P. 1
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA PERAIRAN LAUT

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA PERAIRAN LAUT

|Views: 908|Likes:
Published by Farid
Teknologi Budidaya Pakan Alami di Balai Budidaya Laut (BBl) Sekotong
Teknologi Budidaya Pakan Alami di Balai Budidaya Laut (BBl) Sekotong

More info:

Published by: Farid on Apr 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA PERAIRAN LAUT

Teknologi Budidaya Pakan Alami di Balai Budidaya Laut (BBl) Sekotong

OLEH KELOMPOK II • • • • • • • • • RIO ARY SUDARMAWAN LAKHSMI DEWI P. PUJI NUR PARIDI SEHARUDDIN F. MARDLIATUN SHOLIHAN FITRIYANTI UMROH SURIATI RABIATUL ADAWIYAH ADRIEN SAPUTRA

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MATARAM 2011

1

HALAMAN PENGESAHAN Judul Laporan Kelompok Anggota : Teknologi Budidaya Pakan Alami : II : 1. Rio Ary Sudarmawan 2. Lakhsmi Dewi P. 3. Puji Nur Paridi 4. Seharuddin F. 5. Mardliatun Sholihan 6. Fitriyanti Umroh 7. Suriati 8. Rabiatul Adawiyah 9. Adrien Saputra Tanggal pengumpulan : 23 Juni 2011

Mengetahui: Dosen Mata Kuliah Teknologi Budidaya Perairan Laut Ketua Kelompok II

Ayu Adhita Damayanti, S.Pi., M.Si. NIP. 19821207 200912 2 002

Rio Ari Sudarmawan NIM: C1K 008 034

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas Rahmat dan Berkah-Nyalah Penulis dapat menyusun laporan Teknologi Budidaya Perairan Laut ini dengan cukup baik. Dalam penulisan laporan ini, Penulis banyak mandapat bantuan, bimbingan, dan petujuk serta saran-saran dari berbagai pihak, baik dari dosen maupun narasumber dalam wawancara. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Penulis menghaturkan banyak terimakasih kepada Ayu Adhita Damayanti, S.Pi., M.Si. selaku dosen pengajar atau pembimbing serta semua staf karyawan BBL Sekotong selaku narasumber. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan Teknologi Budidaya Perairan Laut ini masih kurang sempurna, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun dari pembaca sangat diharapkan.

Mataram, 23 Juni 2011

Penulis

3

DAFTAR ISI Halaman Halaman Pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi 1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang

…………………………………………….

ii iv

…………………………………………………….. iii

…………………………………………………………….

……………………………………………... 1 ……………………………………………. 2 ……………………………………………. 2 …………………………….. 3 …………………………….. 5 …………………….. 5

1.2.Tujuan Praktikum 1.3.Metode Praktikum

2. Keadaan Umum Lokasi Praktikum 3. Teknologi Budidaya Pakan Alami

3.1. Teknik Produksi Nannochloropsis sp. 3.2. Benthic Diatom 4. Kesimpulan dan Saran

……………………………………………. 15 ……………………………………………. 33

Daftar Pustaka

4

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pakan alami adalah sumber pakan yang penting dalam usaha pembenihan ikan, udang, kepiting, dan kerang. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam, sedangkan untuk pakan buatan adalah pakan yang dibuat dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki. Pemberian pakan yang berkualitas akan memperkecil persentase kematian larva. Dalam budidaya terutama dalam usaha pembenihan, pakan merupakan salah satu faktor pembatas. Secara umum pakan terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami terbagi atas fitoplankton, zooplankton dan benthos. Salah satu fitoplankton yang banyak digunakan sebagai pakan utama dalam pembenihan ikan air laut adalah Nannochloropsis sp. karena memiliki syarat yang dibutuhkan sebagai pakan larva yaitu mudah dicerna, berukuran kecil, nutrisi tinggi mudah dibudidayakan dan cepat berkembang biak (Isnansetyo, 1995). Hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi tersedianya pakan adalah memproduksi pakan alami, karena pakan alami mudah didapatkan dan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup larva selama budidaya ikan, mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan untuk mangsanya serta memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Upaya untuk memperoleh persyaratan dan memenuhi pakan alami yang baik adalah dengan melakukan kultur fitoplankton misalnya adalah fitoplankton genus Nannochloropsis.

1.2. Tujuan Praktikum Tujuan praktikum Budidaya Perairan Laut ini adalah:

5

1. Mengetahui dan memahami proses budidaya pakan alami yang ada di sekotong. 2. Mengenal dan mengetahui fungsi bahan dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya pakan alami. 1.3. Metode Praktikum 1.3.1. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah Metode Deskriptif, yaitu metode yang memberi gambaran secara lengkap, sistematis dan faktual mengenai data atau kegiatan yang tidak terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data semata, tetapi juga meliputi analisa dan pembahasan data yang diperoleh, sehingga dapat memberikan informasi lengkap tentang Teknik Budidaya Perairan Laut. 1.3.2. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara: 1). Observasi lapangan; 2). Partisipasi langsung; 3). Wawancara; dan 4). Studi literatur. Data yang dikumpulkan berupa data primer, yaitu data yang diambil dari sumbernya secara langsung, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya dan data sekunder, yaitu informasi yang telah dikumpulkan dari pihak lain seperti dosen, asisten dosen dan masyarakat yang terkait pada bidang perikanan, khususnya pada bidang Teknik Budidaya Perairan Laut.

2. KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTIKUM

6

Balai Budidaya Laut Sekotong atau yang dikenal juga dengan istilah Marine Aquaculture Development Center, yang beralamat di Stasiun Sekotong, Jln Raya Gili Genting, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok merupakan salah satu instansi pemerintah yang terletak dibagian tengah dan barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. BBL Lombok memiliki tiga stasiun pengembangan yaitu Gerupuk di Kabupaten Lombok Tengah, Sekotong di Kabupaten Lombok Barat dan Karang Asem di Provinsi Bali. Stasiun Sekotong terletak di Dusun Gili Genting, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Secara geografis tempat ini berada pada 115046’ – 116028’ BT dan 8012’ – 8055’ LS dengan ketinggian 5 meter (topografi). Jarak antara Balai Budidaya Laut Lombok dengan Ibu Kota Provinsi (Mataram) sekitar + 50 km. Stasiun Sekotong BBL Lombok terletak di perairan Teluk Sekotong dengan kondisi perairan karang berpasir yang bersih dan jernih karena tidak ada kegiatan industri, bukan merupakan jalur pelayaran umum, dan letaknya jauh dari perumahan penduduk. Adapun batas wilayah BBL Lombok yaitu sebelah timur berbatasan dengan Balai Pengembangan Budidaya Perairan Pantai (BPBPP) Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTB dan Dusun Pengawisan; sebelah barat berbatasan dengan dengan perkampungan Dusun Gili Genting; sebelah Utara berbatasan dengan Selat Lombok; dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kedaru. Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok merupakan salah satu stasiun pengembangan BBL Lampung pada tahun 1992. Balai ini dibangun di pesisir Teluk Gerupuk, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kab. Lombok Tengah NTB. Pada tahun 1994, status stasiun meningkat menjadi Loka Budidaya Laut Lombok yang merupakan instansi Eselon IV dibawah pembinaan Direktorat Perbenihan, Direktorat Jendral Perikanan Departemen Pertanian. Tahun 2000, seiring dengan lahirnya Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, Loka Budidaya Laut berada dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya memperoleh peningkatan anggaran dan penambahan sarana produksi di Dusun Gili Genting, Desa sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Status Loka Budidaya Laut Lombok meningkat menjadi

7

Balai Budidaya Laut Lombok pada tahun 2006 sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan di bidang budidaya laut berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER. 10/MEN/2006. Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 47 Tahun 2002

3. TEKNIK BUDIDAYA PAKAN ALAMI

3.1. Nannochloropsis sp. 3.1.1.

Klasifikasi Nannochloropsis sp.

8

Klasifikasi Nannochloropsis sp. menurut Anonim (2010) adalah sebagai berikut : Kingdom Filum Kelas Sub-kelas Genus Species
3.1.2.

: Chromista : Heterokonta : Eustigmatophyceae : Bacillariophycideae : Nannochloropsis : Nannochloropsis sp.

Biologi Nannochloropsis sp. Menurut Ekawiguna (2009) Nannochloropsis sp. merupakan sel berwarna

kehijauan, tidak motil, dan tidak berflagel. Selnya berbentuk bola, berukuran kecil dengan diamater 4-6 mm. Organisme ini merupakan divisi yang terpisah dari Nannochloris karena tidak adanya chlorophyl b. Merupakan pakan yang populer untuk rotifer, artemia, dan pada umumnya merupakan organisme filter feeder (penyaring). Sedangkan Erlina (1989) menyatakan Nannochloropsis sp. adalah alga bersel satu yang termasuk dalam kelas Eustigmatophyceae yang di kenal sebagai marine chlorella dan umumnya dibudidayakan di pembenihanpembenihan ikan sebagai pakan rotifer. Nannochloropsis sp. mempunyai peranan penting dalam suatu kegiatan pembenihan karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan memiliki kemampuan memproduksi bahan-bahan yang sangat penting seperti pigmen (zeaxanthin dan astaxanthin) dan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA). Nannochloropsis sp. (marine chlorella) adalah makanan yang baik untuk rotifer (Brachionus plicatilis) karena mempunyai kandungan asam lemak (HUFA) cukup tinggi sehingga baik bagi larva ikan. Pad saat praktikum dijelaskan bahwa Nannochloropsis sp. berwarna hijau yang tubuhnya dilengkapi dua buah flagella (heterokontous). Berukuran sangat kecil dengan diameter 2-4 µm. sel berbentuk bola dimana chloroplasnya berdentuk huruf U. Bersifat kosmofolit dengan parameter optimal suhu 25-34 oC, salinitas 20-30 ppt, pH 8-9,5, dan itensitas cahaya 1.000-10.000 lux. Adapun parameter yang berpengaruh pada pertumbuhan dari microalga Nannochloropsis sp. adalah:

9

1. pH pH akan mempengaruhi toksisitas semua senyawa kimia. Variasi pH dapat mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan fitoplankton dalam beberapa hal, antara lain mengubah keseimbangan dari karbon organik, mengubah ketersediaan nutrient, dan dapat mempengaruhi fisiologis sel. Secara umum kisaran pH yang optimum pada kultur Nannochloropsis sp. antara 7 - 9 (Effendi, 2003). 2. Salinitas Kisaran salinitas yang berubah-ubah dapat mempengaruhi dan menghambat pertumbuhan dari mikroalga. Beberapa mikroalga dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang tinggi tetapi ada juga mikroalga yang dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang rendah. Pengaturan salinitas pada medium yang diperkaya dapat dilakukan dengan pengenceran dengan menggunakan air tawar. Kisaran salinitas yang dimiliki oleh Nannochloropsis sp. antara 32 – 36 ppt, tetapi salinitas paling optimum untk pertumbuhan Nannochloropsis sp. adalah 33 - 35 ppt (Effendi, 2003). 3. Suhu Suhu optimal dalam kultur mikroalga Nannochloropsis sp. secara umum antara 20-24 ˚C. Suhu dalam kultur diatur sedemikian rupa bergantung pada medium yang digunakan. Suhu diatas dari 36 ˚C akan menyebabkan kematian pada jenis fitoplankton tertentu, sedangkan apabila suhu kurang dari 16˚C akan menyebabkan kecepatan dari pertumbuhan fitoplanton menurun. 4. Cahaya Cahaya merupakan sumber energi dalam proses fotosintetis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organic. Kebutuhan akan cahaya bervariasi tergantung kedalaman kultur dan kepadatannya. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fotoinbihisi dan pemanasan. Intensitas cahaya 1.000 lux cocok untuk kultur dalam Erlenmeyer, sedangkan intensitas 5.000-10.000 lux untuk volume yang lebih besar (Coutteau, 1996). 5. Nutrien Mikroalga mendapatkan nutrien dari air laut yang sudah mengandung nutrien yang cukup lengkap. Namun pertumbuhan mikroalga dengan kultur

10

dapat mencapai optimum dengan mencampurkan air laut dengan nutrien yang tidak terkandung dalam air laut tersebut. Nutrien tersebut dibagi menjadi makronutrien dan mikronutrien, makronutrien meliputi nitrat dan fosfat. Makronutrien merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan mikroalga. Mikronutrien organik merupakan kombinasi dari beberapa vitamin yang berbeda-beda. Vitamin tersebut antara lain B12, B1 dan Biotin. Mikronurien tersebut digunakan mikroalga untuk berfotosintesis (Taw, 1990). 6. Aerasi Aerasi dalam kultur mikroalga diguanakan untuk proses pengadukan medium kultur. Pengadukan sangat penting dilakukan yang bertujuan untuk mencegah dari pengendapan sel, nutrien dapat tersebar sehingga mikroalga dalam kultur mendapatkan nutrien yang sama, mencegah sratifikasi suhu, dan meningkatkan pertukaran gas dari udara ke medium. (Taw, 1990). Pada praktikum acara Kultur Mikroalga Nannochloropsis sp. skala Laboratorium dilaksanakan dengan dua perlakuan, dimana perlakuan pertama pada medium Walne dan perlakuan kedua dengan medium Guillard f/2. Kandungan yang terdapat pada medium Walne adalah macroelement, trace element dan vitamin. Untuk medium Guillard f/2 terdapat kandungan NaNO3, NaH2PO4, H2O, Trace element dan vitamin. Macronutrien adalah nutrien yang dibutuhkan oleh Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang besar, sedangkan Trace element adalah element yang dibutuhkan oleh Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang sangat kecil, namun element ini sangat sering digunakan (merupakan elemen yang penting bagi pertumbuhan Nannochloropsis sp. Keberhasilan suatu pertumbuhan dalam kultur mikroalga dapat dilihat dari kecepatan tumbuh dan waktu generasi. Kecepatan tumbuh (µ) adalah Pertambahan sel dalam waktu tertentu .untuk pertumbuhan mikroalga, secara umum dapat dibagi menjadi lima fase meliputi fase lag, fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner, dan fase kematian. Pada fase lag, pertambahan densitas populasi hanya sedikit bahkan cenderung tidak ada karena sel melakukan adaptasi secara fisiologis sehingga metabolisme untuk pertumbuhan lamban. Pada fase eksponensial pertambahan kepadatan sel (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan tumbuh (µ) sesuai dengan rumus funsi

11

eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner faktor pembatas dan kecepatan pertumbuhan sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Pada fase kematian kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Hal tersebut dapat dilihat dari generasi (G) adalah Waktu yang diperlukan suatu mikroalga untuk membelah sel dari satu sel menjadi beberapa sel dalam pertumbuhan. Semakin tinggi kecepatan tumbuh mikroalga maka waktu generasi dari mikroalga tersebut juga semakin cepat (Sumarsih, 2007).
3.1.3. Kultur Nannochloropsis sp. Skala Laboratorium

Kultur Nannochloropsis sp. skala laboratorium di BBL Sekotong dilakukan dalam wadah berukuran 500-10.000 ml. air media yang digunakan untuk kultur ini disterilisasi terlebih dahulu dengan menggunakan autoclave atau bisa juga dengan cara direbus. Air yang sudah disterilkan kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang telah disediakan dan ditambahkan pupuk conwy dengan dosis 1 ml/l, kemudian ditambahkan bibit/inokulan dan diberi aerasi. Perbandingan jumlah air media dengan bibit adalah 1:5 atau 1:4. Menurut Ismantara (2009) kultur murni merupakan kultur plankton yang dilakukan di ruangan tertutup dengan tujuan mendapatkan spesies murni (mono spesies). Kegiatan kultur murni meliputi tahapan sterilisasi alat dan bahan, isolasi, kultur media agar dan penyimpanan bibit. Pada kultur mikroalga Nannochloropsis sp. skala Laboratorium dapat dilakukan dengan dua perlakuan, dimana perlakuan pertama pada medium Walne dan perlakuan kedua dengan medium Guillard f/2. Kandungan yang terdapat pada medium Walne adalah macroelement, trace element dan vitamin. Untuk medium Guillard f/2 terdapat kandungan NaNO3, NaH2PO4, H2O, Trace element dan vitamin. Macronutrien adalah nutrien yang dibutuhkan oleh Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang besar, sedangkan Trace element adalah element yang dibutuhkan oleh Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang sangat kecil, namun

12

element ini sangat sering digunakan (merupakan elemen yang penting bagi pertumbuhan Nannochloropsis sp.) Keberhasilan suatu pertumbuhan dalam kultur mikroalga dapat dilihat dari kecepatan tumbuh dan waktu generasi. Kecepatan tumbuh (µ) adalah Pertambahan sel dalam waktu tertentu .untuk pertumbuhan mikroalga, secara umum dapat dibagi menjadi lima fase meliputi fase lag, fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner, dan fase kematian. Pada fase lag, pertambahan densitas populasi hanya sedikit bahkan cenderung tidak ada karena sel melakukan adaptasi secara fisiologis sehingga metabolisme untuk pertumbuhan lamban. Pada fase eksponensial pertambahan kepadatan sel (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan tumbuh (µ) sesuai dengan rumus funsi eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner faktor pembatas dan kecepatan pertumbuhan sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Pada fase kematian kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Hal tersebut dapat dilihat dari generasi (G) adalah Waktu yang diperlukan suatu mikroalga untuk membelah sel dari satu sel menjadi beberapa sel dalam pertumbuhan. Semakin tinggi kecepatan tumbuh mikroalga maka waktu generasi dari mikroalga tersebut juga semakin cepat (Sumarsih, 2007). 1. Sterilisasi Alat dan Bahan Sterilisaasi merupakan salah satu usaha pensucihamaan semua aspek yang akan digunakan dengan tujuan agar kegiatan tidak mengalami kegagalan karena adanya kontaminaasi. Bahan yang digunakan untuk sterilisasi adalah alcohol, kaporit, air tawar dan sabun cair.

2. Isolasi Isolasi merupakan usaha pemisahan plankton dengan tujuan mendapatkan satu plankton. Tahapan ini dilakukan dengan cara pengambilan air laut dengan menggunakan planktonet, selanjutnya dilakukan pengamatan di

13

bawah mikroskop untuk melakukan pemisahan. Selain dari alam , tahapan isolasi juga dapat dilakukan pada hasil kultur yang terkontaminasi. 3. Kultur Media Agar Kultur media agar merupakan kultur yang dilakukan pada media agar, tujuannya selain untuk mempertahankan kemurnian fitoplankton juga memiliki kualitas yang baik. 4. Penyimpanan Plankton Penyimpanan plankton merupakan salah satu usaha untuk menjaga kesinambungan stok murni. Stok murni disimpan di lemari es dalam bentuk cair atau beku. Stok murni dalam bentuk cair dikocok setiap hari dan dilakukan peremajaan setelah mencapai puncak kepadatan pada hari ke-8. penyimpanan bibit ini bias bertahan 1 – 6 bulan dan dapat digunakan untuk bibit kultur apabila plankton mengalami penurunan kualitas.
3.1.4. Kultur Nannochloropsis sp. Skala Semi Massal

Di BBL Sekotong, kultur Nannochloropsis sp. secara semi massal dapat mengguakan wadah akuarium dengan volume 100 liter atau bak fiberglas bervolume 500 liter-1,5 ton. Media yang digunakan adalah air laut yang sudah disterilkan dengan cara disaring/difilter. Bibit/inokulan berasal dari kultur skala laboratorium sebanyak 10-20% dari volume kultur. Pupuk yang digunakan adalah pupuk conwy dengan dosis 1 ml/l. Adapun komposisi pupuk conwy yang digunakan di BBL Sekotong adalah:
• NaNO3

= 100 gr = 45 gr = 20 gr = 33,6 gr = 1,5 gr = 0,36 gr = 1 ml = 10 ml = 1 liter

• EDTA
• NaH2PO4H2O • H3BO3 • FeCl3.6H2O • MnCl2.4H2O

• Trace Metal • Vitamin mix • Aquadest

14

Ismantara (2009) juga menerangkan kultur semi massal merupakan kultur lanjutan dari kultur murni yang dilakukan di dalam ruangan. Tahap-tahap yang dilakukan dalam kultur semi massal adalah persiapan dan sterilisasi alat dan bahan, pengisian air media dan pemupukan , pembuatan pupuk, pemeliharaan, pemupukan ulang dan pemanenan. 1. Persiapan dan Sterilisasi Alat dan Bahan Alat dan bahan merupakan sarana yang terpenting dalam kegiatan kultur. Oleh karena itu, persiapan yang oftimal akan menghasilkan kultur yang maksimal. Sterilisasi alat dan bahan pada kultur semi massal sama halnya dengan sterilisasi pada kultur murni. 2. Pembuatan Pupuk Pupuk merupakan salah satu media untuk menumbuhkan perkembangbiakan fitoplankton. Pembuatan pupuk dilakukan sebelum penebaran inokulan. Pupuk yang digunakan kultur skala semi massal adalah pupuk lokal, pupuk analis dan pupuk pro analis (PA). Pada saat kegiatan, pupuk yang digunakan adalah pupuk pro analis (PA) dengan dosis 1 ml pupuk/1 liter volume kultur. Sedangkan pupuk yang digunakan pada skala laboratorium terbuat dari bahan kimia PA (Pro Analis) dengan dosis pemakaian 1 ml pupuk untuk 1 liter volume kultur. Jenis dan formula pupuk adalah yang sudah distandarkan dan umum digunakan yaitu Cowny (Walne’s medium). Untuk memudahkan pemakaiannya, terlebih dahulu dibuat stok pupuk cair. 3. Pemeliharaan Fitoplankton Pemelliharaan fitoplankton meliputi pengamatan pertumbuhan, pengaturan suplai oksigen dan pemupukan. Pemupukan dilakukan setiap hari dengan dosis masing-masing kultur sebanyak 20 ml/100 liter volume kultur. Untuk proses fotosintesis penyinaran dengan 2 buah lampu neon @ 64 Watt selama 24 jam setiap hari. 4. Penghitungan Kepadatan Fitoplankton Pertumbuhan Fitoplankton ditandai dengan pertambahan kepadatan fitoplankton yang dikultur. Untuk menghitung kepadatannya umumnya menggunakan alat hitung haemocytometer dengan bantuan mikroskop. Kepadatan rata-rata optimum Nannochloropsis sp. yang dikultur murni skala

15

laboratorium adalah 5.000-6.000 x 104 sel/ml. Dengan ukuran 2-5 μm. Penghitungan kepadatan dilakukan setiap hari selama kegiatan kultur dengan menggunakan Haemacytometer di bawah mikroskop.kepadatan optimum Nannochloropsis, sp. yang dikultur sebanyak 5.000 – 6.000 x 104 sel/ml. 5. Pemupukan ulang Pemupukan ulang dilakukan apabila kultur dilakukan peremajaan. Peremajan merupakan tidak lanjutan dari kultur yang telah dipanen sebagian. Pemupukan ulang dalam satu periode kultur sebanyak 3 kali, yaitu pada kultur ke-2 sampai kultur ke-4. pupuk yang digunakan sama seperti pemupukan awal dengan dosis ½ dari pemupukan awal, 10 ml/1 liter volume kultur. 6. Pemanenan Panen Nannochloropsis sp. dibagi menjadi 2 yaitu panen sebagian dan panen total. Panen sebagian yaitu panen yang dilakukan hanya 70% dari total kepadatan dan 30% dilakukan peremajaan untuk kultur lanjutan dengan mengoftimalkan kepadatan 30 juta sel/ml. Panen sebagian dilakukan pada hari puncak (hari ke-4) bertujuan agar kepadatan berkurang dan sudah dapat diberikan pada kultur rotifer. Panen total merupakan pemanan yang dilakukan setelah kultur selama 4 periode. Panen total terutama pada bag cultur, selain panen keseluruhan Nannochloropsis sp. juga dilakukan penggantian bag culture untuk kegiatan kultur selanjutnya. Panen total bertujuan agar kualitas media lebih steril dan kualitas Nannochlorpsis sp. tidak terlalu tua.
3.1.5. Kultur Nannochloropsis sp. Skala Massal

Kultur Nannochloropsis sp. Skala Massal di BBL Sekotong dapat dilakukan dengan wadah bak beton bervolume 10-100 ton. Air media yang digunakan adalah air laut yang sudah disaring/difilter. Bibit/anokulan yang ditambahkan sebanyak 10-20% dari volume kultur. Sedangkan pupuk yang digunakan pada kultur skala missal ini dapat berupa pupuk pertanian, yaitu urea 350 gr, ZA 500 gr dan TSP 150 gr per 10 ton air laut yang digunakan. Menurut Ismantara (2009) kultur massal merupakan kultur yang dilakukan diluar ruangan dengan media dan kepadatan yang lebih besar. Pakan alami yang sering dibudidayakan secara massal adalah Nannochloropsis sp. dan Brachionus

16

plicatilis. Tahap-tahap yang dilakukan dalam kegiatan kultur skala massal tidak jauh berbeda dengan kultur semi massal, yaitu persiapan alat dan wadah budidaya, pengisisan media, pembuatan pupuk, penebaran bibit, pemeliharaan dan pemanenan. 1. Persiapan Alat dan Wadah Budidaya Tahap-tahap kegiatan yang dilakukan dalam persiapan alat dan wadah budidaya adalah sterilisasi alat dan wadah, pengeringan dan pemasangan atau pengaturan aerasi. 2. Klorinisasi Klorinisasi merupakan salah satu usaha mensterilkan segala aspek yang akan digunakan dalam budidaya dengan menggunakan bahan kimia klorin. Sterilisasi alat dan wadah budidaya dapat menggunakan HCL dengan dosis 25 gr/ton. HCL dilarutkan dengan air yang kemudian disiramkan pada permukaan dinding bak. Proses penyikatan permukaan bak dilakukan setelah larutan klorin merta pada permukaan bak. Langkah terakhir media dibersihkan dengan air tawar sampai tidak berbau kaporit. 3. Pengeringan Pengeringan dilakukan dengan interval waktu antara 6-24 jam. Tujuannya agar media bebas dari bibit penyakit, bau HCL, dan organismeorganisme yang akan menyebabkan kontaminasi. 4. Pemasangan/ Pengaturan Aerasi Aerasi merupakan suplai oksigen yang sangat dibutuhkan oleh palnkton. Aerasi diberikan pada kultur Nannochloropsis sp. sebanyak 6 titik yang diletakan pada dasar bak, dengan menggunakan pipa peralon berdiameter 1 cm. Lubang pengeluaran aerasi berdiameter 2 mm. Sedangkan pemberian aerasi pada bak kultur. Aerasi dalam kultur mikroalga diguanakan untuk proses pengadukan medium kultur. Pengadukan sangat penting dilakukan yang bertujuan untuk mencegah dari pengendapan sel, nutrien dapat tersebar sehingga mikroalga dalam kultur mendapatkan nutrien yang sama, mencegah sratifikasi suhu, dan meningkatkan pertukaran gas dari udara ke medium (Taw, 1990) 5. Pengisian Media Kultur, Pemupukan dan Tebar Bibit

17

Pengisisan air media pada kultur Nannochloropsis sp. dilakukan setelah proses pengeringan yaitu dengan air laut bersalinitas 34-35 ppt dengan kapasitas 73% dari volume bak kultur. Pengisia air media dilakukan pada pagi hari yang disusul dengan pemupukan awal. Jenis pupuk yang digunakan kultur adalah pupuk local yang terdiri dar urea, TSP, ZA, FeCl, NaEDTA.
6. Pemeliharaan Kultur

Pemeliharaan kultur Nannochloropsis sp. dilakukan setiap hari yang meliputi pengamatan kualitas air, aerasi dan penghitungan kepadatan. Penghitungan kepadatan Nannochloropsis sp. menggunakan Hemachytometer.
7. Pemanenan

Panen merupakan tahap akhir dari budidaya, dimana hasil dari itu dapat diaplikasikan pada kegiatan berikutnya. Pemanenan dibagi menjadi 2 bagian yaitu, panen total dan panen sebagian. Panen total merupakan pengambilan hasil yang dilakukan secara keseluruhan dan tidak dilakukan peremajaan dari sisa yang telah dikultur. Panen total dilakukan setelah masa kultur mencapai 4 generasi (4 kali panen), tujuannya agar organisme yang dikultur umurnya tidak terlalu tua dan kualitasnya sudah jelek. Panen sebagian merupakan pemungutan hasil dari suatu yang dibudidayakan dengan mengambil sebagian organisme yang dikultur dan sisa organisme tersebut dapat dilakukan peremajaan kembali. Panen sebagian dilakukan apabila organisme yang dikultur mencapai kepadatan yang melimpah, tujuannya agar kepadatannya menjadi jarang dan menjaga kematian massal.

3.2 Benthic Diatome Diatom adalah kelompok utama dari ganggang , dan merupakan salah satu jenis yang paling umum dari fitoplankton . Kebanyakan diatom uniseluler , meskipun mereka dapat eksis sebagai koloni dalam bentuk filamen atau pita (misalnya Fragillaria), fan (misalnya Meridion), zigzag (misalnya Tabellaria ), atau koloni stellata (misalnya Asterionella ). Diatom adalah produsen dalam rantai makanan. Karakteristik sel diatom adalah bahwa mereka terbungkus dalam dinding

18

sel

yang

unik

terbuat

dari silika (silikon

dioksida

terhidrasi)

disebut frustule . Frustules ini menunjukkan keanekaragaman dalam bentuk, tetapi biasanya terdiri dari dua sisi asimetris dengan perpecahan antara mereka, maka nama grup. fosil bukti menunjukkan bahwa mereka berasal selama, atau sebelum, awal Jurassic Periode . 3.2.1 Biologi Umum Ada lebih dari 200 genera diatom yang hidup, dan diperkirakan bahwa ada sekitar 100.000 masih ada spesies . Diatom adalah kelompok luas dan dapat ditemukan di lautan , di air tawar , di tanah dan pada permukaan basah. Sebagian besar hidup pelagically di perairan terbuka, meskipun beberapa hidup sebagai film permukaan pada antarmuka air sedimen ( bentik ), atau bahkan di bawah kondisi atmosfer lembab. Mereka sangat penting di samudera, di mana mereka diperkirakan berkontribusi hingga 45% dari total samudera produksi primer . Distribusi spasial spesies fitoplankton laut dibatasi secara horisontal dan vertikal. Diatom terjadi di semua lautan dari kutub ke daerah tropis, daerah kutub dan spesies subkutub mengandung relatif sedikit dibandingkan dengan biota sedang. Meskipun daerah tropis menunjukkan jumlah terbesar spesies, populasi lebih berlimpah ditemukan di kutub ke daerah beriklim sedang. Biasanya mikroskopis , beberapa spesies diatom dapat mencapai sampai 2 milimeter panjangnya.

Gambar: Beberapa spesies diatom air tawar.

19

Diatom

milik

kelompok

besar cetakan ).

yang

disebut heterokonts , laut ) Kekuningan-coklat biasanya

termasuk autotrof (misalnya emas dan heterotrof (misalnya air

ganggang , rumput

mereka kloroplas adalah khas dari heterokonts, dengan empat membran dan mengandung pigmen seperti karotenoid fucoxanthin . Individu kekurangan flagela , tetapi mereka hadir dalam gamet dan memiliki struktur heterokont biasa, kecuali mereka tidak memiliki rambut (mastigonemes) karakteristik dalam kelompok lain. Kebanyakan diatom adalah non-motil, meskipun beberapa berpindah melalui dera. Seperti dinding yang relatif padat sel mereka menyebabkan mereka mudah tenggelam, bentuk planktonik di perairan terbuka biasanya bergantung pada bergolak pencampuran lapisan atas oleh angin untuk menjaga mereka tersuspensi di perairan permukaan yang diterangi matahari. Beberapa spesies aktif mengatur daya apung mereka dengan intraseluler lipid untuk tenggelam kontra. Sel diatom yang terkandung dalam unik silikat ( asam silikat ) dinding sel yang terdiri dari dua katup yang terpisah (atau kerang). Silika biogenik bahwa dinding sel terdiri dari disintesis secara ini kemudian intraseluler oleh polimerisasi asam silikat monomer . Bahan

diekstrusi dengan eksterior sel dan ditambahkan ke dinding. Dinding sel diatom juga disebut frustules atau tes, dan dua katup biasanya tumpang tindih satu atas yang lain seperti dua bagian dari sebuah cawan petri . Pada sebagian besar spesies, ketika diatom membelah menghasilkan dua sel anak, setiap sel menyimpan salah satu dari dua bagian dan tumbuh setengah lebih kecil di dalamnya. Akibatnya, setelah setiap siklus pembelahan ukuran rata-rata sel diatom dalam populasi semakin kecil. Setelah sel-sel tersebut mencapai ukuran minimum tertentu, bukan hanya membagi vegetatif , mereka membalikkan penurunan ini dengan membentuk sebuah auxospore . Ini memperluas dalam ukuran untuk menimbulkan sebuah sel jauh lebih besar, yang kemudian kembali ke ukuran-divisi berkurang. Auxospore produksi hampir selalu dikaitkan dengan meiosis dan reproduksi seksual.

20

Dekomposisi

dan

pembusukan

diatom

mengarah

ke organik dan anorganik (dalam bentuk silikat ) sedimen, komponen anorganik yang dapat menyebabkan metode analisis lingkungan laut masa lalu oleh corings laut lantai atau teluk lumpur , karena materi anorganik tertanam di endapan lempung, silts dan bentuk permanen geologi catatan strata laut. Studi tentang diatom adalah cabang phycology , dan phycologists mengkhususkan diri dalam diatom disebut diatomists. 3.2.2 Klasifikasi Klasifikasi heterokonts masih gelisah, dan mereka mungkin diperlakukan sebagai pembagian (atau filum ), kerajaan , kelas mereka. Klasifikasi ilmiah: Domain Kerajaan Filum Kelas : Eukaryota : Chromalveolata : Heterokontophyta : Bacillariophyceae (Haeckel, 1878) (biasanya atau sesuatu divisi di-antara. Dengan (biasanya disebut demikian, kelompok-kelompok seperti diatom dapat peringkat mana saja dari disebut Diatomophyceae) ke Bacillariophyta), dengan perubahan yang sesuai dalam jajaran subkelompok

Diatom secara tradisional dibagi menjadi dua perintah :
 

centric diatom ( Centrales ), yang radial simetris pennate diatom ( Pennales ), yang bilateral simetris. Para mantan paraphyletic yang kedua.

Sebuah klasifikasi yang lebih baru membagi diatom menjadi tiga kelas:
   

centric diatom ( Coscinodiscophyceae ) pennate diatom tanpa rafe ( Fragilariophyceae ) dengan rafe ( Bacillariophyceae )

21

Hal ini kemungkinan akan ada revisi lebih lanjut sebagai pemahaman meningkat hubungan mereka.

Gambar : Diatome laut Diatom umumnya berkisar dalam ukuran dari ca. 2-200μm, dan terdiri dari dinding sel terutama terdiri dari silika . Hal ini mengandung silika dinding dapat sangat bermotif dengan berbagai pori-pori, tulang rusuk, punggung menit, marjinal dan ketinggian pegunungan, semua yang dapat digunakan untuk menggambarkan genera dan spesies. Sel itu sendiri terdiri dari dua bagian, masing-masing berisi sebuah piring dasarnya datar, atau katup dan band marjinal menghubungkan, atau korset. Satu setengah, hypotheca , sedikit lebih kecil dari setengah lainnya, epitheca . Morfologi diatom bervariasi. Meskipun bentuk sel biasanya melingkar, beberapa sel bisa segitiga, persegi, atau elips. Sel soliter atau disatukan dalam koloni dari berbagai jenis, yang mungkin dihubungkan oleh struktur silika, bantalan lendir, atau batang; tabung lendir, massa amorf dari lendir dan benang dari polisakarida (kitin), yang disekresikan melalui proses melangkah. Pigmen utama dari diatom adalah klorofil a dan c, beta-karoten , fucoxanthin , diatoxanthin dan diadinoxanthin. Diatom terutama fotosintesis. Beberapa, bagaimanapun, adalah obligat heterotrof , sementara yang

22

lain dapat hidup heterotrophically dalam ketiadaan cahaya, menyediakan sumber karbon organik yang sesuai tersedia. Produk penyimpanan chrysolaminarin dan lipid. 3.2.3 Ekologi Planktonik diatom di lingkungan air tawar dan laut biasanya menunjukkan " boom dan bust "(atau" mekar dan bust ") gaya hidup. Ketika kondisi di lapisan campuran atas (nutrisi musim dan semi) demikian cahaya) daya mereka yang yang saing sering ekologi menguntungkan (misalnya pada fitoplankton digolongkan ("boom" sebagai atau awal

mereka memungkinkan mereka untuk dengan cepat mendominasi komunitas "mekar"). Dengan oportunis -strategi r (yaituorganisme

didefinisikan oleh tingkat pertumbuhan yang tinggi, r). Ketika kondisi tidak menguntungkan gilirannya, biasanya pada deplesi nutrisi, sel diatom biasanya peningkatan laju tenggelam dan keluar dari lapisan campuran atas ("bust"). Tenggelam ini disebabkan oleh salah satu kerugian kontrol apung, sintesis lendir yang menempel sel diatom bersama-sama, atau produksi spora istirahat berat. Tenggelamnya keluar dari lapisan atas dicampur menghilangkan diatom dari kondisi menguntungkan bagi pertumbuhan, termasuk populasi ternak yg digembalakan dan suhu yang lebih tinggi (yang dinyatakan akan meningkatkan sel metabolisme ). Sel mencapai air yang lebih dalam atau dasar laut dangkal kemudian dapat beristirahat sampai kondisi menjadi lebih menguntungkan lagi. Di lautan terbuka, sel-sel banyak yang hilang tenggelam ke dalam, namun populasi perlindungan dapat bertahan dekat termoklin . Pada akhirnya, diatom sel dalam populasi ini beristirahat kembali memasuki lapisan atas dicampur saat pencampuran vertikal entrains mereka. Dalam sebagian besar keadaan, pencampuran ini juga mengisi ulang nutrisi di lapisan campuran atas, pengaturan adegan untuk putaran berikutnya pemekaran diatom. Di lautan terbuka (jauh dari daerah terus menerus upwelling), siklus ini mekar payudara, kemudian kembali ke kondisi pra-mekar biasanya terjadi selama siklus tahunan, dengan diatom hanya menjadi umum selama musim semi

23

dan awal musim panas. Di beberapa lokasi, bagaimanapun, sebuah mekar musim gugur dapat terjadi, disebabkan oleh kerusakan stratifikasi musim panas dan entrainment nutrisi sementara tingkat cahaya masih cukup untuk pertumbuhan. Karena pencampuran vertikal meningkat, dan tingkat cahaya yang jatuh sebagai pendekatan musim dingin, ini mekar lebih kecil dan pendek-hidup daripada setara musim semi mereka. Di laut terbuka, kondisi yang biasanya menyebabkan diatom (musim semi) mekar sampai akhir adalah kurangnya silikon. Tidak seperti nutrisi lainnya, ini hanya merupakan persyaratan utama dari diatom sehingga tidak diregenerasi dalam ekosistem plankton seefisien, misalnya, nitrogen atau fosfor nutrisi. Hal ini dapat dilihat pada peta konsentrasi hara permukaan seperti penurunan nutrisi sepanjang gradien, silikon biasanya yang pertama habis (biasanya diikuti oleh nitrogen kemudian fosfor). Karena siklus mekar-and-bust, diatom diyakini memainkan peran penting dalam proporsional ekspor karbon dari permukaan air laut (lihat juga pompa biologis ). Secara signifikan, mereka juga memainkan peran kunci dalam regulasi siklus biogeokimia dari silikon di laut modern.

Gambar: Anggaran siklus silikon laut, fluks di Tmol Si y. diadaptasi dari Treguer dkk. (1995).

Penggunaan silikon dengan diatom diyakini oleh banyak peneliti untuk menjadi kunci keberhasilan ekologi mereka. Dalam studi sekarang klasik, Egge & Aksnes (1992) menemukan bahwa diatom dominasi masyarakat mesocosm berhubungan langsung dengan ketersediaan asam silikat - ketika konsentrasi lebih besar dari 2 m mol m -3, mereka menemukan bahwa diatom biasanya direpresentasikan lebih dari 70% dari komunitas fitoplankton. Raven (1983) mencatat bahwa, relatif terhadap dinding sel organik, silika frustules

24

membutuhkan energi lebih sedikit untuk mensintesis (sekitar 8% dari dinding organik serupa), berpotensi penghematan signifikan terhadap anggaran energi sel secara keseluruhan. Peneliti lain telah menyarankan bahwa silika biogenik di dinding sel diatom bertindak sebagai efektif pH agen penyangga , memfasilitasi konversi bikarbonat menjadi CO terlarut 2 (yang lebih mudah berasimilasi). Meskipun keuntungan yang mungkin diberikan oleh silikon, diatom biasanya memiliki tingkat pertumbuhan lebih tinggi dari ganggang lainnya dengan ukuran yang sesuai. Diatom terjadi di hampir setiap lingkungan yang mengandung air. Ini meliputi tidak hanya samudera, laut, danau dan sungai, tetapi juga tanah. 3.2.4 Siklus Hidup Diatom non-motil, namun sperma ditemukan di beberapa spesies dapat flagellated , meskipun motilitas biasanya terbatas pada gerakan meluncur. Reproduksi antara organisme ini terutama aseksual dengan pembelahan biner, dengan masing-masing sel anak menerima satu induk sel dua frustules (atau teka ). Ini digunakan oleh setiap sel anak sebagai frustule lebih besar (atau epitheca) ke mana frustule, kedua kecil (atau hypotheca) dibangun. Bentuk pembagian hasil pengurangan ukuran sel anak yang menerima frustule lebih kecil dari orang tua dan oleh karena itu ukuran sel rata-rata populasi diatom berkurang, sampai sel-sel sekitar sepertiga ukuran maksimum mereka. Hal ini telah diamati, bagaimanapun, bahwa taksa tertentu memiliki kemampuan untuk membagi tanpa menyebabkan pengurangan ukuran sel. Meskipun demikian, dalam rangka untuk mengembalikan ukuran sel dari populasi diatom bagi mereka yang bertahan pengurangan ukuran, reproduksi seksual dan auxospore pembentukan harus terjadi. Sel vegetatif diatom adalah diploid (2n) dan meiosis dapat terjadi, menghasilkan gamet jantan dan betina yang kemudian sekering untuk membentuk zigot . Zigot gudang teka silika dan tumbuh menjadi bola besar yang tertutup oleh membran organik, auxospore. Sebuah sel baru diatom ukuran maksimum, sel awal, bentuk dalam auxospore sehingga awal generasi baru. Spora istirahat juga dapat terbentuk

25

sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dengan perkecambahan terjadi ketika kondisi membaik. Pada diatom sentris, laki-laki kecil gamet memiliki satu flagel sedangkan gamet betina besar dan non-motil ( oogamous ). Sebaliknya, pada diatom menyirip baik gamet kurangnya flagela ( isoogamous ). Tertentu araphid spesies telah didokumentasikan sebagai anisogamous dan, karenanya, dianggap mewakili tahap transisi antara diatom centric dan menyirip.

Gambar: Reproduksi seksual dari diatom sentris ( oogamy )

Gambar: Reproduksi seksual dari diatom menyirip (morfologi isogamy , (isiologisanisogamy)

3.2.5 Sejarah Evolusi Kloroplas Heterokont tampaknya berasal dari orang-orang dari ganggang merah , bukan langsung dari prokariota seperti yang terjadi di pabrik . Ini menunjukkan mereka memiliki asal-usul yang lebih baru daripada ganggang lainnya. Namun, bukti fosil yang sedikit, dan itu benar-benar hanya dengan evolusi diatom sendiri bahwa heterokonts membuat kesan serius pada catatan fosil.

26

Fosil diatom dikenal paling awal tanggal dari Jurassic awal (185 Ma ), walaupun jam dengan kepunahan molekuler dan sedimen bukti akhir Permian (250 menunjukkan Ma), setelah asal laut sebelumnya. Ia telah mengemukakan bahwa asal usul mereka mungkin terkait massal banyak ceruk dibuka. Kesenjangan antara peristiwa dan waktu yang diatom fosil pertama muncul mungkin menunjukkan periode ketika diatom yang unsilicified dan evolusi mereka samar . Sejak munculnya silisifikasi, diatom telah membuat kesan yang signifikan pada catatan fosil, dengan deposito utama dari diatom fosil yang ditemukan sejauh awal Cretaceous , dan beberapa batuan (diatomaceous bumi , diatomite, kieselguhr) yang terdiri hampir seluruhnya dari mereka. Meskipun diatom mungkin telah ada sejak Triassic , waktu mereka kekuasaan dan "mengambil alih" dari 544 lemah didominasi diatur (dan silika , siklus Ma), siklus lebih yang kuat silikon lebih diyakini silikon diatur) pertama baru. Sebelum Fanerozoikum (sebelum bahwa mikroba atau anorganik proses laut. Selanjutnya, siklus muncul oleh radiolaria danspons

mengandung

sebagai zooplankton , yang terakhir sebagai menetap filter feeder terutama pada rak kontinental . Dalam 100 terakhir saya, ia berpikir bahwa siklus silikon telah datang di bawah kontrol yang lebih ketat, dan bahwa ini berasal dari ekologi kekuasaan dari diatom. Namun, waktu yang tepat dari "mengambil alih" tidak jelas, dan penulis yang berbeda memiliki interpretasi yang bertentangan dari catatan fosil. Beberapa bukti, seperti perpindahan spons mengandung silika dari rak, menunjukkan bahwa pengambilalihan ini dimulai pada Kapur (146 Ma 65 Ma), sedangkan bukti dari radiolaria menyarankan "mengambil alih" tidak dimulai sampai Kenozoikum (65 Ma sekarang). Perluasan padang telah rumput bioma dan radiasi evolusi dari rumput selama Miosendiyakini

meningkatkan fluks dari silikon larut ke laut, dan telah dikatakan bahwa ini telah mempromosikan diatom selama era Kenozoikum. Namun, bekerja pada variasi diatom keanekaragaman selama kenozoikum menunjukkan bahwa kesuksesan bukan diatom dipisahkan dari evolusi rumput , dan bahwa diatom yang paling

27

beragam sebelum diversifikasi rumput. Namun demikian, terlepas dari rincian waktu "mengambil alih", jelas bahwa revolusi terbaru telah terinstal banyak kontrol ketat biologi selama siklus biogeokimia silikon. 3.2.6 Catatan Fosil Catatan fosil diatom sebagian besar telah ditetapkan melalui pemulihan mengandung silika mereka frustules dalam sedimen laut dan nonkelautan. Meskipun diatom memiliki kedua catatan stratigrafi kelautan dan nonkelautan, diatom biostratigraphy , yang berdasarkan waktu-dibatasi originasi evolusioner dan kepunahan taksa yang unik, hanya dikembangkan dengan baik dan diterapkan secara luas dalam sistem kelautan. Durasi rentang spesies diatom telah didokumentasikan melalui studi core laut dan urutan batuan terkena di tanah. Dimana diatom biozones mapan dan dikalibrasi dengan skala polaritas geomagnetik dalam waktu (misalnya, Samudra tahun, Selatan , Pasifik usia Utara , resolusi timur khas khatulistiwa Pasifik ), diatom berbasis perkiraan usia mungkin diselesaikan waktu <100.000 meskipun untuk kenozoikum diatom adalah kumpulan beberapa ratus ribu tahun. Para Kapur catatan diatom terbatas, tetapi studi terbaru mengungkapkan diversifikasi progresif jenis diatom. Para Kapur-Tersier kepunahan acara , yang di lautan secara dramatis mempengaruhi organisme dengan kerangka berkapur, tampaknya memiliki dampak yang relatif kecil terhadap evolusi diatom. Meskipun tidak ada kepunahan massal diatom laut telah diamati selama kenozoikum , kali perputaran evolusi yang relatif cepat dalam kumpulan diatom laut terjadi di dekat Paleosen - Eosen batas dan pada Eosen - Oligosen . Batas omset lebih lanjut dari kumpulan mengambil tempat di berbagai waktu antara tengah Miosen dan daerah kutub akhir Pliosen , dalam dan pengembangan menanggapi lebih pendinginan diatom progresif kumpulan

endemik. Sebuah kecenderungan global ke arah yang lebih frustules diatom halus telah dicatat dari Oligosen ke Kuarter . Hal ini bertepatan dengan sirkulasi semakin lebih kuat dari permukaan laut dan perairan dalam yang dibawa oleh peningkatan gradien termal lintang pada awal utama lapisan es ekspansi di Antartika dan pendinginan progresif melalui Neogene dan Kuarter menuju

28

dunia bipolar glaciated. Ini mendorong ke silika diatom uptaking lebih kompetitif (yaitu, untuk menggunakan silika kurang dalam pembentukan mereka frustules ). Peningkatan pencampuran lautan memperbaharui silika dan nutrisi lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan diatom di perairan permukaan, terutama di daerah pesisir dan kelautan upwelling . 3.2.7 Koleksi Diatom yang hidup sering ditemukan menempel dalam jumlah besar untuk ganggang berserabut, atau membentuk massa agar-agar pada tanaman terendam berbagai. Cladophora sering ditutupi dengan Cocconeis, sebuah diatom berbentuk eliptik; Vaucheria sering ditutupi dengan bentuk-bentuk kecil. Diatom sering hadir sebagai pelapis, coklat licin di batu terendam dan tongkat, dan dapat dilihat dengan "aliran" dengan arus sungai. Lumpur permukaan kolam, selokan, atau laguna akan hampir selalu menghasilkan beberapa diatom. Mereka dapat dibuat untuk muncul dengan mengisi stoples dengan air dan lumpur, membungkusnya dengan kertas hitam dan membiarkan sinar matahari langsung jatuh di permukaan air. Dalam sehari, diatom akan datang ke puncak dalam sampah dan dapat diisolasi. Sejak diatom merupakan dan ikan , bagian dengan saluran penting dari makanan moluska , tunicata , pencernaan hewan-

hewan ini sering menghasilkan bentuk yang tidak mudah diamankan dengan cara lain.Diatom laut dapat dikumpulkan dengan sampling air secara langsung, meskipun bentuk-bentuk bentik bisa diamankan oleh Scraping teritip , tiram kerang, dan kerang lainnya. Bagian ini menggunakan teks dari Metode dalam Histologi Tanaman. 3.2.8 EST Sekuensing Yang pertama wawasan ke dalam sifat dari P. tricornutum repertoar gen digambarkan menggunakan 1.000 EST . Selanjutnya, jumlah EST diperpanjang sampai 12.000 dan Diatom EST Database dibangun untuk analisis fungsional. Urutan ini telah digunakan untuk membuat analisis komparatif

29

antara P. tricornutum dan hijau Chlamydomonas

proteomes reinhardtii ,

lengkap yang merah

putatif alga

dari ganggang Cyanidioschyzon

merolae, dan T. pseudonana. Database diatom EST sekarang terdiri lebih dari 200.000 EST dari P. tricornutum (16 perpustakaan) dan T. pseudonana (7 perpustakaan) sel tumbuh dalam berbagai kondisi yang berbeda, banyak yang sesuai dengan menekankan abiotik yang berbeda. 3.2.9 Genome Sequencing Seluruh genom dari dua genom diatom diatom sentris, pseudonana thalassiosira , dan menemukan diatom pennate, tricornutum phaeodactylum, telah diurutkan . Perbandingan dari sepenuhnya sequencing bahwa P. tricornutum genom mencakup lebih sedikit gen (10.402 lawan 11.776) dari T. pseudonana dan tidak ada synteny utama (urutan gen) dapat dideteksi antara dua genom. T. genpseudonana menunjukkan rata-rata 1,52 intron per gen sebagai lawan 0,79 di P. tricornutum, menunjukkan kenaikan baru-baru ini luas intron di diatom sentris. Meskipun perbedaan evolusi yang relatif baru (90 juta tahun), tingkat perbedaan molekular antara centrics dan pennates menunjukkan tingkat evolusi cepat dalam Bacillariophyceae dibandingkan dengan kelompok eukariotik lainnya . Genomik komparatif juga menetapkan bahwa kelas tertentu elemen transposabel , yang Diatom Copia seperti retrotransposon (atau CODIS), masing. Yang penting, genomik diatom membawa banyak informasi tentang tingkat dan dinamika dari proses transfer gen endosimbiotik dalam (EGT). Perbandingan T. protein pseudonana dengan homolognya telah secara signifikan diperkuat dalam P. tricornutum genom sehubungan dengan T. pseudonana, merupakan 5,8 dan 1% dari genom masing-

organisme lain menyarankan bahwa ratusan telah homolognya terdekat mereka dalam garis keturunan Plantae. EGT terhadap genom diatom dapat diilustrasikan oleh fakta bahwa T. pseudonana encode genom enam protein yang paling erat terkait dengan gen yang dikode dari gen oleh theta ini juga Guillardia ( cryptomonad ) nucleomorph genom. Empat

30

ditemukan dalam genom plastid alga merah, sehingga menunjukkan EGT berurutan dari merah ke inti plastid alga alga merah (nucleomorph) untuk inti host heterokont. Phylogenomic analisis yang lebih baru dari proteomes diatom memberikan bukti untuk prasinophyte seperti endosimbion dalam nenek moyang chromalveolates karena didukung oleh fakta 70% gen diatom asal Plantae adalah dari asal keturunan hijau dan bahwa gen tersebut juga ditemukan dalam genom lainnyastramenopiles . Oleh karena itu, diusulkan bahwa chromalveolates adalah produk dari endosimbiosis sekunder serial pertama dengan ganggang hijau, diikuti oleh yang kedua dengan ganggang merah yang dilestarikan jejak kaki genom dari sebelumnya tetapi pengungsi yang plastid hijau. Namun, analisis phylogenomic dari proteomes diatom dan sejarah evolusi chromalveolate mungkin akan mengambil keuntungan dari data genom pelengkap dari bawah-sequencing garis keturunan seperti ganggang merah. Selain EGT, transfer gen horizontal (HGT) dapat terjadi secara independen dari suatu peristiwa endosymbiotic. Publikasi P. tricornutum genom melaporkan bahwa setidaknya 587 P. gen tricornutum tampaknya paling erat terkait dengan gen bakteri, akuntansi setengah selama dari ini lebih juga dari 5% dari P. tricornutum proteome. Sekitar keturunan diatom. ditemukan

di T. pseudonana genom, membuktikan penggabungan kuno mereka dalam garis

3.2.10 Penelitian Nanoteknologi Pengendapan silika diatom juga oleh mungkin terbukti menjadi utilitas untuk nanoteknologi . Sel Diatom berulang kali dan andal memproduksi katup dari berbagai bentuk dan ukuran, berpotensi memungkinkan diatom untuk memproduksi struktur mikro atau nano-skala yang dapat digunakan dalam berbagai perangkat, termasuk: sistem optik, semikonduktor nanolithography , dan bahkan menggunakan katup diatom sebagai kendaraan untuk pengiriman obat . Menggunakan sesuai prosedur seleksi buatan , diatom yang menghasilkan

31

katup bentuk tertentu dan ukuran bisa berkembang di laboratorium, dan kemudian digunakan digunakan sebagai dalam chemostat budaya komponen sel untuk menghasilkan surya, dengan massa komponen nano. Hal ini juga telah diusulkan bahwa diatom dapat menggantikan fotosensitif titanium dioksida untuk silikon dioksida biasanya digunakan dalam pembuatan dinding sel. 3.2.11 Kultur Diatome Skala Laboratorium Kultur diatome dalam skala laboratorium harus dilakukan di ruangan yang tertutup hal ini bertujuan utnuk mencegah terjadinya kontaminasi diatom dengan organism kecil lainnya yang tak tampak. Langkah awal yang dilakukan dalam kulturisasi diatome skala laboratorium adalah persiapan kultur dimana meliputi sterilisasi peralatan, sterilisasi media kultur, penyiapan media kultur dan pembuatan pupuk. Sterilisasi peralatan dalam kultur diatom dapat digunakan dengan beberapa teknik diantaranya dengan menggunakan autoclave dimana alat ini merupakan alat yang mampu menghasilkan tekanan panas diatas 5000 C, selanjutnya dapat juga dengan menggunakan bahan kimia seperti formalin, alcohol, metiline blue atau malacyte green. Selain dengan kedua cara tersebut dapat pula dengan cara yang lebih sederhana yaitu dengan cara perebusan. Adapun tahapan sterilisasi dengan cara perebusan adalah bersih kemudian direbus air tawar dalam panci sampai mendidih lalu dimasukkan peralatanperalatan yang akan disteril, diamkan untuk beberapa saat hingga 5 – 10 menit, lalu peralatan-peralatan tersebut diangkat dan diletakkan di atas rak. Namun harus dipastikan bahwa peletakan peralatan-peralatan yang telah disteril ditempatkan di ruangan yang tertutup yang higienis. Langkah kedua yang dilakukan dalam kultur diatome dalam skala laboratorium adalah sterilisasi media kultur. Media kultur plankton berupa air laut, setrilisasi air laut sangat penting dilakukan untuk membunuh pathogen yang terdapat dalam air laut tersebut. Proses sterilisasi dilakukan dengan cara disaring dengan menggunakan sandfilter yaitu berupa penyaring yang terbuat dari pasir

32

dan beberapa bahan lainnya dimana selanjutnya air yang telah melewati saringan tersebut kemudian masuk ke dalam bak atau tendon. Sebelum digunakan untuk media kultur untuk memastikan air telah bebas dari pathogen sebaiknya dilakuakan perebusan hingga mencapai suhu 8000 C atau sampai mendidih. Kemudian air laut didinginkan dan ditampung dalam panci atau ember yang telah steril. Setelah didapatkan media kultur yang steril maka langkah selanjutnya yaitu penyiapan media kulur. Air laut yang telah disteril dan ditampung dalam panci dicampur dengan aquades atau air tawar yang steril hinggga mencapai salinitas 28‰. Kemudian air dituang kedalam labu Erlenmeyer atau dapat pula dengan menggunakan toples dengan perbandingan antara media dan inokulan 1 : 3 sampai dengan 1 : 2. Kemudian ditambahkan dengan pupuk dan vitamin dengan takaran 1 ml/liter. Pemberian pupuk dan vitamin bertujuan untuk memberikan nutrisi pada media kultur. Langkah yang terakhir adalah Pembuatan Pupuk, Plankton atau pakan alami membutuhkan pupuk dalam pertumbuhannya. Pupuk yang dipergunakan merupakan campuran dari beberapa bahan kimia yang dibuat menjadi larutan. Formulasi pupuk cair yang digunakan dalam kultur Nitzschia sp, sebagai berikut :

• NaNO3 • NaHPO4H2O • NaHCO3 • Edta • K2HPO4 • Klewat

= 100 gr/liter = 14 gr/liter = 12,6 gr/liter = 18,1 gr/liter = 14 gr/liter = 100 gr/liter

Adapun Cara atau tahapan pembuatan pupuk cair adalah sebagai berikut :

33

• Disiapkan semua bahan kimia, botol/wadah untuk larutan, aquadest,

pengaduk, kompor dan panci berisi air.
• Ditimbang semua bahan kimia yang akan dilarutkan, sesuai dengan takaran. • Dimasukkan bahan kimia kedalam botol/wadah yang telah diisi dengan

aquadest dengan volume sesuai yang kita inginkan.
• Diaduk sampai larutan tercampur merata atau menjadi larutan homogen. • Dipanaskan didalam panci yang telah berisi air (ditim) sampai mendidih

(1000), botol ditutup dengan aluminium foil.
• Diangkat larutan yang telah panas/mendidih. Dinginkan, tutup botol dengan

alumunium foil.
• Disimpan di tempat yang steril.

Sedangkan formulasi untuk pembuatan vitamin adalah sebagai berikut : • Biotin = 100 mg/liter • Thiamin = 700 mg/liter • Vit B12 = 500 mg/liter Adapaun tahapan dalam pembuatan larutan vitamin adalah sebagai berikut :
• Disiapkan botol/wadah untuk pembuatan larutan vitamin • Ditimbang vitamin yang akan dilarutkan • Diisi botol dengan aquadest dengan volume sesuai yang kita inginkan • Ditambahkan vitamin yang sudah ditimbang • Diaduk hingga tercampur rata atau menjadi larutan yang homogen • Disimpan larutan di tempat yang steril, tutup botol larutan dengan alumunium

foil. 3.2.12 Kultur Murni Diatom Kultur murni merupakan rangkaian dari kegiatan pengadaan pakan alami/kultur plankton. Bibit kultur murni diatome diperoleh dari hasil isolasi atau dari hasil kultur dalam media agar. Plankton hasil biakan/kultur dalam media agar, dipindahkan dalam tabung reaksi volume 10-15 ml, kemudian dikultur secara bertingkat ke dalam erleumeyer 100 ml, 500 ml, 1000 ml, 2000 ml dan volume 5-20 liter.

34

Langkah-langkah kultur murni dapat dilakukan dengan diawali mempersiapkan air laut yang sudah steril sebelumnya dengan kadar garam 28‰. Air yang telah steril tersebut dimasukkan ke dalam botol-botol atau toples kultur kemudian ditambahkan pupuk cair atau vitamin. Media diaerasi dan dibiarkan beberapa saat hingga pupuk tercampur dengan merata. Setelah pupuk tercampur dengan merata kemudian bibit dimasukkan sebanyak ⅓ bagian atau ¼ bagian. Untuk mencegah kontaminasi dari udara, botol kultur ditutup dengan kapas, sterofoam atau dapat pula dengan menggunakan alumunium foil. Agar plankton tumbuh dengan baik, penempatan wadah kultur harus cukup mendapat cahaya karena untuk proses fotosintesis plankton. Setelah empat sampai dengan lima hari masa pemeliharaan, plankton dapat dipanen dan dikultur pada wadah yang lebih besar. 3.2.13 Kultur Masal Diatom Kultur massal diatom dapat dilakukan setelah empat sampai dengan lima hari masa pemeliharaan skala laboratorium. Tahapan – tahapan untuk pembuata atau pengkulturan diatom adalah menyiapkan wadah, media kultur, instalasi air dan udara. Persiapan wadah, media kultur dan instalasi air dan udara merupakan langkah awal untuk melakukan kultur diatome. Wadah yang digunakan untuk kultur bisa terbuat dari fiber maupun beton ukuran tergantung dari masingmasing pembudidaya. Media kultur sebelum di taburkan benih diatome terlebih dahulu di sterilisasi menggunakan kaporit 20g/l dan dibiarkan selama dua hari, setelah itu dilakukan penyaringan dengan menggunakan filter catrid ukuran 1,0 micron untuk menghilangkan endapan kaporit , untuk kultur skala lababoratorium, strerilisasi wajib untuk dilakukan dengan pemanasan suhu diatas 80oC untuk memastikan tidak ada kontaminan dalam melakukan kultur diotome. Instalasi udara untuk mensuplai oksigen digunakan highblow 60 watt untuk mendapatkan kadar oksigen yang baik dan bersih. Cahaya diatur sesuai dengan intensitas yang diperlukan, diusahakan pencahayaan dilakukan secara kontinyu selama proses kultur berlangsung, proses pencahayaan dapat mempergunakan lampu neon ataupun yang lain, disesuaikan dengan keadaan masing-masing.

35

a. Mengkultur benthic diatomae skala laboratorium Dalam mengkultur bentik diatom skala laboratorium adapun prosedur pengkulturan yang dilakukan antara lain: • Inokulan murni ditebar sesuai dengan kepadatan yang dipersyaratankan. • Media dipupuk dengan pupuk diatom sesuai dengan dosis yang ditentukan secara periodik. • Kepadatan populasi dipantau secara intensif dan periodik. • Suhu ruangan dikendalikan agar tidak mempengaruhi perubahan suhu air media. • Kultur benthic diatom dilakukan secara bertingkat dimulai dari volume 1 liter hingga 20 liter. • Kultur benthic diatom dipindahkan secara massal setelah mencapai volume 20 liter dengan kepadatan 5 jt sel/cc b. Mengkultur benthic diatom skala massal Sedangkan untuk kultur bentic diatom skala masal dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: • Subtrat (feeding plate) di rangkai dan ditempatkan dalam bak kultur skala massal. • Inokulan hasil kultur skala lab ditebar kedalam wadah yang telah dipersiapkan 1 bulan sebelum pemijahan. • Media dipupuk dengan pupuk diatom secara periodik sesuai dengan dosis yang dianjurkan. • Kepadatan dipantau secara intensif dan periodik. 4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Dari hasil obesrvasi lapangan dan hasil pembahasan dalam praktikum adapun kesimpulan yang dapat ditarik adalah:
1. Nannochloropsis sp. merupakan sel berwarna kehijauan, tidak motil, dan tidak

berflagel. Selnya berbentuk bola, berukuran kecil dengan diamater 4-6 mm.
36

2. Kultur Nannochloropsis sp. skala massal di BBL Sekotong dilakukan dengan

wadah bak beton bervolume 10-100 ton.
3. Kultur Nannochloropsis sp. skala laboratorium di BBL Sekotong dilakukan

dalam wadah berukuran 500-10.000 ml.
4. Parameter

yang

berpengaruh

pada

pertumbuhan

dari

microalga

Nannochloropsis sp. adalah pH, salinitas, suhu, cahaya, nutrient dan aerasi.
5. Tahap-tahap yang dilakukan dalam kegiatan kultur Nannochloropsis skala

massal tidak jauh berbeda dengan kultur semi massal, yaitu persiapan alat dan wadah budidaya, pengisisan media, pembuatan pupuk, penebaran bibit, pemeliharaan dan pemanenan. 6. 7. Diatom adalah kelompok alga yang unik dengan dinding sel yang terbentuk dari silikon dioksida. Kultur diatome dalam skala laboratorium harus dilakukan di ruangan yang tertutup hal ini bertujuan utnuk mencegah terjadinya kontaminasi diatom dengan organism kecil lainnya yang tak tampak.
8. Bibit kultur murni diatome diperoleh dari hasil isolasi atau dari hasil kultur

dalam media agar.
9. Kultur massal diatom dilakukan setelah empat sampai dengan lima hari masa

pemeliharaan skala laboratorium. 10. Kulturisasi diatome skala laboratorium meliputi persiapan kultur dimana meliputi sterilisasi peralatan, sterilisasi media kultur, penyiapan media kultur dan pembuatan pupuk. 4.2 Saran Dari kegiatan praktikum yang telah berlangsung, adapun saran yang dapat penulis sampaikan antara lain: 1. Diharapkan jadwal praktikum bias di laksanakan sebelum ujian tengah semester agar tidak membebankan mahasiswa karena adanya praktikum mata kuliah yang lainnya. 2. Untuk kedepannya waktu praktikum di tambahkan karena banyaknya komuditas yang diamati.

37

3.

System roling waktu praktikum untuk ke depannya di atur terlebih dahulu sebelum dilaksanakannya praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Diatome. http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en| id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Diatom. Anonim, 2010. Pengaruh Pemberian Konsentrasi Urea yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Nannochloropsischloropsis oculata. http://www.lib.unair.ac.id. Diakses pada tanggal 5 Juni 2010.

38

Coutteau, P., 1996. Micro-algae. In:Manual on Production and Use of Live Food foa Aquaculture. FAO Fisheries Technical Paper. Lavens, P and P. Sorgeloos Edition. Rome. Italia. Effendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta. Ekawiguna, 2009. Nannochloropsis sp. http://ekawiguna.wordpress.com/2009/ 12/13/. Diakses pada tanggal 7 Juni 2011. Mataram. Erlina, A., 1986. Kultur Plankton-BBAP. Dirjen Perikanan. Jepara. Ismantara, 2009. Budidaya Nannochloropsis sp. http://ismantara.blogspot.com/ 2009/03/budidaya-nannochloropsis-sp-brachionus.html. Diakses pada tanggal 7 Juni 2011. Mataram. Isnansetyo, A., 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kanisius, Yogyakarta. Sumarsih. 2007. Pertumbuhan Mikrobia. <http://sumarsih07.files.wordpress. com/2008/11/i-pertumbuhan-mikroba.pdf.>. Diakses pada tanggal 20 Desember 2008. Taw, Nyan. 1990. Petunjuk Pemeliharaan Kultur Murni dan Massal Mikroalga. Proyek Pengembangan udang, United nations development Programme, Food and Agriculture Organizations of the United Nations.

39

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->