PROPOSAL PENELITIAN PEREMPUAN KORBAN EKSPLOITASI SEKS KOMERSIAL ANAK (ESKA) DI KOTA KERAWANG http://bambang-rustanto.

blogspot.com/2012/04/penelitian-sosial-seks-komersial-anak.html PUSAT KAJIAN PEREMPUAN DAN GENDER SEKOLAH TINGGI KESEJAHTERAAN SOSIAL BANDUNG-APRIL 2012 A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kota Kerawang adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota Kerawang merupakan kota terbesar ketiga di Provinsi Jawa Barat, di luar wilayah metropolitan Botabek, setelah Bandung dan Tasikmalaya. Kota ini berada di pesisir Laut Jawa, di jalur pantura. Jalur pantura merupakan jalan terpadat di Indonesia yang menghubungkan Jakarta-KerawangSemarang-Surabaya. Secara geografis luas luas wilayah Kota Kerawang adalah 37,36 Km2, yang terdiri dari lima kecamatan dan duapuluh dua Kelurahan. Adapun jumlah penduduknya adalah 272.263 jiwa. Dahulu Kerawang merupakan ibu kota Kerajaan Tarumanegara dan Ibu Kota Kabupaten Kerawang, namun ibu kota Kabupaten Kerawang kini telah dipindahkan ke Cikampek menjadi pusat regional di wilayah pesisir utara Jawa Barat. (www.Kerawangkota.go.id. Rabu 23/02/11). Kerawang juga disebut dengan nama 'Kota Goyang Kerawang'. Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Kerawang biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa Reang. (www.id.wikipedia.org. Rabu 23/02/12). Masalah-masalah sosial yang terjadi di kota ini diantaranya adalah, kemiskinan, konflik dalam hal ini perkelahian antar kampung, peredaran minuman keras dan narkoba, kebiasaan membawa senjata tajam berupa “badik” dikalangan pemuda, munculnya geng motor yang menimbulkan keresahan di masyarakat. (www.Kerawangkota.go.id. Rabu 23/01/2012). Salah satu masalah sosial di Kota Kerawang adalah anak perempuan ESKA karena. Kerawang di kenal sebagai salah satu daerah pemasok anak-Perempuan ESKA di Jakarta, berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Kerawang Jumlah anak jalanan Perempuan yang berada di Kota Kerawang itu sendiri adalah 380 anak. Kegiatan yang dilakukan oleh anak jalanan Perempuan di Kota Kerawang adalah sebagai pengamen dengan jumlah 88 orang, penyemir sepatu 22 orang, pengasong 30 orang, calo 25 orang, penjaja koran 28 orang, pemulung 58 orang, kuli 36 orang, menyewakan payung 31 orang, dan pengemis 62 orang. (Jum’at 07/01/12). Saat ini permasalahan anak jalanan Perempuan bukan hanya mengenai kesehatan anak, dan ancaman terhadap kelangsungan hidup anak, akan tetapi telah berkembang dalam bentuk tindak kekerasan (abuse) dalam bentuk pemukulan, pemerasan, cemoohan dikeroyok dan tindakan kekerasan mental, bahkan tidak jarang anak jalanan Perempuan menjadi korban seks. Masalah ini diperparah lagi dengan adanya eksploitasi seksual komersial anak terhadap anak Perempuan yang belakangan ini sangat pesat dan semakin mencemaskan. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) adalah penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antar anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut. Terungkapnya perdagangan anak di berbagai daerah menjadi indikasi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kejahatan eksploitasi seksual komersial anak (ESKA) dan perdagangan anak. Namun di sisi lain, mencemaskan termasuk UNICEF yang menyatakan bahwa tindak kriminal itu telah merata di banyak daerah dengan melibatkan banyak unsur masyarakat termasuk keluarga (www.pedophiliasexabuse.wordpress.com Senin 21/02/12).

Tuparev adalah 12 orang. Awal pristiwa ini terjadi biasanya anak diberi minuman keras sampai tidak sadarkan diri. Perdagangan anak untuk tujuan seksual atau pelacuran merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan merupakan salah satu bentuk terburuk eksploitasi anak. tukang becak dan orang-orang yang membutuhkan jasa seks serta sudah mengetahui situasi dan kondisi tempat maupun anak Perempuan tersebut. Adapula yang berasal dari Jawa Tengah seperti Brebes. baik dalam proses penarikan anak-anak ke dalam dunia pelacuran dan dalam pekerjaanya serta berdampak terhadap perkembangan fisik. (Sabtu 19/02/12). mental dan moral anak. Subang. Berdasarkan pengamatan di daerah Kota Kerawang serta wawancara dengan sopir angkot. ada beberapa anak Perempuan di Kota Kerawang yang mengalami masalah eksploitasi seksual komersial anak. tukang becak. dan anak Perempuan (pengamen). Anak-anak yang dilacurkan berasal dari Kerawang atau kota-kota kecil disekitarnya seperti Indramayu. Tuparev Kota Kerawang c. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Perempuan Korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) di Kota Kerawang”. psikologis. Peneliti ingin mengetahui tentang masalah Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan Anak Perempuan di Jl. Dari permasalahan pokok. Permasalahan Penelitian Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah diatas. tukang warung pinggir jalan. Fasilitas perdagangan berkembang dengan cepat dari tahun 90-an hingga saat ini. Bagaimana karakteristik informan yang mengalami ESKA ? . Biasanya aktifitas tersebut terjadi pada setiap malam minggu. termasuk tempat-tempat hiburan yang menawarkan pelayanan seks. dan budaya) yang telah dimanfaatkan untuk mengeksploitasi anak. sosial. penulis menjabarkannya kedalam sub-sub permasalahan sebagai berikut : 1. 2. Pelacuran merupakan salah satu bentuk terburuk pekerjaan untuk anak karena sifatnya yang eksploitatif. Ada sekitar lima puluh (50) pekerja seks remaja beroperasi di daerah ini dan sebagian dari mereka berusia di bawah 18 tahun. Masalah perdagangan anak untuk tujuan komersial dan seksual merupakan masalah yang komlpeks karena menyangkut banyak faktor (ekonomi. 19/02/12). Purwkokerto dan Cilacap (Sabtu. Faktor lain yang menyebabkan ESKA adalah keinginan untuk mempunyai gaya hidup yang matrealistis dan lingkungan yang tidak menyenangkan. seksual. b. Pelecehan seksual tersebut biasanya dilakukan di salah satu rumah kosong di Jalan Tuparev oleh teman-temannya sesama anak atau sopir-sopir angkot.Kota Kerawang sebagai kota transit menarik banyak pendatang. Tuparev Kota Kerawang. Akan tetapi ada juga anak perempuan yang sudah melakukan hal tersebut dengan sadar. sehingga mereka mengalami pelecehan secara seksual. dan Majalengka. serta minuman beralkohol. karena anak yang di eksploitasi rentan terhadap kekerasan fisik. termasuk rentan terhadap penyakit menular seksual. Peneliti sudah mempunyai gambaran umum tentang anak Perempuan di Jl. Menurut hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan warga yang berinisial “Y” di daerah Kota Kerawang pelacuran anak Perempuan ditemui di Jalan Tuparev. penggunaan obat-obat terlarang. Menurut keterangan para informan tersebut. maka permasalahan yang menjadi fokus penelitian ini adalah : “Bagaimana Perempuan Korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) di Kota Kerawang. Adapun peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tersebut adalah karena: a. Dari uraian fenomena tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai pengembangan dalam penanganan masalah eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak Perempuan Kota Kerawang. jumlah anak Perempuan yang berada di Jl. yang mengamen di sekitar lampu merah Jalan Tuparev. dimana anak-anak Perempuan khususnya perempuan.

Pembatasan Penelitian a. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) terhadap anak perempuan yang terjadi di Kota Kerawang. sekolah. Konflik dengan anak-anak lain. B. Dalam penelitian ini dilaksanakan di Jalan Tuparev Kota Kerawang. Korban Eksploitasi seks maupun ekonomi b. d. Anak sebagai Aktor Sosial. KAJIAN PUSTAKA 1. Ruang Lingkup Penelitian Di Kota Kerawang banyak terdapat anak Perempuan. yang meliputi: 1) Menggambarkan karakteristik informan 2) Mengetahui kegiatan ESKA yang dilakukan oleh informan 3) Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan informan dieksploitasi seksual komersial. Penyiksaan fisik. Ditangkap polisi. dan Makro). Mezzo. c. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. di Jl. Ahmad Yani. dan masyarakat (Mikro. Di sisi lain seorang ahli memandang anak sebagai subyek yang aktif. 2. Tujuan Penelitian a. Keterbatasan Penelitian Permasalahan yang dihadapi anak Perempuan yang dikemukakan Tata Sudrajat (1997 : 153 ) yaitu: a. Pemuda. Bagaimana harapa-harapan informan yang mengalami ESKA ? 3. Manfaat Penelitian a. sebagaimana dikemukakan oleh Jenks (1997) Anak merupakan dan harus dipandang sebagai subyek yang . b. 4) Mengetahui permasalahan-permasalahan yang dialami informan 5) Mengetahui harapan-harapan informan. b. Tuparev. Bagaimana permasalahan-permasalahan yang dialami informan yang mengalami ESKA ? 5. di Jl. Suatu sistem sosial di dalam struktur yang saling bersarang yang satu berada dalam yang lain di lingkup keluarga. Tuparev Kota Kerawang. 4. yaitu di Terminal. Korban kejahatan dan penggunaan obat. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan informan mengalami ESKA? 4. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan ilmu atau praktek pekerjaan sosial khususnya tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak perempuan Kota Kerawang. Terlibat dalam pelanggaran hukum. Menyusun alternatif program anak yang mengalami ESKA di Jl. e.2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan pemikiran dalam upaya penanganan terhadap permasalahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak perempuan Kota Kerawang. b. Bagaimana kegiatan ESKA yang dilakukan oleh informan ? 3. f. di Jl. Bronfenbrenner (1999) memandang Anak sebagai aktor sosial yang berkembang dalam lingkungan ekologisnya.

Hak untuk mendapatkan pengasuhan pengganti. Hak untuk memperoleh pendidikan dalam rangka mengembangkan pribadi dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat. Hak untuk istirahat dan memanfaatkan waktu luang. 3. i. b. termasuk anak yang masih dalam kandungan”. hak untuk berkembang. masyarakat di mana mereka berada. perlindungan dari segala bentuk kekerasan. Hak untuk mempunyai nama sebagai identitas dan status kewarganegaraan. tumbuh kembang. dan diasuh oleh orang tuanya sendiri. masa bayi hingga mencapai usia dewasa dan mandiri. dibesarkan. bakat. dan kepatutan. Hak untuk beribadah sesuai dengan agamanya d. mental. bakat. dan kemampuannya. anak subyek aktif dari struktur dan proses sosial yang ada. spiritual. dan diskriminasi. penyalahgunaan. kehidupan di seputar mereka dari keluarga. f. hak untuk berperan serta. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. bantuan sosial. bergaul dengan teman sebaya. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) . anak mempunyai beberapa hak yaitu : hak untuk hidup layak. yang dimaksud dengan perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-hak anak agar dapat hidup. menerima. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian. disebutkan bahwa pengertian anak sebagai berikut : ”Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun. Pengertian tersebut berbeda dengan anak menurut Undang-Undang No. k. g. bermain. lingkungan sekolah. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. e. kesusilaan. dan hak untuk menolak menjadi pekerja anak. 23 Tahun 2002 yang menjadi acuan kebijakan perlindungan anak mencakup : a. j. Hak untuk menyatakan pendapat dan informasi. Perlindungan Anak Menurut UU No. hak untuk memperoleh pendidikan. Menurut konvensi tersebut. 4 Tahun 1979 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial yang disebut anak adalah mereka yang berusia belum mencapai 21 tahun. Perlindungan anak juga termaktub didalam Konvensi Hak Anak yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah pada tahun 1990. Hak untuk berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan orang tua. dan sosial. dan tingkat kecerdasan. hak untuk dilindungi. Hak untuk hidup. dan mencari informasi sesuai dengan kecerdasan. Hak anak di dalam UU No. berkembang. Hak untuk memperoleh perlindungan dan bantuan hukum. Hak anak cacat untuk memperoleh rehabilitasi.aktif dalam kontruksi dan determinasi dari kehidupan sosial mereka sendiri. Implikasi dari pengertian tersebut adalah bahwa pada sebuah keluarga terdapat anak-anak yang menjadi tanggung jawab orang tua baik yang masih dalam kandungan. c. h. Di dunia internasional usia anak yang ditetapkan oleh Konvensi PBB tentang Hak Anak disebutkan bahwa anak adalah mereka yang berusia dibawah 18 tahun. tumbuh. dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial l. Hak untuk mengetahui orang tuanya. Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik. Menurut Hurlock (1992) anak adalah saat yang dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual kira-kira 13 tahun untuk perempuan dan 14 tahun untuk laki-laki. Di dalam Undang-undang No. berekreasi sesuai dengan minat. 2.

b. anak dijadikan sebagi objek seks serta objek komersial. pembeli jasa seks. Hal ini terkait dengan dampak negatif dari perkembangan industri pariwisata. Anak tersebut diperlakukan sebagai sebuah objek seksual dan sebagai objek komersial. suami atau orangtua angkat) langsung kepada pembeli atau melalui perantara tertentu. mencakup beberapa jenis. meskipun nantinya menjadi hutang yang harus dibayar mahal oleh korban. Bentuk-bentuk dari kegiatan seksual komersial terhadap anak. atau orang-orang lainnya. kafe. baik Deklarasi Kongres Dunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial terhadap anak maupun ketentuan KHA dan UU Perlindungan Anak mendefinisikan bahwa eksploitasi seksual komersial terhadap anak meliputi kegiatan penyalagunaan seksual anak oleh orang dewasa dengan cara paksa (coercion). Di samping faktor-faktor tersebut. yaitu: 1) Sederhana. Pengertian Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) adalah penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antara anak. Ketidakmampuan suatu keluarga untuk melakukan fungsifungsi/tugas yang seharusnya mereka penuhi khususnya tugas/fungsi memberikan perlindungan dan kasih sayang. jaringan perdagangan anak untuk dilacurkan / eksploitasi anak.id Rabu 16/02/11) . dan terbatasnya lapangan kerja masih merupakan masalah yang belum terselesaikan. yaitu calon korban didatangi atau diajak teman/ tetangga/ saudara/ pacar untuk mencari pekerjaan yang halal di toko. masalah kemiskinan. Jenis-jenis Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Menurut Sri Wahyuningsi dkk (2002:11). teknologi informasi dan komunikasi serta transportasi. (www. yang membentuk pola perilaku seseorang.go. Dalam kenyataanya mereka langsung dijual kepada pembeli di kota tujuan tetapi adapula yang menuju lokasi transit lalu diperkosa dan kemudian baru dijual kepada pembeli langsung. serta pendidikan dan sosialisasi terhadap anak. Selain itu faktor-faktor yang mendorong anak-anak jatuh menjadi korban eksploitasi seksual komersial sangat erat terkait dengan pendidikan yang diberikan oleh keluarganya. (Eksploitasi Seksual Komersial Anak : 9 ). pengangguran. rumah makan ke kota besar dengan imingiming gaji yang besar. 2) Agak kompleks. Salah satu akibat kemiskinan yang berhubungan langsung dengan ESKA adalah putus sekolah. berakibat pada pemaksaan anak untuk masuk ke dalam eksploitasi seksual komersial.a. yaitu calon korban didatangi calo/perantara (orang yang dipekerjaanya mendatangi desa-desa untuk mencari gadis-gadis yang beranjak dewasa untuk disetor atau dijual ke pengumpul atau langsung kepada germo/mucikari) dengan janji mencarikan pekerjaan halal di kota besar dengan gaji besar dan menanggung semua pengeluaran transportasi dan akomodasi. Pelanggaran tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak. 3) Kompleks. ESKA adalah Sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak. Penyebab terjadinya Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Globalisasi dengan segala implikasinya cenderung mendorong terjadinya ESKA. putus sekolah. Eksploitasi seksual komersial anak juga dapat dilihat dalam bentuk paksaan serta kekerasan terhadap anak-anak.depkumham. pemberian uang atau sejenisnya kepada anak yang bersangkutan ataupun kepada pihak ketiga. yaitu calon korban dijual oleh penjual (bisa orangtua. dalam bentuk kerja paksa dan bentuk perbudakan modern (comtemporary form of Slavery). perantara atau agen. c. Faktor lain yang memberikan kontribusi dan mendorong masuknya anak-anak dalam dunia seks komersial adalah: 1) Tradisi kawin usia muda dan mudahnya perceraian . sehingga semakin mendorong terjadinya ESKA. dan pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut. atau orang ketiga. Kemiskinan memang masih merupakan masalah dominan di Indonesia.

5) Hidup yang hanya memikirkan saat ini saja tanpa harus memkirkan masa depan. tradisi pernikahan. kelompok-kelompok. Peran perantara antara lain menerjemahkan permintaan akan pelacur di perkotaan. migrasi para pekerja laki-laki. pelacur aktif). dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan . dan persepsi terhadap pendidikan. sosialisasi. 3) Faktor persediaan. or communities to enchance or restore their capacity for social functioning and create societal condition favorable to their goals. Pengertian Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki dan mengembangkan interaksi-interaksi di antara orang dengan lingkungan sosial sehingga memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. groups. perantara. Permasalahan yang rentan dialami oleh anak Perempuan yang mengalami ESKA adalah sebagai berikut : 1) Kekerasan fisik 2) Tekanan Psikologis 3) Kekerasan Seksual 4) Penyakit menular seksual 5) Penggunaan obat-obat terlarang 6) Minuman beralkohol 4. Pekerjaan Sosial dan Pelayanan Sosial Anak a. terdiri dari faktor pendorong yang meliputi budaya dan kepercayaan sistem patrimonial. meliputi pertumbuhan ekonomi. Bahkan ada kasus orangtua yang menjual keperawanan anaknya sebagai cara mendapatkan uang dengan mudah. kebanggaan menjadi janda. meningkatnya perdagangan anak untuk tujuan seksual merupakan akibat dari berbagai faktor eksternal. yaitu adanya mucikari. dan permintaan (di daerah tujuan). sikap terhadap pernikahan. anak-anak kemudian diperdagangkan sebagai komoditas untuk industri seks. perubahan sosial. dan moral anak. berdampak terhadap perkembangan fisik. Charles Zastrow yang dikutip Dwi Heru Sukoco (1992:7) dalam bukunya yang berjudul Profesi Pekerjaan Sosial mengemukakan definisi pekerjaan sosial sebagai berikut: “Social work is the professional activity of helping individualis. pencari “bakat” pelacur dan penghubung permintaan dan daerah sumber penghasil pelacur. mental. dan materialisme. dan orangtua / kerabat. Permasalahan Anak yang Mengalami Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Adanya Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak Perempuan. perantara. Sedangkan faktor pendukung meliputi perlakuan sosial (kontrol sosial). mengatasi kesulitankesulitan serta mewujudkan aspirasi-aspirasi dan nilai-nilai meraka.2) Kuatnya kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak yang masih perawan dapat membuat laki-laki awet muda dan meningkat kejantananya 3) Fenomena migrasi desa-kota yang dilakukan oleh tenaga kerja tak terdidik. yaitu karena takut akan HIV AIDS dan kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan seorang anak akan menambah awet muda. Beberapa faktor yang termasuk dalam permintaan. dan persediaan adalah sebagai berikut: 1) Faktor permintaan. motif berkuasa. 2) Faktor perantara. Koentjoro (2004) mengkatagorikan tiga faktor yang di anggap sebagi penyebab terjadinya pelacuran yaitu faktor persediaan (komunitas pemasok pelacuran). dan penyamaan anak dengan sawah dan uang yang banyak. Menurut Suyanto. kaki tangan mucikari (mantan pelcur. mobilitas sosial. 4) Gaya hidup perkotaan yang konsumtif. d. dan turisme / pariwisata.” Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu.

Memulihkan kondisi fisik. 5) Pekerja sosial pendamping Anak Balita (AB) Peran Pekerja sosial sebagai pendamping AB adalah memberikan pelayanan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan balita. mental akibat tekanan yang dialami anak. 3) Pekerja sosial pendamping Anak yang mengalami Kecacatan (ADK) Yaitu menolong klien dengan cara menyediakan atau memberikan kesempatan dan fasilitas yang diperlukan untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhannya dan mengembangkan potensipotensi yang dimilikinya 4) Pekerja sosial pendamping anak Perempuan dan Terlantar (AT-AJ) Pekerja sosial pendamping AT-AJ berperan dalam melindungi dan memberdayakan anak Perempuan dan anak terlantar. rohani maupun sosial yang dapat mempengaruhi anak dalam melaksanakan peranan sosialnya. dalam hal ini adalah keberfungsian anak yang berusia belum 18 tahun termasuk anak yang masih ada dalam kandungan sesuai dengan batasan pengertiannya. pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan. melindungi anak dalam melaksanakan tugas-tugasnya kembali sebagai anak baik di rumah. 2) Pekerja sosial pendamping Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) Pekerja sosial pendamping AMPK bertugas memberikan pelayanan dan dukungan terhadap akses rehabilitatif dan reintegrasi bagi anak yang membutuhkannya. dengan tujuan para anak Perempuan tersebut dapat mandiri secara ekonomi. mengembangkan relasi sosial untuk anak dengan orang-orang yang ada disekitarnya dan mewujudkan situasi lingkungan yang mendukung keberfungsian sosial anak serta mencegah terulangnya tindak kekerasan. b. Fungsi-fungsi dasar pekerjaan sosial erat kaitannya dengan keberfungsian sosial dari orang yang ditolong. serta arena belajar dan bermain anak terhadap masyarakat miskin agar anak-anak mendapatkan haknya sebagaimana anak-anak yang lain. Pertolongan yang diberikan kepada dua anak Perempuan yang menjadi korban ESKA ditujukan untuk membantu terhadap permasalahan yang dialami dua anak tersebut serta meningkatkan kemampuan anak dan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan baik jasmani. dan pengaturan perasaan-perasaan. Pelayanan Sosial bagi Anak Dalam pekerjaan sosial pelayanan sosal merupakan suatu implementasi pembangunan kesejahteraan sosial untuk mencapai kesejahteraan sosial. Melindungi anak Perempuan dan anak terlantar dengan cara berpartisipasi aktif dalam meningkatkan peran lembaga-lembaga sosial dan lembaga-lembaga pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap anak Perempuan dan anak terlantar. pengidentifikasian dan pendorongan kekuatankekuatan personal. Pelayanan kesejahteraan sosial juga dapat menciptakan kesempatan sosial bagi anak-anak Perempuan tersebut untuk meningkatkan dan merealisasikan potensi-potensi yang ada. Keberfungsian sosial anak menyangkut aktivitas mereka sehari-hari. khususnya aktivitas dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan.mereka mencapai tujuan. Misalnya memfasilitasi adanya yayasan TPA ( Tempat Penitipan Anak ). Strategi-strategi khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: pemberian harapan. sekolah maupun situasi kehidupan sosialnya. Salah satu wujud pelayanan sosial diarahkan pada pelayanan sosial terhadap anak Perempuan. Sedangkan dalam hal memberdayakan ialah meningkatkan kemampuan skill anak Perempuan dalam bidang tertentu. aktivitas dalam menjalankan peranan dan aktivitas dalam berusaha mengatasi permasalahan yang mereka alami dalam kehidupan. . Pekerja sosial dalam program kesejahteraan sosial anak di bagi menjadi 5 (lima) kluster (www. perlakuan salah dan eksploitasi anak.pksa-kemensos.com). yaitu : 1) Pekerja sosial pendamping Anak yang Berhadapan Dengan Hukum (ABH) Pekerja sosial pendamping ABH membantu klien menangani tekanan situasional dan transisional.

Pada latar demikian peneliti hanya dapat mengamati dan kecil kemungkinannya dapat melakukan wawancara. hubungan peneliti. menjelaskan bahwa : ”Studi kasus. dan sosial. penyebab-penyebab / faktor-faktor yang menyebabkan anak Perempuan di eksploitasi. Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Lexy J. masalah-masalah yang dialami. 2 Ruang Lingkup Data dan Sumber Data Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah anak Perempuan korban ESKA yang bertempat di Jalan Tuparev Kerawang. Nazir (1998 : 66 ). mental. Adapun bentuk pelayanan sosial bagi anak yaitu dengan memberikan perlindungan. Peneliti menggunakan deskripsi latar terbuka dan juga latar tertutup. sehingga dapat melakukan penelitian yang mendalam terhadap subyek yang dipilih. masyarakat dan negara. Maxfield dalam Moh. lembaga. toko. Moleong (2010:4) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai berikut: “Metode Kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati”. bioskop. . Dalam penelitian ini. C. hubungan antara peneliti dengan subyek juga kurang mesra. Hal ini perlu diperhitungkan peneliti sehingga strategi pengumpulan datanya dapat lebih efektif. dengan alasan dalam melakukan penelitian tehadap informan dapat dilakukan diluar rumah dalam halaman seperti di jalann. Moleong (2000 : 94). penelitian kasus (Case Study). kelompok. METODE PENELITIAN 1 Desain Penelitian Pada penelitian ini.Selain itu pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak tidak terlepas dari prinsip-prinsip tentang hak orang tua. Dengan demikian penanganan masalah anak dalam konteks pekerjaan sosial haruslah dilakukan secara holistik-komprehensip. Melalui penelitian ini. Kaitannya dengan penelitian. Peneliti mengambil studi kasus sebagai desain penelitian. tumbuh kembang. Tujuan lain adalah untuk dapat memberikan gambaran secara detail dari individu dalam hal ini mengenai eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak Perempuan Kerawang. di taman maupun didalam lingkungan keluarga (rumah) informan. Sebaliknya pada latar tertutup. hak anak. dengan subyek harus akrab dan diperlukan strategi khusus untuk dapat mengamati dan melakukan wawancara mendalam. yakni menempatkan anak dalam konteks situasi total keluarga. peneliti mencoba melihat bagaimana anak Perempuan yang mengalami eksploitasi secara seksual komersial menjalani kehidupannya. orang berkumpul di taman. Subyek penelitian dapat individu. adalah penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas”. bimbingan dan pembinaan baik fisik. dan ruang tunggu rumah sakit. di alun-alun. dalam hal ini mengenai ”Eksploitasi Seksual Komersial Dikalangan Anak Perempuan”. serta keterampilan kepada anak agar dapat hidup. dan berpartisipasi secara wajar. Seperti dijelaskan Lofland dan Lofland dalam Lexy J. dan harapan-harapan anak Perempuan.” Sumber data yang akan dipergunakan pada Penelitian ini meliputi sumber data primer dan sumber data sekunder. dan hak negara. metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. maupun masyarakat. peneliti ingin mempelajari secara jelas latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subyek. bahwa : ”Latar terbuka terdapat dilapangan umum seperti tempat berpidato. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus terhadap 2 (dua) anak Perempuan yang menjadi korban eksploitasi seksksual komersial anak (ESKA).

Sumber data sekunder dapat berupa dokumen. peneliti melihat langsung situasi dan kondisi Anak Perempuan yang mengalami ESKA di Jl. Dalam melakukan wawancara peneliti mengacu kepada pedoman wawancara yang telah disusun. buku. gambar hidup. Sugiyono (2005:82) mengemukakan bawa ”Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu”. Analisis Data .a. seperti di Dinas Sosial Kota Kerawang. juga untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari informan dengan meminta pendapat dan ide-ide dari mereka. biografi. dan lain-lain. peraturan kebijakan. Sumber Data Primer Sumber data Primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari informan yaitu 12 anak Perempuan yang mengalami ESKA di Jl. Observasi ini dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai orang luar atau pengamat dengan tujuan untuk lebih memahami dan mendalami permasalahan yang dihadapi oleh anak Perempuan yang mengalami ESKA. Cerita. Kemudian setelah terjalin komunikasi dan relasi yang baik peneliti mengutarakan maksud dan tujuan wawancara serta memohon kesediaanya untuk memberikan informasi yang diketahuinya tentang permasalahan penelitian. Kedua. Observasi digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara pengamatan untuk memperoleh data dari informan yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan informan selama proses penelitian. Studi Dokumentasi Peneliti melakukan studi dokumentasi dengan cara mengumpulkan dan mempelajari data dari dokumen-dokumen resmi yang berhubungan dengan obyek penelitian seperti hasil penelitian. dalam melakukan wawancara peneliti menjalin komunkasi dan relasi yang baik dengan informan. situs internet yang berhubungan dengan anak Perempuan dan ESKA. majalah ilmiah. dokumen pribadi dan dokumen resmi. Tuparev Kerawang. Dalam Observasi ini. Apabila ada respon baik dari informan untuk memberikan informasi yang dimilikinya. 3 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : a. Sumber Data Sekunder Sumber data sekunder adalah data yang dikumpulkan untuk melengkapi data primer terkait dengan permasalahan yang diteliti. Dokumen bisa berbentuk tulisan. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian. sketsa. gambar. b. Proses yang digunakan ialah pertama: peneliti secara langsung mengunjungi informan ditempat-tempat yang memungkinkan untuk dapat menggali informasi. sejarah kehidupan (life historis). cara yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi yang dapat memberikan keterangan tambahan mengenai masalah yang akan diteliti tersebut. di Jalan-jalan. misalnya foto. sehingga peneliti memperoleh gambaran tentang masalah eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak Perempuan. atau karya-karya monumental sesorang. sumber dari arsip. dan di angkot. Hasil observasi tersebut selanjutnya dicatat dan dicocokan dengan wawancara. Observasi Partisipasi (Participant Observation) Observasi Partisipasi (Participant Observation). maka teknik ini dapat berubah menjadi teknik wawancara terstruktur: yakni wawancara yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terikat pada pedoman wawancara yang telah tersusun. . Kota Kerawang. Wawancara mendalam (Indepth Interview) Wawancara merupakan percakapan langsung antara peneliti dengan informan yang mengarah pada penggalian data yang diperlukan dengan menggunakan pedoman wawancara. b. Wawancara mendalam (Indepth Interview) digunakan sebagai teknik pengumpulan data selain untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti secara terbuka. wawancara tidak terstruktur (Unstructuring Interviewing) : yakni wawancara yang dilakukan secara lebih bebas dan leluasa tanpa terikat oleh pedoman wawancara. c. Dokumen yang berbentuk gambar.Tuparev. foto dan data statistik.

Auditor bisa dilakukan oleh orang luar yang sifatnya independent termasuk pembimbing untuk melakukan audit terhadap seluruh proses aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Oleh karena itu uji ini bisa dicapai melalui cara peneliti dalam membuat laporan. Uji Kredibilitas. Transkrip ini kemudian dibandingkan dengan data – data yang dari sumber lain untuk mendapatkan kepastian data yang sesuai dengan tujuan penelitian. sistematis. Penelitian dikatakan objektif apabila hasil penelitian telah disepakati oleh banyak orang. uji dilakukan untuk memperoleh objektivitas penelitian. 4. Uji Konfirmability. analisa kasus negative. yaitu suatu proses untuk memperoleh kepercayaan data yang bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti perpanjangan pengamatan. Validitas / keabsahan Data Dalam penelitian kualitatif temuan dikatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara temuan yang dilaporkan peneliti dengan keadaan sesungguhnya di lapangan. Dalam penelitian kualitatif uji ini untuk melihat sejauh mana hasil penelitian bisa diterapkan dalam situasi lain (transfer). Pembuatan Thema. Secara umum prinsip didalam penelitian kualitatif yang bersifat induktif menemukan beberapa thema yang muncul setelah membandingkan dari satu transkrip ke transkrip lainnnya. Uji Transferability. Diposkan oleh bambang rustanto di 07:02 . Themathema ini yang akan menuntun peneliti untuk menentukan thema utama. uji ini dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Transkrip Data. 3.Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pandangan Sarantakos (1999) dan Netting (1999). Uji ini hampir sama dengan uji mirip dengan uji konfirmability. dan member check. maka peneliti dalam menarik kesimpulan umum dan khusus terhadap hasil penelitian ini yang dapat digunakan untuk menambah khasanah konseptual dan teoritis yang telah ada dan pendekatan baru pekerjaan sosial dalam menangani masalah lansia atau menyumbang untuk kelanjutan bagi penelitian selanjutnya. triangulasi. uji ini dalam penelitian kuantitatif dikenal dengan validitas eksternal. Apabila hasil penelitian sesuai dengan proses yang dilakukan. maka penelitian tersebut telah memenuhi konfirmability. yaitu : 1. Hasil wawancara mendalam ditranskrip kedalam deskriptif dan digunakan untuk melihat ketepatan data yang akan dikonfirmasi ulang dengan informan yang memberi data. Uji Depenability. Langkah-langkah tersebut dilakukan dengan beberapa tahapan berikut: 1. dan dapat dipercaya. Dengan demikian pembaca menjadi jelas sehingga bisa memutuskan dapat atau tidaknya hasil penelitian ini ditransfer di tempat lain. 2. Kesimpulan Berdasarkan thema utama yang sudah dikonfirmasikan theory yang ada. tetapi jamak dan tergantung pada pengalaman serta latar belakang dari peneliti itu sendiri. 2. Untuk melihat keabsahan data dalam penelitian kualitatif digunakan dengan beberapa cara. jelas. 3. diskusi teman sejawat. Namun demikian realitas kebenaran data dalam penelitian kualitatif tidak tunggal. yaitu harus rinci. oleh karena itu bisa dilakukan secara bersamaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful