P. 1
ASKEB HPP

ASKEB HPP

|Views: 1,054|Likes:
Published by apuriyana

More info:

Published by: apuriyana on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2013

pdf

text

original

1)

Adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik
sebagian atau seluruhnya masuk kedalam cavum uteri
(Mochtar, 1998 : 304).
2)

Adalah keadaan di fundus uteri masuk ke dalam
kavum uteri, dapat secara mendadak atau terjadi perlahan
(Manuaba, 1998 : 304).
a)

Inversio uteri di bagi menjadi 3 bagian meliputi :
1.)Inversio uteri ringan.
Fundus uteri terbalik menonjol dalam kavum uteri,
namun belum keluar dari ruang rongga rahim.
2.)Inversio uteri sedang.
Terbalik dan sudah masuk vagina.
3.)Inversio uteri berat.
Uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian
sudah keluar vagina. Adapula yang membaginya
menjadi inversion uteri inkomplit, yaitu 1 dan 2, dan
komplit 4 (Mochtar, 1998 : 304).

b)Etiologi Inversio Uteri.

Penyebabnya bisa terjadi secara spontan atau karena
tindakan. Faktor yang memudahkan terjadinya adalah
uterus yang lembek. Lemah, tipis dindingnya; tarikan tali
pusat yang berlebihan; atau patulous kanalis servikalis
yang spontan dapat terjadi pada gravide multipara, atonia
uteri, kelemahan alat kandungan, dan tekanan intra
abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk) yang karena
tindakan dapat disebabkan cara crade yang berlebihan,
tarikan tali pusat, dan pada manual plasenta yang

14

dipaksakan, apalgi bila ada perlekatan palsenta pada
dinding rahim (Mochtar, 1998 : 306).

c)

Diagnosis dan gejala klinis pada inversion uteri
1.)Dijumpai pada kala III atau post partum dengan
gejala nyeri yang hebat. Perdarahan yang banyak
sampai syok, apalagi bila plasenta masih melekat dan
sebagian sudah ada yang terlepas; dan dapat terjadi
strangulasi dan nekrosis.
2.)Pemeriksaan dalam.
a.)Bila masih inkomplit, maka pada daerah senfisis
uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam.
b.)Bila komplit, di atas sympisis uterus teraba bokong
dan dalam vagina teraba tumor lunak.
c.)Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik) (Mochtar;
1998 : 306).
d)Penanganan inversion uteri.
1.)Pencegahan.
a.)

Hati-hati dalam memimpin persalinan;
jangan terlalu mendorong rahim atau melakukan
perasat crede berulang-ulang dan hati-hatilah dalam
menarik tali pusat serta melakukan pengeluaran
plasenta dengan tangan (Mochtar, 1998 : 306).
b.)

Persalinan legeartis, perhatikan tanda
plasenta telah lepas, tes plasenta telah lepas,
dorongan fundus uteri crade saat kontraksi,
meningkatkan penerimaan KB (Manuaba, 1998 :
305).
c.)

Bila telah terjadi, maka terapinya adalah :
1.Jika ibu sangat kesakitan , ada perdarahan
dan ibu syok, berikan infuse dan transfuse
darah serta perbaiki keadaan umum.
2.Sesudah itu segera dilakukan reposisi kalau
perlu dalam narkosa (Mochtar, 1998 : 306).
Reposisi inversion meliputi :

a.

Masukkan tangan ke vagina

15

b.

Fundus di dorong ke atas.

c.

Berikan uterotonika.

3.Lakukan placenta manual (Manuaba, 1998 :
305).
4.Bila tidak berhasil maka dilakukan tindakan
operatif secara perabdominan (operasi haultein)
atau pervaginam (operasi menurut spinelli).
5.Di luar rumah sakit dapat di Bantu dengan
melakukan reposisi ringan yaitu dengan
tamponade vaginal. Berikan antibiotika untuk
mencegah infeksi (Mochtar, 1998 : 306).

2.2.3.3 Perdarahan Robekan Jalan Lahir.
1)

Merupakan penyebab kedua tersering dan perdarahan
pasca persalinan. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan
atonia uteri. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang
berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks
atau vagina dan perdarahan karena robekan jalan lahir banyak
dijumpai pada pertolongan persalinan oleh dukun (Maternal
dan Neonatal, 2002 : 29).
2)

Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus

dievaluasi yaitu :
a)Sumber dari jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi.
Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum vagina,
serviks dan robekan uterus (rupture uteri).
b)Lakukan uji pembekuan darah sederhana jika perdarahan
terus berlangsung. Kegagalan terbentuknya pembekuan
setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah
dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.
(Maternal dan Neonatal, 2002 : M-29)
c)Melakukan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan speculum
untuk dapat menetapkan sumber perdarahan.
d)Memeriksa perineum untuk perdarahan aktif
1.)

Derajat satu

mukosa vagina penjahitan tidak dilakukan
Fourchette posterior

jika tidak ada perdarahan

16

kulit perineum.

jika luka teraposisi secara ilmiah.

2.)

Derajat dua.

a.)

mukosa vagina.

b.)

fourchette posterior jahit dengan
menggunakan teknik-
teknik yang dijelaskan

c.)

kulit perineum.

d.)

Otot perineum.

3.)

Derajat tiga.

a.)

mukosa vagina.

b.)

fourchette posterior.

c.)

kulit perineum.

d.)

otot-otot perineum.

e.)

otot sfingter ani eksternal

4.)

Derajat empat.

a.)

fourchette posterior.

b.)

kulit perineum.

c.)

otot-otot perineum.

d.)

otot sfingter ani eksternal.

e.)

Dinding rectum anterior (APN, 2002 : 5-13)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->