P. 1
Implementasi Mbs Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Implementasi Mbs Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

|Views: 502|Likes:
Published by Kiki Rezeki

More info:

Published by: Kiki Rezeki on Apr 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2014

pdf

text

original

IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung, Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan

)
admin 2 comments

BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat, faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat, manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. Namun, banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat , yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal, yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya, isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran, dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Berdasarkan latar belakangnya, MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator, seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional, tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia

Sekilas tentang Wacana MBS 1. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. 22 tahun 1999. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan . secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. bukan dengan pemerintah pusat. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Kedua. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Munculnya UU No. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. BAB II PEMBAHASAN A. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Pertama. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. yaitu terprogram dan sistematik. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek.yang bertanggungjawab. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah.

Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. 2. informasi dan penghargaan. yaitu melalui UU No. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam . prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. Kedua. Ketiga. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Pertama. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. staf. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. pengetahuan dan ketrampilan. Apapun model MBS yang dipakai. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Kedua. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Mandatnya sudah jelas. tujuan dan akuntabilitas. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Hubungan guru. bersahabat dan hangat. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. pengetahuan dan ketrampilan. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. Desentralisasi dalam kekuasaan. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan.baik. tetapi bersamasama dengan sekolah dan masyarakat. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Ketiga. Keempat. kepala sekolah dan orang tua siswa. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. prinsip sistem pengelolaan mandiri. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya.

dan (d) penyandang cacat. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). apa pun kriteria keberhasilan tersebut. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik.pengelolaan sekolahnya secara mandiri. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. melainkan memerlukan biaya. sosial dan budaya. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. (c) wanita. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. budaya. Karena itu. tenaga. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompokkelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non . waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. pelayanan kepada masyarakat. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Namun. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Kedua. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Keempat. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. 3. ekonomi dan politik. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu.

Kesembilan. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategistrategi berikut ini. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Kedelapan. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang SchoolBased Management: Strategies for Succes . Kubick (1988) tentang School-Based Management. Pada dasarnya. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Keenam. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. . strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. Ketiga. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Kelima. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional.akademik siswa juga meningkat. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Oleh karena itu. Dengan demikian. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. B. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Keempat. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Pertama. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Ketujuh.

forum ilmiah dan media massa. Kedelapan. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. diskusi. identifikasi peran masing-masing. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Oleh karena itu. motivator. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Keempat. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihanpelatihan terhadap peran barunya. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Sementara itu. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. fasilitator dan liaison. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya.Kedua. Kelima. Kedua. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. Kesembilan. Ketiga. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. Namun. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang . usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah.H. Pertama. Ketujuh. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. implementasi pada proses pembelajaran. Keenam. Menurut Slamet P.

Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Pertama. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. ketenaga kerjaan. Ketiga. Kesembilan. Ketiga. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. pembangunan kelembagaan (capacity building). menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Kelima. kurikulum. menengah dan panjang beserta programprogramnya untuk merealisasikan rencana tersebut. kepemimpinan. Kedua. pendanaan. Para kepala sekolah . Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. mengidentifikasi fungsifungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Keenam. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. masyarakat. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Ketujuh. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. Kedelapan. waktu. Keempat. masalah partisipasi. strategi dan monitoring serta evaluasi. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. yaitu parisipasi masyarakat. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Oleh karena itu. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. melaksanakan programprogram untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. 1. membuat rencana jangka pendek.hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. keuangan. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah.

Byrk dkk. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. 2. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. rancangan dan implementasi dari reformasi. . (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Wohlstetter dkk. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa.dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. budaya pemerintah daerah. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. budaya sekolah. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. 4. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. kemandirian dan kerjasama. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. Keempat. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Kedua. Selain itu. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau pre-service training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. 5. 3. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Keenam. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. pelatihan. Pertama. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. Kelima. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. dan budaya masyarakat. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. guru dan administrator tentang tujuan. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. Ketiga. monitoring yang ketat dan dukungan VEC.

Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. C. kurangnya kepercayaan antar pihak. memperbaiki lingkungan kerja. mendefinisikan peran baru. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf.Sementara itu. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Kedua. Pertama. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. memahami konteks perubahan. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. berapa dana yang akan dialokasikan. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu. menciptakan visi bersama. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif.BaseLeadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh . MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan.

Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. (3) belajar untuk hidup bersama. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Keempat. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Kedua. Sejak September 1999. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. Pertama. Selain itu. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). Madrasah Ibtidaiyah Negeri. menciptakan visi bersama. mendefinisikan peran baru. Menurut Taruna. Sekolah Dasar Inpres. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. Ketiga. . implementasi MBS memakan waktu. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semenamena. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. Padahal dalam kenyataan. Sekolah Dasar Swasta. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Keempat. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik.C. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. 6 Oktober 2000). kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. memperbaiki lingkunagn kerja. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah. J. Ketiga. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. (2) belajar untuk melaksanakan. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah.stakeholder untuk membuat agenda. memahami konteks perubahan. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. dan (4) belajar untuk kemandirian.

Menurut Taruna. bureaucratic. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Pertama. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. fungsi dan wewenang. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Kedua. D. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. dan market. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Ketiga. Pertama. professional. . legal. Selanjutnya. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. Ketiga. Namun. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. tantangan demokrasi. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah.pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. Kedua. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. Dengan demikian. 16 April 2001).

pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis.Pertama. Keempat. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. . Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Oleh karena itu. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Kedua. teratur. Wallahu „alamu. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. terkonsep dan terorganisir rapi. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Ketiga. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.

___________. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Oswald. 2006. Revised Edition. Strategi dan Implementasi). Lori Jo.http://www1. Jalal. .htm. 1993. Tafsir. 2003. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.S.e. Priscilla dan Susan Albers Mohrman. School-Based Management. Slamet P. Reynolds. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Lori Jo. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Mulyasa. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif.02. 2002.ed. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. U.htm. Nurrawi.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Ace dan H. Tilaar. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). School-Based management: ERIC Digest Number 99. 1996. 2006.governancereform/ 06.SMBQ&ASBM. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Komariah. Cetakan Ketiga dan Keempat. Inc. Bandung: Remaja Rosdakarya. Amir Daien. Larry J. 1973. “Manajemen Berbasis Sekolah”. 2001.org/education/globaleducationreform/06. 1997.A. Cetakan Kedua. Pengantar Ilmu Pendidikan. California: Corwin Press.R.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.).go. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Aan dan Cepi Triatna. http://www. Jakarta: PT Bumi Aksara. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. E. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement.H. Arif. Cetakan Pertama. Surabaya. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. Oswald. 1995. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform. 2001.http://www. http://www.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.ed. 27. Suryadi.DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Surabaya: Usaha Nasional.worldbank. Wohlstetter.pdk.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah. 1992. Ahmad. http://ww.

html. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.gov/pubs/cpre/fb5sbm. School-based Management: Strategies for Succes.ed.Wohlstetter. http://ww. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->