P. 1
Makalah KAP - an Diri Di Lingkungan Nonformal

Makalah KAP - an Diri Di Lingkungan Nonformal

|Views: 92|Likes:
Published by jakaixx123

More info:

Published by: jakaixx123 on Apr 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2013

pdf

text

original

Dosen: Hadi Zakaria, S.Kom, M.M.

Mahasiswa: Muhamad Rizki Akbar (2010141286)

1

KATA PENGANTAR
Carut-marutnya dunia pendidikan di Indonesia sungguhnya merupakan sebuah realitas yang sangat memprihatinkan. Mahalnya biaya pendidikan yang tidak serta merta dibarengi dengan peningkatan kualitas secara signifikan, tentu menimbulkan tanda tanya besar mengenai orientasi pendidikan yang sebenarnya sedang ingin dicapai. Ironisnya, di saat beberapa negara tetangga terus berupaya keras melakukan peningkatan kualitas pada sektor pendidikan, banyak pihak di negara ini justru menempatkan pendidikan sebagai suatu komoditas yang memiliki nilai jual yang tinggi. Tak mengherankan ketika banyak pihak mengejar pendidikan dari sisi kuantitas tentu akan menimbulkan berbagai macam konsekuensi logis seperti terabaikannya faktor kualitas pendidikan di Indonesia. Parahnya lagi, belakangan kita juga telah disadarkan bahwa banyak lulusan pendidikan formal tidak memiliki spesifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Menanggapi kondisi yang seperti ini, Paulus Wisnu Anggoro, Direktur UAJY-Delcam Traning Center, menuturkan bahwa banyak dari kalangan industri yang menjadi kliennya mengeluhkan keterbatasan skill yang dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi, sehingga mau tidak mau seorang fresh graduate (lulusan baru) harus dilatih dari awal lagi. Ini merupakan suatu pemborosan bagi pihak perusahaan sebagai pemakai lulusan perguruan tinggi. Maka dari itu, Pendidikan Anak Usia Dini memegang peranan penting dalam pendidikan anak. Karena sesungguhnya pendidikan memang harus dimulai sejak kecil agar anak dapat dididik oleh gurunya dengan metode dan kurikulum yang jelas, dan akan lebih baik lagi bila pendidikan untuk dunia kerja tidak hanya di ajarkan di perguruan tinggi saja, namun sudah diajarkan di SLTA agar mereka dapat menemukan jati diri mereka untuk bekerja menjadi apa di masa mendatang saat mereka dihadapkan di dunia kerja. Mereka secara bertahap harus dikenalkan pada lingkungan kerja seperti lingkungan pertanian, industri, bahkan wirausaha lainnya. Pengenalan itu tidaklah berlebihan, karena proses yang panjang dan bertahap justru lebih efektif untuk membangun skill anak di lembaga nonformal ini untuk dapat bersaing di dunia kerja. Di lain pihak, Indonesia mengalami krisis SDM sebenarnya berpangkal pada buruknya kualitas pendidikan yang dilaksanakan. Untuk menghadapi krisis, sistem pendidikan memerlukan bantuan dari semua sektor kehidupan domestik dan pada beberapa kasus, juga

2

dan understanding of the modern world (memahami dunia modern). Output yang ingin dihasilkan dari suatu sistem pendidikan ditentukan oleh tujuan yang dikehendaki oleh lingkungan atau masyarakat. yakni gagasan dan keberanian. umum dan spesialisasi. yang diproses untuk memperoleh output (hasil) untuk memenuhi tujuan tertentu. Mengacu pada sistem pendidikan selanjutnya diungkapkan bahwa pendidikan dengan demikian merupakan suatu proses yang berinteraksi dengan lingkungannya. sikap dan motivasi). lebih lanjut diungkapkan bahwa sistem pendidikan tidak hanya mengacu pada tingkat dan tipe pendidikan formal seperti sekolah kejuruan. pekerja ekonomi. inovator. masyarakat. intellectual and manual skills (keterampilan manual dan intelektual). tetapi juga seluruh program dan proses sistematik pendidikan di luar pendidikan formal yaitu yang dikenal dengan pendidikan nonformal. Pendidikan memerlukan prasarana dan sarana. keputusan. Untuk itu. values. 3 . keinginan baru untuk mengetahui kemampuan diri yang diperkuat oleh suatu keinginan untuk berubah dan bereksperimen (Coombs. Pendidikan memerlukan sumber daya. Manusia yang terdidik hendaknya diperlengkapi untuk melayani masyarakat dan mengurus dirinya sendiri sebagai individu baik anggota keluarga. sense of social responsibillity (tanggung jawab sosial). materi pengajaran yang baik dan lebih baik. Sistem pendidikan yang di dalamnya terdapat kegiatan pendidikan formal maupun nonformal memiliki sejumlah input (masukan). attitudes and motivation (nilai-nilai. Di berbagai tempat. namun anggaran pendidikan sulit bertambah.” Berkaitan dengan frasa “sistem pendidikan”. “Di atas semua itu pendidikan memerlukan hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. warga negara dan warga dunia dan penyumbang kebudayaan. dan produktivitas. power of creativity and innovation (daya kreatif dan inovasi). 1968 : 15). khususnya sumber daya insani nasional yang terbaik untuk meningkatkan kualitas. power of reason critism (daya nalar atau kritik). Pendidikan memerlukan dana. pendidikan harus mampu meningkatkan basic knowledge (pengetahuan dasar). efisiensi. cultural appreciation (apresiasi kebudayaan). pendidikan memerlukan pula makanan bagi murid yang lapar agar mereka dalam kondisi siap belajar. pemimpin.memerlukan sumber-sumber di luar batas nasional.

................................................................................................................................................. Bercerita ........................................ 10 2......................... 18 c....................... 11 BAB III PEMBELAJARAN MELALUI BERMAIN ........................................ 19 2..................................... 23 BAB V KESIMPULAN ................................................ Bernyanyi ............................................................................. 18 b.............. 18 f........................................... Peranan Keluarga dan Lingkungan........................... 26 4 .......................... Sasaran dan Karakteristik Pendidikan Nonformal ................ 18 d............................ Peranan dan Pemberdayaan Masyarakat....................................................... 18 e........................................................................................................ 19 BAB IV PENGARUH DAN PERAN LINGKUNGAN......................................................................................... 10 1.............................................. 5 BAB II SASARAN DAN KARAKTERISTIK PENDIDIKAN NONFORMAL ........................................................................................................... Berdarmawisata.... Pengaruh Lingkungan Nonformal ............... Pengaruh Lingkungan Informal............................................................ Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini sebagai Pembentuk Karakter ..................... 2 DAFTAR ISI .................................................................................................................................................................... 20 3.................................................................................................... 19 1.......................................................DAFTAR ISI COVER ................ Pemberian Tugas .................. Peragaan/Demonstrasi ..................................................................................................................... Bermain peran ............................................... 19 g......................................................................................... Latihan ............................................................................... 21 4........................... 17 a........................................................ 25 DAFTAR PUSTAKA ....... 1 KATA PENGANTAR ... 4 BAB I PERAN PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM MEMBENTUK SKILL ........................................................

tetapi juga lingkungan masyarakat yang disebut juga lingkungan ketiga. (6) pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja (kursus. perkumpulan kesenian dan lain-lain. lingkungan sekolah yang disebut juga lingkungan kedua. Pendidikan nonformal dapat menjadi pelengkap dari pendidikan formal. (3) pendidikan kesetaraan seperti Paket A. Peranan penting pendidikan pada lingkungan ketiga yang dikenal dengan lingkungan masyarakat atau pendidikan nonformal dikarenakan manusia adalah makhluk sosial. B. bangsa dan negara. serikat pekerja. (5) pendidikan pemberdayaan perempuan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. terarah dan berkesinambungan. kelompok belajar usaha). magang. Jenis layanan dan satuan pembelajaran PNF sangat beragam. peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal. koperasi. kecerdasan. Sejalan dengan itu. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual. (2) pendidikan anak usia dini. organisasi politik. Manusia dengan sendirinya adalah bagian dari keluarga. negara dan kelompok agama. (Purwanto. Sebagai makhluk sosial manusia menjadi bagian dari pelbagai golongan dalam masyarakat. kota. yaitu meliputi: (1) pendidikan kecakapan hidup. sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan. masyarakat. (4) pendidikan keaksaraan. terlebih jika dikaitkan dengan keterbatasan-keterbatasan yang diakibatkan karena adanya krisis. akhlak mulia. Tapi ada juga golongan yang dengan sengaja dimasuki seperti perkumpulan olah raga. nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana. 1986 : 148). Penyelenggaraan pendidikan nonformal (PNF) merupakan upaya dalam rangka mendukung perluasan akses dan peningkatan mutu layanan pendidikan bagi masyarakat. baik dengan sendirinya maupun dengan sengaja. dan C. Melalui kelompokkelompok inilah pendidikan nonformal dilakukan. 5 . serta (7) pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.BAB I PERAN PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM MEMBENTUK SKILL Lingkungan yang berfungsi melahirkan individu-individu terdidik bukan hanya di lingkungan keluarga yang disebut juga lingkungan pertama.

juga menuturkan bahwa kemunculan lembaga pendidikan nonformal seperti lembaga pelatihan bahasa misalnya. berbanding lurus dengan tingginya minat masyarakat terhadap jenis pendidikan tersebut. Tidak hanya itu. Tak mengherankan apabila belakangan lembaga pendidikan nonformal tumbuh dengan pesat. Keunggulan lain yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan nonformal sebenarnya ada pada fleksibilitas waktu yang dimiliki. Lebih daripada itu. Setidaknya dengan penguasaan bahasa asing. banyak lulusan lembaga pendidikan nonformal yang menciptakan lapangan pekerjaan. yang pada akhirnya diharapkan mampu membawa peningkatan taraf kehidupan bagi individu maupun masyarakat dalam berbagai aspek. namun juga membekali sikap kemandirian yang mendorong terciptanya kesempatan untuk berwirausaha. tersedia pula lembaga pendidikan nonformal yang tidak hanya membekali lulusannya dengan ilmu. upaya pendidikan sejatinya merupakan kegiatan penyerapan dan internalisasi ilmu. Di saat banyak orang kebingungan mencari pekerjaan. sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk menyiapkan diri dalam menghadapi persaingan di era globalisasi. Selain bisa dijalankan secara manunggal. Antonius Sumarno (2001:98). Selanjutnya keunggulan tersebut dapat pula memperluas peluang individu dalam menangkap berbagai kesempatan. Namun dibalik semua keunggulan dan variasi lembaga pendidikan nonformal yang tersedia.Dalam situasi demikian. kejelian masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan nonformal sebagai wahana untuk mengasah keterampilan dan menyiapkan diri 6 . Hal ini terbukti dari banyaknya lembaga pendidikan nonformal seperti ADTC dan Macell Education Center (MEC) yang siap menyalurkan lulusan terbaiknya ke berbagai perusahaan rekanan. pendidikan nonformal bisa dijalankan pula secara berdampingan dengan pendidikan formal. Ini merupakan bukti nyata upaya memperkuat struktur riil perekonomian masyarakat yang belakangan makin terpuruk. Ini merupakan tawaran yang patut dipertimbangkan di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan seperti sekarang ini. lembaga pendidikan nonformal juga berpeluang untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai. Hebatnya lagi. individu akan dimudahkan dalam melakukan penyerapan berbagai ilmu pengetahuan yang saat ini hampir semua referensi terbarunya hanya tersedia dalam bahasa asing. makna dibalik fenomena bermunculannya lembaga pendidikan nonformal sebenarnya lebih ingin memberikan ruang kesadaran baru pada masyarakat. bahwa upaya pendidikan bukan sekedar kegiatan untuk meraih sertifikasi atau legalitas semata.

Indikator yang paling sederhana adalah seberapa besar kesesuaian bidang pelatihan yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan nonformal dengan minat maupun bidang yang saat ini kita geluti.dalam menghadapi persaingan penting untuk dipertahankan. Pendidikan seumur hidup sangat berarti dalam memajukan dan mengubah masyarakat karena tiga alasan : (1) untuk memperoleh pekerjaan . yaitu kemajuan yang lebih besar daripada pembengkakan berbagai problematika yang di hadapi. agar kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal yang kita selenggarakan benar-benar membawa kemajuan yang berarti. pekerja. (2) menjaga ketersediaan tenaga kerja terlatih dengan teknologi dan pengetahuan baru yang diperlukan untuk melanjutkan produktivitas. Tujuannya. pendidikan nonformal berperan untuk mendidik begitu banyak petani. seperti adult education (pendidikan orang dewasa). dan tidak kalah pula pesatnya dibandingkan dengan laju kemajuan yang dicapai oleh negara-negara lain”. Pelaksanaan pendidikan nonformal dapat dilihat perbedaannya pada kasus negara industri dan negara berkembang. Pada negara maju seperti di Eropa dan Amerika Utara pendidikan nonformal dipandang sebagai pendidikan lanjutan bagi kehidupan seseorang. Dalam perspektif ini. Pendidikan melalui lingkungan masyarakat atau pendidikan nonformal memiliki berbagai nama. maka mereka akan “memberikan pendidikan kemarin bagi generasi esok”. (3) memperbaiki kualitas dan kenyamanan hidup individu melalui pengayaan kebudayaan dengan memanfaatkan waktu luang. Pada negara yang sedang berkembang. usahawan kecil dan lainnya yang tidak sempat bersekolah dan mungkin tidak memiliki keterampilan maupun pengetahuan yang dapat 7 . kejelian dalam memilih juga berfungsi pula agar investasi finansial yang telah ditanamkan tidak terbuang percuma karena program yang sedang dijalani "terhenti di tengah jalan". Seperti diungkapkan Buchari (1994 :27) : “Apa yang harus kita lakukan. Lebih lanjut. jika gagal memberikan mereka pengetahuan yang mutakhir. maka pendidikan lanjutan bagi guru memiliki arti strategis. accelerated training (latihan dipercepat). Pendidikan nonformal diharapkan dapat mengatasi pelbagai problematika kehidupan. continuing education (pendidikan lanjutan). serta meningkatkan keunggulan kompetitif yang kita miliki. farmer or worker training (latihan pekerja atau petani). tentu tidak lain supaya keahlian yang didapatkan dari pelatihan lembaga pendidikan nonformal dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi minat dan dunia yang kita geluti. dan extension service (pelayanan pendidikan tambahan) dan dianggap sebagai sistem bayangan (shadow system). on-the-job training (latihan kerja).

” terang Syukri (1997:34). agar mereka bekerja lebih efektif. 1981:270) masih memiliki relevansi hingga kini apalagi dalam menghadapi globalisasi. 1968 : 143).. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003. Sedangkan PIF merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. penambah dan/atau pelengkap PF dalam rangka 8 . Coombs mengartikannya sebagai sebuah kegiatan yang diorganisasikan di luar sistem persekolahan yang mapan. (1985) dalam bukunya The World Crisis In Education mengungkapkan pendidikan itu pada dasarnya dibagi menjadi tiga jenis. “Dalam UU ini dijelaskan bahwa PNF adalah jalur pendidikan diluar PF yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. serta tumbuh atas dasar kebudayaan nasional . yakni jalur sekolah (pendidikan formal) dan jalur luar sekolah (PNF dan PIF). mempergunakan segala sumber penghidupan yang ada. PNF dan PIF. Pendidikan Nonformal (PNF) dan Pendidikan In Formal (PIF). Philip Coombs dan Manzoor A. Penjelasan yang sama terdapat pula di UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN). yakni Pendidikan Formal (PF). istilah jalur pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah berubah menjadi sistem PF. P. Khusus untuk PNF.diamalkan bagi dirinya sendiri maupun bagi pembangunan bangsanya. namun tidak memperoleh pekerjaan. Peran lainnya adalah untuk meningkatkan kemampuan dari orang-orang yang memiliki kualifikasi seperti contohnya guru dan lainnya untuk bekerja di sektor swasta dan pemerintah. Pasal 26 ayat 1 dijelaskan bahwa Pendidikan Nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti. di mana di sana dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan di dua jalur. Konsep awal dari Pendidikan Nonformal ini muncul sekitar akhir tahun 60-an hingga awal tahun 70-an. berkembang secara dinamis dan kuat. apakah dilakukan secara terpisah atau bagian terpenting dari kegiatan yang lebih luas dilakukan secara sengaja untuk melayani anak didik tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya. Di Tanzania nonformal berperan untuk menyelamatkan investasi pendidikan dari mereka yang tamat sekolah maupun drop out dari sekolah menengah. dengan memberikan kepada mereka pelatihanpelatihan khusus (Coombs. dapat memenuhi kewajibannya sebagai orang dewasa. Di Indonesia pendidikan nonformal mencakup pendidikan orang dewasa yang bertujuan agar bangsa Indonesia kenal huruf. Dalam perubahan UU tentang SPN yang diperbaharui menjadi UU Nomor 20 Tahun 2003. Tujuan yang sudah digariskan pada peta pendidikan sejak 27 Desember 1945 oleh BPKNIP ini (Poerbakawatja dan Harahap.H.

serta satuan pendidikan yang sejenis (pasal 26 ayat 4). pendidikan pemberdayaan perempuan. bekerja. dalam pasal 26 ayat 5. usaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. pendidikan kepemudaan. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. di sana disebutkan bahwa Pendidikan Nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup (life skills). majelis taklim. Di samping itu. kecakapan hidup. Sementara di ayat 3. lembaga pelatihan. pendidikan kesetaraan. keterampilan. serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. pendidikan keaksaraan. pelaksanaan Pendidikan Nonformal terdiri dari kursus. pendidikan anak usia dini. 9 .mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hasil pendidikan keaksaraan dapat dihargai setara dengan hasil program PF setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemda dengan mengacu pada SPN (pasal 26 ayat 6). di sana dijelaskan bahwa kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. Ditilik dari satuan pendidikannya. Lebih lanjut dalam ayat 2 dijelaskan Pendidikan Nonformal penekanan berfungsi mengembangkan potensi peserta didik (warga belajar) dengan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. dan sikap untuk mengembangkan profesi. kelompok belajar.

10 . sasaran Pendidikan Nonformal sebagai penyelenggara dan pelaksana program kelompok. sasaran khusus. Sasaran dan Karakteristik Pendidikan Nonformal Sasaran Pendidikan Nonformal dapat ditinjau dari beberapa segi. sasaran Pendidikan Nonformal adalah melayani anak usia sekolah (0-6 tahun). terutama dari berbagai aspek yang dicakupinya. Pendidikan Nonformal terbilang relatif singkat. dan bahkan di beberapa tempat kursus. korban narkoba. Pendidikan Nonformal mendidik anak terlantar. perawatan bayi. pengetahuan rumah tangga dan penjagaan lingkungan sehat. organisasi dan lembaga pendidikan. seperti mengisi pengajaran di majelis taklim. Ditilik dari segi pelayanan. Dari segi pranata. sasaran Pendidikan Nonformal antara lain membantu masyarakat melalui program PKK. pendidikan perluasan wawasan desa dan pendidikan keterampilan.BAB II SASARAN DAN KARAKTERISTIK PENDIDIKAN NONFORMAL 1. Sedangkan sasaran Pendidikan Nonformal ditinjau dari segi pelembagaan. penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dilakukan di lingkungan keluarga. yakni pelayanan. Dilihat dari segi pengajaran. anak usia perguruan tinggi (19-24 tahun). di mana dalam pelaksanaannya tidak terlalu menekankan pada ijazah. pranata sistem pengajaran dan pelembagaan program. menekankan pada kebutuhan di masa sekarang dan masa yang akan datang serta tidak penuh dalam menggunakan waktu alias tidak terus menerus. Di segi layanan masyarakat. perempuan penghibur. anak usia sekolah dasar (7-12 tahun). anak yatim piatu. peningkatan gizi keluarga. program kesenian tradisional ataupun kesenian modern lainnya yaitu menjadi fasilitator bahkan turut serta dalam program keagamaan. Bagaimana dengan karakteristik Pendidikan Nonformal? Secara khusus Pendidikan Nonformal memiliki spesifikasi yang ‘unik’ dibanding pendidikan sekolah. yakni memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang fungsional bagi kehidupan masa kini dan masa depan. di pondok pesantren. Ditinjau dari segi sasaran khusus. Ini terlihat dari tujuan Pendidikan Nonformal . anak cacat mental maupun cacat tubuh. Dalam waktu pelaksanaannya. yakni kemitraan atau bermitra dengan berbagai pihak penyelenggara program pemberdayaan masyarakat berkoordinasi dengan desa atau pelaksana program pembangunan. KB. anak usia pendidikan menengah (13-18 tahun).

Pada hakikatnya masa depan anak juga merupakan masa depan bangsa dan negara. Kelak di antara mereka ada yang berperan sebagai pemimpin-pemimpin bangsa yang kebijakannya akan turut menentukan arah perjalanan bangsa dan negara ini. Kehidupan mendatang adalah kehidupan modern yang sangat dipengaruhi globalisasi yang semakin masif. ahli dan profesional minimal di bidangnya masing-masing. Hubungan antar bangsa diwarnai oleh hubungan yang semakin kompetitif.Isi dari program Pendidikan Nonformal ini berpedoman pada kurikulum pusat pada kepentingan peserta didik (warga belajar). maka dengan penuh rasa kasih sayang para orang tua rela berkorban demi anaknya. 2. Merekalah nantinya yang menjadi pelaku pembangunan di berbagai sektor kehidupan. Keberhasilan ataupun kegagalan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya akan terlihat dari perasaan hatinya manakala menyaksikan kehidupan anaknya ketika dewasa. ia memiliki banyak potensi dan harapan untuk berhasil di kemudian hari. dan bernegara. mengutamakan aplikasi di mana penekanannya terletak pada keterampilan yang bernilai guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya. 11 . produktivitas kerja yang tinggi. artinya diselenggarakan di lingkungan masyarakat dan keluarga. kelak akan sangat berbeda dengan kondisi yang ada sekarang ini. Untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat. karena masa depan anak juga merupakan masa depan orang tua. karena semua bangsa berpacu untuk mencapai kemajuan dalam berbagai bidang. Masa depan itu akan terlihat dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Sebagai “buah hati”. dan seolah tanpa batas. menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kehidupan bermasyarakat. Sejak anak lahir ke dunia. ekstensif. Dapat dikatakan. keterampilan. hal itu ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara sesama peserta didik. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini sebagai Pembentuk Karakter Pendidikan merupakan investasi terpenting yang dilakukan orang tua bagi masa depan anaknya. pendidikan merupakan salah satu pembentuk fondasi bagi tumbuh dan berkembangnya seorang anak untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Proses belajar mengajar dalam Pendidikan Nonformal pun relatif lebih fleksibel. maka generasi mendatang harus memiliki kecerdasan. berbangsa. di saat mana jutaan anak yang ada sekarang ini memasuki usia remaja dan dewasa. Pendidikanlah yang menjadi jembatan penghubung anak dengan masa depannya itu. Soal persyaratan masuk Pendidikan Nonformal.

Secara keseluruhan hingga usia delapan tahun. dan pengembangan kemampuan anak secara optimal. jarang diajak berkomunikasi. maka perkembangan otaknya akan lebih kecil 20 . 2003:1). yakni sejak mereka lahir sampai berusia enam tahun. artinya kapasitas kecerdasan anak hanya bertambah 30% 12 . Anak yang tidak mendapat lingkungan baik untuk merangsang pertumbuhan otaknya. maka calon-calon generasi mendatang itu harus dipersiapkan pertumbuhan dan perkembangannya sedini mungkin. seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago. Dalam pertemuan Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakkar.30% dari ukuran normal seusianya (Depdiknas. Bloom. Akan tetapi. Untuk membentuk generasi yang demikian itu. Hasil penelitian di Baylor College of Medicine menyatakan bahwa lingkungan memberi peran yang sangat besar dalam pembentukan sikap. 80% kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk. Arti pentingnya pendidikan dini pada anak telah menjadi perhatian internasional. misal jarang disentuh. terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung. Amerika Serikat. Menurut hasil penelitian di bidang neurologi seperti yang dilakukan oleh Dr. kepribadian. 94).4 tahun mencapai 50% (Cropley. Bahkan pendidikan yang dimulai pada usia Taman Kanak-kanak (4 . jarang diajak bermain. ia juga harus bersifat “proaktif” yang artinya pendidikan juga harus berorientasi kepada kemampuan untuk mengantisipasi permasalahan yang lebih luas dan mampu menjawab tantangan yang lebih kompleks di masa yang akan datang. sehingga mereka memiliki akar yang kuat sebagai fondasi untuk memasuki pendidikan yang lebih tinggi. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar yaitu usia tujuh tahun ternyata tidaklah benar.Dunia pendidikan memang sangat diperlukan untuk membentuk generasi seperti itu. Benyamin S. mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 . Senegal. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal.6 tahun) pun sebenarnya sudah terlambat. pendidikan sebagai proses berkelanjutan tidak semata diarahkan kepada hal yang bersifat “reaktif” atau untuk kepentingan jangka pendek. telah menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua yang salah satu butirnya menyatakan: “memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini (PAUD).

usia dini meliputi anak yang berusia 0 . Sedemikian vitalnya anak usia dini. Pada usia ini pertumbuhan anak lebih mengarah kepada fungsi-fungsi biologis. agar anak memiliki karakter dan kepribadian yang tepat untuk perkembangannya lebih lanjut. Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 . sehingga dalam proses belajarnya pun mereka menggunakan pancaindra. 2002). Namun dalam hal ini pembahasan mengenai anak usia dini dibatasi mulai usia 0 6 tahun sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 pasal 1 ayat 14 dan pasal 28 ayat 1 bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. dan perkembangan sosial. Selanjutnya kapasitas kecerdasan anak tersebut akan mencapai 100% setelah berusia sekitar 18 tahun (Abdulhak. Pada usia ini perkembangan pancaindra sangat menonjol. penyediaan gizi yang cukup. yakni perkembangan motorik (fungsi gerak). Menurut psikologi perkembangan dan berdasarkan riset neurologi tentang pertumbuhan otak. pendidikan anak usia dini merupakan konsep tentang perlakuan dini terhadap anak yang berada pada usia prasekolah atau usia sekolah yaitu di kelas-kelas awal SD (kelas 1. Ia menggunakan mulut sebagai sarana terpenting. Anak usia dini dapat digolongkan ke dalam anak usia prasekolah yang pertumbuhannya terbagi dalam dua tahap. (2) Usia antara 2-6 tahun. Ada tiga macam perkembangan yang terjadi pada usia ini. yakni: (1) Usia sejak lahir sampai dengan usia 2 tahun. dan pelayanan pendidikan. kuat dan otak yang cerdas. perkembangan bahasa dan berpikir.setelah usia empat tahun hingga mencapai usia delapan tahun. Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai berusia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan 13 . Dalam hal ini. maka sangat dianjurkan kepada orang tua untuk memberikan vaksinasi dan selalu memberikan nutrisi lengkap dan seimbang kepada anaknya. Pikiran Rakyat).8 tahun. Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.8 tahun disebut masa emas yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak melalui perhatian kesehatan anak. agar anak mempunyai tubuh yang sehat. 2 dan 3) (Supriadi. Orang tua juga harus memperlakukan anak secara hati-hati dan benar.

dikenal adanya tiga bentuk jalur pelaksanaan PAUD. Pendidikan bisa saja diberikan untuk bayi yang belum lahir seperti yang dilakukan para orang tua dengan cara memperdengarkan musik klasik kepada bayinya yang masih berada dalam kandungan. “tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahad”. Meski pengelolaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama. dan bentuk lain yang sederajat. jenjang PAUD merupakan tanggung jawab pemerintah. PAUD jalur pendidikan nonformal. kecerdasan (daya pikir. PAUD) merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). Raudhatul Athfal (RA). yakni. Dalam hal penyelenggaraan PAUD dewasa ini terlihat bahwa masyarakat yang lebih berperan. yang berarti bahwa pendidikan itu harus dilakukan sedini mungkin. ternyata angka partisipasi pendidikan di 14 . di mana institusi-institusi pendidikan yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat lebih banyak dan beragam yakni mencapai sekitar 80 persen sedangkan yang dibangun oleh pemerintah hanya 10 persen dari lembaga yang ada. Masyarakat. Kelompok Bermain (Play Group). pendidikan biasanya berawal pada saat bayi dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. daya cipta. yakni pendidikan yang melaksanakan program pembelajaran secara fleksibel untuk anak sejak lahir (usia tiga bulan) sampai berusia enam tahun. kecerdasan emosi. sosio-emosional (sikap dan perilaku serta agama). PAUD jalur pendidikan informal sebagai bentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan untuk pembinaan dan pengembangan anak sejak lahir (usia tiga bulan) sampai berusia enam tahun. kecerdasan spiritual.rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Seperti halnya jenjang pendidikan lainnya. Secara garis besar. sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 diamanatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah. Pendidikan Anak Usia Dini (selanjutnya. kapan saja dan berlangsung seumur hidup. Ketiga. dan bentuk lain yang sederajat. masyarakat dan orang tua. bahasa. dan Orang Tua. seperti Taman Penitipan Anak (TPA). Dalam agama Islam ada anjuran. Kedua. di mana saja. dan komunikasi. Pertama adalah PAUD jalur pendidikan formal yakni pendidikan yang terstruktur untuk anak berusia empat tahun sampai enam tahun seperti Taman Kanak-kanak (TK). Oleh karena itu dalam pelaksanaannya.

keterbatasan ekonomi keluarga. termasuk dalam hal ini rendahnya partisipasi anak balita untuk memasuki PAUD. Minimnya pengetahuan orang tua tentang pentingnya PAUD. dalam beberapa hal orang tua memperlakukan anaknya secara berlebihan atau dengan 15 . karena pada tahun itu baru 7.5 juta anak mendapat pendidikan di Bina Keluarga Balita (BKB).000 anak di Kelompok Bermain.8 persen yang tersentuh pelayanan anak usia dini. maka tidak jarang. 2. akan dihasilkan anak-anak yang masa depannya cerah karena mereka menjadi orang dewasa yang kreatif dan mempunyai rasa percaya diri yang kuat. sedangkan untuk anak usia 0-3 tahun.5 juta anak usia 4-6 tahun yang bersekolah di TK. Data itu menunjukkan. seperti pengetahuan tentang psikologi anak. hanya sekitar 15. Pada tahun 2002.1 juta anak usia 0-6 tahun yang mendapat pendidikan usia dini. akan tetapi agar perkembangan potensi anak berjalan maksimal. maka diperlukan “kiat-kiat” tertentu.34 juta atau 28 persen dari 26. mendapatkan pendidikan dengan jalan masuk ke Sekolah Dasar pada usia lebih awal. dan cara terbaik dalam mendidik mereka. Alasannya bukan karena orang tua mereka bekerja. Dengan pemberdayaan yang baik pada usia dini. belum tersentuh pendidikan usia dini. Seorang ibu memang telah memiliki “asam garam” dalam mengasuh anak-anak mereka. Kendalanya di Indonesia adalah bahwa tidak setiap orang tua punya pengetahuan dan kesiapan untuk mendidik anaknya secara betul. Sebanyak 2.6 juta. dan sekitar 100.1 juta anak bersekolah di TK atau Raudhatul Atfhal. Sebagian besar di antara mereka. yakni 2.Indonesia di berbagai jenjang pendidikan masih tergolong rendah. Adakalanya karena faktor ketidaktahuan itulah. Berbeda dengan beberapa negara maju yang memandang pembinaan anak usia dini adalah suatu proses persiapan pemberdayaan sumber daya manusia yang sangat penting. Berdasarkan hasil pendataan Depdiknas tahun 2004. sebanyak 72 persen anak Indonesia usia nol sampai enam tahun di Indonesia.6 persen dari 11. tetapi justru karena pada orang tua sudah tertanam pemahaman bahwa pada usia dini anak-anak berada pada posisi paling ideal menerima dukungan untuk mengembangkan kepribadian dan jati dirinya. dan keterbatasan anggaran biaya pemerintah untuk alokasi penyelenggaraan PAUD merupakan faktor penyebab anak usia balita tidak tersentuh pendidikan. baru sekitar 15. bahwa terjadi peningkatan angka partisipasi dibanding tahun-tahun sebelumnya. sehingga Pendidikan Anak Usia Dini dilakukan secara sangat intensif dan mendapat perhatian yang sangat tinggi. aktivitas yang mereka sukai.

dan sejumlah manfaat lainnya yang pada gilirannya secara tidak sadar mendorong minat dan potensi anak untuk belajar.cara paksaan mengajarkan hal-hal yang sesungguhnya belum saatnya mereka terima sehingga justru menjerumuskan si anak itu sendiri. Satuan PAUD seperti Kelompok Bermain merupakan media bagi anak untuk bersosialisasi dalam masyarakat kecil. Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak. PAUD memegang peranan penting dalam pendidikan anak. Mereka juga dapat belajar berinteraksi secara interpersonal dan intrapersonal. Melalui PAUD. mereka akan menyesuaikan diri dalam lingkungan yang lebih luas. Artinya. tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. musik. (3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat. (2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya produktivitas kerja dan daya tahan. Anak memang sering kali mengekspresikan ide dan perasaannya melalui permainan. 16 . pendidikan anak usia dini dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga. Kelompok Bermain merupakan kegiatan bermain yang teratur pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan bagi anak berusia dua tahun sampai enam tahun. atau keterampilan tangan. Pengenalan itu tidaklah berlebihan. memiliki kebanggaan menjadi anggota kelompok bermain di luar anggota keluarganya. (4) menolong para orang tua dan anak-anak. Kepada mereka secara bertahap dapat dikenalkan huruf atau membaca. karena dalam penyampaiannya disesuaikan dengan dunia anak. Dalam kelompok itu. Melalui PAUD anak dapat dididik oleh gurunya dengan metode dan kurikulum yang jelas. maka dengan sendirinya akan bermanfaat bagi perkembangannya. Oleh karena itu. selangkah lebih mandiri. Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini. dan bahkan industri. yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas. mereka dapat bermain dan menyalurkan energinya melalui berbagai kegiatan fisik. sehingga ketika mereka merasa menikmati dan senang dengan apa yang diajarkan itu. pertanian. lingkungan hidup. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. yakni dunia bermain sehingga proses belajarnya menyenangkan.

Melalui bermain. menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. 17 . Dunia anak adalah dunia bermain. Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. diajari membaca. Oleh karena itu. Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi. Kritik yang ditujukan kepada sejumlah TK bukan karena mereka mengajarkan berhitung. geografi. Semiawan (Jalal. bukan karena hadiah atau pujian. menulis. Menurut Conny R. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. dan berhitung. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain. bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya. mereka bisa saja diajari tentang sejarah. setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi. 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai. Sayangnya. 2002: 40). 2002: 40). anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. dan lain-lainnya. membaca. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Melalui permainan.BAB III PEMBELAJARAN MELALUI BERMAIN Anak-anak usia dini dapat saja diberikan materi pelajaran. dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Jerome Bruner menyatakan. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. Bahkan bukan hanya itu saja.

Berdarmawisata Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak. dan lainnya. kemudian ditirukan anak-anak. Dengan bermain peran. c.2001. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. pantai. Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira. Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar. kebun. 18 . Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan. b. Bermain peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokoh-tokoh. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya. Depdikbud. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar. kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. di antaranya yaitu: a. Bercerita Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan. mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya. 1998). Peragaan/Demonstrasi Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan di mana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu.Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU. merasakan. e. mendengar. Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika. d. benda-benda. Bernyanyi Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat. sawah. dan peran-peran tertentu sekitar anak. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka. kemampuan dan kebutuhan anak.

1994. Parke dan Hetherington. Latihan Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak. Sementara itu.al. Pemberian Tugas Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas. mendidik dan membimbing anak pun merupakan sebuah seni tersendiri. BAB IV PENGARUH DAN PERAN LINGKUNGAN 1. 1991. mencoret. Lembaran itu masih bersifat murni. Demikian pula. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan. Rice. atau situasional. Tergantung bagaimana tipe pola asuh yang dipergunakan oleh orang tua dalam membimbing anak-anaknya. g. apakah ia menggunakan pola asuh otoriter. sehingga apapun yang terisi di atas lembaran itu sangat tergantung dari orang tua bagaimana ia menulis. 1993) nampaknya sependapat bahwa orang tua mempunya peran besar bagi pembentukan dan perkembangan moral seorang anak. Singgih. etika. menggambar atau mewarnainya. 1998. demokratis. baik Piaget maupun Kohlberg (Papalia. et. budi pekerti bahkan nilai religiusitas sejak dini kepada anak-anaknya akan membekas di dalam hati sanubarinya. tidak bias diabaikan peran dan tanggung jawab orang tua. Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual. Santrock. Tanggung jawab orang tua untuk menanamkan nilai-nilai moral. media masa. permisif. John Locke mengibaratkan bahwa hati dan otak pada diri seorang anak masih berupa lembaran kertas kosong putih bersih (“tabula rasa” dari bahasa Latin yang berarti “kertas kosong”). Pengaruh Lingkungan Nonformal Para ahli. yang kemudian mendapat pengaruh dari lingkungan pendidikan (sekolah). 1999. 19 . pendidikan yang telah diterima sejak masa anak-anak akan mempengaruhi pola pikir dan perilaku dalam diri remaja. maupun situasi sosial politik Negara. Karena itu.f.

memang mempengaruhi pola pikir dan perilaku individu. dengan sadar dilakukan. exosystem. maka pendidikan informal identik dengan pendidikan luar sekolah. Makin terampil dalam menyerap nilai-nilai positif dan menjauhi nilai-nilai negatif. Di dalam keluarga individu dididik untuk menjadi seorang anak yang baik. 2. Dari mulai lahir seorang anak akan didik dalam lingkungan keluarga (nonformal) dari yang tidak mengerti menjadi mengerti dan seterusnya hingga mereka dapat mengerti benar tentang bagaimana cara hidup yang baik. 1998. Pendidikan informal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. Oleh karena itu pendidikan informal dilakukan di luar sekolah. Olds dan Feldman. Mereka dituntut untuk bisa mengaplikasikan hasil dari pendidikan keluarga dan sekolah. bermusyawarah dan sebagainya. tetapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tetap. yang tahu sopan santun dan etika serta mempunyai moral sifat yang terpuji. maka sasaran pokok adalah anggota masyarakat. Di sini mereka akan bergaul langsung dengan masyarakat yang mempunyai beraneka ragam sifat dan kepribadian.2001). Urie Brofenbrenner mengungkap bahwa microsystem. maka makin baik pula ia dalam menerapkan nilai-nilai moral itu dalam kehidupan bermasyarakat. seperti pada pendidikan formal di sekolah. macrosystem. termasuk moralitasnya (Papalia. Hal ini memang tergantung individu sejauh mana ia menyikapi semua sistem tersebut. berprilaku dan bersopan santun. mesosystem. Pengaruh Lingkungan Informal Lingkungan pendidikan yang ketiga yang tidak kalah penting dan menjadi penentu berhasil tidaknya pendidikan pada lingkungan pendidikan nonformal dan formal adalah pendidikan informal (pendidikan masyarakat). Selain dari keluarga pendidikan etika dan moral ini diperoleh juga dari pendidikan formal di sekolah dan pendidikan informal di masyarakat. 20 . Di dalam lingkungan pendidikan informal seorang individu akan diberikan pembelajaran mengenai bagaimana menentukan sikap. Selanjutnya seorang individu akan memasuki pendidikan Formal setelah mengalami penggemblengan dalam lingkungan pendidikan keluarga.Seorang psikolog yang mendirikan aliran ekologis. Karena pendidikan informal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fasik sekolah. dan cronosystem.

Hal ini sangat wajar mengingat bahwa pemahaman masyarakat terhadap pentingnya PAUD masih sangat rendah serta pada umumnya mereka berpandangan bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Hal itu disebabkan antara lain kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini masih sangat rendah. sehingga bagi anak usia dini pendidikan dipandang belum perlu. Nonformal. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi dan kesehatan untuk peningkatan kualitas anak. melainkan dari banyak lingkungan pendidikan sehingga antara yang satu dengan yang lain saling menyempurnakan dan akhirnya akan menghasilkan didikan yang ideal dan berguna bagi masyarakat dan bangsanya. Akhirnya tujuan terpenting dari pendidikan informal adalah program-program yang didasarkan kepada masyarakat harus sejalan dan terintegrasi dengan program-program pembangunan yang di butuhkan oleh rakyat. namun tetap menarik minat para konsumen pendidikan. Lebih jauh Hadis (2002: 25) mengemukakan ada beberapa faktor yang menjadikan penyebab masih rendahnya kesadaran masyarakat di bidang pendidikan anak usia dini 21 . terlebih bagi masyarakat kelas bawah yang merupakan sebagian besar penduduk Indonesia yang berada di pedesaan. Lingkungan pendidikan baik Formal. Peranan dan Pemberdayaan Masyarakat Kenyataan bahwa masih banyak anak usia dini yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan tak dapat dipungkiri. Berdasarkan penelitian di lapangan. Dari uraian di atas jelas pembelajaran yang didapatkan dari seorang individu tidak hanya berasal dari satu lingkungan pendidikan saja. 2002: 13) menyebutkan bahwa pada umumnya masyarakat memandang belum perlu pendidikan diberikan kepada anak usia dini. nampaknya jauh lebih baik daripada kesadaran akan pentingnya pendidikan. maupun Informal sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan dan keberhasilan pendidikan seorang individu. Hasil penelitian Meneg Pemberdayaan Perempuan tahun 2001 di wilayah Jakarta dan sekitarnya seperti yang dilansir oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (Jalal. pendidikan informal sangat dibutuhkan oleh anggota masyarakat yang belum sempat mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal karena sudah terlanjur lewat umur atau terpaksa putus sekolah karena suatu hal. 3.Sebab itu program pendidikan informal harus dibuat sedemikian rupa agar bersifat luwes tetapi lugas.

Peran pemerintah adalah memfasilitasi masyarakat agar mereka dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak. 41. bimbingan dan atau bantuan teknis edukatif yang tepat terhadap semua layanan anak usia dini (di luar TK dan RA) yang ada di masyarakat. kurang berpendidikan. Masyarakat itu sendiri juga perlu meningkatkan peran sertanya secara aktif dalam pelaksanaan. Rendahnya tingkat partisipasi anak mengikuti pendidikan prasekolah dapat juga dipengaruhi oleh beberapa hal lainnya seperti: (1) Masih terbatas dan tidak meratanya lembaga layanan PAUD yang ada di masyarakat terutama di pedesaan. Untuk itu pemerintah perlu memberdayakan peran serta masyarakat sebagai upaya menumbuhkan dan 22 . Upaya pemerintah untuk memfasilitasi masyarakat antara lain melalui standarisasi kurikulum guna membantu masyarakat mengontrol penyelenggaraan pendidikan agar tidak merugikan peserta didik maupun masyarakat. 2002) dari 41. peningkatan fungsi keluarga sebagai basis pendidikan anak.46%) didirikan oleh pihak swasta sedangkan pemerintah hanya mendirikan 225 buah (0. dan pelembagaan pembinaan anak. serta pengembangan manajemen pembelajaran yang mencakup pengembangan metodologi pembelajaran. gagasan orang tua tentang perkembangan anak yang masih sangat tradisional. serta masih sangat dipengaruhi oleh budaya setempat yang sempit. Memang berhasilnya PAUD merupakan tanggung jawab pemerintah bersama masyarakat terutama keluarga yang merupakan penanggung jawab utama dalam optimalisasi tumbuh kembang anak. KB/RA. Kehadiran direktorat ini terutama untuk memberikan layanan. pengembangan sarana dan bahan belajar termasuk bacaan anak. Sebagai contoh pertumbuhan TK.54%). Dalam rangka memberikan perhatian secara khusus terhadap anak usia dini yang tidak terlayani pada lembaga formal (TK/RA) maka dibentuklah Direktorat PADU di lingkungan Depdiknas. peningkatan kemampuan profesi dan akademik bagi tenaga pendidik. pembinaan. kurang mau berubah. (2) Rendahnya dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. masih sangat konkret dalam berpikir. Fakta menunjukkan (Rosadi. dan TPA di perkotaan lebih pesat dibandingkan di pedesaan.092 buah (99. kemiskinan. pengembangan permainan dan alat permainan serta pengembangan evaluasi tumbuh kembang anak.seperti: ketidaktahuan. Jumlah TK tersebut tidaklah berimbang dengan jumlah anak yang seharusnya mengikuti pendidikan dini. motivasi yang rendah karena kebutuhan yang masih sangat mendasar.317 buah TK di seluruh Indonesia.

Peranan Keluarga dan Lingkungan Bagi anak usia dini. bergaul. merupakan kesalahan sebagai akibat tidak berjalannya jaringan kemitraan termasuk koordinasi sebagai salah satu komponennya. bersih. merupakan jawaban atas keberlangsungan suatu program di masyarakat. Selama ini ada anggapan bahwa lingkungan yang baik adalah ruangan yang berdinding putih. Jaringan kemitraan merupakan kunci efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan program pendidikan. 4. Pemerintah harus memperluas jaringan kemitraan. Sinergi berbagai unsur yang berkepentingan dalam pembinaan anak merupakan kunci keberhasilan upaya pembinaan anak. Kedua ciri ini merupakan komponen terpenting untuk menjamin keberlangsungan suatu program yang pada gilirannya mengarah pada pelembagaan program di masyarakat. Dalam kondisi seperti ini. 2002: 15).mengembangkan kemampuan masyarakat. sinergi antara pemerintah dengan masyarakat sangat diperlukan. mulai dari pusat sampai grass-root. Perluasan jaringan kemitraan agar efektif hendaknya diarahkan pada penciptaan situasi kondusif yang menumbuh kembangkan komitmen semua unsur dan kepemilikan oleh masyarakat terhadap suatu program. Harus diingat bahwa fungsi PAUD bukan sekedar untuk memberikan berbagai pengetahuan kepada anak melainkan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk mengajak anak berpikir. Perlu pula diingat bahwa kebanyakan program PAUD masih berjalan sendiri-sendiri. berimajinasi tentang berbagai hal yang dapat merangsang pertumbuhan sinaps baru dan memperkuat yang telah ada serta menyeimbangkan berfungsinya kedua belahan otak (Jalal. Di samping itu adanya jaringan kemitraan yang luas di setiap tingkatan institusi masyarakat. orang tua merupakan guru yang terpenting dan rumah tangga merupakan lingkungan belajar utamanya. Oleh karena itu lingkungan yang baik untuk PAUD adalah lingkungan yang mendukung anak melakukan kegiatan tersebut. dan tenang. dengan cara mengembangkan segala potensi yang dimiliki agar masyarakat memiliki kemampuan sendiri dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan. di mana selama ini tumpang tindih program termasuk pembinaannya. Program yang mempunyai jaringan kemitraan memiliki ciri-ciri antara lain tingginya komitmen semua unsur yang terlibat dan tingginya rasa memiliki masyarakat terhadap program yang ada. berekspresi. 23 . tidak ada sinergi antar program yang ada di masyarakat. bereksplorasi.

lingkungan atau siapa saja yang mampu berperan sebagai pengganti. Jika orang tua karena satu dan lain hal tidak melaksanakan fungsinya sebagai pendidik. fungsi ini dapat dialihkan (sebagian) kepada pengasuh. Memang benar bahwa faktor bawaan juga berpengaruh terhadap kecerdasan seseorang tetapi pengaruh lingkungan juga merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak adalah sangat penting. anak dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas serta diperolehnya pengalaman-pengalaman baru. modal dasar tersebut tidak akan berkembang bahkan bisa jadi menyusut. lembaga pendidikan/penitipan anak. Jika faktor bawaan dimisalkan sebagai dasar maka faktor lingkungan merupakan pengembangannya.Sebuah anggapan yang keliru karena ruangan tanpa rangsangan semacam itu justru menghambat perkembangan anak. Tanpa diperkaya oleh lingkungan. Peran pengganti ini dapat dilakukan baik di lingkungan keluarganya (pengasuh) atau di luar lingkungan keluarga (KB. TPA & lembaga PAUD sejenis). 24 . Pengaturan lingkungan yang membuat anak dapat bergerak bebas dan aman untuk bereksplorasi merupakan kondisi yang sangat baik bagi perkembangan anak.

KB/RA. Terdapat 41. selebihnya dibangun oleh pihak swasta. 25 . (3) Rendahnya dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini guna mengembangkan kecakapan antar personal ini. Pertumbuhan TK.317 buah TK di seluruh Indonesia. Anak usia 0 – 6 tahun berjumlah 26. Kurangnya anak usia dini yang mendapatkan layanan pendidikan yang layak di antaranya karena sebab-sebab berikut ini: (1) Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan pada anak usia dini untuk membentuk kecakapan personal anak. Periode emas dalam tumbuh kembang anak hanya terjadi sekali dalam kehidupan manusia yang dimulai sejak lahir hingga usia delapan tahun.BAB V KESIMPULAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat penting dan mendasar sebab merupakan hulu dalam pengembangan kecakapan manusia.09 juta akan tetapi yang terlayani dalam PAUD di jalur pendidikan formal (TK/RA) baru sekitar dua juta anak sehingga peran pendidikan nonformal dalam membantu mengatasi masalah tersebut sangat penting dan mendesak.54% TK yang didirikan oleh pemerintah. 225 buah atau sekitar 0. Anak-anak yang berada pada rentang usia dini yang memperoleh asupan pendidikan masih sangat sedikit. Penelitian di bidang neurologi mengungkapkan bahwa perkembangan kecerdasan anak 50% terjadi pada empat tahun pertama kemudian mencapai 80% hingga usia delapan tahun dan akhirnya 100% pada usia 18 tahun. (2) Masih terbatas dan tidak meratanya lembaga layanan PAUD yang tersebar di masyarakat terutama di daerah pedesaan. dan TPA di daerah perkotaan lebih pesat dibandingkan di daerah pedesaan.

2005. “Memposisikan Pendidikan Anak Dini Usia Dalam Sistem Pendidikan Nasional”. Wahyudi dan Damayanti. (2002). (2002). Maya dan Nugroho. Jakarta: Depdiknas. Dwi Retna. Anwar dan Ahmad. 25 – 28. Isjoni. Jakarta: Depdikbud. (2003). Jalal. 54 – 59. Direktorat PADU. Abdulhak. 2009. Depdiknas. Direktorat Tenaga Teknis. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0 – 6 Tahun. “Kebijakan Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU)”. Direktorat PADU. Jakarta: Direktorat PADU Ditjen PLSP – Depdiknas. 03. Jakarta: Direktorat PADU . Jakarta: Ditjen PLSP – Depdiknas.Ditjen PLSP – Depdiknas. Andi Yudha. Informasi Tentang Pendidikan Anak Dini Usia Pendidikan Prasekolah Pada Jalur Pendidikan Luar Sekolah. Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidikan Anak Dini Usia (Menu Pembelajaran Generik). (2003). Bandung. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Direktorat PADU. Jakarta: Mizan Media Utama. 26 . Hadis. Petunjuk Kegiatan Belajar Mengajar Taman Kanak-kanak. (2002). Fawzia Aswin. Makalah pada Pelatihan Penyelenggara Program PADU. Bahan Sosialisasi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. 2006. Sambutan Pengarahan Direktur Jenderal PLSP pada Lokakarya Pengembangan Program PADU. Indrawati. Jakarta: Grasindo. Pendidikan Anak Dini Usia. “Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Akan Pentingnya PADU”. Depdikbud. 2007. 2007. Gutama. Model PADU Terintegrasi Posyandu. “Strategi Sosialisasi Dalam Memberdayakan Masyarakat”. (2001). Buletin Padu Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. (2003). Jakarta. Arsyad. 9 – 18. 03. Kenapa Guru Harus Kreatif?. (2002). Depdiknas. Mendidik dan Membesarkan Anak Usia PraSekolah. Saatnya Pendidikan Kita Bangkit. Program Pendidikan Untuk Anak Usia Dini di Prasekolah Islam. Buletin Padu Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. Bandung: Alfabeta. (1998). (2003). Buletin Padu Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. Fasli.DAFTAR PUSTAKA Asfandiyar. (2002). Wido. Jakarta: Direktorat PADU -Ditjen PLSP – Depdiknas. Ishak. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. CHA.

Supriadi. __________ (2003). Sejarah Perkembangan. 60 – 72. Asas. Pendidikan Anak Dini Usia Untuk Mengembangkan Multipel Inteligensi. Dedi. Jakarta: Dharma Graha Group. 03. Falasafah. Teori Pendukung. (2002). Trisnamansyah. Buletin Padu Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. “Materi Pokok Perkuliahan Filsafat. “Pendidikan Anak Dini Usia Dalam Kerangka Otonomi Daerah". Yul. “Pendidikan Anak Usia Dini Dalam UU Sisdiknas”. Pikiran Rakyat. 2004. (2002). “Memetakan Kembali Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Anak Dini Usia”. Buletin Padu Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. (2001). Wawasan. Sudjana. 36 – 42. 03.Rosadi. Sutaryat. Damanhuri. Bandung: Makalah tidak diterbitkan. Tientje. Mei dan Iskandar. Pendidikan Luar Sekolah. D. Nurlaila N. (2003). Bandung: Penerbit Falah Production.Q. dan Konsep Dasar PLS”. Teori. 27 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->