A. Pengertian Kekerasan.

Kekerasan adalah kata yang biasa diterjemahkan dari violence, yang dalam bahasa latin disebut violentia. Violence erat berkaitan dengan gabungan kata latin “vis” (daya, kekuatan) dan “latus” yang berasal dari ferre ( membawa ) yang kemudian berarti membawa kekuatan.1 R. audi merumuskan “violence” sebagai serangan atau penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang, atau serangan, penghancuran, perusakan yang sangat keras, kasar, kejam dan ganas atas milik atau sesuatu yang secara potensial dapat menjadi milik seseorang.2 Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kekerasan adalah perihal atau sifat keras, paksaan, perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain.3 Menurut WHO (1999), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar / trauma atau perampasan hak.4 Adapun pengertian kekerasan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah kekerasan kekerasan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga atau lebih dikenal dengan sebutan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan ini sering kali tidak terungkap karena berada di wilayah ranah domestic yang tidak boleh dicampuri oleh lingkaran luar. Namun, kekerasan ini sering terjadi di lingkungna keluarga yang biasanya perempuan dan anak-anak adalah korbannya. Dalam penulisan skripsi ini penulis memfokuskan kekerasan yang biasa dialami oleh kaum perempuan (isteri). Oleh karena itu perlu kiranya kami mendefinisikan tentang kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan baik di luar maupun di dalam rumah tangga telah berlangsung sejak manusiamenyalahartikan tujuan penciptaan ke dua jenis kelamin manusia itu sendiri. Ketika manusia harus menggunakan otot untuk mempertahankan kehidupannya, maka mulailah terbentuk citra kekuasaan, penguasa dan dikuasai, dipelihara sampai kepada masyarakat modern, hanya dikemas dalam bungkus yang lebih
Johan Galtung, Kekuasaan dan kekerasan menurut Johan Galtung, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1992, cet .1, h. 62. 2 Ibid, h. 63. 3 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ( Jakarta : Balai Pustaka, 1988. h. 758. 4 Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, Pemetaan permasalahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) melalui kerangka alur kerja analisis gender dan anak sebagai data pembuka : laporan penelitian, Pemprop DKI Jakarta dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, ( Jakarta : 2004), h. 21
1

2000. 6 Faqihuddin Abdul Kodir dan Ummu Azizah Mukarnawati. mendefinisikankekerasan terhadap perempuan yaitu : “ Setiap tindakan yang melanggar. seksualdan psikologis termasuk ancaman tindakan tertentu. atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik. 7 DKI Jakarta. 2000. Tindakan tersebut mengakibatkan ( dapat mengakibatkan) kerugian dan penderitaan terhadap perempuan dalam hidupnya. ( pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekersaan Terhadap Perempuan. baik dalam kehidupan individu. h. 8 Kantor Meneg PP. psikis. Kekerasan TErhadap Aspek-Aspek social Budaya dan pasal 5 Konvensi Perempuan dalam buku Pemahaman Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan ALternatif Pemecahnnya. meniadakan kenikmatan. atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. ( Bandung : PT. ed. Referensi bagi Hakim Peradilan Agama tentang Kekerasan dalam rumah tangga. baik secara fisik.6 Damanik ( 1998 : 8 ) menyatakan. ( Komnas Perempuan : 2008). dan mengabaikan hak asasi perempuan atas dasar gender. h. Pengetahuan Praktis Tentang Perlindungan Terhadap Perempuan Korban Kekerasan 5 . paksaan. berkeluarga. maupun seksual. 29.5 Dalam deklarasi PBB mengenai hak-hak perempuan. baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi”. Kekuasaan otot menjadi alat dari berbagai kekuasaan lain yaitu uang. penyunting Achie Sudiarti Luhulima. bermasyarakat. menghambat. secara eksplisit ditegaskan kekerasan terhadap perempuan sebagai : “ Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat. Demikian intens pewarisan nilai-nilai dan norma-norma tersebut sehingga bahkan perempuanpun tidak menyadari bahwa dirinya telah selalu menjadi barang milik laki-laki. Pemetaan Permasalahan Kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT : Laporan Penelitian ). pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Termasuk didalmnya ancaman.8 Sita Aripurnami. status social dan jabatan yang dikemas dengan norma-norma dan nilai-nilai budaya bentukan manusia itu sendiri. antara lain sebagaimana disampaikan oleh Sita Aripurnami yaitu pada dasarnya kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk perilaku yang dilakukan oleh pihak pelaku kekerasan yang memunculkan perasaan tidak nyaman dan bahkan rasa takut. Alumni) .7 Kantor Menteri Negara Pemberdayaan perempuan. 20.bervariasi. Ismail Hasani. maupun bernegara”. h. 1992). Terdapat beberapa pengertian tentang kekerasan terhadap perempuan. bahwa : “kekersaan terhadap perempuan adalah perwujudan ketimpangan historis dari hubungan-hubungan kekuasaan antara lakilaki dan perempuan yang telah mengakibatkan dominasi dan diskriminasi terhadap kaum perempuan oleh kaum laki-laki dan hambatan bagi kemajuan terhadap mereka”. 116.

luka berat. 32. 1. kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga. kekerasan dibagi dalam empat bentuk. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hokum dalam lingkup rumah tangga. Seseorang yang menjadi korban kekerasan fisik. atau luka berat” (Pasal 6). “ Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sedangkan kekerasan psikis berupa kekerasan terhadap jiwa atau rohani yang berakibat mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan normal jiwa. Dampak dari kekerasan fisik dapat menyebabkan memar luka ringan. Kekerasan fisik merupakan kekerasan nyata yang dapat dilihat dan dapat dirasakan oleh tubuh yang biasanya berupa penghilangan kemampuan normal tubuh bahkan bisa sampai penghilangan nyawa seseorang. psikologis. Kekerasan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu kekerasan fisik dan kekerasan psikis. B. bahkan meninggal dunia.10 Kekerasan fisik bisa muncul dalam berbagai bentuk dan Sita Aripurnami. yaitu : “ Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. Bentuk-bentuk Kekerasan. h. Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga. kekerasan psikis. Hal ini basa disebut “pemukulan” yang menggambarkan siksaan secara fisik atau secara” berulang-ulang. 9 . 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 1. biasanya ia telah mengalami kekerasan psikis sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya kekerasan yang dialami seorang isteri memiliki dimensi yang tidak tunggal. h. Kekerasan Fisik. seksual. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. Tindakan ini seringkali dikaitkan dengan penyiksaan baik secara fisik maupun secara psikis. Suatu Bentuk Kejahatan Yang Jarang Terungkap. Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama. Adapun dampak dari kekerasan psikis menyebabkan rasa tidak percaya diri dan rendah hati. yaitu : kekerasan fisik. 10 Faqihuddin. Didalam UU No.Tindakan kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga terhadap anggota rumah tangga yang lain. jatuh sakit. pemaksaan.9 Sedangkan definisi kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan pasal 1 angka 1 Undang-undang No. Tidak sedikit juga yang mengalami kekerasan dan penelantaran ekonomi.

penghinaan dan ancaman. Kekerasan seksual. hilangnya kemampuan untuk bertindak. luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan kematian. rasa tidak berdaya.11 yaitu : a. tetapi pemaksaan juga dapat terjadi dalam tataran psikis ( dibawah tekanan sehingga tidak bisa melakukan penolakan dalam bentuk apapun ). mendorong. “Kekerasan Psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. kekerasan fisik dapat dibagi menjadi dua kategori. 5) Luka yang mengakibatkan cacat. 2) Pingsan. Pemetaan Permasalahan Kekerasan dalam rumah tangga. (Pasal 7). 6) Kematian korban. 11 DKI Jakarta. dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang”. Faqihuddin.rupa. Referensi Bagi Hakim Pengadilan Agama. Kata „ Pemaksaan hubungan seksual „ disini lebih diuraikan untuk menghindari penafsiran bahwa pemaksaan hubungan seksual hanya dalam bentuk pemaksaan fisisk semata ( harus adanya unsur penolakan secara verbal atau tindakan ). ( KDRT : Laporan Penelitian). berkata dengan nada yang tinggi. 4) Kehilangan salah satu panca indera. h. pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangga dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau tujuan tertentu. menarik rambut. ( Pasal 8 ). 2. bahkan sampai melakukan percobaan pembunuhan atau melakukan pembunuhan dan semua perbuatan yang dapat mengakibatkan : 1) Sakit yang menimbulkan ketidakmampuan menjalankan kegiatan sehari-hari. 23 tahun 2004 tentang P-KDRT dijelaskan bahwa. 32. Berdasarkan pasal 6 UU No.12 Sedangkan di dalam UU No. memukul. 12 . Kekerasan fisik berat berupa penganiayaan berat seperti menendang. Kekerasan fisik ringan seperti menampar. Kekerasan psikis atau kekerasan mental adalah kekerasan yang mengarah pada serangan terhadap mental/psikis seseorang. hilangnya rasa percaya diri. 3. h. Kekerasan Psikis. 23 tahun 2004 tentang P-KDRT sebagaimana tersebut di atas. 2) Rasa sakit dan luka fisik yang tidak termasuk dalam kategori berat. 30. dan perbuatan lain yang mengakibatkan : 1) Cidera ringan. meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. 3) Luka berat pada tuubuh korban. b. membenturkan kebenda yang lain. bisa berbentuk ucapan yang menyakitkan.

al. Kekerasan Terhadap Perempuan. yaitu : 1. colekan atau bentuk perhatian yang tidak diinginkan. seperti sapaan. Penelantaran sebagaimana dimaksud ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak didalam atau diluar rumah sehingga korban berada dibawah kendali orang tersebut. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. kawin di bawah tangan. Kekerasan Ekonomi. siulan. kawin paksa ( kawin di bawah umur ). dalam arti tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. 14-15 Zaitunah Subhan. Kekerasan ekonomi adalah setiap perbuatan yang membatasi isteri untuk bekerja didalam atau diluar rumah yang menghasilkan uang atau barang dan atau membiarkan isteri bekerja untuk dieksploitasi. luka atau cacat pada tubuh seseorang. maupun menjauhkan atau tidak memenuhi kebutuhan seksual isteri. atau menelantarkan anggota keluarga. bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga meliputi : a. akploitasi tenaga kerja pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi.13 Zaitunnah subhan dalam bukunya yang berjudul kekerasan terhadap perempuan. Pasal 9 menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan penelantaran rumah tangga atau dapat diartikan sebagai kekerasan ekonomi terhadap rumah tangga. hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak berdaya serta rasa ketakutan pada isteri. b. Kekerasan fisik anatara lain berupa pelecehan seksual. Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya padahal menurut hokum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian. seperti perabaan. serta pemerkosaan. stigma negative. dia wajib memberikan kehidupan. membagi bentuk kekerasan dalam dua kategori. dan ( istri yang ) yang ditinggal suami tanpa kabar berita. colekan. 2. dianggap selalu tidak mampu. Dalam buku kekerasan terhadap isteri. Kekerasan Terhadap Isteri. ( Yogyakarta : Pustaka Pesanteren ). cidera. 40 . pemukulan. pelacuran paksa. 2003. (Yogyakarta : LKIS). c. 2004. direndahakan. yang tidak diinginkan. memaksa isteri baik secara fisik untuk melakukan hubungan seksual dan/atau melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan dan di saat isteri tidak menghendaki. ialah kekerasan yang bersifat fisik dan non fisik. h. d. penganiayaan. melakukan hubungan seksual dengan cara yang tidak disukai isteri. perawatan. Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang mencakup pelecehan seksual. Termasuk dalam katagori ini adalah terror dan intimidasi.14 13 14 Fathul Djannah. dan atau menyebabkan kematian. Sedangkan kekerasan non fisik antara lain berupa pelecehan seksual. h.4. Kekerasan fisik adalah setiap perbuatan yang menyebabkan rasa sakit. et. Kekerasan psikologis atau psikis adalah setiap perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri.

ditandatangani sebuah Surat Kesepakatan Bersama ( SKB ) antara Menteri Pemberdayaan Perempuan RI. 17. Menteri Luar Negeri Negara-negara ASEAN menandatangani Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. 751 tahun 2003 tentang pembentukan tim penanganan terpadu bagi perempuan dan anak Korban kekerasan. satu dari sekian banyak agenda perjuangan mereka yang terkait dengan isu perempuan-yakni upaya pencegahan dan penghapusan (isu) Kekerasan Dalam Rumah Tangga-akhirnya membuahkan hasil. Fatayat dan Muslimat NU. LSM dan Lembaga Professional lainnya. h. 16 Komnas Perempuan.Sejarah dan Latar Belakang Lahirnya Undang-undang No. Kalyanamitra. Gubernur Provinsi Bengkulu mengeluarkan Surat Keputusan ( SK ) No. Di pelopori oleh sejumlah LSM / Ormas Perempuan yang tergabung dalam Jangkar ( 1998-1999). penanganan dan pemulihan. psikis. 17 Ibid.17 Di tingkat regional.15 Pada tahun 2001. Rencana Aksi Nasional untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (RAN-PKTP) dicanangkan oleh kementerian pemberdayaan perempuan. Lokus Kekerasan Terhadap Perempuan 2004. Savy Amira. Gembala Baik. Rifka An-Nisa. Pemerintah dan DPR RI akhirnya sepakat untuk mengesahkan UU No. h. Tim ini beranggotakan wakil-wakil dari lingkungan pemerintah. 17. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau dikenal dengan UU KDRT. Suara Apik : Lahirnya UU Penghapusan dalam Rumah Tangga “Sebuah bentuk terobosan hokum dan implikasinya terhadap hokum nasional”. pelayanan social dan hokum. Edisi Ke-2. di Jakarta Ratna Batara Munti.16 Di tingkat daerah. Setidaknya. Tanggal 22 September 2004 bisa jadi merupakan tanggal bersejarah bagi kalangan feminis di Indonesia. SPeAK. Mitra Perempuan. 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT. Kesepakatan ini menyangkut pelayanan terpadu bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang dilaksanakan bersama dalam bentuk pengobatan dan perawatan fisik. lembaga-lembaga Profesional seperti lembaga advokat juga turut terlibat dalam mengadvokasikan UU PKDRT ini. M. SK yang ditandatangani pada tanggal 10 Desember 2003 ini pada intinya membentuk Tim Penanganan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang mempunyai cakupan kerja di bidang pencegahan. Menteri Kesehatan RI dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. terdiri dari LBH APIK Jakarta (Sebagai penggagas dan pembuat draft awal sejak tahun 1997).Si. (LBH-APIK Jakarta ). Dan pada tahun 2002. serta pendidikan dan advokasi. Selanjutnya ketika melebur menjadi jangka PKTP ( Jaringan Advokasi Kebijakan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan ) (20002004 ). 3. anggota jaringan semakin bertambah menjadi 92 LSM/Ormas Perempuan. h. 15 . 2005. LBHJakarta dan Derapwarapsari.

2. Dimana kekerasan dalam rumah tangga semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan dari hari kehari.968 kasus ini. RUU diajukan ke komisi VII DPR RI dan diseminarkan di DPR.20 Meskipun bermula dar desakan aktivis perempuan. h. tahun 2003 meningkat menjadi 7. Deklarasi ini berisi dorongan kerjasama regional dalam mengumpulkan dan mendeseminasikan data untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan.160 kasus dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 5.pada tanggal 13 Juni 2004.19 Tahun 2002. dan membuat serta mengubah undang-undang domestik untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. 4. psikologis. Sebagai konsekuensi dari ratifikasi ini Indonesia harus melakukan : 1.5. 18 19 Ibid.310 kasus terjadi di dalam rumah tangga. RUU Anti KDRT yang diusulkan kelompok perempuan secara resmi menjadi RUU Inisiatif DPR. tercatat angka kekerasan terhadap perempuan mulai dari tahun 2001 hingga 2004 terus mengalami peningkatan yang signifikan. Kewajiban ini dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang – undangan atau membuat peraturan perundangan baru berdasarkan konvensi yang telah diratifikasi. Puncaknya pada tanggal 13 Mei 2003. Suara Apik. rasa ketakutan atau penderitaan psikis berat bahkan kegilaan pada seseorang. Ibid. 18 Adapun yang menjadi gagasan dan latar belakang pentingnya pembentukan sebuah UU PKDRT didasarkan atas pengalaman para perempuan korban kekerasan yang terjadi di ranah domestic. Pada tahun 2001 tercatat 3. Dan dari jumlah 13. Berdasarkan catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan yang disampaikan oleh Komnas Perempuan. dan tahun 2004 mengalami peningkatan hamper seratus persen menjadi 13. Perkembangan penting itu muncul setelah Rapat Paripurna DPR lalu memutuskan membahas RUU KDRT ke dalam bamus DPR. maupun kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut sudah menjurus dalam bentuk tindak pidana penganiayaan dan ancaman kepada korban.787 kasus. melalui siding paripurna di DPR. . h. yang dapat menimbulkan rasa tidak aman. h. rumah tangga ataupun keluarga.163 kasus. selanjutnya menjadi penting untuk dipahmi oleh berbagai kalangan di negeri ini bahwa legislasi RUU Anti KDRT merupakan keharusan bagi Indonesia sebagai Negara yang telah meratifikasi beberapa konvensi Internasional tentang perempuan dan bukan karena desakan aktivis perempuan. dorongan untuk melakukan pengarusutamaan gender. 20 Ratna Batara Munti. Pembentuk hokum dan atau harmonisasi hukum sesuai kaidah hokum yang terdapat dalam konvensi tersebut.968 kasus. promosi pendekatan holistic dan terintegrasi dalam mengeliminasi kekerasan terhadap perempuan. baik kekerasan dalam bentuk fisik. 17.

Pemerintah juga mempunyai versi tandingan mengenai draft RUU KDRT.hak perempuan melalui pengedilan nasional dan lembaga pemerintah lainnya. . Setelah melalui sidang pleno. 21 Ibid. terbatas hanya mengatur soal perlindungan terhadap korban. Khususnya karena penolakan beberapa anggota dewan terhadap terobosan hokum yang menjadi dasar munculnya RUU. seperti ruang lingkup. RUU KDRT tersebut dilanjutkan ke sidang paripurna melalui pendapat dari berbagai fraksi dalam rangka memutuskan apakah DPR menolak atau mengesahkan RUU KDRT menjadi Undangundang. namun draft tersebut dianggap mengcewakan. 2. Beberapa catatan dari RUU versi pemerintah. namun cukup a lot.hal krusial yang menjadi ruh dari RUU tersebut. Tidak menerima ketentuan tentang kompensasi dan saksi alternative. Pada akhirnya berjalan efektif dalam menjembatani perbedaan pendapat antara kelompok perempuan dan pemerintah. bisa dikatakan hamper memangkas semua hal.5. Pembahasan RUU anti KDRT di DPR ( Pansus Komisi VII ) yang mulai pada tanggal 22 Agustus 2004 berlangsung cepat ( tidak sampai 1 bulan ). seperti “ satu saksi adalah saksi “. h. yang tidak responsive antara lain : 1. 3. Alsannya karena semua usulan baru dalam RUU pada dasarnya sudah diatur dalam KUHP/ KUHAP. Judul RUU sandingan pemerintah adalah RUU perlindungan korban KDRT. 4.2. Mengembalikan hampir semua terobosan hukum acara pada KUHAP. hokum acara tentang pembuktian dan peran – peran aparat. Penegakan hukum mengenai hak. upaya loby ke pemerintah untuk memperbaiki draftnya terus dilakukan secara intensif melalui forum pertemuan (Posko Informasi ) yang diselenggarakan di rumah menteri pemberdaya perempuan. bentuk/ jenis KDRT yang mencakup marital rape ( perkosaan dalam perkawinan).21 Meskipun demikian. Tidak mengakui dua bentu kekerasan : kekerasan ekonomi dan kekerasan seksual yang terjadi dalam lingkup perkawinan ( diskualifikasi terhadap marital rape dan inses ). Judul dan keseluruhan pengaturan UU.

Melindungi Korban KDRT. b. 22 . 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT 1. Mencegah segala bentuk KDRT. dan d. Sedangkan tujuan UU PKDRT ialah : a. Dasar dari Undang-undang PKDRT adalah : a. Penghormatan Terhadap HAM. Non Diskriminasi. Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. Keadilan dan kesetaraan gender. Perlindungan Korban.22 2. c. b. Menindak Pelaku KDRT. c.Dasar dan tujuan dari disahkannya Undang-undang No. d.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful