ISTILAH-ISTILAH DALAM ILMU HADITS 1. Hadits, atsar dan khabar a.

Hadits = Asal arti hadits ialah omongan, perkataan, ucapan dan sebangsanya. Hadits menurut bahasa berarti ‫ الجديد‬yaitu sesuatu yang baru, hadis juga ُ ْ ِ َ َْ bararti ‫ الخبر‬yaitu berita. ْ ََ َْ Menurut ahli hadits, pengertian hadits ialah segala perkataan Nabi, perbuatan dan hal ihwalnya. Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadits adalah “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan dan taqrirnya yang barkaitan dengan hokum syara’ dan ketetapannya. b. Atsar = Sedang atsar ialah perkataan sahabat sebagaimana hadits perkataan Nabi Saw Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar yaitu sesuatu yang didasarkan kepada Nabi Muhammad, sahabat dan tabi’in c. Khabar = khabar menurut bahasa adalah semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Sebagai ulama mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang dating selain dari Nabi Muhammad. 2. Sanad, Matan dan Rowi a. Sanad = Kata sanad menurut bahasa adalah sandaran atau sesuatu yang dijadikan sandaran, menurut istilah sanad adalah “Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadis) yang menyampaikannya kepada matan hadits. b. Matan Matan menurut bahasa berarti mairtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi), sedangkan menurut istilah adalah :

“Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad” dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa matan adalah lafadz hadis yang diucapkan oleh Nabi Saw atau isi hadits. c. Rawi Rawi yakni yang meriwayatkan hadits Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan antara sanad, rawi dan ikatan, perhatikan contoh hadis di bawah ini:

ْ ُ ْ َ َْ ٍ َ ِ ْ َُ ََّ َ ‫حدثنا محمدبن معمر بن ربعي القيسى، حدثنا أبو هشام المححححزو‬ ِ ْ َ ْ ّ ِ َِ ِ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ ُ ََّ َ ‫مي عبد الواحد وه حو اب حن زيححاد ح حدثنا عثمححان ب حن حكي حم ح حدثنا‬ ََّ َ ٍ ْ ِ َ ُ ْ ُ َ ْ ُ ََّ َ ٍ َِ ُ ْ َ ُ َ ِ ِ َ ْ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ َ َّ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ْ ُ ْ َ ِ ِ َ ْ ُ ْ ُ ْ ُ ّ َ ُ ‫محمد ابن المنكدر عن عمران عن عثمححان ب حن عفححان قححال: قححال‬ َ ْ ُ ُ ْ َ َ ُ ْ َ ْ ّ َ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ ‫رسول ال صلى ال عليه وسلم: من توضحأ ف حأ حس حن الونضحوء‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ ‫خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تح حت أظفححاره: )رواه‬ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ َ ُ ْ َ َّ ِ ِ َ َ ْ ِ ُ َ َ َ ْ َ َ َ (‫مسلم‬
Penjelasan Dari nama Muhammad bin Ma’mur sampai dengan Usman bin Affan r.a adalah sanad dari hadis tersebut. Mulai kata man tawadda’ sampai dengan kata tahta azfarih adalah matannya, sedangkan Imam Muslim yang dicatat di ujung hadits adalah perawinya.

3. Hadis Mutawatir dan Ahad a. Hadits Mutawatir Mutawatir menurut bahasa berarti mutatabi’ yakni sesuatu yang datang berikut dengan kita/ yang beriring-iringan antara satu dnegan yagn lainnya, tanpa ada jaraknya. Menurut istilah mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah belajar orang yang menurut adalah mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Pada intinya hadis

mutawatir yaitu hadist yang diriwayatkan oleh banyak orang di setiap generasi sejak generasi sahabat hingga generasi akhir. b. Hadist ahad

Kata ahad menurut bahasa berarti satu, sedangkan menurut istilah ahad adalah ishobar yang jumlah perawinya tidak sebanyak jumlah perawi hadist mutawatir. Ada juga ulama yang mendefinisikan hadist ahad secara singkat yakni hadist ahad secara singkat yakni hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir. 4. Hadis shahih hasan dan dhoi’if a. Hadis shohih Shohih menurut bahasa berarti ‫( ضد السقيم‬lawan sakit) yang berarti shah, benar, ِ ِّْ ّ ِ sempurna, sehat, ibnu al-shaleh mengartikan hadist shohih yaitu hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang yagn berwafaq adil, dan dhabil, dari orang yang berwatak seperti itu juga sampai puncaknya, hadist mana tidak yadz dan tidak pula mengandung cacat. Gambaran mengenai pengertian hadist shohih menjadi lebih jelas setelah imam syafi’I memberikan ketentuan, bahwa riwayat suatu hadist dapat dijadikan hujjah apabila 1. 2. Diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya amalan Rangkaina riwayatnya bersambung sampai kepada pagi Muhammad agamanya. atau dapat juga tidak sampai ke pada pagi. Syarat-syarat hadis shohih 1. Sanadnya bersambung 2. para perawinya bersifat adil 3. para perawinya dhabil 4. Matannya tidak syadz

5. Matannya tidak berillat b. Hadis Hasan Hadis hasan menurut bahasa berarti ‫ ما تشتهيه النفسى وتميل الي حه‬yaitu ِ ْ َِ ُ ْ ِ َ َ ُ ْ ّ ِ ْ ِ َ ْ َ َ sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sebenarnya hadis hasan itu sama dengan hadis shahih. Bedanya, kalau di dalam hadis shahih semua periwayat harus sempurna kedhabitannya. Maka dalam hadis hasan ada perawi yang kedhabitannya, kecermatan atau hafalannya kurang sempurna. Menurut para ulama, hadis hasan dapat naik derajatnya menjadi shahih karena ada hadis lain yang isinya sama diriwayatkan yagn kualitasnya tidak lebih rendah. Para ulama ahli hadis membagi hadis hasan menjadi dua bagian, yaitu hasan lidzatih dan hasan li ghairih yang dimaksud dengan hadis hasan lidzatih ialah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan. Adapun yang dimaksud dengan hadis hasan li ghoirih ialah hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan hadis hasan sec ara sempurna, atau pada dasarnya hadis tersebut adalah hadis dhaif, tetapi karena ada sanad atau matan lain yang menguatkannya maka ke dudukan hadis dhaif tersebut naik derajatnya menjadi hasan li ghairih. Ibn Ash-shalah, sebagaimana dikutip oleh Al-Qosimi menyebutkan bahwa hadis hasan li hairih ialah hadis yang sandaran dan sanadnya terdapat seorang yang mashur, bukan pelupa yang banyak kesalahannya, tidak terlihat adanya sebab-sebab yang menjadikannya fasiq dan matan hadisnya diketahui baik berdasarkan periwayatannya hadis lain yang semakna. Pengertian menurut Ibnu Ash-Shalah ini memperkuat uraian bahwa pada dasarnya hadis hasan li ghairih adalah hadis dhaif, yang memiliki syahid dan muttabi’ sehingga kualitasnya menjadi naik menjadi hadis hasan, akan tetapi, hadis yang sangat lemah seperti hadis maudu’ dan mankar dan matruk sekali pun ada syahid dan muttabi’ kedudukannya tetap sebagai hadis dhaif dan tidak dapat berubah menjadi hadis hasan. c. Hadis dhaif

2. Hadis dha’if yang disebabkan oleh cacat periwayatnya atau hal lain . Dari definisi di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadis shahih adalah hadis hasan) hilang. 3. An-Nawawi mendefinsikannya dengan ِ َ َ ْ ُ ْ ُ ُ َ َ ِ َ ّ ُ ْ ُ ُ ِ ِْ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ‫مالم يو جد فيه شروط الصحة ول شروط الحسن‬ “Hadis yang di dalamn ya tidak terdapat syarat-syarat hadis sahih dan syarat-syarat hadis hasan”. Menurut Nur ad-Din’ atr mendefinisikan hadis dhaif sebagai hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul (hadis yang shahih atau hadis yang hasan). a. sebagai lawan dari kasla kuat. beberapa definisi diantaranya adalah: 1. akan tetapi pad adasarnya isi dan maksudnya sama. berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadis dhaif.Kata dhaif menruut bahasa berarti lemah. Hadis mudallas Yaitu hadis yang di dalamnya ada sesuatu yang disembunyikan. b. Hadis Mu’dal Yaitu hadis yang gugur dua orang sanadnya atau lebih secara berturutturut. Hadis mursal Yaitu hadis yang gugur sanadnya setelah tabi’in 2. Secara istilah diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinsikan hadis dhaif ini. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua adalah tiga syarat maka hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadis dhaif yang sangat lemah. 4. Dhaif dari segi persambungan sanadnya 1. Hadis munqathi’ Yaitu hadis yang sanadnya terdapat salah seorang yang digugurkan (tidak disebutkan namanya) baik diujung maupun dipangkal.

Hadis syadz Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang terpercaya. baik pada perbuatan adalah pada perkataannya atau orang yang banyak lupa atau ragu. seharusnya Kemudian disebut mendahulukan atau penyebutannya belakangan membelakangkan penyebutan yagn seharusn ya di dahulukan adalah dengan sesuatu pada tempat yang lain. Nabi Muhammad Saw bersabda ‫نضر ال امرأ سمع منا حديثا كما سمعه‬ ََ َ “Allah memuji orang yang mendengar hadis dari saya kemudian menyampaikannya seperti apa yang saya dengar. Hadis munkar Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang lemah yang menyalahi riwayat orang yang lebih terpercaya dari padanya. orang yang lebih terpercaya lagi.1. perbuatan dan taqrir. Hadis mu’allal Yaitu hadits yang diriwayatkan tanpa memakai sanad 3. 4. baik berupa perkataan. tetapi bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh. 2. . Hadis maqlub Yaitu hadis yang lafalnya tertukar pada salah seorang dari sanadnya adalah nama seorang yang sanadnya. Hadis matruk Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta terhadap hadis yang diriwayatkannya atau nampak kefasikannya. Kesimpulan Ilmu hadis merupakna ilmu pengetahuan yagn mengkaji atau membahas tentang segala yang disandarkan kepada nabi SAW. 5.

mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafadnya. bunyi hadis yang Dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadlis (penyembuyian cacat). tidak syadz dan tidak ber’ilat”. 3) Hadisnya terhindar dari ‘ilat (cacat) dan syadz (janggal). dalam arti adil dan dhobith. Defisi hadis shahih secara konkrit baru muncul setelah Imam Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah. rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi SAW. ‫هو ما اتصل سنده بنكل العدل الضابط ضبطا كامل عن مثله وخل ممن الشذوذ و العلة‬ hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya. yaitu: pertama. dan cacat (‘ilat). diriwayatkan oleh orang adil dan dhobith(kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya. Imam Al-Suyuti mendifinisikan hadis shahih dengan “hadis yang bersambung sanadnya. dan .PEMBAHASAN I. mampu meriwayatkan hadis secara lafad. Imam Bukhori dan Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut: 1) Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perowi pertama sampai perowi terakhir. dfiriwayatkan oleh perowi yang adil dan dhobit. apabila diriwayatkan oleh para perowi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya. dikenal sebagai orang yang jujur mermahami hadis yang diriwayatkan dengan baik. 2) Para perowinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat.1 Definisi Hadits Shahih kata Shahih ((‫ الصحيخ‬dalam bahasa diartikan orang sehat antonim dari kata assaqim ( (‫ =السقيم‬orang yang sakit jadi yang dimaksud hadits shahih adalah hadits yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat. Hadits Shahih I. terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafad. kedua. atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi. selamat dari kejanggalan (syadz).

Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad. akhbarani. 2. Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut: 1. jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. bukan fasiq dan tidak pula jelek prilakunya. yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasani. akhbarana. biasanya ulama’ hadis menempuh tata kerja sebagai berikut. ‘an. haddasani. sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa atta’dil. Sanadnya Bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perowi dari perowi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya. bersetatus Mukallaf (baligh). ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil. dari sejak awal hingga akhir sanadnya. 1. Perawinya Bersifat Adil Maksudnya adalah tiap-tiap perowi itu seorang Muslim. I. sdeperti imam empat Hanafi. keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil. 2.Maliki. c. khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat. b. Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad.anna. Mempelajari hidup masing-masing periwayat.2 Syarat-Syarat Hadis Shahih Berdasarkan definisi hadis shahih diatas. dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadis shahih dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Mencatat semua periwayat yang diteliti. 3. Perowinya Bersifat Dhobith . Asy-Syafi’i. dan periwayatannya pun ditolak. dan Hambali.4) Para perowi yang terdekat dalam sanad harus sejaman. atau kasta-kata lainnya. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fasiq.

Artinya. sejak ia maneriama hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain. yaitu shahih li-dzati dan shahih li-ghoirih. sedang. ingatan perowinya sempurna. sedang pada hadis shahih li-ghoirih.Hadis Shahih li dzati . suatu hadis tidak dinyastakan sebagai mengandung syudzudz. bila hadisd yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah. nmenurut para ulama. Adapun sifat-sifat kedhobitan perowi. ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhobithannya.Maksudnya masing-masing perowinya sempurna daya ingatannya. perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan perowinya. ‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama. I. Namun demikian. d.3. sedang periwayat yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan lainnya. pada shahih li-dzatih. suatu hadis dinyatakan syudzudz. dhobith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan. bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah. Menurut al-Syafi’i. ingatan perowinya kurang sempurna. a. sementara dhahirnya selamat dari cacat. dapat diketahui melalui: 1. Pembagian Hadis Shahih Para ahli hadis membagi hadis shahih kepada dua bagian. baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan). kesaksian para ulama 2. Dhobith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan. Tidak Syadz Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz. dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai pada ke-shahih-an hadis. Tidak Ber’ilat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya. seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal. e.

adalah hadis hasan li-dzatihi apabila diriwayatkan melamui jalan yang lain oleh perowi yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari padanya. hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah. I. oleh karena itu. para muhadisin membagi tingkatan sanad menjadi tiga yaitu: Pertama.4 Kehujahan Hadis Shahih Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis shahih wajib diamalkan sebagai hujah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para uluma hadis dan sebagian ulama ushul dan fikih.bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya. Bukan berarti sama sekali dusta.Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya. seperti periwayatan Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah. mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah. yaitu rangkaian sanad hadis yang yang tingkatannya dibawash tingkat pertama diatas. Seperti periwayatan sanad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas.5 Tingkatan Hadis Shahih Perlu diketahui bahwa martabat hadis shahih itu tergantung tinggi dan rendahnya kepada ke-dhabit-an dan keadilan para perowinya. tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah. ashah al-asanid yaitu rangkaian sanad yang paling tinggi derajatnya. Ketiga. Berdasarkan martabat seperti ini. seperti periwayatan sanad dari Imam Malik bin Anas dari Nafi’ mawla (mawla = budak yang telah dimerdekakan) dari Ibnu Umar. b. Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat’i. ahsan al-asanid. Hadis shahih li-ghoirih. Kedua. yaitu rangkaian sanad hadis yang tingkatannya lebih rendah dari tingkatan kedua. ad’af al-asanid. . I. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu. karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan. yaitu al-Quran dan hadis mutawatir. Hadis Shahih Li Ghoirihi Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis shahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian.

405). g) Hadis yang dinilai shahih menurut ilama hadis selain Al-Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya. Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis shahih secara berurutan sebagai berikut: 1. dan lain-lain. Shahih Ibn As-Sakan. Shahih Ibnu Hiban (w. 311 H). yang secara berurutan sebagai berikut: a) b) c) Hadis yang disepakati oleh bukhari dan muslim (muttafaq ‘alaih). Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. yaitu indah. HADIS HASAN II. e) f) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Al-Bukhari saja. 261 H). d) Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan AL-Bukhari dan Muslim. II. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori saja. Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if. seperti Ibnu Khuzaimah. 4. Shahih Al-Abani. 6.Dari segi persyaratan shahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan. Shahih Ibnu Khuzaimah (w. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja. Sebagian dari definisinya yaitu: . Shahih Al-Bukhari (w. dan juga karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya. Shahih Muslim (w. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja. Mustadrok Al-hakim (w. 3. Ibnu Hibban. 7. 354 H). hasan berarti al-jamal.250 H). 2. 5.1 Pengertian Hadis Hasan Secara bahasa.

1. 3. akan tetapi karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’). Tetapi jika dibandingkan dengan kedhabit-an perawi hadis dha’if tentu belum seimbang. maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih. definisi al. a. dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis. dengan kata lain. definisi Ibnu Hajar: beliau berkata. ulama ushul fiqih. adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal.2 Macam-Macam Hadis Hasan Sebagaimana hadis shahih yang terbagi menjadi dua macam. definisi Tirmidzi: yaitu semua hadis yang diriwayatkan. . II. Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Paraulama hadis. dan yang diterima kebanyakan ulama. hadis hasasn pun terbagi menjadi dua macam. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabitannya dibandingkan dengan hadis hasan. b. Hasan Li-Ghairih Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. dan telah mashur rawi-rawi sanadnya. yaitu hasan li-dzatih dan hasan li-ghairih.3 Kehujahan Hadis Hasan Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih. ke-dhabit-an perawi hadis hasan lebih unggul. lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi. dan yang dipakai oleh umumnya fukoha’ 2. tidak cacat. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabit-annya. Hasan Li-Dzatih Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan yang telah ditentukan. dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian. serta tidak ada syadz (kejangalan). dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta. bersanbung sanadnya. II. maka dia menurut kami adalah hadis hasan.Chatabi: adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya. sempurna ke-dhabit-annya. adalah hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil. hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if. dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi. meskipun derajatnya dibawah hadis shahih. dan fuqaha sepakat tentang kehujjahan hadis hasan.

sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadits hasan”. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda. seperti Bukhari. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. dari Abdurrahman.2 Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan. berarti hadits yang terlepas. mereka tidak sanggup menghadirinya”. dari Harmalah. Jadi. HADIST DHAIF III. antara lain yaitu : 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. maupun pada pertengahan atau akhirnya. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. baik pada permulaan sanad. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi.III. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan . Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. III.1 Definisi Hadist Dhaif Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). a. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik.

secara beriringan dalam sanadnya. dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah. dari Laits. dan sejahtera atas Rasulullah. pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in. bila masuk ke dalam mesjid. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba. dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. dalam kitabnya “AlMuwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku. maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. 3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa. . karena Fathimah Az-Zahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. dari Abdullah bin Hasan. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. Ya Allah. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya. dan Ahmad bin Hanbal. 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. dari Abu Bakar bin Ali Syaibah.hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. Bila dua rawi yang gugur. Namun. dari Abu Hurairah. hadits di atas adalah hadits munqathi’. dari Fatimah binti AlHusain. atau lebih. membaca “dengan nama Allah. dari Ismail bin Ibrahim. Malik bin Anas. maka kedua rawi tersebut tidak beriringan. Jadi. Menurut Ibnu Majah. contoh hadits munqathi’ : Artinya : Rasulullah SAW. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya.

1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih. hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. b. dari Rasulullah. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). dari ayahnya. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. karena Bukhari bukanlah seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). tidak dikenal. Sering keliru. Dengan demikian. dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa. Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. dari Abu Hurairah. yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif. kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. hafalan yang buruk. misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya.Di dalam kitab Imam Malik tersebut. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Seperti pendusta. dari Zuhri. Adapun cacat pada matan. ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa. Berdasarkan riwayat Bukhari. Pada umumnya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. atau lalai dalam mengusahakan hafalannya. tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. dan Abu Salamah dari Abu Huraira. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. banyak waham. fasiq. Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal . Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan .

Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya. atau pernah melakukan maksiat. misalnya. seorang zindiq. dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. ( Al-An’am : 164 ) c) “Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad. lalai. Sedikit sejarah. Jibril. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. yaitu: aku ( Muhammad ). . orang-orang munafik.dari Rasulullah SAW. aku halalkan barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. mazhabnya. ” Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. “orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam. dari kakeknya. sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah. maka ia dan anaknya itu masuk surga”. atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya. berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. yakni kaum yahudi dan nashrani. atau kebangsaannya . seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi. ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan AlQur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya. dan Muawiyah”. “Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Abdul Karim. tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. atau banyak wahamnya. Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’: a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. zindiq. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ).

‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. selama mereka belum berpisah”. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. mengerjakan haji.Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan AtsTsauri. tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. namun setelah diteliti dengan seksama. sanadnya memiliki illat. Contoh : Rasulullah bersabda. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. dan menghormati tamu. dan Umar bin Khaththab. yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. sekiranya tidak ada wanita. ‘Isa bin Ziyad. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . 3) Hadits Munkar Hadist munkar. seperti : Muhammad bin ‘Imran. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. Matan hadits ini sebenarnya shahih. Oleh karena itu. dan selanjutnya dari Ibnu umar. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. ataupun keduanya. ( H. Contoh : .R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. Said bin mutstayyab. matan. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. niscaya masuk surga. membayarkan zakat. dari ‘Amru bin Dinar. contoh : Artinya: “Barangsiapa yang mendirikan shalat. dan illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad.

maka kerjakanlah dia. Batasan yang diberikan para ulama. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil. maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”. hadits ini berarti hadits ayng ganjil. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu darinya. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.3 Kehujahan Hadits dhaif .” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. apabila aku melarang kamu dari sesuatu. ataupun keduanya. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawirawi yang juga dipercaya. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. dan berhijrah. Keganjilan itu bisa pada sanad.Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. dengan tempat tinggal di taman surga”. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. pada matan. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. maka jauhilah ia. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. III. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. berarti hadits yang diputarbalikkan.

dengan beberapa syarat: 1. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). nasehat atau peringatan. harus didampingi dengan hadits lainnya. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. Baik masalah keutamaan (fadhilah). Maka menurut para ulama. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a’mal. Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. 1. kisah-kisah. Ketika Mengamalkannya. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah.Khusus hadits dhaif. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Sebab dibandingkan dengan mereka. Apalagi . kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabit-annya Maksudnya. Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. boleh digunakan untuk perkara fadahilul a’mal (keutamaan amal). maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. • Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. 1. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. Dan menariknya. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. mereka itu bukan orang sembarangan. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu.

para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. atau tertuduh sebagai pendusta. Bagi mereka. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. kami ketatkan. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. asal bukan hadits palsu (maudhu’). Yahya bin Mu’in. • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. Abu Bakar Al-Arabi. Ibnul Mahdi. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. kisah-kisah. 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. Pendeknya. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. Ibnu Hazm dan lainnya. atau anjuran amal tambahan. sedhai’fdha’if-nya suatu hadits. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. pendiri mazhab Hanbali. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. melainkan hanya sekedar berhati-hati. .” 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadits dhaif. juga bukan masalah hukum. Mereka adalah kebanyakan ulama.kalau sampai masalah hukum dan aqidah. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika. kami longgarkan. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Al-Imam Muslim. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. Di zaman sekarang ini. ‘Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia.

dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.”(QS Yunus 36). Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ). perbuatan. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehatmenasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi kebenaran”. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. Sebab beda maqam dan beda posisi. berfirman : “(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Karena sesungguhnya Allah SWT.Semua keterangan di atas. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya.” (QS. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebabsebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. “Demi masa. maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. maupun matannya. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. sanad. jelas bukan pendapat kami.(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ ْ َ ّ ِ ََ ِ ِ ْ َ ََ ٌ ِ َ ّ َ ‫وال غالب على أمره ولـكن أكثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang . Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). BAB III KESIMPULAN Pada materi hadits dhaif ini.

‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup.Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. Sangat penting membahas seputar hadits dhaif. . pandai berdebat tentang dalil. hadits dhaif I. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. Tidak jarang. karena di sini kita akan mengetahui bagaimana proses periwayatan hadits yang berasal dari Rasulullah atau bukan berasal dari beliau. jika memang terdapat hadits yang terbukti lemah ( dhaif ) ini sekiranya bermakna positif bagi kita dan dapat memotivasi dalam pengamalan hidup sehari-hari. Banyak ilmu saja tidak cukup. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Karena itu. macam-macam hadits dhaif. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. Tidak hanyas sebatas sampai di situ. Namun. serta kehujjahannya menurut pendapat para ulama. orang pintar bicara. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. kita diharapkan dapat mengetahui sejarah orang-orang yang meriwayatkan hadits berdasarkan kekuatan hafalan mereka. termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. Selain itu. Pendahuluan Pada makalah ini akan dibahas mengenai sebab-sebab kedhaifan hadits. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah .

maupun pada pertengahan atau akhirnya. yang seharusnya ada dalam suatu sanad. hadits mu’dhal. 1) Hadits Mursal Hadits mursal menurut bahasa. dan tidak pula menghimpun sifatsifat hadits hasan”.II. hadits munqathi’. Macam-macam hadits dhaif Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah . Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW. Hadits dhaif karena gugurnya rawi Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi. Dugaan kuat mereka hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah SAW. yaitu : hadits dhaif karena gugurnya rawi dalam sanadnya. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif sebagai berikut : “ Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat / menghimpun sifat-sifat hadits shahih. baik pada permulaan sanad. 2. a. antara lain yaitu : hadits mursal. Ada beberapa nama bagi hadits dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi. Pembahasan 1. berarti hadits yang terlepas. hadits dhaif berarti hadits yang lemah. dan hadits muallaq. Pengertian hadits dhaif Secara bahasa. dan hadits dhaif karena adanya cacat pada rawi atau matan.

hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. 2) Hadits Munqathi’ Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah). Jadi. karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. dari Harmalah. dan selanjutnya dari Sa’id bin Mustayyab. sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah. Contoh hadits mursal : Artinya : Rasulullah bersabda. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Sa’id bin Mustayyab. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. mereka tidak sanggup menghadirinya”. dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah asalkan para rawi bersifat adil. sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. maka rawi menjelang akhir . Kebanyakan Ulama memandang hadits mursal ini sebagai hadits dhaif. hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Namun. yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh. tidaklah disebutkan dalam sanad hadits di atas. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits. “ Antara kita dan kaum munafik munafik (ada batas). dari Abdurrahman. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi. dan Ahmad bin Hanbal. Malik bin Anas. seperti Bukhari. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik.

sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Bila dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. contoh hadits munqathi’ :

Artinya : Rasulullah SAW. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Ali Syaibah, dari Ismail bin Ibrahim, dari Laits, dari Abdullah bin Hasan, dari Fatimah binti Al-Husain, dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Menurut Ibnu Majah, hadits di atas adalah hadits munqathi’, karena Fathimah AzZahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. Jadi ada rawi yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in.

3) Hadits Mu’dhal Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadits

mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya. Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba, dalam kitabnya “Al-Muwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik. Di dalam kitab Imam Malik tersebut, tidak memaparkan dua orang rawi yang beriringan antara dia dengan Abu Hurairah. Kedua rawi yang gugur itu dapat diketahui melalui riwayat Imam Malik di luar kitab Al-Muwatha. Imam Malik meriwayatkan hadits yang sama : Dari Muhammad bin Ajlan , dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah. Dua rawi yang gugur adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya. 4) Hadits mu’allaq Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Batasan para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ). Contoh : Bukhari berkata : Kata Malik, dari Zuhri, dan Abu Salamah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain. Berdasarkan riwayat Bukhari, ia sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Malik. Dengan demikian, Bukhari telah menggugurkan satu rawi di awal sanad tersebut. Pada umumnya, yang termasuk dalam kategori hadits mu’allaq tingkatannya adalah dhaif, kecuali 1341 buah hadits muallaq yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari. 1341 hadits tersebut tetap dipandang shahih, karena Bukhari bukanlah

seorang mudallis ( yang menyembunyikan cacat hadits ). Dan sebagian besar dari hadits mu’allaqnya itu disebutkan seluruh rawinya secara lengkap pada tempat lain dalam kiab itu juga. b. Hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi : 1) Hadits Maudhu’ Menurut bahasa, hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuhmusuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani, orang-orang munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya, mazhabnya, atau kebangsaannya . Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Peringatan Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul SAW sebagai sandarannya.

“Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. Berikut dipaparkan beberapa contoh hadits maudhu’:

a) Hadits yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam; ia katakana bahwa hadits itu diterima dari ayahnya, dari kakeknya, dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. berbunyi : “Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi ka’bah, tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat” Makna hadits tersebut tidak masuk akal. b) adapun hadits lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. Hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. “Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. ( AlAn’am : 164 )

“Siapa yang memperoleh anak dan dinamakannya Muhammad, maka ia dan anaknya itu masuk surga”.

“orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga, yaitu: aku ( Muhammad ), Jibril, dan Muawiyah”. Demikianlah sedikit uraian mengenai hadits maudhu’. Masih banyak hadits-hadits lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. Sedikit sejarah, berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan, seperti Maisarah bin Abdi Rabbin AlFarisi, misalnya, ia mengaku telah membuat beberapa hadits tentang keutamaan Al-Qur’an dan 70 buah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Abdul Karim, seorang zindiq, sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadits dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadits; aku halalkan

Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda. atau pernah melakukan maksiat. 3) Hadits Munkar Hadist munkar. hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. Oleh karena itu.barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi. menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. 4) Hadits Mu’allal Menurut bahasa. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut. dan menghormati tamu. Said bin mutstayyab. seperti : Muhammad bin ‘Imran. hadits tersebut ditinggalkan / dibuang. secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal. contoh : “Barangsiapa yang mendirikan shalat. ( H. 2) Hadits matruk atau hadits mathruh Hadits ini. dan Umar bin Khaththab. ‘Isa bin Ziyad. ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya. membayarkan zakat. dan illat . lalai. mengerjakan haji. sekiranya tidak ada wanita. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain ).R Riwayat Abu Hatim )” Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadits yang lebih kuat. atau banyak wahamnya. ternyata Abdur Rahim dan ayahnya pernah tertuduh berdusta. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. Para ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi . niscaya masuk surga.

apabila aku melarang kamu dari sesuatu. Contoh : Rasulullah bersabda. 5) Hadits mudraj Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan. dan berhijrah. sanadnya memiliki illat. Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman surga ). yang sebenarnya bukan bagian dari hadits itu. 6) Hadits Maqlub Menurut bahasa. Matan hadits ini sebenarnya shahih. Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan Ats-Tsauri. karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW. matan. berarti hadits yang diputarbalikkan. (Riwayat Ath-Tabrani) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. namun setelah diteliti dengan seksama. “penjual dan pembeli boleh berkhiyar. maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. maka kerjakanlah dia. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar. selama mereka belum berpisah”. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain. semestinya hadits tersebut berbunyi : Rasulullah SAW bersabda : “Apa yang aku larag kamu .yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad. dan selanjutnya dari Ibnu umar. Contoh : Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku. ataupun keduanya. dari ‘Amru bin Dinar. dengan tempat tinggal di taman surga”.

asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). pada matan. Hadits yang level kedhaifannya tidak terlalu parah. Keganjilan hadits di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut. dan merupakan salah satu contoh hadits syadz pada matannya. Level Kedhaifannya Tidak Parah Ternyata yang namanya hadits dhaif itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya. boleh digunakan untuk . Batasan yang diberikan para ulama. hadits ini berarti hadits ayng ganjil.darinya. masih ada di antara hadits dhaif yang bisa dijadikan hujjah. dengan beberapa syarat: a. 7) Hadits Syadz Secara bahasa. maka para ulama hadits kelas berat semacam Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits dhaif boleh digunakan. Maka menurut para ulama. 3. maka jauhilah ia. ataupun keduanya. Pada hadits-hadits lain tidak dijumpai ungkapan . Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. Keganjilan itu bisa pada sanad. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan. Kehujjahan hadits dhaif Khusus hadits dhaif.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan rawi-rawi yang dipercaya. Lawan dari hadits ini adalah hadits mahfuzh. jika dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya. hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya. Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”. tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya. namun matan hadits tersebut ternyata ganjil.

Bagi mereka hadits dhaif itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. kita ini bukan apa-apanya dalam konstalasi para ulama hadits.perkara fadahilul a'mal (keutamaan amal). Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Ibnu Hazm dan lainnya. mereka itu bukan orang sembarangan. sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. c. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadits serta para spesialis. tidak ada tempat buat hadits dhaif di hati mereka. kisah-kisah. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah SAW. nasehat atau peringatan. Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsabitannya Maksudnya. Pendeknya. Berada di bawah Nash Lain yang Shahih Maksudnya hadits yang dhaif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhailul a'mal. Di zaman sekarang ini. harus didampingi dengan hadits lainnya. b. Di antara mereka terdapat nama Al-Imam Al-Bukhari. Bahkan hadits lainnya itu harus shahih. Dan menariknya. Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. Yahya bin Mu'in.Sikap Ulama Terhadap Hadits Dhaif : Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif. ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap . Baik masalah keutamaan (fadhilah). Maka tidak boleh hadits dha’if jadi pokok. AlImam Muslim. . 2) Kalangan Yang Menerima Semua Hadits Dhaif Jangan salah. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadits dhaif itu masih bisa ditolelir. ketika kita mengamalkan hadits dhaif itu. ada tokoh seperti Al-Albani dan para pengikutnya. tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih. 1) Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadits Dhaif Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan. Abu Bakar Al-Arabi. kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah SAW atau perbuatan beliau. Sebab dibandingkan dengan mereka. Ketika Mengamalkannya.

Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadits dhaif. Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadits dhaif antara lain. pendiri mazhab Hanbali. . Bagi mereka. sebagaimana diwakili oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi rahimahumalah. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya. sedhai'f-dha'if-nya suatu hadits. tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika.menerima semua hadits dhaif. Semua itu adalah pendapat para ulama pakar ilmu hadits. Ibnul Mahdi. kami longgarkan. atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima. kisah-kisah. atau tertuduh sebagai pendusta. Kami ini bukan berada dalam posisi untuk mengkritisi salah satunya. Selain itu juga ada nama AlImam Abu Daud. Ibnul Mubarok dan yang lainnya. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah. asal bukan hadits palsu (maudhu'). • Hadits itu punya asal yang menaungi di bawahnya • Hadits itu hanya seputar masalah nasehat. Sedangkan hadits dha'if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta. 'Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram." 3) Kalangan Menengah Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu. Semua keterangan di atas. • Ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadits itu. Mazhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. jelas bukan pendapat kami. atau anjuran amal tambahan. Sebab beda maqam dan beda posisi. kami ketatkan. para imam mazhab yang empat serta para ulama salaf dan khalaf. Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata. adalah: • Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. juga bukan masalah hukum. melainkan hanya sekedar berhati-hati. Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah kebanyakan ulama.

Penutup 1.” (QS. Karena sesungguhnya Allah SWT. Sesung. َ ُ َْ َ َ ِ ّ َ َ َ ّ ‫َ ّ َ ِ ٌ ََ َ ْ ِ ِ ََ ك‬ ‫وال غالب على أمره ولـ ِن أكْثر الناس ل يعلمون‬ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya.IV.guhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. “Demi masa. Yûsuf [12]: 21) Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari Qur’an dan Hadits ( terlebih hadits dhaif ). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasehati supaya menetapi ."(QS Yunus 36). maka itulah yang perlu kita luruskan bersama. berfirman : "(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya. Kesimpulan Pada materi hadits dhaif ini. dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas.

perbuatan. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga .kebenaran”. termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja. Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda. sanad. Dengan mengetahui Ilmu Hadits ( di sini lebih dikhususkan hadits dhaif ). Karena itu. baik dari segi rawinya ( orang yang meriwayatkan ).(TQS Al-‘Ashr [103] : 1-3) Terbaginya hadits dhaif dalam dua bagian. Pengertian Hadist Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. orang pintar bicara. pandai berdebat tentang dalil. Namun. Banyak ilmu saja tidak cukup. Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islâmiyah). Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. Tidak jarang. Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islâmiyah). tentu akan membuat aqliyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyah ( sikap ) keimanan dan ketakwaan yang mantap. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat. tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan. karena gugurnya rawi dan atau karena cacat pada rawi atau matan semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebab-sebab mengapa hadits-hadits menjadi dhaif. kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah . maupun matannya. serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar.

contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Shu'bah. Ibnu Abbas dan Ibnu AlZubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama.". "Kami dilarang untuk. Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.. . hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat).. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. perbuatan.disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda). Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah... Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama.". Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". Matan ialah redaksi dari hadits. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. mauquf (terhenti) dan maqtu' : Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya).. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad. hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur'an. "Kami terbiasa. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan.

Science of Hadits). Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang.. Hadits Mursal." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Mu'dal dan Mursal. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya. Munqati'. Hadits mutawatir. . Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad. Hadits Munqati'. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan.. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad.. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Mu'allaq. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad).

bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. mu’allaq.Background Hadits ahad. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. mengandung kejanggalan atau cacat. mudallas. hasan. berakhlak baik. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: Sanadnya bersambung. da'if dan maudu' Hadits Shahih. dan kuat ingatannya. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk. serta matannya tidak syadz serta cacat. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits Maudu'. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Hadits Mungkar. Hadits Dhaif (lemah). meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. terjaga muruah (kehormatan)nya. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. Hadits Mu'allal. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Mashur. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani . tidak fasik. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. Aziz. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. memiliki sifat istiqomah.

disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat). Hadits Mudallas. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolaholah tidak ada cacatnya. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. baik dalam sanad atau pada gurunya. disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. . disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Daud. Selain itu. Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. Aturan-aturan ini. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta' dari Imam Malik. Hadits Mudraj. Hadits Syadz. Hadits Maqlub. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). termasuk: Shahih Bukhari. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. padahal sebenarnya ada. ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. Hadits Munqalib.bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits Mudlthorib. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya.

Hadits Yang Diterima (Maqbul) . As Sab'ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). seperti Aisyah.Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. Imam Bukhari. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua. Imam Muslim. Imam Abu Daud. yang melawan Ali pada Perang Jamal. Imam Nasa'i dan Imam Ibnu Majah. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). istri Muhammad saw. melalui Fatimah az-Zahra. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi'ah diklaim memusuhi Ali. Imam Turmudzi. 1. dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. Imam Bukhari. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi Al-Istibsaar Al-Tahzeeb Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin Shahih Bukhari Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. Imam Bukhari dan Imam Muslim. Imam Muslim dan Ibnu Majah. yaitu hadits yang shahih dan hasan. terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq 'Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. Al Arba'ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad.

1. 1. 1.Hadits yang diterima dibagi menjadi 2 (dua): 1. sempurna ingatan. 1. 1. 2. dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith). Hadits Shahih 1. memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. Hadits Hasan 1. maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: • • • • • Rawinya bersifat adil. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. sanadnya bersambung-sambung. 2. tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. Sedangkansecara istilah. artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: . yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil. 1.1.2. Definisi Secara bahasa. tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits. menguasai apa yang diriwayatkan. Definisi: Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya. Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran. tidak ber’illat dan tidak janggal. Hasan adalah sifat yang bermakna indah. menjauhi dosa-dosa kecil.

terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya.2. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. 1. yang kurang kuat ingatannya.Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil. Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya). bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan. maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat . Di antara contoh hadits ini adalah: ‫لول أن أشق على أمتي لمرتهم بالسواك عند كل صلة‬ Seandainya aku tidak memberatkan umatku. yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah.2. Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta.

yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid. Ringkasnya. maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain. bukan pelupa yang banyak salahnya. *** 2. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya. Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya. Andaikata tidak ada 'Adhid. As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. hanya sebagian orang yang bodoh dan awam . Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. "Ya. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. atau dengan ada beberapa sanad lain. maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan. Hadits ini asalnya dhaif (lemah). maka kedudukannya dhaif. Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: ‫" أرضيت من نفسك ومالك بنعلين؟ قالت: نعم، فأجاز‬Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. namun karena ada ada mu'adhdhid. naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr." Maka nabi SAW pun membolehkannya. yaitu hadits yang tertolak. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat.Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya). Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul). hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah).

2. yaitu banyak salah lengah dalam menghafal Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal Menyalahi riwayat orang kepercayaan Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) Penganut Bid’ah (hadits mardud) Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 2. 2. 3.2. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits.yang memasukkannya ke dalam hadits. kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. Penyebab Tertolak Ada beberapa alasan yang menyebabkan tertolaknya Hadits Dhaif.1 Adanya Kekurangan pada Perawinya Baik tentang keadilan maupun hafalannya. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya. Adapun kalau dengan sanadnya. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah.2.2. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum. 2. misalnya karena: • • • • • • • • Dusta (hadits maudlu) Tertuduh dusta (hadits matruk) Fasik. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas.1 Definisi: Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan. mereka tidak mengingkarinya . yaitu: 2. 2. hanya saja karena satu sebab tertentu. Karena Sanadnya Tidak Bersambung • • • • Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 2.

Sedangkan setiap amal sunnah. Demikian juga dengan hukum jual beli. Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah. Imam Al-Bukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits. melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar. maka orang itu salah seorang pendusta. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah.2. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. sementara derajat periwayatannya lemah. Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. . selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu). Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. hukum thalaq dan lain-lain.3. Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif. hukum akad nikah. yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW.

Mahmud Thahan didalam kitabnya mengatakan. diperbincangkan. 2009 pukul 12:50 pm · Disimpan dalam Ilmu Hadits Oleh: Dede KS. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu. maka haditsnya tidak bisa dipakai. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. Lc Januari 25. padahal beliau tidak mengatakan dan memperbuatnya. wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. Ahmad Sarwat. 3. Sedangkan ‫ موضع‬merupakan derivasi dari kata – ‫وضع‬ ‫ يضع – وضعا‬yang secara bahasa berarti menyimpan. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. Mustafa Azmi. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. Demikian sekelumit informasi singkat tentang pembagian hadits. Adapun pengertian hadits maudhu’ (hadits palsu) secara istilah ialah: ‫ما نسب الى رسول ال صلى ال عليه و السلم إختلفا و كذبا مما لم يقله أويقره‬ ّ Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah secara dibuat-buat dan dusta. antara lain: 1. Dr. dilihat dari sudut apakah hadits itu bisa diterima ataukah hadits itu tertolak.الجديد‬yaitu sesuatu yang baru. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. الخبر‬berita.Lagi pula. Yaitu sesuatu yang diberitakan. 2. mengada-ngada atau membuat-buat. Wallahu a'lam bishshawab. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. Haliman A. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. selain itu hadits pun berarti ‫ . dan dipindahkan dari seseorang kepada orang yang lain. Pengertian Hadits Maudhu ‫ الحديث‬secara bahasa berarti ‫ . ‫اذا كان سبب الطعن فى الروى هو الكذ ب على رسول ال فحد يثه يسمى الموضع‬ . Perawi yang telah dicap sebagai pendusta.

Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam . Misalkan hadits yang mereka buat sebagai berikut: ‫لما اسرى النبي اتاه جبريل بسفرجلة من الجنة قاكلها فعلقت السيدة خديجة بقاطمة فكان اذاشتاق الى رائحة‬ ‫الجنة شم فاطمة‬ “Ketika Nabi diisra’kan. Sejarah Perkembangan Hadits Palsu Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits.Apabila sebab keadaan cacatnya rowi dia berdusta terhadap Rasulullah. beliau lalu mencium Fatimah” Kepalsuan hadits ini sangat jelas sekali. Misalkan mereka membuat hadits untuk menjelek-jelekan Muawiyah sebagai berikut: ‫ااذا رايتم معاوية على منبرى فاقتله‬ “Apabila kamu melihat Muawiyah berada diatas mimbarku. b. selain itu pemalsuan hadits dijaman Rasulullah Saw. sebab Khodijah telah meninggal sebelum peristiwa Isra. bahkan mereka pun menciptakan hadits tentang keutamaan Fatimah. maka haditsnya dinamakan maudhu’. telah terjadi pemalsuan hadits. C. mereka pun membuat hadits-hadits untuk menyerang golongan yang lain. beliau beralasan dengan sebuah hadits yang matannya ‫. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut: a. Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait. Akan tetapi pendapat ini kurang disetujui oleh H. Menurut jumhur muhadditsin. من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ ّ ّ ّ ّ Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw. Disamping mereka membuat hadits-hadits palsu untuk memuji golongan mereka sendiri. Dan data menunjukan sepanjang masa Rasulullah Saw. tidak pernah ada seorang sahabatpun yang sengaja berbuat dusta kepadanya. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan hadits-hadits palsu. bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw.Mudatsir didalam bukunya Ilmu Hadits. Menurut Ahmad Amin. Misal munculnya Syiah. kemudian Khawarij. maka bunuhlah dia” a. Jibril datang memberikan buah Safarjalah dari surga. ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) Dan pengertiannya secara istilah beliau mengatakan ‫هو الكذب المختلق المنصوع المنسوب الى رسول ال صلى ال عليه والسلم‬ Hadits yang dibuat oleh seorang pendusta yang dibangsakan kepada Rasulullah ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89) B. Golongan Syiah yang paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. dengan alasan Ahmad Amin tidak mempunyai alasan secara histories. tidak tercantum didalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan Asbabul Wurud. yaitu diantaranya: a. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman khalifah Ali bin Abi Thalib. Karena itu apabila Rasulullah rindu akan bau-bauan surga. Kaum Syafi’i mengatakan “saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum Rafidhah”. Motif-motif yang mendorong pembuatan hadits maudhu’ Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk membuat hadits palsu (maudhu’). Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain. hadits masih bisa dikatakan selamat dari pemalsuan. Kemudian sayyidah Khodijah menghubungkan buah tersebut dengan Fatimah.

diantaranya dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa. Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat. kebahasaan. dank arena memang kejahilan seseorang didalam ilmu agama. Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya. Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah: “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah. dan kultus terhadap Imam mereka. membuat hadits palsu: ‫من رفع يديه في الصلة قل صلة له‬ “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya” Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu. Yang demikian itu tetap berjalan selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun” a. pengobatan dan hokum tentang halal dan haram. akhlaq. sebagai pelita umatku” Ada juga golongan Syafi’iyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah: “Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi. a. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang berjalan”. Fanatik kebangsaan. yang paling menggetarkan umatku daripada iblis” a. . Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah. mereka membenci melihat kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. kesukuan. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. Mereka yang ta’asub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan hadits maudhu sebagai berikut: ‫ان ال اذا غضب انزل الوحي بالعربية واذا رضى انزل الوحي بالفارسية‬ “Sesungguhnya Allah apabila marah. Dengan maksud untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits palsu dalam bidang aqidah. “Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi” Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu pula. kedaerahan. maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan diantara contoh haditshadits palsu yang bermotiv karena kultus terhadap imam diantaranya: ‫سيكون رجل في امتي يقال ابو حنيفة النعمان هو نوراامتي‬ “Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Nu’man. misalkan kisah-kisah yang menggembirakan tentang surga: “Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang terbuat dari mutiara putih. dengan berkendaraan unta kelabu.Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq.

Qorinah-qorinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits palsu (maudhu). Permalink Pengertian. 1. 2. 3. padahal ini merupakan perkataan Malik bin Dinar. Dan kadang-kadang menukil perkataan sesorang yang dianggap alim pada waktu itu. padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. Hukum Periwayatan Hadis Maudhu’ 24 Apr . Hadits ini mereka (para pembuat hadits palsu) katakan bersumber dari nabi. Hadits maudhu memang yang paling banyak tidak memiliki sanad. Dari segi makananya. maka makna hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an. serentak ia menjawab: “Tidak seorangpun yang meriwayatkan hadits kepadaku. Misalnya seorang rowi mengaku menerima hadits dari seorang guru. Akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama benci terhadap Al-Qur’an. Suka Be the first to like this post. atau perkataan orang alim mutaqaddimin. hadits mutawatir. dalam menjalankan aksinya kadang-kadang mengambil dari pikirannya sendiri. Sumber-Sumber Yang Diriwayatkan Para pembuat hadits maudhu. Adapun dari segi lafadznya yaitu susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih. dapat ditinjau da ri segi makna dan segi lafadznya.D. ijma dan akal sehat. E. kami ciptakan hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an. Misalnya Hadits maudhu yang dinukil dari perkataan seorang alim mutaqaddimin: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. Dalam hal matan Ciri-ciri yang terdapat pada matan hadits palsu atau hadits maudhu. b. Atau menerima dari seorang guru yang sudah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. Ciri-Ciri Hadits Maudhu a. Dalam hal Sanad Pengakuan dari sipembuat sendiri. seperti pengakuan salah seorang guru tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an.

dilihat dari dua hal. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. usaha mereka ini tidak membuahkan hasil karena keberadaan jumlah penghafal Ql-Qur’an dan para ulama dari kalangan sahabat dan murid-muridnya masih sangat banyak. Oleh karena itu. Banyak Muncul Di Irak Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. Mereka dapat membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang palsu. Sebab Munculnya Hadits Maudhu’ Ada beberapa faktor yang mendorong pemalsuan hadits: • Pertama. Setelah khalifah Ali wafat. sebagian dari mereka berupaya menakwilkan Al-Qur’an dan menafsirkan sebagian hadits dengan arti yang menyimpang. dan sebaliknya kelompok tersebut juga membuat hadits palsu untuk membela diri. Setiap kelompok menopang argumentasinya dengan Al-Qur’an dan Hadits. Hadits maudhu’ dikaegorikan hadits mardud (tertolak).” (HR. Pada masa tabi’in (murid para sahabat) pemalsuan hadits lebih sedikit dibandingkan dengan pada masa tabiut tabi’in (murid tabi’in) karena masih banyak sahabat dan tabi’in yang mengamalkan sunnah. Para pemalsumembuat hadits untuk menyerang kelompok lainnya. Di dalam ilmu hadits. sehingga muncul sekumpulan hadits palsu. Fanatisme golongan. Akan tetapi kondisi tersebut berubah tatkala umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan. maka ia akan masuk neraka. kelompok Syi’ah menuntut hak mereka untuk menduduki kursi khalifah. Munculnya hadits palsu diperkirakan mulai tahun 41 H. . karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya. yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. Selanjutnya muncullah kelompok-kelompok lain berbasis agama. mereka berupaya mengubah dan memasukkan tambahan ke dalam hadits dan melakukan pemalsuan atas nama Rasulullah SAW.Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Oleh karena itu. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. Namun. Demikian seterusnya. hadits Nabi SAW senantiasa tetap bersih. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. Muslim) Selama umat Islam di bawah kepemimpinan khulafa’ al arba’ah (4 khalifah pertama). Hadits-hadits palsu munculnya bersamaan dengan munculnya berbagai kelompok itu. tidak ternoda kedustaan.

” • Ketiga. Namun mereka tidak mampu untuk membalas dendam dengan pedang karena kekuasaan Islam telah sedemikian kokoh. ketika ia melihat Al-Mahdi bermain-main dengan burung dara. Mereka memanfaatkan gerakan pemberontakan dengan cara bergabung ke dalamnya. Ghiyats bin Ibrahim berdusta untuk khalifah Al-Mahdi dalam hadits. benar-benar terjadi pada masa masa Abbasiyah. mereka berupaya menandingi kebanggaan etnis Arab. Hal ini. Al-Mahdi . Contohnya adalah. ALLAH mewahyukan dengan bahasa Persia. secara khusus mengandalkan etnis Arab.Dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghah. tendensi duniawi berupa popularitas dan usaha menjilat penguasa. Dia menciptakan seekor kuda kemudian menjalankan kuda itu maka berkeringatlah kuda. Usaha untuk mendiskreditkan Islam. “Pertama kali kedustaan dalam hadits tentang keutamaan (fadhilah).”Selain hadits palsu yang berbicara tentang bahasa. dan jika ALLAH mewahyukan sesuatu yang menggembirakan. Para pendongeng ini membuat membuat hadits palsu dengan tujuan untuk mendapatkan uang. Selain itu. Pada masa-masa akhir khulafaur rasyidin. negara dan imam. Misalnya hadits. Pemalsuan itu didorong rasa permusuhan terhadap lawan.Ada pula yang menjilat para penguasa dengan membuat hadits yang dapat memuaskan mereka. muncul kelompok-kelompok pendongeng dan penasihat yang jumlahnya terus bertambah. Kemudian Dia menciptakan diri-Nya dari keringat kuda itu. dinasti Umayyah. Ketika Al-Bakriyah (pendukung Abu Bakar) melihat apa yang dilakukan Syi’ah. Maka muncullah kelompok Mawalli (kaum muslimin non Arab). kekuasaan Kisra dan Kaisar roboh. Setelah kehadiran Islam. merekapun memalsukan hadits tentang Abu Bakar sebagai tandingan hadits yang dibuat oleh Syi’a • Kedua. terbuat dari apakah Tuhan kita? Rasulullah SAW menjawab. “atau sayap”. Hal itu mereka lakukan untuk menodai Islam. • Keempat. dan jika Dia mewahyukan ancaman maka dengan bahasa Arab. tidak dari bumi dan tidak pula dari langit. “Wahai Rasulullah. sebagian mereka bersikap fanatis terhadap kebangsaan Arab dan bahasa Arab.” Kemudian Ghiyats menambahkan. “Tidak ada perlombaan kecuali untuk unta. Sejak pertama. hadits pasu juga dibuat tentang kelebihan negara atau imam tertentu. Maka mereka berusaha menjauhkan kaum muslimin dari aqidahnya dengan menciptakan kebathilan dan berdusta atas nama Rasulullah SAW. mereka memalsukan hadits yang berbeda mengenai Ali. Sebagai contoh: diriwayatkan bahwa ada yang bertanya. Inilah yang mendorong mereka memalksukan hadits-hadits. dilakukan oleh Syi’ah. “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar ‘Arsy adalah dengan bahasa Persia. atau kuda. yang berupaya mewujudkan persamaan hak. Ibnu Abi Hadid berkata. panah. “Dari air yang berlalu (tidak diam). etnis dan kabilah. diskriminasi etnis dan fanatisme kabilah. Pada masa pemerintahannya.

maka ia akan masuk neraka. Muslim) Meski beberapa hadits sering kita dengar. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. 2 Jatuh ( tidak bisa diambil dasar hukum ).” Mereka beralasan. Bahkan menurut kesepakatan ulama. “dengan sengaja untuk menyesatkan manusia. 4 Disandarkan pada Muhammad shallallohu alaihi wa sallam sedang beliau tidak mengatakannya. “Kami berdusta untuk kebaikan Beliau. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. maka ia akan masuk neraka. ‫ ( السقاط‬menjatuhkan ) 3. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. ‫ ( الختل ق‬mengada-ngadakan ) 4. Madzhab sesat ini mengklaim bolehnya memalsukan hadits dalam rangka targhib wa tarhib (menganjurkan manusia berbuat baik dan menakut-nakuti manusia agar tidak bermaksiat). ‫ ( الحط‬merendahkan ) 2.kemudian menyuruh orang iuntuk menyembelih burung merpati tersebut dan memberikan kepada Ghiyats sebanyak uang 10.” (HR. kita harus memastikan terlebih dahulu keshahihannya sebelum menjadikannya dalil atau mengamalkannya. Nur Ihsan M. ‫ ( اللصاق‬menyandarkan / menempelkan ) Makna bahasa ini terdapat pula dalam hadits maudhu karena 1 Rendah dalam kedudukannya. 2009 Oleh: Abu Fudhail. 3 Diada-adakan oleh perawinya. Definisi Hadits Maudhu’ Secara etimologi : maudhu berasal dari kata ‫ وضع‬yang mempunyai beberapa makna diantaranya 1. Berdasarkan hadits. Lc 1. bukan untuk menodai Beliau.000 dirham.” Dengan ditambahi lafadz. pemahaman yang keliru dari madzhab al-karramiyah. Juni 08. Diposkan oleh Markaz As-Sunnah di Senin.Idris. . Mereka berdalil dengan hadits “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. • Kelima.” Haram Meriwayatkannya Hadits palsu adalah hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil.

Maka ulama tidak membolehkan hadits dhaif termasuk palsu kecuali kalau disertai oleh pemberitaan bahwa ia dhaif agar dijauhi hadits tersebut dan waspada terhadap rawi yang dhaif atau pemalsu tersebut 4. Jika ancaman ini bagi yang menduga dusta bagaimana kalau ia yakin bahwasanya ia dusta.Sedang dalam istilah ilmu hadits: hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam secara sengaja atau kesalahan sebagian ulama mengkhususkan hadits maudhu. Pembagian hadits Maudhu Hadits mudhu ada 3 macam: 1. Hukum Meriwayatkan hadits maudhu Al-Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda: َ ِ ِ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ٌ ِ َ ُ َّ َ ُ ٍ ِ َ ِ َّ َ ّ َ ْ َ ‫من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين‬ Barangsiapa yang menceritakan dari saya satu perkataan yang disangka dusta maka dia adalah salah satu pendusta. Perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah r 2. Hadits maudhu adalah hadits yang paling rendah kedudukannya. Perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu . bersabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam ِ ّ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ْ ّ َ َ َ ْ َ ً ّ َ َ ُ ّ ََ َ َ ‫َ ْ ك‬ ‫من َذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار‬ Barangsiapa berdusta atas saya dengan sengaja maka tempatnya di neraka ( Riwayat Bukhari. 3.Muslim) Hadits ini diriwayatkan oleh 98 shahabat termasuk 10 orang yang dikabarkan masuk surga. Hukum Berdusta Atas Nama Nabi Ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam adalah salah satu dosa besar yang diancam pelakunya dengan neraka karena adanya akibat buruk. 2. pada dusta yang disengaja saja.

memalsukan hadits mengenai Abu Bakar. Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam . Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman. Perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya . Memalsukan hadits yang mendukung pendapat mereka seperti keutamaan Ali radhiyallohu anhu. wasiat imamah (pengganti Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan mut’ah Contoh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruhin meriwayatkan dengan sanadnya Kholid bin Ubaid Al Ataki dari Anas radhiyallohu anhu dari Salman . fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. Ada 2 metode yang dipakai Syiah dalam memalsukan hadits A. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah) 6. Kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu. Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. setelah itulah muncul orangorang yang ta’asub (fanatik) pada golongan tertentu. Pada zaman mereka tidak terjadi pemalsuan hadits. kubu Ali radhiyallohu anhu.Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: a. dan Mu’awiyah radhiyallohu anhum jami’an. Sebab-Sebab Munculnya Pemalsuan Hadits a. Umar. Jenis ketiga ini masuk hadits maudhu apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya 5. 3. Cuma dia keliru. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). dan yang pertama kali mempeloporinya adalah Syiah. kemudian kubu Mu’awiyah radhiyallohu anhu berbuat demikian pula.Utsman. dan yang keluar yang memberontak pada Ali radhiyallohu anhu. mereka membuat hadits palsu tentang keutamaan Ali radhiyallohu anhu.yang menjadikannya hadits. pendapatnya ini hanya dibangun atas persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali b. Polemik politik Dari sebab pembunuhan Utsman radhiyallohu anhu kemudian fitnah Ali radhiyallohu anhu dan Mu’awiyah radhiyallohu anhu terpecahlah kaum muslimin mennjadi tiga .

Ibnu Hibban berkata tentang Kholid bin Ubaid dia meriwatkan dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu nuskhoh ( kumpulan hadits yang palsu) orang yang tidak mengenal hadits pun tahu kalau dia palsu (Majruhin 1: 279) B Memalsukan hadits tentang keburukan musuhnya contoh: Imam Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubbad bin Ya’kub Al-Hakam bin Sohir dari ‘Asim dari Dzar dari Abdullah radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berkata ‫إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه‬ Apabila kamu melihat Mua’wiyah di atas mimbarku maka bunuhlah ia. b. Fanatisme kepada: 1.radhiyallohu anhu dari Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ali radhiyallohu anhu ‫هذا وصيي وموضع سري وخير من أترك بعدي‬ Inilah wasiatku tempat rahasiaku dan orang yang terbaik yang aku tinggalkan setelahku. Tukang cerita c Ar-Targiib wa Tarhib ( Anjuran berbuat baik dan larangan berbuat mungkar ) dari orang sholeh yang bodoh. Dalam sanad hadits ini ada dua orang rawi pendusta Ubbad bin Ya’kub dan AlHakam bin Sohir. Sebab Tersebarnya Hadits Palsu a . Mazhab b. Bahasa 4. Negeri 3. . Zindik (munafik) Karena penaklukan dari tentara kaum muslimin maka masuklah beberapa orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keIslaman 7. Pada khalifah dan pemimpin 2.

apakah hadits ini dikenal maka diambil dan jika tidak maka tidak diambil. Memastikan keshahihan riwayat dengan beberapa cara 1.Bepergian mencari hadits Imam Abu ‘Aliyah berkata kami telah mendengar dari shahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di Basrah tetapi kami tidak puas sampai mendengar langsung dari mulut sahabat di Madinah maka kami safar ke sana ( Al-Khatib. Al Jami’ 2:224) 3. Membuat hadits yang tidak punya asal 2. Pencurian hadits 9. mereka berkata ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ْ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ ُ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ ّ ِ ْ َ َِ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ َ َ ِ َ َ ّ َ ‫سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فل يؤخذ حديثهم‬ Sebutkan orang-orangmu (yang kamu ambil hadits darinya) kalau ia dari AhlusSunnah dia ambillah dan kalau ia ahli bid’ah ditinggalkannya 2.Contoh : Ibnu Mahdi bertanya kepada Maisaroh bin Abdi Rabbih pemalsu hadits tentang fadhilah Al-Qur’an.Bertanya dan memeriksa isnad ( para perawi hadits ) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad ibnu Sirin seorang tabi’in (wafat 110 H) dia berkata Ahli hadits pada awal tidak bertanya tentang isnad maka takkala pada fitnah. .membuat buku dalam hadits/kumpulan hadits c. Metode Pemalsu dalam Memalsukan Hadits 1. Penelitian dan penyeleksian dalam riwayat hadits. Metode Pemalsu Hadits dalam Menyebarkannya a Memasukannya kedalam buku atau kumpulan hadits b.Berkeliling daerah menyebarkannya 10. Memasukkan beberapa lafaz pada hadits shohih 3. seperti untuk melariskan dagangannya sehingga membuta hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan barang yang dijualnya 8. Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. dia berkata saya memalsukannya untuk mengajak manusia membaca Al-Qur’an d Tujuan dunia dan harta.

namun dari ahli Iraq banyak pula ahli hadits diantaranya Qatadah. Kaidah Umum untuk Mengetahui Hadits Palsu. Al La’ali al Mashnu’ah fil Ahadits al Maudua’ah oleh Imam as-Suyuti (wafat 911 H) 3. a. Menentukan daerah penyebaran hadits dhaif dan meninggalkan meriwayatkan hadits dari mereka ini . 4.Tanda pemalsuan pada isnad hadits 1. Yahya bin Abi katsir dan Abu Ishak. Pengakuan sang pemalsu. Al Maudhu’at oleh Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) 2. Khusus hadits-hadits palsu disusunlah a. secara asal terutama ahli iraq (kuffah dan basrah) . 2. Ilmu ruwah/ biografi setiap rawi 2. Hammad bin Zaid berkata: zindik munafik memalsukan kurang lebih 12. Berkata Ibnu Mahdi saya memanggil Isa bin Maimun pemalsu hadits karena riwayatnya dari Al-Qosim maka ia mengatakan saya tidak akan mengulang 11. 2. Ilmu jarh wa ‘tadil 3. c.b.000 hadits. Pemisahan hadits shohih dan selainnya.Kumpulan rawi pemalsu hadits b. Adanya dalil yang menujukkan pengakuan yang menunjukkan sang pemalsu contoh seperti ditanya tentang waktu dan tempat bertemu syekh tapi mustahil keduanya bertemu. Mengumpulkan hadits palsu dan membongkar kepribadian pemalsu hadits 1. Hasil Peran Ulama dalam Memberantas Pemalsuan Hadits 1. Silsilah Al-Ahadits Al-Dhoifah wal Maudhu’ah oleh Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albany Rahimahumullah (wafat pada tahun 1420 H) 12. Imam Al-Khotib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ismail bin ‘Ayyash berkata saya pernah berada di Iraq kemudian saya didatangi ahli hadits di kota itu dan berkata ada orang yang mengatakan bertemu dengan Kholid bin Ma’dan maka saya mendatangi dan bertanya kapan anda mendengar dari Khalid katanya tahun 113 H .Kumpulam hadits-hadits palsu dan kadangkala digabung dengan hadits dhaif lainnya Diantara buku tersebut 1.

3.Diketahui dari keadaan sang perowi Seperti meriwayatkan tentang bid’ahnya b.Tanda pemalsuan pada matan 1. Keganjilan lafaz dan bahasanya seperti hadits ‫من أكل من الطين واغتسل به فقد أكل لحم أبيه آدم واغتسل بدمه‬ Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi dengan darahnya” ( Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil 5:1837 ini hadits yang batil) 13 . al-Jami’ 1. bapaknya dan cucunya Apakah dosanya sebagai anak sehingga menghalangi ia masuk surga bukankah Allah I berfirman ‫ول تكسب كل نفس إل عليها ول تزر وازر ٌ وزر أخرى‬ َ ْ ُ َ ْ ِ ‫َ َ َ ْ ِ ُ ُ ّ َ ْ ٍ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ َ ِ ُ َ ِ َة‬ “Tidaklah seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali kepada dirinyasendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (AlAn’am 164 ) 1. Pengaruh dan Dampak Buruk Tersebarnya Hadits Palsu Hadits-hadits palsu yang banyak beredar di tengah masyarakat kita memberi dampak dan sangat buruk pada masyarakat Islam diantaranya: 1 Munculnya keyakinan-keyakinan yang sesat 2 Munculnya ibadah-ibadah yang bid’ah . Kholid wafat tahun 106 H( al Khotib. Bertentangan dengan nash al-qur’an sunnah dan ijma yang jelas Ibnu Jauzi dalam al-Maudu’at yang menyebutkan hadits ِ ِ َ َ ُ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ُ َ َ َ َ ْ ‫َ َ ْ ُل‬ ‫ل يدخ ُ الجنة ولد الزنا ول والده ول ولد ولده‬ Tidak masuk surga anak zina. Bertentangan dengan akal sehat yang tidak mengandung penafsiran yang lain atau kenyataan yang ada 1.saya berkata engkau mengaku mendengar dari Khalid setelah 7 tahun kematiannya.123).

Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan. Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat.3 Matinya sunnah. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW.[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan tempat yang harus dipedomani. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad . Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah.

Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. . Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu. Menurutnya dari kata al-wadh dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1.kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. Namun. BAB II PEMBAHASAN A. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu.[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.[4] Dr. ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2. B.

antara lain: 1. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan . Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. 2. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis.[6] Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut.Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Menurut mereka. Misalnya. hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman.

Diantaranya adalah: . 3. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. Oleh karena itu. Fanatik Terhadap Suku. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. bangsa. kesesaatan dan tipu muslihat.kejayaan pemerintahannya. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. Mereka berkata. dan lain-lain. Dalam menjalankan pemerintahannya.[8] Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Bangsa. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”. kelompok. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir.

[10] 5. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi. terlepas dari itu. Namun.‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. Menurut Ajaj al-Khatib. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. Melihat hal ini. apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. C. dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ “Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka. Mengenal Hadis Palsu . Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. hal ini sangat disesalkan.

Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. Buruknya redaksi hadis. hadis mutawatir atau ijma. santun dan enak dirasakan. Ketika sakit Abu Jazi berkata. Rusaknya makna (arti) hadis. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. saya tidak akan mengaku. Tanda hadis palsu pada matan a. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b.[12] 2. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. c. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. hadis anu…”. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda.[14] d. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa.[15] .Untuk mengenal hadis palsu. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. b. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya. 1. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c.

dan lainnya. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. Abu al-Aliyah berkata. mereka berkata. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain.D. yaitu: 1. [16] 2. karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. disamping telah dibukukannya hadis. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. 4. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi.[17] 3. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. Memilih Perawi Yang Terpercaya Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk . “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. Oleh karena itu.

lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. 3. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. 2. perbuatan dan ketetapan beliau merupakan model acuan umat Islam tanpa batasan waktu dan . 2011 Write Comment Ulumul Hadist BAB I PENDAHULUAN Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dari perkataan. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang. Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu Hanya Tulisan Yank Ada • • • • About Me RSS Hadist Maudhu’ Juli 31st. dan fanatisme. membangkitkan gairah ibadah. menyenangkan penguasa. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.

[3] Jeda waktu yang begitu lama antara sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan masa penulisan dan pembukuan hadis membuka peluang bagi tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat dan mengatakan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Istilah ini mengacu kepada sabda beliau yang menyatakan “aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan sunnahku”. Dalam perkembangan Islam selanjutnya dijadikan sebagai pokok sumber Islam kedua yang dinamakan al-sunnah.tempat yang harus dipedomani.[4] Dr. Inilah kemudian yang dinamakan hadis maudhu’ atau hadis palsu.[1] Dari ancaman Rasul ini ada yang memperkirakan bahwa hadis palsu sudah pernah dibuat orang pada masa Rasulullah SAW. BAB II PEMBAHASAN A. Menurutnya dari kata al-wadh .[2] Selain itu statemen Rasul yang bernada keras ini mungkin juga memberikan sebuah isyarat bahwa akan terjadi upaya-upaya pemalsuan terhadap sunnah dengan mengatasnamakan Rasulullah SAW dan ternyata hal ini membawa dampak yang sangat luar biasa. namun hadis tidak seperti al-Qur’an yang resmi ditulis pada zaman nabi Muhammad SAW. Nawir Yuslem dalam buku Ulm al-Hadits mengemukakan pandangan yang berbeda dalam memberikan definisi hadis palsu. Walaupun hadis mempunyai kedudukan yang begitu besar. Hadis baru ditulis dan dibukukan pada masa kekhalifahan Umar bin ‘Abd al-Aziz yaitu abad kedua Hijriyah melalui perintahnya kepada gubernur Abu Bakar Muhammad bin Amr bin Hazm. Karena alasan ini pula para sahabat berupaya untuk menyebarkan al-sunnah bahkan semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan memang diperintahkan untuk berbuat demikian. Pengertian Hadis Maudhu’ Menurut sebagian ulama hadis. Sebagaimana sabda Nabi: ‫من كذب علي متعمدا فليتبؤ مقعده من النار‬ Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini mutawatir yang diriwayatkan oleh lebih dari 60 sahabat bahkan ada yang mengatakan lebih dari 200 sahabat. Banyak sahabat yang enggan menyampaikan hadis bila sangsi terhadap periwayatannya. hadis maudhu’ / hadis palsu adalah hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak disengaja. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk meriwayatkan hadis sekalipun meyakini tidak berbua kesalahan.

ada juga sebagian yang mengatakan bhawa pemalsuan hadis ini muncul pasca peristiwa tahkim dimana untuk menguatkan atau menyokong kelompok atau golongan masing-masing maka dibuatlah hadis – hadis palsu. kehatihatian dan kewaspadaan mereka terhadap hadis. antara lain: 1. Hal ini disebabkan karena beliau khawatir salah dalam meriwayatkan hadis demikian juga Umar dan Utsman. keduanya mengikuti kehati-hatian Abu Bakar dalam menerima periwayatan hadis.dalam pembicaraan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung dua pengerrtian yaitu: 1. Namun. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegigihan. Sejarah Munculnya Hadis Maudhu’ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya hadis maudhu’ ini. Sebagian mengatakan pemalsuan hadis ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup berdasarkan hadis yang beliau sampaikan yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Sejumlah fakta sejarah menyebutkan bahwa latar belakang munculnya hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh umat Islam sendiri tetapi juga dilakukan oleh orangorang non Islam. B. Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Ada beberapa motif pemalsuan hadis. Aktivitas yang dilakukan dengan sengaja serta mempunyai dampak yang luas dalam membentuk kebohongan-kebohongan ke dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW[5] Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadis palsu atau maudhu’ adalah hadis yang bukan bersumber dari Nabi Muhammad SAW akan tetapi merupakan perkataan atau perbuatan dari seseorang atau pihak tertentu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan tertentu. Menurut mereka. Semata-mata kebohongan (dusta) yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW 2. kehati-hatian Abu Bakar dalam meriwayatkan hadis dimana beliau pernah membakar catatan hadis miliknya yang berisi sekitar lima ratus hadis sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Aisyah putri beliau. Dengan demikian menurut mereka jelaslah bahwa tidak mungkin terjadi pemalsuan hadis pada masa Rasulullah SAW. Pertentangan politik Menurut kebanyakan ulama hadis pemalsuan hadis terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Misalnya.[6] . hadis-hadis yang ada sejak masa Rasulullah SAW sampai sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan.

Peristiwa tahkim mengakibatkan munculnya dua golongan besar yaitu golongan Ali dan pendukung Mu’awiyah. maka cara yang paling jitu adalah melalui pemalsuan hadis dengan maksud menghancurkan umat Islam. Dari sinilah mulai berkembang hadis palsu dimana materi pertama yang diangkat adalah tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. sangat menghormati hak asasi manusia serta sigap dalam melenyapkan konsepsi yang salah. Mereka adalah orangorang yang hatinya tidak senang dengan penyebaran Islam yang begitu pesat dan kejayaan pemerintahannya. baik Islam sebagai agama maupun Islam sebagai dasar pemerintahan. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk agama Islam karena Islam menjamin kemerdekaan berfikir. 2. Pertentangan ini semakin tajam dan berlarut-larut sehingga masing-masing berupaya untuk saling mengalahkan juga berupaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati orang yang tidak berada dalam perpecahan. “kami bersaksi bahwa engkau Rasulullah’”.[8] . pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib telah terjadi perpecahan umat Islam menjadi golongan-golongan. Usaha Kaum Zindik Kaum Zindik adalah termasuk kelompok yang sangat membenci Islam. [7]Kelompok ini menyadari bahwa tidak mungkin melampiaskan kebencian melalui pemalsuan al-Qur’an. Mereka berkata. Tidak mengherankan kenapa materi pertama adalah mengenai keunggulan masing-masing kelompoknya karena hal ini dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan sehingga diperlukan hadis yang berisi pembelaan terhadap kelompoknya. kesesaatan dan tipu muslihat. Pertentangan kedua belah pihak ini juga mengakibatkan perpecahan dalam golongan Ali yaitu kelompok pendukung Ali yang disebut Syiah dan kelompok yang keluar dari golongan Ali yang dinamakan Khawarij. “siapakah yang membawa Arsy?” Beliau menjawab. “Arsy itu dibawa oleh binatang-binatang yang berbisa dengan tanduk-tanduknya bimasakti yang ada di langit berasal dari keringat mereka. Diantara hadis palsu yang mereka buat adalah: ‫إن نفرا من اليهود أتوا الرسول صلى ال عليه وسلم فقالوا من يحمل العرش؟ فقال،تحمله الهوام يقرونها‬ ‫والمجرة التى فى السماء من عرقهم، فقالوا نشهد أنك رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ “ Sekelompok orang Yahudi dating kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya.Berbeda dengan masa ketiga khalifah tersebut. Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut berimplikasi kepada lahirnya sekte-sekte keagamaan dan melahirkan perbedaan paham di bidang teologi dan diantara pendukung masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat dan membela aliran yang mereka anut.

Oleh karena itu. Melihat hal ini. Diantara hadis palsu tersebut adalah: ‫أبغض الكلم إلى ال الفارسية وكلم الشياطين الخوزية وكلم أهل النار البخارية وكلم أهل الجنة العربية‬ “Bahasa yang paling dibenci oleh Allah adalah bahasa Persia. Menjilat Penguasa Pemalsuan hadis dalam rangka menjilat penguasa dan untuk menyenangkan hati mereka. Dengan demikian kaum Zindik ini sangat membahayakan Islam daripada yang lainnya. Ghiyas kemudian meriwayatkan hadis yang telah mehsyur yakni: ‫ل سبق إل فى نصل أوخف أو حافر‬ . dan lain-lain. telah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah dan belum terjadi sebelum ini. 3. bahasa penghuni neraka adalah bahasa Bukhara dan bahasa surga adalah bahasa Arab”. Dalam menjalankan pemerintahannya. Mereka yang non Arab merasakan adanya diskriminasi tersebut. kelompok. Ketika ia menghadap khalifah al-Mahdi. bahasa setan adalah bahasa Khauzi. mereka juga membuat tandingannya dengan membuat hadis palsu juga yang isinya menjelaskan kelebihan-kelebihan mereka. Diantaranya adalah: ‫إن كلم الذين حول العرش بالفارسية وإن ال إذا أوحى أمرا فيه لين أوحاه بالفارسية وإذا أمرا فيه شدة أوحاه‬ ‫بالعربية‬ “Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar Arsy adalah dengan bahasa Persia dan sesungguhnya jika Allah mewahyukan sesuatu yang lunak (menggembirakan) maka Allah mewahyukannya dengan bahasa Persia dan jika Dia mewahyukan sesuatu yang keras (ancaman) maka Dia mewahyyukannya dengan bahasa Arab”[9] 4. Pangkal pemalsuan hadis-hadis tentang kelebihan sebagian suku bangsa Arab adalah karena dibangkitkannya rasa fanatisme kabilah yang muncul dalam dinasti Umayyah setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah. Fanatik Terhadap Suku. ia melihat al-Mahdi sedang bermain-main dengan burung merpati. dinasti Umayyah secara khusus mengandalkan etnis Arab sehingga memandang kaum muslimin non-Arab tidak sesuai dengan jiwa Islam. Bangsa. Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang paling banyak disebutkan dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang “perlombaan”.Dari hadis tersebut di atas tidak mungkin dibuat oleh orang Islam dan orang yang berakal. bangsa. Negara dan Pimpinan Kemunculan hadis palsu ternyata didorong pula oleh sikap ego dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang.

1. Abu Ishmah Nuh bin Maryam dan Abu Jazi. Membangkitkan Gairah Beribadah Banyak diantara para ulama yang membuat hadis palsu dengan perkiraan usahanya itu benar untuk mendekatkan diri kepada Allah.[10] 5. karena merasa prihatin terhadap perpecahan umat dank arena umat telah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan akhirat sehingga mereka mengeluarkan hadis tentang tarhib (ancaman terhadap perbuatan buruk) dan targhib (motivasi untuk berbuat baik). dapat dikatakan bahwa kemunculankemunculan hadis-hadis palsu ada yang negative dan ada yang positif. sepatu dan kuda” Ghiyas kemudian menambahkan kata ‫او جناح‬ yang berarti sayap dengan maksud mendapat simpati dari al-Mahdi karena pada waktu itu khalifah al-Mahdi sedang memainkan burung dara. b. “sekiranya Allah tidak menimpakan sakit atas diri saya seperti yang kamu lihat. Namun. terlepas dari itu. Menurut Ajaj al-Khatib. Tanda-tanda hadis palsu pada sanad a. Ketika sakit Abu Jazi berkata. Namun sekarang saya bersaksi bahwa saya telah memalsukan hadis anu. hal ini sangat disesalkan. Mengenal Hadis Palsu Untuk mengenal hadis palsu. para ulama hadis telah membuat beberapa pedoman sebagai rujukan untuk mendeteksi hadis palsu yaitu dengan melihat kepada sanad dan matannya. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongan seperti pengakuan ia pernah meriwayatkan dari seorang syekh tapi ternyata belum pernah bertemu secara langsung atau pernah menerima hadis di suatu daerah tetapi ia sendiri belum pernah melakukan rihlah (perjalanan) ke daerah tersebut atau pernah menerima hadis dari seorang syekh tapi diketahui syeikh tersebut telah meninggal ketika ia masih kecil.[11] Dari beberapa motif tersebut di atas. C. hadis anu…”. . apapun alasannya hadis tersebut tetap palsu dan merupakan tindakan tercela dan menyesatkan karena tidak sesuai dan bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. saya tidak akan mengaku. Atas dasar pengakuan pembuat hadis palsu seperti pengakuan Abdul Karim al-Auja’. sebab “kesalehan” mereka telah mengelabui masyarakat yang pada umumnya membenarkan mereka.“Tidak ada perlombaan kecuali dalam (permainan) panah.

Rusaknya makna (arti) hadis.c. Meneliti system penyandaran hadis Mengenai penyandaran hadis ini. Hadis yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat seperti hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali bin Abi Thalib di suatu majelis diantara para sahabat yang lain kemudian beliau bersabda.[15] D. hadis mutawatir atau ijma. Meriwayatkan hadis sendirian dan dikenal sebagai pembohong sedangkan hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang tsiqah. Buruknya redaksi hadis. Tanda hadis palsu pada matan a. misalnya hadis yang secara empiris tidak bias dibenarkan seperti ‫النظر الى الوجه الجميل عبادة‬ “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”[13] c.[14] d. “sebutkan sanad-sanad hadis kepada kami” mereka menerima hadis ahlu as-sunnah dan menolak hadis-hadis ahlu al-bid’ah”. Matannya bertentangan dengan al-Qur’an.[12] 2. Dalam hal ini orang yang memahami bahasa secara mendalam mengetahui bahwa sesuatu kata bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW b. [16] 2. Upaya Para Ulama Dalam Mengantsipasi Hadis Palsu Orang yang bersikap objektif akan menaruh hormat dan sangat berterima kasih atas jerih payah para ulama dalam melakukan penelitian. Muhammad ibnu Sirrin berkata: “para sahabat dan tabi’in tidak menanyakan isnad hadis. Hadis ini bertentangan dengan al-Qur’an surah al-A’raf ayat 187 yang menyebutkan bahwa umur dunia hanya diketahui Allah. Setelah terjadi pemberontakan terhadap Utsman bin Affan. Berikut dikemukakan beberapa upaya mereka dalam mengantisipasi hadis-hadis palsu yang telah menodai agama dengan sangat kritis. yaitu: 1. “inilah wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku” kemudian sahabat yang lain sepakat. padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa. seperti hadis yang menyatakan bahwa umur dunia 7000 tahun dan akan berakhir pada 1000 tahun yang ketujuh. Memilih Perawi Yang Terpercaya . mereka berkata. kajian dan penelusuran terhadap hadis-hadis palsu yang tidak terhitung jumlahnya. santun dan enak dirasakan.

karena tidak puas kemudian kami pergi ke Madinah untuk mendengar langsung hadis itu dari mereka”. . karena tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang Islam maju dan berkembang.[17] 3. kembali menyerang islam lewat hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.[18] Dengan pencurahan segala daya upaya dan telaah kritis yang telah dilakukan oleh para ulama hadis tersebut telah membukakan mata umat Islam di era kini untuk lebih mencermati penggunaan hadis palsu dalam berbagai aktifitas keagamaan. BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Studi Kritik Rawi Upaya ini lebih dikonsentrasikan kepada karakter perawi dengan lebih menekankan pada sifat kejujuran dan kebohongan. disamping telah dibukukannya hadis. para ulama hadis telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu yang telah beredar dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan menghimpunnya dalam kitab-kitab khusus antara lain. Abu al-Aliyah berkata. “kami mendengar riwayat hadis dari para sahabat Rasulullah di Bashrah. Oleh karena itu. 4. dan lainnya. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong dalam kehidupan umum. Dengan menggunakan berbagai kaidah ilmu hadis tersebut. al-Maudhu’ al-Kubra karya Abu al-Fari Abd al-Rahman al-Jauzi. dengan kata lain bukan hadis Rasulullah SAW. Hadis palsu adalah hadis yang bukan bersumber dari Rasulullah SAW. Al-Baits ‘ala Khalas min Hawadits al-Qishas karya al-Hafidh Zain al-Din Abd Rahman al-Iraqi.Para ilmuwan hadis menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang menekuni bidang ini. Menyusun Kaidah-Kaidah Hadis Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis. mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit. Selain hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya.

)وضع‬ artinya menurunkan atau meletakkan atau meyimpan. kata maudhu’ merupakan isim maf’ul dari kata wada’a (‫. yaitu: “Cinta keduniaan ialah modal kesalahan”. Hadits maudhu’ yang dinukil dari perkataan orang-orang Mutaqaaddimin. usaha orang non Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. dilihat dari dua hal. menyenangkan penguasa. Dan secara istilah : ulama hadist. akan tetapi keselamatan dari neraka itu karena keilmuan dan keislaman 2. Di dalam ilmu hadits. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk mempertahankan idiologi partainya atau golongan sendiri dan menyerang partai lawannya. baik secara sengaja maupun tidak. Di samping itu juga. membangkitkan gairah ibadah. Sebab salah seorang perawinya (periwayat) diketahui berdusta. ia mengklaim ucapan seseorang sebagai hadits lalu menyebar luaskannya. Hadits maudhu’ atau hadits palsu adalah hadits dengan tingkat kelemahan paling rendah. Ahmad dan semisalnya) ini. Hadits maudhu’ yang bertentangan dengan sunnah mutawatir ialah Hadits yang memuji orang-orang yang memakai nama Muhammad atau Ahmad. 3. Hadits tersebut adalah bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW yang menerangkan bahwa neraka itiu tidak dapat ditembus dengan nama-nama tersebut. B. yaitu: “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad. mereka membuat hadits yang . Para ulama hadis telah berupaya mengantisipasi kemunculan hadis-hadis palsu dengan membuat berbagai kaidah yang ketat sebagai pedoman untuk mendeteksi hadis palsu HADITS MAUDHU' MAKALAH HADITS MAUDHU’ Makalah ini dibuat Demi Memenuhi Tugas dalam Mata Kuliah Musthalahul Hadits Dosen Pengampu : Nurcholis. dan fanatisme. Lc Disusun oleh : IMAM WAHYUDI PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 A. yaitu hadist yang dibuat oleh seseorang pendusta dan disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Hadist semacam ini dinamakan dikenal juga dengan sebutan hadits palsu. tidak akan dimasukkan di neraka”. yaitu golongannya syi’ah membuat hadits maudhu’ yang memuji diri sendiri. yaitu dari matan atau lafadz (isi) haditsnya dan sanad atau jalur orang yang meriwayatkannya. PENGERTIAN HADITS MAUDHU’ Menurut bahasa.2. bisa diterima atau tidaknya sebuah hadits. 3. CONTOH HADITS MAUDHU’ 1. Munculnya hadis palsu inidilatarbelakangi oleh pertentangan politik. Hadits maudhu’ dikategorikan hadits mardud (tertolak). karena hadits tersebut cacat dari segi jalur periwayatannya.

isinya untuk menjelek-jelekkan lawannya. Dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar. 18.a. “Sesuap makanan diperut lapar adalah lebih baik daripada membangun seribu masjid jami’”.000 lisan. selain pohon yang daunnya ditulis dengan kalimat: la ilaha ilahu.” 9. 19. “Bahwa hadits-hadits adalah suatu agama. muhammadur Rasulullah. “Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad.” 17. Misalnya hadits maudhu yang membenarkan ke-khilaf-an Abu Bakar. 12.” 13. Oleh karena itu. aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuni padaku”.” 8. di Arafah dengan berkendaraan unta kelabu. tidak dapat masuk surga. “Di surga tidak terdapat satu pohon. “Telah dipastikan atau difitrahkan bahwa hati menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan membenci siapa yang berbuat buruk kepadanya”. Semua ulama binasa kecuali mereka yang mengamalkan (ilmunya). sampai tujuh keturunan”. sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Zindiq. “Ketika Adam melakukan kesalahan. hal itu kami rubah( sedemikian rupa) menjadi suatu hadits”. 15. Umar Al Faruq dan Utsman Dzun-nurain”. dan setiap lisan mempunyai 70. 6. Semua orang yang mengamalkan ilmunya tenggelam. Hadits maudhu’ yang dibuat untuk merusak dan mengeruhkan Agama Islam.” 11. niscaya engkau akan mendapat petunjuk. seperti Mu’awiyah: “ Apabila kamu melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku bunuhlah”. “Hadiah Allah kepada seorang mukmin adalah adanya pengemis yang menunggu pemberian di depan pintunya”. maka dia telah bersikap kasar kepadaku. Hadits maudhu’ yang menjelaskan tentang umur dunia: ”Umur dunia itu 7. “Wahai Jabir. telitilah dari siapa kamu mengambil pelajaran Agama! Kami sendiri bila menghendaki sesuatu hal. “Barangsiapa mengucapkan tahlil (la ilaha ilallah) maka Allah menciptakan dari kalimat itu seekor burung yang mempunyai 70. Pengikut golongan lain yang merasa golongannya dihina. “ Aku telah melihat Tuhanku dengan tanpa Hijab antaraku dan Dia. bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu. 5. ‘Wahai Tuhan-ku. 20. Karena itu .” 10. dan sekarang datang pada ribuan yang ke-7”. 14. Ahmad dan semisalnya) ini.000 tahun. kecuali mereka yang ikhlas. 7. Umar dan Utsman r. ia berkata. 4. “Barangsiapa yang menunaikan haji kemudian tidak berziarah kepadaku. sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang bekendaraan dan memeluk orang-oreng yang pada berjalan”. “Tuhan kami turun dari langit pada sore hari. 16. “Para sahabatku laksana bintang-bintang. segera membalas membuat hadits maudhu’ untuk mengadakan revance atau setidak-tidaknya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat padanya. “Semua manusia (dalam keadaan) mati kecuali para ulama.000 bahasa yag dapat meminta ampun kepadanya”. Siapa pun dari mereka yang engkau teladani. tidak akan dimasukkan di neraka. “Cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. Abu Bakar As Shiddiq. Hadits maudhu yang bertentangan dengan Al Quran: “ Anak zina itu.

Oleh karena itu. Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu. Irham. Nashiruddin. 26. maka berati ia telah menjauhi aku”.kulihat segala sesuatu. “Sungguh Allah itu apabila marah. Ar-Rasikh. menurunkan wahyu dengan bahasa Persi dan bila rela. 2008. 27. Yang demikian itu tetap berjalan dampai 70. Bahkan menurut kesepakatan ulama. 22. di bumi dan di antara keduanya. 21. yang paling mengentarkan ummatku daripada iblis. hingga kulihat sebuah mahkota yang terhias dari mutiara”. Muslim). “Setiap yang ada di langit. Abdul.” 24. Berdasarkan hadits. Nanti bakal datang kaum-kaum dari ummatku yang mengatakan bahwa Al quran itu adalah makhluk baru. 25. meriwayatkan hadits palsu adalah haram. “Di dalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak. “Sesungguhnya Allah SWT tidak mengizinkan untuk melagukan Al quran”. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama Muhammad bin Idris.000 paviliun yang setiap paviliun mempunyai 70. Muhammad. . Bandung : Pustaka Setia. “Rasulullah bersabda : Nanti bakal lahir seorang laki-laki dalam ummatku ini orang yang bernama abu Hanifah An Nu’man sebagai pelita ummatku”. jika tidak disertai keterangan bahwa hadits tersebut maudhu’. “Berapa banyak wanita yang cantik jelita.1997. sungguh kafir terhadap Allah yang Maha Besar dan tertalaklah istrinya sejak itu”. Ilmu Hadits Untuk Pemula. “Barang siapa yang mengangkat kedua tangannya di dalam shalat. “Janganlah engkau berdusta mengatasnamakan aku. Khumaidi. Drs. REFERENSI Al Albany. pada istana itu terdapat 70. namun mahar yang diterimanya tidak lebih dari segenggam gandum atau yang sepertinya dari buah kurma”. Jakarta : Gema Isani. Jakarta Barat: CV.000 tahun tidak bergeser”. barang siapa yang mengatakan demikian. menurunkan wahyu dengan bahasa Arab”. Kamus Istilah-Istilah Hadits. maka ia akan masuk neraka. C. Artha Rivera. Mudasir. “Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan ramadhan tidak berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan witir”. 23. Ilmu Hadits. HUKUM HADITS MAUDHU’ Hadits maudhu’ atau palsu merupakan hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan dalil dan juga hadist ini merupakan hadist yang paling jelek di antara sekian banyak yang hadist yang dhaif.” (HR. adalah makhluk. Mannan. 30. masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka di suatu istana yang terbuat dari mutiara putih. “Barang siapa mencium bunga mawar merah dan tidak ber-shalawat kepadaku. 2003. 28. karena sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku. maka tidak sah salatnya”.000 kibah. D. kecuali Allah dan Al quran. 29. Jakarta: Darul Falah. 2008.

Bandung : PT Alma ‘arif PENDAHULUAN Hadits merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an dalam islam. Jadi memang ada hadits yang shahih.wordpress.com/2008/06/hadits-maudhu. Derajat Hadits Maudhu’ dan Hukum Meriwayatkannya Hadits maudhu’ merupakan hadits yang paling rendah dan paling buruk Sehingga para ulama’ sepakat. ciri-ciri maupun yang lainnya. agar kita faham pembahasan yang berkaitan dengan hadits maudhu’. Awal Munculnya Hadits Maudhu’ Perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa kelompok setelah fitnah( masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan). menjadikan setiap kelompok mencari dukungan dari Al Qur’an dan As Sunah. Menurut Istilah Adalah kedustaan yang dibuat dan direka-reka yang disandarkan atas nama Rasulullah dan ia termasuk periwayatan yang paling jelek. Dinamakan seperti itu. Apabila diantara mereka berselesih mereka berijtihad. Ihktisar Musthalahul Hadits. Namun juga tidak benar bila menganggap bahwa semua hadits itu palsu. yang berarti menurunkannya. insya Allah saya akan menjelaskan seputar hadits maudhu’.html. kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya. baik pengertian. Drs. sebagaimana anggapan para orientalis. karena memang menurunkan derajatnya. dengan mengedepankan mencari kebenaran. Dan membawa As Sunah bukan pada maksudnya. fatchur. Rahman. Bila mereka mentakwilkan hadits mereka menisbatkan kepada Nabi Apalagi tentang keutamaan para Imam mereka. Hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah dan tidak pernah dilakukan seorang shahabatpun. haramnya meriwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun.http://ainuamri. .com/2008/01/05/contoh-hadits-maudhu-hadis-palsu/ http://www. Dalam dalam kesempatan ini. Pengertian Menurut Bahasa Hadits Maudhu’ Merupakan isim maf’ul (objek) dari kata wadha’a Asy-Syaia. hukum. dan maudhu’(palsu).Al-Firqotunnajiyyah. Kita sebagai seorang muslim tidak meyakini bahwa semua hadits adalah shahih. 1985. dha’if. Dan kelompok yang pertama melakukan hal itu adalah Syi’ah. Sebagian kelompok mentakwilkan Al Qur’an bukan pada makna sebenarnnya.blogspot. hasan.

serta kemustahilan hadits tersebut bersumber dari Rasulullah. 2. 3. 5. ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh. maka ia tidak (maudhu’). atau menafikan dalil-dali Al Qur’an yang qath’I. atau yang membatalkan masalah ushul(akidah). As Suyuthi berkata:”Dari indikasi perawi (maudhu’) adalah dia seorang Rafidhah dan haditsnya tentang keutamaan ahli bait.” Ibnu Al Jauzi berkata:”Perkataan yang paling tepat berkenan dengan hadits maudhu’ adalah. Cara Yang Ditempuh Pembuat Hadits Maudhu’ 1. dengan berkata:”Bila kami berkumpul-kumpul. Pernyataan yang diposisikan sama dengan pengakuan. Seperti seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh.Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan hadits dari sedang dia mengetahui bahwa itu dusta. menyelisihi naql (dalil). Muslim). Mengambil perkataan ahli bijak atau selain mereka kemudian meletakkan sanadnya. Dan seperti pengakuan Maisarah bin Abdi Rabbihi Al Farisi bahwa dia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits.” Hamad bin Salamah berkata:”Menceritakan kepada syaikh mereka(Rafidhah). dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut. 4. Menurut Abu Bakar bin Ath Thayib:”Sesungguhnya bagian dari petunjuk maudhu’ adalah tidak masuk akal yang tidak bisa ditakwil disertai dengan tidak berdasar pada panca indra. bertentangan dengan indra. Bagaimana Mengetahui Hadits Maudhu’ 1. Adanya indikasi pada isi hadits. maka dia termasuk para pendusta. tentang tanggal kelahirannya. Adapun jika bertentangannya memungkinkan untuk dijamak. Misal perawi Rafidhah. ketahuilah sesungguhnya itu adalah maudhu’. yang digelari Nuh Al Jami’. bahwasanya ia telah memalsukan hadits atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al Qur’an surat per surat. Membuat perkataan yang berasal dari dirinya.” (HR. 2. berlawanan dengan ketetapan agama atau susunan lafadz lemah dan kacau. haditsnya tentang keutamaan ahli bait. apabila kamu melihat hadits yang menjelaskan akal. Ketika ditanya perawi tersebut. kemudian ada sesuatu yang kami anggap baik maka kami jadikan sebagai hadits. Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits.” Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara . Adanya inidikasi perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya. Atau pada saat syaikh meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan. Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam. bertentangan dengan akal sehat. sunah yang mutawatir dan ijma’. kemudian meletakkan sanadnya dan meriwayatkannya.

Maka ia menambahkan perkataan dalam hadits yang disandarkan kepada Nabi. karena manusia menerima hadits-hadits maudhu’ mereka disebabkan kepercayaan terhadap mereka. ketika masuk ke (ruangan Amirul Mukminin) dan menjumpai Al Mahdi tengah bermain-main dengan burung merpati. jangan meriwayatkan (hadits) dari mereka sesungguhnya mereka berdusta.” Bahwa kapal Nabi Nuh thawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali dan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim. berkata:”Janganlah engkau bicara dengan mereka. Masing-masing aliran membuat hadits-hadits palsu untuk memperkuat golongannya. yang dilakukan untuk menyenangkan Al Mahdi. Ini merupakan asal dari kedustaan atas nama Rasulullah. “Barangsiapa membaca ini maka ia akan memperoleh itu? Ia menjawab:”Aku sengaja membuatnya untuk memberi dorongan kepada manusia. menggali atau sayap. atau hadits yang berisi ancaman terhadap perbuatan munkar. dia bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi:”Dari mana engkau mendatangkan hadits-hadits seperti. Membela suatu madzhab. termasuk madzhab yang terpecah menjadi aliran politik setelah munculnya fitnah(masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan) dan maraknya aliran-aliran politik seperti Khawarij dan Syi’ah. Imam Malik ditanya tentang Rafidhah. Mendekatkan diri kepada penguasa demi menuruti hawa nafsu.marfu’. Dalam rangka Taqarrub kepada Allah. Ibnu Hibban telah meriwayatkan dari kitabnya Ad Dhu’afa’. Mereka ini termasuk kelompok pembuat hadits maudhu’ yang paling buruk. 1. Berikut adalah motivasi-motivasi mereka: 1. pacuan. dari Ibnu Mahdi. lalu Al Mahdi memberinya sepuluh dirham. dengan meletakkan hadits-hadits targhib(yang mendorong) manusia untuk berbuat kebaikan. Setelah berpaling. Sebagian orang yang imannya lemah berupaya mendekati sebagian penguasa dengan membuat hadits yang menisbatkan kepada penguasa agar mendapat perhatian. Diantara mereka adalah Maisarah bin Abdi Rabbihi. Mereka yang membuat haditshadits maudhu’ ini biasanya menisbatkannya kepada golongan ahli zuhud dan orang-orang shalih. kebodohan. Motivasi-motivasi yang Mendorong Melakukan Pemalsuan Hadits Banyak niat seseorang memalsukan hadits baik timbul dari motif politik. Sang Amir .” Ia menambahkan kata sayap (junah). kezindikan atau sekedar hobi semata. 1.Seperti kisah Giyats bin Ibrahim An Nakh’I Al Kufi dengan Amir Mukminin Al Mahdi. bahwa beliau bersabda: “Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang. 1.

dia adalah penerang umatku. Diantara mereka adalah Muhammad bin Sa’id Asy Syami yang dihukum mati dan disalib karena kezindikannya. perkataan ini.berkata:”Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah. Dalam rangka mencari penghidupan dan memperoleh rizki. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Persi (Al Farisiyah). Mereka menambahnambahkan ceritanya agar masyarakat mau mendengar dongengannya. 1. yang berbunyi:”Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang disebut Abu Hanifah Al Nu’man. Fanatisme terhadap Imam atau Negri. Dan orang yang ta’ashub(fanatik) terhadap Abu Hanifah. Mengikuti hawa nafsu dan ahli ra’yu yang tidak mempunyai dalil dari kitab dan sunah kemudian membuat hadits maudhu’ untuk membenarkan hawa nafsu dan pendapatnya. 1. 1. Dalam rangka meraih popularitas. 1. lalu mereka memberi upah. aku mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Seperti yang dilakukan sebagian tukang dongeng yang mencari penghidupan melalui berbagai cerita kepada masyarakat. maka berhati-hatilah. Mereka membolak balik sanad hadits supaya orang yang mendengarnya terperangah. dan tidak ada Nabi sesudahku kecuali yang Allah kehendaki. Zindiq yang ingin merusak manusia dan agamanya. Ahmad bin Shalih Al Mishri berkata:”(Hukuman bagi) orang zindiq adalah dipenggal lehernya. dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Arab. yaitu dengan membuat hadits yang gharib(asing) yang tidak dijumpai pada seorangpun dari syaikh-syaikh hadits. yaitu. orang-orang dungu itu telah membuat hadits maudhu’ sebanyak empat ribu. Ketika akan dipenggal lehernya Ibnu Adi berkata:”Aku telah memalsukan hadits diantara kalian sebanyak empat ribu hadits. Kemudian Al Mahdi memerintah untuk menyembelih burung merpati itu. Dan orang yang tidak senang dengan Imam Asy Syafi’I. membuat hadits yang berbunyi:” Akan ada dari umatku seorang laki-laki . 1. Asy Syu’ubiyun memalsu hadits yang berbunyi:”Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Arab. memalsu hadits. Ia meriwayatkan hadits dari Humaid dari Anas secara Marfu : Aku adalah Nabi terakhir. Hamad bin Zaid berkata: “Orang-orang zindiq membuat hadits dusta yang disandarkan kepada Rasulullah sebanyak empat belas ribu hadits.” Maka seorang Arab yang jahil membaliknya. Diantara mereka adalah Ibnu Abu Dihyah dan Hammad bin An Nashibi. Diantara mereka adalah Abu Sa’id Al Madani. ” Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Persi (AlFarisiyah).

maka hendaknya ia bersiapsiap menempati tempatnya dineraka. . bersama-sama kita meningkatkan iman dan ilmiah ummat berpatok pada pemahaman salafush shalih. yaitu diriwayatkan 70 orang shahabat. ringkasan kedua kitab diatas. Al La’ali Al Mashnu’ah fi Al Ahadits Al Maudhu’ah. berpendapat bahwa kafir bagi orang yang memalsukan hadits Rasulullah dan dengan sengaja dan mengetahui (hukum berkenaan) dengan yang ia ada-adakan. Adapun adalah perintah yang juga berarti kabar(berita). 1. Akhir Kata Dengan memohon pertolongan Allah. Ancaman Bagi yang Membuat Hadits Maudhu’. di antara kitab-kitab tersebut yaitu: 1. Seruan untuk hijrah kepada Allah dengan memurnikan tauhid dan mencampakkan kesyirikan serta hijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya. dan inilah seruan kami: 1. bersama seluruh golongan dan pergerakan yang haq. dia lebih bahaya atas umatku dari pada iblis. karya As Suyuthi. Namun dalam riwayat Ibnu Hibban terdapat kata ini. Kitab-kitab Referensi Hadits Palsu Para ulama telah merupaya mengumpulkan hadits-hadits palsu supaya kaum muslimin selamat dari makar pembuatnya. ancaman. Orang yang berdusta atas nama Rasulullah ancamannya sangat keras. menggalang ukhuwah bersama seluruh thalibul ilmi dan du’at penyeru kepada ummat. sebagaimana Nabi bersabda: “Barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja. Al Madhu’at. ringkasan kitab diatas. penghinaan atau do’a atas 10 pelakunya. karangan Ibnu Al Jauzi. Dalam riwayat Al Bukhari tidak terdapat atau dengan sengaja. Tanzihu Ay Syri’ah Al Marfu’ah ‘an Al Ahadits Asy Syani’ah Al Maudhu’ah karya Ibnu ‘Iraqi Al Kittani. Syaikh Muhammad Abu Al Juwaini. merajut al-wala hingga menjadi bangunan yang kokoh saling menguatkan.” Hadits ini diriwayatkan secara mutawatir. Yaitu semoga Allah menyiapkan untuknya (nereka).yang disebut Muhammad bin Idris. 1.

koreksi dan kritik atau kontribusi harap dikirimkan langsung ke Kotak Komentar. . Saran dan Kritik Semua saran.1. Seruan untuk berwala kepada iman dan muslimin serta baro’ dari syirik dan musyrikin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful