Perkawinan Wanita Hamil Di Luar Nikah Perkawinan menurut Islam adalah sebuah proses pembentukan keluarga yang tidak

dapat diselenggarakan diluar ketentuan. Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam yang digali dari sumber-sumbernya baik dari Al Qur‟an, As Sunnah dan hasil Ijtihad atau pendapat para ulama‟. Oleh karena itu bagi orang Islam suatu kemestian untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan yang dituntun oleh dalil-dalil yang jelas dan benar dalam soal kecil sekalipun. Bagi seorang gadis tentu dia tidak pernah hamil, karena belum pernah kawin, yang menjadi persoalan adalah ternyata dia hamil, maka dapat dipastikan bahwa kehamilannya itu adalah hasil hubungan seksual diluar perkawinan dihukumkan zina, jika wanita yang berbuat zina itu hamil, maka para imam mazhab fiqh berbeda pendapat, apakah wanita yang hamil itu boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Tetapi ada pula pendapat imam madzab yang tidak membolehkan wanita yang hamil itu melangsungkan perkawinanya. Jika kawin hamil dilangsungkan, maka timbul persoalan lain, yaitu tentang status anak yang dikandung oleh wanita tersebut, apakah status nasab dihubungkan kepada ibunya atau kepada orang yang mengawini. Berdasarkan persoalanpersoalan tersebut, penulis mencoba mengungkapkan pendapat-pendapat para imam mazhab tentang perkawinan wanita hamil. l Menurut Imam Mazhab Istilah perkawinan wanita hamil adalah perkawinan seorang wanita yang sedang hamil dengan laki-laki sedangkan dia tidak dalam status nikah atau masa iddah karena perkawinan yang sah dengan laki-laki yang mengakibatkan kehamilannya. Mengenai ketentuan-ketentuan hukum perkawinan wanita hamil dalam pendapat para imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i dan Ahmad bin Hanbal), mereka berbeda pendapat, pada umumnya dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu : a. Imam Hanafi dan Imam Syafi‟i Beliau mengatakan bahwa wanita hamil akibat zina boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Menurut Imam Hanafi :” Wanita hamil karena zina itu tidak ada iddahnya, bahkan boleh mengawininya, tetapi tidak boleh melakukan hubungan seks hingga dia melahirkan kandungannya”. Menurut Imam Syafi‟i :” Hubungan seks karena zina itu tidak ada iddahnya, wanita yang hamil karena zina itu boleh dikawini, dan boleh melakukan hubungan seks sekalipun dalam keadaan hamil. Menurut mereka wanita zina itu tidak dikenakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan sebagaimana yang ditetapkan dalam nikah. Karena iddah itu hanya ditentukan untuk menghargai sperma yang ada dalam kandungan istri dalam perkawinan yang sah. Sperma dari hubungan seks diluar nikah tidak ditetapkan oleh hukum. Dasar yang mereka gunakan adalah Al Qur‟an Surat An Nur ayat 3, yaitu : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

Menurut Imam Hanafi meskipun perkawinan wanita hamil dapat dilangsungkan dengan laki-laki, tetapi dia tidak boleh disetubuhi, sehingga bayi yang dalam kandungan itu lahir. Menurut Imam Syafi‟i, perkawinan wanita hamil itu dapat dilangsungkan, dapat pula dilakukan persetubuhan dengannya. Memperhatikan pendapat Imam Syafi‟i, maka seorang wanita hamil karena hasil melakukan hubungan seks diluar nikah jika dia melangsungkan perkawinan dengan seorang laki-laki maka kehamilannya itu tidak mempengaruhi dalam perkawinannya. b. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal Menurut Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sama halnya dengan yang dikawini dalam bentuk zina atau syubhat atau kawin pasid, maka dia harus mensucikan diri dalam waktu yang sama dengan iddah. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengemukakan alasan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. ”Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat menyiramkan airnya (sperma) kepada tanaman orang lain, yakni wanitawanita tawanan yang hamil, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mengumpuli wanita tawanan perang sampai menghabiskan istibra‟nya(iddah) satu kali haid” ( Hr.Imam Bukhari) Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mengambil kesimpulan dari kedua hadits tersebut, bahwa wanita hamil tidak boleh dikawini, karena dia perlu iddah. Mereka memberlakukan secara umum, termasuk wanita hamil dari perkawinan yang sah, juga wanita hamil dari akibat perbuatan zina. Adapun penentuan larangan perkawinan wanita hamil tersebut berawal dari pendapat mereka yaitu, wanita hamil karena zina tetap memiliki iddah, maka wanita hamil tidak boleh melangsungkan perkawinan sampai dia melahirkan kandungannya. Dengan demikian wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, wanita hamil karena zina harus bertaubat, baru dapat melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang mengawininya. Dengan hadits tersebut, mereka berkesimpulan bahwa wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan, karena dia perlu beriddah sampai melahirkan kandungannya. Pendapat mereka ini dapat dimengerti agar menghindari adanya pencampuran keturunan, yaitu keturunan yang punya bibit dan keturunan yang mengawini ibunya. Oleh karena itu Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal memberlakukan iddah secara umum terhadap wanita hamil, apakah hamilnya itu karena perkawinan yang sah, ataukah kehamilannya itu akibat dari hubungan seksual diluar nikah. Dengan demikian, perkawinan wanita hamil dilarang. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Status perkawinan wanita hamil dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan pada Bab VIII Pasal 53 ayat 1, 2 dan 3 yaitu : 1) Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria menghamilinya; 2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebutkan pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. 3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Pasal 53 ayat 2 KHI menyatakan bahwa perkawinan wanita hamil itu benar-benar

dilangsungkan ketika wanita itu dalam keadaan hamil. Sedangkan kelahiran bayi yang dalam kandungannya tidak perlu ditunggu. Dalam KHI perkawinan wanita hamil akibat perbuatan zina tidak mengenal iddah. Namun perkawinan wanita hamil seperti pasal 53 ayat 1, hanya boleh dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya. Untuk mengetahui siapakah laki-laki yang menghamili wanita itu sangat sulit, apalagi dihubungkan dengan pembuktian menurut hukum Islam harus disaksikan oleh empat orang saksi. Pembuktian itu semakin sulit apabila adanya usaha secara sengaja menutup-nutupi, atau orang yang pernah menzinahi beberapa orang. Pasal 53 ayat 1 dan 2 tersebut semacam ada sikap yang tidak konsisten. Dikatakan demikian, karena apabila berpedoman kepada Pasal 53 ayat 2 KHI, tersebut ternyata hanya berpedoman kepada formalitasnya saja, yaitu karena wanita hamil tersebut belum pernah menikah, maka kemudian ketentuan yang berlaku baginya adalah hak kegadisan, walaupun kenyataanya wanita itu telah hamil. Kemudian pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa, dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan lagi perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Adanya ketentuan bahwa perkawinan tersebut tidak perlu diulangi lagi, maka menjadi isyarat bahwa perkawinan terdahulu telah dinyatakan sah. Wallahu a'lam. Diposkan oleh Imam Basori, M.Ag di 22:34

maka ibu dan atau kerabatnya yang memebri nafah kepada anak tersebut. Yang artinya: “Anak (yang sah) itu adalah hasil di kasur (hubungan suami isteri).wb. wassalamu’alaikum wr.a berketetapan untuk menikahkannya”. menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Islam membolehkan laki-laki dan perempuan yang berzina untuk menikah atau dinikahkan dan tanpa menunggu iddah jika siperempuannya hamil.” Karena nasab anak (hasil) zina tersebut kepada ibunya. Ibnu Abbas. Sebagian yang lain seperti Abu Hanifah. Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah itu nasabnya kepada ibunya bukan kepada laki-laki penzina. Ibnu Mas’ud. maka nafkah anak menjadi tanggung jawab istri dan atau kerabatnya. dengan syarat kedua orang yang berzina tersebut itu bertaubat . Ketiga. (Q. saudara saya perempuan hamil diluar nikah oleh pacarnya.sekarang sudah hamil 8 bulan. Tetapi karena alasan kemanusiaan. Sedangkan laki-laki penzina tdak bertangung jawab. Sebagian Ulama seperti Qatadah. Yang artinya: Di riwayatkan.pihak keuarga hendak menikahkan mereka. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah.wb Assalamu alaikum wr.S Isra . Pertama. dan Umar r. Zina adalah perbuatan dosa besar yang sangat dicela Allah swt.bagaimana hukumnya dan solusinya bagaimana mohan penjelasan.a memukul laki-laki dan perempuan yang berzina. Jika si suami menolak. Yang artinya: Ibnu Abbas Mengatakan : “Permulaannya Zina dan diakhiri dengan nikah”. . Ishaq dan Abu ‘Ubaid membolehkan kedua orang yang berzina menikah. dan penzinanya itu di hukum. seharusnya si suami tersebut bertanggung jawab teradap nafkah anak tersebut. Karena nasab itu hanya terlahir dari hubungan yang sah (pernikahan) sebagaimana hadits Rasulullah saw. Imam Malik dan Imam Syafii tidak mensyaratkannya. sebagaimana ditegaskan ayat-ayat al Qur’an.wb. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. diantaranya “Janganlan kamu sekalian mendekati zina”. 32) Kedua. “Sahabat Umar r.Assalamu’alaikum wr. sebagaimana pendapat Umar.

Anak yang terlahir adalah amanah. ia harus mendapatkan riayah. sekaligus ia dan kerabatnya memiliki tangung jawab menafkahi anak tersebut jika si bapak menolak menfkahinya. 3. 2.Keempat. Setelah bertaubat. 4. maka di sarankan kepada penanya beberapa hal : 1. pendidikan dan pembinaan supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Aminn Wallau a’lam bi ash sowab Wassalamu alaikum wr. nikahkan keduanya (yang berzina) tanpa menunggu iddah (jika hamil dan belum melahirkan). Nasab janin tersebut kepada ibunya. atas dasar beberapa tuntunan fikih islam di atas. layaknya anak-anak lain yang lahir dari hubungan yang sah. Semoga Allah membimbing bapak dan keluarga. Home . Ajak saudara Anda untuk bertaubat dan menyadari kesalahan dan bekomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya.wb.

Al-Baqarah : 235). Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya.Hukum Nikah Dalam Keadaan Hamil Posted by Admin pada 27/06/2009 1. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah nya.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. AlMuhalla 10/263 dan Zadul Ma‟ad 5/156. Ath-Tholaq : 4).) Adapun perempuan hamil karena zina. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Bila sudah terlanjur menikah. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya”. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Jawab : Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1. Takmilah Al-Majmu‟ 17/347-348. masalah ini kami uraikan sebagai berikut : . Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. (QS. (QS. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. (Lihat : Al-Mughny 11/227. Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala : “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya”. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. Kemudian beliau berkata : “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah”. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini Wal „iyadzu billah.

Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Dua : Tidak disyaratkan taubat. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin”. Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : “Jangan kamu nikahi dia”. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. (Hadits hasan. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. An-Nur : 3). Inilah yang benar tanpa keraguan”. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. (Martsad) berkata : “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wassallam lalu saya berkata : “Ya Rasulullah. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). beliau berkata : “Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). Ishaq dan Abu „Ubaid. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. (QS. Saya nikahi „Anaq ?”. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah „Azza Wa Jalla : “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. 2051. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. Al-Hakim 2/180. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. At-Tirmidzy no. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama : Satu : Disyaratkan bertaubat. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau lakilaki musyrik. Al-Baihaqy 7/153. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum . riwayat Abu Daud no. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. maka turunlah (ayat) : “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”.Martsad berkata : “Maka beliau diam. 3177. Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista.

haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya”. Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. 3. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahariterbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Yaitu dengan lima syarat : 1. dan Al-Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Ber‟azam (bertekad) dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. Wallahu A‟lam. beliau berkata : “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Dar „Alamil Kutub). 5. Ikhlash karena Allah. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. AlMughny 9/562-563 (cet. (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho‟ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. 2. Catatan : Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84. . Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Meninggalkan dosa tersebut. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa AlBayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma‟ad 5/114-115. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?”. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Menyesali perbuatannya. 4.

AtsTsaury. Al-Baihaqy 7/449. 7/449. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. AlBaihaqy 5/329. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. ada dua pendapat : Pertama : Wajib „iddah. Abu Daud no. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. Ibnu Qoni‟ dalam . Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Ahmad 4/108. Ahmad 3/62.87. tapi ada perbedaannantara mereka berdua pada satu hal. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. Abu Daud no. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini : 1. 2. 2158. 1131. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. At-Tirmidzi no. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. beliau bersabda : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Kedua : Tidak wajib „iddah. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali”. Imam Malik. 187). maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain”. 2157. (HR. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. (HR. An-Nakha‟iy.Syarat Kedua : Telah lepas „iddah. Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh nber-jima‟ dengannya setelah akad. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Ibnul Qayyim. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. tuannya (kalau ia seorang budakpent. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). apakah hamilnya itu karena suaminya. Ath-Thobarany 5/no. Ibnu Sa‟ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid)”. Wallahu A‟lam. (Para sahabat) menjawab : “Benar”. Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. 3.). Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Beliau bersabda : “Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?”. . Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya”. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan „iddah bagi perempuan yang berzina.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.) atau karena zina”. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza Wa Jalla : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Asy-Syinqithy. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. (QS. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Dan „ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak.Mu‟jam Ash-Shohabah 1/217. 2137). (QS. Ath-Tholaq : 4). Al-Baqarah : 228).

Al-Ifshoh 8/81-84. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. 2. 154-155. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Zadul Ma‟ad 5/104-105. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut : • Kalau ia hamil. Wal „Ilmu „Indallah. baik hamil karena pernikahan sah. „iddahnya adalah sampai melahirkan. 2. • Kalau ia belum hamil. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Wallahu Ta‟ala A‟lam. Kalau ada yang bertanya : “Setelah keduanya berpisah. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa „iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Takmilah Al-Majmu‟ 17/348-349. 847-850. Al-Fatawa 32/109-134. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). Al-Inshof 8/132-133. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. Bidayatul Mujtahid 2/40. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut.Kesimpulan Pembahasan : 1. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. 11/196-197. . Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Raudhah Ath-Tholibin 8/375. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para „ulama. apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?”. syubhat atau karena zina. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa „iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat : “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya”.

Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya. 4074. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. maka nikahnya batil. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Abu Daud no. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Ad-Daruquthny 3/221. maka kembali diwajibkan mahar atasnyaberdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala : “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan” (QS. Sa‟id bin Manshur dalam sunannya 1/175.275.dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali”. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. 4682. 7/171. 1463. At-Tirmidzi no. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya.138. Adapun mahar. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. An-Nisa` : 4).165. Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166. nikahnya batil.166. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no.66.4750. 1102. Ahmad 6/47. 700.3. „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195. Ibnu Abi Syaibah 3/454. Ath-Thohawy dalam Syarah Ma‟any Al-Atsar 3/7. nikahnya batil. Ad-Darimy 2/185. Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. dan dalam Al-Umm 5/13. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. Al-Baihaqy 7/105. Al-Hakim 2/182-183.4837. 2083. Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. Ibnu Majah no. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. (HR. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : . Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah 6/88. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. 1879. Demikian rincian Ibnu Qudamah. 7/284.124.222. 10/148.1840). Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. 315. AlHumaidy dalam Musnadnya 1/112.698.

dari milis an nashihah. AllahTa‟ala berfirman.200 dan Zadul Ma‟ad 5/104-105. Wallahu A‟lam.“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban”. Bahaya Zina Allahh Ta‟ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk.” (QS. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494. Allah Ta‟ala berfirman.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. 24 Maret 2010 21:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu „ala Rosulillah wa „ala aalihi wa shohbihi wa man tabi‟ahum bi ihsanin ila yaumid diin. ‫ِّ ه َ َ ِ َ ة َ َ ء َ ٌِل‬ ‫و َااتقربُوااالز َنااإ َِّن ااكانَاافاحش ااوسا ااسب ا‬ ُ َ َ َْ ‫َل‬ “Dan janganlah kamu mendekati zina.darussalaf. Dan suatu jalan yang buruk. Hanya Allah yang beri taufik. Hal ini sudah dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat kita. Al Isro‟: 32) Dalam ayat lainnya. yang sulit terelakkan lagi adalah perzinaan. Fenomena yang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini. Si wanita dengan menahan malu telah memiliki isi dalam perutnya. Namun masalah yang timbul adalah bolehkah wanita tersebut dinikahi ketika ia dalam kondisi hamil? Lalu apa akibat selanjutnya dari perbuatan zina semacam ini. Semoga artikel sederhana berikut ini bisa memberikan pencerahan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran. sebelum mendapat label sah sebagai pasangan suami istri.php?id=1332.or.id/stories. Lihat : Al-Mughny 10/186-188. http://www.(QS. Rabu. dimuat dalam Risalah Ilmiyah An-Nashihah vol ke-5. Al-Fatawa 32/198. َ ‫َ م ّللا ل ِ ْ َ َ ل ْ ُ َ َ ْ َ ل‬ ْ َّ ُ َْ ‫َ َل‬ ْ ‫ل‬ ْ ‫والَّذٌِنَاا َاا ٌَدعُونَاامعَاا َّااإِلَهااآَخرَااو َااٌقتلُونَااالنفسَااالَّتًِاحرَّ اا َّا ُاإِ َّاابالحقِّااو َ اا ٌَزنونَااومنْاا ٌَفع ااذلِكَاا‬ ِ‫َ ّللا‬ َ َ ََ‫ٌَ ْلقَااأث‬ ‫اما‬ . Sumbr: Tulisan Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.

Jika dia lepas dari zina. Namun itulah yang terjadi jika hal ini dilanggar.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan. syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. 9644 mengenai syarat menikahi wanita yang dizinai. akhirnya terjadilah apa yang terjadi.افإذااتوفراالشرطاناجازاالزواجامنهاا،ا‬ ‫والدلٌلاعلىاوجوباالستبراءاقولهاصلىاّللااعلٌهاوسلمافٌماارواهاأبواسعٌداالخدريارضًاّللااعنها"لاتوطأاحاملاحتىاتضع،اولاغٌراذاتاحملاحتىاتحٌضا‬ ‫حٌضة".[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina. Jadilah di antara mereka hamil di luar nikah. Jawaban: :‫الحمداهللاوالصلةاوالسلماعلىارسولاّللااوعلىاآلهاوصحبهاوسلماأماابعد‬ ‫فإناالزواجامناالزانٌةامختلفافٌها،افمناالعلماءامناٌقولابصحته،اومنهمامناٌقولابمنعها،اوممناقالابمنعهااإلماماأحمد،اوهواقولاٌشهدالهاظاهرااآلٌةاالكرٌمةا(ا‬ ‫الزانًالاٌنكحاإلازانٌةاأوامشركةاوالزانٌةالاٌنكحهااإلازاناأوامشركاوحرماذلكاعلىاالمؤمنٌنا)ا[النور:3] ا‬ ‫وعلٌهافلاٌجوزالمناعلمامناامرأةاأنهااتزنًاأناٌتزوجهااإلابشرطٌن:اأحدهما:االتوبةاإلىاّللااتعالى،اثانٌهما:ااستبراؤها. Ia ingin menutup aibnya dengan menikahinya karena wanita tersebut masih kerabatnya.”[2] Inilah besarnya bahaya zina. Artinya. َ َ َ َ ‫إِذااز َنىاالرَّ جُ ااخرجَاام ْن اااإلٌِمانُااكانَااعلَ ٌْ ااكالظلَّ اافإِذااا ْنقطعَاارجعَااإِلَ ٌْ اااإلٌِمانُا‬ ‫ه‬ ‫ل َ َ ِه‬ ُ ُ ِ ِ ِ َ َ َ َ َ َ َ ‫َ ه َ ُّ ة‬ “Jika seseorang itu berzina. “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan. Dalam hadits lainnya. َُ ‫ث ااأَنْااتزانِىَاابحلٌِلَ ااجاركَا‬ ‫ُم‬ ِ َّ ِ َ ‫ِ َ ة‬ “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. “Wahai Rasulullah. Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. apalagi berzina dengan istri tetangga. padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi. “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu. dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda. maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). Pertanyaan: ‫هلاٌجوزالشخصاأناٌتزوجامناإمرأةازانٌةاوهواٌعلماأنهاازنتاقبلاأناٌتزوجها،اوهواٌرٌداأناٌسترا‬ ‫علٌهااألنهااقرٌبته،اوأرجوااإلفادةامنكما،اهلاٌمكنامعرفةاالمفتًا. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. dan tidak berzina.“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. Apakah hal ini mungkin? Syukron. maka iman itu akan kembali padanya. barang siapa yang melakukan yang demikian itu. Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina Ada beberapa fatwa ulama yang kami temukan. Terjerumuslah dalam dosa besar zina karena tidak mengindahkan berbagai jalan yang dapat mengantarkan pada zina seperti bentuk pacaran yang dilakukan muda-mudi saat ini. di antaranya adalah Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah no.” Kemudian ia bertanya lagi.اأخرجهاالبغويافًاشرحاالسنةاوأبواداووداوقالاابناحجرافًاالتلخٌصاإسنادهاحسناوصححهاالحاكماوقالاعلىاشرطامسلما. tanggal Fatwa 23 Jumadil Ula 1422 H.اشكرا‬ Apakah boleh seseorang menikahi wanita yang dizinai dan ia tahu bahwa wanita tersebut betul telah dizinai sebelum menikahinya.” (QS. Aku ingin jawaban dari kalian mengenai hal ini. Al Furqon: 68). Oleh karenanya. ا‬ .

َ ‫َ ل َ ان و ُ ْ ِ ك َ م‬ ُ ‫الزانًِا َاا ٌَ ْنك ااإِ َّاازان ٌَ ااأَ ْاامشرك ااوالزان ٌَ اا َاا ٌَ ْنكِحُ هااإِ َّااز ااأَ ْاامشر ااوحُرِّ ااذلِكَااعلَىاالمُؤمنٌِنَا‬ ‫َّ ل ِ ح ل َ ِ ة و ُ ْ ِ َ ة َ َّ ِ ة ل‬ ُ ِ ْ ْ َ َ “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. Pendapat ini didukung kuat dengan firman Allah Ta‟ala. Jika dua syarat ini telah terpenuhi. Jika tidak terpenuhi dua syarat ini. ا‬ ‫وّللااأعلم. atau perempuan yang musyrik. Sebagian ulama lainnya melarang hal ini. maka wanita tersebut baru boleh dinikahi. keluarga dan para sahabatnya. menikahi wanita yang telah dizinai jika wanita tersebut betul-betul telah bertaubat pada Allah dan telah melakukan istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim dari mani hasil zina).‫والخلصةاأناالزانٌةاإذااتابتاإلىاربهااوتحققتابراءةارحمهاامناماءاالسفاحاجازانكاحهاابأياغرضاكانا،افإذاافقداأحداالشرطٌنالماٌجزانكاحها؟اولوابقصدا‬ ‫الستراعلٌها،اوالتغطٌةاعلىاعملهااالقبٌحا. maka ia boleh menikahi dirinya jika memenuhi dua syarat: Pertama: Yang berzina tersebut bertaubat dengan sesungguhnya pada Allah Ta‟ala. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dalil yang mengharuskan adanya istibro‟ adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Amma ba‟du: Mengenai hukum menikahi wanita yang telah dizinai. An Nur: 3) Jika seseorang mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita yang telah dizinai. Di antara ulama yang melarangnya adalah Imam Ahmad. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki . Wallahu a‟lam.[5] –Demikian Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah-. konsekuensi dari menikahi wanita hamil adalah nikahnya tidak sah. baik yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lainnya. Kedua: Istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim).” (QS. Simpulannya. maka tidak boleh menikahinya walaupun dengan maksud untuk menutupi aibnya di masyarakat. Inilah pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh para ulama Hambali dan Malikiyah karena didukung oleh dalil yang begitu gamblang. maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama. ا‬ Segala puji bagi Allah. َ َ ‫ل ُ َ أ َ ِل َ َّ َ َ َ ل‬ َّ َ ‫َ ل‬ ‫َ َة‬ ‫اَاتوطا ُاحام ااحتىاتضعَااو اَاغ ٌْرُااذاتِااحمْ ااحتىا َتحٌِضَااح ٌْض ا‬ “Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro‟nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh. Sebagian ulama mengatakan bahwa menikahi wanita tersebut dinilai sah. shalawat dan salam kepada Rasulullah.”[3][4] Ringkasnya. maka ketika dua syarat ini terpenuhi boleh menikahi dirinya dengan tujuan apa pun. Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra‟ terlebih dahulu. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.

2. ia dinasabkan kepada ibunya. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. baik karena taqlid (ngekor beo) kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. bukan pada bapaknya. maka anaknya tetap dinasabkan pada ibunya. Wallahu a‟lam.”[6] Firasy adalah ranjang dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. 3. Sedangkan suami tersebut. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada bapaknya. ُ ‫الولَ اال ِْلفِراشِااول ِْلعاهِرِااالحجرُا‬ َ َ ْ َ َ َ ‫َْ د‬ “Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. Status Anak Hasil Zina Adapun nasab anak. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. alias dia adalah anak tanpa bapak. karena dia itu tidak memiliki wali. Jadi yang berlaku padanya adalah hukum anak tiri.[8] Ringkasnya. bila telah selesai istibra‟ dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya. maka pernikahannya itu tidak sah. “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah. Jika wanita yang hamil tadi dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya. namun walinya adalah wali hakim. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. Anak itu tidak berbapak. anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya (walaupun itu jadi suaminya). konsekuensinya: 1. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. . Namun anak tersebut dinasabkan pada ibu dan keluarga ibunya. status anaknya hanyalah seperti robib(anak tiri).serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. maka walinya bukan laki-laki tadi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.[7] Bila seseorang meyakini bahwa pernikahan semacam ini (menikahi wanita hamil) itu sah. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram.

1457. 8/417. [8] Lihat Majmu‟ Al Fatawa. cetakan ketiga. [5] Lihat Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah. 1420 H . Ibnu Katsir. Setiap yang ditanam pasti akan dituai hasilnya. Abu Daud no.remajaislam. cetakan kedua. Keturunannya pun akhirnya rusak karena anak hasil zina tidak dinasabkan pada bapak hasil zina dengan ibunya. 9 Rabi‟ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 24/03/2010) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www. Asy Syamilah. 7532 dan Muslim no. tahun 1426 H. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [4] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama. Kalau nikahnya tidak sah berarti apa yang terjadi? Yang terjadi adalah zina. 4690 dan Tirmidzi no.com. Bukhari no. 2/4764. nikahnya pun tidak sah. dipublish ulang oleh http://rumaysho. maka keburukan berikut pula yang didapat. 6749 dan Muslim no. 2/2587.Penutup Setelah kita melihat pembahasan di atas. 86. maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibro‟ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil. 2157. Awalnya hamil di luar nikah (alias zina). Daar Thoyyibah. Inilah akibat dari perbuatan zina. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu. Bukhari no. [3] HR. 2625. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil. [2] HR. [9] Tafsir Al Qur‟an Al „Azhim. Darul Wafa‟. Diselesaikan di Pangukan-Sleman.”[9] Semoga Allah senantiasa memberi taufik. memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.com [1] HR. Akhirnya karena nekad dinikahi ketika hamil. Abu Daud no. Gara-gara zina. akhirnya nasab menjadi rusak. Jika yang ditanam keburukan. [7] Lihat Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah. ُ ُ َ َ ‫مِنْاا َثوا ااالحس َن ااالحسن اا َبعْ دَ ها،اومِنْااجزاءِااالسٌ َئ ااالسٌئ اا َبعْ دَ ها‬ ‫َّ ِّ ة َّ ِّ َ ة‬ ‫َ ب َ َ ة َ َ َة‬ ِ ِ ِ َ َ َ “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya. [6] HR. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. para salaf mengatakan. 32/66-67.

Muslimah | Share 201 Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain 1. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut: 1. Ath-Tholaq: 4) Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala: “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu.Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil posted in Fiqh Ibadah. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini.” (QS. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah[1]nya. Bila sudah terlanjur menikah. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Al-Baqarah: 235) .” (QS. Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal „iyadzu billah. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam: Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Munakahat & Keluarga. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. Adapun perempuan hamil karena zina. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156.” Lihat: Al-Mughny 11/227. Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama: Satu: Disyaratkan bertaubat. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah.” (QS. Inilah yang benar tanpa keraguan. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Ishaq dan Abu „Ubaid.” Tarjih di atas berdasarkan firman Allah „Azza wa Jalla: “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik.” Kemudian beliau berkata: “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin. Dua: Tidak disyaratkan taubat. Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. An-Nur: 3) Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash.Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. beliau berkata: . masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Syafi‟iy dan Abu Hanifah.

An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. ‫؟‬ : : (( : )) . Saya nikahi „Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah. Catatan: Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. : Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad).. 3177. 2051. At-Tirmidzy no. riwayat Abu Daud no.” (Haditshasan. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia. Al-Baihaqy 7/153. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul) Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. AlHakim 2/180. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya. dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermaknajima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115. . Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84. Al-Mughny 9/562-563 (cet. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Dar „Alamil Kutub).

Kedua: Tidak wajib „iddah. Karena dan untuk permintaannya pada saat berkhalwat (berduaan) bukan mahram) walaupun tidak halalberkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?” Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. AtsTsaury. Tarjih . Yaitu dengan lima syarat: 1. Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. An-Nakha‟iy. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima‟ dengannya setelahakad. ada dua pendapat: Pertama: Wajib „iddah. 2. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Wallahu A‟lam. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Ikhlash karena Allah. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. Meninggalkan dosa tersebut. beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak ini perempuan untuk berzina dan memintanya. 5. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Menyesali perbuatannya. Ber„azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. 3.Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. 4. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal. Imam Malik.

” (HR. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar. beliau bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. tuannya (kalau ia seorang budak-pent.). Ahmad 3/62. At-Tirmidzi no. Ath-Thobarany 5/no. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos: “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.” Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.) atau karena zina. Ahmad 4/108. Ibnu Sa‟ad dalam Ath- Thobaqot 2/114-115.87.” . apakah hamilnya itu karena suaminya. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. Al-Baihaqy 7/449. Ad-Darimy 2/224 AlHakim 2/212. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: .” (HR. Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. 2137) 3.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Abu Daud no.Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini: 1. 2158. Abu Daud no. Ibnu Qoni‟ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. 1131. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 187) 2. Al-Baihaqy 5/329. 7/449. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. 2157.

2. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu: “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid). 847-850.Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu.” (QS. Ibnul Qayyim. Zadul Ma’ad 5/104-105.Wallahu Ta‟ala A‟lam. Al-Baqarah: 228) Kesimpulan Pembahasan: 1. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Ath-Tholaq: 4) Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. AlInshof 8/132-133. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan„iddah bagi perempuan yang berzina. Al-Fatawa 32/109-134. Wallahu A‟lam.” (QS. Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349. Lihat pembahasan di atas dalam: Al-Mughny 9/561-565. 11/196-197. Dan „ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. . Al-Ifshoh 8/81-84. • Kalau ia belum hamil. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Bidayatul Mujtahid 2/40. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza wa Jalla: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut: • Kalau ia hamil. Raudhah Ath- Tholibin 8/375. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Asy-Syinqithy. Catatan: Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. 154-155.

2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?” Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para „ulama.

Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya.” Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin

Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. Wal „Ilmu „Indallah. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). 3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak adamahar bagi perempuan tersebut. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha, Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda:

“Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam Al-Umm5/13,166, 7/171,222, „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa‟id bin Manshur

dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. 4074, Al-Hakim 2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Al-Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840) Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala:

“Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala:

“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A‟lam. Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105. Footnote:

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “„Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut

pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.” Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45&page_order=2

This entry was posted on Tuesday, March 4th, 2008 at 3:48 am and is filed under Fiqh Ibadah, Munakahat & Keluarga, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 29 responses to “Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil”
Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

1.

1

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam:

Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.” Mohon agar matan tulisan ini diedit lagi.

Reply
posted on March 4th, 2008 at 1:25 pm

2.

2

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

kami tidak memahami maksud antum. dan setelah dinikahkan apakah setelah melahirkan perlu dinikahkan kembali. 2008 at 1:32 pm posted on November 11th. lacsana said: saya mau menanyakan tentang anak yang menikah diusia muda karena married by accident. apakah kalau dinikahkan oleh orang tuanya bagaimana. Lc. tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina . bahkan jika dilakukan alasan itu akan menyebabkan semakin melanggar syariat (karena haramnya menikahi wanita hamil sebab zina). termasuk matan hadîts yang dimaksud. intinya HARAM. 2009 at 7:28 pm 3. In syâ‟ Allâh artikel ini sesuai aslinya. akan tetapi yang dapat menyelamatkannya adalah dengan taubat yang benar. supaya hal tersebut untuk menghindari aib dan menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran. Menghindari aib itu bukanlah alasan syar‟i. nikahnya TIDAK SAH. karena dia memang telah masuk ke jurang kehancuran akibat zina yang diperbuatnya. Reply posted on March 4th. 0. bukan malah semakin melanggar syariat dan jatuh 2 kali ke jurang kehancuran dengan menikahi wanita hamil sebab zina (padahal ini haram) yang mana ini sama saja berarti dia itu akan zina seterusnya (karena nikah yang seperti ini tidak sah).? terima kasih ADMIN: Penjelasan pada artikel di atas insya Allah sudah cukup jelas.. `Afwan. Batam Yayasan Anshorus Sunnah.atau mungkin hasil postingnya memang begitu ya. Saya coba copy matan hadits /terjemahan diatas yg mana tertulis melaknatnya 2x dan kuburnya2 kali tapi justru berubah. Penjelasan tambahan: Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah) Pertanyaan Melalui: dari al-Ustadz Sekretariat Langsung Abu Abdirrahman via Muhammad Telepon Wildan. juga „utk menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran‟ itu pun bukan alasan. kira2 secara islam bagaimana.

yaitu HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina. maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum. Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi . Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3) Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “. maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut: Pertama: Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur : 3 [‫س‬ ‫سسسسس سسس‬ ] . ‫س سسس سسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫سس سسسس سس سس‬ ‫س سسس‬ ‫س سس‬ ‫س سس س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سسسسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫س سسس سسسس س‬ ‫سسس‬ ‫س سسس سسسس سسسسس سسسس سس س سس س‬ ‫سس‬ ‫س سسس‬ ‫س س سسسس‬ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ..Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) : Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina. seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya. baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya. Artinya: Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah.Tanya : Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ? ‫سسس سس سس س س : س‬ ‫سس‬ ‫سس س سسس سسسس س : س‬ ‫س‬ ‫سسسس سسسسس سسس س س سسس س : س‬ ‫س‬ ‫س س‬ . Artinya.

dan ini adalah bahasa kiasan. ada diantara para ulama yang memfatwakan. maka tidak boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil. Jadi. hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih.orang-orang yang beriman. 2011. Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu. apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut. 7 On January 3rd. (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158) Reply posted on November 17th. Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu „Alaihi Wasallam. sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. Iya. ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”. maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut. Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. yaitu menyiramkan maninya kepada anak dari kandungan orang lain. 2010 at 4:31 pm 4. namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya. maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan. risa muthmainnah said: . laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina sebab ia telah melakukan akad yang diharamkan yang ia meyakini keharamannya. maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. maka pada saat seperti itu.

HARAM dan BATIL/TIDAK SAH. adiguna said: Bila sudah terlanjur menikah. baru kemudian mereka menikah lagi. 9 On January 19th. maka harus diulang lagi. 2011. 2011 at 3:51 pm 6. Reply posted on January 19th. 2011 at 6:15 pm 7. 2011. lalu tunggu iddah si wanita selesai. Caranya: mereka harus taubat dulu. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. 2011. 2011 at 8:05 am 5. demikian insya Allah sah. 10 On February 9th. tanpa perlu perceraian krna hakikatnya mereka selama ini berzina bukan dalam ikatan nikah (karena tidak sahnya pernikahan mereka tadi). kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Reply admin reply on April 26th. Meliza said: apakah mahar yang berupa uang boleh di bingkai dan di pajang.saya mau brtanya tentang pndapat singkat imam syafi‟i dan hasan al-bashary ttang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah Reply posted on January 3rd. 2011: sekalipun sudah terlanjur tetaplah tidak teranggap nikahnya itu. uni mutia said: .? apa hukumnya? Reply posted on January 16th. 8 On January 16th..

alilmu. 2011. dengan membeli majalah ini antum telah membantu biaya kegiatan dakwah disini. afwan kami tidak membuat majalah akhwat dalam bentuk ebook. umi yani said: bismillah. 2011: . M.10000 sebulan sekali bisa dibeli di http://www.apakah sepasang suami istri yg menikah dlm keadaan hamil kemudian belum menikah lagi lalu ketika suami mengajak berhubungan badan istri menolak dengan alasan tak ingin berzina lagi apakah istri tersebut dosa?lalu bagaimana kewajiban menafkahi nya? Reply admin reply on April 26th. harga majalah sangat murah hanya rp. 2011 at 12:25 pm 9. Syamsul Huda said: Izin ngopi…. 12 On February 21st.asslamuallaikum…kenapa ea wanita sekarang banyak yang mengobral aurat mereka??? Reply posted on February 9th.. 2011 at 11:17 am 8. Afwan. apakah sudah ada majalah akhwat dalam bentuk Ebook atau File HTML? Jazakumullohu Khiron Admin. puenting nee… Matur nuwun… Reply posted on February 21st.afwan. 2011. 13 On March 5th. buat khasanah ilmu. Reply posted on February 14th. 11 On February 14th. 2011 at 2:47 am 10.ana mau tanya. 2011. Abu Sholihah said: Bismillah.com atau agen terdekat.

setelah zina itu tentu ada 2 kemungkinan keadaan: 1. jika zinanya menjadikan dia hamil maka iddahnya sampai selesai melahirkan.. Sekalipun tidak tau trnyata sudah hamil. lalu wajib mereka mengulang nikahnya. jika zinanya tidak menjadikannya hamil maka dia akan haidh. Tentang iddahnya. Ana coba jelaskan ulang.sampaikan ilmu pada mereka hingga jelas hukum-hukumnya bagi mereka sebagaimana telah dibahas pd artikel di atas. yang manapun keadaannya telah jelas apa yang harus dilakukannya. dan nikahnya BATAL/TIDAK SAH. barulah dia halal dinikahi. Reply admin reply on April 26th.. 14 On April 12th. tapi sebelum itu keduanya harus bertaubat dan tunggu si wanita itu lepas iddahnya dulu. maka syaratnya pezina ini sebelum nikah adalah wajib TAUBAT dulu. 2011 at 4:45 pm 11. umi yani said: . Dia tau maupun tidak tau kehamilannya maka tetap tidak akan lepas dari 2 kemungkinan di atas.. wallahu a‟lam. 2011 at 3:22 pm 12. tunggu lepas iddahnya sampai haidh 1 kali. 2. 15 On April 29th.. Reply posted on March 5th. lalu wajib menunggu LEPAS IDDAH. (Admin/Abu Husain Munajat) Reply posted on April 12th. tapi dia pasti tau bahwa sebelumnya sudah berzina. aisyah said: Bagaimana bila saat menikah dia tidak mengetahui kalau dia sedang hamil. 2011. bahwa HARAM menikahi wanita hamil. 2011: Silahkan dibaca kembali artikel di atas sudah jelas menjawab pertanyaan anti. 2011.

tapi yang lebih penting dari itu adalah WAJIB TAUBAT.„afwan. dirman said: apa hukumnya dalam islam apabila mendatangi pernikahan keluarga kita yg menikah karena telah hamil? Reply posted on May 14th. 17 On June 6th. 2011. Wallahu a‟lam. Tapi solusi yang insya Allah lebih baik menurut kami adalah keduanya bertaubat lalu menunggu iddah selesai lalu menikah secara sah. 2011 at 6:53 pm 13. 2011 at 12:31 am 14. Si wanita berhak pergi darinya. Cara menjelaskannya tentu si wanita yang lebih tau. sy bertanya saya menguraikan sebuah kalimat. dimana. asllamu sebelum dalam hidup manusia bahwa sahnya manusia tidak mngetahui kapan.karena sebelumnya si suami tidak terima? Reply admin reply on May 4th. TIDAK SAH. Maka tentu saja tidak wajib menafkahi karena dia bukan apa-apanya dan bukan tanggungjawabnya. irfan buhar said: alaikum.. 2011: Insya Allah sudah jelas di artikel di atas. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dengan menaati hukum-hukum-Nya.. bahkan kami katakan wajib karena meninggalkan maksiat zina itu wajib hukumnya. 16 On May 14th. dengan ilmiah dan hikmah. Dia bisa kembali ke orang tuanya dan jelaskan kepada orang tuanya dan mereka bisa mengadukan kepada pemerintah utk keputusan cerai secara administrasinya. 2011. misalnya melalui ortunya atau seorang ustadz.berarti nikahnya tidak sah ya?berarti tidak wajib menafkahi?lalu bagaimana cara menjelaskan tentang hukum itu. Jika si laki-laki/‟suami‟ tidak terima maka itu tidak ada urusan thd si wanita karena dia bukan siapa-siapa bagi si wanita. . Reply posted on April 29th. Adapun hidayah adalah dari Allah semata.

. apa hukumnya kalau laki2 menikah dengan wanita yang sedang hamil n yang menikah dengan wanita tersebut adalah laki2 yang telah menikahinya??. apakah bisa diambil kesimpulan bahwa akad nikah dapat dilaksanakan dan sah hukumnya?? jika saat hamil tidak boleh dinikahi. airin said: assalamualaikum misalkan keduanya sudah benar2 bertobat. siapa pun atas kematianya. seperti yang diterangkan diatas. apa yg berlaku pada laki2nya dan wanitanya... arie said: klarifikasi pertanyaan di atas. 2011. bgmna klau si wanita tersebut telah meninggal.sedang apa. 2011 at 8:40 am balasannya terimakasih 16.. tlong di jawab ya!!! Reply posted on August 4th.. saya mau tnya. 19 On June 23rd. Reply posted on August 4th. dikatakan bahwa wanita yang sedang hamil tidak bisa menikah sblm dia bertobat dan sampai dia telah melahirkan skalipun yg akan menikahinya adalah orang yang berhubungan dgnya. 2011. 20 On August 4th.. 2011 at 9:12 pm 17. Reply 15.. sblm dia melahirkan atau bertaubat. lalu bagaimana status anak menurut islam?? mohon wass Reply posted on June 23rd. maksud saya laki2 yang telah menghamilinya bukan menikahinya… terimakasih. 21 On August 4th. arie said: ass. 2011 at 9:15 pm . 2011.

Adawiyah said: Ass.terus kami menikah. 23 On October 24th. 2011. syukron.jadi kami sudah mempunyai 3 orang Anak. novmery said: akibat perzinahan hamil 3 bln.apakah wajib bagi mereka menikah lagi?. 2011. karena kami sudah melahirkan Anak perempuan. tdak perlu nikah lgi karena pernikahaan pertama itu sah. trim‟s wasalam. Balas Reply . apabila anak perempuan kami klau mau menikah. dan tidak melakukan pernikahan ulang ketika bayinya sudah lahir.sampai sekarang sudah 10 th usia pernikahan kami.atau anak itu adalah anak ibunya dan tidak bisa mendapat warisan? dan kalau anaknya perempuan tidak bisa diwalikan oleh si lelaki itu?apakah benar?apakah ada buku atau referensi yang memuat hal tersbt diatas dengan lengkap?karena si laki-laki sudah pernah diberitahu tentang hal ini tapi sepertinya tidak percaya dan menganggap remeh. bapaknya tidak sah menjadi wali buat siAnak. Admin: jika melihat pendapat sesuai penjelasan di artikel. bahkan sekarang mereka memiliki anak kedua.dan rencana kami mo nikah kembali.mereka hidup selayaknya suami istri setelah pernikahan itu. tapi jawabannya. bagaimana hukum status anak anak itu menurut Islam? Saya pernah mendengar kalau nasabnya tidak bisa dihubungkan dengan laki-laki yang menikahi wanita yang hamil. 2011 at 12:08 am 19.18.Mhn penjelasannya.kalau seorang laki-laki terpaksa menikahi perempuan yang sudah dihamilinya. cuma. Isampai sekarang kami tidak meyadari kalo pernikahannya selama ini tidak SAH/ HARAM. pernah satu kx kami memanggil yg paham tentang agama. itulah jawabannya.. gimana ni hukumnya? tolong dibantu. 22 On August 14th. pertanyaan anda sudah jelas jawabannya. Reply posted on August 14th.

kami berdua masih kuliah smster 5 di kmpus dan jurusan yg sama pula. banyak hal yg ditakutkan dalam hubungan yg semakin lama ini.. 2011 at 8:36 pm 20. apakah dlm islam diperbolehkan wali nikah (ayah mempelai wanita) mengucapkan ijab kpda mempelai pria via telepon ? dalam hal ini wali/keluarga mempelai wanita tidak bisa hadir dalam akad nikah karena jarak yang memisahkan (kota yg berbeda. sy jika tanyakan sikonnya sprti kami : ? 2. mohon thx b4 wassalam :D sarannya ya. kami ingin menikah. Reply posted on November 13th. 24 sy On November 13th. 25 On December 12th.. jika keluarga dari kedua belah pihak sudah menyetujui untuk menikah. yg 1. berarti tetap harus melakukan pernikahan .. krna kami sngat dekat dan hmpir stiap hari bertmu.5 thun..pdhal hbngan kami sdah brjlan slma 3.. selain itu wali/kluarga mmpelai wanita tidak bisa berkunjung di kota t4 terselenggaranya nikah. 2011. 2011.wb. apa ingin hukum nikah.posted on October 24th... bagaimana cara meyakinkan ortu akan niat kami tsb ? 3.. tity said: asslmualaikuumm wr. disebabkan oleh hal2 lain yg menghalangi mreka untuk dtg k t4 trsebut). apakah dlm islam diperbolehkan menikah jika lelaki masih muda dan belum berpenghasilan/msih kuliah ? 4. sama halnya dgn psngan sy 20th. rasyid said: bagaimana kalau baru mengetahui hukumnya setelah sekian lama menikah dan telah mempunyai 2 orang anak lagi. ttapi belum punya pnghasilan.. seorang gadis 20th. jika hukumnya boleh2 saja. kami sudah punya niat utk menikah. 2011 at 10:40 pm 21.

WEB.gara si wanita sudah hamil akibat mereka telah melakukan sex bebas alias zina.ulang? dan tiga orang anak yang dimiliki bagaimana statusnya? mohon di jawab untuk menjawab kondisi saya  Arsip Bulanan © 2012 AKHWAT. Under Bahsul Masa'il. Bukti ramalan ini kian hari kian tampak nyata dan kian menggejala dimana akhirakhir ini mulai banyak terjadi wanita.dasar hukum Hukum menikah dengan wanita yang sedang hamil zina.jalan(Sifaah) bagaikan hewanhewanpun melakukannya. diantaranya: 1.wanita (gadis) yang terpaksa di nikah kan dengan seorang priya gara. Fikih Perkawinan dengan Wanita Hamil Zina Sesuai dengan nubuat (berita masa depan) Nabi Muhammad dalam sebuah hadistnya bahwa kiamat tak akan terjadi sebelum manusia banyak melakukan peribuatan sex bebas dijalan. Firman Allah : ‫ﻤ ﻤﻴ‬ ‫ﻚ‬ ‫ﻮﻤﺸﺮﻚ ﻮ ﺮﻢ‬ ‫ﻴﻜ‬ ‫ﻴ‬ ‫ﻮ‬ ‫ﻴ ﻮﻤﺸ‬ ‫ﻴﻨﻜ‬ .dasar perselisihan tersebut adalah dalam meng interpretasikan beberapa dalil dibawah ini yang dipersepsikan beda oleh para Fuqohaa‟. 2010 10:25 AM. Dasar. 11 February. oleh para ulama amat diperselisihkan Dasar.ID :: Menggapai Kontroversi Hukum Pernikahan dengan Wanita Hamil Zina Oleh admin Pada Thursday.

Wazzaaniyatu laa yankihuhaa ilaa zaanin au musyrik. Qoolat: Su-ila Rasuululloh SAW an rojulin zanaa bi imro-atin wa arooda an yatazawwajahaa. Hadist Nabi: Man kaana yu‟minu billaahi wal yaumil Aakhiri falaa yasqi maa.imri-in yu‟minu billaahi wal yaumil aakhiri an yasqiya maa-ahuu zar‟a ghoirihii. H..“Az. Artinya: Para penzina laki.hamba sahaya priya kalian yang sholih. Artinya: “Dan Nikahkanlah orang. dan para penzina wanita itu tidak (boleh) nikah kecuali dengan penzina laki. Faqoola: ‫ﺮ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﺨ ﻦ ﻴﺴ‬ ‫ﻮ ﻴﻮﻢ‬ ‫ﻴﺤﻞ ﻹﻤﺮﺉ ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﻴﺴﻖ ﻤ ﺌ‬ ‫ﻮ ﻴﻮ‬ ‫ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﻤﻦ ﻜ‬ ‫ﻮ ﻤ ﺌ ………ﻮ ﻜ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﻮ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﺖ ﺨ ﻴﺜﻴ‬ . Artinya: Wanita.Nuur 2).laki atau laki. ‫ﻴ‬ Artinya: “Tidak halal bagi seseorang yang percaya pada Allah dan hari akhir untuk mengairi (dengan air mani) . Abu Dawud dan Tirmidzi.” (An.Nabhani Al. 6. An A‟isyah RA.R.laki itu tidak (boleh) kawin kecuali dengan penzina wanita atau para wanita musyrik.ahuu zar‟a ghoirihi. maka janganlah ia “mengairi dengan air (mani) nya pada tanaman (janin) orang lain.orang mu‟min. Yusuf bin Ismail Al.Khobiitsaatu lil khobiitsiina wal Khobiitsuuna lil khobiitsaat….orang yang sendirian dari kamu sekalian dan hamba. Firman Allah: ‫ﻴ ﻤ ﻤﻨﻜ ﻮ ﺼ ﺤﻴﻦ ﻤﻦ‬ “Wa ankihul ayaamaa minkum was shoolihiina min ibaadikum wa imaa‟ikum …” (Q.Kabir (Dar Al.sahaya wanita kalian… 4.sholih dan (juga) sahaya. ‫ﻴ‬ Artinya: Barang siapa ber-iman kepada Allah dan Rasulnya.An-Nur 32). Hadist yang semakna: La yahillu li.…………‫ﺨ ﻴﺜﺖ‬ ” Al. Firman Allah: . sebaliknya laki. 2. Dan diharomkan semuanya itu bagi orang.Nur 26). Wa hurrima dzaalika alal mu‟miniin”.Fath al. Beirut).laki musyrik.wanita tak bermoral itu pasangannya adalah laki.Arqom. tanaman (janin) orang lain”.S.laki tak bermoral.laki tak bermoral itu pasangannya adalah para wanita tak bermoral……… 3. 5.Zaanii laa yankihu illaa zaaniyatan au musyrikah. (An.

