ISTILAH-ISTILAH DALAM ILMU HADITS 1. Hadits, atsar dan khabar a.

Hadits = Asal arti hadits ialah omongan, perkataan, ucapan dan sebangsanya. Hadits menurut bahasa berarti ‫ الجديد‬yaitu sesuatu yang baru, hadis juga ُ ْ ِ َ َْ bararti ‫ الخبر‬yaitu berita. ْ ََ َْ Menurut ahli hadits, pengertian hadits ialah segala perkataan Nabi, perbuatan dan hal ihwalnya. Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadits adalah “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan dan taqrirnya yang barkaitan dengan hokum syara’ dan ketetapannya. b. Atsar = Sedang atsar ialah perkataan sahabat sebagaimana hadits perkataan Nabi Saw Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar yaitu sesuatu yang didasarkan kepada Nabi Muhammad, sahabat dan tabi’in c. Khabar = khabar menurut bahasa adalah semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sebagai ulama mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang dating selain dari Nabi Muhammad. 2. Sanad, Matan dan Rowi a. Sanad = Kata sanad menurut bahasa adalah sandaran atau sesuatu yang dijadikan sandaran, menurut istilah sanad adalah “Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadis) yang menyampaikannya kepada matan hadits. b. Matan Matan menurut bahasa berarti mairtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi), sedangkan menurut istilah adalah :

“Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad” dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa matan adalah lafadz hadis yang diucapkan oleh Nabi Saw atau isi hadits. c. Rawi Rawi yakni yang meriwayatkan hadits Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan antara sanad, rawi dan ikatan, perhatikan contoh hadis di bawah ini:

ْ ُ ْ َ َْ ٍ َ ِ ْ َُ ََّ َ ‫حدثنا محمدبن معمر بن ربعي القيسى، حدثنا أبو هشام المححححزو‬ ِ ْ َ ْ ّ ِ َِ ِ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ ُ ََّ َ ‫مي عبد الواحد وه حو اب حن زيححاد ح حدثنا عثمححان ب حن حكي حم ح حدثنا‬ ََّ َ ٍ ْ ِ َ ُ ْ ُ َ ْ ُ ََّ َ ٍ َِ ُ ْ َ ُ َ ِ ِ َ ْ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ َ َّ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ْ ُ ْ َ ِ ِ َ ْ ُ ْ ُ ْ ُ ّ َ ُ ‫محمد ابن المنكدر عن عمران عن عثمححان ب حن عفححان قححال: قححال‬ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ُ ْ َ ْ ّ َ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ ‫رسول ال صلى ال عليه وسلم: من توضحأ ف حأ حس حن الونضحوء‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ ‫خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تح حت أظفححاره: )رواه‬ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ َ ُ ْ َ َّ ِ ِ َ َ ْ ِ ُ َ َ َ ْ َ َ َ (‫مسلم‬
Penjelasan Dari nama Muhammad bin Ma’mur sampai dengan Usman bin Affan r.a adalah sanad dari hadis tersebut. Mulai kata man tawadda’ sampai dengan kata tahta azfarih adalah matannya, sedangkan Imam Muslim yang dicatat di ujung hadits adalah perawinya.

3. Hadis Mutawatir dan Ahad a. Hadits Mutawatir Mutawatir menurut bahasa berarti mutatabi’ yakni sesuatu yang datang berikut dengan kita/ yang beriring-iringan antara satu dnegan yagn lainnya, tanpa ada jaraknya. Menurut istilah mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah belajar orang yang menurut adalah mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Pada intinya hadis

mutawatir yaitu hadist yang diriwayatkan oleh banyak orang di setiap generasi sejak generasi sahabat hingga generasi akhir. b. Hadist ahad

Kata ahad menurut bahasa berarti satu, sedangkan menurut istilah ahad adalah ishobar yang jumlah perawinya tidak sebanyak jumlah perawi hadist mutawatir. Ada juga ulama yang mendefinisikan hadist ahad secara singkat yakni hadist ahad secara singkat yakni hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir. 4. Hadis shahih hasan dan dhoi’if a. Hadis shohih Shohih menurut bahasa berarti ‫( ضد السقيم‬lawan sakit) yang berarti shah, benar, ِ ِّْ ّ ِ sempurna, sehat, ibnu al-shaleh mengartikan hadist shohih yaitu hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang yagn berwafaq adil, dan dhabil, dari orang yang berwatak seperti itu juga sampai puncaknya, hadist mana tidak yadz dan tidak pula mengandung cacat. Gambaran mengenai pengertian hadist shohih menjadi lebih jelas setelah imam syafi’I memberikan ketentuan, bahwa riwayat suatu hadist dapat dijadikan hujjah apabila 1. 2. Diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya amalan Rangkaina riwayatnya bersambung sampai kepada pagi Muhammad agamanya. atau dapat juga tidak sampai ke pada pagi. Syarat-syarat hadis shohih 1. Sanadnya bersambung 2. para perawinya bersifat adil 3. para perawinya dhabil 4. Matannya tidak syadz

5. Matannya tidak berillat b. Hadis Hasan Hadis hasan menurut bahasa berarti ‫ ما تشتهيه النفسى وتميل الي حه‬yaitu ِ ْ َِ ُ ْ ِ َ َ ُ ْ ّ ِ ْ ِ َ ْ َ َ sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sebenarnya hadis hasan itu sama dengan hadis shahih. Bedanya, kalau di dalam hadis shahih semua periwayat harus sempurna kedhabitannya. Maka dalam hadis hasan ada perawi yang kedhabitannya, kecermatan atau hafalannya kurang sempurna. Menurut para ulama, hadis hasan dapat naik derajatnya menjadi shahih karena ada hadis lain yang isinya sama diriwayatkan yagn kualitasnya tidak lebih rendah. Para ulama ahli hadis membagi hadis hasan menjadi dua bagian, yaitu hasan lidzatih dan hasan li ghairih yang dimaksud dengan hadis hasan lidzatih ialah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan. Adapun yang dimaksud dengan hadis hasan li ghoirih ialah hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan hadis hasan sec ara sempurna, atau pada dasarnya hadis tersebut adalah hadis dhaif, tetapi karena ada sanad atau matan lain yang menguatkannya maka ke dudukan hadis dhaif tersebut naik derajatnya menjadi hasan li ghairih. Ibn Ash-shalah, sebagaimana dikutip oleh Al-Qosimi menyebutkan bahwa hadis hasan li hairih ialah hadis yang sandaran dan sanadnya terdapat seorang yang mashur, bukan pelupa yang banyak kesalahannya, tidak terlihat adanya sebab-sebab yang menjadikannya fasiq dan matan hadisnya diketahui baik berdasarkan periwayatannya hadis lain yang semakna. Pengertian menurut Ibnu Ash-Shalah ini memperkuat uraian bahwa pada dasarnya hadis hasan li ghairih adalah hadis dhaif, yang memiliki syahid dan muttabi’ sehingga kualitasnya menjadi naik menjadi hadis hasan, akan tetapi, hadis yang sangat lemah seperti hadis maudu’ dan mankar dan matruk sekali pun ada syahid dan muttabi’ kedudukannya tetap sebagai hadis dhaif dan tidak dapat berubah menjadi hadis hasan. c. Hadis dhaif

Dhaif dari segi persambungan sanadnya 1. Hadis dha’if yang disebabkan oleh cacat periwayatnya atau hal lain . Hadis mursal Yaitu hadis yang gugur sanadnya setelah tabi’in 2. An-Nawawi mendefinsikannya dengan ِ َ َ ْ ُ ْ ُ ُ َ َ ِ َ ّ ُ ْ ُ ُ ِ ِْ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ‫مالم يو جد فيه شروط الصحة ول شروط الحسن‬ “Hadis yang di dalamn ya tidak terdapat syarat-syarat hadis sahih dan syarat-syarat hadis hasan”. 3. Dari definisi di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadis shahih adalah hadis hasan) hilang. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua adalah tiga syarat maka hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadis dhaif yang sangat lemah. Hadis mudallas Yaitu hadis yang di dalamnya ada sesuatu yang disembunyikan.Kata dhaif menruut bahasa berarti lemah. Hadis Mu’dal Yaitu hadis yang gugur dua orang sanadnya atau lebih secara berturutturut. Secara istilah diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinsikan hadis dhaif ini. 2. Hadis munqathi’ Yaitu hadis yang sanadnya terdapat salah seorang yang digugurkan (tidak disebutkan namanya) baik diujung maupun dipangkal. akan tetapi pad adasarnya isi dan maksudnya sama. 4. a. sebagai lawan dari kasla kuat. berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadis dhaif. b. Menurut Nur ad-Din’ atr mendefinisikan hadis dhaif sebagai hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul (hadis yang shahih atau hadis yang hasan). beberapa definisi diantaranya adalah: 1.

Hadis munkar Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang lemah yang menyalahi riwayat orang yang lebih terpercaya dari padanya. Hadis matruk Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta terhadap hadis yang diriwayatkannya atau nampak kefasikannya. 2. perbuatan dan taqrir.1. Hadis syadz Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang terpercaya. Nabi Muhammad Saw bersabda ‫نضر ال امرأ سمع منا حديثا كما سمعه‬ ََ َ “Allah memuji orang yang mendengar hadis dari saya kemudian menyampaikannya seperti apa yang saya dengar. 5. . Kesimpulan Ilmu hadis merupakna ilmu pengetahuan yagn mengkaji atau membahas tentang segala yang disandarkan kepada nabi SAW. baik pada perbuatan adalah pada perkataannya atau orang yang banyak lupa atau ragu. seharusnya Kemudian disebut mendahulukan atau penyebutannya belakangan membelakangkan penyebutan yagn seharusn ya di dahulukan adalah dengan sesuatu pada tempat yang lain. baik berupa perkataan. Hadis mu’allal Yaitu hadits yang diriwayatkan tanpa memakai sanad 3. 4. orang yang lebih terpercaya lagi. Hadis maqlub Yaitu hadis yang lafalnya tertukar pada salah seorang dari sanadnya adalah nama seorang yang sanadnya. tetapi bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh.

Defisi hadis shahih secara konkrit baru muncul setelah Imam Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah. yaitu: pertama. Imam Bukhori dan Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut: 1) Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perowi pertama sampai perowi terakhir. dfiriwayatkan oleh perowi yang adil dan dhobit. bunyi hadis yang Dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadlis (penyembuyian cacat). apabila diriwayatkan oleh para perowi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya. 2) Para perowinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat. Hadits Shahih I. dan . kedua. tidak syadz dan tidak ber’ilat”.PEMBAHASAN I. selamat dari kejanggalan (syadz). diriwayatkan oleh orang adil dan dhobith(kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya. atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi. Imam Al-Suyuti mendifinisikan hadis shahih dengan “hadis yang bersambung sanadnya. mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafadnya. dikenal sebagai orang yang jujur mermahami hadis yang diriwayatkan dengan baik. ‫هو ما اتصل سنده بنكل العدل الضابط ضبطا كامل عن مثله وخل ممن الشذوذ و العلة‬ hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya.1 Definisi Hadits Shahih kata Shahih ((‫ الصحيخ‬dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata assaqim ( (‫ =السقيم‬orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafad. dan cacat (‘ilat). rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi SAW. dalam arti adil dan dhobith. 3) Hadisnya terhindar dari ‘ilat (cacat) dan syadz (janggal). mampu meriwayatkan hadis secara lafad.

Sanadnya Bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perowi dari perowi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya. khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat. Perawinya Bersifat Adil Maksudnya adalah tiap-tiap perowi itu seorang Muslim. dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadis shahih dapat dirumuskan sebagai berikut: a. ‘an. Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad. 1. Mencatat semua periwayat yang diteliti. atau kasta-kata lainnya. bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya. keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil. sdeperti imam empat Hanafi.Maliki. Mempelajari hidup masing-masing periwayat. dari sejak awal hingga akhir sanadnya. Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut: 1. 2. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fasiq. Asy-Syafi’i. 3.anna. dan periwayatannya pun ditolak. Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad. haddasani. akhbarani. Perowinya Bersifat Dhobith . c. sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa atta’dil. yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasani. jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. I. dan Hambali. biasanya ulama’ hadis menempuh tata kerja sebagai berikut. bersetatus Mukallaf (baligh).4) Para perowi yang terdekat dalam sanad harus sejaman. ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil.2 Syarat-Syarat Hadis Shahih Berdasarkan definisi hadis shahih diatas. 2. akhbarana. b.

Maksudnya masing-masing perowinya sempurna daya ingatannya. Pembagian Hadis Shahih Para ahli hadis membagi hadis shahih kepada dua bagian. a. Namun demikian. I. sedang pada hadis shahih li-ghoirih. yaitu shahih li-dzati dan shahih li-ghoirih. dhobith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan. seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal. ingatan perowinya sempurna. suatu hadis tidak dinyastakan sebagai mengandung syudzudz. sejak ia maneriama hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain. dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan lainnya. sementara dhahirnya selamat dari cacat. Menurut al-Syafi’i.Hadis Shahih li dzati . Dhobith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan. perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan perowinya. Tidak Ber’ilat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya. dapat diketahui melalui: 1. suatu hadis dinyatakan syudzudz. ingatan perowinya kurang sempurna. bila hadisd yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhobithannya. ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad. sedang periwayat yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu.3. nmenurut para ulama. Artinya. bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah. Tidak Syadz Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz. dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai pada ke-shahih-an hadis. e. kesaksian para ulama 2. d. baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan). sedang. Adapun sifat-sifat kedhobitan perowi. pada shahih li-dzatih. ‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama.

oleh karena itu. hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah. seperti periwayatan sanad dari Imam Malik bin Anas dari Nafi’ mawla (mawla = budak yang telah dimerdekakan) dari Ibnu Umar. yaitu al-Quran dan hadis mutawatir.5 Tingkatan Hadis Shahih Perlu diketahui bahwa martabat hadis shahih itu tergantung tinggi dan rendahnya kepada ke-dhabit-an dan keadilan para perowinya. Berdasarkan martabat seperti ini. Ketiga. yaitu rangkaian sanad hadis yang tingkatannya lebih rendah dari tingkatan kedua. Bukan berarti sama sekali dusta. I. adalah hadis hasan li-dzatihi apabila diriwayatkan melamui jalan yang lain oleh perowi yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari padanya. ad’af al-asanid. karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan. Hadis Shahih Li Ghoirihi Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis shahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. seperti periwayatan Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah. ashah al-asanid yaitu rangkaian sanad yang paling tinggi derajatnya. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu. .Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya. yaitu rangkaian sanad hadis yang yang tingkatannya dibawash tingkat pertama diatas. Kedua. tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah. mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah. Hadis shahih li-ghoirih. I.bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya. para muhadisin membagi tingkatan sanad menjadi tiga yaitu: Pertama. Seperti periwayatan sanad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas. Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat’i. ahsan al-asanid.4 Kehujahan Hadis Shahih Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis shahih wajib diamalkan sebagai hujah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para uluma hadis dan sebagian ulama ushul dan fikih. b.

250 H). 6. II. d) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan AL-Bukhari dan Muslim. Sebagian dari definisinya yaitu: . yaitu indah. Shahih Al-Bukhari (w.1 Pengertian Hadis Hasan Secara bahasa. Shahih Ibnu Khuzaimah (w. dan juga karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya. yang secara berurutan sebagai berikut: a) b) c) Hadis yang disepakati oleh bukhari dan muslim (muttafaq ‘alaih). Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja. 354 H). Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if. g) Hadis yang dinilai shahih menurut ilama hadis selain Al-Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya. Ibnu Hibban. HADIS HASAN II. Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis shahih secara berurutan sebagai berikut: 1. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori saja. Shahih Ibnu Hiban (w. seperti Ibnu Khuzaimah. Mustadrok Al-hakim (w. 7. 4. 261 H). Shahih Muslim (w. hasan berarti al-jamal. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja. 2. Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. 5. Shahih Ibn As-Sakan. dan lain-lain. e) f) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Al-Bukhari saja. 405).Dari segi persyaratan shahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. Shahih Al-Abani. 3. 311 H).

maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih. a. hadis hasasn pun terbagi menjadi dua macam. yaitu hasan li-dzatih dan hasan li-ghairih. dan yang diterima kebanyakan ulama. dan yang dipakai oleh umumnya fukoha’ 2.Chatabi: adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya. . bersanbung sanadnya. dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis. dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta. dengan kata lain. dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian. tidak cacat.3 Kehujahan Hadis Hasan Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih. definisi Ibnu Hajar: beliau berkata.1. serta tidak ada syadz (kejangalan). II. maka dia menurut kami adalah hadis hasan. akan tetapi karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’). II. dan fuqaha sepakat tentang kehujjahan hadis hasan. dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi. hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if. Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. adalah hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil. Hasan Li-Ghairih Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Paraulama hadis. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabitannya dibandingkan dengan hadis hasan. b. meskipun derajatnya dibawah hadis shahih. definisi Tirmidzi: yaitu semua hadis yang diriwayatkan.2 Macam-Macam Hadis Hasan Sebagaimana hadis shahih yang terbagi menjadi dua macam. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabit-annya. 3. ulama ushul fiqih. Hasan Li-Dzatih Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan yang telah ditentukan. adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal. sempurna ke-dhabit-annya. ke-dhabit-an perawi hadis hasan lebih unggul. dan telah mashur rawi-rawi sanadnya. definisi al. lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi. Tetapi jika dibandingkan dengan kedhabit-an perawi hadis dha’if tentu belum seimbang.

Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan . Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. dari Abdurrahman. dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadits hasan”. sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah.1 Definisi Hadist Dhaif Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. Jadi. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. HADIST DHAIF III. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. dari Harmalah. berarti hadits yang terlepas. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. maupun pada pertengahan atau akhirnya. III. seperti Bukhari. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. baik pada permulaan sanad. antara lain yaitu : 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda. a. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. mereka tidak sanggup menghadirinya”. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah).III. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.2 Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar.

dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba. Menurut Ibnu Majah. secara beriringan dalam sanadnya. tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Ya Allah. bila masuk ke dalam mesjid. dari Abu Bakar bin Ali Syaibah. Jadi. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in. hadits di atas adalah hadits munqathi’. dari Ismail bin Ibrahim. 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. atau lebih. maka kedua rawi tersebut tidak beriringan. dan sejahtera atas Rasulullah. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. dari Fatimah binti AlHusain. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. karena Fathimah Az-Zahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. dari Laits. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. . dari Abu Hurairah. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur.hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. Bila dua rawi yang gugur. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya. Malik bin Anas. Namun. dan Ahmad bin Hanbal. contoh hadits munqathi’ : Artinya : Rasulullah SAW. ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. membaca “dengan nama Allah. 3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa. dalam kitabnya “AlMuwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku. dari Abdullah bin Hasan.

Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. dari Zuhri. Adapun cacat pada matan. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih. dari Rasulullah. Seperti pendusta. misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. dari ayahnya. hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Dengan demikian. dan Abu Salamah dari Abu Huraira. Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. banyak waham. Pada umumnya. Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa. Sering keliru. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan . dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. hafalan yang buruk.Di dalam kitab Imam Malik tersebut. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal . dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. dari Abu Hurairah. karena Bukhari bukanlah seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). fasiq. tidak dikenal. atau lalai dalam mengusahakan hafalannya. b. Berdasarkan riwayat Bukhari. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa. tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat.

orang-orang munafik. Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Abdul Karim. mazhabnya. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). dari kakeknya. sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits. seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi. misalnya. maka ia dan anaknya itu masuk surga”. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Sedikit sejarah. yaitu: aku ( Muhammad ). atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. dan Muawiyah”. . Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. yakni kaum yahudi dan nashrani. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’: a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam. atau banyak wahamnya. lalai. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. ” Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya. maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Jibril. zindiq. aku halalkan barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. atau kebangsaannya . tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. atau pernah melakukan maksiat. seorang zindiq. berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan. “orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah.dari Rasulullah SAW. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya. ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan AlQur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. ( Al-An’am : 164 ) c) “Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad. “Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang.

‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. selama mereka belum berpisah”. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. Matan hadits ini sebenarnya shahih. namun setelah diteliti dengan seksama. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. sanadnya memiliki illat. dan selanjutnya dari Ibnu umar. 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. Contoh : Rasulullah bersabda. niscaya masuk surga. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . membayarkan zakat. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan AtsTsauri. tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. matan. Said bin mutstayyab. dan illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad. ‘Isa bin Ziyad. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. ( H. seperti : Muhammad bin ‘Imran. dan menghormati tamu. ataupun keduanya. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa.R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. contoh : Artinya: “Barangsiapa yang mendirikan shalat. Oleh karena itu. mengerjakan haji. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. Contoh : . dari ‘Amru bin Dinar. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang.Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. sekiranya tidak ada wanita. dan Umar bin Khaththab.

Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawirawi yang juga dipercaya. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. dan berhijrah. pada matan.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . ataupun keduanya.Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. maka jauhilah ia. maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. berarti hadits yang diputarbalikkan. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut. Batasan yang diberikan para ulama. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. Keganjilan itu bisa pada sanad.3 Kehujahan Hadits dhaif . Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). 7) Hadits Syadz Secara bahasa. III. Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. dengan tempat tinggal di taman surga”. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. maka kerjakanlah dia. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu darinya. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu.

Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. mereka itu bukan orang sembarangan. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. Apalagi . Maka menurut para ulama. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. boleh digunakan untuk perkara fadahilul a’mal (keutamaan amal). maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. kisah-kisah.Khusus hadits dhaif. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a’mal. nasehat atau peringatan. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabit-annya Maksudnya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Ketika Mengamalkannya. Dan menariknya. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. 1. tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. • Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. 1. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. dengan beberapa syarat: 1. Sebab dibandingkan dengan mereka. Baik masalah keutamaan (fadhilah). harus didampingi dengan hadits lainnya.

Mereka adalah kebanyakan ulama. atau tertuduh sebagai pendusta. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Abu Bakar Al-Arabi. Bagi mereka. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia.kalau sampai masalah hukum dan aqidah. atau anjuran amal tambahan. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. Al-Imam Muslim. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. Ibnu Hazm dan lainnya. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Pendeknya. kisah-kisah. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. pendiri mazhab Hanbali. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud. Di zaman sekarang ini. juga bukan masalah hukum. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. sedhai’fdha’if-nya suatu hadits. asal bukan hadits palsu (maudhu’). tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. melainkan hanya sekedar berhati-hati. kami ketatkan. kami longgarkan. Ibnul Mahdi.” 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadits dhaif. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. . Yahya bin Mu’in. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. ‘Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram.

Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang . dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. maupun matannya.” (QS. َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ ْ َ ّ ِ ََ ِ ِ ْ َ ََ ٌ ِ َ ّ َ ‫وال غالب على أمره ولـكن أكثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. jelas bukan pendapat kami. sanad.Semua keterangan di atas. BAB III KESIMPULAN Pada materi hadits dhaif ini. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. berfirman : “(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah).(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehatmenasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi kebenaran”. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ). Sebab beda maqam dan beda posisi. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. Karena sesungguhnya Allah SWT. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebabsebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif.”(QS Yunus 36). perbuatan. baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.

serta kehujjahannya menurut pendapat para ulama. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. hadits dhaif I. pandai berdebat tentang dalil. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. Sangat penting membahas seputar hadits dhaif. jika memang terdapat hadits yang terbukti lemah ( dhaif ) ini sekiranya bermakna positif bagi kita dan dapat memotivasi dalam pengamalan hidup sehari-hari. macam-macam hadits dhaif. Tidak hanyas sebatas sampai di situ. termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. kita diharapkan dapat mengetahui sejarah orang-orang yang meriwayatkan hadits berdasarkan kekuatan hafalan mereka. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. Namun. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. karena di sini kita akan mengetahui bagaimana proses periwayatan hadits yang berasal dari Rasulullah atau bukan berasal dari beliau. Tidak jarang. Banyak ilmu saja tidak cukup. Karena itu. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . . orang pintar bicara.Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. Pendahuluan Pada makalah ini akan dibahas mengenai sebab-sebab kedhaifan hadits. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Selain itu.

dan tidak pula menghimpun sifatsifat hadits hasan”. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. Pembahasan 1. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. berarti hadits yang terlepas.II. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah . 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. hadits mu’dhal. Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. baik pada permulaan sanad. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. dan hadits muallaq. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. a. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. 2. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. antara lain yaitu : hadits mursal. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. hadits munqathi’. maupun pada pertengahan atau akhirnya.

sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda. Namun. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. Malik bin Anas. Jadi. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. dari Abdurrahman. mereka tidak sanggup menghadirinya”. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. maka rawi menjelang akhir . dan Ahmad bin Hanbal. 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus.hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. dari Harmalah. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. seperti Bukhari. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi.

sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Bila dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. contoh hadits munqathi’ :

Artinya : Rasulullah SAW. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Ali Syaibah, dari Ismail bin Ibrahim, dari Laits, dari Abdullah bin Hasan, dari Fatimah binti Al-Husain, dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Menurut Ibnu Majah, hadits di atas adalah hadits munqathi’, karena Fathimah AzZahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in.

3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits

mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba, dalam kitabnya “Al-Muwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Di dalam kitab Imam Malik tersebut, tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan , dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik, dari Zuhri, dan Abu Salamah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Berdasarkan riwayat Bukhari, ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. Dengan demikian, Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. Pada umumnya, yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif, kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih, karena Bukhari bukanlah

seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. b. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa, hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuhmusuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani, orang-orang munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya, mazhabnya, atau kebangsaannya . Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya.

“Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’:

a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam; ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya, dari kakeknya, dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah, tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. “Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. ( AlAn’am : 164 )

“Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad, maka ia dan anaknya itu masuk surga”.

“orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga, yaitu: aku ( Muhammad ), Jibril, dan Muawiyah”. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. Sedikit sejarah, berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan, seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi, misalnya, ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan Al-Qur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Abdul Karim, seorang zindiq, sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits; aku halalkan

tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. lalai. contoh : “Barangsiapa yang mendirikan shalat. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. atau pernah melakukan maksiat. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. dan illat . niscaya masuk surga. seperti : Muhammad bin ‘Imran. atau banyak wahamnya. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. dan menghormati tamu. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang.barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). ( H. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. Said bin mutstayyab. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . membayarkan zakat. ‘Isa bin Ziyad. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. sekiranya tidak ada wanita. Oleh karena itu. mengerjakan haji. dan Umar bin Khaththab. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi .R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. 3) Hadits Munkar Hadist munkar.

Contoh : Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. berarti hadits yang diputarbalikkan. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. ataupun keduanya. matan. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan Ats-Tsauri. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu . 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. Contoh : Rasulullah bersabda. dari ‘Amru bin Dinar. 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. dan selanjutnya dari Ibnu umar. dengan tempat tinggal di taman surga”. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. dan berhijrah. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. selama mereka belum berpisah”. maka kerjakanlah dia. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. Matan hadits ini sebenarnya shahih.yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad. sanadnya memiliki illat. namun setelah diteliti dengan seksama.

maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). maka jauhilah ia. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. boleh digunakan untuk .” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. ataupun keduanya. Keganjilan itu bisa pada sanad. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. Maka menurut para ulama. pada matan. Kehujjahan hadits dhaif Khusus hadits dhaif. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya.darinya. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. Batasan yang diberikan para ulama. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut. dengan beberapa syarat: a. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. 3. maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya.

kisah-kisah. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. Baik masalah keutamaan (fadhilah). c. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap . Sebab dibandingkan dengan mereka. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. harus didampingi dengan hadits lainnya. . b. Yahya bin Mu'in.perkara fadahilul a'mal (keutamaan amal). tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. Di zaman sekarang ini. Dan menariknya. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabitannya Maksudnya. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. Abu Bakar Al-Arabi. AlImam Muslim. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Ibnu Hazm dan lainnya. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. Ketika Mengamalkannya. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. nasehat atau peringatan. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a'mal. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. mereka itu bukan orang sembarangan. Pendeknya.Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga.

Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Sedangkan hadits dha'if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. . Semua keterangan di atas. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. kami longgarkan. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya.menerima semua hadits dhaif. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. sedhai'f-dha'if-nya suatu hadits. melainkan hanya sekedar berhati-hati. kisah-kisah. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. Sebab beda maqam dan beda posisi. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif." 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. pendiri mazhab Hanbali. Mereka adalah kebanyakan ulama. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. Ibnul Mahdi. asal bukan hadits palsu (maudhu'). juga bukan masalah hukum. Selain itu juga ada nama AlImam Abu Daud. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. 'Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. atau tertuduh sebagai pendusta. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. Bagi mereka. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. kami ketatkan. atau anjuran amal tambahan. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. jelas bukan pendapat kami.

Penutup 1.” (QS.IV. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. Sesung. َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ َ ّ ‫َ ّ َ ِ ٌ ََ َ ْ ِ ِ ََ ك‬ ‫وال غالب على أمره ولـ ِن أكْثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. berfirman : "(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi . “Demi masa. Karena sesungguhnya Allah SWT. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya.guhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran."(QS Yunus 36). Kesimpulan Pada materi hadits dhaif ini.

Banyak ilmu saja tidak cukup. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). orang pintar bicara. Tidak jarang. perbuatan. pandai berdebat tentang dalil. Namun. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. maupun matannya. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebab-sebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . sanad. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga .kebenaran”. Karena itu. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. Pengertian Hadist Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar.

disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda). Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat). Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah.. "Kami dilarang untuk. Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Shu'bah. mauquf (terhenti) dan maqtu' : Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya). ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. perbuatan. . Ibnu Abbas dan Ibnu AlZubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an. Matan ialah redaksi dari hadits... hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad.. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan..". "Kami terbiasa. maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu".". Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar.

hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad).. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan.Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. . Hadits Mursal." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu.. Mu'allaq. Munqati'. Science of Hadits). Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad. Hadits mutawatir. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Mu'dal dan Mursal. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Hadits Munqati'..

Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani . Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. Hadits Maudu'. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. tidak fasik. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. hasan. da'if dan maudu' Hadits Shahih. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. memiliki sifat istiqomah. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. Hadits Dhaif (lemah). yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur. mengandung kejanggalan atau cacat. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). Aziz. Hadits Hasan. dan kuat ingatannya. Hadits Mungkar. mu’allaq. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal.Background Hadits ahad. Hadits Mu'allal. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. Mashur. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. mudallas. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib. terjaga muruah (kehormatan)nya. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. serta matannya tidak syadz serta cacat. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: Sanadnya bersambung. berakhlak baik. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung.

Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat). disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Daud. Hadits Maqlub. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. Hadits Syadz.bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits Mudraj. baik dalam sanad atau pada gurunya. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta' dari Imam Malik. Selain itu. termasuk: Shahih Bukhari. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Aturan-aturan ini. Hadits Munqalib. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. padahal sebenarnya ada. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. Hadits Mudallas. Hadits Mudlthorib. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolaholah tidak ada cacatnya. . disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat.

terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq 'Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. Imam Nasa'i dan Imam Ibnu Majah. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi'ah diklaim memusuhi Ali. Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. yaitu hadits yang shahih dan hasan.Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi Al-Istibsaar Al-Tahzeeb Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin Shahih Bukhari Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. Imam Muslim dan Ibnu Majah. Hadits Yang Diterima (Maqbul) . Imam Bukhari. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. Imam Muslim. Imam Turmudzi. Imam Abu Daud. Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. yang melawan Ali pada Perang Jamal. yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). 1. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua. Imam Bukhari. istri Muhammad saw. seperti Aisyah. melalui Fatimah az-Zahra.

artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. sanadnya bersambung-sambung. tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits. 1. Hasan adalah sifat yang bermakna indah. menguasai apa yang diriwayatkan. 1. dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith). yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil. Definisi: Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar. tidak ber’illat dan tidak janggal. Hadits Shahih 1.Hadits yang diterima dibagi menjadi 2 (dua): 1.2. 2. Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran. memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya. 1. Sedangkansecara istilah. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: . maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: • • • • • Rawinya bersifat adil. 1. tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. 2. 1. Hadits Hasan 1.1. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. sempurna ingatan. menjauhi dosa-dosa kecil. Definisi Secara bahasa. Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih. 1.

maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat . terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan. yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah.Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil. Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta. yang kurang kuat ingatannya.2. Di antara contoh hadits ini adalah: ‫لول أن أشق على أمتي لمرتهم بالسواك عند كل صلة‬ Seandainya aku tidak memberatkan umatku. Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya.2. 1. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya). bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal.

Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain." Maka nabi SAW pun membolehkannya. maka kedudukannya dhaif. *** 2. Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya. bukan pelupa yang banyak salahnya. Ringkasnya. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. Hadits ini asalnya dhaif (lemah). hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah). As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya. Andaikata tidak ada 'Adhid.Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya). maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan. yaitu hadits yang tertolak. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. namun karena ada ada mu'adhdhid. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul). maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. hanya sebagian orang yang bodoh dan awam . Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: ‫" أرضيت من نفسك ومالك بنعلين؟ قالت: نعم، فأجاز‬Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. "Ya. atau dengan ada beberapa sanad lain.

kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum. 2. 3. Adapun kalau dengan sanadnya. yaitu: 2.1 Adanya Kekurangan pada Perawinya Baik tentang keadilan maupun hafalannya. misalnya karena: • • • • • • • • Dusta (hadits maudlu) Tertuduh dusta (hadits matruk) Fasik.2. 2. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya.2.2. 2.1 Definisi: Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan.2. Karena Sanadnya Tidak Bersambung • • • • Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 2. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas. Penyebab Tertolak Ada beberapa alasan yang menyebabkan tertolaknya Hadits Dhaif. mereka tidak mengingkarinya .yang memasukkannya ke dalam hadits. hanya saja karena satu sebab tertentu. yaitu banyak salah lengah dalam menghafal Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal Menyalahi riwayat orang kepercayaan Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) Penganut Bid’ah (hadits mardud) Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 2.

Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. sementara derajat periwayatannya lemah. Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). hukum thalaq dan lain-lain. selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu). melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar.2.3. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif. Imam Al-Bukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits. hukum akad nikah. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. Sedangkan setiap amal sunnah. Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW. . Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. Demikian juga dengan hukum jual beli. maka orang itu salah seorang pendusta. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal.

dilihat dari sudut apakah hadits itu bisa diterima ataukah hadits itu tertolak. Haliman A. 2. الخبر‬berita. padahal beliau tidak mengatakan dan memperbuatnya. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta. Sedangkan ‫ موضع‬merupakan derivasi dari kata – ‫وضع‬ ‫ يضع – وضعا‬yang secara bahasa berarti menyimpan. dan dipindahkan dari seseorang kepada orang yang lain. selain itu hadits pun berarti ‫ . Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. 3. Mustafa Azmi. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. Lc Januari 25.الجديد‬yaitu sesuatu yang baru. Mahmud Thahan didalam kitabnya mengatakan. antara lain: 1. mengada-ngada atau membuat-buat. Wallahu a'lam bishshawab. Demikian sekelumit informasi singkat tentang pembagian hadits. Adapun pengertian hadits maudhu’ (hadits palsu) secara istilah ialah: ‫ما نسب الى رسول ال صلى ال عليه و السلم إختلفا و كذبا مما لم يقله أويقره‬ ّ Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah secara dibuat-buat dan dusta. Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. Yaitu sesuatu yang diberitakan. maka haditsnya tidak bisa dipakai. Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. 2009 pukul 12:50 pm · Disimpan dalam Ilmu Hadits Oleh: Dede KS. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. Pengertian Hadits Maudhu ‫ الحديث‬secara bahasa berarti ‫ . diperbincangkan. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya. ‫اذا كان سبب الطعن فى الروى هو الكذ ب على رسول ال فحد يثه يسمى الموضع‬ .Lagi pula. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ahmad Sarwat. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. Dr.

bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman khalifah Ali bin Abi Thalib. beliau lalu mencium Fatimah” Kepalsuan hadits ini sangat jelas sekali. beliau beralasan dengan sebuah hadits yang matannya ‫. Misalkan mereka membuat hadits untuk menjelek-jelekan Muawiyah sebagai berikut: ‫ااذا رايتم معاوية على منبرى فاقتله‬ “Apabila kamu melihat Muawiyah berada diatas mimbarku. Misalkan hadits yang mereka buat sebagai berikut: ‫لما اسرى النبي اتاه جبريل بسفرجلة من الجنة قاكلها فعلقت السيدة خديجة بقاطمة فكان اذاشتاق الى رائحة‬ ‫الجنة شم فاطمة‬ “Ketika Nabi diisra’kan. Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait. Kemudian sayyidah Khodijah menghubungkan buah tersebut dengan Fatimah.Apabila sebab keadaan cacatnya rowi dia berdusta terhadap Rasulullah. tidak tercantum didalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan Asbabul Wurud. Menurut Ahmad Amin. dengan alasan Ahmad Amin tidak mempunyai alasan secara histories. hadits masih bisa dikatakan selamat dari pemalsuan. Karena itu apabila Rasulullah rindu akan bau-bauan surga. ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) Dan pengertiannya secara istilah beliau mengatakan ‫هو الكذب المختلق المنصوع المنسوب الى رسول ال صلى ال عليه والسلم‬ Hadits yang dibuat oleh seorang pendusta yang dibangsakan kepada Rasulullah ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) B. maka haditsnya dinamakan maudhu’. bahkan mereka pun menciptakan hadits tentang keutamaan Fatimah. C. bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw. Golongan Syiah yang paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. tidak pernah ada seorang sahabatpun yang sengaja berbuat dusta kepadanya. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Disamping mereka membuat hadits-hadits palsu untuk memuji golongan mereka sendiri.Mudatsir didalam bukunya Ilmu Hadits. Kaum Syafi’i mengatakan “saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum Rafidhah”. Jibril datang memberikan buah Safarjalah dari surga. b. Akan tetapi pendapat ini kurang disetujui oleh H. sebab Khodijah telah meninggal sebelum peristiwa Isra. Dan data menunjukan sepanjang masa Rasulullah Saw. telah terjadi pemalsuan hadits. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut: a. maka bunuhlah dia” a. Motif-motif yang mendorong pembuatan hadits maudhu’ Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk membuat hadits palsu (maudhu’). Sejarah Perkembangan Hadits Palsu Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits. Misal munculnya Syiah. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan hadits-hadits palsu. mereka pun membuat hadits-hadits untuk menyerang golongan yang lain. من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ ّ ّ ّ ّ Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw. Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain. yaitu diantaranya: a. Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam . Menurut jumhur muhadditsin. selain itu pemalsuan hadits dijaman Rasulullah Saw. kemudian Khawarij.

Mereka yang ta’asub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan hadits maudhu sebagai berikut: ‫ان ال اذا غضب انزل الوحي بالعربية واذا رضى انزل الوحي بالفارسية‬ “Sesungguhnya Allah apabila marah. mereka membenci melihat kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. kebahasaan. . Fanatik kebangsaan. sebagai pelita umatku” Ada juga golongan Syafi’iyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah: “Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. pengobatan dan hokum tentang halal dan haram.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq. Yang demikian itu tetap berjalan selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun” a. Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya. yang paling menggetarkan umatku daripada iblis” a. dank arena memang kejahilan seseorang didalam ilmu agama. membuat hadits palsu: ‫من رفع يديه في الصلة قل صلة له‬ “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya” Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu. Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. diantaranya dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa. Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat. “Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. kedaerahan. dengan berkendaraan unta kelabu. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi” Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu pula. Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah. maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. akhlaq. Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah: “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah. kesukuan. dan kultus terhadap Imam mereka. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang berjalan”. Dan diantara contoh haditshadits palsu yang bermotiv karena kultus terhadap imam diantaranya: ‫سيكون رجل في امتي يقال ابو حنيفة النعمان هو نوراامتي‬ “Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Nu’man. misalkan kisah-kisah yang menggembirakan tentang surga: “Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. a. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang terbuat dari mutiara putih. Dengan maksud untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits palsu dalam bidang aqidah.

atau perkataan orang alim mutaqaddimin. Dari segi makananya. Hukum Periwayatan Hadis Maudhu’ 24 Apr . Misalnya seorang rowi mengaku menerima hadits dari seorang guru. b. Hadits maudhu memang yang paling banyak tidak memiliki sanad. maka makna hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an. seperti pengakuan salah seorang guru tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya Hadits maudhu yang dinukil dari perkataan seorang alim mutaqaddimin: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. hadits mutawatir. 2. Qorinah-qorinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits palsu (maudhu). kami ciptakan hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an. 3.D. 1. Suka Be the first to like this post. Atau menerima dari seorang guru yang sudah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. dalam menjalankan aksinya kadang-kadang mengambil dari pikirannya sendiri. Akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama benci terhadap Al-Qur’an. Ciri-Ciri Hadits Maudhu a. padahal ini merupakan perkataan Malik bin Dinar. Dalam hal Sanad Pengakuan dari sipembuat sendiri. serentak ia menjawab: “Tidak seorangpun yang meriwayatkan hadits kepadaku. Dalam hal matan Ciri-ciri yang terdapat pada matan hadits palsu atau hadits maudhu. Sumber-Sumber Yang Diriwayatkan Para pembuat hadits maudhu. ijma dan akal sehat. E. Permalink Pengertian. Adapun dari segi lafadznya yaitu susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih. Hadits ini mereka (para pembuat hadits palsu) katakan bersumber dari nabi. Dan kadang-kadang menukil perkataan sesorang yang dianggap alim pada waktu itu. dapat ditinjau da ri segi makna dan segi lafadznya.

dan sebaliknya kelompok tersebut juga membuat hadits palsu untuk membela diri. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. Akan tetapi kondisi tersebut berubah tatkala umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan. Sebab Munculnya Hadits Maudhu’ Ada beberapa faktor yang mendorong pemalsuan hadits: • Pertama. sebagian dari mereka berupaya menakwilkan Al-Qur’an dan menafsirkan sebagian hadits dengan arti yang menyimpang. hadits Nabi SAW senantiasa tetap bersih. Munculnya hadits palsu diperkirakan mulai tahun 41 H. . Muslim) Selama umat Islam di bawah kepemimpinan khulafa’ al arba’ah (4 khalifah pertama). Setiap kelompok menopang argumentasinya dengan Al-Qur’an dan Hadits. usaha mereka ini tidak membuahkan hasil karena keberadaan jumlah penghafal Ql-Qur’an dan para ulama dari kalangan sahabat dan murid-muridnya masih sangat banyak. Demikian seterusnya. kelompok Syi’ah menuntut hak mereka untuk menduduki kursi khalifah. tidak ternoda kedustaan.” (HR. mereka berupaya mengubah dan memasukkan tambahan ke dalam hadits dan melakukan pemalsuan atas nama Rasulullah SAW. Mereka dapat membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang palsu. dilihat dari dua hal. Pada masa tabi’in (murid para sahabat) pemalsuan hadits lebih sedikit dibandingkan dengan pada masa tabiut tabi’in (murid tabi’in) karena masih banyak sahabat dan tabi’in yang mengamalkan sunnah. Hadits maudhu’ dikaegorikan hadits mardud (tertolak). Setelah khalifah Ali wafat. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. Banyak Muncul Di Irak Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. Hadits-hadits palsu munculnya bersamaan dengan munculnya berbagai kelompok itu. Selanjutnya muncullah kelompok-kelompok lain berbasis agama. Di dalam ilmu hadits. Namun. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Fanatisme golongan. karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. maka ia akan masuk neraka.Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Para pemalsumembuat hadits untuk menyerang kelompok lainnya. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. sehingga muncul sekumpulan hadits palsu.

Sejak pertama. Usaha untuk mendiskreditkan Islam. dan jika Dia mewahyukan ancaman maka dengan bahasa Arab. Ibnu Abi Hadid berkata. Al-Mahdi .”Selain hadits palsu yang berbicara tentang bahasa. Contohnya adalah. Namun mereka tidak mampu untuk membalas dendam dengan pedang karena kekuasaan Islam telah sedemikian kokoh. panah. Selain itu.Ada pula yang menjilat para penguasa dengan membuat hadits yang dapat memuaskan mereka. Kemudian Dia menciptakan diri-Nya dari keringat kuda itu. terbuat dari apakah Tuhan kita? Rasulullah SAW menjawab. Para pendongeng ini membuat membuat hadits palsu dengan tujuan untuk mendapatkan uang. kekuasaan Kisra dan Kaisar roboh. mereka berupaya menandingi kebanggaan etnis Arab. diskriminasi etnis dan fanatisme kabilah. Pada masa-masa akhir khulafaur rasyidin.” • Ketiga. Mereka memanfaatkan gerakan pemberontakan dengan cara bergabung ke dalamnya. secara khusus mengandalkan etnis Arab. “Dari air yang berlalu (tidak diam). dinasti Umayyah. etnis dan kabilah. ketika ia melihat Al-Mahdi bermain-main dengan burung dara. Pemalsuan itu didorong rasa permusuhan terhadap lawan. merekapun memalsukan hadits tentang Abu Bakar sebagai tandingan hadits yang dibuat oleh Syi’a • Kedua. “atau sayap”.Dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghah. “Pertama kali kedustaan dalam hadits tentang keutamaan (fadhilah). tidak dari bumi dan tidak pula dari langit. Maka muncullah kelompok Mawalli (kaum muslimin non Arab). atau kuda.” Kemudian Ghiyats menambahkan. Hal itu mereka lakukan untuk menodai Islam. Misalnya hadits. muncul kelompok-kelompok pendongeng dan penasihat yang jumlahnya terus bertambah. dilakukan oleh Syi’ah. tendensi duniawi berupa popularitas dan usaha menjilat penguasa. Setelah kehadiran Islam. yang berupaya mewujudkan persamaan hak. mereka memalsukan hadits yang berbeda mengenai Ali. “Wahai Rasulullah. ALLAH mewahyukan dengan bahasa Persia. Ketika Al-Bakriyah (pendukung Abu Bakar) melihat apa yang dilakukan Syi’ah. Dia menciptakan seekor kuda kemudian menjalankan kuda itu maka berkeringatlah kuda. dan jika ALLAH mewahyukan sesuatu yang menggembirakan. “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar ‘Arsy adalah dengan bahasa Persia. “Tidak ada perlombaan kecuali untuk unta. Maka mereka berusaha menjauhkan kaum muslimin dari aqidahnya dengan menciptakan kebathilan dan berdusta atas nama Rasulullah SAW. negara dan imam. benar-benar terjadi pada masa masa Abbasiyah. • Keempat. Pada masa pemerintahannya. Ghiyats bin Ibrahim berdusta untuk khalifah Al-Mahdi dalam hadits. Inilah yang mendorong mereka memalksukan hadits-hadits. Hal ini. sebagian mereka bersikap fanatis terhadap kebangsaan Arab dan bahasa Arab. Sebagai contoh: diriwayatkan bahwa ada yang bertanya. hadits pasu juga dibuat tentang kelebihan negara atau imam tertentu.

jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. Lc 1. .000 dirham.” Mereka beralasan. “Kami berdusta untuk kebaikan Beliau. Nur Ihsan M. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. maka ia akan masuk neraka. 2009 Oleh: Abu Fudhail. “dengan sengaja untuk menyesatkan manusia. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. ‫ ( اللصاق‬menyandarkan / menempelkan ) Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena 1 Rendah dalam kedudukannya. Diposkan oleh Markaz As-Sunnah di Senin. ‫ ( الختل ق‬mengada-ngadakan ) 4.” Haram Meriwayatkannya Hadits palsu adalah hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil. • Kelima.” (HR. 2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ).” Dengan ditambahi lafadz. Juni 08. Mereka berdalil dengan hadits “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. ‫ ( الحط‬merendahkan ) 2. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. ‫ ( السقاط‬menjatuhkan ) 3. Muslim) Meski beberapa hadits sering kita dengar. pemahaman yang keliru dari madzhab al-karramiyah.Idris. Berdasarkan hadits. Definisi Hadits Maudhu’ Secara etimologi : maudhu berasal dari kata ‫ وضع‬yang mempunyai beberapa makna diantaranya 1. kita harus memastikan terlebih dahulu keshahihannya sebelum menjadikannya dalil atau mengamalkannya. Madzhab sesat ini mengklaim bolehnya memalsukan hadits dalam rangka targhib wa tarhib (menganjurkan manusia berbuat baik dan menakut-nakuti manusia agar tidak bermaksiat). 4 Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya.kemudian menyuruh orang iuntuk menyembelih burung merpati tersebut dan memberikan kepada Ghiyats sebanyak uang 10. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. bukan untuk menodai Beliau. 3 Diada-adakan oleh perawinya. Bahkan menurut kesepakatan ulama. maka ia akan masuk neraka.

Pembagian hadits Maudhu Hadits mudhu ada 3 macam: 1. bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam ِ ّ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ْ ّ َ َ َ ْ َ ً ّ َ َ ُ ّ ََ َ َ ‫َ ْ ك‬ ‫من َذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka ( Riwayat Bukhari. Hadits maudhu adalah hadits yang paling rendah kedudukannya.Muslim) Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga.Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. Hukum Meriwayatkan hadits maudhu Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda: َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ٌ ِ َ ُ َّ َ ُ ٍ ِ َ ِ َّ َ ّ َ ْ َ ‫من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين‬ Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta. 2. Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut 4. 3. Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia dusta. Hukum Berdusta Atas Nama Nabi Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk. Perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu . Perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah r 2. pada dusta yang disengaja saja.

setelah itulah muncul orangorang yang ta’asub (fanatik) pada golongan tertentu. kemudian kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu berbuat demikian pula. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits A. Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam . Perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya . fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. dan Mu’awiyah radhiyallohu anhum jami’an. memalsukan hadits mengenai Abu Bakar. Umar. Kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah) 6. Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman. dan yang pertama kali mempeloporinya adalah Syiah. Cuma dia keliru. pendapatnya ini hanya dibangun atas persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali b.Utsman. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). mereka membuat hadits palsu tentang keutamaan Ali radhiyallohu anhu.Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: a. Polemik politik Dari sebab pembunuhan Utsman radhiyallohu anhu kemudian fitnah Ali radhiyallohu anhu dan Mu’awiyah radhiyallohu anhu terpecahlah kaum muslimin mennjadi tiga .yang menjadikannya hadits. Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu. Jenis ketiga ini masuk hadits maudhu apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya 5. wasiat imamah (pengganti Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan mut’ah Contoh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al Ataki dari Anas radhiyallohu anhu dari Salman . Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits a. Pada zaman mereka tidak terjadi pemalsuan hadits. Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. 3. dan yang keluar yang memberontak pada Ali radhiyallohu anhu. kubu Ali radhiyallohu anhu.

Tukang cerita c Ar-Targiib wa Tarhib ( Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh. Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan AlHakam bin Sohir. Zindik (munafik) Karena penaklukan dari tentara kaum muslimin maka masuklah beberapa orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keIslaman 7.radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ali radhiyallohu anhu ‫هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي‬ Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku. Mazhab b. Pada khalifah dan pemimpin 2. Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu nuskhoh ( kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279) B Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkata ‫إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه‬ Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia. Fanatisme kepada: 1. b. Negeri 3. Sebab Tersebarnya Hadits Palsu a . . Bahasa 4.

Berkeliling daerah menyebarkannya 10. Pencurian hadits 9.Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an. dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an d Tujuan dunia dan harta. Memastikan keshahihan riwayat dengan beberapa cara 1.Bertanya dan memeriksa isnad ( para perawi hadits ) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad ibnu Sirin seorang tabi’in (wafat 110 H) dia berkata Ahli hadits pada awal tidak bertanya tentang isnad maka takkala pada fitnah. Al Jami’ 2:224) 3.membuat buku dalam hadits/kumpulan hadits c. Membuat hadits yang tidak punya asal 2.Bepergian mencari hadits Imam Abu ‘Aliyah berkata kami telah mendengar dari shahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di Basrah tetapi kami tidak puas sampai mendengar langsung dari mulut sahabat di Madinah maka kami safar ke sana ( Al-Khatib. Metode Pemalsu Hadits dalam Menyebarkannya a Memasukannya kedalam buku atau kumpulan hadits b. . Penelitian dan penyeleksian dalam riwayat hadits. seperti untuk melariskan dagangannya sehingga membuta hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan barang yang dijualnya 8. Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. Metode Pemalsu dalam Memalsukan Hadits 1. apakah hadits ini dikenal maka diambil dan jika tidak maka tidak diambil. mereka berkata ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ ّ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ َ ّ َ ‫سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فل يؤخذ حديثهم‬ Sebutkan orang-orangmu (yang kamu ambil hadits darinya) kalau ia dari AhlusSunnah dia ambillah dan kalau ia ahli bid’ah ditinggalkannya 2. Memasukkan beberapa lafaz pada hadits shohih 3.

a. Pemisahan hadits shohih dan selainnya.b. Kaidah Umum untuk Mengetahui Hadits Palsu.Tanda pemalsuan pada isnad hadits 1. Adanya dalil yang menujukkan pengakuan yang menunjukkan sang pemalsu contoh seperti ditanya tentang waktu dan tempat bertemu syekh tapi mustahil keduanya bertemu. Berkata Ibnu Mahdi saya memanggil Isa bin Maimun pemalsu hadits karena riwayatnya dari Al-Qosim maka ia mengatakan saya tidak akan mengulang 11. Silsilah Al-Ahadits Al-Dhoifah wal Maudhu’ah oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albany Rahimahumullah (wafat pada tahun 1420 H) 12.Kumpulan rawi pemalsu hadits b. Menentukan daerah penyebaran hadits dhaif dan meninggalkan meriwayatkan hadits dari mereka ini . Imam Al-Khotib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ismail bin ‘Ayyash berkata saya pernah berada di Iraq kemudian saya didatangi ahli hadits di kota itu dan berkata ada orang yang mengatakan bertemu dengan Kholid bin Ma’dan maka saya mendatangi dan bertanya kapan anda mendengar dari Khalid katanya tahun 113 H . secara asal terutama ahli iraq (kuffah dan basrah) . 2. Yahya bin Abi katsir dan Abu Ishak. Ilmu jarh wa ‘tadil 3.Kumpulam hadits-hadits palsu dan kadangkala digabung dengan hadits dhaif lainnya Diantara buku tersebut 1.000 hadits. 2. Pengakuan sang pemalsu. Hasil Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. Hammad bin Zaid berkata: zindik munafik memalsukan kurang lebih 12. Mengumpulkan hadits palsu dan membongkar kepribadian pemalsu hadits 1. Khusus hadits-hadits palsu disusunlah a. namun dari ahli Iraq banyak pula ahli hadits diantaranya Qatadah. Al La’ali al Mashnu’ah fil Ahadits al Maudua’ah oleh Imam as-Suyuti (wafat 911 H) 3. c. 4. Ilmu ruwah/ biografi setiap rawi 2. Al Maudhu’at oleh Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) 2.

al-Jami’ 1.saya berkata engkau mengaku mendengar dari Khalid setelah 7 tahun kematiannya. bapaknya dan cucunya Apakah dosanya sebagai anak sehingga menghalangi ia masuk surga bukankah Allah I berfirman ‫ول تكسب كل نفس إل عليها ول تزر وازر ٌ وزر أخرى‬ َ ْ ُ َ ْ ِ ‫َ َ َ ْ ِ ُ ُ ّ َ ْ ٍ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ َ ِ ُ َ ِ َة‬ “Tidaklah seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali kepada dirinyasendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (AlAn’am 164 ) 1. Pengaruh dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu Hadits-hadits palsu yang banyak beredar di tengah masyarakat kita memberi dampak dan sangat buruk pada masyarakat Islam diantaranya: 1 Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat 2 Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah . Kholid wafat tahun 106 H( al Khotib. Bertentangan dengan nash al-qur’an sunnah dan ijma yang jelas Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at yang menyebutkan hadits ِ ِ َ َ ُ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ُ َ َ َ َ ْ ‫َ َ ْ ُل‬ ‫ل يدخ ُ الجنة ولد الزنا ول والده ول ولد ولده‬ Tidak masuk surga anak zina.123).Diketahui dari keadaan sang perowi Seperti meriwayatkan tentang bid’ahnya b. Keganjilan lafaz dan bahasanya seperti hadits ‫من أكل من الطين واغتسل به فقد أكل لحم أبيه آدم واغتسل بدمه‬ Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi dengan darahnya” ( Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil 5:1837 ini hadits yang batil) 13 .Tanda pemalsuan pada matan 1. 3. Bertentangan dengan akal sehat yang tidak mengandung penafsiran yang lain atau kenyataan yang ada 1.

Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian. Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya.3 Matinya sunnah. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan tempat yang harus dipedomani. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad .

Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. Menurutnya dari kata al-wadh dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis. Namun. . Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2.kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. BAB II PEMBAHASAN A. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu.[4] Dr. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. B. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu.

hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. Misalnya. 2.Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam.[6] Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. Menurut mereka. antara lain: 1. kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan . Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar.

Mereka berkata. Diantaranya adalah: . Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. bangsa. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. Oleh karena itu. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. 3. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. dan lain-lain. Fanatik Terhadap Suku. kesesaatan dan tipu muslihat. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah.[8] Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. kelompok. Dalam menjalankan pemerintahannya. Bangsa.kejayaan pemerintahannya. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”.

sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. hal ini sangat disesalkan. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ “Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. Melihat hal ini. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka.‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Mengenal Hadis Palsu . terlepas dari itu. C. Menurut Ajaj al-Khatib. Namun.[10] 5. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi.

Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. Rusaknya makna (arti) hadis. b.[12] 2. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa.[15] . Tanda hadis palsu pada matan a. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. saya tidak akan mengaku. c. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. hadis mutawatir atau ijma. 1. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. hadis anu…”. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil.[14] d. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. Buruknya redaksi hadis. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya.Untuk mengenal hadis palsu. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda. Ketika sakit Abu Jazi berkata. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. santun dan enak dirasakan.

para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. yaitu: 1. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. [16] 2. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya.D. dan lainnya. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk . Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. mereka berkata. Memilih Perawi Yang Terpercaya Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. 4. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan.[17] 3. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. Abu al-Aliyah berkata. disamping telah dibukukannya hadis. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. Oleh karena itu.

2. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. dan fanatisme. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. menyenangkan penguasa. 3. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan . dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. membangkitkan gairah ibadah. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan.

Menurutnya dari kata al-wadh . Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu.[4] Dr. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. BAB II PEMBAHASAN A. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian.tempat yang harus dipedomani.

dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. Misalnya. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.[6] . kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. Menurut mereka. antara lain: 1. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2. Namun. Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. B.

Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. 2. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. kesesaatan dan tipu muslihat. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan kejayaan pemerintahannya.Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan.[8] . Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. Mereka berkata. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan.

Melihat hal ini. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ . dan lain-lain. Dalam menjalankan pemerintahannya. kelompok. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. Oleh karena itu. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. bangsa. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. 3. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”.Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. Diantaranya adalah: ‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. Fanatik Terhadap Suku. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. Bangsa. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah.

1. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). terlepas dari itu. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. . Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. Mengenal Hadis Palsu Untuk mengenal hadis palsu. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya.[10] 5. C. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. hadis anu…”. saya tidak akan mengaku. Ketika sakit Abu Jazi berkata. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Ajaj al-Khatib. hal ini sangat disesalkan. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara. b. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. Namun. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu.“Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah.

Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. [16] 2. Rusaknya makna (arti) hadis.[14] d. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini.[12] 2. santun dan enak dirasakan. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c. mereka berkata. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. Memilih Perawi Yang Terpercaya .c. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. hadis mutawatir atau ijma. yaitu: 1. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan.[15] D. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. Buruknya redaksi hadis. Tanda hadis palsu pada matan a.

para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. Oleh karena itu. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi. disamping telah dibukukannya hadis. dan lainnya. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit.[17] 3.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan.Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. . Abu al-Aliyah berkata. 4.

Ahmad dan semisalnya) ini. membangkitkan gairah ibadah. Hadits maudhu’ dikategorikan hadits mardud (tertolak). Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. yaitu hadist yang dibuat oleh seseorang pendusta dan disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. Hadits maudhu’ yang bertentangan dengan sunnah mutawatir ialah Hadits yang memuji orang-orang yang memakai nama Muhammad atau Ahmad. dan fanatisme.2. B. yaitu golongannya syi’ah membuat hadits maudhu’ yang memuji diri sendiri. PENGERTIAN HADITS MAUDHU’ Menurut bahasa. Hadits maudhu’ yang dinukil dari perkataan orang-orang Mutaqaaddimin. kata maudhu’ merupakan isim maf’ul dari kata wada’a (‫. karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. akan tetapi keselamatan dari neraka itu karena keilmuan dan keislaman 2. Hadist semacam ini dinamakan dikenal juga dengan sebutan hadits palsu. Lc Disusun oleh : IMAM WAHYUDI PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 A. Dan secara istilah : ulama hadist. tidak akan dimasukkan di neraka”. yaitu: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. yaitu: “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. Hadits tersebut adalah bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW yang menerangkan bahwa neraka itiu tidak dapat ditembus dengan nama-nama tersebut. CONTOH HADITS MAUDHU’ 1. )وضع‬ artinya menurunkan atau meletakkan atau meyimpan. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk mempertahankan idiologi partainya atau golongan sendiri dan menyerang partai lawannya. mereka membuat hadits yang . Di samping itu juga. dilihat dari dua hal. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. baik secara sengaja maupun tidak. 3. Di dalam ilmu hadits. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu HADITS MAUDHU' MAKALAH HADITS MAUDHU’ Makalah ini dibuat Demi Memenuhi Tugas dalam Mata Kuliah Musthalahul Hadits Dosen Pengampu : Nurcholis. 3. menyenangkan penguasa.

“ Aku telah melihat Tuhanku dengan tanpa Hijab antaraku dan Dia. selain pohon yang daunnya ditulis dengan kalimat: la ilaha ilahu. “Bahwa hadits-hadits adalah suatu agama. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang bekendaraan dan memeluk orang-oreng yang pada berjalan”.” 10. “Barangsiapa mengucapkan tahlil (la ilaha ilallah) maka Allah menciptakan dari kalimat itu seekor burung yang mempunyai 70. “Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. tidak akan dimasukkan di neraka.000 tahun. Ahmad dan semisalnya) ini. 7.” 11. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar. dan sekarang datang pada ribuan yang ke-7”. Karena itu . “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari. Umar dan Utsman r. “Hadiah Allah kepada seorang mukmin adalah adanya pengemis yang menunggu pemberian di depan pintunya”. ‘Wahai Tuhan-ku.” 13. Siapa pun dari mereka yang engkau teladani. “Di surga tidak terdapat satu pohon. di Arafah dengan berkendaraan unta kelabu. tidak dapat masuk surga. 4. 18.” 9. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk merusak dan mengeruhkan Agama Islam.” 17. “Ketika Adam melakukan kesalahan. 5. sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Zindiq.a. niscaya engkau akan mendapat petunjuk. Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam. segera membalas membuat hadits maudhu’ untuk mengadakan revance atau setidak-tidaknya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat padanya. aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuni padaku”. bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu.000 bahasa yag dapat meminta ampun kepadanya”. Umar Al Faruq dan Utsman Dzun-nurain”. “Para sahabatku laksana bintang-bintang. Misalnya hadits maudhu yang membenarkan ke-khilaf-an Abu Bakar. Hadits maudhu’ yang menjelaskan tentang umur dunia: ”Umur dunia itu 7. sampai tujuh keturunan”. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (ilmunya). Hadits maudhu yang bertentangan dengan Al Quran: “ Anak zina itu. muhammadur Rasulullah. 20. 19. hal itu kami rubah( sedemikian rupa) menjadi suatu hadits”. kecuali mereka yang ikhlas. “Sesuap makanan diperut lapar adalah lebih baik daripada membangun seribu masjid jami’”. 6. Pengikut golongan lain yang merasa golongannya dihina. “Wahai Jabir. Abu Bakar As Shiddiq. telitilah dari siapa kamu mengambil pelajaran Agama! Kami sendiri bila menghendaki sesuatu hal.000 lisan.isinya untuk menjelek-jelekkan lawannya. 12.” 8. maka dia telah bersikap kasar kepadaku. “Telah dipastikan atau difitrahkan bahwa hati menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan membenci siapa yang berbuat buruk kepadanya”. seperti Mu’awiyah: “ Apabila kamu melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku bunuhlah”. Oleh karena itu. “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. 16. ia berkata. 14. 15. “Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku. dan setiap lisan mempunyai 70. “Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama.

barang siapa yang mengatakan demikian. Nanti bakal datang kaum-kaum dari ummatku yang mengatakan bahwa Al quran itu adalah makhluk baru. namun mahar yang diterimanya tidak lebih dari segenggam gandum atau yang sepertinya dari buah kurma”. Abdul. 2008. Ar-Rasikh. D. Khumaidi. sungguh kafir terhadap Allah yang Maha Besar dan tertalaklah istrinya sejak itu”. “Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. 2003. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. “Sungguh Allah itu apabila marah. Jakarta: Darul Falah. “Berapa banyak wanita yang cantik jelita. HUKUM HADITS MAUDHU’ Hadits maudhu’ atau palsu merupakan hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil dan juga hadist ini merupakan hadist yang paling jelek di antara sekian banyak yang hadist yang dhaif. Ilmu Hadits Untuk Pemula. maka berati ia telah menjauhi aku”. 22. 29.” 24.000 paviliun yang setiap paviliun mempunyai 70. Muhammad. Bahkan menurut kesepakatan ulama. 27.000 tahun tidak bergeser”. 30. 28. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. Artha Rivera. . 23. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. Jakarta Barat: CV. REFERENSI Al Albany. yang paling mengentarkan ummatku daripada iblis. menurunkan wahyu dengan bahasa Persi dan bila rela. 26. Oleh karena itu.kulihat segala sesuatu. Muslim). C. 21. “Barang siapa yang mengangkat kedua tangannya di dalam shalat. Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu. Jakarta : Gema Isani. “Sesungguhnya Allah SWT tidak mengizinkan untuk melagukan Al quran”. Irham. kecuali Allah dan Al quran. Ilmu Hadits. 2008. Yang demikian itu tetap berjalan dampai 70. adalah makhluk. “Barang siapa mencium bunga mawar merah dan tidak ber-shalawat kepadaku. “Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan ramadhan tidak berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan witir”.1997. pada istana itu terdapat 70.000 kibah. di bumi dan di antara keduanya. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama abu Hanifah An Nu’man sebagai pelita ummatku”. maka tidak sah salatnya”.” (HR. Drs. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. Nashiruddin. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka di suatu istana yang terbuat dari mutiara putih. Mannan. “Setiap yang ada di langit. Berdasarkan hadits. maka ia akan masuk neraka. 25. Bandung : Pustaka Setia. hingga kulihat sebuah mahkota yang terhias dari mutiara”. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama Muhammad bin Idris. Kamus Istilah-Istilah Hadits. Mudasir. menurunkan wahyu dengan bahasa Arab”.

Rahman. sebagaimana anggapan para orientalis. Drs. haramnya meriwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun. Hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah dan tidak pernah dilakukan seorang shahabatpun. dha’if. Dalam dalam kesempatan ini.blogspot. 1985. ciri-ciri maupun yang lainnya. insya Allah saya akan menjelaskan seputar hadits maudhu’. fatchur. Apabila diantara mereka berselesih mereka berijtihad. Dan membawa As Sunah bukan pada maksudnya.Al-Firqotunnajiyyah. Jadi memang ada hadits yang shahih. hukum. Menurut Istilah Adalah kedustaan yang dibuat dan direka-reka yang disandarkan atas nama Rasulullah dan ia termasuk periwayatan yang paling jelek. karena memang menurunkan derajatnya.wordpress. .html. kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya. baik pengertian. Ihktisar Musthalahul Hadits.com/2008/06/hadits-maudhu. Derajat Hadits Maudhu’ dan Hukum Meriwayatkannya Hadits maudhu’ merupakan hadits yang paling rendah dan paling buruk Sehingga para ulama’ sepakat. dengan mengedepankan mencari kebenaran.com/2008/01/05/contoh-hadits-maudhu-hadis-palsu/ http://www. Kita sebagai seorang muslim tidak meyakini bahwa semua hadits adalah shahih. yang berarti menurunkannya. Pengertian Menurut Bahasa Hadits Maudhu’ Merupakan isim maf’ul (objek) dari kata wadha’a Asy-Syaia.http://ainuamri. Sebagian kelompok mentakwilkan Al Qur’an bukan pada makna sebenarnnya. Dan kelompok yang pertama melakukan hal itu adalah Syi’ah. dan maudhu’(palsu). Bila mereka mentakwilkan hadits mereka menisbatkan kepada Nabi Apalagi tentang keutamaan para Imam mereka. Bandung : PT Alma ‘arif PENDAHULUAN Hadits merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an dalam islam. menjadikan setiap kelompok mencari dukungan dari Al Qur’an dan As Sunah. agar kita faham pembahasan yang berkaitan dengan hadits maudhu’. hasan. Namun juga tidak benar bila menganggap bahwa semua hadits itu palsu. Awal Munculnya Hadits Maudhu’ Perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa kelompok setelah fitnah( masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan). Dinamakan seperti itu.

Adapun jika bertentangannya memungkinkan untuk dijamak. Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits.” Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara . berlawanan dengan ketetapan agama atau susunan lafadz lemah dan kacau. bertentangan dengan indra. kemudian meletakkan sanadnya dan meriwayatkannya. maka dia termasuk para pendusta. bahwasanya ia telah memalsukan hadits atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al Qur’an surat per surat. Misal perawi Rafidhah. Bagaimana Mengetahui Hadits Maudhu’ 1. Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam. Adanya indikasi pada isi hadits. As Suyuthi berkata:”Dari indikasi perawi (maudhu’) adalah dia seorang Rafidhah dan haditsnya tentang keutamaan ahli bait. Dan seperti pengakuan Maisarah bin Abdi Rabbihi Al Farisi bahwa dia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits. maka ia tidak (maudhu’). menyelisihi naql (dalil). dengan berkata:”Bila kami berkumpul-kumpul. atau menafikan dalil-dali Al Qur’an yang qath’I. Menurut Abu Bakar bin Ath Thayib:”Sesungguhnya bagian dari petunjuk maudhu’ adalah tidak masuk akal yang tidak bisa ditakwil disertai dengan tidak berdasar pada panca indra. atau yang membatalkan masalah ushul(akidah).” (HR. Seperti seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh.” Ibnu Al Jauzi berkata:”Perkataan yang paling tepat berkenan dengan hadits maudhu’ adalah. Ketika ditanya perawi tersebut. Mengambil perkataan ahli bijak atau selain mereka kemudian meletakkan sanadnya. serta kemustahilan hadits tersebut bersumber dari Rasulullah. ketahuilah sesungguhnya itu adalah maudhu’. 2. 2. Atau pada saat syaikh meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan. haditsnya tentang keutamaan ahli bait. kemudian ada sesuatu yang kami anggap baik maka kami jadikan sebagai hadits.” Hamad bin Salamah berkata:”Menceritakan kepada syaikh mereka(Rafidhah).Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan hadits dari sedang dia mengetahui bahwa itu dusta. Cara Yang Ditempuh Pembuat Hadits Maudhu’ 1. Membuat perkataan yang berasal dari dirinya. ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh. bertentangan dengan akal sehat. Adanya inidikasi perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya. yang digelari Nuh Al Jami’. tentang tanggal kelahirannya. sunah yang mutawatir dan ijma’. apabila kamu melihat hadits yang menjelaskan akal. dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut. 5. 3. 4. Pernyataan yang diposisikan sama dengan pengakuan. Muslim).

dia bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi:”Dari mana engkau mendatangkan hadits-hadits seperti.” Bahwa kapal Nabi Nuh thawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali dan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim. Mereka ini termasuk kelompok pembuat hadits maudhu’ yang paling buruk. Ini merupakan asal dari kedustaan atas nama Rasulullah.marfu’. atau hadits yang berisi ancaman terhadap perbuatan munkar. dengan meletakkan hadits-hadits targhib(yang mendorong) manusia untuk berbuat kebaikan. bahwa beliau bersabda: “Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang. yang dilakukan untuk menyenangkan Al Mahdi. Masing-masing aliran membuat hadits-hadits palsu untuk memperkuat golongannya. kezindikan atau sekedar hobi semata. Sang Amir . Mereka yang membuat haditshadits maudhu’ ini biasanya menisbatkannya kepada golongan ahli zuhud dan orang-orang shalih. dari Ibnu Mahdi. Dalam rangka Taqarrub kepada Allah. Sebagian orang yang imannya lemah berupaya mendekati sebagian penguasa dengan membuat hadits yang menisbatkan kepada penguasa agar mendapat perhatian. termasuk madzhab yang terpecah menjadi aliran politik setelah munculnya fitnah(masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan) dan maraknya aliran-aliran politik seperti Khawarij dan Syi’ah. 1. Berikut adalah motivasi-motivasi mereka: 1. Motivasi-motivasi yang Mendorong Melakukan Pemalsuan Hadits Banyak niat seseorang memalsukan hadits baik timbul dari motif politik. jangan meriwayatkan (hadits) dari mereka sesungguhnya mereka berdusta. Mendekatkan diri kepada penguasa demi menuruti hawa nafsu. 1. menggali atau sayap. Diantara mereka adalah Maisarah bin Abdi Rabbihi.” Ia menambahkan kata sayap (junah). 1. berkata:”Janganlah engkau bicara dengan mereka. Membela suatu madzhab. karena manusia menerima hadits-hadits maudhu’ mereka disebabkan kepercayaan terhadap mereka. ketika masuk ke (ruangan Amirul Mukminin) dan menjumpai Al Mahdi tengah bermain-main dengan burung merpati. Maka ia menambahkan perkataan dalam hadits yang disandarkan kepada Nabi. “Barangsiapa membaca ini maka ia akan memperoleh itu? Ia menjawab:”Aku sengaja membuatnya untuk memberi dorongan kepada manusia. lalu Al Mahdi memberinya sepuluh dirham. Imam Malik ditanya tentang Rafidhah. Setelah berpaling. pacuan. Ibnu Hibban telah meriwayatkan dari kitabnya Ad Dhu’afa’.Seperti kisah Giyats bin Ibrahim An Nakh’I Al Kufi dengan Amir Mukminin Al Mahdi. kebodohan.

memalsu hadits. Dalam rangka meraih popularitas. perkataan ini. Ahmad bin Shalih Al Mishri berkata:”(Hukuman bagi) orang zindiq adalah dipenggal lehernya. yaitu. maka berhati-hatilah. dia adalah penerang umatku. 1. yang berbunyi:”Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang disebut Abu Hanifah Al Nu’man. orang-orang dungu itu telah membuat hadits maudhu’ sebanyak empat ribu. Zindiq yang ingin merusak manusia dan agamanya. Diantara mereka adalah Muhammad bin Sa’id Asy Syami yang dihukum mati dan disalib karena kezindikannya. Dalam rangka mencari penghidupan dan memperoleh rizki. Asy Syu’ubiyun memalsu hadits yang berbunyi:”Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Arab. yaitu dengan membuat hadits yang gharib(asing) yang tidak dijumpai pada seorangpun dari syaikh-syaikh hadits. Kemudian Al Mahdi memerintah untuk menyembelih burung merpati itu. Hamad bin Zaid berkata: “Orang-orang zindiq membuat hadits dusta yang disandarkan kepada Rasulullah sebanyak empat belas ribu hadits. Dan orang yang tidak senang dengan Imam Asy Syafi’I. 1. aku mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Mereka menambahnambahkan ceritanya agar masyarakat mau mendengar dongengannya.” Maka seorang Arab yang jahil membaliknya. dan tidak ada Nabi sesudahku kecuali yang Allah kehendaki. 1. 1. Diantara mereka adalah Abu Sa’id Al Madani. Mengikuti hawa nafsu dan ahli ra’yu yang tidak mempunyai dalil dari kitab dan sunah kemudian membuat hadits maudhu’ untuk membenarkan hawa nafsu dan pendapatnya. membuat hadits yang berbunyi:” Akan ada dari umatku seorang laki-laki . dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Persi (Al Farisiyah).berkata:”Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah. Seperti yang dilakukan sebagian tukang dongeng yang mencari penghidupan melalui berbagai cerita kepada masyarakat. Dan orang yang ta’ashub(fanatik) terhadap Abu Hanifah. Ia meriwayatkan hadits dari Humaid dari Anas secara Marfu : Aku adalah Nabi terakhir. lalu mereka memberi upah. Mereka membolak balik sanad hadits supaya orang yang mendengarnya terperangah. ” Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Persi (AlFarisiyah). Fanatisme terhadap Imam atau Negri. 1. Diantara mereka adalah Ibnu Abu Dihyah dan Hammad bin An Nashibi. Ketika akan dipenggal lehernya Ibnu Adi berkata:”Aku telah memalsukan hadits diantara kalian sebanyak empat ribu hadits. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Arab.

. maka hendaknya ia bersiapsiap menempati tempatnya dineraka. ancaman. berpendapat bahwa kafir bagi orang yang memalsukan hadits Rasulullah dan dengan sengaja dan mengetahui (hukum berkenaan) dengan yang ia ada-adakan. Orang yang berdusta atas nama Rasulullah ancamannya sangat keras. Dalam riwayat Al Bukhari tidak terdapat atau dengan sengaja. ringkasan kedua kitab diatas. yaitu diriwayatkan 70 orang shahabat. Syaikh Muhammad Abu Al Juwaini. Al La’ali Al Mashnu’ah fi Al Ahadits Al Maudhu’ah. merajut al-wala hingga menjadi bangunan yang kokoh saling menguatkan. dan inilah seruan kami: 1. Tanzihu Ay Syri’ah Al Marfu’ah ‘an Al Ahadits Asy Syani’ah Al Maudhu’ah karya Ibnu ‘Iraqi Al Kittani. menggalang ukhuwah bersama seluruh thalibul ilmi dan du’at penyeru kepada ummat. karya As Suyuthi. Yaitu semoga Allah menyiapkan untuknya (nereka). Seruan untuk hijrah kepada Allah dengan memurnikan tauhid dan mencampakkan kesyirikan serta hijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya. bersama seluruh golongan dan pergerakan yang haq. dia lebih bahaya atas umatku dari pada iblis. Kitab-kitab Referensi Hadits Palsu Para ulama telah merupaya mengumpulkan hadits-hadits palsu supaya kaum muslimin selamat dari makar pembuatnya. di antara kitab-kitab tersebut yaitu: 1.yang disebut Muhammad bin Idris. Al Madhu’at. 1. bersama-sama kita meningkatkan iman dan ilmiah ummat berpatok pada pemahaman salafush shalih. ringkasan kitab diatas. Akhir Kata Dengan memohon pertolongan Allah. sebagaimana Nabi bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja. Ancaman Bagi yang Membuat Hadits Maudhu’. penghinaan atau do’a atas 10 pelakunya. Namun dalam riwayat Ibnu Hibban terdapat kata ini.” Hadits ini diriwayatkan secara mutawatir. Adapun adalah perintah yang juga berarti kabar(berita). 1. karangan Ibnu Al Jauzi.

.1. Seruan untuk berwala kepada iman dan muslimin serta baro’ dari syirik dan musyrikin. Saran dan Kritik Semua saran. koreksi dan kritik atau kontribusi harap dikirimkan langsung ke Kotak Komentar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful