ISTILAH-ISTILAH DALAM ILMU HADITS 1. Hadits, atsar dan khabar a.

Hadits = Asal arti hadits ialah omongan, perkataan, ucapan dan sebangsanya. Hadits menurut bahasa berarti ‫ الجديد‬yaitu sesuatu yang baru, hadis juga ُ ْ ِ َ َْ bararti ‫ الخبر‬yaitu berita. ْ ََ َْ Menurut ahli hadits, pengertian hadits ialah segala perkataan Nabi, perbuatan dan hal ihwalnya. Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadits adalah “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan dan taqrirnya yang barkaitan dengan hokum syara’ dan ketetapannya. b. Atsar = Sedang atsar ialah perkataan sahabat sebagaimana hadits perkataan Nabi Saw Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar yaitu sesuatu yang didasarkan kepada Nabi Muhammad, sahabat dan tabi’in c. Khabar = khabar menurut bahasa adalah semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sebagai ulama mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang dating selain dari Nabi Muhammad. 2. Sanad, Matan dan Rowi a. Sanad = Kata sanad menurut bahasa adalah sandaran atau sesuatu yang dijadikan sandaran, menurut istilah sanad adalah “Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadis) yang menyampaikannya kepada matan hadits. b. Matan Matan menurut bahasa berarti mairtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi), sedangkan menurut istilah adalah :

“Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad” dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa matan adalah lafadz hadis yang diucapkan oleh Nabi Saw atau isi hadits. c. Rawi Rawi yakni yang meriwayatkan hadits Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan antara sanad, rawi dan ikatan, perhatikan contoh hadis di bawah ini:

ْ ُ ْ َ َْ ٍ َ ِ ْ َُ ََّ َ ‫حدثنا محمدبن معمر بن ربعي القيسى، حدثنا أبو هشام المححححزو‬ ِ ْ َ ْ ّ ِ َِ ِ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ ُ ََّ َ ‫مي عبد الواحد وه حو اب حن زيححاد ح حدثنا عثمححان ب حن حكي حم ح حدثنا‬ ََّ َ ٍ ْ ِ َ ُ ْ ُ َ ْ ُ ََّ َ ٍ َِ ُ ْ َ ُ َ ِ ِ َ ْ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ َ َّ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ْ ُ ْ َ ِ ِ َ ْ ُ ْ ُ ْ ُ ّ َ ُ ‫محمد ابن المنكدر عن عمران عن عثمححان ب حن عفححان قححال: قححال‬ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ُ ْ َ ْ ّ َ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ ‫رسول ال صلى ال عليه وسلم: من توضحأ ف حأ حس حن الونضحوء‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ ‫خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تح حت أظفححاره: )رواه‬ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ َ ُ ْ َ َّ ِ ِ َ َ ْ ِ ُ َ َ َ ْ َ َ َ (‫مسلم‬
Penjelasan Dari nama Muhammad bin Ma’mur sampai dengan Usman bin Affan r.a adalah sanad dari hadis tersebut. Mulai kata man tawadda’ sampai dengan kata tahta azfarih adalah matannya, sedangkan Imam Muslim yang dicatat di ujung hadits adalah perawinya.

3. Hadis Mutawatir dan Ahad a. Hadits Mutawatir Mutawatir menurut bahasa berarti mutatabi’ yakni sesuatu yang datang berikut dengan kita/ yang beriring-iringan antara satu dnegan yagn lainnya, tanpa ada jaraknya. Menurut istilah mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah belajar orang yang menurut adalah mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Pada intinya hadis

mutawatir yaitu hadist yang diriwayatkan oleh banyak orang di setiap generasi sejak generasi sahabat hingga generasi akhir. b. Hadist ahad

Kata ahad menurut bahasa berarti satu, sedangkan menurut istilah ahad adalah ishobar yang jumlah perawinya tidak sebanyak jumlah perawi hadist mutawatir. Ada juga ulama yang mendefinisikan hadist ahad secara singkat yakni hadist ahad secara singkat yakni hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir. 4. Hadis shahih hasan dan dhoi’if a. Hadis shohih Shohih menurut bahasa berarti ‫( ضد السقيم‬lawan sakit) yang berarti shah, benar, ِ ِّْ ّ ِ sempurna, sehat, ibnu al-shaleh mengartikan hadist shohih yaitu hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang yagn berwafaq adil, dan dhabil, dari orang yang berwatak seperti itu juga sampai puncaknya, hadist mana tidak yadz dan tidak pula mengandung cacat. Gambaran mengenai pengertian hadist shohih menjadi lebih jelas setelah imam syafi’I memberikan ketentuan, bahwa riwayat suatu hadist dapat dijadikan hujjah apabila 1. 2. Diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya amalan Rangkaina riwayatnya bersambung sampai kepada pagi Muhammad agamanya. atau dapat juga tidak sampai ke pada pagi. Syarat-syarat hadis shohih 1. Sanadnya bersambung 2. para perawinya bersifat adil 3. para perawinya dhabil 4. Matannya tidak syadz

5. Matannya tidak berillat b. Hadis Hasan Hadis hasan menurut bahasa berarti ‫ ما تشتهيه النفسى وتميل الي حه‬yaitu ِ ْ َِ ُ ْ ِ َ َ ُ ْ ّ ِ ْ ِ َ ْ َ َ sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sebenarnya hadis hasan itu sama dengan hadis shahih. Bedanya, kalau di dalam hadis shahih semua periwayat harus sempurna kedhabitannya. Maka dalam hadis hasan ada perawi yang kedhabitannya, kecermatan atau hafalannya kurang sempurna. Menurut para ulama, hadis hasan dapat naik derajatnya menjadi shahih karena ada hadis lain yang isinya sama diriwayatkan yagn kualitasnya tidak lebih rendah. Para ulama ahli hadis membagi hadis hasan menjadi dua bagian, yaitu hasan lidzatih dan hasan li ghairih yang dimaksud dengan hadis hasan lidzatih ialah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan. Adapun yang dimaksud dengan hadis hasan li ghoirih ialah hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan hadis hasan sec ara sempurna, atau pada dasarnya hadis tersebut adalah hadis dhaif, tetapi karena ada sanad atau matan lain yang menguatkannya maka ke dudukan hadis dhaif tersebut naik derajatnya menjadi hasan li ghairih. Ibn Ash-shalah, sebagaimana dikutip oleh Al-Qosimi menyebutkan bahwa hadis hasan li hairih ialah hadis yang sandaran dan sanadnya terdapat seorang yang mashur, bukan pelupa yang banyak kesalahannya, tidak terlihat adanya sebab-sebab yang menjadikannya fasiq dan matan hadisnya diketahui baik berdasarkan periwayatannya hadis lain yang semakna. Pengertian menurut Ibnu Ash-Shalah ini memperkuat uraian bahwa pada dasarnya hadis hasan li ghairih adalah hadis dhaif, yang memiliki syahid dan muttabi’ sehingga kualitasnya menjadi naik menjadi hadis hasan, akan tetapi, hadis yang sangat lemah seperti hadis maudu’ dan mankar dan matruk sekali pun ada syahid dan muttabi’ kedudukannya tetap sebagai hadis dhaif dan tidak dapat berubah menjadi hadis hasan. c. Hadis dhaif

Secara istilah diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinsikan hadis dhaif ini. Dhaif dari segi persambungan sanadnya 1. Hadis dha’if yang disebabkan oleh cacat periwayatnya atau hal lain . Hadis mursal Yaitu hadis yang gugur sanadnya setelah tabi’in 2. An-Nawawi mendefinsikannya dengan ِ َ َ ْ ُ ْ ُ ُ َ َ ِ َ ّ ُ ْ ُ ُ ِ ِْ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ‫مالم يو جد فيه شروط الصحة ول شروط الحسن‬ “Hadis yang di dalamn ya tidak terdapat syarat-syarat hadis sahih dan syarat-syarat hadis hasan”. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua adalah tiga syarat maka hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadis dhaif yang sangat lemah. Dari definisi di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadis shahih adalah hadis hasan) hilang. Hadis Mu’dal Yaitu hadis yang gugur dua orang sanadnya atau lebih secara berturutturut. sebagai lawan dari kasla kuat. Hadis mudallas Yaitu hadis yang di dalamnya ada sesuatu yang disembunyikan. 4. 2. 3. Hadis munqathi’ Yaitu hadis yang sanadnya terdapat salah seorang yang digugurkan (tidak disebutkan namanya) baik diujung maupun dipangkal. berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadis dhaif.Kata dhaif menruut bahasa berarti lemah. beberapa definisi diantaranya adalah: 1. b. akan tetapi pad adasarnya isi dan maksudnya sama. a. Menurut Nur ad-Din’ atr mendefinisikan hadis dhaif sebagai hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul (hadis yang shahih atau hadis yang hasan).

4. Hadis matruk Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta terhadap hadis yang diriwayatkannya atau nampak kefasikannya. perbuatan dan taqrir. Hadis syadz Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang terpercaya.1. baik berupa perkataan. baik pada perbuatan adalah pada perkataannya atau orang yang banyak lupa atau ragu. Hadis mu’allal Yaitu hadits yang diriwayatkan tanpa memakai sanad 3. 5. 2. . Nabi Muhammad Saw bersabda ‫نضر ال امرأ سمع منا حديثا كما سمعه‬ ََ َ “Allah memuji orang yang mendengar hadis dari saya kemudian menyampaikannya seperti apa yang saya dengar. Hadis munkar Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang lemah yang menyalahi riwayat orang yang lebih terpercaya dari padanya. tetapi bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh. Hadis maqlub Yaitu hadis yang lafalnya tertukar pada salah seorang dari sanadnya adalah nama seorang yang sanadnya. Kesimpulan Ilmu hadis merupakna ilmu pengetahuan yagn mengkaji atau membahas tentang segala yang disandarkan kepada nabi SAW. seharusnya Kemudian disebut mendahulukan atau penyebutannya belakangan membelakangkan penyebutan yagn seharusn ya di dahulukan adalah dengan sesuatu pada tempat yang lain. orang yang lebih terpercaya lagi.

1 Definisi Hadits Shahih kata Shahih ((‫ الصحيخ‬dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata assaqim ( (‫ =السقيم‬orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafad. bunyi hadis yang Dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadlis (penyembuyian cacat). Hadits Shahih I. apabila diriwayatkan oleh para perowi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya. dan cacat (‘ilat). mampu meriwayatkan hadis secara lafad. diriwayatkan oleh orang adil dan dhobith(kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya. kedua. 2) Para perowinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat. Defisi hadis shahih secara konkrit baru muncul setelah Imam Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah. dalam arti adil dan dhobith. atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi.PEMBAHASAN I. dan . dfiriwayatkan oleh perowi yang adil dan dhobit. ‫هو ما اتصل سنده بنكل العدل الضابط ضبطا كامل عن مثله وخل ممن الشذوذ و العلة‬ hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya. Imam Al-Suyuti mendifinisikan hadis shahih dengan “hadis yang bersambung sanadnya. yaitu: pertama. 3) Hadisnya terhindar dari ‘ilat (cacat) dan syadz (janggal). rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi SAW. selamat dari kejanggalan (syadz). dikenal sebagai orang yang jujur mermahami hadis yang diriwayatkan dengan baik. tidak syadz dan tidak ber’ilat”. mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafadnya. Imam Bukhori dan Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut: 1) Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perowi pertama sampai perowi terakhir.

Mencatat semua periwayat yang diteliti. sdeperti imam empat Hanafi. akhbarana. ‘an.anna. c. 2. dan periwayatannya pun ditolak. yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasani. Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut: 1. sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa atta’dil. dari sejak awal hingga akhir sanadnya. Asy-Syafi’i. dan Hambali. 3. dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadis shahih dapat dirumuskan sebagai berikut: a.Maliki. akhbarani. b. atau kasta-kata lainnya. Perowinya Bersifat Dhobith . ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil. keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil. Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fasiq. 1. khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat. bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya.2 Syarat-Syarat Hadis Shahih Berdasarkan definisi hadis shahih diatas. biasanya ulama’ hadis menempuh tata kerja sebagai berikut. haddasani.4) Para perowi yang terdekat dalam sanad harus sejaman. I. Mempelajari hidup masing-masing periwayat. 2. jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. bersetatus Mukallaf (baligh). Sanadnya Bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perowi dari perowi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya. Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad. Perawinya Bersifat Adil Maksudnya adalah tiap-tiap perowi itu seorang Muslim.

sedang periwayat yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan perowinya. dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai pada ke-shahih-an hadis. bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah. nmenurut para ulama. sedang.Maksudnya masing-masing perowinya sempurna daya ingatannya. ingatan perowinya sempurna. Pembagian Hadis Shahih Para ahli hadis membagi hadis shahih kepada dua bagian. Dhobith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan. d. pada shahih li-dzatih. seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal. Tidak Ber’ilat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya. I. Tidak Syadz Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz. sementara dhahirnya selamat dari cacat. ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad. sejak ia maneriama hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhobithannya. ingatan perowinya kurang sempurna. dhobith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan. yaitu shahih li-dzati dan shahih li-ghoirih. Namun demikian. e. sedang pada hadis shahih li-ghoirih. Menurut al-Syafi’i. Adapun sifat-sifat kedhobitan perowi. baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan). dapat diketahui melalui: 1. suatu hadis dinyatakan syudzudz.3.Hadis Shahih li dzati . Artinya. a. dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan lainnya. kesaksian para ulama 2. suatu hadis tidak dinyastakan sebagai mengandung syudzudz. bila hadisd yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah. ‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama.

. I. ad’af al-asanid. Ketiga. para muhadisin membagi tingkatan sanad menjadi tiga yaitu: Pertama. Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat’i.4 Kehujahan Hadis Shahih Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis shahih wajib diamalkan sebagai hujah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para uluma hadis dan sebagian ulama ushul dan fikih.5 Tingkatan Hadis Shahih Perlu diketahui bahwa martabat hadis shahih itu tergantung tinggi dan rendahnya kepada ke-dhabit-an dan keadilan para perowinya. ahsan al-asanid.bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya. seperti periwayatan Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah. seperti periwayatan sanad dari Imam Malik bin Anas dari Nafi’ mawla (mawla = budak yang telah dimerdekakan) dari Ibnu Umar. Kedua. yaitu al-Quran dan hadis mutawatir. yaitu rangkaian sanad hadis yang tingkatannya lebih rendah dari tingkatan kedua. yaitu rangkaian sanad hadis yang yang tingkatannya dibawash tingkat pertama diatas. Hadis Shahih Li Ghoirihi Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis shahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. oleh karena itu. ashah al-asanid yaitu rangkaian sanad yang paling tinggi derajatnya. mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah. Hadis shahih li-ghoirih. Berdasarkan martabat seperti ini. hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah. I. adalah hadis hasan li-dzatihi apabila diriwayatkan melamui jalan yang lain oleh perowi yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari padanya. Bukan berarti sama sekali dusta.Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya. karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan. tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah. Seperti periwayatan sanad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu. b.

yaitu indah. hasan berarti al-jamal. 311 H). Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if. 405). II. HADIS HASAN II. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori saja. 5. Shahih Ibnu Hiban (w. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja. Shahih Ibnu Khuzaimah (w. 3. dan lain-lain. yang secara berurutan sebagai berikut: a) b) c) Hadis yang disepakati oleh bukhari dan muslim (muttafaq ‘alaih). Shahih Ibn As-Sakan. d) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan AL-Bukhari dan Muslim. g) Hadis yang dinilai shahih menurut ilama hadis selain Al-Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya. Ibnu Hibban. Shahih Al-Bukhari (w. Mustadrok Al-hakim (w. seperti Ibnu Khuzaimah. 2.Dari segi persyaratan shahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. 4. 6. 354 H).250 H). 7. Shahih Al-Abani. 261 H). Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja.1 Pengertian Hadis Hasan Secara bahasa. Sebagian dari definisinya yaitu: . Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis shahih secara berurutan sebagai berikut: 1. Shahih Muslim (w. e) f) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Al-Bukhari saja. dan juga karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya.

adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal. .2 Macam-Macam Hadis Hasan Sebagaimana hadis shahih yang terbagi menjadi dua macam. b. sempurna ke-dhabit-annya.1. dan yang dipakai oleh umumnya fukoha’ 2. bersanbung sanadnya. definisi al. Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabit-annya. maka dia menurut kami adalah hadis hasan. II. akan tetapi karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’).Chatabi: adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya. a. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. dan fuqaha sepakat tentang kehujjahan hadis hasan. dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian. meskipun derajatnya dibawah hadis shahih. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabitannya dibandingkan dengan hadis hasan. lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi. definisi Ibnu Hajar: beliau berkata. tidak cacat. definisi Tirmidzi: yaitu semua hadis yang diriwayatkan. Paraulama hadis. Hasan Li-Dzatih Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan yang telah ditentukan. hadis hasasn pun terbagi menjadi dua macam.3 Kehujahan Hadis Hasan Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih. ke-dhabit-an perawi hadis hasan lebih unggul. Tetapi jika dibandingkan dengan kedhabit-an perawi hadis dha’if tentu belum seimbang. 3. maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih. adalah hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil. dengan kata lain. II. yaitu hasan li-dzatih dan hasan li-ghairih. ulama ushul fiqih. dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi. serta tidak ada syadz (kejangalan). dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis. hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if. dan telah mashur rawi-rawi sanadnya. dan yang diterima kebanyakan ulama. Hasan Li-Ghairih Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta.

sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah).III. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih.2 Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. III. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan .1 Definisi Hadist Dhaif Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. maupun pada pertengahan atau akhirnya. antara lain yaitu : 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). seperti Bukhari. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. Jadi. dari Abdurrahman. sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. mereka tidak sanggup menghadirinya”. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. a. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. dari Harmalah. HADIST DHAIF III. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. baik pada permulaan sanad. dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadits hasan”. berarti hadits yang terlepas. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda.

Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. bila masuk ke dalam mesjid. Malik bin Anas. dari Abu Hurairah. dari Abdullah bin Hasan. contoh hadits munqathi’ : Artinya : Rasulullah SAW. maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya. pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur. Ya Allah. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Menurut Ibnu Majah. tetapi minimal gugur seorang tabi’in. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Jadi. dari Abu Bakar bin Ali Syaibah. hadits di atas adalah hadits munqathi’. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah. ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. dari Fatimah binti AlHusain. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba. atau lebih.hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. dalam kitabnya “AlMuwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku. Bila dua rawi yang gugur. 3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa. secara beriringan dalam sanadnya. dari Laits. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. . dan sejahtera atas Rasulullah. maka kedua rawi tersebut tidak beriringan. membaca “dengan nama Allah. 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in. dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Namun. karena Fathimah Az-Zahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. dari Ismail bin Ibrahim. dan Ahmad bin Hanbal.

banyak waham. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. dari Rasulullah. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa. Berdasarkan riwayat Bukhari.Di dalam kitab Imam Malik tersebut. dari ayahnya. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan . 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih. hafalan yang buruk. dari Abu Hurairah. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Seperti pendusta. Sering keliru. Dengan demikian. tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. b. Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif. misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. atau lalai dalam mengusahakan hafalannya. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal . ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. dari Zuhri. Pada umumnya. karena Bukhari bukanlah seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik. hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. tidak dikenal. hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. dan Abu Salamah dari Abu Huraira. fasiq. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. Adapun cacat pada matan. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga.

Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam. maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. orang-orang munafik. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. Jibril. ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya. dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. yaitu: aku ( Muhammad ). misalnya.dari Rasulullah SAW. aku halalkan barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. Abdul Karim. Sedikit sejarah. sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits. seorang zindiq. yakni kaum yahudi dan nashrani. atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya. seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’: a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah. “Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku. berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan. ” Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. mazhabnya. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. . lalai. tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. dari kakeknya. ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan AlQur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. atau kebangsaannya . “orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga. maka ia dan anaknya itu masuk surga”. zindiq. atau pernah melakukan maksiat. ( Al-An’am : 164 ) c) “Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. atau banyak wahamnya. dan Muawiyah”. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya.

Said bin mutstayyab. niscaya masuk surga. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. dan menghormati tamu. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. mengerjakan haji. membayarkan zakat. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. contoh : Artinya: “Barangsiapa yang mendirikan shalat. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa. ataupun keduanya. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. Contoh : . Contoh : Rasulullah bersabda. matan. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. dari ‘Amru bin Dinar. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan AtsTsauri. 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. sekiranya tidak ada wanita. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . ‘Isa bin Ziyad. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. Oleh karena itu. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. selama mereka belum berpisah”. namun setelah diteliti dengan seksama.Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. dan Umar bin Khaththab. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. dan selanjutnya dari Ibnu umar. seperti : Muhammad bin ‘Imran.R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. sanadnya memiliki illat. dan illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad. Matan hadits ini sebenarnya shahih. ( H.

namun matan hadits tersebut ternyata ganjil. maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. ataupun keduanya.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat.Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu darinya. dengan tempat tinggal di taman surga”. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawirawi yang juga dipercaya. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. berarti hadits yang diputarbalikkan. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . III. dan berhijrah. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. Keganjilan itu bisa pada sanad.3 Kehujahan Hadits dhaif . maka jauhilah ia. maka kerjakanlah dia. Batasan yang diberikan para ulama. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). pada matan. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut.

boleh digunakan untuk perkara fadahilul a’mal (keutamaan amal). Sebab dibandingkan dengan mereka. 1. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Maka menurut para ulama. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. 1. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a’mal. Apalagi . ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). dengan beberapa syarat: 1. Baik masalah keutamaan (fadhilah).Khusus hadits dhaif. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. harus didampingi dengan hadits lainnya. nasehat atau peringatan. mereka itu bukan orang sembarangan. tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. Ketika Mengamalkannya. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. • Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabit-annya Maksudnya. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. kisah-kisah. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Dan menariknya. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu.

kami ketatkan. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. Ibnu Hazm dan lainnya. Pendeknya. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. kisah-kisah. Mereka adalah kebanyakan ulama. asal bukan hadits palsu (maudhu’). melainkan hanya sekedar berhati-hati. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. pendiri mazhab Hanbali. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari.” 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Yahya bin Mu’in. atau tertuduh sebagai pendusta. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Bagi mereka. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. atau anjuran amal tambahan. sedhai’fdha’if-nya suatu hadits. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. Di zaman sekarang ini. kami longgarkan. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadits dhaif. . Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud. ‘Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. Abu Bakar Al-Arabi. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. juga bukan masalah hukum. Ibnul Mahdi.kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. Al-Imam Muslim. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain.

dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. perbuatan. maupun matannya. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. BAB III KESIMPULAN Pada materi hadits dhaif ini.Semua keterangan di atas. Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). Sebab beda maqam dan beda posisi.”(QS Yunus 36). Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebabsebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). “Demi masa. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. berfirman : “(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang . sanad. Karena sesungguhnya Allah SWT. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ).” (QS. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ).(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ ْ َ ّ ِ ََ ِ ِ ْ َ ََ ٌ ِ َ ّ َ ‫وال غالب على أمره ولـكن أكثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehatmenasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi kebenaran”. jelas bukan pendapat kami.

Tidak hanyas sebatas sampai di situ. Sangat penting membahas seputar hadits dhaif. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. serta kehujjahannya menurut pendapat para ulama. termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. Karena itu. pandai berdebat tentang dalil. Namun. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. jika memang terdapat hadits yang terbukti lemah ( dhaif ) ini sekiranya bermakna positif bagi kita dan dapat memotivasi dalam pengamalan hidup sehari-hari. orang pintar bicara. . Selain itu. karena di sini kita akan mengetahui bagaimana proses periwayatan hadits yang berasal dari Rasulullah atau bukan berasal dari beliau.Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. Pendahuluan Pada makalah ini akan dibahas mengenai sebab-sebab kedhaifan hadits. Tidak jarang. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . hadits dhaif I. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Banyak ilmu saja tidak cukup. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. macam-macam hadits dhaif. kita diharapkan dapat mengetahui sejarah orang-orang yang meriwayatkan hadits berdasarkan kekuatan hafalan mereka. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar.

Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. dan tidak pula menghimpun sifatsifat hadits hasan”. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah .II. hadits mu’dhal. hadits munqathi’. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. antara lain yaitu : hadits mursal. a. 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. maupun pada pertengahan atau akhirnya. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. berarti hadits yang terlepas. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. baik pada permulaan sanad. Pembahasan 1. dan hadits muallaq. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. 2.

2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. mereka tidak sanggup menghadirinya”. seperti Bukhari. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. dari Abdurrahman. Jadi. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. maka rawi menjelang akhir . yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik. Malik bin Anas. dari Harmalah. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. dan Ahmad bin Hanbal. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. Namun. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda.hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah.

sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Bila dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. contoh hadits munqathi’ :

Artinya : Rasulullah SAW. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Ali Syaibah, dari Ismail bin Ibrahim, dari Laits, dari Abdullah bin Hasan, dari Fatimah binti Al-Husain, dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Menurut Ibnu Majah, hadits di atas adalah hadits munqathi’, karena Fathimah AzZahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in.

3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits

mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba, dalam kitabnya “Al-Muwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Di dalam kitab Imam Malik tersebut, tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan , dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik, dari Zuhri, dan Abu Salamah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Berdasarkan riwayat Bukhari, ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. Dengan demikian, Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. Pada umumnya, yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif, kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih, karena Bukhari bukanlah

seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. b. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa, hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuhmusuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani, orang-orang munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya, mazhabnya, atau kebangsaannya . Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya.

“Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’:

a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam; ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya, dari kakeknya, dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah, tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. “Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. ( AlAn’am : 164 )

“Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad, maka ia dan anaknya itu masuk surga”.

“orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga, yaitu: aku ( Muhammad ), Jibril, dan Muawiyah”. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. Sedikit sejarah, berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan, seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi, misalnya, ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan Al-Qur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Abdul Karim, seorang zindiq, sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits; aku halalkan

mengerjakan haji. niscaya masuk surga. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. dan illat . Said bin mutstayyab. contoh : “Barangsiapa yang mendirikan shalat. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. dan menghormati tamu. sekiranya tidak ada wanita. membayarkan zakat. ‘Isa bin Ziyad. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ). secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. Oleh karena itu. lalai. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. atau pernah melakukan maksiat. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta.barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. atau banyak wahamnya. ( H. dan Umar bin Khaththab.R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. seperti : Muhammad bin ‘Imran.

“penjual dan pembeli boleh berkhiyar. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. berarti hadits yang diputarbalikkan. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. sanadnya memiliki illat. matan. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan Ats-Tsauri. dengan tempat tinggal di taman surga”. maka kerjakanlah dia. Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. dan berhijrah.yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad. selama mereka belum berpisah”. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. ataupun keduanya. Matan hadits ini sebenarnya shahih. 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). dan selanjutnya dari Ibnu umar. dari ‘Amru bin Dinar. Contoh : Rasulullah bersabda. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. Contoh : Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu . namun setelah diteliti dengan seksama.

pada matan. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya.darinya. boleh digunakan untuk . tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. ataupun keduanya. Keganjilan itu bisa pada sanad. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). Maka menurut para ulama. maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. dengan beberapa syarat: a. Batasan yang diberikan para ulama. maka jauhilah ia. 3. Kehujjahan hadits dhaif Khusus hadits dhaif.

Dan menariknya. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabitannya Maksudnya. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. mereka itu bukan orang sembarangan.Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. Abu Bakar Al-Arabi. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. b. Sebab dibandingkan dengan mereka.perkara fadahilul a'mal (keutamaan amal). Pendeknya. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Baik masalah keutamaan (fadhilah). harus didampingi dengan hadits lainnya. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. nasehat atau peringatan. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap . Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a'mal. c. . Di zaman sekarang ini. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. AlImam Muslim. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. Ibnu Hazm dan lainnya. kisah-kisah. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. Yahya bin Mu'in. Ketika Mengamalkannya.

Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. Selain itu juga ada nama AlImam Abu Daud. kami longgarkan. kami ketatkan. asal bukan hadits palsu (maudhu'). atau anjuran amal tambahan. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. Ibnul Mahdi. atau tertuduh sebagai pendusta. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. . • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. Mereka adalah kebanyakan ulama. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. melainkan hanya sekedar berhati-hati. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat." 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Bagi mereka. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. pendiri mazhab Hanbali. juga bukan masalah hukum. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Semua keterangan di atas. Sebab beda maqam dan beda posisi. jelas bukan pendapat kami. kisah-kisah.menerima semua hadits dhaif. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. 'Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. sedhai'f-dha'if-nya suatu hadits. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan hadits dha'if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta.

” (QS. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Karena sesungguhnya Allah SWT. Kesimpulan Pada materi hadits dhaif ini. َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ َ ّ ‫َ ّ َ ِ ٌ ََ َ ْ ِ ِ ََ ك‬ ‫وال غالب على أمره ولـ ِن أكْثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Penutup 1.guhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi ."(QS Yunus 36). berfirman : "(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka.IV. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. “Demi masa. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. Sesung. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ).

kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. Tidak jarang. Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). orang pintar bicara.kebenaran”. pandai berdebat tentang dalil. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga . termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. Pengertian Hadist Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. perbuatan. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). Banyak ilmu saja tidak cukup. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. maupun matannya. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. sanad.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. Karena itu. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebab-sebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. Namun.

. Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya.". "Kami terbiasa. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an.. "Kami dilarang untuk. mauquf (terhenti) dan maqtu' : Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya). hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat). contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Shu'bah. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu"... perbuatan. hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad. Ibnu Abbas dan Ibnu AlZubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Matan ialah redaksi dari hadits. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus).". Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). .disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda). ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama.

Hadits mutawatir. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu.. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. Hadits Munqati'. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Munqati'. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Mu'allaq. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). Science of Hadits).. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan.Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Mu'dal dan Mursal. Hadits Mursal. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. .

Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. mu’allaq. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur. tidak fasik. memiliki sifat istiqomah. Hadits Maudu'. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk. Hadits Dhaif (lemah). mudallas. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. da'if dan maudu' Hadits Shahih. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. terjaga muruah (kehormatan)nya. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. dan kuat ingatannya. Hadits Mu'allal. Aziz. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani .Background Hadits ahad. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. berakhlak baik. serta matannya tidak syadz serta cacat. Hadits Mungkar. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. hasan. mengandung kejanggalan atau cacat. Mashur. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: Sanadnya bersambung.

Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. termasuk: Shahih Bukhari. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Daud. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolaholah tidak ada cacatnya. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. Selain itu. Hadits Mudraj. . disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. padahal sebenarnya ada. baik dalam sanad atau pada gurunya. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat). ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. Hadits Mudlthorib. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Hadits Syadz. Hadits Mudallas. Aturan-aturan ini. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). Hadits Munqalib. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. Hadits Maqlub.bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta' dari Imam Malik. Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.

Imam Bukhari. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. Imam Bukhari dan Imam Muslim. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi'ah diklaim memusuhi Ali. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. 1. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. melalui Fatimah az-Zahra. As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). seperti Aisyah. Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq 'Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi Al-Istibsaar Al-Tahzeeb Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin Shahih Bukhari Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). Imam Muslim dan Ibnu Majah. Hadits Yang Diterima (Maqbul) . dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. yaitu hadits yang shahih dan hasan. Imam Abu Daud. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Imam Bukhari. Imam Turmudzi. Imam Muslim. Imam Nasa'i dan Imam Ibnu Majah.Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua. yang melawan Ali pada Perang Jamal. istri Muhammad saw.

tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits. 1. Hadits Shahih 1. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya.2. yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil.1. Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran. sanadnya bersambung-sambung. sempurna ingatan. Definisi: Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar. menguasai apa yang diriwayatkan. memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih. 1. 2. 1. tidak ber’illat dan tidak janggal.Hadits yang diterima dibagi menjadi 2 (dua): 1. tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. 1. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. 1. Hasan adalah sifat yang bermakna indah. maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: • • • • • Rawinya bersifat adil. Sedangkansecara istilah. Definisi Secara bahasa. Hadits Hasan 1. 2. menjauhi dosa-dosa kecil. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: . artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. 1. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith).

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. Di antara contoh hadits ini adalah: ‫لول أن أشق على أمتي لمرتهم بالسواك عند كل صلة‬ Seandainya aku tidak memberatkan umatku.2. At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya). Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya.2. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat . Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta. yang kurang kuat ingatannya. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. 1.

naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. namun karena ada ada mu'adhdhid.Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya). *** 2. bukan pelupa yang banyak salahnya. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah). "Ya. yaitu hadits yang tertolak. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul). Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan. hanya sebagian orang yang bodoh dan awam . maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya. Andaikata tidak ada 'Adhid. Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: ‫" أرضيت من نفسك ومالك بنعلين؟ قالت: نعم، فأجاز‬Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain." Maka nabi SAW pun membolehkannya. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. Ringkasnya. Hadits ini asalnya dhaif (lemah). As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama. atau dengan ada beberapa sanad lain. yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya. maka kedudukannya dhaif.

misalnya karena: • • • • • • • • Dusta (hadits maudlu) Tertuduh dusta (hadits matruk) Fasik. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits. 2. yaitu banyak salah lengah dalam menghafal Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal Menyalahi riwayat orang kepercayaan Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) Penganut Bid’ah (hadits mardud) Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 2. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum. yaitu: 2.2. hanya saja karena satu sebab tertentu.yang memasukkannya ke dalam hadits. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas. Adapun kalau dengan sanadnya. kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan.2.1 Adanya Kekurangan pada Perawinya Baik tentang keadilan maupun hafalannya. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah.2. 3. mereka tidak mengingkarinya . Karena Sanadnya Tidak Bersambung • • • • Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 2. Penyebab Tertolak Ada beberapa alasan yang menyebabkan tertolaknya Hadits Dhaif.2. 2. 2.1 Definisi: Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya.

Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. Sedangkan setiap amal sunnah. Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. sementara derajat periwayatannya lemah. hukum akad nikah. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. . Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. hukum thalaq dan lain-lain. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal. selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu). Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah.2. Imam Al-Bukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. Demikian juga dengan hukum jual beli. maka orang itu salah seorang pendusta.3. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif.

Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. diperbincangkan. antara lain: 1. Sedangkan ‫ موضع‬merupakan derivasi dari kata – ‫وضع‬ ‫ يضع – وضعا‬yang secara bahasa berarti menyimpan. Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. Lc Januari 25. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. Demikian sekelumit informasi singkat tentang pembagian hadits. dilihat dari sudut apakah hadits itu bisa diterima ataukah hadits itu tertolak. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya. Adapun pengertian hadits maudhu’ (hadits palsu) secara istilah ialah: ‫ما نسب الى رسول ال صلى ال عليه و السلم إختلفا و كذبا مما لم يقله أويقره‬ ّ Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah secara dibuat-buat dan dusta. ‫اذا كان سبب الطعن فى الروى هو الكذ ب على رسول ال فحد يثه يسمى الموضع‬ . padahal beliau tidak mengatakan dan memperbuatnya. Ahmad Sarwat. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. maka haditsnya tidak bisa dipakai. dan dipindahkan dari seseorang kepada orang yang lain.الجديد‬yaitu sesuatu yang baru. selain itu hadits pun berarti ‫ . 2009 pukul 12:50 pm · Disimpan dalam Ilmu Hadits Oleh: Dede KS. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta. Dr. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. Mahmud Thahan didalam kitabnya mengatakan. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. Haliman A. Yaitu sesuatu yang diberitakan. Wallahu a'lam bishshawab. mengada-ngada atau membuat-buat. Pengertian Hadits Maudhu ‫ الحديث‬secara bahasa berarti ‫ . Mustafa Azmi. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu. الخبر‬berita. 3. 2.Lagi pula.

bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw. Misalkan mereka membuat hadits untuk menjelek-jelekan Muawiyah sebagai berikut: ‫ااذا رايتم معاوية على منبرى فاقتله‬ “Apabila kamu melihat Muawiyah berada diatas mimbarku. yaitu diantaranya: a. Karena itu apabila Rasulullah rindu akan bau-bauan surga. tidak pernah ada seorang sahabatpun yang sengaja berbuat dusta kepadanya. Sejarah Perkembangan Hadits Palsu Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits. Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam . Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain. Golongan Syiah yang paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. mereka pun membuat hadits-hadits untuk menyerang golongan yang lain. selain itu pemalsuan hadits dijaman Rasulullah Saw. beliau beralasan dengan sebuah hadits yang matannya ‫. Jibril datang memberikan buah Safarjalah dari surga.Mudatsir didalam bukunya Ilmu Hadits.Apabila sebab keadaan cacatnya rowi dia berdusta terhadap Rasulullah. Akan tetapi pendapat ini kurang disetujui oleh H. Dan data menunjukan sepanjang masa Rasulullah Saw. Misalkan hadits yang mereka buat sebagai berikut: ‫لما اسرى النبي اتاه جبريل بسفرجلة من الجنة قاكلها فعلقت السيدة خديجة بقاطمة فكان اذاشتاق الى رائحة‬ ‫الجنة شم فاطمة‬ “Ketika Nabi diisra’kan. dengan alasan Ahmad Amin tidak mempunyai alasan secara histories. telah terjadi pemalsuan hadits. Motif-motif yang mendorong pembuatan hadits maudhu’ Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk membuat hadits palsu (maudhu’). ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) Dan pengertiannya secara istilah beliau mengatakan ‫هو الكذب المختلق المنصوع المنسوب الى رسول ال صلى ال عليه والسلم‬ Hadits yang dibuat oleh seorang pendusta yang dibangsakan kepada Rasulullah ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) B. Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. kemudian Khawarij. C. Misal munculnya Syiah. maka haditsnya dinamakan maudhu’. beliau lalu mencium Fatimah” Kepalsuan hadits ini sangat jelas sekali. Kemudian sayyidah Khodijah menghubungkan buah tersebut dengan Fatimah. bahkan mereka pun menciptakan hadits tentang keutamaan Fatimah. Disamping mereka membuat hadits-hadits palsu untuk memuji golongan mereka sendiri. tidak tercantum didalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan Asbabul Wurud. Menurut jumhur muhadditsin. b. bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman khalifah Ali bin Abi Thalib. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan hadits-hadits palsu. sebab Khodijah telah meninggal sebelum peristiwa Isra. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut: a. Menurut Ahmad Amin. hadits masih bisa dikatakan selamat dari pemalsuan. من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ ّ ّ ّ ّ Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw. Kaum Syafi’i mengatakan “saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum Rafidhah”. maka bunuhlah dia” a.

“Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dengan maksud untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits palsu dalam bidang aqidah. pengobatan dan hokum tentang halal dan haram. dengan berkendaraan unta kelabu. akhlaq. Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya. . Yang demikian itu tetap berjalan selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun” a. sebagai pelita umatku” Ada juga golongan Syafi’iyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah: “Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang berjalan”. Mereka yang ta’asub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan hadits maudhu sebagai berikut: ‫ان ال اذا غضب انزل الوحي بالعربية واذا رضى انزل الوحي بالفارسية‬ “Sesungguhnya Allah apabila marah. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang terbuat dari mutiara putih. kedaerahan. maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. dank arena memang kejahilan seseorang didalam ilmu agama. Fanatik kebangsaan. Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah. kesukuan. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi” Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu pula. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah: “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah. a. kebahasaan. Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi. membuat hadits palsu: ‫من رفع يديه في الصلة قل صلة له‬ “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya” Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu. diantaranya dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. Dan diantara contoh haditshadits palsu yang bermotiv karena kultus terhadap imam diantaranya: ‫سيكون رجل في امتي يقال ابو حنيفة النعمان هو نوراامتي‬ “Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Nu’man. mereka membenci melihat kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. misalkan kisah-kisah yang menggembirakan tentang surga: “Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat. dan kultus terhadap Imam mereka.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq. yang paling menggetarkan umatku daripada iblis” a.

padahal ini merupakan perkataan Malik bin Dinar. dalam menjalankan aksinya kadang-kadang mengambil dari pikirannya sendiri. 3. Ciri-Ciri Hadits Maudhu a. Dari segi makananya. serentak ia menjawab: “Tidak seorangpun yang meriwayatkan hadits kepadaku. Hukum Periwayatan Hadis Maudhu’ 24 Apr . Permalink Pengertian. 1. Dan kadang-kadang menukil perkataan sesorang yang dianggap alim pada waktu itu. hadits mutawatir. Qorinah-qorinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits palsu (maudhu). Hadits maudhu memang yang paling banyak tidak memiliki sanad. Sumber-Sumber Yang Diriwayatkan Para pembuat hadits maudhu. dapat ditinjau da ri segi makna dan segi lafadznya. 2. seperti pengakuan salah seorang guru tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an.D. E. Suka Be the first to like this post. Dalam hal Sanad Pengakuan dari sipembuat sendiri. atau perkataan orang alim mutaqaddimin. Akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama benci terhadap Al-Qur’an. maka makna hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an. Atau menerima dari seorang guru yang sudah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. Hadits ini mereka (para pembuat hadits palsu) katakan bersumber dari nabi. Dalam hal matan Ciri-ciri yang terdapat pada matan hadits palsu atau hadits maudhu. Adapun dari segi lafadznya yaitu susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih. padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. kami ciptakan hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an. ijma dan akal sehat. Misalnya seorang rowi mengaku menerima hadits dari seorang guru. b. Misalnya Hadits maudhu yang dinukil dari perkataan seorang alim mutaqaddimin: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”.

karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. usaha mereka ini tidak membuahkan hasil karena keberadaan jumlah penghafal Ql-Qur’an dan para ulama dari kalangan sahabat dan murid-muridnya masih sangat banyak. sehingga muncul sekumpulan hadits palsu. Muslim) Selama umat Islam di bawah kepemimpinan khulafa’ al arba’ah (4 khalifah pertama). Di dalam ilmu hadits. Setiap kelompok menopang argumentasinya dengan Al-Qur’an dan Hadits. sebagian dari mereka berupaya menakwilkan Al-Qur’an dan menafsirkan sebagian hadits dengan arti yang menyimpang. Demikian seterusnya. Para pemalsumembuat hadits untuk menyerang kelompok lainnya. Hadits-hadits palsu munculnya bersamaan dengan munculnya berbagai kelompok itu. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. Oleh karena itu. hadits Nabi SAW senantiasa tetap bersih. maka ia akan masuk neraka. Hadits maudhu’ dikaegorikan hadits mardud (tertolak). Pada masa tabi’in (murid para sahabat) pemalsuan hadits lebih sedikit dibandingkan dengan pada masa tabiut tabi’in (murid tabi’in) karena masih banyak sahabat dan tabi’in yang mengamalkan sunnah. . yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya.” (HR. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. Setelah khalifah Ali wafat. dan sebaliknya kelompok tersebut juga membuat hadits palsu untuk membela diri. Akan tetapi kondisi tersebut berubah tatkala umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan.Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Banyak Muncul Di Irak Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. Munculnya hadits palsu diperkirakan mulai tahun 41 H. dilihat dari dua hal. Oleh karena itu. Namun. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. Sebab Munculnya Hadits Maudhu’ Ada beberapa faktor yang mendorong pemalsuan hadits: • Pertama. Fanatisme golongan. mereka berupaya mengubah dan memasukkan tambahan ke dalam hadits dan melakukan pemalsuan atas nama Rasulullah SAW. tidak ternoda kedustaan. Mereka dapat membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang palsu. kelompok Syi’ah menuntut hak mereka untuk menduduki kursi khalifah. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. Selanjutnya muncullah kelompok-kelompok lain berbasis agama.

Usaha untuk mendiskreditkan Islam. • Keempat. Ketika Al-Bakriyah (pendukung Abu Bakar) melihat apa yang dilakukan Syi’ah. “atau sayap”. benar-benar terjadi pada masa masa Abbasiyah. Para pendongeng ini membuat membuat hadits palsu dengan tujuan untuk mendapatkan uang. Mereka memanfaatkan gerakan pemberontakan dengan cara bergabung ke dalamnya. Hal itu mereka lakukan untuk menodai Islam. ketika ia melihat Al-Mahdi bermain-main dengan burung dara. “Tidak ada perlombaan kecuali untuk unta. Kemudian Dia menciptakan diri-Nya dari keringat kuda itu.Dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghah. dan jika ALLAH mewahyukan sesuatu yang menggembirakan. Hal ini. etnis dan kabilah. panah. “Pertama kali kedustaan dalam hadits tentang keutamaan (fadhilah). Selain itu. Pada masa-masa akhir khulafaur rasyidin. dinasti Umayyah. merekapun memalsukan hadits tentang Abu Bakar sebagai tandingan hadits yang dibuat oleh Syi’a • Kedua. Al-Mahdi . Inilah yang mendorong mereka memalksukan hadits-hadits. “Dari air yang berlalu (tidak diam). terbuat dari apakah Tuhan kita? Rasulullah SAW menjawab.” Kemudian Ghiyats menambahkan. tendensi duniawi berupa popularitas dan usaha menjilat penguasa. secara khusus mengandalkan etnis Arab. Ghiyats bin Ibrahim berdusta untuk khalifah Al-Mahdi dalam hadits. Maka mereka berusaha menjauhkan kaum muslimin dari aqidahnya dengan menciptakan kebathilan dan berdusta atas nama Rasulullah SAW.”Selain hadits palsu yang berbicara tentang bahasa. tidak dari bumi dan tidak pula dari langit. dan jika Dia mewahyukan ancaman maka dengan bahasa Arab. Maka muncullah kelompok Mawalli (kaum muslimin non Arab). yang berupaya mewujudkan persamaan hak.” • Ketiga. hadits pasu juga dibuat tentang kelebihan negara atau imam tertentu. Misalnya hadits. dilakukan oleh Syi’ah. Pemalsuan itu didorong rasa permusuhan terhadap lawan. negara dan imam. diskriminasi etnis dan fanatisme kabilah. ALLAH mewahyukan dengan bahasa Persia. “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar ‘Arsy adalah dengan bahasa Persia. Setelah kehadiran Islam. mereka memalsukan hadits yang berbeda mengenai Ali. Ibnu Abi Hadid berkata. Pada masa pemerintahannya. “Wahai Rasulullah.Ada pula yang menjilat para penguasa dengan membuat hadits yang dapat memuaskan mereka. Dia menciptakan seekor kuda kemudian menjalankan kuda itu maka berkeringatlah kuda. Sejak pertama. mereka berupaya menandingi kebanggaan etnis Arab. Sebagai contoh: diriwayatkan bahwa ada yang bertanya. Contohnya adalah. atau kuda. kekuasaan Kisra dan Kaisar roboh. sebagian mereka bersikap fanatis terhadap kebangsaan Arab dan bahasa Arab. Namun mereka tidak mampu untuk membalas dendam dengan pedang karena kekuasaan Islam telah sedemikian kokoh. muncul kelompok-kelompok pendongeng dan penasihat yang jumlahnya terus bertambah.

‫ ( الحط‬merendahkan ) 2. • Kelima.Idris. “Kami berdusta untuk kebaikan Beliau. Definisi Hadits Maudhu’ Secara etimologi : maudhu berasal dari kata ‫ وضع‬yang mempunyai beberapa makna diantaranya 1. maka ia akan masuk neraka. Nur Ihsan M.kemudian menyuruh orang iuntuk menyembelih burung merpati tersebut dan memberikan kepada Ghiyats sebanyak uang 10. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. 2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ).” Haram Meriwayatkannya Hadits palsu adalah hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. ‫ ( اللصاق‬menyandarkan / menempelkan ) Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena 1 Rendah dalam kedudukannya. 2009 Oleh: Abu Fudhail. Berdasarkan hadits. 4 Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku.” (HR.000 dirham. Lc 1. ‫ ( الختل ق‬mengada-ngadakan ) 4. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’.” Dengan ditambahi lafadz. ‫ ( السقاط‬menjatuhkan ) 3. 3 Diada-adakan oleh perawinya. “dengan sengaja untuk menyesatkan manusia. Muslim) Meski beberapa hadits sering kita dengar.” Mereka beralasan. Madzhab sesat ini mengklaim bolehnya memalsukan hadits dalam rangka targhib wa tarhib (menganjurkan manusia berbuat baik dan menakut-nakuti manusia agar tidak bermaksiat). bukan untuk menodai Beliau. kita harus memastikan terlebih dahulu keshahihannya sebelum menjadikannya dalil atau mengamalkannya. Bahkan menurut kesepakatan ulama. maka ia akan masuk neraka. Juni 08. . Mereka berdalil dengan hadits “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. pemahaman yang keliru dari madzhab al-karramiyah. Diposkan oleh Markaz As-Sunnah di Senin.

Perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu .Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. Hukum Meriwayatkan hadits maudhu Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda: َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ٌ ِ َ ُ َّ َ ُ ٍ ِ َ ِ َّ َ ّ َ ْ َ ‫من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين‬ Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta.Muslim) Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga. 2. Pembagian hadits Maudhu Hadits mudhu ada 3 macam: 1. pada dusta yang disengaja saja. bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam ِ ّ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ْ ّ َ َ َ ْ َ ً ّ َ َ ُ ّ ََ َ َ ‫َ ْ ك‬ ‫من َذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka ( Riwayat Bukhari. Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut 4. Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia dusta. Hukum Berdusta Atas Nama Nabi Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk. Hadits maudhu adalah hadits yang paling rendah kedudukannya. Perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah r 2. 3.

Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman.yang menjadikannya hadits. Polemik politik Dari sebab pembunuhan Utsman radhiyallohu anhu kemudian fitnah Ali radhiyallohu anhu dan Mu’awiyah radhiyallohu anhu terpecahlah kaum muslimin mennjadi tiga . Cuma dia keliru. dan Mu’awiyah radhiyallohu anhum jami’an. Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu. memalsukan hadits mengenai Abu Bakar. Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam . Umar. kemudian kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu berbuat demikian pula. setelah itulah muncul orangorang yang ta’asub (fanatik) pada golongan tertentu. mereka membuat hadits palsu tentang keutamaan Ali radhiyallohu anhu. wasiat imamah (pengganti Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan mut’ah Contoh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al Ataki dari Anas radhiyallohu anhu dari Salman . dan yang pertama kali mempeloporinya adalah Syiah. Kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu. fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. pendapatnya ini hanya dibangun atas persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali b. Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits a. Pada zaman mereka tidak terjadi pemalsuan hadits. Jenis ketiga ini masuk hadits maudhu apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya 5. 3. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah) 6. kubu Ali radhiyallohu anhu. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits A.Utsman. Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). dan yang keluar yang memberontak pada Ali radhiyallohu anhu.Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: a. Perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya .

Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu nuskhoh ( kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279) B Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkata ‫إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه‬ Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia. Mazhab b. . Pada khalifah dan pemimpin 2. Fanatisme kepada: 1. Negeri 3. Tukang cerita c Ar-Targiib wa Tarhib ( Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh. Bahasa 4. Sebab Tersebarnya Hadits Palsu a .radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ali radhiyallohu anhu ‫هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي‬ Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku. b. Zindik (munafik) Karena penaklukan dari tentara kaum muslimin maka masuklah beberapa orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keIslaman 7. Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan AlHakam bin Sohir.

Memastikan keshahihan riwayat dengan beberapa cara 1. Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. Penelitian dan penyeleksian dalam riwayat hadits.Bepergian mencari hadits Imam Abu ‘Aliyah berkata kami telah mendengar dari shahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di Basrah tetapi kami tidak puas sampai mendengar langsung dari mulut sahabat di Madinah maka kami safar ke sana ( Al-Khatib.Berkeliling daerah menyebarkannya 10. Metode Pemalsu Hadits dalam Menyebarkannya a Memasukannya kedalam buku atau kumpulan hadits b. dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an d Tujuan dunia dan harta. mereka berkata ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ ّ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ َ ّ َ ‫سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فل يؤخذ حديثهم‬ Sebutkan orang-orangmu (yang kamu ambil hadits darinya) kalau ia dari AhlusSunnah dia ambillah dan kalau ia ahli bid’ah ditinggalkannya 2.Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an.membuat buku dalam hadits/kumpulan hadits c. Pencurian hadits 9. Memasukkan beberapa lafaz pada hadits shohih 3. . Membuat hadits yang tidak punya asal 2. apakah hadits ini dikenal maka diambil dan jika tidak maka tidak diambil. Al Jami’ 2:224) 3.Bertanya dan memeriksa isnad ( para perawi hadits ) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad ibnu Sirin seorang tabi’in (wafat 110 H) dia berkata Ahli hadits pada awal tidak bertanya tentang isnad maka takkala pada fitnah. Metode Pemalsu dalam Memalsukan Hadits 1. seperti untuk melariskan dagangannya sehingga membuta hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan barang yang dijualnya 8.

Al Maudhu’at oleh Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) 2. 2. Yahya bin Abi katsir dan Abu Ishak. Khusus hadits-hadits palsu disusunlah a. Hasil Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1.Kumpulam hadits-hadits palsu dan kadangkala digabung dengan hadits dhaif lainnya Diantara buku tersebut 1. Al La’ali al Mashnu’ah fil Ahadits al Maudua’ah oleh Imam as-Suyuti (wafat 911 H) 3.Kumpulan rawi pemalsu hadits b. Menentukan daerah penyebaran hadits dhaif dan meninggalkan meriwayatkan hadits dari mereka ini .b. Hammad bin Zaid berkata: zindik munafik memalsukan kurang lebih 12. Silsilah Al-Ahadits Al-Dhoifah wal Maudhu’ah oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albany Rahimahumullah (wafat pada tahun 1420 H) 12. a. secara asal terutama ahli iraq (kuffah dan basrah) . Berkata Ibnu Mahdi saya memanggil Isa bin Maimun pemalsu hadits karena riwayatnya dari Al-Qosim maka ia mengatakan saya tidak akan mengulang 11. Ilmu jarh wa ‘tadil 3. Pemisahan hadits shohih dan selainnya.Tanda pemalsuan pada isnad hadits 1. Imam Al-Khotib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ismail bin ‘Ayyash berkata saya pernah berada di Iraq kemudian saya didatangi ahli hadits di kota itu dan berkata ada orang yang mengatakan bertemu dengan Kholid bin Ma’dan maka saya mendatangi dan bertanya kapan anda mendengar dari Khalid katanya tahun 113 H .000 hadits. Adanya dalil yang menujukkan pengakuan yang menunjukkan sang pemalsu contoh seperti ditanya tentang waktu dan tempat bertemu syekh tapi mustahil keduanya bertemu. Kaidah Umum untuk Mengetahui Hadits Palsu. 2. 4. Ilmu ruwah/ biografi setiap rawi 2. Pengakuan sang pemalsu. Mengumpulkan hadits palsu dan membongkar kepribadian pemalsu hadits 1. c. namun dari ahli Iraq banyak pula ahli hadits diantaranya Qatadah.

al-Jami’ 1.Diketahui dari keadaan sang perowi Seperti meriwayatkan tentang bid’ahnya b. Kholid wafat tahun 106 H( al Khotib. Bertentangan dengan nash al-qur’an sunnah dan ijma yang jelas Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at yang menyebutkan hadits ِ ِ َ َ ُ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ُ َ َ َ َ ْ ‫َ َ ْ ُل‬ ‫ل يدخ ُ الجنة ولد الزنا ول والده ول ولد ولده‬ Tidak masuk surga anak zina.Tanda pemalsuan pada matan 1. Pengaruh dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu Hadits-hadits palsu yang banyak beredar di tengah masyarakat kita memberi dampak dan sangat buruk pada masyarakat Islam diantaranya: 1 Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat 2 Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah . Keganjilan lafaz dan bahasanya seperti hadits ‫من أكل من الطين واغتسل به فقد أكل لحم أبيه آدم واغتسل بدمه‬ Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi dengan darahnya” ( Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil 5:1837 ini hadits yang batil) 13 . bapaknya dan cucunya Apakah dosanya sebagai anak sehingga menghalangi ia masuk surga bukankah Allah I berfirman ‫ول تكسب كل نفس إل عليها ول تزر وازر ٌ وزر أخرى‬ َ ْ ُ َ ْ ِ ‫َ َ َ ْ ِ ُ ُ ّ َ ْ ٍ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ َ ِ ُ َ ِ َة‬ “Tidaklah seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali kepada dirinyasendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (AlAn’am 164 ) 1. Bertentangan dengan akal sehat yang tidak mengandung penafsiran yang lain atau kenyataan yang ada 1.saya berkata engkau mengaku mendengar dari Khalid setelah 7 tahun kematiannya. 3.123).

Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan tempat yang harus dipedomani. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW.3 Matinya sunnah. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad . Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian.

B. BAB II PEMBAHASAN A.[4] Dr. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. Menurutnya dari kata al-wadh dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. .kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu. Namun.

Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. antara lain: 1. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. Misalnya. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis. kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya.Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Menurut mereka. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar.[6] Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. 2. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan . Ada beberapa motif pemalsuan hadis. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan.

dan lain-lain. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. Diantaranya adalah: . Dalam menjalankan pemerintahannya. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. bangsa. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. Mereka berkata. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. kelompok.kejayaan pemerintahannya. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. Fanatik Terhadap Suku. Bangsa. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. 3. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia.[8] Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. Oleh karena itu. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. kesesaatan dan tipu muslihat.

[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi. Mengenal Hadis Palsu . C. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ “Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). hal ini sangat disesalkan. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka. Melihat hal ini.‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. Namun. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. Menurut Ajaj al-Khatib.[10] 5. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. terlepas dari itu.

seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. Rusaknya makna (arti) hadis. b. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. 1. Ketika sakit Abu Jazi berkata. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat.Untuk mengenal hadis palsu. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c. c. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa. hadis anu…”.[12] 2. saya tidak akan mengaku. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah.[14] d. Buruknya redaksi hadis.[15] . Tanda hadis palsu pada matan a. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. santun dan enak dirasakan. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. hadis mutawatir atau ijma. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda.

Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. dan lainnya. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. Memilih Perawi Yang Terpercaya Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. Abu al-Aliyah berkata. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. yaitu: 1. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk . 4. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. mereka berkata. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan.[17] 3. disamping telah dibukukannya hadis. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. Oleh karena itu. [16] 2. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis.D. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi.

Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. membangkitkan gairah ibadah. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. 2. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan . dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. 3. menyenangkan penguasa. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. dan fanatisme. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian.tempat yang harus dipedomani. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. BAB II PEMBAHASAN A. Menurutnya dari kata al-wadh .[4] Dr.

kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau.dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2. Menurut mereka. Namun. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. antara lain: 1.[6] . Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Misalnya. B. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam.

Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah.Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. kesesaatan dan tipu muslihat. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan kejayaan pemerintahannya. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam.[8] . 2. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. Mereka berkata. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya.

Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ . Dalam menjalankan pemerintahannya. dan lain-lain. Diantaranya adalah: ‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”. Bangsa. 3. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka.Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. Oleh karena itu. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. Fanatik Terhadap Suku. bangsa. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. Melihat hal ini. kelompok. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi.

Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. Menurut Ajaj al-Khatib. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka. Mengenal Hadis Palsu Untuk mengenal hadis palsu. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya. . terlepas dari itu.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. saya tidak akan mengaku. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). b. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. Namun. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. C. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. hadis anu…”. hal ini sangat disesalkan.[10] 5. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. Ketika sakit Abu Jazi berkata.“Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. 1. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara.

Memilih Perawi Yang Terpercaya . Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. hadis mutawatir atau ijma. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa.[14] d. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh.[15] D.[12] 2. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. santun dan enak dirasakan. Tanda hadis palsu pada matan a. yaitu: 1. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. [16] 2. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. Rusaknya makna (arti) hadis. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda. Buruknya redaksi hadis. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. mereka berkata. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya.c.

disamping telah dibukukannya hadis. Oleh karena itu. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. Abu al-Aliyah berkata. 4. . Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”.Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini.[17] 3. dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. dan lainnya. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis.

yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. CONTOH HADITS MAUDHU’ 1. PENGERTIAN HADITS MAUDHU’ Menurut bahasa. )وضع‬ artinya menurunkan atau meletakkan atau meyimpan. Hadits maudhu’ dikategorikan hadits mardud (tertolak). Hadits tersebut adalah bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW yang menerangkan bahwa neraka itiu tidak dapat ditembus dengan nama-nama tersebut. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. menyenangkan penguasa. Ahmad dan semisalnya) ini. yaitu golongannya syi’ah membuat hadits maudhu’ yang memuji diri sendiri. karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. membangkitkan gairah ibadah. baik secara sengaja maupun tidak. yaitu hadist yang dibuat oleh seseorang pendusta dan disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. dilihat dari dua hal. Dan secara istilah : ulama hadist. tidak akan dimasukkan di neraka”. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk mempertahankan idiologi partainya atau golongan sendiri dan menyerang partai lawannya. mereka membuat hadits yang . Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. Hadist semacam ini dinamakan dikenal juga dengan sebutan hadits palsu. Di dalam ilmu hadits. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. Lc Disusun oleh : IMAM WAHYUDI PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 A. 3. Hadits maudhu’ yang bertentangan dengan sunnah mutawatir ialah Hadits yang memuji orang-orang yang memakai nama Muhammad atau Ahmad. yaitu: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. 3. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu HADITS MAUDHU' MAKALAH HADITS MAUDHU’ Makalah ini dibuat Demi Memenuhi Tugas dalam Mata Kuliah Musthalahul Hadits Dosen Pengampu : Nurcholis. akan tetapi keselamatan dari neraka itu karena keilmuan dan keislaman 2.2. Hadits maudhu’ yang dinukil dari perkataan orang-orang Mutaqaaddimin. yaitu: “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. B. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. dan fanatisme. kata maudhu’ merupakan isim maf’ul dari kata wada’a (‫. Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. Di samping itu juga.

“Para sahabatku laksana bintang-bintang. Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam. aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuni padaku”. dan sekarang datang pada ribuan yang ke-7”. Siapa pun dari mereka yang engkau teladani. Oleh karena itu. di Arafah dengan berkendaraan unta kelabu.000 tahun. bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu. maka dia telah bersikap kasar kepadaku. Hadits maudhu yang bertentangan dengan Al Quran: “ Anak zina itu. “Di surga tidak terdapat satu pohon. 4. “Wahai Jabir. Umar dan Utsman r.” 11. 18. Pengikut golongan lain yang merasa golongannya dihina. ‘Wahai Tuhan-ku.000 bahasa yag dapat meminta ampun kepadanya”. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar.a. muhammadur Rasulullah. “Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama. Hadits maudhu’ yang menjelaskan tentang umur dunia: ”Umur dunia itu 7. 15. Ahmad dan semisalnya) ini. “Barangsiapa mengucapkan tahlil (la ilaha ilallah) maka Allah menciptakan dari kalimat itu seekor burung yang mempunyai 70. sampai tujuh keturunan”. selain pohon yang daunnya ditulis dengan kalimat: la ilaha ilahu. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk merusak dan mengeruhkan Agama Islam. “Telah dipastikan atau difitrahkan bahwa hati menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan membenci siapa yang berbuat buruk kepadanya”. kecuali mereka yang ikhlas. 12. 16. 7. “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. 6. telitilah dari siapa kamu mengambil pelajaran Agama! Kami sendiri bila menghendaki sesuatu hal. “Hadiah Allah kepada seorang mukmin adalah adanya pengemis yang menunggu pemberian di depan pintunya”.” 17.” 10. niscaya engkau akan mendapat petunjuk.isinya untuk menjelek-jelekkan lawannya. “Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. ia berkata.” 13. 5. “ Aku telah melihat Tuhanku dengan tanpa Hijab antaraku dan Dia. 20. 14. 19.000 lisan. seperti Mu’awiyah: “ Apabila kamu melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku bunuhlah”. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (ilmunya).” 8. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang bekendaraan dan memeluk orang-oreng yang pada berjalan”. Abu Bakar As Shiddiq. “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari. “Bahwa hadits-hadits adalah suatu agama. “Ketika Adam melakukan kesalahan. “Sesuap makanan diperut lapar adalah lebih baik daripada membangun seribu masjid jami’”. hal itu kami rubah( sedemikian rupa) menjadi suatu hadits”. Misalnya hadits maudhu yang membenarkan ke-khilaf-an Abu Bakar. tidak akan dimasukkan di neraka. Umar Al Faruq dan Utsman Dzun-nurain”.” 9. Karena itu . tidak dapat masuk surga. “Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku. segera membalas membuat hadits maudhu’ untuk mengadakan revance atau setidak-tidaknya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat padanya. dan setiap lisan mempunyai 70. sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Zindiq.

Jakarta: Darul Falah. Kamus Istilah-Istilah Hadits. maka tidak sah salatnya”. Jakarta Barat: CV. C. “Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan ramadhan tidak berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan witir”. Nashiruddin. 21. Oleh karena itu. “Setiap yang ada di langit. Ilmu Hadits. 26. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. di bumi dan di antara keduanya.” (HR. 30. 27. Berdasarkan hadits. 2008. sungguh kafir terhadap Allah yang Maha Besar dan tertalaklah istrinya sejak itu”. “Barang siapa mencium bunga mawar merah dan tidak ber-shalawat kepadaku.000 tahun tidak bergeser”. Bandung : Pustaka Setia. adalah makhluk. menurunkan wahyu dengan bahasa Arab”. Artha Rivera. “Berapa banyak wanita yang cantik jelita. Muhammad. menurunkan wahyu dengan bahasa Persi dan bila rela. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. “Sesungguhnya Allah SWT tidak mengizinkan untuk melagukan Al quran”.000 kibah. 2008. Jakarta : Gema Isani. Drs.” 24.1997. REFERENSI Al Albany. namun mahar yang diterimanya tidak lebih dari segenggam gandum atau yang sepertinya dari buah kurma”. Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka di suatu istana yang terbuat dari mutiara putih. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. pada istana itu terdapat 70. “Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. Mudasir. maka berati ia telah menjauhi aku”. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama abu Hanifah An Nu’man sebagai pelita ummatku”. D. 29. “Sungguh Allah itu apabila marah. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama Muhammad bin Idris. Abdul. HUKUM HADITS MAUDHU’ Hadits maudhu’ atau palsu merupakan hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil dan juga hadist ini merupakan hadist yang paling jelek di antara sekian banyak yang hadist yang dhaif. barang siapa yang mengatakan demikian. Nanti bakal datang kaum-kaum dari ummatku yang mengatakan bahwa Al quran itu adalah makhluk baru. Bahkan menurut kesepakatan ulama. hingga kulihat sebuah mahkota yang terhias dari mutiara”.000 paviliun yang setiap paviliun mempunyai 70. Ilmu Hadits Untuk Pemula. Ar-Rasikh. “Barang siapa yang mengangkat kedua tangannya di dalam shalat. 23.kulihat segala sesuatu. 28. maka ia akan masuk neraka. kecuali Allah dan Al quran. Yang demikian itu tetap berjalan dampai 70. 22. 25. . 2003. Muslim). Irham. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. yang paling mengentarkan ummatku daripada iblis. Khumaidi. Mannan.

Derajat Hadits Maudhu’ dan Hukum Meriwayatkannya Hadits maudhu’ merupakan hadits yang paling rendah dan paling buruk Sehingga para ulama’ sepakat. hasan. Dan kelompok yang pertama melakukan hal itu adalah Syi’ah. Namun juga tidak benar bila menganggap bahwa semua hadits itu palsu. Rahman.html. menjadikan setiap kelompok mencari dukungan dari Al Qur’an dan As Sunah. Ihktisar Musthalahul Hadits. insya Allah saya akan menjelaskan seputar hadits maudhu’. dha’if. Dalam dalam kesempatan ini. Jadi memang ada hadits yang shahih. karena memang menurunkan derajatnya. Sebagian kelompok mentakwilkan Al Qur’an bukan pada makna sebenarnnya. yang berarti menurunkannya. Apabila diantara mereka berselesih mereka berijtihad.Al-Firqotunnajiyyah. Hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah dan tidak pernah dilakukan seorang shahabatpun. baik pengertian.com/2008/01/05/contoh-hadits-maudhu-hadis-palsu/ http://www.com/2008/06/hadits-maudhu. sebagaimana anggapan para orientalis. ciri-ciri maupun yang lainnya. dan maudhu’(palsu). hukum. 1985. dengan mengedepankan mencari kebenaran. Bandung : PT Alma ‘arif PENDAHULUAN Hadits merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an dalam islam. Bila mereka mentakwilkan hadits mereka menisbatkan kepada Nabi Apalagi tentang keutamaan para Imam mereka. Dinamakan seperti itu. Pengertian Menurut Bahasa Hadits Maudhu’ Merupakan isim maf’ul (objek) dari kata wadha’a Asy-Syaia. Dan membawa As Sunah bukan pada maksudnya. Kita sebagai seorang muslim tidak meyakini bahwa semua hadits adalah shahih. . fatchur. Menurut Istilah Adalah kedustaan yang dibuat dan direka-reka yang disandarkan atas nama Rasulullah dan ia termasuk periwayatan yang paling jelek. Awal Munculnya Hadits Maudhu’ Perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa kelompok setelah fitnah( masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan). kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya.blogspot.wordpress. agar kita faham pembahasan yang berkaitan dengan hadits maudhu’. Drs.http://ainuamri. haramnya meriwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun.

bertentangan dengan indra. Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam. 4. menyelisihi naql (dalil). Mengambil perkataan ahli bijak atau selain mereka kemudian meletakkan sanadnya. Misal perawi Rafidhah. 2. Seperti seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh. ketahuilah sesungguhnya itu adalah maudhu’.” Hamad bin Salamah berkata:”Menceritakan kepada syaikh mereka(Rafidhah). 5. Atau pada saat syaikh meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan. dengan berkata:”Bila kami berkumpul-kumpul. sunah yang mutawatir dan ijma’. maka dia termasuk para pendusta.” Ibnu Al Jauzi berkata:”Perkataan yang paling tepat berkenan dengan hadits maudhu’ adalah. 3. 2. Dan seperti pengakuan Maisarah bin Abdi Rabbihi Al Farisi bahwa dia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits. Adapun jika bertentangannya memungkinkan untuk dijamak. bertentangan dengan akal sehat. haditsnya tentang keutamaan ahli bait. Muslim). serta kemustahilan hadits tersebut bersumber dari Rasulullah. Adanya inidikasi perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya. kemudian meletakkan sanadnya dan meriwayatkannya.” (HR. ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh. Adanya indikasi pada isi hadits. apabila kamu melihat hadits yang menjelaskan akal. tentang tanggal kelahirannya. Ketika ditanya perawi tersebut. bahwasanya ia telah memalsukan hadits atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al Qur’an surat per surat.” Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara . kemudian ada sesuatu yang kami anggap baik maka kami jadikan sebagai hadits. maka ia tidak (maudhu’). Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits. Menurut Abu Bakar bin Ath Thayib:”Sesungguhnya bagian dari petunjuk maudhu’ adalah tidak masuk akal yang tidak bisa ditakwil disertai dengan tidak berdasar pada panca indra.Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan hadits dari sedang dia mengetahui bahwa itu dusta. Membuat perkataan yang berasal dari dirinya. atau yang membatalkan masalah ushul(akidah). berlawanan dengan ketetapan agama atau susunan lafadz lemah dan kacau. Pernyataan yang diposisikan sama dengan pengakuan. As Suyuthi berkata:”Dari indikasi perawi (maudhu’) adalah dia seorang Rafidhah dan haditsnya tentang keutamaan ahli bait. atau menafikan dalil-dali Al Qur’an yang qath’I. yang digelari Nuh Al Jami’. Bagaimana Mengetahui Hadits Maudhu’ 1. Cara Yang Ditempuh Pembuat Hadits Maudhu’ 1. dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut.

Mereka yang membuat haditshadits maudhu’ ini biasanya menisbatkannya kepada golongan ahli zuhud dan orang-orang shalih. lalu Al Mahdi memberinya sepuluh dirham. jangan meriwayatkan (hadits) dari mereka sesungguhnya mereka berdusta. Sang Amir . termasuk madzhab yang terpecah menjadi aliran politik setelah munculnya fitnah(masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan) dan maraknya aliran-aliran politik seperti Khawarij dan Syi’ah. kebodohan. bahwa beliau bersabda: “Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang. Masing-masing aliran membuat hadits-hadits palsu untuk memperkuat golongannya.” Ia menambahkan kata sayap (junah). “Barangsiapa membaca ini maka ia akan memperoleh itu? Ia menjawab:”Aku sengaja membuatnya untuk memberi dorongan kepada manusia. 1. pacuan. berkata:”Janganlah engkau bicara dengan mereka. Berikut adalah motivasi-motivasi mereka: 1. dengan meletakkan hadits-hadits targhib(yang mendorong) manusia untuk berbuat kebaikan. Ini merupakan asal dari kedustaan atas nama Rasulullah. dari Ibnu Mahdi.” Bahwa kapal Nabi Nuh thawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali dan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim. Mendekatkan diri kepada penguasa demi menuruti hawa nafsu. Sebagian orang yang imannya lemah berupaya mendekati sebagian penguasa dengan membuat hadits yang menisbatkan kepada penguasa agar mendapat perhatian. karena manusia menerima hadits-hadits maudhu’ mereka disebabkan kepercayaan terhadap mereka. Ibnu Hibban telah meriwayatkan dari kitabnya Ad Dhu’afa’. kezindikan atau sekedar hobi semata. ketika masuk ke (ruangan Amirul Mukminin) dan menjumpai Al Mahdi tengah bermain-main dengan burung merpati. Setelah berpaling. Maka ia menambahkan perkataan dalam hadits yang disandarkan kepada Nabi. dia bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi:”Dari mana engkau mendatangkan hadits-hadits seperti. Diantara mereka adalah Maisarah bin Abdi Rabbihi. Membela suatu madzhab. yang dilakukan untuk menyenangkan Al Mahdi. menggali atau sayap.Seperti kisah Giyats bin Ibrahim An Nakh’I Al Kufi dengan Amir Mukminin Al Mahdi. Motivasi-motivasi yang Mendorong Melakukan Pemalsuan Hadits Banyak niat seseorang memalsukan hadits baik timbul dari motif politik.marfu’. Imam Malik ditanya tentang Rafidhah. atau hadits yang berisi ancaman terhadap perbuatan munkar. Mereka ini termasuk kelompok pembuat hadits maudhu’ yang paling buruk. Dalam rangka Taqarrub kepada Allah. 1. 1.

Dalam rangka mencari penghidupan dan memperoleh rizki. Hamad bin Zaid berkata: “Orang-orang zindiq membuat hadits dusta yang disandarkan kepada Rasulullah sebanyak empat belas ribu hadits. Ketika akan dipenggal lehernya Ibnu Adi berkata:”Aku telah memalsukan hadits diantara kalian sebanyak empat ribu hadits. dia adalah penerang umatku. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Persi (Al Farisiyah). yaitu. Kemudian Al Mahdi memerintah untuk menyembelih burung merpati itu. 1. aku mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. membuat hadits yang berbunyi:” Akan ada dari umatku seorang laki-laki . Diantara mereka adalah Ibnu Abu Dihyah dan Hammad bin An Nashibi. Seperti yang dilakukan sebagian tukang dongeng yang mencari penghidupan melalui berbagai cerita kepada masyarakat. dan tidak ada Nabi sesudahku kecuali yang Allah kehendaki. Mengikuti hawa nafsu dan ahli ra’yu yang tidak mempunyai dalil dari kitab dan sunah kemudian membuat hadits maudhu’ untuk membenarkan hawa nafsu dan pendapatnya. maka berhati-hatilah. yaitu dengan membuat hadits yang gharib(asing) yang tidak dijumpai pada seorangpun dari syaikh-syaikh hadits. Zindiq yang ingin merusak manusia dan agamanya.berkata:”Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah. Ahmad bin Shalih Al Mishri berkata:”(Hukuman bagi) orang zindiq adalah dipenggal lehernya. yang berbunyi:”Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang disebut Abu Hanifah Al Nu’man. lalu mereka memberi upah. Mereka menambahnambahkan ceritanya agar masyarakat mau mendengar dongengannya. Fanatisme terhadap Imam atau Negri. 1. ” Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Persi (AlFarisiyah). Dan orang yang tidak senang dengan Imam Asy Syafi’I. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Arab. memalsu hadits. Diantara mereka adalah Abu Sa’id Al Madani.” Maka seorang Arab yang jahil membaliknya. 1. Ia meriwayatkan hadits dari Humaid dari Anas secara Marfu : Aku adalah Nabi terakhir. 1. Asy Syu’ubiyun memalsu hadits yang berbunyi:”Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Arab. Diantara mereka adalah Muhammad bin Sa’id Asy Syami yang dihukum mati dan disalib karena kezindikannya. orang-orang dungu itu telah membuat hadits maudhu’ sebanyak empat ribu. 1. perkataan ini. Dan orang yang ta’ashub(fanatik) terhadap Abu Hanifah. Mereka membolak balik sanad hadits supaya orang yang mendengarnya terperangah. Dalam rangka meraih popularitas.

dan inilah seruan kami: 1. Orang yang berdusta atas nama Rasulullah ancamannya sangat keras. Al Madhu’at. merajut al-wala hingga menjadi bangunan yang kokoh saling menguatkan. . Seruan untuk hijrah kepada Allah dengan memurnikan tauhid dan mencampakkan kesyirikan serta hijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya. karya As Suyuthi. Adapun adalah perintah yang juga berarti kabar(berita). menggalang ukhuwah bersama seluruh thalibul ilmi dan du’at penyeru kepada ummat.yang disebut Muhammad bin Idris. ancaman. dia lebih bahaya atas umatku dari pada iblis. karangan Ibnu Al Jauzi. di antara kitab-kitab tersebut yaitu: 1. bersama-sama kita meningkatkan iman dan ilmiah ummat berpatok pada pemahaman salafush shalih. penghinaan atau do’a atas 10 pelakunya. Ancaman Bagi yang Membuat Hadits Maudhu’. 1. Akhir Kata Dengan memohon pertolongan Allah. Kitab-kitab Referensi Hadits Palsu Para ulama telah merupaya mengumpulkan hadits-hadits palsu supaya kaum muslimin selamat dari makar pembuatnya. bersama seluruh golongan dan pergerakan yang haq. Tanzihu Ay Syri’ah Al Marfu’ah ‘an Al Ahadits Asy Syani’ah Al Maudhu’ah karya Ibnu ‘Iraqi Al Kittani. Dalam riwayat Al Bukhari tidak terdapat atau dengan sengaja. yaitu diriwayatkan 70 orang shahabat. 1. ringkasan kitab diatas. sebagaimana Nabi bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja. Al La’ali Al Mashnu’ah fi Al Ahadits Al Maudhu’ah.” Hadits ini diriwayatkan secara mutawatir. berpendapat bahwa kafir bagi orang yang memalsukan hadits Rasulullah dan dengan sengaja dan mengetahui (hukum berkenaan) dengan yang ia ada-adakan. ringkasan kedua kitab diatas. Yaitu semoga Allah menyiapkan untuknya (nereka). Namun dalam riwayat Ibnu Hibban terdapat kata ini. maka hendaknya ia bersiapsiap menempati tempatnya dineraka. Syaikh Muhammad Abu Al Juwaini.

1. koreksi dan kritik atau kontribusi harap dikirimkan langsung ke Kotak Komentar. Seruan untuk berwala kepada iman dan muslimin serta baro’ dari syirik dan musyrikin. . Saran dan Kritik Semua saran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful