Perkawinan Wanita Hamil Di Luar Nikah Perkawinan menurut Islam adalah sebuah proses pembentukan keluarga yang tidak

dapat diselenggarakan diluar ketentuan. Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam yang digali dari sumber-sumbernya baik dari Al Qur‟an, As Sunnah dan hasil Ijtihad atau pendapat para ulama‟. Oleh karena itu bagi orang Islam suatu kemestian untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan yang dituntun oleh dalil-dalil yang jelas dan benar dalam soal kecil sekalipun. Bagi seorang gadis tentu dia tidak pernah hamil, karena belum pernah kawin, yang menjadi persoalan adalah ternyata dia hamil, maka dapat dipastikan bahwa kehamilannya itu adalah hasil hubungan seksual diluar perkawinan dihukumkan zina, jika wanita yang berbuat zina itu hamil, maka para imam mazhab fiqh berbeda pendapat, apakah wanita yang hamil itu boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Tetapi ada pula pendapat imam madzab yang tidak membolehkan wanita yang hamil itu melangsungkan perkawinanya. Jika kawin hamil dilangsungkan, maka timbul persoalan lain, yaitu tentang status anak yang dikandung oleh wanita tersebut, apakah status nasab dihubungkan kepada ibunya atau kepada orang yang mengawini. Berdasarkan persoalanpersoalan tersebut, penulis mencoba mengungkapkan pendapat-pendapat para imam mazhab tentang perkawinan wanita hamil. l Menurut Imam Mazhab Istilah perkawinan wanita hamil adalah perkawinan seorang wanita yang sedang hamil dengan laki-laki sedangkan dia tidak dalam status nikah atau masa iddah karena perkawinan yang sah dengan laki-laki yang mengakibatkan kehamilannya. Mengenai ketentuan-ketentuan hukum perkawinan wanita hamil dalam pendapat para imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i dan Ahmad bin Hanbal), mereka berbeda pendapat, pada umumnya dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu : a. Imam Hanafi dan Imam Syafi‟i Beliau mengatakan bahwa wanita hamil akibat zina boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Menurut Imam Hanafi :” Wanita hamil karena zina itu tidak ada iddahnya, bahkan boleh mengawininya, tetapi tidak boleh melakukan hubungan seks hingga dia melahirkan kandungannya”. Menurut Imam Syafi‟i :” Hubungan seks karena zina itu tidak ada iddahnya, wanita yang hamil karena zina itu boleh dikawini, dan boleh melakukan hubungan seks sekalipun dalam keadaan hamil. Menurut mereka wanita zina itu tidak dikenakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan sebagaimana yang ditetapkan dalam nikah. Karena iddah itu hanya ditentukan untuk menghargai sperma yang ada dalam kandungan istri dalam perkawinan yang sah. Sperma dari hubungan seks diluar nikah tidak ditetapkan oleh hukum. Dasar yang mereka gunakan adalah Al Qur‟an Surat An Nur ayat 3, yaitu : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

Menurut Imam Hanafi meskipun perkawinan wanita hamil dapat dilangsungkan dengan laki-laki, tetapi dia tidak boleh disetubuhi, sehingga bayi yang dalam kandungan itu lahir. Menurut Imam Syafi‟i, perkawinan wanita hamil itu dapat dilangsungkan, dapat pula dilakukan persetubuhan dengannya. Memperhatikan pendapat Imam Syafi‟i, maka seorang wanita hamil karena hasil melakukan hubungan seks diluar nikah jika dia melangsungkan perkawinan dengan seorang laki-laki maka kehamilannya itu tidak mempengaruhi dalam perkawinannya. b. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal Menurut Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sama halnya dengan yang dikawini dalam bentuk zina atau syubhat atau kawin pasid, maka dia harus mensucikan diri dalam waktu yang sama dengan iddah. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengemukakan alasan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. ”Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat menyiramkan airnya (sperma) kepada tanaman orang lain, yakni wanitawanita tawanan yang hamil, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mengumpuli wanita tawanan perang sampai menghabiskan istibra‟nya(iddah) satu kali haid” ( Hr.Imam Bukhari) Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mengambil kesimpulan dari kedua hadits tersebut, bahwa wanita hamil tidak boleh dikawini, karena dia perlu iddah. Mereka memberlakukan secara umum, termasuk wanita hamil dari perkawinan yang sah, juga wanita hamil dari akibat perbuatan zina. Adapun penentuan larangan perkawinan wanita hamil tersebut berawal dari pendapat mereka yaitu, wanita hamil karena zina tetap memiliki iddah, maka wanita hamil tidak boleh melangsungkan perkawinan sampai dia melahirkan kandungannya. Dengan demikian wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, wanita hamil karena zina harus bertaubat, baru dapat melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang mengawininya. Dengan hadits tersebut, mereka berkesimpulan bahwa wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan, karena dia perlu beriddah sampai melahirkan kandungannya. Pendapat mereka ini dapat dimengerti agar menghindari adanya pencampuran keturunan, yaitu keturunan yang punya bibit dan keturunan yang mengawini ibunya. Oleh karena itu Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal memberlakukan iddah secara umum terhadap wanita hamil, apakah hamilnya itu karena perkawinan yang sah, ataukah kehamilannya itu akibat dari hubungan seksual diluar nikah. Dengan demikian, perkawinan wanita hamil dilarang. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Status perkawinan wanita hamil dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan pada Bab VIII Pasal 53 ayat 1, 2 dan 3 yaitu : 1) Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria menghamilinya; 2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebutkan pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. 3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Pasal 53 ayat 2 KHI menyatakan bahwa perkawinan wanita hamil itu benar-benar

dilangsungkan ketika wanita itu dalam keadaan hamil. Sedangkan kelahiran bayi yang dalam kandungannya tidak perlu ditunggu. Dalam KHI perkawinan wanita hamil akibat perbuatan zina tidak mengenal iddah. Namun perkawinan wanita hamil seperti pasal 53 ayat 1, hanya boleh dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya. Untuk mengetahui siapakah laki-laki yang menghamili wanita itu sangat sulit, apalagi dihubungkan dengan pembuktian menurut hukum Islam harus disaksikan oleh empat orang saksi. Pembuktian itu semakin sulit apabila adanya usaha secara sengaja menutup-nutupi, atau orang yang pernah menzinahi beberapa orang. Pasal 53 ayat 1 dan 2 tersebut semacam ada sikap yang tidak konsisten. Dikatakan demikian, karena apabila berpedoman kepada Pasal 53 ayat 2 KHI, tersebut ternyata hanya berpedoman kepada formalitasnya saja, yaitu karena wanita hamil tersebut belum pernah menikah, maka kemudian ketentuan yang berlaku baginya adalah hak kegadisan, walaupun kenyataanya wanita itu telah hamil. Kemudian pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa, dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan lagi perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Adanya ketentuan bahwa perkawinan tersebut tidak perlu diulangi lagi, maka menjadi isyarat bahwa perkawinan terdahulu telah dinyatakan sah. Wallahu a'lam. Diposkan oleh Imam Basori, M.Ag di 22:34

Islam membolehkan laki-laki dan perempuan yang berzina untuk menikah atau dinikahkan dan tanpa menunggu iddah jika siperempuannya hamil.a memukul laki-laki dan perempuan yang berzina. Ketiga. Zina adalah perbuatan dosa besar yang sangat dicela Allah swt. Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah itu nasabnya kepada ibunya bukan kepada laki-laki penzina. Ishaq dan Abu ‘Ubaid membolehkan kedua orang yang berzina menikah. Jika si suami menolak. Imam Malik dan Imam Syafii tidak mensyaratkannya. Karena nasab itu hanya terlahir dari hubungan yang sah (pernikahan) sebagaimana hadits Rasulullah saw.pihak keuarga hendak menikahkan mereka.wb. Ibnu Abbas. (Q. dan Umar r. . Sedangkan laki-laki penzina tdak bertangung jawab. Ibnu Mas’ud.wb. maka ibu dan atau kerabatnya yang memebri nafah kepada anak tersebut. saudara saya perempuan hamil diluar nikah oleh pacarnya. seharusnya si suami tersebut bertanggung jawab teradap nafkah anak tersebut.sekarang sudah hamil 8 bulan.Assalamu’alaikum wr. 32) Kedua. maka nafkah anak menjadi tanggung jawab istri dan atau kerabatnya.S Isra . Sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.wb Assalamu alaikum wr. dengan syarat kedua orang yang berzina tersebut itu bertaubat . Sebagian yang lain seperti Abu Hanifah.” Karena nasab anak (hasil) zina tersebut kepada ibunya. diantaranya “Janganlan kamu sekalian mendekati zina”. Yang artinya: Di riwayatkan. menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. dan penzinanya itu di hukum. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah.bagaimana hukumnya dan solusinya bagaimana mohan penjelasan. Sebagian Ulama seperti Qatadah. Pertama. sebagaimana pendapat Umar. sebagaimana ditegaskan ayat-ayat al Qur’an. Yang artinya: Ibnu Abbas Mengatakan : “Permulaannya Zina dan diakhiri dengan nikah”. Yang artinya: “Anak (yang sah) itu adalah hasil di kasur (hubungan suami isteri). Tetapi karena alasan kemanusiaan. “Sahabat Umar r.a berketetapan untuk menikahkannya”. wassalamu’alaikum wr.

Ajak saudara Anda untuk bertaubat dan menyadari kesalahan dan bekomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya. 3. sekaligus ia dan kerabatnya memiliki tangung jawab menafkahi anak tersebut jika si bapak menolak menfkahinya. Setelah bertaubat. 2. Home . maka di sarankan kepada penanya beberapa hal : 1. Semoga Allah membimbing bapak dan keluarga. 4. pendidikan dan pembinaan supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Aminn Wallau a’lam bi ash sowab Wassalamu alaikum wr.wb. atas dasar beberapa tuntunan fikih islam di atas. nikahkan keduanya (yang berzina) tanpa menunggu iddah (jika hamil dan belum melahirkan). Nasab janin tersebut kepada ibunya. Anak yang terlahir adalah amanah. ia harus mendapatkan riayah. layaknya anak-anak lain yang lahir dari hubungan yang sah.Keempat.

(Lihat : Al-Mughny 11/227. (QS. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Bila sudah terlanjur menikah. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala : “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya”. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Jawab : Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1.Hukum Nikah Dalam Keadaan Hamil Posted by Admin pada 27/06/2009 1. AlMuhalla 10/263 dan Zadul Ma‟ad 5/156. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya.) Adapun perempuan hamil karena zina. Takmilah Al-Majmu‟ 17/347-348. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. Ath-Tholaq : 4). tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah nya. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Kemudian beliau berkata : “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah”. masalah ini kami uraikan sebagai berikut : . (QS. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya”. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini Wal „iyadzu billah. Al-Baqarah : 235).

riwayat Abu Daud no. Al-Baihaqy 7/153. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum . Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Inilah yang benar tanpa keraguan”. 2051. An-Nur : 3). Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. (Hadits hasan. Ishaq dan Abu „Ubaid. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. (QS. Al-Hakim 2/180. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau lakilaki musyrik. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). Saya nikahi „Anaq ?”. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. Dua : Tidak disyaratkan taubat. Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. beliau berkata : “Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : “Jangan kamu nikahi dia”. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin”. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. At-Tirmidzy no. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah „Azza Wa Jalla : “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. 3177. maka turunlah (ayat) : “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”. (Martsad) berkata : “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wassallam lalu saya berkata : “Ya Rasulullah.Martsad berkata : “Maka beliau diam. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama : Satu : Disyaratkan bertaubat. Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista.

Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?”. (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho‟ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. . beliau berkata : “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahariterbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Yaitu dengan lima syarat : 1. Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. AlMughny 9/562-563 (cet. Ber‟azam (bertekad) dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. Wallahu A‟lam.haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya”. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. 3. 4. Menyesali perbuatannya. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84. Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. Meninggalkan dosa tersebut. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa AlBayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma‟ad 5/114-115. Dar „Alamil Kutub). dan Al-Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Ikhlash karena Allah. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. 5. 2. Catatan : Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik.

Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali”. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. At-Tirmidzi no. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. AtsTsaury. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Ibnu Qoni‟ dalam . Al-Baihaqy 7/449.87.Syarat Kedua : Telah lepas „iddah. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini : 1. Abu Daud no. (HR. 2157. Ahmad 3/62. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. 7/449. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh nber-jima‟ dengannya setelah akad. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain”. 1131. Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212. (HR. Imam Malik. AlBaihaqy 5/329. beliau bersabda : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. 187). 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. ada dua pendapat : Pertama : Wajib „iddah. An-Nakha‟iy. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. 2. Kedua : Tidak wajib „iddah. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. 2158. Abu Daud no. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. tapi ada perbedaannantara mereka berdua pada satu hal. Ahmad 4/108.

). Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Wallahu A‟lam. Asy-Syinqithy. Beliau bersabda : “Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?”.Mu‟jam Ash-Shohabah 1/217.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Ibnu Sa‟ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan „iddah bagi perempuan yang berzina.) atau karena zina”. tuannya (kalau ia seorang budakpent. Ibnul Qayyim. Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. 2137). apakah hamilnya itu karena suaminya. Ath-Tholaq : 4). . Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. (QS. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid)”. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). (QS. Ath-Thobarany 5/no. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya”. 3. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza Wa Jalla : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Al-Baqarah : 228). Dan „ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. (Para sahabat) menjawab : “Benar”. Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan.

Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa „iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Wal „Ilmu „Indallah. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para „ulama. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. „iddahnya adalah sampai melahirkan. 154-155. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut : • Kalau ia hamil. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). Takmilah Al-Majmu‟ 17/348-349. Zadul Ma‟ad 5/104-105. baik hamil karena pernikahan sah. syubhat atau karena zina. Bidayatul Mujtahid 2/40.Kesimpulan Pembahasan : 1. Kalau ada yang bertanya : “Setelah keduanya berpisah. 847-850. 2. 2. Al-Ifshoh 8/81-84. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Raudhah Ath-Tholibin 8/375. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Al-Fatawa 32/109-134. apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?”. • Kalau ia belum hamil. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa „iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. . Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat : “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya”. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. 11/196-197. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. Wallahu Ta‟ala A‟lam. Al-Inshof 8/132-133. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik.

Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah 6/88.166. At-Tirmidzi no. Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. Al-Baihaqy 7/105. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 1463.4750. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya.1840). Ad-Darimy 2/185. (HR. dan dalam Al-Umm 5/13.dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali”. An-Nisa` : 4). Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. nikahnya batil. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : . 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 10/148. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi.698.165. 315. 700. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Sa‟id bin Manshur dalam sunannya 1/175.124. Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya. Abu Daud no.138. 7/284. Ath-Thohawy dalam Syarah Ma‟any Al-Atsar 3/7. Ahmad 6/47. 1102. Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. AlHumaidy dalam Musnadnya 1/112. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya.222. Ad-Daruquthny 3/221. Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 7/171. Demikian rincian Ibnu Qudamah. maka kembali diwajibkan mahar atasnyaberdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala : “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan” (QS.66. Ibnu Abi Syaibah 3/454. Adapun mahar. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. maka nikahnya batil. 4074. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. Abu Ya‟la dalam Musnadnya no.4837. 4682. 2083. 1879. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. Al-Hakim 2/182-183. Ibnu Majah no. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut. nikahnya batil. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.3.275. „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195.

Namun masalah yang timbul adalah bolehkah wanita tersebut dinikahi ketika ia dalam kondisi hamil? Lalu apa akibat selanjutnya dari perbuatan zina semacam ini. Hanya Allah yang beri taufik.” (QS. yang sulit terelakkan lagi adalah perzinaan. Semoga artikel sederhana berikut ini bisa memberikan pencerahan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran. Rabu. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494. Wallahu A‟lam. Al-Fatawa 32/198. Bahaya Zina Allahh Ta‟ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Lihat : Al-Mughny 10/186-188. Si wanita dengan menahan malu telah memiliki isi dalam perutnya.php?id=1332. Hal ini sudah dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat kita.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. AllahTa‟ala berfirman. َ ‫َ م ّللا ل ِ ْ َ َ ل ْ ُ َ َ ْ َ ل‬ ْ َّ ُ َْ ‫َ َل‬ ْ ‫ل‬ ْ ‫والَّذٌِنَاا َاا ٌَدعُونَاامعَاا َّااإِلَهااآَخرَااو َااٌقتلُونَااالنفسَااالَّتًِاحرَّ اا َّا ُاإِ َّاابالحقِّااو َ اا ٌَزنونَااومنْاا ٌَفع ااذلِكَاا‬ ِ‫َ ّللا‬ َ َ ََ‫ٌَ ْلقَااأث‬ ‫اما‬ . sebelum mendapat label sah sebagai pasangan suami istri. Dan suatu jalan yang buruk. Fenomena yang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini.“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban”.(QS.200 dan Zadul Ma‟ad 5/104-105.id/stories. Allah Ta‟ala berfirman. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Sumbr: Tulisan Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi. ‫ِّ ه َ َ ِ َ ة َ َ ء َ ٌِل‬ ‫و َااتقربُوااالز َنااإ َِّن ااكانَاافاحش ااوسا ااسب ا‬ ُ َ َ َْ ‫َل‬ “Dan janganlah kamu mendekati zina. dimuat dalam Risalah Ilmiyah An-Nashihah vol ke-5.darussalaf. http://www.or. Al Isro‟: 32) Dalam ayat lainnya. 24 Maret 2010 21:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu „ala Rosulillah wa „ala aalihi wa shohbihi wa man tabi‟ahum bi ihsanin ila yaumid diin. dari milis an nashihah.

ا‬ .”[2] Inilah besarnya bahaya zina. Apakah hal ini mungkin? Syukron. Artinya. Aku ingin jawaban dari kalian mengenai hal ini. Al Furqon: 68).” Kemudian ia bertanya lagi.” (QS.“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda. َ َ َ َ ‫إِذااز َنىاالرَّ جُ ااخرجَاام ْن اااإلٌِمانُااكانَااعلَ ٌْ ااكالظلَّ اافإِذااا ْنقطعَاارجعَااإِلَ ٌْ اااإلٌِمانُا‬ ‫ه‬ ‫ل َ َ ِه‬ ُ ُ ِ ِ ِ َ َ َ َ َ َ َ ‫َ ه َ ُّ ة‬ “Jika seseorang itu berzina. orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan. di antaranya adalah Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah no. Ia ingin menutup aibnya dengan menikahinya karena wanita tersebut masih kerabatnya.افإذااتوفراالشرطاناجازاالزواجامنهاا،ا‬ ‫والدلٌلاعلىاوجوباالستبراءاقولهاصلىاّللااعلٌهاوسلمافٌماارواهاأبواسعٌداالخدريارضًاّللااعنها"لاتوطأاحاملاحتىاتضع،اولاغٌراذاتاحملاحتىاتحٌضا‬ ‫حٌضة".” Kemudian ia bertanya lagi. Namun itulah yang terjadi jika hal ini dilanggar. maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya).” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas. niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). Terjerumuslah dalam dosa besar zina karena tidak mengindahkan berbagai jalan yang dapat mengantarkan pada zina seperti bentuk pacaran yang dilakukan muda-mudi saat ini. padahal Dia-lah yang menciptakanmu.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina. akhirnya terjadilah apa yang terjadi. maka iman itu akan kembali padanya. Jika dia lepas dari zina. tanggal Fatwa 23 Jumadil Ula 1422 H. Jadilah di antara mereka hamil di luar nikah. “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Jawaban: :‫الحمداهللاوالصلةاوالسلماعلىارسولاّللااوعلىاآلهاوصحبهاوسلماأماابعد‬ ‫فإناالزواجامناالزانٌةامختلفافٌها،افمناالعلماءامناٌقولابصحته،اومنهمامناٌقولابمنعها،اوممناقالابمنعهااإلماماأحمد،اوهواقولاٌشهدالهاظاهرااآلٌةاالكرٌمةا(ا‬ ‫الزانًالاٌنكحاإلازانٌةاأوامشركةاوالزانٌةالاٌنكحهااإلازاناأوامشركاوحرماذلكاعلىاالمؤمنٌنا)ا[النور:3] ا‬ ‫وعلٌهافلاٌجوزالمناعلمامناامرأةاأنهااتزنًاأناٌتزوجهااإلابشرطٌن:اأحدهما:االتوبةاإلىاّللااتعالى،اثانٌهما:ااستبراؤها. apalagi berzina dengan istri tetangga. “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu. syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. Oleh karenanya. barang siapa yang melakukan yang demikian itu. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda.اشكرا‬ Apakah boleh seseorang menikahi wanita yang dizinai dan ia tahu bahwa wanita tersebut betul telah dizinai sebelum menikahinya.اأخرجهاالبغويافًاشرحاالسنةاوأبواداووداوقالاابناحجرافًاالتلخٌصاإسنادهاحسناوصححهاالحاكماوقالاعلىاشرطامسلما. “Wahai Rasulullah. Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina Ada beberapa fatwa ulama yang kami temukan. َُ ‫ث ااأَنْااتزانِىَاابحلٌِلَ ااجاركَا‬ ‫ُم‬ ِ َّ ِ َ ‫ِ َ ة‬ “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. Dalam hadits lainnya. dan tidak berzina. 9644 mengenai syarat menikahi wanita yang dizinai. Pertanyaan: ‫هلاٌجوزالشخصاأناٌتزوجامناإمرأةازانٌةاوهواٌعلماأنهاازنتاقبلاأناٌتزوجها،اوهواٌرٌداأناٌسترا‬ ‫علٌهااألنهااقرٌبته،اوأرجوااإلفادةامنكما،اهلاٌمكنامعرفةاالمفتًا. Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam.

Jika dua syarat ini telah terpenuhi. َ ‫َ ل َ ان و ُ ْ ِ ك َ م‬ ُ ‫الزانًِا َاا ٌَ ْنك ااإِ َّاازان ٌَ ااأَ ْاامشرك ااوالزان ٌَ اا َاا ٌَ ْنكِحُ هااإِ َّااز ااأَ ْاامشر ااوحُرِّ ااذلِكَااعلَىاالمُؤمنٌِنَا‬ ‫َّ ل ِ ح ل َ ِ ة و ُ ْ ِ َ ة َ َّ ِ ة ل‬ ُ ِ ْ ْ َ َ “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. konsekuensi dari menikahi wanita hamil adalah nikahnya tidak sah. Jika tidak terpenuhi dua syarat ini. Inilah pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh para ulama Hambali dan Malikiyah karena didukung oleh dalil yang begitu gamblang.‫والخلصةاأناالزانٌةاإذااتابتاإلىاربهااوتحققتابراءةارحمهاامناماءاالسفاحاجازانكاحهاابأياغرضاكانا،افإذاافقداأحداالشرطٌنالماٌجزانكاحها؟اولوابقصدا‬ ‫الستراعلٌها،اوالتغطٌةاعلىاعملهااالقبٌحا. Dalil yang mengharuskan adanya istibro‟ adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. maka wanita tersebut baru boleh dinikahi. maka tidak boleh menikahinya walaupun dengan maksud untuk menutupi aibnya di masyarakat. Di antara ulama yang melarangnya adalah Imam Ahmad. maka ketika dua syarat ini terpenuhi boleh menikahi dirinya dengan tujuan apa pun. Pendapat ini didukung kuat dengan firman Allah Ta‟ala. An Nur: 3) Jika seseorang mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita yang telah dizinai. baik yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lainnya. atau perempuan yang musyrik.[5] –Demikian Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah-. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. Sebagian ulama mengatakan bahwa menikahi wanita tersebut dinilai sah. ا‬ Segala puji bagi Allah.” (QS. Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra‟ terlebih dahulu. Wallahu a‟lam. shalawat dan salam kepada Rasulullah. َ َ ‫ل ُ َ أ َ ِل َ َّ َ َ َ ل‬ َّ َ ‫َ ل‬ ‫َ َة‬ ‫اَاتوطا ُاحام ااحتىاتضعَااو اَاغ ٌْرُااذاتِااحمْ ااحتىا َتحٌِضَااح ٌْض ا‬ “Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro‟nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh. menikahi wanita yang telah dizinai jika wanita tersebut betul-betul telah bertaubat pada Allah dan telah melakukan istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim dari mani hasil zina). ا‬ ‫وّللااأعلم. keluarga dan para sahabatnya. Kedua: Istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim). Sebagian ulama lainnya melarang hal ini. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki . maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Simpulannya. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Amma ba‟du: Mengenai hukum menikahi wanita yang telah dizinai.”[3][4] Ringkasnya. maka ia boleh menikahi dirinya jika memenuhi dua syarat: Pertama: Yang berzina tersebut bertaubat dengan sesungguhnya pada Allah Ta‟ala.

(maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. alias dia adalah anak tanpa bapak. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi.[8] Ringkasnya. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. Sedangkan suami tersebut. Jadi yang berlaku padanya adalah hukum anak tiri. Anak itu tidak berbapak. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. 2. bukan pada bapaknya. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada bapaknya. Wallahu a‟lam. anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya (walaupun itu jadi suaminya). Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. 3. ia dinasabkan kepada ibunya. ُ ‫الولَ اال ِْلفِراشِااول ِْلعاهِرِااالحجرُا‬ َ َ ْ َ َ َ ‫َْ د‬ “Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. Status Anak Hasil Zina Adapun nasab anak. maka walinya bukan laki-laki tadi. maka anaknya tetap dinasabkan pada ibunya. bila telah selesai istibra‟ dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. maka pernikahannya itu tidak sah. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan.[7] Bila seseorang meyakini bahwa pernikahan semacam ini (menikahi wanita hamil) itu sah. status anaknya hanyalah seperti robib(anak tiri). “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah. Namun anak tersebut dinasabkan pada ibu dan keluarga ibunya. . Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui. karena dia itu tidak memiliki wali. Jika wanita yang hamil tadi dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya. namun walinya adalah wali hakim.”[6] Firasy adalah ranjang dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. baik karena taqlid (ngekor beo) kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian. konsekuensinya: 1.

Keturunannya pun akhirnya rusak karena anak hasil zina tidak dinasabkan pada bapak hasil zina dengan ibunya. 2157. dipublish ulang oleh http://rumaysho. Bukhari no.com [1] HR. [4] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama.Penutup Setelah kita melihat pembahasan di atas. Bukhari no. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Diselesaikan di Pangukan-Sleman. Kalau nikahnya tidak sah berarti apa yang terjadi? Yang terjadi adalah zina. [6] HR. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil. [2] HR.remajaislam. maka keburukan berikut pula yang didapat. [7] Lihat Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah. Darul Wafa‟. Jika yang ditanam keburukan. Setiap yang ditanam pasti akan dituai hasilnya. Awalnya hamil di luar nikah (alias zina). 1457. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 8/417. 86. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. nikahnya pun tidak sah.com. tahun 1426 H. Gara-gara zina. 1420 H . cetakan ketiga. [9] Tafsir Al Qur‟an Al „Azhim. [3] HR. cetakan kedua. 2/2587. Inilah akibat dari perbuatan zina. [5] Lihat Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah. 7532 dan Muslim no. ُ ُ َ َ ‫مِنْاا َثوا ااالحس َن ااالحسن اا َبعْ دَ ها،اومِنْااجزاءِااالسٌ َئ ااالسٌئ اا َبعْ دَ ها‬ ‫َّ ِّ ة َّ ِّ َ ة‬ ‫َ ب َ َ ة َ َ َة‬ ِ ِ ِ َ َ َ “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya. Abu Daud no. memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Ibnu Katsir. 9 Rabi‟ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 24/03/2010) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www. 4690 dan Tirmidzi no. Daar Thoyyibah. para salaf mengatakan. 6749 dan Muslim no.”[9] Semoga Allah senantiasa memberi taufik. [8] Lihat Majmu‟ Al Fatawa. maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibro‟ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil. Oleh karena itu. 2625. Akhirnya karena nekad dinikahi ketika hamil. 2/4764. 32/66-67. akhirnya nasab menjadi rusak. Abu Daud no. Asy Syamilah.

Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Ath-Tholaq: 4) Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala: “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal „iyadzu billah. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam: Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil posted in Fiqh Ibadah. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut: 1. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah[1]nya. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Munakahat & Keluarga. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini.” (QS. Al-Baqarah: 235) .” (QS. Muslimah | Share 201 Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain 1. Bila sudah terlanjur menikah.

Dua: Tidak disyaratkan taubat.” Kemudian beliau berkata: “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah.Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya. Ishaq dan Abu „Ubaid. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. An-Nur: 3) Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156. beliau berkata: . Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama: Satu: Disyaratkan bertaubat. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya.” (QS.” Lihat: Al-Mughny 11/227. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Inilah yang benar tanpa keraguan. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Tarjih di atas berdasarkan firman Allah „Azza wa Jalla: “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin. Adapun perempuan hamil karena zina. masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya.

An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Al-Mughny 9/562-563 (cet. maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah. . Saya nikahi „Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. : Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad).” (Haditshasan. Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul) Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. riwayat Abu Daud no. ‫؟‬ : : (( : )) . 2051.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia. dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermaknajima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. 3177. At-Tirmidzy no. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. Dar „Alamil Kutub). AlHakim 2/180. Catatan: Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini.. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115. Al-Baihaqy 7/153.

apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Imam Malik. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. AtsTsaury. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal. Meninggalkan dosa tersebut. Tarjih . Kedua: Tidak wajib „iddah. Karena dan untuk permintaannya pada saat berkhalwat (berduaan) bukan mahram) walaupun tidak halalberkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?” Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. Ikhlash karena Allah. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima‟ dengannya setelahakad. 5. Wallahu A‟lam. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. An-Nakha‟iy. Yaitu dengan lima syarat: 1. Menyesali perbuatannya. 4. beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak ini perempuan untuk berzina dan memintanya. ada dua pendapat: Pertama: Wajib „iddah. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah. 2. 3.Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. Ber„azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya.

4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no.” (HR. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no.” Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain. 1131. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Al-Baihaqy 7/449.” (HR. beliau bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Abu Daud no. 187) 2.” . 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Ibnu Sa‟ad dalam Ath- Thobaqot 2/114-115. 2158. 7/449. Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos: “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.87.). apakah hamilnya itu karena suaminya. Ahmad 4/108. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar. Ahmad 3/62. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. Ad-Darimy 2/224 AlHakim 2/212. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: . Ath-Thobarany 5/no. At-Tirmidzi no. 2157. 2137) 3.Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini: 1. Al-Baihaqy 5/329. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. Abu Daud no.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Ibnu Qoni‟ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217.) atau karena zina. tuannya (kalau ia seorang budak-pent.

Bidayatul Mujtahid 2/40.Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. • Kalau ia belum hamil. Ibnul Qayyim. Asy-Syinqithy. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. 11/196-197. 2. Catatan: Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Al-Ifshoh 8/81-84. AlInshof 8/132-133. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza wa Jalla: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan „ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak.Wallahu Ta‟ala A‟lam. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Wallahu A‟lam. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Al-Baqarah: 228) Kesimpulan Pembahasan: 1. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan„iddah bagi perempuan yang berzina. Al-Fatawa 32/109-134. Zadul Ma’ad 5/104-105. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). 154-155. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu: “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid).” (QS. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut: • Kalau ia hamil.” (QS. Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Lihat pembahasan di atas dalam: Al-Mughny 9/561-565. . 847-850. Ath-Tholaq: 4) Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Raudhah Ath- Tholibin 8/375.

2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?” Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para „ulama.

Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya.” Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin

Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. Wal „Ilmu „Indallah. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). 3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak adamahar bagi perempuan tersebut. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha, Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda:

“Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam Al-Umm5/13,166, 7/171,222, „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa‟id bin Manshur

dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. 4074, Al-Hakim 2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Al-Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840) Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala:

“Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala:

“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A‟lam. Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105. Footnote:

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “„Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut

pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.” Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45&page_order=2

This entry was posted on Tuesday, March 4th, 2008 at 3:48 am and is filed under Fiqh Ibadah, Munakahat & Keluarga, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 29 responses to “Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil”
Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

1.

1

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam:

Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.” Mohon agar matan tulisan ini diedit lagi.

Reply
posted on March 4th, 2008 at 1:25 pm

2.

2

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

atau mungkin hasil postingnya memang begitu ya. 2008 at 1:32 pm posted on November 11th. Penjelasan tambahan: Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah) Pertanyaan Melalui: dari al-Ustadz Sekretariat Langsung Abu Abdirrahman via Muhammad Telepon Wildan. juga „utk menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran‟ itu pun bukan alasan. nikahnya TIDAK SAH. bahkan jika dilakukan alasan itu akan menyebabkan semakin melanggar syariat (karena haramnya menikahi wanita hamil sebab zina). apakah kalau dinikahkan oleh orang tuanya bagaimana. lacsana said: saya mau menanyakan tentang anak yang menikah diusia muda karena married by accident. Saya coba copy matan hadits /terjemahan diatas yg mana tertulis melaknatnya 2x dan kuburnya2 kali tapi justru berubah. akan tetapi yang dapat menyelamatkannya adalah dengan taubat yang benar. bukan malah semakin melanggar syariat dan jatuh 2 kali ke jurang kehancuran dengan menikahi wanita hamil sebab zina (padahal ini haram) yang mana ini sama saja berarti dia itu akan zina seterusnya (karena nikah yang seperti ini tidak sah). termasuk matan hadîts yang dimaksud. 0. Menghindari aib itu bukanlah alasan syar‟i. intinya HARAM. Batam Yayasan Anshorus Sunnah. Lc. kami tidak memahami maksud antum. kira2 secara islam bagaimana. In syâ‟ Allâh artikel ini sesuai aslinya. 2009 at 7:28 pm 3. karena dia memang telah masuk ke jurang kehancuran akibat zina yang diperbuatnya. dan setelah dinikahkan apakah setelah melahirkan perlu dinikahkan kembali. `Afwan. tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina .? terima kasih ADMIN: Penjelasan pada artikel di atas insya Allah sudah cukup jelas.. Reply posted on March 4th. supaya hal tersebut untuk menghindari aib dan menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran.

baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya. Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi .. yaitu HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina. Artinya: Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah. maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut: Pertama: Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur : 3 [‫س‬ ‫سسسسس سسس‬ ] . Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3) Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “.Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) : Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina. ‫س سسس سسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫سس سسسس سس سس‬ ‫س سسس‬ ‫س سس‬ ‫س سس س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سسسسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫س سسس سسسس س‬ ‫سسس‬ ‫س سسس سسسس سسسسس سسسس سس س سس س‬ ‫سس‬ ‫س سسس‬ ‫س س سسسس‬ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ . seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya. Artinya. maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum.Tanya : Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ? ‫سسس سس سس س س : س‬ ‫سس‬ ‫سس س سسس سسسس س : س‬ ‫س‬ ‫سسسس سسسسس سسس س س سسس س : س‬ ‫س‬ ‫س س‬ .

yaitu menyiramkan maninya kepada anak dari kandungan orang lain. dan ini adalah bahasa kiasan. maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan. maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut. sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. maka tidak boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya. laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina sebab ia telah melakukan akad yang diharamkan yang ia meyakini keharamannya. ada diantara para ulama yang memfatwakan. Jadi. apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut. maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya. Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu „Alaihi Wasallam. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil. 2011. 7 On January 3rd.orang-orang yang beriman. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih. maka pada saat seperti itu. ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”. hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula. risa muthmainnah said: . Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu. Iya. (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158) Reply posted on November 17th. 2010 at 4:31 pm 4. Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina.

. adiguna said: Bila sudah terlanjur menikah. 2011. tanpa perlu perceraian krna hakikatnya mereka selama ini berzina bukan dalam ikatan nikah (karena tidak sahnya pernikahan mereka tadi). maka harus diulang lagi. 9 On January 19th. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Reply admin reply on April 26th. 2011 at 6:15 pm 7. 2011 at 3:51 pm 6. 2011 at 8:05 am 5. baru kemudian mereka menikah lagi. 2011. 8 On January 16th. 2011: sekalipun sudah terlanjur tetaplah tidak teranggap nikahnya itu. HARAM dan BATIL/TIDAK SAH.? apa hukumnya? Reply posted on January 16th. uni mutia said: .saya mau brtanya tentang pndapat singkat imam syafi‟i dan hasan al-bashary ttang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah Reply posted on January 3rd. 2011. Caranya: mereka harus taubat dulu. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. lalu tunggu iddah si wanita selesai. Meliza said: apakah mahar yang berupa uang boleh di bingkai dan di pajang. 10 On February 9th. demikian insya Allah sah. Reply posted on January 19th.

umi yani said: bismillah. Reply posted on February 14th. buat khasanah ilmu. dengan membeli majalah ini antum telah membantu biaya kegiatan dakwah disini. 11 On February 14th. 2011 at 12:25 pm 9..apakah sepasang suami istri yg menikah dlm keadaan hamil kemudian belum menikah lagi lalu ketika suami mengajak berhubungan badan istri menolak dengan alasan tak ingin berzina lagi apakah istri tersebut dosa?lalu bagaimana kewajiban menafkahi nya? Reply admin reply on April 26th. 13 On March 5th. 2011: .afwan. 2011. 12 On February 21st. harga majalah sangat murah hanya rp. 2011. Abu Sholihah said: Bismillah. 2011 at 2:47 am 10. Afwan. 2011.ana mau tanya. apakah sudah ada majalah akhwat dalam bentuk Ebook atau File HTML? Jazakumullohu Khiron Admin. 2011 at 11:17 am 8. Syamsul Huda said: Izin ngopi…. puenting nee… Matur nuwun… Reply posted on February 21st.com atau agen terdekat.10000 sebulan sekali bisa dibeli di http://www.asslamuallaikum…kenapa ea wanita sekarang banyak yang mengobral aurat mereka??? Reply posted on February 9th. M. afwan kami tidak membuat majalah akhwat dalam bentuk ebook.alilmu.

