P. 1
Makalah Mikrobiologi

Makalah Mikrobiologi

|Views: 919|Likes:
Published by 4567683

More info:

Published by: 4567683 on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

Makalah Mikrobiologi

PEMANFATAN MICROORGANISME DI BIDANG INDUSTRI (Alga laut & Beberapa Mikroba lainnya )

OLEH

IWAN IKHTIARA 0481410004

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI UNSYIAH 2007 / 2008 I. Latar Belakang.

Mikrobiologi adalah telaah mengenai organisme hidup yang berukuran mikroskopis. Dunia mikroorganisme terdiri dari lima kelompok organisme yaitu: bakteri, protozoa, virus serta algae dan cendawan mikroskopis. Dalam bidang mikrobiologi kita mempelajari banyak segi mengenai jasad-jasad renik ini (juga dinamakan mikrobe atau protista): dimana adanya, ciricirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, pengendaliannya, dan perananya dalam kesehatan serta kesejahteraan kita. Mikro organisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa diantaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Banyak diantaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia beberapa

mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang yain terlibat dalam kegiatan manusi sehari-hari seperti misalnya pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi penisilin, serta proses-proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah.

Mikrobiologi boleh dikata merupakan ilmu yang masih muda. Dunia jasad renik barulah ditemukan sekitar 300 tahun yang lalu, dan makna yang sesungguhnya mengenai mikroorganisme itu barulah dipahami dan dihargai 200 tahun kemudian. Selama 40 tahun terakhir, mikrobiologi muncul sebagai bidang biologi yang sangat berarti. Kini mikroorganisme digunakan oleh para peneliti dalam penelaahan hampir semua gejala biologis yang utama.

kosmetik.791. Ditinjau secara biologi.42 Km. Ulva. Osmundaria. Hypnea.II. farmasi dan lain-lain. Salah satu mahluk hidup yang tumbuh dan berkembang di laut adalah alga. pemanfaatan alga sebagai komoditi perdagangan atau bahan baku industri masih relatif kecil jika dibandingkan dengan keanekaragaman jenis alga yang ada di Indonesia. hormon. Didalam alga terkandung bahan-bahan organik seperti polisakarida. Gracilaria. Alga Laut sebagai Biotarget Industri Indonesia telah dikenal luas sebagai negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80. Didalam lautan terdapat bermacam-macam mahluk hidup baik berupa tumbuhan air maupun hewan air. dan Gelidium sebagai sumber senyawa bioaktif. dan Kappaphycus telah dikenal luas sebagai sumber makanan seperti salad rumput laut atau sumber potensial karagenan yang dibutuhkan oleh industri gel. Enteromorpna. . Laminariales atau Kelp dan Sargassum Muticum yang mengandung senyawa alginat yang berguna dalam industri farmasi. Sejauh ini. Berbagai jenis alga seperti Griffithsia. mineral dan juga senyawa bioaktif. vitamin. Euchema. Padahal komponen kimiawi yang terdapat dalam alga sangat bermanfaat bagi bahan baku industri makanan. Pemanfaatan berbagai jenis alga yang lain adalah sebagai penghasil bioetanol dan biodiesel ataupun sebagai pupuk organik. alga merupakan kelompok tumbuhan yang berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berbentuk koloni. Chlorela/Nannochloropsis yang telah dimanfaatkan sebagai adsorben logam berat. Begitupun dengan Sargassum. Pemanfaatan alga laut A.

dan sulfonat yang terdapat didalam dinding sel dalam sitoplasma. Potensi alga sebagai sumber makanan (terutama rumput laut). hidroksil. kemampuan alga dalam menyerap ion-ion logam sangat dibatasi oleh beberapa kelemahan seperti ukurannya yang sangat kecil. Menurut Harris dan Ramelow (1990). Alga Laut sebagai Sumber Makanan Kandungan bahan-bahan organik yang terdapat dalam alga merupakan sumber mineral dan vitamin untuk agar-agar. Agarose merupakan jenis agar yang digunakan dalam percobaan dan penelitian dibidang bioteknologi dan mikrobiologi. sulfudril. salad rumput laut maupun agarose. Alga Laut sebagai Adsorben Logam Berat Pemanfaatan sistem adsorpsi untuk pengambilan logam-logam berat dari perairan telah banyak dilakukan. iomodazol. Untuk mengatasi . berat jenisnya yang rendah dan mudah rusak karena degradasi oleh mikroorganisme lain. di Indonesia telah dimanfaatkan secara komersial dan secara intensif telah dibudidayakan terutama dengan tehnik polikultur (kombinasi ikan dan rumput laut). amino. Beberapa spesies alga telah ditemukan mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk mengadsorpsi ion-ion logam. baik dalam keadaan hidup maupun dalam bentuk sel mati (biomassa).B. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa gugus fungsi yang terdapat dalam alga mampu melakukan pengikatan dengan ion logam. Gugus fungsi tersebut terutama adalah gugus karboksil. sulfat. C.

pembentukan kompleks koordinasi. diantaranya dengan mengimmobilisasi biomassanya. (3) campuran oksida (mixed oxides) seperti kristal aluminasilikat. alga merah ataupun alga coklat merupakan sumber potensial senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat bagi pengembangan (1) industri farmasi seperti sebagai anti bakteri. (2) oksida (oxides) seperti alumina. akrilat. sulfat. D. Tetapi hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa mekanisme pertukaran ion adalah yang lebih dominan. silika. Hal ini dimungkinkan karena adanya gugus aktif dari alga/biomassa seperti karboksil. sulfonat dan amina yang akan berikatan dengan ion logam. penyerapan secara fisik. (1) Matrik polimer seperti polietilena glikol. dan (4) Karbon. anti . Berbagai mekanisme yang berbeda telah dipostulasikan untuk ikatan antara logam dengan alga/biomassa seperti pertukaran ion.kelemahan tersebut berbagai upaya dilakukan. Immobilisasi biomassa dapat dilakukan dengan mengunakan. dan pengendapan mikro. asam polihetero.Alga Laut sebagai Sumber Senyawa Bioaktif Alga hijau.

kalsium alginat digunakan dalam pembuatan obat-obatan. Namun pemanfaatan sumber bahan bioaktif dari alga belum banyak dilakukan. Melalui senyawa ini berbagai jenis senyawa metabolit sekunder diproduksi.tumor. hanya mengandung 16-18 erat kering. berbagai variasi struktur senyawa bioaktif yang sangat unik dari isolat alga merah telah berhasil diisolasi. karena kondisi lingkungan hidup alga yang ekstrem seperti salinitas yang tinggi atau akan digunakan untuk mempertahankan diri dari ancaman predator. Dalam dekade terakhir ini. Berdasarkan proses biosintesisnya. fungisida dan herbisida. E. Pemanfaatan senyawa alginat didunia industri telah banyak dilakukan seperti natrium alginat dimanfaatkan oleh industri tektil untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan industri. Senyawa ini merupakan heteropolisakarida dari hasil pembentukan rantai monomer mannuronic acid dan gulunoric acid. alga laut kaya akan senyawa turunan dari oksidasi asam lemak yang disebut oxylipin. Kemampuan alga untuk memproduksi metabolit sekunder terhalogenasi yang bersifat sebagai senyawa bioaktif dimungkinkan terjadi. Senyawa alginat juga banyak digunakan dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah pembentukan . anti kanker atau sebagai reversal agent dan (2) industri agrokimia terutama untuk antifeedant.Alga Laut sebagai Sumber Senyawa Alginat Alginat merupakan konstituen dari dinding sel pada alga yang banyak dijumpai pada alga coklat (Phaeophycota). Kandungan alginat dalam alga tergantung pada jenis alganya. Kandungan terbesar alginat (30-40 erat kering) dapat diperoleh dari jenis Laminariales sedangkan Sargassum Muticum.

Alga Laut sebagai Penghasil Bioetanol dan Biodiesel Meskipun masih dalam tahap riset yang mendalam. Dalam industri farmasi. alginat digunakan sebagai bahan pembuatan pelapis kapsul dan tablet. . gas CO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan panen yang terus-terusan (continuous) yang dikarenakan waktu tanam alga hanya 1 minggu. potensi alga laut sebagai penghasil bioetanol dan biodiesel sangat menjanjikan dimasa mendatang. F. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat.kristal es. Keuntungan lebih yang dapat diperoleh adalah tak butuh traktor seperti didarat. tanpa penyemaian benih. Jepang dan Kanada mentargetkan mulai tahun 2025 bahan bakar hayati (biofuel) bisa diproduksi dari budidaya cepat alga mikro yang tumbuh diperairan tawar/asin. Alginat juga digunakan dalam pembuatan bahan biomaterial untuk tehnik pengobatan seperti micro-encapsulation dan cell transplantation. Berikut adalah gambar skenario mekanisme pembuatan bioetanol dan biodiesel dari alga laut.

berbunga dan berbuah.Alga Laut sebagai Pupuk Organik Dikarenakan kandungan kimiawi yang terdapat dalam alga laut merupakan nutrien yang sangat penting bagi semua mahluk hidup termasuk tumbuh-tumbuhan. Pemanfaatan alga sebagai pupuk organik ditunjang pula oleh adanya sifat hydrocolloids pada alga laut yang dapat dimanfaatkan untuk penyerapan air (daya serap tinggi) dan menjadi substrat yang baik untuk mikroorganisme tanah. . maka alga laut dapat dimanfaatkan sebagai sumber alternatif penganti pupuk-pupuk pertanian yang mengandung bahan kimia sintesis.G. Alga dapat digunakan sebagai pupuk organik karena mengandung bahan-bahan mineral seperti potasium dan hormon seperti auxin dan sytokinin yang dapat meningkatkan daya tumbuh tanaman untuk tumbuh.

Pemanfaatan mikroobiologi di bidang indutri .III.

telah diketahui berbagai struktur dan sifat-sifat dari berbagai jenis mikroba/jasad renik. serta minuman anggur.5 jam Contoh lainnya pemanfaatan mikrobiologi dalam bidang industri makanan adalah pada industri kecap. Setelah diketemukannya jenis bakteri Lactobacillus yang sifat-sifatnya dapat bermanfaat bagi manusia dan dapat dibuat menjadi yoghurt. roti. Contoh dalam industri makanan adalah sebagai berikut. pada suhu 40 derajat celcius selama 2. oncom. maka berkembanglah industri obat-obatan. tempe. baik yang menguntungkan maupun yang bersifat patogen (menyebabkan penyakit).5 jam sampai 3. Dalam industri obat-obatan. telah diketahui sifat-sifat bakteri Escherichia coli yang ternyata dapat dibuat/disintesis menjadi insulin. Yoghurt ini dibuat dari susu yang difermentasikan dengan menggunakan bakteri Lactobacillus. maka berkembanglah industri pembuatan yoghurt. makanan/minuman yang berkhasiat obat. Contoh perkembangan mikrobiologi dalam industri obat-obatan lainnya adalah pada industri pembuatan antibiotik dan vaksin. menggunakan Bakteri Lactobacillus. Perkembangan mikrobiologi dalam industri obat – obatan.Berikut ini adalah contoh-contoh pemanfaatan mikrobiologipada bidang industri: Dengan berkembangnya mikrobiologi.. dan nata de coco. Macam-macam antibiotik yang sudah berhasil dibuat . keju. insulin ini sangat berguna bagi penderita penyakit Diabetes Melitus pada manusia.

Tatang H. Environ. Short course in Biochemistry. Andi. 2005. Lehninger.. A shorter and more concise version of the more comprehensive text biochemistry. Worth. Sci. 2004. LATAR BELAKANG Mikrobiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang perikehidupan makhluk-makhluk kecil yang hanyakelihatan dengan mikroskop (bahasa Yunani: micros = kecil. DAFTAR PUSTAKA Setiawan. atau jasad renik.antara lain adalah: Penisilin (dibuat dari jamur Penicillium). mikroba. Membangun Industri Biodiesel di Indonesia. 1973. protista. Makhluk-makhluk kecil itu disebut dengan mikroorganisme. bios = hidup. dan Tetrasiklin (dihasilkan oleh jamur Streptomycin). 1990. Sefalosporin (dihasilkan oleh jamur Cephalosporium). Gives a MIKROBIOLOGI INDUSTRI BAB I PENDAHULUAN A. Binding of Metal Ions by Particulate Quadricauda.L. New York. (Dwidjoseputro. Bandung Harris dan Ramelow. A. Potensi Pemanfaatan Alga Laut Sebagai Penunjang Perkembangan Soerawidjaja. 627-652 . logos = kata atau ilmu). 1998) .

2006) Berdasarkan latar belakang diatas. bukan saja mampu menghasilkan substansi yang menarik. Bagaimanakah peran mikroba dalam proses pembuatan antibioka ? 2. Bagaimanakah peran mikroba dalam proses pembuatan pakan ternak ? 4. tetapi harus lebih dari itu. Mikrobiologi industri merupakan suatu usaha memanfaatkan mikrobia sebagai komponen untuk industri atau mengikutsertakan mikrobia dalam proses. Bagaimanakah mekanisme kerja mikroba dalam proses pembuatan pakan ternak ? C. Untuk mengetahui peran mikroba dalam proses pembuatan pakan ternak 4. BAB II PEMBAHASAN Suatu mikroorganisme dianggap layak digunakan dalam industri. RUMUSAN MASALAH Dalam makalah ini akan dipaparkan beberapa masalah. B. . Bagaimanakah mekanisme kerja mikroba dalam pembuatan antibiotika ? 3. Mikrobia dalam industri menghasilkan bermacam produk. Mikroorganisme harus tersedia sebagai biakan murni. dalam makalah ini akan dibahas mengenai mikrobiologi industri yang merupakan salah satu dari cabang ilmu mikrobiologi. Untuk mengetahui mekanisme kerja mikroba dalam pembuatan antibiotika 3. Untuk mengetahui peran mikroba dalam proses pembuatan antibioka 2.Ilmu pengetahuan tentang mikroorganisme dapat diamalkan guna menambah kesejahteraan hidup manusia. pakan ternak dan mekanisme produksinya. (Hidayat. Sesuai dengan itu. yaitu 1. TUJUAN Dalam makalah ini diharapkan mencapai beberapa tujuan. sifat genetiknya harus stabil. dalam makalah ini akan dibahas mengenai mikrobiologi industri yang meliputi mikrobia penghasil antibiotika. dan tumbuh dalam biakan berskala-besar. Untuk mengetahui mekanisme kerja mikroba dalam proses pembuatan pakan ternak. yaitu 1. diantaranya adalah antibiotic dan pakan ternak.

dan secara ekonomik penting bagi hewan dan tumbuhan. dan bersel satu. karena sel lebih mudah dipindahkan dari biakan dengan penyaringan (dengan bahan penyaring yang relatif murah). Jika mikroorganisme tumbuh dengan cepat. b) Harus non-patogen dan bebas toksin. mikroorganisme industri harus dapat direkayasa secara genetik. karena alasan sebagai berikut: 1. harus cepat di-inaktifkan. hal tersebut tidak menjadi masalah (secara ekonomi) jika produk dapat dihasilkan dengan cepat. Karakteristik penting yang harus dimiliki mikroorganisme industri yaitu harus tumbuh cepat dan menghasilkan produk yang diharapkan dalam waktu yang relatif singkat. Jika mikroorganisme tumbuh dengan cepat. fungi. Untuk fungi berfilamen. dan bakteri berfilamen. e) Terakhir. Bakteri unisel. Sehingga. kontaminasi fermentor akan berkurang. Biakan tersebut lebih disukai jika dapat menghasilkan spora dan bentuk sel reproduktif lain sehingga mikroba mudah diinokulasikan ke dalam fermentor besar. Mutasi akan lebih efektif untuk mikroorganisme dalam bentuk vegetatif dan haploid. ragi. Karena. lebih disukai. Dalam bioteknologi mikroorganisme tradisional peningkatan hasil diperoleh melalui mutasi dan seleksi. akan lebih mudah mengendalikan berbagai faktor lingkungan dalam fermentor. 3. berukuran kecil sehingga sulit dipisahkan dari biakan cair. ukuran populasi besar dalam fermentor industri. Organisme juga diharapkan dapat . sebenarnya tidak memungkinkan menghindari kontaminasi dari lingkungan luar fermentor. Di laboratorium.Biakan juga harus dapat dipelihara dalam periode waktu yang sangat panjang di laboratorium dan dalam ‘plant’ industri. lebih disukai yang menghasilkan spora. karena filamen tidak mampu mempermudah rekayasa genetika. tetapi sentrifugasi bersifat sulit dan mahal untuk industri skalabesar. suatu patogen yang ada akan mampu mendatangkan masalah. Alat-alat yang digunakan pada industri berskala besar termasuk mahal. Sifat penting lain yang harus dimiliki mikroorganisme industri adalah: a) Tidak berbahaya bagi manusia. sel mikroorganisme pertamakali dipindahkan dengan sentrifugasi. 2. Pada organisme diploid dan bersel banyak mutasi salah satu genom tidak akan menghasilkan mutan yang mudah diisolasi. atau jika menghasilkan toksin. d) Mikroorganisme lebih disukai jika berukuran besar. c) Mudah dipindahkan dari medium biakan.

Rekombinasi genetik memungkinkan penggabungan genom tunggal sifat genetik dari beberapa organisme. Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba. ANTIBIOTIK Antibiotik berasal dari kata Yunani tua. Antibiotika yang akan digunakan untuk membasmi mikroba yang menyebabkan infeksi pada manusia. Teknik yang sering digunakan untuk menciptakan hibrid. Yang harus selalu diingat.direkombinasi secara genetik. Penggunaan antibiotika secara komersial. yang merupakan gabungan dari kata anti (lawan) dan bios (hidup).1. tetapi karena kompleksitas bahan kimia antibiotika dan cenderung menjadi mahal. Cara kerja obat antibiotik ini dapat dibedakan menjadi tiga: . Seringkali. Antibiotika di dunia kedokteran digunakan sebagai obat untuk memerangi infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau protozoa. tanpa tahun) 1.bakteri dimusnahkan dan selnya dihancurkan (Setyaningsih. Kalau diterjemahkan bebas menjadi "melawan sesuatu yang hidup". 2011) Antibiotika merupakan produk metabolisme sekunder. maka tidak memungkinkan sintesis secara kimia dapat bersaing dengan fermentasi mikroorganisme. (Kusnadi. juga dengan proses seksual dan beberapa jenis proses paraseksual. antibiotika hanya ampuh dan efektif membunuh bakteri tetapi tidak dapat membunuh virus. tetapi karena aktivitas terapetiknya tinggi maka menjadi memiliki nilai ekonomik tinggi. antibiotika tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba. dapat dilihat pada Tabel 1. harus mememiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Beberapa antibiotika dapat disintesis secara kimia. Meskipun hasilnya relatif rendah dalam sebagian besar industri fermentasi. bahkan tanpa siklus seksual adalah fusi/penggabungan protoplasma. sejumlah senyawa . menyertai regenasi sel vegetatif dan seleksi progeni hibrid. beberapa strain industri sudah diperbaiki secara genetik tanpa menggunakan rekombinasi genetika. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.bakteri dimusnahkan. oleh karena itu antibiotika dibuat secara komersial melalui fermentasi mikroba. yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain.bakteri akan dicegah tingkat pertumbuhannya . tetapi secara secara materi(physical) masih ada . Karena itu. Artinya. Namun dalam prakteknya antibiotika sintetik tidak diturunkan dari produk mikroba. penyakit yang dapat diobati dengan antibiotika adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. pertamakali dihasilkan oleh fungi berfilamen dan oleh bakteri kelompok actinomycetes. terutama fungi/jamur. Daftar sebagian besar antibiotika yang dihasilkan melalui fermentasi industri berskala-besar. tetapi relatif tidak toksik untuk manusia. Bagaimanapun.

Antibiotika dapat dikelompokkan berdasarkan struktur kimianya (Tabel 1.(1991 dalam Kusnadi (tanpa tahun) Tahap-tahap menuju produk komersial Suatu antibiotika yang dihasilkan secara komersial. kultur sering menghasilkan produk akhir lain.000 ton antibiotika per tahun. Tabel 1. meskipun sebagian diketahui efektif menyerang penyakit fungi. .1). selanjutnya harus dipindahkan dari cairan fermentasi melalui adsorpsi.1 Seluruh proses ekstraksi dan pemurnian antibiotik (Sumber:Brock & Madigan. atau presipitasi secara kimia. sehingga lebih mudah mengumpulkan antibiotika tersebut. Salah satu gugus-tugas penting adalah pengembangan efisiensi metode pemurnian. Masalah yang berhubungan adalah. Sebagian besar antibiotika digunakan secara medis untuk mengobati penyakit bakteri.1 Beberapa antibiotika yang dihasilkan secara komersial (Sumber:Brock & Madigan. pertukaran ion. dengan nilai penjualan hampir mendekati $ 5 milyar. tujuannya untuk memperoleh produk kristalin yang sangat murni. maka pemurniannya relatif lebih mudah.kimia berhubungan dengan keberadaan antibiotika. Gambar 1. Metode elaborasi (yang terperinci) sangat penting dalam ekstraksi dan pemunian antibiotika. Pemurnian secara kimia mungkin dibutuhkan untuk mengembangkan metode dalam rangka menghilangkan produk sampingan yang tidak diharapkan. karena memungkinkan untuk mengekstraksi antibiotika ke dalam suatu pelarut bervolume kecil. meskipun sejumlah antibiotika tidak mudah terkristalisasi dan sulit dimurnikan. Pada semua kasus.1991 dalam Kusnadi (tanpa tahun) Jika antibiotika larut dalam pelarut organik yang tidak dapat bercampur dengan air. dalam hal ini penting mengakhiri proses dengan suatu produk yang hanya terdiri dari antibiotik tunggal. Secara ekonomi dihasilkan lebih dari 100. sehingga dikenal famili antibiotik. Jika antibiotika tidak larut dalam pelarut. tetapi dalam beberapa kasus hal tersebut penting untuk ahli mikrobiologi untuk menemukan strain yang tidak menghasilkan senyawa kimia dan tidak diharapkan. karena jumlah antibiotika yang terdapat dalam cairan fermentasi hanya sedikit (Gambar 1.1). pada awalnya harus berhasil diproduksi pada fermentor industri berskala-besar. termasuk antibiotika lain.

atau alergi bakteri gram positif/Staphilococcus/Streptococcus. a) Beta-laktam menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara berikatan pada enzim DDtranspeptidase yang memperantarai dinding peptidoglikan bakteri. sehingga dengan demikian akan melemahkan dinding sel bakteri Hal ini mengakibatkan sitolisis karena ketidakseimbangan tekanan osmotis. se-hingga sulit membuat antibiotik bertanda radioaktif. merupakan antibiotik bakterisidal yang menghambat sintesis dinding sel dan digunakan untuk penyakit-penyakit seperti sifilis. listeria. Ampicillin. .1992). Metabolisme organisme berbeda satu sama lain walaupun pada prinsipnya sama. Oxasilin. sehingga mekanisme kegiatan pada satu organisme. Namun demikian Penicillin tetap digunakan selain karena harganya yang murah juga produksinya yang mudah. seperti : 1. 4. 3. Kebanyakan antibiotik merupakan substansi kimia yang rumit dan sering tidak mungkin disintesis secara kimia. Kesulitan menetapkan gangguan tersebut sebagai pengaruh sekunder atau primer. Cara yang ditempuh oleh antibiotik dalam menekan bakteri dapat bermacam-macam. Namun karena Penicillin merupakan jenis antibiotik pertama sehingga paling lama digunakan telah membawa dampak resistansi bakteri terhadap antibiotik ini.1. mungkin bukan cara antibiotik tersebut menghambat pertumbuhan organisme lainnya (Usman. Polypeptida. Namun Beta-laktam (dan Penicillin) hanya efektif terhadap bakteri gram positif. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Beta-laktam. Penicillin G dan Penicillin V. Oleh karena itu mekanisme kerja antibiotik dalam menghambat proses biokimia di dalam organisme dapat dijadikan dasar untuk mengklasifikasikan antibiotik sebagai berikut: 1. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri. Penicillin. b) Penicillin meliputi natural Penicillin. namun dengan tujuan yang sama yaitu untuk menghambat perkembangan bakteri. Reaksi esensiil yang diblokir. karena beberapa alasan. sebab keberadaan membran terluar (outer membran) yang terdapat pada bakteri gram negatif membuatnya tak mampu menembus dinding peptidoglikan. mungkin belum diketahui dengan jelas. Cephalosporin.1 Klasifikasi Antibiotik Dalam beberapa hal mekanisme kegiatan antibiotik sukar diterangkan. serta pengaktifan hidrolase dan autolysins yang mencerna dinding peptidoglikan yang sudah terbentuk sebelumnya. 2.

Namun keberadaan antibiotik akan membuat PBP berikatan dengannya sehingga sintesis dinding peptidoglikan menjadi terhambat. Actinomycin D. a) Quinolone merupakan antibiotik bakterisidal yang menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara masuk melalui porins dan menyerang DNA girase dan topoisomerase sehingga dengan demikian akan menghambat replikasi dan transkripsi DNA. e) Ampicillin memiliki mekanisme yang sama dalam penghancuran dinding peptidoglikan. d) Cephalosporin (masih segolongan dengan Beta-laktam) memiliki mekanisme kerja yang hampir sama yaitu dengan menghambat sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri. g) Antibiotik jenis inhibitor sintesis dinding sel lain memiliki spektrum sasaran yang lebih luas. Metronidazole. Quinolone lazim digunakan untuk infeksi traktus urinarius. Ketiganya bersifat bakterisidal. . Adapun Polymixin B digunakan untuk bakteri gram negatif. Meropenem. Polymixin B dan Vancomycin. Imipenem. sedangkan Vancomycin digunakan untuk bakteri Staphilococcus dan Streptococcus. Hal ini disebabkan keberadaan gugus amino pada Ampicillin. merupakan antibiotik bakterisidal yang digunakan untuk menghambat sintesis dinding sel bakteri. Rifampicin. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Quinolone. Bacitracin dan Vancomycin sama-sama menghambat sintesis dinding sel. hanya saja Ampicillin mampu berpenetrasi kepada bakteri gram positif dan gram negatif. yaitu Carbapenems. Penggunaan Methicillin dan Oxacillin biasanya untuk bakteri gram positif yang telah membentuk kekebalan (resistansi) terhadap antibiotik dari golongan Beta-laktam. Antibiotik yang menghambat transkripsi dan replikasi. Bacitracin digunakan untuk bakteri gram positif. Nalidixic acid. terutama untuk membentuk jembatan peptidoglikan. sehingga membuatnya mampu menembus membran terluar (outer membran) pada bakteri gram negatif. b) Rifampicin (Rifampin) merupakan antibiotik bakterisidal yang bekerja dengan cara berikatan dengan β-subunit dari RNA polymerase sehingga menghambat transkripsi RNA dan pada akhirnya sintesis protein. Rifampicin umumnya menyerang bakteri spesiesMycobacterum. Lincosamides.c) Polypeptida meliputi Bacitracin. Ketiganya bersifat bakterisidal. f) Penicillin jenis lain. Normalnya sintesis dinding sel ini diperantarai oleh PBP (Penicillin Binding Protein) yang akan berikatan dengan Dalanin-D-alanin. seperti Methicillin dan Oxacillin. 2.

Namun antibiotik jenis ini hanya berpengaruh terhadap bakteri gram negatif. Macrolide biasanya menumpuk pada leukosit dan akan dihantarkan ke tempat terjadinya infeksi. d) Lincosamides merupakan antibiotik yang berikatan pada subunit 50S dan banyak digunakan untuk bakteri gram positif. Contohnya antara lain Ionimycin dan Valinomycin. sehingga dengan demikian akan menghambat translasi protein. Legionella mycoplasma. anaeroba Pseudomemranous colitis. Antibiotik yang menghambat fungsi membran sel. Neomycin. Namun antibiotik jenis ini memiliki efek samping yaitu menyebabkan gigi menjadi berwarna dan dampaknya terhadap ginjal dan hati. dan Gentamycin. Chloramphenicol. a) Macrolide. b) Aminoglycoside meliputi Streptomycin. Antibiotik yang menghambat sintesis protein. Oxytetracycline. e) Metronidazole merupakan antibiotik bakterisidal diaktifkan oleh anaeroba dan berefek menghambat sintesis DNA. 3. namun Nalidixic acid banyak digunakan untuk penyakit demam tipus. d) Chloramphenicol merupakan antibiotik bakteriostatis yang menghambat sintesis protein dan biasanya digunakan pada penyakit akibat kuman Salmonella. Kanamycin. Peristiwa ini bersifat bakteriostatis. c) Tetracycline merupakan antibiotik bakteriostatis yang berikatan dengan subunit ribosomal 16S30S dan mencegah pengikatan aminoasil-tRNA dari situs A pada ribosom. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Macrolide. Tetracycline. Aminoglycoside. meliputi Erythromycin dan Azithromycin. Contoh dari golongan Lincosamides adalah Clindamycin. dan Haemophilus. Macrolide biasanya digunakan untuk Diphteria. Ionomycin bekerja dengan meningkatkan kadar kalsium intrasel sehingga mengganggu kesetimbangan osmosis dan menyebabkan kebocoran sel. menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara berikatan pada subunit 50S ribosom. . 4. sehingga dengan demikian akan menghambat translokasi peptidil tRNA yang diperlukan untuk sintesis protein. namun dalam konsentrasi tinggi hal ini dapat bersifat bakteriosidal. merupakan antibiotik bakterisidal yang berikatan dengan subunit 30S/50S sehingga menghambat sintesis protein.c) Nalidixic acid merupakan antibiotik bakterisidal yang memiliki mekanisme kerja yang sama dengan Quinolone.

1982). c) Azaserine (O-diazo-asetyl-I-serine) merupakan antibiotik yang dikenal sebagai purin-antagonis dan analog-glutamin. hanya mekanismenya berbeda dari Sulfonamide. Biasanya Sulfonamide digunakan untuk penyakit Neiserriameningitis. b) Trimetophrim juga menghambat pembentukan DNA dan protein melalui penghambatan metabolisme.1 Penisilin Penisilin merupakan salah satu antibiotik yang paling efektif selama empat decade ini.2002). Tetrahidrofolat merupakan bentuk aktif asam folat. Penisilin merupakan campuran asam organik berstruktur komplek yang diisolasi sebagai garam-garam natrium. . Dengan dihambatnya enzim DHPS ini menyebabkan tidak terbentuknya asam tetrahidrofolat bagi bakteri. Perbaikan kualitas dan kuantitas penisilin dapat tercapai apabila parameter-parameter metabolik dari proses fermentasi adalah optimum (Maya.1. di mana fungsinya adalah untuk berbagai peran biologis di antaranya dalam produksi dan pemeliharaan sel serta sintesis DNA dan protein. Trimetophrim akan menghambat enzim dihidrofolate reduktase yang seyogyanya dibutuhkan untuk mengubah dihidrofolat (DHF) menjadi tetrahidrofolat (THF). a) Pada bakteri. Sulfonamide bekerja dengan bertindak sebagai inhibitor kompetitif terhadap enzim dihidropteroate sintetase (DHPS). Antibiotik yang menghambat bersifat antimetabolit. Dewasa ini dikenal 5 jenis penisilin hasil proses fermentasi . Trimetophrim. Kultur yang sama dapat menghasilkan beberapa macam molekul penisilin antara lain penisilin G dan penisilin V (Husein.2002). Peningkatan kebutuhan medis akan penisilin telah membuka peluang bagi pengembangan industri pembuatan penisilin secara komersial yang menuntut peningkatan kualitas dan kuantitas dari penisilin yang dihasilkan. sehingga mengganggu pembentukan glutamin yang merupakan salah satu asam amino dalam protein. kalium dan kalsium. Azaserin mengganggu jalannya metabolisme bakteri dengan cara berikatan dengan situs yang berhubungan sintesis glutamin. Penisilin G merupakan penisilin yang paling banyak diproduksisecara komersial dewasa ini (Maya. chrysogenum. Pensilin dihasilkan selama pertumbuhan dan metabolisme kapang Penicillium notatum dan P.5. 1. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Sulfa atau Sulfonamide. Azaserine.2 Contoh Antibiotik 1.

Proses fermentasi ini diawali dengan sterilisasi media fermentasi melalui pemanasan dengan steam bertekanan sebesar 15 lb (120 0C) selama ½ jam. Fermentol yang digunakan merupakan fessel vertikal bertekanan yang terbuat dari carbon steel dan dilengkapi dengan coil pemanas. Menurut Maya (2002). Mikroorganisme ini mempunyai spektrum yang sangat luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif serta beberapa jamur dengan daya toksisitas yang rendah.Sebagai strain penghasil antibiotika salah satunya adalah Penicillium chrysogenum. Untuk meningkatkan yield dan modifikasi tipe penisilin yang akan dihasilkan. Mineral-mineral yang digunakan adalah NaNO3. 7H2O. . CaCO3. dan MnSO4. KH2PO4. Kualitas cairan rendaman jagung sangat bergantung pada derajat pengenceran hingga diperoleh konsentrasi yang diinginkan. misalnya phenylacetic acid yang digunakan untuk memproduksi penisilin G. Ada beberapa alasan penelitian ini menggunakan antimikroba ini. laktosa. Cairan rendaman jagung adalah media fermentasi dasar yang terdiri dari asamamino. 2. Penicillium chrysogenum yang dihasilkan secara teoritis dapat mencapai konversi yield maksimum sebesar 13 – 29 %. pengaduk tipe turbin dan sparger yang berfungsi untuk memasukkan udara steril. ZnSO4. sedangkan besarnya jumlah nutrient dan alkali yang ditambahkan kedalam media dasar disesuaikan dengan jumlah media fermentasi dasar ini. yang mengkatalis polimerisasi rantai peptidoglikan (1)(3)(7) (Viena . Na2SO4. dan cairan rendaman jagung. Media fermentasi diumpankan ke dalam fermentol pada suasana asam (pH 5. Proses fermentasi penisilin didahului oleh tahapan seleksi strain Penicillium chrysogenum pada media agar di laboratorium dan perbanyakan pada tangki seeding. 3. Situs aksi antibiotika ini adalah transpeptidase dan D-alanin karboksipeptidase. coil pendingin.2003). polipeptida. asam laktat dan mineral-mineral. Antibiotik penisilin dikenal sebagai antibiotik β-laktam merupakan inhibitor spesifik terhadap sintesis dinding sel bakteri. Mikroorganisme ini menghasilkan antibiotik Penisilin dengan cara proses fermentasi. antara lain adalah 1. Sterilisasi ini dilanjutkan dengan proses pendinginan fermentol dengan air pendingin yang masuk ke dalam fermentol melalui coil pendingin.dkk.5). Penisilin diproduksi secara komersial dengan menggunakan bahan baku utama berupa glokosa. Kemudian Maya (2002) dalam makalahnya juga mendeskripsikan proses pembuatan penisilin. maka kedalam media fermentasi ditambahkan juga precursor. MgSO4. 4.

Selama proses fermentasi berlangsung dilakukan pengadukan. sehingga diperoleh filtrat berupa cairan jernih yang mengandung penisilin. Ada beberapa hal yang mempengaruhi fermentasi penisilin. yaitu a. Miselia akan dibuang. Penggunaan zat anti busa. Temperatur operasi dijaga konstan selama fermentasi penisilin berlangsung dengan cara mensirkulasikan air pendingin melalui coil. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembuatan penisilin ini antara lain adalah : Temperatur. Temperatur Fermentasi untuk pembuatan penisilin akan menghasilkan produk yang maksimum apabila temperatur operasi dijaga pada 24oC. karena sebagian dari media fermentasi akan digunakan oleh mikroorganisme untuk mempertahankan hidupnya. maka tahapan dilanjutkan dengan proses ekstraksi dan kristalisasi. b. Sistem Aerasi. . maka produk yang dihasilkan akan berkurang. Untuk mendapatkan penisilin yang siap dikomsumsi. Sistem Pengadukan.Saat temperatur mencapai 75oF (24 oC). dan upaya pencegahan kontaminasi pada medium. pH. PH medium dipengaruhi oleh jenis dan jumlah karbohidrat (glukosa atau laktosa) dan buffer. maka cairan hasil fermentasi tersebut didinginkan hingga 28 oF (2 oC). c. Menurut Moyet dan Coghill kehilangan penisilin dapat terjadi pada pH dibawah 5 atau pH diatas 7.5. Ketika penisilin ini dihasilkan jumlahnya telah maksimum. karena kenaikan temperatur dapat meningkatkan jumlah sel mikroorganisme baru. sementara udara steril dihembuskan melalui sparger kedalam fermentol. dan diumpankan kedalam rotary vacum filter untuk memisahkan miselia dan penisilin. Apabila temperatur sistem meningkat melebihi temperatur optimumnya. Temperatur berkaitan erat dengan pertumbuhan mikroorganisme. Busabusa yang terbentuk dapat diminimalkan dengan penambahan agen anti-foam. media ini diinokulasi pada kondisi aseptic dengan mengumpankan spora-spora kapang Penicillium chrysogenum. Kapang aerobic dibiarkan tumbuh selama 5 – 6 hari saat gas CO2 mulai terbentuk. Proses fermentasi ini akan berlangsung secara batch terumpani selama 100 – 150 jam dengan tekanan operasi 5 – 15 psig. Pengaruh Faktor Lingkungan Fermentasi pensilin sangat dipengaruhi oleh kondisi operasi proses dan lingkungannya. pH Pengaturan pH dilakukan untuk mencegah terjadinya fluktuasi pH sistem.

Kecepatan pengadukan proses fermentasi umumnya berkisar pada range 250 – 500 cm/detik. 2. Larutan buffer dapat digunakan untuk mempertahankan pH sistem. Aerasi Aerasi yang cukup merupakan hal penting untuk memaksimalkan penisilin. lemak. Bahan organik yang terkandung dalam bahan pakan antara lain. protein. Zat anti busa dan udara untuk aerasi juga hasus disterilkan terlebih dahulu sebelum diumpankan kedalam media fermentasi (Maya. Kalsium karbonat merupakan senyawa yang sering digunakan untuk tujuan ini. sebab aerasi dapat menghasilkan oksigen yang dihasilkan oleh kapang Penicillum chrysogenum untuk metabolismenya. Uap panas umumnya digunakn untuk sterilisasi media fermentasi dan peralatan tersebut. serat kasar. d. Pengadukan Pemilihan jenis pengaduk dan kecepatan pengadukan yang sesuai akan memperbaiki hasil penisilin ketika laju aerasi konstan.Karbohidrat akan difermentasi menjadi asam-asam organik. magnesium. kalium. bahan ekstrak tanpa nitrogen. Fermentasi glukosa yang berlangsung cepat akan menurunkan pH. Kandungan bahan organik ini dapat diketahui dengan melakukan . fermentol. Sterilisasi Kontaminasi dapat dihindarkan dengan cara sterilisasi sistem perpipaan. Aerasi pada fermento diberikan melalui proses pengadukan atau dengan tekanan sebesar 20 lb/in2 akan mengurangi penisilin yang dihasilkan. sedangkan laktosa terfermentasi dengan sangat lambat sehingga perubahan pH berlangsung lambat pula. busa akan menurunkan pH apabila konsentrasinya terus bertambah. e. PAKAN TERNAK Teknik produksi pakan ternak adalah serangkaian aktivitas yang melibatkan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan pakan yang memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh nutrisionist. f. Pembentukan busa yang berlebihan selama proses fermentasi dapat dieliminasi dengan penambahan tributinit sutrat. phospor. natrium dan lain sebagainya. 2002). dan peralatan lain yang kontak langsung dengan penisilin. Kalsium karbonat mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pH sistem saat ditambahkan media fermentasi. sedang bahan anorganik yang dimaksud seperti calsium. Secara umum. Bahan pakan terdiri dari bahan organik dan anorganik. Konsentrasi gula hasil fermentasi ini berfungsi mempertahankan kenaikan pH agar tetap lambat.

yang biasa disebut dengan Silo. Formulasi pakan ternak. serta bahan pakan alami lainya. faktor penghambat (antinutrisi) yang terkandung dalam bahan pakan. zooteknis dan ekonomis. mampu menjamin kontinuitas produksi.1. agar bisa di disimpan dalam .1 Contoh Pakan Ternak 2. biasanya disusun oleh seorang ahli nutrisi (nutrisionist) yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai aspek-aspek teknis.analisis proximate dan analisis terhadap vitamin dan mineral untuk masing masing komponen vitamin dan mineral yang terkandung didalam bahan yang dilakukan di laboratorium dengan teknik dan alat yang spesifik. Paduan dari ketiga aspek diatas adalah terciptanya suatu susunan tiga atau lebih bahan baku pakan yang telah diperhitungkan target kandungan nutrisinya sehingga dapat direkomendasikan penggunaannya untuk ternak dan produk pakan tersebut harus marketable. Tujuan pembuatan Silase Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya. selama sekitar tiga minggu. Didalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara/oksigen). dengan jumlah kadar / kandungan air pada tingkat tertentu kemudian di masukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara . toleransi ternak terhadap zat-zat pakan tertentu. 2.1 Silase Silase adalah pakan yang telah diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan . pengaruh musim dan lingkungan terhadap ketersedian bahan baku pakan. mampu menjamin tidak menyebabkan ternak sakit serta mampu mengkalkulasi formula yang ekonomis dengan kualitas memenuhi standar. Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya. macam dan jenis pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak. limbah industri pertanian. Nutrisionist adalah seorang ahli pakan ternak. dimana “bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku. sehingga terjadilah proses fermentasi. persyaratan yang harus dimiliki adalah mengetahui kebutuhan hidup untuk setiap jenis dan periode hidup ternak.

 Respirasi Sebelum sel-sel di dalam tumbuhan mati atau tidak mendapatkan oksigen. saat berada pada ruang yang kedap udara yg disebut dengan Silo. Namun respirasi ini mengkonsumsi karbohidrat dan menimbulkan panas. dapat mengurangi kadar karbohidrat. Setelah kadar oksigen habis . beberapa jenis zat tambahan (additive) harus di gunakan agar kandungan nutrisi dalam silase tidak berkurang secara drastis. yang pada ahirnya bisa menggagalkan proses fermentasi. Bakteri ini akan terus memproduksi lactic acid dan menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase.Penurunan kadar pH ini dilakukan oleh lactic acid yang di hasilkan oleh bakteri Lactobacillus. Sehingga silo berada pada keadaan .. bahkan bisa meningkatkan pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi ternak yang memakannya. Bakteri ini akan mengkonsumsi karbohidrat untuk kebutuhan energinya dan mengeluarkan lactic acid.kurun waktu yang lama. Respirasi yang berkelamaan di dalam bahan baku silase. sangat tidak terkontrol prosesnya. Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Respirasi ini bermanfaat untuk menghabiskan oksigen yang terkandung. Sampai dengan kadar pH dimana tidak ada lagi organisme yang dapat hidup dan berfungsi di dalam silo. beberapa saat setelah bahan di masukan dalam silo. untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak. Respirasi ini merupakan konversi karbohidrat menjadi energi. maka mereka melakukan respirasi untuk membentuk energi yang di butuhkan dalam aktivitas normalnya. sehingga waktunya harus sangat di batasi. adalah cara terbaik meminimumkan masa respirasi ini. dan dia akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sampai bahan baku terfermentasi. Maka untuk memperbaiki berkurangnya nutrisi tersbut.  Fermentatsi. Fermentasi adalah menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase. Sampi pada tahap kadar pH yang rendah. akibatnya kandungan nutrisi pada bahan yang di awetkan menjadi berkurang jumlahnya. maka proses fermentasi di mulai. Pengurangan kadar oksigen yang berada di dalam bahan baku silase. Sayangnya fermentasi yang terjadi didalam silo (tempat pembuatan silase). Prinsip Dasar Fermentasi Silase Prinsip dasar dari pengawetan dengan cara silase fermentasi adalah sebagai berikut. Lactobasillus itu sendiri sudah berada didalam bahan baku silase. dimana tidak lagi memungkinkan bakteri ini beraktivitas.

Walaupun kejadian ini nampak menguntungkan dalam mengurangi jumlah oksigen di dalam silo . Keadaan yang menyuburkan tumbuhnya bakteri clostridia adalah kurangnya kadar karbohidrat untuk proses fermentasi . seperti misalnya protein.  Tahapan atau Phase yang terjadi pada proses fermentasi Silase Proses fermentasi ini (yang biasa di sebut dengan Ensiling). atau tidak ada lagi perubahan yang terjadi. Sehingga pada saat pertamakali hijauan sebagai bahan pembuatan silase di masukan ke dalam silo. Dan juga kekurangan jumlah bakteri Lactobasillus . atau sering disebut sebagai bakteri aerobic. protein dan lactic acid sebagai sumber energi mereka kemudian mengeluarkan Butyric acid. proses respirasi yang terlalu lama. sehingga menciptakan lingkungan anaerob seperti yang kita kehendaki dalam ensiling. . karena pada saat yang sama bakteri aerobik tersebut juga akan mengkonsumsi karbohidrat yang sebetulnya di perlukan bagi bakteri lactic acid.stagnant. bakteri tersebut akan mengkonsumsi udara/oksigen yang terperangkap di dalam ruang silo tersebut. dimana bahan baku berada dalam keadaan tetap . pada seluruh permukaan hijauan tersebut terdapat organisme aerobic. namun kejadian tersebut juga menghasilkan air dan peningkatan suhu / panas. Keadaan inilah yang di sebut keadaan terfermentasi. saat mereka di masukan kedalam silo. yaitu:  Phase I Saat pertama kali hijauan di panen. yang disebut dengan menjadi awet. Bakteri ini mengkonsumsi karbohidrat. terlalu banyaknya kadar air di dalam bahan baku. Itulah sebabnya kadang di perlukan penggunaan bahan tambahan atau aditive. Pada keadaan ini maka silase dapat di simpan bertahun-tahun selama tidak ada oksigen yang menyentuhnya. berjalan dalam enam phase. sehingga bahan baku silase berada pada keadaan yang tetap. yang biasanya di sebabkan oleh kehujanan pada saat pencacahan bahan baku silase. Proses perubahan kimiawi yang terjadi pada phase awal ini adalah terurainya protein tumbuhan. Kejadian ini merupakan sesuatu yang tidak di inginkan untuk terjadi saat ensiling. yaitu bacteri yang membutuhkan udara / oksigen.  Bakteri Clostridia Bakteri ini juga sudah berada pada hijauan atau bahan baku silase lainnya. dimana Butyric acid bisa diasosiasikan dengan pembusukan silase. Peningkatan panas yang berlebihan akan mengurangi digestibility kandungan nutrisi.

akan mengurangi aktivitas enzym yang juga akan menguraikan protein. Ruang lingkup silo yang menjadi acid. Laju kecepatan penguraian protein ini (proteolysis). Kunci sukses pada phase ini adalah: Kematangan bahan Kelembaban bahan Panjangnya pemotongan yang akan menentukan kepadatan dalam silo Kecepatan memasukan bahan dalam silo Kekedapan serta kerapatan silo  Phase II Setelah oksigen habis di konsumsi bakteri aerobic. Bakteri tersebut akan menyerap karbohidrat dan menghasilkan acetic acid sebagai hasil ahirnya. Pertumbuhan acetic acid ini sangat diharapkan.yang akan terurai menjadi amino acid. Untuk itu maka tujuan utama yang harus di capai pada phase ensiling ini adalah. Dalam fermentasi hijauan phase-2 ini berlangsung antara 24 s/d 72 jam. Lebih dari 50% protein yang terkandung di dalam bahan baku akan terurai.  Phase III . kemudian menjadi amonia dan amines. sangat tergantung dari laju berkurangnya kadar pH. perkembangan bakteri acetic acid akan menurun dan ahirnya berhenti dan itu merupakan tanda berahirnya phase-2. karena disamping bermanfaat untk ternak ruminansia juga menurunkan kadar pH yang sangat di perlukan pada phase berikutnya. semaksimum mungkin di lakukan pencegahan masuknya udara/oksigen. maka phase dua ini di mulai. dengan dimulainya tumbuh dan berkembangnya bakteri acetic – acid. sehingga keadaan anaerobic dapat secepatnya tercapai. dalam kekedapan udara yang baik maka phase ini hanya akan bejalan beberapa jam saja. disinilah proses fermentasi dimulai. Lama terjadinya proses dalam tahap ini tergantung pada kekedapan udara dalam silo. Penurunan kadar pH di dalam silo di bawah 5. Dengan teknik penanganan yang kurang memadai maka phase ini akan berlangsung sampai beberapa hari bahkan beberapa minggu.0.

Saat silase di konsumsi oleh ternak. Tidak akan ada lagi proses penguraian selama tidak ada udara/oksigen yang masuk atau di masukan. Hijauan pada umumnya akan mencapai kadar pH 4. maka karbohidrat yang akan terurai menjadi latic acid juga makin bertambah. Kejadian ini berlangsung karena pH masih di atas 5. Untuk pengawetan yang efisien.0 (Tonyu. Latic acid ini sangat di butuhkan dan memegang peranan paling penting dalam proses fermentasi.  Phase V Pencapaian final kadar pH tergantung dari jenis bahan baku yang di awetkan.5. Maka pada phase ini latic acid akan bertambah terus.Makin menurunnya kadar pH akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan bakteri anaerob lainnya yang memproduksi latic acid. Bakteri anaerobic ini akan memproduksi butyric acid dan bukan latic acid. dan hijauan atau bahan baku lainnya mulai terawetkan. yang akan menyebabkan silase berasa asam. Phase 4 ini adalah phase yang paling lama saat ensiling. Kadar pH saja tidaklah merupakan indikasi dari baik buruknya proses fermentasi ini. Hijauan yang mengandung kadar air di atas 70% akan mengalami proses yang berlainan pada phase 5 ini. Bukan bakteri yang memproduksi latic acid yang tumbuh dan berkembang. dan juga kondisi saat di masukan dalam silo. jagung 4.  Phase IV Dengan bertambahnya jumlah bakteri pada phase 3.0.  Phase VI Phase ini merupakan phase pengangkatan silage dari tempatnya /silo. proses ini berjalan terus sampai kadar pH dari bahan hijauan yang di pergunakan turun terus. Proses yang terjadi dalam 6phase Phase I Phase II Phase III Phase IV Phase V Phase VI . hingga mencapai kadar yang bisa menghentikan pertumbuhan segala macam bakteri. latic acid akan di manfaatkan sebagai sumber energi ternak tersebut. namun bakteri clostridia yang akan tumbuh dan berkembang. produksinya harus mencapai 60% dari total organic acid dalam silase. 2008).

0-7. panas danair Produk si acetic acid dan lactic acid Pembetuk an acid Pembentuk an Lactic acid Penyimpan an Material Pembusukan Aerobic re-exposure dengan oxyg en Perubahan su hu ** Perubahan pH Produksi yg di hasilkan 69-90 F 90-84 F 84 F 84 F 84 F 84 F 6. dan teknologi starbio adalah salah satu produk bioteknologi tersebut.0 4. selulolitik.Umur Silase 0-2 hari 2-3 days 3-4 days 4-21 days 21 days- lactic Respirasi sel.0-5.0 4. Starter mikroba atau starbio adalah probiotik hasil bioteknologi yang dibuat dari koloni alami mikroba rumen sapi dicampur tanah.0 5. 2008) 2. daun serta dahan pohon tertentu.0 Acetic acid dan lactic acid bacteri a Lactic acid bacteria Lactic acid bacteria pembusukan ** Suhu atau temperatur sangat tergantung suhu ruangan. 2010) Untuk meningkatkan kualitas limbah pertanian seperti jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia dapat digunakan starbio ternak yang dapat meningkatkan derajat fermentasi bahan .5-6.0-4. proteolitik.0 4. Koloni tersebut memiliki mikroba yang spesifik dengan fungsi yang berbedabeda seperti mikroba lignolitik.1.2 Pengolahan Jerami Padi dengan Memanfaatkan Mikroba Kemajuan bioteknologi dengan memanfaatkan mikroba merupakan alternatif cara optimalisasi daur ulang limbah pertanian.0 6. (Mahardika. (Tonyu. akar rerumputan. menghasilka n CO2.

Lignin merupakan benteng pelindung fisik yang menghambat daya cerna enzim terhadap jaringan tanaman dan lignin berikatan erat dengan hemiselulosa. Prosedur pelaksanaan pengolahan jerami padi adalah a.organik terutama komponen serat sehingga menyediakan sumber energi yang lebih baik. terlebih dahulu dipersiapkan tempat fermentasi berupa naungan/tempat fermentasi (misalnya tiang dari bambu dan atap dari daun nipah).6 %/berat jerami padi dan kemudian disiram air secukupnya mencapai kadar air 60 %. Disamping itu fermentasi jerami padi dengan strarbio dapat melarutkan sebagian zat-zat makanan atau mineral-mineral yang sukar larut sehingga mengakibatkan meningkatnya kecernaan bahan kering dibanding jerami padi tanpa fermentasi. Tahapan point pertama diulangi hingga ketinggian mencapai ketinggian tertentu (misalnya dua meter). dan . Jerami padi ditumpuk 30 cm. Setelah 21 hari jerami padi dibongkar lalu diangin-anginkan atau dikeringkan. Pelaksanaan fermentasi jerami padi dengan menggunakan starbio dan penambahan urea. b. c. Hal yang samakecernaan bahan organik juga mengalami peningkatan pada jerami padi yang difermentasi. Penggunaan starbio dalam fermentasi dapat menurunkan kadar dinding sel jerami padi. kalau perlu diinjak-injak lalu ditaburi urea dan starbio masingmasing 0. apabila air tidak menetes tetapi tangan basah berarti kadar air mendekati 60 %. Menurunnya kadar lignin menunjukkan selama fermentasi terjadi penguraian ikatan lignin dan hemiselulosa. d. Mikroba lignolitik dalam starbio membantu perombakan ikatan lignoselulosa sehingga selulosa dan lignin dapat terlepas dari ikatan tersebut oleh enzim lignase. Hal ini memberikan indikasi bahwa selama fermentasi terjadi pemutusan ikatan lignoselulosa dan hemiselulosa jerami padi. dengan tanda-tanda jerami padi diremas. Tumpukan jerami padi dibiarkan selama 21 hari dan tidak perlu dibolak-balik. Fenomena ini terlihat dengan menurunnya kandungan selulosa dan lignin jerami padi yang difermentasi. Fenomena ini memberi indikasi bahwa probiotik starbio dalam proses fermentasi mampu mencerna lignin dan zat-zat yang sukar larut yang terdapat dalam bahan organik. Dengan fermentasi jerami padi dengan starbio menunjukkan peningkatan kualitas dibanding jerami padi yang tidak difermentasi. dimana kadar protein kasar mengalami peningkatan dan diikuti dengan penurunan kadar serat kasar.

Dalam proses pembuatan pakan ternak. SARAN Adapun saran yang dapat diambil dalam makalah ini adalah: 1. (Mahardika. juga dapat digunakan mikroba. 2010) u BAB III PENUTUP 1.e. mikroba berperan penting. 2. Jerami padi diberikan pada ternak sapi atau dapat disimpan sebagi stok pakan. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan diatas. adapun beberapa contoh mikroba. yaitu 2. Untuk penulis selanjutnya agar memperbaiki dan menggali kembali mengenai mikrobiologi industri. . dapat diamil kesimpulan. Mekanisme kerja mikroba dalam pembuatan antibiotika dapat terjadi melalui pemurnian dan pengekstrakan serta ada yang melalui 6 fase. contohnya silase serta pembuatan jerami. Dalam proses pembuatan antibiotika. contohnya penisilin 3. karena dianggap tulisan yang penulis buat masih jauh dari kata sempurna. yaitu 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->