P. 1
hamil diluar nikah

hamil diluar nikah

5.0

|Views: 801|Likes:
Published by TitinWindarti

More info:

Published by: TitinWindarti on Apr 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2012

pdf

text

original

Perkawinan Wanita Hamil Di Luar Nikah Perkawinan menurut Islam adalah sebuah proses pembentukan keluarga yang tidak

dapat diselenggarakan diluar ketentuan. Perkawinan telah diatur secara jelas oleh ketentuan-ketentuan hukum Islam yang digali dari sumber-sumbernya baik dari Al Qur‟an, As Sunnah dan hasil Ijtihad atau pendapat para ulama‟. Oleh karena itu bagi orang Islam suatu kemestian untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan yang dituntun oleh dalil-dalil yang jelas dan benar dalam soal kecil sekalipun. Bagi seorang gadis tentu dia tidak pernah hamil, karena belum pernah kawin, yang menjadi persoalan adalah ternyata dia hamil, maka dapat dipastikan bahwa kehamilannya itu adalah hasil hubungan seksual diluar perkawinan dihukumkan zina, jika wanita yang berbuat zina itu hamil, maka para imam mazhab fiqh berbeda pendapat, apakah wanita yang hamil itu boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Tetapi ada pula pendapat imam madzab yang tidak membolehkan wanita yang hamil itu melangsungkan perkawinanya. Jika kawin hamil dilangsungkan, maka timbul persoalan lain, yaitu tentang status anak yang dikandung oleh wanita tersebut, apakah status nasab dihubungkan kepada ibunya atau kepada orang yang mengawini. Berdasarkan persoalanpersoalan tersebut, penulis mencoba mengungkapkan pendapat-pendapat para imam mazhab tentang perkawinan wanita hamil. l Menurut Imam Mazhab Istilah perkawinan wanita hamil adalah perkawinan seorang wanita yang sedang hamil dengan laki-laki sedangkan dia tidak dalam status nikah atau masa iddah karena perkawinan yang sah dengan laki-laki yang mengakibatkan kehamilannya. Mengenai ketentuan-ketentuan hukum perkawinan wanita hamil dalam pendapat para imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‟i dan Ahmad bin Hanbal), mereka berbeda pendapat, pada umumnya dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu : a. Imam Hanafi dan Imam Syafi‟i Beliau mengatakan bahwa wanita hamil akibat zina boleh melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki lain. Menurut Imam Hanafi :” Wanita hamil karena zina itu tidak ada iddahnya, bahkan boleh mengawininya, tetapi tidak boleh melakukan hubungan seks hingga dia melahirkan kandungannya”. Menurut Imam Syafi‟i :” Hubungan seks karena zina itu tidak ada iddahnya, wanita yang hamil karena zina itu boleh dikawini, dan boleh melakukan hubungan seks sekalipun dalam keadaan hamil. Menurut mereka wanita zina itu tidak dikenakan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan sebagaimana yang ditetapkan dalam nikah. Karena iddah itu hanya ditentukan untuk menghargai sperma yang ada dalam kandungan istri dalam perkawinan yang sah. Sperma dari hubungan seks diluar nikah tidak ditetapkan oleh hukum. Dasar yang mereka gunakan adalah Al Qur‟an Surat An Nur ayat 3, yaitu : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.

Menurut Imam Hanafi meskipun perkawinan wanita hamil dapat dilangsungkan dengan laki-laki, tetapi dia tidak boleh disetubuhi, sehingga bayi yang dalam kandungan itu lahir. Menurut Imam Syafi‟i, perkawinan wanita hamil itu dapat dilangsungkan, dapat pula dilakukan persetubuhan dengannya. Memperhatikan pendapat Imam Syafi‟i, maka seorang wanita hamil karena hasil melakukan hubungan seks diluar nikah jika dia melangsungkan perkawinan dengan seorang laki-laki maka kehamilannya itu tidak mempengaruhi dalam perkawinannya. b. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal Menurut Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sama halnya dengan yang dikawini dalam bentuk zina atau syubhat atau kawin pasid, maka dia harus mensucikan diri dalam waktu yang sama dengan iddah. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengemukakan alasan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. ”Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat menyiramkan airnya (sperma) kepada tanaman orang lain, yakni wanitawanita tawanan yang hamil, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mengumpuli wanita tawanan perang sampai menghabiskan istibra‟nya(iddah) satu kali haid” ( Hr.Imam Bukhari) Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mengambil kesimpulan dari kedua hadits tersebut, bahwa wanita hamil tidak boleh dikawini, karena dia perlu iddah. Mereka memberlakukan secara umum, termasuk wanita hamil dari perkawinan yang sah, juga wanita hamil dari akibat perbuatan zina. Adapun penentuan larangan perkawinan wanita hamil tersebut berawal dari pendapat mereka yaitu, wanita hamil karena zina tetap memiliki iddah, maka wanita hamil tidak boleh melangsungkan perkawinan sampai dia melahirkan kandungannya. Dengan demikian wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, wanita hamil karena zina harus bertaubat, baru dapat melangsungkan perkawinan dengan laki-laki yang mengawininya. Dengan hadits tersebut, mereka berkesimpulan bahwa wanita hamil dilarang melangsungkan perkawinan, karena dia perlu beriddah sampai melahirkan kandungannya. Pendapat mereka ini dapat dimengerti agar menghindari adanya pencampuran keturunan, yaitu keturunan yang punya bibit dan keturunan yang mengawini ibunya. Oleh karena itu Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal memberlakukan iddah secara umum terhadap wanita hamil, apakah hamilnya itu karena perkawinan yang sah, ataukah kehamilannya itu akibat dari hubungan seksual diluar nikah. Dengan demikian, perkawinan wanita hamil dilarang. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Status perkawinan wanita hamil dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan pada Bab VIII Pasal 53 ayat 1, 2 dan 3 yaitu : 1) Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria menghamilinya; 2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebutkan pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. 3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Pasal 53 ayat 2 KHI menyatakan bahwa perkawinan wanita hamil itu benar-benar

dilangsungkan ketika wanita itu dalam keadaan hamil. Sedangkan kelahiran bayi yang dalam kandungannya tidak perlu ditunggu. Dalam KHI perkawinan wanita hamil akibat perbuatan zina tidak mengenal iddah. Namun perkawinan wanita hamil seperti pasal 53 ayat 1, hanya boleh dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya. Untuk mengetahui siapakah laki-laki yang menghamili wanita itu sangat sulit, apalagi dihubungkan dengan pembuktian menurut hukum Islam harus disaksikan oleh empat orang saksi. Pembuktian itu semakin sulit apabila adanya usaha secara sengaja menutup-nutupi, atau orang yang pernah menzinahi beberapa orang. Pasal 53 ayat 1 dan 2 tersebut semacam ada sikap yang tidak konsisten. Dikatakan demikian, karena apabila berpedoman kepada Pasal 53 ayat 2 KHI, tersebut ternyata hanya berpedoman kepada formalitasnya saja, yaitu karena wanita hamil tersebut belum pernah menikah, maka kemudian ketentuan yang berlaku baginya adalah hak kegadisan, walaupun kenyataanya wanita itu telah hamil. Kemudian pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa, dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan lagi perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Adanya ketentuan bahwa perkawinan tersebut tidak perlu diulangi lagi, maka menjadi isyarat bahwa perkawinan terdahulu telah dinyatakan sah. Wallahu a'lam. Diposkan oleh Imam Basori, M.Ag di 22:34

Islam membolehkan laki-laki dan perempuan yang berzina untuk menikah atau dinikahkan dan tanpa menunggu iddah jika siperempuannya hamil. Zina adalah perbuatan dosa besar yang sangat dicela Allah swt. 32) Kedua. Sebagian Ulama seperti Qatadah.wb. Yang artinya: Di riwayatkan. Yang artinya: Ibnu Abbas Mengatakan : “Permulaannya Zina dan diakhiri dengan nikah”.a berketetapan untuk menikahkannya”.wb Assalamu alaikum wr. sebagaimana ditegaskan ayat-ayat al Qur’an.” Karena nasab anak (hasil) zina tersebut kepada ibunya. Yang artinya: “Anak (yang sah) itu adalah hasil di kasur (hubungan suami isteri). Pertama. maka ibu dan atau kerabatnya yang memebri nafah kepada anak tersebut. Sebagian yang lain seperti Abu Hanifah. Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah itu nasabnya kepada ibunya bukan kepada laki-laki penzina. dan penzinanya itu di hukum. diantaranya “Janganlan kamu sekalian mendekati zina”.a memukul laki-laki dan perempuan yang berzina. Ibnu Abbas. maka nafkah anak menjadi tanggung jawab istri dan atau kerabatnya. sebagaimana pendapat Umar. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah.bagaimana hukumnya dan solusinya bagaimana mohan penjelasan. menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.Assalamu’alaikum wr.wb. Ibnu Mas’ud. wassalamu’alaikum wr. Sedangkan laki-laki penzina tdak bertangung jawab. “Sahabat Umar r. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.pihak keuarga hendak menikahkan mereka. Ishaq dan Abu ‘Ubaid membolehkan kedua orang yang berzina menikah. saudara saya perempuan hamil diluar nikah oleh pacarnya. Tetapi karena alasan kemanusiaan. (Q. dan Umar r. Ketiga. dengan syarat kedua orang yang berzina tersebut itu bertaubat . Jika si suami menolak. Karena nasab itu hanya terlahir dari hubungan yang sah (pernikahan) sebagaimana hadits Rasulullah saw.S Isra . . seharusnya si suami tersebut bertanggung jawab teradap nafkah anak tersebut.sekarang sudah hamil 8 bulan. Imam Malik dan Imam Syafii tidak mensyaratkannya.

3. sekaligus ia dan kerabatnya memiliki tangung jawab menafkahi anak tersebut jika si bapak menolak menfkahinya. Nasab janin tersebut kepada ibunya. Semoga Allah membimbing bapak dan keluarga.wb. atas dasar beberapa tuntunan fikih islam di atas. Ajak saudara Anda untuk bertaubat dan menyadari kesalahan dan bekomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya. maka di sarankan kepada penanya beberapa hal : 1. Anak yang terlahir adalah amanah. Home . 2. layaknya anak-anak lain yang lahir dari hubungan yang sah. Aminn Wallau a’lam bi ash sowab Wassalamu alaikum wr. ia harus mendapatkan riayah.Keempat. 4. Setelah bertaubat. pendidikan dan pembinaan supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. nikahkan keduanya (yang berzina) tanpa menunggu iddah (jika hamil dan belum melahirkan).

apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. (QS. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah nya.Hukum Nikah Dalam Keadaan Hamil Posted by Admin pada 27/06/2009 1. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini Wal „iyadzu billah. AlMuhalla 10/263 dan Zadul Ma‟ad 5/156. Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala : “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya”. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Al-Baqarah : 235). Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Jawab : Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1.) Adapun perempuan hamil karena zina. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. masalah ini kami uraikan sebagai berikut : . kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. Kemudian beliau berkata : “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah”. Takmilah Al-Majmu‟ 17/347-348. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir. (Lihat : Al-Mughny 11/227.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya”. Ath-Tholaq : 4). (QS. Bila sudah terlanjur menikah. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3.

Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. (QS. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. (Martsad) berkata : “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wassallam lalu saya berkata : “Ya Rasulullah. 3177. riwayat Abu Daud no. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin”. (Hadits hasan. Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : “Jangan kamu nikahi dia”. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. An-Nur : 3). Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Dua : Tidak disyaratkan taubat. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum .Martsad berkata : “Maka beliau diam. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. Al-Hakim 2/180. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Ishaq dan Abu „Ubaid. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau lakilaki musyrik. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Inilah yang benar tanpa keraguan”. 2051. Saya nikahi „Anaq ?”. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah „Azza Wa Jalla : “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik.Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). maka turunlah (ayat) : “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama : Satu : Disyaratkan bertaubat. Al-Baihaqy 7/153. Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. beliau berkata : “Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). At-Tirmidzy no.

haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya”. 5. 3. Catatan : Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. dan Al-Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Meninggalkan dosa tersebut. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa AlBayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma‟ad 5/114-115. 2. Ber‟azam (bertekad) dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho‟ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Yaitu dengan lima syarat : 1. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?”. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84. Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahariterbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Ikhlash karena Allah. Wallahu A‟lam. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. 4. Dar „Alamil Kutub). Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. AlMughny 9/562-563 (cet. . beliau berkata : “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Menyesali perbuatannya.

AtsTsaury.Syarat Kedua : Telah lepas „iddah. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. 2158. Imam Malik. ada dua pendapat : Pertama : Wajib „iddah. Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini : 1. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. beliau bersabda : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. (HR. Al-Baihaqy 7/449. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. Ahmad 4/108. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali”. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh nber-jima‟ dengannya setelah akad. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. Abu Daud no. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. AlBaihaqy 5/329. 1131.87. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain”. (HR. Abu Daud no. Ahmad 3/62. Kedua : Tidak wajib „iddah. 2. Ibnu Qoni‟ dalam . Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. tapi ada perbedaannantara mereka berdua pada satu hal. An-Nakha‟iy. At-Tirmidzi no. 7/449. 2157. 187). 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Rabi‟ah bin „Abdurrahman.

