P. 1
Materi Tattwa Dharma Pasraman

Materi Tattwa Dharma Pasraman

|Views: 1,385|Likes:
Published by Miswanto
Makalah tentang Tattwa Hindu pada saat Dharma Pasraman
Makalah tentang Tattwa Hindu pada saat Dharma Pasraman

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: Miswanto on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2015

pdf

text

original

PENGANTAR TATTWA HINDU

*

Oleh : Miswanto
**


Pengertian Tattwa
Tattwa berasal dari kata Sanskerta “Tat” yang berarti “itu” dan “twa” yang berarti engkau. Kata
tattwa dapat diartikan sebagai tentang keituan. Keituan yang dimaksud adalah tentang kebenaran atau
Tuhan. Tattwa sendiri merupakan salah satu bagian dari Tri Kerangka Agama Hindu di samping Suúìla
dan Upacara.
Ada beberapa istilah terkait tattwa, yakni : filsafat dan darúana. Filsafat merupakan dasar untuk
memahami hakekat. Kata “Filsafat” termasuk kata Arab yang berasal dari kata Yunani “phillo” dan
“sophia” (Poedjawijatna, 2005 : 1-2). Kata “phillo” artinya “cinta”, dan “sophia” berarti
“kebijaksanaan”. Jadi filsafat pada hakekatnya adalah cinta kebijaksanaan. Kecintaan akan
kebijaksanaan ini membuat seorang filsuf (ahli filsafat) selalu ingin tahu lebih mendalam.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia selanjutnya disingkat KBBI (1995 : 277), disebutkan
bahwa istilah filsafat mempunyai kesamaan makna dengan istilah falsafah. Terkait dengan hal tersebut,
penulis akan menggunakan kedua istilah tersebut pada tulisan ini secara bergantian.
Selanjutnya dijelaskan bahwa falsafah adalah anggapan, gagasan dan sikap batin paling dasar
yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat. Falsafah juga dapat diartikan sebagai pandangan hidup
(KBBI, 1995 : 274). Pengertian ini senada dengan terminologi filsafat yang diidentikkan dengan istilah
way of life, weltanschaung, wereldbeschowing atau wareld en levens beschouwing. Kesemua istilah
tersebut merujuk pada pengertian pandangan, pegangan dan petunjuk hidup (Sudarto, 1997 : 39).
Selain itu, filsafat juga dikenal sebagai induk ilmu pengetahuan. Secara keilmuan, filsafat akan
bertalian dengan masalah tentang keberadaan atau kenyataan (ontologi), teori pengetahuan
(epistemologi) dan nilai-nilai (aksiologi). Batasan ini mengikuti pembagian filsafat atas bidang induk
yang menyangkut tentang pengetahuan, kenyataan, tindakan dan sejarah (Hemersma, 1986: 14).
Darúana berasal dari akar kata Sanskerta “dåû ("¸ºÌ¸ )” yang artinya melihat (ke dalam), atau
mengalami. Oleh karena itu Darúana merupakan sebuah pandangan tentang realitas. Istilah filsafat
sesungguhnya tidak dikenal dalam tradisi intelektual India yang mendapat benih benih subur didalam
kitab upaniûad. Dan istilah yang mendekati istilah filsafat dalam filsafat barat adalah Darúana. Dan
juga Darúana ini merupakan sebuah pikiran yang diperoleh secara intuituf dan dipertahankan secara
logis (Radhakhrisnan).

Sumber dan Pokok Ajaran Tattwa
Sumber-sumber ajaran Tattwa adalah Lontar-lontar kuno tentang tattwa. Lontar-lontar tersebut
umumnya berbahasa Jawa Kuno. Adapun beberapa contoh sumber ajaran tattwa adalah : Lontar
Bhuwana Koûa, Lontar Wåhaspatti Tattwa, Lontar Tattwa Jñàna, Gaóapati Tattwa, Màha Jñàna, Jñàna
Úiddhànta dan sebagainya. Walaupun tidak tepat sekali, istilah Tattwa dalam agama Hindu dapat
disejajarkan dengan pengertian Filsafat Ketuhanan yang mencakup Teologi dan Metafisika (Pudja dkk,
1982 : 39). Sebagaimana filsafat pada umumnya tattwa mencakup tiga aspek yakni : ontologi,
epistemologi dan aksiologi.
a. Ontologi
Ontologi berasal dari kata Yunani “on” yang berarti “ada” dan “logos” yang artinya “ilmu atau
teori” (Noorsyam, 1984 : 32). Jadi, ontologi dapat didefinisikan sebagai teori tentang ada (the theory of
being qua being). Ditambahkan juga oleh Noorsyam (1984 : 28-31), bahwa kadang-kadang “ontologi”
disamakan dengan “metafisika” yang dapat diartikan sebagai “dibalik fisika” (meta = di belakang).
Metafisika juga dikenal sebagai filsafat pertama (prote filosifia).
Terkait dengan masalah ontologi tersebut, tattwa memandang yang “ada” dari segi pengalaman
dan penghayatan manusia. Kemudian, dari sini diperoleh kompilasi yang sistematis mengenai konsep
“ada”. Konsep ini pun secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam rumusan-rumusan tentang
keberadaan Tuhan, manusia dan alam semesta.
Menurut Punyatmaja (1976) keberadaan dalam tattwa Hindu dirumuskan menjadi 5 yakni :
Widdhitattwa, Àtmatattwa, Karmaphalatattwa, Punarbhavatattwa dan Mokûatattwa. Kelimanya sering
dikenal sebagai Pañca Tattwa atau Pañca Úraddha. Berikut penjelasannya.

*
Disampaikan pada acara Dharma Pasraman tingkat SMP/SMA se-Kabupaten Banyuwangi di Pura Agung Blambangan
pada tanggal 24-25 Desember 2010
**
Penulis adalah Dosen STHD Klaten, Guru Agama Hindu di SMAN 2 dan SMP 4 Batu, Wartawan Media Hindu, Aktif
sebagai Duta Dharma di wilayah Propinsi Jawa Timur, Wakil Sekretaris II PHDI Kabupaten Banyuwangi, Penulis buku-
buku bernuansa Hindu dan Budaya Jawa, Kini sedang menempuh S2 Pendidikan Agama Hindu di Unhi Denpasar
2
Widdhitattwa
Widdhitattwa adalah filsafat tentang keberadaan Tuhan dan Alam Semesta. Umat Hindu percaya
bahwa keberadaan Brahman/Tuhan itu satu/esa. Tetapi umat Hindu tidak memungkiri bahwa
manifestasi Tuhan itu banyak sebagaimana disebutkan dalam Ågveda I.64.46 :
¯dÌFÌ̧ºÌNõ¸"ÌH"Ì·¬Ì
Terjemahan :
Tuhan itu satu, tetapi orang bijak menyebutkan-Nya dengan banyak Nama (Titib,1998).
Itu semua semata-mata karena kemahakuasaan-Nya. Salah satu sifat kemakuasaan-Nya
dimanifestasikan dalam wujud-Nya yang disebut Nawa Dewata. Kata “Nawa” berarti “sembilan” dan
dewata sendiri adalah manifestasi Tuhan. Nawa Dewata berarti manifestasi Tuhan sebagai Penguasa 9
penjuru alam/dunia.
Bagian-bagian dari Nawa Dewata tersebut adalah : Dewa Ìúwara, Dewa Mahesora, Dewa
Brahma, Dewa Rudra, Dewa Mahàdewa, Dewa Úaòkara, Dewa Wiûóu, Dewa Sambhu, dan Dewa
Úiwa. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :

Dewa Saòkara
Penguasa arah Barat Laut
Senjata : Angkus
Warna : Hijau
Aksara Suci : Úing


Dewa Wiûóu
Penguasa arah Utara
Senjata : Cakra
Warna : Hitam
Aksara Suci : Ang

Dewa Sambhu
Penguasa arah Timur Laut
Senjata : Triúula
Warna : Biru
Aksara Suci : Wang

Dewa Mahàdewa
Penguasa arah Barat
Senjata : Nagapasa
Warna : Kuning
Aksara Suci : Tang


Dewa Úiwa
Penguasa arah Tengah
Senjata : Padma
Warna : Pañca Waróa
Aksara Suci : Ing atau Yang

Dewa Ìúwara
Penguasa arah Timur
Senjata : Bajra
Warna : Putih
Aksara Suci : Sang

Dewa Rudra
Penguasa arah Barat Daya
Senjata : Mokûala
Warna : Jingga
Aksara Suci : Mang


Dewa Brahma
Penguasa arah Selatan
Senjata : Gada
Warna : Merah
Aksara Suci : Bang

Dewa Mahesora
Penguasa arah Tenggara
Senjata : Dupa
Warna : Dadu
Aksara Suci : Nang
Di samping itu Tuhan atau Brahman adalah Saguóa (Immanent) dan sekaligus Nirguóa
(Transendent) atau disebutkan dalam konsep : Úiwa – Sadà Úiwa – Parama Úiwa. Úiwa dan Sadà Úiwa
masih bersifat Saguóa, sementara Parama Úiwa sudah bersifat Nirguóa. Tuhan tidak terbatas
sebagaimana sifat kemahakuasaan Tuhan dalam Cadu Úaktì (Wibhù, Prabhu, Jñàna dan Kriya Úakti).
Salah satu aspek Cadu Úakti yang dimiliki oleh Sadà Úiwa seperti disebutkan dalam Wåhaspati Tattwa
65-66 adalah 8 kekuasaan-Nya yang disebut Aûþaiswarya, terbagi atas : aóimà (sangat halus), laghimà
(maha ringan), mahimà (maha besar), pràpti (bisa menjangkau mana saja), pràkàmya (apapun yang
menjadi kehendakNya akan terlaksana), ìúitwa (maha mulia), waúitwa (maha kuasa) dan
yatrakàmàwasayitwa (bisa berbentuk apa saja).
Tentang alam semesta dalam tattwa Hindu disebut sebagai bhuwana agung. Kata “bhuwana
agung” terdiri dari dua suku kata “bhuwana” (Sanskerta) yang berarti jagad atau dunia dan “göng”
(Kawi) yang menunjuk pada sesuatu yang besar. Bhuwana agung diartikan sebagai jagad raya atau
alam semesta (makrokosmos) ini.
3
Alam semesta ini dahulu kala pernah tidak ada, lalu menjadi ada, kemudian tidak ada lagi,
demikianlah seterusnya. Pada saat alam ini meng“ada” disebut “såûþi” yang terjadi pada siang hari
Brahma atau Brahmadiwa. Sedangkan ketika alam ini “meniada” disebut “pralàya” yang terjadi pada
malam hari Brahma atau Brahmanakta. Jika digabungkan siang hari dan malam hari Brahma ini
disebut satu hari Brahma yang lama sama dengan satu Kalpa.
Bhuwana agung terdiri atas lima unsur yang disebut Pañca Mahàbhùta. Adapun unsur-unsur
Pañca Mahàbhùta itu terdiri atas :
 Påthivi, yaitu unsur zat padat terdiri dari benda-benda seperti batu, tanah dan lain-lain.
 Àpaá, yaitu unsur zat cair atau benda-benda cair seperti air sungai, laut dan sebagainya.
 Tejo, yaitu unsur panas atau cahaya yang memberikan penerangan pada alam ini.
 Bayu, yaitu unsur gas atau udara yang ada di sekitar manusia.
 Àkàúa, yaitu unsur ether.
Proses terjadinya Bhuwana agung menurut Hindu berawal dari Brahmaóða (Telur Brahma). Dari
telur Brahma inilah keluar semua unsur-unsur alam semseta. Oleh karena itu Brahman dikatakan
sebagai “urna nabhwat” yaitu makhluk yang mengeluarkan sutra dari pusat perutnya.
Di samping itu dalam tattwa samkhya disebutkan bahwa awalnya alam semesta merupakan
sesuatu yang hampa/kosong (Parama Úiwa/Nirguóa Brahman). Kemudian atas pengaruh Màyà,
Parama Úiwa berevolusi menjadi Sada Úiwa dengan berwujudkan Puruûa (unsur kejiwaan) dan Prakåti
(unsur kebendaan). Sebagai unsur kebendaan Prakåti mempunyai ketiga guóa yang disebut Tri Guóa
(Sattwam, Rajas dan Tamas). Akibat pengaruh guóa tersebut maka reaksi antara Puruûa dan Prakåti
menghasilkan Mahat, Buddhi, Ahaýkàra. Kemudian dari Ahaýkàra sebagai prinsip kepribadian
mucullah Manas. Buddhi, Ahaýkàra dan Manas ini secara bersama-sama disebut tiga unsur batin (Tri
Antaákaraóa Úarira). Pada perkembangan kejiwaan selanjutnya muncullah indra persepsi yang disebut
Pañca Buddhendriya atau Pañca Jñànendriya dan Pañca Karmendriya.
Sedangkan pada perkembangan fisik menghasilkan asas dunia luar yang terjadi pada dua tahap.
Tahap pertama yaitu diawali dengan munculnya Pañca Tanmàtra sebagai unsur halus dari sari-sari
suara (úabda tanmàtra), raba (sparúa tanmàtra), warna (rùpa tanmàtra), rasa (rasa tanmàtra) dan bau
(gandha tanmàtra). Tahap kedua terjadi kombinasi unsur-unsur halus yang menghasilkan unsur-unsur
kasar yang disebut Pañca Mahàbhùta. Adapun unsur-unsur Pañca Mahàbhùta inilah yang selanjutnya
menjadi alam semesta dengan segala isinya.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa proses penciptaan alam menurut Hindu didahului
proses evolusi secara metafisik kemudian dilanjutkan dengan evolusi secara biokimia (Bandingkan
dengan teori kosmologi seperti : Teori Big Bang, Evolusi Darwin, atau pun Teori Stainley Miller).
Menurut Lontar Jñàna Úiddhànta alam semesta terdiri atas Sapta Loka (dunia atas) dan Sapta
Pàtàla (dunia bawah). Bagian-bagian dari Sapta Loka adalah : Bhurloka, Bhuwarloka, Swarloka,
Maharloka, Janaloka, Tapaloka dan Satyaloka. Semestara bagian-bagian Sapta Pàtàla adalah : Tàla,
Sutàla, Nitàla, Atàla, Santàla, Vaitàla dan Pàtàla.

Àtmatattwa
Àtmatattwa adalah filsafat tentang Àtman atau Bhuwana Alit. Sesuai asal katanya bhuwana alit
berarti dunia kecil yang unsur-unsurnya sama dengan bhuwana agung. Bhuwana alit adalah tubuh
manusia itu sendiri. Bhuwana alit juga dikenal dengan istilah mikrokosmos. Apa yang ada dalam
bhuwana agung juga ada dalam bhuwana alit. Unsur Puruûa dalam bhuawa alit menjadi Jiwàtma.
Sedangkan unsur Prakåtinya menjadi badan manusia yang terdiri atas Úukûma Úarìra (sebagai Liòga
Úarìra) dan Sthulà Úarìra. Úukûma Úarìra dalam badan manusia berupa Tri Antaá Karaóa Úarìra yang
terdiri atas buddhi (sebagai penentu keputusan), manas (berpikir) dan ahaýkàra (merasakan dan
bertindak). Sedangkan Sthulà Úarira/raga manusia terjadi dari Pañca Tanmàtra dan Pañca
Mahàbhùta. Berikut evolusi Pañca Mahàbhùta dalam tubuh manusia.
 Påthiwi : menjadi tulang, daging, dan segala yang padat (gandha tanmàtra)
 Àpaá : darah, lemak, kelenjar, empedu, air badan (rasa tanmàtra)
 Tejo : panas badan, sinar mata, dan segala yang panas/bercahaya (rùpa tanmàtra)
 Bàyu : nafas atau udara dalam badan/praóa (sparúa tanmàtra)
 Àkaûa : rongga dada, rongga mulut dan segala rongga lainnya (úabda tanmàtra)
Terkait dengan badan kasar manusia tersebut ada 6 pembungkus badan yang disebut Saðkosa
dan 10 macam udara yang disebut Daúa Bàyu. Saðkoúa terdiri atas : aûþi (tulang), odwad (otot),
sumsum (sumsum), màýúa (daging), rudhira (darah) dan carma (kulit). Sesuai letaknya Dasa Bàyu
terdiri atas : pràóa (di paru-paru), samàna (di pencernaan), apàna (di pantat), udàna (di
kerongkongan), byana (menyebar ke seluruh tubuh), nàga (di perut), kumara (keluar dari tangan dan
4
kaki), kåkara (keluar pada saat bersin), dewadatta (keluar pada saat menguap/angop), dan danañjaya
(udara yang memberi makan pada badan).
Sedangkan unsur Tri Antaá Karaóa Úarìra menjadi Rajendriya (raja dari segala indriya). Adapun
indriya manusia itu sepuluh yang disebut Daúendriya yang merupakan gabungan dari Pañca
Buddhendriya dan Pañca Karmendriya.
Bagian-bagian dari Pañca Buddhendriya : Cakûwendriya (pada mata); Úrotendriya (pada
telinga); Gåhanendriya (pada hidung); Jihwendriya (pada lidah); Twakindriya (pada kulit). Sementara
itu bagian-bagian Pañca Karmendriya yaitu : Panindriya (pada tangan); Padendriya (pada kaki);
Garbhendriya (pada perut); Upasthendriya / Bhagendriya (kelamin laki-laki/perempuan);
Paywendriya (pada alat pelepasan).
Bhuwana alit yang diciptakan oleh Tuhan menurut Hindu digolongkan menjadi 3 sesuai dengan
urutan waktu penciptaan dan pramàóa yang dimilikinya. Ketiga jenis bhuwana alit tersebut adalah :
Stawara (tumbuh-tumbuhan) dengan eka pramàóa (bàyu saja), satwa marga dengan dwi pramaóa
(úabda dan bàyu) dan nàra marga dengan tri pramàóa (úabda, bàyu dan idep). Kelompok sthawara
(tumbuh-tumbuhan) diklasifikasikan dalam 5 golongan besar yakni : tåóa (bangsa rumput baik yang
darat maupun air), lata (tumbuhan menjalar), taru (semak dan pepohonan), ulma (pohon berongga),
serta janggama (tumbuhan yang menumpang pada pohon lain). Kelompok satwa atau binatang ada 3
yakni : swedaya (bangsa binatang dengan satu sel baik di darat atau air), aóðaya (binatang di darat/air
yang bertelur) dan jayayudya (binatang yang menyusui). Sedangkan kelompok manusia atau nàra
marga juga ada 3 yaitu : nàra satwa (manusia setengah binatang), wàmana (manusia kerdil) dan jadma
manuûa (manusia normal).
Proses terjadinya bhuwana alit pada dasarnya sama dengan terjadinya bhuwana agung.
Terjadinya bhuwana alit ini disebabkan oleh pertemuan antara puruûa dalam bentuk úukla (sperma)
dan pradhàna dalam bentuk swanitha (ovum).

Karmaphalatattwa
Karmaphalatattwa adalah keberadaan tentang karma. Karma Phala terdiri atas dua kata yakni
“karma” yang berarti “perbuatan” dan “phala” yang berarti “buah atau hasil”. Jadi Karma Phala berarti
hasil dari perbuatan seseorang. Umat Hindu percaya adanya hukum Karma Phala atau yang juga
dikenal dengan hukum sebab-akibat ini. Menurut hukum ini, perbuatan baik (úubha karma) akan
berbuah kebaikan sedangkan perbuatan buruk (aúubha karma) akan berbuah keburukan pula
sebagaimana tersirat dalam kitab Úlokantara 68 yang menyebutkan :

Terjemahan :
Karma Phala itu namanya, hasil perbuatan baik atau buruk”
Dalam Dewì Bhàgawata 1.5.74 juga disebutkan :
¬d̳·Ì¹d~Ìd¯ÌF̹FÌ̳ ¯Ì¹ÌÌHF¯ÌÌF¬Ì
Terjemahan :
Mungkinkan (suatu) perbuatan tiada sebab (dan akibatnya) di dalam lingkaran saýsara (lahir dan mati)
di sini (Punyatmaja, 1976).
Karma Phala itu sendiri digolongkan ke dalam 3 jenis menurut waktu penerimaan hasil dari
perbuatan seseorang. Adapun ketiga jenis Karma Phala itu adalah :
 Sañcita Karma Phala, jika pahala atas perbuatan dari kehidupan terdahulu belum habis dinikmati,
dan masih menjadi benih-benih yang menentukan kehidupan sekarang.
 Pràrabdha Karma Phala, jika pahala atas perbuatan pada kehidupan ini tanpa sisa.
 Kriyamàóa Karma Phala, jika pahala atas pebuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat
sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.
Karma Phala menentukan nasib seseorang di masa yang akan datang. Hukum Karma Phala
bukanlah takdir untuk manusia, karena manusia harus bertanggung jawab atas semua perbuatan yang
dilakukannya. Dalam hukum sebab akibat ini, manusia akan mendapat pahala sesuai dengan karma
yang dilakukannya.
Dalam Sàrasamuúcaya 4 disebutkan :

Terjemahan :
Menjelma menjadi manusia itu sungguh utama, karena ia dapat menolong dirinya dari belenggu
saýsara dengan jalan berbuat baik (Kadjeng,dkk, 2000).


5
Punarbhavatattwa
Kata “Punarbhàwa” berasal dari dua suku kata, “punar” yang berarti “lagi, kembali” dan
“bhàwa” yang berarti “ada, lahir”. Jadi, Punarbhàwa dapat diartikan sebagai lahir kembali.
Punarbhàwa adalah kelahiran kembali atau kelahiran yang berulang-ulang. Punarbhàwa disebut juga
saýsara atau reinkarnasi.
Punarbhàwa terjadi karena karma wàsanà yang dibawa oleh seseorang masih membekas pada
jìwàtman. Bekas-bekas itulah yang menyebabkan seseorang terlahir kembali setelah kematiannya.
Tujuannya seseorang dilahirkan kembali sesungguhnya adalah untuk memperbaiki karma-karmanya
sehingga pada akhirnya ia dapat mencapai nirwàóa. Akan tetapi jika ia tidak bisa memperbaiki
karmanya dan memanfaatkan kesempatan itu, tidak menutup kemungkinan pada reingkarnasi
selanjutnya ia akan terlahir menjadi makhluk yang lebih rendah.

Mokûatattwa.
Mokûa adalah tujuan terakhir bagi umat Hindu (bukan swarga atau sorga), di mana pada tataran
ini manusia kembali ke asalnya dan bersatu kembali dengan Sang Pencipta atau Manunggaling Kawula
Gusti (Miswanto,2005a:27). Seseorang yang mencapai mokûa akan terbebas dari segala penderitaan
atau saýsara dan mendapatkan kebahagian yang kekal (ananda). Mokûa terjadi ketika sang Àtman
terbebas dari selubung mayà atau ikatan duniawi. Setelah itu ia juga akan terbebas dari siklus
reinkarnasi. Mokûa juga dikenal dengan istilah nirwàóa atau alam kelanggengan.
Dilihat dari kebebasan yang dicapai oleh Àtman, maka mokûa dapat dibagi menjadi 3 macam:
Mokûa (kebebasan yang dicapai oleh Àtma seseorang tetapi masih meninggalkan bekas berupa mayat);
Adi Mokûa (kebebasan yang dicapai oleh seseorang dengan meninggalkan bekas berupa abu); Paràma
Mokûa (kebebasan yang dicapai oleh seseorang tanpa meninggalkan bekas sama sekali).
Cara untuk mencapai mokûa itu banyak sekali, baik dengan jalan bhakti, karma, jñàna, ataupun
yoga. Kesemua itu dapat dilakukan untuk mencapai kebahagiaan yang kekal tersebut. Dalam
Wåhaspati tattwa 52 disebutkan ada 3 hal utama yang harus diperhatikan jika seseorang ingin
mencapai mokûa :
 Jñànabhyudreka, artinya : tahu akan semua tattwa dan kebenaran
 Indriyayogamàrga, artinya : tidak menikmati dan mengumbar indriya terutama sekali hawa nafsu.
 Tåûóadoûakûaya, artinya memusnahkan baik-buruknya hasil dari perbuatan dan tidak terpengaruh
pada hasil tersebut (Putra & Sadia, 1998).
Menurut Bhagavad Gìtà, mokûa dapat dicapai dengan berbagai macam jalan (bhakti, karma,
jñàna dan ràja yoga) sebagaimana disebutkan dalam IV.11 yang bunyinya :
¯Ì ¯Ì~ÌÌ ¹Ì ºÌºÌU·¬Ì ¬ÌÌF¬Ì~ÌH ¹Ì¯Ì̹¯Ìõ l ¹Ì¹Ì H¬¹ÌÌ ·Ì¸H¬Ì·¬Ì ¹Ì·Ì¸ º¯Ì· ºÌÌ~Ì FÌH¯Ì· ll
Terjemahan :
Jalan apapun orang memuja-Ku, pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginannya, wahai Pàrtha,
karena semua jalan yang ditempuh mereka, semuanya adalah jalan-Ku (Maswinara, 1997: 193).

b. Epistemologi
Secara etimologi, kata “epistemologi” berasal dari kata Yunani “episteme” yang berarti
“pengetahuan” dan “logos” yang dapat diartikan sebagai “teori” (Noorsyam, 1984 : 34). Epistemologi
berarti teori tentang ilmu pengetahuan.
Runes (dalam Miswanto, 2005b : 28) mendefinisikan epistemologi sebagai, “the branch of
philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge”. Dengan
epistemologi ini, seseorang dapat mempelajari proses memperoleh pengetahuan. Jika dalam filsafat
Barat, cara yang dikembangkan untuk memperoleh pengetahuan dapat dilakukan melalui penalaran,
akal, rasio, abstraksi ataupun intuisi, maka tattwa pun menggunakan cara-cara serupa untuk
memperoleh pengetahuan. Hanya saja di dalam tattwa, proses tersebut berupa tahap-tahap penggunaan
cipta, rasa dan karsa melalui tingkat-tingkat kesadaran yang terbagi atas : kesadaran inderawi,
kesadaran hening (manunggal dalam cipta-rasa-karsa), kesadaran pribadi (Ingsun) dan kesadaran Ilahi
(manunggalnya Àtman dan Brahman atau Brahman Àtman Aikyam).
Punyatmaja (1976 : 5) menjelaskan bahwa epistemologi dalam tattwa Hindu merupakan bagian
yang membentangkan cara untuk mendapatkan segala pengetahuan. Cara itu ada tiga yang biasa
dikenal sebagai Tri Pramàóa sebagaimana yang terdapat dalam Våhaspati Tattwa 26 yang bunyinya :

6
Terjemahan :
Orang yang dikatakan memiliki tiga cara untuk mendapatkan pengetahuan (yaitu pratyakûa, anumàóa,
àgama). Pratyakûa (konon) namanya (karena) terlihat dan terpegang. Anumàóa sebutannya sebagai
melihat kepastian (adanya) api, itulah disebut anumàóa. Àgama disebut pengetahuan yang diberikan
oleh para guru (sarjana). Itulah agama. Orang yang memiliki 3 cara untuk mendapatkan pengetahuan
pratyakûa, anumàóa, àgama, dialah berpengetahuan lengkap.
Adapun bagian-bagian dari Tri Pramàóa adalah :
 Pratyakûa Pramàóa, cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dengan pengamatan
langsung (prati = langsung; ikûa = melihat).
 Anumàóa Pramàóa, cara atau jalan untuk mendapatkan pengetahuan berdasarkan tanda-tanda atau
gejala-gejala yang dapat diamati. Gejala-gejala tersebut kemudian disimpulkan menjadi
pengetahuan yang aptopadeúa (yang dapat dipercaya). Misalnya ada istilah yang menyebutkan :
¯Ì¯Ìl¯Ì¯Ì'̸¹Ì·l¬Ì¯Ìl¬Ì¯ÌHÌö·ll
Terjemahan :
Di manapun ada asap di sana pasti ada api” (Punyatmaja, 1976 : 6)
 Agama Pramàóa atau sering juga disebut sebagai Úabda Pramàóa. Agama Pramàóa adalah cara
mendapatkan pengetahuan dengan mendengarkan ucapan-ucapan atau cerita-cerita orang yang
wajar dipercaya karena kejujurannya, kesucian dan keluhuran pribadinya.

c. Aksiologi
Aksiologi sesuai dengan asal katanya “axios”, merupakan bidang filsafat yang menyelidiki nilai-
nilai (value). Brameld (Noorsyam,1984:34-35) membedakan tiga bagian dalam aksiologi yakni: moral
conduct (tindak moral/etika), esthetic expression (ekspresi keindahan/estetika), social-politic life
(kehidupan sosio-politik).
Aspek etika dalam tattwa Hindu termanifestasikan dalam konsep úìla. Selanjutnya konsep itu
termanifestasikan dalam bentuk ajaran Yoga (Astaògayoga) terutama dalam aspek Yama dan Niyama
Brata.

Úiwaisme
Pudja dkk. (1982:23) menyatakan bahwa Úiwaisme adalah salah satu madzab dalam agama
Hindu. Asal-usulnya tidak banyak kita kenal namun dalam sejarah penyebaran agama Hindu,
Úiwaisme mempunyai pengaruh dan peranan yang amat penting dalam tata kehidupan agama Hindu,
terutama setelah Úiwaisme berkembang menjadi ajaran Tantra.
Pada dasarnya, Úiwaisme dibedakan atas 4 tingkat yaitu : Pura-pura camaya, Pura Camaya, Aha
pura camaya, Aha camaya. Úiwa Úiddhànta sendiri dibagi atas beberapa golongan besar yakni :
Úiddhànta, Paúupata, Ratnahara dan Úambhu. Pada jaman dahulu ajaran Úiwa mempunyai kitab sendiri
yang dikenal sebagai “Úiwàgama”.
Ada beberapa rontal yang bersifat Úiwaistik yaitu : Sang Hyang Kamahayanikan, Sutasoma,
Àrjuna Wijaya, Bubukûaá, Gagakaking, Bhuwana Koûa, Bhuwana Saòkûepa, Wåhaspati Tattwa,
Úiwàgama, Úiwatattwapùraóa, Tutur Gong Wësi, Purwa Bhumi Kamulan, Tantu Panggelaran, Usaha
Dewa, Gaóapati Tattwa, Tattwa Jñàna, Jñàna Úiddhànta dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Hemersma, Harry. 1986. Tokoh-Tokoh Filsafat Modern. Jakarta : Gramedia.
Kadjeng, I Nyoman, dkk. 2000. Sārasamuçcaya, Dengan Teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna. Surabaya : Pāramita.
Maswinara, I Wayan. 1996. Konsep Pañca Śraddhā. Surabaya : Pāramita.
_______, I Wayan. 1997. Śrīmad Bhagavad Gītā, dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Surabaya : Pāramita.
Miswanto, 2005. “Epistemologi Jawa, Sebuah Rekonstruksi Makna”, Warta Hindu Dharma, No. 463: hal. 27-30.
_______, 2005. “Hindu dan Teologi Pembebasan dalam Konteks Kekinian”, Warta Hindu Dharma, No. 450 – 455, hal :
25-27.
Noorsyam, Mohammad, 1984. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya : Usaha Nasional.
Poedjawijatna. 2005. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta : Rineka Cipta.
Pudja, Gde, dkk. 1982, Siwa Sasana, Jakarta : Mayasari.
Punyatmaja, IB Oka, 1976. Panca Çraddha, Denpasar : PHDI Pusat.
Putra, I.G.A.G., I Wayan Sadia. 1998. Vrhaspati Tattwa. Surabaya : Pāramita.
Sudarto. 1997. Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Tim Penyusun. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Titib, I Made, 1998. Veda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya : Pāramita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->