P. 1
BAB I- III

BAB I- III

1.0

|Views: 3,165|Likes:
Published by Creampunk Rezpector

More info:

Published by: Creampunk Rezpector on Apr 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2014

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Infeksi nosokomial saat ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka kesakitan (morbidity) dan angka kematian (mortality) dirumah sakit, sehingga dapat menjadi masalah kesehatan baru, baik di negara berkembang maupun di negara maju.Infeksi nosokomial dikenal pertama kali pada tahun 1847 oleh Semmlweis dan hingga saat ini tetap menjadi masalah yang cukup menyita perhatian. Sejak tahun 1950 infeksi nosokomial mulai di teliti dengan sungguh sungguh di berbagai Negara, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Rumah sakit lainnya. Angka infeksi nosokomial yang tercatat di beberapa Negara berkisar 3,3%-9,2%%, artinya sekian persen penderita yang di rawat tertular infeksi nosokomial dan dapat terjad isecara akut atau secara kronis (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di Negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama.Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 Rumah Sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0% (Harry, 2006). Beberapa kejadian infeksi nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian pada pasien, akan tetapi ini menjadi penyebab penting pasien dirawat

2

lebih lama di Rumah Sakit. Infeksi nosokomial merupakan persoalan serius yang menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien.Infeksi ini bias ditularkan dari pasien kepetugas maupun sebaliknya, pasien kepengunjung atau sebaliknya, serta antar orang yang berada di lingkungan Rumah Sakit.Penyebab infeksi nosokomial akan menjadi kuman yang berada di lingkungan Rumah Sakit atau oleh kuman yang sudah dibawa oleh pasien itu sendiri, yaitu kuman endogen. Bahaya dari terjadinya infeksi nosokomial adalah meningkatnya angka kesakitan (morbidity) dan angka kematian (mortality) serta dapat memperlama perawatan pasien di Rumah Sakit dan dapat mempengaruhi mutu pelayanan Rumah Sakit.Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa kejadian infeksi nosokomial adalah infeksi yang secara potensial dapat dicegah.Cara penularan infeksi nosokomial yaitu kontak langsung antara pasien dengan personel yang merawat atau menjaga pasien, kontak tidak langsung ketika obyek didalam lingkungan yang terkontaminasi dan tidak didesinfeksi atau disterilkan (Amdani, 2009). Selama 10-20 tahun belakangan ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara, dan di beberapa negara kondisinya justru sangat memprihatinkan. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal, serta penggunaan jasa diluar Rumah Sakit.Karena itulah, di negara-negara miskin dan berkembang, pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien di Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.Oleh karena itu, mencuci tangan menjadi metode pencegahan dan pengendalian infeksi

3

nosokomial yang paling penting karena tangan merupakan salah satu wahana yang paling efisien untuk penularan infeksi nosokomial (Schaffer, 2000). Mencuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanis dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun atau air. Tujuan cuci tangan adalah untuk menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari permukaan kulit dan mengurangi jumlah mikroorganisme (Tietjen, 2003). Salah satu tenaga kesehatan yang paling rentan terhadap enyakit infeksi tersebut adalah perawat karena yang bertugas selama 24 jam di Rumah Saki tdan yang sering berinteraksi dengan pasien adalah perawat. Cuci tangan harus dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan meskipun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Indikasi cuci tangan harus dilakukan pada saat yang diantisipasi akan terjadi perpindahan kuman melalui tangan, yaitu sebelum melakukan tindakan yang dimungkinkan terjadi pencemaran dan setelah melakukan tindakan yang dimungkinkan terjadi pencemaran (Depkes, 2003). Mencuci tangan merupakan tehnik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi (Potter & Perry, 2005). The Centers for Disease Control and Prevension baru saja mengeluarkan rekomendasi baru untuk hygiene tangan dilingkungan perawat kesehatan.hygiene tangan adalah istilah yang diterapkan untuk mencuci tangan, menggunakan antiseptik mencuci tangan, atau antiseptis tangan untuk pembedahan. Data menunjukkan bahwa antiseptis tangan,pembersihan tangan dengan anti septik pencuci tangan lebih efektif dalam mengurangi infeksi nosokomial daripada mencuci tangan dengan cara biasa.(CDC,2002)

khususnya alat-alat ganti balutan luka terdapat 5 orang dari 10 orang perawat yang langsung mencuci alat tersebut tanpa merendam (dekontaminasi) terlebih dahulu. Dari formulir pelaporan infeksi nosokomial diRSUD M Yunus Bengkulu pada tahun 2010 pasien yang terkena infeksi nosokomial diruang Seruni berjumlah 95 orang dari jumlah keseluruhan pasien di ruang seruni yaitu sebanyak 2631 orang pada 3 bulan terakhir (Oktober – Desember) mengalami peningkatan infeksi nosokomial diruang Seruni.M. penulis melakukan observasi langsung.Yunus Bengkulu merupakan ruang rawat inap untuk pasien-pasien pasca operasi bedah umum. perawat tampak hanya menggunakan handscone bersih dan masker pada saat mengganti balutan luka pasien. Dalam hal pemakaian alat pelindung diri. ortopedi. Ruangan Seruni RSUD Dr. Oleh karena itu resiko terjadinya infeksi silang dapat terjadi pada pasien yang lain maupun bagi perawat. masker dan alat-alat ganti balutan luka selalu disediakan oleh bagian logistik ruangan.4 Berdasarkan survey awal dari tanggal 22 sampai dengan 25 Desember 2011. Dalam hal pengelolaan alat kesehatan. ataupun tindakan lainnya. DIII (18 orang) dan SPK (1 orang). mata THT dengan jumlah perawat 36 orang dan pendidikan SI (17 orang). Untuk menghindari dan mencegah kejadian infeksi pasca operasi di ruang B2 maka dipandang perlu untuk mengetahui bagaimana hubungan pelaksanaan mencuci tangan oleh perawat terhadap upaya pencegahan infeksi nosokomial. sedangkan persediaan alatalat seperti sarung tangan.Alasan peneliti mengambil ruangan Seruni karena di ruangan Seruni jumlah pasien yang terkena infeksi nosokomial paling banyak dan . diperoleh data bahwa dari 10 orang perawat ruang Seruni. Dalam hal penyimpanan alat-alat tersebut. terdapat 5 orang perawat dalam melakukan tindakan tidak mencuci tangan terutama sebelum melakukan tindakan.

untuk mengetahui gambaran pelaksanaan mencuci tangan oleh perawat terhadap upaya pencegahan infeksi nosokomial b. Tujuan Umum : Untuk mengetahui hubungan pelaksanaan mencuci tangan oleh perawat terhadap upaya pencegahan infeksi nosokomial di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu.3 Tujuan Penelitian 1. 1. Tujuan Khusus : a.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Akademik.M. 1.2 RumusanMasalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas.M.5 ruangan yang rentan terjadinya infeksi nosokomial. Dr. maka rumusan masalah adalah masih rendahnya upaya yang dilakukan perawat diruang seruni dalam mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien di ruang Seruni RSUD. untuk mengetahui hubungan pelaksanaan mencuci tangan oleh perawat terhadap upaya pencegahan infeksi nosokomial.Yunus Bengkulu 2. penelitian ini dapat menjadi masukan bagi mahasiswa keperawatan Dehasen Bengkulu tentang Hubungan pelaksanaan mencuci tangan dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial oleh perawat dengan kejadian infeksi nosokomial.Dari survey awal peneliti mengamati beberapa perawat yang bertugas diruang Seruni tidak melakukan cuci tangan bisa memungkinkan terjadi penyebab infeksi nosokomial.Yunus Bengkulu terhadap upaya pecegahan infeksi nasokomial diruang seruni RSUD. . M. 1.

Moewardi Surakarta " . hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkuat dukungan teoritis bagi pengembangan ilmu keperawatan khususnya tentang infeksi nosokomial. hasil penelitian ini dapat digunakan untuk gambaran awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasil dari penelitian ini adalah gambaran pelaksanaan kewaspadaan universal pada umumnya masuk kategori baik. sebagai masukan dalam rangka peningkatan kualitas pengetahuan perawat dalam rangka pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit. . Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneiiti lakukan adalah penelitian ini menggunakan variabel tunggal tanpa menghubungkan dengan variabel lain.6 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan simple deskriptif.5 Keaslian penelitian Penelitian yang dilakukan oleh wahyu wulandari (2010) dengan judul "Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Pencegahan Infeksi Nosokomial Dengan Perilaku Cuci Tangan Di RSUD Dr. 1. Bagi perawat. uji statistik yang digunakan. 5. 4. gambaran cuci tangan pada umumnya juga baik namun masih ada perawat yang melakukan cuci tangan kurang sempurna sebanyak 15 %. tehnik sampling yang digunakan dengan simple random sampling. pelaksanaan mencuci tangan sangat penting untuk upaya pertama pencegahan infeksi nosokomial tersebut. 3. Bagi pengembangan ilmu keperawatan. Bagi pihak rumah sakit. sedangkan penelitian yang akan peneiiti lakukan adalah menggunakan variabel independen dan dependen. Bagi peneliti selanjutnya. bahkan ada yang tidak melakukan cuci tangan sebanyak 5 %.

2000). mengambil spesimen. et.Infeksi yang di akibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau .Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanik dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air(Tietjen. Menurut Tim Depkes (1987) mencuci tangan adalahmembersihkan tangan dari segala kotoran. 2004). Sedangkan menurut Purohito (1995) mencuci tangan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan keperawatan misalnya: memasang infus.1 Konsep teori Cuci Tangan 2. Mencuci tangan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan keperawatan misalnya: memasang infus.1 pengertian mencuci tangan Menurut Perry & Potter (2005). Sementaraitu menurut Perry & Potter (2005). dimulai dari ujung jari sampaisiku dan lengan dengan cara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanik dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air (Tietjen.2. Infeksi yang di akibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau terjadi pada fasilitas pelayanan kesehatan. Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau terapeutik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit (Perry & Potter. 2004).7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.. mengambil spesimen. mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi. mencuci tangan merupakan teknikdasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi.al.

Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan. 2000). 2000).2. tangan dan lengan (Schaffer. agar kuman yang menempel pada tanganbenar-benar hilang. Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau terapeutik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit (Perry & Potter.2.3 Indikasi Cuci Tangan Indikasi untuk mencuci tangan menurut Depkes RI. 2. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaranpenyakit dapat di kurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. 2.2 Tujuan cuci tangan Menurut Susiati (2008). (1993) adalah : a) Sebelum melakukan prosedur invasif misalnya : menyuntik. Mencuci tangan adalah membasahi tangan dengan air mengalir untuk menghindari penyakit. Mencuci tangan juga mengurangi pemindahan mikroba ke pasien dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yangberada pada kuku. pemasangan kateter dan pemasangan alat bantu pernafasan .Cuci tangan harus dilakukan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain. Tangan harus di cuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.8 terjadipada fasilitas pelayanan kesehatan. tujuan dilakukannya cuci tangan yaitu untuk : a) Mengangkat mikroorganisme yang ada di tangan b) Mencegah infeksi silang (cross infection) c) Menjaga kondisi steril d) Melindungi diri dan pasien dari infeksi e) Memberikan perasaan segar dan bersih.

9 b) Sebelum melakukan asuhan keperawatan langsung c) Sebelum dan sesudah merawat setiap jenis luka d) Setelah tindakan tertentu. cairan tubuh.2. ternyata lebih murah dari pada tidak mencuci tangan sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi nosokomial. cuci tangan akan memberikan keuntungan sebagai berikut: a) Dapat mengurangi infeksi nosokomial b) Jumlah kuman yang terbasmi lebih banyak sehingga tangan lebih bersih dibandingkan dengan tidak mencuci tangan c) Dari segi praktis. sekresi atau ekresi e) Setelah menyentuh benda yang kemungkinan terkontaminasi dengan mikroorganisme virulen atau secara epidemiologis merupakan mikroorganisme penting. 2.4 Keuntungan mencuci tangan Menurut Puruhito (1995). 2. selaput lendir. cuci tangan surgical (surgical hand .2. yaitu cuci tangan medical (medical hand washing). Benda ini termasuk pengukur urin atau alat penampung sekresi f) Setelah melakukan asuhan keperawatan langsung pada pasien yangterinfeksi atau kemungkinan kolonisasi mikroorganisme yang bermakna secara klinis atau epidemiologis g) Setiap kontak dengan pasien-pasien di unit resiko tinggi h) Setelah melakukan asuhan langsung maupun tidak langsung pada pasien yang tidak infeksius.5 Macam-macam cuci tangan & cara cuci tangan Cuci tangan dalam bidang medis dibedakan menjadi beberapa tipe. tangan diduga tercemar dengan mikroorganisme khususnya pada tindakan yang memungkinkan kontak dengan darah.

Mengatur posisi berdiri terhadap kran air agar memperoleh posisi yang nyaman 3. seperti cincin atau jam tangan 2. Prosedur kerja cara mencuci tangan biasa adalah sebagai berikut: 1. alat pengering seperti tisu. kemudian kedua punggung telapak tangan saling menumpuk. serta di bawah wastefel terdapat alas kaki dari bahan handuk. sarung tangan (gloves). untuk membersihkan selasela jari 6. dimulai dari meratakan sabun dengan kedua telapak tangan. sabun cair atau cairan pembersih tangan yang berfungsi sebagai antiseptik. Melepaskan semua benda yang melekat pada daerah tangan.Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan biasa adalah Setiap wastafel dilengkapi dengan peralatan cuci tangan sesuai standar rumah sakit (misalnya kran air bertangkai panjang untuk mengalirkanair bersih. Membuka kran air dengan mengatur temperatur airnya 4. lotion tangan. Melakukan gerakan tangan. Menuangkan sabun cair ke telapak tangan 5. bergantian. Adapun cara untuk melakukan cuci tangan tersebut dapat dibedakan dalam beberapa teknik antara lain sebagai berikut ini: a) Teknik mencuci tangan biasa Teknik mencuci tangan biasa adalah membersihkan tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir atau yang disiramkan. tempat sampah injak tertutup yang dilapisi kantung sampah medis atau kantung plastik berwarna kuning untuk sampah yang terkontaminasi atau terinfeksi). Membersihkan ujung-ujung kuku bergantian pada telapak tangan . lap tangan (hand towel). biasanya digunakan sebelum dan sesudah melakukan tindakan yang tidak mempunyai resiko penularan penyakit.10 washing) dan cuci tangan operasi (operating theatre hand washing).

Prosedur mencuci tangan aseptik sama dengan persiapan dan prosedur pada cuci tangan higienis atau cuci tangan biasa. sabun antimikrobial (non-iritasi. bukan dengan jari karena jari yang telah selesai kita cuci pada prinsipnya bersih 10. hanya saja bahan deterjen atau sabun diganti dengan antiseptik dan setelah mencuci tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril. Pada saat meninggalkan tempat cuci tangan. Menutup kran air menggunakan siku. Mencuci tangan dengan larutan disinfektan. Membersihkan (membilas) tangan dengan air yang mengalir sampai bersih sehingga tidak ada cairan sabun dengan ujung tangan menghadap ke bawah 9. khususnya bagi petugas yang berhubungan dengan pasien yang mempunyai penyakit menular atau sebelum melakukan tindakan bedah aseptik dengan antiseptik dan sikat steril. b) Teknik mencuci tangan aseptik Mencuci tangan aseptik yaitu cuci tangan yang dilakukan sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik. Hal yang perlu diingat setelah melakukan cuci tangan yaitu mengeringkan tangan dengan hand towel. spektrum . c) Teknik mencuci tangan steril Teknik mencuci tangan steril adalah mencuci tangan secara steril (suci hama). tempat tersebut dalam keadaan rapi dan bersih. khususnya bila akan membantu tindakan pembedahan atau operasi. Membersihkan kuku dan daerah sekitarnya dengan ibu jari secara bergantian kemudian membersihkan ibu jari dan lengan secara bergantian 8. Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan steril adalah menyediakan bak cuci tangan dengan pedal kaki atau pengontrol lutut.11 7.

Menuangkan sejumlah sabun (2 sampai 5 ml) ke tangan dan menggosok tangan serta lengan sampai dengan 5 cm di atas siku 6. Membuang pengikir setelah selesai digunakan 7. Prosedur kerja cara mencuci tangan steril adalah sebagai berikut: 1. Menyikat kuku tangan sebanyak 15 kali gerakan b. Membasahi tangan dan lengan bawah secara bebas. dan lengan a. penutup kepala atau topi. Dengan gerakan sirkular. Terlebih dahulu memeriksa adanya luka terpotong atau abrasi pada tangan dan jari. pastikan masker menutup hidung dan mulut anda dengan kencang. Menyalakan air dengan menggunakan lutut atau control dengan kaki dan sesuaikan air untuk suhu yang nyaman 4. Selain itu juga memakai pelindung mata 3. mempertahankankan tangan atas berada setinggi siku selama seluruh prosedur 5. sikat scrub bedah dengan pembersih kuku dari plastik. Menggunakan pakaian bedah sebagai proteksi perawat yaitu: penutup sepatu. handuk steril. Membersihkan kuku di bawah air mengalir dengan tongkat oranye atau pengikir. kemudian melepaskan semua perhiasan misalnya cincin atau jam tangan 2. pakaian di ruang scrub dan pelindung mata. kerja cepat). masker wajah. kemudian sikat punggung tangan sebanyak 10 kali gerakan . Membasahi sikat dan menggunakan sabun antimikrobial. tangan. menyikat telapak tangan dan permukaan anterior jari 10 kali gerakan c.12 luas. Menyikat samping dan belakang tiap jari 10 kali gerakan tiap area. Menyikat sisi ibu jari 10 kali gerakan dan bagian posterior ibu jari 10 gerakan d. penutup sepatu. masker kertas dan topi atau penutup kepala. Menyikat ujung jari.

Mengulangi metode pengeringan untuk tangan yang lain dengan menggunakan area handuk yang lain atau handuk steril baru 14.2.13 e. menyikat bagian tengah dan atas lengan bawah dengan cara yang sama setelah selesai menyikat buang sikat yang telah dipakai 9. 2000). 2. bagi lengan dalam tiga bagian.6 Kewaspadaan untuk perawat dalam melakukan cuci tangan steril Pakaian atau seragam scub perawat harus tetap kering. kemudian bilas sikat secara seksama 8. Mengulangi langkah 8 sampai 10 untuk lengan yang lain. Seluruh penyikatan harus selesai sedikitnya 2 sampai 3 menit (AORN. Perawat memasuki ruang operasi dan melindungi tangan dari kontak dengan objek apa pun. Bila perawat ingin menggunakan sarung tangan steril di area . 11. 1999 sebagaimana dikutip oleh Perry & Potter. Mempertahankan lengan tetap fleksi. biarkan air mengalir pada siku 10. Dengan tepat mengingat. Jadi. Air mengalir berdasarkan gravitasi dari ujung jari ke siku. Mempertahankan tangan lebih tinggi dari siku dan jauh dari tubuh anda 15. Kemudian mengeringkan dengan handuk steril untuk satu tangan secara seksama. buang sikat kedua dan mematikan air dengan pedal kaki 12. mencuci keseluruhan dari ujung jari sampai siku satu kali gerakan. mempertahankan tangan tetap tinggi sehingga memungkinkan air mengalir dari area yang kurang ke yang paling terkontaminasi. Dengan tangan fleksi. menggerakan dari jari ke siku dan mengeringkan dengan gerakan melingkar 13. Kemudian mulai menyikat setiap permukaan lengan bawah lebih bawah dengan gerakan sirkular selama 10 kali gerakan.

Pada situasi ini perawat dapat menggunakan handuk kertas untuk pengeringan. 2005). Pengeringan dimulai dari area yang paling bersih ke area yang kurang bersih. Hacek. Karakteristik perawat meliputi variabel demografi (umur. et. Kepatuhan cuci tangan juga dipengaruhi oleh tempat tugas.al. mengatakan bahwa kepatuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Noskin. Pengeringan mencegah kulit kering dan memudahkan menggunakan sarung tangan (Perry & Potter. Trick. variabel demografi berpengaruh terhadap kepatuhan. Zembover. 1999 dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). persepsi dan motivasi.2. waktu yang digunakan untuk cuci tangan. jenis kelamin. kondisi pasien. ras. Menurut Smet (1994). Beberapa ahli sebagaimana dikemukakan oleh Smet (1994). kemampuan.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan cuci tangan perawat Lankford. suku bangsa dan tingkat pendidikan). & Peterson (2003) bahwa faktor yang berpengaruh pada tindakan cuci tangan adalah tidak tersedianya tempat cuci tangan. Dengan penyabunan dan penggosokan yang dilakukan dua kali sesuai prosedur akan menjamin tangan bersih. Sementara itu Tohamik (2003) menemukan dalam penelitiannya bahwa kurang kesadaran perawat dan fasilitas menyebabkan kurang patuhnya perawat untuk cuci tangan.14 reguler. perawat tidak perlu menyikat atau mengeringkan tangan dengan handuk steril. 2. efek bahan cuci tangan terhadap kulit dan kurangnya pengetahuan terhadap standar. Karakteristik perawat merupakan ciri-ciri pribadi yang dimiliki seseorang yang memiliki pekerjaan merawat klien sehat maupun sakit (Adiwimarta. Sebagai contoh secara geografi penduduk Amerika lebih cenderung taat mengikuti . Faktor internal yang mempengaruhi kepatuhan dapat berupa tidak lain merupakan karakteristik perawat itu sendiri.

kekuatan dan keterampilan (Muchlas. perawat yang memiliki kemampuan melaksanakan. kepatuhan dalam pelaksanaan aturan kerja akan semakin baik. ras kulit putih. kemampuan intelektual mempunyai peran yang besar dalam pekerjaan yang rumit. Pola komunikasi dengan profesi lain yang dilakukan oleh perawat akan mempengaruhi tingkat kepatuhannya dalam melaksanakan tindakan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kepatuhan terdiri atas pola komunikasi. dan dukungan sosial. akan cenderung patuh untuk melaksanakan sesuai dengan yang telah digariskan dalam protap tersebut (Arumi. kecekatan. Demikian juga dalam pelaksanaan protap mencuci tangan. Dimensi kecerdasan telah dijumpai sebagai peramal dari kinerja.15 anjuran atau peraturan di bidang kesehatan. orang tua dan anak-anak terbukti memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi. Latar belakang pendidikan juga akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam melaksanakan etos kerja. Semakin tinggi pendidikan seseorang. Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam pekerjaan yang pada hakekatnya terdiri dari kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. kemampuan fisik mempunyai makna yang penting untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing dalam soal kemampuan kerja. 1997). maka wajar-wajar saja kalau ada perawat yang merasa mampu atau tidak mampu dalam melaksanakan tindakan sesuai dengan protap. 2002). keyakinan / nilai-nilai yang diterima perawat. Data demografi yang mempengaruhi ketaatan misalnya jenis kelamin wanita. Beberapa aspek dalam komunikasi ini yang berpengaruh pada kepatuhan perawat adalah .

Variabelvariabel sosial mempengaruhi kepatuhan perawat.5 miliar dolar pertahun (Smeltzer. Smet (1994) mengatakan bahwa keyakinan-keyakinan tentang kesehatan atau perawatan dalam sistem pelayanan kesehatan mempengaruhi kepatuhan perawat dalam melaksanakan peran dan fungsinya. 2002). dan menghabiskan biaya lebih dari 4.16 ketidakpuasaan terhadap hubungan emosional.2. petugas kesehatan lain. 2001) .1998) Infeksi nosokomial merupakan infeksi akibat transmisi organisme patogen ke pasien yang sebelumnya tidak terinfeksi yang berasal dari lingkungan rumah sakit. Di Amerika Serikat ada 20. ketidakpuasan terhadap pendelegasian maupun kolaborasi yang diberikan serta dukungan dalam pelaksanaan program pengobatan (Arumi.000 kematian setiap tahun akibat infeksi nosokomial. Sedangkan dukungan sosial menurut Smet (1994) berpengaruh terhadap kepatuhan seseorang. pasien maupun dukungan dari pimpinan atau manajer pelayanan kesehatan serta keperawatan. 2.2 Konsep Dasar Infeksi Nosokomial 2. Dukungan sosial memainkan peran terutama yang berasal dari komunitas internal perawat.1 Pengertian Nosokomial Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikroorganisme dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Iskandar. Sampai saat ini infeksi nosokomial masih merupakan problem serius yang dihadapi oleh rumah sakit di seluruh dunia terutama di negara berkembang.

Hasil penelitian Simanjuntak (2000).2010). Ini berarti pasien membayar lebih mahal dan dalam kondisi tidak .Yusran. yang kegiatan utamanya antara lain mencuci tangan untuk mencegah infeksi silang. pemakaian sarung tangan . menunjukkan bahwa 9. yang berjudul upaya perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial pneumonia pada pasien dalam tindakan mencuci tangan dan pelaksanaan prosedur trakeal tube di rumah sakit St Boromeus bandung dengan hasil penelitian pada prosedur mencuci tangan secara aseptik sebelum melakukan tindakan penanganan pasien memungkinkan petugas terkontaminasi dengan kuman yang berasal dari pasien.17 Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit adalah peningkatan pengetahuan dan pengalaman bekerja sebagai petugas kesehatan dalam menerapkan metode Kewaspadaan Universal (Universal Precautions) yaitu semua upaya pencegahan penularan infeksi atau penyakit di unit-unit pelayanan kesehatan. pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan (M. di sebelas rumah sakit di DKI Jakarta.dan alat pelindung lain (seperti masker. Infeksi yang berasal dari petugas juga berpengaruh pada mutu pelayanan (Nurmatono. kacamata pelindung. Di indonesia penelitian yang dilakukan oleh Robert Utji (2004). pengelolaan jarum dan alat tajam lain untuk mencegah perluaan. dll) untuk mencegah kontak dengan darah dan cairan infeksius yang lain.8% pasien dirawat inap mendapat infeksi baru selama dirawat.2005) Kejadian infeksi nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian pasien akan tetapi akan menjadi penyebab penting pasien dirawat lebih lama di rumah sakit.

atau protozoa. Aureus. virus 8 % dan mikrobakterium 4 %. Coli. Epidermidis. S. Aureus).2 Patofisiologi Mikroba penyebab tampaknya sangat beragam. seperti E. virus. gram positif 15 % dan gram negatif bersama positif 6 %.2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa mikroba patogen sebagai penyebab terbanyak adalah jenis bakteri (62 %) dimana gram negatif 41 %. seperti MRSA (Methicilin Resistant S. 2) Infeksi sendiri (Self infection. VRE (Vancomycin Resistant Enterococcus). dapat jenis bakteri. Namun pada era 1960-1970 justru gram negatif yang menonjol. namun mayoritas adalah jenis bakteri yang bersifat patogen atau komensal.3 Cara Penularan 1) Infeksi silang (Cross Infection) Disebabkan oleh kuman yang didapat dari orang atau penderita lain di rumah sakit secara langsung atau tidak langsung. Spektrum bakteri penyebab juga bervariasi dari zaman ke zaman.18 produktif. 2007) 2. Enterobakter spp dan Clostridium Difficile yang disebabkan karena pemakaian masif antibiotik spektrum luas.2.Auto infection) . (marwoto. Pyogenes dan S. akibat maraknya pemakaian antibiotik antistafilokokus. terapi medis invasif dan peningkatan pasienpasien kompromais (Struelens 1999) 2. Sedangkan karena jamur 9 %. jamur. disamping pihak rumah sakit juga akan mengeluarkan biaya lebih besar. Dewasa ini diributkan karena munculnya beberapa jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang lazim dipakai. Pada era pra antibiotik kebanyakan penyebab infeksi ini adalah S.

3) Penularan cara droplet infection dimana kuman dapat mencapai ke udara (air borne).2. sebagai contoh perawatan luka paska operasi.19 Disebabkan oleh kuman dari penderita itu sendiri yang berpindah tempat dari satu jaringan kejaringan lain.4 Resiko Infeksi Untuk Petugas Kesehatan Petugas kesehatan bisa mendapat infeksi karena masuknya mikroorganisme melalui kulit dan mukosa yang tidak utuh. tubuh dan darah ). 3) Infeksi lingkungan (Enverenmental infection) Disebabkan oleh kuman yang berasal dari benda atau bahan yang tidak bernyawa yang berada di lingkungan rumah sakit. 4) Penularan melalui vektor yaitu penularan melalui hewan/serangga yang membawa kuman.Hughes dkk yang dikutip oleh Misnadiarli 1994 tentang model cara penularan. Menurut Jemes H. 2. ada 4 cara penularan infeksi nosokomial yaitu : 1) Kontak langsung antara pasien dan personil yang merawat atau menjaga pasien 2) Kontak tidak langsung ketika obyek tidak bersemangat/kondisi lemah dalam lingkungan menjadi kontaminasi dan tidak didesinfeksi atau sterilkan. Mikroorganisme ditularkan dari penderita melalui sekret mukosa ( sputum. . Misalnya : lingkungan yang lembab dan lain-lain (Depkes RI 1995).

2. 2). Karena itu.5 Pencegahan infeksi nosokomial 1. Mikroba Mikroba bisa memasuki tubuh petugas lewat mukosa saluran nafas atau mukosa saluran cerna. Upaya pencegahan a. Pengertian pencegahan Pencegahan adalah proses. petugas harus memakai sarung tangan saat bekerja dan bila mempunyai kelainan kulit. cara. Karena itu petugas kesehatan harus menjaga agar tidak terluka atau tertusuk jarum pada saat bekerja.mencuci tangan b. perbuatan penegahan. 2. Sebagian besar infeksi HIV pada petugas kesehatan terjadi akibat kecelakaan kerja seperti ini. Tubuh juga bisa dimasuki mikroorganisme akibat kecelakaan kerja. Oleh karena itu petugas harus memakai masker bila bekerja di tempat dimana ada kemungkinan penularan lewat udara. sebaiknya tidak bekerja di tempat dimana kemungkinan bisa terjadi ekspos dengan darah atau ekskreta penderita. Namun mikroba lebih mudah memasuki tubuh lewat kulit tidak utuh yang merupakan pintu masuk mikroorganisme.penolakan: usaha sedapat mungkin dilakukan terhadap faktor yg dapat menimbulkan komplikasi 2.memakai masker . misalnya terjadi luka akibat terkena benda tajam atau tertusuk jarum.20 1) Kulit Beberapa bakteri juga dapat menembus kulit yang utuh.memakai handscone c. Bila benda tajam yang melukai tadi sudah tercemar dengan darah atau tubuh maka mikroba yang ada dalam tubuh atau darah tadi dapat memasuki darah korban.

Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan. 2). Pengelolaan alat kesehatan. Pengelolaan limbah dan sampah rumah sakit. yaitu : 1. Pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit merupakan tanggung jawab seluruh petugas kesehatan di rumah sakit untuk mengadakan prosedur dan program yang dirancang bangun untuk menurunkan morbilitas dan mortalitas ini. 2.21 3. Tujuan pencegahan Tujuannya adalah melindungi tenaga kesehatan dan semua pasien dari tertular penyakit selama menjalani perawatan. Cuci tangan Penggunaan alat instrumentasi secara rasional 3. Pengawasan terhadap pencegahan infeksi nosokomial 6. masker). 4). Sering mengganti pipa intravena Infeksi nosokomial sebagian besar dapat dicegah dengan berbagai cara pencegahan infeksi yang telah tersedia dan relative murah yaitu: 1). . mengurangi jumlah mikroba pathogen di lingkungan rumah sakit. Pembatasan penggunaan antibiotik 4. Menerapkan Tindakan Pencegahan ( Universal Precaution ) yang baku khususnya cuci tangan (atau penggunaan larutan cuci tangan aseptik) dan memakai alat pelindung diri (sarung tangan. 3). Pembatasan transfusi 5.

pengelolaan alat kesehatan. Disebut universal karena harus diberlakukan kepada semua pasien dan semua prosedur tindakan tanpa kekecualian. 2003). 2007). pengeloalaan alat tajam untuk mencegah perlukaan.Ketiga prinsip tersebut di jabarkan menjadi lima kegiatan pokok yaitu mencuci tangan guna mencegah infeksi silang. dan sputum di dala pelayanan kesehatan. pengelolaan alat kesehatan. pemakaian alat pelindung diri diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius. benda terkontaminasi. 2003). luka pada kulit. Kewaspadaan universal berlaku untuk darah. dan pengelolaan limbah (Depkes RI.22 Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) yaitu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit.apron). masker. danselaput lender. Penerapan standar ini penting untuk mengurangi risiko penularan mikroorganisme yang berasal dari sumber infeksi yang diketahui atau tidak diketahui misalnya pasien. pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan (Dep Kes RI. . ekskresi terkecuali keringat. baik yang berasal dari pasien maupun petugas kesehatan (Nursalam. Kewaspadaan universal diterapkan untuk melindungi setiap orang (pasien dan petugas kesehatan) apakah mereka terinfeksi atau tidak. pemakaian alat pelindung diri (sarung tangan. sekresi. Kewaspadaan universal ini meliputi cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. jarum suntik bekas pakai.

dengan menggunakan kekuatan.6 Manfaat Pencegahan Infeksi Nosokomial 1. 2. Oleh sebab itu. Mengurangi jumlah kunjungan. Apabila kemandirian tidak berhasil diciptakan maka perawat membantu mengatasi hambatan.3.2.Tidak ada komplikasi. membantu individu baik yang sehat maupun sakit. 2.Pasien merasa puas. atau pengetahuan yang dimiliki.3 Konsep Teori Perawat 2. Mengurangi biaya. dan bertanggung jawab dalam peningkatan kesehatan. pencegahan penyakit serta pelayanan terhadap pasien (V. Henderson (1980).23 2.Pengobatan menjadi lebih cepat. Mengurangi hari rawat: . baik biaya yang dikeluarkan oleh pasien maupun oleh rumah sakit. 4.1 Pengertian Perawat Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan. Pemakaian anti biotik lebih sedikit. Perawat mempunyai fungsi yang unik yaitu. . Apabila penyakit tidak dapat disembuhkan dan .Mutu pelayanan rumah sakit meningkat. . berwenang di negara bersangkutan untuk memberikan pelayanan. perawat berupaya menciptakan hubungan yang baik dengan pasien untuk menyembuhkan meningkatkan kemandiriannya. 3. dari lahir hingga meninggal agar dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari secara mandiri. . kemauan.

5. Pelaksana pelayanan keperawatan. Lemone (1989) Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Pembaharu sistem. 4.3. Peran Perawat (Lokakarya Nasional 1983) 1 2.23 tahun 1992 Tentang Kesehatan) 2. Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. Lilis C. maka perawat berusaha agar pasien dapat meninggal dengan tenang ( Internasional Council of Nursing 1965 ) Perawat adalah seseorang yang berperan dalam merawat dan membantu seseorang dengan melindunginya dari sakit. 2. Koordinator dalam pelayanan pasien. dan sikap.2 Peran Perawat Peran Perawat (CHS 1989) Peran adalah tingkah laku yang diharapkan oleh seseorang terhadap orang lain (dalam hal ini adalah perawat) untuk berproses dalam sistem sebagai berikut 1. dan proses penuaan( Taylor C. 3.24 akhirnya meninggal dunia. 3. luka.No. 6. Pemberi asuhan keperawatan. Konsultan/penasihat pada tenaga kerja dan klien. Pendidik tenaga perawat dan masyarakat. metodologi. yang diperoleh melalui pendidikan perawatan (Undang-Undang RI. Pembela pasien. Pendidik dalam keperawatan. Kolaborator dalam membina kerja sama dengan profesi lain dansejawat. .

peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompokpelayanan (dokter. Individu . yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. Peran terapeutik: kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Memberi rasa aman dan nyaman. ditenma. 2. dan rasa kasih sayang. Hubungan interpersonal disertai dengan kelembutan hati. ketika mereka meninggai. pasien. Peran Perawat Menurut Schulman Schulman berpendapat. dan lain-lain). Menurut Johnson dan Martin. Melindungi dari ancaman bahaya. 3. Peneliti dan pengembang keperawatan. Peran perawat menurut ( EGC. 4. antara lain: 1. perawat berusaha untuk menjamin privasi pasien. Ketika pakaian pasien harus dilepas. Perawat adalah orang yang bersama individu ketika mereka ketika mereka cedera atau sakit. 2.2005 ) Perawat melindungi martabat pasien dan mencoba untuk mengamankan pasien dari rasa malu atau memalukan. Peran Perawat Menurut Para Sosiolog 1. dirawat dan didukung oleh perawat.25 4. dilindungi. perawat. hubungan perawat dan pasien sama dengan hubungan ibu dan anak. Memberi dorongan untuk mandiri. Expressive/mother substitute role. perawat adalah orang yang bersama individu selama kebanyakan waktu kritis dikehidupan mereka.

Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dcpenden). mereka menanggalkan pakaian untuk perawat. 6. Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. keluarga. menyusun. 2. 1972 ) 1. Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. Observasi gejala dan respons pasien yang bei hubungan dengan penyakit dan penyebabnya. 4. penyembuhan atau menghadapi kematian yang pada hakekatnya dapat mereka laksanakan tanpa bantuan apabila mereka memiliki . dan mempercayai perawat untuk melakukan prosedur yang menimbulkan nyeri. 2. Melaksanakan prosedur dan teknik keperawalan. Fungsi Perawat Fungsi Pokok Membantu individu. Tujuh Fungsi Perawat ( Phaneuf. dan masyarakat baik sakit maupun sehat dalam melaksanakan kegiatan yang menunjang kesehatan.3 Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. Memantau pasien. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus-menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. 7.3. 5. Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kese hatan fisik dan mental. 3.26 berbagi banyak hal yang intim dalam kehidupan mereka dengan perawat.

keluarga.al. mengambil spesimen. Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit adalah peningkatan pengetahuan dan pengalaman bekerja sebagai petugas kesehatan dalam menerapkan metode Kewaspadaan Universal (Universal Precautions) yaitu semua upaya pencegahan penularan infeksi atau penyakit di unit-unit pelayanan kesehatan. Fungsi Kolaboratif Sebagai anggota tim kesehatan. yang kegiatan utamanya antara lain mencuci tangan untuk mencegah . penyembuhan. 2000).27 Fungsi Tambahan Membantu individu. et. 2004). perawat bekerja dalam merencanakan dan melaksanakan program kesehatan yang mencakup pencegahan penyakit.. Infeksi yang di akibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau terjadi pada fasilitas pelayanan kesehatan.4 Hubungan pelaksanaan mencuci tangan dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial oleh perawat dalam kejadian infeksi nosokomial Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanik dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air (Tietjen. dan masyarakat dalam melaksanakan rencana pengobatan yang ditentukan oleh dokter. 2. Sedangkan menurut Purohito (1995) mencuci tangan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan keperawatan misalnya: memasang infus. Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau terapeutik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit (Perry & Potter. peningkatan kesehatan. dan rehabilitasi.

Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Karyadi Semarang menunjukkan angka kepatuhan tenaga kesehatan untuk menerapkan penerapan beberapa elemen universal precaution< 50 %. masih ada perawat yang memakai alat pelindung diri kurang sempurna sebanyak 20% dan tidak memakai alat pelindung diri sebanyak 9%. Hasilnya menunjukkan bahwa masih ada perawat yang mencuci tangan tidak sempurna sebanyak 15% dan yang tidak mencuci tangan sebanyak 5%.28 infeksi silang. kacamata pelindung. Prahaningsih (2005) “Gambaran Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di wardi Surakarta “. Studi pendahuluan yang di lakukan diRumah Sakit Abdoel Muluk pada tahun 2006 menunjukkan 58 % tenaga kesehatan mengalami paparan terhadap darah dan cairan tubuh pasien. masih ada perawat yang melakukan pengelolaan alat bekas pakai kurang sempurna sebanyak 15% dan tidak melakukan sebanyak 6%.Yusran.2010). tidak melakukan 7%. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan simple deskriptif. masih ada perawa yang melakukan pengelolaan jarum dan alat tajam kurang sempurna sebanyak18%. pengelolaan jarum dan alat tajam lain untuk mencegah penularan.dan alat pelindung lain (seperti masker. dll) untuk mencegah kontak dengan darah dan cairan infeksius yang lain. pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan (M. . serta masih ada perawat yang melakukan sanitas itidak sempurna sebanyak 15% dan tidak melakukan sebanyak 7%. pemakaian sarung tangan .

3 Kerangka Konsep Penelitian 2.6 Hipotesis Ada hubungan yang bermakna antara mencuci tangan perawat dengan upaya pencegahan infeksi nosokomial.5 Kerangka Konsep V.29 2. .Dependen Mencegah infeksi nosokomial Gambar 2.Independen Pelaksanaan mencuci tangan V.

1 Rancangan dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah suatu penelitian (deskriptif analitik) yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan mengunakan pendekatan cross sectional Penelitian ini merupakan penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek .Membuka kran air 2.30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. yaitu tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemerikasaan.2 Defenisi Oprasional Tabel defenisi operasional variabel independen dan dependen No 1 Variabel Variabel independen : Pelaksanaan mencuci tangan perawat Defenisi operasional jika perawat melakukan cuci tangan dengan urutan : 1.untuk membersihkan selasela jari 3.(Notoatmodjo 2005) 3. dimulai dari meratakan sabun dengan kedua telapak tangan.Menuangkan sabun cair ketelapak tangan 3.Melakukan gerakan tangan. kemudian kedua punggung telapak tangan saling menumpuk. bergantian.Membersihkan ujung- Alat ukur Checklist Hasil ukur 0 = jika tidak melakukan 1 = jika melakukan skala Nominal . dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).

Membersihkan kuku dan daerah sekitarnya dengan ibu jari secara bergantian kemudian membersihkan ibu jari dan lengan secara bergantian 5. 2011)populasi dalam penelitian ini adalah semua perawat yang mencuci tangan sebelum dan sesudah berinteraksi dangan pasien dalam upaya pencegahan infeksi Nosokomia di RSUD.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan dari objek yang diteliti (Arikunto.3 Populasi Dan Sampel 3. M. Checklist 0 = jika iya terinfeksi penyakit lain 1 = jika tidak terinfeksi penyakit lain Nominal 3.31 ujung kuku bergantian pada telapak tangan 4.mengeringkan tangan dengan haduk bersih 2 Variabel dependen : kejadian infeksi nosokomial Jika pasien mendapat penyakit tambahan atau pasien mendapat penyakit baru dirumah sakit. Yunus bengkulu pada tahun 2011 dengan jumlah perawat 36 orang. Dr. .Membersihkan (membilas) tangan dengan air yang mengalir sampai bersih sehingga tidak ada cairan sabun dengan ujung tangan menghadap ke bawah 6.3.

Dr. maka segi etika penelitian harus di perhatikan. M.2 Sampel Sampel penelitian ini menggunakan metode total sampling. 3. Anomity (Tanpa Nama) . 3. Dr.4 Lokasi Waktu Dan Objek Penelitian Penelitian dilaksanakan di ruangan Seruni RSUD. M. Informed Concent (persetujuan) Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan (Informed Concent).5 Etika penelitian Masalah etika dalam penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian. 2.32 3. mengingat penelitian keperawatan berhubungan lansung dengan manusia. mengetahui dampaknya. Dimana penelitian ini dilakukan mengambil semua jumlah populasi di tahun 2011 mencuci tangan sebelum dan sesudah berinteraksi dengan pasien dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial yang berjumlah 36 orang perawat diruang seruni. Jika subyek bersedia maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak klien. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut : 1. Yunus Bengkulu objek penelitian adalah seluruh perawat yang diruang seruni RSUD. Tujuan Informed Concent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan peneliti.3. Yunus Bengkulu pada tahun 2011 yang melaksanakan cuci tangan dalam upaya pencegahan infeksi Nosokomial.

yaitu melihat catatan atau dokumentasi dan format pengumpulan data yang dilaksanakan pada bulan november sampai bulan januari di ruang seruni RSUD. 3.1 Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder.6. M. Entry: yaitu memasukan data yang sudah di editing dan coding tersebut kedalam computer dan mengunakan perangkat lunak computer. Confidentiality (kerahasiaan) Merupakan masalah etika dengan menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lainya. c. hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data. 2003) 3. b. Coding: yaitu mengklasifikasikan data yang menurut jenisnya.6 Rencana Pengumpulan.6. Editing: merupakan tahap penelitian yang telah berkumpul baik dengan cara pengisian pada format pengambilan data.Pengolahan Dan Analisa Data 3. . semua informasi yang telah di kumpulkan di jamin kerahasiaannya oleh peneliti. dengan menggunakan kode berupa angka. Dr. Yunus bengkulu. hanya kelompok data tertentu yang akan di laporkan pada hasil penelitian (Alimual. 3.33 Merupaka masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak member nama responden pada lembar alat ukur.2 Pengolahan Data Data yang diperoleh peneliti akan diolah melalui beberapa tahap yaitu: a. kemudian dimasukan ddalam lembaran tabel kerja guna mempermudah membacanya.

Processing : Setelah semua lembar kuisioner diisi oleh peneliti. P = f × 100 Keterangan P = jumlah persentase yang dicari F = jumlah frekuensi dari masing variabel N = jumlah penelitian (jumlah responden) 3. 2010).3.hasil analisisnya adalah sebagai berikut : Jika p ≤ 0.3 Analisis Data 3. pemrosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuisioner ke paket program komputer. (notoatmdojo.05 maka secara statistik tersebut bermakna ( ho ditolak ) artinya : ada hubungan yang bermakna antara kejadian infeksi nosokomial .2 Analisis Bivariat Analisa bivariat bertujuan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara dua variabel yaitu variabel indevenden dan variabel dependen dilakukan uji statistik SPSS menggunakan uji chi-square. e.6.6.3. Clening: yaitu memastikan apakah semua data sudah siap dianalisis 3.34 d. serta telah melewati pengkodean maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar data yang sudah di-entry dapat dianalisis.1 Analisis Univariat Analisa univariat denga maksud untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan variabel-variabel yang diteliti baik variabel independen maupun dependen rumus.6.

35 Jika p ≥ 0.Dan untuk melihat keeratan hubungannya di gunakan uji contingency coefficient. .05 maka secara statistik disebut tidak bermakna ( ho diterima ) artinya : tidak ada hubungan yang bermakna antara kejadian infeksi nosokomial.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->