Subulus Salam III/210.At. Rasululloh bersabda: “Anak itu (dinasabkan) kepada Suami ibunya.aakhiruhuu nikaahun. sedang si penzina harus dihukum (dera/ rajam)”. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mendasarkan larangannnya pada maksud lahir ayat.Syafi‟I membolehkan persenggamaan mereka karena tujuan nikah adalah menghalalkan persenggamaan. Rasululloh ditanya tentang seorang laki. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Maliki melarangnya. Sedang As. Dari Ikhtilaf ini Imam Nawawi (dari madzhab Syafi‟i) menyatakan: hukum persenggamaan itu makruh (sebaiknya jangan dilakukan sampai sang bayi lahir) berdasarkan Qoidah: AlKhuruj minal Ikhtilaaf Mustahab (Keluar dari perbedaan pendapat itu sangat dianjurkan). Menurut hadist ini Rasulullah pernah memberi izin pernikahan wanita hamil zina walaupun tentu saja HUKUM HAD nya tetap berlaku.ayat tersebut dan hadist.Thobarony dan Ad. Artinya: Dari A‟isyah RA.R. 7. Maka Rasululloh menjawab: ” Awalnya adalah kumpul kebo (SIFAAH) dan akhirnya adalah sebuah pernikahan. Sesungguhnya perbuatan harom itu tidak dapat menghalangi terjadinya (pernikahan) yang halal”. Ibnu Hazm dari kelompok Ad.Majmu‟ LinNawawi. Setelah memperhatikan semua ikhtilaf tentang ini dan setelah mempertimbangkan segala aspek hukum.‫ﺤ ﻞ‬ ‫ﻴﺤﺮ‬ ‫ﺤﺮ‬ . namun me reka melarang persenggamaan antara suami istri tersebut sampai si wanita melahirkan anaknya. Adapun Abu Hanifah dan dan Ibnu Hazm. „An Abi Hurairoh RA. Lihat Subulus Salam III/ 210.Daaruquthniy. Wal haroomu laa yuhrimu al. 8. dll. Syafi’I.hadist yang melarang membuahi janin yang sudah ada dari hubungan si wanita dengan orang lain. karena larangan Nabi untuk membuahi janin orang lain berlaku juga bagi wanita yang dihamili tanpa nikah. Qoola Rasuululloh SAW: ‫ﺪ ﺮﺶ‬ ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ “Al.hajaru. As.Shon‟ani. ‫ﻜ‬ ‫ﺨ‬ ‫ﺴ‬ “Awwaluhuu sifaahun wa. walau wujud orangnya sama. maka suaminya yang menikahinya dianggap orang lain.Daaruquthniy.Dhohiri. walau membolehkan perkawinannya.H.halaala”. Artinya: Dari Abi Hurairoh RA.I) Indonesia. Boleh atau tidakkah menikahkan wanita yang sedang hamil zina? Jumhur Ulama kebanyakan membolehkan mengawini wanita hamil zina seperti pendapat Imam Abu Hanifah. Akhrojahuu AtThobroniy wa Ad.Waladu lil firoosyi wa lil „aahiri al. Lihat Al. Dll. Menurut Kompilasi Hukum Islam (K. sosial dan kemasyarakatan serta berdasarkan asas MASLAHAH MURSALAH (kepentingan umum). H. dimana diharapkan: # Ada orang tua yang nantinya akan bertanggung jawab atas segala pengasuhan dan .laki yang berzina dengan seorang wanita dan dia bermaksud menikahinya.

Bila anak tersebut lahir KURANG 6 (enam) bulan setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. maka nasab nya adalah kepada Suami yang telah mengawini ibunya itu. maka nasab anak tersebut adalah KEPADA IBUNYA. dan menuangkannya pada BAB VIII pasal 53 ayat 1 ~ 3 demikian: 1. # Si pelaku perzinahan mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki segala Perilaku buruknya dengan membina keluarga yang sah.H. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil.LAKI YANG MENGHAMILINYA. 2. waktu menyapih itu =…………………………………= 24 bulan Jadi waktu hamil minimal = ……………………………………………………………. waktu mengandung dan menyapih = 30 bulan Menurtut Luqman 14. maka: K. terhormat dan dilindungi hukum. . masing masing dari Surat Al. bukan dari mulainya hubungan sekssual diantara kedua orang tua biologisnya. 2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Status anak dari HAMIL ZINA Adapun anak dari hasil hubungan ZINA.I (Kompilasi Hukum Islam) Indonesia menetapkan KEABSAHAN pernikahan antara seorang laki. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Imam Abu Hanifah menghitung jumlah 180 hari itu dari PERNIKAHAN. Seseorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan LAKI. Hal ini bersesuaian dengan pendapat jumhur ulama‟ diantaranya Syekh Muhammad Zaid Al.Ahqoof 15 dan Surat Luqman ayat 14. # Mengembalikan harkat martabat dan kehormatan keluarga besarnya dan menutupnya dari AIB keluarga tersebut atas perilaku salah satu dari angota keluarga tersebut.Ahqoof 15. 3. Bila anak tersebut lahir 6 (enam) bulan LEBIH setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. maka setelah perkawinan kedua orang tuanya dapat ditetapkan dengan dua kemungkinan. yakni: 1. (٥١‫ﺜ ﺜﻮﻦ ﺸ ﺮ ………) ﺤ ﻒ‬ (٤١‫ﻤﻴﻦ ……………………) ﻤﻦ‬ ‫ﺼ‬ ‫ﻮﺤﻤ‬ ‫ﻮﺼ‬ Menurut Surat Al.= 6 bulan Sesuai dengan pernyataan tersebut. Para Ulama‟ mendasarkan hukumnya dari perpaduan dua ayat.Abyani yang menyatakan bahwa batas minimal umur kandungan adalah 180 hari = 6 bulan.pendidikan anak-anaknya sampai ia dewasa.laki dengan wanita YANG TELAH HAMIL ZINA.

SESUAI SABDA Rasul dalam suatu peristiwa persengketaan tersebut diatas dalam riwayat yang panjang. 2 . Ro‟is Aam Tanfidhiyyah DPP Jama‟ah Rifa‟iyyah.ah atau seperti apa yang diputuskan Umar bin Al.wanita mereka kumpul kebo dengan banyak lelaki.Khottob memutuskan bahwa anak tersebut (TANPA MELIHAT UMUR KEHAMILAN) adalah anak SUAMINYA YANG SAH. Disarikan dari: “Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil”. sedangkan bagi si pelaku zina dia harus dihukum (dera/rajam)”. Mulkhlisin Muzarie. yakni jika si anak lahir kurang dari 6 bulan.karya: Dr.persengketaan nasab anak. Wallohu A‟lam.anak yang dibawa kepada keputusan Nabi seperti kasus persengketaaan antara Sa‟ad bin Abi Waqosh dan Abdu bin Zam. terkecuali bila yang meninggal itu sebelumnya telah IQROR (membuat pernyataan) bahwa anak tersebut diakui sebagai anaknya sebagaimana diterangkan oleh Badran Abu Al-Ainain sebagai konsekwensi kebalikan pada kasus anak LI‟AN (suami yang menuduh istrinya mengandung bukan dari dirinya). maka walinya bukan suami ibunya namun WALI HAKIM. Hadist riwayat Jama‟ah ahli hadist terkecuali Turmudzi. jika ia nanti setelah dewasa hendak menikah. Tentu saja anak tersebut secara syar‟I tidak mendapatkan hak waris sebagai anak yang sah dari suami ibunya itu bila nanti suami ibunya meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan. bila si anak terlahir perempuan. dimana Nabi dan Umar bin Al.anak jahiliyyah yang terlahir dari kebiasaan wanita. diantaranya: ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ ‫ﻮﺪ ﺮﺶﻮ‬ .Catatan penting: Maka pada kasus no. ‫ﻮﺮ‬ ‫ﻤﺠ‬ ‫ﺬﻤﺮ‬ “Anak itu dinasabkan kepada SUAMI IBUNYA .Khottob tentang anak. Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini : . Namun demikian ada beberapa perbedaan pandangan tentang hal ini yang mengacu dari beberapa kejadian dimana terjadi kasus.

baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. Ulama Syafi'iyah berpendapat. namun mengapa tifak boleh disetubuhi? Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw. hukumnya tidak sah menikahi wanita wanita hamil akibat zina (dengan laki-laki lain) karena kehamilannya itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. karena wanita hamil akibat zina tidak termasuk golongan wanita yang diharamkan untuk dinikahi. ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina. Dengan demikian. ia wajib istibra'. baik merdeka maupun amat (budak). Alasannya. 3. 24). 1. " (HR Abu Daud). . istibra'nya cukup satu kali haid. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina. tapi bila ia hamil. Alasannya adalah bahwa wanita hamil akibat zina tidak termasuk ke dalam golongan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an (lihat an-Nisaa: 22. wanita yang dinikahi tersebut halal (boleh) untuk disetubuhi walaupun ia dalam kaedaan hamil. sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). Akan tetapi. b. Mereka juga berpendapat. hamil atau tidak. istibra'-nya tiga kali haid. Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil dengan lakilaki bukan yang menghamilinya adalah sah. bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. Alasan sah menikahinya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. baik yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya maupun bukan yang menghamilinya.STATUS HUKUM AKAD WANITA HAMIL AKIBAT ZINA Perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang wajib atau tidak wajib atas wanita yang hamil akibat zina. . Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). apalagi bila ia bukan yang menghamilinya. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil. Sebagaimana hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil bukan karena zina. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. maka terlarang pula akad nikah dengan wanita hamil itu."Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina. menyebabkan perbedaan pendapat mereka tentang boleh atau tidak boleh menikahi wanita tersebut. tidak sah pula menikahi wanita hamil akibat zina. Ulama Hanafiyah sependapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. a. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. karena akad nikah yang dilakukan itu hukumnya sah. terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab ini. hanya saja wanita itu tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan kandungannya. 2. Abu Yusuf dan Zafar berpendapat. 23.

Karena itu. Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. telah habis masa iddahnya. tidak memberi peluang kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. b). Dari abu Sa'id r. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. bersabda tentang tawanan wanita Authos. pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. 5. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. hukumnya menjadi tidak sah karena pasal 53 ayat 1 KHI tidak memberikan peluang untuk itu. KHI membatasi pernikahan wanita hamil hanya dengan pria yang menghamilinya. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. Sebagaimana yang tertuang pada pasal 53 ayat 1. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina. Pertama. " (HR Abu Daud). disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. Seorang wanita yang hamil di luar nikah daapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah. KHI berpendapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya. juga berdasarkan hadits berikut ini. bahwa Nabi saw. kawin darurat yang selama ini masih terjadi di Indonesia.Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. c). akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. "(HR Abu Dawud) Kedua. isi pasal 53 KHI itu adalah sebagai berikut. baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya). "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali. a). Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya.Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw. " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. 4. a. Jika ia hamil. iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya. Secara lengkap. ."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. yaitu kawin . telah bertobat dari perbuatan zina. kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut.

Yang menjaadi masalah adalah bila seorang korban dibunuh oleh lebih dari satu orang pelaku. "Sekiranya seluruh penduduk yaman berkumpul membunuhnya. mereka bertiga dikategorikan sebagai pembunuh. baik istilahnya kawin "tambelan". perampokan. tanpa memperhitungkan siapa diantara ketiga orang itu yang lebih banyak memukulnya dan tanpa perlu diteliti pukulan siapa yang menyebabkan kematian korban. kepadanya diberlakukan hukum qishash. Bila Abu Yusuf dan Za'far beralasan bahwa kehamilan wanita itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. kemudian ia hamil. hukumnya dibunuh pula. "pattongkogsi sirig". Keduanya berpendapat bahwa wanita hamil akibat zina dapat dinikahkan kepada laki-laki yang menghamilinya. tapi tidak kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. bagaimana menentukan "pria yang menghamilinya" itu? Di dalam pengelompokkan hukum islam. Dalam hal pembunuhan. ada perbedaan alasan diantara keduanya. menurut kami. Hanya saja. Bagaimana menentukan pembunuh yang harus di qishash itu? Apakah ketiganya harus di qishash? Para ulama maazhab empat sependapat bahwa bila ketiga orang itu terlibat secara langsung. bila si korban terbunuh akibat pemukulan dan yang melakukan pemukulan adalah ketiga orang itu. Umar berkata. a. alas an KHI menurut penulis lebih cenderung kepada masalah tujuan disyariatkannya nikah dan kaitan antara akad nikah yang sah dan kedudukan anak sebagaimana yang kita bicarakan kemudian. yaitu hukuman yang sama dengan tindak kejahatannya. satu kelompok dengan pencurian. ketiganya harus di-qishash karena mereka bersama-sama harus bertanggung jawab atas kematian si korban. Pendapat KHI ini mirip dengan pendapat Abu Yusuf dan Zafar dari maazhab Hanafiyah. ketiganya harus diqishash.atau orang sunda menyebutnya kawin "nutupan kawirang". Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ibnul Khaththab r. bila ia membunuh. " . Yang menjadi masalah dari pendapat ini adalah bila seorang wanita berbuat zina dengan lebih dari satu orang laki-laki. ketika beliau memerintahkan hukuman mati atas tujuh orang yang membunuh seorang anak di san'a (ibu kota Yaman). bila seseorang terbukti telah melakukan pembunuhan dengan sengaja dan di luar kewenangan. yang dilakukannya hanya untuk menutupi malu (karena sudah terlanjur hamil). dan pembunuhan. aku akan menghukum bunuh mereka semua. Artinya. oleh KHI dihukumi tidak sah untuk dilakukan. yang berakibat terlarang pula akad nikah. zina termasuk ke dalam kelompok jinayah (tindak criminal).dengan sembarang laki-laki. Maksudnya. Artinya. umpama tiga orang.

kemudian ia hamil. Dengan demikian. Karenanya. baik yang berpendapat wanita hamil akibat zina itu wajib iddah maupun yang tidak mewajibkan iddah. Meski mereka membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. Umumnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan. mereka konsisten dengan pendapatnya. diantara beragam pendapat mengenai status hukum akad nikah wanita hamil . bahkan Hanabilah mewajibkan bertobat sebelum melangsungkan akad nikah. dapat dikatakan bahwa wanita hamil itu dinikahkan kepada pria yang menghamilinya. KHI dan sebagian ulama Hanafiyah (Abu Yusuf dan Za'far) juga cukup hati-hati dalam masalah ini. Mereka melarang wanita hamil akibat zina melakukan pernikahan. yang paling hati-hati tentunya para ulama dari mazhab Malikiyah dan Hanabilah. padahal salah satu tujuan dari akad nikah adalah untuk menghalalkan persetubuhan. Sementara itu. di mana setelah menyakini bahwa akad nikah wanita hamil akibat zina hukumnya sah. Mereka tidak saja membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. ulama Syafi'iyah dan sebagian ulama Hanafiyah tampaknya kurang hati-hati. dengan pria manapun (di antara tiga pria itu) wanita hamil itu dinikahkan. pendapat para ulama tentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina ini merupakan kelanjutan dari pendapat mereka tentang wajib atau tidaknya iddah bagi wanita hamil akibat zina. bahkan memberikan kesempatan kepada laki-laki mana saja untuk menikahi wanita tersebut. bukan berdasar dalil qath'i. bahkan arti nikah itu sendiri menurut ahli ushul hanafiyah adalah "setubuh". karena dasar yang digunakannya hanya merupakan pemahaman. Artinya. namun mereka membatasi bahwa yang dibolehkan menikahi itu hanya laki-laki yang menghamilinya. tanpa mempertimbangkan siapa di antara ketiga pria itu yang lebih sering menyetubuhinya dan tanpa perlu meneliti sperma siapa yang berhasil membuahi ovum wanita tersebut. keduanya berpendapat bahwa wanita tersebut tidak boleh disetubuhi. bila seorang wanita berzina dengan tiga orang pria. ketiga pria itu dikategorikan sebagai pria yang menghamilinya. pendapat ini masih memungkinkan untuk dibantah. Hal ini. ketiga pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita yang dizinainya. dalam hal zina. sehingga perbedaan pendapat terus berlanjut diantara mereka. Dalam hal kehati-hatian. tidak memberikan peluang kepada laki-laki bukan yang menghamilinya. Akan tetapi. namun sebagian ulama Hanafiyah (Abu Hanafiyah dan Muhammad) kurang konsisten.Dengan mengambil contoh (analogi) pada masalah pembunuhan. tidak layak untuk dilakukan karena orang yang tidak berbuat tidak semestinya dibebani tanggung jawab. menurut kami.

untuk dapat menghubungkan nasab seorang anak kepada ayahnya. baik hubungan darah saja maupun akad perkawinan yang sah saja. dibutuhkan dua syarat: hubungan darah dan akad perkawinan yang sah. Dalam hal pernikahan wanita hamil akibat zina. STATUS HUKUM ANAK YANG DIHAMILKAN SEBELUM AKAD Sebagaimana telah dikemukakan. Karena perkawinannya sah. Bila anak lahir kurang dari enam bulan dari waktu akad atau dari persetubuhan suami istri. Dengan demikian. yaitu pendapat KHI dan sebagian ulama Hanafiyah. juga karena orang yang berbuatlah yang seharusnya dibebani tanggung jawab. 1. tujuan disyariatkannya nikah adalah agar terplihara keturunan nasab. terlebih dahulu kita kembali kepada pendapat para ulamatentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina itu. 2. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (dalam hal dengan lakilaki lain. bila anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan dari waktu akad. untuk dapat menghubungkan nasab anak kepada ayahnya. diantaranya: anak tersebut dilahirkan setelah berlalunya waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah (menurut Hanafiyah) atau enam bulan sejak terjadinya persetubuhan suami istri (menurut mayoritas ulama mazhab).akibat zina ini. anak itu tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami wanita yang melahirkannya itu. terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami ibunya itu kecuali jika si suami itu mengakuinya. Bila hanya terdapat satu syarat. Ulama Hanafiyah berpendapat bawa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. Akan tetapi. kami mengikuti pendapat kedua.Pengertian naasaab aadalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain. sebelum berbicara masalah penentuan nasab. terlebih lagi menikahi wanita hamil akan berkait dengan masalah nasab. Abu Yusuf dan Za'far berpendapat tidak sah). Para ulama mazhab sependapat bahwa dalam hal perkawinan yang sah. sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an surah an-Nahl ayat 72. bila seorang perempuan melahirkan anak. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa kehamilan telah terjadi sebelum terjadinya perkawinan. disamping tidak terdapat dalil qath'I yang melarang menikahi wanita hamil akibat zina. Alasannya. nasab tidak bisa dihubungkan diantara keduanya. anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya. kecuali jika suami mengakui bahwa anak yang dilahirkan itu adalah anaknya dan mengakui pula dirinyalah yang mehamili wanita itu sebelum ia menikahinya. Dari pengertian tersebut. bila .

KHI berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. akad nikah tersebut menjadi tidak sah. Pertama.anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan sejak persetubuhan suami istri. tapi bila laki-laki lain yang bukan menghamilinya. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. anak itu dinasabkan kepada suami dari ibunya. Dengan demikian. tidak ada hubungan nasab antara anak yang dilahirkan dan laki-laki yang menikahi ibunya itu karena hukum akad nikahnya sendiri tidak sah. hubungan nasab antara anak dan ayah hanya ada apabila yang menikahi ibunya itu laki-laki yang menghamilinya.Maksudnya. hal ini didasarkan kepada dua alasan berikut. Hal ini sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 99 tentang kedudukan anak bahwa anak yang sah adalah. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami dari ibunya itu kecuali bila suami mengakuinya. tenggang waktu enam bulan (yang dijadikan dasar oleh para ulama mazhab dalam penentuan hubungan nasab) itu bukan berdasarkan dalil yang qath'i. KHI memahami kedua ayat ini tidak untuk menjadikannya sebagai dasar dalam penentuan nasab. Iddah. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. Menurut penulis. 4. hubungan nasab menjadi tidak ada karena akad nikahnya sendiri hukumnya tidak sah. b. tapi hanya merupakan pemahaman para ulama mazhab terhadap dua ayat dalam AlQur'an. 3. Berbeda dengan pendapat para ulama mazhab. baik Al-Qur'an maupun hadits. Karena itu. yaitu surah al-Ahqaaf ayat 15 dan surah Luqman ayat 14 (lihat "Minimal Masa Kehamilan"subbab"Hamil. tapi hanya merupakan dasar dalam hal penentuan batas minimal masa kehamilan. a. KHI tidak menjadikan tenggang waktu enam bulan sebagai dasar untuk mengkaitkan hubungan nasab seorang anak kepada ayahnya. hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya ada bila yang menikahi wanita hamil itu laki-laki yang menghamilinya. . Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum pernikahan wanita hamil akibat zina adalah tidak sah. tapi bila anak lahir kurang dari enam bulan. dan Istibra'). Pasal 99 point @ menyatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. sedangkan pasal 53 ayat 1 menyatakan bahwa sahnya perkawinan wanita hamil hanya bisa dilakukan dengan pria yang menghamilinya. Dengan demikian.

kaidah fiqih menyatakan. maupun karena KHI membatasi bahwa yang boleh menikahi wanita hamil itu hanya laki-laki yang menghamilinya. Allah SWT menjelaskan bahwa seorang perempuan (dalam hal mengandung anak) membutuhkan waktu minimal enam bulan sejak terbentuknya nutfah sampai ia melahirkan. Dengan demikian. Karenanya. termasuk anak yang ada dalam kandungan wanita itu sah pula menjadi anaknya. sahkah akad nikah wanita hamil itu? KHI berpendapat hukumnya sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. seandainya ia lahir dalam umur enam bulan. yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud bahwa janin yang berada didalam rahim ibu setelah berusia empat bulan dilengkapi dengan roh dan dalam masa dua bulan berikutnya disempurnakan khilqah (bentuk)nya. TT: 81) Termasuk dalam kategori kaidah tersebut adalah: "Pengikut tidak diberi hukum tersendiri. tidak kepada kehamilannya karena anak dalam kandungan tidak diberi hukum tersendiri. kemungkinan terpeliharanya keturunan menjadi kecil untuk bisa dicapai. Dengan demikian. (karena petai halal). namun karena memberikan kesempatan kepada laki-laki bukan yang menghamili untuk menikahi wanita hamil tersebut. Kedua. " (as-Suyuthi. status hukum yang ditetapkan terhadap wanita hamil berlaku pula terhadap anak yang ada dalam kandungannya. wanita hamil itu sah menjadi istrinya. ada kemungkinan wanita yang sudah hamil dua bulan dinikahi oleh laki-laki lain. Meskipun tidak memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. seperti petai. "Pengikut (hukumnya) itu sebagai yang mengikuti. yang lebih memungkinkan untuk bisa dicapai adalah menurut pendapat KHI.terjualnya induk merupakan terjualnya anak kambing tersebut. tapi karena masa kehamilan itu umumnya sembilan bulan. sebab sekalipun diberikan tenggang waktu enam bulan. tatus hukum yang ditetapkan terhadap yang diikuti berlaku pula terhadap yang mengikuti karena pengikut tidak diberi hukum tersendiri. Dalam hal akad nikah wanita hamil akibat zina. kapan saja akad nikah dilangsungkan asalkan sebelum anak dilahirkan. Ket : ISTIBRA' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim KHI singkatan Kompilasi Hukum Islam . Dari beberapa pendapat para ulama sebagaimana yang telah kami kemukakan. Pemahaman ini sejalan dengan hadits Nabi saw.dengan dua ayat tersebut. Adapun pendapat ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi'iyah. walaupun mereka memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. karena status hukum akad nikahnya sah. ulat pun boleh dimakan beserta petai asalkan tidak dipisahkan.Artinya. TT: 81) Misalnya. anak kambing dalam perut tidak boleh dijual dengan sendirinya. sedangkan diantara keduanya tidak ada hubungan darah. ia sudah sempurna walaupun mungkin kurang sehat. status hukum diberikan kepada wanita yang hamil itu. terlihat bahwa dalam masalah terpeliharanya keturunan. akhirnya anaknya dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya itu. Atau juga seperti ulat yang tumbuh dalam buah-buahan. Yang menjadi masalah. " (as-Suyuthi. masalah terpeliharanya keturunan menjadi lebih mungkin untuk bisa dicapai.

Wassalam. LC dari : CyberMQ. Abdul Wahab.com .

As-Sunnah dan hasil Ijtihad Perkawman menurut agama dan penAipat para ulama. melaksanakan ketentuan-ketentuan Perkawinan telah diatur secara jelas oleh hukum perkawinan yang dttun^uk oleh kctentuaa-ketentuan hukum Islam yang daul-dalil yang jelas dan benar dalam digali dan sumber-sumbemya baik dan soal yang kedl sekalipun.Desember2 . No. maka para imam mazhab (Hanafi.PERKAWINAN WANITA HAMIL: Perspektif Empat Imam Mazhab dan Kompilasi Hukum Islam Oleh: H. Wanita hamil. jika seotang wanita yang berbuat zina itu sampai hamil. A. Pendahuluan Alquran. karena terialu bebasnya pcrgaulan antara lald-laJd dan wanita. apakah wanita yang hamil akibat perbuatan zina itu boleh melangsungkan periciwin deogan laidlaki yang menghamilmya atau dengan laki-kki lain ataukah tidak boleh. dan 3 KHI. Imam Mazhflb. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam. Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal) berbeda pendapat. banyak wanita harm] di luar perkawinan. ^athurrabmctn A^hari *) ABSTRAK Milihat dan fakta sekarang. kebolehan kawin hamil mendapat tempat pada Bab ^11 Pasal 53 ayat 1. bagaimana jika sekiranya keharmlan sampai teqadi. tanpa berpikir. Malik. adalah sebuah proses pembentukan Oleh karena itu bagi orang fcehiarga ysng tidak dapat Islam ar^lflh suatu kemestian untuk disflenggarakan di luar ketenman. KHI. Kata Kunci: Perkawinan. Tabufi 6. 2. * ) Peaulis adalab dosec Fakultas Syari'ah IAJN Antasafl mata kuHah Ushul Fitih Jurmm Perbandinean Madzhftb dan Hukum SYARIAH: jur^'Hukun dafi Pemikifwi. 2. orang yang melakukan hubungao seksual di luar perkawinan dihukumkan zina. JuS . Dalam hukum Islam.

Lalu bagaimana dgn lafaz ayat yg zahirnya mengharamkan itu ? Para fuqaha memiliki 3 alasan dalam hal ini. atau perempuan yg musyrik. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. Yaitu seorang yg bernama Mirtsad Al-ghanawi yg menikahi wanita pezina. & orang-orang yg layak dari hamba-hamba sahayamu yg lelaki & hamba-hamba sahayamu yg perempuan.Hukum Menikahi Wanita Pezina Laki-laki yg berzina tdk mengawini melainkan perempuan yg berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yg pezina sekalipun. & yg demikian itu diharamkan atas oran-orang yg mu`min. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dgn kurnia-Nya. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz `hurrima` atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). (Al Qur’an Surat: An-Nur : 32) . maka lbh kpd kasus yg khusus saat ayat itu diturunkan. Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 3) Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama Jumhurul Fuqaha mengatakan bahwa yg dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan utk menikahi wanita yg pernah berzina. & perempuan yg berzina tdk dikawini melainkan oleh laki-laki yg berzina atau lakilaki musyrik. Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dgn ayat lainnya yaitu : Dan kawinkanlah orang-orang yg sedirian diantara kamu.

”Tidak halal bagi seorang muslim yg beriman kpd Allah & hari akhir utk menyiramkan airnya pd tanaman orang lain.`Ceraikan dia`. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.`Istriku ini seorang yg suka berzina`. (Hadis Riwayat: Abu Daud & An-Nasa`i) ‫ص‬ ‫:ق ل‬ ‫ة ت طأ‬ ‫ت‬ ‫ت‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. (Hadis Riwayat: Tabarany & Daruquthuny).`Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yg berzina dgn seorang wanita & berniat utk menikahinya. Pendapat mereka ini dikuatkan dgn hadits berikut : Dari Aisyah ra berkata.`Awalnya perbuatan kotor & akhirnya nikah. ‫ل‬ ‫ئ‬ ‫س‬ ‫هلل‬ ‫ب‬ ‫آلخ‬ ‫س‬ ‫ه‬ ‫ه رع‬ ‫غ‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.”Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan.(Hadis Riwayat: Abu Daud & Tirmizy). `Kalau begitu mut`ahilah dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. Juga dgn hadits berikut ini : Seseorang bertanya kpd Rasulullah SAW. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh AlHakim). Mereka membolehkan seseorang utk menikahiwanita pezina. Lebih detail tentang halalnya menikahi wanita yg pernah melakukan zina sebelumnya. lalu beliau bersabda. simaklah pendapat para ulama berikut ini : . Beliau menjawab. Sesuatu yg haram tdk bisa mengharamkan yg halal`.Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq ra & Umar bin Al-Khattab ra & fuqaha umumnya.

tdk diperlukan perkawinan ulang setelah anak yg dikandung lahir. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan & telah habis masa ‘iddahnya. maka laki-laki itu tdk boleh menggaulinya hingga melahirkan.1. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab karya AlImam An-Nawawi. yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. dibolehkan menikahinya. Pendapat Yang Mengharamkan menikahi wanita pezina. Begitu juga seorang wanita yg pernah berzina dgn laki-laki lain. 2. Paling tdk tercatat ada Aisyah ra. Perkawinan dgn wanita hamil yg disebut pd ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lbh duhulu kelahiran anaknya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43. Seorang wanita hamil di luar nikah. 4. Ali bin Abi Thalib. Undang-undang Perkawinan RIDalam Kompilasi Hukum Islam dgn instruksi presiden RI no. hukumnya boleh. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut : 1. Dengan dilangsungkannya perkawinan pd saat wanita hamil. yg pelaksanaannya diatur sesuai dgn keputusan Menteri Agama RI no. Imam Asy-Syafi’i Adapun Al-Imam Asy-syafi’i. 3. silahkan baca buku : Kompilasi Hukum Islam halaman 92 . Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yg menzinai wanita maka dia diharamkan utk menikahinya. Al-Barra` & Ibnu Mas`ud. memang ada juga pendapat yg mengharamkan total utk menikahi wanita yg pernah berzina. 2.Bahkan Ali bin abi .Meski demkikian. jus XVI halaman 253. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi. dpat dikawinkan dgn pria yg menghamilinya. maka dia masih boleh menikah dgn siapa pun. 5. maka dia diharamkan utk dinikahi oleh laki-laki yg baik (bukan pezina). Jika belum bertobat dari dosa zina. pendapat beliau adl bahwa baik lakilaki yg menghamili atau pun yg tdk menghamili. Imam Abu Hanifah. Sedangkan kalau yg menikahinya itu bukan laki-laki yg menghamilinya.Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yg menikahi wanita hamil itu adl laki-laki yg menghamilinya. Untuk lbh jelasnya. 3. Imam Malik & Imam Ahmad bin HanbalImam Malik & Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yg tdk menghamili tdk boleh mengawini wanita yg hamil.

Lc . maka nikahnya tdk syah. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda.`Tidak akan masuk surga suami yg dayyuts`. maka nikahnya syah secara syar`i. Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yg pertengahan adl pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina.Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya & bertaubat. maka tdk ada larangan utk menikahinya. Kalaupun mereka menikah. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Nampaknya pendapat ini agak menengah & sesuai dgn asas prikemanusiaan. yaitu orang yg tdk punya rasa cemburu bila istrinya serong & tetap menjadikannya sbg istri. Karena seseorang yg sudah bertaubat berhak utk bisa hidup normal & mendapatkan pasangan yg baik. Dan bila mereka menikah. (Hadis Riwayat: Abu Daud) 6. Begitu juga bila yg berzina adl pihak suami. Selain itu mereka juga berdalil dgn hadits dayyuts. Beliau mengharamkan seseorang menikah dgn wanita yg masih suka berzina & belum bertaubat. Tentu saja dalil mereka adl zahir ayat yg kami sebutkan di atas (aN-Nur : 3). Ahmad Sarwat. Oleh: H.

Manakah yang Kita Pakai? Muslim category “Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Fatwa yang dikeluarkan di suatu tempat oleh para ulama biasanya memang disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. Namun sangat mungkin untuk disesuaikan dengan keadaan lokal serta bersifat situasional.blog. Terutama untuk masalah yang juga masih ada perselisihan di antara para ulama dalam hukumnya. Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan yang wanita muslimah. antisipasi dan mirip dengan apa yang tetap untuk kondisi sosial Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan beda agama. Pastilah sebelumnya sudah dibahas latar dampak-dampak yang akan terjadi. sebelumnya pasti sudah dibahas tentang efektifitas dan dampaknya oleh para ulama.id > Muslim > Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Manakah yang Kita Pakai?” ketegori Muslim. dikeluarkan begitu saja. manakah hukum yang harus kita pakai jika fatwa jumhur ulama bertentangan dengan lembaga resmi? Contohnya setahu saya fatwa MUI melarang pernikahan beda agama sementara menurut Pak Ustadz bahwa jumhur ulama membolehkannya? Sebelumnya mohon maaf jika seolah2 mengkonfrontir antara Pak Ustadz dengan lembaga MUI. Manakah yang Kita Pakai? Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. tentu saja setelah dilihat manfaat dan madharatnya. Salah satunya ketika Khalifah Umar ra. akan menghasilkan hal yang sedahsyat di negeri sana. Misalnya fatwa boikot pruduk tertentu yang dikeluarkan oleh banyak ulama di Timur Tengah. hukumnya haram. ada juga pendapat lain yang berbeda. Di luar jumhur ulama. melihat ada semacam kecenderungan para shahabat untuk „berlomba‟ menikahi wanita ahli kitab. WAssalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Dian Dwideana Jawaban Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. namun fatwa itu bisa agak sedikit lebih agama di negeri kita. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pak Ustadz. Sehingga begitu fatwa itu dikeluarkan.re. Sehingga meski tidak terlalu dipegang oleh jumhur ulama.or. tentu saja tidak sekedar belakang. sehingga muncul . Adapun masalah larangan nikah beda agama yang dikeluarkan MUI. asalkan yang laki-laki muslim dan yang perempuan wanita ahli kitab . Namun belum tentu bila MUI di Indonesia mengeluarkan fatwa yang sama. efeknya memang terasa. Sifatnya tidak selalu harus bersifat universal dan baku.

Sebab meski laki-laki muslim menikahi wanita Kristen. Grafik laju pertumbuhan penduduk muslimin di sana mengalami laju yang tak terbendung. Jerman. tapi akhirnya anak-anak mereka menjadi non muslim. Kirakira hal itulah yang bisa kita rasakan dari fatwa MUI yang mengharamkan nikah beda agama. Salah satu metode pemurtadan yang paling efektif ternyata lewat pernikahan beda agama. justru orang-orang yang sudah muslim malah jadi murtad. ternyata beragama Islam. Inggris telah masuk ke pola trend kehidupan untuk menikah dengan pria muslim asal Timur Tengah. Salah satu faktornya sudah bisa Anda duga. Meski dengan latar belakang yang sedikit berbeda. Data kependudukan membuktikan bahwa banyak sekali wanita Eropa yang menikah dengan pria muslim. melihat gelagat yang kurang baik di dalam tubuh umat Islam dengan adanya pernikahan yang hukum asalnya halal itu. tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam. Di sisi lain banyak sekali orang yang sekarang beragama Kristen. Sampai-sampai para penguasa barat cemas melihat kenyataan ini. sekedar untuk bisa tetap mempertahankan istrinya yang kafir itu. Lalu anak-anak mereka memenuhi Islamic Center yang juga tumbuh menjamur di sana. Ini suatu bukti bahwa nikah beda agama di Indonesia justru kontra produktif. memakai jilbab dan membangun rumah tangga Islami. Fatwa Itu Tidak Berlaku di Eropa Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi di Eropa. Maka wajar bila MUI merasa bertanggung-jawab untuk menahan laju grafik kemurtadan ini dengan melarang pernikahan beda agama secara keseluruhannya. Tentu saja khalifah bukan mau melawan ayat Al-Quran yang secara tegas membolehkan lakilaki muslim menikahi wanita ahli kitab. Sehingga beliau pernah berkirim surat kepada salah satu bawahannya yang isinya perintah untuk menceraikan istrinya yang wanita ahli kitab. namun ketika diurutkan ke silsilah orang tua dan kakek neneknya. Angka grafik pertumbuhan penduduk yang beragama Kristen terus naik. Bahkan boleh dibilang menjadi semacam ledakan jumlah penduduk yang muslim.yaitu karena adanya pernikahan campur antar agama.dampak fitnah di tengah wanita muslimah. kenyataannya yang kalah justru yang laki-laki. . Bukannya berhasil meng-Islamkan orang kafir. Namun saat itu beliau ra. Di mana banyak pemuda dan pemudi muslim yang menikah dengan pasangan beda agama. Mengapa Diharamkan? Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia menjadi sasaran kristenisasi sejak masa penjajahan Belanda. Trend yang terjadi di Eropa ini juga mulai menular ke benua lain seperti Amerika dan Australia. Di kedua peradaban barat itu kini sudah tidak asing lagi kita temukan wanita bule yang memakai jilbab dan bersuamikan laki-laki muslim yang sukses dalam kehidupannya. sehingga dengan mudah dia menjual iman dan agamanya. Bahkan para wanita Perancis.

Di sini kita harus sedikit cerdas dalam menilai dan menganalisa situasi sosial masyarakat. Manakah yang Kita Pakai? : http://assunnah.id     Business Blogs What is wordpress Blogs Wordpress ulama yang melarang pernikahan agama contoh fatwa mui tentang kawin hamil masalah anak pernikahan beda agama di indonesia nikah beda agama mui FATWAH MUI WANITA BEPERGIAN contoh perkawinan beda agama menurut MUI kehidupan wanita muslim di timur tengah hukum muslim menikah dengan kristen para ulama barat tentang nikah internet Tag Cloud  Business Blogs  Messenger Bags  Make money blogging What is wordpress  . Sebab nikah beda agama di Eropa identik dengan proses Islamisasi yang luar biasa dahsyat. Lc.Maka alangkah tidak bijaksana bila para ulama di Eropa mengeluarkan fatwa model MUI di negeri kita. Ahmad Sarwat.or. Sebaliknya. Sumber Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Wallahu a‟lam wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. nikah beda agama di Indonesia identik dengan pemurtadan.

ketika saya mencoba membaca artikel eramuslim semua artikel yang berkaitan dengan perihal zina dirasa belum memberikan jawaban yang mendalam. karena permasalahan yang berbeda. tidak ketinggalan pula bahwa saya pun termasuk orang yang pernah melakukan kemaksiatan itu pula 20 tahun yang lalu. Mohon penjelasan dari segi Al-Qur'an. agar hati ini lebih tenang dan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kami dan kepada Bapak Ustadz Ahmad Sarwat. Lc. Kami telah melakukan zina dan telah dinikahkan 20 tahun yang lalu. inilah ribed-nya langkah nafsu yang salah dan dosa. Bagaimana dengan anak saya selanjutnya (anak kedua dst). atau harus nikah lagi? 3. Hadist Rasul dan Qaul Ulama. 2. Apakah pernikahan kami dapat di-analog-kan dengan larangan menikahi wanita (janda hamil. isteri saya sekarang ketika dinikahkan (20 thn lalu) dalam keadaan hamil di luar nikah. Apakah pernikahan saya dapat diridhai Allah atau masih termasuk zina selama ini karena waktu nikah isteri dalam keadaan hamil di luar nikah. diucapkan dihaturkan terima kasih. sehubungan dengan hal tersebut mohon penjelasan sebagai berikut: 1. hasil hubungan sah karena kalimat Allah). MM Bekasi Jawab: .Status Pernikahan karena Perzinahan Seiring dengan maraknya kemaksiatan di setiap penjuru negara ini. dan tentang perwalian dalam nikah (terutama yang wanita) apabila anak ini mau menikah kelak.

yaitu: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. Memang ada sebuah ayat yang sepertinya bisa dianggap sebagai pengharaman. Jadi anda tidak perlu pusing memikirkan siapa wali anak anda sendiri. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Nikahnya syah dan dibenarkan dalam syariat Islam. Bismillah. Wb. karena secara syah anak itu adalah anak anda. Yang menjadi masalah adalah bila pasangan ini tidak pernah menikah dengan syah setelah perzinaan itu. bila lakilaki dan wanita yang pernah berzina dan melahirkan anak. atau perempuan yang musyrik. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah. 2.Assalamu 'alaikum Wr. Maka nasabnya tidak bisa dikembalikan kepada ayah kandungnya secara syar'i. Jumhur ulama mengatakan bahwa menikahi wanita yang sedang hamil karena dihamilii oleh yang bersangkutan tidaklah haram. Para ulama menyebutkan bahwa dalam kasus zina yang menghasilkan anak. 1. (QS An-Nur: 3) Namun Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Waba'du. dan yang demikian itu 'diharamkan' atas oran-orang yang mu'min. Walinya adalah anda sendiri sebagai ayah yang syah. maka nasab anak ini akan kembali kepada ayah kandungnya bila pasangan ini kemudian menikah dengan benar dan syah secara syariah. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu? .

mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. "Tapi aku takut memberatkan diriku. Selain mayoritas ulama salaf. "Ceraikan dia"." "Kalau begitu pertahankanlah perkawinanmu. (QS An-Nur: 32). Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya. Kedua. (HR Tabarany dan Daruquthuny). kalau memang diharamkan. bahwa berlakunya ayat itu telah dibatalkan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu. "Istriku ini seorang yang suka berzina". maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal". ternyata pendapat ini juga merupakan pendapat Khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan juga pendapat fuqaha umumnya.Mereka memiliki tiga alasan dalam hal ini." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i) . Pertama. Juga dengan hadits berikut ini: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. Ketiga. "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Beliau menjawab. lalu beliau bersabda. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. Pendapat mereka ini juga dikuatkan dengan hadits berikut: Dari Aisyah ra berkata. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pernah berzina.

Kalaupun mereka menikah. yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri. Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts. Paling tidak tercatat ada Aisyah ra.Pendapat Yang Mengharamkan Meski demikian. Wb. maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda. AlBarra' dan Ibnu Mas'ud. "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts. Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat. Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr. Bahkan Ali bin abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. Ali bin Abi Thalib. Tentu saja dalil mereka adalah pengertian zahir ayat yang kamisebutkan di atas (An-Nur: 3). Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain. Dan bila mereka menikah. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Lc eramuslim . maka wajiblah pasangan itu diceraikan. memang ada juga pendapat yang mengharamkan seseorang menikahi wanita yang pernah berzina. maka nikahnya syah secara syar'i." (HR Abu Daud) Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Ahmad Sarwat. maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina). maka nikahnya tidak syah.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah. amma ba?du. Bila seorang laki-laki menghamili wanita.5 Bila terjadi kehamilan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. sehingga saya cukupkan dengan artikel tersebut karena apa yang saya inginkan sudah terwakili olehnya. . keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat. Artinya ?Laki-laki yang berzina tidak mengawini. maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan. bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya. dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib. As-Sunnah dan Salafush Shaleh.6 Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini. anak itu tidak memiliki bapak. maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. ?Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat :*1 Pertama. ilmiyyah dan berbobot. Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. dengan arti. maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain. Menikahi Wanita Hamil Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman. namun alhamdulillah ternyata sudah ada artikel yang cukup bagus. kecuali perempuan yang berzina. Pada bagian terakhir saya (Abdullah Saleh Hadrami) akan menyertakan bantahan terhadap syubhat yang ada dalam masalah ini. padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkannya. Artikel dibawah ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini menurut Al-Qur?an. melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu.4 Bila seseorang telah mengetahui. bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya.?3 Syaikh Al-Utsaimin berkata.*2 Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina. nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !! Status Nikahnya : Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan. maka hubungan itu adalah perzinahan.Menikahi Wanita Hamil Published by Abdullah Hadrami [abdullah] on 2007/11/6 (10558 reads) Segala puji hanya bagi Allah. atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini. diharamkan atas orang-orang yang mu?min. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan tentang masalah ini agar menjadi jelas dan gamblang.

?Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil. dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. sampai dia beristibra? dengan satu kali haid. baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram. ?Tidak boleh menikahinya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandungannya. ?Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Di . sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi.*12 Mungkin sebagian orang mengatakan.*8 Namun. Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah. tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi. dan bila ternyata hamil. berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain. bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. Malikiy. ?Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?? 7 Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hambaNya sebagai sekutu.*10 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Artinya.? 13 Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan. meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. najis dan suci. bila sudah bertaubat. dalam arti dia itu tidak memiliki bapak. Juga sabdanya Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya. Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki. maka pernikahannya itu tidak sah. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh .*9 Ke dua : Dia harus beristibra? (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl. bila tidak hamil. sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil. maka halal menikahinya. karena perbedaan dua air (mani). Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. kecuali setelah dia melahirkan kandungannya. Pengakuan ini tidak dianggap. maka sampai melahir-kan kandungannya. ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl. maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil.*11 Di dalam hadits di atas.Artinya.?*14 Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra? terlebih dahulu. maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya. berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik. padahal budak itu sudah menjadi miliknya.

berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam : Artinya ?Anak itu bagi pemilik firasy. ?Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam. berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan .17 Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. ?Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya. atau dinikahi sewaktu hamil. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya ?Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan). maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama. yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina. baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah.19 Ibnu Abdil Barr berkata. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja. kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir.dalam hal ini. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. beliau berkata. sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya. ?Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah). sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami.? 16 Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? 18 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina. maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ? Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah. maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya. 20 Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka : Anak itu tidak berbapak. karena dia itu tidak memiliki wali. lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak. Artinya ?Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?21 Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra? dengan satu kali haidh. sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah.22 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa.*15 Jadi anak itu tidak berbapak. maka walinya adalah wali hakim.

Artinya: 'alimus Sunan 3/75-76. (8)Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246. Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy. sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya. (Abu Sulaiman).( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851. Abu Dawud. (14)Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72.id/index. (23)Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104.php?pilih=lihatannur&id=153 Syubhat dan Bantahannya Oleh: Abdullah Saleh Hadrami Sebagian Ustadz menfatwakan bolehnya menikahi wanita hamil asalkan lelaki tersebut adalah yang menghamilinya dan mereka menisbahkan fatwa ini kepada Salafush Shaleh sebagaimana dibawah ini: . (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya). (9)Ibid 3/247.or. dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim.23 Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al Fatawa Al Jami'ah Lil Mar'ah Al Muslimah 2/5584. Asy Syarhul Kabir 3/412. (13)Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128. lihat. (2)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. (17)Taud-lihul Ahkam 5/103.) (12)Abu Dawud. Kitab Nikah. (16)Al-Bukhari dan Muslim. Ahmad Muwafii 2/583. (11)Lihat Mukhtashar Ma'alimis Sunan 3/74. (22)Al-Mughniy 6/455. http://www. (6)Ibid 33/245. (4)Fatawa Islamiyyah 3/246. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalanjalannya menjadi kuat dan shahih. (20)At Tamhid 6/183 dari At Taisir. (21)Hadits hasan Riwayat Asy Syafi'iy. (3)An Nur : 3. Ahmad Muwafii 2/584.kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui. Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak). (19)Al Mabsuth 17/154. Majmu Al Fatawa 32/110. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828. (5)Ibid. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. Fatawa Islamiyyah 3/247. (10)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. (15)Al Mabsuth 17/154. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. (7)Asy Syruraa : 21. dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan. Ahmad. dan Ar Raudlah 6/44. Al Kharsyi 6/101. Al Qawanin hal : 338.alsofwah. (18)Al Bukhari dan Muslim. Endnote : (1)Minhajul Muslim. meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan RasulNya.

Yang ada adalah.or. saat itu beliau (penulis) mengatakan akan melihat lagi. Wallaahul Musta?aan. maka tidak ada khilaf tentang bolehnya. yaitu kitab-kitab aslinya yang berbahasa Arab.Hatibening.hatibening. Jadi. BERBAHAYA. As-Sunnah dan Salafush Shaleh. karena menyalahi Al-Qur?an. seorang laki-laki berzina dengan perempuan. amien.id/content/2253/slash/0 Setelah saya meruju? kepada kitab-kitab yang telah disebutkan. Fatwa yang membolehkan menikahi wanita hamil asalkan yang menikahi adalah lelaki yang telah menghamilinya dan menisbahkan anak yang lahir dari kehamilan tersebut kepada si lelaki yang menghamili adalah FATWA BATIL DAN BERBAHAYA. pendapat tersebut adalah murni pendapat penulis sendiri dan tidak benar kalau dinisbahkan kepada Salafush Shaleh ?Rahimahumullah.http://www. lalu keduanya bertaubat dan melangsungkan pernikahan. Kalau ini. www. sama sekali tidak ada kata-kata hamil. Semoga Allah selamatkan diri kita dan keluarga kita serta kaum muslimin semuanya dari segala hal yang mendatangkan murka Allah Ta?aala.com (c) Hak cipta 2008 .com 0 Comment(s) .almanhaj. ternyata saya mendapatkan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis terdapat kata-kata hamil. Alhamdulillah. BATIL. saya sempat bertemu dengan penulis ketika Daurah di Wisma Erni Lawang dan sempat membicarakan masalah ini dengan beliau. karena berdampak semakin maraknya perzinaan dan anak-anak yang lahir dari hasil perzinaan disebabkan mereka merasa tenang dan aman karena telah mendapat kemudahan dan dukungan dari fatwa-fatwa tersebut.