TATA GERAK SIKAP TUBUH Untuk apa Tata, Gerak dan Sikap Tubuh?

Sebagai perayaan manusiawi, Perayaan Ekaristi juga memerlukan ekspresi diri manusiawi. Maka, tata gerak atau sikap tubuh seluruh jemaat dan para pelayan-nya juga menjadi bagian terpenting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan Gereja yang sedang berdoa.

Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat tentu punya maksud. Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Suci. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula.

[2] makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh.Maka. jika dilakukan dengan baik: [1seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun. Bolehkah mengubah? . dan [3] partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan (PUMR 42).

” Apakah perlu diubah? Pertanyaan ini bisa dilontarkan ketika cita rasa budaya setempat (Gereja lokal) dirasa berbenturan dengan praktek liturgi yang disarankan Takhta Apostolik (Roma) dalam Pedoman Umum Misale Romawi. pelayan awam. PUMR 43 juga: “…sesuai dengan ketentuan hukum. Tapi. mungkin tidak perlu dikuatirkan. Bagaimana supaya kompak? Ada beberapa cara. Makna masing-masing: . Maka. atau imam.” Cara praktisnya: [1] Ada petugas yang “mengajak” umat untuk melakukan tata gerak tertentu selama perayaan berlangsung. Jika umat sudah mengenal dan terbiasa. umat hendaknya mengikuti petunjukpetunjuk yang diberikan oleh diakon. seenak pelayan atau jemaat dan tanpa pemikiran-pertimbangan yang cukup matang.1. selaras dengan petunjuk bukubuku liturgis. Tentu saja perubahan itu tidak dilaksanakan secara gegabah atau serampangan. Mungkin dalam teks atau buku Misa (dalam rubrik) juga dicantumkan bagaimana tata geraknya. Tidak secara mutlak dilarang. umat dipersilakan menyimak setiap petunjuk yang tertulis dalam buku tersebut. kurang sreg. hendaknya Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian Perayaan Ekaristi yang bersangkutan. khususnya yang berkaitan dengan tata gerak dan peran umat pada umumnya. atau ada perbedaan makna. wewenang itu bukan diserahkan kepada “selera pribadi”. PUMR 43 juga menyebutkan: “Demi keseragaman tata gerak dan sikap tubuh selama perayaan. pesan PUMR 42 sebaiknya diperhatikan dengan baik: “…ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawi serta kesejahteraan rohani umat Allah harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan. [3] Jika ada buku Misa untuk umat. perlulah mengadakan semacam penelitian atau studi dialogis antara budaya setempat dengan pemahaman teologis dan liturgisnya. Namun. Maksudnya. maka kiranya tata gerak dan sikap tubuh yang ada dalam buku Pedoman bisa saja ditinjau kembali dan kemudian—jika dianggap perlu—diserasikan dengan cita rasa budaya jemaat setempat. khususnya untuk tata gerak yang baru atau belum biasa dilakukan umat. Jadi. sebelum perayaan dimulai. Sebaiknya sudah ada dulu petunjuk tata gerak untuk umat.” 2. Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. [2] Umat dapat diberi petunjuk sebelum perayaan mulai. jika jemaat merasa tidak cocok. 3.

yang terpanggil.1. Gembira atas kebersamaan dan persaudaraan di dalam Kristus. di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). jiwa yang siaga di hadapan Allah. Maka. Orang kristiani adalah pribadi yang komuniter. maka diperlukanlah keyakinan dan sikap yang sama. tidak anarkis. tetap utuh. khususnya dalam “tempat kudus”. Liturgi mengundang kita untuk menemukan kembali panggilan kita. Makna “berkumpul” Berkat pembaptisan kita dijadikan satu keluarga dalam Gereja yang kudus. Kita berdiri karena kita berada di hadapan yang me-nentukan dan menguasai hidup kita. Kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi. selalu terpaut dalam kebersamaan. Dalam nama Bapa dan Putera. 2. Kita tidak sendirian. Kita berkumpul sebagai orang-orang pilihan. kita juga dipersatukan oleh Roh Kudus. berkumpul juga menjadi tanda kehadiran Kristus sendiri: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku. Agar pertemuan itu tidak kacau. menjadi umat Allah. Itu tampak ketika kita berkumpul. Selain itu. berkarya dengan dan bagi saudara-saudari dalam perayaan yang dinamis. yang dicintai Allah. siap bertemu dan berdialog dengan yang Ilahi. berkumpul adalah bagian dari tata gerak kolektif. yang memberi kekuatan dan menjaga kita. Berdiri menyatakan keyakinan dan perasaan yang utuh. suatu perayaan bersama yang bukan tanpa aturan. . Makna “berdiri” Sikap tubuh ini mengungkapkan kegembiraan jemaat. yakni tumbuh dalam kesatuan. Di sinilah letak pentingnya suatu pedoman atau aturan bersama.

Maka dari itu. sangatlah tepat bila kita berdiri khususnya pada saat menyatakan iman (Syahadat) dan Doa Syukur Agung. di beberapa gereja ada juga yang memberla-kukan “berdiri” selama Masa Paskah.akrabannya dengan Allah. Kegembiraan Paskah mengantar perjalanan kita menuju Allah. bahkan juga duduk Kapan “berdiri”? Untuk umat. tidak ada berlutut. Jemaat yang berdiri juga meng. Kita berdiri untuk menghormati Allah yang Maha tinggi itu (bdk.ungkapkan persaudaraan yang hidup. Kita seolah berdiri bersama Yesus Kristus berada di Yerusalem surgawi. Kej 18:8). [c] pada waktu Injil dimaklumkan. terlibat penuh dalam kemenangan Paskah yang dibawakan oleh Kristus. PUMR 43 menyebut: [a] dari awal nyanyian pembuka. Kita berpartisipasi. Maka. Kita mengakui secara terbuka bahwa wafat dan kebangkitan Kristus (Misteri Paskah) adalah dasar kehidupan kita. [b] pada waktu melagukan Bait Pengantar Injil (dengan atau tanpa “alleluya”).Berdiri untuk menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Allah Tuhan kita. atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan Doa Pembuka selesai.kan rasa syukurnya dan ke. Inilah dasar kegembi-raan kita. yang dipersatukan bagi dan oleh Allah. . Jemaat yang berdiri menunjuk.

misalnya. Saudara…” sebelum Doa Persiapan Persembahan hingga akhir Perayaan Ekaristi. 3. kecuali pada saat-saat tertentu yang ditentukan tersendiri Untuk Imam Selebran.[d] selama Syahadat (Credo). Saat dan makna “duduk” . saat-saat berdirinya hampir sama dengan jemaat. ia dapat berdiri atau duduk di kursi imam. [f] dari ajakan “Berdoalah. Ada beberapa perbedaan. sementara jemaat dapat berdiri atau berlutut. pada saat Doa Syukur Agung ia harus tetap berdiri memimpin. pada saat menyam-paikan Homili. [e] selama Doa Umat.

saling mempersatukan diri. sementara Marta sibuk melayani para tamunya. jiwa kita memasuki . ia sedang mendengarkan atau mencerna suatu pesan. Misalnya. saling berbagi pengalaman. yang tidak akan diambil daripadanya” (Luk 10:39). Maknanya sesungguhnya luas. setelah perjalanan panjang dan perjuangan hidup di dunia: “Barangsiapa menang. orang-orang mendengarkan Dia dengan duduk memperhatikan (Mat 5:1).adaan batin tertentu juga bisa digambarkan dengan duduk. sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (Why 3:21). saat istirahat nanti. aman. Ini menggambarkan dimensi eskatologis. Ini adalah saat epiklesis juga. Allah sendiri ingin agar kita dapat subur dan berbuah berkat sabda-Nya. [b] selama Homili. karena kita memang sedang bersatu dengan Allah. saat Maria yang sedang duduk mendengarkan Yesus. kitapun berharap agar Allah berbicara atau menyatakan diri-Nya kepada kita. Duduk menerbitkan rasa damai.PUMR 43: Jemaat hendaknya duduk: [a] selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan. Pada saat kita duduk. Ke. sikap ini ada dasar biblis-nya. ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku. [c] selama persiapan persembahan. Khusus untuk yang berkaitan dengan Liturgi Sabda. duduk juga berarti kesediaan untuk saling mendengarkan.tuk menemukan makna hidupnya yang sejati. Orang seolah mendambakan un. Yesus berkata: “Maria telah mengambil bagian yang terbaik. Maka. Sikap duduk bisa menggambarkan saat orang mengharapkan sesuatu. Atau. Kita berharap agar sabda Allah sungguh menyirami dan menyegarkan hati kita. percaya. saat Yesus mengajar. Setiap kali duduk. Dengan duduk pun kita menyambut sabda-sabda Allah itu dengan hati terbuka. [d] selama saat hening sesudah komuni.

kedamaian yang membantu kita untuk menerima sabda ilahi dan mencicipi komunikasi dengan Allah nanti. dan segala lidah mengaku: „Yesus Kristus adalah Tuhan‟. Ini adalah tanda sembah sujud (PUMR 274). Ada makna yang mendalam. bagi kemu. untuk menghormati. sekaligus menandakan kerinduan kita untuk hadir dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus. sehingga umat dapat mengikuti dan mengambil bagian dalam perayaan dengan baik 4. Tuhan kita. atau tempat duduk apa pun. Bisa duduk dengan enak. “Berlutut” mengungkapkan pengakuan iman kita akan Misteri Paskah. tidak terusik apa pun. tidak gerah. Duduk di mana? Pengertian “duduk” pada umumnya mengandaikan adanya kursi. Bagaimana “berlutut” dan apa maknanya? Cara wajar untuk “berlutut” adalah dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai. memang ideal. Tentu saja hal ini bukan sekedar tindakan ritual. Kita pun melakukannya untuk meniru kesengsaraan Kristus ketika disalib supaya boleh mengalami anugerah kebangkitan-Nya. Maka kondisi tempat duduk sebaiknya juga mendukung maksud sikap duduk kita.liaan Allah Bapa!” (Fil 2:10-11). Sikap berlutut merupakan bentuk perendahan diri karena hadir di hadapan Tuhan. bangku. Seperti kata Paulus: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. Sikap ini mengajar kita untuk hidup sehari-hari seperti .

Keduanya juga bisa dilakukan baik oleh imam maupun jemaat. yakni pada saat konsekrasi atau selama Doa Syukur. entah karena sebab-sebab lain. Kita pasrah dan mengakui kelemahan kita di hadapan Allah. Sudah jamak terjadi bahwa di banyak gereja di Indonesia. memang ada dua macam cara “berlutut”. Doa Persiapan Persembahan. Jadi. yakni pada waktu setelah mengangkat Tubuh/Darah Kristus (Doa Syukur Agung) dan sebelum menyambut Tubuh-Darah Kristus (Ritus Komuni). Mungkin itu karena pertimbangan budaya atau sekedar salah kaprah. Doa Umat. Sementara PUMR 43 menegaskan: “Umat berlutut pada saat konsekrasi. kekalahan”. ada juga makna tersendiri untuk “berlutut lama” Biasanya orang berlutut lama untuk berdoa secara pribadi. …kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung. Kita juga ingin menyelaras-kan diri dengan Kristus. . kebiasaan yang kurang tepat tapi seolah sudah dianggap benar. dengan sikap tubuh itu. jemaat berlutut beberapa kali. saat Ritus Tobat. “Berlutut sejenak” (dengan satu lutut di lantai) atau “berlutut lama” (dengan dua lutut di lantai). entah karena banyaknya umat yang hadir. jemaat di sini berlututnya dengan cara menekuk kedua lutut di atas lantai atau tempat lutut khusus. Doa Syukur Agung. misalnya saat menyanyikan Litani Para Kudus. Jemaat hanya satu kali? Dalam suatu Misa. Saat itu pula. Ada banyak motivasi atau alasan mengapa orang itu berlutut. Putera-Nya. Di hadapan Allah. Misalnya. kita mengungkapkan isi batin kita dan menyembah Allah. kebiasaan ini seyogyanya dipertahankan. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi. Doa Pembuka. Sang Sumber Hidup. kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengizinkan. Sikap tubuh ini menunjukkan semangat kerendahan diri yang menguasai hati dan jiwa kita. Berlutut bisa menandakan “kegagalan. Imam “berlutut” tiga kali. dsb.” Jelas sekali bahwa hanya ada satu kesempatan untuk berlutut. Perlu ditambahkan. imam mempunyai kesempatan berlutut tiga kali (PUMR 274).yang dilakukan Kristus. Kita diantar untuk bersatu dalam persembahan diri dan kurban-Nya yang suci. kita ini tidak ada apa-apanya.

ketika para pelayan Misa (putera altar. miring ke kiri-ke kanan. 5. lilin. lelehan lilinnya jatuh ke lantai atau ke tangan putera altar yang memegangnya karena dia harus berlutut. bisa tampak tidak indah dan kurang menarik jika salib yang mestinya tetap tegak ternyata jadi miring lantaran pemegangnya sedang berlutut atau membungkuk. atau Kitab Injil harus menghormati Sakramen Mahakudus atau altar. Tanda penghormatan lain: “membungkuk” . “menundukkan kepala” dilakukan juga ketika mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus. benda-benda simbol Kristus itu harus tetap tampak anggun. bentuk kepasrahan diri ini diungkapkan dalam tata gerak “tiarap” atau “merebahkan diri” untuk mereka yang akan ditahbiskan Kapan lagi harus “berlutut”? Saat kita masuk ke gedung gereja. Maka. lektor. kita diminta tetap menun-jukkan nilai kehormatannya. Lagipula. seperti Kitab Injil dan salib. dupa. “berlutut” (juga “membungkuk”) bisa diganti dengan “menundukkan kepala”. tidak tampil naik turun.Berlutut lama semacam ini juga mengungkapkan keyakinan kita bahwa Allah yang telah memulai itu akan juga menggenapi semua karya-Nya di dalam diri kita. biasanya kita berlutut. dapat diartikan kita menghormati gereja sebagai tempat yang kudus. kita diharapkan memberi penghormatan dengan cara berlutut. dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan. Atau. “Berlutut” diganti “menundukkan kepala” Untuk kesempatan tertentu. terutama jika di dalamnya terdapat Sakramen Mahakudus itu. Secara lebih dramatis lagi. nama Santa Perawan Maria. nama Yesus. Misalnya. karena si pemegang harus berlutut dan berdiri segala. Mengapa perlu diganti? Pembawa benda-benda itu biasanya akan kerepotan jika harus berlutut sementara masih membawa sesuatu. Jika tidak ada tabernakelnya (tempat Sakramen Mahakudus yang menjadi simbol kehadiran Kristus yang abadi). Sikap ini memang belum termasuk tata gerak dalam Perayaan Ekaristi. Namun. kecuali pada saat dalam perarakan. Mengapa? Sebenarnya kita hendak menghormati Sakramen Mahakudus. pada prinsipnya setiap kita mendekati atau melewati Sakramen Mahakudus. sebelum duduk. setelah membuat tanda salib dengan air suci. Menurut PUMR 275a. Khusus untuk benda-benda simbolis yang berkaitan dengan diri Kristus. diakon) sedang membawa salib.

Mencium . [4] dalam persiapan persembahan. PUMR 275b menjelaskan: “Membungkukkan badan atau membungkuk khidmat dilakukan waktu: [1] menghormati altar. pada bagian ini umat dapat berlutut). ya Allah yang Mahakuasa…. Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil.” 6. [3] dalam Syahadat.Masih ada satu lagi sikap tubuh yang melambangkan sikap penghormatan. [5] dalam DSA 1 pada kata-kata Allah yang Mahakuasa. utuslah malaikat-Mu…. waktu mengucapkan kata-kata …dan Ia menjadi manusia (namun pada Hari Raya Natal dan Kabar Gembira kepada Maria. Kecuali itu. imam juga membungkuk sedikit waktu mengucapkan „Tuhan‟ pada saat konsekrasi: “Terimalah…. waktu mengucapkan doa Dengan rendah hati dan tulus. waktu mengucapkan doa Sucikanlah hati dan budiku. [2] sebelum memaklumkan Injil.

nya. mungkin juga di budaya lain?). Misalnya. di atas kepala. Konferensi Uskup berwenang menggantinya dengan cara penghormatan yang lain. namun baik juga jika dipertimbangkan sebagai sikap bersama. di depan dahi. Beberapa tata gerak Imam lainnya . setelah mengucapkan kata-kata konsekrasi.Altar dan Kitab Injil dihormati oleh imam dan diakon dengan “mencium” atau “mengecup”. ada lagi…?) bermakna suatu penghormatan. kalau men. Mungkin cara menyembah dengan dua tangan terkatup yang diangkat (di depan hidung. deng. Maka.tolik (PUMR 273). Meskipun sering dianggap sebagai sikap pribadi. Akan tetapi. agar tata cara “menyembah” itu selaras dengan maksud ritualnya dalam Liturgi Ekaristi. dengan cara menempelkan kepala atau kening pada benda tersebut atau meletakkan telapak tangan pada benda yang dihormati itu. Adakah “menyembah”? Buku TPE 2005 untuk Umat (dalam “Petunjuk Praktis” hlm. cara “menyembah ternyata hanya dilakukan oleh umat yang berlatar belakang budaya tertentu itu. Dicari tahu bagaimana yang sebenarnya dan apa pula maknanya. Ada berapa cara “menyembah” sesungguhnya? Karena yang tampak ternyata beraneka ragam. 8. Cara “menyembah” memang tidak berlaku untuk seluruh gereja di Indonesia.cium tidak sesuai tradisi atau kekhasan daerah setempat. Itu perlu diselidiki dalam budaya yang memilikinya. 7) menyebut sikap “menyembah” pada waktu Imam memperlihatkan Tubuh dan Darah Kristus.an persetujuan Takhta Apos. 7. Cara ini rupanya lebih dipengaruhi oleh budaya tertentu di tanah air kita (Jawa dan Bali.

[1] Merentangkan tangan. Tata gerak ini juga dilakukan oleh diakon sebelum membawakan Injil (“Tuhan sertamu…”). Dari istilah ini kita tentu langsung bisa membayangkan bahwa pelakunya lebih dari satu orang. istilah tata gerak mencakup juga segala jenis pera-rakan. [2] menumpangkan tangan di atas objek (bahan persembahan) atau subjek (orang. dilakukan ketika imam membawakan doa-doa presidensial.kan kepada Allah atau di. ada beberapa perlengkapan pendukung “per. Perarakan juga bagian dari tata gerak Seringkali terlupakan bahwa “per.dungi bangsa Israel dari kejaran tentara Mesir. [3] mengangkat bahan per. seperti: .tunjukkan kepada jemaat (dalam Doa Syukur Agung dan Ritus Komuni: “Inilah Tubuh-Ku/Darah-Ku”. umat) sebagai lambang turunnya Roh Kudus (epiklesis). yang menghasilkan rah. 9. Tata gerak ini meniru Kristus yang terentang tangan-Nya di kayu salib atau Musa yang sedang berdoa agar Allah melin. Juga. Maka. [4] membuka tangan dan mengatupkannya lagi sebagai tanda ajakan (“Marilah kita berdoa”) kepada jemaat.arakan” itu. “Inilah Anak Domba Allah”).sembahan (roti/sibori dan anggur/piala) untuk dihunjuk.arakan” juga merupakan tata gerak.mat pengudusan (“…utuslah Roh Kudus-Mu…”).

dan diiringi dengan nyanyian yang serasi (PUMR 44). Suryanugraha. [3] perarakan umat beriman yang meng-antar bahan persembahan dan maju untuk menyambut komuni. [2] perarakan diakon yang mem. C. Perarakan itu menandakan suasana kemeriahan.[1] tindakan dan perarakan imam bersama diakon dan para pelayan menuju altar.) . bisa juga dengan tarian atau ekspresi budaya lainnya.bawa Kitab Injil menuju mimbar sebelum pemakluman Injil. OSC (seijin Aegidius Eko Aldilanto O. H. Bahkan kalau dirasa perlu. sesuai dengan kaidah masing-masing. Carm. Maka. hendaknya tata gerak ini dilaksanakan dengan anggun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful