P. 1
Pengertian Kekerasan

Pengertian Kekerasan

|Views: 1,216|Likes:
Published by RinaSeptiani

More info:

Published by: RinaSeptiani on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2013

pdf

text

original

A. Pengertian Kekerasan.

Kekerasan adalah kata yang biasa diterjemahkan dari violence, yang dalam bahasa latin disebut violentia. Violence erat berkaitan dengan gabungan kata latin “vis” (daya, kekuatan) dan “latus” yang berasal dari ferre ( membawa ) yang kemudian berarti membawa kekuatan.1 R. audi merumuskan “violence” sebagai serangan atau penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang, atau serangan, penghancuran, perusakan yang sangat keras, kasar, kejam dan ganas atas milik atau sesuatu yang secara potensial dapat menjadi milik seseorang.2 Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kekerasan adalah perihal atau sifat keras, paksaan, perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain.3 Menurut WHO (1999), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar / trauma atau perampasan hak.4 Adapun pengertian kekerasan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah kekerasan kekerasan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga atau lebih dikenal dengan sebutan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan ini sering kali tidak terungkap karena berada di wilayah ranah domestic yang tidak boleh dicampuri oleh lingkaran luar. Namun, kekerasan ini sering terjadi di lingkungna keluarga yang biasanya perempuan dan anak-anak adalah korbannya. Dalam penulisan skripsi ini penulis memfokuskan kekerasan yang biasa dialami oleh kaum perempuan (isteri). Oleh karena itu perlu kiranya kami mendefinisikan tentang kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan baik di luar maupun di dalam rumah tangga telah berlangsung sejak manusiamenyalahartikan tujuan penciptaan ke dua jenis kelamin manusia itu sendiri. Ketika manusia harus menggunakan otot untuk mempertahankan kehidupannya, maka mulailah terbentuk citra kekuasaan, penguasa dan dikuasai, dipelihara sampai kepada masyarakat modern, hanya dikemas dalam bungkus yang lebih
Johan Galtung, Kekuasaan dan kekerasan menurut Johan Galtung, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1992, cet .1, h. 62. 2 Ibid, h. 63. 3 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ( Jakarta : Balai Pustaka, 1988. h. 758. 4 Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, Pemetaan permasalahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) melalui kerangka alur kerja analisis gender dan anak sebagai data pembuka : laporan penelitian, Pemprop DKI Jakarta dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, ( Jakarta : 2004), h. 21
1

Referensi bagi Hakim Peradilan Agama tentang Kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan TErhadap Aspek-Aspek social Budaya dan pasal 5 Konvensi Perempuan dalam buku Pemahaman Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan ALternatif Pemecahnnya. baik secara fisik. ( Komnas Perempuan : 2008). antara lain sebagaimana disampaikan oleh Sita Aripurnami yaitu pada dasarnya kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk perilaku yang dilakukan oleh pihak pelaku kekerasan yang memunculkan perasaan tidak nyaman dan bahkan rasa takut. status social dan jabatan yang dikemas dengan norma-norma dan nilai-nilai budaya bentukan manusia itu sendiri. bahwa : “kekersaan terhadap perempuan adalah perwujudan ketimpangan historis dari hubungan-hubungan kekuasaan antara lakilaki dan perempuan yang telah mengakibatkan dominasi dan diskriminasi terhadap kaum perempuan oleh kaum laki-laki dan hambatan bagi kemajuan terhadap mereka”. 1992). ( Bandung : PT. Alumni) . Demikian intens pewarisan nilai-nilai dan norma-norma tersebut sehingga bahkan perempuanpun tidak menyadari bahwa dirinya telah selalu menjadi barang milik laki-laki. 2000. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang.5 Dalam deklarasi PBB mengenai hak-hak perempuan. 29.7 Kantor Menteri Negara Pemberdayaan perempuan. h. 116. atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. mendefinisikankekerasan terhadap perempuan yaitu : “ Setiap tindakan yang melanggar. baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi”. menghambat. Ismail Hasani. Termasuk didalmnya ancaman.bervariasi. bermasyarakat. paksaan. Pengetahuan Praktis Tentang Perlindungan Terhadap Perempuan Korban Kekerasan 5 . 2000. ( pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekersaan Terhadap Perempuan.8 Sita Aripurnami. meniadakan kenikmatan. 6 Faqihuddin Abdul Kodir dan Ummu Azizah Mukarnawati. Kekuasaan otot menjadi alat dari berbagai kekuasaan lain yaitu uang. Terdapat beberapa pengertian tentang kekerasan terhadap perempuan. maupun bernegara”. 8 Kantor Meneg PP. secara eksplisit ditegaskan kekerasan terhadap perempuan sebagai : “ Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat. psikis. 20.6 Damanik ( 1998 : 8 ) menyatakan. seksualdan psikologis termasuk ancaman tindakan tertentu. h. Tindakan tersebut mengakibatkan ( dapat mengakibatkan) kerugian dan penderitaan terhadap perempuan dalam hidupnya. berkeluarga. maupun seksual. h. dan mengabaikan hak asasi perempuan atas dasar gender. penyunting Achie Sudiarti Luhulima. Pemetaan Permasalahan Kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT : Laporan Penelitian ). 7 DKI Jakarta. baik dalam kehidupan individu. atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik. ed.

Kekerasan Fisik. Kekerasan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu kekerasan fisik dan kekerasan psikis. jatuh sakit. Tindakan ini seringkali dikaitkan dengan penyiksaan baik secara fisik maupun secara psikis.9 Sedangkan definisi kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan pasal 1 angka 1 Undang-undang No. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hokum dalam lingkup rumah tangga. Suatu Bentuk Kejahatan Yang Jarang Terungkap. Kekerasan fisik merupakan kekerasan nyata yang dapat dilihat dan dapat dirasakan oleh tubuh yang biasanya berupa penghilangan kemampuan normal tubuh bahkan bisa sampai penghilangan nyawa seseorang. Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Hal ini basa disebut “pemukulan” yang menggambarkan siksaan secara fisik atau secara” berulang-ulang. 32. 10 Faqihuddin. bahkan meninggal dunia. biasanya ia telah mengalami kekerasan psikis sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya kekerasan yang dialami seorang isteri memiliki dimensi yang tidak tunggal. kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga.Tindakan kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga terhadap anggota rumah tangga yang lain. luka berat. Tidak sedikit juga yang mengalami kekerasan dan penelantaran ekonomi. Adapun dampak dari kekerasan psikis menyebabkan rasa tidak percaya diri dan rendah hati. kekerasan psikis. Sedangkan kekerasan psikis berupa kekerasan terhadap jiwa atau rohani yang berakibat mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan normal jiwa. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. pemaksaan. Bentuk-bentuk Kekerasan. Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama. yaitu : kekerasan fisik.10 Kekerasan fisik bisa muncul dalam berbagai bentuk dan Sita Aripurnami. psikologis. kekerasan dibagi dalam empat bentuk. seksual. 9 . 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. yaitu : “ Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. Dampak dari kekerasan fisik dapat menyebabkan memar luka ringan. 1. h. h. Didalam UU No. B. atau luka berat” (Pasal 6). 1. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. Seseorang yang menjadi korban kekerasan fisik. “ Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit.

Kekerasan Psikis. berkata dengan nada yang tinggi. (Pasal 7). Kekerasan seksual. 4) Kehilangan salah satu panca indera. 12 . 30. Kekerasan psikis atau kekerasan mental adalah kekerasan yang mengarah pada serangan terhadap mental/psikis seseorang. dan perbuatan lain yang mengakibatkan : 1) Cidera ringan. penghinaan dan ancaman. Kekerasan fisik berat berupa penganiayaan berat seperti menendang. hilangnya rasa percaya diri. dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang”. memukul. pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangga dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau tujuan tertentu. h.rupa. tetapi pemaksaan juga dapat terjadi dalam tataran psikis ( dibawah tekanan sehingga tidak bisa melakukan penolakan dalam bentuk apapun ). luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan kematian. h. ( Pasal 8 ). 32. rasa tidak berdaya. 23 tahun 2004 tentang P-KDRT dijelaskan bahwa. Kata „ Pemaksaan hubungan seksual „ disini lebih diuraikan untuk menghindari penafsiran bahwa pemaksaan hubungan seksual hanya dalam bentuk pemaksaan fisisk semata ( harus adanya unsur penolakan secara verbal atau tindakan ). 11 DKI Jakarta. “Kekerasan Psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. b. 3) Luka berat pada tuubuh korban. membenturkan kebenda yang lain. hilangnya kemampuan untuk bertindak. meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. Faqihuddin. Kekerasan fisik ringan seperti menampar. Berdasarkan pasal 6 UU No. 2) Rasa sakit dan luka fisik yang tidak termasuk dalam kategori berat. ( KDRT : Laporan Penelitian). bisa berbentuk ucapan yang menyakitkan. kekerasan fisik dapat dibagi menjadi dua kategori. 2. Pemetaan Permasalahan Kekerasan dalam rumah tangga. 6) Kematian korban.11 yaitu : a. 3. menarik rambut. Referensi Bagi Hakim Pengadilan Agama. bahkan sampai melakukan percobaan pembunuhan atau melakukan pembunuhan dan semua perbuatan yang dapat mengakibatkan : 1) Sakit yang menimbulkan ketidakmampuan menjalankan kegiatan sehari-hari. 5) Luka yang mengakibatkan cacat. mendorong. 2) Pingsan. 23 tahun 2004 tentang P-KDRT sebagaimana tersebut di atas.12 Sedangkan di dalam UU No.

siulan. 2004. seperti perabaan. kawin paksa ( kawin di bawah umur ). stigma negative. Termasuk dalam katagori ini adalah terror dan intimidasi. dianggap selalu tidak mampu. pemukulan. dan atau menyebabkan kematian. Kekerasan Terhadap Perempuan. direndahakan. ( Yogyakarta : Pustaka Pesanteren ). ialah kekerasan yang bersifat fisik dan non fisik. c. Sedangkan kekerasan non fisik antara lain berupa pelecehan seksual. Kekerasan Terhadap Isteri. 14-15 Zaitunah Subhan. bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga meliputi : a. pelacuran paksa.al. Kekerasan Ekonomi. memaksa isteri baik secara fisik untuk melakukan hubungan seksual dan/atau melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan dan di saat isteri tidak menghendaki. Dalam buku kekerasan terhadap isteri. maupun menjauhkan atau tidak memenuhi kebutuhan seksual isteri. melakukan hubungan seksual dengan cara yang tidak disukai isteri. hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak berdaya serta rasa ketakutan pada isteri. dan ( istri yang ) yang ditinggal suami tanpa kabar berita. Penelantaran sebagaimana dimaksud ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak didalam atau diluar rumah sehingga korban berada dibawah kendali orang tersebut. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. serta pemerkosaan. 2. Kekerasan ekonomi adalah setiap perbuatan yang membatasi isteri untuk bekerja didalam atau diluar rumah yang menghasilkan uang atau barang dan atau membiarkan isteri bekerja untuk dieksploitasi. colekan. membagi bentuk kekerasan dalam dua kategori. perawatan. Kekerasan fisik anatara lain berupa pelecehan seksual. atau menelantarkan anggota keluarga. 2003. 40 . Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang mencakup pelecehan seksual. Kekerasan fisik adalah setiap perbuatan yang menyebabkan rasa sakit. b. dalam arti tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.13 Zaitunnah subhan dalam bukunya yang berjudul kekerasan terhadap perempuan. dia wajib memberikan kehidupan. akploitasi tenaga kerja pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi. cidera. h. yang tidak diinginkan. (Yogyakarta : LKIS). colekan atau bentuk perhatian yang tidak diinginkan. Pasal 9 menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan penelantaran rumah tangga atau dapat diartikan sebagai kekerasan ekonomi terhadap rumah tangga. d.4. yaitu : 1.14 13 14 Fathul Djannah. Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya padahal menurut hokum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian. luka atau cacat pada tubuh seseorang. kawin di bawah tangan. penganiayaan. h. seperti sapaan. Kekerasan psikologis atau psikis adalah setiap perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri. et.

2005. Di pelopori oleh sejumlah LSM / Ormas Perempuan yang tergabung dalam Jangkar ( 1998-1999). 17 Ibid. h. h. 17. pelayanan social dan hokum. Setidaknya. anggota jaringan semakin bertambah menjadi 92 LSM/Ormas Perempuan. M. 3. Mitra Perempuan. SK yang ditandatangani pada tanggal 10 Desember 2003 ini pada intinya membentuk Tim Penanganan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mempunyai cakupan kerja di bidang pencegahan.17 Di tingkat regional. 15 . satu dari sekian banyak agenda perjuangan mereka yang terkait dengan isu perempuan-yakni upaya pencegahan dan penghapusan (isu) Kekerasan Dalam Rumah Tangga-akhirnya membuahkan hasil. 751 tahun 2003 tentang pembentukan tim penanganan terpadu bagi perempuan dan anak Korban kekerasan. Kesepakatan ini menyangkut pelayanan terpadu bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang dilaksanakan bersama dalam bentuk pengobatan dan perawatan fisik. Menteri Kesehatan RI dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Gubernur Provinsi Bengkulu mengeluarkan Surat Keputusan ( SK ) No. Fatayat dan Muslimat NU. Tanggal 22 September 2004 bisa jadi merupakan tanggal bersejarah bagi kalangan feminis di Indonesia. Lokus Kekerasan Terhadap Perempuan 2004. Menteri Luar Negeri Negara-negara ASEAN menandatangani Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. LSM dan Lembaga Professional lainnya. di Jakarta Ratna Batara Munti. Suara Apik : Lahirnya UU Penghapusan dalam Rumah Tangga “Sebuah bentuk terobosan hokum dan implikasinya terhadap hokum nasional”. Dan pada tahun 2002. 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT. LBHJakarta dan Derapwarapsari. penanganan dan pemulihan. 17. (LBH-APIK Jakarta ).Sejarah dan Latar Belakang Lahirnya Undang-undang No. serta pendidikan dan advokasi. 16 Komnas Perempuan. psikis. SPeAK.Si. ditandatangani sebuah Surat Kesepakatan Bersama ( SKB ) antara Menteri Pemberdayaan Perempuan RI. Rifka An-Nisa. Selanjutnya ketika melebur menjadi jangka PKTP ( Jaringan Advokasi Kebijakan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan ) (20002004 ). Savy Amira. Rencana Aksi Nasional untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (RAN-PKTP) dicanangkan oleh kementerian pemberdayaan perempuan. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau dikenal dengan UU KDRT. Edisi Ke-2. h.15 Pada tahun 2001. Gembala Baik. lembaga-lembaga Profesional seperti lembaga advokat juga turut terlibat dalam mengadvokasikan UU PKDRT ini. Pemerintah dan DPR RI akhirnya sepakat untuk mengesahkan UU No.16 Di tingkat daerah. terdiri dari LBH APIK Jakarta (Sebagai penggagas dan pembuat draft awal sejak tahun 1997). Tim ini beranggotakan wakil-wakil dari lingkungan pemerintah. Kalyanamitra.

310 kasus terjadi di dalam rumah tangga. Deklarasi ini berisi dorongan kerjasama regional dalam mengumpulkan dan mendeseminasikan data untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan. Pembentuk hokum dan atau harmonisasi hukum sesuai kaidah hokum yang terdapat dalam konvensi tersebut. 20 Ratna Batara Munti. maupun kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi. tercatat angka kekerasan terhadap perempuan mulai dari tahun 2001 hingga 2004 terus mengalami peningkatan yang signifikan.160 kasus dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 5. Berdasarkan catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan yang disampaikan oleh Komnas Perempuan. . Suara Apik. tahun 2003 meningkat menjadi 7.pada tanggal 13 Juni 2004. melalui siding paripurna di DPR. Dimana kekerasan dalam rumah tangga semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan dari hari kehari. 17. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut sudah menjurus dalam bentuk tindak pidana penganiayaan dan ancaman kepada korban. Kewajiban ini dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang – undangan atau membuat peraturan perundangan baru berdasarkan konvensi yang telah diratifikasi.968 kasus.787 kasus. Pada tahun 2001 tercatat 3. 4. yang dapat menimbulkan rasa tidak aman. RUU diajukan ke komisi VII DPR RI dan diseminarkan di DPR. dorongan untuk melakukan pengarusutamaan gender. dan membuat serta mengubah undang-undang domestik untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. 18 Adapun yang menjadi gagasan dan latar belakang pentingnya pembentukan sebuah UU PKDRT didasarkan atas pengalaman para perempuan korban kekerasan yang terjadi di ranah domestic.163 kasus.5. RUU Anti KDRT yang diusulkan kelompok perempuan secara resmi menjadi RUU Inisiatif DPR. 18 19 Ibid. h. dan tahun 2004 mengalami peningkatan hamper seratus persen menjadi 13.968 kasus ini. Dan dari jumlah 13. rasa ketakutan atau penderitaan psikis berat bahkan kegilaan pada seseorang. Ibid. Puncaknya pada tanggal 13 Mei 2003. Perkembangan penting itu muncul setelah Rapat Paripurna DPR lalu memutuskan membahas RUU KDRT ke dalam bamus DPR. selanjutnya menjadi penting untuk dipahmi oleh berbagai kalangan di negeri ini bahwa legislasi RUU Anti KDRT merupakan keharusan bagi Indonesia sebagai Negara yang telah meratifikasi beberapa konvensi Internasional tentang perempuan dan bukan karena desakan aktivis perempuan. rumah tangga ataupun keluarga.20 Meskipun bermula dar desakan aktivis perempuan. baik kekerasan dalam bentuk fisik. h. promosi pendekatan holistic dan terintegrasi dalam mengeliminasi kekerasan terhadap perempuan.19 Tahun 2002. h. Sebagai konsekuensi dari ratifikasi ini Indonesia harus melakukan : 1. 2. psikologis.

bentuk/ jenis KDRT yang mencakup marital rape ( perkosaan dalam perkawinan). Tidak menerima ketentuan tentang kompensasi dan saksi alternative. namun draft tersebut dianggap mengcewakan. RUU KDRT tersebut dilanjutkan ke sidang paripurna melalui pendapat dari berbagai fraksi dalam rangka memutuskan apakah DPR menolak atau mengesahkan RUU KDRT menjadi Undangundang. terbatas hanya mengatur soal perlindungan terhadap korban. Setelah melalui sidang pleno. Mengembalikan hampir semua terobosan hukum acara pada KUHAP. yang tidak responsive antara lain : 1. bisa dikatakan hamper memangkas semua hal. seperti ruang lingkup.hak perempuan melalui pengedilan nasional dan lembaga pemerintah lainnya.hal krusial yang menjadi ruh dari RUU tersebut. Tidak mengakui dua bentu kekerasan : kekerasan ekonomi dan kekerasan seksual yang terjadi dalam lingkup perkawinan ( diskualifikasi terhadap marital rape dan inses ). Judul dan keseluruhan pengaturan UU. namun cukup a lot. 2. Judul RUU sandingan pemerintah adalah RUU perlindungan korban KDRT. 4. . Penegakan hukum mengenai hak. Pada akhirnya berjalan efektif dalam menjembatani perbedaan pendapat antara kelompok perempuan dan pemerintah. 21 Ibid.21 Meskipun demikian.5. Alsannya karena semua usulan baru dalam RUU pada dasarnya sudah diatur dalam KUHP/ KUHAP. Beberapa catatan dari RUU versi pemerintah.2. 3. h. Pembahasan RUU anti KDRT di DPR ( Pansus Komisi VII ) yang mulai pada tanggal 22 Agustus 2004 berlangsung cepat ( tidak sampai 1 bulan ). Khususnya karena penolakan beberapa anggota dewan terhadap terobosan hokum yang menjadi dasar munculnya RUU. seperti “ satu saksi adalah saksi “. Pemerintah juga mempunyai versi tandingan mengenai draft RUU KDRT. hokum acara tentang pembuktian dan peran – peran aparat. upaya loby ke pemerintah untuk memperbaiki draftnya terus dilakukan secara intensif melalui forum pertemuan (Posko Informasi ) yang diselenggarakan di rumah menteri pemberdaya perempuan.

Sedangkan tujuan UU PKDRT ialah : a. Penghormatan Terhadap HAM. Menindak Pelaku KDRT. Mencegah segala bentuk KDRT. b. Keadilan dan kesetaraan gender.22 2. c. Non Diskriminasi. Melindungi Korban KDRT.Dasar dan tujuan dari disahkannya Undang-undang No. b. 22 . Dasar dari Undang-undang PKDRT adalah : a. d. 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT 1. Perlindungan Korban. c. dan d. Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->