Perkawinan Wanita Hamil Di Luar Nikah Perkawinan menurut Islam adalah sebuah proses pembentukan keluarga yang tidak

dapat diselenggarakan diluar ketentuan. Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam yang digali dari sumber-sumbernya baik dari Al Qur‟an, As Sunnah dan hasil Ijtihad atau pendapat para ulama‟. Oleh karena itu bagi orang Islam suatu kemestian untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan yang dituntun oleh dalil-dalil yang jelas dan benar dalam soal kecil sekalipun. Bagi seorang gadis tentu dia tidak pernah hamil, karena belum pernah kawin, yang menjadi persoalan adalah ternyata dia hamil, maka dapat dipastikan bahwa kehamilannya itu adalah hasil hubungan seksual diluar perkawinan dihukumkan zina, jika wanita yang berbuat zina itu hamil, maka para imam mazhab fiqh berbeda pendapat, apakah wanita yang hamil itu boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Tetapi ada pula pendapat imam madzab yang tidak membolehkan wanita yang hamil itu melangsungkan perkawinanya. Jika kawin hamil dilangsungkan, maka timbul persoalan lain, yaitu tentang status anak yang dikandung oleh wanita tersebut, apakah status nasab dihubungkan kepada ibunya atau kepada orang yang mengawini. Berdasarkan persoalanpersoalan tersebut, penulis mencoba mengungkapkan pendapat-pendapat para imam mazhab tentang perkawinan wanita hamil. l Menurut Imam Mazhab Istilah perkawinan wanita hamil adalah perkawinan seorang wanita yang sedang hamil dengan laki-laki sedangkan dia tidak dalam status nikah atau masa iddah karena perkawinan yang sah dengan laki-laki yang mengakibatkan kehamilannya. Mengenai ketentuan-ketentuan hukum perkawinan wanita hamil dalam pendapat para imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i dan Ahmad bin Hanbal), mereka berbeda pendapat, pada umumnya dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu : a. Imam Hanafi dan Imam Syafi‟i Beliau mengatakan bahwa wanita hamil akibat zina boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Menurut Imam Hanafi :” Wanita hamil karena zina itu tidak ada iddahnya, bahkan boleh mengawininya, tetapi tidak boleh melakukan hubungan seks hingga dia melahirkan kandungannya”. Menurut Imam Syafi‟i :” Hubungan seks karena zina itu tidak ada iddahnya, wanita yang hamil karena zina itu boleh dikawini, dan boleh melakukan hubungan seks sekalipun dalam keadaan hamil. Menurut mereka wanita zina itu tidak dikenakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan sebagaimana yang ditetapkan dalam nikah. Karena iddah itu hanya ditentukan untuk menghargai sperma yang ada dalam kandungan istri dalam perkawinan yang sah. Sperma dari hubungan seks diluar nikah tidak ditetapkan oleh hukum. Dasar yang mereka gunakan adalah Al Qur‟an Surat An Nur ayat 3, yaitu : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

Menurut Imam Hanafi meskipun perkawinan wanita hamil dapat dilangsungkan dengan laki-laki, tetapi dia tidak boleh disetubuhi, sehingga bayi yang dalam kandungan itu lahir. Menurut Imam Syafi‟i, perkawinan wanita hamil itu dapat dilangsungkan, dapat pula dilakukan persetubuhan dengannya. Memperhatikan pendapat Imam Syafi‟i, maka seorang wanita hamil karena hasil melakukan hubungan seks diluar nikah jika dia melangsungkan perkawinan dengan seorang laki-laki maka kehamilannya itu tidak mempengaruhi dalam perkawinannya. b. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal Menurut Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sama halnya dengan yang dikawini dalam bentuk zina atau syubhat atau kawin pasid, maka dia harus mensucikan diri dalam waktu yang sama dengan iddah. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengemukakan alasan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. ”Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat menyiramkan airnya (sperma) kepada tanaman orang lain, yakni wanitawanita tawanan yang hamil, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mengumpuli wanita tawanan perang sampai menghabiskan istibra‟nya(iddah) satu kali haid” ( Hr.Imam Bukhari) Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mengambil kesimpulan dari kedua hadits tersebut, bahwa wanita hamil tidak boleh dikawini, karena dia perlu iddah. Mereka memberlakukan secara umum, termasuk wanita hamil dari perkawinan yang sah, juga wanita hamil dari akibat perbuatan zina. Adapun penentuan larangan perkawinan wanita hamil tersebut berawal dari pendapat mereka yaitu, wanita hamil karena zina tetap memiliki iddah, maka wanita hamil tidak boleh melangsungkan perkawinan sampai dia melahirkan kandungannya. Dengan demikian wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, wanita hamil karena zina harus bertaubat, baru dapat melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang mengawininya. Dengan hadits tersebut, mereka berkesimpulan bahwa wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan, karena dia perlu beriddah sampai melahirkan kandungannya. Pendapat mereka ini dapat dimengerti agar menghindari adanya pencampuran keturunan, yaitu keturunan yang punya bibit dan keturunan yang mengawini ibunya. Oleh karena itu Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal memberlakukan iddah secara umum terhadap wanita hamil, apakah hamilnya itu karena perkawinan yang sah, ataukah kehamilannya itu akibat dari hubungan seksual diluar nikah. Dengan demikian, perkawinan wanita hamil dilarang. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Status perkawinan wanita hamil dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan pada Bab VIII Pasal 53 ayat 1, 2 dan 3 yaitu : 1) Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria menghamilinya; 2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebutkan pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. 3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Pasal 53 ayat 2 KHI menyatakan bahwa perkawinan wanita hamil itu benar-benar

dilangsungkan ketika wanita itu dalam keadaan hamil. Sedangkan kelahiran bayi yang dalam kandungannya tidak perlu ditunggu. Dalam KHI perkawinan wanita hamil akibat perbuatan zina tidak mengenal iddah. Namun perkawinan wanita hamil seperti pasal 53 ayat 1, hanya boleh dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya. Untuk mengetahui siapakah laki-laki yang menghamili wanita itu sangat sulit, apalagi dihubungkan dengan pembuktian menurut hukum Islam harus disaksikan oleh empat orang saksi. Pembuktian itu semakin sulit apabila adanya usaha secara sengaja menutup-nutupi, atau orang yang pernah menzinahi beberapa orang. Pasal 53 ayat 1 dan 2 tersebut semacam ada sikap yang tidak konsisten. Dikatakan demikian, karena apabila berpedoman kepada Pasal 53 ayat 2 KHI, tersebut ternyata hanya berpedoman kepada formalitasnya saja, yaitu karena wanita hamil tersebut belum pernah menikah, maka kemudian ketentuan yang berlaku baginya adalah hak kegadisan, walaupun kenyataanya wanita itu telah hamil. Kemudian pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa, dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan lagi perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Adanya ketentuan bahwa perkawinan tersebut tidak perlu diulangi lagi, maka menjadi isyarat bahwa perkawinan terdahulu telah dinyatakan sah. Wallahu a'lam. Diposkan oleh Imam Basori, M.Ag di 22:34

seharusnya si suami tersebut bertanggung jawab teradap nafkah anak tersebut. Imam Malik dan Imam Syafii tidak mensyaratkannya. Ishaq dan Abu ‘Ubaid membolehkan kedua orang yang berzina menikah. maka ibu dan atau kerabatnya yang memebri nafah kepada anak tersebut. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. saudara saya perempuan hamil diluar nikah oleh pacarnya. Yang artinya: Di riwayatkan. Tetapi karena alasan kemanusiaan. Karena nasab itu hanya terlahir dari hubungan yang sah (pernikahan) sebagaimana hadits Rasulullah saw. maka nafkah anak menjadi tanggung jawab istri dan atau kerabatnya. Islam membolehkan laki-laki dan perempuan yang berzina untuk menikah atau dinikahkan dan tanpa menunggu iddah jika siperempuannya hamil.a berketetapan untuk menikahkannya”.wb Assalamu alaikum wr. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah. 32) Kedua.sekarang sudah hamil 8 bulan. Zina adalah perbuatan dosa besar yang sangat dicela Allah swt. Ibnu Mas’ud. Pertama. “Sahabat Umar r. sebagaimana ditegaskan ayat-ayat al Qur’an. Yang artinya: Ibnu Abbas Mengatakan : “Permulaannya Zina dan diakhiri dengan nikah”. Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah itu nasabnya kepada ibunya bukan kepada laki-laki penzina.pihak keuarga hendak menikahkan mereka. wassalamu’alaikum wr. Ketiga. . dengan syarat kedua orang yang berzina tersebut itu bertaubat .a memukul laki-laki dan perempuan yang berzina.Assalamu’alaikum wr. dan penzinanya itu di hukum. menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Yang artinya: “Anak (yang sah) itu adalah hasil di kasur (hubungan suami isteri).S Isra . diantaranya “Janganlan kamu sekalian mendekati zina”.” Karena nasab anak (hasil) zina tersebut kepada ibunya. Sebagian Ulama seperti Qatadah.wb.bagaimana hukumnya dan solusinya bagaimana mohan penjelasan. dan Umar r. Ibnu Abbas. Sedangkan laki-laki penzina tdak bertangung jawab. Sebagian yang lain seperti Abu Hanifah.wb. (Q. sebagaimana pendapat Umar. Jika si suami menolak.

nikahkan keduanya (yang berzina) tanpa menunggu iddah (jika hamil dan belum melahirkan). sekaligus ia dan kerabatnya memiliki tangung jawab menafkahi anak tersebut jika si bapak menolak menfkahinya.Keempat. 2. Home . Nasab janin tersebut kepada ibunya. atas dasar beberapa tuntunan fikih islam di atas. Aminn Wallau a’lam bi ash sowab Wassalamu alaikum wr. Anak yang terlahir adalah amanah. ia harus mendapatkan riayah.wb. Setelah bertaubat. pendidikan dan pembinaan supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. 4. Ajak saudara Anda untuk bertaubat dan menyadari kesalahan dan bekomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya. 3. layaknya anak-anak lain yang lahir dari hubungan yang sah. maka di sarankan kepada penanya beberapa hal : 1. Semoga Allah membimbing bapak dan keluarga.

(QS.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3.) Adapun perempuan hamil karena zina. masalah ini kami uraikan sebagai berikut : . Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Jawab : Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1. Takmilah Al-Majmu‟ 17/347-348. (Lihat : Al-Mughny 11/227. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala : “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya”. Kemudian beliau berkata : “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah”. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah nya. AlMuhalla 10/263 dan Zadul Ma‟ad 5/156. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini Wal „iyadzu billah. (QS. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya”. Al-Baqarah : 235). Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Bila sudah terlanjur menikah.Hukum Nikah Dalam Keadaan Hamil Posted by Admin pada 27/06/2009 1. Ath-Tholaq : 4).

(Martsad) berkata : “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wassallam lalu saya berkata : “Ya Rasulullah. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum . Al-Baihaqy 7/153.Martsad berkata : “Maka beliau diam. Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah „Azza Wa Jalla : “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Saya nikahi „Anaq ?”. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Dua : Tidak disyaratkan taubat. 3177. An-Nur : 3). An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269.Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. maka turunlah (ayat) : “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”. At-Tirmidzy no. Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : “Jangan kamu nikahi dia”. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama : Satu : Disyaratkan bertaubat. Al-Hakim 2/180. Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). Ishaq dan Abu „Ubaid. beliau berkata : “Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). (QS. Inilah yang benar tanpa keraguan”. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau lakilaki musyrik. riwayat Abu Daud no. (Hadits hasan. 2051. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin”. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina.

Yaitu dengan lima syarat : 1. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa AlBayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma‟ad 5/114-115. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Catatan : Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Wallahu A‟lam. Ber‟azam (bertekad) dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. Dar „Alamil Kutub). beliau berkata : “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya.haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya”. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84. Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. AlMughny 9/562-563 (cet. (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho‟ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. 3. 4. Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. 2. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahariterbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Meninggalkan dosa tersebut. dan Al-Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Ikhlash karena Allah. . Menyesali perbuatannya. 5. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?”.

1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Ahmad 4/108. (HR. Imam Malik. tapi ada perbedaannantara mereka berdua pada satu hal. 7/449. 2157. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh nber-jima‟ dengannya setelah akad. Ibnu Qoni‟ dalam . Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212. Abu Daud no. An-Nakha‟iy.Syarat Kedua : Telah lepas „iddah. (HR. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. At-Tirmidzi no. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain”. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali”. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. AtsTsaury. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. 187). Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. Abu Daud no. beliau bersabda : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. 2158.87. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. 1131. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. ada dua pendapat : Pertama : Wajib „iddah. 2. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini : 1. Ahmad 3/62. Al-Baihaqy 7/449. Kedua : Tidak wajib „iddah. AlBaihaqy 5/329.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas.Mu‟jam Ash-Shohabah 1/217. Ibnu Sa‟ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115. apakah hamilnya itu karena suaminya. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Wallahu A‟lam. (Para sahabat) menjawab : “Benar”.) atau karena zina”. Ath-Tholaq : 4). syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Dan „ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. Al-Baqarah : 228). 3. Beliau bersabda : “Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?”. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza Wa Jalla : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. 2137). Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid)”. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. (QS. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya”. Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Ibnul Qayyim. Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Asy-Syinqithy. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Ath-Thobarany 5/no. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan „iddah bagi perempuan yang berzina. (QS.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. .). tuannya (kalau ia seorang budakpent.

847-850. Kalau ada yang bertanya : “Setelah keduanya berpisah.Kesimpulan Pembahasan : 1. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. „iddahnya adalah sampai melahirkan. Raudhah Ath-Tholibin 8/375. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa „iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa „iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. 2. Bidayatul Mujtahid 2/40. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. baik hamil karena pernikahan sah. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. 2. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Wallahu Ta‟ala A‟lam. • Kalau ia belum hamil. Takmilah Al-Majmu‟ 17/348-349. Al-Ifshoh 8/81-84. . Al-Fatawa 32/109-134. 154-155. syubhat atau karena zina. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. 11/196-197. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para „ulama. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat : “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya”. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?”. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut : • Kalau ia hamil. Al-Inshof 8/132-133. Wal „Ilmu „Indallah. Zadul Ma‟ad 5/104-105. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr).

Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Sa‟id bin Manshur dalam sunannya 1/175.4750. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha.698. Al-Baihaqy 7/105. 10/148. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. 7/284. Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166.66. Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. 4074. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Demikian rincian Ibnu Qudamah. 1879.124. (HR.3. 315. Abu Daud no. dan dalam Al-Umm 5/13. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya.275.138. At-Tirmidzi no. nikahnya batil.222. Adapun mahar. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan.1840). 1463. Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : .dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali”. 700. 4682.4837. Ad-Daruquthny 3/221. Ad-Darimy 2/185. An-Nisa` : 4). Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1102. AlHumaidy dalam Musnadnya 1/112. „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. 2083. Ath-Thohawy dalam Syarah Ma‟any Al-Atsar 3/7. Al-Hakim 2/182-183. 7/171. Ibnu Abi Syaibah 3/454.165. maka nikahnya batil. Ahmad 6/47.166. Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya. Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah 6/88. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. maka kembali diwajibkan mahar atasnyaberdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala : “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan” (QS. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. nikahnya batil. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. Ibnu Majah no.

sebelum mendapat label sah sebagai pasangan suami istri. AllahTa‟ala berfirman.id/stories. Al Isro‟: 32) Dalam ayat lainnya. Lihat : Al-Mughny 10/186-188. Rabu.200 dan Zadul Ma‟ad 5/104-105.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya.“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban”. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494. Hanya Allah yang beri taufik. Bahaya Zina Allahh Ta‟ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Sumbr: Tulisan Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi. Wallahu A‟lam. Hal ini sudah dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat kita. dari milis an nashihah. َ ‫َ م ّللا ل ِ ْ َ َ ل ْ ُ َ َ ْ َ ل‬ ْ َّ ُ َْ ‫َ َل‬ ْ ‫ل‬ ْ ‫والَّذٌِنَاا َاا ٌَدعُونَاامعَاا َّااإِلَهااآَخرَااو َااٌقتلُونَااالنفسَااالَّتًِاحرَّ اا َّا ُاإِ َّاابالحقِّااو َ اا ٌَزنونَااومنْاا ٌَفع ااذلِكَاا‬ ِ‫َ ّللا‬ َ َ ََ‫ٌَ ْلقَااأث‬ ‫اما‬ . Namun masalah yang timbul adalah bolehkah wanita tersebut dinikahi ketika ia dalam kondisi hamil? Lalu apa akibat selanjutnya dari perbuatan zina semacam ini. Dan suatu jalan yang buruk. Allah Ta‟ala berfirman. Semoga artikel sederhana berikut ini bisa memberikan pencerahan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran. dimuat dalam Risalah Ilmiyah An-Nashihah vol ke-5. Al-Fatawa 32/198. 24 Maret 2010 21:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu „ala Rosulillah wa „ala aalihi wa shohbihi wa man tabi‟ahum bi ihsanin ila yaumid diin. ‫ِّ ه َ َ ِ َ ة َ َ ء َ ٌِل‬ ‫و َااتقربُوااالز َنااإ َِّن ااكانَاافاحش ااوسا ااسب ا‬ ُ َ َ َْ ‫َل‬ “Dan janganlah kamu mendekati zina.darussalaf.php?id=1332.(QS. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. http://www.” (QS. Si wanita dengan menahan malu telah memiliki isi dalam perutnya.or. Fenomena yang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini. yang sulit terelakkan lagi adalah perzinaan.

di antaranya adalah Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah no. Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan. “Wahai Rasulullah. Jadilah di antara mereka hamil di luar nikah.اشكرا‬ Apakah boleh seseorang menikahi wanita yang dizinai dan ia tahu bahwa wanita tersebut betul telah dizinai sebelum menikahinya.“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. 9644 mengenai syarat menikahi wanita yang dizinai. Aku ingin jawaban dari kalian mengenai hal ini. َ َ َ َ ‫إِذااز َنىاالرَّ جُ ااخرجَاام ْن اااإلٌِمانُااكانَااعلَ ٌْ ااكالظلَّ اافإِذااا ْنقطعَاارجعَااإِلَ ٌْ اااإلٌِمانُا‬ ‫ه‬ ‫ل َ َ ِه‬ ُ ُ ِ ِ ِ َ َ َ َ َ َ َ ‫َ ه َ ُّ ة‬ “Jika seseorang itu berzina. apalagi berzina dengan istri tetangga. dan tidak berzina. maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya).”[2] Inilah besarnya bahaya zina. Al Furqon: 68). “Terus apa lagi?” Beliau bersabda.” (QS. syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. Oleh karenanya.اأخرجهاالبغويافًاشرحاالسنةاوأبواداووداوقالاابناحجرافًاالتلخٌصاإسنادهاحسناوصححهاالحاكماوقالاعلىاشرطامسلما. Jika dia lepas dari zina.افإذااتوفراالشرطاناجازاالزواجامنهاا،ا‬ ‫والدلٌلاعلىاوجوباالستبراءاقولهاصلىاّللااعلٌهاوسلمافٌماارواهاأبواسعٌداالخدريارضًاّللااعنها"لاتوطأاحاملاحتىاتضع،اولاغٌراذاتاحملاحتىاتحٌضا‬ ‫حٌضة". barang siapa yang melakukan yang demikian itu. Namun itulah yang terjadi jika hal ini dilanggar. Terjerumuslah dalam dosa besar zina karena tidak mengindahkan berbagai jalan yang dapat mengantarkan pada zina seperti bentuk pacaran yang dilakukan muda-mudi saat ini. Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina Ada beberapa fatwa ulama yang kami temukan. dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda. Pertanyaan: ‫هلاٌجوزالشخصاأناٌتزوجامناإمرأةازانٌةاوهواٌعلماأنهاازنتاقبلاأناٌتزوجها،اوهواٌرٌداأناٌسترا‬ ‫علٌهااألنهااقرٌبته،اوأرجوااإلفادةامنكما،اهلاٌمكنامعرفةاالمفتًا. padahal Dia-lah yang menciptakanmu. Ia ingin menutup aibnya dengan menikahinya karena wanita tersebut masih kerabatnya. niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). Dalam hadits lainnya.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda.” Kemudian ia bertanya lagi.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina.” Kemudian ia bertanya lagi. Artinya. Apakah hal ini mungkin? Syukron. maka iman itu akan kembali padanya. َُ ‫ث ااأَنْااتزانِىَاابحلٌِلَ ااجاركَا‬ ‫ُم‬ ِ َّ ِ َ ‫ِ َ ة‬ “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. tanggal Fatwa 23 Jumadil Ula 1422 H. “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu. Jawaban: :‫الحمداهللاوالصلةاوالسلماعلىارسولاّللااوعلىاآلهاوصحبهاوسلماأماابعد‬ ‫فإناالزواجامناالزانٌةامختلفافٌها،افمناالعلماءامناٌقولابصحته،اومنهمامناٌقولابمنعها،اوممناقالابمنعهااإلماماأحمد،اوهواقولاٌشهدالهاظاهرااآلٌةاالكرٌمةا(ا‬ ‫الزانًالاٌنكحاإلازانٌةاأوامشركةاوالزانٌةالاٌنكحهااإلازاناأوامشركاوحرماذلكاعلىاالمؤمنٌنا)ا[النور:3] ا‬ ‫وعلٌهافلاٌجوزالمناعلمامناامرأةاأنهااتزنًاأناٌتزوجهااإلابشرطٌن:اأحدهما:االتوبةاإلىاّللااتعالى،اثانٌهما:ااستبراؤها. “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. akhirnya terjadilah apa yang terjadi. ا‬ .

keluarga dan para sahabatnya.” (QS. maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. ا‬ ‫وّللااأعلم. Sebagian ulama mengatakan bahwa menikahi wanita tersebut dinilai sah. Amma ba‟du: Mengenai hukum menikahi wanita yang telah dizinai. Jika dua syarat ini telah terpenuhi. shalawat dan salam kepada Rasulullah. Pendapat ini didukung kuat dengan firman Allah Ta‟ala. maka wanita tersebut baru boleh dinikahi.[5] –Demikian Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah-. menikahi wanita yang telah dizinai jika wanita tersebut betul-betul telah bertaubat pada Allah dan telah melakukan istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim dari mani hasil zina). maka tidak boleh menikahinya walaupun dengan maksud untuk menutupi aibnya di masyarakat. Kedua: Istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim). َ ‫َ ل َ ان و ُ ْ ِ ك َ م‬ ُ ‫الزانًِا َاا ٌَ ْنك ااإِ َّاازان ٌَ ااأَ ْاامشرك ااوالزان ٌَ اا َاا ٌَ ْنكِحُ هااإِ َّااز ااأَ ْاامشر ااوحُرِّ ااذلِكَااعلَىاالمُؤمنٌِنَا‬ ‫َّ ل ِ ح ل َ ِ ة و ُ ْ ِ َ ة َ َّ ِ ة ل‬ ُ ِ ْ ْ َ َ “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. Jika tidak terpenuhi dua syarat ini. atau perempuan yang musyrik. Inilah pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh para ulama Hambali dan Malikiyah karena didukung oleh dalil yang begitu gamblang. Di antara ulama yang melarangnya adalah Imam Ahmad. maka ketika dua syarat ini terpenuhi boleh menikahi dirinya dengan tujuan apa pun.‫والخلصةاأناالزانٌةاإذااتابتاإلىاربهااوتحققتابراءةارحمهاامناماءاالسفاحاجازانكاحهاابأياغرضاكانا،افإذاافقداأحداالشرطٌنالماٌجزانكاحها؟اولوابقصدا‬ ‫الستراعلٌها،اوالتغطٌةاعلىاعملهااالقبٌحا. ا‬ Segala puji bagi Allah. Simpulannya. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.”[3][4] Ringkasnya. An Nur: 3) Jika seseorang mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita yang telah dizinai. Dalil yang mengharuskan adanya istibro‟ adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Wallahu a‟lam. maka ia boleh menikahi dirinya jika memenuhi dua syarat: Pertama: Yang berzina tersebut bertaubat dengan sesungguhnya pada Allah Ta‟ala. Sebagian ulama lainnya melarang hal ini. konsekuensi dari menikahi wanita hamil adalah nikahnya tidak sah. baik yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lainnya. Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra‟ terlebih dahulu. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki . َ َ ‫ل ُ َ أ َ ِل َ َّ َ َ َ ل‬ َّ َ ‫َ ل‬ ‫َ َة‬ ‫اَاتوطا ُاحام ااحتىاتضعَااو اَاغ ٌْرُااذاتِااحمْ ااحتىا َتحٌِضَااح ٌْض ا‬ “Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro‟nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh.

2. Sedangkan suami tersebut. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui. konsekuensinya: 1. Namun anak tersebut dinasabkan pada ibu dan keluarga ibunya.[7] Bila seseorang meyakini bahwa pernikahan semacam ini (menikahi wanita hamil) itu sah. Anak itu tidak berbapak. karena dia itu tidak memiliki wali. bila telah selesai istibra‟ dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. Jadi yang berlaku padanya adalah hukum anak tiri. Jika wanita yang hamil tadi dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. status anaknya hanyalah seperti robib(anak tiri). Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram.”[6] Firasy adalah ranjang dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. baik karena taqlid (ngekor beo) kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. maka pernikahannya itu tidak sah. anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya (walaupun itu jadi suaminya). . Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan.serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. maka anaknya tetap dinasabkan pada ibunya. Status Anak Hasil Zina Adapun nasab anak. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. bukan pada bapaknya. maka walinya bukan laki-laki tadi. namun walinya adalah wali hakim. ia dinasabkan kepada ibunya. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. alias dia adalah anak tanpa bapak.[8] Ringkasnya. Wallahu a‟lam. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. ُ ‫الولَ اال ِْلفِراشِااول ِْلعاهِرِااالحجرُا‬ َ َ ْ َ َ َ ‫َْ د‬ “Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada bapaknya. 3.

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.com. [3] HR. 32/66-67. memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. [9] Tafsir Al Qur‟an Al „Azhim. 8/417. cetakan kedua. Ibnu Katsir. [8] Lihat Majmu‟ Al Fatawa. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Daar Thoyyibah. Darul Wafa‟. 2/2587. ُ ُ َ َ ‫مِنْاا َثوا ااالحس َن ااالحسن اا َبعْ دَ ها،اومِنْااجزاءِااالسٌ َئ ااالسٌئ اا َبعْ دَ ها‬ ‫َّ ِّ ة َّ ِّ َ ة‬ ‫َ ب َ َ ة َ َ َة‬ ِ ِ ِ َ َ َ “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya. 1457.com [1] HR. [5] Lihat Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah. [7] Lihat Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah. Gara-gara zina. maka keburukan berikut pula yang didapat. Oleh karena itu. [6] HR. cetakan ketiga. Asy Syamilah. Abu Daud no. Abu Daud no. Bukhari no. 2625. 7532 dan Muslim no. Kalau nikahnya tidak sah berarti apa yang terjadi? Yang terjadi adalah zina. para salaf mengatakan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. 86. nikahnya pun tidak sah. Jika yang ditanam keburukan. [2] HR. Inilah akibat dari perbuatan zina. 4690 dan Tirmidzi no. 2/4764. Akhirnya karena nekad dinikahi ketika hamil. Setiap yang ditanam pasti akan dituai hasilnya. 1420 H . dipublish ulang oleh http://rumaysho. Awalnya hamil di luar nikah (alias zina).”[9] Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Keturunannya pun akhirnya rusak karena anak hasil zina tidak dinasabkan pada bapak hasil zina dengan ibunya. 2157. Bukhari no.remajaislam. akhirnya nasab menjadi rusak. [4] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama. tahun 1426 H. Diselesaikan di Pangukan-Sleman. maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibro‟ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil. 9 Rabi‟ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 24/03/2010) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www. 6749 dan Muslim no.Penutup Setelah kita melihat pembahasan di atas.

Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil posted in Fiqh Ibadah. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah[1]nya. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3.” (QS. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut: 1. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. Munakahat & Keluarga. Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal „iyadzu billah. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam: Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Ath-Tholaq: 4) Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala: “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Bila sudah terlanjur menikah. Al-Baqarah: 235) . Muslimah | Share 201 Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain 1. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu.” (QS.

kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya.” Kemudian beliau berkata: “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah.” (QS. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin. Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Inilah yang benar tanpa keraguan. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. An-Nur: 3) Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156. Ishaq dan Abu „Ubaid.Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. Adapun perempuan hamil karena zina.” Lihat: Al-Mughny 11/227. Dua: Tidak disyaratkan taubat. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama: Satu: Disyaratkan bertaubat. beliau berkata: . Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat.” Tarjih di atas berdasarkan firman Allah „Azza wa Jalla: “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

: Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). Al-Mughny 9/562-563 (cet. (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah. 3177.” (Haditshasan. riwayat Abu Daud no.. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. At-Tirmidzy no. . Dar „Alamil Kutub). Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul) Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. ‫؟‬ : : (( : )) . Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya. 2051. Al-Baihaqy 7/153. AlHakim 2/180.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115. Catatan: Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Saya nikahi „Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermaknajima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad.

Meninggalkan dosa tersebut. Karena dan untuk permintaannya pada saat berkhalwat (berduaan) bukan mahram) walaupun tidak halalberkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?” Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. Ber„azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima‟ dengannya setelahakad. 5. Imam Malik. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini.Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. ada dua pendapat: Pertama: Wajib „iddah. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Kedua: Tidak wajib „iddah. Ikhlash karena Allah. beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak ini perempuan untuk berzina dan memintanya. An-Nakha‟iy. AtsTsaury. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Wallahu A‟lam. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. Yaitu dengan lima syarat: 1. Menyesali perbuatannya. Tarjih . Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. 2. Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah. 3. 4.

87. 2157. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. 7/449.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Ahmad 3/62. apakah hamilnya itu karena suaminya. Ibnu Qoni‟ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217.) atau karena zina. Al-Baihaqy 7/449. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu.Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini: 1.” Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. 187) 2. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos: “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.” (HR.” . Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no. 1131. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. 2158. Ahmad 4/108. Abu Daud no. Ad-Darimy 2/224 AlHakim 2/212. Abu Daud no. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain. Ibnu Sa‟ad dalam Ath- Thobaqot 2/114-115. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam.” (HR.). Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: . Al-Baihaqy 5/329. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. beliau bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. tuannya (kalau ia seorang budak-pent. Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. 2137) 3. At-Tirmidzi no. Ath-Thobarany 5/no.

Wallahu Ta‟ala A‟lam. Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349. Raudhah Ath- Tholibin 8/375. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut.” (QS. Zadul Ma’ad 5/104-105. Ibnul Qayyim.” (QS. Al-Baqarah: 228) Kesimpulan Pembahasan: 1. Ath-Tholaq: 4) Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Bidayatul Mujtahid 2/40. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Dan „ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. Catatan: Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Lihat pembahasan di atas dalam: Al-Mughny 9/561-565. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut: • Kalau ia hamil. 2. .Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza wa Jalla: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu: “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid). Wallahu A‟lam. Al-Fatawa 32/109-134. 847-850. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Al-Ifshoh 8/81-84. 11/196-197. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. 154-155. • Kalau ia belum hamil. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan„iddah bagi perempuan yang berzina. AlInshof 8/132-133. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Asy-Syinqithy. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu.

2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?” Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para „ulama.

Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya.” Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin

Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. Wal „Ilmu „Indallah. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). 3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak adamahar bagi perempuan tersebut. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha, Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda:

“Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam Al-Umm5/13,166, 7/171,222, „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa‟id bin Manshur

dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. 4074, Al-Hakim 2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Al-Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840) Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala:

“Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala:

“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A‟lam. Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105. Footnote:

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “„Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut

pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.” Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45&page_order=2

This entry was posted on Tuesday, March 4th, 2008 at 3:48 am and is filed under Fiqh Ibadah, Munakahat & Keluarga, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 29 responses to “Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil”
Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

1.

1

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam:

Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.” Mohon agar matan tulisan ini diedit lagi.

Reply
posted on March 4th, 2008 at 1:25 pm

2.

2

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

lacsana said: saya mau menanyakan tentang anak yang menikah diusia muda karena married by accident. bukan malah semakin melanggar syariat dan jatuh 2 kali ke jurang kehancuran dengan menikahi wanita hamil sebab zina (padahal ini haram) yang mana ini sama saja berarti dia itu akan zina seterusnya (karena nikah yang seperti ini tidak sah). kira2 secara islam bagaimana.atau mungkin hasil postingnya memang begitu ya. karena dia memang telah masuk ke jurang kehancuran akibat zina yang diperbuatnya.. 2008 at 1:32 pm posted on November 11th. In syâ‟ Allâh artikel ini sesuai aslinya. juga „utk menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran‟ itu pun bukan alasan.? terima kasih ADMIN: Penjelasan pada artikel di atas insya Allah sudah cukup jelas. Batam Yayasan Anshorus Sunnah. Saya coba copy matan hadits /terjemahan diatas yg mana tertulis melaknatnya 2x dan kuburnya2 kali tapi justru berubah. Penjelasan tambahan: Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah) Pertanyaan Melalui: dari al-Ustadz Sekretariat Langsung Abu Abdirrahman via Muhammad Telepon Wildan. tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina . akan tetapi yang dapat menyelamatkannya adalah dengan taubat yang benar. supaya hal tersebut untuk menghindari aib dan menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran. kami tidak memahami maksud antum. dan setelah dinikahkan apakah setelah melahirkan perlu dinikahkan kembali. Menghindari aib itu bukanlah alasan syar‟i. 2009 at 7:28 pm 3. nikahnya TIDAK SAH. Lc. `Afwan. termasuk matan hadîts yang dimaksud. bahkan jika dilakukan alasan itu akan menyebabkan semakin melanggar syariat (karena haramnya menikahi wanita hamil sebab zina). Reply posted on March 4th. 0. apakah kalau dinikahkan oleh orang tuanya bagaimana. intinya HARAM.

Artinya. Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi . maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut: Pertama: Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur : 3 [‫س‬ ‫سسسسس سسس‬ ] .. ‫س سسس سسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫سس سسسس سس سس‬ ‫س سسس‬ ‫س سس‬ ‫س سس س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سسسسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫س سسس سسسس س‬ ‫سسس‬ ‫س سسس سسسس سسسسس سسسس سس س سس س‬ ‫سس‬ ‫س سسس‬ ‫س س سسسس‬ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ . yaitu HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina. seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya. baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya. maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum. Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3) Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “.Tanya : Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ? ‫سسس سس سس س س : س‬ ‫سس‬ ‫سس س سسس سسسس س : س‬ ‫س‬ ‫سسسس سسسسس سسس س س سسس س : س‬ ‫س‬ ‫س س‬ . Artinya: Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah.Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) : Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina.

laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina sebab ia telah melakukan akad yang diharamkan yang ia meyakini keharamannya. (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158) Reply posted on November 17th. Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. maka tidak boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih. sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. 2011. Iya. risa muthmainnah said: . maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut. 7 On January 3rd. namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya.orang-orang yang beriman. yaitu menyiramkan maninya kepada anak dari kandungan orang lain. Jadi. maka pada saat seperti itu. dan ini adalah bahasa kiasan. Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil. Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu „Alaihi Wasallam. ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”. 2010 at 4:31 pm 4. maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula. apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut. maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan. ada diantara para ulama yang memfatwakan.

9 On January 19th. baru kemudian mereka menikah lagi. maka harus diulang lagi. 10 On February 9th. Caranya: mereka harus taubat dulu. demikian insya Allah sah. 2011 at 3:51 pm 6. Reply posted on January 19th. 8 On January 16th.saya mau brtanya tentang pndapat singkat imam syafi‟i dan hasan al-bashary ttang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah Reply posted on January 3rd.? apa hukumnya? Reply posted on January 16th. 2011.. HARAM dan BATIL/TIDAK SAH. uni mutia said: . 2011. 2011 at 8:05 am 5. Meliza said: apakah mahar yang berupa uang boleh di bingkai dan di pajang. 2011 at 6:15 pm 7. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Reply admin reply on April 26th. 2011. 2011: sekalipun sudah terlanjur tetaplah tidak teranggap nikahnya itu. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. tanpa perlu perceraian krna hakikatnya mereka selama ini berzina bukan dalam ikatan nikah (karena tidak sahnya pernikahan mereka tadi). adiguna said: Bila sudah terlanjur menikah. lalu tunggu iddah si wanita selesai.

com atau agen terdekat. 2011 at 2:47 am 10. 13 On March 5th. 2011 at 12:25 pm 9. 2011: . 2011.afwan.10000 sebulan sekali bisa dibeli di http://www. apakah sudah ada majalah akhwat dalam bentuk Ebook atau File HTML? Jazakumullohu Khiron Admin. 2011.apakah sepasang suami istri yg menikah dlm keadaan hamil kemudian belum menikah lagi lalu ketika suami mengajak berhubungan badan istri menolak dengan alasan tak ingin berzina lagi apakah istri tersebut dosa?lalu bagaimana kewajiban menafkahi nya? Reply admin reply on April 26th. Afwan.asslamuallaikum…kenapa ea wanita sekarang banyak yang mengobral aurat mereka??? Reply posted on February 9th. harga majalah sangat murah hanya rp.alilmu. 11 On February 14th.. dengan membeli majalah ini antum telah membantu biaya kegiatan dakwah disini. puenting nee… Matur nuwun… Reply posted on February 21st. 12 On February 21st. Syamsul Huda said: Izin ngopi…. M. Reply posted on February 14th. umi yani said: bismillah. 2011 at 11:17 am 8. buat khasanah ilmu. 2011.ana mau tanya. afwan kami tidak membuat majalah akhwat dalam bentuk ebook. Abu Sholihah said: Bismillah.

Dia tau maupun tidak tau kehamilannya maka tetap tidak akan lepas dari 2 kemungkinan di atas. dan nikahnya BATAL/TIDAK SAH. lalu wajib menunggu LEPAS IDDAH. tunggu lepas iddahnya sampai haidh 1 kali. 2011 at 4:45 pm 11.. 2011: Silahkan dibaca kembali artikel di atas sudah jelas menjawab pertanyaan anti. yang manapun keadaannya telah jelas apa yang harus dilakukannya. setelah zina itu tentu ada 2 kemungkinan keadaan: 1. 2011. tapi dia pasti tau bahwa sebelumnya sudah berzina.. Reply admin reply on April 26th. jika zinanya tidak menjadikannya hamil maka dia akan haidh. 2011. Ana coba jelaskan ulang. 2. aisyah said: Bagaimana bila saat menikah dia tidak mengetahui kalau dia sedang hamil. Tentang iddahnya. 14 On April 12th.sampaikan ilmu pada mereka hingga jelas hukum-hukumnya bagi mereka sebagaimana telah dibahas pd artikel di atas. umi yani said: . wallahu a‟lam. barulah dia halal dinikahi. maka syaratnya pezina ini sebelum nikah adalah wajib TAUBAT dulu. (Admin/Abu Husain Munajat) Reply posted on April 12th.. lalu wajib mereka mengulang nikahnya.. jika zinanya menjadikan dia hamil maka iddahnya sampai selesai melahirkan. Sekalipun tidak tau trnyata sudah hamil. 15 On April 29th. Reply posted on March 5th. bahwa HARAM menikahi wanita hamil. 2011 at 3:22 pm 12. tapi sebelum itu keduanya harus bertaubat dan tunggu si wanita itu lepas iddahnya dulu.

irfan buhar said: alaikum. Dia bisa kembali ke orang tuanya dan jelaskan kepada orang tuanya dan mereka bisa mengadukan kepada pemerintah utk keputusan cerai secara administrasinya. bahkan kami katakan wajib karena meninggalkan maksiat zina itu wajib hukumnya. Jika si laki-laki/‟suami‟ tidak terima maka itu tidak ada urusan thd si wanita karena dia bukan siapa-siapa bagi si wanita. Tapi solusi yang insya Allah lebih baik menurut kami adalah keduanya bertaubat lalu menunggu iddah selesai lalu menikah secara sah. 2011: Insya Allah sudah jelas di artikel di atas. dirman said: apa hukumnya dalam islam apabila mendatangi pernikahan keluarga kita yg menikah karena telah hamil? Reply posted on May 14th. Si wanita berhak pergi darinya.karena sebelumnya si suami tidak terima? Reply admin reply on May 4th. Reply posted on April 29th. misalnya melalui ortunya atau seorang ustadz.berarti nikahnya tidak sah ya?berarti tidak wajib menafkahi?lalu bagaimana cara menjelaskan tentang hukum itu. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dengan menaati hukum-hukum-Nya. Cara menjelaskannya tentu si wanita yang lebih tau. 2011. TIDAK SAH.„afwan. Wallahu a‟lam. dengan ilmiah dan hikmah. tapi yang lebih penting dari itu adalah WAJIB TAUBAT. Maka tentu saja tidak wajib menafkahi karena dia bukan apa-apanya dan bukan tanggungjawabnya. 2011 at 6:53 pm 13. . Adapun hidayah adalah dari Allah semata. 17 On June 6th... 16 On May 14th. sy bertanya saya menguraikan sebuah kalimat. 2011. 2011 at 12:31 am 14. asllamu sebelum dalam hidup manusia bahwa sahnya manusia tidak mngetahui kapan. dimana.

2011 at 8:40 am balasannya terimakasih 16. bgmna klau si wanita tersebut telah meninggal. 20 On August 4th. 2011 at 9:15 pm . apa hukumnya kalau laki2 menikah dengan wanita yang sedang hamil n yang menikah dengan wanita tersebut adalah laki2 yang telah menikahinya??. seperti yang diterangkan diatas. dikatakan bahwa wanita yang sedang hamil tidak bisa menikah sblm dia bertobat dan sampai dia telah melahirkan skalipun yg akan menikahinya adalah orang yang berhubungan dgnya. 19 On June 23rd.. apakah bisa diambil kesimpulan bahwa akad nikah dapat dilaksanakan dan sah hukumnya?? jika saat hamil tidak boleh dinikahi. tlong di jawab ya!!! Reply posted on August 4th. airin said: assalamualaikum misalkan keduanya sudah benar2 bertobat. Reply 15. saya mau tnya.. 21 On August 4th. arie said: ass. Reply posted on August 4th.sedang apa. sblm dia melahirkan atau bertaubat.. arie said: klarifikasi pertanyaan di atas. 2011. maksud saya laki2 yang telah menghamilinya bukan menikahinya… terimakasih. 2011. siapa pun atas kematianya.... 2011.. lalu bagaimana status anak menurut islam?? mohon wass Reply posted on June 23rd. apa yg berlaku pada laki2nya dan wanitanya. 2011 at 9:12 pm 17.

itulah jawabannya. tdak perlu nikah lgi karena pernikahaan pertama itu sah. 23 On October 24th.dan rencana kami mo nikah kembali. bahkan sekarang mereka memiliki anak kedua.terus kami menikah.jadi kami sudah mempunyai 3 orang Anak.. Adawiyah said: Ass. Balas Reply . 2011. trim‟s wasalam.atau anak itu adalah anak ibunya dan tidak bisa mendapat warisan? dan kalau anaknya perempuan tidak bisa diwalikan oleh si lelaki itu?apakah benar?apakah ada buku atau referensi yang memuat hal tersbt diatas dengan lengkap?karena si laki-laki sudah pernah diberitahu tentang hal ini tapi sepertinya tidak percaya dan menganggap remeh. Admin: jika melihat pendapat sesuai penjelasan di artikel. pernah satu kx kami memanggil yg paham tentang agama. karena kami sudah melahirkan Anak perempuan. apabila anak perempuan kami klau mau menikah. 2011 at 12:08 am 19. bapaknya tidak sah menjadi wali buat siAnak. dan tidak melakukan pernikahan ulang ketika bayinya sudah lahir.sampai sekarang sudah 10 th usia pernikahan kami. 22 On August 14th.kalau seorang laki-laki terpaksa menikahi perempuan yang sudah dihamilinya.18. tapi jawabannya. novmery said: akibat perzinahan hamil 3 bln. cuma. gimana ni hukumnya? tolong dibantu. bagaimana hukum status anak anak itu menurut Islam? Saya pernah mendengar kalau nasabnya tidak bisa dihubungkan dengan laki-laki yang menikahi wanita yang hamil.mereka hidup selayaknya suami istri setelah pernikahan itu.Mhn penjelasannya. pertanyaan anda sudah jelas jawabannya. 2011. Reply posted on August 14th. Isampai sekarang kami tidak meyadari kalo pernikahannya selama ini tidak SAH/ HARAM.apakah wajib bagi mereka menikah lagi?. syukron.

sama halnya dgn psngan sy 20th.. banyak hal yg ditakutkan dalam hubungan yg semakin lama ini. krna kami sngat dekat dan hmpir stiap hari bertmu. 2011 at 8:36 pm 20. berarti tetap harus melakukan pernikahan . 24 sy On November 13th. selain itu wali/kluarga mmpelai wanita tidak bisa berkunjung di kota t4 terselenggaranya nikah. tity said: asslmualaikuumm wr. disebabkan oleh hal2 lain yg menghalangi mreka untuk dtg k t4 trsebut).posted on October 24th. bagaimana cara meyakinkan ortu akan niat kami tsb ? 3. ttapi belum punya pnghasilan. jika keluarga dari kedua belah pihak sudah menyetujui untuk menikah. 2011. apakah dlm islam diperbolehkan menikah jika lelaki masih muda dan belum berpenghasilan/msih kuliah ? 4.wb.pdhal hbngan kami sdah brjlan slma 3. yg 1.. kami berdua masih kuliah smster 5 di kmpus dan jurusan yg sama pula.. apa ingin hukum nikah... kami sudah punya niat utk menikah.. apakah dlm islam diperbolehkan wali nikah (ayah mempelai wanita) mengucapkan ijab kpda mempelai pria via telepon ? dalam hal ini wali/keluarga mempelai wanita tidak bisa hadir dalam akad nikah karena jarak yang memisahkan (kota yg berbeda. mohon thx b4 wassalam :D sarannya ya.. 25 On December 12th. 2011 at 10:40 pm 21. 2011.5 thun. Reply posted on November 13th. rasyid said: bagaimana kalau baru mengetahui hukumnya setelah sekian lama menikah dan telah mempunyai 2 orang anak lagi. seorang gadis 20th. kami ingin menikah. jika hukumnya boleh2 saja... sy jika tanyakan sikonnya sprti kami : ? 2.

Bukti ramalan ini kian hari kian tampak nyata dan kian menggejala dimana akhirakhir ini mulai banyak terjadi wanita.ulang? dan tiga orang anak yang dimiliki bagaimana statusnya? mohon di jawab untuk menjawab kondisi saya  Arsip Bulanan © 2012 AKHWAT.wanita (gadis) yang terpaksa di nikah kan dengan seorang priya gara.jalan(Sifaah) bagaikan hewanhewanpun melakukannya. Firman Allah : ‫ﻤ ﻤﻴ‬ ‫ﻚ‬ ‫ﻮﻤﺸﺮﻚ ﻮ ﺮﻢ‬ ‫ﻴﻜ‬ ‫ﻴ‬ ‫ﻮ‬ ‫ﻴ ﻮﻤﺸ‬ ‫ﻴﻨﻜ‬ .WEB. 11 February. oleh para ulama amat diperselisihkan Dasar.dasar perselisihan tersebut adalah dalam meng interpretasikan beberapa dalil dibawah ini yang dipersepsikan beda oleh para Fuqohaa‟. 2010 10:25 AM.ID :: Menggapai Kontroversi Hukum Pernikahan dengan Wanita Hamil Zina Oleh admin Pada Thursday.gara si wanita sudah hamil akibat mereka telah melakukan sex bebas alias zina. Dasar.dasar hukum Hukum menikah dengan wanita yang sedang hamil zina. diantaranya: 1. Fikih Perkawinan dengan Wanita Hamil Zina Sesuai dengan nubuat (berita masa depan) Nabi Muhammad dalam sebuah hadistnya bahwa kiamat tak akan terjadi sebelum manusia banyak melakukan peribuatan sex bebas dijalan. Under Bahsul Masa'il.

laki atau laki. Yusuf bin Ismail Al. Artinya: Para penzina laki. sebaliknya laki. 2.Nuur 2). Qoolat: Su-ila Rasuululloh SAW an rojulin zanaa bi imro-atin wa arooda an yatazawwajahaa. Beirut). 5. Artinya: “Dan Nikahkanlah orang.…………‫ﺨ ﻴﺜﺖ‬ ” Al.imri-in yu‟minu billaahi wal yaumil aakhiri an yasqiya maa-ahuu zar‟a ghoirihii. Faqoola: ‫ﺮ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﺨ ﻦ ﻴﺴ‬ ‫ﻮ ﻴﻮﻢ‬ ‫ﻴﺤﻞ ﻹﻤﺮﺉ ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﻴﺴﻖ ﻤ ﺌ‬ ‫ﻮ ﻴﻮ‬ ‫ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﻤﻦ ﻜ‬ ‫ﻮ ﻤ ﺌ ………ﻮ ﻜ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﻮ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﺖ ﺨ ﻴﺜﻴ‬ .laki tak bermoral.wanita tak bermoral itu pasangannya adalah laki. dan para penzina wanita itu tidak (boleh) nikah kecuali dengan penzina laki. (An.S.laki tak bermoral itu pasangannya adalah para wanita tak bermoral……… 3.sholih dan (juga) sahaya. Artinya: Wanita. tanaman (janin) orang lain”.Nabhani Al. An A‟isyah RA. Firman Allah: . maka janganlah ia “mengairi dengan air (mani) nya pada tanaman (janin) orang lain. Wa hurrima dzaalika alal mu‟miniin”..laki musyrik. H.An-Nur 32). ‫ﻴ‬ Artinya: Barang siapa ber-iman kepada Allah dan Rasulnya.Kabir (Dar Al.sahaya wanita kalian… 4.orang yang sendirian dari kamu sekalian dan hamba.Nur 26).Zaanii laa yankihu illaa zaaniyatan au musyrikah.R.orang mu‟min.” (An.Khobiitsaatu lil khobiitsiina wal Khobiitsuuna lil khobiitsaat….“Az. ‫ﻴ‬ Artinya: “Tidak halal bagi seseorang yang percaya pada Allah dan hari akhir untuk mengairi (dengan air mani) . Abu Dawud dan Tirmidzi.Arqom.hamba sahaya priya kalian yang sholih. Hadist Nabi: Man kaana yu‟minu billaahi wal yaumil Aakhiri falaa yasqi maa.ahuu zar‟a ghoirihi. Wazzaaniyatu laa yankihuhaa ilaa zaanin au musyrik. 6.laki itu tidak (boleh) kawin kecuali dengan penzina wanita atau para wanita musyrik. Hadist yang semakna: La yahillu li. Dan diharomkan semuanya itu bagi orang. Firman Allah: ‫ﻴ ﻤ ﻤﻨﻜ ﻮ ﺼ ﺤﻴﻦ ﻤﻦ‬ “Wa ankihul ayaamaa minkum was shoolihiina min ibaadikum wa imaa‟ikum …” (Q.Fath al.

Rasululloh bersabda: “Anak itu (dinasabkan) kepada Suami ibunya. Artinya: Dari A‟isyah RA. Boleh atau tidakkah menikahkan wanita yang sedang hamil zina? Jumhur Ulama kebanyakan membolehkan mengawini wanita hamil zina seperti pendapat Imam Abu Hanifah.R.Daaruquthniy. sedang si penzina harus dihukum (dera/ rajam)”. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mendasarkan larangannnya pada maksud lahir ayat. Qoola Rasuululloh SAW: ‫ﺪ ﺮﺶ‬ ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ “Al. dll. Wal haroomu laa yuhrimu al. Dari Ikhtilaf ini Imam Nawawi (dari madzhab Syafi‟i) menyatakan: hukum persenggamaan itu makruh (sebaiknya jangan dilakukan sampai sang bayi lahir) berdasarkan Qoidah: AlKhuruj minal Ikhtilaaf Mustahab (Keluar dari perbedaan pendapat itu sangat dianjurkan).halaala”.hajaru.Shon‟ani.ayat tersebut dan hadist.aakhiruhuu nikaahun. karena larangan Nabi untuk membuahi janin orang lain berlaku juga bagi wanita yang dihamili tanpa nikah. walau wujud orangnya sama. Sedang As. 8. 7. Ibnu Hazm dari kelompok Ad. Maka Rasululloh menjawab: ” Awalnya adalah kumpul kebo (SIFAAH) dan akhirnya adalah sebuah pernikahan. H. Rasululloh ditanya tentang seorang laki. Artinya: Dari Abi Hurairoh RA. sosial dan kemasyarakatan serta berdasarkan asas MASLAHAH MURSALAH (kepentingan umum). Akhrojahuu AtThobroniy wa Ad. Syafi’I.At.Dhohiri. As. Sesungguhnya perbuatan harom itu tidak dapat menghalangi terjadinya (pernikahan) yang halal”. Subulus Salam III/210.H.Syafi‟I membolehkan persenggamaan mereka karena tujuan nikah adalah menghalalkan persenggamaan. Dll.‫ﺤ ﻞ‬ ‫ﻴﺤﺮ‬ ‫ﺤﺮ‬ .I) Indonesia.Daaruquthniy. maka suaminya yang menikahinya dianggap orang lain.laki yang berzina dengan seorang wanita dan dia bermaksud menikahinya.Waladu lil firoosyi wa lil „aahiri al.hadist yang melarang membuahi janin yang sudah ada dari hubungan si wanita dengan orang lain. dimana diharapkan: # Ada orang tua yang nantinya akan bertanggung jawab atas segala pengasuhan dan . Menurut hadist ini Rasulullah pernah memberi izin pernikahan wanita hamil zina walaupun tentu saja HUKUM HAD nya tetap berlaku. Adapun Abu Hanifah dan dan Ibnu Hazm. namun me reka melarang persenggamaan antara suami istri tersebut sampai si wanita melahirkan anaknya. walau membolehkan perkawinannya.Majmu‟ LinNawawi. Lihat Al.Thobarony dan Ad. Menurut Kompilasi Hukum Islam (K. Setelah memperhatikan semua ikhtilaf tentang ini dan setelah mempertimbangkan segala aspek hukum. ‫ﻜ‬ ‫ﺨ‬ ‫ﺴ‬ “Awwaluhuu sifaahun wa. „An Abi Hurairoh RA. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Maliki melarangnya. Lihat Subulus Salam III/ 210.

Bila anak tersebut lahir KURANG 6 (enam) bulan setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. Status anak dari HAMIL ZINA Adapun anak dari hasil hubungan ZINA. 2. Seseorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan LAKI. 3. # Mengembalikan harkat martabat dan kehormatan keluarga besarnya dan menutupnya dari AIB keluarga tersebut atas perilaku salah satu dari angota keluarga tersebut. Bila anak tersebut lahir 6 (enam) bulan LEBIH setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Hal ini bersesuaian dengan pendapat jumhur ulama‟ diantaranya Syekh Muhammad Zaid Al. waktu mengandung dan menyapih = 30 bulan Menurtut Luqman 14. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.= 6 bulan Sesuai dengan pernyataan tersebut. 2.Ahqoof 15.Abyani yang menyatakan bahwa batas minimal umur kandungan adalah 180 hari = 6 bulan. . (٥١‫ﺜ ﺜﻮﻦ ﺸ ﺮ ………) ﺤ ﻒ‬ (٤١‫ﻤﻴﻦ ……………………) ﻤﻦ‬ ‫ﺼ‬ ‫ﻮﺤﻤ‬ ‫ﻮﺼ‬ Menurut Surat Al. terhormat dan dilindungi hukum.Ahqoof 15 dan Surat Luqman ayat 14. Imam Abu Hanifah menghitung jumlah 180 hari itu dari PERNIKAHAN. Para Ulama‟ mendasarkan hukumnya dari perpaduan dua ayat. waktu menyapih itu =…………………………………= 24 bulan Jadi waktu hamil minimal = ……………………………………………………………. # Si pelaku perzinahan mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki segala Perilaku buruknya dengan membina keluarga yang sah.LAKI YANG MENGHAMILINYA.pendidikan anak-anaknya sampai ia dewasa. maka setelah perkawinan kedua orang tuanya dapat ditetapkan dengan dua kemungkinan.I (Kompilasi Hukum Islam) Indonesia menetapkan KEABSAHAN pernikahan antara seorang laki. maka: K. dan menuangkannya pada BAB VIII pasal 53 ayat 1 ~ 3 demikian: 1. yakni: 1.laki dengan wanita YANG TELAH HAMIL ZINA. bukan dari mulainya hubungan sekssual diantara kedua orang tua biologisnya. maka nasab nya adalah kepada Suami yang telah mengawini ibunya itu.H. masing masing dari Surat Al. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. maka nasab anak tersebut adalah KEPADA IBUNYA.

anak jahiliyyah yang terlahir dari kebiasaan wanita.karya: Dr. maka walinya bukan suami ibunya namun WALI HAKIM.wanita mereka kumpul kebo dengan banyak lelaki. Disarikan dari: “Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil”. bila si anak terlahir perempuan. Hadist riwayat Jama‟ah ahli hadist terkecuali Turmudzi.persengketaan nasab anak.Catatan penting: Maka pada kasus no.anak yang dibawa kepada keputusan Nabi seperti kasus persengketaaan antara Sa‟ad bin Abi Waqosh dan Abdu bin Zam. SESUAI SABDA Rasul dalam suatu peristiwa persengketaan tersebut diatas dalam riwayat yang panjang.Khottob memutuskan bahwa anak tersebut (TANPA MELIHAT UMUR KEHAMILAN) adalah anak SUAMINYA YANG SAH. Wallohu A‟lam. ‫ﻮﺮ‬ ‫ﻤﺠ‬ ‫ﺬﻤﺮ‬ “Anak itu dinasabkan kepada SUAMI IBUNYA . dimana Nabi dan Umar bin Al. jika ia nanti setelah dewasa hendak menikah. Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini : . sedangkan bagi si pelaku zina dia harus dihukum (dera/rajam)”.ah atau seperti apa yang diputuskan Umar bin Al.Khottob tentang anak. Tentu saja anak tersebut secara syar‟I tidak mendapatkan hak waris sebagai anak yang sah dari suami ibunya itu bila nanti suami ibunya meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan. Ro‟is Aam Tanfidhiyyah DPP Jama‟ah Rifa‟iyyah. terkecuali bila yang meninggal itu sebelumnya telah IQROR (membuat pernyataan) bahwa anak tersebut diakui sebagai anaknya sebagaimana diterangkan oleh Badran Abu Al-Ainain sebagai konsekwensi kebalikan pada kasus anak LI‟AN (suami yang menuduh istrinya mengandung bukan dari dirinya). yakni jika si anak lahir kurang dari 6 bulan. Mulkhlisin Muzarie. diantaranya: ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ ‫ﻮﺪ ﺮﺶﻮ‬ . 2 . Namun demikian ada beberapa perbedaan pandangan tentang hal ini yang mengacu dari beberapa kejadian dimana terjadi kasus.

namun mengapa tifak boleh disetubuhi? Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw. hukumnya tidak sah menikahi wanita wanita hamil akibat zina (dengan laki-laki lain) karena kehamilannya itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. Alasannya. menyebabkan perbedaan pendapat mereka tentang boleh atau tidak boleh menikahi wanita tersebut. karena akad nikah yang dilakukan itu hukumnya sah. hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina. " (HR Abu Daud). baik yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya maupun bukan yang menghamilinya. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. Akan tetapi. hamil atau tidak. apalagi bila ia bukan yang menghamilinya. Ulama Syafi'iyah berpendapat. Alasannya adalah bahwa wanita hamil akibat zina tidak termasuk ke dalam golongan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an (lihat an-Nisaa: 22. Abu Yusuf dan Zafar berpendapat. Dengan demikian. Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil dengan lakilaki bukan yang menghamilinya adalah sah. a. . 3. tapi bila ia hamil. ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina. hanya saja wanita itu tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan kandungannya. 2. 24). baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). maka terlarang pula akad nikah dengan wanita hamil itu. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. Mereka juga berpendapat. baik merdeka maupun amat (budak). tidak sah pula menikahi wanita hamil akibat zina. wanita yang dinikahi tersebut halal (boleh) untuk disetubuhi walaupun ia dalam kaedaan hamil. akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. 23. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina. bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. 1."Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. ia wajib istibra'. Alasan sah menikahinya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.STATUS HUKUM AKAD WANITA HAMIL AKIBAT ZINA Perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang wajib atau tidak wajib atas wanita yang hamil akibat zina. istibra'-nya tiga kali haid. Ulama Hanafiyah sependapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. karena wanita hamil akibat zina tidak termasuk golongan wanita yang diharamkan untuk dinikahi. Sebagaimana hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil bukan karena zina. Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). . b. terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab ini. istibra'nya cukup satu kali haid. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil.

bahwa Nabi saw. Seorang wanita yang hamil di luar nikah daapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Jika ia hamil. KHI membatasi pernikahan wanita hamil hanya dengan pria yang menghamilinya. kawin darurat yang selama ini masih terjadi di Indonesia. yaitu kawin . kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut. iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya.Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. Dari abu Sa'id r. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. b). Secara lengkap. c). Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah. telah bertobat dari perbuatan zina. a."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. 4. akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. Karena itu. hukumnya menjadi tidak sah karena pasal 53 ayat 1 KHI tidak memberikan peluang untuk itu. juga berdasarkan hadits berikut ini. "(HR Abu Dawud) Kedua. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw. Sebagaimana yang tertuang pada pasal 53 ayat 1. disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. Pertama. 5. a). baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya). tidak memberi peluang kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. KHI berpendapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya. " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina. Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya. pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. " (HR Abu Daud). bersabda tentang tawanan wanita Authos. telah habis masa iddahnya. . isi pasal 53 KHI itu adalah sebagai berikut. "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali.

Bagaimana menentukan pembunuh yang harus di qishash itu? Apakah ketiganya harus di qishash? Para ulama maazhab empat sependapat bahwa bila ketiga orang itu terlibat secara langsung. Hanya saja. Artinya. satu kelompok dengan pencurian. yang berakibat terlarang pula akad nikah. aku akan menghukum bunuh mereka semua. umpama tiga orang. tanpa memperhitungkan siapa diantara ketiga orang itu yang lebih banyak memukulnya dan tanpa perlu diteliti pukulan siapa yang menyebabkan kematian korban. Umar berkata. Dalam hal pembunuhan. a. menurut kami. Maksudnya. ketiganya harus di-qishash karena mereka bersama-sama harus bertanggung jawab atas kematian si korban. bila seseorang terbukti telah melakukan pembunuhan dengan sengaja dan di luar kewenangan. " . Keduanya berpendapat bahwa wanita hamil akibat zina dapat dinikahkan kepada laki-laki yang menghamilinya. yang dilakukannya hanya untuk menutupi malu (karena sudah terlanjur hamil). kemudian ia hamil. dan pembunuhan. bagaimana menentukan "pria yang menghamilinya" itu? Di dalam pengelompokkan hukum islam. kepadanya diberlakukan hukum qishash. Pendapat KHI ini mirip dengan pendapat Abu Yusuf dan Zafar dari maazhab Hanafiyah. bila si korban terbunuh akibat pemukulan dan yang melakukan pemukulan adalah ketiga orang itu. yaitu hukuman yang sama dengan tindak kejahatannya. bila ia membunuh. ada perbedaan alasan diantara keduanya. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ibnul Khaththab r. alas an KHI menurut penulis lebih cenderung kepada masalah tujuan disyariatkannya nikah dan kaitan antara akad nikah yang sah dan kedudukan anak sebagaimana yang kita bicarakan kemudian. Bila Abu Yusuf dan Za'far beralasan bahwa kehamilan wanita itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. "pattongkogsi sirig". hukumnya dibunuh pula. zina termasuk ke dalam kelompok jinayah (tindak criminal). perampokan. mereka bertiga dikategorikan sebagai pembunuh. Artinya.dengan sembarang laki-laki. oleh KHI dihukumi tidak sah untuk dilakukan. Yang menjaadi masalah adalah bila seorang korban dibunuh oleh lebih dari satu orang pelaku. "Sekiranya seluruh penduduk yaman berkumpul membunuhnya. ketika beliau memerintahkan hukuman mati atas tujuh orang yang membunuh seorang anak di san'a (ibu kota Yaman). ketiganya harus diqishash. Yang menjadi masalah dari pendapat ini adalah bila seorang wanita berbuat zina dengan lebih dari satu orang laki-laki. baik istilahnya kawin "tambelan". tapi tidak kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya.atau orang sunda menyebutnya kawin "nutupan kawirang".

di mana setelah menyakini bahwa akad nikah wanita hamil akibat zina hukumnya sah. menurut kami. Akan tetapi. KHI dan sebagian ulama Hanafiyah (Abu Yusuf dan Za'far) juga cukup hati-hati dalam masalah ini. keduanya berpendapat bahwa wanita tersebut tidak boleh disetubuhi. tanpa mempertimbangkan siapa di antara ketiga pria itu yang lebih sering menyetubuhinya dan tanpa perlu meneliti sperma siapa yang berhasil membuahi ovum wanita tersebut. ketiga pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita yang dizinainya. Dengan demikian. yang paling hati-hati tentunya para ulama dari mazhab Malikiyah dan Hanabilah. diantara beragam pendapat mengenai status hukum akad nikah wanita hamil . mereka konsisten dengan pendapatnya. tidak memberikan peluang kepada laki-laki bukan yang menghamilinya. dapat dikatakan bahwa wanita hamil itu dinikahkan kepada pria yang menghamilinya. Sementara itu. Meski mereka membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. ulama Syafi'iyah dan sebagian ulama Hanafiyah tampaknya kurang hati-hati. Karenanya. Artinya. namun mereka membatasi bahwa yang dibolehkan menikahi itu hanya laki-laki yang menghamilinya. namun sebagian ulama Hanafiyah (Abu Hanafiyah dan Muhammad) kurang konsisten. tidak layak untuk dilakukan karena orang yang tidak berbuat tidak semestinya dibebani tanggung jawab. Dalam hal kehati-hatian. sehingga perbedaan pendapat terus berlanjut diantara mereka. baik yang berpendapat wanita hamil akibat zina itu wajib iddah maupun yang tidak mewajibkan iddah. dalam hal zina. bahkan memberikan kesempatan kepada laki-laki mana saja untuk menikahi wanita tersebut.Dengan mengambil contoh (analogi) pada masalah pembunuhan. kemudian ia hamil. dengan pria manapun (di antara tiga pria itu) wanita hamil itu dinikahkan. Sebagaimana yang telah dikemukakan. pendapat ini masih memungkinkan untuk dibantah. padahal salah satu tujuan dari akad nikah adalah untuk menghalalkan persetubuhan. pendapat para ulama tentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina ini merupakan kelanjutan dari pendapat mereka tentang wajib atau tidaknya iddah bagi wanita hamil akibat zina. karena dasar yang digunakannya hanya merupakan pemahaman. Hal ini. bahkan Hanabilah mewajibkan bertobat sebelum melangsungkan akad nikah. Mereka tidak saja membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. Mereka melarang wanita hamil akibat zina melakukan pernikahan. Umumnya. bila seorang wanita berzina dengan tiga orang pria. bahkan arti nikah itu sendiri menurut ahli ushul hanafiyah adalah "setubuh". bukan berdasar dalil qath'i. ketiga pria itu dikategorikan sebagai pria yang menghamilinya.

terlebih dahulu kita kembali kepada pendapat para ulamatentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina itu. sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an surah an-Nahl ayat 72. kecuali jika suami mengakui bahwa anak yang dilahirkan itu adalah anaknya dan mengakui pula dirinyalah yang mehamili wanita itu sebelum ia menikahinya. Akan tetapi. Ulama Hanafiyah berpendapat bawa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. Dalam hal pernikahan wanita hamil akibat zina. terlebih lagi menikahi wanita hamil akan berkait dengan masalah nasab. Bila hanya terdapat satu syarat. STATUS HUKUM ANAK YANG DIHAMILKAN SEBELUM AKAD Sebagaimana telah dikemukakan. Dengan demikian. baik hubungan darah saja maupun akad perkawinan yang sah saja. anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya. Bila anak lahir kurang dari enam bulan dari waktu akad atau dari persetubuhan suami istri. dibutuhkan dua syarat: hubungan darah dan akad perkawinan yang sah. Abu Yusuf dan Za'far berpendapat tidak sah). untuk dapat menghubungkan nasab anak kepada ayahnya. juga karena orang yang berbuatlah yang seharusnya dibebani tanggung jawab. Para ulama mazhab sependapat bahwa dalam hal perkawinan yang sah. tujuan disyariatkannya nikah adalah agar terplihara keturunan nasab. bila anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan dari waktu akad. 2. nasab tidak bisa dihubungkan diantara keduanya. sebelum berbicara masalah penentuan nasab. 1. terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Alasannya. bila seorang perempuan melahirkan anak. Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa kehamilan telah terjadi sebelum terjadinya perkawinan. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (dalam hal dengan lakilaki lain. kami mengikuti pendapat kedua. Dari pengertian tersebut. anak itu tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami wanita yang melahirkannya itu. Karena perkawinannya sah. disamping tidak terdapat dalil qath'I yang melarang menikahi wanita hamil akibat zina. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami ibunya itu kecuali jika si suami itu mengakuinya. bila .Pengertian naasaab aadalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. untuk dapat menghubungkan nasab seorang anak kepada ayahnya. yaitu pendapat KHI dan sebagian ulama Hanafiyah.akibat zina ini. diantaranya: anak tersebut dilahirkan setelah berlalunya waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah (menurut Hanafiyah) atau enam bulan sejak terjadinya persetubuhan suami istri (menurut mayoritas ulama mazhab). baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain.

Iddah. anak itu dinasabkan kepada suami dari ibunya. KHI tidak menjadikan tenggang waktu enam bulan sebagai dasar untuk mengkaitkan hubungan nasab seorang anak kepada ayahnya. b. tenggang waktu enam bulan (yang dijadikan dasar oleh para ulama mazhab dalam penentuan hubungan nasab) itu bukan berdasarkan dalil yang qath'i. akad nikah tersebut menjadi tidak sah. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. baik Al-Qur'an maupun hadits. . tapi hanya merupakan dasar dalam hal penentuan batas minimal masa kehamilan. tapi bila laki-laki lain yang bukan menghamilinya. 3. Karena itu.anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan sejak persetubuhan suami istri. 4. Pasal 99 point @ menyatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. sedangkan pasal 53 ayat 1 menyatakan bahwa sahnya perkawinan wanita hamil hanya bisa dilakukan dengan pria yang menghamilinya. yaitu surah al-Ahqaaf ayat 15 dan surah Luqman ayat 14 (lihat "Minimal Masa Kehamilan"subbab"Hamil. Dengan demikian. hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya ada bila yang menikahi wanita hamil itu laki-laki yang menghamilinya. tapi hanya merupakan pemahaman para ulama mazhab terhadap dua ayat dalam AlQur'an.KHI berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. hal ini didasarkan kepada dua alasan berikut. tidak ada hubungan nasab antara anak yang dilahirkan dan laki-laki yang menikahi ibunya itu karena hukum akad nikahnya sendiri tidak sah. Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum pernikahan wanita hamil akibat zina adalah tidak sah. KHI memahami kedua ayat ini tidak untuk menjadikannya sebagai dasar dalam penentuan nasab. dan Istibra'). Dengan demikian. Pertama. Berbeda dengan pendapat para ulama mazhab. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami dari ibunya itu kecuali bila suami mengakuinya. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.Maksudnya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 99 tentang kedudukan anak bahwa anak yang sah adalah. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. hubungan nasab antara anak dan ayah hanya ada apabila yang menikahi ibunya itu laki-laki yang menghamilinya. Menurut penulis. hubungan nasab menjadi tidak ada karena akad nikahnya sendiri hukumnya tidak sah. tapi bila anak lahir kurang dari enam bulan. a.

(karena petai halal). anak kambing dalam perut tidak boleh dijual dengan sendirinya. Kedua. walaupun mereka memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. maupun karena KHI membatasi bahwa yang boleh menikahi wanita hamil itu hanya laki-laki yang menghamilinya. seandainya ia lahir dalam umur enam bulan. Dalam hal akad nikah wanita hamil akibat zina. tidak kepada kehamilannya karena anak dalam kandungan tidak diberi hukum tersendiri. " (as-Suyuthi.Artinya. yang lebih memungkinkan untuk bisa dicapai adalah menurut pendapat KHI. kaidah fiqih menyatakan. TT: 81) Misalnya. sebab sekalipun diberikan tenggang waktu enam bulan. wanita hamil itu sah menjadi istrinya. status hukum diberikan kepada wanita yang hamil itu. ulat pun boleh dimakan beserta petai asalkan tidak dipisahkan. ada kemungkinan wanita yang sudah hamil dua bulan dinikahi oleh laki-laki lain. kapan saja akad nikah dilangsungkan asalkan sebelum anak dilahirkan. termasuk anak yang ada dalam kandungan wanita itu sah pula menjadi anaknya. "Pengikut (hukumnya) itu sebagai yang mengikuti. TT: 81) Termasuk dalam kategori kaidah tersebut adalah: "Pengikut tidak diberi hukum tersendiri. Yang menjadi masalah. Pemahaman ini sejalan dengan hadits Nabi saw. sedangkan diantara keduanya tidak ada hubungan darah. kemungkinan terpeliharanya keturunan menjadi kecil untuk bisa dicapai. Karenanya. Ket : ISTIBRA' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim KHI singkatan Kompilasi Hukum Islam .dengan dua ayat tersebut. ia sudah sempurna walaupun mungkin kurang sehat. yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud bahwa janin yang berada didalam rahim ibu setelah berusia empat bulan dilengkapi dengan roh dan dalam masa dua bulan berikutnya disempurnakan khilqah (bentuk)nya. namun karena memberikan kesempatan kepada laki-laki bukan yang menghamili untuk menikahi wanita hamil tersebut. terlihat bahwa dalam masalah terpeliharanya keturunan. Dari beberapa pendapat para ulama sebagaimana yang telah kami kemukakan.terjualnya induk merupakan terjualnya anak kambing tersebut. Dengan demikian. masalah terpeliharanya keturunan menjadi lebih mungkin untuk bisa dicapai. status hukum yang ditetapkan terhadap wanita hamil berlaku pula terhadap anak yang ada dalam kandungannya. Atau juga seperti ulat yang tumbuh dalam buah-buahan. tatus hukum yang ditetapkan terhadap yang diikuti berlaku pula terhadap yang mengikuti karena pengikut tidak diberi hukum tersendiri. seperti petai. tapi karena masa kehamilan itu umumnya sembilan bulan. Adapun pendapat ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi'iyah. sahkah akad nikah wanita hamil itu? KHI berpendapat hukumnya sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. Allah SWT menjelaskan bahwa seorang perempuan (dalam hal mengandung anak) membutuhkan waktu minimal enam bulan sejak terbentuknya nutfah sampai ia melahirkan. Meskipun tidak memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. " (as-Suyuthi. akhirnya anaknya dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya itu. Dengan demikian. karena status hukum akad nikahnya sah.

LC dari : CyberMQ.Wassalam.com . Abdul Wahab.

orang yang melakukan hubungao seksual di luar perkawinan dihukumkan zina. dan 3 KHI. JuS . Kata Kunci: Perkawinan. bagaimana jika sekiranya keharmlan sampai teqadi. Tabufi 6. KHI. Wanita hamil. melaksanakan ketentuan-ketentuan Perkawinan telah diatur secara jelas oleh hukum perkawinan yang dttun^uk oleh kctentuaa-ketentuan hukum Islam yang daul-dalil yang jelas dan benar dalam digali dan sumber-sumbemya baik dan soal yang kedl sekalipun. karena terialu bebasnya pcrgaulan antara lald-laJd dan wanita. Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal) berbeda pendapat. adalah sebuah proses pembentukan Oleh karena itu bagi orang fcehiarga ysng tidak dapat Islam ar^lflh suatu kemestian untuk disflenggarakan di luar ketenman. Pendahuluan Alquran. tanpa berpikir. banyak wanita harm] di luar perkawinan. 2. maka para imam mazhab (Hanafi.Desember2 . No. Dalam hukum Islam. Malik. A. kebolehan kawin hamil mendapat tempat pada Bab ^11 Pasal 53 ayat 1. As-Sunnah dan hasil Ijtihad Perkawman menurut agama dan penAipat para ulama. jika seotang wanita yang berbuat zina itu sampai hamil. * ) Peaulis adalab dosec Fakultas Syari'ah IAJN Antasafl mata kuHah Ushul Fitih Jurmm Perbandinean Madzhftb dan Hukum SYARIAH: jur^'Hukun dafi Pemikifwi. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam. 2. Imam Mazhflb.PERKAWINAN WANITA HAMIL: Perspektif Empat Imam Mazhab dan Kompilasi Hukum Islam Oleh: H. ^athurrabmctn A^hari *) ABSTRAK Milihat dan fakta sekarang. apakah wanita yang hamil akibat perbuatan zina itu boleh melangsungkan periciwin deogan laidlaki yang menghamilmya atau dengan laki-kki lain ataukah tidak boleh.

Yaitu seorang yg bernama Mirtsad Al-ghanawi yg menikahi wanita pezina. & yg demikian itu diharamkan atas oran-orang yg mu`min. & perempuan yg berzina tdk dikawini melainkan oleh laki-laki yg berzina atau lakilaki musyrik. Lalu bagaimana dgn lafaz ayat yg zahirnya mengharamkan itu ? Para fuqaha memiliki 3 alasan dalam hal ini.Hukum Menikahi Wanita Pezina Laki-laki yg berzina tdk mengawini melainkan perempuan yg berzina. & orang-orang yg layak dari hamba-hamba sahayamu yg lelaki & hamba-hamba sahayamu yg perempuan. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. atau perempuan yg musyrik. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz `hurrima` atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dgn kurnia-Nya. Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 32) . (Al Qur’an Surat: An-Nur : 3) Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama Jumhurul Fuqaha mengatakan bahwa yg dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan utk menikahi wanita yg pernah berzina. maka lbh kpd kasus yg khusus saat ayat itu diturunkan. Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dgn ayat lainnya yaitu : Dan kawinkanlah orang-orang yg sedirian diantara kamu. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yg pezina sekalipun.

Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.`Awalnya perbuatan kotor & akhirnya nikah. ‫ل‬ ‫ئ‬ ‫س‬ ‫هلل‬ ‫ب‬ ‫آلخ‬ ‫س‬ ‫ه‬ ‫ه رع‬ ‫غ‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.`Ceraikan dia`. Sesuatu yg haram tdk bisa mengharamkan yg halal`. Pendapat mereka ini dikuatkan dgn hadits berikut : Dari Aisyah ra berkata. (Hadis Riwayat: Abu Daud & An-Nasa`i) ‫ص‬ ‫:ق ل‬ ‫ة ت طأ‬ ‫ت‬ ‫ت‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.(Hadis Riwayat: Abu Daud & Tirmizy). (Hadis Riwayat: Tabarany & Daruquthuny). simaklah pendapat para ulama berikut ini : .`Istriku ini seorang yg suka berzina`.”Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh AlHakim). Lebih detail tentang halalnya menikahi wanita yg pernah melakukan zina sebelumnya. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. Juga dgn hadits berikut ini : Seseorang bertanya kpd Rasulullah SAW.Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq ra & Umar bin Al-Khattab ra & fuqaha umumnya. lalu beliau bersabda.`Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yg berzina dgn seorang wanita & berniat utk menikahinya. Mereka membolehkan seseorang utk menikahiwanita pezina.”Tidak halal bagi seorang muslim yg beriman kpd Allah & hari akhir utk menyiramkan airnya pd tanaman orang lain. Beliau menjawab.

maka dia masih boleh menikah dgn siapa pun. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan & telah habis masa ‘iddahnya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43.Meski demkikian. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yg menzinai wanita maka dia diharamkan utk menikahinya.Bahkan Ali bin abi . Dengan dilangsungkannya perkawinan pd saat wanita hamil. Ali bin Abi Thalib. 2. hukumnya boleh. jus XVI halaman 253. Paling tdk tercatat ada Aisyah ra. dpat dikawinkan dgn pria yg menghamilinya. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut : 1. Jika belum bertobat dari dosa zina. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Untuk lbh jelasnya. Pendapat Yang Mengharamkan menikahi wanita pezina. memang ada juga pendapat yg mengharamkan total utk menikahi wanita yg pernah berzina. maka laki-laki itu tdk boleh menggaulinya hingga melahirkan. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi.Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yg menikahi wanita hamil itu adl laki-laki yg menghamilinya. yg pelaksanaannya diatur sesuai dgn keputusan Menteri Agama RI no. maka dia diharamkan utk dinikahi oleh laki-laki yg baik (bukan pezina). Seorang wanita hamil di luar nikah. 4. 2.1. Perkawinan dgn wanita hamil yg disebut pd ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lbh duhulu kelahiran anaknya. yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. Begitu juga seorang wanita yg pernah berzina dgn laki-laki lain. dibolehkan menikahinya. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab karya AlImam An-Nawawi. pendapat beliau adl bahwa baik lakilaki yg menghamili atau pun yg tdk menghamili. tdk diperlukan perkawinan ulang setelah anak yg dikandung lahir. 3. Imam Asy-Syafi’i Adapun Al-Imam Asy-syafi’i. Al-Barra` & Ibnu Mas`ud. 3. Sedangkan kalau yg menikahinya itu bukan laki-laki yg menghamilinya. Undang-undang Perkawinan RIDalam Kompilasi Hukum Islam dgn instruksi presiden RI no. Imam Malik & Imam Ahmad bin HanbalImam Malik & Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yg tdk menghamili tdk boleh mengawini wanita yg hamil. Imam Abu Hanifah. silahkan baca buku : Kompilasi Hukum Islam halaman 92 . 5.

Begitu juga bila yg berzina adl pihak suami. Karena seseorang yg sudah bertaubat berhak utk bisa hidup normal & mendapatkan pasangan yg baik.Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya & bertaubat. (Hadis Riwayat: Abu Daud) 6. maka nikahnya tdk syah. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda. Kalaupun mereka menikah.`Tidak akan masuk surga suami yg dayyuts`. Oleh: H. Lc . yaitu orang yg tdk punya rasa cemburu bila istrinya serong & tetap menjadikannya sbg istri. Tentu saja dalil mereka adl zahir ayat yg kami sebutkan di atas (aN-Nur : 3).Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. maka tdk ada larangan utk menikahinya. Ahmad Sarwat. Beliau mengharamkan seseorang menikah dgn wanita yg masih suka berzina & belum bertaubat. Dan bila mereka menikah. Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yg pertengahan adl pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Selain itu mereka juga berdalil dgn hadits dayyuts. Nampaknya pendapat ini agak menengah & sesuai dgn asas prikemanusiaan. maka nikahnya syah secara syar`i.

Salah satunya ketika Khalifah Umar ra. manakah hukum yang harus kita pakai jika fatwa jumhur ulama bertentangan dengan lembaga resmi? Contohnya setahu saya fatwa MUI melarang pernikahan beda agama sementara menurut Pak Ustadz bahwa jumhur ulama membolehkannya? Sebelumnya mohon maaf jika seolah2 mengkonfrontir antara Pak Ustadz dengan lembaga MUI. namun fatwa itu bisa agak sedikit lebih agama di negeri kita. tentu saja tidak sekedar belakang. Di luar jumhur ulama. Sehingga meski tidak terlalu dipegang oleh jumhur ulama. Namun belum tentu bila MUI di Indonesia mengeluarkan fatwa yang sama. melihat ada semacam kecenderungan para shahabat untuk „berlomba‟ menikahi wanita ahli kitab. asalkan yang laki-laki muslim dan yang perempuan wanita ahli kitab . Misalnya fatwa boikot pruduk tertentu yang dikeluarkan oleh banyak ulama di Timur Tengah. ada juga pendapat lain yang berbeda. Pastilah sebelumnya sudah dibahas latar dampak-dampak yang akan terjadi. sebelumnya pasti sudah dibahas tentang efektifitas dan dampaknya oleh para ulama. tentu saja setelah dilihat manfaat dan madharatnya.blog. Fatwa yang dikeluarkan di suatu tempat oleh para ulama biasanya memang disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. antisipasi dan mirip dengan apa yang tetap untuk kondisi sosial Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan beda agama. Manakah yang Kita Pakai?” ketegori Muslim. Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan yang wanita muslimah.re. Manakah yang Kita Pakai? Muslim category “Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Terutama untuk masalah yang juga masih ada perselisihan di antara para ulama dalam hukumnya. akan menghasilkan hal yang sedahsyat di negeri sana.or. WAssalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Dian Dwideana Jawaban Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. efeknya memang terasa. Sifatnya tidak selalu harus bersifat universal dan baku. sehingga muncul . Sehingga begitu fatwa itu dikeluarkan.id > Muslim > Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Namun sangat mungkin untuk disesuaikan dengan keadaan lokal serta bersifat situasional. hukumnya haram. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pak Ustadz. Manakah yang Kita Pakai? Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. dikeluarkan begitu saja. Adapun masalah larangan nikah beda agama yang dikeluarkan MUI.

Salah satu faktornya sudah bisa Anda duga. Bahkan boleh dibilang menjadi semacam ledakan jumlah penduduk yang muslim. Meski dengan latar belakang yang sedikit berbeda. Sampai-sampai para penguasa barat cemas melihat kenyataan ini. Sebab meski laki-laki muslim menikahi wanita Kristen. Ini suatu bukti bahwa nikah beda agama di Indonesia justru kontra produktif. Tentu saja khalifah bukan mau melawan ayat Al-Quran yang secara tegas membolehkan lakilaki muslim menikahi wanita ahli kitab. namun ketika diurutkan ke silsilah orang tua dan kakek neneknya. melihat gelagat yang kurang baik di dalam tubuh umat Islam dengan adanya pernikahan yang hukum asalnya halal itu. Mengapa Diharamkan? Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia menjadi sasaran kristenisasi sejak masa penjajahan Belanda. Sehingga beliau pernah berkirim surat kepada salah satu bawahannya yang isinya perintah untuk menceraikan istrinya yang wanita ahli kitab. memakai jilbab dan membangun rumah tangga Islami. tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam.dampak fitnah di tengah wanita muslimah. Trend yang terjadi di Eropa ini juga mulai menular ke benua lain seperti Amerika dan Australia. kenyataannya yang kalah justru yang laki-laki. Inggris telah masuk ke pola trend kehidupan untuk menikah dengan pria muslim asal Timur Tengah. Bahkan para wanita Perancis. Salah satu metode pemurtadan yang paling efektif ternyata lewat pernikahan beda agama. Di kedua peradaban barat itu kini sudah tidak asing lagi kita temukan wanita bule yang memakai jilbab dan bersuamikan laki-laki muslim yang sukses dalam kehidupannya. Jerman. Lalu anak-anak mereka memenuhi Islamic Center yang juga tumbuh menjamur di sana. Angka grafik pertumbuhan penduduk yang beragama Kristen terus naik. Di sisi lain banyak sekali orang yang sekarang beragama Kristen. ternyata beragama Islam. Grafik laju pertumbuhan penduduk muslimin di sana mengalami laju yang tak terbendung. Di mana banyak pemuda dan pemudi muslim yang menikah dengan pasangan beda agama. Fatwa Itu Tidak Berlaku di Eropa Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi di Eropa. Maka wajar bila MUI merasa bertanggung-jawab untuk menahan laju grafik kemurtadan ini dengan melarang pernikahan beda agama secara keseluruhannya. Namun saat itu beliau ra. Bukannya berhasil meng-Islamkan orang kafir. tapi akhirnya anak-anak mereka menjadi non muslim. Data kependudukan membuktikan bahwa banyak sekali wanita Eropa yang menikah dengan pria muslim. . justru orang-orang yang sudah muslim malah jadi murtad. sehingga dengan mudah dia menjual iman dan agamanya.yaitu karena adanya pernikahan campur antar agama. Kirakira hal itulah yang bisa kita rasakan dari fatwa MUI yang mengharamkan nikah beda agama. sekedar untuk bisa tetap mempertahankan istrinya yang kafir itu.

Di sini kita harus sedikit cerdas dalam menilai dan menganalisa situasi sosial masyarakat.id     Business Blogs What is wordpress Blogs Wordpress ulama yang melarang pernikahan agama contoh fatwa mui tentang kawin hamil masalah anak pernikahan beda agama di indonesia nikah beda agama mui FATWAH MUI WANITA BEPERGIAN contoh perkawinan beda agama menurut MUI kehidupan wanita muslim di timur tengah hukum muslim menikah dengan kristen para ulama barat tentang nikah internet Tag Cloud  Business Blogs  Messenger Bags  Make money blogging What is wordpress  . Ahmad Sarwat. Sumber Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama.Maka alangkah tidak bijaksana bila para ulama di Eropa mengeluarkan fatwa model MUI di negeri kita. Sebab nikah beda agama di Eropa identik dengan proses Islamisasi yang luar biasa dahsyat. Sebaliknya. nikah beda agama di Indonesia identik dengan pemurtadan. Wallahu a‟lam wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.or. Lc. Manakah yang Kita Pakai? : http://assunnah.

inilah ribed-nya langkah nafsu yang salah dan dosa. sehubungan dengan hal tersebut mohon penjelasan sebagai berikut: 1. Bagaimana dengan anak saya selanjutnya (anak kedua dst). hasil hubungan sah karena kalimat Allah). Hadist Rasul dan Qaul Ulama. Kami telah melakukan zina dan telah dinikahkan 20 tahun yang lalu. agar hati ini lebih tenang dan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kami dan kepada Bapak Ustadz Ahmad Sarwat. diucapkan dihaturkan terima kasih. Lc. isteri saya sekarang ketika dinikahkan (20 thn lalu) dalam keadaan hamil di luar nikah.Status Pernikahan karena Perzinahan Seiring dengan maraknya kemaksiatan di setiap penjuru negara ini. atau harus nikah lagi? 3. ketika saya mencoba membaca artikel eramuslim semua artikel yang berkaitan dengan perihal zina dirasa belum memberikan jawaban yang mendalam. karena permasalahan yang berbeda. Apakah pernikahan saya dapat diridhai Allah atau masih termasuk zina selama ini karena waktu nikah isteri dalam keadaan hamil di luar nikah. Apakah pernikahan kami dapat di-analog-kan dengan larangan menikahi wanita (janda hamil. MM Bekasi Jawab: . 2. tidak ketinggalan pula bahwa saya pun termasuk orang yang pernah melakukan kemaksiatan itu pula 20 tahun yang lalu. dan tentang perwalian dalam nikah (terutama yang wanita) apabila anak ini mau menikah kelak. Mohon penjelasan dari segi Al-Qur'an.

Bismillah. (QS An-Nur: 3) Namun Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. maka nasab anak ini akan kembali kepada ayah kandungnya bila pasangan ini kemudian menikah dengan benar dan syah secara syariah. Nikahnya syah dan dibenarkan dalam syariat Islam. atau perempuan yang musyrik. 1. Jadi anda tidak perlu pusing memikirkan siapa wali anak anda sendiri. Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah. Waba'du. Walinya adalah anda sendiri sebagai ayah yang syah. 2.Assalamu 'alaikum Wr. Wb. Jumhur ulama mengatakan bahwa menikahi wanita yang sedang hamil karena dihamilii oleh yang bersangkutan tidaklah haram. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu? . karena secara syah anak itu adalah anak anda. yaitu: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. bila lakilaki dan wanita yang pernah berzina dan melahirkan anak. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. dan yang demikian itu 'diharamkan' atas oran-orang yang mu'min. Yang menjadi masalah adalah bila pasangan ini tidak pernah menikah dengan syah setelah perzinaan itu. Maka nasabnya tidak bisa dikembalikan kepada ayah kandungnya secara syar'i. Memang ada sebuah ayat yang sepertinya bisa dianggap sebagai pengharaman. Para ulama menyebutkan bahwa dalam kasus zina yang menghasilkan anak.

"Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal". Juga dengan hadits berikut ini: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i) . lalu beliau bersabda." "Kalau begitu pertahankanlah perkawinanmu. (HR Tabarany dan Daruquthuny). Beliau menjawab. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Ketiga. maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan.Mereka memiliki tiga alasan dalam hal ini. (QS An-Nur: 32). Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pernah berzina. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. Selain mayoritas ulama salaf. ternyata pendapat ini juga merupakan pendapat Khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan juga pendapat fuqaha umumnya. dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Kedua. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. "Ceraikan dia". bahwa berlakunya ayat itu telah dibatalkan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu. "Tapi aku takut memberatkan diriku. mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). kalau memang diharamkan. Pertama. "Istriku ini seorang yang suka berzina". Pendapat mereka ini juga dikuatkan dengan hadits berikut: Dari Aisyah ra berkata. "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya.

Ali bin Abi Thalib. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Kalaupun mereka menikah. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik. Wb. yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri. Lc eramuslim . Tentu saja dalil mereka adalah pengertian zahir ayat yang kamisebutkan di atas (An-Nur: 3). AlBarra' dan Ibnu Mas'ud. Ahmad Sarwat. Paling tidak tercatat ada Aisyah ra." (HR Abu Daud) Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Dan bila mereka menikah. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain. maka nikahnya syah secara syar'i. Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat. Bahkan Ali bin abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. maka nikahnya tidak syah. memang ada juga pendapat yang mengharamkan seseorang menikahi wanita yang pernah berzina. Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr. maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan.Pendapat Yang Mengharamkan Meski demikian. maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina). Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda. Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat.

sehingga saya cukupkan dengan artikel tersebut karena apa yang saya inginkan sudah terwakili olehnya. atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini. Menikahi Wanita Hamil Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah. maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan. As-Sunnah dan Salafush Shaleh. ilmiyyah dan berbobot. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah. dengan arti. keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib. baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat :*1 Pertama. kecuali perempuan yang berzina.5 Bila terjadi kehamilan. melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu. ?Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya.6 Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini.?3 Syaikh Al-Utsaimin berkata. padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkannya. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman.*2 Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina. Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. diharamkan atas orang-orang yang mu?min. Pada bagian terakhir saya (Abdullah Saleh Hadrami) akan menyertakan bantahan terhadap syubhat yang ada dalam masalah ini. Artikel dibawah ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini menurut Al-Qur?an. maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. Bila seorang laki-laki menghamili wanita. bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan tentang masalah ini agar menjadi jelas dan gamblang.Menikahi Wanita Hamil Published by Abdullah Hadrami [abdullah] on 2007/11/6 (10558 reads) Segala puji hanya bagi Allah. maka hubungan itu adalah perzinahan. maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain. . namun alhamdulillah ternyata sudah ada artikel yang cukup bagus. anak itu tidak memiliki bapak. amma ba?du. nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !! Status Nikahnya : Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan. Artinya ?Laki-laki yang berzina tidak mengawini.4 Bila seseorang telah mengetahui.

?*14 Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra? terlebih dahulu. karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. maka sampai melahir-kan kandungannya. tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi.*9 Ke dua : Dia harus beristibra? (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl. meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya.*11 Di dalam hadits di atas. sampai dia beristibra? dengan satu kali haid. ?Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?? 7 Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hambaNya sebagai sekutu. ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. ?Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil. bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. dalam arti dia itu tidak memiliki bapak. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl. Malikiy. bila tidak hamil.Artinya. sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil. berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain. dan bila ternyata hamil. maka halal menikahinya.*8 Namun. baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram. bila sudah bertaubat. maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya. maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil. Juga sabdanya Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya. ?Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh . Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina.*12 Mungkin sebagian orang mengatakan. Di . maka pernikahannya itu tidak sah. berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik. najis dan suci. Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah. ?Tidak boleh menikahinya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandungannya.? 13 Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan. dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. kecuali setelah dia melahirkan kandungannya. Pengakuan ini tidak dianggap. padahal budak itu sudah menjadi miliknya. Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi. karena perbedaan dua air (mani). Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki.*10 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Artinya.

yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? 18 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina. atau dinikahi sewaktu hamil. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam : Artinya ?Anak itu bagi pemilik firasy. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ? Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah.19 Ibnu Abdil Barr berkata. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan . Artinya ?Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?21 Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra? dengan satu kali haidh. sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. ?Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam. maka walinya adalah wali hakim. ?Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah). ?Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.17 Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth. sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya.dalam hal ini. 20 Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka : Anak itu tidak berbapak. sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir. beliau berkata.*15 Jadi anak itu tidak berbapak. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya ?Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan).22 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa. wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah.? 16 Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama. maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya. lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak. karena dia itu tidak memiliki wali. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda.

Al Qawanin hal : 338. (16)Al-Bukhari dan Muslim. Endnote : (1)Minhajul Muslim. dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan. (2)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. (Abu Sulaiman). Artinya: 'alimus Sunan 3/75-76. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.id/index. Ahmad Muwafii 2/584. (21)Hadits hasan Riwayat Asy Syafi'iy. (3)An Nur : 3. http://www. Al Fatawa Al Jami'ah Lil Mar'ah Al Muslimah 2/5584. (5)Ibid. (20)At Tamhid 6/183 dari At Taisir. (23)Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104. Ahmad. (17)Taud-lihul Ahkam 5/103. (6)Ibid 33/245. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. (18)Al Bukhari dan Muslim.php?pilih=lihatannur&id=153 Syubhat dan Bantahannya Oleh: Abdullah Saleh Hadrami Sebagian Ustadz menfatwakan bolehnya menikahi wanita hamil asalkan lelaki tersebut adalah yang menghamilinya dan mereka menisbahkan fatwa ini kepada Salafush Shaleh sebagaimana dibawah ini: . (15)Al Mabsuth 17/154. (9)Ibid 3/247. Majmu Al Fatawa 32/110.) (12)Abu Dawud.23 Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak).kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui. (8)Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246. Fatawa Islamiyyah 3/247. (14)Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72. Al Kharsyi 6/101.( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851. meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan RasulNya. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828. (11)Lihat Mukhtashar Ma'alimis Sunan 3/74. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya). sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya. (19)Al Mabsuth 17/154. lihat. dan Ar Raudlah 6/44. Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy. Ahmad Muwafii 2/583. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalanjalannya menjadi kuat dan shahih. (22)Al-Mughniy 6/455. (13)Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128. Abu Dawud. (7)Asy Syruraa : 21. Asy Syarhul Kabir 3/412. Kitab Nikah. (10)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah.alsofwah.or. (4)Fatawa Islamiyyah 3/246. dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim.

sama sekali tidak ada kata-kata hamil. Semoga Allah selamatkan diri kita dan keluarga kita serta kaum muslimin semuanya dari segala hal yang mendatangkan murka Allah Ta?aala. Alhamdulillah. Yang ada adalah. As-Sunnah dan Salafush Shaleh.Hatibening.com 0 Comment(s) . BERBAHAYA. karena berdampak semakin maraknya perzinaan dan anak-anak yang lahir dari hasil perzinaan disebabkan mereka merasa tenang dan aman karena telah mendapat kemudahan dan dukungan dari fatwa-fatwa tersebut. amien. Kalau ini. www. yaitu kitab-kitab aslinya yang berbahasa Arab. saat itu beliau (penulis) mengatakan akan melihat lagi. seorang laki-laki berzina dengan perempuan. pendapat tersebut adalah murni pendapat penulis sendiri dan tidak benar kalau dinisbahkan kepada Salafush Shaleh ?Rahimahumullah. karena menyalahi Al-Qur?an. lalu keduanya bertaubat dan melangsungkan pernikahan.or. Fatwa yang membolehkan menikahi wanita hamil asalkan yang menikahi adalah lelaki yang telah menghamilinya dan menisbahkan anak yang lahir dari kehamilan tersebut kepada si lelaki yang menghamili adalah FATWA BATIL DAN BERBAHAYA. saya sempat bertemu dengan penulis ketika Daurah di Wisma Erni Lawang dan sempat membicarakan masalah ini dengan beliau. ternyata saya mendapatkan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis terdapat kata-kata hamil.com (c) Hak cipta 2008 .http://www.hatibening. BATIL. maka tidak ada khilaf tentang bolehnya. Wallaahul Musta?aan. Jadi.almanhaj.id/content/2253/slash/0 Setelah saya meruju? kepada kitab-kitab yang telah disebutkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful