P. 1
1

1

|Views: 160|Likes:
Published by Putry d'Queen

More info:

Published by: Putry d'Queen on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penyakit infeksi yang menyerang jaringan pendukung gigi merupakan penyakit serius, apabila tidak dilakukan perawatan yang tepat dapat mengakibatkan kehilangan gigi, hal ini akan berdampak pada fungsi pengunyahan dan penampilan seseorang. Salah satu infeksi jaringan pendukung gigi adalah gingivitis. Gingivitis merupakan suatu kelainan pada jaringan periodontal yang sering ditemukan pada masyarakat umum. Penderita tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai suatu kelainan pada gingivanya, disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut serta belum pernah dilaporkan kasus kematian akibat kelainan gingivitis. Penyakit pada jaringan periodontal yang diderita manusia hampir di seluruh dunia dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa. Menurut hasil survai kesehatan gigi dan mulut di Jatim tahun 1995, penyakit periodontal terjadi pada 459 orang diantara 1000 penduduk . Di Asia dan Afrika prevalensi dan intensitas penyakit periodontal terlihat lebih tinggi daripada di Eropa, Amerika dan Australia.
2

Di Indonesia penyakit periodontal menduduki urutan ke dua utama yang masih merupakan masalah di masyarakat (Wahyukundari, 2008). Gingivitis adalah peradangan gingiva, menyebabkan perdarahan disertai pembengkakan, kemerahan, eksudat, perubahan kontur normal , gingivitis sering terjadi dan bisa timbul kapan saja setelah timbulnya gigi, gingiva tampak merah. Peradangan pada gusi dapat terjadi pada satu atau 2 gigi, tetapi juga dapat terjadi pada seluruh gigi. Gingiva menjadi mudah berdarah karena rangsangan yang kecil seperti saat menyikat gigi, atau bahkan tanpa rangsangan , pendarahan pada gusi dapat terjadi kapan saja (Ubertalli,2008). Penumpukan bakteri plak pada permukaan gigi merupakan penyebab utama penyakit periodontal. Penyakit periodontal dimulai dari gingivitis, bila tidak terawat bisa berkembang menjadi periodontitis dimana terjadi kerusakan jaringan periodontal berupa kerusakan fiber, ligamen periodontal dan tulang alveolar (Wahyukundari, 2008). Insidensi penyakit gingivitis di DIY cukup tinggi. Penyakit ini menempati peringkat atas dalam kelompok penyakit gigi dan mulut, bersama dengan kasus gigi berlubang (karies). Kendati begitu, kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksakan gigi terbilang relatif masih rendah. Penderita baru ke dokter gigi setelah merasakan sakit (Syafei, 2010). Sekarang ini orang mencari alternatif lain yang lebih murah dengan beralih ke
3

obat tradisional yang berasal dari alam sekitar. Negara yang beriklim tropis seperti Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar untuk digali, salah satunya adalah pemanfaatan flora dan fauna dibidang kesehatan. Masyarakat desa terpencil tidak tergantung sepenuhnya pada obat modern karena faktor geografis yang tidak memungkinkan ketersediaan obat-obatan. Mereka mewarisi pengobatan tradisional

secara turun temurun, bahan alam yang dipercaya berkhasiat sebagai bahan antimikroba salah satunya adalah lendir bekicot (Grahacendikia, 2009). Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beraneka ragam satwa, keanekaragaman satwa ini sesungguhnya telah dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama di daerah-daerah tertentu sebagai bahan obat-obatan. Dewasa ini kecenderungan masyarakat untuk kembali ke alam semakin tinggi, sehingga pemanfaatan bahan-bahan alamiah cenderung meningkat, termasuk beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang digunakan sebagai obat-obatan tradisional. Pengobatan tradisional dengan menggunakan beberapa jenis hewan telah lama di kenal, salah satunya penggunaan lendir bekicot untuk pengobatan rasa sakit pada karies gigi, yang dilakukan pada siswa SMP hasilnya signifikan mengeliminasi rasa sakit pada gigi karies dengan diagnosis pulpitis (Agung, et al, 2009). Saat musim hujan berlangsung, bekicot banyak dijumpai merayap di pohonpohon pisang, di dinding-dinding rumah dan di kebun yang rindang dengan pepohonan. Binatang ini berkembang biak dengan cepat, karena sekali bertelor jumlahnya sangat banyak. Kesan pertama memang binatang ini kotor dan
4

menjijikkan, namun di sebagian daerah binatang ini banyak dimanfaatkan sebagai penutup luka baru bekas senjata tajam dan sejenisnya, bekicot dikeluarkan lalu dioleskan pada luka, hanya perlu menunggu beberapa saat, luka yang tadinya mengalirkan darah sudah menutup dan rapat tidak berdarah lagi (Anonim, 2011). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bambang Pontjo Priosoeyanto tahun 2005 dari Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran hewan Institut Pertanian bogor membuktikan bahwa lendir bekicot atau Achatina fulica mampu menyembuhkan luka dua kali lebih cepat daripada luka yang diberikan larutan normal saline (Ali, 2010) Bekicot (Achantina fulica) sebagai salah satu obat tradisional dari bahan hewan, perlu diteliti dan dikembangkan. Secara tradisional, bekicot digunakan oleh masyarakat sebagai obat penyembuh luka baru. Secara ilmiah pernah diiakukan penelitian tentang kemampuan fraksi hasil pemisahan lendir bekicot sebagai anti mikroba (Ernawati dan Sunari, 1994). Bekicot termasuk binatang lunak (mollusca), dari division mollusca, diklasifikasikan ke dalam kelas gastropoda, pada lendir bekicot terdapat peptida antimikroba yang dapat mempengaruhi viabilitas ultrastruktur bakteri gram negatif dan gram positif melalui perubahan ultrastruktur sel (Berniyanti, 2007). Lendir bekicot mempunyai nilai biologis yang tinggi dalam penyembuhan dan penghambatan proses inflamasi (Ernawati dan Sunari, 1994). Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang
5

pemberian lendir bekicot secara topikal lebih cepat menyembuhkan gingivitis oleh karena calculus daripada povidone iodine 10%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh masyarakat , terutama dalam penggunaan obat tradisional untuk mempercepat proses penyembuhan gingivitis. 1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah pemberian lendir bekicot (Achatina fulica) secara topikal dapat

3. Apakah pemberian Povidone iodine 10% dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 oleh karena calculus?.3. menambah khasanah keilmuan peneliti.menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 oleh karena calculus?. Untuk mengetahui pemberian Povidone iodine 10% secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus . 1. temperatur dan konsistensi makanan dan minuman.Tujuan umum penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pemberian lendir bekicot (Achatina fulica) secara topikal lebih cepat menyembuhkan gingivitis 6 grade 3 karena calculus daripada Povidone iodine 10% .3. Gingiva Gingiva adalah bagian mukosa rongga mulut yang mengelilingi gigi dan menutupi linggir (ridge alveolar). Gingiva dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan rongga mulut yang merupakan bagian pertama dari saluran pencernaan dan daerah awal masuknya makanan dalam sistem pencernaan. 7 2 . BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. Jaringan rongga mulut terpapar terhadap 8 sejumlah besar stimulus. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah : 1.3.2. 2. Gingiva yang sehat berwarna . Untuk mengetahui pemberian lendir bekicot (Achatina fulica) secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus . Manfaat praktis Manfaat praktis adalah memberikan informasi pada masyarakat bahwa ada pengobatan tradisional dengan lendir bekicot (Achatina fulica) sebagai bahan alternatif terapi untuk mempercepat proses penyembuhan gingivitis yang murah dan mudah didapatkan. yang merupakan bagian dari aparatus pendukung gigi. Manfaat akademis Manfaat akademis adalah untuk memberikan informasi tentang peranan Bekicot (Achatina fulica) dalam menyembuhkan gingivitis. 1. 2.1.1. komposisi kimiawi. secara topikal lebih cepat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus daripada Povidone iodine 10% ?. dan membentuk hubungan dengan gigi. periodonsium. Tujuan khusus Tujuan khusus penelitian ini adalah : 1. asam dan basa sangat bervariasi. Apakah pemberian lendir bekicot (Achatina fulica). 3. 1. 3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pemberian lendir bekicot (Achatina fulica) secara topikal lebih cepat menurunkan Gingival Indeks daripada Povidone iodine 10% pada gingivitis grade 3 karena calculus.3.

Sulcus gingiva Menurut Carranza et al (2006). 1993). yaitu bagian dari gingiva yang mengisi ruang interdental sampai di bawah titik kontak gigi. di daerah ini biasanya timbul lesi awal gingivitis. Manson dan B. Eley (1993) dikatakan bahwa regio interdental berperan sangat penting karena merupakan daerah stagnasi bakteri yang paling resisten dan strukturnya menyebabkan daerah ini sangat peka. 2. 3. Bagian dasarnya terdapat ephithelial attachmen 2. Serabut gingival 1. berbentuk huruf V dan dalam keadaan normal atau sehat dalamnya berkisar antara nol sampai dua millimeter. Serabut dentogingiva atau serabut gingival bebas yang melekeat pada sementum dan melebar ke luar ke gingiva dan ke atas tepi gingiva untuk bergabung dengan tepi gingiva untuk bergabung dengan periosteum dari daerah perlekatan gingiva. 4.1. Bagian bagian gingiva Menurut Itjiningsih Wangijaya Hashanur (1991). Bagian media oleh jaringan gigi 3.1. secara klinis dan mikroskopis gingiva dapat dibagi menjadi : 1.1. tepinya seperti pisau seseuai dengan kontur gigi geligi (Manson dan Eley. interdental papilla melekat erat dengan processus alveolaris disebut gingival alveolar. Attached gingiva . Serabut transeptal yang berjalan dari satu gigi ke gigi lainnya di coronal ke septum alveolar. lebarnya kurang dari satu milimeter.4.1.1. Gingival attachment yang melekat pada cement disebut gingival cemental. Lebarnya berkisar antara satu sampai sembilan millimeter dan tergantung pada letak gigi individu. sulcus gingiva terdapat di daerah gingiva bebas dan berperan penting dalam penyakit periodontal. Serabut sirkular yang mengelilingi gigi. 2. Menurut J. Adapun batas-batasnya adalah sebagai berikut : 1. 2. 2.M. sedangkan gingival attachment yang melekat pada processus alveolaris disebut gingival alveolar.merah muda.2.D. Marginal gingiva / unattached gingiva yaitu bagian dari free gingiva (bagian dari gingiva yang mengelilingi gigi dan tidak melekat pada gigi) yang terletak di labial / bukal dan lingual / palatinal gigi. 3 Interdental papilla. terdiri dari unattached dan attached gingival. Bagian lateral oleh ephitelium lining dari gingival margin 10 2. yaitu : bagian dari gingiva yang melekat erat dengan jaringan sementum dan tulang alveolar. 9 bila ada diastema.3. alveolar gingival atau serabut puncak tulang alveolar yang keluar dari puncak tulang alveolar dan berjalan ke coronal ke arah gingival. 2. Gingiva attachment terletak mulai lekukan yang disebut free gingiva groove (batas antara marginal gingiva dan gingiva attachment) sampai pada mukosa alveolar. Epithelial attachment .

Gingivitis atau keradangan gingiva merupakan kelainan jaringan penyangga gigi 11 yang hampir selalu tampak pada segala bentuk kelainan jaringan penyangga gigi yang hampir selalu tampak pada segala bentuk kelaianan gingiva (Musaikan. Gingivitis marginalis Gingivitis yang paling sering kronis dan tanpa sakit. kontur. Gingivitis 2. 2003). adanya perdarahan. Pertumbuhan gigi yang berhubungan dengan dengan epithelial attachment berjalan terus menerus selama hidup. Gingivitis kronis menunjukkan tepi gingiva membengkak merah dengan interdental menggelembung mempunyai sedikit warna merah ungu. Panjangnya 0.1. et al. konsistensi. yaitu pertumbuhan gigi ke jurusan oklusal 2. Gingivitis adalah peradangan pada gingiva yang disebabkan bakteri dengan tanda-tanda klinis perubahan warna lebih merah dari normal. Kedua pertumbuhan ini berjalan bersama-sama dan sampai mencapai antagonis pertumbuhannya berkurang. dan sakit dapat menutupi keadaan kronis tersebut.2. tapi episode akut. Periodontitis menunjukkan peradangan sudah sampai ke jaringan pendukung gigi yang lebih dalam.1. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis ANUG ditandai oleh demam. 1998). Penyakit ini bersifat progresif dan irreversible dan biasanya dijumpai antara usia 30-40 tahun.2.25 – 0. ini menunjukkan kegagalan dalam mempertahankan keberadaan gigi di rongga mulut sampai seumur hidup yang merupakan tujuan dari pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut (Nield. 2. limfadenopati. Tempat perlekatan epithelial attachment pada gigi.2. yaitu pergerakan dari epithelial attachment ke jurusan apex gigi. Pertumbuhan yang pasif.Menurut Itjiningsih Wangidjaya Harshanur (1991) . 12 Stippling hilang ketika jaringan-jaringan tepi membesar. Apabila tidak dirawat dapat menyebabkan kehilangan gigi. Keadaan tersebut mempersulit pasien untuk mengontrolnya. epithelial attachment adalah bagian epithel dari gingival margin yang mengadakan perlekatan dengan jaringan gigi. sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan gigi. Pertumbuhan yang aktif. terdiri dari beberapa lapis epithel. Pertumbuhan ini dibagi atas : 1. malaise.2. gingiva bengkak dan berdarah pada tekanan ringan. 2.2.2. Penderita biasanya tidak merasa sakit pada gingiva.2. pada orang muda lapisan ini sebanyak tiga sampai empat lapis dan pada orang tua lapisan ini makin bertambah. 2003). karena perdarahan dan rasa sakit akan timbul oleh tindakan yang paling ringan sekalipun (Langlais dan Miller.2. sakit . yaitu gingivitis.6 mm. Gingivitis bersifat reversible yaitu jaringan gingiva dapat kembali normal apabila dilakukan pembersihan plak dengan sikat gigi secara teratur. Keparahannya seringkali dinilai berdasarkan perubahan-perubahan dalam warna. gusi merah padam. Macam-macam gingivitis 2. 2.2. Pengertian gingivitis Salah satu kelainan dalam rongga mulut yang prevalensinya paling tinggi adalah penyakit periodontal yang paling sering dijumpai.

2010). psikoneuroimunologi. Lapisan plak pada gingiva menyebabkan gingivitis atau radang gingiva. beberapa tahapan gingivitis menjadi karakteristik sebelum lesi berkembang menjadi periodontitis. 2003. 3. (2005) .1.2. environment.4. Gingiva biasanya berwarna merah muda menjadi merah tua sampai ungu karena adanya vasodilatasi pembuluh darah sehingga terjadi suplay darah berlebihan pada jaringan yang meradang.2. 4. gingivitis merupakan tahap awal dari penyakit periodontal. Papilla-papilla interdental terdorong ke luar. 2. 1987. 2000). Menurut Sriyono et al. 2. anonim. oral hygiene jelek. agent. Nurmala. Penyebab gingivitis sangat bervariasi. sedangkan macam kuman dalam plak menentukan penyakit yang ditimbulkan oleh plak. Bila menggosok gigi biasanya pada bulu sikat ada noda darah oleh karena adanya perdarahan pada gingiva di sekitar gigi.2. Keadaan ini sering terjadi pada regio molar. meningkat pada bulan kedelapan dan menurun setelah bulan kesembilan. 5. filament. faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gingivitis adalah sebagai berikut : 2. berulcerasi dan tertutup dengan pseudomembran yang keabu-abuan. Gingivitis sering dijumpai karena akumulasi plak supra gingiva dan tepi gingiva.2. terdapat hubungan bermakna skor plak dan skor gingivitis (Musaikan. Plak tua ini menyebabkan gingivitis (Be. spiril dan spirochaeta.2. 14 Plak gigi terbukti dapat memicu dan memperparah inflamasi gingiva.3. mikroorganisme dan produknya berperan sebagai pencetus awal gingivitis. 2010). Secara klinis. hipersalivasi.2.2. 2009).3. peradangan terjadi menyeluruh dari interdental papill sampai dengan attached gingival. gingivitis dapat dikenali (anonim. Secara histologis. Terjadinya perubahan bentuk gingiva karena adanya pembengkakan. gingivitis biasanya disertai dengan tanda-tanda sebagai berikut : 13 1. Keadaan ini ditandai dengan gingiva yang membengkak. Pada peradangan gingiva yang lebih parah tampak adanya nanah di sekitar gigi dan gingival. 2. 2003). Faktor internal . umur plak menentukan macam kuman dalam plak. 2. dan bau mulut yang khas. 2.4. Penyebab gingivitis Kelainan yang terjadi dalam rongga mulut disebabkan oleh ketidakseimbangan faktor-faktor yaitu : host.mulut yang hebat. terbanyak pada regio anterior dan interproximal (Susanti. warna merah terang atau merah menyala atau hiperplasi dan mudah berdarah (Sea.4. Timbulnya bau nafas yang tidak enak. merah dan mudah berdarah. Gingivitis scorbutic Terjadi karena defisiensi vitamin c. Pregnancy Gingivitis Biasa terjadi pada trimester dua dan tiga masa kehamilan. Tanda-tanada gingivitis Menurut Be Kien Nio (1987). Plak tua adalah plak yang umurnya tujuh hari mengandung kuman coccus.

2. Faktor external Makanan yang salah dan malnutrisi. untuk mencegah terjadinya gingivitis. bengkak dan mudah berdarah (Manson dan Eley. gingiva berwarna merah. tetapi untuk melakukannya secara teratur dan berkesinambungan diperlukan kedisiplinan pribadi masing-masing. dan gigi goyang 2. nafas bau busuk. 1993). tidak terlihat adanya tanda-tanda klinis dari perubahan jaringan pada tahap ini. Papilla interdental menjadi sedikit lebih merah dan bengkak serta mudah berdarah pada sondase. 4.4. Gingiva sekarang berwarna merah.2. sebenarnya setiap orang mampu. Lapisan karang gigi dan noda atau zat-zat pada gigi 2. buah pinang dan kawat dalam mulut. 2. Golongan masyarakat berpendapatan rendah tidak biasa melakukan pemeriksaan kesehatan yang bersifat 15 umum. Kebiasaan seperti menempatkan peniti. 2. (2002).2.Faktor intern yang bertanggung jawab atas terjadinya penyakit gingiva 1. kancing. inflamasi gingiva cenderung dimulai pada daerah papilla interdental dan menyebar dari daerah ini ke sekitar leher gigi. kadang-kadang terbentuk ruangan dikarenakan pembuangan gigi. Akibat gingivitis Menurut Be Kien Nio (1987). 3.Faktor-faktor yang berperan adalah latar belakang pendidikan. kita harus berusaha agar bakteri dan plak pada permukaan gigi tidak diberi kesempatan untuk bertambah dan harus dihilangkan. Caranya : . Gigi berjejal secara abnormal sehingga makanan yang tertinggal tidak teridentifikasi.7. pendapatan dan budaya.2. Proses terjadinya gingivitis Plak berakumulasi dalam jumlah sangat besar di regio interdental yang terlindung.6.5.2. Pada umumnya seseorang yang kurang gizi memiliki kelemahan. akibat pembengkakan gingival . di sebelah apikal dari epithelium fungsional khusus yang merupakan perantara hubungan antara gingiva dan gigi yang terletak pada dasar leher gingiva). Pencegahan gingivitis Menurut Depkes RI. Bahan makanan yang terkumpul pada pinggiran gingiva tidak dibersihkan oleh air liur dan tidak dikeluarkan oleh sikat. Bila deposit plak masih ada perubahan inflamasi tahap awal akan berlanjut disertai dengan meningkatnya aliran cairan gingiva. 2.gingiva mudah berdarah. dalam waktu dua sampai seminggu akan terbentuk gingivitis yang lebih parah. gejala yang tidak diharap tersebut dikarenakan faktor sosial ekonomi yang berperan sangat penting. Pada lesi awal perubahan terlihat pertama kali di sekitar pembuluh darah gingiva yang kecil. Pada tahap ini tanda-tanda klinis dari inflamasi makin jelas terlihat. apabila gingivitis tidak segera ditangani maka akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut : 16 Sulcus gingiva akan tampak lebih dalam dari keadaan normal. Diet dengan hanya makan sayuran tanpa unsur serat di dalamnya juga biasa menjadi faktor penambah. Anonim (2010). Bahan ini melukai gusi dan menyebabkan infeksi.

3. Indeks adalah metoda untuk mengukur kondisi dan keparahan suatu penyakit atau keadaan pada individu atau populasi. adanya edema. 2. Gingiva indeks pertama kali diusulkan pada tahun 1963 untuk menilai tingkat keparahan dan banyaknya inflamasi gingiva pada seseorang atau pada subjek dikelompok besar populasi. yaitu makanan yang banyak gula. 2. Calculus mempunyai permukaan yang kasar. Eley (1998). Pengertian Calculus Calculus merupakan suatu masa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi dan objek solid lainnya di dalam mulut. Perawatan gingivitis Menurut J. Ketiga macam perawatan ini saling berhubungan. kecenderungan adanya perdarahan spontan (Wilkins dan Ester. yaitu : sikatlah gigi secara teratur setiap sesudah makan dan sebelum tidur. Mediresource clinical team (2010). Pembersihan plak dan calculus tidak dapat dilakukan sebelum faktor-faktor retensi plak diperbaiki. adanya edema. tidak ada perubahan warna dan tidak ada perdarahan. Mengatur pola makan dan menghindari makan yang merusak gigi.D. Indeks untuk mengukur gingivitis Gingivitis diukur dengan gingival indeks.9. 2. Menurut metoda ini keempat area gingiva pada masing-masing gigi (fasial. Calculus 2. tetapi tidak ada perdarahan saat probing. Periksalah gigi secara teratur ke dokter gigi. atau merah menyala. dan terjadi perdarahan saat probing 3 = Peradangan berat : warna merah terang. 2005). Indeks digunakan pada praktek di klinik untuk menilai status gingiva pasien dan mengikuti perubahan status gingiva seseorang dari waktu ke waktu.M. Penilaiannya adalah . Memperbaiki faktor-faktor retensi plak. Puskesmas setiap enam bulan sekali. sehingga sisa-sisa makanan dan .1. tidak ada keradangan.2. 2. ulserasi.3. dinilai tingkat inflamasinya dan diberi skor dari 0 sampai 4. Menghilangkan plak dan calculus dengan scaling 3. 2 = Peradangan sedang : warna kemerahan.mesial.3. perawatan gingivitis terdiri dari tiga komponen yang dapat dilakukan bersamaan yaitu : 17 1.2. Menjaga kebersihan mulut.1. gingiva indeks digunakan untuk membandingkan prevalensi gingivitis pada kelompok populasi. Interaksi kebersihan mulut 2.8. distal dan lingual). pada penelitian epidemiologis. Membuat mulut bebas plak ternyata tidak memberikan manfaat bila tidak dilakukan upaya untuk mencegah rekurensi deposit plak atau tidak diupayakan untuk memastikan pembersihan segera setelah deposit ulang. dan untuk menilai efektivitas suatu pengobatan atau alat. Manson dan B. 1 = Peradangan ringan : terlihat ada sedikit perubahan warna dan sedikit edema. 18 0 = Gingiva normal.

sekelompok gigi atau seluruh gigi. 19 Menurut Resobury : Calculus terbentuk oleh karena adanya pengendapan air ludah sedangkan menurut Kirk Lepasnya CO2 dari saliva mengurangi asam carbonat yang terkandung di dalam saliva sehingga terjadi pengendapan larutan calcium phospat sebagai calculus. Teori terbentuknya calculus (Daniel. Macam-macam calculus (Carranza et al.3. Teori physicochemical oleh Resobury dan Kirk . biasanya pada daerah saku gusi dan tak dapat terlihat .bakteri mudah melekat dan berkembang biak yang mengakibatkan terjadinya penebalan dari calculus tersebut. Teori Enzymatic dari Tureskey Menurut teori ini.3.3. misalnya bagian lingual gigi anterior sel-sel permukaan mukosa rahang bawah dan bagian bukal gigi molar satu atas.1. 2.3. 2006). 13% calcium carbonat. dapat menghambat pembentukan calculus. 2006).4.4.3. Gimson dan Wallace Menurut teori ini.3. 2004). 2006) Berdasarkan letak/lokasinya: 1. Tetapi dapat juga dijumpai pada setiap gigi geligi tiruan yang tidak di bersihkan dengan baik (Carranza et al. 2.Teori bakteriologis dari Box. Pengendapan calculus yang banyak biasanya terjadi pada permukaan gigi yang berlawanan dengan muara kelenjar ludah.3. lebih sering terdapat pada bagian bukal molar rahang atas yang berhadapan dengan ductus Stensens pada bagian lingual gigi depan rahang bawah yang berhadapan dengan ductus Whartons selain itu calculus banyak terdapat pada gigi yang sering digunakan.2. Komposisi calculus 20 Calculus terdiri dari sel-sel darah dan sel-sel epitel lepas radang endapan bahan-bahan anorganik yang terdiri dari : 20% air. 2. Warna calculus dapat dipengaruhi oleh pigmen sisa makanan atau dari merokok.2. calculus dapat terjadi karena adanya aktifitas enzim-enzim phospat yang berasal dari sel-sel permukaan mukosa yang sedang berdegenerasi. endapan natrium dan ferum (Ireland. Umumnya enzim phosphate terbentuk bila ada suatu peradangan. Teori sistemik dan diet dari King. konsistensinya keras seperti batu clay dan mudah dilepaskan dari permukaan gigi dengan scaler.2. 2.2. 2.3. Calculus supra gingiva dapat terjadi pada satu gigi. adanya calculus dan peradangan pada gingiva. Mikroorganisme tertentu mempunyai peranan penting atas terjadinya pengendapan garam-garam calcium sehingga terbentuk calculus. sedangkan menurut Wallace orang yang banyak makan makanan yang berserat mempunyai lebih sedikit calculus dan makanan yang kasar dan keras. secara sistemis disebabkan kekurangan vitamin A (King dan Gimson). Sub gingival calculus adalah calculus yang berada di bawah batas gingival margin. 2. 2. berwarna putih.2.2. Pertumbuhan mikroorganisme terjadi apabila ada keradangan.3. 6% calcium phospat. Supra gingival calculus adalah calculus yang melekat pada permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingiva margin dan dapat dilihat. 2.

helix pomatia. warnanya coklat tua atau hijau kehitam-hitaman konsistensinya seperti kepala korek api dan melekat erat ke permukaan gigi. Helix pomatia. konsistensi lunak. Cerumal calculus adalah calculus yang berasal dari serum darah karena adanya peradangan. berwarna coklat sampai hitam. Achatina variegate yang memiliki cirri-ciri : mempunyai rumah (cangkang) lebih mencolok berwarna coklat lenggak lenggok. Untuk menentukan lokasi dan perluasannya harus dilakukan probing dan explorer. jumlah telur sekitar 100 sampai 300 butir dengan masa bertelur tiga sampai empat kali setahun. berbentuk cincin atau ledge yang mengelilingi gigi. bentuk gabungan dari bentuk-bentuk di atas. Sejarah dan macam-macam bekicot Bekicot diperkirakan berasal dari Afrika Timur.pada waktu pemeriksaan. berat badan sekitar 150 sampai 200 gram. Keempat jenis bekicot tersebut menurut (Santoso. Salivary calculus adalah calculus yang berasal dari saliva. Bekicot 2. konsistensi keras. Lebih rinci lagi binatang ini termasuk dalam genus Achatina. 2. diperkirakan tiba di Indonesia sekitar tahun 1922. 23 3. berat badan antara 150 sampai 200 gram dengan ukuran antara 90 sampai 130 mm. berwarna kuning. yang memiliki cirri-ciri : memiliki cangkang tidak begitu mencolok dan bentuk cangkang cenderung meruncing. dengan ukuran antara 90 sampai 130 mm. dan Helix aspersa. Achatina fulica. Bekicot apabila dibedakan berdasarkan jenisnya dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu : Achatina variegate.4. yang diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1942. yang memiliki cirri-ciri : mempunyai cangkang yang kuat . Achatina fulica. bentuk bulat yang terlokalisir. Bekicot (Achatina fulica). Berdasarkan asalnya : 1. berbentuk seperti jari yang meluas sampai ke dasar saku. dari division mollusca diklasifikasikan lebih lanjut ke dalam kelas Gastropoda atau binatang berkaki perut. dan bukan merupakan satwa asli Indonesia. jumlah telur antara 100 sampai 300 butir dengan masa bertelur antara tiga sampai empat kali setahun. 22 Secara biologi bekicot termasuk binatang lunak (Mollusca). biasanya padat dan keras. 2. yaitu bersamaan dengan masuknya Jepang ke Indonesia (Santoso. selain jenis bekicot tersebut yang ada di Indonesia adalah Achatina variegata.4. 1989) adalah sebagai berikut : 1. 1989). terletak di permukaan gigi 2. Bentuk sub 21 gingival calculus dapat dibagi menjadi deposit noduler dan spining yang keras.1. terletak di permukaan akar. Bila gingival mengalami resesi maka sub gingival calculus akan terlihat seperti supra gingival calculus dan akan ditutupi oleh supra gingival yang asli.

dan Candida albicans (Ernawati dan Sunari. Povidon-iodine memiliki toksisitas rendah pada jaringan. Povidone-iodine merupakan agent antimikroba yang efektif dalam desinfeksi dan pembersihan kulit (Ganiswara. yaitu dengan menempelkan lendir bekicot pada gigi yang sakit dengan bantuan kapas (Mutiarawati. Salmonella typii. Lendir bekicot menghilangkan rasa nyeri dengan menghambat mediator nyeri. 2. perlu diteliti dan dikembangkan. sehingga nyeri tidak terjadi. Povidone iodine 10% 2. jumlah telur antara 50 sampai 170 butir dengan masa bertelur satu sampai tiga kali dalam satu musim. Streptococcus haemoliticus. sehingga nyeri tidak diteruskan ke pusat nyeri. 1995). 4. berat badan antara 4 sampai 20 gram dengan ukuran antara 30 sampai 45 mm. Secara tradisional.4. yaitu dalam penyembuhan dan penghambatan proses inflamasi (Ernawati dan Sunari.1995). Bekicot (Achatina fulica) secara turun temurun digunakan sebagai obat penyembuh luka ringan. serta lendirnya digunakan untuk mengurangi rasa sakit gigi. penyakit kulit. jumlah telur antara 30 sampai 50 butir dalam sekali bertelur.2. 1994) dan efek cairan atau lendir. Pseudomonas aeruginosa. lendir bekicot mempunyai kemampuan sebagai antiinflamasi yang relatif sama dengan daya antiinflamasi asetosal. tetapi detergen dalam larutan 25 pembersihnya akan lebih meningkat toksisitasnya . Lendir bekicot juga dapat digunakan untuk meredakan sakit gigi. pada lendir bekicot terdapat peptida antimikroba yang dapat mempengaruhi viabilitas ultrastruktur bakteri gram negatif dan gram positif melalui perubahan ultrastruktur sel.2. ekstrak air dan ekstrak etanol daging bekicot terhadap penyembuhan luka terbuka (Ibrahim dkk. 2.5. hal ini disebabkan oleh mediator nyeri terhalangi untuk merangsang reseptor nyeri. Pengertian Povidone iodine 10% Povidon-iodine ialah suatu iodovor dengan polivinil pirolidon berwarna coklat gelap . Mekanisme kerja Povidon iodine Povidon-iodine bersifat bakteriostatik dan bersifat bakterisid .5. bekicot digunakan oleh masyarakat sebagai obat penyembuh luka baru. 2009). 2. Hasil penelitian Tripurnomorini et al (2000). yang memiliki cirri-ciri : mempunyai cangkang yang lemah dengan warna cokelat muda sampai kehitam-hitaman dengan garis-garis tidak teratur.dengan warna cokelat keputih-putihan. Helix aspersa. 24 Lendir bekicot memberikan reaksi positif dan nilai biologis yang tinggi. Dalam 10% Povidon iodine mengandung 1% iodiyum yang mampu membunuh bakteri dalam 1 menit dan . berat badan antara 15 sampai 25 gram dengan ukuran antara 40 sampai 50 mm. Bekicot sebagai salah satu obat tradisional dari bahan hewan.5. 1994).1. Lendir bekicot sebagai obat tradisional penyembuh luka Menurut Berniyanti (2007). penyakit kuning. Secara ilmiah pemah diiakukan penelitian tentang kemampuan fraksi hasil pemisahan lendir bekicot sebagai antimikroba Eschericia coli.

Kerangka Konsep Faktor external -Sosial ekonomi -Pendidikan -Malnutrisi -Budaya -Umur.debris -Gigi berjejal -Hormonal -Stress -Mikroorganisme Gingivitis 28 Lendir Bekicot (Achatina fulica) Povidone Iodine 10% (Penurunan Gingival indeks) 29 Gambar 1. tetapi sekarang ini orang mencari alternatif lain yang lebih murah dengan beralih ke obat tradisional yang berasal dari alam sekitar. salah satunya adalah pemanfaatan flora dan fauna dibidang kesehatan. malnutrisi. Kerangka Pikir Gingivitis merupakan suatu keradangan pada gingiva yang disebabkan oleh faktor eksterna yaitu sosial ekonomi. pendidikan. umur dan jenis kelamin. DAN HIPOTESIS 26 3. Masyarakat desa terpencil tidak tergantung sepenuhnya pada obat modern karena faktor geografis yang tidak memungkinkan ketersediaan obat-obatan. Mereka mewarisi pengobatan tradisional secara turun temurun.membunuh spora dam waktu 15 menit (Ganiswara. 27 3. 2002). Kerangka Konsep Penelitian Keterangan : Variabel bebas Variabel yang diteliti . hormonal. gigi berjejal.6. dan beberapa bahan dapat membantu mendukung proses penyembuhan (Ali et al. strees dan mikroorganisme.2. KONSEP. membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Peningkatan aliran darah yang rusak.Jenis Kelamin Faktor internal -Karang gigi. BAB III KERANGKA PIKIR. budaya. sedangkan faktor interna adalah karang gigi. bahan alam yang dipercaya berkhasiat sebagai bahan antimikroba salah satunya adalah lendir bekicot yang digunakan sebagai obat gingivitis. Pengobatan gingivitis setelah skaling biasanya diberikan obat Povidone iodine 10%. debris. Proses penyembuhan Tubuh yang sakit mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Negara yang beriklim tropis seperti Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar untuk digali.1. 1995). 2. Proses penyembuhan terjadi secara normal.

2. 4. Waktu penelitian akan dimulai dari bulan Maret 2011. Populasi terjangkau adalah pasien yang berkunjung ke klinik JKG Poltekkes Denpasar dengan diagnosis gingivitis dan gingival indeks 3.1 RANCANGAN PENELITIAN Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan eksperimental dengan : (pre-posttest Control Group Design) Skema Rancangan Penelitian p1 K O3 O4 Keterangan gambar : P : Populasi PCSR 32 C : Consecutive R : Random p1 : Kelompok perlakuan dengan lendir bekicot K : Kelompok perlakuan dengan Povidone iodine 10% S : Sampel O1 : Observasi kelompok 1 sebelum perlakuan O2 : Observasi kelompok 1 sesudah perlakuan dengan lendir bekicot O3 : Observasi kelompok 2 sebelum perlakuan O4 : Observasi kelompok 2 sesudah perlakuan dengan Povidone iodine 10%. Populasi 33 1.3. 3. Hipotesis 1. 4. Pemberian lendir bekicot (Achatina fulica) secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus.3 Sumber Data Populasi dan Sampel 4. 2.3. Sampel 1.3. 4. Pemberian Povidone iodine 10% secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus.1. Pemberian lendir bekicot secara topikal lebih cepat menurunkan 30 gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus daripada Povidone iodine 10%. Populasi target penelitian adalah pasien yang berkunjung ke Klinik JKG Poltekkes Kemenkes Denpasar selama satu bulan.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Klinik Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Denpasar.Variabel tergantung Variabel yang diteliti Variabel antara Variabel kendali 3. 31 BAB IV RANCANGAN PENELITIAN 4. Besar Sampel . 2.

5.β) : 10. Variabel kendali : Sosial ekonomi. b. Alokasi perlakuan Lokasi perlakuan dipilih secara random dengan menggunakan kertas undian dibuat 16 undian yang berisi delapan regio kiri-kanan (pemberian lendir bekicot-pemberian Povidone iodine 10%).Besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 15 orang. dimana orang tersebut digunakan sebagai kelompok perlakuan dan sebagai kelompok kontrol. d.5 2. Sampel yang tidak memenuhi syarat akan dirawat sesuai dengan kasusnya. jenis kelamin . Setiap pengunjung Poliklinik JKG Poltekkes Kemenkes Denpasar yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipakai sebagai sampel sampai jumlah sampel terpenuhi.4. Keterangan : 34 n = Jumlah sampel σ : simpangan baku dari perkiraan literatur. Variabel antara : Karang gigi. . Sampel dihitung berdasarkan rumus Pocock (2008): Jadi jumlah sampel adalah 13.05 β : 0. sedangkan delapan berikutnya kanankiri (pemberian lendir bekicot-pemberian Povidone iodine 10%). pendidikan.Teknik Sampling 35 Sampel dipilih secara consecutive random sampling.1 ƒ (α. umur. Variabel bebas : Lendir bekicot . sebanyak 15 orang. α : 0. gigi berjejal. hormonal. c. Kriteria eksklusi Kriteria eksklusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Pasien sedang mendapatkan pengobatan dengan antibiotika. 3. Povidone iodine 10%. Sampel diambil berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan. Apabila pasien dalam masa perawatan tidak datang untuk terapi selanjutnya.7 dibulatkan jadi 15.44 + 10% = 14. pada pemeriksaan klinis menggunakan alat periodontal probe. 4. 4. 5. stress 36 mikroorganisme 4. Hasil undian dibuat dalam daftar perlakuan sesuai dengan nomor urut undian. Gingivitis adalah suatu keradangan pada jaringan gingiva yang disebabkan oleh calculus. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL 1. Bersedia dijadikan sampel dan mau menandatangani inform consent. VARIABEL PENELITIAN a. dipilih secara berurutan sampai ke 16 undian terambil. Pasien yang datang ke klinik JKG diagnosis gingivitis grade 3 b. malnutrisi. debris. Kriteria Inklusi Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Variabel tergantung : Gingivitis dan penurunan gingival indeks b. budaya.

tidak ada perdarahan. Alat dan Bahan Penelitian 1. 2. 2005). Gingivitis dikatakan sembuh apabila terjadi penurunan gingival indeks sampai mencapai grade 0. b. dan dihitung kembali gingival indeksnya. kaca mulut. Lendir bekicot c.2. dan sedikit edema tetapi tidak ada perdarahan saat probing. dan diberi perlakuan yaitu aplikasi dengan lendir bekicot di satu sisi sedang di sisi yang lain dengan povidone iodine 10% . neerbecken. data yang didapat ditabulasikan kemudian dianalisis. 1 = Peradangan ringan : terlihat ada sedikit perubahan warna. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Kriteria Gingival indeks adalah : 0 = Gingiva normal tidak ada keradangan. scaler. Gingival indeks adalah Indeks untuk mengukur kondisi dan keparahan suatu penyakit yang digunakan pada praktek di klinik untuk menilai status gingiva pasien dan mengikuti perubahan status gingiva seseorang dari waktu ke waktu. sampel ditentukan alokasi perlakuannya. Form Penelitian dan informed consent 2. 4. kemudian dihitung gingival indeksnya. cotton pellet 38 d. ALUR PENELITIAN 39 Populasi diambil dengan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi untuk mendapatkan sampel. Povidone Iodine 10% b.7. adanya edema. adanya edema. Povidone iodine 10% adalah iodovor dengan polivinil pirolidon berwarna coklat gelap merupakan agent antimikroba yang efektif dalam desinfeksi dan pembersihan luka. dental probe. 4. 37 3. spuit 5cc b. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. 2 = Peradangan sedang : warna kemerahan. Alkohol 70% 4. ulcerasi. a. (Wilkins dan Ester. Lendir bekicot adalah cairan yang diambil dari bekicot dengan jalan memecahkan bagian belakang cangkang bekicot yang runcing dan diambil menggunakan spuit 5 cc. Waktu kesembuhan gingivitis adalah jumlah hari mulai dari pemberian perlakuan sampai terjadi kesembuhan gingivitis dengan gingival indeks 0. dan terjadi perdarahan saat probing 3 = peradangan berat : warna merah terang atau merah menyala. kecenderungan adanya perdarahan spontan. excavator. tidak ada perubahan warna. Diagnostic set : pinset.6. Kesembuhan gingivitis. sonde. Populasi Kriteria Inklusi Kriteria eksklusi Pengambilan sampel Gingival indeks .

8. 4. Prosedur Penelitian 1. Alur Penelitian 4. Penapisan kasus a. sesuai dengan alokasi random. nama. dan menandatangani inform consent. satu sisi aplikasi dengan lendir bekicot di sisi lain dengan Povidone iodine 10% diulang sampai hari ketiga. alamat dan umur . 4. Uji normalitas waktu penyembuhan Uji normalitas akan diuji dengan Shapiro-Wilk tingkat kemaknaan α = 0.Alokasi perlakuan Aplikasi dengan lenAdiprl ibkeaksiic dotengan Povidone iodine10% 101111010110iodine 40 Gambar 2. bila data 42 berdistribusi normal. dan Kaplan-Meier. Analisis perbedaan waktu kesembuhan antara kelompok yang diberikan lendir bekicot dengan kelompok yang diberikan Povidone iodine 10%. alamat. digunakan uji statistik parametrik. Setelah sampel setuju kemudian dilakukan penilaian gingival indeks. Pasien yang tidak memenuhi syarat menjadi sampel akan dilakukan perawatan sesuai dengan kasusnya. distribusi. frekuensi.05 3. c. Perbedaan waktu kesembuhan juga akan dianalisis dengan menggunakan metoda analisis kesintasan (survival analysis). d. b. dengan uji Mann-Whitney. 2. Pengukuran dilakukan oleh dokter gigi yang expert dibidang preventive dentistry. yaitu t-group (independent sample t-test) dua sisi (two-tail test) pada taraf kemaknaan = 0. e. Pengunjung Poliklinik dianamnesis. Pengukuran gingival indeks kembali dilakukan setelah kunjungan berikutnya oleh petugas yang bukan memberikan perlakuan. Mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan 2. . dilakukan pemeriksaan fisik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi kemudian sampel dicatat di formulir. pekerjaan disajikan dalam bentuk tabel. jenis kelamin. bila data tidak berdistribusi normal. Analisis Data Data yang diperoleh akan dianalisis dengan langkah langkah sebagai berikut 1.05.9. Gingival Indeks Tabulasi data Analisis Data 41 hasil pengukuran dicatat di kartu formulir. Analisis diskriptif Karakteristik subjek penelitian adalah umur. Sampel dilakukan scaling dan diberi perlakuan . Analisis perbedaan Gingival indeks Pengukuran dilakukan berulang untuk menganalisis perbedaan penurunan gingival indeks antara kelompok yang diberikan lendir bekicot dengan kelompok yang diberikan Povidone iodine 10% akan dilakukan dengan metoda non parametrik uji Friedman dan dilanjutkan dengan post Hock menggunakan uji Wilcoxon.

dengan diagnosis gingivitis grade tiga sebagai sampel. sedangkan subyek laki-laki umur 21-30 tahun.1 Karakteristik Subyek Penelitian Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas Data Gingival Indeks masing-masing Kelompok Kelompok Perlakuan N P Keterangan Povidone iodine 10% hari 2 Povidone iodine 10% hari 3 Lendir Bekicot hari 2 Kesembuhan Povidone iodine 10% Kesembuhan Lendir Bekicot 16 16 16 16 16 0.004 0.1 Karakteristik Subyek Penelitian Jenis Kelamin Umur (Th) 21-30 31-40 41-50 Laki-laki 3 3 3 Perempuan 3 1 3 Total 6 4 6 Tabel 5.2.1 terdapat subyek perempuan dengan umur 21-30 tahun sebanyak tiga orang. analisis normalitas data. 44 5. Hasil analisis data menunjukkan bahwa semua data tidak berdistribusi normal hasil disajikan pada Tabel 5.000 Tidak Normal .43 BAB V HASIL PENELITIAN Penelitian ini menggunakan 16 subyek penelitian sembilan subyek laki-laki dan tujuh subyek perempuan umur antara 21 sampai 46 tahun. umur 31-40 tahun sebanyak 1 subyek. Tabel 5. uji komparabilitas dan uji efek perlakuan 5. dan umur 41-50 tahun sebanyak 3 orang.001 0.2 Uji Normalitas Data Data gingival indeks pada masing-masing kelompok diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. sesuai dengan undian yang diambil.001 0.002 0. Pada Bab ini diuraikan distribusi jenis kelamin dan umur (dalam bentuk tabel frekuensi). 31-40 tahun dan 41-50 tahun masing-masing berjumlah 3 orang. di bawah ini. Pada setiap rahang subyek diaplikasikan dengan Povidone Iodine 10% (PI) pada satu sisi dan sisi yang berlawanan diaplikasikan lendir bekicot (LB).

4 Uji Wilcoxon penurunan gingival indeks pada kelompok yang diaplikasikan dengan lendir bekicot Hari Pemeriksaan Beda Rerata Interpretasi Hari 1 dan Hari 2 Hari 1dan Hari 3 Hari 2 dan Hari 3 2.Tidak Normal Tidak Normal Tidak Normal Tidak Normal Berdasarkan hasil pada Tabel 5.05).1 Penurunan Gingival Indeks pada Kelompok Lendir Bekicot Gambar 5. 5.3 Rerata Gingival Indeks antara Sebelum dengan Sesudah Aplikasi dengan Lendir Bekicot Variabel Lendir bekicot 2 P Hari 1 Hari 2 Hari 3 Gingival Indeks 3.00±0. rerata hari kedua adalah 0.1 menunjukkan bahwa terjadi penurunan gingival indeks pada kelompok yang diaplikasikan dengan lendir bekicot. menunjukkan bahwa rerata gingival indeks hari pertama adalah 3.00 30.Untuk mengetahui kelompok46 kelompok yang berbeda perlu dilakuan uji lanjut dengan Uji Wilcoxon.15 nilai p = 0.00. Hal ini berarti bahwa terjadi penurunan gingival indeks secara bermakna pada kelompok yang diaplikasikan dengan lendir bekicot (p < 0. Hasil uji disajikan pada Tabel 5.4 di bawah ini.00. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Friedman Test disajikan pada Tabel 5.001. Tabel 5. dan rerata gingival indeks hari ketiga adalah 0. Hasil analisis di atas juga disajikan dalam bentuk grafik garis dibawah ini.3 di atas.3 di bawah ini.72. Tabel 5.380. Gambar 5.00±0.62 3 0.38 .000.000.38±0.15 0.00 0.2 di atas maka uji lanjutan yang digunakan untuk mengetahui penurunan gingival indeks pada masing-masing kelompok perlakuan adalah Uji Friedman Test.3 Analisis efek Aplikasi dengan Lendir Bekicot 45 Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan gingival indeks antara sebelum (hari 1) dengan sesudah diberikan perlakuan (hari 2 dan hari 3). Analisis kemaknaan dengan uji Friedman Test menunjukkan bahwa nilai 2 = 30.72 0. sedangkan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok digunakan uji Wilcoxon Sign Rank Tes karena sampel di-matching berdasarkan pasien.001 Tabel 5.

05).34 30.2 Penurunan Gingival Indeks pada Kelompok Povidone Iodine 10% Gambar 5. 1. Hal ini berarti bahwa terjadi penurunan gingival indeks secara bermakna pada kelompok yang diaplikasikan dengan Povidone iodine 10% (p < 0.12±0. Rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3). Untuk mengetahui kelompok-kelompok yang berbeda perlu dilakuan uji lanjut dengan Uji Wilcoxon. Gambar 5.000. 5.4 di atas. Hasil analisis di atas juga disajikan dalam bentuk grafik garis di bawah ini.00 2. 3. Hasil uji disajikan pada Tabel 5. 2. menunjukkan bahwa rerata gingival indeks hari pertama adalah 3.00±0. 48 Tabel 5.00.00±0. dan rerata gingival indeks hari ketiga adalah 0.6 di bawah ini. Rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 2 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 2).82.4 Analisis efek Aplikasi dengan Povidone Iodine 10% Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan gingival indeks antara sebelum (hari 1) dengan sesudah diberikan perlakuan (hari 2 dan hari 3). Analisis kemaknaan dengan uji Friedman Test menunjukkan bahwa nilai 2 = 30. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Friedman Test disajikan pada Tabel 5.120.Berbeda Berbeda Tidak Berbeda Uji lanjutan dengan uji Wilcoxon di atas mendapatkan hasil sebagai berikut.001. Rerata kelompok hari 2 tidak berbeda dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 2 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3). 47 Tabel 5.34.82 0.88 .14 nilai p = 0.6 Uji Wilcoxon penurunan gingival indeks pada kelompok yang diaplikasikan dengan Povidone Iodine 10% Hari Pemeriksaan Beda Rerata Interpretasi Hari 1 dan Hari 2 Hari 1dan Hari 3 Hari 2 dan Hari 3 2. rerata hari kedua adalah 1.88 0.5 Rerata Gingival Indeks antara Sebelum dengan Sesudah Aplikasi dengan Povidone iodine 10% Variabel Povidone iodine 10% 2 P Hari 1 Hari 2 Hari 3 Gingival Indeks 3.001 Tabel 5.14 0.2 menunjukkan bahwa terjadi penurunan gingival indeks pada kelompok yang diaplikasikan dengan Povidone iodine 10%.000.00 1.5 di bawah ini.

50 Tabel 5. Analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa nilai Z = 0.2. Rerata kelompok hari 2 berbeda bermakna dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 2 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3).00 1.00. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test disajikan pada Tabel 5. Hal ini berarti bahwa rerata gingival indeks pada kedua kelompok tidak berbeda (p > 0.1 Hari Kedua Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata gingival indeks antar kelompok pada hari kedua.7 di bawah ini.5.2 Analisis efek perlakuan 5. 2.Berbeda Berbeda Berbeda Uji lanjutan dengan uji Wilcoxon di atas mendapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 5. 5. Rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 2 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 2). 3. 5.00.00 0.000 0.00 Tabel 5.5 Analisis Gingival Indeks antar Kelompok 5.000 0.5.000.05). Rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3).8 Rerata Gingival Indeks antar Kelompok Perlakuan pada Hari Kedua Kelompok Subjek N Rerata Gingival .00.7 di atas.5. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test disajikan pada Tabel 5. menunjukkan bahwa rerata gingival indeks kelompok Lendir bekicot (LB) adalah 3.000.00 3. 1.1 Uji Komparabilitas (Hari Pertama) 49 Analisis komparabilitas diuji berdasarkan rerata gingival indeks antar kelompok. rerata kelompok Povidone iodine 10% (PI) adalah 3.00 nilai p = 1.8 berikut.7 Rerata Gingival Indeks antar Kelompok Perlakuan pada Hari Pertama Kelompok Subjek N Rerata Gingival Indeks SB Z P Lendir bekicot (LB) Povidone iodine 10% (PI) 16 16 3.

05).157.00 0.12 0.5.72. menunjukkan bahwa rerata gingival indeks kelompok Lendir bekicot (LB) adalah 0. Hal ini berarti bahwa rerata gingival indeks hari ketiga pada kedua kelompok tidak berbeda secara bermakna (p >0.00 0.34 1. Gambar 5.89 nilai p = 0. Tabel 5.000.157 Tabel 5.82 ada perbedaan gingival indeks untuk PI 0.05).8 di atas. menunjukkan bahwa rerata gingival indeks kelompok Lendir bekicot (LB) adalah 0. Analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa nilai Z = 2. rerata kelompok Povidone iodine 10% (PI) adalah 0. 5.00. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test disajikan pada Tabel 5.3 Perbandingan Gingival Indeks Sebelum dan Sesudah Diberikan Perlakuan Gambar 5.2. rerata kelompok Povidone iodine 10% (PI) adalah 1.34.00 0.89 0.120.62 lebih tinggi daripada LB.41 0.38 1.Indeks SB Z P Lendir bekicot (LB) Povidone iodine 10% (PI) 16 16 0. Hasil analisis antar kelompok yang berdasarkan hari pemeriksaan juga disajikan dalam bentuk grafik garis di bawah ini.9 Rerata Gingival Indeks antar Kelompok Perlakuan pada Hari Ketiga Kelompok Subjek N Rerata Gingival Indeks SB Z P 51 Lendir bekicot (LB) Povidone iodine 10% (PI) 16 16 0.2 Hari Ketiga Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata gingival indeks antar kelompok pada hari ketiga.82 2.000.9 di bawah ini.41 nilai p = 0. Hal ini berarti bahwa rerata gingival indeks hari kedua pada kedua kelompok berbeda bermakna (p < 0. Analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa nilai Z = 1.72 0.3 menunjukkan bahwa gingival indeks sesudah diberikan .380.004.004 Tabel 5.9 di atas.

45.003. Hal ini berarti bahwa rerata waktu kesembuhan setelah hari ketiga pada kedua kelompok berbeda secara bermakna (p < 0. sehingga digunakan uji nonparametric.10 di atas.810.81 0.5.250. 54 BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 6.10 Rerata Waktu kesembuhan antar Kelompok Perlakuan Kelompok Subjek N Rerata Waktu Kesembuhan SB Z P Lendir bekicot (LB) Povidone iodine 10% (PI) 16 16 2. Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata gingival indeks antar kelompok setelah hari ketiga.00 nilai p = 0.2.05). Subyek Penelitian Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 16 subyek penelitian dengan diagnosis gingivitis grade tiga. 5. Tabel 5.4 menunjukkan bahwa waktu kesembuhan sesudah diberikan perlakuan antara kelompok yang diaplikasikan lendir bekicot dengan kelompok Povidone iodine 10% berbeda secara bermakna.4 Perbandingan Waktu Kesembuhan antar Kelompok Gambar 5.10 di bawah ini. Analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa nilai Z = 3.1.00 0.003 Tabel 5.3 Pemeriksaan Tingkat Kesembuhan Tingkat kesembuhan hari ketiga pada subyek yang diaplikasikan dengan lendir bekicot (LB) adalah 100%. rerata kelompok Povidone iodine 10% (PI) adalah 2.66 3. yaitu uji . Hasilnya menunjukkan bahwa semua data tidak berdistribusi normal.45 0.perlakuan antara kelompok yang diaplikasikan dengan lendir bekicot (LB) dengan kelompok yang diaplikasikan dengan Povidone iodine 10% (PI) berbeda secara bermakna. menunjukkan bahwa rerata waktu kesembuhan kelompok Lendir bekicot (LB) adalah 2. 53 Gambar 5. tingkat kesembuhan PI lebih lambat daripada LB. Hasil 52 analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test disajikan pada Tabel 5.5%. sedangkan pada Povidone iodine 10% (PI) 87.25 2. Hasil analisis waktu kesembuhan masing-masing perlakuan juga disajikan dalam bentuk grafik di bawah ini. Data gingival indeks baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk.66.

dan rerata gingival indeks hari 55 ketiga adalah 0. Selanjutnya analisis komparabilitas antar kelompok perlakuan diuji berdasarkan rerata gingival indeks kedua kelompok. dan rerata gingival indeks hari ketiga adalah 0. yang menyatakan bahwa lendir bekicot atau Achatina fulica mampu menyembuhkan luka dua kali lebih cepat .000. Analisis kemaknaan dengan uji Friedman Test menunjukkan bahwa terjadi penurunan gingival indeks secara bermakna pada kelompok yang diaplikasikan dengan Povidone iodine 10% (p < 0. rerata hari kedua adalah 0. Lendir bekicot mempunyai nilai biologis yang tinggi dalam penyembuhan dan penghambatan proses inflamasi 56 (Ernawati dan Sunari.380. 1994).Friedman Test dan Wilcoxon Sign Rank Test.05).000. rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3).000.72.00. Terjadinya penurunan gingival indeks setelah diaplikasikan dengan lendir bekicot disebabkan karena pada lendir bekicot terdapat peptida antimikroba yang dapat mempengaruhi viabilitas ultrastruktur bakteri gram negatif dan gram positif melalui perubahan ultrastruktur sel (Berniyanti. Analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa rerata gingival indeks pada hari pertama antara kedua kelompok tidak berbeda. hari ketiga. 2007).00.05). Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitiannya Bambang Pontjo Priosoeyanto tahun 2005 yang dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran hewan Institut Pertanian Bogor.2 Penurunan Gingival Indeks Setelah Aplikasi dengan Lendir Bekicot dan Povidone iodine 10% Berdasarkan hasil analisis pada kelompok lendir bekicot didapatkan bahwa rerata gingival indeks hari pertama adalah 3. rerata hari kedua adalah 1. sedangkan untuk mengetahui kelompok-kelompok yang berbeda perlu dilakuan uji lanjut dengan Uji Wilcoxon didapat hasil rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 2 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 2).05). Kelompok Povidone iodine 10% rerata gingival indeks hari pertama adalah 3. dan tingkat kesembuhan setelah hari ketiga antara kedua kelompok terdapat perbedaan secara bermakna (p < 0.000. sedangkan untuk mengetahui kelompok-kelompok yang berbeda perlu dilakuan uji lanjut dengan Uji Wilcoxon didapat hasil rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 2 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 2) rerata kelompok hari 1 berbeda bermakna dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 1 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3)r rerata kelompok hari 2 berbeda bermakna dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 2 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3).34.00. Analisis kemaknaan dengan uji Friedman Test menunjukkan bahwa terjadi penurunan gingival indeks secara bermakna pada kelompok yang diaplikasikan dengan lendir bekicot (p < 0. 6.120.dan rerata kelompok hari 2 tidak berbeda dengan kelompok hari 3 (rerata kelompok hari 2 lebih tinggi daripada rerata kelompok hari 3). sedangkan rerata gingival indeks pada hari kedua.82.

57 Hasil penelitian Tripurnomorini et al (2000). penyakit kuning. Demikian juga hasil penelitiannya Ibrahim dkk (1995) yang menyatakan bahwa terdapat efek positif lendir bekicot terhadap penyembuhan luka terbuka. 2009). Dalam 10% Povidon iodine mengandung 1% iodiyum yang mampu membunuh bakteri dalam 1 menit dan membunuh spora dam waktu 15 menit (Ganiswara. hal ini terlihat dari hasil penelitian pada hari kedua setelah diaplikasikan dengan lendir bekicot dan Povidon-iodine 10% dimana terjadi perbedaan secara bermakna. dengan rerata gingival indeks kelompok lendir bekicot lebih rendah daripada kelompok Povidon-iodine 10%. Tingkat kesembuhan setelah hari ketiga didapatkan bahwa terjadi perbedaan secara bermakna.5%. 3. menyatakan bahwa kemampuan fraksi hasil pemisahan lendir bekicot sebagai anti mikroba. 1995). sehingga nyeri tidak terjadi. Bekicot (Achantina fulica) sebagai salah satu obat tradisional dari bahan hewan untuk penyembuh luka baru. 2. Pemberian lendir bekicot (Achatina fulica) secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus. penyakit kulit. hal ini disebabkan oleh mediator nyeri terhalangi untuk merangsang reseptor nyeri. Bekicot (Achatina fulica) secara turun temurun digunakan sebagai obat penyembuh luka ringan. Lendir bekicot menghilangkan rasa nyeri dengan menghambat mediator nyeri. pada lendir bekicot tingkat kesembuhannya adalah 100%. Povidon-iodine memiliki toksisitas rendah pada jaringan. tetapi detergen dalam larutan pembersihnya akan lebih meningkat toksisitasnya . Lebih lanjut dalam penelitian ini didapatkan bahwa lendir bekicot lebih cepat menyembuhkan gingivitis dibandingkan dengan Povidon-iodine 10%. yaitu dengan menempelkan lendir bekicot pada gigi yang sakit dengan bantuan kapas (Mutiarawati. Demikian juga aplikasi dengan Povidon-iodine 10% dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3. 2010). sedangkan pada Povidone iodine 87.1 Simpulan 59 Berdasarkan hasil penelitian pada penderita gingivitis grade 3 didapatkan simpulan sebagai berikut: 1. sehingga nyeri tidak diteruskan ke pusat nyeri. Di samping itu Ernawati dan Sunari (1994). lendir bekicot mempunyai kemampuan sebagai antiinflamasi yang relatif sama dengan daya antiinflamasi asetosal. Lendir bekicot juga dapat digunakan untuk meredakan sakit gigi. serta lendirnya digunakan untuk mengurangi rasa sakit gigi. Pemberian Povidone iodine 10% secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus. Pemberian lendir bekicot secara topikal lebih cepat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus daripada Povidone iodine 10% . Hal ini disebabkan karena Povidon-iodine bersifat bakteriostatik dan bersifat bakterisid.daripada luka yang diberikan larutan normal saline (Ali. 58 BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 7.

Dental Hygiene. 74. Grahacendikia. 6. Periodontitis. Available at (online): http://smallcrab. Preventive Dentistry.4. Buku Pegangan materi Kesehatan Gigi dan Mulut untuk Kegiatan KIA di Posyandu (UKGMD). Waktu kesembuhan gingivitis grade tiga karena kalkulus setelah pemberian lendir bekicot secara topikal lebih cepat daripada pemberian Povidone iodine 10%. Fakultas Farmasi UGM. 2009. Available at (online): http://www. 2006.N. Depkes RI. 1987. Takei HH. Perbedaan Kecepatan Penyembuhan Luka Bersih Antara Penggunaan Lendir bekicot (Achatia fullica) dengan Povidone Iodine 10% dalam . Mosby. Cases. Findrawaty. Newman MG. Perbedaan Kecepatan Penyembuhan Luka Bersih Antara Penggunaan Lendir Bekicot (Achatina Fulica) Dengan Povidone Iodine Dalam Perawatan Luka Bersih pada Marmut (Cavia Porcellus).com/jengkol/247 (1 Jan 2011). Bekicot Sebagai Obat Luka.id/go. Ernawati I dan Sunari.totalkesehatananda. Anonim. Pemberian Povidone iodine 10% secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus setelah hari pertama. p. Clinical Periodontology. Analisis Hambatan Achasin Bekicot Galur Jawa Sebagai Faktor Antibakteri Terhadap Viabilitas Eschericia coli dan Streptococcus mutans. Streptococcus haemoliticus dan Candida albicans secara invitro. 2007. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. and Competencies. Carranza FA.ac.A. kedua dan ketiga. Be. 5. Daniel H. Concepts. Berniyanti. 2004.com/Gingivitis 1htlm (9 Nov 2009). Gingivitis. 16 Bandung. 9th ed Philadelpia: WB Saunders Co. Direktorat Kesehatan Gigi p. 7. Kencana S.ac. Jogyakarta... 1994. Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia. Avalable at (online) http://digilib.id (4 Jan 2010). 62 St Louis. disamping harganya murah juga sangat mudah didapatkan.php (3 Mei 2007). terutama untuk masyarakat pedesaan yang jauh dari sarana dan prasarana kesehatan. Efektivitas Cairan Bekicot Dalam Mengurangi Rasa Sakit Pada Karies Gigi. Pemisahan Lendir Bekicot Serta Uji Mikrobiologis Faktor Pemisahan Terhadap Eschericia coli.2 Saran Sebagai saran dalam penelitian ini adalah: 60 Disarankan kepada penderita gingivitis grade 3 untuk mengobatinya dengan lendir bekicot. Ali GP. Available at (online) : http://adln.lib. 2002. 2011. 2009. kedua dan ketiga. Pemberian lendir bekicot (Achatina fulica) secara topikal dapat menurunkan gingival indeks gingivitis grade 3 karena calculus setelah hari pertama.unimus. p. 2002. K.unair. 2009. Gejir N. 61 DAFTAR PUSTAKA Agung A. Anonim. Inc.13 Jakarta. Badan PPSDM Depkes RI tahun 2009.

Professor of Medical Statistics and Director of Clinical Trials Research Group London School of Hygine and Tropical Medicine. Situmorang. Available at (online): http://www. MediResource Clinical Team. Available at (online): http://obtrando.Philadelpia: Lippincott. Majalah Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional III ISSN 0852-9027. dan Eley B. 2003.com/mmpe/sec08/ch095c. 2000. F. Kasus Radang Gusi. UK. I. 2010. Sea. Manson J. Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy.wordpree. E. Jogyakarta Medika. 1989. Mutiarawati. Donatus. Kelainan Rongga Mulut p. N. Majalah FKG Universitas Mahasaraswati. R. Profil Penyakit Periodontal Penduduk di Dua Kecamatan Kota Medan tahun 2004 dibandingkan dengan Kesehatan mulut tahun 2010. Cetakan ke 1 p. Perbedaan Kadar Matix Metalloproteinase-8 Setelah Scaling dan Pemberian Tetrasiklin pada Penderita Periodontitis Kronis.S. Universitas Mahasaraswati. Wahyukundari. Buku Ajar Periodonti.B.com (8 Peb 2010).S. Gambaran Gingivitis pada Ibu Hamil di Puskesmas Kecamatan Semampir tahun 2002. 63 Hipokrates Jakarta. Ireland R. J. Cetakan ke 14 p.sagepub. Kongres Ilmiah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia XIII. Pocock.5. Pengaruh kehamilan pada Kesehatan Gigi dan mulut serta Modifikasi Perawatan yang Diperlukan. UGM. Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat. Fakultas Kedokteran Gigi.com/content/66/5/989. 64 Fakultas Kedokteran Gigi. 2010). Suhadi. Kanisius. Sriyono.com/2010/09/pdf (12 Nov. J.11. Widayanti N. Ubertalli. M. Surabaya.wordpress. Poltekkes Kemenkes Denpasar. S. 2008.Perawatan Luka Bersih pada Marmut (Cavia Porcellus). Lendir Bekicot Penghilang Rasa Nyeri. A. D. Williams and Wilkins. .P. Clinical Trials A Practical Approach. 2002.T. Nield.W.id/index.D. P. Denpasar.9. Anatomi Gigi. Tripurnomorini. Susanti.25. Hashanur. Available at (online): http://jdr.S. H. 2005. Santoso.M. Anti Kejang bekicot Achantina fullica.ac.files.htm (21 Agust 2010).merck. Universitas Sumatra Utara.J. DE Foundation of Periodontitis for Dental Hygienist . 2010. Musaikan. Langlais R. Gingivitis. Edisi kedua p. Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan.34. 1997. Jogyakarta. dan Miller C. 1993.php?page=rilis&artikel=2837 (11 Nov. 2010. J. Hipokrates Jakarta.abstract (21 Apr 2010). Edisi ISSW 1693-0002. 2008. Available at (online): http://jepretanhape.45. Universitas Brawijaya Malang.. 1991. 2008. Budidaya Bekicot. EGC p. 6. 1998. 2009. p. Gingivitis. W. Blackwell Munksgaard. Buku Ajar ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. I. 2006. 2003. 2010.ugm. Available at (online): http://www. Syafei. 2010).S. Ibrahim F. J. Ekstrak lendir Bekicot dan Ekstrak Daging Bekicot. C.H. Jakarta.

65 .Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya-Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->