Draft RPP 19 Juli 2010 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG KENDARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Tentang Kendaraan; a. Pasal 5 ayat (1) serta Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); TAHUN

Mengingat

:

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH KENDARAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas Kendaraan

REPUBLIK

INDONESIA

TENTANG

Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.

2. Kendaraan Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan

mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel.

1

Draft RPP 19 Juli 2010
3. Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga

manusia dan/atau hewan.

4. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap Kendaraan yang digunakan untuk

angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.

5. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-

rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. tempat duduk maksimal 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya tidak lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. duduk lebih dari 8 (delapan) orang, termasuk untuk Pengemudi atau yang beratnya lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram.

6. Mobil Penumpang adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki

7. Mobil Bus adalah Kendaraan Bermotor angkutan orang yang memiliki tempat

8. Mobil Bus Gandeng adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan gandengannya,

yang gandengannya mempunyai sedikitnya 2 (dua) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak vertikal (terhadap bus gandengan) dan mengontrol arah sumbu roda depan gandengan tetapi tidak membebani sumbu bus penarik dan memiliki lorong penghubung. tempelannya mempunyai sedikitnya 1 (satu) sumbu roda dan dilengkapi dengan alat penarik yang dapat bergerak horizontal dan vertikal (terhadap bus tempelan) dan membebani sumbu bus penarik. penghubung kedua lantai tersebut. barang.

9. Mobil Bus Tempel adalah bus yang terdiri dari bus penarik dan tempelan, yang

10. Bus Tingkat adalah bus yang memiliki dua lantai dan dilengkapi tangga sebagai

11. Mobil Barang adalah Kendaraan Bermotor yang digunakan untuk angkutan

12. Rumah – Rumah adalah bagian dari kendaraan bermotor jenis mobil penumpang

atau mobil bus atau mobil barang, yang berada pada landasan berbentuk ruang muatan, baik untuk orang maupun barang.

13. Pengujian Kendaraan Bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau

memeriksa bagian-bagian atau komponenkomponen kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.

2

Draft RPP 19 Juli 2010
14. Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Tipe Kendaraan

Bermotor adalah pengujian yang dilakukan terhadap fisik kendaraan bermotor atau penelitian terhadap rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan sebelum kendaraan bermotor tersebut dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor secara massal serta kendaraan bermotor yang dimodifikasi. adalah pengujian kendaraan bermotor yang dilakukan secara berkala terhadap setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan, yang dioperasikan di jalan.

15. Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Uji Berkala

16. Sertifikat Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal

Perhubungan Darat sebagai bukti bahwa tipe kendaraan bermotor atau landasan kendaraan bermotor yang bersangkutan telah lulus uji tipe. pengesahan dari Pemerintah sebagai bukti bahwa rancangan kendaraan bermotor, kereta gandengan, atau kereta tempelan tersebut telah memenuhi persyaratan teknis.

17. Pengesahan Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor adalah Surat

18. Sertifikat Registrasi Uji Tipe adalah sertifikat yang diterbitkan oleh Direktur

Jenderal Perhubungan Darat, sebagai bukti bahwa setiap kendaraan bermotor, landasan kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan/atau kereta tempelan yang dibuat dan/atau dirakit dan/atau diimpor atau dimodifikasi memiliki spesifikasi teknik sama/sesuai dengan tipe kendaraan yang telah disahkan atau rancang bangun dan rekayasa kendaraan yang telah disahkan, yang merupakan kelengkapan persyaratan pendaftaran dan pengujian berkala kendaraan bermotor. dan/atau peruntukannya yang dapat mengakibatkan perubahan spesifikasi teknik utama. produksi yang telah memiliki sertifikat uji tipe.

19. Modifikasi Kendaraan Bermotor adalah kendaraan bermotor yang diubah bentuk

20. Uji Sampel adalah pengujian kesesuaian terhadap spesifikasi teknik terhadap seri 21. Kendaraan Khusus adalah Kendaraan Bermotor yang dirancang khusus yang

memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu, antara lain: a. Kendaraan Bermotor Tentara Nasional Indonesia; b. Kendaraan Bermotor Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Alat berat antara lain bulldozer, traktor, mesin gilas (stoomwaltz), forklift, loader, excavator, dan crane; serta d. Kendaraan khusus penyandang cacat.

22. Kereta Gandengan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut

barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor.

3

Draft RPP 19 Juli 2010
23. Kereta Tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang

yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan bermotor penariknya. yang dipasang simetris atau pada dasarnya simetris terhadap bidang membujur tengah kendaraan, walaupun roda-roda tersebut tidak dipasang pada satu sumbu yang sama. maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya.

24. Roda Pada Satu Sumbu adalah roda tunggal atau roda ganda atau beberapa roda

25. Jumlah Berat Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBB adalah berat

26. Jumlah Berat Kombinasi Yang Diperbolehkan yang selanjutnya disebut JBKB

adalah berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya. yang selanjutnya disebut JBI adalah berat maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui. berat maksimum rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang dilalui.

27. Jumlah Berat Yang Diizinkan

28. Jumlah Berat Kombinasi yang Diizinkan yang selanjutnya disebut JBKI adalah

29. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik

Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

30. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah 31. Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin kementerian negara dan

bertanggung jawab atas urusan pemerintahan di bidang Jalan, bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bidang industri, bidang pengembangan teknologi, atau bidang pendidikan dan pelatihan. BAB II JENIS DAN FUNGSI KENDARAAN Pasal 2

Kendaraan terdiri atas: a. b. Kendaraan Bermotor; dan Kendaraan Tidak Bermotor.

4

Kendaraan Bermotor umum. e. kendaraan untuk angkutan barang. atau b. (2) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. cikar. Pasal 4 (1) Kendaraan tidak bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. kereta dorong atau kereta tarik. becak. dan penjelasan ayat (1) huruf d Termasuk dalam pengertian mobil barang setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. dikelompokan berdasarkan peruntukan: a. b. dan b. kendaraan untuk angkutan orang.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 3 (1) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dikelompokkan berdasarkan jenis: a. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. huruf d . mobil bus. mobil penumpang dan mobil bus. b. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang. c. kendaraan khusus. delman. dirancang dengan ruang untuk mengangkut orang dan ruang untuk mengangkut barang terpisah dengan penyekat atau dinding. sepeda. huruf c dan (3) Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dikelompokan berdasarkan fungsi: a. Kendaraan Bermotor perseorangan. Pasal 5 (1) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a. dirancang dengan ruang untuk pengemudi dan ruang untuk penumpang. c. dan b. d. antara lain : a. mobil barang. antara lain : a. dan b. dikelompokkan dalam: a. (2) Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b. 5 . sepeda motor. mobil penumpang. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan.

6 . Pasal 6 (1) Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3. Station Wagon. 2. c.000 (lima ribu) kilogram dan jumlah tempat duduk lebih dari 8 (delapan) orang termasuk pengemudi dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1. Mobil Penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang terdiri dari: 1.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. terpisah secara permanen atau tidak permanen ruang pengemudi dan penumpang di bagian tengah.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (2) yang dimaksud dengan ruang untuk mengangkut barang adalah berbentuk bak muatan terbuka atau bak muatan tertutup (box). penjelasan mobil penumpang bukan sedan yang memiliki 2 (dua) ruang yang dirancang terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. Mobil Penumpang sedan. ruang pengemudi dan penumpang. Hatch Back. Kendaraan Bermotor roda 3 (tiga) tanpa rumah-rumah. ruang mesin. dan ruang bagasi di bagian belakang atau depan. meliputi : a. mobil jenazah. ruang pengemudi. 2. c. Penjelasan huruf c yang dimaksud dengan mobil penumpang lainnya contoh mobil ambulance. b. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa rumah-rumah. (2) Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b. meliputi : a. ruang mesin. Kendaraan Bermotor roda 2 (dua) dengan atau tanpa kereta samping. 3. b.500 (tiga ribu lima ratus) sampai dengan 5. All Purpose Vehicle. ruang bagasi. mobil bus kecil. yang dirancang khusus. Multy Purpose Vehicle. yang memiliki 3 (tiga) ruang yang terdiri dari: 1. ruang penumpang dan/atau bagasi. meliputi : a. (3) Mobil Bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c. penjelasan terpisah secara permanen atau tidak permanen yaitu ruang mesin di bagian depan atau belakang. ruang pengemudi dan penumpang dan/atau bagasi. Mobil Penumpang lainnya yang dirancang untuk keperluan khusus. pengertian bukan sedan antara lain Sport Utility Vehicle.

000 (dua puluh empat ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan sekurang-kurangnya 9.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13. mobil bus tingkat yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) sekurang-kurangnya 21.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.Draft RPP 19 Juli 2010 b.100 (dua ribu seratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak boleh lebih dari 1. g. bus besar 7 .200 (empat ribu dua ratus) milimeter.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (dua puluh empat ribu) kilogram.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 12. ukuran panjang keseluruhan lebih dari 12. c.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. yang dirancang.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26.000 (dua puluh satu ribu) kilogram sampai dengan 24. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 8.000 (dua belas ribu) milimeter sampai dengan 13.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya. yang dirancang dengan jumlah berat yang dibolehkan (JBB) lebih dari 16.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1.000 (dua belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. f. e. contoh: bus kecil dengan jumlah tempat duduk maksimal 16. d.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan ukuran tinggi mobil bus tingkat tidak lebih dari 4.000 (sembilan ribu) milimeter sampai dengan 13. ukuran panjang keseluruhan tidak melebihi 9. mobil bus tempel yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.000 (lima ribu) sampai dengan 8. bus sedang dengan jumlah tempat duduk maksimal 32.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. catatan: perlu dirumuskan kembali.000 (enam belas ribu) kilogram.000 (dua puluh dua ribu) kilogram sampai dengan 26.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. mobil bus gandeng yang dirancang dengan jumlah berat kombinasi yang dibolehkan (JBKB) sekurang-kurangnya 22. ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (delapan belas ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2. ukuran panjang keseluruhan kendaraan bermotor lebih dari 9. mobil bus sedang.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (enam belas ribu) kilogram sampai dengan 24. dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 5.200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak boleh lebih dari 1. mobil bus besar.000 (delapan ribu) kilogram.500 (dua ribu lima ratus) milimeter dan tinggi kendaraan tidak lebih dari 4.000 (dua puluh enam ribu) kilogram dan/atau ukuran panjang keseluruhan lebih dari 13. mobil bus maxi.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraannya.000 (sembilan ribu) milimeter dan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.000 (delapan ribu) sampai dengan 16.500 (tiga belas ribu lima ratus) milimeter sampai dengan 18.

meliputi: a. 8 . b. kendaraan lapis baja yang digunakan untuk tempur dan kendaraan yang dirancang khusus yang dimiliki oleh. racun dan bahan yang mudah menular.. barang curah. kendaraan untuk menarik kereta tempelan. dan gas. gas cair. wing box. Kendaraan tank. panser. peti kemas. cair. barang yang bersifat korosif. cairan mudah menyala. yang dimaksud dengan mobil barang khusus adalah angkutan yang membutuhkan mobil barang yang dirancang khusus untuk mengangkut benda yang berbentuk curah. dan alat berat serta membawa barang berbahaya. atau gas. bahan penghasil oksidan. Commander Call Carrier.. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan tertutup adalah antara lain seperti box. mobil barang bak muatan terbuka. dan h. antara lain: a. EOD (Explosive Ordinance Disposal. mobil barang bak muatan tertutup. yang dirancang memiliki 2 (dua) baris tempat duduk pengemudi dan penumpang dengan ruang barang yang terpisah secara permanen dan/atau tidak permanen oleh dinding atau sekat. mobil barang kabin ganda. mempunyai fungsi dan dirancang bangun tertentu. c. mobil barang kabin ganda. penjelasan huruf a: yang dimaksud dengan mobil barang bak muatan terbuka adalah antara lain seperti dump truck. hewan hidup. g. padatan mudah menyala. d.dan disesuaikan dengan RPP tentang Angkutan (4) Mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d. e. Security Barrier.Draft RPP 19 Juli 2010 dengan jumlah tempat duduk maksimal 58.. box freezer. Catatan: Perlu dijelaskan definisi kendaraan untuk menarik kereta tempelan (5) Kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e. tumbuhan. penjelasan yang dimaksud mobil barang tangki adalah mobil yang dirancang untuk mengangkut barang cairan. f.dll c. barang yang mudah meledak. barang yang bersifat radioaktif. mobil barang tangki. b. d. non dump truck. Penjelasan : yang dimaksud dengan mobil barang kabin adalah:mobil barang kabin ganda (double cabin). gas mampat. antara lain: a. gas terlarut pada tekanan atau temperatur tertentu. flat deck.

dan crane. perlengkapan. ukuran. Anti Personel Carrier (APC). buldozer. diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. stoomwaltz. Kendaraan alat berat antara lain traktor. pemuatan. Pasal 7 Ketentuan lebih lanjut mengenai Fungsi Kendaraan Bermotor. c. susunan. d. dan kendaraan taktis lainnya yang dirancang khusus dan dimiliki oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. penggunaan. b. (2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. dan/atau i. Pasal 9 (1) Ketentuan mengenai persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 berlaku bagi setiap jenis kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf i untuk Kendaraan Bermotor jenis sepeda motor. g. BAB III PERSYARATAN TEKNIS DAN LAIK JALAN KENDARAAN BERMOTOR. EOD (Explosive Ordinance Disposal. karoseri. e. c. h. forklift. excavator. dan Commander Call Carrier. KERETA GANDENGAN DAN KERETA TEMPELAN Bagian Kesatu Ketentuan Umum Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Paragraf 1 Persyaratan Teknis Pasal 8 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis. d. 9 . Security Barrier. penempelan Kendaraan Bermotor. Kendaraan water canon. rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya. f. loader. kendaraan khusus penyandang cacat. penggandengan Kendaraan Bermotor. kecuali kendaraan khusus milik TNI dan Polri sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (5) huruf a dan huruf b.Draft RPP 19 Juli 2010 b.

getaran dan goncangan kendaraan berikut muatannya. kecuali sepeda motor. g. penjelasan yang dimaksud dengan rangka landasan adalah rangka atau chassis atau landasan. tahan terhadap korosi. sebesar jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan atau jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. sistem kemudi. Pasal 12 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 harus dibubuhkan nomor rangka landasan. sistem penerus daya. c. dapat menahan seluruh beban. j. Pasal 10 Susunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a terdiri atas: a. dikonstruksi menyatu atau secara terpisah dengan badan kendaraan yang bersangkutan. sistem suspensi. motor penggerak. dilengkapi dengan alat pengait di bagian depan dan bagian belakang kendaraan bermotor. c. sistem roda-roda. dilengkapi dengan peralatan penarik yang dirancang khusus untuk itu. d.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan terhadap: a. 10 . rangka landasan. Pasal 11 (1) Setiap rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. atau melalui uji konstruksi. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat. sistem pembuangan. b. dapat dilakukan melalui perhitungan-perhitungan teknis dengan menggunakan norma-norma teknologi yang telah baku. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. b. sistem lampu dan alat pemantul cahaya. sistem rem. (2) Rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Kendaraan bermotor yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. d. e. c. h. komponen pendukung. b. Penjelasan Ayat (1) Untuk mengetahui bahwa rangka landasan kendaraan bermotor memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. baik dengan menggunakan peralatan uji konstruksi maupun uji jalan. i. f.

untuk keperluan penulisan jati diri atau identitas kendaraan bermotor yang bersangkutan pada sertifikat regristasi.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu rangka landasan dan mudah dilihat dan dibaca serta ditulis dalam bentuk embos ke dalam atau keluar. Penjelasan Ayat (2) Nomor rangka landasan kendaraan bermotor harus dibubuhkan secara permanen dan tidak dapat dihapus selama kendaraan bermotor yang bersangkutan dioperasikan di jalan. surat tanda nomor kendaraan bermotor. (4) Kendaraan bermotor jenis kendaraan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf e dapat menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang atau angkutan orang. (3) Untuk rangka landasan yang menyatu dengan badan kendaraan. 11 . nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditempatkan pada bagian tertentu badan kendaraan secara permanen dan mudah dilihat serta dibaca. Pasal 14 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis konstruksi rangka landasan. Penjelasan Ayat (3) Nomor rangka landasan yang dibubuhkan pada badan kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal 13 (1) Rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a. Nomor rangka landasan kendaraan bermotor tersebut merupakan identitas atau jati diri kendaraan yang bersangkutan. tata cara penomoran rangka landasan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dan buku pemilik kendaraan bermotor. konstruksi pengait kendaraan bermotor. (2) Kendaraan bermotor jenis mobil penumpang dan mobil bus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3) harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan orang. konstruksi rangka landasan yang dirancang untuk menarik kereta gandengan atau kereta tempelan. Oleh karena itu. (3) Kendaraan bermotor jenis mobil barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf d harus menggunakan rangka landasan peruntukkan angkutan barang. buku uji. maka setiap pembuat kendaraan bermotor melaporkan sistem penomoran dan lokasi penomoran rangka landasannya. pada saat akan dibuat melalui karoseri kendaraan bermotor harus sesuai peruntukannya.

c. 2002/24/EEC) (2) Motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan dalam beberapa jenis : a. selain sepeda motor harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 4. ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir b. e. kereta tempelan. b.50 (empat koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. f. Penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan tidak melebihi 25 kilometer per jam adalah mengacu ke EEC No. mempunyai daya untuk dapat mendaki pada jalan tanjakan dengan sudut kemiringan maksimum 8 (delapan derajat) dengan kecepatan minimum 20 (dua puluh) kilometer per jam pada segala kondisi jalan. d. harus dibubuhkan nomor motor penggerak sesuai dengan peraturan perundangundangan. motor penggerak yang digerakan oleh gabungan 2 (dua) jenis motor penggerak di atas.50 (lima koma lima puluh) kilo Watt setiap 1. bus tempelan dan bus gandengan selain sepeda motor. Pasal 16 (1) Pada setiap motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. perbandingan antara daya motor penggerak dan berat kendaraan khusus atau sepeda motor ditetapkan sesuai dengan kebutuhan lalu lintas dan angkutan serta kelas jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 15 (1) Motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. motor bakar. motor penggerak kendaraan bermotor yang digunakan untuk menarik kereta gandengan. dan butir e tidak berlaku untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan tidak melebihi 25 (dua puluh lima) kilometer per jam pada jalan datar. butir c. penjelasan huruf a yang termasuk motor bakar adalah dengan bahan cair dan/atau gas.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). harus memiliki perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya sekurang-kurangnya sebesar 5. penjelasan yang dimaksud dengan motor penggerak sama dengan mesin atau engine 12 . butir d. b. c. motor listrik.000 (seribu) kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (JBKB). motor penggerak dapat dihidupkan dari tempat duduk pengemudi. motor penggerak kendaraan bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan.

b. ke belakang atau ke sisi kanan di sebelah belakang ruang penumpang dengan sudut kemiringan tertentu terhadap garis tengah kendaraan bermotor yang menjamin keselamatan. dan untuk mobil bus diarahkan ke arah belakang pada sisi kanan. penjelasan huruf f: yang dimaksud dengan pipa pembuangan tidak boleh melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor adalah untuk menghindari terjadinya pusaran-pusaran (turbulensi) yang dapat mengakibatkan masuknya asap atau gas buang ke ruang penumpang. dan pipa pembuangan. Penjelasan ayat (1) Yang dimaksud dengan sistem penerus daya. 13 . f. sistem penerus daya kombinasi otomatis dan manual. arah pipa pembuangan harus dibuat dengan posisi yang tidak mengganggu pengguna jalan lain.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Nomor motor penggerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu motor penggerak dan mudah diidentifikasi dalam bentuk embos ke dalam atau keluar atau dalam bentuk lain. termasuk dalam hal ini pipa pembuangan yang tidak boleh terlalu pendek). peredam suara. sistem penerus daya manual. diarahkan ke arah kanan bagian depan ruang pengemudi. sistem pembuangan kendaraan pengangkut bahan yang mudah terbakar. pipa pembuangan tidak melebihi sisi samping atau sisi belakang kendaraan bermotor. gas buang dan asap dari sistem pembuangan kendaraan bermotor kecuali sepeda motor diarahkan ke atas. transmisi atau perseneling adalah sistem untuk meneruskan tenaga dari mesin ke roda dapat berupa : a. asap dari hasil pembuangan tidak boleh mengarah pada tangki bahan bakar atau roda pada sumbu belakang kendaraan. penjelasan huruf b : yang dimaksud dengan pengguna jalan lain adalah termasuk orang yang sedang berdiri atau berjalan di pinggir jalan. dan/atau c. d. Pasal 18 (1) Sistem penerus daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf d harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi. dirancang dan dibuat dari bahan yang cukup kuat sehingga memenuhi ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. gear box. Pasal 17 (1) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c sekurangkurangnya terdiri atas manifold. e. (2) Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. b. c. sistem penerus daya otomatis.

baik pada jalan kering maupun jalan basah. kapan ban-ban dan pelek-pelek tersebut boleh digunakan pada kendaraan dan kapan tidak boleh digunakan lagi. roda-roda. Pasal 19 (1) Sistem roda-roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf e terdiri atas : a. kereta gandengan dan kereta tempelan harus dihitung dan dirancang atau dibuat sedemikian rupa sehingga mampu memikul beban dinamis kendaraan sebesar jumlah berat yang diperbolehkan (JBB). besarnya beban yang diperbolehkan untuk masing-masing ukuran ban. kereta gandengan. dikaitkan dengan tekanan kerja ban. dan b. maka kendaraan tersebut harus dikonstruksi dengan menggunakan sumbu ganda atau lebih. Dengan demikian maka dapat diketahui secara pasti. (2) Roda-roda sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. berupa pelek dan ban bertekanan serta sumbu-sumbu atau gabungan sumbu dan roda yang dapat menjamin keselamatan. sumbu roda. (4) Ukuran roda berupa pelek dan ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang digunakan pada kendaraan bermotor harus memiliki ukuran dan kemampuan yang disesuaikan dengan Jumlah berat kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan. baik dengan atau tanpa kereta samping. dan tingkat keausan serta kerusakannya. Untuk dapat memberikan jaminan keselamatan secara teknis terhadap penggunaan ban-ban dan pelek-pelek pada kendaraan bermotor. kereta gandengan dan kereta tempelan. cara pemasangan. (3) Keharusan untuk melengkapi sistem penerus daya yang memungkinkan kendaraan bermotor dapat bergerak mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk : a. b. Sepeda Motor beroda tiga yang roda-rodanya dipasang semetris terhadap bidang tengah arah memanjang. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). Sumbu-sumbu roda kendaraan bermotor. (3) Ban-ban bertekanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki adesi yang cukup. Sepeda Motor. atau kereta tempelan yang dirancang dan dibuat untuk mengangkut beban tertentu sebesar jumlah berat yang diperbolehkan ternyata beban pada masing-masing sumbu tunggalnya melebihi kemampuan kelas jalan yang akan dilalui. Penjelasan ayat (3): Dalam hal kendaraan bermotor. 14 . disesuaikan dengan kelas jalan yang dilalui. Penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan ban bertekanan adalah ban yang berongga yang dapat diisi dengan gas.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Sistem penerus daya sebagai dimaksud pada ayat (1) harus memungkinkan kendaraan bermotor bergerak maju dengan satu atau lebih tingkat kecepatan dan memungkinkan bergerak mundur.

pembuatan dan pemasangan batang kemudi dan roda kemudi tidak menimbulkan bahaya bagi pengemudi. (2) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Oleh karena itu. Jenis penyangga antara lain berupa pegas daun. roda kemudi atau stang kemudi. b. Roda kemudi digunakan untuk mobil penumpang. batang kemudi. dan b.Draft RPP 19 Juli 2010 penjelasan ayat (4) Tidak diperbolehkan mengganti roda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). penjelasan ayat (1) Kemajuan teknologi memungkinkan banyaknya jenis sistem suspensi yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor. untuk kepentingan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan dapat ditetapkan jenis-jenis suspensi berupa penyangga yang boleh digunakan di Indonesia. sedangkan stang digunakan untuk sepeda motor roda dua atau roda tiga. penjelasan ayat (3): 15 . dapat dilengkapi dengan tenaga bantu untuk dapat membantu pengemudi dalam mengendalikan kendaraan. harus memperhatikan kelas jalan yang akan dilalui. penyangga hidrolis. Pasal 22 (1) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf g meliputi: a. yang tidak sesuai dengan ukuran Pasal 20 (1) Rancangan sumbu dan roda dan/atau gabungan sumbu dan roda berikut rodarodanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). kereta gandengan. dapat digerakkan dengan tenaga yang wajar. mobil bus. dan penyangga pneumatis. belum tentu seluruh jenis sistem suspensi tersebut cocok untuk digunakan di Indonesia. perancangan. getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan terhadap jalan. (2) Kendaraan bermotor. kereta gandengan dan kereta tempelan baru. (3) Sistem kemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mobil barang dan kendaraan khusus. penjelasan ayat (1) : sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan. Namun demikian. harus menggunakan sumbu dan roda yang memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. dan kereta tempelan. Pasal 21 Sistem suspensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf f berupa penyangga yang mampu menahan beban. sistem kemudi yang dipasang dalam kendaraan bermotor berfungsi untuk mengendalikan arah gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan.

bekerja pada semua roda kendaraan sesuai dengan besarnya beban pada masingmasing sumbu.Draft RPP 19 Juli 2010 Dengan ketentuan apabila tenaga bantu (power steering) tersebut tidak bekerja maka kendaraan bermotor tersebut harus tetap dapat dikemudikan dengan tenaga yang wajar. b. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. Pasal 26 Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b harus memenuhi persyaratan : a. dalam hal ada bagian rem utama yang tidak berfungsi. tanjakan maupun turunan. 16 . rem utama ditempatkan dekat dengan pengemudi sehingga pengemudi dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kendaraan bermotor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi atau stang kemudi. Sistem kemudi yang dilengkapi dengan tenaga bantu harus dapat menurunkan kinerjanya seakan – akan tidak dilengkapi dengan alat bantu apabila kendaraan bermotor tersebut bergerak dengan kecepatan meningkat yang tidak sesuai dengan kecepatan normal. Pasal 24 Kendaraan Bermotor dengan transmisi otomatis (automatic transmission) harus dilengkapi dengan sistem yang dapat menurunkan putaran mesin ke kondisi yang menjamin keselamatan pada saat dilakukan pengereman. rem parkir yang dikendalikan dari ruang pengemudi dan mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. b. Pasal 23 Sistem rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf h berupa peralatan pengereman yang meliputi : a. dan b. rem utama. baik kendaraan bermotor yang berdiri sendiri maupun kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. rem parkir. penjelasan : yang dimaksud dengan menjamin keselamatan antara lain menggunakan alat yang mengembalikan putaran mesin dalam kondisi idle (brake to idle override). c. Pasal 25 Rem utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a harus memenuhi persyaratan : a. rem tersebut harus dapat bekerja sekurang-kurangnya pada roda-roda yang bersebelahan pada satu sumbu dan dapat digunakan untuk memperlambat dan menghentikan kendaraan.

250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh lebih dekat ke sisi bagian terluar kendaraan dibandingkan dengan tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. warna merah. warna merah. pemantul cahaya berwarna merah secara berpasangan. lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor dibagian belakang kendaraan berwarna putih. Pasal 29 Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b berjumlah genap. g. k. dipasang secara berpasangan berjumlah 2 (dua) buah dengan syarat : a. atau kuning muda. warna putih. Pasal 30 Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf c berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip. i. Pasal 28 Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a. d. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. lampu isyarat peringatan bahaya berwarna kuning tua dengan sinar kelap . lampu tanda batas secara berpasangan untuk kendaraan bermotor yang lebarnya lebih dari 2. lampu utama dekat. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. dengan syarat : a. lampu posisi depan. lampu posisi belakang. lampu utama jauh. c. warna putih atau kuning muda.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 27 Sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf i meliputi : a. f. tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada huruf a. e. lampu mundur dengan warna putih atau kuning muda kecuali untuk sepeda motor. dengan syarat : a. b. b. b.250 (seribu dua ratus lima puluh) millimeter dari permukaan jalan dan tidak boleh melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. 17 . tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat. lampu rem. warna kuning tua dengan sinar kelap-kelip. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.kelip. warna putih. atau kuning muda. lampu penunjuk arah. h. dipasang pada bagian muka kendaraan dan harus dapat menerangi jalan pada malam hari atau cuaca gelap. j.100 (dua ribu seratus) milimeter berwarna putih atau kuning muda untuk bagian depan dan berwarna merah untuk bagian belakang. dapat dilihat pada waktu siang atau malam hari oleh pengguna jalan lain.

dapat bersatu dengan lampu utama dekat. Ketentuan UN-ECE R48 INSTALLATION OF LIGHT MAXIMUM HEIGHT 2.500 (seribu lima ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian muka kendaraan.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan diukur pada ujung bagian atas lampu. dengan syarat : a. dipasang di bagian depan. Pasal 31 Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf d berjumlah sekurangkurangnya 2 (dua) buah. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. c.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. b. Catatan : Sesuai dengan Ergonomis posisi mata pengendara melihat ketinggian lampu. tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. dan harus dapat dilihat pada malam serta tidak menyilaukan pengguna jalan lain. diperbolehkan menggunakan 1 (satu) lampu rem tambahan. berjumlah sekurang-kurangnya 2 (dua) berpasangan pada bagian muka kendaraan dan 2 (dua) berpasangan pada bagian belakang kendaraan. dan d. lampu paling atas adalah lampu posisi Pasal 32 Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf e berjumlah 2 (dua). dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.100 (dua ribu seratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan. c.100 mm berbentuk vertical Lampu dengan susunan vertical. dengan syarat : a. tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan. b.100 mm Susunan lampu dengan ketinggian maksimum 2. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. penjelasan huruf c : yang dimaksud dengan lampu rem tambahan yaitu antara lain seperti hi-mount stop lamp yang dipasang di bagian dalam kaca belakang. b. 18 . dengan syarat : a.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dan harus dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pengguna jalan lainnya. Pasal 33 Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf f berjumlah genap. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 2. c. mempunyai kekuatan cahaya lebih besar dari lampu posisi belakang dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. di spoiler belakang kendaraan dan sebagainya).Draft RPP 19 Juli 2010 b. d.

tepi bagian terluar pemantul cahaya tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. dipasang di bagian belakang kiri atas dan kanan atas kendaraan. dipasang di bagian depan kiri atas dan kanan atas kendaraan. hanya menyala apabila penerus daya digunakan untuk posisi mundur. Pasal 37 Lampu tanda batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf j secara berpasangan bagi kendaraan yang memiliki lebar lebih dari 2. dipasang di bagian belakang kendaraan bermotor pada ketinggian tidak melebihi 1.200 (seribu dua ratus) milimeter di samping kiri dan kanan bagian belakang kendaraan. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain. d. b. dengan syarat : a. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1. d. b. berbentuk segitiga untuk kendaraan gandengan dan tempelan. dipasang di bagian belakang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor kendaraan pada malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang – kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang. c. Pasal 36 Lampu isyarat peringatan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf i menggunakan lampu penunjuk arah yang menyala secara bersamaan dengan sinar kelap-kelip.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram. dan b. dengan syarat : a. Pasal 38 Alat pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf k dipasang secara berpasangan dengan syarat : a. harus dapat dilihat oleh pengemudi kendaraan lain yang berada di belakangnya pada malam hari dengan cuaca cerah dari jarak sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter apabila pemantul cahaya tersebut disinari lampu utama kendaraan dibelakangnya. Pasal 39 (1) Kendaraan bermotor dapat dilengkapi dengan lampu kabut yang berjumlah paling banyak 2 (dua) buah dipasang di bagian depan kendaraan. dilengkapi tanda bunyi mundur untuk kendaraan dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 34 Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf g berjumlah 2 (dua). 19 .100 (dua ribu seratus) milimeter. Pasal 35 Lampu penerangan tanda nomor Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf h.500 (seribu lima ratus) milimeter. c.

berupa alat pengukur kecepatan mekanis dan/atau alat pengukur kecepatan elektronis. yang terpasang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pandangan samping dan belakang dengan jelas. Pasal 43 Kaca spion kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b. dilengkapi alat penyemprot kaca. berjumlah dua buah atau lebih. penghapus kaca kecuali sepeda motor. c. digerakkan secara mekanis dan/atau elektronis. b. dengan syarat : a. dilengkapi dengan pengukur jarak dan dipasang pada tempat yang mudah dilihat oleh pengemudi. harus memenuhi persyaratan : a. kaca spion. dipasang pada ketinggian tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. spakbor. c.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Lampu kabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengeluarkan cahaya berwarna putih atau kuning. e. dibuat dari kaca atau bahan menyerupai kaca. klakson. f. d. Pasal 41 Komponen pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf j meliputi : a. pengukur kecepatan (speedometer). titik tertinggi permukaan penyinaran tidak melebihi titik tertinggi permukaan penyinaran dari lampu utama dekat. tepi terluar permukaan penyinaran lampu kabut tidak melebihi 400 (empat ratus) milimeter dari sisi terluar kendaraan. d. b. Pasal 40 Ketentuan lebih lanjut mengenai lampu – lampu kendaraan bermotor dan pemantul cahaya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu membersihkan bagian kaca depan dengan cukup luas sehingga pengemudi mempunyai pandangan yang jelas ke jalan. Pasal 42 Pengukur kecepatan (speedometer) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a. b. tidak menyilaukan atau mengganggu pengguna jalan lain pada saat digunakan. Pasal 44 (1) Penghapus kaca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c. 20 . c. sekurang-kurangnya berjumlah satu buah dipasang di bagian kaca depan. harus memenuhi syarat : a. b. dan bumper kecuali sepeda motor.

Pasal 46 (1) Spakbor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf e. Pasal 49 Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf b terdiri atas: a. ataupun badan kendaraan. b. peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan. f. harus memiliki lebar paling sedikit selebar telapak ban. segitiga pengaman. dan g. Pasal 47 (1) Bumper sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf f. dipasang di depan dan belakang untuk mobil penumpang. pembuka roda. c.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 45 Klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf d. dongkrak. b. Pasal 48 Ketentuan lebih lanjut mengenai komponen pendukung diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. harus mengeluarkan bunyi paling rendah 83 (delapan puluh tiga) desibel (A) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A). (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang kendaraan. e. dipasang di depan untuk mobil barang. ban cadangan. (2) Bumper depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menonjol ke depan lebih dari 500 mm (lima ratus milimeter) melewati bagian badan kendaraan yang paling depan. sabuk keselamatan. d. helm dan rompi pemantul cahaya bagi pengemudi Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih yang tidak memiliki rumah-rumah. mobil bus dan mobil barang berbentuk tangki. catatan : tingkat suara paling rendah 83 (delapan puluh tiga) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel (A) akan diatur lebih lanjut sesuai dengan kategori kendaraannya. harus memenuhi persyaratan: a. 21 .

(6) Panjang lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b tidak boleh melebihi lebar kabin kendaraan. Lampu flashing (Strobo) / direct ional flashing lamp yaitu lampu peringatan khusus yang memancarkan cahaya kedap-kedip dengan arah sudut tertentu (Kategori X). posisi lampu yang berbentuk batang memanjang harus terpasang melintang dan diletakkan diatas atap kendaraan bagian luar.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 50 Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas. Catatan : Refrensi UN-ECE R65 (3) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dipasang dibagian atas kabin kendaraan sedemikian rupa sehingga dapat memancarkan cahaya secara efektif. Bar Lengkap (complete bar) yaitu lampu peringatan khusus dengan dua atau lebih sistem optik yang memancarkan cahaya berkedip di sekeliling sumbu vertikal. 22 . b. dapat mengeluarkan suara “hee – haw”secara terus menerus seperti suara meratap. Rotasi atau stasioner yaitu lampu peringatan khusus yang berkedip dengan memancarkan cahaya di sekeliling sumbu vertikal (Kategori T). b. c. terlihat di siang hari dari jarak sedikitnya 200 (dua ratus) meter dari segala arah. Pasal 51 (1) Untuk kepentingan tertentu. (2) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. Penjelasan : Pemasangan lampu tersebut dapat dipasang secara permanen maupun dapat dipindah-pindahkan (4) lampu isyarat sebagaimana pada ayat (2) huruf b dan c dipasang dibagian atas kabin kendaraan pada sumbu horizontal sejajar dengan bidang median longitudinal kendaraan. Kendaraan Bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene. b. merah. (7) sirene sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. (5) lampu isyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. dalam keadaan darurat dapat mengeluarkan suara “whooping” Pasal 52 (1) Lampu isyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 terdiri atas warna : a.

23 . pemadam kebakaran. dan c. (2) Sabuk keselamatan dapat dipasang di tempat duduk penumpang selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Lampu isyarat warna kuning sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berfungsi sebagai tanda peringatan kepada Pengguna Jalan lain. lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor tahanan.Draft RPP 19 Juli 2010 b. dan angkutan barang khusus. d. dan jenazah. dipasang sedemikian sehingga tidak ada benda atau peralatan lain yang mengganggu fungsinya. b. (3) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). perawatan dan pembersihan fasilitas umum. lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pasal 54 (1) Sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf a wajib dipasang di tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang di samping tempat duduk pengemudi. menderek Kendaraan. biru. pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. ambulans. tidak mempunyai tepi-tepi yang tajam yang dapat melukai pemakai. (2) Lampu isyarat warna merah atau biru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) berfungsi sebagai tanda Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama. rescue. b. (4) Penggunaan lampu isyarat dan sirene sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) sebagai berikut: a. kepala pengunci harus dapat dioperasikan dengan mudah. dan c. kuning. harus memenuhi persyaratan : a. lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor patroli jalan tol. pengawalan Tentara Nasional Indonesia. Pasal 53 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan lampu isyarat dan sirene diatur dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. paling sedikit berjumlah 3(tiga) jangkar untuk tempat duduk pengemudi dan tempat duduk penumpang paling pinggir di samping pengemudi serta paling sedikit berjumlah 2 (dua) jangkar untuk tempat duduk penumpang lainnya. c. palang merah.

Pasal 60 Peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf g paling sedikit terdiri dari : a. kuat dan tahan terhadap cuaca tertentu. obat antiseptic. Pasal 57 Dongkrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf d paling sedikit harus mampu mengangkat muatan sumbu sesuai dengan muatan sumbu terberat kendaraan bermotor yang digunakan. wajib dilengkapi dengan helm sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pengemudi dan penumpangnya. c. d. (2) Segitiga pengaman berwarna merah dan bersifat memantulkan cahaya (reflektif). memiliki ukuran lebar tapak yang berbeda dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut tetapi memiliki diameter keseluruhan sama. Pasal 59 (1) Helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Pasal 58 Pembuka roda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf e harus mampu membuka roda kendaraan bermotor yang digunakan dan tidak merusak komponen yang ada pada roda. Penjelasan : yang dimaksud dengan ban cadangan adalah ban yang bertekanan Ban cadangan yang dimaksud huruf b hanya untuk digunakan sementara waktu (temporary spare tire) dan dilengkapi pemberian informasi dalam bahasa Indonesia (kecepatan max 60 km/jam pada sisi bagian luar pelek dan warna pelek temporary spare tire dapat berbeda dengan pelek pada ban normal (UNECE R 64) Pasal 56 (1) Segitiga pengaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf c minimal berjumlah 2 (dua) buah. memiliki ukuran yang sama dengan ban yang terpasang pada kendaraan tersebut. b. atau b. plester. kain kassa (Perban). (2) Rompi pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf f harus mampu memantulkan cahaya.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 55 Ban cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 huruf b harus memenuhi persyaratan: a. kapas. 24 . (3) Setiap sepeda motor dengan atau tanpa kereta samping.

200 (empat ribu dua ratus) milimeter dan tidak lebih dari 1. Penjelasan : walaupun lebar 2. 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. 18.000 (delapan belas ribu) milimeter untuk Kendaraan Bermotor yang dilengkapi dengan kereta gandengan atau kereta tempelan.500 (dua ribu lima ratus) milimeter tergantung dari lebar chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan maksimal 50 milimeter ke kiri dan ke kanan Yang dimaksud dengan lebar maksimum adalah lebar terluar yang termasuk engsel-engsel.700 (tiga belas ribu tujuh ratus) millimeter untuk mobil bus yang memiliki paling sedikit 3 (tiga) sumbu. maksimum 62. julur depan (front over hang). 13. handle bak muatan. tinggi. sedangkan yang menjulur ke depan dari sumbu paling depan. dengan atau tanpa muatan harus memenuhi syarat: a.50 % (enam puluh dua koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya (wheel base). bukan berarti semua kendaraan boleh memiliki lebar maksimum 2. panjang tidak melebihi : 1. Namun tidak termasuk kaca spion di bagian luar kendaraan bermotor. lebar.7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan. julur belakang (rear over hang). 3. penjelasan ayat (2) : yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor adalah jarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat 25 . Pasal 63 (1) Ukuran Kendaraan Bermotor.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai perlengkapan kendaraan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. tinggi tidak melebihi 4.000 (dua belas ribu) milimeter untuk kendaran bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan dan jenis mobil barang yang memiliki sumbu paling sedikit 4 (empat) sumbu. c. jarak bebas (ground clearence) antara bagian permanen paling bawah kendaraan bermotor dengan permukaan bidang atau jalan yang rata. b.50 % (empat puluh tujuh koma lima puluh persen) dari jarak sumbunya. sudut pergi bagian belakang bawah kendaraan sekurang-kurangnya 8° (delapan derajat) diukur dari atas permukaan bidang atau jalan yang rata. 12. Pasal 62 Ukuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf c merupakan dimensi utama Kendaraan Bermotor yaitu panjang. lebar tidak melebihi 2. d. (2) Panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang. maksimum 47.500 (dua ribu lima ratus) milimeter. dan sudut pergi (departure angle). e.

Draft RPP 19 Juli 2010 dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh kecuali untuk kendaraan 2 (dua) sumbu. (3) Bak muatan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk kendaraan bermotor dengan sumbu belakang tunggal 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) milimeter. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang kecuali untuk dump truck. b. dan b. c. tergantung dari panjang chassis asli dari pabrik pembuat dan hanya boleh ditambah dengan bumper. daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut. (4) Tanda peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa tulisan yang mudah dilihat oleh pengemudi di dalam ruang pengemudi.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter.50 %. (2) Ukuran bak muatan mobil barang dengan atau tanpa muatan tergantung pada konfigurasi sumbu. wajib dilengkapi dengan tanda peringatan mengenai tinggi kendaraan.bak muatan tertutup. Jumlah Berat yang diIzinkan (JBI). lebar dan tinggi ukuran bak muatan harus sesuai dengan spesifikasi teknis kendaraan bermotor. jarak sumbunya dihitung dari jarak sumbu depan ke sumbu belakang yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) kendaraan bermotor yang memiliki lebih dari satu steering axle maka yang merupakan sumbu terdepan adalah steering axle yang paling depan yang dimaksud dengan jarak sumbu (wheel base) untuk kereta tempelan adalah jarak yang dihitung dari king pin ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh yang dimaksud dengan jarak sumbu untuk kereta gandengan adalahjarak yang dihitung dari sumbu depan ke titik tengah diantara sumbu terdekat dengan sumbu depan dengan sumbu yang paling jauh walaupun panjang bagian kendaraan tanpa muatan yang menjulur ke belakang dari sumbu paling belakang. 26 . bak muatan terbuka. Pasal 64 (1) Bak muatan mobil barang terdiri atas : a. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang memiliki tinggi total lebih dari 3. maksimum 62. Jumlah Berat yang diperBolehkan (JBB).50 %. kelas jalan yang dilalui dan spesifikasi tipe landasan kendaraan bermotor. panjang. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. bukan berarti semua kendaraan memiliki julur belakang 62.

500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 milimeter pada sisi kiri dan kanan.Draft RPP 19 Juli 2010 Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 (seratus) milimeter pada sisi kiri dan kanan. dinding terluar bak muatan bagian belakang tidak boleh melebihi ujung landasan/chassis bagian belakang. 27 . c. Apabila tinggi dinding bak paling depan lebih rendah dari jendela kabin belakang maka harus dipasang teralis besi di jendela kabin tersebut. tinggi bak muatan dihitung bedasarkan perbandingan daya angkut dan massa jenis barang yang diangkut. panjang dan lebar bak. harus memenuhi persyaratan antara lain: a. (4) Bak muatan tertutup sebagaimana dimakud pada ayat (1) huruf b. f. serta nilai tersebut tidak lebih besar dari lebar kabin ditambah 100 milimeter pada sisi kiri dan kanan. d. panjang maksimum bak muatan ditentukan oleh jarak minimum antara dinding terluar kabin bagian belakang dengan dinding terluar bak muatan bagian depan untuk Kendaraan Bermotor dengan sumbu belakang tunggal adalah 150 (seratus lima puluh) milimeter dan untuk kendaraan dengan sumbu belakang ganda atau lebih adalah 200 (dua ratus) millimeter. b. Kendaraan Bermotor untuk angkutan barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3. e. d. Penjelasan : Yang dimaksud dengan dinding terluar bak muatan bagian belakang adalah tidak termasuk engsel-engsel bak atau handle pintu bagian belakang bak muatan. kiri dan belakang paling atas. lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar ban terluar pada sumbu kedua atau sumbu belakang kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan. Penjelasan : Yang dimaksud tinggi bak muatan adalah tinggi bak yang dihitung dari lantai bak sampai dengan tinggi dinding sisi kanan. ukuran bak muatan harus ditentukan berdasarkan spesifikasi teknis Kendaraan Bermotor.

Draft RPP 19 Juli 2010 e. untuk Kendaraan Bermotor barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) kurang dari atau sama dengan 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram lebar bak muatan terbuka maksimum adalah lebar kabin pengemudi terluar pada kendaraan ditambah maksimum 50 (lima puluh) milimeter pada sisi kiri dan kanan; tinggi bak muatan tertutup diukur dari permukaan tanah maksimum 4.200 mm (empat ribu dua ratus milimeter) dan tidak lebih dari 1,7 (satu koma tujuh) kali lebar kendaraan bermotor. Pasal 65 (1) Jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk Kendaraan Bermotor, atau rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan atau kereta tempelan ditentukan oleh pembuatnya berdasarkan : a. perhitungan kekuatan konstruksi; b. besarnya daya motor; c. kapasitas pengereman; d. kemampuan ban; e. kekuatan sumbu-sumbu; f. ketinggian tanjakan jalan. (2) Jumlah berat yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus lebih kecil atau sama dengan hasil penjumlahan dari kekuatan masing-masing sumbu. Pasal 66 (1) Jumlah berat yang diizinkan atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan pada setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan atau kereta tempelan, ditentukan berdasarkan : a. berat kosong kendaraan; b. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau c. jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan; d. dimensi kendaraan dan bak muatan; e. titik berat muatan dan pengemudi; f. kelas jalan; g. jumlah tempat duduk yang tersedia, bagi mobil bus. (2) Jumlah berat kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan bagi kendaraan. (3) Jumlah berat kombinasi kendaraan yang diizinkan maksimum sama dengan jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan. Pasal 67 (1) Radius putar Kendaraan Bermotor tanpa kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 12.000 (dua belas ribu) milimeter.
28

f.

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Radius putar Kendaraan Bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan maksimum 18.000 (delapan belas ribu) milimeter. Pasal 68 (1) Bagian Kendaraan Bermotor atau rangkaian Kendaraan Bermotor beserta muatan yang menonjol, maksimum 2.000 (dua ribu) milimeter dari sisi bagian terluar belakang kendaraan bermotor dan tidak melebihi kaca depan kendaraan bermotor. (2) Apabila muatan menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada ujung muatan ditambah lampu-lampu atau pemantul cahaya. (3) Panjang total kendaraan bermotor beserta muatan yang menonjol sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lebih dari ketentuan panjang total sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67. Pasal 69 Rangkaian Kendaraan Bermotor yang diizinkan dioperasikan di jalan, meliputi: a. Mobil Barang dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; b. Mobil Bus dengan kereta gandengan atau kereta tempelan; c. Mobil Penumpang dengan kereta gandengan; d. Sepeda Motor dengan kereta gandengan. Pasal 70 Setiap Mobil Barang dengan atau tanpa Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki JBB atau JBKB lebih dari 12.000 (dua belas ribu) kilogram harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukan kendaraan bermotor berat. Pasal 71 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang memiliki panjang lebih dari 6.000 (enam ribu) milimeter, harus dilengkapi dengan pelat tanda gandengan atau tempelan yang memantulkan cahaya. (2) Pelat tanda gandengan atau tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan warna dasar kuning dengan warna tulisan hitam dengan bertuliskan kata gandengan. (3) Pelat belakang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada perisai kolong atau di tempat lain pada sisi belakang Kendaraan. Pasal 72 (1) Kendaraan Bermotor dengan pengemudi dalam kondisi tertentu dapat ditarik Kendaraan Bermotor lain. penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan kondisi tertentu antara lain mogok, kendaraan rusak, memindahkan kendaraan.

29

Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Kendaraan Bermotor penarik harus dilengkapi dengan alat penarik yang kaku, apabila Kendaraan Bermotor yang akan ditarik memiliki JBB lebih dari 4.000 (empat ribu) kilogram dengan jarak antara kendaraan penarik dan yang ditarik tidak lebih dari 5 (lima) meter. (3) Kendaraan Bermotor tanpa pengemudi dapat ditarik dengan cara mengangkat dan menempatkan sumbu Kendaraan Bermotor dengan peralatan derek yang terpasang pada kendaraan bermotor penarik. (4) Kendaraan Bermotor yang ditarik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memiliki berat tidak lebih dari separoh berat kendaraan penarik, serta tidak lebih dari 750 (tujuh ratus lima puluh) kilogram. (5) Kendaraan Bermotor yang ditarik pada waktu malam hari harus menyalakan lampu isyarat atau memasang tanda yang dapat memantulkan cahaya, di bagian belakang. Pasal 73 Ketentuan lebih lanjut mengenai ukuran Kendaraan Bermotor, tanda kendaraan bermotor berat, tanda gandengan atau tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 74 Karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d merupakan badan kendaraan, antara lain kaca-kaca, pintu, engsel, tempat duduk, tempat pemasangan tanda nomor Kendaraan Bermotor, tempat keluar darurat dan tangga untuk Mobil Bus, dan perisai kolong untuk Mobil Barang. Pasal 75 Rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf e merupakan rancangan yang sesuai dengan fungsi: a. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut orang; atau b. Kendaraan Bermotor untuk mengangkut barang. Pasal 76 Pemuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf f merupakan tata cara untuk memuat orang dan/atau barang. Pasal 77 Penggunaan sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf g merupakan cara menggunakan Kendaraan Bermotor sesuai dengan peruntukannya.

30

Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 78 Penggandengan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf h merupakan cara menggandengkan Kendaraan Bermotor dengan menggunakan alat perangkai. Pasal 79 Penempelan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf i dilakukan dengan cara : a. menggunakan alat perangkai; b. menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci; dan c. dilengkapi kaki-kaki penopang.

Paragraf 2 Persyaratan Laik Jalan Pasal 80 (1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan. (2) Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal Kendaraan Bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas: a. emisi gas buang; b. kebisingan suara; c. efisiensi sistem rem utama; d. efisiensi sistem rem parkir; e. kincup roda depan; f. suara klakson; g. daya pancar dan arah sinar lampu utama; h. radius putar; i. akurasi alat penunjuk kecepatan; j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat Kendaraan. Pasal 81 (1) Ketentuan mengenai persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) berlaku bagi setiap jenis Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan kecuali huruf h untuk Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor. (2) Ketentuan mengenai pengecualian dan/atau penambahan terhadap pemenuhan persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan terhadap: a. Kendaraan Bermotor untuk orang cacat;
31

harus pula dilengkapi dengan rem parkir. 32 . Pasal 45. b. Pasal 46. Kendaraan Bermotor yang menggunakan teknologi baru. Kendaraan Bermotor yang dicoba di jalan dalam rangka penelitian. Pasal 50. Pasal 83 (1) Sistem rem Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25. apabila daya pengereman yang diperlukan dapat diperoleh dari rem yang terdapat pada sepeda motor yang bersangkutan. pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat dan memberhentikan sepeda motor dari tempat duduknya tanpa melepaskan tangannya dari roda kemudi. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 kecuali huruf h.Draft RPP 19 Juli 2010 b. Pasal 43. Pasal 84 (1) Keharusan melengkapi alat pengereman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) tidak berlaku untuk roda kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor. Pasal 18 sampai dengan Pasal 40. yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) maksimum 400 kg (empat ratus kilogram). Bagian Kedua Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Sepeda Motor Pasal 82 (1) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) kecuali huruf i. Pasal 16. Pasal 17 kecuali ayat (2) huruf c. (3) Peralatan rem sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi syarat : a. Pasal 41 kecuali huruf c dan huruf f. (2) Setiap Sepeda Motor roda dua atau roda tiga yang dipasang simetris terhadap sumbu tengah kendaraan yang membujur ke depan harus dilengkapi dengan peralatan pengereman pada roda belakang dan roda depan. kecuali peralatan rem parkir tidak berlaku baik dengan atau tanpa kereta samping. dan Pasal 59 ayat (3). Pasal 42. bekerja pada semua roda sepeda motor sesuai dengan besarnya beban pada masing-masing sumbu rodanya. (2) Sepeda Motor yang mempunyai roda tiga selain dilengkapi dengan peralatan pengereman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 15 kecuali ayat (1) huruf c dan huruf d. Pasal 11 kecuali ayat (1) huruf d. c.

(6) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama jauh.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Rem parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. lampu penunjuk arah secara berpasangan di bagian depan dan bagian belakang sepeda motor. lampu utama jauh harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. (8) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dipasang secara 33 . maka (5) Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. lampu utama dekat harus dipasang secara berdekatan sedekat mungkin. sejajar di sisi kiri dan kanan bagian muka dan bagian belakang Sepeda Motor. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan pada malam hari dengan cuaca cerah. Pasal 85 (1) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping harus dilengkapi dengan lampu- lampu dan pemantul cahaya yang meliputi : a. berwarna putih atau kuning muda dan dapat menerangi jalan secukupnya pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter ke depan Sepeda Motor. f. b. paling banyak dua buah. e. paling banyak dua buah. sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) meter ke depan Sepeda Motor. c. dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis atau sistem lain sesuai perkembangan teknologi. tanjakan maupun turunan. apabila mampu mempunyai kecepatan melebihi 40 (empat puluh) km per jam pada jalan datar. dan dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. lampu utama dekat. Catatan : Kendaraan bermotor roda 3 (tiga) harus memiliki 2 (dua) alat pemantul cahaya berwarna merah pada sisi belakang dan 2 (dua) warna putih pada sisi depan dan tidak berbentuk segitiga. lampu posisi belakang. mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada jalan datar. b. lampu rem. (2) Sepeda Motor dengan atau tanpa kereta samping selain dilengkapi dengan lampu (3) Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. (4) Jika Sepeda Motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama dekat. berjumlah genap dengan sinar kelap-kelip berwarna kuning tua. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi lampu posisi depan. lampu utama jauh. 1 (Satu) atau 2 (dua) pemantul cahaya berwarna merah yang tidak berbentuk segitiga. maka (7) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. d.

maka cukup dilengkapi dengan satu lampu utama dekat dan satu lampu utama jauh. d.300 (seribu tiga ratus) milimeter. di bagian belakang dengan lampu posisi belakang. dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor. b. 34 . lampu penunjuk arah yang dipasang di sisi kiri bagian depan dan belakang Sepeda Motor. Pasal 87 (1) Kereta samping yang dipasang pada Sepeda Motor roda dua.Draft RPP 19 Juli 2010 (9) Jika Sepeda Motor mempunyai dua lampu posisi depan. kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang yang dipasang pada bagian belakang Sepeda Motor dan tidak menyilaukan bagi pengguna jalan lain. Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h. c. harus dilengkapi dengan lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan yang diperlakukan sebagai sepeda motor. Pasal 86 (11) (12) Selain dilengkapi dengan lampu-lampu dan pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 Kendaraan Bermotor jenis Sepeda Motor juga harus dilengkapi dengan satu lampu penerangan tanda nomor Kendaraan di bagian belakang. (3) Sepeda Motor yang mempunyai tiga roda dipasang secara simetris terhadap bidang sumbu Sepeda Motor yang membujur. satu pemantul cahaya. (10) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. lampu-lampu itu harus berdekatan sedekat mungkin. berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua) berwarna merah yang dapat dilihat pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. di bagian depan dengan lampu posisi depan. (4) Jika lebar Sepeda Motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi 1. (2) Lampu posisi depan dan lampu posisi belakang kereta samping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyala apabila lampu posisi belakang Sepeda Motor dinyalakan. Lampu rem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f berjumlah 1 (satu) atau 2 (dua). harus dilengkapi : a. Penjelasan ayat (10) Yang dimaksud dengan lampu posisi belakang berjumlah paling banyak adalah 2 (dua) atau 1 (satu) kelompok yang berdekatan.

Penjelasan . Pasal 94 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. transmisi Pasal 92 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan jenis Mobil Penumpang diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.000 (seribu) milimeter. Pasal 89 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan Jenis Sepeda Motor diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.000 kg (tujuh ribu kilogram) harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7. Bagian Ketiga Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Penumpang Pasal 90 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80. 35 .000 (dua belas ribu) kilogram harus pula dilengkapi dengan rem pelambat. Bagian Keempat Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Bus Pasal 93 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 80. Pasal 91 Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem pakir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25.000 kg (tujuh ribu kilogram) dan Mobil Barang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 12. setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Penumpang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 7.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 88 Lebar kereta gandengan yang dapat ditarik oleh Sepeda Motor maksimum 1. Penjelasan : Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake).

satu pintu keluar dan/atau masuk yang lebar-nya sekurang-kurangnya 1.Draft RPP 19 Juli 2010 Yang termasuk dengan rem pelambat contoh rem gas buang (exhaust brake). atau b.200 (seribu dua ratus) milimeter yang meliputi seluruh tinggi dinding. 36 . (4) Anak tangga paling bawah dari pintu keluar atau masuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling tinggi 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter diukur dari permukaan jalan dan lebar sekurangkurangnya 400 (empat ratus) milimeter. setiap Mobil Bus harus pula mempunyai tempat keluar darurat pada kedua sisinya. tidak termasuk pengemudi. (5) Tangga pintu keluar/masuk penumpang yang dapat dilipat. jika pintu dibuka. yang lebarnya sekurang-kurangnya 650 (enam ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. (2) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang sebanyak 15 (lima belas) orang atau lebih. terdiri dari : 1. dan 2. harus mempunyai sekurang-kurangnya : a. dua pintu keluar dan/atau masuk untuk penum-pang. satu pintu harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sekurangkurangnya : a. (2) Jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). jika muatannya tidak lebih dari 26 (dua puluh enam) penumpang. harus dikonstruksi sedemikian sehingga anak tangga selalu berada pada tempatnya secara kukuh dan memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). 1 (satu) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. transmisi Pasal 95 Ketentuan lebih lanjut mengenai kendaraan bermotor jenis Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. satu pintu lainnya ditempatkan pada dinding kiri dengan lebar sekurangkurangnya 550 (lima ratus lima puluh) milimeter dan meliputi seluruh tinggi dinding. Pasal 97 (1) Di samping pintu keluar/masuk penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96. (3) Pintu keluar/masuk untuk penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus menjamin kemudahan penggunaannya dan tidak terhalang. Pasal 96 (1) Setiap Mobil Bus yang dirancang untuk mengangkut penumpang kurang dari 15 (lima belas) orang tidak termasuk pengemudi. harus mempunyai sekurangkurangnya satu pintu keluar dan/atau masuk penumpang pada dinding kiri bagian depan atau belakang.

(2) Tinggi atap bagian dalam kendaraan. Pasal 99 (1) Setiap Mobil Bus dilengkapi lorong dengan lebar efektif 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter atau lebih yang membentang dari pintu masuk sampai ke setiap tempat duduk. (5) Tempat keluar darurat berupa jendela harus meme-nuhi persyaratan : a. memiliki ukuran minimum 600 (enam ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter dan apabila memiliki ukuran sekurang-kurangnya 1. 3 (tiga) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya antara 51 (lima puluh satu) dan 80 (delapan puluh) penumpang. d. c. tidak dirintangi oleh tongkat-tongkat atau jeruji pelindung.500 (seribu lima ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. untuk mobil bus yang tidak dilengkapi dengan tempat berdiri. 1.Draft RPP 19 Juli 2010 b. harus memenuhi persyaratan : a. c. b. d.700 (seribu tujuh ratus) milimeter diukur dari lantai bagian dalam kendaraan. 37 . b. (2) Tempat duduk di dekat tempat keluar darurat harus mudah dilepas atau dilipat. Pasal 98 (1) Tempat keluar darurat diberi tanda dengan tulisan yang menyatakan tempat keluar darurat. memiliki lebar sekurang-kurangnya 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. jumlah tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat diku-rangi dengan satu. 1. (4) Tempat keluar darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa jendela dan atau pintu. sudut-sudut jendela yang berfungsi sebagai tempat keluar darurat tidak runcing. mudah dibuka setiap waktu dari dalam. dan penjelasan mengenai tata cara membukanya. mudah dan cepat dapat dibuka atau dirusak atau dilepas. 2 (dua) tempat keluar darurat pada setiap sisi kanan-kiri. (3) Pada sisi kiri. (6) Tempat keluar darurat berupa pintu yang dipasang pada dinding samping kanan.200 (seribu dua ratus) milimeter kali 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter disamakan dengan memiliki dua tempat keluar darurat. 4 (empat) tempat keluar darurat pada setiap sisi jika muatannya lebih dari 80 (delapan puluh) penumpang. untuk mobil bus yang dileng-kapi dengan tempat berdiri. b. diukur 400 (empat ratus) milimeter dari dinding samping dalam kendaraan. jika muatannya antara 27 (dua puluh tujuh) dan 50 (lima puluh) penumpang. jika pada dinding belakang terdapat pintu yang lebarnya paling sedikit 430 (empat ratus tiga puluh) milimeter. sekurang-kurangnya : a.

(2) Mobil bus sekolah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 105 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk mobil bus sekolah diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 102 Setiap Mobil Bus sekolah pada sisi luar bagian depan dan belakang. Pasal 103 (1) Setiap Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan lampu berwarna merah di bawah jendela belakang yang berfungsi memberi tanda bahwa mobil bus sekolah tersebut berhenti. dipasang suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan bus sekolah. Pasal 104 (1) Pintu masuk dan atau keluar Mobil Bus sekolah dilengkapi dengan anak tangga. 38 . (2) Jarak antara anak tangga yang satu dengan lainnya paling tinggi 200 (dua ratus) milimeter dan jarak antara permukaan tanah dengan anak tangga terbawah paling tinggi 300 (tiga ratus) milimeter. harus jelas dinyatakan dengan suatu tulisan yang ditempatkan di dalam Mobil Bus sehingga jelas kelihatan oleh awak dan penumpangnya. (3) Ukuran lebar dan tinggi efektif pintu masuk dan atau keluar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 100. Pasal 101 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk Mobil Bus diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dilengkapi suatu tanda yang jelas kelihatan berupa tulisan berhenti jika lampu merah nyala dipasang di bawah jendela belakang.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 100 Jumlah tempat duduk dan tempat berdiri di dalam Mobil Bus umum.

tanjakan maupun turunan. harus dilengkapi dengan peralatan yang dapat bekerja secara otomatis menghentikan kereta gandengan apabila alat perangkai putus/terlepas dari kendaraan penariknya. yaitu : a. Penjelasan rem yang menjalankan dua fungsi pengereman dalam ketentuan ini dapat mempunyai bagian-agian yang merangkap dan bekerja pada semua roda). Pasal 108 (1) Rem utama kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) huruf a. Pasal 107 (1) Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan. Rem parkir tersebut harus dilengkapi dengan alat pengunci mekanis).Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kelima Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Jenis Mobil Barang Pasal 106 Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Barang yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sampai denga Pasal 80. Rem utama tersebut harus dapat bekerja secara serempak atau hampir bersamaan pada setiap roda pada rangkaian kendaraan bermotor). 39 . penjelasan huruf a: rem utama dalam ketentuan ini harus mampu mengendalikan kecepatan dan memberhentikan rangkaian kendaraan bermotor dengan kereta gandengan atau kereta tempelan. baik dalam keadaan tanpa muatan maupun dengan muatan sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan. (2) Ketentuan mengenai keharusan melengkapi rem yang dapat menjalankan dua fungsi sebagaimana dimaksud alam ayat (1) tidak berlaku untuk kereta tempelan satu sumbu yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan tidak melebihi 750 kg (tujuh ratus lima puluh kilogram). rem parkir yang mampu menahan posisi kereta gandengan atau kereta tempelan berhenti pada jalan datar. b. rem utama yang memungkinkan pengemudi dari tempat duduknya dapat mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kereta gandengan atau kereta tempelan secara bersama-sama atau hampir bersamaan dengan kendaraan bermotor penariknya. harus dilengkapi dengan rem yang dapat menjalankan dua fungsi. Penjelasan huruf b : rem parkir harus dapat berfungsi secara baik pada semua kondisi jalan bila kendaraan bermotor yang bersangkutan dimuati sesuai dengan jumlah berat yang diperbolehkan.

berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip berwarna kuning tua serta dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan lainnya. harus memiliki peralatan pengereman yang bersesuaian. Pasal 111 (1) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf a. pada masing-masing roda setiap sumbu rangkaian Kendaraan. d. Penjelasan ayat (1) yang dimaksud dengan bersesuaian adalah penggunaan sistem pengereman yang bersesuaian antara kendaraan bermotor penarik dengan kendaraan yang ditarik. maka kendaraan yang ditarik harus menggunakan sistem rem hidrolis pula). maka sistem rem yang digunakan pada kendaraan yang ditarik juga sistem udara.500 kg (seribu lima ratus kilogram) dan/atau kereta gandengan yang ditarik oleh kendaraan bermotor penarik yang dirancang untuk kecepatan maksimum kurang dari 20 km/jam (dua puluh kilometer per jam). 40 . (2) Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan dan belakang Kereta Gandengan. berbentuk segitiga secara berpasangan. alat pemantul cahaya berwarna putih yang tidak berbentuk segitiga secara berpasangan. lampu mundur secara berpasangan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan yang jarak sumbu rodanya kurang dari satu meter dengan jumlah berat yang diperbolehkan tidak lebih dari 1. atau jika kendaraan bermotor penariknya menggunakan sistem rem hidrolis. misalnya apabila kendaraan bermotor penariknya menggunakan alat pengereman dengan sistem udara. h. apabila lebar kereta gandengan lebih dari 800 (delapan ratus) milimeter. f. apabila sisi terluar kereta gandengan melampaui tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang kendaraan penariknya. c. (2) Bekerjanya rem utama harus tersebar dan bekerja hampir bersamaan secara baik. g. Pasal 110 Kereta Gandengan dan Kereta Tempelan wajib dilengkapi dengan lampu-lampu dan alat pemantul cahaya yang meliputi : a. e. alat pemantul cahaya berwarna merah. Pasal 109 (1) Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang dirangkaikan dengan Kendaraan Bermotor dalam satu rangkaian Kendaraan. lampu penerangan tanda nomor kendaraan di bagian belakang kendaraan. lampu posisi belakang secara berpasangan. b. lampu posisi depan secara berpasangan. lampu rem secara berpasangan. lampu penunjuk arah secara berpasangan.

berjumlah dua buah dan berwarna putih. Pasal 113 (1) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf c. berjumlah dua buah berwarna putih atau kuning muda yang tidak menyilaukan atau mengganggu pemakai jalan lain.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 112 (1) Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf b. (2) Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian depan kereta gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 150 (sertus lima puluh) milimeter. berjumlah dua buah berwarna merah yang kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang dan dipasang di sebelah kiri dan kanan bagian belakang Kereta Gandengan. Pasal 114 (1) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf d. (3) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter. (2) Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 400 (empat ratus) milimeter. Pasal 115 Lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor bagian belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf e. berjumlah genap dan berwarna merah yang kelihatan pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya. dipasang dengan baik sehingga dapat menerangi tanda nomor Kendaraan pada waktu malam hari dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang . 41 . (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk Kereta Gandengan dengan ukuran kecil yang posisinya dalam keadaan ditarik tidak menutupi lampu rem dari kendaraan penariknya. dilengkapi satu buah atau lebih lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 116 (1) Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf f. (2) Lampu mundur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya menyala apabila alat penerus daya digunakan pada posisi mundur.kurangnya 50 (lima puluh) meter dari belakang.

tidak melebihi 100 (seratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. apabila lampu-lampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan menyala.250 (seribu dua ratus lima puluh) milimeter dari permukaan jalan. simetris dengan sesamanya terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. d. e. dan lampu tanda batas. c. harus dapat dinyalakan atau dimatikan. (2) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilihat oleh pengemudi yang ada dibelakangnya pada waktu malam hari dalam cuaca cerah dari jarak 100 (seratus) meter apabila terkena sinar lampu utama kendaraan di belakangnya. (4) Kereta Gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 (delapan ratus) milimeter dilengkapi satu buah atau lebih pemantul cahaya. memenuhi persyaratan kalorimetris yang sama. berjumlah genap berwarna merah dan berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisinya tidak kurang dari 150 (seratus lima puluh) milimeter dan tidak melebihi 200 (dua ratus) milimeter serta dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang Kereta Gandengan. lampu penerangan tanda nomor Kendaraan. Pasal 119 Lampu-lampu yang berpasangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 harus memenuhi persyaratan : a. lampu posisi belakang. Pasal 118 Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf h. 42 . Pasal 120 (1) Lampu posisi depan. berjumlah dua buah dan dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan kereta gandengan dengan jarak tidak melebihi 400 (emapt ratus) milimeter dari sisi terluar Kereta Gandengan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku apabila lampu utama jauh sedang memberikan peringatan. (2) Lampu utama jauh atau lampu utama dekat.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 117 (1) Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 huruf g. atau lampu kabut yang dipasang pada kendaraan hanya dapat dinyalakan. mempunyai sifat-sifat fotometris yang sama. (3) Titik sudut terluar pemantul cahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dipasang pada kendaraan dengan tinggi tidak melebihi 1. secara serentak. dipasang simetris terhadap bidang sumbu tengah memanjang kendaraan. b.

hanya boleh digunakan pada rangkaian kendaraan yang memiliki jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan maksimum 20. cahaya berwarna merah ke arah depan. Pasal 126 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan harus menggunakan alat perangkai. cahaya berwarna putih ke arah belakang kecuali lampu mundur.000 milimeter diukur dari sisi terluar bagian belakang kereta gandengan atau kereta tempelan. ketika sumbu yang lain berada dalam posisi diangkat. (2) Letak kaki penopang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak melebihi lebar Pasal 124 Setiap Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang tinggi ujung landasannya dan atau bagian belakang dan/atau bagian samping badannya berjarak lebih dari 700 milimeter di atas jalan. Kereta Tempelan. selain lampu penunjuk arah dan lampu isyarat peringatan bahaya. Pasal 123 (1) Setiap Kereta Tempelan dilengkapi dengan kaki-kaki penopang yang dipasang secara kukuh pada jarak lebih dari dua pertiga dari seluruh panjang kereta tempelan. otomatis dan bukan otomatis. Kereta Gandengan atau Kereta Tempelan yang menyinarkan : a. dipasang perisai kolong. diukur dari ujung paling belakang kereta tempelan. Pasal 125 Peralatan hidrolis. dan/atau sumbu paling belakang berjarak lebih dari 1. (3) Alat perangkai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa alat perangkai (4) Apabila rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan alat perangkai otomatis. c. apabila rancangan alat pengangkat tersebut tidak menimbulkan lebih muatan pada salah satu sumbu kendaraan. pneumatis atau mekanis yang memungkinkan diangkatnya rodaroda dari tanah dapat digunakan sewaktu Kendaraan berjalan biasa. 43 . cahaya kelap-kelip. b.000 Kg (dua puluh ribu kilogram).Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 121 Dilarang memasang lampu pada Kendaraan Bermotor. (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menggunakan roda kelima yang dilengkapi dengan alat pengunci. Pasal 122 (1) Rangkaian Kendaraan Bermotor dengan Kereta Tempelan harus menggunakan alat perangkai.

kereta gandengan dan kereta tempelan diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik (tractor head) yang sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan penariknya dan memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) sumbu roda. atau alat sejenisnya yang dapat mencegah tongkat penarik menyentuh tanah dan memungkinkan kereta gandengan tersebut dihentikan apabila alat penariknya putus. b. GCW. sewaktu terjadi tubrukan atau sebagai akibat dari getaran kendaraan. kukuh. c. kereta tempelan (semi trailer). Pasal 127 Kereta Gandengan yang tidak dilengkapi dengan rem otomatis wajib dilengkapi dengan alat tambahan berupa rantai. sehingga dapat menahan seluruh berat kendaraan yang ditarik.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Alat perangkai Kendaraan Bermotor dengan Kereta Gandengan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 129 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tambahan khusus untuk rangkaian kendaraan. dilengkapi dengan alat keselamatan yang layak untuk mencegah pemisahan yang tidak disengaja. kabel. Penjelasan : Yang dimaksud dengan kereta gandengan atau tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor Yang dimaksud dengan Kendaraan bermotor penarik adalah kendaraan bermotor yang memiliki perlengkapan untuk menarik. sistem pengereman. (2) Bus gandeng yang dirangkaikan dengan bus penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor. Pasal 128 (1) Kereta gandengan dan kereta tempelan yang dirangkaikan dengan kendaraan bermotor penarik ditetapkan sebagai kendaraan bermotor apabila : a. b. Kereta gandengan (full trailer). dikonstruksi dengan gerakan terbatas dan dapat merangkaikan kendaraan bermotor penarik dengan Kendaraan yang ditarik dengan kukuh dan sempurna. 44 . yang dirancang untuk ditarik oleh kendaraan penarik yang seluruh bebannya ditumpu oleh kereta gandengan itu sendiri dan memiliki sebanyak-banyaknya 2 (dua) sumbu roda. sistem kelistrikan pada kendaraan.

delman. cikar. b. (3) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. c. tanda atau petunjuk bagi penyandang tunanetra. kereta dorong. dan b. tempat naik dan turun penumpang yang dapat dioperasikan secara automatik maupun mekanik. kereta. sepeda. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga orang.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Keenam Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bagi Penyandang Cacat Pasal 130 (1) Kendaraan khusus penyandang cacat harus dirancang khusus yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu. Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga hewan. (2) Setiap Kendaraan Bermotor jenis Mobil Bus atau Mobil Penumpang yang digunakan sebagai angkutan umum wajib menyediakan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat. 45 . becak. terdiri atas : a. c. (3) Fasilitas bagi penumpang penyandang cacat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi antara lain : a. (2) Kendaraan tidak bermotor yang digerakkan oleh tenaga orang sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a. terdiri atas : a. b. BAB V KENDARAAN TIDAK BERMOTOR Bagian Kesatu Jenis Pasal 131 (1) Kendaraan Tidak Bermotor dikelompokkan dalam: a. b.

panjang maksimum 5. lebar maksimum 1. 2. lebar maksimum 2. panjang maksimum 5.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. 2. panjang maksimum 2. (5) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong tidak termasuk muatannya adalah : a. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Kedua Persyaratan Keselamatan Pasal 132 Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis sepeda tidak termasuk muatannya adalah : a. b. panjang maksimum 1.100 (dua ribu seratus) milimeter.800 (dua ribu delapan ratus) millimeter.000 (enam ribu) millimeter. panjang maksimum 2. panjang maksimum 6. 3.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. 3. 3.200 (dua ribu dua ratus) millimeter. b.400 (lima ribu empat ratus) millimeter. (2) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut barang tidak termasuk muatannya adalah : a. panjang maksimum 2.300 (dua ribu tiga ratus) millimeter. panjang maksimum 5.000 (lima ribu) millimeter. lebar maksimum 550 (lima ratus lima puluh) milimeter.500 (seribu lima ratus) millimeter. c. lebar maksimum 1. Pasal 133 (1) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis Kereta yang ditarik hewan untuk mengangkut orang tidak termasuk muatannya adalah : a.700 (seribu tujuh ratus) millimeter. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1.700 (dua ribu dua tujuh ratus) millimeter. ditarik dengan 2 (dua) ekor hewan : 1. b. lebar maksimum 2. lebar maksimum 2. b.000 (dua ribu) milimeter.250 (dua ribu dua ratus lima puluh) milimeter. (4) Ukuran utama kendaraan tidak bermotor jenis becak tidak termasuk muatan adalah : a. 46 . panjang maksimum 2.500 (seribu lima ratus) millimeter. lebar maksimum 1.250 (lima ribu dua ratus lima puluh) milimeter. 2. 2.800 (seribu delapan ratus) millimeter. panjang maksimum 2. panjang maksimum 2. (3) Untuk kepentingan angkutan pariwisata persyaratan kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik oleh hewan lebih dari 2 (dua) ekor diatur dengan Peraturan Daerah sesuai kebutuhan daerah masing – masing dengan tetap memperhatikan keselamatan berlalu lintas. 3. ditarik dengan 1 (satu) ekor hewan : 1.

diatur dengan Peraturan Daerah.500 (dua aribu lima ratus) millimeter. harus dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi tanpa mengganggu pengemudi dalam mengendalikan atau mengemudikan kendaraan. panjang maksimum 2. becak dan kereta yang ditarik kuda harus dilengkapi dengan spakbor. (6) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta dorong yang ketinggiannya melebihi bahu orang yang mendorongnya. c. Pasal 137 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis kereta yang ditarik dengan hewan harus dilengkapi dengan alat bantu yang berfungsi untuk memperlambat kecepatan kendaraan sebagai pengganti rem. (2) Rem kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Alat bantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memiliki lebar sekurang – kurangnya selebar telapak ban.000 (dua ribu) millimeter. mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke arah belakang atau badan kendaraan. harus memiliki sistem suspensi berupa penyangga yang mampu menahan beban.getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan. Pasal 138 Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan penggunaan kendaraan tidak bermotor. penjelasan : yang dimaksud dengan alat bantu antara lain tali pengendali. (2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. Pasal 136 (1) Kendaraan tidak bermotor jenis sepeda dan becak harus dilengkapi dengan rem yang berfungsi dengan baik untuk mengendalikan kecepatan atau memperlambat dan menghentikan kendaraan. harus dibuat sedemikian rupa sehingga tetap memiliki bidang pandang bagi pendorongnya untuk dapat melihat kedepan secara leluasa. sekurang-kurangya dipasang pada roda penggerak kendaraan sesuai dengan besarnya beban. Pasal 135 (1) Setiap kendaraan tidak bermotor jenis sepeda. panjang maksimum 2.Draft RPP 19 Juli 2010 b. b. Pasal 134 Setiap kendaraan tidak bermotor kecuali sepeda jenis kereta yang ditarik dengan hewan untuk angkutan barang atau kereta dorong atau tarik. 47 .

kategori L3 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya 4. M2 dan M3. L4 dan L5. Sepeda motor masuk dalam kategori L1. kereta gandengan. kategori L1 adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. Penjelasan ayat (1) Tujuan dilakukan pengujian adalah dalam rangka menjamin keselamatan. penjelasan huruf a kendaraan bermotor kategori L yaitu kendaraan beroda kurang dari empat 1. meliputi: a. menjaga kelestarian lingkungan dan pelayanan umum. L3. (2) Kategori jenis kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi c. dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan wajib dilakukan pengujian sesuai dengan kategori jenis kendaraan bermotor. kategori L5 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda simetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. kategori M1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan 48 . kategori L2 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda sembarang dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis ienaga penggeraknya 3. kategori L4 adalah kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda asimetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya (sepeda motor dengan kereta) 5. dan kereta tempelan yang diimpor. kendaraan bermotor. kendaraan bermotor kategori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang 1. L2. kendaraan bermotor kate gori M kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan orang. Mobil bus masuk kategori M1. Mobil penumpang masuk kategori M1.Draft RPP 19 Juli 2010 BAB VI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Umum Pasal 139 (1) Untuk memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. b. 2.

5 ton 2. O2. O1. kategori N1 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 3. kelas III untuk kendaraan bermotor yang di desain khusus untuk membawa penumpang duduk d. kendaraan pada kelas ini tidak diijinkan adanya penumpang berdiri d. kategori 02 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0. kelas II untuk kendaraan bermotor yang pada prinsipnya dikonstruksi membawa penumpang duduk dan di desain untuk membawa penumpang berdiri di gang dan atau di daerah yang sudah disediakan tetapi luasnya tidak boleh lebih dari dua baris tempat duduk untuk dua orang c. dan O4. kategori 03 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3. kategori N2 adalahkendaraan bermotor yang digunaKan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3.Draft RPP 19 Juli 2010 orang dan mempunyai tidak lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi 2. N3.75 ton 2. penjelasan huruf d : kendaraan bermotor kategori N adalah kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan barang 1. kategori M3 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 5 ton 4. Kelas I untuk kendaraan bermotor yang dikonruksi untuk penumpang berdiri dan bergerak bebas b.5 ton 3. kategori 01 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0. O3. kendaraan bermolor kategori M2 dan M3 dibedakan dalam kelas sebagai berikut: a. kategori M2 adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari delapan tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 5 ton 3. kendaraan pada kelas ini memiliki tempat duduk dan memungkinkan penumpang berdiri e. Mobil barang masuk kategori N1. kelas B untuk kendaraan bermotor tidak di desain untuk membawa penumpang berdiri. kategori N3 adalah kendaraari bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 12 ton kategori O kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel 1.5 ton tetapi tidak lebih dari 10 ton 49 . kelas A untuk kendaraan bermotor di desain untuk membawa penumpang berdiri. N2.5 ton tetapi tidak lebih dari 12 ton 3.75 ton tetapi lebih dari 3.

N atau O untuk angkutan penumpang atau barang dan diperlukan pembuatan bodi khusus dan / atau perlengkapannya untuk menunjang fungsi khusus tersebut sumber : SNI dan UN ECE (3) Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Pasal 140 (1) Pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang memiliki : a. 50 . O3 dan dibedakan menjadi tiga tipe sebagai berikut: 1.Draft RPP 19 Juli 2010 4. serta sistem dan prosedur pengujian. b. gandengan sumbu tengah (Centre-exle trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik yang dilengkapi dengan alat penarik yang tidak dapat bergerak vertikal (terhadap kereta gandengan) dan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dekat dengan pusat gravitasi kendaraan (terbebani merata). kategori 04 adalah kendaraan bermotor penarik dengan jumlah benat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 10 ton. kategori khusus kendaraan bermotor khusus kendaraan bermotor kategori M. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. tempelan (semi trailer) adalah kendaraan bermotor yang ditarik dengan sumbu roda (dapat lebih dari satu) terletak dibelakang pusat gravitasi kendaraan (terbebani mcrata) dan dilengkapi dengan alat penghubung yang meneruskan tenaga horisontal dan vertikal yang dibebankan ke kendaraan penarik. uji tipe.000 N dibebankan pada kendaraan penarik. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik e. fasilitas prasarana dan peralatan pengujian. Kendaraan khusus tidak masuk dalam kategori pengujian. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik 3. uji berkala. 2. tenaga penguji yang memiliki sertifikat kompetensi penguji kendaraan bermotor. keakurasian peralatan pengujian. atau beban tidak lebih dari 10. Kendaraan bermotor penarik untuk kategori O2. dan b. beban vertikal statis kecil. Satu atau lebih dari sumbu roda digerakkan oleh kendaraan penarik. tidak lebih dari 10% berat makstmum kereta gandengan.

Penjelasan ayat (2) Yang dimaksud dengan mengkalibrasi secara berkala yaitu dapat dilakukan sendiri maupun yang dilakukan oleh institusi lain yang mempunyai kewenangan untuk melakukan kalibrasi untuk menjamin keakurasian alat uji yang digunakan dan waktunya disesuaikan dengan spesifikasi teknis masing – masing peralatan. (2) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap landasan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. bak muatan. dan b. nomor dan tipe motor penggerak. kereta gandengan. b. Paragraf 2 Pengujian Fisik Pasal 142 (1) Pengujian tipe melalui Pengujian fisik terhadap persyaratan teknis dilakukan melalui pemeriksaan persyaratan teknis secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. Bagian Kedua Uji Tipe Paragraf 1 Umum Pasal 141 (1) Uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf a terdiri atas : a. dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi tipenya (2) Uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh unit pelaksana uji tipe yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memelihara. Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang dilakukan terhadap rumah – rumah. mengkalibrasi secara berkala dan mengoperasikan seluruh peralatan uji secara baik dan benar. Pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan kendaraan bermotor dan kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. 51 . (3) Pembinaan dan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. kereta tempelan.

seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kebocoran sistem rem. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). g. m. nomor dan tipe motor penggerak. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. kondisi kaca spion bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. b. serta kondisi ban. kebocoran sistem rem.Draft RPP 19 Juli 2010 c. dan tempat duduk. engsel. e. bentuk bumper bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. serta kondisi ban. l. f. kondisi tangki bahan bakar. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. n. j. kondisi dan posisi pipa pembuangan. dongkrak. kondisi badan kendaraan. p. 52 . kondisi spakbor. (3) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. f. pipa saluran bahan bakar. corong pengisi bahan bakar. k. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. n. kondisi kaca spion. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. alat pembuka roda. keberadaan dan kondisi ban cadangan. j. i. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. h. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). l. pipa saluran bahan bakar. corong pengisi bahan bakar. g. h. dongkrak. m. o. k. segitiga pengaman. bentuk bumper. d. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. i. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. c. keberadaan dan kondisi ban cadangan. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. kondisi dan posisi pipa pembuangan. d. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. segitiga pengaman. e. kondisi tangki bahan bakar. kaca-kaca bagi landasan kendaraan berupa chassis cabin. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan.

rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. g. kondisi badan kendaraan n. m. sudut bebas kemudi (speling steer). h. kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. dan tempat keluar darurat. q. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. (6) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap meliputi : a. p. serta kondisi ban. pipa saluran bahan bakar. f. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). kondisi rem parkir. e. d. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. kondisi badan kendaraan. kecuali untuk sepeda motor. (5) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap landasan kendaraan bermotor meliputi : a. l. k. kebocoran sistem rem. g. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. mengukur dimensi utama kendaraan. f. c. kondisi rem utama baik di roda depan atau belakang. b. h. bagian dalam kendaraan. d. kondisi dan posisi pipa pembuangan. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. corong pengisi bahan bakar. e.Draft RPP 19 Juli 2010 o. kaca-kaca. 53 . kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). kondisi kaca spion. i. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). kondisi tangki bahan bakar. (4) Pemeriksaaan persyaratan teknis secara visual terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. nomor dan tipe motor penggerak. b. kondisi spakbor. j. engsel. c. mengukur ukuran tempat duduk. tempat duduk. perisai kolong. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt).

uji tingkat suara klakson. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). h. kondisi rem parkir. (7) Pemeriksaaan persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan alat bantu atau tanpa alat bantu terhadap kendaraan bermotor jenis sepeda motor meliputi : a. uji tingkat suara klakson. f. (2) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap. h. sekurang-kurangnya meliputi : a. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. h. f. d. bagian dalam kendaraan. b. uji kincup roda depan. uji lain. uji speedometer. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. mengukur dimensi utama kendaraan. uji speedometer. sudut bebas kemudi (speling steer). c. j. b. sekurang-kurangnya meliputi : a. f. uji emisi gas buang. uji kincup roda depan. uji lampu. dan tempat keluar darurat. mengukur dimensi utama kendaraan. Pasal 143 (1) Pengujian laik jalan terhadap kendaraan bermotor dalam bentuk landasan (chassis engine atau cabin engine). d. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. uji rem utama dan rem parkir. e. g. g. uji/pengukuran dimensi. d. uji radius putar. uji/pengukuran berat landasan. fungsi klakson.Draft RPP 19 Juli 2010 b. g. j. mengukur ukuran tempat duduk. uji rem utama dan rem parkir. e. uji radius putar. i. c. kondisi penerus daya. uji/pemeriksaan konstruksi. uji emisi gas buang. i. uji lampu utama. c. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). e. c. uji/pengukuran berat kendaraan. kondisi rem parkir. i. fungsi klakson. d. 54 . kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). b. e.

dan alat pengisian ulang energi listrik. uji/pengukuran dimensi kendaraan bermotor. uji suspensi. uji/pengukuran berat kendaraan bermotor. uji tingkat suara klakson. Pasal 144 Kendaraan bermotor yang menggunakan motor penggerak listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b. q. juga harus dilakukan pengujian terhadap unjuk kerja akumulator listrik. i. (3) Uji ulang hanya dilakukan terhadap tipe kendaraan bermotor yang memiliki nomor landasan/rangka dan/atau nomor mesin yang sama dengan yang dimiliki kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. teknologi kendaraan (3) Pengujian laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap jenis sepeda motor. d. f. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. uji rem. j. uji emisi gas buang. uji/pengukuran penghapus kaca depan. uji speedometer. b. 55 . d. uji sabuk keselamatan. item – item yang tidak lulus uji. p. uji prestasi/performansi dan/ atau uji kemampuan jalan. perangkat elektronik pengendali kecepatan. selain harus memenuhi ketentuan uji persyaratan teknis dan laik jalan. g. l. Pasal 145 (1) Dalam hal tipe kendaraan bermotor yang diuji tipe yang berkaitan dengan pengujian fisik dinyatakan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 143 dapat dilakukan uji tipe ulang. h. yang disesuaikan dengan perkembangan bermotor. uji posisi roda depan. sekurang-kurangnya meliputi : a. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. (2) Pernyataan penetapan hasil uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. e. alasan tidak lulus uji. o.uji prestasi/performansi.Draft RPP 19 Juli 2010 k. uji/pemeriksaan konstruksi (fisik dan fungsi perlengkapan kendaraan bermotor). r. uji kebisingan. b. n. uji lain. m. uji kebisingan. c. uji jalan/kemampuan jalan. uji lampu utama.

i. (7) Jika hasil uji tipe yang melalui pengujian fisik ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak lulus. n. sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. l. harus memproses dari awal lagi sebagai permohonan baru. g. (6) Pemohon yang mengajukan uji ulang sebagaiman dimaksud pada ayat (4) diluar waktu dan tempat yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. peruntukan. b. nomor sertifikat uji tipe. pembuat dan/atau perakit. nomor sertifikat registrasi uji tipe. sertifikat uji tipe landasan dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk landasan kendaraan bermotor yang diuji tipe fisik dalam bentuk landasan. dianggap mengajukan permohonan baru. b. merek dan tipe. apabila ada. nomor motor penggerak. apabila ada. m. kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sertifikat uji tipe dilengkapi dengan pengesahan hasil uji untuk kendaraan bermotor yang diuji tipe yang melalui pengujian fisik dalam keadaan lengkap. nomor rangka landasan.spesifikasi teknik kendaraan bermotor. h. Pasal 147 (1) Sertifikat lulus uji tipe setiap kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146. spesifikasi teknik varian. berupa : a. alamat perusahaan pembuat dan/atau perakit dan/atau pengimpor dan/atau pemodifikasi. tipe kendaraan bermotor yang bersangkutan tidak dapat dilakukan uji ulang lagi dan apabila akan mengujikan kembali tipe kendaraannya. pembuat dan/atau perakit. serta pemodifikasi. jenis. k. serta pemodifikasi. d. 56 . c.Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipungut biaya hanya terhadap item-item yang dinyatakan tidak lulus uji tipe kendaraan bermotor. tahun pembuat/perakit/modifikasi. (5) Pelaksanaan uji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah pemohon menunjukkan dan memberitahukan secara tertulis mengenai perbaikan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. e. penanggung jawab perusahaan pengimpor. j. Pasal 146 Kendaraan bermotor. f. varian. nama perusahaan pengimpor. yang telah lulus uji tipe yang melalui pengujian fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 diberikan bukti lulus uji tipe oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan.

r. d. berat kosong kendaraan bermotor. atau kuasanya yang distempel. Penjelasan huruf b. nama dan tanda tangan penanggung jawab perusahaan pengimpor. Penjelasan ayat (2) : Yang dimaksud dengan Unsur-unsur pengaman antara lain berupa hologram dan/atau water mark dan/atau invisible ink. e. cair atau gas yang terpasang pada landasan kendaraan bermotor. daya angkut orang dan/atau barang. p. isi dan tata cara penerbitan sertifikat lulus uji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dilakukan terhadap desain: a. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. b. dimensi bak muatan/tangki. (3) Dalam kaitannya dengan sistem informasi data – data teknis yang terdapat didalam sertifikat lulus uji tipe dapat disimpan dalam bentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. s. kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe berupa dimensi. c. t. (4) Sertifikat lulus uji tipe yang telah diterbitkan atau disahkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. pembuat dan/atau perakit. nama dan tanda tangan pejabat yang meregistrasi dan stempel. dan kemampuan daya angkut.Draft RPP 19 Juli 2010 o. serta pemodifikasi. q. kereta gandengan. penjelasan Pasal 151: 57 . (2) Sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat dari bahan yang memiliki unsur-unsur pengaman. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan. u. Paragraf 3 Penelitian Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan Bermotor Pasal 149 Penelitian rancang bangun dan rekayasa Kendaraan Bermotor. v. bak muatan. Yang dimaksud dengan bak muatan adalah semua bentuk konstruksi bak muatan untuk angkutan barang yang bersifat padat. mesin. tempat dan tanggal penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. rumah-rumah atau karoseri. berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan. kereta tempelan. w. Pasal 148 Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk.

f. h. alat perangkai. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). sekurang-kurangnya meliputi : a. engsel. i. konstruksi (kaca-kaca. d. bak muatan. g. sekurangkurangnya meliputi : a. (3) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf c. sabuk keselamatan dan tempat ban cadangan. bumper). sekurang-kurangnya meliputi : a. ukuran dan susunan. ukuran dan susunan. (4) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kereta tempelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf d. sekurang-kurangnya meliputi : a. engsel. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). pintu. perisai kolong. material. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). material. e. j. b. b. analisa dan penilaian terhadap desain teknis rumah-rumah. c. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. bumper). pintu. d. d. tempat keluar darurat. g.Draft RPP 19 Juli 2010 yang dimaksud dengan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang akan dioperasikan di jalan adalah kegiatan pemeriksaan. c. h. e. konstruksi (engsel. f. k. c. g. Pasal 150 (1) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap rumahrumah atau karoseri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf a. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. ukuran dan susunan. material. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. alat perangkai untuk mobil bus tempelan atau gandengan (termasuk penutup perangkai). kereta gandengan. kereta tempelan dan kendaraan bermotor yang dimodifikasi yang menyebabkan perubahan tipe. b. perisai kolong. tangga penumpang (untuk mobil bus). tempat duduk. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). (2) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap bak muatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf b. e. 58 . f. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. konstruksi (kaca-kaca. bumper). sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya.

serta dimodifikasi yang memiliki merek dan tipe sama. engsel. g. d. atau dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri. j. material. (2) Berdasarkan berita acara hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. Paragraf 4 Uji Sampel Pasal 152 (1) Uji sampel dilakukan sebagai jaminan kesesuaian spesifikasi teknik seri produksinya terhadap sertifikat uji tipe. e. ukuran dan susunan. ukuran dan susunan. konstruksi (kaca-kaca. bumper). tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. f. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. c. alat perangkai. rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor disahkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan menerbitkan surat Keputusan pengesahan rancang bangun dan rekayasa. Pasal 151 (1) Hasil penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor yang telah memenuhi standar teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 150 ayat (6) dibuat berita acara hasil penelitian oleh Pimpinan Unit Pelaksana Uji Tipe. e. Penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan seri produksi adalah jumlah kendaraan bermotor yang diimpor. dan kereta tempelan. material. i.Draft RPP 19 Juli 2010 b. alat pengunci (twist lock) (5) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor terhadap kendaraan bermotor yang dimodifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 huruf e. perisai kolong. pintu. d. tempat pemasangan tanda nomor kendaraan bermotor. kereta gandengan. rancangan teknis (terkait dengan peruntukan kendaraan bermotor). f. bumper). (6) Penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berpedoman pada standar teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. konstruksi (engsel. sekurang-kurangnya meliputi : a. sistem lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. c. (2) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberlakukan juga terhadap seri produksi karoseri kendaraan bermotor. b. 59 . kaki penopang.

(6) Setelah dilakukan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). (5) Tipe kendaraan yang dinyatakan tidak lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (2) Pelaksanaan uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan waktu dan/atau jumlah terhadap seri produksi kendaraan bermotor per perusahaan dalam 1 (satu) tipe. Pasal 153 (1) Uji sampel dilaksanakan terhadap tipe kendaraan bermotor yang diimpor. dapat diajukan kembali untuk dilakukan uji tipe. Pasal 154 (1) Kendaraan bermotor yang diuji sampel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 153 yang dinyatakan lulus diberikan surat keterangan lulus uji sampel sebagai dasar penerbitan sertifikat registrasi uji tipe. (4) Dalam hal kendaraan bermotor yang telah dilakukan uji sampel tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan dinyatakan tidak lulus. Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji sampel. dapat dilakukan perbaikan terhadap item – item yang tidak lulus. (2) Tipe Kendaraan bermotor yang telah mendapat surat keterangan lulus uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. penguji melakukan uji sampel terhadap seri produksi kendaraan bermotor yang sama tipenya dalam jumlah yang lebih banyak. sedangkan jumlah untuk kendaraan yang diproduksi massal. (4) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Unit pelaksana Uji Tipe yang dibentuk oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Tata cara uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sebagaimana pelaksanaan uji tipe. catatan untuk ayat (6): 60 . dan/atau dirakit di dalam negeri. Penjelasan ayat (2): Yang dimaksud dengan waktu adalah untuk kendaraan yang jumlah produksinya terbatas dalam satuan waktu. dibuat.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Uji sampel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan untuk menilai kesesuaian spesifikasi teknis seri produksinya terhadap sertifikat lulus uji tipe atau pengesahan rancang bangun dan rekayasa. (3) Dalam hal kendaraan bermotor yang diuji sampel tidak lulus uji.

setiap Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi wajib dilakukan uji tipe. (2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penjelasan ayat (1) : yang dimaksud dengan modifikasi dimensi adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada perpanjangan atau pemendekan chassis tanpa mengubah jarak sumbu dan konstruksi kendaraan bermotor tersebut serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. Pasal 156 Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah. ditetapkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan disetorkan ke kas negara. dan kemampuan daya angkut.Draft RPP 19 Juli 2010 1. mesin. (3) Untuk menjamin pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). mohon disepakati di tingkat pengambil kebijakan. yang dimaksud dengan modifikasi mesin adalah modifikasi yang dilakukan dengan mengganti mesin dengan syarat mesin tersebut memiliki merek dan type yang sama dengan merek dan type mesin sebelum diganti serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut. Paragraf 5 Modifikasi Kendaraan Bermotor Pasal 157 (1) Modifikasi Kendaraan Bermotor dapat berupa modifikasi dimensi. Pasal 155 (1) Uji sampel dan penerbitan sertifikat registrasi uji tipe sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan. Apakah uji terhadap tipe kendaraan yang dinyatkan tidak lulus uji sampel dan kemudian telah diperbaiki dilakukan uji tipe atau uji sampel ulang ? pilihan mana yang paling menjamin untuk keselamatan. waktu. (2) Modifikasi Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. 61 . dan tata cara uji sampel serta penerbitan sertifikat registrasiuji tipe diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. yang dimaksud dengan modifikasi daya angkut adalah modifikasi yang hanya dapat dilakukan pada kendaraan bermotor dengan menambah sumbu bagian belakang tanpa mengubah jarak sumbu aslinya dan sumbu yang ditambahkan harus memiliki material yang sama dengan sumbu aslinya dan harus dilakukan perhitungan sesuai dengan daya dukung jalan yang dilalui serta harus dapat rekomendasi dari pabrik pembuat atau perakit kendaraan bermotor tersebut.

Paragraf 6 Unit Pelaksana Uji Tipe Pasal 158 (1) Unit Pelaksana uji tipe Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (2) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Unit Pelaksana uji tipe dapat bekerjasama dengan pihak ketiga. (5) Kendaraan Bermotor yang dimodifikasi yang telah mendapatkan sertifikat lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (4).Draft RPP 19 Juli 2010 (4) Kendaraan bermotor yang dimodifikasi dan telah dinyatakan lulus uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (3). 62 . (3) Dalam keadaan tertentu pelaksanaan uji tipe. (4) Pelaksanaan pembangunan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan mempertimbangkan : a. penjelasan ayat (6) istilah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) tidak sesuai dengan UU Anti Monopoli sehingga penyebutannya menggunakan Agen Pemegang Merek. wajib dilakukan registrasi dan identifikasi ulang. (6) Modifikasi kendaraan bermotor dapat dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). (7) Modifikasi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) wajib dilakukan oleh bengkel umum kendaraan bermotor yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang Industri. (2) Unit pelaksana uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyediakan fasilitas dan peralatan pengujian serta tenaga yang memiliki kompetensi. penjelasan ayat (7) bengkel umum yang melaksanakan modifikasi kendaraan bermotor memberikan surat keterangan modifikasi kendaraan bermotor yangselanjutnya sebagai syarat untuk mengajukan uji tipe dan registrasi kendaraan bermotor tersebut. yang dimaksud dengan bekerjasama dengan pihak ketiga berbentuk peminjaman atau penyewaan sarana dan prasarana atau tenaga penguji. penjelasan ayat (5) persyaratan registrasi dan identifikasi ulang kendaraan bermotor yang dimodifikasi adalah sertifikat lulus uji tipe. peningkatan pelayanan kepada masyarakat. b. keselamatan penggunaan kendaraan bermotor. penjelasan ayat (3) yang dimaksud dengan keadaan tertentu antara lain dalam hal tidak atau belum tersedianya fasilitas dan peralatan uji yang dipergunakan untuk menguji item tertentu (seperti alat uji emisi). diberikan sertifikat lulus uji tipe.

bangunan gedung untuk generator set.fasilitas pengisian bahan bakar. i. b.fasilitas penunjang. perkembangan teknologi. trek pengujian serba guna. bangunan gedung administrasi. (2) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l. kapasitas. kemajuan industri kendaraan bermotor. 63 .Draft RPP 19 Juli 2010 c.jalan lingkungan pengujian.kurangnya: a. d. m. e. fasilitas pengujian tingkat suara. pompa air dan menara air. serta dikalibrasi secara periodik. trek pengujian tanjakan dan turunan. agar kondisinya senantiasa layak dan siap operasi. umur teknis dan ekonomis peralatan serta fasilitas yang ada. i. prosedur pelaksanaan. trek pengujian slip. f. dan besaran biaya yang dikenakan. kompresor dan gudang. trek pengujian pengendalian. e. kelestarian lingkungan hidup. g. trek pengujian kecepatan tinggi. Pasal 159 (1) Fasilitas uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . d. e. k. fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor di luar gedung (outdoor). j. sekurang . mengutamakan produksi dalam negeri. lapangan parkir. d.fasilitas listrik. b. h. h. h. g. trek pengujian melalui jalan berlumpur. lampu penerangan. c. (7) Unit pelaksana uji tipe wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor. l. jalan keluar masuk. c. f. (6) Unit pelaksana uji tipe kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi yang ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca oleh pemohon yang memuat persyaratan. fasilitas pengujian radius putar. f. kesepakatan-kesepakatan regional dan/atau internasional. trek pengujian Belgian road. (5) Fasilitas dan peralatan pengujian yang digunakan harus dirawat dan/atau diperbaiki dengan baik.bangunan beban kerja untuk fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor dalam gedung (indoor). g.kurangnya : a. pagar.

alat uji ban. s. alat uji konstruksi. g. alat uji kaca.kurangnya: a. pembangunan. o. konstruksi. c. e. t. bentuk.alat uji motor penggerak. alat uji posisi roda depan. alat uji kincup roda depan. alat uji dimensi. dan penggantian fasilitas uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. m. h. s. yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. bahan. spesifikasi teknik. trek pengujian melalui lintasan berair. alat uji suspensi roda dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan bermotor. alat uji prestasi kendaraan bermotor. alat uji sabuk keselamatan. k. lintasan berliku-liku. i. q. q. alat uji lampu utama. peralatan bantu. b. r. k. r. alat uji kebisingan. pemeliharaan. alat uji lain.Draft RPP 19 Juli 2010 j. lapangan pengujian analitis. alat uji speedometer. f. termasuk ketebalan asap gas buang. fasilitas uji tabrakan (test crash). j. fasilitas dan peralatan bantu. p. p. jenis. alat uji tingkat suara. perlengkapan. jalan inspeksi (inspection road). 64 . perbaikan.terowongan debu. terowongan air. alat uji pengujian berat. peralatan. l. d. tapak selip (skid pad). alat uji emisi gas buang. l. fasilitas pembuat angin. penggunaan. m. n. ukuran. tipe. Pasal 160 (1) Peralatan uji tipe yang melalui pengujian fisik kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 sekurang . alat uji tekanan udara. n. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata letak. o. alat uji rem utama dan rem parkir.

(2) Uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh : a. mobil barang. penjelasan ayat (2) yang dimaksud dalam keadaan tertentu antara lain masa berlaku uji berkala telah jatuh tempo sementara kendaraan tidak berada di domisili atau kendaraan yang terkena sanksi pelanggaran karena tidak terpenuhi persyaratan teknis dan laik jalan di luar wilayah domisilinya atau pada saat sistem telah terbangun secara on line. perbaikan. penjelasan ayat (2) huruf c yang dimaksud dengan pengujian swasta adalah pihak swasta yang melakukan kegiatan khusus di bidang pengujian kendaraan bermotor atau bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu untuk dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. teknologi yang digunakan. spesifikasi teknik. mobil bus. Pasal 162 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilakukan di daerah tempat kendaraan bermotor diregistrasi. unit pelaksana pengujian pemerintah kabupaten/kota. pemasangan. 65 .Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tipe. Bagian Ketiga Uji Berkala Paragraf 1 Umum Pasal 161 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) huruf b diwajibkan untuk mobil penumpang umum.atau c. (2) Dalam keadaan tertentu pengujian berkala kendaraan bermotor dapat dilakukan pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor terdekat yang tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. bentuk. b. ukuran. kereta gandengan dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan. pemeliharaan. unit pelaksana agen tunggal pemegang merek yang mendapat izin dari Pemerintah. pembangunan. jumlah. kapasitas. dan penggantian peralatan uji tipe kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. penggunaan. unit pelaksana pengujian swasta yang memenuhi persyaratan dan mendapatkan izin dari Pemerintah. pengadaan.

b. kacamata pelindung. fotocopy sertifikat registrasi uji tipe dengan menunjukan aslinya. Penjelasan ayat (2) : Yang termasuk alat bantu adalah palu khusus. dan pariwisata yang penggunaannya bersifat sementara. penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan kendaraan bermotor asing adalah kendaraan dari negara asing yang telah memiliki bukti lulus uji dan bukti registrasi dan identifikasi yang masih berlaku di negaranya. (3) Masa uji berkala kendaraan bermotor wajib uji berkala berlaku selama 6 (enam) bulan dan harus dilakukan uji berkala berikutnya. Paragraf 2 Pemeriksaan Dan Pengujian Fisik Terhadap Persyaratan Teknis Dan Laik Jalan Pasal 165 (1) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dalam pengujian berkala dilakukan terhadap persyaratan teknis. (4) Kendaraan bermotor asing yang digunakan di Indonesia untuk keperluan – keperluan tertentu dan telah berakhir masa uji berkalanya. peralatan seperti kunci pas. (5) Dalam hal tidak dilakukan uji berkala di Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kendaraan bermotor asing dilarang dioperasikan di jalan. wajib dilakukan uji berkala di Indonesia. helm. 66 . Pasal 164 Permohonan pengujian berkala kendaraan bermotor untuk yang pertama kali diajukan kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor secara tertulis dengan melampirkan : a. fotocopy STNK dengan menunjukan aslinya. yang dimaksud dengan keperluan tertentu antara lain untuk kegiatan olahraga kendaraan bermotor. meteran. senter.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 163 (1) Pengujian berkala dilakukan terhadap kendaran bermotor wajib uji berkala untuk pertama kali paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak diterbitkannya Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). (2) Pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara visual atau pengecekan secara manual dengan atau tanpa alat bantu. tang. (2) Pengujian berkala untuk pertama kali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mendasarkan data spesifikasi teknik kendaraan bermotor yang terdapat dalam sertifikat registrasi uji tipe.

j. seperti alat penunjuk kecepatan (speedometer). 67 . e. e. pipa saluran bahan bakar. keberadaan dan kondisi ban cadangan. kondisi penerus daya dengan menjalankan maju dan mundur kendaraan. kondisi panel-panel instrumen pada dashboard kendaraan. kondisi rem utama baik di roda depan maupun tengah dan/atau belakang. sudut bebas kemudi (speling steer). kondisi sistem suspensi berupa pegas dan penyangganya. f. corong pengisi bahan bakar. c. kondisi penutup atau casing lampu-lampu dan alat pemantul cahaya.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi : a. (5) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis yang dilakukan secara manual baik dengan atau tanpa alat bantu sekurang – kurangnya meliputi : a.bentuk bumper. i. g. p. n. pengarah angin (cab roof deflector) untuk kendaraan box. d. kondisi dan posisi pipa pembuangan. (4) Pemeriksaaan dan pengujian terhadap persyaratan teknis. c. susunan. perisai kolong. ukuran. b. alat pembuka roda dan alat tanggap darurat untuk mobil bus. ukuran roda dan ban sesuai yang diizinkan. kondisi kaca spion. d. dongkrak. fungsi klakson. mengecek fungsi penghapus kaca (wiper). kondisi spakbor. rancangan teknis kendaraan bermotor sesuai dengan peruntukannya. k. tempat duduk. karoseri. m. mengecek fungsi semua lampu-lampu dan alat pemantul cahaya. d. kebocoran sistem rem. serta kondisi ban. engsel. q. nomor dan kondisi rangka kendaraan bermotor. kondisi rem parkir. b. kondisi tangki bahan bakar. rancangan teknis kendaraan sesuai peruntukannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan secara visual sekurang – kurangnya meliputi: a. perlengkapan. b. l. segitiga pengaman. c. f. h. keberadaan dan kelengkapan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). kaca-kaca. o. e. kondisi sistem converter kit bagi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar tekanan tinggi. nomor dan tipe motor penggerak. kondisi badan kendaraan.

item – item yang tidak lulus uji. maka terhadap kendaraan tersebut wajib dilakukan uji ulang dan penguji wajib menerbitkan surat keterangan tidak lulus uji. alasan tidak lulus uji. Pasal 168 (1) Apabila kendaraan bermotor dinyatakan tidak lulus uji. c. (3) Pengujian berkala terhadap untuk kereta gandengan dan kereta tempelan sekurang-kurangnya meliputi : a. pemeriksaan kosntruksi. Pasal 167 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah dinyatakan lulus terhadap pemeriksaan dan pengujian fisik diberikan tanda bukti lulus uji berkala kendaraan bermotor yang berupa kartu uji dan tanda uji. perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan. emisi gas buang. (2) Pernyataan surat keterangan tidak lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan mencantumkan: a. tingkat kebisingan. kemampuan rem utama d.Draft RPP 19 Juli 2010 g. tata cara pemeriksaan dan pengujian diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 166 (1) Pemeriksaan dan pengujian terhadap persyaratan laik jalan untuk kendaraan wajib uji berkala sekurang-kurangnya meliputi: a. bagian dalam kendaraan. g. e. f. kemampuan rem parkir. pengukuran dimensi. kondisi dan berfungsinya sabuk keselamatan (safety belt). kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama. e. mengukur dimensi utama kendaraan. (2) Kartu uji dan tanda uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku di seluruh wilayah Indonesia. f. kincup roda depan. akurasi alat penunjuk kecepatan (speedometer). kedalaman alur ban. c. dan tempat keluar darurat. 68 . uji kemampuan rem. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur. h. untuk semua jenis kendaraan. i. pengukuran berat. c. pengukuran kedalaman alur ban. mengukur ukuran tempat duduk. h. b. b. b. uji sistem lampu d.

nomor motor penggerak/mesin. tahun pembuatan/perakitan. c. wajib melakukan perbaikan-perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. merek/tipe. serta tidak diperlakukan sebagai pemohon baru. alamat pemilik. (6) Apabila pemilik yang menguasai kendaraan bermotor tidak menyetujui keputusan penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 69 . diterbitkan kartu induk uji berkala yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia dan/atau tanda uji berkala. d. g. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mengajukan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. isi silinder. i. f. bahan bakar yang digunakan. e. jenis. konfigurasi sumbu. nama pemilik. m. dimensi kendaraan (rumah-rumah/bak muatan). l. p. (5) Kendaraan bermotor yang dinyatakan tidak lulus uji hanya dapat dioperasikan di jalan dalam rangka perbaikan ke bengkel umum kendaraan bermotor terdekat atau yang ditunjuk dengan dilengkapi surat tanda tidak lulus uji. b. tanggal dan nomor sertifikat registrasi uji tipe. tanggal dan nomor pengesahan uji tipe.Draft RPP 19 Juli 2010 d. (4) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang namun surat pernyataan tidak lulus uji yang dimilikinya telah habis masa berlakunya. h. nomor uji berkala. o. nomor kendaraan. diperlakukan sebagai pemohon baru. n. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. (3) Pemilik yang menguasai kendaraan bermotor yang akan melakukan uji ulang. waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang. (2) Kartu induk uji berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. k. dapat mengajukan keberatan kepada pimpinan unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. j. daya motor penggerak. Paragraf 3 Bukti Lulus Uji Pasal 169 (1) Setiap kendaraan bermotor wajib uji yang didaftarkan untuk dilakukan uji berkala untuk yang pertama kali.

nomor uji kendaraan. jenis. k. nama dan identitas penanggung jawab unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor yang menerbitkan kartu pengujian berkala. (4) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilampirkan setiap akan melakukan pengujian berkala kecuali pengujian berkala yang dilakukan diluar wilayah domisili kendaraan. m. (2) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berisikan kode wilayah yang terdiri dari kode provinsi. daya motor penggerak. nomor rangka landasan kendaraan bermotor. nama pemilik.Draft RPP 19 Juli 2010 q. kode Kabupaten/kota. dan nomor urut pengujian. g. c. tempat dan tanggal dilakukan uji pertama kali. Pasal 171 (1) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 sekurang-kurangnya berisi data mengenai : a. Catatan : Pengecualian ini berlaku pada saat sistem pengujian berkala telah terbangun sistem online yang sudah tidak ada lagi istilah numpang uji. h. jumlah berat yang diperbolehkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan untuk mobil barang dan mobil bus. kiri. j. n. depan dan belakang kendaraan bermotor. nomor dan tanggal pengesahan tipe bagi kendaraan yang di uji fisik dan nomor pengesahan yang dilakukan melalui penelitian rekayasa dan rancang bangun. isi silinder. e. Pasal 170 (1) Setiap kendaraan wajib uji yang telah diuji berkala untuk pertama kali diberi nomor uji kendaraan bermotor. (3) Nomor uji kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama kendaraan yang bersangkutan masih termasuk sebagai kendaraan wajib uji. f. tahun pembuatan/perakitan. kode jenis kendaraan bermotor. s. (3) Kartu induk uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sesuai dengan wilayah domisili kendaraan . foto berwarna tampak samping kanan. nomor dan tanggal sertifikat registrasi uji tipe. alamat pemilik. l. r. i. d. merek/tipe.berat kosong kendaraan. nama dan tanda tangan tenaga penguji yang mengesahkan masa uji berkala untuk yang pertama kali. kode tahun pendaftaran uji. 70 . b.

masa berlaku uji kendaraan. x. (2) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berisi : a. e. memiliki identitas pemilik kendaraan. masa berlaku hasil uji. d. (2) Kartu uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk kartu pintar (smart card) atau bentuk lain. melampirkan surat tanda terima laporan bagi kendaraan yang tidak dapat melaksanakan pengujian berkala pada saat masa berlaku uji berakhir. Pasal 172 (1) Tanda uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (1) yang berbentuk stiker ditempel pada kaca depan sisi kiri bawah bagian dalam. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. jumlah berat yang diizinkan untuk kendaraan bermotor tunggal dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau tempelan. (2) Perubahan bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan: a. b. u. c. pedoman nomor uji. s. kelas jalan terendah yang boleh dilalui. p. daya angkut. d. jumlah berat yang diizinkan dan/atau jumlah berat kombinasi yang diizinkan untuk mobil barang dan mobil bus. lulus uji berkala. Pasal 173 Ketentuan lebih lanjut mengenai kartu induk uji berkala. w. b. ukuran ban. t. b. ukuran utama kendaraan. muatan sumbu terberat. v. daya angkut orang dan barang. Pasal 174 (1) Perpanjangan masa berlaku bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. konfigurasi sumbu roda. kartu uji dan tanda uji diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungj awab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. c. hasil uji. memiliki bukti lulus uji berkala yang lama. 71 . kode wilayah pengujian. q. memiliki identitas pemilik kendaraan. r.Draft RPP 19 Juli 2010 o. bahan bakar yang digunakan.

memindahkan operasi kendaraannya secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan ke wilayah lain di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. d. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor pemerintah Kabupaten/kota. merupakan bengkel umum kendaraan bermotor yang telah ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana LaluLintas dan Angkutan Jalan berdasarkan rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. perubahan dan penggantian bukti lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau b. b. (3) Penggantian bukti lulus uji berkala diberikan setelah memenuhi persyaratan : a. dengan menyebutkan alasan-alasannya. (2) Dalam hal keberadaan kendaraan bermotor berada diluar domisili unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala. apabila bukti lulus uji berkala hilang. pada saat masa berlaku uji kendaraannya berakhir. lulus uji berkala untuk kendaraan yang mengalami perubahan spesifikasi tekniknya. tidak dapat melakukan uji berkala. (4) Perpanjangan. melampirkan salinan identitas pemilik kendaraan dengan menunjukkan aslinya. atau c. unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor swasta. menyampaikan keterangan mengenai perubahan-perubahan spesifikasi teknik dan/atau data pemilik dan/atau wilayah operasi kendaraan. dan c. Paragraf 4 Unit Pelaksana Uji Berkala Pasal 176 (1) Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan oleh : a. membawa surat keterangan kehilangan dari kepolisian setempat.Draft RPP 19 Juli 2010 c. 72 . unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor agen tunggal pemegang merek. (2) Unit pelaksana pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan c. Pasal 175 (1) Pemilik kendaraan bermotor yang telah mendapatkan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 harus melaporkan secara tertulis kepada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang menerbitkan bukti lulus uji berkala apabila : a. pemilik kendaraan dapat melaporkan kepada unit pelaksana pengujian terdekat. b. ayat (2) dan ayat (3) diberikan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak diterima permohonan. melampirkan bukti lulus uji berkala yang ada untuk bukti lulus uji yang rusak.

mempertahankan mutu pengujian yang diselenggarakan. (4) Dalam hal pengujian dilakukan oleh bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pengesahan uji dilakukan oleh petugas swasta yang memiliki kompetensi yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk pengujian yang dilakukan oleh unit pelaksana pengujian agen tunggal pemegang merek dan unit pelaksana pengujian swasta.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Unit pelaksanaan uji berkala wajib : a. b. c. (2) Setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki 1 (satu) unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. standar keakurasian peralatan pengujian kendaraan bermotor. lokasi. harus dilakukan akreditasi oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 73 . c. menggunakan peralatan pengujian. melaksankana pengujian sesuai dengan akreditasi dan sertifikasi. standar fasilitas prasarana dan peralatan pengujian kendaraan bermotor. Pasal 178 (1) Lokasi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya: a. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan unit pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (3) Untuk menjamin setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan memenuhi akuntabilitas pelayanan publik. dan e. membuat rencana dan pelaporan secara berkala setiap penyelenggara pengujian kepada Menteri. sistem informasi manajemen penyelenggaraan pengujian berkala kendaraan bermotor. f. sistem dan prosedur. d. Pasal 177 (1) Setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan tentang : a. mengikuti tata cara pengujian. e. memiliki atau menguasai areal tanah sesuai dengan kebutuhan. terletak pada lokasi yang mudah dijangkau oleh pemilik kendaraan bermotor. c. b. kompetensi penguji kendaraan bermotor. d. b.

b. c. g. kompresor udara. generator set. o. alat uji kaca. pelaksanaan pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan unit pengujian berkala keliling. d. alat uji speedometer. Pasal 180 (1) Pada setiap unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan papan informasi atau media informasi lainnya yang berisikan prosedur pengujian berkala kendaraan bermotor. alat pengukur berat. (2) Peralatan uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi : a. n. peralatan bantu. m. j. alat pengukur dimensi. alat uji emisi gas buang. (2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan dapat dibaca setiap saat oleh pemohon. alat uji kebisingan. alat pengukur tekanan udara. alat uji rem.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Suatu daerah yang hanya memiliki kendaraan wajib uji relatif sedikit dibanding dengan luas daerah yang harus dilayani. alat uji suspensi roda (pit wheel suspension tester) dan pemeriksaan kondisi teknis bagian bawah kendaraan. l. h. f. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai spesifikasi teknis peralatan uji berkala kendaraan bermotor dan peralatan pendukungnya diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 179 (1) Unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 ayat (1) harus memiliki peralatan uji. e. hidro karbon (HC). alat uji lampu utama. alat uji kincup roda depan (side slip tester). dan/atau karena kondisi geografisnya tidak memungkinkan kendaraan dari satu tempat mencapai tempat unit pelaksana pengujian. alat pengukur suara (sound level meter). 74 . i. meliputi alat uji karbon monoksida (CO). dan ketebalan asap gas buang. k.

(2) Kalibrasi peralatan uji pada unit pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan angkutan Jalan. peralatan pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 179 harus dikalibrasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161. (4) Biaya kalibrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada unit pengujian kendaraan bermotor yang bersangkutan.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 181 (1) Unit pelaksana pengujian berkala wajib membangun sistem informasi dan komunikasi. (2) sistem informasi dan komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat saling terhubung (on line) dan terintegrasi antara daerah dengan kementerian perhubungan serta dapat diakses oleh masyarakat. (3) Unit pengujian kendaraan bermotor yang tidak melakukan kalibrasi peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka hasil uji berkala kendaraan bermotor tidak dapat dipertanggung jawabkan. 75 . Penjelasan ayat (1): Yang dimaksud dengan sekurang-kurangnya satu tahun sekali adalah dimungkinkan pelaksanaan kalibrasi lebih dari satu kali dalam setahun untuk unit pelaksana pengujian kendaraan yang disesuaikan dengan jumlah kendaraan bermotor yang diuji) atau kondisi peralatan. Pasal 182 (1) Untuk menjamin keakurasian dan keselamatan pemakaian. sewaktu-waktu harus melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor pada pemerintah provinsi DKI Jakarta. Pasal 183 (1) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan/atau gubernur atau pejabat yang ditunjuk. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kalibrasi diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. (2) Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan uji petik dan bentuk laporan hasil uji petik diatur dalam Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 (3) Bentuk pengawasan dan pengontrolan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan (4) berupa melakukan uji petik terhadap sekurang-kurangnya 2 (dua) unit kendaraan bermotor atau 5% (lima persen) kendaraan bermotor hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih secara random. (2) kompetensi tenaga penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan berdasarkan tingkat keahlian. 76 . (3) Penguji yang memenuhi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis penguji kendaraan bermotor oleh menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasana. (4) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan berdasarkan pertimbangan tingkat wewenang dan tanggung jawab penguji secara berjenjang. Penjelasan ayat (3) : yang dimaksud dengan sesuai tingkat kewenangannya adalah kewenangan untuk menandatangani pada kolom hasil uji dan masa berlaku uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor sesuai ketentuan yang berlaku. tidak merasa terganggu dengan adanya uji petik tersebut) (5) Hasil uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai salah satu penilaian hasil pemeriksaan kinerja unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang bersangkutan. Penjelasan ayat (4) : yang dimaksud dengan uji petik dilakukan pada hari yang sama adalah dimaksudkan supaya pemilik kendaraan bermotor yang sedang mengujikan kendaraannya di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih untuk uji petik. wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang yang diperoleh setelah mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan dan uji kompetensi pengujian kendaraan bermotor. Bagian Keempat Kualifikasi Teknis dan Kompetensi Penguji Kendaraan Bermotor Pasal 184 (1) Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 ayat (3) dilakukan oleh tenaga penguji yang memiliki kompetensi penguji kendaraan bermotor. (4) Uji petik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada hari yang sama dengan mengirim penguji kendaraan bermotor yang memiliki sertifikat kompetensi ke unit-unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor yang dipilih.

Penjelasan: yang dimaksud dengan pengesahan hasil uji adalah penandatanganan pada kolom hasil uji kendaraan bermotor pada kartu uji berkala kendaraan bermotor. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan Peraturan perundang – undangan. ayat (2). dan bengkel umum. swasta. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan persyaratan. prosedur pengangkatan tenaga penguji serta tanda kualifikasi teknis penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (3). (6) Setiap tenaga penguji yang sedang menjalankan tugas wajib mengenakan tanda kualifikasi teknis. Pasal 186 (1) Uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 merupakan kewajiban Pemerintah dan dalam penyelenggaraannya dapat tidak dipungut biaya. (2) Pelaksanaan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh agen tunggal pemegang merek. 77 . BAB VII BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu Persyaratan dan Penyelenggaran Bengkel Umum Pasal 187 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor berfungsi untuk memperbaiki dan merawat kendaraan bermotor agar tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.Draft RPP 19 Juli 2010 (5) Sertifikat kompetensi dan tanda kualifikasi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku di seluruh Indonesia. wajib memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor. Yang dimaksud dengan petugas adalah petugas penguji Pemerintah maupun petugas penguji swasta. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. negara wajib memberikan kompensasi. Pasal 185 Pengesahan hasil uji pada unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor dilakukan oleh petugas yang memilik kompetensi pengujian kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

(5) Penetapan klasifikasi bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melalui sistem sertifikasi bengkel umum. fasilitas dan peralatan. perbaikan kecil. Bengkel tipe C. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. bengkel kelas I tipe A. (3) Bengkel umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. mekanik. Bagian Kedua Akreditasi Bengkel Umum Untuk Pengujian Berkala Pasal 188 (1) Bengkel umum yang mempunyai akreditasi dan kualitas tertentu dapat melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor. B. c. (3) Bengkel umum yang memenuhi persyaratan teknis bengkel umum kendaraan terbagi atas beberapa klasifikasi : a.Draft RPP 19 Juli 2010 (2) Persyaratan teknis bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas tingkat pemenuhan terhadap persyaratan sistem mutu. bengkel kelas II tipe A. c. bengkel umum agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor. serta manajemen informasi. perbaikan kecil. dan perbaikan besar. dan C. 78 . merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. (4) Tipe bengkel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas jenis pekerjaaan yang mampu dilakukan. perbaikan kecil. b. perbaikan kecil. perbaikan besar. yaitu : a. B. (6) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang industri. b. atau jenis pekerjaan perawatan berkala. bengkel umum swasta (bukan agen tunggal pemegang merek kendaraan bermotor). B. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan sistem sertifikasi bengkel umum diatur oleh Peraturan Menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. dan C. dan perbaikan sasis dan bodi kendaraan. dan C. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala. bengkel kelas III tipe A. perbaikan besar. merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala dan perbaikan kecil. Bengkel tipe A. b. serta perbaikan sasis dan bodi kendaraan. Bengkel tipe B. (2) Kualitas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bahwa bengkel umum tersebut mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala.

pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. peralatan. izin usaha bengkel kendaraan bermotor dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota setempat dan mendapat rekomendasi dari menteri yang bertanggung jawab di bidang industri dan rekomendasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. memiliki peralatan dan fasilitas pengujian berkala. dan sistem prosedur sebagai bengkel pemasangan. analisis dampak lalu lintas. pengalaman menjadi bengkel umum kelas I tipe A sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun. (3) Penetapan bengkel umum kendaraan bermotor menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor oleh Menteri yang bertangung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. pemeriksaan dan pengujian peralatan instalasi sistem bahan bakar gas pada kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem sertifikasi. c. memiliki akreditasi dari Pemerintah. b. 79 . sumber daya manusia. Pasal 190 (1) Bengkel umum dapat dilengkapi fasilitas prasarana. d.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 189 (1) Bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 dapat menjadi unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. (2) Penetapan bengkel pemasangan. (2) Bengkel umum yang melakukan pengujian berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan : a. perawatan. (4) Rekomendasi yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a terkait dengan aspek keamanan lingkungan. (3) Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh menteri yang bertanggungjawab di bidang industri. perawatan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian akreditasi dan penetapan bengkel umum menjadi unit pelaksana pengujian berkala diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggung jawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. e.

Penjelasan ayat (1): yang dimaksudkan rekomendasi adalah memberikan keterangan bahwa bengkel yang didirikan tidak mengganggu keamanan dan ketertiban.Draft RPP 19 Juli 2010 Bagian Ketiga Perizinan Bengkel kendaraan Bermotor Pasal 191 (1) Penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor yang akan dijadikan unit pengujian berkala harus mendapatkan izin dari pemerintah provinsi DKI Jakarta dan/atau Kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pasal 193 (1) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 203 ayat (2) huruf a dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut untuk jangka waktu masing – masing 30 (tiga puluh) hari kalender. (2) Pengawasan terhadap penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/kota. atau b. 80 . (3) Pencabutan tanda kualifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender. (2) Apabila peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Penguji tidak mengindahkannya setelah berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ke 3 (tiga). pencabutan tanda kualifikasi. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. dikenai sanksi administratif berupa pencabutan tanda kualifikasi. BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Kesatu Bagi Penguji Pasal 192 (1) Setiap Penguji yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 dikenakan sanksi administratif. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. peringatan tertulis.

f.200. tidak mengoperasikan peralatan uji saat melakukan pengujian berkala.000. i. terbukti mempersulit proses pelaksanaan pengujian berkala. pencabutan izin. g.000. tidak mengisi data teknis dan hasil uji berkala secara benar pada tanda bukti lulus uji berkala. terbukti melakukan pungutan biaya uji melebihi biaya yang telah ditetapkan. dikenai sanksi denda admnistratif paling banyak Rp. tidak bersedia menerima petugas yang sedang ditugaskan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan tanpa alasan yang jelas. tidak melaksanakan kalibrasi secara berkala. Pasal 197 (1) Sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 dan Pasal 167 dapat dicabut apabila : a. 81 . Pasal 196 (1) Selain dikenai sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 195 ayat (2) Pemilik kendaraan bermotor.00 (dua ratus juta rupiah). yang meliputi : a. kendaraan diubah spesifikasi tekniknya sehingga tidak sesuai lagi dengan data yang ada pada sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkala kendaraan yang bersangkutan. (3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. mengabaikan ketentuan yang ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 195 (1) Setiap pemilik kendaraan bermotor yang tidak melakukan pengujian kendaraannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 ayat (1) dikenakan sanksi administratif.Draft RPP 19 Juli 2010 Pasal 194 Bengkel umum yang menyelenggarakan pengujian berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pencabutan hak operasi selaku unit pelaksana pengujian berkala kendaraan bermotor. tidak menyelenggarakan sistem informasi dan administrasi pengujian berkala secara baik dan bertanggung jawab. e. atau b. (2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. c. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. b. tidak melakukan perawatan dan perbaikan terhadap peralatan uji berkala yang menjadi tanggung jawabnya. h. apabila melakukan pelanggaran. d. peringatan tertulis.

tanda uji dan tanda samping yang telah ada dinyatakan masih berlaku sampai habis masa berlakunya dan paling lama 5 (lima) tahun harus menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini. mengalihkan pemilikan kendaraan bermotor sehingga nama pemilik tidak sesuai lagi dengan yang tercantum dalam bukti lulus uji berkala. Pasal 200 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku. Pasal 198 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dengan Peraturan Menteri yang bertanggungjawab dibidang sarana dan prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. c.Draft RPP 19 Juli 2010 b. kendaraan dioperasikan secara terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan di luar wilayah pengujian yang bersangkutan. 82 . penggunaan buku uji. wajib membangun sistem informasi dan komunikasi pengujian kendaraan bermotor (on line system). Pasal 201 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku setiap unit pelaksana pengujian kendaraan bermotor paling lama 5 (lima) tahun. (2) Pemilik kendaraan bermotor yang sertifikat registrasi uji tipe dan bukti lulus uji berkalanya dicabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan bukti lulus uji berkala baru setelah yang bersangkutan melakukan uji berkala kembali sesuai dengan ketentuan yang berlaku. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 199 Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku rem motor untuk sepeda motor yang baru dan yang sudah beroperasi harus menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

. Pasal 203 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini... semua Peraturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi yang mengatur tentang Kendaraan dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.Draft RPP 19 Juli 2010 BAB XI PENUTUP Pasal 202 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 83 . Agar setiap orang mengetahuinya. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA H.. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR . Pasal 204 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi di cabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful