P. 1
018_Makalah_Istilah_hadits

018_Makalah_Istilah_hadits

|Views: 112|Likes:
Published by Syamiluddin Andi

More info:

Published by: Syamiluddin Andi on Apr 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2012

pdf

text

original

ISTILAH-ISTILAH DALAM ILMU HADITS 1. Hadits, atsar dan khabar a.

Hadits = Asal arti hadits ialah omongan, perkataan, ucapan dan sebangsanya. Hadits menurut bahasa berarti ‫ الجديد‬yaitu sesuatu yang baru, hadis juga ُ ْ ِ َ َْ bararti ‫ الخبر‬yaitu berita. ْ ََ َْ Menurut ahli hadits, pengertian hadits ialah segala perkataan Nabi, perbuatan dan hal ihwalnya. Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadits adalah “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan dan taqrirnya yang barkaitan dengan hokum syara’ dan ketetapannya. b. Atsar = Sedang atsar ialah perkataan sahabat sebagaimana hadits perkataan Nabi Saw Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar yaitu sesuatu yang didasarkan kepada Nabi Muhammad, sahabat dan tabi’in c. Khabar = khabar menurut bahasa adalah semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sebagai ulama mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang dating selain dari Nabi Muhammad. 2. Sanad, Matan dan Rowi a. Sanad = Kata sanad menurut bahasa adalah sandaran atau sesuatu yang dijadikan sandaran, menurut istilah sanad adalah “Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadis) yang menyampaikannya kepada matan hadits. b. Matan Matan menurut bahasa berarti mairtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi), sedangkan menurut istilah adalah :

“Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad” dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa matan adalah lafadz hadis yang diucapkan oleh Nabi Saw atau isi hadits. c. Rawi Rawi yakni yang meriwayatkan hadits Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan antara sanad, rawi dan ikatan, perhatikan contoh hadis di bawah ini:

ْ ُ ْ َ َْ ٍ َ ِ ْ َُ ََّ َ ‫حدثنا محمدبن معمر بن ربعي القيسى، حدثنا أبو هشام المححححزو‬ ِ ْ َ ْ ّ ِ َِ ِ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ ُ ََّ َ ‫مي عبد الواحد وه حو اب حن زيححاد ح حدثنا عثمححان ب حن حكي حم ح حدثنا‬ ََّ َ ٍ ْ ِ َ ُ ْ ُ َ ْ ُ ََّ َ ٍ َِ ُ ْ َ ُ َ ِ ِ َ ْ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ َ َّ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ْ ُ ْ َ ِ ِ َ ْ ُ ْ ُ ْ ُ ّ َ ُ ‫محمد ابن المنكدر عن عمران عن عثمححان ب حن عفححان قححال: قححال‬ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ُ ْ َ ْ ّ َ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ ‫رسول ال صلى ال عليه وسلم: من توضحأ ف حأ حس حن الونضحوء‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ ‫خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تح حت أظفححاره: )رواه‬ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ َ ُ ْ َ َّ ِ ِ َ َ ْ ِ ُ َ َ َ ْ َ َ َ (‫مسلم‬
Penjelasan Dari nama Muhammad bin Ma’mur sampai dengan Usman bin Affan r.a adalah sanad dari hadis tersebut. Mulai kata man tawadda’ sampai dengan kata tahta azfarih adalah matannya, sedangkan Imam Muslim yang dicatat di ujung hadits adalah perawinya.

3. Hadis Mutawatir dan Ahad a. Hadits Mutawatir Mutawatir menurut bahasa berarti mutatabi’ yakni sesuatu yang datang berikut dengan kita/ yang beriring-iringan antara satu dnegan yagn lainnya, tanpa ada jaraknya. Menurut istilah mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah belajar orang yang menurut adalah mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Pada intinya hadis

mutawatir yaitu hadist yang diriwayatkan oleh banyak orang di setiap generasi sejak generasi sahabat hingga generasi akhir. b. Hadist ahad

Kata ahad menurut bahasa berarti satu, sedangkan menurut istilah ahad adalah ishobar yang jumlah perawinya tidak sebanyak jumlah perawi hadist mutawatir. Ada juga ulama yang mendefinisikan hadist ahad secara singkat yakni hadist ahad secara singkat yakni hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir. 4. Hadis shahih hasan dan dhoi’if a. Hadis shohih Shohih menurut bahasa berarti ‫( ضد السقيم‬lawan sakit) yang berarti shah, benar, ِ ِّْ ّ ِ sempurna, sehat, ibnu al-shaleh mengartikan hadist shohih yaitu hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang yagn berwafaq adil, dan dhabil, dari orang yang berwatak seperti itu juga sampai puncaknya, hadist mana tidak yadz dan tidak pula mengandung cacat. Gambaran mengenai pengertian hadist shohih menjadi lebih jelas setelah imam syafi’I memberikan ketentuan, bahwa riwayat suatu hadist dapat dijadikan hujjah apabila 1. 2. Diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya amalan Rangkaina riwayatnya bersambung sampai kepada pagi Muhammad agamanya. atau dapat juga tidak sampai ke pada pagi. Syarat-syarat hadis shohih 1. Sanadnya bersambung 2. para perawinya bersifat adil 3. para perawinya dhabil 4. Matannya tidak syadz

5. Matannya tidak berillat b. Hadis Hasan Hadis hasan menurut bahasa berarti ‫ ما تشتهيه النفسى وتميل الي حه‬yaitu ِ ْ َِ ُ ْ ِ َ َ ُ ْ ّ ِ ْ ِ َ ْ َ َ sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sebenarnya hadis hasan itu sama dengan hadis shahih. Bedanya, kalau di dalam hadis shahih semua periwayat harus sempurna kedhabitannya. Maka dalam hadis hasan ada perawi yang kedhabitannya, kecermatan atau hafalannya kurang sempurna. Menurut para ulama, hadis hasan dapat naik derajatnya menjadi shahih karena ada hadis lain yang isinya sama diriwayatkan yagn kualitasnya tidak lebih rendah. Para ulama ahli hadis membagi hadis hasan menjadi dua bagian, yaitu hasan lidzatih dan hasan li ghairih yang dimaksud dengan hadis hasan lidzatih ialah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan. Adapun yang dimaksud dengan hadis hasan li ghoirih ialah hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan hadis hasan sec ara sempurna, atau pada dasarnya hadis tersebut adalah hadis dhaif, tetapi karena ada sanad atau matan lain yang menguatkannya maka ke dudukan hadis dhaif tersebut naik derajatnya menjadi hasan li ghairih. Ibn Ash-shalah, sebagaimana dikutip oleh Al-Qosimi menyebutkan bahwa hadis hasan li hairih ialah hadis yang sandaran dan sanadnya terdapat seorang yang mashur, bukan pelupa yang banyak kesalahannya, tidak terlihat adanya sebab-sebab yang menjadikannya fasiq dan matan hadisnya diketahui baik berdasarkan periwayatannya hadis lain yang semakna. Pengertian menurut Ibnu Ash-Shalah ini memperkuat uraian bahwa pada dasarnya hadis hasan li ghairih adalah hadis dhaif, yang memiliki syahid dan muttabi’ sehingga kualitasnya menjadi naik menjadi hadis hasan, akan tetapi, hadis yang sangat lemah seperti hadis maudu’ dan mankar dan matruk sekali pun ada syahid dan muttabi’ kedudukannya tetap sebagai hadis dhaif dan tidak dapat berubah menjadi hadis hasan. c. Hadis dhaif

4. Hadis Mu’dal Yaitu hadis yang gugur dua orang sanadnya atau lebih secara berturutturut. An-Nawawi mendefinsikannya dengan ِ َ َ ْ ُ ْ ُ ُ َ َ ِ َ ّ ُ ْ ُ ُ ِ ِْ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ‫مالم يو جد فيه شروط الصحة ول شروط الحسن‬ “Hadis yang di dalamn ya tidak terdapat syarat-syarat hadis sahih dan syarat-syarat hadis hasan”. Menurut Nur ad-Din’ atr mendefinisikan hadis dhaif sebagai hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul (hadis yang shahih atau hadis yang hasan). Hadis mursal Yaitu hadis yang gugur sanadnya setelah tabi’in 2. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua adalah tiga syarat maka hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadis dhaif yang sangat lemah. Hadis munqathi’ Yaitu hadis yang sanadnya terdapat salah seorang yang digugurkan (tidak disebutkan namanya) baik diujung maupun dipangkal. Dari definisi di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadis shahih adalah hadis hasan) hilang. berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadis dhaif. Hadis mudallas Yaitu hadis yang di dalamnya ada sesuatu yang disembunyikan. Hadis dha’if yang disebabkan oleh cacat periwayatnya atau hal lain . beberapa definisi diantaranya adalah: 1. 2. b. sebagai lawan dari kasla kuat. a. akan tetapi pad adasarnya isi dan maksudnya sama. Secara istilah diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinsikan hadis dhaif ini.Kata dhaif menruut bahasa berarti lemah. Dhaif dari segi persambungan sanadnya 1. 3.

Nabi Muhammad Saw bersabda ‫نضر ال امرأ سمع منا حديثا كما سمعه‬ ََ َ “Allah memuji orang yang mendengar hadis dari saya kemudian menyampaikannya seperti apa yang saya dengar. Hadis maqlub Yaitu hadis yang lafalnya tertukar pada salah seorang dari sanadnya adalah nama seorang yang sanadnya. 2. Hadis syadz Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang terpercaya. Hadis munkar Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang lemah yang menyalahi riwayat orang yang lebih terpercaya dari padanya. Hadis mu’allal Yaitu hadits yang diriwayatkan tanpa memakai sanad 3. seharusnya Kemudian disebut mendahulukan atau penyebutannya belakangan membelakangkan penyebutan yagn seharusn ya di dahulukan adalah dengan sesuatu pada tempat yang lain.1. orang yang lebih terpercaya lagi. 5. tetapi bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh. 4. baik pada perbuatan adalah pada perkataannya atau orang yang banyak lupa atau ragu. baik berupa perkataan. . perbuatan dan taqrir. Kesimpulan Ilmu hadis merupakna ilmu pengetahuan yagn mengkaji atau membahas tentang segala yang disandarkan kepada nabi SAW. Hadis matruk Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta terhadap hadis yang diriwayatkannya atau nampak kefasikannya.

2) Para perowinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat. Imam Al-Suyuti mendifinisikan hadis shahih dengan “hadis yang bersambung sanadnya. ‫هو ما اتصل سنده بنكل العدل الضابط ضبطا كامل عن مثله وخل ممن الشذوذ و العلة‬ hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya. dfiriwayatkan oleh perowi yang adil dan dhobit. dalam arti adil dan dhobith. dikenal sebagai orang yang jujur mermahami hadis yang diriwayatkan dengan baik. selamat dari kejanggalan (syadz). dan cacat (‘ilat). apabila diriwayatkan oleh para perowi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya. mampu meriwayatkan hadis secara lafad.1 Definisi Hadits Shahih kata Shahih ((‫ الصحيخ‬dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata assaqim ( (‫ =السقيم‬orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. dan . bunyi hadis yang Dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadlis (penyembuyian cacat). diriwayatkan oleh orang adil dan dhobith(kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya. Hadits Shahih I. mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafadnya. kedua. tidak syadz dan tidak ber’ilat”.PEMBAHASAN I. yaitu: pertama. 3) Hadisnya terhindar dari ‘ilat (cacat) dan syadz (janggal). atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi. Defisi hadis shahih secara konkrit baru muncul setelah Imam Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah. rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi SAW. Imam Bukhori dan Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut: 1) Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perowi pertama sampai perowi terakhir. terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafad.

Sanadnya Bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perowi dari perowi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya. Asy-Syafi’i. c. ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil. 2. Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad. Mempelajari hidup masing-masing periwayat. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fasiq. Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad. sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa atta’dil. yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasani.2 Syarat-Syarat Hadis Shahih Berdasarkan definisi hadis shahih diatas. dari sejak awal hingga akhir sanadnya. 3.Maliki. Mencatat semua periwayat yang diteliti. bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya. 2. atau kasta-kata lainnya. haddasani. akhbarani. sdeperti imam empat Hanafi.4) Para perowi yang terdekat dalam sanad harus sejaman. keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil. akhbarana. Perawinya Bersifat Adil Maksudnya adalah tiap-tiap perowi itu seorang Muslim. dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadis shahih dapat dirumuskan sebagai berikut: a. b. 1. ‘an. jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. dan Hambali. Perowinya Bersifat Dhobith . bersetatus Mukallaf (baligh).anna. I. Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut: 1. biasanya ulama’ hadis menempuh tata kerja sebagai berikut. khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat. dan periwayatannya pun ditolak.

dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai pada ke-shahih-an hadis. nmenurut para ulama. bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah. d.3.Hadis Shahih li dzati . Menurut al-Syafi’i.Maksudnya masing-masing perowinya sempurna daya ingatannya. suatu hadis dinyatakan syudzudz. sedang pada hadis shahih li-ghoirih. Tidak Syadz Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz. dapat diketahui melalui: 1. seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal. bila hadisd yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah. Artinya. Dhobith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan. e. ingatan perowinya sempurna. Namun demikian. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhobithannya. dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan lainnya. sementara dhahirnya selamat dari cacat. ‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama. sejak ia maneriama hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain. Tidak Ber’ilat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya. dhobith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan. ingatan perowinya kurang sempurna. perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan perowinya. sedang. Pembagian Hadis Shahih Para ahli hadis membagi hadis shahih kepada dua bagian. Adapun sifat-sifat kedhobitan perowi. a. pada shahih li-dzatih. suatu hadis tidak dinyastakan sebagai mengandung syudzudz. baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan). kesaksian para ulama 2. I. yaitu shahih li-dzati dan shahih li-ghoirih. ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad. sedang periwayat yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu.

4 Kehujahan Hadis Shahih Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis shahih wajib diamalkan sebagai hujah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para uluma hadis dan sebagian ulama ushul dan fikih. ad’af al-asanid. Berdasarkan martabat seperti ini. oleh karena itu. seperti periwayatan Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah. mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah. Hadis shahih li-ghoirih.Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya. seperti periwayatan sanad dari Imam Malik bin Anas dari Nafi’ mawla (mawla = budak yang telah dimerdekakan) dari Ibnu Umar. hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah. Ketiga. ashah al-asanid yaitu rangkaian sanad yang paling tinggi derajatnya. para muhadisin membagi tingkatan sanad menjadi tiga yaitu: Pertama. Bukan berarti sama sekali dusta. Hadis Shahih Li Ghoirihi Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis shahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. I. yaitu al-Quran dan hadis mutawatir. b. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu.bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya.5 Tingkatan Hadis Shahih Perlu diketahui bahwa martabat hadis shahih itu tergantung tinggi dan rendahnya kepada ke-dhabit-an dan keadilan para perowinya. ahsan al-asanid. karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan. tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah. Kedua. Seperti periwayatan sanad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas. yaitu rangkaian sanad hadis yang tingkatannya lebih rendah dari tingkatan kedua. I. . Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat’i. adalah hadis hasan li-dzatihi apabila diriwayatkan melamui jalan yang lain oleh perowi yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari padanya. yaitu rangkaian sanad hadis yang yang tingkatannya dibawash tingkat pertama diatas.

dan lain-lain. Sebagian dari definisinya yaitu: . Shahih Al-Abani. 261 H).Dari segi persyaratan shahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. yang secara berurutan sebagai berikut: a) b) c) Hadis yang disepakati oleh bukhari dan muslim (muttafaq ‘alaih). 6. Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. e) f) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Al-Bukhari saja. HADIS HASAN II. Mustadrok Al-hakim (w. Shahih Ibn As-Sakan. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja. Shahih Muslim (w. g) Hadis yang dinilai shahih menurut ilama hadis selain Al-Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya. 2. 354 H). Ibnu Hibban. Shahih Ibnu Khuzaimah (w. Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if. seperti Ibnu Khuzaimah. yaitu indah. 5. 4. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori saja. d) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan AL-Bukhari dan Muslim. Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis shahih secara berurutan sebagai berikut: 1. dan juga karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya.1 Pengertian Hadis Hasan Secara bahasa. 311 H). Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja. hasan berarti al-jamal. 3. 405). II. Shahih Al-Bukhari (w. 7. Shahih Ibnu Hiban (w.250 H).

definisi Tirmidzi: yaitu semua hadis yang diriwayatkan. dan yang dipakai oleh umumnya fukoha’ 2. II. lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi. ulama ushul fiqih. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabitannya dibandingkan dengan hadis hasan. dan fuqaha sepakat tentang kehujjahan hadis hasan. sempurna ke-dhabit-annya. meskipun derajatnya dibawah hadis shahih. b. yaitu hasan li-dzatih dan hasan li-ghairih. dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta. dengan kata lain. dan telah mashur rawi-rawi sanadnya.2 Macam-Macam Hadis Hasan Sebagaimana hadis shahih yang terbagi menjadi dua macam. maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih. Paraulama hadis. dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi.Chatabi: adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya. II. definisi al. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. hadis hasasn pun terbagi menjadi dua macam. akan tetapi karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’). adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal. definisi Ibnu Hajar: beliau berkata. bersanbung sanadnya. serta tidak ada syadz (kejangalan). Hasan Li-Dzatih Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan yang telah ditentukan. 3. Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. Tetapi jika dibandingkan dengan kedhabit-an perawi hadis dha’if tentu belum seimbang. maka dia menurut kami adalah hadis hasan. hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if.1. dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis. . ke-dhabit-an perawi hadis hasan lebih unggul. dan yang diterima kebanyakan ulama. adalah hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil.3 Kehujahan Hadis Hasan Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabit-annya. a. dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian. tidak cacat. Hasan Li-Ghairih Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna.

HADIST DHAIF III.III. baik pada permulaan sanad. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadits hasan”. maupun pada pertengahan atau akhirnya.1 Definisi Hadist Dhaif Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan . dari Harmalah. berarti hadits yang terlepas. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. Jadi. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. antara lain yaitu : 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). a. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. seperti Bukhari. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW.2 Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. mereka tidak sanggup menghadirinya”. sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. III. dari Abdurrahman. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.

dan sejahtera atas Rasulullah. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. contoh hadits munqathi’ : Artinya : Rasulullah SAW. dari Ismail bin Ibrahim. dari Abu Bakar bin Ali Syaibah. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. dari Laits. Namun. pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. 3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa.hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. . 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. dalam kitabnya “AlMuwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku. dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. Malik bin Anas. tetapi minimal gugur seorang tabi’in. dari Abdullah bin Hasan. membaca “dengan nama Allah. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya. maka kedua rawi tersebut tidak beriringan. ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. secara beriringan dalam sanadnya. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba. atau lebih. karena Fathimah Az-Zahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. bila masuk ke dalam mesjid. Ya Allah. dan Ahmad bin Hanbal. Jadi. Bila dua rawi yang gugur. dari Abu Hurairah. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. hadits di atas adalah hadits munqathi’. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. dari Fatimah binti AlHusain. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. Menurut Ibnu Majah. maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in.

Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. tidak dikenal. Sering keliru. dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik. hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan . Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. atau lalai dalam mengusahakan hafalannya. Berdasarkan riwayat Bukhari. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. dan Abu Salamah dari Abu Huraira. Dengan demikian.Di dalam kitab Imam Malik tersebut. b. Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. hafalan yang buruk. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal . fasiq. hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Seperti pendusta. dari ayahnya. Pada umumnya. yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif. banyak waham. karena Bukhari bukanlah seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). Adapun cacat pada matan. kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. dari Zuhri. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa. dari Abu Hurairah. misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. dari Rasulullah. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik.

Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi. misalnya. dan Muawiyah”. atau kebangsaannya . Abdul Karim. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’: a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam. “Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku. Sedikit sejarah. yaitu: aku ( Muhammad ). atau pernah melakukan maksiat. zindiq. ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan AlQur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. . berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah. ” Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. Jibril. Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. ( Al-An’am : 164 ) c) “Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad. dari kakeknya. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya. “orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga. lalai. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam. yakni kaum yahudi dan nashrani. dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya. atau banyak wahamnya. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini.dari Rasulullah SAW. sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits. mazhabnya. seorang zindiq. ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. orang-orang munafik. aku halalkan barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. maka ia dan anaknya itu masuk surga”.

hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. sekiranya tidak ada wanita. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. dari ‘Amru bin Dinar. Contoh : . dan selanjutnya dari Ibnu umar. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. Contoh : Rasulullah bersabda. tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. selama mereka belum berpisah”. contoh : Artinya: “Barangsiapa yang mendirikan shalat. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. sanadnya memiliki illat. seperti : Muhammad bin ‘Imran. Matan hadits ini sebenarnya shahih. mengerjakan haji. niscaya masuk surga. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. Oleh karena itu. ( H. dan illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad.R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. dan Umar bin Khaththab.Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. Said bin mutstayyab. ataupun keduanya. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . membayarkan zakat. matan. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan AtsTsauri. namun setelah diteliti dengan seksama. ‘Isa bin Ziyad. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. dan menghormati tamu. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa.

7) Hadits Syadz Secara bahasa. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. ataupun keduanya. dengan tempat tinggal di taman surga”. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. Batasan yang diberikan para ulama. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. Keganjilan itu bisa pada sanad. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). pada matan. berarti hadits yang diputarbalikkan. maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”.3 Kehujahan Hadits dhaif . karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. dan berhijrah. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. maka jauhilah ia. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu darinya. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. maka kerjakanlah dia.Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawirawi yang juga dipercaya. III. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil.

tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabit-annya Maksudnya. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). harus didampingi dengan hadits lainnya. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. Baik masalah keutamaan (fadhilah). 1. • Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. Apalagi . ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. Dan menariknya.Khusus hadits dhaif. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Sebab dibandingkan dengan mereka. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. boleh digunakan untuk perkara fadahilul a’mal (keutamaan amal). Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a’mal. mereka itu bukan orang sembarangan. Ketika Mengamalkannya. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. 1. Maka menurut para ulama. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. kisah-kisah. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. nasehat atau peringatan. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. dengan beberapa syarat: 1.

• Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya.” 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. kami longgarkan. Mereka adalah kebanyakan ulama. kami ketatkan. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Di zaman sekarang ini.kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud. Al-Imam Muslim. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. Yahya bin Mu’in. Pendeknya. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadits dhaif. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. . asal bukan hadits palsu (maudhu’). atau tertuduh sebagai pendusta. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. sedhai’fdha’if-nya suatu hadits. ‘Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. Abu Bakar Al-Arabi. melainkan hanya sekedar berhati-hati. Ibnul Mahdi. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. juga bukan masalah hukum. atau anjuran amal tambahan. Ibnu Hazm dan lainnya. Bagi mereka. kisah-kisah. pendiri mazhab Hanbali.

baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ ْ َ ّ ِ ََ ِ ِ ْ َ ََ ٌ ِ َ ّ َ ‫وال غالب على أمره ولـكن أكثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya.”(QS Yunus 36). Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). berfirman : “(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya.Semua keterangan di atas. dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. perbuatan. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). Sebab beda maqam dan beda posisi.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang . Karena sesungguhnya Allah SWT. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. maupun matannya. “Demi masa. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehatmenasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi kebenaran”. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebabsebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. sanad. BAB III KESIMPULAN Pada materi hadits dhaif ini. jelas bukan pendapat kami. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas.” (QS. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ). tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama.

. termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. orang pintar bicara. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . Pendahuluan Pada makalah ini akan dibahas mengenai sebab-sebab kedhaifan hadits. Banyak ilmu saja tidak cukup. Tidak jarang. Karena itu. Namun. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. hadits dhaif I. karena di sini kita akan mengetahui bagaimana proses periwayatan hadits yang berasal dari Rasulullah atau bukan berasal dari beliau. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. serta kehujjahannya menurut pendapat para ulama. jika memang terdapat hadits yang terbukti lemah ( dhaif ) ini sekiranya bermakna positif bagi kita dan dapat memotivasi dalam pengamalan hidup sehari-hari. macam-macam hadits dhaif. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. kita diharapkan dapat mengetahui sejarah orang-orang yang meriwayatkan hadits berdasarkan kekuatan hafalan mereka.Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. Selain itu. pandai berdebat tentang dalil. Sangat penting membahas seputar hadits dhaif. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Tidak hanyas sebatas sampai di situ.

baik pada permulaan sanad. Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. yang seharusnya ada dalam suatu sanad.II. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. berarti hadits yang terlepas. 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. maupun pada pertengahan atau akhirnya. dan hadits muallaq. a. 2. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. dan tidak pula menghimpun sifatsifat hadits hasan”. Pembahasan 1. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. hadits munqathi’. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. antara lain yaitu : hadits mursal. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah . hadits mu’dhal.

dari Harmalah. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda.hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). Namun. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. dan Ahmad bin Hanbal. mereka tidak sanggup menghadirinya”. dari Abdurrahman. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. maka rawi menjelang akhir . (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. Malik bin Anas. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. Jadi. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. seperti Bukhari. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.

sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Bila dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. contoh hadits munqathi’ :

Artinya : Rasulullah SAW. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Ali Syaibah, dari Ismail bin Ibrahim, dari Laits, dari Abdullah bin Hasan, dari Fatimah binti Al-Husain, dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Menurut Ibnu Majah, hadits di atas adalah hadits munqathi’, karena Fathimah AzZahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in.

3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits

mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba, dalam kitabnya “Al-Muwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Di dalam kitab Imam Malik tersebut, tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan , dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik, dari Zuhri, dan Abu Salamah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Berdasarkan riwayat Bukhari, ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. Dengan demikian, Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. Pada umumnya, yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif, kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih, karena Bukhari bukanlah

seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. b. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa, hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuhmusuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani, orang-orang munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya, mazhabnya, atau kebangsaannya . Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya.

“Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’:

a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam; ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya, dari kakeknya, dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah, tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. “Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. ( AlAn’am : 164 )

“Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad, maka ia dan anaknya itu masuk surga”.

“orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga, yaitu: aku ( Muhammad ), Jibril, dan Muawiyah”. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. Sedikit sejarah, berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan, seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi, misalnya, ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan Al-Qur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Abdul Karim, seorang zindiq, sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits; aku halalkan

Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. mengerjakan haji. dan menghormati tamu. ( H. dan Umar bin Khaththab. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. seperti : Muhammad bin ‘Imran. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. Said bin mutstayyab. niscaya masuk surga.barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. atau banyak wahamnya. sekiranya tidak ada wanita.R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). ‘Isa bin Ziyad. dan illat . menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. membayarkan zakat. atau pernah melakukan maksiat. lalai. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. contoh : “Barangsiapa yang mendirikan shalat. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. Oleh karena itu.

yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. dan selanjutnya dari Ibnu umar. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan Ats-Tsauri. dengan tempat tinggal di taman surga”. Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. maka kerjakanlah dia. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. dari ‘Amru bin Dinar. Contoh : Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. matan. namun setelah diteliti dengan seksama. dan berhijrah. Matan hadits ini sebenarnya shahih. selama mereka belum berpisah”. ataupun keduanya. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. sanadnya memiliki illat. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu . Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). berarti hadits yang diputarbalikkan. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Contoh : Rasulullah bersabda. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar.

maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”.darinya. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. 3. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. Batasan yang diberikan para ulama. Kehujjahan hadits dhaif Khusus hadits dhaif. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut. Maka menurut para ulama. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. ataupun keduanya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. maka jauhilah ia. Keganjilan itu bisa pada sanad. pada matan. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. boleh digunakan untuk . Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. dengan beberapa syarat: a.

tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. Baik masalah keutamaan (fadhilah). 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. Sebab dibandingkan dengan mereka. Ketika Mengamalkannya. mereka itu bukan orang sembarangan. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap . Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. Pendeknya. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Abu Bakar Al-Arabi. Di zaman sekarang ini. AlImam Muslim. . kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. b. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir.Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. kisah-kisah. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabitannya Maksudnya. harus didampingi dengan hadits lainnya. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a'mal. Dan menariknya. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Ibnu Hazm dan lainnya. c. Yahya bin Mu'in. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka.perkara fadahilul a'mal (keutamaan amal). Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. nasehat atau peringatan. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga.

adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Sedangkan hadits dha'if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. sedhai'f-dha'if-nya suatu hadits. pendiri mazhab Hanbali. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. juga bukan masalah hukum. Semua keterangan di atas. Bagi mereka. kami longgarkan. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. 'Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. Selain itu juga ada nama AlImam Abu Daud. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. asal bukan hadits palsu (maudhu'). melainkan hanya sekedar berhati-hati. atau tertuduh sebagai pendusta. kami ketatkan. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya.menerima semua hadits dhaif. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits." 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. atau anjuran amal tambahan. jelas bukan pendapat kami. Mereka adalah kebanyakan ulama. Sebab beda maqam dan beda posisi. . atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. Ibnul Mahdi. kisah-kisah.

َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ َ ّ ‫َ ّ َ ِ ٌ ََ َ ْ ِ ِ ََ ك‬ ‫وال غالب على أمره ولـ ِن أكْثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. Karena sesungguhnya Allah SWT. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Sesung."(QS Yunus 36). dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi . Kesimpulan Pada materi hadits dhaif ini. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama.IV. berfirman : "(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka.” (QS. Penutup 1. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ).guhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.

maupun matannya. perbuatan. orang pintar bicara. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). Pengertian Hadist Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan.kebenaran”. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. Banyak ilmu saja tidak cukup. Namun. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga . Karena itu. Tidak jarang. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. sanad.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebab-sebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. pandai berdebat tentang dalil.

disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda). Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. Ibnu Abbas dan Ibnu AlZubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya.. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Shu'bah..". Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). perbuatan. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Matan ialah redaksi dari hadits... hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. "Kami terbiasa. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat). Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad. . Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an.. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan.". Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). mauquf (terhenti) dan maqtu' : Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya). "Kami dilarang untuk.

telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad.Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Hadits Mursal. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad.. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. Science of Hadits). Mu'allaq. Hadits mutawatir. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Mu'dal dan Mursal. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. . Hadits Munqati'.. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Munqati'.

Hadits Dhaif (lemah). memiliki sifat istiqomah. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani . bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. terjaga muruah (kehormatan)nya. hasan. mengandung kejanggalan atau cacat. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur. Mashur. mu’allaq. Aziz. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). Hadits Hasan. berakhlak baik. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). serta matannya tidak syadz serta cacat. Hadits Mu'allal. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: Sanadnya bersambung. dan kuat ingatannya. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk.Background Hadits ahad. Hadits Mungkar. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. tidak fasik. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Hadits Maudu'. da'if dan maudu' Hadits Shahih. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. mudallas.

disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta' dari Imam Malik. Hadits Mudlthorib. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. Aturan-aturan ini. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat). Hadits Mudraj. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Daud. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). Hadits Maqlub. ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. Hadits Syadz. Selain itu. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Hadits Munqalib. Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. Hadits Mudallas. termasuk: Shahih Bukhari. padahal sebenarnya ada. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). baik dalam sanad atau pada gurunya. .bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolaholah tidak ada cacatnya.

Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). yang melawan Ali pada Perang Jamal. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad.Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. melalui Fatimah az-Zahra. istri Muhammad saw. 1. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua. Imam Bukhari. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq 'Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. Imam Muslim. yaitu hadits yang shahih dan hasan. Imam Bukhari. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. Imam Abu Daud. Imam Muslim dan Ibnu Majah. seperti Aisyah. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi Al-Istibsaar Al-Tahzeeb Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin Shahih Bukhari Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. Imam Nasa'i dan Imam Ibnu Majah. Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits Yang Diterima (Maqbul) . yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi'ah diklaim memusuhi Ali. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif. dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. Imam Turmudzi.

2. sempurna ingatan. Sedangkansecara istilah. 2. tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits. 1. 1. sanadnya bersambung-sambung. tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. tidak ber’illat dan tidak janggal. 1. dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith). 1. menguasai apa yang diriwayatkan. menjauhi dosa-dosa kecil. Definisi: Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar. 1.1. Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran. maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: • • • • • Rawinya bersifat adil. memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. 2. 1. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. Hadits Shahih 1. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: . Hadits Hasan 1. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya. Hasan adalah sifat yang bermakna indah. Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih. artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. Definisi Secara bahasa.Hadits yang diterima dibagi menjadi 2 (dua): 1. yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil.

Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya). Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah. 1.Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil. tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat . At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan. Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. Di antara contoh hadits ini adalah: ‫لول أن أشق على أمتي لمرتهم بالسواك عند كل صلة‬ Seandainya aku tidak memberatkan umatku. yang kurang kuat ingatannya. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya.2.2.

Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya)." Maka nabi SAW pun membolehkannya. Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: ‫" أرضيت من نفسك ومالك بنعلين؟ قالت: نعم، فأجاز‬Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama. naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. yaitu hadits yang tertolak. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain. maka kedudukannya dhaif. *** 2. As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. bukan pelupa yang banyak salahnya. "Ya. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat. Hadits ini asalnya dhaif (lemah). namun karena ada ada mu'adhdhid. Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul). Andaikata tidak ada 'Adhid. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah). hanya sebagian orang yang bodoh dan awam . yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. Ringkasnya. atau dengan ada beberapa sanad lain. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya.

Adapun kalau dengan sanadnya.2. 3. hanya saja karena satu sebab tertentu. kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. misalnya karena: • • • • • • • • Dusta (hadits maudlu) Tertuduh dusta (hadits matruk) Fasik. 2. yaitu banyak salah lengah dalam menghafal Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal Menyalahi riwayat orang kepercayaan Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) Penganut Bid’ah (hadits mardud) Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 2.2. mereka tidak mengingkarinya .2. Penyebab Tertolak Ada beberapa alasan yang menyebabkan tertolaknya Hadits Dhaif.2. yaitu: 2. Karena Sanadnya Tidak Bersambung • • • • Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 2.1 Adanya Kekurangan pada Perawinya Baik tentang keadilan maupun hafalannya. 2. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah.yang memasukkannya ke dalam hadits. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum. 2. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya.1 Definisi: Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan.

sementara derajat periwayatannya lemah. selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu). hukum akad nikah. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. Sedangkan setiap amal sunnah. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. Demikian juga dengan hukum jual beli. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW. hukum thalaq dan lain-lain.2.3. . Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. maka orang itu salah seorang pendusta. melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif. Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal. Imam Al-Bukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits. Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah.

Adapun pengertian hadits maudhu’ (hadits palsu) secara istilah ialah: ‫ما نسب الى رسول ال صلى ال عليه و السلم إختلفا و كذبا مما لم يقله أويقره‬ ّ Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah secara dibuat-buat dan dusta. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. maka haditsnya tidak bisa dipakai. Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. 2. Sedangkan ‫ موضع‬merupakan derivasi dari kata – ‫وضع‬ ‫ يضع – وضعا‬yang secara bahasa berarti menyimpan. diperbincangkan. antara lain: 1. Pengertian Hadits Maudhu ‫ الحديث‬secara bahasa berarti ‫ . wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Demikian sekelumit informasi singkat tentang pembagian hadits.الجديد‬yaitu sesuatu yang baru. Wallahu a'lam bishshawab. Lc Januari 25. Mustafa Azmi. dilihat dari sudut apakah hadits itu bisa diterima ataukah hadits itu tertolak.Lagi pula. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu. Dr. Yaitu sesuatu yang diberitakan. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. dan dipindahkan dari seseorang kepada orang yang lain. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta. Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. Mahmud Thahan didalam kitabnya mengatakan. الخبر‬berita. Ahmad Sarwat. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. mengada-ngada atau membuat-buat. padahal beliau tidak mengatakan dan memperbuatnya. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya. selain itu hadits pun berarti ‫ . Haliman A. 3. 2009 pukul 12:50 pm · Disimpan dalam Ilmu Hadits Oleh: Dede KS. ‫اذا كان سبب الطعن فى الروى هو الكذ ب على رسول ال فحد يثه يسمى الموضع‬ .

beliau lalu mencium Fatimah” Kepalsuan hadits ini sangat jelas sekali. maka bunuhlah dia” a. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan hadits-hadits palsu. Jibril datang memberikan buah Safarjalah dari surga. Sejarah Perkembangan Hadits Palsu Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits. yaitu diantaranya: a.Mudatsir didalam bukunya Ilmu Hadits. Misal munculnya Syiah. Dan data menunjukan sepanjang masa Rasulullah Saw. telah terjadi pemalsuan hadits.Apabila sebab keadaan cacatnya rowi dia berdusta terhadap Rasulullah. kemudian Khawarij. sebab Khodijah telah meninggal sebelum peristiwa Isra. b. dengan alasan Ahmad Amin tidak mempunyai alasan secara histories. C. bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman khalifah Ali bin Abi Thalib. Menurut Ahmad Amin. Disamping mereka membuat hadits-hadits palsu untuk memuji golongan mereka sendiri. bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw. Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain. hadits masih bisa dikatakan selamat dari pemalsuan. mereka pun membuat hadits-hadits untuk menyerang golongan yang lain. tidak tercantum didalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan Asbabul Wurud. Kaum Syafi’i mengatakan “saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum Rafidhah”. bahkan mereka pun menciptakan hadits tentang keutamaan Fatimah. maka haditsnya dinamakan maudhu’. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut: a. Akan tetapi pendapat ini kurang disetujui oleh H. Karena itu apabila Rasulullah rindu akan bau-bauan surga. Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait. Misalkan hadits yang mereka buat sebagai berikut: ‫لما اسرى النبي اتاه جبريل بسفرجلة من الجنة قاكلها فعلقت السيدة خديجة بقاطمة فكان اذاشتاق الى رائحة‬ ‫الجنة شم فاطمة‬ “Ketika Nabi diisra’kan. Kemudian sayyidah Khodijah menghubungkan buah tersebut dengan Fatimah. Misalkan mereka membuat hadits untuk menjelek-jelekan Muawiyah sebagai berikut: ‫ااذا رايتم معاوية على منبرى فاقتله‬ “Apabila kamu melihat Muawiyah berada diatas mimbarku. Motif-motif yang mendorong pembuatan hadits maudhu’ Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk membuat hadits palsu (maudhu’). selain itu pemalsuan hadits dijaman Rasulullah Saw. ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) Dan pengertiannya secara istilah beliau mengatakan ‫هو الكذب المختلق المنصوع المنسوب الى رسول ال صلى ال عليه والسلم‬ Hadits yang dibuat oleh seorang pendusta yang dibangsakan kepada Rasulullah ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) B. tidak pernah ada seorang sahabatpun yang sengaja berbuat dusta kepadanya. من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ ّ ّ ّ ّ Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw. Menurut jumhur muhadditsin. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Golongan Syiah yang paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. beliau beralasan dengan sebuah hadits yang matannya ‫. Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam .

Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi” Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu pula. diantaranya dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa. akhlaq. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. misalkan kisah-kisah yang menggembirakan tentang surga: “Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. Fanatik kebangsaan. dan kultus terhadap Imam mereka. kedaerahan. Dengan maksud untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits palsu dalam bidang aqidah. Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya. Mereka yang ta’asub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan hadits maudhu sebagai berikut: ‫ان ال اذا غضب انزل الوحي بالعربية واذا رضى انزل الوحي بالفارسية‬ “Sesungguhnya Allah apabila marah. Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah: “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah. Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi. Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah. kesukuan. Yang demikian itu tetap berjalan selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun” a. Dan diantara contoh haditshadits palsu yang bermotiv karena kultus terhadap imam diantaranya: ‫سيكون رجل في امتي يقال ابو حنيفة النعمان هو نوراامتي‬ “Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Nu’man. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang terbuat dari mutiara putih. pengobatan dan hokum tentang halal dan haram. dengan berkendaraan unta kelabu. a. . sebagai pelita umatku” Ada juga golongan Syafi’iyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah: “Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris. yang paling menggetarkan umatku daripada iblis” a. “Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang berjalan”.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq. mereka membenci melihat kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. kebahasaan. dank arena memang kejahilan seseorang didalam ilmu agama. membuat hadits palsu: ‫من رفع يديه في الصلة قل صلة له‬ “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya” Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu. maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab.

hadits mutawatir. ijma dan akal sehat. Hadits ini mereka (para pembuat hadits palsu) katakan bersumber dari nabi. maka makna hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an. Misalnya Hadits maudhu yang dinukil dari perkataan seorang alim mutaqaddimin: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. Misalnya seorang rowi mengaku menerima hadits dari seorang guru. Dari segi makananya. dalam menjalankan aksinya kadang-kadang mengambil dari pikirannya sendiri. padahal ini merupakan perkataan Malik bin Dinar. seperti pengakuan salah seorang guru tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an. Akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama benci terhadap Al-Qur’an. Dalam hal matan Ciri-ciri yang terdapat pada matan hadits palsu atau hadits maudhu. Ciri-Ciri Hadits Maudhu a. 1. padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. Sumber-Sumber Yang Diriwayatkan Para pembuat hadits maudhu. Hadits maudhu memang yang paling banyak tidak memiliki sanad. Qorinah-qorinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits palsu (maudhu). kami ciptakan hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an. Adapun dari segi lafadznya yaitu susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih. Dalam hal Sanad Pengakuan dari sipembuat sendiri. Atau menerima dari seorang guru yang sudah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. dapat ditinjau da ri segi makna dan segi lafadznya. Dan kadang-kadang menukil perkataan sesorang yang dianggap alim pada waktu itu. 3. atau perkataan orang alim mutaqaddimin. Hukum Periwayatan Hadis Maudhu’ 24 Apr . b. Suka Be the first to like this post. E. serentak ia menjawab: “Tidak seorangpun yang meriwayatkan hadits kepadaku. Permalink Pengertian. 2.D.

Muslim) Selama umat Islam di bawah kepemimpinan khulafa’ al arba’ah (4 khalifah pertama). Akan tetapi kondisi tersebut berubah tatkala umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan. Hadits maudhu’ dikaegorikan hadits mardud (tertolak). sebagian dari mereka berupaya menakwilkan Al-Qur’an dan menafsirkan sebagian hadits dengan arti yang menyimpang. Fanatisme golongan. hadits Nabi SAW senantiasa tetap bersih.Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Banyak Muncul Di Irak Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. Selanjutnya muncullah kelompok-kelompok lain berbasis agama. kelompok Syi’ah menuntut hak mereka untuk menduduki kursi khalifah. Oleh karena itu. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. Sebab Munculnya Hadits Maudhu’ Ada beberapa faktor yang mendorong pemalsuan hadits: • Pertama. mereka berupaya mengubah dan memasukkan tambahan ke dalam hadits dan melakukan pemalsuan atas nama Rasulullah SAW. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. . Setiap kelompok menopang argumentasinya dengan Al-Qur’an dan Hadits. Para pemalsumembuat hadits untuk menyerang kelompok lainnya. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. Oleh karena itu. Setelah khalifah Ali wafat. Pada masa tabi’in (murid para sahabat) pemalsuan hadits lebih sedikit dibandingkan dengan pada masa tabiut tabi’in (murid tabi’in) karena masih banyak sahabat dan tabi’in yang mengamalkan sunnah. maka ia akan masuk neraka. Di dalam ilmu hadits. dan sebaliknya kelompok tersebut juga membuat hadits palsu untuk membela diri. Munculnya hadits palsu diperkirakan mulai tahun 41 H. tidak ternoda kedustaan. yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. sehingga muncul sekumpulan hadits palsu. Hadits-hadits palsu munculnya bersamaan dengan munculnya berbagai kelompok itu. usaha mereka ini tidak membuahkan hasil karena keberadaan jumlah penghafal Ql-Qur’an dan para ulama dari kalangan sahabat dan murid-muridnya masih sangat banyak. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. Namun. karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. dilihat dari dua hal. Mereka dapat membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang palsu.” (HR. Demikian seterusnya.

secara khusus mengandalkan etnis Arab.Ada pula yang menjilat para penguasa dengan membuat hadits yang dapat memuaskan mereka. Usaha untuk mendiskreditkan Islam. Para pendongeng ini membuat membuat hadits palsu dengan tujuan untuk mendapatkan uang. Inilah yang mendorong mereka memalksukan hadits-hadits. Maka mereka berusaha menjauhkan kaum muslimin dari aqidahnya dengan menciptakan kebathilan dan berdusta atas nama Rasulullah SAW. mereka memalsukan hadits yang berbeda mengenai Ali. kekuasaan Kisra dan Kaisar roboh. terbuat dari apakah Tuhan kita? Rasulullah SAW menjawab. Ketika Al-Bakriyah (pendukung Abu Bakar) melihat apa yang dilakukan Syi’ah. Hal itu mereka lakukan untuk menodai Islam. dilakukan oleh Syi’ah. Dia menciptakan seekor kuda kemudian menjalankan kuda itu maka berkeringatlah kuda. Misalnya hadits. Ghiyats bin Ibrahim berdusta untuk khalifah Al-Mahdi dalam hadits. “Wahai Rasulullah. Kemudian Dia menciptakan diri-Nya dari keringat kuda itu. sebagian mereka bersikap fanatis terhadap kebangsaan Arab dan bahasa Arab. Namun mereka tidak mampu untuk membalas dendam dengan pedang karena kekuasaan Islam telah sedemikian kokoh. “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar ‘Arsy adalah dengan bahasa Persia. Mereka memanfaatkan gerakan pemberontakan dengan cara bergabung ke dalamnya. etnis dan kabilah. muncul kelompok-kelompok pendongeng dan penasihat yang jumlahnya terus bertambah. hadits pasu juga dibuat tentang kelebihan negara atau imam tertentu. Sejak pertama. ketika ia melihat Al-Mahdi bermain-main dengan burung dara. • Keempat. Setelah kehadiran Islam. “atau sayap”. Pemalsuan itu didorong rasa permusuhan terhadap lawan. dan jika Dia mewahyukan ancaman maka dengan bahasa Arab.” • Ketiga.Dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghah. Pada masa pemerintahannya. Maka muncullah kelompok Mawalli (kaum muslimin non Arab).” Kemudian Ghiyats menambahkan. Ibnu Abi Hadid berkata.”Selain hadits palsu yang berbicara tentang bahasa. negara dan imam. yang berupaya mewujudkan persamaan hak. Sebagai contoh: diriwayatkan bahwa ada yang bertanya. ALLAH mewahyukan dengan bahasa Persia. “Dari air yang berlalu (tidak diam). benar-benar terjadi pada masa masa Abbasiyah. “Pertama kali kedustaan dalam hadits tentang keutamaan (fadhilah). Contohnya adalah. panah. Selain itu. dan jika ALLAH mewahyukan sesuatu yang menggembirakan. tidak dari bumi dan tidak pula dari langit. atau kuda. Pada masa-masa akhir khulafaur rasyidin. Al-Mahdi . diskriminasi etnis dan fanatisme kabilah. “Tidak ada perlombaan kecuali untuk unta. mereka berupaya menandingi kebanggaan etnis Arab. tendensi duniawi berupa popularitas dan usaha menjilat penguasa. merekapun memalsukan hadits tentang Abu Bakar sebagai tandingan hadits yang dibuat oleh Syi’a • Kedua. Hal ini. dinasti Umayyah.

Muslim) Meski beberapa hadits sering kita dengar.Idris. “Kami berdusta untuk kebaikan Beliau. 4 Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya. Definisi Hadits Maudhu’ Secara etimologi : maudhu berasal dari kata ‫ وضع‬yang mempunyai beberapa makna diantaranya 1.” Dengan ditambahi lafadz. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. Berdasarkan hadits. Bahkan menurut kesepakatan ulama.” Haram Meriwayatkannya Hadits palsu adalah hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil.” (HR.000 dirham. maka ia akan masuk neraka. 2009 Oleh: Abu Fudhail. Juni 08. . ‫ ( الحط‬merendahkan ) 2. kita harus memastikan terlebih dahulu keshahihannya sebelum menjadikannya dalil atau mengamalkannya. pemahaman yang keliru dari madzhab al-karramiyah. maka ia akan masuk neraka. ‫ ( الختل ق‬mengada-ngadakan ) 4. Lc 1. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. Nur Ihsan M. Madzhab sesat ini mengklaim bolehnya memalsukan hadits dalam rangka targhib wa tarhib (menganjurkan manusia berbuat baik dan menakut-nakuti manusia agar tidak bermaksiat). 3 Diada-adakan oleh perawinya.” Mereka beralasan. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. 2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ).kemudian menyuruh orang iuntuk menyembelih burung merpati tersebut dan memberikan kepada Ghiyats sebanyak uang 10. bukan untuk menodai Beliau. Diposkan oleh Markaz As-Sunnah di Senin. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. Mereka berdalil dengan hadits “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. “dengan sengaja untuk menyesatkan manusia. ‫ ( اللصاق‬menyandarkan / menempelkan ) Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena 1 Rendah dalam kedudukannya. • Kelima. ‫ ( السقاط‬menjatuhkan ) 3.

Hadits maudhu adalah hadits yang paling rendah kedudukannya. Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut 4. Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia dusta. 2. 3. Perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah r 2. pada dusta yang disengaja saja.Muslim) Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga. Hukum Meriwayatkan hadits maudhu Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda: َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ٌ ِ َ ُ َّ َ ُ ٍ ِ َ ِ َّ َ ّ َ ْ َ ‫من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين‬ Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta. Pembagian hadits Maudhu Hadits mudhu ada 3 macam: 1. Hukum Berdusta Atas Nama Nabi Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk. Perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu .Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam ِ ّ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ْ ّ َ َ َ ْ َ ً ّ َ َ ُ ّ ََ َ َ ‫َ ْ ك‬ ‫من َذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka ( Riwayat Bukhari.

Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam . setelah itulah muncul orangorang yang ta’asub (fanatik) pada golongan tertentu.Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: a. Kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu. Perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya . memalsukan hadits mengenai Abu Bakar. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah) 6. Pada zaman mereka tidak terjadi pemalsuan hadits. kubu Ali radhiyallohu anhu. wasiat imamah (pengganti Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan mut’ah Contoh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al Ataki dari Anas radhiyallohu anhu dari Salman . dan yang pertama kali mempeloporinya adalah Syiah. Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman. Jenis ketiga ini masuk hadits maudhu apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya 5. Polemik politik Dari sebab pembunuhan Utsman radhiyallohu anhu kemudian fitnah Ali radhiyallohu anhu dan Mu’awiyah radhiyallohu anhu terpecahlah kaum muslimin mennjadi tiga . dan yang keluar yang memberontak pada Ali radhiyallohu anhu. fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu. Cuma dia keliru. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). dan Mu’awiyah radhiyallohu anhum jami’an. Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. Umar. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits A. mereka membuat hadits palsu tentang keutamaan Ali radhiyallohu anhu.Utsman. kemudian kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu berbuat demikian pula. Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits a. pendapatnya ini hanya dibangun atas persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali b. 3.yang menjadikannya hadits.

Bahasa 4. Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan AlHakam bin Sohir. Tukang cerita c Ar-Targiib wa Tarhib ( Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh. Mazhab b. Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu nuskhoh ( kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279) B Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkata ‫إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه‬ Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia. Zindik (munafik) Karena penaklukan dari tentara kaum muslimin maka masuklah beberapa orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keIslaman 7. Fanatisme kepada: 1.radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ali radhiyallohu anhu ‫هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي‬ Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku. . Sebab Tersebarnya Hadits Palsu a . b. Negeri 3. Pada khalifah dan pemimpin 2.

seperti untuk melariskan dagangannya sehingga membuta hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan barang yang dijualnya 8. dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an d Tujuan dunia dan harta. Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. Penelitian dan penyeleksian dalam riwayat hadits. Membuat hadits yang tidak punya asal 2. Pencurian hadits 9. Metode Pemalsu dalam Memalsukan Hadits 1.Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an.Berkeliling daerah menyebarkannya 10. apakah hadits ini dikenal maka diambil dan jika tidak maka tidak diambil. Metode Pemalsu Hadits dalam Menyebarkannya a Memasukannya kedalam buku atau kumpulan hadits b.Bertanya dan memeriksa isnad ( para perawi hadits ) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad ibnu Sirin seorang tabi’in (wafat 110 H) dia berkata Ahli hadits pada awal tidak bertanya tentang isnad maka takkala pada fitnah. . Memastikan keshahihan riwayat dengan beberapa cara 1. mereka berkata ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ ّ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ َ ّ َ ‫سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فل يؤخذ حديثهم‬ Sebutkan orang-orangmu (yang kamu ambil hadits darinya) kalau ia dari AhlusSunnah dia ambillah dan kalau ia ahli bid’ah ditinggalkannya 2. Memasukkan beberapa lafaz pada hadits shohih 3.membuat buku dalam hadits/kumpulan hadits c.Bepergian mencari hadits Imam Abu ‘Aliyah berkata kami telah mendengar dari shahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di Basrah tetapi kami tidak puas sampai mendengar langsung dari mulut sahabat di Madinah maka kami safar ke sana ( Al-Khatib. Al Jami’ 2:224) 3.

c. Adanya dalil yang menujukkan pengakuan yang menunjukkan sang pemalsu contoh seperti ditanya tentang waktu dan tempat bertemu syekh tapi mustahil keduanya bertemu. Ilmu jarh wa ‘tadil 3. Al Maudhu’at oleh Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) 2. Ilmu ruwah/ biografi setiap rawi 2.Kumpulan rawi pemalsu hadits b.000 hadits. a. Mengumpulkan hadits palsu dan membongkar kepribadian pemalsu hadits 1. Silsilah Al-Ahadits Al-Dhoifah wal Maudhu’ah oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albany Rahimahumullah (wafat pada tahun 1420 H) 12. Al La’ali al Mashnu’ah fil Ahadits al Maudua’ah oleh Imam as-Suyuti (wafat 911 H) 3. Khusus hadits-hadits palsu disusunlah a. 2.Tanda pemalsuan pada isnad hadits 1.b. 4. Kaidah Umum untuk Mengetahui Hadits Palsu. Imam Al-Khotib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ismail bin ‘Ayyash berkata saya pernah berada di Iraq kemudian saya didatangi ahli hadits di kota itu dan berkata ada orang yang mengatakan bertemu dengan Kholid bin Ma’dan maka saya mendatangi dan bertanya kapan anda mendengar dari Khalid katanya tahun 113 H . namun dari ahli Iraq banyak pula ahli hadits diantaranya Qatadah. Pemisahan hadits shohih dan selainnya. Berkata Ibnu Mahdi saya memanggil Isa bin Maimun pemalsu hadits karena riwayatnya dari Al-Qosim maka ia mengatakan saya tidak akan mengulang 11. Yahya bin Abi katsir dan Abu Ishak. Pengakuan sang pemalsu. 2. Hammad bin Zaid berkata: zindik munafik memalsukan kurang lebih 12. Menentukan daerah penyebaran hadits dhaif dan meninggalkan meriwayatkan hadits dari mereka ini .Kumpulam hadits-hadits palsu dan kadangkala digabung dengan hadits dhaif lainnya Diantara buku tersebut 1. Hasil Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. secara asal terutama ahli iraq (kuffah dan basrah) .

saya berkata engkau mengaku mendengar dari Khalid setelah 7 tahun kematiannya. al-Jami’ 1. 3. bapaknya dan cucunya Apakah dosanya sebagai anak sehingga menghalangi ia masuk surga bukankah Allah I berfirman ‫ول تكسب كل نفس إل عليها ول تزر وازر ٌ وزر أخرى‬ َ ْ ُ َ ْ ِ ‫َ َ َ ْ ِ ُ ُ ّ َ ْ ٍ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ َ ِ ُ َ ِ َة‬ “Tidaklah seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali kepada dirinyasendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (AlAn’am 164 ) 1. Keganjilan lafaz dan bahasanya seperti hadits ‫من أكل من الطين واغتسل به فقد أكل لحم أبيه آدم واغتسل بدمه‬ Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi dengan darahnya” ( Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil 5:1837 ini hadits yang batil) 13 . Bertentangan dengan nash al-qur’an sunnah dan ijma yang jelas Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at yang menyebutkan hadits ِ ِ َ َ ُ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ُ َ َ َ َ ْ ‫َ َ ْ ُل‬ ‫ل يدخ ُ الجنة ولد الزنا ول والده ول ولد ولده‬ Tidak masuk surga anak zina. Pengaruh dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu Hadits-hadits palsu yang banyak beredar di tengah masyarakat kita memberi dampak dan sangat buruk pada masyarakat Islam diantaranya: 1 Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat 2 Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah .123). Kholid wafat tahun 106 H( al Khotib.Diketahui dari keadaan sang perowi Seperti meriwayatkan tentang bid’ahnya b.Tanda pemalsuan pada matan 1. Bertentangan dengan akal sehat yang tidak mengandung penafsiran yang lain atau kenyataan yang ada 1.

Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan tempat yang harus dipedomani. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad . Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW.3 Matinya sunnah. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”.

Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2. Menurutnya dari kata al-wadh dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1.kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm.[4] Dr. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. B. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. . Namun. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. BAB II PEMBAHASAN A.

Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis.[6] Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Misalnya. Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. Menurut mereka. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan .Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. antara lain: 1. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. 2.

Mereka berkata. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”. Fanatik Terhadap Suku. 3. dan lain-lain. Bangsa.kejayaan pemerintahannya. Oleh karena itu. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. kesesaatan dan tipu muslihat. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. Diantaranya adalah: . bangsa. Dalam menjalankan pemerintahannya. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. kelompok. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab.[8] Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah.

dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. Melihat hal ini.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati.‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ “Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. Namun. Mengenal Hadis Palsu . hal ini sangat disesalkan. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. C. Menurut Ajaj al-Khatib. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka.[10] 5. terlepas dari itu. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi.

Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. saya tidak akan mengaku. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa. hadis anu…”. santun dan enak dirasakan.[12] 2. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda.Untuk mengenal hadis palsu.[14] d. 1. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c. c.[15] . Ketika sakit Abu Jazi berkata. Rusaknya makna (arti) hadis. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. Buruknya redaksi hadis. b. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. Tanda hadis palsu pada matan a. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. hadis mutawatir atau ijma. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya.

mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. dan lainnya. Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini.[17] 3. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi.D. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. 4. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. Oleh karena itu. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk . [16] 2. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. Abu al-Aliyah berkata. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. Memilih Perawi Yang Terpercaya Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. disamping telah dibukukannya hadis. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. yaitu: 1. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. mereka berkata. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain.

membangkitkan gairah ibadah. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. menyenangkan penguasa. 2. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. 3.lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. dan fanatisme. dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan . Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa.[4] Dr. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian. Menurutnya dari kata al-wadh .tempat yang harus dipedomani.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah. BAB II PEMBAHASAN A. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis.

B. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Menurut mereka. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Misalnya.dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. Namun.[6] . kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. antara lain: 1. Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis.

Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan kejayaan pemerintahannya. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan.Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. kesesaatan dan tipu muslihat. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. Mereka berkata.[8] . Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. 2. Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij.

Oleh karena itu. Fanatik Terhadap Suku. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka.Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. Bangsa. 3. dan lain-lain. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Diantaranya adalah: ‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. bangsa. kelompok. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ . dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Melihat hal ini. Dalam menjalankan pemerintahannya.

1.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. b. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah.“Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). hadis anu…”. Namun. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. hal ini sangat disesalkan. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara. Menurut Ajaj al-Khatib. Ketika sakit Abu Jazi berkata. C.[10] 5. saya tidak akan mengaku. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. . Mengenal Hadis Palsu Untuk mengenal hadis palsu. terlepas dari itu.

Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b.[14] d. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. Tanda hadis palsu pada matan a. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. Rusaknya makna (arti) hadis. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. santun dan enak dirasakan. mereka berkata. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”.[12] 2. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. [16] 2. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c.c. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda. Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. Buruknya redaksi hadis. hadis mutawatir atau ijma. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. Memilih Perawi Yang Terpercaya . yaitu: 1.[15] D.

karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. Oleh karena itu.[17] 3. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. 4. dan lainnya.Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. . Abu al-Aliyah berkata. disamping telah dibukukannya hadis. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

dilihat dari dua hal. B. yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. yaitu golongannya syi’ah membuat hadits maudhu’ yang memuji diri sendiri. kata maudhu’ merupakan isim maf’ul dari kata wada’a (‫. membangkitkan gairah ibadah. menyenangkan penguasa. Ahmad dan semisalnya) ini. dan fanatisme. Dan secara istilah : ulama hadist. Hadits maudhu’ dikategorikan hadits mardud (tertolak). Hadits maudhu’ yang dibuat untuk mempertahankan idiologi partainya atau golongan sendiri dan menyerang partai lawannya. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. Hadist semacam ini dinamakan dikenal juga dengan sebutan hadits palsu. akan tetapi keselamatan dari neraka itu karena keilmuan dan keislaman 2. baik secara sengaja maupun tidak. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. 3. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. CONTOH HADITS MAUDHU’ 1. yaitu: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu HADITS MAUDHU' MAKALAH HADITS MAUDHU’ Makalah ini dibuat Demi Memenuhi Tugas dalam Mata Kuliah Musthalahul Hadits Dosen Pengampu : Nurcholis. yaitu hadist yang dibuat oleh seseorang pendusta dan disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. tidak akan dimasukkan di neraka”. Di samping itu juga. Lc Disusun oleh : IMAM WAHYUDI PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 A. yaitu: “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. Hadits maudhu’ yang dinukil dari perkataan orang-orang Mutaqaaddimin. Di dalam ilmu hadits. PENGERTIAN HADITS MAUDHU’ Menurut bahasa. mereka membuat hadits yang . Hadits maudhu’ yang bertentangan dengan sunnah mutawatir ialah Hadits yang memuji orang-orang yang memakai nama Muhammad atau Ahmad. 3. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. )وضع‬ artinya menurunkan atau meletakkan atau meyimpan.2. Hadits tersebut adalah bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW yang menerangkan bahwa neraka itiu tidak dapat ditembus dengan nama-nama tersebut.

” 17.” 10. Umar Al Faruq dan Utsman Dzun-nurain”. selain pohon yang daunnya ditulis dengan kalimat: la ilaha ilahu. “Sesuap makanan diperut lapar adalah lebih baik daripada membangun seribu masjid jami’”. “Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama. kecuali mereka yang ikhlas.” 8. Ahmad dan semisalnya) ini. niscaya engkau akan mendapat petunjuk. Abu Bakar As Shiddiq. “ Aku telah melihat Tuhanku dengan tanpa Hijab antaraku dan Dia. dan sekarang datang pada ribuan yang ke-7”. “Wahai Jabir. Misalnya hadits maudhu yang membenarkan ke-khilaf-an Abu Bakar. 16. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (ilmunya).000 lisan. maka dia telah bersikap kasar kepadaku. ‘Wahai Tuhan-ku. muhammadur Rasulullah. 19. bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang bekendaraan dan memeluk orang-oreng yang pada berjalan”. Pengikut golongan lain yang merasa golongannya dihina. dan setiap lisan mempunyai 70. sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Zindiq. “Di surga tidak terdapat satu pohon.” 13. aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuni padaku”.000 bahasa yag dapat meminta ampun kepadanya”. Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam. di Arafah dengan berkendaraan unta kelabu. ia berkata.a. “Para sahabatku laksana bintang-bintang. sampai tujuh keturunan”. Hadits maudhu’ yang menjelaskan tentang umur dunia: ”Umur dunia itu 7. 6. “Ketika Adam melakukan kesalahan. “Hadiah Allah kepada seorang mukmin adalah adanya pengemis yang menunggu pemberian di depan pintunya”. “Telah dipastikan atau difitrahkan bahwa hati menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan membenci siapa yang berbuat buruk kepadanya”. hal itu kami rubah( sedemikian rupa) menjadi suatu hadits”.” 9. 15. 20. 18. tidak dapat masuk surga. 14. “Bahwa hadits-hadits adalah suatu agama. segera membalas membuat hadits maudhu’ untuk mengadakan revance atau setidak-tidaknya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat padanya. “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari. 7. Siapa pun dari mereka yang engkau teladani. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk merusak dan mengeruhkan Agama Islam. “Barangsiapa mengucapkan tahlil (la ilaha ilallah) maka Allah menciptakan dari kalimat itu seekor burung yang mempunyai 70. seperti Mu’awiyah: “ Apabila kamu melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku bunuhlah”. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar. “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. “Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. 5. Karena itu . Hadits maudhu yang bertentangan dengan Al Quran: “ Anak zina itu.000 tahun. 12. 4. Umar dan Utsman r. Oleh karena itu. telitilah dari siapa kamu mengambil pelajaran Agama! Kami sendiri bila menghendaki sesuatu hal. tidak akan dimasukkan di neraka. “Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku.isinya untuk menjelek-jelekkan lawannya.” 11.

Artha Rivera. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama Muhammad bin Idris. “Sungguh Allah itu apabila marah. menurunkan wahyu dengan bahasa Persi dan bila rela. Abdul. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka di suatu istana yang terbuat dari mutiara putih. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. Yang demikian itu tetap berjalan dampai 70. Oleh karena itu. sungguh kafir terhadap Allah yang Maha Besar dan tertalaklah istrinya sejak itu”.kulihat segala sesuatu. 23. Kamus Istilah-Istilah Hadits. Jakarta Barat: CV. kecuali Allah dan Al quran. Mudasir. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Nanti bakal datang kaum-kaum dari ummatku yang mengatakan bahwa Al quran itu adalah makhluk baru. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama abu Hanifah An Nu’man sebagai pelita ummatku”. 2008.1997. di bumi dan di antara keduanya. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. maka tidak sah salatnya”.” 24. Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu. “Barang siapa mencium bunga mawar merah dan tidak ber-shalawat kepadaku. 28. yang paling mengentarkan ummatku daripada iblis. Ilmu Hadits. menurunkan wahyu dengan bahasa Arab”. Nashiruddin. pada istana itu terdapat 70. 29. “Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. Muslim). namun mahar yang diterimanya tidak lebih dari segenggam gandum atau yang sepertinya dari buah kurma”. 2003. maka berati ia telah menjauhi aku”. Bandung : Pustaka Setia.000 kibah. adalah makhluk. “Setiap yang ada di langit. Jakarta : Gema Isani. 30. Ar-Rasikh. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. 27. REFERENSI Al Albany. “Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan ramadhan tidak berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan witir”. Irham. Khumaidi. 26.000 paviliun yang setiap paviliun mempunyai 70.” (HR. Jakarta: Darul Falah. 25. 21. hingga kulihat sebuah mahkota yang terhias dari mutiara”. C. 22. Berdasarkan hadits. 2008. “Sesungguhnya Allah SWT tidak mengizinkan untuk melagukan Al quran”. Ilmu Hadits Untuk Pemula. Bahkan menurut kesepakatan ulama. . Mannan. maka ia akan masuk neraka.000 tahun tidak bergeser”. Muhammad. HUKUM HADITS MAUDHU’ Hadits maudhu’ atau palsu merupakan hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil dan juga hadist ini merupakan hadist yang paling jelek di antara sekian banyak yang hadist yang dhaif. “Barang siapa yang mengangkat kedua tangannya di dalam shalat. “Berapa banyak wanita yang cantik jelita. barang siapa yang mengatakan demikian. D. Drs.

ciri-ciri maupun yang lainnya.html. sebagaimana anggapan para orientalis. baik pengertian. Menurut Istilah Adalah kedustaan yang dibuat dan direka-reka yang disandarkan atas nama Rasulullah dan ia termasuk periwayatan yang paling jelek. Apabila diantara mereka berselesih mereka berijtihad. Drs. karena memang menurunkan derajatnya. Bila mereka mentakwilkan hadits mereka menisbatkan kepada Nabi Apalagi tentang keutamaan para Imam mereka. fatchur. menjadikan setiap kelompok mencari dukungan dari Al Qur’an dan As Sunah. Kita sebagai seorang muslim tidak meyakini bahwa semua hadits adalah shahih. agar kita faham pembahasan yang berkaitan dengan hadits maudhu’. Awal Munculnya Hadits Maudhu’ Perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa kelompok setelah fitnah( masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan). dengan mengedepankan mencari kebenaran.com/2008/06/hadits-maudhu.com/2008/01/05/contoh-hadits-maudhu-hadis-palsu/ http://www. hukum.blogspot. Rahman. Jadi memang ada hadits yang shahih. Dan kelompok yang pertama melakukan hal itu adalah Syi’ah. kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya. Dalam dalam kesempatan ini. hasan. Bandung : PT Alma ‘arif PENDAHULUAN Hadits merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an dalam islam. Namun juga tidak benar bila menganggap bahwa semua hadits itu palsu.wordpress. 1985. yang berarti menurunkannya. Ihktisar Musthalahul Hadits. Sebagian kelompok mentakwilkan Al Qur’an bukan pada makna sebenarnnya. Derajat Hadits Maudhu’ dan Hukum Meriwayatkannya Hadits maudhu’ merupakan hadits yang paling rendah dan paling buruk Sehingga para ulama’ sepakat. dha’if. . Dinamakan seperti itu. dan maudhu’(palsu). Hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah dan tidak pernah dilakukan seorang shahabatpun. haramnya meriwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun. Dan membawa As Sunah bukan pada maksudnya.Al-Firqotunnajiyyah.http://ainuamri. Pengertian Menurut Bahasa Hadits Maudhu’ Merupakan isim maf’ul (objek) dari kata wadha’a Asy-Syaia. insya Allah saya akan menjelaskan seputar hadits maudhu’.

Pernyataan yang diposisikan sama dengan pengakuan.” Hamad bin Salamah berkata:”Menceritakan kepada syaikh mereka(Rafidhah). Bagaimana Mengetahui Hadits Maudhu’ 1. tentang tanggal kelahirannya. Membuat perkataan yang berasal dari dirinya. kemudian ada sesuatu yang kami anggap baik maka kami jadikan sebagai hadits. 5. bertentangan dengan akal sehat. apabila kamu melihat hadits yang menjelaskan akal. Cara Yang Ditempuh Pembuat Hadits Maudhu’ 1. bahwasanya ia telah memalsukan hadits atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al Qur’an surat per surat. yang digelari Nuh Al Jami’. Ketika ditanya perawi tersebut. atau menafikan dalil-dali Al Qur’an yang qath’I. Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam. haditsnya tentang keutamaan ahli bait.” Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara . serta kemustahilan hadits tersebut bersumber dari Rasulullah. Adanya indikasi pada isi hadits. 3. atau yang membatalkan masalah ushul(akidah). 2. sunah yang mutawatir dan ijma’. ketahuilah sesungguhnya itu adalah maudhu’. menyelisihi naql (dalil). Misal perawi Rafidhah. Mengambil perkataan ahli bijak atau selain mereka kemudian meletakkan sanadnya. As Suyuthi berkata:”Dari indikasi perawi (maudhu’) adalah dia seorang Rafidhah dan haditsnya tentang keutamaan ahli bait.Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan hadits dari sedang dia mengetahui bahwa itu dusta. 2.” Ibnu Al Jauzi berkata:”Perkataan yang paling tepat berkenan dengan hadits maudhu’ adalah. Muslim). Adanya inidikasi perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya.” (HR. berlawanan dengan ketetapan agama atau susunan lafadz lemah dan kacau. 4. Adapun jika bertentangannya memungkinkan untuk dijamak. Dan seperti pengakuan Maisarah bin Abdi Rabbihi Al Farisi bahwa dia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits. Menurut Abu Bakar bin Ath Thayib:”Sesungguhnya bagian dari petunjuk maudhu’ adalah tidak masuk akal yang tidak bisa ditakwil disertai dengan tidak berdasar pada panca indra. maka ia tidak (maudhu’). kemudian meletakkan sanadnya dan meriwayatkannya. dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut. Seperti seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh. bertentangan dengan indra. Atau pada saat syaikh meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan. dengan berkata:”Bila kami berkumpul-kumpul. ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh. maka dia termasuk para pendusta. Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits.

Setelah berpaling. Ibnu Hibban telah meriwayatkan dari kitabnya Ad Dhu’afa’. ketika masuk ke (ruangan Amirul Mukminin) dan menjumpai Al Mahdi tengah bermain-main dengan burung merpati. termasuk madzhab yang terpecah menjadi aliran politik setelah munculnya fitnah(masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan) dan maraknya aliran-aliran politik seperti Khawarij dan Syi’ah. menggali atau sayap. Membela suatu madzhab. pacuan. jangan meriwayatkan (hadits) dari mereka sesungguhnya mereka berdusta. karena manusia menerima hadits-hadits maudhu’ mereka disebabkan kepercayaan terhadap mereka. Mereka ini termasuk kelompok pembuat hadits maudhu’ yang paling buruk. kebodohan. berkata:”Janganlah engkau bicara dengan mereka. dengan meletakkan hadits-hadits targhib(yang mendorong) manusia untuk berbuat kebaikan. atau hadits yang berisi ancaman terhadap perbuatan munkar. yang dilakukan untuk menyenangkan Al Mahdi. bahwa beliau bersabda: “Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang. Dalam rangka Taqarrub kepada Allah. Sebagian orang yang imannya lemah berupaya mendekati sebagian penguasa dengan membuat hadits yang menisbatkan kepada penguasa agar mendapat perhatian. dari Ibnu Mahdi. kezindikan atau sekedar hobi semata. Masing-masing aliran membuat hadits-hadits palsu untuk memperkuat golongannya. Mereka yang membuat haditshadits maudhu’ ini biasanya menisbatkannya kepada golongan ahli zuhud dan orang-orang shalih. 1. Imam Malik ditanya tentang Rafidhah. Sang Amir . Motivasi-motivasi yang Mendorong Melakukan Pemalsuan Hadits Banyak niat seseorang memalsukan hadits baik timbul dari motif politik. 1. “Barangsiapa membaca ini maka ia akan memperoleh itu? Ia menjawab:”Aku sengaja membuatnya untuk memberi dorongan kepada manusia.Seperti kisah Giyats bin Ibrahim An Nakh’I Al Kufi dengan Amir Mukminin Al Mahdi. Ini merupakan asal dari kedustaan atas nama Rasulullah. lalu Al Mahdi memberinya sepuluh dirham. Maka ia menambahkan perkataan dalam hadits yang disandarkan kepada Nabi.” Bahwa kapal Nabi Nuh thawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali dan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim. Berikut adalah motivasi-motivasi mereka: 1. Mendekatkan diri kepada penguasa demi menuruti hawa nafsu.marfu’.” Ia menambahkan kata sayap (junah). 1. dia bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi:”Dari mana engkau mendatangkan hadits-hadits seperti. Diantara mereka adalah Maisarah bin Abdi Rabbihi.

Seperti yang dilakukan sebagian tukang dongeng yang mencari penghidupan melalui berbagai cerita kepada masyarakat. membuat hadits yang berbunyi:” Akan ada dari umatku seorang laki-laki . Mengikuti hawa nafsu dan ahli ra’yu yang tidak mempunyai dalil dari kitab dan sunah kemudian membuat hadits maudhu’ untuk membenarkan hawa nafsu dan pendapatnya. Mereka menambahnambahkan ceritanya agar masyarakat mau mendengar dongengannya. dan tidak ada Nabi sesudahku kecuali yang Allah kehendaki. 1. perkataan ini. yaitu. yang berbunyi:”Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang disebut Abu Hanifah Al Nu’man. 1. Hamad bin Zaid berkata: “Orang-orang zindiq membuat hadits dusta yang disandarkan kepada Rasulullah sebanyak empat belas ribu hadits. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Arab. orang-orang dungu itu telah membuat hadits maudhu’ sebanyak empat ribu. Diantara mereka adalah Abu Sa’id Al Madani. Ahmad bin Shalih Al Mishri berkata:”(Hukuman bagi) orang zindiq adalah dipenggal lehernya.” Maka seorang Arab yang jahil membaliknya. Ia meriwayatkan hadits dari Humaid dari Anas secara Marfu : Aku adalah Nabi terakhir. lalu mereka memberi upah. dia adalah penerang umatku. yaitu dengan membuat hadits yang gharib(asing) yang tidak dijumpai pada seorangpun dari syaikh-syaikh hadits. aku mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Dan orang yang tidak senang dengan Imam Asy Syafi’I. Dalam rangka meraih popularitas. Kemudian Al Mahdi memerintah untuk menyembelih burung merpati itu. 1. Mereka membolak balik sanad hadits supaya orang yang mendengarnya terperangah. ” Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Persi (AlFarisiyah). Fanatisme terhadap Imam atau Negri. Asy Syu’ubiyun memalsu hadits yang berbunyi:”Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Arab. memalsu hadits. 1. Zindiq yang ingin merusak manusia dan agamanya. Diantara mereka adalah Ibnu Abu Dihyah dan Hammad bin An Nashibi. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Persi (Al Farisiyah). 1. Dan orang yang ta’ashub(fanatik) terhadap Abu Hanifah. maka berhati-hatilah. Ketika akan dipenggal lehernya Ibnu Adi berkata:”Aku telah memalsukan hadits diantara kalian sebanyak empat ribu hadits.berkata:”Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah. Dalam rangka mencari penghidupan dan memperoleh rizki. Diantara mereka adalah Muhammad bin Sa’id Asy Syami yang dihukum mati dan disalib karena kezindikannya.

Namun dalam riwayat Ibnu Hibban terdapat kata ini. Adapun adalah perintah yang juga berarti kabar(berita). dan inilah seruan kami: 1. bersama-sama kita meningkatkan iman dan ilmiah ummat berpatok pada pemahaman salafush shalih. Syaikh Muhammad Abu Al Juwaini. 1.yang disebut Muhammad bin Idris. Orang yang berdusta atas nama Rasulullah ancamannya sangat keras. yaitu diriwayatkan 70 orang shahabat. Akhir Kata Dengan memohon pertolongan Allah. . maka hendaknya ia bersiapsiap menempati tempatnya dineraka. karya As Suyuthi. ringkasan kedua kitab diatas. Dalam riwayat Al Bukhari tidak terdapat atau dengan sengaja. di antara kitab-kitab tersebut yaitu: 1. Tanzihu Ay Syri’ah Al Marfu’ah ‘an Al Ahadits Asy Syani’ah Al Maudhu’ah karya Ibnu ‘Iraqi Al Kittani. sebagaimana Nabi bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja. menggalang ukhuwah bersama seluruh thalibul ilmi dan du’at penyeru kepada ummat. Al La’ali Al Mashnu’ah fi Al Ahadits Al Maudhu’ah. merajut al-wala hingga menjadi bangunan yang kokoh saling menguatkan. Yaitu semoga Allah menyiapkan untuknya (nereka). dia lebih bahaya atas umatku dari pada iblis. bersama seluruh golongan dan pergerakan yang haq. penghinaan atau do’a atas 10 pelakunya. karangan Ibnu Al Jauzi. Seruan untuk hijrah kepada Allah dengan memurnikan tauhid dan mencampakkan kesyirikan serta hijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya. Ancaman Bagi yang Membuat Hadits Maudhu’. Kitab-kitab Referensi Hadits Palsu Para ulama telah merupaya mengumpulkan hadits-hadits palsu supaya kaum muslimin selamat dari makar pembuatnya. ringkasan kitab diatas. 1.” Hadits ini diriwayatkan secara mutawatir. ancaman. Al Madhu’at. berpendapat bahwa kafir bagi orang yang memalsukan hadits Rasulullah dan dengan sengaja dan mengetahui (hukum berkenaan) dengan yang ia ada-adakan.

Saran dan Kritik Semua saran. Seruan untuk berwala kepada iman dan muslimin serta baro’ dari syirik dan musyrikin.1. koreksi dan kritik atau kontribusi harap dikirimkan langsung ke Kotak Komentar. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->