P. 1
Bersalam-Salaman Setelah Sholat

Bersalam-Salaman Setelah Sholat

|Views: 18|Likes:
Published by Aldi Ahmad

More info:

Published by: Aldi Ahmad on Apr 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2013

pdf

text

original

Bersalam-salaman Selesai Sholat

Oleh : Remdan Hamzah

Asalamua’laikum ww Dalam suatau riwayat Rasulullah SAW bersabda : “ Ketika dua orang muslim berjabat tangan, sebelum merakaberpisah Allah SWT telah mengampuni dosa keduanya. Dengan demikian dimungkinkan semakin banyak berjabat tangan (bersalam-salaman) sesama saudara muslim, maka semakin berpeluang mendapatkan ampunan dari Allah SWT terhadap dosadosa yang pernah dilakukan. Karena dosa-dosa itu terjadi kebanyak bermula dari interaksi sesama anak manusia. Terinspirasi oleh ganjaran sedemikian itu dari allah SWT maka kita berupaya untuk sering-seringlah berjabat tangan ketika bertemu dan berpisah, di mana saja dan kapan saja. Berjabat tanganadalah suatu bentuk refleksi dari keinginan untuk selalu dekat, bersahabat, mencairkan kebekuan ! Karenanya berjabat tangan menjadi symbol persahabatan dunia, memelihara silaturrahim dan menyambung silaturrahmi. Fenomena ini sudah terpelihara di kalangan umat muslim, bahkan dalam pergaulan internasional, baik even resmi, formal maupun non formal. Terlebih lagi umat muslim sangat melazimkan

kebiasaan ini, terutama ketika berjumpa di majelis-majelis terlebih lagi berjamaah di masjid-masjid. Jika di hitung tidak kurang dari 10 kali sehari-semalam dalam lima waktu sholat rawatib kita bersalaman sebelum dan setelah sholat. Dari moment-moment terbaik itu, ada satu kesempatan, yakni ketika selesai melaksanakan sholat berjamaah, selesai salam ke kanan dan kekiri. Sesaat setelah ada kebiasaan yang perlu dipertimbangkan bahkan diselisih ! tentang apakah ada tuntunannya setelah salam itu dilanjutkan dengan bersalamsalaman (berjabat tangan) ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang ? Tuntunan Rasulullah SAW, Apabila selesai mengerjakan sholat fardu kita disunahkan untuk beristighfar tiga kali : Diriwayatkan dari abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah bersabda ; “Barang siapa bertasbih kepada Allah 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali yang seluruhnya berjumlah 99 kali, disempurnakan menjadi 100 kali dengan bacaan : Laa Illaha illallahu wahdahu, laa syarikaa lah, Lahulmulku, walahul hamdu, wahu wa ‘alaa kulli syaiin qadir , maka dosanya diampuni, meskipun sebanak buih di lautan (HR Muslim) Ketika diselisih kebiasaan bersalam-salaman selesai salam di akhir sholat, belum ditemukan dalilnya yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan kebiasaan tersebut. Begitu pula larangannya !

karena merasa terganggu ketika tangan kita bersaling-silang di hadapannya. Janganlah da kesan bersalam-salaman (berjabat tangan) ini seolah-olah sebagai bagian dari pada pelaksanaan sholat. Para jamaahnya mengutamakan untuk secepat-cepatnya beristighfar. terlihat kecanggungannya dikarenakan ketidak lazimannya diajak seperti itu. Allah SWT. berzikir dan berdo’a. Apalagi apabila kita berniat keluar lebih awal pulang barangkali tidaklah perlu sampai mecolek jamaah yang tengah berzikir untuk disalami. lalu bertebaran meninggalkan masjid. Sehingga kebiasaan bersalamsalaman selesai sholat itu memungkinkan atau berpotensi merusak kekhusukan orang lain/jamaah lain. mari kita member ruang dan kesempatan kepada jamaah yang berkeinginan memaksimalkan waktunya untuk berzikir di masjid psca sholatsholat fardu rawatib. Tidak ada maksud lain mengetengahkan permasalahan ini kecuali sebagai upaya meningkatkan kualitas ibadah kita. Di beberapa masjid memang ada yang tidak melazimkan kebiasaan bersalam-salaman (berjabat tangan) setelah salam sesufah sholat. Barulah setelah rangkaian itu selesai mereka bersalam-salaman.Lalu apa permasalahannya. Sementara dia telah memulai berzikir atau berdo’a merendahkan diri keharibannya. Mari kita memilih waktu yang paling tepat dan berhati-hati untuk bersalam-salam agar tidak mengusik kekhusukan jamaah lain dalam berzikir. Terlebih lagi jamaah singgah yang mungkin belum mengenal kebiasaan itu. mengintrospeksi prilaku tersebut yang telah menjdi kebiasaan itu untuk diteruskan atau dihentikan ? yang tentu saja berlandaskan dalil-dalil yang kuat jangan hanya dilandasi hawa nafsu belaka ! Sementara kita mencermati masalah ini. Jika dimungkinkan marilah kita bersama-sama mengevaluasi. sehingga menjadi keharusan para jamaah ! Sehingga niat baik menghasilkan sesuatu hal yang kurang baik ! Wallahu a’lam bis showab ! . dan untuk keperluan apa mengangkat topik ini ? Topik ini menjadi menarik dan perlu diperbincangkan ketika dihadapkan dengan masalah “Etika” karena ada orang-orang tertentu berkeberatan dikondisikan seperti itu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->