Ath-Thobarany 5/no. Wallahu A‟lam. (QS.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya”. 3. apakah hamilnya itu karena suaminya. (QS. (Para sahabat) menjawab : “Benar”. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan „iddah bagi perempuan yang berzina. 2137). Dan „ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. . Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Ibnul Qayyim. Asy-Syinqithy. Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah.) atau karena zina”. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Beliau bersabda : “Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?”. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. tuannya (kalau ia seorang budakpent. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid)”. Ath-Tholaq : 4). Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam : “Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza Wa Jalla : “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”.Mu‟jam Ash-Shohabah 1/217.). Al-Baqarah : 228). Ibnu Sa‟ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115.

Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. 2. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?”. Zadul Ma‟ad 5/104-105. 847-850. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa „iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. Wallahu Ta‟ala A‟lam. „iddahnya adalah sampai melahirkan. Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat : “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya”. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami‟ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Kalau ada yang bertanya : “Setelah keduanya berpisah. . syubhat atau karena zina. Al-Fatawa 32/109-134. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Wal „Ilmu „Indallah. Takmilah Al-Majmu‟ 17/348-349. 154-155. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. 2. Bidayatul Mujtahid 2/40. Al-Ifshoh 8/81-84. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut : • Kalau ia hamil. Raudhah Ath-Tholibin 8/375. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil.Kesimpulan Pembahasan : 1. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para „ulama. 11/196-197. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa „iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik. Al-Inshof 8/132-133. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). baik hamil karena pernikahan sah. • Kalau ia belum hamil.

An-Nisa` : 4). Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 7/171. 4074. Ahmad 6/47. dan dalam Al-Umm 5/13. maka kembali diwajibkan mahar atasnyaberdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala : “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan” (QS. Abu Daud no.dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali”. Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. 700. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala : .124. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. maka nikahnya batil.4750.275. 1102. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. Ibnu Majah no. Adapun mahar. Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no.1840).698. „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195.222. Al-Baihaqy 7/105. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. (HR. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Ad-Daruquthny 3/221. Ad-Darimy 2/185. At-Tirmidzi no. Ibnu Abi Syaibah 3/454.138. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha. 10/148.3. nikahnya batil. 7/284.165. Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda : “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya. Demikian rincian Ibnu Qudamah. Ath-Thohawy dalam Syarah Ma‟any Al-Atsar 3/7. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. 315. AlHumaidy dalam Musnadnya 1/112. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut. 1463. Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah 6/88. 1879.66. Sa‟id bin Manshur dalam sunannya 1/175. Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. 2083. Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. 4682. Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi.166.4837. Al-Hakim 2/182-183. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. nikahnya batil.

Lihat : Al-Mughny 10/186-188. Namun masalah yang timbul adalah bolehkah wanita tersebut dinikahi ketika ia dalam kondisi hamil? Lalu apa akibat selanjutnya dari perbuatan zina semacam ini.” (QS.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. dimuat dalam Risalah Ilmiyah An-Nashihah vol ke-5. Fenomena yang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini. Rabu. َ ‫َ م ّللا ل ِ ْ َ َ ل ْ ُ َ َ ْ َ ل‬ ْ َّ ُ َْ ‫َ َل‬ ْ ‫ل‬ ْ ‫والَّذٌِنَاا َاا ٌَدعُونَاامعَاا َّااإِلَهااآَخرَااو َااٌقتلُونَااالنفسَااالَّتًِاحرَّ اا َّا ُاإِ َّاابالحقِّااو َ اا ٌَزنونَااومنْاا ٌَفع ااذلِكَاا‬ ِ‫َ ّللا‬ َ َ ََ‫ٌَ ْلقَااأث‬ ‫اما‬ .php?id=1332.(QS. sebelum mendapat label sah sebagai pasangan suami istri.darussalaf. Wallahu A‟lam. Si wanita dengan menahan malu telah memiliki isi dalam perutnya.200 dan Zadul Ma‟ad 5/104-105. dari milis an nashihah. Hal ini sudah dianggap biasa di tengah-tengah masyarakat kita. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Allah Ta‟ala berfirman. ‫ِّ ه َ َ ِ َ ة َ َ ء َ ٌِل‬ ‫و َااتقربُوااالز َنااإ َِّن ااكانَاافاحش ااوسا ااسب ا‬ ُ َ َ َْ ‫َل‬ “Dan janganlah kamu mendekati zina. 24 Maret 2010 21:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu „ala Rosulillah wa „ala aalihi wa shohbihi wa man tabi‟ahum bi ihsanin ila yaumid diin. Semoga artikel sederhana berikut ini bisa memberikan pencerahan kepada orang-orang yang ingin mencari kebenaran.“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban”. Dan suatu jalan yang buruk. http://www.id/stories. Al Isro‟: 32) Dalam ayat lainnya. yang sulit terelakkan lagi adalah perzinaan. Hanya Allah yang beri taufik. AllahTa‟ala berfirman. Bahaya Zina Allahh Ta‟ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494.or. Sumbr: Tulisan Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi. Al-Fatawa 32/198.

Oleh karenanya. Namun itulah yang terjadi jika hal ini dilanggar. Jawaban: :‫الحمداهللاوالصلةاوالسلماعلىارسولاّللااوعلىاآلهاوصحبهاوسلماأماابعد‬ ‫فإناالزواجامناالزانٌةامختلفافٌها،افمناالعلماءامناٌقولابصحته،اومنهمامناٌقولابمنعها،اوممناقالابمنعهااإلماماأحمد،اوهواقولاٌشهدالهاظاهرااآلٌةاالكرٌمةا(ا‬ ‫الزانًالاٌنكحاإلازانٌةاأوامشركةاوالزانٌةالاٌنكحهااإلازاناأوامشركاوحرماذلكاعلىاالمؤمنٌنا)ا[النور:3] ا‬ ‫وعلٌهافلاٌجوزالمناعلمامناامرأةاأنهااتزنًاأناٌتزوجهااإلابشرطٌن:اأحدهما:االتوبةاإلىاّللااتعالى،اثانٌهما:ااستبراؤها. di antaranya adalah Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah no.اأخرجهاالبغويافًاشرحاالسنةاوأبواداووداوقالاابناحجرافًاالتلخٌصاإسنادهاحسناوصححهاالحاكماوقالاعلىاشرطامسلما. Dalam hadits lainnya. َُ ‫ث ااأَنْااتزانِىَاابحلٌِلَ ااجاركَا‬ ‫ُم‬ ِ َّ ِ َ ‫ِ َ ة‬ “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu. Terjerumuslah dalam dosa besar zina karena tidak mengindahkan berbagai jalan yang dapat mengantarkan pada zina seperti bentuk pacaran yang dilakukan muda-mudi saat ini.اشكرا‬ Apakah boleh seseorang menikahi wanita yang dizinai dan ia tahu bahwa wanita tersebut betul telah dizinai sebelum menikahinya. dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda. 9644 mengenai syarat menikahi wanita yang dizinai. Apakah hal ini mungkin? Syukron. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas. Artinya. apalagi berzina dengan istri tetangga. Jadilah di antara mereka hamil di luar nikah. “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu. Aku ingin jawaban dari kalian mengenai hal ini. syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya).” (QS. Pertanyaan: ‫هلاٌجوزالشخصاأناٌتزوجامناإمرأةازانٌةاوهواٌعلماأنهاازنتاقبلاأناٌتزوجها،اوهواٌرٌداأناٌسترا‬ ‫علٌهااألنهااقرٌبته،اوأرجوااإلفادةامنكما،اهلاٌمكنامعرفةاالمفتًا.” Kemudian ia bertanya lagi. َ َ َ َ ‫إِذااز َنىاالرَّ جُ ااخرجَاام ْن اااإلٌِمانُااكانَااعلَ ٌْ ااكالظلَّ اافإِذااا ْنقطعَاارجعَااإِلَ ٌْ اااإلٌِمانُا‬ ‫ه‬ ‫ل َ َ ِه‬ ُ ُ ِ ِ ِ َ َ َ َ َ َ َ ‫َ ه َ ُّ ة‬ “Jika seseorang itu berzina. akhirnya terjadilah apa yang terjadi.“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina Ada beberapa fatwa ulama yang kami temukan. dan tidak berzina. Al Furqon: 68).افإذااتوفراالشرطاناجازاالزواجامنهاا،ا‬ ‫والدلٌلاعلىاوجوباالستبراءاقولهاصلىاّللااعلٌهاوسلمافٌماارواهاأبواسعٌداالخدريارضًاّللااعنها"لاتوطأاحاملاحتىاتضع،اولاغٌراذاتاحملاحتىاتحٌضا‬ ‫حٌضة". “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan. “Terus apa lagi?” Beliau bersabda. orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Jika dia lepas dari zina. Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). ا‬ .[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina. “Wahai Rasulullah.” Kemudian ia bertanya lagi. tanggal Fatwa 23 Jumadil Ula 1422 H. maka iman itu akan kembali padanya. padahal Dia-lah yang menciptakanmu.”[2] Inilah besarnya bahaya zina. Ia ingin menutup aibnya dengan menikahinya karena wanita tersebut masih kerabatnya. barang siapa yang melakukan yang demikian itu.

Inilah pendapat terkuat sebagaimana yang dipilih oleh para ulama Hambali dan Malikiyah karena didukung oleh dalil yang begitu gamblang. Di antara ulama yang melarangnya adalah Imam Ahmad. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS.”[3][4] Ringkasnya. baik yang menikahinya adalah laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lainnya. maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Dalil yang mengharuskan adanya istibro‟ adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki . َ َ ‫ل ُ َ أ َ ِل َ َّ َ َ َ ل‬ َّ َ ‫َ ل‬ ‫َ َة‬ ‫اَاتوطا ُاحام ااحتىاتضعَااو اَاغ ٌْرُااذاتِااحمْ ااحتىا َتحٌِضَااح ٌْض ا‬ “Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro‟nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra‟ terlebih dahulu. Jika tidak terpenuhi dua syarat ini. atau perempuan yang musyrik. Wallahu a‟lam. keluarga dan para sahabatnya. konsekuensi dari menikahi wanita hamil adalah nikahnya tidak sah. maka ketika dua syarat ini terpenuhi boleh menikahi dirinya dengan tujuan apa pun. Sebagian ulama mengatakan bahwa menikahi wanita tersebut dinilai sah. shalawat dan salam kepada Rasulullah. menikahi wanita yang telah dizinai jika wanita tersebut betul-betul telah bertaubat pada Allah dan telah melakukan istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim dari mani hasil zina). Simpulannya. maka ia boleh menikahi dirinya jika memenuhi dua syarat: Pertama: Yang berzina tersebut bertaubat dengan sesungguhnya pada Allah Ta‟ala. Kedua: Istibro‟ (membuktikan kosongnya rahim). An Nur: 3) Jika seseorang mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita yang telah dizinai. ا‬ Segala puji bagi Allah. Amma ba‟du: Mengenai hukum menikahi wanita yang telah dizinai.‫والخلصةاأناالزانٌةاإذااتابتاإلىاربهااوتحققتابراءةارحمهاامناماءاالسفاحاجازانكاحهاابأياغرضاكانا،افإذاافقداأحداالشرطٌنالماٌجزانكاحها؟اولوابقصدا‬ ‫الستراعلٌها،اوالتغطٌةاعلىاعملهااالقبٌحا. maka tidak boleh menikahinya walaupun dengan maksud untuk menutupi aibnya di masyarakat. maka wanita tersebut baru boleh dinikahi. ا‬ ‫وّللااأعلم. Pendapat ini didukung kuat dengan firman Allah Ta‟ala. Sebagian ulama lainnya melarang hal ini.[5] –Demikian Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah-. Jika dua syarat ini telah terpenuhi. َ ‫َ ل َ ان و ُ ْ ِ ك َ م‬ ُ ‫الزانًِا َاا ٌَ ْنك ااإِ َّاازان ٌَ ااأَ ْاامشرك ااوالزان ٌَ اا َاا ٌَ ْنكِحُ هااإِ َّااز ااأَ ْاامشر ااوحُرِّ ااذلِكَااعلَىاالمُؤمنٌِنَا‬ ‫َّ ل ِ ح ل َ ِ ة و ُ ْ ِ َ ة َ َّ ِ ة ل‬ ُ ِ ْ ْ َ َ “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina.

Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. 3. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian. Status Anak Hasil Zina Adapun nasab anak. Inilah pendapat mayoritas ulama bahwa anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada bapaknya. maka pernikahannya itu tidak sah. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. bukan pada bapaknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan. . Sedangkan suami tersebut. maka anaknya tetap dinasabkan pada ibunya. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. Wallahu a‟lam.serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram.”[6] Firasy adalah ranjang dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. Jadi yang berlaku padanya adalah hukum anak tiri. “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah. Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya. maka walinya bukan laki-laki tadi. konsekuensinya: 1. alias dia adalah anak tanpa bapak.[8] Ringkasnya. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. namun walinya adalah wali hakim. anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya (walaupun itu jadi suaminya). baik karena taqlid (ngekor beo) kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. Anak itu tidak berbapak. Namun anak tersebut dinasabkan pada ibu dan keluarga ibunya. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui. ُ ‫الولَ اال ِْلفِراشِااول ِْلعاهِرِااالحجرُا‬ َ َ ْ َ َ َ ‫َْ د‬ “Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. ia dinasabkan kepada ibunya. bila telah selesai istibra‟ dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. karena dia itu tidak memiliki wali. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy.[7] Bila seseorang meyakini bahwa pernikahan semacam ini (menikahi wanita hamil) itu sah. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja. 2. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. status anaknya hanyalah seperti robib(anak tiri). Jika wanita yang hamil tadi dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya.

Gara-gara zina. 4690 dan Tirmidzi no. [5] Lihat Fatwa Asy Syabkah Al Islamiyah. 2625. [3] HR. 1457. [9] Tafsir Al Qur‟an Al „Azhim. Daar Thoyyibah. cetakan kedua. Ibnu Katsir. Bukhari no. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. [6] HR. nikahnya pun tidak sah. 8/417. Keturunannya pun akhirnya rusak karena anak hasil zina tidak dinasabkan pada bapak hasil zina dengan ibunya. [7] Lihat Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah. [4] Catatan penting yang perlu diperhatikan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi tuannya yang pertama. 2/2587. 9 Rabi‟ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 24/03/2010) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www. 6749 dan Muslim no. Asy Syamilah. Oleh karena itu. 2157. Kalau nikahnya tidak sah berarti apa yang terjadi? Yang terjadi adalah zina. [8] Lihat Majmu‟ Al Fatawa. 86. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Jika yang ditanam keburukan. 7532 dan Muslim no. 1420 H . Diselesaikan di Pangukan-Sleman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. ُ ُ َ َ ‫مِنْاا َثوا ااالحس َن ااالحسن اا َبعْ دَ ها،اومِنْااجزاءِااالسٌ َئ ااالسٌئ اا َبعْ دَ ها‬ ‫َّ ِّ ة َّ ِّ َ ة‬ ‫َ ب َ َ ة َ َ َة‬ ِ ِ ِ َ َ َ “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.com.”[9] Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Setiap yang ditanam pasti akan dituai hasilnya. Abu Daud no. maka keburukan berikut pula yang didapat.Penutup Setelah kita melihat pembahasan di atas. Akhirnya karena nekad dinikahi ketika hamil. Bukhari no.com [1] HR. 32/66-67. Awalnya hamil di luar nikah (alias zina). [2] HR.remajaislam. Inilah akibat dari perbuatan zina. tahun 1426 H. cetakan ketiga. 2/4764. dipublish ulang oleh http://rumaysho. para salaf mengatakan. Jadi jangan dipahami bahwa hadits ini membicarakan larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil. akhirnya nasab menjadi rusak. Abu Daud no. maka tuan yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya sampai melakukan istibro‟ yaitu menunggu sampai satu kali haidh atau sampai ia melahirkan anaknya jika ia hamil. Darul Wafa‟.

Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Ath-Tholaq: 4) Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta‟ala: “Dan janganlah kalian ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis „iddahnya.Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil posted in Fiqh Ibadah.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Al-Baqarah: 235) . Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam: Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Dan „iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. tidak boleh dinikahi sampai lepas „iddah[1]nya. Muslimah | Share 201 Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain 1. Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal „iyadzu billah. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya.” (QS. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3.” (QS. Bila sudah terlanjur menikah. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Munakahat & Keluarga. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-‟Alim Al-Hakim sebagai berikut: 1.

” Lihat: Al-Mughny 11/227. Adapun perempuan hamil karena zina. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin.Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas „iddah-nya. beliau berkata: . Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat.” Kemudian beliau berkata: “Dan para „ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa „iddah.” Tarjih di atas berdasarkan firman Allah „Azza wa Jalla: “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. An-Nur: 3) Dan dalam hadits „Amr bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya „Abdullah bin „Amr bin „Ash. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para „ulama. Ishaq dan Abu „Ubaid.” (QS. Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Inilah yang benar tanpa keraguan. Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. Dua: Tidak disyaratkan taubat. Secara global para „ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para „ulama: Satu: Disyaratkan bertaubat. masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156. Syafi‟iy dan Abu Hanifah. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‟Alim Al-Khabir.

” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para „ulama yang mengatakan bahwa kalimat „nikah‟ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima‟ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermaknajima‟ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. 2051. riwayat Abu Daud no. : Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) „Anaq dan ia adalah teman (Martsad). (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah. Saya nikahi „Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam. Catatan: Sebagian „ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” (Haditshasan. ‫؟‬ : : (( : )) .. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof8/133 diriwayatkan dari „Umar dan Ibnu „Abbas dan pendapat Imam Ahmad. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115. AlHakim 2/180. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya. Al-Baihaqy 7/153. Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84. At-Tirmidzy no. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul) Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. . Al-Mughny 9/562-563 (cet. Dar „Alamil Kutub). Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia. 3177. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat.

beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak ini perempuan untuk berzina dan memintanya. Meninggalkan dosa tersebut. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah. Menyesali perbuatannya. Para „ulama berbeda pendapat apakah lepas „iddah. Rabi‟ah bin „Abdurrahman. Ikhlash karena Allah. 2. Tarjih . Imam Malik. 3. An-Nakha‟iy. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima‟ dengannya.Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. ada dua pendapat: Pertama: Wajib „iddah. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal. Kedua: Tidak wajib „iddah. AtsTsaury. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Wallahu A‟lam. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima‟ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. yaitu menurut Imam Syafi‟iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima‟ dengannya setelahakad. Ini adalah pendapat Imam Syafi‟iy dan Abu Hanifah. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. 5. Karena dan untuk permintaannya pada saat berkhalwat (berduaan) bukan mahram) walaupun tidak halalberkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan mengajarinya Al-Qur‟an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?” Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Yaitu dengan lima syarat: 1. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Ber„azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. 4.

Ahmad 3/62.” Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. beliau bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat.) atau karena zina. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no.Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib „iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini: 1.). Al-Baihaqy 5/329. Ahmad 4/108. Abu Daud no.” (HR. 187) 2. 2137) 3.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. At-Tirmidzi no. 7/449. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin „Abdullah An-Nakha‟iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 2157.87. Ibnu Qoni‟ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217. Hadits Ruwaifi‟ bin Tsabit radhiyallahu „anhu dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam. 2158. 1131. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar. Abu Daud no. Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Al-Baihaqy 7/449. Ad-Darimy 2/224 AlHakim 2/212.” . Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam: . apakah hamilnya itu karena suaminya.” (HR. sesungguhnya Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos: “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. tuannya (kalau ia seorang budak-pent. Ibnu Sa‟ad dalam Ath- Thobaqot 2/114-115. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. Hadits Abu Sa‟id Al-Khudry radhiyallahu „anhu. Ath-Thobarany 5/no.

Wallahu Ta‟ala A‟lam.” (QS. 11/196-197. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa‟id Al-Khudry di atas. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Catatan: Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. maka „iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Ibnul Qayyim. Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349. • Kalau ia belum hamil. Wallahu A‟lam. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas „iddah adalah sebagai berikut: • Kalau ia hamil. Dan „iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur‟an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu: “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid). Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Dan „ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan „iddah perempuan yang ditalak. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas „iddah-nya. 2.Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib „iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Asy-Syinqithy. Bidayatul Mujtahid 2/40. Al-Fatawa 32/109-134. Al-Ifshoh 8/81-84. „iddahnya diperselisihkan oleh para „ulama yang mewajibkan„iddah bagi perempuan yang berzina. Lihat pembahasan di atas dalam: Al-Mughny 9/561-565. 847-850. Zadul Ma’ad 5/104-105.” (QS. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Ath-Tholaq: 4) Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. . Al-Baqarah: 228) Kesimpulan Pembahasan: 1. AlInshof 8/132-133. Raudhah Ath- Tholibin 8/375. 154-155. maka ini „iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah „Azza wa Jalla: “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu „iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. maka „iddahnya adalah sampai melahirkan. Sebagian para „ulama mengatakan bahwa „iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid.

2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para „ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa „iddah?” Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para „ulama.

Jumhur (kebanyakan) „ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas „iddah-nya.” Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar „Umar bin Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi‟iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar „Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari „Umar bin

Khaththab radhiyallahu „anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas „iddah. Wal „Ilmu „Indallah. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). 3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima‟ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak adamahar bagi perempuan tersebut. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Hal ini berdasarkan hadits „Aisyah radhiyallahu „anha, Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda:

“Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi‟iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam Al-Umm5/13,166, 7/171,222, „Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa‟id bin Manshur

dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya‟la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. 4074, Al-Hakim 2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Al-Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu‟aim dalam Al-Hilyah6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu „Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840) Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa „iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta‟ala:

“Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala:

“Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A‟lam. Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105. Footnote:

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “„Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut

pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.” Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45&page_order=2

This entry was posted on Tuesday, March 4th, 2008 at 3:48 am and is filed under Fiqh Ibadah, Munakahat & Keluarga, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 29 responses to “Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil”
Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

1.

1

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam:

Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu „alaihi wa „ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.” Mohon agar matan tulisan ini diedit lagi.

Reply
posted on March 4th, 2008 at 1:25 pm

2.

2

On March 4th, 2008, Syahru Ramadhan said:

tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina . lacsana said: saya mau menanyakan tentang anak yang menikah diusia muda karena married by accident. kami tidak memahami maksud antum. termasuk matan hadîts yang dimaksud. 2008 at 1:32 pm posted on November 11th. Batam Yayasan Anshorus Sunnah. intinya HARAM. Penjelasan tambahan: Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah) Pertanyaan Melalui: dari al-Ustadz Sekretariat Langsung Abu Abdirrahman via Muhammad Telepon Wildan. kira2 secara islam bagaimana.. akan tetapi yang dapat menyelamatkannya adalah dengan taubat yang benar.? terima kasih ADMIN: Penjelasan pada artikel di atas insya Allah sudah cukup jelas. karena dia memang telah masuk ke jurang kehancuran akibat zina yang diperbuatnya. nikahnya TIDAK SAH.atau mungkin hasil postingnya memang begitu ya. Reply posted on March 4th. juga „utk menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran‟ itu pun bukan alasan. 2009 at 7:28 pm 3. In syâ‟ Allâh artikel ini sesuai aslinya. supaya hal tersebut untuk menghindari aib dan menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran. `Afwan. bukan malah semakin melanggar syariat dan jatuh 2 kali ke jurang kehancuran dengan menikahi wanita hamil sebab zina (padahal ini haram) yang mana ini sama saja berarti dia itu akan zina seterusnya (karena nikah yang seperti ini tidak sah). Lc. 0. apakah kalau dinikahkan oleh orang tuanya bagaimana. Saya coba copy matan hadits /terjemahan diatas yg mana tertulis melaknatnya 2x dan kuburnya2 kali tapi justru berubah. Menghindari aib itu bukanlah alasan syar‟i. dan setelah dinikahkan apakah setelah melahirkan perlu dinikahkan kembali. bahkan jika dilakukan alasan itu akan menyebabkan semakin melanggar syariat (karena haramnya menikahi wanita hamil sebab zina).

. ‫س سسس سسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫سس سسسس سس سس‬ ‫س سسس‬ ‫س سس‬ ‫س سس س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سسسسس سسس س سس سس سسسس س سس س س سس س سس سس : س‬ ‫س‬ ‫سس‬ ‫س‬ ‫س سسس سسسس س‬ ‫سسس‬ ‫س سسس سسسس سسسسس سسسس سس س سس س‬ ‫سس‬ ‫س سسس‬ ‫س س سسسس‬ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ . Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3) Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “. Artinya. Artinya: Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah. yaitu HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina. seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya. maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut: Pertama: Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur : 3 [‫س‬ ‫سسسسس سسس‬ ] . Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi .Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) : Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina. baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya.Tanya : Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ? ‫سسس سس سس س س : س‬ ‫سس‬ ‫سس س سسس سسسس س : س‬ ‫س‬ ‫سسسس سسسسس سسس س س سسس س : س‬ ‫س‬ ‫س س‬ . maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum.

2011. ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”. maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut. apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih. Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu. yaitu menyiramkan maninya kepada anak dari kandungan orang lain. namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya. laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina sebab ia telah melakukan akad yang diharamkan yang ia meyakini keharamannya. Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu „Alaihi Wasallam. maka tidak boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil. dan ini adalah bahasa kiasan. 2010 at 4:31 pm 4. Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. ada diantara para ulama yang memfatwakan. risa muthmainnah said: . maka pada saat seperti itu. sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula. (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158) Reply posted on November 17th. maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan.orang-orang yang beriman. maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. Jadi. Iya. 7 On January 3rd.

. baru kemudian mereka menikah lagi. 2011 at 8:05 am 5. 2011 at 3:51 pm 6.saya mau brtanya tentang pndapat singkat imam syafi‟i dan hasan al-bashary ttang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah Reply posted on January 3rd. 2011 at 6:15 pm 7. 2011. maka harus diulang lagi. 2011: sekalipun sudah terlanjur tetaplah tidak teranggap nikahnya itu. uni mutia said: . tanpa perlu perceraian krna hakikatnya mereka selama ini berzina bukan dalam ikatan nikah (karena tidak sahnya pernikahan mereka tadi). Meliza said: apakah mahar yang berupa uang boleh di bingkai dan di pajang. 2011. HARAM dan BATIL/TIDAK SAH. 9 On January 19th.? apa hukumnya? Reply posted on January 16th. Caranya: mereka harus taubat dulu. 2011. adiguna said: Bila sudah terlanjur menikah. demikian insya Allah sah. lalu tunggu iddah si wanita selesai. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Reply admin reply on April 26th. 10 On February 9th. 8 On January 16th. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Reply posted on January 19th.

dengan membeli majalah ini antum telah membantu biaya kegiatan dakwah disini. puenting nee… Matur nuwun… Reply posted on February 21st.afwan. 2011. 2011: . afwan kami tidak membuat majalah akhwat dalam bentuk ebook.alilmu.ana mau tanya. 2011 at 12:25 pm 9. Syamsul Huda said: Izin ngopi….com atau agen terdekat. Abu Sholihah said: Bismillah.10000 sebulan sekali bisa dibeli di http://www. apakah sudah ada majalah akhwat dalam bentuk Ebook atau File HTML? Jazakumullohu Khiron Admin. harga majalah sangat murah hanya rp. 2011 at 2:47 am 10.asslamuallaikum…kenapa ea wanita sekarang banyak yang mengobral aurat mereka??? Reply posted on February 9th. 13 On March 5th. umi yani said: bismillah.. Reply posted on February 14th.apakah sepasang suami istri yg menikah dlm keadaan hamil kemudian belum menikah lagi lalu ketika suami mengajak berhubungan badan istri menolak dengan alasan tak ingin berzina lagi apakah istri tersebut dosa?lalu bagaimana kewajiban menafkahi nya? Reply admin reply on April 26th. 2011. buat khasanah ilmu. 2011. Afwan. 2011 at 11:17 am 8. 11 On February 14th. M. 12 On February 21st.

umi yani said: . bahwa HARAM menikahi wanita hamil. lalu wajib mereka mengulang nikahnya. yang manapun keadaannya telah jelas apa yang harus dilakukannya. maka syaratnya pezina ini sebelum nikah adalah wajib TAUBAT dulu.. (Admin/Abu Husain Munajat) Reply posted on April 12th. jika zinanya tidak menjadikannya hamil maka dia akan haidh. 2011 at 3:22 pm 12. 2011. jika zinanya menjadikan dia hamil maka iddahnya sampai selesai melahirkan. Tentang iddahnya. aisyah said: Bagaimana bila saat menikah dia tidak mengetahui kalau dia sedang hamil. dan nikahnya BATAL/TIDAK SAH. 2011 at 4:45 pm 11... Dia tau maupun tidak tau kehamilannya maka tetap tidak akan lepas dari 2 kemungkinan di atas. Ana coba jelaskan ulang. lalu wajib menunggu LEPAS IDDAH.sampaikan ilmu pada mereka hingga jelas hukum-hukumnya bagi mereka sebagaimana telah dibahas pd artikel di atas. wallahu a‟lam. 15 On April 29th. tapi dia pasti tau bahwa sebelumnya sudah berzina. Reply admin reply on April 26th. tunggu lepas iddahnya sampai haidh 1 kali.. tapi sebelum itu keduanya harus bertaubat dan tunggu si wanita itu lepas iddahnya dulu. 2. 2011: Silahkan dibaca kembali artikel di atas sudah jelas menjawab pertanyaan anti. barulah dia halal dinikahi. 2011. setelah zina itu tentu ada 2 kemungkinan keadaan: 1. Sekalipun tidak tau trnyata sudah hamil. Reply posted on March 5th. 14 On April 12th.

TIDAK SAH. Dia bisa kembali ke orang tuanya dan jelaskan kepada orang tuanya dan mereka bisa mengadukan kepada pemerintah utk keputusan cerai secara administrasinya.„afwan.. Wallahu a‟lam. . 2011 at 12:31 am 14. tapi yang lebih penting dari itu adalah WAJIB TAUBAT.karena sebelumnya si suami tidak terima? Reply admin reply on May 4th. 2011. sy bertanya saya menguraikan sebuah kalimat. Adapun hidayah adalah dari Allah semata. Reply posted on April 29th. 17 On June 6th. Tapi solusi yang insya Allah lebih baik menurut kami adalah keduanya bertaubat lalu menunggu iddah selesai lalu menikah secara sah. asllamu sebelum dalam hidup manusia bahwa sahnya manusia tidak mngetahui kapan. dimana. Jika si laki-laki/‟suami‟ tidak terima maka itu tidak ada urusan thd si wanita karena dia bukan siapa-siapa bagi si wanita. Cara menjelaskannya tentu si wanita yang lebih tau. misalnya melalui ortunya atau seorang ustadz. dirman said: apa hukumnya dalam islam apabila mendatangi pernikahan keluarga kita yg menikah karena telah hamil? Reply posted on May 14th.. dengan ilmiah dan hikmah. 2011: Insya Allah sudah jelas di artikel di atas. 2011 at 6:53 pm 13. irfan buhar said: alaikum. 2011. Maka tentu saja tidak wajib menafkahi karena dia bukan apa-apanya dan bukan tanggungjawabnya. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dengan menaati hukum-hukum-Nya.berarti nikahnya tidak sah ya?berarti tidak wajib menafkahi?lalu bagaimana cara menjelaskan tentang hukum itu. 16 On May 14th. bahkan kami katakan wajib karena meninggalkan maksiat zina itu wajib hukumnya. Si wanita berhak pergi darinya.

2011 at 9:12 pm 17.. dikatakan bahwa wanita yang sedang hamil tidak bisa menikah sblm dia bertobat dan sampai dia telah melahirkan skalipun yg akan menikahinya adalah orang yang berhubungan dgnya.. Reply posted on August 4th. arie said: klarifikasi pertanyaan di atas. Reply 15. 2011 at 9:15 pm . lalu bagaimana status anak menurut islam?? mohon wass Reply posted on June 23rd. tlong di jawab ya!!! Reply posted on August 4th. saya mau tnya.. 2011. 2011.sedang apa.. arie said: ass. seperti yang diterangkan diatas. 21 On August 4th.. apa yg berlaku pada laki2nya dan wanitanya.. airin said: assalamualaikum misalkan keduanya sudah benar2 bertobat. 2011 at 8:40 am balasannya terimakasih 16. maksud saya laki2 yang telah menghamilinya bukan menikahinya… terimakasih. apa hukumnya kalau laki2 menikah dengan wanita yang sedang hamil n yang menikah dengan wanita tersebut adalah laki2 yang telah menikahinya??. bgmna klau si wanita tersebut telah meninggal. sblm dia melahirkan atau bertaubat. apakah bisa diambil kesimpulan bahwa akad nikah dapat dilaksanakan dan sah hukumnya?? jika saat hamil tidak boleh dinikahi. 19 On June 23rd. siapa pun atas kematianya. 20 On August 4th.. 2011.

mereka hidup selayaknya suami istri setelah pernikahan itu. Adawiyah said: Ass. syukron.Mhn penjelasannya.terus kami menikah. novmery said: akibat perzinahan hamil 3 bln. dan tidak melakukan pernikahan ulang ketika bayinya sudah lahir. bagaimana hukum status anak anak itu menurut Islam? Saya pernah mendengar kalau nasabnya tidak bisa dihubungkan dengan laki-laki yang menikahi wanita yang hamil. tapi jawabannya. gimana ni hukumnya? tolong dibantu. 2011 at 12:08 am 19. 22 On August 14th. Balas Reply . pernah satu kx kami memanggil yg paham tentang agama. 23 On October 24th.atau anak itu adalah anak ibunya dan tidak bisa mendapat warisan? dan kalau anaknya perempuan tidak bisa diwalikan oleh si lelaki itu?apakah benar?apakah ada buku atau referensi yang memuat hal tersbt diatas dengan lengkap?karena si laki-laki sudah pernah diberitahu tentang hal ini tapi sepertinya tidak percaya dan menganggap remeh. cuma.sampai sekarang sudah 10 th usia pernikahan kami. karena kami sudah melahirkan Anak perempuan. bapaknya tidak sah menjadi wali buat siAnak.18. apabila anak perempuan kami klau mau menikah. pertanyaan anda sudah jelas jawabannya.dan rencana kami mo nikah kembali.apakah wajib bagi mereka menikah lagi?. 2011. Admin: jika melihat pendapat sesuai penjelasan di artikel. itulah jawabannya. Reply posted on August 14th. tdak perlu nikah lgi karena pernikahaan pertama itu sah. trim‟s wasalam.kalau seorang laki-laki terpaksa menikahi perempuan yang sudah dihamilinya.. 2011. Isampai sekarang kami tidak meyadari kalo pernikahannya selama ini tidak SAH/ HARAM. bahkan sekarang mereka memiliki anak kedua.jadi kami sudah mempunyai 3 orang Anak.

rasyid said: bagaimana kalau baru mengetahui hukumnya setelah sekian lama menikah dan telah mempunyai 2 orang anak lagi.. ttapi belum punya pnghasilan. seorang gadis 20th.. 2011.. Reply posted on November 13th. mohon thx b4 wassalam :D sarannya ya. apakah dlm islam diperbolehkan menikah jika lelaki masih muda dan belum berpenghasilan/msih kuliah ? 4. 2011 at 8:36 pm 20. bagaimana cara meyakinkan ortu akan niat kami tsb ? 3. 24 sy On November 13th.. krna kami sngat dekat dan hmpir stiap hari bertmu. sama halnya dgn psngan sy 20th. 2011.5 thun. sy jika tanyakan sikonnya sprti kami : ? 2. apa ingin hukum nikah.. 2011 at 10:40 pm 21. kami ingin menikah. yg 1. disebabkan oleh hal2 lain yg menghalangi mreka untuk dtg k t4 trsebut).. kami berdua masih kuliah smster 5 di kmpus dan jurusan yg sama pula. apakah dlm islam diperbolehkan wali nikah (ayah mempelai wanita) mengucapkan ijab kpda mempelai pria via telepon ? dalam hal ini wali/keluarga mempelai wanita tidak bisa hadir dalam akad nikah karena jarak yang memisahkan (kota yg berbeda. selain itu wali/kluarga mmpelai wanita tidak bisa berkunjung di kota t4 terselenggaranya nikah. jika hukumnya boleh2 saja.posted on October 24th. berarti tetap harus melakukan pernikahan .wb.pdhal hbngan kami sdah brjlan slma 3.. 25 On December 12th. tity said: asslmualaikuumm wr.. jika keluarga dari kedua belah pihak sudah menyetujui untuk menikah.. banyak hal yg ditakutkan dalam hubungan yg semakin lama ini. kami sudah punya niat utk menikah.

jalan(Sifaah) bagaikan hewanhewanpun melakukannya.gara si wanita sudah hamil akibat mereka telah melakukan sex bebas alias zina.ID :: Menggapai Kontroversi Hukum Pernikahan dengan Wanita Hamil Zina Oleh admin Pada Thursday. Under Bahsul Masa'il. Bukti ramalan ini kian hari kian tampak nyata dan kian menggejala dimana akhirakhir ini mulai banyak terjadi wanita. 11 February. oleh para ulama amat diperselisihkan Dasar. Fikih Perkawinan dengan Wanita Hamil Zina Sesuai dengan nubuat (berita masa depan) Nabi Muhammad dalam sebuah hadistnya bahwa kiamat tak akan terjadi sebelum manusia banyak melakukan peribuatan sex bebas dijalan.ulang? dan tiga orang anak yang dimiliki bagaimana statusnya? mohon di jawab untuk menjawab kondisi saya  Arsip Bulanan © 2012 AKHWAT. 2010 10:25 AM. Firman Allah : ‫ﻤ ﻤﻴ‬ ‫ﻚ‬ ‫ﻮﻤﺸﺮﻚ ﻮ ﺮﻢ‬ ‫ﻴﻜ‬ ‫ﻴ‬ ‫ﻮ‬ ‫ﻴ ﻮﻤﺸ‬ ‫ﻴﻨﻜ‬ .dasar hukum Hukum menikah dengan wanita yang sedang hamil zina. Dasar. diantaranya: 1.wanita (gadis) yang terpaksa di nikah kan dengan seorang priya gara.dasar perselisihan tersebut adalah dalam meng interpretasikan beberapa dalil dibawah ini yang dipersepsikan beda oleh para Fuqohaa‟.WEB.

hamba sahaya priya kalian yang sholih. Artinya: “Dan Nikahkanlah orang. Qoolat: Su-ila Rasuululloh SAW an rojulin zanaa bi imro-atin wa arooda an yatazawwajahaa. Hadist yang semakna: La yahillu li. 2.wanita tak bermoral itu pasangannya adalah laki.sahaya wanita kalian… 4.Nur 26).laki musyrik. Firman Allah: ‫ﻴ ﻤ ﻤﻨﻜ ﻮ ﺼ ﺤﻴﻦ ﻤﻦ‬ “Wa ankihul ayaamaa minkum was shoolihiina min ibaadikum wa imaa‟ikum …” (Q. tanaman (janin) orang lain”. Faqoola: ‫ﺮ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﺨ ﻦ ﻴﺴ‬ ‫ﻮ ﻴﻮﻢ‬ ‫ﻴﺤﻞ ﻹﻤﺮﺉ ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﻴﺴﻖ ﻤ ﺌ‬ ‫ﻮ ﻴﻮ‬ ‫ﻴﺆﻤﻦ‬ ‫ﻤﻦ ﻜ‬ ‫ﻮ ﻤ ﺌ ………ﻮ ﻜ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﻮ‬ ‫ﺨ ﻴﺜﺖ ﺨ ﻴﺜﻴ‬ .S. Hadist Nabi: Man kaana yu‟minu billaahi wal yaumil Aakhiri falaa yasqi maa. maka janganlah ia “mengairi dengan air (mani) nya pada tanaman (janin) orang lain.An-Nur 32).imri-in yu‟minu billaahi wal yaumil aakhiri an yasqiya maa-ahuu zar‟a ghoirihii. H.laki tak bermoral.orang mu‟min.R.sholih dan (juga) sahaya. (An. 6. Artinya: Para penzina laki.Nabhani Al.“Az. dan para penzina wanita itu tidak (boleh) nikah kecuali dengan penzina laki.Kabir (Dar Al.laki itu tidak (boleh) kawin kecuali dengan penzina wanita atau para wanita musyrik..laki tak bermoral itu pasangannya adalah para wanita tak bermoral……… 3.Fath al. Wazzaaniyatu laa yankihuhaa ilaa zaanin au musyrik.” (An. Artinya: Wanita.orang yang sendirian dari kamu sekalian dan hamba. ‫ﻴ‬ Artinya: Barang siapa ber-iman kepada Allah dan Rasulnya. An A‟isyah RA.laki atau laki. sebaliknya laki. Beirut). Dan diharomkan semuanya itu bagi orang. Firman Allah: . Yusuf bin Ismail Al. ‫ﻴ‬ Artinya: “Tidak halal bagi seseorang yang percaya pada Allah dan hari akhir untuk mengairi (dengan air mani) . Abu Dawud dan Tirmidzi.Khobiitsaatu lil khobiitsiina wal Khobiitsuuna lil khobiitsaat….ahuu zar‟a ghoirihi. 5. Wa hurrima dzaalika alal mu‟miniin”.Arqom.Nuur 2).Zaanii laa yankihu illaa zaaniyatan au musyrikah.…………‫ﺨ ﻴﺜﺖ‬ ” Al.

R.aakhiruhuu nikaahun. karena larangan Nabi untuk membuahi janin orang lain berlaku juga bagi wanita yang dihamili tanpa nikah. H. Akhrojahuu AtThobroniy wa Ad. Lihat Al. Maka Rasululloh menjawab: ” Awalnya adalah kumpul kebo (SIFAAH) dan akhirnya adalah sebuah pernikahan. Qoola Rasuululloh SAW: ‫ﺪ ﺮﺶ‬ ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ “Al. „An Abi Hurairoh RA. 7. Dari Ikhtilaf ini Imam Nawawi (dari madzhab Syafi‟i) menyatakan: hukum persenggamaan itu makruh (sebaiknya jangan dilakukan sampai sang bayi lahir) berdasarkan Qoidah: AlKhuruj minal Ikhtilaaf Mustahab (Keluar dari perbedaan pendapat itu sangat dianjurkan).Majmu‟ LinNawawi.Waladu lil firoosyi wa lil „aahiri al.laki yang berzina dengan seorang wanita dan dia bermaksud menikahinya. ‫ﻜ‬ ‫ﺨ‬ ‫ﺴ‬ “Awwaluhuu sifaahun wa. sosial dan kemasyarakatan serta berdasarkan asas MASLAHAH MURSALAH (kepentingan umum). Lihat Subulus Salam III/ 210. walau wujud orangnya sama. Ibnu Hazm dari kelompok Ad. Menurut hadist ini Rasulullah pernah memberi izin pernikahan wanita hamil zina walaupun tentu saja HUKUM HAD nya tetap berlaku. Syafi’I. Sedang As. Sesungguhnya perbuatan harom itu tidak dapat menghalangi terjadinya (pernikahan) yang halal”. Rasululloh bersabda: “Anak itu (dinasabkan) kepada Suami ibunya.Syafi‟I membolehkan persenggamaan mereka karena tujuan nikah adalah menghalalkan persenggamaan. Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Maliki melarangnya. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal mendasarkan larangannnya pada maksud lahir ayat.hajaru.I) Indonesia. walau membolehkan perkawinannya. Adapun Abu Hanifah dan dan Ibnu Hazm.Thobarony dan Ad. maka suaminya yang menikahinya dianggap orang lain. Setelah memperhatikan semua ikhtilaf tentang ini dan setelah mempertimbangkan segala aspek hukum.‫ﺤ ﻞ‬ ‫ﻴﺤﺮ‬ ‫ﺤﺮ‬ .Dhohiri.H. dll. Artinya: Dari Abi Hurairoh RA. Menurut Kompilasi Hukum Islam (K. Rasululloh ditanya tentang seorang laki.Daaruquthniy.At.hadist yang melarang membuahi janin yang sudah ada dari hubungan si wanita dengan orang lain. Artinya: Dari A‟isyah RA. sedang si penzina harus dihukum (dera/ rajam)”. 8. As. namun me reka melarang persenggamaan antara suami istri tersebut sampai si wanita melahirkan anaknya.Daaruquthniy.Shon‟ani. dimana diharapkan: # Ada orang tua yang nantinya akan bertanggung jawab atas segala pengasuhan dan . Wal haroomu laa yuhrimu al. Subulus Salam III/210. Dll.halaala”. Boleh atau tidakkah menikahkan wanita yang sedang hamil zina? Jumhur Ulama kebanyakan membolehkan mengawini wanita hamil zina seperti pendapat Imam Abu Hanifah.ayat tersebut dan hadist.

Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. . Seseorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan LAKI. Bila anak tersebut lahir 6 (enam) bulan LEBIH setelah perkawinan sah kedua orang tuanya. Hal ini bersesuaian dengan pendapat jumhur ulama‟ diantaranya Syekh Muhammad Zaid Al.pendidikan anak-anaknya sampai ia dewasa. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. waktu mengandung dan menyapih = 30 bulan Menurtut Luqman 14. masing masing dari Surat Al. dan menuangkannya pada BAB VIII pasal 53 ayat 1 ~ 3 demikian: 1.= 6 bulan Sesuai dengan pernyataan tersebut. waktu menyapih itu =…………………………………= 24 bulan Jadi waktu hamil minimal = …………………………………………………………….Ahqoof 15. 3.I (Kompilasi Hukum Islam) Indonesia menetapkan KEABSAHAN pernikahan antara seorang laki. 2.Abyani yang menyatakan bahwa batas minimal umur kandungan adalah 180 hari = 6 bulan. # Si pelaku perzinahan mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki segala Perilaku buruknya dengan membina keluarga yang sah. Status anak dari HAMIL ZINA Adapun anak dari hasil hubungan ZINA.LAKI YANG MENGHAMILINYA. (٥١‫ﺜ ﺜﻮﻦ ﺸ ﺮ ………) ﺤ ﻒ‬ (٤١‫ﻤﻴﻦ ……………………) ﻤﻦ‬ ‫ﺼ‬ ‫ﻮﺤﻤ‬ ‫ﻮﺼ‬ Menurut Surat Al. Imam Abu Hanifah menghitung jumlah 180 hari itu dari PERNIKAHAN. yakni: 1. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. Para Ulama‟ mendasarkan hukumnya dari perpaduan dua ayat. 2. maka nasab anak tersebut adalah KEPADA IBUNYA.laki dengan wanita YANG TELAH HAMIL ZINA. maka setelah perkawinan kedua orang tuanya dapat ditetapkan dengan dua kemungkinan. Bila anak tersebut lahir KURANG 6 (enam) bulan setelah perkawinan sah kedua orang tuanya.H. maka nasab nya adalah kepada Suami yang telah mengawini ibunya itu. # Mengembalikan harkat martabat dan kehormatan keluarga besarnya dan menutupnya dari AIB keluarga tersebut atas perilaku salah satu dari angota keluarga tersebut. maka: K. bukan dari mulainya hubungan sekssual diantara kedua orang tua biologisnya. terhormat dan dilindungi hukum.Ahqoof 15 dan Surat Luqman ayat 14.

Mulkhlisin Muzarie. maka walinya bukan suami ibunya namun WALI HAKIM. sedangkan bagi si pelaku zina dia harus dihukum (dera/rajam)”. yakni jika si anak lahir kurang dari 6 bulan. Wallohu A‟lam. jika ia nanti setelah dewasa hendak menikah.ah atau seperti apa yang diputuskan Umar bin Al. Ro‟is Aam Tanfidhiyyah DPP Jama‟ah Rifa‟iyyah.Khottob tentang anak. SESUAI SABDA Rasul dalam suatu peristiwa persengketaan tersebut diatas dalam riwayat yang panjang. ‫ﻮﺮ‬ ‫ﻤﺠ‬ ‫ﺬﻤﺮ‬ “Anak itu dinasabkan kepada SUAMI IBUNYA .Catatan penting: Maka pada kasus no.persengketaan nasab anak. Hadist riwayat Jama‟ah ahli hadist terkecuali Turmudzi.wanita mereka kumpul kebo dengan banyak lelaki.anak jahiliyyah yang terlahir dari kebiasaan wanita.anak yang dibawa kepada keputusan Nabi seperti kasus persengketaaan antara Sa‟ad bin Abi Waqosh dan Abdu bin Zam. terkecuali bila yang meninggal itu sebelumnya telah IQROR (membuat pernyataan) bahwa anak tersebut diakui sebagai anaknya sebagaimana diterangkan oleh Badran Abu Al-Ainain sebagai konsekwensi kebalikan pada kasus anak LI‟AN (suami yang menuduh istrinya mengandung bukan dari dirinya).karya: Dr. 2 . Disarikan dari: “Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil”.Khottob memutuskan bahwa anak tersebut (TANPA MELIHAT UMUR KEHAMILAN) adalah anak SUAMINYA YANG SAH. diantaranya: ‫ﺮ ﺤﺠﺮ‬ ‫ﻮﺪ ﺮﺶﻮ‬ . dimana Nabi dan Umar bin Al. Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini : . bila si anak terlahir perempuan. Namun demikian ada beberapa perbedaan pandangan tentang hal ini yang mengacu dari beberapa kejadian dimana terjadi kasus. Tentu saja anak tersebut secara syar‟I tidak mendapatkan hak waris sebagai anak yang sah dari suami ibunya itu bila nanti suami ibunya meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan.

Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). 2. istibra'nya cukup satu kali haid. b. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. " (HR Abu Daud). Alasan sah menikahinya sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. ia wajib istibra'. Mereka juga berpendapat. hanya saja wanita itu tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan kandungannya. hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina. Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil dengan lakilaki bukan yang menghamilinya adalah sah. Abu Yusuf dan Zafar berpendapat.STATUS HUKUM AKAD WANITA HAMIL AKIBAT ZINA Perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang wajib atau tidak wajib atas wanita yang hamil akibat zina. hamil atau tidak. apalagi bila ia bukan yang menghamilinya. baik yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya maupun bukan yang menghamilinya. wanita yang dinikahi tersebut halal (boleh) untuk disetubuhi walaupun ia dalam kaedaan hamil. karena akad nikah yang dilakukan itu hukumnya sah. maka terlarang pula akad nikah dengan wanita hamil itu. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil. Akan tetapi. terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab ini. . Alasannya. namun mengapa tifak boleh disetubuhi? Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw. menyebabkan perbedaan pendapat mereka tentang boleh atau tidak boleh menikahi wanita tersebut. tidak sah pula menikahi wanita hamil akibat zina. 3. ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina. Dengan demikian. 24). karena wanita hamil akibat zina tidak termasuk golongan wanita yang diharamkan untuk dinikahi."Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. baik merdeka maupun amat (budak). baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina. Sebagaimana hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil bukan karena zina. . Alasannya adalah bahwa wanita hamil akibat zina tidak termasuk ke dalam golongan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an (lihat an-Nisaa: 22. bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. 1. tapi bila ia hamil. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. istibra'-nya tiga kali haid. Ulama Syafi'iyah berpendapat. Ulama Hanafiyah sependapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. hukumnya tidak sah menikahi wanita wanita hamil akibat zina (dengan laki-laki lain) karena kehamilannya itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). a. 23.

5. KHI berpendapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya. kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut. " (HR Abu Daud). bersabda tentang tawanan wanita Authos. Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya. "(HR Abu Dawud) Kedua. tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya. Karena itu. " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. 4. Pertama. disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil. Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah. tidak memberi peluang kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. c). pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali. Sebagaimana yang tertuang pada pasal 53 ayat 1.Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. . Jika ia hamil. baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya). "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. a). isi pasal 53 KHI itu adalah sebagai berikut. kawin darurat yang selama ini masih terjadi di Indonesia. telah habis masa iddahnya. akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. a. telah bertobat dari perbuatan zina. bahwa Nabi saw. Seorang wanita yang hamil di luar nikah daapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Dari abu Sa'id r. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. Secara lengkap. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya.Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw. b). hukumnya menjadi tidak sah karena pasal 53 ayat 1 KHI tidak memberikan peluang untuk itu. juga berdasarkan hadits berikut ini. yaitu kawin . KHI membatasi pernikahan wanita hamil hanya dengan pria yang menghamilinya."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina.

satu kelompok dengan pencurian. oleh KHI dihukumi tidak sah untuk dilakukan. kemudian ia hamil. Artinya. Yang menjadi masalah dari pendapat ini adalah bila seorang wanita berbuat zina dengan lebih dari satu orang laki-laki. yang dilakukannya hanya untuk menutupi malu (karena sudah terlanjur hamil). Maksudnya. baik istilahnya kawin "tambelan". ketiganya harus di-qishash karena mereka bersama-sama harus bertanggung jawab atas kematian si korban. Bila Abu Yusuf dan Za'far beralasan bahwa kehamilan wanita itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan. dan pembunuhan. perampokan. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ibnul Khaththab r. alas an KHI menurut penulis lebih cenderung kepada masalah tujuan disyariatkannya nikah dan kaitan antara akad nikah yang sah dan kedudukan anak sebagaimana yang kita bicarakan kemudian. bagaimana menentukan "pria yang menghamilinya" itu? Di dalam pengelompokkan hukum islam. Dalam hal pembunuhan. Umar berkata. a.dengan sembarang laki-laki. Pendapat KHI ini mirip dengan pendapat Abu Yusuf dan Zafar dari maazhab Hanafiyah. mereka bertiga dikategorikan sebagai pembunuh. yaitu hukuman yang sama dengan tindak kejahatannya. Yang menjaadi masalah adalah bila seorang korban dibunuh oleh lebih dari satu orang pelaku. yang berakibat terlarang pula akad nikah. bila si korban terbunuh akibat pemukulan dan yang melakukan pemukulan adalah ketiga orang itu. tanpa memperhitungkan siapa diantara ketiga orang itu yang lebih banyak memukulnya dan tanpa perlu diteliti pukulan siapa yang menyebabkan kematian korban. menurut kami. zina termasuk ke dalam kelompok jinayah (tindak criminal). bila ia membunuh. ketiganya harus diqishash. kepadanya diberlakukan hukum qishash. bila seseorang terbukti telah melakukan pembunuhan dengan sengaja dan di luar kewenangan. hukumnya dibunuh pula.atau orang sunda menyebutnya kawin "nutupan kawirang". Keduanya berpendapat bahwa wanita hamil akibat zina dapat dinikahkan kepada laki-laki yang menghamilinya. Artinya. ketika beliau memerintahkan hukuman mati atas tujuh orang yang membunuh seorang anak di san'a (ibu kota Yaman). "pattongkogsi sirig". umpama tiga orang. "Sekiranya seluruh penduduk yaman berkumpul membunuhnya. Bagaimana menentukan pembunuh yang harus di qishash itu? Apakah ketiganya harus di qishash? Para ulama maazhab empat sependapat bahwa bila ketiga orang itu terlibat secara langsung. tapi tidak kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya. ada perbedaan alasan diantara keduanya. " . Hanya saja. aku akan menghukum bunuh mereka semua.

ketiga pria itu harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita yang dizinainya. Karenanya. karena dasar yang digunakannya hanya merupakan pemahaman. mereka konsisten dengan pendapatnya. baik yang berpendapat wanita hamil akibat zina itu wajib iddah maupun yang tidak mewajibkan iddah. KHI dan sebagian ulama Hanafiyah (Abu Yusuf dan Za'far) juga cukup hati-hati dalam masalah ini. pendapat ini masih memungkinkan untuk dibantah. Akan tetapi. dalam hal zina. yang paling hati-hati tentunya para ulama dari mazhab Malikiyah dan Hanabilah. kemudian ia hamil. Meski mereka membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. tanpa mempertimbangkan siapa di antara ketiga pria itu yang lebih sering menyetubuhinya dan tanpa perlu meneliti sperma siapa yang berhasil membuahi ovum wanita tersebut. Dengan demikian. di mana setelah menyakini bahwa akad nikah wanita hamil akibat zina hukumnya sah. ulama Syafi'iyah dan sebagian ulama Hanafiyah tampaknya kurang hati-hati. Sementara itu. bukan berdasar dalil qath'i. namun mereka membatasi bahwa yang dibolehkan menikahi itu hanya laki-laki yang menghamilinya. Dalam hal kehati-hatian. keduanya berpendapat bahwa wanita tersebut tidak boleh disetubuhi. namun sebagian ulama Hanafiyah (Abu Hanafiyah dan Muhammad) kurang konsisten. Sebagaimana yang telah dikemukakan. tidak layak untuk dilakukan karena orang yang tidak berbuat tidak semestinya dibebani tanggung jawab. tidak memberikan peluang kepada laki-laki bukan yang menghamilinya. Umumnya. diantara beragam pendapat mengenai status hukum akad nikah wanita hamil . padahal salah satu tujuan dari akad nikah adalah untuk menghalalkan persetubuhan. pendapat para ulama tentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina ini merupakan kelanjutan dari pendapat mereka tentang wajib atau tidaknya iddah bagi wanita hamil akibat zina. dengan pria manapun (di antara tiga pria itu) wanita hamil itu dinikahkan. bahkan Hanabilah mewajibkan bertobat sebelum melangsungkan akad nikah. dapat dikatakan bahwa wanita hamil itu dinikahkan kepada pria yang menghamilinya. Artinya. sehingga perbedaan pendapat terus berlanjut diantara mereka.Dengan mengambil contoh (analogi) pada masalah pembunuhan. bahkan memberikan kesempatan kepada laki-laki mana saja untuk menikahi wanita tersebut. ketiga pria itu dikategorikan sebagai pria yang menghamilinya. bahkan arti nikah itu sendiri menurut ahli ushul hanafiyah adalah "setubuh". Mereka melarang wanita hamil akibat zina melakukan pernikahan. Hal ini. Mereka tidak saja membolehkan wanita hamil akibat zina melangsungkan akad nikah. menurut kami. bila seorang wanita berzina dengan tiga orang pria.

sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an surah an-Nahl ayat 72. anak itu tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami wanita yang melahirkannya itu. nasab tidak bisa dihubungkan diantara keduanya. Alasannya. diantaranya: anak tersebut dilahirkan setelah berlalunya waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah (menurut Hanafiyah) atau enam bulan sejak terjadinya persetubuhan suami istri (menurut mayoritas ulama mazhab). bila seorang perempuan melahirkan anak. kecuali jika suami mengakui bahwa anak yang dilahirkan itu adalah anaknya dan mengakui pula dirinyalah yang mehamili wanita itu sebelum ia menikahinya. untuk dapat menghubungkan nasab anak kepada ayahnya. yaitu pendapat KHI dan sebagian ulama Hanafiyah. Bila anak lahir kurang dari enam bulan dari waktu akad atau dari persetubuhan suami istri. bila . Ulama Hanafiyah berpendapat bawa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. sebelum berbicara masalah penentuan nasab. bila anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan dari waktu akad. terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi.Pengertian naasaab aadalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. Para ulama mazhab sependapat bahwa dalam hal perkawinan yang sah. Abu Yusuf dan Za'far berpendapat tidak sah). baik hubungan darah saja maupun akad perkawinan yang sah saja. Dalam hal pernikahan wanita hamil akibat zina. Karena perkawinannya sah. STATUS HUKUM ANAK YANG DIHAMILKAN SEBELUM AKAD Sebagaimana telah dikemukakan. Akan tetapi.akibat zina ini. terlebih lagi menikahi wanita hamil akan berkait dengan masalah nasab. 2. untuk dapat menghubungkan nasab seorang anak kepada ayahnya. Dari pengertian tersebut. tujuan disyariatkannya nikah adalah agar terplihara keturunan nasab. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami ibunya itu kecuali jika si suami itu mengakuinya. 1. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (dalam hal dengan lakilaki lain. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa kehamilan telah terjadi sebelum terjadinya perkawinan. kami mengikuti pendapat kedua. baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain. Ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah. anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya. Bila hanya terdapat satu syarat. Dengan demikian. disamping tidak terdapat dalil qath'I yang melarang menikahi wanita hamil akibat zina. juga karena orang yang berbuatlah yang seharusnya dibebani tanggung jawab. dibutuhkan dua syarat: hubungan darah dan akad perkawinan yang sah. terlebih dahulu kita kembali kepada pendapat para ulamatentang status hukum akad nikah wanita hamil akibat zina itu.

Maksudnya. Karena itu. 3. Pasal 99 point @ menyatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. hubungan nasab antara anak dan ayah hanya ada apabila yang menikahi ibunya itu laki-laki yang menghamilinya. anak itu dinasabkan kepada suami dari ibunya. 4. tidak ada hubungan nasab antara anak yang dilahirkan dan laki-laki yang menikahi ibunya itu karena hukum akad nikahnya sendiri tidak sah. b.KHI berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. hal ini didasarkan kepada dua alasan berikut. Dengan demikian. Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum pernikahan wanita hamil akibat zina adalah tidak sah. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. Dengan demikian. Iddah. Hal ini sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 99 tentang kedudukan anak bahwa anak yang sah adalah. tenggang waktu enam bulan (yang dijadikan dasar oleh para ulama mazhab dalam penentuan hubungan nasab) itu bukan berdasarkan dalil yang qath'i. Pertama. baik Al-Qur'an maupun hadits. akad nikah tersebut menjadi tidak sah. hubungan nasab menjadi tidak ada karena akad nikahnya sendiri hukumnya tidak sah.anak lahir setelah berlalu waktu enam bulan sejak persetubuhan suami istri. KHI memahami kedua ayat ini tidak untuk menjadikannya sebagai dasar dalam penentuan nasab. yaitu surah al-Ahqaaf ayat 15 dan surah Luqman ayat 14 (lihat "Minimal Masa Kehamilan"subbab"Hamil. tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami dari ibunya itu kecuali bila suami mengakuinya. tapi bila laki-laki lain yang bukan menghamilinya. tapi hanya merupakan pemahaman para ulama mazhab terhadap dua ayat dalam AlQur'an. tapi hanya merupakan dasar dalam hal penentuan batas minimal masa kehamilan. Menurut penulis. Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya. . KHI tidak menjadikan tenggang waktu enam bulan sebagai dasar untuk mengkaitkan hubungan nasab seorang anak kepada ayahnya. Berbeda dengan pendapat para ulama mazhab. a. sedangkan pasal 53 ayat 1 menyatakan bahwa sahnya perkawinan wanita hamil hanya bisa dilakukan dengan pria yang menghamilinya. dan Istibra'). tapi bila anak lahir kurang dari enam bulan. hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya ada bila yang menikahi wanita hamil itu laki-laki yang menghamilinya.

status hukum diberikan kepada wanita yang hamil itu. walaupun mereka memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. tidak kepada kehamilannya karena anak dalam kandungan tidak diberi hukum tersendiri.dengan dua ayat tersebut. maupun karena KHI membatasi bahwa yang boleh menikahi wanita hamil itu hanya laki-laki yang menghamilinya. Adapun pendapat ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi'iyah. akhirnya anaknya dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya itu. masalah terpeliharanya keturunan menjadi lebih mungkin untuk bisa dicapai. terlihat bahwa dalam masalah terpeliharanya keturunan. "Pengikut (hukumnya) itu sebagai yang mengikuti. Kedua. Yang menjadi masalah. kemungkinan terpeliharanya keturunan menjadi kecil untuk bisa dicapai. kapan saja akad nikah dilangsungkan asalkan sebelum anak dilahirkan.terjualnya induk merupakan terjualnya anak kambing tersebut. wanita hamil itu sah menjadi istrinya. tatus hukum yang ditetapkan terhadap yang diikuti berlaku pula terhadap yang mengikuti karena pengikut tidak diberi hukum tersendiri. namun karena memberikan kesempatan kepada laki-laki bukan yang menghamili untuk menikahi wanita hamil tersebut. Karenanya. Meskipun tidak memberikan tenggang waktu antara akad nikah dan kelahiran anak. Dalam hal akad nikah wanita hamil akibat zina. status hukum yang ditetapkan terhadap wanita hamil berlaku pula terhadap anak yang ada dalam kandungannya. sedangkan diantara keduanya tidak ada hubungan darah.Artinya. TT: 81) Misalnya. ia sudah sempurna walaupun mungkin kurang sehat. Pemahaman ini sejalan dengan hadits Nabi saw. Allah SWT menjelaskan bahwa seorang perempuan (dalam hal mengandung anak) membutuhkan waktu minimal enam bulan sejak terbentuknya nutfah sampai ia melahirkan. anak kambing dalam perut tidak boleh dijual dengan sendirinya. Dengan demikian. Atau juga seperti ulat yang tumbuh dalam buah-buahan. TT: 81) Termasuk dalam kategori kaidah tersebut adalah: "Pengikut tidak diberi hukum tersendiri. seperti petai. Dari beberapa pendapat para ulama sebagaimana yang telah kami kemukakan. tapi karena masa kehamilan itu umumnya sembilan bulan. sahkah akad nikah wanita hamil itu? KHI berpendapat hukumnya sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya. " (as-Suyuthi. " (as-Suyuthi. kaidah fiqih menyatakan. ulat pun boleh dimakan beserta petai asalkan tidak dipisahkan. karena status hukum akad nikahnya sah. sebab sekalipun diberikan tenggang waktu enam bulan. Dengan demikian. yang lebih memungkinkan untuk bisa dicapai adalah menurut pendapat KHI. Ket : ISTIBRA' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim KHI singkatan Kompilasi Hukum Islam . ada kemungkinan wanita yang sudah hamil dua bulan dinikahi oleh laki-laki lain. termasuk anak yang ada dalam kandungan wanita itu sah pula menjadi anaknya. seandainya ia lahir dalam umur enam bulan. yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud bahwa janin yang berada didalam rahim ibu setelah berusia empat bulan dilengkapi dengan roh dan dalam masa dua bulan berikutnya disempurnakan khilqah (bentuk)nya. (karena petai halal).

com .Wassalam. LC dari : CyberMQ. Abdul Wahab.

Dalam hukum Islam. tanpa berpikir.PERKAWINAN WANITA HAMIL: Perspektif Empat Imam Mazhab dan Kompilasi Hukum Islam Oleh: H. * ) Peaulis adalab dosec Fakultas Syari'ah IAJN Antasafl mata kuHah Ushul Fitih Jurmm Perbandinean Madzhftb dan Hukum SYARIAH: jur^'Hukun dafi Pemikifwi. ^athurrabmctn A^hari *) ABSTRAK Milihat dan fakta sekarang. kebolehan kawin hamil mendapat tempat pada Bab ^11 Pasal 53 ayat 1. karena terialu bebasnya pcrgaulan antara lald-laJd dan wanita. adalah sebuah proses pembentukan Oleh karena itu bagi orang fcehiarga ysng tidak dapat Islam ar^lflh suatu kemestian untuk disflenggarakan di luar ketenman. bagaimana jika sekiranya keharmlan sampai teqadi. dan 3 KHI. banyak wanita harm] di luar perkawinan. Malik. As-Sunnah dan hasil Ijtihad Perkawman menurut agama dan penAipat para ulama. apakah wanita yang hamil akibat perbuatan zina itu boleh melangsungkan periciwin deogan laidlaki yang menghamilmya atau dengan laki-kki lain ataukah tidak boleh. Imam Mazhflb.Desember2 . 2. maka para imam mazhab (Hanafi. JuS . 2. melaksanakan ketentuan-ketentuan Perkawinan telah diatur secara jelas oleh hukum perkawinan yang dttun^uk oleh kctentuaa-ketentuan hukum Islam yang daul-dalil yang jelas dan benar dalam digali dan sumber-sumbemya baik dan soal yang kedl sekalipun. Kata Kunci: Perkawinan. A. Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal) berbeda pendapat. Tabufi 6. orang yang melakukan hubungao seksual di luar perkawinan dihukumkan zina. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam. Pendahuluan Alquran. jika seotang wanita yang berbuat zina itu sampai hamil. Wanita hamil. No. KHI.

(Al Qur’an Surat: An-Nur : 3) Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama Jumhurul Fuqaha mengatakan bahwa yg dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan utk menikahi wanita yg pernah berzina. Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan. & yg demikian itu diharamkan atas oran-orang yg mu`min.Hukum Menikahi Wanita Pezina Laki-laki yg berzina tdk mengawini melainkan perempuan yg berzina. (Al Qur’an Surat: An-Nur : 32) . Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yg pezina sekalipun. & perempuan yg berzina tdk dikawini melainkan oleh laki-laki yg berzina atau lakilaki musyrik. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. Lalu bagaimana dgn lafaz ayat yg zahirnya mengharamkan itu ? Para fuqaha memiliki 3 alasan dalam hal ini. Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dgn ayat lainnya yaitu : Dan kawinkanlah orang-orang yg sedirian diantara kamu. Yaitu seorang yg bernama Mirtsad Al-ghanawi yg menikahi wanita pezina. maka lbh kpd kasus yg khusus saat ayat itu diturunkan. & orang-orang yg layak dari hamba-hamba sahayamu yg lelaki & hamba-hamba sahayamu yg perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dgn kurnia-Nya. atau perempuan yg musyrik. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz `hurrima` atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).

Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. lalu beliau bersabda. (Hadis Riwayat: Tabarany & Daruquthuny).`Awalnya perbuatan kotor & akhirnya nikah.”Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. Pendapat mereka ini dikuatkan dgn hadits berikut : Dari Aisyah ra berkata. ‫ل‬ ‫ئ‬ ‫س‬ ‫هلل‬ ‫ب‬ ‫آلخ‬ ‫س‬ ‫ه‬ ‫ه رع‬ ‫غ‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Sesuatu yg haram tdk bisa mengharamkan yg halal`.”Tidak halal bagi seorang muslim yg beriman kpd Allah & hari akhir utk menyiramkan airnya pd tanaman orang lain. Juga dgn hadits berikut ini : Seseorang bertanya kpd Rasulullah SAW. Mereka membolehkan seseorang utk menikahiwanita pezina. Beliau menjawab.(Hadis Riwayat: Abu Daud & Tirmizy).`Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yg berzina dgn seorang wanita & berniat utk menikahinya.`Istriku ini seorang yg suka berzina`. Lebih detail tentang halalnya menikahi wanita yg pernah melakukan zina sebelumnya. simaklah pendapat para ulama berikut ini : . `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (Hadis Riwayat: Abu Daud & An-Nasa`i) ‫ص‬ ‫:ق ل‬ ‫ة ت طأ‬ ‫ت‬ ‫ت‬ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.`Ceraikan dia`. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh AlHakim). `Tapi aku takut memberatkan diriku`.Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq ra & Umar bin Al-Khattab ra & fuqaha umumnya.

Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab karya AlImam An-Nawawi. Paling tdk tercatat ada Aisyah ra. memang ada juga pendapat yg mengharamkan total utk menikahi wanita yg pernah berzina. Ali bin Abi Thalib. 3. Imam Asy-Syafi’i Adapun Al-Imam Asy-syafi’i. hukumnya boleh. dpat dikawinkan dgn pria yg menghamilinya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan & telah habis masa ‘iddahnya. 5.Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yg menikahi wanita hamil itu adl laki-laki yg menghamilinya. maka laki-laki itu tdk boleh menggaulinya hingga melahirkan. jus XVI halaman 253. 3. Imam Malik & Imam Ahmad bin HanbalImam Malik & Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yg tdk menghamili tdk boleh mengawini wanita yg hamil. silahkan baca buku : Kompilasi Hukum Islam halaman 92 . Pendapat Yang Mengharamkan menikahi wanita pezina. Al-Barra` & Ibnu Mas`ud. Untuk lbh jelasnya. Seorang wanita hamil di luar nikah. Jika belum bertobat dari dosa zina.1. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Perkawinan dgn wanita hamil yg disebut pd ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lbh duhulu kelahiran anaknya. maka dia diharamkan utk dinikahi oleh laki-laki yg baik (bukan pezina). yg pelaksanaannya diatur sesuai dgn keputusan Menteri Agama RI no. Begitu juga seorang wanita yg pernah berzina dgn laki-laki lain. tdk diperlukan perkawinan ulang setelah anak yg dikandung lahir. 2. 4. Undang-undang Perkawinan RIDalam Kompilasi Hukum Islam dgn instruksi presiden RI no. Imam Abu Hanifah. yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut : 1. Dengan dilangsungkannya perkawinan pd saat wanita hamil. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yg menzinai wanita maka dia diharamkan utk menikahinya. dibolehkan menikahinya. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi. Sedangkan kalau yg menikahinya itu bukan laki-laki yg menghamilinya. pendapat beliau adl bahwa baik lakilaki yg menghamili atau pun yg tdk menghamili.Meski demkikian. maka dia masih boleh menikah dgn siapa pun.Bahkan Ali bin abi . 2.

maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yg pertengahan adl pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. yaitu orang yg tdk punya rasa cemburu bila istrinya serong & tetap menjadikannya sbg istri. Beliau mengharamkan seseorang menikah dgn wanita yg masih suka berzina & belum bertaubat. Begitu juga bila yg berzina adl pihak suami. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbda. (Hadis Riwayat: Abu Daud) 6. Dan bila mereka menikah. Selain itu mereka juga berdalil dgn hadits dayyuts.`Tidak akan masuk surga suami yg dayyuts`. Ahmad Sarwat. maka tdk ada larangan utk menikahinya.Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya & bertaubat. Kalaupun mereka menikah. Karena seseorang yg sudah bertaubat berhak utk bisa hidup normal & mendapatkan pasangan yg baik. Lc . maka nikahnya syah secara syar`i. Tentu saja dalil mereka adl zahir ayat yg kami sebutkan di atas (aN-Nur : 3). maka nikahnya tdk syah. Oleh: H. Nampaknya pendapat ini agak menengah & sesuai dgn asas prikemanusiaan.

Di luar jumhur ulama. Namun sangat mungkin untuk disesuaikan dengan keadaan lokal serta bersifat situasional. Namun belum tentu bila MUI di Indonesia mengeluarkan fatwa yang sama. Sehingga begitu fatwa itu dikeluarkan. efeknya memang terasa. sehingga muncul . antisipasi dan mirip dengan apa yang tetap untuk kondisi sosial Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan beda agama. WAssalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Dian Dwideana Jawaban Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. melihat ada semacam kecenderungan para shahabat untuk „berlomba‟ menikahi wanita ahli kitab. Sehingga meski tidak terlalu dipegang oleh jumhur ulama. Terutama untuk masalah yang juga masih ada perselisihan di antara para ulama dalam hukumnya. tentu saja setelah dilihat manfaat dan madharatnya. Salah satunya ketika Khalifah Umar ra. Fatwa yang dikeluarkan di suatu tempat oleh para ulama biasanya memang disesuaikan dengan kondisi real di lapangan. akan menghasilkan hal yang sedahsyat di negeri sana. dikeluarkan begitu saja. sebelumnya pasti sudah dibahas tentang efektifitas dan dampaknya oleh para ulama. hukumnya haram. Manakah yang Kita Pakai? Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Adapun masalah larangan nikah beda agama yang dikeluarkan MUI.id > Muslim > Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama.blog.or. ada juga pendapat lain yang berbeda. namun fatwa itu bisa agak sedikit lebih agama di negeri kita. tentu saja tidak sekedar belakang. Misalnya fatwa boikot pruduk tertentu yang dikeluarkan oleh banyak ulama di Timur Tengah. manakah hukum yang harus kita pakai jika fatwa jumhur ulama bertentangan dengan lembaga resmi? Contohnya setahu saya fatwa MUI melarang pernikahan beda agama sementara menurut Pak Ustadz bahwa jumhur ulama membolehkannya? Sebelumnya mohon maaf jika seolah2 mengkonfrontir antara Pak Ustadz dengan lembaga MUI. Manakah yang Kita Pakai? Muslim category “Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pak Ustadz. asalkan yang laki-laki muslim dan yang perempuan wanita ahli kitab . Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan yang wanita muslimah. Manakah yang Kita Pakai?” ketegori Muslim.re. Pastilah sebelumnya sudah dibahas latar dampak-dampak yang akan terjadi. Sifatnya tidak selalu harus bersifat universal dan baku.

dampak fitnah di tengah wanita muslimah. Bahkan boleh dibilang menjadi semacam ledakan jumlah penduduk yang muslim. Mengapa Diharamkan? Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia menjadi sasaran kristenisasi sejak masa penjajahan Belanda. namun ketika diurutkan ke silsilah orang tua dan kakek neneknya. Sebab meski laki-laki muslim menikahi wanita Kristen.yaitu karena adanya pernikahan campur antar agama. Salah satu metode pemurtadan yang paling efektif ternyata lewat pernikahan beda agama. kenyataannya yang kalah justru yang laki-laki. Namun saat itu beliau ra. Grafik laju pertumbuhan penduduk muslimin di sana mengalami laju yang tak terbendung. Angka grafik pertumbuhan penduduk yang beragama Kristen terus naik. Sehingga beliau pernah berkirim surat kepada salah satu bawahannya yang isinya perintah untuk menceraikan istrinya yang wanita ahli kitab. Inggris telah masuk ke pola trend kehidupan untuk menikah dengan pria muslim asal Timur Tengah. tapi akhirnya anak-anak mereka menjadi non muslim. . Jerman. Maka wajar bila MUI merasa bertanggung-jawab untuk menahan laju grafik kemurtadan ini dengan melarang pernikahan beda agama secara keseluruhannya. justru orang-orang yang sudah muslim malah jadi murtad. Di mana banyak pemuda dan pemudi muslim yang menikah dengan pasangan beda agama. Bahkan para wanita Perancis. Salah satu faktornya sudah bisa Anda duga. tidak sedikit dari mereka yang kemudian masuk Islam. Meski dengan latar belakang yang sedikit berbeda. Trend yang terjadi di Eropa ini juga mulai menular ke benua lain seperti Amerika dan Australia. Data kependudukan membuktikan bahwa banyak sekali wanita Eropa yang menikah dengan pria muslim. sehingga dengan mudah dia menjual iman dan agamanya. sekedar untuk bisa tetap mempertahankan istrinya yang kafir itu. Sampai-sampai para penguasa barat cemas melihat kenyataan ini. Ini suatu bukti bahwa nikah beda agama di Indonesia justru kontra produktif. Kirakira hal itulah yang bisa kita rasakan dari fatwa MUI yang mengharamkan nikah beda agama. Fatwa Itu Tidak Berlaku di Eropa Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi di Eropa. Bukannya berhasil meng-Islamkan orang kafir. ternyata beragama Islam. Di sisi lain banyak sekali orang yang sekarang beragama Kristen. memakai jilbab dan membangun rumah tangga Islami. Di kedua peradaban barat itu kini sudah tidak asing lagi kita temukan wanita bule yang memakai jilbab dan bersuamikan laki-laki muslim yang sukses dalam kehidupannya. Lalu anak-anak mereka memenuhi Islamic Center yang juga tumbuh menjamur di sana. Tentu saja khalifah bukan mau melawan ayat Al-Quran yang secara tegas membolehkan lakilaki muslim menikahi wanita ahli kitab. melihat gelagat yang kurang baik di dalam tubuh umat Islam dengan adanya pernikahan yang hukum asalnya halal itu.

Wallahu a‟lam wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.id     Business Blogs What is wordpress Blogs Wordpress ulama yang melarang pernikahan agama contoh fatwa mui tentang kawin hamil masalah anak pernikahan beda agama di indonesia nikah beda agama mui FATWAH MUI WANITA BEPERGIAN contoh perkawinan beda agama menurut MUI kehidupan wanita muslim di timur tengah hukum muslim menikah dengan kristen para ulama barat tentang nikah internet Tag Cloud  Business Blogs  Messenger Bags  Make money blogging What is wordpress  .or. nikah beda agama di Indonesia identik dengan pemurtadan. Sebaliknya. Ahmad Sarwat. Di sini kita harus sedikit cerdas dalam menilai dan menganalisa situasi sosial masyarakat. Sumber Jika MUI Berseberangan dengan Jumhur Ulama. Sebab nikah beda agama di Eropa identik dengan proses Islamisasi yang luar biasa dahsyat. Manakah yang Kita Pakai? : http://assunnah.Maka alangkah tidak bijaksana bila para ulama di Eropa mengeluarkan fatwa model MUI di negeri kita. Lc.

diucapkan dihaturkan terima kasih. ketika saya mencoba membaca artikel eramuslim semua artikel yang berkaitan dengan perihal zina dirasa belum memberikan jawaban yang mendalam. inilah ribed-nya langkah nafsu yang salah dan dosa. sehubungan dengan hal tersebut mohon penjelasan sebagai berikut: 1. MM Bekasi Jawab: . Lc. Mohon penjelasan dari segi Al-Qur'an. hasil hubungan sah karena kalimat Allah).Status Pernikahan karena Perzinahan Seiring dengan maraknya kemaksiatan di setiap penjuru negara ini. 2. karena permasalahan yang berbeda. Kami telah melakukan zina dan telah dinikahkan 20 tahun yang lalu. isteri saya sekarang ketika dinikahkan (20 thn lalu) dalam keadaan hamil di luar nikah. agar hati ini lebih tenang dan mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kami dan kepada Bapak Ustadz Ahmad Sarwat. tidak ketinggalan pula bahwa saya pun termasuk orang yang pernah melakukan kemaksiatan itu pula 20 tahun yang lalu. Apakah pernikahan saya dapat diridhai Allah atau masih termasuk zina selama ini karena waktu nikah isteri dalam keadaan hamil di luar nikah. atau harus nikah lagi? 3. Hadist Rasul dan Qaul Ulama. Apakah pernikahan kami dapat di-analog-kan dengan larangan menikahi wanita (janda hamil. Bagaimana dengan anak saya selanjutnya (anak kedua dst). dan tentang perwalian dalam nikah (terutama yang wanita) apabila anak ini mau menikah kelak.

Maka nasabnya tidak bisa dikembalikan kepada ayah kandungnya secara syar'i. Wb. Waba'du. (QS An-Nur: 3) Namun Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. bila lakilaki dan wanita yang pernah berzina dan melahirkan anak. Bismillah. 2. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu? .Assalamu 'alaikum Wr. Yang menjadi masalah adalah bila pasangan ini tidak pernah menikah dengan syah setelah perzinaan itu. karena secara syah anak itu adalah anak anda. maka nasab anak ini akan kembali kepada ayah kandungnya bila pasangan ini kemudian menikah dengan benar dan syah secara syariah. yaitu: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. 1. Jadi anda tidak perlu pusing memikirkan siapa wali anak anda sendiri. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Walinya adalah anda sendiri sebagai ayah yang syah. Memang ada sebuah ayat yang sepertinya bisa dianggap sebagai pengharaman. dan yang demikian itu 'diharamkan' atas oran-orang yang mu'min. atau perempuan yang musyrik. Para ulama menyebutkan bahwa dalam kasus zina yang menghasilkan anak. Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah. Jumhur ulama mengatakan bahwa menikahi wanita yang sedang hamil karena dihamilii oleh yang bersangkutan tidaklah haram. Nikahnya syah dan dibenarkan dalam syariat Islam.

"Tapi aku takut memberatkan diriku. kalau memang diharamkan. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah. maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan. mereka mengatakan bahwa lafaz 'hurrima' atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci)." "Kalau begitu pertahankanlah perkawinanmu. dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal". Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. lalu beliau bersabda. "Istriku ini seorang yang suka berzina". Pertama. bahwa berlakunya ayat itu telah dibatalkan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pernah berzina. Juga dengan hadits berikut ini: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. Selain mayoritas ulama salaf. Kedua. (HR Tabarany dan Daruquthuny). ternyata pendapat ini juga merupakan pendapat Khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq ra dan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra dan juga pendapat fuqaha umumnya. Beliau menjawab. "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i) . (QS An-Nur: 32). "Ceraikan dia". Ketiga. Pendapat mereka ini juga dikuatkan dengan hadits berikut: Dari Aisyah ra berkata. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.Mereka memiliki tiga alasan dalam hal ini.

memang ada juga pendapat yang mengharamkan seseorang menikahi wanita yang pernah berzina. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain. maka wajiblah pasangan itu diceraikan." (HR Abu Daud) Pendapat Pertengahan Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Paling tidak tercatat ada Aisyah ra. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri. Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Dan bila mereka menikah. Tentu saja dalil mereka adalah pengertian zahir ayat yang kamisebutkan di atas (An-Nur: 3). Lc eramuslim . Ali bin Abi Thalib. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Ahmad Sarwat. Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr. "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts. Bahkan Ali bin abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina. Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik.Pendapat Yang Mengharamkan Meski demikian. maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat. maka nikahnya syah secara syar'i. Kalaupun mereka menikah. AlBarra' dan Ibnu Mas'ud. Wb. maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina). maka nikahnya tidak syah.

bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya. sehingga saya cukupkan dengan artikel tersebut karena apa yang saya inginkan sudah terwakili olehnya. baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat :*1 Pertama. diharamkan atas orang-orang yang mu?min. As-Sunnah dan Salafush Shaleh.Menikahi Wanita Hamil Published by Abdullah Hadrami [abdullah] on 2007/11/6 (10558 reads) Segala puji hanya bagi Allah.?3 Syaikh Al-Utsaimin berkata. dengan arti. Pada bagian terakhir saya (Abdullah Saleh Hadrami) akan menyertakan bantahan terhadap syubhat yang ada dalam masalah ini. amma ba?du. maka hubungan itu adalah perzinahan. namun alhamdulillah ternyata sudah ada artikel yang cukup bagus. ?Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina. maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan. anak itu tidak memiliki bapak. Bila seorang laki-laki menghamili wanita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.4 Bila seseorang telah mengetahui. terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !! Status Nikahnya : Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah. Menikahi Wanita Hamil Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah. . padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkannya. maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain. Artinya ?Laki-laki yang berzina tidak mengawini. atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini. dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib. keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat.5 Bila terjadi kehamilan. Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman. melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu. Artikel dibawah ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini menurut Al-Qur?an.6 Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini. bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya. kecuali perempuan yang berzina.*2 Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina. ilmiyyah dan berbobot. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan tentang masalah ini agar menjadi jelas dan gamblang.

*11 Di dalam hadits di atas.Artinya. Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki.*12 Mungkin sebagian orang mengatakan. maka halal menikahinya. meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. ?Tidak boleh menikahinya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandungannya. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi. tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi.*8 Namun. berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik. dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. bila tidak hamil. Di . berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain. Pengakuan ini tidak dianggap. baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram. ?Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil.*10 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Artinya. Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah. maka sampai melahir-kan kandungannya. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh . karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil. ?Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?? 7 Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hambaNya sebagai sekutu. bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan. bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram. najis dan suci. dalam arti dia itu tidak memiliki bapak. Juga sabdanya Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya.?*14 Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra? terlebih dahulu. padahal budak itu sudah menjadi miliknya. kecuali setelah dia melahirkan kandungannya. karena perbedaan dua air (mani). ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya. maka pernikahannya itu tidak sah. maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya. bila sudah bertaubat. maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil. sampai dia beristibra? dengan satu kali haid. dan bila ternyata hamil. Malikiy. ?Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.*9 Ke dua : Dia harus beristibra? (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl.? 13 Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan. Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl.

maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama. Artinya ?Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?21 Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra? dengan satu kali haidh. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya.22 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa. ?Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam. maka walinya adalah wali hakim. kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir. yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina. dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? 18 Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina. maka nasab (anak) diikutkan kepadanya. maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja. sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami. dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan . wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah. maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ? Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah.dalam hal ini. atau dinikahi sewaktu hamil. berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam : Artinya ?Anak itu bagi pemilik firasy.*15 Jadi anak itu tidak berbapak. ?Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah). berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak. sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya.? 16 Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda. Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah. baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah. beliau berkata. lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak. ?Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya. karena dia itu tidak memiliki wali. keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya.17 Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya ?Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan). 20 Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka : Anak itu tidak berbapak.19 Ibnu Abdil Barr berkata.

(7)Asy Syruraa : 21. (21)Hadits hasan Riwayat Asy Syafi'iy. Al Fatawa Al Jami'ah Lil Mar'ah Al Muslimah 2/5584. (2)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah. Ahmad. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828. Kitab Nikah. (16)Al-Bukhari dan Muslim. (9)Ibid 3/247.id/index. (19)Al Mabsuth 17/154.23 Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. (22)Al-Mughniy 6/455. Endnote : (1)Minhajul Muslim. (11)Lihat Mukhtashar Ma'alimis Sunan 3/74. (8)Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246. dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim. (14)Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72. Ahmad Muwafii 2/583. dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan. (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya). Ahmad Muwafii 2/584. dan Ar Raudlah 6/44. (5)Ibid.or.) (12)Abu Dawud. Al Qawanin hal : 338. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalanjalannya menjadi kuat dan shahih. meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan RasulNya. Abu Dawud.alsofwah. http://www. (13)Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128.php?pilih=lihatannur&id=153 Syubhat dan Bantahannya Oleh: Abdullah Saleh Hadrami Sebagian Ustadz menfatwakan bolehnya menikahi wanita hamil asalkan lelaki tersebut adalah yang menghamilinya dan mereka menisbahkan fatwa ini kepada Salafush Shaleh sebagaimana dibawah ini: .kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui. dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram. (17)Taud-lihul Ahkam 5/103. Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. (18)Al Bukhari dan Muslim. Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak). (3)An Nur : 3. Majmu Al Fatawa 32/110. Al Kharsyi 6/101. (23)Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104. (6)Ibid 33/245. lihat. (10)Taisiril Fiqhi Lijami'il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah.( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851. Asy Syarhul Kabir 3/412. (Abu Sulaiman). Fatawa Islamiyyah 3/247. (15)Al Mabsuth 17/154. (20)At Tamhid 6/183 dari At Taisir. (4)Fatawa Islamiyyah 3/246. sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya. Artinya: 'alimus Sunan 3/75-76.

Kalau ini. seorang laki-laki berzina dengan perempuan. www. karena berdampak semakin maraknya perzinaan dan anak-anak yang lahir dari hasil perzinaan disebabkan mereka merasa tenang dan aman karena telah mendapat kemudahan dan dukungan dari fatwa-fatwa tersebut. Alhamdulillah. amien. lalu keduanya bertaubat dan melangsungkan pernikahan. sama sekali tidak ada kata-kata hamil. maka tidak ada khilaf tentang bolehnya. Semoga Allah selamatkan diri kita dan keluarga kita serta kaum muslimin semuanya dari segala hal yang mendatangkan murka Allah Ta?aala.or. BERBAHAYA. Yang ada adalah. ternyata saya mendapatkan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis terdapat kata-kata hamil.com (c) Hak cipta 2008 .id/content/2253/slash/0 Setelah saya meruju? kepada kitab-kitab yang telah disebutkan. karena menyalahi Al-Qur?an. As-Sunnah dan Salafush Shaleh. BATIL. Fatwa yang membolehkan menikahi wanita hamil asalkan yang menikahi adalah lelaki yang telah menghamilinya dan menisbahkan anak yang lahir dari kehamilan tersebut kepada si lelaki yang menghamili adalah FATWA BATIL DAN BERBAHAYA. Wallaahul Musta?aan.http://www.almanhaj. yaitu kitab-kitab aslinya yang berbahasa Arab. saat itu beliau (penulis) mengatakan akan melihat lagi. saya sempat bertemu dengan penulis ketika Daurah di Wisma Erni Lawang dan sempat membicarakan masalah ini dengan beliau. pendapat tersebut adalah murni pendapat penulis sendiri dan tidak benar kalau dinisbahkan kepada Salafush Shaleh ?Rahimahumullah.hatibening.Hatibening. Jadi.com 0 Comment(s) .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->