengereman yang bersesuaian. lampu mundur secara berpasangan. lampu penerangan tanda nomor kendaraan di bagian belakang kendaraan. c. (2) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan dan belakang Kereta Gandengan. maka kendaraan yang ditarik harus menggunakan sistem rem hidrolis pula). berbentuk segitiga secara berpasangan. maka sistem rem yang digunakan pada kendaraan yang ditarik juga sistem udara.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan yang jarak sumbu rodanya kurang dari satu meter dengan jumlah berat yang diperbolehkan tidak lebih dari 1. (2) Bekerjanya rem utama harus tersebar dan bekerja hampir bersamaan secara baik. 40 . h.

(3) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. Pasal 115 Lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor bagian belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf e. berjumlah dua buah berwarna merah yang kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang dan dipasang di sebelah kiri dan kanan bagian belakang Kereta Gandengan.kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. Pasal 114 (1) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf d. (2) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian depan kereta gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 150 (sertus lima puluh) milimeter. (2) Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya menyala apabila alat penerus daya digunakan pada posisi mundur. berjumlah dua buah berwarna putih atau kuning muda yang tidak menyilaukan atau mengganggu pemakai jalan lain. dilengkapi satu buah atau lebih lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 116 (1) Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf f. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan dengan ukuran kecil yang posisinya dalam keadaan ditarik tidak menutupi lampu rem dari kendaraan penariknya. dipasang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor Kendaraan pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang . Pasal 113 (1) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf c. (2) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 400 (empat ratus) milimeter. berjumlah genap dan berwarna merah yang kelihatan pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. 41 .Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 112 (1) Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf b. berjumlah dua buah dan berwarna putih.

b. secara serentak. memenuhi persyaratan kalorimetris yang sama. (4) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter dilengkapi satu buah atau lebih pemantul cahaya. tidak melebihi 100 (seratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. mempunyai sifat-sifat fotometris yang sama. lampu penerangan tanda nomor Kendaraan. berjumlah genap berwarna merah dan berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisinya tidak kurang dari 150 (seratus lima puluh) milimeter dan tidak melebihi 200 (dua ratus) milimeter serta dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan. dan lampu tanda batas. (2) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilihat oleh pengemudi yang ada dibelakangnya pada waktu malam hari dalam cuaca cerah dari jarak 100 (seratus) meter apabila terkena sinar lampu utama kendaraan di belakangnya. Pasal 118 Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf h. e. simetris dengan sesamanya terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku apabila lampu utama jauh sedang memberikan peringatan. d. apabila lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan menyala. dipasang simetris terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. atau lampu kabut yang dipasang pada kendaraan hanya dapat dinyalakan. Pasal 120 (1) Lampu posisi depan. (3) Titik sudut terluar pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). lampu posisi belakang. (2) Lampu utama jauh atau lampu utama dekat. berjumlah dua buah dan dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan kereta gandengan dengan jarak tidak melebihi 400 (emapt ratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 117 (1) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf g. Pasal 119 Lampu-lampu yang berpasangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 harus memenuhi persyaratan : a. dipasang pada kendaraan dengan tinggi tidak melebihi 1. 42 . c. harus dapat dinyalakan atau dimatikan.

hanya boleh digunakan pada rangkaian kendaraan yang memiliki jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan maksimum 20. 43 . (2) Letak kaki penopang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak melebihi lebar Pasal 124 Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang tinggi ujung landasannya dan atau bagian belakang dan/atau bagian samping badannya berjarak lebih dari 700 milimeter di atas jalan. Pasal 123 (1) Setiap Kereta Tempelan dilengkapi dengan kaki-kaki penopang yang dipasang secara kukuh pada jarak lebih dari dua pertiga dari seluruh panjang kereta tempelan. b. Pasal 122 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan harus menggunakan alat perangkai. Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang menyinarkan : a. ketika sumbu yang lain berada dalam posisi diangkat. Pasal 125 Peralatan hidrolis. Pasal 126 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan harus menggunakan alat perangkai. otomatis dan bukan otomatis. pneumatis atau mekanis yang memungkinkan diangkatnya rodaroda dari tanah dapat digunakan sewaktu Kendaraan berjalan biasa.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 121 Dilarang memasang lampu pada Kendaraan Bermotor.000 milimeter diukur dari sisi terluar bagian belakang kereta gandengan atau kereta tempelan. cahaya kelap-kelip. selain lampu penunjuk arah dan lampu isyarat peringatan bahaya. (3) Alat perangkai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa alat perangkai (4) Apabila rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan alat perangkai otomatis. diukur dari ujung paling belakang kereta tempelan. cahaya berwarna putih ke arah belakang kecuali lampu mundur. Kereta Tempelan.000 Kg (dua puluh ribu kilogram). apabila rancangan alat pengangkat tersebut tidak menimbulkan lebih muatan pada salah satu sumbu kendaraan. cahaya berwarna merah ke arah depan. (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci. dan/atau sumbu paling belakang berjarak lebih dari 1. dipasang perisai kolong. c.

atau alat sejenisnya yang dapat mencegah tongkat penarik menyentuh tanah dan memungkinkan kereta gandengan tersebut dihentikan apabila alat penariknya putus. GCW. Pasal 129 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk rangkaian kendaraan. kukuh. yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik (tractor head) yang sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan penariknya dan memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) sumbu roda. kabel. 44 . kereta tempelan (semi trailer). Penjelasan : Yang dimaksud dengan kereta gandengan atau tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor Yang dimaksud dengan Kendaraan bermotor penarik adalah kendaraan bermotor yang memiliki perlengkapan untuk menarik. kereta gandengan dan kereta tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. b.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik yang seluruh bebannya ditumpu oleh kereta gandengan itu sendiri dan memiliki sebanyak-banyaknya 2 (dua) sumbu roda. c. Pasal 128 (1) Kereta gandengan dan kereta tempelan yang dirangkaikan dengan kendaraan bermotor penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor apabila : a. dilengkapi dengan alat keselamatan yang layak untuk mencegah pemisahan yang tidak disengaja. sewaktu terjadi tubrukan atau sebagai akibat dari getaran kendaraan. (2) Bus gandeng yang dirangkaikan dengan bus penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor. sistem kelistrikan pada kendaraan. Kereta gandengan (full trailer). sehingga dapat menahan seluruh berat kendaraan yang ditarik. dikonstruksi dengan gerakan terbatas dan dapat merangkaikan kendaraan bermotor penarik dengan Kendaraan yang ditarik dengan kukuh dan sempurna. Pasal 127 Kereta Gandengan yang tidak dilengkapi dengan rem otomatis wajib dilengkapi dengan alat tambahan berupa rantai. sistem pengereman. b.

Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Keenam Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bagi Penyandang Cacat Pasal 130 (1) Kendaraan khusus penyandang cacat harus dirancang khusus yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu. b. kereta dorong. delman. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a. becak. terdiri atas : a. c. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. tempat naik dan turun penumpang yang dapat dioperasikan secara automatik maupun mekanik. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus atau Mobil Penumpang yang digunakan sebagai angkutan umum wajib menyediakan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat. dan b. c. BAB V KENDARAAN TIDAK BERMOTOR Bagian Kesatu Jenis Pasal 131 (1) Kendaraan Tidak Bermotor dikelompokkan dalam: a. (3) Fasilitas bagi penumpang penyandang cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi antara lain : a. terdiri atas : a. cikar. b. tanda atau petunjuk bagi penyandang tunanetra. kereta. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. b. 45 . sepeda.

100 (dua ribu seratus) milimeter. panjang maksimum 2. lebar maksimum 1. 3. Pasal 133 (1) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut orang tidak termasuk muatannya adalah : a. 2.000 (enam ribu) millimeter. 2. panjang maksimum 2. panjang maksimum 5. (2) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut barang tidak termasuk muatannya adalah : a. b. lebar maksimum 2. lebar maksimum 550 (lima ratus lima puluh) milimeter. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1.000 (lima ribu) millimeter. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1. panjang maksimum 2. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1. panjang maksimum 5. lebar maksimum 1. 2.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kedua Persyaratan Keselamatan Pasal 132 Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis sepeda tidak termasuk muatannya adalah : a. 2. b.200 (dua ribu dua ratus) millimeter.700 (dua ribu dua tujuh ratus) millimeter. 3. panjang maksimum 5. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1.250 (lima ribu dua ratus lima puluh) milimeter. panjang maksimum 6. 3.300 (dua ribu tiga ratus) millimeter. b. 3.250 (dua ribu dua ratus lima puluh) milimeter. lebar maksimum 2.400 (lima ribu empat ratus) millimeter. panjang maksimum 2.700 (seribu tujuh ratus) millimeter. c. panjang maksimum 1. lebar maksimum 2. (3) Untuk kepentingan angkutan pariwisata persyaratan kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik oleh hewan lebih dari 2 (dua) ekor diatur dengan Peraturan Daerah sesuai kebutuhan daerah masing – masing dengan tetap memperhatikan keselamatan berlalu lintas. 46 . b.200 (dua ribu dua ratus) millimeter.500 (seribu lima ratus) millimeter.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. lebar maksimum 1.500 (seribu lima ratus) millimeter. panjang maksimum 2.800 (dua ribu delapan ratus) millimeter. (5) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong tidak termasuk muatannya adalah : a.000 (dua ribu) milimeter.800 (seribu delapan ratus) millimeter. panjang maksimum 2. (4) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis becak tidak termasuk muatan adalah : a.

panjang maksimum 2. harus dibuat sedemikian rupa sehingga tetap memiliki bidang pandang bagi pendorongnya untuk dapat melihat kedepan secara leluasa. (2) Rem kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke arah belakang atau badan kendaraan. harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi tanpa mengganggu pengemudi dalam mengendalikan atau mengemudikan kendaraan. b. Pasal 136 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis sepeda dan becak harus dilengkapi dengan rem yang berfungsi dengan baik untuk mengendalikan kecepatan atau memperlambat dan menghentikan kendaraan. c. memiliki lebar sekurang – kurangnya selebar telapak ban. penjelasan : yang dimaksud dengan alat bantu antara lain tali pengendali.500 (dua aribu lima ratus) millimeter. Pasal 134 Setiap kendaraan tidak bermotor kecuali sepeda jenis kereta yang ditarik dengan hewan untuk angkutan barang atau kereta dorong atau tarik. diatur dengan Peraturan Daerah.getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan.Draft RPP 19 Juli 2010 b. panjang maksimum 2. becak dan kereta yang ditarik kuda harus dilengkapi dengan spakbor. (2) Alat bantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 135 (1) Setiap kendaraan tidak bermotor jenis sepeda. harus memiliki sistem suspensi berupa penyangga yang mampu menahan beban. sekurang-kurangya dipasang pada roda penggerak kendaraan sesuai dengan besarnya beban. 47 . Pasal 137 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik dengan hewan harus dilengkapi dengan alat bantu yang berfungsi untuk memperlambat kecepatan kendaraan sebagai pengganti rem. (6) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong yang ketinggiannya melebihi bahu orang yang mendorongnya.000 (dua ribu) millimeter. Pasal 138 Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan penggunaan kendaraan tidak bermotor. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a.

dan kereta tempelan yang diimpor. (2) Kategori jenis kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penjelasan ayat (1) Tujuan dilakukan pengujian adalah dalam rangka menjamin keselamatan. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi c. kategori L2 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda sembarang dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis ienaga penggeraknya 3. kategori L4 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda asimetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya (sepeda motor dengan kereta) 5. Mobil penumpang masuk kategori M1.Draft RPP 19 Juli 2010 BAB VI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Umum Pasal 139 (1) Untuk memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. M2 dan M3. menjaga kelestarian lingkungan dan pelayanan umum. penjelasan huruf a kendaraan bermotor kategori L yaitu kendaraan beroda kurang dari empat 1. b. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan 48 . kendaraan bermotor. kendaraan bermotor kategori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang 1. kategori L3 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya 4. L2. L4 dan L5. 2. kendaraan bermotor kate gori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang. meliputi: a. kereta gandengan. dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan wajib dilakukan pengujian sesuai dengan kategori jenis kendaraan bermotor. Sepeda motor masuk dalam kategori L1. L3. kategori L5 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda simetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. Mobil bus masuk kategori M1. kategori L1 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya.

kendaraan pada kelas ini tidak diijinkan adanya penumpang berdiri d. Kelas I untuk kendaraan bermotor yang dikonruksi untuk penumpang berdiri dan bergerak bebas b. kendaraan bermolor kategori M2 dan M3 dibedakan dalam kelas sebagai berikut: a. penjelasan huruf d : kendaraan bermotor kategori N adalah kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan barang 1. kategori M3 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 5 ton 4.75 ton tetapi lebih dari 3. kelas II untuk kendaraan bermotor yang pada prinsipnya dikonstruksi membawa penumpang duduk dan di desain untuk membawa penumpang berdiri di gang dan atau di daerah yang sudah disediakan tetapi luasnya tidak boleh lebih dari dua baris tempat duduk untuk dua orang c. kategori N1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 3.5 ton 2. kategori M2 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 5 ton 3.Draft RPP 19 Juli 2010 orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi 2.75 ton 2. kelas III untuk kendaraan bermotor yang di desain khusus untuk membawa penumpang duduk d. kelas B untuk kendaraan bermotor tidak di desain untuk membawa penumpang berdiri. kendaraan pada kelas ini memiliki tempat duduk dan memungkinkan penumpang berdiri e. O3. N2. Mobil barang masuk kategori N1. dan O4. kelas A untuk kendaraan bermotor di desain untuk membawa penumpang berdiri. N3. O1. kategori 01 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0. O2. kategori N2 adalahkendaraan bermotor yang digunaKan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3.5 ton tetapi tidak lebih dari 12 ton 3.5 ton 3. kategori 02 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0. kategori 03 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. kategori N3 adalah kendaraari bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 12 ton kategori O kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel 1.5 ton tetapi tidak lebih dari 10 ton 49 .

sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian.000 N dibebankan pada kendaraan penarik. Kendaraan khusus tidak masuk dalam kategori pengujian. uji tipe. b. 2. N atau O untuk angkutan penumpang atau barang dan diperlukan pembuatan bodi khusus dan / atau perlengkapannya untuk menunjang fungsi khusus tersebut sumber : SNI dan UN ECE (3) Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. serta sistem dan prosedur pengujian. Pasal 140 (1) Pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang memiliki : a. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik 3. keakurasian peralatan pengujian. kategori 04 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah benat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 10 ton.Draft RPP 19 Juli 2010 4. atau beban tidak lebih dari 10. uji berkala. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik e. O3 dan dibedakan menjadi tiga tipe sebagai berikut: 1. dan b. kategori khusus kendaraan bermotor khusus kendaraan bermotor kategori M. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik. tenaga penguji yang memiliki sertifikat kompetensi penguji kendaraan bermotor. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. tidak lebih dari 10% berat makstmum kereta gandengan. beban vertikal statis kecil. gandengan sumbu tengah (Centre-exle trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik yang dilengkapi dengan alat penarik yang tidak dapat bergerak vertikal (terhadap kereta gandengan) dan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dekat dengan pusat gravitasi kendaraan (terbebani merata). fasilitas prasarana dan peralatan pengujian. 50 . Kendaraan bermotor penarik untuk kategori O2. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik.

kereta gandengan. Pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan kendaraan bermotor dan kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. (2) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap landasan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. mengkalibrasi secara berkala dan mengoperasikan seluruh peralatan uji secara baik dan benar. 51 . (3) Pembinaan dan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penjelasan ayat (2) Yang dimaksud dengan mengkalibrasi secara berkala yaitu dapat dilakukan sendiri maupun yang dilakukan oleh institusi lain yang mempunyai kewenangan untuk melakukan kalibrasi untuk menjamin keakurasian alat uji yang digunakan dan waktunya disesuaikan dengan spesifikasi teknis masing – masing peralatan. Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang dilakukan terhadap rumah – rumah. Paragraf 2 Pengujian Fisik Pasal 142 (1) Pengujian tipe melalui Pengujian fisik terhadap persyaratan teknis dilakukan melalui pemeriksaan persyaratan teknis secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. kereta tempelan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memelihara. dan b. b. nomor dan tipe motor penggerak. Bagian Kedua Uji Tipe Paragraf 1 Umum Pasal 141 (1) Uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf a terdiri atas : a. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. bak muatan. dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi tipenya (2) Uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh unit pelaksana uji tipe yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. dongkrak. kondisi tangki bahan bakar. alat pembuka roda. e. m. j. corong pengisi bahan bakar. kondisi kaca spion bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. d. bentuk bumper. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kondisi badan kendaraan. k. segitiga pengaman. j. b. serta kondisi ban. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. h. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. pipa saluran bahan bakar. o. serta kondisi ban. e. kebocoran sistem rem. n. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. d. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kaca-kaca bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. f. c. kondisi kaca spion. (3) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. dan tempat duduk. h. l. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. bentuk bumper bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. f. corong pengisi bahan bakar. kondisi spakbor. nomor dan tipe motor penggerak. 52 . keberadaan dan kondisi ban cadangan. engsel. segitiga pengaman. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). pipa saluran bahan bakar. kebocoran sistem rem.Draft RPP 19 Juli 2010 c. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. kondisi tangki bahan bakar. p. n. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. dongkrak. keberadaan dan kondisi ban cadangan. l. g. m. k. g. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. i. i.

serta kondisi ban. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kaca-kaca. (4) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. kondisi rem parkir. 53 . p. h. kecuali untuk sepeda motor. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kondisi badan kendaraan n. kondisi rem utama baik di roda depan atau belakang. k. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. (5) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap landasan kendaraan bermotor meliputi : a. f. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). nomor dan tipe motor penggerak. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. g. kondisi kaca spion. dan tempat keluar darurat. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. e. (6) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap meliputi : a. l. d. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. engsel. tempat duduk. kebocoran sistem rem. kondisi badan kendaraan. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). sudut bebas kemudi (speling steer). kondisi tangki bahan bakar. h. perisai kolong. corong pengisi bahan bakar. b. q. bagian dalam kendaraan. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. m. c. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan.Draft RPP 19 Juli 2010 o. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). b. mengukur dimensi utama kendaraan. i. mengukur ukuran tempat duduk. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. c. g. f. j. pipa saluran bahan bakar. d. e. kondisi spakbor.

h. g. uji/pengukuran berat landasan. uji rem utama dan rem parkir. uji lampu. f. e. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). uji radius putar. b. uji lampu utama. fungsi klakson. uji emisi gas buang. (2) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. d. mengukur ukuran tempat duduk. c. uji speedometer. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). i. h. c. sudut bebas kemudi (speling steer). e. i. uji rem utama dan rem parkir. uji emisi gas buang. d. j. uji speedometer. f. kondisi rem parkir. h. uji kincup roda depan. i. d. b. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. uji/pengukuran berat kendaraan. dan tempat keluar darurat. g. uji tingkat suara klakson. Pasal 143 (1) Pengujian laik jalan terhadap kendaraan bermotor dalam bentuk landasan (chassis engine atau cabin engine). kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). e. sekurang-kurangnya meliputi : a. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. c. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. uji kincup roda depan. kondisi rem parkir. fungsi klakson. uji/pemeriksaan konstruksi. sekurang-kurangnya meliputi : a. uji radius putar. uji lain. (7) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor jenis sepeda motor meliputi : a. f. bagian dalam kendaraan. 54 . c. uji/pengukuran dimensi.Draft RPP 19 Juli 2010 b. g. d. mengukur dimensi utama kendaraan. kondisi penerus daya. b. e. uji tingkat suara klakson. mengukur dimensi utama kendaraan. j.

c. uji emisi gas buang. d.Draft RPP 19 Juli 2010 k. uji/pengukuran berat kendaraan bermotor. n. j. uji jalan/kemampuan jalan. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). h. (3) Uji ulang hanya dilakukan terhadap tipe kendaraan bermotor yang memiliki nomor landasan/rangka dan/atau nomor mesin yang sama dengan yang dimiliki kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. o. uji kebisingan. juga harus dilakukan pengujian terhadap unjuk kerja akumulator listrik. dan alat pengisian ulang energi listrik. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. d. 55 . uji prestasi/performansi dan/ atau uji kemampuan jalan. uji posisi roda depan. q. m. r. Pasal 145 (1) Dalam hal tipe kendaraan bermotor yang diuji tipe yang berkaitan dengan pengujian fisik dinyatakan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 143 dapat dilakukan uji tipe ulang. uji/pengukuran penghapus kaca depan. uji suspensi. yang disesuaikan dengan perkembangan bermotor. perangkat elektronik pengendali kecepatan. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. sekurang-kurangnya meliputi : a.uji prestasi/performansi. uji lain. item – item yang tidak lulus uji. p. (2) Pernyataan penetapan hasil uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. c. selain harus memenuhi ketentuan uji persyaratan teknis dan laik jalan. e. uji sabuk keselamatan. l. uji rem. g. uji lampu utama. b. uji kebisingan. uji speedometer. Pasal 144 Kendaraan bermotor yang menggunakan motor penggerak listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b. teknologi kendaraan (3) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor. uji tingkat suara klakson. uji/pengukuran dimensi kendaraan bermotor. f. i. alasan tidak lulus uji.

nomor sertifikat registrasi uji tipe. sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. e. Pasal 147 (1) Sertifikat lulus uji tipe setiap kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146. spesifikasi teknik varian. serta pemodifikasi. nomor sertifikat uji tipe. jenis. yang telah lulus uji tipe yang melalui pengujian fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 diberikan bukti lulus uji tipe oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. apabila ada. n. tipe kendaraan bermotor yang bersangkutan tidak dapat dilakukan uji ulang lagi dan apabila akan mengujikan kembali tipe kendaraannya. f. peruntukan. m. alamat perusahaan pembuat dan/atau perakit dan/atau pengimpor dan/atau pemodifikasi. Pasal 146 Kendaraan bermotor. k. (5) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah pemohon menunjukkan dan memberitahukan secara tertulis mengenai perbaikan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. 56 . b. serta pemodifikasi. j. l. (7) Jika hasil uji tipe yang melalui pengujian fisik ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak lulus. i. kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (6) Pemohon yang mengajukan uji ulang sebagaiman dimaksud pada ayat (4) diluar waktu dan tempat yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. berupa : a. nomor rangka landasan. sertifikat uji tipe dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk kendaraan bermotor yang diuji tipe yang melalui pengujian fisik dalam keadaan lengkap. varian. tahun pembuat/perakit/modifikasi. penanggung jawab perusahaan pengimpor. apabila ada. d. harus memproses dari awal lagi sebagai permohonan baru. h.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipungut biaya hanya terhadap item-item yang dinyatakan tidak lulus uji tipe kendaraan bermotor.spesifikasi teknik kendaraan bermotor. b. pembuat dan/atau perakit. pembuat dan/atau perakit. merek dan tipe. nomor motor penggerak. g. sertifikat uji tipe landasan dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk landasan kendaraan bermotor yang diuji tipe fisik dalam bentuk landasan. nama perusahaan pengimpor. c. dianggap mengajukan permohonan baru.

s. tempat dan tanggal penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. w. Paragraf 3 Penelitian Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor Pasal 149 Penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor. Pasal 148 Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk. (2) Sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat dari bahan yang memiliki unsur-unsur pengaman. nama dan tanda tangan penanggung jawab perusahaan pengimpor. Penjelasan ayat (2) : Yang dimaksud dengan Unsur-unsur pengaman antara lain berupa hologram dan/atau water mark dan/atau invisible ink. (3) Dalam kaitannya dengan sistem informasi data – data teknis yang terdapat didalam sertifikat lulus uji tipe dapat disimpan dalam bentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. dan kemampuan daya angkut. b. mesin. e. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan. serta pemodifikasi. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. atau kuasanya yang distempel. berat kosong kendaraan bermotor. kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe berupa dimensi. u. d. Yang dimaksud dengan bak muatan adalah semua bentuk konstruksi bak muatan untuk angkutan barang yang bersifat padat. q. pembuat dan/atau perakit. p. kereta gandengan. nama dan tanda tangan pejabat yang meregistrasi dan stempel. t. penjelasan Pasal 151: 57 . daya angkut orang dan/atau barang. isi dan tata cara penerbitan sertifikat lulus uji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dilakukan terhadap desain: a. Penjelasan huruf b. (4) Sertifikat lulus uji tipe yang telah diterbitkan atau disahkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. v. bak muatan.Draft RPP 19 Juli 2010 o. r. berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan. cair atau gas yang terpasang pada landasan kendaraan bermotor. kereta tempelan. rumah-rumah atau karoseri. dimensi bak muatan/tangki. c.

sekurang-kurangnya meliputi : a. c. tempat duduk. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). f. f. material. e. g. pintu. g. ukuran dan susunan. sekurang-kurangnya meliputi : a. alat perangkai. (2) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap bak muatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf b. bumper). h. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). 58 . j. sekurang-kurangnya meliputi : a. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. ukuran dan susunan. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. d. (3) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf c. alat perangkai untuk mobil bus tempelan atau gandengan (termasuk penutup perangkai). sabuk keselamatan dan tempat ban cadangan. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. e. material. konstruksi (kaca-kaca. pintu. d. perisai kolong. f. bak muatan. k. material. perisai kolong. c. b. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). ukuran dan susunan. Pasal 150 (1) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap rumahrumah atau karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf a. e. b. analisa dan penilaian terhadap desain teknis rumah-rumah. sekurangkurangnya meliputi : a. bumper). bumper).Draft RPP 19 Juli 2010 yang dimaksud dengan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang akan dioperasikan di jalan adalah kegiatan pemeriksaan. kereta gandengan. (4) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta tempelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf d. b. konstruksi (engsel. tempat keluar darurat. kereta tempelan dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe. konstruksi (kaca-kaca. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. g. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. engsel. i. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. tangga penumpang (untuk mobil bus). rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). c. h. d. engsel.

(2) Berdasarkan berita acara hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. f. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). f. (6) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berpedoman pada standar teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. serta dimodifikasi yang memiliki merek dan tipe sama. bumper). j. pintu. dan kereta tempelan. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kaki penopang. ukuran dan susunan. alat perangkai. 59 . e. e. g. material. Penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan seri produksi adalah jumlah kendaraan bermotor yang diimpor. konstruksi (kaca-kaca. h. perisai kolong. i.Draft RPP 19 Juli 2010 b. b. ukuran dan susunan. rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor disahkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan menerbitkan surat Keputusan pengesahan rancang bangun dan rekayasa. kereta gandengan. konstruksi (engsel. sekurang-kurangnya meliputi : a. d. (2) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan juga terhadap seri produksi karoseri kendaraan bermotor. alat pengunci (twist lock) (5) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kendaraan bermotor yang dimodifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf e. engsel. bumper). Pasal 151 (1) Hasil penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang telah memenuhi standar teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 ayat (6) dibuat berita acara hasil penelitian oleh Pimpinan Unit Pelaksana Uji Tipe. material. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. c. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. Paragraf 4 Uji Sampel Pasal 152 (1) Uji sampel dilakukan sebagai jaminan kesesuaian spesifikasi teknik seri produksinya terhadap sertifikat uji tipe. atau dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri. c.

Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan untuk menilai kesesuaian spesifikasi teknis seri produksinya terhadap sertifikat lulus uji tipe atau pengesahan rancang bangun dan rekayasa. (2) Tipe Kendaraan bermotor yang telah mendapat surat keterangan lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. (2) Pelaksanaan uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan waktu dan/atau jumlah terhadap seri produksi kendaraan bermotor per perusahaan dalam 1 (satu) tipe. (4) Dalam hal kendaraan bermotor yang telah dilakukan uji sampel tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan dinyatakan tidak lulus. dan/atau dirakit di dalam negeri. (4) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Unit pelaksana Uji Tipe yang dibentuk oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Tata cara uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sebagaimana pelaksanaan uji tipe. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang diuji sampel tidak lulus uji. dapat dilakukan perbaikan terhadap item – item yang tidak lulus. Pasal 154 (1) Kendaraan bermotor yang diuji sampel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 153 yang dinyatakan lulus diberikan surat keterangan lulus uji sampel sebagai dasar penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. (5) Tipe kendaraan yang dinyatakan tidak lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (4). catatan untuk ayat (6): 60 . (6) Setelah dilakukan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). penguji melakukan uji sampel terhadap seri produksi kendaraan bermotor yang sama tipenya dalam jumlah yang lebih banyak. Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji sampel. Pasal 153 (1) Uji sampel dilaksanakan terhadap tipe kendaraan bermotor yang diimpor. dapat diajukan kembali untuk dilakukan uji tipe. Penjelasan ayat (2): Yang dimaksud dengan waktu adalah untuk kendaraan yang jumlah produksinya terbatas dalam satuan waktu. sedangkan jumlah untuk kendaraan yang diproduksi massal. dibuat.

(3) Untuk menjamin pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). waktu. yang dimaksud dengan modifikasi mesin adalah modifikasi yang dilakukan dengan mengganti mesin dengan syarat mesin tersebut memiliki merek dan type yang sama dengan merek dan type mesin sebelum diganti serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan modifikasi dimensi adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada perpanjangan atau pemendekan chassis tanpa mengubah jarak sumbu dan konstruksi kendaraan bermotor tersebut serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. Apakah uji terhadap tipe kendaraan yang dinyatkan tidak lulus uji sampel dan kemudian telah diperbaiki dilakukan uji tipe atau uji sampel ulang ? pilihan mana yang paling menjamin untuk keselamatan. dan kemampuan daya angkut. (2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mohon disepakati di tingkat pengambil kebijakan. dan tata cara uji sampel serta penerbitan sertifikat registrasiuji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 155 (1) Uji sampel dan penerbitan sertifikat registrasi uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan. setiap Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi wajib dilakukan uji tipe. Pasal 156 Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah.Draft RPP 19 Juli 2010 1. mesin. (2) Modifikasi Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. 61 . Paragraf 5 Modifikasi Kendaraan Bermotor Pasal 157 (1) Modifikasi Kendaraan Bermotor dapat berupa modifikasi dimensi. yang dimaksud dengan modifikasi daya angkut adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada kendaraan bermotor dengan menambah sumbu bagian belakang tanpa mengubah jarak sumbu aslinya dan sumbu yang ditambahkan harus memiliki material yang sama dengan sumbu aslinya dan harus dilakukan perhitungan sesuai dengan daya dukung jalan yang dilalui serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. ditetapkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan disetorkan ke kas negara.

penjelasan ayat (3) yang dimaksud dengan keadaan tertentu antara lain dalam hal tidak atau belum tersedianya fasilitas dan peralatan uji yang dipergunakan untuk menguji item tertentu (seperti alat uji emisi). (6) Modifikasi kendaraan bermotor dapat dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). penjelasan ayat (5) persyaratan registrasi dan identifikasi ulang kendaraan bermotor yang dimodifikasi adalah sertifikat lulus uji tipe. 62 . penjelasan ayat (7) bengkel umum yang melaksanakan modifikasi kendaraan bermotor memberikan surat keterangan modifikasi kendaraan bermotor yangselanjutnya sebagai syarat untuk mengajukan uji tipe dan registrasi kendaraan bermotor tersebut. yang dimaksud dengan bekerjasama dengan pihak ketiga berbentuk peminjaman atau penyewaan sarana dan prasarana atau tenaga penguji. wajib dilakukan registrasi dan identifikasi ulang. penjelasan ayat (6) istilah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) tidak sesuai dengan UU Anti Monopoli sehingga penyebutannya menggunakan Agen Pemegang Merek. (2) Unit pelaksana uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyediakan fasilitas dan peralatan pengujian serta tenaga yang memiliki kompetensi. Paragraf 6 Unit Pelaksana Uji Tipe Pasal 158 (1) Unit Pelaksana uji tipe Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (2) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. peningkatan pelayanan kepada masyarakat. keselamatan penggunaan kendaraan bermotor. b. (3) Dalam keadaan tertentu pelaksanaan uji tipe. (4) Pelaksanaan pembangunan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan mempertimbangkan : a. (7) Modifikasi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) wajib dilakukan oleh bengkel umum kendaraan bermotor yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Industri. Unit Pelaksana uji tipe dapat bekerjasama dengan pihak ketiga.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Kendaraan bermotor yang dimodifikasi dan telah dinyatakan lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi yang telah mendapatkan sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (4). diberikan sertifikat lulus uji tipe.

m. mengutamakan produksi dalam negeri.fasilitas listrik. fasilitas pengujian radius putar. kelestarian lingkungan hidup. f. serta dikalibrasi secara periodik. bangunan gedung administrasi. kompresor dan gudang.bangunan beban kerja untuk fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor dalam gedung (indoor). c. e. umur teknis dan ekonomis peralatan serta fasilitas yang ada.jalan lingkungan pengujian. trek pengujian kecepatan tinggi. d.bangunan gedung untuk generator set. g. fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor). g. prosedur pelaksanaan. i. h. h. trek pengujian serba guna. trek pengujian slip. fasilitas pengujian tingkat suara.Draft RPP 19 Juli 2010 c. kapasitas. pompa air dan menara air. f. trek pengujian Belgian road.fasilitas pengisian bahan bakar.kurangnya : a. perkembangan teknologi. jalan keluar masuk. sekurang . e. (5) Fasilitas dan peralatan pengujian yang digunakan harus dirawat dan/atau diperbaiki dengan baik. l. Pasal 159 (1) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . lampu penerangan. (6) Unit pelaksana uji tipe kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi yang ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca oleh pemohon yang memuat persyaratan. 63 . b. dan besaran biaya yang dikenakan. d. b. (7) Unit pelaksana uji tipe wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor. i. agar kondisinya senantiasa layak dan siap operasi. k. trek pengujian tanjakan dan turunan. h. c. f. trek pengujian melalui jalan berlumpur. trek pengujian pengendalian. kesepakatan-kesepakatan regional dan/atau internasional. lapangan parkir.kurangnya: a. e. pagar. d. kemajuan industri kendaraan bermotor. j.fasilitas penunjang. (2) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l. g.

alat uji rem utama dan rem parkir. j.terowongan debu. tapak selip (skid pad). s. alat uji prestasi kendaraan bermotor. fasilitas uji tabrakan (test crash). peralatan. alat uji ban. m. lintasan berliku-liku. s. tipe. alat uji speedometer. perbaikan.Draft RPP 19 Juli 2010 j. g. 64 . l. alat uji kaca. alat uji lain. alat uji dimensi. spesifikasi teknik. alat uji suspensi roda dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan bermotor. konstruksi. penggunaan. q. terowongan air. k. termasuk ketebalan asap gas buang. bentuk.alat uji motor penggerak. alat uji konstruksi. f. ukuran. alat uji emisi gas buang.kurangnya: a. fasilitas dan peralatan bantu. Pasal 160 (1) Peralatan uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . alat uji sabuk keselamatan. m. r. n. alat uji kebisingan. jalan inspeksi (inspection road). t. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata letak. pemeliharaan. l. o. d. alat uji lampu utama. h. i. p. alat uji tingkat suara. p. alat uji pengujian berat. peralatan bantu. e. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. trek pengujian melalui lintasan berair. pembangunan. o. lapangan pengujian analitis. alat uji kincup roda depan. r. alat uji tekanan udara. c. b. dan penggantian fasilitas uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. perlengkapan. jenis. k. fasilitas pembuat angin. n. q. alat uji posisi roda depan. bahan.

pemeliharaan. Bagian Ketiga Uji Berkala Paragraf 1 Umum Pasal 161 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf b diwajibkan untuk mobil penumpang umum. kapasitas. teknologi yang digunakan.atau c. pemasangan. (2) Uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh : a. b. unit pelaksana pengujian swasta yang memenuhi persyaratan dan mendapatkan izin dari Pemerintah. pembangunan. jumlah. bentuk. mobil barang. Pasal 162 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilakukan di daerah tempat kendaraan bermotor diregistrasi. ukuran. pengadaan. penjelasan ayat (2) huruf c yang dimaksud dengan pengujian swasta adalah pihak swasta yang melakukan kegiatan khusus di bidang pengujian kendaraan bermotor atau bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu untuk dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tipe. penggunaan. unit pelaksana pengujian pemerintah kabupaten/kota. mobil bus. dan penggantian peralatan uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. spesifikasi teknik. kereta gandengan dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan. penjelasan ayat (2) yang dimaksud dalam keadaan tertentu antara lain masa berlaku uji berkala telah jatuh tempo sementara kendaraan tidak berada di domisili atau kendaraan yang terkena sanksi pelanggaran karena tidak terpenuhi persyaratan teknis dan laik jalan di luar wilayah domisilinya atau pada saat sistem telah terbangun secara on line. 65 . (2) Dalam keadaan tertentu pengujian berkala kendaraan bermotor dapat dilakukan pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor terdekat yang tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. unit pelaksana agen tunggal pemegang merek yang mendapat izin dari Pemerintah. perbaikan.

helm. 66 . (5) Dalam hal tidak dilakukan uji berkala di Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kendaraan bermotor asing dilarang dioperasikan di jalan. fotocopy STNK dengan menunjukan aslinya. b. Penjelasan ayat (2) : Yang termasuk alat bantu adalah palu khusus. kacamata pelindung. fotocopy sertifikat registrasi uji tipe dengan menunjukan aslinya. yang dimaksud dengan keperluan tertentu antara lain untuk kegiatan olahraga kendaraan bermotor. (2) Pengujian berkala untuk pertama kali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mendasarkan data spesifikasi teknik kendaraan bermotor yang terdapat dalam sertifikat registrasi uji tipe. dan pariwisata yang penggunaannya bersifat sementara. wajib dilakukan uji berkala di Indonesia. (3) Masa uji berkala kendaraan bermotor wajib uji berkala berlaku selama 6 (enam) bulan dan harus dilakukan uji berkala berikutnya.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 163 (1) Pengujian berkala dilakukan terhadap kendaran bermotor wajib uji berkala untuk pertama kali paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). (2) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. Paragraf 2 Pemeriksaan Dan Pengujian Fisik Terhadap Persyaratan Teknis Dan Laik Jalan Pasal 165 (1) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dalam pengujian berkala dilakukan terhadap persyaratan teknis. tang. peralatan seperti kunci pas. meteran. Pasal 164 Permohonan pengujian berkala kendaraan bermotor untuk yang pertama kali diajukan kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor secara tertulis dengan melampirkan : a. (4) Kendaraan bermotor asing yang digunakan di Indonesia untuk keperluan – keperluan tertentu dan telah berakhir masa uji berkalanya. penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan kendaraan bermotor asing adalah kendaraan dari negara asing yang telah memiliki bukti lulus uji dan bukti registrasi dan identifikasi yang masih berlaku di negaranya. senter.

segitiga pengaman. b. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. karoseri. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). corong pengisi bahan bakar. d. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. kondisi badan kendaraan. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. kondisi rem parkir. h. dongkrak. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan secara visual sekurang – kurangnya meliputi: a. engsel. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. d. n. b. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. e. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. i. serta kondisi ban. o. nomor dan tipe motor penggerak. k. f. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. perlengkapan. rancangan teknis kendaraan bermotor sesuai dengan peruntukannya. perisai kolong. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. c. c. c. j. kondisi dan posisi pipa pembuangan. g.bentuk bumper. 67 . susunan. kaca-kaca. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). f. m. (5) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan atau tanpa alat bantu sekurang – kurangnya meliputi : a. kebocoran sistem rem. kondisi spakbor. pipa saluran bahan bakar. kondisi tangki bahan bakar. ukuran. fungsi klakson. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). sudut bebas kemudi (speling steer). q. e. d. l. kondisi kaca spion. b. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. (4) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. p. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi : a. tempat duduk. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. keberadaan dan kondisi ban cadangan. e.

kemampuan rem parkir. c. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur. pengukuran dimensi. kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama. Pasal 168 (1) Apabila kendaraan bermotor dinyatakan tidak lulus uji. (3) Pengujian berkala terhadap untuk kereta gandengan dan kereta tempelan sekurang-kurangnya meliputi : a. i. tata cara pemeriksaan dan pengujian diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. f. emisi gas buang. 68 . Pasal 166 (1) Pemeriksaan dan pengujian terhadap persyaratan laik jalan untuk kendaraan wajib uji berkala sekurang-kurangnya meliputi: a. pemeriksaan kosntruksi. h. kedalaman alur ban. tingkat kebisingan. uji sistem lampu d. uji kemampuan rem. e. b. kincup roda depan. maka terhadap kendaraan tersebut wajib dilakukan uji ulang dan penguji wajib menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji. e. c. h. (2) Kartu uji dan tanda uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku di seluruh wilayah Indonesia. pengukuran berat. (2) Pernyataan surat keterangan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). c. bagian dalam kendaraan. alasan tidak lulus uji. f. b. item – item yang tidak lulus uji. kemampuan rem utama d.Draft RPP 19 Juli 2010 g. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. dan tempat keluar darurat. akurasi alat penunjuk kecepatan (speedometer). g. untuk semua jenis kendaraan. mengukur ukuran tempat duduk. Pasal 167 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah dinyatakan lulus terhadap pemeriksaan dan pengujian fisik diberikan tanda bukti lulus uji berkala kendaraan bermotor yang berupa kartu uji dan tanda uji. pengukuran kedalaman alur ban. mengukur dimensi utama kendaraan. b.

k. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. tanggal dan nomor sertifikat registrasi uji tipe. (5) Kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji hanya dapat dioperasikan di jalan dalam rangka perbaikan ke bengkel umum kendaraan bermotor terdekat atau yang ditunjuk dengan dilengkapi surat tanda tidak lulus uji. konfigurasi sumbu. g. o. wajib melakukan perbaikan-perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. m. c. isi silinder. nomor motor penggerak/mesin. diperlakukan sebagai pemohon baru. b. (3) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang. alamat pemilik. d. bahan bakar yang digunakan. (6) Apabila pemilik yang menguasai kendaraan bermotor tidak menyetujui keputusan penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). p. dapat mengajukan keberatan kepada pimpinan unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. tahun pembuatan/perakitan.Draft RPP 19 Juli 2010 d. l. Paragraf 3 Bukti Lulus Uji Pasal 169 (1) Setiap kendaraan bermotor wajib uji yang didaftarkan untuk dilakukan uji berkala untuk yang pertama kali. serta tidak diperlakukan sebagai pemohon baru. daya motor penggerak. nomor kendaraan. i. j. (2) Kartu induk uji berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. diterbitkan kartu induk uji berkala yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia dan/atau tanda uji berkala. tanggal dan nomor pengesahan uji tipe. jenis. h. dimensi kendaraan (rumah-rumah/bak muatan). n. e. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mengajukan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. nomor uji berkala. nama pemilik. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. 69 . (4) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang namun surat pernyataan tidak lulus uji yang dimilikinya telah habis masa berlakunya. merek/tipe. f.

kiri. foto berwarna tampak samping kanan. b. dan nomor urut pengujian. kode Kabupaten/kota. tempat dan tanggal dilakukan uji pertama kali. (3) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sesuai dengan wilayah domisili kendaraan . nomor dan tanggal sertifikat registrasi uji tipe. k. kode tahun pendaftaran uji.berat kosong kendaraan. tahun pembuatan/perakitan. nomor uji kendaraan. daya motor penggerak. n. jenis. Catatan : Pengecualian ini berlaku pada saat sistem pengujian berkala telah terbangun sistem online yang sudah tidak ada lagi istilah numpang uji. merek/tipe. s. nama dan tanda tangan tenaga penguji yang mengesahkan masa uji berkala untuk yang pertama kali. nama pemilik. e. i. Pasal 171 (1) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. 70 . (4) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilampirkan setiap akan melakukan pengujian berkala kecuali pengujian berkala yang dilakukan diluar wilayah domisili kendaraan. r. f. m. c. h. depan dan belakang kendaraan bermotor. isi silinder. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. (2) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berisikan kode wilayah yang terdiri dari kode provinsi. nama dan identitas penanggung jawab unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang menerbitkan kartu pengujian berkala.Draft RPP 19 Juli 2010 q. l. Pasal 170 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah diuji berkala untuk pertama kali diberi nomor uji kendaraan bermotor. (3) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama kendaraan yang bersangkutan masih termasuk sebagai kendaraan wajib uji. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk mobil barang dan mobil bus. kode jenis kendaraan bermotor. j. alamat pemilik. nomor dan tanggal pengesahan tipe bagi kendaraan yang di uji fisik dan nomor pengesahan yang dilakukan melalui penelitian rekayasa dan rancang bangun. d. g.

hasil uji. pedoman nomor uji. w. lulus uji berkala. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk mobil barang dan mobil bus. ukuran utama kendaraan. d. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. p. d. t. b. Pasal 172 (1) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (1) yang berbentuk stiker ditempel pada kaca depan sisi kiri bawah bagian dalam. (2) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. muatan sumbu terberat. masa berlaku hasil uji. Pasal 173 Ketentuan lebih lanjut mengenai kartu induk uji berkala. (2) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi : a. c. b. Pasal 174 (1) Perpanjangan masa berlaku bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. e. daya angkut. bahan bakar yang digunakan. (2) Perubahan bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan: a. kode wilayah pengujian. masa berlaku uji kendaraan. u. v. melampirkan surat tanda terima laporan bagi kendaraan yang tidak dapat melaksanakan pengujian berkala pada saat masa berlaku uji berakhir. c. jumlah berat yang diizinkan untuk kendaraan bermotor tunggal dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau tempelan. b. memiliki identitas pemilik kendaraan. q.Draft RPP 19 Juli 2010 o. 71 . memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. kartu uji dan tanda uji diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungj awab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. ukuran ban. memiliki identitas pemilik kendaraan. r. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. s. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. konfigurasi sumbu roda. daya angkut orang dan barang. x.

b.Draft RPP 19 Juli 2010 c. (2) Dalam hal keberadaan kendaraan bermotor berada diluar domisili unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala. menyampaikan keterangan mengenai perubahan-perubahan spesifikasi teknik dan/atau data pemilik dan/atau wilayah operasi kendaraan. atau b. pada saat masa berlaku uji kendaraannya berakhir. dan c. memindahkan operasi kendaraannya secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan ke wilayah lain di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. tidak dapat melakukan uji berkala. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor swasta. 72 . merupakan bengkel umum kendaraan bermotor yang telah ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana LaluLintas dan Angkutan Jalan berdasarkan rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. apabila bukti lulus uji berkala hilang. melampirkan bukti lulus uji berkala yang ada untuk bukti lulus uji yang rusak. Paragraf 4 Unit Pelaksana Uji Berkala Pasal 176 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan oleh : a. pemilik kendaraan dapat melaporkan kepada unit pelaksana pengujian terdekat. (2) Unit pelaksana pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan c. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor agen tunggal pemegang merek. Pasal 175 (1) Pemilik kendaraan bermotor yang telah mendapatkan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 harus melaporkan secara tertulis kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala apabila : a. (3) Penggantian bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. ayat (2) dan ayat (3) diberikan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak diterima permohonan. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor pemerintah Kabupaten/kota. (4) Perpanjangan. membawa surat keterangan kehilangan dari kepolisian setempat. melampirkan salinan identitas pemilik kendaraan dengan menunjukkan aslinya. b. atau c. d. lulus uji berkala untuk kendaraan yang mengalami perubahan spesifikasi tekniknya. perubahan dan penggantian bukti lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan menyebutkan alasan-alasannya.

b. standar fasilitas prasarana dan peralatan pengujian kendaraan bermotor. b. f. terletak pada lokasi yang mudah dijangkau oleh pemilik kendaraan bermotor. c. Pasal 178 (1) Lokasi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya: a. d. (2) Setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki 1 (satu) unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. (3) Untuk menjamin setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan memenuhi akuntabilitas pelayanan publik. mempertahankan mutu pengujian yang diselenggarakan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan unit pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. mengikuti tata cara pengujian. sistem dan prosedur. b. c. dan e. 73 . harus dilakukan akreditasi oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (4) Dalam hal pengujian dilakukan oleh bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pengesahan uji dilakukan oleh petugas swasta yang memiliki kompetensi yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk pengujian yang dilakukan oleh unit pelaksana pengujian agen tunggal pemegang merek dan unit pelaksana pengujian swasta. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian berkala kendaraan bermotor. membuat rencana dan pelaporan secara berkala setiap penyelenggara pengujian kepada Menteri.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Unit pelaksanaan uji berkala wajib : a. memiliki atau menguasai areal tanah sesuai dengan kebutuhan. melaksankana pengujian sesuai dengan akreditasi dan sertifikasi. sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. c. e. kompetensi penguji kendaraan bermotor. d. menggunakan peralatan pengujian. Pasal 177 (1) Setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan tentang : a. standar keakurasian peralatan pengujian kendaraan bermotor. lokasi.

alat uji speedometer. f. o. alat pengukur berat. alat uji rem. e. b. m. alat pengukur tekanan udara. n. alat pengukur dimensi. alat uji emisi gas buang. l. 74 . h. i. alat uji kebisingan. k. pelaksanaan pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan unit pengujian berkala keliling. (2) Peralatan uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi : a. d. c. Pasal 179 (1) Unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 ayat (1) harus memiliki peralatan uji. meliputi alat uji karbon monoksida (CO). dan/atau karena kondisi geografisnya tidak memungkinkan kendaraan dari satu tempat mencapai tempat unit pelaksana pengujian. alat uji kaca. dan ketebalan asap gas buang. peralatan bantu.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Suatu daerah yang hanya memiliki kendaraan wajib uji relatif sedikit dibanding dengan luas daerah yang harus dilayani. g. alat uji lampu utama. (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca setiap saat oleh pemohon. hidro karbon (HC). Pasal 180 (1) Pada setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi atau media informasi lainnya yang berisikan prosedur pengujian berkala kendaraan bermotor. j. generator set. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai spesifikasi teknis peralatan uji berkala kendaraan bermotor dan peralatan pendukungnya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. kompresor udara. alat uji suspensi roda (pit wheel suspension tester) dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan. alat uji kincup roda depan (side slip tester). alat pengukur suara (sound level meter).

peralatan pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 179 harus dikalibrasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 181 (1) Unit pelaksana pengujian berkala wajib membangun sistem informasi dan komunikasi. (3) Unit pengujian kendaraan bermotor yang tidak melakukan kalibrasi peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka hasil uji berkala kendaraan bermotor tidak dapat dipertanggung jawabkan. (2) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor pada pemerintah provinsi DKI Jakarta. (2) Kalibrasi peralatan uji pada unit pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. 75 . Pasal 182 (1) Untuk menjamin keakurasian dan keselamatan pemakaian. Penjelasan ayat (1): Yang dimaksud dengan sekurang-kurangnya satu tahun sekali adalah dimungkinkan pelaksanaan kalibrasi lebih dari satu kali dalam setahun untuk unit pelaksana pengujian kendaraan yang disesuaikan dengan jumlah kendaraan bermotor yang diuji) atau kondisi peralatan. (4) Biaya kalibrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada unit pengujian kendaraan bermotor yang bersangkutan. (2) sistem informasi dan komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat saling terhubung (on line) dan terintegrasi antara daerah dengan kementerian perhubungan serta dapat diakses oleh masyarakat. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kalibrasi diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161. Pasal 183 (1) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan/atau gubernur atau pejabat yang ditunjuk.

tidak merasa terganggu dengan adanya uji petik tersebut) (5) Hasil uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai salah satu penilaian hasil pemeriksaan kinerja unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. (2) kompetensi tenaga penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan berdasarkan tingkat keahlian. (4) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan berdasarkan pertimbangan tingkat wewenang dan tanggung jawab penguji secara berjenjang. Bagian Keempat Kualifikasi Teknis dan Kompetensi Penguji Kendaraan Bermotor Pasal 184 (1) Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) dilakukan oleh tenaga penguji yang memiliki kompetensi penguji kendaraan bermotor. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan uji petik dan bentuk laporan hasil uji petik diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Penguji yang memenuhi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis penguji kendaraan bermotor oleh menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasana. (4) Uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada hari yang sama dengan mengirim penguji kendaraan bermotor yang memiliki sertifikat kompetensi ke unit-unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Bentuk pengawasan dan pengontrolan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan (4) berupa melakukan uji petik terhadap sekurang-kurangnya 2 (dua) unit kendaraan bermotor atau 5% (lima persen) kendaraan bermotor hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih secara random. Penjelasan ayat (4) : yang dimaksud dengan uji petik dilakukan pada hari yang sama adalah dimaksudkan supaya pemilik kendaraan bermotor yang sedang mengujikan kendaraannya di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih untuk uji petik. 76 . Penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan sesuai tingkat kewenangannya adalah kewenangan untuk menandatangani pada kolom hasil uji dan masa berlaku uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor sesuai ketentuan yang berlaku. wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang yang diperoleh setelah mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan dan uji kompetensi pengujian kendaraan bermotor.

(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan persyaratan. Penjelasan: yang dimaksud dengan pengesahan hasil uji adalah penandatanganan pada kolom hasil uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan Peraturan perundang – undangan. wajib memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor. ayat (3). swasta. ayat (2). Pasal 186 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 merupakan kewajiban Pemerintah dan dalam penyelenggaraannya dapat tidak dipungut biaya.Draft RPP 19 Juli 2010 (5) Sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku di seluruh Indonesia. BAB VII BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Persyaratan dan Penyelenggaran Bengkel Umum Pasal 187 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor berfungsi untuk memperbaiki dan merawat kendaraan bermotor agar tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. 77 . prosedur pengangkatan tenaga penguji serta tanda kualifikasi teknis penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan bengkel umum. negara wajib memberikan kompensasi. (6) Setiap tenaga penguji yang sedang menjalankan tugas wajib mengenakan tanda kualifikasi teknis. Yang dimaksud dengan petugas adalah petugas penguji Pemerintah maupun petugas penguji swasta. Pasal 185 Pengesahan hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor dilakukan oleh petugas yang memilik kompetensi pengujian kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Pelaksanaan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh agen tunggal pemegang merek.

perbaikan besar. 78 . perbaikan kecil. (3) Bengkel umum yang memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan terbagi atas beberapa klasifikasi : a. Bengkel tipe C. dan C. atau jenis pekerjaan perawatan berkala. perbaikan kecil. yaitu : a. b. (6) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang industri. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala dan perbaikan kecil. serta manajemen informasi. dan C. dan perbaikan besar. perbaikan besar. bengkel kelas III tipe A. fasilitas dan peralatan. bengkel umum agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. mekanik. Bengkel tipe B. B. c. c. B. (2) Kualitas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bahwa bengkel umum tersebut mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. Bengkel tipe A. perbaikan kecil. (5) Penetapan klasifikasi bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melalui sistem sertifikasi bengkel umum. perbaikan kecil.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas tingkat pemenuhan terhadap persyaratan sistem mutu. b. (4) Tipe bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas jenis pekerjaaan yang mampu dilakukan. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. bengkel kelas II tipe A. bengkel kelas I tipe A. dan C. Bagian Kedua Akreditasi Bengkel Umum Untuk Pengujian Berkala Pasal 188 (1) Bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. B. (3) Bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. b. bengkel umum swasta (bukan agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor). (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan sistem sertifikasi bengkel umum diatur oleh Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. serta perbaikan sasis dan bodi kendaraan.

pengalaman menjadi bengkel umum kelas I tipe A sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian akreditasi dan penetapan bengkel umum menjadi unit pelaksana pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. perawatan. sumber daya manusia. (3) Penetapan bengkel umum kendaraan bermotor menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor oleh Menteri yang bertangung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. (4) Rekomendasi yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a terkait dengan aspek keamanan lingkungan. peralatan. perawatan. (2) Penetapan bengkel pemasangan. d. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. b. memiliki akreditasi dari Pemerintah. analisis dampak lalu lintas. Pasal 190 (1) Bengkel umum dapat dilengkapi fasilitas prasarana. c. izin usaha bengkel kendaraan bermotor dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota setempat dan mendapat rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan rekomendasi Kepolisian Negara Republik Indonesia.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 189 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 dapat menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. 79 . memiliki peralatan dan fasilitas pengujian berkala. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem sertifikasi. dan sistem prosedur sebagai bengkel pemasangan. (2) Bengkel umum yang melakukan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan : a. e.

(2) Apabila peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Penguji tidak mengindahkannya setelah berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ke 3 (tiga). pencabutan tanda kualifikasi. dikenai sanksi administratif berupa pencabutan tanda kualifikasi. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. (3) Pencabutan tanda kualifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender. peringatan tertulis. Pasal 193 (1) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 203 ayat (2) huruf a dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut untuk jangka waktu masing – masing 30 (tiga puluh) hari kalender. atau b. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/kota. 80 . Penjelasan ayat (1): yang dimaksudkan rekomendasi adalah memberikan keterangan bahwa bengkel yang didirikan tidak mengganggu keamanan dan ketertiban. BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Kesatu Bagi Penguji Pasal 192 (1) Setiap Penguji yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 dikenakan sanksi administratif.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Ketiga Perizinan Bengkel kendaraan Bermotor Pasal 191 (1) Penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor yang akan dijadikan unit pengujian berkala harus mendapatkan izin dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia.

terbukti mempersulit proses pelaksanaan pengujian berkala.000. f. mengabaikan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.000. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. tidak mengoperasikan peralatan uji saat melakukan pengujian berkala. kendaraan diubah spesifikasi tekniknya sehingga tidak sesuai lagi dengan data yang ada pada sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala kendaraan yang bersangkutan. (2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.00 (dua ratus juta rupiah). c. tidak melaksanakan kalibrasi secara berkala. 81 . Pasal 197 (1) Sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dan Pasal 167 dapat dicabut apabila : a. apabila melakukan pelanggaran. g. yang meliputi : a. tidak melakukan perawatan dan perbaikan terhadap peralatan uji berkala yang menjadi tanggung jawabnya. d. tidak menyelenggarakan sistem informasi dan administrasi pengujian berkala secara baik dan bertanggung jawab. e.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 194 Bengkel umum yang menyelenggarakan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pencabutan hak operasi selaku unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. i. peringatan tertulis. atau b. tidak mengisi data teknis dan hasil uji berkala secara benar pada tanda bukti lulus uji berkala. Pasal 196 (1) Selain dikenai sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (2) Pemilik kendaraan bermotor. pencabutan izin. tidak bersedia menerima petugas yang sedang ditugaskan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan tanpa alasan yang jelas. dikenai sanksi denda admnistratif paling banyak Rp. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a.200. b. Pasal 195 (1) Setiap pemilik kendaraan bermotor yang tidak melakukan pengujian kendaraannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 ayat (1) dikenakan sanksi administratif. terbukti melakukan pungutan biaya uji melebihi biaya yang telah ditetapkan. h.

Pasal 201 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku setiap unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor paling lama 5 (lima) tahun. Pasal 200 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku. kendaraan dioperasikan secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. penggunaan buku uji. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 199 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku rem motor untuk sepeda motor yang baru dan yang sudah beroperasi harus menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor (on line system). tanda uji dan tanda samping yang telah ada dinyatakan masih berlaku sampai habis masa berlakunya dan paling lama 5 (lima) tahun harus menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini. (2) Pemilik kendaraan bermotor yang sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkalanya dicabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan bukti lulus uji berkala baru setelah yang bersangkutan melakukan uji berkala kembali sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 198 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. mengalihkan pemilikan kendaraan bermotor sehingga nama pemilik tidak sesuai lagi dengan yang tercantum dalam bukti lulus uji berkala.Draft RPP 19 Juli 2010 b. 82 . c.

. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA H. semua Peraturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi yang mengatur tentang Kendaraan dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini..Draft RPP 19 Juli 2010 BAB XI PENUTUP Pasal 202 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Pasal 204 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya.. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR .. Pasal 203 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. 83 . Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi di cabut dan dinyatakan tidak berlaku. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful