REVIEW JURNAL PSIKOLOGI “KECENDERUNGAN PERILAKU AVOIDANCE PADA ANAK YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA”

Kelompok III Nama Anggota: Diah Wulandari ErmelindaMulia Natalia Novita Sari I Komang Agus Trinata (08100175L) (07090141L) (08100180L) (08100187L)

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA 2012

tetangga dan pengasuh. dan bagaimana perilaku avoidance pada subjek yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga serta faktor penyebab perilaku avoidance pada subjek. 2008). pembantu rumah tangga bahkan anak. Dampak dari tindakan KDRT yang dialami oleh anak dapat menimbulkan perilaku avoidance.BAB I PENDAHULUAN A. bapak. Mereka menjadi rentan terhadap kekerasan karena posisi sosialnya dalam masyarakat dan keadaan mereka akan sangat bergantung pada perlindungan orang tua. Dimana pengertian . Artikel Tema kita kali ini membahas tentang bagaimana pengaruh perilaku avoidance pada anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. dimana perilaku avoidance merupakan suatu bentuk perilaku menghindar yang ditandai dengan perasaan terisolasi dan perasaan kesepian yang dikombinasikan pula dengan perasaan takut akan penghinaan dan penolakan dari orang lain. istri. 2. Kasus-kasus kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh kerabat dekatnya (Freyd.dkk 2005 dalam Matlin. 1. kekerasan seksual terhadap anak umumnya dilakukan oleh saudara-saudaranya. 3. Latar Belakang Di Indonesia tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali kita dengar bahkan secara tidak sadar telah kita lihat secara langsung yang bisa menimpa siapa saja termasuk ibu. suami. Tujuan Untuk mengetahui bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang dialami subjek. Hal ini merupakan penyalahgunaan kekuasaan oleh salah satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya yang melanggar hak individu atau perdata. B. Manfaat Membantu pertumbuhan dan perkembangan mental anak dengan melakukan pendekatan secara psikologi sehingga dapat mengubah prilaku avoidance. Pada anak yang mengalami tindakan KDRT tersebut tidak jarang mengalami cedera fisik dan gangguan psikis yang sangat serius.

maka mempengaruhi kepribadian seseorang seperti paranoid/mudah curiga misalnya: kesulitan hal ini adalah jarang sekali penderita dengan kesadaranya datang ke para ahli. Perilaku avoidance ini juga bisa dikategorikan sebagai Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD (gangguan stres pasca trauma) yaitu gangguan stres yang timbul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. Oleh karena itu disini kami mengulas mengenai penelitian yang membahas kasus ini.avoidance itu sendiri adalah suatu kondisi dimana seseorang merasa takut. Avoidance yang dimaksud disini adalah seseorang akan selalu menghindari situasi yang mengingatkan ia pada kejadian traumatis. Hasil penelitian menunjukan bahwa subjek (anak) telah mengalami beberapa bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh orangtuanya. model kognitifnya (cognitive style). Perilaku avoidancenya dapat dilihat dari beberapa dimensi seperti tingkah laku subjek yang kelihatan (behavioral appearance). karena dirasa sangat serius berdampak pada anak yang mengalami kekerasan dari orang tuanya baik dari segi fisik maupun secara mentalnya. Perilaku avoidance pada subjek disebabkan karena adanya faktor kekerasan/penolakan dari orangtua dan teman sebayanya (peer group). Misalnya. serta mekanisme pertahanan dasarnya (primary defense mechanism). melihat orang dibunuh. ekspresi afektifnya (affective expression). dan juga kekerasan fisik. . terkucilkan. bencana alam. persepsi dirinya (self-perception). Sehingga dia lebih memilih menghindar dan menarik diri dari interaksi baik dari orang baru maupun orang yang telah dikenalnya. korban kecelakaan. dan merasa tidak diinginkan oleh orang – orang disekitarnya. Jika PSTD tidak ditangani dengan benar. serta faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku avoidance pada anak. Kekerasan yang dialami subjek berupa pengabaian pemenuhan kebutuhan anak. Apalagi stigma yang beredar dimasyarakat bahwa psikiater identik dengan orang sakit jiwa atau gila. perilaku interpersonalnya (Interpersonal conduct). Hal ini disebabkan karena sang anak merasa takut akan dampak pengucilan dari interaksi yang terjadi. dan lain-lain. disiksa secara sadis. Sikap orang sekitar yang meremehkan dan mengucilkan itulah yang dapat membuat seorang anak merasa diasingkan dan kemudian menarik diri dari pergaulan serta kontak dengan orang lain. kesepian. kekerasan verbal-emosional.

C. Perilaku avoidance ini menyebabkan anak bukan hanya menutup diri dari lingkungan tetapi juga membawa efek traumatis sampai dewasa kelak. Salah satu hal terbesar dalam kekerasan dalam rumah tangga yang dirasakan oleh anak adalah penolakan dan pengabaian orangtua kepada anak dalam banyak hal. Kajian Teori Komisi Nasional Perempuan (2002) membagi kekerasan terhadap anak secara umum ke dalam empat kategori yaitu pengabaian pemenuhan kebutuhan anak. Biasanya individu lebih melepaskan ekspresinya melalui fantasi dan imajinasi. mempermalukan. menerima perlakuan kasar dari orangtuanya yaitu dicubit. 2000). salah satunya adalah perilaku avoidance. kekerasan fisik. Luka psikologis yang dibawa oleh anak akibat kekerasan dalam rumah tangga membawa efek lain dalam perkembangannya. Kekerasan fisik berupa serangan yang dialami seorang anak sehingga membuatnya terluka secara fisik (Baron dan Byrne. ditendang. sandang. Bentuk pengabaian pemenuhan kebutuhan anak dapat berupa penyediaan kebutuhan makan. Kekerasan verbal-emosional dapat berupa ancaman. 1985). dipukul. dan kekerasan seksual. dan papan serta pemeliharaan pelayanan medik. Ekspresi afektif individu yang berperilaku avoidance terlihat sangat sedih sampai menjadi lebih tegang atau gelisah. ditoyor bahkan didorong. Ia akan merasa tidak betah ketika harus bersama dengan orang lain bahkan orangtuanya sekalipun. mengecilkan arti anak baik secara sendiri (private) maupun di hadapan orang banyak. dan pemberian kasih sayang terhadap anak yang tidak terpenuhi sepenuhnya. Individu yang mengalami kesedihan yang mendalam akan menemukan dirinya “terdorong” untuk ditertawakan dan merasakan penurunan harga diri dari yang lainnya (Millon dan Everly. kekerasan verbal-emosional. . Sedangkan kekerasan fisik dapat berupa segala sesuatu yang mengakibatkan luka fisik pada anak.

2. melalui sikap dan tindakan. HAKEKAT PRILAKU 1. yakni Coqnitive. membedakannya menjadi 3 macam bentuk perilaku. 3. dan dalam bentuk aktif (dengan tindakan konkrit). dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula. yakni dalam bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkrit). Menurut Ensiklopedi Amerika. dan lain sebagainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek. Bloom (1956). yakni dalam bentuk pengetahuan. Robert Y. motivasi dan persepsi. perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya. baik fisik maupun non fisik. Konsep dan Pengertian Perilaku Pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat. Bentuk-bentuk Perilaku Pada dasarnya bentuk perilaku dapat diamati.BAB II PEMBAHASAN A. bersikap. sedangkan dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup. menyebutnya Cipta. Affective dan Psikomotor. Karsa atau Peri akal. Rasa. Ahli lain menyebut Pengetahuan. perilaku dapat pula bersifat potensial. berfikir. faktor-faktor tersebut antara lain : . Peri rasa. Sedangkan Ki Hajar Dewantara. namun demikian tidak berarti bahwa bentuk perilaku itu hanya dapat dilihat dari sikap dan tindakannya saja. Proses Pembentukan Perilaku Proses pembentukan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan. Sikap dan Tindakan. Peri tindakan. reaksi yang dimaksud digolongkan menjadi 2. Perilaku juga diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya. Kwick (1972) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari.

orang.1) Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui indera penglihatan. dan hasil-hasil kebudayaan yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilaku yang selaras dengan lingkungannya apabila perilaku terbentuk dapat diterima oleh lingkungannya dan individu yang bersangkutan. sedangkan keadaan jasmani merupakan hasil keturunan (bawaan). kecerdasan. kelompok. 2) Motivasi diartikan sebagai dorongan untuk bertindak untuk mencapai sutau tujuan tertentu. . 4) Belajar Belajar diartikan sebagai suatu pembentukan perilaku dihasilkan dari praktekpraktek dalam lingkungan kehidupan. persepsi. Kepala Adat. Alim Ulama. 2) Orang penting sebagai referensi Perilaku orang banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap penting yang sering disebut kelompok referensi lain seperti: Guru. penciuman. kepercayaankepercayaan. minat. oleh karena itu perilaku yang timbul karena emosi merupakan perilaku bawaan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Perilaku 1) Faktor intern yakni. Penyebab Seseorang Berperilaku Tim Ahli WHO (1984) menganalisa bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku karena adanya 4 alasan pokok. yaitu : 1) Pemikiran dan Perasaan. sikap-sikap dan nilai-nilai. 2) Faktor ekstern yakni. Kepala Desa dan sebagainya. dan sebagainya. pendengaran. Barelson (1964) mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku yang dihasilkan dari perilaku terdahulu. Manusia dalam mencapai kedewasaan semua aspek yang berhubungan dengan keturunan dan emosi akan berkembang sesuai dengan hukum perkembangan. dalam bentuk pengetahuan-pengetahuan. 5. motivasi. obyek. emosi dan sebagainya untuk mengolah pengaruh-pengaruh dari luar. hasil dari pada dorongan dan gerakan ini diwujudkan dalam bentuk perilaku 3) Emosi Aspek psikologis yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani. 4.

orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin. kemiskinan. atau situasi tertentu. 4) Kebudayaan Perilaku normal. orang tua. Stres berasal dari situasi tertentu misalnya suami/istri terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) atau pengangguran. pindah lingkungan. Kebudayaan atau pola hidup disini adalah merupakan kombinasi dari semua yang telah disebutkan diatas. Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak. tenaga kerja. Stres yang berasal dari suami atau istri misalnya dengan gangguan jiwa (psikosis atau neurosa). nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life). mental. B. serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga merupakan salah satu penyebab stres. Bayi dan usia balita. Kebudayaan ini terbentuk berabad-abad lamanya sebagai hasil dari pada kehidupan suatu masyarakat bersama. dan perilaku yang terlihat berbeda dengan anak pada umumnya. waktu. keterampilan dan sebagainya. secara umum disebabkan oleh suatu teori yang di kenal berhubungan dengan stress dalam keluarga (family stress). bersifat positif maupun negatif. masalah hubungan social baik keluarga atau komunitas. yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang. dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku. uang. yang disebut sebagai kebudayaan.3) Sumber-sumber daya. Faktor-Faktor Perilaku Individu Yang Mempengaruhi Kekerasan Rumah Tangga Faktor penyebab terjadinya kekerasan pada anak dan perempuan. Penyebab utama lainnya adalah. Diantara dampak kekerasan pada anak dan perempuan adalah stigma buruk yang melekat pada korban yakni: . Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik. kebiasaan. pelayanan. Yang dimaksud dengan sumber daya adalah fasilitas. penyimpangan prilaku social (masalah psikososial). orang tua terlampau perfek dengan harapan pada anak terlampau tinggi. orang tua sebagai korban kekerasan di masa lalu. dan keluarga sering bertengkar. perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan. Lemahnya kontrol social primer masyarakat dan hukum dan pengaruh nilai sosial kebudayaan di lingkungan social tertentu.

model kognitif. mereka akan sulit dan segan untuk berinteraksi. 2. perilaku avoidance ini lebih ditandai oleh gangguan yang berasal dari faktor lingkungan (factor ektern). suka gelisah atau khawatir. Faktor lingkungan bisa dilihat dari adanya penolakan dari orangtua. Anak yang mengalami kekerasan juga tidak dapat menikmati indahnya masa kecil yang penuh keceriaan. menarik. Stigma Internal yaitu. kurang nyaman dengan hubungan dengan orang lain apalagi untuk membina hubungan yang lebih dekat atau intim.1. Tetapi kenyataannya. Salah satu dampak psikologis bagi anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga adalah anak akan jadi menarik diri dari lingkungan atau adanya perilaku avoidance yang terjadi pada anak tersebut. ekspresi afektif. perilaku interpersonal. Selain stigma buruk yang melekat pada korban. faktor yang menyebabkan perilaku avoidance itu bisa dikarenakan faktor biogenik ataupun karena faktor lingkungan. kejahatan pada anak dan perempuan juga dapat menghancurkan tatanan nilai etika dan social seperti halnya dampak buruk dari human trafficking. dan anak dalam keadaan sehat tapi bisa saja sebenarnya anak sedang mengalami bermacam-macam derajat tingkat penolakan dari orang tua. kecenderungan masyarakat menyalahkan korban. . Menurut Millon dan Everly (1985). Seseorang yang sangat pemalu dan penakut. Walaupun normal. C. menutup diri. persepsi diri. dan trauma sehingga seperti halnya perempauan tidak mau lagi berkeluaraga setelah dirinya trauma menerima kekerasan dari suaminya. hilangnya kepercayaan diri. Penyebab Anak Melakukan Perilaku Avoidance Perilaku avoidance pada anak muncul dalam tingkah laku yang nampak. Mereka sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan luar. Kecenderungan korban menyalahkan diri. Stigma Eksternal yaitu. Kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh orangtua kepada anak dapat mengganggu proses perkembangan anak baik secara fisik maupun psikologis. dan mekanisme pertahanan dasar. menganggap dirinya aib. media informasi tanpa empati memberitakan kasus yang dialami korban secara terbuka dan tidak menghiraukan hak privasi korban. menghukum diri. Hal ini nampak sebagai suatu faktor yang menyebabkan perilaku avoidance.

Kritik: Orang tua hendaknya selalu memberikan stimulus yang positif bagi anak-anak mereka agar perkembangan fisik dan psikis terjadi secara wajar dan usahakan agar tindakan KDRT dalam rumah tangga dihentikan karena berakibat buruk pada anak dan seluruh kehidupan keluarga. Kesimpulan Kekerasan dalam rumah tangga memberikan efek yang memprihatinkan. apalagi jika yang menjadi korban adalah anak. salah satunya adalah perilaku avoidance. berkomunikasi.BAB III PENUTUP A. Saran: a. b. hipnoterapi. desensitisasi. Salah satu hal terbesar dalam kekerasan dalam rumah tangga yang dirasakan oleh anak adalah penolakan dan pengabaian orangtua kepada anak dalam banyak hal. 2. maupun seperti terapi perilaku. seperti terapi untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan mental anak melalui pendekatan yakni mengajaknya bermain. Perlu melakukan penanggulangan secara dini bagi anak yang sudah berprilaku avoidance. Komentar 1. Luka psikologis yang dibawa oleh anak akibat kekerasan dalam rumah tangga membawa efek lain dalam perkembangannya. B. Perlunya perlindungan para korban KDRT yakni perangkat perlindungan yang jelas dan harus diterapkan dalam kerangka pikir hukum dan kebudayaan karena posisi hukum yang lemah pada kasus KDRT tanpa memperhatikan korban (anak). Perilaku avoidance ini menyebabkan anak bukan hanya menutup diri dari lingkungan tetapi juga membawa efek traumatis sampai dewasa kelak. .

depkumhan go.id/admin/jurnal/13098792_2086-3047.: New York. and Byrne.wordpress.blogspot. pengalaman perempuan Indonesia. 2009.id . Everly. T. www. D. G.go.S. 2000 Social psychology Allyn and Bacon: Boston. Jr.pdf Komisi Nasional Perempuan. Millon. Salemba Humanika..com/2012/03/11/konsep-dan-pengertian-perilaku/ http://desainwebsite.Psikologi Sosial. A. Jakarta. 2002 Peta kekerasan.A.com/2011/10 http://isjd. and Everly.lipi.pdii.net/artikel-ilmiah/konsep-dan-pengertian-perilaku http://kabar-pendidikan. Sarwono S. R.dfpp.. dan Meinamo E. 1985 Personality and it’s disorders: A biosocial learning approach Theodore Millon and George S.W. Ameepro Jakarta. http://dewasastra.Referensi: Baron.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful