Perkawinan Wanita Hamil Di Luar Nikah Perkawinan menurut Islam adalah sebuah proses pembentukan keluarga yang tidak

dapat diselenggarakan diluar ketentuan. Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam yang digali dari sumber-sumbernya baik dari Al Qur‟an, As Sunnah dan hasil Ijtihad atau pendapat para ulama‟. Oleh karena itu bagi orang Islam suatu kemestian untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan yang dituntun oleh dalil-dalil yang jelas dan benar dalam soal kecil sekalipun. Bagi seorang gadis tentu dia tidak pernah hamil, karena belum pernah kawin, yang menjadi persoalan adalah ternyata dia hamil, maka dapat dipastikan bahwa kehamilannya itu adalah hasil hubungan seksual diluar perkawinan dihukumkan zina, jika wanita yang berbuat zina itu hamil, maka para imam mazhab fiqh berbeda pendapat, apakah wanita yang hamil itu boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Tetapi ada pula pendapat imam madzab yang tidak membolehkan wanita yang hamil itu melangsungkan perkawinanya. Jika kawin hamil dilangsungkan, maka timbul persoalan lain, yaitu tentang status anak yang dikandung oleh wanita tersebut, apakah status nasab dihubungkan kepada ibunya atau kepada orang yang mengawini. Berdasarkan persoalanpersoalan tersebut, penulis mencoba mengungkapkan pendapat-pendapat para imam mazhab tentang perkawinan wanita hamil. l Menurut Imam Mazhab Istilah perkawinan wanita hamil adalah perkawinan seorang wanita yang sedang hamil dengan laki-laki sedangkan dia tidak dalam status nikah atau masa iddah karena perkawinan yang sah dengan laki-laki yang mengakibatkan kehamilannya. Mengenai ketentuan-ketentuan hukum perkawinan wanita hamil dalam pendapat para imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i dan Ahmad bin Hanbal), mereka berbeda pendapat, pada umumnya dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu : a. Imam Hanafi dan Imam Syafi‟i Beliau mengatakan bahwa wanita hamil akibat zina boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Menurut Imam Hanafi :” Wanita hamil karena zina itu tidak ada iddahnya, bahkan boleh mengawininya, tetapi tidak boleh melakukan hubungan seks hingga dia melahirkan kandungannya”. Menurut Imam Syafi‟i :” Hubungan seks karena zina itu tidak ada iddahnya, wanita yang hamil karena zina itu boleh dikawini, dan boleh melakukan hubungan seks sekalipun dalam keadaan hamil. Menurut mereka wanita zina itu tidak dikenakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan sebagaimana yang ditetapkan dalam nikah. Karena iddah itu hanya ditentukan untuk menghargai sperma yang ada dalam kandungan istri dalam perkawinan yang sah. Sperma dari hubungan seks diluar nikah tidak ditetapkan oleh hukum. Dasar yang mereka gunakan adalah Al Qur‟an Surat An Nur ayat 3, yaitu : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

Menurut Imam Hanafi meskipun perkawinan wanita hamil dapat dilangsungkan dengan laki-laki, tetapi dia tidak boleh disetubuhi, sehingga bayi yang dalam kandungan itu lahir. Menurut Imam Syafi‟i, perkawinan wanita hamil itu dapat dilangsungkan, dapat pula dilakukan persetubuhan dengannya. Memperhatikan pendapat Imam Syafi‟i, maka seorang wanita hamil karena hasil melakukan hubungan seks diluar nikah jika dia melangsungkan perkawinan dengan seorang laki-laki maka kehamilannya itu tidak mempengaruhi dalam perkawinannya. b. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal Menurut Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sama halnya dengan yang dikawini dalam bentuk zina atau syubhat atau kawin pasid, maka dia harus mensucikan diri dalam waktu yang sama dengan iddah. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengemukakan alasan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. ”Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat menyiramkan airnya (sperma) kepada tanaman orang lain, yakni wanitawanita tawanan yang hamil, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mengumpuli wanita tawanan perang sampai menghabiskan istibra‟nya(iddah) satu kali haid” ( Hr.Imam Bukhari) Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mengambil kesimpulan dari kedua hadits tersebut, bahwa wanita hamil tidak boleh dikawini, karena dia perlu iddah. Mereka memberlakukan secara umum, termasuk wanita hamil dari perkawinan yang sah, juga wanita hamil dari akibat perbuatan zina. Adapun penentuan larangan perkawinan wanita hamil tersebut berawal dari pendapat mereka yaitu, wanita hamil karena zina tetap memiliki iddah, maka wanita hamil tidak boleh melangsungkan perkawinan sampai dia melahirkan kandungannya. Dengan demikian wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, wanita hamil karena zina harus bertaubat, baru dapat melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang mengawininya. Dengan hadits tersebut, mereka berkesimpulan bahwa wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan, karena dia perlu beriddah sampai melahirkan kandungannya. Pendapat mereka ini dapat dimengerti agar menghindari adanya pencampuran keturunan, yaitu keturunan yang punya bibit dan keturunan yang mengawini ibunya. Oleh karena itu Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal memberlakukan iddah secara umum terhadap wanita hamil, apakah hamilnya itu karena perkawinan yang sah, ataukah kehamilannya itu akibat dari hubungan seksual diluar nikah. Dengan demikian, perkawinan wanita hamil dilarang. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Status perkawinan wanita hamil dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan pada Bab VIII Pasal 53 ayat 1, 2 dan 3 yaitu : 1) Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria menghamilinya; 2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebutkan pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. 3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Pasal 53 ayat 2 KHI menyatakan bahwa perkawinan wanita hamil itu benar-benar

dilangsungkan ketika wanita itu dalam keadaan hamil. Sedangkan kelahiran bayi yang dalam kandungannya tidak perlu ditunggu. Dalam KHI perkawinan wanita hamil akibat perbuatan zina tidak mengenal iddah. Namun perkawinan wanita hamil seperti pasal 53 ayat 1, hanya boleh dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya. Untuk mengetahui siapakah laki-laki yang menghamili wanita itu sangat sulit, apalagi dihubungkan dengan pembuktian menurut hukum Islam harus disaksikan oleh empat orang saksi. Pembuktian itu semakin sulit apabila adanya usaha secara sengaja menutup-nutupi, atau orang yang pernah menzinahi beberapa orang. Pasal 53 ayat 1 dan 2 tersebut semacam ada sikap yang tidak konsisten. Dikatakan demikian, karena apabila berpedoman kepada Pasal 53 ayat 2 KHI, tersebut ternyata hanya berpedoman kepada formalitasnya saja, yaitu karena wanita hamil tersebut belum pernah menikah, maka kemudian ketentuan yang berlaku baginya adalah hak kegadisan, walaupun kenyataanya wanita itu telah hamil. Kemudian pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa, dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan lagi perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Adanya ketentuan bahwa perkawinan tersebut tidak perlu diulangi lagi, maka menjadi isyarat bahwa perkawinan terdahulu telah dinyatakan sah. Wallahu a'lam. Diposkan oleh Imam Basori, M.Ag di 22:34

Imam Malik dan Imam Syafii tidak mensyaratkannya. sebagaimana ditegaskan ayat-ayat al Qur’an. dan Umar r. sebagaimana pendapat Umar. menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ibnu Abbas. Karena nasab itu hanya terlahir dari hubungan yang sah (pernikahan) sebagaimana hadits Rasulullah saw. Tetapi karena alasan kemanusiaan.S Isra .a memukul laki-laki dan perempuan yang berzina. “Sahabat Umar r.” Karena nasab anak (hasil) zina tersebut kepada ibunya. seharusnya si suami tersebut bertanggung jawab teradap nafkah anak tersebut. Pertama. Jika si suami menolak. Yang artinya: Ibnu Abbas Mengatakan : “Permulaannya Zina dan diakhiri dengan nikah”. maka nafkah anak menjadi tanggung jawab istri dan atau kerabatnya. 32) Kedua. (Q. Yang artinya: Di riwayatkan. Islam membolehkan laki-laki dan perempuan yang berzina untuk menikah atau dinikahkan dan tanpa menunggu iddah jika siperempuannya hamil. Sebagian yang lain seperti Abu Hanifah. . Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah itu nasabnya kepada ibunya bukan kepada laki-laki penzina. Yang artinya: “Anak (yang sah) itu adalah hasil di kasur (hubungan suami isteri).wb.sekarang sudah hamil 8 bulan. dan penzinanya itu di hukum. Ketiga.bagaimana hukumnya dan solusinya bagaimana mohan penjelasan.pihak keuarga hendak menikahkan mereka. dengan syarat kedua orang yang berzina tersebut itu bertaubat . saudara saya perempuan hamil diluar nikah oleh pacarnya. wassalamu’alaikum wr.a berketetapan untuk menikahkannya”. maka ibu dan atau kerabatnya yang memebri nafah kepada anak tersebut. diantaranya “Janganlan kamu sekalian mendekati zina”. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah.wb Assalamu alaikum wr. Sedangkan laki-laki penzina tdak bertangung jawab.Assalamu’alaikum wr. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Ishaq dan Abu ‘Ubaid membolehkan kedua orang yang berzina menikah.wb. Ibnu Mas’ud. Sebagian Ulama seperti Qatadah. Zina adalah perbuatan dosa besar yang sangat dicela Allah swt.

Anak yang terlahir adalah amanah. ia harus mendapatkan riayah. Ajak saudara Anda untuk bertaubat dan menyadari kesalahan dan bekomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya. nikahkan keduanya (yang berzina) tanpa menunggu iddah (jika hamil dan belum melahirkan). Semoga Allah membimbing bapak dan keluarga. sekaligus ia dan kerabatnya memiliki tangung jawab menafkahi anak tersebut jika si bapak menolak menfkahinya. maka di sarankan kepada penanya beberapa hal : 1.wb. Nasab janin tersebut kepada ibunya. atas dasar beberapa tuntunan fikih islam di atas. 2. pendidikan dan pembinaan supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah.Keempat. 4. Home . Aminn Wallau a’lam bi ash sowab Wassalamu alaikum wr. 3. layaknya anak-anak lain yang lahir dari hubungan yang sah. Setelah bertaubat.

Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. Kemudian beliau berkata : “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah”. Bila sudah terlanjur menikah. Ath-Tholaq : 4). Takmilah Al-Majmu‟ 17/347-348.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. AlMuhalla 10/263 dan Zadul Ma‟ad 5/156. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. (QS. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Jawab : Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah nya.Hukum Nikah Dalam Keadaan Hamil Posted by Admin pada 27/06/2009 1. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya”. Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala : “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya”. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. (QS.) Adapun perempuan hamil karena zina. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini Wal „iyadzu billah. Al-Baqarah : 235). masalah ini kami uraikan sebagai berikut : . (Lihat : Al-Mughny 11/227. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2.

Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. (QS. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. riwayat Abu Daud no. Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. 3177. Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Al-Hakim 2/180. At-Tirmidzy no. (Martsad) berkata : “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wassallam lalu saya berkata : “Ya Rasulullah. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah „Azza Wa Jalla : “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. beliau berkata : “Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin”. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum . Inilah yang benar tanpa keraguan”. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. maka turunlah (ayat) : “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau lakilaki musyrik. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. (Hadits hasan. Al-Baihaqy 7/153. 2051. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya.Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Dua : Tidak disyaratkan taubat. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat.Martsad berkata : “Maka beliau diam. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Saya nikahi „Anaq ?”. An-Nur : 3). 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : “Jangan kamu nikahi dia”. Ishaq dan Abu „Ubaid. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama : Satu : Disyaratkan bertaubat. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina.

Menyesali perbuatannya. Dar „Alamil Kutub). . AlMughny 9/562-563 (cet. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa AlBayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma‟ad 5/114-115. Wallahu A‟lam. Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. Yaitu dengan lima syarat : 1. (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho‟ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. beliau berkata : “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. dan Al-Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. 4. 5. 2. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat.haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya”. Catatan : Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahariterbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Ber‟azam (bertekad) dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. 3. Ikhlash karena Allah. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Meninggalkan dosa tersebut. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?”.

Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali”. 7/449. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh nber-jima‟ dengannya setelah akad. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. At-Tirmidzi no. Abu Daud no. Kedua : Tidak wajib „iddah.87. AlBaihaqy 5/329. AtsTsaury. beliau bersabda : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212. Al-Baihaqy 7/449. 1131. ada dua pendapat : Pertama : Wajib „iddah. Ahmad 4/108. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. Abu Daud no. 2157. (HR. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini : 1. An-Nakha‟iy. Ibnu Qoni‟ dalam . Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih.Syarat Kedua : Telah lepas „iddah. 2158. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. 2. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain”. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. 187). tapi ada perbedaannantara mereka berdua pada satu hal. Ahmad 3/62. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. (HR. Imam Malik.

Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. (QS. Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. apakah hamilnya itu karena suaminya. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan „iddah bagi perempuan yang berzina. Dan „ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid)”.Mu‟jam Ash-Shohabah 1/217. (Para sahabat) menjawab : “Benar”. Beliau bersabda : “Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?”. Asy-Syinqithy. .). Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. tuannya (kalau ia seorang budakpent. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Al-Baqarah : 228). Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. 2137). Wallahu A‟lam. 3. (QS. Ath-Thobarany 5/no.) atau karena zina”.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Ath-Tholaq : 4). maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza Wa Jalla : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya”. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Ibnul Qayyim. Ibnu Sa‟ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115.

Raudhah Ath-Tholibin 8/375. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa „iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. Zadul Ma‟ad 5/104-105. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Bidayatul Mujtahid 2/40. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut : • Kalau ia hamil. apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?”. Wallahu Ta‟ala A‟lam. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. 154-155. 847-850. 2. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Al-Inshof 8/132-133. Al-Fatawa 32/109-134. baik hamil karena pernikahan sah. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. • Kalau ia belum hamil. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa „iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para „ulama. Wal „Ilmu „Indallah. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. . Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat : “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya”. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. „iddahnya adalah sampai melahirkan. syubhat atau karena zina. Takmilah Al-Majmu‟ 17/348-349. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Al-Ifshoh 8/81-84. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. Kalau ada yang bertanya : “Setelah keduanya berpisah. 11/196-197. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya.Kesimpulan Pembahasan : 1. 2.

maka nikahnya batil. 315. 10/148. At-Tirmidzi no. Al-Hakim 2/182-183. maka kembali diwajibkan mahar atasnyaberdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala : “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan” (QS.4750. Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. 2083. 1463. nikahnya batil. Al-Baihaqy 7/105.138. 4074.66. Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. Ahmad 6/47. 700. 1102. Adapun mahar.698. 1879. (HR. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya. Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah 6/88. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no.3. Ibnu Abi Syaibah 3/454.dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali”. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840).124. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : .275. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut. dan dalam Al-Umm 5/13. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 4682.165. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195. An-Nisa` : 4). Ath-Thohawy dalam Syarah Ma‟any Al-Atsar 3/7.4837. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Demikian rincian Ibnu Qudamah. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Ibnu Majah no. Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166. Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha. 7/284. 7/171. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. Ad-Darimy 2/185. Abu Daud no. nikahnya batil.166. Ad-Daruquthny 3/221. AlHumaidy dalam Musnadnya 1/112.222. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya. Sa‟id bin Manshur dalam sunannya 1/175. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal.

َ ‫َ م ّللا ل ِ ْ َ َ ل ْ ُ َ َ ْ َ ل‬ ْ َّ ُ َْ ‫َ َل‬ ْ ‫ل‬ ْ ‫والَّذٌِنَاا َاا ٌَدعُونَاامعَاا َّااإِلَهااآَخرَااو َااٌقتلُونَااالنفسَااالَّتًِاحرَّ اا َّا ُاإِ َّاابالحقِّااو َ اا ٌَزنونَااومنْاا ٌَفع ااذلِكَاا‬ ِ‫َ ّللا‬ َ َ ََ‫ٌَ ْلقَااأث‬ ‫اما‬ . Hal ini sudah dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat kita. Fenomena yang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini.“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban”. Si wanita dengan menahan malu telah memiliki isi dalam perutnya. Al Isro‟: 32) Dalam ayat lainnya.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya.” (QS. Wallahu A‟lam. Semoga artikel sederhana berikut ini bisa memberikan pencerahan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran. Hanya Allah yang beri taufik. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.200 dan Zadul Ma‟ad 5/104-105. ‫ِّ ه َ َ ِ َ ة َ َ ء َ ٌِل‬ ‫و َااتقربُوااالز َنااإ َِّن ااكانَاافاحش ااوسا ااسب ا‬ ُ َ َ َْ ‫َل‬ “Dan janganlah kamu mendekati zina. Bahaya Zina Allahh Ta‟ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. AllahTa‟ala berfirman.id/stories. Allah Ta‟ala berfirman. Al-Fatawa 32/198.php?id=1332. http://www. 24 Maret 2010 21:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu „ala Rosulillah wa „ala aalihi wa shohbihi wa man tabi‟ahum bi ihsanin ila yaumid diin. Lihat : Al-Mughny 10/186-188. sebelum mendapat label sah sebagai pasangan suami istri. yang sulit terelakkan lagi adalah perzinaan.(QS. Rabu.darussalaf. Sumbr: Tulisan Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494.or. Dan suatu jalan yang buruk. dari milis an nashihah. dimuat dalam Risalah Ilmiyah An-Nashihah vol ke-5. Namun masalah yang timbul adalah bolehkah wanita tersebut dinikahi ketika ia dalam kondisi hamil? Lalu apa akibat selanjutnya dari perbuatan zina semacam ini.

”[2] Inilah besarnya bahaya zina. “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan.افإذااتوفراالشرطاناجازاالزواجامنهاا،ا‬ ‫والدلٌلاعلىاوجوباالستبراءاقولهاصلىاّللااعلٌهاوسلمافٌماارواهاأبواسعٌداالخدريارضًاّللااعنها"لاتوطأاحاملاحتىاتضع،اولاغٌراذاتاحملاحتىاتحٌضا‬ ‫حٌضة". akhirnya terjadilah apa yang terjadi. padahal Dia-lah yang menciptakanmu.اشكرا‬ Apakah boleh seseorang menikahi wanita yang dizinai dan ia tahu bahwa wanita tersebut betul telah dizinai sebelum menikahinya. barang siapa yang melakukan yang demikian itu. dan tidak berzina. Pertanyaan: ‫هلاٌجوزالشخصاأناٌتزوجامناإمرأةازانٌةاوهواٌعلماأنهاازنتاقبلاأناٌتزوجها،اوهواٌرٌداأناٌسترا‬ ‫علٌهااألنهااقرٌبته،اوأرجوااإلفادةامنكما،اهلاٌمكنامعرفةاالمفتًا. Apakah hal ini mungkin? Syukron. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Artinya.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas. orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan. َُ ‫ث ااأَنْااتزانِىَاابحلٌِلَ ااجاركَا‬ ‫ُم‬ ِ َّ ِ َ ‫ِ َ ة‬ “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. “Wahai Rasulullah. Terjerumuslah dalam dosa besar zina karena tidak mengindahkan berbagai jalan yang dapat mengantarkan pada zina seperti bentuk pacaran yang dilakukan muda-mudi saat ini. tanggal Fatwa 23 Jumadil Ula 1422 H. Aku ingin jawaban dari kalian mengenai hal ini.” Kemudian ia bertanya lagi. 9644 mengenai syarat menikahi wanita yang dizinai. Al Furqon: 68). maka iman itu akan kembali padanya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Namun itulah yang terjadi jika hal ini dilanggar. Jika dia lepas dari zina. Ia ingin menutup aibnya dengan menikahinya karena wanita tersebut masih kerabatnya. ا‬ . Oleh karenanya.” Kemudian ia bertanya lagi. Dalam hadits lainnya. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” (QS. apalagi berzina dengan istri tetangga.“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina Ada beberapa fatwa ulama yang kami temukan. Jadilah di antara mereka hamil di luar nikah. َ َ َ َ ‫إِذااز َنىاالرَّ جُ ااخرجَاام ْن اااإلٌِمانُااكانَااعلَ ٌْ ااكالظلَّ اافإِذااا ْنقطعَاارجعَااإِلَ ٌْ اااإلٌِمانُا‬ ‫ه‬ ‫ل َ َ ِه‬ ُ ُ ِ ِ ِ َ َ َ َ َ َ َ ‫َ ه َ ُّ ة‬ “Jika seseorang itu berzina. dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda. di antaranya adalah Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah no.اأخرجهاالبغويافًاشرحاالسنةاوأبواداووداوقالاابناحجرافًاالتلخٌصاإسنادهاحسناوصححهاالحاكماوقالاعلىاشرطامسلما.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina. Jawaban: :‫الحمداهللاوالصلةاوالسلماعلىارسولاّللااوعلىاآلهاوصحبهاوسلماأماابعد‬ ‫فإناالزواجامناالزانٌةامختلفافٌها،افمناالعلماءامناٌقولابصحته،اومنهمامناٌقولابمنعها،اوممناقالابمنعهااإلماماأحمد،اوهواقولاٌشهدالهاظاهرااآلٌةاالكرٌمةا(ا‬ ‫الزانًالاٌنكحاإلازانٌةاأوامشركةاوالزانٌةالاٌنكحهااإلازاناأوامشركاوحرماذلكاعلىاالمؤمنٌنا)ا[النور:3] ا‬ ‫وعلٌهافلاٌجوزالمناعلمامناامرأةاأنهااتزنًاأناٌتزوجهااإلابشرطٌن:اأحدهما:االتوبةاإلىاّللااتعالى،اثانٌهما:ااستبراؤها. Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya.

dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Sebagian ulama mengatakan bahwa menikahi wanita tersebut dinilai sah. menikahi wanita yang telah dizinai jika wanita tersebut betul-betul telah bertaubat pada Allah dan telah melakukan istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim dari mani hasil zina). maka ketika dua syarat ini terpenuhi boleh menikahi dirinya dengan tujuan apa pun. َ ‫َ ل َ ان و ُ ْ ِ ك َ م‬ ُ ‫الزانًِا َاا ٌَ ْنك ااإِ َّاازان ٌَ ااأَ ْاامشرك ااوالزان ٌَ اا َاا ٌَ ْنكِحُ هااإِ َّااز ااأَ ْاامشر ااوحُرِّ ااذلِكَااعلَىاالمُؤمنٌِنَا‬ ‫َّ ل ِ ح ل َ ِ ة و ُ ْ ِ َ ة َ َّ ِ ة ل‬ ُ ِ ْ ْ َ َ “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. ا‬ ‫وّللااأعلم.[5] –Demikian Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah-. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki . shalawat dan salam kepada Rasulullah. Pendapat ini didukung kuat dengan firman Allah Ta‟ala. Jika dua syarat ini telah terpenuhi. Sebagian ulama lainnya melarang hal ini. Kedua: Istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim). Amma ba‟du: Mengenai hukum menikahi wanita yang telah dizinai. keluarga dan para sahabatnya. Simpulannya. Wallahu a‟lam. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. Dalil yang mengharuskan adanya istibro‟ adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Jika tidak terpenuhi dua syarat ini. maka wanita tersebut baru boleh dinikahi. maka tidak boleh menikahinya walaupun dengan maksud untuk menutupi aibnya di masyarakat. An Nur: 3) Jika seseorang mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita yang telah dizinai. Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra‟ terlebih dahulu. Inilah pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh para ulama Hambali dan Malikiyah karena didukung oleh dalil yang begitu gamblang. maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama.” (QS. Di antara ulama yang melarangnya adalah Imam Ahmad.”[3][4] Ringkasnya. konsekuensi dari menikahi wanita hamil adalah nikahnya tidak sah.‫والخلصةاأناالزانٌةاإذااتابتاإلىاربهااوتحققتابراءةارحمهاامناماءاالسفاحاجازانكاحهاابأياغرضاكانا،افإذاافقداأحداالشرطٌنالماٌجزانكاحها؟اولوابقصدا‬ ‫الستراعلٌها،اوالتغطٌةاعلىاعملهااالقبٌحا. ا‬ Segala puji bagi Allah. baik yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lainnya. maka ia boleh menikahi dirinya jika memenuhi dua syarat: Pertama: Yang berzina tersebut bertaubat dengan sesungguhnya pada Allah Ta‟ala. atau perempuan yang musyrik. َ َ ‫ل ُ َ أ َ ِل َ َّ َ َ َ ل‬ َّ َ ‫َ ل‬ ‫َ َة‬ ‫اَاتوطا ُاحام ااحتىاتضعَااو اَاغ ٌْرُااذاتِااحمْ ااحتىا َتحٌِضَااح ٌْض ا‬ “Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro‟nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh.

maka walinya bukan laki-laki tadi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan. Status Anak Hasil Zina Adapun nasab anak. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. baik karena taqlid (ngekor beo) kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. karena dia itu tidak memiliki wali. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. 3. ia dinasabkan kepada ibunya. bukan pada bapaknya. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. ُ ‫الولَ اال ِْلفِراشِااول ِْلعاهِرِااالحجرُا‬ َ َ ْ َ َ َ ‫َْ د‬ “Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang.[7] Bila seseorang meyakini bahwa pernikahan semacam ini (menikahi wanita hamil) itu sah. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. namun walinya adalah wali hakim. Jadi yang berlaku padanya adalah hukum anak tiri. Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.[8] Ringkasnya. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. Jika wanita yang hamil tadi dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya. Namun anak tersebut dinasabkan pada ibu dan keluarga ibunya. status anaknya hanyalah seperti robib(anak tiri). Wallahu a‟lam. alias dia adalah anak tanpa bapak. “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah. maka anaknya tetap dinasabkan pada ibunya. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”. Sedangkan suami tersebut.serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. . Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya (walaupun itu jadi suaminya). maka pernikahannya itu tidak sah. Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada bapaknya. 2. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui. bila telah selesai istibra‟ dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.”[6] Firasy adalah ranjang dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. Anak itu tidak berbapak. konsekuensinya: 1.

Inilah akibat dari perbuatan zina. 7532 dan Muslim no. 8/417. Ibnu Katsir. para salaf mengatakan. [9] Tafsir Al Qur‟an Al „Azhim. memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Oleh karena itu.remajaislam. 86. Keturunannya pun akhirnya rusak karena anak hasil zina tidak dinasabkan pada bapak hasil zina dengan ibunya. [3] HR. [7] Lihat Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah. 2157. ُ ُ َ َ ‫مِنْاا َثوا ااالحس َن ااالحسن اا َبعْ دَ ها،اومِنْااجزاءِااالسٌ َئ ااالسٌئ اا َبعْ دَ ها‬ ‫َّ ِّ ة َّ ِّ َ ة‬ ‫َ ب َ َ ة َ َ َة‬ ِ ِ ِ َ َ َ “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya. maka keburukan berikut pula yang didapat. cetakan kedua. Abu Daud no. nikahnya pun tidak sah. Darul Wafa‟. tahun 1426 H. cetakan ketiga. 1420 H . akhirnya nasab menjadi rusak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.com [1] HR. Gara-gara zina. Awalnya hamil di luar nikah (alias zina).com. [5] Lihat Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah. Bukhari no. [2] HR. [6] HR. Kalau nikahnya tidak sah berarti apa yang terjadi? Yang terjadi adalah zina. Setiap yang ditanam pasti akan dituai hasilnya. maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibro‟ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil.Penutup Setelah kita melihat pembahasan di atas. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil. Asy Syamilah. 2/2587. Diselesaikan di Pangukan-Sleman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 32/66-67. 2/4764. 1457. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. dipublish ulang oleh http://rumaysho. Bukhari no. 6749 dan Muslim no. [4] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama. Akhirnya karena nekad dinikahi ketika hamil. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Daar Thoyyibah.”[9] Semoga Allah senantiasa memberi taufik. 9 Rabi‟ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 24/03/2010) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www. Jika yang ditanam keburukan. [8] Lihat Majmu‟ Al Fatawa.

” (QS. Munakahat & Keluarga.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Muslimah | Share 201 Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain 1. Bila sudah terlanjur menikah. Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal „iyadzu billah. Al-Baqarah: 235) . Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut: 1. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah[1]nya. Ath-Tholaq: 4) Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala: “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam: Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.” (QS.Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil posted in Fiqh Ibadah.

apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik.Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya. Inilah yang benar tanpa keraguan.” (QS. Ishaq dan Abu „Ubaid. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. An-Nur: 3) Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Dua: Tidak disyaratkan taubat. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama: Satu: Disyaratkan bertaubat. beliau berkata: .” Lihat: Al-Mughny 11/227.” Tarjih di atas berdasarkan firman Allah „Azza wa Jalla: “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin. masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah.” Kemudian beliau berkata: “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah. Adapun perempuan hamil karena zina. Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista.

Dar „Alamil Kutub). Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. : Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul) Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah. riwayat Abu Daud no. .. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat.” (Haditshasan. ‫؟‬ : : (( : )) . 3177. Saya nikahi „Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Catatan: Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya. 2051. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia. AlHakim 2/180.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermaknajima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. At-Tirmidzy no. dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84. Al-Mughny 9/562-563 (cet. maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115. Al-Baihaqy 7/153.

ada dua pendapat: Pertama: Wajib „iddah. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. An-Nakha‟iy. 5. Karena dan untuk permintaannya pada saat berkhalwat (berduaan) bukan mahram) walaupun tidak halalberkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?” Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Tarjih . AtsTsaury. Ber„azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. 3. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. Yaitu dengan lima syarat: 1. beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak ini perempuan untuk berzina dan memintanya. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Meninggalkan dosa tersebut. Menyesali perbuatannya. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah. Wallahu A‟lam. Imam Malik. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Ikhlash karena Allah. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. 4. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima‟ dengannya setelahakad. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. Kedua: Tidak wajib „iddah. 2. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal.Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain.

Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar. 187) 2. Abu Daud no.) atau karena zina. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 7/449. Abu Daud no.” (HR. 1131. Ahmad 3/62. Ath-Thobarany 5/no. 2157. Ad-Darimy 2/224 AlHakim 2/212. At-Tirmidzi no. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent.” . beliau bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Al-Baihaqy 5/329. 2137) 3. Ahmad 4/108.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. Ibnu Sa‟ad dalam Ath- Thobaqot 2/114-115. Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos: “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.).Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini: 1. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.” Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. tuannya (kalau ia seorang budak-pent. Al-Baihaqy 7/449. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.” (HR.87. 2158. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: . Ibnu Qoni‟ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217. apakah hamilnya itu karena suaminya.

Catatan: Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan.Wallahu Ta‟ala A‟lam. Lihat pembahasan di atas dalam: Al-Mughny 9/561-565. Ibnul Qayyim. Dan „ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak.” (QS.” (QS. Zadul Ma’ad 5/104-105. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut: • Kalau ia hamil. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza wa Jalla: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. . Al-Ifshoh 8/81-84. 11/196-197. Al-Baqarah: 228) Kesimpulan Pembahasan: 1. Ath-Tholaq: 4) Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. 154-155. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu: “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid).Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Bidayatul Mujtahid 2/40. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Al-Fatawa 32/109-134. Raudhah Ath- Tholibin 8/375. Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349. 2. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. AlInshof 8/132-133. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Asy-Syinqithy. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan„iddah bagi perempuan yang berzina. • Kalau ia belum hamil. 847-850. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Wallahu A‟lam. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585.

2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?” Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para „ulama.

Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya.” Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin

Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. Wal „Ilmu „Indallah. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). 3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak adamahar bagi perempuan tersebut. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha, Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda:

“Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam Al-Umm5/13,166, 7/171,222, „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa‟id bin Manshur

dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. 4074, Al-Hakim 2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Al-Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840) Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala:

“Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala:

“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A‟lam. Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105. Footnote:

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “„Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut

pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.” Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45&page_order=2

This entry was posted on Tuesday, March 4th, 2008 at 3:48 am and is filed under Fiqh Ibadah, Munakahat & Keluarga, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 29 responses to “Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil”
Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

1.

1

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam:

Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.” Mohon agar matan tulisan ini diedit lagi.

Reply
posted on March 4th, 2008 at 1:25 pm

2.

2

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

bukan malah semakin melanggar syariat dan jatuh 2 kali ke jurang kehancuran dengan menikahi wanita hamil sebab zina (padahal ini haram) yang mana ini sama saja berarti dia itu akan zina seterusnya (karena nikah yang seperti ini tidak sah). Lc.? terima kasih ADMIN: Penjelasan pada artikel di atas insya Allah sudah cukup jelas. juga „utk menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran‟ itu pun bukan alasan. 0.atau mungkin hasil postingnya memang begitu ya. In syâ‟ Allâh artikel ini sesuai aslinya. Menghindari aib itu bukanlah alasan syar‟i. apakah kalau dinikahkan oleh orang tuanya bagaimana.. nikahnya TIDAK SAH. intinya HARAM. Saya coba copy matan hadits /terjemahan diatas yg mana tertulis melaknatnya 2x dan kuburnya2 kali tapi justru berubah. kami tidak memahami maksud antum. karena dia memang telah masuk ke jurang kehancuran akibat zina yang diperbuatnya. Reply posted on March 4th. `Afwan. dan setelah dinikahkan apakah setelah melahirkan perlu dinikahkan kembali. kira2 secara islam bagaimana. tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina . termasuk matan hadîts yang dimaksud. akan tetapi yang dapat menyelamatkannya adalah dengan taubat yang benar. Batam Yayasan Anshorus Sunnah. 2008 at 1:32 pm posted on November 11th. supaya hal tersebut untuk menghindari aib dan menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran. Penjelasan tambahan: Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah) Pertanyaan Melalui: dari al-Ustadz Sekretariat Langsung Abu Abdirrahman via Muhammad Telepon Wildan. lacsana said: saya mau menanyakan tentang anak yang menikah diusia muda karena married by accident. bahkan jika dilakukan alasan itu akan menyebabkan semakin melanggar syariat (karena haramnya menikahi wanita hamil sebab zina). 2009 at 7:28 pm 3.

Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3) Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “. maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum. Artinya. baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya. ‫س سسس سسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫سس سسسس سس سس‬ ‫س سسس‬ ‫س سس‬ ‫س سس س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سسسسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫س سسس سسسس س‬ ‫سسس‬ ‫س سسس سسسس سسسسس سسسس سس س سس س‬ ‫سس‬ ‫س سسس‬ ‫س س سسسس‬ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ . seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya..Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) : Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina. yaitu HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina.Tanya : Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ? ‫سسس سس سس س س : س‬ ‫سس‬ ‫سس س سسس سسسس س : س‬ ‫س‬ ‫سسسس سسسسس سسس س س سسس س : س‬ ‫س‬ ‫س س‬ . Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi . maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut: Pertama: Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur : 3 [‫س‬ ‫سسسسس سسس‬ ] . Artinya: Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah.

maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya. 2010 at 4:31 pm 4. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil. maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut. hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula.orang-orang yang beriman. dan ini adalah bahasa kiasan. maka tidak boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya. 2011. laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina sebab ia telah melakukan akad yang diharamkan yang ia meyakini keharamannya. Jadi. 7 On January 3rd. maka pada saat seperti itu. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih. ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”. Iya. sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158) Reply posted on November 17th. Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu. apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut. Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu „Alaihi Wasallam. yaitu menyiramkan maninya kepada anak dari kandungan orang lain. maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan. risa muthmainnah said: . ada diantara para ulama yang memfatwakan.

saya mau brtanya tentang pndapat singkat imam syafi‟i dan hasan al-bashary ttang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah Reply posted on January 3rd. 2011. lalu tunggu iddah si wanita selesai. 10 On February 9th. Caranya: mereka harus taubat dulu. 9 On January 19th. 2011. uni mutia said: . adiguna said: Bila sudah terlanjur menikah.? apa hukumnya? Reply posted on January 16th. baru kemudian mereka menikah lagi. HARAM dan BATIL/TIDAK SAH. 2011 at 8:05 am 5. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Reply admin reply on April 26th. Reply posted on January 19th. Meliza said: apakah mahar yang berupa uang boleh di bingkai dan di pajang. 8 On January 16th. tanpa perlu perceraian krna hakikatnya mereka selama ini berzina bukan dalam ikatan nikah (karena tidak sahnya pernikahan mereka tadi). maka harus diulang lagi. 2011. 2011 at 3:51 pm 6. demikian insya Allah sah. 2011 at 6:15 pm 7.. 2011: sekalipun sudah terlanjur tetaplah tidak teranggap nikahnya itu. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu.

Reply posted on February 14th. 2011. 12 On February 21st. 2011: ..10000 sebulan sekali bisa dibeli di http://www. 11 On February 14th. apakah sudah ada majalah akhwat dalam bentuk Ebook atau File HTML? Jazakumullohu Khiron Admin. 2011 at 11:17 am 8. 2011. 2011 at 2:47 am 10.com atau agen terdekat. afwan kami tidak membuat majalah akhwat dalam bentuk ebook.alilmu. M. umi yani said: bismillah. 2011 at 12:25 pm 9.afwan. puenting nee… Matur nuwun… Reply posted on February 21st.apakah sepasang suami istri yg menikah dlm keadaan hamil kemudian belum menikah lagi lalu ketika suami mengajak berhubungan badan istri menolak dengan alasan tak ingin berzina lagi apakah istri tersebut dosa?lalu bagaimana kewajiban menafkahi nya? Reply admin reply on April 26th. 2011. buat khasanah ilmu. harga majalah sangat murah hanya rp.ana mau tanya. Abu Sholihah said: Bismillah. Afwan. dengan membeli majalah ini antum telah membantu biaya kegiatan dakwah disini. 13 On March 5th.asslamuallaikum…kenapa ea wanita sekarang banyak yang mengobral aurat mereka??? Reply posted on February 9th. Syamsul Huda said: Izin ngopi….

14 On April 12th. 2011: Silahkan dibaca kembali artikel di atas sudah jelas menjawab pertanyaan anti.. 2. 2011 at 4:45 pm 11.. Ana coba jelaskan ulang. tapi dia pasti tau bahwa sebelumnya sudah berzina. tunggu lepas iddahnya sampai haidh 1 kali. 2011 at 3:22 pm 12. Dia tau maupun tidak tau kehamilannya maka tetap tidak akan lepas dari 2 kemungkinan di atas. 15 On April 29th. jika zinanya tidak menjadikannya hamil maka dia akan haidh. Reply admin reply on April 26th. aisyah said: Bagaimana bila saat menikah dia tidak mengetahui kalau dia sedang hamil. setelah zina itu tentu ada 2 kemungkinan keadaan: 1. bahwa HARAM menikahi wanita hamil. lalu wajib menunggu LEPAS IDDAH. Sekalipun tidak tau trnyata sudah hamil. jika zinanya menjadikan dia hamil maka iddahnya sampai selesai melahirkan. barulah dia halal dinikahi. (Admin/Abu Husain Munajat) Reply posted on April 12th.. yang manapun keadaannya telah jelas apa yang harus dilakukannya. 2011. dan nikahnya BATAL/TIDAK SAH. Tentang iddahnya. wallahu a‟lam. 2011.sampaikan ilmu pada mereka hingga jelas hukum-hukumnya bagi mereka sebagaimana telah dibahas pd artikel di atas.. lalu wajib mereka mengulang nikahnya. maka syaratnya pezina ini sebelum nikah adalah wajib TAUBAT dulu. umi yani said: . tapi sebelum itu keduanya harus bertaubat dan tunggu si wanita itu lepas iddahnya dulu. Reply posted on March 5th.

karena sebelumnya si suami tidak terima? Reply admin reply on May 4th. Wallahu a‟lam. asllamu sebelum dalam hidup manusia bahwa sahnya manusia tidak mngetahui kapan.berarti nikahnya tidak sah ya?berarti tidak wajib menafkahi?lalu bagaimana cara menjelaskan tentang hukum itu. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dengan menaati hukum-hukum-Nya. Dia bisa kembali ke orang tuanya dan jelaskan kepada orang tuanya dan mereka bisa mengadukan kepada pemerintah utk keputusan cerai secara administrasinya. bahkan kami katakan wajib karena meninggalkan maksiat zina itu wajib hukumnya.. tapi yang lebih penting dari itu adalah WAJIB TAUBAT. 2011: Insya Allah sudah jelas di artikel di atas. Cara menjelaskannya tentu si wanita yang lebih tau. 17 On June 6th. dengan ilmiah dan hikmah. sy bertanya saya menguraikan sebuah kalimat. 2011. dimana. Reply posted on April 29th. Si wanita berhak pergi darinya. 2011 at 6:53 pm 13. 16 On May 14th. Jika si laki-laki/‟suami‟ tidak terima maka itu tidak ada urusan thd si wanita karena dia bukan siapa-siapa bagi si wanita. Tapi solusi yang insya Allah lebih baik menurut kami adalah keduanya bertaubat lalu menunggu iddah selesai lalu menikah secara sah. 2011 at 12:31 am 14. Maka tentu saja tidak wajib menafkahi karena dia bukan apa-apanya dan bukan tanggungjawabnya. dirman said: apa hukumnya dalam islam apabila mendatangi pernikahan keluarga kita yg menikah karena telah hamil? Reply posted on May 14th.„afwan.. . irfan buhar said: alaikum. Adapun hidayah adalah dari Allah semata. TIDAK SAH. 2011. misalnya melalui ortunya atau seorang ustadz.

tlong di jawab ya!!! Reply posted on August 4th.. 21 On August 4th. sblm dia melahirkan atau bertaubat. 2011. arie said: klarifikasi pertanyaan di atas. 2011... airin said: assalamualaikum misalkan keduanya sudah benar2 bertobat. maksud saya laki2 yang telah menghamilinya bukan menikahinya… terimakasih. seperti yang diterangkan diatas. 2011 at 9:12 pm 17. apakah bisa diambil kesimpulan bahwa akad nikah dapat dilaksanakan dan sah hukumnya?? jika saat hamil tidak boleh dinikahi. Reply posted on August 4th. 2011 at 8:40 am balasannya terimakasih 16.. apa yg berlaku pada laki2nya dan wanitanya.. dikatakan bahwa wanita yang sedang hamil tidak bisa menikah sblm dia bertobat dan sampai dia telah melahirkan skalipun yg akan menikahinya adalah orang yang berhubungan dgnya. arie said: ass. lalu bagaimana status anak menurut islam?? mohon wass Reply posted on June 23rd. 20 On August 4th. saya mau tnya.. 2011 at 9:15 pm .. siapa pun atas kematianya. Reply 15. bgmna klau si wanita tersebut telah meninggal.sedang apa. apa hukumnya kalau laki2 menikah dengan wanita yang sedang hamil n yang menikah dengan wanita tersebut adalah laki2 yang telah menikahinya??. 2011. 19 On June 23rd.

syukron.atau anak itu adalah anak ibunya dan tidak bisa mendapat warisan? dan kalau anaknya perempuan tidak bisa diwalikan oleh si lelaki itu?apakah benar?apakah ada buku atau referensi yang memuat hal tersbt diatas dengan lengkap?karena si laki-laki sudah pernah diberitahu tentang hal ini tapi sepertinya tidak percaya dan menganggap remeh.dan rencana kami mo nikah kembali. cuma. pertanyaan anda sudah jelas jawabannya. pernah satu kx kami memanggil yg paham tentang agama.18. 22 On August 14th..Mhn penjelasannya. itulah jawabannya.sampai sekarang sudah 10 th usia pernikahan kami. novmery said: akibat perzinahan hamil 3 bln. 2011. Admin: jika melihat pendapat sesuai penjelasan di artikel. 2011.mereka hidup selayaknya suami istri setelah pernikahan itu. apabila anak perempuan kami klau mau menikah. 23 On October 24th.apakah wajib bagi mereka menikah lagi?. Balas Reply . trim‟s wasalam. bagaimana hukum status anak anak itu menurut Islam? Saya pernah mendengar kalau nasabnya tidak bisa dihubungkan dengan laki-laki yang menikahi wanita yang hamil. 2011 at 12:08 am 19.jadi kami sudah mempunyai 3 orang Anak. bapaknya tidak sah menjadi wali buat siAnak.terus kami menikah. Reply posted on August 14th. tdak perlu nikah lgi karena pernikahaan pertama itu sah. gimana ni hukumnya? tolong dibantu. bahkan sekarang mereka memiliki anak kedua. karena kami sudah melahirkan Anak perempuan.kalau seorang laki-laki terpaksa menikahi perempuan yang sudah dihamilinya. dan tidak melakukan pernikahan ulang ketika bayinya sudah lahir. Adawiyah said: Ass. tapi jawabannya. Isampai sekarang kami tidak meyadari kalo pernikahannya selama ini tidak SAH/ HARAM.

tity said: asslmualaikuumm wr.. apakah dlm islam diperbolehkan menikah jika lelaki masih muda dan belum berpenghasilan/msih kuliah ? 4. mohon thx b4 wassalam :D sarannya ya. kami sudah punya niat utk menikah.pdhal hbngan kami sdah brjlan slma 3. rasyid said: bagaimana kalau baru mengetahui hukumnya setelah sekian lama menikah dan telah mempunyai 2 orang anak lagi. kami berdua masih kuliah smster 5 di kmpus dan jurusan yg sama pula. 24 sy On November 13th. 25 On December 12th. 2011. seorang gadis 20th.5 thun. 2011 at 8:36 pm 20.. sy jika tanyakan sikonnya sprti kami : ? 2..wb. disebabkan oleh hal2 lain yg menghalangi mreka untuk dtg k t4 trsebut). ttapi belum punya pnghasilan. jika keluarga dari kedua belah pihak sudah menyetujui untuk menikah. 2011 at 10:40 pm 21.. Reply posted on November 13th. yg 1. berarti tetap harus melakukan pernikahan ... bagaimana cara meyakinkan ortu akan niat kami tsb ? 3. apa ingin hukum nikah. kami ingin menikah. banyak hal yg ditakutkan dalam hubungan yg semakin lama ini. sama halnya dgn psngan sy 20th. selain itu wali/kluarga mmpelai wanita tidak bisa berkunjung di kota t4 terselenggaranya nikah. jika hukumnya boleh2 saja. apakah dlm islam diperbolehkan wali nikah (ayah mempelai wanita) mengucapkan ijab kpda mempelai pria via telepon ? dalam hal ini wali/keluarga mempelai wanita tidak bisa hadir dalam akad nikah karena jarak yang memisahkan (kota yg berbeda.posted on October 24th... 2011.. krna kami sngat dekat dan hmpir stiap hari bertmu.

11 February. Firman Allah : ‫ﻤ ﻤﻴ‬ ‫ﻚ‬ ‫ﻮﻤﺸﺮﻚ ﻮ ﺮﻢ‬ ‫ﻴﻜ‬ ‫ﻴ‬ ‫ﻮ‬ ‫ﻴ ﻮﻤﺸ‬ ‫ﻴﻨﻜ‬ .ulang? dan tiga orang anak yang dimiliki bagaimana statusnya? mohon di jawab untuk menjawab kondisi saya  Arsip Bulanan © 2012 AKHWAT.dasar perselisihan tersebut adalah dalam meng interpretasikan beberapa dalil dibawah ini yang dipersepsikan beda oleh para Fuqohaa‟.jalan(Sifaah) bagaikan hewanhewanpun melakukannya.wanita (gadis) yang terpaksa di nikah kan dengan seorang priya gara. diantaranya: 1. oleh para ulama amat diperselisihkan Dasar. Fikih Perkawinan dengan Wanita Hamil Zina Sesuai dengan nubuat (berita masa depan) Nabi Muhammad dalam sebuah hadistnya bahwa kiamat tak akan terjadi sebelum manusia banyak melakukan peribuatan sex bebas dijalan.gara si wanita sudah hamil akibat mereka telah melakukan sex bebas alias zina. Under Bahsul Masa'il.ID :: Menggapai Kontroversi Hukum Pernikahan dengan Wanita Hamil Zina Oleh admin Pada Thursday. Bukti ramalan ini kian hari kian tampak nyata dan kian menggejala dimana akhirakhir ini mulai banyak terjadi wanita.WEB.dasar hukum Hukum menikah dengan wanita yang sedang hamil zina. Dasar. 2010 10:25 AM.

dan para penzina wanita itu tidak (boleh) nikah kecuali dengan penzina laki. Qoolat: Su-ila Rasuululloh SAW an rojulin zanaa bi imro-atin wa arooda an yatazawwajahaa. Yusuf bin Ismail Al. Wa hurrima dzaalika alal mu‟miniin”.Nuur 2).orang mu‟min.R.Kabir (Dar Al. Artinya: Para penzina laki. maka janganlah ia “mengairi dengan air (mani) nya pada tanaman (janin) orang lain.An-Nur 32). Beirut).orang yang sendirian dari kamu sekalian dan hamba.Arqom. Firman Allah: ‫ﻴ ﻤ ﻤﻨﻜ ﻮ ﺼ ﺤﻴﻦ ﻤﻦ‬ “Wa ankihul ayaamaa minkum was shoolihiina min ibaadikum wa imaa‟ikum …” (Q.hamba sahaya priya kalian yang sholih. tanaman (janin) orang lain”. Firman Allah: .laki musyrik.wanita tak bermoral itu pasangannya adalah laki. Artinya: Wanita.Fath al.Nur 26).laki atau laki. ‫ﻴ‬ Artinya: Barang siapa ber-iman kepada Allah dan Rasulnya.S. sebaliknya laki.laki tak bermoral. Abu Dawud dan Tirmidzi.“Az. 5. Hadist Nabi: Man kaana yu‟minu billaahi wal yaumil Aakhiri falaa yasqi maa. Artinya: “Dan Nikahkanlah orang. (An.…………‫ﺨ ﻴﺜﺖ‬ ” Al. Faqoola: ‫ﺮ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﺨ ﻦ ﻴﺴ‬ ‫ﻮ ﻴﻮﻢ‬ ‫ﻴﺤﻞ ﻹﻤﺮﺉ ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﻴﺴﻖ ﻤ ﺌ‬ ‫ﻮ ﻴﻮ‬ ‫ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﻤﻦ ﻜ‬ ‫ﻮ ﻤ ﺌ ………ﻮ ﻜ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﻮ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﺖ ﺨ ﻴﺜﻴ‬ .Khobiitsaatu lil khobiitsiina wal Khobiitsuuna lil khobiitsaat…. ‫ﻴ‬ Artinya: “Tidak halal bagi seseorang yang percaya pada Allah dan hari akhir untuk mengairi (dengan air mani) . Dan diharomkan semuanya itu bagi orang. An A‟isyah RA.laki tak bermoral itu pasangannya adalah para wanita tak bermoral……… 3.ahuu zar‟a ghoirihi. Hadist yang semakna: La yahillu li.. H.sahaya wanita kalian… 4. Wazzaaniyatu laa yankihuhaa ilaa zaanin au musyrik.” (An. 2.Nabhani Al.Zaanii laa yankihu illaa zaaniyatan au musyrikah.laki itu tidak (boleh) kawin kecuali dengan penzina wanita atau para wanita musyrik.sholih dan (juga) sahaya. 6.imri-in yu‟minu billaahi wal yaumil aakhiri an yasqiya maa-ahuu zar‟a ghoirihii.

laki yang berzina dengan seorang wanita dan dia bermaksud menikahinya. H. 8.‫ﺤ ﻞ‬ ‫ﻴﺤﺮ‬ ‫ﺤﺮ‬ . Rasululloh bersabda: “Anak itu (dinasabkan) kepada Suami ibunya.Shon‟ani. Artinya: Dari A‟isyah RA. Subulus Salam III/210. sosial dan kemasyarakatan serta berdasarkan asas MASLAHAH MURSALAH (kepentingan umum).ayat tersebut dan hadist. Wal haroomu laa yuhrimu al. „An Abi Hurairoh RA. Artinya: Dari Abi Hurairoh RA. Setelah memperhatikan semua ikhtilaf tentang ini dan setelah mempertimbangkan segala aspek hukum. Menurut hadist ini Rasulullah pernah memberi izin pernikahan wanita hamil zina walaupun tentu saja HUKUM HAD nya tetap berlaku. 7.Daaruquthniy. Lihat Subulus Salam III/ 210.At.aakhiruhuu nikaahun.hajaru.Daaruquthniy.Majmu‟ LinNawawi. sedang si penzina harus dihukum (dera/ rajam)”. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mendasarkan larangannnya pada maksud lahir ayat. maka suaminya yang menikahinya dianggap orang lain.halaala”.hadist yang melarang membuahi janin yang sudah ada dari hubungan si wanita dengan orang lain. Rasululloh ditanya tentang seorang laki. Qoola Rasuululloh SAW: ‫ﺪ ﺮﺶ‬ ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ “Al. Dll. karena larangan Nabi untuk membuahi janin orang lain berlaku juga bagi wanita yang dihamili tanpa nikah. dll. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Maliki melarangnya. Ibnu Hazm dari kelompok Ad. As. namun me reka melarang persenggamaan antara suami istri tersebut sampai si wanita melahirkan anaknya. Sedang As.H.Thobarony dan Ad.I) Indonesia. dimana diharapkan: # Ada orang tua yang nantinya akan bertanggung jawab atas segala pengasuhan dan . Boleh atau tidakkah menikahkan wanita yang sedang hamil zina? Jumhur Ulama kebanyakan membolehkan mengawini wanita hamil zina seperti pendapat Imam Abu Hanifah. Akhrojahuu AtThobroniy wa Ad. Dari Ikhtilaf ini Imam Nawawi (dari madzhab Syafi‟i) menyatakan: hukum persenggamaan itu makruh (sebaiknya jangan dilakukan sampai sang bayi lahir) berdasarkan Qoidah: AlKhuruj minal Ikhtilaaf Mustahab (Keluar dari perbedaan pendapat itu sangat dianjurkan).Dhohiri. Maka Rasululloh menjawab: ” Awalnya adalah kumpul kebo (SIFAAH) dan akhirnya adalah sebuah pernikahan. Syafi’I.R.Waladu lil firoosyi wa lil „aahiri al. Sesungguhnya perbuatan harom itu tidak dapat menghalangi terjadinya (pernikahan) yang halal”. Lihat Al. ‫ﻜ‬ ‫ﺨ‬ ‫ﺴ‬ “Awwaluhuu sifaahun wa. Menurut Kompilasi Hukum Islam (K. walau wujud orangnya sama.Syafi‟I membolehkan persenggamaan mereka karena tujuan nikah adalah menghalalkan persenggamaan. walau membolehkan perkawinannya. Adapun Abu Hanifah dan dan Ibnu Hazm.

Abyani yang menyatakan bahwa batas minimal umur kandungan adalah 180 hari = 6 bulan. (٥١‫ﺜ ﺜﻮﻦ ﺸ ﺮ ………) ﺤ ﻒ‬ (٤١‫ﻤﻴﻦ ……………………) ﻤﻦ‬ ‫ﺼ‬ ‫ﻮﺤﻤ‬ ‫ﻮﺼ‬ Menurut Surat Al. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Bila anak tersebut lahir 6 (enam) bulan LEBIH setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. Para Ulama‟ mendasarkan hukumnya dari perpaduan dua ayat. masing masing dari Surat Al. 3. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Status anak dari HAMIL ZINA Adapun anak dari hasil hubungan ZINA.H. yakni: 1. 2. maka nasab anak tersebut adalah KEPADA IBUNYA.LAKI YANG MENGHAMILINYA. Bila anak tersebut lahir KURANG 6 (enam) bulan setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. terhormat dan dilindungi hukum. Hal ini bersesuaian dengan pendapat jumhur ulama‟ diantaranya Syekh Muhammad Zaid Al.pendidikan anak-anaknya sampai ia dewasa. waktu mengandung dan menyapih = 30 bulan Menurtut Luqman 14. maka setelah perkawinan kedua orang tuanya dapat ditetapkan dengan dua kemungkinan. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. 2. dan menuangkannya pada BAB VIII pasal 53 ayat 1 ~ 3 demikian: 1. Imam Abu Hanifah menghitung jumlah 180 hari itu dari PERNIKAHAN. maka nasab nya adalah kepada Suami yang telah mengawini ibunya itu. Seseorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan LAKI. # Mengembalikan harkat martabat dan kehormatan keluarga besarnya dan menutupnya dari AIB keluarga tersebut atas perilaku salah satu dari angota keluarga tersebut.laki dengan wanita YANG TELAH HAMIL ZINA. bukan dari mulainya hubungan sekssual diantara kedua orang tua biologisnya. # Si pelaku perzinahan mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki segala Perilaku buruknya dengan membina keluarga yang sah.Ahqoof 15 dan Surat Luqman ayat 14.I (Kompilasi Hukum Islam) Indonesia menetapkan KEABSAHAN pernikahan antara seorang laki.Ahqoof 15. maka: K. .= 6 bulan Sesuai dengan pernyataan tersebut. waktu menyapih itu =…………………………………= 24 bulan Jadi waktu hamil minimal = …………………………………………………………….

terkecuali bila yang meninggal itu sebelumnya telah IQROR (membuat pernyataan) bahwa anak tersebut diakui sebagai anaknya sebagaimana diterangkan oleh Badran Abu Al-Ainain sebagai konsekwensi kebalikan pada kasus anak LI‟AN (suami yang menuduh istrinya mengandung bukan dari dirinya). Hadist riwayat Jama‟ah ahli hadist terkecuali Turmudzi. diantaranya: ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ ‫ﻮﺪ ﺮﺶﻮ‬ . jika ia nanti setelah dewasa hendak menikah.wanita mereka kumpul kebo dengan banyak lelaki.Khottob tentang anak. bila si anak terlahir perempuan. Namun demikian ada beberapa perbedaan pandangan tentang hal ini yang mengacu dari beberapa kejadian dimana terjadi kasus. Mulkhlisin Muzarie.ah atau seperti apa yang diputuskan Umar bin Al.Khottob memutuskan bahwa anak tersebut (TANPA MELIHAT UMUR KEHAMILAN) adalah anak SUAMINYA YANG SAH. sedangkan bagi si pelaku zina dia harus dihukum (dera/rajam)”. SESUAI SABDA Rasul dalam suatu peristiwa persengketaan tersebut diatas dalam riwayat yang panjang. maka walinya bukan suami ibunya namun WALI HAKIM. ‫ﻮﺮ‬ ‫ﻤﺠ‬ ‫ﺬﻤﺮ‬ “Anak itu dinasabkan kepada SUAMI IBUNYA . dimana Nabi dan Umar bin Al. Ro‟is Aam Tanfidhiyyah DPP Jama‟ah Rifa‟iyyah. Tentu saja anak tersebut secara syar‟I tidak mendapatkan hak waris sebagai anak yang sah dari suami ibunya itu bila nanti suami ibunya meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan.anak jahiliyyah yang terlahir dari kebiasaan wanita.karya: Dr. Disarikan dari: “Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil”.Catatan penting: Maka pada kasus no. Wallohu A‟lam. Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini : .persengketaan nasab anak. yakni jika si anak lahir kurang dari 6 bulan.anak yang dibawa kepada keputusan Nabi seperti kasus persengketaaan antara Sa‟ad bin Abi Waqosh dan Abdu bin Zam. 2 .

apalagi bila ia bukan yang menghamilinya. sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). karena akad nikah yang dilakukan itu hukumnya sah. wanita yang dinikahi tersebut halal (boleh) untuk disetubuhi walaupun ia dalam kaedaan hamil."Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain.STATUS HUKUM AKAD WANITA HAMIL AKIBAT ZINA Perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang wajib atau tidak wajib atas wanita yang hamil akibat zina. baik merdeka maupun amat (budak). Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). hamil atau tidak. hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina. a. tapi bila ia hamil. hanya saja wanita itu tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan kandungannya. ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina. terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab ini. Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil dengan lakilaki bukan yang menghamilinya adalah sah. Mereka juga berpendapat. Ulama Syafi'iyah berpendapat. 23. namun mengapa tifak boleh disetubuhi? Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw. baik yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya maupun bukan yang menghamilinya. istibra'-nya tiga kali haid. Alasannya. ia wajib istibra'. karena wanita hamil akibat zina tidak termasuk golongan wanita yang diharamkan untuk dinikahi. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil. 1. Akan tetapi. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. Ulama Hanafiyah sependapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. . maka terlarang pula akad nikah dengan wanita hamil itu. baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. 3. 24). istibra'nya cukup satu kali haid. tidak sah pula menikahi wanita hamil akibat zina. Alasan sah menikahinya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Dengan demikian. hukumnya tidak sah menikahi wanita wanita hamil akibat zina (dengan laki-laki lain) karena kehamilannya itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. menyebabkan perbedaan pendapat mereka tentang boleh atau tidak boleh menikahi wanita tersebut. . " (HR Abu Daud). akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. Alasannya adalah bahwa wanita hamil akibat zina tidak termasuk ke dalam golongan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an (lihat an-Nisaa: 22. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina. b. 2. Abu Yusuf dan Zafar berpendapat. Sebagaimana hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil bukan karena zina.

Secara lengkap. c). kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut. "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali. Seorang wanita yang hamil di luar nikah daapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. hukumnya menjadi tidak sah karena pasal 53 ayat 1 KHI tidak memberikan peluang untuk itu. yaitu kawin . tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. b). a). Dari abu Sa'id r. "(HR Abu Dawud) Kedua.Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw. Sebagaimana yang tertuang pada pasal 53 ayat 1. baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya). isi pasal 53 KHI itu adalah sebagai berikut. bersabda tentang tawanan wanita Authos. telah bertobat dari perbuatan zina. . akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. KHI membatasi pernikahan wanita hamil hanya dengan pria yang menghamilinya. 5. kawin darurat yang selama ini masih terjadi di Indonesia. pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah. tidak memberi peluang kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. Jika ia hamil. telah habis masa iddahnya. juga berdasarkan hadits berikut ini. bahwa Nabi saw. KHI berpendapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya. " (HR Abu Daud). disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. Pertama."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. a. Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. 4. Karena itu.

a. Dalam hal pembunuhan. ketiganya harus diqishash.dengan sembarang laki-laki. perampokan. zina termasuk ke dalam kelompok jinayah (tindak criminal). Yang menjadi masalah dari pendapat ini adalah bila seorang wanita berbuat zina dengan lebih dari satu orang laki-laki. Keduanya berpendapat bahwa wanita hamil akibat zina dapat dinikahkan kepada laki-laki yang menghamilinya. Yang menjaadi masalah adalah bila seorang korban dibunuh oleh lebih dari satu orang pelaku. Hanya saja. Artinya. bila si korban terbunuh akibat pemukulan dan yang melakukan pemukulan adalah ketiga orang itu.atau orang sunda menyebutnya kawin "nutupan kawirang". alas an KHI menurut penulis lebih cenderung kepada masalah tujuan disyariatkannya nikah dan kaitan antara akad nikah yang sah dan kedudukan anak sebagaimana yang kita bicarakan kemudian. satu kelompok dengan pencurian. "Sekiranya seluruh penduduk yaman berkumpul membunuhnya. baik istilahnya kawin "tambelan". ketiganya harus di-qishash karena mereka bersama-sama harus bertanggung jawab atas kematian si korban. Artinya. yaitu hukuman yang sama dengan tindak kejahatannya. ada perbedaan alasan diantara keduanya. yang dilakukannya hanya untuk menutupi malu (karena sudah terlanjur hamil). " . hukumnya dibunuh pula. dan pembunuhan. bagaimana menentukan "pria yang menghamilinya" itu? Di dalam pengelompokkan hukum islam. menurut kami. Pendapat KHI ini mirip dengan pendapat Abu Yusuf dan Zafar dari maazhab Hanafiyah. mereka bertiga dikategorikan sebagai pembunuh. kepadanya diberlakukan hukum qishash. oleh KHI dihukumi tidak sah untuk dilakukan. Umar berkata. bila seseorang terbukti telah melakukan pembunuhan dengan sengaja dan di luar kewenangan. tapi tidak kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. ketika beliau memerintahkan hukuman mati atas tujuh orang yang membunuh seorang anak di san'a (ibu kota Yaman). umpama tiga orang. Bila Abu Yusuf dan Za'far beralasan bahwa kehamilan wanita itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. Maksudnya. Bagaimana menentukan pembunuh yang harus di qishash itu? Apakah ketiganya harus di qishash? Para ulama maazhab empat sependapat bahwa bila ketiga orang itu terlibat secara langsung. kemudian ia hamil. tanpa memperhitungkan siapa diantara ketiga orang itu yang lebih banyak memukulnya dan tanpa perlu diteliti pukulan siapa yang menyebabkan kematian korban. yang berakibat terlarang pula akad nikah. aku akan menghukum bunuh mereka semua. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ibnul Khaththab r. bila ia membunuh. "pattongkogsi sirig".

Mereka tidak saja membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. diantara beragam pendapat mengenai status hukum akad nikah wanita hamil . keduanya berpendapat bahwa wanita tersebut tidak boleh disetubuhi. sehingga perbedaan pendapat terus berlanjut diantara mereka. Hal ini. ketiga pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita yang dizinainya. ketiga pria itu dikategorikan sebagai pria yang menghamilinya. bukan berdasar dalil qath'i. tidak memberikan peluang kepada laki-laki bukan yang menghamilinya. KHI dan sebagian ulama Hanafiyah (Abu Yusuf dan Za'far) juga cukup hati-hati dalam masalah ini. Akan tetapi. menurut kami. Dalam hal kehati-hatian. Dengan demikian. dengan pria manapun (di antara tiga pria itu) wanita hamil itu dinikahkan. Mereka melarang wanita hamil akibat zina melakukan pernikahan. mereka konsisten dengan pendapatnya. tanpa mempertimbangkan siapa di antara ketiga pria itu yang lebih sering menyetubuhinya dan tanpa perlu meneliti sperma siapa yang berhasil membuahi ovum wanita tersebut. kemudian ia hamil. Karenanya. dalam hal zina. bila seorang wanita berzina dengan tiga orang pria. pendapat ini masih memungkinkan untuk dibantah. bahkan arti nikah itu sendiri menurut ahli ushul hanafiyah adalah "setubuh". karena dasar yang digunakannya hanya merupakan pemahaman. bahkan Hanabilah mewajibkan bertobat sebelum melangsungkan akad nikah. namun mereka membatasi bahwa yang dibolehkan menikahi itu hanya laki-laki yang menghamilinya. namun sebagian ulama Hanafiyah (Abu Hanafiyah dan Muhammad) kurang konsisten. Umumnya. bahkan memberikan kesempatan kepada laki-laki mana saja untuk menikahi wanita tersebut. dapat dikatakan bahwa wanita hamil itu dinikahkan kepada pria yang menghamilinya. ulama Syafi'iyah dan sebagian ulama Hanafiyah tampaknya kurang hati-hati.Dengan mengambil contoh (analogi) pada masalah pembunuhan. Meski mereka membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. di mana setelah menyakini bahwa akad nikah wanita hamil akibat zina hukumnya sah. padahal salah satu tujuan dari akad nikah adalah untuk menghalalkan persetubuhan. Sebagaimana yang telah dikemukakan. baik yang berpendapat wanita hamil akibat zina itu wajib iddah maupun yang tidak mewajibkan iddah. Artinya. tidak layak untuk dilakukan karena orang yang tidak berbuat tidak semestinya dibebani tanggung jawab. yang paling hati-hati tentunya para ulama dari mazhab Malikiyah dan Hanabilah. Sementara itu. pendapat para ulama tentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina ini merupakan kelanjutan dari pendapat mereka tentang wajib atau tidaknya iddah bagi wanita hamil akibat zina.

baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (dalam hal dengan lakilaki lain. Bila anak lahir kurang dari enam bulan dari waktu akad atau dari persetubuhan suami istri. dibutuhkan dua syarat: hubungan darah dan akad perkawinan yang sah. bila seorang perempuan melahirkan anak. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami ibunya itu kecuali jika si suami itu mengakuinya. bila . terlebih dahulu kita kembali kepada pendapat para ulamatentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina itu. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain. 2. Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. Bila hanya terdapat satu syarat. 1. untuk dapat menghubungkan nasab seorang anak kepada ayahnya. sebelum berbicara masalah penentuan nasab. Ulama Hanafiyah berpendapat bawa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. bila anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan dari waktu akad. kecuali jika suami mengakui bahwa anak yang dilahirkan itu adalah anaknya dan mengakui pula dirinyalah yang mehamili wanita itu sebelum ia menikahinya. terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. baik hubungan darah saja maupun akad perkawinan yang sah saja. Karena perkawinannya sah. Dengan demikian. Abu Yusuf dan Za'far berpendapat tidak sah). Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa kehamilan telah terjadi sebelum terjadinya perkawinan. terlebih lagi menikahi wanita hamil akan berkait dengan masalah nasab. STATUS HUKUM ANAK YANG DIHAMILKAN SEBELUM AKAD Sebagaimana telah dikemukakan. disamping tidak terdapat dalil qath'I yang melarang menikahi wanita hamil akibat zina. Alasannya. tujuan disyariatkannya nikah adalah agar terplihara keturunan nasab. yaitu pendapat KHI dan sebagian ulama Hanafiyah.Pengertian naasaab aadalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. Dari pengertian tersebut.akibat zina ini. Akan tetapi. sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an surah an-Nahl ayat 72. anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya. kami mengikuti pendapat kedua. juga karena orang yang berbuatlah yang seharusnya dibebani tanggung jawab. anak itu tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami wanita yang melahirkannya itu. Para ulama mazhab sependapat bahwa dalam hal perkawinan yang sah. nasab tidak bisa dihubungkan diantara keduanya. diantaranya: anak tersebut dilahirkan setelah berlalunya waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah (menurut Hanafiyah) atau enam bulan sejak terjadinya persetubuhan suami istri (menurut mayoritas ulama mazhab). untuk dapat menghubungkan nasab anak kepada ayahnya. Dalam hal pernikahan wanita hamil akibat zina.

akad nikah tersebut menjadi tidak sah. tapi bila anak lahir kurang dari enam bulan. yaitu surah al-Ahqaaf ayat 15 dan surah Luqman ayat 14 (lihat "Minimal Masa Kehamilan"subbab"Hamil. 3. baik Al-Qur'an maupun hadits. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami dari ibunya itu kecuali bila suami mengakuinya. Karena itu. tapi hanya merupakan dasar dalam hal penentuan batas minimal masa kehamilan. tapi hanya merupakan pemahaman para ulama mazhab terhadap dua ayat dalam AlQur'an. KHI memahami kedua ayat ini tidak untuk menjadikannya sebagai dasar dalam penentuan nasab. hubungan nasab antara anak dan ayah hanya ada apabila yang menikahi ibunya itu laki-laki yang menghamilinya. KHI tidak menjadikan tenggang waktu enam bulan sebagai dasar untuk mengkaitkan hubungan nasab seorang anak kepada ayahnya. . hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya ada bila yang menikahi wanita hamil itu laki-laki yang menghamilinya. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. sedangkan pasal 53 ayat 1 menyatakan bahwa sahnya perkawinan wanita hamil hanya bisa dilakukan dengan pria yang menghamilinya. Iddah. hal ini didasarkan kepada dua alasan berikut. 4. dan Istibra'). hubungan nasab menjadi tidak ada karena akad nikahnya sendiri hukumnya tidak sah. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. a. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. Pasal 99 point @ menyatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. Dengan demikian. Berbeda dengan pendapat para ulama mazhab. b. anak itu dinasabkan kepada suami dari ibunya.KHI berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum pernikahan wanita hamil akibat zina adalah tidak sah.Maksudnya. tenggang waktu enam bulan (yang dijadikan dasar oleh para ulama mazhab dalam penentuan hubungan nasab) itu bukan berdasarkan dalil yang qath'i. Dengan demikian. Menurut penulis.anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan sejak persetubuhan suami istri. Pertama. Hal ini sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 99 tentang kedudukan anak bahwa anak yang sah adalah. tidak ada hubungan nasab antara anak yang dilahirkan dan laki-laki yang menikahi ibunya itu karena hukum akad nikahnya sendiri tidak sah. tapi bila laki-laki lain yang bukan menghamilinya.

ada kemungkinan wanita yang sudah hamil dua bulan dinikahi oleh laki-laki lain. tidak kepada kehamilannya karena anak dalam kandungan tidak diberi hukum tersendiri. ia sudah sempurna walaupun mungkin kurang sehat. Yang menjadi masalah. kaidah fiqih menyatakan. Kedua. Atau juga seperti ulat yang tumbuh dalam buah-buahan. Dari beberapa pendapat para ulama sebagaimana yang telah kami kemukakan.dengan dua ayat tersebut. anak kambing dalam perut tidak boleh dijual dengan sendirinya. masalah terpeliharanya keturunan menjadi lebih mungkin untuk bisa dicapai. " (as-Suyuthi. maupun karena KHI membatasi bahwa yang boleh menikahi wanita hamil itu hanya laki-laki yang menghamilinya. kemungkinan terpeliharanya keturunan menjadi kecil untuk bisa dicapai. Pemahaman ini sejalan dengan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud bahwa janin yang berada didalam rahim ibu setelah berusia empat bulan dilengkapi dengan roh dan dalam masa dua bulan berikutnya disempurnakan khilqah (bentuk)nya. TT: 81) Termasuk dalam kategori kaidah tersebut adalah: "Pengikut tidak diberi hukum tersendiri. walaupun mereka memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. (karena petai halal). TT: 81) Misalnya. Adapun pendapat ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi'iyah. yang lebih memungkinkan untuk bisa dicapai adalah menurut pendapat KHI. Dengan demikian. seandainya ia lahir dalam umur enam bulan. status hukum yang ditetapkan terhadap wanita hamil berlaku pula terhadap anak yang ada dalam kandungannya. terlihat bahwa dalam masalah terpeliharanya keturunan. akhirnya anaknya dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya itu. status hukum diberikan kepada wanita yang hamil itu. Allah SWT menjelaskan bahwa seorang perempuan (dalam hal mengandung anak) membutuhkan waktu minimal enam bulan sejak terbentuknya nutfah sampai ia melahirkan. Meskipun tidak memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. tapi karena masa kehamilan itu umumnya sembilan bulan.terjualnya induk merupakan terjualnya anak kambing tersebut. termasuk anak yang ada dalam kandungan wanita itu sah pula menjadi anaknya. kapan saja akad nikah dilangsungkan asalkan sebelum anak dilahirkan. karena status hukum akad nikahnya sah. ulat pun boleh dimakan beserta petai asalkan tidak dipisahkan. tatus hukum yang ditetapkan terhadap yang diikuti berlaku pula terhadap yang mengikuti karena pengikut tidak diberi hukum tersendiri.Artinya. sebab sekalipun diberikan tenggang waktu enam bulan. " (as-Suyuthi. "Pengikut (hukumnya) itu sebagai yang mengikuti. Dengan demikian. namun karena memberikan kesempatan kepada laki-laki bukan yang menghamili untuk menikahi wanita hamil tersebut. sedangkan diantara keduanya tidak ada hubungan darah. sahkah akad nikah wanita hamil itu? KHI berpendapat hukumnya sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. seperti petai. Ket : ISTIBRA' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim KHI singkatan Kompilasi Hukum Islam . Karenanya. Dalam hal akad nikah wanita hamil akibat zina. wanita hamil itu sah menjadi istrinya.

com . LC dari : CyberMQ. Abdul Wahab.Wassalam.

Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal) berbeda pendapat. Dalam hukum Islam. orang yang melakukan hubungao seksual di luar perkawinan dihukumkan zina.Desember2 . kebolehan kawin hamil mendapat tempat pada Bab ^11 Pasal 53 ayat 1. As-Sunnah dan hasil Ijtihad Perkawman menurut agama dan penAipat para ulama. dan 3 KHI. A. maka para imam mazhab (Hanafi. Pendahuluan Alquran.PERKAWINAN WANITA HAMIL: Perspektif Empat Imam Mazhab dan Kompilasi Hukum Islam Oleh: H. adalah sebuah proses pembentukan Oleh karena itu bagi orang fcehiarga ysng tidak dapat Islam ar^lflh suatu kemestian untuk disflenggarakan di luar ketenman. 2. Malik. No. melaksanakan ketentuan-ketentuan Perkawinan telah diatur secara jelas oleh hukum perkawinan yang dttun^uk oleh kctentuaa-ketentuan hukum Islam yang daul-dalil yang jelas dan benar dalam digali dan sumber-sumbemya baik dan soal yang kedl sekalipun. Wanita hamil. karena terialu bebasnya pcrgaulan antara lald-laJd dan wanita. banyak wanita harm] di luar perkawinan. Imam Mazhflb. ^athurrabmctn A^hari *) ABSTRAK Milihat dan fakta sekarang. * ) Peaulis adalab dosec Fakultas Syari'ah IAJN Antasafl mata kuHah Ushul Fitih Jurmm Perbandinean Madzhftb dan Hukum SYARIAH: jur^'Hukun dafi Pemikifwi. KHI. tanpa berpikir. Kata Kunci: Perkawinan. 2. apakah wanita yang hamil akibat perbuatan zina itu boleh melangsungkan periciwin deogan laidlaki yang menghamilmya atau dengan laki-kki lain ataukah tidak boleh. bagaimana jika sekiranya keharmlan sampai teqadi. Tabufi 6. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam. jika seotang wanita yang berbuat zina itu sampai hamil. JuS .

& yg demikian itu diharamkan atas oran-orang yg mu`min.Hukum Menikahi Wanita Pezina Laki-laki yg berzina tdk mengawini melainkan perempuan yg berzina. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz `hurrima` atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yg pezina sekalipun. atau perempuan yg musyrik. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 3) Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama Jumhurul Fuqaha mengatakan bahwa yg dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan utk menikahi wanita yg pernah berzina. & perempuan yg berzina tdk dikawini melainkan oleh laki-laki yg berzina atau lakilaki musyrik. & orang-orang yg layak dari hamba-hamba sahayamu yg lelaki & hamba-hamba sahayamu yg perempuan. Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dgn kurnia-Nya. Yaitu seorang yg bernama Mirtsad Al-ghanawi yg menikahi wanita pezina. Lalu bagaimana dgn lafaz ayat yg zahirnya mengharamkan itu ? Para fuqaha memiliki 3 alasan dalam hal ini. maka lbh kpd kasus yg khusus saat ayat itu diturunkan. Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dgn ayat lainnya yaitu : Dan kawinkanlah orang-orang yg sedirian diantara kamu. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 32) .

‫ل‬ ‫ئ‬ ‫س‬ ‫هلل‬ ‫ب‬ ‫آلخ‬ ‫س‬ ‫ه‬ ‫ه رع‬ ‫غ‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. (Hadis Riwayat: Abu Daud & An-Nasa`i) ‫ص‬ ‫:ق ل‬ ‫ة ت طأ‬ ‫ت‬ ‫ت‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Juga dgn hadits berikut ini : Seseorang bertanya kpd Rasulullah SAW.`Ceraikan dia`.`Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yg berzina dgn seorang wanita & berniat utk menikahinya.`Istriku ini seorang yg suka berzina`. (Hadis Riwayat: Tabarany & Daruquthuny). Lebih detail tentang halalnya menikahi wanita yg pernah melakukan zina sebelumnya. `Kalau begitu mut`ahilah dia`.Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq ra & Umar bin Al-Khattab ra & fuqaha umumnya. Sesuatu yg haram tdk bisa mengharamkan yg halal`.”Tidak halal bagi seorang muslim yg beriman kpd Allah & hari akhir utk menyiramkan airnya pd tanaman orang lain.(Hadis Riwayat: Abu Daud & Tirmizy).`Awalnya perbuatan kotor & akhirnya nikah. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh AlHakim). lalu beliau bersabda.”Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. simaklah pendapat para ulama berikut ini : . Mereka membolehkan seseorang utk menikahiwanita pezina. Pendapat mereka ini dikuatkan dgn hadits berikut : Dari Aisyah ra berkata. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. Beliau menjawab.

tdk diperlukan perkawinan ulang setelah anak yg dikandung lahir. Perkawinan dgn wanita hamil yg disebut pd ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lbh duhulu kelahiran anaknya. silahkan baca buku : Kompilasi Hukum Islam halaman 92 . memang ada juga pendapat yg mengharamkan total utk menikahi wanita yg pernah berzina. 4. Imam Malik & Imam Ahmad bin HanbalImam Malik & Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yg tdk menghamili tdk boleh mengawini wanita yg hamil. yg pelaksanaannya diatur sesuai dgn keputusan Menteri Agama RI no. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yg menzinai wanita maka dia diharamkan utk menikahinya. 3. Untuk lbh jelasnya. maka dia masih boleh menikah dgn siapa pun. Imam Abu Hanifah. Ali bin Abi Thalib.Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yg menikahi wanita hamil itu adl laki-laki yg menghamilinya. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab karya AlImam An-Nawawi. yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. hukumnya boleh. maka laki-laki itu tdk boleh menggaulinya hingga melahirkan. 5.Meski demkikian. 2. Imam Asy-Syafi’i Adapun Al-Imam Asy-syafi’i. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi. Dengan dilangsungkannya perkawinan pd saat wanita hamil. Al-Barra` & Ibnu Mas`ud. Sedangkan kalau yg menikahinya itu bukan laki-laki yg menghamilinya. 3. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan & telah habis masa ‘iddahnya. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut : 1. Undang-undang Perkawinan RIDalam Kompilasi Hukum Islam dgn instruksi presiden RI no. dibolehkan menikahinya. pendapat beliau adl bahwa baik lakilaki yg menghamili atau pun yg tdk menghamili. jus XVI halaman 253. Seorang wanita hamil di luar nikah. Begitu juga seorang wanita yg pernah berzina dgn laki-laki lain. Paling tdk tercatat ada Aisyah ra.Bahkan Ali bin abi . dpat dikawinkan dgn pria yg menghamilinya. Pendapat Yang Mengharamkan menikahi wanita pezina. maka dia diharamkan utk dinikahi oleh laki-laki yg baik (bukan pezina). 2. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Jika belum bertobat dari dosa zina.1.

maka tdk ada larangan utk menikahinya. Karena seseorang yg sudah bertaubat berhak utk bisa hidup normal & mendapatkan pasangan yg baik.Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya & bertaubat. Beliau mengharamkan seseorang menikah dgn wanita yg masih suka berzina & belum bertaubat. Selain itu mereka juga berdalil dgn hadits dayyuts. Nampaknya pendapat ini agak menengah & sesuai dgn asas prikemanusiaan.Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. maka nikahnya syah secara syar`i. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. maka nikahnya tdk syah. Ahmad Sarwat. yaitu orang yg tdk punya rasa cemburu bila istrinya serong & tetap menjadikannya sbg istri. Kalaupun mereka menikah.`Tidak akan masuk surga suami yg dayyuts`. Lc . Dan bila mereka menikah. Begitu juga bila yg berzina adl pihak suami. (Hadis Riwayat: Abu Daud) 6. Tentu saja dalil mereka adl zahir ayat yg kami sebutkan di atas (aN-Nur : 3). Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda. Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yg pertengahan adl pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Oleh: H.

namun fatwa itu bisa agak sedikit lebih agama di negeri kita. tentu saja setelah dilihat manfaat dan madharatnya. Sehingga begitu fatwa itu dikeluarkan.or.id > Muslim > Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. manakah hukum yang harus kita pakai jika fatwa jumhur ulama bertentangan dengan lembaga resmi? Contohnya setahu saya fatwa MUI melarang pernikahan beda agama sementara menurut Pak Ustadz bahwa jumhur ulama membolehkannya? Sebelumnya mohon maaf jika seolah2 mengkonfrontir antara Pak Ustadz dengan lembaga MUI. antisipasi dan mirip dengan apa yang tetap untuk kondisi sosial Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan beda agama. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pak Ustadz. ada juga pendapat lain yang berbeda. dikeluarkan begitu saja. sebelumnya pasti sudah dibahas tentang efektifitas dan dampaknya oleh para ulama. Misalnya fatwa boikot pruduk tertentu yang dikeluarkan oleh banyak ulama di Timur Tengah. WAssalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Dian Dwideana Jawaban Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Namun sangat mungkin untuk disesuaikan dengan keadaan lokal serta bersifat situasional. Manakah yang Kita Pakai?” ketegori Muslim. hukumnya haram. melihat ada semacam kecenderungan para shahabat untuk „berlomba‟ menikahi wanita ahli kitab. Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan yang wanita muslimah. Sifatnya tidak selalu harus bersifat universal dan baku. Fatwa yang dikeluarkan di suatu tempat oleh para ulama biasanya memang disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. Terutama untuk masalah yang juga masih ada perselisihan di antara para ulama dalam hukumnya. akan menghasilkan hal yang sedahsyat di negeri sana. Adapun masalah larangan nikah beda agama yang dikeluarkan MUI. Di luar jumhur ulama. Salah satunya ketika Khalifah Umar ra. Pastilah sebelumnya sudah dibahas latar dampak-dampak yang akan terjadi. Manakah yang Kita Pakai? Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. efeknya memang terasa. Sehingga meski tidak terlalu dipegang oleh jumhur ulama.re. sehingga muncul . tentu saja tidak sekedar belakang.blog. Namun belum tentu bila MUI di Indonesia mengeluarkan fatwa yang sama. asalkan yang laki-laki muslim dan yang perempuan wanita ahli kitab . Manakah yang Kita Pakai? Muslim category “Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama.

Maka wajar bila MUI merasa bertanggung-jawab untuk menahan laju grafik kemurtadan ini dengan melarang pernikahan beda agama secara keseluruhannya.dampak fitnah di tengah wanita muslimah. Di kedua peradaban barat itu kini sudah tidak asing lagi kita temukan wanita bule yang memakai jilbab dan bersuamikan laki-laki muslim yang sukses dalam kehidupannya. Di sisi lain banyak sekali orang yang sekarang beragama Kristen. Angka grafik pertumbuhan penduduk yang beragama Kristen terus naik. Grafik laju pertumbuhan penduduk muslimin di sana mengalami laju yang tak terbendung. Sebab meski laki-laki muslim menikahi wanita Kristen. Trend yang terjadi di Eropa ini juga mulai menular ke benua lain seperti Amerika dan Australia. Tentu saja khalifah bukan mau melawan ayat Al-Quran yang secara tegas membolehkan lakilaki muslim menikahi wanita ahli kitab. sehingga dengan mudah dia menjual iman dan agamanya. Kirakira hal itulah yang bisa kita rasakan dari fatwa MUI yang mengharamkan nikah beda agama. Namun saat itu beliau ra. Salah satu faktornya sudah bisa Anda duga. tapi akhirnya anak-anak mereka menjadi non muslim. namun ketika diurutkan ke silsilah orang tua dan kakek neneknya. ternyata beragama Islam. Bahkan para wanita Perancis. Ini suatu bukti bahwa nikah beda agama di Indonesia justru kontra produktif. kenyataannya yang kalah justru yang laki-laki. Meski dengan latar belakang yang sedikit berbeda. . Di mana banyak pemuda dan pemudi muslim yang menikah dengan pasangan beda agama. Inggris telah masuk ke pola trend kehidupan untuk menikah dengan pria muslim asal Timur Tengah. tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam. Bukannya berhasil meng-Islamkan orang kafir. Bahkan boleh dibilang menjadi semacam ledakan jumlah penduduk yang muslim. sekedar untuk bisa tetap mempertahankan istrinya yang kafir itu. Fatwa Itu Tidak Berlaku di Eropa Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi di Eropa. Mengapa Diharamkan? Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia menjadi sasaran kristenisasi sejak masa penjajahan Belanda.yaitu karena adanya pernikahan campur antar agama. Sehingga beliau pernah berkirim surat kepada salah satu bawahannya yang isinya perintah untuk menceraikan istrinya yang wanita ahli kitab. Salah satu metode pemurtadan yang paling efektif ternyata lewat pernikahan beda agama. Lalu anak-anak mereka memenuhi Islamic Center yang juga tumbuh menjamur di sana. justru orang-orang yang sudah muslim malah jadi murtad. Sampai-sampai para penguasa barat cemas melihat kenyataan ini. Data kependudukan membuktikan bahwa banyak sekali wanita Eropa yang menikah dengan pria muslim. Jerman. melihat gelagat yang kurang baik di dalam tubuh umat Islam dengan adanya pernikahan yang hukum asalnya halal itu. memakai jilbab dan membangun rumah tangga Islami.

Ahmad Sarwat.Maka alangkah tidak bijaksana bila para ulama di Eropa mengeluarkan fatwa model MUI di negeri kita. nikah beda agama di Indonesia identik dengan pemurtadan. Di sini kita harus sedikit cerdas dalam menilai dan menganalisa situasi sosial masyarakat. Sebaliknya. Manakah yang Kita Pakai? : http://assunnah. Sebab nikah beda agama di Eropa identik dengan proses Islamisasi yang luar biasa dahsyat. Lc. Sumber Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama.or.id     Business Blogs What is wordpress Blogs Wordpress ulama yang melarang pernikahan agama contoh fatwa mui tentang kawin hamil masalah anak pernikahan beda agama di indonesia nikah beda agama mui FATWAH MUI WANITA BEPERGIAN contoh perkawinan beda agama menurut MUI kehidupan wanita muslim di timur tengah hukum muslim menikah dengan kristen para ulama barat tentang nikah internet Tag Cloud  Business Blogs  Messenger Bags  Make money blogging What is wordpress  . Wallahu a‟lam wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. dan tentang perwalian dalam nikah (terutama yang wanita) apabila anak ini mau menikah kelak.Status Pernikahan karena Perzinahan Seiring dengan maraknya kemaksiatan di setiap penjuru negara ini. karena permasalahan yang berbeda. Kami telah melakukan zina dan telah dinikahkan 20 tahun yang lalu. agar hati ini lebih tenang dan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kami dan kepada Bapak Ustadz Ahmad Sarwat. Mohon penjelasan dari segi Al-Qur'an. Hadist Rasul dan Qaul Ulama. ketika saya mencoba membaca artikel eramuslim semua artikel yang berkaitan dengan perihal zina dirasa belum memberikan jawaban yang mendalam. tidak ketinggalan pula bahwa saya pun termasuk orang yang pernah melakukan kemaksiatan itu pula 20 tahun yang lalu. hasil hubungan sah karena kalimat Allah). inilah ribed-nya langkah nafsu yang salah dan dosa. isteri saya sekarang ketika dinikahkan (20 thn lalu) dalam keadaan hamil di luar nikah. MM Bekasi Jawab: . atau harus nikah lagi? 3. diucapkan dihaturkan terima kasih. sehubungan dengan hal tersebut mohon penjelasan sebagai berikut: 1. Bagaimana dengan anak saya selanjutnya (anak kedua dst). Apakah pernikahan saya dapat diridhai Allah atau masih termasuk zina selama ini karena waktu nikah isteri dalam keadaan hamil di luar nikah. Lc. Apakah pernikahan kami dapat di-analog-kan dengan larangan menikahi wanita (janda hamil.

maka nasab anak ini akan kembali kepada ayah kandungnya bila pasangan ini kemudian menikah dengan benar dan syah secara syariah. Waba'du. Maka nasabnya tidak bisa dikembalikan kepada ayah kandungnya secara syar'i. 2. Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah. bila lakilaki dan wanita yang pernah berzina dan melahirkan anak. yaitu: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. 1. Jadi anda tidak perlu pusing memikirkan siapa wali anak anda sendiri. Walinya adalah anda sendiri sebagai ayah yang syah. dan yang demikian itu 'diharamkan' atas oran-orang yang mu'min. Wb. Nikahnya syah dan dibenarkan dalam syariat Islam. Memang ada sebuah ayat yang sepertinya bisa dianggap sebagai pengharaman. karena secara syah anak itu adalah anak anda. Yang menjadi masalah adalah bila pasangan ini tidak pernah menikah dengan syah setelah perzinaan itu. atau perempuan yang musyrik. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. (QS An-Nur: 3) Namun Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Para ulama menyebutkan bahwa dalam kasus zina yang menghasilkan anak. Jumhur ulama mengatakan bahwa menikahi wanita yang sedang hamil karena dihamilii oleh yang bersangkutan tidaklah haram. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu? .Assalamu 'alaikum Wr. Bismillah. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pernah berzina. "Tapi aku takut memberatkan diriku. mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). kalau memang diharamkan. "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i) . (QS An-Nur: 32).Mereka memiliki tiga alasan dalam hal ini. maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan. (HR Tabarany dan Daruquthuny). Pendapat mereka ini juga dikuatkan dengan hadits berikut: Dari Aisyah ra berkata. Selain mayoritas ulama salaf. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Pertama. bahwa berlakunya ayat itu telah dibatalkan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu. ternyata pendapat ini juga merupakan pendapat Khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan juga pendapat fuqaha umumnya. Kedua. Beliau menjawab. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. "Istriku ini seorang yang suka berzina". Ketiga. Juga dengan hadits berikut ini: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal". "Ceraikan dia"." "Kalau begitu pertahankanlah perkawinanmu. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya. lalu beliau bersabda.

Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Kalaupun mereka menikah. "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts. yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri. Ali bin Abi Thalib. Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. maka nikahnya syah secara syar'i. Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. AlBarra' dan Ibnu Mas'ud. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Dan bila mereka menikah. Ahmad Sarwat. Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts." (HR Abu Daud) Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Wb. maka tidak ada larangan untuk menikahinya. maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina). maka nikahnya tidak syah. Bahkan Ali bin abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda. Tentu saja dalil mereka adalah pengertian zahir ayat yang kamisebutkan di atas (An-Nur: 3). Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik. memang ada juga pendapat yang mengharamkan seseorang menikahi wanita yang pernah berzina. Paling tidak tercatat ada Aisyah ra. Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr.Pendapat Yang Mengharamkan Meski demikian. Lc eramuslim .

sehingga saya cukupkan dengan artikel tersebut karena apa yang saya inginkan sudah terwakili olehnya. maka hubungan itu adalah perzinahan. nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !! Status Nikahnya : Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan. keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat.4 Bila seseorang telah mengetahui. baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat :*1 Pertama.*2 Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina. kecuali perempuan yang berzina. ?Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina.Menikahi Wanita Hamil Published by Abdullah Hadrami [abdullah] on 2007/11/6 (10558 reads) Segala puji hanya bagi Allah. terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan tentang masalah ini agar menjadi jelas dan gamblang. namun alhamdulillah ternyata sudah ada artikel yang cukup bagus. .6 Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini. melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu. dengan arti. anak itu tidak memiliki bapak. Bila seorang laki-laki menghamili wanita.5 Bila terjadi kehamilan. Menikahi Wanita Hamil Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah. ilmiyyah dan berbobot. maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain. Artikel dibawah ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini menurut Al-Qur?an. maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkannya. As-Sunnah dan Salafush Shaleh. dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib. atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini. bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya. Artinya ?Laki-laki yang berzina tidak mengawini. Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. Pada bagian terakhir saya (Abdullah Saleh Hadrami) akan menyertakan bantahan terhadap syubhat yang ada dalam masalah ini. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah. amma ba?du.?3 Syaikh Al-Utsaimin berkata. diharamkan atas orang-orang yang mu?min.

Juga sabdanya Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya. Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. dalam arti dia itu tidak memiliki bapak. tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi. maka sampai melahir-kan kandungannya. Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah. ?Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil.*12 Mungkin sebagian orang mengatakan.*10 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Artinya. berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik. Pengakuan ini tidak dianggap. ?Tidak boleh menikahinya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandungannya.*11 Di dalam hadits di atas.? 13 Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan. maka pernikahannya itu tidak sah. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl. najis dan suci. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh . ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya.Artinya.?*14 Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra? terlebih dahulu. baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram. karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya.*8 Namun. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. Di . bila sudah bertaubat. sampai dia beristibra? dengan satu kali haid.*9 Ke dua : Dia harus beristibra? (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl. maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil. dan bila ternyata hamil. Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki. Malikiy. bila tidak hamil. bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. ?Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?? 7 Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hambaNya sebagai sekutu. karena perbedaan dua air (mani). meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. kecuali setelah dia melahirkan kandungannya. bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil. padahal budak itu sudah menjadi miliknya. berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain. dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. ?Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. maka halal menikahinya. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi.

Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda.19 Ibnu Abdil Barr berkata. berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak. karena dia itu tidak memiliki wali. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. maka walinya adalah wali hakim. dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? 18 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya ?Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan). sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu.22 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam : Artinya ?Anak itu bagi pemilik firasy. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan . lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.*15 Jadi anak itu tidak berbapak. beliau berkata. yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina. wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah. atau dinikahi sewaktu hamil. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami.17 Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir. baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. 20 Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka : Anak itu tidak berbapak. ?Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya. Artinya ?Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?21 Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra? dengan satu kali haidh. ?Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah). keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama.? 16 Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ? Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah.dalam hal ini. ?Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam. maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya.

Ahmad Muwafii 2/583. Ahmad Muwafii 2/584. Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak). At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kitab Nikah. (18)Al Bukhari dan Muslim.) (12)Abu Dawud. (11)Lihat Mukhtashar Ma'alimis Sunan 3/74. Al Qawanin hal : 338. (5)Ibid. sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya. (14)Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72. Abu Dawud. (15)Al Mabsuth 17/154. Ahmad. (20)At Tamhid 6/183 dari At Taisir. (8)Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246. Endnote : (1)Minhajul Muslim. http://www. Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy. (19)Al Mabsuth 17/154. dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim. (10)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah.id/index. Majmu Al Fatawa 32/110. (3)An Nur : 3. Asy Syarhul Kabir 3/412. Artinya: 'alimus Sunan 3/75-76. dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan. Fatawa Islamiyyah 3/247.kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui. Al Fatawa Al Jami'ah Lil Mar'ah Al Muslimah 2/5584. (22)Al-Mughniy 6/455. (21)Hadits hasan Riwayat Asy Syafi'iy. (Abu Sulaiman). (16)Al-Bukhari dan Muslim. (17)Taud-lihul Ahkam 5/103. (4)Fatawa Islamiyyah 3/246. (6)Ibid 33/245. (9)Ibid 3/247.or.php?pilih=lihatannur&id=153 Syubhat dan Bantahannya Oleh: Abdullah Saleh Hadrami Sebagian Ustadz menfatwakan bolehnya menikahi wanita hamil asalkan lelaki tersebut adalah yang menghamilinya dan mereka menisbahkan fatwa ini kepada Salafush Shaleh sebagaimana dibawah ini: . (7)Asy Syruraa : 21.alsofwah. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya). (23)Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104. lihat. (13)Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128. Al Kharsyi 6/101. dan Ar Raudlah 6/44. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. (2)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalanjalannya menjadi kuat dan shahih.( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828. meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan RasulNya.23 Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

saat itu beliau (penulis) mengatakan akan melihat lagi. Wallaahul Musta?aan. BATIL. Kalau ini. karena menyalahi Al-Qur?an. Alhamdulillah. saya sempat bertemu dengan penulis ketika Daurah di Wisma Erni Lawang dan sempat membicarakan masalah ini dengan beliau. sama sekali tidak ada kata-kata hamil.http://www. pendapat tersebut adalah murni pendapat penulis sendiri dan tidak benar kalau dinisbahkan kepada Salafush Shaleh ?Rahimahumullah. Jadi. maka tidak ada khilaf tentang bolehnya. Semoga Allah selamatkan diri kita dan keluarga kita serta kaum muslimin semuanya dari segala hal yang mendatangkan murka Allah Ta?aala. BERBAHAYA.com 0 Comment(s) . ternyata saya mendapatkan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis terdapat kata-kata hamil. karena berdampak semakin maraknya perzinaan dan anak-anak yang lahir dari hasil perzinaan disebabkan mereka merasa tenang dan aman karena telah mendapat kemudahan dan dukungan dari fatwa-fatwa tersebut.almanhaj. yaitu kitab-kitab aslinya yang berbahasa Arab.Hatibening. As-Sunnah dan Salafush Shaleh. seorang laki-laki berzina dengan perempuan.com (c) Hak cipta 2008 . www. amien. Yang ada adalah. lalu keduanya bertaubat dan melangsungkan pernikahan.id/content/2253/slash/0 Setelah saya meruju? kepada kitab-kitab yang telah disebutkan.or.hatibening. Fatwa yang membolehkan menikahi wanita hamil asalkan yang menikahi adalah lelaki yang telah menghamilinya dan menisbahkan anak yang lahir dari kehamilan tersebut kepada si lelaki yang menghamili adalah FATWA BATIL DAN BERBAHAYA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful