P. 1
028 Akbid Skripsi Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian Vitamin a Pada Balita Di Puskesmas Tinggede

028 Akbid Skripsi Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian Vitamin a Pada Balita Di Puskesmas Tinggede

|Views: 4,835|Likes:
Published by Saswin Usman

More info:

Published by: Saswin Usman on Apr 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara cukup bermakna walaupun masih dijumpai berbagai masalah dan hambatan informasi di bidang kesehatan (Depkes RI, 2006). AKB (Angka Kematian Bayi) sebagai salah satu indikator kesehatan bayi yang dewasa ini masih tinggi di Indonesia dibanding AKB di negara lainnya. Menurut data SDKI (Survey Demografi Kesehatan Indonesia) 2009, AKB di Indonesia adalah 29,97 kematian per 1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2009). Sekitar 10 juta balita di Indonesia berisiko kekurangan Vitamin A (KVA) dari jumlah target sebesar 20 juta balita. Prevalensia KVA berdasarkan survey vitamin A tahun 1992, menunjukkan xeraphtalmia sebesar 0,33%, namun secara subklinis prevalensi KVA (kadar serun retinol dalam darah) pada balita sebesar 50%. Di kalangan anak balita, akibat kekurangan Vitamin A (KVA) akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas, anak mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru-paru, pneumonia dan akhirnya kematian. Akibat lain yang berdampak serius dari KVA adalah buta senja dan tanda-tanda lain dari xeropthalmia termasuk kerusakan kornea (keratomalasia) dan kebutaan. Perbaikan status Vitamin A pada anak-anak yang KVA, disertai

1

upaya pengobatan pada semua kasus campak dengan pemberian kapsul Vitamin A dapat mengurangi tingkat kegawatan dari penyakit-penyakit infeksi dan morbiditas di masa anak-anak, sehingga dapat meningkatkan kesempatan bagi kelangsungan hidup mereka (Depkes RI, 2009). Penanggulangan KVA di Indonesia, khususnya pada Balita 6-59 bulan, Departemen Kesehatan RI bekerjasama dengan Helen Keller Indonesia (HKI). Strategi penanggulangan hingga saat ini dilaksanakan melalui pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi, balita dan ibu nifas. Pada Balita diberikan dua kali setahun dengan dosis 100.000 IU untuk bayi 6-11 bulan dan 200.000 IU untuk anak 12-59 bulan dan ibu nifas. Saat ini Depkes bekerja sama dengan HKI melaksanakan kegiatan capacity Buliding untuk Program Vitamin A di 20 Kabupaten di 9 provinsi. Disamping itu Depkes juga melakukan kerjasama dengan Unicef untuk uji coba pemberian 2 kapsul Vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas di 5 provinsi binaan Unicef. Alasan pemilihan daerah fokus ini dilihat dari rendahnya asupan vitamin A yang dilihat dari sampel darah (Depkes RI, 2009). Berdasarkan kajian berbagai studi ditemukan bahwa Vitamin A merupakan zat gizi yang sangat diperlukan bagi manusia, karena zat gizi ini sangat penting agar proses-proses fisiologis dalam tubuh berlangsung secara normal, termasuk pertumbuhan sel, meningkatkan fungsi penglihatan, meningkatkan imunologis dan pertumbuhan badan. Vitamin A juga membantu mencegah perkembangan sel-sel kanker. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi, balita dan ibu nifas dapat menurunkan angka kematian bayi dan

2

balita bukan hanya di Indonesia maupun negara-negara berkembang lainnya (Azwar, 2009).. Selain factor pengetahuan hal yang menyebabkan balita tidak di berikan Vitamin A menurut hasil wawancara penulis pada salah satu ibu yang memiliki balita yaitu karna factor kurangnya informasi megenai jadwal pemberian vitamin A sehingga hal ini sudah membudaya. Berdasarkan data cakupan distribusi Vitamin A di Propinsi Sulawesi Tengah tahun 2009, untuk bayi (6 – 11 ) pada bulan Februari berjumlah 35.449 kapsul dan bulan Agustus berjumlah 35.614 kapsul. Sedangkan untuk balita (1-5 tahun) pada bulan Februari berjumlah 180.604 kapsul dan bulan Agustus berjumlah 203.853 kapsul. Berdasarkan laporan distribusi vitamin A pada bayi dan balita di Puskesmas Tinggede pada bulan Agustus 2010 jumlah cakupan untuk bayi sebanyak 208 dari jumlah sasaran, sedangkan untuk cakupan balita sebanyak 888 dari jumlah cakupan. Dari hasil sweeping kapsul Vitamin A di Puskesmas Tinggede untuk bayi sebesar 49 atau 20% untuk sasaran pendataan dan 7% untuk sasaran proyeksi. Sedangkan untuk balita sebesar 156 dengan 12% untuk cakupan pendataan dan 11% untuk cakupan proyeksi. Dengan pentingnya manfaat pemberian vitamin A bayi dan balita, maka peneliti tertarik memilih judul “Pengetahuan Ibu tentang Pemberian Vitamin A pada Balita di Puskesmas Tinggede Kecamatan Marawola.

3

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah: Bagaimana Pengetahuan Ibu tentang Pemberian Vitamin A pada Balita di Puskesmas Tinggede Kecamatan Marawola?” C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian vitamin A pada balita di Puskesmas Tinggede Kecamatan Marawola. 2. Tujuan khusus a. Diketahuinya tujuan pemberian vitamin A b. Diketahuinya manfaat pemberian vitamin A c. Diketahuinya carapemberian vitamin A d. Diketahuinya dampak bila balita tidak diberikan vitamin A D. Manfaat Penelitian 1. Untuk pengelola Puskesmas Tinggede Sebagai bahan informasi dan masukan dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan pemberian Vitamin A pada balita. 2. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan, pengalaman dan wawasan peneliti dalam melaksanakan suatu penelitian serta dapat menerapkan ilmu yang didapat selama di bangku kuliah.

4

3. Bagi peneliti lain Dapat menjadi salah satu bahan bacaan dan perbandingan bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian selanjutnya. 4. Bagi Institusi Dapat digunakan oleh institusi pendidikan sebagai bahan pustaka

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Tentang Vitamin A 1. Pengertian Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati, tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar (esensial), berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit (Depkes RI, 2009). Vitamin A atau berdasarkan struktur kimianya disebut Retinol atau Retinal atau juga Asam Retinoat, dikenal dan dipromosikan sebagai faktor pencegahan xeropthalmia, berfungsi untuk pertumbuhan sel epitel dan pengatur kepekaan rangsang sinar pada saraf retina mata, makanya disebut Retinol/Retinal. Jumlah yang dianjurkan berdasarkan Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (KGA-2004) per hari 400 ug retinol untuk anakanak dan dewasa 500 ug retinol. Sumbernya ada yang hewani sebagai retinol dan ada juga dari nabati sebagai pro vitamin A sebagai karotin, nanti dalam usus dengan bantuan tirosin baru dikonversi menjadi retinol. Larut dalam lemak, ingat vitamin yang larut dalam lemak yaitu A D E K tidak larut dalam air (Mansjoer, 2008).

6

Gambar 1. Jenis Kapsul Vitamin A 2. Manfaat Suplemen Vitamin A Pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI, sehingga akan meningkatkan status vitamin A pada bayi yang disusuinya. ASI merupakan sumber vitamin A bagi bayi pada enam bulan pertama kehidupannya dan merupakan sumber yang penting hingga bayi berusia dua tahun. Beberapa studi menunjukkan bahwa suplemen vitamin A pada ibu nifas dapat meningkatkan status vitamin A pada ibu nifas meningkatkan cadangan vitamin A pada bayi baru lahir hingga enam bulan pertama kehidupan, yang merupakan masa rawan. 400.000 SI sebagai dua dosis @ 200.000 SI, pemberian sedikitnya dengan selang waktu satu hari dan/atau 10.000 SI setiap hari atau 25.000 SI setiap minggunya ((Depkes RI, 2009). 3. Penyebab Kekurangan Vitamin A Kekurangan vitamin A merupakan salah satu masalah yang paling penting yang menimpa anak-anak Indonesia (Depkes RI, 2009). Kurang vitamin A atau disebut juga dengan Xeroftalmia adalah kelainan pada mata akibat Kurang Vitamin A. Kata Xeroftalmia ini

7

diartikan sebagai “mata kering” karena serapan vitamin A pada mata mengalami pengurangan, kalau diperhatikan dengan teliti bisa dilakukan oleh seorang ibu balita terlihat terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata. Untuk mengenal mata yang kering (xeroftalmia), akan lebih jelas bila terlebih dahulu dikenal mata yang sehat, dapat dilihat dari bagianbagian organ mata sebagai berikut: a. b. c. d. e. Kornea (selaput bening) benar-benar jernih Bagian putih mata benar-benar putih Pupil (orang-orangan mata) benar-benar hitam Kelopak mata dapat membuka dan menutup dengan baik Bulu mata teratur dan mengarah keluar

Vitamin A tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan anak saja, vitamin A berperan penting untuk kesehatan ibu yang baru melahirkan. Dapat terjadi xeroflatmia (bahasa latin) berarti mata kering karena terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) dan bila ditinjau dari komsumsi makanan sehari-hari kekurangan vitamin A disebabkan oleh (Mansjoer, 2008): a. Konsumsi makanan yang tidak mengandung vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka waktu yang lama. b. Menu tidak seimbang (kurang mengandung lemak, protein, seng/zen atau zat gizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan vitamin A dan penggunaan vitamin A dalam tubuh.

8

c. Bayi tidak diberikan ASI eksklusif. d. Adanya gangguan penyerapan vitamin A atau provitamin A seperti pada penyakit-penyakit antara lain penyakit pankreas, diare kroni, KEP (Kurang Energi Protein) dan lain-lain sehingga kebutuhan vitamin A meningkat. e. Adanya kerusakan hati, seperti kwashiorkor dan hepatitis kronik, menyebabkan gangguan pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan pre albumen yang penting untuk penyerapan vitamin A. 4. Kekurangan Vitamin A Kurang vitamin A adalah kelainan sintenik yang mempengaruhi jaringan epitel dan organ-organ seluruh tubuh termasuk paru-paru, usus, mata dan organ lainnya. Akan tetapi gambaran yang karakteristik langsung terlihat pada mata. Gejala klinis KVA (Kekurangan Vitamin A) pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA yang telah berlangsung lama. Gejala tersebut akan lebih cepat timbul bila anak menderita penyakit campak, diare, ispa dan penyakit infeksi lainnya (DepKes RI, 2006). Di kalangan anak balita, akibat kekurangan Vitamin A (KVA) akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas, anak mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru-paru, pneumonia dan akhirnya kematian. Akibat lain yang berdampak serius dari KVA adalah buta senja dan tandatanda lain dari xeropthalmia termasuk kerusakan kornea (keratomalasia) dan kebutaan.

9

Akibat kekurangan vitamin A dapat dimulai atau diklasifikasikan XN, X1A, X1B, X2, X3A, X3B dan XS dapat dijabarkan sebagai berikut : Pertama: Dimulai dari gangguan pada sel batang retina, yang sulit beradaptasi diruang yang remang setelah terang, ini sangat jelas terlihat ketika sore hari, dimana penglihatan menurun pada sore hari, anak-anak biasa masuk rumah menabrak barang yang ada dihadapannya. Istilah ini dikenal dengan istilah buta senja. Ironisnya cakupan pemberian vitamin A diwilayah pedesaan terutama wilayah pegunungan terlapor cakupan tinggi, namun kejadian-kejadiaan buta senja masih sering terungkap pada masyarakat. Buta Senja secara internasional diistilakan dengan XN (singkatan dari Xeropthalmia Nigth). Kedua, bila buta senja terus terjadi dan konsumsi vitamin A sangat rendah bahkan tidak ada dalam makanan sehari-hari atau pada bulan Februari dan Agustus tidak mendapatkan vitamin A (200.000 IU), maka tahap selanjutnya akan terjadi bagian putih mata akan kering, kusam, tak bersinar (ini diistilahkan dengan Xerosis Konjungtiva-X1A). Ibu balita bisa memeriksa dan melihat dengan jelas ketika mencoba membuka sedikit mata anaknya dan melihat bagian putihnya, akan terlihat dengan jelas bagian putihnya kering, kusam dan tak bersinar serta sedikit kotor (DepKes RI, 2006)..

10

Gambar 2. Xerosis Conjungtiva (X-1A)

Ketiga: Setelah bagian putih mata telah terjadi kering, kusam dan tak bersinar, bila konsumsi vitamin A dari makanan rendah dan tidak mendapatkan kapsul vitamin A rutin lagi, selanjutnya akan terjadi penimbunan sel epitelnya dan adanya timbunan keratin (Bercak Bitot= X1B) maka petugas yang menemukannya harus merujuk ke klinik mata, kalau tidak ditangani segera dan dirujuk ke klinik mata atau dokter mata akan merambat pada bagian hitam mata terlihat kering, kusam dan tak bersinar (Xerosis Kornea-X2). Dan ini merupakan tahapan pertama terjadi kebutaan bila tidak ditemukan atau tidak tercakup dalam pemberian vitamin A, kalau tidak ada penyakit lain yang menyertai mungkin masih bisa tertolong secara medik. Secara keseluruhan Anak dengan gejala Buta senja (XN), Xerosis Konjungtiva hingga Xerosis Kornea(X2) seperti terlihat pada gambar disamping, masih dapat disembuhkan dengan pemberian kapsul vitamin A yang tersedia secara gratis di Puskesmas.

11

Gambar 3. Bercak Biot (X-1B)

Gambar 3. Xerosis Korne (X2) 5. Pentingnya/keuntungan Vitamin A Bagi Ibu dan Bayi Dalam menanggulangi KVA (kekurangan vitamin A) di Indonesia, khususnya pada Balita 12-59 bulan, Departemen Kesehatan RI bekerjasama dengan Helen Keller Indonesia (HKI). Strategi

penanggulangan hingga saat ini dilaksanakan melalui pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi, balita dan ibu nifas. Pada Balita diberikan dua kali setahun dengan dosis 100.000 IU untuk bayi 6-11 bulan dan 200.000 IU untuk anak 12-59 bulan dan ibu nifas. Saat ini Depkes bekerja sama dengan HKI melaksanakan kegiatan capacity Buliding untuk Program Vitamin A di 20 Kabupaten di 9 provinsi. Disamping itu Depkes juga melakukan kerjasama dengan Unicef

12

untuk uji coba pemberian 2 kapsul Vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas di 5 provinsi binaan Unicef. Alasan pemilihan daerah fokus ini dilihat dari rendahnya asupan vitamin A yang dilihat dari sampel darah. a. Meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI (Air Susu Ibu). b. Bayi lebih kebal dan jarang kena penyakit infeksi. c. Kesehatan ibu cepat pulih setelah melahirkan. 6. Faktor-faktor Resiko a. Faktor sosial ekonomi, budaya dan pelayanan kesehatan yang tidak mendukung seperti : 1) Kurang ketersediaan pangan sumber vitamin A. 2) Kemampuan daya beli yang rendah. 3) Adanya tabu atau pantangan terhadap makanan sumber vitamin A. 4) Kurangnya air bersih dan sanitasi lingkungan yang kurang sehat. b. Faktor Individu (biologis) 1) Anak yang tidak mendapat ASI ekslusif dan tidak diberi ASI sampai usia 2 tahun. 2) Anak dengan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah). 3) Anak kurang gizi dan garis merah. c. Faktor Geografis 1) Sulitnya ASKES ke sarana pelayanan kesehatan. 2) Daerah tandus sering rawan pangan. 3) Keadaan darurat karena bencana alam, perang dan kerusuhan. (DepKes RI, 2006)

13

B. Konsep Tentang Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). 2. Tingkat Pengetahuan Yang Mencakup Dalam Domain Kognitif Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu : a. Know (tahu) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termaksud kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

14

b. Comprehension (memahami) Memahami dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Application (aplikasi) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi atau telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konsteks atau situasi yang lain. d. Analysis (analisa) Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek terdalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu dengan sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja : dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

15

e. Synthesis (sintesis) Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluation (evaluasi) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian-penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaianpenilaian ini didasarkan pada suatu kriteria-kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan tersebut di atas (Notoatmodjo, 2007).

16

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep Kerangka konsep merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Business Research, (1992), dalam Sugiyono, 2004). Nutrisi merupakan pembangun tubuh yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan dimana anak sedang mengalami pertumbuhan otak. Keberhasilan perkembangan anak ditentukan oleh keberhasilan pertumbuhan dan

perkembangan otak. Jadi dapat dikatakan nutrisi juga selain mempengaruhi pertumbuhan, juga mempengaruhi perkembangan otak (Narendra, 2002). Salah satu nutrisi yang sangat dibutuh kan pada masa balita adalah Vitamin A. Di kalangan anak balita, akibat kekurangan Vitamin A (KVA) akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas, anak mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru-paru, pneumonia dan akhirnya kematian. Akibat lain yang berdampak serius dari KVA adalah buta senja dan tandatanda lain dari xeropthalmia termasuk kerusakan kornea (keratomalasia) dan kebutaan. Pada umumnya gangguan gizi sering terjadi pada masa ini oleh karena keluarga / ibu:

17

1. Kurang pengetahuan mengenai kebutuhan bayi dan makanan tambahan yang bergizi. 2. Ketidaktahuan menyiapkan makanan tambahan dari bahan-bahan lokal yang bergizi. 3. Kemiskinan sehingga kurang mampu menyediakan makanan yang bergizi. 4. Ketidaktahuan mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada dalam keluarga dan ketidakmampuan menggunakan fasilitas kesehatan yang ada. Dari uraian diatas maka dapat dibuatkan dalam sebuah kerangka pemikiran seperti dibawah ini:

Pengetahuan Ibu

Pemberian Vitamin A

B. Definisi Operasional 1. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang pemberian Vitamin A pada balita Alat ukur : kuesioner Cara ukur : pengisian kuesioner Skala ukur : ordinal Hasil ukur : - Baik, bila jawaban ≥ median - Kurang baik, bila jawaban < median

18

2. Pemberian Vitamin A Pemberian vitamin A yaitu asupan atau pemberian Vitamin A pada balita yang dilakukan pada bulan Februari dan Agustus, di Layanan Kesehatan seperti Puskesmas atau Posyandu.

19

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang sesuatu keadaan secara objektif dari variabel yang diteliti (Notoatmodjo, 2010) yaitu untuk mendapatkan gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian Vitamin A pada balita di Puskesmas Tinggede Kecamatan Marawola.

B. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Tinggede Kecamatan Marawola Pada bulan Agustus 2011

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Machfoedz, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak balita yang datang berkunjung ke Puskesmas Tinnggede Kecamatan Marawola sebanyak 888 orang.

20

2. Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang merupakan wakil dari populasi itu (Machfoedz, 2008). Jumlah / besar sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan rumus slovin yakni: .n = n= n= n= = = 42 orang Keterangan : N = n d = = Besar Populasi Besar Sampel Tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan (0,15)

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik accidental sampling dimana didalam pengambilan sampel ini dilakukan dengan mengambil kasus / responden yang kebetulan ada atau tersedia (Notoatmodjo, 2002).

21

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Data Primer Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden melalui pengisian kuesioner oleh peneliti. Responden pada penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tinggede. Kuesioner diisi langsung oleh responden untuk mengetahui pengetahuan ibu. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan skala guttman dengan alternatif responden ”Benar” dan ”Salah”. Kuesioner ini terdiri dari 10 pernyataan. Skor tertinggi adalah 10 dan terendah adalah 0 dengan teknik penentuan skor dalam pernyataan positif. Jawaban benar Jawaban salah 2. Data Sekunder Alat perolehan data sekunder adalah diperoleh melalui catatan atau laporan data yang ada di Puskesmas Tinggede Kecamatan Marawola. E. Analisa Data Analisa data dilakukan dengan cara analisis univariat yaitu untuk mengetahui distribusi frekwensi dan proporsi masing–masing variabel yang diteliti. Setelah data di kumpulkan, data tersebut dilakukan pengolahan dengan cara manual dengan menggunakan rumus sebagai berikut: a. Median : mendapat nilai 1 : mendapat nilai 0

22

Median merupakan nilai observasi yang terletak di tengah-tengah setelah seri pengamatan diurutkan terlebih dahulu menurut besar kecilnya (Array data) untuk menentukan nilai median harus terlebih dahulu ditentukan posisi dengan cara : Menentukan posisi median dengan rumus: b. Distribusi frekuensi
P f x 100% n

n 1 2

Keterangan : P : Presentase f : Frekuensi jawaban responden n : Jumlah responden (Sabarguna, 2008) F. Penyajian Data Untuk penyajian data hasil penelitian, peneliti menggunakan cara penyajian data dalam bentuk tabel dan narasi.

23

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tinggede Kecamatan Marawola, Pada Bulan September 2011. Jumlah responden dalam penelitian adalah 42 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik accidental sampling yaitu ibuibu yang kebetulan ada. Analisa yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis Univariat. 1. Gambaran Lokasi Penelitian a. Pemerintahan Puskesmas Tinggede merupakan salah satu puskesmas yang ada di kecamatan Marawola kabupaten Sigi yang memiliki wilayah kurang lebih 824 M2. Dengan batas wilayah sebagai berikut: 1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan palu utara. 2) Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan marawola. 3) Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Banawa. 4) Sebelah Timur berbatasan dengan kecamata Dolo. b. Kependudukan Jumlah penduduk diwilaya kerja Puskesmas tinggede berjumlah kurang lebih 13.457 jiwa.

.

24

2. Pengetahuan Responden Hasil data diperoleh hasil tentang distribusi pengetahuan responden tentang Pemberian Vitamin A Pada Balita pada remaja dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.1 Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Pemberian Vitamin A Pada Balita Di Puskesmas Tinggede. No. 1. 2. Pengetahuan Baik Kurang Baik Jumlah Frekuensi (f) 28 14 42 Persentase (%) 67 33 100 %

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2011 Berdasarkan tabel 5.1 di atas menunjukkan bahwa dari 42 responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 28 orang (67%) dan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 14 orang (33%). B. Pembahasan Dari hasil analisa univariat pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik lebih banyak yaitu 28 (67 %) responden. Menurut asumsi peneliti Hal ini disebabkan karena responden

sering menerima informasi mengenai Vitamin A, dan mendapatkan penyuluhan dari petugas kesehatan, seperti Posyandu, dan Liflet serta Responden melihat dari media elektronik. Hal ini juga disebabkan karena mereka lebih poraktif dalam mengikuti penyuluhan dan memperhatikan

25

informasi yang diterima, baik dari petugas kesehatan maupun melalui media massa, baik pengertian, keuntungan maupun dampak bila anak tidak diberikan Vitamin A. Selain itu karena faktor pendidikan mereka lebih banyak yang SMA dan ada yang perguruan Tinggi, sehingga mereka lebih mudah menerima informasi baik yang diberikan melalui penyuluhan maupun dari media massa Hal ini sejalan dengan pendapat Notoatmodjo (2011), yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni indera pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga. Responden yang mempunyai pengetahuan yang kurang baik sebanyak 14 orang (33%) dari 42 responden yang di teliti. Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan karena faktor kurangnya kesadaran dari respondent untuk melakukan imunisasi dan Faktor ketidaktahuan tentang manfaat dari Vitamin A selain itu Kurangnya informasi mengenai jadwal pemberian Vitamin A. Hal ini juga disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan pengertian mereka tentang pemberian Vitamin A dan kurang aktif dalam mengikuti penyuluhan oleh petugas kesehatan. Selain itu juga karena faktor pendidikan mereka yang rendah yaitu SD dan SMP, mereka tidak mengetahui keuntungan dan dampak bila anak tidak diberikan Vitamin A

26

Hal ini sejalan dengan pendapat Aswar 2009 bahwa Vitamin A merupakan zat gizi yang sangat diperlukan bagi manusia, karena zat gizi ini sangat penting agar proses-proses fisiologis dalam tubuh berlangsung secara normal, termasuk pertumbuhan sel, meningkatkan fungsi

penglihatan, meningkatkan imunologis dan pertumbuhan badan. Vitamin A juga membantu mencegah perkembangan sel-sel kanker. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi, balita dan ibu nifas dapat menurunkan angka kematian bayi.

27

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab V, dapat disimpulkan sebagai berikut : Responden yang memiliki pengetahuan baik tentang Pemberian Vitamin A pada balita lebih banyak, dibanding yang memiliki pengetahuan kurang baik B. Saran 1. Bagi petugas kesehatan di Puskesmas Tinggede, diharapkan selalu proaktif untuk memberikan penyuluhan dan informasi khususnya kepada ibu-ibu yang memiliki pengetahuan kurang baik mengenai tujuan dan manfaat pemberian Vitamin A pada balita sehingga ibu-ibu memiliki pengetahuan yang lebih baik dan termotivasi untuk membawa anaknya ke Puskesmas 2. Bagi Akademi Kebidanan Graha Ananda Palu, diharapkan dapat meningkatkan/ menambah jumlah referensi khususnya tentang pemberian vitamin A sehingga memudahkan mahasiswa untuk mencari informasi mengenai Vitamin A 3. Bagi Peneliti lain diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini dan mengembangkan dengan variabel yang lebih luas dan dapat menambah jumlah sampelnya.

28

DAFTAR PUSTAKA Azwar, 2009. Pedoman Pemberian Vitamin A. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta. Dahlan, MS, 2006. Besar Sampel Penelitian. Medika Salemba, Jakarta. Departemen Kesehatan RI, 2006, Deteksi dan Tatalaksana Kasus Xeroftalmia, Departement Kesehatan. Jakarta. ----------, 2009. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Gizi Masyarakat Bekerja Sama dengan UNICEF, Jakarta. DinKes Prop Sul-Teng, 2009. Laporan Kegiatan Kesehatan Keluarga, Palu Machfoedz, 2008. Metodologi Penelitian Bidan Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan, Kedokteran. Fitramaya, Yogyakarta. Mansjoer, 2001. Kapita Selekta. EGC, Jakarta. Notoatmodjo S, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta Jakarta. Puskesmas Tinggede, 2011, Laporan Kegiatan KIA, Sigi. Sabarguna, 2008, Karya Tulis Ilmiah Untuk Mahasiswa D3 Kesehatan, CV.Sagung Seto, Jakarta SDKI, 2009, Angka Kematian Ibu dan Bayi Di Indonesia, http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1799371. Diunduh tanggal 20 Mei 2011

.

29

30

KUESIONER PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN VITAMIN A PADA BALITA DI PUSKESMAS TINGGEDE KECAMATAN MARAWOLA A. Identitas Responden 1. No. Responden : 2. Nama Responden : 3. Umur : 4. Pendidikan : 5. Pekerjaan : B. Petunjuk Pengisian 1. Bacalah dengan teliti setiap pertanyaan dan alternative jawaban yang ada tersedia. 2. Isilah daftar pernyataan di bawah ini dengan memberi tanda ( √ ) pada salah satu kolom alternatif jawaban. No 1 2 3 4 5 6 7 Pernyataan Apakah ibu pernah mendengar tentang pemberian vitamin A pada balita Manfaat vitamin A pada balita adalah balita lebih kebal dan jarang terkena penyakit infeksi mata. Salah satu gejala utama kekurangan vitamin A adalah rabun senja. Balita memperoleh kapsul vitamin A pada kelompok Kekurangan vitamin A. Yang memberikan kapsul vitamin A pada balita yaitu Bidan. Vitamin A tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan anak balita saja. Pemberian vitamin A adalah berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit Kapsul vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati. Konsumsi makanan yang tidak mengandung vitamin A atau pro vitamin untuk jangka waktu yang lama merupakan salah satu penyebab kekurangan vitamin A. Anak kurang gizi dan di bawah garis merah merupakan salah satu faktor resiko kekurangan vitamin A. Ya Tidak

8 9

10

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->