IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung, Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan

)
admin 2 comments

BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat, faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat, manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. Namun, banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat , yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal, yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya, isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran, dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Berdasarkan latar belakangnya, MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator, seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional, tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia

dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Munculnya UU No. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. yaitu terprogram dan sistematik. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. bukan dengan pemerintah pusat. BAB II PEMBAHASAN A. Kedua. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. 22 tahun 1999. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. Pertama. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota.yang bertanggungjawab. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan . seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan.

Ketiga. bersahabat dan hangat. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Apapun model MBS yang dipakai. tujuan dan akuntabilitas. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Mandatnya sudah jelas. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. pengetahuan dan ketrampilan. Kedua. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. yaitu melalui UU No. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Desentralisasi dalam kekuasaan. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. prinsip sistem pengelolaan mandiri. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. 2. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Kedua. Hubungan guru. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Keempat. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Ketiga. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam . yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. tetapi bersamasama dengan sekolah dan masyarakat.baik. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. pengetahuan dan ketrampilan. Pertama. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. informasi dan penghargaan. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. kepala sekolah dan orang tua siswa. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. staf. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan.

bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. melainkan memerlukan biaya. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompokkelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. (c) wanita. Keempat. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. dan (d) penyandang cacat. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. tenaga. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non . ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Karena itu. 3. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. sosial dan budaya. Kedua. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Namun. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. ekonomi dan politik. budaya. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. pelayanan kepada masyarakat. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out).pengelolaan sekolahnya secara mandiri.

tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Dengan demikian.akademik siswa juga meningkat. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Kedelapan. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Kubick (1988) tentang School-Based Management. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Oleh karena itu. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. B. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang SchoolBased Management: Strategies for Succes . . akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Kelima. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Kesembilan. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Keempat. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Keenam. Pertama. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Ketiga. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Pada dasarnya. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategistrategi berikut ini. Ketujuh. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik.

implementasi pada proses pembelajaran. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Oleh karena itu. motivator. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. Menurut Slamet P. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. Kedelapan. Keempat.H. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. Sementara itu. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. forum ilmiah dan media massa. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Ketiga. Kelima. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang . dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Kesembilan. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Namun. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Kedua. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Pertama. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Ketujuh. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihanpelatihan terhadap peran barunya. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Keenam. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. fasilitator dan liaison.Kedua. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. diskusi. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. identifikasi peran masing-masing.

memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Keenam. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. yaitu parisipasi masyarakat. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. masalah partisipasi. pembangunan kelembagaan (capacity building). Keempat. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. pendanaan. waktu. ketenaga kerjaan. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. strategi dan monitoring serta evaluasi. Para kepala sekolah . melaksanakan programprogram untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. Kedelapan. menengah dan panjang beserta programprogramnya untuk merealisasikan rencana tersebut. Pertama. mengidentifikasi fungsifungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. masyarakat.hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. Ketiga. Ketujuh. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. kepemimpinan. membuat rencana jangka pendek. Kedua. Ketiga. Oleh karena itu. kurikulum. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. Kesembilan. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. keuangan. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. Kelima. 1. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS.

Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. dan budaya masyarakat. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. budaya sekolah. pelatihan. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. budaya pemerintah daerah. kemandirian dan kerjasama. . para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. 3. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau pre-service training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. guru dan administrator tentang tujuan. Keenam. Keempat. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Kelima. rancangan dan implementasi dari reformasi. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. Ketiga. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. Wohlstetter dkk. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. 5. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Pertama. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building).dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. 4. Byrk dkk. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Selain itu. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Kedua. 2.

memperbaiki lingkungan kerja. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. kurangnya kepercayaan antar pihak. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. memahami konteks perubahan.BaseLeadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. C. Oleh karena itu. berapa dana yang akan dialokasikan. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh . mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa.Sementara itu. Pertama. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. menciptakan visi bersama. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Kedua. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. mendefinisikan peran baru.

Sejak September 1999. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. Menurut Taruna. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. Keempat. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Ketiga. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. implementasi MBS memakan waktu. memperbaiki lingkunagn kerja. Ketiga. Keempat. menciptakan visi bersama. Pertama. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. 6 Oktober 2000). . Kedua.stakeholder untuk membuat agenda. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. memahami konteks perubahan. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semenamena. mendefinisikan peran baru. Selain itu. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. (2) belajar untuk melaksanakan. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik.C. Padahal dalam kenyataan. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. J. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. dan (4) belajar untuk kemandirian. (3) belajar untuk hidup bersama. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Sekolah Dasar Inpres. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Sekolah Dasar Swasta. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah.

adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. . fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Ketiga. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas.pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. legal. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. D. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. 16 April 2001). Kedua. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. professional. Menurut Taruna. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. dan market. Ketiga. fungsi dan wewenang. Pertama. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Dengan demikian. Selanjutnya. Pertama. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. Kedua. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. tantangan demokrasi. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. bureaucratic. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Namun. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas.

Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Wallahu „alamu. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Oleh karena itu. . BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. teratur. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Kedua. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Keempat. Ketiga. terkonsep dan terorganisir rapi. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda.Pertama. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.

Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. Aan dan Cepi Triatna. 2001. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). School-Based Management.governancereform/ 06.H. 2006.ed.http://www1. Cetakan Kedua.SMBQ&ASBM. 1996.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah. Jalal.org/education/globaleducationreform/06. 1995. 1992. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam.02. Reynolds.DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Lori Jo. .ed. 2002. Ahmad. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. California: Corwin Press.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt. Mulyasa. E. Lori Jo. 1993. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement. Komariah. Pengantar Ilmu Pendidikan. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis).gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Bandung: Remaja Rosdakarya. http://ww.S. Jakarta: PT Bumi Aksara. Ace dan H.http://www. Surabaya: Usaha Nasional. http://www.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Revised Edition. Tafsir. Inc. Wohlstetter. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.). Cetakan Pertama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. U.R. Larry J. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Priscilla dan Susan Albers Mohrman. 27. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform.htm. 1997. Surabaya. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Suryadi. Oswald. 2003.worldbank. Nurrawi. 1973. Slamet P.htm.pdk. Oswald.A.go. ___________. 2001. Amir Daien. Arif. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Strategi dan Implementasi). Cetakan Ketiga dan Keempat. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.e. “Manajemen Berbasis Sekolah”. http://www. Tilaar.

School-based Management: Strategies for Succes.gov/pubs/cpre/fb5sbm. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.Wohlstetter.ed. .html. http://ww.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful