jakarta (ANTARA News) - Pemanfaatan lahan rawa dapat dijadikan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian, meskipun perlu

pengelolaan yang tepat, dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta pemantauan secara terus menerus. Potensi lahan rawa di Indonesia adalah seluas 33,43 juta hektar yang terdiri dari 20,15 juta hektar rawa pasang surut dan 13,28 juta hektar rawa lebak. Lahan rawa yang telah dibuka atau direklamasi mencapai 5 juta hektar, luas tersebut sudah termasuk bekas lahan pertanian lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah. Meskipun pemerintah sudah dilakukan pembangunan terhadap lahan rawa, tetap diperlukan pengembangan pertanian yang baik. Apabila tidak demikian sangat dimungkinkan pembangunan lahan rawa tersebut tidak akan mendapatkan hasil pertanian secara optimal. Hal itu disebabkan karena karakteristik dari ekosistem lahan rawa yang bersifat marjinal dan rapuh.

Ekosistem dan Produktivitas Ekosistem lahan rawa bersifat marjinal dan rapuh yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena faktor alam (kekeringan, kebakaran, dan kebanjiran), maupun karena faktor kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif). Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai banyak kendala. Misalnya tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik (reversible drying), mudah ambles (subsidence), dan penurunan kadar hara (nutrients deficiency). Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob (takut air) apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula. Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2--3). Hasil penelitian dan pengkajian menunjukkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang menyeluruh menyangkut perbaikan lahan dan kemampuan sosial ekonomi masyarakat setempat. Selain tanaman pangan seperti padi, palawija, dan umbi-umbian dan perkebunan seperti karet, kelapa, dan kelapa sawit, beberapa tanaman sayur mayur dan buah-buahan dapat ditanam dengan pengelolaan yang baik. Akan tetapi produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa sangat tergantung pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun pada umumnya petani dalam penanganan pasca panen termasuk pengelolaan hasil masih lemah. Selain itu juga pemasaran hasil yang terbatas sehingga masih diperlukan dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta

komitmen pemerintah provinsi, kabupaten/kota dalam meningkatkan kesejahteraan petani rawa.

Bagaimana memajukan pertanian lahan rawa? Pemahaman mendalam tentang sifat dan perilaku lingkungan fisik seperti tanah, air dan lainnya, sangat diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya dan pengelolaan lahan rawa meskipun tersedia banyak, tetapi perubahan sifat-sifat tanah dan lingkungan dapat berlangsung cepat dan sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Sehingga diperlukan siasat untuk mengatasinya secara dini. Keadaan ini memerlukan pemantauan secara terus menerus sehingga pengawalan secara ketat terhadap penerapan teknologi dan pengelolaan selanjutnya sangat diperlukan. Lahan rawa yang dibuka mudah menjadi lahan bongkor. Perubahan ini tidak diperkirakan sebelumnya. Kesan ini tampak karena sebagian lahan mengalami pengatusan berlebih (overdrainage), muka air turun di bawah lapisan pirit setelah direklamasi. Gambut menjadi kering tak balik (ineversibe drying) dan hidrofob (takut air) setelah diusahakan. Keadaan ini memacu terjadinya kemasaman, penurunan hara, dan peningkatan pelolosan (exhausted) hara, serta peningkatan kelarutan racun beserta asam-asam organik. Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan gatra lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi produksi juga fungsi lingkungan. Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau konpersatif. Selain itu, selalu memperhatikan prinsip tata air yang berlaku untuk lahan rawa Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan di lahan rawa.

Prinsip tata air untuk lahan rawa Prinsip penting yang harus diterapkan jika akan berhasil bertani di lahan rawa adalah pengelolaan air atau sering disebut tata air bukan hanya dimaksudkan untuk menghindari terjadinya banjir atau genangan yang berlebihan di musim hujan. Juga harus dimaksudkan untuk menghindari kekeringan di musim kemarau. Selain itu, juga untuk menghindari bahaya kekeringan lahan sulfat masam dan lahan gambut.

pembuatan saluran drainase harus dibarengi dengan pembuatan saluran irigasi. pengelolaan air dimulai dari pengelolaan saluran tersier serta pembangunan dan pengaturan saluran kuarter dan saluran lain yang lebih kecil. mengendalikan banjir. Seluruhnya terkait satu sama lainnya dan dilakukan pengelolaan dalam suatu kawasan yang luas. Kemudian diperlukan waduk retarder atau chek dam yaitu waduk yang dibuat di lahan rawa lebak atau lebak peralihan. tata air mikro. Saluran tersier umumnya dibangun oleh pemerintah tetapi pengelolaannya diserahkan kepada petani. Oleh sebab itu. Sebaliknya saluran irigasi dibuat untuk menyalurkan air dari luar lokasi ke suatu kawasan untuk menjaga kelembaban tanah atau mencuci senyawa-senyawa beracun. Saluran drainase dibuat guna menampung dan menyalurkan air yang berlebihan dalam suatu kawasan ke luar lokasi. Dalam hal ini. dan menyimpannya untuk disalurkan di musim kemarau. Tata air mikro Tata air mikro ialah pengelolaan air pada skala petani. dan tata air dalam lahan pertanaman. maka pembangunan dan pemeliharaannya harus dilaksanakan secara kolektif. Ada tiga jenis tata air untuk lahan rawa yaitu tata air makro. dan tersier. juga diperlukan saluran intersepsi yang berfungsi untuk menampung aliran permukaan dari lahan kering di atas lahan rawa. sekunder. Letaknya pada perbatasan antara lahan kering dan lahan rawa. Fungsi waduk ini untuk menampung air di musim hujan. Selain itu. Oleh karena kawasannya yang luas. Selain itu. Tata air makro Lahan rawa memerlukan tata air makro dengan membuat saluran drainase dan irigasi yang terdiri atas saluran primer. Apabila ada kelebihan air akan disalurkan melalui bagian hilir ke sungai sebagai air irigasi.Untuk melakukan pengelolaan air dalam suatu kawasan yang luas harus membuat jaringan reklamasi sehingga keberadaan air bisa dikendalikan. Saluran ini sering dibuat cukup panjang dan lebar sehingga menyerupai waduk panjang. Pengelolaan air di tingkat petani bertujuan untuk mengatur agar setiap petani memperoleh air . perlu dibangun tanggul penangkis banjir di sepanjang saluran karena drainase saja sering tidak mampu mengatasi luapan air musim hujan.

Di samping berfungsi langsung dalam proses pertumbuhan. mencuci senyawa-senyawa beracun. Di dalam lahan. Pintu cukup dibuat dengan cara menggali tanggul dan dapat ditutup sewaktu-waktu dengan cara menimbun kembali. Oleh sebab itu. Kemudian. air juga berfungsi dalam mengendalikan gulma. Pada sistem ini saluran drainase intensif dibuat setelah selesai pembuatan Sedangkan. Pengaturan lahan dapat ditata dengan sistem caren dan surjan. pembuatan saluran setelah pengolahan tanah. pengelolaan air dalam pertanian lahan rawa perlu mendapatkan perhatian secara serius dan kolektif. Untuk itu diperlukan organisasi di tingkat desa. Untuk saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran irigasi diberi pintu pada bagian hulu. .irigasi dan membuang air drainase secara adil. Saluran kolektor dibuat mengelilingi lahan. Sedangkan saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran drainase diberi pintu pada bagian hilir. dan menyuplai unsur hara. Sedangkan posisi saluran cacing sebaiknya dibuat tegak lurus dengan saluran kolektor. Tata air dalam lahan pertanaman Kuarter merupakan saluran di luar pertanaman yang paling kecil. pada lahan yang ditata dengan sistem sawah dan tegalan. Sementara di sisi lain. pengelolaan di tingkat petani juga menciptakan kelembaban tanah di lahan seoptimal mungkin bagi pertumbuhan tanaman serta mencegah kekeringan lahan sulfat asam dan lahan gambut. dibuat saluran drainase intensif yang terdiri dari saluran kolektor dan saluran cacing. air juga menjadi kendala jika keberadannya tidak diatur dan kualitasnya menjadi kurang baik atau beracun. Air merupakan unsur penting bagi tanaman.

(5) pemberantasan hama dan penyakit. Biasanya tanah mineral di lahan rawa itu lembek atau sudah melumpur di waktu lahan digenangi. kimiawi dan biologis. (6) panen dan pasca panen. Lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian. pengelolaan air dibedakan menjadi : 1. Teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi : (1) pengelolaan air. Pengelolaan air yang tepat merupakan kunci keberhasilan pengelolaan lahan rawa.Pengertian Lahan Rawa Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika.15 juta hektar dan 13. Dalam rancangan infrastruktur hidrologi. Sejarah pemanfaatan rawa dilatarbelakangi oleh kondisi kekurangan pangan yang dialami Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan. Lahan rawa terdiri atas lahan pasang surut dan lahan lebak masing-masing dengan luas 20. yaitu pengaturan air pada tingkat tersier dan petak petani. (2) pengolahan tanah. Pertimbangan Teknis Pengelolaan secara hati-hati berdasarkan penelitian dari berbagai aspek sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa.28 juta hektar. Pengolahan tanah 1. pengelolaan air makro yaitu penguasaan air pada tingkat kawasan reklamasi dan 2. (4) pola tanam . pengelolaan air mikro.lmpor beras Indonesia pada masa itu mencapai hampir 20% dari pangsa yang diperdagangkan di pasar dunia sehingga secara murad (significant) mengurangi peruntukan dana pembangunan. . (3) ameliorasi dan pemupukan .

namun kedepan sektor pertanian nampaknya masih akan menghadapi masalah . Pengendalian Hama dan Penyakit 1. kesuburan tanah. Reklamasi lahan rawa adakalanya tidak mencapai sasaran sebagaimana diharapkan sehingga memunculkan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang serius. Pemilikan lahan tiap keluarga petani di lahan rawa umumnya lebih tinggi dibanding sawah irigasi. Karenanya pengendalian hama dan penyakit untuk menjaga produktivitas sangat diperlukan. dan lingkungan hidup yang pada gilirannya berdampak terhadap kondisi social ekonomi petani rawa. Namun ada lahan yang telah lama dibuka biasanya tanahnya telah mengeras membentuk bongkah-bongkah. keteknikan (rekayasa). wereng coklat dan penggerek batang untuk padi dan penggerek polong untuk kedelai. 2. Hama-hama penting di sawah rawa adalah tikus. Kendala Pengembangan Dari segi ekonomi lahan rawa mempunyai keragaman lingkungan fisik. terlebih lagi apabila terdapat perbedaan dalam pemberian masukan.3 ha (Komarudin dan Imtias Basa. Faktor penting teknis produksi untuk meningkatkan produktivitas sawah di lahan rawa adalah pengendalian hama dan penyakit. Hama dan penyakit ini mampu mengagalkan panen sampai 100%. Pada kesudahan reklamasi timbul berbagai masalah terutama pada gatra agronomi dan tanah. Sedangkan kemampuan maksimal pengusahaan lahan oleh tenaga kerja keluarga tidak lebih dari 0. Oleh karena itu petani biasanya hanya menggunakan tajuk atau melaksanakan pengolahan tanah minimum. Karena pemilikan lahan cukup luas. sifat dan watak tanah. teknologi budidaya. Suryanto Saragih dan Dakhyar Nazemi Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Walaupun Indonesia pada tahun 2008 yang baru lalu telah berhasil mecapai swasembada pangan khususnya beras. 2.2. Sebagai akibatnya keragaman hasil produksi tanaman dan pendapatan petani akan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya. Timbulnya lahan bongkor (sleeping land) yang semakin luas dilahan rawa tidak lepas dari akibat kesalahan masa lalu sehingga upaya perbaikannya ibarat mengukir masa depan diatas batu sandungan masa lalu dan merupakan pelajaran yang berguna untuk selanjutnya dalam menapaki pengembangan lahan rawa. sehingga produktivitas lahan menjadi rendah. 1990). dan tingkat produktivitas lahan.dan pengelolaan lahan. maka petani biasanya menerapkan sistem tebas tanam (zero tillage). Kondisi lahan rawa yang panas dan lembab sangat cocok bagi perkembangan hama dan penyakit tanaman. Mekanisasi 1.

Data terakhir menunjukkan kebutuhan kedelai dalam negeri sekitar 2. sementara produksi kedelai dalam negeri hanya 700. Salah satu sumberdaya lahan yang mempunyai prospek cukup besar untuk pengembangan kedelai adalah lahan rawa lebak yang tersebar mulai dari Sumatera. dan yang potensial untuk pengembangan pertanian seluas 10. perubahan lengas tanah yang berlangsung cepat sehingga potensi tanaman mengalami cekaman stress kekeringan sangat tinggi. Potensi lahan rawa lebak di Indonesia diperkirakan sekitar 13. Sulawesi dan Papua. Indonesia dikenal mempunyai beranekaragam agroekosistem (ekosistem pertanian) (Noor.yang semakin komplek diantaranya seperti tingkat pertumbuhan penduduk yang masih tinggi. Kalimantan. Oleh karena itu dalam mengembangkan pertanian di lahan lebak memerlukan penerapan teknologi yang meliputi pengaturan waktu tanam. Merbabu. Potensi rawa lebak ini belum banyak dimanfaatkan atau dikembangkan. Petek. Dengan penerapan teknologi budidaya sesuai karakteristik lahan produktiitas kedelai KARAKTERISTIK SIFAT FISIK DAN POTENSI TANAH RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN KARAKTERISTIK SIFAT FISIK DAN POTENSI TANAH RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN PENDAHULUAN Tanah merupakan salah satu medium tumbuh bagi tanaman sehingga pemahaman terhadap sifat ekologi tanah dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan produksi tanaman sangat penting. Dempo. . penataan lahan. 2007). Tampomas. Kendala utama pertanaman kedelai di lahan rawa lebak adalah regim airnya dimana fluktuasi air yang tidak menentu. Rinjani.55 juta ha sedangkan yang dimanfatkan untuk pertanian baru sekitar 0. Jawa. Kerinci.19 juta ha. juga selain mengupayakan swasembada pada komoditas esensial lainnya seperti kedelai. namun baru di reklamasi seluas 1. Menyapa. Lawit. pengaturan sistem tata air berbeda-beda agar diperoleh hasil yang maksimal. sifat fisiko-kimia dan kesuburan tanah beragam.2 juta ton per tahun. dukungan prasarana yang belum memadai serta tingkat keterampilan petani yang masih rendah.729 juta ha.28 juta ha. Kelestarian swasembada pangan khususnya beras perlu dipertahankan. Lahan rawa lebak merupakan agroekosistem yang pengembangannya masih tertinggal dibandingkan dengan . M. Tanah dan lingkungan dengan keanekaragaman flora dan fauna yang hidup baik di atas maupun di bawah permukaannya merupakan kekayaan sumber daya alam yang perlu dilestarikan. Lokon. Hal ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian khususnya untuk pengembangan kedelai cukup besar. Beberapa varietas kedelai yang dapat dikembangan di lahan rawa lebak adalah Wilis.27 juta hektar. Slamet. peningkatan produksi harus diupayakan baik melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi.000 ton per tahun Oleh karenanya agar negara ini tidak bergantung terlalu besar pada kedelai impor. alihfungsi lahan yang kelihatannya sulit dibendung dan juga terdapatnya fenomena stagnasi peningkatan produksi akibat degradasi kualitas lahan. Tanggamus. Galunggung. Rawa lebak adalah salah satu agroekosistem yang dimiliki Indonesia dengan luas sekitar 13.

M.000 ha. Rawa lebak secara khusus diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk wilayah berupa cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua tanggul sungai (levee) atau antara dataran tinggi dengan tanggul sungai. Ada tiga dasar kajian untuk memperoleh data dan informasi mengenai karakteristik dan potensi lahan rawa lebak. aspek air yaitu pola genangan air yang sangat mempengaruhi terhadap pola penggunaan lahan rawa lebak. diperperlukan data dan informasi mengenai karakteristik dan potensi lahan rawa lebak. sedangkan jika kedudukannya menjorok masuk jauh dari muara laut/sungai besar disebut rawa pedalaman (Noor. dan lebak dalam seluas 3. Dalam rangka mendukung pengembangan lahan rawa lebak di provinsi Kalimantan Selatan. Aspek teknis tipologi lahan dan tipe luapan merupakan dua hal penting yang perlu diketahui sebagai dasar pengelolaan dan pengembangan lahan rawa lebak pada tahap awal. Keberhasilan pengembangan lahan rawa lebak untuk areal pertanian sangat tergantung pada teknologi yang diterapkan dan kondisi fisik lingkungan yang spesifik lokasi. meliputi daya dukung tanah sesuai tipologi lahan dan karateristik yang menyertainya. kecuali dasar atau wilayah paling bawah. Rawa lebak yang sepanjang tahun tergenang atau dibiarkan alamiah disebut rawa monoton. Bentang lahan rawa lebak menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi. yaitu aspek tanah. Rawa lebak yang dimanfaatkan atau dibudidayakan untuk pengembangan pertanian. Sebagian lahan rawa lebak ini belum dimanfaatkan untuk usaha pertanian sehingga potensi pengembangannya masih sangat besar.166. Berbagai teknologi pengembangan lahan rawa lebak telah diketahui. mengingat semakin berkurangnya lahan subur untuk area pertanian di Pulau Jawa akibat alih fungsi lahan ke perumahan dan keperluan non pertanian lainnya. Pada musim hujan genangan air dapat mencapai tinggi antara 4-7 meter.039.000 ha. termasuk perikanan dan peternakan disebut lahan rawa lebak. Potensi lahan rawa lebak di Indonesia mencapai 14 juta hektar. Semakin ke arah tepi sungai atau tanggul semakin rendah genangannya. Walaupun demikian. Lahan rawa semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan swasembada beras dan mencapai swasembada bahan pangan lainnya. akan tetapi dalam pemanfaatannya memerlukan informasi sumberdaya lahan dan penggunaan lahan yang spesifik dan sesuai dengan lokasi pengembangannya. Pengertian Lahan Rawa Lebak Kata lebak diambil dari kosakata bahasa Jawa yang berarti lembah atau tanah rendah . 2007). minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50 cm. M. 2007).000 ha. tetapi pada musim kemarau lahan dalam keadaan kering.076. Pada musim kemarau muka air tanah di lahan rawa lebak dangkal . Rawa lebak adalah wilayah daratan yang mempunyai genangan hampir sepanjang tahun. terdiri dari rawa lebak dangkal seluas 4. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari karakteristik sifat fisik dan potensi tanah rawa lebak untuk pengembangan pertanian di Kalimantan Selatan. maupun peternakan bahkan pariwisata secara terbatas sudah sejak lama oleh manyarakat setempat (Noor. lebak tengahan seluas 6.agriekosistem lainnya seperti lahan kering atau lahan irigasi. KARAKTERISTIK SIFAT FISIK DAN POTENSI TANAH RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN Lahan Rawa Lebak 1. dan aspek sosial ekonomi yang akan mempengaruhi pendapatan petani. pemanfaatan rawa lebak baik untuk pertanian. perikanan.

baik di daerah tersebut maupun wilayah sekitarnya serta daerah hulu (Ismail et al. dengan ketinggian genangan 50 cm – 100 cm. Mempunyai topografi berupa cekungan dan merupakan dataran banjir dengan masa genangan lebih panjang. Pembagian Lahan Lebak Lahan rawa lebak mempunyai ciri yang sangat khas. (2) rawa lebak dataran rendah. 1989 dalam Noor. M. Lebak dangkal adalah wilayah yang mempunyai tinggi genangan 25-50 cm dengan lama genangan minimal 3 bulan dalam setahun. yaitu watun I. III. Rawa lebak dibedakan dengan rawa pasang surut karena mempunyai bentuk fisiografi (landform). lahan rawa lebak dapat dibagi dalam tiga tipologi. II.000-3. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi nisbi lebih tinggi dan merupakan wilayah paling dekat dengan tanggul. yaitu: (1) rawa lebak dataran tinggi. Air yang menggenang tersebut bukan merupakan limpasan air pasang. pada musim hujan terjadi genangan air yang melimpah dalam variasi kurun waktu yang cukup lama. Watun I. Watun III : wilayah sepanjang 200-300 depa (= 510 m) menjorok masuk dari batas akhir watun II. lahan rawa lebak juga sering dikelompokkan sebagai wetland. inland. Skematis topologi lahan rawa lebak Sementara petani umumnya di Hulu Sungai. Bulan basah jatuh pada bulan Oktober/November sampai Maret/April. Berdasarkan ketinggian dan lamanya genangan. Lebak dalam ialah wilayah yang mempunyai tinggi genangan > 100 cm dengan lama genangan minimal > 6 bulan dalam setahun. deepwater land. lebak tengahan. Genangan air dapat kurang dari satu bulan sampai enam bulan atau lebih. Hidrotopografinya lebih rendah daripada watun 3. penyebaran. 2.7 meter). 2007). Watun IV : wilayah yang lebih dalam menjorok masuk dari batas akhir watun III.000 mm per tahun dengan 6-7 bulan basah (bulan basah = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan > 200 mm) atau antara 3-4 bulan kering (bulan kering = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan <100 mm). lebak dalam. Watun I wilayah sepanjang 200-300 depa menjorok masuk dari tanggul (1 depa = 1. II. Watun II ialah wilayah sepanjang 200-300 depa (= 510 m) menjorok masuk dari batas akhir watun I. dan IV masing-masing identik dengan istilah lebak dangkal. lowland. Kondisi genangan air sangat dipengaruhi oleh curah hujan. peatland. dan IV. Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan antara 2. yaitu: a. tetapi berasal dari limpasan air permukaan yang terakumulasi di wilayah tersebut karena topografinya yang lebih rendah dan drainasinya jelek. 2007). 2007). dan lebak sangat dalam atau lebung (Anwarhan.. dan sifat serta watak yang berbeda. III. Hidrotopografinya lebih rendah daripada watun II. Kalimantan Selatan membagi rawa lebak dengan sebutan watun (lahan rawa lebak = Bahasa Banjar). sedangkan bulan kering jatuh antara bulan Juli sampai September (Noor. 4. M. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi Gambar 1. Batasan dan klasifikasi watun didasarkan menurut hidrotopografi dan waktu tanam padi adalah sebagai berikut : 1. 1993 dalam Noor. . b.dapat mencapai > 1 meter sehingga lebih menyerupai lahan kering (upland). sebagian besar tersebar di Kalimantan. M. Dalam konteks yang lebih luas. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi lebih rendah daripada lebak dangkal dan merupakan c. banyak ditemukan di Sumatra dan Jawa. Hidrotopografinya nisbi paling tinggi 2. Hidrotopografinya nisbi paling rendah. Berdasarkan ketinggian tempat rawa lebak dapat dibagi menjadi dua tipologi. Lebak tengahan ialah wilayah yang mempunyai tinggi genangan 50-100 cm dengan lama genangan minimal 3-6 bulan dalam setahun.

vegetasi. pengembangan dan pengerutan. dan tanah berangsur-angsur menurun ke dataran rawa belakang. serta angin. rawa lebak dibagi dalam tiga tipologi. tekanan oleh pembekuan dan pencairan air dan penetrasi akar. (2) lebak terkurung. karena arus banjir masih kuat. Tanah adalah sistem yang heterogen. dan (3) lebak setengah terkurung. Makin jauh dari sungai. Proses itu meliputi pengembangan dan pengerutan oleh pemanasan dan pendinginan silih berganti. 1998). Pengertian Sifat – Sifat Fisik Tanah Istilah tanah mengacu pada lapisan luar dari permukaan bumi yang mengalami pelapukan dan terpisah-pisah. 2006). rembesan. M. dan pengikisan atau penghalusan partikel yang bersifat abrasi yang dibawa oleh es atau air yang mengalir. walaupun hasil pengukuran ketinggian antara keduanya memang menunjukkan penurunan yang amat berangsur ke arah dataran rawa belakang. dispersi dan penggumpalan. terjadi pengendapan bahan-bahan lebih halus. Tiga fase yang umum di alam. yaitu debu dan liat. Demikian pula. Sifat-sifat Fisik Tanah di Lahan Rawa Lebak Secara teoritis. sehingga bahan ini disebut larutan tanah. Pembagian zona lahan rawa di sepanjang daerah aliran sungai bagian bawah dan tengah Sifat Fisik Tanah a. serta sarang. Dalam kenyataanya di lapangan. dan pengelolaan tanah (Susanto. dan dipengaruhi oleh aktivitas dan akumulasi endapan sisa-sisa spesies mikroskopis dan makroskopis tanaman dan hewan. dan juga sungai di sekitarnya (Noor. adesi. dengan semakin lemahnya daya angkut air. dkk. fase cair berupa air tanah. 2007). maka tanggul sungai adalah tempat yang paling tinggi letaknya. b.Berdasarkan ada atau tidaknya pengaruh sungai. 1998). Tanah pada awalnya terbentuk melalui disintegrasi dan dekomposisi dari batuan oleh proses fisika dan kimia. yaitu (1) lebak sungai. bersifat dispersi. setiap banjir. tanggul sungai merupakan tempat pengendapan bahan-bahan terkasar (pasir halus sampai pasir sedang). Gambar 2. pada tanah akan disajikan dalam bentuk sebagai berikut : fase padat penyusun matriks tanah. Proses pelapukan fisika menyebabkan disintegrasi batuan menjadi bagian-bagian kecil. sebab komposisi fraksi dari lumpur yang diendapkan setiap tahun tidak selalu kasar sifatnya (Subagyo. yang selalu mengandung bahan-bahan terlarut. . Lebak terkurung : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan oleh bear kecilnya curah hujan dan rembesan air (seepage) dari sekitarnya. acapkali perbedaan ketinggian antara keduanya tidak selalu nyata. pertukaran ion. Karena adanya sortasi air dan semakin sedikitnya bahan-bahan yang diendapkan semakin jauh dari sungai. serta kapilaritas. Proses perkembangan tanah mencapai puncak pada pembentukan sifat profil tanah (Susanto. Perbandingan relatif dari tiga fase tanah beragam secara kontinu dan tergantung pada faktorfaktor seperti cuaca. karena luas pertemuan antar fase per satuan volume bisa sangat besar. tekstur tanah di wilayah tanggul sungai tidak selalu berpasir. Kondisi dispersi dari tanah dan kegiatan antar fase akan menghasilkan peristiwa seperti adsorbsi air dan bahan kimia.Proses pembentukan tanah berlangsung terus setelah pelapukan awal batuan dan mineral. rumit. dkk. Batasan dan klasifikasi lebak menurut ada atau tidaknya pengaruh sungai adalah sebagai berikut : Lebak sungai : lebak yang sangat nyata mendapat pengaruh dari sungai sehingga tinggi rendahnya genangan sangat ditentukan oleh muka air sungai. dan fase gas yaitu atmosfer tanah. Lebak setengah : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan terkurung oleh besar kecilnya hujan. berfase banyak.

dan sebagai Haplohemists dan Haplosaprists dangkal umumnya lebih banyak ditemukan di bagian lebak dalam (Subagyo. jika kedalaman lapisan bahan sulfidik lebih dari 100 cm. Oleh karena termasuk “tanah basah” (wetsoils). dengan ketebalan lapisan gambut >50 cm. Tetapi di wilayah peralihan antara zona II (lahan rawa pasang surut air tawar) dan zona III (lahan rawa lebak). di bagian bawah profil tanah lebak ditemukan lapisan yang mengandung bahan sulfidik (pirit). Secara umum. lebih mudah karena bebas dari bahan sulfidik. Tanah Mineral yang menyusun lahan rawa lebak. 1999). dan Tanah Mineral. dan Lahan Potensial-2. di wilayah peralihan dengan rawa pasang surut air tawar.5YR 2. Kubah gambut nampaknya tidak terbentuk. Gambut yang terbentuk umumnya merupakan gambut topogen. Seringkali mempunyai sisipan-sisipan bahan tanah mineral di antara lapisan gambut (Subagyo. dengan sendirinya termasuk tipologi lahan rawa pasang surut yang disebut Lahan Potensial. Klasifikasi lebih lanjut pada tingkat subgrup. Sebagian gambut di lebak dalam. reaksi tanah masam (pH 6. pengelolaan lahan untuk tanah mineral yang berbahan induk bahan endapan sungai. dikenal Lahan Potensial-1. dan sebagian kecil merupakan gambut-sedang (ketebalan gambut 100-200 cm). tanah mineral pada lahan lebak termasuk dalam ordo Entisols dan Inceptisols. Sedangkan Tanah Mineral murni. dan Terric Haplohemists.5-6. secara morfologis mempunyai kenampakan mirip dengan tanah marin di lahan rawa pasang surut air tawar. atau hitam (10YR 3/2). dalam tingkat (subgrup) Typic/Hemic Haplosaprists. yaitu Tanah Gambut. Dalam klasifikasi Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff. lapisan pirit masih mungkin diketemukan. Tanah-tanah . pembagian tanah pada lahan rawa lebak berdasarkan ketebalan gambut. Berdasarkan letak kedalaman bahan sulfidik dari permukaan tanah. baik di wilayah tanggul sungai maupun di rawa belakang. Secara skematis. Dalam Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff. Tanah Gambut biasanya menempati wilayah Lebak Tengahan dan Lebak Dalam. hampir seluruhnya berkembang atau terbentuk dari bahan endapan sungai. Tanah mineral yang mempunyai lapisan gambut di permukaan antara 20-50 cm disebut Tanah Mineral Bergambut. dan Aquepts. mempunyai tingkat dekomposisi bahan gambut tengahan. dan kesuburan tanah masih termasuk rendah. reaksi gambut di lapang termasuk masamsangat masam (pH 4. Warna tanah tersebut coklat sangat gelap (7. maka tanah rawa lebak tidak mengandung pirit. tetapi biasanya pada kedalaman 50-70 cm atau lebih dari 120 cm (Subagyo. yaitu gambut hemik. Terric Haplosaprists. hanya memiliki lapisan gambut di permukaan tanah setebal <20 cm. 2006).0). dengan ketebalan lapisan gambut di permukaan 0-50 cm. Kandungan basa-basa (hara) rendah (total kation: 1-6 me/100 g tanah). khususnya di cekungancekungan. 1999). Tanah yang mengandung lapisan bahan sulfidik. Sebagian lapisan tersusun dari gambut hemik. Tanah gambut. Pembagian Dan Klasifikasi Tanah Berdasarkan Sifat Fisik Tanah Tanah-tanah di lahan rawa lebak. sebagai Haplosaprists dangkal (antara 50-100 cm). Namun. jika kedalaman lapisan bahan sulfidik terletak antara 50-100 cm. baik untuk Lahan Potensial-1 dan Lahan Potensial-2 maupun Tanah Rawa Lebak normal dan Tanah Mineral Bergambut (Subagyo. Ada dua kelompok tanah pada lahan lebak. dan kedalaman lapisan bahan sulfidik. dan pemanfaatannya untuk pertanian harus mengikuti sistem penataan lahan yang berlaku untuk lahan pasang surut.0). semuanya masuk dalam subordo Aquents. Hanya bedanya. dan sebagian besar merupakan gambut-dangkal (ketebalan gambut antara 50-100 cm).c. sebagian ditemukan di lebak tengahan. tersusun sebagian besar dari gambut dengan tingkat dekomposisi sudah lanjut. 2006). tanah-tanah tersebut masuk dalam ordo Histosols. 2006). 2006). yaitu gambut saprik. Pengelolaan dan penataan lahan yang mengandung bahan sulfidik harus lebih berhati-hati. Warnanya relatif sama. sesuai kesepakatan. coklat sangat gelap atau hitam. dan kejenuhan basanya juga rendah (KB: 3-10%). karena tanah-tanah di rawa lebak bukan merupakan endapan marin.5/2).

Padi surung atau padi air dalam ini mempunyai sifat khusus. Pada wilayah lebak dalam yang air genangannya lebih dalam. serta sering dijumpai gambut-dangkal. serta sebagian Inceptisols basah. lematang. sedangkan tekstur Lebak Dalam sangat halus (hC dan SiC). liat (C). karena sebagian lahan rawa lebak sudah . L). Padi yang tergolong jenis padi surung ini antara lain varietas alabio. 2005). Tekstur lebak Tengahan relatif halus (hC. Sawah barat ini umumnya ditanami sawah padi surung (deep water rice) yang waktu tanamnya sampai akhir musim kemarau dan panen saat air tinggi (100-150 cm) pada musim hujan. yakni Haplosaprists. budidaya padi di lahan rawa lebak Sumatra justru berkembang pada musim hujan. Ar-Riza. dengan kandungan liat yang sangat tinggi (55-80 %) (Subagyo. yaitu dapat memanjang (elogante) mengikuti kenaikan genangan air dan dapat bangkit kembali apabila rebah. Kadang ditemukan gambut-dangkal. dan liat berdebu (SiC). mekongga. yakni Hydraquents dan Endoaquents. nagara. umumnya didominasi oleh Entisols basah. 2006). Tekstur tanah terbanyak adalah liat berat (hC). cisanggarung. terutama rawa lebak dangkal dan rawa lebak tengahan menjadi hamparan tanaman sayuran dan buah-buahan. Pola tanam dan jenis komoditas yang dikembangkan di lahan rawa lebak dapat didasarkan pada tipologi lahan. Haplohemists dan Haplosaprists (Subagyo. IR 64.mineral yang menempati lebak pematang. Pertanian Rawa Lebak dan Pengembangannya Potensi pertanian di lahan rawa lebak cukup luas dan beragam. dan sebagian Entisols basah yaitu Fluvaquents. tetapi fraksi pasirnya sangat rendah. yang dominan adalah Entisols basah. Jenis padi rintak pada dasarnya adalah padi sawah umumnya yang dipersiapkan pada bulan April. 2006). sebagai Endoaquepts. yakni Hydraquents dan Endoaquents. margasari (tiga varietas terakhir merupakan padi spesifik rawa pasang surut) dengan hasil rata-rata 4-5 ton per hektar. Lahan rawa lebak sebagian besar dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya padi yang dapat dipilah dalam pola (1) padi sawah timur (sawah rintak) dan (2) padi sawah barat (sawah surung). Apabila dimanfaatkan untuk tanam padi surung maka persiapan dimulai selagi masih kering(macak-macak).0-1. umumnya termasuk Inceptisols basah. SiC. dari halus (hC. Potensi Lahan Rawa Lebak 1. 1996.C) sampai sedang (SiL. 2010). cisokan. termasuk yang dikenal dengan padi hiyang (Rien. ciherang. yakni (subgrup) Epiaquepts dan Endoaquepts. Sawah lebak yang termasuk lebak tengahan sampai dalam (lebung) pada musim hujan tergenang cukup tinggi (> 100 cm) sehingga disebut juga sawah barat. C. yaitu sekitar bulan September-Oktober dan panen pada bulan JanuariFebruari pada saat air tergenang cukup tinggi (1. terkadang juga dijumpai tekstur relatif kasar (SL). Tanam pertama dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember dan panen pada bulan April. Untuk lebak dalam (watun IIIIV) ditanami hanya pada saat musim kemarau panjang (apabila 4-5 bulan kering). sedangkan tanam kedua antara bulan Mei-Juni dan panen pada kemarau Agustus-Oktober (Noor M. Tekstur tanah Lebak pematang lebih bervariasi. Tekstur tanah rawa lebak umumnya dicirikan oleh kandungan fraksi liat dan debu yang tinggi. Pada lebak tengahan. kapuas. yaitu padi sawah irigasi yang berumur pendek (high yielding variety) seperti varietas IR 42. Sawah timur pada musim hujan tergenang sehingga hanya ditanami pada musim kemarau. tergantung keadaan genangan. Watak dan ekologi masing-masing lokasi dan tipologi lahan rawa lebak merupakan faktor penentu dalam penyusunan pola tanam dan jenis komoditas yang dibudidayakan. tapus. Pada musim kemarau panjang semua sawah lebak. Akan tetapi. Kemampuan memanjang ini karena pertumbuhan akar yang terus-menerus yang pada padi sawah umumnya tidak ditemukan. Sawah timur ini umumnya ditanami padi rintak.5 m). Lahan rawa lebak dangkal dapat ditanami dua kali setahun dengan pola tanam padi surung (umur 180 hari) tanam pertama dan padi rintak (padi unggul: berumur 11-115 hari) untuk tanam kedua. dan SiCL). IR 66. selebihnya dibiarkan karena genangan air cukup tinggi.

Penerapan teknik budidaya dan varietas tanaman yang secara khusus disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan rawa tersebut (Haris. slada. Dengan penerapan sistem ini. ubi jalar. Pola tanam atau tumpang antara tanaman palawija. petani memodifikasi kondisi lahan agar sesuai dengan komoditas yang dibudidayakan. vegetasi. 2001). Di lahan rawa. Berbeda dengan di Kalimantan. timun. Kemudian tanam kedua padi varietas unggul (umur 110) bulan Mei-Juni dan panen bulan Agustus-Oktober. Lahan rawa lebak telah dimanfaatkan selama berabad-abad oleh penduduk lokal dan pendatang secara cukup berkelanjutan. dan tempe diproses lewat industri rumah tangga dan dipasarkan untuk konsumsi lokal. masyarakat tidak hanya menanam dan memanen padi. Kabupaten Hulu Sungai Utara sudah sejak tahun 1980-an dapat melaksanakan pola tanam padi dua kali setahun dengan pola tanam padi varietas lokal-varietas unggul di lahan tabukan dan ubi alabio di lahan surjan. khususnya di Kaimantan Selatan. hingga pasca panen. labu kuning. memungut hasil hutan. dan atau umbi-umbian).000 hektar lahan lebak sejak tahun 1998. pemeliharaan. A. Namun demikian. 2001).mempunyai sistem pengatusan yang baik. panen. cabai. Pengembangan perkebunan ini memerlukan pembuatan saluran-saluran pengatusan (drainage). bayam. dan berburu hewan liar. kacang nagara. kedelai diandalkan menyumbang pasar nasional. penanaman. Sebagai upaya penganekaan tanaman. buah-buahan (semangka. 2010). sayuran (tomat. mulai dari persemaian benih padi. tetapi juga menangkap ikan. Pada sistem surjan tanaman palawija (jagung. 2001): . sebagian lahan rawa lebak pada musim hujan menggenang berbulan-bulan. sayuran. buncis. kacang panjang) dan aneka sayuran cabut seperti sawi. kacang panjang. Sebaliknya. Selain padi. Beberapa wilayah lahan rawa lebak belakangan ini mulai dikembangkan untuk tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. lahan rawa lebak juga juga umum ditanami palawija. . Pertanian lahan rawa lebak yang dilakukan oleh Orang/Suku Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah umumnya masih dikelola secara tradisional. tahu. sayur. Kedelai mentah selain untuk kebutuhan nasional. Petani membuat sistem surjan Banjar (tabukan tembokan/tukungan/baluran). pengelolaan air. Sampai tahun keempat. sebagian rawa lebak dangkal sampai tengahan seperti di lahan rawa lebak Babirik. pintu-pintu air.000 hektar dan pembibitan penangkaran di lahan 1. kubis. bawang. Menurut Conway (1985).Pemanfaatan berganda (multiple use) lahan. dan tabat (dam overflow) untuk pengendalian muka air tanah (Rien. Tanam pertama padi varietas lokal (umur 180 hari) dilakukan pada bulan Oktober-November dan panen dilaksanakan bulan April. penyakit dan gulma. Hasil olahan berupa susu. dan kelapa. dan buah-buahan. Dari pertanian tanaman pangan. pemanfaatan secara tradisional itu dicirikan oleh (Haris. sayuran. dan kangkung. Tanaman bahan baku tahu tempe ini mulai dikembangkan di 10. maka umumnya para petani akan beralih pada pekerjaan lanilla (Haris. A. 2010). sedangkan padi bagian tabukan (ledokan) ditanami padi (Rien. Apabila menurut perhitungan sudah waktunya untuk bertanam. di lahan pertanian akan tersedia . apabila perhitungan musim menunjukkan kondisinya kurang baik.756 hektar. Fenomena alam dijadikan indikator dan panduan dalam melaksanakan kegiatan bercocok tanam. pengendalian hama. maka para petani akan mulai menggarap sawahnya. dan hewan. mangga rawa) ditanam di atas surjan (tembokan). kedelai. Ketergantungan pada musim dan perhitungannya pun masih sangat kuat. juga untuk bahan baku pabrik kecap di Banjarmasin. kedelai tumbuh di lahan 5. atau buah-buahan umum dilakukan petani pada lahan lebak dangkal dan tengahan dengan sistem surjan. ubi alabio. terong. waluh.

Pengolahan tanah dilakukan bersamaan dengan kegiatan pengelolaan gulma (menebas. Apabila ketinggian air semakin menyusut tetapi masih ada ikan saluang yang bertahan maka menunjukkan bahwa lahan rawa lebak masih tidak akan kekeringan.5 ton/ha. sementara kayu yang ditebang mulai berkurang sehingga masyarakat berupaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencoba menanam padi dan mengembangkan keterampilan.lahan tabukan yang tergenang (diusahakan untuk pertanaman padi atau menggabungkannya dengan budidaya ikan.6 ha. Pada saat ini suhu air di lahan lebak sudah meningkat dan ikan turun untuk mencari daerah yang berair dalam. Mereka yang bertanam dua kali setahun umumnya sawahnya berkisar antara 0.3-0. Selain sebagai pupuk. buah-buahan. Sebagian besar hanya bertanam sekali setahun pada musim kering (padi rintak) dan sebagian kecil dapat bertanam dua kali dalam setahun (padi surung dan banih rintak). Usaha tani padi yang dikembangkan di lahan rawa lebak sebagian terbesar merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. sayur-sayuran. Dalam berinteraksi dengan alam mereka tidak berupaya untuk dengan menguasai atau melawannya tetapi berusaha untuk menyesuaikan dinamika lahan rawa.3 ha sedangkan padi surung paling sedikit setiap 0. Kemunculan bintang ini di ufuk barat merupakan peringatan kepada petani untuk segera melakukan penyemaian benih tanaman padi (manaradak).2 ton/ha (Yusma. Fenomena alam yang menjadi pertanda musim kering di antaranya sebagai berikut: Apabila ikan-ikan mulai meninggalkan kawasan lahan rawa lebak (turun) menuju sungai merupakan pertanda akan datangnya musim kering. luas tanam setiap keluarga mencapai rata-rata 1 ha permusim dengan produktivitas mencapai 4. Biasanya masih akan ada air sehingga kedalaman air di lahan rawa lebak kembali meningkat. Petani lokal di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan umumnya masih memerhatikan fenomena alam seperti bintang atau binatang untuk melihat peluang keberhasilan usaha tani. 2001). sehingga lapisan tanah yang diolah tidak terlalu dalam. termasuk waktu tanam.6 ha dengan produktivitas sebesar 3. mina padi) dan lahan tembokan/tukungan/baluran yang kering (untuk budidaya tanaman palawija. Petani di Negara selalu menanam padi rintak setiap tahun sedangkan padi surung tergantung pada keadaan air. Saat kemunculan bintang ini hingga 20 hari kemudian dianggap merupakan waktu yang ideal untuk melakukan penyemaian benih padi. Pada daerah yang ditanami padi sekali dalam setahun. Kegiatan usaha tani yang dilakukan adalah persiapan semaian. rerumputan gulma yang ditebarkan secara merata menutupi permukaan lahan sawah juga berfungsi sebagai penekan pertumbuhan anak-anak rumput gulma (Idak. Pengolahan tanah menggunakan alat tradisional tajak. Semakin lama mereka semakin memahami fenomena lahan rawa sehingga mampu mengembangkan beragam komoditas pertanian. dalam Haris. kemungkinan pirit itu terpapar ke permukaan dan teroksidasi yang menyebabkan tanah semakin masam. baik sebagai akibat turunnya hujan di lahan rawa lebak atau kiriman air di dataran tinggi yang mengalir melalui beberapa anak sungai. dan lapisan pirit tidak terusik. Bintang karantika muncul di ufuk barat pada senja hari hingga sesudah waktu maghrib menandakan air di lahan rawa lebak akan mulai kering. memuntal. Kegiatan usaha tani yang dilakukan adalah persiapan semaian. menyebarkan) yang tidak lain merupakan tindakan konservasi tanah. tanaman tahunan dan tanaman industri). Bintang karantika merupakan gugusan bintang yang susunannya bergerombol (bagumpal) membentuk segi enam. Semakin lama komunitasnya semakin bertambah banyak. 2011). Apabila telah lewat dari . Dengan demikian. Pada mulanya rawa lebak hanya dijadikan tempat tinggal sementara para penebang kayu dan pencari ikan. dapat dicegah. Gejala alam ini biasanya terjadi pada bulan April atau Mei. Penanaman padi rintak paling sedikit seluas 0. karena gulma itu dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik (pupuk hijau). membalik.

 Apabila matahari terbit agak ke sebelah timur laut dibandingkan posisi karantika berarti akan terjadi musim kemarau panjang (landang). • Untuk menentukan lama tidaknya musim basah. . Apabila dalam tiga kali kedatangan air pasang (pasang-surut. Apabila asap terlihat agak tegak (cagat) agak lama berarti kemarau panjang dan sebaliknya (Yusma. terjadi musim kemarau panjang. dan pasang kembali). • Apabila ikan-ikan yang masih bisa ditemukan di lahan lebak mulai bertelur maka pertanda air akan datang (layap). Apabila bintang paling atas terlihat terang. Ada pula tumbuhan yang disebut pacar halang yang berbuah kecil seperti butir jagung. Bila tanaman ini mulai berbunga berarti itulah saat pertengahan musim air dalam. Sebaliknya. Munculnya benda putih menyerupai benang-benang yang sangat lembut. pasang-surut. Apabila burung putih (kuntul = sejenis bangau) mulai meletakkan telurnya di semak padang parupuk merupakan tanda air akan menyurut (rintak). kemarau hanya sebentar. terjadi panas terik pada awal musim. Fenomena alam ini biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai Nopember. ketinggian air pasang pada tahapan pasang surut yang ketiga lebih tinggi dari dua pasang sebelumnya biasanya akan terjadi musim kering yang panjang. Burung putih mengharapkan setelah telurnya menetas air akan surut sehingga anaknya mudah mencari mangsa (ikan). Ada juga yang melihat posisi antara matahari dan bintang karantika. Ada pula petani yang meramalkan kemarau dengan melihat gerakan asap (mamanduk). setelah itu akan panas sekitar 40 hari lalu air akan datang dan telur ikan akan menetas Yusma. jika bintang paling bawah terlihat terang. beterbangan di udara dan menyangkut di pepohonan dan tiang-tiang tinggi ini disebutkan sebagai pertanda datangnya musim barat. • Setelah terjadi fenomena kapat. Diceritakan. Kapat ini biasanya mengikuti kalender syamsiah dan terjadi pada awal bulan Oktober. Tingginya air pasang yang datang secara bertahap juga menjadi ciri yang menentukan lamanya musim kering. Fenomena ini biasanya terlebih dahulu ditandai dengan hujan deras. lalu ikan betok berloncatan (naik) melepaskan telurnya. Apabila rumput pipisangan daunnya bercahaya agak kuning maka pertanda air akan lambat turun (batarik). • Apabila kumpai payung yang tumbuh di tanah yang agak tinggi mulai menguning dan rebah maka pertanda air akan dalam (basurung). Juga bila bintang paling kiri paling terang. yaitu tanda akan dalam kembali air di lahan lebak (layap). Empat puluh hari setelah terjadinya kapat maka biasanya air di lahan rawa lebak akan dalam kembali (layap). yaitu saat suhu udara mencapai derajat tinggi. petani menjadikan keladi lumbu (gatal) sebagai indikator. Bintang baur bilah yang muncul 20 hari kemudian juga dijadikan pertanda bagi datangnya musim kering dan dijadikan patokan dalam memperkirakan lama tidaknya musim kering. maka terik di akhir musim. sebaliknya jika paling kanan terang. akan muncul fenomena alam lain yang ditandai dengan beterbangannya suatu benda yang oleh masyarakat disebut benang-benang.waktu tersebut maka petani akan terlambat memulai usahatani padinya dan diperkirakan padi di pertanaman tidak akan sempat memperoleh waktu yang cukup untuk memperoleh air. Apabila buahnya memerah (masak) dan mulai berjatuhan maka air sudah mulai menggenangi lahan rawa lebak. Bintang ini muncul di ufuk barat berderet tiga membentuk garis lurus. 2011) Fenomena alam sebagai pertanda akan datangnya air di lahan rawa lebak di antaranya sebagai berikut: • Munculnya fenomena alam yang disebut kapat. orang yang mengetahui waktu terjadinya kapat dapat menunjukkan bahwa air yang diletakkan dalam suatu tempat akan memuai. 2011).

(2) durian. Jenis ikan yang adaptif hidup dan umum dikembangkan di lahan rawa lebak bersifat spesifik lokasi dan cukup beragam tergantung pada keadaan ekologi habitatnya. jagung. dan (3) srikaya besar. Tanah masam ini maih dapat ditanami ubi nagara atau bila ingin ditanami semangka maka tanah dilakukan pengapuran terlebih dahulu. dkk. Tipe usaha (1) masih luas. Bagi petani di lahan rawa lebak. adaptif terhadap kelarutan sneyawa toksis seperti Al. tetapi bila banyak tumbuh galam pertanda tanah itu masam. H2S. Ciri tanah masam lainnya adalah apabila di batang tanaman tersisa warna kekuning-kuningan begas terendam (tagar banyu) dan ditumbuhi oleh kumpai babulu dan airnya berwarna kuning. dan ubi negara. tanah bukaan baru dan dekat hutan umumnya dianggap sangat subur dan tidak masam. patin. M. 2011). karena tumbuhan ini masih berasosiasi dengan hutan atau bekas hutan. dan (3) buahbuah tersebut sudah dibudidayakan dan mulai dikembangkan secara luas dan modern. Pada kawasan lahan rawa sedikitnya terdapat 3 (tiga) macam buah eksotik tropika yang dapat patut dikembangkan yaitu (1) manggis besar. Buah Eksotik Di Lahan Rawa Tanaman buah eksotis tumbuh di alam secara liar sepertinya telah terpola pada wilayah-wilayah tertentu dan tidak ditemukan tumbuh disembarang tempat di lahan rawa. Pengusahaan atau budidaya buah eksotik ini dapat dipilah dalam 3 (tiga) tipe usaha. M. 2011). CO2. Sungai ini berfungsi untuk pembuangan air masam sehingga sejak dahulu petani membuat dan memelihara ray yang dibuat setiap jarak 30 depa (Yusma. Pemanfaatan rawa lebak untuk pengembangan perikanan selama ini sangat . 2. kemasaman tinggi. baik ditinjau dari ketinggiannya maupun kandungan humus dan teksturnya. Keadaan hidrologi kawasan rawa lebak menyebabkan tumbuh berkembangnya tanaman yang khas. 3. mengandung humus yang banyak dari pembusukan kumpai. Ikan putih yang umum terdapat di perairan sungai atau danau juga dapat ditemukan di rawa lebak sebagai ikan pendatang yang terikut masuk karena banjir atau apabila terikut saat luapan sungai (Noor. (2) buah-buah tersebut sudah dibudidayakan. biawan. Mereka menanami tanah yang tinggi dengan semangka. gabus. dan toman. M. seperti tanaman buah-buahan eksotis. Tanaman buah eksotik dikenal tahan dengan kondisi rawa antara lain tahan genangan. Jenis ikan yang umum didapati di lahan rawa lebak disebut juga ikan hitam antara lain papuyu. Apabila keasaman tanah tidak bisa ditingkatkan maka petani akan meninggalkannya dan menganggap tanah tersebut sebagai tanah yang tidak produktif . Kebun eksitu dimaksudkan pengembangan buah-buah eksotik tersebut dilakukan pada wilayah agroekosistem yang serupa atau diluar dari wilayah tersebut dengan sedikit rekayasa lahan dan lingkungan (Noor. Tanah yang baik adalah tanah yang tidak banyak ditumbuhi oleh jenis tanaman liar (taung) seperti parupuk. 2011). Perikanan Potensi perikanan di perairan rawa lebak cukup besar diperkirakan tidak kurang dari 100 jenis ikan terdapat di perairan rawa lebak. sepat. sedangkan tanah yang rendah ditanami padi. namun seiring dengan pembabatan/pembalakan hutan maka buahbuah eksotik semakin menurun jumlah dan kualitasnya. Bila telah ditanami beberapa kali keasaman akan berkurang karena sisa-sisa rumput yang tumbuh dan mati menjadi humus. serta mempunyai aliran sungai yang dalam.Selain pengetahuan yang berhubungan dengan peramalan iklim. petani di lahan rawa lebak juga mempunyai kearifan lokal mengenai kesesuaian tanah dengan tanaman. Fe. dkk. tetapi masih secara tradisional. tanpa dibudidayakan dengan baik sehingga ada kecenderungan akan punah. dan senyawa-senyawa organik dan juga tahan terhadap beberapa hama penggerek seperti pada jenis mangga rawa dapat digunakan sebagai batang bawah untuk memperbaiki genetik dari jenis-jenis mangga unggul introduksi (Noor. yaitu (1) buah-buah tersebut tumbuh sebagai buah hutan. kacang. 2007).

Telur itik yang dihasilkan selain digunakan untuk konsumsi juga digunakan untuk menghasilkan anak itik sebagai bibit. Keunggulan dari jenis itik ini adalah tingkat efisiensi pakan cukup tinggi namun harga telur dan itik afkir relatif lebih murah berbeda dengan itik Alabio yang biaya pakan lebih mahal tetapi harga telur dan itik afkir juga lebih mahal. (2) sistem caren untuk lebak tengahan. ukuran panjang 10 – 30 meter. S dan Yanti. Sisa tanah galian beje dan tatah di timbun atau ditempatkan pada satu sisi yang juga berfungsi untuk menghadang dan mengarahkan ikan agar masuk dalam beje.5 hektar) diperoleh keuntungan Rp 718. dibuat di lahan rawa lebak tipologi lebak tengahan. itik-itik betina tersebut akan segera diafkir dan dijual sebagai itik potong (Rohaeni. Jenis itik yang dibudidayakan di Kalimantan Selatan yaitu itik lokal. 2007). Upaya lain yang dilakukan untuk lebih merangsang ikan masuk dalam beje uaitu dengan menempatkan potongan dahan dan ranting kayu dalam beje sebagai rumpon (Rupawan. lebar 5 – 10 meter dengan kedalaman air 1. dan (3) sistem keramba untuk lebak tengahan dan lebak dalam. hal ini ditunjukkan adanya permintaan bibit yang cukup tinggi dari daerah lain seperti Kalimantan . 4.5. Usaha ternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).18 (Noor.000-60. hal ini disebabkan karena memiliki potensi antara lain : Bibit. Anak itik yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan konsumen di hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Tatah atau pelacar bertujuan untuk membantu mengarahkan ikan masuk dalam beje. bahkan ada yang dibawa ke luar propinsi misalnya Kalimantan Tengah dan Timur. pemeliharaan ikan di lahan rawa lebak cukup menguntungkan seperti pemeliharaan ikan lampan. termasuk sistem beje. pemasaran bibit dan telur itik cukup baik dan tidak ada masalah. Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Selatan (HSS) umumnya dilakukan di lahan rawa lebak dan sudah merupakan usaha turun temurun dan membudaya. Itik Alabio yang diusahakan utamanya berperan sebagai penghasil telur baik telur tetas maupun telur konsumsi. Kabupaten Hulu Sungai Utara. Peluang pengembangan usaha ternak itik cukup besar. 2011).00 dengan B/C ratio 4.344 m2 dari luas lahan 0. Adanya itik jenis baru yaitu itik MA (Mojosari Alabio) bagi sebagian masyarakat peternak di Kab.2. 2010). yaitu (1) sistem kolam atau mina padi (ikan-padi). Berdasarkan tipologi dan lingkungan biofisik rawa lebak. yaitu sistem tangkap dengan menggunakan berbagai jenis alat tangkap tradisional. Anak itik yang dihasilkan berkisar antara 50.000 ekor/minggu yang dipasarkan di Pasar Alabio setiap hari Rabu. Salah satu itik lokal yang cukup dikenal dan berpotensi adalah itik Alabio (Anas platyrhincos Borneo) yang banyak dipelihara dan dibudidayakan masyarakat di daerah Kalimantan Selatan dan terutama di daerah sentra yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). dan tawes dengan sistem caren selama 6 bulan (lebar caren 4 meter dan luas 1.450. Sebagian besar kiri kanan pada setiap beje dihubungkan dengan parit yang dalam bahasa daerah disebut „tatah” atau “pelacar”. Peternakan Itik merupakan salah satu jenis unggas yang banyak dipelihara oleh masyarakat pedesaan.terbatas dan bersifat tradisional. ketersediaan bibit itik Alabio termasuk mudah karena telah ada spesialisasi usaha yaitu ada petani yang melakukan pemeliharaan itik pembesaran dan usaha penetasan.3 m2 ± 76. pengembangan perikanan dapat dipilih. Sentra penghasil anak itik di Kalimantan Selatan yaitu di Desa Mamar. Pemasaran. HSU belum mengadopsi. Keberadaan itik tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai nama sesuai dengan lokasi tempat berkembangnya. ukuran beje bervariasi. sepat siam. Kecamatan Amuntai Utara. M.0 meter atau rata-rata luas 148.5. Apabila masa produksinya telah selesai atau pasca produksi. R. Beje adalah kolam berbentuk persegi panjang.

bibit) 4) Penguatan modal usaha. produktivitas. Pupuk Kaltim (Rohaeni. Dukungan Swasta dan Pemerintah. dengan tujuan untuk menurunkan harga pakan tanpa mempengaruhi produksinya. serta penampilan produksi dan reproduksi yang belum maksimal. Selain potensi di atas. dukungan terhadap perkembangan ternak itik telah dilakukan baik oleh swasta maupun pemerintah berupa dana pinjaman bergulir maupun tidak bergulir yang sangat mendukung terhadap perkembangan dan penguatan modal usaha. perbaikan mutu pakan. Populasi kerbau rawa pada tahun 2005 tercatat 13. bibit atau menentukan jenis kelamin itik pada umur muda (1-7 hari). terutama penyakit ngorok dan fascioliasis. S dan Yanti. seperti lomba renang kerbau rawa. tingginya tingkat pemotongan. Sosial Budaya. masyarakat tidak malu untuk melakukannya. terdapat beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan: 1) Teknologi pakan. Keterampilan ini merupakan potensi yang mendukung dalam peningkatan produksi itik. penyuluhan kepada peternak agar tidak memotong kerbau yang produktif. Penurunan populasi diduga berkaitan dengan sistem pemeliharaan yang masih dilakukan secara tradisional. Untuk meningkatkan populasi. 2011). S dan Yanti. R. petani mempunyai keterampilan yang baik dalam hal memelihara dan menyeleksi. usaha pemeliharaan ternak itik tidak mengalami hambatan atau masalah namun bahkan diterima di masyarakat. Berdasar potensi dan permasalahan di atas. sedang dari swasta dilakukan oleh PT. serta pencegahan dan pengendalian penyakit. Kerbau yang dipelihara di rawa-rawa di Kecamatan Danau Panggang ini dilatih untuk memberikan atraksi bagi wisatawan. disusun berselang-seling membentuk segi empat tanpa atap. keterampilan ini merupakan warisan turun temurun dan pengalaman. dan reproduksi kerbau rawa perlu dilakukan perbaikan kualitas genetik ternak dengan inseminasi buatan (IB). dengan cara meningkatkan jalinan kerjasama baik dengan pemerintah dan swasta dengan kesepakatan dan perjanjian agar tidak ada yang dirugikan (Rohaeni. Upaya inovasi teknologi meliputi revitalisasi dan pengembangan kawasan . Potensi khas peternakan Hulu Sungai Utara yang lain adalah kerbau rawa. ikan rucah. ketersediaan bahan pakan yang sangat tergantung musim dan fluktuasi harga produk baik telur. Kerbau rawa (Bubalus carabanensis) umumnya dipelihara secara tradisional di rawa-rawa banjir dengan kedalaman air lebih dari 3. Oleh karena itu kegiatan ini dapat berkembang luas. terdapat permasalahan yang dihadapi dalam beternak itik yaitu mahalnya harga pakan. Kerbau rawa juga dimanfaatkan untuk penunjang pariwisata. Keterampilan. Kalang adalah kandang yang dibuat dari balok-balok kayu blangeran (shore blangeran) berdiameter 10−20 cm. terbatasnya pakan dan padang penggembalaan alami. Produksi dagingnya 36 ton. pemanfaatan pakan lokal yang belum optimal seperti sumber protein yaitu keong mas.659 ekor. namun sejak lima tahun terakhir populasinya menurun. daging maupun bibit dan masalah penyakit (terutama flu burung). hijauan misalnya eceng gondok 2) Pengendalian dan pencegahan penyakit terutama penyakit berbahaya dan menular dengan cara penyuluhan yang intensif dan pengadaan vaksin agar peternak dengan cepat dan modal untuk membeli 3) Pemantapan kelembagaan akan pentingnya kelembagaan dalam hal pengendalian harga baik produk itik maupun saprodi itik (pakan. Bantuan dana pinjaman dari pemerintah yaitu BLM dan KKP yang dilakukan sejak tahun 2001.Timur dan Tengah. Bahkan ada jasa dalam hal memilih telur. R.50 m dengan menggunakan kalang. 2011).

serta pergeseran penggunaan lahan menjadi lahan usaha tani tanaman pangan (padi. dan sebagian lahannya bertanah gambut. HST dan sebagian kecil HSU. Kerbau memiliki peran penting dalam kehidupan sosio-ekonomi petani.paya. Di Kalimantan Selatan. program pemuliabiakan. diantaranya : kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana . Penyakit yang sering menyerang kerbau rawa antara lain disebabkan oleh parasit (trypanosomiasis atau surra dan fascioliasis) dan bakteri (penyakit ngorok atau SE dan klostridiosis) (Suryana. 4) kekeringan pada musim kemarau panjang sehingga ternak kekurangan air minum. serta penghasil daging. dan Paminggir. Dengan kondisi demikian. 2011). Bararawa. pengadaan dan pengembangan bibit kerbau. pengembangan lahan lebak untuk pertanian juga menghadapi berbagai kendala. kerbau rawa memberikan kontribusi positif sebagai penghasil daging. maka pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian khususnya tanaman pangan dalam skala luas memerlukan penataan lahan dan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnya agar diperoleh hasil yang optimal. Kerbau rawa merupakan salah satu plasma nutfah daerah Kalimantan Selatan. Tampakang. terutama Kecamatan Danau Panggang. yakni sebagai tabungan hidup. Beberapa desa sebagai sentra peternakan kerbau rawa yaitu Desa Palbatu. Produktivitas padi di lahan rawa lebak ini pada umumnya masih rendah. kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau terutama di lahan lebak dangkal. 2011). Selain masalah lahan. Masalah dan Kendala Pengembangan Masalah utama pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian adalah kondisi rejim airnya fluktuatif dan seringkali sulit diduga. rendahnya produktivitas dan terjadinya inbreeding.perbibitan. 2) penjualan pejantan tinggi. Kerbau rawa merupakan ternak asli daerah dan sumber plasma nutfah. disebabkan selain tingkat kesuburan tanah yang rendah. dan telah dikembangkan sebagai usaha tani spesifik lokasi pada agroekosistem lahan rawa (Suryana. merupakan daerah potensial untuk pengembangan kerbau rawa. Masalah lain dalam pengembangan kerbau rawa adalah : 1) penurunan mutu bibit. serta memiliki daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan rawa yang banyak ditumbuhi semak-semak dan rumput rawa. terutama di Kabupaten HSS. sehingga ketersediaan hijauan pakan bergantung pada musim. 5) serangan penyakit yang menyebabkan kematian. Ambahai. kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Pemanfaatan lahan lebak untuk usaha pertanian umumnya masih rendah dan bervariasi dari satu kawasan kekawasan lainnya. juga serangan hama dan penyakit yang merupakan salah satu faktor pembatas yang penting. palawija. susu dan pupuk. Kerbau ini biasanya dipelihara di daerah yang banyak air atau dataran rendah berpaya. penunjangstatus sosial. serta pengaturan areal penggembalaan sehingga kebutuhan pakan sepanjang tahun dapat tercukupi (Suryana. 2011). Sapala. pelaksanaan biosekuriti. Kendala pengembangan kerbau rawa di Kalimantan Selatan antara lain adalah makin berkurangnya padang penggembalaan akibat pertambahan jumlah penduduk. hidrotopografi lahannya beragam dan umumnya belum ditata baik. Lahan rawa yang digunakan untuk pemeliharaan kerbau rawa terdapat di Kabupaten HSU. 3) lokasi pemeliharaan kerbau terlalu jauh dari permukiman penduduk sehingga sulit melakukan penyuluhan. sumber tenaga kerja. dan sayuran). terutama untuk daerah pedalaman pada agroekosistem rawa dengan kedalaman air 3−5 m. karena mempunyai areal lahan rawa yang luas dan tersedia sumber pakan hijauan.

Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. 1993. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. dkk. kelembagaan serta sarana dan prasarana penunjang yang ada. Banjarbaru. 2001. sejak lama dan sudah lebih dari ratusan tahun memanfaatkan lahan rawa untuk bercocok tanam padi. prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani. Ismail. kegiatan identifikasi dan karakterisasi wilayah perlu dilakukan secara rinci terhadap kondisi biofisik lahan. M. Sosial Budaya dan Teknologi Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengembangan Pertanian Lahan Lebak di Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Manajemen Lahan Orang Banjar. Rawa Lebak: Ekologi. DAFTAR PUSTAKA Achmadi dan Irsal. Pemanfaatan. M. Dengan memahami kondisi lingkungannya dan belajar dari pengalaman. Noor. khususnya padi dan merupakan salah satu pilihan strategis bagi peningkatan produksi pangan nasional dan dapat dijadikan sebagai lahan abadi untuk mempertahankan produksi pangan nasional. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Rafieq. L. 2007. keterbatasan tenaga dan modal kerja serta kemampuan petani dalam memahami karakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak. 2004. Status. A. Hal ini terutama menyangkut kepemilikan lahan. Petani lokal lebak lahan rawa lebak.pendukung yang umumnya belum memadai atau bahkan belum ada. Kontribusi dan Prospek Pengembangan. 2011. 2011. Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi . Padi merupakan tanaman utama dan dapat di kembangkan hampir lebak semua jenis lahan rawa lebak dari lahan lebak rawa dangkal sampai ke lahan rawa lebak dalam. komoditas potensial. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Potensi Dan Pengembangan Buah Eksotik Di Lahan Rawa. pasca panen dan pemasaran hasil pertanian. KESIMPULAN Lahan rawa lebak memiliki potensi dan prospek besar untuk di manfaatkan sebagai areal produksi pertanian. palawija dan berbagai jenis tanaman hortikultura.1993). dan Pengembangannya. Haris. Proyek Penelitian Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa Swamps II. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak. Sebagai langkah awal yang merupakan tahapan penting dalam pengembangan lahan lebak. A. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian. et al. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Jakarta. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru. petani telah berhasil mengembangkan lahan rawa lebak menjadi daerah pertanian yang subur dan berproduktivitas tinggi. Noor. Sewindu Penelitian Pertanian di Lahan Rawa (1985. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Bogor. ramah lingkungan dan kelestarian produksi tetap tinggi yang berlangsung hingga sampai sekarang ini. Raja Grafindo Persada. sosial ekonomi petani termasuk persepsi petani dan prospek pemasaran komoditas pertanian. sistem usahatani dan pola tanam. penyediaan sarana produksi.

BABIPENDAHULUAN1. Sistem Mata Pencaharian Suku Banjar. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Yogyakarta. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Yusma.PotensilahanlebakyangberadadiInd onesiaanataralaindiSumatraSelatandanKalimantanSelatan. http://rien2023. 2011. 2011. http://yusmabjm.000hekt ar.terdiridarirawalebakdangkalseluas4.166.000ha.blogspot. BAB I PENDAHULUAN1. Rawa Lebak Dan Pertaniannya. R. Rupawan. Susanto. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Banjarbaru 70711. S dan Yanti. Bogor. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan. dkk.039. blogspot. 2011. 1998. 2011. Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Mitra Gama Widya.000ha(WidjajaAdhi.html. Karakteristik Dan Pengelolaan Lahan Rawa. com/2009/02/sistem-mata-pencaharian-suku-banjar-. Banjarbaru. Usaha Pengembangan Kerbau Rawa Di Kalimantan Selatan. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Suryana.. Peluang Dan Potensi Usaha Ternak Itik Di Lahan Lebak. Rien. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011.5%atau300. 2006. Pertanian pd lahan lebak (3) — Document Transcript  1. Potensi lahan rawa lebak di seluruh Indonesia mencapai 14 juta . Potensi lahan lebak yang berada di Indonesia anatara lain di Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan. BPTP Kalimantan Selatan dan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra).Namundemikianpemanfaatannyabelumdilakuka nsecaraoptimal. 1LatarBelakangLahanlebakmerupakansalahsatusumberdayalahanyangpotensialuntukdikembangkanmen jadikawasanpertaniandiIndonesiapadatanamanpangankhusunyapadi. “Beje” Sebagai Kolam Produksi Dilahan Rawa Lebak. Subagyo. Jalan Panglima Batur Barat No. Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang. 2010. Pengantar Fisika Tanah.etal. 4.Pertanian Kalimantan Selatan. Rohaeni.1 Latar Belakang Lahan lebak merupakan salah satu sumberdaya lahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian di Indonesia pada tanaman pangan khusunya padi. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011.PotensilahanrawalebakdiseluruhIndonesiame ncapai14jutahektar.076. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011.Aralyangdimanfaatkanuntukpertanian(padi)diperkirakanmencapai6.lebaktengahanseluas6.1998). Banjarbaru.000hada nlebakdalamseluas3.com/.

Introduksi teknologi usahatani padi lahan lebak adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas lahan.tinggi dan pH 4 . sedangkan tanah gambut di lapangan bisa berupa lapisan gambut utuh atau lapisan gambut berselang seling dengan lapisan tanah mineral. terdiri dari rawa lebak dangkal seluas 4. Lahan lebak dalam letaknya lebih dalam yang pada musim kemarau denganiklim normal umumnya masih tergenang air dan ditumbuhi oleh beragam gulmaterutama jenis Paspalidium.000 ha dan lebak dalam seluas 3. . sehingga wilayah ini merupakan reservoir air dan sumberbibit ikan perairan bebas. Lahan lebak dengan tanah mineral yang berasal dari endapan sungai cukup baik untuk usaha pertanian..2 Tujuan Dengan menerapkan teknologi penataan lahan serta pengelolaan lahan dan komoditas pertanian secara terpadu. lebak tengahan seluas 6.karena adanya pengkayaan dari endapan lumpur yang terbawa luapan air sungai. 3. masa pertanaman padi pada wilayah ini lebih belakang daripada lebakdangkal. Hal ini ditunjukkan oleh petani lokal yang telah mengembangkan berbagai model usaha pertanian di beberapa lokasi lahan lebak dengan menerapkan teknologi kearifan lokal maupun hasil penelitian. Lahan ini umumnya jarang digunakan untuk usaha tanaman.lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi lebak dangkal. Setiap tahun. b) ketebalan gambut. Ilustrasi jenis lahan lebak disajikan pada Gambar berikut ini:2. Lahan lebak tengahan adalah lahan lebak yangtinggi genangan airnya 50-100 cm selama 3-6 bulan. Menurut Adimihardja et al. (1998) pemanfaatan lahan rawa untuk usaha pertanian hendaknya memperhatikan faktor-faktor fisik dan lingkungan yang dapat menjadi kendala dalam pengembangan usaha pertanian (Faktorfaktor tersebut meliputi: a) lama dan kedalaman genangan air banjir serta kualitas air. 1998). dan KTK sedang-tinggi. tetapi keragamannya sangat tinggi antar wilayah atau antar lokasi.076.   hektar. Tanah mineral memiliki tekstur liat dengan tingkat kesuburan alami sedang .5 % atau 300. Pada umumnya nilai N total sedang-tinggi. Namun demikian pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. sehingga walaupun kesuburan tanahnya umumnya tergolong sedang.000 hektar. lahan lebak umumnya mendapat endapan lumpur dari daerah di atasnya. terjadi kemarau panjang. sehingga waktu surutnya air juga lebih belakangan.1. Lahan lebak dangkal umumnya mempunyai kesuburan tanah yang lebih baik. Ptersedia rendah-sedang.039. 2000). sosial ekonomi dan kelembagaan serta dukungan sarana infrastuktur. et al. et al.kecuali pada areal yang periode tidak tergenang airnya lebih dari 2 bulan atau bila 4. BAB II PEMBAHASAN2.000 ha (Widjaja Adhi.1. Tanah mineral bisa berasal dari endapan sungai atau bisa berasal dari endapan marin.000 ha. lebak tengahan dan lebakdalam. Lahan lebak dalam adalah lahanlebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100 cm selama lebih dari 6 bulan(Widyaya Adhi. Aral yang dimanfaatkan untuk pertanian (padi) diperkirakan mencapai 6. 1. 1999).1 Pengelompokan dan Karakteristik Lahan2.. lahan lebak dapat dijadikan sebagai salah satu andalan sumber pertumbuhan agribisnis dan pendukung ketahanan pangan nasional. Olehkarena itu.2 Jenis Tanah dan Karakteristiknya Jenis tanah yang umum dijumpai di lahan lebak adalah tanah mineral dan gambut. c) kedalaman lapisan pirit serta kemasaman setiap lapisan tanahnya. K-tersedia 10-20 ppm sedang. Berdasarkan tinggi dan lama genangan airnya.1 Tipologi Lahan Lebak Lahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal satubulan) tergenang air dan rejim airnya dipengaruhi oleh hujan. Kendala utama pengembangan rawa lebak meliputi faktor biofisik terutama fluktuasi genangan air. kandungan hara dan tingkat kematangan gambut. Produktivitas tanaman pangan di daerah rawa yang sudah dibuka tersebut pada saat ini relatif masih rendah jika dibandingkan dengan produktivitas di lahan beririgasi (Sabran et al. Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya kurangdari 50 cm selama kurang dari 3 bulan. 2.5 serta drainase terhambat sedang. baik yang turunsetempat maupun di daerah sekitarnya.Lahan lebak tengahan mempunyai genangan air yang lebih dalam dan lebih lamadaripada lebak dangkal.166.

Lahan bergambut adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 20-50 cm. yang dapat berupa bahanjenuh air dengan kandungan karbon organik sebanyak 12-18% atau bahan tidak jenuhair dengan kandungan karbon organik sebanyak 20%. Oleh karena itu. Dengan kondisi demikian. hidrotopografi lahannya beragamdan umumnya belum ditata baik. komoditas potensial. 2003. Karakterisasi lahan yang kegiatannya mencakup : pemetaan tanah dan pola(lama dan kedalaman) genangan air atau hidro-topografi ditujukan untuk menyusunkembali model penataan lahan dan jaringan tata air maupun pola tanam danpemilihan komoditas serta teknologi budidayanya.   Sedangkan lahan lebak dengan tanah mineral yang berasal dari endapan marin biasanya memiliki lapisan pirit (FeS2) yang berbahaya bagi tanaman karena bisa meracuni tanaman terutama bila letaknya dekat dengan permukaan tanah. ketersediaan unsur haramakro dan mikro terutama P. reklamasi dan pengelolaan lahan ini harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar tanaman bisa tumbuh dan memberikan hasil yang baik (Alkasuma et al.1.2 Karakterisasi Wilayah dan Perancangan Model Usaha Pertanian2. Zn. musim kemarau terutama di lahan lebak dangkal. 23Lahan gambut sedang adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 100-200 cm. Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah gambut. Tingkat kematangan tanah gambut jugaberagam. Karakterisasi sosial ekonomipetani serta kelembagaan dan prasarana penunjang digunakan untuk pemilihan modelusahatani dan komoditas serta menyempurnakan . pengembangan lahan lebakuntuk pertanian juga menghadapi berbagai kendala. Lahan gambut dalam adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 200-300 cm.kelembagaan serta sarana dan prasarana penunjang yang ada. 2. 7. mengandung zat beracun H2S. 2005).prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani. K. gambutdangkal. setengah matang (sapris) dan mentah (fibris). Lahan gambut dengan karakteristik tanah yang demikian memerlukanteknologi pengelolaan dan pemilihan jenis tanaman atau varietas tertentu agartanaman dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang memadai.2. Alihamsyah. Hal ini terutama menyangkut kepemilikanlahan. Hasilidentifikasi dan karakterisasi wilayah ini digunakan sebagai bahan perancanganmodel pengembangan lahan lebak. yaitu bisa matang (hemis). gambut sedang.3 Masalah dan Kendala Pengembangan Masalah utama pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian adalahkondisirejim airnya fluktuatif dan seringkali sulit diduga. yaitu tanahyang terbentuk dari bahan organik atau sisa-sisa pepohonan. pasca panen dan pemasaranhasil pertanian.2. kegiatan identifikasi dan karakterisasi wilayah perlu dilakukan secararinci terhadap kondisi biofisik lahan. sistem usahatani. Tanah gambut biasanya memiliki tingkat kemasaman yang tinggi karenaadanya asam-asam organik. Selain masalah lahan. kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada 6. dan sebagian lahannya bertanahgambut. Cu dan Bo yang rendah. serta daya sangga tanahyang rendah. yang mencakup : arahan pemanfaatan lahan dansistem usahatani serta pengembangan infrastruktur dan kelembagaan pendukungnya.1 Karakterisasi Wilayah Sebagai langkah awal yang merupakan tahapan penting dalam pengembanganlahan lebak. diantaranya : kondisi sosialekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana pendukung yang umumnyabelum memadai atau bahkan belum ada.lahan gambut yang dijumpai di lahan lebak bisa berupa lahan bergambut. penyediaan sarana produksi. 5. maka pengembangan lahan lebak untuk usahapertanian khususnya tanaman pangan dalam skala luas memerlukan penataan lahandan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnyaagar diperoleh hasil yang optimal. Berdasarkan ketebalannya. sosial ekonomi petanitermasuk persepsi petani dan prospek pemasaran komoditas pertanian. keterbatasan tenaga dan modal kerja serta kemampuan petani dalam memahamikarakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak. dan gambut dalam. Lahan gambut dangkal adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 50-100 cm.

antara lain : dengan analisis deskriptif dan kelayakan pengembangan.6 m yang . antara lain : fisiografi dan penggunaan lahan yang ada serta tinggi dan 10.pola tanam dan alternatif komoditas potensial yang bisa dikembangkan serta teknologibudidayanya. 2.3. disesuaikandengan keadaan fisiografi dan penggunaan lahannya. lahan lebak dangkal dapat ditatasebagai sawah tadah hujan atau kombinasi sawah dan tukungan maupun sistemsurjan. Klasifikasi tanah ditetapkan menurut Soil Taxonomy yangdikonversi menjadi jenis tanah dan tipe lebak. terutama untuk mendelineasi tanah mineral dan tanahgambut.2 Prinsip Dasar Perancangan Model Usaha Pertanian Secara ringkas.6 m dan lebar 1 m. Pada lokasilahan lebak tengahan dan lebak dalam perlu dibuat jaringan tata air berupa saluranbesar yang menghubungkan petakan lahan ke sungai guna mengalirkan air darikawasan lahan ke sungai sehingga air genangan cepat surut dan sekaligus sebagaiprasarana transpotasi.Sedangkan lahan lebak dalam yang karena genangan airnya cukup dalam untuk waktuyang lama.500 untuklokasi areal percontohan dan 1:50. 9. sedangkan lahan lebak tengahan karena genangan airnya lebih dari 50 cmhendaknya ditata sebagai sawah tadah hujan atau kombinasi sawah dan tukungan. 2. Sedangkan pada petakan lahan perlu dibuat parit berukuran lebar 1 m dandalam 0.2 Penataan Lahan dan Jaringan Tata Air Guna mengoptimalkan pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanianyang sekaligus meningkatkan diversifikasi hasil pertanian dan pendapatan. sedangkan lebarnya 2-3m. Skala peta adalah 1:2. meliputi : pola penataan lahan. Alternatifpola penataan lahan menurut tipe lahan lebak dan jenis tanahnya disajikan pada Tabel3.3 Karakterisasi Lahan serta Penataan Lahan dan Tata Air2. pola pikir atau pendekatan dalam perancangan modelpengembangan lahan lebak spesifik lokasi melalui karakterisasi wilayah disajikanpada Gambar 1 dan 2.Dari informasi karakteristik tanah dan tipe lahan lebak serta persepsi petaninyaditentukan pula model usaha pertanian yang sesuai. makadalam jangka panjang perlu dilakukan penataan lahan dan jaringan tata air.Apabila tanahnya berupa gambut.     prasarana pertanian dankelembagaan yang lebih sesuai termasuk pola peningkatan kapasitas petani.Pada petakan lahan yang ditata sistem surjan. Pengamatan tanah meliputijenis dan karakteristik tanah. Di samping itu. Tinggi guludan pada sistem surjan adalah 50-75 cm. Ukuran dukungan adalah tinggi 60-75 cm dan diameter atau sisinya sekitar 2-3 m. perludilakukan perataan lahan bersamaan dengan kegiatan pengolahan tanah. 12. hendaknya dibiarkan alami dan digunakan untuk usaha perikanan.000 untuk areal pengembangan. pada musim kemaraunya digunakan untuk usaha tanaman pangan atau hortikultura. Data atau informasi yang diperolehselanjutnya ditabulasi dan dianalisis dengan metode yang sesuai dengan jenis datadan informasi. fungsinya adalah sebagai pengatur kelengasantanah pada petak sawah dan tempat hidup atau perangkap ikan alam. 8. jangan ditata sebagai surjan walaupun tergolonglahan lebak dangkal.3. periode genangan air. Hasil pengamatan pemboran diplot pada peta dasar untuk menyusun petajenis tanah dan tipe genangan air atau tipe lebak.Karakterisasi wilayah dilakukan oleh Tim multi disiplin terutama aparat dari BPTPdan Dinas Pertanian serta Kimpraswil. tetapi 11. dilakukan penelusuran lapang untuk mengamati faktor fisiklingkungan. yaitu lebak dangkal.1 Karakterisasi Lahan Karakterisasi lahan dilakukan melalui pemetaan dan pengamatan tanahdengan jalan membuat minipit dan mengebor tanah pada jarak 50-500 m. Gunamenyeragamkan tinggi genangan air dan kesuburan tanah di petakan lahan. Karena genangan airnya kurang dari 50 cm.2. tengahan dandalam. Secara ringkas kegiatan karakterisasi wilayah untuk pengembangan lahanlebak disajikan pada Tabel 2. Dari hasil karakterisasi biofisik lahan yang berupa peta jenistanah dan genangan air atau hidro-topografi lahan serta karakteristik tanah dapatditentukan calon lokasi serta perancangan model pengembangan dan area percontohan.2. pada salah satu sisinya digali saluranberukuran dalam 0.

   dilengkapi dengan pintu air sistem tabat guna mengalirkan air daripetakan lahan ke saluran besar dan menampung air pada musim kemarau untukmengairi tanaman serta sekaligus sebagai tempat hidup atau perangkap ikan alam. padi. Penganekaragaman komoditas ini perlu dilakukan untuk meningkatkanpendapatan dan mengurangi resiko kegagalan usahatani. ternak dan ikan. makasistem usahatani yang dapat dikembangkan di lahan lebak adalah sistem usahataniterpadu yang berbasis sumberdaya lokal (kondisi lahan dan komoditas yang sesuai)dengan fokus optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pertaniannya serta hubungansinergistik antar subsistemnya. ternak dan ikan. Dengan demikian. Faktor utama yang paling menentukanpenyusunan pola tanam adalah rejim air khususnya tinggi dan periode genangan ataukedalaman air tanah dan curah hujan.4.4. tanaman sayuran.Usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan pangan bagipetaninya. padi dapat ditanam di lahan lebak sebagai padi sawahmaupun padi gogo rancah (surung) dan rancah gogo (rintak) tergantung kepadapenataan lahan dan kondisi airnya.2. padi dan ternak. Pemilihan sistem usahatani terpadubersifat spesifik dan dinamis yang disesuaikan dengan karakteristik biofisik lahandan kondisi sosial ekonomi setempat serta kemampuan dan preferensi masyarakatnyatermasuk prospek pemasarannya.Sistem jaringan tata air ini akan lebih baik jika dikombinasikan dengan penggunaanpompa air untuk memanfaatkan sungai yang posisinya tidak terlalu jauh dari kawasanlahan lebak. Pemilihan komoditas untuksuatu wilayah pengembangan perlu disesuaikan dengan kondisi dan penataan lahanserta prospek pemasaran hasilnya. ternak dan ikan.2.1 Sistem Usahatani Terpadu Adanya keragaman karakteristik biofisik lahan dan sosial ekonomi.4 Penyusunan Model Usahatani2. dan ikan. palawija. Sedangkan pembuatan jaringan tata airdan pompa hendaknya dilakukan atau dibantu oleh pemerintah. sedangkan untuk padi surung adalah awal musimhujan (3-4 kali hujan) tapi lahan belum . Waktu penanaman padi rintak bisanya bilagenangan air setinggi 10-15 cm. secara garis besar ada duamodel usahatani yang cocok dikembangkan di lahan lebak. tanaman perkebunan. 13. hortikultura. berbagai komoditas pertanian bukan padi dapat diusahakan terutama untuk 15. 2. Dengankondisi air yang demikian. Sedangkan pemilihan varietas tanamannyadidasarkan kepada daya adaptabilitasnya terhadap kondisi lahan lebak yang beragam.2 Model Usahatani Berbasis Padi Kondisi lahan lebak pada musim hujan selalu tergenang air dan pada musimkemarau air tanahnya dangkal (kecuali lebak sangat dalam) akan menjadi mediatumbuh yang baik bagi tanaman padi. sedangkan usahatani berbasis komoditas unggulan dikembangkan padaskala luas dalam perspektif agribisnis oleh pengusaha. diversifikasi produksi dan peningkatan pendapatan. Melalui penataan lahan sesuai dengan karakteristiklahan (tipe lebak dan jenis tanahnya) serta pengaturan pola tanam sesuai dengan rejimairnya. Komoditas yang bisadikembangkan di lahan lebak meliputi : tanaman pangan. hortikultura. Usahataninya harus diarahkan kepada 14. pemilihankomoditas dan teknologi budidayanya disesuaikan dengan karakteristik lahannya. pola tanam. ternak. pengembangannya dapat tetapmenjamin kelestarian sumberdaya alamnya.4. Sistem usahataninyamencakup : aspek penataan lahan dan jaringan pengairan. Penataan lahan sistem surjan atau tukungan dapat dilakukan oleh petanitetapi perlu percontohan dan penyuluhan. Oleh karena itu. padi. tanamanbuah-buahan. pengembangan aneka komoditas dalam suatu sistem usaha terpadu sesuai dengankondisi lahan dan prospek pemasaran hasil pertaniannya. model usahatani berbasis padidapat menjadi pilihan utama pemanfaatan lahan lebak untuk usaha pertanian.termasuk preferensi petani dan konsumen. ternak danikan. padi. Model usahatani berbasis padibisa berupa : padi.3 Penyusunan Pola Tanam Pemilihan pola tanam di lahan lebak harus didasarkan kepada penataan lahanserta periode kering lahan dan pola hujannya. yaitu : model usahataniberbasis tanaman pangan dan model usaha tani berbasis komoditas unggulan. palawija. Dilihat dari pelaku dan tujuan pengembangannya.

pdf tanggal 15 September 2011Widjaja Adhi. Diakses dari : http://balittra. Bogor.litbang. hortikulturaberjarak tanam lebar + sayuran berumur pendek. 2003. T.T. Suparto.palawija dan padi rancah gogo .id/lokal/Kearipan-3%20Rafieq.bera. Suastika. Suriadikarta.padi rancah gogo .analisis. Alternatif pola tanam untuk sawah dan bagian tabukan pada sistem surjan dilahan lebak dangkal adalah padi gogo rancah . 2004. kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.Alkasuma. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak. Badan Litbang Pertanian. Banjarbaru. Balittra. 2005. I. September 2011 Penyusun . Teknologi Usahatani Padi Di Lahan Lebak. Penyunting Trip Alihamsyah dan Izzuddin Noor. palawija/hortikultura bera. Dalam A.). Subiksa. padi gogo rancah -padi rancah gogo palawija/hortikultura dan padi . jagung + sayuran berumur pendek. 53 halaman. 2000.padi rancah gogo. Sutikno 2003.id/abstrak/Document9.palawija/hortikultura atau ditumpangsarikan dengan buah-buahan tahunansedangkan pada tukungan ditanami tanaman buah-buahan tahunan.tumpang sisip jagung + kacang hijau. Las. SISTEM PERTANIAN TERPADU PADA LAHAN RAWA LEBAK Mata Kuliah Sistem Pertanian Berkelanjutan II Disusun oleh : NADYA AVISHINA HADI 150110080213 IMAN MUHARDIONO 150110080222 BILQIS RAZNASTI QULSUM 150110080227 GILANG FAUZI 150110080230 AGROTEKNOLOGI F FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJAJARAN 2011 18.pdf tanggal 15 September 2011Waluyu. Hlm.Alihamsyah. Banjarbaru. Jakarta. dan pengembangan lahan rawa. Bandung. Irianto. Lahan Rawa Pasang Surut : Pendukung Ketahanan Pangan dan Sumber Pertumbuhan Agribisnis. Rafieq.go.hortikultura. pengalaman serta kesempatan yangada.deptan. Balittra.Irsal. segala kritik dan saranyang membangun guna perbaikan makalah ini lebih lanjut. 53 halaman. IGM. Pengelolaan.padi rancah gogo.deptan.NinoBalittra. M. pemanfaatan.Norginayuwati. pengetahuan. 16. A. D.A. dan H.   tergenang air. Idenetifikasi dan karakterisasi lahan rawa lebak untuk pengenbangan padi sawah dalam rangka antisipasi dampak El. Laporan Tahunan Penelitian Pertanian Lahan Rawa Tahun 2003. Oleh karenanya. Pengembangan Lahan Rawa Lebak untuk Usaha Pertanian. Alternatif pola tanam menuruttipe lahan lebak dan penataan lahan disajikan pada Tabel 4. 2004.Alihamsyah. Sutriadi. Karena keterbatasan waktu. dkk. Banjarbaru. T.go.bera . Adimihardjo et al (eds. Ar-Riza. maupun sistematika pembahasannya. dan I. I. Polatanam pada bagian guludan surjan di lahan lebak dangkal adalah palawija/hortikultura. sedangkan polatanam di 33 lahan lebak dalam yang dilengkapi dengan jaringan tata air dan periodetergenangnya air kurang dari 9 bulan adalah padi .palawija/ hortikultura. Puslittanak.W. DAFTAR PUSTAKAAchmadi. Sarwani. dan G.Achmad. Pola tanam untuksawah di lahan lebak tengahan adalah padi gogo rancah .pdf tanggal 15 September 2011Alihamsyah. Potensi dan pendayagunaan lahan rawa dalam rangka peningkatan produksi padi. Diakses dari : http://balittra. Diakses dari : http://balittra. baik dari materi. T.id/prosiding06/Utama-3. Kearifan Budaya Lokal dalam Pemanfaatan Lahan Lebak Untuk Pertanian di Kalimantan Selatan. Sumber Daya Lahan Indoensia dan Pengelolaannya.litbang.Jumberi. 127-164 17. M.litbang. KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esaatas berkat dan karunia-Nya sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas MataKuliah Sitem Pertanian Berkelanjutan II yang berjudul “Sistem Pertanian Terpadu diLahan Rawa Lebak” dengan baik.go. Noor. akan kami terima dengansenang hati.deptan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful