018_Makalah_Istilah_hadits

ISTILAH-ISTILAH DALAM ILMU HADITS 1. Hadits, atsar dan khabar a.

Hadits = Asal arti hadits ialah omongan, perkataan, ucapan dan sebangsanya. Hadits menurut bahasa berarti ‫ الجديد‬yaitu sesuatu yang baru, hadis juga ُ ْ ِ َ َْ bararti ‫ الخبر‬yaitu berita. ْ ََ َْ Menurut ahli hadits, pengertian hadits ialah segala perkataan Nabi, perbuatan dan hal ihwalnya. Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadits adalah “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan dan taqrirnya yang barkaitan dengan hokum syara’ dan ketetapannya. b. Atsar = Sedang atsar ialah perkataan sahabat sebagaimana hadits perkataan Nabi Saw Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar yaitu sesuatu yang didasarkan kepada Nabi Muhammad, sahabat dan tabi’in c. Khabar = khabar menurut bahasa adalah semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sebagai ulama mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang dating selain dari Nabi Muhammad. 2. Sanad, Matan dan Rowi a. Sanad = Kata sanad menurut bahasa adalah sandaran atau sesuatu yang dijadikan sandaran, menurut istilah sanad adalah “Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadis) yang menyampaikannya kepada matan hadits. b. Matan Matan menurut bahasa berarti mairtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi), sedangkan menurut istilah adalah :

“Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad” dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa matan adalah lafadz hadis yang diucapkan oleh Nabi Saw atau isi hadits. c. Rawi Rawi yakni yang meriwayatkan hadits Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan antara sanad, rawi dan ikatan, perhatikan contoh hadis di bawah ini:

ْ ُ ْ َ َْ ٍ َ ِ ْ َُ ََّ َ ‫حدثنا محمدبن معمر بن ربعي القيسى، حدثنا أبو هشام المححححزو‬ ِ ْ َ ْ ّ ِ َِ ِ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ ُ ََّ َ ‫مي عبد الواحد وه حو اب حن زيححاد ح حدثنا عثمححان ب حن حكي حم ح حدثنا‬ ََّ َ ٍ ْ ِ َ ُ ْ ُ َ ْ ُ ََّ َ ٍ َِ ُ ْ َ ُ َ ِ ِ َ ْ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ َ َّ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ْ ُ ْ َ ِ ِ َ ْ ُ ْ ُ ْ ُ ّ َ ُ ‫محمد ابن المنكدر عن عمران عن عثمححان ب حن عفححان قححال: قححال‬ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ُ ْ َ ْ ّ َ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ ‫رسول ال صلى ال عليه وسلم: من توضحأ ف حأ حس حن الونضحوء‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ ‫خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تح حت أظفححاره: )رواه‬ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ َ ُ ْ َ َّ ِ ِ َ َ ْ ِ ُ َ َ َ ْ َ َ َ (‫مسلم‬
Penjelasan Dari nama Muhammad bin Ma’mur sampai dengan Usman bin Affan r.a adalah sanad dari hadis tersebut. Mulai kata man tawadda’ sampai dengan kata tahta azfarih adalah matannya, sedangkan Imam Muslim yang dicatat di ujung hadits adalah perawinya.

3. Hadis Mutawatir dan Ahad a. Hadits Mutawatir Mutawatir menurut bahasa berarti mutatabi’ yakni sesuatu yang datang berikut dengan kita/ yang beriring-iringan antara satu dnegan yagn lainnya, tanpa ada jaraknya. Menurut istilah mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah belajar orang yang menurut adalah mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Pada intinya hadis

mutawatir yaitu hadist yang diriwayatkan oleh banyak orang di setiap generasi sejak generasi sahabat hingga generasi akhir. b. Hadist ahad

Kata ahad menurut bahasa berarti satu, sedangkan menurut istilah ahad adalah ishobar yang jumlah perawinya tidak sebanyak jumlah perawi hadist mutawatir. Ada juga ulama yang mendefinisikan hadist ahad secara singkat yakni hadist ahad secara singkat yakni hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir. 4. Hadis shahih hasan dan dhoi’if a. Hadis shohih Shohih menurut bahasa berarti ‫( ضد السقيم‬lawan sakit) yang berarti shah, benar, ِ ِّْ ّ ِ sempurna, sehat, ibnu al-shaleh mengartikan hadist shohih yaitu hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang yagn berwafaq adil, dan dhabil, dari orang yang berwatak seperti itu juga sampai puncaknya, hadist mana tidak yadz dan tidak pula mengandung cacat. Gambaran mengenai pengertian hadist shohih menjadi lebih jelas setelah imam syafi’I memberikan ketentuan, bahwa riwayat suatu hadist dapat dijadikan hujjah apabila 1. 2. Diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya amalan Rangkaina riwayatnya bersambung sampai kepada pagi Muhammad agamanya. atau dapat juga tidak sampai ke pada pagi. Syarat-syarat hadis shohih 1. Sanadnya bersambung 2. para perawinya bersifat adil 3. para perawinya dhabil 4. Matannya tidak syadz

5. Matannya tidak berillat b. Hadis Hasan Hadis hasan menurut bahasa berarti ‫ ما تشتهيه النفسى وتميل الي حه‬yaitu ِ ْ َِ ُ ْ ِ َ َ ُ ْ ّ ِ ْ ِ َ ْ َ َ sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sebenarnya hadis hasan itu sama dengan hadis shahih. Bedanya, kalau di dalam hadis shahih semua periwayat harus sempurna kedhabitannya. Maka dalam hadis hasan ada perawi yang kedhabitannya, kecermatan atau hafalannya kurang sempurna. Menurut para ulama, hadis hasan dapat naik derajatnya menjadi shahih karena ada hadis lain yang isinya sama diriwayatkan yagn kualitasnya tidak lebih rendah. Para ulama ahli hadis membagi hadis hasan menjadi dua bagian, yaitu hasan lidzatih dan hasan li ghairih yang dimaksud dengan hadis hasan lidzatih ialah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan. Adapun yang dimaksud dengan hadis hasan li ghoirih ialah hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan hadis hasan sec ara sempurna, atau pada dasarnya hadis tersebut adalah hadis dhaif, tetapi karena ada sanad atau matan lain yang menguatkannya maka ke dudukan hadis dhaif tersebut naik derajatnya menjadi hasan li ghairih. Ibn Ash-shalah, sebagaimana dikutip oleh Al-Qosimi menyebutkan bahwa hadis hasan li hairih ialah hadis yang sandaran dan sanadnya terdapat seorang yang mashur, bukan pelupa yang banyak kesalahannya, tidak terlihat adanya sebab-sebab yang menjadikannya fasiq dan matan hadisnya diketahui baik berdasarkan periwayatannya hadis lain yang semakna. Pengertian menurut Ibnu Ash-Shalah ini memperkuat uraian bahwa pada dasarnya hadis hasan li ghairih adalah hadis dhaif, yang memiliki syahid dan muttabi’ sehingga kualitasnya menjadi naik menjadi hadis hasan, akan tetapi, hadis yang sangat lemah seperti hadis maudu’ dan mankar dan matruk sekali pun ada syahid dan muttabi’ kedudukannya tetap sebagai hadis dhaif dan tidak dapat berubah menjadi hadis hasan. c. Hadis dhaif

2. a. Dari definisi di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadis shahih adalah hadis hasan) hilang. 4. Hadis mursal Yaitu hadis yang gugur sanadnya setelah tabi’in 2. b. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua adalah tiga syarat maka hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadis dhaif yang sangat lemah.Kata dhaif menruut bahasa berarti lemah. Secara istilah diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinsikan hadis dhaif ini. An-Nawawi mendefinsikannya dengan ِ َ َ ْ ُ ْ ُ ُ َ َ ِ َ ّ ُ ْ ُ ُ ِ ِْ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ‫مالم يو جد فيه شروط الصحة ول شروط الحسن‬ “Hadis yang di dalamn ya tidak terdapat syarat-syarat hadis sahih dan syarat-syarat hadis hasan”. Hadis dha’if yang disebabkan oleh cacat periwayatnya atau hal lain . Hadis munqathi’ Yaitu hadis yang sanadnya terdapat salah seorang yang digugurkan (tidak disebutkan namanya) baik diujung maupun dipangkal. 3. beberapa definisi diantaranya adalah: 1. Hadis mudallas Yaitu hadis yang di dalamnya ada sesuatu yang disembunyikan. Menurut Nur ad-Din’ atr mendefinisikan hadis dhaif sebagai hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul (hadis yang shahih atau hadis yang hasan). Dhaif dari segi persambungan sanadnya 1. sebagai lawan dari kasla kuat. akan tetapi pad adasarnya isi dan maksudnya sama. Hadis Mu’dal Yaitu hadis yang gugur dua orang sanadnya atau lebih secara berturutturut. berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadis dhaif.

baik berupa perkataan. Hadis mu’allal Yaitu hadits yang diriwayatkan tanpa memakai sanad 3.1. Hadis matruk Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta terhadap hadis yang diriwayatkannya atau nampak kefasikannya. tetapi bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh. baik pada perbuatan adalah pada perkataannya atau orang yang banyak lupa atau ragu. 5. seharusnya Kemudian disebut mendahulukan atau penyebutannya belakangan membelakangkan penyebutan yagn seharusn ya di dahulukan adalah dengan sesuatu pada tempat yang lain. Nabi Muhammad Saw bersabda ‫نضر ال امرأ سمع منا حديثا كما سمعه‬ ََ َ “Allah memuji orang yang mendengar hadis dari saya kemudian menyampaikannya seperti apa yang saya dengar. 2. 4. Hadis munkar Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang lemah yang menyalahi riwayat orang yang lebih terpercaya dari padanya. . orang yang lebih terpercaya lagi. Kesimpulan Ilmu hadis merupakna ilmu pengetahuan yagn mengkaji atau membahas tentang segala yang disandarkan kepada nabi SAW. Hadis maqlub Yaitu hadis yang lafalnya tertukar pada salah seorang dari sanadnya adalah nama seorang yang sanadnya. perbuatan dan taqrir. Hadis syadz Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang terpercaya.

bunyi hadis yang Dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadlis (penyembuyian cacat).1 Definisi Hadits Shahih kata Shahih ((‫ الصحيخ‬dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata assaqim ( (‫ =السقيم‬orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. Hadits Shahih I. dikenal sebagai orang yang jujur mermahami hadis yang diriwayatkan dengan baik. dan cacat (‘ilat). Defisi hadis shahih secara konkrit baru muncul setelah Imam Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah. yaitu: pertama. atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi. apabila diriwayatkan oleh para perowi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya. dan . rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi SAW.PEMBAHASAN I. diriwayatkan oleh orang adil dan dhobith(kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya. terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafad. tidak syadz dan tidak ber’ilat”. dfiriwayatkan oleh perowi yang adil dan dhobit. dalam arti adil dan dhobith. selamat dari kejanggalan (syadz). 3) Hadisnya terhindar dari ‘ilat (cacat) dan syadz (janggal). kedua. 2) Para perowinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat. Imam Bukhori dan Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut: 1) Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perowi pertama sampai perowi terakhir. mampu meriwayatkan hadis secara lafad. ‫هو ما اتصل سنده بنكل العدل الضابط ضبطا كامل عن مثله وخل ممن الشذوذ و العلة‬ hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya. Imam Al-Suyuti mendifinisikan hadis shahih dengan “hadis yang bersambung sanadnya. mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafadnya.

biasanya ulama’ hadis menempuh tata kerja sebagai berikut. bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya. dan periwayatannya pun ditolak. c. sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa atta’dil. akhbarani. haddasani. Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut: 1. dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadis shahih dapat dirumuskan sebagai berikut: a.4) Para perowi yang terdekat dalam sanad harus sejaman. Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad. dan Hambali. Sanadnya Bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perowi dari perowi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya. I. Perowinya Bersifat Dhobith . 2. dari sejak awal hingga akhir sanadnya. ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil. akhbarana. Perawinya Bersifat Adil Maksudnya adalah tiap-tiap perowi itu seorang Muslim. ‘an. Mempelajari hidup masing-masing periwayat.2 Syarat-Syarat Hadis Shahih Berdasarkan definisi hadis shahih diatas. 1. yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasani. Mencatat semua periwayat yang diteliti. 3.Maliki.anna. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fasiq. jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat. bersetatus Mukallaf (baligh). Asy-Syafi’i. keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil. sdeperti imam empat Hanafi. 2. Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad. b. atau kasta-kata lainnya.

perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan perowinya. pada shahih li-dzatih. bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah. I. dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan lainnya. Menurut al-Syafi’i. Artinya. seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal. suatu hadis tidak dinyastakan sebagai mengandung syudzudz.Maksudnya masing-masing perowinya sempurna daya ingatannya. Tidak Ber’ilat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya. baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan). Pembagian Hadis Shahih Para ahli hadis membagi hadis shahih kepada dua bagian. ingatan perowinya kurang sempurna. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhobithannya. kesaksian para ulama 2.3. a. sementara dhahirnya selamat dari cacat. sejak ia maneriama hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain. sedang periwayat yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Tidak Syadz Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz. d. Dhobith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan. bila hadisd yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah. e. ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad. dapat diketahui melalui: 1. ‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian. sedang.Hadis Shahih li dzati . ingatan perowinya sempurna. suatu hadis dinyatakan syudzudz. dhobith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan. Adapun sifat-sifat kedhobitan perowi. sedang pada hadis shahih li-ghoirih. nmenurut para ulama. yaitu shahih li-dzati dan shahih li-ghoirih. dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai pada ke-shahih-an hadis.

Hadis Shahih Li Ghoirihi Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis shahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. . karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan. Seperti periwayatan sanad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas. yaitu al-Quran dan hadis mutawatir. b. Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat’i. ashah al-asanid yaitu rangkaian sanad yang paling tinggi derajatnya. seperti periwayatan sanad dari Imam Malik bin Anas dari Nafi’ mawla (mawla = budak yang telah dimerdekakan) dari Ibnu Umar. Hadis shahih li-ghoirih. I. I. oleh karena itu.Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya. ad’af al-asanid. adalah hadis hasan li-dzatihi apabila diriwayatkan melamui jalan yang lain oleh perowi yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari padanya. Ketiga.5 Tingkatan Hadis Shahih Perlu diketahui bahwa martabat hadis shahih itu tergantung tinggi dan rendahnya kepada ke-dhabit-an dan keadilan para perowinya. hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah.bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya. Bukan berarti sama sekali dusta. mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah. Kedua. Berdasarkan martabat seperti ini. yaitu rangkaian sanad hadis yang yang tingkatannya dibawash tingkat pertama diatas. ahsan al-asanid. yaitu rangkaian sanad hadis yang tingkatannya lebih rendah dari tingkatan kedua. para muhadisin membagi tingkatan sanad menjadi tiga yaitu: Pertama. tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah.4 Kehujahan Hadis Shahih Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis shahih wajib diamalkan sebagai hujah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para uluma hadis dan sebagian ulama ushul dan fikih. seperti periwayatan Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu.

261 H). HADIS HASAN II. 354 H). e) f) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Al-Bukhari saja. Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja. Shahih Al-Abani. 5. 2.250 H). Shahih Muslim (w. 6. 7. Shahih Ibnu Khuzaimah (w. II. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori saja. Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis shahih secara berurutan sebagai berikut: 1.Dari segi persyaratan shahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. Sebagian dari definisinya yaitu: . g) Hadis yang dinilai shahih menurut ilama hadis selain Al-Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya. Shahih Ibn As-Sakan. hasan berarti al-jamal. dan lain-lain. dan juga karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya. Ibnu Hibban. 4. seperti Ibnu Khuzaimah. Mustadrok Al-hakim (w. 3. yang secara berurutan sebagai berikut: a) b) c) Hadis yang disepakati oleh bukhari dan muslim (muttafaq ‘alaih). yaitu indah. Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Shahih Al-Bukhari (w. d) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan AL-Bukhari dan Muslim. 405). Shahih Ibnu Hiban (w.1 Pengertian Hadis Hasan Secara bahasa. 311 H).

a. II. dan yang diterima kebanyakan ulama. dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabitannya dibandingkan dengan hadis hasan. sempurna ke-dhabit-annya.2 Macam-Macam Hadis Hasan Sebagaimana hadis shahih yang terbagi menjadi dua macam. definisi Tirmidzi: yaitu semua hadis yang diriwayatkan. . dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi.1. dan yang dipakai oleh umumnya fukoha’ 2. maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. maka dia menurut kami adalah hadis hasan. Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. bersanbung sanadnya. tidak cacat. definisi al. dengan kata lain. Hasan Li-Ghairih Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi. b. ke-dhabit-an perawi hadis hasan lebih unggul. dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian. definisi Ibnu Hajar: beliau berkata. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabit-annya. Tetapi jika dibandingkan dengan kedhabit-an perawi hadis dha’if tentu belum seimbang. Hasan Li-Dzatih Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan yang telah ditentukan. serta tidak ada syadz (kejangalan).3 Kehujahan Hadis Hasan Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih.Chatabi: adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya. hadis hasasn pun terbagi menjadi dua macam. ulama ushul fiqih. hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if. II. adalah hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil. Paraulama hadis. dan telah mashur rawi-rawi sanadnya. yaitu hasan li-dzatih dan hasan li-ghairih. adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal. dan fuqaha sepakat tentang kehujjahan hadis hasan. 3. meskipun derajatnya dibawah hadis shahih. akan tetapi karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’). dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis.

sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadits hasan”. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. baik pada permulaan sanad.2 Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. dari Harmalah. antara lain yaitu : 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. Jadi. HADIST DHAIF III. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi.III. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. a. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). dari Abdurrahman. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. yang seharusnya ada dalam suatu sanad.1 Definisi Hadist Dhaif Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. berarti hadits yang terlepas. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan . yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. maupun pada pertengahan atau akhirnya. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. III. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. seperti Bukhari. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda. mereka tidak sanggup menghadirinya”.

dari Abdullah bin Hasan. dari Laits. Bila dua rawi yang gugur. pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah. maka kedua rawi tersebut tidak beriringan. maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. dari Abu Bakar bin Ali Syaibah. Ya Allah. dan Ahmad bin Hanbal. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. bila masuk ke dalam mesjid. Namun. tetapi minimal gugur seorang tabi’in. ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami.hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. hadits di atas adalah hadits munqathi’. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. dari Fatimah binti AlHusain. membaca “dengan nama Allah. atau lebih. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. karena Fathimah Az-Zahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. Malik bin Anas. contoh hadits munqathi’ : Artinya : Rasulullah SAW. dari Abu Hurairah. dari Ismail bin Ibrahim. Menurut Ibnu Majah. secara beriringan dalam sanadnya. Jadi. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. dan sejahtera atas Rasulullah. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba. 3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. . dalam kitabnya “AlMuwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku.

Adapun cacat pada matan. Seperti pendusta. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan . misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif. dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. atau lalai dalam mengusahakan hafalannya. fasiq. banyak waham. ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. dari Abu Hurairah. kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa. tidak dikenal. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih. hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal . Berdasarkan riwayat Bukhari.Di dalam kitab Imam Malik tersebut. Pada umumnya. dari Rasulullah. Sering keliru. karena Bukhari bukanlah seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). dari ayahnya. hafalan yang buruk. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Dengan demikian. hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. dari Zuhri. dan Abu Salamah dari Abu Huraira. b. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa.

dari Rasulullah SAW. . maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits. seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi. berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan. “orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga. atau banyak wahamnya. ” Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. zindiq. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. “Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. atau pernah melakukan maksiat. tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. orang-orang munafik. seorang zindiq. aku halalkan barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan AlQur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Abdul Karim. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah. Jibril. yaitu: aku ( Muhammad ). mazhabnya. misalnya. atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya. maka ia dan anaknya itu masuk surga”. lalai. dari kakeknya. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam. Sedikit sejarah. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. dan Muawiyah”. ( Al-An’am : 164 ) c) “Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. yakni kaum yahudi dan nashrani. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya. atau kebangsaannya . Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’: a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’.

Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. dan menghormati tamu. namun setelah diteliti dengan seksama. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan AtsTsauri. matan. dan selanjutnya dari Ibnu umar. ( H. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. sekiranya tidak ada wanita. ataupun keduanya. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. contoh : Artinya: “Barangsiapa yang mendirikan shalat. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. dan Umar bin Khaththab. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. Matan hadits ini sebenarnya shahih. ‘Isa bin Ziyad. Contoh : Rasulullah bersabda.Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. Oleh karena itu. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. mengerjakan haji. Said bin mutstayyab. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa. sanadnya memiliki illat. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. dari ‘Amru bin Dinar. niscaya masuk surga. membayarkan zakat. Contoh : .R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . seperti : Muhammad bin ‘Imran. selama mereka belum berpisah”. dan illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad.

Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. maka jauhilah ia. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). dengan tempat tinggal di taman surga”. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu darinya. maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”.3 Kehujahan Hadits dhaif . III. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. maka kerjakanlah dia. ataupun keduanya. Batasan yang diberikan para ulama. berarti hadits yang diputarbalikkan. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. Keganjilan itu bisa pada sanad. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut.Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. pada matan. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. dan berhijrah. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawirawi yang juga dipercaya. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa.

Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. boleh digunakan untuk perkara fadahilul a’mal (keutamaan amal). maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. nasehat atau peringatan. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. Dan menariknya. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. kisah-kisah. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. • Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabit-annya Maksudnya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. Sebab dibandingkan dengan mereka. tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. mereka itu bukan orang sembarangan. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a’mal. Ketika Mengamalkannya. 1. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. Baik masalah keutamaan (fadhilah). masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. 1. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. Maka menurut para ulama.Khusus hadits dhaif. Apalagi . Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. dengan beberapa syarat: 1. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. harus didampingi dengan hadits lainnya. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau.

Ibnu Hazm dan lainnya. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. . pendiri mazhab Hanbali. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. Ibnul Mahdi. Yahya bin Mu’in. Al-Imam Muslim. juga bukan masalah hukum. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. asal bukan hadits palsu (maudhu’). Abu Bakar Al-Arabi. Di zaman sekarang ini. kami ketatkan. ‘Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Mereka adalah kebanyakan ulama. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah.kalau sampai masalah hukum dan aqidah. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadits dhaif. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. kami longgarkan. sedhai’fdha’if-nya suatu hadits. melainkan hanya sekedar berhati-hati.” 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Pendeknya. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. kisah-kisah. Bagi mereka. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. atau anjuran amal tambahan. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. atau tertuduh sebagai pendusta.

BAB III KESIMPULAN Pada materi hadits dhaif ini. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. “Demi masa. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ ْ َ ّ ِ ََ ِ ِ ْ َ ََ ٌ ِ َ ّ َ ‫وال غالب على أمره ولـكن أكثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. Sebab beda maqam dan beda posisi. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda.” (QS. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Karena sesungguhnya Allah SWT. berfirman : “(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang . perbuatan.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehatmenasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi kebenaran”.”(QS Yunus 36). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya.Semua keterangan di atas. baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebabsebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. sanad. jelas bukan pendapat kami. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ). dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. maupun matannya.

jika memang terdapat hadits yang terbukti lemah ( dhaif ) ini sekiranya bermakna positif bagi kita dan dapat memotivasi dalam pengamalan hidup sehari-hari. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. hadits dhaif I. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. Karena itu. . Pendahuluan Pada makalah ini akan dibahas mengenai sebab-sebab kedhaifan hadits. kita diharapkan dapat mengetahui sejarah orang-orang yang meriwayatkan hadits berdasarkan kekuatan hafalan mereka. Namun. Sangat penting membahas seputar hadits dhaif. karena di sini kita akan mengetahui bagaimana proses periwayatan hadits yang berasal dari Rasulullah atau bukan berasal dari beliau. Tidak hanyas sebatas sampai di situ. macam-macam hadits dhaif. serta kehujjahannya menurut pendapat para ulama. pandai berdebat tentang dalil. Selain itu. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Banyak ilmu saja tidak cukup. Tidak jarang. termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. orang pintar bicara.Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap.

yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. dan tidak pula menghimpun sifatsifat hadits hasan”. hadits munqathi’. dan hadits muallaq. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. 2. Pembahasan 1.II. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. maupun pada pertengahan atau akhirnya. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. a. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. antara lain yaitu : hadits mursal. hadits mu’dhal. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah . Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. baik pada permulaan sanad. berarti hadits yang terlepas.

Namun. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal.hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. Jadi. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. dan Ahmad bin Hanbal. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. maka rawi menjelang akhir . Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. dari Harmalah. mereka tidak sanggup menghadirinya”. dari Abdurrahman. Malik bin Anas. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda. seperti Bukhari. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah.

sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Bila dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. contoh hadits munqathi’ :

Artinya : Rasulullah SAW. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Ali Syaibah, dari Ismail bin Ibrahim, dari Laits, dari Abdullah bin Hasan, dari Fatimah binti Al-Husain, dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Menurut Ibnu Majah, hadits di atas adalah hadits munqathi’, karena Fathimah AzZahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in.

3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits

mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba, dalam kitabnya “Al-Muwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Di dalam kitab Imam Malik tersebut, tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan , dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik, dari Zuhri, dan Abu Salamah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Berdasarkan riwayat Bukhari, ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. Dengan demikian, Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. Pada umumnya, yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif, kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih, karena Bukhari bukanlah

seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. b. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa, hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuhmusuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani, orang-orang munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya, mazhabnya, atau kebangsaannya . Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya.

“Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’:

a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam; ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya, dari kakeknya, dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah, tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. “Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. ( AlAn’am : 164 )

“Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad, maka ia dan anaknya itu masuk surga”.

“orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga, yaitu: aku ( Muhammad ), Jibril, dan Muawiyah”. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. Sedikit sejarah, berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan, seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi, misalnya, ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan Al-Qur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Abdul Karim, seorang zindiq, sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits; aku halalkan

Oleh karena itu. lalai. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. ‘Isa bin Ziyad.barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. mengerjakan haji. dan illat . dan Umar bin Khaththab. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. Said bin mutstayyab. sekiranya tidak ada wanita. seperti : Muhammad bin ‘Imran. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. contoh : “Barangsiapa yang mendirikan shalat. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. atau pernah melakukan maksiat. dan menghormati tamu. ( H. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. niscaya masuk surga. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa.R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . membayarkan zakat. atau banyak wahamnya.

dengan tempat tinggal di taman surga”. sanadnya memiliki illat. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. Contoh : Rasulullah bersabda. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu . ataupun keduanya. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. berarti hadits yang diputarbalikkan. dan selanjutnya dari Ibnu umar. maka kerjakanlah dia. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. matan.yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad. Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan Ats-Tsauri. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). Contoh : Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. Matan hadits ini sebenarnya shahih. dan berhijrah. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. dari ‘Amru bin Dinar. selama mereka belum berpisah”. namun setelah diteliti dengan seksama. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu.

maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”. maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. dengan beberapa syarat: a. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. Kehujjahan hadits dhaif Khusus hadits dhaif. ataupun keduanya.darinya. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. 3. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. Batasan yang diberikan para ulama. boleh digunakan untuk . pada matan. Maka menurut para ulama. maka jauhilah ia. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. Keganjilan itu bisa pada sanad.

Ketika Mengamalkannya. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. b. Di zaman sekarang ini. Sebab dibandingkan dengan mereka. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabitannya Maksudnya. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. Baik masalah keutamaan (fadhilah). Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. Abu Bakar Al-Arabi. Ibnu Hazm dan lainnya. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. Dan menariknya. mereka itu bukan orang sembarangan. . ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap . Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga.Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. kisah-kisah. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing.perkara fadahilul a'mal (keutamaan amal). ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. Pendeknya. nasehat atau peringatan. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a'mal. Yahya bin Mu'in. AlImam Muslim. c. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. harus didampingi dengan hadits lainnya. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah.

para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. sedhai'f-dha'if-nya suatu hadits. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. Mereka adalah kebanyakan ulama. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Ibnul Mahdi. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. melainkan hanya sekedar berhati-hati. pendiri mazhab Hanbali. Sebab beda maqam dan beda posisi. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Selain itu juga ada nama AlImam Abu Daud." 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. kisah-kisah. Sedangkan hadits dha'if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta.menerima semua hadits dhaif. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. Semua keterangan di atas. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. jelas bukan pendapat kami. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. kami longgarkan. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. Bagi mereka. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. 'Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. asal bukan hadits palsu (maudhu'). Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. juga bukan masalah hukum. atau anjuran amal tambahan. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. kami ketatkan. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. . atau tertuduh sebagai pendusta.

berfirman : "(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. Sesung.” (QS.guhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi . “Demi masa."(QS Yunus 36). َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ َ ّ ‫َ ّ َ ِ ٌ ََ َ ْ ِ ِ ََ ك‬ ‫وال غالب على أمره ولـ ِن أكْثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. Kesimpulan Pada materi hadits dhaif ini. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Karena sesungguhnya Allah SWT. Penutup 1.IV. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ).

Pengertian Hadist Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. Karena itu. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. maupun matannya.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebab-sebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga . sanad. Tidak jarang.kebenaran”. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. orang pintar bicara. perbuatan. pandai berdebat tentang dalil. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). Namun. termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. Banyak ilmu saja tidak cukup. dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah).

". ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama.. "Kami terbiasa. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). perbuatan.disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda). contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Shu'bah. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. mauquf (terhenti) dan maqtu' : Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya).. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah.. Matan ialah redaksi dari hadits. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan.". maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi)... Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an. Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. . Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Ibnu Abbas dan Ibnu AlZubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". "Kami dilarang untuk. hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat).

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits Munqati'. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad... Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. Mu'dal dan Mursal. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu.Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Hadits mutawatir. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Hadits Mursal. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Munqati'. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi.. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). Mu'allaq. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Science of Hadits). hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. . Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.

bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. berakhlak baik. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: Sanadnya bersambung. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani . hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits Dhaif (lemah). yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. mengandung kejanggalan atau cacat. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. Aziz. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib. Hadits Mu'allal.Background Hadits ahad. memiliki sifat istiqomah. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. hasan. serta matannya tidak syadz serta cacat. Mashur. da'if dan maudu' Hadits Shahih. tidak fasik. Hadits Mungkar. mu’allaq. terjaga muruah (kehormatan)nya. dan kuat ingatannya. Hadits Maudu'. mudallas. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur.

disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. . disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolaholah tidak ada cacatnya. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. Hadits Mudallas. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat). padahal sebenarnya ada. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. Hadits Mudlthorib. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. Aturan-aturan ini. baik dalam sanad atau pada gurunya. Hadits Maqlub.bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits Mudraj. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Daud. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. Selain itu. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). termasuk: Shahih Bukhari. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta' dari Imam Malik. ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. Hadits Munqalib. Hadits Syadz.

Imam Bukhari. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi'ah diklaim memusuhi Ali. istri Muhammad saw. seperti Aisyah. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. 1. melalui Fatimah az-Zahra. terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq 'Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. Imam Muslim dan Ibnu Majah. yaitu hadits yang shahih dan hasan. Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua. Imam Bukhari. Imam Nasa'i dan Imam Ibnu Majah.Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. yang melawan Ali pada Perang Jamal. yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). Hadits Yang Diterima (Maqbul) . dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). Imam Abu Daud. Imam Bukhari dan Imam Muslim. Imam Turmudzi. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi Al-Istibsaar Al-Tahzeeb Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin Shahih Bukhari Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. Imam Muslim. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif.

Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran. menjauhi dosa-dosa kecil. Hadits Shahih 1. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. 1. 1. yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil. 2. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: . dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith).1. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. 1. memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. Definisi: Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar. tidak ber’illat dan tidak janggal. Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih.Hadits yang diterima dibagi menjadi 2 (dua): 1. Definisi Secara bahasa. 1. tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. 1. sanadnya bersambung-sambung. Hadits Hasan 1.2. Hasan adalah sifat yang bermakna indah. maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: • • • • • Rawinya bersifat adil. menguasai apa yang diriwayatkan. tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits. artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. 2. 1. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya. sempurna ingatan. Sedangkansecara istilah.

2. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah.Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya). Di antara contoh hadits ini adalah: ‫لول أن أشق على أمتي لمرتهم بالسواك عند كل صلة‬ Seandainya aku tidak memberatkan umatku. yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat . Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya. Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta.2. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. 1. yang kurang kuat ingatannya.

Andaikata tidak ada 'Adhid. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya. naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. Ringkasnya. Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: ‫" أرضيت من نفسك ومالك بنعلين؟ قالت: نعم، فأجاز‬Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. *** 2. maka kedudukannya dhaif. "Ya. maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya. bukan pelupa yang banyak salahnya. namun karena ada ada mu'adhdhid. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat." Maka nabi SAW pun membolehkannya. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain. yaitu hadits yang tertolak. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. atau dengan ada beberapa sanad lain.Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya). Hadits ini asalnya dhaif (lemah). hanya sebagian orang yang bodoh dan awam . yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid. hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah). As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan. maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul).

Adapun kalau dengan sanadnya. kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. Karena Sanadnya Tidak Bersambung • • • • Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 2.1 Definisi: Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan.2.1 Adanya Kekurangan pada Perawinya Baik tentang keadilan maupun hafalannya. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah.2. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya. 3. mereka tidak mengingkarinya .2. 2.yang memasukkannya ke dalam hadits. misalnya karena: • • • • • • • • Dusta (hadits maudlu) Tertuduh dusta (hadits matruk) Fasik. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum. 2.2. 2. hanya saja karena satu sebab tertentu. yaitu: 2. yaitu banyak salah lengah dalam menghafal Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal Menyalahi riwayat orang kepercayaan Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) Penganut Bid’ah (hadits mardud) Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 2. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas. Penyebab Tertolak Ada beberapa alasan yang menyebabkan tertolaknya Hadits Dhaif.

hukum thalaq dan lain-lain. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif. Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal. melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar. Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW. selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu). Demikian juga dengan hukum jual beli. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal.3. hukum akad nikah. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. . yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. sementara derajat periwayatannya lemah. Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. Imam Al-Bukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits.2. Sedangkan setiap amal sunnah. maka orang itu salah seorang pendusta. Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah.

antara lain: 1. 2009 pukul 12:50 pm · Disimpan dalam Ilmu Hadits Oleh: Dede KS. الخبر‬berita. ‫اذا كان سبب الطعن فى الروى هو الكذ ب على رسول ال فحد يثه يسمى الموضع‬ . Haliman A. selain itu hadits pun berarti ‫ . Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. mengada-ngada atau membuat-buat. Lc Januari 25. Adapun pengertian hadits maudhu’ (hadits palsu) secara istilah ialah: ‫ما نسب الى رسول ال صلى ال عليه و السلم إختلفا و كذبا مما لم يقله أويقره‬ ّ Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah secara dibuat-buat dan dusta. wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.الجديد‬yaitu sesuatu yang baru. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. dilihat dari sudut apakah hadits itu bisa diterima ataukah hadits itu tertolak. Dr. 2. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. 3. maka haditsnya tidak bisa dipakai. Mustafa Azmi. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. Yaitu sesuatu yang diberitakan. Ahmad Sarwat. Wallahu a'lam bishshawab. Demikian sekelumit informasi singkat tentang pembagian hadits. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. Sedangkan ‫ موضع‬merupakan derivasi dari kata – ‫وضع‬ ‫ يضع – وضعا‬yang secara bahasa berarti menyimpan. Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. Pengertian Hadits Maudhu ‫ الحديث‬secara bahasa berarti ‫ . diperbincangkan.Lagi pula. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu. padahal beliau tidak mengatakan dan memperbuatnya. dan dipindahkan dari seseorang kepada orang yang lain. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya. Mahmud Thahan didalam kitabnya mengatakan.

Golongan Syiah yang paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. tidak pernah ada seorang sahabatpun yang sengaja berbuat dusta kepadanya. Menurut jumhur muhadditsin. kemudian Khawarij. beliau lalu mencium Fatimah” Kepalsuan hadits ini sangat jelas sekali. Sejarah Perkembangan Hadits Palsu Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits. Jibril datang memberikan buah Safarjalah dari surga. من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ ّ ّ ّ ّ Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Motif-motif yang mendorong pembuatan hadits maudhu’ Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk membuat hadits palsu (maudhu’). Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait.Apabila sebab keadaan cacatnya rowi dia berdusta terhadap Rasulullah. tidak tercantum didalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan Asbabul Wurud. Menurut Ahmad Amin. yaitu diantaranya: a. maka haditsnya dinamakan maudhu’. Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain. Kemudian sayyidah Khodijah menghubungkan buah tersebut dengan Fatimah. Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam . C.Mudatsir didalam bukunya Ilmu Hadits. mereka pun membuat hadits-hadits untuk menyerang golongan yang lain. Misal munculnya Syiah. bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman khalifah Ali bin Abi Thalib. hadits masih bisa dikatakan selamat dari pemalsuan. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut: a. Disamping mereka membuat hadits-hadits palsu untuk memuji golongan mereka sendiri. Akan tetapi pendapat ini kurang disetujui oleh H. ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) Dan pengertiannya secara istilah beliau mengatakan ‫هو الكذب المختلق المنصوع المنسوب الى رسول ال صلى ال عليه والسلم‬ Hadits yang dibuat oleh seorang pendusta yang dibangsakan kepada Rasulullah ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) B. selain itu pemalsuan hadits dijaman Rasulullah Saw. sebab Khodijah telah meninggal sebelum peristiwa Isra. Karena itu apabila Rasulullah rindu akan bau-bauan surga. Misalkan hadits yang mereka buat sebagai berikut: ‫لما اسرى النبي اتاه جبريل بسفرجلة من الجنة قاكلها فعلقت السيدة خديجة بقاطمة فكان اذاشتاق الى رائحة‬ ‫الجنة شم فاطمة‬ “Ketika Nabi diisra’kan. telah terjadi pemalsuan hadits. Misalkan mereka membuat hadits untuk menjelek-jelekan Muawiyah sebagai berikut: ‫ااذا رايتم معاوية على منبرى فاقتله‬ “Apabila kamu melihat Muawiyah berada diatas mimbarku. maka bunuhlah dia” a. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan hadits-hadits palsu. bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw. bahkan mereka pun menciptakan hadits tentang keutamaan Fatimah. Dan data menunjukan sepanjang masa Rasulullah Saw. b. beliau beralasan dengan sebuah hadits yang matannya ‫. dengan alasan Ahmad Amin tidak mempunyai alasan secara histories. Kaum Syafi’i mengatakan “saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum Rafidhah”.

kedaerahan. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi” Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu pula. sebagai pelita umatku” Ada juga golongan Syafi’iyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah: “Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris. yang paling menggetarkan umatku daripada iblis” a. Dan diantara contoh haditshadits palsu yang bermotiv karena kultus terhadap imam diantaranya: ‫سيكون رجل في امتي يقال ابو حنيفة النعمان هو نوراامتي‬ “Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Nu’man. Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq. dan kultus terhadap Imam mereka. maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dengan maksud untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits palsu dalam bidang aqidah. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang terbuat dari mutiara putih. misalkan kisah-kisah yang menggembirakan tentang surga: “Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. kebahasaan. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. “Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah. . kesukuan. pengobatan dan hokum tentang halal dan haram. akhlaq. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat. Fanatik kebangsaan. a. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang berjalan”. Yang demikian itu tetap berjalan selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun” a. Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya. mereka membenci melihat kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah: “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah. diantaranya dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa. dank arena memang kejahilan seseorang didalam ilmu agama. membuat hadits palsu: ‫من رفع يديه في الصلة قل صلة له‬ “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya” Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu. Mereka yang ta’asub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan hadits maudhu sebagai berikut: ‫ان ال اذا غضب انزل الوحي بالعربية واذا رضى انزل الوحي بالفارسية‬ “Sesungguhnya Allah apabila marah. dengan berkendaraan unta kelabu.

Qorinah-qorinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits palsu (maudhu). seperti pengakuan salah seorang guru tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an. kami ciptakan hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an. hadits mutawatir. Misalnya Hadits maudhu yang dinukil dari perkataan seorang alim mutaqaddimin: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. serentak ia menjawab: “Tidak seorangpun yang meriwayatkan hadits kepadaku. Ciri-Ciri Hadits Maudhu a. Dalam hal matan Ciri-ciri yang terdapat pada matan hadits palsu atau hadits maudhu. Suka Be the first to like this post. 2. maka makna hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an. Dan kadang-kadang menukil perkataan sesorang yang dianggap alim pada waktu itu. atau perkataan orang alim mutaqaddimin. b.D. ijma dan akal sehat. dalam menjalankan aksinya kadang-kadang mengambil dari pikirannya sendiri. Hadits ini mereka (para pembuat hadits palsu) katakan bersumber dari nabi. padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. Permalink Pengertian. Dalam hal Sanad Pengakuan dari sipembuat sendiri. 3. 1. Atau menerima dari seorang guru yang sudah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. Hadits maudhu memang yang paling banyak tidak memiliki sanad. Dari segi makananya. Sumber-Sumber Yang Diriwayatkan Para pembuat hadits maudhu. dapat ditinjau da ri segi makna dan segi lafadznya. Hukum Periwayatan Hadis Maudhu’ 24 Apr . Akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama benci terhadap Al-Qur’an. Misalnya seorang rowi mengaku menerima hadits dari seorang guru. E. padahal ini merupakan perkataan Malik bin Dinar. Adapun dari segi lafadznya yaitu susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih.

. karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. Oleh karena itu. Demikian seterusnya. Oleh karena itu. Fanatisme golongan. sebagian dari mereka berupaya menakwilkan Al-Qur’an dan menafsirkan sebagian hadits dengan arti yang menyimpang. Banyak Muncul Di Irak Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. Pada masa tabi’in (murid para sahabat) pemalsuan hadits lebih sedikit dibandingkan dengan pada masa tabiut tabi’in (murid tabi’in) karena masih banyak sahabat dan tabi’in yang mengamalkan sunnah. Namun. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. Sebab Munculnya Hadits Maudhu’ Ada beberapa faktor yang mendorong pemalsuan hadits: • Pertama. Akan tetapi kondisi tersebut berubah tatkala umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan. dan sebaliknya kelompok tersebut juga membuat hadits palsu untuk membela diri.Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Munculnya hadits palsu diperkirakan mulai tahun 41 H. Di dalam ilmu hadits. Setelah khalifah Ali wafat. Mereka dapat membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang palsu. kelompok Syi’ah menuntut hak mereka untuk menduduki kursi khalifah. Setiap kelompok menopang argumentasinya dengan Al-Qur’an dan Hadits. Muslim) Selama umat Islam di bawah kepemimpinan khulafa’ al arba’ah (4 khalifah pertama). yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. Hadits-hadits palsu munculnya bersamaan dengan munculnya berbagai kelompok itu. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. Selanjutnya muncullah kelompok-kelompok lain berbasis agama. maka ia akan masuk neraka. sehingga muncul sekumpulan hadits palsu. Para pemalsumembuat hadits untuk menyerang kelompok lainnya. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. mereka berupaya mengubah dan memasukkan tambahan ke dalam hadits dan melakukan pemalsuan atas nama Rasulullah SAW.” (HR. hadits Nabi SAW senantiasa tetap bersih. Hadits maudhu’ dikaegorikan hadits mardud (tertolak). tidak ternoda kedustaan. dilihat dari dua hal. usaha mereka ini tidak membuahkan hasil karena keberadaan jumlah penghafal Ql-Qur’an dan para ulama dari kalangan sahabat dan murid-muridnya masih sangat banyak.

Pada masa pemerintahannya. diskriminasi etnis dan fanatisme kabilah. Pada masa-masa akhir khulafaur rasyidin. Contohnya adalah. Sejak pertama. Misalnya hadits. Maka muncullah kelompok Mawalli (kaum muslimin non Arab). Dia menciptakan seekor kuda kemudian menjalankan kuda itu maka berkeringatlah kuda. ALLAH mewahyukan dengan bahasa Persia. etnis dan kabilah. sebagian mereka bersikap fanatis terhadap kebangsaan Arab dan bahasa Arab. Hal itu mereka lakukan untuk menodai Islam. yang berupaya mewujudkan persamaan hak. atau kuda. Ghiyats bin Ibrahim berdusta untuk khalifah Al-Mahdi dalam hadits. “Dari air yang berlalu (tidak diam). Ibnu Abi Hadid berkata. Sebagai contoh: diriwayatkan bahwa ada yang bertanya. negara dan imam. dilakukan oleh Syi’ah. “atau sayap”. secara khusus mengandalkan etnis Arab. Para pendongeng ini membuat membuat hadits palsu dengan tujuan untuk mendapatkan uang. Maka mereka berusaha menjauhkan kaum muslimin dari aqidahnya dengan menciptakan kebathilan dan berdusta atas nama Rasulullah SAW.” Kemudian Ghiyats menambahkan.” • Ketiga. Inilah yang mendorong mereka memalksukan hadits-hadits. mereka memalsukan hadits yang berbeda mengenai Ali. dinasti Umayyah. merekapun memalsukan hadits tentang Abu Bakar sebagai tandingan hadits yang dibuat oleh Syi’a • Kedua. tendensi duniawi berupa popularitas dan usaha menjilat penguasa. benar-benar terjadi pada masa masa Abbasiyah. terbuat dari apakah Tuhan kita? Rasulullah SAW menjawab.”Selain hadits palsu yang berbicara tentang bahasa. Pemalsuan itu didorong rasa permusuhan terhadap lawan. “Pertama kali kedustaan dalam hadits tentang keutamaan (fadhilah). ketika ia melihat Al-Mahdi bermain-main dengan burung dara. Namun mereka tidak mampu untuk membalas dendam dengan pedang karena kekuasaan Islam telah sedemikian kokoh. Mereka memanfaatkan gerakan pemberontakan dengan cara bergabung ke dalamnya. Al-Mahdi . muncul kelompok-kelompok pendongeng dan penasihat yang jumlahnya terus bertambah. dan jika Dia mewahyukan ancaman maka dengan bahasa Arab. mereka berupaya menandingi kebanggaan etnis Arab. Hal ini. “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar ‘Arsy adalah dengan bahasa Persia. Kemudian Dia menciptakan diri-Nya dari keringat kuda itu. dan jika ALLAH mewahyukan sesuatu yang menggembirakan. kekuasaan Kisra dan Kaisar roboh. • Keempat. Selain itu. tidak dari bumi dan tidak pula dari langit.Dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghah. Setelah kehadiran Islam. Ketika Al-Bakriyah (pendukung Abu Bakar) melihat apa yang dilakukan Syi’ah.Ada pula yang menjilat para penguasa dengan membuat hadits yang dapat memuaskan mereka. “Tidak ada perlombaan kecuali untuk unta. “Wahai Rasulullah. panah. Usaha untuk mendiskreditkan Islam. hadits pasu juga dibuat tentang kelebihan negara atau imam tertentu.

karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. • Kelima. Madzhab sesat ini mengklaim bolehnya memalsukan hadits dalam rangka targhib wa tarhib (menganjurkan manusia berbuat baik dan menakut-nakuti manusia agar tidak bermaksiat). meriwayatkan hadits palsu adalah haram. Lc 1. Juni 08. “Kami berdusta untuk kebaikan Beliau. Nur Ihsan M. 2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ). Muslim) Meski beberapa hadits sering kita dengar.” Haram Meriwayatkannya Hadits palsu adalah hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil. . Bahkan menurut kesepakatan ulama.” (HR. Berdasarkan hadits. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. Mereka berdalil dengan hadits “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. ‫ ( الختل ق‬mengada-ngadakan ) 4. ‫ ( اللصاق‬menyandarkan / menempelkan ) Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena 1 Rendah dalam kedudukannya. 4 Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya. maka ia akan masuk neraka. maka ia akan masuk neraka.kemudian menyuruh orang iuntuk menyembelih burung merpati tersebut dan memberikan kepada Ghiyats sebanyak uang 10. pemahaman yang keliru dari madzhab al-karramiyah.” Mereka beralasan. 2009 Oleh: Abu Fudhail. ‫ ( السقاط‬menjatuhkan ) 3. kita harus memastikan terlebih dahulu keshahihannya sebelum menjadikannya dalil atau mengamalkannya. 3 Diada-adakan oleh perawinya.000 dirham. “dengan sengaja untuk menyesatkan manusia. ‫ ( الحط‬merendahkan ) 2. Definisi Hadits Maudhu’ Secara etimologi : maudhu berasal dari kata ‫ وضع‬yang mempunyai beberapa makna diantaranya 1.Idris. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku.” Dengan ditambahi lafadz. bukan untuk menodai Beliau. Diposkan oleh Markaz As-Sunnah di Senin. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku.

2.Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut 4. Hukum Meriwayatkan hadits maudhu Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda: َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ٌ ِ َ ُ َّ َ ُ ٍ ِ َ ِ َّ َ ّ َ ْ َ ‫من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين‬ Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta. bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam ِ ّ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ْ ّ َ َ َ ْ َ ً ّ َ َ ُ ّ ََ َ َ ‫َ ْ ك‬ ‫من َذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka ( Riwayat Bukhari. Perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah r 2. Hadits maudhu adalah hadits yang paling rendah kedudukannya. 3. pada dusta yang disengaja saja. Hukum Berdusta Atas Nama Nabi Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk. Pembagian hadits Maudhu Hadits mudhu ada 3 macam: 1. Perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu .Muslim) Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga. Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia dusta.

Polemik politik Dari sebab pembunuhan Utsman radhiyallohu anhu kemudian fitnah Ali radhiyallohu anhu dan Mu’awiyah radhiyallohu anhu terpecahlah kaum muslimin mennjadi tiga . dan yang pertama kali mempeloporinya adalah Syiah. dan Mu’awiyah radhiyallohu anhum jami’an. mereka membuat hadits palsu tentang keutamaan Ali radhiyallohu anhu. Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits a. Umar. Pada zaman mereka tidak terjadi pemalsuan hadits. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits A. Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman. fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. dan yang keluar yang memberontak pada Ali radhiyallohu anhu. Perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya . Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam .Utsman. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). Jenis ketiga ini masuk hadits maudhu apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya 5. kubu Ali radhiyallohu anhu.yang menjadikannya hadits. kemudian kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu berbuat demikian pula. setelah itulah muncul orangorang yang ta’asub (fanatik) pada golongan tertentu. pendapatnya ini hanya dibangun atas persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali b. memalsukan hadits mengenai Abu Bakar. Cuma dia keliru. Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah) 6. Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. wasiat imamah (pengganti Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan mut’ah Contoh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al Ataki dari Anas radhiyallohu anhu dari Salman .Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: a. Kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu. 3.

radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ali radhiyallohu anhu ‫هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي‬ Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku. Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu nuskhoh ( kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279) B Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkata ‫إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه‬ Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia. Bahasa 4. Zindik (munafik) Karena penaklukan dari tentara kaum muslimin maka masuklah beberapa orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keIslaman 7. Tukang cerita c Ar-Targiib wa Tarhib ( Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh. Pada khalifah dan pemimpin 2. Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan AlHakam bin Sohir. Sebab Tersebarnya Hadits Palsu a . Fanatisme kepada: 1. b. . Negeri 3. Mazhab b.

apakah hadits ini dikenal maka diambil dan jika tidak maka tidak diambil.Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an. Memastikan keshahihan riwayat dengan beberapa cara 1. Al Jami’ 2:224) 3. seperti untuk melariskan dagangannya sehingga membuta hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan barang yang dijualnya 8. dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an d Tujuan dunia dan harta. Pencurian hadits 9. Metode Pemalsu dalam Memalsukan Hadits 1. Memasukkan beberapa lafaz pada hadits shohih 3. .Berkeliling daerah menyebarkannya 10.Bertanya dan memeriksa isnad ( para perawi hadits ) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad ibnu Sirin seorang tabi’in (wafat 110 H) dia berkata Ahli hadits pada awal tidak bertanya tentang isnad maka takkala pada fitnah. Metode Pemalsu Hadits dalam Menyebarkannya a Memasukannya kedalam buku atau kumpulan hadits b. Membuat hadits yang tidak punya asal 2.membuat buku dalam hadits/kumpulan hadits c. Penelitian dan penyeleksian dalam riwayat hadits. Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1.Bepergian mencari hadits Imam Abu ‘Aliyah berkata kami telah mendengar dari shahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di Basrah tetapi kami tidak puas sampai mendengar langsung dari mulut sahabat di Madinah maka kami safar ke sana ( Al-Khatib. mereka berkata ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ ّ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ َ ّ َ ‫سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فل يؤخذ حديثهم‬ Sebutkan orang-orangmu (yang kamu ambil hadits darinya) kalau ia dari AhlusSunnah dia ambillah dan kalau ia ahli bid’ah ditinggalkannya 2.

Al La’ali al Mashnu’ah fil Ahadits al Maudua’ah oleh Imam as-Suyuti (wafat 911 H) 3. Al Maudhu’at oleh Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) 2. a.000 hadits.b. Kaidah Umum untuk Mengetahui Hadits Palsu. Silsilah Al-Ahadits Al-Dhoifah wal Maudhu’ah oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albany Rahimahumullah (wafat pada tahun 1420 H) 12. Hammad bin Zaid berkata: zindik munafik memalsukan kurang lebih 12. c. Pemisahan hadits shohih dan selainnya. 2. Menentukan daerah penyebaran hadits dhaif dan meninggalkan meriwayatkan hadits dari mereka ini . Ilmu jarh wa ‘tadil 3.Kumpulam hadits-hadits palsu dan kadangkala digabung dengan hadits dhaif lainnya Diantara buku tersebut 1.Kumpulan rawi pemalsu hadits b. Mengumpulkan hadits palsu dan membongkar kepribadian pemalsu hadits 1. Khusus hadits-hadits palsu disusunlah a. 4. Yahya bin Abi katsir dan Abu Ishak. namun dari ahli Iraq banyak pula ahli hadits diantaranya Qatadah. Ilmu ruwah/ biografi setiap rawi 2. 2. secara asal terutama ahli iraq (kuffah dan basrah) . Pengakuan sang pemalsu. Berkata Ibnu Mahdi saya memanggil Isa bin Maimun pemalsu hadits karena riwayatnya dari Al-Qosim maka ia mengatakan saya tidak akan mengulang 11. Imam Al-Khotib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ismail bin ‘Ayyash berkata saya pernah berada di Iraq kemudian saya didatangi ahli hadits di kota itu dan berkata ada orang yang mengatakan bertemu dengan Kholid bin Ma’dan maka saya mendatangi dan bertanya kapan anda mendengar dari Khalid katanya tahun 113 H . Adanya dalil yang menujukkan pengakuan yang menunjukkan sang pemalsu contoh seperti ditanya tentang waktu dan tempat bertemu syekh tapi mustahil keduanya bertemu. Hasil Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1.Tanda pemalsuan pada isnad hadits 1.

Kholid wafat tahun 106 H( al Khotib.Diketahui dari keadaan sang perowi Seperti meriwayatkan tentang bid’ahnya b. Bertentangan dengan nash al-qur’an sunnah dan ijma yang jelas Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at yang menyebutkan hadits ِ ِ َ َ ُ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ُ َ َ َ َ ْ ‫َ َ ْ ُل‬ ‫ل يدخ ُ الجنة ولد الزنا ول والده ول ولد ولده‬ Tidak masuk surga anak zina. 3.saya berkata engkau mengaku mendengar dari Khalid setelah 7 tahun kematiannya.123). Pengaruh dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu Hadits-hadits palsu yang banyak beredar di tengah masyarakat kita memberi dampak dan sangat buruk pada masyarakat Islam diantaranya: 1 Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat 2 Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah . bapaknya dan cucunya Apakah dosanya sebagai anak sehingga menghalangi ia masuk surga bukankah Allah I berfirman ‫ول تكسب كل نفس إل عليها ول تزر وازر ٌ وزر أخرى‬ َ ْ ُ َ ْ ِ ‫َ َ َ ْ ِ ُ ُ ّ َ ْ ٍ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ َ ِ ُ َ ِ َة‬ “Tidaklah seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali kepada dirinyasendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (AlAn’am 164 ) 1. al-Jami’ 1. Bertentangan dengan akal sehat yang tidak mengandung penafsiran yang lain atau kenyataan yang ada 1. Keganjilan lafaz dan bahasanya seperti hadits ‫من أكل من الطين واغتسل به فقد أكل لحم أبيه آدم واغتسل بدمه‬ Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi dengan darahnya” ( Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil 5:1837 ini hadits yang batil) 13 .Tanda pemalsuan pada matan 1.

Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad . Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa.3 Matinya sunnah. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian. Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan tempat yang harus dipedomani. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan.

[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu. Menurutnya dari kata al-wadh dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. Namun. B. BAB II PEMBAHASAN A.kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. . Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2.[4] Dr. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu.

pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan.[6] Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. 2. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Menurut mereka. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan . Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. antara lain: 1.Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. Misalnya. Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis.

Dalam menjalankan pemerintahannya. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. Mereka berkata. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. kelompok. Fanatik Terhadap Suku. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. kesesaatan dan tipu muslihat. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”.kejayaan pemerintahannya.[8] Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. Diantaranya adalah: . Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. bangsa. dan lain-lain. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. 3. Oleh karena itu. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. Bangsa. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. bahasa setan adalah bahasa Khauzi.

Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Melihat hal ini. Namun. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ “Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi. Mengenal Hadis Palsu . Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. C. terlepas dari itu. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka. hal ini sangat disesalkan. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu.‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara.[10] 5. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. Menurut Ajaj al-Khatib.

Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah.[14] d. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c. Tanda hadis palsu pada matan a. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. Rusaknya makna (arti) hadis. saya tidak akan mengaku. hadis anu…”. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi.[15] . para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya.[12] 2. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. hadis mutawatir atau ijma.Untuk mengenal hadis palsu. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. b. 1. santun dan enak dirasakan. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. Ketika sakit Abu Jazi berkata. Buruknya redaksi hadis. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. c. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’.

[17] 3. Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk . kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. dan lainnya. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. Memilih Perawi Yang Terpercaya Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. mereka berkata. disamping telah dibukukannya hadis.D. Abu al-Aliyah berkata. [16] 2. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. Oleh karena itu. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. 4. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. yaitu: 1.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. menyenangkan penguasa. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. 3. dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan.lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. membangkitkan gairah ibadah. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan . dan fanatisme. 2.

Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. BAB II PEMBAHASAN A. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya dari kata al-wadh . Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah.tempat yang harus dipedomani. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian.[4] Dr.

Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Menurut mereka. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. Misalnya.[6] . Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2. kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. antara lain: 1. Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. B. Namun. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis.

Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan kejayaan pemerintahannya. Mereka berkata. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. kesesaatan dan tipu muslihat. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. 2.[8] . “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam.Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an.

dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ . Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. Oleh karena itu. Diantaranya adalah: ‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. Dalam menjalankan pemerintahannya.Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. 3. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. Melihat hal ini. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. Fanatik Terhadap Suku. bangsa. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Bangsa. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. dan lain-lain. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. kelompok.

karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara. hal ini sangat disesalkan. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. hadis anu…”. C. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. . Ketika sakit Abu Jazi berkata.[10] 5. Menurut Ajaj al-Khatib. Namun.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas.“Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. saya tidak akan mengaku. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya. b. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka. Mengenal Hadis Palsu Untuk mengenal hadis palsu. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. 1. terlepas dari itu.

“sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. mereka berkata. Rusaknya makna (arti) hadis. Buruknya redaksi hadis. Memilih Perawi Yang Terpercaya . Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. santun dan enak dirasakan. hadis mutawatir atau ijma. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis.[15] D.[12] 2. yaitu: 1. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat.[14] d. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa. Tanda hadis palsu pada matan a. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian.c. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c. [16] 2.

dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum.[17] 3.Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi. Oleh karena itu. . Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. dan lainnya. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. disamping telah dibukukannya hadis. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Abu al-Aliyah berkata. 4. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang.

3. PENGERTIAN HADITS MAUDHU’ Menurut bahasa. Hadits maudhu’ dikategorikan hadits mardud (tertolak). yaitu golongannya syi’ah membuat hadits maudhu’ yang memuji diri sendiri. mereka membuat hadits yang . Di dalam ilmu hadits. yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. akan tetapi keselamatan dari neraka itu karena keilmuan dan keislaman 2. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. menyenangkan penguasa. dilihat dari dua hal. kata maudhu’ merupakan isim maf’ul dari kata wada’a (‫.2. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu HADITS MAUDHU' MAKALAH HADITS MAUDHU’ Makalah ini dibuat Demi Memenuhi Tugas dalam Mata Kuliah Musthalahul Hadits Dosen Pengampu : Nurcholis. Hadits tersebut adalah bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW yang menerangkan bahwa neraka itiu tidak dapat ditembus dengan nama-nama tersebut. Hadits maudhu’ yang dinukil dari perkataan orang-orang Mutaqaaddimin. )وضع‬ artinya menurunkan atau meletakkan atau meyimpan. Di samping itu juga. baik secara sengaja maupun tidak. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. yaitu: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. yaitu: “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. tidak akan dimasukkan di neraka”. B. membangkitkan gairah ibadah. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk mempertahankan idiologi partainya atau golongan sendiri dan menyerang partai lawannya. Dan secara istilah : ulama hadist. Hadits maudhu’ yang bertentangan dengan sunnah mutawatir ialah Hadits yang memuji orang-orang yang memakai nama Muhammad atau Ahmad. CONTOH HADITS MAUDHU’ 1. karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. yaitu hadist yang dibuat oleh seseorang pendusta dan disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Ahmad dan semisalnya) ini. Lc Disusun oleh : IMAM WAHYUDI PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 A. 3. Hadist semacam ini dinamakan dikenal juga dengan sebutan hadits palsu. dan fanatisme. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah.

telitilah dari siapa kamu mengambil pelajaran Agama! Kami sendiri bila menghendaki sesuatu hal.” 11. Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam. niscaya engkau akan mendapat petunjuk.” 8. aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuni padaku”. hal itu kami rubah( sedemikian rupa) menjadi suatu hadits”. “Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama. Ahmad dan semisalnya) ini. 4. muhammadur Rasulullah. “Wahai Jabir. Karena itu . dan sekarang datang pada ribuan yang ke-7”. 12. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar. seperti Mu’awiyah: “ Apabila kamu melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku bunuhlah”. Pengikut golongan lain yang merasa golongannya dihina. “Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku. “ Aku telah melihat Tuhanku dengan tanpa Hijab antaraku dan Dia. “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari. maka dia telah bersikap kasar kepadaku. kecuali mereka yang ikhlas. 5. 19. dan setiap lisan mempunyai 70. segera membalas membuat hadits maudhu’ untuk mengadakan revance atau setidak-tidaknya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat padanya. Oleh karena itu. sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Zindiq. 15. 20. Umar Al Faruq dan Utsman Dzun-nurain”. Abu Bakar As Shiddiq. Hadits maudhu yang bertentangan dengan Al Quran: “ Anak zina itu. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang bekendaraan dan memeluk orang-oreng yang pada berjalan”. 18.000 bahasa yag dapat meminta ampun kepadanya”. 16. ia berkata.” 10. di Arafah dengan berkendaraan unta kelabu. sampai tujuh keturunan”. “Barangsiapa mengucapkan tahlil (la ilaha ilallah) maka Allah menciptakan dari kalimat itu seekor burung yang mempunyai 70. “Hadiah Allah kepada seorang mukmin adalah adanya pengemis yang menunggu pemberian di depan pintunya”. 6.000 tahun.isinya untuk menjelek-jelekkan lawannya. “Telah dipastikan atau difitrahkan bahwa hati menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan membenci siapa yang berbuat buruk kepadanya”.” 9. “Di surga tidak terdapat satu pohon. 7. tidak dapat masuk surga. Hadits maudhu’ yang menjelaskan tentang umur dunia: ”Umur dunia itu 7. “Ketika Adam melakukan kesalahan. Misalnya hadits maudhu yang membenarkan ke-khilaf-an Abu Bakar.a. “Bahwa hadits-hadits adalah suatu agama. Umar dan Utsman r.” 17. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk merusak dan mengeruhkan Agama Islam. “Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. 14. bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu. “Sesuap makanan diperut lapar adalah lebih baik daripada membangun seribu masjid jami’”. ‘Wahai Tuhan-ku.000 lisan.” 13. tidak akan dimasukkan di neraka. “Para sahabatku laksana bintang-bintang. selain pohon yang daunnya ditulis dengan kalimat: la ilaha ilahu. “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. Siapa pun dari mereka yang engkau teladani. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (ilmunya).

Mudasir. “Setiap yang ada di langit. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. adalah makhluk. Irham. di bumi dan di antara keduanya. “Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan ramadhan tidak berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan witir”. Ilmu Hadits. Drs.000 kibah. kecuali Allah dan Al quran. 29. namun mahar yang diterimanya tidak lebih dari segenggam gandum atau yang sepertinya dari buah kurma”. . “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama Muhammad bin Idris. Jakarta: Darul Falah. HUKUM HADITS MAUDHU’ Hadits maudhu’ atau palsu merupakan hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil dan juga hadist ini merupakan hadist yang paling jelek di antara sekian banyak yang hadist yang dhaif.000 tahun tidak bergeser”. 21. Ar-Rasikh. Artha Rivera. 2003. pada istana itu terdapat 70. maka berati ia telah menjauhi aku”. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka di suatu istana yang terbuat dari mutiara putih. Khumaidi. 30. Muslim). jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu. “Barang siapa mencium bunga mawar merah dan tidak ber-shalawat kepadaku. D. “Berapa banyak wanita yang cantik jelita. 2008.kulihat segala sesuatu. Jakarta : Gema Isani. “Sungguh Allah itu apabila marah.000 paviliun yang setiap paviliun mempunyai 70. 22. Mannan. Ilmu Hadits Untuk Pemula. maka ia akan masuk neraka. barang siapa yang mengatakan demikian. “Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. menurunkan wahyu dengan bahasa Arab”. “Barang siapa yang mengangkat kedua tangannya di dalam shalat. menurunkan wahyu dengan bahasa Persi dan bila rela. Oleh karena itu. 27. C. Kamus Istilah-Istilah Hadits. Jakarta Barat: CV.1997. “Sesungguhnya Allah SWT tidak mengizinkan untuk melagukan Al quran”. Berdasarkan hadits. Bahkan menurut kesepakatan ulama. 26.” (HR.” 24. 28. yang paling mengentarkan ummatku daripada iblis. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Bandung : Pustaka Setia. 23. sungguh kafir terhadap Allah yang Maha Besar dan tertalaklah istrinya sejak itu”. REFERENSI Al Albany. 2008. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. Nashiruddin. Muhammad. Yang demikian itu tetap berjalan dampai 70. hingga kulihat sebuah mahkota yang terhias dari mutiara”. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama abu Hanifah An Nu’man sebagai pelita ummatku”. Nanti bakal datang kaum-kaum dari ummatku yang mengatakan bahwa Al quran itu adalah makhluk baru. maka tidak sah salatnya”. 25. Abdul.

Rahman. Pengertian Menurut Bahasa Hadits Maudhu’ Merupakan isim maf’ul (objek) dari kata wadha’a Asy-Syaia. dha’if.Al-Firqotunnajiyyah. agar kita faham pembahasan yang berkaitan dengan hadits maudhu’. fatchur. yang berarti menurunkannya. . Dan membawa As Sunah bukan pada maksudnya. insya Allah saya akan menjelaskan seputar hadits maudhu’. Dinamakan seperti itu.com/2008/01/05/contoh-hadits-maudhu-hadis-palsu/ http://www. Jadi memang ada hadits yang shahih. hasan. Hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah dan tidak pernah dilakukan seorang shahabatpun.html. Bila mereka mentakwilkan hadits mereka menisbatkan kepada Nabi Apalagi tentang keutamaan para Imam mereka. dan maudhu’(palsu). hukum. menjadikan setiap kelompok mencari dukungan dari Al Qur’an dan As Sunah. Derajat Hadits Maudhu’ dan Hukum Meriwayatkannya Hadits maudhu’ merupakan hadits yang paling rendah dan paling buruk Sehingga para ulama’ sepakat.blogspot.http://ainuamri. Dalam dalam kesempatan ini. Apabila diantara mereka berselesih mereka berijtihad. kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya. sebagaimana anggapan para orientalis. Sebagian kelompok mentakwilkan Al Qur’an bukan pada makna sebenarnnya. dengan mengedepankan mencari kebenaran. karena memang menurunkan derajatnya. Namun juga tidak benar bila menganggap bahwa semua hadits itu palsu. Ihktisar Musthalahul Hadits. baik pengertian. Kita sebagai seorang muslim tidak meyakini bahwa semua hadits adalah shahih. Menurut Istilah Adalah kedustaan yang dibuat dan direka-reka yang disandarkan atas nama Rasulullah dan ia termasuk periwayatan yang paling jelek. Dan kelompok yang pertama melakukan hal itu adalah Syi’ah.com/2008/06/hadits-maudhu.wordpress. Bandung : PT Alma ‘arif PENDAHULUAN Hadits merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an dalam islam. Drs. ciri-ciri maupun yang lainnya. 1985. haramnya meriwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun. Awal Munculnya Hadits Maudhu’ Perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa kelompok setelah fitnah( masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan).

sunah yang mutawatir dan ijma’. kemudian meletakkan sanadnya dan meriwayatkannya. Mengambil perkataan ahli bijak atau selain mereka kemudian meletakkan sanadnya. berlawanan dengan ketetapan agama atau susunan lafadz lemah dan kacau. ketahuilah sesungguhnya itu adalah maudhu’.Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan hadits dari sedang dia mengetahui bahwa itu dusta. Atau pada saat syaikh meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan. atau yang membatalkan masalah ushul(akidah). Misal perawi Rafidhah. maka dia termasuk para pendusta. 5. tentang tanggal kelahirannya. dengan berkata:”Bila kami berkumpul-kumpul. atau menafikan dalil-dali Al Qur’an yang qath’I. As Suyuthi berkata:”Dari indikasi perawi (maudhu’) adalah dia seorang Rafidhah dan haditsnya tentang keutamaan ahli bait. Pernyataan yang diposisikan sama dengan pengakuan.” Ibnu Al Jauzi berkata:”Perkataan yang paling tepat berkenan dengan hadits maudhu’ adalah. 2. yang digelari Nuh Al Jami’. dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut. Muslim). Ketika ditanya perawi tersebut. Seperti seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh. 4. Cara Yang Ditempuh Pembuat Hadits Maudhu’ 1.” Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara . apabila kamu melihat hadits yang menjelaskan akal. 3. maka ia tidak (maudhu’). bertentangan dengan indra. haditsnya tentang keutamaan ahli bait. serta kemustahilan hadits tersebut bersumber dari Rasulullah. Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits. menyelisihi naql (dalil). kemudian ada sesuatu yang kami anggap baik maka kami jadikan sebagai hadits.” (HR. Dan seperti pengakuan Maisarah bin Abdi Rabbihi Al Farisi bahwa dia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits. bertentangan dengan akal sehat. Membuat perkataan yang berasal dari dirinya. Adapun jika bertentangannya memungkinkan untuk dijamak. Adanya inidikasi perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya. Adanya indikasi pada isi hadits. Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam. 2. bahwasanya ia telah memalsukan hadits atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al Qur’an surat per surat. Menurut Abu Bakar bin Ath Thayib:”Sesungguhnya bagian dari petunjuk maudhu’ adalah tidak masuk akal yang tidak bisa ditakwil disertai dengan tidak berdasar pada panca indra. ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh. Bagaimana Mengetahui Hadits Maudhu’ 1.” Hamad bin Salamah berkata:”Menceritakan kepada syaikh mereka(Rafidhah).

yang dilakukan untuk menyenangkan Al Mahdi. dengan meletakkan hadits-hadits targhib(yang mendorong) manusia untuk berbuat kebaikan. jangan meriwayatkan (hadits) dari mereka sesungguhnya mereka berdusta. 1. Imam Malik ditanya tentang Rafidhah. Sebagian orang yang imannya lemah berupaya mendekati sebagian penguasa dengan membuat hadits yang menisbatkan kepada penguasa agar mendapat perhatian. atau hadits yang berisi ancaman terhadap perbuatan munkar. dia bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi:”Dari mana engkau mendatangkan hadits-hadits seperti. Motivasi-motivasi yang Mendorong Melakukan Pemalsuan Hadits Banyak niat seseorang memalsukan hadits baik timbul dari motif politik. Masing-masing aliran membuat hadits-hadits palsu untuk memperkuat golongannya. 1.” Ia menambahkan kata sayap (junah).marfu’.” Bahwa kapal Nabi Nuh thawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali dan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim. termasuk madzhab yang terpecah menjadi aliran politik setelah munculnya fitnah(masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan) dan maraknya aliran-aliran politik seperti Khawarij dan Syi’ah.Seperti kisah Giyats bin Ibrahim An Nakh’I Al Kufi dengan Amir Mukminin Al Mahdi. Membela suatu madzhab. Maka ia menambahkan perkataan dalam hadits yang disandarkan kepada Nabi. Setelah berpaling. berkata:”Janganlah engkau bicara dengan mereka. dari Ibnu Mahdi. Ibnu Hibban telah meriwayatkan dari kitabnya Ad Dhu’afa’. kezindikan atau sekedar hobi semata. Diantara mereka adalah Maisarah bin Abdi Rabbihi. bahwa beliau bersabda: “Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang. 1. “Barangsiapa membaca ini maka ia akan memperoleh itu? Ia menjawab:”Aku sengaja membuatnya untuk memberi dorongan kepada manusia. kebodohan. ketika masuk ke (ruangan Amirul Mukminin) dan menjumpai Al Mahdi tengah bermain-main dengan burung merpati. Dalam rangka Taqarrub kepada Allah. Mereka ini termasuk kelompok pembuat hadits maudhu’ yang paling buruk. Ini merupakan asal dari kedustaan atas nama Rasulullah. menggali atau sayap. karena manusia menerima hadits-hadits maudhu’ mereka disebabkan kepercayaan terhadap mereka. Berikut adalah motivasi-motivasi mereka: 1. lalu Al Mahdi memberinya sepuluh dirham. Mendekatkan diri kepada penguasa demi menuruti hawa nafsu. Sang Amir . Mereka yang membuat haditshadits maudhu’ ini biasanya menisbatkannya kepada golongan ahli zuhud dan orang-orang shalih. pacuan.

Mereka menambahnambahkan ceritanya agar masyarakat mau mendengar dongengannya. aku mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Dan orang yang tidak senang dengan Imam Asy Syafi’I. Diantara mereka adalah Ibnu Abu Dihyah dan Hammad bin An Nashibi. 1. Ahmad bin Shalih Al Mishri berkata:”(Hukuman bagi) orang zindiq adalah dipenggal lehernya. ” Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Persi (AlFarisiyah). Seperti yang dilakukan sebagian tukang dongeng yang mencari penghidupan melalui berbagai cerita kepada masyarakat. dia adalah penerang umatku. Ia meriwayatkan hadits dari Humaid dari Anas secara Marfu : Aku adalah Nabi terakhir. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Arab. 1. Hamad bin Zaid berkata: “Orang-orang zindiq membuat hadits dusta yang disandarkan kepada Rasulullah sebanyak empat belas ribu hadits. Mereka membolak balik sanad hadits supaya orang yang mendengarnya terperangah. orang-orang dungu itu telah membuat hadits maudhu’ sebanyak empat ribu. dan tidak ada Nabi sesudahku kecuali yang Allah kehendaki. Fanatisme terhadap Imam atau Negri. Diantara mereka adalah Abu Sa’id Al Madani. 1. Dan orang yang ta’ashub(fanatik) terhadap Abu Hanifah. perkataan ini. Diantara mereka adalah Muhammad bin Sa’id Asy Syami yang dihukum mati dan disalib karena kezindikannya. maka berhati-hatilah.” Maka seorang Arab yang jahil membaliknya. 1. Ketika akan dipenggal lehernya Ibnu Adi berkata:”Aku telah memalsukan hadits diantara kalian sebanyak empat ribu hadits. 1. yaitu. yang berbunyi:”Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang disebut Abu Hanifah Al Nu’man. Mengikuti hawa nafsu dan ahli ra’yu yang tidak mempunyai dalil dari kitab dan sunah kemudian membuat hadits maudhu’ untuk membenarkan hawa nafsu dan pendapatnya. Dalam rangka mencari penghidupan dan memperoleh rizki. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Persi (Al Farisiyah). Zindiq yang ingin merusak manusia dan agamanya. Asy Syu’ubiyun memalsu hadits yang berbunyi:”Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Arab. membuat hadits yang berbunyi:” Akan ada dari umatku seorang laki-laki . Kemudian Al Mahdi memerintah untuk menyembelih burung merpati itu.berkata:”Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah. memalsu hadits. lalu mereka memberi upah. yaitu dengan membuat hadits yang gharib(asing) yang tidak dijumpai pada seorangpun dari syaikh-syaikh hadits. Dalam rangka meraih popularitas.

Namun dalam riwayat Ibnu Hibban terdapat kata ini. penghinaan atau do’a atas 10 pelakunya. merajut al-wala hingga menjadi bangunan yang kokoh saling menguatkan. karya As Suyuthi. Seruan untuk hijrah kepada Allah dengan memurnikan tauhid dan mencampakkan kesyirikan serta hijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya. ringkasan kedua kitab diatas. di antara kitab-kitab tersebut yaitu: 1.” Hadits ini diriwayatkan secara mutawatir. 1. dia lebih bahaya atas umatku dari pada iblis. bersama seluruh golongan dan pergerakan yang haq. Dalam riwayat Al Bukhari tidak terdapat atau dengan sengaja. yaitu diriwayatkan 70 orang shahabat. menggalang ukhuwah bersama seluruh thalibul ilmi dan du’at penyeru kepada ummat. . ancaman. Kitab-kitab Referensi Hadits Palsu Para ulama telah merupaya mengumpulkan hadits-hadits palsu supaya kaum muslimin selamat dari makar pembuatnya. ringkasan kitab diatas. Ancaman Bagi yang Membuat Hadits Maudhu’. Akhir Kata Dengan memohon pertolongan Allah.yang disebut Muhammad bin Idris. berpendapat bahwa kafir bagi orang yang memalsukan hadits Rasulullah dan dengan sengaja dan mengetahui (hukum berkenaan) dengan yang ia ada-adakan. dan inilah seruan kami: 1. Al La’ali Al Mashnu’ah fi Al Ahadits Al Maudhu’ah. Adapun adalah perintah yang juga berarti kabar(berita). Al Madhu’at. Tanzihu Ay Syri’ah Al Marfu’ah ‘an Al Ahadits Asy Syani’ah Al Maudhu’ah karya Ibnu ‘Iraqi Al Kittani. karangan Ibnu Al Jauzi. 1. maka hendaknya ia bersiapsiap menempati tempatnya dineraka. Yaitu semoga Allah menyiapkan untuknya (nereka). Orang yang berdusta atas nama Rasulullah ancamannya sangat keras. Syaikh Muhammad Abu Al Juwaini. sebagaimana Nabi bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja. bersama-sama kita meningkatkan iman dan ilmiah ummat berpatok pada pemahaman salafush shalih.

Seruan untuk berwala kepada iman dan muslimin serta baro’ dari syirik dan musyrikin.1. . Saran dan Kritik Semua saran. koreksi dan kritik atau kontribusi harap dikirimkan langsung ke Kotak Komentar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful