Dampak Penggunaan Minyak Jelantah Pada Kesehatan

Minyak goreng termasuk sembilan bahan pokok kebutuhan sehari-hari. Tapi tidak banyak orang memahami dampak penggunaan minyak goreng terhadap kesehatan jika digunakan tidak sesuai kaedah, semisal menggunakan minyak goreng berulang-ulang. Umumnya, minyak goreng digunakan untuk menggoreng dengan suhu minyak mencapai 200-300 °C. Pada suhu ini, ikatan rangkap pada asam lemak tidak jenuh rusak, sehingga tinggal asam lemak jenuh saja. Risiko terhadap meningkatnya kolesterol darah tentu menjadi semakin tinggi. Selain itu, vitamin yang larut di dalamnya, seperti vitamin A, D, E, dan K ikut rusak. Kerusakan minyak goreng terjadi atau berlangsung selama proses penggorengan, dan itu mengakibatkan penurunan nilai gizi terhadap makanan yang digoreng. Minyak goreng yang rusak akan menyebabkan tekstur, penampilan, cita rasa dan bau yang kurang enak pada makanan. Dengan pemanasan minyak yang tinggi dan berulang-ulang, juga dapat terbentuk akrolein, di mana akrolein adalah sejenis aldehida yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan, membuat batuk konsumen dan yang tak kalah bahaya adalah dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker dalam hati dan pembengkakan organ, khususnya hati dan ginjal. Minyak goreng yang telah dipakai secara berulang-ulang, akan mengalami beberapa reaksi yang dapat menyebabkan menurunkan mutu minyak. Pada suhu pemanasan sampai terbentuk akrolein. Minyak yang telah digunakan untuk menggoreng akan mengalami peruraian molekul-molekul, sehingga titik asapnya turun. Bila minyak digunakan berulang kali, semakin cepat terbentuk akrolein. Yang membuat batuk orang yang memakan hasil gorengannya. Jelantah juga mudah mengalami reaksi oksidasi sehingga jika disimpan cepat berbau tengik. Selain itu, minyak jelantah juga disukai jamur aflatoksin sebagai tempat berkembang biak. Jamur ini menghasilkan racun aflatoksin yang menyebabkan berbagai penyakit, terutama hati/liver. Minyak Jelantah merupakan limbah dan bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Jadi, jelas bahwa pemakaian minyak jelantah dapat merusak kesehatan manusia. Menimbulkan penyakit kanker, dan akibat selanjutnya dapat mengurangi kecerdasan generasi berikutnya. Selanjutnya, proses dehidrasi (hilangnya air dari minyak) akan meningkatkan kekentalan minyak dan pembentukan radikal bebas (molekul yang mudah bereaksi dengan unsur lain). Proses ini menghasilkan zat yang bersifat toksik (berefek racun) bagi manusia.

32%).ac. kandungan karoten pada minyak tersebut menurun setelah penggorengan pertama. Artikel Bahaya Minyak Jelantah.org http://mutiara.8% konsumen.Penelitian yang dilakukan oleh Sudaryati dan Albiner Siagian (2002) mengatakan bahwa pengetahuan produsen(penjual gorengan) dan konsumen jajanan gorengan mengenai pemanfaatan minyak goreng dan akibat samping yang ditimbulkan terbesar termasuk dalam kategori kurang yaitu 94. Kandungan asam lemak tidak jenuh pada minyak yang belum dipakai (53.usu. yang terbanyak pada produsen adalah sedang (77. Diakses. 1 kali pakai (53. dan berbusa.96%).8%) dan pada konsumen adalah baik (75%). frekuensi pemakaian minyak goreng ≥3 kali pada produsen semuanya berpengeta huan kurang(100%). Minyak jelantah sebaiknya tidak digunakan lagi bila warnanya berubah menjadi gelap. dan kanker. Dimana.id/bitstream/123456789/20973/5/Chapter%20I.org/mencermati-lebih-dalam-bahaya-minyak-jelantah/ http://repository. maka semakin tinggi kandungan asam lemak jenuhnya yaitu pada minyak yang belum dipakai (45. 3 kali pakai (46. 2 kali pakai (46. Pada minyak goreng merah.darah tinggi.student.78%). Untuk tindakan. 1 kali pakai (46. Dan hampir semuanya hilang pada penggorengan keempat.69%). Untuk sikap. http://iloaprilio.id Pengaruh Suhu dan Lama Proses Menggoreng TIDAK THOYYIB.18%).95%). jantung koroner . semakin sering digunakan minyak goreng tersebut digunakan. penggunaan minyak jelantah secara berulang berbahaya bagi kesehatan.pdf . Semakin sering minyak goreng tersebut digunakan maka kandungan asam lemak tidak jenuh minyak goreng tersebut akan semakin berkurang.4% produsen dan 77. Penelitian dilakukan untuk melihat perbedaan rata-rata kadar asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh pada minyak goreng yang belum digunakan hingga pemakaian ketiga. 2 kali pakai (53. 3 kali pakai (53.58%). racun.www. pada produsen yang memakai minyak goreng 2 kali hanya 12. Penelitian oleh Jonarson (2004) tentang analisa kadar asam lemak minyak goreng yang digunakan penjual makanan jajanan gorengan di padang menyebutkan bahwa terdapat rata-rata perbedaan jumlah asam lemak jenuh dan tidak jenuh pada minyak goreng yang belum digunakan hingga 3 kali pemakaian.sdm-iptek.5% yang berpengetahuan sedang.ac. Jadi. berbau tengik. Proses oada minyak tersebut dapat membentuk radikal bebas dan senyawa toksik yang bersifat racun. sangat kental. seperti minyak kelapa sawit. MENGGUNAKAN MINYAK JELANTAH BERULANG-ULANG usman.halalmui.09%).umm. dampaknya antara lain: gatal-gatal pada tenggorokan.