P. 1
Draft RPP Kendaraan 2010

Draft RPP Kendaraan 2010

|Views: 112|Likes:
Published by Chairil Azwar

More info:

Published by: Chairil Azwar on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2012

pdf

text

original

Sections

  • Pasal 2
  • Pasal 3
  • Pasal 4
  • Pasal 5
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 8
  • Pasal 9
  • Pasal10
  • Pasal11
  • Pasal12
  • Pasal13
  • Pasal14
  • Pasal15
  • Pasal16
  • Pasal17
  • Pasal18
  • Pasal19
  • Pasal20
  • Pasal21
  • Pasal22
  • Pasal23
  • Pasal24
  • Pasal25
  • Pasal26
  • Pasal27
  • Pasal28
  • Pasal29
  • Pasal30
  • Pasal31
  • Pasal32
  • Pasal33
  • Pasal34
  • Pasal35
  • Pasal36
  • Pasal37
  • Pasal38
  • Pasal39
  • Pasal40
  • Pasal41
  • Pasal42
  • Pasal43
  • Pasal44
  • Pasal45
  • Pasal46
  • Pasal47
  • Pasal48
  • Pasal49
  • Pasal50
  • Pasal51
  • Pasal52
  • Pasal53
  • Pasal54
  • Pasal55
  • Pasal56
  • Pasal57
  • Pasal58
  • Pasal59
  • Pasal60
  • Pasal61
  • Pasal63
  • Pasal64
  • Pasal65
  • Pasal66
  • Pasal67
  • Pasal68
  • Pasal70
  • Pasal71
  • Pasal73
  • Pasal74
  • Pasal75
  • Pasal76
  • Pasal77
  • Pasal78
  • Pasal79
  • Pasal80
  • Pasal81
  • Pasal83
  • Pasal84
  • Pasal85
  • Pasal86
  • Pasal87
  • Pasal88
  • Pasal89
  • Pasal90
  • Pasal91
  • Pasal92
  • Pasal93
  • Pasal94
  • Pasal95
  • Pasal96
  • Pasal97
  • Pasal98
  • Pasal99
  • Pasal100
  • Pasal101
  • Pasal102
  • Pasal103
  • Pasal104
  • Pasal105
  • Pasal106
  • Pasal107
  • Pasal108
  • Pasal109
  • Pasal110
  • Pasal111
  • Pasal112
  • Pasal113
  • Pasal114
  • Pasal115
  • Pasal116
  • Pasal117
  • Pasal118
  • Pasal119
  • Pasal120
  • Pasal121
  • Pasal122
  • Pasal123
  • Pasal124
  • Pasal125
  • Pasal126
  • Pasal127
  • Pasal129
  • Pasal130
  • Pasal131
  • Pasal132
  • Pasal133
  • Pasal134
  • Pasal135
  • Pasal136
  • Pasal137
  • Pasal138
  • Pasal139
  • Pasal140
  • Pasal141
  • Pasal142
  • Pasal143
  • Pasal145
  • Pasal146
  • Pasal147
  • Pasal148
  • Pasal149
  • Pasal150
  • Pasal152
  • Pasal155
  • Pasal156
  • Pasal157
  • Pasal158
  • Pasal159
  • Pasal160
  • Pasal161
  • Pasal162
  • Pasal163
  • Pasal164
  • Pasal165
  • Pasal166
  • Pasal167
  • Pasal168
  • Pasal169
  • Pasal170
  • Pasal171
  • Pasal172
  • Pasal173
  • Pasal174
  • Pasal175
  • Pasal176
  • Pasal177
  • Pasal178
  • Pasal179
  • Pasal180
  • Pasal181
  • Pasal182
  • Pasal183
  • Pasal184
  • Pasal185
  • Pasal186
  • Pasal187
  • Pasal188
  • Pasal190
  • Pasal191
  • Pasal192
  • Pasal194
  • Pasal195
  • Pasal196
  • Pasal197
  • Pasal198
  • Pasal199
  • Pasal200
  • Pasal201
  • Pasal202

Draft RPP 19 Juli 2010 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG KENDARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Tentang Kendaraan; a. Pasal 5 ayat (1) serta Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); TAHUN

Mengingat

:

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH KENDARAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas Kendaraan

REPUBLIK

INDONESIA

TENTANG

Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.

2. Kendaraan Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan

mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel.

1

Draft RPP 19 Juli 2010
3. Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga

manusia dan/atau hewan.

4. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap Kendaraan yang digunakan untuk

angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.

5. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-

rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. tempat duduk maksimal 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya tidak lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. duduk lebih dari 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram.

6. Mobil Penumpang adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki

7. Mobil Bus adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki tempat

8. Mobil Bus Gandeng adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan gandengannya,

yang gandengannya mempunyai sedikitnya 2 (dua) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak vertikal (terhadap bus gandengan) dan mengontrol arah sumbu roda depan gandengan tetapi tidak membebani sumbu bus penarik dan memiliki lorong penghubung. tempelannya mempunyai sedikitnya 1 (satu) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak horizontal dan vertikal (terhadap bus tempelan) dan membebani sumbu bus penarik. penghubung kedua lantai tersebut. barang.

9. Mobil Bus Tempel adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan tempelan, yang

10. Bus Tingkat adalah bus yang memiliki dua lantai dan dilengkapi tangga sebagai

11. Mobil Barang adalah Kendaraan Bermotor yang digunakan untuk angkutan

12. Rumah – Rumah adalah bagian dari kendaraan bermotor jenis mobil penumpang

atau mobil bus atau mobil barang, yang berada pada landasan berbentuk ruang muatan, baik untuk orang maupun barang.

13. Pengujian Kendaraan Bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau

memeriksa bagian-bagian atau komponenkomponen kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.

2

Draft RPP 19 Juli 2010
14. Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Tipe Kendaraan

Bermotor adalah pengujian yang dilakukan terhadap fisik kendaraan bermotor atau penelitian terhadap rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan sebelum kendaraan bermotor tersebut dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor secara massal serta kendaraan bermotor yang dimodifikasi. adalah pengujian kendaraan bermotor yang dilakukan secara berkala terhadap setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan, yang dioperasikan di jalan.

15. Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Berkala

16. Sertifikat Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal

Perhubungan Darat sebagai bukti bahwa tipe kendaraan bermotor atau landasan kendaraan bermotor yang bersangkutan telah lulus uji tipe. pengesahan dari Pemerintah sebagai bukti bahwa rancangan kendaraan bermotor, kereta gandengan, atau kereta tempelan tersebut telah memenuhi persyaratan teknis.

17. Pengesahan Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor adalah Surat

18. Sertifikat Registrasi Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur

Jenderal Perhubungan Darat, sebagai bukti bahwa setiap kendaraan bermotor, landasan kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan/atau kereta tempelan yang dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor atau dimodifikasi memiliki spesifikasi teknik sama/sesuai dengan tipe kendaraan yang telah disahkan atau rancang bangun dan rekayasa kendaraan yang telah disahkan, yang merupakan kelengkapan persyaratan pendaftaran dan pengujian berkala kendaraan bermotor. dan/atau peruntukannya yang dapat mengakibatkan perubahan spesifikasi teknik utama. produksi yang telah memiliki sertifikat uji tipe.

19. Modifikasi Kendaraan Bermotor adalah kendaraan bermotor yang diubah bentuk

20. Uji Sampel adalah pengujian kesesuaian terhadap spesifikasi teknik terhadap seri 21. Kendaraan Khusus adalah Kendaraan Bermotor yang dirancang khusus yang

memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu, antara lain: a. Kendaraan Bermotor Tentara Nasional Indonesia; b. Kendaraan Bermotor Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Alat berat antara lain bulldozer, traktor, mesin gilas (stoomwaltz), forklift, loader, excavator, dan crane; serta d. Kendaraan khusus penyandang cacat.

22. Kereta Gandengan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut

barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor.

3

Draft RPP 19 Juli 2010
23. Kereta Tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang

yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan bermotor penariknya. yang dipasang simetris atau pada dasarnya simetris terhadap bidang membujur tengah kendaraan, walaupun roda-roda tersebut tidak dipasang pada satu sumbu yang sama. maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya.

24. Roda Pada Satu Sumbu adalah roda tunggal atau roda ganda atau beberapa roda

25. Jumlah Berat Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBB adalah berat

26. Jumlah Berat Kombinasi Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBKB

adalah berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya. yang selanjutnya disebut JBI adalah berat maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui. berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui.

27. Jumlah Berat Yang Diizinkan

28. Jumlah Berat Kombinasi yang Diizinkan yang selanjutnya disebut JBKI adalah

29. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik

Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

30. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah 31. Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin kementerian negara dan

bertanggung jawab atas urusan pemerintahan di bidang Jalan, bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bidang industri, bidang pengembangan teknologi, atau bidang pendidikan dan pelatihan. BAB II JENIS DAN FUNGSI KENDARAAN Pasal 2

Kendaraan terdiri atas: a. b. Kendaraan Bermotor; dan Kendaraan Tidak Bermotor.

4

kereta dorong atau kereta tarik. sepeda motor.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 3 (1) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dikelompokkan berdasarkan jenis: a. antara lain : a. c. dikelompokan berdasarkan fungsi: a. mobil barang. dikelompokan berdasarkan peruntukan: a. dirancang dengan ruang untuk pengemudi dan ruang untuk penumpang. mobil penumpang. dan b. mobil penumpang dan mobil bus. kendaraan khusus. d. dan penjelasan ayat (1) huruf d Termasuk dalam pengertian mobil barang setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor. (2) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b. antara lain : a. mobil bus. dirancang dengan ruang untuk mengangkut orang dan ruang untuk mengangkut barang terpisah dengan penyekat atau dinding. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. sepeda. kendaraan untuk angkutan orang. Kendaraan Bermotor umum. (2) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. huruf d . Kendaraan Bermotor perseorangan. 5 . Pasal 4 (1) Kendaraan tidak bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. e. dan b. dikelompokkan dalam: a. b. c. Pasal 5 (1) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. atau b. huruf c dan (3) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2). becak. dan b. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. b. cikar. kendaraan untuk angkutan barang. delman.

Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa rumah-rumah. penjelasan mobil penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang dirancang terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. c. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa kereta samping. (2) Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b. ruang pengemudi. ruang bagasi. ruang mesin.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (2) yang dimaksud dengan ruang untuk mengangkut barang adalah berbentuk bak muatan terbuka atau bak muatan tertutup (box). b. meliputi : a. yang dirancang khusus. mobil bus kecil. 2. Mobil Penumpang lainnya yang dirancang untuk keperluan khusus. pengertian bukan sedan antara lain Sport Utility Vehicle. 6 . mobil jenazah. (3) Mobil Bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c. Kendaraan Bermotor roda 3 (tiga) tanpa rumah-rumah. c.500 (tiga ribu lima ratus) sampai dengan 5. b.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.000 (lima ribu) kilogram dan jumlah tempat duduk lebih dari 8 (delapan) orang termasuk pengemudi dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1. penjelasan terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. ruang pengemudi dan penumpang. 3. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. Station Wagon. Hatch Back. yang memiliki 3 (tiga) ruang yang terdiri dari: 1. ruang pengemudi dan penumpang dan/atau bagasi. Penjelasan huruf c yang dimaksud dengan mobil penumpang lainnya contoh mobil ambulance. meliputi : a. ruang penumpang dan/atau bagasi. meliputi : a. 2. Multy Purpose Vehicle. ruang mesin. dan ruang bagasi di bagian belakang atau depan. Mobil Penumpang sedan. terpisah secara permanen atau tidak permanen ruang pengemudi dan penumpang di bagian tengah. Pasal 6 (1) Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a. Mobil Penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang terdiri dari: 1. All Purpose Vehicle.

200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. ukuran panjang keseluruhan kendaraan bermotor lebih dari 9.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.100 (dua ribu seratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. ukuran panjang keseluruhan lebih dari 12.000 (enam belas ribu) kilogram.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 16. mobil bus gandeng yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22.200 (empat ribu dua ratus) milimeter.000 (delapan ribu) sampai dengan 16.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 12.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. c. mobil bus tingkat yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) sekurang-kurangnya 21.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan ukuran tinggi mobil bus tingkat tidak lebih dari 4.000 (sembilan ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. catatan: perlu dirumuskan kembali. bus sedang dengan jumlah tempat duduk maksimal 32. mobil bus besar.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (dua belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13.000 (delapan ribu) kilogram. d.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. bus besar 7 .000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26.000 (lima ribu) sampai dengan 8.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13.000 (dua puluh empat ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan sekurang-kurangnya 9.000 (enam belas ribu) kilogram sampai dengan 24.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 13. contoh: bus kecil dengan jumlah tempat duduk maksimal 16. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 5. ukuran panjang keseluruhan tidak melebihi 9.000 (dua puluh empat ribu) kilogram.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26.000 (dua belas ribu) milimeter sampai dengan 13.000 (dua puluh satu ribu) kilogram sampai dengan 24.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18. f. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 8. g. yang dirancang. e. mobil bus maxi. mobil bus tempel yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22. mobil bus sedang.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.Draft RPP 19 Juli 2010 b.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.

barang yang bersifat korosif. b. meliputi: a. mobil barang kabin ganda. mobil barang kabin ganda. barang yang mudah meledak. gas terlarut pada tekanan atau temperatur tertentu. Catatan: Perlu dijelaskan definisi kendaraan untuk menarik kereta tempelan (5) Kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e. tumbuhan. EOD (Explosive Ordinance Disposal. mobil barang bak muatan tertutup. barang yang bersifat radioaktif. non dump truck.. c. antara lain: a. mobil barang tangki. b. dan gas. dan alat berat serta membawa barang berbahaya. mobil barang bak muatan terbuka.. e.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan jumlah tempat duduk maksimal 58. flat deck. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan tertutup adalah antara lain seperti box. bahan penghasil oksidan. Security Barrier. d. dan h. antara lain: a. panser. box freezer. g. barang curah. Penjelasan : yang dimaksud dengan mobil barang kabin adalah:mobil barang kabin ganda (double cabin). atau gas. Commander Call Carrier. yang dirancang memiliki 2 (dua) baris tempat duduk pengemudi dan penumpang dengan ruang barang yang terpisah secara permanen dan/atau tidak permanen oleh dinding atau sekat. mempunyai fungsi dan dirancang bangun tertentu. 8 . penjelasan huruf a: yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan terbuka adalah antara lain seperti dump truck. gas cair.dan disesuaikan dengan RPP tentang Angkutan (4) Mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d. yang dimaksud dengan mobil barang khusus adalah angkutan yang membutuhkan mobil barang yang dirancang khusus untuk mengangkut benda yang berbentuk curah. racun dan bahan yang mudah menular. Kendaraan tank. wing box.. kendaraan untuk menarik kereta tempelan.dll c. f. kendaraan lapis baja yang digunakan untuk tempur dan kendaraan yang dirancang khusus yang dimiliki oleh. penjelasan yang dimaksud mobil barang tangki adalah mobil yang dirancang untuk mengangkut barang cairan. padatan mudah menyala. hewan hidup. cair. cairan mudah menyala. d. gas mampat. peti kemas.

c. e. Pasal 7 Ketentuan lebih lanjut mengenai Fungsi Kendaraan Bermotor. f. d. dan kendaraan taktis lainnya yang dirancang khusus dan dimiliki oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya. kendaraan khusus penyandang cacat. h. EOD (Explosive Ordinance Disposal. susunan. penggandengan Kendaraan Bermotor.Draft RPP 19 Juli 2010 b. BAB III PERSYARATAN TEKNIS DAN LAIK JALAN KENDARAAN BERMOTOR. Anti Personel Carrier (APC). KERETA GANDENGAN DAN KERETA TEMPELAN Bagian Kesatu Ketentuan Umum Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Paragraf 1 Persyaratan Teknis Pasal 8 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis. diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dan crane. loader. c. d. dan Commander Call Carrier. Kendaraan alat berat antara lain traktor. buldozer. dan/atau i. perlengkapan. Pasal 9 (1) Ketentuan mengenai persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 berlaku bagi setiap jenis kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf i untuk Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor. penempelan Kendaraan Bermotor. penggunaan. pemuatan. b. g. kecuali kendaraan khusus milik TNI dan Polri sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (5) huruf a dan huruf b. Security Barrier. karoseri. stoomwaltz. 9 . Kendaraan water canon. ukuran. (2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. excavator. forklift.

dapat menahan seluruh beban. tahan terhadap korosi. 10 . Pasal 11 (1) Setiap rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. d. dapat dilakukan melalui perhitungan-perhitungan teknis dengan menggunakan norma-norma teknologi yang telah baku. (2) Rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Kendaraan bermotor yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. sistem penerus daya. getaran dan goncangan kendaraan berikut muatannya. komponen pendukung. j. sistem roda-roda. b.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan terhadap: a. motor penggerak. baik dengan menggunakan peralatan uji konstruksi maupun uji jalan. sebesar jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan atau jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. g. c. rangka landasan. Penjelasan Ayat (1) Untuk mengetahui bahwa rangka landasan kendaraan bermotor memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. sistem pembuangan. c. d. sistem lampu dan alat pemantul cahaya. Pasal 10 Susunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a terdiri atas: a. dilengkapi dengan peralatan penarik yang dirancang khusus untuk itu. e. atau melalui uji konstruksi. b. f. c. i. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat. h. dilengkapi dengan alat pengait di bagian depan dan bagian belakang kendaraan bermotor. sistem rem. Pasal 12 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 harus dibubuhkan nomor rangka landasan. kecuali sepeda motor. sistem kemudi. b. sistem suspensi. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. dikonstruksi menyatu atau secara terpisah dengan badan kendaraan yang bersangkutan. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. penjelasan yang dimaksud dengan rangka landasan adalah rangka atau chassis atau landasan.

(4) Kendaraan bermotor jenis kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf e dapat menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang atau angkutan orang. (3) Untuk rangka landasan yang menyatu dengan badan kendaraan. 11 . konstruksi rangka landasan yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu rangka landasan dan mudah dilihat dan dibaca serta ditulis dalam bentuk embos ke dalam atau keluar. tata cara penomoran rangka landasan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. buku uji. untuk keperluan penulisan jati diri atau identitas kendaraan bermotor yang bersangkutan pada sertifikat regristasi. nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditempatkan pada bagian tertentu badan kendaraan secara permanen dan mudah dilihat serta dibaca. dan buku pemilik kendaraan bermotor. Oleh karena itu. maka setiap pembuat kendaraan bermotor melaporkan sistem penomoran dan lokasi penomoran rangka landasannya. Penjelasan Ayat (2) Nomor rangka landasan kendaraan bermotor harus dibubuhkan secara permanen dan tidak dapat dihapus selama kendaraan bermotor yang bersangkutan dioperasikan di jalan. surat tanda nomor kendaraan bermotor. (3) Kendaraan bermotor jenis mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf d harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang. Nomor rangka landasan kendaraan bermotor tersebut merupakan identitas atau jati diri kendaraan yang bersangkutan. konstruksi pengait kendaraan bermotor. Pasal 14 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis konstruksi rangka landasan. (2) Kendaraan bermotor jenis mobil penumpang dan mobil bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3) harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan orang. Penjelasan Ayat (3) Nomor rangka landasan yang dibubuhkan pada badan kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 13 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a. pada saat akan dibuat melalui karoseri kendaraan bermotor harus sesuai peruntukannya.

butir c. motor penggerak kendaraan bermotor yang digunakan untuk menarik kereta gandengan. motor penggerak dapat dihidupkan dari tempat duduk pengemudi. Pasal 16 (1) Pada setiap motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 5. bus tempelan dan bus gandengan selain sepeda motor. kereta tempelan. dan butir e tidak berlaku untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan tidak melebihi 25 (dua puluh lima) kilometer per jam pada jalan datar. motor penggerak yang digerakan oleh gabungan 2 (dua) jenis motor penggerak di atas. b.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB).Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 15 (1) Motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. f. perbandingan antara daya motor penggerak dan berat kendaraan khusus atau sepeda motor ditetapkan sesuai dengan kebutuhan lalu lintas dan angkutan serta kelas jalan. butir d. harus dibubuhkan nomor motor penggerak sesuai dengan peraturan perundangundangan.50 (empat koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. d. Penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan tidak melebihi 25 kilometer per jam adalah mengacu ke EEC No. penjelasan huruf a yang termasuk motor bakar adalah dengan bahan cair dan/atau gas. e. selain sepeda motor harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 4. 2002/24/EEC) (2) Motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam beberapa jenis : a.50 (lima koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. motor bakar. c. ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir b. motor penggerak kendaraan bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan. motor listrik.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). penjelasan yang dimaksud dengan motor penggerak sama dengan mesin atau engine 12 . mempunyai daya untuk dapat mendaki pada jalan tanjakan dengan sudut kemiringan maksimum 8 (delapan derajat) dengan kecepatan minimum 20 (dua puluh) kilometer per jam pada segala kondisi jalan. b. c.

transmisi atau perseneling adalah sistem untuk meneruskan tenaga dari mesin ke roda dapat berupa : a. dan/atau c. (2) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. sistem penerus daya manual. penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan pipa pembuangan tidak boleh melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor adalah untuk menghindari terjadinya pusaran-pusaran (turbulensi) yang dapat mengakibatkan masuknya asap atau gas buang ke ruang penumpang. Pasal 18 (1) Sistem penerus daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf d harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi. ke belakang atau ke sisi kanan di sebelah belakang ruang penumpang dengan sudut kemiringan tertentu terhadap garis tengah kendaraan bermotor yang menjamin keselamatan. 13 . e. sistem penerus daya otomatis. diarahkan ke arah kanan bagian depan ruang pengemudi. arah pipa pembuangan harus dibuat dengan posisi yang tidak mengganggu pengguna jalan lain. gas buang dan asap dari sistem pembuangan kendaraan bermotor kecuali sepeda motor diarahkan ke atas. f. dan pipa pembuangan. pipa pembuangan tidak melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor. asap dari hasil pembuangan tidak boleh mengarah pada tangki bahan bakar atau roda pada sumbu belakang kendaraan. Pasal 17 (1) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c sekurangkurangnya terdiri atas manifold. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan pengguna jalan lain adalah termasuk orang yang sedang berdiri atau berjalan di pinggir jalan. gear box. sistem penerus daya kombinasi otomatis dan manual. termasuk dalam hal ini pipa pembuangan yang tidak boleh terlalu pendek). d. sistem pembuangan kendaraan pengangkut bahan yang mudah terbakar. b. dan untuk mobil bus diarahkan ke arah belakang pada sisi kanan. c. peredam suara. dirancang dan dibuat dari bahan yang cukup kuat sehingga memenuhi ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. b.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu motor penggerak dan mudah diidentifikasi dalam bentuk embos ke dalam atau keluar atau dalam bentuk lain. Penjelasan ayat (1) Yang dimaksud dengan sistem penerus daya.

disesuaikan dengan kelas jalan yang dilalui. dikaitkan dengan tekanan kerja ban. Sepeda Motor. Sumbu-sumbu roda kendaraan bermotor. atau kereta tempelan yang dirancang dan dibuat untuk mengangkut beban tertentu sebesar jumlah berat yang diperbolehkan ternyata beban pada masing-masing sumbu tunggalnya melebihi kemampuan kelas jalan yang akan dilalui. sumbu roda. kereta gandengan dan kereta tempelan harus dihitung dan dirancang atau dibuat sedemikian rupa sehingga mampu memikul beban dinamis kendaraan sebesar jumlah berat yang diperbolehkan (JBB). dan tingkat keausan serta kerusakannya. cara pemasangan. baik dengan atau tanpa kereta samping. Dengan demikian maka dapat diketahui secara pasti. Penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan ban bertekanan adalah ban yang berongga yang dapat diisi dengan gas. 14 . Pasal 19 (1) Sistem roda-roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf e terdiri atas : a. kapan ban-ban dan pelek-pelek tersebut boleh digunakan pada kendaraan dan kapan tidak boleh digunakan lagi. Sepeda Motor beroda tiga yang roda-rodanya dipasang semetris terhadap bidang tengah arah memanjang. roda-roda. (3) Keharusan untuk melengkapi sistem penerus daya yang memungkinkan kendaraan bermotor dapat bergerak mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk : a. besarnya beban yang diperbolehkan untuk masing-masing ukuran ban. kereta gandengan dan kereta tempelan. Penjelasan ayat (3): Dalam hal kendaraan bermotor. (4) Ukuran roda berupa pelek dan ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang digunakan pada kendaraan bermotor harus memiliki ukuran dan kemampuan yang disesuaikan dengan Jumlah berat kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan. dan b. maka kendaraan tersebut harus dikonstruksi dengan menggunakan sumbu ganda atau lebih. baik pada jalan kering maupun jalan basah. b. Untuk dapat memberikan jaminan keselamatan secara teknis terhadap penggunaan ban-ban dan pelek-pelek pada kendaraan bermotor. berupa pelek dan ban bertekanan serta sumbu-sumbu atau gabungan sumbu dan roda yang dapat menjamin keselamatan. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram).Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Sistem penerus daya sebagai dimaksud pada ayat (1) harus memungkinkan kendaraan bermotor bergerak maju dengan satu atau lebih tingkat kecepatan dan memungkinkan bergerak mundur. (3) Ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki adesi yang cukup. (2) Roda-roda sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. kereta gandengan.

pembuatan dan pemasangan batang kemudi dan roda kemudi tidak menimbulkan bahaya bagi pengemudi. Pasal 22 (1) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf g meliputi: a. dan kereta tempelan. (2) Kendaraan bermotor. penjelasan ayat (1) Kemajuan teknologi memungkinkan banyaknya jenis sistem suspensi yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor. batang kemudi. Jenis penyangga antara lain berupa pegas daun. penyangga hidrolis. penjelasan ayat (3): 15 . Oleh karena itu. b. harus menggunakan sumbu dan roda yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap jalan. kereta gandengan dan kereta tempelan baru.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (4) Tidak diperbolehkan mengganti roda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kereta gandengan. Pasal 21 Sistem suspensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf f berupa penyangga yang mampu menahan beban. roda kemudi atau stang kemudi. mobil bus. dan b. (3) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Roda kemudi digunakan untuk mobil penumpang. sedangkan stang digunakan untuk sepeda motor roda dua atau roda tiga. perancangan. (2) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. yang tidak sesuai dengan ukuran Pasal 20 (1) Rancangan sumbu dan roda dan/atau gabungan sumbu dan roda berikut rodarodanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). mobil barang dan kendaraan khusus. Namun demikian. belum tentu seluruh jenis sistem suspensi tersebut cocok untuk digunakan di Indonesia. dan penyangga pneumatis. dapat dilengkapi dengan tenaga bantu untuk dapat membantu pengemudi dalam mengendalikan kendaraan. untuk kepentingan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dapat ditetapkan jenis-jenis suspensi berupa penyangga yang boleh digunakan di Indonesia. dapat digerakkan dengan tenaga yang wajar. penjelasan ayat (1) : sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. harus memperhatikan kelas jalan yang akan dilalui. sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan.

Pasal 23 Sistem rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf h berupa peralatan pengereman yang meliputi : a. rem parkir. dalam hal ada bagian rem utama yang tidak berfungsi. Sistem kemudi yang dilengkapi dengan tenaga bantu harus dapat menurunkan kinerjanya seakan – akan tidak dilengkapi dengan alat bantu apabila kendaraan bermotor tersebut bergerak dengan kecepatan meningkat yang tidak sesuai dengan kecepatan normal. Pasal 26 Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 24 Kendaraan Bermotor dengan transmisi otomatis (automatic transmission) harus dilengkapi dengan sistem yang dapat menurunkan putaran mesin ke kondisi yang menjamin keselamatan pada saat dilakukan pengereman. penjelasan : yang dimaksud dengan menjamin keselamatan antara lain menggunakan alat yang mengembalikan putaran mesin dalam kondisi idle (brake to idle override). 16 . Pasal 25 Rem utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. rem utama ditempatkan dekat dengan pengemudi sehingga pengemudi dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kendaraan bermotor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi atau stang kemudi. rem parkir yang dikendalikan dari ruang pengemudi dan mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. tanjakan maupun turunan. rem tersebut harus dapat bekerja sekurang-kurangnya pada roda-roda yang bersebelahan pada satu sumbu dan dapat digunakan untuk memperlambat dan menghentikan kendaraan. dan b. b. c. bekerja pada semua roda kendaraan sesuai dengan besarnya beban pada masingmasing sumbu.Draft RPP 19 Juli 2010 Dengan ketentuan apabila tenaga bantu (power steering) tersebut tidak bekerja maka kendaraan bermotor tersebut harus tetap dapat dikemudikan dengan tenaga yang wajar. b. baik kendaraan bermotor yang berdiri sendiri maupun kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. rem utama. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi.

warna merah. pemantul cahaya berwarna merah secara berpasangan. d.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh lebih dekat ke sisi bagian terluar kendaraan dibandingkan dengan tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. Pasal 28 Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a. b. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. warna putih. h. b. lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan berwarna putih. e. atau kuning muda.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 27 Sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf i meliputi : a. warna kuning tua dengan sinar kelap-kelip. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada huruf a.kelip. dengan syarat : a. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. warna putih atau kuning muda. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. lampu rem. lampu posisi depan. lampu utama jauh. dipasang secara berpasangan berjumlah 2 (dua) buah dengan syarat : a.100 (dua ribu seratus) milimeter berwarna putih atau kuning muda untuk bagian depan dan berwarna merah untuk bagian belakang. dapat dilihat pada waktu siang atau malam hari oleh pengguna jalan lain. Pasal 29 Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b berjumlah genap. atau kuning muda. b. f.250 (seribu dua ratus lima puluh) millimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. k. i. lampu mundur dengan warna putih atau kuning muda kecuali untuk sepeda motor. lampu tanda batas secara berpasangan untuk kendaraan bermotor yang lebarnya lebih dari 2. lampu posisi belakang. Pasal 30 Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf c berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip. dengan syarat : a. lampu penunjuk arah. 17 . j. g. warna putih. lampu utama dekat. warna merah. c. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. lampu isyarat peringatan bahaya berwarna kuning tua dengan sinar kelap .

dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. diperbolehkan menggunakan 1 (satu) lampu rem tambahan.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan diukur pada ujung bagian atas lampu. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. dapat bersatu dengan lampu utama dekat. 18 . dipasang di bagian depan.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. penjelasan huruf c : yang dimaksud dengan lampu rem tambahan yaitu antara lain seperti hi-mount stop lamp yang dipasang di bagian dalam kaca belakang. Pasal 31 Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf d berjumlah sekurangkurangnya 2 (dua) buah.100 mm berbentuk vertical Lampu dengan susunan vertical. dan harus dapat dilihat pada malam serta tidak menyilaukan pengguna jalan lain. Ketentuan UN-ECE R48 INSTALLATION OF LIGHT MAXIMUM HEIGHT 2. b. mempunyai kekuatan cahaya lebih besar dari lampu posisi belakang dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. Pasal 33 Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf f berjumlah genap. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan. c. dengan syarat : a. c. dan d. c. Catatan : Sesuai dengan Ergonomis posisi mata pengendara melihat ketinggian lampu.100 mm Susunan lampu dengan ketinggian maksimum 2. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. dengan syarat : a.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dan harus dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pengguna jalan lainnya. tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan.Draft RPP 19 Juli 2010 b. berjumlah sekurang-kurangnya 2 (dua) berpasangan pada bagian muka kendaraan dan 2 (dua) berpasangan pada bagian belakang kendaraan.500 (seribu lima ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian muka kendaraan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. b. di spoiler belakang kendaraan dan sebagainya). dengan syarat : a. d. lampu paling atas adalah lampu posisi Pasal 32 Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf e berjumlah 2 (dua). b.

c. Pasal 37 Lampu tanda batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf j secara berpasangan bagi kendaraan yang memiliki lebar lebih dari 2. hanya menyala apabila penerus daya digunakan untuk posisi mundur. tepi bagian terluar pemantul cahaya tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. berbentuk segitiga untuk kendaraan gandengan dan tempelan. c. b.500 (seribu lima ratus) milimeter. d. dilengkapi tanda bunyi mundur untuk kendaraan dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. Pasal 39 (1) Kendaraan bermotor dapat dilengkapi dengan lampu kabut yang berjumlah paling banyak 2 (dua) buah dipasang di bagian depan kendaraan.200 (seribu dua ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. d. dan b.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 34 Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf g berjumlah 2 (dua). dengan syarat : a. dipasang di bagian belakang kiri atas dan kanan atas kendaraan. dipasang di bagian belakang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor kendaraan pada malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang – kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. Pasal 35 Lampu penerangan tanda nomor Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf h. 19 .100 (dua ribu seratus) milimeter. b. Pasal 36 Lampu isyarat peringatan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf i menggunakan lampu penunjuk arah yang menyala secara bersamaan dengan sinar kelap-kelip. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. Pasal 38 Alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf k dipasang secara berpasangan dengan syarat : a. harus dapat dilihat oleh pengemudi kendaraan lain yang berada di belakangnya pada malam hari dengan cuaca cerah dari jarak sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter apabila pemantul cahaya tersebut disinari lampu utama kendaraan dibelakangnya. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain. dengan syarat : a.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. dipasang di bagian depan kiri atas dan kanan atas kendaraan. dipasang di bagian belakang kendaraan bermotor pada ketinggian tidak melebihi 1.

sekurang-kurangnya berjumlah satu buah dipasang di bagian kaca depan. d. dilengkapi alat penyemprot kaca. c. tepi terluar permukaan penyinaran lampu kabut tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. Pasal 42 Pengukur kecepatan (speedometer) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a. d. yang terpasang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pandangan samping dan belakang dengan jelas. dan bumper kecuali sepeda motor. dibuat dari kaca atau bahan menyerupai kaca. berjumlah dua buah atau lebih. harus memenuhi persyaratan : a. pengukur kecepatan (speedometer). spakbor. b. dengan syarat : a. Pasal 41 Komponen pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf j meliputi : a. e. 20 . c. titik tertinggi permukaan penyinaran tidak melebihi titik tertinggi permukaan penyinaran dari lampu utama dekat. harus memenuhi syarat : a. kaca spion. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. digerakkan secara mekanis dan/atau elektronis. Pasal 40 Ketentuan lebih lanjut mengenai lampu – lampu kendaraan bermotor dan pemantul cahaya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. f. Pasal 44 (1) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c. (2) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu membersihkan bagian kaca depan dengan cukup luas sehingga pengemudi mempunyai pandangan yang jelas ke jalan. penghapus kaca kecuali sepeda motor. klakson. dilengkapi dengan pengukur jarak dan dipasang pada tempat yang mudah dilihat oleh pengemudi. b.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Lampu kabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengeluarkan cahaya berwarna putih atau kuning. b. Pasal 43 Kaca spion kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b. b. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain pada saat digunakan. berupa alat pengukur kecepatan mekanis dan/atau alat pengukur kecepatan elektronis. c.

dipasang di depan dan belakang untuk mobil penumpang. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang kendaraan. b. mobil bus dan mobil barang berbentuk tangki. harus memenuhi persyaratan: a. harus mengeluarkan bunyi paling rendah 83 (delapan puluh tiga) desibel (A) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A). e. pembuka roda. Pasal 47 (1) Bumper sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf f. sabuk keselamatan. d. Pasal 46 (1) Spakbor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf e. dongkrak. peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan. dipasang di depan untuk mobil barang. c. b. helm dan rompi pemantul cahaya bagi pengemudi Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih yang tidak memiliki rumah-rumah. 21 . segitiga pengaman.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 45 Klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf d. Pasal 49 Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf b terdiri atas: a. f. (2) Bumper depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menonjol ke depan lebih dari 500 mm (lima ratus milimeter) melewati bagian badan kendaraan yang paling depan. ban cadangan. harus memiliki lebar paling sedikit selebar telapak ban. ataupun badan kendaraan. dan g. Pasal 48 Ketentuan lebih lanjut mengenai komponen pendukung diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. catatan : tingkat suara paling rendah 83 (delapan puluh tiga) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A) akan diatur lebih lanjut sesuai dengan kategori kendaraannya.

22 . b. Lampu flashing (Strobo) / direct ional flashing lamp yaitu lampu peringatan khusus yang memancarkan cahaya kedap-kedip dengan arah sudut tertentu (Kategori X). (6) Panjang lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b tidak boleh melebihi lebar kabin kendaraan. Penjelasan : Pemasangan lampu tersebut dapat dipasang secara permanen maupun dapat dipindah-pindahkan (4) lampu isyarat sebagaimana pada ayat (2) huruf b dan c dipasang dibagian atas kabin kendaraan pada sumbu horizontal sejajar dengan bidang median longitudinal kendaraan. dalam keadaan darurat dapat mengeluarkan suara “whooping” Pasal 52 (1) Lampu isyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 terdiri atas warna : a. Pasal 51 (1) Untuk kepentingan tertentu. c. merah. b.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 50 Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas. b. Rotasi atau stasioner yaitu lampu peringatan khusus yang berkedip dengan memancarkan cahaya di sekeliling sumbu vertikal (Kategori T). Bar Lengkap (complete bar) yaitu lampu peringatan khusus dengan dua atau lebih sistem optik yang memancarkan cahaya berkedip di sekeliling sumbu vertikal. posisi lampu yang berbentuk batang memanjang harus terpasang melintang dan diletakkan diatas atap kendaraan bagian luar. terlihat di siang hari dari jarak sedikitnya 200 (dua ratus) meter dari segala arah. (7) sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. dapat mengeluarkan suara “hee – haw”secara terus menerus seperti suara meratap. Catatan : Refrensi UN-ECE R65 (3) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dipasang dibagian atas kabin kendaraan sedemikian rupa sehingga dapat memancarkan cahaya secara efektif. (5) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. Kendaraan Bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene. (2) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a.

dipasang sedemikian sehingga tidak ada benda atau peralatan lain yang mengganggu fungsinya. paling sedikit berjumlah 3(tiga) jangkar untuk tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang paling pinggir di samping pengemudi serta paling sedikit berjumlah 2 (dua) jangkar untuk tempat duduk penumpang lainnya. ambulans. c. dan c. biru. dan c. (4) Penggunaan lampu isyarat dan sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) sebagai berikut: a. kepala pengunci harus dapat dioperasikan dengan mudah. pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 54 (1) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf a wajib dipasang di tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang di samping tempat duduk pengemudi. (2) Sabuk keselamatan dapat dipasang di tempat duduk penumpang selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 53 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan lampu isyarat dan sirene diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. palang merah. 23 . pemadam kebakaran. perawatan dan pembersihan fasilitas umum. (3) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan jenazah. dan angkutan barang khusus.Draft RPP 19 Juli 2010 b. b. harus memenuhi persyaratan : a. kuning. (2) Lampu isyarat warna merah atau biru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) berfungsi sebagai tanda Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama. rescue. tidak mempunyai tepi-tepi yang tajam yang dapat melukai pemakai. menderek Kendaraan. (3) Lampu isyarat warna kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berfungsi sebagai tanda peringatan kepada Pengguna Jalan lain. lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor tahanan. d. lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor patroli jalan tol. b. pengawalan Tentara Nasional Indonesia. lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

(2) Segitiga pengaman berwarna merah dan bersifat memantulkan cahaya (reflektif). kapas. Pasal 58 Pembuka roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf e harus mampu membuka roda kendaraan bermotor yang digunakan dan tidak merusak komponen yang ada pada roda. memiliki ukuran lebar tapak yang berbeda dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut tetapi memiliki diameter keseluruhan sama. atau b. c. Pasal 57 Dongkrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf d paling sedikit harus mampu mengangkat muatan sumbu sesuai dengan muatan sumbu terberat kendaraan bermotor yang digunakan. plester. wajib dilengkapi dengan helm sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pengemudi dan penumpangnya. (2) Rompi pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus mampu memantulkan cahaya. Pasal 60 Peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf g paling sedikit terdiri dari : a. d. b. 24 . Penjelasan : yang dimaksud dengan ban cadangan adalah ban yang bertekanan Ban cadangan yang dimaksud huruf b hanya untuk digunakan sementara waktu (temporary spare tire) dan dilengkapi pemberian informasi dalam bahasa Indonesia (kecepatan max 60 km/jam pada sisi bagian luar pelek dan warna pelek temporary spare tire dapat berbeda dengan pelek pada ban normal (UNECE R 64) Pasal 56 (1) Segitiga pengaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf c minimal berjumlah 2 (dua) buah. obat antiseptic. kuat dan tahan terhadap cuaca tertentu. (3) Setiap sepeda motor dengan atau tanpa kereta samping. memiliki ukuran yang sama dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut. kain kassa (Perban).Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 55 Ban cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. Pasal 59 (1) Helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

bukan berarti semua kendaraan boleh memiliki lebar maksimum 2. 12. e. 2. jarak bebas (ground clearence) antara bagian permanen paling bawah kendaraan bermotor dengan permukaan bidang atau jalan yang rata. (2) Panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang. 18. sedangkan yang menjulur ke depan dari sumbu paling depan. Pasal 62 Ukuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf c merupakan dimensi utama Kendaraan Bermotor yaitu panjang.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. 3. Penjelasan : walaupun lebar 2.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak lebih dari 1.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai perlengkapan kendaraan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 63 (1) Ukuran Kendaraan Bermotor. c. dan sudut pergi (departure angle).50 % (empat puluh tujuh koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya. Namun tidak termasuk kaca spion di bagian luar kendaraan bermotor.50 % (enam puluh dua koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya (wheel base). julur depan (front over hang). lebar.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan. handle bak muatan. lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter tergantung dari lebar chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan maksimal 50 milimeter ke kiri dan ke kanan Yang dimaksud dengan lebar maksimum adalah lebar terluar yang termasuk engsel-engsel. maksimum 62.700 (tiga belas ribu tujuh ratus) millimeter untuk mobil bus yang memiliki paling sedikit 3 (tiga) sumbu. d. maksimum 47. sudut pergi bagian belakang bawah kendaraan sekurang-kurangnya 8° (delapan derajat) diukur dari atas permukaan bidang atau jalan yang rata.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. dengan atau tanpa muatan harus memenuhi syarat: a. tinggi. 13. julur belakang (rear over hang). penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor adalah jarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat 25 . tinggi tidak melebihi 4.000 (delapan belas ribu) milimeter untuk Kendaraan Bermotor yang dilengkapi dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. b. panjang tidak melebihi : 1.000 (dua belas ribu) milimeter untuk kendaran bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan dan jenis mobil barang yang memiliki sumbu paling sedikit 4 (empat) sumbu.

bak muatan terbuka. lebar dan tinggi ukuran bak muatan harus sesuai dengan spesifikasi teknis kendaraan bermotor.50 %. Jumlah Berat yang diperBolehkan (JBB). (4) Tanda peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa tulisan yang mudah dilihat oleh pengemudi di dalam ruang pengemudi. bukan berarti semua kendaraan memiliki julur belakang 62. (2) Ukuran bak muatan mobil barang dengan atau tanpa muatan tergantung pada konfigurasi sumbu. Jumlah Berat yang diIzinkan (JBI). daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut. kelas jalan yang dilalui dan spesifikasi tipe landasan kendaraan bermotor.bak muatan tertutup.50 %. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang memiliki tinggi total lebih dari 3. jarak sumbunya dihitung dari jarak sumbu depan ke sumbu belakang yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor yang memiliki lebih dari satu steering axle maka yang merupakan sumbu terdepan adalah steering axle yang paling depan yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) untuk kereta tempelan adalah jarak yang dihitung dari king pin ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh yang dimaksud dengan jarak sumbu untuk kereta gandengan adalahjarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh walaupun panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang. (3) Bak muatan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. wajib dilengkapi dengan tanda peringatan mengenai tinggi kendaraan. tergantung dari panjang chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan bumper. 26 . harus memenuhi persyaratan antara lain: a. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk kendaraan bermotor dengan sumbu belakang tunggal 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) milimeter. b. c. Pasal 64 (1) Bak muatan mobil barang terdiri atas : a.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh kecuali untuk kendaraan 2 (dua) sumbu. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang kecuali untuk dump truck.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter. panjang. maksimum 62. dan b.

ukuran bak muatan harus ditentukan berdasarkan spesifikasi teknis Kendaraan Bermotor. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 milimeter pada sisi kiri dan kanan. Apabila tinggi dinding bak paling depan lebih rendah dari jendela kabin belakang maka harus dipasang teralis besi di jendela kabin tersebut. 27 . c. f. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk Kendaraan Bermotor dengan sumbu belakang tunggal adalah 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) millimeter.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. (4) Bak muatan tertutup sebagaimana dimakud pada ayat (1) huruf b. panjang dan lebar bak. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. tinggi bak muatan dihitung bedasarkan perbandingan daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut. kiri dan belakang paling atas. d. Kendaraan Bermotor untuk angkutan barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3. Penjelasan : Yang dimaksud tinggi bak muatan adalah tinggi bak yang dihitung dari lantai bak sampai dengan tinggi dinding sisi kanan. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang. b. e.Draft RPP 19 Juli 2010 Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 (seratus) milimeter pada sisi kiri dan kanan. d. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 milimeter pada sisi kiri dan kanan. Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan.

Draft RPP 19 Juli 2010 e. untuk Kendaraan Bermotor barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan; tinggi bak muatan tertutup diukur dari permukaan tanah maksimum 4.200 mm (empat ribu dua ratus milimeter) dan tidak lebih dari 1,7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan bermotor. Pasal 65 (1) Jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk Kendaraan Bermotor, atau rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan atau kereta tempelan ditentukan oleh pembuatnya berdasarkan : a. perhitungan kekuatan konstruksi; b. besarnya daya motor; c. kapasitas pengereman; d. kemampuan ban; e. kekuatan sumbu-sumbu; f. ketinggian tanjakan jalan. (2) Jumlah berat yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus lebih kecil atau sama dengan hasil penjumlahan dari kekuatan masing-masing sumbu. Pasal 66 (1) Jumlah berat yang diizinkan atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan pada setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan, ditentukan berdasarkan : a. berat kosong kendaraan; b. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau c. jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan; d. dimensi kendaraan dan bak muatan; e. titik berat muatan dan pengemudi; f. kelas jalan; g. jumlah tempat duduk yang tersedia, bagi mobil bus. (2) Jumlah berat kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan bagi kendaraan. (3) Jumlah berat kombinasi kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. Pasal 67 (1) Radius putar Kendaraan Bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 12.000 (dua belas ribu) milimeter.
28

f.

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Radius putar Kendaraan Bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 18.000 (delapan belas ribu) milimeter. Pasal 68 (1) Bagian Kendaraan Bermotor atau rangkaian Kendaraan Bermotor beserta muatan yang menonjol, maksimum 2.000 (dua ribu) milimeter dari sisi bagian terluar belakang kendaraan bermotor dan tidak melebihi kaca depan kendaraan bermotor. (2) Apabila muatan menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada ujung muatan ditambah lampu-lampu atau pemantul cahaya. (3) Panjang total kendaraan bermotor beserta muatan yang menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lebih dari ketentuan panjang total sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67. Pasal 69 Rangkaian Kendaraan Bermotor yang diizinkan dioperasikan di jalan, meliputi: a. Mobil Barang dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; b. Mobil Bus dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; c. Mobil Penumpang dengan kereta gandengan; d. Sepeda Motor dengan kereta gandengan. Pasal 70 Setiap Mobil Barang dengan atau tanpa Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki JBB atau JBKB lebih dari 12.000 (dua belas ribu) kilogram harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukan kendaraan bermotor berat. Pasal 71 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki panjang lebih dari 6.000 (enam ribu) milimeter, harus dilengkapi dengan pelat tanda gandengan atau tempelan yang memantulkan cahaya. (2) Pelat tanda gandengan atau tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan warna dasar kuning dengan warna tulisan hitam dengan bertuliskan kata gandengan. (3) Pelat belakang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada perisai kolong atau di tempat lain pada sisi belakang Kendaraan. Pasal 72 (1) Kendaraan Bermotor dengan pengemudi dalam kondisi tertentu dapat ditarik Kendaraan Bermotor lain. penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan kondisi tertentu antara lain mogok, kendaraan rusak, memindahkan kendaraan.

29

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Kendaraan Bermotor penarik harus dilengkapi dengan alat penarik yang kaku, apabila Kendaraan Bermotor yang akan ditarik memiliki JBB lebih dari 4.000 (empat ribu) kilogram dengan jarak antara kendaraan penarik dan yang ditarik tidak lebih dari 5 (lima) meter. (3) Kendaraan Bermotor tanpa pengemudi dapat ditarik dengan cara mengangkat dan menempatkan sumbu Kendaraan Bermotor dengan peralatan derek yang terpasang pada kendaraan bermotor penarik. (4) Kendaraan Bermotor yang ditarik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memiliki berat tidak lebih dari separoh berat kendaraan penarik, serta tidak lebih dari 750 (tujuh ratus lima puluh) kilogram. (5) Kendaraan Bermotor yang ditarik pada waktu malam hari harus menyalakan lampu isyarat atau memasang tanda yang dapat memantulkan cahaya, di bagian belakang. Pasal 73 Ketentuan lebih lanjut mengenai ukuran Kendaraan Bermotor, tanda kendaraan bermotor berat, tanda gandengan atau tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 74 Karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d merupakan badan kendaraan, antara lain kaca-kaca, pintu, engsel, tempat duduk, tempat pemasangan tanda nomor Kendaraan Bermotor, tempat keluar darurat dan tangga untuk Mobil Bus, dan perisai kolong untuk Mobil Barang. Pasal 75 Rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf e merupakan rancangan yang sesuai dengan fungsi: a. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang; atau b. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang. Pasal 76 Pemuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf f merupakan tata cara untuk memuat orang dan/atau barang. Pasal 77 Penggunaan sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf g merupakan cara menggunakan Kendaraan Bermotor sesuai dengan peruntukannya.

30

Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 78 Penggandengan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf h merupakan cara menggandengkan Kendaraan Bermotor dengan menggunakan alat perangkai. Pasal 79 Penempelan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf i dilakukan dengan cara : a. menggunakan alat perangkai; b. menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci; dan c. dilengkapi kaki-kaki penopang.

Paragraf 2 Persyaratan Laik Jalan Pasal 80 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan. (2) Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal Kendaraan Bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas: a. emisi gas buang; b. kebisingan suara; c. efisiensi sistem rem utama; d. efisiensi sistem rem parkir; e. kincup roda depan; f. suara klakson; g. daya pancar dan arah sinar lampu utama; h. radius putar; i. akurasi alat penunjuk kecepatan; j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat Kendaraan. Pasal 81 (1) Ketentuan mengenai persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) berlaku bagi setiap jenis Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf h untuk Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor. (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan terhadap: a. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat;
31

bekerja pada semua roda sepeda motor sesuai dengan besarnya beban pada masing-masing sumbu rodanya. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 kecuali huruf h. Bagian Kedua Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Sepeda Motor Pasal 82 (1) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) kecuali huruf i. Pasal 45. dan Pasal 59 ayat (3). harus pula dilengkapi dengan rem parkir. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. Pasal 16.Draft RPP 19 Juli 2010 b. apabila daya pengereman yang diperlukan dapat diperoleh dari rem yang terdapat pada sepeda motor yang bersangkutan. (3) Peralatan rem sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi syarat : a. Pasal 43. Pasal 84 (1) Keharusan melengkapi alat pengereman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) tidak berlaku untuk roda kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor. c. pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat dan memberhentikan sepeda motor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi. Pasal 46. Pasal 41 kecuali huruf c dan huruf f. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. (2) Sepeda Motor yang mempunyai roda tiga selain dilengkapi dengan peralatan pengereman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 18 sampai dengan Pasal 40. Pasal 15 kecuali ayat (1) huruf c dan huruf d. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). Pasal 11 kecuali ayat (1) huruf d. b. Pasal 83 (1) Sistem rem Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. Pasal 42. (2) Setiap Sepeda Motor roda dua atau roda tiga yang dipasang simetris terhadap sumbu tengah kendaraan yang membujur ke depan harus dilengkapi dengan peralatan pengereman pada roda belakang dan roda depan. Pasal 17 kecuali ayat (2) huruf c. 32 . Pasal 50. kecuali peralatan rem parkir tidak berlaku baik dengan atau tanpa kereta samping.

sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) meter ke depan Sepeda Motor. lampu rem. f. lampu posisi belakang. mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. e. lampu penunjuk arah secara berpasangan di bagian depan dan bagian belakang sepeda motor. berjumlah genap dengan sinar kelap-kelip berwarna kuning tua. lampu utama dekat. (2) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping selain dilengkapi dengan lampu (3) Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. lampu utama dekat harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. (6) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama jauh. maka (7) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. Catatan : Kendaraan bermotor roda 3 (tiga) harus memiliki 2 (dua) alat pemantul cahaya berwarna merah pada sisi belakang dan 2 (dua) warna putih pada sisi depan dan tidak berbentuk segitiga. apabila mampu mempunyai kecepatan melebihi 40 (empat puluh) km per jam pada jalan datar. d. (8) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dipasang secara 33 . sejajar di sisi kiri dan kanan bagian muka dan bagian belakang Sepeda Motor. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi lampu posisi depan. 1 (Satu) atau 2 (dua) pemantul cahaya berwarna merah yang tidak berbentuk segitiga. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan pada malam hari dengan cuaca cerah. paling banyak dua buah. b. lampu utama jauh harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. paling banyak dua buah. b. dan dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Rem parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 85 (1) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping harus dilengkapi dengan lampu- lampu dan pemantul cahaya yang meliputi : a. (4) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama dekat. lampu utama jauh. tanjakan maupun turunan. maka (5) Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan secukupnya pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter ke depan Sepeda Motor. c.

(3) Sepeda Motor yang mempunyai tiga roda dipasang secara simetris terhadap bidang sumbu Sepeda Motor yang membujur. Pasal 87 (1) Kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor roda dua. berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua) berwarna merah yang dapat dilihat pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya.Draft RPP 19 Juli 2010 (9) Jika Sepeda Motor mempunyai dua lampu posisi depan. (4) Jika lebar Sepeda Motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi 1. 34 . b. satu pemantul cahaya. Lampu rem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua). maka cukup dilengkapi dengan satu lampu utama dekat dan satu lampu utama jauh. lampu penunjuk arah yang dipasang di sisi kiri bagian depan dan belakang Sepeda Motor. d. dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor. Pasal 86 (11) (12) Selain dilengkapi dengan lampu-lampu dan pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor juga harus dilengkapi dengan satu lampu penerangan tanda nomor Kendaraan di bagian belakang. kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang yang dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. dan yang diperlakukan sebagai sepeda motor. (2) Lampu posisi depan dan lampu posisi belakang kereta samping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyala apabila lampu posisi belakang Sepeda Motor dinyalakan. lampu-lampu itu harus berdekatan sedekat mungkin. c. di bagian belakang dengan lampu posisi belakang. harus dilengkapi dengan lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). di bagian depan dengan lampu posisi depan. Penjelasan ayat (10) Yang dimaksud dengan lampu posisi belakang berjumlah paling banyak adalah 2 (dua) atau 1 (satu) kelompok yang berdekatan. (10) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e.300 (seribu tiga ratus) milimeter. harus dilengkapi : a. Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h.

35 . Pasal 89 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan Jenis Sepeda Motor diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bagian Keempat Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Bus Pasal 93 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80. Penjelasan : Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). Penjelasan .000 kg (tujuh ribu kilogram) dan Mobil Barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 12.000 (dua belas ribu) kilogram harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. Pasal 94 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. Bagian Ketiga Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Penumpang Pasal 90 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80.000 kg (tujuh ribu kilogram) harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. Pasal 91 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7. transmisi Pasal 92 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan jenis Mobil Penumpang diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7.000 (seribu) milimeter.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 88 Lebar kereta gandengan yang dapat ditarik oleh Sepeda Motor maksimum 1.

sekurangkurangnya : a. (2) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang sebanyak 15 (lima belas) orang atau lebih. dan 2. harus mempunyai sekurang-kurangnya : a. (5) Tangga pintu keluar/masuk penumpang yang dapat dilipat. jika pintu dibuka. yang lebarnya sekurang-kurangnya 650 (enam ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. jika muatannya tidak lebih dari 26 (dua puluh enam) penumpang. Pasal 96 (1) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang kurang dari 15 (lima belas) orang tidak termasuk pengemudi. 36 . Pasal 97 (1) Di samping pintu keluar/masuk penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. satu pintu lainnya ditempatkan pada dinding kiri dengan lebar sekurangkurangnya 550 (lima ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding.Draft RPP 19 Juli 2010 Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). (2) Jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dua pintu keluar dan/atau masuk untuk penum-pang. harus dikonstruksi sedemikian sehingga anak tangga selalu berada pada tempatnya secara kukuh dan memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). satu pintu harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).200 (seribu dua ratus) milimeter yang meliputi seluruh tinggi dinding. satu pintu keluar dan/atau masuk yang lebar-nya sekurang-kurangnya 1. atau b. terdiri dari : 1. setiap Mobil Bus harus pula mempunyai tempat keluar darurat pada kedua sisinya. harus mempunyai sekurangkurangnya satu pintu keluar dan/atau masuk penumpang pada dinding kiri bagian depan atau belakang. tidak termasuk pengemudi. 1 (satu) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. (3) Pintu keluar/masuk untuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus menjamin kemudahan penggunaannya dan tidak terhalang. transmisi Pasal 95 Ketentuan lebih lanjut mengenai kendaraan bermotor jenis Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (4) Anak tangga paling bawah dari pintu keluar atau masuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling tinggi 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter diukur dari permukaan jalan dan lebar sekurangkurangnya 400 (empat ratus) milimeter.

2 (dua) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. sekurang-kurangnya : a. jika pada dinding belakang terdapat pintu yang lebarnya paling sedikit 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. (5) Tempat keluar darurat berupa jendela harus meme-nuhi persyaratan : a. (3) Pada sisi kiri. 4 (empat) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya lebih dari 80 (delapan puluh) penumpang. 3 (tiga) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya antara 51 (lima puluh satu) dan 80 (delapan puluh) penumpang. untuk mobil bus yang tidak dilengkapi dengan tempat berdiri. c. memiliki lebar sekurang-kurangnya 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. mudah dibuka setiap waktu dari dalam.700 (seribu tujuh ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. Pasal 98 (1) Tempat keluar darurat diberi tanda dengan tulisan yang menyatakan tempat keluar darurat. 1. d. b. 37 .200 (seribu dua ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter disamakan dengan memiliki dua tempat keluar darurat. Pasal 99 (1) Setiap Mobil Bus dilengkapi lorong dengan lebar efektif 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter atau lebih yang membentang dari pintu masuk sampai ke setiap tempat duduk. mudah dan cepat dapat dibuka atau dirusak atau dilepas. dan penjelasan mengenai tata cara membukanya.Draft RPP 19 Juli 2010 b. d. b. sudut-sudut jendela yang berfungsi sebagai tempat keluar darurat tidak runcing. harus memenuhi persyaratan : a. memiliki ukuran minimum 600 (enam ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter dan apabila memiliki ukuran sekurang-kurangnya 1. (6) Tempat keluar darurat berupa pintu yang dipasang pada dinding samping kanan. (2) Tempat duduk di dekat tempat keluar darurat harus mudah dilepas atau dilipat. 1. (2) Tinggi atap bagian dalam kendaraan. tidak dirintangi oleh tongkat-tongkat atau jeruji pelindung. diukur 400 (empat ratus) milimeter dari dinding samping dalam kendaraan. jika muatannya antara 27 (dua puluh tujuh) dan 50 (lima puluh) penumpang. c. untuk mobil bus yang dileng-kapi dengan tempat berdiri. jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat diku-rangi dengan satu. (4) Tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa jendela dan atau pintu. b.500 (seribu lima ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan.

(3) Ukuran lebar dan tinggi efektif pintu masuk dan atau keluar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 100. Pasal 102 Setiap Mobil Bus sekolah pada sisi luar bagian depan dan belakang.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 100 Jumlah tempat duduk dan tempat berdiri di dalam Mobil Bus umum. dipasang suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan bus sekolah. Pasal 101 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 105 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk mobil bus sekolah diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 104 (1) Pintu masuk dan atau keluar Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan anak tangga. harus jelas dinyatakan dengan suatu tulisan yang ditempatkan di dalam Mobil Bus sehingga jelas kelihatan oleh awak dan penumpangnya. (2) Jarak antara anak tangga yang satu dengan lainnya paling tinggi 200 (dua ratus) milimeter dan jarak antara permukaan tanah dengan anak tangga terbawah paling tinggi 300 (tiga ratus) milimeter. Pasal 103 (1) Setiap Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan lampu berwarna merah di bawah jendela belakang yang berfungsi memberi tanda bahwa mobil bus sekolah tersebut berhenti. dilengkapi suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan berhenti jika lampu merah nyala dipasang di bawah jendela belakang. 38 . (2) Mobil bus sekolah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

(2) Ketentuan mengenai keharusan melengkapi rem yang dapat menjalankan dua fungsi sebagaimana dimaksud alam ayat (1) tidak berlaku untuk kereta tempelan satu sumbu yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan tidak melebihi 750 kg (tujuh ratus lima puluh kilogram). Pasal 108 (1) Rem utama kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) huruf a. Rem parkir tersebut harus dilengkapi dengan alat pengunci mekanis). 39 . Rem utama tersebut harus dapat bekerja secara serempak atau hampir bersamaan pada setiap roda pada rangkaian kendaraan bermotor). Pasal 107 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan. rem utama yang memungkinkan pengemudi dari tempat duduknya dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kereta gandengan atau kereta tempelan secara bersama-sama atau hampir bersamaan dengan kendaraan bermotor penariknya. rem parkir yang mampu menahan posisi kereta gandengan atau kereta tempelan berhenti pada jalan datar. baik dalam keadaan tanpa muatan maupun dengan muatan sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. Penjelasan huruf b : rem parkir harus dapat berfungsi secara baik pada semua kondisi jalan bila kendaraan bermotor yang bersangkutan dimuati sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. yaitu : a. harus dilengkapi dengan rem yang dapat menjalankan dua fungsi. Penjelasan rem yang menjalankan dua fungsi pengereman dalam ketentuan ini dapat mempunyai bagian-agian yang merangkap dan bekerja pada semua roda). harus dilengkapi dengan peralatan yang dapat bekerja secara otomatis menghentikan kereta gandengan apabila alat perangkai putus/terlepas dari kendaraan penariknya. b. penjelasan huruf a: rem utama dalam ketentuan ini harus mampu mengendalikan kecepatan dan memberhentikan rangkaian kendaraan bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. tanjakan maupun turunan.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kelima Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Barang Pasal 106 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Barang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sampai denga Pasal 80.

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan yang jarak sumbu rodanya kurang dari satu meter dengan jumlah berat yang diperbolehkan tidak lebih dari 1. alat pemantul cahaya berwarna putih yang tidak berbentuk segitiga secara berpasangan. lampu penunjuk arah secara berpasangan. Pasal 110 Kereta Gandengan dan Kereta Tempelan wajib dilengkapi dengan lampu-lampu dan alat pemantul cahaya yang meliputi : a. pada masing-masing roda setiap sumbu rangkaian Kendaraan. (2) Bekerjanya rem utama harus tersebar dan bekerja hampir bersamaan secara baik. lampu rem secara berpasangan. lampu posisi depan secara berpasangan. Pasal 111 (1) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf a. lampu penerangan tanda nomor kendaraan di bagian belakang kendaraan. alat pemantul cahaya berwarna merah. berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip berwarna kuning tua serta dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. Pasal 109 (1) Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang dirangkaikan dengan Kendaraan Bermotor dalam satu rangkaian Kendaraan. lampu posisi belakang secara berpasangan. c. berbentuk segitiga secara berpasangan. apabila lebar kereta gandengan lebih dari 800 (delapan ratus) milimeter. harus memiliki peralatan pengereman yang bersesuaian. misalnya apabila kendaraan bermotor penariknya menggunakan alat pengereman dengan sistem udara. apabila sisi terluar kereta gandengan melampaui tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang kendaraan penariknya.500 kg (seribu lima ratus kilogram) dan/atau kereta gandengan yang ditarik oleh kendaraan bermotor penarik yang dirancang untuk kecepatan maksimum kurang dari 20 km/jam (dua puluh kilometer per jam). atau jika kendaraan bermotor penariknya menggunakan sistem rem hidrolis. maka sistem rem yang digunakan pada kendaraan yang ditarik juga sistem udara. f. maka kendaraan yang ditarik harus menggunakan sistem rem hidrolis pula). g. lampu mundur secara berpasangan. e. Penjelasan ayat (1) yang dimaksud dengan bersesuaian adalah penggunaan sistem pengereman yang bersesuaian antara kendaraan bermotor penarik dengan kendaraan yang ditarik. (2) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan dan belakang Kereta Gandengan. b. h. 40 . d.

berjumlah dua buah berwarna merah yang kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang dan dipasang di sebelah kiri dan kanan bagian belakang Kereta Gandengan. Pasal 113 (1) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf c. (2) Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya menyala apabila alat penerus daya digunakan pada posisi mundur. Pasal 116 (1) Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf f.kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan dengan ukuran kecil yang posisinya dalam keadaan ditarik tidak menutupi lampu rem dari kendaraan penariknya. (3) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. dilengkapi satu buah atau lebih lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berjumlah dua buah dan berwarna putih. Pasal 115 Lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor bagian belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf e.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 112 (1) Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf b. (2) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian depan kereta gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 150 (sertus lima puluh) milimeter. berjumlah dua buah berwarna putih atau kuning muda yang tidak menyilaukan atau mengganggu pemakai jalan lain. 41 . (2) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 400 (empat ratus) milimeter. Pasal 114 (1) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf d. berjumlah genap dan berwarna merah yang kelihatan pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. dipasang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor Kendaraan pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang .

mempunyai sifat-sifat fotometris yang sama. berjumlah genap berwarna merah dan berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisinya tidak kurang dari 150 (seratus lima puluh) milimeter dan tidak melebihi 200 (dua ratus) milimeter serta dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan. lampu penerangan tanda nomor Kendaraan. lampu posisi belakang. secara serentak. memenuhi persyaratan kalorimetris yang sama. (2) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilihat oleh pengemudi yang ada dibelakangnya pada waktu malam hari dalam cuaca cerah dari jarak 100 (seratus) meter apabila terkena sinar lampu utama kendaraan di belakangnya. dan lampu tanda batas. Pasal 120 (1) Lampu posisi depan. Pasal 119 Lampu-lampu yang berpasangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 harus memenuhi persyaratan : a. apabila lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan menyala. dipasang simetris terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. dipasang pada kendaraan dengan tinggi tidak melebihi 1. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku apabila lampu utama jauh sedang memberikan peringatan. berjumlah dua buah dan dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan kereta gandengan dengan jarak tidak melebihi 400 (emapt ratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. simetris dengan sesamanya terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. (3) Titik sudut terluar pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. d. c.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 117 (1) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf g. 42 . harus dapat dinyalakan atau dimatikan.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan. tidak melebihi 100 (seratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. atau lampu kabut yang dipasang pada kendaraan hanya dapat dinyalakan. Pasal 118 Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf h. e. (2) Lampu utama jauh atau lampu utama dekat. (4) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter dilengkapi satu buah atau lebih pemantul cahaya.

apabila rancangan alat pengangkat tersebut tidak menimbulkan lebih muatan pada salah satu sumbu kendaraan. cahaya berwarna merah ke arah depan. c. ketika sumbu yang lain berada dalam posisi diangkat.000 Kg (dua puluh ribu kilogram). diukur dari ujung paling belakang kereta tempelan. Pasal 126 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan harus menggunakan alat perangkai. Kereta Tempelan. Pasal 125 Peralatan hidrolis. b. cahaya kelap-kelip. (3) Alat perangkai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa alat perangkai (4) Apabila rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan alat perangkai otomatis. dipasang perisai kolong. 43 . selain lampu penunjuk arah dan lampu isyarat peringatan bahaya.000 milimeter diukur dari sisi terluar bagian belakang kereta gandengan atau kereta tempelan. Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang menyinarkan : a. Pasal 122 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan harus menggunakan alat perangkai. Pasal 123 (1) Setiap Kereta Tempelan dilengkapi dengan kaki-kaki penopang yang dipasang secara kukuh pada jarak lebih dari dua pertiga dari seluruh panjang kereta tempelan. otomatis dan bukan otomatis. cahaya berwarna putih ke arah belakang kecuali lampu mundur. dan/atau sumbu paling belakang berjarak lebih dari 1. hanya boleh digunakan pada rangkaian kendaraan yang memiliki jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan maksimum 20. pneumatis atau mekanis yang memungkinkan diangkatnya rodaroda dari tanah dapat digunakan sewaktu Kendaraan berjalan biasa. (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 121 Dilarang memasang lampu pada Kendaraan Bermotor. (2) Letak kaki penopang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak melebihi lebar Pasal 124 Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang tinggi ujung landasannya dan atau bagian belakang dan/atau bagian samping badannya berjarak lebih dari 700 milimeter di atas jalan.

yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik (tractor head) yang sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan penariknya dan memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) sumbu roda. yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik yang seluruh bebannya ditumpu oleh kereta gandengan itu sendiri dan memiliki sebanyak-banyaknya 2 (dua) sumbu roda. sistem kelistrikan pada kendaraan. GCW. Pasal 127 Kereta Gandengan yang tidak dilengkapi dengan rem otomatis wajib dilengkapi dengan alat tambahan berupa rantai. kukuh. dikonstruksi dengan gerakan terbatas dan dapat merangkaikan kendaraan bermotor penarik dengan Kendaraan yang ditarik dengan kukuh dan sempurna. kereta tempelan (semi trailer). dilengkapi dengan alat keselamatan yang layak untuk mencegah pemisahan yang tidak disengaja. b. 44 . sewaktu terjadi tubrukan atau sebagai akibat dari getaran kendaraan. Pasal 128 (1) Kereta gandengan dan kereta tempelan yang dirangkaikan dengan kendaraan bermotor penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor apabila : a. Pasal 129 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk rangkaian kendaraan. sistem pengereman. Kereta gandengan (full trailer). b. (2) Bus gandeng yang dirangkaikan dengan bus penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. kabel. c. atau alat sejenisnya yang dapat mencegah tongkat penarik menyentuh tanah dan memungkinkan kereta gandengan tersebut dihentikan apabila alat penariknya putus. sehingga dapat menahan seluruh berat kendaraan yang ditarik. Penjelasan : Yang dimaksud dengan kereta gandengan atau tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor Yang dimaksud dengan Kendaraan bermotor penarik adalah kendaraan bermotor yang memiliki perlengkapan untuk menarik. kereta gandengan dan kereta tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

c.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Keenam Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bagi Penyandang Cacat Pasal 130 (1) Kendaraan khusus penyandang cacat harus dirancang khusus yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu. kereta dorong. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus atau Mobil Penumpang yang digunakan sebagai angkutan umum wajib menyediakan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat. kereta. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a. terdiri atas : a. b. b. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. tempat naik dan turun penumpang yang dapat dioperasikan secara automatik maupun mekanik. (3) Fasilitas bagi penumpang penyandang cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi antara lain : a. b. tanda atau petunjuk bagi penyandang tunanetra. sepeda. BAB V KENDARAAN TIDAK BERMOTOR Bagian Kesatu Jenis Pasal 131 (1) Kendaraan Tidak Bermotor dikelompokkan dalam: a. 45 . (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. cikar. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. c. terdiri atas : a. delman. dan b. becak.

b. b.250 (lima ribu dua ratus lima puluh) milimeter.000 (enam ribu) millimeter.250 (dua ribu dua ratus lima puluh) milimeter. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. 3. panjang maksimum 2.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kedua Persyaratan Keselamatan Pasal 132 Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis sepeda tidak termasuk muatannya adalah : a. c. panjang maksimum 2.300 (dua ribu tiga ratus) millimeter.500 (seribu lima ratus) millimeter. 46 . (4) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis becak tidak termasuk muatan adalah : a. lebar maksimum 2. panjang maksimum 2.800 (seribu delapan ratus) millimeter. lebar maksimum 550 (lima ratus lima puluh) milimeter. panjang maksimum 2. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1. panjang maksimum 5. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1. panjang maksimum 6. 2.800 (dua ribu delapan ratus) millimeter.000 (dua ribu) milimeter.700 (seribu tujuh ratus) millimeter. 2.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. 3. b. Pasal 133 (1) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut orang tidak termasuk muatannya adalah : a. panjang maksimum 2. (2) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut barang tidak termasuk muatannya adalah : a. lebar maksimum 2. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1. b.700 (dua ribu dua tujuh ratus) millimeter.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. panjang maksimum 1. panjang maksimum 5.000 (lima ribu) millimeter.100 (dua ribu seratus) milimeter. 2. 2. lebar maksimum 1. lebar maksimum 1. lebar maksimum 2. (3) Untuk kepentingan angkutan pariwisata persyaratan kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik oleh hewan lebih dari 2 (dua) ekor diatur dengan Peraturan Daerah sesuai kebutuhan daerah masing – masing dengan tetap memperhatikan keselamatan berlalu lintas.500 (seribu lima ratus) millimeter. lebar maksimum 1. panjang maksimum 2. panjang maksimum 5. 3. (5) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong tidak termasuk muatannya adalah : a.400 (lima ribu empat ratus) millimeter. 3.

000 (dua ribu) millimeter. (6) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong yang ketinggiannya melebihi bahu orang yang mendorongnya. panjang maksimum 2. (2) Alat bantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memiliki lebar sekurang – kurangnya selebar telapak ban. 47 . penjelasan : yang dimaksud dengan alat bantu antara lain tali pengendali. diatur dengan Peraturan Daerah. mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke arah belakang atau badan kendaraan. harus memiliki sistem suspensi berupa penyangga yang mampu menahan beban.500 (dua aribu lima ratus) millimeter. b. harus dibuat sedemikian rupa sehingga tetap memiliki bidang pandang bagi pendorongnya untuk dapat melihat kedepan secara leluasa.Draft RPP 19 Juli 2010 b. becak dan kereta yang ditarik kuda harus dilengkapi dengan spakbor. Pasal 135 (1) Setiap kendaraan tidak bermotor jenis sepeda.getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan. panjang maksimum 2. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 136 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis sepeda dan becak harus dilengkapi dengan rem yang berfungsi dengan baik untuk mengendalikan kecepatan atau memperlambat dan menghentikan kendaraan. (2) Rem kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sekurang-kurangya dipasang pada roda penggerak kendaraan sesuai dengan besarnya beban. harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi tanpa mengganggu pengemudi dalam mengendalikan atau mengemudikan kendaraan. Pasal 138 Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan penggunaan kendaraan tidak bermotor. c. Pasal 137 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik dengan hewan harus dilengkapi dengan alat bantu yang berfungsi untuk memperlambat kecepatan kendaraan sebagai pengganti rem. Pasal 134 Setiap kendaraan tidak bermotor kecuali sepeda jenis kereta yang ditarik dengan hewan untuk angkutan barang atau kereta dorong atau tarik.

b. kendaraan bermotor kate gori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang. (2) Kategori jenis kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1). L2. kategori L5 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda simetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. Mobil bus masuk kategori M1. kendaraan bermotor. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi c. kereta gandengan. kategori L2 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda sembarang dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis ienaga penggeraknya 3. M2 dan M3. dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan wajib dilakukan pengujian sesuai dengan kategori jenis kendaraan bermotor. penjelasan huruf a kendaraan bermotor kategori L yaitu kendaraan beroda kurang dari empat 1. meliputi: a. Penjelasan ayat (1) Tujuan dilakukan pengujian adalah dalam rangka menjamin keselamatan. Sepeda motor masuk dalam kategori L1. kendaraan bermotor kategori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang 1. dan kereta tempelan yang diimpor. menjaga kelestarian lingkungan dan pelayanan umum. L3. Mobil penumpang masuk kategori M1. 2. kategori L4 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda asimetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya (sepeda motor dengan kereta) 5. kategori L1 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. L4 dan L5. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan 48 . kategori L3 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya 4.Draft RPP 19 Juli 2010 BAB VI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Umum Pasal 139 (1) Untuk memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.

kelas B untuk kendaraan bermotor tidak di desain untuk membawa penumpang berdiri. kategori M2 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 5 ton 3. kategori 03 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. kategori N2 adalahkendaraan bermotor yang digunaKan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. kendaraan pada kelas ini tidak diijinkan adanya penumpang berdiri d. O2. dan O4. kendaraan bermolor kategori M2 dan M3 dibedakan dalam kelas sebagai berikut: a. N2. kategori 01 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0. O3.5 ton 2. Kelas I untuk kendaraan bermotor yang dikonruksi untuk penumpang berdiri dan bergerak bebas b. kelas III untuk kendaraan bermotor yang di desain khusus untuk membawa penumpang duduk d.5 ton 3. kategori N1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 3.5 ton tetapi tidak lebih dari 12 ton 3.75 ton 2. O1. Mobil barang masuk kategori N1. kelas A untuk kendaraan bermotor di desain untuk membawa penumpang berdiri. kelas II untuk kendaraan bermotor yang pada prinsipnya dikonstruksi membawa penumpang duduk dan di desain untuk membawa penumpang berdiri di gang dan atau di daerah yang sudah disediakan tetapi luasnya tidak boleh lebih dari dua baris tempat duduk untuk dua orang c. kategori 02 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0.5 ton tetapi tidak lebih dari 10 ton 49 .Draft RPP 19 Juli 2010 orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi 2. kendaraan pada kelas ini memiliki tempat duduk dan memungkinkan penumpang berdiri e. penjelasan huruf d : kendaraan bermotor kategori N adalah kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan barang 1.75 ton tetapi lebih dari 3. N3. kategori M3 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 5 ton 4. kategori N3 adalah kendaraari bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 12 ton kategori O kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel 1.

Draft RPP 19 Juli 2010 4. tenaga penguji yang memiliki sertifikat kompetensi penguji kendaraan bermotor. uji berkala. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik. beban vertikal statis kecil. serta sistem dan prosedur pengujian. Pasal 140 (1) Pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang memiliki : a. Kendaraan khusus tidak masuk dalam kategori pengujian. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian. Kendaraan bermotor penarik untuk kategori O2. fasilitas prasarana dan peralatan pengujian. atau beban tidak lebih dari 10.000 N dibebankan pada kendaraan penarik. keakurasian peralatan pengujian. kategori 04 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah benat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 10 ton. dan b. uji tipe. N atau O untuk angkutan penumpang atau barang dan diperlukan pembuatan bodi khusus dan / atau perlengkapannya untuk menunjang fungsi khusus tersebut sumber : SNI dan UN ECE (3) Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. b. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik 3. 2. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik e. 50 . kategori khusus kendaraan bermotor khusus kendaraan bermotor kategori M. tidak lebih dari 10% berat makstmum kereta gandengan. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. O3 dan dibedakan menjadi tiga tipe sebagai berikut: 1. gandengan sumbu tengah (Centre-exle trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik yang dilengkapi dengan alat penarik yang tidak dapat bergerak vertikal (terhadap kereta gandengan) dan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dekat dengan pusat gravitasi kendaraan (terbebani merata).

51 . Bagian Kedua Uji Tipe Paragraf 1 Umum Pasal 141 (1) Uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf a terdiri atas : a. Pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan kendaraan bermotor dan kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. bak muatan. kereta tempelan. nomor dan tipe motor penggerak. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. mengkalibrasi secara berkala dan mengoperasikan seluruh peralatan uji secara baik dan benar. dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi tipenya (2) Uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh unit pelaksana uji tipe yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Paragraf 2 Pengujian Fisik Pasal 142 (1) Pengujian tipe melalui Pengujian fisik terhadap persyaratan teknis dilakukan melalui pemeriksaan persyaratan teknis secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. kereta gandengan. dan b. b. (3) Pembinaan dan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memelihara. Penjelasan ayat (2) Yang dimaksud dengan mengkalibrasi secara berkala yaitu dapat dilakukan sendiri maupun yang dilakukan oleh institusi lain yang mempunyai kewenangan untuk melakukan kalibrasi untuk menjamin keakurasian alat uji yang digunakan dan waktunya disesuaikan dengan spesifikasi teknis masing – masing peralatan. Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang dilakukan terhadap rumah – rumah. (2) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap landasan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a.

kebocoran sistem rem. m. h. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. keberadaan dan kondisi ban cadangan. serta kondisi ban. kondisi tangki bahan bakar. kondisi dan posisi pipa pembuangan. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. j. kondisi badan kendaraan. i. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kondisi spakbor. h. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. i. 52 . kondisi kaca spion bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. bentuk bumper. kebocoran sistem rem. serta kondisi ban. d. dongkrak. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. (3) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. keberadaan dan kondisi ban cadangan. e. pipa saluran bahan bakar. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. d. j. alat pembuka roda. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. c. n. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. e. m. segitiga pengaman. nomor dan tipe motor penggerak. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. f. b. kondisi tangki bahan bakar. pipa saluran bahan bakar. dan tempat duduk. g. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). l. bentuk bumper bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. k. l. kondisi dan posisi pipa pembuangan. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. f.Draft RPP 19 Juli 2010 c. engsel. corong pengisi bahan bakar. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. segitiga pengaman. kaca-kaca bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. n. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. k. kondisi kaca spion. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. dongkrak. corong pengisi bahan bakar. g. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). p. o.

kondisi rem parkir. p. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. tempat duduk. d. serta kondisi ban. kebocoran sistem rem. g. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kondisi badan kendaraan n. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. f. kondisi kaca spion. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. q. g. bagian dalam kendaraan. corong pengisi bahan bakar. c. h. l. c. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. dan tempat keluar darurat. j. nomor dan tipe motor penggerak. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. i. k. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. f. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. (6) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap meliputi : a. b. m. (4) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kondisi badan kendaraan. kaca-kaca. sudut bebas kemudi (speling steer). kondisi tangki bahan bakar. mengukur ukuran tempat duduk. kondisi rem utama baik di roda depan atau belakang. 53 . perisai kolong. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). engsel.Draft RPP 19 Juli 2010 o. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. d. mengukur dimensi utama kendaraan. kondisi spakbor. (5) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap landasan kendaraan bermotor meliputi : a. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. h. pipa saluran bahan bakar. b. e. e. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). kecuali untuk sepeda motor. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya.

g. uji radius putar. kondisi rem parkir. c. uji emisi gas buang.Draft RPP 19 Juli 2010 b. e. c. sekurang-kurangnya meliputi : a. mengukur dimensi utama kendaraan. e. f. uji rem utama dan rem parkir. d. h. f. kondisi penerus daya. uji rem utama dan rem parkir. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). e. j. i. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. dan tempat keluar darurat. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). f. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kondisi rem parkir. uji/pengukuran dimensi. fungsi klakson. i. (2) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. uji speedometer. d. uji emisi gas buang. sudut bebas kemudi (speling steer). j. uji lampu. g. c. uji tingkat suara klakson. c. fungsi klakson. uji tingkat suara klakson. (7) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor jenis sepeda motor meliputi : a. Pasal 143 (1) Pengujian laik jalan terhadap kendaraan bermotor dalam bentuk landasan (chassis engine atau cabin engine). yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. mengukur dimensi utama kendaraan. uji/pengukuran berat kendaraan. uji/pengukuran berat landasan. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). uji radius putar. sekurang-kurangnya meliputi : a. uji speedometer. bagian dalam kendaraan. mengukur ukuran tempat duduk. 54 . h. uji kincup roda depan. h. i. g. e. uji/pemeriksaan konstruksi. b. uji lain. uji kincup roda depan. b. b. d. uji lampu utama. d.

uji kebisingan. c. o. uji jalan/kemampuan jalan. perangkat elektronik pengendali kecepatan. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. m. n. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. selain harus memenuhi ketentuan uji persyaratan teknis dan laik jalan. teknologi kendaraan (3) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor. uji/pengukuran penghapus kaca depan. b. h. c. d. l. uji/pengukuran dimensi kendaraan bermotor. j. uji/pengukuran berat kendaraan bermotor. 55 . uji posisi roda depan. uji kebisingan. Pasal 144 Kendaraan bermotor yang menggunakan motor penggerak listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b. b. e. dan alat pengisian ulang energi listrik. i. uji emisi gas buang.uji prestasi/performansi. q. uji prestasi/performansi dan/ atau uji kemampuan jalan. uji rem. d. uji lampu utama. sekurang-kurangnya meliputi : a. uji lain. uji sabuk keselamatan. g. juga harus dilakukan pengujian terhadap unjuk kerja akumulator listrik. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). p. uji tingkat suara klakson. alasan tidak lulus uji. r. (2) Pernyataan penetapan hasil uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. item – item yang tidak lulus uji. yang disesuaikan dengan perkembangan bermotor. (3) Uji ulang hanya dilakukan terhadap tipe kendaraan bermotor yang memiliki nomor landasan/rangka dan/atau nomor mesin yang sama dengan yang dimiliki kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Draft RPP 19 Juli 2010 k. uji suspensi. uji speedometer. Pasal 145 (1) Dalam hal tipe kendaraan bermotor yang diuji tipe yang berkaitan dengan pengujian fisik dinyatakan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 143 dapat dilakukan uji tipe ulang. f.

56 . (7) Jika hasil uji tipe yang melalui pengujian fisik ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak lulus.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipungut biaya hanya terhadap item-item yang dinyatakan tidak lulus uji tipe kendaraan bermotor. k. m. apabila ada. i. nomor motor penggerak. pembuat dan/atau perakit. apabila ada. nomor rangka landasan. yang telah lulus uji tipe yang melalui pengujian fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 diberikan bukti lulus uji tipe oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. spesifikasi teknik varian. d. sertifikat uji tipe landasan dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk landasan kendaraan bermotor yang diuji tipe fisik dalam bentuk landasan. peruntukan. penanggung jawab perusahaan pengimpor. serta pemodifikasi. kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. serta pemodifikasi. varian. Pasal 147 (1) Sertifikat lulus uji tipe setiap kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146. n.spesifikasi teknik kendaraan bermotor. (6) Pemohon yang mengajukan uji ulang sebagaiman dimaksud pada ayat (4) diluar waktu dan tempat yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. l. nama perusahaan pengimpor. dianggap mengajukan permohonan baru. h. berupa : a. tipe kendaraan bermotor yang bersangkutan tidak dapat dilakukan uji ulang lagi dan apabila akan mengujikan kembali tipe kendaraannya. merek dan tipe. j. c. tahun pembuat/perakit/modifikasi. (5) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah pemohon menunjukkan dan memberitahukan secara tertulis mengenai perbaikan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. alamat perusahaan pembuat dan/atau perakit dan/atau pengimpor dan/atau pemodifikasi. harus memproses dari awal lagi sebagai permohonan baru. f. b. nomor sertifikat uji tipe. pembuat dan/atau perakit. b. jenis. g. sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. e. Pasal 146 Kendaraan bermotor. nomor sertifikat registrasi uji tipe. sertifikat uji tipe dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk kendaraan bermotor yang diuji tipe yang melalui pengujian fisik dalam keadaan lengkap.

dilakukan terhadap desain: a. berat kosong kendaraan bermotor. nama dan tanda tangan pejabat yang meregistrasi dan stempel. bak muatan. u. q. Paragraf 3 Penelitian Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor Pasal 149 Penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor. daya angkut orang dan/atau barang. d. t. pembuat dan/atau perakit. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. s. isi dan tata cara penerbitan sertifikat lulus uji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan. mesin. nama dan tanda tangan penanggung jawab perusahaan pengimpor. Penjelasan ayat (2) : Yang dimaksud dengan Unsur-unsur pengaman antara lain berupa hologram dan/atau water mark dan/atau invisible ink.Draft RPP 19 Juli 2010 o. b. penjelasan Pasal 151: 57 . Penjelasan huruf b. (4) Sertifikat lulus uji tipe yang telah diterbitkan atau disahkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Dalam kaitannya dengan sistem informasi data – data teknis yang terdapat didalam sertifikat lulus uji tipe dapat disimpan dalam bentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. tempat dan tanggal penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. kereta gandengan. Yang dimaksud dengan bak muatan adalah semua bentuk konstruksi bak muatan untuk angkutan barang yang bersifat padat. cair atau gas yang terpasang pada landasan kendaraan bermotor. (2) Sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat dari bahan yang memiliki unsur-unsur pengaman. kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe berupa dimensi. r. e. Pasal 148 Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk. dimensi bak muatan/tangki. p. serta pemodifikasi. w. rumah-rumah atau karoseri. berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. c. v. dan kemampuan daya angkut. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan. atau kuasanya yang distempel. kereta tempelan.

k. material. (3) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf c. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. sekurangkurangnya meliputi : a. pintu. bumper). g. sekurang-kurangnya meliputi : a. sabuk keselamatan dan tempat ban cadangan. i. ukuran dan susunan. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). bumper). ukuran dan susunan. konstruksi (kaca-kaca. konstruksi (engsel. bak muatan. konstruksi (kaca-kaca. c. perisai kolong. material. tangga penumpang (untuk mobil bus). Pasal 150 (1) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap rumahrumah atau karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf a. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). b. (4) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta tempelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf d. f. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. perisai kolong. kereta tempelan dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe. tempat keluar darurat. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. analisa dan penilaian terhadap desain teknis rumah-rumah. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). e. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. f. d. e. alat perangkai untuk mobil bus tempelan atau gandengan (termasuk penutup perangkai). material. d. e. f. bumper). (2) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap bak muatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf b. tempat duduk. b. j. engsel.Draft RPP 19 Juli 2010 yang dimaksud dengan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang akan dioperasikan di jalan adalah kegiatan pemeriksaan. g. pintu. c. 58 . ukuran dan susunan. kereta gandengan. h. b. alat perangkai. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). g. c. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. sekurang-kurangnya meliputi : a. h. d. sekurang-kurangnya meliputi : a. engsel.

ukuran dan susunan. f. bumper). engsel. (2) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan juga terhadap seri produksi karoseri kendaraan bermotor. d. perisai kolong. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). material. c. 59 . bumper).Draft RPP 19 Juli 2010 b. sekurang-kurangnya meliputi : a. atau dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri. Paragraf 4 Uji Sampel Pasal 152 (1) Uji sampel dilakukan sebagai jaminan kesesuaian spesifikasi teknik seri produksinya terhadap sertifikat uji tipe. dan kereta tempelan. rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor disahkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan menerbitkan surat Keputusan pengesahan rancang bangun dan rekayasa. konstruksi (kaca-kaca. alat perangkai. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. kaki penopang. serta dimodifikasi yang memiliki merek dan tipe sama. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. e. pintu. i. c. g. b. f. material. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. d. Pasal 151 (1) Hasil penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang telah memenuhi standar teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 ayat (6) dibuat berita acara hasil penelitian oleh Pimpinan Unit Pelaksana Uji Tipe. j. alat pengunci (twist lock) (5) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kendaraan bermotor yang dimodifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf e. konstruksi (engsel. e. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. (6) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berpedoman pada standar teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. h. Penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan seri produksi adalah jumlah kendaraan bermotor yang diimpor. (2) Berdasarkan berita acara hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ukuran dan susunan. kereta gandengan.

(4) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Unit pelaksana Uji Tipe yang dibentuk oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. catatan untuk ayat (6): 60 . (4) Dalam hal kendaraan bermotor yang telah dilakukan uji sampel tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan dinyatakan tidak lulus. Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji sampel.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan untuk menilai kesesuaian spesifikasi teknis seri produksinya terhadap sertifikat lulus uji tipe atau pengesahan rancang bangun dan rekayasa. dibuat. Pasal 153 (1) Uji sampel dilaksanakan terhadap tipe kendaraan bermotor yang diimpor. dapat diajukan kembali untuk dilakukan uji tipe. (2) Tipe Kendaraan bermotor yang telah mendapat surat keterangan lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang diuji sampel tidak lulus uji. Pasal 154 (1) Kendaraan bermotor yang diuji sampel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 153 yang dinyatakan lulus diberikan surat keterangan lulus uji sampel sebagai dasar penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. (2) Pelaksanaan uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan waktu dan/atau jumlah terhadap seri produksi kendaraan bermotor per perusahaan dalam 1 (satu) tipe. sedangkan jumlah untuk kendaraan yang diproduksi massal. dapat dilakukan perbaikan terhadap item – item yang tidak lulus. (6) Setelah dilakukan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). dan/atau dirakit di dalam negeri. Penjelasan ayat (2): Yang dimaksud dengan waktu adalah untuk kendaraan yang jumlah produksinya terbatas dalam satuan waktu. (3) Tata cara uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sebagaimana pelaksanaan uji tipe. penguji melakukan uji sampel terhadap seri produksi kendaraan bermotor yang sama tipenya dalam jumlah yang lebih banyak. (5) Tipe kendaraan yang dinyatakan tidak lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

waktu. mesin. yang dimaksud dengan modifikasi daya angkut adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada kendaraan bermotor dengan menambah sumbu bagian belakang tanpa mengubah jarak sumbu aslinya dan sumbu yang ditambahkan harus memiliki material yang sama dengan sumbu aslinya dan harus dilakukan perhitungan sesuai dengan daya dukung jalan yang dilalui serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. yang dimaksud dengan modifikasi mesin adalah modifikasi yang dilakukan dengan mengganti mesin dengan syarat mesin tersebut memiliki merek dan type yang sama dengan merek dan type mesin sebelum diganti serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. (3) Untuk menjamin pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 61 . (2) Modifikasi Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Pasal 155 (1) Uji sampel dan penerbitan sertifikat registrasi uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan. ditetapkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan disetorkan ke kas negara. Pasal 156 Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah.Draft RPP 19 Juli 2010 1. Paragraf 5 Modifikasi Kendaraan Bermotor Pasal 157 (1) Modifikasi Kendaraan Bermotor dapat berupa modifikasi dimensi. dan tata cara uji sampel serta penerbitan sertifikat registrasiuji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Apakah uji terhadap tipe kendaraan yang dinyatkan tidak lulus uji sampel dan kemudian telah diperbaiki dilakukan uji tipe atau uji sampel ulang ? pilihan mana yang paling menjamin untuk keselamatan. (2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan modifikasi dimensi adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada perpanjangan atau pemendekan chassis tanpa mengubah jarak sumbu dan konstruksi kendaraan bermotor tersebut serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. mohon disepakati di tingkat pengambil kebijakan. setiap Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi wajib dilakukan uji tipe. dan kemampuan daya angkut.

(3) Dalam keadaan tertentu pelaksanaan uji tipe.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Kendaraan bermotor yang dimodifikasi dan telah dinyatakan lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (3). yang dimaksud dengan bekerjasama dengan pihak ketiga berbentuk peminjaman atau penyewaan sarana dan prasarana atau tenaga penguji. (6) Modifikasi kendaraan bermotor dapat dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Unit Pelaksana uji tipe dapat bekerjasama dengan pihak ketiga. wajib dilakukan registrasi dan identifikasi ulang. penjelasan ayat (7) bengkel umum yang melaksanakan modifikasi kendaraan bermotor memberikan surat keterangan modifikasi kendaraan bermotor yangselanjutnya sebagai syarat untuk mengajukan uji tipe dan registrasi kendaraan bermotor tersebut. diberikan sertifikat lulus uji tipe. keselamatan penggunaan kendaraan bermotor. Paragraf 6 Unit Pelaksana Uji Tipe Pasal 158 (1) Unit Pelaksana uji tipe Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (2) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. penjelasan ayat (3) yang dimaksud dengan keadaan tertentu antara lain dalam hal tidak atau belum tersedianya fasilitas dan peralatan uji yang dipergunakan untuk menguji item tertentu (seperti alat uji emisi). (4) Pelaksanaan pembangunan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan mempertimbangkan : a. 62 . (2) Unit pelaksana uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyediakan fasilitas dan peralatan pengujian serta tenaga yang memiliki kompetensi. b. (5) Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi yang telah mendapatkan sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (4). penjelasan ayat (5) persyaratan registrasi dan identifikasi ulang kendaraan bermotor yang dimodifikasi adalah sertifikat lulus uji tipe. penjelasan ayat (6) istilah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) tidak sesuai dengan UU Anti Monopoli sehingga penyebutannya menggunakan Agen Pemegang Merek. (7) Modifikasi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) wajib dilakukan oleh bengkel umum kendaraan bermotor yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Industri. peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

c.kurangnya : a. kesepakatan-kesepakatan regional dan/atau internasional. i. jalan keluar masuk. Pasal 159 (1) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . trek pengujian pengendalian. (2) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l. h. d. trek pengujian tanjakan dan turunan. pompa air dan menara air. fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor). m. kelestarian lingkungan hidup. trek pengujian melalui jalan berlumpur. fasilitas pengujian radius putar.fasilitas penunjang. umur teknis dan ekonomis peralatan serta fasilitas yang ada. i.kurangnya: a.bangunan gedung untuk generator set.bangunan beban kerja untuk fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor dalam gedung (indoor).fasilitas listrik. b. f. mengutamakan produksi dalam negeri. h. b.jalan lingkungan pengujian. (5) Fasilitas dan peralatan pengujian yang digunakan harus dirawat dan/atau diperbaiki dengan baik. bangunan gedung administrasi.Draft RPP 19 Juli 2010 c. k. trek pengujian Belgian road. g. agar kondisinya senantiasa layak dan siap operasi. g. h. lapangan parkir. l. d. prosedur pelaksanaan. e. kapasitas. j. (7) Unit pelaksana uji tipe wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor. serta dikalibrasi secara periodik. f. 63 . d. (6) Unit pelaksana uji tipe kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi yang ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca oleh pemohon yang memuat persyaratan. e. c. kemajuan industri kendaraan bermotor. f. dan besaran biaya yang dikenakan. trek pengujian kecepatan tinggi. trek pengujian slip. pagar. perkembangan teknologi. sekurang . lampu penerangan. e.fasilitas pengisian bahan bakar. trek pengujian serba guna. kompresor dan gudang. g. fasilitas pengujian tingkat suara.

g. lapangan pengujian analitis. dan penggantian fasilitas uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. j. bentuk. alat uji dimensi. fasilitas uji tabrakan (test crash). c.terowongan debu. q. q. alat uji suspensi roda dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan bermotor. p. h. e. 64 . spesifikasi teknik. alat uji prestasi kendaraan bermotor. alat uji lampu utama. konstruksi. l. s. r. m. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata letak. b. trek pengujian melalui lintasan berair. alat uji sabuk keselamatan. alat uji kaca. lintasan berliku-liku.Draft RPP 19 Juli 2010 j. pembangunan. alat uji emisi gas buang. alat uji kincup roda depan. alat uji pengujian berat. tipe. alat uji speedometer. pemeliharaan. fasilitas dan peralatan bantu. alat uji rem utama dan rem parkir. terowongan air. Pasal 160 (1) Peralatan uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . alat uji tingkat suara.alat uji motor penggerak. alat uji kebisingan. peralatan. termasuk ketebalan asap gas buang. l. p. bahan. perlengkapan. alat uji lain. f. r. t. d. alat uji tekanan udara.kurangnya: a. k. o. peralatan bantu. k. alat uji posisi roda depan. m. n. perbaikan. jenis. s. penggunaan. tapak selip (skid pad). ukuran. o. i. alat uji konstruksi. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. n. alat uji ban. jalan inspeksi (inspection road). fasilitas pembuat angin.

unit pelaksana agen tunggal pemegang merek yang mendapat izin dari Pemerintah. unit pelaksana pengujian swasta yang memenuhi persyaratan dan mendapatkan izin dari Pemerintah. penjelasan ayat (2) huruf c yang dimaksud dengan pengujian swasta adalah pihak swasta yang melakukan kegiatan khusus di bidang pengujian kendaraan bermotor atau bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu untuk dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. penggunaan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tipe. ukuran. bentuk. spesifikasi teknik. (2) Uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh : a. penjelasan ayat (2) yang dimaksud dalam keadaan tertentu antara lain masa berlaku uji berkala telah jatuh tempo sementara kendaraan tidak berada di domisili atau kendaraan yang terkena sanksi pelanggaran karena tidak terpenuhi persyaratan teknis dan laik jalan di luar wilayah domisilinya atau pada saat sistem telah terbangun secara on line. b. dan penggantian peralatan uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.atau c. teknologi yang digunakan. pemeliharaan. jumlah. mobil barang. unit pelaksana pengujian pemerintah kabupaten/kota. Bagian Ketiga Uji Berkala Paragraf 1 Umum Pasal 161 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf b diwajibkan untuk mobil penumpang umum. pengadaan. Pasal 162 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilakukan di daerah tempat kendaraan bermotor diregistrasi. mobil bus. pembangunan. kereta gandengan dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan. 65 . (2) Dalam keadaan tertentu pengujian berkala kendaraan bermotor dapat dilakukan pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor terdekat yang tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. kapasitas. pemasangan. perbaikan.

66 . fotocopy sertifikat registrasi uji tipe dengan menunjukan aslinya. Pasal 164 Permohonan pengujian berkala kendaraan bermotor untuk yang pertama kali diajukan kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor secara tertulis dengan melampirkan : a. (2) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. meteran. wajib dilakukan uji berkala di Indonesia. kacamata pelindung. Paragraf 2 Pemeriksaan Dan Pengujian Fisik Terhadap Persyaratan Teknis Dan Laik Jalan Pasal 165 (1) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dalam pengujian berkala dilakukan terhadap persyaratan teknis. b. (3) Masa uji berkala kendaraan bermotor wajib uji berkala berlaku selama 6 (enam) bulan dan harus dilakukan uji berkala berikutnya.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 163 (1) Pengujian berkala dilakukan terhadap kendaran bermotor wajib uji berkala untuk pertama kali paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). (4) Kendaraan bermotor asing yang digunakan di Indonesia untuk keperluan – keperluan tertentu dan telah berakhir masa uji berkalanya. peralatan seperti kunci pas. Penjelasan ayat (2) : Yang termasuk alat bantu adalah palu khusus. fotocopy STNK dengan menunjukan aslinya. penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan kendaraan bermotor asing adalah kendaraan dari negara asing yang telah memiliki bukti lulus uji dan bukti registrasi dan identifikasi yang masih berlaku di negaranya. helm. tang. senter. yang dimaksud dengan keperluan tertentu antara lain untuk kegiatan olahraga kendaraan bermotor. (5) Dalam hal tidak dilakukan uji berkala di Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kendaraan bermotor asing dilarang dioperasikan di jalan. (2) Pengujian berkala untuk pertama kali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mendasarkan data spesifikasi teknik kendaraan bermotor yang terdapat dalam sertifikat registrasi uji tipe. dan pariwisata yang penggunaannya bersifat sementara.

e. d. (5) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan atau tanpa alat bantu sekurang – kurangnya meliputi : a. keberadaan dan kondisi ban cadangan. dongkrak. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). e. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. segitiga pengaman. karoseri. kebocoran sistem rem. kondisi rem parkir. g. f. b. kondisi kaca spion. tempat duduk. c. d. q. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. k. kondisi spakbor. perlengkapan. o. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. c. fungsi klakson. corong pengisi bahan bakar. b. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan secara visual sekurang – kurangnya meliputi: a. rancangan teknis kendaraan bermotor sesuai dengan peruntukannya. perisai kolong. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. j. engsel. f. 67 . b. sudut bebas kemudi (speling steer). d. c. kaca-kaca.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi : a. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. (4) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis. i. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. susunan. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. p. kondisi tangki bahan bakar. n. ukuran.bentuk bumper. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). m. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kondisi badan kendaraan. nomor dan tipe motor penggerak. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. l. pipa saluran bahan bakar. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. serta kondisi ban. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. e. h.

Draft RPP 19 Juli 2010 g. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur. kedalaman alur ban. Pasal 168 (1) Apabila kendaraan bermotor dinyatakan tidak lulus uji. b. h. b. f. uji sistem lampu d. tata cara pemeriksaan dan pengujian diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. c. pemeriksaan kosntruksi. mengukur dimensi utama kendaraan. mengukur ukuran tempat duduk. c. h. kincup roda depan. i. bagian dalam kendaraan. e. emisi gas buang. e. uji kemampuan rem. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). g. kemampuan rem utama d. (2) Kartu uji dan tanda uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku di seluruh wilayah Indonesia. f. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. maka terhadap kendaraan tersebut wajib dilakukan uji ulang dan penguji wajib menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji. untuk semua jenis kendaraan. alasan tidak lulus uji. (3) Pengujian berkala terhadap untuk kereta gandengan dan kereta tempelan sekurang-kurangnya meliputi : a. item – item yang tidak lulus uji. 68 . pengukuran dimensi. c. akurasi alat penunjuk kecepatan (speedometer). tingkat kebisingan. Pasal 166 (1) Pemeriksaan dan pengujian terhadap persyaratan laik jalan untuk kendaraan wajib uji berkala sekurang-kurangnya meliputi: a. dan tempat keluar darurat. (2) Pernyataan surat keterangan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama. kemampuan rem parkir. b. pengukuran kedalaman alur ban. pengukuran berat. Pasal 167 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah dinyatakan lulus terhadap pemeriksaan dan pengujian fisik diberikan tanda bukti lulus uji berkala kendaraan bermotor yang berupa kartu uji dan tanda uji.

(4) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang namun surat pernyataan tidak lulus uji yang dimilikinya telah habis masa berlakunya. d. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. dimensi kendaraan (rumah-rumah/bak muatan). j. p. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mengajukan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. jenis. c. nomor uji berkala. k. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. diperlakukan sebagai pemohon baru. o. konfigurasi sumbu. dapat mengajukan keberatan kepada pimpinan unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. (5) Kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji hanya dapat dioperasikan di jalan dalam rangka perbaikan ke bengkel umum kendaraan bermotor terdekat atau yang ditunjuk dengan dilengkapi surat tanda tidak lulus uji. h. (3) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang. daya motor penggerak. e. f.Draft RPP 19 Juli 2010 d. isi silinder. tanggal dan nomor pengesahan uji tipe. diterbitkan kartu induk uji berkala yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia dan/atau tanda uji berkala. wajib melakukan perbaikan-perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. nomor kendaraan. Paragraf 3 Bukti Lulus Uji Pasal 169 (1) Setiap kendaraan bermotor wajib uji yang didaftarkan untuk dilakukan uji berkala untuk yang pertama kali. bahan bakar yang digunakan. i. (6) Apabila pemilik yang menguasai kendaraan bermotor tidak menyetujui keputusan penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). alamat pemilik. l. nomor motor penggerak/mesin. n. (2) Kartu induk uji berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. g. tahun pembuatan/perakitan. tanggal dan nomor sertifikat registrasi uji tipe. b. m. merek/tipe. 69 . nama pemilik. serta tidak diperlakukan sebagai pemohon baru.

(2) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berisikan kode wilayah yang terdiri dari kode provinsi. Pasal 171 (1) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. l. (3) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama kendaraan yang bersangkutan masih termasuk sebagai kendaraan wajib uji. j. merek/tipe. nomor dan tanggal sertifikat registrasi uji tipe. Catatan : Pengecualian ini berlaku pada saat sistem pengujian berkala telah terbangun sistem online yang sudah tidak ada lagi istilah numpang uji. kode tahun pendaftaran uji. g. c. (3) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sesuai dengan wilayah domisili kendaraan . isi silinder. Pasal 170 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah diuji berkala untuk pertama kali diberi nomor uji kendaraan bermotor. i. depan dan belakang kendaraan bermotor. 70 . daya motor penggerak. b. (4) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilampirkan setiap akan melakukan pengujian berkala kecuali pengujian berkala yang dilakukan diluar wilayah domisili kendaraan. k. kode Kabupaten/kota. nomor dan tanggal pengesahan tipe bagi kendaraan yang di uji fisik dan nomor pengesahan yang dilakukan melalui penelitian rekayasa dan rancang bangun. f. kiri. jenis. foto berwarna tampak samping kanan.Draft RPP 19 Juli 2010 q. kode jenis kendaraan bermotor. e. nomor uji kendaraan. nama dan tanda tangan tenaga penguji yang mengesahkan masa uji berkala untuk yang pertama kali. dan nomor urut pengujian. s.berat kosong kendaraan. n. m. tempat dan tanggal dilakukan uji pertama kali. alamat pemilik. h. tahun pembuatan/perakitan. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. nama pemilik. r. d. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk mobil barang dan mobil bus. nama dan identitas penanggung jawab unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang menerbitkan kartu pengujian berkala.

Pasal 174 (1) Perpanjangan masa berlaku bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. w.Draft RPP 19 Juli 2010 o. s. q. kode wilayah pengujian. (2) Perubahan bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan: a. masa berlaku hasil uji. ukuran utama kendaraan. daya angkut. memiliki identitas pemilik kendaraan. kartu uji dan tanda uji diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungj awab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. bahan bakar yang digunakan. konfigurasi sumbu roda. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk mobil barang dan mobil bus. lulus uji berkala. (2) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. t. masa berlaku uji kendaraan. (2) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi : a. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. b. pedoman nomor uji. c. d. d. x. hasil uji. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. 71 . u. e. Pasal 173 Ketentuan lebih lanjut mengenai kartu induk uji berkala. v. daya angkut orang dan barang. jumlah berat yang diizinkan untuk kendaraan bermotor tunggal dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau tempelan. Pasal 172 (1) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (1) yang berbentuk stiker ditempel pada kaca depan sisi kiri bawah bagian dalam. ukuran ban. b. memiliki identitas pemilik kendaraan. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. c. r. muatan sumbu terberat. b. p. melampirkan surat tanda terima laporan bagi kendaraan yang tidak dapat melaksanakan pengujian berkala pada saat masa berlaku uji berakhir.

melampirkan bukti lulus uji berkala yang ada untuk bukti lulus uji yang rusak. menyampaikan keterangan mengenai perubahan-perubahan spesifikasi teknik dan/atau data pemilik dan/atau wilayah operasi kendaraan. (3) Penggantian bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor pemerintah Kabupaten/kota. tidak dapat melakukan uji berkala. (2) Dalam hal keberadaan kendaraan bermotor berada diluar domisili unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor swasta. 72 . d. Pasal 175 (1) Pemilik kendaraan bermotor yang telah mendapatkan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 harus melaporkan secara tertulis kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala apabila : a. dan c.Draft RPP 19 Juli 2010 c. b. perubahan dan penggantian bukti lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). merupakan bengkel umum kendaraan bermotor yang telah ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana LaluLintas dan Angkutan Jalan berdasarkan rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Paragraf 4 Unit Pelaksana Uji Berkala Pasal 176 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan oleh : a. dengan menyebutkan alasan-alasannya. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor agen tunggal pemegang merek. memindahkan operasi kendaraannya secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan ke wilayah lain di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. b. ayat (2) dan ayat (3) diberikan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak diterima permohonan. pada saat masa berlaku uji kendaraannya berakhir. melampirkan salinan identitas pemilik kendaraan dengan menunjukkan aslinya. atau b. (2) Unit pelaksana pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan c. (4) Perpanjangan. atau c. lulus uji berkala untuk kendaraan yang mengalami perubahan spesifikasi tekniknya. pemilik kendaraan dapat melaporkan kepada unit pelaksana pengujian terdekat. membawa surat keterangan kehilangan dari kepolisian setempat. apabila bukti lulus uji berkala hilang.

mempertahankan mutu pengujian yang diselenggarakan. standar fasilitas prasarana dan peralatan pengujian kendaraan bermotor. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian berkala kendaraan bermotor. c. b. b. c. b. e.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Unit pelaksanaan uji berkala wajib : a. sistem dan prosedur. Pasal 177 (1) Setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan tentang : a. sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. menggunakan peralatan pengujian. (4) Dalam hal pengujian dilakukan oleh bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pengesahan uji dilakukan oleh petugas swasta yang memiliki kompetensi yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk pengujian yang dilakukan oleh unit pelaksana pengujian agen tunggal pemegang merek dan unit pelaksana pengujian swasta. standar keakurasian peralatan pengujian kendaraan bermotor. c. lokasi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan unit pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. mengikuti tata cara pengujian. 73 . Pasal 178 (1) Lokasi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya: a. d. kompetensi penguji kendaraan bermotor. memiliki atau menguasai areal tanah sesuai dengan kebutuhan. d. membuat rencana dan pelaporan secara berkala setiap penyelenggara pengujian kepada Menteri. f. dan e. harus dilakukan akreditasi oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Untuk menjamin setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan memenuhi akuntabilitas pelayanan publik. terletak pada lokasi yang mudah dijangkau oleh pemilik kendaraan bermotor. (2) Setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki 1 (satu) unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. melaksankana pengujian sesuai dengan akreditasi dan sertifikasi.

alat pengukur dimensi. e. alat pengukur berat. alat uji kincup roda depan (side slip tester).Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Suatu daerah yang hanya memiliki kendaraan wajib uji relatif sedikit dibanding dengan luas daerah yang harus dilayani. d. dan ketebalan asap gas buang. alat pengukur suara (sound level meter). Pasal 179 (1) Unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 ayat (1) harus memiliki peralatan uji. alat pengukur tekanan udara. h. alat uji kaca. 74 . alat uji suspensi roda (pit wheel suspension tester) dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan. m. j. c. n. i. kompresor udara. generator set. alat uji lampu utama. (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca setiap saat oleh pemohon. meliputi alat uji karbon monoksida (CO). Pasal 180 (1) Pada setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi atau media informasi lainnya yang berisikan prosedur pengujian berkala kendaraan bermotor. alat uji speedometer. alat uji emisi gas buang. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai spesifikasi teknis peralatan uji berkala kendaraan bermotor dan peralatan pendukungnya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. b. k. peralatan bantu. f. l. dan/atau karena kondisi geografisnya tidak memungkinkan kendaraan dari satu tempat mencapai tempat unit pelaksana pengujian. pelaksanaan pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan unit pengujian berkala keliling. (2) Peralatan uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi : a. alat uji kebisingan. g. hidro karbon (HC). alat uji rem. o.

Pasal 183 (1) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan/atau gubernur atau pejabat yang ditunjuk. (2) Kalibrasi peralatan uji pada unit pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. peralatan pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 179 harus dikalibrasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 181 (1) Unit pelaksana pengujian berkala wajib membangun sistem informasi dan komunikasi. (4) Biaya kalibrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada unit pengujian kendaraan bermotor yang bersangkutan. Penjelasan ayat (1): Yang dimaksud dengan sekurang-kurangnya satu tahun sekali adalah dimungkinkan pelaksanaan kalibrasi lebih dari satu kali dalam setahun untuk unit pelaksana pengujian kendaraan yang disesuaikan dengan jumlah kendaraan bermotor yang diuji) atau kondisi peralatan. (2) sistem informasi dan komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat saling terhubung (on line) dan terintegrasi antara daerah dengan kementerian perhubungan serta dapat diakses oleh masyarakat. (3) Unit pengujian kendaraan bermotor yang tidak melakukan kalibrasi peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka hasil uji berkala kendaraan bermotor tidak dapat dipertanggung jawabkan. 75 . Pasal 182 (1) Untuk menjamin keakurasian dan keselamatan pemakaian. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kalibrasi diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor pada pemerintah provinsi DKI Jakarta.

(4) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan berdasarkan pertimbangan tingkat wewenang dan tanggung jawab penguji secara berjenjang. (3) Penguji yang memenuhi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis penguji kendaraan bermotor oleh menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasana.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Bentuk pengawasan dan pengontrolan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan (4) berupa melakukan uji petik terhadap sekurang-kurangnya 2 (dua) unit kendaraan bermotor atau 5% (lima persen) kendaraan bermotor hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih secara random. 76 . Bagian Keempat Kualifikasi Teknis dan Kompetensi Penguji Kendaraan Bermotor Pasal 184 (1) Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) dilakukan oleh tenaga penguji yang memiliki kompetensi penguji kendaraan bermotor. (4) Uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada hari yang sama dengan mengirim penguji kendaraan bermotor yang memiliki sertifikat kompetensi ke unit-unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih. Penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan sesuai tingkat kewenangannya adalah kewenangan untuk menandatangani pada kolom hasil uji dan masa berlaku uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor sesuai ketentuan yang berlaku. Penjelasan ayat (4) : yang dimaksud dengan uji petik dilakukan pada hari yang sama adalah dimaksudkan supaya pemilik kendaraan bermotor yang sedang mengujikan kendaraannya di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih untuk uji petik. tidak merasa terganggu dengan adanya uji petik tersebut) (5) Hasil uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai salah satu penilaian hasil pemeriksaan kinerja unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan uji petik dan bentuk laporan hasil uji petik diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang yang diperoleh setelah mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan dan uji kompetensi pengujian kendaraan bermotor. (2) kompetensi tenaga penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan berdasarkan tingkat keahlian.

(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan persyaratan.Draft RPP 19 Juli 2010 (5) Sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku di seluruh Indonesia. dan bengkel umum. (2) Pelaksanaan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh agen tunggal pemegang merek. BAB VII BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Persyaratan dan Penyelenggaran Bengkel Umum Pasal 187 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor berfungsi untuk memperbaiki dan merawat kendaraan bermotor agar tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Pasal 185 Pengesahan hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor dilakukan oleh petugas yang memilik kompetensi pengujian kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan Peraturan perundang – undangan. (6) Setiap tenaga penguji yang sedang menjalankan tugas wajib mengenakan tanda kualifikasi teknis. ayat (2). wajib memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor. negara wajib memberikan kompensasi. Pasal 186 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 merupakan kewajiban Pemerintah dan dalam penyelenggaraannya dapat tidak dipungut biaya. Yang dimaksud dengan petugas adalah petugas penguji Pemerintah maupun petugas penguji swasta. ayat (3). prosedur pengangkatan tenaga penguji serta tanda kualifikasi teknis penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 77 . Penjelasan: yang dimaksud dengan pengesahan hasil uji adalah penandatanganan pada kolom hasil uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. swasta.

dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. dan C. (3) Bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. (4) Tipe bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas jenis pekerjaaan yang mampu dilakukan. bengkel kelas I tipe A. (5) Penetapan klasifikasi bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melalui sistem sertifikasi bengkel umum. Bagian Kedua Akreditasi Bengkel Umum Untuk Pengujian Berkala Pasal 188 (1) Bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. bengkel umum agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor. (6) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang industri. b.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas tingkat pemenuhan terhadap persyaratan sistem mutu. B. perbaikan besar. serta perbaikan sasis dan bodi kendaraan. (3) Bengkel umum yang memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan terbagi atas beberapa klasifikasi : a. atau jenis pekerjaan perawatan berkala. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan sistem sertifikasi bengkel umum diatur oleh Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. perbaikan kecil. dan C. yaitu : a. perbaikan kecil. bengkel umum swasta (bukan agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor). merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. perbaikan kecil. B. mekanik. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. Bengkel tipe B. perbaikan kecil. 78 . merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. B. b. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala dan perbaikan kecil. fasilitas dan peralatan. c. bengkel kelas III tipe A. perbaikan besar. dan perbaikan besar. bengkel kelas II tipe A. (2) Kualitas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bahwa bengkel umum tersebut mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. serta manajemen informasi. b. Bengkel tipe A. c. dan C. Bengkel tipe C.

analisis dampak lalu lintas. d. c. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. perawatan. pengalaman menjadi bengkel umum kelas I tipe A sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun. memiliki akreditasi dari Pemerintah. (3) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. 79 . memiliki peralatan dan fasilitas pengujian berkala. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem sertifikasi. Pasal 190 (1) Bengkel umum dapat dilengkapi fasilitas prasarana. (2) Penetapan bengkel pemasangan. perawatan. e. peralatan. izin usaha bengkel kendaraan bermotor dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota setempat dan mendapat rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan rekomendasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. (4) Rekomendasi yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a terkait dengan aspek keamanan lingkungan. b.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 189 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 dapat menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. dan sistem prosedur sebagai bengkel pemasangan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian akreditasi dan penetapan bengkel umum menjadi unit pelaksana pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sumber daya manusia. (3) Penetapan bengkel umum kendaraan bermotor menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor oleh Menteri yang bertangung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Bengkel umum yang melakukan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan : a.

dikenai sanksi administratif berupa pencabutan tanda kualifikasi. (2) Apabila peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Penguji tidak mengindahkannya setelah berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ke 3 (tiga). Pasal 193 (1) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 203 ayat (2) huruf a dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut untuk jangka waktu masing – masing 30 (tiga puluh) hari kalender. 80 . BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Kesatu Bagi Penguji Pasal 192 (1) Setiap Penguji yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 dikenakan sanksi administratif. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. (3) Pencabutan tanda kualifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender. peringatan tertulis. atau b. Penjelasan ayat (1): yang dimaksudkan rekomendasi adalah memberikan keterangan bahwa bengkel yang didirikan tidak mengganggu keamanan dan ketertiban. pencabutan tanda kualifikasi. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Ketiga Perizinan Bengkel kendaraan Bermotor Pasal 191 (1) Penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor yang akan dijadikan unit pengujian berkala harus mendapatkan izin dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/kota.

tidak mengoperasikan peralatan uji saat melakukan pengujian berkala. c. mengabaikan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.000. terbukti mempersulit proses pelaksanaan pengujian berkala. tidak melaksanakan kalibrasi secara berkala.000. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.00 (dua ratus juta rupiah). Pasal 197 (1) Sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dan Pasal 167 dapat dicabut apabila : a. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. pencabutan izin. yang meliputi : a. Pasal 195 (1) Setiap pemilik kendaraan bermotor yang tidak melakukan pengujian kendaraannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 ayat (1) dikenakan sanksi administratif.200. terbukti melakukan pungutan biaya uji melebihi biaya yang telah ditetapkan. kendaraan diubah spesifikasi tekniknya sehingga tidak sesuai lagi dengan data yang ada pada sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala kendaraan yang bersangkutan. tidak melakukan perawatan dan perbaikan terhadap peralatan uji berkala yang menjadi tanggung jawabnya. d. h. e. atau b. dikenai sanksi denda admnistratif paling banyak Rp. tidak bersedia menerima petugas yang sedang ditugaskan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan tanpa alasan yang jelas. tidak mengisi data teknis dan hasil uji berkala secara benar pada tanda bukti lulus uji berkala. (2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 196 (1) Selain dikenai sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (2) Pemilik kendaraan bermotor. peringatan tertulis. i. g.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 194 Bengkel umum yang menyelenggarakan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pencabutan hak operasi selaku unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. tidak menyelenggarakan sistem informasi dan administrasi pengujian berkala secara baik dan bertanggung jawab. b. apabila melakukan pelanggaran. f. 81 .

BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 199 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku rem motor untuk sepeda motor yang baru dan yang sudah beroperasi harus menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.Draft RPP 19 Juli 2010 b. (2) Pemilik kendaraan bermotor yang sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkalanya dicabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan bukti lulus uji berkala baru setelah yang bersangkutan melakukan uji berkala kembali sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 198 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. kendaraan dioperasikan secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. tanda uji dan tanda samping yang telah ada dinyatakan masih berlaku sampai habis masa berlakunya dan paling lama 5 (lima) tahun harus menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini. c. Pasal 201 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku setiap unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor paling lama 5 (lima) tahun. mengalihkan pemilikan kendaraan bermotor sehingga nama pemilik tidak sesuai lagi dengan yang tercantum dalam bukti lulus uji berkala. penggunaan buku uji. Pasal 200 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku. 82 . wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor (on line system).

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR . Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi di cabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 204 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 203 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini.. semua Peraturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi yang mengatur tentang Kendaraan dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA H. 83 . Agar setiap orang mengetahuinya...Draft RPP 19 Juli 2010 BAB XI PENUTUP Pasal 202 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->