. barulah dia halal dinikahi.. 2011. Dia tau maupun tidak tau kehamilannya maka tetap tidak akan lepas dari 2 kemungkinan di atas... dan nikahnya BATAL/TIDAK SAH.sampaikan ilmu pada mereka hingga jelas hukum-hukumnya bagi mereka sebagaimana telah dibahas pd artikel di atas. Reply posted on March 5th. Ana coba jelaskan ulang. Reply admin reply on April 26th. tunggu lepas iddahnya sampai haidh 1 kali. umi yani said: . jika zinanya tidak menjadikannya hamil maka dia akan haidh. Sekalipun tidak tau trnyata sudah hamil. wallahu a‟lam. (Admin/Abu Husain Munajat) Reply posted on April 12th. lalu wajib menunggu LEPAS IDDAH. aisyah said: Bagaimana bila saat menikah dia tidak mengetahui kalau dia sedang hamil. tapi sebelum itu keduanya harus bertaubat dan tunggu si wanita itu lepas iddahnya dulu. maka syaratnya pezina ini sebelum nikah adalah wajib TAUBAT dulu. 2011 at 4:45 pm 11. 2011. lalu wajib mereka mengulang nikahnya. setelah zina itu tentu ada 2 kemungkinan keadaan: 1. bahwa HARAM menikahi wanita hamil. 15 On April 29th. yang manapun keadaannya telah jelas apa yang harus dilakukannya. 2. Tentang iddahnya. 2011 at 3:22 pm 12. 2011: Silahkan dibaca kembali artikel di atas sudah jelas menjawab pertanyaan anti. 14 On April 12th. jika zinanya menjadikan dia hamil maka iddahnya sampai selesai melahirkan. tapi dia pasti tau bahwa sebelumnya sudah berzina.

Maka tentu saja tidak wajib menafkahi karena dia bukan apa-apanya dan bukan tanggungjawabnya..berarti nikahnya tidak sah ya?berarti tidak wajib menafkahi?lalu bagaimana cara menjelaskan tentang hukum itu. Jika si laki-laki/‟suami‟ tidak terima maka itu tidak ada urusan thd si wanita karena dia bukan siapa-siapa bagi si wanita.. dengan ilmiah dan hikmah. Adapun hidayah adalah dari Allah semata. Dia bisa kembali ke orang tuanya dan jelaskan kepada orang tuanya dan mereka bisa mengadukan kepada pemerintah utk keputusan cerai secara administrasinya. bahkan kami katakan wajib karena meninggalkan maksiat zina itu wajib hukumnya. sy bertanya saya menguraikan sebuah kalimat. tapi yang lebih penting dari itu adalah WAJIB TAUBAT. dimana. dirman said: apa hukumnya dalam islam apabila mendatangi pernikahan keluarga kita yg menikah karena telah hamil? Reply posted on May 14th. misalnya melalui ortunya atau seorang ustadz. 2011. 2011: Insya Allah sudah jelas di artikel di atas. Cara menjelaskannya tentu si wanita yang lebih tau. Tapi solusi yang insya Allah lebih baik menurut kami adalah keduanya bertaubat lalu menunggu iddah selesai lalu menikah secara sah. irfan buhar said: alaikum. TIDAK SAH. asllamu sebelum dalam hidup manusia bahwa sahnya manusia tidak mngetahui kapan. Wallahu a‟lam. 2011 at 6:53 pm 13.karena sebelumnya si suami tidak terima? Reply admin reply on May 4th. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dengan menaati hukum-hukum-Nya. . 2011. 2011 at 12:31 am 14. Si wanita berhak pergi darinya.„afwan. 16 On May 14th. 17 On June 6th. Reply posted on April 29th.

bgmna klau si wanita tersebut telah meninggal.. apa hukumnya kalau laki2 menikah dengan wanita yang sedang hamil n yang menikah dengan wanita tersebut adalah laki2 yang telah menikahinya??. saya mau tnya. 19 On June 23rd. arie said: klarifikasi pertanyaan di atas. 21 On August 4th. apakah bisa diambil kesimpulan bahwa akad nikah dapat dilaksanakan dan sah hukumnya?? jika saat hamil tidak boleh dinikahi.... siapa pun atas kematianya. tlong di jawab ya!!! Reply posted on August 4th. seperti yang diterangkan diatas. 2011.. lalu bagaimana status anak menurut islam?? mohon wass Reply posted on June 23rd.. apa yg berlaku pada laki2nya dan wanitanya. 2011 at 8:40 am balasannya terimakasih 16. 2011. sblm dia melahirkan atau bertaubat. arie said: ass.. 2011 at 9:12 pm 17. 2011. airin said: assalamualaikum misalkan keduanya sudah benar2 bertobat. 20 On August 4th. Reply posted on August 4th.sedang apa. Reply 15. 2011 at 9:15 pm . dikatakan bahwa wanita yang sedang hamil tidak bisa menikah sblm dia bertobat dan sampai dia telah melahirkan skalipun yg akan menikahinya adalah orang yang berhubungan dgnya. maksud saya laki2 yang telah menghamilinya bukan menikahinya… terimakasih.

mereka hidup selayaknya suami istri setelah pernikahan itu. cuma. Reply posted on August 14th. gimana ni hukumnya? tolong dibantu.sampai sekarang sudah 10 th usia pernikahan kami.jadi kami sudah mempunyai 3 orang Anak. bapaknya tidak sah menjadi wali buat siAnak.atau anak itu adalah anak ibunya dan tidak bisa mendapat warisan? dan kalau anaknya perempuan tidak bisa diwalikan oleh si lelaki itu?apakah benar?apakah ada buku atau referensi yang memuat hal tersbt diatas dengan lengkap?karena si laki-laki sudah pernah diberitahu tentang hal ini tapi sepertinya tidak percaya dan menganggap remeh. Isampai sekarang kami tidak meyadari kalo pernikahannya selama ini tidak SAH/ HARAM.kalau seorang laki-laki terpaksa menikahi perempuan yang sudah dihamilinya. 23 On October 24th.terus kami menikah. Admin: jika melihat pendapat sesuai penjelasan di artikel. 2011. karena kami sudah melahirkan Anak perempuan. syukron. trim‟s wasalam.. itulah jawabannya. Balas Reply . 2011 at 12:08 am 19. bagaimana hukum status anak anak itu menurut Islam? Saya pernah mendengar kalau nasabnya tidak bisa dihubungkan dengan laki-laki yang menikahi wanita yang hamil. pertanyaan anda sudah jelas jawabannya. tapi jawabannya.apakah wajib bagi mereka menikah lagi?. apabila anak perempuan kami klau mau menikah.dan rencana kami mo nikah kembali.Mhn penjelasannya. 2011. bahkan sekarang mereka memiliki anak kedua. dan tidak melakukan pernikahan ulang ketika bayinya sudah lahir. novmery said: akibat perzinahan hamil 3 bln.18. tdak perlu nikah lgi karena pernikahaan pertama itu sah. 22 On August 14th. Adawiyah said: Ass. pernah satu kx kami memanggil yg paham tentang agama.

selain itu wali/kluarga mmpelai wanita tidak bisa berkunjung di kota t4 terselenggaranya nikah. disebabkan oleh hal2 lain yg menghalangi mreka untuk dtg k t4 trsebut).. kami ingin menikah..wb.. 2011. apakah dlm islam diperbolehkan menikah jika lelaki masih muda dan belum berpenghasilan/msih kuliah ? 4. kami berdua masih kuliah smster 5 di kmpus dan jurusan yg sama pula.. sama halnya dgn psngan sy 20th. tity said: asslmualaikuumm wr. sy jika tanyakan sikonnya sprti kami : ? 2. apakah dlm islam diperbolehkan wali nikah (ayah mempelai wanita) mengucapkan ijab kpda mempelai pria via telepon ? dalam hal ini wali/keluarga mempelai wanita tidak bisa hadir dalam akad nikah karena jarak yang memisahkan (kota yg berbeda. ttapi belum punya pnghasilan. 2011 at 10:40 pm 21.. jika hukumnya boleh2 saja. 25 On December 12th. rasyid said: bagaimana kalau baru mengetahui hukumnya setelah sekian lama menikah dan telah mempunyai 2 orang anak lagi.. seorang gadis 20th. jika keluarga dari kedua belah pihak sudah menyetujui untuk menikah..pdhal hbngan kami sdah brjlan slma 3. bagaimana cara meyakinkan ortu akan niat kami tsb ? 3. 24 sy On November 13th. kami sudah punya niat utk menikah. apa ingin hukum nikah. berarti tetap harus melakukan pernikahan .. yg 1. 2011 at 8:36 pm 20. 2011..posted on October 24th. mohon thx b4 wassalam :D sarannya ya. krna kami sngat dekat dan hmpir stiap hari bertmu.5 thun. banyak hal yg ditakutkan dalam hubungan yg semakin lama ini. Reply posted on November 13th.

oleh para ulama amat diperselisihkan Dasar. Firman Allah : ‫ﻤ ﻤﻴ‬ ‫ﻚ‬ ‫ﻮﻤﺸﺮﻚ ﻮ ﺮﻢ‬ ‫ﻴﻜ‬ ‫ﻴ‬ ‫ﻮ‬ ‫ﻴ ﻮﻤﺸ‬ ‫ﻴﻨﻜ‬ . diantaranya: 1. Under Bahsul Masa'il.jalan(Sifaah) bagaikan hewanhewanpun melakukannya.dasar perselisihan tersebut adalah dalam meng interpretasikan beberapa dalil dibawah ini yang dipersepsikan beda oleh para Fuqohaa‟.WEB. 2010 10:25 AM.wanita (gadis) yang terpaksa di nikah kan dengan seorang priya gara. Bukti ramalan ini kian hari kian tampak nyata dan kian menggejala dimana akhirakhir ini mulai banyak terjadi wanita. Dasar.gara si wanita sudah hamil akibat mereka telah melakukan sex bebas alias zina. 11 February.dasar hukum Hukum menikah dengan wanita yang sedang hamil zina. Fikih Perkawinan dengan Wanita Hamil Zina Sesuai dengan nubuat (berita masa depan) Nabi Muhammad dalam sebuah hadistnya bahwa kiamat tak akan terjadi sebelum manusia banyak melakukan peribuatan sex bebas dijalan.ulang? dan tiga orang anak yang dimiliki bagaimana statusnya? mohon di jawab untuk menjawab kondisi saya  Arsip Bulanan © 2012 AKHWAT.ID :: Menggapai Kontroversi Hukum Pernikahan dengan Wanita Hamil Zina Oleh admin Pada Thursday.

Khobiitsaatu lil khobiitsiina wal Khobiitsuuna lil khobiitsaat…. Beirut). 6. Abu Dawud dan Tirmidzi. ‫ﻴ‬ Artinya: “Tidak halal bagi seseorang yang percaya pada Allah dan hari akhir untuk mengairi (dengan air mani) . An A‟isyah RA.An-Nur 32).Fath al.orang mu‟min.sholih dan (juga) sahaya. dan para penzina wanita itu tidak (boleh) nikah kecuali dengan penzina laki.laki itu tidak (boleh) kawin kecuali dengan penzina wanita atau para wanita musyrik.…………‫ﺨ ﻴﺜﺖ‬ ” Al.laki tak bermoral. 2. (An. Firman Allah: ‫ﻴ ﻤ ﻤﻨﻜ ﻮ ﺼ ﺤﻴﻦ ﻤﻦ‬ “Wa ankihul ayaamaa minkum was shoolihiina min ibaadikum wa imaa‟ikum …” (Q.ahuu zar‟a ghoirihi. Hadist yang semakna: La yahillu li. Artinya: Para penzina laki. Artinya: “Dan Nikahkanlah orang.imri-in yu‟minu billaahi wal yaumil aakhiri an yasqiya maa-ahuu zar‟a ghoirihii. tanaman (janin) orang lain”..Nabhani Al.Arqom.Zaanii laa yankihu illaa zaaniyatan au musyrikah.Kabir (Dar Al.laki atau laki.Nur 26). Firman Allah: . Wa hurrima dzaalika alal mu‟miniin”. Artinya: Wanita. ‫ﻴ‬ Artinya: Barang siapa ber-iman kepada Allah dan Rasulnya. sebaliknya laki.“Az.laki tak bermoral itu pasangannya adalah para wanita tak bermoral……… 3.” (An.sahaya wanita kalian… 4.Nuur 2). Yusuf bin Ismail Al.S.hamba sahaya priya kalian yang sholih.laki musyrik. Dan diharomkan semuanya itu bagi orang. Wazzaaniyatu laa yankihuhaa ilaa zaanin au musyrik.orang yang sendirian dari kamu sekalian dan hamba. Faqoola: ‫ﺮ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﺨ ﻦ ﻴﺴ‬ ‫ﻮ ﻴﻮﻢ‬ ‫ﻴﺤﻞ ﻹﻤﺮﺉ ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﻴﺴﻖ ﻤ ﺌ‬ ‫ﻮ ﻴﻮ‬ ‫ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﻤﻦ ﻜ‬ ‫ﻮ ﻤ ﺌ ………ﻮ ﻜ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﻮ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﺖ ﺨ ﻴﺜﻴ‬ . H. Hadist Nabi: Man kaana yu‟minu billaahi wal yaumil Aakhiri falaa yasqi maa.wanita tak bermoral itu pasangannya adalah laki. Qoolat: Su-ila Rasuululloh SAW an rojulin zanaa bi imro-atin wa arooda an yatazawwajahaa. maka janganlah ia “mengairi dengan air (mani) nya pada tanaman (janin) orang lain.R. 5.

Artinya: Dari Abi Hurairoh RA. Wal haroomu laa yuhrimu al. Dari Ikhtilaf ini Imam Nawawi (dari madzhab Syafi‟i) menyatakan: hukum persenggamaan itu makruh (sebaiknya jangan dilakukan sampai sang bayi lahir) berdasarkan Qoidah: AlKhuruj minal Ikhtilaaf Mustahab (Keluar dari perbedaan pendapat itu sangat dianjurkan).Majmu‟ LinNawawi.Shon‟ani.ayat tersebut dan hadist. Menurut hadist ini Rasulullah pernah memberi izin pernikahan wanita hamil zina walaupun tentu saja HUKUM HAD nya tetap berlaku. Adapun Abu Hanifah dan dan Ibnu Hazm. H. Artinya: Dari A‟isyah RA. maka suaminya yang menikahinya dianggap orang lain. namun me reka melarang persenggamaan antara suami istri tersebut sampai si wanita melahirkan anaknya.I) Indonesia.Waladu lil firoosyi wa lil „aahiri al.Thobarony dan Ad.R.Daaruquthniy. walau membolehkan perkawinannya. Boleh atau tidakkah menikahkan wanita yang sedang hamil zina? Jumhur Ulama kebanyakan membolehkan mengawini wanita hamil zina seperti pendapat Imam Abu Hanifah.aakhiruhuu nikaahun. Dll.halaala”. Sedang As. 7.Syafi‟I membolehkan persenggamaan mereka karena tujuan nikah adalah menghalalkan persenggamaan. Rasululloh bersabda: “Anak itu (dinasabkan) kepada Suami ibunya. walau wujud orangnya sama.‫ﺤ ﻞ‬ ‫ﻴﺤﺮ‬ ‫ﺤﺮ‬ . 8. karena larangan Nabi untuk membuahi janin orang lain berlaku juga bagi wanita yang dihamili tanpa nikah.Dhohiri. Maka Rasululloh menjawab: ” Awalnya adalah kumpul kebo (SIFAAH) dan akhirnya adalah sebuah pernikahan.laki yang berzina dengan seorang wanita dan dia bermaksud menikahinya. Setelah memperhatikan semua ikhtilaf tentang ini dan setelah mempertimbangkan segala aspek hukum. sosial dan kemasyarakatan serta berdasarkan asas MASLAHAH MURSALAH (kepentingan umum). dll. sedang si penzina harus dihukum (dera/ rajam)”. ‫ﻜ‬ ‫ﺨ‬ ‫ﺴ‬ “Awwaluhuu sifaahun wa. As. Lihat Subulus Salam III/ 210. Subulus Salam III/210. dimana diharapkan: # Ada orang tua yang nantinya akan bertanggung jawab atas segala pengasuhan dan .At. Syafi’I.H. Qoola Rasuululloh SAW: ‫ﺪ ﺮﺶ‬ ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ “Al. Ibnu Hazm dari kelompok Ad. Akhrojahuu AtThobroniy wa Ad. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Maliki melarangnya. Menurut Kompilasi Hukum Islam (K.Daaruquthniy. Rasululloh ditanya tentang seorang laki.hajaru. Lihat Al. „An Abi Hurairoh RA. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mendasarkan larangannnya pada maksud lahir ayat.hadist yang melarang membuahi janin yang sudah ada dari hubungan si wanita dengan orang lain. Sesungguhnya perbuatan harom itu tidak dapat menghalangi terjadinya (pernikahan) yang halal”.

2. yakni: 1. .= 6 bulan Sesuai dengan pernyataan tersebut. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Imam Abu Hanifah menghitung jumlah 180 hari itu dari PERNIKAHAN. masing masing dari Surat Al.LAKI YANG MENGHAMILINYA. Bila anak tersebut lahir KURANG 6 (enam) bulan setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. maka: K. 3.H. Status anak dari HAMIL ZINA Adapun anak dari hasil hubungan ZINA.Ahqoof 15. Bila anak tersebut lahir 6 (enam) bulan LEBIH setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. terhormat dan dilindungi hukum.pendidikan anak-anaknya sampai ia dewasa. bukan dari mulainya hubungan sekssual diantara kedua orang tua biologisnya.I (Kompilasi Hukum Islam) Indonesia menetapkan KEABSAHAN pernikahan antara seorang laki. (٥١‫ﺜ ﺜﻮﻦ ﺸ ﺮ ………) ﺤ ﻒ‬ (٤١‫ﻤﻴﻦ ……………………) ﻤﻦ‬ ‫ﺼ‬ ‫ﻮﺤﻤ‬ ‫ﻮﺼ‬ Menurut Surat Al. maka setelah perkawinan kedua orang tuanya dapat ditetapkan dengan dua kemungkinan. dan menuangkannya pada BAB VIII pasal 53 ayat 1 ~ 3 demikian: 1. Para Ulama‟ mendasarkan hukumnya dari perpaduan dua ayat. maka nasab nya adalah kepada Suami yang telah mengawini ibunya itu. # Si pelaku perzinahan mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki segala Perilaku buruknya dengan membina keluarga yang sah. Seseorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan LAKI. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil.laki dengan wanita YANG TELAH HAMIL ZINA.Abyani yang menyatakan bahwa batas minimal umur kandungan adalah 180 hari = 6 bulan.Ahqoof 15 dan Surat Luqman ayat 14. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. # Mengembalikan harkat martabat dan kehormatan keluarga besarnya dan menutupnya dari AIB keluarga tersebut atas perilaku salah satu dari angota keluarga tersebut. 2. waktu mengandung dan menyapih = 30 bulan Menurtut Luqman 14. waktu menyapih itu =…………………………………= 24 bulan Jadi waktu hamil minimal = ……………………………………………………………. maka nasab anak tersebut adalah KEPADA IBUNYA. Hal ini bersesuaian dengan pendapat jumhur ulama‟ diantaranya Syekh Muhammad Zaid Al.

anak yang dibawa kepada keputusan Nabi seperti kasus persengketaaan antara Sa‟ad bin Abi Waqosh dan Abdu bin Zam.ah atau seperti apa yang diputuskan Umar bin Al.Khottob memutuskan bahwa anak tersebut (TANPA MELIHAT UMUR KEHAMILAN) adalah anak SUAMINYA YANG SAH. bila si anak terlahir perempuan. Wallohu A‟lam. Mulkhlisin Muzarie.karya: Dr. sedangkan bagi si pelaku zina dia harus dihukum (dera/rajam)”. jika ia nanti setelah dewasa hendak menikah. diantaranya: ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ ‫ﻮﺪ ﺮﺶﻮ‬ .wanita mereka kumpul kebo dengan banyak lelaki. Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini : . Disarikan dari: “Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil”. maka walinya bukan suami ibunya namun WALI HAKIM. Ro‟is Aam Tanfidhiyyah DPP Jama‟ah Rifa‟iyyah.Khottob tentang anak.Catatan penting: Maka pada kasus no. SESUAI SABDA Rasul dalam suatu peristiwa persengketaan tersebut diatas dalam riwayat yang panjang. yakni jika si anak lahir kurang dari 6 bulan. dimana Nabi dan Umar bin Al. Tentu saja anak tersebut secara syar‟I tidak mendapatkan hak waris sebagai anak yang sah dari suami ibunya itu bila nanti suami ibunya meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan. Namun demikian ada beberapa perbedaan pandangan tentang hal ini yang mengacu dari beberapa kejadian dimana terjadi kasus. terkecuali bila yang meninggal itu sebelumnya telah IQROR (membuat pernyataan) bahwa anak tersebut diakui sebagai anaknya sebagaimana diterangkan oleh Badran Abu Al-Ainain sebagai konsekwensi kebalikan pada kasus anak LI‟AN (suami yang menuduh istrinya mengandung bukan dari dirinya). ‫ﻮﺮ‬ ‫ﻤﺠ‬ ‫ﺬﻤﺮ‬ “Anak itu dinasabkan kepada SUAMI IBUNYA .persengketaan nasab anak. 2 .anak jahiliyyah yang terlahir dari kebiasaan wanita. Hadist riwayat Jama‟ah ahli hadist terkecuali Turmudzi.

hukumnya tidak sah menikahi wanita wanita hamil akibat zina (dengan laki-laki lain) karena kehamilannya itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. 24). a. karena wanita hamil akibat zina tidak termasuk golongan wanita yang diharamkan untuk dinikahi. 3. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. Mereka juga berpendapat. .STATUS HUKUM AKAD WANITA HAMIL AKIBAT ZINA Perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang wajib atau tidak wajib atas wanita yang hamil akibat zina. ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina. ia wajib istibra'. 23. maka terlarang pula akad nikah dengan wanita hamil itu. hanya saja wanita itu tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan kandungannya. menyebabkan perbedaan pendapat mereka tentang boleh atau tidak boleh menikahi wanita tersebut. Alasannya. hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina. baik yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya maupun bukan yang menghamilinya. Abu Yusuf dan Zafar berpendapat. Alasan sah menikahinya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). 2. b. Ulama Hanafiyah sependapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. wanita yang dinikahi tersebut halal (boleh) untuk disetubuhi walaupun ia dalam kaedaan hamil. Ulama Syafi'iyah berpendapat. namun mengapa tifak boleh disetubuhi? Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw. Alasannya adalah bahwa wanita hamil akibat zina tidak termasuk ke dalam golongan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an (lihat an-Nisaa: 22. " (HR Abu Daud). terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab ini. hamil atau tidak. tidak sah pula menikahi wanita hamil akibat zina. bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya."Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. Dengan demikian. 1. tapi bila ia hamil. Sebagaimana hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil bukan karena zina. Akan tetapi. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina. Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil dengan lakilaki bukan yang menghamilinya adalah sah. istibra'nya cukup satu kali haid. baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. baik merdeka maupun amat (budak). istibra'-nya tiga kali haid. . akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). apalagi bila ia bukan yang menghamilinya. karena akad nikah yang dilakukan itu hukumnya sah.

bahwa Nabi saw. Seorang wanita yang hamil di luar nikah daapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya. " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. telah habis masa iddahnya. disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. Karena itu. baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya). yaitu kawin . "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. Pertama. telah bertobat dari perbuatan zina. Jika ia hamil. Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah.Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. a."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. kawin darurat yang selama ini masih terjadi di Indonesia. . " (HR Abu Daud). iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya. c). tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil.Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw. Dari abu Sa'id r. pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. isi pasal 53 KHI itu adalah sebagai berikut. bersabda tentang tawanan wanita Authos. KHI berpendapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina. Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. juga berdasarkan hadits berikut ini. a). akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. "(HR Abu Dawud) Kedua. tidak memberi peluang kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. hukumnya menjadi tidak sah karena pasal 53 ayat 1 KHI tidak memberikan peluang untuk itu. 4. Secara lengkap. Sebagaimana yang tertuang pada pasal 53 ayat 1. KHI membatasi pernikahan wanita hamil hanya dengan pria yang menghamilinya. b). "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali. 5. kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut.

oleh KHI dihukumi tidak sah untuk dilakukan. mereka bertiga dikategorikan sebagai pembunuh. Artinya. Dalam hal pembunuhan. "Sekiranya seluruh penduduk yaman berkumpul membunuhnya. Maksudnya. hukumnya dibunuh pula. bila ia membunuh. a. aku akan menghukum bunuh mereka semua. bila si korban terbunuh akibat pemukulan dan yang melakukan pemukulan adalah ketiga orang itu. "pattongkogsi sirig". Yang menjadi masalah dari pendapat ini adalah bila seorang wanita berbuat zina dengan lebih dari satu orang laki-laki. ketiganya harus di-qishash karena mereka bersama-sama harus bertanggung jawab atas kematian si korban. tanpa memperhitungkan siapa diantara ketiga orang itu yang lebih banyak memukulnya dan tanpa perlu diteliti pukulan siapa yang menyebabkan kematian korban. kemudian ia hamil. dan pembunuhan.dengan sembarang laki-laki. ada perbedaan alasan diantara keduanya. bagaimana menentukan "pria yang menghamilinya" itu? Di dalam pengelompokkan hukum islam. bila seseorang terbukti telah melakukan pembunuhan dengan sengaja dan di luar kewenangan. umpama tiga orang. satu kelompok dengan pencurian. Pendapat KHI ini mirip dengan pendapat Abu Yusuf dan Zafar dari maazhab Hanafiyah. yang dilakukannya hanya untuk menutupi malu (karena sudah terlanjur hamil). Bila Abu Yusuf dan Za'far beralasan bahwa kehamilan wanita itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. zina termasuk ke dalam kelompok jinayah (tindak criminal). Umar berkata. Bagaimana menentukan pembunuh yang harus di qishash itu? Apakah ketiganya harus di qishash? Para ulama maazhab empat sependapat bahwa bila ketiga orang itu terlibat secara langsung. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ibnul Khaththab r. kepadanya diberlakukan hukum qishash. ketika beliau memerintahkan hukuman mati atas tujuh orang yang membunuh seorang anak di san'a (ibu kota Yaman). baik istilahnya kawin "tambelan". " . yaitu hukuman yang sama dengan tindak kejahatannya. yang berakibat terlarang pula akad nikah. ketiganya harus diqishash. Yang menjaadi masalah adalah bila seorang korban dibunuh oleh lebih dari satu orang pelaku. tapi tidak kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. Keduanya berpendapat bahwa wanita hamil akibat zina dapat dinikahkan kepada laki-laki yang menghamilinya. Artinya. perampokan. menurut kami.atau orang sunda menyebutnya kawin "nutupan kawirang". alas an KHI menurut penulis lebih cenderung kepada masalah tujuan disyariatkannya nikah dan kaitan antara akad nikah yang sah dan kedudukan anak sebagaimana yang kita bicarakan kemudian. Hanya saja.

Dengan mengambil contoh (analogi) pada masalah pembunuhan. karena dasar yang digunakannya hanya merupakan pemahaman. padahal salah satu tujuan dari akad nikah adalah untuk menghalalkan persetubuhan. bukan berdasar dalil qath'i. diantara beragam pendapat mengenai status hukum akad nikah wanita hamil . dengan pria manapun (di antara tiga pria itu) wanita hamil itu dinikahkan. namun sebagian ulama Hanafiyah (Abu Hanafiyah dan Muhammad) kurang konsisten. KHI dan sebagian ulama Hanafiyah (Abu Yusuf dan Za'far) juga cukup hati-hati dalam masalah ini. di mana setelah menyakini bahwa akad nikah wanita hamil akibat zina hukumnya sah. tidak memberikan peluang kepada laki-laki bukan yang menghamilinya. Meski mereka membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. Artinya. yang paling hati-hati tentunya para ulama dari mazhab Malikiyah dan Hanabilah. Karenanya. ketiga pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita yang dizinainya. bahkan memberikan kesempatan kepada laki-laki mana saja untuk menikahi wanita tersebut. Umumnya. kemudian ia hamil. menurut kami. tanpa mempertimbangkan siapa di antara ketiga pria itu yang lebih sering menyetubuhinya dan tanpa perlu meneliti sperma siapa yang berhasil membuahi ovum wanita tersebut. Sementara itu. pendapat para ulama tentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina ini merupakan kelanjutan dari pendapat mereka tentang wajib atau tidaknya iddah bagi wanita hamil akibat zina. dapat dikatakan bahwa wanita hamil itu dinikahkan kepada pria yang menghamilinya. Dalam hal kehati-hatian. baik yang berpendapat wanita hamil akibat zina itu wajib iddah maupun yang tidak mewajibkan iddah. Mereka melarang wanita hamil akibat zina melakukan pernikahan. namun mereka membatasi bahwa yang dibolehkan menikahi itu hanya laki-laki yang menghamilinya. Mereka tidak saja membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. bila seorang wanita berzina dengan tiga orang pria. dalam hal zina. keduanya berpendapat bahwa wanita tersebut tidak boleh disetubuhi. Dengan demikian. tidak layak untuk dilakukan karena orang yang tidak berbuat tidak semestinya dibebani tanggung jawab. bahkan Hanabilah mewajibkan bertobat sebelum melangsungkan akad nikah. Hal ini. mereka konsisten dengan pendapatnya. sehingga perbedaan pendapat terus berlanjut diantara mereka. ulama Syafi'iyah dan sebagian ulama Hanafiyah tampaknya kurang hati-hati. Sebagaimana yang telah dikemukakan. bahkan arti nikah itu sendiri menurut ahli ushul hanafiyah adalah "setubuh". Akan tetapi. pendapat ini masih memungkinkan untuk dibantah. ketiga pria itu dikategorikan sebagai pria yang menghamilinya.

Dalam hal pernikahan wanita hamil akibat zina. bila seorang perempuan melahirkan anak. anak itu tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami wanita yang melahirkannya itu. dibutuhkan dua syarat: hubungan darah dan akad perkawinan yang sah.Pengertian naasaab aadalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. diantaranya: anak tersebut dilahirkan setelah berlalunya waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah (menurut Hanafiyah) atau enam bulan sejak terjadinya persetubuhan suami istri (menurut mayoritas ulama mazhab). Ulama Hanafiyah berpendapat bawa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. yaitu pendapat KHI dan sebagian ulama Hanafiyah. untuk dapat menghubungkan nasab seorang anak kepada ayahnya. 1. Bila hanya terdapat satu syarat. untuk dapat menghubungkan nasab anak kepada ayahnya. Dari pengertian tersebut. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain. terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa kehamilan telah terjadi sebelum terjadinya perkawinan. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (dalam hal dengan lakilaki lain. terlebih lagi menikahi wanita hamil akan berkait dengan masalah nasab. nasab tidak bisa dihubungkan diantara keduanya. anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya. Akan tetapi. bila anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan dari waktu akad. Dengan demikian. disamping tidak terdapat dalil qath'I yang melarang menikahi wanita hamil akibat zina. Karena perkawinannya sah. sebelum berbicara masalah penentuan nasab. 2. Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. kami mengikuti pendapat kedua. Alasannya. Para ulama mazhab sependapat bahwa dalam hal perkawinan yang sah. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami ibunya itu kecuali jika si suami itu mengakuinya. tujuan disyariatkannya nikah adalah agar terplihara keturunan nasab. terlebih dahulu kita kembali kepada pendapat para ulamatentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina itu.akibat zina ini. Abu Yusuf dan Za'far berpendapat tidak sah). kecuali jika suami mengakui bahwa anak yang dilahirkan itu adalah anaknya dan mengakui pula dirinyalah yang mehamili wanita itu sebelum ia menikahinya. bila . sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an surah an-Nahl ayat 72. Bila anak lahir kurang dari enam bulan dari waktu akad atau dari persetubuhan suami istri. baik hubungan darah saja maupun akad perkawinan yang sah saja. STATUS HUKUM ANAK YANG DIHAMILKAN SEBELUM AKAD Sebagaimana telah dikemukakan. juga karena orang yang berbuatlah yang seharusnya dibebani tanggung jawab.

Iddah. Dengan demikian. . yaitu surah al-Ahqaaf ayat 15 dan surah Luqman ayat 14 (lihat "Minimal Masa Kehamilan"subbab"Hamil. anak itu dinasabkan kepada suami dari ibunya. tapi bila laki-laki lain yang bukan menghamilinya. Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum pernikahan wanita hamil akibat zina adalah tidak sah. Pasal 99 point @ menyatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. Berbeda dengan pendapat para ulama mazhab. tapi hanya merupakan dasar dalam hal penentuan batas minimal masa kehamilan. 3. hubungan nasab menjadi tidak ada karena akad nikahnya sendiri hukumnya tidak sah. akad nikah tersebut menjadi tidak sah.KHI berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. a. tapi hanya merupakan pemahaman para ulama mazhab terhadap dua ayat dalam AlQur'an. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami dari ibunya itu kecuali bila suami mengakuinya. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya.Maksudnya. dan Istibra'). 4. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. baik Al-Qur'an maupun hadits. Hal ini sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 99 tentang kedudukan anak bahwa anak yang sah adalah. tidak ada hubungan nasab antara anak yang dilahirkan dan laki-laki yang menikahi ibunya itu karena hukum akad nikahnya sendiri tidak sah. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. hubungan nasab antara anak dan ayah hanya ada apabila yang menikahi ibunya itu laki-laki yang menghamilinya. Karena itu. hal ini didasarkan kepada dua alasan berikut. KHI memahami kedua ayat ini tidak untuk menjadikannya sebagai dasar dalam penentuan nasab. b. sedangkan pasal 53 ayat 1 menyatakan bahwa sahnya perkawinan wanita hamil hanya bisa dilakukan dengan pria yang menghamilinya. Menurut penulis.anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan sejak persetubuhan suami istri. KHI tidak menjadikan tenggang waktu enam bulan sebagai dasar untuk mengkaitkan hubungan nasab seorang anak kepada ayahnya. tenggang waktu enam bulan (yang dijadikan dasar oleh para ulama mazhab dalam penentuan hubungan nasab) itu bukan berdasarkan dalil yang qath'i. Pertama. tapi bila anak lahir kurang dari enam bulan. Dengan demikian. hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya ada bila yang menikahi wanita hamil itu laki-laki yang menghamilinya.

ada kemungkinan wanita yang sudah hamil dua bulan dinikahi oleh laki-laki lain. Dari beberapa pendapat para ulama sebagaimana yang telah kami kemukakan. seandainya ia lahir dalam umur enam bulan. walaupun mereka memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak.Artinya. Ket : ISTIBRA' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim KHI singkatan Kompilasi Hukum Islam . tatus hukum yang ditetapkan terhadap yang diikuti berlaku pula terhadap yang mengikuti karena pengikut tidak diberi hukum tersendiri. status hukum diberikan kepada wanita yang hamil itu. Adapun pendapat ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi'iyah. Meskipun tidak memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. Pemahaman ini sejalan dengan hadits Nabi saw. sedangkan diantara keduanya tidak ada hubungan darah. Allah SWT menjelaskan bahwa seorang perempuan (dalam hal mengandung anak) membutuhkan waktu minimal enam bulan sejak terbentuknya nutfah sampai ia melahirkan. ia sudah sempurna walaupun mungkin kurang sehat. kemungkinan terpeliharanya keturunan menjadi kecil untuk bisa dicapai. kaidah fiqih menyatakan. "Pengikut (hukumnya) itu sebagai yang mengikuti. Dalam hal akad nikah wanita hamil akibat zina. kapan saja akad nikah dilangsungkan asalkan sebelum anak dilahirkan. Dengan demikian. tapi karena masa kehamilan itu umumnya sembilan bulan.dengan dua ayat tersebut. Dengan demikian. masalah terpeliharanya keturunan menjadi lebih mungkin untuk bisa dicapai. yang lebih memungkinkan untuk bisa dicapai adalah menurut pendapat KHI. seperti petai. ulat pun boleh dimakan beserta petai asalkan tidak dipisahkan. akhirnya anaknya dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya itu. status hukum yang ditetapkan terhadap wanita hamil berlaku pula terhadap anak yang ada dalam kandungannya. namun karena memberikan kesempatan kepada laki-laki bukan yang menghamili untuk menikahi wanita hamil tersebut. termasuk anak yang ada dalam kandungan wanita itu sah pula menjadi anaknya. wanita hamil itu sah menjadi istrinya. Atau juga seperti ulat yang tumbuh dalam buah-buahan. sebab sekalipun diberikan tenggang waktu enam bulan. TT: 81) Termasuk dalam kategori kaidah tersebut adalah: "Pengikut tidak diberi hukum tersendiri. anak kambing dalam perut tidak boleh dijual dengan sendirinya. (karena petai halal). maupun karena KHI membatasi bahwa yang boleh menikahi wanita hamil itu hanya laki-laki yang menghamilinya. sahkah akad nikah wanita hamil itu? KHI berpendapat hukumnya sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud bahwa janin yang berada didalam rahim ibu setelah berusia empat bulan dilengkapi dengan roh dan dalam masa dua bulan berikutnya disempurnakan khilqah (bentuk)nya. Kedua. terlihat bahwa dalam masalah terpeliharanya keturunan. Yang menjadi masalah. karena status hukum akad nikahnya sah. " (as-Suyuthi. TT: 81) Misalnya. " (as-Suyuthi. Karenanya. tidak kepada kehamilannya karena anak dalam kandungan tidak diberi hukum tersendiri.terjualnya induk merupakan terjualnya anak kambing tersebut.

Abdul Wahab.Wassalam. LC dari : CyberMQ.com .

apakah wanita yang hamil akibat perbuatan zina itu boleh melangsungkan periciwin deogan laidlaki yang menghamilmya atau dengan laki-kki lain ataukah tidak boleh. ^athurrabmctn A^hari *) ABSTRAK Milihat dan fakta sekarang. karena terialu bebasnya pcrgaulan antara lald-laJd dan wanita. Pendahuluan Alquran. Kata Kunci: Perkawinan. kebolehan kawin hamil mendapat tempat pada Bab ^11 Pasal 53 ayat 1. No. maka para imam mazhab (Hanafi. Wanita hamil. melaksanakan ketentuan-ketentuan Perkawinan telah diatur secara jelas oleh hukum perkawinan yang dttun^uk oleh kctentuaa-ketentuan hukum Islam yang daul-dalil yang jelas dan benar dalam digali dan sumber-sumbemya baik dan soal yang kedl sekalipun. 2. JuS . A. orang yang melakukan hubungao seksual di luar perkawinan dihukumkan zina. bagaimana jika sekiranya keharmlan sampai teqadi. * ) Peaulis adalab dosec Fakultas Syari'ah IAJN Antasafl mata kuHah Ushul Fitih Jurmm Perbandinean Madzhftb dan Hukum SYARIAH: jur^'Hukun dafi Pemikifwi. 2. As-Sunnah dan hasil Ijtihad Perkawman menurut agama dan penAipat para ulama. Imam Mazhflb. Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal) berbeda pendapat. KHI. adalah sebuah proses pembentukan Oleh karena itu bagi orang fcehiarga ysng tidak dapat Islam ar^lflh suatu kemestian untuk disflenggarakan di luar ketenman. Tabufi 6. jika seotang wanita yang berbuat zina itu sampai hamil. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam. dan 3 KHI. Dalam hukum Islam. tanpa berpikir. banyak wanita harm] di luar perkawinan.PERKAWINAN WANITA HAMIL: Perspektif Empat Imam Mazhab dan Kompilasi Hukum Islam Oleh: H. Malik.Desember2 .

& orang-orang yg layak dari hamba-hamba sahayamu yg lelaki & hamba-hamba sahayamu yg perempuan. atau perempuan yg musyrik. maka lbh kpd kasus yg khusus saat ayat itu diturunkan. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz `hurrima` atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dgn kurnia-Nya. Yaitu seorang yg bernama Mirtsad Al-ghanawi yg menikahi wanita pezina. Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan.Hukum Menikahi Wanita Pezina Laki-laki yg berzina tdk mengawini melainkan perempuan yg berzina. Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dgn ayat lainnya yaitu : Dan kawinkanlah orang-orang yg sedirian diantara kamu. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yg pezina sekalipun. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 32) . Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. & yg demikian itu diharamkan atas oran-orang yg mu`min. Lalu bagaimana dgn lafaz ayat yg zahirnya mengharamkan itu ? Para fuqaha memiliki 3 alasan dalam hal ini. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 3) Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama Jumhurul Fuqaha mengatakan bahwa yg dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan utk menikahi wanita yg pernah berzina. & perempuan yg berzina tdk dikawini melainkan oleh laki-laki yg berzina atau lakilaki musyrik.

(Hadis Riwayat: Tabarany & Daruquthuny). Mereka membolehkan seseorang utk menikahiwanita pezina. ‫ل‬ ‫ئ‬ ‫س‬ ‫هلل‬ ‫ب‬ ‫آلخ‬ ‫س‬ ‫ه‬ ‫ه رع‬ ‫غ‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Pendapat mereka ini dikuatkan dgn hadits berikut : Dari Aisyah ra berkata. Lebih detail tentang halalnya menikahi wanita yg pernah melakukan zina sebelumnya.Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq ra & Umar bin Al-Khattab ra & fuqaha umumnya.`Ceraikan dia`. Sesuatu yg haram tdk bisa mengharamkan yg halal`.(Hadis Riwayat: Abu Daud & Tirmizy).”Tidak halal bagi seorang muslim yg beriman kpd Allah & hari akhir utk menyiramkan airnya pd tanaman orang lain. Beliau menjawab. Juga dgn hadits berikut ini : Seseorang bertanya kpd Rasulullah SAW.”Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan.`Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yg berzina dgn seorang wanita & berniat utk menikahinya. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. lalu beliau bersabda.`Awalnya perbuatan kotor & akhirnya nikah. (Hadis Riwayat: Abu Daud & An-Nasa`i) ‫ص‬ ‫:ق ل‬ ‫ة ت طأ‬ ‫ت‬ ‫ت‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.`Istriku ini seorang yg suka berzina`. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh AlHakim). Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. simaklah pendapat para ulama berikut ini : .

Jika belum bertobat dari dosa zina.Bahkan Ali bin abi . maka laki-laki itu tdk boleh menggaulinya hingga melahirkan. yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. 2. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut : 1. maka dia masih boleh menikah dgn siapa pun.Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yg menikahi wanita hamil itu adl laki-laki yg menghamilinya. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab karya AlImam An-Nawawi. Undang-undang Perkawinan RIDalam Kompilasi Hukum Islam dgn instruksi presiden RI no. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. yg pelaksanaannya diatur sesuai dgn keputusan Menteri Agama RI no. Pendapat Yang Mengharamkan menikahi wanita pezina. Begitu juga seorang wanita yg pernah berzina dgn laki-laki lain.Meski demkikian. 2. dpat dikawinkan dgn pria yg menghamilinya. dibolehkan menikahinya. Imam Abu Hanifah. Dengan dilangsungkannya perkawinan pd saat wanita hamil. 4. Imam Asy-Syafi’i Adapun Al-Imam Asy-syafi’i. Sedangkan kalau yg menikahinya itu bukan laki-laki yg menghamilinya. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yg menzinai wanita maka dia diharamkan utk menikahinya. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan & telah habis masa ‘iddahnya. jus XVI halaman 253. 3. Seorang wanita hamil di luar nikah. Imam Malik & Imam Ahmad bin HanbalImam Malik & Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yg tdk menghamili tdk boleh mengawini wanita yg hamil. maka dia diharamkan utk dinikahi oleh laki-laki yg baik (bukan pezina). Untuk lbh jelasnya. Paling tdk tercatat ada Aisyah ra. 5. Ali bin Abi Thalib. silahkan baca buku : Kompilasi Hukum Islam halaman 92 . tdk diperlukan perkawinan ulang setelah anak yg dikandung lahir. pendapat beliau adl bahwa baik lakilaki yg menghamili atau pun yg tdk menghamili.1. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43. Al-Barra` & Ibnu Mas`ud. memang ada juga pendapat yg mengharamkan total utk menikahi wanita yg pernah berzina. 3. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi. hukumnya boleh. Perkawinan dgn wanita hamil yg disebut pd ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lbh duhulu kelahiran anaknya.

Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yg pertengahan adl pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Dan bila mereka menikah. Nampaknya pendapat ini agak menengah & sesuai dgn asas prikemanusiaan. Tentu saja dalil mereka adl zahir ayat yg kami sebutkan di atas (aN-Nur : 3). maka tdk ada larangan utk menikahinya. Beliau mengharamkan seseorang menikah dgn wanita yg masih suka berzina & belum bertaubat. Karena seseorang yg sudah bertaubat berhak utk bisa hidup normal & mendapatkan pasangan yg baik. Lc . Ahmad Sarwat. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. maka nikahnya syah secara syar`i. Oleh: H. Begitu juga bila yg berzina adl pihak suami. Kalaupun mereka menikah.`Tidak akan masuk surga suami yg dayyuts`. Selain itu mereka juga berdalil dgn hadits dayyuts. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda. yaitu orang yg tdk punya rasa cemburu bila istrinya serong & tetap menjadikannya sbg istri. (Hadis Riwayat: Abu Daud) 6.Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya & bertaubat.Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. maka nikahnya tdk syah.

Namun sangat mungkin untuk disesuaikan dengan keadaan lokal serta bersifat situasional. tentu saja tidak sekedar belakang. akan menghasilkan hal yang sedahsyat di negeri sana. Adapun masalah larangan nikah beda agama yang dikeluarkan MUI. Manakah yang Kita Pakai? Muslim category “Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. hukumnya haram. sebelumnya pasti sudah dibahas tentang efektifitas dan dampaknya oleh para ulama. namun fatwa itu bisa agak sedikit lebih agama di negeri kita.id > Muslim > Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Salah satunya ketika Khalifah Umar ra. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pak Ustadz.or. efeknya memang terasa. Pastilah sebelumnya sudah dibahas latar dampak-dampak yang akan terjadi. sehingga muncul . tentu saja setelah dilihat manfaat dan madharatnya. Fatwa yang dikeluarkan di suatu tempat oleh para ulama biasanya memang disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. Sehingga meski tidak terlalu dipegang oleh jumhur ulama. dikeluarkan begitu saja. Di luar jumhur ulama. Manakah yang Kita Pakai? Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Terutama untuk masalah yang juga masih ada perselisihan di antara para ulama dalam hukumnya. Manakah yang Kita Pakai?” ketegori Muslim. Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan yang wanita muslimah. Sehingga begitu fatwa itu dikeluarkan.re. melihat ada semacam kecenderungan para shahabat untuk „berlomba‟ menikahi wanita ahli kitab. manakah hukum yang harus kita pakai jika fatwa jumhur ulama bertentangan dengan lembaga resmi? Contohnya setahu saya fatwa MUI melarang pernikahan beda agama sementara menurut Pak Ustadz bahwa jumhur ulama membolehkannya? Sebelumnya mohon maaf jika seolah2 mengkonfrontir antara Pak Ustadz dengan lembaga MUI. asalkan yang laki-laki muslim dan yang perempuan wanita ahli kitab . WAssalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Dian Dwideana Jawaban Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Namun belum tentu bila MUI di Indonesia mengeluarkan fatwa yang sama. Sifatnya tidak selalu harus bersifat universal dan baku. Misalnya fatwa boikot pruduk tertentu yang dikeluarkan oleh banyak ulama di Timur Tengah. ada juga pendapat lain yang berbeda. antisipasi dan mirip dengan apa yang tetap untuk kondisi sosial Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan beda agama.blog.

Mengapa Diharamkan? Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia menjadi sasaran kristenisasi sejak masa penjajahan Belanda. Di kedua peradaban barat itu kini sudah tidak asing lagi kita temukan wanita bule yang memakai jilbab dan bersuamikan laki-laki muslim yang sukses dalam kehidupannya. tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam. namun ketika diurutkan ke silsilah orang tua dan kakek neneknya. Angka grafik pertumbuhan penduduk yang beragama Kristen terus naik. Bahkan boleh dibilang menjadi semacam ledakan jumlah penduduk yang muslim. Trend yang terjadi di Eropa ini juga mulai menular ke benua lain seperti Amerika dan Australia. Inggris telah masuk ke pola trend kehidupan untuk menikah dengan pria muslim asal Timur Tengah. Salah satu metode pemurtadan yang paling efektif ternyata lewat pernikahan beda agama. Bahkan para wanita Perancis. Ini suatu bukti bahwa nikah beda agama di Indonesia justru kontra produktif. . Data kependudukan membuktikan bahwa banyak sekali wanita Eropa yang menikah dengan pria muslim. Sampai-sampai para penguasa barat cemas melihat kenyataan ini. tapi akhirnya anak-anak mereka menjadi non muslim. Sebab meski laki-laki muslim menikahi wanita Kristen. Di sisi lain banyak sekali orang yang sekarang beragama Kristen. Jerman. Fatwa Itu Tidak Berlaku di Eropa Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi di Eropa. melihat gelagat yang kurang baik di dalam tubuh umat Islam dengan adanya pernikahan yang hukum asalnya halal itu. Maka wajar bila MUI merasa bertanggung-jawab untuk menahan laju grafik kemurtadan ini dengan melarang pernikahan beda agama secara keseluruhannya. Di mana banyak pemuda dan pemudi muslim yang menikah dengan pasangan beda agama. Kirakira hal itulah yang bisa kita rasakan dari fatwa MUI yang mengharamkan nikah beda agama. sehingga dengan mudah dia menjual iman dan agamanya. sekedar untuk bisa tetap mempertahankan istrinya yang kafir itu. kenyataannya yang kalah justru yang laki-laki. Bukannya berhasil meng-Islamkan orang kafir. Namun saat itu beliau ra. Tentu saja khalifah bukan mau melawan ayat Al-Quran yang secara tegas membolehkan lakilaki muslim menikahi wanita ahli kitab. Salah satu faktornya sudah bisa Anda duga. Meski dengan latar belakang yang sedikit berbeda.yaitu karena adanya pernikahan campur antar agama. ternyata beragama Islam. justru orang-orang yang sudah muslim malah jadi murtad. Lalu anak-anak mereka memenuhi Islamic Center yang juga tumbuh menjamur di sana. Sehingga beliau pernah berkirim surat kepada salah satu bawahannya yang isinya perintah untuk menceraikan istrinya yang wanita ahli kitab. Grafik laju pertumbuhan penduduk muslimin di sana mengalami laju yang tak terbendung.dampak fitnah di tengah wanita muslimah. memakai jilbab dan membangun rumah tangga Islami.

id     Business Blogs What is wordpress Blogs Wordpress ulama yang melarang pernikahan agama contoh fatwa mui tentang kawin hamil masalah anak pernikahan beda agama di indonesia nikah beda agama mui FATWAH MUI WANITA BEPERGIAN contoh perkawinan beda agama menurut MUI kehidupan wanita muslim di timur tengah hukum muslim menikah dengan kristen para ulama barat tentang nikah internet Tag Cloud  Business Blogs  Messenger Bags  Make money blogging What is wordpress  .Maka alangkah tidak bijaksana bila para ulama di Eropa mengeluarkan fatwa model MUI di negeri kita. Manakah yang Kita Pakai? : http://assunnah. Di sini kita harus sedikit cerdas dalam menilai dan menganalisa situasi sosial masyarakat. Wallahu a‟lam wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sumber Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Lc. nikah beda agama di Indonesia identik dengan pemurtadan. Ahmad Sarwat.or. Sebab nikah beda agama di Eropa identik dengan proses Islamisasi yang luar biasa dahsyat. Sebaliknya.

Apakah pernikahan kami dapat di-analog-kan dengan larangan menikahi wanita (janda hamil. Apakah pernikahan saya dapat diridhai Allah atau masih termasuk zina selama ini karena waktu nikah isteri dalam keadaan hamil di luar nikah. ketika saya mencoba membaca artikel eramuslim semua artikel yang berkaitan dengan perihal zina dirasa belum memberikan jawaban yang mendalam. isteri saya sekarang ketika dinikahkan (20 thn lalu) dalam keadaan hamil di luar nikah.Status Pernikahan karena Perzinahan Seiring dengan maraknya kemaksiatan di setiap penjuru negara ini. hasil hubungan sah karena kalimat Allah). tidak ketinggalan pula bahwa saya pun termasuk orang yang pernah melakukan kemaksiatan itu pula 20 tahun yang lalu. sehubungan dengan hal tersebut mohon penjelasan sebagai berikut: 1. Kami telah melakukan zina dan telah dinikahkan 20 tahun yang lalu. inilah ribed-nya langkah nafsu yang salah dan dosa. atau harus nikah lagi? 3. Bagaimana dengan anak saya selanjutnya (anak kedua dst). dan tentang perwalian dalam nikah (terutama yang wanita) apabila anak ini mau menikah kelak. Lc. Hadist Rasul dan Qaul Ulama. 2. MM Bekasi Jawab: . Mohon penjelasan dari segi Al-Qur'an. agar hati ini lebih tenang dan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kami dan kepada Bapak Ustadz Ahmad Sarwat. karena permasalahan yang berbeda. diucapkan dihaturkan terima kasih.

Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu? . Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. 2. atau perempuan yang musyrik. Memang ada sebuah ayat yang sepertinya bisa dianggap sebagai pengharaman. yaitu: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. Yang menjadi masalah adalah bila pasangan ini tidak pernah menikah dengan syah setelah perzinaan itu. Para ulama menyebutkan bahwa dalam kasus zina yang menghasilkan anak. Nikahnya syah dan dibenarkan dalam syariat Islam. Waba'du. Maka nasabnya tidak bisa dikembalikan kepada ayah kandungnya secara syar'i. Bismillah. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. dan yang demikian itu 'diharamkan' atas oran-orang yang mu'min. bila lakilaki dan wanita yang pernah berzina dan melahirkan anak. Walinya adalah anda sendiri sebagai ayah yang syah. 1. maka nasab anak ini akan kembali kepada ayah kandungnya bila pasangan ini kemudian menikah dengan benar dan syah secara syariah. Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah. (QS An-Nur: 3) Namun Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Jadi anda tidak perlu pusing memikirkan siapa wali anak anda sendiri. karena secara syah anak itu adalah anak anda. Jumhur ulama mengatakan bahwa menikahi wanita yang sedang hamil karena dihamilii oleh yang bersangkutan tidaklah haram.Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pernah berzina. ternyata pendapat ini juga merupakan pendapat Khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan juga pendapat fuqaha umumnya. Kedua. Beliau menjawab. maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan. (QS An-Nur: 32). Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui." "Kalau begitu pertahankanlah perkawinanmu. (HR Tabarany dan Daruquthuny). "Tapi aku takut memberatkan diriku. "Ceraikan dia". lalu beliau bersabda. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. bahwa berlakunya ayat itu telah dibatalkan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu. "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah.Mereka memiliki tiga alasan dalam hal ini." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i) . Juga dengan hadits berikut ini: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya. Selain mayoritas ulama salaf. dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Pendapat mereka ini juga dikuatkan dengan hadits berikut: Dari Aisyah ra berkata. Pertama. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal". Ketiga. "Istriku ini seorang yang suka berzina". mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). kalau memang diharamkan.

Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Tentu saja dalil mereka adalah pengertian zahir ayat yang kamisebutkan di atas (An-Nur: 3). Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda. Wb. Paling tidak tercatat ada Aisyah ra." (HR Abu Daud) Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik. Dan bila mereka menikah. maka nikahnya syah secara syar'i. maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina). Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr. maka nikahnya tidak syah. Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts. Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Kalaupun mereka menikah. Lc eramuslim . memang ada juga pendapat yang mengharamkan seseorang menikahi wanita yang pernah berzina. Bahkan Ali bin abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. Ahmad Sarwat. yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri. Ali bin Abi Thalib. Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat.Pendapat Yang Mengharamkan Meski demikian. AlBarra' dan Ibnu Mas'ud. "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts.

bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya. baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat :*1 Pertama. diharamkan atas orang-orang yang mu?min. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. kecuali perempuan yang berzina. Artikel dibawah ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini menurut Al-Qur?an. keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat. atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini.*2 Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina. Bila seorang laki-laki menghamili wanita. melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu. padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkannya. ?Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman.5 Bila terjadi kehamilan. dengan arti. bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya. ilmiyyah dan berbobot.6 Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini. maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. namun alhamdulillah ternyata sudah ada artikel yang cukup bagus.?3 Syaikh Al-Utsaimin berkata. Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib. Artinya ?Laki-laki yang berzina tidak mengawini. sehingga saya cukupkan dengan artikel tersebut karena apa yang saya inginkan sudah terwakili olehnya. As-Sunnah dan Salafush Shaleh.4 Bila seseorang telah mengetahui. nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !! Status Nikahnya : Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan.Menikahi Wanita Hamil Published by Abdullah Hadrami [abdullah] on 2007/11/6 (10558 reads) Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah. . Pada bagian terakhir saya (Abdullah Saleh Hadrami) akan menyertakan bantahan terhadap syubhat yang ada dalam masalah ini. Menikahi Wanita Hamil Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah. anak itu tidak memiliki bapak. maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain. terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. maka hubungan itu adalah perzinahan. amma ba?du. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan tentang masalah ini agar menjadi jelas dan gamblang.

Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. Di . bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki. bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.?*14 Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra? terlebih dahulu. baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram. maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya. dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi. kecuali setelah dia melahirkan kandungannya. berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain. ?Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?? 7 Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hambaNya sebagai sekutu. tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi. ?Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil. dan bila ternyata hamil. karena perbedaan dua air (mani). bila tidak hamil. berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik. maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina.*10 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Artinya.*11 Di dalam hadits di atas. dalam arti dia itu tidak memiliki bapak. maka halal menikahinya. maka pernikahannya itu tidak sah.*12 Mungkin sebagian orang mengatakan. maka sampai melahir-kan kandungannya. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram.*9 Ke dua : Dia harus beristibra? (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl. sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil. ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya. sampai dia beristibra? dengan satu kali haid. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh . Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah. ?Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.*8 Namun.? 13 Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl. Juga sabdanya Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya. Pengakuan ini tidak dianggap. Malikiy. najis dan suci. meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. padahal budak itu sudah menjadi miliknya. ?Tidak boleh menikahinya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandungannya.Artinya. bila sudah bertaubat. karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah.

?Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam. sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya. berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak. maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah.dalam hal ini. maka walinya adalah wali hakim. kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir. maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya. ?Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah). Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. ?Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya. wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya.? 16 Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ? Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah. berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam : Artinya ?Anak itu bagi pemilik firasy. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.*15 Jadi anak itu tidak berbapak. 20 Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka : Anak itu tidak berbapak.17 Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth. Artinya ?Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?21 Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra? dengan satu kali haidh. atau dinikahi sewaktu hamil.22 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa.19 Ibnu Abdil Barr berkata. baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? 18 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina. beliau berkata. karena dia itu tidak memiliki wali. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan . yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina. lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya ?Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan). Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami. sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda.

(Abu Sulaiman).( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851. (3)An Nur : 3. meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan RasulNya. lihat. (17)Taud-lihul Ahkam 5/103. (10)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. dan Ar Raudlah 6/44. Endnote : (1)Minhajul Muslim. (7)Asy Syruraa : 21. dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828. Abu Dawud. (2)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. (23)Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104. (21)Hadits hasan Riwayat Asy Syafi'iy. http://www. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram.or. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya). (18)Al Bukhari dan Muslim. (19)Al Mabsuth 17/154. (4)Fatawa Islamiyyah 3/246. Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy. (16)Al-Bukhari dan Muslim.kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui. Artinya: 'alimus Sunan 3/75-76.alsofwah. Fatawa Islamiyyah 3/247. (6)Ibid 33/245. Al Fatawa Al Jami'ah Lil Mar'ah Al Muslimah 2/5584. Al Qawanin hal : 338. (9)Ibid 3/247. (22)Al-Mughniy 6/455. (8)Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246.id/index. Ahmad. (13)Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. (15)Al Mabsuth 17/154. (11)Lihat Mukhtashar Ma'alimis Sunan 3/74. Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak). (5)Ibid. Kitab Nikah.) (12)Abu Dawud. Majmu Al Fatawa 32/110. sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalanjalannya menjadi kuat dan shahih. (14)Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72. Ahmad Muwafii 2/583. (20)At Tamhid 6/183 dari At Taisir. Asy Syarhul Kabir 3/412. Ahmad Muwafii 2/584.php?pilih=lihatannur&id=153 Syubhat dan Bantahannya Oleh: Abdullah Saleh Hadrami Sebagian Ustadz menfatwakan bolehnya menikahi wanita hamil asalkan lelaki tersebut adalah yang menghamilinya dan mereka menisbahkan fatwa ini kepada Salafush Shaleh sebagaimana dibawah ini: . Al Kharsyi 6/101.23 Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim.

or. pendapat tersebut adalah murni pendapat penulis sendiri dan tidak benar kalau dinisbahkan kepada Salafush Shaleh ?Rahimahumullah. saya sempat bertemu dengan penulis ketika Daurah di Wisma Erni Lawang dan sempat membicarakan masalah ini dengan beliau.almanhaj. ternyata saya mendapatkan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis terdapat kata-kata hamil. Alhamdulillah. karena menyalahi Al-Qur?an.id/content/2253/slash/0 Setelah saya meruju? kepada kitab-kitab yang telah disebutkan. lalu keduanya bertaubat dan melangsungkan pernikahan. Fatwa yang membolehkan menikahi wanita hamil asalkan yang menikahi adalah lelaki yang telah menghamilinya dan menisbahkan anak yang lahir dari kehamilan tersebut kepada si lelaki yang menghamili adalah FATWA BATIL DAN BERBAHAYA. www. maka tidak ada khilaf tentang bolehnya. As-Sunnah dan Salafush Shaleh. yaitu kitab-kitab aslinya yang berbahasa Arab. karena berdampak semakin maraknya perzinaan dan anak-anak yang lahir dari hasil perzinaan disebabkan mereka merasa tenang dan aman karena telah mendapat kemudahan dan dukungan dari fatwa-fatwa tersebut.com (c) Hak cipta 2008 . BERBAHAYA. Wallaahul Musta?aan.Hatibening.hatibening. seorang laki-laki berzina dengan perempuan.http://www. Jadi. saat itu beliau (penulis) mengatakan akan melihat lagi. BATIL. sama sekali tidak ada kata-kata hamil.com 0 Comment(s) . Semoga Allah selamatkan diri kita dan keluarga kita serta kaum muslimin semuanya dari segala hal yang mendatangkan murka Allah Ta?aala. Yang ada adalah. Kalau ini. amien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful