P. 1
Tugas Makalah Politik Hukum

Tugas Makalah Politik Hukum

|Views: 2,371|Likes:
Published by Nurul Candra L

More info:

Categories:Types, Recipes/Menus
Published by: Nurul Candra L on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

text

original

TUGAS MAKALAH POLITIK HUKUM

POLITIK HUKUM KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM UU No.10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Politik Hukum Dosen Pengampu : Rima Vien,S.H,M.Hum

Disusun oleh : NURUL CANDRA LISTYANI PPKN / K6409042

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pasca lengsernya rezim Orde Baru, konfigurasi politik Indonesia memasuki fase baru, salah satunya adalah amandemen terhadap UUD 1945. Perubahan atas beberapa pasal produk hukum tertinggi di Indonesia yang responsif ini semakin mengukuhkan persamaan hak & kewajiban antara perempuan dan laki-laki sebagai warga negara Indonesia. Demikian pula UU RI no.10 tahun 2008 tentang pemilu telah menjamin keterwakilan perempuan di bidang politik. Namun realitas berbicara lain, produk hukum UU no.10 tahun 2008 yang menetapkan kuota 30 % bagi perempuan untuk dicalonkan parpol di kursi legislatif belum terpenuhi. Padahal jumlah 30 % adalah jumlah yang oleh PBB dianggap sebagai jumlah minimal di mana suara perempuan bisa di dengar . Berkaca dari hasil Pemilu tahun 1999, 2004 dan 2009, angka kritis 30% keterwakilan perempuan belum terwujud. Saat ini, keterwakilan perempuan di parlemen hanya 18% saja, atau 103 dari 560 orang anggota DPR. Padahal, sensus penduduk menunjukkan jumlah perempuan di Indonesia adalah 118.010.413 jiwa atau sekitar 49% dari total jumlah penduduk (BPS). Hingga Saat ini Revisi UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu masih diperdebatan oleh Pansus RUU Pemilu di DPR RI. Pasal-pasal yang mengintroduksi kebijakan affirmasi 30% ternyata tidak disinggung cukup banyak dalam pembahasan dengan anggapan ruang keterwakilan perempuan sudah mendapat porsi yang cukup. Padahal dengan berbagai perubahan mendasar dalam pengaturan Pemilu 2014 mendatang, kebijakan affirmasi dalam pasal-pasal yang ada justru dikhawatirkan menjadi kehilangan makna.

B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimanakah politik hukum keterwakilan perempuan dalam UU no.10 tahun 2008 tentang pemilihan umum dengan melihat realita kuota minimal 30 persen yang belum terpenuhi.

BAB II PEMBAHASAN
Menurut M.Mahfud MD, Politik hukum dirumuskan sebagai “arah kebijakan (legal Policy) yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah Indonesia yang mencakup proses pembuatan dan pelaksanaan hukum yang dapat menunjukkan sifat dan kearah mana hukum akan dibangun.” Salah satu politik hukum Nasional yang telah membawa Konfigurasi politik Indonesia menjadi demokratis di era reformasi ini adalah Undang-Undang RI no.10 tahun 2008 tentang pemilu yang dicirikan sebagai UU yang responsive. UU Pemilu menjadi indikator untuk melihat bagaimana negara membuat produk hukum yang responsif terhadap indikator kesetaraan gender. Menyinggung mengenai kesetaraan gender dimaknai sebagai suatu kondisi yang mencerminkan adanya kedudukan yang setara dengan laki-laki dan perempuan dalam keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara dalam memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan (Nurudin dkk : 46). UU Pemilu dinilai dapat memberikan jaminan kesetaraan gender bagi perempuan untuk dapat mengikuti proses pencalonan sampai terpilihnya dalam pemilu. Di Indonesia, sejak diberlakukannya pasal 65 UU Pemilu No.12 Tahun 2003 tentang kuota perempuan 30% pada pemilu 2004 secara terus-menerus dibutuhkan penguatan terhadap UU tersebut dan evaluasi di setiap pemilu, sehingga UU Pemilu ini diubah lagi menjadi UU No.8 Tahun 2008, dengan mencantumkan nomor urut 1 sampai 3 harus ada calon perempuan. Lahirnya peraturan kuota perempuan malalui UU Pemilu yang dinilai responsif itu seolaholah menjadi berita baik bagi kaum perempuan karena mengakui adanya

kebutuhan untuk melibatkan perempuan dalam partai politik sebagai upaya agar perempuan bisa memperoleh akses yang lebih luas dalam pengambilan keputusan

di dalam partai. Pesan normatif inilah yang tidak terdapat dalam regulasi sebelumnya yakni UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu.

TIGA PASAL KUOTA PEREMPUAN Dalam UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif, terdapat tiga pasal penting yang menjadi payung hukum keterwakilan perempuan dalam perhelatan Pemilu yaitu : 1. pasal 8 ayat (1) huruf (d). Pasal ini mengatur ketentuan partai politik dapat menjadi Peserta pemilu setelah memenuhi persyaratan menyertakan sekurang-kurangnya 30 persen keterwakilan perempuan pada

kepengurusan partai politik tingkat pusat. 2. pasal 53 yang mengatur ketentuan daftar bakal calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 memuat paling sedikit 30 persen keterwakilan perempuan. Ada pun yang dimaksud Pasal 52 adalah mengatur tta cara pencalonan anggota legislatif dari jalur parpol. 3. pasal 55 ayat (2) yang mengatur ketentuan bahwa dalam daftar bakal calon yang dimaksud pada Pasal 55 ayat (1), setiap 3 orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya 1 orang perempuan bakal calon. Pasal 55 ayat (1) mengatur soal nama calon dalam daftar caleg disusun berdasarkan nomor urut. Menurut Hanna Pitkin Terdapat indikator utama yang dapat digunakan untuk melihat representasi perempuan yaitu proses pemungutan suara di lembagalembaga pemerintahan dan dalam badan-badan resmi pemerintah yang memiliki kaitan dengan isu perempuan (Sulistyowati Irianto : 353). Dengan sistem kuota dalam pemungutan suara ini diharapkan posisi dan perspektif perempuan akan lebih terwakili. Keputusan–keputusan yang dihasilkan juga harus ramah terhadap keterlibatan perempuan, tidak hanya dibidang politik, tetapi juga sosial, ekonomi dan budaya. Ini mengingat keputusan perlemen mencakup semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Keputusan-itu juga harus bisa mengembangkan ruang gerak perempuan dalam sektor publik dan bisa membawa isu kesetaraan dalam setiap keputusan yang dihasilkan.

PENGARUH POLITIK MENGENAI TIDAK TERPENUHINYA QUOTA 30 % PEREMPUAN DALAM PARLEMEN Meskipun UU Pemilu no.10 tahun 2008 memberikan kuota 30 % persen bagi perempuan tetapi penekanan terhadap keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan partai tidak dinyatakan secara eksplisit, Maka tidak heran jika kuota 30 % ini belum terpenuhi. Karena memang tidak ada jaminan bahwa penyertaan minimal 30 % perempuan di dalam keanggotaan partai akan otomatis mengubah mindset partai untuk berpihak kepada perempuan. Ketidaktegasan aturan UU mengenai keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan partai menyebabkan penekanan angka 30 % menjadi sumir. Fakta ini, tak pelak, menimbulkan kesan bahwa kebijakan kuota di dalam Undang-Undang ini sebenarnya lemah. Secara umum ada tiga faktor yang cukup signifikan untuk menentukan keterwakilan perempuan, yaitu sistem pemilu, peran organisasi partai-partai politik serta penerimaan kultural, termasuk aksi mendukung affirmative action yang bersifat wajib dan sukarela yaitu peraturan-peraturan dan tindakan sah untuk mencapai kesetaraan gender (Nurudin : 43). Fungsi dan peranan hukum UU no.10 tahun 2008 ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan politik. Seperti menurut Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari bahwa Hal tersebut merupakan sebuah fakta dimana setiap produk hukum merupakan produk keputusan politik sehingga hukum dapat dilihat sebagai kristalisasi dari pemikiran politik yang saling berinteraksi dari kalangan para politisi, hal ini terlihat dalam : 1. Belum ada sanksi tegas yang dikenakan kepada partai politik (parpol) yang hingga saat ini belum melaksanakan perintah UU Pemilu untuk menambah komposisi perempuan sebanyak 30%. selama ini sanksi yang dijalankan hanya sanksi sosial saja. KPU biasanya mengumumkan di media massa partai-partai yang memenuhi dan tidak memenuhi kuota 30 persen. Namun, kemungkinan besar masyarakat tidak sadar dan tetap mendukung partai yang tidak memperhatikan kuota bagi calon legislatif perempuan.

2. Saat ini, revisi UU Pemilu, yang akan menggantikan regulasi yang lama yakni Undang-undang Nomor 10 tahun 2008, pembahasannya terkesan alot dan berlarut-larut. Pembahasan pun menjadi alot dan berlarut-larut. Masing-masing partai saling ngotot agar kepentingannya terakomodir. Undang-undang yang mengatur tentang pemilu legislatif, memang bisa dikatakan adalah regulasi yang menentukan hidup matinya partai, juga calon politisi Senayan. Ujungnya kemudian tenggat waktu selesainya UU menjadi molor, dari yang maksimal akan disahkan sampai 5 April 2012 ini harus ditunda. Partisipasi politik perempuan dalam revisi UU Pemilu di DPR saat ini pun belum banyak diangkat. dalam pembahasan RUU Pemilu yang sedang berlangsung, anggota DPR masih tak sependapat soal dipastikannya kuota caleg perempuan yang akan diusung di dalam pemilu. saat ini masih ada penolakan dari beberapa partai mengenai aturan kuota 30 persen ini. Mereka beranggapan saat ini sulit mencari kader perempuan berkualitas. Dengan sistem nomor urut seperti dalam pemilu 2009, perempuan masih sangat jarang menempati nomor atas 1 dan 2 dalam daftar calon legislatif. 3. Dalam perkembangannya, kesempatan besar yang diperoleh caleg perempuan melalui kombinasi affirmative action di dalam UU Pemilu 2008 menjadi pupus, ketika banyak partai politik yang memutuskan untuk beralih menerapkan aturan suara terbanyak di dalam kebijakan internal partai. Situasi semakin diperburuk lagi, ketika aturan suara terbanyak ini kemudian disahkan pemberlakuannya oleh MK melalui hasil keputusan Judicial Review atas UU Nomor 10 Tahun 2008 Pasal 214, pada 23 Desember 2008. Penerapan suara terbanyak tentunya tidak sejalan dengan upaya affirmative action yang hanya sesuai apabila digunakan aturan nomor urut dalam Pemilu. Penetapan zipper system menjadi tidak efektif kembali dengan dibatalkannya aturan nomor urut oleh MK. Padahal, jika kita merujuk pada negara-negara yang memiliki keterwakilan perempuan yang baik, maka zipper system dan kuota terbukti sangat efektif dan berhasil meningkatkan angka representasi perempuan.

BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN Fungsi dan bekerjanya produk hukum UU no.10 tahun 2008 ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan politik Hal tersebut merupakan sebuah fakta dimana setiap produk hukum merupakan produk keputusan politik sehingga hukum dapat dilihat sebagai kristalisasi dari pemikiran politik yang saling berinteraksi dari kalangan para politisi. Hal ini ditandai dengan kuota minimal 30 persen yang banyak tidak ditaati oleh partai-partai politik dan kuota minimal 30 persen ini kurang begitu diangkat dalam pembahasan revisi UU no. 10 tahun 2008 khususnya mengenai kuota perempuan yang masih diperdebatkan sampai sekarang ini.

B. SARAN Kaum perempuan harus kembali mendesakkan tindakan afirmatif dalam UU Pemilu yang menjadi landasan pelaksanaan pemilu berikutnya untuk mengejar ketertinggalan terhadap laki-laki. Penerapan kuota 30 persen juga masih perlu dilakukan sebab kesenjangan gender di tataran pengambil kebijakan masih belum hilang. Demikian halnya dengan sistem zipper juga masih perlu dimuat kembali dalam UU Pemilu untuk mengantisipasi kemungkinan dominasi laki-laki pada urutan nomor pencalegan sebab nomor urut caleg ini masih merupakan wewenang elit parpol yang lebih banyak dikuasai laki-laki. Dalam UU Pemilu perlu juga dimuat mengenai sanksi bagi parpol yang tidak menerapkan kuota 30 persen bagi perempuan. Selain itu, satu hal yang paling penting dari perjuangan kaum perempuan dalam tataran payung hukum ini adalah mengamankan tindakan afirmatif yang telah dimuat dalam UU Pemilu agar tidak mudah dipatahkan oleh pihak manapun, seperti pengalaman pemilu 2009 lalu.

DAFTAR PUSTAKA
Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, 2008, Dasar-dasar Politik Hukum, RajaGrafindo Persada, Jakarta. Luhulima, Achie Sudiarti.2007. Bahan Ajar tentang hak perempuan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia Moh.Mahfud MD. 2010.“Perdebatan Hukum Tata negara pasca amandemen Konstitusi”. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Nurudin, Rachmad K Dwi susilo dan Tri Sulistyaningsih. 20006. “Kebijakan Elitis Politik Indonesia”. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD Sulistyowati Irianto.2006. “Perempuan dan Hukum”. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia www.kompas.com diakses pada 3 April 2012-04-05 website www.BPS.go.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->