Perkawinan Wanita Hamil Di Luar Nikah Perkawinan menurut Islam adalah sebuah proses pembentukan keluarga yang tidak

dapat diselenggarakan diluar ketentuan. Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam yang digali dari sumber-sumbernya baik dari Al Qur‟an, As Sunnah dan hasil Ijtihad atau pendapat para ulama‟. Oleh karena itu bagi orang Islam suatu kemestian untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan yang dituntun oleh dalil-dalil yang jelas dan benar dalam soal kecil sekalipun. Bagi seorang gadis tentu dia tidak pernah hamil, karena belum pernah kawin, yang menjadi persoalan adalah ternyata dia hamil, maka dapat dipastikan bahwa kehamilannya itu adalah hasil hubungan seksual diluar perkawinan dihukumkan zina, jika wanita yang berbuat zina itu hamil, maka para imam mazhab fiqh berbeda pendapat, apakah wanita yang hamil itu boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Tetapi ada pula pendapat imam madzab yang tidak membolehkan wanita yang hamil itu melangsungkan perkawinanya. Jika kawin hamil dilangsungkan, maka timbul persoalan lain, yaitu tentang status anak yang dikandung oleh wanita tersebut, apakah status nasab dihubungkan kepada ibunya atau kepada orang yang mengawini. Berdasarkan persoalanpersoalan tersebut, penulis mencoba mengungkapkan pendapat-pendapat para imam mazhab tentang perkawinan wanita hamil. l Menurut Imam Mazhab Istilah perkawinan wanita hamil adalah perkawinan seorang wanita yang sedang hamil dengan laki-laki sedangkan dia tidak dalam status nikah atau masa iddah karena perkawinan yang sah dengan laki-laki yang mengakibatkan kehamilannya. Mengenai ketentuan-ketentuan hukum perkawinan wanita hamil dalam pendapat para imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i dan Ahmad bin Hanbal), mereka berbeda pendapat, pada umumnya dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu : a. Imam Hanafi dan Imam Syafi‟i Beliau mengatakan bahwa wanita hamil akibat zina boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Menurut Imam Hanafi :” Wanita hamil karena zina itu tidak ada iddahnya, bahkan boleh mengawininya, tetapi tidak boleh melakukan hubungan seks hingga dia melahirkan kandungannya”. Menurut Imam Syafi‟i :” Hubungan seks karena zina itu tidak ada iddahnya, wanita yang hamil karena zina itu boleh dikawini, dan boleh melakukan hubungan seks sekalipun dalam keadaan hamil. Menurut mereka wanita zina itu tidak dikenakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan sebagaimana yang ditetapkan dalam nikah. Karena iddah itu hanya ditentukan untuk menghargai sperma yang ada dalam kandungan istri dalam perkawinan yang sah. Sperma dari hubungan seks diluar nikah tidak ditetapkan oleh hukum. Dasar yang mereka gunakan adalah Al Qur‟an Surat An Nur ayat 3, yaitu : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

Menurut Imam Hanafi meskipun perkawinan wanita hamil dapat dilangsungkan dengan laki-laki, tetapi dia tidak boleh disetubuhi, sehingga bayi yang dalam kandungan itu lahir. Menurut Imam Syafi‟i, perkawinan wanita hamil itu dapat dilangsungkan, dapat pula dilakukan persetubuhan dengannya. Memperhatikan pendapat Imam Syafi‟i, maka seorang wanita hamil karena hasil melakukan hubungan seks diluar nikah jika dia melangsungkan perkawinan dengan seorang laki-laki maka kehamilannya itu tidak mempengaruhi dalam perkawinannya. b. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal Menurut Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sama halnya dengan yang dikawini dalam bentuk zina atau syubhat atau kawin pasid, maka dia harus mensucikan diri dalam waktu yang sama dengan iddah. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengemukakan alasan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. ”Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat menyiramkan airnya (sperma) kepada tanaman orang lain, yakni wanitawanita tawanan yang hamil, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mengumpuli wanita tawanan perang sampai menghabiskan istibra‟nya(iddah) satu kali haid” ( Hr.Imam Bukhari) Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mengambil kesimpulan dari kedua hadits tersebut, bahwa wanita hamil tidak boleh dikawini, karena dia perlu iddah. Mereka memberlakukan secara umum, termasuk wanita hamil dari perkawinan yang sah, juga wanita hamil dari akibat perbuatan zina. Adapun penentuan larangan perkawinan wanita hamil tersebut berawal dari pendapat mereka yaitu, wanita hamil karena zina tetap memiliki iddah, maka wanita hamil tidak boleh melangsungkan perkawinan sampai dia melahirkan kandungannya. Dengan demikian wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, wanita hamil karena zina harus bertaubat, baru dapat melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang mengawininya. Dengan hadits tersebut, mereka berkesimpulan bahwa wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan, karena dia perlu beriddah sampai melahirkan kandungannya. Pendapat mereka ini dapat dimengerti agar menghindari adanya pencampuran keturunan, yaitu keturunan yang punya bibit dan keturunan yang mengawini ibunya. Oleh karena itu Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal memberlakukan iddah secara umum terhadap wanita hamil, apakah hamilnya itu karena perkawinan yang sah, ataukah kehamilannya itu akibat dari hubungan seksual diluar nikah. Dengan demikian, perkawinan wanita hamil dilarang. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Status perkawinan wanita hamil dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan pada Bab VIII Pasal 53 ayat 1, 2 dan 3 yaitu : 1) Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria menghamilinya; 2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebutkan pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. 3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Pasal 53 ayat 2 KHI menyatakan bahwa perkawinan wanita hamil itu benar-benar

dilangsungkan ketika wanita itu dalam keadaan hamil. Sedangkan kelahiran bayi yang dalam kandungannya tidak perlu ditunggu. Dalam KHI perkawinan wanita hamil akibat perbuatan zina tidak mengenal iddah. Namun perkawinan wanita hamil seperti pasal 53 ayat 1, hanya boleh dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya. Untuk mengetahui siapakah laki-laki yang menghamili wanita itu sangat sulit, apalagi dihubungkan dengan pembuktian menurut hukum Islam harus disaksikan oleh empat orang saksi. Pembuktian itu semakin sulit apabila adanya usaha secara sengaja menutup-nutupi, atau orang yang pernah menzinahi beberapa orang. Pasal 53 ayat 1 dan 2 tersebut semacam ada sikap yang tidak konsisten. Dikatakan demikian, karena apabila berpedoman kepada Pasal 53 ayat 2 KHI, tersebut ternyata hanya berpedoman kepada formalitasnya saja, yaitu karena wanita hamil tersebut belum pernah menikah, maka kemudian ketentuan yang berlaku baginya adalah hak kegadisan, walaupun kenyataanya wanita itu telah hamil. Kemudian pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa, dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan lagi perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Adanya ketentuan bahwa perkawinan tersebut tidak perlu diulangi lagi, maka menjadi isyarat bahwa perkawinan terdahulu telah dinyatakan sah. Wallahu a'lam. Diposkan oleh Imam Basori, M.Ag di 22:34

Yang artinya: “Anak (yang sah) itu adalah hasil di kasur (hubungan suami isteri). Sebagian Ulama seperti Qatadah. sebagaimana pendapat Umar.wb Assalamu alaikum wr.a memukul laki-laki dan perempuan yang berzina. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah. Sedangkan laki-laki penzina tdak bertangung jawab. Ibnu Abbas.Assalamu’alaikum wr. .wb. Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah itu nasabnya kepada ibunya bukan kepada laki-laki penzina. menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ibnu Mas’ud. saudara saya perempuan hamil diluar nikah oleh pacarnya. 32) Kedua. dan Umar r.S Isra . Ishaq dan Abu ‘Ubaid membolehkan kedua orang yang berzina menikah.a berketetapan untuk menikahkannya”. wassalamu’alaikum wr.bagaimana hukumnya dan solusinya bagaimana mohan penjelasan. Yang artinya: Di riwayatkan. Karena nasab itu hanya terlahir dari hubungan yang sah (pernikahan) sebagaimana hadits Rasulullah saw. “Sahabat Umar r.” Karena nasab anak (hasil) zina tersebut kepada ibunya. maka ibu dan atau kerabatnya yang memebri nafah kepada anak tersebut. Zina adalah perbuatan dosa besar yang sangat dicela Allah swt. Yang artinya: Ibnu Abbas Mengatakan : “Permulaannya Zina dan diakhiri dengan nikah”. diantaranya “Janganlan kamu sekalian mendekati zina”. dan penzinanya itu di hukum. maka nafkah anak menjadi tanggung jawab istri dan atau kerabatnya. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Sebagian yang lain seperti Abu Hanifah.wb. sebagaimana ditegaskan ayat-ayat al Qur’an. Islam membolehkan laki-laki dan perempuan yang berzina untuk menikah atau dinikahkan dan tanpa menunggu iddah jika siperempuannya hamil. seharusnya si suami tersebut bertanggung jawab teradap nafkah anak tersebut. dengan syarat kedua orang yang berzina tersebut itu bertaubat .sekarang sudah hamil 8 bulan. (Q.pihak keuarga hendak menikahkan mereka. Pertama. Tetapi karena alasan kemanusiaan. Ketiga. Jika si suami menolak. Imam Malik dan Imam Syafii tidak mensyaratkannya.

layaknya anak-anak lain yang lahir dari hubungan yang sah. Setelah bertaubat. Home . pendidikan dan pembinaan supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Anak yang terlahir adalah amanah.Keempat. Aminn Wallau a’lam bi ash sowab Wassalamu alaikum wr. 2. nikahkan keduanya (yang berzina) tanpa menunggu iddah (jika hamil dan belum melahirkan). Ajak saudara Anda untuk bertaubat dan menyadari kesalahan dan bekomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya. 4. Semoga Allah membimbing bapak dan keluarga. 3. atas dasar beberapa tuntunan fikih islam di atas. sekaligus ia dan kerabatnya memiliki tangung jawab menafkahi anak tersebut jika si bapak menolak menfkahinya. ia harus mendapatkan riayah. Nasab janin tersebut kepada ibunya.wb. maka di sarankan kepada penanya beberapa hal : 1.

masalah ini kami uraikan sebagai berikut : . (QS. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. AlMuhalla 10/263 dan Zadul Ma‟ad 5/156. Bila sudah terlanjur menikah. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala : “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya”. Kemudian beliau berkata : “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah”. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Jawab : Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya”. (QS.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini Wal „iyadzu billah. Takmilah Al-Majmu‟ 17/347-348. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah nya. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2.) Adapun perempuan hamil karena zina.Hukum Nikah Dalam Keadaan Hamil Posted by Admin pada 27/06/2009 1. (Lihat : Al-Mughny 11/227. Al-Baqarah : 235). Ath-Tholaq : 4). Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir.

Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah „Azza Wa Jalla : “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Al-Baihaqy 7/153. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. (Hadits hasan. Al-Hakim 2/180. An-Nur : 3). Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : “Jangan kamu nikahi dia”. 3177. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). (QS. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. beliau berkata : “Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad).Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. maka turunlah (ayat) : “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”. Inilah yang benar tanpa keraguan”. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Dua : Tidak disyaratkan taubat. Saya nikahi „Anaq ?”. (Martsad) berkata : “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wassallam lalu saya berkata : “Ya Rasulullah. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin”. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum . Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. riwayat Abu Daud no. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama : Satu : Disyaratkan bertaubat. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau lakilaki musyrik.Martsad berkata : “Maka beliau diam. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. At-Tirmidzy no. Ishaq dan Abu „Ubaid. 2051. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik.

Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. 3. Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Meninggalkan dosa tersebut. (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho‟ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Ikhlash karena Allah. Catatan : Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84.haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya”. dan Al-Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Yaitu dengan lima syarat : 1. Wallahu A‟lam. . Dar „Alamil Kutub). AlMughny 9/562-563 (cet. Menyesali perbuatannya. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa AlBayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma‟ad 5/114-115. 5. 4. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?”. Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. 2. beliau berkata : “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Ber‟azam (bertekad) dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahariterbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat.

Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. At-Tirmidzi no. Ahmad 3/62. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali”. 1131. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini : 1. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. 2. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. AtsTsaury. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Abu Daud no. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh nber-jima‟ dengannya setelah akad. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. (HR. Ahmad 4/108.Syarat Kedua : Telah lepas „iddah. beliau bersabda : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. tapi ada perbedaannantara mereka berdua pada satu hal. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. 2158. 2157. Al-Baihaqy 7/449. Kedua : Tidak wajib „iddah. Ibnu Qoni‟ dalam . (HR. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. Abu Daud no. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. 7/449. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.87. 187). AlBaihaqy 5/329. ada dua pendapat : Pertama : Wajib „iddah. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain”. Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. An-Nakha‟iy. Imam Malik.

Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan „iddah bagi perempuan yang berzina. Beliau bersabda : “Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?”. Dan „ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. apakah hamilnya itu karena suaminya. . 2137). Ath-Thobarany 5/no. Ibnu Sa‟ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115.). (QS. Wallahu A‟lam. Ath-Tholaq : 4). Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya”. Ibnul Qayyim. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. (Para sahabat) menjawab : “Benar”. Asy-Syinqithy. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. tuannya (kalau ia seorang budakpent. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid)”. 3. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent.Mu‟jam Ash-Shohabah 1/217. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza Wa Jalla : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath.) atau karena zina”. (QS. Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Al-Baqarah : 228).

Al-Inshof 8/132-133. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Al-Ifshoh 8/81-84. Kalau ada yang bertanya : “Setelah keduanya berpisah. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa „iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. • Kalau ia belum hamil.Kesimpulan Pembahasan : 1. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Wallahu Ta‟ala A‟lam. Takmilah Al-Majmu‟ 17/348-349. 2. Zadul Ma‟ad 5/104-105. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa „iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. 2. Bidayatul Mujtahid 2/40. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat : “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya”. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). 11/196-197. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Al-Fatawa 32/109-134. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik. Wal „Ilmu „Indallah. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. 154-155. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut : • Kalau ia hamil. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. . „iddahnya adalah sampai melahirkan. baik hamil karena pernikahan sah. 847-850. apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?”. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para „ulama. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. syubhat atau karena zina. Raudhah Ath-Tholibin 8/375. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah.

nikahnya batil. Al-Hakim 2/182-183. 4074. (HR. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya. Al-Baihaqy 7/105. Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya.698.3. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha. 700. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : . Abu Daud no.275. Ahmad 6/47. Ibnu Majah no. Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. AlHumaidy dalam Musnadnya 1/112. Ibnu Abi Syaibah 3/454. 1463. 7/171. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. An-Nisa` : 4). Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah 6/88. 2083. 1879. Ath-Thohawy dalam Syarah Ma‟any Al-Atsar 3/7. Demikian rincian Ibnu Qudamah.4750. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no.66. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.4837. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.166. 10/148. Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Sa‟id bin Manshur dalam sunannya 1/175.138. maka nikahnya batil. Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166. 1102. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. dan dalam Al-Umm 5/13. 315. nikahnya batil. Ad-Darimy 2/185. Adapun mahar. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 7/284.124. maka kembali diwajibkan mahar atasnyaberdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala : “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan” (QS. Ad-Daruquthny 3/221.222. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. At-Tirmidzi no.dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali”. 4682. Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi.1840). „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195.165.

php?id=1332. Bahaya Zina Allahh Ta‟ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. AllahTa‟ala berfirman. Lihat : Al-Mughny 10/186-188. Allah Ta‟ala berfirman.200 dan Zadul Ma‟ad 5/104-105. yang sulit terelakkan lagi adalah perzinaan. Namun masalah yang timbul adalah bolehkah wanita tersebut dinikahi ketika ia dalam kondisi hamil? Lalu apa akibat selanjutnya dari perbuatan zina semacam ini. Hal ini sudah dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat kita. Si wanita dengan menahan malu telah memiliki isi dalam perutnya. Wallahu A‟lam. sebelum mendapat label sah sebagai pasangan suami istri. dari milis an nashihah.” (QS.“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban”.or. َ ‫َ م ّللا ل ِ ْ َ َ ل ْ ُ َ َ ْ َ ل‬ ْ َّ ُ َْ ‫َ َل‬ ْ ‫ل‬ ْ ‫والَّذٌِنَاا َاا ٌَدعُونَاامعَاا َّااإِلَهااآَخرَااو َااٌقتلُونَااالنفسَااالَّتًِاحرَّ اا َّا ُاإِ َّاابالحقِّااو َ اا ٌَزنونَااومنْاا ٌَفع ااذلِكَاا‬ ِ‫َ ّللا‬ َ َ ََ‫ٌَ ْلقَااأث‬ ‫اما‬ . ‫ِّ ه َ َ ِ َ ة َ َ ء َ ٌِل‬ ‫و َااتقربُوااالز َنااإ َِّن ااكانَاافاحش ااوسا ااسب ا‬ ُ َ َ َْ ‫َل‬ “Dan janganlah kamu mendekati zina. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Al-Fatawa 32/198. Sumbr: Tulisan Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.darussalaf.(QS.id/stories. Hanya Allah yang beri taufik. 24 Maret 2010 21:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu „ala Rosulillah wa „ala aalihi wa shohbihi wa man tabi‟ahum bi ihsanin ila yaumid diin. Fenomena yang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494. http://www. Rabu. dimuat dalam Risalah Ilmiyah An-Nashihah vol ke-5. Semoga artikel sederhana berikut ini bisa memberikan pencerahan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran. Dan suatu jalan yang buruk. Al Isro‟: 32) Dalam ayat lainnya.

Dalam hadits lainnya. dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda. َ َ َ َ ‫إِذااز َنىاالرَّ جُ ااخرجَاام ْن اااإلٌِمانُااكانَااعلَ ٌْ ااكالظلَّ اافإِذااا ْنقطعَاارجعَااإِلَ ٌْ اااإلٌِمانُا‬ ‫ه‬ ‫ل َ َ ِه‬ ُ ُ ِ ِ ِ َ َ َ َ َ َ َ ‫َ ه َ ُّ ة‬ “Jika seseorang itu berzina. َُ ‫ث ااأَنْااتزانِىَاابحلٌِلَ ااجاركَا‬ ‫ُم‬ ِ َّ ِ َ ‫ِ َ ة‬ “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. di antaranya adalah Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah no. Apakah hal ini mungkin? Syukron. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. tanggal Fatwa 23 Jumadil Ula 1422 H. Terjerumuslah dalam dosa besar zina karena tidak mengindahkan berbagai jalan yang dapat mengantarkan pada zina seperti bentuk pacaran yang dilakukan muda-mudi saat ini. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. Oleh karenanya. Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina Ada beberapa fatwa ulama yang kami temukan. ا‬ .” Kemudian ia bertanya lagi.اأخرجهاالبغويافًاشرحاالسنةاوأبواداووداوقالاابناحجرافًاالتلخٌصاإسنادهاحسناوصححهاالحاكماوقالاعلىاشرطامسلما. “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan. 9644 mengenai syarat menikahi wanita yang dizinai. Al Furqon: 68). Ia ingin menutup aibnya dengan menikahinya karena wanita tersebut masih kerabatnya. Jadilah di antara mereka hamil di luar nikah. Jawaban: :‫الحمداهللاوالصلةاوالسلماعلىارسولاّللااوعلىاآلهاوصحبهاوسلماأماابعد‬ ‫فإناالزواجامناالزانٌةامختلفافٌها،افمناالعلماءامناٌقولابصحته،اومنهمامناٌقولابمنعها،اوممناقالابمنعهااإلماماأحمد،اوهواقولاٌشهدالهاظاهرااآلٌةاالكرٌمةا(ا‬ ‫الزانًالاٌنكحاإلازانٌةاأوامشركةاوالزانٌةالاٌنكحهااإلازاناأوامشركاوحرماذلكاعلىاالمؤمنٌنا)ا[النور:3] ا‬ ‫وعلٌهافلاٌجوزالمناعلمامناامرأةاأنهااتزنًاأناٌتزوجهااإلابشرطٌن:اأحدهما:االتوبةاإلىاّللااتعالى،اثانٌهما:ااستبراؤها.”[2] Inilah besarnya bahaya zina. padahal Dia-lah yang menciptakanmu. Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam.اشكرا‬ Apakah boleh seseorang menikahi wanita yang dizinai dan ia tahu bahwa wanita tersebut betul telah dizinai sebelum menikahinya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. akhirnya terjadilah apa yang terjadi. syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. barang siapa yang melakukan yang demikian itu. Jika dia lepas dari zina.” Kemudian ia bertanya lagi. maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu. apalagi berzina dengan istri tetangga.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina. Namun itulah yang terjadi jika hal ini dilanggar. orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan. “Wahai Rasulullah.“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. maka iman itu akan kembali padanya.افإذااتوفراالشرطاناجازاالزواجامنهاا،ا‬ ‫والدلٌلاعلىاوجوباالستبراءاقولهاصلىاّللااعلٌهاوسلمافٌماارواهاأبواسعٌداالخدريارضًاّللااعنها"لاتوطأاحاملاحتىاتضع،اولاغٌراذاتاحملاحتىاتحٌضا‬ ‫حٌضة". dan tidak berzina. Artinya.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.” (QS. Pertanyaan: ‫هلاٌجوزالشخصاأناٌتزوجامناإمرأةازانٌةاوهواٌعلماأنهاازنتاقبلاأناٌتزوجها،اوهواٌرٌداأناٌسترا‬ ‫علٌهااألنهااقرٌبته،اوأرجوااإلفادةامنكما،اهلاٌمكنامعرفةاالمفتًا. Aku ingin jawaban dari kalian mengenai hal ini.

َ َ ‫ل ُ َ أ َ ِل َ َّ َ َ َ ل‬ َّ َ ‫َ ل‬ ‫َ َة‬ ‫اَاتوطا ُاحام ااحتىاتضعَااو اَاغ ٌْرُااذاتِااحمْ ااحتىا َتحٌِضَااح ٌْض ا‬ “Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro‟nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. ا‬ Segala puji bagi Allah. maka ketika dua syarat ini terpenuhi boleh menikahi dirinya dengan tujuan apa pun. ا‬ ‫وّللااأعلم. baik yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lainnya. shalawat dan salam kepada Rasulullah. keluarga dan para sahabatnya. atau perempuan yang musyrik. Wallahu a‟lam. Inilah pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh para ulama Hambali dan Malikiyah karena didukung oleh dalil yang begitu gamblang. Sebagian ulama mengatakan bahwa menikahi wanita tersebut dinilai sah.”[3][4] Ringkasnya. Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra‟ terlebih dahulu. Jika tidak terpenuhi dua syarat ini. Jika dua syarat ini telah terpenuhi. Pendapat ini didukung kuat dengan firman Allah Ta‟ala. maka wanita tersebut baru boleh dinikahi.[5] –Demikian Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah-. menikahi wanita yang telah dizinai jika wanita tersebut betul-betul telah bertaubat pada Allah dan telah melakukan istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim dari mani hasil zina). maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki . maka ia boleh menikahi dirinya jika memenuhi dua syarat: Pertama: Yang berzina tersebut bertaubat dengan sesungguhnya pada Allah Ta‟ala. maka tidak boleh menikahinya walaupun dengan maksud untuk menutupi aibnya di masyarakat. Amma ba‟du: Mengenai hukum menikahi wanita yang telah dizinai.” (QS. Simpulannya. konsekuensi dari menikahi wanita hamil adalah nikahnya tidak sah. َ ‫َ ل َ ان و ُ ْ ِ ك َ م‬ ُ ‫الزانًِا َاا ٌَ ْنك ااإِ َّاازان ٌَ ااأَ ْاامشرك ااوالزان ٌَ اا َاا ٌَ ْنكِحُ هااإِ َّااز ااأَ ْاامشر ااوحُرِّ ااذلِكَااعلَىاالمُؤمنٌِنَا‬ ‫َّ ل ِ ح ل َ ِ ة و ُ ْ ِ َ ة َ َّ ِ ة ل‬ ُ ِ ْ ْ َ َ “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. Di antara ulama yang melarangnya adalah Imam Ahmad. Kedua: Istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim). Dalil yang mengharuskan adanya istibro‟ adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Sebagian ulama lainnya melarang hal ini. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.‫والخلصةاأناالزانٌةاإذااتابتاإلىاربهااوتحققتابراءةارحمهاامناماءاالسفاحاجازانكاحهاابأياغرضاكانا،افإذاافقداأحداالشرطٌنالماٌجزانكاحها؟اولوابقصدا‬ ‫الستراعلٌها،اوالتغطٌةاعلىاعملهااالقبٌحا. An Nur: 3) Jika seseorang mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita yang telah dizinai.

alias dia adalah anak tanpa bapak. ia dinasabkan kepada ibunya. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah. namun walinya adalah wali hakim. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. maka walinya bukan laki-laki tadi. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. maka anaknya tetap dinasabkan pada ibunya. Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada bapaknya. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian.serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina.”[6] Firasy adalah ranjang dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. status anaknya hanyalah seperti robib(anak tiri). baik karena taqlid (ngekor beo) kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. konsekuensinya: 1. Wallahu a‟lam. bukan pada bapaknya. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. maka pernikahannya itu tidak sah. ُ ‫الولَ اال ِْلفِراشِااول ِْلعاهِرِااالحجرُا‬ َ َ ْ َ َ َ ‫َْ د‬ “Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya. 2.[8] Ringkasnya. . Namun anak tersebut dinasabkan pada ibu dan keluarga ibunya. 3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan. Anak itu tidak berbapak. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. Sedangkan suami tersebut. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui. Status Anak Hasil Zina Adapun nasab anak. Jika wanita yang hamil tadi dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya. Jadi yang berlaku padanya adalah hukum anak tiri. karena dia itu tidak memiliki wali. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja. bila telah selesai istibra‟ dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.[7] Bila seseorang meyakini bahwa pernikahan semacam ini (menikahi wanita hamil) itu sah. anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya (walaupun itu jadi suaminya).

Jika yang ditanam keburukan. 2/4764. memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. 9 Rabi‟ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 24/03/2010) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www. 1420 H . [3] HR. akhirnya nasab menjadi rusak. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil. Darul Wafa‟. Abu Daud no.”[9] Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Kalau nikahnya tidak sah berarti apa yang terjadi? Yang terjadi adalah zina. [5] Lihat Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah. 8/417. 7532 dan Muslim no. 4690 dan Tirmidzi no.remajaislam. Inilah akibat dari perbuatan zina. Gara-gara zina. 32/66-67. Diselesaikan di Pangukan-Sleman. 2/2587. maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibro‟ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil. Asy Syamilah. [9] Tafsir Al Qur‟an Al „Azhim. [7] Lihat Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah. ُ ُ َ َ ‫مِنْاا َثوا ااالحس َن ااالحسن اا َبعْ دَ ها،اومِنْااجزاءِااالسٌ َئ ااالسٌئ اا َبعْ دَ ها‬ ‫َّ ِّ ة َّ ِّ َ ة‬ ‫َ ب َ َ ة َ َ َة‬ ِ ِ ِ َ َ َ “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.com. cetakan kedua. Setiap yang ditanam pasti akan dituai hasilnya. [2] HR. Bukhari no. Bukhari no. Keturunannya pun akhirnya rusak karena anak hasil zina tidak dinasabkan pada bapak hasil zina dengan ibunya. Abu Daud no. 2157. nikahnya pun tidak sah. 2625.Penutup Setelah kita melihat pembahasan di atas.com [1] HR. [8] Lihat Majmu‟ Al Fatawa. Ibnu Katsir. 86. cetakan ketiga. Oleh karena itu. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 1457. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. maka keburukan berikut pula yang didapat. Daar Thoyyibah. 6749 dan Muslim no. tahun 1426 H. Awalnya hamil di luar nikah (alias zina). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Akhirnya karena nekad dinikahi ketika hamil. dipublish ulang oleh http://rumaysho. [6] HR. para salaf mengatakan. [4] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama.

” (QS. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. Muslimah | Share 201 Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain 1. Bila sudah terlanjur menikah. Ath-Tholaq: 4) Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala: “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Munakahat & Keluarga. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam: Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil posted in Fiqh Ibadah. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah[1]nya. Al-Baqarah: 235) . Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal „iyadzu billah. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut: 1.” (QS.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini.

Ishaq dan Abu „Ubaid.” Kemudian beliau berkata: “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Adapun perempuan hamil karena zina.” Lihat: Al-Mughny 11/227.” Tarjih di atas berdasarkan firman Allah „Azza wa Jalla: “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya.Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama: Satu: Disyaratkan bertaubat. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348.” (QS. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. An-Nur: 3) Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Inilah yang benar tanpa keraguan. masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. beliau berkata: . Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. Dua: Tidak disyaratkan taubat.

1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul) Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia. Saya nikahi „Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam. ‫؟‬ : : (( : )) . Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. At-Tirmidzy no. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad.. maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84.” (Haditshasan. 2051. Al-Mughny 9/562-563 (cet. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Catatan: Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. riwayat Abu Daud no. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. . Al-Baihaqy 7/153. 3177. : Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Dar „Alamil Kutub). AlHakim 2/180.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermaknajima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116.

apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. 3. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak ini perempuan untuk berzina dan memintanya. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima‟ dengannya setelahakad. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Wallahu A‟lam. Kedua: Tidak wajib „iddah. 2. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. ada dua pendapat: Pertama: Wajib „iddah. Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah. Karena dan untuk permintaannya pada saat berkhalwat (berduaan) bukan mahram) walaupun tidak halalberkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?” Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Yaitu dengan lima syarat: 1. Menyesali perbuatannya. An-Nakha‟iy. Meninggalkan dosa tersebut.Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. Tarjih . Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Imam Malik. Ber„azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. 4. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. Ikhlash karena Allah. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. AtsTsaury. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal. 5.

” (HR. Ahmad 3/62. Ad-Darimy 2/224 AlHakim 2/212. apakah hamilnya itu karena suaminya. Ibnu Sa‟ad dalam Ath- Thobaqot 2/114-115. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.) atau karena zina. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: . Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Ath-Thobarany 5/no. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar. beliau bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat.). Ibnu Qoni‟ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217. 2137) 3. 7/449. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini: 1. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu.” Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Al-Baihaqy 5/329. 2158.” (HR. Abu Daud no. At-Tirmidzi no. Al-Baihaqy 7/449. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.87. Ahmad 4/108. Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no.” . tuannya (kalau ia seorang budak-pent. 2157. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos: “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali. 187) 2. 1131. Abu Daud no.

maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza wa Jalla: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan „ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. Ibnul Qayyim. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Asy-Syinqithy.Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Lihat pembahasan di atas dalam: Al-Mughny 9/561-565. Bidayatul Mujtahid 2/40.Wallahu Ta‟ala A‟lam. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut: • Kalau ia hamil. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Al-Baqarah: 228) Kesimpulan Pembahasan: 1. • Kalau ia belum hamil. Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349. Wallahu A‟lam.” (QS. Zadul Ma’ad 5/104-105. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu: “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid). 11/196-197. Raudhah Ath- Tholibin 8/375. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. 154-155. Catatan: Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Al-Fatawa 32/109-134. AlInshof 8/132-133.” (QS. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan„iddah bagi perempuan yang berzina. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. 847-850. Ath-Tholaq: 4) Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. . Al-Ifshoh 8/81-84. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. 2. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas.

2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?” Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para „ulama.

Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya.” Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin

Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. Wal „Ilmu „Indallah. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). 3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak adamahar bagi perempuan tersebut. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha, Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda:

“Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam Al-Umm5/13,166, 7/171,222, „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa‟id bin Manshur

dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. 4074, Al-Hakim 2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Al-Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840) Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala:

“Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala:

“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A‟lam. Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105. Footnote:

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “„Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut

pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.” Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45&page_order=2

This entry was posted on Tuesday, March 4th, 2008 at 3:48 am and is filed under Fiqh Ibadah, Munakahat & Keluarga, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 29 responses to “Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil”
Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

1.

1

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam:

Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.” Mohon agar matan tulisan ini diedit lagi.

Reply
posted on March 4th, 2008 at 1:25 pm

2.

2

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

`Afwan. dan setelah dinikahkan apakah setelah melahirkan perlu dinikahkan kembali. 0.? terima kasih ADMIN: Penjelasan pada artikel di atas insya Allah sudah cukup jelas. intinya HARAM. juga „utk menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran‟ itu pun bukan alasan. Reply posted on March 4th. tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina .. bukan malah semakin melanggar syariat dan jatuh 2 kali ke jurang kehancuran dengan menikahi wanita hamil sebab zina (padahal ini haram) yang mana ini sama saja berarti dia itu akan zina seterusnya (karena nikah yang seperti ini tidak sah). In syâ‟ Allâh artikel ini sesuai aslinya. Menghindari aib itu bukanlah alasan syar‟i. apakah kalau dinikahkan oleh orang tuanya bagaimana. 2008 at 1:32 pm posted on November 11th. Penjelasan tambahan: Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah) Pertanyaan Melalui: dari al-Ustadz Sekretariat Langsung Abu Abdirrahman via Muhammad Telepon Wildan. akan tetapi yang dapat menyelamatkannya adalah dengan taubat yang benar. supaya hal tersebut untuk menghindari aib dan menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran. karena dia memang telah masuk ke jurang kehancuran akibat zina yang diperbuatnya. Batam Yayasan Anshorus Sunnah. kami tidak memahami maksud antum. termasuk matan hadîts yang dimaksud. nikahnya TIDAK SAH. bahkan jika dilakukan alasan itu akan menyebabkan semakin melanggar syariat (karena haramnya menikahi wanita hamil sebab zina). Lc.atau mungkin hasil postingnya memang begitu ya. lacsana said: saya mau menanyakan tentang anak yang menikah diusia muda karena married by accident. 2009 at 7:28 pm 3. Saya coba copy matan hadits /terjemahan diatas yg mana tertulis melaknatnya 2x dan kuburnya2 kali tapi justru berubah. kira2 secara islam bagaimana.

maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut: Pertama: Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur : 3 [‫س‬ ‫سسسسس سسس‬ ] . baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya. Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3) Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “.. Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi . seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya. Artinya: Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah. ‫س سسس سسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫سس سسسس سس سس‬ ‫س سسس‬ ‫س سس‬ ‫س سس س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سسسسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫س سسس سسسس س‬ ‫سسس‬ ‫س سسس سسسس سسسسس سسسس سس س سس س‬ ‫سس‬ ‫س سسس‬ ‫س س سسسس‬ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ . maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum. yaitu HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina.Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) : Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina. Artinya.Tanya : Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ? ‫سسس سس سس س س : س‬ ‫سس‬ ‫سس س سسس سسسس س : س‬ ‫س‬ ‫سسسس سسسسس سسس س س سسس س : س‬ ‫س‬ ‫س س‬ .

ada diantara para ulama yang memfatwakan. 7 On January 3rd. namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya. Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu. risa muthmainnah said: . apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut. maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan. laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina sebab ia telah melakukan akad yang diharamkan yang ia meyakini keharamannya. Iya. 2010 at 4:31 pm 4. hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih. 2011. Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158) Reply posted on November 17th. yaitu menyiramkan maninya kepada anak dari kandungan orang lain. Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu „Alaihi Wasallam. sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. Jadi. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil. maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut. maka pada saat seperti itu. ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”.orang-orang yang beriman. maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. dan ini adalah bahasa kiasan. maka tidak boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya.

maka harus diulang lagi. 2011 at 6:15 pm 7. 2011. 2011 at 3:51 pm 6.. 10 On February 9th.saya mau brtanya tentang pndapat singkat imam syafi‟i dan hasan al-bashary ttang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah Reply posted on January 3rd. 2011. HARAM dan BATIL/TIDAK SAH. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. lalu tunggu iddah si wanita selesai. Meliza said: apakah mahar yang berupa uang boleh di bingkai dan di pajang. Caranya: mereka harus taubat dulu. baru kemudian mereka menikah lagi. 2011: sekalipun sudah terlanjur tetaplah tidak teranggap nikahnya itu. uni mutia said: . kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Reply admin reply on April 26th. adiguna said: Bila sudah terlanjur menikah. Reply posted on January 19th. 2011. 8 On January 16th. 2011 at 8:05 am 5.? apa hukumnya? Reply posted on January 16th. 9 On January 19th. tanpa perlu perceraian krna hakikatnya mereka selama ini berzina bukan dalam ikatan nikah (karena tidak sahnya pernikahan mereka tadi). demikian insya Allah sah.

Syamsul Huda said: Izin ngopi…. puenting nee… Matur nuwun… Reply posted on February 21st..alilmu. apakah sudah ada majalah akhwat dalam bentuk Ebook atau File HTML? Jazakumullohu Khiron Admin. harga majalah sangat murah hanya rp. 2011 at 11:17 am 8.afwan. buat khasanah ilmu. Abu Sholihah said: Bismillah. 11 On February 14th. Reply posted on February 14th. dengan membeli majalah ini antum telah membantu biaya kegiatan dakwah disini.apakah sepasang suami istri yg menikah dlm keadaan hamil kemudian belum menikah lagi lalu ketika suami mengajak berhubungan badan istri menolak dengan alasan tak ingin berzina lagi apakah istri tersebut dosa?lalu bagaimana kewajiban menafkahi nya? Reply admin reply on April 26th.com atau agen terdekat. 2011. 2011: .10000 sebulan sekali bisa dibeli di http://www. M. 2011 at 12:25 pm 9. umi yani said: bismillah.asslamuallaikum…kenapa ea wanita sekarang banyak yang mengobral aurat mereka??? Reply posted on February 9th. 2011. afwan kami tidak membuat majalah akhwat dalam bentuk ebook. 2011 at 2:47 am 10.ana mau tanya. Afwan. 2011. 12 On February 21st. 13 On March 5th.

maka syaratnya pezina ini sebelum nikah adalah wajib TAUBAT dulu. 2011 at 3:22 pm 12. tapi sebelum itu keduanya harus bertaubat dan tunggu si wanita itu lepas iddahnya dulu. barulah dia halal dinikahi.. lalu wajib menunggu LEPAS IDDAH. 14 On April 12th. 15 On April 29th. 2.. 2011. Reply posted on March 5th. setelah zina itu tentu ada 2 kemungkinan keadaan: 1.. Reply admin reply on April 26th. Dia tau maupun tidak tau kehamilannya maka tetap tidak akan lepas dari 2 kemungkinan di atas. 2011. 2011 at 4:45 pm 11. jika zinanya tidak menjadikannya hamil maka dia akan haidh. Tentang iddahnya. aisyah said: Bagaimana bila saat menikah dia tidak mengetahui kalau dia sedang hamil. Sekalipun tidak tau trnyata sudah hamil. tunggu lepas iddahnya sampai haidh 1 kali. tapi dia pasti tau bahwa sebelumnya sudah berzina. 2011: Silahkan dibaca kembali artikel di atas sudah jelas menjawab pertanyaan anti. lalu wajib mereka mengulang nikahnya. dan nikahnya BATAL/TIDAK SAH. bahwa HARAM menikahi wanita hamil.sampaikan ilmu pada mereka hingga jelas hukum-hukumnya bagi mereka sebagaimana telah dibahas pd artikel di atas. yang manapun keadaannya telah jelas apa yang harus dilakukannya.. (Admin/Abu Husain Munajat) Reply posted on April 12th. jika zinanya menjadikan dia hamil maka iddahnya sampai selesai melahirkan. umi yani said: . Ana coba jelaskan ulang. wallahu a‟lam.

Adapun hidayah adalah dari Allah semata.„afwan. Maka tentu saja tidak wajib menafkahi karena dia bukan apa-apanya dan bukan tanggungjawabnya. Tapi solusi yang insya Allah lebih baik menurut kami adalah keduanya bertaubat lalu menunggu iddah selesai lalu menikah secara sah. sy bertanya saya menguraikan sebuah kalimat. 2011 at 6:53 pm 13. asllamu sebelum dalam hidup manusia bahwa sahnya manusia tidak mngetahui kapan. Jika si laki-laki/‟suami‟ tidak terima maka itu tidak ada urusan thd si wanita karena dia bukan siapa-siapa bagi si wanita.. TIDAK SAH.berarti nikahnya tidak sah ya?berarti tidak wajib menafkahi?lalu bagaimana cara menjelaskan tentang hukum itu. tapi yang lebih penting dari itu adalah WAJIB TAUBAT. bahkan kami katakan wajib karena meninggalkan maksiat zina itu wajib hukumnya. . dirman said: apa hukumnya dalam islam apabila mendatangi pernikahan keluarga kita yg menikah karena telah hamil? Reply posted on May 14th. Dia bisa kembali ke orang tuanya dan jelaskan kepada orang tuanya dan mereka bisa mengadukan kepada pemerintah utk keputusan cerai secara administrasinya. 2011 at 12:31 am 14. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dengan menaati hukum-hukum-Nya. 2011: Insya Allah sudah jelas di artikel di atas. 2011. Si wanita berhak pergi darinya. 2011. Reply posted on April 29th. misalnya melalui ortunya atau seorang ustadz. 16 On May 14th. Wallahu a‟lam. 17 On June 6th. dengan ilmiah dan hikmah. dimana. Cara menjelaskannya tentu si wanita yang lebih tau. irfan buhar said: alaikum..karena sebelumnya si suami tidak terima? Reply admin reply on May 4th.

apa hukumnya kalau laki2 menikah dengan wanita yang sedang hamil n yang menikah dengan wanita tersebut adalah laki2 yang telah menikahinya??. saya mau tnya. Reply 15. 20 On August 4th... apakah bisa diambil kesimpulan bahwa akad nikah dapat dilaksanakan dan sah hukumnya?? jika saat hamil tidak boleh dinikahi. arie said: ass. Reply posted on August 4th. dikatakan bahwa wanita yang sedang hamil tidak bisa menikah sblm dia bertobat dan sampai dia telah melahirkan skalipun yg akan menikahinya adalah orang yang berhubungan dgnya. siapa pun atas kematianya. 2011 at 9:15 pm . 19 On June 23rd.sedang apa. sblm dia melahirkan atau bertaubat. airin said: assalamualaikum misalkan keduanya sudah benar2 bertobat.. bgmna klau si wanita tersebut telah meninggal. maksud saya laki2 yang telah menghamilinya bukan menikahinya… terimakasih.. 2011 at 8:40 am balasannya terimakasih 16. apa yg berlaku pada laki2nya dan wanitanya. 2011. arie said: klarifikasi pertanyaan di atas. 21 On August 4th. tlong di jawab ya!!! Reply posted on August 4th. 2011. 2011 at 9:12 pm 17. seperti yang diterangkan diatas. lalu bagaimana status anak menurut islam?? mohon wass Reply posted on June 23rd.. 2011...

tapi jawabannya.. gimana ni hukumnya? tolong dibantu. pertanyaan anda sudah jelas jawabannya. Isampai sekarang kami tidak meyadari kalo pernikahannya selama ini tidak SAH/ HARAM. 2011 at 12:08 am 19. apabila anak perempuan kami klau mau menikah. Reply posted on August 14th.Mhn penjelasannya. cuma. bapaknya tidak sah menjadi wali buat siAnak. Balas Reply . 2011. 22 On August 14th.atau anak itu adalah anak ibunya dan tidak bisa mendapat warisan? dan kalau anaknya perempuan tidak bisa diwalikan oleh si lelaki itu?apakah benar?apakah ada buku atau referensi yang memuat hal tersbt diatas dengan lengkap?karena si laki-laki sudah pernah diberitahu tentang hal ini tapi sepertinya tidak percaya dan menganggap remeh. Adawiyah said: Ass. Admin: jika melihat pendapat sesuai penjelasan di artikel.dan rencana kami mo nikah kembali. 23 On October 24th. karena kami sudah melahirkan Anak perempuan.jadi kami sudah mempunyai 3 orang Anak. 2011.18. bahkan sekarang mereka memiliki anak kedua. trim‟s wasalam. novmery said: akibat perzinahan hamil 3 bln. tdak perlu nikah lgi karena pernikahaan pertama itu sah.mereka hidup selayaknya suami istri setelah pernikahan itu. dan tidak melakukan pernikahan ulang ketika bayinya sudah lahir.apakah wajib bagi mereka menikah lagi?.kalau seorang laki-laki terpaksa menikahi perempuan yang sudah dihamilinya. itulah jawabannya.sampai sekarang sudah 10 th usia pernikahan kami. syukron.terus kami menikah. pernah satu kx kami memanggil yg paham tentang agama. bagaimana hukum status anak anak itu menurut Islam? Saya pernah mendengar kalau nasabnya tidak bisa dihubungkan dengan laki-laki yang menikahi wanita yang hamil.

berarti tetap harus melakukan pernikahan .. 24 sy On November 13th.. 2011 at 8:36 pm 20. kami sudah punya niat utk menikah. disebabkan oleh hal2 lain yg menghalangi mreka untuk dtg k t4 trsebut).. banyak hal yg ditakutkan dalam hubungan yg semakin lama ini... 2011 at 10:40 pm 21. apa ingin hukum nikah. jika hukumnya boleh2 saja.. sama halnya dgn psngan sy 20th. 2011. tity said: asslmualaikuumm wr. mohon thx b4 wassalam :D sarannya ya.. selain itu wali/kluarga mmpelai wanita tidak bisa berkunjung di kota t4 terselenggaranya nikah. apakah dlm islam diperbolehkan menikah jika lelaki masih muda dan belum berpenghasilan/msih kuliah ? 4..wb.5 thun. 25 On December 12th. kami ingin menikah. rasyid said: bagaimana kalau baru mengetahui hukumnya setelah sekian lama menikah dan telah mempunyai 2 orang anak lagi. sy jika tanyakan sikonnya sprti kami : ? 2. yg 1. Reply posted on November 13th. 2011. kami berdua masih kuliah smster 5 di kmpus dan jurusan yg sama pula.posted on October 24th. ttapi belum punya pnghasilan. jika keluarga dari kedua belah pihak sudah menyetujui untuk menikah. bagaimana cara meyakinkan ortu akan niat kami tsb ? 3.. seorang gadis 20th. krna kami sngat dekat dan hmpir stiap hari bertmu. apakah dlm islam diperbolehkan wali nikah (ayah mempelai wanita) mengucapkan ijab kpda mempelai pria via telepon ? dalam hal ini wali/keluarga mempelai wanita tidak bisa hadir dalam akad nikah karena jarak yang memisahkan (kota yg berbeda.pdhal hbngan kami sdah brjlan slma 3.

Under Bahsul Masa'il.ID :: Menggapai Kontroversi Hukum Pernikahan dengan Wanita Hamil Zina Oleh admin Pada Thursday. diantaranya: 1.jalan(Sifaah) bagaikan hewanhewanpun melakukannya.WEB. Fikih Perkawinan dengan Wanita Hamil Zina Sesuai dengan nubuat (berita masa depan) Nabi Muhammad dalam sebuah hadistnya bahwa kiamat tak akan terjadi sebelum manusia banyak melakukan peribuatan sex bebas dijalan.wanita (gadis) yang terpaksa di nikah kan dengan seorang priya gara. Firman Allah : ‫ﻤ ﻤﻴ‬ ‫ﻚ‬ ‫ﻮﻤﺸﺮﻚ ﻮ ﺮﻢ‬ ‫ﻴﻜ‬ ‫ﻴ‬ ‫ﻮ‬ ‫ﻴ ﻮﻤﺸ‬ ‫ﻴﻨﻜ‬ . 11 February.ulang? dan tiga orang anak yang dimiliki bagaimana statusnya? mohon di jawab untuk menjawab kondisi saya  Arsip Bulanan © 2012 AKHWAT.dasar perselisihan tersebut adalah dalam meng interpretasikan beberapa dalil dibawah ini yang dipersepsikan beda oleh para Fuqohaa‟. 2010 10:25 AM. Bukti ramalan ini kian hari kian tampak nyata dan kian menggejala dimana akhirakhir ini mulai banyak terjadi wanita.gara si wanita sudah hamil akibat mereka telah melakukan sex bebas alias zina. oleh para ulama amat diperselisihkan Dasar.dasar hukum Hukum menikah dengan wanita yang sedang hamil zina. Dasar.

Nabhani Al. sebaliknya laki. Beirut).hamba sahaya priya kalian yang sholih. Qoolat: Su-ila Rasuululloh SAW an rojulin zanaa bi imro-atin wa arooda an yatazawwajahaa.R. (An.Arqom. Wa hurrima dzaalika alal mu‟miniin”.“Az. tanaman (janin) orang lain”.ahuu zar‟a ghoirihi. Firman Allah: .laki itu tidak (boleh) kawin kecuali dengan penzina wanita atau para wanita musyrik. Artinya: “Dan Nikahkanlah orang.laki atau laki.” (An. An A‟isyah RA. dan para penzina wanita itu tidak (boleh) nikah kecuali dengan penzina laki. Abu Dawud dan Tirmidzi.…………‫ﺨ ﻴﺜﺖ‬ ” Al.sholih dan (juga) sahaya.laki tak bermoral itu pasangannya adalah para wanita tak bermoral……… 3.Zaanii laa yankihu illaa zaaniyatan au musyrikah. Wazzaaniyatu laa yankihuhaa ilaa zaanin au musyrik.An-Nur 32).Kabir (Dar Al.laki musyrik. 5.Nur 26)..S.laki tak bermoral. Faqoola: ‫ﺮ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﺨ ﻦ ﻴﺴ‬ ‫ﻮ ﻴﻮﻢ‬ ‫ﻴﺤﻞ ﻹﻤﺮﺉ ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﻴﺴﻖ ﻤ ﺌ‬ ‫ﻮ ﻴﻮ‬ ‫ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﻤﻦ ﻜ‬ ‫ﻮ ﻤ ﺌ ………ﻮ ﻜ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﻮ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﺖ ﺨ ﻴﺜﻴ‬ . maka janganlah ia “mengairi dengan air (mani) nya pada tanaman (janin) orang lain. 6. Artinya: Wanita. Hadist Nabi: Man kaana yu‟minu billaahi wal yaumil Aakhiri falaa yasqi maa.imri-in yu‟minu billaahi wal yaumil aakhiri an yasqiya maa-ahuu zar‟a ghoirihii.orang mu‟min.wanita tak bermoral itu pasangannya adalah laki. ‫ﻴ‬ Artinya: Barang siapa ber-iman kepada Allah dan Rasulnya.sahaya wanita kalian… 4. ‫ﻴ‬ Artinya: “Tidak halal bagi seseorang yang percaya pada Allah dan hari akhir untuk mengairi (dengan air mani) .Nuur 2). Dan diharomkan semuanya itu bagi orang.Khobiitsaatu lil khobiitsiina wal Khobiitsuuna lil khobiitsaat…. Yusuf bin Ismail Al.orang yang sendirian dari kamu sekalian dan hamba. H. Hadist yang semakna: La yahillu li. Firman Allah: ‫ﻴ ﻤ ﻤﻨﻜ ﻮ ﺼ ﺤﻴﻦ ﻤﻦ‬ “Wa ankihul ayaamaa minkum was shoolihiina min ibaadikum wa imaa‟ikum …” (Q. 2. Artinya: Para penzina laki.Fath al.

sosial dan kemasyarakatan serta berdasarkan asas MASLAHAH MURSALAH (kepentingan umum). dll. Qoola Rasuululloh SAW: ‫ﺪ ﺮﺶ‬ ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ “Al.Waladu lil firoosyi wa lil „aahiri al. Akhrojahuu AtThobroniy wa Ad.Thobarony dan Ad.Dhohiri. Lihat Subulus Salam III/ 210. Artinya: Dari A‟isyah RA. „An Abi Hurairoh RA.hadist yang melarang membuahi janin yang sudah ada dari hubungan si wanita dengan orang lain.hajaru. Rasululloh bersabda: “Anak itu (dinasabkan) kepada Suami ibunya.laki yang berzina dengan seorang wanita dan dia bermaksud menikahinya. Maka Rasululloh menjawab: ” Awalnya adalah kumpul kebo (SIFAAH) dan akhirnya adalah sebuah pernikahan. Setelah memperhatikan semua ikhtilaf tentang ini dan setelah mempertimbangkan segala aspek hukum. sedang si penzina harus dihukum (dera/ rajam)”.aakhiruhuu nikaahun. Artinya: Dari Abi Hurairoh RA. Wal haroomu laa yuhrimu al. As. Adapun Abu Hanifah dan dan Ibnu Hazm. Subulus Salam III/210. dimana diharapkan: # Ada orang tua yang nantinya akan bertanggung jawab atas segala pengasuhan dan . Boleh atau tidakkah menikahkan wanita yang sedang hamil zina? Jumhur Ulama kebanyakan membolehkan mengawini wanita hamil zina seperti pendapat Imam Abu Hanifah. walau wujud orangnya sama. namun me reka melarang persenggamaan antara suami istri tersebut sampai si wanita melahirkan anaknya.Syafi‟I membolehkan persenggamaan mereka karena tujuan nikah adalah menghalalkan persenggamaan. Lihat Al.‫ﺤ ﻞ‬ ‫ﻴﺤﺮ‬ ‫ﺤﺮ‬ . Dari Ikhtilaf ini Imam Nawawi (dari madzhab Syafi‟i) menyatakan: hukum persenggamaan itu makruh (sebaiknya jangan dilakukan sampai sang bayi lahir) berdasarkan Qoidah: AlKhuruj minal Ikhtilaaf Mustahab (Keluar dari perbedaan pendapat itu sangat dianjurkan). Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mendasarkan larangannnya pada maksud lahir ayat.R. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Maliki melarangnya. Menurut Kompilasi Hukum Islam (K. Ibnu Hazm dari kelompok Ad.Daaruquthniy.I) Indonesia.At. Syafi’I. Rasululloh ditanya tentang seorang laki.ayat tersebut dan hadist.Shon‟ani.halaala”.H. 8. H. Dll. 7.Daaruquthniy. Sedang As. walau membolehkan perkawinannya. Sesungguhnya perbuatan harom itu tidak dapat menghalangi terjadinya (pernikahan) yang halal”. Menurut hadist ini Rasulullah pernah memberi izin pernikahan wanita hamil zina walaupun tentu saja HUKUM HAD nya tetap berlaku. ‫ﻜ‬ ‫ﺨ‬ ‫ﺴ‬ “Awwaluhuu sifaahun wa.Majmu‟ LinNawawi. maka suaminya yang menikahinya dianggap orang lain. karena larangan Nabi untuk membuahi janin orang lain berlaku juga bagi wanita yang dihamili tanpa nikah.

waktu mengandung dan menyapih = 30 bulan Menurtut Luqman 14.Ahqoof 15 dan Surat Luqman ayat 14. terhormat dan dilindungi hukum. maka nasab anak tersebut adalah KEPADA IBUNYA. 3. maka setelah perkawinan kedua orang tuanya dapat ditetapkan dengan dua kemungkinan. Seseorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan LAKI. (٥١‫ﺜ ﺜﻮﻦ ﺸ ﺮ ………) ﺤ ﻒ‬ (٤١‫ﻤﻴﻦ ……………………) ﻤﻦ‬ ‫ﺼ‬ ‫ﻮﺤﻤ‬ ‫ﻮﺼ‬ Menurut Surat Al.Ahqoof 15. 2. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. bukan dari mulainya hubungan sekssual diantara kedua orang tua biologisnya. .Abyani yang menyatakan bahwa batas minimal umur kandungan adalah 180 hari = 6 bulan. dan menuangkannya pada BAB VIII pasal 53 ayat 1 ~ 3 demikian: 1.LAKI YANG MENGHAMILINYA.H. yakni: 1. maka: K. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. waktu menyapih itu =…………………………………= 24 bulan Jadi waktu hamil minimal = …………………………………………………………….laki dengan wanita YANG TELAH HAMIL ZINA. Para Ulama‟ mendasarkan hukumnya dari perpaduan dua ayat.pendidikan anak-anaknya sampai ia dewasa. Hal ini bersesuaian dengan pendapat jumhur ulama‟ diantaranya Syekh Muhammad Zaid Al. 2. # Si pelaku perzinahan mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki segala Perilaku buruknya dengan membina keluarga yang sah. Bila anak tersebut lahir 6 (enam) bulan LEBIH setelah perkawinan sah kedua orang tuanya.= 6 bulan Sesuai dengan pernyataan tersebut.I (Kompilasi Hukum Islam) Indonesia menetapkan KEABSAHAN pernikahan antara seorang laki. Status anak dari HAMIL ZINA Adapun anak dari hasil hubungan ZINA. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. # Mengembalikan harkat martabat dan kehormatan keluarga besarnya dan menutupnya dari AIB keluarga tersebut atas perilaku salah satu dari angota keluarga tersebut. Bila anak tersebut lahir KURANG 6 (enam) bulan setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. masing masing dari Surat Al. maka nasab nya adalah kepada Suami yang telah mengawini ibunya itu. Imam Abu Hanifah menghitung jumlah 180 hari itu dari PERNIKAHAN.

Ro‟is Aam Tanfidhiyyah DPP Jama‟ah Rifa‟iyyah. diantaranya: ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ ‫ﻮﺪ ﺮﺶﻮ‬ .persengketaan nasab anak. yakni jika si anak lahir kurang dari 6 bulan.Catatan penting: Maka pada kasus no. terkecuali bila yang meninggal itu sebelumnya telah IQROR (membuat pernyataan) bahwa anak tersebut diakui sebagai anaknya sebagaimana diterangkan oleh Badran Abu Al-Ainain sebagai konsekwensi kebalikan pada kasus anak LI‟AN (suami yang menuduh istrinya mengandung bukan dari dirinya). Hadist riwayat Jama‟ah ahli hadist terkecuali Turmudzi.wanita mereka kumpul kebo dengan banyak lelaki. Tentu saja anak tersebut secara syar‟I tidak mendapatkan hak waris sebagai anak yang sah dari suami ibunya itu bila nanti suami ibunya meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan. Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini : .karya: Dr. bila si anak terlahir perempuan. Mulkhlisin Muzarie. Wallohu A‟lam. jika ia nanti setelah dewasa hendak menikah.Khottob memutuskan bahwa anak tersebut (TANPA MELIHAT UMUR KEHAMILAN) adalah anak SUAMINYA YANG SAH. ‫ﻮﺮ‬ ‫ﻤﺠ‬ ‫ﺬﻤﺮ‬ “Anak itu dinasabkan kepada SUAMI IBUNYA . SESUAI SABDA Rasul dalam suatu peristiwa persengketaan tersebut diatas dalam riwayat yang panjang. sedangkan bagi si pelaku zina dia harus dihukum (dera/rajam)”.ah atau seperti apa yang diputuskan Umar bin Al. 2 .anak yang dibawa kepada keputusan Nabi seperti kasus persengketaaan antara Sa‟ad bin Abi Waqosh dan Abdu bin Zam.Khottob tentang anak. maka walinya bukan suami ibunya namun WALI HAKIM. Namun demikian ada beberapa perbedaan pandangan tentang hal ini yang mengacu dari beberapa kejadian dimana terjadi kasus.anak jahiliyyah yang terlahir dari kebiasaan wanita. Disarikan dari: “Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil”. dimana Nabi dan Umar bin Al.

. maka terlarang pula akad nikah dengan wanita hamil itu. Alasannya adalah bahwa wanita hamil akibat zina tidak termasuk ke dalam golongan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an (lihat an-Nisaa: 22. Ulama Hanafiyah sependapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. Sebagaimana hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil bukan karena zina. 23. baik merdeka maupun amat (budak). sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). " (HR Abu Daud). bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. ia wajib istibra'. hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina. Abu Yusuf dan Zafar berpendapat. Akan tetapi. Alasannya. terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab ini. hukumnya tidak sah menikahi wanita wanita hamil akibat zina (dengan laki-laki lain) karena kehamilannya itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. karena akad nikah yang dilakukan itu hukumnya sah. hanya saja wanita itu tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan kandungannya. namun mengapa tifak boleh disetubuhi? Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil. istibra'-nya tiga kali haid. Dengan demikian. hamil atau tidak. ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina. 2. menyebabkan perbedaan pendapat mereka tentang boleh atau tidak boleh menikahi wanita tersebut. istibra'nya cukup satu kali haid. Ulama Syafi'iyah berpendapat. 24). wanita yang dinikahi tersebut halal (boleh) untuk disetubuhi walaupun ia dalam kaedaan hamil. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina. 1."Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). baik yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya maupun bukan yang menghamilinya. karena wanita hamil akibat zina tidak termasuk golongan wanita yang diharamkan untuk dinikahi.STATUS HUKUM AKAD WANITA HAMIL AKIBAT ZINA Perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang wajib atau tidak wajib atas wanita yang hamil akibat zina. . b. tapi bila ia hamil. Mereka juga berpendapat. akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. 3. tidak sah pula menikahi wanita hamil akibat zina. Alasan sah menikahinya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. a. Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil dengan lakilaki bukan yang menghamilinya adalah sah. baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. apalagi bila ia bukan yang menghamilinya.

Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. hukumnya menjadi tidak sah karena pasal 53 ayat 1 KHI tidak memberikan peluang untuk itu."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. bahwa Nabi saw. telah habis masa iddahnya. Dari abu Sa'id r. isi pasal 53 KHI itu adalah sebagai berikut. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina. kawin darurat yang selama ini masih terjadi di Indonesia. tidak memberi peluang kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya). KHI berpendapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya. Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya. "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali. " (HR Abu Daud). " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. a. "(HR Abu Dawud) Kedua.Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw. 4. bersabda tentang tawanan wanita Authos. . KHI membatasi pernikahan wanita hamil hanya dengan pria yang menghamilinya. telah bertobat dari perbuatan zina. iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya. b). akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut. Jika ia hamil. Sebagaimana yang tertuang pada pasal 53 ayat 1. "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. 5. Secara lengkap. Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah. disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. Seorang wanita yang hamil di luar nikah daapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. Karena itu. juga berdasarkan hadits berikut ini. yaitu kawin . Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. c). a). Pertama.

dan pembunuhan. mereka bertiga dikategorikan sebagai pembunuh. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ibnul Khaththab r. "Sekiranya seluruh penduduk yaman berkumpul membunuhnya. Artinya. tanpa memperhitungkan siapa diantara ketiga orang itu yang lebih banyak memukulnya dan tanpa perlu diteliti pukulan siapa yang menyebabkan kematian korban. bila ia membunuh. ada perbedaan alasan diantara keduanya. ketiganya harus diqishash. bila seseorang terbukti telah melakukan pembunuhan dengan sengaja dan di luar kewenangan. Keduanya berpendapat bahwa wanita hamil akibat zina dapat dinikahkan kepada laki-laki yang menghamilinya.atau orang sunda menyebutnya kawin "nutupan kawirang". zina termasuk ke dalam kelompok jinayah (tindak criminal). hukumnya dibunuh pula. Yang menjadi masalah dari pendapat ini adalah bila seorang wanita berbuat zina dengan lebih dari satu orang laki-laki. Umar berkata. satu kelompok dengan pencurian. "pattongkogsi sirig". Hanya saja. kepadanya diberlakukan hukum qishash. yaitu hukuman yang sama dengan tindak kejahatannya. Artinya. Pendapat KHI ini mirip dengan pendapat Abu Yusuf dan Zafar dari maazhab Hanafiyah. kemudian ia hamil. tapi tidak kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. aku akan menghukum bunuh mereka semua. alas an KHI menurut penulis lebih cenderung kepada masalah tujuan disyariatkannya nikah dan kaitan antara akad nikah yang sah dan kedudukan anak sebagaimana yang kita bicarakan kemudian. Bila Abu Yusuf dan Za'far beralasan bahwa kehamilan wanita itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. Yang menjaadi masalah adalah bila seorang korban dibunuh oleh lebih dari satu orang pelaku. oleh KHI dihukumi tidak sah untuk dilakukan. bila si korban terbunuh akibat pemukulan dan yang melakukan pemukulan adalah ketiga orang itu. menurut kami. ketiganya harus di-qishash karena mereka bersama-sama harus bertanggung jawab atas kematian si korban. umpama tiga orang. ketika beliau memerintahkan hukuman mati atas tujuh orang yang membunuh seorang anak di san'a (ibu kota Yaman). bagaimana menentukan "pria yang menghamilinya" itu? Di dalam pengelompokkan hukum islam. baik istilahnya kawin "tambelan". perampokan. yang berakibat terlarang pula akad nikah. a. Bagaimana menentukan pembunuh yang harus di qishash itu? Apakah ketiganya harus di qishash? Para ulama maazhab empat sependapat bahwa bila ketiga orang itu terlibat secara langsung. Dalam hal pembunuhan.dengan sembarang laki-laki. yang dilakukannya hanya untuk menutupi malu (karena sudah terlanjur hamil). " . Maksudnya.

Dengan mengambil contoh (analogi) pada masalah pembunuhan. Sebagaimana yang telah dikemukakan. menurut kami. pendapat para ulama tentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina ini merupakan kelanjutan dari pendapat mereka tentang wajib atau tidaknya iddah bagi wanita hamil akibat zina. Mereka melarang wanita hamil akibat zina melakukan pernikahan. tidak layak untuk dilakukan karena orang yang tidak berbuat tidak semestinya dibebani tanggung jawab. Artinya. Karenanya. di mana setelah menyakini bahwa akad nikah wanita hamil akibat zina hukumnya sah. Sementara itu. namun sebagian ulama Hanafiyah (Abu Hanafiyah dan Muhammad) kurang konsisten. bahkan arti nikah itu sendiri menurut ahli ushul hanafiyah adalah "setubuh". bukan berdasar dalil qath'i. tanpa mempertimbangkan siapa di antara ketiga pria itu yang lebih sering menyetubuhinya dan tanpa perlu meneliti sperma siapa yang berhasil membuahi ovum wanita tersebut. dapat dikatakan bahwa wanita hamil itu dinikahkan kepada pria yang menghamilinya. padahal salah satu tujuan dari akad nikah adalah untuk menghalalkan persetubuhan. karena dasar yang digunakannya hanya merupakan pemahaman. namun mereka membatasi bahwa yang dibolehkan menikahi itu hanya laki-laki yang menghamilinya. keduanya berpendapat bahwa wanita tersebut tidak boleh disetubuhi. Akan tetapi. KHI dan sebagian ulama Hanafiyah (Abu Yusuf dan Za'far) juga cukup hati-hati dalam masalah ini. dengan pria manapun (di antara tiga pria itu) wanita hamil itu dinikahkan. baik yang berpendapat wanita hamil akibat zina itu wajib iddah maupun yang tidak mewajibkan iddah. pendapat ini masih memungkinkan untuk dibantah. Meski mereka membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. Mereka tidak saja membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. dalam hal zina. ketiga pria itu dikategorikan sebagai pria yang menghamilinya. Dengan demikian. bahkan memberikan kesempatan kepada laki-laki mana saja untuk menikahi wanita tersebut. diantara beragam pendapat mengenai status hukum akad nikah wanita hamil . kemudian ia hamil. bila seorang wanita berzina dengan tiga orang pria. Umumnya. bahkan Hanabilah mewajibkan bertobat sebelum melangsungkan akad nikah. mereka konsisten dengan pendapatnya. ulama Syafi'iyah dan sebagian ulama Hanafiyah tampaknya kurang hati-hati. tidak memberikan peluang kepada laki-laki bukan yang menghamilinya. Hal ini. Dalam hal kehati-hatian. sehingga perbedaan pendapat terus berlanjut diantara mereka. yang paling hati-hati tentunya para ulama dari mazhab Malikiyah dan Hanabilah. ketiga pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita yang dizinainya.

untuk dapat menghubungkan nasab seorang anak kepada ayahnya.akibat zina ini. STATUS HUKUM ANAK YANG DIHAMILKAN SEBELUM AKAD Sebagaimana telah dikemukakan. kami mengikuti pendapat kedua. baik hubungan darah saja maupun akad perkawinan yang sah saja. 2. Karena perkawinannya sah.Pengertian naasaab aadalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. Alasannya. bila . kecuali jika suami mengakui bahwa anak yang dilahirkan itu adalah anaknya dan mengakui pula dirinyalah yang mehamili wanita itu sebelum ia menikahinya. 1. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain. untuk dapat menghubungkan nasab anak kepada ayahnya. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (dalam hal dengan lakilaki lain. dibutuhkan dua syarat: hubungan darah dan akad perkawinan yang sah. anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya. Para ulama mazhab sependapat bahwa dalam hal perkawinan yang sah. Bila anak lahir kurang dari enam bulan dari waktu akad atau dari persetubuhan suami istri. terlebih lagi menikahi wanita hamil akan berkait dengan masalah nasab. bila seorang perempuan melahirkan anak. sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an surah an-Nahl ayat 72. Abu Yusuf dan Za'far berpendapat tidak sah). terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Dengan demikian. Akan tetapi. sebelum berbicara masalah penentuan nasab. terlebih dahulu kita kembali kepada pendapat para ulamatentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina itu. nasab tidak bisa dihubungkan diantara keduanya. yaitu pendapat KHI dan sebagian ulama Hanafiyah. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa kehamilan telah terjadi sebelum terjadinya perkawinan. Dalam hal pernikahan wanita hamil akibat zina. anak itu tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami wanita yang melahirkannya itu. Dari pengertian tersebut. tujuan disyariatkannya nikah adalah agar terplihara keturunan nasab. diantaranya: anak tersebut dilahirkan setelah berlalunya waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah (menurut Hanafiyah) atau enam bulan sejak terjadinya persetubuhan suami istri (menurut mayoritas ulama mazhab). disamping tidak terdapat dalil qath'I yang melarang menikahi wanita hamil akibat zina. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami ibunya itu kecuali jika si suami itu mengakuinya. juga karena orang yang berbuatlah yang seharusnya dibebani tanggung jawab. Bila hanya terdapat satu syarat. bila anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan dari waktu akad. Ulama Hanafiyah berpendapat bawa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah.

akad nikah tersebut menjadi tidak sah.KHI berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya.Maksudnya. a. Berbeda dengan pendapat para ulama mazhab. hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya ada bila yang menikahi wanita hamil itu laki-laki yang menghamilinya. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami dari ibunya itu kecuali bila suami mengakuinya. 3. hubungan nasab menjadi tidak ada karena akad nikahnya sendiri hukumnya tidak sah. Karena itu. baik Al-Qur'an maupun hadits. sedangkan pasal 53 ayat 1 menyatakan bahwa sahnya perkawinan wanita hamil hanya bisa dilakukan dengan pria yang menghamilinya. KHI tidak menjadikan tenggang waktu enam bulan sebagai dasar untuk mengkaitkan hubungan nasab seorang anak kepada ayahnya. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. Hal ini sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 99 tentang kedudukan anak bahwa anak yang sah adalah. Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum pernikahan wanita hamil akibat zina adalah tidak sah. 4. . Pertama. tapi bila laki-laki lain yang bukan menghamilinya. b. Pasal 99 point @ menyatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. tapi hanya merupakan dasar dalam hal penentuan batas minimal masa kehamilan. Dengan demikian. dan Istibra'). Menurut penulis. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. KHI memahami kedua ayat ini tidak untuk menjadikannya sebagai dasar dalam penentuan nasab. anak itu dinasabkan kepada suami dari ibunya. hal ini didasarkan kepada dua alasan berikut. yaitu surah al-Ahqaaf ayat 15 dan surah Luqman ayat 14 (lihat "Minimal Masa Kehamilan"subbab"Hamil. Dengan demikian. tidak ada hubungan nasab antara anak yang dilahirkan dan laki-laki yang menikahi ibunya itu karena hukum akad nikahnya sendiri tidak sah. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. tapi bila anak lahir kurang dari enam bulan. hubungan nasab antara anak dan ayah hanya ada apabila yang menikahi ibunya itu laki-laki yang menghamilinya.anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan sejak persetubuhan suami istri. tenggang waktu enam bulan (yang dijadikan dasar oleh para ulama mazhab dalam penentuan hubungan nasab) itu bukan berdasarkan dalil yang qath'i. tapi hanya merupakan pemahaman para ulama mazhab terhadap dua ayat dalam AlQur'an. Iddah.

" (as-Suyuthi. Dengan demikian. Dengan demikian. Allah SWT menjelaskan bahwa seorang perempuan (dalam hal mengandung anak) membutuhkan waktu minimal enam bulan sejak terbentuknya nutfah sampai ia melahirkan. TT: 81) Termasuk dalam kategori kaidah tersebut adalah: "Pengikut tidak diberi hukum tersendiri. Karenanya. maupun karena KHI membatasi bahwa yang boleh menikahi wanita hamil itu hanya laki-laki yang menghamilinya. status hukum yang ditetapkan terhadap wanita hamil berlaku pula terhadap anak yang ada dalam kandungannya. (karena petai halal). sedangkan diantara keduanya tidak ada hubungan darah. namun karena memberikan kesempatan kepada laki-laki bukan yang menghamili untuk menikahi wanita hamil tersebut. yang lebih memungkinkan untuk bisa dicapai adalah menurut pendapat KHI. kapan saja akad nikah dilangsungkan asalkan sebelum anak dilahirkan. "Pengikut (hukumnya) itu sebagai yang mengikuti. walaupun mereka memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. anak kambing dalam perut tidak boleh dijual dengan sendirinya. masalah terpeliharanya keturunan menjadi lebih mungkin untuk bisa dicapai. karena status hukum akad nikahnya sah. seperti petai. kaidah fiqih menyatakan. tidak kepada kehamilannya karena anak dalam kandungan tidak diberi hukum tersendiri. Ket : ISTIBRA' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim KHI singkatan Kompilasi Hukum Islam . sebab sekalipun diberikan tenggang waktu enam bulan. ia sudah sempurna walaupun mungkin kurang sehat. Meskipun tidak memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. terlihat bahwa dalam masalah terpeliharanya keturunan. status hukum diberikan kepada wanita yang hamil itu. Pemahaman ini sejalan dengan hadits Nabi saw. Atau juga seperti ulat yang tumbuh dalam buah-buahan. Yang menjadi masalah. Adapun pendapat ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi'iyah. TT: 81) Misalnya. Dari beberapa pendapat para ulama sebagaimana yang telah kami kemukakan. ulat pun boleh dimakan beserta petai asalkan tidak dipisahkan. kemungkinan terpeliharanya keturunan menjadi kecil untuk bisa dicapai. yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud bahwa janin yang berada didalam rahim ibu setelah berusia empat bulan dilengkapi dengan roh dan dalam masa dua bulan berikutnya disempurnakan khilqah (bentuk)nya. Kedua.terjualnya induk merupakan terjualnya anak kambing tersebut. wanita hamil itu sah menjadi istrinya. tapi karena masa kehamilan itu umumnya sembilan bulan. " (as-Suyuthi. Dalam hal akad nikah wanita hamil akibat zina.Artinya. ada kemungkinan wanita yang sudah hamil dua bulan dinikahi oleh laki-laki lain. termasuk anak yang ada dalam kandungan wanita itu sah pula menjadi anaknya. akhirnya anaknya dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya itu. sahkah akad nikah wanita hamil itu? KHI berpendapat hukumnya sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. seandainya ia lahir dalam umur enam bulan. tatus hukum yang ditetapkan terhadap yang diikuti berlaku pula terhadap yang mengikuti karena pengikut tidak diberi hukum tersendiri.dengan dua ayat tersebut.

LC dari : CyberMQ. Abdul Wahab.Wassalam.com .

orang yang melakukan hubungao seksual di luar perkawinan dihukumkan zina. 2. banyak wanita harm] di luar perkawinan. * ) Peaulis adalab dosec Fakultas Syari'ah IAJN Antasafl mata kuHah Ushul Fitih Jurmm Perbandinean Madzhftb dan Hukum SYARIAH: jur^'Hukun dafi Pemikifwi. No. Malik. maka para imam mazhab (Hanafi. adalah sebuah proses pembentukan Oleh karena itu bagi orang fcehiarga ysng tidak dapat Islam ar^lflh suatu kemestian untuk disflenggarakan di luar ketenman. Tabufi 6. ^athurrabmctn A^hari *) ABSTRAK Milihat dan fakta sekarang. apakah wanita yang hamil akibat perbuatan zina itu boleh melangsungkan periciwin deogan laidlaki yang menghamilmya atau dengan laki-kki lain ataukah tidak boleh. bagaimana jika sekiranya keharmlan sampai teqadi.Desember2 . kebolehan kawin hamil mendapat tempat pada Bab ^11 Pasal 53 ayat 1. jika seotang wanita yang berbuat zina itu sampai hamil. KHI. Imam Mazhflb. JuS . Pendahuluan Alquran. Kata Kunci: Perkawinan.PERKAWINAN WANITA HAMIL: Perspektif Empat Imam Mazhab dan Kompilasi Hukum Islam Oleh: H. tanpa berpikir. Dalam hukum Islam. dan 3 KHI. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam. karena terialu bebasnya pcrgaulan antara lald-laJd dan wanita. A. 2. Wanita hamil. As-Sunnah dan hasil Ijtihad Perkawman menurut agama dan penAipat para ulama. Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal) berbeda pendapat. melaksanakan ketentuan-ketentuan Perkawinan telah diatur secara jelas oleh hukum perkawinan yang dttun^uk oleh kctentuaa-ketentuan hukum Islam yang daul-dalil yang jelas dan benar dalam digali dan sumber-sumbemya baik dan soal yang kedl sekalipun.

& yg demikian itu diharamkan atas oran-orang yg mu`min. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz `hurrima` atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). (Al Qur’an Surat: An-Nur : 3) Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama Jumhurul Fuqaha mengatakan bahwa yg dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan utk menikahi wanita yg pernah berzina.Hukum Menikahi Wanita Pezina Laki-laki yg berzina tdk mengawini melainkan perempuan yg berzina. maka lbh kpd kasus yg khusus saat ayat itu diturunkan. Yaitu seorang yg bernama Mirtsad Al-ghanawi yg menikahi wanita pezina. atau perempuan yg musyrik. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dgn kurnia-Nya. Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dgn ayat lainnya yaitu : Dan kawinkanlah orang-orang yg sedirian diantara kamu. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 32) . Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. & orang-orang yg layak dari hamba-hamba sahayamu yg lelaki & hamba-hamba sahayamu yg perempuan. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yg pezina sekalipun. Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan. & perempuan yg berzina tdk dikawini melainkan oleh laki-laki yg berzina atau lakilaki musyrik. Lalu bagaimana dgn lafaz ayat yg zahirnya mengharamkan itu ? Para fuqaha memiliki 3 alasan dalam hal ini.

Lebih detail tentang halalnya menikahi wanita yg pernah melakukan zina sebelumnya.`Awalnya perbuatan kotor & akhirnya nikah. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. Sesuatu yg haram tdk bisa mengharamkan yg halal`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (Hadis Riwayat: Tabarany & Daruquthuny). Pendapat mereka ini dikuatkan dgn hadits berikut : Dari Aisyah ra berkata.”Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan.`Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yg berzina dgn seorang wanita & berniat utk menikahinya.`Istriku ini seorang yg suka berzina`.Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq ra & Umar bin Al-Khattab ra & fuqaha umumnya. Beliau menjawab. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.(Hadis Riwayat: Abu Daud & Tirmizy). simaklah pendapat para ulama berikut ini : . Juga dgn hadits berikut ini : Seseorang bertanya kpd Rasulullah SAW. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh AlHakim).”Tidak halal bagi seorang muslim yg beriman kpd Allah & hari akhir utk menyiramkan airnya pd tanaman orang lain. (Hadis Riwayat: Abu Daud & An-Nasa`i) ‫ص‬ ‫:ق ل‬ ‫ة ت طأ‬ ‫ت‬ ‫ت‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. lalu beliau bersabda.`Ceraikan dia`. ‫ل‬ ‫ئ‬ ‫س‬ ‫هلل‬ ‫ب‬ ‫آلخ‬ ‫س‬ ‫ه‬ ‫ه رع‬ ‫غ‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Mereka membolehkan seseorang utk menikahiwanita pezina.

154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut : 1. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan & telah habis masa ‘iddahnya. dpat dikawinkan dgn pria yg menghamilinya. 4. Paling tdk tercatat ada Aisyah ra.Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yg menikahi wanita hamil itu adl laki-laki yg menghamilinya. hukumnya boleh. Imam Malik & Imam Ahmad bin HanbalImam Malik & Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yg tdk menghamili tdk boleh mengawini wanita yg hamil. Imam Abu Hanifah. maka laki-laki itu tdk boleh menggaulinya hingga melahirkan. Pendapat Yang Mengharamkan menikahi wanita pezina. Seorang wanita hamil di luar nikah. Begitu juga seorang wanita yg pernah berzina dgn laki-laki lain. 2. yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. maka dia masih boleh menikah dgn siapa pun.1. memang ada juga pendapat yg mengharamkan total utk menikahi wanita yg pernah berzina. Sedangkan kalau yg menikahinya itu bukan laki-laki yg menghamilinya. Untuk lbh jelasnya. 3. Imam Asy-Syafi’i Adapun Al-Imam Asy-syafi’i. Undang-undang Perkawinan RIDalam Kompilasi Hukum Islam dgn instruksi presiden RI no. tdk diperlukan perkawinan ulang setelah anak yg dikandung lahir. pendapat beliau adl bahwa baik lakilaki yg menghamili atau pun yg tdk menghamili. dibolehkan menikahinya.Meski demkikian. 3. 2. Ali bin Abi Thalib. silahkan baca buku : Kompilasi Hukum Islam halaman 92 . Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yg menzinai wanita maka dia diharamkan utk menikahinya. yg pelaksanaannya diatur sesuai dgn keputusan Menteri Agama RI no. Perkawinan dgn wanita hamil yg disebut pd ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lbh duhulu kelahiran anaknya. jus XVI halaman 253. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab karya AlImam An-Nawawi. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43. maka dia diharamkan utk dinikahi oleh laki-laki yg baik (bukan pezina). Al-Barra` & Ibnu Mas`ud.Bahkan Ali bin abi . 5. Jika belum bertobat dari dosa zina. Dengan dilangsungkannya perkawinan pd saat wanita hamil. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi.

Ahmad Sarwat. Kalaupun mereka menikah. (Hadis Riwayat: Abu Daud) 6. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Oleh: H. Dan bila mereka menikah. Begitu juga bila yg berzina adl pihak suami.Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. Selain itu mereka juga berdalil dgn hadits dayyuts.`Tidak akan masuk surga suami yg dayyuts`. maka tdk ada larangan utk menikahinya. maka nikahnya tdk syah. Nampaknya pendapat ini agak menengah & sesuai dgn asas prikemanusiaan. Beliau mengharamkan seseorang menikah dgn wanita yg masih suka berzina & belum bertaubat. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda. Tentu saja dalil mereka adl zahir ayat yg kami sebutkan di atas (aN-Nur : 3). yaitu orang yg tdk punya rasa cemburu bila istrinya serong & tetap menjadikannya sbg istri. Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yg pertengahan adl pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Karena seseorang yg sudah bertaubat berhak utk bisa hidup normal & mendapatkan pasangan yg baik.Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya & bertaubat. Lc . maka nikahnya syah secara syar`i.

hukumnya haram. ada juga pendapat lain yang berbeda. Namun sangat mungkin untuk disesuaikan dengan keadaan lokal serta bersifat situasional. Misalnya fatwa boikot pruduk tertentu yang dikeluarkan oleh banyak ulama di Timur Tengah. Sehingga begitu fatwa itu dikeluarkan. Di luar jumhur ulama.or.blog. Salah satunya ketika Khalifah Umar ra. manakah hukum yang harus kita pakai jika fatwa jumhur ulama bertentangan dengan lembaga resmi? Contohnya setahu saya fatwa MUI melarang pernikahan beda agama sementara menurut Pak Ustadz bahwa jumhur ulama membolehkannya? Sebelumnya mohon maaf jika seolah2 mengkonfrontir antara Pak Ustadz dengan lembaga MUI. Pastilah sebelumnya sudah dibahas latar dampak-dampak yang akan terjadi. asalkan yang laki-laki muslim dan yang perempuan wanita ahli kitab . akan menghasilkan hal yang sedahsyat di negeri sana. Namun belum tentu bila MUI di Indonesia mengeluarkan fatwa yang sama. dikeluarkan begitu saja. melihat ada semacam kecenderungan para shahabat untuk „berlomba‟ menikahi wanita ahli kitab. Adapun masalah larangan nikah beda agama yang dikeluarkan MUI. efeknya memang terasa. WAssalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Dian Dwideana Jawaban Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.id > Muslim > Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Sehingga meski tidak terlalu dipegang oleh jumhur ulama. antisipasi dan mirip dengan apa yang tetap untuk kondisi sosial Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan beda agama. sehingga muncul . Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pak Ustadz.re. Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan yang wanita muslimah. tentu saja setelah dilihat manfaat dan madharatnya. Manakah yang Kita Pakai? Muslim category “Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. tentu saja tidak sekedar belakang. sebelumnya pasti sudah dibahas tentang efektifitas dan dampaknya oleh para ulama. Manakah yang Kita Pakai?” ketegori Muslim. namun fatwa itu bisa agak sedikit lebih agama di negeri kita. Terutama untuk masalah yang juga masih ada perselisihan di antara para ulama dalam hukumnya. Sifatnya tidak selalu harus bersifat universal dan baku. Fatwa yang dikeluarkan di suatu tempat oleh para ulama biasanya memang disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. Manakah yang Kita Pakai? Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama.

namun ketika diurutkan ke silsilah orang tua dan kakek neneknya. Salah satu faktornya sudah bisa Anda duga. memakai jilbab dan membangun rumah tangga Islami. Data kependudukan membuktikan bahwa banyak sekali wanita Eropa yang menikah dengan pria muslim. kenyataannya yang kalah justru yang laki-laki.dampak fitnah di tengah wanita muslimah. Namun saat itu beliau ra. Sehingga beliau pernah berkirim surat kepada salah satu bawahannya yang isinya perintah untuk menceraikan istrinya yang wanita ahli kitab. Di mana banyak pemuda dan pemudi muslim yang menikah dengan pasangan beda agama. Trend yang terjadi di Eropa ini juga mulai menular ke benua lain seperti Amerika dan Australia. sekedar untuk bisa tetap mempertahankan istrinya yang kafir itu. Ini suatu bukti bahwa nikah beda agama di Indonesia justru kontra produktif. Sebab meski laki-laki muslim menikahi wanita Kristen. Meski dengan latar belakang yang sedikit berbeda. tapi akhirnya anak-anak mereka menjadi non muslim. Bukannya berhasil meng-Islamkan orang kafir. Lalu anak-anak mereka memenuhi Islamic Center yang juga tumbuh menjamur di sana. melihat gelagat yang kurang baik di dalam tubuh umat Islam dengan adanya pernikahan yang hukum asalnya halal itu. Maka wajar bila MUI merasa bertanggung-jawab untuk menahan laju grafik kemurtadan ini dengan melarang pernikahan beda agama secara keseluruhannya. . Salah satu metode pemurtadan yang paling efektif ternyata lewat pernikahan beda agama. sehingga dengan mudah dia menjual iman dan agamanya.yaitu karena adanya pernikahan campur antar agama. Di sisi lain banyak sekali orang yang sekarang beragama Kristen. Bahkan boleh dibilang menjadi semacam ledakan jumlah penduduk yang muslim. Bahkan para wanita Perancis. tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam. Angka grafik pertumbuhan penduduk yang beragama Kristen terus naik. Fatwa Itu Tidak Berlaku di Eropa Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi di Eropa. Tentu saja khalifah bukan mau melawan ayat Al-Quran yang secara tegas membolehkan lakilaki muslim menikahi wanita ahli kitab. Sampai-sampai para penguasa barat cemas melihat kenyataan ini. ternyata beragama Islam. justru orang-orang yang sudah muslim malah jadi murtad. Inggris telah masuk ke pola trend kehidupan untuk menikah dengan pria muslim asal Timur Tengah. Di kedua peradaban barat itu kini sudah tidak asing lagi kita temukan wanita bule yang memakai jilbab dan bersuamikan laki-laki muslim yang sukses dalam kehidupannya. Grafik laju pertumbuhan penduduk muslimin di sana mengalami laju yang tak terbendung. Mengapa Diharamkan? Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia menjadi sasaran kristenisasi sejak masa penjajahan Belanda. Kirakira hal itulah yang bisa kita rasakan dari fatwa MUI yang mengharamkan nikah beda agama. Jerman.

Sebab nikah beda agama di Eropa identik dengan proses Islamisasi yang luar biasa dahsyat. Ahmad Sarwat. Wallahu a‟lam wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.or. Sebaliknya. nikah beda agama di Indonesia identik dengan pemurtadan.id     Business Blogs What is wordpress Blogs Wordpress ulama yang melarang pernikahan agama contoh fatwa mui tentang kawin hamil masalah anak pernikahan beda agama di indonesia nikah beda agama mui FATWAH MUI WANITA BEPERGIAN contoh perkawinan beda agama menurut MUI kehidupan wanita muslim di timur tengah hukum muslim menikah dengan kristen para ulama barat tentang nikah internet Tag Cloud  Business Blogs  Messenger Bags  Make money blogging What is wordpress  . Manakah yang Kita Pakai? : http://assunnah. Sumber Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Lc. Di sini kita harus sedikit cerdas dalam menilai dan menganalisa situasi sosial masyarakat.Maka alangkah tidak bijaksana bila para ulama di Eropa mengeluarkan fatwa model MUI di negeri kita.

hasil hubungan sah karena kalimat Allah). inilah ribed-nya langkah nafsu yang salah dan dosa. Mohon penjelasan dari segi Al-Qur'an. Apakah pernikahan saya dapat diridhai Allah atau masih termasuk zina selama ini karena waktu nikah isteri dalam keadaan hamil di luar nikah. MM Bekasi Jawab: . Kami telah melakukan zina dan telah dinikahkan 20 tahun yang lalu. ketika saya mencoba membaca artikel eramuslim semua artikel yang berkaitan dengan perihal zina dirasa belum memberikan jawaban yang mendalam. dan tentang perwalian dalam nikah (terutama yang wanita) apabila anak ini mau menikah kelak. diucapkan dihaturkan terima kasih. tidak ketinggalan pula bahwa saya pun termasuk orang yang pernah melakukan kemaksiatan itu pula 20 tahun yang lalu. karena permasalahan yang berbeda. agar hati ini lebih tenang dan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kami dan kepada Bapak Ustadz Ahmad Sarwat. Hadist Rasul dan Qaul Ulama.Status Pernikahan karena Perzinahan Seiring dengan maraknya kemaksiatan di setiap penjuru negara ini. Apakah pernikahan kami dapat di-analog-kan dengan larangan menikahi wanita (janda hamil. atau harus nikah lagi? 3. Bagaimana dengan anak saya selanjutnya (anak kedua dst). 2. Lc. sehubungan dengan hal tersebut mohon penjelasan sebagai berikut: 1. isteri saya sekarang ketika dinikahkan (20 thn lalu) dalam keadaan hamil di luar nikah.

dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Jumhur ulama mengatakan bahwa menikahi wanita yang sedang hamil karena dihamilii oleh yang bersangkutan tidaklah haram. 2. 1. Maka nasabnya tidak bisa dikembalikan kepada ayah kandungnya secara syar'i. karena secara syah anak itu adalah anak anda. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu? . Yang menjadi masalah adalah bila pasangan ini tidak pernah menikah dengan syah setelah perzinaan itu. maka nasab anak ini akan kembali kepada ayah kandungnya bila pasangan ini kemudian menikah dengan benar dan syah secara syariah.Assalamu 'alaikum Wr. atau perempuan yang musyrik. Para ulama menyebutkan bahwa dalam kasus zina yang menghasilkan anak. Jadi anda tidak perlu pusing memikirkan siapa wali anak anda sendiri. (QS An-Nur: 3) Namun Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. yaitu: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. dan yang demikian itu 'diharamkan' atas oran-orang yang mu'min. Waba'du. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah. bila lakilaki dan wanita yang pernah berzina dan melahirkan anak. Nikahnya syah dan dibenarkan dalam syariat Islam. Wb. Walinya adalah anda sendiri sebagai ayah yang syah. Memang ada sebuah ayat yang sepertinya bisa dianggap sebagai pengharaman. Bismillah.

"Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. bahwa berlakunya ayat itu telah dibatalkan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal". Ketiga.Mereka memiliki tiga alasan dalam hal ini. Pertama. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pernah berzina. ternyata pendapat ini juga merupakan pendapat Khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan juga pendapat fuqaha umumnya. "Ceraikan dia"." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i) . lalu beliau bersabda. dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan. mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci). Beliau menjawab. "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya. "Tapi aku takut memberatkan diriku. "Istriku ini seorang yang suka berzina". Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. Pendapat mereka ini juga dikuatkan dengan hadits berikut: Dari Aisyah ra berkata. Juga dengan hadits berikut ini: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. Kedua." "Kalau begitu pertahankanlah perkawinanmu. (QS An-Nur: 32). kalau memang diharamkan. (HR Tabarany dan Daruquthuny). Selain mayoritas ulama salaf. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.

maka nikahnya syah secara syar'i. Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts. "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts. AlBarra' dan Ibnu Mas'ud. Kalaupun mereka menikah. yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri. Bahkan Ali bin abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. Wb. Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Dan bila mereka menikah. maka tidak ada larangan untuk menikahinya. maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina). Ahmad Sarwat.Pendapat Yang Mengharamkan Meski demikian. Paling tidak tercatat ada Aisyah ra. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat." (HR Abu Daud) Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda. Lc eramuslim . maka nikahnya tidak syah. maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat. Tentu saja dalil mereka adalah pengertian zahir ayat yang kamisebutkan di atas (An-Nur: 3). Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik. memang ada juga pendapat yang mengharamkan seseorang menikahi wanita yang pernah berzina. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain. Ali bin Abi Thalib.

maka hubungan itu adalah perzinahan. . atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini. ?Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. As-Sunnah dan Salafush Shaleh. anak itu tidak memiliki bapak. padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkannya.4 Bila seseorang telah mengetahui.?3 Syaikh Al-Utsaimin berkata. bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya. dengan arti. Artinya ?Laki-laki yang berzina tidak mengawini.Menikahi Wanita Hamil Published by Abdullah Hadrami [abdullah] on 2007/11/6 (10558 reads) Segala puji hanya bagi Allah.6 Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini. terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain. Bila seorang laki-laki menghamili wanita. dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib. maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan. diharamkan atas orang-orang yang mu?min. baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat :*1 Pertama. kecuali perempuan yang berzina. sehingga saya cukupkan dengan artikel tersebut karena apa yang saya inginkan sudah terwakili olehnya. Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. namun alhamdulillah ternyata sudah ada artikel yang cukup bagus. amma ba?du. nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !! Status Nikahnya : Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan. bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan tentang masalah ini agar menjadi jelas dan gamblang. melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu. Artikel dibawah ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini menurut Al-Qur?an. keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat. Menikahi Wanita Hamil Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah. ilmiyyah dan berbobot.*2 Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina.5 Bila terjadi kehamilan. Pada bagian terakhir saya (Abdullah Saleh Hadrami) akan menyertakan bantahan terhadap syubhat yang ada dalam masalah ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah.

Malikiy. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. karena perbedaan dua air (mani). Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah.? 13 Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan. ?Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil. najis dan suci. bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. maka halal menikahinya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl. ?Tidak boleh menikahinya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandungannya. padahal budak itu sudah menjadi miliknya. Juga sabdanya Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya. baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.?*14 Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra? terlebih dahulu. sampai dia beristibra? dengan satu kali haid.*11 Di dalam hadits di atas. maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil. Di . dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh . Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki. dalam arti dia itu tidak memiliki bapak. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. ?Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?? 7 Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hambaNya sebagai sekutu. tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi. maka sampai melahir-kan kandungannya. bila tidak hamil. ?Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah.*10 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Artinya. berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.*12 Mungkin sebagian orang mengatakan. maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya. sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil. dan bila ternyata hamil. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi.*9 Ke dua : Dia harus beristibra? (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl. kecuali setelah dia melahirkan kandungannya.*8 Namun. maka pernikahannya itu tidak sah.Artinya. Pengakuan ini tidak dianggap. bila sudah bertaubat. Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi. berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik. ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya.

?Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah).? 16 Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. Artinya ?Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?21 Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra? dengan satu kali haidh. sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. karena dia itu tidak memiliki wali. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. ?Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya. ?Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam.dalam hal ini.*15 Jadi anak itu tidak berbapak. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya ?Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan). dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan . 20 Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka : Anak itu tidak berbapak. sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami. atau dinikahi sewaktu hamil. beliau berkata. maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ? Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah. yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.17 Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth. kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir.22 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa. baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya.19 Ibnu Abdil Barr berkata. berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam : Artinya ?Anak itu bagi pemilik firasy. berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak. maka walinya adalah wali hakim. dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? 18 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina. lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.

(11)Lihat Mukhtashar Ma'alimis Sunan 3/74. Ahmad Muwafii 2/584. Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak). At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya). (18)Al Bukhari dan Muslim. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalanjalannya menjadi kuat dan shahih. Fatawa Islamiyyah 3/247. (22)Al-Mughniy 6/455.alsofwah. (6)Ibid 33/245. (15)Al Mabsuth 17/154. (19)Al Mabsuth 17/154. Al Kharsyi 6/101. Artinya: 'alimus Sunan 3/75-76. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. dan Ar Raudlah 6/44. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828. (2)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah.id/index. Al Fatawa Al Jami'ah Lil Mar'ah Al Muslimah 2/5584. (17)Taud-lihul Ahkam 5/103. (16)Al-Bukhari dan Muslim. (14)Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72. (5)Ibid. Endnote : (1)Minhajul Muslim. (3)An Nur : 3.kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui.php?pilih=lihatannur&id=153 Syubhat dan Bantahannya Oleh: Abdullah Saleh Hadrami Sebagian Ustadz menfatwakan bolehnya menikahi wanita hamil asalkan lelaki tersebut adalah yang menghamilinya dan mereka menisbahkan fatwa ini kepada Salafush Shaleh sebagaimana dibawah ini: . Ahmad Muwafii 2/583. (23)Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104. Ahmad. (13)Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128. Al Qawanin hal : 338. Kitab Nikah. (10)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan RasulNya. (8)Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246. dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim.23 Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. (20)At Tamhid 6/183 dari At Taisir. Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy.) (12)Abu Dawud. lihat. (4)Fatawa Islamiyyah 3/246. (9)Ibid 3/247. (Abu Sulaiman).or. Majmu Al Fatawa 32/110. Abu Dawud. sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya. dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan. (21)Hadits hasan Riwayat Asy Syafi'iy. http://www. Asy Syarhul Kabir 3/412. (7)Asy Syruraa : 21.( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851.

Alhamdulillah. Jadi. saat itu beliau (penulis) mengatakan akan melihat lagi.com (c) Hak cipta 2008 . karena berdampak semakin maraknya perzinaan dan anak-anak yang lahir dari hasil perzinaan disebabkan mereka merasa tenang dan aman karena telah mendapat kemudahan dan dukungan dari fatwa-fatwa tersebut. ternyata saya mendapatkan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis terdapat kata-kata hamil. Wallaahul Musta?aan.hatibening. seorang laki-laki berzina dengan perempuan.id/content/2253/slash/0 Setelah saya meruju? kepada kitab-kitab yang telah disebutkan.http://www. Yang ada adalah. BATIL. pendapat tersebut adalah murni pendapat penulis sendiri dan tidak benar kalau dinisbahkan kepada Salafush Shaleh ?Rahimahumullah. yaitu kitab-kitab aslinya yang berbahasa Arab. Kalau ini. www. As-Sunnah dan Salafush Shaleh.com 0 Comment(s) . amien. sama sekali tidak ada kata-kata hamil.almanhaj. BERBAHAYA. karena menyalahi Al-Qur?an. Semoga Allah selamatkan diri kita dan keluarga kita serta kaum muslimin semuanya dari segala hal yang mendatangkan murka Allah Ta?aala. lalu keduanya bertaubat dan melangsungkan pernikahan. maka tidak ada khilaf tentang bolehnya.Hatibening. Fatwa yang membolehkan menikahi wanita hamil asalkan yang menikahi adalah lelaki yang telah menghamilinya dan menisbahkan anak yang lahir dari kehamilan tersebut kepada si lelaki yang menghamili adalah FATWA BATIL DAN BERBAHAYA. saya sempat bertemu dengan penulis ketika Daurah di Wisma Erni Lawang dan sempat membicarakan masalah ini dengan beliau.or.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful