ANALISA PENGARUH DINDING MASONRY TERHADAP KEKUATAN KOLOM PADA BANGUNAN SEKOLAH AKIBAT GAYA GEMPA

(Studi Kasus Perencanaan Bangunan Sekolah Gunung Tarok, Meulaboh)

Abstrak Belajar dari bencana gempa bumi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti gempa bumi Aceh dan Yogyakarta ada suatu fenomena kegagalan geser pada komponen kolom struktur (shear failure in column) yang diakibatkan oleh kehadiran dinding bahan pengisi (masonry wall) yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Dalam perencanaan bangunan beton bertulang yang merupakan komponen struktur utama adalah; balok, pelat, kolom, dan pondasi. Pemasangan diding bahan pengisi dinding pengisi dilakukan setelah komponen struktur utama selesai dikerjakan, sehingga dianggap hanya sebagai beban gravitasi atau komponen non-struktural. Pada kenyataanya yang terjadi di lapangan saat terjadi gempa bumi yang mengakibatkan gaya lateral yang besar terhadap bangunan, dinding pengisi memberikan pengaruh yang besar terkadap kekakuan dan kekuatan struktur, sehingga pengaruh keruntuhannya berbeda dengan portal terbuka. 1. Pendahuluan Panel dinding bahan pengisi biasa dipasang pada rangka struktur baja maupun beton bertulang. Dinding dapat menutupi tembok bangunan secara keseluruhan dan ada juga yang memilikli bukaan seperti untuk pintu dan jendela. Namun dalam perencanaan struktur bangunan, dinding bahan pengisi hanya diperlakukan sebagai sekat atau partisi tanpa fungsi struktural. Padahal apabila terjadi gempa kuat dinding bahan pengisi dapat mempengaruhi kekakuan dan kekuatan struktur yang kadang tidak menguntungkan pada struktur bagunan yang dapat menimbulkan kerusakan.
GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 1 5/1/2009

ANALISA PENGARUH DINDING MASONRY TERHADAP KEKUATAN KOLOM

PADA BANGUNAN SEKOLAH AKIBAT GAYA GEMPA
(Studi Kasus Perencanaan Bangunan Sekolah Gunung Tarok, Meulaboh) Galumbang M. Hutauruk*) Johannes Tarigan**)
*) Alumni Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik USU; hutauruk_gal@yahoo.com **) Guru Besar dan Ketua Departemen Teknik Sipil USU

Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa

Beberapa kendala yang dialami oleh para insinyur bangunan dalam mempertimbangkan pengaruh keberadaan dinding bahan pengisi pada struktur portal gedung antara lain : a. Kerusakan dinding partisi sebab mutu material yang digunakan rendah dan sulit berperilaku kaku sebagai elemen bangunan. b. Sulitnya memprediksi model keruntuhan pada dinding pengisi karena berkaitan erat dengan nilai variabel propertis material dinding masonry yang sangat kompleks, sehingga kemungkinan model keruntuhannya sangat variatif. c. Kurang detailnya hubungan/koneksi antara dinding pengisi dengan sekeliling portal struktur. Sesungguhnya hubungan interaksi dinding pengisi dengan sekeliling portal mempunyai pengaruh yang besar terhadap respon struktur yang mengalami gaya gempa yang besar. d. Terbatasnya peraturan yang ada mengenai ketahanan bangunan terhadap kerusakan akibat gempa bumi. 2. Latar Belakang Apabila bercermin dari beberapa kejadian gempa bumi di Indenesia khususnya gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tanggal 27 Mei 2006 dengan kekuatan 6,3 skala ricthter. Banyak bangunan rumah penduduk yang rata dengan tanah yang mengakibatka ribuan korban jiwa dan harta benda. Dokumentasi kerusakan akibat gempa bumi di Indonesia:
GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 2 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa

Gambar 1. Kerusakan bangunan akibat gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah Gambar 2. Kerusakan pada kolom bangunan sekolah akibat kehadiran dinding masonry yang mengalami gaya gempa Gambar 3. Kegagalan geser pada kolom akibat gempa bumi Aceh tahun 2004

3. Tujuan Adapun tujuan pembahasan dari tulian ini adalah untuk : 1. Membandingkan perilaku struktur portal beton bertulang antara model portal

4. Mengetahui dampak bukaan pada dinding terhadap efek shear column. Anlisa beban gempa yang digunakan adalah analisa statis ekivalen tiga dimensi. Dalam analisa pengaruh P-delta tidak diperhitungkan. e. Dalam Tugas Akhir ini yang ingin dicari adalah perbandingan displacement dan gaya-gaya yang dialami bangunan pada setiap kasus d. 4. Kasus I : Analisa gedung dengan pemodelan portal beton bertulang tiga dimensi tanpa dinding 2. Adapun kasus kasus yang ditinjau adalah adalah sebagai berikut 1. Metodologi Analisa kekuatan bangunan struktur beton bertulang tahan gempa dilakukan dengan menggunakan program Computer and Structure. 5. Kasus IV : Analisa gedung dengan pemodelan portal beton bertulang tiga . yaitu progam Extended Three Dimensional Analysis of Building Systems ( ETABS ). Inc.kosong (tanpa bahan pengisi) dengan portal yang memiliki bukaan pada dinding. yang sama-sama mengalami gaya gempa dengan analisa tiga dimensi.dan kemungkinan kegagalan yang akan terjadi pada kolom. Meulaboh c. Struktur portal yang dianalisa adalah Bangunan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa dangan satu tingkat (single storey) b. Pembatasan Masalah Karena pertimbangan keterbatasan bahan dan kemampuan penulis. Kasus III : Analisa gedung dengan pemodelan portal beton bertulang tiga dimensi dengan balok anak dan bukaan pada dinding. Mengetahui seberapa besar pengaruh bukaan pada dinding terhadap kekuatan struktur portal beton bertulang yang mengalami gaya gempa. Kasus II : Analisa gedung dengan pemodelan portal beton bertulang tiga dimensi dengan dinding penuh tanpa bukaan 3. Bagunan yang dianalisa merupakan Gedung Sekolah di Gunung Tarok. maka untuk memperoleh hasil yang lebih teliti dalam analisa ini dilakukan beberapa pembatasan masalah Adapun pembatasan masalahnya meliputi : a. 2. GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 3 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa 3.

Model 3 Frame with Lintel Beam Gambar 7. dengan nilai SPT rata-rata pada kedalaman 5 meter sampai 10 meter adalah Ñ > 50 Bangunan gedung terletak pada wilayah gempa (WG 5) berdasarkan peta wilayah gempa SNI 03 – 1726 – 2002. Provinsi Aceh. Kondisi tanah keras. Model 1 Bare Fame Gambar 5.dimensi dengan dinding dan bukaan jendela dan pintu GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 4 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa Proyek Pembangunan Gedung Sekolah Gunung Tarok berada di Kabupaten Meulabouh. Model4 Frame with Opening GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 6 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa 6. Bangunan digunakan sebagai gedung sekolah Jenis Struktur Sistim Rangka Pemikul Momen Beton Bertulang Mutu beton adalah f’c = 225 kg/cm² Mutu baja adalah fy = 3200 kg/cm² Berat isi beton adalah = 2400 kg/m3 Dimensi kolom adalah = 25 x 25 cm² Dimensi balok adalah = 20 x 20 cm² Tebal dinding = 15 cm Beban hidup atap = 20 kg/m² Atap terbuat dari genteng Dinding tebuat dari pasangan bata Data propertis pasangan bata Kuat tekan batako = 17 Mpa Kuat tarik batako = 2. 10ˉ7 o C GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 5 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa 5. Beban Beban yang Bekerja . Data-data perencanaan Gedung Sekolah Gunung Tarok. Pemodelan Struktur Gambar 4.25 Koefisien muai thermal = 6.6 Mpa Modulus geser batako = 8000 Mpa Modulus elastisitas batako = 17000 Mpa Berat jenis batako = 1800 kg/m³ Poisson’s rasio = 0. Proyek ini merupakan proyek hibah dari Non Goverment Organization yaitu Spanish Red Cross. Meulaboh adalah sebagai berikut. Model 2 Frame with Full Wall Gambar 6.5 .

01 17 1001.13 1190.46 + 372.78 10 1181.41 16 298.26 4 1204. Fy = 8292. Meulaboh GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 10 5/1/2009 Tabel Momen Kolom (M) Yang Terjadi Pada Setiap Case ColumnTinggi (m)M Case I (kgm) .68 510.48 3 278.35 + 117. Beban akibat berat plafon Berat plafon per meter luas = 18 kg/m² Model pembebanan akibat berat plafon 2.14 111. Hasil Analisa Model Struktur Gedung Sekolah Gunung Tarok.52 119.68 510.38 + 149.438 kg .81 15 1123.86 476.81 5 1123.67 12 .46 + 372.96.35 + 117.55 449. Beban alkibat atap GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 7 5/1/2009 Tabel Data pembebanan pada kolom akibat beban atap TITK Beban Mati (kg) Beban Hidup (kg) 1 298.40 + 293.67 7-8 1190.80 472.70 11 1276. Beban akibat gaya gempa statik Fx = 4146.38 + 149.21 400.52 481.41 6 1276.33 9 1266.52 119.33 14 1204.55 449.40 + 293.86 476.26 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa Model pembebanan akibatberat plafon Model penbebanan akibat gaya gempa Model pembebanan akibat beban mati atap Model pembebanan akibat beban hidup atap GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 8 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 9 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa 7.48 18 278.01 2 1001.1. 506.21 400.52 481.876 kg Model pembebanan akibat gaya gempa 3.14 111.

415 0.55 -261.680 -0.110 0.490 1.15 1361.400 5.05 903.070 15.83 5.780 3.66 -3.78 C9 3.798 8.636 -0.12 128.36 .15 1418.06 C14 0 2649.73 160.020 5.200 -0.577 0.15 1340.059 0.55 -245.94 C1 3.15 1379.02 116.18 -57.163 21.28 4.26 36.M Case II (kgm) M II (%) M case III (kgm) M III (%) M Case IV (kgm) M IV (%) C1 0 2351.243 -0.7 72.8 -1646.03 2.660 23.60 C6 3.14 C6 0 2692.421 109.250 0.55 198.775 -0.09 22.16 -0.52 C4 1.42 4.04 C1 2.7 -485.270 2.55 -216.680 12.300 0.59 C6 2.390 -44.284 -10.921 271.748 294.37 C11 2.560 0.460 -0.800 0.830 -0.127 -0.8 -1606.15 1337.230 0.840 1.20 364.270 23.470 -10.3 1173.225 0.03 291.510 -1.337 7.885 0.05 2.20 10.55 -219.787 117.900 -0.968 -258.960 0.612 -0.210 -7.10 C11 1.33 C14 1.97 C9 2.540 0.790 5.00 145.770 36.130 0.68 98.990 4.60 C9 2.02 849.806 1.554 -0.9 747.390 0.451 60.290 25.780 74.250 9.9 497.020 -10.98 C4 2.934 26.48 -17.790 -0.259 22.70 -711.34 24.001 71.92 -494.270 6.070 -4.8 -1836.542 134.14 C6 1.68 C9 1.18 7.791 -1.18 -525.210 -0.922 4.229 6.868 0.7 -382.53 C11 1.38 -513.15 1380.800 21.593 -0.9 480.740 -0.660 -2.963 -0.130 122.05 314.110 -1.982 0.950 117.76 C14 1.186 1.74 C1 1.648 324.7 -390.560 1.17 21.72 C9 1.96 C4 1.300 -0.270 1.641 22.42 -785.62 0.770 -2.62 C6 1.410 0.720 0.83 75.120 -0.475 0.23 C6 1.78 -22.09 134.01 812.3 1207.300 -0.05 C1 1.82 -15.723 -0.170 3.957 1.40 C14 2.00 2.9 506.710 23.372 0.30 C1 2.7 -417.78 23.566 3.560 0.48 -0.847 0.782 235.840 3.02 300.3 1189.67 -20.090 -0.842 -0.209 69.309 -0.550 -0.46 754.07 C9 1.410 0.100 5.38 363.52 C11 2.370 24.36 28.080 -0.991 67.19 1.82 C4 3.910 0.100 -0.650 260.11 -0.800 -0.610 19.51 -8.23 -665.212 -685.03 -470.470 -1.8 -856.660 27.898 0.35 C11 1.840 24.091 3.26 14.64 1.356 2.35 C11 0 2619.744 0.93 C4 1.77 C11 3.435 0.06 -491.800 -0.51 38.790 0.050 0.03 -12.01 0.21 40.52 7.00 121.01 786.08 3.00 984.160 0.56 -41.3 1253.55 -301.69 -20.9 500.708 -0.76 C4 2.860 4.810 1.28 C1 1.540 -0.15 5.270 -0.770 -0.024 0.51 C4 0 2831.680 6.22 30.130 2.13 334.180 79.568 0.720 0.558 24.200 -4.840 -12.448 1.095 14.910 0.926 -0.457 -0.02 77.010 12.290 -0.05 113.19 90.020 -0.11 -636.05 -615.8 -1679.47 C9 0 2680.84 -18.18 C14 1.3 1234.74 -32.33 5.88 C6 2.06 -5.781 0.650 0.83 87.20 1.40 32.940 -0.846 0.107 -0.9 522.32 -570.859 3.3 1165.408 42.390 -0.61 -178.

790 5.110 9.71 C1 1.15 1141.3 1147.56 17.27 C1 3.430 3.740 120.78 -1355.60 C4 1.25 496.480 7.9 1147.71 -51.740 120.34 -1260.47 25.220 11.970 1.274 60.340 113.110 12.400 0.870 15.220 9.940 -2.470 118.22 -78.060 2.169 0.67 -1356.350 0.080 0.13 33.690 -5.07 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 11 5/1/2009 Tabel Gaya Geser Kolom (V) Yang Terjadi Pada Setiap Case Column Tinggi (m) V Case I (kg) V Case II (kg) V II (%) V Case III (kg) V III (%) V Case IV (kg) V IV (%) C1 0 844.120 -0.080 107.514 1.14 -0.130 -4.700 -3.330 2.80 1211.3 1228.470 57.480 42.43 C16 1.41 -49.940 105.090 85.740 120.01 C1 1.870 24.15 1147.69 812.530 5.84 1292.94 C16 2.65 C1 1.74 C6 2.57 -37.11 1014.3 1141.200 -4.00 1.420 -101.64 -1163.080 31.8 -1688.95 -590.68 1211.490 2.68 C4 3.650 -0.890 -9.080 5.670 1.C14 2.82 -79.55 -30.03 C9 2.653 1.590 -108.000 4.070 0.73 C4 1.54 136.260 4.260 -1.520 -2.685 -0.560 -131.55 844.030 2.490 0.33 -401.864 1946.808 300.210 5.53 1211.816 -1.130 0.62 23.9 586.7 -172.18 145.470 26.480 9.360 -2.93 C6 1.130 0.659 -0.43 15.900 -1.64 C9 1.270 0.470 62.540 -137.990 -110.08 2.760 0.285 -0.7 1141.55 1147.628 105.03 -456.870 16.460 1.75 C16 2.62 57.760 -110.720 3.48 1292.238 -0.470 59.030 8.870 109.9 1141.81 1415.320 -110.70 16.882 0.53 C6 1.55 1014.340 113.97 1415.080 -14.56 C16 3.80 C4 0 1228.26 310.940 105.450 0.010 13.45 C6 2.373 -0.760 -0.20 C6 0 1141.45 -103.550 1.17 -1243.07 C16 1.46 16.7 -432.8 1141.29 80.640 -4.83 -26.900 -0.490 12.05 11.550 -0.8 -1217.440 -18.91 6.870 115.870 24.09 1415.870 20.15 1228.62 -64.3 1156.870 115.22 59.9 1228.025 1.750 4.470 58.370 4.080 -7.55 1141.7 844.55 1228.83 -1168.15 1298.43 -36.930 0.76 -5.18 28.890 15.19 -26.05 C4 2.94 C9 1.92 1014.62 64.110 6.7 1228.56 C14 3.090 4.46 -228.470 18.690 5.85 39.8 1228.66 48.480 9.299 26.870 4.030 0.280 1.610 0.3 844.25 0.22 343.580 -0.00 -519.830 2.530 -12.66 C9 0 1147.130 2.940 105.21 -53.18 699.22 0.8 844.43 4.500 -32.600 36.61 C6 1.03 C1 2.680 -6.720 1.43 C4 1.870 115.91 33.54 C4 2.01 1.13 C16 0 2390.870 1.15 844.9 844.670 40.35 C1 2.790 -1.870 25.470 61.490 96.220 -0.21 C16 1.480 6.25 -6.650 0.080 4.77 -1109.63 -10.180 7.11 1292.39 C9 1.450 1.340 113.65 .860 0.060 0.30 C6 3.18 212.

460 0.9743 0.770 0.07 -1121.660 -0.6398 6.44 C11 1.3 1112.15 -21.07 0.220 98.500 9.770 1.840 -0.2422 0.15 1112.110 0.120 0.730 11.680 0.55 1112.19 36.660 23.28 0.110 108.63 C16 1.1814 0.540 1.730 0.120 1.110 108.1248 0.240 -94.930 2.8 1147.09 -1098.330 -102.7175 5.22 C16 2.6753 5.41 0.98 1032.3 1141.11 -32.71 C14 3.47 -1179.62 C11 1.15 C14 0 1141.41 0.660 -1.950 2.18 14.660 -1.52 C9 3.1661 1.1272 0.070 -96.500 10.24 -37.66 18.83 81.64 27.9 949.29 C11 2.020 3.290 1.8648 6.560 -6.74 1.69 16.30 -0.10 1122.660 3.41 C11 2.70 45.7 1147.11 BASE 2 0 0 0 0 STORY2 3 13.09 BASE 5 0 0 0 0 STORY2 6 12.52 27.680 -112.500 115.620 -0.30 0.21 0.170 104.250 0.480 5.35 1159.480 1.96 1032.C9 2.220 98.73 BASE 3 0 0 0 0 STORY2 4 13.92 0.640 0.790 1.9 1112.080 -101.46 40.15 1141.16 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 12 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa Tabel Perbandingan Displacement Arah Y Setiap Case Terhadap Case I ( Case With Bare Frame) GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 13 5/1/2009 Displacement Case I Displacement Case II Displacement Case III Displacement Case IV Story Point UY1 (mm) UY2 (mm) UY2 (%) UY3 (mm) UY3 (%) UY4 (mm) UY4 (%) STORY2 1 13.0284 0.03 24.020 4.500 9.500 6.1141 1.05 1122.9 1141.420 -2.12 -83.970 -3.060 2.020 18.890 -8.860 -1.2356 1.8 1141.7 1141.050 -0.91 C16 1.55 949.45 C16 2.27 1122.020 3.2 0.180 -6.120 0.920 8.500 9.08 C14 1.070 10.5819 0.320 4.15 949.37 -1117.07 C14 2.640 0.06 -30.580 -118.960 -2.070 0.930 0.170 104.38 0.2151 2.19 0.33 -1082.20 -1127.0102 0.170 104.500 9.85 1.18 -76.120 0.29 1159.22 1159.02 1032.30 C14 1.020 2.0255 0.00 -1069.2533 0.190 1.020 2.87 6.180 2.020 0.42 0.890 -2.200 2.25 BASE 4 0 0 0 0 STORY2 5 13.7 1112.450 0.760 -100.30 120.84 C16 3.24 3.7 949.1088 1.77 C16 1.70 32.19 C16 0 949.91 134.98 .740 3.110 108.7178 5.88 -24.01 C14 2.08 0.55 1141.770 12.520 0.70 -59.100 -7.35 -71.84 0.33 C11 1.370 3.3 949.340 0.293 2.16 BASE 1 0 0 0 0 STORY2 2 10.190 0.565 0.40 C11 3.52 C14 1.250 3.8 949.74 C11 0 1112.80 -57.1141 0.78 28.310 -0.24 -81.660 1.8 1112.970 -5.660 3.090 -6.060 0.220 98.670 1.

7663 0.77 0.0316 0.98 0.2021 0.87 0.41 BASE 11 0 0 0 0 STORY2 12 9.02 0.09 BASE 3 0 0 0 0 STORY2 4 10.64 5.061 0.5657 4.01 0.0007 0.43 0.5001 0.65 0.3881 0.03 0.04 0.16 0.0041 0.0769 0.56 0.382 4.1536 0.7826 0.78 BASE 7 0 0 0 0 STORY2 8 12.0315 0.037 0.0079 0.59 0.0219 0.0064 0.5113 0.01 0.1 0.0008 0.6707 0.08 0.15 0.063 0.0512 0.09 BASE 5 0 0 0 0 STORY2 6 14.0448 0.9496 0.53 BASE 4 0 0 0 0 STORY2 5 10.021 0.06 0.0288 0.07 0.0741 0.0026 0.0037 0.01 0.7663 0.0066 0.0827 0.0126 0.0459 0.36 BASE 14 0 0 0 0 STORY2 15 12.86 0.39 0.03 0.BASE 6 0 0 0 0 STORY2 7 9.0578 0.0133 0.18 BASE 18 0 0 0 0 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 14 5/1/2009 Tablel Perbandingan Displacement Arah X Setiap Case Terhadap Case I ( Case With Bare Frame) Displacement Case I Displacement Case II Displacement Case III Displacement Case IV Story Point UX (mm) UX (mm) UX 2(%) UX (mm) UX3 (%) UX (mm) UX4(%) STORY2 1 15.44 BASE 1 0 0 0 0 STORY2 2 15.0246 0.0512 0.6188 0.14 BASE 2 0 0 0 0 STORY2 3 15.6096 0.0698 0.47 0.01 0.14 BASE 17 0 0 0 0 STORY2 18 12.23 BASE 16 0 0 0 0 STORY2 17 9.0093 0.6129 4.6752 5.4472 0.9798 0.0041 0.6041 0.5968 4.01 0.464 -0.4 BASE 10 0 0 0 0 STORY2 11 12.25 BASE 15 0 0 0 0 STORY2 16 12.4421 4.7954 0.0098 0.29 BASE 13 0 0 0 0 STORY2 14 12.36 .32 0.54 0.01 0.01 0.0014 0.0555 0.5716 4.53 0.0216 0.0101 0.4881 4.59 BASE 8 0 0 0 0 STORY2 9 12.2 0.13 0.0018 0.6398 5.0523 0.65 BASE 9 0 0 0 0 STORY2 10 12.33 BASE 12 0 0 0 0 STORY2 13 12.5139 0.6133 4.14 0.0028 0.5961 4.0677 0.02 0.0224 0.76 0.0082 0.0579 0.0761 0.

1532 0. CASE III (Frame with Lintel Beam).13 0.0193 0.0458 0.39 BASE 16 0 0 0 0 STORY2 17 15.0473 0.32 0.0323 0.44 0.0257 0.28 0. dan CASE IV (Frame with Opening Window and Door) bila dibandingkan dengan CASE I (Bare Frame). momen dan gaya geser.7511 0.0253 0.0233 0.0193 0.28 0.13 0. Momen dan Lintang pada Case III Gambar 11. dimana terjadi perubahan respon struktur pada CASE II (Frame with Full Wall).BASE 6 0 0 0 0 STORY2 7 14.6156 0.9868 0. Momen dan Lintang pada Case I Gambar 9.0216 0.043 0.44 BASE 14 0 0 0 0 STORY2 15 10.32 0.37 0.0396 0.0334 0.0215 0.35 0.14 0.0231 0.7858 0.6707 0.0187 0.0455 0.0497 0.15 BASE 17 0 0 0 0 STORY2 18 15.0584 0.0204 0.15 BASE 18 0 0 0 0 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa Gambar 8.39 0.0146 0.14 BASE 7 0 0 0 0 STORY2 8 13.47 0.0512 0. Momen dan Lintang pada Case II Gambar 10.17 0.0612 0. Momen dan Lintang pada Case IV GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 15 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa Kesimpulan Dari hasil analisis dan evaluasi yang dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Hasil analisa yang dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh dinding masonry terhadap kekuatan kolom struktur beton bertulang akibat gaya gempa dengan membandingkan displacement.0467 0.0197 0.0195 0.3 0.18 BASE 13 0 0 0 0 STORY2 14 10.12 0.0185 0.0199 0.2 0.0239 0.0233 0.42 BASE 9 0 0 0 0 STORY2 10 10.14 0.0318 0.6282 0.5148 0.16 0.043 0.18 BASE 15 0 0 0 0 STORY2 16 15.14 0.061 0.14 0.16 BASE 12 0 0 0 0 STORY2 13 13.14 0. .2 BASE 10 0 0 0 0 STORY2 11 14.0557 0.36 BASE 11 0 0 0 0 STORY2 12 14.015 0.0398 0.39 0.37 0.18 BASE 8 0 0 0 0 STORY2 9 10.7095 0.025 0.17 0.0397 0.9864 0.0381 0.

Saran Setelah melakukan analisis dan evaluasi pengaruh dinding masonry terhadap kekuatan kolom pada bangunan sekolah maka diberikan saran-saran sebagai berikut: 1. GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 16 5/1/2009 Analisa Pengaruh Dinding Masonry Terhadap Kekuatan Kolom pada Bangunan Sekolah Akibat Gaya Gempa DAFTAR PUSTAKA Budiono B.. Oktober 2005. Dalam mendesain bangunan tahan gempa perlu diperhitungkan kehadiran bukaan pintu dan jendela serta balok lintel guna menghindari kegagalan yang sebelumnya tidak diduga pada kolom. User Manual”. Hal ini diakibatkan oleh perpendekan kolom (short column) sehingga terjadi konsentrasi gaya geser pada pertemuan balok lintel dengan kolom yang dapat menimbulkan shear failure ini column.Terjadi perbesaran gaya geser pada pertemuan balok lintel dengan kolom sebesar (0.. mengingat bahwa hampir setiap saat gempa bumi mengintai kehidupan umat manusia yang selalu siap untuk menelan korban jiwa dan harta benda. Model Elemen Hingga Non Linier Untuk Karakterisasi Panel Dinding Bata Pengisi Terhadap Gaya Lateral Siklik. 3. Herwani. 12/4. Perlu diperhatikan hubungan koneksi antara panel dinding dan kolom yang lebih deteil dengan memberikan jangkar atau tulangan vertikal dan horizontal pada dinding pasangan.2. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai kerusakan bangunan akibat gempa bumi. Namun perlu diperhatikan perencanaan tulangan geser pada pertemuan kolom dengan balok lintel supaya kegagalan geser pada kolom (shear failure in column) dapat dihindari. 2003. Analisa Inelastis Portal – Dinding Pengisi dengan “Equivalent Diagonal Strut”. 35 A. Edisi Vol. 2. ITB Sains & Tek. Habibullah. Jurnal Teknik Sipil ITB.No. Balok lintel sangat diperlukan sebagai perkuatan pada dinding. Dewobroto Wiryanto. .52 sampai 37. “ETABS – Three Dimensional Analysis of Building System. Proc. Vol. A.85) persen pada CASE III.

Surabaya. Maxicom. Seismic Design of Reinforced Concrete and Masonry Building. Vol. “Effect of Infill Masonry Walls on the Seismic Response of Reinforced Concrete Building Subjected to the 2003 Bam Eathquake Strong Motion : A Case Study of Bam Telephone Centre”.. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. 2003.United State of America.. 2005. 79. Kabeyasawa T. Badan Standarisasi Nasional. Bulletin Earthquake Research Institute. Standar Nasional Indonesia (SNI – 1726 – 2002). The University of Tokyo. John Wiley and Sons. Wakabayashi Minoru. McGrawHill Book Company. 1992. Design of Earthquake-Resistant Building. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. ITS Press. 1986. Priestley. Bandung. Paulay T. 2004. Pramono Hadi. California. ETABS 8. Purwono Rachmat.0 Untuk Struktur 2D dan 3D.Computers and Structures. Palembang. 2005. Berkeley. Mostafaei H. Inc.. United State of America. GALUMBANG H & Johannes Tarigan Page 17 5/1/2009 .

Sepanjang pantai selatan P. Pekerjaan pasangan dinding tembok harus memenuhi ketentuan. Bagian selatan P. seperti tanah lempung untuk bata merah. bagian utara P.Abstrak Usaha mengurangi kerusakan dinding tembok yang dibangun diwilayah gempa diwilayah gempa dengan cara memperkuat dinding tembok bangunan rumah yang dibangun secara spontan dengan rangka beton bertulang untuk seluruh wilayah gempa. bagian tengah P. maka bangunan rumah berdinding tembok tersebut harus dibangun sesuai ketentuan konstruksi bangunan tahan gempa dengan memberikan perkuatan pada bagian-bagian tertentu. Jawa. Sumatera. Indonesia terbagi menjadi 6 (enam) wilayah gempa dari yang paling berat sampai dengan yang paling aman adalah: 1. Sulawesi 4. sedangkan rangka kayu hanya untuk wilayah 3. hubungan antar unsur harus benar dan kuat. rumah ibadah. ketebalan adukan dan siar vertikal. trass dan kapur untuk batako. Untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan oleh bencana gempa. Jawa . Detail sambungan harus benar. *** Latar Belakang Pembangunan perumahan selalu berintegerasi dengan alam lingkungannya. dan 6. kekuatan strukturnya tidak dihitung. Semua unsur bangunan harus merupakan satu kesatuan. Wilayah gempa. seperti cara pemasangan. Sumatra. berupa rumah tempat tinggal. serta ketebalan plesteran dan acian. Dari pengalaman bancana gempa bumi di Indonesia. laut Banda. menggunakan bahan yang ada disekitarnya. Irian Jaya bagian utara. Bangunan tersebut biasanya didirikan oleh masyarakat umum. bangunan sekolah dan bangunan rumah tradisional. Bahan bangunan bata merah dan batako secara umum digunakan sebagai dinding tembok. 4. bangunan rumah yang roboh itu sebagian besar merupakan bangunan rumah berdinding tembok yang dibangun secara spontan dan menurut kebiasaan setempat yang tidak benar untuk daerah gempa. Sulawesi. Bagian selatan P. Seram 3. Maluku bagian utara 2. sehingga bangunan rumah tahan terhadap goncangan gempa bumi. bagian utara P. Pengertian   Rumah yang dibangun secara spontan (non engineered structure) adalah rumah yang dibangun berdasarkan pengalaman praktis. 5.

bagian utara P. Kalimantan. Bagian timur P. Intensitas goncangan berhubungan langsung dengan jenis lapisan tanah tempat bangunan. Ketidak-tahuan unsur-unsur ketahanan gempa pada bangunan perumahan. Bukaan (pintu dan jendela) Kekakuan bangunan ditentukan juga oleh banyaknya bukaan-bukaan. Macam keruntuhan dinding tergantung dari bentuk hubungan antara dinding dengan dinding lainnya dan antara dinding dengan rangka kolom atau dengan rangka kosen. Kalimantan Permasalahan Bangunan yang runtuh akibat bencana gempa bumi sebagian besar merupakan bangunan rumah berdinding tembok. Konfigurasi bangunan Teratur dan simetris adalah yang baik. Bagian barat P. Permasalahan lain yang menyebabkan keruntuhan bangunan rumah adalah sebagai berikut :    Bangunan tidak mengikuti prinsip-prinsip dasar bangunan tahan gempa. Maksud dan Tujuan Paparan ini dimaksudkan untuk dipakai dalam merencanakan dan melaksanakan rumah berdinding tembok tahan gempa yang dibangun secara spontan. Kegagalan sering terjadi pada sudut bukaan Kerusakan yang terjadi pada dinding . juga tergantung pada luas bidang dinding. penurunan tanah dan likuifaksi (pelulukan). Ketidak-adaan pengetahuan teknik serta keterampilan dalam membangun rumah berdinding tembok. denah bangunan berbentuk persegi teratur dan simetris terhadap sumbu bangunannya. beban gempa yang bekerja pada dinding tembok bersifat tidak menentu. Sumatra 6. Jenis tanah pasir sangat halus dan tanah liat yang sensitif harus dihindari karena akan rusak jika digoncang oleh gempa bumi. kegagalan tanah dapat terjadi dalam bentuk tanah longsor. Dalam peristiwa gempa bumi tersebut.5. Faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan pada bangunan adalah sebagai berikut:    Kondisi tanah dan geologi Kondisi tanah mempengaruhi kerusakan pada bangunan. Sedangkan tujuannya adalah untuk mengurangi dampak kerusakan yang merugikan dan membahayakan keselamatan manusia akibat bencana gempa.

rasio agregat halus yang dipakai. Tebal plesteran beserta acian tidak boleh lebih dari 1. volume yang besar dan permukaan yang luas memberikan peluang yang semakin besar bagi terjadinya keretakan. Retakan pada dinding atas karena beban terpusat Pola retakan berbentuk miring diagonal. Kegagalan pada sudut-sudut dinding. setelah itu diberi lapisan plesteran maksimum 10 mm. Acian (campuran PC dan air) terlalu tebal juga menyebabkan keretakan. dimana penyusutan ini sangat ditentukan oleh jumlah air semen yang dipakai. Tebal acian yang baik adalah 0. kehancuran setempat.       Dinding cenderung retak pada arah diagonal akibat beban tarikan. Tembok yang diplester harus dibasahi dengan sikat untuk menghilangkan debu dan meratakan penghisapan dari pasangan tembok. sehingga pada pertemuan antara pasangan tembok dan kolom-kolom praktis terdapat retakan. keretakan ini dapat dihindarkan dengan memasang balok perata beban berupa balok ring atau balok pengikat keliling yang meliputi seluruh bagian atas dinding. Retak pada daerah bukaan Retakan pada sudut bukaan disebabkan pengaruh penyusutan dan pemuaian kusen kayu.5 mm sampai dengan 1 mm. Kegagalan dinding pada sudut bukaan Kegagalan dinding amping yang tidak diperkuat Kegagalan akibat beban geser. Persyaratan bahan dan pengerjaan .3 mm. proses penguapan sehubungan dengan temperatur dan penyerapan oleh bahan lain misalnya oleh batu bata Tebal plesteran dan acian Plesteran yang terlalu tebal ± 3 cm menyebabkan pengerjaan yang sempurna sulit diperoleh. kemudian diberikan lapisan kamprotan dengan tebal 2 mm . karena akibat grafitasi semakin besar pada adukan. retak pada dinding berbentuk horizontal Keretakan awal pada dinding tembok disebabkan      Susut bahan Susut bahan selalu terjadi pada setiap campuran adukan maupun plesteran. Dinding-dinding cenderung untuk berpisah akibat hubungan dinding yang tidak benar. Dinding cenderung runtuh akibat beban permukaan.3 cm Pelaksanaan konstruksi Sudah menjadi sifat dari adukan dengan nilai campuran yang berbeda akan menghasilkan nilai susut bahan yang berbeda pula. tidak mampu menahan momen guling. terakhir lapisan acian.

Sesaat belum dipakai.8 menit dalam air bersih. bata harus dibasahi dulu dengan air dengan merendamnya 2 . tumpukan batako dilindungi kemungkinan menajdi basah atau lembab dengan ditutupi lapisan plastik. jangan merendam batako kedalam air. Berdasarkan pengalaman penelitian komposisi campuran adukan 1PC : 5PS dan 1PC : 6PS memenuhi persyaratan teknis pasangan bata. Bahan pengikat semen mempunyai proses pergeseran relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan bahan pengikat lain. atau ¼PC : 1Kp : 6Trs memenuhi persyaratan teknis dan sedikit retakannya. sebelumnya pada tumpukan paling bawah diberi alas papan. Untuk mendapatkan kekuatan geser dan kekuatan lentur yang cukup dibutuhkan adukan yang mempunyai kekuatan tekan minimal harus sama dengan kekuatan tekan bata maupun batako pasangannya. daya ikat semen tinggi sedangkan penyusutannya termasuk rendah. Hasil produksi bata merah tidak lazim diuji. Bahan . bebas dari debu dan kotoran lain yang menempel. Kapur sebaiknya direndam dulu sebelum digunakan selama 18 . batako perlu dibawahi dengan menyapukan kuas basah. tidak mudah pecah. Kualitas tanah lempung sebagai bahan mentah 2. Proses pembakaran Penyimpangan tumpukan bata sedemikian rupa sehingga terlindung dari kelembaban tanah dan hujan. sedangkan bahan pengisi adalah pasir atau trass. tumpukan diberi penutup plastik. bebas dari debu dan kotoran yang menempel.24 jam. Berdasarkan pengalaman komposisi adukan untuk pemasangan batako adalah ¼PC : 1Kp : 5Trs. Dari hasil penelitian sebaiknya dipakai batako yang mempunyai umur lebih dari 2 bulan (4). bila diketuk ringan dengan benda keras berbunyi nyaring. sudutsudutnya siku-siku. Kualitas bata merah yang rendah disebut "bata rakyat" dan kualitas yang menengah dan baik disebut "bata pabrik". dan penyusutannya besar yang menyebabkan retak-retak. Pada lapisan paling bawah tumpukan diberi alas yang kering. Bahan pengikat adalah semen atau kapur. Adukan pasangan tembok Adukan adalah campuran dari bahan pengikat. Pada saat hendak dipakai. bahan pengisi dan air. tidak mudah patah atau pecah.   Batako Ukuran dan bentuk harus benar. Bata Merah Ukuran dan bentuk bata harus benar. Tinggi rendahnya kualitas bata merah ini bergantung pada: 1. Bahan pengikat kapur mempunyai proses pengerasan lama. Metode serta pengawasan proses pengolahan dan percetakan 3. sudut-sudutnya sikusiku dan tidak mudah direpihkan dengan jari. Fungsi adukan dalam pemasangan adalah pengikat antara bata atau batako juga meratakan permukaan atas pemasangan adalah pengikat antara bata atau batako juga meratakan permukaan atas pasangan tembok.

Adukan diletakan. tebal adukan siar ± 1 cm. Pasangan bata/batako yang baru selesai perlu dilindungi dari hujan dan terik matahari. ditentukan dengan rumus t = (Kg/ cm²) P = Beban (Kg) A = Luas bidang geser (cm²) Kuat geser diagonal. Pengujian yang dilakukan terhadap bahan dan pasangan. adalah sebagai berikut: o Bentuk dan ukuran Bentuk bata maupun batako yang prismatis dan mempunyai sudut siku sangat membantu dalam kemudahan pemasangan dan menambah produktivitas pekerjaan. untuk penyesuaikan posisi cukup digeser kedepan dan belakang secara mendatar. dengan variasi 3 mm. 2. pasangan tembok diberi plesteran yang gunanya untuk melindungi tembok dari pengaruh cuaca. pengaruh mekanik dan untuk meratakan permukaan pasangan. 3.2 minggu. Pasangan harus tetap datar dan tegak lurus. Sedangkan air untuk adukan dipakai air bersih.pengisi agregat harus keras dan bergradasi baik. o Kuat tekan Harga kuat tekan ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: stk = (Kg/ cm²) P = Beban tekan (Kg) A = Luas permukaan yang ditekan (cm²) o Kuat lentur dan modulus elastisitas untuk mengetahui kemampuan lentur dalam arah tebal maupun arah lebar. siar antara dinsing dan kolom maupun balok harus terisi penuh. Semua siar vertikal. Dengan cara ini kita meletakannya pada posisi yang dituju sekaligus ujungnya menggaruk/mendorong sedikit adukan. ditentukan dengan rumus t = (Kg/ cm²) Pv = Beban vertikal (Kg) A = Luas bidang geser (cm²) Pekerjaan pemasangan 1. bata/batako diletakan dengan cara seolah-olah pesawat udara mendarat. Sebagai penutup. . Kuat lentur ditentukan dengan rumus stk = (Kg/ cm²) Sedangkan Modulus Elastisitas dihitung dengan: E = 1/4 (Kg/ cm²) o Kuat geser Sejajar siar. dengan jalan ditutup dengan lembaran plastik. atau cara perlindungan lainnya. atau disirami/diperciki air tiap hari selama 1 . cukup untuk satu buah. pada pemasangan digunakan tali pelurus. o Penyerapan (absorbsi) Daya serap yang rendah nilainya dapat mengurangi penggunaan air pada adukan yang akan digunakan untuk pemasangan.

Pintu dan jendela (bukaan) Luas bukaan dinding harus lebih kecil dari 50% dari luas dindingnya. 5. 3 pada tanah lunak atau pada wilayah 1 dan 2 pada tanah keras. balok pengikat atau balok keliling yang biasa disebut rangka bangunan yang dapat dibuat dari beton bertulang maupun kayu. Semua kolom harus dilengkapi angkur dengan Ø 8 mm panjang 30 cm. Setiap luas dinding maksimum 6 m² harus dipasang kolom praktis beton bertulang selain rangka beton bertulang. Pada pertemuan antar dinding dibuat kolom praktis dengan tulangan utama 4 Ø 10 dan tulangan sengkang Ø8 jarak 10 cm. Mutu campuran beton yang dianjurkan minimum perbandingannya adalah 1PC : 2PS : 3Krl. 2. Kadar lumpur maksimum 5% untuk pasir dan 1% untuk kerikil. Pembahasan . Perkuatan dengan Rangka 1. dengan panjang penyaluran 50 cm. Hubungan balok pondasi memakai angkur Ø 10 mm setiap 1 m 4. Kusen bukaan harus dipasang angkur Ø 8 mm panjang 30 cm pada setiap 6 lapis bata atau 3 lapis batako. 6.5) bagian. Tulang utama minimum untuk kolom 4 Ø 12 mm dengan sengkang Ø8 jarak 10 cm. 3.4. Untuk kusen dipakai kayu yang kering udara. Berdasarkan penelitian (5). Perkuatan dengan rangka beton bertulang. dan tulangan sengkang Ø 8 jarak 15 cm Hubungan antara balok dan kolom pinggir. ditengah ampig. perkuatan dengan rangka kayu tidak boleh dibangun diwilayah 1. sedangkan tulangan memanjang balok menggunakan diameter minimum Ø 12 mm. Pencampuran bahan tersebut menggunakan air setengan (0. bahan pasir dan kerikil harus bersih dari lumpur. Kuda-kuda diangkur dengan baik ke kolom atau ke balok keliling dengan Ø 12 mm. Kecakapan pekerja Ketrampilan kerja atau kecakapan tukang yang melaksanakan pekerjaan pasangan adalah sangat penting karena merupakan penentu terhadap kualitas pekerjaan pasangan. Perkuatan dengan rangka beton bertulang boleh dibangun diseluruh wilayah gempa. Bangunan tembok dengan perkuatan sangat dianjurkan untuk daerah rawan gempa. Pada ampig harus diberi perkuatan berupa kolom penerus dari kolom dibawahnya. maksimum setiap 6 lapis bata atau 3 lapis batako. Bila tukang yang mengerjakan mempunyai pengetahuan cukup tentang sifat-sifat bahan dan mempunyai keterampilan yang baik maka biarpun bahan jelek akan menghasilkan pasangan yang relatif baik. Perkuatan pada dinding tembokan merupakan kolom praktis. 2. balok pondasi.

2. Untuk membangun bangunan rumah tembok sesuai ketentuan konstruksi bangunan tahan gempa dengan memperhatikan : 1. dimana tebal kamprotan 2 mm .3 cm. 3. bangunan yang roboh itu sebagian besar merupakan bangunan berdinding tembok yang dibangun secara spontan dan menurut kebiasaan setempat yang tidak benar untuk daerah gempa. tebal siar sama dengan tebal adukan.Sampai saat ini masyarakat belum dapat berbuat banyak untuk mencegah terjadinya gempa bumi. balok pondasi dan balok pengikat keliling. Persyaratan bahan yang meliputi persyaratan bata merah. Detail sambungan antar unsur bangunan sangat penting. tebal adukan ± 1 cm.5 mm . bisa dibuat dari beton bertulang atau kayu. dengan panjang penyaluran tulangan 50 cm. dengan baik pada kolom atau pada balok perata keliling. Pemasangan banyaknya kolom praktis berdasarkan luas permukaan dinding yang berguna untuk mencegah keruntuhan dinding akibat beban permukaan. Kesimpulan 1. dengan variasi 3 mm. semua unsur bekerja bersama-sama sebagai satu kesatuan. Prinsip utama bangunan tahan gempa adalah adanya kesatuan dari struktur bangunan. Perkuatan pada dinding tembok merupakan kolom. Tebal plesteran beserta acian tidak boleh lebih dari 1. Perkuatan rangka. o Hubungan balok pondasi (sloof) dengan pondasi memakai angkur Ø 10 mm setiap jarak 1 meter. 2. Tahapan pekerjaan harus memenuhi persyaratan teknis. jadi tidak bekerja secara terpisah. rangka perkuatan dinding balok dengan kolom. Begitu pula antara kusen bukaan dengan dinding tembok menggunakan angkur Ø 8 mm o Rangka kuda-kuda harus diangkur Ø 12 mm. o Pemasangan dinding tembok Pasangan harus tetap datar dan tegak lurus.1 mm. semua siar terisi penuh. Dari pengalaman bencana gempa bumi di Indonesia. o Hubungan antara kolom pengaku dinding dengan dinding tembok menggunakan angkur Ø 8 mm panjang 30 cm setiap 6 lapis bata atau 3 lapis batako. Pekerjaan pemasangan sangat penting karena merupakan penentu terhadap kualitas pekerjaan pasangan tembok. Semua bahan harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku. . baik balok pondasi maupun balok pengikat keliling dinding.3 mm dan tebal acian 0. batako dan adukan untuk pasangan tembok. mereka hanya bisa mengurangi akibat buruk yang ditimbulkan oleh gempa bumi dengan merencanakan dan membangun atau memperkuat bangunan rumahnya. antara lain: o Hubungan unsur rangka beton bertulang.

o Luas bukaan dinding harus lebih kecil dari 50 % dari luas dindingnya. Daftar Pustaka      Analisa kerusakan dinding bangunan gedung laboratorium KIM Serpong. Percobaan "Rumah Bata Merah Berangka Kayu" terhadap gaya lateral gempa.B. bila lebih ditambah kolom praktis secara proporsional. 1984. Tular dkk. 1994 Teknologi adukan dan pasangan tembok. Puslitbang Permukiman. 30 & 31 Th. 1984 Manual perbaikan bangunan sederhana yang rusak berat akibat gempa bumi. Ir. Oleh: Murdiati Munandar Buletin Pengawasan No. DPMB. Perkuatan dinding untuk luas dinding lebih kecil dari 6 m². Konstruksi Rumah Sederhana Tahan Gempa. R. 2001 . Teddy Boen & Rekan. Ir. Rumah batako. DPMB. 1987.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful