P. 1
Bambang_perempuan Korban Eksploitasi Seks

Bambang_perempuan Korban Eksploitasi Seks

|Views: 101|Likes:
Published by Edwindha Pn

More info:

Published by: Edwindha Pn on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2012

pdf

text

original

PROPOSAL PENELITIAN PEREMPUAN KORBAN EKSPLOITASI SEKS KOMERSIAL ANAK (ESKA) DI KOTA KERAWANG http://bambang-rustanto.

blogspot.com/2012/04/penelitian-sosial-seks-komersial-anak.html PUSAT KAJIAN PEREMPUAN DAN GENDER SEKOLAH TINGGI KESEJAHTERAAN SOSIAL BANDUNG-APRIL 2012 A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kota Kerawang adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota Kerawang merupakan kota terbesar ketiga di Provinsi Jawa Barat, di luar wilayah metropolitan Botabek, setelah Bandung dan Tasikmalaya. Kota ini berada di pesisir Laut Jawa, di jalur pantura. Jalur pantura merupakan jalan terpadat di Indonesia yang menghubungkan Jakarta-KerawangSemarang-Surabaya. Secara geografis luas luas wilayah Kota Kerawang adalah 37,36 Km2, yang terdiri dari lima kecamatan dan duapuluh dua Kelurahan. Adapun jumlah penduduknya adalah 272.263 jiwa. Dahulu Kerawang merupakan ibu kota Kerajaan Tarumanegara dan Ibu Kota Kabupaten Kerawang, namun ibu kota Kabupaten Kerawang kini telah dipindahkan ke Cikampek menjadi pusat regional di wilayah pesisir utara Jawa Barat. (www.Kerawangkota.go.id. Rabu 23/02/11). Kerawang juga disebut dengan nama 'Kota Goyang Kerawang'. Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Kerawang biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa Reang. (www.id.wikipedia.org. Rabu 23/02/12). Masalah-masalah sosial yang terjadi di kota ini diantaranya adalah, kemiskinan, konflik dalam hal ini perkelahian antar kampung, peredaran minuman keras dan narkoba, kebiasaan membawa senjata tajam berupa “badik” dikalangan pemuda, munculnya geng motor yang menimbulkan keresahan di masyarakat. (www.Kerawangkota.go.id. Rabu 23/01/2012). Salah satu masalah sosial di Kota Kerawang adalah anak perempuan ESKA karena. Kerawang di kenal sebagai salah satu daerah pemasok anak-Perempuan ESKA di Jakarta, berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Kerawang Jumlah anak jalanan Perempuan yang berada di Kota Kerawang itu sendiri adalah 380 anak. Kegiatan yang dilakukan oleh anak jalanan Perempuan di Kota Kerawang adalah sebagai pengamen dengan jumlah 88 orang, penyemir sepatu 22 orang, pengasong 30 orang, calo 25 orang, penjaja koran 28 orang, pemulung 58 orang, kuli 36 orang, menyewakan payung 31 orang, dan pengemis 62 orang. (Jum’at 07/01/12). Saat ini permasalahan anak jalanan Perempuan bukan hanya mengenai kesehatan anak, dan ancaman terhadap kelangsungan hidup anak, akan tetapi telah berkembang dalam bentuk tindak kekerasan (abuse) dalam bentuk pemukulan, pemerasan, cemoohan dikeroyok dan tindakan kekerasan mental, bahkan tidak jarang anak jalanan Perempuan menjadi korban seks. Masalah ini diperparah lagi dengan adanya eksploitasi seksual komersial anak terhadap anak Perempuan yang belakangan ini sangat pesat dan semakin mencemaskan. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) adalah penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antar anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut. Terungkapnya perdagangan anak di berbagai daerah menjadi indikasi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kejahatan eksploitasi seksual komersial anak (ESKA) dan perdagangan anak. Namun di sisi lain, mencemaskan termasuk UNICEF yang menyatakan bahwa tindak kriminal itu telah merata di banyak daerah dengan melibatkan banyak unsur masyarakat termasuk keluarga (www.pedophiliasexabuse.wordpress.com Senin 21/02/12).

Dari uraian fenomena tersebut. 19/02/12). 2. Pelacuran merupakan salah satu bentuk terburuk pekerjaan untuk anak karena sifatnya yang eksploitatif. termasuk rentan terhadap penyakit menular seksual. Peneliti sudah mempunyai gambaran umum tentang anak Perempuan di Jl. Bagaimana karakteristik informan yang mengalami ESKA ? . Perdagangan anak untuk tujuan seksual atau pelacuran merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan merupakan salah satu bentuk terburuk eksploitasi anak. jumlah anak Perempuan yang berada di Jl. Anak-anak yang dilacurkan berasal dari Kerawang atau kota-kota kecil disekitarnya seperti Indramayu. tukang warung pinggir jalan. maka permasalahan yang menjadi fokus penelitian ini adalah : “Bagaimana Perempuan Korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) di Kota Kerawang. sosial. mental dan moral anak. psikologis. Menurut hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan warga yang berinisial “Y” di daerah Kota Kerawang pelacuran anak Perempuan ditemui di Jalan Tuparev. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai pengembangan dalam penanganan masalah eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak Perempuan Kota Kerawang. Peneliti ingin mengetahui tentang masalah Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan Anak Perempuan di Jl.Kota Kerawang sebagai kota transit menarik banyak pendatang. Tuparev Kota Kerawang c. ada beberapa anak Perempuan di Kota Kerawang yang mengalami masalah eksploitasi seksual komersial anak. Awal pristiwa ini terjadi biasanya anak diberi minuman keras sampai tidak sadarkan diri. Fasilitas perdagangan berkembang dengan cepat dari tahun 90-an hingga saat ini. Purwkokerto dan Cilacap (Sabtu. Tuparev Kota Kerawang. penulis menjabarkannya kedalam sub-sub permasalahan sebagai berikut : 1. seksual. sehingga mereka mengalami pelecehan secara seksual. dan anak Perempuan (pengamen). Subang. tukang becak. yang mengamen di sekitar lampu merah Jalan Tuparev. Biasanya aktifitas tersebut terjadi pada setiap malam minggu. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Perempuan Korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) di Kota Kerawang”. termasuk tempat-tempat hiburan yang menawarkan pelayanan seks. Berdasarkan pengamatan di daerah Kota Kerawang serta wawancara dengan sopir angkot. dan budaya) yang telah dimanfaatkan untuk mengeksploitasi anak. Permasalahan Penelitian Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah diatas. baik dalam proses penarikan anak-anak ke dalam dunia pelacuran dan dalam pekerjaanya serta berdampak terhadap perkembangan fisik. Ada sekitar lima puluh (50) pekerja seks remaja beroperasi di daerah ini dan sebagian dari mereka berusia di bawah 18 tahun. b. serta minuman beralkohol. Tuparev adalah 12 orang. (Sabtu 19/02/12). Menurut keterangan para informan tersebut. Adapun peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tersebut adalah karena: a. penggunaan obat-obat terlarang. Faktor lain yang menyebabkan ESKA adalah keinginan untuk mempunyai gaya hidup yang matrealistis dan lingkungan yang tidak menyenangkan. dan Majalengka. Pelecehan seksual tersebut biasanya dilakukan di salah satu rumah kosong di Jalan Tuparev oleh teman-temannya sesama anak atau sopir-sopir angkot. Masalah perdagangan anak untuk tujuan komersial dan seksual merupakan masalah yang komlpeks karena menyangkut banyak faktor (ekonomi. Akan tetapi ada juga anak perempuan yang sudah melakukan hal tersebut dengan sadar. Adapula yang berasal dari Jawa Tengah seperti Brebes. tukang becak dan orang-orang yang membutuhkan jasa seks serta sudah mengetahui situasi dan kondisi tempat maupun anak Perempuan tersebut. karena anak yang di eksploitasi rentan terhadap kekerasan fisik. dimana anak-anak Perempuan khususnya perempuan. Dari permasalahan pokok.

Tuparev. d. Terlibat dalam pelanggaran hukum. yaitu di Terminal. Manfaat Penelitian a. e. Di sisi lain seorang ahli memandang anak sebagai subyek yang aktif. b. 2. Tujuan Penelitian a. c. di Jl. sebagaimana dikemukakan oleh Jenks (1997) Anak merupakan dan harus dipandang sebagai subyek yang . Ditangkap polisi. Tuparev Kota Kerawang. Korban kejahatan dan penggunaan obat. Bagaimana permasalahan-permasalahan yang dialami informan yang mengalami ESKA ? 5. di Jl. 4. 4) Mengetahui permasalahan-permasalahan yang dialami informan 5) Mengetahui harapan-harapan informan. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Penyiksaan fisik. Bagaimana harapa-harapan informan yang mengalami ESKA ? 3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan informan mengalami ESKA? 4. Anak sebagai Aktor Sosial.2. dan Makro). Bagaimana kegiatan ESKA yang dilakukan oleh informan ? 3. Menyusun alternatif program anak yang mengalami ESKA di Jl. Pemuda. Pembatasan Penelitian a. Bronfenbrenner (1999) memandang Anak sebagai aktor sosial yang berkembang dalam lingkungan ekologisnya. sekolah. Ruang Lingkup Penelitian Di Kota Kerawang banyak terdapat anak Perempuan. di Jl. Mezzo. dan masyarakat (Mikro. Korban Eksploitasi seks maupun ekonomi b. Ahmad Yani. KAJIAN PUSTAKA 1. b. Dalam penelitian ini dilaksanakan di Jalan Tuparev Kota Kerawang. Konflik dengan anak-anak lain. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan pemikiran dalam upaya penanganan terhadap permasalahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak perempuan Kota Kerawang. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan ilmu atau praktek pekerjaan sosial khususnya tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak perempuan Kota Kerawang. Suatu sistem sosial di dalam struktur yang saling bersarang yang satu berada dalam yang lain di lingkup keluarga. Keterbatasan Penelitian Permasalahan yang dihadapi anak Perempuan yang dikemukakan Tata Sudrajat (1997 : 153 ) yaitu: a. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) terhadap anak perempuan yang terjadi di Kota Kerawang. B. b. f. yang meliputi: 1) Menggambarkan karakteristik informan 2) Mengetahui kegiatan ESKA yang dilakukan oleh informan 3) Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan informan dieksploitasi seksual komersial.

bantuan sosial. Menurut konvensi tersebut. Hak untuk hidup.aktif dalam kontruksi dan determinasi dari kehidupan sosial mereka sendiri. mental. Hak anak cacat untuk memperoleh rehabilitasi. Hak untuk mengetahui orang tuanya. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. kesusilaan. anak subyek aktif dari struktur dan proses sosial yang ada. Hak untuk berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan orang tua. dan kepatutan. perlindungan dari segala bentuk kekerasan. Hak untuk menyatakan pendapat dan informasi. Hak untuk mendapatkan pengasuhan pengganti. masa bayi hingga mencapai usia dewasa dan mandiri. bakat. tumbuh kembang. Perlindungan Anak Menurut UU No. yang dimaksud dengan perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-hak anak agar dapat hidup. Hak untuk istirahat dan memanfaatkan waktu luang. b. dibesarkan. e. Hak untuk beribadah sesuai dengan agamanya d. Perlindungan anak juga termaktub didalam Konvensi Hak Anak yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah pada tahun 1990. dan diskriminasi. hak untuk memperoleh pendidikan. berkembang. h. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) . Pengertian tersebut berbeda dengan anak menurut Undang-Undang No. i. 3. dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian. c. 4 Tahun 1979 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial yang disebut anak adalah mereka yang berusia belum mencapai 21 tahun. disebutkan bahwa pengertian anak sebagai berikut : ”Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun. spiritual. g. lingkungan sekolah. Hak untuk mempunyai nama sebagai identitas dan status kewarganegaraan. Hak untuk memperoleh pendidikan dalam rangka mengembangkan pribadi dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat. bermain. hak untuk berperan serta. Menurut Hurlock (1992) anak adalah saat yang dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual kira-kira 13 tahun untuk perempuan dan 14 tahun untuk laki-laki. dan tingkat kecerdasan. menerima. bakat. f. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. dan kemampuannya. anak mempunyai beberapa hak yaitu : hak untuk hidup layak. dan mencari informasi sesuai dengan kecerdasan. j. penyalahgunaan. kehidupan di seputar mereka dari keluarga. dan sosial. tumbuh. Di dunia internasional usia anak yang ditetapkan oleh Konvensi PBB tentang Hak Anak disebutkan bahwa anak adalah mereka yang berusia dibawah 18 tahun. Di dalam Undang-undang No. Implikasi dari pengertian tersebut adalah bahwa pada sebuah keluarga terdapat anak-anak yang menjadi tanggung jawab orang tua baik yang masih dalam kandungan. bergaul dengan teman sebaya. dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial l. hak untuk dilindungi. dan diasuh oleh orang tuanya sendiri. Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik. berekreasi sesuai dengan minat. k. Hak untuk memperoleh perlindungan dan bantuan hukum. Hak anak di dalam UU No. termasuk anak yang masih dalam kandungan”. masyarakat di mana mereka berada. 2. dan hak untuk menolak menjadi pekerja anak. hak untuk berkembang. 23 Tahun 2002 yang menjadi acuan kebijakan perlindungan anak mencakup : a.

Selain itu faktor-faktor yang mendorong anak-anak jatuh menjadi korban eksploitasi seksual komersial sangat erat terkait dengan pendidikan yang diberikan oleh keluarganya.a. suami atau orangtua angkat) langsung kepada pembeli atau melalui perantara tertentu. Dalam kenyataanya mereka langsung dijual kepada pembeli di kota tujuan tetapi adapula yang menuju lokasi transit lalu diperkosa dan kemudian baru dijual kepada pembeli langsung. pembeli jasa seks. yaitu calon korban didatangi calo/perantara (orang yang dipekerjaanya mendatangi desa-desa untuk mencari gadis-gadis yang beranjak dewasa untuk disetor atau dijual ke pengumpul atau langsung kepada germo/mucikari) dengan janji mencarikan pekerjaan halal di kota besar dengan gaji besar dan menanggung semua pengeluaran transportasi dan akomodasi. c. masalah kemiskinan. Pengertian Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) adalah penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antara anak. Kemiskinan memang masih merupakan masalah dominan di Indonesia. 2) Agak kompleks. pemberian uang atau sejenisnya kepada anak yang bersangkutan ataupun kepada pihak ketiga. atau orang ketiga. Di samping faktor-faktor tersebut.depkumham. rumah makan ke kota besar dengan imingiming gaji yang besar. yaitu: 1) Sederhana. perantara atau agen. baik Deklarasi Kongres Dunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial terhadap anak maupun ketentuan KHA dan UU Perlindungan Anak mendefinisikan bahwa eksploitasi seksual komersial terhadap anak meliputi kegiatan penyalagunaan seksual anak oleh orang dewasa dengan cara paksa (coercion). (Eksploitasi Seksual Komersial Anak : 9 ). jaringan perdagangan anak untuk dilacurkan / eksploitasi anak. Pelanggaran tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak. Ketidakmampuan suatu keluarga untuk melakukan fungsifungsi/tugas yang seharusnya mereka penuhi khususnya tugas/fungsi memberikan perlindungan dan kasih sayang. berakibat pada pemaksaan anak untuk masuk ke dalam eksploitasi seksual komersial. Anak tersebut diperlakukan sebagai sebuah objek seksual dan sebagai objek komersial. sehingga semakin mendorong terjadinya ESKA. Faktor lain yang memberikan kontribusi dan mendorong masuknya anak-anak dalam dunia seks komersial adalah: 1) Tradisi kawin usia muda dan mudahnya perceraian . anak dijadikan sebagi objek seks serta objek komersial. atau orang-orang lainnya. dan pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut. Hal ini terkait dengan dampak negatif dari perkembangan industri pariwisata. Jenis-jenis Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Menurut Sri Wahyuningsi dkk (2002:11).go. b. mencakup beberapa jenis. kafe. Penyebab terjadinya Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Globalisasi dengan segala implikasinya cenderung mendorong terjadinya ESKA. Salah satu akibat kemiskinan yang berhubungan langsung dengan ESKA adalah putus sekolah. meskipun nantinya menjadi hutang yang harus dibayar mahal oleh korban. yang membentuk pola perilaku seseorang. dan terbatasnya lapangan kerja masih merupakan masalah yang belum terselesaikan. putus sekolah. yaitu calon korban didatangi atau diajak teman/ tetangga/ saudara/ pacar untuk mencari pekerjaan yang halal di toko. ESKA adalah Sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak. serta pendidikan dan sosialisasi terhadap anak. yaitu calon korban dijual oleh penjual (bisa orangtua. Eksploitasi seksual komersial anak juga dapat dilihat dalam bentuk paksaan serta kekerasan terhadap anak-anak. Bentuk-bentuk dari kegiatan seksual komersial terhadap anak. teknologi informasi dan komunikasi serta transportasi. 3) Kompleks. dalam bentuk kerja paksa dan bentuk perbudakan modern (comtemporary form of Slavery).id Rabu 16/02/11) . (www. pengangguran.

meningkatnya perdagangan anak untuk tujuan seksual merupakan akibat dari berbagai faktor eksternal. Peran perantara antara lain menerjemahkan permintaan akan pelacur di perkotaan.” Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu. mobilitas sosial. Menurut Suyanto. dan turisme / pariwisata. anak-anak kemudian diperdagangkan sebagai komoditas untuk industri seks.2) Kuatnya kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak yang masih perawan dapat membuat laki-laki awet muda dan meningkat kejantananya 3) Fenomena migrasi desa-kota yang dilakukan oleh tenaga kerja tak terdidik. Pekerjaan Sosial dan Pelayanan Sosial Anak a. kelompok-kelompok. Sedangkan faktor pendukung meliputi perlakuan sosial (kontrol sosial). meliputi pertumbuhan ekonomi. d. Charles Zastrow yang dikutip Dwi Heru Sukoco (1992:7) dalam bukunya yang berjudul Profesi Pekerjaan Sosial mengemukakan definisi pekerjaan sosial sebagai berikut: “Social work is the professional activity of helping individualis. sosialisasi. or communities to enchance or restore their capacity for social functioning and create societal condition favorable to their goals. dan materialisme. migrasi para pekerja laki-laki. terdiri dari faktor pendorong yang meliputi budaya dan kepercayaan sistem patrimonial. tradisi pernikahan. Beberapa faktor yang termasuk dalam permintaan. dan permintaan (di daerah tujuan). yaitu adanya mucikari. mental. dan moral anak. dan orangtua / kerabat. pelacur aktif). Permasalahan yang rentan dialami oleh anak Perempuan yang mengalami ESKA adalah sebagai berikut : 1) Kekerasan fisik 2) Tekanan Psikologis 3) Kekerasan Seksual 4) Penyakit menular seksual 5) Penggunaan obat-obat terlarang 6) Minuman beralkohol 4. 3) Faktor persediaan. pencari “bakat” pelacur dan penghubung permintaan dan daerah sumber penghasil pelacur. berdampak terhadap perkembangan fisik. dan persepsi terhadap pendidikan. Koentjoro (2004) mengkatagorikan tiga faktor yang di anggap sebagi penyebab terjadinya pelacuran yaitu faktor persediaan (komunitas pemasok pelacuran). perantara. kebanggaan menjadi janda. dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan . perantara. 2) Faktor perantara. perubahan sosial. yaitu karena takut akan HIV AIDS dan kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan seorang anak akan menambah awet muda. kaki tangan mucikari (mantan pelcur. 5) Hidup yang hanya memikirkan saat ini saja tanpa harus memkirkan masa depan. Bahkan ada kasus orangtua yang menjual keperawanan anaknya sebagai cara mendapatkan uang dengan mudah. 4) Gaya hidup perkotaan yang konsumtif. dan penyamaan anak dengan sawah dan uang yang banyak. groups. sikap terhadap pernikahan. mengatasi kesulitankesulitan serta mewujudkan aspirasi-aspirasi dan nilai-nilai meraka. motif berkuasa. Pengertian Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki dan mengembangkan interaksi-interaksi di antara orang dengan lingkungan sosial sehingga memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Permasalahan Anak yang Mengalami Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Adanya Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak Perempuan. dan persediaan adalah sebagai berikut: 1) Faktor permintaan.

dalam hal ini adalah keberfungsian anak yang berusia belum 18 tahun termasuk anak yang masih ada dalam kandungan sesuai dengan batasan pengertiannya. mengembangkan relasi sosial untuk anak dengan orang-orang yang ada disekitarnya dan mewujudkan situasi lingkungan yang mendukung keberfungsian sosial anak serta mencegah terulangnya tindak kekerasan. khususnya aktivitas dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan. pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan. Pertolongan yang diberikan kepada dua anak Perempuan yang menjadi korban ESKA ditujukan untuk membantu terhadap permasalahan yang dialami dua anak tersebut serta meningkatkan kemampuan anak dan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan baik jasmani. mental akibat tekanan yang dialami anak. 5) Pekerja sosial pendamping Anak Balita (AB) Peran Pekerja sosial sebagai pendamping AB adalah memberikan pelayanan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan balita. yaitu : 1) Pekerja sosial pendamping Anak yang Berhadapan Dengan Hukum (ABH) Pekerja sosial pendamping ABH membantu klien menangani tekanan situasional dan transisional.com). Keberfungsian sosial anak menyangkut aktivitas mereka sehari-hari. b. Melindungi anak Perempuan dan anak terlantar dengan cara berpartisipasi aktif dalam meningkatkan peran lembaga-lembaga sosial dan lembaga-lembaga pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap anak Perempuan dan anak terlantar. Pelayanan Sosial bagi Anak Dalam pekerjaan sosial pelayanan sosal merupakan suatu implementasi pembangunan kesejahteraan sosial untuk mencapai kesejahteraan sosial. 2) Pekerja sosial pendamping Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) Pekerja sosial pendamping AMPK bertugas memberikan pelayanan dan dukungan terhadap akses rehabilitatif dan reintegrasi bagi anak yang membutuhkannya. 3) Pekerja sosial pendamping Anak yang mengalami Kecacatan (ADK) Yaitu menolong klien dengan cara menyediakan atau memberikan kesempatan dan fasilitas yang diperlukan untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhannya dan mengembangkan potensipotensi yang dimilikinya 4) Pekerja sosial pendamping anak Perempuan dan Terlantar (AT-AJ) Pekerja sosial pendamping AT-AJ berperan dalam melindungi dan memberdayakan anak Perempuan dan anak terlantar. serta arena belajar dan bermain anak terhadap masyarakat miskin agar anak-anak mendapatkan haknya sebagaimana anak-anak yang lain. Fungsi-fungsi dasar pekerjaan sosial erat kaitannya dengan keberfungsian sosial dari orang yang ditolong. pengidentifikasian dan pendorongan kekuatankekuatan personal. Salah satu wujud pelayanan sosial diarahkan pada pelayanan sosial terhadap anak Perempuan. . Sedangkan dalam hal memberdayakan ialah meningkatkan kemampuan skill anak Perempuan dalam bidang tertentu. dengan tujuan para anak Perempuan tersebut dapat mandiri secara ekonomi. perlakuan salah dan eksploitasi anak. sekolah maupun situasi kehidupan sosialnya. Memulihkan kondisi fisik. Pelayanan kesejahteraan sosial juga dapat menciptakan kesempatan sosial bagi anak-anak Perempuan tersebut untuk meningkatkan dan merealisasikan potensi-potensi yang ada. dan pengaturan perasaan-perasaan. rohani maupun sosial yang dapat mempengaruhi anak dalam melaksanakan peranan sosialnya. melindungi anak dalam melaksanakan tugas-tugasnya kembali sebagai anak baik di rumah. Misalnya memfasilitasi adanya yayasan TPA ( Tempat Penitipan Anak ). Pekerja sosial dalam program kesejahteraan sosial anak di bagi menjadi 5 (lima) kluster (www. aktivitas dalam menjalankan peranan dan aktivitas dalam berusaha mengatasi permasalahan yang mereka alami dalam kehidupan. Strategi-strategi khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: pemberian harapan.mereka mencapai tujuan.pksa-kemensos.

METODE PENELITIAN 1 Desain Penelitian Pada penelitian ini. yakni menempatkan anak dalam konteks situasi total keluarga. dengan alasan dalam melakukan penelitian tehadap informan dapat dilakukan diluar rumah dalam halaman seperti di jalann. bahwa : ”Latar terbuka terdapat dilapangan umum seperti tempat berpidato. Seperti dijelaskan Lofland dan Lofland dalam Lexy J. Moleong (2010:4) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai berikut: “Metode Kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati”. Moleong (2000 : 94). tumbuh kembang. peneliti ingin mempelajari secara jelas latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subyek. menjelaskan bahwa : ”Studi kasus. peneliti mencoba melihat bagaimana anak Perempuan yang mengalami eksploitasi secara seksual komersial menjalani kehidupannya. toko. dan berpartisipasi secara wajar. C. sehingga dapat melakukan penelitian yang mendalam terhadap subyek yang dipilih. bioskop. hak anak. di alun-alun. masyarakat dan negara.Selain itu pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak tidak terlepas dari prinsip-prinsip tentang hak orang tua. Sebaliknya pada latar tertutup. hubungan peneliti. kelompok. . Hal ini perlu diperhitungkan peneliti sehingga strategi pengumpulan datanya dapat lebih efektif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus terhadap 2 (dua) anak Perempuan yang menjadi korban eksploitasi seksksual komersial anak (ESKA). bimbingan dan pembinaan baik fisik. Dalam penelitian ini. Adapun bentuk pelayanan sosial bagi anak yaitu dengan memberikan perlindungan. 2 Ruang Lingkup Data dan Sumber Data Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah anak Perempuan korban ESKA yang bertempat di Jalan Tuparev Kerawang. orang berkumpul di taman. maupun masyarakat. dan harapan-harapan anak Perempuan. dan sosial. penelitian kasus (Case Study). dan hak negara. dan ruang tunggu rumah sakit. Dengan demikian penanganan masalah anak dalam konteks pekerjaan sosial haruslah dilakukan secara holistik-komprehensip. Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Lexy J. Kaitannya dengan penelitian. serta keterampilan kepada anak agar dapat hidup. metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. dengan subyek harus akrab dan diperlukan strategi khusus untuk dapat mengamati dan melakukan wawancara mendalam. adalah penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas”.” Sumber data yang akan dipergunakan pada Penelitian ini meliputi sumber data primer dan sumber data sekunder. di taman maupun didalam lingkungan keluarga (rumah) informan. Peneliti mengambil studi kasus sebagai desain penelitian. lembaga. Maxfield dalam Moh. Subyek penelitian dapat individu. Melalui penelitian ini. masalah-masalah yang dialami. hubungan antara peneliti dengan subyek juga kurang mesra. Peneliti menggunakan deskripsi latar terbuka dan juga latar tertutup. mental. Pada latar demikian peneliti hanya dapat mengamati dan kecil kemungkinannya dapat melakukan wawancara. Nazir (1998 : 66 ). penyebab-penyebab / faktor-faktor yang menyebabkan anak Perempuan di eksploitasi. Tujuan lain adalah untuk dapat memberikan gambaran secara detail dari individu dalam hal ini mengenai eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak Perempuan Kerawang. dalam hal ini mengenai ”Eksploitasi Seksual Komersial Dikalangan Anak Perempuan”.

Sumber Data Sekunder Sumber data sekunder adalah data yang dikumpulkan untuk melengkapi data primer terkait dengan permasalahan yang diteliti. .Tuparev. Observasi Partisipasi (Participant Observation) Observasi Partisipasi (Participant Observation). dalam melakukan wawancara peneliti menjalin komunkasi dan relasi yang baik dengan informan. atau karya-karya monumental sesorang. 3 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : a. Proses yang digunakan ialah pertama: peneliti secara langsung mengunjungi informan ditempat-tempat yang memungkinkan untuk dapat menggali informasi. foto dan data statistik. Dalam melakukan wawancara peneliti mengacu kepada pedoman wawancara yang telah disusun. Cerita. situs internet yang berhubungan dengan anak Perempuan dan ESKA. maka teknik ini dapat berubah menjadi teknik wawancara terstruktur: yakni wawancara yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terikat pada pedoman wawancara yang telah tersusun. Sumber data sekunder dapat berupa dokumen. seperti di Dinas Sosial Kota Kerawang. majalah ilmiah. Wawancara mendalam (Indepth Interview) digunakan sebagai teknik pengumpulan data selain untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti secara terbuka. di Jalan-jalan. dan di angkot. Studi Dokumentasi Peneliti melakukan studi dokumentasi dengan cara mengumpulkan dan mempelajari data dari dokumen-dokumen resmi yang berhubungan dengan obyek penelitian seperti hasil penelitian. gambar. Analisis Data . sketsa. sumber dari arsip. peneliti melihat langsung situasi dan kondisi Anak Perempuan yang mengalami ESKA di Jl. wawancara tidak terstruktur (Unstructuring Interviewing) : yakni wawancara yang dilakukan secara lebih bebas dan leluasa tanpa terikat oleh pedoman wawancara. Kota Kerawang. Observasi digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara pengamatan untuk memperoleh data dari informan yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan informan selama proses penelitian. Kedua. b. peraturan kebijakan. juga untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari informan dengan meminta pendapat dan ide-ide dari mereka.a. Sugiyono (2005:82) mengemukakan bawa ”Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu”. misalnya foto. Tuparev Kerawang. Dalam Observasi ini. Kemudian setelah terjalin komunikasi dan relasi yang baik peneliti mengutarakan maksud dan tujuan wawancara serta memohon kesediaanya untuk memberikan informasi yang diketahuinya tentang permasalahan penelitian. Hasil observasi tersebut selanjutnya dicatat dan dicocokan dengan wawancara. Observasi ini dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai orang luar atau pengamat dengan tujuan untuk lebih memahami dan mendalami permasalahan yang dihadapi oleh anak Perempuan yang mengalami ESKA. dokumen pribadi dan dokumen resmi. c. cara yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi yang dapat memberikan keterangan tambahan mengenai masalah yang akan diteliti tersebut. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian. sehingga peneliti memperoleh gambaran tentang masalah eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak Perempuan. dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk gambar. biografi. buku. b. Sumber Data Primer Sumber data Primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari informan yaitu 12 anak Perempuan yang mengalami ESKA di Jl. gambar hidup. Apabila ada respon baik dari informan untuk memberikan informasi yang dimilikinya. sejarah kehidupan (life historis). Wawancara mendalam (Indepth Interview) Wawancara merupakan percakapan langsung antara peneliti dengan informan yang mengarah pada penggalian data yang diperlukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Dokumen bisa berbentuk tulisan.

analisa kasus negative. Uji Konfirmability. maka penelitian tersebut telah memenuhi konfirmability. 2. tetapi jamak dan tergantung pada pengalaman serta latar belakang dari peneliti itu sendiri. uji ini dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian.Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pandangan Sarantakos (1999) dan Netting (1999). uji ini dalam penelitian kuantitatif dikenal dengan validitas eksternal. oleh karena itu bisa dilakukan secara bersamaan. Namun demikian realitas kebenaran data dalam penelitian kualitatif tidak tunggal. Transkrip ini kemudian dibandingkan dengan data – data yang dari sumber lain untuk mendapatkan kepastian data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Auditor bisa dilakukan oleh orang luar yang sifatnya independent termasuk pembimbing untuk melakukan audit terhadap seluruh proses aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Validitas / keabsahan Data Dalam penelitian kualitatif temuan dikatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara temuan yang dilaporkan peneliti dengan keadaan sesungguhnya di lapangan. triangulasi. yaitu : 1. Oleh karena itu uji ini bisa dicapai melalui cara peneliti dalam membuat laporan. 3. dan dapat dipercaya. Untuk melihat keabsahan data dalam penelitian kualitatif digunakan dengan beberapa cara. Dalam penelitian kualitatif uji ini untuk melihat sejauh mana hasil penelitian bisa diterapkan dalam situasi lain (transfer). uji dilakukan untuk memperoleh objektivitas penelitian. sistematis. Kesimpulan Berdasarkan thema utama yang sudah dikonfirmasikan theory yang ada. Pembuatan Thema. Transkrip Data. Secara umum prinsip didalam penelitian kualitatif yang bersifat induktif menemukan beberapa thema yang muncul setelah membandingkan dari satu transkrip ke transkrip lainnnya. Uji ini hampir sama dengan uji mirip dengan uji konfirmability. Penelitian dikatakan objektif apabila hasil penelitian telah disepakati oleh banyak orang. Hasil wawancara mendalam ditranskrip kedalam deskriptif dan digunakan untuk melihat ketepatan data yang akan dikonfirmasi ulang dengan informan yang memberi data. dan member check. Uji Kredibilitas. 3. jelas. Langkah-langkah tersebut dilakukan dengan beberapa tahapan berikut: 1. 2. Dengan demikian pembaca menjadi jelas sehingga bisa memutuskan dapat atau tidaknya hasil penelitian ini ditransfer di tempat lain. Uji Depenability. maka peneliti dalam menarik kesimpulan umum dan khusus terhadap hasil penelitian ini yang dapat digunakan untuk menambah khasanah konseptual dan teoritis yang telah ada dan pendekatan baru pekerjaan sosial dalam menangani masalah lansia atau menyumbang untuk kelanjutan bagi penelitian selanjutnya. 4. yaitu harus rinci. Apabila hasil penelitian sesuai dengan proses yang dilakukan. Diposkan oleh bambang rustanto di 07:02 . yaitu suatu proses untuk memperoleh kepercayaan data yang bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti perpanjangan pengamatan. Themathema ini yang akan menuntun peneliti untuk menentukan thema utama. diskusi teman sejawat. Uji Transferability.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->